-->

Imam Tanpa Bayangan II Jilid 20 Tamat

 
Jilid 20 (Tamat)

SEKILAS memandang Pek In Hoei telah menangkap adanya dua sosok bayangan manusia yang tinggi besar berdiri tepat di atas gua karang di mana ia menyembunyikan diri tadi.

“Keparat cilik” teriak kakek she Hoa itu. “Kematian sudah berada dldepan pintu. Namun sebelum malaikat elmaut mencabut nyawamu, aku beri kesempatan kepadamu untuk menjumpai jagoan yang terlihay dari kalangan jahat. Mereka adalah “Cia Kak Sin Mo” Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng serta “Pek Giok Jien Mo” Iblis Khiem Kumala Hijau Mie Liok Nio”

Perlahan lahan Pek In Hoei mengangguk “Sungguh besar kegembiraan kalian berdua. Ditengah malam buta sedingin ini kamu berdua masih sudi menemani Hoa Pek Tuo untuk datang kemari menikmati rembulan digunung yang tandus” Cia Kak Sio Mo tertegun, kemudian sambil menepuk kepalanya yang botak bentaknya keras2: “Keparat ciiik, jadi kaulah yang bernama Pek In Hoei dari partai Thiam Cong”

“Dikolong langit hanya ada seorang yang bernama Pek In Hoei dan dia adalah aku, masa ada orang kedua?”

Rupanya Cia Kak Sio Mo tidak menyangka kalau keberanian Pek In Hoei begitu besar kendati sudah terkepung oleh tiga orang jagoan yang terlihay dalam dunia persilatan dewasa ini, bukan saja tidak menampilkan rasa gugup atau terperanjat bahkan malahan tenang dan tersenyum.

Ia lantas mendongak dan tertawa terbahak-bahak, “Haa... haa.... haa. keparat cilik, besar benar nyalimu!”.

“Criiiing !”

Pek Giok Jien Mo menyentil senar khiemnya, lalu membentak: “Pek In Hoei, besar benar nyalimu berani melukai muridku, Hmmm, rupanya kau sudah bosan hidup?”.

Oleh getaran irama khiem tersebut Pek In Hoei rasakan ulu hatinya seakan akan ditusuk oleh benang tajam. Begitu sakitnya hingga darah amis segera naik ke atas tenggorokan dan hampir saja muntah darah.

Ia gigit darahnya kencang kencang menahan penderitaan yang dirasakan dalam tubuhnya. Dengan suara dingin segera jawabnya: “Asalkan kau tidak memperdulikan kedudukan serta usiamu, mari.... mari.... dengan senang hati kusambut kedatangan kamu semua dan aku Pek In Hoei akan layani kalian hanya mengandalkan sebilah pedang ini” “Keparat cilik” geram Kong Yo Leng dengan marahnya, “Kau berani mengucapkan kata kata seperti itu? ku jagal dirimu”.

Sekali ayun mendadak sepuluh batang pedang pendek laksana kilat meluncur ke arah tubuh sianak muda itu.

Dengan cepat Pek In Hoei mengeluarkan pedangnya, dengan jurus “Jiet Im Si Pian” atau Bayangan Sang Surya Condong Kebarat ia bentuk selapis cahaya pedang yang segera melindungi seluruh tubuhnya.

Cia Kak Sin Mo mendengus dingin. Kesepuluh jarinya disentilkan berbareng sepuluh bilah pedang pendek dengan disertai hawa khikang yang kuat dengan cepat meluncur kembali ke depan.

“Duuuk.... duuuk....” cahaya tajam mendadak sirap, pedang panjang itu dengan di iringi cahaya panjang melayang ke angkasa dan rontok kurang lebih dua tombak dari tempat semula.

Oleh desakan hawa khiekang yang maha dahsyat, tubuh Pek In Hoei terdorong mundur ke belakang hingga jatuh terduduk di atasi batu cadas, tak tahan lagi ia berseru berat dan menyemburkan darah segar dari mulutnya.

Sekalipun begitu, pemuda kita tidak menjadi gentar. Perlahan-lahan ia bangkit berdiri dengan pandangan yang sangat dingin ditatapnya wajah Cia Kak Sin Mo tajam tajam.

“Keparat cilik, apa yang hendak kau katakan lagi?” jengek Kong Yo Leng dengan nada seram.

“Sikapmu yang kejam terhadap diriku saat ini, pasti akan kubayar kembali beserta bunga bunganya dikemudian hari” “Haa.... haa.... haa.... dua kali Loohu merantau dalam dunia persilatan, entah sudah berapa banyak manusia yang kubunuh mati, tapi.... coba kau lihat, bukankah hingga kini aku masih hidup dalam keadaan segar bugar?”

Mendadak gelak tertawa terputus ditengah jalan. Dengan pandangan mendelong ditatapnya wajah Pek In Hoei tajam, tanpa sadar sekujur badannya bergidik.

Ternyata secara mendadak ia telah menjumpai bekas merah darah yang terdapat pada kening pemuda tersebut. Bekas merah itu kian dipandang kian bertambah nyata. Raut wajahnya yang ganteng penuh diliputi napsu membunuh, sikap serta keadaan dari sianak muda itu membuat hatinya tanpa sadar jadi ciut.

“Keparat, kenapa kau melototi terus diriku!” hardiknya dengan penuh kemarahan.

Pek In Hoei tetap membungkam, sementara sorot matanya buas menggidikkan memancar keluar semakin nyata.

Diam diam dia tarik nafas panjang panjang, pikirnya: “Seram benar pandangan mata keparat cilik. Maknya....

kalau tidak cepat-cepat kujagal bangsat ini, setiap kali kutemui dirinya hatiku bisa jadi keder dan bulu kudukku

tanpa sadar pada bangun berdiri”

Hoa Pek Tuo sebagai manusia yang amat cerdik segera dapat merasakan apa yang sedang dipikirkan Cia Kak Sin Mo dari tingkah laku iblis tersebut, dengan nada dingin segera serunya: “Kong Yo Leng heng jangan terpengaruh oleh sorot matanya yang seram. Keparat cilik ini mempunyai ilmu pembetot sukma”

Kong Yo Leng meraung keras badannya cepat berputar diangkasa, kaki kanannya diangkat dan laksana kilat mengirim beberapa buah tendangan berantai ke arah tubuh pemuda tersebut.

Dalam tendangannya ini dia telah menggunakan ilmu tendangan “Teng Thian Lak Lee” yang maha dahsyat dari aliran Seng Sut Hay. Ilmu ini adalah hasil ciptaannya setelah ia diusir dari daratan Tionggoan oleh tiga dewa dari luar lautan.

Begitu tendangan tersebut dilancarkan, tak mungkin bagi pihak lawannya untuk menghindar, tidak ampun lagi serangan tersebut dengan telak bersarang di dada Pek In Hoei.

Untung si anak muda itu mengenakan kutang pelindung badan yang melindungi tubuhnya. Sekalipun begitu ia rasakan dadanya seakan akan dihajar oleh martil besar yang membuat jantung serta isi perutnya bergolak keras. Mengikuti datangnya tendangan tadi, badannya mencelat tujuh delapan depa dari tempat semula dan jatuh terbanting di atas tanah.

Ia menghembuskan napas panjang, matanya dengan cepat terputar ke samping, dilihatnya pedang penghancur sang surya miliknya tepat menancap di atas batu cadas kurang lebih lima depa dari sisi tubuhnya.

Air bercampur darah mengucur keluar diri bibir, perlahan lahan dia angkat ujung bajunya untuk membersihkan noda darah tersebut. Setelah mengendorkan tubuhnya yang menegang, hawa murni segera disalurkan mengelilingi seluruh tubuh.

Manyaksikan keadaan lawannya, Hoa Pek Tuo tertawa seram, serunya dingin: “Pek In Hoei, kau berlagak pintar dan secara beruntun mengatur dua jebakan yang licik, kau anggap dengan berbuat demikian lantas bisa melepaskan diri dari cengkeramanku? Hmm.... hmmm.... kau terlalu pandang rendah aku orang she-Hoa”.

Dengan mulut membungkam, Pek In Hoei memandang sekejap ke arahnya, kemudian sambil bangkit dari atas tanah katanya “Kau anggap dirimu paling cerdik di dunia dan tiada tandingannya, kenapa sampai tertipu olehku?”.

Hoa Pek Tuo memandang sekejap wajah lawannya yang dihiasi dengan senyuman mengejek, kemudian tertawa hambar. “Ooouw. jadi kau anggap aku sudah berhasil kau

kelabuhi dengan siasat suara ditimur menghantam dibarat serta siasat benteng kosongmu?”.

Diam diam Pek In Hoei pun terperanjat atas kehebatan orang, ia tidak menyangka siasat benteng kosong yang dipergunakan olehnya di balik tebalnya asap hitam berhasil diketahui orang tapi setelah ia berpikir sejarak tanpa sadar pemuda kita ini mendongak dan tertawa ter bahak2.

“Silahkan tertawa sepuas puasnya” seru Hoa Pak Tuo ketus “Karena sebentar lagi kau akan merasakan siksaan lima racun yang terkeji dlkolong langit”.

“Hmmm, terangkan dahulu kapankah aku telah menggunakan siasat benteng kosong untuk mengelabuhi dirimu?”.

“Kalau tidak kuberitahukan kepadamu, mungkin kau tidak rela. Hmmm, sejak kapan dalam perkampungan telah kedatangan Thian Liong Toa Lhama ?”.

“Haa.... haa.... haa.    ternyata peristiwa inilah yang kau

anggap sebagai siasat benteng kosong” tukas Pek In Hoei tidak menanti lawannya menyelesaikan perkataan itu. “Hmmm saat ini Thian Liong Toa Lhama serta kedua orang saudaranya telah menyusup kedalam perkampunganmu     untuk     mencari     bukti-bukti     yang menerangkan atas persekongkolanmu dengan orang Mongol untuk melawan Sri Baginda”

“Hoa Loo, dari mana ia bisa mengatakan hal tersebut?” cepat cepat Cia Kak Sin Mo berseru dengan wajah melengak.

“Kong Yo heng tak usah mendengarkan obrolan dari bangsat cilik ini. Apa yang diutarakan tidak lebih hanya ocehannya sebelum ajal menimpa dirinya.”

“hee.... hee.... hee.... kalau kau tidak percaya, buktikanlah sendiri perkataanku” seru Pek In Hoei sambil tertawa dingin “Pada saat ini Ku Loei serta Chin Tiong telah ditangkap jago naga emas It Boen Chiu dan digusur ke dalam istana gubernur!”

“Sungguhkah peristiwa ini?” bentak Kong Yo Leng dengan mata melotot.

“Siapa yang membohongi dirimu? dalam operasinya kali ini, Thian Liong Toa Lhama telah memimpin sepuluh orang perwira kelas satu serta dua puluh orang perwira kelas dua”

“Hee.... hee.... hee.... darimana kau bisa mengetahui akan peristiwa ini?”

“Sebab cayhe adalah ialah satu diantara perwira tinggi kelas dua yang di pimpin olehnya”

Kong Yo Leng menjerit aneh, kelima jari tangen kanannya segera menyentil ke depan, kuku yang panjang direntangkan dan laksana lima bilah pisau kecil secara berbareng menusuk ulu hati Pek In Hoei.

===0d0w0=== Sementara itu, Hoa Pek Tuo sedang mempertimbangkan kebenaran dari ucapan si anak muda itu. Menyaksikan serangan Kong Yo Leng sudah hampir mencabut jiwa musuhnya, dengan hati terperanjat segera teriaknya: “Kong Yo heng jangan kau bunuh dulu bangsat cilik ini!”

Dengan cepat tubuhnya meluncur ke depan. Ujung baju dikebaskan ke depan menggulung kelima jari Kong Yo Leng dan menghadang dihadapan Pek In Hoei.

“Criiiing   ! getaran senar khiem beedengung di angkasa,

sekilas bayangan hijau berkelebat kemuka menghadang di hadapan Kong Yo Leng, Sementara sebuah khiem kuno berwarna hijau menghantam Cia Kak Sin Mo.

Mimpipun Kong Yo Leng tidak menyangka kalau serangannya akan memancing tangkisan gabungan dari kedua orang rekannya, buru buru ia tekan lengan kanannya ke bawah, sikutnya miring lima coen ke samping dan bergesek dengan khiem antik miiik istrinya.

Ketiga orang itu sama sama merupakan jago lihay yang berkepandaian tinggi, dengan sendirinya maju mundur merekapun dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, hanya sedikit bersentuhan mereka telah saling berpisah kembali.

“Setan tua!” maki Mie Liok Nio dengan gusar. “Terhadap pemuda ingusan macam itupun kau hendak turun tangan keji. Hmmm sungguh tak tahu malu.”

Kong Yo Leng sendiripun sadar bahwa tidak sepantasnya kalau ia binasakan Pek In Hoei dalam keadaan gusar, maka tatkala ditegur oleh istrinya dengan tersipu-sipu ia lantas berkata: “hujien, apa sangkut pautnya persoalan ini dengan tahu malu ataa tidak tahu malu?” Iblis Khiem Kumala Hijau melotot bulat, kelima jarinya menyentil di atas senjata khiem nya “Criiing” getaran nyaring segera membelah bumi.

Irama khiem tersebut seakan akan sebilah pisau yang menarik hati Ko Yo Leng. Dengan alis berkerut memaksa iblis tersebut mundur dua langkah ke belakang.

“Setan tua kau berani berkelahi?” teriak Mio Liok Nio. Sambil mengusap kepalanya yang botak, Iblis Sakti

Berkaki    Telanjang    tertawa    jengah.    “Oooh.    hujien,

anggaplah aku jeri padamu, janganlah kau perlihatkan kecelaanku di depan Hoa heng, mau bukan?”

“Enso untuk kali ini ampunilah diri Kong Yo heng” buru2 Hoa Pek Tuo pun ikut menimbrung, “Karena mendengar kedua keponakannya ditawan orang, ia telah gusar dan hilang kesadaran.... hal ini iak bisa disalahkan dirinya”

Kemudian sambil angkat tangan kanannya menghadap Cia Kak Sin Mo, katanya pula: “Kong Yo heng, coba kau lihat pedang kecil panembus hatimu telah merusak pakaianku, besok kau harus ganti pakaianku dengan satu stel pakaian baru”.

Kong Yo Leng memandang ke arah yang ditunjuk, sedikitpun tidak salah, ujung jubah Hoa Pek Tuo telah kena dilubangi oleh kesepuluh jarinya yang sedang menggunakan ilmu pedarg kecil penembus hati.

Ia mengerti Hoa Pek Tuo sedang bantu dirinya untuk mengalihkan pembicaraan, maka ia lantas tertawa terbahak bahak. “haa.... haa.... haa.... baik, baik, besok aku pasti akan mengganti dengan dua stel jubah baru”

Melihat tingkat laku kedua orang itu, Mie Liok Nio mendengus dingin, “Manusia yang tak becus, terhadap seorang bocah cilik yang sudah terluka parah yang tak sanggup kau bunuh dalam dua serangan berantai, sudah begitu masih juga tak tahu malu hendak menyerang lagi. Hmmm. sebetulnya kau punya rasa malu tidak?”

Kong to Leng tertawa getir, ia merasa lebih baik bungkam dalam seribu bahasa daripada dimaki lebih jauh.

“Keparat cilik ini sangat licik dan banyak aksinya” sela Hoa Pek Tuo dari samping. “Tidak bisa salahkan Kong Yo heng jadi kalap ketika ia mendengar dia adalah perwira dari istana dan kedua keponakannya ditawan”

“Oooh. Jadi kau anggap muridku bukan orang?” tukas Mie Liok Nio dengan mata melotot “Ia telah dihantam sampai terluka oleh keparat cilik ini. Apakah kau tak boleh menanyai dirinya hingga jelas?”

Sambil menyentil khiem, katanya menambahkan: “Sekarang aku hendak bertanya kepadanya. Aku minta kamu berdua tak usah ikut mencampuri urusan”.

Setelah melotot sekejap ke arah Cia Kak Sin Mo, perempuan itu segera melangkah mendekati Pek In Hoei.

Menggunakan kesempatan selama sepasang iblis itu seling bercekcok, Pek In Hoei telah coba menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh. Sekalipun ia tak berhasil menghimpun kembali seluruh kekuatannya, namun selama ini ia telah peroleh sedikit kemajuan.

Saat itulah Mie Liok Nio dengan langkah yang enteng dan cepat telah melayang ke hadapannya. Berlainan dengan sikap Cia Kak Sln Mo, sikap perempuan ini amat baik dan ramah.

“Benarkah kau adalah perwira kelas satu dari istana?”. Dengan wajah melengak Pek In Hoei angkat kepalanya. Tampaklah Iblis Khiem Kemala Hijau ini memakai baju berwarna hijau dengan sebuah tusuk kemala warna hijau menancap di atas kepalanya, sepatunya terbuat dari kain hijau dan di bawah sorot cahaya rembulan nampak seluruh tubuhnya berwarna serba hijau.

Wajahnya meski sudah dipenuhi oleh kerutan, namun masih nampak dengan jelas kecantikan wajahnya dikala muda.

Hanya sayang pada kening perempuan itu terdapat selapis kulit berwarna hitam pekat, membuat wajahnya kelihatan rada menakutkan di tengah malam buta tersebut.

“Sungguh tak kusangka suhu dari Kim In Eng cianpwee adalah perempuan semacam ini” pikirnya. “Semula aku masih mengira jagoan lihay dari samudra Seng Sut Hay ini pastilah seorang gembong iblis yang berhati kejam, tak kusangka sikapnya jauh berbeda dengan Cia Kak Sin Mo”

(Oo-dwkz-oO)

15

DALAM pada itu tatkala dilihatnya pemuda itu tidak menjawab pertanyaannya malahan mamandang ke arahnya dengan termangu-mangu, timbul rasa kasihan dalam hati Mie Liok Nio, kembali bisiknya lirih: “Parahkah luka yang kau derita?”

Sejak perkenalannya dengan Iblis Khiem Kumala Hijau, belum pernah Kong Yo Leng menyaksikan sikap istrinya yang begitu lembut dan halus. Ia nampak tertegun sejenak kemudian rasa cemburu yang hebat segera bergelora dalam dadanya. ===0d0w0===

“Keparat cilik itu sudah kena tendangan mautku” teriaknya keras-keras, “Tak mungkin dia bisa hidup lebih lama dari setengah jam, kau anggap dia masih bisa ditolong?”.

Mie Liok Nio sendiripun diam-diam merasa terperanjat atas ucapannya yang begitu lembut dan halus, sekarang mendengar teriakan Kong Yo Leng yang diliputi rasa cemburu, ia jadi mendongkol bercampur geli, diam-diam makinya: “Setan tua sialan, kenapa tidak kau lihat dulu berapa besar usia bocah ini? Dia sudah mirip anakku. Hmm! masa pada masa seperti inipun kau masih menaruh cemburu terhadapku”

Air mukanya segera berubah hebat, dan agak pura pura berlagak marah teriaknya: “Hey setan tua, siapa suruh kau mencampuri urusan Loo nio? kalau kau bersikeras hendak turut campur.... baiklah jangan kau anggap kepandaian Teng Thian Lek Tee mu itu lihay. Kalau Loo nio sedang senang, bagaimanapun parahnya luka dalam yang ia derita, aku masih sanggup untuk menyembuhkan”

Hoa Pek Tuo mengerti bagaimanakah tabiat dari nyonya ini. Karena takut dalam gusarnya perempuan itu sampai turun tangan melindungi Pek In Hoei, maka buru-buru ia maju menghampiri mereka seraya berkata ”Enso, tak usahlah kau ribut terus dengan Kong Yo heng bukankah

kalian adalah suami istri?”

“Cerewet, siapa   suruh   kaupun   mencampuri urusanku. ?” Ketanggor batunya, dengan wajah jengah Hoa Pek Tuo segara tertawa lirih. “Enso, kenapa napsumu malam ini begitu besar?”.

Iblis Khiem Kumala Hijau sama sekali tidak menggubris dirinya, kepada Pek In Hoei kembali ia menegur, “Apakah kau merasa sangat menderita?”.

Dengan mulut membungkam Pek In Hoei tundukkan kepalanya rendah rendah, tak sepatah kata pun yang diutarakan keluar.

Menyaksikan sikapnya yang sedih dan murung, Mie Liok Nio segera menghela napas panjang “Aku mengerti penderitaan yang paling menyiksa dirimu berada didalam hati dan bukan dalam tubuh, tetapi. ” kembali ia menghela

nafas panjang. “dalam kehidupan seorang manusia memang sudah sewajarnya kalau suatu ketika menderita kekalahan. Kau masih muda dan masih punya banyak kesempatan untuk berjuang kembali merebut kemenangan tersebut janganlah kau berputus asa dan patah semangat ditengah jalan ”

Pek In Hoei terperanjat, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau Pek Ciok Jien Mo seorang iblis perempuan yang amat disegani orang Bu-lim sejak puluhan tahun berselang kini bisa mengucapkan perkataan seperti itu kepadanya. Dengan hati tertegun ia segera mendongak ke arah Iblis Khiem Kumala Hijau tersebut, katanya lagi:

“Tahukah kau bahwa sepanjang masa aku menaruh rasa simpatik terhadap partai Thiam Cong. Tahukah kau bahwa murid ku mempunyai hubungan cinta yang sangat mendalam dengan Cia Cang Gak”

Teringat akan hubungan cinta antara Kim In Eng dengan Cia Ceng Gak pada masa yang silam, perlahan lahan Pek In Hoei menghela napas panjang, “Aku pernah mendengar kisah ini dari mulut Kim cianpwee sendiri” sahutnya.

“Ooooo.   kiranya begitu, lalu apa sebabnya kau hantam

dirinya hingga terluka parah?”

“Kapan aku telah....” mendadak si anak muda itu temukan bahwasanya Hoa Pek Tuo sedang mencuri dengar pembicaraan mereka dari sisi kalangan. Otaknya dengan cepat berputar. “Tatkala aku tinggalkan lorong rahasia tersebut, Kim cianpwee masih ada bersama sama Wie Chin Siang. Ketika itu Hoa Pek Tuo baru saja menerjang masuk ke dalam. Seandainya dia benar benar terluka maka ia pasti masih berada dalam lorong rahasia itu”.

“Sungguhkah perkataanmu itu?” tanya Mie Liok Nio setelah termenung sejenak.

“Kematian telah berada di ambang pintu, buat apa boanpwee bicara bohong?”

Pek Giok Jieo Mo berseru tertahan, tangan kanannya segera menyentil keras senar khiem nya hingga serentetan irama yang tajam menggema di angkasa.

Pek In Hoei tertegun dan melongo, pada saat itulah sebutir pil mendadak melayang masuk ke dalam mulutnya bersamaan dengan berkumandangnya irama musik tersebut.

Mie Liok Nio segera tepuk bahunya kemudian perlahan lahan bangkit berdiri.

Diikuti serentetan suara bisikan yang halus berkumandang masuk ke dalam telinganya: “Pil tersebut adalah Si Beng-Wan, pil penyambung nyawa dari Hoa Pek Tio, Setelah kau telan obat itu maka jiwamu pasti akan selamat”. Tidak sempat ia memecahkan dari ucapan Mio Liok Nio yang disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara itu, pil tadi sudah melumer dan masuk kedalam perutnya. Terpaksa ia tertawa getir sambil berpikir: “Kali ini terpaksa aku harus pasrah dengan nasib. Perduli obat tadi adalah racun atau obat dewa, dalam keadaan begini aku tak bisa berbuat lain ”

Sementara itu Pek Giok Jien Mo dengan wajah menyeramkan telah menyemprot Hoa Pek Tuo dengan kata2 yang pedas “Bagus. bagus sekali perbuatanmu. Hey

setan tua, kau ikuti Loo Nio berlalu diri sini!”

Tanpa menantikan jawaban dari suaminya lagi ia segera berkelebat menuju ke arah perkampungan.

Dalam keadaan begini Cia Kak Sin Mo tidak berani berbuat lain kecuali buru-buru menyusulnya dari belakang.

Hoa Pek Tuo bukanlah manusia bodoh, sekali memandang perubahan wajah Iblis Khiem Kumala Hijau, ia segera dapat menebak apa maksud perempuan itu menuju ke perkampungannya.

Dengan wajah dingin kaku segera tegurnya: “Pek In Hoei, sebelum ajal meminta dirimu ternyata kau masih juga usil mulut”

Setelah menelan pil tadi Pek In Hoei merasakan dadanya jadi segar dan hawa murni yang tersebar kemana-mana itupun perlahan-lahan terhimpun kembali kedalam pusarnya. Ia mengerti asal ada waktu satu satu baginya untuk mengatur perasaan maka tujuh delapan bagian luka dalamnya akan berhasil disembuhkan.

Pelbagai ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, sesaat kemudian ia baru berkata: “Hoa Pek Tuo, tahukah kau bahwa aku telah menggunakan empat buah siasat untuk menipu dirimu? Inginkah kau mengetahui keempat buah siasat yang telah kugunakan itu?”.

“Hmmm, hingga keadaan seperti inipun kau hendak mencoba menipu aku? sekalipun lidahmu jadi kering, tidak nanti aku akan mempercayai dirimu lagi”.

“Dengarkanlah aku telah menggunakan siasat “Malam malam menyeberangi sungai, kepompong emas meninggalkan kerangnya”, “Saat ditimur menghantam dibarat” serta terakhir masih ada sebuah siasat lagi yakni “siasat menyeret pedang!”.

“Siasat menyeret pedang?” Hoa Pek Tuo melengak “Apa itu siasat menyeret pedang?. Aku cuma pernah dengar ada siasat Si To Ci. ”

Mendadak Pek In Hoei membentak keras, tubuhnya bergelinding ke samping dan menyambar pedang penghancur sang surya yang menggeletak disitu kemudian laksana kilat disambitkan ke arah Hoa Pek Tuo.

Jarak antara Hoa Pek Tuo dengan Pek In Hoei sangat dekat sekali, ia tidak menyangka dalam keadaan yang kepepet si anak muda itu masih sanggup menjalankan siasat menyeret pedang.

Sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya, dengan disertai desiran tajam pedang itu telah meluncur kehadapannya

Buru-buru ia membentak keras, sepasang tangannya direntang lalu dlgetarkan keras. Dengan kerahkan Ilmu Poh Giok Kang ia bendung datangnya ancaman tersebut.

Segulung angin pukulan bagaikan gulungan air sungai yang membobolkan bandungan segera menerjang kedepan. Pek In Hoei menjerit kaget, sebelum ia sempat berbuat sesuatu badannya sudah terhajar roboh ke bawah tebing oleh sapuan angin serangan tadi.

Pedangnya terlepas dari cekalan, sementara itu jeritan ngeri dan lengking dari Pek In Hoei berkumandang datang dari bawah tebing.

Perlahan lahan Hoa Pek Tuo berjalan mendekati tepi jurang, tampaklah kabut menutupi permukaan. Bayangan Pek In Hoel telah lenyap tertelan oleh jurang yang menganga sedalam ratusan tombak.

===0d0w0===

16

DI BAWAH sorot cahaya rembulan, yang tertinggal hanyalah bunyi angin malam yang berhembus sepoi serta percikan air nan jauh di bawah sana. Dengan termangu- mangu Hoa Pek Tuo memandang gusuran air dari air terjun, hatinya terasa hampa dan kosong, disamping puas karena usahanya berhasil ia pun merasa kecewa.

Ia menghela nafas panjang pikirnya: “Sejak kini dikolong langit tak akan ada manusia kedua yang sanggup bertanding kecerdasan dengan diriku lagi. Aaaai.... sungguh tak kusangka pemuda yang cerdik dan baru saja tumbuh dari kedewasaannya harus mati dalam usia begini muda. ”

Ia menyeka embun yang membasahi wajahnya, kemudian berpikir lebih jauh: “Sungguh teramat sayang bagaikan sebuah bintang cemerlang yang baru saja muncul di angkasa, namun dengan cepatnya lenyap tertelan oleh kegelapan”

Angin malam berhembus lewat membuat tubuhnya menggigil, ia tersentak bangun dari lamunannya. Teringat akan kekesalan serta rasa kecewa yang ditampilkan olehnya akibat kematian Pek In Hoei, si kakek tua itu tertawa geli. Ia merasa tingkah lakunya sinting dan tidak waras.

“Dalam hatiku selalu berharap agar dia mati dihadapanku, kenapa setelah ia mati binasa masuk kedalam jurang aku harus merasa kecewa dan sedih.... apakah aku merasa kematiannya terlalu pagi? atau merasa tidak puas karena ia belum merasakan siksaan ilmu racunku yang terkeji di kolong langit?”.

Ia termenung beberapa saat lamanya namun tidak jelas juga apa sebabnya ia mempunyai plkiran demikian. Lama sekali kakek itu berdiri termangu-mangu memikirkan persoalan ini.

Dalam kenyataan, pemikiran semacam ini hanya akan muncul pada seseorang yang berakal panjang, belum pernah ia terjebak ditangan orang lain dan yang ia tahu hanyalah orang yang terjebak ditangannya.

Tetapi sejak menyusupnya Pak in Hoei secara tiba-tiba kedalam perkampungan Tay-bie San cung nya, kemudian secara beruntun menghancurkan rencana besar yang telah ia susun dengan susah payah, ia malah dibikin kelabakan dan kebingungan.

Yang paling mengesalkan lagi, Pek in Hoei tiada hentinya dengan menggunakan kecerdasan yang ia miliki menggertak serta mendesak dirinya. Berulang kali dengan menggunakan beberapa macam siasat yang umum mengalahkan dirinya serta menipu dirinya’

Maka dari itu ia lantas menganggap bahwa si anak muda itu adalah satu-satunya orang yang dapat menandingi kecerdasan otaknya. Berada dalam keadaan begini, maka timbullah keinginannya untuk menghancurkan semua siasat lawan serta mengalahkan pula kecerdasan yang dimiliki pihak lawan.

Siapa sangka secara tiba tiba ia mati di hadapannya....

atau paling sedikit ia percaya Pek In Hoei yang telah menderita luka parah dan terjatuh kedalam jurang sedalam ratusan tombak tak mungkin punya harapan untuk hidup lebih jauh.

Setelah satu-satunya lawan tangguh yang blsa mengimbangi kecerdasannya mati, para jago yang ada dikolong langit tak nanti bisa mengimbangi kekuatannya lagi. Kesepian serta kesunyian inilah membuat ia jadi hampa dan kecewa.

“Siasat menyeret pedang?” ia gelengkan kepalanya dan tertawa geli. “Sungguh tak nyana ia bisa mencari nama yang sabagus ini untuk siasatnya itu. ”

Memandang pedang penghancur sang surya yang berada ditangannya, kembali ia bergumam seorang diri: “Bagaimanapun juga, seluruh partai Thiam Cong telah hancur dan musnah. Sejak ini kolong langit adalah berada didalam kantungku”

Mendadak cuaca disekeliling tempat itu jadi gelap, seakan-akan berlapis-lapis awan hitam telah menutupi seluruh jagad.

Dengan perasaan terperanjat Hoa Pek Tuo mendongak, memandang awan hitam yang menutupi cahaya rembulan. Ia bersuit nyaring, seluruh rasa mangkel dan kesalnya disalurkan keluar.

Pada saat itulah mendadak dalam benaknya terbayang kembali tubuh Chin Siang yang bugil dan menggiurkan. Nafsu birahi yang selama ini terpendam bergolak kembali.... makin lama makin tak tahan....

Ia segera bersuit nyaring, bagaikan seekor burung rajawali laksana kilat si orang tua itu berkelebat menembusi angkasa dan hilang musnah tertelan kegelapan.

Bagaimana nasib Pek In Hoei selanjutnya, apakah ia benar mati ditelan oleh jurang yang sangat dalam mengerikan itu. ?

Bagaimana pula nasib Wie Chin Siang yang berbaring tak sadarkan diri dalam keadaan telanjang bulat? apakah ia berhasil dilalap oleh Hoa Pek Tuo si tua bangka itu?

Untuk mengetahui kesemuanya ini, silahkan anda membaca kelanjutan dari kisah ini dalam:

“Imam Tanpa Bayangan Bagian Kedua”

TAMAT