-->

Jago Kelana Jilid 08

Jilid 08

SI TENGKORAK kumala Ciang Huan mendengus dingin ujarnya :

"Nona Si. kau tak usah kaget. walaupun kami bertiga sangat mengerikan, namun selalu bekerja pakai cengli. yang kami cari cuma Tong-poei Pek seorang, kenapa nona harus begitu cemas dan gelisah ?"

Mendengar ucapan itu, Si Soat Ang rada berlega hati, namun ia berkata pula:

"Lalu...kalian...kalian hendak apakan Tong poei Pek ?" "Heee. . . heee . . . mungkin kubeset kulitnya mungkin

dijebol oleh tarikan lima ekor kuda, mungkin pula "kubedah

isi perutnya pokoknya kami suka berbuat bagaimana akan kami lakukan. nona Si. aku lihat kau adalah seorang gadis cerdik lebih baik jangan campurkan diri dalam persoalan ini sehingga mendatangkan kesialan buat dirimu." "Tetapi . . . tetapi ia menderita luka parah aku hendak menghantar dirinya kegunung Lak Boan sao, rumah kediaman si Bongkok sakti Berangasan gurunya."

"Kalau begitu katakan kepada si Bongkok sak ti berangasan katakan muridnya telah ditahan oleh kami tiga bersaudara." tukas Ciang Huan dengan nada keras.

Sembari berkata, ujung bajunya dikebas kedepan, segulung tenaga dahsyat menggulung tubuh gadis itu membuat Si Soat Ang tak tahan mundur tujuh, delapan langkah kebelakang dengan sempoyongan.

"Cepat pergi," kembali si tengkorak kumala menghardik. Bentakan itu bagaikan guntur membelah bumi. Si Soat Ang tercekat tanpa banyak bicara lagi ia putar badan dan melarikan diri ter-birit2 dari situ.

Menanti ia sudah tiba diluar kota dan tidak melihat ada yang mengejar barulah gadis itu berhenti berlari, ia tahu Tong-poei Pek yang ada di rumah penginapan tentu ditawan atau dibunuh oleh Soat-san Sam Mo. apa yang harus ia lakukan sekarang ? memberi kabar kepada si Bongkok sakti Berangasan digunung Lak boan-san ?

Lama sekali ia berdiri ragu2, akhirnya gadis itu menghela napas panjang dan ambil keputusan untuk berangkat kegunung Lak-boan-san.

Setelah ambil keputusan, malam itu juga ia kembali kerumah penginapan, melepaskan kuda tunggangan sendiri dan kaburkan binatang tunggangan itu cepat2.

Empat hari kemudian ia sudah keluar dari perbatasan, sepanjang jalan gadis ini menjumpai banyak hal yang baru dan belum pernah dilihat sepanjang hidupnya.

Hari itu, tepat satu bulan ia tinggalkan Tong-poei Pek. sampailah ia digunung Lak Boan san, ia tahu sibongkok sakti berangasan tinggal dibukit sebelah selatan, namun tempatnya dimana ia kurang tahu.

Per-lahan2 Si Soat Ang maju kedepan, sampai tengah malam tibanya ditepi telaga yang jernih, air telaga tidak begitu dalam dan bening, sambil memandang riak dipermukaan ia menghela napas panjang.

Pelbagai persoalan berkecamuk dalam benaknya, ia teringat bagaimana hidup di benteng Thian It Poo dengan riang gembira bagaimana Liem Hauw Seng melarikan diri bersama Giok Djien, kemudian teringat Loei Sam dan akhirnya Tong poei Pek.

Terbayang Tong-poei Pek, ia jadi memikirkan diri sendiri, sejak melewati perbatasan boleh di kata dia tak bersanak dan berkeluarga, apakah dikemudian hari ia harus melewati sisa hidupnya sebatang kara ?

Teringat sampai disitu tak kuasa ia menghela napas panjang, tiba 2 suara bentakan keras berkumandang dalang dari tempat kejauhan, bentakan itu keras seperti guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat ia begitu terkejut sampai lama sekali berdiri mendelong.

Menanti ia berhasil tenangkan hati, terdengar suara yang keras tapi kembali berkumandang datang.

"Perempuan sialan mana yang datang mengacau kesini ? hela napas panjang pendek disitu, hanya mengacau ketenangan orang saja !"

Si Soat Ang kembali kaget, ia merasa telinganya berdengung keras sehingga hampir2 saja ia tak sanggup angkat kepala.

Dibawah sebatang pohon siong, tampaklah dua orang sedang duduk saling berhadapan, diantara kedua orang itu terletak sebuah papan persegi seperti papan catur, salah seorang diantaranya sedang pusatkan perhatiannya keatas catur sementara yang lain melotot bulat2 kearah Si Soat Ang.

Jarak diantara kedua orang itu dengan sang gadis terpaut empat lima tombak jauhnya, lagi pula waktu itu malam hari telah tiba, suasana sangat gelap, wajah kedua orang itu tak terlihat jelas, namun sepasang matanya kelihatan begitu tajam bagaikan dua buah lampu lentera, hal ini menunjukkan betapa sempurnanya tenaga lwekang yang ia miIiki.

Si Soat Ang paksa diri untuk tenang, lalu ujar nya tergagap:

"Aku sedang memikirkan banyak urusan, hatiku kesal, dan tak tahu disini ada orang, seandainya mengganggu harap kalian suka memberi maaf."

"Hmmm. kalau kau berani berbicara sekali lagi coba lihat saja bagaimana kurobek bibirmu itu."

Dalam pada itu orang yang berada dihadapannya sambil tertawa telah berkata:

"Eei bongkok, kau terlalu kasar dan cari menang sendiri. kau anggap gunung Lak-Boan san milikmu seorang, orang lain sedang menghela napas, apa salahnya terhadap dirimu

? kau kalah sepuluh kali atas diriku. kalau mau marah,

marah lah kepadaku, kenapa harus dilimpahkan kepada orang lain ? perbuatan ini bukan perbuatan seorang laki2 sejati !"

"Emangnya aku bukan lelaki sejati, kau bicara demikian kepadaku bukankah sama saja seperti lagi kentut ?" teriak orang itu marah2.

Mendengar orang itu dipanggil "Si bongkok" hati Si Soat Ang rada bergerak, buru2 serunya: "Apakah anda adalah Si Bongkok Sakti Berangasan ?"

"Kalau sudah tahu diriku, lebih baik cepat enyah dari sini, dari pada mendapat perlakuan kasar dariku." teriak orang itu dengan suara kasar.

Si Soat Ang terkejut bercampur girang, baru2 teriaknya: "Si bongkok cianpwe aku memang datang ke mari untuk

mencari dirimu, aku datang dari luar perbatasan, dengan ribuan li datang kemari..."

Belum habis ia bicara, terdengar si bongkok sakti berangasan telah berteriak keras:

"Sudah..sudah, tidak main lagi, tidak main lagi. aku ada urusan. anggap saja permainan catur kali ini aku yang kalah

!"

Diikuti bagaikan segulung angin puyuh ia meluncur turun kebawah.

Gerakan tubuhnya amat cepat bagaikan sambaran kilat. sebelum Si Soat Ang sadar apa yang telah terjadi, dihadapannya telah bertambah dengan seorang lelaki bercambang, berambut awut2an dan berwajah bengis, sepasang matanya tajam bagaikan kilat, pokoknya mengerikan sekali.

Si Soat Ang tarik napas panjang2, ia mundur selangkah kebelakang, sebelum sempat mengucapkan sesuatu, si Bongkok Sakti berangasan itu sudah membentak keras:

"Aku sama sekali tidak kenal dengan dirimu. apa maksudmu datang mencari aku ?"

Si Soat Ang mengeluh, pikirnya:

"Kalau tahu sibongkok sakti begitu mengerikan, aku tidak akan datang.." Namun urusan sudah ada didepan mata, terpaksa ujarnya dengan cepat:

"Aku adalah sahabat Tong-poei Pek, kami berkenalan diluar perbatasan."

Mendengar disebutnya nama Tong-poei Pek. sikap sibongkok sakti rada lunak sedikit namun ia bertanya kembali dengan nadi menekan.

"Kiranya kau adalah sahabat keparat cilik itu kalau dia masih ingat diriku, masih berapa lama ia baru pulang?"

"Dia . . . dia . . ."

"Ayoh cepat jawab!" hardik si bongkok sakti berangasan tidak sabaran lagi, "Kalau bicara dihadapanku lebih baik berterus terang dan lancar, kalau mandek2 lagi, jangan salahkan aku kalau kutampar pipimu!"

"Baik, baik," jawab Si Soat Ang ketakutan. wajahnya pucat menghijau, "Maksudku . . . Tong poei Pek tidak bakal pulang lagi."

"Hmm! tidak akan pulang lagi? kenapa? apakah dia sudah angkat guru lain?"

"Bukan, dia sudah mati." jawab sang gadis dengan hati sedih.

"Apa?" teriak sibongkok sakti, badannya mencelat dua tombak ketengah udara, kemudian se cepat kilat kelima jarinya mencengkeram bahu gadis itu erat2.

Si Soat Ang merasakan kelima jari tangan si bongkok sakti itu kuat bagaikan jepitan besi, saking sakitnya seluruh badan gemetar keras, tak kuasa lagi ia menjerit keras.

Namun jeritannya sirap oleh teriakan aneh dari si bongkok sakti yang keras bagaikan geledek itu. "Apa yang kau katakan?" teriak si bongkok sakti, "Tong poei Pek telah mati? bagaimana dia bisa mati?"

Sementara itu dari atas pohon siong kembali melayang turun seseorang, sambil mencelat datang iapun berseru.

"Tongpoei Pek bagaimana bisa mati? eeeeeii bongkok, lepaskan nona itu, biarlah dia berbicara per-lahan2.

Waktu itu saking sakitnya hampir2 Si Soat Ang jatuh tidak sadarkan diri, untung orang itu datang tepat pada waktunya.

Mendengar teguran tersebut, si bongkok sakti segera lepaskan tangannya, dengan sempoyongan ia mundur beberapa langkah kebelakang.

Ketika itulah ia dapat melihat orang yang berada disisi si bongkok sakti adalah seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang punya perawakan tinggi kurus, bajunya sederhana namun kelihatan sangat berwibawa.

"Nona, siapakah namamu ?" tanya orang itu halus. "Aku bernama Si Soat Ang."

"Ooouw . , . . nona Si, kau datang dari luar perbatasan entah apa sangkut pautnya dengan Si Liong dari benteng Thian It Poo ?"

Mengungkap soal ayahnya, gadis itu teramat sedih. "Dia adalah ayahku almarhum !"

"Aaaah, kiranya Si Poocu sudah meninggal, kapan terjadinya peristiwa itu ?"

Si Soat Ang amat sedih, isak tangisnya menjadi keras, belum sempat ia menjawab, si bongkok sakti sudah tidak sabaran lagi ia naik pitam, sambil menarik tubuh kakek tua itu teriaknya: "Eeeei Cioe Lo-jie, dari mana datangnya begitu banyak omongan tak berguna ?"

Dasarnya Si Soat Ang cerdik, mendengar sebutan "Cioe Loo-jie" itu, ia teringat akan seseorang buru2 serunya:

"Cianpwee, bukankah anda adalah Im Tiong Hok atau burung Bangau ditengah Mega Tjioe Jie-hiap diantara Tiong Tiauw Sam Yu ?"

"Benar, aku pernah berjumpa muka dengan ayahmu beberapa tahun berselang ?"

Kini Si Soat Ang jadi gembira, sebab ia tahu ilmu silat Tiong Tiauw Sam Yu amat lihay, lagi pula si elang ditengah megah Tjioe Piao Thian adalah sahabat ayahnya, kemungkinan besar ia dapat belajar silat darinya.

Karena ada rencana ini. buru2 ia jatuhkan diri berlutut. "Menjumpai paman Tjioe Jie Siok."

Sibongkok sakti makin tidak sabaran lagi, ia mencak2 kegusaran, teriaknya kalang kabut.

"Maknya, , . neneknya, . . kenapa sih kalian bicara melulu, bagaimana dengan nasib Teng-poei Pek, kenapa tidak disebutkan terus?"

"Hey bongkok, kenapa kau mencak2 terus ." tiba2 Tjioe Pian Thian berpaling dan menegur gusar, "Tong-poei Pek sudah mati, buat apa kau begitu gelisah ? dianggapnya setelah berbuat begitu lantas dia bisa hidup lagi ?"

Si bongkok sakti amat mendongkol, ia gertak giginya keras 2.

"Tong poei Pek bergebrak dulu melawan Loei Sam" tiba2 Si Soat Ang menimbrung,

"Neneknya, siapakah Loei Sam itu ?" "Dia adalah murid dari Si Thay sianseng."

"Apa . . . " Si bongkok Sakti menjerit keras badannya mencelat lima, enam tombak ketengah udara, telapak tangan bergerak berbareng , . . , Kraaak sebuah batang pohon yang amat besar tak ampun lagi kena terbabat putus jadi dua bagian.

"Si Thay , , , Si Thay , , , kurang ajar. lihat saja nanti. aku akan adu jiwa dengan dirimu" teriaknya keras 2.

Sementara itu Coe Pian Thian cuma menggeleng berulang kali,

"Hian tit-li. Si Thay sianseng adalah tokoh sakti dari aliran lurus" katanya "Mana mungkin muridnya bila bergebrak melawan Tong-poei Pek ? mungkin kau salah mendengar."

"Tadi aku belum habis bicara." Si Soat Ang tertawa getir, "Loei sam memang anak murid Si Thay sianseng, namun ia sudah memperkosa putri kesayangan Si Thay sianseng dan kemudian melarikan diri, Si Thay sianseng sendiripun sudah mengutus anak muridnya untuk menangkap ia kembali."

Setelah menghantam patah batang pohon tadi, tubuh si bongkok sakti langsung meluncur keluar, ditinjau dari sikapnya jelas ia hendak berangkat kegunung Go bie untuk bikin perhitungan dengan Si Thay sianseng.

Namun, beberapa patah kata terakhir dari sang gadis menahan badannya bergerak lebih jauh, sambil berpaling teriaknya:

"Seberapa lihay ilmu silat yang dimiliki keparat cilik itu ? kok begitu hebat bisa merobohkan Tong-poei Pek ?" "Dia bukan tandingan Tong-pei Pek, toako terbokong olehnya sehingga terluka parah. Si Hiat goan-sin koen lah yang memerintahkan aku mengirim dia balik kegunung Lak Boan san"

"Ehmm , . , si monyet tua ini rada baikan hati." Si bongkok sakti mengangguk. ”Akhirnya bagaimana ia bisa mati ?"

"Setibanya di kaki gunung Soat San, napas Tong-poei Pek tinggal senin kemis, aku dengar orang bilang hanya dengan jinsom seratus tahun saja dapat menahan jiwanya sampai sepuluh hari, aku lantas pergi cari jinsom, siapa sangka salah memasuki sarang Soat-san Sam Mo, sedang Tong poei Pek pun ada ikatan dendam dengan mereka..."

"Kalau begitu Tong poei Pek mati ditangan orang itu" kembali si Bongkok sakti berteriak.

"Aku tidak tahu, aku hanya melihat si tengkorak emas Ciang Ling membawa anak buahnya berangkat kerumah penginapan untuk menangkap Tong poei Pek aku duga Toog-poei Pek pasti sudah terjatuh ke tangan mereka aku... aku tidak tahu bagaimana keadaannya yang pasti..."

"Setelah jatuh ke tangan mereka bertiga tentu saja mati," gembor sibongkok sakti marah2, "Neneknya. apa yang kau lakukan? mengapa tidak kau selamatkan jiwanya? bukankah kau mengatakan dirimu adalah sahabatnya?"

Si Soat Ang tidak menyangka Si bongkok sakti dapat menegur dirinya, pucat pias selembar wajahnya, ia tunduk rendah rendah.

"ilmu silatku rendah, aku sadar bukan tandingan mereka, adu jiwapun percuma saja !"

"Sudahlah..." buru 2 Tjioe Pian Thian me nimbrung "Kalau diapun ikut adu jiwa, siapa yang datang mengabarkan kematian Tong poei Pek kepadamu, kalau sampai diapun mati, kan Soat-san Sam Mo yang enakan?"

"Baik, kalau begitu aku akan berangkat kesana, akan kubeset kulit kepala Soat-san Sam Mo."

Sambil berteriak ia melotot kearah Tjioe Pian Tbian, seakan-akan sedang berkata:

"Kali ini kau hendak mengucapkan apa lagi untuk mencegah kepergianku."

Tjioe Pian Thian tertawa.

"Eeeeei bongkok, bukan saja Soat san Sam Mo berani mengganggu anak muridmu, berani pula melepaskan gadis ini untuk memberi kabar kepadamu, aku lihat mereka tentu mempunyai tulang punggung dibelakangnya."

"Aaaah benar," Si Soat Ang segera menambahi, "Aku lihat si Malaikat kelabang emas Li-Siauw pun berada disana."

"Hmm. manusia macam apakah malaikat itu? mau apa kalau kubeset sekalian kulit kepalanya"

"Bukannya aku tak suruh kau kesana, seandainya mau berangkat sudah sepantasnya kalau beri kabar dulu pada hujien sana." ujar Tjioe Pian Thian, "Lagi pula persoalan ini menyangkut murid murtad dari Si Thay sianseng, sudah sepantasnya kalau kaupun kasi kabar pula kepada Si Thay sianseng."

Begitu Tjioe Pian Tbian mengungkap soal istrinya, sikap sibongkok sakti ini seketika jadi luluh, bahkan nada perkataanpun jauh lebih halus.

"Aaah benar ucapanmu sedikitpun tidak salah " ia membenarkan, "Namun apa yang harus kukatakan ? kalau mengatakan Tong-poei Pek bocah keparat ini terjadi peristiwa diluar dugaan ia tentu bersedih hati."

"Ajukan saja alasan yang rasa2nya rada sesuai." "Baiklah, tentang Si Thay sianseng sana, terpaksa harus

merepotkan dirimu untuk memberi kabar." kata si Bongkok

sakti sambil mengangguk. "Nona cilik, kemarilah kau sangat berguna untukku."

Si Soat Ang tidak mengerti apa maksud ucapan dari si bongkok sakti, belum sempat ia bertanya tangannya sudah ditarik untuk diajak pergi, gerakannya cepat seakan2 diajak terbang di angkasa saja.

Angin men deru2. entah berapa jauh telah mereka lewati, tahu2 si bongkok sakti itu berhenti disuatu lembah gunung yang indah.

Sekeliling lembah tertutup oleh bukit yang menjulang tinggi keangkasa, ia tak tahu si bongkok sakti itu masuk dari mana ditengah lembah terdapat dua sumber air yang menciptakan sebuah sungai kecil langsung menuju sebuah telaga yang indah dan berair jernih, pohon siong merata di seluruh bukit, puluhan ekor burung bangau ber-main2 ditepi telaga, suatu pemandangan yang menawan hati.

Sebelah timur telaga terbentang sebuah tanah lapang yang penuh dengan bunga aneka warna, maju tidak seberapa jauh merupakan sebuah hutan bambu, ditengah hutan bambu berdiri beberapa petak rumah bambu.

Sejak kecil Si Soat Ang dibesarkan diluar perbatasan yang dingin dan gersang, walaupun sejak memasuki perbatasan banyak pemandangan indah yang telah ia lihat, namun pemandangan seindah dan sehebat ini belum pernah dijumpai. Yang membuat ia tercengang adalah bangunan rumah sibongkok sakti itu, ditinjau dari wataknya yang begitu berangasan dan kasar, tak nyana bisa memiliki tempat kediaman begitu tenang, indah dan menawan hati.

Setelah berhenti berlari. si bongkok sakti berpesan: "Heei, dengarkan baik2. berada dihadapan istri ku jangan

sekali2 kau sebut tentang kematian Tong poei Pek, kalau

tidak akan kukubur dirimu hidup2, bisa diingat ?"

Wajah sibongkok sakti yang sadis dan seram ditambah ancaman yang begitu mengerikan, membuat seluruh tubuh sang gadis gemetar keras.

"Aku tahu, aku tahu" buru2 sahutnya.

Demikianlah Si Bongkok Sakti lantas menarik tangan Si Soat Ang untuk diajak memasuki hutan bambu.

"Toako. apakah kau sudah pulang ?" tiba2 terdengar suara seorang nyonya yang lembut, halus dan merdu berkumandang datang.

"Benar, Cioe Loo jie bukan tandinganku hanya dalam sekejap mata aku berhasil menangkan tiga set permainan akhirnya ia berlalu dengan kepala terlunglai"

Suatu hal membuat Si Soat Ang kaget bercampur tercengang. sewaktu mengucapkan kata2nya barusan si bongkok sakti menunjukkan sikap halus, ramah dan begitu menarik. Jauh berbeda dengan sikapnya yang bengis sadis dan kasar semacam tadi.

"Nah . . . nah . . . toako, kembali kau membohongi diriku agar hatiku gembira." terdengar perempuan itu tertawa merdu "Aku tahu, dalam permainan catur melawan Tjioe jie-ko yang kalah tentu kau, tidak mungkin kau bisa menang." Merah padam selembar wajah si bongkok sakti, ia jadi begitu jengah, se akan2 bocah cilik yang ketangkap basah sedang melakukan perbuatan salah, keadaannya sangat menggelikan sekali.

Setelah berdiri dengan beberapa saat lamanya si bongkok sakti maju mendekat dan berkata:

"Adikku sayang, ada satu persoalan ingin kuberi tahukan kepadamu ".

"Kau ada urusan apa ? katakan saja kepadaku didengar dari suaramu, kembali kau hendak membohongi diriku, toako, benar bukan ?"

Makin merah selembar wajah si bongkok sakti sehingga hampir2 seperti babi panggang, buru2 ia goyangkan tangannya berulang kali.

"Bukan, . . bukan ?"

Si Soat Ang yang selama ini berdiri disamping, hatinya dibikin keheranan setengah mati, pikirnya:

"Persoalan aneh yang ada dikolong langit sungguh banyak sekali macam si bongkok sakti yang tak takut langit, tak takut bumi, ilmu silatnya begitu lihay dan sifatnya begitu kasar dan berangasan, ternyata begitu penurut, halus dan dibikin gelagapan didepan istrinya, Sungguh aneh."

Dalam pada itu terdengar suara langkah kaki dari balik hutan bambu, diikuti munculnya seorang perempuan berbaju putih dengan membawa sebuah bambu, langkahnya amal lambat sekali.

la memakai baju warna putih mulus dan tipis, langkahnya lambat. ditengah hembusan angin gunung yang sepoi2 keadaannya mirip bidadari turun dari kahyangan. Perempuan itu berusia empat puluh tahunan, kulitnya putih mulus, wajahnya cantik, sepasang matanya memandang kedepan dengan mendelong, sedangkan biji matanya sama sekali tidak bergerak, siapapun akan tahu dia adalah seorang buta.

Ketika melihat istrinya munculkan diri, sibongkok sakti makin gelisah dibuatnya, ia garuk sana garuk kemari dengan hati tak tenteram.

Perempuan itu terus berjalan kedepan dan berhenti lima, enam depa dihadapan sibongkok sakti, wajahnya halus, tenang dan penuh senyuman, sama sekali berbeda dengan keadaan suaminya.

Setelah berdiri tegak ia berkata:

"Baiklah, toako. kau hendak mengucapkan persoalan apa

? sekarang katakanlah kepadaku."

Sibongkok sakti makin jengah buru2 sahutnya: "Adikku sayang aku bukan sedang berbohong, kau tahu bukan kalau disampingku ada orang lain ?"

"Aku tahu" perempuan itu mengangguk, "Didengar dari hembusan napasnya, dia tentu seorang nona yang amat cantik, lincah dan cerdik !"

Begitu ucapan tadi diutarakan, Si Soat Ang tersentak kaget, buru2 ia maju kedepan sambil menjura:

"Menjumpai Loo-cianpwee !"

Sembari berkata dalam hati ia tercengang, terang2an ia tahu perempuan itu adalah seorang buta, sedang ia berdiri disana bukan saja tidak buka suara bahkan maju selangkahpun tidak. bagaimana dia bisa tahu kalau dia adalah seorang perempuan ? suatu kejadian yang mencengangkan hati. "Nona, aku rasa kaupun pernah belajar silat, bukankah begitu ? tak usah banyak adat ," ujar perempuan itu sambil lantas menjura.

"Benar, aku pernah ikut ayah belajar ilmu silat."

"Adikku sayang." ujar si bongkok sakti sambil kesempatan itu, "Ayahnya dibunuh mati oleh musuh besarnya, ia datang mohon diri ku untuk balaskan dendam tersebut mau tak mau aku harus pergi, karena itu paling sedikit aku harus tinggalkan dirimu selama setengah bulan."

Dengan tenang perempuan itu mendengar perkataannya sampai selesai, setelah itu baru tersenyum.

"Toako, cerita bohongmu ini disusun kurang sempurna, tak dapat membohongi diriku."

"Bagaimana kurang sempurna susunannya ?" tanya si bongkok sakti cemas.

Begitu ucapan ini diutarakan, bahkan Si Soat Ang pun hampir2 tertawa dibuatnya, terang2an ia sudah mengaku telah berbohong dalam ucapan barusan, sementara ia sendiri masih belum merasa.

Tentu saja Si Soat Ang tak berani tertawa, dengan sekuat tenaga ia menahan rasa geli itu dalam hatinya.

"Toako, kau jangan marah." ujar perempuan itu sambil tertawa "Coba kau pikir, seandainya ayah nona ini tidak kau kenal, mana kau suka membalaskan dendamnya sedang kalau kau kenal mengapa aku tidak tahu?"

Si bongkok sakti tersudut oleh ucapan itu, seketika itu juga ia membungkam dalam seribu bahasa Kembali perempuan itu tertawa.

"Toako sebenarnya apa sebabnya kau hendak meninggalkan tempat ini? cepat katakan padaku." Si bongkok sakti amat malu, mendadak dari rasa malu ia jadi gusar teriaknya keras2:

"Neneknya... mak nya... lebih baik kau jangan bertanya."

"Aaaai..." perempuan itu menghela napas panjang. "Toako, kau adalah suamiku, sedang aku adalah istrimu, kau hendak meninggalkan diriku seumpama aku tidak bertanya hal ini mana boleh jadi."

Hati si bongkok sakti melunak kembali.

"Benar . , benar harus bertanya . . harus ditanya . . memang patut ditanya . . patut ditanya . . ."

"Nah kalau begitu katakanlah sekarang."

"Tentang soal ini. . . aaai adikku Tong-poei Pek telah mengalami celaka diluar perbatasan!"

Sewaktu mengajak Si Soat Ang memasuki hutan bambu tadi. ia berpesan wanti2 kepada gadis itu untuk jangan mengungkap persoalan tentang Tong poei Pek, bahkan mengancam hendak menguburnya hidup2.

Namun sekarang, setelah ia berbohong rahasia itu malah ia sendiri yang mengaku terus terang dihadapan perempuan itu.

Mendengar Tong poei Pek mengalami celaka. seluruh tubuh perempuan itu gemetar keras, air mukanya berubah pucat pias bagaikan mayat.

"Apa ? Pek Jie mengalami celaka ? dia. . . kenapa dengan dia ? Aaai. . . peristiwa apa yang menimpa dirinya ?"

"Nona ini yang datang memberi kabar."

Tiba2 perempuan itu maju kedepan dan menangkap tangan Si Soat Ang, gerakannya lambat sekali namun sangat tepat dan telak. "Nona" ujarnya dengan suara gemetar. "Apa-apa . . kejadian apa yang telah menimpa dirinya? cepat beritahu kepadaku?"

Dalam keadaan seperti ini Si Soat Ang dibikin serba salah, seumpama ia mengaku secara terus terang, si bongkok sakti tentu naik pitam namun kalau tidak diutarakan ia merasa salah, tak kuasa ia melirik sekejap kearab sibongkok sakti berangasan.

Pada saat itu si bongkok sakti pun sedang mengerling kearahnya memberi tanda.

Bagainanapun dasarnya Si Soat Ang adalah seorang manusia cerdik, ia segera dapat menangkap makna lirikan itu, tanpa ragu2 lagi sahutnya:

”Tong poei toako terluka !"

"Aaah. dia terluka? apakah sangat parah?" "Tidak, tidak terlalu parah?"

"Lalu apa sebabnya tidak kau hantar pulang kerumah? mengapa kau berangkat seorang diri"

"Walaupun lukanya tidak begitu parah, namun tak sanggup melakukan perjalanan jauh sebab hal ini bisa mendatangkan celaka baginya."

"Dia. . . sekarang dia berada dimana ?" Kembali Si Soat Ang melirik sekejap kearah si Bongkok Sakti Berangasan. sementara dalam hati mengeluh.

"Dia . . . dia ada dikaki gunung Soat san" sahutnya kemudian "Sekarang sedang merawat lukanya dirumah seorang teman."

Setelah mengetahui pemuda itu selamat perempuan itu melepaskan sang gadis dan putar badan kepada si bongkok sakti serunya: "Toako, nah berangkatlah cepat ?. bawa dia pulang, lebih baik merawat lukanya dirumah saja, toako, aku mohon kepadamu !"

"Adikku, apa maksud ucapanmu ? tentu saja aku segera berangkat, dan kemudian cepat2 kembali."

Si Soat Ang kembali dibuat tercengang, ia tahu Tongpoei Pek adalah murid Si bongkok Sakti Berangasan, dengan demikian istri sibongkok sakti adalah Su-nio dari Tong poei Pek.

Tapi apa sebabnya perempuan itu malah mohon bantuan sibongkok sakti untuk menolong Tong poei Pek ? mungkinkah diantara mereka bertiga pernah terdapat suatu hubungan yang aneh sekali ?

Meskipun dalam hati menaruh curiga, gadis itu tak berani banyak bertanya.

"Adikku, aku hendak berangkat !" kembali si bongkok sakti berseru.

"Kau... kau sendiripun harus ber-hati2, seandainya aku memiliki ilmu silat tentu akan kusertai kepergianmu ini."

”Lebih baik kau menantikan kabar baikku disini saja, aku akan tinggalkan nona Soat Ang untuk menemani dirimu, asalkan Tiong-tiauw Sam Yu ada waktu, tentu mereka datang menjenguk diri mu, Nah, aku pergi dahulu

!"

Sembari berkata dengan berat hati ia mundur selangkah demi selangkah kebelakang, kemudian putar badan dan laksana kilat berlalu dari sana, dalam sekejap mata lenyap tak berbekas.

Setelah sibongkok sakti berlalu, dalam hutan bambu itu tinggal Si Soat Ang serta perempuan itu dua orang. Sambil mencekal tangan sang gadis, ujar perempuan itu:

"Kemarilah, ceritakan kisah tentang Tong poci Pek kepadaku?"

Si Soat Ang amat bersedih hati, namun ia menjawab juga:

"Baik cianpwee !"

"Ah tak usah menyebut diriku sebagai cianpwee bagaimanapun aku tak kenal ilmu silat, sedang si berangasan she Aow... nona Sie, coba ceritakan bagaimana kau bisa kenal dengan Tong-poei Pek?"

"Bibi Hu. berhubung Tong-poei toako harus menolong aku, maka ia mengikat dendam dengan seorang yang bernama Loei Sam !"

"Aaaai...manusia yang bernama Loei Sam itu apakah berkepandaian sangat lihay ?"

"Kepandaiannya sih tak bisa menandingi Tong poei toako, namun siasat serta akal liciknya banyak sekali. Tong- poei toako kena dibokong olehnya, karena itu ia terluka parah."

Sembari berkata kedua orang itu berbareng menerobosi hutan bambu, beberapa kali Soat Ang ingin membimbing perempuan itu namun setiap kali ditolaknya dengan halus.

Begitulah mereka berdua memasuki hutan bambu dan tiba didepan beberapa pucuk rumah bambu yang sunyi dan bersih itu.

Perempuan itu berhenti didepan rumahnya, kemudian berkata:

"Nona Si beritahu kepadaku, sebenarnya bagaimana keadaan Tong poei Pek?" Mendapat pertanyaan seperti ini secara mendadak, jantung Si Soat Ang berdebar keras ia jadi kelabakan dibuatnya.

"Kan tadi sudah kukatakan dia... dadanya terluka parah!"

"Nona Si apakah hubungan kalian berdua sangat erat?" tanya perempuan itu lagi sambil mencekal tangan Si Soat Ang.

"Be. . . benar!"

"Aaaai . . . engkoh berangasan memang sangat baik terhadap diriku, namun... namun seandainya Tong poei Pek tertimpa nasib malang maka aku , , . aku "

Bicara sampai disitu ia menangis terisak, walaupun ucapannya tidak diteruskan, namun Si Soat Ang pun mengerti apa yang hendak di ucapkan lebih jauh.

Rasa curiga yang menyelimuti benak Si Soat Ang makin tebal sejak semula ia dapat menemukan kalau adanya hubungan istimewa antara perempuan ini dengan Tong poei Pek, kini setelah melihat dia menangis, curiganya makin menghebat.

Pastilah hubungan kedua orang itu bukan terbatas sampai hubungan murid dengan ibu gurunya belaka.

Walaupun dalam hati keheranan, Si Soat Ang tidak enak banyak bertanya, ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Setelah menangis beberapa saat lamanya, perempuan itu baru melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruangan dan duduk diatas sebuah kursi bambu.

Si Soat Ang rada kelabakan dibuatnya, terpaksa ia hanya berdiri tegak dihadapannya dengan wajah mendelong. Lewat beberapa saat kemudian terdengar perempuan itu berkata kembali, "Nona Si, mungkin kau tidak tahu, Tong Poei Pek adalah putraku!"

Si Soat Ang sangat terperanjat, untuk sesaat ia tak tahu apa yang harus dilakukan, beberapa waktu kemudian ia baru berkata.

"Kau, . . tadi bukankah kau beritahu kepada ku, kalau Lie Hwiee cianpwee she Auw ?"

"Benar, namun Tong-poei Pek kulahirkan sebelum menikah dengan toako bongkok !"

Si Soat Ang merasa amat jengah, bagaimana pun dia masih gadis perawan bahkan barusan saja berkenalan dengan perempuan ini namun perempuan itu sudah mengajak dia untuk membicarakan banyak persoalan yang seharusnya tidak pantas diceritakan kepada orang lain.

Si Soat Ang tak bila mengatakan ia ia kecuali berseru. "Ooooow . . kiranya demikian."

Kembali perempuan itu menghela napas panjang.

"Nona Si, perkataan semacam ini sebetulnya tidak pantas bagiku untuk menceritakan kepada orang lain, namun berhubung kau sangat baik terhadap Tong poei Pek maka kuutarakan kepadamu."

"Bibi, kau terlalu merasa kuatir, aku pikir. . setelah cianpwee berangasan tiba diluar perbatasan, ia tentu bisa membawanya pulang."

"Nona Si seandainya kau berjumpa lagi dengan dirinya, jangan sekali2 menceritakan apa yang kuutarakan kepadamu barusan kepadanya, selama ini ia tak tahu kalau aku adalah ibu kandungnya." "Bibi, mengapa kau mengelabuhi dirinya ?" tanya gadis itu dengan nada tercengang.

Perempuan itu menghela napas panjang, ia membungkam dalam seribu bahasa.

Mengetahui perempuan itu tentu mempunyai rahasia yang tidak enak diceritakan kepada orang lain, Si Soat Ang pun tidak bertanya lebih jauh.

Kedua orang itu duduk saling berhadapan dengan mulut membungkam, suasana hening, sunyi . . . sepi...

Beberapa saat kemudian perempuan itu baru berkata lagi:

"Berada bersama diriku, tak usah kau repot melayani segala keperluanku, walaupun sepasang mataku buta. namun sudah lama tinggal disini, ketajaman perasaanku tidak kalah dengan pandangan mata orang lain, hanya sayang aku tak bisa melihat dirimu."

Bicara sampai disitu mendadak ia membungkam dan pusatkan perhatiannya untuk mendengar.

"Eeei... sungguh aneh sekali, kenapa ada orang datang ?" Pada saat ini Si Soat Ang tidak mendengar apapun juga,

ia jadi tertegun dibuatnya.

"Apa yang telah berhasil kau dengar ? apakah ada sesuatu ?"

"Benar, ada dua orang datang mendekati rumah kita." "Mungkin Tiong tiauw Sam Yu datang menjenguk

dirimu ?"

"Tidak, tidak mungkin" buru2 perempuan itu menggeleng. "seandainya orang yang sudah kenal, maka sejak semula mereka sudah buka suara. Si Soat Ang jadi sangat terperanjat.

"Apakah ditempat ini seringkali kedatangan orang yang tidak dikenal ?" tanyanya.

"Tidak, selama sepuluh tahun aku berdiam di sini baru untuk pertama kali ini tempat kediamanku kedatangan orang luar. ditinjau dari langkah kakinya yang ringan dan cepat, jelas orang itu adalah tokoh dunia persilatan, kau tak usah gelisah biarlah aku yang menghadapi kedatangan mereka."

"Kau... bagaimana kau bisa tahu kalau hatiku sedang gugup dan gelisah ?" tanya gadis itu sambil tertawa getir.

"Dari napasmu yang memburu, walaupun aku tak dapat melihat bagaimanakah perubahan air mukamu pada saat ini, namun aku dapat mendengar semua gerak gerikmu dengan jelas, coba kau dengar, bukankah langkah kaki kedua orang itu sudah semakin mendekati kediaman kita ?"

Dengan pusatkan perhatiannya Si Soat Ang mendengarkan namun kecuali angin sepoi2 yang berhembus lewat menimbulkan suara berisik dari bambu yang bergoyang tiada suara lain bergema memecahkan kesunyian.

Lama sekali ia memperhatikan namun tidak menangkap sesuatupun.

"Tidak ada aku . . tidak ada..."

Belum selesai ia berbicara, mendadak ia mendengar adanya suara langkah kaki manusia berkumandang datang, langkah kaki itu datangnya sangat cepat dan gesit, dalam sekejap mata mereka sudah makin dekat, diikuti dari luar hutan bambu berkelebat lewat bayangan manusia.

"Mereka sudah datang !" bisik Si Soat Ang lirih. "Apakah kau sudah menemukan mereka ?" tanya perempuan itu dengan suara lirih pula.

"Tidak begitu jelas, sebab hutan bambu terlalu rapat, namun aku sudah dapat melihat warna pakaian yang mereka kenakan agaknya mereka memakai baju warna biru. Aaaah, , . salah satu diantaranya mencekal sebilah golok yang memancarkan cahaya tajam."

Perempuan itu segera tertawa getir.

"Barusan saja engkoh bongkok berangkat, sudah ada orang asing mendatangi tempat ini, sungguh aneh sekali !"

"Apakah perlu aku kejar kembali si cianpwee berangasan yang barusan Berangkat ?"

"Tidak usah, kau takkan berhasil menyandak dirinya, kita lihat saja apa yang hendak dilakukan kedua orang ini"

Kembali Si Soat Ang- menoleh kearah kedua orang itu, tampak mereka berdua sedang menyingkap daun bambu dan berjalan makin mendekat.

Tingkah laku mereka berdua sangat hati2 selangkah demi selangkah mereka maju mendekat, sementara senjata tajam disiapkan dalam cekalan.

Tidak selang beberapa saat kemudian sampai lah mereka didepan rumah, sementara Si Soat Ang dapat melihat jelas raut wajah mereka berdua, ke dua orang itu adalah lelaki setengah baya.

Perawakan kedua orang itu tidak begitu tinggi namun kekar penuh berotot, mereka berhenti dua tombak didepan rumah.

Setelah saling bertukar pandangan sekejap, salah satu diantaranya berteriak lantang...

"Apakah sibongkok sakti berangasan ada dirumah ??". "Tentu saja tak ada dirumah" jawab nyonya sibongkok dengan suara halus dan tenang. "Seandainya dia ada dirumah, kalian berdua tak mungkin bisa mendekat tempat ini bukankah begitu ??",

Si Soat Ang yang bersembunyi disamping jendela dapat melihat keadaan diluar dengan amat jelas, tampak air muka kedua orang itu berubah hebat, salah satu diantaranya kembali bertanya:

"Kalau begitu anda tentunya nyonya sibongkok sakti bukan ?".

"Sedikitpun tidak salah, entah siapakah kalian berdua ?"

Kedua orang itu sama2 tertawa kering, selangkah demi selangkah kembali mendekati gubuk itu sampai lima enam langkah.

"Hujien tak usah bertanya siapakah kami, ada seseorang mengundang hujien untuk pergi menjumpainya." kata mereka berbareng.

"Sepasang mataku sudah buta, siapapun tak dapat kulihat lagi, lebih baik kalian pergi saja dari sini."

"Tidak bisa jadi, orang itu sudah berpesan kepada kami seandainya hujien tak mau pergi maka terpaksa kami harus mengundang dengan kekerasan, harap hujien jangan menyalahkan kami."

"Heee, heee, , . hee, walaupun Tuow cu toako tak ada dirumah, namun ia bakal pulang juga, diantara kalian berdua apakah merasa sanggup untuk menandingi dirinya

?" seru nyonya si bongkok sakti sambil tertawa dingin, "Aku lihat lebih baik kalian berdua cepat2 berlalu, setelah ia kembali aku akan menganggap tak pernah terjadi suatu persoalan apapun, saat itu kalian berdua masih bisa melewati hidup dengan aman tenteram ." Air muka kedua orang itu berubah tiada hentinya, lewat beberapa saat kemudian mereka baru menghela napas panjang.

"Kamipun dipaksa orang untuk berbuat demikian." katanya.

"Keadaan kami serba salah entah bagaimana baiknya, kami harap hujien suka pergi sejenak saja. kami tanggung takkan terjadi peristiwa apapun."

Sementara itu Si Soat Ang telah mempersiapkan cambuk lemasnya ditangan, tempat mereka berdiri tepat dibelakang pintu seandainya kedua orang itu bertindak nekat dan menerjang masuk kedalam ia siap melancarkan serangan bokongan. Oleh karena itu ia tahan napas agar jangan kedengaran sedikit suarapun.

"Sudah kukatakan aku tidak ingin berjumpa dengan siapapun, mengapa kalian banyak bicara ?" seru nyonya sibongkok. Kedua orang itu saling tukar pandangan kemudian berjalan kedepan.

"Seandainya hujien benar2 tak mau pergi, terpaksa kami berdua harus membuat salah kepada sibongkok sakti dan paksa hujien untuk pergi kesana."

Mendengar ancaman itu nyonya sibongkok tertawa geli, terhadap ketenangan yang diperlihatkan perempuan itu, diam2 Si Soat Ang yang ada di samping merasa sangat kagum.

Karena ia tahu kedatangan kedua orang itu membawa maksud tidak baik, jelas suatu bencana kemungkinan besar akan menimpa dirinya, namun nyonya sibongkok sakti ini masih tertawa se akan2 tak pernah terjadi suatu apapun, suatu ketenangan yang patut dipuji. "Bagus sekali !" terdengar perempuan itu berseru, "Tolong tanya siapakah nama besar kalian berdua ? Berani benar menyalahi sibongkok sakti, aku pikir kalian tentu manusia luar biasa !".

Kedua orang itu tertawa sahutnya:

"Kami hanya prajurit2 tak bernama, lebih baik tak usah kami sebutkan siapakah nama kami".

Bicara sampai disitu salah seorang diantaranya telah mendorong pintu ruangan tersebut setelah membuka pintu ia tidak langsung masuk badannya berhenti diluar sedangkan pedangnya segera didorong kedalam, ujung pedang mengancam depan dada nyonya sibongkok sakti itu.

Pada waktu itu Si Soat Ang sedang berdiri di belakang pintu, jaraknya dengan pedang tersebut cuma terpaut dua depa belaka.

Ia bisa melihat pihak lawan, sebaiknya orang itu tak dapat melihat dia yang bersembunyi di situ.

Setelah orang itu menempelkan ujung pedang nya didepan dada perempuan tadi, kembali serunya:

"Nyonya sibongkok, terpaksa kami harus melakukan kesalahan terhadap dirimu."

Belum habis ia berbicara, mendadak Si Soat Ang putar pergelangannya, cambuk lemas yang berada ditangannya dengan disertai hembusan angin tajam menyambar kearah lengan orang itu.

Kepandaian Si Soat Ang dalam permainan cambuk tidak lemah. sewaktu berada dibenteng Thian It Poo seringkali ia berlatih ilmu cambuk tersebut melawan puluhan ekor anjing srigala, dengan telak serangan cambuk tadi bersarang diatas pergelangan tangan orang itu. "Trang . ." cekalannya jadi kendor, dan pedang itu jadi terjatuh keatas tanah, sementara diatas pergelangannya tertera bekas cambuk yang merah sebab membengkak sakitnya luar biasa.

Saking tak tahannya orang itu menjerit keras dan meloncat mundur kebelakang dengan sempoyongan.

"Cepat lari... cepat lari..." teriaknya keras-2. "Si bongkok sakti ada didalam rumah !"

Namun rekannya masih tetap tenang terdengar ia berseru:

"Eeeei... kenapa kau ? bukankah sibongkok sakti telah berlalu, bukankah kita berdua melihatnya dengan mata kepala sendiri ?".

Tangan orang itu gemetar keras badannya sempoyongan keringat dingin setetes demi setetes mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

"Coba kau lihat" ia berseru, "Pergelangan tanganku jadi begini, kemungkinan besar si bongkok sakti telah kembali dengan melalui bukit sebelas belakang".

"Jangan bicara sembarangan." hardik rekannya "Seumpamanya sibongkok sakti berada disini, niscaya ia sudah tunjukkan diri dan me-robek2 kita jadi dua bagian, apakah kau lupa akan gelarnya, dia disebut orang si Bongkok sakti yang berangasan ? aku lihat mungkin ada orang lain sedang main gertak terhadap kita."

Bicara sampai disitu ia lantas pertinggi suaranya dan berteriak:

"Sahabat dari aliran manakah yang berada didalam ruangan ? persoalan ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, aku harap kalian jangan campur tangan, kalau tidak niscaya kami tak akan sungkan2 lagi terhadap dirimu !".

Ingin sekali Si Soat Ang buka suara menjawab pertanyaan itu, namun dengan cepat si-nyonya bongkok sudah memberi tanda kepadanya agar jangan bersuara, diikuti perempuan itu berkata:

"Kalian berdua sudah tahu lihay dia adalah seorang sahabat karib dari toako bongkok, selama hidup orang ini paling pantang berjumpa dengan manusia2 asing macam kalian berdua oleh karena itu barusan memberi sedikit peringatan kepada kalian, kalau kamu berdua masih nekad juga... yaa apa boleh buat lagi."

Diam2 Si Soat Ang kagum akan ucapan nyonya bongkok ini, maka ia membungkam, keadaannya semakin misterius, pihak lawanpun semakin was-was terhadap dirinya.

Terdengar kedua orang itu dengan wajah merengek berseru:

"Nyonya bongkok kau pasti tahu bukan bagaimanakah tabiat orang itu, seandainya kami gagal mengundang kehadiranmu... mungkin baru saja tinggalkan tempat ini, jiwa kami berdua sudah melayang."

Air muka perempuan itu dalam sekejap mata berubah pucat pias bagaikan mayat, tubuhnya gemetar keras sedang keringat mulai mengucur keluar.

Melihat hal tersebut Si Soat Ang keheranan, ia tahu jelas perempuan itu sama sekali tidak takut, namun apa sebabnya secara tiba2 berubah jadi begini ? tentu dibalik ucapan orang2 itu terselip suatu masalah yang tak ingin dia ketahui.

Namun apa yang diucapkan kedua orang itu ? mengapa ia gagal untuk menemukan keistimewaan tersebut ? Terdengar lelaki yang terluka pergelangan tangannya itu berkata:

"Nyonya bongkok, hitung2 kau telah mengorbani jiwa kami, bagaimanapun juga kau kan kenal dengan dirinya, sedang sibongkok sakti pun tak ada dirumah, pergilah jumpai sekejap dirinya...”

Belum habis ia berkata, nyonya bongkok yang duduk diatas kursi mendadak jatuh tertelungkup keatas tanah, ternyata ia jatuh tak sadarkan diri.

Si Soat Ang terkesiap, buru2 ia maju dan memayang nyonya itu.

Namun, baru saja ia memayang bangun perempuan itu, mendadak dari belakang punggung terasa angin tajam menyambar datang, jelas ada orang sedang melancarkan bokongan.

Si Soat Ang terkesiap cambuknya kontan dibalik balas menyerang kebelakang diikuti badannya berputar kencang.

Tampak kedua orang lelaki itu sudah berada didalam ruangan ketika menjumpai diri Si Soat Ang, tak kuasa mereka berseru berbareng:

"Siapakah nona ?"

Si Soat Ang tidak ingin banyak bicara dengan orang2 itu, pergelangannya berputar cepat. Sreet ! Sreet ! Sreet ! secara beruntun ia mengirim tiga buah serangan berantai.

Angin serangan men-deru2 cahaya kilat menyambar kian kemari, bayangan cambuk memenuhi angkasa, kedua orang itu terdesak hebat, dan mundur ke belakang dengan sempoyongan,

Pepatah kuno mengatakan: Sekali bergebrak akan diketahui berisi atau tidak, tiga buah serangan berantai dari Si Soat Ang walaupun gencar dan dahsyat, permainan cambuknya boleh dikata sempurna, namun bukan termasuk ilmu silat kelas satu.

Dalam sekilas pandang, kedua orang itu berhasil menemukan banyak titik kelemahan diantara permainan cambuknya.

Kedua orang itu saling bertukar pandangan, kemudian salah satu diantaranya berkata:

"Nona, kami tiada bermaksud jahat terhadap diri nyonya bongkok, harap kau berlega hati."

"Kalian tak usah banyak bicara." Teriak Si Soat Ang dengan gusar. "Tadi nyonya bongkok sudah berkata tidak akan berlalu mengikuti kalian, buat apa kalian ngaco belo terus disini?"

Melihat gadis itu tak bisa ditundukkan dengan kata2, orang itu segera mencabut keluar pedangnya dan maju mendekat dengan langkah lebar.

Si Soat Ang semakin gusar, tiba2 teriaknya sambil memainkan cambuk.

Cambuknya kembali menyapu ke depan disertai angin tajam, namun gerakan tubuh musuhnya cukup lincah berkelit ke samping diikuti pedangnya menusuk secara beruntun mengirim dua tusukan ke arah belakang.

Mengambil kesempatan bagus itulah, orang tadi bergerak kedepan, sekali sambar ia telah memayang tubuh nyonya bongkok kemudian dibawa keluar dari dalam ruangan.

Gerakan orang itu cepat bagaikan kilat, menanti gadis itu berhasil menegakkan tubuhnya, orang itu dengan memayang nyonya si bongkok telah mengundurkan diri keluar ruangan. Si Soat Ang tidak menyangka ilmu silat kedua orang itu sangat lihay, hatinya terperanjat dan buru2 mengejar keluar.

Baru saja badannya bergerak, lelaki yang berdiri didepan pintu itu segera memapaki kedatangannya, Sreeet Sreeett Beruntun tiga tusukan kilat dilancarkan kedepan, hawa pedang memenuhi ruangan, jalan maju Si Soat Ang seketika terbendung rapat.

Si Soat Ang makin terperanjat, saat itulah ia baru sadar dia bukan tandingan dari kedua orang itu, namun nyonya si bongkok kena ditangkap oleh mereka, bagaimana pertanggungan jawabnya jika si bongkok sakti kembali ? dia pasti akan celaka.

Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia teringat untuk pergi dari sana.

Mendadak suara gelak tertawa berkumandang dari tempat kejauhan, suara itu makin lama makin mendekat dan cepatnya sukar dibayangkan dengan kata2, gelak tertawa tersebut amat nyaring dan lantang membuat siapapun merasa hatinya ber-debar2.

Buru2 Si Soat Ang mendongak ke-luar, tampak seorang sastrawan berusia setengah baya tahu2 sudah muncul didalam hutan bambu itu.

Walaupun usia si sastrawan setengah baya itu sudah hampir mendekati lima puluh tahunan, namun wajahnya masih kelihatan ganteng, gagah dan romantis, gerak geriknya menimbulkan simpatik bagi siapapun.

Begitu tiba disana, sastrawan berusia setengah baya itu tertawa tergelak, kemudian tegurnya.

"Gwat Hun, kau masih saja seperti dahulu, gemar akan tanaman bambu!" Mendadak ia berseru tertahan, kepalanya berpaling memandang kearah kedua orang lelaki itu lalu tegurnya:

"Aku kan suruh kalian berdua mengundang perempuan ini secara hormat dan ramah? siapa suruh kalian main seret seperti itu?"

Sambil bicara tangannya menuding kearah lelaki tersebut, seketika itu juga air muka mereka berubah jadi pucat ke-abu2an, sepasang lutut jadi lemas hingga tak kuasa lagi mereka jatuh berlutut diatas tanah:

"Dia... dia jatuh... jatuh pingsan, oleh karena itu aku... aku memayangnya keluar”

Sepasang alis lelaki setengah baya itu berkerut selintas hawa membunuh yang menggidikkan hati terlintas terbayang diatas wajahnya.

Sekalipun hanya sekilas mata namun cukup membuat siapapun bergidik dan ter kencing2.

Lelaki yang berlutut diatas tanah itu gemetar semakin keras, dengan gigi saling beradu ia anggukkan kepalanya berulang kali, serunya: "Ampun... ampun. . ampun..."

Jelas saking takutnya sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, Waktu itu Si Soat Ang telah berada didalam ruangan, namun ia tertegun setelah menjumpai kejadian itu, ia tidak tahu siapakah kedua orang lelaki yang datang mengundang nyonya si bongkok sakti itu, namun ia mengerti ia sadar ilmu silat kedua orang ini sangat lihay dan jauh berada diatasnya, atau paling sedikit ilmu silatnya sejajar dengan kepandaian silat ayahnya almarhum, atau dengan perkataan lain mereka adalah jago kelas wahid dalam dunia persilatan.

Tapi apa sebabnya mereka begitu ketakutan sampai menunjukkan keadaan macam begini ? Berada dalam keadaan seperti ini, Si Soat Ang sendiripun bingung, haruskah ia munculkan diri atau bersembunyi terus ? jantung berdebar keras menahan ketegangan yang mencekam.

Selintas hawa membunuh telah lenyap dari wajah sastrawan setengah baya itu, dengan sepasang alis berkerut ia berkata:

"Kaupun terhitung jago kelas wahid didalam dunia persilatan kenapa begitu jeri macam gentong nasi ? baik... baiklah mengingat kalian bersikap hormat kepadaku selama ini akan ku beri jenasah yang utuh buat kalian !"

Ketika itu sambil anggukkan kepala, orang itu me rengek2 minta ampun. namun setelah ucapan ini diutarakan badannya jadi kaku, mata terbelalak mulut melongo sementara keringat dingin mengucur makin deras.

Begitu selesai bicara, sastrawan setengah baya itu segera mengebaskan ujung bajunya kedepan.

Kebutan ini tidak begitu kuat terdengar... "Sreeet !" angin dingin menyambar lewat, ujung baju lelaki setengah baya tadi tahu2 sudah berkelebat lewat melalui batok kepala orang itu.

"Kraaak !" kebutan yang lemah lembut dan disangka suatu gurauan oleh Si Soat Ang tadi bersarang diatas batok kepala orang itu dengan telak sekali, tanpa banyak suara lagi orang itu roboh keatas tanah, diatas batok kepalanya muncul sebuah bekas luka yang dalamnya ada setengah coen. seperti batok kepala itu terjepit oleh papan besi belaka.

Demikianlah, tanpa mengeluarkan suara dan didalam waktu singkat, selembar jiwa telah melayang. Begitu rekannya mati, lelaki kedua jadi ketakutan setengah mati, air mukanya berubah semakin hebat, terdengar orang itu dengan suara serak merengek lirih:

"Kami tidak melakukan kesalahan, kau... mengapa kau turun tangan begitu keji ?"

"Oouw... jadi kau tidak puas ?" jengek sisastrawan setengah baya itu dengan suara dingin, lambat2 ia angkat kepala.

Orang itu menjerit aneh, mendadak sepasang tangannya bergerak berbareng, tujuh, delapan macam senjata rahasia berkilauan memenuhi angkasa dengan dahsyat mengurung tubuh orang itu, sementara pedangnyapun bergerak cepat menusuk ke ulu hati sastrawan tadi.

Melihat datangnya serangan sastrawan setengah baya itu tertawa dingin, ujung bajunya bergerak cepat. Braak...braak...braak.. diiringi tujuh delapan kebasan, ketujuh delapan macam senjata rahasia itu berbareng menancap diatas ujung bajunya namun dengan cepat memental dan rontok semua keatas tanah.

Se-akan2 senjata rahasia tadi telah menumbuk dinding baja, tak sebatangpun berhasil menembusi tubuh lelaki sastrawan itu.

Ketika itulah serangan pedang lelaki itu sudah meluncur datang.

Ditinjau dari sikap serta air muka orang itu, tusukan pedangnya ini jelas sudah menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, "Breeet!" ujung baju sastrawan itu kena tersambar dan robek jadi dua bagian! Tidak sampai disitu saja, ujung pedang lelaki itu dengan penuh meneruskan sasarannya menutuk kedada lelaki sastrawan itu. Tiba2 sastrawan setengah baya itu menghela napas panjang tangannya bergerak kedepan, dengan jari tengah serta ibu jarinya ia menjepit ujung pedang orang itu.

Teriakan kesakitan bergema memecahkan kesunyian, mendadak ia lepaskan pedangnya sambil meloncat mundur kebelakang dari kelima jarinya darah segar mengucur keluar dengan sangat deras sementara ia mundur kebelakang sastrawan setengah baya itu menyentil pedang rampasan itu kedepan.

"Criiit!" tidak ampun bagaikan anak panah terlepas dari busurnya pedang tersebut membalik langsung meluncur kearah orang itu menembusi dadanya dan terbenam hingga tinggal gagangnya belaka.

Seluruh tubuh orang itu gemetar keras darah segar muncrat keempat penjuru sambil mencekal pedang untuk dicabut keluar dari dadanya.

Matanya melotot giginya saling gemerutukan, namun ia gagal mencabut keluar pedang itu, akhirnya sambil menjerit ngeri badannya mundur ke belakang dengan sempoyongan kemudian roboh terjengkang keatas tanah.

Demikianlah. jiwanyapun berakhir di ujung pedang sendiri.

Dalam sekejap mata sastrawan berusia pertengahan itu membinasakan dua orang, air mukanya sama sekali tak berubah dengan wajah penuh senyuman ia melanjutkan langkahnya mendekati perempuan istri sibongkok sakti itu.

Sejak orang yang memayang perempuan itu berlutut, nyonya sibongkok sakti ini menggeletak di atas tanah, namun tidak selang beberapa saat kemudian ia sudah siuman dan bangun berdiri sampai sekarang. Sastrawan setengah baya itu dengan wajah penuh senyuman berjalan kedepan nyonya sibongkok sakti, kemudian dengan suara halus sapanya:

"Gwat Hun, Gwat Hun. apakah kau sudah lupa dengan diriku ?"

Suara sastrawan itu lembut dan menarik hati, begitu mempersonakan hingga sukar dilukiskan dengan kata2, membuat siapapun yang ikut mendengar akan merasa nyaman dan terpikat.

Si Soat Ang yang ada didalam rumah tentu saja tahu sastrawan setengah baya itu sedang ber bicara dengan nyonya sibongkok sakti, namun tanpa sebab jantungnya ikut berdebar setelah mendengar ucapan itu.

Terdengar sisastrawan setengah baya itu berkata kembali:

"Aku suruh kedua orang itu datang untuk mengundang dirimu, tak nyana mereka begitu berani menyalahi dirimu coba kau lihat, aku telah membinasakan mereka berdua."

Perempuan itu berdiri kaku, ia tak berkutik sama sekali, air mukanya pucat pias. titik2 air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Gwat Hun kau menangis? kau tidak ingin menangis bukan ?" rayu sastrawan itu kembali dengan suara halus, "Ataukah mungkin karena bisa berjumpa kembali dengan aku, hatimu kegirangan sehingga mengucurkan air mata ?"

Bibir nyonya sibongkok itu bergetar, pada mukanya tak kedengaran sedikit suarapun, namun akhirnya meletup juga suara yang begitu tenang, halus dan sama sekali berada diluar dugaan.

"Aku sama sekali tidak dapat melihat dirimu" ia berkata. "Gwat Hun, apa maksud perkataanmu ?" Seru sisastrawan itu setelah melengak sejenak.

"Apakah kau tak mau memaafkan diriku ? Aaai , . ataukah kau tak ingin berjumpa lagi dengan aku?"

Suara nyonya sibongkok semakin tenang, bahkan ia tertawa dingin.

"Aku sama sekali tak dapat melihat dirimu, sepasang mataku sudah menjadi buta."

"Apa? sepasang matamu..." teriak sastrawan itu amat terperanjat.

Sambil berseru ia maju kedepan, kemudian sambungnya dengan nada cemas.

"Apakah bongkok sibangsat itu bersikap kurang ajar kepadamu mencelakai dirimu jadi be-gini? bongkok bangsat

. . "

Belum selesai ia bicara, mendadak nyonya itu ayunkan tangannya kedepan Ploook! sebuah tempelengan keras dengan telak bersarang diatas pipi sastrawan setengah baya itu.

Walaupun nyonya ini tak paham ilmu silat, namun gaplokan ini cukup berat, ketika itu juga muncul lima buah bekas telapak yang merah dan sembab bengkak diatas pipi lelaki itu.

Walaupun hanya merah membengkak, cukup membuktikan betapa kerasnya tempelengan nyonya itu barusan.

Dengan mata kepala sendiri Si Soat Ang melihat betapa sastrawan berusia pertengahan ini membunuh dua orang jago lihay Bu-lim sekaligus, kini melihat ia digaplok keras oleh nyonya si bongkok, diam2 ia ikut kuatirkan buat keselamatan perempuan itu.

Terdengar nyonya itu dengan wajah pucat pias berseru sepatah demi sepatah kata.

"Aku melarang kau maki toako bongkok dihadapanku, siapapun kularang memaki dirinya di-hadapanku, dia hanya seorang yang benar2 bersikap baik kepadaku."

Sastrawan setengah baya itu tidak gusar, suaranya masih tetap lemah lembut, halus, merdu dan memikat hati.

"Bagaimana dengan aku Gwat Hun ?" ia bertanya, "Apakah aku kurang baik terhadap diri mu ?"

"Dimana pedangmu ?" seru nyonya si bongkok dengan suara gemetar.

"Ada di punggungku !" "Berikan kepadaku !"

"Baik !" buru2 ia singkap bajunya dan sreeet! Sebilah

pedang segera diloloskan dari sarungnya.

Begitu pedang tersebut dicabut keluar, jantung Soat Ang berdetak makin keras ia lihat pedang itu luar biasa dan jauh berbeda dengan pedang biasa, panjangnya hanya dua depa namun memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan mata, tajamnya pasti bukan main, jelas merupakan sebilah pedang kelas satu.

Dengan amat tenang sastrawan setengah baya itu membalik pedang itu, kemudian gagang pedang tadi diserahkan ketangan nyonya sibongkok.

Setelah mencekal pedang ditangan, seluruh tubuh nyonya sibongkok gemetar keras, ia cekal pedang itu erat2 kemudian menempelkan ujung pedang tadi keatas ulu hati sisastrawan tadi. Ia tarik napas panjang2, tangannya yang mencekal pedang lambat2 didorong kedepan ujung pedang makin lama semakin mendekati ulu hati sastrawan itu, dilihat keadaannya seakan2 ia hendak membinasakan orang itu dalam sekali tusukan.

Si Soat Ang yang melihat kejadian ini jadi melengak, tak kuasa ia berdiri menjublak.

Orang Bu lim, siapapun tahu kalau nyonya si bongkok sakti tak pandai bersilat, sedangkan ilmu silat sastrawan berusia pertengahan itu sangat lihay dan dibuktikan sendiri oleh Si Soat Ang dengan mata kepala sendiri.

Sewaktu ditampar tadi ia sudah tidak marah bahkan menyerahkan pula pedangnya agar ditusuk oleh perempuan itu. Apa sebabnya yang terjadi? mengapa sastrawan itu rela dirinya ditusuk? sebenarnya apa hubungan nyonya dengan sisastrawan?

Sementara Si Soat Ang disibukkan oleh pelbagai pertanyaan yang mencurigakan, terdengar nyonya sibongkok berkata dengan suara lamban.

"Sejak dahulu aku sudah ambil keputusan untuk membinasakan dirimu, sekarang aku benar2 hendak membunuh dirimu."

"Kalau benar kau hendak binasakan diriku, mengapa aku harus melarikan diri." sastrawan itu tertawa hambar, "Asalkan kau senang, sekalipun aku harus mati ditanganmu, kenapa aku harus takut? Nah, silahkan turun tangan."

Tubuh nyonya itu gemetar semakin keras.

"Kau jangan anggap aku tak berani turun tangan." serunya. "Aku hendak membinasakan dirimu, dengan tanganku sendiri!" Ujung pedang yang dicekal ditangan makin mendekati ulu hati si sastrawan itu

Namun sastrawan itu tetap tak berkelit, ia hanya menyapa: "Aaai. . . Gwat Hun !"

Mendadak nyonya sibongkok itu mengerahkan tenaga dan mendorong pedangnya menusuk ke-depan, disaat pedang itu berkelebat datang, sastrawan setengah baya itu miringkan badannya kesamping.

"Criiit !" tusukan ini kendali tidak mengenai dada sastrawan itu namun menembusi iganya dengan telak.

Ujung pedang mencabut iganya sedalam tiga coen, darah segar segera mengucur keluar membasahi tubuhnya.

Si Soat Ang yang melihat kejadian itu jadi terkesiap.

Ilmu silat yang dimiliki sastrawan setengah baya ini sangat lihay, namun apa sebabnya ia tak berkelit sama sekali ketika ujung pedang nyonya si bongkok sakti itu menusuk datang ?

Seluruh tubuh nyonya si bongkok itu gemetar keras badannya mundur selangkah kebelakang, kelima jarinya mengendor dan tidak ampun pedang tadi terjatuh keatas tanah.

". . . kau tertusuk ?" ia bertanya dengan nada gemetar. "Benar, tusukanmu telah menembusi igaku... seumpama

kau ingin menusuk diriku sampai mati, nah pungut kembali pedang mustika itu, tambahi satu kali tusukan."

Tubuh nyonya itu gemetar semakin keras, terdengar suaranya berubah makin melengking tajam dan tak sedap didengar.

"Mengapa kau tidak menghindar?" teriaknya "Mengapa kau tidak merampas pedang itu? mengapa kau tidak . . . " "Kau ingin menusuk aku sampai mati?" tukas sastrawan setengah baya itu dengan tenang "Aai . . . mati ditanganmu memang bukan suatu pekerjaan yang enak, namun bisa dirindukan dan diingat selalu olehmu jauh lebih baik daripada aku tetap hidup namun kau selalu . . . selalu membenci diriku."

Belum habis sastrawan setengah baya itu bicara, dari sepasang mata nyonya itu mengucurkan air mata dengan derasnya tak tertahan ia maju kedepan sambil bertanya:

"Kau... kau berada dimana ?"

Sastrawan setengah baya itu merentangkan sepasang tangannya selintas senyuman licik dan keji berkelebat diatas wajahnya.

"Aku berada disini?" sahutnya.

Nyonya sibongkok menjerit keras, ia segera menubruk ke dalam pelukannya dan menangis tersedu2, sedang sastrawan setengah baya itu dengan wajah dihiasi senyuman licik merentangkan tangannya memeluk nyonya itu erat2.

Ketika itulah Si Soat Ang dapat melihat bahwa darah sudah berhenti mengalir dari iga sastrawan setengah baya itu, pakaian dibagian iganya robek, namun justru karena berlubang gadis itu dapat melihat bahwa diantara iganya tergantung sebuah kantongan kulit, dari kantongan itulah darah mengalir keluar.

Dia sendiri, sebenarnya sama sekali tidak terluka, tidak aneh kalau senyuman licik menghiasi wajahnya ternyata ia berhasil menipu nyonya sibongkok itu untuk terpikat kedalam pelukannya.

Sebelum terjadinya peristiwa, ia telah menggantungkan kantongan kulit itu lebih dahulu. Hal ini menunjukkan kalau ia sudah tahu bahwa nyonya sibongkok telah buta, dan sengaja ia datang kemari untuk menipu nyonya itu.

Tetapi, kalau ia sudah tahu bahwa perempuan itu telah buta mengapa sewaktu nyonya itu mengatakan bahwa matanya buta, sastrawan setengah baya ini masih memperlihatkan sikap tercengang ? apa sebabnya ?

Jelas terbukti sekarang, dia memang ada maksud membohongi nyonya sibongkok ! menipu dia agar terjebak kedalam perangkapnya.

Berpikir sampai disitu, tak tahan Si Soat Ang merasakan jantungnya dag dig dug, belum pernah ia menjumpai orang yang menipu seseorang dengan cara licik, menipu seseorang sampai dia begitu percaya.

Si Soat Ang tak tahu apa sebabnya sastrawan setengah baya itu membohongi si nyonya bongkok, namun ia tahu saat ini nyonya itu sudah tidak membenci diri sastrawan itu lagi sedikitnya tidak salah, terdengar nyonya itu sambil terisak nangis sedang berkata:

"Bagaimana lukamu? apa . . apakah serius?"

"Aaaah tidak mengapa, walaupun sedikit sakit, namun siapa suruh tempo dulu aku terpikat perempuan siluman itu, sekalipun lebih sakit juga sudah mestinya."

"Dimana perempuan siluman, Kiem Lan Ho!"

"Setelah mereka ibu dan anak berlalu, aku baru sadar, aku telah berbuat suatu kesalahan besar, segera kucari kalian berdua diujung langit dasar lautan, sampai waktu dekat inilah aku mendapat sedikit kabar tentang dirimu, aku lantas berangkat kemari. Gwat Hui, tak usah kita ungkap kembali kejadian masa silam, sekarang sibongkok ada dimana? aku hendak menjumpai dirinya, hendak kuberitahu kepadanya kalau dirimu akan kubawa kembali, kalau ia tidak setuju maki akan kuajak dia untuk berduel sampai salah satu diantara kita mati."

"Tempo dulu, kau mengusir kami ibu dan anak, hatiku amat sedih, sambil gendong bocah aku siap terjunkan diri kedalam sungai untuk bunuh diri namun ditolong oleh toako bongkok." seru nyonya sibongkok itu dengan menahan isak tangis, "Selama banyak tahun, kami berdua saling menyebut sebagai suami istri namun tak pernah hidup sebagai suami istri sebenarnya, seumpama kau hendak membawa aku pergi, dia tak akan menghalangi, ia akan gembira sekali, hanya sayang saat ini dia tak berada disini."

"Aaaai... Gwat Hun, lalu dimanakah anak kita itu?" Sembari berkata ia angkat kepala dan menengok keempat penjuru, ia berpaling, Si Soat Ang menduga seandainya ia ketahuan keadaan nya bakal runyam. Namun saat ini hatinya sedang kaget bercampur takut untuk beberapa saat tak sanggup gadis ini menguasai diri, sebelum ia sempat bergerak jejaknya sudah ketahuan.

Pada mulanya sastrawan setengah baya itu berdiri, kemudian sepasang matanya laksana pisau belati yang amat tajam memperhatikan Si Soat Ang tak berkedip.

Hati Si Soat Ang tercekat, jantungnya dag dig dug, badannya jadi kaku dan tak sanggup menguasai diri keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Lama sekali suasana hening, kemudian barulah terdengar sastrawan setengah baya itu berkata: "Gwat Hui, sebenarnya apa yang telah terjadi ? bukankah anak kita adalah seorang bocah pria?"

"Benar memang bocah pria, tentu saja seorang bocah lelaki, tahun ini ia telah berusia dua puluh empat tahun."

"Lalu siapakah bocah perempuan itu ?"

"Ooouw! Hampir saja lupa kuberitahukan kepadamu dia adalah nona Si, sahabat karib Pek jie, berhubung Pekjie terluka parah diluar perbatasan maka ia berangkat datang kemari untuk memberi kabar, sekarang si bongkok toako telah berangkat untuk menolong jiwanya."

Sastrawan setengah baya itu mengangguk ia payang tubuh nyonya sibongkok dan lambat-2 berjalan masuk kedalam rumah.

Sambil berjalan ia bertanya:

"Gwat Hun. mengapa kau hanya memberi Pek saja kepada bocah kita ?"

"Benar, aku memberi nama Tong-poei Pek kepadanya, dengan harapan suatu hari kau bisa kembali, waktu itu hatiku sudah berubah hebat maka aku berharap hari cepat jadi terang, karenanya kuberi nama Pek kepadanya, kau tabu akupun beri she Tong Poei juga kepadanya.

"Bagus, bagus sekali !"

Walaupun ia sedang berbicara dengan nyonya sibongkok, namun sepasang matanya melototi diri Si Soat Ang tak berkedip, hal ini membuat seluruh bulu kuduk gadis itu pada bangun berdiri.

Ingin sekali dara itu mundur beberapa langkah kebelakang, namun sepasang kakinya seakan2 terpantek diatas lantai, sedikitpun tak dapat berkutik, suatu siksaan hatin yang hebat sekali. "Gwat Hun, coba kau lihat apakah masih ada barang yang perlu dibereskan ?" akhirnya sastrawan setengah baya itu berkata.

Berulang kali ia menyebut perempuan itu dengan sebutan "Gwat Hun... mungkin itulah nama sebenarnya dari nyonya sibongkok.

"Sekarang aku sudah mendapat kembali dirimu, barang apa lagi yang perlu dibereskan!" terdengar ia menyahut. "Hanya saja Pek jie dia... dia masih berada diluar perbatasan."

"Soal itu gampang sekali bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat keluar perbatasan untuk menyusul dirinya?"

Air mata nyonya bongkok bagaikan hujan gerimis mengucur keluar tiada hentinya, namun kali ini ia mengucurkan air mata bukan karena sedih melainkan karena gembira kegirangan.

"Nona Si." ujarnya sambil membesut air mata. "Aku tahu kaupun ingin cepat2 bertemu dengan Tong-poei Pek, namun aku ada satu persoalan ingin mohon kepadamu."

Si Soat Ang ingin menjawab tetapi lidahnya terasa seperti kaku tak sepatah katapun bisa di utarakan,

Lewat beberapa saat kemudian ia baru bertanya: "U . . . uuuu . . , urusan apa."

"Saat ini juga kami akan menyusul keluar perbatasan, namun belum tentu bisa berjumpa dengan bongkok toako, aku mohon agar kau suka menunggu disini seandainya sibongkok toako kembali, katakan seluruh yang kau jumpai kepada dirinya."

"Semua... semua yang kulihat ?" tanya Si Soat Ang lagi dengan nada gemetar. Apa yang dilihat olehnya termasuk juga siasat licik sastrawan setengah baya itu menipu dan menjebak nyonya sibongkok, namun ia tahu yang dimaksudkan perempuan itu bukan seperti apa yang dipikir karena itu tak tertahan ia balik bertanya.

Nyonya bongkok itu sendiri tak mengerti apa yang dimaksudkan, ia hanya berkata kembali: " persoalan masa silam sudah diketahui semua oleh si toako bongkok, cukup kau ceritakan apa yang kau lihat barusan, ia bakal menjadi paham sendiri !"

Si Soat Ang menunduk, namun ia merasa sepasang mata sang sastrawan yang tajam bagaikan pisau itu masih menempel dibadannya tak berkedip dalam keadaan seperti ini tak ada perkataan lain kecuali mengangguk.

"Baa . . . baik."

"Nona Si, jangan lupa dengan ucapanku ini, sekalipun toako bongkok tidak kembali, setelah Pek-jie berhasil kita temukan, kami pasti akan kembali kesini. Nah selamat tinggal."

"Selamat tinggal." pikiran Si Soat Ang sedang kalut, ia hanya bisa mengucapkan kata2 itu belaka.

"Gwat Hun, mari aku bimbing kau keluar dari sini." sastrawan setengah baya itu segera berseru dengan nada lembut. "Dahulu bukankah kau paling senang kalau aku membawa kau melakukan perjalanan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh ? seringkali kau berkata, berlari dengan ilmu meringankan tubuh se akan2 terbang ditengah awan, bukankah begitu ?"

Sambil berkata ia bimbing tubuh nyonya itu dan berjalan keluar langkah kakinya makin lama makin cepat, dalam sekejap mata ia sudah menerobosi hutan bambu dan lenyap tak berbekas.

-ooo0dw0ooo-