Istana Kumala Putih Jilid 20

 
Jilid 20

Kim Houw terperanjat, lalu menghampiri dengan membimbing bangun: "Peng Peng! Kau kenapa?" tanyanya kuatir.

Peng Peng cuma gelengkan kepala, sembari mengolah napas panjang ia menyahuti. "Aku, aku tidak kenapa-napa, hanya engkongku......dia barangkali." Kim Houw lantas ingat suara rintihan tadi tentunya ada suara rintihan Tiong-ciu-khek, maka lantas menanya:

"Touw Locianpwe sekarang ada dimana?"

"Kau buka itu tumpukan rumput, kau nanti bisa lihat sendiri!" jawab Peng Peng, sambil menunjuk suatu tempat yang ada tumpukan rumput, tidak jauh dari situ.

Kim Houw menghampiri, dengan hati-hati ia membuka tumpukan rumput itu, ternyata di bawahnya ada terdapat satu lobang yang tidak dalam, disitulah rebah dirinya Tiong-ciu-khek.

Tapi pada saat itu Tiong-ciu-khek matanya rapat, mulutnya mengeluarkan darah, napasnya memburu, keadaannya sangat menyedihkan.

Kim Houw merasa pilu, dengan cepat menotok jalan darah dibagian dadanya, untuk mencegah mengalirnya darah lebih banyak.

"Peng Peng, kita bawa dulu engkongmu ke bawah gunung, di sana ada menunggu ketua dan wakil ketua partai sepatu rumput, mungkin mereka bisa mengobati luka engkongmu!" Kim Houw kata kepada Peng Peng..

Peng Peng nampaknya tidak mempunyai tenaga untuk berbicara, ia hanya anggukkan kepala. Perlahan-lahan ia berdiri, dengan pedang sebagai tunjangan, setindak demi setindak ia mengikuti Kim Houw turun gunung.

Jalan tidak seberapa jauh, sudah disambut oleh Sin-hoa Tok-kai yang justru mencari mereka.

Tok-Kai melihat keadaannya Peng Peng begitu rupa, ia kira si nona telah terluka, buru-buru dari tangan Kim Houw ia menyambuti tubuh Tiong-ciu-khek.

Ketika menampak keadaannya Tiong-ciu-khek yang demikian payah, tanpa terasa airmatanya mengalir turun, membasahi kedua pipinya yang sudah kempot. Dengan suara pilu ia berkata:

"Tiong Laoko! Tiong laoko! bagaimana kau dapat meninggalkan kami begitu saja?"

Setelah Tok-kai berlalu sambil memondong Tiong-ciu-khek, Kim Houw buru-buru membimbing Peng Peng dan menanya:

"Peng Peng, apa kau benar-benar tidak kenapa-napa?"

Ada baju wasiat bulu binatang lutung emas itu yang telah menolong jiwaku. Tapi sudah dua hari satu malam aku tidak makan dan tidak tidur, bahkan bertempur terus menerus sambil berlari, setetes airpun tidak masuk ditenggorokanku, bagaimana aku tidak lelah?"

Mendengar keterangan Peng Peng. Hati Kim Houw merasa sangat lega.

"Oh, hanya itu saja, kalau begitu aku bisa bantu kau supaya lekas pulih kekuatanmu" kata si pemuda.

Saat itu Kim Houw memang sedang membimbing Peng Peng berjalan, namun masih mengatakan hendak membantu. Maka Peng Peng anggap Kim Houw akan menggendong padanya supaya ia tidak terlalu lemah. Meski dalam hati merasa girang, tapi tidak urung di wajahnya lantas merah jengah, matanya lantas dipejamkam !

Tapi, mendadak ia dengar suara Kim Houw pula: "Peng Peng, kau duduklah bersila, dengan kekuatan tenaga dalam yang kau punyai, kau coba atur pernapasanmu!"

Peng Peng agak heran, ia lalu membuka matanya kembali, menatap wajahnya Kim Houw. Ia lihat Kim Houw mengawasi padanya dengan sikap menyayang, maka lantas turut omongan si pemuda duduk bersila dan mulai mengatur pernapasannya.

Oleh karena sudah terlalu letih, hampir saja Peng Peng tidak mampu mengatur pernapasan, mendadak tangan kanannya di rasakan terpegang erat oleh Kim Houw.

Genggaman yang mendadak itu besar sekali pengaruhnya. Sekujur badan Peng Peng dirasakan seperti kena strom listrik, napas dan kekuatan dalam dirasakan amat sukar dipersatukan. Peng Peng semula menganggap Kim Houw menggoda dirinya, tapi selagi hendak menegur, mendadak satu hawa hangat masuk ke dalam badannya melalui telapak tangan Kim Houw. Dengan cepat hawa hangat itu sudah membikin segar badannya.

Tapi, sebentar kemudian, badannya mendadak dirasakan lemas dan ngantuk, biar bagaimana ia merasa berat untuk mempersatukan pernapasannya dan tenaga dalamnya. Disaat itu, mendadak telinganya dengar suaranya Kim Houw

"Peng Peng, pertahankan dirimu, jangan sampai terpengaruh oleh rasa lelah dan ngantuk, supaya kekuatanmu lekas pulih kembali, jangan terlambat!"

Peng Peng berbuat menurut petunjuknya Kim Houw. Tapi mendadak ia rasakan hawa dingin menerobos masuk ke dalam dirinya, melalui telapak tangan Kim Houw.

Kali ini Peng Peng nampaknya sangat menderita, karena hawa dingin itu begitu masuk kelenga, lengannya lantas dirasakan beku hingga si nona terperanjat.

Untuk melawan hawa dingin itu dengan sendirinya kekuatan tenaga dalam Peng Peng mencoba hendak mengadakan perlawanan. Tapi kekuatan tenaga dalamnya Peng Peng bagaimana mampu melawan kekuatan ilmunya Han-bun-coa Kie Kim Houw?

Maka begitu kedua kekuatan tenaga itu saling bertemu, kekuatan tenaga Peng Peng lantas lenyap seketika. Oleh karena sudah patah perlawanannya, maka kekuatan Han-bun-coa-kie lantas masuk, menyusup ke sekujur badan Peng Peng.

Peng Peng badannya lantas beku, dengan demikian ia tidak sadarkan dirinya lagi.

Setelah siuman kembali, ia merasa seperti masih duduk bersila. Ketika membuka matanya, ia dapatkan Kim Houw juga masih duduk bersila seperti dirinya sendiri.

Dengan wajah girang dan berseri-seri Kim Houw berkata padanya: "Peng Peng, apa kau masih letih?"

Pertanyaan itu sebetulnya tidak perlu, karena dari gerak tangan Peng Peng, yang nampaknya penuh tenaga, sudah merupakan suatu jawaban dari pertanyaan itu.

Peng Peng juga merasa girang, dengan gelengkan kepala ia menjawab pertanyaan Kim Houw. "Coba-coba sekali dengan kekuatan tenaga dalammu." pinta Kim Houw. Peng Peng mengerti bahwa permintaannya Kim Houw itu tentu ada maksudnya, maka ia lantas mencoba kerahkan kekuatan lweekangnya, ia telah dapat kenyataan bahwa kekuatannya sekarang jauh lebih kuat entah berapa lipat ganda dari pada sebelumnya.

Perubahan ini telah membuat Peng Peng hampir lompat karena girangnya. Sambil ketawa riang ia menjatuhkan dirinya dalam pelukan Kim Houw.

Kim Houw usap-usap kepalanya, rambutnya, pipinya dengan sikapnya yang amat mesra. "Peng Peng, aku telah salurkan kekuatan ke dalam dirimu. Dengan demikian kekuatan tenaga

dalammu telah bertambah sepuluh kali lipat. Sekarang kita harus berangkat, luka engkongmu entah bagaimana keadaannya? Barangkali mereka sudah menunggu kita dengan perasaan cemas. Mari kita lekas tengok mereka!"

Mengingat luka engkongnya, Peng Peng lantas kucurkan air mata. Setelah pesut kering air matanya, tanpa ingat akan pedangnya lagi, ia lantas lompat melesat. Tapi ia telah lupa bahwa kekuatannya sekarang sudah jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya. Dengan sekali lompat saja, ternyata sudah mencapai tinggi kira-kira lima tombak. Hal demikian sudah tentu mengejutkan padanya.

Ketika ia melayang turun, matanya mengerling pada Kim Houw. Tapi kerlingan itu entah mengandung perasaan aleman atau sesalkan Kim Houw, mengapa tidak mau memberitahukan perobahan itu kepada dirinya.

Kim Houw cuma ganda dengan senyuman sambil leletkan lidahnya.

Keduanya saling susul menuju ke pinggir sungai. Dari jauh, Kim Houw telah dibikin tercengang oleh pemandangan yang ia saksikan!

Peng Peng yang tiba belakangan demikian pula keadaannya.

Apa sebetulnya yang terjadi? Kiranya di pinggir sungai kecil itu tidak tertampak pemandangan menyedihkan seperti apa yang sudah dibayangkan oleh Kim Houw. Sebaliknya, ia telah menyaksikan Cu Su bersama muridnya serta Tiong-ciu-khek berlima, sedang berkumpul memanggang daging rusa, yang rupa-rupanya hendak dibuat santapan mereka.

Keadaan demikian bagaimana tidak mengejutkan Kim Houw dan Peng Peng?

Tiong-ciu-khek yang keadaannya mirip dengan orang yang hendak mangkat ke alam baka, Sun Cu Hoa yang badannya sudah terluka parah dan si botak yang kaki dan tangannya sudah patah, kini ternyata sudah sembuh semuanya, seperti tidak pernah terluka!

Si botak yang dari jauh sudah melihat kedatangan mereka, lantas menggapai-gapai sambil berkaok-kaok. Kim Houw dan Peng Peng lantas dibikin sadar dari lamunannya, keduanya lantas lompat melesat menghampiri mereka.

Dapat berkumpul kembali dalam keadaan sehat, semua pada merasa girang, meski diantara tokoh-tokoh terkemuka yang keluar dari Istana panjang umur ada yang sudah berangkat duluan ke alam baka. Tapi yang mati tinggal mati, apa yang dapat dilakukan oleh yang hidup adalah menuntut balas kawan-kawannya itu.

Kim Houw lalu menanyakan sebab-sebabnya mereka sembuh secara aneh itu. Ternyata ketika Tok-kai kembali ke tempat tersebut sambil menggendong dirinya Tiong ciu-khek, Cu Su sedang mengambil air dari sungai untuk Sun Cu Hoa minum. Sungguh ajaib, air sungai begitu masuk ke dalam tenggorokan, dalam sekejap saja Sun Cu Hoa sudah siuman. Ia membuka kedua matanya dan melompat bangun, dengan suara terheran- heran ia menanya kepada suhunya:

"Suhu, teecu seperti baru habis mengimpi, cuma teecu tahu bahwa impian itu bukan sesungguhnya. Tapi, entah suhu tadi memberikan teecu minum obat mujijat apa, mengapa begitu lekas sembuh luka-luka teecu?"

"Obat mujijat apa? Aku hanya memberikan kau secegluk air dari sungai" jawab sang suhu kaget.

Sun CU Hoa coba gerakkan badannya, sekali lagi coba melompat, memang benar pulih semua kekuatan tenaganya seperti sedia kala.

"Suhu, kau jangan bohong Hoa-jie, barusan teecu memang mendapat luka parah, setelah tergelincir dari atas gunung, teecu lantas jatuh pingsan. Kalau tidak ada obat yang mujijat, bagaimana bisa sembuh begitu cepat?"

"Buat apa suhumu harus berbohong? Saat ini tokh bukan waktunya untuk bersenda gurau!" jawab sang suhu dengan sungguh-sungguh.

Pada waktu biasanya, kalau menyaksikan suhunya bersikap sungguh-sungguh, Su Cu Hoa tidak berani banyak bicara, tapi saat itu keadaannya ada yang berlainan ia agaknya masih belum mau mengerti keterangan suhunya.

"Kalau memang benar hanya minum air sungai itu, dalam air itu pasti ada pengaruh gaib. Mari suhu bersama Hoa-jie pergi tengok" mengajak sang murid.

Tapi air sungai itu kecuali beningnya yang agak lain dari air sungai biasa, tidak ada apa- apanya yang aneh. Tapi, meskipun mulutnya Cu Su tidak mau membenarkan pendapat sang murid diam-diam dalam hatinya juga mengakui, bahwa kemujijatan itu pasti terdapat dalam air sungai ini.

Apa mau, Tok-kai kebetulan pada saat itu telah menghampiri menggendong dirinya Tioang ciu- khek.

Keadaannya Tiong-ciu-khek yang sudah demikian payah sudah tentu Tok-kai tahu kalau kawannya itu sudah tidak ada harapan dapat disembuhkan. Maka setelah tiba di pinggir sungai ia lantas letakkan tubuh sahabatnya itu di tanah. Rasa sedih menggejolak di dadanya, air mata lantas mengalir deras membasahi kedua pipinya yang kempot.

Pengemis tua itu sebetulnya tidak sedikit sahabatnya, hampir di seluruh pelosok ada kenalannya. Tapi, beberapa jumlahnya yang bisa dihitung sebagai sahabat karibnya?

Sesungguhnya sedikit sekali.

Dengan Tiong-ciu-khek boleh dikata akrab sekali hubungannya, mereka berdua berkawan sudah beberapa puluh tahun lamanya. Bukan saja erat hubungannya, bahkan masing-masing saling membela apabila diwaktu perlu. Sekalipun harus mempertaruhkan jiwanya, juga masing- masing tidak akan mundur. Karena hubungan yang sangat luar biasa itu, kini yang satu hendak berangkat ke lain dunia, bagaimana yang lain tidak berduka?

Cu Su menyaksikan keadaan demikian, buru-buru mengambil air dari sungai, diminumkan kepada Tiong-ciu-khek. Sungguh mengenaskan, setetespun tidak bisa masuk ke dalam tenggorokannya. Pada saat itu, si botak mendadak berseru. "Supek! Suhu! Lekas tengok! lekas tengok!"

Tok-kai tidak tahu apa sebabnya si botak begitu ribut-ribut sendirian, ia tidak ambil pusing. Tapi tidak demikian dengan Cu Su, yang saat itu hatinya sedang diliputi oleh berbagai keanehan, ketika mendengar seruan itu lantas menghampiri.

Si botak sembari menunjuk kesalah satu sudut tidak jauh dari situ, matanya mengawasi tidak berkedip. Ternyata di permukaan air sungai itu ada timbul busanya yang berwarna biru. Busa warna biru bening itu begitu timbul di permukaan air lantas buyar. Tapi busa itu keluar dari dasar sungai saling susul menyusul tiada ada putusnya.

Cu Su yang menyaksikan busa air itu, meski warnanya indah, juga pikirannya tidak perlu ribut- ribut tidak karuan, maka ia lantas pelototi si botak.

Mendadak ia lihat si botak goyang-goyangkan lengannya yang baru saja disambung tulangnya dan uncang-uncangkan pahanya yang telah patah, akhirnya ia teplok-teplok kepalanya yang botak seraya berkata: "Supek, kau lihat!"

Ketika Cu Su menengok padanya, heran bukan main, tangan dan pahanya sibotak sudah sembuh seperti biasa, sedang kepalanya yang botak serta penuh kudis kini sudah berubah ada rambutnya.

Pemandangan ini sudah tentu menggirangkan Cu Su, ia buru-buru lepaskan kopiahnya, untuk menyendok air yang ada busa birunya, kemudian balik lagi kepada Tiong-ciu-khek.

Kali ini benar-benar berbeda dari pada yang duluan, air sungai itu ternyata mudah sekali masuk tenggorokannya, setelah minum sampai habis, Tiong-ciu-khek kedengaran merintih.

Ini benar-benar merupakan suatu keajaiban. Air sungai yang ada busanya warna biru itu ternyata mempunyai khasiat begitu mujijat dan kemanjurannya lebih dahsyat dari pada obat yang paling manjur didalam dunia. Sampai Tok-kai sendiri yang sudah banyak pengalaman dan pengetahuan juga merasa terheran-heran.

Tidak antara lama, Tiong-ciu-khek mendadak membuka matanya, ternyata ia sudah mendusin.

Justru dengan mendusinnya Tiong-ciu-khek, makin besarlah keheranan Tok-kai dan Cu Su.

Busa air itu masih tetap timbul saling susul, dan apa yang mengherankan ialah bentuknya busa itu sama besarnya dan sama indahnya, bahkan terus tidak ada putusnya.

Semua ini merupakan suatu pemandangan dan kejadian yang sangat ajaib, mereka tidak mengerti sebab musababnya.

Tiong-ciu-khek hanya beristirahat sebentar, kemudian sudah sembuh seperti biasa. Maka mereka lantas pada mencari binatang yang terdapat dalam gunung itu untuk menangsal perut.

Mereka juga tidak menguatirkan tentang dirinya Kim Houw dan Peng Peng, karena bersama- sama Kim Houw keadaannya Peng Peng lebih aman sentosa.

Ketika Kim Houw memeriksa tempat dimana timbul air busa itu ternyata ada tempatnya dimana ia pernah melepaskan kerbau hijau binatang mujijat yang pernah dibuat oleh Liok cie Thian-mo dan Khu leng Lie. Warnanya busa itu sama besar dengan warnanya sepasang mata kerbau hijau mujijat itu. Rupa-rupanya perasaan timbul dalam otaknya Kim Houw, apakah itu yang dinamakan kegaiban alam?

Kim Houw setelah mengetahui duduknya perkara sembari bersantap. Kim Houw lalu menanyakan Peng Peng, bagaimana rombongannya setelah diantar oleh si imam palsu ke dalam lembah lantas diketahui oleh musuh-musuhnya? Dan siapakah mereka itu?

Peng Peng belum menjawab, sudah didahului si botak yang memangnya doyan ngobrol. "Ketika telah berpapasan dengan perempuan cabul itu!" demikian ia berkata.

Lagi-lagi Khu Leng Li, demikian Kim Houw kata dalam hatinya.

Kiranya ketika si imam palsu mengantar Peng Peng bertiga meninggalkan kuil Han-pek. Cin Koan, setibanya di lembah yang letaknya sangat tersembunyi itu, tidak nyana didalamnya sudah ada orang yang bersembunyi. Tiga anak muda itu setelah masuk dalam goa, ia sendiri berdiri sejenak dimulut goa.

Di luar dugaannya si imam palsu, bahwa orang yang sembunyi didalam goa itu ternyata adalah Khu Leng Lie yang menyingkirkan diri dari kejaran Kouw-low Sin ciam.

Ketika Khu Leng Lie mengetahui kedatangan si imam palsu berempat, segera mengetahui bahwa Kouw-low Sin ciam pasti masih berada di tempat itu. Karena kuatir orang-orang itu nanti buka suara, sehingga mengagetkan Kim Houw Sin ciam, dengan kecepatan kilat ia totok rubuh tiga anak muda itu.

Lihainya Khu Leng Lie, maka ia pura-pura rubuh, apa celaka tanpa sadar ia rubuh menjerit.

Suara jeritannya itu telah mengejutkan si imam palsu, hingga ia buru-buru masuk ke dalam goa.

Begitu menampak Khu Leng Lie, si imam palsu lantas mengerti keadaan akan menjadi runyam. Meski tahu ia tidak tahu mampu menandingi Khu Leng Lie, namun melihat ketiga anak muda yang sudah pada rubuh dengan tidak berdaya, terpaksa ia berlaku nekad untuk memberi pertolongan.

Dalam pertempuran yang sengit, si imam palsu kena dihajar oleh Khu Leng Kie sampai babak belur.

Akhirnya, dalam keadaan terpaksa, si imam palsu lantas kabur pulang.

Setelah si imam palsu berlalu, Khu Leng Lie juga tidak berani berdiam di situ terlalu lama lagi, dengan lari terbirit-birit ia meninggalkan lembah tersebut.

Setelah kedua orang itu berlalu, Peng Peng baru merayap bangun, ia membebaskan totokan Sun Cu Hoa dan si botak. Tapi mereka bertiga tidak berani keluar dari lembah itu, sebaliknya juga tidak berani berdiam terlalu lama, maka lantas pada merambat naik ke atas gunung.

Ketika Tiong ciu khek datang, segera diketahui oleh mereka, seketika itu juga lantas mereka diajak berlalu dari situ.

Tapi ketika Cu Su dan Tok-kai tiba, mereka sudah berada di atas gunung dan turun dari lain sudut. Oleh karena hujan masih lebat dan angin meniup kencang, Tiong-ciu-khek ajak mereka bersembunyi dulu.

Sampai jauh malam, Tiong-ciu-khek baru pimpin mereka keluar dari tempat persembunyiannya. Di luar dugaan, begitu keluar dari tempat sembunyinya lantas berpapasan dengan Siao Pek Sin.

Siao Pek Sin yang sedang mendongkol, begitu melihat mereka hatinya semakin panas. Terutama terhadap Peng Peng, yang ia pandang sebagai duri dalam matanya. Tapi, Siao Pek

Sin ada seorang yang licik dan banyak akal jahatnya, meski dalam hati merasa panas, tapi ia masih bisa kendalikan perasaan hatinya. Ia sengaja tidak perkenalkan dirinya, tapi berlagak sebagai Kim Houw. ia coba membaiki Peng Peng.

Diantara empat orang itu, siapapun tidak dapat membedakan siapa Kim Houw dan siapa Siao Pek Sin!

Lebih dulu Siao Pek Sin mendekati Tiong cui khek yang dalam ragu-ragu untuk memastikan bahwa pemuda itu adalah Kim Houw. Peng Peng yang merupakan orang paling dekat dengan Kim Houw, melihat sorot matanya sudah dapat membedakan siapa adanya anak muda itu, maka ia lantas berseru dengan nyaring:

"Ya-ya hati-hati! Dia adalah Siao Pek Sin!"

Siao Pek Sin tidak nyana Peng Peng dapat mengenali dirinya, maka ia lantas bertindak dengan cepat.

Tiong-ciu-khek yang dalam ragu-ragu ketika mendengar seruan Peng Peng, sudah tidak keburu menyingkir. Dadanya kena dihajar oleh Siao Pek Sin dan rubuh tidak ingat dirinya lagi.

Peng Peng menjerit sekuat-kuatnya, dengan tidak memperdulikan apa akibatnya, lantas merebut dirinya Tiong-ciu-khek.

Sun Cu Hoa dilain pihak, ketika mengetahui bahwa anak muda itu adalah musuh besarnya, dengan tidak memperdulikan maupun menandingi padanya atau tidak, begitu keluarkan bentakannya, lantas menyerang dengan pedangnya.

Meski kepandaian Siao Pek Sin di bawahnya Kim Houw, tapi kalau di bandingkan dengan Sun Cu Hoa, sudah tentu masih jauh lebih kuat.

Maka baru tiga gebrakan saja, keadaannya Su Cu Hoa sudah nampak sangat berbahaya.

Si botak yang menyaksikan kawan karibnya dalam bahaya, lantas turut menyerbu. Dengan demikian, mereka berdua lantas mengerubuti Siao Pek Sin.

Untuk menghadapi dua anak muda itu, Siao Pek Sin nampaknya masih enak-enak saja. Ia hanya menjaga-jaga senjata rahasianya Sun Cu Hoa yang berupa jarum halus yang merupakan senjata paling ampuh dari pelajaran gurunya.

Tapi biar bagaimana, perbedaan kekuatan mereka ada sangat jauh, selewatnya sepuluh jurus, si botak dan Sun Cu Hoa sudah pada terluka. Peng Peng terpaksa turut campur tangan.

Mereka bertiga masih tidak dapat berbuat banyak, sehingga Tiong-ciu-khek yang terluka terpaksa turut membantu. Tapi, apa gunanya ia turut bertempur, kesudahannya malah menambah berat lukanya. Sun Cu Hoa dihajar sampai terjatuh ke bawah gunung, si botak patah tulang tangan dan pahanya, Tiong-ciu-khek tidak usah dikata lagi, keadaannya semakin parah.

Hanya Peng Peng seorang saja, yang nampaknya tidak terluka. Ini disebabkan Siao Pek Sin sengaja tidak mau melukai padanya, ia ingin menangkap hidup-hidup dirinya nona itu lagi, untuk mencapai lain maksud.

Di luar dugaan, pada saat itu dari jauh mendadak kelihatan satu bayangan orang yang tengah naik ke atas gunung. Sekelebat saja Siao Pek Sin sudah mengetahui bahwa orang ini adalah si iblis tua yang sangat ganas, Kouw-low Sin-ciam.

Begitu melihat kedatangannya Kouw-low Sin-ciam, Siao Pek Sin entah girang entah takut, tapi ia sungguh tidak suka menemui padanya. Sebaliknya, di bawah perlawanan yang sengit dari Peng Peng, Siao Pek Sin hendak menangkap hidup-hidup padanya juga tidak mudah.

Akhirnya, Siao Pek Sin yang sudah kehabisan akal dan untuk melampiaskan kemendongkolannya, lantas menantikan lowongan, lalu mengirim serangan yang amat dahsyat, mengarah belakang geger Peng Peng, sehingga badan Peng Peng terbang melesat ke tengah gunung.

Siao Pek Sin mengira bahwa serangannya itu meski tidak bisa membikin mampus Peng Peng, setidaknya si nona akan terluka parah. Ketika menampak Kouw-louw Sin-ciam sudah akan tiba ditempat tersebut ia lantas angkat kaki.

Namun ia tidak tahu bahwa Peng Peng ada menggunakan baju wasiat pemberian Kim Houw, baju wasiat yang berupa bulu binatang lutung bulu emas, yang juga merupakan salah satu benda mujijat di kalangan kangouw, bagaimana Siao Pek sin mampu melukai padanya?

Begitulah apa yang telah terjadi atas diri mereka, setelah berlalu dari kuil Han-pek Cin koan.

Semua orang setelah kenyang menangsal perut masing-masing, lantas merundingkan rencana mereka selanjutnya. Cu Su setelah mengambil keputusan melakukan tugas masing-masing dengan jalan berpencar. Ia sendiri akan menggerakkan pengaruhnya seluruh orang-orang dari partai Sepatu Rumput yang tersebar luas di kalangan Kangouw, untuk menyelidiki jejaknya Kouw Low Sin-ciam dan Liok-cie Thian-mo serta Khu Leng Lie.

Dan begitu mendapat kabar segera akan diberitahukan kepada Kim Houw agar mereka dibasmi untuk membalas sakit hati kawan-kawannya yang binasa ditangan iblis-iblis yang sangat ganas itu.

Tiong-ciu-khek sebaliknya mempunyai rencananya sendiri, karena tugasnya di sini sudah selesai, ia ingin mencari salah satu sahabat karibnya untuk minta obat-obatan yang diperlukan untuk menjaga diri. Sebelum berangkat, ia panggil Peng Peng dan bicara padanya, yang nampaknya sangat serius.

Apa yang dibicarakan oleh mereka, semua orang tidak dengar, tidak terkecuali dengan Kim Houw. Hanya Peng Peng yang sebentar-sebentar melirik padanya sambil tertawa membuat si anak muda merasa heran.

Karena kelakuannya Peng Peng yang mencurigakan itu, Kim Houw coba mencuri dengar, dan apa yang ia tangkap dengan telinganya, membuat hatinya berdebar. Yang dibicarakan oleh Tiong-ciu-khek kepada cucunya, ternyata adalah soal perkawinannya Peng Peng, sedang sebagai calon suaminya telah disebut-sebut nama Kim Houw. Sudah tentu Peng Peng seratus persen akur.

Tapi bagi Kim Houw, setelah mengetahui persoalan itu, hatinya lantas terkenang kepada Bwee Peng yang binasa secara penasaran. Sehingga saat itu Kim Houw masih belum berhasil menuntut balas sakit hati atas kematiannya nona itu, ada merupakan suatu ganjalan dalam hati sanubarinya.

Tiba-tiba Cu Su menghampiri Kim Houw, ia memberi hormat sembari berkata:

"Kim Siaohiap, aku si orang tua mengaturkan selamat padamu telah mendapat jodoh seorang dara begini cantik manis dan gagah pula."

Kim Houw terkejut, ia buru-buru membalas hormat, sahutnya:

"Kim Houw telah dilahirkan dengan nasib yang jelek sehingga saat itu masih belum mengetahui asal usulnya, ditambah lagi dengan permusuhannya yang bersusun tindih, entah kapan baru bisa dibereskan? Bagaimana berani sembarangan membicarakan soal perjodohan.?"

Keterangan Kim Houw itu telah membuat tercengang semua orang, terutama Peng Peng, hatinya seperti diiris-iris, airmatanya lantas meleleh keluar, lalu disusul dengan tangisnya yang mengharukan.

"Kim Siaohiap, aku si orang tua sekarang telah menjodohkan cucuku satu-satunya kepadamu di hadapan para tokoh persilatan terkemuka. Kau tinggal pilih saja, mau terima apa tidak?" kata Tiong-ciu-khek mendesak.

"Hal ini." Kim Houw belum dapat menjawab dengan tegas.

"Tidak perlu pakai segala ini itu, mau yah mau, tidak yah tidak, habis perkara!" desaknya pula Tiong-ciu-khek.

Perkataan dan perbuatan Tiong-ciu-khek itu seolah-olah merupakan suatu ancaman, kalau Kim Houw tidak memandang karena pernah sama-sama menentang musuh dan karena ia ada engkongnya Peng Peng, mungkin siang-siang sudah berontak!

Saat itu, Kim Houw hanya tundukkan kepala sambil berpikir. Tadinya ia pikir tidak mau menjawab pertanyaan Tiong-ciu-khek itu, tapi mendadak mendengar suara Peng Peng:

"Engko Houw, aku tahu wanita yang kau cintai adalah adik Bwee Peng. Tapi adik Bwee Peng kini sudah meninggal, meskipun kematiannya itu telah membuat ganjelan pada hatimu, tapi toh tidak lantaran dia lantas menjadi bujang seumur hidup. Urusan perkawinan kita, juga tidak memerlukan tempo tergesa-gesa. Nanti setelah kau membereskan pembalasan sakit hati adik Bwee Peng, setelah kau berhasil membasmi semua musuh-musuhmu, baru kita bicarakan lagi, sekarang aku hanya menghendaki jawabanmu, supaya yaya bisa meninggalkan kita dengan hati lega. "

Mendengar perkataannya Peng Peng yang diucapkannya sembari menangis, Kim Houw hatinya merasa sangat tidak tega. Karena menganggap perkataan Peng Peng itu memang beralasan, maka ia lantas berlutut di depannya Tiong-ciu-khek sambil berkata:

"Aku terima baik usulmu, harap yaya sudi menerima hormat bakal mantu cucumu." Tiong-ciu-khek tertawa bergelak-gelak, ia terima hormatnya Kim Houw dengan hati gembira.

Setelah semua urusan selesai, Tiong-ciu-khek berangkat lebih dulu, kemudian disusul oleh yang lainnya. Sekarang di tepi sungai kecil itu hanya tinggal Kim Houw dan Peng Peng berdua.

"Engko Kim Houw, aku tidak berani mengharap bahwa aku bisa dapat tempat didalam hatimu untuk menggantikan adik Bwee Peng, aku hanya mengharap sedikit perhatianmu atas diriku, juga supaya aku bantu menanggung sedikit beban kesulitan dalam hatimu. Kalau hal ini kau tidak sanggup, harap kau jelaskan mulai sekarang, sebab sifatku suka berterus terang, sekalipun hatiku berduka, tapi aku masih sanggup menanggung penderitaan itu," demikian Peng Peng berkata.

Kim Houw hatinya seperti tertusuk senjata tajam. Memang dimasa Bwee Peng masih hidup, Kim Houw agak jeri terhadap Peng Peng, tapi sekarang anggapannya terhadap dirinya nona itu telah banyak berubah.

"Peng Peng, diwaktu yang lalu sifatmu yang sangat berandalan, membuat aku sangat takut. Sungguh tidak nyana sekarang kau bisa berubah demikian lemah lembut dan agaknya mengerti banyak soal. Untuk selanjutnya aku akan curahkan segenap perhatianku kepada dirimu aku bisa mencintai kau seperti aku mencintai diriku sendiri. Peng Peng, percayalah ucapanku ini. Cuma terhadap adik Bwee Peng biar bagaimana aku masih selalu merasa tidak enak, aku cuma mengharap setelah permusuhan dibikin beres, kita dapat mendirikan gubuk didekat makamnya adik Bwee Peng, sekedar untuk menghibur arwahnya adik Bwee Peng dialam baka. Apakah kau setuju pikiranku ini?" demikian jawabnya Kim Houw.

Mendengar jawaban Kim Houw, hati Peng Peng merasa lega. Dengan batinnya lalu berpikir apa yang aku buat keberatan, lagi pula adik Bwee Peng tokh sudah meninggal dunia masak aku harus cemburuan padanya.

"Engko Houw, aku terima baik usulmu itu, baiklah aku nanti menuruti kehendakmu."

Kim Houw merasa girang, kalau tadi ia selalu muram karena ganjalan dalam di hatinya itu, kini setelah ganjalan itu lenyap, maka lantas bisa unjukkan ketawanya.

Menyaksikan bakal suaminya sangat gembira, Peng Peng segera jatuhkan dirinya ke dalam pelukannya.

Entah berapa lama telah berlalu, tahu-tahu matahari sudah naik tinggi. Kim Houw dongakkan kepala, ternyata sudah lewat tengah hari. Sambil membimbing dirinya si nona, Kim Houw berkata:

"Peng Peng, sudah waktunya kita harus berangkat!"

Mendadak matanya Kim Houw tertarik oleh busa warna biru yang timbul dari dasarnya sungai kecil itu, lalu ingat ucapannya Tiong-ciu-khek ketika hendak berpisahan. Seketika itu lantas tepuk kepalanya sembari berkata:

"Astaga, mengapa kita begitu bodoh, bukankah busa biru adalah obat paling manjur untuk menyembuhkan segala penyakit atau luka-luka? Jika busa dalam air itu terus keluar, kita bisa gunakan tidak habis-habisnya, perlu apa yaya harus jauh-jauh mencari kawannya?"

Mendengar ucapan Kim Houw itu, Peng Peng ketawa geli.

"Bukankah kau ada seorang pintar? Mengapa mendadak menjadi bodoh? Mengenai busa dari dalam sungai itu mereka sudah pikirkan siang-siang, cuma saja kita pada tidak mempunyai barang yang bisa digunakan untuk mengisi air busa itu, maka yaya perlu pergi dulu untuk mencari alat untuk menyimpan air busa tersebut. Sebab air tidak gampang dibawa-bawa, sedangkan yaya ada seorang yang mengerti membuat obat-obatan, ia akan menggunakan air mujijat itu untuk dibuat obat pil, supaya gampang dibawa dibadan. Ia juga hendak menggunakan kesempatan ini untuk membicarakan soal perjodohan kita."

Ketika ia mengucapkan perkataannya yang terakhir wajahnya merah seketika.

"Cara yang ditempuh oleh yaya itu memang tepat. Mudah-mudahan air busa itu terus keluar tidak putusnya, supaya bisa dibuat obat pil lebih banyak. Sekalipun tidak cuma untuk mengobati dirinya sendiri, buat menolong dirinya orang lain juga baik." kata Kim Houw.

Mendadak mereka dikejutkan oleh suara orang ketawa panjang yang memecahkan suasana sunyi dalam gunung itu.

Kim Houw mendengar suara itu lantas berkata dengan suara heran: "Oh, dia, mengapa dia belum binasa?"

Peng Peng meski tahu bahwa orang yang tadi ketawa panjang itu ada seorang yang berkepandaian tinggi, tapi ketika mendengar perkataan Kim Houw juga merasa heran, agaknya Kim Houw kenal baik dengan orang itu. Maka ia lantas menanya:

"Engko Houw, siapa dia?"

Kim Houw tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya menggandeng tangannya. "Mari kita kejar, nanti kita bicarakan lagi."

Seketika itu juga Kim Houw bersama Peng Peng sudah melesat ke udara, mengejar ke arah suara ketawa tadi.

Telinganya Kim Houw sangat tajam, tapi ketika ia dan Peng Peng tiba di tempat tersebut, telah dapat tahu bahwa tempat itu ternyata juga merupakan tepinya aliran sungai kecil itu, di suatu tempat yang terdapat tetumbuhan rumput tinggi, di situ terdapat bekasnya seperti ditiduri orang.

Tapi, orang itu sekarang sudah tidak ada, bayangannya juga tidak kelihatan. "Engko Houw, siapa sih sebetulnya?" tanya pula Peng Peng.

"Dari suaranya seperti Liok-cie Thian mo. Tapi dia sudah dibikin terluka oleh Kouw-low Sin- ciam dan Khu Leng Lie berdua. Hari itu dia sudah tidak bisa bergerak, mengapa sekarang bisa sembuh dengan mendadak, seolah-olah tidak pernah terluka?"

"Siapa Liok cie Thian-mo?"

"Ya, tapi sekarang dia sudah berlalu jauh dari sini!"

Memang betul seperti apa yang Kim Houw duga. Orang yang keluarkan suara ketawa panjang tadi memang ada Liok cie Thian mo. Ketika ia tersadar dari pingsannya karena luka-lukanya yang amat parah, ia telah menyaksikan itu kerbau kecil mujijat baru keluar dari pohon. Pada saat itu, tidak seorangpun yang perhatikan padanya.

Semula ia masih memikirkan hendak menggunakan sisa tenaganya yang masih ada, menyerang Khu Leng Lie dengan senjata Thian-mo Siok hun leng. Pertama hendak menuntut balas sakit hatinya, kedua hendak merampas itu kerbau hijau yang sangat mujijat. Sebab kalau ia tidak berhasil mendapatkan kerbau hijau itu jiwanya mungkin sukar dipertahankan lebih lama lagi. Tapi, dengan munculnya Kim Houw secara mendadak, semua cita-citanya telah dibikin buyar.

Terhadap kerbau hijau itu yang ia sangat butuhkan, juga tidak berani memikirkan lagi!

Maka, selagi orang tidak ambil perhatian padanya, dengan menggunakan sisa kekuatannya yang masih ada, ia diam-diam merangkak dan sembunyi ke gerombolan rumput.

Ketika Khu Leng Lie lihat ia menghilang, Liok-cie Thian-mo justru sedang rebah menggeletak tak ingat orang. Tidak heran kalau Kim Houw pasang telinganya untuk mengetahui jejaknya tidak kedengaran napasnya.

Waktu tersadar kedua kalinya, ia dapatkan disekitar situ keadaannya sudah sunyi senyap. Ia lalu makan semua obatnya yang masih ada, meski ia tahu itu percuma saja tidak dapat menyembuhkan luka-lukanya dan menolong jiwanya. Ia masih mengharapkan pulihnya kembali sedikit tenaganya, agar bisa merayap keluar dari lembah gunung itu.

Dengan susah payah ia merangkak, akhirnya bisa juga ia keluar dari lembah, segera telinganya dapat menangkap pembicaraan Kim Houw bersama kawan-kawannya.

Bukan kepalang kagetnya, hampir saja ia jatuh pingsan lagi.

Dengan sangat hati-hati ia segera mencari jalan memutar untuk menghindarkan perhatian mereka.

Mungkin belum waktunya ia dipanggil menghadap Giam Lo Ong ke akherat, apa mau perbuatannya itu tidak diketahui, oleh seorangpun dari rombongan Kim Houw, hingga akhirnya ia bisa merangkak sampai ke tepi sungai.

Liok cie Thian mo yang menemukan air, mungkin karena girangnya telah membuat ia pingsan lagi!

Saat itu, luka-lukanya terlalu parah, dalam keadaan setengah sadar setengah tidak sadar, ia celupkan kepalanya ke dalam air sungai. Begitu kena air pikirannya yang barusan lupa-lupa ingat, telah kumpul kembali. Ia heran lantas menduga bahwa dalam air itu tentu ada apa-apanya yang sangat mujijat.

Ada harapan hidup, pikir Liok-cie Thian-mo, ia tidak mau sia-siakan kesempatan itu dan lantas minum air sungai itu sebanyak-banyaknya, tapi ternyata tidak ada faedahnya, bahkan perutnya dirasakan menjadi kembung. Dalam keadaan cemas ia rebah terlentang di tepi sungai.

Lewat sejenak, mendadak ia dengar pembicaraan Kim Houw dan Peng Peng tentang air bua yang mengandung khasiatnya sangat mujijat itu. Meski suara itu datangnya dari jauh, tapi dalam suasana alam yang amat sunyi itu, suara tadi dapat didengar dengan jelas.

Ini seolah-olah ada kabar selamat dari sorga, yang dikirim oleh Tuhan dengan perantaraan mulutnya Kim Houw.

Liok-cie Thian-mo kegirangan, ia buru-buru mencari-cari air sungai yang mengandung busa warna biru.

Sebentar saja, ia sudah berhasil menemukannya. Dengan tidak ajal lagi, Liok-cie Thian-mo lantas menyendok dengan tangannya.

Air yang diminum kali ini ternyata ada beda dengan yang diminum duluan. Begitu air masuk ke dalam mulutnya, rasa segar lantas mengalir ke sekujur badannya. Semua luka lukanya lantas lenyap entah kemana perginya. Betapa girangnya Liok cie Thian mo pada saat itu, sungguh sulit untuk dilukiskan.

Setelah sembuh dari luka lukanya, Liok cie THian mo mulai besar lagi nyalinya, maka ia lantas perdengarkan suara ketawanya yang panjang, kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut. Ia sebetulnya tidak sengaja hendak menyingkir dari Kim Houw, maksudnya adalah berburu-buru hendak mencari Khu Leng Lie untuk menuntut balas.

Demikianlah kisahnya Liok cie Thian mo yang mendapat kesembuhan dari luka-lukanya yang parah sehingga bisa kabur dari lembah gunung itu.

Mari kita balik kepada Peng Peng, siapa ketika menampak Kim Houw agak murung, lalu berkata:

"Kalau dia sudah pergi ya sudah, perlu apa lagi kau pusingi padanya?"

"Kau tidak tahu, dia telah membinasakan Lo Han-ya. Sebelum melepaskan napasnya yang penghabisan, Lo Han-ya pernah meninggalkan pesan, supaya aku membinasakan dia beserta setan tua Kouw-louw Sin ciam."

"Kalau begitu gampang sekali, kita kejar saja, lagi. Kau jangan terlalu pikirkan diriku, aku bisa urus diri sendiri!"

"Baiklah, di sepanjang jalan ini aku nanti ajari kau beberapa ilmu silat untuk menjaga diri dan ilmu mengentengi tubuh yang sangat istimewa. Bila sewaktu aku ada keperluan harus berlalu dari dampingmu, kan nanti bisa menggunakan kepandaian ilmu silatmu untuk menghadapi musuh yang akan mengganggu dirimu. Kalau kau masih ungkulan kau boleh lawan terus, sebaliknya kalau rasanya tidak ungkulan, kau boleh lantas kabur. Mari sekarang kita kejar padanya?"

Berbareng dengan menggandeng tangan Peng Peng ia lantas mengeluarkan ilmu lari pesat yang luar biasa, hingga sekejap saja sudah menghilang dari pemandangan.

Malam itu tibalah mereka di sebuah dusun kecil. Kim Houw yang hanya bermaksud mengejar Liok-cie Thian mo, tidak ada lain tujuan, maka tidak terlalu tergesa-gesa, hingga malam itu mereka bisa bermalam di dusun tersebut.

Di luar dugaannya, dusun itu ternyata jarang sekali didatangi tetamu luar, maka rumah makan atau rumah penginapan juga tidak ada. Rumah-rumah penduduk yang ada juga kebanyakan sudah pada reyot, suatu tanda bahwa dusun itu ada sangat miskin.

Tiba-tiba Peng Peng menuding ke sebuah rimba yang terdapat di belakang dusun itu sembari berkata :

"Engko Houw, kau lihat di dalam rimba itu seperti ada sebuah gedung bertingkat!"

Kim Houw menengok, benar saja, dalam rimba itu lapat-lapat kelihatan bentuknya gedung bertingkat, hingga dalam hati diam-diam juga merasa heran.

"Eh, aneh, dalam dusun yang sangat melarat ini, bagaimana ada bangunan yang begitu megah? Mungkinkah ada tempat kediamannya orang gagah dari dunia Kang-ouw yang telah mengasingkan diri di sini?" "Tidak perduli siapa adanya dia," kata si nona "Kita pergi saja kesana untuk menyaksikan sendiri!"

Saat itu mereka lihat di depan pintu sebuah rumah penduduk, ada seorang tua sedang duduk sembari menganyam sepatu rumput.

"Lopek, numpang tanya tempat ini disebut dusun apa?" tanya Kim Houw dengan laku sangat sopan.

Orang itu dongakkan kepalanya, ia tidak menjawab ketika menampak Kim Houw dan Peng Peng.

Mereka masih mengenakan pakaian dari Pek Liong po yang sangat mewah, ditambah lagi dengan roman kedua muda-mudi itu yang tampan gagah dan cantik molek, membuat orang tua itu, yang mungkin seumur hidupnya belum pernah menyaksikan laki-laki cakap dan perempuan cantik demikian, telah dibikin kesima. Apalagi dengan munculnya mereka yang begitu mendadak, dianggapnya sebagai dewa dan dewi yang turun dari kahyangan saja.

Kim Houw lihat orang tua terus memandang dengan mulut ternganga dan mata terbuka lebar, lantas mengulangi pertanyaannya tadi.

Orang tua itu seolah-olah baru sadar dari mimpinya, buru-buru letakkan sepatu rumputnya dan menjawab dengan gugup:

"Oh, di sini adalah Gu-kee-chun!"

Kim Houw mengerti bahwa penduduk dari dusun yang sepi seperti ini, kebanyakan tidak bersekolah, maka lalu menanya pula:

"Tempat ini dengan kota mana yang letaknya paling dekat?"

Orang tua itu ketika berdiri, badannya ternyata masih kokoh kekar, kuat dan sehat. Tapi ketika mendengar perkataan Kim Houw, agaknya merasa heran, jawabnya:

"Kota? Aku si orang tua belum pernah dengar nama itu, mungkin kau maksudkan adalah hari pasaran! Di sini setiap tiga hari ada hari pasaran, keadaannya ramai sekali, barang apa saja bisa kau beli. Ow, coba aku pikir-pikir dulu sebentar, hari ini tanggal sembilan, ya benar, besok giliran hari pasarannya oey-pa, kalau begitu, aku besok saja pergi kesana. Aku si orang tua selama beberapa puluh tahun cuma pergi ke hari pasaran itu dua kali saja, kini sudah lama belum pernah pergi lagi, barang kali seumur hidupku ini sudah tidak mendapat kesempatan untuk pergi lagi!"

Orang tua itu nyerocos terus tidak berhentinya, tapi Kim Houw dan Peng Peng tidak mengerti apa yang dimaksudkan olehnya. Nyata orang tua itu belum pernah pergi ke kota, maka namanya saja belum pernah dengar.

Akhirnya Kim Houw menanya pula sambil menuding pada itu gedung dalam rimba. "Lopek, gedung itu kediaman siapa? Bolehkah kami numpang menginap untuk satu malam

saja?"

Orang tua itu menampak Kim Houw menunjuk rumah gedung itu, wajahnya menunjukkan rasa ketakutan. Kebetulan pada saat itu seorang pemuda tanggung telah pulang sembari membawa sepikul kayu kering. "Kalian pergi saja tanya sendiri, aku si orang tua masih hendak membikin kueh untuk dijual oleh cucuku pada esok hari." jawabnya

Kim Houw mendengar jawaban itu, lantas pamitan kepada si orang tua dan berlalu menuju ke gedung rimba itu bersama Peng Peng.

Hari sudah menjelang senja, matahari sore telah memancarkan sinarnya yang kuning keemas- emasan, menambah keindahan pemandangan alam disekitar rimba itu.

Kim Houw dan Peng Peng setelah memasuki rimba, berjalan belum beberapa lama, sudah dapat dilihat sebuah gedung bertingkat dua, dikurung oleh dinding bambu yang tinggi. Karena tingginya dinding bambu itu, tidak tampak bagaimana keadaan sebelah dalamnya.

Gedung bertingkat dua itu, dipandang dari jauh nampaknya sangat megah, tapi kalau dari dekat keadaannya biasa saja. Hanya bagi matanya penduduk dusun itu, merupakan sebuah istana mentereng.

Ketika mereka tiba di depan pintu dinding bambu, di atas pintu ada tergantung sebuah papan yang bertuliskan empat huruf besar warna hitam : "HOAN IE KIE HEE"

Melihat empat huruf itu, Kim Houw terperanjat. Tapi Peng Peng sebaliknya telah tertawa terpingkal-pingkal.

"Peng Peng mengapa kau tertawa?" tanya Kim Houw.

"Aku sedang merasa geli. Coba kau tengok hurufnya yang ditulis menggak-menggok tidak karuan itu, serta maksudnya perkataan yang tidak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, bukankah sudah cukup menandakan bahwa penghuninya rumah ini ada seorang yang pernah menyelami keadaan dunia?"

Sekali lagi Kim Houw menegasi huruf-huruf yang tertulis di atas papan itu memang benar seperti yang diucapkan oleh Peng Peng. Tapi Kim Houw berpikiran lain, ia menilai huruf-huruf tulisan itu dari kacamatanya seorang dunia rimba persilatan!

"Peng Peng, mungkin tidak demikian." jawab Kim Houw.

"Kau tidak percaya? Coba kau diam saja, lihat bagaimana aku nanti bertindak, aku tanggung kau akan dapat hidangan lezat dan tidur dengan senang, besok setelah kita bersantap pagi yang lebih baik, baru kita melanjutkan perjalanan!"

Kim Houw merasa sangsi "Aku cuma mengharap kau setidaknya berlaku hati-hati saja." "Ada kau, aku takut apa lagi?" si gadis tersenyum manja.

Kim Houw turut tersenyum. Memang bagaimana ia dapat membiarkan Peng Peng mengalami kesulitan di hadapan matanya? Kalau Peng Peng berlaku berandalan, seharusnya ia yang harus menjaganya dengan hati-hati

Suara orang berjalan telah terdengar dari dalam dinding bambu, Peng Peng melirik pada Kim Houw.

"Kau hadapi dia dulu!" si nona berkata perlahan. Pintu yang terbuat dari batang bambu besar telah terbuka, dari dalam muncul seorang anak laki-laki tanggung kira-kira berusia lima belas tahun.

Anak itu pakaiannya sangat sederhana, badannya kurus kering, wajahnya pucat kuning, Kim Houw mengira bahwa anak itu ada kacungnya penghuni rumah gedung tersebut, maka lantas menanya:

"Numpang tanya apakah tuan majikanmu ada dirumah?"

Anak laki tadi sebetulnya karena mendengar suara ketawanya Peng Peng, baru keluar membuka pintu, maka ketika pintu terbuka, apa yang dilihat hanya diri Peng Peng.

Baru saja ia unjuk senyumnya seperti monyet kena terasi, telah dikejutkan oleh pertanyaan Kim Houw.

Ketika berpaling dan menampak Kim Houw, wajahnya lantas berubah menjadi kaku angkuh, dengan suara ketus ia menjawab:

"Kita di sini tidak ada majikan, cuma ada Gwan-swee. Tay-ciangkun, kau hendak cari siapa?"

Kim Houw terperanjat. Kiranya itu adalah gedungnya gwanswee (jendral), kalau begitu tidak boleh dibuat main-main, apalagi buat orang-orang kang ouw, ada merupakan pantangan bergaul dengan orang orang berpangkat.

Tanpa banyak rewel lantas menarik tangannya Peng Peng buat diajak berlalu.

Anak itu menyaksikan keadaan demikian, nampaknya merasa puas. Kemudian gapaikan tangannya seraya berseru: "Hai, balik!"

Kim Houw berhenti "Kita ada orang-orang yang kebetulan lewat di sini, kesalahan mencari alamat orang, harap dimaafkan !" katanya.

Habis perkara, Kim Houw kembali tarik tangannya Peng Peng hendak berlalu lagi. Mendadak mendengar suaranya laki-laki itu pula:

"Kalian tidak tergesa-gesa pergi, aku hendak beritahukan kepada kalian, bahwa aku juga termasuk salah satu Tay-ciangkung (panglima perang) dari gedung gwanswee ini!"

Habis berkata, anak itu nampaknya sangat bangga. Sambil menolak pinggang, ia berjalan keluar menghampiri tetamunya. Dianggapnya sikap itu ada sangat gagah perkasa, tapi sebetulnya sangat menjemukan.

Kim Houw tercengang mendengar keterangan anak itu, ia lalu berpaling, ketika melihat aksinya bocah itu hatinya merasa mendongkol berbareng merasa geli sendiri!

Kim Houw masih bisa tahan tidak sampai keluarkan ketawanya, tapi tidak demikian dengan Peng Peng, ia lantas ketawa terpingkal pingkal!

Semula, ketika si nona dengar keterangan anak itu bahwa tempat itu ada gedungnya gwanswee, ia juga terkejut, maka ketika Kim Houw ajak berlalu, ia terpaksa menurut.

Tapi kini, setelah menyaksikan kelakuannya anak laki-laki itu bukan main gelinya, maka lantas tertawa sampai terpingkal-pingkal. "Numpang tanya Ciangkun mendapat jabatan apa?" tanya Peng Peng sambil ketawa.

Anak laki itu menampak Peng Peng menanya padanya sembari ketawa manis, ia anggap bahwa Peng Peng kagum padanya, maka dalam hati merasa lebih bangga. Setelah unjukkan aksinya yang dibikin bikin, ia baru menjawab:

"Aku adalah Tin-koan Tay-ciangkun Hoan Tie!"

Peng Peng menyaksikan tingkah lakunya si bocah yang menggelikan, terus ketawa tak henti- hentinya, hingga hampir saja ia tidak dapat berdiri tegak. Sebab ia tahu bahwa perkataan "Tin- koan" itu maksudnya jalan mengamankan kota, tapi untuk didalam gedung itu juga bisa diartikan sebagai "Tukang jaga pintu".

"Ow, kiranya adalah Tin-koan Tay-ciangkun, aku numpang tanya, dimanakah golok besarmu?" tanya Peng Peng menggoda.

Mendengar pertanyaan Peng Peng, anak itu mendadak ketawa besar.

"Haha! kau benar-benar pintar, tahu kalau aku ciangkun ada mempunyai golok segala. Harap kau tunggu sebentar, aku ciangkun nanti ambilkan untuk kalian lihat!"

Anak itu yang menyebut dirinya Hoan Tie, tingkah lakunya memang sungguh menggelikan. Ketika hendak berlalu, gerakannya juga dibikin-bikin seperti tingkah lakunya dalam ketentaraan.

Ia masuk belum lama, sudah balik lagi sembari membawa sebuah golok bergemerlapan.

Mungkin golok itu ia letakkan tidak jauh di belakang pintu.

Golok itu nampaknya besar dan berat, kalau mau diputar, orang setidaknya harus mempunyai kekuatan tenaga yang cukup besar, baru golok itu bisa bergerak!

Tapi, anak itu hanya tenteng dengan sebelah tangannya, nampaknya tidak merasa keberatan sama sekali, bahkan ia dapat putar dengan seenaknya saja.

Peng Peng tadi ketika menanyakan golok padanya, tidak menduga kalau anak she Hoan itu benar-benar ada mempunyai golok. Ia sebetulnya menanya secara iseng-iseng saja, yang maksudnya hendak menggoda.

Di luar dugaannya, Hoan Tie benar-benar ada mempunyai golok besar, bahkan nampaknya begitu berat dan tajam, sehingga Peng Peng hampir lompat karena kagetnya. Ini benar-benar sangat mengherankan, karena bocah kurus kering demikian rupa ternyata mempunyai kekuatan begitu besar.

Hoan Tie menyaksikan Peng Peng terheran-heran dalam hati merasa lebih bangga lagi. "Golok besar ini ada peninggalan seorang jendral besar dari jaman dulu, beratnya 55 kati. Aku

setelah mendapatkan golok pusaka ini, benar-benar sangat memalukan, karena belum pernah aku

gunakan!"

Peng Peng kini tidak berani menggoda lagi. Pikirnya keluarga dalam rumah gedung ini agaknya sangat misterius.

Peng Peng melirik dan lihat Kim Houw unjuk senyumnya yang mengandung arti, hingga diam- diam ia merasa heran. Hoan Tie tiba-tiba mainkan goloknya yang mengeluarkan sinar gemerlapan. Nampaknya ia enak saja memainkan goloknya, seolah-olah tidak mengeluarkan tenaga.

Peng Peng bertambah heran, selagi hendak bicara mendadak mendengar Kim Houw berkata: "Jangan kena dibodohi lagi adikku yang manis, kau ambillah dan coba sendiri, segera kamu

akan mengerti duduknya perkara!"

Suara Kim Houw itu seperti di pinggir telinganya, Peng Peng mengira Kim Houw berada di belakang dirinya, tapi ketika ia berpaling, ternyata anak muda itu tidak ada sampingnya, tampak masih berdiri di tempatnya semula, sedikitpun tidak bergerak.

Pada saat itu, Hoan Tie sudah hentikan permainan goloknya, wajahnya kelihatan pucat, dan napasnya memburu.

Untuk kepentingan meminta menginap, Peng Peng tidak mau banyak bicara, ia lantas maju dan berkata pula kepada Hoan Tie:

"Hoan Tay ciangkun, kita kakak beradik malam ini ingin numpang menginap di gedung gwanswee ini, entah boleh atau tidak? Karena hari sudah hampir malam, masih jauh terpisahnya dari kota."

Hoan Tie nampaknya sangat girang, jawabnya berulang-ulang sambil ketawa: "Ow, boleh saja, boleh. "

"Tapi, apakah gwanswee juga tidak keberatan?" tanya Peng Peng. "Mengapa keberatan? Gwanswee adalah ayah ciangkun sendiri"

"Kiranya ciangkun ada keturunan jendral besar, di kemudian hari Hoan Ciangkun tentunya bisa melanjutkan kewajiban gwanswee!" kata Peng Peng dengan maksud menggoda.

Hoan Tie ketawa bergelak-gelak tidak berkata apa-apa lagi. Kemudian ajak kedua tetamunya yang masuk ke dalam gedungnya.

Baru saja hendak melangkah pintu, lantas terdengar suara trang seperti benda besi kosong yang jatuh di tanah. Ketika Peng Peng menengok, benda jatuh itu bukan apa-apa, melainkan goloknya Hoan Tie yang baru saja diletakkan di belakang pintu.

Saat itu Peng Peng baru mengerti bahwa goloknya Hoan Tie itu ternyata dalamnya kosong sudah tentu beratnya tidak ada lima puluh lima kati

Peng Peng juga tidak menduga, bahwa pada saat itu Kim Houw sudah berlaku jail baru saja Hoan Tie letakkan goloknya, Kim Houw lantas meniup dengan keras ke arah golok.

Suatu hal aneh telah terjadi, golok itu lantas telah melesak, ternyata ia cuma terbikin dari besi yang sangat tipis.

Melihat itu, Peng Peng lantas ketawa geli lagi tidak henti-hentinya.

Hoan Tie mengira Peng Peng sangat kagumi gedungnya, mulutnya nyerocos sambil menunjuk kesana kemari: "Ini adalah ruangan berlatih silatnya gwanswee, di belakang sana ada ruangan Ceng-see Tay- ciangkun, di atas loteng adalah kamar tidurnya Ceng-tang Tay-ciangkun, di loteng belakang adalah tempat tidur Ciangkun sendiri masih ada dua baris rumah adalah untuk tempat tentara gedung gwanswee."

Bicara sampai di sini, Hoan Tie sudah ajak Kim Houw dan Peng Peng memasuki ruangan latihan silat. Saat itu, keadaan sudah mulai gelap oleh karena ruangan itu tidak ada penerangannya maka keadaannya juga gelap gulita.

Tiba-tiba Hpan Tie berkata dengan suara nyaring:

"Memberi tahu kepada gwanswee, di sini ada tetamu yang ingin mengunjungi gwanswee!" Dari dalam ruangan terdengar suara barang bergerak, mendadak ada benda gemerlapan.

Peng Peng tidak dapat lihat itu semua kejadian, tapi Kim Houw dapat menyaksikan dengan tegas. Benda-benda yang gemerlapan ternyata ada sinar yang dipancarkan oleh senjata-senjata yang diletakkan di tempatnya.

Agaknya semua telah selesai, dua batang obor mendadak dinyalakan, kemudian disusul dua batang lagi, empat batang obor itu ditancapkan di dinding empat penjuru, hingga ruangan itu keadaannya terang benderang!

Ditengah-tengah ruangan ada sebuah kursi kebesaran, diatasnya ada duduk seorang tua yang sama kurusnya dengan Hoan Ciangkun.

Cuma, pakaian yang dipakai di badannya memang mirip dengan pakaian goanswe, sayang sudah begitu dekil mesum karena sudah terlalu tua usianya.

Dikedua sampingnya goanswe, ada berdiri dua laki-laki setengah tua, mereka berdandan seperti pelajar, pakaiannya nampak sudah banyak tambalan atau lobangnya.

Yang lebih aneh ialah wajah setiap orang hampir semuanya pucat kuning, tidak ada darahnya.