Imam Tanpa Bayangan II Jilid 18

 
Jilid 18 

“BONG JIEN! Aku percaya kau tak akan berbuat demikian terhadap diriku.... katakanlah kepadaku, bahwa kau sangat mencintai diriku!"

Waktu iiu serangan jari serta telapak Kim In Eng sudah hampir mengenai tubuh lawan tetapi tatkala secara tiba-tiba ia mendengar pancaran suara kasih yang begitu hangat dan mesra, seolah-olah sebatang batu semberani yang menghantam hatinya seketika membuat sekujur tubuhnya gemetar keras dan gerakannyapun berubah jadi perlahan.

Pada saat itu semua semangat, pikiran serta kesadaran Hoa Pek Tuo telah terjerumus dalam lamunan, ia sama sekali tidak menduga kalau Kim In Eng yang berada dibelakang tubuhnya melancarkan serangan bokongan, tapi di kala pancaran cintanya di utarakan itulah gerakan perempuan tersebut mendadak jadi perlahan.

Perubahan yang halus dan kecil inilah membuat kekek kejam tadi seketika menyadari akan datangnya serangan bokongan itu, dengan gerakan yang tercepat ia putar badannya, ujung jubah segera dikebaskan keluar.

Seakan-akan sebuah papan baja yang sangat kuat menghadang dihadapannya, jari tangan serta telapak Kim In Eng yang sedang meluncur kemuka mendadak terpental dan terasa amat sakit.

“Aaaaaah....!” ia berseru tertahan, buru-buru sikutnya ditekuk dan pergelangannya diputar, sebuah tendangan terbang laksana kilat menghajar perut pihak lawan. Hoa Pek Tuo membentak nyaring, ujung bajunya segera digulung keluar, telapak kanannya yang kurus kering muncul dari balik jubah dan langsung membabat lutut Kim In Eng.

Angin serangan tajam bagaikan pisau, ganas melebihi babatan goiok, air muka Kim In Eng seketika itu jaga berubah hebat, ia membentak nyaring. Kesepuluh jarinya direntangkan tegak kaku, bagaikan sebuah senjata garpu ia sodok tenggorokan orang.

Jurus serangan ini lebih mengutarakan serangan daripada pertahanan, ganasnya luar biasa, bukan saja tidak memperdulikan keselamatan diri pribadi, bahkan hampir mendekati suatu serangan adu jiwa bersama lawannya.

Sepasang alis Hoa Pek Tuo mengerut kencang, dari tenggorokannya ia perdengarkan raungan rendah, sepasang pundaknya bergetar dan tubuhnya segera membubung empat coen dari tempat semula.

Dengan menggunakan tempat peluang yang amat pendek itulah sepasang ujung jubahnya dikebaskan keluar secara berbareng, hawa serangan segera meluncur keluar bagaikan gulungan ombak, desiran tajam dan angin dingin berkumandang memekikkan telinga.

“Aaaah, ilmu Poh Giok Kang....." jerit Kim In Eng dengan wajah amat terperanjat bercampur ngeri.

Berada dalam keadaan seperti ini tak sempat lagi baginya untuk berpikir panjang, segenap hawa murni yang dimilikinya segera di salurkan keluar, sepasang telapak menyerang senara berbareng sementare kakinya mundur satu langkah lebar ke belakang untuk menghindari datangnya serangan musuh. Namun jarak antara masing pihak sangat dekat kendati ia menghindar dengan gerakan yang cukup sebat dan cepat, tak urung kena dihantam juga oleh gulungan hawa murni yang maha dahsyat itu.

“Bluuuuumm....” Ditengah ledakan dahsyat, sekujur badannya seolah olah di hajar oleh martil raksasa. Ia menjerit keras karena kesakitan, tubuhnya mencelat delapan depa dari tempat semata dan menumbuk diatas dinding dengan diiringi suara nyaring rontok di atas tanah.

Darah segar menyembur keluar dari mulutnya, bagaikan berkuntum-kuntum bunga merah berserakan diatas tanah....

Tubuh Hoa Pek Tuo bergetar keras, hawa murninya segera disalurkan ke kaki dan ditekan ke bawah.

“Kreeek.... kreeeek... Diiringi suara nyaring seketika itu juga pembaringan tersebut roboh kebawah, mutiara penolak air itupun bergelinding ke ujung ruangan.

Ia menghembuskan nafas panjang, makinya dengan penuh kebencian “Binatang sialan, manusia yang harus di bunuh!”.

Pada saat ini ia sudah tidak menaruh perhatian lagi terhadap mati hidupnya Kim In Eng, dengan pandangan hambar ia awasi darah segar yang berceceran di atas tanah.

Mendadak cahaya matanya berputar. Ia telah melihat cahaya mutiara disisi pembaringan, sekilas rasa girang segera berkelebat diatas wajahnya.

Ia ragu-ragu sebentar    namun dengan cepat rasa girang

tadi berubah menjadi kaget dan menghela napas panjang.

Dan dari kaget segera berubah jadi bernafsu.... dan ingin melakukan sesuatu.... Sepasang matanya dengan tajam mengawasi terus permukaan pembaringan 13

KETIKA kain selimut itu tersingkap, tubuh Wie Chin Siang segera menggelinding keluar, tubuhnya yang padat berisi dan berada dalam keadaan bugil tanpa busana itu amat menarik perhatian Hoa Pek Tuo.

Air mukanya berulang kali berubah, nafsu birahi yang bergelora dalam hatinya bagaikan gulungan ombak di tengah samudera, dahsyat dan sukar terkendalikan.

Tubuh telanjangnya yang lembut menawan hati, kulit tubuhnya yang putih halus, pahanya yang mulus dan panjang, buah dadanya yang padat berisi den keras serta lekukan lekukan dadanya yang mempersonakkan seakan akan memancarkan hawa segar bagi kakek tua itu. 

Segumpal kobaran api bara membakar keluar dari pusar menyambar keempat penjuru. Napsu birahi yang sudah puluhan tahun lamanya tak pernah berkobar kini menggerakkan seluruh organ tubuhnya.... Ia telan air liur yang memenuhi mulutnya lalu perlahan lahan maju kedepan. Dengan tangan yang gemetar ia dekati

12 Halaman 13-14 Hilang

kasihan dia, napsu masih berkobar namun tak sanggup melangkah lebih jauh daripada meraba belaka.

Sorot mata benuh kegusaran memancar keluar dari matanya, ia memaki penuh kemarahan lalu menutupi tubuh Wie Chin Siang yang telanjang dengan selimut, dan akhirnya ia mengepos tenaga kemudian meloncat keluar dari ruangan itu. Dengan hawa amarah yang berkobar kobar, sebetulnya Hoa Pek Tuo hendak memaki orang she Ke itu kalang kabut, tetapi sewaktu dijumpainya orang itu masuk dengan pakaian terkoyak koyak koyak serta darah kental berkelepotan ditubuhnya, ia jadi kaget.

“Kau. !”

“Pek In Hoei. Dia ” Belum habis jeritan dari Ke Hong,

langkahnya gontai dan akhirnya roboh terjengkang diatas tanah.

Hoa Pek Tuo meloncat maju kedepan, ia sambar tubuh Ke Hong seraya tanyanya dengan hati cemas: “Kenapa dengan diri Pek In Hoei?”.

Seluruh kulit dan otot Ke Hong diatas wajahnya berkerut kencang, bibirnya bergetar perlahan, sebelum perkataannya sempat diutarakan keluar kepalanya lunglai dan putus nyawa.

Hoa Pek Tuo amat terperanjat, dengan gusar ia rentangkan tangan kanannya yaag ada diatas dadanya, segera tampaklah sebuah babatan pedang yang sangat dalam menembusi paru parunya dan mematahkan tiga batang tulang iganya....

“Keparat cilik!” maki Hoa Pek Tuo penuh amarah. “Sungguh tak kunyana Pek In Hoei berhasil menembusi barisan tujuh bintang-ku, aku bersumpah akan membeset kulit anjingnya!".

Laksana kilat ia melayang keluar dari ruang tengah dan menuju kelorong rahasia, kemudian bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya menyusup keluar dari mulut lorong berkelebat kearah sisi hutan.

Dibawah sorot cahaya matahari, ditengah bergoyangnya bayangan pohon tampaklah belasan orang lelaki berbaju putih dengan bersenjata lengkap berdiri dalam sebuah lapangan di tepi hutan tersebut, mereka berputar dan berkelebat kesana kemari dengan tiada hentinya bagaikan gasingan.

Sementara itu Pek In Hoei dengan senjata terhunus berdiri tegak tanpa berkutik barang sedikitpun ditengah kepungan belasan orang lelaki berbaju putih tadi.

Diatas kutang mustika pelindung badannya tertancap tujuh jenis makhluk berbisa, seakan akan sebuah lukisan peta yang indah dan aneh terpancang dengan jalasnya diatas dada.

Ku Loei serta Chin Tiong dengan wajah tegang dan serius memimpin belasan orang lelaki berbaju putih lainnya berseliweran diantara tubuh sianak muda itu, bayangan manusia yang rapat membentuk satu jaring yang kuat mengurung sekujur badan musuhnya di tengah kalangan.

Lambat lambat Hoa Pek Tuo maju ke muka, tampaklah mayat berserakan dimana mana, genangan darah menutupi seluruh permukaan membuat pemandangan disana kelihatan ngeri dan menggidikkan.

Namun air muka Hoa Pek Tuo masih tetap dingin kaku tanpa perubahan apapun juga. Ia memandang sekejap tumpukan empat puluh sembilan batu cadas ditengah kalangan kemudian alisnya baru berkerut kencang

Sekilas napsu membunuh berkelebat diantara benaknya. Kakek itu segera mendengus. “Bagaimanapun juga ia tak boleh dibiarkan tetap hidup dikolong langit!”

Pelbagai cara untuk membinasakan Pek In Hoei berkelebat dalam benaknya, mendadak terdengar sianak muda itu berteriak keras: “Hoa Pek Tuo!”. Kakek tua itu terperanjat, buru buru bentaknya: “Hati hati terhadap sianak licik bangsat muda itu!”

Tetapi Pek In Hoei telah menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk turun tangan.

Ia bersuit panjang, telapak kirinya di dorong ke muka dengan melancarkan serangan “Tay Yang Sinkang" sementara tangan kanannya mengirim sebuah tusukan kilat dengan jurus “Hoa Ek Si Jiet” atau Hoo Ek memanah matahari.

Udara disekitar situ segera berubah jadi panas menyengat badan, segulung semburan api yang maha dahsyat langsung menumbuk tubuh Chin Tiong sementara cahaya kilatan sedang mengancam tubuh Ku Loei.

Serangan yang sudah dinantikan nantikan sejak tadi ini benar benar luar biasa dahsyat. Seolah olah angin puyuh yang menyapu kota menghancurkan semua benda yang dilintasinya.

Di bawah ancaman bahaya maut yang mungkin akan mencabut jiwa mereka, baik Ku Loei maupun Chin Tiong sama sama berseru kaget, air muka mereka berubah hebat dan buru buru meloncat ke samping untuk menghindar.

Setelah jurus serangannya yang pertama mendatangkan hasil, Pek In Hoei tidak diam diri sampai disitu saja. Permainan senjatanya semakin hebat dan satu demi satu dilancarkan dengan leluasa.

Hawa pedang yang berlapis lapis seketika memancar ke angkasa dan mengurung belasan pendekar itu ke dalam kepungan.

Dalam sekejap mata. jeritan ngeri berkumandang silih berganti, cipratan darah segar muncrat kemana mana. Barisan “Seng Gwat Ciauw Hwie” yang hebat itupun hancur berantakan diujung pedang Si Jiet Sin Kiam.

Menyaksikan barisan besar yang diciptakan dan dilatih olehnya dengan susah payah kini hancur berantakan ditangan Pek In Hoei, sudah tentu Hoa Pek Tuo merasa amat gusar, ia berteriak keras, darah segar menyembur keluar dari mulutnya saking mendongkol. Sambil mencelat ke udara sepasang telapaknya secara beruntun menyapu kebawah.

Desiran tajam membelah angkasa, laksana tindihan gunung Thay San menubruk dada musuh.

Pek In Hoei tarik napas dalam dalam, pedangnya ditarik kebelakang sedang telapak kirinya perlahan lahan didorong ke depan.

Disaat telapaknya meluncur ditengah udara itulah tampak cahaya merah membara memancar keempat penjuru, udara disekeliling sana segera berubah jadi panas menyengat badan....

“Bluuuummm” Ledakan keras menggema di angkasa, pohon besar disekeliling kalangan goncang dan berayun tiada henti diikuti.... “Kraaak .... Dahan pohon patah jadi dua bagian, ranting dan dedaun beterbangan keempat penjuru.

Pek In Hoei mendengus dingin, badannya miring ke samping, tangan kanannya bergetar kencang, dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat pedangnya membentuk selapis cahaya yang menyilaukan mata menghadang desakan hawa murni “Poh Ciok Kang” pihak lawan.

Untuk menghadapi serangan musuh yang mantap dan berat ini, bukan saja Pek In Hoei harus dapat memgunakan kelincahan untuk mencari kesempatan disamping itu dia pun harus menggunakan telapak serta pedangnya secara berbareng.

Sekalipun begitu, dalam suatu bentrokan yang amat dahsyat, ia masih tak sanggup menahan golakan darah panas dalam dadanya, tak kuasa ia mundur terdorong tiga langkah ke belakang.

Lima buah bekas kaki sedalam dua coen tertera di depan mata. Sekujur tubuhnya gemetar keras. Untuk menenangkan badannya yang limbung ia harus menancapkan pedangnya diatas tanah sebagai penyangga.

Sebaliknya tubuh Hoa Pek Tuo yang berada ditengah udurapun dibikin bergetar keras oleh pantulan hawa pukulan musuh. Dalam keadaan begini tak mungkin lagi baginya untuk mengepos tenaga, tak ampun badannya segera melayang balik kebawah.

“Hmmm! Sungguh tak nyana setelah merendam semalaman didalam telaga Lok Kwat Ouw, badanmu telah mengelupas dan merubah jadi manusia lain...” jengek Hoa Pek Tuo dengan nada mengejek.

“Hey orang she Hoa, sekarang kau boleh rasakan betapa lihaynya ilmu kepandaian dari Thiam Cong pay kami” balas Pek In Hoei sambil menatap musuhnya tajam tajam.

Bau hangusnya pepohonan menyebar diempat penjuru menyesakkan napas semua orang, mendadak diantara percikan api ditengah pepohonan yang tumbang itu terhembus angin dan berkobar jadi jilatan api yang kian lama kian membesar.

Menyaksikan peristiwa itu, Hoa Pek Tuo merasa amat terperanjat, rasa ini muncul di dalam lubuk hatinya, “Kalau ia dibiarkan hidup satu dua tahun lagi, siapakah dikolong langit dewasa ini yang sanggup menaklukkan dirinya?" Dalam pada itu Ke Loei serta Chin Tiong berdiri termangu mangu disisi kalangan sambil menatap Hoa Pek Tuo serta Pek In Hoei yang telah saling berhadap hadapan, kemudian mereka saling memberi tanda dan perlahan lahan bergerak kesisi tubuh sianak muda itu.

“Hmmmmm Seandainya hawa murni tidak mengalami kerusakan hebat akibat pengaruh oleh kobaran napsu birahi terhadap perempuan cantik tadi, sekarang juga aku bisa membinasakan dirinya" pikir Hoa Pek Tuo dengan mata memancarkan cahaya buas “Tidak nanti kuberi kesempatan bagimu untuk berdiri saling berhadap hadapan dengan aku”

Biji matanya berputar menyapu sekejap Chin Tiong serta Ku Loei yang sedang bergeser ke belakang itu, pikirnya lebih lanjut: “Sayang, kedua orang makhluk goblok itu tidak mengetahui kalau Pek In Hoei telah terluka”

Bermacam macam ingatan berkelebat dalam benaknya sementara hawa murninya sedikit demi sedikit dihimpun kembali ke dalam pusar....

Sebaliknya Pek In Hoei sendiripun berusaha keras untuk menenangkan golakan darah panas dalam dadanya, sambil melotot sinis terhadap ketiga orang itu, iapun memutar otak mencari akal.

Segulung angin kencang berhembus lewat, percikan api beterbangan keangkasa dan jatuh diatas ranting kayu, seketika jilatan api berkobar makin besar dan kebakaran hebatpun terjadi....

Air muka Ku Loei berubah hebat, badannya bergerak hendak pergi memadamkan api.

“Berhenti!" bentak Pek In Hoei. “Kalau kau berani maju selangkah lagi, segera kucabut jiwa anjingmu" Perlahan lahan lahan diangkat pedang mustikanya dan memperlihatkan gerakan pembukaan dari ilmu pedang penghancur sang surya, seakan akan dia hendak mempersiapkan diri untuk mengirim satu serangan kilat yang maha dahsyat.

Ku Loei terkesiap menyaksikan posisi yang telah disiapkan pihak lawannya, ia benar2 pecah nyali dan tak berani maju lebih jauh, sebab posisi yang diperlihatkan Pek In Hoei saat ini selalu hapal dan amat dikenal olehnya.

Pada masa yang silam, justru ia menelan kekalahan yang paling parah dibawah posisi jurus tersebut yang ketika itu dibawakan oleh Cia Ceng Gak.

Suasana disekeliling tempat itu barubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Keempat orang itu saling berhadapan dengan mulut membungkam, hanya percikan api serta suara gemerutuknya ranting yang terbakar kadang kala memecah kesunyian

Kobaran api makin lama makin besar hembusan angin gunung menimbulkan asap hitam yang tebal dan seketika mengurung seluruh tubuh keempat orang itu.

Jilatan api kian lama kian menjalar kemana mana. Batang pohon yang terbakar mulai memperdengarkan suara detakan yang nyaring, asap hitam semakin menutupi pemandangan.

Cahaya sang surya mulai terhalang.... Dalam sekejap mata suasana dalam kalangan jadi gelap gulita.

Pek In Hoei yang berdiri tegak ia sambil silangkan pedangnya di depan dada merasa amat girang setelah menyaksikan keadaan itu pikirnya: “Kenapa aku tidak coba melarikan diri dengan meminjam gelapnya asap hitam ini?” Asap tebal menutupi seluruh pemandangan dan menghalangi pula pandangannya terhadap posisi pihak lawan. Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah diam diam ia mulai menggeserkan tubuhnya menyingkir kearah kanan.

Baru saja melangkah tiga tindak, segara terdengarlah suara batuk nyaring berkumandang dari depan tubuhnya.

Suara batuk itu tua dan serak, rupanya sudah ditahan sejak tadi tetapi begitu berbatuk, dengan cepat suaranya ditahan kembali.

Pek In Hoei adalah orang cerdas. Ia bungkam dalam seribu bahasa sementara pedangnya sambil membetulkan posisi yang tepat mendadak ditusuk kearah depan membokong orang yang barusan berbatuk itu.

Sekilas cahaya tajam barkelebat lewat di tengah kegelapan yang mencekam, jeritan kesakitan yang amat lirih seketika menggema di angkasa memecahkan kesunyian.

“Buuum” mendadak asap hitam menyebar keempat penjuru seolah olah terhembus angin puyuh, disusul munculnya serentetan desiran angin tajam menghantam punggung Pek In Hoei.

Sianak muda itu terperanjat. Ia putar badannya berkelit sementara ujung pedangnya ditarik kembali, tak sempat lagi ia meneruskan tusukannya untuk mencabut nyawa orang itu.

Bersamaan dengan menggesernya sang badan, ia himpun segenap tenaga yang di milikinya kemudian melancarkan satu babatan kilat dengan jurus “Yang Kong Phu Cau" atau Sang Surya Memancar Terang. Sungguh dahsyat tiga jurus ilmu surya kencana dari keluarga Toan Ini. Desiran angin puyuh bagaikan gelombang dahsyat menyapu kearah depan.

“Blaaaammm” Asap hitam tersapu kesamping dan muncullah sebuah lubang besar.

Sebelum kabut merapat kembali itulah, ia saksikan Hoa Pek Tuo sedang memandang kearahnya dengan wajah penuh nafsu membunuh, sorot mata yang buas memancar keluar dari balik matanya.

Sebaliknya Hoa Pek Tuo pun sempat menyaksikan wajah Pek In Hoei yang menderita dan menggertak gigi kencang2.

“Keparat cilik” hardiknya. “Kau hendak melarikan diri kemana?”

Darah panas dalam dada Pek In Hoei bergolak kencang, ia rasakan seluruh urat nadi dalam tubuhnya seakan akan mau putus. Luka dalam yang dideritanya dalam kepungan barisan “Seng Gwat Ciauw Hwie” tadi kini semakin perah lagi keadaannya.

Terperanjat hati pemuda itu menyaksikan wajah Hoa Pek Tuo yang seram. Ia segera berpikir: “Aaaah, tak kunyana penderitaan yang kusembunyikan dengan susah payah terlihat juga olehnya. Dengan demikian bukankah usaha selama ini akan sia sia belaka?. Aaaiii tampaknya sulit bagiku untuk melepaskan diri dari cengkeramannya".

Bukan tersumbatnya hawa murni dalam tubuhnya yang membuat ia menderita, melainkan pertaruhannya dengan Hoa Pek Tuo itulah yang membuat dia pusing kepala. Sebab ia telah bertaruh bila dalam tiga puluh li ia berhasil ditangkap maka sejak detik itu dia tak akan she Pek lagi. Walaupun dia mengerti satu kali dirinya tertangkap maka dia akan merasakan siksaan yang mengerikan dari Hoa Pak Tuo tapi penderitaan dibadan luar tidak lebih menderita daripada ia harus mengasingkan diri dan membuang she keluarga untuk selamanya.

Maka dari itu ia harus berusaha keras untuk melarikan diri dari perkampungan Tay Bie San cung, tapi gampangkah berbuat demikian?

“Kami anak cucu keluarga Pek adalah lelaki sejati yang benar benar murni, kenapa aku harus jeri terhadap kesulitan? aku harus merebut peluang untuk hidup di tengah keadaan yang paling buruk!”.

Ingatan tersebut laksana kilat berkelebat dalam benaknya, ketika dilihatnya Hoa Pek Tuo mempersiapkan serangannya untuk menubruk datang, buru buru ia menahan penderitaan dalam tubuhnya dan menerobos kedalam asap hitam yang menyelimuti angkasa.

Desiran angin tajam menyapu lewat, serangan Hoa Pak Tuo yang dahsyat bagaikan membelah bukit segera menggulung tiba.

Asap hitam tersapu lewat tetapi bayangan Pek In Hoei sudah lenyap tak berbekas. Hoa Pek Tuo segera mendengus dingin, Ia tarik kembali serangannya yang mengenai tempat kosong kemudian menerobos pula ke dalam gumpalan asap hitam.

“Pek ln Hoei" jengek Hoa Pek Tuo sambil tertawa dingin “Kau sudah menderita luka dalam yang amat parah, sebentar lagi jiwamu bakal melayang, ayoh menyerah saja kepadaku”.

Suasana dikalangan tetap hening dan sunyi tak kedengaran sedikit suarapun dari Pek In Hoei. Perlahan lahan Hoa Pek Tuo menggeserkan tubuhnya kedepan. sepasang telapak disilangkan didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan.

“Hmmmmm Sekarang kau masih bisa menyembunyikan badanmu didalam barisan asap yang tebal" kembali ia mengejek. “Tapi setelah asap hitam ini buyar, akan kulihat kau hendak lari kemana lagi”.

Bicara sampai disini ia merandek sejenak, ialu dengan gemas sambungnya: “Sampai saatnya, akan kubeset setiap jengkal kulit tubuhmu dan kubetot setiap otot yang ada didalam badanmu!".

Dari balik kabut hitam menggema datang suara batuk manusia. Dengan cepat berputar pikirannya “Setelah keparat cilik ini menderita luaa parah. tak nanti ia bisa terlalu lama menahan panas”

Tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapaknya direntangkan dan segera membebat keluar.

Dari balik kegelapan muncul pula segulung hawa tekanan yang membendung datangnya serangan tersebut, disusul suara dari Chin Tiong berkumandang datang: “Hoa loo, aku disini!”

Hoa Pek Tuo terperanjat buru buru sepasang telapaknya ditekan kebawah dan menarik balik tenaga pukulan yang telah dipancarkan keluar itu. Tetapi serangan telah dilepaskan dan hawa pukulanpun sudah terlanjur dilancarkan, tak mungkin baginya untuk menarik kembali semua tenaganya.

“Ploook” Dua gulung tenaga pukulan seling membentur satu sama lainnya menimbulkan suara ledakan keras, dari sebelah sana terdengar Chin Tiong mendengus rendah. “Apa Chin Tiong disitu?" hardik Hoa Pek Tuo dengan kegusaran yang meluap luap. “kenapa kau. ?”

“Tidak mengapa" sahut Chin Tiong sambil tertawa getir. “Cuma sepasang telapakku jadi linu dan kaku".

“Dimasa Ku Losi?"

“Ia terluka ditangan keparat cilik she Pek itu” “Parah tidak lukanya?".

“Ujung pedangnya menusuk dua coen di sisi jantung”

“Apa? kenapa tidak cepat kau bawa pergi dari sini?” Belum habis ia berbicara, desiran angin tajam mendadak? meluncur datang dari sisi kalangan langsung menghantam dadanya.

Hoa Pek Tuo membentak nyaring, telapak kanannya membabat keluar menghajar datangnya ancaman senjata itu, sementara telapak kirinya dengan membentuk gerakan setengah busur tiba tiba berubah jadi kepalan menjotos dada musuh.

Cahaya pedang sirap seketika, jotosan yang maha hebat tadi dengan telak menhantam dada Pek in Hoei

“Duuuukk” Tubuh Pek In Hoei mencelat kearah belakang.

“Haa.... haa.... haa.... Pek In Hoei, rupanya kau sudah bosan hidup?" teriak Hoa Pek Tuo sambil tertawa seram.

Belum habis ia berkata mendadak kepalan kirinya terasa jadi kaku. Serentetan rasa gatal dan nyeri dengan cepat merambat naik dari kulit lengannya menuju ke jantung

Kakek tua ini kontan jadi terperanjat, dengan cepat pikirnya “Aaaah, kenapa aku sudah melupakan ketujuh jenis makhluk beracun yang tertancap diatas kutang pelindung badannya? Bukankah seranganku ini justru telah menghantam dadanya yang beracun?"

Ia mendengus berat, dengan eepat telapak kirinya ditarik kembali dan meloncat mundur tiga depa kebelakang, hawa murni ditarik dari pusar kemudian disalurkan kelengan kiri untuk memaksa keluar cairan racun itu dari tubuhnya.

Sebentar kemudian rambutnya pada bangkit berdiri, jubahnya menggelembung dan cairan hitam yang kental setetes demi setetes mengucur keluar dari ujung jarinya.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya kakek tua itu setelah mengalami kejadian seperti ini. Darah dalam tubuhnya terasa mendidih, matanya melotot bulat sementara sinar kemerah merahan memancar keluar dari matanya.

“Keparat cilik! modar kau....!” Raungnya keras. Dengan langkah lebar ia segera maju ke kanan menghampiri Pek In Hoei.

Sambil berjalan ujung jubahnya dikebaskan kesana kemari menghalau asap hitam yang menutupi pandangan matanya. Buny gigi yang gemerutukan kedengaran amat nyaring. Saking bencinya terhadap sianak muda itu diam diam Hoa Pek Tuo bersumpah di dalam hati hendak membedah perutnya dan mengunyah isi perutnya.

Tiba tiba....

“Hoa Pek Tuo, kau berani melukai Pek In Hoei?" bentakan kasar muncul dari balik kegelapan.

Bentakan tersebut muncul dari jarak delapan depa dari sisi tubuhnya. Begitu nyaring suaranya hingga membuat kakek tua ini jadi kaget dan meloncat mundur sambil mempersiapkan diri. Rasa gusar yang hampir menutupi kejernihan otaknya pun ikut tersadar kembali.

Setelah melengak beberapa saat ia putar biji matanya ke arah kegelapan kemudian menegur: “Siapa kau?”.

“Omitohud. Hudya adalah Thian Liong Toa Lhama dari Tibet. Ini hari sengaja dengan membawa murid “Sin Hoe Yong Su" sipendekar jantan berkapak sakti Chee Thian Gak serta "Kim Liong Khek" si Jago Naga Sakti It Boan Chiu datang mengunjungi Hoa Pek Tuo Sianseng".

Mendengar disebutkannya nama orang itu, Hoa Pek Tuo terkesiap, segera pikirnya: “Thien Liong Toa Lhama adalah padri sakti dari kuil Sila Sie di Tibet dan kini telah dianugerahi kedudukan Kok su oleh Sri Baginda, entah apa sebabnya pada hari ini ia berkunjung kemari beserta anak muridnya?".

Dengan alis berkerut pikirnya lebih jauh: “Semula aku ada maksud memancing Thiat Tie Loo Nie Hoo Bong Jieo perempuan terkutuk itu masuk ke dalam perkampungan, kemudian menceburkannya ke dalam telaga Lok Cwat Ouw hingga modar maka kuperintahkan semua orang yang ade di dalam perkampungan untuk bersembunyi didalam lorong rahasia siapa sangka bukan saja kebakaran hebat ini tidak diketahui mereka bahkan pada malam ini bisa terjadi begitu banyak peristiwa yang ada diluar dugaan. sampai sempai jago lihay dari istana Kaisar pun mengunjungi perkampungan Tayi Bie San cung”

Ingatan tersebut hanya sebentar berkelebat didalam benaknya, dengan suara berat segera tegurnya: “Ada keperluan apa Toa Lhama mengunjungi perkampungan kami?".

Gelak tertawa yeag amat berat berkumandang keluar dari balik asap hitam. “Haa.... haa.... haa.... Hoa Pek Tuo. bukankah kau ingin menguasai seluruh Bu lim di daratan Tionggoan? Toa Lhama itu justru datang kemari untuk membantu dirimu dalam mensukseskan cita citamu itu”.

Hoa Pak Tuo terperanjat. Ia tidak menyangka kalau hwesio sakti dari Tibet pun mengetahui rencana besarnya untuk menguasai dunia persilatan.

Ia kebaskan ujung bajunya untuk menyingkirkan sebagian asap hitam yang menutupi pandangannya, agar wajah Hwesio Sakti itu dapat tertampak lebih jelas.

Mendadak suara bentakan nyaring muncul dari balik kegelepan disusul berkelebatnya serentetan cahaya tajam keemas emasan meluncur ke arahnya.

Hoa Pek Tuo terperanjat. Ia tidak menyangka kalau Thian Liong Lua lhama secara mendadak bisa melancarkan serangan senjata rahasia untuk membokong dirinya.

Ia melengak dan tahu tahu cahaya emas itu sudah berada di depan mata.

Kakek tua itu mendengus, ujung bajunya dikebaskan keluar, diiringi hembusan angin tajam ia sapu datangnya senjata rahasia berwarna keemas emasan itu.

Siapa sangka baru saja hawa murninya kerahkan, senjata rahasia tersebut bagaikan seekor makhluk hidup mendadak berputar dan menikung ditengah udara, setelah membentuk gerakan satu lingkaran busur langsung menghajar wajahnya.

Kaget bercampur ngeri, Hoa Pek Tuo menyaksikan perubahan ini, air mukanya berubah hebat. “Belum pernah kusaksikan senjata rahasia yang bisa berubah arah dan tujuan ketika terhantam hawa pukulan” pikirnya. Cahaya emas memancar keempat penjuru, senjata rahasia tersebut dengan membawa desiran nyaring yang tajam meluncur kearah tubuhnya.

Kembali kakek she Hoa ini membentak nyaring, tubuh bagian atasnya dibuang ke belakang sementara telapak kirinya membentuk gerakan setengah lingkaran untuk melindungi tubuhnya kemudian secara tiba tiba didorong kedepan.

Hawa murni menghembus keluar laksana tiupan angin puyuh, senjata rahasia itu merandek sejenak ditengah udara kemudian menembusi angin serangannya menekuk tiga coen kebawah, setelah itu mengikuti lekukan telapaknya meluncurkan ke arah tenggorokan.

Perubahan serta arah yang aneh dari senjata rahsia ini sungguh jauh berada di luar dugaannya, tiba tiba ia membentak keras, badannya laksana anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur keluar dari kalangan.

Disaat yang amat singkat itulah ia baru menyaksikan dengan jelas bahwasannya senjata rahasia tersebut berupa seekor naga emas kecil, ditengah daya luncurnya yang cepat tampaklah kedua helai jenggotnya bergetar kencang, sepintas lalu kelihatan seolah olah seekor naga sungguhan yang sedang merentangkan cakarnya untuk menghajar badannya.

Tidak sempat untuk berpikir lebih jauh, telapak kirinya yang melindungi badan segera digetarkan. Ujung jubah laksana sebidang papan baja melayang keluar dengan mendatar.

“Criiiit” Naga emas itu menembusi ujung bajunya dan meluncur kedalam lebih jauh. Ia mendengus gusar, kelima jarinya dipentangkan lebar lebar kemudian laksana kilat mencengkram naga emas tersebut.

Dalam keadaan yang kepepet dan terdesak, satu satunya jaian yang bisa ia tempuh hanyalah mencengkram naga emas itu agar tidak meluncur lebih jauh.

Tetapi.... begitu ia mencengkram, telapaknya segera terasa amat sakit, jenggot naga emas yang panjang itu tahu2 sudah melukai kulitnya dalam dalam.

Darah segar segera mengucur keluar dengan derasnya. Saking sakitnya, telapak yang terluka itu membuat hawa amarahnya jadi memuncak. Ia mendengus dingin, kelima jarinya dirapatkan dengan maksud menghancur lumatkan benda tersebut.

“Hmmmm” Serentetan suara yang aneh muncul dari balik asap hitam, “Naga emas itu terbuat dari pasir emas yang dihasilkan di gunung Attai dalam bilangan propinsi Lam Ciang, sanggupkah kau menghancur lumatkan bendaku itu?”.

“Toa Lhama” teriak Hoa Pek Tuo dengan penuh kegusaran. “Maksudmu datang ke dalam perkampunganku apakah hanya ingin melepaskan senjata rahasia belaka?".

“Haa.... haa.... haa.... harap Hoa sianseng suka memaafkan kelancangan kami ini. Semua muridku adalah orang orang liar dari luar perbatasan yang tidak begitu mengerti akan adat-istiadat didaratan Tionggoan. Ketika ia menjumpai kau mengayun telapak tadi disangkanya akan hendak menyerang dia, maka dari itu. ”

“Toa Lhama, sudahlah tak usah banyak bicara" tukas Hoa Pek Tuo tidak sabar “Katakanlah apa sebenarnya tujuanmu datang kedalam perkampungan kami?". “Sewaktu berada di ibukota, aku telah berjumpa dengan Cia Kak Sin Mo, dialah yang mengundang aku untuk datang kemari menjumpai dirimu”

Ia merandek sejenak, kemudian dengan suara kasar terusnya. “Hmmm. seandainya Pun Hoed-ya tidak memandang di atas wajah Cia Kak Sin Mo, dengan sikapmu yang begitu kurang ajar pada hari ini, pasti akan kuberi sedikit pengajaran kepadamu."

Sepasang alis Hoa Pek Tuo berkerut kencang. Sebelum mengetahui jelas bagaimanakah lihaynya Thian Liong Toa Lhama yang berada ditengah kegelapan kabut hitam tu, ia tidak ingin bertindak gegabah.

Maka sambil memandang asap yang tebal serta percikan api ditengah udara pikirnya “Aaaaiii kenapa justru pada hari ini bertiup angin barat laut yang kencang? Sehingga semua asap tebal ini tertiuo ke arah kemari. Kalau tidak....

Sejak tadi tadi Pek In Hoei tentu sudah modar ditanganku”

---0d0w0---

Berbagai pertanyaan yang membingungkan kepalanya berkelebat memenuhi benak kakek tua ini. Tiba tiba ia tertawa kering seraya berkata “Hmm... hmm... Harap Toa Lhama suka memaafkan”

Ia remas remas naga emas yang berada ditangannya lalu berpikir: “Toa Lhama ini berasal dari Tibet, sungguh tak nyana murid muridnya adalah jago melepaskan senjata rahasia yang amat hebat. Kalau dibandingkan dengan keluarga Tong dipropinsi Su Cuan. entah barapa kali lipat lebih hebat. Terhadap manusia manusia semacam ini aku tak boleh menyalahinya” Maka ia mendehem dan berkata: “Ini hari aku hendak menangkap buronan yang telah menerbitkan keonaran dalam perkampungan kami, karena itu silahkan Toa Lhama sekalian menanti dahulu di ruang tamu".

Belum habis ia berkata mendadak terdengar Chin Tiong mendengus berat lalu menjerit lengking.

“Apa yang terjadi?" bentak Hoa Pek Tuo “Chin Tiong! kenapa kau...?

Dari balik tebalnya asap hitam berkumandang suara kasar dengan logat yang sangat aneh: “Siapa suruh ia menangkap ikan diair keruh? Menggunakan kegelapannya asap hitam, ia mau mencelakai kami sekalian. Hmmm Hoa Pek Tuo, beginikah sikapmu menyambut tamumu?".

Hoa Pek Tuo benar benar naik pitam, hawa amarahnya telah berkobar hingga mencapai pada puncaknya, namun ia masih tetap menahan diri.

“Kaukah anak murid Thiao Liong Toa Hwesio yang bernama sijago naga emas It Boen Chiu?”

“Sedikitpun tidak salah" jawaban orang itu sangat jumawa. “Aku adalah sijago naga emas It Boen Chiu!".

“Apa yang telah kau lakukan terhadap Chin Tiong?". “Dia hendak membokong diriku, maka kukirim dua

batang naga emas agar dicicipi olehnya”. “Chin Tiong.... Chin Tiong !

“Haa.... haa.... haa.... lebih baik tak usah kau panggil sebab pertama, dia sudah modar!”.

Hoa Pek Tuo gigit bibir menahan gusar, pikirnya: “Kalau kau tidak suruh kau mati dalam keadaan yang sema seperti kini, aku tidak ingin menguasai dunia persilatan lagi” Diluaran ia tertawa terbahak bahak. “Haa... haa....

haa.... kalau memang sudah mati, yaah sudahlah, biarkan modar!”.

“Chiu jie!" Suara dari Thian Liong Toa Lhama segera menggema lagi dengan lantang. “Cepat minta maaf kepada Hoa Loe sianseng, siapa yang suruh berbuat begitu gegabah? bukankah sebelum kubawa kau datang kedaratan Tionggoan telah kukatakan berulang kali bahwa daratan Tionggoan berbeda dengan luar perbatasan?”

Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya: “Harap Hoa Loo-sianseng suka memaafkan kelancangan serta kecerobohan dari muridku”.

“Tidak mengapa, silahkan Toa Lhama duduk beristirahat dahulu di dalam ruang tamu”.

“Entah Hoa Loo sianseng ada urusan apa? kenapa mendekam terus di tengah kabut hitam yang tebal? apakah kau memang ingin membakar hutan di sekitar ini agar bisa melatih semacam ilmu silat di tengah kegelapan asap hitam”

“Heey tua bangka!” suara serak yang tak enak didengar menyambung perkataan itu. Belum pernah kudengar orang berkata bahwa di kolong langit terdapat kepandaian kentut anjing yang harus dilatih dalam kegelapan asap hitam”.

Ketika didengarnya suara orang itu kasar dan kaku ditambah pula membawa logat propinsi Sa Cuau, alisnya lantas berkerut. “Apakah kau adalah sipendekar Jantan Berkapak sakti Chee Thian Gak?”"

“Haa haa haa.... Tua bangka sialan, kau si cucu kura kura darimana bisa tahu kalau aku adalah sipendeker jantan berkapak sakti? Hebat.... hebat. " Tak disangka sama sekali oleh Hoa Pek Tuo kalau ia bakal dimaki orang seenaknya. Seking kekinya hampir saja ia muntah darah segar. Akhirnya ia depakkan kakinya ketanah lalu tanpa memperdulikan segala sesuatu ia siap melayang kedepan.

Tapi pada detik yang terakhir ia berpikir lain. Sambil menyabarkan diri serunya seram:

(Oo-dwkz-oO)