-->

Jago Kelana Jilid 16

Jilid 16

BELUM sempat Thay Kiem, Thay-Gien menjawab Kiem Lan Hoa telah berdiri di hadapannya.

"Bagaimana keadaanmu ?" tegur perempuan tersebut. "Aku. . aku baik sekali kalian . . silahkan kalian berlalu !" "Seandainya kami berlalu, coba pikir apakah kau bisa

hidup sampai besok pagi ?"

Tonghong Pek menghembuskan napas panjang, ia sadar bisakah hidup sampai besok pagi masih merupakan suatu tanda tanya besar baginya, tetapi ia tak sudi menerima kebaikan orang, segera jawabnya ketus.

"Bisa hidup atau tidak, tiada sangkut pautnya dengan kalian." Mula2 Kiem Lan Hoa rada tertegun, agaknya jawaban ini berada diluar dugaannya, tetapi dengan cepat ia telah tersenyum kembali.

"Baiklah, itu memang urusanmu sendiri. aku tidak akan turut campur, tetapi akupun ingin bertanya kepadamu, mengapa kau bantu aku melepaskan diri dari cengkeraman Tonghong Pacu ?"

Tonghong mendongak dan tertawa terbahak2 hanya sebentar ia tertawa sebab napasnya segera ter-engah2, setelah baru tenang ia menjawab:

"Kau sudah salah menduga, tadi..aku...aku tiada maksud untuk menolong dirimu lolos dari cengkeramannya. aku hanya tidak senang karena ia mempergunakan kedua orang nona itu untuk membokong dirimu.. maka...maka aku lantas turun tangan."

"Ooow...kiranya begitu..." ia merandek, setelah berhenti sesaat ujarnya kembali:

"Baik, kalau begitu Thay Kiem serta Thay Gien telah menerima budi kebaikanmu, akan kutinggalkan mereka berdua untuk merawat dirimu !"

"Aku tidak membutuhkan sesuatu apapun terhadap mereka berdua" Tampik sianak muda itu seraya menggeleng, "Silahkan kalian berlalu dari sini !"

"Eei...bagaimana sih kau ini ? sungguh membosankan !?" seru Kiem Lan Hoa dengan wajah keren.

"Kau hanya mengijinkan dirimu berbuat sesuatu untuk orang lain, tetapi tidak sudi menerima kebaikan orang lain yang pernah kau tolong?" Tonghong Pek membungkam, teguran ini membuat sianak muda itu tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Hmmm!" kembali Kiem Lan Hoa mendengus "Thay Kiem, Thay Gien, kalian berdua lepaskan dirinya dan ikut aku, ada urusan hendak kupesankan kepada kalian berdua."

Thay Kiem, Thay Gien mengiakan, mereka sama2 lepas tangan dan berlalu.

Kedua orang gadis bodoh ini sama sekali tak tahu kalau Tonghong Pek sedang terluka, mendengar perkataan memerintahkan mereka lepas tangan, maka tanpa mendudukkan dahulu sianak muda itu, cekalannya lantas dilepaskan.

Setelah kedua orang itu lepas tangan, Tonghong Pek pun tak bisa berdiri tegak badannya segera miring dan roboh keatas tanah.

Menyaksikan sianak muda itu jatuh terjengkang, Thay Kiem serta Thay Gien jadi tertegun, mereka lantas berteriak.

"Eeeei, kenapa sih kau tak mau berdiri tegak?"

Bantingan ini hampir saja membuat Tonghong Pek jatuh tidak sadarkan diri, mana ia punya kekuatan untuk berbicara lagi?

Sementara itu dengan alis berkerut Kiem Lan Hoa telah menggape kearah mereka berdua:

"Jangan urusi dirinya lagi, mau jatuh atau tidak itu bukan urusan kalian, ayoh cepat kemari!"

Thay-Kiem serta Thay-Gien mengiakan, sambil berjalan kerap kali mereka berpaling melirik sekejap kearah Tonghong Pek, wajah mereka penuh diliputi rasa kaget dan tercengang, agaknya kedua orang gadis itu merasa heran apa sebabnya Tong hong Pek tak dapat berdiri tegak.

Dengan sekuat tenaga Tonghong Pek berusaha merangkak bangun, ia melihat Thay-Kiem serta Thay Gien mengikuti Kiem Lan Hoa bergerak maju sehingga tiga lima tombak kedepan dan berhenti dibelakang batu besar, disana secara lapat2 terdengar pembicaraan mereka bertiga, apa yang sedang dipercakapkan tak seorangpun yang tahu, sebab Tonghong Pek merasa badannya sangat lemah sehingga akhirnya ia roboh terlentang.

Ia sadar Kiem Lan Hoa adalah sami mawon dengan Tonghong Pacu, mereka adalah iblis2 berhati keji, setelah terjatuh ditangannya sulit untuk diramalkan apa yang bakal terjadi.

Sianak muda itu menghela napas panjang, pejamkan mata dan menanti dengan hati kebat-kebit.

Lewat beberapa saat kemudian tiba2 terdengar suara langkah manusia bergerak mendekatinya sewaktu ia buka mata dan berpaling maka tampaklah Thay Kiem serta Thay Gien sedang bergerak mendekati mereka, setibanya di hadapan sianak muda itu mereka berdua jatuhkan diri Tong hong Pek.

"Heeeei . . . apa . . apa yang sedang kalian lakukan ??", "Tadi majikan berkata bahwa kau sudah menolong dia,

sedang kau tak mau menerima balas budinya, sedang jiwa

kamipun ditolong olehnya, kau menolong dia berarti. . berarti. . .".

Berbicara sampai disitu, kedua orang gadis jelek itu garuk2 kepala dan saling bertukar pandangan, agaknya merasa sudah melupakan kata-kata yang diajarkan Kiem Lan Hoa barusan. Tonghong Pek yang menyaksikan kejadian ini hatinya jadi mendongkol bercampur geli, teriaknya segera:

"Ayoh cepat pergi, ayoh cepat pergi buat apa sih kalian bikin onar belaka disini?"

Pengusiran ini bukannya membuat mereka pergi, justru malahan mengingatkan ucapan majikan nya buru2 sambungnya.

"Karena kau telah menolong kami, mulai sejak ini hari kau adalah majikan kami apa yang kau perintahkan kepada kami, pasti akan kami lakukan tanpa membantah."

Tonghong Pek dibikin menangis tak bisa meringis pun sungkan, mana ia sudi jadi majikan dari Thay Kiem, Thay Gien dua orang gadis jelek itu? sebenarnya ia hendak berkata: "Aku perintahkan kalian tinggalkan tempat ini. Namun segera teringat olehnya seumpama ia berkata begitu, bukankah berarti ia sudah mengakui sebagai majikan mereka? oleh karena itu buru2 serunya: "Aku bukan majikan kalian, cepatlah kalian pergi aku sama sekali bukan majikan kalian!"

Sambil berkata ia angkat kepala memandang kearah Kiem Lan Hoa, maksudnya hendak memberi tanda kepada dua orang gadis jelek itu, siapa nyana ia lantas dibikin tertegun, ternyata pada saat itu Kiem Lan Hoa sedang melayang ke depan dengan kecepatan laksana kilat dalam sekejap mata telah lenyap tak berbekas.

Sedang Thay Kiem serta Thay Gien yang mendengar Tonghong Pek jadi majikan mereka segera menangis tersedu2 sambil menangis mereka anggukan kepalanya berulang kali.

Tonghong Pek pejam matanya tidak menggubris kedua orang itu tetapi suara tangisan mereka berdua makin lama semakin sedih, beberapa saat kemudian terdengar salah satu diantaranya berseru:

"Kita sudah tak punya majikan, lebih baik mati saja." "Ucapanmu sedikitpun tidak salah" jawab orang kedua

sambil menangis makin menjadi2.

Ucapan ini sangat mengejutkan Tonghong Pek, sebab ia tahu kalau ucapan ini diutarakan orang lain, mungkin ia tak usah percaya, tetapi lain hal nya dengan kedua orang bodoh ini.

Buru2 ia buka mata dan menyapu kedua orang itu, sementara itu dari balik bajunya Thay-Kiem serta Thay- Gien sedang mencabut keluar sebilah senjata yang aneh sekali bentuknya, ujar salah satu diantaranya:

"Bunuhlah diriku lebih dulu !"

"Mana boleh begitu." -sahut-orang kedua, "Setelah kubunuh dirimu, lalu siapa-yang akan membunuh aku ?"

"Kau bisa mencari sebuah tebing yang terjal dan meloncat kedalam jurang."

"Kalau begitu bukankah kita berdua akan mati berpisah, kita tak dapat selalu bersama?" kata orang kedua sambil menangis makin sedih.

Isak tangis segera meledak dengan ramainya membuat burung pada terkejut dan bumi pada bergetar, beberapa saat kemudian mereka berdua baru berkata kembali:

"Kalau begitu kita berangkat ber sama2 cari tebing yang terjal dan meloncat ke dalam jurang bersama."

Sambil berkata mereka bangun berdiri. Pada waktu itu sambil menangis mereka menyeka ingus yang meleleh keluar dari lubang hidung ditambah dengan mulutnya yang mewek membuat wajah kedua orang itu semakin jelek. Tetapi Tonghong Pek sadar jiwa mereka berdua masih bersih dan sama sekali tidak dipengaruhi oleh kelicikan manusia, melihat kedua orang itu bangun berdiri buru2 serunya:

"Kalian hendak pergi kemana ?"

"Kami hendak mencari suatu tempat yang bisa mendatangkan kematian bersama." jawab Thay Kiem serta Thay Gien bersama.

"Bukankah kalian sedang membohongi diriku."

Thay Kiem serta Thay Gien berdiri melenggong meskipun isak tangisnya masih terdengar namun sepasang mata mereka terbelalak besar menatap Tonghong Pek tajam2, jelas mereka tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh sianak muda itu.

Melihat sikap kedua orang ini, Tonghong Pek jadi malu sendiri jelas kedua orang gadis jelek itu belum mengerti apa yang disebut "Berbohong" sebaliknya ia sudah menuduh mereka yang bukan?"

"Oow...aku tidak berkata apa2, kalian tak usah pergi cari mati lagi." buru2 serunya.

Seketika itu juga mereka berdua tertawa girang, "Kalau begitu kau adalah majikan kami" serunya. "Hunjuk hormat buat majikan !"

Seraya berseru mereka jatuhkan diri berlutut kembali keatas tanah dan menjalankan penghormatan besar.

Dalam keadaan seperti ini Tonghong Pek ingin menangis tak bisa tertawapun sungkan, ia cuma bisa berkata:

"Sudah...sudahlah, jangan anggukkan kepala lagi, ayoh bangun... ayoh bangun..." Dengan ujung bajunya mereka berdua menyeka wajah yang penuh air mata, setelah itu serunya hampir berbareng:

"Majikan, kami pasti akan baik2 melayani dirimu, mari telanlah dahulu benda ini, kau segera akan bisa meloncat bangun !"

Salah satu diantaranya ambil keluar sebuah kotak kumala dan membuka penutupnya, dari dalam kotak tadi segera muncul semacam mahluk aneh yang bergerak kian kemari, sebelum ia sempat melihat jelas benda apakah itu, tahu2 benda tersebut telah didorong ke hadapannya.

"Cepat telanlah benda ini, kau pasti akan sembuh kembali."

Tonghong Pek sama sekali tak tahu benda apakah itu, sewaktu mahluk tadi didekatkan padanya ia mencium bau aneh yang sangat memuakkan.

Sianak muda itu tidak kuat mencium bau2 an tersebut, buru2 ia berpaling kesamping tetapi Thay Kiem tidak banyak bicara ia segera tangkap mahluk aneh itu dan dijejalkan kedalam mulut Tonghong Pek.

Dengan sekuat tenaga Tonghong Pek berpaling tetapi Thay Gien yang ada disisinya segera menekan kepala sianak muda itu sekuat tenaga.

Pada dasarnya Tonghong Pek memang lagi lemas tiada bertenaga, setelah ditekan Thay Gien dengan segenap tenaga ia jadi tak berkutik, hampir2 saja jatuh tidak sadarkan diri.

Tanpa sadar mulutnva terbuka lebar, tiba2 ia merasakan ada segulung api dijejalkan kedalam mulutnya membuat seluruh tenggorokan terasa seperti dibakar. Ia kaget dan menjerit keras, apa lacur justru karena ia berteriak, gumpalan api yang sangat panas itu segera menerobos kedalam tenggorokannya masuk kedalam perut lewat dada langsung menuju ke pusar.

Seketika itu juga Tonghong Pek merasakan gumpalan api itu meluncur dari pusar naik keatas badan, perasaan aneh muncul tiba2 ia berusaha meronta dan meloncat bangun, mulutnya ter-engah2.

Tiba2 terdengar Thay Kiem serta Thay Gien bertepuk tangan dengan gembiranya.

"Sungguh menakjubkan..sungguh hebat." teriak mereka, "Coba lihat, begitu ditelan, majikan kontan bangun berdiri

!"

Tonghong Pek merasakan bukan saja seluruh badannya terbakar bahkan urat nadi serta jalan darahnya ikut terasa seperti dibakar, tak tertahan teriaknya:

"Ben...benda apakah itu ?"

"Majikan kenapa kau ?" teriak kedua orang gadis jelek itu dengan hati terperanjat, kiranya dia menemukan wajah Tonghong Pek merah ber api2. sehingga kelihatan amat mengerikan.

"Benda apakah yang telah kalian berikan kepadaku ?" teriak sianak muda itu.

"Kami sendiripun tidak tahu, benda itu diserahkan majikan kepada kami dan suruh kami dalam keadaan bagaimanapun harus memaksa majikan untuk menelannya, kata majikan. setelah majikan menelan benda itu niscaya segera akan meloncat bangun !"

"Kata majikan yang diucapkan kedua orang itu pasti akan membingungkan orang yang tak tahu, namun Tonghong Pek tahu yang dimaksudkan majikan pertama kali adalah Kiem Lan Hoa sedang majikan berikutnya adalah dia sendiri.

Hawa panas yang berkobar dalam tubuhnya, makin lama semakin menebal seakan2 setiap saat tubuhnya dapat meledak.

Ia tak dapat menahan diri akhirnya pemuda ini berteriak keras, entah darimana datangnya tenaga, seluruh tubuhnya tahu2 sudah meloncat ke atas.

Loncatan ini mencapai ketinggian tiga, lima tombak lebih, begitu tinggi ia meloncat hampir saja membuat ia sendiripun jadi terperarjat. dalam hati dia merasa tercengang, sebelum kejadian ia lemah tak bertenaga, siapa sangka pada saat ini tenaganya begitu besar.

Ketika tubuhnya meloncat kebawah, hawa murni dalam tubuhnya bergolak keras memaksa badannya tak bisa berdiri tenang sepasang tangannya berkelebat mencari kesana kemari, beruntun ia melancarkan empat buah serangan sekaligus.

Setelah itu dengan sekuat tenaga ia lari kedepan, semakin cepat ia berlari pergolakan hawa murni dalam tubuhnya makin tenang dan badannya terasa semakin nyaman.

Tak kuasa lagi makin lari ia semakin cepat sehingga suatu ketika sama sekali tak dapat menguasai diri.

Sementara itu Thay Kiem serta Thay Gien yang ada dibelakangnya berteriak keras memanggil namanya, ketika ia berpaling kebelakang tampaklah kedua orang gadis jelek itu sedang mengejar dengan ketatnya, namun selisih jarak mereka makin lama semakin dekat.

Pada saat itulah, mendadak terdengar kedua orang gadis itu berteriak: "Majikan hati2!"

Buru2 ia berpaling tampaklah beberapa tombak dihadapannya berdiri sebuah pohon waru yang amat besar menghadang jalan perginya, kalau ia tidak cepat2 menghentikan larinya, niscaya ia akan menumbuk pohon tersebut.

ooodOwooo

BAB 14

TETAPI ketika itu gerak tubuh Tonghong Pek benar2 cepatnya luar biasa, sekalipun ia berusaha menahan diri belum tentu usaha tersebut bisa dilaksanakan lagi pula dalam jarak sedekat itu, dalam sekejap mata segera akan tiba, tidak mungkin baginya untuk menghindarkan diri lagi.

"Braaak !" tidak ampun lagi badannya menubruk keras diatas pohon waru itu.

Tubrukan ini mengakibatkan pohon besar tadi jadi melengkung untuk kemudian melemparkan tubuh sianak muda itu kebelakang, kejadian aneh telah berlangsung dalam tubrukan ini Tonghong Pek sama sekali tidak merasakan badannya jadi sakit.

Badannya yang terlempar oleh pantulan pohon tadi melayang makin lama semakin tinggi hingga akhirnya mencapai lima tombak melewati diatas kepala Thay Kiem serta Thay Gien dia meluncur kebawah.

Berada dalam keadaan seperti Tonghong Pek sadar, seandainya ia sampai terbanting ke atas tanah niscaya badannya bakal remuk atau paling sedikit patah2 tulang, segera ia mengempos tenaga berusaha menahan daya luncur dari bantingan tersebut. Tapi tahu hawa murni dalam badannya berputar semakin cepat, bukannya sang badan meluncur kebawah, malahan ia melayang beberapa tombak lebih keatas. Tonghong Pek sangat terperanjat, ia tidak menyangka tenaga dalamnya peroleh kemajuan sangat pesat, sebab tanpa sadar barusan ia telah menggunakan ilmu meringankan tubuh "Kat Kiat Sin Thian" yang sangat ampuh dimana tak mungkin bisa digunakan oleh seseorang yang bertenaga dalam cetek.

Demikian akhirnya dengan satu gerakan yang enteng dan manis, Tonghong Pek berhasil melayang turun keatas permukaan tanpa kekurangan suatu apapun.

Thay Kiem serta Thay Gien dengan wajah penuh senyuman segera lari menghampiri dirinya, sambil bertepuk tangan mereka berseru:

"Majikan, sungguh lihay ilmu silatmu, tak disangka bisa terbang keatas langit !"

"Aku bukan seekor burung, mana bila terbang?" seru sang pemuda.

"Eei...bukankah barusan kau sedang terbang ? bahkan makin terbang semakin tinggi. Majikan kau harus ajarkan kepada kami bagaimana caranya untuk dapat terbang, oouw...kami mohon sukalah kau beri pelajaran terbang kepada kami, mau bukan ?"

"Sudah jangan ribut lagi, sejak tadi sudah kukatakan kepada kalian, aku tidak bisa terbang, tapi aku mencelat karena menubruk pohon, aku adalah majikan kalian, kenapa membohongi dirimu berdua ?"

"Baik...baik...memang kami yang salah, harap majikan jangan marah !" buru2 Thay Kiem serta Thay Gien berseru. Saat ini hawa panas yang bergelora dalam badannya sudah padam, hawa murni dalam tubuh pun telah peroleh kemajuan pesat sebagai ahli silat seharusnya ia merasa gembira, tapi Tonghong Pek malah kerutkan dahinya sambil menghela napas panjang.

Mendengar suara helaan napas, Thay Kiem serta Thay Gien saling bertukar pandangan sekejap, lalu berseru bersama:

"Majikan, mengapa kau tidak senang hati? perlukah kami berdua main badut agar kau bisa tertawa?"

"Aah, tidak usah!" sahut sianak muda itu sambil tertawa setelah tertegun sejenak.

Melihat majikannya tertawa, kedua orang gadis jelek itupun ikut tertawa, ujarnya kembali.

"Majikan, kami pandai sekali bermain badut, suatu waktu apabila hatimu tidak gembira, panggillah kami tanggung kau bisa tertawa terbahak-bahak.

Tonghong Pek tertawa, sedang dalam hati ia tetap amat risau.

Setelah berpikir sebentar ia berkata kembali.

"Kalian berdua mengakui aku sebagai majikan tidak lebih karena ingin menolong diriku belaka, sekarang aku sudah tak ada urusan lagi, lebih baik kalian kembali dan carilah majikan kalian semula, sejak sekarang kalian tak usah menyebut aku sebagai majikan lagi." Thay Kiem serta Thay Gien segera jadi mewek kepingin menangis.

"Ayoh pergi cepat dari sini," seru Tonghong Pek kembali, kontan meledaklah isak tangis Thay Kiem serta Thay Gien. "Majikan! kau suruh kami pergi, berarti kau ingin kami pergi mati, setelah kami mati maka seandainya majikan tak bangun berdiri lagi, siapa yang membantu dirimu?"

Tonghong Pek adalah seorang pemuda berhati welas, ucapan ini menyedihkan pula hatinya, buru2 serunya:

"Sudahlah anggap saja aku tidak ucapkan apa-apa, baiklah ikuti saja diriku, hanya...dalam hati aku masih ada urusan penting lain yang tidak ingin diketahui orang, sejak kalian mengikuti diri ku. maka kularang kalian berbuat keonaran."

"Semua urusan akan kami taati perintah majikan, kami tidak akan bikin keonaran." jawab ke dua orang gadis itu sambil tertawa kembali.

Tonghong Pek tertawa getir, dunia begini luas ia hendak membawa kedua orang gadis itu menuju kemana ?

Akhirnya sambil bergendong tangan ia melanjutkan perjalanannya kedepan Thay-Kiem serta Thay Gien dengan kencang mengikuti dari belakang.

Pada saat ini ia benar2 tanpa tujuan, pemuda itu cuma tahu berjalan terus kedepan sampai kakinya lelah baru berhenti.

Tiba2...entah sudah lewat berapa lama, ia merasakan seluruh wajahnya gatal sekali, bagaikan terdapat beribu2 ekor semut merangkak diatas wajahnya, ia garuk wajahnya yang gatal. Siapa nyana makin dipatuk semakin gatal seluruh meliputi hampir seluruh wajah. 

Tonghong Pek tercengang, tetapi rasa gatal sukar ditahan, ia pun menggaruk kuat2, siapa nyana rambutnya mulai ikut rontok semua. Rasa gatal menyerang semakin hebat sehingga akhirnya hampir seluruh rambut yang tumbuh diatas kepalanya telah rontok semua, kini ia berkepala gundul, sedikit rambutpun tak tersisa lagi.

Rasa kaget yang menyerang sianak muda ini sukar dilukiskan dengan kata2 lagi, ia tidak tahu apa sebabnya rambut itu bisa rontok semua tak berbekas.

Setelah gundul, rasa gatal yang menyerang batok kepalanya lenyap tapi gatal itu berpindah ke atas wajah, garukan yang keras menyebabkan wajahnya mulai membengkak dan benjol2 disana sini terasa sekali waktu diraba permukaan wajahnya sudah tidak rata.

Tonghong Pek benar2 terperanjat, sambil putar badan ia berteriak, "Kalian . . ."

Tiba2 terdengar Thay Kiem serta Thay Gien berteriak aneh, wajah mereka menunjukkan mimik ketakutan sambil berteriak langkah kaki pun mundur tujuh delapan langkah kebelakang.

Setelah timbul benjolan diatas wajah, rasa gatal tadi lenyap tak berbekas.

Pikiran Tonghong Pek pun rada jadi bimbang kembali sewaktu menyaksikan kedua orang gadis jelek itu menunjukkan mimik ketakutan, Ia lantas menegur, "Kenapa kalian?"

Suaranya kembali terdengar jauh berbeda dari semula, sebab diantara bibirnya timbul pula benjolan2 keras yang sama sekali merubah bentuk mulut sianak muda itu

"Kau. . kau ini siapa kau?" teriak Thay Kiem serta Thay Gien hampir berbareng. "Aku adalah majikan kalian!" Thay Kiem serta Thay Gien saling bertukar pandangan sekejap, tiba2 menjerit melengking.

"Kau adalah siluman, kau telah mencelakai majikan kami, kami hendak menyaru sebagai majikan kami, kau hendak menipu kami. . . ayoh jangan pergi."

Sambil berteriak kedua orang gadis jelek itu laksana gulungan angin puyuh menerjang datang, tanpa banyak bicara lagi telapak tangannya segera ditabok kedepan menyerang sianak muda secara serentak.

Tonghong Pek segera rendahkan badannya, sepasang telapak diputar dan bersama2 didorong ke depan . . Plaak! Plaak! ia telah saling beradu tenaga satu kali dengan mereka berdua.

Tonghong Pek tahu betapa lihaynya ilmu silat Thay Kiem serta Thay Gien maka dalam bentrokan barusan ia telah salurkan pula sedikit tenaga dalamnya.

Tentu saja sianak muda itu tiada maksud mencelakai kedua orang gadis jelek ini, tapi ia lupa bahwa tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan pesat, meskipun hanya menggunakan tiga empat bagian tenaga namun sudah cukup luar biasa sekali.

Terdengar Thay Kiem serta Thay Gien menjerit keras. badan mereka dipukul mental oleh bentrokan itu sehingga bergelindingan ditanah.

"Siluman. sungguh lihay kau?" teriak mereka berdua sambil meloncat bangun.

"Aku bukan siluman!" pemuda itu menerangkan.

Seraya berseru ia maju menghampiri kedua orang tetapi Thay Kiem serta Thay Gien segera putar badan melarikan diri. sambil berlari teriaknya: "Kau sudah mencelakai majikan kami, kami hendak cari majikan semula untuk datang membunuh dirimu, kau jangan berlagak sok!"

Dalam sekejap mata kedua orang gadis jelek itu sudah lenyap tak berbekas dibalik tikungan bukit. Dengan termangu2 Tonghong Pek berdiri ditempat semula, ia tak mengerti apa sebabnya Thay Kiem serta Thay Cien mengatakan dia sebagai "siluman" mungkinkah diatas wajahnya telah terjadi perubahan??

Tanpa terasa ia meraba keatas wajah sendiri, segera ditemuinya seluruh wajah penuh dengan benjolan2 keras yang menutupi seluruh pipi, bukan begitu saja bahkan suaranyapun berubah, ia dapat membayangkan betapa seramnya wajah yang dimilikinya saat ini.

Setelah tertegun sejenak, akhirnya ia melanjutkan perjalanannya kedepan dan berhenti kembali ketika tiba disebuah selokan. lalu berjalan ketepi selokan itu bercermin wajah sendiri.

"Aaaa . . . !" Tonghong Pek menjerit aneh, badannya kemudian tak kuasa mundur selangkah kebelakang.

Sungguh mengerikan sekali yang ia temui di atas permukaan air bukan wajah seorang manusia, sebab kalau manusia tidak mungkin memiliki wajah seperti itu, sekarang ia baru paham apa sebabnya Thay Kiem serta Thay Gien, menyebut "Siluman" kepadanya dan lari terbirit2.

Sekarang ia telah berubah jadi seorang manusia aneh. Seorang manusia aneh wajah yang sembab merah darah, bibirnya jadi lenyap tak berbekas. Goncangan yang terjadi benar2 mengejutkan hati Tonghong Pek, ia berdiri tertegun dan bungkam dalam seribu bahasa. Akhirnya ia tertawa ter bahak2, sambil tertawa badannya berkelebat kedepan dia lari se keras2 nya. ia hendak gunakan tindakan tersebut untuk melampiaskan rasa kalut yang menyerang badannya.

Sejak itu ia selalu berkeliaran ditengah pegunungan tinggal yang jauh dari keramaian manusia, ia tidak ingin bertemu dengan siapapun, tidak ingin bertemu dengan selokan sehingga tercermin bentuk wajahnya dan iapun tak tahu sudah berapa lama ia berkeliaran didalam gunung.

Suatu hari, ketika tiang hari telah tiba dan Tonghong Pek sambil menutupi wajahnya sedang duduk diatas sebuah batu besar, tiba2 terdengar suara langkah manusia berjalan mendekati kearah nya.

Langkah kaki orang itu sangat cepat sekali, dalam sekejap mata tahu2 sudah berada di hadapannya, bahkan dari langkah tersebut jelas bukan seorang manusia belaka.

Buru2 Tonghong Pek berlagak pilon dengan terus duduk diatas batu sambil menutupi wajahnya.

Beberapa saat kemudian langkah manusia itu telah tiba ditempat itu mendadak berhenti dan terdengar suara seseorang sedang berseru:

"Eei... ada orang sedang duduk disana, mari kita cari berita kepadanya ?"

"Baik!" jawab orang kedua dengan suara lengking "Eeeii

. , tolong tanya Liat Hwee Sin Tuo bersembunyi dimana?," sebenarnya Tonghong Pek tidak ingin berbicara dengan siapapun, tetapi ketika mendengar orang itu mengungkap soal gurunya Liat Hwee Sin Tuo, hatinya terjelos, ia tahu seandainya dia angkat muka niscaya orang itu akan terperanjat, maka sambil tetap duduk membelakangi kedua orang itu sahutnya. "Entah apa maksud kalian berdua menanyakan tentang Liat Hwee Sin Tou?"

"Coba lihat, hweesio ini benar2 menarik hati" Gelak tertawa segera menggema memenuhi angkasa, "Kami bertanya kepadanya, ia malahan bertanya kepadaku."

"Eeeii . . hwesio gundul, lebih baik kau tak usah banyak bicara!" Seru orang bersuara lengking itu kembali, "Katakan saja kepada kami, dimanakah bajingan bongkok itu bersembunyi."

Terutama kata "Bajingan bongkok" tersebut seketika menggusarkan hati sianak muda itu, ia segera putar badan sambil membentak, "Siapakah kalian berdua? mengapa memaki orang lain seenaknya?"

Dua orang lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini memakai baju ringkas semua yang satu tinggi dan yang lain pendek, agaknya ilmu silat yang mereka miliki lihay juga.

Pada waktu itu. kedua orang lelaki tersebut berdiri dengan mulut melongo sepasang mata mereka menatap wajah Tonghong Pek dengan terbelalak, mimik mukanya kelihatan "aneh sekali"

"Hmm! apa maksud kalian menatap wajahku" tegur Tonghong Pek sambil menuding kedua orang itu:

Dengan terhuyung kedua orang lelaki mundur tiga langkah ke belakang. "Kau... kau... manusia... aaa...atau setan?" serunya gugup.

"Aku bukan manusia, juga bukan setan" jawab Tonghong Pek sambil lambat2 bangun berdiri.

"Lalu kau . . kau adalah siapa?"

"Aku adalah sukma gentayangan yang menjaga gunung ini, pernahkah kalian dengar akan diriku ?" Mimik wajah yang seram dari sianak muda itu ditambah suara yang mengerikan sewaktu menjawab kata2 tersebut membuat kedua orang itu ketakutan setengah mati, mereka segera berteriak keras dan melarikan diri ter-birit2

Siapa sangka baru saja mereka putar badan, Tonghong Pek telah enjotkan badannya menghadang di hadapan kedua orang itu.

"Tunggu sebentar, aku hendak bertanya sesuatu kepada kalian!" tegurnya.

Diantara kedua orang itu. lelaki yang berperawakan tinggi rada bernyali, dalam keadaan gugup ia segera cabut keluar goloknya langsung di babat keatas tubuh sianak muda itu.

Selama beberapa waktu ini, tenaga dalam yang dimiliki Tong hong Pek kian hari kian bertambah lihay, meskipun bacokan tersebut datangnya tidak lemah namun sama sekali tidak dipandang sebelah matapun olehnya, sekali berkelebat tahu2 ia sudah menjepit golok tersebut.

Diikuti tangannya bergetar dengan sangat gampang ia berhasil merampas golok tadi dari tangan lawan.

"Aku adalah sukma gentayangan yang menjaga gunung ini" jengeknya sambit tertawa dingin "Tenagaku luar biasa besarnya tidak bakal kau sanggup kau hadapi diriku."

Seraya berkata tangannya bergerak cepat Pleetak....pleeetak,,. goloknya yang kena dirampas tadi sudah dipatah2 jadi tiga bagian kemudian dibuang keatas tanah.

Pucat pias seluruh wajah lelaki perawakan tinggi itu, saat ini ia berdiri dihadapan Tonghong Pek, mau maju tak dapat mundurpun sulit ia hanya bisa berdiri menjublak diam. Apalagi manusia berperawakan pendek itu, sejak semula ia sudah roboh lemas diatas tanah, berkutik sedikitpun tak dapat.

Tonghong Pek tertawa tergelak, ia tepuk batok kepala lelaki berperawakan tinggi itu sebanyak tiga kali meskipun tidak keras namun tempat yang diarah adalah tempat yang mematikan membuat lelaki itu saking takutnya hampir2 saja jatuh tidak sadarkan diri, Terdengar ia merintih dan merengek dengan suara gemetar.

"Ampun . . ooh dewa . . ampun . ."

Tonghong Pek mendengus, ia berjalan menjauhi kedua orang itu dan duduk diatas ranting kayu kemudian serunya.

"Aku hendak bertanya kepada kalian, apa maksud kalian datang mencari Liat Hwee Sin Tuo? asal bicara terus terang, kuampuni selembar jiwa kalian."

Mendengar ada kesempatan untuk hidup, ke dua orang itu segera merangkak bangun dari atas tanah.

Kedua orang ini bukannya manusia tak berotak, setelah rasa kaget lenyap merekapun lantas sadar pihak lawan bukan sukma gentayangan melainkan seorang tokoh sakti yang memiliki ilmu silat sangat lihay.

"Kami menanti perintah dari cianpwee!" serunya serentak.

"Bagus, apa maksud kalian datang mencari Liat Hwee Sin Tuo?"

Kedua orang itu saling bertukar pandangan sekejap, kemudian silelaki berperawakan tinggi itu menjawab:

"Kami mendapat perintah untuk mengundang Liat Hwee Sin Tuo menghadiri perayaan!" "Menghadiri perayaan apa?" tanya Tonghong Pek lebih jauh setelah tertegun sejenak.

Kedua orang itu kembali saling bertukar pandangan sekejap, agaknya mereka merasa keheranan dengan pertanyaan tersebut,

"Cianpwe, apakah kau tidak tahu?" jawab mereka beberapa saat kemudian. "Perjamuan ini dirayakan untuk menghormati putra kedua Tonghong Pacu yang hendak melangsungkan pernikahannya."

Sewaktu menyebutkan nama Tonghong Pacu, wajah kedua orang itupun kelihatan jauh lebih tenang, seakan2 nama besar dari gembong iblis itu dapat memberi semangat kepadanya.

Kembali Tonghong Pek dibikin tertegun, sebelum ia mengucapkan sesuatu, simanusia berperawakan pendek berseru dengan suara melengking.

"Perjamuan ini merupakan perjamuan yang paling meriah dalam dunia persilatan sepanjang masa, istri yang hendak dikawini Tonghong Loei bukan lain adalah putri kesayangan dari Si Thay sianseng, sudah berulang kali Tonghong Cianpwee datang mengundang Si Thay sianseng untuk menghadiri perjamuan itu, tapi setiap kali Si Thay sianseng selalu menghindar, meski pun demikian orang Bulim menebak, pada saatnya Si Thay sianseng pasti bakal munculkan diri, pada waktu itu mungkin suatu pertarungan dahsyat segera akan berlangsung!"

Diam2 Tonghong Pek tertawa getir, ia tidak menyangka apa yang pernah diucapkan Tonghong Pa-cu benar2 telah dilaksanakan.

Terdengar lelaki berperawakan tinggi itu berkata pula: "Tonghong sianseng serta Si Thay sianseng adalah dua orang tokoh sakti dalam dunia persilatan, pertemuannya dalam pesta perkawinan itu tentu saja akan menggemparkan seluruh dunia persilatan, sudah banyak orang yang berangkat ke situ, dan kami mendapat perintah dari Tonghong sianseng untuk mengundang kehadiran Liat Hwee Sin Tuo!"

"Pesta perkawinan itu akan diadakan dimana?"

"Dalam perkampungan Jiet Gwat Cung yang terletak di kaki gunung Tiong Tiauw San."

Kedua orang cungcu dari perkampungan Jiet Gwat Cung adalah sahabat karib dari Tonghong sianseng, apalagi didaratan Tionggoan sulit mencari tempat yang jauh lebih bagus dari perkampungan tersebut, dimana sekali muat bisa menerima tamu sebanyak selaksa orang !"

"Aku tahu Liat Hwee Sin Tuo tidak senang dengan segala keramaian, kalian tak usah pergi mengundang dirinya." kata Tonghong Pek lambat2.

"Tetapi..."

"Tetapi kenapa ?" tukas si anak muda itu. "Perjalanan kalianpun tidak sia2, sekalipun tidak berhari mengundang Liat Hwee-Sin Tuo, bukankah sama saja kalian bisa mengundang aku sisukma gentayangan ?"

Sikap kedua orang itu kelihatan serba rikuh, serunya: "Cianpwee kau...kau suka bergurau, seandainya kami

tidak mengundang diri Liat Hwee Sin-Tuo"

"Sudah tak usah banyak bicara lagi" Bentak Tonghong Pek gusar "Ayoh lekas jalan, dan hantar aku ke perkampungan Jiet Gwat-Cung !" Bentakan ini mengejutkan hati mereka berdua dengan wajah pucat pias kedua orang lelaki itu segera mengiakan.

"Baik ! baik !" tanpa bicara lagi mereka putar badan dan berlari.

Dengan kencang Tonghong Pek mengikuti dari belakang, selama ini kedua orang lelaki itu tak berani berpaling barang sedikitpun, mereka berjam2 lari terus kedepan tanpa berhenti.

Tiba2 suatu ingatan berkelebat dalam benaknya, perjalanan dari situ menuju perkampungan Jiet-Gwat-Cung berjarak tiga ratus li, seandainya ia tidak menutupi wajahnya dengan kain, bukankah wajahnya yang seram bakal mengejutkan banyak orang ?

Karena berpikir demikian ia segera menyambar baju silelaki berperawakan tinggi itu dan merobek nya sebagian besar.

Lelaki itu mengira Tonghong Pek menganggap perjalanannya lambat, ia jadi terperanjat, buru2 mengepos tenaga dan berlari lebih cepat.

Setelah melakukan perjalanan seharian penuh di jalan gunung yang sempit, sampailah mereka dijalan raya, untuk mencari hati kepada Tonghong Pek kedua orang itu segera berseru:

"Cianpwee... apakah perlu kami siapkan kuda ?" "Seandainya didepan sana ada dusun atau kota, siapkan

sebuah kereta buat diriku."

Kedua orang itu buru2 mengiakan, kurang lebih dua jam kemudian ketika senja telah menjelang datang sampailah mereka disebuah kota kecil, kedua orang itu segera siapkan kereta dan pada malam hari itu juga mereka melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan pelbagai ingatan memenuhi benak Tonghong Pek, ia teringat akan Si Soat Ang, teringat pula akan Tonghong Pacu...

Entah sudah lewat berapa jauh, pada senja hari kedua kereta itu mendadak berhenti disusul suara teguran seseorang berkumandang datang.

"Eei...bukankah kalian berdua mendapat perintah dari Tonghong sianseng untuk mengundang Liat Hwee-Sin Tuo

? apakah sudah kau undang datang."

"Liat Hwee Sin Tuo toh tidak berhasil kami undang, tetapi telah datang seorang tokoh lihay, ayoh cepat kalian menyingkir !"

"Kami disini bertugas untuk menyambut tamu, siapapun yang datang harus sebutkan dahulu namanya."

Sebelum kedua orang itu sempat menjawab, Tonghong Pek telah buka pintu meloncat keluar.

Ketika itu wajahnya telah dikerudungi kain hitam, maka siapapun tidak dapat menyaksikan wajahnya yang seram, ia temukan dirinya waktu itu berada disebuah jalan raya yang lurus sekali, disebelah kiri tumbuh pohon siong dan sebelah kanan tumbuh pohon waru, di ujung jalan terlihat tembok pekarangan meski tinggi namun bangunan loteng dibalik tembok dapat terlihat amat jelas.

Tong hong Pek segera menduga, tempat inilah perkampungan Jiet Gwat Cung yang tersohor itu, lekas mereka berhenti terdapat dua buah gardu, kurang lebih tiga dua puluh orang dengan pakaian ketat berwarna merah dan hitam berdiri disekitar sana, dandanan mereka sangat aneh, jelas tokoh2 sakti dari perkampungan Jiet Gwat Cung tersebut.

Begitu Tonghong Pek munculkan diri dari balik kereta, ia segera disongsong oleh dua orang lelaki kekar sambil menjura mereka berkata:

"Tolong tanya siapa nama besar anda? apa maksud datang ke perkampungan kami?"

"Aku she Pek, urutanku nomor tiga maka di sebut Pek Sam."

Siapapun segera akan tahu bahwa nama tersebut adalah nama palsu, tidak terkecuali dua orang itu, mereka saling bertukar pandangan sejenak kemudian sahutnya,

"Ooow. . . ! kiranya Pek Sam sianseng, Selamat bertemu, dapatkah Pek Sam sianseng membuka kain hitam yang mengerudungi wajahmu sehingga kami dapat menyaksikan raut wajah anda?"

"Lebih baik tak usah."

"Dalam perkampungan kami sedang mengadakan perayaan perkawinan, sahabat dari pelbagai daerah datang berkunjung kemari." kata kedua orang itu tetap bersikeras.

"Untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan, apabila anda tak mau sebutkan nama sebenarnya, terpaksa harus perlihatkan raut wajah anda sebenarnya, dengan demikian kamipun bisa bertanggung jawab atas tugas tersebut."

Apa yang diucapkan kedua orang ini masuk diakal, hal ini membuat Tonghong Pek tertegun.

"Wajahku sangat mengerikan, kalau anda berdua tidak percaya silahkan tanya kepada mereka berdua, aku rasa lebih baik, tak usah dibuka saja." Sambil berkata ia menuding kearah dua orang yang bertindak sebagai kusir itu.

Kedua orang lelaki itu segera menghembuskan napas dingin dan mengangguk.

"Tidak salah, apa yang ia katakan memang betul."

Tetapi kedua orang jago dari perkampungan Jit Gwat Cung itu tetap tertawa ujarnya kembali:

"Tidak jarang tokoh lihay cari Bulim memiliki wajah yang luar biasa, seandainya dikatakan begitu mengerikan wajah anda sehingga berada di siang hari bolongpun mengejutkan orang, tidaklah anda merasa ucapan tersebut sedikit berlebihan?" Melihat kekerasan hati orang itu, Tonghong Pek menghela napas panjang.

"Seandainya kalian tidak percaya... yaa terpaksa harus kubuka juga kerudung hitam ini."

Seraya berkata ia lepaskan kain kerudung yang menutupi wajahnya itu.

Begitu kain tersingkap, seluruh jago perkampungan Jiet- Gwat Cung yang berada disekeliling sana jadi berdiri menjublak, suasana seketika berobah jadi hening, mata semua orang terbelalak dan mulut pada melongo, mereka yang semula tertawa saat ini membungkam, jelas terlintas betapa seramnya hati orang2 itu.

Dalam pada itu sang surya telah condong ke barat, senjapun menjelang datang, siapapun tidak percaya apabila Tonghong Pek yang berdiri dihadapan mereka sebenarnya adalah manusia, mereka tidak menyangka dikolong langit terdapat seorang manusia berwajah seram...

Dari mimik wajah mereka serta sikap orang itu Tonghong Pek dapat memahami perasaan mereka maka segera dia menutup kembali wajahnya dengan kain kerudung hitam tersebut.

"Cayhe datang kemari sengaja untuk menyampaikan selamat, harap anda sekalian jangan menampik !" serunya.

Menanti wajahnya yang seram telah lenyap di balik kain kerudung, semua orang pun baru menghembuskan napas panjang, dua orang yang berada dihadapannya segera mengundurkan diri selangkah ke belakang sambil berkata:

"Saa...sahabat...sahabat Pek, silahkan mengikuti kami masuk kedalam perkampungan."

Seraya berkata mereka mengundurkan diri ke belakang, ternyata mereka tak berani jalan membelakangi Tonghong Pek.

"Tonghong sianseng serta sepasang pengantin apakah sudah hadir pula dalam perkampungan ?" tanya sianak muda itu.

"Ada... ada dalam perkampungan."

"Disamping itu cayhe sudah lama mendengar nama besar dari cungcu berdoa, tentu saja aku harus menyambangi dirinya, harap kalian berdua suka membawa cayhe untuk menyambangi Cungcu berdua, entah bagaimana menurut pendapat kalian ?"

"Cungcu telah berpesan, para tetamu tak usah dibawa kepada mereka, tetapi....tapi seandainya tadi. . . anda berbuat demikian, tentu . . tentu saja terkecuali.." Tonghong Pek tertawa getir.

"Orang berwajah jelek ternyata punya "kegunaannya juga" Ucapan ini membuat kedua orang itu menangis tak bisa tertawa pun tak dapat, terpaksa mereka mengiakan.

"Perkataan anda memang benar." "Tonghong Pacu, Tonghong Loei serta nona Si tentu sudah lama berada dalam perkampungan?"

Kedua orang itu tak berani menjawab kembali mereka membenarkan:

"Benar."

"Siapa lagi yang datang ber-sama2 Tonghong sianseng?"

Kedua orang itu saling bertukar pandangan sekejap mata baru menjawab.

"Mereka datang bersama Tonghong Hujien serta seorang nona muda."

Tonghong Pek tahu siapakah "Tonghong Hujien" itu, tetapi ketika mendengar adanya "Seorang nona muda" hatinya berdebar2 keras.

"Apakah nona tersebut she Si?" buru2 tanyanya.

"Kami tidak tahu she apakah dia itu, tetapi sering kali kami dengar nona Si panggil nona itu sebagai nona Giok Jien!"

"Bukan dia yang kumaksudkan, aku sedang bertanya atas nona Si dia bernama Si Soat Ang."

"Belum pernah kami dengar ada orang she Si" segera kedua orang itu menjawab.

Tonghong Pek merasa pikirannya kalut, ia tidak tahu apa yang telah terjadi antara Tong hong Pacu dengan Si Soat Ang sepeninggalnya dia, semula ia masih mengira gadis itu berada bersama ayahnya.

Tetapi sekarang ia baru tahu, Si Soat Ang tidak berada diperkampungan Jiet Gwat Cung, lalu kemanakah perginya gadis itu? apakah ia pergi mencari dirinya? seandainya benar maka sepanjang masa tak bakal ia temukan, sebab manusia yang bernama Tonghong Pek telah lenyap dari muka bumi ini, tak mungkin ada orang yang mengenali dirinya kembali.

Dengan hati kesal dan kepala tertunduk Tonghong Pek berjalan mengikuti dibelakang kedua orang itu. Tanpa terasa ia sudah tiba didepan sebuah bangunan yang megah, naik keatas anak tangga dan masuk kedalam sebuah ruangan yang amat besar.

Dalam ruangan terdapat kursi yang amat banyak, diantaranya terdapat dua buah kursi berlapisan kulit harimau, kulit harimau itu satu berwarna hitam dan yang lain berwarna putih.

Setibanya dalam ruangan kedua orang itu segera berseru: "Harap anda tunggu sebentar, kami segera akan memberi

kabar kepada Cungcu berdua!"

Tonghong Pek mencari sebuah kursi dan duduk menanti, sementara kedua orang itu buru2 berlalu.

Dari orang2 Bu lim, Tonghong Pek pernah mendengar bahwa Cungcu dari perkampungan Jiet Gwat Cung adalah sepasang saudara kembar, bukan saja wajah mereka sama dalam tingkah laku pun sama, yang berbeda hanya dalam tenaga dalam yang dimiliki, seorang berlatih ilmu tenaga dalam bersifat Yang sedang yang lain bertenaga Im, seandainya mereka bekerja sama maka kehebatannya tidak berada dibawah Tonghong Pacu maupun Si Thay sianseng.

Sementara Tonghong Pek sedang melamun, tiba2 terdengar irama musik mengalun sampai disusul horden tersingkap dan munculnya dua orang lelaki.

Kedua orang lelaki itu memiliki perawakan yang sama tinggi, usianya kurang lebih empat puluh tahunan wajahnya keren penuh wibawa dan satu sama lainnya persis tiada berbeda, yang berbeda pada saat ini hanyalah pakaian yang mereka kenakan, seorang memakai baju warna emas dan yang lain memakai baju warna perak.

Begitu masuk kedalam ruangan, kedua orang segera berhenti Tonghong Pek segera bangun berdiri dan menjura.

"Cayhe Pek Sam sengaja datang kemari untuk mengunjungi anda berdua, harap Cungcu berdua jangan merasa tidak senang hati."

"Sahabat Pek terlalu sungkan." balas kedua orang itu. "Tonghong sianseng hendak mengawinkan putranya ditempat ini, dan para jago Bulim setelah mendengar berita tersebut sama2 berkunjung kemari, hal ini merupakan suatu penghormatan buat cayhe berdua, anak buah kami kurang dan tempatnya terlalu sempit, seandainya ada pelayanan yang kurang memuaskan harap sahabat Pek suka memberi maaf."

Dari sikapnya yang sopan timbul simpatik dalam hati Tonghong Pek. pikirnya, "Kedua orang ini tidak mirip manusia dari kalangan sesat, mengapa ia bisa berkumpul dengan manusia macam Tonghong Pacu? sungguh patut disayangkan."

Meskipun wajahnya berobah, tabiat Tonghong Pek tidak berubah, ia tetap jujur dan polos.

"Cungcu berdua" katanya kemudian "Ada beberapa patah kata ingin cayhe ucapkan kepada anda sekalian, sebenarnya perkataan ini tidak pantas kuutarakan keluar, tetapi kalau tidak ku sampaikan rasanya hatiku kurang leluasa."

Pada waktu itu Ting Kang serta Ting Lou dua orang Cungcu dari perkampungan Jiet Gwat Cung, mereka saling bertukar pandangan sekejap kemudian menyahut: "Silahkan sahabat Pek utarakan..."

"Nama besar anda berdua dalam dunia persilatan tidak terlalu jelek, lagi pula kalian berdua bukan manusia macam Tonghong pacu merayakan pesta perkawinan putranya dalam perkampungan anda? bukankah tindakan tersebut sama halnya berkomplot dengan manusia2 bejat itu?"

Air muka Ting Kang seru Ting Lou seketika itu juga berubah hebat, begitu sianak muda itu menyelesaikan kata2nya Ting Kang langsung mendengus dingin.

"Anda sudah datang sebagai tetamu, apakah merasa tidak sedikit keterlaluan dengan mengatakan dengan kata2 seperti itu?"

Tonghong Pek tertawa getir.

"Cungcu berdua, aku hanya bicara menurut kenyataan seandainya kalian berdua tidak suka mendengarkan, anggap saja tak pernah kuucapkan perkataan tersebut pada kalian."

Baru saja ucapan itu diutarakan, dari depan pintu telah berkumandang datang suara teguran Tonghong Pacu yang amat lantang hingga memekikkan telinga.

"Aku dengar dalam perkampungan telah kedatangan seorang jago lihay she Pek, sebenarnya manusia macam apakah orang itu?"

Bersamaan dengan ucapan tersebut, tampak Tonghong Pacu melangkah masuk kedalam ruangan dengan langkah lebar, sepasang matanya laksana kilat menatap wajah Tonghong Pek tajam-tajam.

Diam2 sianak muda itu merasa hatinya berdebar keras, ia takut wajahnya diketahui oleh gembong iblis tersebut tetapi setelah terbayang betapa ngerinya wajah yang ia miliki saat ini, dengan tenang ia duduk menanti. Dengan cepat Tonghong Pacu telah tiba di hadapannya, terdengar ia berkata kembali.

"Sahabat, kau datang ke perkampungan Jiet Gwat Cung pada saat seperti ini, apakah kau tidak takut ada ancaman dari berkomplotnya suatu kekuatan?"

Ucapan ini membuktikan bahwa Tonghong Pa cu sejak tadi sudah curiga dengan perkataannya dari luar pintu, hal ini semakin menambah pandangan rendah sianak muda itu terhadap ayahnya.

"Aku dengar anda hendak menyelesaikan perkawinan putra anda dengan putri kesayangan dari Si Thay sianseng, aku duga Si Thay sianseng tentu akan hadir kemari maka dari itu aku datang menyaksikan keramaian ini?"

"Oouw...kiranya anda ada maksud datang kemari untuk nonton keramaian bagus sekali, hanya aku tidak tahu ketika keramaian tersebut sedang berlangsung, apakah anda hanya menonton belaka ataukah punya rencana lain ?"

Tonghong Pek tertawa kering.

"Tentang soal ini sih sulit dibicarakan, harus kukatakan setelah meninjau situasi pada waktu itu!"

Tonghong Pacu menghantamkan telapaknya ke atas meja disisinya hingga menimbulkan suara keras, serunya:

"Bagus, sungguh tepat ucapanmu, saat pesta perkawinan nanti, aku pasti akan undang saudara untuk duduk dikursi utama..."

Berbicara sampai disitu, nada ucapannya tiba2 berubah, setelah tertawa dingin jengeknya:

"Hanya seorang lelaki sejati, seorang enghiong hohan saja yang tidak akan bertukar nama, mengapa anda berikan sebuah nama palsu kepada kami ?" Kembali Tonghong Pek tertawa getir, pikirnya:

"Nama asliku tiada berharga untuk di sebut, apabila kusebut namaku maka aku tak akan terlepas dari tanganmu kembali."

Karena berpikir demikian, ia lantas berkata:

"Tonghong sian-seng kau sudah salah paham, cayhe benar2 she Pek dan punya urutan nomor tiga, tiada berharga aku bicara bohong!"

"Lalu apa sebabnya Pek siaute menutupi wajahmu dengan secarik kain hitam, mengapa kau tidak berani bertemu orang dengan wajah aslimu?"

"Sebab wajah cayhe sangat mengerikan, maka aku tidak ingin mengejutkan orang lain."

"Haa...haa...haa...ucapan anda apakah tidak sedikit keterlaluan ? ataukah anda menganggap cungcu berdua serta cayhe adalah bocah cilik yang tak pernah bertemu orang yang bisa menakutkan wajah yang anda miliki ?"

"Hmm ? cayhe sih tiada maksud demikian." sahut Tong hong Pek sambil tertawa dingin, "Tetapi seandainya Tonghong sianseng memang menuduh demikian, terpaksa kain kerudung hitam ini harus kubuka, dan pada nanti kau menganggap tuduhanmu tidak salah"

Sambil berkata ia benar2 melepaskan kain hitam yang mengerudungi wajahnya.

Ting Kang serta Ting Lou sama2 bersuara tertahan, tanpa sadar mereka telah meloncat bangun.

Tentu saja kedua orang Cungcu dari perkampungan Jit Gwat Cung bukan anak kemarin sore, tapi melihat keseraman wajah Tonghong Pek, tanpa sadar mereka telah loncat bangun, beberapa saat kemudian mereka baru berhasil menguasai diri dan duduk kembali.

Sementara itu Tonghong pacu sendiripun kembali tergetar keras tubuhnya, pucat pias seluruh wajahnya.

Jelas nampak, ia bukan kaget karena wajah Tonghong Pek yang jelek, tapi disebabkan persoalan lain.

"Sudah kalian lihat wajahku? aku berbuat demikian bukan dikarenakan aku tak ingin bertemu orang dengan wajahku yang sebenarnya." kata Tonghong Pek kembali.

Dalam pada itu, setelah Tonghong Pacu berhasil menenteramkan hatinya, ia lantas berseru.

"Wah anda nampak mengerikan sekali." katanya, "Tetapi aku berani menebak, keanehan wajahmu pasti bukan dibawa sejak lahir bukan?"

Diam2 Tonghong Pek merasa kagum akan ketajaman mata Tonghong Pacu dengan luasnya pengetahuan yang ia miliki.

Belum sempat menjawab, sigembong iblis itu telah berkata:

"Pek sianseng, anda berasal dari wilayah Biauw sebelah mana?"

Ia tidak bertanya apakah sianak muda im datang dari wilayah Biauw, sebaliknya bertanya ia datang dari daerah sebelah mana wilayah Biauw.

Ini menunjukkan apabila ia sudah merasa yakin bahwa orang itu pasti berasal dari wilayah Biauw.

Tonghong Pek terperanjat, dari ucapan Tong hong Pacu barusan ia dapat meraba bahwa si gembong iblis itupun dapat menebak bahwa perubahan wajah itu disebabkan ia telah menelan sesuatu benda, dan benda itu hanya ada di wilayah Biauw.

Untuk sesaat Tonghong Pek tak sanggup menjawab pertanyaan itu, ia bungkam dalam seribu bahasa.

"Pek siauhiap, apa hubunganmu dengan Kiem Lan Hoa?" kembali Tonghong Pacu menegur sepasang matanya menatap si anak muda itu tajam.

Tonghong Pek semakin terperanjat, begitu hebat gerakan yang menyerang dalam tubuhnya sehingga tanpa sadar ia telah meloncat bangun.

Tonghong Pacu tertawa panjang tangannya diayun, kelima jarinya bagaikan jepitan segera mencengkeram bahunya.

Sejak semula Tonghong Pek sudah menyadari bahwa sigembong iblis itu membawa maksud tidak baik, maka ia sudah bersiap sedia merasakan datangnya desiran angin tajam, badannya segera menyingkir kesamping dia berkelebat maju ke depan.

Baru saja ia berkelit, kembali dengar desiran angin tajam menggulung datang dari dua arah dibelakang tubuhnya, ia lihat kedua orang-orang Cung-cu dari perkampungan Jiet Gwat Cung pun ikut melancarkan serangan.

Dalam keadaan terdesak ia menjerit aneh, tubuhnya berkelebat meloncat keatas, kemudian balas melancarkan dua buah serangan kebawah.

"Brak ! Brak !" kedua buah serangan itu saling membentur dengan serangan yang dilancarkan Ting Kang bersaudara, diikuti terdengar dua orang Cung cu itu berseru tertahan. Pada saat itulah tubuh Tonghong Pek telah melayang naik keatas tiang penglari, dari situ ia dapat menyaksikan dua bersaudara Ting terdesak mundur selangkah kebelakang oleh serangannya sedang wajah mereka kelihatan amat rikuh.

Sebaliknya Tonghong Pek yang ada diatas tiang penglari diam2 merasa girang, dari hasil yang di capai atas bentrokan barusan, ia dapat menarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya saat ini jauh diatas Ting Kang serta Ting Lou berdua.

Dalam pada itu ketika Tonghong Pacu melihat sianak muda itu melayang naik keatas tiang penglari, ia segera mendongak keatas dan tertawa terbahak2.

"Haa...haa..-haa...Pek sianseng, mengapa kau malah jadi tuan tiang penglari ?"

"Dalam dunia persilatan tersiar berita bahwa dalam perkampungan Jit-Gwat Cung penuh dengan tokoh sakti, untuk menghadiri pesta perkawinan dari putra Tonghong sianseng, setiap orang pada berdatangan untuk memberi selamat, sungguh tak disangka demikianlah cara pihak perkampungan Jiet Gwat-Cung untuk menyambut tamunya."

Ucapan ini seketika membuat air muka Ting Kang serta Ting Lou berubah jadi merah jengah.

Buru2 Tonghong Pacu berseru:

"Terhadap manusia yang tidak dikenal asal usulnya, sudah menjadi hak kami untuk menyelidikinya, daripada menimbulkan urusan di kemudian hari."

"Ha...haa...haa...apa yang disebut asal usul tidak jelas ? Tonghong sianseng, tolong tanya dari mana pula asal usulmu ?" Air muka Tonghong Pacu berubah hebat.

"Bagus, aku lihat lihay benar anda bersilat lidah" Teriaknya. "Akan kulihat apakah anda bisa berita bersembunyi terus diatas tiang penglari hingga kedatangan Kiem Lan Hoa untuk menyelamatkan jiwamu."

Mengungkap soal Kiem Lan Hoa, Tonghong Pek segera berseru dingin:

"Aku tidak tahu apa yang sedang kau ucapkan, aku sama sekali tidak kenal siapakah Kiem Laa Hoa itu."

"Benarkah?" kata Tonghong Pacu dengan alis berkerut.

Sementara ia bicara sampai disitu, mendadak terdengar suara langkah manusia bergema datang dengan cepatnya diikuti muncul empat lima orang dengan napas terengah- engah.

Terdengar salah satu diantaranya berseru.

"Cengcu berdua, Si Thay sianseng telah datang... Si Thay telah datang..."

"Kenapa sih sikap kalian begitu tak tahu diri?" hardik Ting Kang serta Ting Lou hampir berbareng "Kedatangan Si Thay sianseng sudah berada dalam dugaan, tentu saja kita harus undang masuk Si Thay Sianseng!"

Ucapan terakhir sengaja diucapkan dengan suara keras, sehingga suara tadi segera terkirim sampai diluar perkampungan.

Tonghong Pek yang mendengar kehadiran Si Thay sianseng, ia segera meloncat turun dari atas tiang penglari, sementara itu Tonghong Pa cu mundur dua langkah kebelakang, ia tiada maksud untuk menyerang Tonghong Pek lagi. Suasana dalam ruangan seketika itu juga diliputi ketegangan, disusul berkelebatnya sesosok bayangan manusia yang tinggi kurus, tahu2 seseorang telah muncul ditengah ruangan.

Gerakan tubuh orang ini benar2 sukar dilukiskan dengan kata2, setelah tiba disitu orangpun dapat melihat bahwa dia ada kakek berjubah abu2 yang bukan lain Si Thay sianseng.

Air muka sikakek tua itu keren dan sulit dilukiskan dengan kata2. setelah berada dalam ruangan segera tertawa dingin tiada hentinya.

Sungguh seram tertawa dingin itu, seakan2 tiga gentong air dingin yang diguyurkan ke atas badan setiap orang, bahkan sampai Tonghong Pacu yang lihaypun tak urung berubah wajah.

Dengan sinar mata yang dingin Si Thay sianseng menyapu sekejap keseluruh kalangan, ketika melihat diri Tonghong Pek, ia kelihatan tertegun, namun cuma sebentar, sinar matanya segera beralih keatas tubuh si gembong iblis itu.

"Tonghong sianseng !" serunya lambat2. Tonghong Pacu mendongak tertawa terbahak2.

Menanti gelak tertawa telah sirap, dua bersaudara Ting yang menjadi tuan rumah dari perkampungan itu baru sadar dari kagetnya, buru2 serunya hampir berbareng:

"Si Thay sianseng, silahkan duduk !" Namun tokoh sakti dari kalangan lurus ini tidak berpaling, menggubris pun tidak, hal ini membuat Ting Kang serta Ting Lou jadi tersipu-sipu malu.

"Si heng. setelah kau datang maka urusanpun bisa kita selesaikan." kata Tonghong Pacu kemudian dengan wajah membesi "Aku sedang mengutus orang untuk mencari kabar Si heng, tak disangka Si heng telah hadir, kau harus tahu apabila pesta perkawinan ini tidak dihadiri olehmu maka aku rasa kurang meriah."

Hijau membesi wajah Si Thay sianseng, kembali ia mendengus.

"Si heng, kenapa kau hanya datang seorang diri?" kembali si gembong iblis nomor wahid itu menegur, "Dimana nyonya serta anak muridmu? mengapa tidak sekalian kau ajak datang untuk meramaikan perayaan yang besar ini?"

Si Thay sianseng tetap membungkam sementara badannya lambat2 bergerak ke depan, gerakannya sangat lambat tiada keistimewaan, namun baju berwarna abu2 yang ia kenakan mulai melembung besar, seakan terdapat hawa murni yang luar biasa berkumpul disitu.

Setelah maju tiga langkah kedepan ia baru berseru kembali: "Tonghong sianseng!"

"Si heng ada urusan apa?"

"Dalam dunia persilatan tersebar berita bahwa Loei Sam ada di perkampungan Jiet Gwat Cung, benarkah ada kejadian seperti itu?" seru Si Thay sianseng sambil tertawa dingin.

"Si heng, Loei Sam adalah namanya yang dahulu, sekarang kami ayah dan anak telah berkumpul kembali, untuk memperingati jasa penjual obat yang she Loei maka diganti namanya jadi Tonghong Loei!"

"Lalu dia masih merupakan anak muridku? ataukah sudah menghianati perguruan?" sambil berkata Si Thay sianseng tertawa dingin tiada hentinya. Sungguh lihay pertanyaan itu, sebab dalam dunia persilatan baik dari kalangan Pek to maupun dari kalangan Hek to sama2 menganggap menghianati perguruan adalah suatu perbuatan yang terkutuk dan tak dapat diampuni.

Tonghong Pacu bukan manusia sembarangan, kalau ia tidak cerdik dan licik tak mungkin disebut orang gembong iblis nomor wahid dan kolong langit, menghadapi pertanyaan tersebut ia segera tertawa.

"Eeeei . . darimana Si heng bisa berkata demikian? sekalipun putranya tidak becus ia masih mengerti bagaimana menghormati guru sana perguruan mana ia berani menghianati perguruan sendiri? telah ia jelaskan kepadaku, seandainya bukan didesak terus oleh Si heng tidak mungkin ia tinggalkan gunung Go bisa?"

"Oooouw . . kiranya ia masih tahu bagaimana menghormati guru?" seru Si Thay sianseng sambil tertawa panjang, agaknya jawaban ini sudah dipersiapkan sejak semula. "Lalu apa sebabnya setelah loohu hadir di perkampungan Jiet Gwat Cung, masih belum kelihatan ia munculkan diri untuk memberi hormat."

Begitu ucapan tersebut diucapkan dua saudara she Ting serta Tonghong Pek jadi tertegun, agaknya mereka tidak sangka Si Thay sianseng bisa mengucapkan kata2 tersebut.

"Aaah, ucapan Si heng tepat sekali. bocah ini memang sedikit kurang adat!" Seru Tong hong Pacu sambil tersenyum, segera ia perkeras suaranya dan berteriak:

"Loei jie, Si heng telah datang, kenapa kau tidak munculkan diri untuk menemui gurumu?"

"Tia, aku segera datang!" beberapa saat kemudian suara dari Tonghong Loei berkumandang datang dari dalam ruangan. Seruan itu mengejutkan dua orang bersaudara she Ting, tanpa sadar mereka berseru:

"Tonghong sianseng..."

Tonghong Pacu tersenyum, ia segera ulapkan tangannya mencegah kedua orang itu berkata lebih jauh.

Dalam pada itu horden telah tersingkap dan Tonghong Loei pun munculkan diri dari balik pintu, dengan langkah tenang ia langsung menuju ke ruang tengah.

Serentetan cahaya mata yang tajam menggidikkan segera memancar keluar dari balik mata Si Thay sian-seng, ia menatap sianak muda itu tak berkedip. Suasana jadi tegang, seluruh perhatian dicurahkan ke tengah kalangan, begitu tegang suasananya sehingga napas terasa berhenti.

Tonghong Loei berlari masuk kedalam ruangan hingga akhirnya berhenti kurang lebih enam tujuh depa di hadapan Si Thay sianseng setelah itu ia bertekuk lutut dan jalankan penghormatan besar.

"Tecu Tonghong Loei menghunjuk hormat buat suhu !" ujarnya.

Si Thay sian-seng tertawa dingin tiada henti-nya, ia berdiri tak berkutik sementara ujung bajunya bergoyang keras meski tidak terhembus angin, kemudian makin lama menggelembung semakin besar.

Ketika Tonghong Loei menyaksikan kata2nya Tonghong Pacu yang berada disisinya telah menimbrung sambil tertawa terbahak2.

"Loei-jie, kau harus jalankan penghormatan sebanyak dua kali, pertama untuk menghormati Si heng sebagai guru dan penghormatan kedua, menghormatinya sebagai ayah mertua." Seandainya Tonghong Pacu tidak mengucapkan kata2 itu, mungkin Si Thay sianseng tidak akan turun tangan secepat itu, begitu kata2nya selesai diucapkan, hawa amarah telah memenuhi seluruh benak jago sakti itu.

Ia membentak keras, pergelangannya berputar melancarkan sebuah tabokan menghajar tubuh Tong hong Loei.

Mengikuti bentakan keras itu, Ting Kang serta Ting Lou menjerit kaget. sampai Tonghong Pek pun tanpa terasa menegangkan badannya, sebab serangan yang dilancarkan dalam jarak sedemikian dekat pasti akan bersarang ditubuh Tonghong Loei dan pemuda itu niscaya akan mati binasa.

Angin pukulan men-deru2, seketika itu juga tekanan yang maha dahsyat menghantam ke arah Tong hong Loei yang masih berlutut diatas tanah.

Kejadian aneh telah berlangsung di depan mata, meskipun putranya terancam mara bahaya, ternyata Tonghong Pacu yang berdiri disisinya sama sekali tidak berkutik, bahkan membantu pun tidak.

Dalam saat yang amat kritis itulah, horden tersingkap diikuti jeritan lengking seseorang muncul dari balik pintu.

"Ayah !"

Sesosok bayangan manusia laksana sambaran kilat menubruk datang, bayangan itu tidak melayang kearah Si Thay, sebaliknya menubruk kearah Tonghong Loei dan melindunginya dengan tubuh sendiri.

Dalam pada itu serangan yang dilancarkan Si Thay sianseng hampir mencapai pada sasarannya ketika mendengar jeritan suara kaget, sebab itu ia kenali suara jeritan itu adalah suara putrinya. Dalam keadaan terpaksa ia tarik kembali serangannya mentah2 sehingga seluruh persendian tulangnya berbunyi gemerutukan.

Ambil kesempatan itulah Tonghong Loei jatuhkan diri menggelinding kesisi tubuh Tong hong Pacu kemudian meloncat bangun, walaupun begitu wajahnya telah berubah pucat pias, napasnya ter-engah2 dan keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya.

"Tia, kau orang tua sudah datang !" seru Si Chen sambil bangun berdiri, setelah dilihatnya Tonghong Loei selamat.

Mimpipun Si Thay sianseng tidak pernah menyangka orang yang selamatkan jiwa Tonghong Loei dari cengkeramannya bukan lain adalah putri sendiri.

Pada saat ini Si Thay sianseng merasakan dadanya seperti ditindih batu seberat ribuan kati.

Begitu berat batu tak berwujud itu sehingga membuat napasnya ter-engah2, dengan pandangan mendelong ia awasi putrinya sendiri.

Lama... lama sekali ia baru tertawa kering, begitu sayu suaranya seakan2 muncul dari seseorang yang telah lemah sekali keadaannya.

"Rupanya kau benar2 berada di perkampungan Jiet- Gwat Cung ini." katanya.

"Benar !" kepala Si Chen tertunduk rendah2. "Sekarang kau pulanglah dahulu ke gunung Go-bie, sejak kau pergi siang malam ibumu selalu menanyakan dirimu, cepatlah pulang dan temui dirinya, aku akan tinggal disini dahulu untuk menyelesaikan sedikit persoalan, kemudian aku akan menyusul dirimu !" Suara dari Si Thay sianseng kedengaran begitu tenang aman penuh wibawa membuat orang tak berani membantah.

Si Chen berdiri tertegun, kemudian menghela napas panjang.

"Tia, aku tahu ibu sangat rindu kepadaku, dan aku harus kembali ke rumah untuk bertemu dengan beliau, tetapi sekarang aku tak dapat pergi !" sahutnya.

"Mengapa ?" seru Si Thay sianseng, sepasang alisnya melenting dan hawa hijau meliputi seluruh wajahnya.

Pucat pias seluruh wajah Si Chen, ia tundukkan kepalanya rendah2, suaranyapun berubah semakin lirih.

"Tia kau tahu bukan bahwa aku dengan Loei suko, kini. . kini hubungan kami sudah diresmikan, ayahnya pun sudah munculkan diri untuk merayakan perkawinan ini sering para enghiong hohan dari kolong langitpun telah berdatangan, mana aku bisa pergi dari sini?"

Sebenarnya Si Chen tanya seorang nona yang masih polos, kini ia bisa mengucapkan perkataan itu tentu saja kesemuanya bukan lain adalah hasil ajaran dari Tonghong Pacu dan ia hanya mengulangi sesuai dengan apa yang dihapalkan.

Seluruh tubuh Si Thay sianseng gemetar keras, jelas ia sudah mencapai puncak kegusaran, suara pun berubah makin rendah dan makin berat.

"Jadi kau sudah tidak maui orang tuamu lagi" katanya.

Si Chen merasa hatinya jadi kecut, untuk beberapa saat ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. namun tidak lama kemudian perkataan yang diajarkan Tonghong Pacu telah berkelebat dalam benaknya, buru2 ia menjawab. "Ayah, siapa bilang putrimu tak maui orang tua lagi? tetapi seandainya putrimu secara resmi menjadi suami istri dengan Loei suko, apakah Tia dan ibu tidak senang hati?"

Si Thay sianseng tertegun, namun ia sadar tidak mungkin putrinya bisa mengucapkan kata2 seperti itu, kesemuanya pasti hasil ajaran dari Tong hong Pacu.

Hawa amarah yang sudah memuncak tak bisa dibendung lagi, ia angkat kepala, berpaling dan menyapu sekejap wajah Tonghong Pacu dengan sinar mata dingin.

"Tonghong sianseng, aku kira setelah suasana berubah hingga mencapai pada puncaknya maka kita pasti akan bergebrak, siapa sangka tidak demikian keadaannya !"

Di dengar sepintas lalu ucapan ini sama sekali tiada berarti, namun dalam kenyataan lihay sekali maksudnya, ia sedang mengatakan bahwa dalam kenyataan Tonghong Pacu tidak berani bergebrak melawan dirinya.

Air muka Tonghong Pacu seketika itu juga berubah hebat, hatinya merasa tersinggung oleh ucapan tersebut, namun iapun sadar, seandainya ia tanggapi ucapan tersebut, niscaya seluruh rencana nya bakal berubah.

Sebagai seorang manusia licik, dalam keadaan seperti itu pikirannya sama sekali tidak jadi kacau, ia malah tertawa terbahak2

"Si heng, temanmu itu sudah kunantikan lama sekali !" "Hm ! apa gunanya kau nantikan ?" "Haaa...haa...perkataan Siheng memang benar, orang Bu

lim sering bilang kita berdua, adalah tokoh2 yang maha sakti dikolong langit dewasa ini, sejak dahulu kala belum pernah   kita   bertanding   secara   resmi,   seandainya   kita bergebrak maka peristiwa ini, boleh dikata peristiwa yang besar-dalam dunia persilatan!"

"Hmm, benarkah begitu?" Si Thay sianseng sadar, si gembong iblis itu tentu ada rencana busuk dibalik ucapan yang begitu banyak, hanya untuk beberapa saat ia tak- sanggup menebak apa rencananya.

Kalau benar peristiwa ini merupakan peristiwa besar yang bakal menggemparkan dunia persilatan, tidak seharusnya kita bertarung ditempat ini." ujar Tonghong Pacu lebih jauh dengan suara lantang, "Dalam perkampungan Jiet Gwat Cung tersedia lapangan berlatih silat, mari kita menuju ke tempat itu, bagaimana kalau kita suruh para jago Bu lim yang telah hadir dalam perkampungan Jit Gwat Cung ini bertindak sebagai saksi?

Si Thay sianseng jadi terkejut dan berdebar.

Ia adalah seorang jago lihay yang telah menggemparkan dunia persilatan, seandainya pertarungan tersebut dilangsungkan disini, maka ia merasa tidak tahan, namun tiada kesempatan baginya untuk pergi.

Tetapi kalau pertarungam itu diadakan dibawah tontonan banyak orang, maka sekali terjatuh kecundang, niscaya nama besarnya akan hancur berantakan, bukan begitu saja, bahkan untuk memperbaiki namanya pun sukar mendapat kesempatan.

Tetapi segera iapun menyadari, tentu Tong hong Pacu sendiripun merasa hatinya berdebar sebab ia sendiri belum punya keyakinan untuk menangkan pertarungan itu, tindakannya tentu hanya bermaksud menggertak belaka.

Ia segera mengangguk.

"Baiklah." serunya. Beberapa patah kata terakhir yang muncul dari kedua orang itu sama2 diucapkan dengan tenaga lwekang, suara mereka menggema hingga jauh sekali dan setiap orang yang ada dalam perkampungan dapat mendengarnya dengan jelas.

Apalagi sejak kehadiran Si Thay sianseng disana, berita tersebar dengan cepat telah menyebar diseluruh perkampungan, meskipun tak seorang pun berani memasuki ruangan namun sekeliling ruangan telah penuh dengan manusia.

Kini setelah Tonghong Pacu melangsungkan pertarungan itu dilangsungkan dilapangan berlatih silat dan disambut oleh Si Thay sianseng dengan persetujuan, suasana makin tegang dan teriakan kegemparan pun meledak diempat penjuru.

Suasana jadi hiruk pikuk dan gempar sekali, kemudian jago yang berkumpul di depan ruangan pada bubar dan lari menuju ke lapangan latihan silat untuk menantikan berlangsungnya pertarungan.

Ting Kang serta Ting Lou meski terhitung jago nomor satu dalam dunia persilatan, tetapi berada dihadapan Tonghong Pacu serta Si Thay sianseng, mereka tak berani mengucapkan sepatah kata pun, pada saat inilah mereka baru berseru: "Agaknya jago2 Bulim sudah tahu akan berita ini dan sekarang telah pada berkumpul di lapangan latihan silat!"

Tonghong Pacu tersenyum, "Harap cungcu berdua membawa jalan. Si heng silahkan." serunya.

Si Thay sianseng mendengus dingin, Ting Kang serta Ting Lou pun segera berjalan keluar dari ruangan.

Sementara itu tanpa sengaja Si Thay sianseng maupun Tonghong pacu sama2 mengerling sekejap kearah Tonghong Pek sebagai seorang lihay sekilas pandang mereka telah tahu bahwa tenaga lweekang yang dimiliki makhluk aneh tujuh bagian mirip setan tiga bagian mirip manusia itu lihay sekali, tujuan mereka berpaling dan bukan lain untuk mencari tahu dia adalah lawan atau kawan.

Tentu saja Tonghong Pek mengerti maksud hati mereka, ia angkat kepala dan tidak berpaling kepada siapapun.

"Kalau memang semua orang hendak nonton keramaian akupun ikut pergi kesana."

"Kalau begitu silahkan." kata Tonghong Pacu sambil tertawa.

Tonghong Pek segera berjalan mengikuti di belakang Ting Kang serta Ting Lou dimana mereka langsung menuju kehalaman berlatih silat.

Pada waktu itu tujuh bagian para jago yang hadir dalam perkampungan Jit Gwat Cang sudah berkumpul dihalaman berlatih silat, sedang tiga bagian lainnya masih tinggal diruang tengah.

Mereka menduga dibelakang kedua orang cung cu itu tentulah Si Thay sianseng serta Tonghong Pacu, siapa sangka muncul seorang manusia aneh yang amat seram wajahnya. Mereka jadi bergidik dan berseru tertahan, namun dengan cepat mereka jadi tenang kembali sebab melihat munculnya kedua orang tokoh sakti itu dengan jalan bersanding, seakan2 dua orang sahabat lama yang sedang berjalan bersama2.

Wajah Si Thay sianseng kelihatan keren sedangkan Tonghong Pacu penuh diliputi senyum, lapangan berlatih silat dari perkampungan Jiet Gwat Cung punya luas dua hektar lebih permukaan tanah beralasan bata hijau yang kuat. Pada waktu itu sekeliling lapangan telah penuh letak dengan para jago yang menyaksikan kejadian besar itu suasana amat gaduh ketika kedua orang tokoh sakti itu munculkan diri sua sana seketika jadi sunyi.

Ting Kang serta Ting Lou langsung menuju ke tengah lapangan sedangkan Tonghong Pek menyingkir kesamping, pada sebuah batu dan duduk disana, berhubung wajahnya yang sangat seram, beberapa puluh jago yang semula berada disitu sama2 menyingkir, hal ini membuat pemuda itu tertawa getir.

Setelah suasana jadi tenang kembali, Dua orang cungcu dari perkampungan Jit Gwat Cung itu lantas berseru:

"Saudara2 sudi datang dari jauh, cayhe berdua merasa amat berterima kasih sekali, perkampungan kami terlalu sempit apabila pelayanan kurang memuaskan harap saudara sekalian suka memberi maaf, sekarang Tonghong sianseng serta Si Thay sianseng dua orang tokoh sakti akan saling beradu kepandaian silat ditengah lapangan ini kejadian ini boleh dikata merupakan suatu peristiwa yang belum pernah terjadi selama seratus tahun, kejadian ini akan membuat mata kita terbuka, kami harap cuwi sekalian bisa menonton dengan hati tenang dan jangan bikin kegaduhan."

Berbicara sampai disitu, mereka berdua lantas melirik sekejap kearah Tonghong Pek, sebab baik Ting Kang maupun Ting Lou mengerti didalam pertarungan sengit antara Tonghong pacu melawan Si Thay sianseng nanti orang lain tak bakal ikut campur, satu2nya orang yang kemungkinan besar bisa ikut campur adalah si manusia aneh yang menyebut dirinya sebagai Pek Sam itu.

Maka dari itu setelah melirik sekejap kearah Tonghong Pek, mereka sejenak lalu tambahnya: "Seandainya dalam berlangsungnya pertarungan antara kedua orang tokoh sakti itu ternyata ada orang yang ikut campur dan mengacau, bukan saja kami dua bersaudara tidak akan membiarkan begitu bahkan seluruh rekan Bu lim yang hadir disinipun tidak akan biarkan orang itu berbuat sesuka hati!"

Ilmu silat yang dimiliki dua bersaudara Ting memang lihay sekali, terutama kata2 yang terakhir sengaja mereka ucapkan keras sehingga berkumandang sampai jauh sekali, kemudian mereka enjotkan badan dan melayang keluar dari kalangan.

Sepeninggalnya kedua orang saudara kembar itu, suasana dalam kalangan jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, sementara Tonghong Pacu serta Si Thay siansengpun telah melangkah masuk kedalam kalangan, berputar setengah badan dan berdiri saling berhadap- hadapan.

"Si heng, harap kau suka turun tangan dengan mengingat perikemanusiaan!" kata Tonghong Pacu.

Si Thay sianseng mendengus dingin, telapak kirinya lambat2 diangkat keatas melindungi dada, telapak kanan didorong kearah depan sambil berseru lirih:

"Nah, mulai lah turun tangan!"

Tonghong Pacu tetap tersenyum sedangkan dalam hati merasa sangat tegang, sebab hasil dari pertarungan inilah yang menentukan masa depan selanjutnya. Umpama ia menang maka seluruh dunia persilatan tunduk dibawah kekuasaannya, tetapi kalau ia kalah, maka seluruh usahanya selama ini akan sia2, nama besarnya akan mengalir ke timur, dan banyak rencana bagusnya susah dilanjutkan. Perlahan-lahan ia tarik napas panjang, kemudian berkata.

"Si heng, menurut keadaan umumnya kau sebagai tamu yang datang dari tempat jauh, serangan harus kau lancarkan dahulu, tetapi kalau memang demikian kehendakmu, terpaksa aku turut perintah saja." bicara sampai disitu, mendadak ia merendahkan badannya ke bawah, telapak tangannya langsung dibabat ke depan.

Suatu serangan bokongan yang licik sekali, namun bagi Si Thay sianseng yang telah mengetahui tabiat gembong iblis itu, sejak semula telah bersiap sedia, ia tidak jeri terhadap serangan bokongan macam apapun.

Desiran angin tajam segera menderu2 memenuhi seluruh angkasa, bagaikan sebilah kampak, serangan tersebut langsung membabat keatas dada Si Thay sianseng.

Si Thay sianseng mendengus dingin, ia bersuit panjang, pergelangan tangannya didorong keluar kemudian membalik, jari tengahnya menyentil melancarkan sebuah serangan yang tajam menghantam pinggiran telapak Tonghong Pacu yang sedang mengancam datang.

Serangan jari ini sekaligus mengancam tiga buah jalan darah yang ada diatas telapak, meski serangan Tonghong Pacu lihay, seandainya ia lanjutkan babatan tersebut, niscaya jalan darahnya akan tertotok lebih dahulu.

Tentu saja Tonghong Pacu tak sudi membiarkan jalan darahnya tertotok, ia bersuit nyaring, telapak tangan ditarik ke belakang, jurus serangan berubah. dipandang sepintas lalu se-olah2 dari telapak ia berubah jadi kepalan menyapu kedepan, namun disaat yang amat singkat tiba2 ia melancarkan sebuah sentilan menghajar jari tengah tangan kanan Si Thay sianseng. Dalam sekejap mata jari tangan kedua orang itu dari jauh makin berdekatan, ujung jaripun mendadak saling berbentrokan satu dengan yang lainnya.

"Braak . . . !" seakan2 tambur kulit berbunyi keras, suara itu menggema dan memecahkan keheningan yang meliputi seluruh kalangan tubuh kedua orang tokoh sakti itu sama2 tergetar keras, kemudian saling mundur dua langkah ke belakang dan berdiri tegak disana sambil mengawasi gerak- gerik lawan dengan seksama, sinar mata yang cemerlang serta berkilat dari mereka berdua berkelebat kesana kemari membuat para penonton yang menyaksikan jalannya pertempuran itu ikut merasakan hatinya bergidik.

Kurang lebih seperminum teh kemudian, tampak kedua orang itu melangkah maju satu tindak kembali kedepan kaki mereka memperdengarkan suara gemurutukan membuat batu cadas yang melapisi permukaan tanah sama2 hancur berantakan

Disaat maju kemuka itulah, mendadak Tonghong Pacu miringkan badan seakan2 tak sanggup berdiri tegak dan jatuhkan diri kearah Si Thay sianseng.

Disaat yang bersamaan Si Thay sianseng ayunkan telapaknya langsung menabok kental balok kepala musuh.

Tentu saja Si Thay sianseng mengerti dengan ilmu silat yang dimiliki Tonghong Pacu tak mungkin ia tak sanggup berdiri tegak, gerakannya ini pasti mengandung suatu rencana tertentu maka sambil berjaga-2 atas segala yang tidak diinginkan ia melancarkan serangan lebih dahulu.

Siapa sangka kalau tanpa serangan itu mengenai sasarannya, mendadak tubuh Tonghong Pacu yang menjatuhkan diri itu sudah menubruk ke atas sepasang kaki Si Thay sianseng. Tokoh sakti dari kalangan lurus ini tahu keadaan tidak menguntungkan, buru2 ia mengepos tenaga, enjot badan dan meloncat ketengah udara.

Tonghong Pacu mendengus dingin, melihat lawannya melayang ketengah udara, berada di atas tanah ia putar badan mengirim sebuah pukulan keatas.

Untung Si Thay sianseng berkelit lebih cepat, serangan itu segera mengenai sasaran kosong, meski demikian batu cadas dipermukaan tanah termakan juga akibat pertarungan itu, seketika itu juga batu2 sebesar kepalan saling berdesiran ke empat penjuru.

Waktu itu tubuh Si Thay Sianseng masih berada kurang lebih enam tombak ditengah udara, berhamburannya batu2 cadas tidak mungkin akan melukai tubuhnya yang telah ditutup seluruh jalan darahnya, namun ia tidak ingin termakan oleh batuan tersebut, sebab sekali tersambar berarti ia berada dibawah angin.

Semua orang sama2 angkat kepala ingin menyaksikan bagaimana cara Si Thay sianseng menghadapi keadaan tersebut.

Tampak tokoh sakti itu ayunkan ujung bajunya yang menggelembung ke arah depan, desiran angin puyuh yang amat dahsyat segera menggulung ke luar, membuat batu2 yang meluncur ditengah udara saling berbenturan diudara tersapu ke dalam balik bajunya semua.

-oo0dw0oo-