-->

Jago Kelana Jilid 03

Jilid 03

“CIANG OOH ! memang aku yang memanggil dirimu" sahut Si Liong keras. "Kau jangan mengacau lagi, ayoh ikut aku pulang dan berpikirlah secara tenang seorang diri." "Siapa yang aku pikirkan ?" mendadak Ciang Ooh berteriak sambil melototkan matanya kearah siorang tua itu,

"Heee. . . heeh..." Si Liong tertawa dingin tiada hentinya "Sudah tentu memikirkan orang yang selama ini kau pikirkan terus!"

Dari bagian tenggorokan Ciang Ooh mendadak memperdengarkan suatu suara yang amat serak dan aneh sekali.

"Tong Hauw... sitelapak berdarah TongHauw" teriaknya.

Tong Hauw yang ada didalam ruangan sewaktu melihat dan mendengar apa yang diucapkan oleh perempuan tersebut, bahkan menjerit dan menyebutkan namanya dengan suara yang begitu menyeramkan, dalam hatinya semakin mantap bila dia benar2 adalah Ciang Ooh yang sudah berpisah selama dua puluh tahun lamanya dengan dirinya.

Hatinya benar2 merasa tidak tahan lagi, ia merasakan suara sesunggukan isak tangis mulai berbunyi dari tenggorokannya, karena tertahan dengan paksa maka suara tersebut pada saat ini kedengarannya jadi sangat aneh sekali.

Pada waktu itu Si Liong sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi Ciang Ooh sehingga dia orang sama sekali tidak mendengar adanya suara aneh yang berkumandang keluar dari balik ruangan disampingnya.

Lain halnya dengan Kan Tek Lin yang berdiri disisinya, sewaktu mendengar dari dalam ruangan bergema keluar suara yang sangat aneh, ia jadi rada tertegun.

"Toako, siapa yang ada didalam ruangan itu?" serunya tak tertahan, Si Liong jadi melengak, "Aaakh ! tidak ada orang..." Tetapi belum habis ia mengucapkan kata2nya pada waktu itu iapun bisa menangkap datangnya suara aneh dari dalam ruangan tersebut.

Tubuhnya buru2 meloncat kesamping kemudian laksana sambaran kilat berkelebat maju dua tiga langkah kedepan.

"Siapa ?" bentaknya sambil mengayunkan senjata cakar naga saktinya kedepan.

Pada waktu itu, sekalipun Si Liong tidak membentak, Tong Hauw dengan sendiripun akan ke luar dan tempat persembunyiannya.

Menurut pikiran Tong Hauw, kepingin sekali ia menerjang keluar dan langsung menerjang kehadapan Ciang Ooh untuk menuturkan seluruh kisah sedihnya selama perpisahan ini.

Tetapi...penghidupan selama dua puluh tahun yang terasing membuat sifatnya jauh lebih tenang, ia tahu berada dalam keadaan seperti ini bilamana ia bertindak secara gegabah maka nyawanya kemungkinan sekali bakal terancam bahaya.

Oleh karena itu sewaktu mendengar suara bentakan dari Thian It Poocu, ini tangannya mencengkeram pergelangan tangan Si Soat Ang jauh lebih mengencang lagi sedang telapak kanannya ditempelkan rapat2 diatas batok kepala gadis tersebut.

Setelah itu dengan langkah yang amat perlahan ia munculkan dirinya dari balik ruangan ter sebut.

"Si Poocu ! aku adanya !"

Halaman tersebut sudah sangat lama dikosongkan, Si Liong sebagai Thian It Poocu sudah tentu tidak mungkin tidak tahu kalau tempat itu sebenarnya adalah kosong. Sewaktu mendengar timbulnya suara aneh tadi dalam hati ia merasa keheranan apalagi pada saat ini mendengar suara jawaban rasa terperana dari Si Liong kali ini benar2 luar biasa sekali.

Selama satu malaman ber-turut2 sudah terjadi dua buah peristiwa yang ada diluar dugaan.

Ditengah suasana yang sunyi dan curahan salju yang lebat ber-turut2 Si Liong harus mendapatkan dua kali pukulan keras, apalagi jejak dari putrinya tidak diketahui, ditambah lagi pada saat ini didalam bentengnya secara mendadak muncul seorang asing bagaimana mungkin hal ini tidak membuat hatinya terasa sangat terperanjat ? ?

Haruslah diketahui, penjagaan disekeliling Benteng Thian It Poo amat ketat sekali, jangan harap ada seorang manusiapun bisa memasuki benteng tersebut tanpa diketahui oleh para penjaga.

Tetapi kini, didalam Benteng Thian It Poo ternyata sudah muncul seorang asing tanpa berhasil diketahui oleh para penjaga, jelas hal ini menunjukkan kalau kepandaian silat dari orang itu sangat luar biasa sekali.

Oleh karena itu dalam keadaan sangat terperanjat buru2 ia memberi tanda kepada Kan Tek Lin untuk bersiap siaga sedang ia sendiri dengan pandangan yang tajam memperhatikan orang itu.

Tong Hauw sesudah buka bicara, tubuhnyapun dengan cepat munculkan dirinya dari balik pintu.

Per tama2 yang dapat dilihat oleh Si Liong adalah munculnya Si Soat Ang dibawah cengkeraman Tong Hauw

. .

Sewaktu melihat putri kesayangannya secara tiba-tiba munculkan dirinya disana, Si Liong jadi terkejut. "Ang-jie!" teriaknya keras.

Tubuhnya dengan cepat berkelebat menubruk kearah depan !

Tetapi sebentar kemudian ia sudah melihat bila nyawa putrinya pada saat itu sudah ada di tangan orang lain, dengan cepat ia menghentikan langkahnya dan memandang tajam keatas wajah sitelapak berdarah yang ada dibelakang putrinya itu.

sepasang mata dari Thian It Poocu yang sangat tajam dengan tiada berkedip memandang wajah Tong Hauw terus menerus, lama sekali mereka berdua tak mengucapkan sepatah katapun.

"Toako ! siapakah dia orang?" akhirnya Kan Tek Lim ada di sisinya tak bisa menahan sabar lagi dan bertanya.

"Aku rasa kawan ini tentunya bukan lain adalah si telapak berdarah Tong Hauw yang sudah lama lenyap dari kalangan Bulim. bukan begitu ?"

"Heee... heeee... sedikitpun tidak salah, aku orang memang she Tong !" teriak Tong Hauw sambil memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan.

"Heee... haaaa... haaa... ternyata saudara bisa menandingi benteng Thian It Poo seorang diri, peristiwa ini benar2 sangat mustahil sekali!"

"Hmmm, dikolong langit tak ada urusan yang sukar, asal dalam hati ada niat !"

Per-lahan2 Si Liong maju satu langkah kedepan.

"Tadi sewaktu aku keluar dari Benteng Thian It Poo dan berbicara dengan para anggota Benteng serta Teh Hoo Siang Sah, cayhe baru tahu bila kau sudah menyaru sebagai seorang kakek tua yang sedang menyingkir dari bahaya dan berdiam selama dua puluh tahun lamanya diluar benteng Thian It Poo, agaknya tujuanmu hendak memasuki ke dalam benteng kami !"

Dalam hati Tong Hauw benar2 merasa amat gusar, tetapi bagaimanapun dia adalah seorang jagoan yang sudah lama berkelana didalam dunia persilatan dia tahu setelah dirinya berhasil mencengkeram Si Soat Ang maka keadaan situasi sangat menguntungkan terhadap dirinya.

Tetapi sesudah dilihatnya sampai pada saat ini keadaan masih tidak juga menguntungkan dirinya, dan memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk bersabar maka dengan paksakan diri menahan rasa gusar yang berkecamuk dihatinya ia menjawab:

"Sedikitpun tidak salah !"

Si Liong dongakkan kepalanya tertawa terbahak2, suara tertawanya ini sangat aneh sekali dan memanjang tiada henti2nya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian ia baru berhenti tertawa. teriaknya keras:

"Lalu apakah saudara ada ikatan dendam dengan aku orang she Si ?"

"Benar ! dendam atas perbuatanmu merebut istriku ?" Teriak Tong Hauw sambil menggertak giginya kencang2.

Didalam anggapan Sitelapak berdarah, setelah perkataan tersebut diucapkan keluar maka diatas paras muka Si Liong tentu akan memperlihatkan perubahan yang sangat hebat, karenanya dengan penuh perhatian gerak gerik musuhnya sambil diam2 mengambil persiapan untuk menghadapi perubahan mendadak. Siapa sangka, peristiwa yang telah terjadi jauh berada diluar dugaannya, Si Liong hanya melengak saja sesudah mendengar perkataan tersebut "Apa maksud dari perkataan saudara ini?" tanyanya kebingungan.

"Apakah kau masih tidak paham ataunya memang pura2 berlagak pilon ?" Bentak Tong Hauw dengan murka, "Siapa yang pernah kau rebut pulang dari daerah Biauw Ciang pada dua puluh tahun yang lalu ?"

Air muka Si Liong mendadak berubah menghebat, "Ciang Ooh ?" serunya tak tertahan.

Sembari berkata ia melangkah mundur satu langkah kebelakang lalu memandang sekejap kearah Ciong Ooh dan memandang pula kearah Tong Hauw, agaknya ia menjadi paham kembali dan mengangguk perlahan.

"Ehmmm...! tidak aneh kalau dia menyebut kan nama Tang Hauw terus menerus, kiranya dia adalah..."

Tidak menunggu Thian It Poocu menyelesaikan perkataannya, dengan jantung hampir meledak saking tidak kuatnya Tong Hauw menggembor keras:

"Benar! dia adalah istriku !"

Teriakannya kali ini benar2 sangat keras laksana halilintar yang membela bumi, membuat semua orang merasa sangat terperanjat !

Bersamaan dengan suara gemborannya itu mendadak tampaklah telapak tangan kirinya mencengkeram kencang2 urat nadi Si Soat Ang sedang tangan kanannya yang semula ditekan ke atas batok kepala gadis tersebut pada saat ini per- lahan2 diayunkan keatas.

Telapaknya per-lahan2 berubah jadi memerah laksana darah, sambil menarik tubuh Si Soat Ang maju kedepan telapak tangannya langsung melancarkan satu pukulan dahsyat menghantam dada Si Liong.

Datangnya serangan tersebut benar2 luar biasa cepatnya, Si Liong yang melihat telapak tangannya sudah berubah jadi merah padam laksana darah dan sangat menyeramkan sekali, apabila angin pukulan yang menyambar datang diselingi dengan bau darah yang amis buru2 meloncat mundur kebelakang.

Senjata cengkeraman naga saktinya dengan gerakan dari atas menuju kebawah menghajar pergelangan tangan kanan Tong Hauw.

Tong Hauw begitu dapat melihat wajah Si Liong yang ada dihadapannya, dalam benak pun segera teringat kembali akan pahit getirnya yang diderita selama dua puluh tahun ini.

Hawa amarah yang memuncak tak dapat di tahan lagi, dengan penuh rasa dendam dan benci ia mengirim satu pukulan yang maha dahsyat kearah musuhnya.

Tampak sepasang matanya berubah jadi merah ber-api2, dari mulutnya memperdengarkan suara jeritan yang sangat aneh. Melihat serangannya gagal mendadak ia menarik kembali tangannya kebelakang kemudian tanpa berpikir panjang lagi kembali ia mengirim satu hajaran keatas batok kepala Si Soat Ang.

Urat nadi dari Si Soat Ang sudah kena dicengkeram hal ini membuat dirinya pada saat ini boleh dikata tak memiliki tenaga lagi untuk me lawan, ditambah pula datangnya serangan tersebut cepat laksana kilat.

Kelihatannya sebentar lagi batok kepala dari Si Soat Ang sang gadis tersebut akan hancur di bawah hajaran serangan telapak berdarahnya itu ! Tetapi pada saat2 vang amat kritis itulah, situasi kembali berubah.

Si Liong Hauw melihat putri kesayangannya bakal menemui ajalnya ditangan Tong Hauw, saking terperanjatnya ia jadi berdiri mematung dengan mata terbelalak dan mulut melongo lebar2 kendari tak ada maksud untuk berteriak tetapi tak sepatah katapun berhasil meloncat keluar dari mulutnya.

Kan Tek Lin yang melihat putri kawan karibnya terancam bahaya segera membentak keras, seruling besinya dengan disertai suara desiran yang tajam membabat kedepan memaksa Tong Hauw mau tak mau harus menarik kembali serangannya kebelakang.

Ketika itu Tong Hauw sudah mengumbar rasa dendam serta gusarnya yang terpendam selama dua puluh tahun lamanya ini. bagaikan kalap ia menerjang dan menubruk kesana kemari bermaksud hendak membinasakan musuhnya.

Melihat Kan Tek Lim menggagalkan usahanya untuk membinasakan gadis tersebut ia semakin gusar lagi, sambil berteriak keras laksana kilat menyambar kembali dia orang mengirim satu pukulan laksana ombak dahsyat ditengah tengah samudra.

Kontan saja tubuh Kan Tek Lin kena terhantam sehingga tak kuasa lagi kena terdesak mundur satu langkah lebar kebelakang.

Tetapi justru karena ia mundur kebelakang tubuhnya jadi terbentur dengan Ciang Ooh yang ada disana.

Kan Tek Lin pernah merasakan pahit getir-nya ditangan Ciang Ooh, begitu ia merasakan tubuhnya menubruk perempuan tersebut dalam hati lantas mengerti kalau keadaan sangat tidak menguntungkan bagi dirinya.

Belum sempat ia meloloskan diri dari sana, Tiba2 terdengar Ciang Ooh menjerit aneh, pundaknya terasa sakit tahu2 ia sudah kena dicengkeram oleh perempuan tersebut.

Kan Tek Lim jadi amat terperanjat, tetapi perubahan situasi sudah berlangsung dengan cepatnya, belum sempat ia menjerit kaget telapak tangan Ciang Ooh sudah digetarkan.

Tanpa ampun lagi tubuhnya melempar keatas udara kemudian melayang turun menekan ke-arah Tong Hauw.

Seluruh kejadian ini berlangsung dalam waktu yang amat singkat, bahkan boleh dikata berlangsung dalam saat yang bersamaan !

Telapak tangan Tong Hauw belum sampai mampir diatas balok kepala Si Soat Ang, tubuh Kan Tek Lin yang tinggi besar itu sudah jatuh menindih tubuhnya.

Terhadap Tong Hauw, peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang berlangsung diluar dugaannya, ia ingin menghindarkan diri tetapi tidak sempat lagi.

Dalam keadaan gugup dan gelagapan buru2 hawa murninya ditarik mengelilingi seluruh tubuh, pergelangan tangannya mendadak membalikkan serangannya yang semula ditujukan keatas batok kepala Si Soat Ang, kini berbalik menghantam keatas pundak Kan Tek Lin.

"Braak.... aduuuh !" suara benturan serta jeritan berkumandang ber-sama2 memenuhi angkasa.

Pukulan telapak berdarah dari Tong Hauw benar2 luar biasa lihaynya sekalipun Kan Tek Lin adalah seorang jagoan lihay yang memiliki kepandaian silat tinggi tak urung tubuhnya kena terhajar pula sehingga kembali terpental ketengah udara.

Diiringi suara jeritan ngeri yang menyeramkan tubuh orang itu melayang ketengah udara bagaikan layang2 putus dan terlempar jauh keluar dari kalangan.

Dan bersamaan waktu itu pula Si Liong berhasil menenangkan pikirannya.

Bagaimanapun Si Liong adalah seorang jagoan Bu lim yang mempunyai pengetahuan luas, pada saat itulah ia dapat melihat telapak kanan Tong Hauw mengayun keatas sedang tangan kirinya mencengkeram urat nadi Si Soat Ang membuat bagian dadanya jadi terbuka, inilah suatu kesempatan yang bagus untuk melancarkan serangan.

Tanpa ragu2 lagi, kakinya menginjak kedudukan "Tiong Kiong" menuju kepintu "Cong Bun", senjata cengkeraman naga saktinya laksana serentetan cahaya pelangi langsung menerjang kearah dada Tong Hauw.

Baru saja sitelapak berdarah berhasil memukul pantai tubuh Kan Tek Lin, untuk membalikkan lengan menangkis datangnya serangan tersebut tidak mungkin lagi . . . ia jadi bingung setengah mati ! !

Didalam keadaan yang sangat kritis ia merasa jauh lebih penting mempertahankan nyawanya, mendadak terdengar Tong Hauw berteriak aneh, kelima jari tangan kirinya yang mencengkeram Si Soat Ang dilepaskan, lalu melemparkan tubuh gadis tersebut jauh2 dari tengah kalangan.

Tangan kirinya langsung menerjang kedepan menyambut datangnya serangan senjata cengkeraman naga sakti tersebut dengan gerakan menyambar.

Walaupun sambarannya ini dilakukan dalam keadaan ter-gesa2, tetapi gerakannya sangat tepat dan ganas, tahu2 kelima jarinya sudah mengejang dan mencekal senjata musuhnya erat2.

Mereka berdua ber-sama2 kerahkan tenaga untuk menarik kearah belakang. Bila membicarakan soal tenaga dalam maka hawa Iweekang yang dimiliki Si Liong jauh lebih tinggi satu tingkat dari sitelapak berdarah, oleh karena itu sewaktu mereka berdua ber-sama2 menarik senjata itu sekuat tenaga. tubuh Tong Hauw tidak bisa berdiri tegak lagi, tak kuasa tubuhnya tersentak maju setengah langkah kedepan.

Ketika itu mereka berdua sama2 mencekal senjata cengkeraman naga saktinya setiap orang satu ujung yang berlawanan dengan jarak cuma tiga depa saja, justru keadaan yang sangat dekat inilah membuat situasi semakin menegangkan karena pertempuran jarak dekat lebih mengerikan dari pada pertempuran biasa.

Suara tertawa terbahak2 dari Si Liong tadi sebenarnya merupakan pertanda bagi jago2 lihay dari benteng Thian It Poo, pada waktu ini mereka dengan membawa obor segera berlarian mendatang dan mengurung halaman tersebut rapat2.

BoIeh dikata hampir seluruh pekarangan sudah dipenuhi dengan jago2 lihay, hanya saja Tong Hauw serta Si Liong yang sedang melakukan pertempuran sengit tak ada waktu lagi untuk memperhatikan hal2 tersebut.

Sebaliknya para jago yang keburu tiba disana ketika melihat si seruling besi yang menggetarkan lima telaga Kan Tek Lin kena terpukul pental oleh hantaman musuh dan melihat pula Pocu mereka sedang melangsungkan pertempuran jarak dekat dengan pihak musuh, saking kagetnya mereka pada membelalakkan matanya dan mulut melongo! Tong Hauw segera melancarkan satu pukulan menghajar tubuh Si Liong yang berada sangat dekat dengan dirinya itu.

Dalam hati Si Liong mengerti bila tenaga dalam yang dimilikinya jauh lebih tinggi dari tenaga lwekang pihak musuh, kendari begitu ia pun mengetahui pula bila pukulan telapak berdarah merupakan salah satu ilmu pukulan beracun yang sangat lihay dari aliran sesat, bila ia berani menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras, malah tidak urung dirinya akan menderita kerugian juga !

Oleh karena itu sambil menunduk menghindarkan diri dari datar gaya serangan tersebut, tiba2 ia melepaskan senjata andalannya dan berputar secepat kilat diatas permukaan salju langsung menubruk kebelakang punggung Tong Hauw.

Terlihatlah bunga2 salju beterbangan memenuhi angkasa dan tersebar keempat penjuru karena terkena gesekan kakinya itu.

Pada waktu itu Tong Hauw lagi berdiri melengak, Si Liong yang berhasil menerobos kebelakang punggung musuhnya kontan mengayunkan sang telapak tangan melancarkan satu pukulan bebat.

Tong Hauw yang melihat pihak musuhnya secara tiba2 melepaskan senjata andalannya, dalam hati sudah merasa keadaan tidak beres, apalagi pada saat ini secara mendadak ia merasakan datangnya angin pukulan dibelakang punggung, dalam hati merasa semakin terperanjat lagi.

Ujung kakinya buru2 menutul keatas permukaan tanah untuk menerjang maju kearah depan. Sebenarnya keadaan dari Si Liong pada saat ini sangat menguntungkan sekali, asalkan pukulannya dikirim kedepan maka pihak musuh pasti akan terkena hajaran.

Siapa tahu . . pada saat itulah se-konyong2 terdengar Si Soat Ang putri kesayangannya menjerit keras.

"Aaaaah, , . ayah ! cepat. . . . cepat tolong aku. . .ayah !"

Begitu mendengar suara teriakan itu, tanpa banyak berbicara lagi Si Liong menarik kembali serangannya dan buru2 menoleh kearah putrinya.

"Aaah. ." Begitu dapat melihat apa sudah terjadi, Thian It Poocu segera merasakan hatinya bergidik, bulu roma pada berdiri semua.

Terlihatlah Si Soat Ang, putri kesayangannya sudah terjatuh ketangan Ciang Ooh siperempuan gila itu ! cengkeraman Ciang Ooh yang aneh seperti cakar elang dengan kencangnya mencengkeram pundak sang gadis dan mengangkat tubuhnya sehingga jauh meninggalkan permukaan tanah.

Walau Si Soat Ang meronta sekuat tenaga tetapi tiada berguna, bukannya terlepas dari cengkeraman perempuan itu, ia malah merasakan pundaknya semakin sakit.

Yang membuat Si Liong lebih terkejut lagi adalah paras muka Ciang Ooh yang berubah sangat aneh sekali pada waktu itu.

Sebenarnya paras muka Ciang Ooh sudah amat kurus sekali sehingga dagingpun sudah habis dan mirip dengan seperangkat tengkorak, apa lagi pada saat ini bergetar amat keras membuat setiap orang yang melihat wajahnya terasa seperti melihat panca indranya sedang bergoyang dan berpindah tempat tiada hentinya. Terutama sekali sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam itu !

Melihat peristiwa tersebut saking terperanjatnya Si Liong hanya bisa berdiri mematung sambil goyangkan tangannya berulang kali, apa yang ingin dibicarakan sukar untuk dikeluarkan ia merasa tenggorokannya seperti tersumbat oleh sesuatu.

Didalam menghadapi situasi semacam ini sudah tentu tak ada waktu lagi baginya untuk melanjutkan serangannya kearah Tong Hauw.

Sedang Tong Hauw pun buru2 melayang sejauh beberapa kaki kemudian memutar badannya, tetapi ketika melihat kejadian ini diapun dibuat berdiri melengak.

"Eeeei . . . cepat lepaskan dirinya ! cepat lepaskan dirinya

. . . " teriak Thian It Pocu dengan suara yang keras.

Tenaga dalam dari Thian It Poocu sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan apalagi Si Soat Ang adalah putri kesayangannya.

Suara teriakannya kali ini benar-benar amat keras sekali bahkan sangat menyeramkan !

Saking ngerinya membuat Tong Hau yang sudah ber- siap2 melancarkan serangan kedepan jadi tertegun dan membatalkan niatnya itu.

Walaupun jago2 lihay dari Benteng Thian lt Poo sangat banyak, tetapi suatu melihat puteri kesayangan Poocu mereka terjatuh ditangan siperempuan gila itu, mereka pun tidak bisa berbuat apa2, dengan wajah pucat dan mata mendelong mereka cuma bisa berdiam diri. Suasana disekeilling tempat itu segera berubah jadi sangat tenang sekali, tak kedengaran sedikit suarapun bergema disana.

Si Soat Ang yang kena dicengkeram Ciang Ooh, dalam hati benar2 merasa amat takut, dengan napas ter-engah2 dan berusaha meronta sekuat tenaga tiba2 teriaknya keras.

"Tia ! kenapa kau tidak turun tangan menolong aku? kenapa kau tidak hajar perempuan gila yang terkutuk ini ?"

Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai mulai mengucur keluar dengan derasnya, membasahi seluruh tubuh Si Liong ber-turut2 ia maju dua langkah kedepan.

Pada waktu itulah mendadak

"Heee. . . heee, . kau jangan coba2 berjalan maju lagi. . . kalau tidak, . . Hemm ! aku hajar mati dulu si bocah perempuan ini !" ancam Ciang Ooh dengan nada suara yang sangat dingin.

Agaknya pada waktu itu kesadarannya sudah rada jadi tenang.

Sekalipun Si Liong mempunyai kepandaian silat yang sangat lihaypun menghadapi keadaan seperti ini ia jadi mati kutunya.

"Ciang Ooh ! kiranya kau sudah sadar kembali." serunya pura2 merasa gembira, "Kalau begitu bagus sekali ! mari kita bicarakan persoalan kita secara per-lahan2 !"

"Hee . . hee, . . selama puluhan tahun ini aku selalu sadar

! kapan aku pernah kehilangan kesadaranku ?" Tegur Ciang Ooh dingin, "Sejak kapan aku pernah melupakan perbuatanmu yang seperti binatang terkutuk itu ?"

Beberapa patah perkataan itu diucapkan oleh perempuan tersebut dengan amat jelas sekali, hal ini membuat keadaan diri Si Liong lebih mengenaskan lagi, tetapi dia orang sama sekali tidak mengumbar hawa amarahnya.

"Benar. . . benar sekali !" terpaksa jawabnya, "Tetapi seharusnya kau lepaskan dulu bocah perempuan itu !" walaupun perkataan dari Ciang Ooh kedengarannya sangat jelas dan menunjukkan kalau pikirannya masih terang, tetapi omongnya ternyata kadang2 rada kacau.

Terdengar ia tertawa dengan seramnya "Heee... heeee kenapa ? aku... aku tidak gampang aku mencari dirinya, sekarang sesudah kuketemu kan kenapa harus aku lepaskan kembali ?"

"Ciang Ooh ! kau sudah salah menduga," teriak Si Liong sembari mengusap kering keringat yang mengucur keluar "Kau kira orang yang kau cekal pada saat ini adalah siapa ?"

Sepasang mata dari perempuan gila itu mulai berputar2, sedang dari tenggorokannya memperdengarkan suara yang amat tinggi melengking.

"Tong Hauw. . . sitelapak berdarah Tong Hauw..."

Keadaan serta pemandangan yang berlangsung pada saat ini benar2 membuat Tong Hauw merasa amat pedih dan seperti di-iris2, saking terpukulnya seluruh tubuh tiada hentinya gemetar sangat keras.

Kepingin sekali dia orang berbicara banyak dengan perempuan itu tetapi, kecuali suara aneh yang tiada hentinya bergema keluar dari bibirnya tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar

Si Liong yang mendengar jawaban dari perempuan gila itu, per-lahan2 baru menghembuskan napas lega.

"Ciang Ooh ! kau sudah salah mencari orang2 yang kau pegang pada saat ini bukanlah Tong Hauw !" serunya keras, "Coba kau perhatikan lebih jelas lagi. dia cuma seorang bocah perempuan yang masih kecil, seorang gadis sudah tentu tidak mungkin adalah Tong Hauw-mu itu!"

Ciang Ooh jadi melengak, mendadak ia mengangkat tubuh Si Soat Ang tinggi2 kemudian sambil pentangkan matanya lebar2 ia memperhatikan gadis tersebut tajam2.

Pada saat itu ujung hidungnya hampir2 saja menempel dengan hidung dari Si Soat Ang, sepasang matanya yang sudah sayu dan boleh dikata mati memancarkan cahaya tajam yang amat menakutkan.

Si Soat Ang jadi sangat ketakutan, ia pejamkan matanya rapat2 sedang mulutnya menjerit2 terus.

Setelah memperhatikan si Soat Ang beberapa waktu lamanya, terakhir Ciang Ooh gelengkan kepalanya berulang kali

"Perkataanmu sedikitpun tidak salah, dia... dia memang bukan Tong Hauw ku !"

Sembari berkata ia benar2 mengendorkan cekalannya sehingga membuat tubuh Si Soat Ang jadi jatuh terkulai keatas tanah, tetapi sebelum tubuh gadis tersebut mencapai permukaan tanah Si Liong sudah keburu merendahkan badan sambil melancarkan serangan dengan mendorong sepasang telapaknya sejajar dada.

"Branak . . !" segulung angin pukulan yang sangat keras dengan cepat menggulung tubuh Si Soat Ang sehingga jatuh terpental kearah luar kalangan.

"Jie-te !" teriak Si Liong dengan cepat sehabis melancarkan serangan tersebut.

Kan Tek Lin menyahut, tubuhnya dengan gesit dan sebatnya lantas mencelat kedepan mengejar tubuh Si Soat Ang dan menerima badan gadis tersebut sebelum terjatuh kembali ketanah.

Begitu gadis tersebut kena terpegang oleh Kan Tek Lin. ia jadi lemas dan merintih tiada hentinya. Ternyata ia sudah kehabisan tenaga saking takut dan tegangnya tadi.

"Jie-te !" teriak Thian It Poocu kembali.

"Tidak mengapa, tidak mengapa ia cuma jatuh tak sadarkan diri karena saking takut dan terperanjatnya".

Melihat putrinya selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun, Si Liong baru bisa menghembuskan napas lega, tubuhnya dengan cepat mengundurkan diri kearah belakang.

"Si Liong, kau jangan pergi !" mendadak Ciang Ooh menjerit tajam.

Si Liong jadi melengak, telapak tangannya segera disilangkan kedepan serta kebelakang ber jaga2 terhadap serangan bokongan dari Tong Hauw.

"Ada apa kau memanggil aku lagi ?" tegurnya. "Selama ini aku mengira kau sudah menjadi gila maka itu demi kebaikanmu aku sudah kurung dirimu didalam pagoda tersebut kini bilamana kau merasa pikiranmu sudah terang. suka meninggalkan tempat ini pergilah sesukamu, aku tidak akan menahan dirimu lagi !"

Untuk beberapa waktu lamanya tegak Ciang Ooh seperti orang yang sedang kebingungan terhadap perkataan dari Si Liong tadi. ia menengadah keatas dan terpekur diam.

"Aku.,.aku harus pergi kemana ?" tanyanya kemudian semudah lewat beberapa saat lamanya.

Mendadak Si Liong berkelebat menyingkir sejauh-jauh, delapan depa kesamping kalangan. "Kau mau pergi kemana, bagaimana aku bisa tahu ? lebih baik kau tanyakan saja kepada sitelapak berdarah Tong Hauw !" jawabnya kemudian.

"Tong Hauw?" teriak Ciang Ooh sambil

memperdengarkan tertawa pahitnya yang sangat

menyedihkan, "Dia...dia ada dimana ?"

Sitelapak berdarah Tong Hauw sudah tidak bisa menahan sabarnya lagi, mendadak ia menjerit aneh dan berteriak keras:

"Aku...aku...aku ada.,.ada disini !"

Disebabkan golakan didalam hatinya yang sangat hebat dicampur pula perasaan terharu yang mencengkram seluruh benaknya, memulai perkataannya tadi jadi gemetar dan terputus2.

Mendengar jeritan tadi, sekali lagi Ciang Ooh mendongakkan kepalanya keatas.

Dengan badan gemetar Tong Hauw mulai melangkah maju kedepan dan akhirnya berhenti di depan tubuh siperempuan tersebut.

"Ciang Ooh !" sapanya, "Aku adalah Tong Hauw yang kau pikirkan selama !"

Kali ini, agaknya Ciang Ooh bisa mendengar jelas perkataan tersebut. sepasang matanya terbelalak lebar2 kemudian memandang tajam seluruh tubuh sitelapak berdarah itu.

Tong Hauwpun membelalakkan matanya yang pada saat ini sudah dibasahi dengan kucuran air mata, dalam hati ia berpikir, Ciang Ooh tentu bisa mengenali dirinya kembali ! dia pasti kenal dirinya !" ia mengira Ciang Ooh yang sedang memperhatikan seluruh tubuhnya tentu akan membuat perempuan tersebut mengenali kembali dirinya, hal ini sudah tentu menurut pikiran serta perasaan dari Tong Hauw sendiri.

Padahal, jangan dikata Ciang Ooh adalah seorang perempuan yang sudah gila, sekalipun seorang yang masih segar bugar dan awaspun belum tentu dapat mengenali dirinya yang tempo dulu merupakan seorang pemuda yang tampan dan kini telah berubah menjadi seorang kakek tua yang wajahnya telah dipenuhi dengan keriput dan matanya memancarkan cahaya berapi2.

Selagi Tong Hauw hendak mengucapkan sesuatu, mendadak Ciang Ooh siperempuan gila itu mengayunkan tangannya memerseni sebuah gaplokan keras kearah wajah Tong Hauw.

Pada ketika itu Tong Hauw sedang memandang wajah Ciang Ooh dengan rasa terharu, semua pikiran didalam benaknya sudah kosong melompong ditambah pula ia tidak menyangka kalau perempuan tersebut bisa melancarkan serangan kearahnya.

Tanpa ampun lagi: "Plaaak!" pipinya kena terhajar sangat keras hingga membuat tubuh si telapak berdarah terpental kesamping dan jatuh terjengkang keatas tanah.

Walaupun dengan sebatnya Tong Hauw berhasil meloncat bangun kembali, tapi tak urung pipinya jadi bengkak juga terkena gaplokan yang amat keras itu.

Napasnya masih ter-engah2, sedang matanya terbelalak semakin lebar, untuk beberapa saat lamanya sitelapak berdarah yang telah sangat terkenal didalam dunia persilatan ini tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Waktu itulah terdengar Ciang Ooh mulai memaki kalang kabut

"Hmm ! kau manusia macam apa ? bagaimana mungkin kau adalah Tong Hauw yang aku pikirkan !"

"Ciang Ooh ! aku adalah Tong Hauw, aku benar2 adalah Tong Hauw... coba kau perhatikan lebih teliti, aku memang banyak berobah tetapi bila kau perbaikan lebih seksama maka kau pasti akan mengenali diriku kembali, coba ! kau perhatikan diriku lagi" jerit sitelapak berdarah dengan keras.

Sinar mata yang tajam dari Ciang Ooh tiada hentinya memperhatikan wajah Tong Hauw, tetapi tempo dulu sewaktu ia memasuki benteng Thian It Poo ini dalam keadaan gila, ia sendiri pun sama sekali tidak mengetahui dirinya pada waktu itu sudah berubah jadi seperti apa didalam benaknya ia cuma mengingat terus bahwa Tong Hauw seorang pemuda yang sangat tampan.

Kini secara mendadak seorang kakek tua cela ka mengakui dirinya sebagai Tong Hauw, hal ini sudah tentu membuat hawa amarahnya jadi memuncak. Terdengar perempuan itu tiba2 mem perdengarkan suara jeritan yang tidak enak didengar.

"Kau berani mengaku lagi !" bentaknya gusar

Ketiga patah kata itu dijeritkan dengan sangat mengerikan laksana enam batang anak panah yang menembusi selaput telinga saja membuat paras muka setiap orang terasa berubah hebat.

Kan Tek Lin serta Si Liong sekalipun buru2 menghindarkan diri beberapa langkah kebelakang, sedang para jago yang bersembunyi disekeliling tembok pekarangan tersebut ada beberapa orang yang hatinya tergetar keras sehingga tak terhindar lagi pada jatuh terpelanting keatas tanah.

Tong Hauw yang pertama2 menerjang kedepan, didalam sekejap saja merasakan darah panas bergejolak dengan amat kerasnya didalam dada, ia merasa mulutnya jadi manis, sambil mundur kebelakang dengan sempoyongan dan mulutnya memuntahkan darah segar.

Dimana tubuhnya mengundurkan diri tepat merupakan dihadapan Si Liong berada.

Thian It Poocu yang melihat kesempatan baik ada didepan mata, ia tidak mau me-nyia2kan lagi, kontan saja telapak tangannya dikirim kedepan melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar pinggang dari sitelapak berdarah itu.

Didalam jeritannya tadi sebenarnya Ciang Ooh tidak ada maksud buat melukai orang, tetapi berhubung tenaga dalamnya berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf yang sangat tinggi maka jeritannya tadi tanpa terasa sudah mempunyai daya kekuatan yang mirip dengan ilmu "Auman singa emas" dari kalangan Buddha serta "Ilmu iblis pembelot sukma" dari aliran sesat.

Jika dibicarakan dari tingkatan tenaga lwee-kang yang berhasil dimiliki Tong Hauw pada waktu itu, asalkan kerahkan tenaga murninya untuk melindungi seluruh tubuhnya saja tidak bakal sampai terluka dibawah serangan jeritan keras tadi.

Cuma sayang, sewaktu keadaan mencapai pada saat2 kritisnya, Si Liong sudah menggunakan kesempatan baik itu untuk mengirim satu pukulan keatas punggungnya. Tak kuasa lagi badan si telapak berdarah itu terpelanting kearah depan dan muntahkan darah segar dengan amat derasnya.

Tubuhnya yang rubuh keatas tanah segera melingkar jadi satu, darah segar yang muncrat ke luar dari mulutnya dengan cepat mengotori permukaan salju nan putih itu.

Si Liong yang melihat serangannya berhasil merubuhkan Tong Hauw keatas tanah dalam hati serasa sangat girang, tubuhnya dengan cepat maju selangkah kedepan siap2 mengirim kembali satu hantaman guna membereskan nyawanya.

Pada saat itulah mendadak. . .

"Si Pocu! jangan turun tangan jahat" mendadak dari balik tembok pekarangan berkumandang datang suara seseorang. "Orang ini kami perlukan dalam keadaan hidup2!"

Diiringi suara perkataannya, muncullah sesosok bayangan manusia melayang turun kedalam kalangan. Orang itu bukan lain adalah sibidadari angin hitam Chao Sie adanya!

Di belakang tubuh sibidadari angin hitam Chan Sie menyusul pula suaminya si malaikat kelabang emas Li Siauw beserta beberapa orang jagoan lihay dari benteng Thian It Poo seperti Sin To Siang Hauw dan lain2nya.

Si Liong yang sedang siap2 melancarkan pukulan menghajar mati Tong Hauw mendadak tindakannya ini dicegah oleh Chan Sie, dengan cepat ia menurunkan tangannya kembali.

"Ooouw...kiranya kaitan berdua sudah datang" ujarnya perlahan "Apakah kalian berdua pun ada ganjalan sakit hati sedalam lautan dengan sitelapak berdarah Tong Hauw ?" "Benar !" sahut Chan Sie membenarkan. "Kami sudah ada dua puluh tahun lamanya mencari dirinya, ini hari sesudah menemukan dirinya kembali sangat mengharapkan Si Poocu suka menyerahkan kepada kami. Budi ini kami berdua tidak bakal melupakan untuk selamanya".

"Haaa...haaa...Chan Sian Ho terlalu sungkan... bila orang ini benar merupakan musuh bebuyutan yang sedang kalian cari, kami orang2 dari pihak benteng Thian It Poo pasti tidak akan menghalangi perbuatan kalian ini"

"Kalau begitu kami ucapkan terima kasih dulu kepada Si Poocu !" seru Chan Sie serta Li Siauw berbareng.

Gerakan mereka serempak, sembari berkata tubuhnya sudah melangkah maju kedepan, masing-masing orang sambil berjongkok dengan arah yang berlainan mendadak mencengkeram urat nadi kedua tangan Tong Hauw.

Diantara getaran sepasang tangannya mendadak mereka menarik tubuh si telapak berdarah itu dengan paksa dalam arah yang berlawanan.

Wajah Tong Hauw pada waktu itu sangat menyeramkan sekali, separuh pipinya sembab bengkak, ujung bibirnya masih membekas darah segar yang pada waktu ini sudah membeku saking dinginnya cuaca pada waktu itu.

Agaknya luka dalam yang dideritanya amat parah sekali, walaupun tubuhnya pada saat ini sudah diangkat oleh Li Siauw serta Chan Sie tetapi kepalanya masih tertunduk dengan lemas.

"Ha ha ha hi hi hi Tong Hauw ! tidak di sangka kaupun bisa jadi begini pada hari ini !" Teriak Chan sie serta Li Siauw berbareng sambil memperdengarkan suara jeritannya yang sangat menyeramkan. Per-lahan2 simalaikat kelabang emas Li Siauw mengangkat telapak tangannya keatas siap2 hendak ditabokkan keatas batok kepala sitelapak berdarah itu.

Tetapi baru saja tangannya diayunkan keatas mendadak Chan Sie, istrinya sudah melancarkan serangan menyentil telapak tangannya itu.

"Hey, apa yang hendak kau lakukan ?" mendadak bentaknya keras "Bila kau sekali tepuk menghajar mati dirinya bukankah terlalu enak bagi dirinya ?"

Li Siau yang merasa berpengalaman tangannya kena disentil, buru2 menarik kembali tangannya

"Tong Hauw !" teriak Chan Sie.

Tong Hauw tetap menundukkan kepalanya rendah- rendah, tak sepatah katapun yang diucapkan keluar olehnya.

"Tong Hauw !" kembali Chan Sie membentak.

Suara bentakan keduanya ini tetap tidak memperoleh suara jawaban dari Tong Hauw, sebaliknya menimbulkan perhatian dari Ciang Ooh si-perempuan gila itu.

"Siapa kau ? apa kau kira nama Tong Hauw bisa kau sebutkan seenaknya ?" tiba2 saja ia menegur dengan suaranya yang sangat dingin.

Mendengar perkataan tersebut kontan saja Chan Sie serta Li Siauw jadi tertegun, sibidadari angin hitam yang bersifat lebih berangasan dalam hati segera merasa amat gusar.

Bilamana pada saat ini ia tidak berada didalam Benteng Thian It Poo mungkin sejak semula dia sudah kepingin mengumbar hawa amarahnya, tetapi dalam hati ia tahu, dirinya tidak dapat bergerak secara gegabah bila tidak menginginkan terjadinya bentrokan2 dengan orang2 Benteng Thian It Poo.

Mereka berdua baru saja datang kedalam Benteng Thian It Poo dengan dipimpin oleh Sio To Siang Hauw, sudah tentu tidak mengetahui pula siapakah Ciang Ooh ini.

Dengan dingin Chan Sie melirik sekejap kearah perempuan gila itu lalu sambil menoleh kearah Thian It Poocu tanyanya:

"Eeei, Si Poocu, siapakah orang ini ?"

Pikiran tajam dengan cepat berkelebat didalam benak siorang tua ini, akhirnya ia tertawa tawar.

"Chan Sian Hoo! pertanyaanmu ini sungguh lucu sekali. dia datang kedalam benteng Thian It Poo kami ber sama2 dengan Tong Hauw, bagaimana aku bisa tahu siapakah dia orang ?"

Begitu beberapa patah kata itu meluncur ke luar dari mulut sang Poocu dan benteng Thian It Poo, kontan saja membuat Kan Tek Lin beserta Sio To Siang Hauw sekalian beberapa orang jagoan lihay jadi melengak dan berdiri melongo, karena mereka tahu bila apa yang sedang dibicarakan oleh Poocunya sama sekali tidak benar !

Tetapi mereka adalah jago2 dunia persilatan yang berpikiran cerdik, setelah tertegun beberapa saat lamanya dengan cepat mereka menjadi paham kembali apakah maksud yang sebenarnya dari Si Poocu mereka ini.

Karena itu tak seorangpun diantara mereka yang buka suara, semua orang bungkam diri sambil melihat perubahan situasi selanjutnya. "He he he, kiranya begitu." seru simalaikat angin hitam sambil tertawa dingin, "Jadi kau lagi turun tangan untuk menolong Tong Hauw ?"

"Tong Hauw ? Tong Hauw ada dimana ?" teriak Ciang Ooh kebingungan.

Chan Sie serta Li Siauw diam2 saling bertukar pandangan sekejap kendari mereka sudah sering berkelana didalam dunia persilatan sehingga mereka memiliki pengetahuan yang amat luas tetapi pada saat inipun tidak berhasil menebak dari aliran manakah perempuan tersebut.

Sambil menahan hawa gusar yang semakin memuncak didalam dadanya, Chan Sie tertawa dingin tiada hentinya.

"Tong Hauw ada dimana apakah kau tidak tahu ?" balik tanyanya.

Ciang Ooh adalah seorang perempuan yang sudah gila, sewaktu pikirannya tidak boleh di kata urusan apapun tidak diketahui olehnya kecuali Tong Hauw seorang.

Oleh sebab itu ketika mendengar pertanyaan dari si bidadari ang"n hitam ini ia jadi menangis tersedu2.

"Aku tidak tahu, aku tidak tahu Tong Hauw ada dimana..." teriaknya keras.

Melihat kejadian ini perasaan curiga didalam hati Chan Sie serta Li Siauw semakin menebal.

"Hmm ! Tong Hauw sudah berhasil kami tawan apakah kau tidak dapat melihat ?" bentak Chan Si lagi.

Sewaktu pikiran Ciang Ooh tidak sadar, biji matanya memang berwarna abu2 dan sama sekali tak bersinar sehingga keadaannya mirip sekali dengan seorang buta, karena itu Chan Sie baru mengajukan pertanyaan tadi. "Dimana?" terdengar Ciang Ooh siperempuan gila itu menggembor keras, "Kalian sudah menawan dirinya ? mengapa kalian menawan Tong Hauw ku ?"

Sembari menjerit keras tubuhnya segera menerjang maju ke depan mendesak kearah mereka berdua.

Chan Sie yang melihat pihak lawan mendesak datang, dengan cepat ia mengirim satu kerlingan mata kearah Li Siauw.

Li Siauw mengiakan begitu dilihatnya tubuh Ciang Ooh sudah ada dua tiga tengah dihadapan mereka buru2 ia melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan si telapak berdarah itu.

Begitu Li Siauw melepaskan tangannya, Can Sie segera menyentak lengannya kebelakang dan melemparkan tubuh Tong Hauw yang sama sekali tak bertenaga itu kearah belakang.

Pada Waktu itulah Li Siauw sudah merangkap sepasang telapaknya sejajar dengan dada kemudian langsung mengirim satu pukulan menghantam dada Ciang Ooh.

Chan Sie agaknya merupakan seorang yang mempunyai sifat teliti, karena dalam hatinya ia masih merasa takut terhadap hubungan perempuan gila itu dengan pihak benteng Thian It Poo, maka sewaktu Li Siauw melancarkan serangan dahsyat kearah depan sinar matanya yang tajam berputar tiada hentinya memandang disekeliling tempat itu.

Diam2 tangannya menggenggam satu genggaman senjata rahasia. ia ber-siap2 bila orang2 dari Benteng Thian It Poo memberikan sesuatu gerak gerik yang mencurigakan ia segera akan menghadapinya dengan menggunakan senjata rahasia. Sekalipun ia sudah bersiap sedia dan memperhatikan gerak gerik disekelilingnya tetapi orang2 dari benteng Thian It Poo itu ternyata benar2 tidak ambil perduli terhadap peristiwa tersebut, setiap jago pada berdiri ditempatnya semula tanpa bergerak.

Melihat keadaan tersebut Chan Sie baru merasa berlega hati, mendadak.

"Braak !" dengan menimbulkan suara yang sangat keras sepasang telapak tangan dari Li Siauw yang melancarkan serangan dahsyat tersebut berhasil menghantam dada dari Ciang Ooh.

Bagaimana kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki simalaikat kelabang emas pada saat ini sudah tentu Chan Sie mengetahuinya dengan teramat jelas, sewaktu dilihatnya serangan yang sangat gencar itu berhasil mengenai sasaran, didalam anggapannya kendari seorang jagoan lihaypun belum tentu kuat menahan serangan tersebut tidak terkecuali Thian It Poocu sendiri Si Liong.

Maka dari itu ia rasa kemenangan sudah pasti berada didalam pihaknya.

Saking gembiranya perempuan itu mulai tertawa seram dengan amat kerasnya.

Mendadak terdengar Li Siauw mendengus berat disusul tubuhnya mundur satu langkah kebelakang dalam keadaan sempoyongan.

Chan Sie jadi amat terperanjat buru2 ia menoleh dan memandang kearah-nya. Tampaklah air muka Simalaikat kelabang emas yang semula merah padam pada saat ini sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, jelas sekali ia sudah menderita luka dalam yang sangat parah sekali. Rasa terkejut dari si Bidadari angin hitam kali ini benar2 luar biasa hebatnya, tanpa memperdulikan lagi bagaimanakah keadaan luka yang diderita oleh suaminya Li Siauw, pergelangan tangannya mendadak digetarkan enam batang senjata rahasia beracun dengan kecepatan laksana kilat segera melesat ketengah udara.

Gerakan dari keenam batang senjata rahasia berkelebat dengan amat cepatnya kearah depan.

"Plaaak. . . plaaak. . . !" dengan mengeluarkan suara benturan yang nyaring, keenam senjata rahasia itu dengan tepat berhasil menghajar diatas tubuh Ciang Ooh.

Siapa sangka mendadak perempuan gila tersebut mengulapkan tangannya kedepan, senjata rahasia yang semula menancap di seluruh tubuhnya pada saat ini sudah jatuh berserakan diatas tanah kemudian dengan gerakan yang sangat tenang ia melangkah maju kedepan.

"Tong Hauw ada dimana? apakah kau sudah menawan Tong Hauwku ?" teriaknya berulang kali

Ketika itu darah segar mengucur keluar dengan derasnya dari ujung bibir Li Siauw, sedang Chan Sie yang melihat Ciang Ooh mulai mendesak ke arahnya pun jadi rada ketakutan, tubuhnya buru2 mengundurkan diri sembari menarik tangan Li Siauw.

Gerakan dari Ciang Ooh benar2 luar biasa cepatnya, hanya dalam sekejap mata ia sudah berada di depan mereka berdua.

"Kau tidak boleh menangkap Tong Hauwku!" kembali teriaknya keras.

Dimana tubuh Ciang Ooh menyambar datang Chan Sie hanya merasakan segulung hawa tekanan yang sangat keras mengurung seluruh badannya, membuat napaspun terasa mulai jadi sesak, apalagi pada saat ini suaminya menderita luka dalam yang amat parah, boleh dikata daya kekuatan untuk bertempur sama sekali sudah punah.

Sekalipun begitu mereka pun tidak ingin ter-buru2 meninggalkan tempat tersebut, sudah ada dua puluh tahun lamanya mereka berkelana untuk mencari jejak Tong Hauw guna membalas dendam atas kematian putranya, kini mereka sudah menemukan jejak sitelapak berdarah pembunuh putranya.

Sudah jelas Chan Sie berdua tidak ingin lepas tangan dengan begitu saja.

Tetapi sewaktu melihat keadaan saat ini yang sama sekali tidak menguntungkan terhadap dirinya ini, dalam hati perempuan tersebut merasa sangat terkejut bercampur gusar. Sembari menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh bentaknya keras:

"Nih. Tong Hauw mu ada disini !"

Begitu perkataan terakhir meluncur keluar dari bibirnya sang telapak sudah diayunkan kedepan melemparkan tubuh Tong Hauw kearah tubuh Ciang Ooh.

Sebenarnya Tong Hauw sudah menderita luka dalam yang amat parah, kini Chan Sie mencengkeram urat nadinya dengan mengerahkan tenaga besar, hal ini membuat lukanya semakin parah lagi, sembari melayang kearah tubuh Ciang Ooh kembali ia muntahkan darah segar. 

Chan Sie sesudah melemparkan tubuh Tong Hauw kearah Ciang Ooh sambil menarik tangan Li Siauw, buru2 ia enjotkan badannya berkelebat melewati tembok pekarangan. "Si Poocu, berkat bantuanmu kali ini aku orang tidak akan melupakan untuk selamanya." teriaknya keras.

Haruslah diketahui pada waktu ini yang diinginkannya telah lebih bisa mengundurkan diri dari tempat tersebut, tanpa berani mencari gara2 lagi dengan orang2 benteng Thian It Poo.

Sio To Siang Hauw sekalian ketika melihat kedua orang itu berlalu buru2 melirik sekejap kearah Si Liong Poocu mereka, Si Liong dengan cepat ulapkan tangannya memberi tanda agar mereka tidak usah melakukan pengejaran.

Melihat Poocu mereka sudah memberi perintah, orang2 itupun lantas berdiri tegak ditempat semula sambil alihkan pandangannya kearah Ciang Ooh.

Waktu itu siperempuan gila tersebut sedang membimbing tubuh Tong Hauw yang sudah amat parah keadaannya sambil mengucurkan airmata dengan sangat derasnya.

"Toako! perempuan ini..." seru Kan Tek Lin dengan suara yang amat lirih.

"Kita tidak nian banyak berbicara, secara diam2 mari pada keluar dari tembok pekarangan ini " potong Si Liong sambil ulapkan tangannya.

"Tapi.. Poocu, tindakan ini bukan suatu cara yang benar" sela Sin To Siang Hauw dengan cepat

Si Liong tertawa pahit.

"Apakah tadi kalian tidak melihat sendiri bagaimanakah kehebatan serta kesempurnaan dari tenaga Iweekang serta ilmu silatnya ? Siapa diantara kita yang bisa menahan serangannya ? Aku rasa perempuan itu pasti akan menangis beberapa saat lamanya, sedang Tong Hauw pun kebanyakan tak bisa hidup lebih lama lagi" katanya kemudian.

"Mari kita mengundurkan diri dulu ke balik tembok pekarangan dan memerintahkan orang yang lebih banyak untuk ber-jaga2 disekelilingnya, bila ia memperlihatkan sesuatu gerakan kembali, barulah kita mengambil langkah2 selanjutnya".

Akhirnya semua orang mengangguk tanda setuju, demikianlah satu persatu mereka mulai meloncat keluar dari tembok pekarangan itu dan terakhir Si Liong serta Si Soat Ang pun meloncat keluar dari sana.

Menanti mereka telah tiba dibalik tembok pekarangan, Si Soat Ang mendadak menangis tersedu2.

"Ang-Jie! sekarang sudah tak ada urusan lagi buat apa kau menangis ?" tegur Si Liong dengan cepat

"Tia !" sembiri menangis terisak, "Seorang perempuanpun kau tidak berhasil menangkan, bila dikemudian hari waktu berkelana didalam dunia persilatan bukankah nama kita diluaran akan kurang baik ? bukankah semua orang bakal mengejek aku sebagai seorang putri dari Thian It Poocu yang tidak becus ?"

"Ang-jie ! kau jangan sembarangan berbicara lagi" potong Si Liong dengan rasa amat jengah "Perempuan gila ini.. sebenarnya aku tidak ingin bergebrak secara terang2an melawan dirinya !"

"Hmm..!" dengus gadis itu, agaknya ia tidak suka membicarakan soal itu lagi, sambil mengerutkan dahinya Si Soat Ang melanjutkan kembali masalahnya dengan persoalan yang lain. "Tia ! lalu bagaimana dengan Liem Hauw Seng serta Giok Jien kedua orang itu ? aku ingin membawa orang untuk mengejar mereka berdua !"

"Heeei... Ang jie ! kau dengarkanlah perkataanku dan jangan mengubris diri mereka lagi." seru Thian It Poocu sambil menghela napas panjang, "Kalau memangnya mereka sudah meninggalkan benteng Thian It Poo biarlah mereka pergi ! bila malam ini kau tidak melakukan pengejaran terhadap mereka, rasanya tidak bakal pula sampai menimbulkan banyak persoalan !"

Air muka Si Soat Ang segera berubah hebat sesudah mendengar perkataan tersebut, wajahnya yang semula cantik menarik dan mempesonakan pada saat ini sudah berubah hijau membesi, sepasang matanya memancarkan cahaya yang sangat buas sehingga membuat paras mukanya itu kelihatan sangat menyeramkan sekali.

Begitu menanti ayahnya menyelesaikan kata2 nya, ia menjerit keras dan mendepak-depakkan kakinya keatas tanah.

"Tidak bisa ! Tidak bisa ! aku pasti akan mengejar mereka kembali - aku pasti akan mengejar mereka pulang ! !

!".

Si Liong sebenarnya adalah seorang jagoan Bu-lim yang mempunyai kedudukan amat tinggi didalam dunia persilatan, tetapi sejak kecil ia sudah terbiasa dimanjakan putri kesayangannya ini, kini sama sekali tak kuasa baginya untuk memperlihatkan sikap yang keren terhadap gadis tersebut.

Setelah ter mangu2 beberapa saat lamanya terakhir sambil mengerutkan alis rapat2 katanya: "Benteng kita baru saja kacau balau, kitapun membutuhkan orang untuk menjaga pekarangan tersebut, lebih baik..".

Tidak kendari Si Liong menyelesaikan kata2 nya Si Soat Ang sudah mendepakkan kakinya ke atas tanah.

"Baik... baiklah ! tidak ada orang yang ikut aku pergi juga biarlah, aku bisa pergi sendiri l"

Sembari berkata ia lantas melangkah menuju kearah luar benteng !

"Ang-jie ! kau jangan cari gara2 lagi" teriak Si Liong dengan sangat cemas, "Bilamana kau tidak cari gara2 bagaimana mungkin sitelapak berdarah Tong Hauw pun bisa terpancing untuk memasuki benteng kita?"

"Hmm, kau yang lagi bermimpi disiang hari bolong!" teriak Si Soat Ang dengan sangat gusar.

"Liem Hauw Seng serta Giok Jien bersembunyi didalam jalan rahasia dibawah tanah yang digali oleh si telapak berdarah Tong Hauw, sitelapak berdarah bisa masuk kedalam benteng tentu mereka berdua yang sudah kasih petunjuk."

Melihat putrinya berani membentak dihadapannya air muka Si Liong kontan berubah membesi.

"Soat Ang ! semakin lama kau semakin tidak pakai aturan, kau tahu pada saat ini siapa yang lagi kau ajak bicara ?" tegurnya.

"Hemmm, soal ini bagaimana bisa menyalahkan diriku

?" seru Si Soat Ang sambil mencibirkan bibirnya yang kecil mungil dan menarik hati itu. "Siapa yang suruh kau tanpa mengetahui sebabnya sudah menuduh orang lain dengan kata2 yang bukan2 ?" Terhadap putrinya ini Thian It Poocu benar2 kewalahan, akhirnya ia cuma bisa menghela napas panjang saja.

"Heeeei, . . Ang-jie !" katanya perlahan, "Baik atau buruk Hauw Seng adalah kakak misanmu."

"Bukan ! aku tidak mempunyai saudara semacam dirinya" tidak menunggu ayahnya menghabiskan perkataan tersebut Si Soat Ang sudah menjerit keras.

"Macam apakah dia orang ? Hmm ! aku orang sama sekali tiada hubungan dengan dirinya !"

Melihat kebandelan dan keketusan dari Si Soat Ang ini, lama kelamaan Si Liong merasa gusar juga air mukanya berubah semakin membesi.

"Baik ! sekarang aku mau bertanya kepadamu bilamana kau berhasil mendapatkan mereka berdua untuk diseret pulang, apa yang hendak kau lakukan terhadap mereka?" tanyanya.

"Aku . . aku akan . . akan menghajarnya."

"Sudah! jangan banyak bicara lagi !" bentak Si Liong kemudian dengan sangat keras.

Walaupun diluarnya ia membentak keras untuk memotong pembicaraan putrinya, padahal dalam hati ia merasa amat sedih dan ragu2.

Ibu Si Soat Ang sudah meninggal, untuk merawat putri kesayangannya ini berpuluh tahun belum pernah dia orang meninggalkan benteng Thian It Poo barang selangkahpun

Bagaimana sifat dari putrinya ini sudah tentu siorang tua inipun mengetahui sangat jelas sekali, ia tahu setiap orang yang sudah melanggar dan bertentangan dengan maksud hatinya, ia pasti akan mencaci dirinya dan berusaha untuk membalas dendam tersebut. Dan kali ini Liem Hauw Siang serta Giok Jien telah melarikan diri ber-sama2. Si Liong mengetahui, bila didalam hati putrinya tentu menaruh rasa dendam terhadap mereka berdua, sebenarnya ia tidak ingin mendengar putrinya menceritakan dengan cara yang bagaimana dia hendak menyiksa dan menganiaya kedua orang itu.

"Heeee. . . heeee, . . Tia ! harap kau suka berlega hati." seru Si Soat Ang sang gadis sambil memperdengarkan suara tertawanya yang sangat menyeramkan, "Asalkan aku berhasil menawan mereka, aku pasti mempunyai cara untuk menyiksa mereka berdua !"

"Ang jie !" per-lahan2 Si Liong berjalan mendekati-putri kesayangannya. "Bukankah sejak kecil kau sudah menyukai Hauw Seng ? Bagaimana kalau kita ber-sama2 pergi mencari mereka, lalu biarlah aku yang memberi nasehat, kemungkinan sekali..."

Si Soat Ang menggigit bibirnya semakin kencang, paras mukanya sudah berubah jadi pucat si bagaikan mayat, dari kelopak matanya keluarlah titik2 air mata dengan sangat derasnya, tetapi ia berusaha keras untuk menahan menetes keluarnya sang air mata tersebut.

Lama sekali ia baru berteriak:

"Sungguh memalukan sekali! Tia ! kau jangan berbuat tindakan yang memalukan lagi !"

Si Liong jadi melengak dibuatnya.

"Memalukan ? apa maksud dari perkataanmu itu? kapan aku pernah berbuat tindakan yang memalukan ?" tanyanya.

Si Soat Ang sama sekali tidak menjawab, sebaliknya putar badan dan berlalu dari situ. Si Liong dengan cepat mengulur tangannya bermaksud hendak menarik kembali badannya tetapi sewaktu teringat bagaimana, kasarnya sifat dari putri kesayangannya ini. sebelum tangannya berhasil menangkap tubuh sang gadis tersebut, ia sudah menarik kembali cepat2.

"Bagaimana ?" tanyanya terpaksa.

"Aku.... aku sudah pernah membicarakan persoalan ini dengan dirinya" ujar Si Soat Ang sambil menarik napas panjang2.

Semula Si Liong rada melengak, tetapi sebentar kemudian ia sudah tersadar kembali, bila putri kesayangannya ini sebenarnya sudah pernah menyatakan rasa cinta kepada Lie Hauw Seng.

Ia kembali jadi melengak.

"Lalu apa yang dikatakan oleh Hauw Seng, si bocah cilik itu..?" tanyanya.

Suara dari Si Soat Ang lelah berubah jadi dingin dan kaku seperti es, suara pembicaraannya amat tawar seperti sedang membicarakan persoalan orang lain yang sama sekali tiada hubungan dengan dirinya.

"Apa yang dia katakan ? dia bilang, ia tidak ingin hidup didalam Benteng Thian It Poo lagi yang se gala2nya menggantungkan pada orang lain, ia ingin berkelana dan mengembara ditempat luaran, ia tidak ingin orang lain menganggap dirinya hanya bisa hidup kalau menggantungkan benteng Thian It Poo saja !"

Alis yang dikerutkan Thian It Poocu semakin lama semakin mengencang, sewaktu mendengar kisah yang dituturkan oleh putrinya ini dalam hati sudah tentu merasa rada marah, tetapi bagaimana pun dia adalah seorang jagoan Bu-lim yang sudah punya nama. Setelah mendengar perkataan tersebut kendari dalam hati merasa marah tetapi iapun merasa bangga pula.

"Ehmm ! bocah cilik itu ternyata punya semangat juga !" pujinya.

"Benar ! dia memang bersemangat!" teriak Si Soat Ang dengan suaranya yang melengking meninggi, "Hemm ! kalau ia berkata tidak ingin bersandar pada benteng Thian lt Poo lagi hal ini sama saja ia sudah tidak maui aku lagi, aku...aku lantas suruh dia menggelinding pergi dari sini, aku tidak mengijinkan dia berdiam lagi didalam Benteng Thian lt Poo."

"Apa ? kau mengusir dia pergi ?" teriak Si Liong sangat terperanjat.

"Kenapa ?" per-lahan2 Si Soat Ang putar badannya, "Terang2an orang lain sudah mengatakan bila ia tidak ingin bersandar pada benteng Thian It Poo lagi, apakah kita orang perlu me mohon2 dirinya untuk tetap tinggal disini ? apakah benteng Thian It Poo kita tergantung padanya ?"

"Maksudku bukannya begitu, bukankah selama ini kau suka kepadanya, dengan perbuatan ini bukankah... heee ! bukanlah terlalu."

"Hi hi hi, aku rasa inilah suatu tindakan yang paling bagus!" teriak gadis itu sambil tertawa sombong "Sebenarnya aku masih tidak tahu kalau dia adalah seorang binatang yang tak berperasaan dan berhati licin, aku mengira dia adalah seorang lelaki sejati yang patut di puji dan dibanggakan sekarang... Hmm ! ia sudah menggaet Giok Jien untuk diajak lari, dia sudah membawa lari budakku ! Tia, coba kau bilang pantaskah aku melepaskan dia begitu saja? ayoh kau katakan." Semakin berbicara suara dari gadis itu semakin tinggi melengking, butiran air matapun mengucur keluar dengan sangat derasnya, jelas dalam hati ia merasa kheki bercampur mendongkol. keadaannya sangat mengenaskan.

oooOdwOooo

BAB 3

MELIHAT keadaannya itu Si Liong merasa hatinya seperti di-iris2 dengan beribu-ribu bilah golok tajam.

"Benar ! bangsat cilik itu memang sangat kurang ajar sekali !" teriaknya keras.

"Tia ! kalau memang begitu, tentunya kau sudah mengijinkan aku membawa orang untuk menangkap kembali kedua orang itu bukan ?" seru Si Soat Ang sambil menghentikan isak tangisnya. "Aku tahu mereka masih berada didalam jalan rahasia dibawah tanah, sekalipun berhasil keluar dari tempat itu kedua orang bangsat itupun tidak mungkin bisa pergi terlalu jauh, karena Lim Hauw Seng sudah terluka ?"

"Benar, selama ini selalu mengira rahasia kepergiannya sangat rapat dan tidak diketahui orang lain, padahal begitu ia melarikan diri aku lantas tahu, maka aku melakukan pengejaran ke luar dan bergebrak dengan dirinya."

"Tetapi... tetapi sejak kapan kepandaian silatmu berhasil melampaui dirinya ?"

Tanya Si Liong dengan pandangan mata penuh ke- ragu2an.

"Dia..."

Mendadak ia merandek sejenak, setelah lewat beberapa saat lamanya baru menyambung kembali: "Sebetulnya ia bisa menangkan diri ku, tetapi selama itu ia selalu melindungi Giok Jien siperempuan rendah itu, maka dari itu ia baru berhasil aku desak sehingga berada dibawah angin dan akhirnya kena kulukai. bilamana waktu itu hujan salju tidak deras dan angin tidak kencang ditambah pula ia memperoleh bantuan dari sitelapak berdarah Tong Hauw, bangsat itu pasti tidak bakal berhasil meloloskan diri !"

"Ooouw . . . kiranya begitu !" ujar Si Liong dengan rasa setengah percaya setengah ragu2. "kalau begitu, bagaimana kalau aku suruh paman Kan Jie siokmu saja yang mengawani dirimu ?"

"Aaak...!" hal itu sangat kebetulan sekali. Paman Jie-siok

!" Teriak Si Soat Ang kegirangan.

Pada waktu itu Kan Tek Lin baru saja berjalan keluar dan memutari sebuah ujung tembok mendengar suara panggilan dari Si Soat Ang tersebut dengan cepat ia putar badan.

"Soat Ang, ada urusan apa?"

"Paman Jie Siok. Tia suruh kau orang mengawani diriku pergi keluar benteng kau suka bukan?" tanya gadis tersebut sambil berlari mendekat.

Pada saat ini hatinya sangat penurut sekali, ia tahu kalau Kan Tek Lin sebagai seorang jagoan Bu lim yang memiliki kepandaian silat tinggi suka membantu dirinya maka usaha ini tentu bakal menemui kesuksesan.

"Hal ini sudah tentu saja !" sahut Kan Tek Lin sambil tertawa.

Si Soat Ang jadi kegirangan dengan cepat ia bersuit panjang dengan amat kerasnya. "Cepat berangkat dan persiapkan kereta salju!"

"Apakah kedua orang yang kau cari adalah Hauw Seng serta gadis itu ?"

"Benar !" sahut Si Soat Ang mengangguk dan menggigit kencang bibirnya.

Per-lahan2 Kan Tek Lin menghela napas panjang. "Heeei...! Soat Ang, walaupun aku belum begitu lama berada didalam benteng Thian It Poo, tetapi aku rasa Hauw Seng bukanlah seorang penjahat. Soat Ang ! sekalipun kita berhasil menemukan mereka, aku berharap agar kau jangan bertindak keterlaluan terhadap dirinya !"

Dalam hati Si Soat Ang benar2 merasa amat gusar sekali sewaktu mendengar perkataan tersebut, tetapi rasa marahnya ini tidak sampai diperlihatkan diluaran

"Paman Jie Siok" katanya. "Kau orang bukan nya membantu aku untuk mendapatkan kembali mereka berdua, kini malah bantu mereka untuk ucapkan beberapa patah kata ! hmmm !"

Kan Tek Lin tertawa, ia lantas putar kepalanya kebelakang.

"Toako, perempuan yang ada didalam halaman tersebut..." serunya.

"Heei., aku bisa menghadapi mereka dengan sangat ber- hati2. Jie-te, kaupun harus ber-hati2 mengawasi Soat Ang !"

"Toako boleh berlega hati aku akan menganggap Soat seperti putri kesayanganku sendiri" kata Kan Tek Lin sambil tertawa.

Waktu itu terdengarlah suara gonggongan anjing bergema memecahkan kesunyian disusul suara seseorang yang berteriak sambil berlari mendekat. "Kereta salju sudah dipersiapkan !"

Kan Tek Lin serta Si Soat Ang segera melangkah keluar dari pintu benteng, tampaklah enam belas ekor anjing dengan menarik sebuah kereta salju sudah menanti didepan pintu.

Mereka berdua dengan cepat menaiki kereta kereta salju itu. diantara ayunan cambuk dari Si Soat Ang yang amat keras, keenam belas ekor anjing itu dengan menarik sang kereta segera berlari sangat cepat menuju kearah depan.

Cuaca makin lama semakin terang benderang, pagi pun sudah menjelang datang.

Sang surya per-Iahan2 muncul diufuk timur dan menyinari empat penjuru diatas permukaan salju yang amat luas tampaklah dua sosok bayangan hitam dengan sangat perlahan bergerak maju kedepan.

Kedua orang itu bukan lain adalah sepasang muda mudi yang masih muda.

Yang lelaki memakai sebuah mantel tebal yang terbuat dari kulit kambing tetapi pada saat ini mantelnya sudah tersayat robek bahkan diatasnya masih kelihatan bekas darah yang sudah membeku.

Sedang yang perempuan mempunyai rambut yang amat panjang terurai sepanjang pundak, disebabkan tubuh lelaki tersebut hampir2 rubuh keatas badannya maka dengan amat ngotot dan susah payah sambil membimbing tubuh sang lelaki tersebut ia melanjutkan perjalanannya.

Kepalanya tertunduk rendah2, sedang rambutnya yang panjang terurai menutupi seluruh wajahnya dengan demikian tak dapat terlihat bagaimanakah sebenarnya wajah dari perempuan tersebut. Kedua orang itu dengan susah payah per-Iahan2 melanjutkan perjalanan diatas permukaan salju.

Akhirnya kakinya terasa lemas. sepasang muda mudi itu tak kuasa untuk melanjutkan kembali perjalanannya dan jatuh terduduk diatas permukaan salju.

Perempuan itu buru2 berdiri kembali dan menarik tubuh lelaki tersebut.

Orang lelaki itu ternyata masih amat muda, usianya kurang lebih dua puluh tiga, dua puluh empat tahunan, tetapi badannya amat kurus paras mukanya pucat pasi bagaikan mayat.

Ditinjau dari bibirnya yang terkancing rapat, jelas dia sedang menahan suatu penderitaan sakit yang luar biasa.

Ternyata dia adalah seorang lelaki yang benar2 bersifat jantan, sekalipun rasa sakit dibadan terasa amat menyiksa dirinya tetapi sedikit pun tidak kedengaran ia merintih.

Sang gadis yang berulang kali tidak berhasil menarik lelaki itu untuk bangun, akhirnya saking cemas tak tertahan lagi menangis tersedu2.

Aaaakh . . . ! kiranya perempuan itu adalah seorang gadis yang sangat cantik sekali, sekali pun sedang menangis sama sekali tidak menutupi kemolekan paras mukanya itu.

Dia bukan ia ia adalah Giok Jien, budak dari Si Soat Ang itu putri kesayangan dari Thian It Poocu, dan tidak usah diterangkan lagi orang lelaki yang rubuh diatas permukaan salju sudah tentu tidak bukan adalah Liem Hauw Seng, keponakan dari Poocu Benteng Thian It Poo.

Mereka berdua sedang bersembunyi didalam jalan rahasia dibawah tanah dari sitelapak berdarah. Sewaktu menunggu lama sekali tidak juga melihat Tong Hauw balik kesana, maka dalam hati sepasang muda mudi ini merasa inilah suatu kesempatan yang paling baik bagi mereka untuk melarikan diri.

Demikianlah, dibawah bimbingan Giok Jien, mereka berdua mulai melarikan diri dari sana, tetapi berhubung Liem Hauw Seng terluka parah maka perjalanan dilakukan dengan sangat lambat sekali.

Kepandaian silat yang dimiliki Giok Jien kebanyakan berhasil dipelajari dari Liem Hauw Seng bila ada waktu senggang, sudah tentu apa yang berhasil dimilikipun tidak seberapa.

Kedua orang itu tahu, mereka berdua tak dapat berdiam terlalu lama disana, kendari Si Soat Ang tidak datang mencari mereka lagi, mereka pun harus mati karena kedinginan serta kelaparan, oleh sebab itu tempat tersebut buru2 ditinggalkan.

Tampak Lim Hauw Seng yang rubuh keatas tanah per- Iahan2 membuka matanya.

"Giok Jien. . . kau jangan menangis lagi !" serunya dengan suara yang keren dan berat "Bukankah kau suka mendengarkan semua perkataanku ? ayoh. . . jangan menangis lagi."

"Engkoh Hauw Seng, kita. . . kita bagaimana? apa yang harus kita lakukan ?" tanya Giok Jien tetap menahan rasa isak tangisnya.

Dengan sekuat tenaga Liem Hauw Seng mempertahankan diri sehingga suara pembicaraannya tidak sampai terputus2, katanya lagi: "Giok Jien ! kau jangan menangis... asal kau suka mendengarkan perkataanku aku tentu . . aku tentu punya akal !" Per-lahan2 Giok Jien, si gadis itu berhenti menangis.

"Engkoh Hauw Seng, coba kau pikir kapan aku pernah tidak mendengar perkataanmu lagi?" katanya.

"Kalau begitu, perkataanmu kali ini tentunya kaupun suka menurut bukan ?" seru pemuda itu sambil mencekal erat2 tangan Giok Jien sang gadis cantik yang putih halus itu.

Giok Jien merasakan bila perkataan dari pemuda tersebut sangat aneh sekali, menyuruh dia mendengar perkataannya bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, kenapa ia menanyakan terus berulang kali ? karena itu kepalanya lantas dianggukkan dengan perlahan.

000Ode-wiO000