Istana Kumala Putih Jilid 17

 
Jilid 17

Khu Leng Lie sebetulnya sudah dibikin kesima oleh gambar tengkorak itu, kini setelah dimaki oleh Kim Coa Nio-nio, malah seperti dibikin sadar! Ia lalu tertawa terkekeh dan berkata: "Aku? Aku justru tidak takut dia! Kau lihat siapa pengawalku!"

Sehabis berkata Khu Leng Lie bersiul nyaring, sehingga terdengar sampai sejauh beberapa li.

Sehabis bersiul, ia berkata pula kepada Kim Coa Nio-nio: "Kalau dilihat tanda gambar yang ditinggalkan oleh si setan tua, siang atau malam pasti dia akan datang. Ada seorang yang mampu menghadapi dia dengan aku berdua, kalau hendak menyingkirkan si setan tua, sungguh mudah sekali. Bukankah kau hendak mengusir aku? Tapi sekarang mungkin kau memerlukan bantuanku!"

Mendengar itu, Kim Coa Nio-nio lalu berpikir: itu memang ada benarnya. Kalau betul ada orang yang mampu menghadapi si setan tua itu, membiarkan perempuan cabul ini di sini juga tidak mengapa. biar bagaimana, kalau dibandingkan dengan setan tua, kejahatan perempuan cabul ini masih tidak seberapa. Perkataannya harus kita timbang berat entengnya, baiklah ia berdiam di sini.

Tapi, sebelum ia membuka mulut, dari puncak gunung tiba-tiba terdengar suara siulan panjang yang nyaring sekali, agaknya sebagai sambutan siulan Khu Leng Lie tadi. Cuma suaranya lebih kuat dan nyaring dari pada Khu Leng Lie, terus terang kekuatan lwekang orang itu masih di atas Leng Lie.

Kim Coa Nio-nio mendengar suara itu bukan main kagetnya sebab suara itu dikenalnya betul sebagai suara Siao Pek Sin. Ketika menoleh kearah datangnya suara itu, apa yang dilihat memang benar saja dia! Leng Lie yang memperhatikan perubahan sikap Kim Coa Nio-nio tahu kelihaiannya Siao Pek Sin, maka lalu berkata: "Kau tak usah kuatir, dia dan aku sudah cukup untuk menundukkan si setan tua!"

Kepandaian Siao Pek Sin, Kim Coa Nio-nio tahu benar. Meski ia sudah mendapat warisan pelajaran banyak orang, tapi karena terbatas dengan kekuatan tenaganya dan waktu yang terlalu singkat, kalau dikatakan ia mampu menandingi Kouw Low Sin Ciam, biar bagaimana Kim Coa Nio- nio tidak percaya. Maka lantas menyahut sambil tertawa dingin: "Heh! Heh! Aku kira orang lihai bagaimana? Kiranya adalah dia! Kalau hanya kepandaian dia yang cuma begitu saja, juga mampu menandingi setan tua itu, orang begituan di sini masih banyak sekali jumlahnya!"

Leng Lie tidak tahu kalau Kim Coa Nio-nio sudah kenal Siao Pek Sin, lebih tidak tahu kalau Siao Pek Sin adalah tiruan dari Kim Houw, mendengar Kim Coa Nio-nio mengejek, dia masih mengira kalau Kim Coa Nio-nio tidak pandang padanya.

"Hemm! Kau jangan pandang rendah dia," katanya, "Aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri, di Pek Liong Po ia pernah bertempur dengan Kouw Low Sin Ciam si setan tua."

Belum habis ucapan Leng Lie, Siao Pek Sin sudah berada disampingnya. Kim Coa Nio-nio ketika bertemu dengan Siao Pek Sin dalam hati merasa agak tidak enak, karena biar bagaimanapun ia seorang yang mempunyai nama dan kedudukan yang baik, ternyata akhirnya mengingkari sumpahnya sendiri, meninggalkan Siao Pek Sin. Kalau Siao Pek Sin menegur dirinya dengan perkataan pedas, mungkin ia merasa sangat malu!

Siapa kira, Siao Pek Sin begitu tiba, pertama-tama yang ia lihat adalah gambar kepala tengkorak yang menggigit anak panah. Melihat tanda yang menakutkan itu, seketika lantas terbang semangatnya. Buru-buru ia menarik tangan Leng Lie seraya berkata: "Pergi! Mari kita lekas pergi! Kita tidak bisa berdiam di sini lebih lama lagi!"

Siao Pek Sin bukan cuma takut dengan gambar tengkorak itu saja, juga adanya Kim Coa Nio- nio di situ membuatnya kaget. Sebab Kim Coa Nio-nio dengan Kim Lo Han dan kawan-kawannya merupakan orang-orang satu rombongan, maka dengan beradanya Kim Coa Nio-nio di situ, sudah tentu yang lainnya juga berada di itu. Sedang orang-orang itu semua adalah musuhnya, bagaimana ia tidak kaget?

Leng Lie yang tidak mengetahui hal ihwalnya sudah tentu merasa heran, maka ia lalu bertanya: "He! Bagaimana kau mendadak takut padanya?"

Memang benar Siao Pek Sin takut pada gambar tengkorak itu, tapi pada saat itu tidak boleh tidak ia harus berlagak sebagai jagoan.

"Aku? Yang kutakut? Cuma karena aku masih ada urusan penting, jadi tidak bisa berhenti lama-lama di sini!" demikian jawabnya.

"Kalau benar kau tidak takut, perlu apa harus pergi? aku justru hendak menempur dia, sebab satu hari saja dia belum dapat disingkirkan dari dunia ini, hatiku masih merasa belum aman!"

Pada saat itu, Peng Peng muncul dari dalam!

Siao Pek Sin yang melihat Peng Peng dalam keadaan rambut terurai panjang, mengenakan pakaian putih dan berjalan seperti tidak menginjak tanah, seolah-olah siluman, bukan kepalang kagetnya!

Dalam otak Siao Pek Sin, Peng Peng sudah lama binasa, dan apa yang dilihat di depan matanya, ia anggap sebagai setan penjelmaannya yang datang hendak minta ganti jiwa. Berpikir demikian, Siao Pek Sin ketakutan sendiri, keringat dingin mengucur dengan deras! "Kau....kau.....kausetan atau manusia?" seru Siao Pek Sin.

Peng Peng tidak menyahut, ia tetap seperti jalan melayang, menghampiri Siao Pek Sin! Khu Leng Lie yang menyaksikan keadaan demikian, dalam hati merasa makin heran.

"Apa kau kenal dia? Dia istrimu atau bekas gendakmu?" tanyanya kepada Siao Pek Sin dengan penuh rasa cemburu.

Siao Pek Sin sudah terbang semangatnya, bagaimana bisa dengar? melihat Peng Peng memandang kepadanya dengan sorot mata benci, benar-benar dianggapnya hendak minta ganti jiwa padanya, maka setelah menjerit keras, ia lantas balikkan tubuhnya dan lari terbirit-birit.

Mendadak beberapa bayangan orang melayang turun dari atas, merintangi perjalanannya. Ketika Siao Pek Sin pentang matanya, mereka itu adalah Tiong Ciu Khek dan ketua serta wakil ketua Partai Sepatu Rumput bersama kedua muridnya.

Siao Pek Sin mengenali orang-orang yang berada dihadapannya itu, kalau satu lawan satu, siapa saja diantara mereka, ia tidak takut, bahkan merasa lebih unggul. Kalau satu lawan dua, meski belum tentu bisa menang juga belum tentu kalah. Karena ia sudah mempelajari bermacam ilmu silat yang merupakan ilmu silat pilihan dalam rimba persilatan, begitu pula yang memberikan pelajaran kepadanya, juga merupakan tokoh-tokoh terkenal dalam dunia kangouw.

Sekarang bukan saja satu lawan tiga, bahkan masih ada dua anak muda lagi, dan apa yang lebih menakutkan, ialah Peng Peng yang belum diketahui benar setan atau manusia.

Mendadak ia ingat Kim Houw. Maka lantas berlagak dengan tenang dan berkata: "Hm, apa kalian kira dengan kekuatan kalian semua dapat menggertak aku Pek Leng Ji? Kalian mempunyai kepandaian apa? boleh coba keluarkan semua!"

Tiong Ciu Khek segera maju setindak, sambil tertawa dingin ia menyahut: "Siao Pek Sin, kau jangan menipu pakai nama orang. Kau sekarang sudah masuk perangkap, tidak ada jalan keluar bagimu lagi. Maka hari ini pada tahun depan adalah hari ulang tahun kematianmu!"

Siao Pek Sin yang mendengar Tiong Ciu Khek sudah mengenali dirinya, mau tidak mau kaget juga.

Pada saat itu, Peng Peng mendadak buka mulut dan berkata: "Siao Pek Sin! Aku Touw Peng Peng dengan kau tidak mempunyai ganjalan permusuhan, mengapa kau menggunakan api hendak membakar aku. Hari ini kau sudah berada di sini, suatu bukti bahwa dosamu sudah melewati batas, kenapa kau tidak lekas serahkan jiwamu!"

Baru saja Peng Peng tutup mulut, kembali terdengar suara pekikan yang seram dan pilu! Suara itu adalah suara Sun Cu Hoa yang kala itu tengah mendongak ke langit dan berkata:

"Yaya, ayah, ibu dan saudara-saudaraku, roh kalian dialam baka, harap saksikan hari ini Sun Cu

Hoa hendak menuntut balas untuk kalian!"

Sehabis mengucapkan perkataannya, ia lantas menyerang dengan segumpal jarum peraknya, bagaikan turun hujan melesat ke arah Siao Pek Sin.

Tiba-tiba, sesosok bayangan putih dengan kecepatan bagaikan kilat memapaki jarum-jarum itu, setelah bayangan itu lewat, jarum-jarum itu mendadak lenyap juga, dan tidak ada sebatang pun yang mengenai diri Siao Pek Sin. Sun Cu Hoa terperanjat, ketika ia membuka matanya untuk melihat siapa adanya bayangan putih itu, ternyata bukan lain adalah Khu Leng Lie yang dengan kain putihnya menyambuti serangan jarum itu.

"Kalian juga terhitung tokoh-tokoh terkemuka di kalangan kangouw, tapi mengapa mengerubuti seorang bocah? Apa kalian tidak merasa malu pada diri sendiri? Sedang aku sendiri yang menyaksikan merasa tidak ada muka untuk menemui orang!" demikian kata Leng Lie sambil tertawa dingin.

"Manusia yang tidak lebih berharga daripada binatang seperti dia ini, siapa saja boleh mengambil jiwanya. Terhadap orang yang menodai nama kangouw, perlu apa memakai peraturan kangouw? Sekalipun dikerubuti oleh sepuluh kali lipat jumlah dari kami juga tidak apa!" jawab Cu Su.

"Bagus benar! Kalian hendak merebut kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak dan toh masih ajukan alasan yang gilang gemilang! Jangan kira bahwa kalian orang-orang gagah yang sudah menganggap diri jago, siapa yang takut pada kalian?" kata Leng Lie dingin.

Kim Coa Nio-nio yang tadinya berada bersama-sama Leng Lie, saat itu juga sudah mengejar wanita genit itu.

"Perempuan cabul! Kau juga jangan sombong. Aku akan menghadapi kau lebih dulu!" demikian katanya.

Begitu berada di depan Leng Lie, Kim Coa Nio-nio lantas membabat dengan tongkatnya.

Serangan itu menggunakan delapan puluh persen tenaganya, sebab posisi Leng Lie berdampingan dengan Siao Pek Sin, ia ingin sekaligus mengenai dua sasaran itu.

Siapa kira, begitu tongkat sampai, manusia yang dijadikan sasarannya itu lenyap, kedua- duanya bergerak secara luar biasa gesitnya.

Kim Coa Nio-nio dalam hati merasa kaget, selagi ia hendak memutar badannya, dari belakang tiba-tiba dirasakan angin dingin menyerang dirinya. Kim Coa Nio-nio tanpa menoleh, segera menyapu dengan tongkatnya untuk menyambut serangan lawan.

Suara nyaring beradunya senjata lantas terdengar, dibarengi muncratnya bunga api.

Kiranya Siao Pek Sin telah lompat melesat menghindarkan serangan Kim Coa Nio-nio, lalu menghunus pedangnya dan menyerang dari belakang.

Sebentar saja, Siao Pek Sin dan Kim Coa Nio-nio sudah bertempur sepuluh jurus lebih.

Leng Lie yang menyaksikan Siao Pek Sin sedang bertempur dengan serunya melawan Kim Coa Nio-nio, dengan matanya yang genit mengamati orang-orang yang berada dalam kalangan. Kecuali beberapa laki-laki yang sudah pada lanjut usia, cuma ada satu pemuda yaitu Sun Cu Hoa yang gagah dan tampan wajahnya, lalu timbullah rasa sukanya.

Dengan gerakan yang enteng sekali ia sudah berada di depan Sun Cu Hoa.

Ia memandang Sun Cu Hoa sejenak, melihat sepasang matanya yang melotot dan wajahnya yang gusar, tapi si genit tidak perdulikan itu, malah unjukkan senyumannya yang menggiurkan serta berkata dengan suara yang sangat merdu :" Mengapa begitu gusar? Apa kau masih merasa sayang dengan senjatamu yang tidak berguna itu? Nah aku kembalikan padamu!" Ia lalu kebutkan kain putihnya, hingga senjata jarum perak itu tersebar di tanah!

Sun Cu Hoa yang sudah panas hatinya, melihat Leng lie menyambuti serangan jarumnya, dalam hati semakin gusar, dan kini berdiri didepan matanya, bagaimana ia dapat mengendalikan amarahnya? Maka tanpa menjawab ia lantas hunus pedangnya dan menikam dada Leng Lie.

Dengan tenang Leng Lie menyambut serangan Sun Cu Hoa, ia tidak mau berkelit barang setindak pun bahkan ia membuka kain yang menutupi tubuhnya, sehingga buah dadanya yang indah terpampang dengan jelas. Dengan sikap menantang ia pentang dadanya, seolah-olah bersedia ditikam oleh ujung pedang Sun Cu Hoa.

Sun Cu Hoa adalah seorang pemuda yang masih belum kenal kemaksiatan dunia, melihat pemandangan demikian, hatinya mendadak menjadi lemas, sehingga tidak mampu meneruskan tikamannya, sedang wajahnya merah seketika.

Si botak yang berdiri disamping Sun Cu Hoa, tidak mengerti kalau Sun Cu Hoa tidak tega hati menikam Leng Lie, melihat Sun Cu Hoa hentikan serangannya, buru-buru ia berseru :" Saudara Sun Cu Hoa, mari kubantu kau!"

Kekuatan tenaganya luar biasa dan memang pembawaan dari alam, ia berlatih ilmu silat cuma dengan menggunakan sepasang tangan kosong. Dengan tangan kosong ini, ia menyerang dengan hebat kepada Leng lie.

Ibarat tikus yang tidak takut macan, begitulah keadaan si botak waktu itu. Ia andalkan kekuatannya yang luar biasa, tidak perdulikan lawannya seorang wanita cantik molek bagaikan bidadari, ia telah turun tangan dengan tidak kenal kasihan!

Namun, baru saja melancarkan serangannya, tiba-tiba terdengar suara Tok Kai berteriak padanya: "Botak hati-hati!"

Si botak masih belum mengerti apa maksud suhunya, tiba-tiba ia merasa tangannya sudah terlibat oleh kain kerudung Leng Lie, sekali sentak badannya sudah terbang melayang setinggi tiga tombak.

Untung kepandaian ilmu silatnya sudah maju pesat, merasa dirinya dalam bahaya, ia lantas jumpalitan ditengah udara sehingga tidak sampai terbanting ke tanah.

Sun Cu Hoa yang sudah jadi teman akrab dengan si botak sangat marah menyaksikan kawannya itu dilontarkan keudara oleh Leng Lie, gara-gara hendak membelanya. Tanpa perdulikan ia berhadapan dengan wanita cantik, pedangnya kembali diangkat untuk menikam!

Leng Lie rupanya sudah dapat menebak pikiran Sun Cu Hoa, dengan manis sekali ia dapat mengelit serangan itu, "Astaga, mengapa kau begitu kejam?" katanya, air mukanya tersenyum menggiurkan.

Sun Cu Hoa tidak menghiraukan aksinya si genit, ia melancarkan serangan bertubi-tubi. Ia sudah nekat, segala kepandaiannya yang didapatkan dari suhunya telah ia keluarkan.

Tapi, betapapun hebat serangannya, Leng Lie tidak pernah balas menyerang.

Dengan gerak badannya yang lincah, ia berkelebatan diantara sinar pedang Sun Cu Hoa, kadang-kadang menowel pipi dan mulut Sun Cu Hoa dan mengeluarkan kata-kata nakal, sehingga Sun Cu Hoa cuma bisa kertak gigi saja saking sengitnya. Dilain pihak, pertempuran antara Siao Pek Sin dengan Kim Coa Nio-nio, baru sepuluh jurus lebih Siao Pek Sin sudah berada di atas angin. Tapi ia tetap tidak berani mendekati Kim Coa Nio- nio, karena ia tahu benar bahwa nenek itu masih mempunyai senjata yang lihai, yaitu ular emasnya yang kini masih belum dikeluarkan!

Oleh karenanya, setelah lewat sepuluh jurus, pertempuran masih kelihatan seimbang.

Selagi pertempuran berjalan dengan serunya, diudara tiba-tiba terdengar suara pekikan aneh, sungguh tidak enak didengar.

Suara itu lalu disusul oleh munculnya sinar api berwarna biru, yang melesat ke udara. Diantara gumpalan api warna biru itu, muncul panah tengkorak yang sangat menakutkan.

Cu Su yang melihat hal itu, lantas berseru: "Lekas! Lekas bereskan bocah itu dulu!"

Tepat pada saat itu, Tiong Ciu Khek dan Tok Kai telah menyerbu dengan berbareng. Sedang Kim Coa Nio-nio lantas mundur untuk menghadapi Leng Lie. Itu adalah siasat yang sudah direncanakan sejak semula oleh mereka.

Tapi aneh, ketika Cu Su bertiga menyerbu Siao Pek Sin, Leng Lie nampaknya anggap sepi saja, ia masih tetap menggoda Sun Cu Hoa.

Dengan demikian, sudah tentu Siao Pek Sin yang sendirian menghadapi tiga tokoh ternama itu, baru lima jurus saja ia sudah kecapaian, maka ia lalu berseru pada Leng Lie: "Enci! Enci!

Lekas bantu aku!"

Begitu lengah, lengan bajunya sudah dibuat berlubang oleh ujung pedang Cu Su, untunglah tidak mengenai kulitnya.

Menoleh sajapun tidak, Leng Lie hanya menjawab: "Adik! Dimana senjata pecutmu yang sakti!

Kenapa sayang kau keluarkan?"

Sayang? Apa yang disayang? Darimana Siao Pek Sin bisa keluarkan senjata pecut?

Dalam keadaan gelisah, gerakan Siao Pek Sin semakin ngawur. Tidak lama kemudian tubuhnya sudah terluka ditiga tempat oleh senjata-senjata musuhnya, lengan dan pahanya telah tertikam oleh pedang, sedang bahunya kena dihajar oleh sepatu rumput Tok Kai!

Serangan Tok Kai itu justru yang paling berat, badannya sempoyongan, gerak kakinya sudah kalut, nampaknya sudah akan binasa di bawah pedang-pedang musuhnya!

Khu Leng Lie baru sadar kesalahannya, ia lalu putar tubuhnya hendak memberi pertolongan.

Mendadak ia lihat tongkat emas Kim Coa Nio-nio sudah terbuka kepalanya, dari situ muncullah kepala seekor ular emas, siap sedia hendak menerkam mangsanya.

Melihat ular kecil itu, Leng Lie diam-diam mengeluh, karena ia juga tahu kelihaian ular emas

itu.

Dengan susah payah Siao Pek Sin mempertahankan diri, kembali dua tikaman pedang bersarang ditubuhnya, sehingga tubuhnya sudah berlumuran darah. Dalam keadaan putus asa, ia sudah hendak mengambil keputusan nekad, ia hendak menggorok lehernya sendiri! Tiba-tiba terdengar suara ketawa dingin yang disusul dengan perkataan yang seram: "Sungguh besar nyalinya kawanan anjing ini, semua berhenti!"

Suara itu datangnya seperti dari udara, tapi siapapun yang mendengarnya, telinga lantas merasa berdengung, bahkan agaknya mengandung wibawa yang begitu besar, sehingga tanpa diminta untuk kedua kalinya, orang-orang yang sedang bertempur itu lantas hentikan pertempuran.

Siao Pek Sin yang sedang angkat pedang untuk menggorok lehernya sendiri, segera urungkan maksudnya. Dengan demikian, suara itu berarti telah menolong jiwa Siao Pek Sin.

Ia lalu menengok ke arah datangnya suara tadi, di suatu tempat kira-kira tujuh sampai delapan tombak jauhnya, berdiri seorang tua tinggi kurus dengan jenggotnya yang putih bermain ditiup angin, tangannya memegang gendewa panjang, pada punggungnya tergantung sekantong anak panah, sedang di pinggangnnya tergantung serenceng kepala tengkorak manusia!

Ketika masih di Pek Liong Po, Siao Pek Sin sudah bertemu dengan orang tua aneh ini, ia adalah Kouw Low Sin Ciam. Menyaksikan kedatangan orang tua itu, dalam hatinya semakin kaget, ia lalu dapat firasat bahwa jiwanya hari ini tidak akan tertolong lagi.

Bukan cuma Siao Pek Sin saja yang terkejut, pihak Cu Su dan yang lainnya juga pada mengeluarkan keringat dingin, karena setan tua ini benar-benar merupakan Kun Si Mo Ong atau Malaikat Maut yang bisa membunuh korbannya tanpa berkedip.

Di luar dugaan, di wajah Kouw Low Sin Ciam yang pucat, saat itu tiba-tiba kelihatan senyumannya, sambil tudingkan jarinya kepada Siao Pek Sin, ia berkata: "Tak disangka kau juga di sini. Mari, mari!"

Mendengar itu, Siao Pek Sin lantas terbang semangatnya. Ia mengawasi dengan mata terbelalak lebar, tapi kakinya seperti diikat dengan rantai besi, tidak bisa digerakkan.

Melihat Siao Pek Sin tidak bisa bergerak, Kouw Low Sin Ciam lantas berkata pula:

"Kau terluka? Tidak masalah. Aku di sini ada obatnya, tanggung bisa sembuh dengan cepat. Beberapa hari berselang kau telah memberikan jalan hidup padaku, maka hari ini bukan saja aku akan ampuni jiwamu, bahkan hendak memberi bantuan padamu?"

Ini benar-benar merupakan suatu kejutan! Kouw Low Sin Ciam yang biasanya tukang membunuh manusia, kini ternyata timbul sifat welas asihnya dan mengeluarkan perkataan membantu.

Siao Pek Sin benar-benar tidak menyangka akan terjadi keanehan ini, jiwanya yang tadinya sudah dibayangkan akan pindah ke akhirat, siapa sangka akan ditolong oleh setan tua itu, karena dikiranya ia adalah Kim Houw yang pernah melepas budi.

Siao Pek Sin sebetulnya masih belum percaya kebenarannya, tapi dalam keadaan dirinya seperti sekarang, ia sudah tidak perdulikan lagi benar tidaknya, coba saja dulu. Maka dengan menyeret kakinya yang luka, ia menghampiri Kouw Low Sin Ciam.

Benar saja, Kouw Low Sin Ciam lantas mengeluarkan sebuah botol yang didalamnya berisi obat bubuk, lalu ditaburkan pada luka Siao Pek Sin. Darahnya lantas berhenti, rasa nyerinya pun lenyap seketika.

Pada saat itu, Leng Lie tiba-tiba berseru: "Adik! Mengapa kau berubah begitu tidak berguna?

Kau." Kala itu bagi Siao Pek Sin yang penting adalah menyelamatkan jiwanya, buat apa meladeni segala Khu Leng Lie?

Menyaksikan keadaan demikian, Khu Leng Lie sangat gelisah. Karena ia kuatir akan terjatuh lagi ke tangan Kouw Low Sin Ciam yang sangat ia benci, maka lantas menggunakan kesempatan selagi Kouw Low Sin Ciam lengah, ia lalu kerahkan kepandaian mengentengkan tubuhnya, kabur dengan segera!

Kouw Low Sin Ciam mana mau melepaskannya begitu saja, ia juga lantas tinggalkan Siao Pek Sin dan mengejar Leng Lie.

Siao Pek Sin kaget, ia lantas berseru: "Locianpwe tunggu aku!"

Tanpa perduli akan ditertawakan oleh musuh-musuhnya, ia juga lantas kabur!

Peng Peng dan Sun Cu Hoa coba merintangi, tapi mereka bukan tandingan Siao Pek Sin, dengan sekali hentak, tubuh Peng Peng sudah terbang setombak lebih jauhnya, sedang pedang ditangan Sun Cu Hoa, juga hampir saja terlepas dari tangannya.

Apa sebab Cu Su bertiga tidak turun tangan merintangi kaburnya Siao Pek Sin? Sebab Kouw Low Sin Ciam baru saja kabur mengejar Leng Lie, sedang berlalunya setan tua itu justru yang diharapkan oleh mereka, jika Siao Pek Sin tertahan, mungkin ia akan balik kembali. Maka lebih baik membiarkan mereka berlalu.

Dan merekapun tidak tahu urusan Kouw Low Sin Ciam dengan Khu Leng Lie.

Mendadak si Imam palsu lari keluar dari dalam seraya berseru: "Sekarang bagaimana baiknya? melihat gelagat, seharusnya kita menyingkir. Si tua bangkotan Kouw Low Sin Ciam sebaiknya kita jauhi. Kalau saja Kim Houw bisa mendusin pada saatnya, kita tak perlu takut lagi, tapi kini."

Si pengemis tua Tok Kai tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

"Sungguh tidak disangka sebagai ketua gereja Han Pek Cin Koan nyalimu begitu kecil. Kalau kau hendak pergi, pergilah saja! Biarlah aku yang berdiam di sini menunggu kuil dan melindungi Kim siauhiap sehingga sembuh!"

Si Imam palsu melihat Tok Kai mentertawakannya sebagai pengecut, ia lantas gusar: "Pengemis busuk kau tahu apa? Kalau bukan karena keselamatan Kim Houw, aku malah tak kepikiran untuk berlalu! Ini cuma siasat, kalau kita pergi, mereka tentu tidak tahu kalau didalam kuil ini masih ada orangnya!" katanya sengit.

"Perbuatanmu ini bukankah sama saja artinya dengan takut mati? Kim siauhiap tersembunyi di kamar rahasia, adanya kita atau tidak, mereka tidak ada hubungannya. Kalau memang harus mati biarlah mati secara gagah, apa yang harus ditakuti? Bukankah itu nanti menjadi bahan tertawaan orang? Sebagai tokoh-tokoh terkemuka dari kalangan kangouw, masa kabur terhadap satu orang saja?" Tok Kai mengejek.

Imam palsu makin gusar, tapi kemudian berpikir lagi bahwa perkataan Tok Kai itu memang ada benarnya. Yang lainnya toh pada diam, buat apa ia ngotot sendiri? maka ia lalu berkata kepada Tok Kai, sambil tertawa: "Bukannya aku si Imam palsu sayang jiwa, sebab jiwaku merupakan jiwa yang sudah mati namun hidup kembali. Jika tidak ada Kim Houw yang menyingkirkan kalajengking beracun dan menemukan gambar patkwa, jiwaku ini barangkali saat ini masih ketinggalan di Istana Kumala Putih di gunung Tiang Pek San! Dan sekarang untuk Kim Houw, mengapa aku takut urusan? Kau tidak tahu bahwa kamar rahasia ini, bukan saja sangat rahasia, tapi juga mempunyai jalan tembus ke berbagai jurusan. Apa kau tidak merasakan hawa kering dalam kamar ini? Segala rupa suara yang timbul di luar atau didalam kuil, dapat didengar dengan jelas dari dalam kamar.

Jika sampai terjadi apa-apa, buat kita yang sudah lanjut usia tidak menjadi soal dan kematian tidak perlu dibuat sibuk. Tapi jika sampai mengganggu Kim Lo Han dan Kim Houw yang berada didalam kamar, kau pikir apa akibatnya?"

Tok Kai yang ngotot tadi, karena ia tidak tahu keadaan kamar tersebut.

"Untuk pergi dari sini rasanya tidak mungkin." Cu Su turut bicara. "Sebab begitu kita berlalu, jika setan tua itu mengetahui di sini ada orang, dengan sebatang anak panah yang berapi, kuil ini sebentar saja akan jadi abu. Soal jadi abunya kuil ini, mungkin perkara kecil, tapi bagaimana bagi Kim siauhiap dan Kim Lo Han? Cuma tiga anak muda ini, benar-benar segera disembunyikan, supaya mereka tidak sampai menjadi korban."

Dengan keterangannya Cu Su itu, agaknya sudah merupakan suatu keputusan.

Si Imam palsu sudah tentu mengetahui dengan baik keadaan tempat itu, maka ia yang mendapat tugas untuk mengantar ketiga anak muda itu ke suatu lembah yang sangat tersembunyi.

Pada saat si Imam palsu baru berangkat dari atas puncak, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri. Orang-orang yang di luar kuil masih belum sempat bergerak, dari dalam kuil mendadak melesat keluar sesosok bayangan merah, dengan kecepatan yang sangat luar biasa, lari ke puncak bagaikan terbang.

Bayangan merah itu sudah tentu si Kacung baju merah. Sebentar saja ia sudah berada di puncak.

"Aiya! Lekas kemari! Lihat ini, Thian Mo Siok Hun Leng!" seru si Kacung baju merah.

Thian Mo Siok Hun Leng? Semua orang pada terkejut, dengan serentak mereka pada lompat melesat ke puncak gunung!

Di tanah yang agak datar di puncak itu, tampak rebah lima mayat orang laki-laki. Dari dandanannya, mereka adalah orang-orang Pek Liong Po.

Si Kacung baju merah kenal baik kelima mayat itu, karena mereka adalah tokoh-tokoh terkuat Pek Liong Po dan masih terhitung paman Siao Pek Sin. Mereka rebah tanpa bergerak, mereka rupanya sudah putus jiwanya.

Apa yang mengherankan adalah pada tubuh kelima orang itu tidak terdapat tanda-tanda luka, hanya pada pelipis setiap orang, menancap semacam plat warna merah yang berukuran kira-kira satu cun panjangnya dan satu jari lebarnya.

Dari salah satu badan mayat itu, si Kacung baju merah mencabut sebuah dan diletakkan di atas telapak tangannya sendiri, plat yang berwarna merah darah itu bentuknya tipis seperti kertas, entah terbuat dari bahan apa. Dibagian muka terukir lima kata THIAN MO SIOK HUN LENG, dibaliknya terukir seekor binatang yang aneh bentuknya seperti lutung tapi bukan lutung, seperti macan tapi juga bukan macan.

Orang-orang yang menyaksikan senjata aneh itu, benar-benar merasa kaget. Adalah Cu Su yang pertama buka suara: "Apakah akan timbul malapetaka di rimba persilatan? Iblis-iblis yang sudah beberapa puluh tahun tidak kedengaran namanya, kini muncul lagi kedunia satu persatu! Sungguh sukar dimengerti!"

Semua orang mengawasinya. Cu Su lalu menuturkan suatu riwayat yang menarik. "Tiga puluh tahun yang lalu," ia mulai bercerita, "Ketika Lo Pangcu partai kami masih hidup pernah membicarakan sekawanan iblis itu. Beliau pernah mengatakan, berhubung tidak ada kabar tentang kematian iblis-iblis itu, ia kuatir setelah ia binasa, tidak ada orang yang mampu mengendalikan mereka! Entah bagaimana, perkataan ini telah tersiar keluar dan dalam waktu hanya setengah tahun saja, orang-orang diluaran sudah tahu semua!

Pada perayaan hari ulang tahun ke75 dari Lo Pangcu, diantara barang antaran terdapat sebuah kotak yang aneh bentuknya. Kotak itu tidak besar, tapi bagus bentuknya. Apa isinya, tidak ada seorangpun yang tahu. Sedang di atas buku barang antaran juga tidak terdapat catatannya. Orang yang ditugaskan mengurus penerimaan barang hadiah tidak berani berlaku gegabah, buru- buru telah disampaikan kotak aneh tersebut kepada Lo Pangcu!

Pada saat itu Lo Pangcu sedang bicara dengan sahabat karibnya, entah karena asyiknya beliau tidak perhatikan laporan orang yang menyampaikan kado aneh tersebut, dan sembarangan dibuka saja di hadapan banyak orang.

"Begitu kotak terbuka, Lo Pangcu kagetnya bukan main. Apa isinya? Coba kalian tebak?

Ternyata itu adalah potongan telapak tangan yang sudah kering. Telapak tangan itu bentuknya besar sekali bahkan jarinya ada enam. Kami ketahui ini dari orang-orang yang saat itu turut menyaksikan dibukanya kotak tersebut.

Lo Pangcu begitu membuka lantas buru-buru menutup lagi, matanya lalu melirik sebentar kepada orang yang mengurus penerimaan barang antaran. Untung orang itu sudah mengikutinya lebih dari empat puluh tahun lamanya, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.

Tapi orang itu begitu dipandang oleh Lo Pangcu, badannya lantas menggigil seperti orang sakit demam. Sebabnya ialah, dari sorot mata Lo Pangcu dia sudah mengetahui urusan itu sangat runyam, maka lantas ia buru-buru berlutut.

Lo Pangcu menekan kotak itu dengan kedua tangannya, lantas berkata soal ini aku tidak menyalahkan kau, karena tidak ada hubungannya dengan mu! Aku tidak salahkan kau. Lo Pangcu lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata sendirian: Liok Cie Thian Mo (Malaikat Jari Enam) buat apa kau harus membuang banyak waktu dan pikiran, menghadiahkan potongan tangan....

Lo Pangcu justru dalam ketawanya yang tergelak-gelak itu telah putus jiwanya!

Kalau kedatangan tangan itu aneh, kematian Lo Pangcu lebih aneh lagi. Ketika kotak itu ditekan dengan perlahan oleh Lo pangcu, bukan saja sudah tidak bisa dibuka, bahkan sepasang tangan Lo Pangcu juga melesak ke dalam kotak tersebut dan tidak bisa ditarik keluar. Maka, kotak aneh itu lantas dikubur bersama-sama dengan jenazah Lo Pangcu. Rahasia itu juga ikut terkubur untuk selama-lamanya!

Tidak sangka hari ini, tiga puluh tahun kemudian, si Malaikat jari enam itu telah muncul kembali lagi ke dunia persilatan. Dulu oleh karena keganasannya, kejahatan dan kekejamannya si Malaikat jari enam itu tidak disukai oleh orang-orang dari golongan baik-baik. Tidak nyana dia muncul lagi untuk kedua kalinya, dan masih tetap kejam dan ganas, benar-benar sukar dipercaya. Kala itu dia menghadiahkan potongan tangan kepada Lo Pangcu, entah apa maksudnya? Apakah dia minta Lo Pangcu supaya lekas binasa?

Tapi mengapa setelah Lo Pangcu binasa dia harus menunggu sampai dua puluh tahun, baru muncul lagi?" demikian Cu Su menutup penuturannya. Dengan penuturannya ini, maksud Cu Su hendak memberitahukan kepada kawan-kawannya, bahwa senjata Thian Mo Siok Hun Leng itu adalah kepunyaan si Malaikat jari enam, dan termasuk golongan yang lebih tua setingkat dari mereka!

Semua orang yang berada di situ, sedikit banyak sudah pernah mendengar tentang malaikat jari enam itu. Kalau tidak, tidak nanti si Kacung baju merah sampai begitu kagetnya, begitu pula dengan yang lainnya.

Sehabis mendengarkan cerita Cu Su, semua orang masih berdiri terkesima, entah kuatir , takut atau apa lagi! Pendeknya semua orang tidak ada yang menunjukkan reaksi lainnya.

Lewat sejenak, tiba-tiba terdengar suara tertawa ringan, semua orang terperanjat. Karena dalam keadaan demikian, sedikit suara saja sudah cukup mengejutkan hati mereka! Ketika mereka berpaling, lantas terdengar suara si Kacung baju merah: "Kiesu busuk, kau lagi bikin apa?

Mengapa selama lima hari tidak kelihatan batang hidungmu?"

Menyusul ucapan si Kacung baju merah, dari belakang sebuah pohon besar lantas muncul seorang yang pendek kecil dengan wajah yang berseri-seri, ia adalah Lato Kiesu.

"Bocah baju merah, bikin bersih mulutmu itu? Di hadapan begini banyak sahabat, kau harus berikan sedikit muka pada aku orang tua!" jawabnya.

Kecuali Kim Coa Nio-nio dan si Kacung baju merah yang sudah dikenal baik oleh Lato Kiesu, yang lainnya ia belum pernah bertemu muka! Maka si Kacung baju merah lantas sibuk memperkenalkan mereka satu persatu.

Cu Su sekalian tercengang, ketika diberitahu bahwa orang tua itu adalah Lato Kiesu yang namanya terkenal di Kwan Gwa dan Tionggoan. Tercengang, karena orang yang sudah terkenal namanya itu, ternyata hanya seorang tua yang bentuknya pendek.

Melihat kedatangan Lato Kiesu, Kim Coa Nio-nio lantas berkata dengan girang :" Hai!

Mengapa tadi kita lupakan dia? Ada dia, ditambah lagi dengan kekuatan kita semua, kita tidak perlu takuti lagi Kouw Low Sin Ciam. Hai! Lato."

Sambil tersenyum Lato Kiesu memotong pembicaraan Kim Coa Nio-nio: "Nio-nio! Kau jangan terlalu menjunjung tinggi orang saja, apa kau sudah lupa? Didalam Istana Kumala Putih, di rimba keramat kita sudah terkurung empat puluh tahun lamanya, tulang-tulang tuaku rasanya sudah lama remuk, bagaimana berani mengadu tenaga lagi?"

"Diam!" Kim Coa Nio-nio membentak, "Jangan kau main enak-enakan saja. didalam Istana Kumala Putih siapa yang tidak tahu kepandaian silatmu termasuk yang nomor satu? Meskipun dikala itu kau sudah tawar hatimu, sehingga agak melalaikan pelajaranmu, namun apakah mungkin sudah terlupakan semuanya?"

Kembali Lato Kiesu memotong: "Nio-nio, kau jangan cemas dulu. Selama lima hari ini, aku bukan bersembunyi karena takut, lihat ini apa?" sembari dari sakunya ia mengeluarkan sebuah benda, lalu diletakkan di telapak tangannya.

Ketika semua orang pada maju melihat ternyata itu adalah sebuah senjata Thian Mo Siok Hun Leng.

Si Kacung baju merah mengira ia tidak tahu, juga membuka tangannya, menunjukkan benda yang serupa, bahkan dilemparkannya ke udara untuk dibuat mainan baru berkata : "Apa yang dibuat heran? Di sini aku juga punya!"

"Bocah baju merah, kau jangan terburu nafsu. Tunggu aku nanti ceritakan perlahan-lahan. lima hari berselang, ketika aku meninggalkan kalian, begitu keluar dari gunung, lantas berpapasan dengan si tua bangkotan itu. Semula aku tidak kenal padanya, tapi dari ilmu lari pesatnya yang luar biasa, aku bisa menduga ia bukan orang sembarangan, maka aku lantas tidak berani unjukkan diri! Siapa kira didalam gunung yang sepi ini, ia telah berputaran tiga hari tiga malam lamanya, agaknya sedang mencari sesuatu.

Dengan demikian aku lantas berada dalam kesulitan yang sangat hebat. Disatu pihak aku harus mengamati orang, dilain pihak harus berjaga jangan sampai jejakku diketahui olehnya. Ketika menyaksikan dia sedang makan, perutku lantas keruyukan. Penderitaan semacam ini sungguh tidak enak sekali."

Kim Coa Nio-nio agaknya sudah tidak sabaran, ia berkata berulang-ulang :" Bohong, bohong" "Nio-nio, kau jangan mengganggu dulu, sekarang dengarlah aku akan mulai menceritakan hal-

hal yang mendebarkan hati. Tadi malam, selagi aku mengawasi gerak gerik malaikat jari enam itu,

di belakangku ada orang yang mengintai. Sungguh celaka, mungkin karena lalai, sedikit suara saja sudah diketahui oleh si Malaikat jari enam, maka dia lantas lompat menerjang. Bagiku sungguh mengenaskan, karena di depan dan di belakang semuanya terdapat musuh yang menunggu.

Siapa di depan aku sudah tahu, tapi siapa yang di belakang aku tidak tahu.

Namun si Malaikat jari enam ini saja, aku sudah merasa jeri menghadapinya! Untung Tuhan masih melindungi jiwaku, pohon besar di sampingku ternyata terdapat sebuah lubang besar, maka aku bisa masuk yang mungkin bagi orang lain tidak ada gunanya!

Ketika si Malaikat jari enam tidak melihat bayangan orang yang ditubruk, ia sendiri juga terkesima dan tiba-tiba diangkasa yang gelap itu tampak sinar biru, aku baru tahu kiranya dia Kouw Low Sin Ciam, si setan tua itu juga rupanya muncul di situ.

Si Malaikat jari enam begitu melihat tanda api Kouw Low Sin Ciam, rupa-rupanya juga kaget, lalu ia lontarkan senjatanya yang bersinar merah, senjata itu adalah benda ini.

Selanjutnya kedua orang itu tanpa bertemu muka, mungkin satu sama lain merasa jeri, mereka hanya berbicara dari jarak jauh.

Dari pembicaraan mereka, aku dapat tahu bahwa mereka berjanji hendak bertempur.

Pertempuran itu dilakukan tiga kali, untuk memutuskan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Yang menang boleh menjagoi daerah Kanglam dan Kangpak, sedang yang kalah harus keluar daerah.

Siapa kira bahwa tempat untuk pertempuran yang dipilih adalah kuil Han Pek Cin Koan ini. aku benar-benar hampir lompat, dan setelah mereka berlalu, aku segera lari pulang untuk melaporkan hal ini. Namun beberapa malam aku lari, masih tetap di belakang malaikat jari enam itu. Hingga aku dapat menyaksikan bagaimana dia membinasakan lima orang golongan tua dari Pek Liong Po, yang dilakukan dengan demikian mudahnya.

Sekarang, sebaiknya kita menyingkir dulu tengah hari nanti, kedua iblis itu segera datang. Saat itu, bila mereka tidak senang, mungkin kita akan dibuat sasaran dulu. Pihak kita sekalipun ditambah lagi dua atau tiga Lato, juga tidak ada gunanya!"

Tiong Ciu Khek yang paling memperhatikan nasib Kim Houw, lantas bertanya: "Kalau begitu, bagaimana dengan Kim Houw dan Kim Lo Han yang berada di kamar rahasia? Bagaimana dengan makan dan minum mereka?" "Touw lauko, masalah ini tak perlu bingung, berikan saja persediaan yang lebih banyak pada mereka, sudah cukup! Biarlah aku yang urus!" kata si Kacung baju merah.

Belum sampai ia angkat kaki, dari jauh kelihatan si Imam palsu dengan badan berlumuran darah berjalan sempoyongan!

Semua orang yang melihat keadaan si Imam palsu itu terkejut semuanya dan lari menyambut. Diantara mereka adalah Tiong Ciu Khek, Cu Su dan Tok Kai yang paling cemas, sebab si

Imam palsu tadi bertugas mengantarkan Peng Peng, Sun Cu Hoa dan si botak bertiga ke lembah

untuk bersembunyi.

Sun Cu Hoa satu-satunya keturunan keluarga Sun yang masih hidup. Cu Su yang berkewajiban melindunginya, bagaimana ia tidak cemas?

Si botak meski wajahnya jelek, tapi hatinya jujur, Tok Kai selama ini berada bersama-sama dengannya cukup lama dan sangat sayang padanya. Terutama bagi Tan Eng, si gemuk, yang sudah anggap si botak sebagai anak sendiri, jika terjadi apa-apa pada diri anak itu, bagaimana Tok Kai harus menemui Tan Eng nanti?

Tiong Ciu Khek tidak usah dikatakan lagi. Peng Peng adalah cucu satu-satunya yang baru saja lolos dari bahaya maut, ia berharap setelah Kim Houw sembuh dari penyakitnya, ada yang melindungi dirinya, sehingga pasti dapat menjalani kehidupan yang penuh bahagia.

Siapa kira, hari-hari tenang itu ternyata cuma lewat beberapa hari saja, dan sekarang entah bahaya apa yang harus dihadapinya lagi! Jika itu benar-benar merupakan bahaya, ah! Tiong Ciu Khek tidak berani membayangkan apa akibatnya.

Tidak lama kemudian, semua orang sudah tiba di depan si Imam palsu, si Kacung baju merah dan Lato Kiesu, dengan menggunakan kekuatan lweekangnya, telah membantu menyadarkan si Imam palsu, sehingga tak lama kemudian dia mulai siuman. Ia melihat banyak mata yang sedang mengawasinya, sebetulnya ia sudah tidak ingat apa yang telah terjadi, ketika matanya melihat Tiong Ciu Khek, ia lantas berseru :" Touw Lauko! dia.......dia."

Dia! Kenapa? Si Imam palsu belum sempat menjelaskan, sudah menjerit pingsan lagi. Pada saat itu, awan gelap mulai menutupi langit, suara guntur sebentar-sebentar terdengar,

menjadi tanda bahwa hujan lebat akan segera turun.

Si Imam palsu yang terus diobati oleh Lato Kiesu tiga kali telah mendusin, dengan suara lemah ia berkata pada Tiong Ciu Khek: "Touw lauko, maafkan.aku, Kee Tojin karena kelalaiannya,

telah terjatuh ke tangan musuh, sehingga nona Peng Peng, Sun Cu Hoa dan si botak."

Semua orang tahan napas, mendengarkan. Mereka menantikan penuturan selanjutnya, bagaimana sebetulnya nasib ketiga bocah itu.

Namun, si Imam palsu itu agaknya sengaja membingungkan duduk perkaranya, selagi bicara dengan Tiong Ciu Khek, mendadak ia berpaling pada Cu Su dan Tok Kai: "Jiwi, aku minta supaya jiwi juga maafkan aku. Ini adalah salahku, semua salahku, karena kelalaianku, telah terjatuh ke tangan musuh. Aku......aku." mendadak ia berhenti lagi.

Tiong Ciu Khek sudah tidak sabar lagi. "Imam busuk!" serunya, "Kenapa kau tidak lantas bicara yang jelas? Bagaimana sebetulnya nasib ke tiganya?"

Tiong Ciu Khek yang sudah risau hatinya, tidak bisa mengendalikan perkataannya lagi, orang yang sudah hampir mati, masih dimaki-maki, sungguh keterlaluan!

Lato Kiesu matanya melotot, dalam hati menegur: apa kau tidak lihat keadaannya yang sudah begitu rupa?

Mendadak geledek menyambar, dibarengi dengan angin yang meniup santer, lalu disusul oleh turunnya hujan yang amat lebat.

Si Imam palsu yang terluka parah dan banyak mengucurkan darah, mulutnya dirasakan kering. Begitu tersiram air hujan, ia lalu buka mulutnya lebar-lebar, agaknya merasa girang dapat minum air hujan yang sejuk.

Si Kacung baju merah yang menyaksikan itu, buru-buru pondong diri si Imam palsu, hendak dibawa lari ke dalam kuil Han Pek Cin Koan.

Kelakuan si Kacung baju merah karena mengingat sebuah pantangan, bahwa seseorang yang terluka parah dan habis mengucurkan banyak darah, tidak boleh terkena air hujan, terlebih-lebih minum air hujan. Karena begitu minum darah segar akan mengalir kebagian jantung, hingga membahayakan jiwanya.

Tapi, sebelum si Kacung baju merah bertindak, sudah dicegah oleh Lato Kiesu.

"Jangan! Sekarang sudah tengah hari, kedua iblis tua itu sebentar lagi datang, sebaiknya kita mencari tempat yang lain untuk berteduh.

Si Imam palsu yang nampaknya agak sadar, mengacungkan tangannya menuding ke belakang gunung. Tidak perlu penjelasan lagi, semua orang sudah tahu apa yang dimaksudkannya. Maka mereka lantas pada lari ke jurusan yang ditunjuk.

Hujan ternyata sangat lebat, geledek dan kilat menyambar-nyambar tidak henti-hentinya.

Setelah mereka tiba di belakang gunung, benar saja mereka menemukan sebuah gua yang cukup untuk mereka berteduh.

Cuma, setiba mereka didalam gua, pakaiannya sudah pada basah kuyup, seperti ayam kecemplung dalam sumur.

Sudah tentu, si Imam palsu juga tidak terkecuali. Dengan demikian, si Imam palsu habis tertimpa hujan, keadaannya makin berat, ia terus tidak sadarkan diri.

Semua usaha Lato Kiesu sia-sia, hingga semua orang pada kebingungan, dan semakin cemas.

Tiong Ciu Khek orang yang pertama lompat keluar gua, tanpa menghiraukan hujan yang lebat, ia hendak mencari dimana letak lembah tersembunyi itu, untuk mencari cucunya Touw peng Peng.

Cu Su dan Tok kai ketka melihat Tiong Ciu khek berlalu, mereka saling pandang. Cu Su lalu berkata kepada mereka yang ada di situ: "Cuwi, Tiong Ciu Khek kali ini pergi, apa maksudnya, tidak perlu aku jelaskan. Sekarang, kami berdua juga hendak mencari berpencar. Secepat- cepatnya hanya satu hari, selambat-lambatnya tiga hari, pasti kami akan balik berkumpul di Han Pek Cin Koan." Sehabis berkata, tanpa menanti jawaban mereka, bersama Tok Kai ia lantas keluar gua.

Pada saat itu , didalam gua itu hanya tinggal Lato Kiesu, si Kacung baju merah, Kim Coa Nio- nio dan si Imam palsu yang terluka. Empat orang itu pernah bersama terkurung didalam Istana Kumala putih dan bersama-sama pula keluarnya. Diantara mereka, sudah tentu mempunyai tali persahabatan yang lebih erat.

Selagi Lato Kiesu membalut luka-luka si Imam palsu, si Kacung baju merah tiba-tiba bangkit dan berkata :" Yah, aku harus segera ke Han Pek Cin Koan, untuk mengantar makanan kepada Kim Lo Han, lewat sebentar lagi mungkin sudah terlambat. Jika kedua iblis tua itu adu jiwa sampai tiga empat hari, bagaimana nanti dengan Kim Lo Han?"

Lato Kiesu mendongak dan mengawasi si Kacung baju merah sejenak. "Mungkin sudah terlambat." katanya.

"Terlambat juga harus pergi, kita toh tidak bisa membiarkan mereka menderita kelaparan, kalau sebab itu saja Kim siauhiap tambah hebat penyakitnya, bukankah lebih celaka lagi?" nyeletuk Kim Coa Nio-nio.

"Sudah tentu pergi, apa kau kira aku si Kacung baju merah seorang yang takut mati?" sahutnya, yang lantas meninggalkan gua itu. Sudah jauh si Kacung baju merah berlalu masih terdengar suara Kim Coa Nio-nio yang memesan padanya supaya berlaku hati-hati.

Kala itu meski masih tengah hari, oleh karena awan gelap dan hujan lebat, keadaannya sangat gelap. Si Kacung baju merah yang menempuh hujan mendaki puncak gunung dalam keadaan demikian, ia tak dapat melihat dengan tegas keadaan Han Pek Cin Koan.

Mendadak ia dengar suara pekikan aneh yang dibarengi dengan munculnya api warna biru melesat ke tengah udara. Dalam keadaan hujan lebat seperti itu, ia heran, api warna biru itu tidak terpengaruh oleh hujan, bahkan makin terang nyalanya.

Selanjutnya, tidak jauh dari munculnya api warna biru tadi, kembali terlihat warna merah melesat ke udara. Sinar merah itu lebih cepat melesatnya daripada api biru tadi.

Si Kacung baju merah yang menyaksikan keadaan demikian diam-diam mengeluh, sebab benar-benar sudah terlambat sedetik saja, namun ia masih mendaki puncak gunung, sedikitpun tidak merasa takut, baiknya bajunya yang berwarna merah menyolok itu juga tidak dilepas.

Selagi ia bergerak maju, tiba-tiba terdengar suara ledakan hebat, seperti ada apa-apa yang rubuh. Si Kacung baju merah terkejut, lantas percepat tindakannya.

Suara ledakan tadi disusul oleh suara ledakan yang lain, begitu pula suara rubuhnya dinding, telah kedengaran sangat nyata. Si Kacung baju merah makin terkejut, sebab suara itu datangnya dari arah Han Pek Cin Koan.

Pada saat itu, mendadak ia melihat berkelebatnya bayangan orang, sebentar kemudian si orang sudah berada di depannya. Si Kacung baju merah terperanjat, ia mengira bahwa orang yang menghadangnya itu adalah salah satu dari iblis tua itu.

Ternyata, setelah ia tegasi, hatinya lantas merasa lega. Orang itu ternyata Siao Pek Sin. "Cek-ie ya, kau hendak terjun ke bawah. Apakah hendak cari mampus? Apa kau tidak tahu lihainya dua iblis tua itu, apa kau kira mampu campur tangan?" berkata Siao Pek Sin sambil tertawa menyindir.

Si Kacung baju merah setelah agak tenang, tiba-tiba mendapat satu akal, maka lalu menjawab: "Siao Pek Sin, perbuatanmu ini bukan untuk keperluanku sendiri, tahukah kau, bahwa adikmu Pek Leng ji terkurung dalam kuil Han Pek Cin Koan? Kalau kita tidak berusaha menolong jiwanya."

"Percuma saja kau berusaha!" memotong Siao Pek Sin, "Dalam kuil Han Pek Cin Koan sudah tidak kelihatan satu setanpun juga. Tapi aku juga tidak tahu apa yang terkandung dalam hatimu, belum tentu aku akan mencegah perbuatanmu ini, kalau kau berani, pergilah sendiri!"

"Tidak, sedikitpun aku tidak berbohong! Peng Leng ji benar telah terkurung dalam salah satu kamar rahasia dalam kuil Han Pek Cin Koan, jika kuil itu rubuh, tidak nanti ia bisa hidup. Kalau kau masih mau mengakui dia saudaramu, seharusnya kau pergi untuk menolongnya!"

"Menolongnya? Kau mimpi! Aku sekarang sudah tidak memerlukan dia lagi, jika ia mati itu lebih baik, supaya aku tidak usah memikirkannya tiap hari!"

Mendengar jawaban itu, si Kacung baju merah gusar dan dengan gemas memaki: "Kiranya kau seorang manusia berhati binatang. Orang semacam kau masih berani mengangkat diri menjadi Tiancu dari Istana Kumala Putih? Sekalipun ada malaikat yang membantu, kau juga tidak akan berumur panjang!"

Siao Pek Sin hanya ganda tertawa, agaknya ia tidak kenal apa artinya malu.

"Kau ternyata seorang yang tidak berbudi. Dengan maksud baik aku mencegah kau, kau masih tidak mau terima, bahkan balas dengan makian. Kalau kau mau antar jiwa, pergilah! Aku tidak punya tempo untuk mengobrol dengan kau!"

Si Kacung baju merah gusar dan memaki Siao Pek Sin, sebetulnya sudah siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan, sebab dia tahu benar adat Siao Pek Sin sangat kejam dan ganas. Siapa kira, hari itu Siao Pek Sin ternyata tidak seperti biasanya. Ia tidak mau meladeni si Kacung baju merah, malah berlalu meninggalkannya.

Si Kacung baju merah dalam hati diam-diam merasa heran, ia masih belum tahu bahwa Siao Pek Sin pagi tadi terluka parah, tenaganya banyak kehilangan hingga tidak berani sembarangan mencari setori.

Si Kacung baju merah masih menganggap anak muda itu sangat licik, karena tahu benar di sana ada dua iblis tua, kalau kesana pasti banyak bahayanya, maka ia sengaja memberi kesempatan padanya pergi sendiri.

Memikir demikian, keberaniannya telah lenyap separuh, ia berdiri kesima sekian lama tidak mengambil keputusan.

Hujan angin yang datangnya secara mendadak tadi, berhentinya juga cepat. Sebentar saja, matahari sudah kelihatan pula dari balik awan.

Si Kacung baju merah pentang lebar matanya bahkan pandangannya ke arah Han Pek cin- koan. Tapi apa yang terlihat olehnya? Seketika itu lantas terbang semangatnya. Ternyata kuil Han-pek cin-koan yang sebelum hujan masih berdiri dengan megahnya, kini sesudah berhenti hujan, kuil itu sudah roboh dan rata dengan tanah!

Kuil sudah hancur, bagaimana dengan nasibnya Kim Lo Han dan Kim Houw? Sudah mati tertindih puing atau dapat menyelamatkan diri? Dan kemana perginya kedua iblis yang sedang mengadu kesaktian?

Tanpa banyak pikir lagi, si Kacung Baju merah lantas lari menghampiri reruntuhan Han-pek Cin-koan.

Di antara tumpukan puing, dengan hati khawatir si Kacung baju merah membongkar sana membongkar sini, ternyata tidak menemukan mayat Kim Lo Han dan Kim Houw. Ia mulai merasa lega, sebab mayat tidak diketemukan, orangnya sudah tentu masih hidup!

Tiba-tiba telinganya telah menangkap suara rintihan, suara itu sangat lemah, suatu bukti bahwa orangnya ada terluka parah. Dalam kagetnya, si Kacung baju merah itu lantas lompat ke arah datangnya suara rintihan itu!

Kira-kira sepuluh tumbak lebih jauhnya di belakang kuil, di bawah sebatang pohon besar, si kacung baju merah telah menemukan Kim Lo Han dalam keadaan sangat payah. Bukan main kagetnya.

Sebab Kim Lo Han dalam keadaan terluka keselamatannya Kim Houw merupakan suatu pertanyaan. Tapi, si kacung baju merah sudah tidak punya kesempatan untuk memikirkan soal itu lagi, paling penting ialah menolong dirinya Kim Lo Han lebih dulu.

Ia lantas berjongkok, memeriksa badannya Kim Lo Han. Ternyata pada badan hwesio itu tidak terdapat luka-luka, lalu ia memeriksa urat nadinya, juga tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan terluka didalamnya. Urat nadi itu hanya menunjukkan denyutan lemah, terang kekuatan tenaga lwekang si hwesio sudah habis digunakan. Si kacung baju merah makin cemas, karena itu ada suatu alamat jelek bagi diri Kim Lo Han yang sudah tidak bisa ditolong lagi.

"Lo Han-ya ! Lo Han-ya !" si kacung baju merah coba memanggil.

Kim Lo Han perlahan-lahan membuka matanya, ternyata sudah tidak bersinar lagi, bahkan membuka saja rasanya susah sekali.

"Lo Han-ya, kau kenapa ? Dan bagaimana dengan Kim siauhiap?"

Dengan susah payah Kim Lo Han angkat sebelah tangannya. Ia menunjuk ke bawah puncak gunung nampaknya hendak mengatakan sesuatu, tapi perkataannya kandas di dalam tenggorokannya.

"Dia kenapa ? Apa tidak halangan ?" tanya si kacung baju merah cemas.

Kim Lo Han agaknya ingin memberi keterangan, tapi perkataannya sukar keluar, hanya jari tangannya yang masih tetap menuding.

Si kacung baju merah tidak mengerti maksudnya ia buru-buru menggunakan cara mengurut- urut supaya kawannya itu bisa bicara, tapi baru saja tangannya menyentuh badan Kim Lo Han, hwesio itu keluarkan jeritan yang mengerikan! Si kacung baju merah dengan cepat menarik kembali tangannya dan bertanya: "Lo Han-ya! kau kenapa ? Aku lihat dibadanmu tidak terdapat luka apa-apa..."

Siapa nyana, belum selesai perkataannya tiba-tiba ada sesuatu kekuatan tenaga yang sangat hebat menyerang ke arah dadanya. Si kacung baju merah terperanjat ia tidak berani menyambuti, buru-buru melompat ke samping.

Sebab serangan yang datangnya secara mendadak dan begitu hebat kekuatannya, ia tahu bahwa orang yang menyerang itu bukan orang sembarangan. Ia kuatir orang itu nanti akan mengulang serangannya, maka sebelum kakinya menginjak tanah, kembali ia lompat melesat, untuk menghindarkan serangan selanjutnya.

Siapa nyana, tidak ada serangan susulan, seolah-olah serangan susulan itu telah ditarik kembali. Si kacung baju merah masih tercengang, ketika ia mengawasi si penyerang, ternyata itu adalah Kim Houw. Dalam girangnya, ia lantas berseru: "Kim siauhiap, apa kau sudah sembuh ?"

Orang yang menyerang si kacung baju merah tadi memang betul Kim Houw. Hanya pada saat itu wajahnya pucat pasi, air mata turun deras bagaikan hujan gerimis, terhadap pertanyaan si kacung baju merah seolah-olah ia tidak dengar sama sekali. Sepasang matanya memandang Kim Lo Han dengan tidak berkedip.

Apa sebetulnya yang telah terjadi ?

Ketika Kim Houw dan Kim Lo Han ada dalam kamar rahasia empat hari lamanya, penyakitnya Kim Houw sudah sembuh separuh lebih, waktu Kim Houw sadar juga makin banyak.

Tapi, Kim Lo Han yang selama hari terus menerus menggunakan kekuatan ilmunya Kim-liong Cao-kang untuk menyembuhkan penyakitnya Kim Houw, banyak mengeluarkan kekuatan tenaga lwekangnya, sudah tidak perlu dikatakan lagi. Tapi untuk kepentingan Kim Houw, Kim Lo Han tidak perdulikan keadaannya sendiri, ia berdaya terus untuk menolong Kim Houw!

Hari kelima pagi-pagi, Kim Lo Han yang sedang mengobati Kim Houw, tiba-tiba dengar suara orang-orang yang berada diluar kuil pada berteriak "Thian-mo Siok-kun-leng" yang merupakan tanda khusus akan munculnya si malaikat jari enam atau Liok-ce Thian-mo.

Mendengar akan munculnya lagi itu iblis yang sudah terkenal ganas, Kim Lo Han terperanjat, karena ia sudah pernah mendengar penuturan dari gurunya, tentang kejahatan, kekejaman, kelihaian dan keganasannya Liok-ce Thian-mo dan selagi suhunya masih hidup, pernah ada sedikit ganjalan dengan malaikat jari enam itu. Kini malaikat itu telah muncul lagi di dunia kangouw, entah bahaya apa nanti yang akan menimpa gereja Hoat-kok-sie di gunung Kie-lie-san ?

Karena memikirkan demikian, perasaannya telah terganggu, hingga kedua tangannya meski masih diletakkan di atas pelipis Kim Houw namun sudah lupa menggerakkan !

Entah berapa lama telah lewat, Kim Houw mendadak tersadar dari tidurnya. Ini, sebab suara ketawa si wanita genit, masuk ke dalam telinganya. Suara itu begitu enak kedengarannya, seolah- olah mengandung rayuan asmara, lagi pula seperti dari mulutnya seorang yang sudah dikenal betul, sehingga membangkitkan kesadarannya, maka ia lantas tersadar dari tidurnya.

Hal itu telah mengejutkan Kim Lo Han tapi ia cuma anggap karena kelalaiannya sendiri, sehingga membawa akibat yang kurang baik, maka ia lantas buru-buru mengamat-amati wajahnya Kim Houw.

Ia lihat sepasang mata Kim Houw memandang lurus dengan sinarnya yang tajam, tidak seperti ada tanda-tanda yang kurang baik, maka lalu menanyakan padanya: "Kim Houw kau kenapa ?

Apa ada apa-apa yang kurang beres ? Kau." Belum habis pertanyaannya kembali terdengar ketawa wanita genit itu. Kim Houw lantas menyahut: "Kau dengar.... kau dengar."

Kim Lo Han juga dengar suara ketawa begitu, cuma ia tidak tahu ada hubungannya antara suara ketawa itu dengan Kim Houw hingga mengejutkan anak muda itu begitu rupa.

Belum habis Kim Lo Han berpikir, Kim Houw sudah lompat bangun dan hendak menerjang keluar pintu. Kim Lo Han yang menyaksikan itu bukan main kagetnya. Sebab jika keluar demikian saja, bisa terganggu, soal-soal lainnya atau terlambat waktunya, maka semua usahanya akan tersia-sia saja. Maka ia buru-buru melompat bangun, menjambret lengan Kim Houw!