Jago Kelana Jilid 07

Jilid 07

SEJAK semula Loei Sam sudah bikin persiapan ketika sastrawan itu kendorkan tangannya, ia segera putar badannya cepat2.

Dengan perputaran ini hampir2 saja ia saling bertempelan muka dengan pihak lawan, ilmu silat sastrawan itu tidak lemah, melihat gerakan tersebut ia segera sadar bahaya, badannya buru2 mundur kebelakang.

Ketika itulah diiringi segulung angin pukulan Loei Sam menghantam dada sastrawan tersebut, namun berhubungan lawannya sudah keburu mundur maka kendari serangan tadi bersarang telak namun tenaganya sudah jauh berkurang, bokongan ini tidak sampai membuat lawannya cedera.

Namun Loei Sam betul berhati keji, ia sudah menduga serangannya pasti mengenai sasaran kosong, karena itu dalam genggamannya sudah tersedia sebatang senjata rahasia sewaktu serangannya gagal, senjata rahasia yang tipis bagaikan kertas dan panjangnya beberapa coen itu dengan disertai desiran tajam menyambar keiga sastrawan tersebut.

Serangan tersebut bersarang telak, hanya dikarenakan lempengan baja itu amat tipis maka dari mulut luka tidak mengucurkan darah, Sastrawan itu hanya merasakan iganya jadi dingin tersambar sesuatu.

Melihat serangan bersarang telak, Loei Sam bersuit panjang, badannya berkelebat lari kedepan ia tahu sastrawan itu pasti mengejar, tapi justru tujuannya adalah memancing sastrawan itu agar mengejar.

Karena setelah terhajar senjata rahasia seperti itu, asal ia tidak bergerak mulut lukanya akan rapat seperti sedia kala, lain halnya kalau ia mengejar, darah akan bergerak cepat membuat lempengan baja tadi bergeser sehingga mengakibatkan mulut luka semakin besar.

Karena itu sambil melarikan diri, Loei Sam tertawa mengejek tiada hentinya memancing pengejaran dari sastrawan tersebut. Melihat dirinya terbokong, sastrawan itu mendendam, ia pun segera sadar apa yang diucapkan Loei Sam tadi hanya kata2 bohong belaka, tentu saja ia mengejar kedepan.

Demikianlah, dua sosok bayangan manusia laksana sambaran kilat meluncur kedepan dengan kecepatan laksana kilat, dalam sekejap mata lima tujuh li sudah dilewati sementara jarak antara mereka berduapun semakin dekat.

Tiba2 sastrawan itu mengepos napas, badannya mencelat kedepan mendekati Loei Sam hanya berapa depa dibelakangnya.

Sayang seribu kali sayang, pada saat itulah iganya terasa amat sakit, selembar lempengan besi menyembur keluar menyambar lewat dari balok kepala Loei Sam.

Bersamaan dengan menyembur keluar lempengan besi tadi, darah segarpun muncrat keluar dari mulut luka bagaikan sumber mata air, sastrawan itu seketika merasakan hawa murninya menyusut berbareng dengan semburan darah dari tubuhnya.

Rasa kejut yang dirasakan sastrawan tersebut bukan alang kepalang, buru2 ia berhenti mengejar. sepasang kaki terasa jadi lemas dan akhirnya jatuh mendeprok diatas tanah, hawa murninya sudah menyusut enam, tujuh bagian.

Menanti ia sudah menotok jalan darahnya untuk menyetop penyemburan darah secara sia2, bayangan tubuh Loei Sam telah lenyap tak berbekas, bahkan gelak tertawanya pun sudah tak kedengaran lagi.

Sastrawan itu mulai merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, ia roboh keatas tanah sementara permukaan salju yang putih telah berubah merah oleh ceceran darahnya, ia menghembuskan napas panjang dengan sekuat tenaga dicobanya angkat kepala.

Lama sekali ia berusaha, ketika itulah ia temukan dari balik pohon siong dipinggir jalan muncul seorang gadis wajahnya pucat pasi dan penuh rasa terperanjat dengan sepasang mata terbelalak lebar2 sedang memandang kearahnya, orang itu bukan lain Sie Soat Ang.

Si Soat Ang kelihatan ragu2 beberapa saat lamanya, setelah yakin disekitar sana tak ada orang lain, ia baru berjalan keluar dan menghampiri sastrawan tersebut, serunya sambil memayang bangun orang itu.

"Kau . . . bagaimana kau bila menderita separah ini ?" Sastrawan itu tertawa getir.

"Aku . . . karena kurang hati2, aku kena di bokong olehnya !"

Sebetulnya watak Si Soat Ang tidak lebih baik daripada perbuatan Loei Sam, hanya disebabkan berulang kali ia mendapat bencana, bagaimanapun juga saat ini muncullah serangkaian kata2 yang keluar dari liang-simnya:

"Kau . . kau . . kalau bukan demi menolong diriku, kaupun tidak akan dicelakai olehnya !"

"Kau . . . bimbinglah aku bangun !"

Sekuat tenaga Si Soat Ang memayang bangun sastrawan tersebut, namun karena goncangan tersebut darah segar kembali menyembur keluar dengan derasnya dari mulut luka membuat seluruh badan Si Soat Ang berlepotan darah.

Si Soat Ang terperanjat, ia menjerit keras dan buru2 lepas tangan mengundurkan diri ke belakang.

Sekali lagi badan sastrawan tadi roboh keatas tanah, darah segar mengucur keluar semakin deras lagi. Ia tak tahu siapakah sastrawan berbaju putih ini, rasa terima kasihnya orang ini pun tidak seberapa, apa yang dipikirkan saat ini adalah cepat-cepat tinggalkan tempat itu.

Sebelum ia bertindak, tiba2 muncul sesosok bayangan manusia dari tempat kejauhan, gerakan orang itu cepat bagaikan sambaran kilat, dalam sekejap mata sudah hampir dekat dengan tempat tersebut sementara sastrawan baju putih itu jatuh tidak sadarkan diri.

Menanti Sie Soat Ang dapat melihat siapakah orang itu, sepasang kakinya jadi lemas, tenaga untuk melarikan diri seketika lenyap tak berbekas.

Orang yang munculkan diri saat ini bukan lain adalah Hoat Goan Sinkoen yang punya wajah lima bagian mirip manusia tujuh bagian mirip setan itu.

Hoat Goan Sinkoen menyapu sekejap wajah sastrawan itu, mendadak ia melangkah setindak kedepan, sepasang tangannya bergerak cepat menotok tujuh delapan tempat jalan darah ditubuh sastrawan tersebut.

Setelah itu dengan sepasang mata yang tajam ia melototi wajah Si Soat Ang, mulutnya menyeringai seram membuat gadis itu ketakutan sampai jantungnya berdetik semakin keras.

"Hmm! kembali kau yang turun tangan terhadap dirinya!" hardik Hiat Goan Sinkoen.

"Bukan, bukan . . . perbuatanku! Loei Sam yang turun tangan kepadanya peristiwa ini tak ada sangkut paut dengan diriku," buru2 goyangkan tangannya berulang kali.

Mendengar disebutnya nama Loei Sam, air muka Hiat Goan Sinkoen berubah hebat, "Dimana sekarang ia berada?" tegurnya. "Ia melarikan diri kearah depan sana."

Hiat Goan Sinkoen bersuit nyaring, tubuhnya laksana sambaran kilat meluncur kearah mana yang ditunjuk oleh Sie Soat Ang.

Baru saja gadis itu bisa berlega hati mendadak Hiat Goan Sinkoen yang sudah berlalu balik lagi kehadapannya.

Begitu tiba disana, sepasang tangan Hiat Goan Sinkoen bergerak cepat mencengkeram bahu Si Soat Ang membuat gadis ini merasakan seluruh tubuhnya sakit bukan main.

"la betul2 lari ke sana . . . Loei Sam . . . Loei Sam memang lari kearah situ!" serunya dengan gemetar.

"Kau tak usah urusi kemana Loei Sam pergi, orang ini terluka parah, kau harus mengantar pulang kerumah gurunya, aku hendak mengejar Loei Sam dan tak bisa urusi dirinya, kau bisa lakukan pekerjaan ini ?"

"Aku tahu, kau bisa lakukan pekerjaan ini" buru2 gadis itu menyahut, sementara hatipun biia lega.

"Hmm ! kau jangan anggap pekerjaan gampang, pertama lukanya sangat parah setiap saat bisa mati, sepanjang jalan kau harus hati2 merawat dirinya."

Yang dipikirkan Si Soat Ang hanyalah bagai mana meloloskan diri, oleh sebab itu buru2 ia menyahut : "Aku tahu, aku bisa baik2 merawat dirinya."

Mendadak Tiat Goan Siakoen menyeringai keji ancamnya :

"Kalau kau bisa lakukan pekerjaan ini baik2 aku tidak akan banyak bicara, kalau tidak . . . Hmm ! akan kubongkar dan kusiarkan peristiwa pembunuhanmu atas diri Kan Loo jie." Si Soat Ang tertegun dan jatuh mendeprok ke atas tanah dengan badan lemas, sementara Hiat Goan Sinkoen tertawa dingin, ia berputar kehadapan sastrawan berbaju putih itu dan menjejalkan sesuatu kedalam mulutnya, setelah itu laksana kilat badannya meluncur kembali kedepan, dalam sekejap mata saja sudah lenyap tak berbekas.

Si Soat Ang yang mendeprok diatas tanah segera meronta bangun setelah dirasakan Hiat Goan Sinkoen telah pergi jauh, ia menghembuskan napas panjang, putar badan dan angkat kaki melarikan diri dari sana.

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya membuat ia kaget dan berhenti, pikirnya.

"Aduh celaka, ilmu silat Hiat Goan Sinkoen sangat lihay wataknya pun sangat kukuh bahkan tahu pula rahasiaku, ia memerintahkan aku kirim orang ketempat gurunya kalau aku membangkang sampai konangan, bukankah aku yang bakal berabe."

Tetapi pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya "Aku tidak tahu dimanakah rumah guru nya, sedangkan Hiat Goan Sinkoen pun tidak beri tahu kepadaku. aku harus menghantarnya ke mana? Nah inilah kesempatan bagiku untuk melarikan diri, sedangkan tanggung jawab lelaki ini pun tidak akan terjatuh kepundakku."

Ia segera putar badan dan enjotkan badan untuk angkat kaki.

"Nona. jangan pergi dulu" tiba2 sastrawan berbaju putih itu merintih dan berseru.

Si Soat Ang tertegun kemudian berhenti, terlihat olehnya ketika itu si sastrawan sedang meronta bangun, ingin duduk namun setiap kali gagal untuk memenuhi keinginannya. Lama sekali gadis itu tertegun, akhirnya karena takut Hiat Goan Sinkoen muncul kembali disana, ia maju dan memayang pemuda itu duduk.

"Nona, terima kasih atas kesudianmu untuk menghantar aku pulang kerumah guruku, budi ini tak akan kulupakan sepanjang hidup" kata sastrawan berbaju putih itu dengan napas ter-engah2.

Si Soat Ang kembali terkesiap, ia tidak menyangka apa yang diucapkan dengan Hiat Goan Siokoen dapat didengar semua olehnya.

Hatinya sangat mendongkol, namun tak berani diumbar terpaksa ia tertawa.

"Aaah, kenapa kau bisa bicara begini." serunya. "Demi menolong aku, kau telah terluka parah apakah tidak pantas kalau aku menghantar diri mu pulang ?"

"Aah, kalau begitu terima kasih atas kesediaan nona" kata sastrawan itu penuh rasa terima kasih.

"Guruku adalah si Bongkok Sakti berangasan berdiam dibukit sebelah timur gunung Lok Ban San, perjalanan dari tempat ini sangat jauh sekali."

Si Soat Ang adalah putri Thiat It Poocu-yang amat tersohor diluar perbatasan, orang Bu-lim yang singgah ditempat mereka amat banyak, tidak aneh kalau pengetahuan gadis ini amat luas sekali.

Ketika mendengar disebutnya nama "Sibongkok berangasan" air mukanya berubah hebat, ia merasa untung tadi tidak ditinggal pergi, kalau tidak sekalipun Hiat Goan sinkoen bisa dihindari, bilamana si Bongkok Sakti Berangasanpun tahu persoalan ini, maka jalan kematian yang bakal ia terima. Setelah merandek sejenak, ia baru berkata : "Aaah, kiranya Cuang su adalah keturunan Si bongkok Sakti Berangasan, aku she Si bernama Soat Ang, ayahku bernama Si Liong."

"Jadi kau adalah putri kesayangan dari Si Poocu? kenapa keparat tadi bilang. . ."

"Dia bilang apa ?"

"Dia bilang nona Si adalah istrinya !"

"Cis ! mukanya begitu tebal, berani mengaku seenak hati sendiri Hmm, siapa yang sudi jadi istrinya !"

Sementara Si Soat Ang amat gusar, sastrawan berbaju putih itu menghembuskan napas panjang seakan2 telah melepaskan suatu tanggungan berat belaka.

Si Soat Ang tidak memperhatikan sampai disitu, ia bertanya kembali:

"Cuang-su, kau bisa berjalan ?"

"Nona Si jangan panggil aku Cuang-su. aku she Tong Poei bernama Pek."

Si Soat Ang mengiakan. sedang otaknya berputar kencang, ia merasa tugas menghantar sampai kegunung Lak Ban San agaknya tak terhindar lagi, sekalipun begitu ia harus pulang ke benteng Thian It Poo dahulu untuk menjumpai ayahnya.

Dengan paksakan diri Tong Poei Pek merangkak bangun, badannya serasa sangat berat sekali, baru saja ia bangun berdiri badannya jadi lemas dan tak kuasa roboh kearah mana gadis itu berdiri.

Buru2 Si Soat Ang memayangnya. "Aah. tak kusangka aku bisa kena dikecudangi orang sampai terluka demikian parah !" desis Tong Poei Pek sambil tertawa getir.

"Kau...apakah kau kena dikecudangi oleh Loei Sam sampai terluka macam begini ?"

"Apa? Loei Sam ? orang tadi bernama Loei Sam ?" seru Tong Poei Pek dengan tubuh tergetar keras.

"Benar dia adalah anak murid Si Thay sian-seng, tetapi. .

."

Bagaimanapun juga Si Soat Ang adalah seorang gadis, ia

merasa kurang enak untuk bercerita bagaimana Loei Sam telah menodai sumoay nya, karena itu sembari membungkam wajahnya berubah merah jengah.

"Aku sudah tahu." Tong Poei Pek segera menyambung, "Si Thay sianseng telah mengabarkan kepada semua orang Bu-lim agar menangkapnya kembali kegunung Go bie, Aaai! agaknya pembalasan dendam atas bokongannya ini tak bisa kutuntut dengan tangan sendiri !"

Maksud ucapan tersebut amat jelas sekali pada akhirnya Loei Sam tidak bakal lolos dari tangan Si Thay sianseng.

Si Soat Ang yang mendengar ucapan itupun merasa berlega hati, sebab sepanjang hidupnya ia tak pernah takut kepada orang lain kecuali seorang yaitu Loei Sam. .

Sambil gertak gigi serunya:

"Manusia macam ini sudah seharusnya mendapat pembalasan yang setimpal. . ."

Tiba2 seluruh tubuhnya gemetar keras teringat akan kata2 "Pembalasan yang setimpal" iapun teringat kembali perbuatan terkutuk yang pernah ia lakukan, segera ujarnya: "Lukamu sangat parah, bagaimana kalau kita beristirahat dahulu didalam benteng Thian It Poo?"

"Nona Si, aku . . . aku ingin cepat2 kembali ketempat kediaman guruku, kalau tidak aku pasti takkan kuat menahan diri!" buru2 Tong Poei Pek berseru sambil tertawa sedih.

"Tentu saja kita tak boleh lama2 dibenteng Thian It Poo, bagaimana juga berangkat keselatan kita harus melalui benteng Thian It Poo, disana kita persiapkan kereta serta kuda bukankah perjalanan malah semakin cepat lagi?"

Karena ucapan ini sangat cengli, Tong Poei Pek pun tidak membantah lagi, ia mengangguk.

"Terima kasih atas perhatian nona Si yang mau pikirkan cara tersebut!"

Demikianlah dengan dipayang Si Soat Ang dan dibantu oleh sebatang ranting kayu sebagai tongkat, selangkah demi selangkah Tong Poei Pek bergerak ke depan, berhubung lukanya amat parah mereka sangat lambat sekali untuk tiba dibenteng Thian It Poo mereka membutuhkan beberapa jam lamanya.

Benteng Thian It Poo yang pada hari2 biasa selalu ramai dikunjungi orang, saat ini sunyi senyap tak kelihatan sesosok manusiapun, pintu tebal yang besar kini tinggal sebelah, sepi. . . hening kelihatan amat menyeramkan.

Melihat kesemuanya itu Si Soat Ang tertawa getir, serunya keras2: "Tia ! Ayah ! kau ada di mana ?"

Suaranya menggema di seluruh benteng yang kosong, namun tak ada jawaban, suasana tetap sepi, sunyi bagaikan di kuburan. Melihat tiada jawaban yang muncul, firasat jelek segera berkecamuk dalam benak Sie Soat Ang, seluruh badannya jadi merinding.

Dengan memayang Tong Poei Pek mereka masuk kedalam benteng, beberapa saat kemudian tibalah didepan ruang tengah, tangga batu sudah banyak yang hancur akibat pertarungan sengit antara Ciang Oh melawan Hiat Goan Sinkoen tadi.

Dalam ruangan semakin tidak keruan, semua barang hancur berantakan dan tinggal puing2 yang berserakan.

Melihat kesemuanya ini, Tong Poei Pek terkesiap, serunya tak tertahan:

"Nona Si, sebenarnya apa yang telah terjadi ?" "Aai...kisahnya amat panjang, kau beristirahatlah

dahulu. aku hendak pergi mencari ayahku"

Dengan terpaksa Tong Poei Pek mengangguk, namun ditambahi pula dengan beberapa patah kata:

"Nona Si. aku lihat ayahmu sudah tidak berada disini lagi, lebih baik kita cepat2 tinggalkan tempat ini !"

Kontan Si Soat Ang naik pitam setelah mendengar perkataan itu, pikirnya:

"Bangsat ! yang kau pikirkan cuma cepat2 sampai digunung Lak Ban San dan menyelamatkan selembar jiwa anjingmu, kau anggap jiwa ayahku bukan jiwa manusia ?"

Walaupun ia tak berani mengumbar hawa amarahnya, namun ia depakkan kakinya juga keatas tanah sambil berseru ketus:

"Tidak bisa jadi, sehari aku tidak temukan ayahku, satu hari pula tak akan kutinggalkan benteng Thian It Poo ini !" Melihat kekerasan hati gadis itu, Tong Poei Pek cuma bisa menghela napas panjang. sementara Si Soat Ang telah berkelebat keluar.

Gadis ini masih ingat, ayahnya tertarik oleh ucapan Loei Sam dan pergi mencari Ciang Oh untuk selanjutnya tidak pernah muncul kembali. Kemungkinan besar ia masih berada disana.

Karena itu segera berkelebat kearah tembok pekarangan yang tinggi itu, dari sana ia berteriak memanggil ayahnya. Tapi ia tidak memperoleh jawaban, gadis itu mulai mendengar se olah2 ada seorang sedang menghembuskan napas, ia segera mundur dua langkah kebelakang kemudian enjotkan badannya melayang kedalam.

Keadaan halaman dibalik tembok tinggi itu luar biasa, seluruh permukaan salju telan berubah merah oleh darah, dua orang manusia penuh berlepotan darah berguling2 diatas tanah.

Dalam sekilas pandang, siapapun akan tahu kalau mereka berdua sudah kehabisan tenaga, karena itu gerak gerik mereka sangat lambat, sambil berguling masing2 pihak berusaha untuk merobohkan lawannya, tetapi serangan mereka sama sekali tak bertenaga, walaupun bersarang telak di tubuh lawan, namun tidak mendatangkan reaksi apa2 kecuali dengusan napas mereka makin keras.

Melihat peristiwa tersebut Sie Soat Ang terkesiap sebab dalam sekilas pandang ia kenali salah satu diantara mereka berdua bukan lain adalah ayahnya Thiat Poocu.

Si Soat Ang berteriak keras, ia meloncat turun dan menginjak punggung orang itu keras2 kemudian sekali sambar ia angkat badan orang tadi dan dilemparkan jauh2 dari kalangan. Ternyata orang itu bukan lain adalah sitelapak berdarah Tong Hauw adanya.

Segera tubuh ayahnya dipayang, namun badan Si Liong sudah lemas tak bertenaga, seluruh wajahnya penuh dengan darah beku.

Melihat keadaan dari ayahnya, Si Soat Ang tercelos hatinya, ia merasa seluruh badannya gemetar keras, mulutnya terbentang lebar namun tak sepatah katapun dapat diutarakan.

"Soat Ang . . ." Akhirnya Si Lionglah yang buka suara lebih dahulu, "Aku . . aku tak bisa . . tak bisa mengurusi dirimu lagi, sungguh menggemaskan . . Liem Hauw Seng . . keee . . . keparat licik itu . . ."

Berada dalam keadaan seperti ini ternyata ayahnya masih mengingat Liem Hauw Seng, hal ini membuat Si Soat Ang amat sedih, ia gertak giginya kencang2.

"Tia. kau tak bakal mati!" serunya. Si Liong tertawa sedih.

"Aku sudah hampir mati, Ang-jie, ada suatu persoalan ini tak pernah kuceritakan kepadamu kau . . . kau . . ."

Napasnya terengah-engah, sulit baginya untuk meneruskan kembali kata2nya.

"Tia. bicaralah per-lahan2?" ujarnya kemudian setelah tertegun beberapa saat.

"Tidak bisa, aku harus berbicara dulu lalu baru. . . baru mati, Ang-jie, sewaktu tempo dulu aku . . aku pergi kedaerah Biauw tujuan terutama bukan lain untuk mencari kitab pusaka Sam Poo Cinkeng yang diberitakan orang lenyap di daerah tersebut, banyak orang Bu lim berangkat kedaerah Biauw untuk mengadu untung termasuk aku sendiri, setibanya disana, aku gagal menemukan kitab pusaka Sam Poo Cin-keng tetapi membawa pulang seorang perempuan, dia adalah Ciang Ooh . . ."

"Tentang kisah itu aku sudah tahu." tukas Sie Soat Ang sambil memayang ayahnya kepinggir tembok, "Tia, kau tak usah bercerita aku sudah mengerti."

Si Liong mencekal sepasang tangan putrinya erat2 lalu ujarnya.

"Tidak, ada satu persoalan yang belum aku ketahui selama banyak tahun ini ilmu silat dari Ciang Ooh sehari lebih lihay dari hari2 berikutnya tetapi ia jadi makin gila, aku curiga . . . . curiga..."

"Tia, apakah kati curiga kitab pusaka Sam Poo Cin keng tersebut sudah terjatuh ketangan Ciang Oh ?" seru Si Soat Ang tersebut.

"Bukannya curiga, tapi suatu kenyataan" jawab Si Liong sambil mengangguk. "Soat Ang, Ciang Oh adalah seorang nenek gila, ia tidak tahu kehebatan dari kitab pusaka Sam Poo Cin-keng tersebut, hanya menirukan lukisan yang adapun sudah berhasil melatih dirinya selihai itu, apa lagi mempelajarinya secara sungguh2 . . . Soat Ang, kau harus berusaha untuk mendapatkan kitab pusaka Sam Poo Cin keng tersebut. . ."

"Tia, saat ini Ciang Oh berada dimana ?" buru buru Si Soat Ang bertanya dengan jantung dag dig dug.

Namun Si Liong tidak menggubris pertanyaan putrinya ini, ia meneruskan kata2nya:

"Kitab pusaka Sim Poo Cin-keng tersebut memuat rahasia ilmu hawa murni tingkat tinggi, seandainya kau bisa mendapatkannya kemudian membuang waktu beberapa tahun untuk mempelajarinya, niscaya kau jadi manusia tanpa undangan dikolong langit, kaupun tak . . tak usah dibawah orang. ."

Bicara sampai disitu mendadak seluruh tubuhnya menjadi kejang. sepasang jari tangannya yang mencekal diatas lengan kiri Si Soat Ang makin keras sehingga terasa amat keras sehingga terasa amat sakit diikuti ia menghembuskan napas panjang, sepuluh jarinya mengendor badannya roboh keatas tanah dan tak berkutik lagi.

Buru2 gadis itu memeriksa pernapasannya ternyata orang tua she-Si itu sudah menghembuskan napas yang terakhir.

Lambat2 Si Soat Ang bangun berdiri, dalam sedetik waktu tersebut ia tak tahu harus menangiskan atau tidak...

Dua hari berselang dia masih seorang nona besar yang dimanja dan dihormati setiap orang, dua hari kemudian perubahan yang terjadi amat besar seakan2 dikolong langit yang demikian luas nya ini hanya tertinggal dia seorang.

Lama sekali ia berdiri mematung sambil menangis hatin entah berapa waktu sudah lewat ia sendiripun tak tahu mendadak terdengar gelak tertawa aneh dari Ciang Ooh.

Pada mulanya gelak tertawa Ciang Ooh yang menyeramkan itu membuat seluruh badannya gemetar keras, diikuti teringat kembali olehnya akan pesan terakhir Si Liong sesaat putus nyawa.

Ia tarik napas panjang, saat ini gadis tersebut sadar persoalan paling penting yang harus segera ia kerjakan adalah mendapatkan kitab pusaka "Sam Poo Cin-keng" tersebut. Setelah memandang sejenak jenasah ayahnya ia enjot badan kemudian meluncur kearah mana berasalnya suara tertawa itu.

Dalam benteng Thian li Poo banyak terdapat ruangan, namun Sie Soat Ang sudah sangat hapal, dalam beberapa belokkan saja suara gelak tertawa dari Ciang Oh sudah kedengaran semakin nyata.

Menanti ia keluar dari balik tembok tinggi, tampaklah Ciang Oh sedang berdiri ditengah halaman sambil tertawa ter-gelak2.

Ia merandek sejenak, kemudian selangkah demi selangkah mendekati perempuan itu sampai akhir ya berhenti empat, lima depa dibelakangnya.

Tiba2 Ciang Oh putar badan, dengan sepasang mata melotot ia awasi Sie Soat Ang, hingga membuat gadis itu mengkirik rasanya. tetapi sewaktu teringat kembali akan kitab pusaka "Sam Poo Cin-keng" rasa takutnya kontan lenyap tak berbekas, sambil keraskan kepala ia tertawa dan berkata.

"Kau . . . apakah kau ingin bertemu dengan putrimu?"

Ia tahu Ciang Ooh sangat kuatir terhadap keselamatan putri kandungnya, karena itu dengan ucapan tersebut ia coba memancing perempuan itu buka suara.

Sedikitpun tidak salah, Ciang Ooh segera tertawa menyeringai sehingga kelihatan sebaris giginya yang putih.

"Dia berada dimana?" tanyanya.

"Aku dapat membawa kau untuk pergi menjumpai dirinya, tetapi aku tak mau membantu dirimu dengan sia2 belaka." buru2 Si Soat Ang menyahut. Agaknya Ciang Ooh tidak tahu apa maksud gadis itu berkata demikian lewat lama sekali ia berkata: "Kau . . ."

Si Soat Ang tertawa paksa.

Mendadak dari belakang tubuh Ciang Ooh berkumandang datang gelak tertawa yang amat nyaring, gelak tertawa tersebut membuat selembar nyawa Si Soat Ang seraya melayang dari rongga badannya dan tak kuasa ia mundur selangkah ke belakang, hampir2 saja gadis ini tak sanggup angkat kepalanya.

Sebab dari suara tersebut, ia dapat tahu kalau Loei Sam telah tiba disana, lama sekali ia baru berani angkat kepala.

Tampak Loei Sam sedang duduk diatas tiang penglari sambil memandang kearahnya, wajah maupun sikapnya tenang sekali.

Mungkin sejak semula Loei Sam sudah berada disana, hanya saja berhubung perhatiannya ditujukan kepada Ciang Ooh seorang, maka ia tidak menaruh perhatian.

Hatinya tercelos, sebab ia tahu saat ini Tong Poei Pik terluka parah, tak mungkin ada orang yang bisa menolong dirinya kecuali Ciang Ooh siperempuan gila tersebut seorang.

Setelah berusaha untuk menenteramkan hati nya ia berkata:

"Ciang Oooh, dengarkan perkataanku bukankah kau hendak menjumpai putrimu ? nah! hajar dahulu orang yang duduk diatas tiang penglari tersebut"

Perlahan-lahan Ciang Ooh berpaling, dan memandang sekejap kearah Loei Sam, sementara pemuda itu sambil tertawa hahahihi memandang kearah perempuan tersebut tanpa menunjukkan sikap apapun. Tiba2 Ciang Oh berpaling, dengan wajah penuh kegusaran ia menghardik "Omong kosong!"

Mendengar secara tiba-2 Ciang Ooh menegur dirinya, Si Soat Ang amat terperanjat buru2 serunya.

"Kau. . bukankah kau ingin menjumpai putrimu ?" "Omong kosong !"

Si Soat Ang jadi amat cemas, pada saat itulah terdengar Loei Sam tertawa ter bahak2. ia melayang turun dari atas tiang penglari dan berseru:

"Nona Si, sungguh amat sayang rencana kejimu untuk pinjam golok membunuh orang menemui kegagalan total!"

Melihat Loei Sim meloncat turun dan Ciang Ooh tak mau mendengarkan perkataannya. Si Soat Ang semakin terperanjat sehingga sukar di lukiskan dengan kata2, buru2 ia mundur ke belakang.

"Tangkap gadis itu !" mendadak Loei Sam berseru. Terhadap ucapan Si Soat Ang, perempuan gila itu sama sekali tidak menggubris sebaliknya begitu Loei Sam berkata. Ciang Ooh segera bergerak kedepan dibarengi kelima jari tangannya laksana cakar elang mencengkeram pundak gadis itu.

Serangan ini bukan saja cepat laksana kilat bahkan diiringi segulung angin serangan yang amat tajam membuat Si Soat Ang tak dapat bernapas, sedikit ia merandak pundaknya terasa sakit dan ia sudah kena dicengkeram oleh Ciang 0h.

Cengkeraman tersebut makin lama semakin kencang, Si Soat Ang merasakan tulang bahunya hampiri saja retak, saking tak tahannya ia menjerit keras2. Di tengah jeritan itulah selangkah demi selangkah Loei Sam berjalan menghampiri ia tertawa menyeringai. setibanya di hadapan gadis itu dengan tangan ia meraba pipinya kemudian mengecup bibirnya yang kecil.

"Nona Si !" katanya, "Aku sudah tahu bahwa suatu ketika kau pasti akan kembali kebenteng Thian It Poo, eeei. ternyata dugaanku sedikitpun tidak meleset !"

Bahu Si Soat Ang kena dicengkeram tak sanggup ia meronta, terpaksa buru2 gadis ini melengos.

Tetapi dengan paksa Loei Sam putar kembali kepala gadis itu sehingga berhadap2an kembali dengan dirinya.

"Nona Si !" ia berkata "Rencanamu sungguh bagus sekali, hendak meminjam tenaga untuk menghadapi diriku, hanya sayang tindakanmu itu sungguh sangat terlambat selangkah, ia sudah percaya hanya aku seorang yang bisa temukan putrinya, bukan begitu ?"

Perempuan gila itu mengangguk tiada henti nya. "Tentu saja cuma kau seorang !"

Sie Soat Ang serunya, ia tahu kali ini benar2 ia mengantar diri kemulut macam.

Dengan bangga Loei Sam tertawa tergelak, tiba-tiba ia mencengkeram pergelangan tangan Sie Soat Ang dan serunya terhadap Ciang Oh:

"Lepas tangan !"

Ciang Oh sangat penurut, ia segera melepaskan jari tangannya dan mengundurkan diri dari kalangan.

"Nona Si !" Seru Loei Sam kemudian sambil tertawa cabul. "Kamar tidurmu berada dimana ? bawalah aku kesana, bagaimana kalau kita guna kan kamar tidurmu sebagai kamar pengantin kita?" Mendengar ucapan itu Sie Soat Ang merasakan pandangan matanya jadi gelap, hampir2 saja ia jatuh tidak sadarkan diri.

"Heeeee... heee... nona Si, apakah kau merasa malu? heee... semakin malu. kau kelihatan semakin cantik."

Sambil berkata, ia cekal dahi gadis itu dan siap diciumnya kembali

Mendadak...

"Loei... Sam.... !" seruan seseorang muncul memecahkan kesunyian.

Suara itu lemah sama sekali tak bertenaga, walaupun cuma dua patah kata namun diantara nya orang itu harus merandek sejenak guna tukar napas.

Loei Sam berpaling tampak olehnya orang itu bukan lain adalah Tong Poei Pek, air mukanya pucat pasi bagaikan mayat, pakaiannya yang berwarna putih separuh bagian sudah dilepoti darah. Waktu itu ia berdiri dengan bantuan tongkat, seluruh badannya gemetar dan sempoyongan boleh dikata setiap saat kemungkinan bisa roboh kembali keatas tanah.

Melihat keadaan tersebut Loei Sam tertawa ter bahak2. Sie Soat Ang pun tahu Tong Poet Pek sudah terluka parah tak mungkin pemuda itu menolong dirinya namun ia masih mempunyai harapan dengan napas ter-engah2 serunya:

"Loei Sam ! dia adalah putra si Bongkok Sakti Berangasan, kau telah melukai dirinya dengan senjata rahasia masih juga kau berani berada disini ? ayoh cepat melarikan diri."

Mendengar disebutnya nama "si Bongkok Sakti Berangasan", air muka Loei Sam berubah hebat. Melihat hal tersebut, timbul harapan didalam hati Sie Soat Ang.

Namun kejadian itu hanya berlangsung sekejap mata. kembali Loei Sam mendongak sambil tertawa ter bahak2.

"Haaa... haaa... haaa... terima kasih atas peringatanmu, dengan adanya ucapan tersebut maka akupun harus membasmi rumput ke akar2 nya. kalau tidak besok dikemudian hari hanya mendatangkan banyak kerepotan saja buatku."

"Loei Sam !" Seru Tong poei Pek dengan napas ter- engah2, "Hiat Goan Sinkoen sudah berada disekitar sini ."

"Aku tahu, Hiat Goan Sinkoen sudah datang, namun ia bisa dihadapi oleh Ciang Oh, apa yang perlu ditakuti?"

"Loei Sam lepaskanlah Sie Soat Ang, aku tidak akan pikirkan soal luka ini didalam hati, dan... akupun tidak akan mengungkapnya kepada orang lain."

Loei Sam mendongak tertawa ter bahak2. "Haa...haa...haa...suruh aku melepaskan dirinya? hal ini

tak bisa kulakukan, aku lebih suka kau pikirkan soal terlukamu itu didalam hati."

Selesai bicara ia ayun telapak tangannya melancarkan sebuah babatan kedepan

Angin pukulan men-deru2 dan meluncur kearah mana Tong Poei Pek sedang berdiri . walaupun pemuda itu masih ada kesempatan untuk meloloskan diri namun berhubung lukanya sangat parah tak sanggup ia berkelit

Tidak ampun lagi badannya tersapu oleh serangan tersebut dan mencelat beberapa tombak jauhnya. kemudian menggeletak tak berkutik lagi. Sehabis menghajar Tong Poei Pek, Loei Sam berpaling kembali sambil tertawa tengik godanya:

"Nona Si. sekalipun kau tak mau beritahu kepadaku dimanakah letak kamar tidurmu, akupun bisa menemukannya sendiri"

Sambil menyeret Si Soat Ang ia berjalan kedepan. belum beberapa langkah ia berpaling kembali dan pesannya kepada Ciang Ooh:

"Kau tunggu saja aku disini, jangan pergi !"

Ciang Oh mengangguk. Demikianlah Loei Sam segera menyeret Si Soat Ang berjalan masuk ke dalam ruangan, setiap menjumpai kamar ia memeriksanya dengan teliti sampai terakhir sampailah mereka di sebuah kamar yang indah dan menyiarkan bau parfum perempuan, sekilas pandang siapapun tahu kamar ini adalah kamar tidur seorang gadis.

"Ha ha ha ha bukankah berada disini ?" ujar Loei Sam sambil tertawa terbahak2.

Si Soat Ang menjerit keras, ia berusaha untuk meronta, namun usahanya gagal sebab seluruh tenaganya serasa lenyap tak berbekas.

"Kalau kau tidak mau turuti kemauanku, aku bisa menotok jalan darahmu. bahkan akupun masih punya cara lain untuk membuat malu diri mu, ayoh kau berani menjerit lagi tidak ?" ancamnya.

Seluruh tubuh gadis she Si itu gemetar keras, "Kau. . . lepaskanlah diriku !"

"Tidak dapat, aku tidak akan melepaskan setiap gadis yang sudah aku pilih, kau tak usah berpikir yang bukan2 lagi !" "Kau... kau..."

Ia cuma bisa berkata "Kau" belaka. atau secara tiba2 Loei Sam mencengkeram badannya kemudian membanting tubuhnya keatas pembaringan.

Ambil kesempatan itu ingin sekali Si Soat Ang meloncat bangun, namun gerakan Loei Sam jauh lebih cepat sepasang tangannya telah bergerak menekan bahunya sambil menunjukan senyuman menyeringai.

Berada dalam keadaan seperti itu hampir2 saja Si Soat Ang jatuh semaput, dengan sekuat tenaga ia coba meronta namun gagal, teriaknya:

"Cepat lepaskan diriku, aku . . . aku akan beritahu kepadamu berita tentang kitab pusaka Sam Poo Cin-keng!"

Perkataan ini sungguh manjur sekali, tiba2 Loci Sam lepas tangan dan mengundurkan diri. Buru2 Si Soat Ang bangun berdiri sambil membereskan rambutnya ia ter engah2.

"Ooouw... kiranya kitab pusaka Sam Poo Cinkeng berada dibenteng Thian It Poo..." Kata Loei Sam sambil tertawa seram, "Bagus sekali, asalkan kau serahkan kitab pusaka Sam Poo Cin keng tersebut kepadaku, kau akan kulepaskan."

Soat Ang bangun berdiri dan melangkah keluar, ujarnya: "Kan lebih baik perkataanmu bisa dipercaya." "Haa.haa...haa...padahal kaupun seorang gadis perawan

yang suci dan patut disayang, berapa kali kau serahkan diri

buat Liem Hauw Seng dan minta pemuda itu menjamah badanmu, namun Liem Hauw Seng tidak mau. kau kira aku tidak tahu tentang persoalan ini ?" Ucapan ini sangat menghina dan menusuk perasaan Sie Soat Ang, sebab justru perkataan inilah tak ingin ia dengar orang lain mengungkapnya.

Namun berada di bawah ancaman Loei Sam. sekalipun hawa amarah sudah serasa mau meledak, gadis itu tidak berani banyak berkutik ia bungkam dalam seribu bahasa.

"Baiklah" ujar Loei Sam kembali sambil tertawa. "beritahu kepadaku dimana kitab pusaka itu berada, asalkan Sam Poo Cin-keng berhasil kudapat, tak akan kuganggu dirimu barang seujung rambutpun"

Si Soat Ang pun tabu siapa yang mendapatkan kitab pusaka Sam Po Cin-keng tersebut, berarti dialah yang bisa malang melintang dikolong langit tanpa tandingan, seandainya Loei Sam berhasil mendapatkan kitab tersebut, maka ia tak jeri terhadap Hiat Goan Sinkoen maupun Si Thay sian seng, tetapi dalam keadaan seperti ini ia merasa menolong diri sendiri jauh lebih penting, karena itu ujarnya dengan cepat:

"Kau... kau harus mengangkat sumpah keji lebih dahulu, kemudian akan kuberitahukan soal ini kepadamu!"

"Bocah bagus, kau janganlah tidak tahu diri kalau membuat aku jadi mendongkol akan kunodai dahulu badanmu, setelah kau jadi milikku, akupun tidak akan takut kau tak suka beritahu kepadaku dimana kitab pusaka Sam Poo Cin-keng tersebut disimpan."

Mendengar ancaman itu Si Soat Ang sangat terperanjat buru2 ia goyangkan tangannya berulang kali.

"Jaa... jangan... jangan... aku akan berbicara kitab pusaka Sam Poo Cing keng tersebut berada didalam kamar rahasia dipuncak pagoda yang biasanya digunakan untuk mengurung Ciang Ooh, ayahkulah yang meletakkannya disitu."

Apa yang diucapkan Si Soat Ang bukan kata2 sejujurnya, namun berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dengan keraskan kepala ia menambahkan:

"Aku tak akan membohongi dirimu".

"Haah... haa... haaa... aku percaya kau tidak akan berani berbohong, tetapi kau harus tahu watakku sangat kukoay sekali. kalau suruh aku mempercayai perkataanku begitu saja sih tidak begini mudah kau katakan kitab pusaka Sam Poo Cin-keng berada dipuncak pagoda kalau begitu mari kita bersama2 setelah kitab tersebut kudapatkan tentu saja aku tidak akan menyusahkan dirimu."

Mendengar perkataan itu Sie Soat Ang mengeluh, ia hanya bermaksud membohongi Loei Sam agar ada kesempatan baginya untuk melarikan diri, siapa sangka pemuda itu minta ia pergi berbareng.

Namun gadis inipun cukup cerdik, ia bersikap masa bodoh dan seakan2 tidak pernah terjadi sesuatu peristiwapun.

"Baik, mari kita pergi ber -sama2 !" jawabnya.

Loei Sim adalah seorang manusia licik, sewaktu mengutarakan beberapa patah kata tersebut dengan telitinya ia memperhatikan perubahan wajah Sie Soat Ang, ia temukan gadis tersebut sama sekali tidak kelihatan gugup, se olah2 apa yang diucapkan adalah kenyataan, hatinya jadi sangat kegirangan.

Sebab apabila kitab pusaka Sam Poo Cin-keng berhasil didapatkan, maka ia ingin berbuat apa semuanya akan berhasil "Bocah-manis mari kita pergi cari bersama" serunya sambil tertawa dan menarik tangan gadis tersebut. Berada dalam keadaan seperti ini Sie Soat Ang pun tidak membantah. ia segera berjalan keluar lebih dahulu.

Tidak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka dibawah pagoda, pintu pagoda tertutup rapat, namun dengan sekali tendangan pintu tadi terbuka lebar. Suasana dalam pagoda gelap gulita, bau apek segera tersiar keluar begitu terbuka lebar.

"Mengapa kuncinya sudah putus ?" tanya Loei Sam dengan nada curiga.

Si Soat Ang tertawa getir, ia tahu mulai sekarang ia harus bertindak lebih hati2 lagi, sedikit saja ia bertindak salah berarti mendatangkan bencana buat diri sendiri.

"Ruang rahasia ini sebenarnya merupakan tempat tinggal Ciang Ooh." ia menjawab perlahan "Se... sekarang ia sudah pergi. tentu saja kuncinyapun putus !"

Loei Sam tidak banyak bicara lagi, ia menarik tangan Si Soat Ang dibawanya masuk ke dalam pagoda.

Suasana dalam pagoda tersebut bukan saja berbau apek dan lembab bahkan gelap gulita sehingga hampir tak kelihatan apapun. Sie Soat Ang dan Loei Sam berdiri dengan menempel di dinding, setelah lewat seperminum teh kemudian mereka mulai dapat melihat secara lapar2, ruangan tersebut dihubungkan dengan sebuah tangga yang menghubungkan ketempat tadi dengan tingkat lebih atas.

Dari tingkat pertama menuju ketingkat kedua tingginya ada tujuh, delapan tombak. dengan cermat Loei Sam memeriksa keadaan disekitar sana, kemudian tanyanya. "Apakah benda itu ada ditingkat paling atas?" sampai saat inilah Si Soat Ang belum berhasil menemukan cara untuk meloloskan diri.

Perasaannya sangat kalut, terpaksa ia mengangguk. "Benar!"

"Baik, kalau begitu mari kita naik keatas " ujar Loei Sam sambil tertawa "Seandainya dalam ruang rahasia itu tidak ada. Hmm... hmm apa yang bakal terjadi dalam ruangan tersebut tentu kau paham bukan?"

Sembari berkata Loei Sam mencengkeram pergelangan tangan Si Soat Ang erat2 kemudian menyentaknya sekuat tenaga, seketika itu juga gadis tersebut merasakan seluruh tubuhnya jadi kaku.

"Aku tahu aku tahu!" serunya berulang kali, ia ingin sekali menangis tersedu-sedu, namun sekuat tenaga ditahannya maksud tersebut.

Sambil menarik gadis Soat Ang, Loei sam berkelebat naik keloteng dalam sekejap mata mereka sudah berada diseparuh pagoda sementara Si Soat Ang belum berhasil juga mendapat kesempatan untuk meloloskan diri hatinya mulai kebat kebit.

Sebentar kemudian mereka sudah tiba dipuncak paling atas, sambil berhenti didepan pintu tanya Loei Sam:

"Apakah ditempat ini?"

Dengan hati kebat kebit terpaksa Si Soat Ang mengangguk.

"Benar, memang ada disitu namun kau tak boleh masuk kedalam begitu saja, disana banyak dipasang alat rahasia."

Mendengar perkataan itu Loei sam tertegun, namun sebentar kemudian ia sudah tertawa. "Nona Si. buat apa kau membobongi diriku? seandainya dalam ruang rahasia ini, ada alat rahasianya pantai kalau kau suruh aku masuk kedalam, mengapa kau malah suruh aku berhati-hati?"

"Kalau kau tidak percaya ya sudahlah, silahkan dorong pintu dan masuk sendiri kedalam."

Ucapan ini diutarakan dalam keadaan apa boleh buat, namun bagi Loei Sam perkataan itu malah menggerakkan hatinya, mungkinkah dalam ruangan benar2 ada alat rahasianya ?

Ia segera tertawa dingin.

"Bagus sekali, kalau begitu, kau masuklah lebih dahulu !"

Ia ayun tangannya mendorong tubuh Si Soat Ang kedepan ruangan, gadis itu tidak menyangka sang pemuda tersebut bisa melakukan hal ini, tak tahan lagi dengan sempoyongan ia terjatuh kedalam ruang rahasia itu.

Si Soat Ang adalah seorang gadis cerdik, begitu terjatuh kedalam pintu ia segera sadar inilah kesempatan baik baginya untuk meloloskan diri.

Begitu badannya terjatuh kedalam ruangan, kaki kiri dan kaki kanannya berputar cepat menutup pintu itu kemudian sang badan berputar kencang menyantek pintu tersebut rapat2.

Loei Sam yang ada diluar sadar dirinya tertipu sambil meraung keras ia melancarkan sebuah pukulan dahsyat keatas pintu, Betapa dahsyatnya tenaga pukulan itu, sampai Si Soat Ang yang ada di balik pintupun terpental mundur tiga, lima langkah dan jatuh terlentang diatas sebuah pembaringan. Berhubung besarnya tenaga pantulan itu, maka sewaktu badannya terjatuh diatas pembaringan dengan menimbulkan suara keras pembaringan tersebut patah jadi dua, barang2 yang ada disekitarnya menindih badannya semua.

Buru2 ia mengesampingkan barang2 yang menindihi badannya kemudian meloncat bangun.

Ketika ia meloncat bangun, mendadak gadis ini menemukan selembar kain sutera menggeletak diatas tanah, diatas kain mantera tadi terlukislah pelbagai macam bentuk manusia yang aneh, sekalipun lukisan itu amat sederhana namun dapat dilihat semuanya berdandankan toosu!

Kain sutera adalah benda tipis seandainya di cekal mungkin cuma segenggam. namun kalau dibentangkan tentu panjang sekali, Hati Si Soat Ang rada bergerak, segera ia ambil benda tadi lebih dekat, tampak beratus ratus tulisan kecil tertera disana.

Jantung Si Soat Ang berdebar keras, tidak sempat dibaca lebih jauh ia segera masukkan benda tadi kedalam saku dan angkat kepala mencari jalan keluar.

Sementara itu Loei Sam sedang mengetuk pintu dengan sekuat tenaga, dengan menimbulkan getaran keras menggoncangkan pintu tiada henti.

Setiap saat ada kemungkinan terpukul jebol, Si Soat Ang yang belum berhasil menemukan jalan keluar diam2 mengeluh.

Dalam ruang rahasia itu kecuali sebuah pintu hanya terdapat sebuah jendela kecil. sedang diatas jendela terpancang besi yang kuat dan kasar.. "Braak..." tiba2 pintu ruangan terpukul jebol sebuah lubang, namun Loei Sam tidak langsung masuk kedalam, sambil mengintip kedalam ia tertawa haha hihi.

"Hai nona Si. apakah kau baik2 saja ?"

Si Soat Ang tersudut, tak mungkin baginya untuk meloloskan diri dari ruangan itu, segera di sambarnya sebuah rak lilin kemudian sekuat tenaga disambit kedepan.

Loei Sam menyengir, tangannya bergerak cepat menangkap rak lilin tadi kemudian berseru kembali:

"Nona Si, mengapa kau buang rak lilin ini ? nanti lilin pengantin kita akan dipasang dimana?"

Si Soat Ang makin ketakutan, tiba2 teriaknya: "Kalau kau berani masuk, aku...aku akan bunuh diri !"

"Haa...haa...haa...baik, baik kalau begitu aku tidak akan masuk kedalam"

Sembari berkata pemuda itu benar2 menarik kembali badannya.

Si Soat Ang tertawa getir, mungkinkah nasibnya begitu baik ? sementara ia masih berpikir mendadak . . , Plak ! jalan darah lemas dipinggangnya jadi kaku, diikuti seluruh badannya tak dapat berkutik

Kiranya sembari mengundurkan diri kebelakang tadi Loei Sam telah mengambil sekeping kayu dan disambit kedepan, seketika itu jalan darah Si Soat Ang tertotok dan badannya tetap tersandar diujung tembok.

Melihat mangsanya tak berkutik lagi. Loei Sam kerahkan tenaganya mendorong pintu ruangan itu dan menerobos masuk kedalam.

Dengan langkah lebar ia berjalan mendekati Si Soat Ang. tangan kirinya bekerja keras memeluk pinggang gadis itu sementara tangan kanannya dengan berani menerobos bajunya dan siap menggerayangi alat vital gadis iiu,

Sejak dipeluk oleh Loei Sam, Si Soat Ang merasa kepalanya pusing tujuh keliling, hampir2 ia jatuh tidak sadarkan diri, saat ini kena digerayangi alat vitalnya ia semakin lemas.

Bagaimanapun dia masih seorang gadis perawan, selama hidup belum pernah ada laki-laki yang pernah menjamah badannya namun apa gunanya cemas atau gelisah dalam keadaan seperti ini ? jalan darahnya telah tertotok.

Tangan Loei Sam yang telah berada didalam dada Sie Soat Ang mendadak tersentuh dengan kain sutra tersebut, pada mulanya pemuda itu tidak menaruh perhatian, sambil tertawa gelak ujarnya: "Ooouw, banyak benar benda yang ada didalam sakumu."

Ia ambil keluar kain sutra tadi kemudian di buang, namun pada saat itulah ia telah menemukan gambar manusia diatas kain tersebut

Ia agak tertegun, buru2 Sie Soat Ang dilepaskan dan memungut kembali kain sutra tadi, dengan cepat ia membentang kain tadi, berhasil menemukan empat tulisan kuno yang bertuliskan Sam Poo Cin Keng.

Loei Sam kegirangan setengah mati saking girangnya sampai sukar dilukiskan dengan kata2.

Lama sekali ia tertegun, kurang lebih seperminuman teh kemudian ia baru bisa tenangkan hati dan angkat kepala.

Tiba2 ia tersentak kaget, sebab entah sejak kapan didepan pintu telah berdiri Ciang Oh dengan seramnya: Terpaksa Loei Sam menunjukkan senyuman paksa, namun sepasang mata Ciang Oh dengan tajam memperhatikan terus diatas kain sutera itu.

"Lepaskan" serunya dengan suara dingin. "Barang itu milikku !"

"Eeeei . . . apakah kau tidak ingin aku carikan kembali putrimu ?"

Ciang Oh tertegun, tetapi dengan cepat kembali membentak:

"Lepaskan, aku suruh kau letakkan kembali barang itu. jangan kau ambil barang milikku itu !"

Pada saat ini Loei Sam betul serba salah, sekarang ia telah mendapatkan kitab pusaka "Sam Poo Cin-keng" asal dilatih beberapa tahun lagi kepandaian silatnya tentu memperoleh kemajuan pesat. suruh ia lepas tangan tentu saja tidak sanggup.

Otaknya berputar keras, mendadak ujarnya sambil tertawa:

"Baiklah, letakkan kembali ya letakkan kembali, barang ini memangnya bukan barang berharga."

Sembari berkata ia letakkan kembali kitab pusaka Sam Poo Cin-keng itu keatas meja, ia ada maksud sewaktu Ciang Ooh tidak perhatikan nanti, kitab tersebut akan dicuri kembali.

Siapa sangka baru saja ia letakkan kain tadi keatas meja, laksana kilat Ciang Ooh telah merampasnya kembali.

"Kaupun bukan manusia baik" teriaknya dengan mata melotot, "Terang2an benda ini adalah barang mustika, kenapa kau katakan tidak berguna." Diam2 Loei Sam terperanjat, namun wajahnya tetap tenang2 saja.

"Apa anehnya dengan barang semacam ini, apakah kau suka karena sulamannya indah ? sulaman itu kalah jauh dengan permadani."

"Kau tahu barang apakah ini ?"

Loei Sam menduga Ciang Ooh hanya seorang gadis suku Biauw yang tak tahu kalau benda itu adalah kitab Sam Poo Cin-keng suatu mustika dalam belajar silat, karena itu ia tertawa.

"Barang apakah itu? kan tidak lebih cuma kain siluman belaka!" sahutnya.

"Haa , , haa , . kain siluman? terus terang kuberitahu kepada-mu, benda ini adalah Sam Poo Cin-keng kalau kita lakukan seperti gambar yang tertera diatas kain ini maka bertemu dengan siapapun tidak akan takut."

Loei Sam makin terperanjat ia tahu kesempatan untuk mendapatkan kitab Sam Poo Cin-keng itu semakin tipis, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Namun ia masih tertawa paksa.

"Aaah, kau sedang bergurau. siapa yang bilang?" ia berseru.

"Loo Liong-tauw yang bilang." "Siapakah Loo Liong tauw itu?"

"Loo Liong-tauw adalah seorang manusia aneh di karang bunga bwee, katanya ia telah berusia seratus dua puluh tahun, dia paling suka diriku karena itu benda ini dihadiahkan kepadaku sedangkan dia dapatkan barang itu dari seorang toosu tua yang hampir mati, waktu itu aku baru berusia sepuluh tahun, ia pesan kepadaku agar jangan bercerita kepada siapapun."

"Lalu apa sebabnya sekarang kau berbicara padaku," Balik tanya Loei Sam sambil tertawa. Pada dasarnya Ciang Ooh memang gila, kena ditanya Loei Sam ia tak dapat menjawab akhirnya ia berkata:

"Tadi kau bilang hendak membawa aku mencari putriku, sekarang putriku ada dimana cepat katakan?"

Suatu ingatan berkelebat dalam benak Loei Sam, mendadak ia menuding keluar pintu.

"Coba kau lihat, bukankah dia adalah putri kesayanganmu!"

"Dimana!"

Sambil berseru ia berpaling, pada saat itulah secepat kilat Loei Sam mencabut keluar pisau belatinya kemudian menubruk kedepan melancarkan sebuah tusukan.

Serangan bokongan ini datangnya laksana kilat. lagi pula Ciang Ooh tidak bersiap sedia, tusukan pisau belati itu dengan telak bersarang di punggungnya sementara pukulan telapak kirinya pun mengenai sasarannya.

Tubuh Ciang Ooh terpental kedepan diikuti tubuh Loei Sam berkelebat keluar terdengar, suara hiruk pikuk dianak tangga, lama sekali suara itu baru sirap.

Walaupun Si Soat Ang tertotok jalan darahnya namun semua peristiwa dapat dilihat dengan jelas, ia melihat pisau belati itu bersarang di-punggung Ciang Ooh hingga terbenam seluruh-nya. bahkan sebuah hantaman Loei Sam bersarang pula ditubuhnya.

Ia menduga Ciang Ooh tak bakal bisa hidup, kitab Sam Poo Cin keng pasti terjatuh ke tangan Loei Sam, mungkinkah pemuda itu suka lepaskan dirinya setelah mendapatkan kitab mustika?

Inilah kesempatan baik bagi dia untuk melarikan diri, namun justru pada saat ini sedikit tenagapun tak sanggup dikerahkan, hatinya jadi sangat gelisah.

Mungkinkah Loei Sam naik keloteng lagi ? maukah pemuda itu melepaskan dirinya ? dua pertanyaan ini berbolak balik tiada hentinya didalam hati.

Suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun , ,

. begitu sepi se akan2 dunia sudah kiamat.

Dengan hati berdebat Sie Soat Ang salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan, beberapa saat kemudian jalan darahnya telah bebas, ia segera meloncat bangun dan melongok kebawah loteng.

Suasana tenang sunyi, tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun.

Sie Soat Ang berkelebat turun kebawah, sampai tingkat terakhir, namun bukan saja Loei Sam tidak kelihatan, jenasah Ciang Oh pun lenyap tak berbekas.

Suatu misteri menyelimuti benaknya, namun dalam keadaan seperti ini tak ada waktu baginya untuk berpikir, kembali ia berlari ke depan.

"Kemana aku harus pergi ?" ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya.

Benteng Thian It Poo sudah buyar, ayahnya sudah mati dan tak mungkin ia berdiam disitu lagi, kemana ia harus pergi ?

Tiba2 bayangan Tong Poei Pek berkelebat dalam benaknya, suhu pemuda ini adalah si Bongkok Sakti seorang jago yang tersohor dikolong langit, seumpama ia dapat mengantar si pemuda itu sampai gunung Lak Ban San, bukan dengan demikian si Bongkok sakti akan berhutang budi kepadanya ?

Teringat akan hal ini dengan cepat ia lari kedepan tembok dimana Tong Poei Pek menggeletak, ternyata pemuda itu masih belum putus nyawanya, dengan cepat gadis itu memayangnya bangun.

"Tong Poei Toako !" ia berseru keras.

Sie Soat Ang tidak sempat berpikir panjang lagi, buru2 ia lari kedalam kamarnya untuk membereskan sedikit buntalan obat2an, kemudian mencari sebuah kereta, melayang Tong Poei Pek kedalam kereta, menjejalkan obat2an kedalam mulut pemuda itu dan melarikan keretanya meninggalkan benteng Thian It Poo.

Kereta dilarikan kearah selatan, sehari semalam berjalan terus tiada hentinya sampai senja hari kedua sampailah mereka disebuah kota kecil.

Sie Soat Ang langsung menjalankan keretanya kedepan sebuah rumah penginapan, menanti ia loncat turun dari kereta dan memeriksa keadaan Tong Poei Pek, pemuda itu dalam keadaan keritis, napasnya sudah tinggal sedikit, bahkan sebentar lagi nyawanya bakal melayang.

Ia segera berpaling kearah pemilik rumah penginapan itu dan berkata:

"Temanku sedang sakit parah, apakah disini ada tabib kenamaan ?"

"Ada, ada, silahkan beristirahat dahulu kedalam" Dengan dipayang sang gadis, Tong Poei Pek dibawa masuk kedalam rumah penginapan, walaupun kedai itu kecil namun bersih dan nyaman, Ketika itulah mendadak pemuda she-Tong Poei merintih lirih.

Mendengar suara itu, Si Soat Ang kegirangan, buru2 teriaknya:

"Tong-poei Toako !"

Ia berteriak beberapa kali, namun tak kedengaran jawaban. sepasang mata pemuda itu per-lahan2 membentang, wajahnya pucat pias dan kelihatan kurus sekali, matanya cekung, sinar matanya pudar, lama sekali ia memandang Si Soat Ang dengan terpesona namun mulutnya tetap membungkam.

Beberapa saat kemudian ia pejamkan matanya kembali dan mendesis lirih:

"Aku.. aku ada dimana ?"

"Kau berada dirumah penginapan aku sedang menghantar kau pulang kegunung Lak Ban-san."

Namun sayang apa yang dikatakan gadis itu tidak terdengar. pemuda itu kembali bergumam seorang diri:

"Aku... aku ingin bertemu dengan seseorang aku... sebelum mati aku ingin berjumpa sekali lagi dengan dia..."

Si Soat Ang tertegun, ia tak tahu apa yang dimaksudkan dengan Tong-poei Pek... Terdengar pemuda itu menghembuskan napas berulang kali, lalu ujarnya kembali.

"Suhu, aku... aku ingin bertemu dengan nona Si... Si Soat Ang... nona Si!"

Merah padam selembar wajah dan itu dalam keadaan seperti ini timbul suatu perasaan aneh pula dihati Si Soat Ang buru2 dicekalnya tangan Tong-poei Pek yang dingin bagaikan es itu. "Tong poei toako, aku ada disini, aku berada disisimu."

Perlahan-lahan Tong poei Pek buka matanya, biji matanya berputar kesana kemari dengan payah, seakan- akan sedang mencari sesuatu namun ia tidak melihat bahwa gadis yang dicari sebenarnya ada didepan mata.

Melihat kejadian itu Si Soat Ang amat bersedih hati. "Tong poei toako, aku sudah berpesan kepada pemilik

rumah penginapan untuk mengundang tabib, baik2lah kau

beristirahat."

Tong poei Pek menghembuskan napas panjang matanya dipejamkan kembali sementara mulutnya tetap bergumam memanggil nama Si Soat Ang.

Walaupun Soat Ang seorang gadis keji, namun ia tetap seorang dara muda, sejak kehilangan Liem Houw Seng ia selalu merana, merana seorang diri, sekarang tiba2 dalam hatinya yang kosong terisi oleh pemuda lain, timbul suatu perasaan aneh dalam benaknya perasaan itu makin lama semakin menebal, tiap kali Tongpoei Pek menyebut namanya, rasa aneh itu semakin menebal.

Kurang lebih setengah jam kemudian terdengar suara langkah manusia berkumandang datang diikuti seorang sang pemilik rumah penginapan:

"Nyonya cilik, tabib sudah datang."

Sekali lagi merah padam selembar wajah Si Soat Ang, hatinya mangkel dan ingin marah namun teringat bahwa dia benda sekamar dengan Tong-poei Pek, tak bisa disalahkan kalau pemilik rumah penginapan itu menyebut demikian kepadanya. Dalam pada itu si pemilik rumah penginapan dengan membawa seorang kakek tua kurus berusia enam puluh tahunan berjalan masuk kedalam kamar.

Kakek tua itu melirik sekejap ke arah Tong Poei Pek, gelengkan kepalanya berulang kali.

"Orang ini sudah tak berguna lagi buat apa panggil aku?"

"Barusan saja dia masih bicara dengan diriku siapa yang bilang sudah tak berguna ?" Kontan Si Soat Ang sangat gusar.

Melihat dandanan Soat Ang mengerikan dimana bajunya singsat dengan sebilah pedang menggembol dipunggungnya, buru2 tabib itu mencekal urat nadi Tong Poei Pek dan memeriksa denyutan jantungnya, namun kembali ia menggeleng.

"Thayhu, bagaimana?" gadis itu bertanya.

"Sudah tidak ketolong lagi, paling banter tinggal satu jam."

"Thay hu coba carikan akal agar ia bisa hidup beberapa hari lagi asalkan bisa hidup tujuh delapan hari lagi, aku bisa menghantar dia kesuatu tempat yang pasti dapat menyelamatkan jiwanya."

Sekali lagi tabib itu menggeleng, "Raja akhirat sudah tentukan mati pada kentongan ketiga, siapa yang dapat menahan sampai kentongan kelima ? namun... namun... seandainya kau bisa mendapatkan jinsom berusia seratus tahun dan setiap hari menolongnya dengan cairan jin som kental maka usianya mungkin bisa diperpanjang tujuh delapan hari lagi."

"Kalau begitu bagus sekali, apakah jinsom semacam itu bisa dibeli dikedat obat ?" "Nyonya cilik jinsom semacam itu adalah benda mustika mana mungkin bisa dibeli pada kedai obat biasa?" tabib itu tertawa, "Beruntung daerah ini adalah penghasil jinsom yang paliag banyak, kalau kau ingin mencari mungkin masih didapat..."

Bicara sampai disitu mendadak tabib itu membungkam.

Melihat tabib itu ragu, Si Soat Ang tidak sabaran segera serunya:

"Hey, katakan saja jinsom itu terdapat dimana, kenapa bicara tidak keruan begitu?"

Melihat alis gadis itu berkerut walaupun kelihatan cantik namun galak. tabib itu ketakutan, buru2 sambungnya:

"Nyonya cilik, dengarkan dulu perkataanku sampai selesai."

"Baik, cepat katakan!" Seru Si Soat Ang mendongkol. "Diujung jalan kota sebelah barat terdapat satu keluarga

she Ciang yang kaya raya dan khusus berdagang jinsom kemungkinan besar dirumah mereka tersimpan jinsom berusia seratus tahun, asalkan nyonya cilik punya uang emas, tidak sulit untuk mendapatkan delapan, sembilan batang "

Belum habis ia bicara Si Soat Ang sudah cabut keluar pedangnya, kepada pemilik rumah penginapan itu pesannya "Baik2 merawat dirinya aku sebentar lagi akan kembali!" Laksana kilat ia meluncur keluar dari ruangan kemudian dalam sekejap mata lenyap tak berbekas.

Sementara itu setelah ada diluar rumah penginapan, dengan mengikuti jalan raya gadis itu lari terus ke sebelah Barat, akhirnya sampailah didepan sebuah bangunan yang megah dan kukuh, sepintas lalu kelihatan begitu mengerikan.

Ketika dia tiba didepan pintu masuk, empat orang pelayan segera maju menyambut kedatangannya sambil mengamati gadis itu dari atas sampai kebawah.

Melihat sikap serta lagak yang tengik dari pelayan2 itu, dalam hati Si Soat Ang sangat mendongkol namun teringat kehadirannya untuk mohon bantuan, maka ia tahan rasa dongkol tersebut.

"Apakah majikan kalian ada dirumah ?" ia bertanya. "Hi...hii... hii... nona mencari majikanku ada urusan apa

?" Goda seorang pelayan sambil tertawa menyengir.

"Asalkan kau membawa aku berjumpa dengan majikanmu sudah cukup !"

"Majikan kami sangat peramah, sedang nona berwajah cantik..."

Ucapan tengik selanjutnya belum sempat diutarakan Si Soat Ang sudah tak tahan lagi, tangannya membalik langsung memerseni sebuah tempelengan keatas wajah pelayan tadi.

"Plook!" pelayan itu menjerit kesakitan dan jatuh terjengkang kebelakang, darah segar tetes demi tetes mengucur keluar dari ujung bibirnya, tamparan tersebut amat berat sekali.

Tiga orang pelayan lainnya melihat kejadian itu bersama2 meraung dan menunjuk ke depan, Si Soat Ang tidak kasih hati, pedangnya diloloskan dari sarung bersamaan itu pula tangan kiri nya meraba cambuk dipinggang, asalkan mereka bertiga meluruk berbareng, dia akan menghajar orang itu habis2an. Disaat tegang itulah mendadak dari dalam ruangan muncul seseorang yang langsung menjura kearah Si Soat Ang.

"Nona tunggu sebentar, ada perkataan kita rundingkan per-lahan2"

Si Soat Ang melirik sekejap kearah orang itu dia adalah seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, wajahnya putih dan halus, sepintas lalu seakan2 seorang pelajar, namun sepasang matanya bersinar tajam, siapapun akan tahu kalau ia memiliki ilmu silat sangat lihay.

Gadis itu terkesiap, sewaktu datang pertama kali tadi, dalam hatinya menganggap rumah itu adalah milik pedagang biasa, siapa nyana pedagang tersebut bukan pedagang biasa.

Dalam pada itu lelaki setengah baya itu sudah menjura dan bertanya:

"Nona datang kemari entah ada maksud apa ?"

"Aku ingin berjumpa dengan majikan rumah ini, ada sedikit permintaan yang ingin kuajukan" Sahut gadis itu sambil balas menjura.

"Aaah, benar. Eeei pelayan, siapkan dua puluh tail perak dan berikan kepada nona ini sebagai ongkos jalan."

Merah padam selembar wajah Si Soat Ang, dengan agak jengkel segera teriaknya:

"Hey. siapa yang bilang aku datang kemari untuk minta ongkos jalan ? apa maksudmu yang sebenarnya ?"

Lelaki setengah baya itu tertegun, sebelum sempat menjawab, terdengar dari dalam ruangan berkumandang datang suara yang tidak sedap di dengar. "Ciang Loo sam, kau sungguh keterlaluan sekali, terhadap nona Si dari Benteng Thian It Poo masa kau cuma kasih dua puluh tahil perak, bukankah hal ini keterlaluan pandang enteng dirinya."

Kata2 itu sangat menusuk perasaan namun terasa dikenal, gadis itu berpaling, terlihatlah olehnya didepan pintu telah muncul seorang manusia kate berbadan gemuk dan berwajah buas, orang itu bukan lain adalah si Malaikat Kelabang Emas Li Siauw.

Sementara Sie Soat Ang masih tertegun, lelaki setengah baya itu sudah mendongak tertawa ter bahak-bahak.

"Haaa.. haaa... haaa... aku betul2 punya mata tak kenal gunung Thay san, kiranya anda adalah Sie Soat Ang, nona Si, kalau bukan ditegur Li Sin koen, mungkin aku sendiripun tidak mengenali diri nona."

Sie Soat Ang belum tahu pihak lawan berasal dari aliran mana, namun ditinjau dari kehadiran si Malaikat Kelabang Emas disana, ia tahu pihak lawan bukan manusia baik.

"Andakah tuan rumah bangunan ini ?" gadis itu bertanya dengan nada berat.

"Ooouw bukan... bukan kalau masalah besar biasanya diputuskan oleh toako, namun kalau cuma masalah tetek bengek biasa. cayhe bisa memutuskan sendiri."

"Baik, kalau begitu aku bicara terus terang saja, aku dengar orang bilang kalian berdagang jinsom. Seorang sahabatku terluka parah, atas petunjuk tabib ia membutuhkan tujuh delapan batang jin som seratus tahun. karena itu sengaja aku datang kemari untuk mohon dari kalian."

Air muka Ciang Loo sam berobah hebat haruslah diketahui sejak kecil Si Soat Ang dibesarkan dalam lingkungan kemewahan ia tidak tahu bagaimana susahnya seseorang mendaki gunung untuk memetik jinsom, bahkan kadang kala harus mengorbankan jiwa, sebatang jinsom kalau dijual kedalam perbatasan mungkin harganya mencapai selaksa tahil perak, tentu saja mereka jadi kaget setelah gadis itu buka suara minta tujuh-delapan batang sekaligus.

"Tentang soal ini., tentang soal ini...hee...hee... entah sahabat anda telah menderita luka apa?" kata Ciang Loo- sam tergagap, "Kemungkinan sekali kami mempunyai obat lain yang bisa menyembuhkan lukanya. Jinsom seratus tahun hanya bisa perpanjang usia, tak mungkin bisa digunakan menyembuhkan luka."

"Soal itu tidak mengapa. asalkan sahabatku bisa hidup sepuluh hari saja sudah cukup, aku hendak menghantar kerumah suhunya digunung Lak Ban-san. gurunya tentu bisa turun tangan menyembuhkan lukanya."

Kata2 "Lak Boan San" seketika membuat air maka Ciang Loo-sam berubah hebat, namun Si Soat Ang sebagai seorang jago yang tidak berpengalaman sama sekali tidak memperhatikan hal tersebut.

"Apakah sahabatmu itu tinggal digunung Lak Boan san? entah siapakah namanya?" tanya Ciang Loo sam setelah menanti gadis itu selesai berbicara

"Dia adalah Tonghong Pek murid dari Si Bongkok Sakti berangasan."

"Apa dia?" Teriak Ciang Loo sam sambil mundur selangkah kebelakang- "Sekarang dia ada dimana?"

Walaupun merasa urusan sedikit aneh, Si Soat Ang tidak ambil perhatian.

"Dia berada dirumah penginapan Thay lay . ." sahutnya. Baru saja perkataan itu diutarakan, dari balik pintu muncul dua puluh orang bersenjata lengkap, diikuti Ciang Loo sam berteriak keras:

"Tong poei Pek ada dirumah penginapan Thay lay, ia terluka pula, namun kalian harus bekerja hati-2"

Seorang lelaki berbaju hitam dengan sebuah sulaman tengkorak di depan dadanya munculkan diri pula dari balik pintu, gerakannya cepat lagi gesit bagaikan bayangan setan, tahu2 ia sudah berada disisi gadis itu.

"Loosam !" serunya, "Apakah Tong-poei Pek menghantarkan diri ? dia ada dimana . . ."

"Jie-ko, dia berada dirumah penginapan Thay lay, kali ini kita tak boleh dia loloskan diri dalam keadaan selamat."

Lelaki itu menjerit aneh kemudian berkelebat lenyap. Sewaktu menjumpai lelaki itu munculkan diri, hati Si

Soat Ang sudah kebat kebit, saat ini ia tak tahan diri lagi

serunya.

"Dia. . . dia bukan . . . bukan dia adalah Soat San Hwie Mo ? si Tengkorak emas Ciang Ling im."

"Ketajaman mata nona Si luar biasa, dia memang Jie-ko ku," sahut lelaki setengah baya di hadapannya.

Hati gadis itu tercekam.

"Lalu anda adalah, . . kau adalah ."

"Cayhe Ciang Huan, orang2 menyebut diriku Tengkorak kumala."

Si Soat Ang kaget, tak kuasa ia mundur dua langkah kebelakang, namun bagaikan bayangan setan si Tengkorak kumala telah mengikuti maju kedepan. Ia tidak menyangka orang2 yang semula diduga pedagang jinsom biasa ternyata adalah sarang iblis keji bahkan orang yang dijumpai pertama kali bukan lain adalah si tengkorak kumala yang paling memusingkan kepala.

Si Soat Ang sangat cemas, tiba2 teriaknya keras-keras: "Li Sin koen!"

Si Malaikat kelabang emas pura2 berlagak pilon, ia melengos dan tidak menggubris, hal ini membuat Si Soat Ang makin cemas, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

-ooo0dw0oo-