Istana Kumala Putih Jilid 15

 
Jilid 15

Senjata itu tergenggam, tapi Kim Houw merasa tangannya agak sakit. Ia terperanjat kagum atas yang melancarkan serangan tadi, ini ia juga heran, mengapa orang dalam Pek-liong-po berani melakukan serangan menggelap terhadap dirinya.

Senjata rahasia itu nampaknya bukan senjata rahasia biasa yang terdiri dari besi atau paku. Ia lantas buka tangannya, ternyata cuma sehelai kertas dan sebuah batu kecil saja. Pada kertas itu ada tulisannya yang berbunyi: "Kau sungguhan atau pura-pura? Kalau sungguhan kau diam, tapi kalau pura-pura harus lekas pergi. Dalam segala hal yang paling penting harus berlaku hati-hati."

Kim Houw tidak mengerti apa maksudnya tulisan itu. Apakah sungguh-sungguh ? Atau hanya pura-pura ? Sedikitpun ia tidak mengerti. Ia diam-diam merasa geli atas surat peringatan itu.

Dalam hati kecilnya ia berkata : "Aku harus hati-hati apa ? Sepatutnya yang hati-hati, kau kawanan manusia rendah yang melakukan serangan menggelap !"

Dengan acuh tak acuh Kim Houw merobek-robek surat itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh berkelebatnya satu bayangan merah. Ia ingin mengejar tapi takut dipanggil oleh Peng peng, terpaksa ia urungkan maksudnya.

Tepat pada saat itu, suara orang ketawa terdengar dari sudut lain. Kim Houw berpaling.

Seorang imam miskin dengan tangan kanan memegang potongan daging ayam dan tangan kiri membawa sepoci arak, berjalan mendatangi dengan badan sempoyongan.

Kim Houw terkejut. Bagaimana Pek-liong-po bisa ada manusia begitu ?

Tiba-tiba terdengar suara nyanyian imam miskin yang tengah mabuk itu : "Dunia keruh, manusia pada mabuk, hanya aku sendiri yang sadar." Menyanyi sampai di situ, ia lalu tenggak araknya dan gerogoti daging ayamnya. Ketika berada di depan Kim Houw, mendadak seperti orang yang baru lihat, ia buka lebar matanya. Mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu, namun terhalang oleh daging ayam dan arak yang memenuhi mulutnya, tampak buru-buru ia hendak menelannya. Apa mau daging ayam yang terburu-buru ditelan telah mengganjal di tenggorokannya !

Ia coba keluarkan kembali, apa mau, lantas menyembur keluar semua.

Semburan itu demikian kerasnya, bahkan tepat menyembur muka Kim Houw. Karena tidak menduga adanya kejadian demikian, meski mukanya tidak tersembur, namun pakaiannya Kim Houw sudah basah dengan arak.

Kim Houw kerutkan alisnya. Ia tidak tahu imam miskin ini tetamu Pek-liong-po atau bukan, ia tidak berani berlaku kurang ajar, hanya matanya melototi si imam konyol.

Imam miskin itu repot dengan sendirian, mulutnya tidak henti-hentinya mengoceh : "Ah celaka, celaka dua belas ! Mari, mari kubersihkan pakaianmu !"

Berbareng dengan itu paha ayam dijejalkan ke mulutnya, sedang tangannya hendak digunakan untuk membersihkan pakaian Kim Houw.

Karena tangannya begitu mesum, sudah tentu Kim Houw tidak sudi diraba, sembari menyingkir ia berkata padanya : "Toya harap tahu diri sedikit, aku bukannya orang yang boleh dipermainkan !"

Imam miskin itu delikkan matanya, tiba-tiba keluarkan paha ayamnya dan lantas dongakkan kepala ketawa bergelak-gelak.

Belum lenyap suara ketawanya, terdengar suara Siao Pek Sin yang menegor: "Kee Toya kau mabuk lagi, lekas pergi mengaso !"

Imam miskin itu memang benar adalah si imam palsu dari Istana Kumala Putih. Ditegur oleh Siao Pek Sin, ia ketawa.

"Tiancu, kau benar-benar lihay !" katanya. "Kim Houw akhirnya dapat kau taklukkan ! Dengan adanya dia, kedudukanmu didalam Istana Kumala Putih benar-benar akan menjadi bertambah kuat !"

Mendengar itu, Siao Pek Sin wajahnya berubah seketika.

"Kee Toya, kau kembali mengoceh tidak keruan, bukan lekas enyah !" demikian ia membentak dengan angkuhnya.

Imam palsu benar saja lekas berlalu !

Setelah si Imam palsu berlalu jauh, Siao Pek Sin baru berkata sendirian : "Sungguh menyebalkan ! Setiap hari kerjanya cuma mabuk-mabukan, berlagak gila, mengoceh tidak keruan

!"

Kim Houw juga anggap ia benar-benar seperti orang gila, tapi ia tidak tahu siapa dan bagaimana kedudukannya Imam palsu itu. Ia cuma menampak imam itu sangat hormat dan takut sekali terhadap Siao Pek Sin, dalam hati merasa heran, namun ia tidak enak untuk menanyakan kepada Siao Pek Sin.

Sembari menyerahkan satu botol batu kumala dan satu kotak yang terbuat dari batu kumala juga, Siao Pek Sin berkata : "Adik Leng, dalam botol ini isinya obat, sedang kotak batu ini isinya adalah obat kuat jin-som. Obat dapat menyembuhkan penyakit, sedang Jin-som dapat menguatkan badan. Nona Peng Peng mungkin badannya lemas, bukan karena penyakit keras. Dengan adanya dua macam obat ini, ku tanggung dalam beberapa hari pasti sembuh, kau boleh tidak usah kuatir apa-apa!"

Sehabis berkata lantas ia berlalu meninggalkan Kim Houw.

Kim Houw menyambut kedua rupa barang itu sambil berpikir, "Mengapa Peng Peng suruh aku hati-hati terhadap dia ? Dia begitu baik memperlakukan aku, kalau aku harus waspada terhadapnya, bukankah kebaikan orang dibalas dengan kejahatan ? Aku tidak boleh turut perkataannya Peng Peng, oleh karena seorang perempuan, sampai mengakibatkan putusnya hubungan persaudaraan, sungguh tidak ada harganya !"

Pada saat itu, dua pelayan wanita itu sudah keluar, mereka tersenyum dan anggukkan kepala kepada si anak muda linglung.

Kim Houw melangkah masuk, Peng Peng sudah tidur di pembaringan. Sedang dua pesuruh wanita tengah membersihkan barang-barang yang hancur berserakan didalam kamar !

Peng Peng sehabis berhias, kelihatan lagi kecantikannya yang sangat menggiurkan.

Kim Houw baru lihat sepintas lalu, matanya sudah kesima. Bukan karena dibikin mabuk oleh kecantikan Peng Peng, melainkan roman muka si nona rasa-rasanya ia sudah pernah lihat, entah dimana ia sudah tidak ingat lagi ! Matanya terus mengawasi si nona dengan otak berputar.

Peng Peng yang dipandang demikian rupa oleh Kim Houw, wajahnya merah seketika. "Kau lihat apa? Apa wajah ada tumbuh kembang!" demikian tegurnya.

Kim Houw terkejut, segera lenyap lagi ingatannya.

Peng Peng mungkin benar-benar terlalu lemah keadaannya, sehabis berhias, tumbuh kelemahan badannya yang tengah sakit, cuma berkata sebentar saja napasnya sudah memburu.

Kim Houw buru-buru menghampiri dan berkata :" Peng Peng aku ada obat, kau boleh makan dua butir, kemudian makan Jin-som, badanmu tentu akan lekas pulih kesehatannya!"

Peng Peng meski dalam keadaan sakit, tapi masih tetap bersemangat. "Houw-ji, itu obat apa? Kau dapat dari mana?" tanyanya.

Kim Houw tercengang.

"Obat apa ? Aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya percaya bahwa obat ini benar-benar obat yang paling mujarab dari keluarga kita. Karena obat dari keluarga kita, sudah tentu tidak perlu dijawab dari mana datangnya !" demikian jawabnya.

"Tidak, yang aku tanyakan padamu ialah siapa yang memberikan kau obat ini ?" kata si nona pula sambil menggelengkan kepala.

Kim Houw tidak suka membohong, maka ia paling benci orang berdusta. "Adalah engko Sin yang memberikan padaku. Kau tak usah kuatir, kalau kau tak percaya biarlah aku makan dulu, supaya kau bisa lihat !" jawabnya.

Selagi hendak membuka botol, Peng Peng sudah mencegah.

"Jangan terburu napsu dulu, ini bukan soal percaya atau tidak percayanya. Jiwa manusia ada berharga, bagaimana boleh dibuat permainan? Di sini ada dua pesuruh, boleh coba kepadanya, berikanlah mereka masing-masing dua butir, bagaimana ?"

Menampak Peng Peng demikian sungguh-sungguh, Kim Houw lalu mengeluarkan empat butir pil diberikan kepada dua orang pesuruh di situ. Sungguh aneh, kedua pesuruh ketika melihat obat itu lantas pada berebutan, seolah-olah diberi barang hadiah yang berharga.

Lewat beberapa lama, dua pesuruh itu dengan keadaan badan masih tetap segar bugar melakukan pekerjaannya, sedikitpun tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Menyaksikan itu Kim Houw agak tenang hatinya. Peng Peng terpaksa menelan dua butir.

Selanjutnya, Kim Houw serahkan kotak batu kumala itu kepada dua pesuruh, menyuruh mereka membuat air untuk Peng Peng minum. Ketika Peng Peng hendak minum, lebih dulu ia suruh kedua pesuruh itu mencicipi dulu !

Kelakuannya itu membuat Kim Houw kurang senang. Peng Peng tahu bahwa Kim Houw benar-benar sudah melupakan kejadian yang telah lalu, maka ia tidak sesalkan dirinya. Ia hanya bersikap hati-hati sendiri.

Obat itu ternyata sangat manjur, Peng Peng rasakan perlahan-lahan penyakitnya lenyap. Esok sorenya Peng Peng sudah mulai sembuh seluruhnya. Justeru setelah sembuh dari sakitnya, Peng Peng hatinya bertambah kuatir. Ia sangat kuatir tentang keadaan Kim Houw yang sudah hilang semua ingatannya, sekarang ia harus waspada terhadap jiwa dua orang, jiwanya sendiri dan jiwa Kim Houw.

Kim Houw patuhi janjinya, sedikitpun tidak berani meninggalkan Peng Peng. Kalau Peng Peng tidur, ia menjaga disampingnya sembari bersemedi, mengatur pernapasannya untuk memulihkan tenaganya.

Pada suatu malam udara bersih, bulan terang. Kim Houw yang tengah bersemedi, telah dikejutkan oleh suara larinya orang ditengah malam. Kim Houw heran siapa orang yang tengah malam-malam begini berani memasuki Pek-liong-po ?

Ia lihat Peng Peng tengah tidur nyenyak, lantas ia pusatkan perhatiannya yuntuk mendengarkan suara orang lari tadi.

Tidak lama, ia segera dengar ramai suara bentakan. Kim Houw terkejut, lalu lompat keluar dari jendela.

Setelah berada di atas genteng, ia melihat berkelebatnya beberapa bayangan manusia yang maju menyerang dari beberapa jurusan. Kim Houw pasang matanya, ia lihat diantara mereka ada Siao Pek Sin dengan baju putih yang sangat menyolok tengah bertempur, dengan tanpa ragu-ragu lagi, lantas ia lari menuju ke tempat pertempuran.

Orang yang sedang bertempur dengan Siao Pek Sin, ternyata wakil ketua dari partai Sepatu Rumput, si pengemis beracun Sin-hoa Tok-kai.

Tok Kai sudah dua kali pernah bertempur dengan Siao Pek Sin, tapi dua-dua kalinya kena dikalahkan oleh Siao Pek Sin ! Soal malam ini entah apa sebabnya, Siao Pek Sin telah dibikin repot oleh Tok Kai. Sehingga berulang-ulang didesak mundur, Tok Kai sendiri juga merasa terheran-heran !

Kim Houw menyaksikan saudaranya terdesak lantas berseru:" Lengko jangan kuatir, nanti adik Lengmu yang menandingi dia!"

Ia berkata demikian, orangnya masih berada di suatu jarak kira-kira tiga jauhnya, tapi dapat mengirim serangan tangan ke arah Tok Kai.

Tok Kai mendengar anak muda itu mengaku sebagai adiknya Siao Pek Sin, ia tidak ambil perhatian. Tapi ketika ia merasakan hebatnya serangan anak muda itu, sudah tidak keburu untuk menyingkirkan diri, maka serangan angin yang begitu hebat telah membuat diri Tok Kai terpental sampai dua tumbak jauhnya.

Masih untung Tok Kai mempunyai ilmu mengentengi tubuh luar biasa, dengan kepandaiannya itu, ia dapat menolong dirinya sehingga tidak sampai terluka, Namun kemana ia harus taruh mukanya ?

Ini adalah suatu penghinaan yang sangat besar. Maka dengan cepatnya lantas cabut senjatanya berupa sebatang gala bambu kecil.

"Anak busuk, kau mengerti juga ilmu gaib mari coba-coba sambuti senjataku ini." demikian Tok Kai keluarkan bentakan.

Senjata gala bambu Tok Kai itu, sebetulnya dibuat khusus untuk menghadapi Siao Pek Sin, dapat diduga bahwa dalam senjata tersebut tentunya ada mengandung suatu ilmu serangan yang luar biasa.

Tapi, Kim Houw bukannya Siao Pek Sin, betapapun lihaynya senjata Tok Kai ada sukar untuk melukai dirinya. Sebaliknya setelah Tok Kai mainkan senjata istimewanya itu, Kim Houw juga tidak mudah memenangkan pertempuran itu.

Kim Houw agaknya bermaksud akan memperlihatkan kepandaiannya kepada Siao Pek Sin, ia keluarkan semua kepandaiannya.

Sambil keluarkan siulan nyaring dan panjang, Kim Houw loloskan senjatanya yang istimewa Bak-tha Liong-kin begitu keluar, senjata itu lantas mengeluarkan sinarnya yang berkilauan, terus hendak melibat senjata Tok Kai.

Siapa nyana dengan munculnya senjata luar biasa itu, Tok Kai lantas terperanjat dan lekas- lekas mundur, sedang mulutnya berteriak : "Kim-siauhiap ! Kau.  ?"

Berbareng dengan suara teriakan Tok Kai dari segala penjuru Kim Houw dengar pula suara yang memanggil namanya.

"Kim-siauhiap."

"Kim-siauhiap.!"

"Houw-ji.!"

"Houw-ji.!" Mendengar suara itu, Kim Houw sekujur badannya gemetaran. Pengemis sakti Tok Kai memanggilnya Kim-siauhiap, ia sedikitpun tidak mempunyai perasaan, tapi begitu ramai orang memanggil, ia terkejut !

Dalam hatinya lalu berpikir : "Benarkah aku bernama Kim Houw ? Kalau bukan, bagaimana sebetulnya Kim Houw itu...?"

Selagi masih bingung memikirkan dirinya disamping Tok Kai telah muncul empat orang dengan berbareng. Mereka itu si sepatu dewa Cu Su, Tiong-ciu-khek Touw Hoa, Kim Lo Han, Kim Coa

Nio-nio.

Tapi semuanya asing bagi Kim Houw. Hanya hwesio tinggi besar yang kepalanya gundul kelimis, yang ia rasakan sudah pernah kenal, tapi tidak tahu namanya.

Ia dengar hwesio kepala gundul itu berkata kepadanya : "Houw-ji ! Kau."

Hwesio itu cuma berkata demikian saja, karena melihat mata Kim Houw yang nampak layu, dalam hatinya terperanjat. Sebab hanya Kim Lo Han yang tahu penyakit Kim Houw dulu. Maka ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, hanya berseru : "Aaaa !", lantas tutup mulut.

Kawan-kawannya segera menanya : "Bagaimana sebetulnya ?"

"Ini adalah.!" Kim Lo Han gelengkan kepala serta menghela napas.

Siao Pek Sin tidak memberikan kesempatan kepada Kim Lo Han bicara, segera berseru keras

: "Adik Leng ! Kedatangan mereka adalah untuk merampas nona Touw." Tiong Ciu Khek Touw Hoa menggeram.

"Bagaimana? Kalau kau ada seorang laki-laki sejati kau boleh tawan dia selamanya !" seru Kim Houw gusar, karena gusarnya itu, semua ingatannya yang hampir terkumpul, kini buyar lagi. Sambil putar senjata, ia berkata : "Siapa yang menghendaki nona Peng Peng, tanya dulu kepada senjataku ini, pasti mendapat jawaban memuaskan !"

Kim Lo Han dengan suara sedih memohon kepada Tiong Ciu Khek : "Touw-heng, sudah ada dia yang melindungi nona Peng Peng, aku percaya nona Peng Peng tidak sampai mengalami bahaya.

Sementara mengenai hal-hal selanjutnya sebaiknya kita pulang dulu berunding lebih jauh !"

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut, kemudian disusul munculnya api dengan asap mengebul ke udara.

Siao Pek Sin segera berteriak: "Aaaa! Celaka, adik Leng mari lekas kita pergi melihat!"

Kim Houw buru-buru berpaling, api berkobar justru di kamar Peng Peng. Dalam kagetnya Kim Houw lantas meninggalkan Kim Lo Han dan kawan-kawannya bagaikan burung terbang ia terbang melesat ke arah tempat kebakaran !

Meskipun Kim Houw sudah lupa segala kejadian yang lampau, tapi melihat perhatian Peng Peng selama dua hari berada dalam satu kamar, ditujukan padanya dengan mesra, membuat Kim Houw ingin membalas dengan cintanya yang murni pula! Kini, kamar Peng Peng telah terbakar, apakah Peng Peng dapat menghindarkan diri dari bahaya api, meski ia sudah sembuh dari sakitnya, masih merupakan suatu pertanyaan ! Kim Houw belum tahu sampai dimana kepandaian si nona itu.

Kim Houw tiba ditempat kebakaran, seluruh kamar sudah dikurung api yang berkobar hebat.

Karena besarnya api sudah tidak mungkin lagi untuk dapat dipadamkan dalam waktu singkat.

Kim Houw kebingungan, tanpa menghiraukan segalanya, ia hendak lompat menerjang kedalam api.

Kim Houw mengeluarkan ilmu yang dapat melindungi dirinya sendiri yaitu Han-bun-cao-kie, api Hwee-tok Sin-kin masih tidak dapat melukai dirinya, apalagi api biasa ? Tapi, sekalipun ia tidak takut, sebaliknya orang lain merasa takut!

Satu tangan orang dengan kecepatan luar biasa sebelum Kim Houw bergerak, sudah berhasil menyambar lengannya. Sambil memegang erat lengan Kim Houw, orang itu bukan lain adalah Siao Pek Sin sendiri, berkata kepadanya, "Adik Leng, aku tidak menghendaki kau menempuh bahaya. Tahukah kau bahwa orang lain terlalu mencintai dirimu, aku yang menjadi engkohmu sudah tentu tidak mau kehilangan kau. Jangan kau."

Tidak menunggu bicara habis, Kim Houw sudah memotong. "Engkoh, lepaskan tanganku, aku tidak takut api, api tidak bisa melukai diriku !"

Tapi Siao Pek Sin mencekal semakin erat "Adik Leng, kau jangan mendustai aku, api dan air tidak mengenal kasihan, tidak boleh dibuat permainan !"

Kim Houw yang dipegang erat-erat, terpaksa mau menggunakan tenaganya untuk mengibas, supaya Siao Pek Sin mencelat, tapi ia tidak bisa berbuat demikian karena meski ia mencintai Peng Peng, tapi juga harus menghormati Siao Pek Sin, Akhirnya ia cuma bisa memohon sembari meratap : "Engkoh, percayalah aku, aku tidak takut api !" Tapi Siao Pek Sin tetap tidak mau melepaskan cekalannya.

Tiba-tiba dibelakangnya terdengar suara orang ketawa dingin, kedengarannya begitu seram !

Kim Houw menoleh, tapi tidak melihat bayangan seseorangpun juga.

Pada saat itu, kamar itu telah rubuh !

Kim Houw berseru seperti orang kalap : "Peng Peng ! Peng Peng !"

Suaranya begitu keras dan nyaring, tapi tidak mendapat jawaban. Entah Peng Peng sudah lari atau tidak ? Ia masih belum dapat memastikan. Sampai di situ, Kim Houw sudah tidak dapat menahan sabar lagi, ia ingin menerjang ke dalam.

Kebetulan saat itu Siao Pek Sin sudah melepaskan tangannya, dengan tidak ayal lagi Kim Houw lantas menerjang masuk ke dalam gumpalan api.

Orang-orang yang menyaksikan perbuatan Kim Houw itu semuanya menjerit kaget !

Tapi, Kim Houw setelah berada di dalam api, lama belum muncul lagi, akhirnya dinding-dinding rumah sudah pada rubuh. Sungguh aneh, berkobarnya api itu seperti dikendalikan oleh tenaga gaib, kecuali kamar tidur Peng Peng, bagian yang lainnya tidak ada yang kerembet terbakar. Paling akhir, kamar bekas tinggal Peng Peng itu sudah rata menjadi tumpukan puing dan api juga sudah padam. Tapi orang heran tidak melihat bayangan Kim Houw.

Di sebuah pelataran yang masih ada sedikit apinya, kelihatan sesosok bayangan orang seperti terbungkus oleh sinar hijau, ia adalah Kim Houw.

Tangannya memondong seorang yang sudah menjadi bangkai, pakaian sudah habis terbakar, wajahnya sudah sukar dikenali. Tapi dari potongan badannya, kecuali Peng Peng, tidak ada yang mirip seperti itu lagi.

Kim Houw wajahnya murung, air matanya mengalir deras, nampaknya sangat duka.

Meski ingatannya sudah hilang, tapi akal budinya masih ada. Ia pikir : Api ini datangnya sangat mendadak, perbuatan tangan jahat, tapi entah perbuatan siapa ? Mungkinkah perbuatan Siao Pek Sin yang ditakuti oleh Peng Peng.

Belum lenyap pikiran, Siao Pek Sin sudah berada disampingnya. Si jahat ini pura-pura bersedih dengan air mata buaya bercucuran ia berkata: "Sungguh kejam. orang anak dara yang begini cantik manis, mengapa mengalami nasib yang begitu mengenaskan ? Kalau itu perbuatan orang, aku segera membeset kulitnya dan memakan dagingnya."

Ucapan Siao Pek Sin itu, sepatahpun tidak ada yang masuk ke dalam telinga Kim Houw. Ia masih berpikir keras: "Peng Peng yang sudah pulih kesehatannya, mengapa ketika melihat api berkobar membakar kamarnya tidak berdaya untuk melarikan diri ?"

Pada saat itu di belakangnya kembali terdengar suaranya orang ketawa dingin yang bersifat mengejek. Dengan cepat Kim Houw berpaling ternyata tidak ada siapa-siapa.

Suara ketawa itu ia sudah alami dua kali, membuat orang yang sedang kacau pikirannya bertambah gelisah.

Jenazah Peng Peng yang terbakar hangus tidak karuan macamnya telah dikubur dengan upacara besar-besaran oleh Siao Pek Sin.

Kim Houw merasa sangat berduka, hubungannya dengan Peng Peng meski baru dua hari, tapi sudah sedemikian eratnya. Terutama dari pihak Peng Peng, perlakuannya yang begitu manis dan mesra, hingga Kim Houw anggap ia benar-benar sahabat karibnya sebelum hilang semua ingatannya.

Sebab begitu bertemu Peng Peng lantas menyebut tentang pedang pendek, kalau bukan sahabat karibnya sebelum ia hilang ingatan, bagaimana ia bisa tahu kalau dirinya mempunyai pedang pendek? Bahkan menurut katanya pedang itu adalah pedang pemberiannya.

Dari sinilah hingga kesan Kim Houw terhadap dirinya sangat mendalam.

Oleh karena itu ia berduka! Dengan perasaan gusar ia hendak menuntut balas kematian sahabat karibnya itu. Dengan kepandaian ilmu silatnya yang demikian tinggi, masa tidak mampu melindungi jiwa sahabat yang dikasihinya. Sungguh menyedihkan pikirnya.

Ia mencari keterangan kepada Siao Pek Sin, namun tidak memuaskan hatinya. Siao Pek Sin menjawab sekenanya, seolah-olah tidak suka Kim Houw menempuh bahaya seorang diri. Kim Houw tidak mau mengerti, ia berkeras hendak mengusut dan menuntut balas. Tapi sebelum ia mencari keterangan kepada orang lain, pada malam sehabis menguburkan jenazah Peng Peng, orang lain sudah mencari dirinya.

Kentongan baru berbunyi dua kali. Suasana malam yang mestinya sunyi, mendadak ramai riuh dengan suara jeritan, tangisan dan bentakan.

Kim Houw yang masih belum tidur, lantas membuka jendela dan melompat keluar. Pek Liong po ramai dengan suara gembreng dan di beberapa tempat telah terbit kebakaran.

Kim Houw gusar, katanya kepada dirinya sendiri dengan gemas :" Bangsat! Hari ini kalau aku tidak bikin habis jiwanya, belum puas rasa hatiku. Kalu belum berhasil memotes kepalamu, Peng Peng di alam baka tentu tidak akan tentram rohnya !"

Dengan mata menyala Kim Houw lari menghampiri orang banyak berkumpul.

Dalam keadaan kalap, maka kakinya sudah seperti burung terbang, sekejap saja Kim Houw sudah berada diantara orang banyak.

Ia berpapasan dengan seorang yang dandanannya seperti anak sekolah, wajahnya putih bersih, nampaknya seperti seorang setengah tua yang berusia kira kira empat puluh tahun, dia itu adalah Tiong-ciu-khek !

Tapi begitu bertemu muka dengan Kim Houw, Tiong-ciu-khek telah lenyap semua sifatnya yang kelihatan alim, diganti dengan rasa duka serta gusar. Sembari memutar pedang Ceng-hong- kiamnya ia menerjang Kim Houw dengan secara kalap !

Kim Houw yang juga sedang dalam keadaan gusar, sudah tentu tidak membiarkan dirinya diperlakukan demikian kasar. Tangan kanan mainkan ilmu silat warisan Kao-jin Kiesu yang luar biasa, secara aneh ia dapat menyingkirkan serangan pedang Tiong-ciu-khek. Tangan kirinya menyerang dada lawan. Karena ingin mempercepat jalannya pertempuran, ia menggunakan ilmunya Han-bun-cao-khie dalam serangannya itu.

Serangan Kim Houw itu bukan saja hebat, tapi juga cepatnya laksana kilat menyambar. Jika serangan itu mengena dengan tepat, jiwa Tiong-ciu-khek pasti akan melayang seketika !

Untung belum mengenai sasarannya, mendadak Kim Houw dengar Tiong-ciu-khek berseru dengan suaranya yang memilukan hati: "Pulangkan Peng Peng ku ! Kembalikan jiwa cucuku !"

Seruan itu membuat Kim Houw terperanjat mendengar disebutnya nama Peng Peng, ia lantas rem serangannya, kemudian dengar pula bahwa Peng Peng itu adalah cucunya, maka Kim Houw lantas urungkan maksudnya hendak menamatkan jiwanya orang tua itu.

Pikirnya : Kiranya dia adalah kakeknya Peng Peng, kedatangannya ini mungkin juga hendak menuntut balas cucunya, sayang dia salah alamat.

Ia buru-buru lompat mundur, sambil memberi hormat ia berkata: "Cianpwe siapa ? Boanpwe adalah Pek Leng-ji sahabat nona Touw !"

Tiong-ciu-khek sudah kalap benar-benar, sambil berseru keras, kembali menerjang dengan pedangnya.

"Tunggu dulu !" seru Kim Houw sambil berkelit. "Kau aneh, cianpwe, kenapa begini kalap ?" "Kau adalah manusia tidak kenal budi, seorang busuk yang tidak mempunyai liangsim. Aku kepingin membelah hidup-hidup badanmu dan hirup darahmu ! Kapan Peng Peng memperlakukan tidak baik terhadap dirimu ? Untuk kau dia telah menempuh perjalanan ribuan li, untuk kau dia telah menderita lahir dan batin. Tidak nyana akhirnya dia binasa dalam tanganmu. Kau.... kau....

apakah kau masih terhitung manusia ? Kau adalah binatang."

Kegusaran Tiong-ciu-khek meluap-luap, sayang semua serangannya dapat dipunahkan Kim Houw dengan mudah.

Tiong-ciu-khek sudah tahu kepandaian Kim Houw, tahu ia bukan tandingannya anak muda itu, namun ia masih terus menyerang seperti orang edan !

Kim Houw meski sudah hilang ingatannya, tapi liangsimnya msih belum. Menampak Tiong-ciu- khek menyerang secara membabi buta, ia mengerti bahwa orang tua ini berlaku nekad terdorong oleh kedukaan atas kematian cucunya. Oleh sebab itu, Kim Houw tidak mau melayani sungguh- sungguh.

Dari perkataannya Tiong-ciu-khek, terang seperti menuduh padanya bahwa Peng Peng binasa dalam tangannya. Ia curiga dalam hal ini tentu ada terselip kesalahan paham. Maka ia berkelit berulang-ulang, tidak balas menyerang. Tapi ia tidak mau meninggalkan Tiong-ciu-khek, karena ia ingin mencari tahu orang tua ini sebab musababnya kesalahan paham itu, ia tidak mau Peng Peng binasa secara penasaran.

Tiong-ciu-khek jengkel bukan main melihat serangannya selalu tidak berhasil, ia lantas mengambil keputusan pendek hendak menggorok leher sendiri. Sebelumnya, ia masih memaki- maki dulu Kim Houw: "Tiong-ciu-khek seorang gagah yang pernah malang melintang tidak menemukan tandingan, tidak nyana ia tergelincir dalam tangan seorang bocah yang tidak berbudi. Baiklah ! Dimasa hidupku aku tidak bisa geragoti dagingmu, setelah binasa aku nanti akan menjadi setan penasaran yang selalu mengejar-ngejar kau."

Kim Houw sadar bahwa orang tua itu hendak menghabiskan jiwanya sendiri, ia tidak ingin membiarkan Tiong-ciu-khek mati secara demikian.

Sebelum Tiong-ciu-khek bertindak, Kim Houw mendadak maju hendak menghalangi maksudnya orang tua itu.

Mendadak, baru ia ulur tangannya, hendak menotok jalan darahnya Tiok-tie-hiat Tiong-ciu- khek, tiba-tiba diserang oleh sambaran angin kuat dari samping. Berbareng dengan itu telinganya dengar suara bentakan keras: "Houw-ji apa kau benar-benar sudah kehilangan akal budimu?"

Sambaran angin itu tidak mudah mengenakan Kim Houw, kalau ia berkelit. Cuma kalau ia berkelit terhindar dari serangan, jiwa Tiong-ciu-khek segera melayang karena tiada yang mencegah perbuatan nekadnya.

Maka, dengan tanpa banyak pikiran, Kim Houw lantas kerahkan ilmunya Han-bun-cao-khie, bersedia menyambuti serangan gelap itu. Berbareng, jari tangannya langsung diulur, menotok jalan darah Tiok-tie-hiat Tiong-ciu-khek.

Berbareng dengan jarinya mengenakan jalan darah Tiong-tie-hiat, Kim Houw sendiri badannya terpental tiga tumbak lebih jauhnya, akibat serangan menggelap tadi !

Serangan itu ternyata begitu hebat karena Kim Houw yang terpental dua-tiga tumbak baru saja berhasil menegakkan dirinya. Tiba-tiba terdengar seruan: "Aaai." bukan suara Tiong Ciu Khek, juga bukan suara Kim

Houw, melainkan suara orang yang menyerang dirinya tadi.

Kim Houw setelah berdiri tegak, lalu mengatur pernapasannya sejenak. Ia lalu tahu bahwa keadaan dalam dadanya tidak apa-apa, hanya lengan kirinya saja yang dirasakan agak ngilu, hal ini ia tidak ambil pusing. Mengingat orang yang menyerang dirinya tadi juga memanggil dirinya Houw-ji, lantas ia dongakkan kepala untuk mengamat-amati siapa orang itu.

Begitu melihat, hati Kim Houw tercekat, kiranya orang itu adalah seorang hweesio yang berbadan tinggi besar.

Kemarin dulu, Kim Houw pernah melihat hwesio tinggi besar ini, tapi karena kebingungan akibat terbakarnya kamar Peng Peng, sebentar saja ia sudah lupa.

Kini untuk kedua kalinya ia bertemu lagi, ingatannya timbul pula, rasanya ia pernah melihatnya, tapi biar bagaimana ia berusaha untuk mengumpulkan ingatannya, ternyata ia masih tidak ingat juga.

Hwesio berbadan tinggi besar itu sudah tentu adalah Kim Lo Han. Ketika ia mengetahui bahwa perbuatan Kim Houw tadi, sebetulnya adalah hendak menolong jiwa Tiong Ciu Khek, bukan hendak mencelakakan orang tua tersebut, seperti yang ia duga semula, dalam hati diam-diam ia merasa menyesal. Melihat Kim Houw mengawasinya tanpa berkedip, ia lalu berkata :

"Houw-ji, Kim Lo Han telah kesalahan tangan, semoga tidak melukai dirimu!"

Kim Houw mendengar disebutnya nama Kim Lo Han kembali terkejut, dalam hatinya terus menerus ia menyebut nama itu: "Kim Lo Han! Kim Lo Han!"

Karena hatinya sibuk memikirkan, mulutnya telah lupa untuk menjawab. Hal mana dianggap oleh Kim Lo Han, bahwa Kim Houw setelah kehilangan ingatan, lantas berubah menjadi kejam dan sombong sifatnya, maka ia tidak mau menegur lagi, lalu ia ajak Tiong Ciu Khek berlalu dari situ.

Tapi sebelum ia mengangkat kaki, sesosok bayangan putih sudah melayang dari atas, merintangi perjalanan Kim Lo Han.

"Haha! apa kalian masih pikir bisa berlalu dari sini? Jangan harap! Hari ini kalian bisa datang, tapi tidak bisa pergi!"

Kim Lo Han melirik, segera mengenali bayangan tersebut, Siao Pek Sin. Kalau itu adalah Siao Pek Sin pada dua tahun yang lalu, Kim Lo Han masih tidak pandang mata padanya, tapi Siao Pek Sin pada dua tahun belakangan ini sudah lain keadaannya.

Selama dua tahun ini, Siao Pek Sin telah menduduki kursi Tiancu di Istana Kumala Putih, serta mendapat warisan bermacam-macam ilmu silat dari berbagai cabang persilatan.

Kemajuan pelajarannya sudah jauh dibandingkan Siao Pek Sin yang dulu.

Kalau Kim Lo Han hanya seorang diri, ia tidak takuti dia, atau jika Siao Pek Sin sendirian Kim Lo Han juga tidak begitu jeri. Sekalipun Siao Pek Sin sudah maju pesat ilmu silatnya, Kim Lo Han juga tidak akan mengeluh demikian rupa.

Tapi kini disampingnya ada Tiong Ciu Khek yang sudah seperti setengah gila, masih ada lagi Kim Houw yang sudah lupa ingatan dan berpihak pada lawan. Bagaimana Kim Lo Han tidak mengeluh. Diluar dugaan, baru saja Siao Pek Sin menutup mulutnya, Kim Houw sudah maju didepannya dan berkata kepada Siao Pek Sin :" Engkoh, orang tua ini adalah kakeknya Peng Peng, lepaskanlah ia pergi!"

Wajah Siao Pek Sin yang dingin kaku, begitu melihat Kim Houw lantas tersenyum berseri-seri, kemudian berkata :" Adik Leng, kau telah tertipu! Orang ini usianya kelihatan baru kira-kira lima puluh tahun, mana bisa jadi kakeknya Peng Peng? Nona Peng Peng tahun ini umurnya sudah delapan belas tahun, kakeknya paling sedikit sudah berusia enam atau tujuh puluh tahun!"

Mendengar keterangan itu, Kim Houw lantas sadar, ia pikir dirinya benar-benar sangat bodoh. "Hm! Kalian ternyata hendak main gila didepanku, pura-pura hendak bunuh diri, aku kesal

pada diriku sendiri, karena hendak menolong jiwamu sampai aku mandah diserang orang. Sekarang tidak perlu banyak bicara, tinggalkan jiwamu!" katanya dengan nada tawar.

Karena kegusarannya itu, ingatannya yang barusan timbul samar-samar terhadap diri Kim Lo Han telah terlupa lagi.

Siao Pek Sin agaknya menginginkan Kim Houw benar-benar gusar, maka ia lantas memanas- manasi :" Adik Leng, hari ini biar bagaimanapun kita tidak boleh melepaskan mereka begitu saja. Bukan hanya karena nona Peng Peng, malam inipun mereka benar-benar hendak melakukan kejahatan lagi terhadap rumah kita. Coba lihat, jumlah mereka tidak sedikit, bukan saja sudah merusak gedung Pek Liong Po, kedua paman kita juga telah terluka ditangan mereka, dan sekarang masih belum ketahuan nasibnya."

Ucapan Siao Pek Sin ini benar-benar hebat pengaruhnya, karena Kim Houw yang mendengarnya menjadi memuncak amarahnya. Dengan tindakan perlahan-lahan ia menghampiri Kim Lo Han. Kemudian membentak dengan suara keras :" Benarkah itu? Apa kalian menghendaki aku turun tangan benar-benar?"

Kim Lo Han lantas balas membentak: "Houw-ji! kau."

Kau apa? Kim Lo Han tidak dapat melanjutkan lagi. Dalam gusarnya ia cuma mampu mengucapkan demikian saja, tapi kemudian ia insyaf bahwa Kim Houw sedang kehilangan ingatannya, alasan apa pun tidak ada gunanya.

Karena kepandaian Kim Houw yang sudah mencapai tingkat tertinggi, maka hendak lolos dari tangannya benar-benar tidak mudah. Kim Lo Han terpaksa mundur sambil membimbing diri Tiong Ciu Khek, mereka hanya menanti.

Kim Houw setindak demi setindak menghampiri mereka, tangannya sudah terangkat dengan perlahan. Tiba-tiba suara aneh membelah kesunyian diangkasa, suara itu sangat menusuk telinga, tajam dan melengking, seolah-olah bukan suara manusia. Semua orang lantas pada melihat ke arah datangnya suara tersebut.

Sinar api berwarna biru terlihat diangkasa terus meluncur ke langit. Ditengah-tengah sinar apinya, tampak sebatang anak panah sepanjang lima kaki lebih. Ditengah-tengah anak panah terdapat tengkorak! Sedang api warna biru itu asalnya dari anak panah tersebut. Benda ini entah terbuat dari apa, sinarnya sangat menyilaukan mata.

Anak panah itu muncul demikian mendadak, suaranya yang aneh mengejutkan semua orang. Tiba-tiba terdengar suara jeritan Siao Pek Sin: "Aaaaa.  anak panah tengkorak!" Kim Lo Han juga berseru, namun suaranya amat perlahan. Iblis itu ternyata masih belum mati.

Kini dia muncul lagi! Entah berapa banyak orang-orang rimba persilatan yang akan menjadi korban keganasannya? Dan entah berapa banyak orang-orang dari golongan baik yang akan binasa di tangannya?

Kim Houw meski sudah hilang ingatannya, tapi ikut dikejutkan oleh munculnya anak panah tengkorak itu. Sebab kala itu mendadak ia seperti ingat pernah melihat tanda anak panah yang ada tengkorak kepala manusia itu.

Saat itu, dari jauh tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri.

Siao Pek Sin terperanjat, lalu menarik tangan Kim houw. "Adik Leng, mari kita pergi!"

Tanpa hiraukan yang lainnya, Siao Pek Sin sudah menarik tangan Kim Houw, lari menuju ke arah darimana datangnya suara jeritan tadi.

Ketika mereka tiba ditempat tersebut, kecuali mendapatkan dua mayat manusia, apapun sudah tidak dapat ditemukan lagi, meski badannya tidak terdapat luka, tapi wajahnya sudah rusak, kepalanya hancur luluh, otaknya berceceran di tanah!

Dari sebelah timur kembali terdengar suara jeritan, Kim Houw dengan tidak menunggu perintah Siao Pek Sin lagi, sudah lompat melesat kesana.

Ketika tiba ditempat tersebut, di atas tanah kembali terdapat dua mayat manusia yang keadaannya serupa dengan yang sebelumnya. Hanya jika yang duluan itu Kim Houw tidak kenal, sedangkan yang belakangan ini ia kenali dari pakaiannya dan jenggotnya yang putih, mereka adalah paman-pamannya Siao Pek Sin.

Menyaksikan keadaan demikian, bukan kepalang gusarnya Kim Houw. Siapakah orangnya yang berani main gila begitu rupa? Berbareng dengan itu, ia juga merasa heran, sudah berada didalam Pek Liong Po dan empat pamannya itupun merupakan orang-orang gagah diwaktu itu, kenapa mereka begitu mudah menjadi korban?

Kim Houw sudah tidak mendengar suara jeritan lagi, tapi ia mendengar suara menderunya angin, sekali lagi Kim houw melesat ke arah suara itu.

Kim Houw melihat di sebuah tanah lapang di depan ruang pertemuan Pek Liong Po, saat itu ada tiga orang tua yang usianya sudah tujuh puluh tahun kurang lebih, bersama-sama dua laki-laki berusia kira-kira lima puluh tahun, mereka berlima dengan menggunakan senjata pedang panjang, tengah mengerubuti seorang tua berbadan kurus kering dan jangkung.

Melihat ketiga orang tua itu dalam kalangan pertempuran, Kim Houw terperanjat. Ternyata Pek Liong-ya sudah turun tangan sendiri menghadapi musuh yang sangat ganas itu.

Kim Houw berdiri memandang orang tua kurus kering itu.

Di bawah sampokan angin santer, jenggotnya orang tua yang sudah putih itu berkibar-kibar, badannya sungguh kurus, nampaknya cuma tulang dibungkus dengan kulit. Tapi kaki tangannya nampak panjang luar biasa. Ia mengenakan pakaian panjang berwarna kelabu, wajahnya yang hitam nampak sedikit pucat, terang ia seorang yang sudah lama tidak melihat sinar matahari. Tapi sepasang matanya sungguh menakutkan, bagi orang yang baru pertama melihat, tentunya akan menganggap dia adalah iblis yang keluar dari kuburan. Orang tua itu meski badannya kurus kering, tapi tenaganya amat kuat. Tangannya memegang gendewa panjang, kalau diputar, gendewa itu mengeluarkan angin menderu-deru, kalau menyambar kulit terasa pedas.

Terutama tempat anak panah yang menggemblok di belakangnya, dan apa yang lebih menakutkan, adalah serenceng tengkorak kepala manusia yang segede kelapa yang dilibatkan di pinggangnya !

Kepala-kepala tengkorak itu diikat satu persatu merupakan serencengan benda yang menakutkan. Kepala-kepala itu semuanya menghadap ke muka, dibariskan demikian rapihnya, tapi juga sangat menyeramkan.

Baru saja Kim Houw mengamat-amati, tiba-tiba ia dengar suara orang tua itu: "Sudahlah! Aku sudah cukup kenal barisan Cit-ciak-tin yang namanya terkenal di seluruh jagad meski aku belum menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi Ngo-houw-tin sebaliknya kurang cukup kekuatannya. Aku sudah tidak mempunyai kegembiraan lagi untuk main-main, waspadalah."

Berbareng dengan ucapannya, ia lantas menekan gendewa di tangannya, lalu disusul dengan suara melesatnya anak panah, selanjutnya lalu terdengar dua kali suara jeritan yang mengerikan, dua laki-laki yang berusia lima puluh tahun itu sudah rubuh menggeletak di tanah, kepalanya hancur dan otaknya berantakan.

Kim Houw terperanjat, tanpa ayal lagi ia lantas menghunus pedangnya Ngo-heng-kiam dan Bak-tha Liong-kin sambil memekik nyaring ia menerjang ke arah orang tua itu.

Gerakan Kim Houw itu ternyata tepat pada saatnya, karena senjatanya Bak-tha Liong-kin telah berhasil mengelakkan gendewa orang tua yang sudah hampir menyambar kepala Pek liong ya, dengan demikian Pek liong ya telah tertolong olehnya.

Orang tua kurus kering itu ketika gendewanya tersampok oleh senjata Kim Houw, lalu membentak dengan suara keras "Siapa yang berani menghalang-halangi aku Kouw louw Sin Ciam menuntut balas ?"

Ah ! Orang tua yang menyebut dirinya Kouw louw Sin Ciam ini ternyata hendak menuntut balas dendam.

"Siapa ? Aku hanya satu Siaupwe dari Pek liong po." jawab Kim Houw ketawa.

Kouw louw Sin Ciam dengan heran mengamat-amati diri Kim Houw, yang usianya masih muda belia, ternyata mempunyai kekuatan memunahkan serangan gendewanya yang kekuatannya luar biasa hebatnya itu.

"Huh ! Kau barangkali Tiancu dari Istana Kumala Putih yang baru muncul di dunia Kangouw, tapi namanya sudah menggetarkan jagat ? Khabarnya sepak terjangnya terlalu ganas, aku sekarang kepingin mencoba-coba, kepandaian apa sebetulnya yang kau punyai sehingga membuat kau berani berlaku begitu biadab."

Pada saat itu, Kim Houw sedang berdiri berhadapan dengan Kouw louw Sin Ciam, ia telah dapat melihat dengan tegas wajah orang tua itu, yang ternyata tidak banyak bedanya dengan tengkorak hidup.

Kedua matanya segede biji jengkol, biji matanya yang hitamnya lebih banyak daripada yang putih, mata itu masuk ke dalam, seolah lubang goa. Tulang pipinya menonjol, giginya yang kuning juga kelihatan menonjol keluar, gigi itu begitu besar dan panjang, sungguh wajah itu benar-benar mirip dengan namanya yang berarti panah tengkorak sakti (Kouw louw Sin Ciam).

Yang paling aneh adalah bentuk telinganya, daun telinga itu begitu panjang dan lebar, kalau bergerak nampak bergoyang-goyang seperti telinga babi. Dari sini bisa dilihat bahwa orang tua itu mempunyai pendengaran tajam.

Mendengar orang tua itu menganggap dirinya adalah Tiancu dari Istana Kumala Putih Siao Pek Sin, Kim Houw lalu tertawa dan berkata: "Tiancu dari Istana Kumala Putih adalah kakakku, kau masih belum ada mempunyai kehormatan untuk menemuinya. Kalau kau mampu mengalahkan aku, Tiancu dari Istana Kumala Putih sudah tentu akan muncul untuk mengusir kau. Kalau sampai aku saja masih belum mampu menangkan, apa perlunya dia harus turun tangan sendiri. Bukankah kau hendak mengadu kekuatan ? Silahkan maju, di sini aku sedang menantikan kau."

Kouw louw Sin Ciam namanya menggetarkan jagat. Orang-orang dari segala golongan baru mendengar namanya saja sudah kuncup nyalinya. Sekalipun Pek-liong-po yang namanya terkenal di daerah Su-cu tengah, tapi begitu menampak munculnya orang tua itu juga sudah hilang semangatnya.

Sudah beberapa puluh tahun lamanya Kouw-louw Sin Ciam namanya menggetarkan jagat.

Orang-orang dari Pek-liong-po. Tujuh saudara dari Pek-liong-po juga tidak mempunyai nyali begitu besar mencari setori dengannya.

Persoalannya adalah gara-garanya seorang murid tidak sah dari Kouw-louw Sin Ciam yang baru mendapat sedikit pelajaran ilmu silatnya Kouw louw Sin Ciam, telah menggunakan nama suhunya diluaran melakukan perbuatan yang tidak patut, ketika ia berani mengganggu Pek-liong- po, murid durhaka itu akhirnya dibinasakan oleh Pek-liong ya.

Entah bagaimana, berita kematian muridnya yang belum sah itu telah sampai ke telinganya Kauw low Sin Ciam, meski murid itu belum dianggap sah tapi karena membawa-bawa nama baiknya Kouw low Sin Cian, maka orang aneh itu akhirnya mencari onar ke Pek liong po.

Sebagai seorang Kangouw terkenal, sudah tentu Kouw-low Sin Cian juga dapat dengar berita- berita mengenai Istana Kumala Putih, ia juga tahu orang-orang dalam Istana Kumala Putih pada lihay, Tapi, sebagai seorang jago tentu tidak takut kepada mereka.

Siapa saja dengan namanya lantas menyingkir jauh-jauh. Orang yang berhadapan dengannya, jarang yang tidak gemetar apa lagi membentak atau turun tangan padanya. Begitu besar pengaruh orang aneh yang dinamakan Kouw lo Sin Ciam itu.

Tapi kali ini ia dibikin terheran-heran Kim Houw bukan saja tidak gemetar di depannya, bahkan berani membentak bentak nampaknya lebih galak dan lebih jumawa dari pada Pek Liong-ya sendiri.

Kouw-low Sin Cian lantas perdengarkan Suara ketawa dinginnya yang seram serta berkata: "Kurang ajar, anak yang masih bau pupuk bawang, ternyata berani tidak pandang mata pada orang. Kalau kaU bukan Siao Pek Sin, aku akan memberi kesempatan tiga jurus dibawa senjata gendewa pusaka ini! Aku."

Belum sampai menjelaskan perkataan selanjutnya, Kim Houw juga sudah mengajak padanya dengan nada yang tidak kurang pedasnya: "Aku tidak berani mengatakan tiga jurus, tapi dalam tiga puluh jurus, aku pasti bisa membinasakan kau tanpa mengeluh!" Selama hidupnya, Kouw-low Sin Ciam cuma tahu mengejek orang lain, tidak pernah diejek orang lain. Mendengar perkataan Kim Houw yang penuh ejekan ini, sudah tentu lantas murka, Maka ia lantas keluarkan pekikannya panjang dan nyaring serta lama tidak terputus-putus.

Suara pekikan itu mula-mula enak sekali kedengarannya, tapi sebentar saja suara itu seolah menyusup ke dalam daging, hingga sekujur badan dirasakan dingin, bulu roma pada berdiri, badan lantas menggigil!

Orang yang berada di kalangan pertempuran kecuali Kim Houw, semua pada merasakan pengaruhnya, bahkan makin lama makin hebat dan akibatnya tidak dapat mempertahankan diri lagi. Seperempat jam saja lagi Kouw-low Sin Ciam tidak hentikan suaranya itu, semua orang itu pasti akan binasa kedinginan satu persatu!.

Ilmu Kouw-low Sin Ciam yang dinamakan Kouwlow lm-kang itu, kalau dikatakan lihay, memang begitulah kira-kira. la pertama mengeluarkan suara yang enak didengar oleh telinga, hingga orang-orang yang mendengarnya tidak berjaga-jaga, tapi setelah merasakan adanya perobahan, sudah tidak keburu mengadakan perlawanan..."

Ilmu yang ada pada diri Kim Houw, justru dari latihannya dalam gedung es yang paling dingin, bagaimana ia bisa takut dingin? Karena segala hawa dingin di dunia, sudah tidak ada yang lebih dingin daripada dinginnya hawa didalam ruangan belakang Istana Kumala Putih.

Oleh karena Kim Houw tidak terpengaruh, ia tidak tahu lihaynya ilmu tersebut. Ia cuma merasa heran mengapa Kouw-louw Sin Ciam begitu lama perdengarkan pekikannya!

Mendadak ia dengar dibelakangnya ada suara jeritan suara orang, Kim Houw la]u berpaling. Tapi ia belum tahu siapa orangnya yang menjerit tadi, ia hanya lihat Pek-liong-ya bertiga saudara, Sudah duduk di tanah untuk bersemedi, sedang badannya gemetaran dan wajahnya pucat pasi.

Kim Houw menyaksikan keadaan demikian baru terkejut, maka ia segera keluarkan pekikannya jurus untuk melawan.

Menghadapi perlawanan Kim Houw, Kouw louw Sin-ciam coba hendak perhebat suaranya, tapi hasilnya nihil, hingga akhirnya ia hentikan sendiri pekikannya.

Sampai di situ, Kouw-low-Sian Ciam mau merasa terperanjat dan terheran-heran juga. sebab suara pekikan Kim Houw tadi hanya dapat dilakukan oleh seorang yang lweekangnya sudah sempurna betul. Kim Houw yang sudah mampu menundukkan suaranya, bagaimana ia tidak terperanjat. Apalagi, ini baru adiknya saja, entah bagaimana kepandaian Tiancu Siau Pek Sin sendiri?

Kouw-low Sin Ciam meski sudah dibikin kesima oleh kekuatan dan kepandaian lawanya yang masih muda belia itu, tapi, ia masih mempunyai serupa ilmu yang dinamakan Hian-giok Pe-kiong, ialah senjata gendewanya yang ia anggap senjata paling ampuh.

"Bagus, bagus! Sekarang aku hendak main-main dengan gendewa pusakaku." kata orang itu sambil ketawa dingin.

Lawan tampak sudah agak lunak, namun Kim Houw masih belum sudah begitu saja. "Bagaimana Apa hendak main-main hanya tiga jurus saja?" tanya mengejek.

Kouw-low Sia Ciam tidak menyangka Kim Houw terus melunjak, dalam hati segera merasa gusar. "Jangan banyak rewel, kau sambuti seranganku!" bentaknya.

Suara menderu lantas nyaring, gendewa gendewa panjang itu lantas membawa setengah lingkaran, segera sebatang anak panah lantas terbang melesat!

"Satu jurus!" Kim Houw ketawa tergelak gelak, sembari egoskan dirinya.

Kim Houw tadi menyebutkan satu jurus, entah mengejek lawannya atau untuk keperluan diri sendiri. Tapi belum sampai berdiri benar, gendewa lawannya terus mengikuti seolah-olah bayangan. Bahkan mengandung kekuatan yang sangat hebat, menyerang pinggangnya.

Kim Houw terkejut. Ia anggap gerakannya sendiri sudah cukup gesit, siapa nyana lawannya berlaku lebih gesit. Karenanya maka sudah tidak keburu untuk berkelit lagi, untung senjata Bak-ya Liong-kiannya sudah terhunus, maka ia lantas menggunakan senjatanya ini untuk menyambuti!

Siapa nyana, selagi senjata lawannya belum beradu dengan senjatanya sendiri, kembali dirasakan ada sambaran angin yang berbau amis, menindih dari atas. Ketika ia melirik satu tangan yang kurus panjang dan hitam, sudah berada di atas batok kepalanya!

Kali ini, Kim Houw terkejut benar-benar. Dengan cepat ia angkat tangan kirinya, pedang Ngo- heng kiamnya dilintangkan untuk memapas tangan musuhnya.

Kouw-low Sian Ciam ketawa dingin dengan cepat mundur tiga tumbak lebih.

Kim Houw kembali dibikin tercengang! Kalau pedang Ngo-heng-kiamnya tidak mengenakan sasarannya itu memang sudah diduga olehnya. Tapi, Bak-tha Liong-kin mengapa tidak manyentuh gendewa Kouw low Sin Ciam?

Dengan demikian maka Kim Houw kini tidak berani pandang ringan lawannya itu lagi. Kauw- sok Sin Ciam sudah menggetarkan dunia Kangouw sudah tentu bukan sembarangan terutama gerakannya yang telah diunjukan tadi hampir saja Kim Houw, celaka di bawah senjata gendewa dan tangannya yang luar biasa panjangnya itu.

Kim Kim Houw tidak berani mengejek lagi, buru-buru tenangkan pikiran untuk menghadapi lawan yang cukup tangguh itu.

Tapi, kalau Kim Houw dibikin terkejut, Kouw-Lou Sin Ciam tidak kalah terheran-heran. Karena serangannya yang ia lancarkan tadi dinamakan Oh-liong Tham-jiuw atau naga hitam ulur kukunya, adalah merupakan salah satu serangannya yang paling lihay dalam ilmu gendewanya. Oleh karena ia mengetahui bahwa kekuatan tenaga dalam lawannya lebih tinggi dari padanya, maka begitu turun tangan lantas menggunakan tipu serangannya yang paling lihay!

Ilmu gendewanya Kouw-low Sin Ciam benar-benar luar biasa anehnya. Kalau ia sengaja tidak mau mengambil jiwa lawannya, sang lawan masih bisa terhindar dari keganasannya, kalau ia mau jiwa lawannya, jarang orang yang bisa lolos dari tangannya!

Hari ini dalam keadaan mendadak dan tidak menduga sama sekali, Kim Houw mampu menghindarkan dirinya dari serangan maut, bagaimana Kouw-low Sin Ciam tidak terperanjat dan terheran-heran?

Meskipun Kim Houw menggunakan senjata Bak-tha-kin, satu senjata pusaka yang sukar dicari tandingannya, tapi jika itu terjadi pada orang lain, ia yakin tidak begitu mudah buat menghindarkan diri dari serangan gendewanya atau cengkeramannya! Ia tidak tahu bahwa gerakan Kim Houw tidak cepat tepat sekali pada saatnya. Gerak itu membuat lawannya tidak berdaya untuk merobah serangannya yang mematikan!

Sebab kalau mau berbuat nekad, senjatanya atau tangannya pasti akan beradu dengan senjata Liong-kin atau pedang Ngo-heng-kiam.

Kouw-low Sin Ciam meski dikejutkan oleh kepandaian ilmu silat Kim Houw, tapi baru satu jurus biar bagaimana ia masih merasa penasaran, apalagi dalam satu jurus itu bukan ia yang berada di atas angin bagaimana ia mengerti?

Apa yang membuat ia tambah panas ialah sebagai seorang yang sudah berusia demikian tinggi, banyak pengalaman, dan merupakan satu jago yang namanya sudah menggetarkan dunia Kangouw serta sudah beberapa puluh tahun mengasingkan diri untuk melatih diri, kini dengan hanya satu jurus saja sudah hampir rubuh ditangan seorang bocah yang masih bau pupuk bawang. Jika hal ini nanti tersiar di kalangan Kangouw, bagaimana ada muka untuk menemui orang?

Maka dengan tanpa banyak bicara, Kouw-low Sin Ciam lantas angkat gendewanya, kembali melakukan serangannya ke arah kepala Kim Houw.

Kali ini Kim Houw tidak berkelit lagi karena perbuatannya tadi hampir membikin nyawanya celaka. Ia hendak menggunakan taktik menyerang untuk menghentikan serangan lawannya.

Sebelum gendewa lawannya sampai, senjata Bak-tha Liong-kinnya sudah menyambuti senjata musuhnya.

Kedua kekuatan tenaga saling beradu lantas menimbulkan angin hebat.

Pek-liong-ya bertiga yang sedang duduk bersemedi sampai tidak mampu pertahankan diri dari sambaran angin tersebut, sehingga pada lompat bangun dan mundur ke samping.

Sebentar saja kedua orang itu sudah bertempur sepuluh jurus lebih. Nampaknya sama-sama kuatnya, maka pertempuran itu merupakan suatu pertempuran hebat yang jarang tampak dalam dunia persilatan.

Selagi pertempuran berjalan seru, dari jauh tiba-tiba terdengar suara ketawa seorang wanita hingga mengejutkan kedua orang yang sedang bertempur ini.

Apa sebab Kouw-low Sin Ciam terkejut? Baik kita tunda sebentar. Di sini kita hendak bicarakan Kim Houw lebih dulu.

Ketika Kim Houw mendengar suara ketawa itu, dalam otaknya lantas mendengung. Sebab suara ketawa yang genit itu kembali telah menggetarkan dan menyadarkan sedikit perasaan dalam otaknya yang sudah linglung.

Suara ketawa itu datangnya demikian cepat, mula-mula terdengar nampaknya dari jarak yang sangat jauh, tapi belum lenyap suara ketawa itu, di atas tembok pekarangan sudah kelihatan seorang wanita setengah telanjang dengan kerudung kain sembari mengunjukan ketawanya yang menggiurkan hati.

Wanita yang baru muncul itu pembaca tentunya sudah kenal baik, ia adalah wanita genit Khu Leng Lie yang menyebabkan Kim Houw kehilangan ingatannya! Khu Leng Lie baru saja berdiri, belum melihat tegas bagaimana keadaan dalam medan pertempuran itu, matanya tiba-tiba melihat gendewa panjang, seolah-olah tikus melihat kucing segera ia mau kabur balik.

Tapi, sebelum memutar tubuhnya, matanya kembali dapat lihat senjata Bak-tha Liong-kin Kim Houw. Dari senjata itu ia lantas melirik kepada pemiliknya, siapa bukan lain ada si pemuda tampan Kim Houw !

Ia sudah tahu kegagahan Kim Houw, maka ia tidak jadi pergi. Wajahnya Kim Houw yang cakap serta badannya yang kuat kekar, sudah memikat hatinya, maka ia berat untuk meninggalkan tempat itu meskipun hatinya merasa jerih pada gendewa panjang tadi.

Ia lalu berdiri menonton pertempuran. Ia merasa heran sekali, bahkan Kim Houw mampu menandingi si iblis tua yang sudah tidak ada tandingannya didalam dunia. Disamping itu rasa sukanya kepada Kim Houw juga berlipat ganda. Kepandaian ilmu silat Kim Houw yang demikian tinggi, sungguh-sungguh di luar dugaannya sama sekali. Ia girang dengan adanya Kim Houw yang menghadapi iblis tua itu, ia sudah tidak perlu takuti padanya lagi!

Kiranya ketika Khu Leng Lie kabur ke daerah Kwan-gwa, kebetulan kala itu Kouw-low Sin Ciam juga berada di sana. Diantara begitu banyak laki-laki yang pernah dipermainkan dan kemudian celaka di tangannya, ada terdapat murid Kouw-low Sin Ciam.

Akhirnya, hal itu telah diketahui oleh Kouw-low Sin Ciam, siapa perlu mencari. Khu Leng Lie tidak mampu menandingi Kouw-low Sin Ciam, maka akhirnya tertawan oleh iblis tua itu. Kemudian karena Kouw-low Sin Ciam ketarik oleh kecantikannya, maka Khu Leng Lie dijadikan isterinya.

Tapi, Leng Lie merupakan seorang wanita cantik laksana bidadari sedangkan Kouw-low Sin Ciam wajah jelek seperti tengkorak hidup sudah tentu Khu Leng Lie tidak menyukainya. Maka ia lantas keluarkan kepandaiannya menghisap sari kekuatan Kouw-low Sin Ciam, supaya orang tua itu segera binasa.

Kalau usahanya itu berhasil, Khu Leng Lie juga terhitung seorang yang melakukan kebaikan terhadap masyarakat, telah menyingkirkan satu iblis dari rimba persilatan !

Apa mau, Kouw-low Sin Ciam juga paham ilmu demikian, hingga Khu Leng Lie tidak dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya.