Jago Kelana Jilid 14

Jilid 14

"AKU memberi petunjuk kepadamu karena memandang wajah Giok Jien, jangan kan anggap angin lalu disisi telingamu."

"Terima kasih atas petunjuk cianpwee, aku tak akan melupakan hal ini. ." sahut Liem Hauw Seng dengan wajah serius.

"Nah sekarang kau boleh pergi." Mengikuti kibasan gembong iblis tersebut terpancarlah segulung tenaga yang amat hebat menyapu kedepan Liem Hauw Seng tak kuasa menahan diri, ia mundur tujuh delapan langkah kebelakang kemudian putar badan dan berlalu dan sana.

Menanti bayangan Liem Hauw Seng sudah lenyap dari pandangan, Tonghong Pacu berkata:

"Lebih baik kalian bersaudara belajar silat dari aku saja, kalau tidak maka setahun kemudian dari antara angkatan muda ilmu silatnya yang terhitung paling tinggi!"

"Kau mengatakan ia mendapat bantuan hawa bumi, apakah itu?" tanya Tonghong Pek tertegun.

"Bahan mujarab ada dua belas macam, aku rasa kau tentu tahu bukan, selain Angin dan salju masih ada suatu bahan yang lebih mustajab lagi yang diimpikan oleh setiap ahli silat yaitu tanah, bahan mustajab tanah itu tumbuh didalam permukaan bumi, usianya ratusan tahun lebih.

Ketika Liem Hauw Seng berbaring diatas tanah yang mana kebetulan sekali dibawah permukaan bumi tumbuh bahan tersebut, setelah terkena hawa hangat manusia, maka hawa mustajab tadi mengembang naik dan tanpa disadari terhisap kedalam tubuh. seandainya ia mau berlatih rajin selama satu tahun, maka kekuatannya akan melebihi orang lain yang berlatih selama dua puluh tahun."

Kembali Tonghong Pek tertegun beberapa saat, lalu ujarnya: "Sekarang kau lepaskan dia pergi apakah kau tiada maksud mencelakai jiwanya."

Ucapan ini menunjukkan betapa ragunya hati pemuda ini atas tindakan Tonghong Pacu, ia tidak percaya seorang gembong iblis yang tersohor akan kekejian serta kelicikannya bisa berbuat perkerjaan mulia. Tonghong Pacu tertawa getir "Kau adalah seorang cerdik pepatah kuno mengatakan jauhnya perjalanan dapat mengetahui kekuatan kuda, perjumpaan yang lama dapat mengerti watak manusia buat apa aku membela diri sendiri!"

Tonghong Pek membungkam, meski demikian ia sudah menaruh simpatik terhadap iblis itu.

"Kita sudah sepantasnya segera berangkat !" ajak Tonghong Pacu.

la lantas berangkat kedepan, Tonghong Pek terpaksa ikut sebab tangannya masih dicekal olehnya.

Mula2 mereka berjalan dengan lambat tetapi setelah lewat satu li, tiba2 saja Tonghong Pacu bersuit nyaring, badannya melonjak dan laksana kilat melayang kedepan.

Tonghong Pek dicekal lengannya hanya merasakan desiran angin menyambar lewat dari telinganya sehingga hampir saja tak dapat bernapas pemandangan disisinya sama sekali tak dapat terlihat jelas.

Tonghong Pek paksakan diri mengatur pernapasan dan dengan menggunakan segala kemampuan, kurang lebih setengah jam kemudian barulah terdengar gembong iblis itu membentak:

Bersamaan dengan bentakan tadi Tonghong Pacu berhenti pemuda itu lantas dapat mendengar suara air yang memekikkan telinga, kiranya mereka berhenti di depan sebuah air terjun yang sangat besar.

Tiga ratus li sekeliling gunung Lak ban san dikuasai Tonghong Pek dengan hapal sekali, tentu saja ia tahu berada dimanakah air terjun tersebut, maka dari itu menjumpai air terjun tadi ia terperanjat. "Kenapa begitu cepat kita tiba disini ?" serunya tertahan.

Kiranya air terjun itu terletak dilembah Hwee hoa kok. jaraknya ada tiga puluh lebih dari selokan kecil dimana bertemu dengan Liem Hauw Seng, sungguh tak nyana dalam setengah jam belaka mereka tiba disini.

"Tahukah kau akan air terjun ini?" tanya Tonghong Pek sambil tertawa.

"Tentu saja tahu, sewaktu masih kecil sering kali aku bermain air ditepi air terjun ini kau . . . ilmu meringankan tubuhmu luar biasa sekali."

Tonghong Pacu tertawa hambar, ia tetap mencekal lengan Tonghong Pek erat2 dan maju beberapa langkah kedepan dan tiba didepan sebuah batu besar.

Batu itu sangat besar, tingginya lebih dari perawakan seorang manusia, agaknya benda itu digunakan untuk menutupi sebuah gua, Ketika tiba didepan batu tadi. Tonghong pacu kebaskan ujung bajunya, mengikuti hembusan angin yang keras batu tadi segera bergelinding dua depa ke samping.

Dibalik batu besar tadi muncullah sebuah mulut gua yang lebar.

"Nah, masuklah kedalam ia berada didalam!" kata Tonghong pacu tertawa.

Tonghong Pek ragu sejenak akhirnya dengan langkah lebar pemuda itu berjalan masuk kedalam.

Suasana dalam gua itu gelap gulita, tak nampak sedikit cahayapun, tapi Tonghong Pek merasa bahwa Tonghong Pacu mengikuti dibelakangnya, jelas ia bukan ditipu untuk memasuki gua itu seorang  diri, menanti setelah berbelok suatu tikungan maka tampaklah cahaya tajam mulai menyorot keluar dari dalam.

Makin jauh ia masuk kedalam gua itu cahaya yang memancar keluar semakin tajam tidak lama kemudian melewati sebuah gua mereka menembusi ke dalam lambung bukit dan akhirnya tiba di depan sebuah lembah gua yang hijau permai.

Sekeliling lembah itu penuh dengan tebing curam, boleh dikata suatu tempat yang menawan hati, dari dalam lembah itulah tiba2 muncul seorang gadis menyongsong kedatangan mereka.

Ketika berada kurang lebih dua tiga tombak dari hadapan- Tonghong Pek, tiba2 gadis itu berhenti, wajahnya menunjukan tanda kecewa jelas ia sedang menantikan orang yang diharapkan ternyata yang datang bukan orang tersebut maka ia merasa kecewa.

Tonghong Pek mengawasi gadis itu tajam2, tampak olehnya usia gadis itu masih sangat muda, alisnya tebal dengan mata yang bulat besar wajahnya cantik menawan hati, hanya sayang kelihatan murung sekali.

Dalam pada itu Tonghong Pacu telah berjalan mendekat, terdengar ia menegur gadis itu:

"Giok Jien, empat patah kata rahasia yang kuturunkan padamu apakah kau sudah latih?"

Gadis itu bukan lain adalah Giok Jien dengan sangat menurut ia mengangguk.

"Aku . . aku . . sudah kulatih masak2"

"Omong kosong! kau tahu apa yang dimaksud dengan berlatih masak?" tegur Tonghong Pacu dengan wajah keren. "Keempat patah kata rahasia tersebut merupakan inti sesungguhnya dari dasar silat perguruan kita, belum berlatih rajin selama tiga bulan tak bisa dikatakan berhasil, bukannya kau berlatih dengan seksama malahan mondar- mandir tiada berguna dalam lembah, apa sebenarnya yang sedang kau lakukan?"

"Sunio mendengar ada suara batu yang bergelinding maka ia suruh aku datang memeriksa!"

"Hmm, dari jauh kau memandang dirinya, kau anggap siapakah dia?" tegur gembong iblis itu kembali sambil menuding kearah Tonghong Pek.

"Aku kira dia adalah engkoh Hauw Seng."

"Ah .. kiranya gadis inilah yang bernama Giok Jien dan barusan ia salah menganggap diriku adalah engkoh Hauw Seng-nya" pikir Tonghong Pek dalam hati kecilnya.

Sementara itu suara teguran Tonghong Pacu semakin keren, ia menegur: "Bagaimana aku peringatkan dirimu dahulu? sekarang adalah saatmu berlatih tenaga dalam tingkat tinggi, tidak boleh pikiranmu bercabang, sebab sedikit kurang hati2, besar kemungkinannya mendapat jalan api menuju neraka, saat itu menyesalpun tak berguna.

Apalagi kemudian hari ilmu silatmu telah berhasil! aku pasti akan memberi kesempatan bagi kalian untuk saling berjumpa, apa gunanya kau pikirkan dirinya?"

Kepala Giok Jien tertunduk sangat rendah, air mukanya berubah pucat.

"Nasehat suhu sedikitpun tidak salah, akan tecu ingat terus!" akhirnya ia berbisik lirih.

Tonghong Pek yang mendengar ucapan dari Tonghong Pacu meski merasa ucapan ini cengli sekali, menyaksikan keadaan Giok Jien yang mengenaskan, ia merasa tidak tega, buru2 selanya:

"Ooouw! nona adalah Giok Jien? barusan saja saya berjumpa dengan Liem Hauw Seng toako"

"Benarkah? dia bagaimana keadaannya?" Giok Jien segera mendongak dan buru2 bertanya.

"la sangat baik bahkan menemukan peristiwa diluar dugaan, setahun kemudian ilmu silatnya akan berhasil mencapai puncak kesempurnaan!"

"Aaah . . kalau begitu bagus sekali. Aaai . . hanya saja .

." merah padam selembar wajah Giok Jien. "Hanya saja aku tak bisa berkumpul dengan dirinya aku merasa amat rindu sekali dengan dirinya.

ooooodOwooooo

BAB 13

”TIDAK mengapa, tidak mengapa." Tonghong Pek segera menghibur. "Setahun dua tahun akan lewat dengan cepatnya, dikemudian hari masih banyak kesempatan, kenapa harus dipikirkan dengan susah payah ?"

Dengan rasa penuh berterima kasih Giok Jien melirik sekejap kearah Tonghong Pek lalu tundukkan kepalanya rendah2.

Tonghong Pacu yang ada disisinya agak tidak sabaran, dia menyela:

"Giok Jien, dia adalah Tonghong Pek putra bungsuku." "Aaah !" dengan hati terperanjat Giok Jien berseru

tertahan. "Nona Giok Jien, apa yang diucapkan adalah perkataannya." ujar Tonghong Pek pula, "Aku... aku sendiri cuma tahu bahwa aku adalah anak yatim piatu, sejak kecil dibesarkan oleh Lieh Hwee Sin-Tuo"

Tidak banyak nama tokoh sakti yang diketahui Giok Jien, tetapi ia kenal nama Lieh Hwee Sin-Tuo, sebab Hiat Goan Sin koen pernah membawa dia beserta Liem Hauw Seng jauh2 dari luar perbatasan datang kemari untuk angkat sibongkok sakti tersebut sebagai guru. 

Tentu saja merekapun pernah mendengar nama Tonghong Pek dari mulut manusia monyet tadi, buru2 ia menjura.

"Tonghong toako !" sapanya.

Dalam pada itu Tonghong Pacu yang mendengar Tonghong Pek menampik ucapannya, ia lantas tersenyum.

"Kau telah ikuti diriku datang kemari. apakah kau masih belum percaya kalau aku adalah ayah kandungmu ? Giok Jien dimana suniomu ?"

"Sunio sedang duduk semedi didalam goa belakang gunung"

"Cepat undang dia datang, beritahu kepadanya bahwa Tonghong Pek telah datang kesini, kau harus baik2 membimbing dirinya, kalau tidak ia bisa jatuh tertelungkup setelah mendengar Tonghong Pek datang sebab buru2 akan lari datang sedangkan sepasang matanya buta.

Giok Jien mengiakan, ia putar badan dan segera berlalu dengan langkah cepat.

Dalam pada itu Tonghong Pek berdiri tertegun "Kau . . kau hendak suruh aku bertemu . . . bertemu dengan siapa?" "Buat apa gelisah? bukankah sebentar lagi aku bakal tahu sendiri?"

Tonghong Pek risau, hatinya penuh rasa curiga karena tak tahan ia mondar-mandir dalam ruangan itu sambil bergendong tangan.

Tidak selang beberapa saat kemudian terdengarlah suara wanita berkumandang datang dari dalam lembah:

"Dimana dia? dimana dia??"

"Aaaah!" Tonghong Pek tertegun, suara tersebut sangat dikenal olehnya, walau berada dalam keadaan apapun juga sebab dia adalah sunionya.

"Sunio?" pemuda itu segera berteriak dan meloncat kedepan. Tapi dengan cepat ia berhenti putar badan dan menatap wajah Tonghong Pacu dengan sepasang mata melotot bulat.

"Kau sudah apakan sunioku?" hardiknya, "Bagaimana keadaannya, apakah kau tak dapat melihat sendiri ?"

Buru2 Tonghong Pek putar badan kembali, tampak sunionya sedang berlari datang dibawah bimbingan Giok Jien.

Dalam keadaan seperti ini Tonghong Pek tidak memperdulikan Tonghong Pacu lagi, ia segera berlari kedepan menyongsong kedatangan ibu gurunya.

"Sunio !" kembali teriaknya keras2.

Mendengar suara Tonghong Pek berkumandang sangat dekat dengan dirinya, Lieh Hwee hujien melengak, ia segera berhenti tangannya mencengkeram lengan pemuda itu, mulutnya melongo dan sesaat tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Lewat beberapa saat kemudian ia baru berkata: "Kau... secara bagaimana kau bisa datang kemari ?" "Tonghong Pacu membawa aku kemari."

Sewaktu menyebutkan nama gembong iblis itu,

Tonghong Pek bersikap hati2, sebab ia takut ibu gurunya kaget, siapa nyana perempuan itu malah menunjukkan wajah kegirangan.

"Ooouw ,. kalian sudah saling berjumpa?" "Benar, kami telah berjumpa, dia . ."

Belum habis Tonghong Pek berkata, sunionya sudah menimbrung.

"Kalau kalian sudah berjumpa muka, bagus sekali! aku , . aii . . , entah apa yang harus kukatakan kepadamu, selama banyak tahun aku selalu mengelabui dirimu . ."

Jantung pemuda Tonghong Pek berdetak sangat keras, sampai2 suaranya ikut berubah, "Persoalan apa yang kau kelabui diriku?"

"Bocah janganlah sebut aku sebagai sunio lagi. ." ujar Sunionya dengan suara lembut, "Aku. . aku . . aku bukan suniomu, aku adalah ibu kandungmu!"

Tonghong Pek tertegun, ia mundur selangkah kebelakang tanpa sadar, seandainya sepasang lengannya tidak dicekal oleh ibu gurunya niscaya ia sudah jatuh terjengkang keatas.

Dalam sekejap mata pikiran Tonghong Pek terasa sangat kalut, ia tidak mengira bisa terjadi peristiwa diluar dugaan semacam ini, setelah berhasil berdiri tegak, dengan napas ter-sengkal2 segera teriaknya berulang kali. "Bukan... bukan! Tidak mungkin!"

"Kenapa tidak mungkin ?" tanya Lieh Hwee Hujin sambil mendongak, air mata bercucuran membasahi matanya yang buta. "Bocah, kau tidak berharap aku adalah ibu kandungmu ?"

"Aku bukannya tidak ingin" sahut pemuda itu ter- engah2. "Sunio kau harus tahu...sering kali aku berpikir, aku hanya seorang anak yatim piatu kalau aku punya seorang ibu kandung, betapa bahagianya hatiku."

"Kau bukan anak yatim piatu" tukas Lieh Hwee Hujin cepat. "Hanya saja untuk beberapa saat aku telah mengelabuhi asal usulmu belaka, ayahmu adalah jagoan sakti nomor satu dikolong langit Tonghong Pacu adanya, dan aku adalah ibu kandungmu !"

Tonghong Pek tertegun dan berdiri mematung, mulutnya melongo matanya terbelalak, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Bocah kau sudah mendengar ucapanku ?" tanya Lieh Hwee Hujin dengan suara gemetar.

"Aku sudah mendengar !" jawab Tonghong Pek, diluar dugaan suaranya tenang dan kalem.

"Kalau begitu panggillah aku..." kata perempuan itu. "Sunio." Tonghong Pek segera memanggil suaranya tetap

kalem dan tenang.

"Jangan panggil aku sunio" buru2 nyonya itu goyang tangan, "Aku bukan ibu gurumu !"

"Aaii Sunio, kau adalah ibuku guruku, kau tak usah bicara lagi, aku adalah seorang anak yatim piatu, tak seorangpun tahu siapakah orang tuaku, siapapun tidak tahu dari manakah asal-usulku !"

"Bocah, kau harus percaya perkataanku!" Lieh Hwee Hujien kembali sambil menangis "Kalau ayahmu bukan Tonghong Pacu, darimana aku bisa memberi nama dengan Tonghong Pek?"

"Sunio, sewaktu masih kecil aku pernah bertanya kepadamu, dan kau menjawab ketika menemukan aku ditengah alas waktu itu fajar baru saja menyingsing maka dari itu aku diberi nama Tonghong Pek!"

"Bukan, ketika itu aku membohongi dirimu, dengarkanlah perkataanku dengarkanlah aku ceritakan seluruh kisah sebenarnya kepadamu."

Tonghong Pek masih ingin berteriak dan berseru bahwa ia tak mau dengarkan perkataannya, tapi mimik wajah Lieh Hwee Hujien membuat ia tak sanggup ucapkan sepatah katapun, akhirnya ia menghela napas panjang.

"Baik. Nah mulailah bercerita!"

"Duduklah dahulu, duduklah dihadapanku dan dengarkan ceritaku." kata Lieh Hwee Hujien sambil menarik tangan pemuda itu.

"Bocah, peristiwa ini sudah terjadi lama sekali! waktu itu aku..."

Perempuan itu menceritakan kisah lampaunya yang penuh kesedihan, secara bagaimana ia dipermainkan Tonghong Pacu, lalu secara bagaimana dia membopong bayinya hendak bunuh diri dengan terjun kedalam sungai namun berhasil ditolong oleh Lieh Hwee Sin Tuo.

Mula2 Tonghong Pek tidak ingin mendengarkan kisah itu, tetapi apa yang diucapkan Lieh Hwee Hujin membuat pemuda itu mau tidak mau harus mendengarkan, hatinya terasa amat pedih sehingga tanpa terasa ia cekal tangan sunionya erat2. Lama sekali Lieh Hwee Hujin bercerita, sehingga akhirnya ia menghela napas panjang dan menambahkan:

"Selama ini aku selalu mengira dia takkan kembali lagi tetapi ia telah mencari diriku kembali, sebenarnya ingin kukelabuhi peristiwa ini kepadamu dan tidak ingin memberitahukan kepadamu bahwa kau nasib punya ayah, tetapi kini ayahmu telah kembali, maka terpaksa kuceritakan keadaan sebenarnya kepadamu"

Pikiran Tonghong Pek benar2 terasa amat kalut, ia boleh tidak percaya terhadap perkataan orang lain, tetapi ucapan ibu gurunya mau tak mau membuat ia harus percaya.

Bukan saja kisah yang diceritakan mengandung air mata dan darah bahkan menyangkut pula rasa sayangnya terhadap diri sendiri selama hampir dua puluh tahun, sekarang Tonghong Pek baru tahu rasa sayang yang diberikan ibu gurunya selama ini sebenarnya bukan lain adalah rasa sayang seorang ibu kandung terhadap putranya, tak tertahan badannya gemetar keras sekali.

"Panggil aku . . bocah, panggil aku . ." terdengar perempuan itu memohon.

Kata "Ibu" hampir saja meluncur keluar dari mulutnya, tetapi ia tak sanggup mengutarakannya keluar.

Sebab kalau sampai ia menyebut "Ibu" terhadap ibu gurunya ini, itu berarti secara tidak langsung telah mengakui Tonghong Pacu adalah ayah kandungnya sendiri.

"Bocah, mengapa kau tak sudi memanggil diriku, kau . . kau belum percaya akan perkataanku." suara Lieh Hwee Hujien mengenaskan sekali.

"Bukan, bukan aku tidak percaya, tetapi . . . aku masih ada satu pertanyaan yang mencurigai hatiku." "Cepat, katakanlah nak !"

Tonghong Pek berpaling dan melirik sekejap kearah Tonghong Pacu, ia temukan gembong iblis tersebut sedang berdiri sambil bergendong tangan sikapnya hambar dan dingin.

Semula pemuda itu sudah menaruh simpatik terhadap gembong iblis tersebut tapi kini setelah mendengar cerita dari sunionya ia mulai menaruh rasa benci terhadap lelaki ini.

Setelah melirik sekejap kearahnya, kembali ia berpaling dan berkata dengan suara berat:

"Persoalan yang masih tidak kupahami adalah setelah ia tega meninggalkan dirimu pada masa berselang, kenapa setelah lewat dua puluh tahun ia datang mencari dirimu kembali ? apakah kau tidak curiga bahwa dia sedang melaksanakan satu rencana keji ?"

"Tentang soal ini..."

Jelas perempuan setengah tua ini tak dapat menjawab apa sebabnya Tonghong Pacu rujuk kembali dengan dirinya setelah tinggalkan dia dengan hati tega pada dua puluh tahun berselang. maka untuk sesaat dia membungkam dalam seribu bahasa.

"Tempo dulu ia bersikap amat keji padaku, begitu tega kau ditinggalkan, apakah kau sudi mengampuni kesalahannya ?"

Lieh Hwee Hujin berdiri ter-mangu2, jelas belum pernah ia berpikir sampai kesitu.

"Gwat Hun, ceritakanlah kisah yang menyangkut siluman perempuan Kiem Lan Hoa tersebut kepadanya!" tiba2 Tonghong Pacu berseru dengan suara lembut. "Siapakah Kiem Lan Hoa itu?" tanya Tonghong Pek cepat.

Lieh Hwee Hujin menghela napas panjang.

"Kiem Lan Hoa adalah seorang perempuan yang amat cantik, begitu cantik wajahnya sehingga membuat setiap lelaki yang menjumpai dirinya tentu akan tergiur dan tergila2 kepadanya.

"Benar demikian Pek jie " sambung Tong hong Pacu, suaranya penuh dengan penyesalan, "Aku bukan seorang rasul yang berhati suci, bahkan akupun bukan seorang Koencu seorang lelaki sejati, aku berasal dari aliran sesat maka ketika berjumpa dengan Kiem Lan Hoa aku ter-gila2 kepadanya, dan tanpa sadar aku telah melakukan perbuatan yang sangat merugikan kalian berdua."

"Gwat Hun? bukankah kau sudah memaafkan kesalahanku ?"

Air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Gwat Hun.

"Benar, aku . aku sudah lupa akan kekejianmu pada masa silam. Kiem Lan Hoalah yang membuat kau ter-gila2, bukan maksudmu sendiri hendak tinggalkan diriku."

Tonghong Pek merasa pikirannya sangat kalut ia tak tahu pada saat ini apa yang harus diucapkan, ia cuma tertawa getir.

"Lalu, dimanakah Kiem Lan Hoa pada saat ini?" akhirnya ia bertanya.

Sebenarnya ucapan ini hanya diutarakan karena ia tak tahu perkataan apa yang harus diutarakan, dalam kenyataan mati hidup Kiem Lan Hoa sama sekali tiada sangkut paut dengan dirinya. Meski demikian ucapan tersebut cukup membuat air muka Tonghong Pacu berubah hebat!

Sepasang mata Gwat Kun telah buta sementara pikiran Tonghong Pek sedang kalut, perubahan air muka Tonghong Pacu ini sama sekali tidak diperhatikan olehnya, sedangkan Giok Jien pun jadi orang kurang awas, ia semakin tidak menemukan adanya perubahan tersebut.

Tonghong Pacu benar2 manusia luar biasa, hanya sebentar air mukanya berubah untuk kemudian pulih kembali seperti sedia kala, segera sahutnya.

"Kiem Lan Hoa adalah putri Thian li Kaucu, suatu perkumpulan siluman diwilayah Biauw. dia . . dia . . dia sudah mati.

Sebab siluman perempuan itu mati, ia datang mencari diriku, sebab katanya ia selalu rindu dan teringat akan daku" sambung Gwat Hun.

Tetapi Tonghong Pek cuma geleng kepala saja.

"Aku tidak percaya, aku benar2 tidak percaya apakah aku. . aku sedang bermimpi."

"Pek-jie tak bisa disalahkan kalau kau punya pikiran demikian, kau terlalu terharu sebab kejadian ini datangnya terlalu mendadak, kalau kau berpikir dengan hati tenang kemungkinan sekali akan bisa kau terima dan kau pahami persoalan ini?"

"Benar. biarkanlah ! aku berpikir aku . . aku bicara sampai disitu." tiba2 Tonghong Pek mendongak dan menambahkan:

"Aku... aku ingin berpikir seorang diri?"

"Terhadap akupun, kau tak mau bersama-sama diriku?" seru Gwat Hun dengan wajah bersedih. Tonghong Pek tertawa getir.

"Bukan begitu, aku bukannya tidak ingin ber-sama2 dirimu, tetapi aku ingin berpikir dulu dengan hati tenang! Sunio, kau punya berapa orang anak, apakah aku punya saudara?"

Pertanyaan ini muncul secara tiba2 membuat Gwat Hun tertegun. ia segera berpaling ke arah Tonghong Pacu.

"Antara aku dengan Kiem Lan Hoa telah melahirkan seorang anak." buru2 Tonghong Pacu berseru.

Wajah Gwat Hun berkerut, suaranya berubah melengking belum pernah Tonghong Pek mendengar sunionya bicara dengan suara melengking itu.

Terdengar ia berteriak "Anak yang dilahirkan perempuan siluman itu tak dapat menyebut saudara dengan Pek-jieku!"

"Tetapi dalam kenyataan mereka adalah saudara, bahkan sejak dilahirkan bocah itu tak pernah bertemu dengan orang tuanya, liku2 dibalik peristiwa ini akan kuceritakan kepadamu di kemudian hari "

Namun dengan kukuh Gwat Hun gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tak mau memperdulikan persoalan ini, Pek-

jie tak boleh saling menyebut saudara dengan putra siluman

perempuan itu."

Sepasang alis Tonghong Pacu berkerut, agaknya ia mulai tidak sabaran, namun wajahnya masih tersungging senyuman.

"Gwat Hun. kalau kau memahami penderitaan dari bocah itu, maka kau akan mengampuni dirinya."

"Tidak, aku tidak akan berbuat demikian, aku tidak memaafkan Kiem Lan Hoa siluman perempuan ini tentu saja tidak akan memaafkan pula anaknya!" "Gwat Hun, kau harus tahu, Kiem Lan Hoa adalah putri dari Thian Li Kaucu, dalam perkumpulan Thian li Kauw, orang menitik beratkan para perempuan daripada lelaki, kalau anak yang dilahirkan adalah seorang lelaki maka bocah itu akan disiksa per-lahan2 sampai mati!"

Meskipun Gwat Hun mengatakan tak mau memaafkan Kiem Lan Hoa beserta putranya, namun dasar hatinya adalah welas asih mendengar ucapan tersebut tak terasa lagi ia berseru tertahan.

"Gwat Hun, coba bayangkan. bagaimanapun juga dia adalah putraku, dan mana aku boleh membiarkan Kim Lan Hoa menyiksanya sampai mati?" ujar Tonghong Pacu sambil tertawa getir.

"Maka dari itu sewaktu Kiem Lan Hoa masih berada dalam keadaan tidak sadar, aku curi bocah itu, kebetulan sekali pada waktu itu ada seorang pengembara sedang berada diwilayah Biauw, maka kuserahkan bocah itu kepadanya, dan aku pesan agar bocah itu dibawa keluar dari wilayah Biauw makin jauh makin baik !"

"Aaah...lalu bagaimana dengan bocah itu ?" ia tidak kuasa kembali Gwat Hun bertanya dengan hati kuatir.

"Waktu itu ketika kuserahkan bocah tersebut kepada sang pengembara, dalam perkiraanku pencarian dikemudian hari tidak akan terlalu sulit maka aku tidak bertanya tentang asal-usul pengembara itu, aku cuma tahu ia she Loei, tetapi kemudian dengan susah payah aku baru berhasil mencari tahu jejaknya, yaitu dua belas tahun kemudian, dari mulut seseorang aku baru tahu dimanakah bocah itu berada."

"Dia sudah berusia dua belas tahun ?" "Benar, bahkan karena nasibnya yang baik ia sudah diterima jadi murid oleh Si Thay sianseng, tokoh sakti nomor wahid dari kolong langit dewasa ini."

Ucapan ini membuat Gwat Hun berseru tertahan, sementara Tonghong Pek yang ada disamping amat terkesiap.

"Kau... apa katamu?" serunya keras2.

Tonghong Pacu menyingkap tangannya diulapkan dengan maksud agar pemuda itu jangan buka suara dahulu.

Tetapi Tonghong Pek tak dapat menahan diri, ia malah maju kedepan sambil mendesak:

"Tidak, aku ingin bertanya sampai jelas siapakah bocah yang kau maksud kan?"

"Aku tahu dalam hati kecilmu kau telah berhasil menebak orang itu?"

"Perduli dengan aku, perduli siapakah dia sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diriku, meski dia adalah Loei Sam pun tiada sangkut pautnya denganku!" seru Tonghong Pek sambil goyang tangan berulang kali, wajahnya aneh sekali.

Sembari berkata ia mundur kebelakang sampai beberapa langkah jauhnya dari tempat semula.

"Benar dia adalah Loei Sam." sambung Tong hong Pacu cepat, "Darimana kau bisa katakan bahwa tidak ada hubungannya dengan orang itu? dia adalah saudara seayah lain ibu."

"Bukan!" teriak Tonghong Pek seraya meloncat bangun. Tonghong Pacu tidak memperdulikan dirinya lagi,

kembali ia bergumam seorang diri. "Ketika ia berusia tujuh tahun dan mengikuti pengembara itu mencari obat diatas gunung Go bie, secara kebetulan bocah itu bertemu dengan Si Thay sianseng, karena melihat bocah itu cerdik dan berbakat maka ia diterima jadi murid, ketika itu bahkan Si Thay sianseng sendiripun tak tahu asal usulnya ketika aku berhasil temukan pengembara itu kemudian dibawah petunjuk pengembara tadi aku datang ketempat tinggalnya Si Thay sianseng waktu itu bocah tersebut sudah ada lima tahun lamanya berada di gunung Go-bie . . ."

"Kau tidak akur dengan Si Thay sianseng secara bagaimana persoalan ini bisa diselesaikan?"

"Waktu itu ketika Si Thay sianseng melihat kehadiranku dan mengetahui pula asal usul Loei Sam hatinya sangat terperanjat. Selama lima tahun Loei Sam berada dalam perguruannya, ilmu silat yang berhasil ia kuasahi benar2 luar biasa, seandainya waktu itu bocah tadi diusir dari perguruan, niscaya rahasia perguruan akan bocor ketempat luaran, maka dari itu setelah berunding semalaman suntuk ia minta aku pegang rahasia dan jangan menyesatkan pikiran Loei Sam, sebab Loei Sam menjadi seorang manusia yang berguna bagi dunia persilatan."

"Hm... ia memang sangat memenuhi harapanmu itu." jengek Tonghong Pek sambil tertawa dingin. Mendengar jengekan tersebut, sepasang alis Gwat Hun berkerut,

"Pek-jie, sejak kapan kau belajar mengucapkan kata2 yang begitu tak enak didengar ?" tegurnya.

"Sunio kau tidak tahu..." Belum selesai ia berkata, Tonghong Pacu telah menukas:

"Selama ini ia tak tahu asal-usulnya, Si Thay sianseng maupun aku tak pernah menceritakan rahasia ini kepada siapapun, sebetulnya Si Thay sianseng boleh terhitung seorang Koen cu, seorang lelaki sejati yang patut dipuji, terhadap bocah ini baik sikap maupun dalam mewariskan ilmu silatnya ia tak pernah pilih kasih, maka selama ini pula aku menjaga rahasia ini dan tidak mengatakan kalau dia adalah putraku."

Ia merandek sejenak untuk menghela napas panjang, setelah itu sambungnya lebih jauh:

"Sebenarnya aku mengira persoalan ini tak bakal terjadi perubahan, aku lihat bocah itu tumbuh jadi dewasa dibawah didikan Si Thay sianseng, tetapi sungguh tak nyana Loei Sam bocah ini ternyata sudah menyenangi putri Si Thay sianseng!"

"Tentu saja Si Thay sianseng tidak akan menyetujui perkawinan ini." seru Gwat Hun.

Tonghong Pacu mengangguk.

"Persoalan ini gampang sekali diduga, tentu saja Si Thay Sianseng tidak akan setuju tetapi hubungan mereka berdua makin hari makin akrab dan makin intim sehingga akhirnya urusan tak terselesaikan, dalam keadaan gusar Si Thay sianseng hendak menghukum mati Loei Sam, dalam keadaan semacam itu terpaksa Loei Sam mengajak beberapa orang rekan seperguruannya untuk sama2 melarikan diri kedalam dunia persilatan."

Tong hong Pek yang berdiri disamping sebenarnya tak ingin ikut campur, tetapi ia tak kuat menahan diri, tiba2 teriaknya.

"Didengar dari ucapanmu, seakan2 Loei Sam sama sekali tidak salah!"

"Aku memang punya perasaan demikian, aku pikir kalau Loei Sam bukan anakku serta Kiem Lan Hoa, maka Si Thay sianseng yang menyukai bocah tersebut tentu dengan senang hati menjodohkan putrinya kepada bocah itu dan tentu ia akan jadi seorang pendekar hebat, bukan seperti sekarang keadaannya?"

Tonghong Pek tertawa dingin.

"Tetapi sewaktu ada diluar perbatasan karena aku halangi niatnya untuk memperkosa seorang nona sehingga menderita luka parah terbokong oleh serangannya yang pengecut, hampir-hampir saja jiwaku melayang ditangannya."

"Pek-jie, kiranya dialah yang melukai dirimu." seru Gwat Hun terperanjat.

"Kecuali dia, dalam kolong langit tak akan muncul Loei Sam kedua yang begitu keji, begitu pengecut serta begitu licik" sahut pemuda itu sambil gertak gigi.

"Sunio ada satu persoalan ingin kuberitahukan kepadamu, sahabat suhu, putri dari Hiat Goan Sin koen justru mati karena diperkosa oleh bajingan Loei Sam, manusia cabul bangsat terkutuk itu. Bajingan macam ini..."

Tonghong Pek merasa amat terharu, ia tak sanggup melanjutkan kembali kata2nya.

"Sungguh menakutkan, sungguh menakutkan sekali" seru Gwat Hun sambil mencekal tangan Tonghong Pek erat2.

"Kiem Lan Hoa siluman perempuan itu dari mana bisa melahirkan anak yang terkutuk macam itu ? dia...sekarang dia berada di mana ?"

"Sekarang semua jago yang ada dikolong langit sama2 mencari jejaknya, sama2 hendak membinasakan dirinya, kecuali lari ke Timur bersembunyi ke barat, apa yang bisa ia lakukan lagi ?" Tonghong Pacu yang selama ini membungkam, tiba2 menghela napas panjang dan berkata:

"Dia adalah seorang bocah yang cerdik, satu kali dianggap orang sebagai orang jahat maka ia akan berbuat jahat terus, perasaan hati semacam ini tidak akan kau pahami !"

"Hm! mengapa sejak dahulu, sejak mulai ini sudah dianggap orang sebagai manusia jahat ?"

"Sudah, tak usah banyak bicara lagi, mulai sekarang aku adalah ayahmu dan Loei Sam adalah saudaramu kau mengerti ?"

Tonghong Pek merasa kepalanya mendengung keras, persoalan pertama belum bisa diterima ia dipaksa untuk menerima persoalan kedua, ia murung dan segera teriaknya keras2.

"Kau pun tak usah banyak bicara, sampai matipun aku tak akan mengakui kedua hal tersebut."

"Apa maksud ucapanmu itu? apakah kau merasa malu menganggap diriku sebagai ayahmu?" hardik Tonghong Pacu, sepasang alisnya berkerut.

Tonghong Pek mendongak dan tertawa terbahak2. "Haa... haa... ternyata kau tahu diri!"

"Pek jie, kau tak boleh berkata demikian terhadap ayahmu sendiri!" jerit Gwat Hun.

Pada hari biasa Tong hong Pek selalu menghormati ibu gurunya, tapi saat ini dalam keadaan terharu dari hati bertolak ia tak mau tahu, ia pun menghardik keras. "Aku tidak punya ayah macam dia, perkataan dari kalian berdua tidak sepatah katapun yang bisa kupercayai!"

Air muka Gwat Hun pucat bagaikan mayat. "Lalu perkataan siapakah baru bisa kau percayai?" tanyanya.

"Siapapun tidak kupercayai, percuma kalian mengatakan hal2 tersebut kepadaku, aku tidak akan percaya !" sembari berteriak ia enjot badan dan lari keluar.

"Kau jangan pergi dulu !" teriak Gwat Hun. .

Namun Tonghong Pek tidak ambil gubris, dalam dua tiga loncatan ia sudah lenyap dibalik tikungan.

"Pek jie, seandainya suhumu yang mengatakan kepadanu. apakah kau percaya ?" kembali Gwat Hun berteriak napasnya ter sengkal2.

Waktu itu Tonghong Pek sudah berada jauh sekali, meski demikian ia dapat menangkap jeritan Gwat Hun, ucapan itu membuat badannya lemas, hampir2 saja ia jatuh tidak sadarkan diri.

Benar, bagaimana kalau gurunya yang mengatakan persoalan tersebut kepadanya ?

Lieh Hwee Sin-Tuo adalah orang yang paling dihormati, ia tahu sibongkok sakti gurunya tak pernah berbohong, tak mungkin kalau ia menipu dirinya, bagaimana kalau gurunyapun berkata demikian ?

Dalam pada itu Gwat Hun masih berteriak keras2, tetapi segera dicegah oleh Tonghong Pacu.

"Sudahlah jangan berteriak lagi, setelah ia tahu duduknya perkara suatu saat tentu akan datang sendiri, saat ini kau berteriak sampai suaramu habispun percuma."

Ucapan itu menambah berat hati Tonghong Pek yang sedang berlari keluar, ia makin kalap larinya makin kencang ketika itu hampir boleh dikata ia tak tahu kemanakah ia hendak pergi. Pikirannya benar2 kalut, ia tak tahu berapa jauh sudah ia tempuh sehingga akhirnya ia baru berhenti ketika mendengar jeritan melengking seseorang.

Ketika ia berhenti, pemuda itu tak dapat melihat nyata pemandangan dihadapannya, ia merasa pandangannya kabur. . .

"Tonghong toako, kenapa kau?" kembali terdengar orang itu menegur dengan suara berat.

Ketika sedang berlari tadi, Tonghong Pek sudah merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, badannya terasa mau roboh keatas tanah, namun ia pertahankan diri yang dipikirkan hanyalah meninggalkan tempat itu semakin jauh semakin baik.

Sehingga akhirnya ia berhenti karena seruan kaget dari seseorang, kini ia kenali suara tersebut adalah suara Si Soat Ang.

Begitu berjumpa dengan orang yang dikenal, seluruh ketegangan mengendor tenaga yang terkumpul pun jadi buyar, kakinya jadi lemas dan tak tertahan lagi badannya roboh keatas tanah.

Tetapi ia tidak ingin roboh, tangannya buru2 diulur kedepan seraya berseru:

"Bimbing aku . . payang . . payang tubuhku." Orang yang sedang berlari kearahnya bukan lain adalah Si Soat Ang, waktu itu gadis tersebutpun dapat melihat mimik wajah Tonghong Pek mendengar seruan tersebut buru2 ia maju kedepan.

Ketika itulah tubuh Tonghong Pek rubuh lemas keatas tanah dan tepat menumbuk diatas bahu Si Soat Ang, dengan demikian ia selamat terbanting keatas tanah, wajah Tonghong Pek terlihat pucat pasi bagaikan mayat, sepasang mata mendelong dan badannya lemah, keadaannya sangat aneh sekali.

"Tonghong toako kenapa kau?" seru Si Soat Ang dengan hati cemas "Peristiwa apa yang telah kau jumpa ?"

Ucapan itu terdengar oleh pemuda itu secara lapat2 ia tak dapat menjawab kecuali menggelengkan kepala belaka.

Beberapa saat telah berlalu, hawa murni dalam tubuhpun bergerak lancar kembali, ia mulai menangkap jelas wajah Si Soat Ang, ketika itu gadis tersebut sedang memandang kearahnya dengan wajah terperanjat, mata terbelalak. Ia tarik napas panjang lalu menjawab:

"Soat Ang, kau tak usah terkejut, aku... aku tidak apa2 !"

Mendengar pemuda itu bisa bicara, Si Soat Ang pun berlega hati.

"Tapi...air mukamu, mengapa... mengapa begitu menakutkan ? apakah kau terkena hawa jahat?"

"Kena hawa jahat ?" Tonghong Pek segera menggeleng. "Aaah..! kalau dibicarakan sungguh panjang sekali kisahnya. Soat Ang, secara bagaimana kau bisa tiba disini ? apakah telah bertemu dengan guruku ?"

"Tidak." Si Soat Ang menggeleng. "Aku dengan Ciang Ooh menanti kedatangan kalian lama sekali dalam hutan bambu, karena tidak nampak juga kalian munculkan diri maka kami lantas ke luar, siapa sangka ditempat ini telah berjumpa dengan dirimu !"

"Dimana Ciang Ooh?"

"la berdiri disitu!" jawab sang gadis sambil menuding kebelakang.

Mengikuti arah yang dituding Si Soat Ang, Tonghong Pek angkat kepala, tampak olehnya Ciang Ooh berdiri mematung disamping sebatang pohon, buru2 ujarnya kembali:

"Aku ada urusan yang sangat penting ingin cepat bertemu dengan guruku, kalian cepat2 cari dirinya kemari "

"Apakah kau berhasil menemukan ibu guru-mu"!" tanya sang dara tertegun.

Pertanyaan ini sebenarnya diajukan tanpa maksud tertentu, namun cukup menyakitkan hati Tonghong Pek. Pemuda ini segera menghela napas panjang.

"Soat Ang, persoalan ini panjang sekali kalau dibicarakan lebih baik kita temukan dulu guru ku."

ia tarik tangan Si Soat Ang untuk diajak berlalu, namun ia sendiripun tak tahu saat ini Lieh Hwee Sin Tuo berada dimana, maka dari itu mereka cuma berputar kalang kabut tanpa arah tujuan.

Menyaksikan kesemuanya ini, Si Soat Ang merasa ragu2 bercampur geli, sambil depak kaki serunya. "Kau hendak mencari Lieh Hwee cianpwee apa gunanya menarik aku untuk diajak berputar tanpa tujuan? waktu berpisah bukanlah ia serahkan sebatang anak panah bersuara kepadamu dan berpesan apabila kau berhasil temukan suniomu segera lepaskan anak panah tersebut?"

Tonghong Pek segera disadarkan kembali oleh ucapan tersebut, ia berhenti dan berseru:

"Aaah. . . benar?"

Dari dalam sakunya segera ia ambil keluar anak panah bersuara itu.

Panah tadi dipatahkan jadi dua bagian lalu di lepaskan mengikuti arah angin dan dilempar ke atas "Darrr" bagaikan serentetan asap merah panah bersuara tadi segera meluncur ketengah angkasa.

Diikuti terjadi lagi ledakan dahsyat ditengah udara, terpancarlah serentetan cahaya merah bagaikan hujan gerimis rontok kebawah jarak se puluh li pasti dapat menangkap cahaya tersebut. Dalam pada itu Tonghong Pek sambil memegangi kepalanya dengan sepasang tangan segera duduk mendeprok diatas sebuah batu cadas setelah melepaskan tanda panah tadi.

"Tong-hong toako kelihatan sekali hatimu sangat sedih" kata Si Soat Ang sambil berjongkok disisinya. "Mengapa tidak kau ceritakan masalahmu itu kepadaku?"

Suaranya lembut halus dan menawan hati, membuat Tonghong Pek mendongak lalu tertawa getir.

"Soat Ang..." katanya: "Seumpama kau adalah..."

Tapi ucapan itu tidak dilanjutkan, sebagai gantinya ia tertawa getir kembali.

"Seumpama kau kenapa ? kenapa tidak kau teruskan ?" Tonghong Pek hanya menggeleng dengan kali sedih,

sukar    baginya    untuk    melanjutkan    ucapan    tersebut,

sebenarnya ia ingin bertanya: "seumpama aku adalah kakak dari Loei Sam, bagaimana sikapmu selanjutnya kepadaku ?" tetapi ia tak kuasa mengucapkan kata2 tersebut.

Hatinya sangat terharu sehingga badannya gemetar keras, mimik mukanya berubah makin jelek membuat Si Soat Ang jadi bergidik.

Buru2 ia dekati badan pemuda itu sambil menegur dengan suara keras:

"Tonghong toako, sebenarnya kenapa kau ? rahasia hatimu kenapa tidak kau utarakan secara terus terang !" Berbicara sampai disini ia menghela napas panjang, tunduk kepala dan meneruskan dengan hati sedih:

"Aku mengira...mengira apabila kau punya rahasia dalam hati tentu akan dikatakan kepadaku, seperti pula dengan diriku kepadamu."

"Soat Ang bukannya aku tak mau katakan rahasia ini kepadamu melainkan hatiku teramat kalut, aku tak tahu perkataan ini harus dimulai darimana ?"

Si Soat Ang mendongak, air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

"Tidak mengapa, katakanlah per-lahan2 asalkan kau suka bicara dengan aku ini sudah cukup."

"Mana mungkin?"

Tonghong Pek tertawa getir "Aku... aku... tadi aku telah berjumpa dengan Tonghong Pacu..."

Tiba2 terasa desiran angin tajam menyambar lewat, Tonghong Pek serta Si Soat Ang ber-sama2 angkat kepala tampaklah Hiat Goan Sin koen telah meluncur datang.

Agaknya simanusia monyet Hiat Goan Sin-koen dapat menangkap ucapan itu, maka begitu tiba disana ia lantas berseru:

"Apa? kau telan berjumpa dengan Tonghong Pacu?"

Tonghong Pek buka mulut, belum sempat menjawab tiba2 terdengar jeritan aneh dari Lieh Hwee Sin-tuo berkumandang datang begitu tiba disana iapun berseru:

"Kau telah bertemu dengan Tonghong Pacu?" "Benar aku telah berjumpa dengan dia suhu."

Sebenarnya Tonghong Pek hendak mengatakan "Suhu mengapa kau begitu takut kalau aku bertemu dengan dia", tetapi watak si bongkok yang berangasan sama sekali tidak memberi kesempatan bagi pemuda itu untuk menyelesaikan kata2nya, sambil mendepak kaki ia membentak:

"Aku suruh kau melarikan diri, apakah kau telah mengikuti perkataanku. ."

Tonghong Pek tertawa getir.

"Pesan dari suhu aku tak berani melupakan tetapi keadaan waktu itu membuat aku tak bisa melarikan diri, maka dari itu terpaksa aku harus mengikuti dirinya untuk menjumpai seseorang."

Air muka Hiat Goan Sin koen serta Lieh Hwee Sin-tuo kontan berobah hebat, mereka kelihatan tegang sekali.

"Manusia macam apa yang telah kau jumpai itu?" ujar Hiat Goan Sin koen cepat2 Tonghong Pek tidak menjawab, ia berpaling dan menatap wajah gurunya tajam sekali.

"Siapa yang telah kau jumpai?" tanya Lieh Hwee Sin tuo dengan suara gemetar:

Tonghong Pek ragu2 sejenak, akhirnya sepatah demi sepatah jawabnya:

"la ajak aku untuk bertemu dengan sunioku."

Hiat Goan Sin koen dan Lieh Hwee Sin Tuo sama2 melangkah mundur setindak kebelakang, air muka mereka berdua berubah hebat, setelah saling bertukar pandangan sekejap, Hiat Goan Sin koen gerakkan bibirnya hendak bicara namun segera dicegah oleh Lieh Hwee Sin Tuo.

Tonghong Pek pusatkan segenap perhatiannya mengawasi tingkah laku gurunya, ia temukan si bongkok sakti berdiri menjublak. napasnya ter-engah2 dan badannya lemas sekali. "Kalau begitu, kau . . kau sudah mengerti barusan?" tanyanya lirih suaranya perlahan dan mengenaskan sekali.

Sebenarnya Tonghong Pek masih berharap agar Lieh Hwee Sin-Tuo bisa mengatakan bahwa apa yang dikatakan Tonghong Pacu serta sunionya tidak benar, tak nyana sibongkok sakti itu malah balik bertanya kepadanya.

Hal ini membuat Tonghong Pek berdiri bergidik, mulutnya melongo dan untuk sesaat tak dapat mengucapkan sepatah katapun, dalam hati ia sama bisa berseru:

"Agaknya apa yang mereka katakan sedikitpun tidak salah..."

Beberapa patah kata ini berputar selama beberapa saat dalam benaknya, untuk kemudian ia baru berkata.

"Kalau begitu apa yang mereka berdua katakan adalah benar ?"

Hiat Goan Sinkoen segera melengos, agaknya ia tidak ingin mendengarkan pertanyaan semacam itu, sebaliknya Lieh Hwee Sin-Tuo berdiri kaku menanti pemuda itu mengulangi katanya untuk kedua kakinya, ia baru mengangguk.

"Sedikitpun tidak salah !"

Seluruh tubuh Tonghong Pek gemetar keras, ia mendongak dan awasi kedua orang jago itu dengan pandangan mata mendelong.

Tempo dulu ketika si manusia monyet mengatakan pada orang lain bahwa dia adalah putra Tonghong Pacu waktu itu, hatinya merasa geli sekali, siapa nyana persoalan yang menggelikan dahulu kini jadi kenyataan, ia benar2 adalah putra Tonghong Pacu gembong iblis nomor wahid dari kolong langit dewasa ini.

Tempo dulu ketika si manusia monyet mengatakan pada orang lain bahwa dia adalah putra Tonghong Pacu waktu itu, hatinya merasa geli sekali, siapa nyana persoalan yang menggelikan dahulu kini jadi kenyataan, ia benar2 adalah putra Tonghong Pacu gembong iblis nomor wahid dari kolong langit dewasa ini.

Pemuda itu benar2 tak kuat menahan diri, ia mendongak lalu tertawa terbahak2, suaranya keras dan menyeramkan membuat setiap orang yang mendengar merasa hatinya bergidik, bulu kuduk pada bangun berdiri. .

Si Soat Ang yang selama ini berdiri disamping hingga waktu itu masih belum tahu persoalan apa yang sedang dibicarakan. kini secara tiba2 mendengar Tonghong Pek tertawa aneh, ia jadi terperanjat.

"Tonghong toako !" teriaknya keras2. Tonghong Pek tidak menggubris, tiada hentinya ia tertawa terus, suaranya makin lama semakin menyeramkan.

Tiba2 Hiat Goan sio koen berpaling dengan amat gusarnya, ia membentak.

"Apa yang perlu ditertawakan ? kalau kau tertawa lagi, akan kutempeleng mukamu !"

Namun Tonghong Pek sudah tidak sadar, saat ini ia tidak memperdulikan ancaman dari manusia monyet itu lagi, malah tertawanya malahan semakin keras.

Hiat Goan Sin koen tak tahan, ia segera meloncat kedepan, tangannya diayun menampar wajah.

Belum sampai telapaknya bersarang diwajah sang pemuda, tiba2 Lieh Hwee Sin Tuo membentak: "Jangan sentuh dia !"

Sembari membentak, sibongkok sakti putar telapak, kelima jarinya bagaikan cakar garuda menangkap ketangan Hiat Goan Sin-koen.

Buru2 simanusia monyet tarik kembali tangannya, tetapi serangan dari sibongkok datangnya terlalu cepat, meski pergelangannya tidak sampai kena dicengkeram namun dimana kelima jari tangan sibongkok menyambar lewat ujung baju Hiat Goan Sin koen telah tersambar robek. Air muka simanusia monyet ini langsung berubah hebat.

"Bongkok! kau hendak berbuat apa?" hardiknya.

Lieh Hwee Sin Tuo menggeleng, wajahnya tampak menyedihkan sekali, suaranya serak dan "Jangan kau ganggu ketenangannya, biarkan dia tertawa sampai puas." katanya.

Yang dimaksudkan dia oleh sibongkok sakti bukan lain adalah Tonghong Pek, simanusia monyet segera tertegun dan berhenti bergerak.

Beberapa saat kemudian pemuda itu berhenti tertawa, Si Soat Ang yang berdiri disisinya segera tarik lengannya seraya menegur "Tong hong toako, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Air muka Tonghong Pek pucat pias bagaikan mayat, per lahan2 berhasil menenangkan diri, terdengar ia menarik napas panjang, berkata.

"Soat Ang, kisah ini panjang sekali kalau di ceritakan." "Perduli bagai mana panjangnya cerita ini kau harus

beritahukan kepadaku, kau harus beritahu kepadaku!"

"Tentu saja akan kuberitahukan soal ini kepadamu, mari biarlah kuceritakan kepadamu!" Sembari berkata ia tarik tangan Si Soat Ang dan diajak berlalu, sikapnya seakan2 ditempat ini tak ada orang ketiga lagi.

Belum sampai tujuh delapan langkah mereka berdua berlalu Lieh Hwee Sin Tuo tiba2 membentak:

"Tonghong Pek?"

Tubuh pemuda itu bergetar keras, ia segera berhenti namun ia tidak putar badannya sama sekali.

Lieh Hwee Sin Tuo pun tidak maju menghampiri, berdiri ditempat semula ia menegur.

"Kau hendak pergi kemana?"

"Aku . . . aku sendiripun tidak tahu."

"Aku adalah suhumu kalau kau tidak ber-sama2 aku hendak kemana kau pergi?"

Tonghong Pek merasa amat sedih, Lieh Hwee Sin tuo adalah suhunya dan orang yang paling ia kagumi selama ini, tetapi selama ini orang yang ia hormati ternyata sudah mengetahui asal usulnya, dan kini ia sudah tahu duduknya perkara secara mendadak, pukulan bathin ini membuat pandangannya terhadap sibongkok sakti jadi berubah.

Namun meski demikian pertanyaan itu cukup membuat hatinya sedih.

Ia tahu memang tidak sepantasnya ia menyalahkan sibongkok sakti, si orang tua ini tentu mempunyai kesulitan sendiri, karena itu selama ini menganggap dirinya sebagai murid, Tak kuasa Tonghong Pek tertawa getir, dia adalah putra Tonghong Pacu, mungkinkah dia masih dianggap sebagai anak murid Lieh Hwee Sin tuo?

Suara tertawanya mengenaskan sekali membuat siapapun yang mendengar merasa sangat tidak enak. "Aku. . aku masih kau anggap sebagai muridmu?" ia bertanya, "Aku rasa tidak mungkin lagi!"

Ucapan ini membuat Si Soat Ang yang berada disana jadi amat terperanjat, sebab ia tahu baik jago dari kalangan lurus maupun dari kalangan sesat sama2 menganggap penghianatan terhadap perguruan merupakan suatu dosa yang amat besar sekali.

Lieh Hwee Sio Tuo sama sekali tidak jadi gusar seperti yang diduga Si Soat Ang, ia malah tertawa getir.

"Kalau begitu, kau hendak mencari ayahmu?"

Tonghong Pek amat sedih, ternyata Lieh Hwee Sin Tuo tidak memahami perasaan hatinya, ia mendongak dan segera tertawa aneh.

Saat ini Si Soat Ang tak dapat menahan rasa curiganya lagi, ia segera bertanya dengan suara keras.

"Tonghong toako, apa yang kau katakan? ayahmu? siapakah ayahmu?"

Sebenarnya pemuda itu tidak ingin menceritakan asal usulnya kepada gadis ini sehingga ia merasa ngeri, tapi pukulan hatin yang diterima saat ini membuat ia tanpa sadar telah menjawab dengan suara keras:

"Ayahku adalah Tonghong Pacu, manusia yang paling tersohor dalam kolong langit dewasa ini!"

Si Soat Ang berseru tertahan, ia mundur selangkah kebelakang dan hampir2 tak mau mempercayai telinga sendiri.

Kembali Tonghong Pek tertawa aneh.

"Aku adalah putra Tonghong Pacu, coba kau katakan, bukankah asal usulku luar biasa sekali?" Si Soat Ang benar2 amat terperanjat nama "Tonghong Pacu", membuat hatinya bergidik.

Hal ini membuat gadis itu tak tahu hatinya merasa senang atau terkejut, ia cuma berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo untuk sesaat tak sepatah katapun bisa diutarakan keluar kecuali gelengkan kepalanya berulang kali.

"Soat Ang, kau tak usah goyang kepala aku benar2 adalah putra dari Tonghong Pacu." ujar Tonghong Pek kembali, kini suaranya mencerminkan betapa sedih hatinya, "Bukan saja Tong hong Pacu berkata demikian sunioku berkata demikian dan sekarang seperti kau dengar sendiri, guruku pun berkata begini!"

Pada saat itu otak Si Soat Ang telah berputar, ia mulai merasa girang dengan jalan pikirannya, Yang ia kenali akan diri Tonghong Pek adalah seorang murid Lieh Hwee Sin tuo kedatangannya kesanapun tidak lain hanya bertujuan hendak mencari tulang punggung yang bisa menjamin keselamatannya.

Dan kini ia tahu Tonghong Pek adalah putra Tonghong Pacu, apabila ia bergaul rapat dengan pemuda itu, dikemudian hari siapa yang berani mengganggu dirinya lagi? siapa yang berani mencari urusan dengan Tonghong Pacu gembong iblis nomor wahid dari kolong langit?

Berpikir sampai disini, Si Soat Ang benar2 merasa kegirangan, sehingga hampir2 saja ia berjingkrak dan bersorak.

Dalam pada itu Tonghong Pek dapat melihat bahwa diatas wajah Si Soat Ang memancar keluar sinar kegirangan, ia jadi tertegun dan segera menegur:

"Soat Ang, agaknya kau merasa kegirangan ?" "Tentu saja aku merasa girang, apakah kau..." karena girangnya gadis itu tak dapat mengerem kata2nya.

Namun segera ia sadar, membungkam. angkat kepala dan menatap wajah Tonghong Pek tajam2.

Dari mimik wajah pemuda itu, ia lantas tahu dan bisa menebak bahwa Tonghong Pek agaknya merasa tidak senang jadi putra Tonghong Pacu.

Sebagai seorang gadis cerdik ia bisa meng-ubah2 haluan mengikuti arah tiupan angin, buru2 tambahnya:

"Apakah kau.,.kau merasa tidak senang ? sekarang kau sudah tahu asal usulmu, inilah kejadian yang patut digirangkan dalam kolong langit, bukankah begitu Tonghong toako ?"

"Tapi...tapi...meskipun aku sudah tahu akan asal usulku, tetapi aku berhasil membuktikan pula bahwa aku adalah putra dari Tonghong Pacu."

"Tonghong toako, ayahmu adalah seorang tokoh sakti nomor wahid dikolong langit."

Tonghong Pek geleng kepala, "Dia adalah gembong iblis nomor satu dari kolong langit."

"Perduli bagaimanapun juga, setelah kau tahu bahwa dia adalah ayahmu maka kau harus berada sama2 dia belajar silat darinya."

Seluruh tubuh Tonghong Pek bergetar keras, ia pandang wajah Si Soat Ang dengan pandangan yang aneh, seakan2 ia sedang memandang orang lain, seorang manusia asing.

"Kenapa kau?" tegur Si Soat Ang dengan jantung berdebar keras.

"Soat Ang, apa yang kau katakan tadi apakah muncul dari dasar hati kecilmu?" Dara itu sadar Tonghong Pek merasa tidak puas dengan ucapannya, maka ia lantas melengos menjawab seenaknya.

"Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan diriku, bukankah Tonghong pacu adalah ayahmu?"

"Soat Ang sejak kau tahu bahwa aku telah mengetahui asal usulku, bukannya merasa sedih kau merasa kegirangan agaknya."

"Tentu saja merasa girang sekali!"

Tonghong Pek mendongak dan menghela napas panjang. "Aaaai . , kalau begitu siapa yang sama seperti aku?

merasa amat berduka?"

Ucapan ini diutarakan dengan amat sedih, dalam kenyataan inilah isi hati sebenarnya.

"Tonghong Pek, aku menyadari keadaanmu!" ujar Lieh Hwee Sin Tuo sambil menghela napas panjang.

Tiba2 Tonghong Pek putar badan dan jatuhkan diri berlutut di hadapan si Lieh Hwee Sin-Tuo, setelah menjalankan penghormatan sebanyak tiga kali, ujarnya. "Suhu, sejak ini kita tak usah menyebut dengan istilah guru dan murid lagi, kita berpisah sampai disini saja."

Lieh Hwee Sin Tuo tertegun, mulutnya melongo dan sepatah katapun tak sanggup diutarakan.

Sebaliknya Hiai Gwat Sin koen yang berdiri disamping sibongkok segera membentak keras, wajahnya berubah merah padam.

"Tonghong Pek, apa maksud ucapanmu itu?"

Tonghong Pek tidak menjawab, ia cuma tertawa getir sambil menuding kearah Lieh Hwee Sin Tuo. "Dia mengerti ?" katanya, Buru2 Hiat Goan Sin koen berpaling ke arah si bongkok sakti.

Wajah Lieh Hwee Sin-Tuo amat sedih bercampur terkejut, ia mengangguk tiada hentinya:

"Benar aku mengerti, Hiat Goan, kau tak usah mencampuri urusan kami lagi"

"Baik ! Baik ! aku tidak akan turut campur, aku tidak akan turut campur."

”Tonghong Pek, ini hari aku baru tahu sebenarnya kau adalah manusia macam apa !" teriak Hiat Goan Sin koen dengan mata melotot, napasnya ter-sengkal2:

"Hiat Goan, sudahlah jangan bicara lagi".

"Kau suruh aku jangan mencampuri urusanmu, aku sudah tidak ikut campur. apa kaupun melarang aku bicara

!"

Kalau mengikuti tabiat sibongkok saat ini juga ia akan beribut dengan manusia monyet itu, tapi sekarang ia tidak berniat untuk berbuat demikian maka ia membungkam dalam seribu bahasa.

Lama sekali ia tundukkan kepalanya rendah2 kemudian putar badan dan berlalu, langkahnya lambat membuat orang yang melihat merasa terharu, dua puluh tahun lamanya ia merawat Tonghong Pek, sejak ia kecil hingga ketingkat dewasa meski pemuda ini bukan putra sendiri namun ia sayangi bocah ini bagai putra sendiri.

Tapi apa yang terjadi saat ini ?...selangkah demi selangkah Lieh Hwee Sin Tuo berjalan kedepan, beberapa saat kemudian ia sudah lenyap dari pandangan.

Dalam pada itu Hiat Goan Sin koen memburu kedepan, agaknya ia hendak menyusul sahabatnya sibongkok sakti, namun ia segera berhenti, menghela napas panjang dan berlalu dengan ambil arah yang berlawanan.

Tonghong Pek sendiri berdiri ter-mangu2 disitu, tentu ia dapat melihat betapa runyam keadaan Lieh Hwee Sin-Tuo, lenyapnya kegagahan siorang tua itu, memandang bayangan tubuh gurunya yang mulai lenyap tak kuasa air mata bercucuran.

Si Soat Ang yang berdiri disisi pemuda itu mulai merasa tidak sabar melihat tingkah polah Tong hong Pek yang lemah, kalau mengikuti tabiatnya ia tentu akan menyindir, menegur dan memaki si anak muda itu, tapi saat ini ia tahu pemuda itu adalah putra Tonghong Pacu, dan ia membutuhkan jaminan kedamaian dari gembong iblis itu, maka ia membungkam, ia tidak mau tinggalkan Tonghong Pek begitu saja.

Per-lahan2 gadis ini tarik napas panjang2, dengan paksa menahan sabar dan bertanya lembut:

"Tonghong toako, mengapa kau menangis?" Tonghong Pek yang mulai mengucurkan air mata belaka, kini mendengar ucapan yang menyinggung perasaan halusnya, ia tak dapat menguasahi diri lagi, meledaklah suara tangisan yang amat keras.

Melihat pemuda itu menangis tersedu2, Si Soat Ang merasa geli bercampur mendongkol, ia tahu dinasehatipun percuma maka dibiarkannya pemuda menangis sepuasnya sementara ia sendiri menyingkir dari situ dengan hati kesal dan duduk menanti disebuah pohon besar.

Seperminum teh kemudian Tonghong Pek baru selesai menangis sepasang matanya merah membengkak, ia putar badan sambil membesut air mata teriaknya:

"Soat Ang ?" Si Soat Ang melengos, duduk membelakangi pemuda itu dan sama sekali tidak menggubris panggilannya.

Tong hong Pek tarik napas panjang akhirnya ia bangun dan jalan menghampiri gadis itu.

Tentu saja Si Soat Ang dapat menangkap suara langkah kaki pemuda itu menuju kearahnya, namun ia tidak putar badan, melirikpun tidak.

Setibanya dibelakang gadis tersebut, Tonghong Pek berdiri sejenak kemudian baru menegur dengan suara yang pelan.

"Soat Ang, kau marah?"

Si Soat Ang membungkam, otaknya berputar kencang dan pikirnya.

"Apa yang harus aku lakukan sehingga mati2-an ia tak mau berpisah dari sisiku? cara2 yang paling tepat adalah turuti dahulu maksud hatinya, aku tak boleh mengumbar napsu sehingga nanti berakhir seperti Liem Hauw seng, ia lari dari sisiku!"

Karena berpikir demikian, ia menghela napas, kemudian jawabnya sedih. "Aku marah dengan siapa? aku marah dengan diriku sendiri, mengapa tak dapat ikut menguatirkan dirimu dan aku bersedih atas peristiwa yang menimpa dirimu!"

Tonghong Pek adalah seorang koencu, seorang lelaki jujur yang sama sekali tidak pernah menduga apabila orang lain bisa timbul pikiran keji, pikiran licik untuk membohongi dirinya.

Tentu saja mimpipun Tonghong Pek tidak pernah menyangka Si Soat Ang yang dicintai pada saat itu hanya berpikir untuk kepentingan sendiri, sedikitpun tidak pikirkan tentang dia, bahkan lain dimulut lain dihati, ia cuma berbicara untuk merebut simpatinya belaka.

Sebagai seorang pemuda polos dan jujur mimpipun Tonghong Pek tak pernah menyangka sampai disitu, tidak aneh ia merasa amat terharu sehingga hampir saja mengucurkan air mata setelah mendengar perkataan itu.

Sambil membelai rambutnya yang hitam halus bisiknya lirih:

"Soat Ang, aku tahu salah, tadi aku tidak pantas menangis seperti anak kecil !"

Dari ucapan ini, Si Soat Ang salah mengira pemuda itu sudah berhasil mendapat jalan keluar, hatinya jadi girang.

"Benarkah begitu ?" ia bertanya sambil mendongak. "Tadi aku mengira  walaupun kolong langit amat luas

tetapi aku tidak punya sesuatu apapun, maka dari itu aku menangis tersedu2, tapi sekarang aku tahu aku masih punya

kau apa gunanya menangis ?"

"Tonghong toako ! apa maksud ucapanmu itu, orang tuamu..."

"Sudah, jangan mengungkap tentang mereka lagi." tukas Tonghong Pek cepat sambil mendepak kakinya keatas tanah.

"Apa maksud ucapanmu itu" seru Si Soat Ang gusar. "Mereka adalah orang tuamu, bayangkan saja ketika berada dalam keadaan sengsara ibumu masih memberi she ayahmu kepadamu, hal ini menandakan bahwa dikemudian hari ia ingin agar kau mengetahui asal-usulmu sebenarnya dan tidak lupa akan jerih payahnya, apakah sekarang kau sudah tidak mau orang tuamu lagi ?" Ucapan Si Soat Ang ini meski ditujukan untuk kepentingan sendiri, namun kata2nya cengli sekali membuat Tonghong Pek tak dapat membantah barang sekejappun.

Haruslah diketahui kesopanan pada jaman itu dipegang teguh sekali oleh masyarakat, seorang putra harus berbakti kepada orang tuanya, apabila tidak berbakti maka akan dianggap lebih rendah dari binatang.

Pucat pias wajah Tonghong Pacu, lama sekali ia berdiri ter-mangu2, untuk kemudian dengan tergagap baru jawabnya:

"Tetapi dia adalah Tonghong Pacu !"

"Jangan dikata dia adalah Tonghong Pacu, meskipun siluman rase dari sumurpun dia tetap ayahmu, kalau tak mau mengakui dirinya sebagai ayah karena nama besarnya dalam dunia persilatan amat jelek, maka pertama2 kau akan dicap dahulu sebagai anak yang tidak berbakti oleh orang lain, coba pikirkan kalau sampai demikian adanya apakah aku sudi berkumpul dengan dirimu?"

Tonghong Pek segera mundur selangkah ke belakang, air mukanya berubah semakin hebat, lalu ia tertawa getir.

"Soat Ang, aku pikir . . aku pikir lebih baik mulai saat ini aku tidak berkelana dalam dunia persilatan lagi, aku hendak mencari suatu tempat yang terpencil untuk melanjutkan sisa hidupku disana, kalau kau suka bersama diriku, maka kita tak usah pikirkan yang tak berguna lagi, bukankah kesemuanya itu tak berguna?"

Si Soat Ang tertawa dingin.

"Bagi kamu pribadi memang tiada urusan lagi, tapi bagaimana dengan ibumu? Dengan susah payah ia mengharapkan sekeluarga bisa berkumpul kembali tapi mendadak kau lenyap, apakah ia tidak bersedih hati? aaai teringat kembali ketika aku kehilangan ibuku sejak kecil, sampai mimpipun aku ingin punya ibu kembali, sungguh tak disangka kau . . kau malahan. . ."

Belum selesai ia bicara. mulutnya telah ditutup oleh Tonghong Pek dengan tangannya, Si Soat Ang tak dapat melanjutkan kembali kata2nya.

Untuk beberapa saat lamanya Tonghong Pek berdiri membungkam, agaknya pada waktu itu pikirannya sedang berputar keras.

Lewat beberapa saat kemudian ia baru menghela napas panjang dan berkata:

"Soat Ang ucapanmu benar sekali . . . cinta kasih ibuku kepadaku tak akan kulupakan sepanjang masa, kalau aku . a aku tinggalkan dirinya begitu saja, hatinya pasti sangat sedih sekali, aku tak dapat berbuat demikian."

"Tonghong toako. aku tahu kau adalah seorang bisa mengerti keadaan. ." sambut gadis she Si dengan hati girang.

Pada saat ini Tonghong Pek sudah ambil keputusan, tetapi pikirannya sama sekali tidak jadi enteng, sebaliknya malah makin berat. sebab keputusannya sama sekali bertolak kebelakang dengan apa yang dipikirkan dalam hati.

"Mereka berada dimana? apakah kau tidak ingin berjumpa dengan mereka ?" tanya Si Soat Ang kembali.

Tonghong Pek tertawa getir.

"Mereka berada didalam sebuah lembah tapi sayang ketika aku tinggalkan tempat itu dengan hati kalut, aku lupa meng-ingat2 dimanakah letak lembah tersebut aku pikir . . . aku pikir." "Kau pikir?" tukas Si Soat Ang hatinya cemas bercampur mendongkol, sebab pemuda itu tidak tabu dimanakah Tonghong Pacu berdiam. "Masa tempat tinggal merekapun tak bisa kau ingat."

"Mengapa harus kuingat?"

"Enak benar kau bicara, mengapa harus diingat-ingat? kan mereka adalah orang tuamu?"

"Mereka adalah orang tuaku? aku pikir mereka tentu akan datang mencari diriku, yang ku takuti justru tak bisa menghindari mereka, apakah kau takut mereka tak berhasil menemukan."

"Hmm sekarang kan tak dapat berjumpa dengan mereka."

Tonghong Pek melongok sejenak keadaan sekelilingnya kemudian baru ujarnya:

"Aku masih ingat arah yang kutuju barusan mari kita, berangkat."

Si Soat Ang amat gembira, ia segera menggape kearah Ciang Ooh, siperempuan tengkorak yang berdiri mematung segera berjalan datang.

Dalam pada itu Si Soat Ang kembali putar otak bagaimana caranya menghadapi Tonghong Pacu nanti, ia tahu ia sendiri sama sekali tiada hubungan dengan gembong iblis itu, kesemuanya adalah dikarenakan Tonghong Pek, maka untuk mendekati gembong iblis tadi maka ia harus2 ber-mesra2an dahulu dengan Tonghong Pek agar Tonghong Pacu memandang dia sebagai orang sendiri.

Karena berpikir demikian badannya lantas dirapatkan keatas tubuh Tonghong Pek, dengan amat mesranya mereka berdua melanjutkan perjalanan kedepan. Lima enam li sudah berlalu, makin jauh berjalan Tonghong Pek semakin bingung sehingga akhirnya ia lupa sama sekali darimanakah ia datang tadi.

Mau tak mak pemuda itu harus berhenti dan menengok kesana kemari kebingungan.

"Eeei...kenapa berhenti ?" tanya Si Soat Ang sambil mendongak.

"Aku benar2 tak ingat lagi mereka berdiam di mana ?"

Si Soat Ang kerutkan dahi, saat itu ia tak mau menegur pemuda itu lagi, cepat katanya:

"Asalkan mereka masih berada diatas gunung, mengapa kau tidak berteriak keras memanggil mereka. . ."

Belum sempat Tonghong Pek menjawab, tiba2 terdengar Ciang Ooh memperdengarkan suara jeritan aneh.

"Bagus kau datang lagi!"

Si Soat Ang serta Tonghong Pek sama2 putar badan, tampaklah ketika Tonghong Pacu sedang berdiri ditengah sebuah jalanan kecil, waktu itu Tonghong Pacu berdiri dengan badan merandek, matanya awasi diri Ciang Ooh dengan sinar mata tegang, sementara Ciang Ooh sendiripun melototi gembong iblis itu tajam2.

Sebenarnya Ciang Ooh adalah manusia sinting, siapapun yang pernah bergebrak melawan dirinya tak bisa ia ingat kembali terkecuali Tong hong Pacu yang memiliki ilmu silat yang luar biasa sekali kehebatan tersebut memberikan kesan yang mendalam baginya maka dari itu ia ingat sekali akan Tonghong Pacu.

Sebaliknya Tonghong Pek serta Si Soat Ang pun punya perasaan yang berbeda, bagi pemuda itu ia ingat atau kata2 ayahnya suatu saat ia akan balik sendiri dan ternyata ucapan itu tepat.

Sedangkan Si Soat Ang merasa amat girang, buru2 ia tarik tangan Tonghong Pek untuk diajak maju sambil menghampiri sambil berjalan iapun berseru:

"Mama, jangan bergebrak lagi dengan Tonghong sianseng, kita adalah orang sendiri !"

Ciang Ooh tak mengerti apa yang dimaksudkan gadis tersebut. namun mendengar ia dilarang bergebrak, perempuan tengkorak inipun segera berdiri mematung.

Jangan dikata Ciang Ooh, Tonghong Pacu sendiripun mula2 tercengang dan tak tahu apa yang dimaksudkan gadis tersebut tetapi setelah menyaksikan sikap mesra Tonghong Pek dengan gadis itu iapun lantas jadi sadar.

Setelah mengetahui apa yang dimaksudkan gadis tersebut Tonghong Pacu tertawa terbahak2.

"Ha...ha...ha... nona adalah..."

"Tonghong cianpwee, aku bernama Si Soat Ang" buru2 dara itu memperkenalkan diri.

"Apakah nona Si adalah putrinya ?" tanya gembong iblis itu sambil melirik sekejap kearah Ciang Ooh, pertanyaan ini membuat Si Soat Ang ter-sipu2 ia tertawa malu.

"Tentang peristiwa ini panjang sekali kalau diceritakan, sekarang tidak leluasa bagiku untuk berkata."

"Bagus, bagus, usiamu masih muda namun ke cerdikanmu luar biasa, sungguh luar biasa, sungguh hebat!"

Mendengar pujian tersebut jantung Si Soat Ang berdebur keras, dalam dugaan sigembong iblis ini tentu akan menerima dirinya sebagai murid. ternyata Tonghong Pacu tidak berbuat demikian sambil berpaling ia berseru: "Tonghong Pek!"

Tonghong Pek mendengus berat sebagai jawaban. "Dipandang dari sikapmu yang serba susah mungkin kau

sudah bikin jelas duduknya perkara dihadapan sibongkok bukan?" kata Tonghong Pacu sambil tertawa, Tonghong Pek tidak tahu apa yang harus dijawab kembali ia mendengus berat.

Tonghong Pacu mendongak lantas tertawa ter bahak2. "Haa. . . haaa . . usiamu sudah tidak muda lagi, pada

saat   seperti   ini   mendadak   ada   perubahan,   tak   bisa

disalahkan kalau kau merasa tidak leluasa, sekarang kau tidak mau sebut aku, aku pun tidak akan menyalahkan dirimu?"

Tonghong Pek jadi lega hati, persoalan yang ia takuti adalah sikap keras Tonghong Pacu untuk memaksa dia memanggil ayah kepadanya, tetapi dengan adanya penundaan ini sedikit banyak rasa canggung dan rikuh bisa teratasi lebih dulu."

Maka sambil tertawa getir ia mengangguk. "Perkataanmu benar sekali !"

Agaknya Tonghong Pacu merasa kegirangan setengah mati, kembali ia berkata:

"Aku sudah kirim orang untuk mencari balik saudaramu, dengan kerja sama kita bertiga, kolong langit akan berada ditangan kita, siapa yang bisa melawan kita ayah dan anak tiga orang ?"

"Kau...kau..janganlah mendesak diriku keterlaluan." tegur Tonghong Pek dengan alis berkerut kencang. "Apa yang kupaksakan kepadamu ? dia memang saudaramu, meski diantara kalian memang pernah terjadi perselisihan namun dia tetap saudaramu !"

Tonghong Pek tarik napas panjang2, ucapan tersebut bagaikan guntur membelah bumi disiang hari bolong membuat kepalanya terasa pening dan ber kunang2.

Ucapan gembong iblis itu tidak salah, tiada orang yang memaksa dirinya untuk mengaku, ia boleh membenci Tonghong Pacu, boleh pandang hina Loei Sam namun dalam kenyataan, ia tak dapat menghapuskan kesemuanya itu. Loei Sam tetap saudaranya dan Tonghong Pacu tetap adalah ayah kandungnya.

Kepala terasa pening tujuh keliling, Tonghong Pek tak sanggup berdiri tegak. seandainya disini sana tak ada pohon yang bisa digunakan untuk bersandar, ia sudah roboh keatas tanah.

Dengan pandangan dingin Tonghong Pacu awasi terus tingkah laku sianak muda itu, menanti ia berhasil tenangkan hatinya, ia baru berkata dengan nada dingin:

"Hmm! ternyata orang2 yang menganggap diri nya sebagai kaum lurus punya jalan yang sama, begitu mendengar putra Tonghong Pacu lantas dalam hati punya bayangan bahwa orang itu adalah orang jahat? meskipun kau adalah putraku namun sama sekali pandang hina saudara sendiri apakah kesemuanya ini kau dapatkan karena kau belajar silat di bawah asuhan sibongkok tersebut?"

"Aku percaya kau bukannya tidak tahu bagaimana tingkah laku serta perbuatan Loei Sam selama ini." "Tentu saja aku tahu, tetapi seandainya sejak semula Si Thay sianseng menyetujui perkawinan antara Loei Sam dengan putrinya, apakah peristiwa ini bisa terjadi?"

"Kenapa Si Thay sianseng harus kawinkan putrinya kepada Loei Sam?" teriak Tonghong Pek.

"Kenapa tidak boleh?" Teriak Tonghong Pacu pula. "Apa jeleknya dengan Loei Sam ? diantara murid2nya Loei Sam lah paling cerdik, ilmu silat nyalah yang paling lihay, putrinya hanya senang dengan Loei Sam seorang, apa sebabnya Si Thay sianseng tidak setuju? sebab Loei Sam adalah putraku, sebab Loei Sam adalah putra seorang gembong iblis yang dianggap manusia sesat !"

"Aku rasa cukup berdasarkan alasan ini kau harus mengerti keadaan sendiri" kata Tonghong Pek sambil tertawa sinis.

Tonghong Pacu tertawa dingin.

"Aku rasa lebih baik cepat2lah kau berpikir yang masak, kau adalah putraku, setelah jadi putraku tidak akan terjadi hal2 yang jelek terhadap dirimu, kita ayah dan anak tiga orang segera akan jadi tokoh tiada tandingan dikolong langit, dalam Bu lim tidak akan ada orang yang bisa menandingi kita bertiga, kita akan jadi manusia yang paling dihormati dan paling disegani oleh umat Bu lim pada masa kini dan mendatang"

Ketika berbicara sampai disitu, suara Tonghong Pacu sudah berubah melengking begitu keras suaranya sampai memekikkan telinga.

Air muka Tonghong Pek berubah hebat, ia sadar dirinya mulai terjerumus dalam jaring laba-laba yang besar dan kuat, tak mungkin ia bisa lepaskan diri dari belenggu itu lagi. Mendadak. . . pada saat itulah dari tempat kejauhan berkumandang datang suara langkah manusia, begitu cepat suaranya dalam sekejap mata orang2 itu sudah berada didekat mereka.

Sesaat kemudian muncullah lima enam orang dari balik tikungan, dua orang yang berjalan di paling depan berperawakan pendek dan kecil namun gerakan tubuhnya cepat, mereka memakai pakaian warna hitam dan berwajah aneh.

Ketika tiba dihadapan Tonghong Pacu, mereka lantas menjura dalam2 sambil berseru.

"Tonghong sianseng beruntung perintah yang tuan berikan kepada kami berhasil kami laksanakan dengan berhasil."

Dibelakang kedua orang itu mengikuti sepasang muda mudi, mereka jalan bergandengan tangan, sedang mimik mukanya menunjukkan perasaan heran dan tidak habis mengerti.

Sang pemuda bukan lain adalah Loei Sam sedang sang gadis adalah Si Chen.

Dibelakang Loei Sam serta Si Chen berdiri pula dua orang, seorang berperawakan gemuk, begitu tebal daging badannya sampai berkumpul jadi satu dengan panca indranya, potongan orang itu aneh sekali.

Orang kedua adalah seorang kakek tua berbaju warna abu2, Ketika Loei Sam tiba ditempat itu dan menjumpai Tonghong Pek serta Si Soat Ang berada disitu, air mukanya seketika berubah hebat.

Agaknya pemuda itu ingin melarikan diri tetapi disebabkan sekeliling tubuhnya berdiri empat orang yang agaknya berhasil paksa ia datang kemari, maka ia batalkan maksudnya, dengan sikap angkuh mengawasi wajah Tonghong Pek tajam2.

Tonghong Pek mendengus dingin, ia melengos melirik sekejap pun tidak.

"Loci Sam!" pada saat itulah terdengar Tong hong Pacu menegur dengan suara yang lembut dan lunak.

0ooodwooo0