Jago Kelana Jilid 11

Jilid 11

TONG HONG PEK tetap bungkam dalam seribu bahasa, tanpa terasa kepalanya menggeleng berulang kali.

"Sumoay. sudahlah tak usah banyak bicara." seru Loei Sim tidak sabaran lagi. "la tak bakal bisa paham. semua manusia dikolong langit. tak akan bisa memahami diriku."

"Tidak, aku akan paksa dia untuk memahami, bahwa kau..."

"Sumoay, sudahlah, meski semua orang di kolong langit memahami, tapi apa gunanya?" tukas Loei Sam dengan nada lembut. "Untung sekali ia tidak sampai mati dan berhasil diselamatkan jiwanya, tapi sudah banyak orang yang mati ditanganku, mungkinkah mereka hidup kembali ? aku sudah terlalu banyak melakukan perbuatan jahat, orang lain tak bisa mempercayai diriku, hal . . . hal ini sudah jamak, tak bisa kau salahkan orang2 itu."

Si Chen merasa sangat berduka, ia menghela napas panjang-2

"Suko, ucapanmu memang tidak salah." katanya. "Sekarang ia sudah sadar kembali, mari kira tunggu

beberapa hari lagi, setelah air mukanya rada segar kita

segera tinggalkan tempat ini dan jauh berkelana keujung langit."

"Ehmm ! kita bicarakan dikemudian hari saja" Semua tanya jawab antara Loei Sam dengan Si Chen dapat ditangkap Tonghong Pek dengan jelas sekali, tapi ia selalu berpikir:

"HaI ini tak mungkin terjadi, tentulah pikiran ku sedang kacau dan terlalu melamunkan hal-2 yang bukan2..."

Ia pejam matanya rapat2 dan tak mau dibuka lagi.

Si Chen menghela napas panjang, ia tempelkan telapaknya diatas batok kepala Tong hong Pek dan salurkan hawa murninya kedalam tubuh pe muda itu, Tiang pek Sam-mopun beberapa kali datang berkunjung untuk menyerahkan obat2an paling mujarab.

Demikianlah, tujuh delapan hari kemudian Tong hong Pek pun sudah dapat bangun berdiri.

Setelah dapat berjalan, Tong-hong Pek mulai duduk bersila dan salurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka sendiri, tiga lima hari kemudian kesehatan badannya sudah jauh lebih sehat.

Berada dalam keadaan sadar, pemuda she Tong hong pun tak bisa mengatakan apa yang dilihat hanya lamunan belaka, meski begitu ia tak pernah mengajak Loei Sam berbicara kecuali terhadap Si Chen putri tunggal dari Si Thay sianseng ini.

Ketika itu Tiang Pek Sam-mo pun sudah menyediakan kamar yang lebih baik untuk ia tinggali.

Suatu malam, ketika ia sedang duduk bersila mengatur pernapasan, tampaklah Si Chen berjalan masuk kedalam kamar.

"Kami segera akan berangkat!" ujar gadis itu "Kau dengan Loei sam . . ." "Persoalan diantara kami tak akan dipahami oleh siapapun termasuk orang tuaku sendiri, hanya aku dengan dia yang tahu, kaupun tak usah mengungkap lagi, aku hanya ingin memohon sesuatu kepadamu."

"Silahkan nona Si utarakan."

Si Chen menghela napas panjang

"Kami hendak... hendak menghindari setiap orang yang mengejar kami, tapi... aku takut kami gagal untuk meloloskan diri, meski demikian kami tetap akan berusaha sekuat tenaga, aku harap kau jangan mengungkap kepada siapapun bahwa kau pernah berjumpa dengan diriku,"

Tong hong Pek adalah seorang Koen coe, sebelum ambil keputusan ia tak mau menyanggupi secara sembarangan segera ia termenung beberapa saat lamanya kemudian ujarnya:

"Tentang soal ini. . ."

"Aku tahu setelah kau terluka ditangannya dalam hati kecilmu tentu mendendam kepadanya, walaupun kemudian berhasil menyelamatkan jiwamu, tapi kesalahan tetap berada dipihak nya tapi dikemudian hari kami masih ada kesempatan untuk membalas budi kepadamu, sepanjang masa kami tak akan melupakan kejadian ini."

"Nona Si, bukan aku menaruh dendam kepadanya." kata Tong-hong Pek sambil menghela napas panjang, "dan akupun tidak mengharapkan balas jasa dari dirinya.

"Lalu apa sebabnya kau tak mau mengabul kan permintaanku?"

"Seandainya aku . . . aku berjumpa dengan ayahmu, dan ayahmu berkata kepadaku, apakah aku harus mengatakan "Tidak tahu" Loei Sam sudah jadi buronan yang ditangkap oleh setiap umat Bulim atas perintah ayahmu, aku hanya gemas kenapa lukamu belum sembuh . . ."

Air muka Si Chen kontan berubah hebat, serunya cepat2. "Kau . . . kau . harap kau jangan teruskan ucapanmu

itu."

Per lahan2 Tong-hong Pek geleng kepala "Nona Si, kau tak usah takut Loei Sam mendengar ucapan ini." katanya "Loei Sam adalah seorang manusia cerdik, iapun bisa menduga setelah lukaku sembuh, aku pasti tak akan melepaskan dirinya."

Beberapa saat Si Chen tertegun, mendadak ia menangis tersedu-sedu.

"Kenapa kau tak suka melepaskan dirinya ? kenapa kalian tak mau melepaskan dirinya ? kenapa ? kenapa semua orang dikolong langit tak mau lepaskan dirinya ?!"

"Nona Si, kau harus tahu, selama dua tahun ini berapa banyak perbuatan jahat yang telah ia lakukan dalam dunia persilatan ? terhadap manusia semacam ini, siapapun berhak untuk membasminya dari muka bumi, setiap orang Bu lim yang mengutamakan keadilan serta keamanan tentu tak akan melepaskan dirinya begitu saja!"

"Tentu, memang aku tahu semua orang pasti akan berbuat demikian." teriak Si Chen dengan napas ter engah2. "sebab siapa yang berhasil membinasakan dirinya, maka nama benarnya akan tersohor diseluruh jagat, dia akan mendapat pahala dari Si Thay sianseng dan memperoleh keuntungan yang sangat besar, siapa yang kesudian berbuat tolol dengan membantu dirinya ?"

Air muka Tong hong Pek berubah hebat, serunya segera: "Nona Si, kaupun termasuk salah satu korban yang dicelakai olehnya, kenapa kau masih bisa mengutarakan kata2 semacam ini !"

Titik2 air mata jatuh berlinang tiada hentinya membasahi pipi Si Chen, tapi iapun mendongak tertawa terbahak2.

"Aku dicelakai ? kau salah besar, dialah yang kena dicelakai, dialah yang patut dikasihani."

"Siapa yang bilang ?" jerit Tong-hong Pek.

Pada saat itulah, tiba2... "Braak...!" pintu kamar terpentang lebar.

Dengan cepat Tong-hong Pek angkat kepala, tampaklah Loei Sam dengan air muka hijau membesi telah berdiri didepan pintu dengan sikap gusar.

Si Chen segera berpaling, ketika menjumpai Loei Sam ada disana ia segera menuding kearah pemuda itu sambil berseru:

"Dia...dialah yang dicelakai, kalau bukan ayahku begitu keras kepala... maka dia..."

"Sumoay !" sebelum Si Chen menyelesaikan kata2nya, Loei Sam telah membentak.

"Kau jangan mencegah diriku untuk berbicara, akan kuutarakan semuanya, akan kuberitahukan semua keadaan yang telah terjadi kepadanya, aku akan menyatakan kepada siapapun, agar semua orang yang ada dikolong langit tahu aku bukan orang jahat. kau hanya..."

Tiba2 Loei Sam maju kedepan dengan sebelah tangan mencekal tangan gadis itu tangan lain menutupi mulutnya.

"Sumoay sudahlah, jangan kau teruskan." ujarnya dengan nada lembut, begitu lembut se akan2 kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, "Orang lain tak akan memaafkan diriku, dan akupun tidak membutuhkan maaf dari orang lain, asalkan kau bisa memahami keadaanku, hal ini sudah lebih dari cukup!"

Si Chen berhenti bicara, Walaupun begitu air mukanya masih tampak jelas terpengaruh oleh emosi"

Loei Sam cekal tangan gadis itu erat-erat, lalu ajaknya dengan nada lirih:

"Mari kita segera berangkat!"

Si Chen tidak banyak bicara lagi, mengikuti dibelakang Loei Sam segera melangkah keluar dari kamar dan melayang melewati tembok pekarangan.

Tapi... ketika itulah dari arah pintu depan berkumandang datang suara bentakan keras yang gegap gempita, sebagian atap serta seluruh bangunan tergetar keras.

Bentakan itu begitu dahsyat sehingga mengejutkan Tong hong Pek yang baru sembuh dari lukanya sampai2 dibuat jatuh terduduk kembali keatas pembaringan, pandangan matanya jadi gelap hampir2 saja ia muntahkan darah segar.

Loei Sam serta Si Chen yang sedang melesat melewati tembok pekaranganpun segera berhenti dan mengundurkan diri kembali.

Mereka berdua langsung menyusup kedalam kamar Tong-hong Pek, sementara air muka Loei Sam berubah hijau membesi.

Si Chen memandang sekejap kearah Tong hong Pek. se akan2 ia hendak mengungkapkan sesuatu kepada pemuda tersebut tapi kena ditarik oleh Loei Sam, tanpa banyak bicara kedua orang itu segera menyembunyikan diri kebelakang kelambu dalam kamar itu. Kembali suara hiruk pikuk berkumandang memekakkan telinga, seakan2 be-ribu2 butir batu seberat ribuan kati bergelindingan didalam bangunan rumah itu.

Terdengarlah suara dari Tiang Pek Sam Mo berkumandang datang dari ruangan tengah, suara mereka begitu mengenaskan seakan2 sedang berhadapan dengan raja akhirat.

"Sin Tuo ampun . . Sin Tuo ampun!"

Kata2" si bongkok sakti" menggetarkan tubuh Tonghong Pek hampir2 ia tak percaya dengan telinga sendiri. Sibongkok sakti adalah gurunya secara bagaimana ia bisa tiba disini"

"Suhu." buru2 teriaknya.

Dengan badan yang lemah, sampai seberapa besar jeritannya itu, apalagi suara hiruk pikuk ditempat luaran amat memekikkan telinga, suara tersebut tak mungkin bisa terdengar oleh si bongkok sakti.

Pada waktu itulah, tiba2 terdengar Loei Sam berkumandang datang dari arah belakang.

"Tidak salah gurumu sibongkok sakti berangasan telah tiba, tapi kau harus ingat, aku berada dibelakangmu kalau kau katakan bahwa aku berada disini maka yang mati duluan adalah kau sekalipun akhirnya aku berhasil ditawan oleh sibongkok sakti setiap saat aku masih punya kesempatan untuk menarik diri!"

Tong-hong Pek tarik napas dingin, ketika ia berpaling tampaklah kelambu sudah diturunkan, hal ini membuktikan kalau Loei Sam telah bersembunyi dibelakang tubuhnya, jantung Tong hong Pek terasa berdebar semakin keras. Dalam pada itu suasana ditempat luaran masih gaduh, terdengar suara raungan gusar dari sibongkok sakti berantakan berkumandang tiada hentinya diangkat.

"Kalian ingin aku ampuni jiwa kalian ?" teriaknya lantang. "Muridku sudah mati ditanganmu, siapa yang kesudian mengampuni jiwa kalian ?"

Mungkin pada waktu itu sibongkok sakti berhasil menangkap dua orang diantara Tiang Pek Sam mo, terdengar jeritan ngeri dari dua orang bergema terus menerus.

Kemudian diikuti suara dari si Tengkorak Kayu berseru: "Bongkok Sakti, harap kau suka lepas tangan, muridmu

tidak mati,.harap bongkok sakti jangan mempercayai berita

bohong orang lain !"

"Apa ? Tong hong Pek tidak mati ?" Dengusan napas si Tengkorak Kayu yang ter-engah2 kedengaran nyata sekali.

"Benar, ia tidak mati, ia benar-2 tidak mati, kami merawatnya dengan segala kemewahan."

"Neneknya kalian masih ingin membohongi diriku ?" bentak sibongkok sakti amat gusar.

"Sin Tuo, sebentar lagi kau dapat berjumpa dengan dirinya, kami tidak akan berani membohongi dirimu."

"Bagus, ayoh cepat antar aku pergi menjumpai dirinya !" "Baik ! baik !"

Dalam sekejap terdengar hembusan angin tajam menyambar lewat diikuti robohnya pintu kamar, si Tengkorak kayu segera menerobos masuk diikuti si Bongkok Sakti dibelakangnya. Ditangan kanannya Si Bongkok Sakti menenteng si Tengkorak kumala, disebelah tangan kirinya ia mencekal si Tengkorak Emas, dimana air muka kedua orang itu pucat pasi bagaikan mayat keringat mengucur keluar bagaikan hujan gerimis.

Setelah berada didalam kamar, Sibongkok Sakti berdiri tertegun, ia temukan seorang pemuda kurus layu dan pucat berbaring diatas ranjang, untuk sesaat ia tidak kenali orang itu sebagai murid nya.

"Kau adalah Tong-hong Pek?" tanyanya dengan mata melotot.

"Suhu benar aku adanya. Suhu, apakah kau sudah tidak kenal diriku ? Aaai . . lukaku terlalu parah . . ."

Sebelum Tong hong Pek menyelesaikan kata2 nya, si Bongkok Sakti sudah berteriak aneh, ia banting si Tengkorak Emas dan Tengkorak Kumala keatas tanah lalu berseru:

"Aaaah, benar2 dirimu ! secara bagaimana kau tidak mati ? nona Si mengatakan kau terluka ditangan Loei Sam bajingan busuk murid durhaka dari Si Thay sianseng itu, kemudian ditawan Tiang Pek Sam mo, secara bagaimana kau bisa lolos dari kematian ?"

Semula Tong hong Pek tidak mengerti secara bagaimana gurunya si Bongkok Sakti mengetahui kalau ia berada disini, setelah mendengar disebutkannya nama "nona Si" ia baru mengerti kiranya Si Soat Anglah yang kirim kabar kepada gurunya.

"Suhu, di manakah nona Si?" buru2 ia ber-tanya. "Berada sama2 suniomu, Aah! Lukamu sangat parah,

biarlah kuperiksa..." Sambil berkata ia cekal urat nadi pemuda Tong hong ini.

Tapi dengan cepat ia geleng kepala berulang kali, sambil gertak gigi serunya.

"Biarlah nanti setelah kutangkap Loei Sam bajingan busuk ini, tanpa menunggu sampai kuserahkan kepada Si Thay sianseng akan kurobek dulu badannya!"

Tong hong Pek tarik napas panjang.

"Suhu, kalau kau berbuat demikian maka diri mu akan melakukan suatu kesalahan besar, Loei Sam adalah anak murid Si Thay sianseng, dan Si Thay sianseng telah minta bantuan umat Bu-lim untuk bantu menangkapnya, kalau kau membinasakan dirinya, lalu secara bagaimana hendak kau pertanggung jawabkan persoalan ini dihadapan Si Thay?"

"Sudah, sudahlah." seru Si bongkok Sakti sambil ulapkan tangannya. Justeru kau punya banyak permainan setan sampai napasku jadi mengendor, bagaimanapun aku tak akan berhasil menemukan dirinya, ayoh berangkat, kita kembali kegunung Lak Ban san."

Si Bongkok Sakti segera memayang bangun Tong hong Pek sementara hati pemuda itu terasa sangat tegang.

Ia duduk didepan pembaringan, dan mendapat ancaman dari Loei Sam yang bersembunyi dibelakang kelambu, tapi asalkan setengah langkah ia tinggalkan tempat itu, dengan perlindungan si bongkok sakti disisinya maka ia tak perlu takut lagi terhadap ancaman Loei Sam.

Maka setelah ia dibimbing bangun segera ujarnya: "Suhu dibelakangku . . ."

"Dibelakangmu ada apanya?" tanya si bongkok sakti seraya berpaling, Dengan paksakan diri Tong hong Pek tarik napas panjang2, tiba2 ia melangkah setengah tindak kedepan, dengan badan sempoyongan sahutnya:

"Suhu dia berada dibelakang pembaringan."

"Siapa yang ada dibelakang pembaringan?" tanya Sibongkok sakti tertegun ia masih belum dapat mengartikan maksud ucapan itu.

"Loei Sa.,"

Sibongkok sakti membentak keras Sreeet! ia melancarkan sebuah cengkeraman merobek kelambu dibelakang pembaringan Tapi disana tak ada sesosok bayangan manusia kecuali sebuah lubang yang amat besar, ternyata Loei Sam telah melarikan diri.

"Nona Si! Nona Si!" Tong-hong pek segera berteriak berulang kali.

Tapi ia tak mendapat jawaban dari Si Chen, jelas bersama Loei Sam gadis itu telah melarikan diri. kapan perginya Tong-hong Pek sendiri tak tahu, tapi ia sadar belum jauh mereka berlalu.

"Suhu!" segera teriaknya, "Barusan saja Loei Sam masih berada disini, ia pasti belum pergi jauh, jangan memperdulikan diriku cepatlah kejar dirinya dan tangkap orang itu kemudian serahkan saja kepada Si Thay Sianseng. Jangan beri kesempatan lagi kepadanya melakukan kejahatan dalam dunia persilatan !"

"Ucapanmu tepat sekali" teriak si Bongkok sakti, ia segera berpaling dan teriaknya kepada Tiang Pek Sam mo yang selama ini berdiri tertegun disamping.

"Sudah kalian dengar ? ayoh cepat kejar Loei Sam, bawa serta panglima udang tentara kepitingmu, seret bajingan cilik itu ! kalau tak berhasil kalian temukan awas, kubeset kulit wajahmu !"

Berhadapan dengan sibongkok sakti manusia paling berangasan, Tiang Pek Sam Mo tak berani mengatakan "Tidak", mereka segera berlarian kedepan, dalam sekejap mata terdengar suara ber-sahut2an, diikuti derap kaki kuda yang amat ramai.

Si Bongkok Sakti pun tidak buang waktu, ia segera berangkat melakukan pengejaran.

Tidak selang beberapa saat kemudian, suasana dalam bangunan itu pulih kembali didalam kesunyian.

Tiba2 . . . suara tertawa dingin berkumandang datang dari arah tiang penglari.

Suara itu amat menyeramkan seakan2 jeritan kuntilanak ditengah kuburan, begitu ngeri sampai2 mendirikan bulu roma.

Hati Tong-hong Pek langsung tercelos, buru2 ia mendongak, tampaklah sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas tiang penglari diikuti jeritan tertahan dari Si Chen:

"Suko !"

Tak usah diduga lagi, bayangan manusia yang melayang turun dan atas tiang penglari bukan lain adalah Loei Sam.

Dengan air muka adem selangkah demi selangkah Loei Sam maju mendekat, telapak tangannya diangkat keatas siap melancarkan serangan.

Sewaktu mendengar Si Chen menjerit, ia lantas menghentikan tangannya ditengah udara.

"Sumoay !" serunya dengan nada menyeramkan, "Kalau bukan aku pandai melihat gelagat, niscaya saat ini kita berdua sudah mati ditangan sibongkok sakti tersebut, buat apa kita tinggalkan manusia semacam ini tetap hidup dikolong langit?"

Sambil berkata, sekali lagi ia ayun tangannya ke tengah udara.

Si Chen segera meloncat turun dari atas tiang penglari, sambil menarik tangan Loei Sam seru nya cemas:

"Suko, bukankah kau indah mengabulkan permintaanku dan tidak akan membunuh orang lagi."

"Sumoay, kau belum tahu betapa kejam dan bahayanya dunia persilatan, kalau tidak kau bunuh orang ini, maka kau akan mati ditangannya!"

"Tapi ia lemah dan sama sekali tak bertenaga, buat apa kita binasakan dirinya ?"

"Sumoay, apakah kau lupa barusan saja ia bocorkan jejak kita kepada gurunya si Bongkok Sakti, ini menandakan kalau ia ada maksud hendak mencelakai kita berdua !"

Si Chen tertawa getir.

"Suko, tempo dulu sudah banyak orang yang kau celakai tiada aneh setiap manusia yang ada dikolong langit menaruh dendam kepadamu, Suko kau pernah mengabulkan permintaanku, setelah bertemu kembali dengan diriku, bersama2 diri ku kembali maka kau tak akan mencelakai orang lagi, apakah kau sudah lupa dengan janjimu itu ?"

Loei Sam tertegun beberapa saat lamanya kemudian menghela napas panjang, telapak yang sudah diayun ketengah udarapun per lahan2 diturunkan kembali.

Dalam dugaan Tong-hong Pek, detik ini juga ia bakal mati ditangan Loei Sam, meskipun berulang kali Si Chen menasehati pemuda itu agar urungkan niatnya, pemuda Tonghong tidak percaya manusia bejat macam Loei Sam bisa menuruti permintaannya.

Siapa sangka Loei Sam menurut nasehat Si Chen dan urungkan niat jahatnya, hal ini membuat Tonghong Pek tercengang dan tidak habis berpikir.

Ketika ia buka matanya kembali, tampak Loei Sam masih berdiri dihadapannya, sepasang mata melotot lebar2 dan menatap wajahnya tak berkedip.

"Sudah kau dengar apa yang dikatakan sumoayku barusan?" serunya dingin bagaikan es, "Aku telah berjanji kepadanya tidak akan melakukan segala perbuatan yang jahat lagi, apa yang telah kukatakan akan kupegang teguh tapi kalau kau masih juga berkeras kepala . . yaah, apa boleh buat, aku tak dapat berbuat lain!"

Tong hong Pek bukan manusia tak kenal budi, ia hanya bisa tertawa getir sambil berseru. "Kau. . . kau . . ."

Yang keluar cuma itu2 melulu, ia tak tahu apa yang harus diucapkan kepada Loei Sam, akhirnya ia menambahkan.

"Kau . , kau bermaksud hendak pergi kemana?"

"Setelah jejak kami kau bocorkan dapat menyelamatkan jiwa kami merupakan suatu keuntungan yang luar biasa, siapa tahu aku hendak pergi kemana?" kata Loei Sam sambil tertawa dingin.

"Sahabat Loei, dengan namamu yang tersohor diseluruh dunia persilatan, seandainya kedudukanmu ditukar dengan diriku apakah kau suka melepaskan diriku?"

"Dan sekarang bagaimana dengan kau? kenapa sekarang kau bertanya kepadaku hendak kemanakah diriku ?" Tong hong Pek merasa amat bimbang, per-lahan2 ia menggeleng lalu menghela napas panjang.

"Sekarang, paling sedikit aku sudah percaya bahwa kau tidak akan melakukan kejahatan lagi, dan dapat kubuktikan kalau watakmu sebenarnya tidak sekeji apa yang disiarkan dalam dunia persilatan !"

Mendengar ucapan itu Loei Sam mendongak tertawa terbahak2.

"Haa...haa..haa...terima kasih atas pujianmu, aku bukan manusia baik, setelah kukatakan tak akan kubunuh dirimu. aku tidak akan mengganggu dirimu barang seujung rambutpun tak usah kau bermaksud membaiki diriku"

Merah padam selembar wajah Tong-hong Pek yang pucat,

"Sahabat Loei, salah besar kau berkata demikian, apakah kau anggap aku berubah sikap karena keadaanku yang gawat ? dan membaiki dirimu dengan maksud agar kau suka mengampuni diriku ?"

Loei Sam tertawa dingin tiada hentinya. Buru2 Si Chen menimbrung.

"Suko mari kita cepat pergi!"

Loei Sam segera menarik tangan Si Chen berlalu dari tempat itu tapi sebelum tiba didepan pintu terdengar derap langkah manusia bergerak semakin dekat diiringi teriakan2 dari si bongkok sakti.

Air muka Loei Sam berubah hebat, ia segera mundur kembali kedalam kamar.

Menanti ia tiba dihadapan Tonghong Pek teriakan sibongkok sakti sudah berada didepan pintu. Buru2 Loei Sam menuding keatas, Si Chen mengerti dan mereka berdua sama2 enjotkan badannya melayang keatas tiang penglari.

Sebelum meloncat Si Chen masih sempat berseru: "Tonghong. ."

Tapi ucapan itu mendadak terhenti ditengah jalan, menanti Tonghong Pek mendongak terlihatlah Loei Sam telah menutupi mulut Si Chen dengan tangannya, jelas gadis itu hendak berpesan agar Tong hong Pek suka pegang rahasia dan jangan beritahu kepada gurunya kalau mereka bersembunyi disitu.

Tapi dengan watak Loei Sam yang keras, ia tidak ingin Si Chen mohon belas kasihan orang lain, sebelum gadis itu menyelesaikan kata2 nya, ia sudah menutupi mulutnya dengan tangan.

Menanti kedua orang itu sudah bersembunyi, Tonghong Pek baru menunduk kembali sementara suara dari sibongkok sakti terdengar berkumandang dari luar pintu:

"Aku beri batas waktu tiga hari buat kalian tiga manusia tolol, kalau sampai waktunya kalian belum berhasil menemukan kembali Loei Sam, hati2 kuseset kulit wajah kalian."

"Sin Tuo, kau harus tahu Loei Sam amat licin dan banyak akalnya." seru si Tengkorak Kayu gelagapan "Si Thay sianseng yang telah minta bantuan seluruh umat Bu lim pun gagal menangkap dirinya apalagi cuma kami bertiga, tidak mungkin dalam tiga hari kami berhasil menemukan dirinya, harap Sin Tuo. ."

Belum habis ia bicara, tendangan Si Bongkok Sakti sudah bersarang diperutnya. Sambil mendengus, Si bongkok sakti melangkah masuk kedalam kamar, kepada Tiang Pek Sam mo yang berdiri ketakutan diluar pintu ujarnya.

"Aku perintahkan kalian dalam tiga hari harus sudah menemukan Loei Sam, kalau tidak sampai ketemu, pergunakanlah waktu selama tiga hari itu untuk bereskan bekal dan larilah jauh2 dari hadapanku."

Walaupun watak si bongkok sakti sangat berangasan, dia adalah manusia yang punya cengli sekalipun begitu ia tak ingin menarik kembali apa yang sudah diucapkan, maka diberilah satu jalan hidup buat ketiga orang itu.

Tiang-pek Sam mo merasa sedih bercampur girang, girang karena jiwa mereka selamat dan sedih karena harus tinggalkan hasil jerih payah mereka selama banyak tahun di sekitar gunung Tiang Pek sau ini.

Mereka bertiga tak berani membantah, buru2 Tiang Pek Sam mo mengiakan berulang kali.

Si bongkok sakti mendengus dingin setelah memandang sekejap kearah Tong hong Pek, ujarnya.

"Siapkan empat ekor kuda jempolan serta sebuah kereta. ayoh cepatan sedikit."

Kembali Tiang Pek Sam mo mengiakan berulang kali dan segera mengundurkan diri.

Mendekati anak muridnya, sibongkok sakti berkata: "Ayoh kita segera pulang, Su nio sedang menantikan

dirimu."

Pada saat ini ingin sekali Tong hong Pek mendongak keatas tiang penglari, tapi ia tahu kalau sampai berbuat demikian berarti sama saja beri tahu kepada suhunya kalau diatas tiang penglari ada orang Loei Sam pasti tak akan lolos dari cengkeraman gurunya.

Haruskah ia lepaskan Loei Sam atau tidak? persoalan ini membuat Tong hong Pek amat gelisah.

Makin dipikir semakin kalut, sampai apa yang dikatakan sibongkok sakti tak terdengar olehnya, ia putar otak dan berpikir terus kemudian menghela napas panjang.

"Eeeei... kenapa kau menghela napas?" tegur sibongkok sakti agak melengak.

"Tii... tidak apa2."

"Aku sudah perintahkan ketiga bangsat itu untuk menyediakan kereta mari kita berangkat."

Kembali Tong hong Pek menghela napas panjang, ia tidak berbicara lagi, melihat sibongkok sakti sudah berlalu iapun mengikuti jalan keluar, setibanya dipintu ia berpaling dan melirik sekejap keatas tiang penglari.

Loei San serta Si Chen masih bersembunyi diatas tiang penglari walaupun mereka bersembunyi cukup mendongak sedikit saja segera akan terlihat jejak mereka.

Tong-hong Pek menjumpai air muka Loei Sam pucat menyeramkan, sedangkan Si Chen meskipun pucat tapi wajahnya penuh rasa terima kasih, Tonghong Pek hanya melirik sekejap kemudian meneruskan langkahnya keluar dari ruangan tersebut.

Setibanya dipintu depan, tampaklah sebuah kereta kuda yang mewah dan indah dengan di tarik empat ekor kuda jempolan sudah siap di sana, menyaksikan sibongkok sakti munculkan diri, Tiang Pek Sam-mo segera anggukkan kepala seraya berkata: "Perlukah kami bertiga bertindak sebagai kusirnya Sin Tuo?"

"Cis ! memandang wajah kalian bertigapun sudah muak sampai2 mau muntah, siapa yang kesudian kalian hantar ?"

la payang Tonghong Pek masuk kedalam kereta, ayun cambuk dan segera larikan kereta itu kedepan.

Menanti bayangan Si bongkok sakti sudah lenyap tak berbekas Tiang Pek Sam-mo baru menghembuskan napas lega dan membereskan buntalan untuk melarikan diri dari situ.

Dalam pada itu si bongkok sakti melarikan keretanya cepat2. menanti hari sudah gelap mereka sudah jauh ditengah jalan.

Ketika keesokan harinya fajar baru menyingsing mendadak dari tempat kejauhan muncul seekor kuda yang mana dalam sekejap mata sudah saling berpapasan dengan kereta tersebut.

Semula sibongkok sakti tidak begitu memperhatikan, tetapi ketika kuda itu berada dua tiga tombak jauhnya, tiba2 penunggang kuda itu menarik tali lesnya sambil berteriak:

"Eeeei . . . bongkok, benarkah kau?" Buru2 sibongkok sakti tarik les sambil berpaling, iapun segera berteriak aneh: "Hey, monyet, kiranya kau !"

Ternyata orang yang ada diatas punggung kuda itu bukan lain adalah Hiat Goan Sin-koen simanusia monyet.

Tampak manusia monyet itu bersuit panjang, tubuhnya mencelat dari atas pelana, bersalto beberapa kali ditengah udara dan melayang turun tepat dihadapan Si Bongkok Sakti. "Hey Monyet, buat apa kau main setan dihadapanku ?" tegur si Bongkok sakti sambil mendengus.

Hiat Goan Sin-koen tertawa getir.

"Heei bongkok, berada dalam keadaan seperti kau masih ada kegembiraan untuk bergurau ? tahukah kau siapa yang paksa aku datang keluar perbatasan untuk mencari dirimu

?"

Mendengar perkataan ini sibongkok sakti tertegun, bukan dia saja Tong-hong Pek yang berada didalam keretapun ikut melengak.

Pemuda itu tahu ilmu silat yang dimiliki Hiat Goan Sin koen sangat lihay, aneh sekali kalau ada orang bisa memaksa ia keluar perbatasan untuk mencari orang:

"Siapa orang itu?" tanya sibongkok sakti segera setelah tertegun beberapa saat "Cepat katakan, kau tak usah jual mahal lagi?"

"Aaaai . . . kecuali dia masih ada siapa lagi." Mendengar ucapan itu air muka sibongkok sakti langsung berubah hebat.

"Apakah ... apakah Tong hong Pacu"

"Benar, dia menanti kehadiranmu dihutan bambu digunung Lak Ban san, katanya kau harus segera pulang sebab ada urusan penting hendak di bicarakan denganmu."

"Dia cari aku?" teriak sibongkok sakti tubuhnya mulai gemetar. "Dia . . dia cari aku? tidak mungkin bagaimana tak mungkin tidak mungkin."

Agaknya ia sudah tahu apa yang hendak dikatakan Tonghong Pacu kepadanya, maka berulang kali ia berseru "Tidak mungkin." "Eeeeeeh bongkok, sebenarnya karena persoalan apa sih sampai gembong iblis itu mencari dirimu?"

"Apa sangkut pautnya antara urusan ini denganmu?" tiba2 sibongkok sakti berteriak gusar.

Melihat orang itu gusar, Hiat Goan Sin koen jadi amat terperanjat, tapi ia sudah kenal watak sibongkok sakti ini maka ia tidak sampai gusar dibuatnya hanya dengan dingin ia berseru:

"Eeeei bongkok, kau . . ."

"Monyet! bukankah kau adalah sahabat karibku?" tukas si bongkok sakti menjerit aneh, ucapan ini sama sekali diluar dugaan siapapun.

Walaupun sibongkok sakti dengan Hiat Goan Sin koen satu lurus yang lain sesat. tapi persahabatan mereka sangat akrab.

Pertanyaan ini segera memancing hawa gusar simanusia monyet, kontan ia maki kalang kabut:

"Neneknya, kita sudah bersahabat selama puluhan tahun lamanya, kenapa kau ajukan pertanyaan seperti ini pada saat ini ?"

"Kalau memang benar, bagus sekali." seru si bongkok sakti sambil menghembuskan napas panjang, "Monyet, sekarang urusan amat gawat dan luar biasa sekali aku harus buru2 pulang, sedang Tonghong Pek menderita luka parah, ia sekarang berada dalam kereta, tolong merepotkan kau jagalah kesehatannya, setelah lewat perbatasan kalian tak boleh kembali kegunung Lak Ban-san lagi, kalau tidak jadi setanpun aku tak akan mengampuni dirimu !" Beberapa patah kata ini segera membuat Hiat Goan Sin- koen melongo dan berdiri terbelalak, ia tak tahu apa yang harus diucapkan.

Dalam pada itu selesai berbicara, sibongkok sakti segera enjotkan badannya ketengah udara.

Setelah bersalto beberapa kali, ia melayang ke atas pelana kuda tunggangan Hiat Goan Sin-koen dan kaburkan binatang tersebut cepat2, tidak selang beberapa saat bayangannya sudah lenyap tak berbekas.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak, meski pun Hiat Goan Sin-koen adalah seorang jago lihay tak urung dibikin kelabakan juga.

"Eei bongkok, kau sudah edan ?" teriaknya.

Ucapan ini tak mungkin dijawab lagi, sebab waktu itu sibongkok sakti sudah pergi jauh sekali.

Tonghong Pek yang ada dalam keretapun segera menongolkan kepalanya sambil berteriak:

"Suhu ! suhu !"

"Suhumu sudah pergi jauh !" "Kalau begitu cepat kita kejar !"

"Kejar ?" Hiat Goan Sin koen tertawa getir. "Apakah kau tak mendengar apa yang ia katakan? aku tidak ingin ia jadi setanpun tidak mau lepaskan diriku!"

"Tidak boleh jadi, aku harus kembali ke gunung Lak-Ban san."

Kendari Hiat Goan Sin koen merasa keheranan setelah mendengar sibongkok sakti melarang ia membawa Tong hong Pek pulang kegunung Lak Ban san, tapi sebagai seorang jago kawakan yang banyak pengalaman ia merasa dibalik persoalan ini masih terselip latar belakang yang serius, bagaimanapun juga ia harus turuti omongannya.

Maka dari itu air mukanya segera berubah membesi, dengan nada tegas ia menggeleng.

"Tidak bisa, persoalan ini tak dapat kau putuskan sendiri!"

Tong hong Pek semakin cemas lagi, dari pembicaraan yang dilakukan antara Hiat Goan Sin koen dengan gurunya, ia bisa menarik kesimpulan bahwa diatas gunung Lak Ban san telah terjadi peristiwa yang gawat sekali. Sebagai seorang lelaki sejati tentu saja ia tak ingin berpeluk tangan belaka.

Mendengar permintaannya ditolak Tong hong Pek segera melangkah keluar dari kereta, tapi lukanya terlalu parah, baru saja melangkah setindak ia tak kuasa berdiri dan segera roboh keatas tanah.

"Hey, apa yang kau lakukan?" tegur Hiat Goan Sio-koen kaget.

"Kau . . kau tak mau membawa aku pulang ke gunung Lak Ban san . . aku . . aku bisa pulang sendiri!" teriak Tong hong Pek sambil berusaha merangkak bangun.

Dengan sempoyongan dan jatuh bangun ia tinggalkan kereta menuju kedepan, napasnya terengah-engah bagaikan kerbau, ingin sekali ia merangkak naik kekursi kusir tapi terasa sukar bagaikan mendaki kelangit.

Menyaksikan perbuatan sianak muda itu Hiat Goan Sin koen mendengus.

"Tong hong Pek, jangan dikata kau masih menderita luka parah, sekalipun ilmu silatmu masih utuhpun, jangan harap bisa kau robohkan diriku." "Memang aku tak bisa robohkan dirimu, tapi kalau kau tak mau membawa aku pulang kegunung Lak Ban san, aku bisa putuskan urat2 nadi ku dan bunuh diri."

Mendengar ancaman ini Hiat Goan Sin-koen amat terperanjat ia mencak2 sambil berteriak:

"Jangan, jangan, mari kita rundingkan dulu persoalan ini."

"Bagus, kalau begitu segera antarkan aku pulang kegunung Lak Ban san!" teriak Tong hong Pek dengan napas terengah engah,

"Aaai . . . ! apakah kau tidak mendengar apa yang dikatakan si bongkok sebelum berangkat tadi?"

"Tentu saja aku mendengar Sin koen, kau harus tahu suhu hanya takut aku pergi menempuh bahaya, tapi bagaimanapun aku harus pergi ke sana!"

Ucapan dari sianak muda ini memang masuk diakal, tapi Hiat Goan Sin koen tahu bukan alasan itu yang ditakuti sibongkok sakti, tapi ia tak ingin mempertemukan Tong hong Pek dengan Tong hong Pacu.

Sebab Tong hong pacu bukan lain adalah ayah kandung Tong hong Pek.

Hiat Goan Sin koen segera tertawa getir.

"Kalau memang kau kukuh terus tak mau mendengarkan nasehatku, akupun tak bisa berbuat apa2 lagi. ." sembari bicara tangannya seraya diulapkan se akan2 kehabisan daya.

Tapi pada waktu itulah, mendadak jari tengahnya disodok kedepan melancarkan sebuah totokan udara kosong. "Sreeet..." diiringi desiran tajam serangan tadi segera menyambar keluar, jangan dikata pada saat ini ilmu silat Tong hong Pek sudah punah, sekalipun tidak, berada dalam keadaan tidak menduga sulit baginya untuk menghindarkan diri.

Dalam sekejap saja darah Cian cing-hiat pada bahunya sudah tertotok oleh serangan menotok diudara kosong dari Hiat Goan Sin koen setelah berhasil simanusia monyet itu segera meloncat kedepan, jari tengahnya bekerja berulang kali menotok enam, tujuh tempat disekeliling tubuh Tong- hong Pek, dengan kejadian ini tidaklah mungkin bagi si anak muda itu untuk bunuh diri.

Setelah urusan selesai ia baru menghembuskan napas lega, sambil berkata:

"Sekarang beres sudah, akan ku bopong kau naik kekereta dan menghantarkan dirimu ketempat yang sepantasnya kau pergi."

Tong hong Pek merasa amat gusar, tapi setelah tujuh, delapan buah jalan daratnya tertotok, ia tak dapat bicara lain kecuali mengawasi si manusia monyet dengan pandangan gusar.

"Eeeei... kau tak usah melototi diriku dengan mata malingmu." seru Hiat Goan Sin koen sambil membopong pemuda kedalam kereta "Aku tak dapat membawa dirimu ke gunung Lak Ban san, hal ini disebabkan aku harus mendengarkan pesan gurumu sibongkok sakti kalau kau mau salahkan nah, pergilah silahkan suhumu sendiri"

Saat ini Tong hong Pek merasa gusar bercampur mendongkol, diam2 ia menghela napas panjang, pejam mata dan membiarkan dirinya dibopong Hiat Goan Sin- koen masuk dalam kereta. Demikianlah selama puluhan hari ia berbaring terus didalam ruangan kereta, kemanakah ia dibawa oleh manusia monyet tersebut ia sendiri pun tak tahu.

Kendari begitu, selama ini ia tak pernah tersiksa, Hiat Goan Sin-koen melayani dirinya dengan seksama, setiap kali menghidangkan makanan, jalan darahnya ditotok bebas tetapi urat nadinya dicekal terus.

Suatu hari ketika senja telah tiba, Tonghong Pek merasa kereta yang dikusiri Hiat Goan Sin koen tiba2 berhenti.

Diikuti terdengar derap kuda berkumandang datang dan tempat kejauhan, menanti derap kuda tadi berhenti terdengar seseorang menegur.

"Siapa anda?"

Orang itu merandek lalu berseru lirih:

"Bukankah anda. . anda adalah Hiat Goan Sin koen?"

Wajah Hiat Goan Sio koen sudah terkenal di seluruh kolong langit maka dan itu tidak sulit bagi siapapun untuk mengenalinya.

"Sedikitpun tidak salah." terdengar Hiat Goan sin koen menjawab dengan suara berat.

Selama puluhan hari ini sudah banyak yang didengar Tong hong Pek lewat jendela kereta, dia tahu selama ini Hiat Goan Sin koen selalu berusaha mencari obat mujarab guna menyembuhkan lukanya dari tiap orang Bu lim yang ditemuinya baik permintaan itu dilakukan secara kasar maupun halus, maka ia tidak heran dan bisa menduga kalau kali inipun simanusia monyet melakukan hal yang sama.

Sementara Tonghong Pek masih berpikir terdengar orang itu kembali bertanya:

"Entah apa maksud kedatangan Sin koen?" "Aku ingin berjumpa dengan Ciang cungcu kalian."

Tong hong Pek diam2 terperanjat, ia dapat menduga yang disebut Ciang cungcu ini pastilah ketua perkampungan Han Gwat Cung yang amat tersohor dalam dunia persilatan, cungcu mereka bernama si raja akhirat berwajah dingin Ciang Gwat Hao.

Bukan itu saja, pemuda itupun merasa hatinya tergetar sebab perkampungan Han Gwat Cung ini justru terletak disebelah utara pegunungan Lak Ban San, atau dengan perkataan lain berada sangat dekat dengan tempat kediaman gurunya.

Keinginan untuk melarikan diri segera muncul dalam benaknya, ia akan menggunakan kesempatan dimana jarak dengan rumah sudah dekat, akan pulang dan membantu gurunya.

Dalam pada itu Hiat Goan Sin koen yang ada diluar kereta mulai tidak sabar menanti lebih jauh, tapi ia tetap berusaha menahan emosi, terdengar ia berkata:

"Anak murid seorang sahabatku terluka parah, aku mohon lagi sebutir teratai raksasa berusia seratus tahun dari Cung cu. agar kesehatannya dapat segera sembuh kembali."

"Sin koen, setiap orang Bu lim tahu teratai itu masak tiap seratus tahun, selama dua puluh tahun Ciang cungcu cuma mendapat tujuh butir, permintaan anda ini bukankah rada keterlaluan dan hanya mencari gara2 dengan kami ?"

"Kau bukan Ciang Cungcu, kenapa begitu bawel dan tahu kalau ia tak mau memberi ? aku ingin berjumpa dengan cungcu, kau suka memberi laporan tidak ?" teriak Hiat Goan Sin-koen gusar.

Orang itupun tidak paham. "Kalau tidak kulaporkan, kau mau apa ?" jawabnya.

"Plook-..!" diiringi suara cambuk, orang itu menjerit kesakitan. jelas Hiat Goan Sinkoen telah turun tangan memerseni orang itu dengan sebuah cambukan.

Kereta kembali bergerak menerjang kedalam, diikuti suara makian, serta bentakan gusar berkumandang dari empat penjuru.

Hiat Goan Sin-koen benar2 nekat, ia terjang terus orang2 itu dan melarikan keretanya kedalam, sampai kemudian ia membentak dan menghentikan keretanya secara tiba2.

Dari tempat kejauhan terdengar suara tertawa dingin berkumandang datang tiada hentinya.

Tertawa orang itu amat sinis dan adem bagaikan dalam gudang es, begitu menyeramkan sampai bulu kuduk padi bangun berdiri

OodwoO

Bab 10

Sebentar kemudian terdengar suara langkah kaki yang berat selangkah demi selangkah bergerak mendekat, Tong- hong Pek merasa kereta bergetar keras kudapun mulai meringkik ketakutan.

Pada waktu itulah Hiat Goan Sin koen baru buka suara berkata:

"Ciang cung cu, beginikah cara perkampungan Han Gwat Cung menerima kedatangan seorang tamu ?"

Suara tertawa dingin kembali berkumandang, hanya kali ini suara tersebut muncul kurang lebih beberapa tombak dan kereta. "Hiat Goan Sin koen !" orang itu menjawab dengan suara mengerikan "Kalau kau datang ke perkampungan Han Gwat Cung untuk bikin onar, maka kedatanganmu telah keliru tempat."

"Ciang Cung Cu !" Hiat Goan Sin koen pun tak mau unjuk kelemahan, ia tertawa dingin pula.

"Aku datang dengan membawa seorang pasien, aku mohon kau suka memberi sebutir teratai raksasa kepadanya, mau beri atau tidak terserah padamu, tidak sepantasnya kau menegur dengan suara kasar !"

Gelak tertawa seram kembali menggema ditengah kesunyian.

"Sungguh bagus sekali caramu berpikir, kau anggap ada berapa banyak teratai raksasa yang masak tiap seratus tahun itu ? kalau setiap orang Bulim berbuat seperti kau, dan membawa orang yang terluka datang keperkampungan Hao Gwat Cung kami, meski tiap tahun aku mendapat hasilpun takkan cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian !"

Sekarang, Hiat Goan Sin-koen tak berani mengumbar napsu lagi, terpaksa ia tertawa serak.

"Hee..hee...hee... Ciang cungcu, kau harus tahu keadaannya pada saat ini rada berbeda, sang pasien yang kubawa datang mempunyai asal usul yang besar !"

Tonghong Pek yang mendengar perkataan ini diam2 tertawa getir.

"Seandainya ucapan itu ditujukan kepada jago kelas dua atau kelas tiga, sebagai murid si bongkok sakti mungkin akan dihormati." pikirnya. "Tapi Cungcu dari perkampungan Han Gwat Cung bukan manusia sembarangan, mungkinkah ia mau kasih muka?" Ia tertawa getir dan mulai merangkak bangun membuka jendela kecil didepan kereta dan melongok keluar, ia hendak menggunakan kesempatan sewaktu Hiat Goan Sin- koen bertempur melawan Ciang Cung-cu ia akan melarikan diri.

Sementara itu simanusia monyet sudah meloncat turun dari atas kereta, sedangkan Ciang Gwat Ang tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, bukan saja ia membungkam dalam seribu bahasa, bahkan wajahnya berubah semakin dingin dan kaku sehingga membuat orang bergidik ketakutan.

Wajahnya kurus kering tinggal pembungkus tulang kulitnya berwarna abu2, bibirnya ungu dan pucat, boleh dikata ia lebih mirip sesosok mayat hidup.

Sebenarnya ia berdiri didepan kereta, menjumpai Hiat Goan Sin-koen meloncat turun, bagaikan sebatang pit tubuhnya melayang mundur empat, lima depa kebelakang.

Setelah berdiri tegak, Hiat Goan Sin koen segera berkata: "Kau jangan pergi, akan kuceritakan asal usul dari pasien

yang kubawa datang ini." "Cepat katakan."

"Tidak bisa jadi" tapi dengan cepat simanusia monyet menggelengkan kepala, "Orang lain tak boleh ikut mendengar rahasia ini, sebab rahasia ini terlalu besar."

"Hiat Goan Sin-koen, kau anggap aku adalah seorang bocah cilik berusia tiga tahun ?" jengek Cang Gwat Han sambil tertawa seram, "Menempelkan telinga didekat bibirmu dan mendengarkan obrolanmu. lalu kau turun tangan membokong diriku ? Hmm ! enak benar ucapan itu." "Ciang cungcu, kau salah besar, kalau tidak dapat dipercaya terhitung jagoan apakah diri kita ini ?" seru Hiat Goan Sin koen sambil menggeleng, "Kalau kau takut aku membokong dirimu. Nah, silahkan kau cekal dahulu urat nadiku."

Sambil berkata simanusia monyet maju menghampiri orang itu, gerakan Ciang Gwat Han sungguh amat cepat sekali, baru saja orang itu maju ia sudah kebaskan ujung bajunya menggulung pergelangan Hiat Goan sin koen dan mencengkeram urat nadinya.

Menyaksikan kejadian itu Tong-hong Pek amat terperanjat tapi ia tak dapat berbuat apa2 kecuali memandangi simanusia monyet itu dengan hati kebat kebit.

"Sekarang kau sudah lega hati bukan ?" terdengar Hiat Goan Sin koen bertanya dengan wajah tenang.

"Bagus sekali. Nah, cepat katakan !"

Hiat Goan Sin koen menghampiri orang itu semakin dekat, lalu berbisik lirih disisi telinga Ciang Gwat Han.

Beberapa patah kata ini diutarakan amat lirih, kecuali ketua kampung tersebut, boleh dikata orang lain tak mendengarnya sama sekali.

Beberapa saat kemudian tampak air muka Ciang Gwat Han berubah hebat.

"Benarkah ?" ia berseru.

"Kalau aku berbohong biarlah Thian mengutuk diriku !" Ciang Gwat Han tertegun beberapa saat lamanya,

kemudian baru berkata kembali:

"Kalau begitu silahkan masuk kedalam perkampungan, teratai raksasa pasti akan kupersembahkan untukmu." Hiat Goan Sin koen tertawa, "Ciang cung-cu, kau sungguh dermawan, aku rasa budi pertolongan ini tentu akan diingat selalu oleh orang2 itu." katanya.

"Aaah. . hanya satu pemberian kecil, aku tidak mengharapkan balasan apapun. ." sahut Ciang Gwat Han buru2 sambil tertawa getir.

Ia lepaskan cekalannya pada tangan Hiat Goan Sin koen lalu meloncat naik keatas kereta ber-sama2 manusia monyet itu, sebentar kemudian kereta melaju kembali kedepan.

Menyaksikan Ciang Gwat Han yang hebat ternyata begitu menurut dan suka menyerahkan teratai berusia seratus tahun kepadanya, Tong hong Pek keheranan, ia tak tahu apa yang telah di ucapkan Hiat Goan Sin koen kepada orang itu.

Roda bergelinding dengan ramainya sebentar kemudian mereka sudah tiba disebuah tanah lapang luas depan pintu perkampungan Han Gwat Cung, dan kereta tersebut berhenti didepan sebuah bangunan megah.

Ketika Tong hong Pek dipayang turun dari atas kereta, pemuda ini merasakan suatu perasaan yang sangat aneh, hal ini disebabkan sekeliling perkampungan tak nampak adanya pepohonan ataupun rumput, empat penjuru penuh batu2 an berbentuk aneh dan mengerikan.

Batu2 itu ada yang berwarna hitam pekat, ada pula yang berwarna merah, bentuknya kukoay. runcing menyeramkan, kecuali itu terdapat pula kayu2 kering ada yang mirip burung ada pula yang mirip binatang, aneh dan mengerikan

Ketika Tong hong Pek turun dari kereta, Ciang Gwat Han dengan sepasang matanya yang hijau menyeramkan mengawasi dirinya dari balik atas hingga kebawah begitu tajam sinar matanya sampai pemuda itu merasa bergidik.

Tapi Ciang Gwat Haa tidak mengucapkan sesuatu, dengan berjalan didepan ia membawa ke dua orang itu masuk kedalam sebuah ruangan.

"Sin koen!" kata Ciang Gwat Han kemudian "Untuk menelan teratai seratus tahun, masih harus dibutuhkan darah segar dari beberapa ekor binatang, sebab dengan demikian kasiatnya baru kelihatan untuk mengumpulkan binatang2 tersebut paling cepat kita harus membutuhkan waktu selama tujuh hari lamanya.

"Soal itu sih tak penting aku rasa, Ciang cungcu tentu tidak menampik bukan kalau kita harus mengganggu selama beberapa hari dalam perkampungan anda ?"

"Aaaah, tentu tidak, tentu tidak. . . " jawab Ciang Gwat Han tertawa paksa," hanya saja cayhe punya satu permintaan yang kurang sesuai."

"Ooow, tidak mengapa. silahkan cungcu utarakan" "Dalam perkampungan kami masih ada sedikit urusan

yang tak ingin diketahui orang asing, lebih baik kalian berdua jangan pergi kemana2 dan yang penting ajak anak buahku bercakap2."

"Soal ini Ciang Cungcu boleh berlega hati, asalkan kau suka mengesampingkan sebuah halaman untuk kami diami, bukankah itu lebih bagus?"

"Benar, memang begini paling bagus! memang begini paling bagus!"

Ia bertepuk tangan beberapa kali segera muncul dua orang lelaki kekar jalan menghampiri.

Ciang Gwat Han segera berpesan. "Bawalah kedua orang tamu terhormat ini ke pagoda Siauw Coei Khek, jangan berayal dan baik2lah melayani segala keperluannya!"

Dengan sangat hormat kedua orang itu mengiakan, begitulah Hiat Goan Sin koen serta Tong hong Pek segera diantar melewati beberapa ruangan dan tiba ditepi telaga, luas telaga itu kurang lebih dua hektar, air telaga berwarna hijau semu merah, kelihatan sangat aneh sekali.

Ditengah telaga berdiri sebuah pagoda yang dibangun sangat indah dan megah, kedua orang lelaki itu segera meloncat keatas sampan melepaskan tali pengikat dan berseru:

"Silahkan kalian berdua naik keatas perahu?"

"Waaah. . waaaah. . bagusnya sih bagus tempat ini bukankah kalian hendak mengurung kami secara halus.

Kedua orang itu tidak menggubris, seakan2 mereka tak pernah mendengar ucapan dari Hiat Goan Sin koen simanusia monyet itu tak bisa berbuat lain, kecuali memayang tubuh Tonghong Pek naik keatas perahu.

Kedua orang lelaki tadi segera mendayung perahunya bergerak ketengah telaga menuju kepagoda tersebut.

Tangan kedua orang itu besar sangat kuat, perahu bagaikan terbang melaju kedepan, tidak selang beberapa saat kemudian mereka berempat sudah tiba dalam pagoda tersebut dimana mereka disambut oleh empat orang lelaki berdandan sebagai pelayan, Kepada keempat orang pelayan itu kedua orang lelaki tersebut menyampaikan pesan2 dari Ciang Gwat Han, kemudian meloncat kembali kedalam perahu dan berlalu.

Dalam pada itu Hiat Goan Sin koen memeriksa keadaan pagoda itu dengan seksama, bangunan tersebut terdiri dari dua tingkat bukan saja di bangun amat megah, bahkan perabotnya mewah dan mempesonakan, hanya saja kalau tak ada perahu mereka susah untuk meninggalkan tempat itu barang setengah langkahpun.

Menyaksikan keadaan ini Hiat Gwat Sin koen meraba amat mendongkol, ia tidak menyangka Ciang Gwat Han bisa menahan mereka berdua dengan cara halus.

Meski demikian, karena ada permintaan kepada orang lain, terpaksa si manusia monyet ini menahan sabar sambil diam2 mengeluh.

Tonghong Pekpun diam2 menghela napas panjang, semula ia mengira masih ada kesempatan untuk melarikan diri tapi sekarang setelah tahu dirinya terkurung ditengah telaga ia jadi mengeluh, sebab bukan dengan demikian usahanya untuk melarikan diri jadi gagal ? ? ?

Pelayanan keempat orang pelayan itu amat seksama, tidak selang beberapa saat kemudian sayur dan arak telah dihidangkan

Setelah bersantap merekapun membawa kedua orang itu menuju kekamar tidur, Tonghong Pek kebetulan mendapat kamar yang saling berhadapan dengan kamar Hiat Goan Sin koen.

Setibanya dalam kamar pemuda itu jatuhkan diri berbaring diatas ranjang, pikirannya amat kalut, membayangkan keadaan suhunya yang pergi menjumpai musuh tangguh, tak kuasa ia menghela napas panjang.

"Tong hong Kongcu, kenapa kau menghela napas panjang." tiba2 dari belakang tubuhnya terdengar suara teguran.

Ucapan ini muncul sangat mendadak, Tonghong Pek yang tidak menyangka ada orang menegur dirinya pada waktu itu jadi sangat terperanjat hampir2 saja badannya terbanting jatuh keatas tanah, buru2 ia cekal pinggiran jendela dan berpaling.

"Aaah, Tonghong Kongcu, maaf sekali, kehadiranku yang tak disangka telah mengejutkan dirimu!" kembali orang itu berseru.

Kiranya orang yang muncul dalam kamarnya bukan lain adalah ketua perkampungan Han Gwat Cung Ciang Gwat Han adanya.

"Aaaah . . ternyata Ciang cungcu!" buru-buru Tong hong Pek berseru dengan wajah jengah. "Entah apa maksud kedatangan cungcu kemari."

Air muka Ciang Gwat Han berubah memberat, tapi kelihatan jelas kalau ia berusaha keras untuk membaiki Tong-hong Pek.

"Binatang2 yang dibutuhkan untuk menelan teratai seratus tahun sudah kuperintahkan orang untuk mempersiapkannya." ujar orang itu "Cayhe sedikit mengerti tentang ilmu pertabiban maka dari itu sengaja kudatang kemari untuk periksakan dahulu denyutan jantung kongcu."

"Aaaah , . harus merepotkan diri Ciang cungcu, cayhe mana berani."

Ciang Gwat Han mengucapkan beberapa patah kata kesopanan, lalu mencekal tangan Tong-hong Pek dan menempelkan ketiga jari tangannya keatas nadi pemuda itu, beberapa saat kemudian ujarnya:

"Luka yang kongcu derita sangat parah, tapi kau tak usah kuatir setelah menelan teratai seratus tahun tersebut dalam tiga hari lukamu akan sembuh kembali seperti sedia kala. Sejak dibokong oleh Loei Sam, keadaan Tong hong Pek boleh dikatakan mirip seorang cacad, kini mendengar dalam sepuluh hari ia bakal sembuh kembali seperti sedia kala, hatinya sangat gembira.

"Terima kasih Cungcu" buru2 serunya.

Ciang Gwat Han bangun berdiri bergendong tangan dan berjalan mondar-mandir dalam ruang, dipandang gerak geriknya se akan2 ia hendak mengutarakan sesuatu, hanya tak berani mengucapkannya keluar:

Menyaksikan keadaan orang itu, Tong hong Pek segera berkata.

"Ciang cungcu, Teratai raksasa sulit sekali untuk didapatkan berkat hadiahmu kepadaku, seumpama dalam hati kau mempunyai kesulitan, katakanlah keluar."

"Tong hong Kongcu, aku memang ada satu persoalan ingin mohon pertolongan ayahmu?" sahut Ciang Gwat Han, air muka yang semula murung kini berganti dengan sebuah senyuman Tong hong Pek tertegun apa maksud ucapannya? minta bantuan ayahku?

Aku adalah seorang anak yatim piatu, siapakah ayahku pun aku tak tahu, apa yang harus dijawab?

"Aaa, kesemuanya ini tentu hasil ngaco belo dari Hiat Goan Sin koen, sehingga Ciang Gwat Han yang jeri pada orang itu, suka menyerahkan teratai raksasa kepadanya." pikir sianak muda itu.

Tonghong Pek adalah seorang jujur, ia serba salah menghadapi persoalan ini.

"Kir. . . kiranya begitu . . tapi ayahku. ."

Ia tidak bisa bicara bohong, karena gelisah merah padam selembar wajahnya. Ciang Gwat Han sama sekali tidak memperhatikan kejengahan sianak muda ini, malahan sambil tertawa paksa ujarnya kembali:

"Benar, benar ucapanmu memang tidak salah, tentu saja ayah mu bukan manusia sembarangan, akupun tidak berani mohon sesuatu kepadanya, aku hanya berharap sewaktu ada dihadapan beliau Tonghong Kongcu suka mengungkapnya sambil lalu."

"Hal itu boleh saja, apakah Ciang cungcu ada urusan apa?"

Ciang Gwat Han tertawa getir.

"Bicara terus terang, tenaga dalam yang kulatih adalah semacam Iweekang berhawa lunak, setengah tahun berselang ketika aku sedang berlatih, mendadak kujumpai hawa murniku menembusi jalan yang sesat..."

"Aaah ! kalau begitu kau...bukankah jalan api menuju neraka ? kau.-." Seru Tonghong Pek terkesiap.

Kembali Ciang Gwat Han tertawa getir.

"Setelah kurasakan keadaan tidak beres, segera disalurkan hawa murniku dan paksa hawa murni yang jalan sesat itu berkumpul di urat Sauw-yi ada ditangani dimana terletak jalan darah "Gan-ching" serta "Thian ching" dengan demikian hitung2 aku berhasil lolos dari bahaya jalan api menuju neraka."

"Oouw, kiranya begitu. kalau bukan tenaga dalam Cung cu telah mencapai kesempurnaan, sulit untuk berbuat demikian."

"Tonghong Kongcu, harap kau jangan memuji diriku, sejak peristiwa itu hingga kini sudah ada setahun lebih, selama setahun ini aku berusaha untuk paksa keluar hawa murni yang sesat tadi tapi selalu gagal, pernah aku minta petunjuk beberapa orang sakti dunia persilatan mereka bilang satu2nya cara adalah minta bantuan seseorang menyalurkan tenaga lweekangnya kedalam badan ku dan paksa hawa sesat tadi keluar dari tubuh."

"Cara ini memang bagus sekali, tapi mengapa beberapa orang tokoh sakti dunia persilatan itu tak mau membantu ?"

"Bukannya mereka tak mau membantu, melainkan tenaga lweekang mereka belum mencapai ke tingkat tersebut, di-hitung2 dikolong langit dewasa ini cuma ada dua orang yang memiliki kepandaian tersebut."

Tonghong Pek terperanjat, ingin sekali ia menanyakan siapakah kedua orang itu. sebelum ia buka suara Ciang Gwat Han telah melanjutkan:

"Kedua orang itu. yang satu adalah Si Thay sianseng dari gunung Go bie dan orang kedua ada lah ayahmu.

"Oooouw, kiranya begitu tahu aku..."

Ucapan ini meluncur tanpa sadar, sebab sianak muda itu sedang memikirkan persoalan lain.

Menanti ia sadar kembali, rasa terperanjat sukar dilukiskan dengan kata2, serunya kembali:

"Apa yang kau katakan? dikolong langit dewasa ini cuma Si Thay sianseng serta ayahku yang memiliki tenaga lweekang sedahsyat itu?"

"Benar!"

Tong hong Pek benar2 amat terperanjat, ia tahu yang dimaksudkan sebagai ayahnya tentulah Tong hong Pacu, sijago lihay dari aliran sesat itu, sebab hanya dialah yang patut disejajarkan dengan Si Thay sianseng dari aliran lurus, jadi kalau begitu Hiat Goan Sin koen telah membohongi orang ini dengan mengaku dia sebagai putra Tonghong Pacu? suatu gurauan yang sangat berbahaya..."

Tonghong Pek kaget, tapi ia tak mau membongkar rahasia ini, buru2, tanyanya:

"Ciang cungcu, menurut pikiranmu siapakah ayahku?"

Suatu pertanyaan yang aneh membuat Ciang Gwat Han tertegun dan tak tahu apa yang harus dikatakan.

Beberapa saat kemudian ia baru berkata. "Tong hong Kongcu maksudmu..."

"Aku sedang bertanya kau kira siapakah ayahku, Ciang cungcu, harap kau suka menjawab dengan sejujurnya."

Si Raja Akhirat berwajah dingin Ciang Gwat Han adalah seorang jago kawakan, pengalaman nya sangat luas, setelah mendengar ucapan itu, ia sadar tentu ada sesuatu yang tak beres, buru2 jawabnya.

"Bukankah kau adalah putra dari Tong hong Pacu tokoh sakti nomor wahid dikolong langit dewasa ini?"

Mendengar ucapan itu Tong hong Pek merasa mendongkol bercampur geli, ia merasa dirinya untung mengajukan pertanyaan tersebut sehingga kesalah pahaman ini bisa diatasi mulai sekarang.

"Ciang Cungcu kau telah salah menduga " buru2 serunya. "Kau telah keliru menganggap aku dengan Tong- hong pacu sama sekali tiada hubungan."

Air muka Ciang Gwat Han kontan berubah hebat ia mundur selangkah kebelakang dan berseru:

"Tapi Hiat Goan Sin koen berkata demikian."

"Kau keliru, selama ini kau dibohongi Hiat Goan Sin koen." tukas Tonghong Pek cepat. "Tapi . . . tapi andapun she Tonghong, hal ini , . . hal ini

- . "

"Ha ha ha Ciang Cungcu, orang yang menggunakan she Tonghong dikolong langit bukan satu dua orang belaka, apakah mereka yang pakai she Tonghong Pek disebabnya sewaktu suhu dan sunioku menemukan diriku, kebetulan sinar sang surya baru muncul di ufuk Timur, sedang aku adalah seorang anak yatim piatu, maka Tonghong atau Ufuk Timur dianggap sebagai she ku !"

Setelah Tonghong Pek berkata demikian, mau tak mau Ciang Gwat Han harus mempercayainya, ia tarik napas panjang.

"Kalau begitu gurumu adalah . . ."

"Nama guruku tentu Sin Tuo? ia pun tinggal digunung Lak-ban san ini, hanya satu diutara yang lain diselatan dia adalah Si bongkok sakti Lieh Hwee Sin Tuo.

Wajah siraja akhirat berwajah dingin yang dasarnya jelek, kini semakin jelek lagi.

Ia menggendong tangan dan berjalan mondar-mandir dalam ruangan, serunya berulang kali.

"Kurang ajar, kurang ajar . ."

"Ciang cungcu, aku tidak tahu apa yang disampaikan Hiat Goan Sin koen kepadamu " kata Tong-hong Pek dengan nada kesal "Kalau aku tahu, seketika itu juga pasti akan kubantah, harap Cungcu suka memaafkan kelancangannya."

Ciang Gwat Han berhenti mengawasi wajah sianak muda itu beberapa saat lalu berkata: "Kau benar2 seorang Koen cu yang jujur, aku sangat kagum pada dirimu, hanya saja teratai berusia ratusan itu adalah . . . adalah barang langka . . . kau ?"

"Ciang-cungcu kau boleh berlega hati aku tidak akan membuat orang lain merasa sulit karena persoalan ini."

"Tentu saja aku percaya kau tidak akan memaksa diriku tapi Manusia monyet bajingan tua itu . - dia ! Aaaaai!"

Tonghong Pek tahu orang itu tentu merasa serba salah menghadapi masalah ini. mendadak pikirannya rada bergerak, ia berkata.

"Ciang cungcu, aku mempunyai suatu cara yang sempurna!"

"Coba katakan..."

"Ciang cungcu malam ini juga kau hantar aku keluar perkampungan tanpa diketahui Hiat Goan Sin koen, dengan kepergianku maka ia tentu tidak akan menanyakan soal teratai berusia seratus tahun itu lagi."

"Tidak bisa jadi" seru Ciang Gwat Han, meski demikian senyuman menghiasi wajahnya. "Hiat Goan Sin koen bukan manusia sembarangan, apabila ia menemukan dirimu, maka dia tentu akan menuduh akulah yang melarikan dirimu, yang kutakuti adalah dalam kegilaan ia bakar perkampungan keluarga Ciang kami sehingga rata dengan tanah."

"Soal itu mudah diatasi, aku akan tinggalkan sepucuk surat yang menerangkan bahwa aku pergi atas kemauanku sendiri.. lagi pula aku memang benar2 ingin meninggalkan dirinya, hitung2 kau telah membantu diriku."

Kembali Ciang Gwat Han berjalan mondar mandir dalam ruangan, beberapa saat ia memperhatikan suasana diluar ruangan, setelah dirasakan aman ia baru mengangguk.

"Baiklah !"

Tonghong Pek segera ambil kertas, dan menulis sepucuk surat, menanti Ciang Gwat Han membaca dan dirasakan tepat, kembali ia mengangguk .

"Bagus sekali, segera aku hantar kau meninggalkan tempat ini"

"Setelah keluar dari perkampungan Han Gwat cung ini, aku mohon Ciang cungcu pun suka menyediakan kuda, agar perjalananku dapat ditempuh lebih cepat !"

Ciang Gwat Han hanya mengharapkan teratai seratus tahunnya tidak sampai diberikan kepada pemuda ini, apa permintaan Tonghong Pek segera dipenuhi semua.

Tong hong Pek melangkah keluar pintu, tapi dengan cepat Ciang Gwat Han menghalangi niatnya, ia kempit tubuh sianak muda itu dan menerobos keluar melalui jendela.

Sianak muda itu terperanjat, hampir2 saja ia berseru tertahan, karena ia tahu diluar jendela adalah air telaga, Mereka loncat keluar lewat jendela bukankah tubuhnya akan segera tercebur kedalam air.

"Jangan bersuara?" bisik Ciang Gwat Hao lirih.

Tonghong Pek terkesiap, ia membungkam. Tampaklah tubuh mereka berdua dengan cepat meluncur kebawah dan dalam sekejap telah tiba dipermukaan telaga, kakinya ternyata berdiri di permukaan air dengan tenang.

"Ciang cungcu kau. ." seru Tong hong Pek terperanjat. "Jangan bersuara, di bawah permukaan ada patokan kayu sebagai penjaga, tentu saja aku bisa berdiri diatas permukaan air seperti berdiri di atas permukaan tanah?"

Sekarang Tong hong Pek baru tahu, kiranya setiap tiga depa Ciang Gwat Han maju setindak, sebab dibawah permukaan air terdapat balok2 kayu tempat pijak kaki. tidak aneh kalau dengan gampang ia bisa lari kesana kemari.

Dalam sekejap mata mereka telah tiba ditepi pantai.

Beberapa saat kemudian mereka tiba didepan pintu perkampungan Han Gwat cung. Ciang Gwat Han bersuit pendek, dan segera muncul dua orang lelaki kelar.

"Cepat sediakan seekor kuda jempolan !"

Kedua orang itu mengiakan, tidak selang beberapa waktu mereka muncul kembali dengan membawa seekor kuda jempolan yang tinggi besar.

Tonghong Pek segera meloncat naik keatas pelana dan membedal kudanya meninggalkan perkampungan Han Gwat cung, kuda lari dengan cepatnya kedepan, begitu cepat sehingga sukar dilukiskan dengan kata2.

Menanti fajar telah menyingsing ia sudah berada ditengah pegunungan, keadaan medan amat berbahaya, penuh dengan jurang yang curam dan mengerikan, menunggu sang surya telah menerangi seluruh jagat, ia tiba didekat sumber air.

Ia turun meneguk beberapa tegukan air, memandang bukit yang menjulang tinggi ke angkasa, tak mungkin lagi perjalanan bisa dilanjutkan dengan menunggang kuda.

Tonghong Pek menghela napas panjang, sambil menepuk pundak kuda itu serunya:

"Terima kasih atas bantuanmu, nah pergilah !" Ia hantam pantat kuda itu keras2, diiringi ringkikan panjang binatang itu lari kedepan dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan.

Tonghong Pek memetik buah2an liar untuk menangsal perut, lalu mencari sebuah batu yang datar dan berbaring.

Tengah malam telah menjelang, ditengah lelap2 rasa ngantuk menyerang badan. tiba 2 pemuda itu menjumpai cahaya api berkedip didepan mata.

Cahaya api itu bergerak terus tiada hentinya sepintas lalu dapat diketahui tentu ada orang yang membawa obor sedang melakukan perjalanan.

Anak muda ini terkesiap, segera pikirnya:

"Mungkinkah Hiat Goan Sin koen datang mencari aku ?"

Buru2 ia bersembunyi dibelakang batu cadas sambil mengintip keluar.

Tidak selang beberapa saat kemudian cahaya api itu bergerak semakin dekat, sedikitpun tidak salah, ia melihat ada sesosok bayangan manusia bergerak dalang dengan mencekal sebuah obor.

Tapi Tonghong Pek tidak melihat jelas raut mukanya.

Tiga puluh tombak. . . dua puluh lima tombak . . . dua puluh tombak. . . secara lapat2 Tonghong Pek mulai melihat orang itu memiliki rambut yang amat panjang sehingga menutupi seluruh wajahnya, tapi ia tahu orang itu adalah seorang perempuan

O-d-e0-w=i0-O