-->

Imam Tanpa Bayangan II Jilid 11

 
Jilid 11

MASIH ingatkah apa yang pernah kau ucapkan sewaktu "mengerubuti ayahku diatas puncak gunung Cing shia waktu itu? sepanjang masa takkan kulupakan kata-katamu itu!" Nadanya dingin dan ketus seakan akan udara yang berhembus keluar dari gua salju berusia ribuan tabun, seketika membuat tubuh Chin Tiong gemetar keras

Mendadak Pek In Hoei melangkah maju setindak kemuka, pedang penghancur sang surya diayun kedepan membentuk sekilas cahaya tajam yang menggidikkan hati.

Serunya lantang:

"Kau berkedudukan sebagai seorang Bulim cianpwee ternyata dengan tindakan yang rendah dan bejat menyembunyikan empat lima puluh orang untuk mengeroyok ayahku sampai mati, seandainya ayahku almarhum tidak memotong secarik kain jubahmu serta suaramu hingga kini tidak berubah, dendam berdarah sedalam lautan ini entah sampai kapan baru bisa kubalas setan tua! serahkan jiwamu kepadaku"

Chin Tiong tarik napas dalam dalam, ia tenangkan lebih dahulu rasa jeri dan takut yang berkecamuk dalam dadanya,

kemudian sepasang lengannya digetarkan hingga sekujur tubuhnya memperdengarkan suara gomerutuk yang amat keras.

"Loojie! kiranya rencana malam itu kaulah yang susun" bisik Ku Loei dengan nada lirih. "Jangan takut, pil sakti Pek Loo Tay Wan dari Hoa Loo jie telah memperlihatkan kehebatannya! mari kita turun tangan mencabut rumput keakar akarnya, daripada meninggalkan bibit bencana bagi kita dikemudian hari

Ia mendengus dingin, tulang belulang sekujur badannya memperdengarkan suara gemerutuk yang amat nyaring, ditengah suara krok... krook yang keras telapak tangannya dilintangkan kemuka melindungi diri, sementara wajahnya dengan serius mengawasi tingkah laku musuh. Dalam sekejap mata telapak tangannya yang besar dan kaku itu mulai berubah jadi warna abu2 tua.

Tempo dulu ketika Pek In Hoei masih belum mengerti akan ilmu silat, ia pernah saksikan Ku Loei memotong sebuah batu cadas yang besar dipuncak gunung Ching Shia dengan ilmu sesat golok perontok rembulannya.

Waktu itu dia anggap kepandaian silat semacam itu merupakan auatu ilmu yang maha sakti dan menggidikkan hati, maka dalam hati kecilnya selalu menganggap Ku Loei sebagai seorang musuh yang tangguh.

Oleh sebah itulah seluruh perhatian dipusatkan kearah Ku Loei, sedang Chin Tiong tidak dipandangnya walau sebelah matapun.

Perlahan lahan Chin Tiong maju beberapa langkah kedepan, wajahnya berubah cerah membara, sepuluh jarinya bagaikan kaitan dipentang lebar2 tiap merobek tubuh lawan,

Mendadak Ku Loei membentak keras, badannya menubruk kedepan, telepaknya disertai desiran angin tajam bagaikan sebilah golok segera membabat keluar

Pek In Hoei tertawa dingin, ujung pedangnya digetar manciptakan dua coen hawa tajam berwarna kemerah merahan. dalam stiatu kebasan hawa pedang seketika memenuhl angkasa.

Criiiit.. tubuh Ku Loei berkelit ke Kanan, telapak kirinya laksana kilat dihsntam kedepan menutupi kekosongan akibat tiba2 hawa pedang sianak muda itu.

Dalam pada itu Chin Tiong tanpa mengeluarkan sedikit auarapun melancarkan satu serangan bokongan dengan kelima jarinya, angin dingin menderu deru mengancam tiga buah jalan darah penting didada kanan P«k In Hoei.

Merasakan datangnya ancaman pemude she Pek busungkan dadanya kemuka. mendadak ia bersuit rendah pedang penghancur sang surja diputar setengah lingkaran, dengan jurus "Sip-Jit Tong Thian" atau Sepuluh Hari siang melulu dalam sekejap mata ia lancarkan sepuluh buah tusukan kilat.

Criiiit ! Criiit hawa pedang membumbung keangkasa, sekilas cahaya yang amat tajam mendadak menjungkit keudara, diiringi sepuluh desiran tajam mengurung tubuh lawan rapat rapat.

Serangan pedang ini benar2 mempunyai kekuatan bagaikan menyapu selaksa prajurit begitu sepuluh jalur hawa pedang menguasai daerah sekeliling delepan depa segera terkurung rapat. badan Ku Loei serta Chin Tiong pun tertahan delapan depa disisi kalangan.

Melihat kelihayan sianak muda itu, air muka Chin Tiong berubah hebat, badannya beruntun mundur empat langkah kebelakang, sekali jumpalitan badannya loncat satu tombak keudara, lima jari tangan kirinya bagaikan bayangan setan meluncur kebawah mencengkeram belakang tengkuk Pek In Hoei.

Ku Loei meraung keras, beruntun ia mundur empat langkah kebelakeng, kakinya merandek dan bagaikan terpantek diatas tanah ia berdiri tak berkutik, sepasang telapak dirapatkan jadi satu kemudian perlahan lahan membabat kemuka

Telapak tangan yang berwarna keperak perakan dengan membawa sekilas bayangan cahaya yang tajam menembus hawa pedang lawan yang kuat dan dahsyat. Ujung pedang bergetar keras, Pek In Hoei segera merasakan adanya segulung tenaga tekanan yang maha kuat menembusi lingkaran hawa pedangnya dan langsung menghantam kearah dada.

Alisnya kontan berkerut, jurus pedang dirubah, kaki bergeser satu lingkaran busur, dari arah sisi ia kirim satu serangan balasan.

Dengan adanya sapuan ini maka gabungan serangan Ku Loei yang barusan ia kirim kemuka seketika mengenai sasaran kosong.

Matanya melotot bulat2, cambang yang memenuhi wajahnya berdiri tegak bagaikan kawat, dengan cepat ia tarik kembali telapaknya kebelakang, bagian bagian atas meneguk, secara tarpisahia kirim lagi dua buah serangan berantai,

Ngoooag... ngooong... desingan tajam menggema diangkasa, deri antara getaran ujung pedang musuh muncul sebuah lingkeran cahaya tepat didepan matanya,

"Duuuuk...." Ku Loei kirim lagi satu babatan kilat kemuka, namun matanya segera jadi silau oleh bayangan cahaya yang muncul didepan matanya itu, begitu silau pandangannya oleh cahaya tajam tadi hingga ia tak sanggup memandang dimanakah Pek in Hoei berada, 

Detik itu juga berbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, ia teringat kembali bagaimana dia patahkan pedang dan angkat sumpah untuk tidak akan menggunakan pedang lagi setelah mengalami kekalahan diujung pedang Cia Ceng Gek sipedeng sakti deri partai Tiam cong dalam jurus yang kesebelas Cahaya tajam yang memancar keluar dari ujung sebilah pedang ini dirasakan seolah olah sebatang tongkat iblis yang muncul dari balik cahaya sang surya.

"Jurus apakah itu ? belum pernah kutemui jurus serangan semacam ini didalam ilmu pedang penghancur sang surya!..."

Pelbagai Ingatan kembali berkelebat dalam benaknya, namun sayang ia tidak menyadari bahwa lingkaran cahaya yang menyilaukan mata itu adalah hasil gabungan dari pengaruh tiga serangan sebelumnya, jurus ini memang merupakan salah setu jurus dari ilmu pedang penghancur seng surya dari partai Tiam cong.

Mendadak ia meraung keras, telapak kanannnya ditarik kebelakang diikuti telapak kirinya menyapu datar kesamping, sambil menahan penderitaan dan siksaan dibadan ia loncat dari kalangan.

Rupanya Pek In Hoei telah menggunakan jurus ketiga belas dari ilmu pedang Si Jiet Kiam Hoat yang disebut "Kiam Coan Liat Yang" atau Pedang menembusi teriknya sang Surya jurus ini merupakan jurus ciptaan dari Cia Ceng Gak sewaktu terkurung didalam gua batu.

Kendati sianak muda itu telah salurkan segenap kemampuan dan kekuatannya dalam jurus serangan ini, tak urung dia masih sempat merasakan pula betapa sakit batok kepalanya ketika terjepit oleh kelima jari tangan lawan,

Pada detik itu juga dia segara menyadari, sekalipun serangan pedangnya akan berhasil membinasakan Ku Loei namun kelima jari musuhpun akan mencengkeram lehernya serta mematahkan batok kepalanya.

Dalam saat yang kritis dan sangat berbahaya ini, otaknya dengan cepat mengambil keputusan, Dia meraung keras, badannya maju empat inci kemuka, sedang ujung pedang ditekuk tiga coen kebawah dan tepat meluncur kemuka dengan gerakan yang sama

Mendadak ujung pedang diantara lingkaran cahaya yang menyilaukan mata Itu menembusi hawa pukulan Ku Loei yang sedang menggulung tiba dan merobek dahinya yang lapang....

Ku Loei menjerit keras, badannya gemetar keras, sambil menahan sakit yang lak terkirakan ia loncat keluar,

Pada saat itulah ilmu jari bintang kejora dari Chin Tiong telah bersarang telak lima coen dibawah leher Pek In Hoei. Breeet! bajunya segera tersambar robek.

Pek In Hoei bersuit nyaring ujung pedangnya berputar kebelakang, seluruh badan bergeser tujuh depa ditengah udara, setelah berjumpalitan dua kali sambil membawa pedang ia sapu kedepan,

Ditengah kegelapan malam tampaklah ujung pedangnya meluncur dengan membawa sekilas cahaya warna merah yang tawar.

"Coba rasakanlah serangan Lek Liong Hwie Jiet atau enam Naga memandang sang suryaku ini!" hardiknya.

Chin Tiong ysng ada ditengah udara segera merasakan pandangannja jadi kabur, bunga pedang bermunculan didepan mata, ia meraung keras wajahnya seketika berubah jadi hijau membesi, perlahan lahan tangan kanannya diulur kemuka

Karena seluruh perhatian serta kemampuannya harus dipusatkan keatas tangan kanannya yang sedang meluncur ketepi, maka badannya yang masih ada diudara segera anjlok kebawak. Pek In Hoei membentak keras, mengikuti gerakan tubuh lawan yang merosot kebawah pedangnya segera meluncur kedepan.

Ditengah getaran pergelangannya, ujung pedang telah bergeser tiga coen lebih kebawah.

Dikala ujung pedangnya masih bergetar keras itulah, tiba tiba Chin Tiong mementangkan kelima jarinya, laksana kilat ia cengkeram senjata tajam,

Menyaksikan pihak lawan dengan kelima jarinya vang berwarna kehijau hijauan berani mencengkeram kearah pedangnya, Pek In Hoei tertawa dingin, pedangnya segera di dorong kedepan dan laksana kilat membabat keatah bawah.

Ujung pedang dengan cepat menggurat telapak Chin Tiong hingga muncul sebuah guratan panjang berwarna putih, babatan tadi gagal memasung seluruh pergelangannya Karena kesakitan Chin Tiong mengatup kelima jarinya, dengan begitu pedang Si-Jiet-Kiam pun berhasil ia cengkeram.

Meminjam tenaga dari pedang tersebut, ia tukar napas, badannya melengkung dan seluruh tubuhnya tergantung diatas pedang.

Mimpipun Pek In Hoei tidak menyangka kalau pihak lawan mampunya! jurus kepandaian yang begitu aneh dan tidak takut akan ketajaman senjatanya, karena tercengkeram maka pergelangannya segera menekuk kebawah dan seluruh badannya tertarik kebawah.

Chin Tiong tertawa seram. tubuhnya yang melengkung diangkasa mendadak mencelat keudara, sepasang kakinya menendang berbareng menyepak dada sianak muda itu Pek In Hoei mendegus, lengan kirinya berputar membentuk gerakan satu lingkaran busur, menggunakan jurus "Leng Bwee Kwe Cu" atau Bunga Bwee bergelatung didepan pinggiran telapaknya langsung membabat persendian kaki lawan, sementara jarinya mencengkeram jalan darah Yong-Gwan-Hiat ditelujuk kaki musuh.

Sepasang kaki Chin Tiong yang lagi menendang cepat2 ditarik kembali, kemudian sambil menggepit ujung kakinya tiba tiba melayang lima coen lebih keatas mengancam tenggorokan sianak muda itu.

Air muka Pek In Hoei berubah hebat, tangan kirinya segera merendah kebwah lalu dipukul sejajar dengan dada, jurus yang digunakan adalah jurus "Peng Kong Hoe Hauw" atau menundukkan harimau ditebing datar dari ilmu pukulan Hoe Hauw Koen aliran Go bie Pay, dari telepak ia rubah Jadi kepalan dan langsung menjotos ujung tumit lawan yang mengancam tiba,

Bruuuuk! kaki kanan Chin Tiong yang tak sempat ditarik balik segera termakan oleh jotosan lawan, seketika tulangnya patah dan dia menjetit kesakitan, buru buru sepasang kakinya ditarik kembali kebelakang.

Dengan masing masing pihak mencekal salah satu ujung pedang, dari udara hingga keatas bumi masing masing pihak telah saling bertukar dua jurus serangan kilat.

Begitu ujung kakinya menempel diatas permukaan tanah, tangan kanan Pek in Hoei sekuat tenaga segera ditarik kebelakang, sementara tangan kirinya berbareng diayun keluar, jari telunjuknya menyedok menotok leher Chin Tiong

Serentetan desiran angin serangan segera meluncur keluar. Merasakan datangnya ancaman Chin Tiong memantek sepasaag kakinya diatas tanah, tubuh bagian atas menekuk kebelakang ia pasang tangan sambil mencengkeram ujung pedang musuh meraung keras, tangannya cepat cepat diangkat keatas.

Sekujur badannya perdengarkan suara gemerutuk yeng nyaring badannya makin membesar, sambil kerahkan tenaga ia berusaha mengangkat tubuh sianak muda itu keangkasa.

Sambil mencengkeram gagang pedangnya Pek In Hoei memantek kakinya kuat kuat diatas tanah, namun ia tak sanggup berdiri tegak, dalam tarikan serta sentakan lawan yang disertai dengan tenaga angkatan sebesar ribuan kati ini, kuda kudanya gempur, seketika badannya terangkat ketengah udara,

"Suatu jurus Pa Ong Kie Teng atau Raja buas mengangkat Hioloo yang sangat indah" Puji Ku loei keras. Loo jie, aku segera menyusul datang".

Sambil menahan rasa sakit ditelapak kirinya ia melayang kedepan, telapaknya dengan kerahkan ilmu golok perontok rembulan melenturkan satu babatan kebawah, serentetan cahaya tajam berwarna keabu abuan seketika menyapu keatas senjata pedang itu.

Bruuuuk.... pedang Si Jiet Kiam bergetar keras dan memperdengarkan bunyi dengungan yang amat nyaring.

Pak In Hoei segera merasakan pergelangannya jadi kaku, ia kaget dan tak mengira kalau tenaga hantaman Ku Loei yang disalurkan lewat senjata pedangnya bisa menghasilkan daya tekanan yang demikian dahsyatnya. "Loo toa cepat menyingkir" terdengar Chin Tong berteriak lantang dengan suaranya ysrg keras bagaikan geledek.

Lengannya bergetar lalu memutar, badan Pek In Hoei yang ada ditengah udara segara diputarnya satu lingkaran kemudian dibanting keras keatas tanah.

Dalam banting seperti ini, apabila sianak muda itu tak mau lepas tangan niscaya badannya akan hancur berantakan.

Disaat yang amat kritis itulah mendadak Pek In Hoei bersuit nyaring, dia lepas tangan lalu loncat keatas dan berdiri diatas gagang pedang Si Jiet Kiemnya itu.

"Hmmm" ia mendengut dingin, seluruh badannya menekan kebawah, kakinya bagaikan melekat diatas pedang mengikuti daya bantingan Chin Tiong semakin menekan kebawah.

Rasul Pergutuk Langit Chin Tiong merintih kesakitan, lengannya melengkung den sekuat tenaga diangkatnya senjata itu lima coen lebih keatas.

Sinar meta Pek In Hoei berkilat, kaki tanannva mendadak melangkah satu tindak lebih kedepan, seketika gagang pedangnya melengkung lima coen lagi kebawah.

Sambil tertawa dingin jengeknya:

"Dengan andalkan ilmu sesatmu yang tak mempan dibacok senjata lantas kau ingin coba2 mencengkeram pedang penghancur sang suryaku? ..Hmmm sekarang akan kusuruh kau rasakan betapa tajamnya senjata mustikaku ini. "

Chin Tiong mendengus berat, tangannya diangkat keatas dan kembali ia angkat pedang itu tiga coen lebih keatas. Pek In Hoei tidak ingin memberi kesempatan bagi musuhnya untuk berganti napas, kakinya kembali bergeser setengah langkab kesamping. dengan demikian pedang yeng telah terangkat kini tenggelam kembali dua coen kebawah.

"Kau anggap dengan andalkan kemustajaban pil tenaga Pek Loo Tay Lek Wan lantas bisa rebut kemenangan dengan gampang" kembali sianak muda itu menjengek. "Kau anggap pedang mustika peoR hancur sang suryaku ini bisa kau rebut tanpa buang banyak tenaga..."

Saking beratnya sekujur badan Chin Tiong telah basah kuyup oleh keringat, air mukanya makin lama berubah semakin menghijau, kakinya setengah melengkung kebawah dan telapaknya telah masuk ke dalam tanah hingga bekas tumit.

Oleh ejekan ejeken Pek In Hoei yang sengaja memanaskan hati musuhnya ini, hampir saja membuat dada rasul Pengutuk Langit ini meledak saking dongkolnya, namun ia tetap tak sudi lepas tangan, dengan ngotot dan keras kepala ditahannya terus posisi tersebut.

Ku Loei sendiri yeng ada disisi kalangan juga kaget setelah menyaksikan rekannya dipencundangi oleh pihak lawan kerena kurang berhati hati, ia sadar meskipun rekannya tidak jeri akan senjata tajam karena andalkan ilmu sakti "Jan Seng Cie"nya. namun berhadapan dengan senjata mustika yang terkena! akan ketajamannya ini dia tak nanti bisa bertahan lama.

Ia tarik napas dalam dalam, dengan langkah sebat segera maju kedepan, telapak kanan diangkat keatas siap membabat punggung sianak muda itu.

"Hmmm manusia she Ku." seru Pek In Hoei sambil mendengus. Seandainya kau gunakan ilmu pukulan golok perontok rembulanmu, maka saat ini juga Chin Tiong akan mati konyol"

Mendengar ancaman itu Ku Loei terkesiap, mengerti Pek in Hoei hendak meminjam tenaga pukulannya untuk disalurkan ketubuh pedang dan menghantam Chin Tiong yang ada dibawah, dengan adanya tekanan ini maka sirasul pengutuk langit pasti akan terluka parah dan kemungkinan besar mati konyol.

Hatinya jadi sangsi dan telapak kananpun segera diturunkan kembali.

Sekilas senyum sinis menghiasi ujung bibir Pek In Hoei. "Malam ini kalau aku tidak membiarkan kau jumpai

kelihayan   dari tenaga   murni   partai   Tiam-cong,   tentu

selamanya kau akan beranggapan bahwa partai Tiam cong benar benar telah lenyap dari dunia persilatan..."

Kulit wajah Chin Tiong berkerut kencang menahan siksaan dan rasa sakit yang makin menjadi, rasa gusar, mendongkol, jeri dsn takut memancar keluar dari balik cahaya matanya, ia mendengus berat, ia palang lengannya dengan gunakan segenap tenaga yang dimilikinya mangangkat pedang bersama tubuh sianak muda itu dua coen lebih keatas.

Psk In Hoei angkat kaki kirinya den melangkah lagi setengah tindak kemuka, seketika pedang Sang surya terangkat tenggelam legi tiga coen kebawah.

Dengan penuh kesakitan Chin Tiong meraung keras, ujung kaki kanannya yang patah oleh hajaran sianak muda itu melesak kedalam tanah, darah segar segera muncrat membasahi tubuhnya, begitu sakitnya sampai sekujur badannya menggigil keras. Sekilas cahaya tajam menyorot keluar dari mata Pak In Hoei, serunya dengan suara berat:

"Kalian pernah dikalahkan oleh pedang penghancur sang surya. maka setiap berjumpa dengan pedang mustika ini dalam hati akan timbul rasa jeri, karena itu kalian berusaha hendak merampas pedang ini. Sekarang kau harus rasakan dulu bagaimana menderitanya kalau tulang yang lepas dari tempatnya dan harus menancap dalam tanah

Sembari bicara tenaganya dikerahkan semakin besar, dengan segenap tenaga ia tekan pedangnya kebawah

Senjata mustika itu segera melengkung kebawah, diantara berkilaunya cahaya kemerah merahan Chin Tiong berteriak keras tangannya robek oleh tekanan senjata itu dan darah segera mengucur keluar dengan derasnya.

Karena benturan hawa murni ini sepasang kakinya terbenam tiga coen lebih dalam diatas tanah.

Hawa darah dalam dadanya kontan berontak keras, seakan akan dihantam dengan martil sebesar ribuan kati ia tak dapat menguasai diri lebih jauh. sambil menjerit kesakitan ia muntah darah segar, pedangnya dilepaskan dan badannya segera roboh keatas tanah.

Menyaksikan rekannya roboh, Ku Loei membentak keras, tenaga lweekang yeng telah dihimpunnya selama ini begaikan bendungan yeng jebol segera dilepaskan keluar, sekilas cahaya putih dengan dahsyat menghantam dada Pek In Hoei.

Sianak muda itu tertawa lantang, badannya mundur kebelakang, berbareng kaki kanannya menjungkil lalu menjangkau, dalam waktu yang singkat pedang Si Jiet Kiam tadi, sudah dicekal kembali dalam genggamannya. Dengan senjata ditangan kehebatannya semakin meningkat, pedangnya diayun kemuka, hawa pedang segera berkelebatan memenuhi angkasa

Beruntun Ku Loei lancarkan beberapa serangan untuk memunahkan dua tusukan kilat lawan, kemudian la tarik napas dalam dalam dan mengirim kembali emoat buah serangan berantai.

Cahaya tajam berkilauan menusuk pandangan. deruan angin pukulan bagaikan gulungan ombak ditengah samudra menyapu dan menghantam dengan hebatnya.

Seketika itu juga Pek In Hoei rasakan ujung pedangnya seakan-akan membentur lapisan dinding baja yang kuat, hatinya jadi kaget pikirnya:

"Sungguh aneh, apa sebabnya tenaga serangan mereka kadangkala nampak lemah kadang kala nampak kuat kembali.

Secara beruntun empat buah serangan golok perontok rembulan dari Ku Loei telah memaksa pihak lawan mundur lima langkah kebelakang, diapun berpikir:

"Walaupun keparat cilik ini berhbasil melatih ilmu pedang penghancur sang suryanya hingga mencapai puncak kesempurnaan namun masih banyak terdapat intisari kepandaian itu belum berhasil dipahami, kalau dibandingkan dengan permainan Cia Ceng Gak tempo dulu, benar benar ketinggalan."

ia tarik napas dalam dalam, sambil maju dua langkah kedepan telapaknya kembali mengirim empat buah serangan berantai.

Menyaksikan sikap Pek In Hoei tatkala terdesak mundur kebelakang, ia lantas berpikir: Semula aku mengira dengan pedang sakti Si Jiet Sin Kiamnya keparat cilik ini bisa mengerebkan hawa pedang hingga mencapai pada puncaknya, maka delapan jurus golok perontok rembulanku tak berani kugunakan, kalau memang terbukti ia belum berhasil mencapai ketingkat tersebut, kenapa aku harus jeri lagi?"

Sementara itu Pek In Hoei yang menyaksikan enam jurus serangannya terbendung semua oleh permainan lawan, hatinya pun dibikin, terkesiap segera pikirnya:

"Rupanya dia sudah tahu kalau inti sari dari ilmu pedang Si Jie Kiam Hoat belum bsrbesil kukuasai semua, maka ilmu golok perontok rembulannya dilancarksn secara berantai..."

Sambil mundur dua langkah kebelakang permainan ilmu pedangnya segera berubah secara beruntun diapun mengirim tiga buah serangan berantai yang tak kalah hebatnya.

Didalam tiga jurus serangan tersebut ia telah gabungkan intisari serta gerakan gerakan aneb dari tiga partai paling terkemuka saat itu yaitu partai Go-bie; Hoa san serta partai Bu torg

Kalau dibandingkan dengan permainan pedangnya yang mengutamakan kekerasan serta kecepatan, permainannya sekarang jauh berbeda dan sama sekali diiuar dugaan Ku Loei, maka darl itu semua serangannya berhasil mengalutkan pikiran lawan.

Dengan hati terperanjat Ku Loei segera berpikir: "Sungguh luar biasa asal usul keparat cilik ini, bukan saja

aliran permainan pedangnya kalut dan beraneka ragam, diapun ulet den gagah. rupanya aku harus bertarung sampai ratusan jurus bila ingin mengalahkan dirinya". Dengan cepat matanya melirik kearah Chin Tong, ia saksikan air muka rekannya telah berubah jadi hijau membesi, meskipun sepasang kaki masih terbenam dalam tanah namun orangnya telah berada dalam keadaan tidak sadar.

Sambil menggertak gigi pikirannya dengan cepat berputar, pikirnya :

"Bila Loojie tidak cepat2 diberi obat penyembuh luka. dia pasti akan mati konyol, buat apa kau barus bcrtarung percuma dengan bajingan ini,

Karena berpikir begitu maka ia lantas membentak keras, senara betuntun ia lepaskan tiga buah serangan maut.

Menanti pihak lawan terdesak mundur kebelakang badannya segera loncat kebelakang, disambarnya tubuh Chin Tiong dan segera dibawa kabur kembali keperkampungan Tay Bie San cung.

Mimpipun Pek In Hoei tidak menyangka kalau secaaa mendadak Ku Loei kabur balik kedalam perkampungannya, la jadi sangsi dan segera pikirnya:

"Orang yang menjadi dalang dari rencana pengeroyokan terhadap ayahku waktu itu kecuali Chin Tiong masih ada seseorang lagi, tadi aku telah lupa mencari tahu nama orang itu, kalau tanda terang isi sampai putus bukankah aku akan kehilangan jejak yang mengetahui siapakah musuh besarku yang satunya lagi"

Ia egera membentak, badannya loncat kedepan dan bagaikan kilat yang menyambar disusul Ku Loei dengan kencang.

Baru saja melewati pagar kayu, didepannya telah terbentang sebuah benteng penjagaan yang sangat tinggi, dibelakang benteng penjagaan merupakan hangunan rumah yang bersusun susun.

Seluruh perkampungan tercekam dalam kegelapan. tak ada lampu yang menyala dan tak ada suara yang terdengar, seakan akan perkampungan itu berada dalam kesunyian yang tak terhingga.

Mendadak matanya menangkap berkelebatnya bayangan manusia. dengan cepat ia berpaling, tampaklah Ku Loei sambil mengempi! Chin Tiong telah melayang kearah depan dan dalam sekejap mata lenyap dibalik pepohonan yang lebat.

Tanpa ragu2 atau curiga barang sedikitpun juga Pek In Hoei segera menyusul kedalam hutan belukar itu.

Angin malam herhembus kencang menggerakan daun di sekeliling sana, suasana dalam hutan itu gelap gelita dan tiada nampak sesuatu benda apapun.

Sambil mencekal pedang Psk In Hoei mengerling keadaan disekeliling tempat itu, dengan cepat ia dapat saksikan situasi hutan tadi.

Sebuah jalan kecil yang beralaskan batu cadas membentang jauh kedalam menembusi hutan rimba yang lebat tadi.

Dengan alis berkerut sianak muda kita berpikir: "Rupanya perkampungan ini luas sekali hanya saja

kenapa disini tak kujmpai seorang manusiapun...?"

Perlahan lahan dia melangkah masuk kedalam hutan, berjalan keatas lorong terbuat batu dan laksana kilat menerobos terus kedalam. - Setelah berputar kesana kemari beberapa saat lamanya, pandangan berubah.. kini setelah berada dihadapan sebuah telaga yang sangat besar

Tadi sewaktu menerobos hutan suasana gelap gulita susah melihat sesuatu apapun kini setelah keluar dari pepohonan terlihatlah udara bersih sekali, rembulan serta bintang bertaburan diangkasa.

Memandang pemandangan alam yang indah, ia menghembuskan napas panjang, gumamnya:

"Sungguh tak nyana disini terdapat sebuah telaga yang begini indah dan menawan".

Sinar matanya perlahan lahan menyapu permukaan telaga yang tenang. mendadak matanya menemui sorotan cahaya lampu memancar keluar dari lobang bangunen rumah ditengah telaga.

Diikuti sesosok bayangan hitam berkelebat lewat dari tepi telaga menuju karah jembatan panjang yang membentang ketengah, bayangan tadi langsung bergerak menuju kebangunan tersebut.

"Aaaah!" Dengan hati kaget Pek 1n Hoei berseru tertahan. "Apa maksud Ku Loei dengan membopong Chin Tiong lari menuju kebangunan ditengah telaga itu? apakab disitulah letak bangunan rahasia mereka untuk berlatih ilmu silat?"

[a termenung sejenak kemudian mundur selangkah kebelakang dan berdiri dibawah kegelapan, dengan cermat diperiksanya keadaan disekeliling tempat itu.

Suasata disitu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, hanya hembusan angin malam yang menggetarkan ranting menimbulkan gemerisikan yang 1irih... Ia tarik napas dalam dalam, pedang mustika Sie Jiet Kiamnya dimasukan kembali kedalam sarung, lalu sebarang lengan bergetar dan ia melayang empat tombak kedepan. bereda ditengah udara badannya berjumpalitan satu kali, seolah olah seekor burung elang dengan enteng dan ringan melayang keatas jembatan tersebut.

Baru saja kakinya menginjak diatas jembatan. segera terlihatlah pintu ruangan di tengah telaga itu terbentang lebar dan seseorang munculkan diri dari dalam.

"Keparat! kau berani datang kemari ?" terdengar Ku Loei membentak keras.

Pek Hoei miringkan tubuhnya kesamping dan melangkah maju dua tindak kedepan dari sisi tubuh Ku Loei yang tinggi kakar ia dapat melihat dengar, jelas keadaan dalam bangunan air itu.

Dalam ruangan terbentang sebuah pembaringan, diatas pembaringan duduklah seorang kakek tua berambut putih, dihadapannya terletak sebuah hioloo kuno terbuat dari tembaga, asap hijau perlahan lahan mengepul keluar dan menyebar ke empat penjuru.

Berhubung Ku Loei berdiri tepat didepan pintu maka Pek Ia Hoei tak dapat melihat lebih jelas lagi apa yang sedang dilakukan sikakek tua yang ada didalam ruangan itu.

Ia bungkam dalam seribu bahasa, ditatapnya wajah Ku Loei dengan pandangan dingin sementara otaknya berputar memikirkan apa sebabnya pihak lawan mengucapkan kata2 seperti iiu.

"Hmmm ! mungkinkah dia hendak andalkan kekuatan sikekek itu maka sengaja memancing aku masuk kedalam?". Belam lenyap ingatan itu diri dalam benaknya, tiba2 terdengar suara rintihan berkumandarg keluar dari bangunan air iiu. Ku Loei segera berpaling dan bertanya dengan suara kaget ;

"Bagaimana dengsn Loo-jie ?".

"Dia tak akan mati." jawab kakek berjenggot panjang itu tanpa berpaling.

Ku Loei tidak bicara lagi, is segera berpaling menatap kembali sianak muda she Pek ini.

Tiba2 kakek yang sedang bersila itu menoleh lalu berkata

:

"Didalam bangunan air ini telah kupasang alat rahasia

yang kuciptakan sendiri dengan susah payah. aku yakin kau tak nanti berani maju tiga langkah lagi kedepan!". "Pek 1n Hoei, sudah kau dengar perkataan itu?" sambung Ku Loei sambil tertawa dingin.

Pek In Hoei tetap bungkam dalam seribu bahasa, ia berusaha menahan keinginannya untuk menerjang masuk kedalam bangunan air itu, seraya memandang wajah kakek tua itu pikirnya :

"Entah siapakh manusia itu? rupanya Ku Loei telah menghormati dia sebagai seorang tamu agung dan memeliharanya dalam bangunan air ini!".

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, segera pikirnya lebih jauh :

"Mungkinkah dia adalah guru dari Ku Loei, si iblis sakti berkaki telanjang dar Cing Hay ?".

Sebaliknya tatkala Ku Loei menyaksikan Psk In Hoei hanya berdiri ditepi jembatan tanpa ada maksud untuk maju kedalam lebih jauh segara mendengus dingin. "Hmmm ! sungguh tak nyana Cia Ceng Gak yang dahulu pernah malang melintang dengan gagahnya tanpa takut terhadap langit dan bumi bisa mempunyai cucu murid kere macam kau. Hmmm...1 sungguh memalukan nama besar partai Tiam cong!" Pek Ia Hoei tertawa dingin:

"Seandainya kau menganggap dirimu sebegai seorang enghiong tidak nanti bersembunyi terus didepan pintu macam kura2. kalau berani ayoh kita ketepi sana !".

Dengan gusarnya Ku Loei meraung keras badanny bergerak siap loncat kemuka.

Tiba kakek tua dalam ruangan itu mendehem ringan lalu menegur dengan suara berat.

"Ku Loei, sampai tuapun watak berangasmu masih belum bisa hilang kemanakah hasil latihanmu selama ini? masa dengan kesabaran seorang pemuda pun tak mampu menandingi."

Rupanya Ku Loei sangat jeri terhadap orang itu, mendengar teguran tadi ia tidak membantah bahkan mundur selangkah kebelakang dengan wajah tersipu.

"Ucapan kau si orang tua tepat sekali," jawabnya cepat, "Seandainya pada masa yang lalu aku tidak bertabiat kasar dan berangasan semacam ini tidak nanti aku bisa terluka ditangan Cia Ceng Gak."

"Babatan pedang Cia Ceng Gak tepat mematahkan urat urat It Meh membuat latihanmu selama dua puluh tahun tidak mendatangkan hasil yang diinginkan seandainya tak ada pil mustajab Pek Loo Tay Lek Wan yang kubuat khusus untukmu, mungkin ilmu silatmu telah punah sama sekali?"

Setelah mendengar ucapan sikakek tua itu, Pek In Hoei baru mengerti epa sebabnya ilmu silat dari Ku loei kadang kala lemah kadangkala kuat kiranya urat penting im mehnya telah dilukai oleh sucouwnya pada pertarungan tempo dulu maka itu ilmu silatnya tak bisa berkembang lebih jauh dengan andalkan obat yang khusus dibuat kakek itu baginya ia baru bisa menekuni ilmu Sim-hoat aliran Liauw-sat Boen.

Otaknya memang cerdik, ia lantas teringat kembali akan pertarungan Ku Loei melawann Kim In Eng sewaktu ada dipuncak gulung Hoasan tempo dulu, segera pikirnya dengan hati tercengang:

"Rupanya paristiwa ini tidak diketahui siapapun termasuk sumoaynya sendiri, lalu apa sebabnya kakek itu sengaja mengatakannya kepadaku?"

Sejak terjadinya perubahan besar diatas gunung Tiam- cong diikuti mengalami pula perbagai pengalaman pahit, boleh dikata selurub keadaan sianak muda ini telah berubah, kejujuran serta kepolosannya dahulu kini telah lenyap tak berbekas. terhadap siapapun dan apapun dia telalu menaruh curiga. otaknya terlalu berputar mencari tahu sebab sebabnya persoalan yang sedang dihadapi.

Maka dari itu dengan hati sangsi dia penuh curiga ditatapanya wajah kakek tua itu tajam tajam. ita tak mau maju kedalam lebih jauh dengan gegabah.

Sementara itu kakek tadi melirik sekejap kearah Pek in Hoei yang berdiri disisi jembatan kemudian katanya:

"Ku Loei, masuklah kedalam, pil Tiang coen wan didalam tungku ini telah masak, sudah waktunya kau berikan kepada Chin Tiong !"

"Hoa Loo!" kata Ku Loe sambil angkat telapak kirinya. "0bat yang ada diatas telapakku sudah boleh diambil bukan?" "Hmmmm setengah jam kemudian telapak tangan yang kubalut akan sembuh kembali seperti sedia kala, aku tanggung keparat cilik yang masih bau tetek itu tak akan berani maju tiga langkah kedepan"

Menyaksikan Ku Loei melangkah masuk kedalam bangunan air itu, Pek In Hoei mendengus, pikirnya :

"Dengan pelbagai macam hasutan dari ucapan kau hendak memancing aku maju tiga langkah kedepan. Hmmm dianggapnya aku lantas ikuti ucapanmu dan benar benar maju tiga langkah? justru aku mau sengaja maju sampai kelangkah yang keempat...!"

Ia tarik napas dalam dalam, hawa murninya disalurkan keseluruh badan kemudian maju dua langkah kedepan dan enjotkan badsn melayang enam depa kemuka.

Siapa tahu ketika ujung kakinya menginjak papan jembatan disebelah depan, tiba2 jembatan itu roboh dan tenggelam kedalam telaga hingga tinggal separuh jembatan yang ada didekat bangunan air itu saja yang masih berdiri seperti semua.

Ia mendengus dingin, sepasang lengannya bergetar keras den badannya melayang sembilan depa keatas, bagaikan seekor burung alap alap kembali dan lewati dua tombak jauhnya dan melayang keatas jembatan yang masih tersisa.

Siapa sangka jembatan itupun seakan akan makhluk hidup, belum sampai ujung kakinya menginjak papan jembatan mendadak jembatan tadi tenggelam pula kedasar telaga hingga kakinya menginjak tempat kosong.

Sekaleng dia baru merasa kaget, badannya segera melengkung membentuk gerakan busur seteiah itu meloncat sekuat tenaga kearah depan. Daiam perkiraannya dengan jurus "Cing Liong Hoan" atau Naga Hijat berjumpalitan diawan ia pasti bisa melewati permukaan telaga tadi dan melayang balik ke atas daratan, aiapa sangka air telaga itu dinginnya luar biasa, baru seja kakinya menyentuh air tersebut seketika itu juga terasa adanya segumpal hawa dingin yang luar biasa dahsyatnya menyusup kedalam tubuhnya lewat kaki, membuat seluruh kakinya jadi kaku dan mati rasa.

Baru saja badannya meloncat lima depa keatas, hawa murni daiam tubuhnya telah buyar dan badannya segera anjlok kebawah, Pek In Hoei benar benar merasa amat terperanjat, sinar matanya berputar cepat mengawasi sekelilingnya namun dengan cepat ia dapat melihat dengan jelas keadaan dirinya yang sebenarnya.

"Sekarang jarakku dengan bangnnan air itu masih beberapa tombak sedangkan untuk kembali kedaratan masih ada empat tombak jauhnya, bawa murniku tak akan bisa memantulkan tubuhku kembali kesitu."

Disaat yang amat kritis itulah satu ingatan berkelebat dalam benaknya, segera ia bersuit nyaring, keempat anggota badannya dipentingkan lebar lebar, dengan jurus ketiga dari

, Im Liong Pat Sih" aliran Kun lun Pay yaitu "Yoe Liong Swe In" atau Naga sakti Bermain diawan, tubuhnya berputar setengah busur diudara kemudian meluncur kearah bangunan air itu.

Laksana kilat badannya meluncur kearah bangunan tersebut, meskipun akhirnya ia tiba disisi jembatan gantung, namun dengan pengalaman yang sudah pemuda kita tak berani langsung melayang keatas tangan kenannya dengan cepat menjangkau mencengkeram wuwungan bangunan air itu "Hmm" jengekan dingin berkumandang memecahkan kesunyian, mendadak muncul sesosok bayangan manusia dari balik atap dan tahu2 Ku Loei telah muncul disitu sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat

dengan ilmu pukulan golok perontok rembulan.

Dslam pada itu kelima jari Pek in Hoei baru saja menyentuh dinding wuwungan, atau secara tiba tiba sesosok bayangan putih berkelebat lewat dihadapan matanya segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menyapu keatas dadanya.

Seakan2 dibabat dengan sebuah kampak raksasa, sianak muda itu merasakan napasnya sesak dan badannya segera merandek.

Pek In Hoei terkejut, ia membentak nyaring, telapak kirinya langsung menyapu keluar mengirim satu pukulan dengan jurus "Im Hoa Ciat Bok? atau memindahkan bunga menyambang ranting.

(Oo-dwkz-oO)

8

SIKUTNYA menekan kebawah lalu menggetar, maksudnya dia hendak memotong datangnya angin pukulan musuh yang kuat dan berhawa dingin itu, namun gerakannya terlambat, telapak lawan tahu-tahu sudah menghajar telak dadanya.

Bruuk pukulan golok perontok rembulan yang tajam dan ampuh itu bersarang telak diatas dadanya.

Dengan penuh rasa sakit ia mendengus, kelima jarinya mencengkeram semakin keras hingga membuat atap wuwungan patah dan seluruh tubuhnya. tercebur kedalam sungai.

Percikan air muncrat keempat penjuru, permukaan teia?a yang tenang segera mucul ombak yang keras dan menggoncangkan seluruh bangunan air tersebut.

Ku Loei yang berdiri diatap rumah, sambil memandang gulungan ombak diatas permukaan telaga tertawa seram tiada hentinya :

"Haaah.... haaaah....... haaaaah....sekalipun kau memiliki ilmu silat yang bagaimana lihaypun, jangan harap bisa loloskan diri dari dasar telaga Lok Gwat Ouw dalam keadaan hidup hidup".

Bayangan manusia berkelebat lewat, si kakek tua itupun. munculkan diri dari balik bangunan air, katanya pula ::

"Kalau ia tidak mati karena kedinginan. tubuhnya tentu akan hancur oleh tekanan air yang maha dahsyat didasar telaga ini."

"Hoa loo, kau benar benar tidak malu disebut sebagai Cukat Liang kedua, ternyata keparat Cilik ini telah terjerumus ke dalam siasatmu yang lihay." puji Ku Loei tiada hentinya.

Kakek tua itu tertawa hambar.

"Terhadap manusia yang berotak panjang seperti dia. bila tidak kugunakan siasat yang palsu adalah sungguh dan yang sungguh adalah palsu, mana mungkin ia terjerumus kedalam jebakan yang telah kuatur?"

"Haaaah... haaaah... haaah... sekarang kita hanya tunggu tenaga sinkang suhu berhasil mencapai pada puncaknya maka seluruh kolong langit akan menjadi milik kita" "Dewasa ini sembilan partai besar didataran Tionggoan telah kehabisan jago jago lihaynya" ujar kakek tua itu sambil mengelus jenggotnya, rencana kita yang sudah diatur sejak dua puluh tahun berselangpun segera akan terlaksana, waktu itu seluruh dunia persilatan yang ada dikolong langit akan tunduk dibawah telapak laki perguruan Liauw sat Boen kita. "

"Kesemuanya ini bisa berjalan lancar, tidak lain berkat jasa Hoa Loo cianpwee yang tak terhingga besarnya."

Kakek tua itu mengulurkan lengannya menekan sebuah tombol didekat pintu, maka jembatan kosong yang tenggelam kedasar telaga tadipun perlahan lahan muncul kembali keatas permukaan dan beserta dengan satu sama lainnya.

Ia angkat kepalanya memandang rembulan yang tergantung diwuwungan, ujarnya:

"Dewasa ini kita harus berusaha untuk meaghadapi tiga dewa dari luar lautan, agar mereka tidak sanggup tancapkan kakinya kembali didaratan Tionggoan."

Ia menghela napas panjang gumamnya lebih jauh : "Susah payahku selama enam puluh tahun akhirnya

mendatangkan hasil juga, Hoo Mong Chin kau akan menyaksikan betapa lihaynya rencanaku!"

Ia membelai jenggot sendiri yang panjang, seakan akan mengeluh bisiknya kembali :

"Seluruh enam puluh tahun bidup berdampingan dengan awan mega diangkasa, hidupku terasa hampa dan kosong Aai

.... dunia kangouw.... dunia kangouw. " Perlahan dia putar badan dan berjalan masuk, dibawah sorotan sinar rembulan tampak perawakannya yang tinggi besar berjalan rada pincang, rupanya dia adalah seorang manusia yang berkaki pincang sebelah.

Ku Loei menoleh keatas permukaan telaga yang telah menjadi tenang kembali: sambil tertawa dingin jengeknya:

"Kali ini Partai Tiam cong benar2 telah lenyap dari permukaan bumi."

Air telaga yang dingin dan membekukan tubuh menyusup kadalam tulang, begitu Pek In Hoei tercebur kedalam telaga Lok Gwat Ouw, sekujur badannya seketika jadi kaku.

Berteguk teguk air telaga telah terlelan kedalam perutnya, paru parunya mulai jadi sesak membuat badannya menggigil keras, dalam keadaan yang kritis terpaksa sianak muda itu tutup seluruh pernapasannya.

Dengan susah payah dan penuh penderitaan ia meronta, sepasang tanganaya tanpa sadar mendayung kesana kemari, dalam sekejap mata golakan air telaga disekeliling tak ubahnya seolab olah berubah jadi selembar jaring yang kian lama membelenggu tubuhnya semakin kencang.

Deburan ombak yang kuat laksana berpuluh puluh buah martil besar menghantam badannya, untung ia kenakan kutang mustika pelindung badan yang segera menolak sebagian besar tekanan tersebut, kalau tidak mungkin badannya sudah hancur lebur termakan daya tekanan air yang maha berat dan maha dahsyat itu.

Ia meronta terus tiada hentinya, sambil menahan napas! tangannya mendayung kesana kemari, sianak muda itu bernafas untuk munculkan diri keatas permukaan telaga. Nsmun deburan ombak yang kuat dan dahsyat tiada hentinya menumbuk tubuhnya, membuat badannya bukan timbul keatas sebaliknya makin lama semakin tenggelam kedasar air.

Dadanva terasa sakitnya bukan kepalang beberapa kali mulutnya hendak dipentungkan untuk muntahkan barang barang yang ada dilambung namun kesadarannya belum hilang, sekuat tenaga ia gertak gigi kencang kencang agar air telaga yang dingin membekukan tubuh itu tidak sampai masuk kedalam perutnya.

Mula2 kesadarannya masih bisa dipertahankan, namun lama kelamaan ia mulai kabur dan saking dinginnya seluruh badannya jadi mati rasa.

Keempat anggota badannya mulai berhenti mendayung, ia biarkan tubuhnya terseret oleh aliran diatas telaga menuju ke arah bawah.

Mendadak..

Sekujur badannya gemetar keras, sepasang tangannya dengan penuh penderitaan memutar kesana kemari, membuat pakaian diiuar kutang wasiatnya robek2 dan terlepas semua.

Air darah mulai mengucur keluar dari ujung bibirnya, didasar air telega yang berwarna biru air darah tadi kian menyebar kemana mana.....

Ketika itulah badannya telah tenggelam didasar telaga dan bergelinding kedalam batu batu cadas yang memenuhi dasar telaga itu.

Sebuah batu cadas yang runcing bagaikan pedang merobek kantong kulit dipinggangnya dan beberapa butir mutiara segera tercerai-berai. 

-oo0dw0oo-