Jago Kelana Jilid 01

Jilid 01

BADAI salju bertiup dengan kencangnya membuat seluruh permukaan bumi hanya tampak sinar putih ke- perak2an yang menyilaukan mata, di tengah kesunyian yang mencekam hanya terdengar suara gonggongan anjing yang amat ramai diselingi suara mengayun nya cambuk yang amat nyaring.

Seorang gadis muda dengan menunggang kereta yang ditarik oleh tujuh-delapan ekor anjing dengan amat cepatnya berlari mendatangi.

Di tengah permukaan salju yang amat sunyi dari kosong melompong itu cuma kelihatan sebuah rumah gubuk yang berdiri dengan kuatnya disamping seorang lelaki berewokan yang baru saja meloncat keluar dari rumah tersebut sewaktu mendengar suara yang amat ramai....

Didalam sekejap mata gadis muda itu sudah berlari mendekati lelaki berewok itu, tampak usianya kurang lebih baru tujuh-delapan belas tahunan dengan potongan wajah yang amat cantik sekali, tetapi pada hawa seperti ini kelihatan rada ke-pucat2an, gerak geriknya agak loyo bahkan kedua belah pipinya jelas tampak bekas air mata yang menapak, agaknya dia orang baru saja merasakan kesedihan.

Sesampainya di hadapan lelaki berewok itu dengan suara yang agak serak tanyanya:

"Apakah mereka ada ditempat ini ?".

Sikap dari lelaki berewok itu ternyata amat hormat sekali terhadap gadis itu.

"Mereka pasti ada disini" sahutnya sambil menjura. "Ehmm!" mendadak pergelangan tangannya membalik "Sreet !" sebuah cambuk panjang berwarna merah darah mendadak diayunkan ke depan sehingga mengeluarkan suara yang amat nyaring.

Cambuk itu besarnya ada satu jari tetapi panjangnya cuma satu kaki lima, enam, setelah diayunkan keatas kepala, ketujuh delapan ekor anjing itu segera dia tarik kembali, gerakannya amat lincah dan cepat sekali.

Dengan diikuti suara bergeletarnya cambuk tersebut beberapa ekor anjing itu segera berhenti bergonggong.

Suasana menjadi amat sunyi... sunyi tak terdengar sedikit suarapun.

Dan pada saat yang bersamaan pula dari dalam rumah gubuk itu terdengar suara yang bercuitan pintu rumah dengan perlahan dibuka.

Baru saja pintu terbuka, ketujuh, delapan ekor anjing itu segera siap menubruk kembali kedepan tetapi sang gadis dengan cekatannya menahan gerakan tersebut membuat beberapa ekor anjing yang amat ganas itu segera berdiam diri dan merebahkan diri keatas permukaan salju.

Pintu rumah gubuk itu dengan perlahan terbuka disusul munculnya sebuah payung yang terbuat dari kertas minyak yang dipentangkan lebar2, jelas kelihaatan diatas payung itu sudah ada tiga buah lubang yang cukup besar.

Tampak seorang kakek tua yang memakai kain kulit yang terbuat dari bulu domba dengan langkah yang amat perlahan berjalan keluar

Kakek yang masih mengantuk itu dengan menggunakan payungnya menutupi badan lalu berjalan maju satu langkah ke depan, terdengar dia sedang bergumam: "Ouww... sungguh hebat hujan salju kali ini."

Sembari berkata ia menongolkan kepalanya sekeliling tempat itu, sewaktu dilihat hadirnya seorang lelaki berewok disana mendadak dia berseru tertahan.

"Aaah kiranya Ong Cong-koan ! eeeh Ong Cong-koan kau membawa sebegitu banyak orang apakah mau pergi berburu malam ? kulit rase yang bagus apakah harus dicari dengan berburu pada malam hari ? Ong Cong-koan silahkan masuk, mari minum dulu secawan teh panas ! mari

... mari ... biar Loo-han pergi masak air."

Semenjak lelaki tua itu muncul sampai saat ini dia terus menerus beribut tidak keruan tetapi tak seorangpun yang memberikan langganannya.

Si lelaki berewok maupun gadis itu sewaktu melihat lelaki tua itu berjalan keluar secara tiba2, pada air mukanya segera memperlihatkan perubahan hebat, agaknya kejadian ini berada di luar dugaan mereka, menanti setelah lelaki tua itu selesai berbicara barulah lelaki berewok itu berseru:

"Tan Loo Tia . . ."

Begitu dia berseru, Tan Loo Tia lantas angkat kepalanya kembali dan berteriak lagi:

"Aaah !! Bukankah gadis ini adalah Soat Ang Sio-cia dari Benteng Thian te Poo?? Haa... haa sungguh mirip burung hong yang melayang turun dari atas langit Soat Ang siocia sewaktu Loohan melihatmu untuk pertama kakinya, usiamu masih amat kecil sekali, pada hari kedua Loohan sudah pergi menangkap tiga ekor rase yang amat besar hehe... hee aku lihat kali ini belum tentu kau bisa berhasil menangkap beberapa ekor..."

Baru saja dia berbicara sampai disini tampak gadis muda itu sudah kerutkan alisnya rapat2. "Aah ! Tan Loo Tia" Seru lelaki berewok itu dengan gugup, "Kau banyak bicara lagi, kami sengaja datang untuk mencari orang,

"Mencari orang. ooooh .. . kalian mau mencari Loo han

? ? ?" serunya melengak.

Kepalanya didongakkan tinggi2 sehingga tampaklah pada wajah yang berwarna hitam seluruhnya ditutupi dengan keriputan, agaknya usianya sudah lanjut sekali sehingga dirinyapun tidak bisa mengatakan berapa besar usianya tetapi Ong Cong Koan dari benteng Thian It Poo ini sebaliknya tahu dengan amat jelas kalau kedua buah rumah gubuk ini sudah ditinggali olehnya selama hampir dua puluh tahun lamanya.

Ong Cong Koan sangat senang terhadap Tan Loo Tia ini, karena sejak Tan Loo Tia berdiam di dalam dua buah rumah gubuknya dua puluh li diluar benteng Thian It Poo maka kedudukannya didalam Benteng Thian It Poo pun sehari demi sehari meningkat sehingga akhirnya menduduki sebagai Cong-koan.

Orang2 yang berlalu lalang didalam benteng Pek Kian Poo semuanya pada merasa heran, keamanan serta penjagaan dari Benteng Thian It Poo amat ketat sekali bahkan pada dua puluh lima lie sebelum Benteng sudah disebar pengawal serta mata2 yang pada menyebar disana, dua puluh li sebelum Benteng semakin mendekat kearah Benteng penjaganya semakin banyak, jika orang asing hendak memasuki tempat itu tanpa ketahuan benar2 amat sulit sekali, bagaikan terbang ke langit, tetapi kenapa pada deretan penjaga pertama sudah ada orang yang tinggal disana tanpa dicurigai, bukankah hal itu amat janggal sekali? Padahal sewaktu Tan Loo Tia untuk pertama kali pindah kesana para jago dari Benteng Thian It Poo sudah menaruh curiga terhadapnya bahkan melakukan pengawasan yang ketat siang malam, tetapi lama kelamaan semua orang dari Thian It Poo pada mengetahui kalau Tan Loo Tia adalah seorang yang sedang melarikan dirinya dan tinggal dengan sengsara seorang diri, Tan Loo Tia ini sama sekali tidak mempunyai kepandaian lain selain bisa membuat arak yang paling bagus.

Arak adalah barang yang paling mudah untuk memperpendek jarak hubungan persaudaraan, lama kelamaan orang2 dari Benteng Thian It Poo semuanya pada tahu kalau Tan Loo Tia bukanlah seorang yang patut dicurigai karenanya penjagaan nya pun menjadi semakin kendor.

Sedangkan pada waktu itu Tan Loo Tia sudah amat tua, selama dua puluh tahun ini hampir2 dia orang tidak bisa berjalan lagi sudah tentu hal ini semakin membuat orang lain tidak mencurigai dirinya lagi.

Kini melihat si kakek tua sudah salah menyangka kalau mereka mau mencari dia orang tua tidak terasa lagi Ong Cong-koan tertawa geli.

"Tuh... buat apa aku orang cari dirimu ?" ujarnya sambil tertawa. "Kami sedang mengejar dua orang, satu laki satu perempuan, yang laki tentunya kau sudah pernah bertemu, dia adalah keponakan dari Toocu".

"Ohh benar, benar, aku memang pernah bertemu" Potong Tan Loo Tia dengan cepat. "Bukankah bocah itu putih dan besar perawakannya bahkan pandai memanah".

"Tidak salah !" sahut Ong Cong-koan mengangguk. "Kami mau mencari dirinya, bukankah mereka ada didalam rumahmu ?" Tan Loo Tia segera menyipitkan matanya dan tertawa terbahak2.

"Ong Cong-koan !" serunya, "Kau orang apa mau ajak aku untuk bergurau ? bagaimana mungkin mereka ada disini ?"

Mendengar perkataan tersebut Ong Cong-koan segera palingkan kepalanya kearah gadis itu.

"Nona !" ujarnya dengan suara amat hormat. "Tan Loo Toa bilang mereka tidak ada disini, lebih baik kita mengejar terus kedepan saja, bilamana kita harus buang waktu dengan percuma disini mereka tentu melarikan diri semakin lama se makin menjauh".

"Tetapi anjing2ku ini sudah berhenti mengejar sesampainya ditempat ini !" ujar gadis itu dengan wajah yang adem.

"Benar... benar ! penciuman anjing adalah paling tajam diantara binatang2 lain, sekalipun berada beberapa li jauh nya dia masih bisa mencium bau manusia yang sedang dicari, kini ke tujuh-delapan ekor anjing itu sudah berhenti mengejar sesampainya disini jika mau dikatakan orang yang mereka kejar tidak berada disini sebenarnya merupakan suatu urusan yang sukar dipercayai."

Karenanya Ong Cong-koan segera berseru kembali: "Tan Loo Tia, urusan ini kau jangan bicara secara guyon, mereka benarkah tidak ada didalam rumahmu ?"

"Ong Toa-siok ! kau kenapa ?" teriak gadis itu mendadak dengan amat gusarnya, "Manusia2 itu ada didalam rumah atau tidak kenapa kau tidak memeriksanya sendiri ?"

Tubuhnya segera melayang menerjang kedalam rumah itu, sewaktu tubuhnya mencapai ditengah udara cambuk ditangannya dengan cepat menghajar kearah depan memaksa ke tujuh-delapan ekor anjingnya ikut menerjang masuk kedalam.

Menanti setelah tubuhnya melayang turun di depan pintu rumah dan memukul rubuh pintu tersebut kedua ekor anjing yang sudah ada dibelakang tubuhnya telah menerjang kedalam sambil menggonggong tak hentinya.

"Cepat ambil api dan bawa kemari !" perintahnya sambil berdiri tegak di depan pintu.

Suaranya amat serak sekali bahkan diucapkan keluar sambil menggigit kencang bibirnya, sepertinya setelah ada penerangan dia akan melihat sesuatu urusan yang amat menggemaskan hatinya sehingga dia kepingin sekali menghancurkannya.

Dia begitu berteriak segera tampak dua orang lelaki meloncat masuk kedalam pekarangan dan memberikan sebuah obor kepadanya.

Melihat kejadian tersebut Tan Loo Tia segera menutup kembali payungnva, serunya sambil pentangkan tangannya lebar2.

"Eeeeh.. Toa-siok sekalian sebenarnya kalian mau cari apa ? eeh... Ong Cong-koan.... loo han... loo-han..."

"Kau orang tidak usah banyak bicara lagi" Potong Ong Cong-koan dengan wajah keren, "Kami cuma mau mencari orang saja, bilamana orang itu bisa kami temukan disini, hemm ! hmm beberapa kerat tulang2 tuamu itu jangan harap bisa tersisa !"

Berulang kali Tan Loo Toa mendepakkan kakinya keatas tanah, wajahnya yang sudah penuh dengan keriput tampak memperlihatkan wajah menyesalnya, sewaktu dia putar badannya kembali tampaklah gadis tersebut mencekal obor sudah berjalan memasuki rumah gubuk itu. Kedua rumah gubuk itu amat kecil sekali, sewaktu ketujuh-delapan anjing itu menerjang masuk sebentar saja seluruh barang yang ada di sana sudah diobrak-abrik tidak keruan, hanya sekali pandang saja gadis itu sudah bisa melihat seluruh keadaan isinya.

Didalam rumah itu sudah tidak ada orangnya, tetapi mendadak tampak ke tujuh-delapan ekor anjing itu mengumpul menjadi satu dan menciumi tanah sambil menggonggong terhadap permukaan tanah disekelilingnya.

Melihat itu si gadis tersebut segera tertawa dingin. "Hmm! Ong Cong-koan" serunya dingin "Kau orang

sudah melihat belum, didalam rumah ini ada jalan rahasia,

Orang tua bangkotan ini pasti bukan manusia baik2, cepat tangkap dia orang terlebih dulu !"

Tetapi Ong Cong koan sama sekali tidak turun tangan terhadap diri Tan Loo-toa, sebaliknya dengan langkah perlahan berjalan kebelakang tubuh gadis itu, ujarnya:

"Nona, tempat ini hanyalah sebuah gudang dibawah tanah saja yang sudah diketahui oleh semua orang dibenteng sebagai tempat untuk menyimpan arak wangi yang dibuat Tan Loo-tia."

"Bagaimana kau bisa tahu didalam gudang ini tidak ada orang yang sedang bersembunyi ?" bentak gadis itu dengan amat gusarnya.

Bibir Ong congkoan tampak sedikit bergoyang, sebenarnya dia mau berkata "Kenapa Tan Loo Tia mau menyembunyikan orang", tetapi sewaktu dilihatnya wajah gadis itu sudah diliputi oleh kegusaran dia tidak berani meneruskannya kembali perkataan yang semula mau diucapkan ditelan kembali mentah2. Dengan suara yang amat berat bentak gadis itu kembali: "Bongkar tempat ini, buka gudang tersebut !" Ong Cong koan segera menyahut dan berjalan melalui dua ekor anjing yang ada di sana lalu bungkukkan badannya menyangkolkan jarinya pada satu lubang dan mengangkat sebuah papan seluas lima depa keatas.Begitu papan itu terbuka maka secara samar2 segera terbau harumnya arak yang amat semerbak.

Gadis itu mengangkat obornya untuk menerangi gudang dibawah tanah tersebut, tampaklah ruangan itu dalamnya ada satu kaki dengan luas enam tujuh depa yang sudah penuh diisi dengan gentong-gentong serta guci2 arak.

Dibawah sorotan api obor terlihatlah didalam gudang dibawah tanah itu sama sekali tidak tampak adanya sesosok manusiapun

Baru saja papan itu terbuka terlihatlah ketujuh, delapan ekor anjing tersebut dengan kalapnya menyalak tak hentinya lalu menubruk ke dalam semuanya.

Gadis itu dengan amat tenangnya berdiri disamping pintu gudang dibawah tanah itu, tampak air mukanya penuh diliputi oleh ke-ragu2an, mendadak tangannya digetarkan cambuknya dengan amat dahsyatnya menyambar kedalam gudang....

Seketika itu juga sebuah guci yang berisikan arak wangi sudah tersambar hingga hancur lebur, arak wangi dengan sendirinya mengalir keluar membasahi seluruh permukaan membuat seluruh ruangan berbau wanginya arak.

Saat itu ketujuh delapan ekor anjing itu tidak ambil diam, mereka mencium sana sini sambil menyalak tak henti2nya.

Sebaliknya cambuk yang ada ditangan sang gadispun bagaikan naga sakti ber-turut2 melancarkan beberapa kali sambaran, membuat tujuh, delapan buah guci seketika itu juga menjadi hancur lebur berhamburan diatas tanah, orang2 yang mengerubungi tempat itu termasuk juga Ong Cong-koan sendiri dalam hati diam2 merasa amat sayang sekali.

Begitu ke tujuh-delapan buah guci arak itu terhajar hancur maka seluruh ruangan gudang itu dapat dilihat dengan amat jelasnya, ternyata disana sama sekali tidak tampak adanya bayangan orang.

Waktu itu dengan jalan yang amat tegak Tan Loo Tia sudah berjalan masuk kedalam ruangan sambil menghela napas ujarnya dengan nada sayang:

"Nona kau sungguh2 sudah berbuat kesalahan besar, ke tujuh-delapan buah guci arak itu sudah aku simpan selama dua puluh tahun lamanya, aiii… coba lihat, bukankah ditempatku sini tidak bersembunyi seseorang"

Dengan tidak henti2nya dia bergumam seorang diri, tetapi tak seorangpun yang menggubris dirinya, tiba2 gadis muda itu berteriak amat keras:

"Ong Cong-koan, coba kau lihat !!"

Sembari berteriak dia menuding kearah gudang dibawah tanah itu, Ong Cong-koan yang mendengar seruan tersebut terpaksa melongokkan kepalanya memandang kebawah, tetapi sebentar kemudian dia sudah dibuat melengak.

Ke tujuh-delapan buah guci arak yang sudah terkena pukulan cambuk hingga hancur seharusnya diatas tanah ada genangan arak setinggi dua tiga coen tetapi saat ini permukaan tanah cuma basah saja sedikitpun tidak tampak adanya genangan arak.

Ong Cong-koan benar2 dibuat tertegun, serunya: "Nona, ini   "

"Kau masih tidak paham juga ?" Potong gadis itu dengan amat gusarnya " Dibawah gudang ini pasti ada jalan rahasia lainnya, kalau tidak arak tersebut tidak mungkin bisa merembes ke-tempat lain !"

Ong Cong-koan menjadi sangat terperanjat sekali, "Tan Lo, . ." serunya,

Belum sempat dia mengucapkan "Tia" hurup yang terakhir seketika itu juga dia berdiri melengak untuk kedua kalinya,

Tampak tubuh dari Tan Loo Tia didalam sekejap mata itulah sudah mengembang menjadi sangat besar sekali, tetapi kejadian yang sudah berlangsung hanya didalam sekejap mata itu tidak memberi kesempatan buat Ong Congkoan untuk melihat lebih jelas lagi dengan cara bagaimana tubuh dari Tan Loo Tia bisa mengembang sampai begitu besarnya.

Karena pada saat tubuh Tan Loo Tia mengembang besar dan berkelebat dengan amat cepatnya itulah segera terdengar suara jeritan ngeri dari ke tujuh-delapan anjing yang berada disamping badannya disusul terpentalnya bayangan2 kecil keatas udara, ke tujuh-delapan ekor anjing itu sudah pada bergulingan diatas tanah dan binasa seketika itu juga.

Baru saja suasana menjadi hening sebentar kembali terdengar dua buah pukulan dahsyat berkelebat didalam ruangan, dua orang terpukul mental kebelakang hingga menubruk tembok lalu rubuh keatas tanah tidak berkutik kembali, dari bagian dadanya darah segar mengucur keluar dengan amat derasnya. Perubahan yang terjadi secara mendadak ini benar2 membuat semua orang menjadi terperanjat, tetapi mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa2, setelah itu kembali terdengar dua orang secara tiba2 menjerit aneh lalu tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menuju keluar.

Gerakkan mereka amat cepat sekali, hanya didalam sekejap saja kedua orang itu sudah berada disamping tubuh kudanya masing2.

Pada saat yang bersamaan pula tampak sesosok bayangan manusia kembali berkelebat menyusut kedepan. Gerakan tubuh bayangan itu amat cepat sekali laksana berkelebatnya bayangan setan.

Hanya didalam sekejap saja dia orang sudah berkelebat melalui diantara kedua orang itu dan menghadang didepan mereka sepasang tangannya berkelebat berbareng menghajar bagian wajah dari kedua orang itu.

Jurus serangannya ini amat aneh sekali, belum sempat orang yang ada didalam rumah melihat jelas gerakan yang digunakan, sepasang tangan dari Tan Loo Tia sudah ditekan ke depan sehingga tampaklah bayangan telapak memenuhi seluruh angkasa membuat mereka tak dapat menghindarkan diri kembali.

Dua buah jeritan ngeri segera memecahkan kesunyian disusul mundurnya mereka berdua dengan sempoyongan.

Sebetulnya mereka sudah berhasil keluar dari rumah sejauh dari sepuluh langkah tetapi saat ini badannya mundur dengan sempoyongan hingga masuk kedalam rumah kembali, setelah itu kakinya baru lemas dan rubuh keatas tanah.

Wajahnya yang membalik keatas segera terlihatlah sebuah bekas telapak darah yang masih segar bugar. Telapak tangan itu amat jelas sekali, persis seperti baru saja dicapkan keatas wajah mereka sehingga membekas amat dalam sekali.

Ong Cong-koan serta gadis itu sewaktu melihat kejadian ini pada berdiri melongo, apalagi Ong Congkoan, ketika melihat bekas telapak berdarah yang membekas di wajah mereka berdua seketika itu juga dalam hatinya sudah teringat dengan seseorang, tak tertahan lagi seluruh tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya seperti baru saja direndam didalam air dingin.

Dan pada detik2 itu pula Tan Loo Tia sudah berkelebat kedalam rumah, tubuhnya dengan amat cepatnya kembali berkelebat didalam ruangan tersebut membinasakan keempat lelaki kasar lainnya yang masih tersisa.

Didalam sekejap mata empat orang itupun tubuh tanpa mengeluarkan sedikit suarapun.

Suasana menjadi amat sunyi sekali... sunyi sehingga tak terdengar suara gemerisik sedikit pun juga, tetapi sebentar kemudian sudah dipecahkan dengan menggerusnya suara yang keras kiranya saking takutnya seluruh tubuh dari Ong Cong-koan sudah gemetar dengan amat kerasnya sehingga giginya pada beradu dan mengeluarkan suara nyaring.

Sebaliknya wajah dari gadis muda itu walau pun amat pucat pasi tetapi air mukanya masih tetap terlintas hawa amarahnya yang bercampur rasa kaget, perubahan wajahnya jauh berbeda dengan air muka Ong Congkoan yang sudah berubah menjadi abu2 itu.

Tujuh-delapan ekor mayat anjing serta delapan sosok mayat manusia menggeletak diatas tanah dengan amat mengerikan, dibawah sorotan sinar obor kelihatan sangat menyeramkan sekali. Ketiga orang itu dengan berdiri pada arah yang berlawanan berdiri tak bergerak sedikitpun juga, lama sekali baru terdengar Ong Congkoan berkata dengan suara yang ter putus2: "Tan Loo Tia, kau... kau..." Saking takutnya dia tidak sanggup meneruskan kembali kata2 selanjutnya.

Tan Loo Tia yang ada dihadapan mereka sekarang ini bukanlah Tan Loo Tia yang badannya bungkuk dengan pandangan yang sayu.

Tampak tubuhnya berdiri tegak dengan angkernya, sepertinya didalam sekejap mata itulah tubuhnya sudah bertambah tinggi separuh kepala lebih, sedangkan sepasang matanya memancarkan sinar yang amat dingin sekali memandang tajam mereka berdua.

Terdengar dia tertawa dingin tak henti2nya membuat seluruh tubuh Ong Cong-koan gemetar semakin keras, mendadak dia jatuhkan diri berlutut sambil me-rengek2:

"Kau ampunilah diriku... kau... kau ampunilah jiwaku." "Tidak dapat!" sahut Tan Loo Tia dengan nyaring

bahkan amat singkat sekali.

Ong Cong-koan menjadi tertegun, dengan perlahan dia angkat kepalanya.

Tetapi pada saat dia angkat kepalanya itulah tangan kanan dari Tan Loo Tia mendadak sudah di ulur kedepan menekan ke atas wajahnya !

Sewaktu telapak tangan Tan Loo Tia ditarik kebelakang itulah terdengar gadis muda itu menjerit kaget dan menghembuskan napas dingin. Tampak wajah dari Ong Cong-koan sudah di seset hingga kulitnya hilang semua, sedangkan sebuah bekas telapak tangan yang penuh dengan darah sudah membekas diatasnya. Tetapi nyawanya masih belum melayang, tampak tubuhnya sedikit bergerak lalu bangkit berdiri, teriaknya dengan suara serak:

"Nona, ce... cepat... cepat beritakan kepada Poocu, Hiat..."

Baru sempat dia mengucapkan kata2 "Hiat" tubuhnya mendadak rubuh keatas tanah tidak berkutik kembali!

Terdengar Tan Loo Tia memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan, kepalanya digelengkan lalu berseru dengan nada yang amat mengerikan.

"Hee... heee... tidak akan ada orang yang bisa memberitahukan urusan ini kepada Poocu..."

Mendadak dia angkat kepalanya lalu beralih keatas wajah sang gadis muda itu.

Tanpa terasa lagi gadis itu mengundurkan diri satu langkah kebelakang.

Tan Loo Tia segera memperlihatkan sebaris giginya yang putih menyeramkan.

"Tidak akan ada orang yang bisa beritahukan urusan ini kepada Pocu kalian" ujarnya kembali dengan seram, "Nona... kaupun tidak bisa hidup lagi karena kau terlalu cerdik, selama puluhan tahun ini cuma kau seorang saja tahu kalau dibawah gudang tersebut masih ada jalan rahasia yang lain !"

Sembari berkata tubuhnya dengan perlahan mendesak maju kedepan.

Gadis itu sewaktu melihat Tan Loo Tia mendesak dirinya terus menerus terpaksa mundur kembali kebelakang, didalam sekejap saja tubuhnya sudah merapat dengan tembok rumah. "Heee... heee... sebelum mati aku bisa beritahukan satu soal kepadamu" Ujar Tan Loo Tia kembali sambil memperdengarkan suara tertawa anehnya yang amat mengerikan "Jalan rahasia dibalik gudang tersebut sudah membuang waktuku selama dua puluh tahun lamanya dan merupakan jalan yang menembus sampai ditengah-tengah Benteng Thian It Poo, semua orang dari Benteng mimpipun tidak akan menyangka akan hal ini, sudah tentu akupun tidak boleh meninggalkan kehidupan ditempat ini !"

Tubuh gadis itu mulai kelihaian gemetar, bibirnya yang pucat pasi sedikit bergerak mengucapkan kata2 dengan ter potong2:

"Kau... kau berani bunuh aku... orang2 dari Benteng Thian It Poo tentu akan ada yang datang mencari aku !"

"Sudah tentu... sudah tentu!” sahut Tan Loo Tia sambil tertawa seram. "sudah tentu mereka akan mencari dirimu, karena kau adalah burung Hong yang turun dan kahyangan putri kesayangan dari Poo-cu jika mereka tidak tampak kau muncul kembali kenapa tidak pergi mencarinya ? haahaha .

. tetapi mereka tidak akan menemukan sesuatu dari tempat sini, menanti mereka tiba disini apapun sudah tidak ada, bahkan sampai jejak yang mencurigakan akan lenyap tak berbekas!"

Sehabis berkata tangan dari Tai Loo Tia dengan perlahan diangkat keatas lalu diayunkan ke depan.

Gadis itu segera memperdengarkan suara jeritan kagetnya yang amat tajam dan melengking tinggi, cambuk ditangannya mendadak dikebutkan menjadi setengah lingkaran lalu dengan dahsyatnya dibabat keatas tubuh Tan Loo Tia.

Bersamaan waktunya pula tubuhnya membungkuk kebawah, punggungnya dengan sekuat tenaga menerjang tembok yang ada dibelakangnya sehingga muncullah sebuah lubang yang amat besar sekali.

Tubuhnya tanpa membuang tempo lagi sudah menerobos keluar dan ber-guling2 diatas permukaan salju untuk cepat2 kabur dari sana.

Gerakan gadis itu boleh dikata amat cepat sekali bagaikan sambaran kilat, tetapi baru saja dia berhasil meloncat bangun, tubuh Tai Loo Tia sudah muncul kembali dihadapannya.

Tangan gadis itu dengan cepat digerakkan kembali, cambuk panjangnya dengan menimbulkan suara sambaran yang amat keras kembali membabat kedepan.

Tetapi sayang sekali walaupun serangannya amat dahsyat tetapi lima jari dari Tan Loo Tia yang mencengkeram pergelangan tangannya jauh lebih gesit dan kuat lagi bahkan tenaga tarikannya bagaikan tarikan dua puluh ekor kuda.

Sang gadis yang meiihat ujung cambuknya terkena pegang oleh pihak lawan, menjadi sangat bingung sekali, bila mana dengan cepat dia melepaskan cambuknya kemungkinan sekali masih tidak mengapa, siapa tahu justeru cambuk itu terbuat dari kulit seekor ular raksasa yang amat kuat dan bagus sekali, apalagi benda itupun sudah digembolnya sejak kecil, untuk mana dia merasa amat sayang sekali untuk melepaskannya kembali.

Pada saat dia merasa ragu2 itulah tenaga tarikan dari Tan Loo Tia yang amat dahsyat sudah menerjang datang membuat tubuh gadis itu tertarik maju beberapa langkah kedepan, dan jatuh tertelungkup keatas tanah.

Gadis tersebut segera merasakan keadaannya sangat berbahaya, dengan cepat tangannya mengendor melepaskan cekatan pada cambuknya dan mundur kebelakang tetapi waktu sudah terlambat pundaknya terasa mengencang tangan dari Tan Loo Tia sudah berhasil mencengkeram dirinya.

Tan Loo Tia yang sudah berhasil mencengkeram pundak dari gadis muda itu tangan yang sebelah tidak henti2nya di- goyang2kan didepan wajah sang gadis sambil memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.

Dengan cepat gadis muda itu angkat kepalanya keatas, bunga salju selapis demi selapis jatuh berhamburan diatas wajahnya yang pucat pasi bagaikan mayat, sepasang matanya terbelalak lebar2-Walaupun air mukanya sudah diliputi oleh perasaan ngeri serta ketakutan yang luar biasa tetapi bibirnya tetap tertutup rapat2 tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Lima jari tangan kanan dari Tan Loo Tia yang terpentang lebar2 sejengkal demi sejengkal semakin mendekati wajah gadis itu, kelihatannya sebentar lagi diatas wajah sang gadis yang amat cantik itu sudah akan bertambah dengan sebuah cap telapak tangan berdarah yang amat mengerikan.

Pada saat itulah gadis muda itu merasakan hidungnya tercium bau amis darah yang amat memuakkan sekali, telapak tangan dan Tan Loo Tia yang ada dihadapannya kini sudah berobah memerah laksana darah, keadaannya mirip dengan sebuah telapak tangan yang baru saja direndam didalam darah segar, benar2 amat menyeramkan sekali !

Walaupun sifat gadis itu ketus dan keras kepala tetapi pada saat yang amat kritis dan menyangkut mati hidup dirinya tidak urung hatinya dibuat ber debar2 juga, napasnya ngos2an tidak teratur sedangkan sepasang matanya dengan tajam memperhatikan telapak tangan yang sudah ada kurang lebih tiga-empat coen dihadapannya.

Mendadak dengan menggunakan suara yang amat gemetar ujarnya:

"Kau... kau... kau bukan Tan Loo Tia !".

"Haaa... haaa... haaa... sudah tentu aku bukan Tan Loo Tia ! haaa... haa..." seru Tan Loo Tia sambil memperdengarkan suara tertawa panjangnya yang amat aneh sekali.

"Kau... kau... kau adalah "Hiat Ciang" atau sitelapak berdarah, Tong Hauw ln." Teriak gadis itu kembali sambil menelan ludah. "Kau!ah si iblis tukang pembunuh si telapak berdarah, Tong Hauw!"

"Heee... heee... sungguh hebat, sungguh hebat!" Seru Tan Loo Tia sambil memperdengarkan suara tertawanya yang amat aneh, "Aku orang sudah ada dua puluh tahun lamanya tidak pernah munculkan diri didalam dunia persilatan orang yang berusia seperti kau ternyata mengetahui juga namaku, sungguh hebat!"

Napas dari gadis itu semakin memburu, dadanya terasa sesak. kepalanya terasa pening... tetapi dia orang tetap berusaha untuk mempertahankan ketenangannya bahkan tidak henti2nya memperdengarkan suara tertawa dingin yang tidak kalah ketusnya.

"Hmm! bagaimana aku bisa mengetahui nama mu ? Di dalam Benteng masih ada seorang yang sering mengungkit dan menyebut namamu si telapak berdarah Tong Hauw, aku tahu akan hal ini dari ayahku."

Tan Loo Tia... si telapak berdarah, Tong Hauw segera mendengus dengan amat dinginnya. "Orang2 Benteng Thian It Poo sering menyebut namaku?" Teriaknya keras, "Kecuali Sie Liong si bajingan tua itu ada siapa lagi yang sering menyebut namaku ?"

"Kau berani memaki ayahku ?" bentak gadis itu dengan amat gusarnya.

Tong Hauw segera tertawa terbahak2 dengan amat kerasnya, agaknya dia merasa sangat gembira sekali, ber- turut2 teriaknya dengan keras:

"Sie Liong bajingan tua.. Sie Liong bajingan tua !"

Mendengar suara makian dari Tong Hauw ini sang gadis muda itu demikian gusar lagi sehingga akhirnya mencapai puncaknya, pundaknya kena cengkeram oleh Tong Hauw membuat sepasang tangannya sama sekali tidak mempunyai tenaga, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk menghajar tubuh orang itu, tetapi sambil menggigit kencang bibirnya mendadak dia orang melancarkan satu tendangan kilat menghajar tubuh Tong Hauw.

Tong Hauw sama sekali tidak bisa menghindarkan dirinya "Braak !" dengan disertai suara yang amat nyaring tendangan kilat gadis itu dengan amat cepatnya berhasil menghajar kaki dari Tong Hauw.

Tong Hauw segera tertawa panjang... sebaliknya gadis itu segera merasakan kakinya amat sakit sekali !

Saking sakitnya tidak kuasa lagi gadis muda itu meneteskan air matanya, tetapi dia orang tetap menggigit kencang bibirnya sehingga tidak mengeluarkan sedikit suara mengaduh atau rintihan pun.

Si telapak berdarah Tong Hauw segera tertawa keras. "He he he tidak kusangka Sie Liong itu bajingan tua yang tidak berguna seperti gentong nasi bisa mempunyai seorang anak perempuan yang demikian keras kepalanya." "Kau!ah yang tidak berguna seperti gentong nasi" balas teriak gadis itu dengan khekinya sehingga seluruh tubuhnya gemetar amat keras "Jikalau kau orang berguna kenapa harus menyembunyikan nama aslimu secara rahasia bahkan berdiam disini selama dua puluh tahun lamanya ?"

Air muka si telapak berdarah, Tong Hauw didalam sekejap mata itulah sudah berubah sangat hebat, untuk beberapa saat lamanya dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Pada saat yang bersamaan pula telapak tangan yang ada didepan wajah gadis muda itu dengan tidak henti2nya bergoyang sehingga tercium bau amis darah yang sangat memuakkan.

Gadis itu merasa hatinya semakin ber-debar2 dengan amat kerasnya hingga hampir2 melompat keluar dari tubuhnya, tetapi selama ini dia tetap tutup mulutnya tidak mengeluh.

Lama sekali baru terdengar telapak berdarah Tong Houw tertawa dingin.

"Benar selama dua puluh tahun lamanya aku menyembunyikan nama dan berdiam disini, tetapi Sie Liong itu bajingan tua apakah pernah melangkah keluar satu langkahpun dari Benteng Thian It Poonya selama dua puluh tahun ini?" serunya amat dingin.

"Hmmm" dengus gadis itu sambil kerutkan alisnya rapat2 "Ayahku sedang melatih ilmu silatnya didalam Benteng, bagaimana dia orang tua bisa dibandingkan dengan kau manusia yang tidak keruan, manusia pengecut cucu kura2 !"

Si telapak berdarah Tong Hauw segera tertawa dingin tak henti2nya, setiap kali dia memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat keras, tubuh gadis itupun tergetar dengan hebat.

"Heee... heee jikalau orang yang setiap kali menyebut namaku bukan itu bajingan tua Sie Liong lalu siapa lagi ?" ujarnya kasar

"Kenapa aku harus memberitahukan kepadamu ?" balas teriak gadis itu sambil tertawa dingin pula, agaknya secara mendadak dia teringat akan sesuatu urusan.

Telapak tangan dari si telapak berdarah Tong Hauw semakin mendekati wajahnya lagi sehingga tinggal beberapa coen saja.

"Ayoh bilang, siapa ?" bentaknya.

"Hmmm ! justru aku tidak akan berbicara !" teriak gadis itu ketus sambil pejamkan matanya rapat2.

Tong Hauw benar2 tidak bisa bersabar lebih lama lagi, disertai dengan suara dengusan yang amat dingin telapak tangannya ditekan keatas wajah gadis tersebut.

Mendadak...

Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara ringkikan kuda yang amat panjang sekali.

Suara ringkikan kuda itu kedengarannya sudah tidak jauh dari rumah gubuk tersebut, Tong Hauw menjadi melengak dibuatnya, telapak tangannya yang sudah mau ditekankan keatas wajah gadis itupun mendadak ditarik kembali, jari tangannya dengan cepat menotok jalan darah "Ciao Cing Hiat" pada tubuh sang gadis lalu menyeretnya kembali kedalam rumah dan diletakkan diatas dipan kayu.

Cepat2 dia mengambil sebuah selimut dan menyelimuti seluruh tubuh gadis itu rapat2 sedang kan dirinya duduk disampingnya. "Eeeei... kalian berdua jangan bergerak dahulu, ada orang datang !" serunya kemudian ke arah gudang dibawah tanah itu.

Tetapi dari dalam gudang dibawah tanah tersebut sama sekali tidak terdengar sedikit suara pun.

Si telapak berdarah Tong Hauw segera mengerutkan alisnya rapat2, ujarnya lagi:

"Heeei kalian dengar suaraku tidak ?" Kali ini suara bentakannya amat keras sekali, tetapi dari dalam gudang dibawah tanah itu sama sekali tidak terdengar suara sahutan.

Tong Hauw tidak bisa menahan sabar lagi, tubuhnya dengan cepat berkelebat melayang turun kedalam gudang tersebut.

Tetapi pada saat yang bersamaan pula terdengar suara ringkikan kuda yang amat keras di susul menyambarnya desiran angin keras menggulung kedalam rumah itu, saking dahsyatnya desiran angin itu membuat kedua buah rumah gubuk itu hampir2 terangkat dari tempatnya.

Sitelapak berdarah Tong Hauw yang ada di dalam gudang dibawah tanah untuk sesaat lamanya tidak mengetahui siapa yang telah datang, dengan ter-buru2 dia bungkukkan badannya lalu memperdengarkan suara batukan yang keras.

Belum habis dia berbatuk terdengar dari tempat atas bergema datang suara bentakan yang amat keras: "Siapa ?"

"Aaa... aku... aku siorang tua she Tan !" jawab Tong Hauw dengan suara yang amat serak. sembari berkata sepasang tangannya memegang kepalanya, tubuhnya berjongkok dan gemetar dengan amat kerasnya Suara langkah manusia segera bergema diatas nya dan berhenti disamping gudang dibawah tanah itu.

"Tan Loo Tia, kau ? apa yang sudah terjadi di sini ?" ujarnya.

Si telapak berdarah Tong Hauw diam2 melirik sekejap keatas, terlihatlah seorang lelaki kasar berdiri di tepi mulut gudang itu.

Didalam sekali pandang saja dia sudah mengenal kembali kalau orang itu adalah murid pertama dari Thian It Poocu, Sie Liong.

"Aaa ... aku ... aku juga tidak tahu" sahutnya dengan suara gemetar, "Semula datang seorang lelaki dan seorang perempuan lalu datang juga banyak orang-yang saling serang menyerang aaa ... aku ... aku ketakutan dan terpaksa bersem... bersembunyi disini, aku benar2 tidak tahu, Thio Thay-ya... aku sama sekali tidak tahu !"

"Ehmm ... kau naiklah !" perintah lelaki berusia pertengahan itu. Dengan per-lahan2 Tong Hauw memanjat naik keatas permukaan tanah, baru saja tubuhnya mencapai separuh jalan mendadak tubuhnya berdiri tegak kembali sedangkan telapak tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat mengirim satu pukulan dahsyat kedepan.

Pukulan telapak tersebut dengan amat cepatnya menghajar lambung dari lelaki berusia pertengahan itu.

Pada wajah lelaki berusia pertengahan itu segera memperlihatkan perasaannya yang amat terkejut, setelah memandang kearah Tong Hauw selama beberapa saat lamanya dia menghembuskan napas panjang dan rubuh terlentang keatas tanah.

Si telapak berdarah Tong Hauw yang didalam satu kali pukulan saja sudah berhasil membinasakan seseorang, tidak terasa lagi dia orang memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang menyeramkan.

Tetapi pada saat dia tertawa dingin itulah mendadak dari pintu luar berkumandang pula dua buah suara tertawa dingin yang tidak kalah seramnya.

Suara tertawa dingin itu kedengaran amat aneh sekali. Si telapak tangan berdarah Tong Hauw yang merupakan seorang berkepandaian tinggi setelah mendengar suara itu tidak terasa lagi sudah bersiul beberapa kali.

Dia orang sama sekali tidak menyangka orang yang baru saja datang bukan cuma lelaki berusia pertengahan itu saja, jikalau sejak tadi dia tahu kalau orang yang datang bukan dia seorang saja sudah tentu dirinya tidak akan turun tangan membinasakan dirinya.

Saat ini dengan cepat dia dongakkan kepalanya terlihatlah didepan pintunya sudah berdiri seorang lelaki dan seorang perempuan.

Yang lelaki mempunyai perawakan yang amat pendek sekali sehingga kelihatan amat aneh, wajahnya beringas kejam tetapi pakaian yang dikenakannya amat perlente sekali, jubahnya yang berwarna putih tampak bersulamkan beratus2 ekor kelabang dalam gaya yang sama sekali berbeda dan mengeluarkan sinar yang amat menyilaukan mata.

Sedangkan perempuan itu mempunyai perawakan yang amat tinggi bahkan tinggi badan lelaki itu tidak lebih cuma ada sepinggangnya saja.

Perempuan itu mempunyai wajah seperti kuda, pucat pasi sedikitpun tidak kelihatan adanya darah sehingga keadaannya amat menyeramkan sekali, ditengah sepasang mata yang bulat besar memancar keluar sinar yang membuat hati orang serasa bergidik, rambutnya awut2an tidak keruan keadaannya didalam sepuluh bagian ada sembilan bagian mirip dengan setan gentayangan atau hantu liar !

Begitu melihat munculnya kedua orang itu tidak terasa lagi sitelapak berdarah Toog Hauw menghembuskan napas dingin, hatinya terasa berdesir...

"Hey lelaki busuk kau sudah melihat belum?" Seru perempuan itu sedikit menggerakkan bibirnya, "lnilah yang dinamakan Thian membantu manusia yang sedang kesulitan !"

"Benar !" sahut lelaki itu dengan suara yang amat kasar dan parau sekali, "Hey Nio cu ! Telapak darah dari Tong Loo toa sudah mendapatkan kemajuan yang amat pesat sekali jika dibandingkan sewaktu dia orang membinasakan anak kita !"

"Eeei lelaki busuk perkataanmu sedikitpun tidak salah." ujar perempuan itu lagi. "jikalau anak kita tidak binasa dibawah pukulan telapak berdarahnya, tahun ini mungkin sudah kawin, kau pun seharusnya sudah membopong cucu!"

"Heee... heee... heee... Nio-cu, perkataanmu sedikitpun tidak salah !"

Sitelapak berdarah Tong Hauw yang mendengar mereka tidak henti2nya berbicara, dalam hatinya merasakan sedikit tidak sabaran, dia orang segera tertawa keras.

"Heee... hee heee... sungguh tidak kusangka ditempat yang demikian dingin dan tandusnya ternyata bisa bertemu dengan Li Sincun serta Loei Sian Hoo suami istri !"

Sekali lagi lelaki serta perempuan ini memperdengarkan suara tertawa yang amat menyeramkan. "Hey Tong Loo-toa !" ujar mereka berbareng, "lnilah yang dinamakan Thian membantu orang yang berada didalam kesulitan, kita sudah ada dua puluh tahun lamanya mencari dirimu, selama dua puluh tahun ini tempat manapun sudah kita kunjungi, pada tiga empat tahun dekat2 ini aku dengar orang bilang katanya sejak dulu kau orang sudah menyingkir keluar perbatasan karena kita terus menerus berputar2 diluar perbatasan. Heee... heee... jikalau bukannya pukulanmu tadi, hampir2 kitapun tidak berani mengenal dirimu kembali"

"Baik... baik... bagus... bagus sekali !" seru Si telapak berdarah Tong Hauw dengan suara yang berat. "Kalian kini sudah mendapatkan aku orang, sudah tentu hutang2 lamapun hendak kalian tagih semua bukan ?"

"Sudah tentu !" sahut perempuan itu dengan suara keras.

Tong Hauw menarik napas panjang2,sebentar kemudian dia baru berkata kembali:

"Tetapi aku ada satu permintaan yang tidak sesuai, harap kalian mau meluluskan."

"Hiii... hi... hiii... coba kau katakan, bagai manapun kita sudah ada dua puluh tahun lamanya menantikan dirimu !" Sahut perempuan itu sambil tertawa seram.

"Aku orang she Tong masih ada sedikit urusan ditempat ini." ujar si telapak berdarah Tong Hauw sepatah demi sepatah. "Tetapi urusan ini sudah hampir mendekati keberhasilan, dua bulan kemudian aku akan menyerahkan diri di istana Teh Hoo Kong, kalian berdua kira bagaimana?"

Si lelaki maupun perempuan yang mendengar perkataan ini mendadak tertawa menjerit dengan sangat seramnya sehingga membuat orang yang mendengar merasakan seluruh bulu kuduknya pada berdiri.

"Istana Teh Hoo Kong apa masih ada ?"

"Apa arti dari perkataanmu ini ?" tanya Tong Hauw tertegun.

Mereka berdua tertawa seram tak henti2nya, suara tertawanya terasa amat mengerikan sekali ditengah malam buta yang amat sepi,

Terdengar lelaki itu berteriak dengan suara yang amat dingin:

"Istana Teh Hoo Kong sejak lama sudah tidak ada lagi, istana Teh Hoo Kong yang amat mewah dan sangat berharga bahkan menjagoi seluruh Bu-lim sudah terbakar ludas oleh kami !"

Tidak tertahan lagi tubuh Tong Hauw mundur satu langkah ke belakang.

"Kenapa ?" tanyanya terperanjat.

Suara dari lelaki itu semakin lama semakin meninggi semakin lama semakin melengking.

"sewaktu api berkobar dengan hebatnya membakar istana Teh Hoo Kong, kami suami isteri berdua di hadapan api yang berkobar sudah mengangkat sumpah untuk menangkap kembali musuh besar kami, setelah itu menghancurkan badan serta tulang2nya untuk dicampur dengan kapur sebagai bahan untuk mengapuri istana Teh Hoo Kong di kemudian hari !"

Tong Hauw yang mendengar perkataan mereka semakin lama merasakan hatinya semakin terperanjat, sang lelaki serta perempuan dua orang ini merupakan jagoan lihay dari kalangan Hek-to, diatas gunung Mong-san didaerah Biauw Ciang mereka mempunyai sebuah istana Teh Hoo Kong yang amat mewah dan mentereng sekali, semua orang Bu lim menganggapnya merupakan sebuah istana yang paling mewah, paling mentereng, jika mengangkat majikan dari istana Teh Hoo Kong ini si Kiem Uh sincun atau malaikat kelabang emas Li Siauw serta Hek Hong Sian Hoo atau Bidadari angin hitam Chan Si, siapapun mengenalnya.

Pada tempo hari si telapak berdarah Tong Hauw pernah bertempur dengan seseorang didekat tembok besar, saat itu ada seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahunan tetapi sikapnya sangat congkak sedangkan perkataannya atos dan kasar sekali, waktu itu Tong Hauw tidak tahu siapakah dia orang sehingga terjadi pertempuran yang amat sengit, kepandaian silat dari pemuda itu ternyata biasa saja tidak sampai tiga juga jurus dia sudah menemui ajalnya dibawah telapak berdarahnya.

Setelah Tong Hauw membinasakan pemuda itu dia baru tahu kalau pemuda tersebut ternyata adalah satu2nya putra dari majikan istana Teh Hoo Kong didaerah Biauw ciang, itu si malaikat kelabang emas serta Bidadari angin hitam !

Bencana ini sudah tentu tidak kecil resikonya tetapi dikarenakan bersamaan waktunya Tong Hauw menemui pula suatu urusan pribadi yang jauh lebih penting memaksa dia orang harus menyingkirkan diri jauh2 dari Tionggoan.

Diluar perbatasan itulah dia orang menyamar sebagai "Tan Loo Tia" dan berdiam dengan tenangnya, oleh karena itu terhadap urusan ini hampir2 dirinya sudah melupakannya.

Tetapi... justru ditengah malam salju yang amat merepotkan sepasang musuhnya munculkan diri disana bahkan sewaktu mereka munculkan diri Tong Hauw pun sedang melancarkan pukulan telapak berdarahnya membinasakan seseorang membuat dia orang untuk mungkirpun tidak sempat lagi.

Saat ini Tong Hauw benar2 merasakan hatinya amat cemas sekali, jikalau dia diharuskan bergebrak dengan kedua orang yang ada dihadapannya ini, kalau cuma satu melawan satu kemungkinan sekali dengan paksakan diri masih bisa seimbang tetapi bilamana dia orang diharuskan satu melawan dua, kiranya sulit buat dirinya untuk mmemperoleh kemenangan !!

Jika dilihat situasi yang ada dihadapinya saat ini sudah tentu jalan yang paling selamat buat dirinya adalah merat dari sana, asalkan dia berhasil melarikan diri kedalam sebuah hutan lebat sepuluh li dari tempat ini mereka berdua jangan harap bisa menemui dirinya lagi, tapi.. justeru pekerjaan ini tidak mudah untuk dilakukan olehnya!

Tetapi selama dua puluh tahun lamanya ditempat ini dia merahasiakan nama serta asal usulnya bahkan bersusah payah berusaha, sudah kini pekerjaannya sudah hampir mencapai hasil jikalau menyuruh dia orang pergi dari situ, sebenarnya dia orang merasa sayang sekali dan tidak tega untuk meninggalkan susah payahnya yang dilakukan selama dua puluh tahun lamanya ini.

Oleh karena itu sambil memperlihatkan tertawa seramnya didalam hati dia terus menerus memikirkan langkah2 selanjutnya.

Terdengar si bidadari angin hitam, Chan Sie memperdengarkan suara tertawanya jang amat tidak enak didengar, tetapi dari suara tertawanya ini jelas sekali menunjukkan kegirangan hatinya yang me-luap2, mereka selama dua puluh tahun lamanya sudah mengunjungi semua tempat untuk mencari pembunuh putranya, tidak disangka secara tiba2 bisa menemui dirinya muncul ditempat itu sudah tentu rasa girangnya saat itu sukar sekali untuk dilukiskan.

Sembari tertawa keras, tangan kanannya dengan per- lahan2 diayunkan keatas.

Dia orang yang mempunyai perawakan tinggi kurus sepasang tangannyapun kurus sekali hingga mirip sekali dengan cakar burung yang berwarna hitam pekat, keadaannya sangat jelek dan mengerikan sekali. Melihat dia orang sudah ber-siap2 untuk turun tangan, dengan cepat Tong Hauw berteriak:

"Tahan dulu !"

"Heee... hee... kau orang ada perkataan apa lagi?" teriak Chan Sie sambil tertawa seram.

Si telapak berdarah Tong Hauw tahu kalau urusan ini tidak mungkin bisa dicegah lagi, tetapi dia pun tidak ingin untuk bungkam terus.

"Ditempat ini aku ada satu urusan yang amat penting sekali", ujarnya dengan cepat. "Malam ini atau besok kemungkinan sekali sudah bisa beres, bagaimana kalau kalian berdua untuk sementara waktu meninggalkan tempat ini terlebih dulu untuk kemudian bertemu kembali pada esok malam di tempat ini juga ?".

Chan Sie maupun Lie Siauw yang mendengar perkataannya itu segera tertawa terbahak2, suara tertawa mereka amat keras sekali ditambah pula tenaga dalam mereka berdua sudah mencapai pada taraf kesempurnaan membuat suara tertawa itu dengan dahsyatnya mengalun sampai ditempat yang amat jauh sekali.

Walaupun suara tertawa mereka berdua amat keras sekali sehingga serasa menusuk telinga, tetapi saat ini secara samar2 bisa mendengar juga kalau dari pihak benteng Thian It Poo pun berkumandang datang suara yang berisik.

Tong Hauw merasakan hatinya semakin berat, terdengar Chan Sie sambil tertawa sudah berbicara kembali:

"Ooouw... kau orang masih ada urusan penting yang belum diselesaikan ? hee... hee... kalau begitu sebelum kematianmu dalam hati kau orang tentunya sangat menderita bukan ?"

Air muka Tong Hauw segera berubah hebat, jelas sekali perkataan dan Chan Sie sudah menusuk kedalam hatinya membuat dia orang merasa sangat menderita dan sedih sekali.

Baru saja perkataan Chan Sie selesai diucapkan Li Siauw sudah melanjutkan kembali:

"Hee... hee... urusan itu benar2 sangat bagus sekali, aku orang memang sangat mengharap demikian !"

Perkataannya begitu selesai diucapkan tubuhnya yang pendek gemuk itu mendadak melancarkan satu pukulan dahsyat kedepan disusul tubuhnya meloncat keatas meluncur ke tengah ruangan, seketika itu juga seluruh ruangan penuh diliputi oleh bau amis yang memuakkan.

Si telapak berdarah Tong Hauw yang melihat tubuh pihak lawan sudah meloncat dan menubruk kearahnya, dengan cepat badannya menyingkir kesamping.

"Sreeet !" Tubuhnya persis berada disamping lubang dimana gadis tadi menerjang keluar, dengan cepat ia mencelat kedepan.

Sedangkan Lie Siauw begitu tubuhnya menubruk masuk kedalam ruangan sepasang telapak tangannya ber-turut2 melancarkan dua pukulan dahsyat menghajar kearahnya Kekuatan dari kedua pukulan tersebut benar2 amat dahsyat sekali, terasa dua gulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak besar ditengah samudra seketika itu juga membuat seluruh tangan dipenuhi oleh hawa murni yang membuat rumah gubuk itu tidak kuat untuk menahan tekanan tersebut dan ambruk kebawah.

Sewaktu sepasang telapak dari Li Siauw melancarkan serangan tadi, Chan Sie pun sudah maju satu langkah ke depan melancarkan serangan dahsyat.

Saat itulah seluruh ruangan ambruk kebawah, baik atap maupun tumpukan salju seketika itu juga menindihi badan mereka berdua.

Tong Hauw ang baru saja menerobos keluar dari lubang di samping rumah tersebut diwaktu mendengar dari belakang tubuhnya bergema suara ambrukan yang amat keras dengan cepat kepalanya di toleh ke belakang.

Ketika dilihatnya rumah itu ambruk tidak karuan hatinya menjadi sangat girang sekali, dengan kecepatan yang luar biasa tubuhnya berlari menuju keluar, hanya didalam sekejap saja dia sudah ada di tempat sejauh dua tiga kaki dari tempat semula.

Mendadak tubuhnya melayang tanpa menempel permukaan tanah, sekali lagi tubuhnya berkelebat tujuh enam kaki lebih, lalu merendah ke bawah.

Bila orang yang telah berdiam di tempat itu sangat lama terhadap keadaan di sekeliling tempat itu sudah amat hapal sekali, tubuhnya yang tiba2 merendah kebawah segera bergelinding masuk kedalam sebuah liang kecil, seketika itu juga tubuhnya berbaring didalam liang tersebut dengan diatas badannya tertutup oleh salju yang amat tebal, orang yang ada diatas permukaan jangan harap bisa melihat jelas dirinya. Pada saat itulah terdengar Li Siauw serta Chan Sie masing2 memperdengarkan suara teriakan yang amat aneh, tubuhnya dengan cepat muncul dari antara ambrukan rumah gubuk dan meloncat kedepan.

Mereka berdua sesudah munculkan dirinya tidak terasa lagi pada mengalihkan pandangannya kearah telapak kaki yang ada diatas tanah lalu mengejarnya kedepan!

Tetapi baru saja mengejar sejauh tiga kaki mendadak bekas telapak kaki yang membekas diatas permukaan tanah telah lenyap tak berbekas, walaupun saat itu salju melayang turun dengan lebatnya tetapi bilamana diatas tanah ada bekas telapak kaki tentunya tidak sebegitu cepat tertutup lenyap.

Sudah tentu dengan kepandaian silat yang dimiliki Tong Hauw untuk berjalan diatas permukaan salju tanpa meninggalkan bekas kaki bukanlah merupakan suatu urusan yang sulit tetapi kenapa permulaannya ada bekas kaki yang tertinggal...

Chan Sie tertegun sebentar kemudian sadar kembali, teriaknya dengan keras:

"Heei lelaki busuk, dia sudah merat, cepat kita pergi mengejar."

Dengan cepat Li Siauw angkat kepalanya memandang kedepan, salju turun semakin deras membuat pandangan didepannya cuma kelihatan salju nan putih memenuhi seluruh permukaan, benda yang ada didua, tiga kaki jauhnya masih bisa terlihat dengan amat jelas sekali, cuma saja bayangan Toog Hauw tidak kelihatan sama sekali.

Dia orang yang tidak tahu Tong Hauw merat dengan mengambil arah sebelah mana dalam hati nya merasa semakin gusar lagi, tidak terasa lagi dia sudah menjerit aneh.

Pada saat itulah suara orang serta suara ringkikan kuda dengan amat cepatnya sudah berkumandang datang...

Suara dari Chan Siepun semakin lama berubah semakin tidak enak, didengar.

"Hey lelaki busuk ," teriaknya keras. "Ada orang datang, jangan sampai membuang waktu sehingga urusan berantakan !"

"Orang yang baru datang tentunya orang2 dari Benteng Thian It Poo," jawab Li Siauw dengan suara yang amat keras pula, "Lebih baik kita meminta bantuan mereka saja untuk mencarikan bajingan she Tong itu, aku kira tentunya mereka mau memberi bantuan kepada kita, jika jumlah orang yang mencari bertambah banyak sudah tentu pencariannya semakin mudah."

"Ehmm... perkataanmu sedikitpun tidak salah !" sahut dan Sie sambil mengangguk.

Tidak selang lama kemudian tampaklah dua ekor kuda dengan amat cepatnya berlari mendatang, telapak kuda menyepak tanah membuat bunga2 salju pada berterbangan keempat penjuru, hal ini menyebabkan siapa yang duduk diatas kuda tunggangan itu sukar untuk dilihat lebih jelas.

Tetapi suara teriakan yang digemborkan oleh orang yang ada diatas kuda amat jelas sekali, suara itu amat berat dan penuh disertai tenaga dalam yang kuat.

"Soat Ang... Soat Ang... kau ada dimana ?"

Tubuh Li Siauw dengan cepat berkelebat menyambut datangnya kedua orang tersebut. Tubuhnya yang menerjang kedepan melalui bunga salju yang ber lapis2 memenuhi sekeliling kuda tunggangannya itu membuat kedua orang yang ada diatas kuda tunggangan tersebut menjadi sangat terkejut sekali, ditengah suara teriakan yang amat terperanjat dengan cepat mereka mencoba menahan tali les kudanya.

Dengan sentakan yang secara mendadak ini kedua ekor kuda ini segera meringkik panjang lalu mengangkat kakinya yang depan keatas, ke dua orang yang ada diatas tunggangannya dengan cepat meloncat keatas meninggalkan kudanya masing2, satu dari kiri yang lain dari kanan dengan kecepatan yang luar biasa berkelebat kesamping badan Li Siauw dan berdiri tidak bergerak.

"Kau orang siapa ??" Bentaknya dengan suara yang amat gusar.

Ditengah suara bentakan mereka yang amat keras itulah tubuh Chan Sie bagaikan segulung asap dengan amat ringannya sudah berkelebat kesamping badan suaminya, sedang ditempat yang lain segera terlihatlah berpuluh2 orang lelaki kasar dengan cepatnya sudah menyusul mendatang.

Tadi dikarenakan Lie Siauw berdiri seorang diri maka semua orang sama sekali tidak mengenal siapakah orang itu, tetapi dengan munculnya si bidadari angin hitam Chan Sie yang berdiri disamping suaminya sehingga kelihatan satu tinggi satu pendek maka semua orang segera mengenal kembali siapakah sepasang suami isteri ini, kedua orang itu tidak terasa lagi sudah mundur setengah langkah kebelakang.

"Aaah... majikan istana Teh Hoo Cong !!!" Seru mereka berdua secara berbareng. "Benar !!!" Sahut Lie Siauw sambil mengangguk. "Kalian berdua tentunya orang dari Benteng Thian It Poo bukan ?"

"Benar kami saudara berdua she Tang.." sahut mereka berdua dengan suara yang amat berat.

Tetapi Li Siauw mana merasa sabaran untuk mendengar nama mereka berdua, dia orang segera memotong perkataan yang belum selesai itu.

Perbuatannya ini sudah tentu sama sekali tidak menaruh hormat kepada kedua orang itu, tetapi dia orang yang sudah terbiasa bersikap sombong ditambah lagi saat ini hatinya cinta memikirkan cara untuk menangkap kembali musuh besarnya, karena takut musuhnya melarikan diri semakin jauh sudah tentu tidak mau mendengarkan omongan mereka lebih lanjut.

"Tidak usah banyak omong lagi" serunya dengan keras. "Cepat kalian membantu aku menangkap seseorang !"

Air muka kedua orang itu segera berubah sangat hebat. "Kita sedang menyebutkan nama kita apakah ini juga

sedang omong kosong!" teriaknya kurang senang.

"Siapa yang mau mengurusi kalian she Tang atau kuah atau She Swee atau air asalkan kalian bisa mengejar dapat seseorang tentu ada kegunaan yang amat besar buat kalian

!" sambung sibidadari angin hitam Chan Se dengan cepat.

Kedua orang itu segera tertawa panjang.

"Bilamana kalian berdua mengira kami orang2 Benteng Thian It Poo bisa disuruh orang dengan seenaknya hal itu sungguh terlalu lucu sekali ?? kami juga sedang mencari orang, urusan ini amat penting sekali untuk dilaksanakan lebih cepat. maaf selamat tinggal!" Tubuh mereka berdua dengan cepat berkelebat siap naik kembali keatas kuda tunggangannya masing2.

Tetapi baru saja tubuh mereka sedikit bergerak segera terdengarlah Chan Sie memperdengarkan suara teriakannya yang amat keras dan menyeramkan sekali.

Suara teriakan ini tidak perduli siapapun yang mendengar tentu akan tertegun dibuatnya, mereka berduapun seketika itu juga dibuat ter-mangu2. Segera terdengarlah Chan Si memperdengarkan suara tertawanya yang amat aneh sekali.

"Bilamana kalian menolak permintaanku lagi sehingga menunda waktu kami untuk mengejar bajingan tersebut, kami orang pasti akan meratakan Benteng Thian It Poo dengan tanah !" ancamnya dengan suara yang amat dingin.

Mereka berdua yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa terbahak2.

"Bagus... bagus sekali, silahkan kalian berdua meratakan Benteng Thian It Poo kami dengan tanah !" sahutnya berbareng

Sekali lagi Chan Sie menjerit aneh, tangannya dengan cepat diayunkan kedepan sehingga mengeluarkan suara sambaran angin yang amat kencang sekali, lima buah jarinya bagaikan kuku garuda dengan kecepatan yang luar biasa sudah diayun kedepan mencengkeram dada dari salah satu lelaki yang ada di sebelah kiri.

Kedua orang itu merupakan jagoan berkepandaian tinggi yang sangat diandalkan didalam Benteng Thian It Poo dan merupakan saudara2 angkat dari Sie Liong itu Poocu dari Thian It Poo, dia orang sebenarnya merupakan orang dari aliran Tiang Pek Pay yang mengandalkan sebuah golok tunggal menjagoi seluruh Bu lim sehingga mendapatkan julukan sebagai "Sin Hauw Siang To" atau sepasang golok harimau sakti, Tang Hua Tha serta Tang Hua An dua bersaudara.

Bilamana mereka bukannya mereka memiliki kepandaian silat amat tinggi dan merupakan seorang jagoan yang berkepandaian tinggi dari Benteng Thian It Poo, setelah bertemu dengan Li Siauw serta Chao Sie sikapnyapun tentu tidak seketus demikian

Diantara mereka berdua sifat Tang Hoa Tha yang paling berangasan sedangkan Tang Hoa Au sikapnya pendiam tetapi banyak akal.

Serangan dan Chan Sie tadi dengan cepatnya mencengkeram kedepan dada Tang Hoa Tha, melihat datangnya serangan tersebut Tang Hoa Tha menjadi amat gusar sekali, makinya dengan keras:

"Maknya... kau orang mau ajak berkelahi yaa ?"

Sembari memaki matanya memandang kearah datangnya serangan tersebut, hanya didalam sekali pandang saja dia orang segera mengetahui kalau serangan dari pihak lawannya ini sangat luar biasa, tubuhnya mendadak mencelat keatas udara lalu berjumpalitan mengundurkan diri kebelakang.

Mereka berdua bersaudara sejak dahulu sudah malang melintang beberapa puluh tahun lamanya didaerah Tionggoan sudah tentu mengetahui juga kelihayan dari kedua orang dihadapannya didalam sekejap saja dia segera teringat kembali tugasnya yang diperintahkan oleh Poocu untuk keluar Benteng mencari dapat putri dari Poocu Sie Soat Ang, dia tahu dengan munculnya dua orang itu disana kemungkinan sekali urusan tidaklah begitu mudah. Apalagi kepandaian silat dari kedua orang itu amat tinggi dan bukanlah tandingan dari dirinya hal ini harus Poocu datang sendiri baru bisa menghadapinya, karena itu sewaktu Chan Sie melancarkan cengkeramannya mengancam tubuh Tang Hoa Tha, tangannya dengan cepat digetarkan ke atas melepaskan satu panah tanda bahaya.

Panah tanda bahaya itu begitu meluncur sampai ditengah udara segera meledak dengan amat kerasnya disusul melayangnya segumpalan warna biru yang amat tebal sekali semakin lama melayang semakin keatas.

Ditengah curahnya hujan salju yang amat lebat ditambah dengan meluncurkan asap berwarna biru yang amat tebal membuat pemandangan kelihatan sangat menarik sekali.

Sebaliknya Tang Hoa Tha yang berdiri didepan kudanya, saat ini untuk menghindarkan diri dari cengkeraman Chan Sie ini tubuhnya mendadak melayang ketengah udara lalu berjumpalitan dan meloncat kesamping kuda yang lain.

Serangan dari Chan Sie ini amat dahsyat dan dilancarkan amat cepat sekali, begitu tubuh Tang Hoa Tha meloncat kesamping tangannya dengan amat kerasnya berhasil menghajar perut kuda tersebut.

Seketika itu juga tangannya dengan dahsyatnya menembus kedalam perut kuda itu sampai separuhnya membuat darah segar memancur keluar dengan amat derasnya memenuhi seluruh permukaan salju nan putih.

Chan Sie yang melihat serangannya mencapai sasaran kosong, dia orang menjadi teramat gusar sekali, tangannya direntangkan kesamping, seketika itu juga seekor kuda yang amat berat terangkat keatas dengan hebatnya, ditengah ayunan tangannya yang amat cepat kuda tersebut dengan dahsyatnya sudah melayang keatas tubuh Tang Hoa Tha. Perut kuda itu sebenarnya memangnya sudah berlubang terkena tusukan tangan Chan Sie tadi, kini tubuh tersebut dilemparkan kearah Tang Hoa Tha membuat isi perut dari kuda tersebut dengan amat mengerikan sekali pada berhamburan diatas tanah, bau amis darah yang amat tidak mengenakkan segera memenuhi seluruh angkasa diikuti segulung angin sambaran yang amat kuat menggulung kearah depan.

Tang Hoa Tha yang berhasil menghindarkan diri dari cengkeraman itu dengan cepat mencabut keluar goloknya, saat ini sebenarnya dia masih ada kesempatan untuk mundur kebelakang tetapi dia orang tidak mau melakukannya karena pertama, dia tidak ingin kuda kebaikannya mendapatkan serangan kembali sehingga menemui ajalnya.

Kedua: jikalau dia kembali mengundurkan diri hal ini akan memperlihatkan kelemahan dirinya, oleh karena itu sewaktu melihat dia orang melemparkan kudanya kearah dirinya dengan cepat dia membentak keras, goloknya dengan disertai tenaga yang amat besar dibabat kedepan.

Tenaga bacokan ini sangat dahsyat sekali, hanya didalam sekejap saja desiran angin memenuhi seluruh angkasa sedangkan sinar golok yang menyilaukan mata melindungi seluruh angkasa sedangkan sinar golok yang menyilaukan mata melindungi seluruh tubuhnya kuda yang dilemparkan kearahnya itu segera terbabat putus menjadi dua bagian, dari hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau tenaganya amat besar sekali.

Dengan meminjam tenaga babatan yang amat dahsyat tadi goloknya segera berputar arah dengan berganti jurus, ber-turut2 dia melancarkan tiga bacokan menghajar tubuh Chan Sie. Mereka dua bersaudara mendapatkan julukan sebagai sepasang golok harimau sakti sudah tentu ilmu goloknya sangat hebat sekali, setelah sambaran golok yang amat dahsyat tadi lewat, ber-turut2 dia melancarkan tiga serangan lagi membuat keadaan semakin membahayakan, ditengah berkelebatnya sinar golok ang amat menyilaukan mata serta bayangan sambaran yang memenuhi seluruh angkasa seketika itu juga membuat seluruh tubuh bidadari angin hitam hampir terkurung di dalam bayangan golok itu.

Melihat keadaan ini dalam hati Thoa Tha merasa amat girang sekali, pikirnya.

"Hmm ! jikalau kali ini aku bisa melukai si bidadari angin hitam ini sehingga menggeletak di atas permukaan salju, sudah tentu namakupun akan terkenal di seluruh dunia kangouw !"

Baru saja dia merasa sangat girang dan mengerahkan tenaga dalamnya semakin mengencangkan permainan goloknya, siapa sangka pada saat itulah dari tengah berkelebatnya bayangan golok mendadak terdengar suara desiran angin yang amat tajam sekali.

"Criinng.... Criing... Criing...." ditengah suara gemerincingan yang amat memekikkan telinga Tang Hoa Tha merasakan dari tangannya ada segulung angin tekanan yang maha aneh dan dahsyat balik menggetarkan tubuhnya.

Setelah suara gemerincingan itu barulah serangan golok dari Tang Hoa Tha pun seketika itu juga tersentak berhenti, tampak ditangan Chan Sie sudah bertambah lagi dengan sebilah pedang sepanjang dua depa dengan gagang yang berwarna hitam pekat. itulah pedang Hek Hong-Kiam salah satu dari empat pedang aneh dari golongan Hek to yang diandalkan oleh Chan Sie untuk mengangkat namanya didalam Bu Lim. Dalam hati Tang Hoa Tha tahu kalau pedang Hek Hong kiam ini sangat tajam sehingga bisa digunakan untuk memotong emas atau baja, saat ini diapun kembali bentrokan goloknya tadi sebanyak tiga kali tentu ada sebabnya, apakah goloknya masih tetap utuh seperti sedia kala ? ? ?

Sembari menarik kembali goloknya dan mengundurkan diri kebelakang, tenaga dalamnya dikerahkan kembali untuk sekali lagi melancarkan serangan kedepan.

Tetapi mendadak dia menjadi sangat terperanjat sekali. Kiranya golok yang amat tebal dan terbuat dari baja asli itu sudah terdapat tiga bacokan yang amat besar.

Ketiga bacokan pedang itu amat panjang sekali sehingga menembus kearah punggung golok dan meninggalkan tempat sampingan yang amat tipis sekali, bilamana bukannya dengan cepat dia segera sadar dan sekali lagi melancarkan serangan tentu goloknya seketika itu juga akan terputus menjadi empat bagian.

Coba bayangkan saja, jikalau sewaktu melancarkan serangan mendadak senjata tajam yang digunakan putus menjadi dua bagian, apa yang bakal diterima sebagai akibatnya ?

Setelah tertegun beberapa saat lamanya dengan cepat Tang Hoa Tha meloncat mundur tujuh delapan langkah kebelakang, sewaktu mengundurkan dirinya itulah dia segera teringat kembali akan ketiga bacokan yang membekas diatas goloknya, hal ini membuktikan kalau pihak lawan bisa mengerahkan tenaga dalamnya sesuai dengan saat dan tempat yang ditujunya, sebaliknya serangannya tadi dilancarkan dengan amat cepat sekali, ternyata musuh didalam keadaan seperti itu bisa menggunakan tenaga dengan amat cepatnya, jelas kalau tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang sukar untuk dilawan..

Sewaktu teringat akan hal ini dia benar2 tertegun sehingga berdiri mematung tidak bergerak sedikitpun juga, air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat ! dia benar2 tidak menyangka kalau pihak lawan memiliki kepandaian silat yang demikian tingginya.

Sedangkan Tang Hoa An yang berdiri disamping sama sekali tidak tahu keadaan yang sesungguhnya

"Koko, kau kenapa ?" tanyanya dengan keras.

Tang Hoa Tha tertawa pahit, tangannya di getarkan golok yang ada ditangannya segera dilemparkan kedepan, sebelum gagang golok itu mencapai permukaan tanah golok tersebut sudah terputus menjadi empat bagian.

"Titi, kita sudah dikalahkan orang !" sahutnya dengan loyo.

Mendengar perkataan dari kakaknya itu Tang Hoa Au menjadi sangat terperanjat sekali. Saat itulah Chan Si sudah bertanya lagi dengan suara yang amat dingin:

"Bagaimana ?" kalian mau tidak pergi bantu aku mencari orang itu ?"

Sepasang harimau she Tang ini segera saling berpandangan lama sekali mereka tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Setelah ter-mangu2 beberapa saat lamanya terdengar Tang Hoa An baru membuka mulutnya bertanya:

"Entah kalian berdua mau menyuruh kita pergi cari siapa?"

"Makinya . . nenek sundal !" maki Chan Sie dengan amat gusarnya, "Kalian sengaja mau meng-ulur2 waktu ya ? bukankah sejak tadi aku sudah bilang suruh kalian mencari si telapak berdarah Tong Hauw !"

Tong Hoa Aa sengaja bertanya demikian memang bertujuan untuk meng-ulur2 waktu karena tanda bahaya dari Benteng Thian It Poo sudah dilepaskan berarti pula sebentar lagi Poocu mereka akan segera melihat dan tentu mengejar kemari

Karena itu dia yang jadi orang amat tenang dan banyak akal sekalipun di-maki oleh pihak lawan sama sekali tidak menjadi gusar.

"Si telapak berdarah Tong Hauw ?" tanyanya keheranan. "Orang ini sudah lama tidak munculkan dirinya didalam Bulim, kalian suruh kita pergi kemana mencari dirinya ?"

"Kalian sungguh2 tidak tahu atau pura2 tidak tahu ?" teriak Chan Sie semakin gusar. "Apakah kalian kira ada yang palsu ? dia sekarang ada disini dan menyamar sebagai seorang kakek tua!"

-oo0dw0oo-