Jago Kelana Jilid 04

Jilid 04

”KAU suruh aku berbuat apa? katakanlah !"

"Bila kau suka mendengarkan perkataanku... itu baa... bagus," Seru Liem Hauw Seng ter-engah2, "Giok Jien ! kau pergilah seorang diri !"

Sebenarnya walaupun Giok Jien sudah berhenti menangis, tapi ia masih terisak tiada hentinya, kini habis mendengar ucapan dari Liem Hauw Seng, seluruh tubuhnya terasa tertegun.

Lama... lama sekali baru terdengar Giok Jien berseru dengan nada gemetar:

"Kau... apa kau kata ? Engkoh Hauw Seng apa kau kata

?"

Per-lahan2 Liem Hauw Seng menghela napas panjang, ia

melepaskan diri dari cekalan gadis tersebut. "Tadi kau sudah pernah berkata suka mendengarkan perkataanku, sekarang cepatlah kau pergi dari sini, berangkatlah menuju ke selatan dan setelah tiba didaratan Tionggoan jangan kembali lagi kesini, dengan begitu kau bakal lolos dari cengkeraman mereka, tapi bila kau ingin menyeret diriku pula maka... tindakanmu ini hanya akan mencelakai dirimu sendiri."

Dalam keadaan seperti ini Giok Jien tidak menangis lagi, bukan saja tidak menangis bahkan gerak geriknya jauh lebih tenang. sembari membereskan rambutnya kebelakang tangannya mengusap kering air mata yang jatuh menetes.

"Engkoh Hauw Seng, maksudmu kita berdua pasti tak akan berhasil lolos dari tangan mereka bukan begitu ?"

"Aku tidak pernah berkata demikian" Seru Lim Hauw Seng amat cemas, "Maksudku, jika kau suka berangkat dulu, maka aku bisa berusaha untuk mengikuti dari belakang."

Tiba2 Giok Jien tertawa sedih.

"Engkoh Hauw Seng, kau sedang membohongi diriku, kau pernah berkata tak akan membohongi diriku lagi, kenapa sekarang kau menipu aku ?"

Lim Hauw Seng meronta berusaha bangun berdiri, tapi baru saja tubuhnya menegang kembali ia roboh terjengkang kearah permukaan salju.

Lama sekali Giok Jien memandang pemuda itu tajam2, akhirnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia berbaring di sisinya.

"Giok Jien, kau sedang berbuat apa?" Teriak Lim Hauw Seng dengan suara yang serak sewaktu melihat perbuatan kekasihnya. "Jika kita bisa melarikan diri, mari berangkat lah ber- sama2. bila tak bisa lolos bukankah lebih baik kita ber- sama2 ?"

"Aaaai...! soal ini...buat apa kau cari siksa sendiri ?" "Engkoh Hauw Seng ! kau tidak tahu, sejak aku mengerti

urusan belum pernah ada orang yang bersikap demikian baiknya kepadaku, setiap orang tentu bicara dengan nada kasar membentak, memaki dan mencemooh diriku, setiap pekerjaan yang kotor tentu diberikan kepadaku, setiap orang boleh turun tangan memukuli aku, memaki aku. Tentunya kau tidak pernah menyangka bukan sewaktu aku berusia sepuluh tahun pernah satu ingatan ingin mati memenuhi benakku ?"

Lim Hauw Seng tidak bicara, hanya kulit wajahnya berkerut sehingga kelihatan amat menyeramkan.

"Malam itu, aku berdiri lama sekali disisi sumur" sambung Giok Jien lebih lanjut. "Aku berpikir, jika kuloncat masuk kedalam sumur itu apa jadinya ? sudah tentu aku bisa mati, tapi setelah mati apa yang bisa kulakukan ? akupun pernah menjumpai orang mati, setelah orang mati maka ia tak akan dimaki orang, tak pernah dipukul orang, ia hanya berbaring...berbaring terus hingga akhir masa, aku berpikir keras, apa jeleknya jadi seorang yang telah mati ?"

"Kau...kau jangan bicara lagi, Giok Jien kau ...kau jangan bicara lagi" potong Lim Hauw Seng terputus2.

"Tidak, aku harus bicara." Seru Giok Jien sembari menggeleng, "Karena kau ingin mengusir aku pergi, setelah aku katakan kesemuanya ini, kau tak akan mengusir aku lagi, kau bakal paham aku adalah seorang perempuan yang tidak takut mati." "Krooook . . krooook . . !" dari tenggorokan Liem Hauw Seng mendadak memperdengarkan suara yang sangat aneh, mulutnya terpentang lebar-lebar tapi tak sepatah katapun berhasil meluncur keluar, darah segar mengikuti pentangan bibirnya, mengucur keluar membasahi seluruh tubuh, permukaan salju dan akhirnya membeku.

Buru2 Giok Jien bangun berdiri dengan menggunakan ujung bajunya ia membersihkan noda darah disekeliling bibir Liem Hauw Seng, mukanya pucat pasi bagaikan mayat, tapi sikapnya luar biasa tenangnya.

"Engkoh Hauw Seng." bisiknya lirih, "Sewaktu aku berada seorang diri, keinginanku untuk mati sangat besar, dan sekarang setelah bersama sama dirimu, apa yang harus kuinginkan lagi ?"

Dengan sekuat tenaga Liem Hauw Seng berusaha meronta bangun, akhirnya ia berhasil juga mengutarakan beberapa patah kata.

"Tapi . . . tapi usiamu masih sangat muda."

"Kau sendiri apa sudah jadi kakek2 tua ?" seru Giok Jien sembari tertawa sedih. "Engkoh Hauw Seng, sejak kau tiba disana sekalipun hidupku makin tersiksa, hatiku tetap terhibur, setiap kali kuingat dirimu dalam hati merasa nikmat dan hangat, kau sungguh bersikap terlalu baik terhadap diriku."

Wajahnya berubah merah padam bagaikan kepiting rebus, kepalanya per-lahan2 dijatuhkan kedalam pangkuan kekasihnya Liem Hauw Seng dan pejamkan matanya menikmati suasana di sekelilingnya.

Sewaktu berada dalam benteng Thian It Poo, menggunakan kesempatan sewaktu orang tidak menduga seringkali merekapun berbuat demikian. Tapi waktu itu, ketika kepalanya disandarkan diatas dada Liem Hauw Seag dan menempelkan telinganya kedada pemuda itu. ia dapat menangkap suara detakan jantung kekasihnya.

Tapi kini, walaupun ia sudah tempelkan telinganya kedada pemuda tersebut, hampir boleh dikata detakan jantungnya tak terdengar lagi.

Air mata mengucur keluar setetes demi setetes, dengan payah Liem Hauw Seng keluarkan tangannya untuk membelai pipi gadis tersebut.

Saat itulah, tiba2 suara gonggongan anjing berkumandang datang dari tempat kejauhan...

Begitu gonggongan anjing tadi memancar datang tubuh kedua orang muda mudi ini kelihatan tergetar sangat keras. Tetapi mereka hanya sedikit tergetar belaka, setelah itu membungkam dan tak berkutik lagi.

Gonggongan anjing makin jelas, dengan cepatnya suara itu sudah berada sangat dekat. Makin lama Giok Jien mulai dapat menangkap sebuah titik hitam bergerak mendekat dengan cepatnya, Dalam sekejap mata titik hitam itu makin lama makin besar dan akhirnya kecuali suara gonggongan anjing kedengaran pula ayunan cambuk membelah bumi.

Sebuah kereta salju makin jelas tertera didepan mata, Giok Jien pun dapat menangkap diatas kereta tadi berdiri dua orang, salah satu diantaranya adalah Si Soat Ang nona majikannya.

Menanti ia jelas melihat orang itu benar Si Soat Ang, matanya dipejamkan kembali badanpun tak berani berkutik.

Salju beterbangan memenuhi angkasa terhempas oleh hancuran kereta, bunga2 salju mulai melayang turun dan menutupi kepala maupun wajah Giok Jien serta Liem Hauw Seng, tapi mereka berdua tetap tak berkutik.

Tiga, empat tombak jauhnya kereta salju melewati kedua orang itu, mendadak Si Soat Ang membentak keras seraya menarik tali les, kereta segera berhenti berlari.

"Soat Ang ! kedua orang itu sudah mati" ujar Kan Tek Lin seraya berpaling.

"He he he permainan setan kedua orang ini terlalu banyak, bila cuma begini saja lantas suruh aku mempercayai bahwa mereka sudah mati Hmm . . . sungguh menggelikan sekali !"

Saat ini, setelah ia berhasil menemukan orang yang sedang dicari, suatu senyuman yang menyeramkan, menggidikkan hati menghiasi seluruh wajahnya.

Perubahan tersebut bukan saja membuat orang lain merinding, kendari Kan Tek Lin yang berada disisinyapun ikut terperanjat, ia tidak menyangkapun tidak paham seorang gadis yang belum pernah berkelana dalam dunia kangouw bisa tertanam rasa dendam, sakit hati yang demikian mendalamnya.

Ia tidak tahu, Si Soat Ang yang sudah kebiasaan memelihara rasa tinggi hati dan selalu dihormati oleh setiap orang, setelah rasa harga dirinya tersinggung timbullah rasa dendam, sakit hati yang susah dilukiskan lagi.

Setelah rasa terkejut lenyap dari hatinya, timbullah rasa simpatik dan iba buat kedua orang yang berbaring diatas permukaan salju itu.

Kedatangannya kebenteng Thian It Poo tidak lebih hanya sebagai tamu, walaupun Liem Hauw Seng adalah kemenakan dari Poocu tapi antara dia dengan pemuda tersebut sama sekali tiada terikat sangkut paut apapun, perjumpaannya dengan pemuda she-Liem inipun sangat jarang sekali.

Sedang mengenai Giok Jien, dalam benteng Thian It Poo dayang maupun pelayan banyak bagaikan mega diawan, boleh dikata dayang yang bernama Giok Jien mempunyai raut muka yang bagaimanapun ia sendiri tidak paham.

Dan kini rasa simpatik yang muncul pada dasar hatinya terhadap Liem Hauw Seng serta Giok Jien bukan disebabkan perubahan air muka Si Soat Ang sangat menakutkan, dalam hati ia tahu dalam keadaan seperti ini kedua orang muda-mudi itu jauh lebih baik mati dari pada hidup.

Karena bila ditinjau keadaan. jikalau kedua orang itu belum mati maka Si Soat Ang pasti akan menggunakan cara apapun untuk menganiaya, menyiksa mereka berdua.

"Sobat Ang ! "ujarnya kemudian, "Berjalan di atas permukaan salju susah sekali, biarlah aku yang pergi periksa mereka sudah mati atau belum !"

Tapi ucapan dari Kan Tek Lin ini segera ditolak mentah2 oleh si gadis she-Si."

"Tidak !" seru Si Soat Ang dengan nada berat. "Paman Kan Jie-siok, setelah menemukan kedua bangsat ini disini, apa yang harus kulakukan hanya untuk berjalan diatas permukaan salju saja?" Sembari berkata ia meloncat turun dari atas kereta.

Semalam salju turun dengan hebatnya, tumpukan bunga salju diatas permukaan tanah saat ini mungkin mencapai satu depa lebih.

Ketika Si Soat Ang meloncat turun, badannya segera sempoyongan hampir saja jatuh, tapi dengan cepat ia meloncat bangun dan melayang kesisi Liem Hauw Seng serta Giok Jien berdua.

Melihat hal tersebut diam2 Kan Tek Lin menghela napas panjang.

Waktu itu baik Liem Hauw Seng maupun Gok Jien sama2 pejamkan matanya, Giok Jien sigadis cilik itu masih bersandar diatas dada sang pemuda kekasihnya.

Napas mereka ter-engah2, oleh karenanya sewaktu Si Soat Ang tiba di hadapan mereka, gadis tadi segera mengetahui bila mereka berdua belum mati.

Si Soat Ang benar2 kegirangan setengah mati, sebetulnya Liem Hauw Seng serta Giok Jien adalah manusia yang paling ia benci dalam hatinya, tapi berhubung melihat orang yang paling dibenci masih belum mati dan kini berada di-hadapannya siap disiksa olehnya, sang hati jadi kegirangan setengah mati sehingga susah dilukiskan lagi.

Mendadak gadis itu mendongak lalu perdengarkan suara gelak tertawanya yang aneh dan menyeramkan.

Gelak tertawanya bergema melengking tinggi menjulang ke angkasa, dalam suasana yang dingin sunyi ditengah pegunungan yang sepi, suara gelak tertawanya ini benar2 mengerikan sekali.

Kan Tek Lin merasa amat terperanjat, buru2 tegurnya: "Soat Ang, kenapa kau ?"

"Ha ha ha mereka belum mati" sahut Si Soat Ang sembari masih tertawa tiada hentinya.

Sekali enjot badan Kan Tek Lin melayang ke sisi gadis itu, serunya: "Oooow... mereka belum mati ? kalau begitu mari kita bawa kembali kedalam Benteng, agar ayahmu bisa jatuhi hukuman kepada mereka." "Tidak !" tolak Si Soat Ang tegas, giginya di gertakkan kencang2. "Biar aku yang jatuhi hukuman kepada mereka !"

Sembari berkata cambuk ditangannya sekali getar membentur gerakan satu lingkaran ditengah udara, kemudian diiringi desiran tajam yang menggidikkan menjilat leher Giok Jien.

Merasa akan datangnya desiran tajam Giok Jien membuka matanya, tapi sinar mata si gadis ini sama sekali tidak memperlihatkan cahaya ketakutan ataupun gugup, ia hanya membentangkan tangannya melindungi wajahnya.

Siapa nyana baru saja tangannya diangkat ujung cambuk Si Soat Ang dengan tajam telah berhasil menjirat pergelangan tangannya, sekali disentak seluruh tubuhnya terangkat ketengah udara dan terlempar dua-tiga tombak jauhnya dari tempat semula.

Walaupun Giok Jien pandai bersilat, tapi ilmu silatnya tidak lebih adalah ajaran Liem Hauw Seng sewaktu masih berada didalam benteng Thiat It Poo apabila pemuda ini ada waktu lowong, mana mungkin ilmu silatnya bisa menandingi kepandaian silat Si Soat Ang ?

Apalagi pada saat ini keadaannya boleh diumpamakan "Ada kemauan tak ada tenaga", tenaga perlawanan dalam tubuhnya sama sekali sudah punah.

Ketika ia terbanting sejauh dua, tiga tombak diatas permukaan salju, dengan sekuat tenaga gadis itu meronta lalu merangkak bangun.

"Nona...kau...kau jangan menyiksa engkoh Hauw Seng lagi..." serunya terputus2. "Kau... kau bermurahlah hati kepadanya, ia...ia...luka yang ia derita sudah terlalu parah..." Cambuk Si Soat Ang sudah diangkat siap mengirim hajarannya yang kedua.

Sudah tentu hajarannya kali ini siap ditujukan kearah Liem Hauw Seng pemuda tampan itu.

Tapi ketika mendengar ucapan Giok Jien tersebut, tangan yang telah diayun mendadak menjadi lemas kembali, dalam sekejap mata sikapnya yang galak dan buas telah berubah jadi bimbang.

Tapi semuanya ini hanya berlangsung dalam sekejap mata saja, senyum sinis kembali menghiasi wajahnya, seraya berpaling ke arah Giok Jien serunya:

"Ooooouw... begitu ? kau berkata luka yang ia derita sangat parah dan sebentar lagi bakal mati ?"

"Benar, kau jangan pukul dia lagi pukul... pukullah diriku." teriak Giok Jien berusaha merontak bangun.

"Heeeee... heee... cinta kasih kalian boleh dihitung sudah mendalam bagaikan samudra luas!"

Giok Jien menunduk, air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat.

Sekali lagi Si Soat Ang menunduk, tiba2 bentak nya kearah Liem Hauw Seng yang menggeletak diatas tanah "Kau masih ingin menggeletak di atas tanah pura2 mati ? kenapa tidak bangun berdiri saja ?"

Liem Hauw Seng gertak gigi sehingga menimbulkan suara gemerutukan tubuhnya mulai coba meronta. Tapi perduli secara bagaimana dia meronta akhirnya tiada berdaya juga untuk bangkit berdiri, seluruh tubuhnya hampir boleh dikata terpendam didalam salju, tapi diatas jidat nya mengucur keluar keringat sebesar kacang. Seraya memandang pemuda she-Liem ini Si Soat Ang tertawa dingin tiada hentinya. Sedang Giok Jien dengan napas ter-engah2 lari mendekati kemudian bimbing Liem Hauw Seng untuk bangun. "Nona aku sudah ada beberapa tahun melayani dirimu, kau kasihanilah diriku...lukanya teramat parah, cepatlah kau hantar ia kembali ke Benteng...un...untuk mengobati lukanya, kau suka aku berbuat bagaimana. aku pasti akan mengabulkan... aku mohon... aku mohon nona suka mengabulkan !"

Kata2 terakhir penuh bernadakan gemetar, sepasang lutut menjadi lemah dan akhirnya jatuh berlutut diatas tanah.

Perasaan Si Soat Ang pada saat ini benar2 amat puas, tapi kesemuanya ini masih belum dapat melenyapkan rasa benci yang telah merasup kedalam tulang sumsumnya.

Dengan dingin ia mendengus.

"Kau bimbing dulu bangsat itu keatas kereta salju !" perintahnya keren.

Dengan susah payah Giok Jien merangkak bangun dari atas tanah kemudian membimbing tubuh Liem Hauw Seng dan bergerak kedepan.

Tapi baru saja berjalan dua langkah, mereka ber-sama2 menggelinding dan roboh keatas tanah.

Melihat kejadian itu Ken Tek Lin kerutkan alisnya, sekali sambar ia telah menarik Liem Hauw Seng bangun dari tanah.

Siapa nyana justru tindakannya inilah membuat Si Soat Ang, sang gadis tersebut menjadi kurang puas.

"Paman Kan Jie-siok. apa yang kau lakukan ?" "Apa yang aku lakukan ?" Balik seru Kan Tek Lin dengan nada melengak.

Air muka Si Soat Ang berubah jadi sangat jelek sehingga susah dipandang, sembari menuding Liem Hauw Seng serunya:

"Mengapa kau bimbing ia bangun ?"

Kontan seketika itu juga dari dasar hati Kan Tek Lin timbul rasa gusar yang susah dikendalikan, jikalau Si Soat Ang yang ada dihadapannya saat ini bukan putri kesayangan dari saudara angkatnya mungkin sejak semula ia sudah umbar bawa amarah.

Air mukanya langsung berubah menghebat.

"Aku hendak bimbing ia naik keatas kereta salju agar cepat2 bisa tiba dibenteng Thian It Poo."

"Apa perlunya kembali kebenteng Thian It Poo ?".

"Luka yang ia berita amat parah, jika tidak kembali ke benteng Thian It Poo, bagaimana mungkin lukanya bisa disembuhkan ?"

"Sungguh sayang aku tidak ingin kembali ke Benteng Thian It Poo."

Giok Jien yang ada disamping setelah melihat keadaan tersebut, paling sedikit ia tahu Kan Tek Lin menaruh simpatik kepada mereka berdua, oleh karena itu menggunakan kesempatan yang sangat baik ini mohonnya: "Kan Jien-ya ! Engkoh Hauw Seng terluka parah sehingga sedikitpun tak dapat bergerak, bila tidak cepat2 dibawa pulang ke Benteng Thian It Poo maka ia bakal mati kedinginan. Kan Jie-ya, aku mohon sukalah kau beri belas kasihan kepada kami, aku akan berlutut dan mengangguk- anggukkan kepalaku di-hadapanmu !" Seraya berkata Giok Jien siap jatuhkan diri dan berlutut.

Tapi tindakannya ini keburu dicegah oleh Kan Tek Lin. "Tidak perlu tidak perlu, aku sudah punya rencana sendiri !"

"Paman Jie-siok, kau... kau sungguh ingin mencari gara2 dengan diriku ?" teriak Si Soat Ang dengan air muka berubah hijau membesi.

"Hauw Seng adalah kakak misanmu, coba kau pikir apakah ayahmu mengijinkan kau berbuat ngaco belo macam begini ?"

"Aku tahu ia tak bakal mati, sudah tentu aku punya obat pemunah yang mujarab untuk menyembuhkan lukanya, tapi aku tidak ingin kembali ke benteng Thian It Poo"

Ucapan dari Si Soat Ang ini sangat tegas dan kuat, bahkan sama sekali tidak sopan, agaknya ia ada maksud mencari gara2 dengan Kan Tek Lin.

Rasa gusar yang muncul dihati Kan Tek Lin makin lama makin memuncak, makin lama makin mendalam.

"Tidak bisa!" bentaknya keras2. "Maksudmu keluar dari Benteng adalah mencari kedua orang ini sudah kita temukan, sudah seharusnya kita bawa pulang kebenteng untuk menantikan hukuman yang bakal dijatuhkan oleh ayahmu sendiri !"

Sepasang kepalan Si Soat Ang dirapatkan kencang2 dengan suara yang tinggi melengking memecahkan kesunyian yang mencekam teriaknya:

"Kau jangan mencari gara2 dengan diriku, terus terang kuperingatkan janganlah kau orang mencari gara2 dengan diriku !"

Sejak semula Kan Tek lin sudah dapat tahu Si Soat Ang gadis cantik ini sudah terbiasa dimanja oleh ayahnya tetapi ia tidak menyangka urusan bisa berlangsung jadi begini, hatinya disamping kheki juga geli.

"Mengapa aku harus mencari gara2 dengan dirimu ?" tanyanya cepat.

"Kalau begitu kau harus membiarkan aku berlalu dengan membawa serta kedua orang ini, bahkan peristiwa apa yang bakal terjadi dikemudian hari tak boleh kau ungkap dihadapan ayahku." seru Si Soat Ang sembari melangkah maju.

Mendengar ucapan Si Soat Ang makin lama semakin keterlaluan Kan Tek Lin tak dapat menahan rasa gusarnya lagi. segera bentaknya: "Tidak dapat !"

"Sungguh tidak dapat ?" tanya gadis she Si itu setelah lama sekali membungkam.

Mendadak telapak tangan Si Soat Ang diayunkan kedepan, dimana tangannya bergerak serentetan cahaya keemasan dengan membelah angkasa meluncur keluar

Saking cepatnya benda tersebut menyambar lewat, tak seorangpun yang melihat sebenarnya benda apakah itu.

Bersamaan itu pula tiba2 pandangan mata jadi silau oleh sorotan cahaya ke-emas2an, be-ratus2 batang jarum tajam sepanjang lima Coen dengan memancarkan cahaya tajam ber-sama2 mengurung seluruh tubuh Kan Tek Lin.

Bagi Kan Tek Lin sendiripun, mimpipun ia tidak pernah menyangka Si Soat Ang keponakan angkatnya bisa turun tangan keji terhadapnya.

Karena tidak lama setelah ia tiba di benteng Thian It Poo, atas permintaan Si Liong mereka berdua telah saling angkat saudara. Menanti jarum2 tajam tadi telah menyambar dekat, Kan Tek Lin baru tahu benda apakah yang tergenggam ditangan Si Soat Ang, karena tempo dulu Si Liong pernah memperlihatkan benda tersebut kepadanya.

Si Liong pernah bercerita benda itu adalah sebuah tabung baja bercampur emas yang dibuat oleh seorang jago lihay dari Se-ih, sekali pencet tombol rahasianya maka ada sembilan puluh sembilan batang jarum tajam ber-sama2 menyebar keempat penjuru.

Bagi seorang jagoan lihay yang memiliki kepandaian silat amat tinggipun susah untuk menghindarkan diri dari serangan ini, apalagi Kan Tek Lin.

Kiranya Si Liong yang amat sayang terhadap putrinya karena takut ia jatuh kecundang ditangan orang lain, maka sengaja ia persenjatai dirinya dengan sebuah senjata aneh yang bernama "Si Seng Ciam" atau alat pembidik jarum bintang.

Dibawah penjelasan Si Liong tempo hari Kan Tek Lin pun pernah mengagumi kelihayan alat tersebut, ia tidak pernah menyangka pada suatu hari Si Soat Ang, putri saudara angkatnya bisa menggunakan alat dahsyat tersebut untuk menghadapi dirinya.

Diiringi bentakan murka sepasang bajunya di-kebut kedepan kencang2, sedang badannya ikut bergerak menubruk kearah gadis tersebut.

Reaksi yang dilakukan boleh dikata amat cepat, tapi berhubung jaraknya dengan Si Soat Ang tidak terlalu dekat, Kedua daya tembak alat rahasia Si Seng Ciam sangat kuat dan sekali tembak sembilan puluh sembilan batang jarum berbisa meluncur ber sama2 kendari gerakan menghindar nya cukup cepat, tapi sewaktu badannya berada ditengah udara bagian bawahnya sama sekali tak terjaga sepasang kakinya tidak ampun lagi termakan hajaran senjata rahasia tersebut, diikuti rasa sakit yang luar biasa menyerang seluruh badan, paling sedikit ada tiga empat puluh batang jarum telah bersarang ditubuhnya.

Hanya saja kepandaian silat yang dimiliki Kan Tek Lin sangat lihay, sekalipun tubuhnya kena terhajar begitu banyak jarum rahasia, tubuhnya sempat bersalto pula ditengah udara dan melayang turun dua tiga tombak lebih kedepan.

Setelah bangkit berdiri dari atas tanah, dengan penuh kemurkaan bentaknya keras:

"Soat Ang, kau..."

Hanya ucapan itu yang dapat meluncur keluar karena pada saat yang bersamaan sepasang kaki nya yang terhajar oleh jarum mulai terasa gatal2 kaku dan linunya bukan kepalang.

Rasa terkejut yang dialami Kan Tek Lin kali ini susah dibayangkan lagi. ber-turut2 ia cabut beberapa batang jarum rahasia yang bersarang ditubuhnya kemudian diperiksa dengan cermat.

Begitu dipandang, sukma terasa melayang tinggi di- awang2.

Pada-ujung jarum yang panjangnya hanya dua coen kelihatan memancarkan cahaya ke-hijau2an yang berkilap, sekali lihat setiap jago tentu mengerti kalau jarum2 itu sudah dipolesi racun ganas.

Tanpa disadari lagi seluruh tubuh Kan Tek Lin gemetar keras, suara pembicaraanpun dalam sekejap mata berubah amat serak.

"Serahkan obat pemunahnya !" Tapi dengan air muka hijau membesi Si Soat Ang tetap berdiri tak berkutik hanya sahutnya dengan suara dingin:

"Aku suruh kau jangan mencari gara2 dengan diriku, kau tidak suka menggubris ! sudah berapa kali kuperingatkan, janganlah coba2 memusuhi diriku !"

"Serahkan obat pemunahnya !" sekali lagi Kan Tek Lin berteriak seraya kertak gigi kencang2.

Sembari berteriak tubuhnya bergerak meloncat kemuka dan siap menubruk gadis tersebut.

Sungguh sayang, akibat dari loncatannya ini bukan saja tidak berhasil menubruk sasaran yang dituju, badannya malah jatuh terpelanting diatas permukaan salju.

Jelas terbukti hanya dalam sekejap itulah sepasang kakinya sudah menjadi kaku tak berasa sedikitpun juga bahkan untuk disaluri tenaga murnipun tak sanggup lagi, tidak aneh kalau badannya jatuh terpelanting dan roboh diatas permukaan salju.

Begitu Kan Tek Lin roboh, mendadak tangannya menekan permukaan salju dan berusaha sekuat tenaga menggunakan tenaga tekanan ini meloncat bangun sedangkan tangannya yang lain pada saat yang bersamaan merogoh ke dalam saku mengambil keluar seruling besi yang telah mengangkat namanya dalam Bu-lim.

Bila ia tidak bergerak mungkin masih tidak mengapa, begitu badannya kerahkan tenaga kelewat batas darah bergolak sangat kerasnya didalam rongga dada, daya bekerja racun itupun makin cepat, rasa kaku kini sudah merembet hingga kepinggang.

Sekalipun Kan Tek Lin sudah ada puluhan tahun lamanya berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah ia temukan ataupun berjumpa dengan daya bekerja racun ganas sedemikian dahsyat, sedemikian cepatnya.

Loncatannya barusan sekali lagi membanting badannya roboh keatas permukaan salju.

Saat itulah tampak seseorang berlari kesisinya dan berjongkok disamping tubuhnya seraya berseru penuh kecemasan : "Kan Jie-ya, kenapa kau? kenapa kau ?"

"Kau kah yang bernama Giok Jien ?" seru Kan Tek Lin dengan napas ter-engah2, "Kau harus ingat, asalkan kau masih bisa bernapas berusahalah keras untuk menyampaikan berita buruk ini kee... kee... kepada Poocu, kaa . . katakan kepadanya a .. aku mati ditangan siapa."

"Kan Jie ya ! kau tak akan mati" Teriak Giok Jien dengan hati yang pedih. "Nona hanya bergurau saja dengan dirimu, kadangkala nona pun pernah berkata hendak membunuh diriku, tapi ia tak pernah turun tangan sungguh2 biarlah kumohon obat pemunah buat dirimu."

Bicara sampai disitu mendadak Giok Jien membungkam.

Karena walaupun napas Kan Tek Lin masih ter-engah2, tapi dari sepasang kelopak matanya, dari hidung dan telinga maupun dari mulut mulai mengucurkan darah beracun yang hitam matang...

Giok Jien jadi terperanjat bercampur ketakutan, buru2 ia merangkak mundur satu langkah kebelakang.

Waktu itu Kan Tek Lin masih coba meronta sekuat tenaga."

"Perrr... perkataanku yang kusampaikan tadi sudah kau i

. . . ingat baik ?"

Kecuali mengangguk tiada hentinya Giok Jien tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Mendadak Kan Tek Lin memperdengarkan jeritan lengkingnya yang menyeramkan dan membuat bulu roma pada bangun berdiri.

Mengikuti jeritan lengking yang menyayatkan hati, darah segar bagaikan sumber mata air muncrat keluar dari mulutnya.

Semburan darah segarnya ini sama sekali tiada sangkut paut dengan keracunan jarum rahasia tersebut, hanya saja karena ia teringat dengan kegagahan serta kekosenan dirinya tempo dulu dan kini ternyata harus berakhir disuatu tempat yang sepi tanpa ada yang tahu, hatinya jadi pedih, sedih dan kecewa, saking tak tertahan jantungnya jadi pecah berantakan.

Darah segar muncrat membasahi permukaan salju nan putih, tubuhnya tergetar sangat keras, mendadak ia meloncat lagi kedepan tapi baru saja melayang sejauh dua depa badannya terbanting keatas tanah dan tak berkutik lagi.

Dengan mata terbelalak besar Giok Jien melototi tubuh Kan Tek Lin yang mati dalam keadaan sangat mengerikan, mulutnya terbuka lebar sedang badan gemetar keras, tak sepatah kata pun bisa diutarakan keluar.

Lama.. lama sekali, akhirnya per-lahan2 ia mendongak dan memperhatikan wajah Si Soat Ang.

Waktu itu adalah wajah Si Soat Ang berubah hijau menyeramkan, iapun sedang melototi mayat Kan Tek Lin yang mati dengan mengerikan tanpa berkutik sedikitpun juga.

"Nona...nona.. kau...kau sudah membinasakan Kan Jie- ya !" akhirnya Giok Jien berseru dengan napas ter-engah2. Seluruh tubuh Si Soat Ang gemetar keras, ia mundur dua langkah kebelakang dengan sempoyongan.

Tadi, karena gusar tanpa memikirkan apa akibatnya, ia sudah menghadiahkan lelaki itu dengan beberapa batang jarum beracun dari alat "Si Seng Ciam" nya, tapi menanti Kan Tek Lin benar2 menggeletak mati diatas permukaan salju dalam keadaan mengerikan, hatinya baru merasa terperanjat.

Apa lagi Giok Jien menegur dengan dingin, hatinya semakin terpukul lagi sehingga tak kuasa badannya mundur sempoyongan.

Ketika badannya mundur sempoyongan kebelakang, sepasang tangannya menutupi mulut sendiri. "la... ia mati ?" teriaknya tersentak kaget.

"Benar, Kan Jie-ya sudah mati, ia mati ditanganmu..." Seru Giok Jien sedih.

Tapi belum habis sidayang cantik ini menyelesaikan kata2nya mendadak Si Soat Ang berteriak melengking.

"Tidak... tidak peristiwa ini tiada sangkut pautnya dengan diriku, aku tak ada hubungannya... sejak tadi sudah kularang dia orang mencari gara2, ia tak mau tahu . . ia sen... ia sendiri yang cari gara2."

"Tapi sekarang, ia mati ditanganmu. kau telah membinasakan dirinya." sambung Giok Jien tegas, nada ucapannya telah berubah tenang tapi keren dan penuh wibawa.

Tiba2 Si Soat Ang meng-gerak2kan tangannya ke kanan kekiri seperti orang gila, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya pada saat ini, juga tak tahu apa yang diucapkan waktu itu. Yang jelas, Si Soat Ang gadis cantik dan Benteng Thian It Poo ini penuh diliputi rasa ketakutan.

Ia tahu dirinya sudah membinasakan Kan Tek Lin, bila peristiwa ini sampai tersiar ditempat luaran maka ayahnya tak akan berdiam diri. Orang yang paling menyayangi dirinya bakal ikut tahu kejadian ini.

Sejak kecil hingga menginjak dewasa, entah sudah beberapa kali Si Soat Ang buat keonaran dan menciptakan bencana buat bentengnya, sekalipun begitu belum pernah ia merasa takut.

Namun ini kali, kini ia betul2 ketakutan setengah mati.

Menggunakan saat meng-gerak2kan tangannya ke kanan kekiri seperti orang gila ini ia bermaksud mencari alasan yang kuat untuk melindungi diri dari segala tuduhan. tapi akhirnya ia tak berhasil dengan usahanya, karena Kan Tek Lin benar2 dan terbukti mati di tangannya.

Lama... lama sekali mendadak ia berhenti bergerak, serasa memandang Giok Jien tanyanya dengan napas terengah.

"Dia... dia mati ditanganku ?"

"Benar !" Dengan sangat berani Giok Jien bangun berdiri lalu menjawab penuh ketegasan.

Tiba2 Si Soat Ang mendongak dan tertawa seram.

"Dia memang aku yang bunuh, tapi siapa yang tahu?

Siapa yang tahu?"

"Aku tahu! engkoh Hauw Seng juga tahu, hati kecilmu sendiri juga tahu" kembali Giok Jien menjawab penuh ketegasan. Gelak tertawa Si Soat Ang makin lama kedengaran makin lengking dan menyeramkan, sembari tertawa ia menjengek dingin.

"Kau? dia? kalian anggap kamu berdua bisa hidup lebih lama lagi? aku? Mungkinkah aku ceritakan peristiwa ini kepada orang lain? hee hee hee dikolong langit tak akan ada yang tahu, tak seorang manusiapun yang tahu dia mati di tanganku, tak seorangpun yang tahu akulah pembunuhnya!"

Sembari berteriak2 badannya menerjang terus kedepan hingga tiba disisi mayat Kan Tek Lin, lalu berjongkok dan mulai mencabut jarum yang bersarang dikaki mayat itu satu demi satu.

Dengan ter-mangu2 Giok Jien berdiri mematung, matanya memandang gadis itu dengan melongo.

Sudah tentu Giok Jien pun tahu apa yang hendak dilakukan Si Soat Ang, tapi ia tak bertenaga untuk menghalangi maksudnya, ia hanya bisa berdiri mematung disana seraya memandang gadis tadi bekerja.

Pada saat itulah mendadak Giok Jien merasakan ada seorang menggelinding kesisi kakinya.

Giok Jien yang sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk memperhatikan gerak gerik Si Soat Ang, tiba2 merasa ada seseorang menggelinding ke sisinya, ia jadi terperanjat.

Buru2 ia menunduk, dilihatnya orang itu bukan lain adalah Liem Hauw Seng.

Sepasang gigi pemuda she-Liem ini bergemerutukan keras, jelas dengan menahan rasa sakit yang luar biasa ia berusaha mendekati gadis Giok Jien ini. Pemuda itu mendongak, tangannya gemetar keras tapi ia sempat melakukan gerakan2 tangan seraya menuding kereta salju yang tidak jauh terletak disisi tubuhnya.

Giok Jien mendongak, ia segera mengerti apa maksudnya

Maksud Liem Hauw Seng, menggunakan kesempatan sewaktu Si Soat Ang pusatkan perhatiannya untuk menghilangkan jejak mayat Kan Tek Liu. mereka meloncat naik dan melarikan diri.

Tindakan ini memang merupakan satu2nya jalan hidup bagi mereka.

Asalkan mereka berhasil meloncat naik keatas kereta salju itu, maka kendari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Si Soat Ang lebih lihaypun jangan harap bisa menyandak mereka.

Setelah Giok Jien dibuat paham dengan maksud kekasihnya Liem Hauw Seng, jantung terasa berdebar sangat keras.

Buru2 ia membongkok untuk bimbing Liem Hauw Seng bangun, setelah itu per-lahan2 mundur kebelakang.

Ketika itu Si Soat Ang sama sekali tidak merasa peristiwa apa yang telah terjadi dibelakang tubuhnya, ia hanya pusatkan perhatiannya untuk mencabuti jarum beracun yang bersarang ditubuh Kan Tek Lin sebatang demi sebatang.

Giok Jien sembari memayang tubuh Liem Hauw Seng selangkah demi selangkah mundur kebelakang, beberapa kali mereka terjatuh ke permukaan salju tapi setelah memperoleh harapan untuk hidup semangat yang berkobar dalam rongga dada mereka berduapun semakin menyala. Akhirnya setelah bersusah payah, sampai juga sepasang muda mudi ini diisi kereta salju.

Dengan sekuat tenaga Giok Jien mendorong tubuh Liem Hauw Seng naik keatas kereta salju sedang ia sendiri berdiri.

Diiringi bentakan keras, tali les digentakkan kencang, kesepuluh ekor anjing serigala itu menggonggong ramai kemudian lari kencang kedepan.

Suara gonggongan anjing mengejutkan Si Soat Ang dari perhatiannya, bagaikan tersambar ombak ia meloncat bangun dan berpaling.

Tapi gerakannya ini sudah terlambat.

Sepuluh ekor anjing sembari menggonggong tiada hentinya telah berlari kencang kemuka, kereta bersalju dengan meninggalkan muncratan bunga2 salju memancar delapan tombak jauhnya ke kedua belah samping.

Melihat kereta saljunya dibawa lari, Si Soat Ang perdengarkan suatu jeritan aneh yang sangat tidak enak didengar tubuhnya menerjang maju ke-muka.

Sayang, ketika badannya mencapai beberapa tombak jauhnya, kereta salju itu sudah jauh mencapai dua puluh tombak lebih meninggalkan gadis itu jauh dibelakang.

Si Soat Ang menjerit melengking tiada hentinya, suara jeritan tersebut tinggi, dan tajam dan mendebarkan hati. Walaupun Giok Jien yang berada diatas kereta salju telah jauh meninggalkan dirinya tapi ia masih dapat menangkap jeritan lengkingannya yang sangat mengejutkan hati itu.

Hampir2 saja jantung Giok Jien meloncat keluar dari rongga dadanya, tiada henti ia getarkan tali les agar kereta saljunya bisa berlari makin cepat. Sekalipun kereta salju sudah berlari bagaikan terbang, ia masih juga berseru-seru.

"Cepat dikit, cepat dikit ! kita hampir lolos dari cengkeramannya, cepat dikit, . . ayoh cepat lagi sedikit !"

Bunga2 salju beterbangan menyambar diatas bibir, hidung dan matanya, tulang terasa linu tersampuk angin dingin bagaikan pisau tajam yang menyayat tubuhnya, tapi ia tidak perduli semuanya demi kereta salju dilarikan bagaikan terbang.

Kurang lebih setengah jam kemudian, daya lari ke sepuluh ekor anjing-anjing penghela kereta makin lama makin lambat dan akhirnya sangat perlahan. Dan Giok Jien berpaling, dilihatnya seluruh penjuru hanya tampak permukaan salju nan putih, tak terlihat sesosok bayangan manusiapun yang melakukan pengejaran.

Ia menghembuskan napas panjang, membentak keras dan menghentikan larinya sang kereta.

Dalam sekejap mata hampir2 ia tidak mempercayai lagi akan keuntungannya, air mata tak tertahan meleleh keluar membasahi seluruh wajah, air mata ini adalah air mata kegirangan

Ia berpaling, dan berseru:

"Engkoh Hauw Seng, kita..."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan keluar, mulutnya terasa terkunci bungkam dalam seribu bahasa.

Di atas kereta salju tak ada manusia lain kecuali dia seorang.

Tidak, seharusnya diatas kereta salju ini kecuali masih ada orang lain.

Dia adalah engkoh Liem Hauw Seng nya !. Seluruh tubuhnya terasa jadi kaku, ia berdiri tertegun, pukulan yang menghajar dadanya kali ini bukan saja datangnya sangat mendadak bahkan peristiwa ini sungguh telengas sekali, kejadian ini telah menghancurkan semua pengharapan nya untuk hidup lebih lanjut

Ia berdiri mematung ditempat semula, setelah berapa lamanya ia berteriak keras:

"Engkoh Hauw Seng !"

Tapi, sekarang ia jadi terkejut setelah mendengar teriakannya ini. Suara tersebut amat kering, tidak enak didengar dan kosong... kosong tak berisi, apakah ini suara yang keluar dari kerongkongannya ? tapi itu bukan suaranya, lalu suara siapa ? siapakah yang masih ingin memanggil nama engkoh Hauw Seng dalam keadaan seperti ini ? ? ?

Mulut Giok Jien terpentang lebar2, ia ingin berteriak dan menangis tersedu2 tapi sedikit suara tak sanggup diperdengarkan, ia hanya merasa badan sendiri sedang melayang, melayang di angkasa sedang hatinya tertekan terasa berat, berat bagaikan batu ribuan kati.

Ia melihat pemandangan salju di hadapannya seperti telah berubah warna, cahaya ke-perak2an yang memantul dari permukaan tanah makin lama berubah makin gelap dan akhirnya gelap gulita.

Ketika itulah Giok Jien berteriak keras: "Engkoh Hauw Seng !"

Sebenarnya, matanya sudah ber-kunang2 kepala terasa pening, badannya hampir rubuh tidak sadarkan diri, tapi teriakan terakhirnya berhasil menolong gadis ini.

Karena berteriak peredaran darahnya menjadi lancar kembali, badannya hanya sedikit tergetar dan tetap berdiri tegak, dan kerobohannya diatas tanah berhasil dihindarkannya.

Giok Jien menarik napas panjang2, kemanakah perginya Liem Hauw Seng ?

Sewaktu ia temukan diatas kereta salju tak kedapatan Liem Hauw Seng ada disana, hatinya sangat kacau, ia tak bisa berpikir lagi kemanakah perginya pemuda tersebut.

Tapi kini, ia sudah tahu kemanakah perginya Liem Hauw Seng kekasih pujaan hatinya.

Tentu kereta salju berlari terlalu cepat sehingga tubuh pemuda she Liem ini terpental dan jatuh menggelinding diatas permukaan salju.

Sedangkan ketika mereka melarikan diri menggunakan kereta salju, Si Soat Ang mengejar dari belakang, maka jikalau Liem Hauw Seng terjatuh ditengah jalan, ada kemungkinan besar ia sudah terjatuh ditangan gadis she Si dari benteng Thian It Poo ini.

Teringat akan hal ini, Giok Jien merasakan seluruh peredaran darah dalam tubuhnya seperti hampir membeku, ia merasa seluruh badannya jadi kaku, sepasang kaki lemas tak sanggup bangun berdiri lagi, ia roboh terjengkang diatas permukaan salju.

Wajahnya dalam terkubur dibalik tumpukan salju, bunga salju mencair menjadi air dingin membuat wajah yang terpendam jadi peri, linu, seperti tertusuk beratus2 batang jarum.

Ia menghembuskan napas berat didalam tumpuk kan salju, setiap kali ia menghembuskan segumpal salju ikut tertelan kedalam perutnya. Entah lewat beberapa saat lamanya.. ia mulai berpikir kembali, berpikir tentang nasib Liem Hauw Seng.

Ia menduga sekalipun pemuda kekasihnya ini telah jatuh terpelanting diatas salju, tapi belum tentu berhasil ditemukan oleh Si Soat Ang.

Jika ia tidak sampai diketahui oleh Si Soat Ang dan ia sendiri berdiri tertegun disitu bukankah sama artinya ia sudah memberikan kesempatan bagi malaikat elmaut untuk mencabut nyawa kekasih nya ?

Teringat akan hal itu, semangat Giok Jien segera berkobar kembali. ia meloncat bangun dari permukaan salju dan menggelinding naik keatas keretanya lalu diiringi bentakan keras serta gonggongan anjing, kereta kembali bergerak dengan cepatnya.

Ketika itu salju sudah berhenti, Giok Jien yang melarikan kereta saljunya dengan mengikuti bekas yang ditinggalkan tadi. tidak sulitlah baginya untuk kembali ketempat semula.

Selama kereta bergerak cepat, hati gadis ini bagaikan ter- katung2 ditengah angkasa, dengan cermat diperhatikannya terus suasana disekelilingnya.

Ia tahu asalkan Liem Hauw Seng terpental jatuh dari kereta dengan membawa luka yang parah tak akan jauh ia merangkak pergi.

Kurang lebih seperminum teh kemudian sedikitpun tidak salah dari tempat kejauhan ia melihat ada seseorang menggeletak diatas permukaan salju.

Saking girangnya Giok Jien jerit melengking, tidak menunggu kereta tersebut berhenti lagi, ia meloncat turun dan ber-lari2an menghampiri manusia yang dilihatnya menggeletak diatas tanah. Beberapa kali ia harus jatuh bangun sebelum sampai dihadapan orang tadi, setelah susah payah sampai juga dia disana.

Tubuh orang itu melingkar jadi satu, tapi Giok Jien dapat melihat jelas dia bukan lain adalah-engkoh Hauw Seng nya.

Napasnya memburu, sembari tertawa air mata tiada hentinya jatuh berlinang.

"Coba kau lihat aku benar2 sangat tolol" teriaknya seraya lari menghampiri. "Kau terjatuh dari atas kereta tapi aku masih belum merasa, tapi sekarang baikan sudah, akhirnya berhasil juga kutemukan dirimu."

Setelah gadis ini menemukan kembali Liem Hauw Seng masih ada disana, hatinya jadi lega, perkataanpun tak sanggup diutarakan lagi.

Sekalipun begitu bukan saja Liem Hauw Seng tidak memberi jawaban kepadanya, bahkan badan pun tak berkutik.

Kontan Giok Jien membungkam dalam seribu bahasa, jantungnya terasa berdebar sangat keras, sekuat tenaga ia membalikkan badan kekasihnya.

"Engkoh Hauw Seng !" teriaknya keras.

Pada saat itulah Liem Hauw Seng baru bersuara, terdengar ia menghela napas panjang.

"Aaai...! aaa...apa maksudmu datang mencari diriku lagi

?"

Giok Jien tertegun.

"Engkoh Hauw Seng, kenapa aku tak boleh datang

mencari dirimu ? sekarang aku berhasil temukan dirimu, ini sangat bagus sekali. mari kita cepat pergi, sebelum nona sempat menemukan kita. kita harus cepat2 pergi !"

Liem Hauw Seng pejamkan matanya rapat2, sekali lagi ia perdengarkan suara helaan napas panjang.

Sekuat tenaga Giok lien memayang bangun tubuh pemuda tersebut tapi sebelum mereka sempat berangkat mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang datang suara teguran yang sangat dingin.

"Sungguh sayang waktu tak mengijinkan lagi, aku telah menemukan kalian kembali."

Suara itu muncul diri bibir Si Soat Ang.

Waktu itu Giok Jien sudah siap melangkah pergi, tapi begitu ucapan Si Soat Ang meluncur keluar memecahkan kesunyian, ia jadi tertegun dan akhirnya berdiri kaku, bahkan untuk berpaling sekejappun tidak sanggup.

Suara tertawa dingin dari Si Soat Ang berkumandang tiada hentinya dari belakang tubuhnya, tertawa dingin itu memberikan perasaan bagi Giok Jien bagaikan selangkah demi selangkah mendekati liang kubur.

Beberapa saat kemudian, dengan suara yang serak lagi kering ia berseru lirih:

"Nona kau berhasil menyandak kami ?"

Tubuhnya tetap tak bergerak, tapi ia merasa Si Soat Ang makin lama semakin mendekati tubuhnya.

Akhirnya tangan Si Soat Ang berhasil menekan pundaknya, suara gelak tertawa yang diperdengarkanpun makin menggidikkan hati.

Kelima jarinya semakin mengencang dan terakhir hampir2 telah menembusi pundak Giok Jien sehingga menimbulkan rasa sakit yang bukan kepalang. Seluruh tubuh gadis itu gemetar keras, air mata meleleh keluar membasahi seluruh wajahnya, menanti seluruh tubuhnya kena diangkat ke tengah udara oleh Si Soat Ang, ia baru menjerit kaget.

Tapi dengan cepat putri kesayangan dari Poocu Benteng Thian It Poo ini telah memerseni sebuah tempelengan keras keatas wajahnya.

Tamparan yang menggunakan tenaga sangat besar ini membuat tubuh Giok Jien mundur sempoyongan, tapi Si Soat Ang tidak membiarkan badannya jatuh, sekali cengkeram ia menyambar lagi dada gadis tersebut.

"Nona..." seru Giok Jien dengan nada gemetar. "Kau... kau bunuhlah aku seorang tapi aku mohon janganlah kau mencelakai engkoh Hauw Seng."

Dalam pada itu Si Soat Ang telah mencengkeram Liem Hauw Seng dikiri dan Giok Jien dikanan, rasa benci yang terkumpul dalam dadanya selama ini sekarang disalurkan semua, ia telah berubah hampir mendekati sinting, jeritan lengkingnya bercampur baur dengan tertawa yang meringkik.

"Hiiii... hiiii... membunuh dirimu? kau boleh berlega hati, aku tak akan membinasakan dirimu, tak akan kulakukan hal sebodoh itu."

Sejak semula Giok Jien tidak memikirkan mati hidupnya lagi, oleh karena itu mendengar ucapan Si Soat Ang tersebut ia merasa terlalu gembira.

"Lalu bagaimana dengan engkoh Hauw Seng." buru2 tanyanya cepat.

"Kau boleh berlega hati ," teriak Si Soat Ang dengan nada meIengking. "ia pun tak akan mati, aku masih ingin ia hidup agar bisa melihat banyak persoalan." Tak kuasa lagi Giok Jien jatuhkan diri dan berlutut.

"Nona asalkan kau suka menolong engkoh Hauw Seng, suruh aku berbuat apapun aku sanggup."

Mendadak gadis she Si mendongak dan tertawa ter bahak2.

"Oooouw benar begitu ? baik, kau boleh payang dia naik keatas kereta bersalju dan kita segera berangkat !"

Walaupun dalam hati Giok Jien tahu urusan tak akan beres segampang ini, ia merasa paling sedikit urusan yang ada didepan mata dibereskan dulu, asalkan Liem Hauw Seng bisa tertolong semua hal mudah diselesaikan, oleh karena itu buru2 ia payang pemuda itu naik keatas kereta salju.

Sembari memayang badannya, tiada hentinya ia menghibur pemuda kekasihnya:

"Engkoh Hauw Seng, nona sudah setuju untuk menolong dirimu, kau tidak usah gelisah, hatimu makin gelisah lukamu makin sukar untuk sembuh."

Beberapa kali Liem Hauw Seng membuka mulutnya mau mengucapkan sesuatu, akhirnya tak sepatah katapun yang diutarakan keluar.

Tidak selang beberapa saat, ketiga orang itu sudah naik keatas kereta salju, dimana cambuk berayun kereta bergerak dengan cepatnya kemuka.

Kurang lebih setengah jam kemudian mereka telah tiba diatas sebuah bukit dengan tujuh, delapan buah bangunan rumah tembok, Ketujuh delapan buah bangunan rumah tembok itu melingkari sebuah halaman, ditengah halaman berdiri sebuah loteng peronda yang tingginya tiga tombak. Kiranya tempat itu bukan lain adalah sebuah pos penjagaan dari benteng Thian It Poo.

Ketika kereta salju bergerak mendekat, tampaklah beberapa orang munculkan diri menyambut kedatangan mereka.

Si Soat Ang melarikan keretanya kehadapan beberapa orang itu tampak lelaki2 kekar tersebut dengan wajah kegirangan berteriak keras.

"Aaaah...! nona sungguh2 datang, peristiwa ini tidak kami sangka sebelumnya."

Si Soat Ang tidak menggubris ocehan2 itu, ia langsung bertanya dengan nada yang ketus.

"Dimana Oen Su-ko? adakah ia disini?"

Pertanyaan itu baru saja diutarakan, seorang lelaki kurus tinggi dengan memakai topi terbuat dari kulit binatang berlari datang seraya menyahut tiada hentinya:

"Ada! ada!"

Lelaki yang bernama "Oen Su Ko" ini punya sedikit nama besar disekitar daerah Utara, senjata andalannya sangat luar biasa yaitu sebuah roda bulat yang panjangnya beberapa depa dengan ujungnya bertaburkan duri2 tajam, bila digetarkan maka akan menimbulkan suara dengungan yang sangat aneh.

Ia she Oen dengan gelar Toh Ming Hwi Loen, atau siroda terbang pencabut nyawa.

Pada saat itu dengan wajah penuh senyuman ia menyambut kedatangan Si Soat Ang..

"Nona, secara bagaimana kau bisa sampai disini? apakah Poocu tahu akan kedatanganmu disini?" sapanya ramah. "Apakah kedatanganku harus diketahui Poocu dulu ?" hardik Si Soat Ang kurang senang.

"Ooouw . . . tidak, tidak, sudah tentu tidak dengan kepandaian silat yang nona miliki saat-ini jangan dikata hanya berkeliling disekitar benteng Thian It Poo, sekalipun berkelana di daerah Utara maupun selatan juga sudah cukup."

Si Soat Ang tertawa senang.

"Oen Su-ko selembar mulutmu betul2 sangat lihay, mari ! bantu aku sebentar disini ada seorang sedang menderita luka, cepat payang dia masuk kedalam."

Setelah mendengar perintah dari gadis she Si ini Oen Su ko baru perhatikan bila diatas kereta salju masih ada seorang yang sedang menderita luka sangat parah, ia jadi tertegun dan buru2 maju menghampiri untuk payang orang itu.

Setelah dekat, ia makin terperanjat lagi karena dalam sekali pandangan manusia she Oen ini lantas mengenali kembali bila orang itu adalah Liem Hauw Seng keponakan Poocu mereka juga merupakan kakak misan dari Si Soat Ang.

Luka yang diderita Liem Hauw Seng sangat parah, tapi sikap Si Soat Ang amat hambar bahkan masih bisa bergurau dan tertawa, Kendari Oen Su ko sudah ada setengah umur berkelana dalam dunia persilatan juga susah untuk menebak kejanggalan tersebut.

Setelah memayang tubuh Liem Hauw Seng, ia pelototi terus wajah Si Soat Ang dengan ragu2 dan kebingungan.

"Cepat kami kirim dua orang kembali ke benteng untuk mintakan obat luka pada ayahku, cepat pergi dan cepat kembali." perintah Si Soat Ang lebih lanjut "Beritahu juga pada ayahku, katakan untuk sementara waktu aku tak akan kembali ke benteng dan akan tetap berada disini untuk merawat luka Piauw-ko."

Mendengar perintah tersebut Oen Su segera menyahut. "Orang yang pergi mengambil obat harus cepat kembali,

dilarang banyak bicara, jikalau sampai merusak urusanku, aku akan suruh kalian rasakan bahwa aku adalah manusia yang tidak gampang diganggu." teriak gadis she Si ini lebih lanjut dengan wajah membesi.

Sekali lagi Oen Su menyahut, buru2 ia perintahkan dua orang dengan menunggang kereta berlalu dari sana, sedang sisanya segera masuk kedalam ruangan.

Setelah masuk kedalam ruangan hawa hangat menyelimuti badan, Oen Su membaringkan Liem Hauw Seng keatas pembaringan sedang Si Soat Ang mengeluarkan sebutir pil, dengan bantuan arak ia paksa obat itu masuk kedalam perut pemuda she-Liem.

Selama ini Giok Jien selalu berada disisi Liem Hauw Seng, melihat Si Soat Ang agaknya sungguh2 hendak menyembuhkan luka kekasihnya, rasa girang dalam hatinya susah dilukiskan lagi.

Tidak selang beberapa saat kemudian Si Soat Ang berkata kembali:

"Oen Su-ko, dalam pos perjagaan ini semuanya ada berapa orang ?"

"Seluruhnya ada delapan belas orang"

"Kecuali dua orang yang pergi minta obat, sisanya keenam belas orang segera suruh berkumpul aku mau periksa satu persatu." Oen Su tidak mengerti apa maksud Si Soat Ang dengan berbuat demikian, iapun tidak berani banyak bertanya, terpaksa sahutnya:

"Terima perintah." Ia singkap gorden dan berjalan keluar.

Tidak selang beberapa waktu suara langkah kaki bergema didepan pintu.

"Cukup... cukup... tak usah suruh mereka masuk, biar aku yang keluar sendiri" buru2 gadis she Si membentak.

Sembari berkata mendadak ia tarik tangan Giok Jien dan diajak keluar dari ruangan menuju ketempat luaran, Tampak di tengah halaman berdiri puluhan lelaki kekar tinggi pendek tak menentu, sebagian besar berwajah jelek2 dan buas.

Diantaranya ada seorang lelaki yang pendek gemuk, wajahnya sangat jelek sekali, kepalanya besar bulat seperti babi, badannya penuh berbulu hitam dan guyur2 lemas.

Giok Jien yang kena ditarik keluar oleh Si Soat Ang, ia lantas merasakan kejadian tidak menguntungkan bagi dirinya, tak kuasa lagi jantung terasa berdebar sangat keras.

Waktu itu Si Soat Ang menarik dia menuju kehadapan lelaki jelek itu, Giok Jien makin curiga dan takut sehingga badannya gemetar keras.

Dengan pandangan mata yang tajam putri kesayangan dari Poocu benteng Thian It Poo ini perhatikan lelaki jelek itu beberapa kejap. lalu tertawa.

"Wajahmu terasa amat asing, siapakah namamu?"

Agaknya lelaki jelek itu dibikin kaget setengah mati sehingga untuk beberapa waktu hanya berdiri me-Iongo2 dengan mata terbelalak, tak sepatah katapun bisa diutarakan keluar.

Oen Su yang ada disisinya segera mewakili untuk memberi jawaban:

"Nona, dia adalah "Ci Bian Koei" atau setan berwajah merah Ciauw Loo-chiet, kepandaian silatnya tidak jelek .

"Ooouw...kiranya Ciauw Cung-su !"

Sisetan berwajah merah Ciauw Chiet sebenarnya tidak lebih hanya manusia rendah, sedang Si Soat Ang adalah putri kesayangan poocu benteng Thian It Po, baginya cukup memandang gadis ini dari tempat jauh saja jantungnya sudah berdebar keras, apalagi saat ini gadis tersebut bukan saja berdiri di hadapannya bahkan nadanya halus dan begitu berbicara lantas memanggil dirinya dengan sebutan "Ciauw Cung-su", Ciauw Loo-chiet ini makin gelagapan lagi.

Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya, ia tidak tahu harus mengucapkan perkataan apa baiknya.

Kawan yang berdiri disisinya segera menjawil dia dan memberi tanda agar ia jangan membisu terus.

Ciauw Loo chiet pentangkan mulutnya lebar2, lama sekali ia baru menyahut: "Benar... hemm... aku adalah pendekar Ciauw !"

Ucapannya ini langsung mendatangkan rasa geli dihati semua orang, tidak terkecuali juga Si Soat Ang, ia tertawa ter-kekeh2.

Hanya Giok Jien seorang yang tundukkan kepala, badannya gemetar sangat keras. Lama sekali gelak tertawa baru sirap, mewakili Ciauw Loo chiet yang jadi jengah sehingga wajah nya berubah merah padam seperti babi hangus ujar Si Soat Ang:

"Ciauw Cuang-su benar2 seorang lelaki sejati, kalian jangan mentertawakan dirinya, pendekar Ciauw, aku ingin menanyakan satu persoalan kepadamu."

"Uuu . . uru. . . urusan apa ? ? ?"

Si Soat Ang melirik sekejap kearah Giok Jien, lalu senyuman sinis yang menyeramkan berkelebat diatas wajahnya.

"Pendekar Ciauw, kau sudah menikah belum?"

Ciauw Loo-chiet berdiri melengak, jelas ia tidak pernah menyangka Si Soat Ang bisa mengajukan pertanyaan macam itu kepadanya.

Sisanyapun ikut berdiri tertegun, untuk sesaat suara manusia, gelak tertawa jadi serap.

Karena pertanyaan yang diajukan gadis she Si ini sangat luar biasa dan tak seorang pun diantara mereka yang mengerti maksudnya.

Ketika semua orang berdiri melengak, Ciauw Loo chiet berdiri me longo2, mendadak Giok Jien menjerit melengking. "Nona kau berbuatlah kebaikan." sembari berteriak ia jatuhkan diri berlutut dihadapan Si Soat Ang.

Bagaimanapun Giok Jien bukan hanya sehari dua hari bergaul dengan majikannya ini, sudah tentu ia tahu persoalan apakah yang sedang di pikirkan dalam hati Si Soat Ang.

Semua orang melihat Giok Jien jatuhkan diri berlutut makin melengak lagi dibuatnya, tapi Si Soat Ang sama sekali tidak menggubris bekas budaknya ini, kembali ia mengulangi pertanyaannya.

Dengan tangan digoyangkan berulang kali, Ciauw Loo chiet menjawab juga akhirnya: "Belum... belum kawin."

"Kalau begitu bagus sekali." Si Soat Ang tertawa seram. "Pendekar Ciauw, coba kau lihat bagaimana wajah dayangku ini ?"

Ciauw Loo-chiet tertegun, buru2 ia alihkan sinar matanya kearah Giok Jien yang masih berlutut diatas tanah.

Pada dasarnya Giok Jien memang seorang gadis cantik, kini wajahnya pucat pasi badannya gemetar keras, semakin membuat orang merasa kasihan.

Melihat wajahnya yang cantik sepasang mata Ciauw Loo chiet kontan melotot bulat2, ia seperti berada dalam impian dan hanya bisa tertawa bodoh belaka.

"Jika kau suka, biar aku yang jadi mak comblangnya, malam ini juga kalian kawin !"

Ucapan ini menimbulkan kegemparan dikalangan para jago yang hadir disana, ada beberapa orang lelaki segera mengempit tangan dan kaki Ciauw Loo chiet lantas diangkat dan di-lempar2 kan ke tengah udara.

Tubuh Ciauw Loo chiet gemuk besar, ia tidak mengerti apa yang dinamakan ilmu meringankan tubuh, kena dilemparkan ketengah udara langsung saja menjerit seperti babi disembelih tangannya bergerak keras dan menimbulkan suatu sikap yang sangat jelek.

"Sudah jangan ribut" seru Si Soat Ang kemudian sambil tertawa. "Jangan sampai membuat sipengantin jadi ketakutan, nanti sipengantin perempuan tak akan mengampuni kalian." Beberapa orang itu segera turunkan kembali Ciauw Loo chiet keatas tanah, Oen Su yang ada disisinya dengan cepat dorong ia kedepan.

"Manusia yang tidak tahu diri" tegurnya keras. "Masih tidak kau ucapkan terima kasih atas budi nona kepadamu ?"

Tidak usah disuruh kedua kali Ciauw Loo-chiet jatuhkan diri berlutut dan meng-angguk2 kan kepalanya berulang kali di hadapin Si Soat Ang.

Waktu itu Giok Jien masih berlutut diatas tanah, sedang Si Soat Ang tertawa dingin tiada hentinya:

"Eeeii kenapa kalian begitu gelisah, mau memberi hormat seharusnya menunggu lilin kawin dinyalakan lebih dulu!"

Ucapan ini kembali mendatangkan gelak tertawa dikalangan para jago yang ada disana.

Tubuh Giok Jien gemetar semakin keras, ia merangkak maju beberapa langkah hingga tiba dihadapan Si Soat Ang lalu seraya memeluk ke dua kaki bekas majikannya teriaknya ber-kali2:

"Nona... nona..!"

Ditengah suara gelak tertawa yang keras, suara jeritannya terdengar sangat lemah dan hampir sirap, tapi Si Soat Ang masih bisa menangkap suaranya, per-lahan2 ia ayunkan tangan keatas sehingga suasana jadi tenang kembali.

Lalu dengan pandangan dingin Si Soat Ang mengalihkan sinar matanya kebawah.

Waktu itu Giok Jien sedang mendongak dan merengek memohon belas kasihannya, melihat wajah musuh cintanya ini sangat mengenaskan dan sebentar lagi kesuciannya akan musnah ditangan orang lain, dalam hati ia merasa sangat girang dan sangat senang.

"Apa yang ingin kau katakan ?" serunya sepatah kata demi sepatah kata.

Air mata Giok Jien mengucur keluar semakin deras. "Nona, kau... kau boleh hajar diriku..! kau boleh bunuh

diriku, aku tak akan murung atau merasa kesal, tapi

sebelum menjatuhi hukuman macam ini kepadaku haruslah kau ikut memikirkan buat diri engkoh Hauw Seng !"

"Iiih sungguh aneh sekali, aku rada sedikit tidak mengerti, kau adalah dayangku aku mau kau kawin dengan siapa, apa sangkut pautnya dengan Hauw Seng Piauw ko ?" seru Si Soat Ang dengan alis melentik, Giok Jien masih terus menerus memohon.

"Nona, aku mohon kepadamu jangan..! janganlah bersikap demikian kepadaku, janganlah bersikap demikian kepadaku."

Makin gadis itu merengek dan memohon di-hadapannya Si Soat Ang merasa makin kegirangan, sengaja dengan perlambat ucapannya ia berseru:

"Oouw ! kalau begitu kau tidak ingin kawin dengan Ciauw Ciang su ini ?"

"Nona, aku..." Giok Jien mulai terisak nangis.

"Baiklah, sekarang coba bicara sendiri sebenarnya kau ingin kawin dengan siapa ?"

Sebenarnya seluruh tubuh Giok Jien sedang gemetar sangat keras, tapi menanti ucapan terakhir dari Si Soat Ang meluncur keluar tiba2 badannya tidak gemetar lagi, bersamaan itu pula ia berhenti menangis. Bukan begitu saja, setelah suara tangisannya berhenti per-lahan2 ia merangkak dan bangkit berdiri

Dalam sekejap mata ia sudah mulai paham, sekalipun ia merengek terus dihadapan Si Soat Ang, jangan dikata hanya melelehkan air mata, kendari menangis sampai kucurkan darah segar pun juga percuma.

Keadaan Si Soat Ang saat ini mirip seekor kucing yang berhasil menangkap seekor tikus, ia permainkan dulu tikus itu sehingga akhirnya sedikit demi sedikit menjadi mati.

Setelah Giok Jien bangun berdiri, ia menghela napas panjang.

"Nona apabila kau ingin paksa aku mati, biarlah aku mati sekarang juga !"

"He he he siapa yang ingin paksa kau mati ?" jengek Si Soat Ang sembari tertawa dingin. "apalagi kau tak boleh mati, jika kau mati maka rasa gemas, benci yang terkandung dalam hatiku hendak ku lampiaskan kepada siapa ?"

Sebetulnya dalam anggapan Giok Jien, asalkan ia adu jiwa sampai mati, maka semua urusan akan selesai dendam, benci yang tertanam dalam hati gadis she Si ini pun akan musnah dengan sendirinya.

Tapi kini ia mulai mengerti urusan tak akan segampang itu.

Bila ia menyetujui kawin dengan Ciauw loo chiet. Kejadian ini sukar dibayangkan bagaimana akhirnya, maka ia bakal menerima suatu penghinaan yang amat besar. kehidupan selanjutnya tak tahu bagaimana jadinya, tapi ada kemungkinan besar Si Soat Ang tak akan membenci tak akan menyakiti Liem Hauw Seng lagi. Bila ia memilih jalan mengadu jiwa, dalam keadaan gusar Si Soat Ang bisa saja menggunakan cara yang paling keji untuk menyiksa Liem Hauw Seng.

Berpikir akan akibat2 yang bisa terjadi Giok Jien merasakan badannya merinding, bulu kuduk pada bangun berdiri.

Ia tak mungkin bisa mati, ia tak boleh mati, jika ia mati maka Liem Hauw Seng akan tinggal seorang diri dikolong langit, pemuda itu akan tersiksa hatinnya selama hidup.

Tapi bila ia tak mati, bagaimana jadinya ? harus kawin dengan seorang lelaki macam babi ?

Giok Jien tidak sanggup untuk berpikir lebih lanjut, ia merasa badannya jadi kaku, bukan saja seluruh tubuhnya bahkan hatipun ikut jadi kaku, ia berubah jadi goblok, berubah jadi manusia tolol. apapun tak bisa dipikir lagi.

Giok Jien berdiri tertegun, sedangkan Si Soat Ang tiada hentinya memperdengarkan gelak tertawanya yang aneh dan menyeramkan.

Sembari tertawa. desaknya lebih lanjut: "Kau sudah setuju bukan ? asalkan kau mengangguk maka malam ini adalah malam pengantinmu, jika kau tidak setuju, Heeee... heee... aku masih punya cara yang lain."

Dengan pandangan sayu Giok Jien mendongak, sudah tentu Si Soat Ang punya cara yang lain, dengan sangat mudah sekali gadis she Si dapat menotok jalan darahnya kemudian memberikan badannya yang tak bisa berkutik untuk dikerjai oleh Ciauw Loo-chiet.

Tapi justru Si Soat Ang paksa dia untuk mengangguk! paksa ia menyetujui sendiri. Sudah tentu Giok Jien tahu maksud tujuan dari Si Soat Ang, gadis dari benteng Thian It Poo ini sengaja berbuat demikian agar Liem Hauw Seng yang ada didalam ruangan rumah bisa ikut mendengar suara sahutan dari kekasihnya ini, agar Liem Hauw Seng tahu bila Giok Jien adalah rela sendiri kawin dengan Ciauw Loo-chiet.

Bila demikian adanya. maka Liem Hauw Seng akan memandang rendah dirinya, melupakan dia dan tidak merindukan dia lagi, ia akan menganggap dirinya sebagai seorang perempuan rendah yang tidak tahu malu.

"Tidak boleh kusanggupi !" Teriak Giok Jien didalam hatinya, "Bagaimanapun nasib menekan diriku, lebih baik aku pasrah saja. aku tak boleh mengangguk, tak boleh mengikuti paksaannya !"

Dengan kaku ia berdiri, disana, seluruh badannya seperti membeku. sedikitpun tak berkutik lagi.

Si Soat Ang mengulangi kembali pertanyaan itu sampai beberapa kali. -Tapi Giok Jien tetap tak bergerak.

Lama kelamaan suaranya makin meninggi, kegusarannyapun makin membakar hatinya.

Oen Su yang berdiri disamping, karena takut Si Soat Ang sulit turun panggung, dengan maksud mencari muka ujarnya:

"Nona, ini hari malam semakin kelam, lebih baik kita bicarakan besok saja."

"Apa yang kau ketahui ? tidak usah banyak bicara !" teriak Si Soat Ang penuh kegusaran.

Oen Su sama sekali tidak menduga ia bakal ketanggor batunya, saking takutnya buru2 ia bongkokkan badannya berulang kali.

"Baik ! Baik ! Baik !"

Badannya segera mengundurkan diri dari sana. Melihat Si Soat Ang jadi naik pitam semua orang yang hadir disana tak berani menghembuskan napas berat2 lagi, masing2 orang mulai merasa heran dan bingung, mereka tidak tahu kenapa Si Soat Ang paksa dayangnya yang cantik untuk kawin dengan Ciauw Loo-chiet yang jelek bagaikan babi.

Pada saat itulah mendadak dari belakang tubuh Si Soat Ang berkumandang datang suara teriakan lirih dan lemah.

"Piauw moay, piauw moay !"

Mendengar panggilan itu, tubuh Si Soat Ang tergetar keras, per-lahan2 ia berpaling.

Entah sejak kapan Liem Hauw Seng telah merangkak turun dari atas pembaringan dan kini berdiri didepan pintu dengan tangan mencekal tiang.

Walaupun sekuat tenaga ia berusaha berdiri tegak, tapi kelihatan sekali setiap saat dapat roboh ketanah, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.

Waktu itu, ditengah lapangan kosong telah di buat seonggokan api unggun, cahaya api yang berwarna kuning ke emas2an berkobar menjulang tinggi keangkasa, dibawah sorotan cahaya api wajah Liem Hauw Seng yang pucat pasi kelihatan sangat aneh sekali.

Setelah Liem Hauw Seng berteriak dua kali, ia tidak bicara lagi.

Sedangkan Si Soat Ang sejak putar badan iapun membungkam dalam seribu bahasa, beberapa saat kemudian baru terdengar ia bertanya: "Kau sedang memanggil diriku ?"

Diatas selembar wajah Liem Hauw Seng yang pucat tersungging satu senyuman pahit. "Benar aku sedang memanggil dirimu. Piauw moay aku lihat kau sudah cukup mengacau hubungan kami"

"Hmm, yang ingin kau sampaikan kepadaku hanya ini saja ?"

Tubuh Liem Hauw Seng menerjang maju lagi beberapa langkah, bila bukan mencekal pinggiran dinding hampir2 saja badannya roboh terjengkang diatas tanah.

Seluruh tubuhnya mengeluarkan suara gemerutukan yang keras, sahutnya tegas: "Benar, bila dalam hatimu masih ada hal2 yang terasa kurang puas, kau boleh laksanakan siksaan mu itu dibadanku, kau jangan menyusahkan Giok Jien lagi."

Setelah menyiksa Giok Jien tadi, rasa mangkel dan rasa gusar yang berkobar dalam dada Si Soat Ang telah banyak berkurang.

Melihat parahnya luka yang diderita Liem Hauw Seng, hatinya mulai iba. Bagaimanapun juga ia pernah jatuh cinta dengan pemuda ini karena pun dalam hatinya ingin cepat2 sembuhkan luka yang diderita pemuda tersebut.

Tapi, setelah mendengar ucapan yang terakhir dari lelaki she Liem ini, rasa gusarnya kembali berkobar.

"Oooouw, , . cinta kalian berdua benar2 sangat mendalam sekali," sindirnya diiringi tertawa dingin yang menyeramkan.

Liem Hauw Seng menghela napas panjang.

"Aaaai . . . kau jangan anggap Giok Jien adalah seorang anak yatim piatu, aku lihat hatinya suci dan polos ia tentu mempunyai asal-usul yang besar, aku lihat lebih baik kau jangan keterlaluan, dan lepaskan dirinya !" "Ha ha ha Liem Hauw Seng, kau anggap ucapanmu itu bisa menakuti diriku ?" tiba2 Si Soat Ang mendongak dan tertawa terbahak2 "Setelah kau keluar urusan jauh lebih bagus lagi.”

"Oen Su ! tangkap mereka berdua !" perintah yang diturunkan dengan wajah hijau membesi siapa yang berani membangkang ? walaupun Oen Su tahu kedudukan dari Liem Hauw Seng tapi bagaimanapun juga kedudukannya tak akan setinggi kedudukan Poocu serta Si Soat Ang.

Oleh karena itu setelah ragu2 sejenak mereka maju juga untuk memayang Liem Hauw Seng dan diseret pergi.

Air muka Si Soat Ang pucat kehijau2an, dengan tersungging suatu senyuman yang menyeramkan kembali perintahnya:

"Ambil segentong air panas, jangan terlalu panas, hati2 jangan menyelomoti badan Liem sauw-ya!"

Dua orang berjalan keluar meninggalkan barisan, tidak lama kemudian mereka kembali dengan membawa segentong air panas yang masih mengepulkan asap.

Hingga detik ini tak seorang manusiapun paham apa yang hendak dilakukan oleh Si Soat Ang setelah kedua orang itu meletakkan gentong berisikan air panas itu keatas tanah, gadis she-Si ini baru berkata kembali.

"Oen Su, masukkan dia kedalam gentong air panas itu!" "Nona..." teriak Oen Su melengak.

Tapi tidak menanti ia menyelesaikan ucapannya, Si Soat Ang sudah berseru kembali.

"Sudah dengar belum?" Oen Su tidak berani banyak bicara lagu terpaksa ia angkat badan Liem Hauw Seng dan dijebloskan kedalam gentong air panas.

Air dengan cepatnya membasahi seluruh lutut Liem Hauw Seng dan merendamnya hangat2.

Tapi cuaca ditempat luaran sangat dingin, sekalipun air yang diangkut keluar masih panas dalam sekejap mata panasnya telah berkurang.

Dengan perasaan bangga Si Soat Ang tertawa seram. "Manusia rendah, sudah kelihatan belum ?" jengeknya

sinis, "Aku lihat paling banter satu jam lagi segentong air panas ini akan berubah jadi segentong air dingin, waktu itu sepasang kaki engkoh Hauw Seng mu yang ada dalam tumpukan salju akan terasa hangat sedap sekali... haa... haaaa... tentu kau bisa bayangkan bukan, bagaimana rasanya waktu itu !"

Giok Jien jadi ketakutan.

"Nona, jangan... janganlah berbuat demikian!" teriaknya gemetar.

"Haaaa... haaa sekalipun kau minta kepadaku juga percuma saja." Teriak Si Soat Ang agak histeris. "Kapan saja kau menyanggupi untuk kawin dengan Ciauw Loo- chiet, saat itu juga Oen Su akan mengangkat dia lepas dari gentong air ?"

Ia lantas berpaling dan tambahnya: "Liem Hauw Seng, bila kau tidak ingin sepasang kakimu jadi cacad akibat kedinginan maka mohon lah bantuan kekasihmu asal suka menolong jiwamu."

Kembali ia tertawa dingin, kepada Oen Su serunya pula: "Oen Su, sudah kau dengar belum ?" Sebetulnya Oen Su pun seorang lelaki buas yang kasar dan berhati telengas, tapi menyiksa orang dengan menggunakan cara demikian kejinya baru untuk pertama kali ini ia jumpai, suaranya berubah jadi serak tidak enak didengar.

"Aaaa.. aku sudah dengar !".

Si Soat Ang tertawa dingin, dengan membawa kemangkelan ia melangkah masuk kedalam ruangan.

Oen Su yang memayang tubuh Liem Hauw seng tidak berani berkutik. sedang Liem Hauw Seng sendiri memejamkan matanya rapat2, nadanya mulai kedengaran sangat lemah.

Menanti Si Soat Ang sudah berlalu Giok Jien segera menubruk kesisi gentong air itu, teriaknya setengah memohon:

"Toa-ya sekalian, kalian sudilah kiranya berbuat kebaikan, dia adalah seorang yang sedang menderita luka parah. dia... dia sudah tidak sanggup untuk menerima siksaan lagi, kalian sudilah berbuat baik, Oen Su-ya ! kalian sukalah berbuat kebaikan !"

Suaranya begitu mengenaskan, ditengah malam buta yang dingin mendatangkan perasaan ngeri bagi yang mendengar.

Lelaki liar yang hadir disana, bukannya tidak berperikemanusiaan semua, namun Si Soat Ang berada dalam ruangan, siapa yang berani banyak bertingkah ?

Terdengar Oen Su menghela napas dan coba menghibur: "Nona. aku lihat Ciauw Loo-chiet pun lumayan juga.." Tetapi ucapannya sudah terputus oleh isak tangis Giok

Jien, sembari bersedu sedan gadis memasukkan tangannya kedalam gentong air, mendadak ia menjerit kaget dan berteriak:

"Aaah...! airnya mulai mendingin, airnya mulai mendingin !"

Barang siapapun dapat melihat kalau air dalam gentong sudah mendingin, sebab sejak tadi sudah tak mengepulkan asap lagi.

Sembari berteriak, gadis itu meloncat kesana kemari dengan sekuat tenaga mendorong Oen Su.

Dari Liem Hauw Seng, seringkali ia memperoleh petunjuk ilmu silat, lagi pula Oen Su tidak menyangka gadis itu bermaksud mendorong dirinya, ditambah pula pada saat ini ia sedang diliputi ketegangan, tenaga dorongan semakin kuat diluar dugaan.

Dorongannya barusan kontan membuat tubuh Oen Su terpental selangkah lebar kedepan.

Dalam pada itu Oen Su sedang berdiri sambil memayang tubuh Liem Hauw Seng, secara tiba2 Oen Su terpental ke depan membuat tubuh Liem Hauw Seng pun roboh terjengkang keatas tanah.

-ooo0dw0ooo-