Istana Kumala Putih Jilid 09

 
Jilid 09

"Hari ini, Kim Lo Han akan menghadiahkan jiwanya, mudah-mudahan kau anggap aku sebagai pelajaran hingga suka merubah semua kesalahanmu yang sudah-sudah. Rohnya Kim Lo Han di alam baka masih bisa tersenyum. Kalau kau masih tetap dengan kelakuanmu yang tidak senonoh nanti di kalangan rimba persilatan sudah tentu ada ksatria yang akan turun tangan, sudah pasti tidak dapat mengampuni perbuatanmu"

Sehabis mengucapkan kata-katanya, Kim Lo Han ayun tangannya hendak memukul batok sendiri!

Kim Houw sama sekali tidak menduga Kim Lo Han akan berbuat demikian dan sedikitpun tidak mau memberi kesempatan untuk memberi kesempatan baginya untuk memberi penjelasan.

Keduanya terpisah agak jauh, betapapun gesitnya Kim Houw, terang tidak keburu memberi pertolongan.

Selagi Kim Houw berada dalam keadaan kaget, tiba-tiba terlihat bayangan kuning meluncur ke jurusan pelipis Kim Lo Han.

Tangan Kim Lo Han sudah hampir menepok batok kepalanya, sedang bayangan kuning itu juga hampir berbareng mengenakan pelipisnya.

Hakekatnya Kim Lo Han yang sudah bertekad hendak membunuh diri, tidak seharusnya ambil pusing hal-hal lainnya. Siapa nyana, tiba-tiba dimiringkan dengan cepat menyambar benda kuning itu yang hendak menyerang pelipisnya.

Ketika benda itu berada dalam tangannya bau busuk lantas menyambar hidungnya. Kim Lo Han terkejut, dengan mata terbuka lebar ia mengawasi benda itu, ternyata bukan lain adalah sepatu rumput yang sudah dekil.

Kim Lo Han setelah melihat itu, sedikitpun tidak merasa takut, sebaliknya malah gunakan lain tangannya untuk menghitung kupingnya sepatu, "Satu, dua, tiga... empat, lima, enam. tujuh,

delapan, sembilan."

Tiba-tiba Kim Lo Han berseru, "Pengemis onta? Kau masih belum mati?!"

Saat itu terdengar suara orang ketawa terbahak-bahak, dari atas pohon lompat turun bayangan orang, ternyata mereka adalah Sin hoa Tok-kai atau pengemis beracun sepatu sakti dan si botak, bekas muridnya Tan Eng.

"Hwesio, kau mencari mati," kata Sin hoa Tok Kai. "Tidak suka ikut dia, ikut aku saja. Aku pengemis tua baru saja memungut seorang murid kecil, selama beberapa hari ini kelihatannya muridku ini boleh juga. Seumur hidupku aku tidak mempunyai murid, kini telah menerima seorang yang kepalanya botak, ditambah lagi seorang murid Hwesio, sungguh kebetulan merupakan pasangan."

Kim Lo Han dengan Sin hoa Tok Kai pada empat puluh tahun berselang, sudah mempunyai hubungan erat. Ketika Kim Lo Han masuk ke istana Kumala putih di gunung Tiang Pek San, tidak memberitahukan pengemis tua itu. Karena puluhan tahun belum pernah bertemu lagi dengan Kim Lo Han, pengemis tua mengira ia sudah meninggal dunia.

Kini mereka berdua saling bertemu lagi, bagaimana tidak menjadi kegirangan? Meski usia mereka sudah sama-sama tua, tapi kegembiraannya tidak kalah dengan anak muda.

Ketika Kim Lo Han dapat kenyataan bahwa pengemis itu memang betul sahabat karibnya pada empat puluh tahun berselang, telah melupakan segalanya. Ia memeluk si pengemis tua, lalu menangis seperti anak kecil.

Si pengemis tua yang tadinya masih ketawa-tawa, kini juga mengucurkan air mata, hingga keduanya saling berpelukan sembari menangis.

Kim Houw ketika menampak berkelebatnya benda kuning sudah mengetahui bahwa benda itu kepunyaan si pengemis beracun. Karena si pengemis itu telah menggagalkan niatnya Kim Lo Han untuk membunuh diri, maka ia merasa sangat berterima kasih.

Saat itu melihat dua orang itu menangis dengan sedihnya, ia sendiri juga turut merasa sedih. Mengingat dirinya terlunta-lunta, mengingat hari depannya yang gelap, mengingat Bwee Peng, mengingat Peng Peng... air matanya dengan tidak terasa juga telah mengalir turun.

Hanya si botak yang tidak menangis, ia berjalan menghampiri si iblis wanita cantik dan menanya, "Nona Kie! Kim siangkong kenapa berobah demikian?"

Nona juga tidak menangis, bukan saja tidak menangis, malah hatinya merasa terbuka.

Kedukaannya selama beberapa hari ini telah lenyap seketika.

"Aku sendiri juga tidak tahu mengapa dia berobah demikian, cuma ini bagi aku tidak ada bedanya! Asal dia suka aku, segala penyaruan jelek atau cakap, buat aku tidak menjadi soal!" jawab nona Kie.

Si botak yang mendengar jawaban itu, sebaliknya menjadi semakin bingung.

Tiba-tiba suara kuda berbenger terus-terusan, sehingga mengejutkan si pengemis tua dan Kim Lo Han, begitu pula Kim Houw tidak terkecuali.

Seperti baru sadar dari mimpinya, Kim Houw lompat menubruk Kim Lo Han sembari berkata, "Lo Han-ya, Lo Han-ya, kau..."

"Hai, aku si pengemis tua tahun ini benar-benar mujur, belum pernah aku mau menerima murid, tapi sekalinya terima lantas beruntun pada datang. Aku kata kau pengemis kecil, tadi kau masih belum memberi hormat kepada suhumu!" Sin hoa Tok Kai mengoceh sambil ketawa-tawa.

Kim Houw benar-benar ingin memberi hormat sambil berlutut di depan Sin thia Tok Kai, untuk mengucapkan terima kasihnya karena ia sudah menolong jiwanya Kim Lo Han. Tapi Kim Houw tidak mau membahasakan suhu, sebab ia sudah angkat Kao Jin Kiesu sebagai gurunya. Walaupun Kao Jin Kiesu sudah lama wafat, dan upacara pengangkatan guru itu hanya semacam formalitas saja, tapi dalam hati Kim Houw tetap tidak boleh melanggar tata tertib dalam perguruan. Jadi, ini bukan berarti dia tidak pandang si pengemis tua atau karena anggap kepandaian sendiri ada lebih unggul daripada Sin hoa Tok Kai.

Ia anggap budinya sang suhu ada begitu besar sekali terhadap dirinya. Kamar buku Kao Jin Kiesu selama dua tahun telah memberikan banyak pengertian ilmu silat yang tidak ada taranya, semua itu tidak dapat dibeli dengan harta benda dunia yang berapa besarnyapun.

Maka, Kim Houw berlagak pilon dan anggap perkataan si pengemis tua itu sebagai lelucon saja. Sebaliknya ia menarik tangan Kim Lo Han, mulutnya menyerocos. "Lo Han-ya! Lo Han-ya! Biar bagaimana kau harus dengar keteranganku dulu, kau harus percaya aku, percaya kepribadianku! Houw-ji bukan seorang rendah yang gampang lupa daratan!"

Kim Lo Han kembali pada kebiasaannya yang tidak banyak bicara. Lama sekali baru menyahut dengan suara dingin, "Percaya kau? Dengan apa kau suruh percaya kau? Emas tulen tidak usah takut api, kalau kau tidak berbuat apa-apa yang melanggar hati nuranimu, perlu apa kau harus menyaru begitu rupa?"

Ucapan Kim Lo Han ini memang ada benarnya, terutama malam itu ia telah saksikan sendiri, Kim Houw tengah memeluk seorang wanita cantik serta bersenda gurau sedemikian akrabnya, seolah-olah sudah melupakan tugasnya menolong Peng Peng. Sedang Bwee Peng yang sudah mati, tak usah dikata lagi.

Kim Houw tahu, kesan jelek Kim Lo Han atas dirinya sudah mendalam sekali, tidak mungkin dapat dibikin mengerti hanya oleh sepatah dua patah saja, maka ia lalu menuturkan semua pengalamannya sejak mereka berpisah dalam perjalanannya mengejar Peng Peng. Dari mulai bertemunya dengan Kie Yong Yong dan Tok Kai sehingga tibanya di puncak gunung Sin lie hong serta apa sebabnya ia menyaru sebagai pengemis dan kemudian menolong nona Kie.

Kim Lo Han setelah mendengarkan semua penuturan itu belum sampai ia menyahut, si pengemis tua itu sudah mendahului berkata dengan suaranya yang aneh. "Apa kau kata, dengan kepandaian lari aku si pengemis beracun, masakah tidak mampu mengejar kau? Kiranya kau sudah berubah rupa? Hei, pengemis cilik masih kurang sepasang sepatu rumput!"

Kemudian pengemis tua itu pun menceritakan duduk persoalannya. Ia kata, semula ia juga merasa heran apa benar Kim Houw adalah seorang anak muda yang gemar paras cantik? Ia pernah bersumpah pada diri sendiri, ia belum merasa puas kalau belum dapat membinasakan padanya.

Tapi, dalam perjalanannya mengejar dilakukan siang malam, meski sudah tiga kota dilalui, tapi hasilnya nihil. Ia mulai sangsi, sekalipun Kim Houw mempunyai kemampuan ilmu lari seperti terbang, tidak nanti demikian cepat, ia mulai mengadakan penyelidikan lagi. Ternyata peristiwa mesum itu telah terjadi pada tiga hari yang berselang, sedang pada saat itu ia dengan Kim Houw masih berada di tepi danau Thai-pek-ouw. Dari situ ia menarik kesimpulan, pasti ada orang lain yang hendak memfitnah Kim Houw. Cuma ia tidak tahu, apa maksud dan tujuannya orang itu hendak memfitnah diri Kim Houw?

Kim Lo Han tadi mendengar keterangan Kim Houw, sebetulnya percaya tujuh bagian. Kini mendengar pula keterangan si pengemis tua yang merupakan pembelaan terhadap Kim Houw, sekalipun tidak mau percaya seratus persen juga harus ia percaya.

Ia mulai menyesal atas perbuatannya sendiri yang sangat ceroboh, seandainya tidak keburu ditolong oleh sahabatnya itu, tentu ia mati konyol. Setelah semua urusan menjadi jelas, Kim Lo Han lantas perkenalkan Kim Houw kepada si pengemis tua, yang ternyata adalah wakil ketua dari partai Sepatu Rumput.

Sin hoa Tok Kai meski wujudnya pengemis yang nampaknya sangat jorok, tapi dalam kalangan Kangouw hampir tidak ada orang yang tidak kenal padanya. Pada empat puluh tahun berselang, bersama-sama Kim Lo Han namanya sudah menggetarkan dunia Kangouw.

Kim Houw sangat girang, ia juga perkenalkan nona Kie kepada dua orang tua itu. Ia katakan bahwa nona itu adalah adiknya yang baru dikenalnya, nona Kie juga tidak membantah.

Akhirnya mereka mulai membicarakan persoalan di gunung Teng lay-san dan Ceng kee cee, Kim Lo Han suruh Kim Houw berpakaian seperti biasa, tapi Kim Houw menyatakan pendapatnya bahwa dengan berdandan demikian ada lebih leluasa dalam perjalanan. Kim Lo Han akhirnya tidak keberatan.

Sin hua Tok Kai mengetahui bahwa orang yang hendak ditolong itu adalah nona Peng Peng yang menghadiahkan pedang Ngo-heng-kiam kepada Kim Houw, bukan kepalang kagetnya, lalu menghendaki supaya segera berangkat. Sebaliknya ia merasa ragu-ragu ketika mendengar bahwa orang yang menculik Peng Peng itu adalah Siao Pek Sin dari Istana Kumala Putih.

Namun setelah mendengar keterangan Kim Lo Han bahwa kaburnya Siao Pek Sin ke gunung Teng-lay-san ialah untuk menyingkir dari Kim Houw dan Kim Lo Han, pengemis tua itu lantas pentang lebar matanya, lama ia mengawasi Kim Houw.

Kim Lo Han mendadak menepok pundak kawannya sembari berkata, "Houw-ji juga pernah unjukkan kepandaiannya di depan matamu, apa kau masih belum percaya? Kim Lo Han selamanya jarang buka mulut, hal ini tentu kau sudah tahu, apa lagi untuk memuji orang namun buat Houw-ji aku kecualikan. Pengemis tua, kalau kau berani mengganggu dia kau nanti akan dapat rasakan sendiri akibatnya."

Sin hoa Tok Kai ketawa terbahak-bahak. Ia bukan tidak percaya, karena di tepi danau Thai- pek-ouw ia sudah saksikan sendiri bagaimana gesit dan luar biasa gerakan Kim Houw. Tapi kecuali ini, Kim Houw belum unjukkan kepandaian lainnya, maka tidak heran tadi si pengemis merasa ragu-ragu.

Lagi pula, pengemis tua itu masih merasa sangsi, Kim Houw seorang yang masih begitu muda usianya, betapapun tinggi kepandaiannya, masakah sudah mencapai puncaknya.

Tapi setelah mendengar pujian Kim Lo Han, mau tidak mau ia terpaksa percaya. Karena Kim Lo Han yang mendapat gelaran Hwesio gagu, belum pernah sembarangan membuka mulut, apalagi berdusta.

Semula, mereka hendak berjalan berbarengan, tapi si pengemis tua tidak suka jalan bersama sama dengan Kie Yong Yong. Maka akhirnya dipecah menjadi dua rombongan. Satu rombongan Kim Houw dengan Kie Yong Yong, lain rombongan Kim Lo Han bersama Sin hoa Tok Kai dan si botak.

Kim Houw dan Kie Yong Yong menunggang seekor kuda. Kie Yong Yong pakaiannya merah menyolok, sedang Kim Houw berpakaian pengemis. Tidak heran mereka sepanjang jalan sangat menarik perhatian orang.

Dalam perjalanan Kim Houw anggap Kie Yong Yong sebagai adiknya sendiri. Ia sangat sayang, sangat open, tapi sedikitpun tidak mempunyai pikiran yang bukan-bukan. Kecuali kalau mereka menunggang kuda bersama-sama, waktu mengaso atau menginap dalam rumah penginapan mereka selalu tidur pisah. Ada kalanya kalau kemalaman di tengah hutan, Kim Houw cuma duduk semedi, Kie Yong Yong tidur di sampingnya.

Kie Yong Yong, yang mendapat gelar iblis cantik, adatnya selalu keras, juga suka membawa maunya sendiri. Tidak nyana setelah bertemu dengan Kim Houw lantas berubah lemah lembut, sangat jinak. Bagi orang yang sudah kenal tabiatnya dan sifatnya nona itu benar-benar tidak mau percaya.

Hari itu, mereka masuk ke kota Pek-coa. Karena hari sudah petang, lalu mencari sebuah penginapan. Kim Houw meski dandanannya seperti pengemis, tapi dengan adanya Kie Yong Yong disampingnya membuat orang lain tidak berani pandang rendah padanya.

Seperti biasa mereka berdua sehabis mandi dan makan, lantas pada masuk tidur dalam kamar masing-masing.

Suatu kejadian yang agak ganjil telah dialami oleh Kim Houw. Malam itu tidak seperti biasanya ia tidak bisa tidur enak, perasaannya tidak karuan.

Kim Houw diam-diam merasa heran, ini adalah untuk pertama kalinya ia merasakan demikian sejak ia mengerti ilmu silat. Apakah itu adalah suatu firasat tidak baik?

Kim Houw hatinya ruwet, pikirannya kalut. Sebab kota itu letaknya sudah dekat gunung Ceng lay san, ia kuatir akan terjadinya apa-apa yang tidak diingini, maka lantas buru-buru bersemedi untuk menenangkan perasaannya, ia tidak ingin tidur lagi.

Tidak nyana begitu ia bangun duduk, bukan kepalang kagetnya. Karena bukan cuma kusut pikiran dan ruwet hatinya saja, tapi sekujur badan dan tulang-tulangnya juga dirasakan lemas dan tidak bertenaga.

Kim Houw terperanjat, sekarang ia mengerti dirinya telah masuk perangkap kawanan penjahat.

Tapi Kim Houw kepandaiannya sudah mencapai di puncaknya. Obat tidur biasa tidak mempan terhadap dirinya. Buat orang lain, tentunya sudah rubuh pulas sejak tadi!

Dalam kagetnya, Kim Houw buru-buru mengerahkan Khiekangnya untuk mengusir racun obat pulas itu. Saat itu, telinganya tiba-tiba menangkap suara bergeraknya pakaian yang tertiup angin. Dari gerak suaranya, Kim Houw mengetahui bahwa orang itu ada mempunyai kepandaian tinggi, bukan penjahat biasa. Ia semakin kaget, buru-buru ia kerahkan seluruh kepandaiannya, supaya lekas pulih kekuatannya.

Suara orang itu sebentar saja sudah berada di atas genteng dan mendadak berhenti bergerak. Kim Houw menduga-duga dan pasang telinga, ia tidak tahu apa maksudnya orang itu? Tapi heran, orang itu setelah berada di atas genteng lantas tidak kedengaran suaranya lagi.

Sebentar kemudian, Kim Houw mengeluarkan keringat bau busuk. Tenaganya lantas pulih kembali seperti biasa. Dengan cepat ia melompat keluar dari jendela untuk melihat apa yang terjadi di atas genteng.

Setibanya di luar ia merasa terheran heran karena terkecuali suara bajunya yang tertiup angin, orang itu tidak terdengar suara gerakan kakinya.

Mendadak ia dengar suara rintihan, terlalu samar-samar seperti suara orang mengigo, dan apa yang mengejutkan suara itu justeru datangnya dari kamar Kie Yong Yong! Apa yang telah terjadi dengan dirinya Kie Yong Yong?

Nona itu setelah masuk dalam kamarnya, baru saja rebahkan diri, sudah lantas jatuh pulas.

Dalam mimpinya ia seperti rebah terlentang di atas rumput bersama-sama Kim Houw, laki-laki yang dicintainya. Mendadak Kim Houw balikkan tubuhnya, lalu memeluk dirinya dengan kencang dan pipinya dihujani ciuman.

Ia merasa sekujur badannya seperti kena setrum listrik, ketika tangan Kim Houw mulai bermain di seluruh anggota badannya. Ia jengah pakaiannya diloloskan, tapi tidak berani melawan. Ia terlalu cinta Kim Houw, ia bersedia mengorbankan segala-galanya kepada anak muda itu, baik badannya maupun kesuciannya.

Tiba-tiba langit gelap, angin menderu, sebatang anak panah telah menyambar dan menancap pada dadanya, ia merasa kesakitan lalu tergugahlah ia dari mimpinya.

Belum sempat membuka matanya, ia merasakan dirinya ada orang tindih. Dalam kagetnya lantas ia membuka mata, dan... yang menindih dirinya ternyata adalah laki-laki dalam impiannya.

Malu-malu ia menutupi matanya dengan tangannya. Laki-laki itu adalah pria idamannya sendiri, maka bukan saja ia tidak mempunyai tenaga melawan, memang ia tidak mau melawan. Sebaliknya malah kuatir ditinggalkan begitu saja oleh pemuda pujaannya itu.

Tiba-tiba ia dengar suara pintu diketok dengan keras. "Adik Yong! Adik Yong! Kau kenapa?"

Kie Yong Yong pada saat itu masih dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, terhadap suara ketokan pintu dan suara panggilan, sama sekali tidak dengar. Tapi orang yang berada di atas dirinya, sebaliknya lantas lompat bangun dan melesat keluar dari jendela.

Kie Yong Yong terperanjat, ia lantas menjerit. Pintu tertendang terpetang. Kekasihnya muncul lagi dari pintu yang terbuka.

Kim Houw begitu berada dalam kamar lantas menghampiri pembaringan. "Adik Yong! Kau tidak kenapa-napa?"

Pertanyaan itu tidak dijawab, sebaliknya Kie Yong Yong sudah memeluk padanya dengan penuh kasih, bisiknya, "Engko Houw! Engko Houw! Aku mau kau, aku mau kau..."

Tiba-tiba Kim Houw seperti menyentuh badannya si nona yang halus, ia kaget dan terheran- heran, "Adik Yong, apa yang telah terjadi? Lekas jawab!" katanya.

Kie Yong Yong memeluk erat Kim Houw, jawabnya, "Engko Houw, aku mau! Kau mau!"

Kim Houw semakin bingung. Ia lalu mendorong dan pandang wajahnya Kie Yong Yong, nona itu keadaannya seperti orang yang sedang mabuk. Kim Houw mengira Kie Yong Yong cuma kena pengaruh obat pulas, maka buru-buru menotok jalan darahnya. Ia lalu letakkan lagi di atas pembaringan.

Kie Yong Yong dalam keadaan separuh telanjang, dengan sehelai selimut Kim Houw tutup tubuh si nona, kemudian dia sendiri duduk di pinggir pembaringan, menjaga kalau-kalau ada kejadian tidak diingini. Ketika Kie Yong Yong mendusin, cuaca sudah terang. Ia lihat Kim Houw duduk di pinggir pembaringan, sambil memandangnya. Wajahnya si nona merah seketika mengingat pengalamannya semalam. Ia lantas menari tangan Kim Houw, ditempelkan di pipinya dengan mesra, katanya perlahan, "Engko Houw, aku sudah bukan adikmu lagi...!"

Kim Houw tercengang, "Adik Yong, kau kenapa? Apa kau merasa sebel mempunyai engko semacam aku?"

Kie Yong Yong ketawa, ia mencubit Kim Houw perlahan.

"Kau seperti mengerti banyak urusan, mengapa dalam soal ini kau tidak mengerti? Apakah kau sengaja berlagak pilon? Semalaman kau..." bicara sampai di sini wajahnya mendadak dirasakan panas membara.

"Tadi malam... kenapa?" memotong Kim Houw.

Tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia telah menyaksikan si nona dalam keadaan separuh telanjang, apakah lantaran itu si nona mengucapkan kata-kata demikian?

Kie Yong Yong kepal tangannya, lalu memukul Kim Houw perlahan.

"Kau sungguh nakal! Kau masih pura-pura tidak mengerti, lantaran tadi malam... ah aku tidak mau menceritakan lagi! Tidak! Pendeknya, kau sendiri yang tahu, aku tidak bisa menjadi adikmu, melainkan menjadi..."

"Jadi apa?" memotong Kim Houw.

Kepala si nona disesapkan di bantal, ia tidak dapat lihat perubahan wajah anak muda itu. Ia menganggap Kim Houw menggoda dirinya, maka angkat kepalanya menghadapi si anak muda.

"Kau nakal! Kau nakal! Aku tidak mau!" katanya dengan kelakuan manja. Kim Houw tercekat hatinya dan menjadi curiga.

"Adik Yong, kau harus terus terang padaku, apa sebenarnya yang telah terjadi?" katanya dengan suara sungguh-sungguh.

Kie Yong Yong menampak sikapnya Kim Houw begitu sungguh-sungguh, tidak seperti sedang bergurau, dalam hati merasa heran. Tapi ia masih mengira Kim Houw belum memahami maksudnya, maka buru-buru ia berkata lagi, "Engko Houw, dalam urusan ini dalam hatimu tentu mengerti sendiri, tidak perlu aku menjelaskan lagi. Aku hanya akan beritahukan padamu, aku tidak bisa jadi adikmu lagi, aku akan menjadi isterimu!"

Kim Houw kaget seperti disambar petir mendengar perkataan itu. "Tidak... tidak... kau tidak bisa...," katanya dengan gugup.

Kie Yong Yong wajahnya berobah mendengar jawabah Kim Houw. "Apa...? Tidak... tidak.Kau berani mengatakan tidak?"

Si nona pucat pasi, Kim Houw menghadapi teka-teki. "Adik Yong, kau dengar dulu perkataanku! Aku cuma bisa anggap kau sebagai adikku..."

Belum habis ucapannya, Kie Yong Yong sudah berbalik membelakangi Kim Houw, tangannya menarik selimut untuk menutupi kepalanya, tidak bersuara juga tidak bergerak!

Kim Houw gelisah, ia tidak mengerti sikap si nona, mengapa mendadak keluarkan perkataan menjadi isterinya? Kematiannya Bwee Peng sudah membikin dingin hati Kim Houw, sedang untuk menghadapi Peng Peng yang mencintai dirinya saja, sudah cukup membikin pusing kepala. Tidak nyana kini kembali muncul dirinya si nona yang sifatnya lebih berandalan dengan terang-terangan telah menyediakan diri untuk menjadi isterinya.

Menghadapi Kie Yong Yong yang tidur menghadap ke dalam sembari menutup kepalanya dengan selimut, Kim Houw juga tidak tahu bagaimana ia harus berbuat?

Pagi sore, satu hari telah lewat. Kie Yong Yong masih tetap dalam keadaannya demikian. Kim Houw ajak ia makan tidak mau, suruh ia bangun ia juga tidak mau perdulikan, kalau ditanya apa sebabnya ia tidak menjawab.

Dalam keadaan demikian, Kim Houw juga tidak berdaya sama sekali. Ia sendiri bukan saja seharian tidak kepingin makan, bahkan untuk berkisar saja dari si nona tak dapat ia lakukan karena hatinya merasa kuatir.

Sore berganti malam, rembulan sudah unjukkan dirinya. Kim Houw satu hari tidak makan, baginya tidak jadi soal.

Tapi, buat Kie Yong Yong yang terus rebahkan diri dalam keadaan tidak berkutik seperti bangkai benar-benar membuat kuatir hati Kim Houw.

"Tong tong tong!", tiga kali suara kentongan telah memecahkan suara sunyi, suatu tanda malam telah larut.

Kie Yong Yong masih tetap dalam keadaan tidak bergerak, sedang Kim Houw duduk terpekur di pinggir pembaringan.

Mendadak kupingnya dengar suara orang jalan malam. Dalam kagetnya, Kim Houw ingat kejadian semalam. Pikirnya kalau dapat menangkap orang ini, sudah pasti tahu ia akan duduk perkaranya.

Ia segera melompat melesat dari jendela. Di bawah sinar rembulan, ia dapat lihat berkelebatnya bayangan orang yang lari menuju barat. Ia lalu keluarkan ilmunya lari pesat mengejar bayangan tadi.

Tidak jauh di luar kota, bayangan itu mulai kecandak oleh Kim Houw. Mendadak bayangan orang itu balikkan badannya dan berkata, "Sungguh ilmu lari pesat yang luar biasa!"

Kim Houw terperanjat, gerakan orang itu gesit sekali, mungkin tidak di bawah dirinya sendiri. Ia melihat orang itu, ternyata adalah bayangan tadi yang dikejarnya, mungkin ia sengaja berbuat demikian untuk menggoda Kim Houw. Tiba-tiba orang itu badannya bergerak kembali sudah kabur sejauh beberapa puluh tumbak.

Masih belum hilang rasa kagetnya Kim Houw, telinganya kembali dengar suara orang itu, "Apa kau mampu mengejar aku?"

Kim Houw diam-diam merasa geli, masakah kau bisa lolos? Demikian pikirnya. Kim Houw meski otaknya bekerja, tapi kakinya tidak tinggal diam, ia mengejar terus.

Kim Houw mengerahkan seluruh kepandaiannya, dalam sekejap saja sudah hampir mencandak pula orang itu.

Saat itu tiba-tiba terdengar suara terbahak-bahak dan bayangan orang itu mendadak hilang...

Kiranya kepandaiannya lari pesat orang itu, memang terpaut tidak jauh dengan Kim Houw, tapi ia ada sangat licik. Ia sengaja perdengarkan suara tertawanya untuk mengalihkan Kim Houw dari balik sebuah batu besar, dari situ maksudnya akan menyingkir lagi.

Menampak bayangan orang itu hilang secara mendadak, Kim Houw juga merasa agak heran seandainya orang itu tetap sembunyi tidak bergerak di balik batu mungkin Kim Houw tidak dapat menduga perbuatannya. Tapi oleh karena ia bergerak hendak berlalu lagi, maka serta gerak badannya bagaimana bisa lolos dari telinga Kim Houw? Sewaktu Kim Houw mengetahui orang itu ternyata sudah berada sepuluh tumbak jauhnya.

Kim Houw merasa heran dipermainkan lantas menjadi gusar. Kalau hari ini aku tidak mampu mengejar kau, percuma saja aku dilatih ilmu silat di Istana Kumala Putih selama dua tahun oleh Kauw Jin Kiesu? demikian pikir Kim Houw.

Tapi orang itu licik sekali. Ilmu larinya pesat dan mengentengi tubuh meski tidak dapat menandingi Kim Houw, namun setiap kali hampir kecandak, ia selalu menggunakan akal licik untuk meloloskan diri.

Berkali-kali ia berbuat demikian, akal bulusnya akhirnya diketahui oleh Kim Houw hingga sibuk. Tapi waktunya sudah terbuang kira-kira satu jam lebih dengan percuma.

Pada akhirnya Kim Houw menggunakan tipu yang paling hebat dari pelajaran Kauw Jin Kiesu, telah berhasil memegat jalan larinya orang tersebut.

Tiga kali ia coba mau meloloskan diri, tapi sia-sia semua usahanya maka ia lantas menghela nafas panjang, tiba-tiba ia berkata, "Ombak sungai Tiangkang yang belakang mendorong yang depan, orang baru menggantikan orang lama, Lohu seumur hidup belum pernah menyerah kepada siapapun juga, tapi hari ini terhadap mengentengi tubuhmu, benar-benar merasa takluk. Hanya Lohu masih ingin mencoba kepandaianmu yang sebenarnya, diteliti dari ilmu mengentengi tubuh yang sangat luar biasa dan daya tahanmu sangat kuat begitu lama, dalam hal ilmu lwekang rasanya Lohu tidak perlu menguji lagi, sekarang marilah kita coba mengadu kepandaian menggunakan senjata tajam! Harap kau suka keluarkan semua kepandaianmu supaya Lohu merasa takluk benar-benar!"

Sehabis mengucapkan perkataannya, orang itu lalu menghunus pedang panjangnya yang bersinar berkilauan.

Di situ Kim Houw baru dapat lihat dengan tegas wajahnya orang itu, ternyata adalah seorang dari pertengahan umur berbadan seperti anak sekolah, wajah putih bersih dan badannya nampak seperti seorang lemah. Kalau tidak menyaksikan sendiri, mungkin orang susah percaya bahwa seorang lemah demikian ada mempunyai kepandaian ilmu silat begitu tinggi.

Apa yang lebih mengherankan, ialah cara bicara orang ini, nampaknya usianya belum cukup setengah abad, tapi dalam pembicaraan selalu menyebut dirinya sendiri Lohu atau orang tua, entah apa sebabnya ia mengaku dirinya tua. Kim Houw sejak kanak-kanak sudah diempos pelajaran ilmu surat oleh Ciok-ya-ya nya, maka paling menghormat terhadap orang terpelajar. Karena melihat dandanan orang itu seperti anak sekolah, maka lantas buru-buru bungkukkan diri memberi hormat seraya berkata, "Senjata tajam tidak ada matanya, salah tangan bisa melukai orang, Siauseng hanya ingin menanyakan suatu saja..."

Orang itu ketawa bergelak-gelak, "Bagus benar kau menyebut dirimu sendiri Siauseng! Bocah, apa kau anggap dirimu sudah cukup dewasa? Tahukah kau berapa usia Lohu tahun ini? Kalau aku beritahukan, mungkin kau bisa kaget, lebih baik aku tidak beritahu saja. Sementara mengenai senjata tajam tidak bermata, hal ini kau boleh tak usah kuatir. Pedangku ini adalah sepuluh kali lipat lebih lihay daripada orang yang mempunyai mata. Kalau aku menghendaki melukai cuma satu dim saja pada kulitmu, dia tidak berani melukai kau lebih dari itu. Tapi kau boleh tak usah takut, pedangku ini tanpa sebab tidak akan menghirup darah orang, sedikitpun tidak akan melukai orang baik yang tidak bermusuhan dengan aku," demikian katanya.

Mendengar ucapannya yang agak jumawa, Kim Houw agak mendongkol, tapi ia masih coba menahan sabar.

"Barusan Siauseng berlaku kurang ajar telah mengejar Tuan, sebetulnya ada sebabnya.

Siauseng disini minta maaf sebanyak-banyaknya, harap Tuan..."

Belum lampias Kim Houw bicara, terputus oleh ketawa bergelak-gelak orang itu. "Bocah, mengapa kau begitu tolol, sedikitpun tidak mempunyai ambekan besar seperti anak muda?"

Kim Houw meras jengah, ia sebetulnya tidak suka gerakkan senjata dengan tanpa alasan. Begitu melihat orang itu nampaknya seperti kutu buku ia sudah tahu kalau kesalahan mengejar, tapi sudah menyandak, kalau tidak menanya, dalam hati masih merasa penasaran.

"Aku yang rendah hanya ingin menanyakan satu hal saja, tadi malam..."

Orang itu tiba-tiba menggeram hebat, suaranya sampai membikin kaget binatang-binatang atau burung-burung dalam rimba, kemudian disusul dengan bentakannya pula yang hebat. "Aku lihat kepandaianmu ilmu silat tidak lemah, tidak nyana nyalimu begitu kecil seperti tikus. Lohu ingin mencoba kepandaianmu, ini berarti Lohu ada pandang mukamu. Tapi kau jangan coba-coba jual harga dan menganggap dirimu luar biasa. Pedang panjangku ini, sudah tiga puluh tahun tidak pernah keluar dari sarungnya, malam ini sudah keluar sarung kau tidak sudi bertanding, dipaksa harus bertanding dan kalau mau bertanding tidak usah banyak rewel. Tentang soal lainnya sehabis bertanding boleh bicara lagi. Bocah, kau tidak perlu takut, Lohu tidak nanti melukai dirimu."

Kim Houw gusar mendengar kata-katanya yang memandang rendah.

"Aku hanya tidak suka bermusuhan tanpa alasan," katanya. "Apa kau kira aku bernyali kecil? Kau kata sudah tiga puluh tahun belum pernah menggunakan pedangmu, tapi aku sejak dilahirkan belum pernah menggunakan senjata tajam untuk menghadapi musuh. Apa kau kira aku benar- benar takut kau?"

Ia segera mengeluarkan senjatanya yang luar biasa, yaitu pecut Bak-tha Liong-kin. Tangannya begitu bergerak, pecut itu lantas mengeluarkan sinar hitam gemerlapan.

Orang itu menampak senjata Kim Houw yang istimewa, nampaknya sangat girang, kembali perdengarkan ketawanya yang bergelak-gelak, lalu berkata, "Senjata Bak-tha Liong-kin yang bagus sekali. Lohu malam ini benar-benar baru membuka mata, juga perhitungan ternyata tidak meleset. Pedangku yang tiga puluh tahun lamanya tidak pernah keluar dari sarungnya, malam ini ternyata ada harganya untuk dikeluarkan! Benar-benar berharga..." Berulang-ulang orang itu mengucapkan perkataannya yang berharga, sampai Kim Houw merasa jemu.

"Senjata wasiatku ini," kata Kim Houw dingin, "baru pertama kali ini aku akan coba gunakan.

Kau anggap berharga, tapi buat aku belum tentu ada harganya untuk melayani senjatamu itu. Bagaimana? Mau bertanding, lekaslah. Aku masih ada lain urusan, tidak mempunyai waktu untuk mengobrol dengan kau!"

Orang itu kembali ingin ketawa, tapi tidak jadi ketawa.

"Baik! Aku tidak akan menyia-nyiakan waktumu. Bocah! Lihat pedang!"

"Ser!" cepat sekali ujung pedang sudah mengancam dada Kim Houw, tapi Kim Houw diam tidak bergerak, hanya mundur sedikit sudah dapat mengelakkan serangan.

Orang itu tersenyum, dengan tidak merobah gerakannya ia tetap mengarah dada Kim Houw. Dari serangannya yang pertama, Kim Houw dapat merasakan bahwa serangan itu biasa saja,

tidak ada apa-apanya yang mengherankan. Nampaknya orang itu cuma mulutnya saja yang besar.

Tidak disangka bahwa serangannya yang kedua pun sama saja. Kim Houw menyesal telah mengeluarkan senjata wasiatnya, kalau lawan cuma demikian saja, dengan mengandal sepasang tangan kosong, rasanya juga sudah cukup melayani.

Maka ia kembali egoskan badannya mundur selangkah. Dalam pikirannya, dengan beruntun mengelakkan diri sampai dua kali, tentu ada maksudnya. Pertama, orang itu anggap diri sendiri terlalu tinggi, ia selalu menyebut dirinya Lohu, Lohu, dengan alasan menghormati orang tua, sudah sepatutnya kalau mengalah dulu. Kedua, setelah tiga kali, jika masih tidak ada gerakan yang luar biasa, Kim Houw bersedia menarik kembali senjatanya, dengan tangan kosong ia hendak melayani lawannya. Karena dengan kepandaian begitu saja, sebetulnya tidak ada harganya dilawan dengan menggunakan senjata wasiat seperti pecut Bak-tha Liong-kin nya.

Sesudah serangannya yang ketiga, orang itu masih tetap tersenyum, gerakannya pun tidak berobah, masih tetap hendak menikam dada orang.

Melihat keadaan demikian, Kim Houw agaknya sangat kecewa, ia tidak nyana bahwa orang itu pandai membuat seperti serupa itu...

Tapi belum lenyap pikirannya itu dan selagi hendak mundur lagi, dengan tiba-tiba pedang itu seperti menggetar, pedang itu telah berubah menjadi sinar beraneka warna, mengurung sekujur badan Kim Houw.

Bukan cuma begitu saja, lebih cepat Kim Houw bergerak mundur, pedang itu lebih cepat pula gerakannya. Dengan beruntun mengeluarkan suara "ser, ser" baju panjang Kim Houw bagian bawah, kanan dan kiri sudah kena disontek beberapa tempat, sehingga terdapat puluhan lobang.

Dengan demikian Kim Houw bukan saja terkejut dan terheran-heran, bahkan mengeluarkan keringat dingin. Orang itu benar-benar tidak berlaku ganas, kalau tidak badannya sudah banyak berlobang atau jiwapun lantas melayang. Dengan demikian ia mengalami apa yang disebut mati konyol. Kim Houw tidak berani berlaku ayal lagi, pandangannya terhadap orang itu juga lantas berobah. Ia angkat pecutnya, kedudukan nampaknya terbuka lebar. Dengan sikap yang hormat, ia berkata, "Locianpwe, silahkan mulai!"

Orang itu nampak kedudukan Kim Houw terbuka dalam hati juga merasa heran. Tiba-tiba ia bersiul nyaring, dengan tidak banyak bicara ia putar pedangnya menyerang Kim Houw.

Kim Houw juga perdengarkan suara pekikannya yang nyaring, dalam malam sunyi seperti itu, suara itu mengalun lama sekali. Ia lalu menggunakan ilmu pecutnya Hiang-houw-wie-pian dari Kauw Jin Kiesu, untuk melayani pedang orang itu.

Ilmu pecut itu yang paling lihay dan hanya terdiri dari tiga stel, ke satu ialah Hiang-mo-sin-pian, tiga stel ilmu pecut itu, setiap stel cuma dua puluh empat jurus, tapi tiap stel mempunyai hubungan satu sama lain. Perobahan setiap geraknya luar biasa indahnya.

Diantara tiga stel ilmu pecut itu, Hiang-mo-sin-pian adalah yang paling hebat. Begitu diputar pecut itu seperti bersinar. Bak-tha hanya merupakan seutas tali, jangan harap ada orang dapat lihat dengan tegas dimana Bak-tha dan dimana Liong-kin.

Kedua ialah Hiang liong lie-pian dan akhirnya Hian houw wie-pian, tapi Hiang houw wie pian itu meski terhitung yang paling lemah, gerakannya hebat dan orang biasa dalam rimba persilatan jika mampu melayani sepuluh jurus sudah boleh dianggap orang gagah kelas satu dalam kalangan Kangouw. Jika mampu melayani sampai dua puluh empat jurus dan belum keteter, orang tersebut terhitung orang yang mempunyai kepandaian ilmu silat istimewa.

Dan kini, orang itu bukan saja sudah melayani ilmu pecutnya dua puluh empat jurus, bahkan masih mampu melancarkan serangan pembalasan, sedikitpun tidak menunjukkan kelemahannya. Tapi itu bukan berarti ilmu pecut yang kurang hebat, karena Kim Houw tidak menggunakan tenaga sepenuhnya. Sebabnya ialah orang itu tadi pernah memberi kelonggaran padanya, sehingga ujung pedangnya tidak melukai dirinya, maka setidak-tidaknya ia harus memberi muka padanya.

Orang itu bukan saja tinggi ilmu silatnya, pengetahuannya juga luas. Bagaimana tidak mengerti maksudnya Kim Houw? Tapi ia tidak suka menerima budi, sebaliknya malah gusar.

"Bocah busuk! Apa kau tidak pandang mata pada Lohumu? Kau berani tidak menggunakan tenaga sepenuhnya, hati-hati nanti badanmu kuberikan beberapa puluh lobang lagi!" demikian bentaknya dengan suara keras.

Ucapan orang itu memang sangat pedas, Kim Houw tidak. Biar bagaimana orang itu sudah melepas budi duluan, ia toh harus menghargai budi itu. Untuk menuruti kehendak orang itu terpaksa Kim Houw keluarkan tenaga sepenuhnya.

Dengan perobahan itu, benar saja ilmu pecut Hiang houw wie pian nampak kehebatannya, sebentar saja dua puluh empat jurus sudah dimainkan habis. Orang itu meski masih mampu menyambuti sampai habis, tapi sudah setengah payah. Namun ia masih belum puas.

"Bak tha Liong kin, aku kira bagaimana hebatnya, tidak tahunya cuma begitu saja. Sekalipun kau kerahkan seluruh kekuatanmu juga belum mampu menjatuhkan Lohu," ejeknya.

Kali ini Kim Houw sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Ia hendak pertahankan kewibawaannya, senjatanya itu sudah didapatkannya pada beberapa ratus tahun berselang oleh gurunya Kauw Jin Kiesu. Kim Houw lalu keluarkan seruan hebat, ilmu pecutnya tiba-tiba berobah, kini ia melancarkan ilmu pecutnya Hiang liong li pian, bahkan begitu bergerak ia tidak mau memberi hati lagi. Setiap gerakan ada begitu cepat, setiap serangannya ada begitu lihay, namun ia masih bisa mengendalikan, di saat genting ia turun tangan masih bisa kira-kira.

Dengan demikian orang itu kini telah merasa kewalahan menghadapi serangan Kim Houw.

Tadi waktu Kim Houw menggunakan ilmu pecut Hiang houw wie pian, pecut dan pedang belum pernah beradu atau bersentuhan, tapi sekarang pedang panjangnya orang itu kadang- kadang karena hendak menolong kedudukannya yang berbahaya terpaksa digunakan untuk menangkis pecut Kim Houw. Selama dua puluh empat jurus, tidak kurang dari lima kali kedua senjata itu saling bentur.

Dengan pedang Cang hong kiam saja, jika hendak memapas pecut wasiat Kim Houw itu berarti hanya impian kosong. Orang itu tiba-tiba menghela nafas dalam dalam dan mengeluh sendiri, "Ah! Jika pedang Ngo heng kiam ada di sampingku, pasti bisa memapas pecut Liong kin ini menjadi beberapa potong, sedang ilmu pecut si bocah yang begitu hebat juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadap diriku!"

Pecut Bak-tha Liong-kin itu adalah senjata wasiat yang tidak ada duanya dalam dunia. Segala macam senjata tajam jangan harap bisa merusaknya. Keuletannya hampir-hampir membuat orang susah percaya. Orang itu dapat mengenali senjata Liong kin itu, bagaimana tidak mengerti keistimewaannya? Ucapannya itu hanya untuk menutupi rasa malunya saja.

Tadi, ketika Kim Houw mendengar orang itu menyebut pedang Ngo heng kiam, dalam hati merasa kaget. Ia buru-buru tarik kembali senjatanya dan lompat mundur seraya berkata, "Mohon tanya nama Locianpwe yang terhormat?"

Siapa adanya orang itu? Ia bernama Touw Hoa orang dari Tiong Ciu. Tahun ini usianya sudah delapan puluh tahun. Oleh karena di waktu kanak-kanak pernah minum darah semacam binatang belut yang sangat ajaib membikin wajahnya awet muda. Maka meski usianya sudah delapan puluh tahun, tapi tampaknya seperti yang baru berusia empat puluh tahun.

Di masa muda Touw Hoa pernah mendapat didikan ilmu silat dari seorang gaib, hingga mempunyai kepandaian ilmu silat yang amat tinggi. Tenaga lweekangnya, karena khasiat darah belut itu, makin tua usianya makin tinggi kekuatannya. Dengan pedang Ceng-hong-kiamnya itu, ia dapat mainkan demikian bagusnya. Ilmu pedangnya ialah Cu-liong-kiam, yang setiap serangannya ada begitu aneh dan luar biasa dahsyatnya.

Siapa sebetulnya Touw Hoa itu? Ia adalah kakeknya Peng Peng, Tiong Ciu Khek!

Tiong Ciu Khek Touw Hoa ketika melihat Kim Houw mundur secara mendadak, masih mengira bahwa anak muda itu sudah tidak sanggup melawan, tapi ternyata bukan, ia hanya menanyakan namanya, maka dalam hati merasa amat heran.

"Lohu Tiong Ciu Khek Touw Hoa, bocah apa kau kenal aku?" demikian tanyanya.

Mendengar jawaban itu Kim Houw lantas mengetahui bahwa dugaannya tidak salah, maka lantas buru-buru menarik kembali senjatanya, sekali lagi ia memberi hormat seraya berkata, "Boanpwe Kim Houw, di sini ada serupa barang Cianpwee pasti kenal!"

Kim Houw belum sampai keluarkan pedang Ngo heng kiam nya, Tiong Ciu Khek sudah tertawa tergelak-gelak.

"Bocah, kau anggap Lohu terlalu kecil. Barang aneh apa saja di dalam dunia ini yang Lohu belum pernah lihat? Kecuali..." Belum habis ia berkata dalam suasana gelap itu matanya tiba-tiba dibikin silau oleh sinar pedang Kim Houw. Tiong Ciu Khek lalu menanya, "Kau siapa? Lekas jawab! Dari Ceng kee cee? Istana Kumala Putih atau Pek-liong po?"

Diberondong pertanyaan demikian banyak, Kim Houw hanya menggelengkan kepala. "Semua bukan! Aku adalah kawannya Peng Peng, pedang ini pemberian Peng Peng!"

Tiong Ciu Khek kerutkan alisnya, "Kau panggil dia Peng Peng? Pedang Ngo heng kiam ini dia yang berikan padamu? Mengapa dia berikan padamu?"

Kembali Kim Houw dihujani tiga pertanyaan beruntun.

Mengenai pertanyaan yang pertama, Kim Houw lantas merah wajahnya, pertanyaan kedua ia hanya anggukkan kepala, sedang pertanyaan yang ketiga, ia sendiri tidak tahu apa sebabnya Peng Peng memberikan padanya pedang wasiat yang sangat berharga itu?

"Kau hendak kemana?" tanya pula Tiong Ciu Khek.

"Boanpwe pada sebelum tanggal lima bulan lima harus tiba di Ceng kee cee, menolong nona Peng Peng, sebab dia..." jawab Kim Houw muram.

Tapi Tiong Ciu Khek lantas ulapkan tangannya mencegah Kim Houw melanjutkan keterangannya.

"Hal ini aku tahu, aku sekarang juga sedang dalam perjalanan menuju ke Ceng kee cee.

Mereka begitu berani berlaku kurang ajar terhadap cucu perempuanku, bagaimana aku enak peluk tangan? Kalau aku tidak dapat mengubrak-abrik Ceng kee cee, aku Tiong Ciu Khek selanjutnya akan menghapus nama dari dunia Kangouw!" katanya orang tuaitu dengan wajah gusar.

Melihat orang tua itu begitu sengit, Kim Houw buru-buru membelokkan persoalannya.

"Di depan masih ada Sin hoa Tok Kai Locianpwe yang menantikan!" katanya dengan hormat. Tiong Ciu Khek sebetulnya sedang murka, tapi ketika mendengar keterangan Kim Houw tadi,

mendadak wajahnya kelihatan girang.

"Sin hoa Tok Kai si pengemis tua, adalah seorang berhati mulia," katanya. "Sudah lama tidak berjumpa, ini benar-benar ada suatu kabar baik. Bocah! Kau tadi menanyakan soal tadi malam, soal apa itu sebetulnya? Sedang tadi malam aku masih berada beberapa lie jauhnya dari sini..."

Kim Houw tahu semua terjadi karena salah paham, maka lantas buru-buru menjawab, "Itu adalah kesalah pahaman, harap Locianpwe suka memberi maaf. Boanpwe masih ada sedikit urusan di kota Pek coan shia, harap Cianpwe jalan dulu nanti Boanpwe segera menyusul!"

Setelah Tiong Ciu Khek sudah tidak kelihatan, Kim Houw baru balik ke kota, dia langsung masuk ke kamar Kie Yong Yong.

Di atas pembaringan ternyata sudah kosong, entah kemana perginya Kie Yong Yong. Dalam kagetnya, Kim Houw mencari ubek-ubekan, tapi hasilnya nihil.

Ia lalu masuk ke kamarnya sendiri, di atas meja ia dapatkan sehelai kertas yang penuh tulisan.

Kim Houw buru-buru jumput dan baca. "Engko Houw! Aku tidak sesalkan langit, tidak sesalkan bumi, aku cuma sesalkan diriku sendiri yang bernasib malang. Dulu suhu pernah mengatakan padaku, "Meski parasmu cantik bagaikan bunga mawar, sayang nasibmu tipis seperti kertas. Harus hati-hati terhadap godaan hati muda".

Ketika aku yakin sifatku sendiri yang keras serta kepandaian yang kupunyai, mana mungkin terjadi? Maka ramalan suhu itu siang-siang sudah kulupakan.

Tidak disangka-sangka aku bisa bertemu dengan kau, engko Houw. Aku cuma bisa sebut padamu demikian, sebab kau tidak cinta padaku, sebaliknya aku tergila-gila sendiri padamu!

Meski aku mengatakan tidak menyesalkan kepada langit dan bumi, tapi dalam hatiku merasa gemas. Kau tidak seharusnya setelah merusak kehormatanku lantas tidak mau ambil diriku sebagai isteri. Cobalah raba hatimu sendiri, bagaimana perasaanmu terhadap Tuhan? Terhadap adik Yong mu? Terhadap liangsim mu?"

Tulisan Kie Yong Yong sebagian sukar dibaca, mungkin ditulis dalam keadaan kalut. Membaca sampai disitu Kim Houw hatinya merasa perih, seolah-olah ditusuk oleh jarum. Dan karena gusarnya, otot-otonya sampai kelihatan menonjol keluar.

Selanjutnya, di bagian belakang seluruhnya ditulis dengan ucapan-ucapan: "Engko Houw, aku benci padamu! Untuk sakit hati ini, aku hendak menuntut!" Tulisan itu ditulis berulang-ulang, tidak ada perkataan lainnya.

Kertas tulisnya masih ada tanda-tanda basah, rupanya karena tetesan air mata. Nyata bahwa si nona benar-benar sudah hancur luluh perasaan hatinya. Bagaimana dukanya pada sat ia menulis surat itu?

Kim Houw tidak sanggup membaca lagi, ia simpan surat itu dalam sakunya, lalu lari ke stal kuda, kuda hitam itu ternyata juga sudah tidak ada. Ia tahu, Kie Yong Yong telah pergi meninggalkan padanya dengan hati hancur serta penasaran.

"Itu adalah aku, aku yang mencelakakan dirinya!" demikian pikirnya dalam hati kecil Kim Houw.

Berpikir demikian ia ingin mengejar, tapi kemana? Tidak ada tujuan, kemana harus mencari jejaknya?

Akhirnya, ia ingat siapa orangnya yang melakukan itu kejahatan. Ia kembali ke kamarnya lantas memanggil pelayan.

Seorang pelayan muncul dengan lakunya yang congkak.

"Siangkong! Mau apa? Mau air untuk cuci muka, atau air teh? Air di dapur masih belum panas, belum bisa cuci muka, begitu pula air teh. Harap Siangkong sabar sebentar..." demikian ia nyerocos sendiri.

Seorang pelayan rumah penginapan bagaimana bisa bersikap demikian congkak terhadap tetamunya? Itu hanya disebabkan pakaian Kim Houw yang kotor sehingga tidak pandang mata sama sekali.

Pelayan itu sebenarnya masih hendak bicara lagi, tiba-tiba menampak wajah Kim Houw berubah pucat, matanya bersorot gusar, sehingga ia merasa ketakutan sendiri. Kim Houw tutup pintu kamar lebih dulu, baru setindak demi setindak menghampiri si pelayan.

"Siapa yang mencampuri obat pulas dalam makanan dan minumanku? Lekas jawab!" bentaknya.

Di luar dugaan, pelayan tadi mendengar pertanyaan itu lantas menjadi gusar. "Hei! Siangkong!

Kalau kau tidak mempunyai uang uutuk membayar sewa kamar, bicara secara baik. Buat uang tidak seberapa, masakah kita hendak bikin rewel? Perlu apa mencari alasan yang bukan-bukan, untuk memfitnah orang?" demikian jawabnya.

Kim Houw ketawa dingin, "plak!" sepotong uang emas seberat sepuluh tahil dilemparkan di atas meja dan menancap dalam sekali.

"Matamu buta, kau lihat asli atau bukan? Aku hanya ingin menanya satu hal, kau harus menjawab terus terang, jangan sekali kali kau berani main gila dengan aku, atau kau nanti mencari susah sendiri!" kata Kim Houw.

Pelayan itu ketika matanya melihat uang emas, sikapnya lantas berobah. "Siangkong...!, kau salah paham, cobalah kau katakan!"

Kim Houw menanya pula dengan mata melotot, "Masih tetap juga, siapa yang suruh kalian menaruh obat pulas dalam makanan kita?"

Pelayan itu nampak berpikir sejenak, tapi tidak mampu menjawab.

Melihat keadaan demikian, Kim Houw mengerti jika tidak menggunakan kekerasan, jangan harap bisa dapat keterangan yang sebenarnya. Maka dengan cepat ia lantas menyambar tangan pelayan itu.

Kim Houw menekan dengan keras, sampai pelayan itu kesakitan hingga jejeritan. "Aduh... aduh... ini bukan urusanku, ini bukan urusanku... Siangkong, tanganku hampir patah, berbuatlah kebaikan pada sesama manusia!"

Kim Houw lepaskan tangannya, lalu berkata, "Lekas jawab! Siapa yang menyuruh kalian?" Pelayan itu usap-usap tangannya yang sakit, setelah merintih sekian lamanya, baru menjawab,

"Itulah... seorang yang mengaku dirinya Kim Houw, yang menyuruh kami berbuat demikian. Setiap kali bayarannya seratus tail perak, tapi itu tidak ada hubungannya dengan pelayan, itu urusan kasir..."

Mendengar keterangan itu, hati Kim Houw hampir meledak. Ia lalu mencari kasir yang lantas menyapa dengan wajah berseri-seri. "Oh, kiranya Kim siangkong berdiam di sini, harap maafkan aku terlambat menyambut! Kami juga sudah mengutus orang untuk memberitahukan kepada Kim siangkong..."

Kim Houw sebetulnya ingin hajar mampus si kasir, namun ia pikir itu bukan tindakan yang sempurna. Ia mengerti bahwa perbuatan mencampuri obat pulas dan mencemarkan kehormatan Kie Yong Yong dilakukan oleh Siao Pek Sin!

Sekarang kecuali menangkap biang keladinya ialah Siao Pek Sin, maka dari gusar akhirnya ia hanya menasehati kasir, supaya lain kali jangan temaha pada uang, melakukan perbuatan yang mencelakakan orang.

Setelah membayar sewa kamar, Kim Houw lantas meninggalkan rumah penginapan itu. Bayangan Kie Yong Yong masih berputaran dalam otak Kim Houw, namun terdesak oleh bayangan Peng Peng yang mengorek hatinya lebih dalam. Terutama tanggal lima bulan lima sudah berada di depan matanya. Meski Kim Lo Han, Tok Kai dan Touw Hoa sudah menuju dalam perjalanan ke gunung Teng-lay-san, tapi apabila ia sendiri tidak turut ambil bagian, mungkin akan menimbulkan keruwetan.

Tanpa banyak pikir, Kim Houw lantas meninggalkan kota Pek-coan, terus menuju ke gunung Teng lay san.

Tingginya gunung itu ada enam ribu meter dari permukaan laut, rimbanya lebat. Binatang buas dan ular berbisa terdapat di mana-mana. Bagian yang tertinggi dan terdalam dari gunung tersebut, setiap tahun tertutup salju hingga jarang didatangi manusia atau binatang.

Ceng kee cee letaknya di persimpangan sungai Tiangkang, di atasnya sungai hitam persis di tengah-tengah puncak gunung Teng lay san yang paling tinggi. Di tengah-tengah antara kedua puncak gunung yang menjulang tinggi ada sebuah lembah yang tanahnya datar, dimana ada terdapat sebuah danau kecil yang bernama Ceng-ouw. Dan benteng Ceng kee cee ini telah dibangun di sekitar danau itu. Lembah datar itu dikurung oleh puncak gunung di sekitarnya, maka jauh dari gangguan angin puyuh atau hujan salju lebat. Hampir selamanya hawanya sejuk seperti di musim semi. Terutama danau Ceng ouw itu, airnya bening sekali, boleh dipakai untuk minum. Penduduk Ceng kee cee yang jumlahnya ratusan, selamanya mengandalkan air danau itu untuk makan dan minumnya.

Hari itu Kim Houw sudah memasuki daerah pegunungan Teng lai san. Oleh karena hatinya cemas, ia berjalan sekenanya, maka akhirnya nyasar di dalam gunung.

Karena gunung itu banyak puncaknya dan jarang manusianya, maka ia tidak dapat menanyakan kepada siapapun juga.

Tiba-tiba di salah satu mulut lembah, ia segera dengar suara senjata beradu. Kim Houw sangat girang, pikirnya asal di situ ada manusia pasti bisa diminta keterangannya. Maka ia lalu kerahkan ilmu lari pesat menuju ke lembah tadi.

Dari jauh Kim Houw dapat lihat ada dua buah rumah bambu, halaman di depan rumah itu ada satu bayangan hitam di tengah berputaran dengan cepat. Dalam tangannya memegang serupa senjata yang sangat aneh bentuknya. Senjata itu sedang diputar kencang sekali, sebentar kemudian bayangan itu tiba-tiba rebahkan dirinya di tanah dan kemudian membalikkan tubuhnya, seperti luka binatang badak yang mengintai rembulan, kemudian meloncat tinggi dan ulur lengannya yang panjang, geraknya itu gesit sekali.

Kim Houw mengawasi dengan seksama baru dapat lihat dengan nyata. Kiranya itu adalah seorang anak muda tampan yang sebaya dengan dirinya. Ia merasa heran, di dalam hutan belukar seperti ini, entah apa orang yang berkepandaian tinggi darimana yang mengasingkan diri di sini dan mengajari murid-muridnya?

Mendadak dari atas sebuah pohon besar riuh suara daun yang berterbangan. Menyaksikan keanehan itu, Kim Houw semakin heran karena sebagai seorang yang sudah mempunyai pandangan sangat tajam, ternyata ia masih tidak mengenali senjata rahasia apa yang digunakan, hanya melihat berkelebatnya sinar lantas daun-daun pohon berterbangan seperti rontok dari tangkainya.