Imam Tanpa Bayangan II Jilid 06

 
Jilid 06

SUNGGUH tebal napsu membunuh bajingan cilik ini!" pikirnys da!am hati dengan perasaan kaget. "Sungguh cerdik pula otaknya, dia punya tulang dan bakat yang bagus tidak enak kalau dilindungi keselamatan jiwanya"

Karena berpikir begitu, segera tanyanya :

"kenapa kau lindungi keselamatan bajingan cilik yang berada di belakangmu? dia anak murid partai Tiam-cong . .

. ."

"Justru karena dia berasal dari partai Tiam-cong mska kutolong jiwanya!" lalu dengan wajah serius tegurnya. "Mengapa kan hendak membasmi habis seluruh anggota partai Tiam cong?"

"Kapan aku pernah membasmi seluruh anggota partai Tiam-cong?" Ku Loei balik bertanya dengan nada melengak.

"Hmmmm! tiga puluh tahun berselang ilmu pedangmu menderita kekalahan total ditangan Cia Ceng Gak, sejak itu dalam hatimu selalu membenci orang-orang partai Tiam- cong. Bukankah sekarang kau telah mengutus Ke Hong beserta tiga puluh orang lebih untuk membinasakan Pek Tian Hong dsrl Tiam-cong-pay ?

"Hmmm! apa yang hendak kau katakan lagi?"

"Apa?" teriak Ku Loei dengan mala melotot. "Sejak Couwsu mendirikan perguruan Liuw-sah-boen dilaut Seng Sut Hay selama dua ratus tahun rasanya tidak pernah ada anggota perguruan kita yang melakukan perbuatan terkuiuk serendah itu, kau sebagai anak murid perguruan ternyata berani menghina perguruan ternyata berani menghina perguruan, merendahkan nama Couwsu, tahukah kau bahwa kau telah melanggar dosa yang sangat besar?"

"Sudah lama aku bukan anak murid perguruan lagi, kenapa aku harus terikat oleh peraturan perguruan?". "Sumoay, benarkah kau tidak sudi kembali kedalam perguruan? apakah kau sudah melupakan semua pesan dsri suhu?"

Kim In Eng gelengkan kepalanya.

"Keputusanku sudah bulat, sekalipun kau hendak mengucapkcan kata kata seperti itu tidak nanti aku akai kembali ke Ssng sut Hay"

Ku Loei meraung gusar, cambanguya pada berdiri semua bagaikan landak, dengan keadaan yang menyeramkan bentaknya:

"Kim In Eng, aku hendak menggunakan kedudukanku sebagai toa suhengmu menjatuhkan hukuman kepadamu!"

Kim In Eng tertawa dingin, terhadap tingkah laku Ku Loei yang sedang diliputi kemarahan ia tidak ambil gubris.

Si Rasul Pembenci Langit Ku Loei makin gusar, matanya melotot bulat bagaikan kelereng, mendadak ia angkat tangan kanannya memperlihatkan sebilah pedang pendek berwarna emas.

"Anak murid angkatan kedelapan dari perguruan Liuw- sah Boen Kim In Eng harap dengar perintah" serunya sambil melangkah maju setindak.

Serentetan cabaya aneh memancar keluar dari balik msta Kim In Eng, ia cuma melirik sekejap kearah pedang emas itu kemudian tidak ambil gubris, bukan begitu saja, bahkan ia malah berpaling dan berkata kepada Pek In Hoei :

"Bocah, apakah kau ingin tahu sebab sebab yang menyebabkan kematian supek cauwmu sipedang sakti dari partai Tiam-cong, Cia Ceng Gak?"

Pek In Hoei mengangguk.

Aku bersumpah akan membalaskan dendam sakit hati setiap anggota partai Tiam cong yang mati terbunuh" Seakan-akan sedang mengisahkan satu Kim In Eng mulai berkata:

"Dengan membawa pedang sakti penghancur sang surya Cia Ceng Gak terjunkan diri

kedalam dunia persilatan. Waktu itu Ku Losi beserta murid kedua Cfciu Tiong dan siauw sumoay mereka Kim In Eng sama-sama berkelana pula dalam dunia kangouw, dalam waktu singkat Cia Ceng Gak berhasil merebut gelar sipedang sakti dalam Bulim Sebagai pemimpin dari partai Tiam cong, disambali pula ilmu silatnya lihay dan wajahnya sangat ganteng, banyak gadis cantik sama2 jatuh cinta padanya, tetapi sayang Cia Ceng Gak bukan seorang yang romantis bukan saja ia tidak menggubris gadis2 itu bahkan pura2 berlagak pilon...... oleh sebab itulah, dalam kangouw dia pun mempunyai satu gelar yang kurang sedap didengar silelaki tampan yang tidak romantis".

"Apakah pada saat itu supek-couw berkelana sambil menggembel pedang sakti penghancur sang surya?" tanya Pek Ia Hoei.

Kim In Eng melirik sekejap kearah sianak muda itu, lalu mengangguk. "Hmmm! Seandainya ia tidak mengandalkan kemisteriusan dari pedang itu, tidak nanti aku menderita kalah ditangannya" Jengek sirasul pembenci langit dengan suara bengis

Kim In Eng mendengus, ia lirik sekejap suhengnya dengan pandangan dingin lalu menyahut:

"Hatimu kejam, licik dan buas. Mana mungkin bisa melatih ilmu pedang terbang yang merupakan suatu ilniu pedang tingkat atas? Sekalipun umpama kata Cia-lang tak mati, ilmu pedangmu tidak nanti bisa menandingi dirinya !" "Perempuan yang tidak tahu malul" teriak Ku Loei penuh kegusaran. "Hmmm Aku tidak pernah mencelakai orang lain dengan siasat busuk, tidak pernah memperkosa anak gadis orang, tidak peraah menggunakan akal licik untuk mengangkangi siauw sumoaynya sendiri, kenapa aku tidak tahu malu"

Si Rasul Pembenci Langit meraung keras ujung jubahnya dikebut kedepan dan serentetan desiran angin tajam berhawa dingio segera meluncur keluar.

Pek In Hoei menggigil ia rasakan suhu udara disekeliling tubuhnya mendadak merendah dengan cepatnya," dalam sekejap mata dis rasakan tubuhnya seolah olah terjerumus kedalam gudang es yang amat dingin, giginya saling beradu keras karena tak tahan sianak muda itu bersin beberap« kali.

Terhembus desiran angin tajam tadi, ujung baju Kim In eng yang berwarna hitam berkibar kencang, namun ia sama sekali tidak terluka, sambil tersenyum menghina jengeknya :

"Heeeh...... heeeeh........heeeh........kepandaian silaimu tidak lebih cuma begitu saja?"

Sambil berkata lima jari tangan kanannya diayun keluar, lima rentetan desiran angin serangan meluncur keluar dari ujung kelima jarinya menghantam kemuka. Meski desiran itu halus bagaikan hembus angin malam, namun mengakibatkan jubah yang dikenakan Ku Loei bergelombang, bagaikan tertusuk lima bilah pedang tajam, desiran angin serangan itu menembusi pukulannya hingga melubangi pakaian yang ia kenakan.

Kontan air mukanya berebah hebat.

"Hmmm Sungguh tak nyana ilmu totok Lan Hoa-ci dari subo berhasil kau latih" "Ilmu telapak Han Pang-ciang dari suhu yang kau milikipun tidak jelek, cuma sayang heeeh...... heeeh......

heeeeh...... semua ilmu silat dari Seng Sut Hay mengutamakan tenaha Im yang lunak. Sekalipun kaliau kaum pria berlatih giatpun tidak nanti bisa peroleh hasil yang lebih baik daripada kaum wanita !"

Ia berpaling kembali kearah Pek In Hoei dan menyambung:

"Kau harus perhatikan baik baik, semua ilmu silat dari Seng Sut Hay mengutamakan tenaga Im-kang yang bersifat lunak, hanya tenaga Yang-kang yang bersifat keras dan panas saja bisa menaklukan, kalau tidak maka kau harus benar benar menguasai kelincahan serta kelunakan dari tenaga Im-kang, kalau tidak ingin dikecundangi olehnya ...

"

Perempuan itu menghela napas panjang setelah merandek tambahnya:

"Semula aku memang ada maksud menerima kau sebagai muridku, tetapi sekarang setelah kupikir lagi, meskipun kau berlatih selama hiduppun tidak nanti bisa mengalahkan dirinya, maka sekalipun kau tidak sudi anak muridku, akupun tidak akan merasa sedih" Dengan hati mendongkol rasul pembenci langit mendengus berat. "Walaupun kau berhasil melatih ilmu jari Lan Hoa-cie, aku masih punya cara untuk menaklukkan dirimu Sumoay! Kau jangan keburu senang. Lihat saja nanti... Dewi Khiem bertangan sembilan Kim In Eng tidak menggubris ancaman orang kepada Pek Ia Hoei ujarnya lagi dengan suara halus

"Kau harus perhatikan baik baik ilmu pukulan salju yang ia lepaskan tadi bisa membekukan cairan darah dalam tubuh seseorang, seandainya darah dalam tubuh iawan sudah membeku maka dia akan kehilangan daya perlawanan, pada saat itulah serangannya dengan dahsyat akan menghancurkan badan musuh Oleh sebab itu bila dikemudian hari kau berjumpa dengan dirinya, pertama tama hindarilah lebih dahulu hawa dingin, yang tcrpencar keluar dari serangan tersebut

"Lonte tengik !" teriak Ku Loei sangat gusar. "Sekalipun kau beberkan semua rahasia ilmu silat perguruan kita kepadanya tidak nanti ia bisa lolos dari tanganku dalam keadaan hidup"

Kim In Eng tidak menggubris, ia pejamkan matanya dan berkata lagi: "Tahun itu aku baru berusia lima bela tahun, sebenarnya tidak pantas bagiku untuk berkelana kedalam Bulim Tetapi berruntung aku disayang oleh subo dia ia tidak merintangi keinginanku untuk berpesiar didaerah Kanglam, maka setelah ribut beberapa kali permintaanku dikabulkaanya

"Sepanjang jalan kedua orang suhengku lu berusaha menyenangkan hatiku, setiap tiba disuatu daerah maka dipilihnya tempat tempat yang paling baik untuk ajak pesiar, memilih makanan yang paling untuk aku makan, mereka berdua takut aku tidak senang hati"

"Hmmm...! Rupanya kau masib ingat bahwa kami bersikap sangat baik kepadamu" dengus Ku Loei. "Aku kira hatimu sudah digondol anjing"

Kim In Eng tidak gubris sindiran suhengnya, kembali ia lanjutkan kisahnya ;

".Pada masa itu partai partai besar dalam Bulim saling tidak akur, saling curiga mencurigai, pada hari hari biasa jarang berhubungao satu sama lainnya. Tetapi sejak anak murid Seng Sut Hay munculkan diri tanpa sadar mereka bersama sama bersatu padu untuk memusuhi kami, dan perjalanan kamipun seringkali mendapat gangguan. Sayang sekaii partai Sauw-Iim, Bu-tong, Go- bie serta Hoa san yang dianggap sebagai partai lurus dalam dunia kangouw tidak memiliki ilmu silat yang lihay maka dari itu satu demi satu jago jago mereka keok semua ditangan kedua orang suhengku"

"Hasaah .... haaaah.......... haaah.       "

Rasul Pembenci Lsngit tertawa terbahak-bahak. "Jago jago tahu dan tempe dari berbagai partai mana bisa menandingi kehebatan perguruan kami?". Mendengar suhengnya menimbrung terus dari samping, Kim In Eng kerutkan alisnya dan menjerit:

"Tutup bacot onjingmu, enyah jauh dari sini!".

Si Rasul Pembenci Langit membungkam dengusan dingin menggema tiada hentinya. Untuk sesaat suasana diliputi kesunyian.

Setelah merandak beberapa saat perempuan itu melanjutkan:

"Jago pedang yang ternomo pada seat kecuali sipedang naga terbang dari Kunloen Pay hanyalah sipedang sakti Cia lang seoorang. Ketika kami tiba dikota Siok-Chlu, sipedang naga terbssg dengan merubungi wajahnya malam itu telah mendatangi kuil Han san-sie dan mencari kami untuk diajak beradu ilmu silat"

"Kuil Han-sao sie ? apakah kuil Han san sie yang dimaksudkan Pujangga Thio Sie dalam syairnya Jambatan Hong-Kiau ditengah malam?".

"Sedikitpun tidak solah, justru karena aku pernah membaca syair itu maka aku bersikeras untuk menginap dikuil Han-san- sie. Siepa sangka pada malam pertama tidurku telah dibangunkan oleh kehadiran orang manusia bekerudung yang mencari Hay-thian Siang-Kiam untuk diajak Pibu Bocab tahukah kau bahwa bilamana seorang telah mendapatkan sedikit nama seandainya ia bertindak kurang hati hati maka kemungkinan besar nama besamya akan hancur dalam waktu singkat? Peda waktu itu tujuan Hwie Lioag Kiam menyatroni Han san sie dengsn wajah berkerudung bukan lain untuk menghindari ejekan orang banyak seondainya dia menderita kekalahan. "

Perempuan itu menghela nopas panjang sambungnya: "Tetapi akhirnya dia menderita kalah, kalah diujong

pedang toasuhengku.

"Benar" sela Ku Loei dengan bangga, pada jurus yang keenam pUub tujuh, pedangku berbasil melepaskan kain kerudung yang ia kenakan

"Fui.... tak tahu malu. meski kau mengatakan Hwie Liong Kim pada jurus yang enam puluh tujuh, namun kau sendiri juga dipaksa keok dengan pedang terlepasdari tangan oleh Cia Ceng Gak sebelum jurus yang kelima puluh*.

"Hmmm ! kalau dia tidak curang, mana mungkin aku bila kalah? dia menyerang aku tatkala aku baru saja menyelesaikan pertarunganku melawan sipedang naga tebang dari Kun-loen Pay, waktu itu tenagaku sudah habis dan badanku lelah"

"Ooouw......... begitu? keospa tidak sekalian kau ceritakan bahwa kalian suhengte berdua telah mengerubuti orang lain dengan ilmu pedang Liuw-sah Kiam-hoat?"

"Lonte buauk! sebenarnya kau masih menganggap dirimu sebagai anggota perguruan Liuw sah Boen atau tidak? mengapa keu selalu membantu oraog lain?" "Hmm! bukankah sejak tadi aku sudah bilang bahwa aku telah melepaskan diri dari keanggotaan perguruan Liuw Sah Boen?"

Ku Loei semakin mendongkol, dengan penuh rasa benci teriaknya:

"Kau sendiri yang berkata begitu, nanti kalau lerpaksa aku harus menghukum dirimu menurut peraturan perguruan, jangan salahkan aku terlalu kejam"

"Kenapa harus tunggu sampai nanti? sekarang saja tunjukkan kelihayanmu"

"Akan kulihat sampai dimanakah ketebatan mukamu untuk mengungkap kembali peristiwa lampau yang memalukan itu, agar kudengar sampai dimanakah baunya peristiwa memalukan yang psrnah kau perbuat".

Pek in Hoei mendengus berat. "Hmmml macam begitulah sepak terjang seorang ketua perguruan? bila bisa mengucapkan kata kata sekotor don serendah itu. Hmmm aku lihat perbuatanmu tidak lebib seperti seekor anjing dan babi yang hina"

.

Ucapan tersebut terlalu menghina, air muka Ku Loei kontan berubah hebat sambil loncat bangun teriaknya penuh kemarahan :

"Bajingan cilik, anjing kecil kau berani memaki diriku?".

Telapaknya diputar lantas dibabat keluar dengan kecepatan bagaikan ki1st. Sreeet... dalam sekejap mata serentetan babatan tajam menyapu kearah tubuh Pek In Hoei.

Kim In Eng tidak ambil diam dengan datangnya serangan itu, dia membentak nyaring, badannya melengkung bagaikon busur lalu meletik bangun, liua juinye di pentang lebar lebar lalu meayapu kedepan.

Bruuuk .... I gerakan tubuhnya terbendung, sekilas rasa kaget borkelabat di atas wajahnya. laksana kilat telapak kirinya didorong kemuka mengirim sebuah pukulan lagi.

Bluuuum         kembali perempuan itu tertahan ditebgoh

jalan bahkan terdorong setengah langkah kebelakang, diatas batu munculah sebuah bekas telapak kaki sangay nyata.

"Haaa.... haaaah.... haaaah...... bagaimana dengan seranganku ini?" jengek rasul pembenci langit nambil tertawa terbahak bahak dengan seramnya.

"Ilmu silat apakah itu?"

Kitab ilmu golok perontok rembulan yang ditinggalkan oleh suhu dahulu dalam kitab

pusaka Ku Thian Pit Kipnya" "Ilmu golok perontok rembulan?"

Si Rosul Pambenci Langit menjengek dingin, hawa murninya segera dikumpulkan keatas telapak. Dalam sekejap mata seluruh angkasa telah dipenuhi dengan selapis cahaya tajam bewarna keperak perakan yang memancar keluar dari telapak tersebut.

Criiiilt ! seakan akan membelah suhu, sebuah batu cadas yang berat lagi keras telah terbabat putus jadi dua bagian oleh babatan telapek tangannya.

Pek In Hoei sendiri tertegun dibuatnys setelah menyaksikan kepandaian silat yang didemonstrasikan lawan, dengan hati terkesiap diam diam pikirnya: "Iimu silat apakah itu? kenapa telapaknya bisa lebih tajam daripada sebilah golok?"

Sementara itu Si Rasul Pembenci Langit tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeh... heeeh.... inilah kepandaian silat tandingan yang diciptaken suhu untuk membalas dendam sakit hatinya terhadap subo ia sengaja menciptakan ilmu ini untuk menghancurkan kepandaian Hoei Koo- Chiu dari subo"

Kim In Eng tertegun, lalu dengan benci serunya: "Sekalipun ilmu s:latmu dianggap nomor wahid dikolong

langit, tidak nanti bisa menutupi kejelian dalam hatiku, tidak mungkin bisa melenyapkan kejelekan yang pernah kau lakukan"

"Apa? kau bilang aku takut kepada siapa? perbuatan jelek apa yang pernah kulakan?"

"Kau pernah menderita kekalahan total ditangan seorang jago pedang dari partai Tiam Cong, maka kau takut dari partai Tiam Cong akan muncul kembali seorang jago lihay yang akan mengalahkan dirimu sekali lagi. "

Dengan sinis dan pandangan hina ia mendengus, kemudian terusnya:

"Tahukah kau apa sebabnya pada hari itu Cia Ceng Gak telah muncu! dikuil Hon san sie setelah kehadiran Hwie Liong Kiam dari partai Kunlun? ternyata dia tehah menemukan banyak anak gadis dalam kota Siok Chiu mati telanjang ditanah malam setelab diperkosa orang secara paksa, dan semua perbuatan terkutuk itu ada lah hasil karyamu". Si Rasul Pembenci Langit Ku Loei mengerutkan sepasang alisnya yang tebal, tiba tiba ia meraung keras, telapak tangannnya dengan ilmu golok perontok rembulan segera dibabat kedepan.

Kim In Eng berkelebat kesamping, dengan suatu gerakan yang lincah lima jarinya disentil keluar diikuti secara beruntun ia kirim beberapa serangan berantai secepat sambatan kilat.

Ku Loei enjotkan badannya bcrkelabat keatas gerakan telapaknya berubah, ditengah desiran tajam kembali ia kirim tiga buah babatan dahsyat. Saat ini tubub Kim In Eng terus berada ditengah udara, kesepuluh jarinya secara bergantian mengirim serangan serangan kilat. seketika itu juga seluruh angkasa ditutupi oleh bayangan jari yang tajam dan meyilaukan mata.

Pek In Hoei yang menonton jalannya pertempuran dari samping berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo. Hampir saja ia tidak percaya kalau ada orang yang bisa bergerak sedemikian cepatnya, bahkan melayang ditengah udara.

Detik itulah ia baru mulai menyadari bahwa menariknya ilmu silat, kalau dibandingkan belajar syair dan sastra, ilmu silat jauh iebih menyenangkan. Maka dalam hati ia lantas berpikir:

Kepandaian silat sehebat dan sedashyat inipun tidak bisa dianggap sebagai ilmu silat nomor wahid dikolong langit, lalu ilmu silat macam apakah baru dapat dikatakan nomor satu? Aaoaai... kiranya belajar silat bukan suatu pekerjaan enteng"

Otaknya berputar dan ia teringat kembali akan cerita Kim in Eng yang mengatakan bahwa dahulu Ku Loei pernah di kalahkan Cia Ceng Gak, maka pikirnya lebih jauh

:

"Asalkan aku dapat mempelajari ilmu pedang penghancur sang surya dari perguruan, bukankah dengan gampang pula kupukul keok dedongkot dari perguruan Liuw Sah Boen ini? Seketiko otaknya masih memikirkan berbagai persoalan tiba tiba ia mendengar Ku Loei berteriak keras, begitu keras suaranya sampai sampai gendang telinganya terasa sakit dan ia tak sanggup mendongak. Sementara Kim In Eng telah duduk bersila ditanah, kedua tangannya diangkat sejajar dada.

Setelah berteriak si Rasul Pembenci langit maju selangkah kedepan berdiri didepan sumoaynya, telapak kanan diangkat sejajar dada dan saling merapat dengan telapak Kim In Eng, sedang tangan kirinya mencekal harpa kunonya kencang kencang

"Eeeei... apa yang sedang mereka lekukan?" pikir Pek in Hoei dengan hati tercengang.

Tiba2 ia berseru tertahan. ternyata kedua kaki Ku Loei yang berdiri diatas batu mengikuti gerak tubuhnya perlahan lahan amblas kedalam batu, sebaliknya sekujur badan Kim In Eng gemetar keras, jubah hitamnya berkibar tiada hentinya walaupun tidak ditiup angin, bukan begitu saja bahkan seolah olah rambut serta bahunya ikut gemetar semua.

Pemuda ini jadi heran, perlaben lahan ia maju mendakati perempuan itu untuk melihat apa yang sebenar telah terjadi.

Siapa sangka baru saja dua langkah ia berjalan, sambil melolotkan matanya bulat selat Ku Loei berpaling kearahnya, selurub cambang diatas wajabnya berdiri kaku bagaikan landak, keadaannya betul betul mengerikan. "Cepat2 menyingkir!" tiba tiba Kim in eng merjerit,

Pemuda itu tertegun, belum sampat ia menghindarkan diri, dua gulung angin puyuh maha dahsyat telah meluncur datang dengan cepatnya, menubruk dadanya tanpa bisa ditahan, ia mencelat dua kaki dari tempat semula.

Blumm ... batu cadas itu membelah dua bagian, batu kerikil bergelinding, debu pasir beterbangan memenuhi angkasa..... sambil loncat ketengah udara teriak Ku Loei dergan napas terengah-engah

"Kau anggap dengan menggunakan akal bisa menangkan pertandingan tenaga ini?"

Sinar matanya berkilat, mendadak la jumpai tubuh Pek In Hoei sedang melayang ditengah udara sekilas bayangan berkelebat dalam benaknya.

Senar harpa yang ada ditangan kanannya dengan cepat disentil. Ting! Serentetan suara harpa yang berat dan menusuk pendengaran menggema diangkasa.

Pek In Hoei menjerit kesakitan, sesudah bergulingan beberapa kali ditengah udara badannya terjatuh tiga tombak dari tempat semula.

Ku Loei mendengus dingin.

"Hmmm, urat nadiaya telah putus, jangan harap dia bisa hidup lebih jauh"

Sekilas rasa sedih berkelebat diatas wajah Kim Ib Eng, ia tarik napas dalam2. dua jarinya menyentil senar Khiem dan kemudion irama Khiem yaog lembut pun berkumandang

Begitu mendengar irama Khiem, sekujur badan Ku Losi gemetar keras, lalu ia himpun tenaga dalamnya dan duduk bersila diatas tanah. Irama khiem yong berkumandang itu memiliki nada yang sangat sedih, tapi di balik kepedihan mengandung pula nasu membunuh yang membara baraa Ku Loei tidak berani gegabah dan harus menghadapinya denga serius.

Kiranya dia tahu Kim Ia Eng sudah meyakini permainan Khiem itu sejak lama. Kepandaian dalam ilmu tersebut luar biasa sekait, mokin tenang irama yang diperdegarkan makin semakin gampang memecahkan perhatian orang satu kali pikirannya berlubang maka ia akan terpengaruh irama dan perutnyaterluka.

Lama Khiem berkumandang bagaikan kabut yang menyelimuti sekeliling tempat itu, makin lama tubuh Ku Loei makin terkurung seolah2 sekujur badannya hendak dibelenggu.

Mendadak Ku Loei membuka matanya, dengan serius ia letakkan harpanya keatas lutut kemudian tarik napaa dalam2.

Criiing ...criiiing. . . dua sentilan diatas harpanya menghasilkan dua rentetan tajam yang menembusi irama khiem lawan bagaikan tusukan dua bilah pedang tajam.

Irama Khiem tetap berkumandang bagaikan mengalirnya air, meski kena tertusuk oleh irama harpa namun tetap mengalir keluar tiada hentinya. . .

Air muka Ku Loei amat serius den berat, tiada hentinya ia menyentil harpa untuk melawan suara khiem

Malam semakin kelam. Kabut telah nembuyar .. rembulan hilaog dibaiik awan bintang mulai menyembunyikan diri

Peraduan irama Khiem serta irama harpa berlangsung dengan serunya mengalun keseluruh penjuru gunung Ciog Shia. Angin malam berhembus lewat menggoyangkan ranting, daun serta rerumputan. Pek In Hoei yang terbanting kedalam semak mulai merintih, mulai bergerak dan akhirnya merangkak bangun.

Ia merasakan seluruh persendian tulangnya amat sakit bagaikan pecah semua, kepala pusing tujuh keliling dan hampir saja ia tak sanggup bangun berdiri, namun dengan berusaha sekuat tenaga. Setelah itu barsusah payah akhirnya berhasil juga ia bangun berdiri.

Angin malam kembali berhembus lewat, sianak muda itu tarik napas dalam2 lo merasa kesadarannya mulai jernih dan pengalaman yang baru dialamipun terbayang kembali.

Selangkah demi selangkah ia barjalan menembusi hutan. Ia mendengar pertarungan irama Khiem dan harpa masih berlangsung dengm serunya diatas tebing. iram« tadi membuat darah segar dalam dadanya bergelora kembal. ia menjerit menutupi telinganya dsn mulai berlari menjauhi tempat itu.

Lama.. lama sskali la berlari, akhirnya sianak muda itu berhenti disisi sebuah, pohon besar, ketika itu irama khiem dan irama harpa sudah tak ksdengaran lagi dadanya terasa nyaman dan segar

Suasana disekeliling tempat itu sunyi.. yang terdengar hanyalah dengusan napasnya sendiri yang memburu, tanpa terasa dia tertawa getir, pikirnya :

"Aaaai tak kusangka Irama harpa bisa digunakon untuk melakai orang. untung luka yang kuderita tidak terlalu parah."

Belum habis ia berpikir; tbia tiba berkelebat sesosak bayangan manusia, potongan orang itu sangat dikenalnya membuat Pek In Hoei segera mengenalinya. "Bukankah dia adalah si Uler a«ep tua"

Sedikitpun tidsk talah, dari tempat kejauhon masih kedengaran teriakan aneh dari Ouw ycog Goag berkumandang dalang : "Cucu monvet kemana dia perginya?" terak Ouw yang Gong.

"Uler asep Tua aku ada disini" Pek Ia Hoei segera berteriak. Sambil berseru ia lari kearah hilangnya bayangan orang aneh itu dalam sekejap mata ia sudah kehilangan jejak dan tersesat ditengah hutan tebing suram .yang penuh dengan tumbuhan rotan.

"Kemana perginya Siuler asep tua itu? atau mungkin dia tidak dengar teriakanku?"

Dari manusia aneh she Oow-yang, pemuda ini teringat kembali akan dendam sakit hati perguruanuya, terutama sekali kematian Pek Tian Hong ayahnya dalam keadaan sangat mengenaskan . . . "

"Ayah mati korena dikerubuti orang banyak.   pikirnya,

"Tapi dia melawan terus dengan segenap tenaga meski dikerubuti orang banyak. Aku harus mencontoh kegagahan serta kejantanan ayah. Akan kubunuh semua orang yang terlibat dari peristiwa pengeroyokan itu, aku hendak memaksa mereka hadapi diriku dalam keadaan ketakutan, setelah itu kutusuk perut mereka dengan jurus serangan yang mereka andalkan... aku bersumpah hendak mempelajari ilmu silat nomor wahid dikolong langit, aku harus mempelajari ilmu silat yang ada dikolong langit.."

Saking borsemangatnya sianak muda itu berpikir, tanpa sadar ia memungut sebutir batu cadas lalu dia sambit keatas diading tebing disisinya.

Tiba tiba..... suatu kejadian aneh berlangsung didepan mata. dinding tebing dimana kena sambit oleh batunya tadi mulai longsor, pasir yang ada diatasbya berguguran kebawah sehingga akhirnya munculah sebuah lubang gua yang cakup besar. Ruponya lubang yang sebenarnya terdapat diatas dinding tebing dan tertutup oleh timbunan rotan serta pasir itu segera gugur karena terkena sambitan bata dari Pek in Hoei yaog cukup besar itu.

Dengao pandangan tercengang sianak muda itu melongok kedalam gua, bau apek dan amis yang memuakkan segera berhembus keluar dari balik lubang gua tadi.

Bau busuk yang berhembus keluar dari dalam gua hampir hampir saja memuakkan pemuda kita, buru buru dia bangun berdiri dan tarik napas dalam dalam, setelah itu dengan rasa ingin tabu ia menerobos masuk kedalam goa tadi.

Gua itu dalam sekali, hawanya lembab dan dingin, angin kencang yang entah datang berasa! darimana berhembus keluar tiada hentinya.

Tiba tiba ia temukan sskilas cahaya emas diatas tanah, dengab cepat dijemputnya benda itu.

"Aaaai...... " Pek In Hoei berseru kaget, kiranya benda emas yang dia jemput itu bukan lain adalah sebatang peluru berbentuk naga kecil yang terbuat dari emas.

Ukiran diatas senjata rahasia itu sangat hidup dan indah, bahkan sampai sisik dan ekot dari naga tadi diukirnya dengan rata.

Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya:

Gua ini lembab lagi gelap, datimana muncul cahaya dari dalam sana?" Dengan perasaan heran dan ingin tabu, Pek in Hoei melanjutkan kembali perjalanonnya masuk kedalam gua Siapa sangka batu saja ia maju tiga langkah, sekali lagi ia temukan cahaya emas diatas tanah, waktu ia jemput benda itu ternyata bukan lain adalah senjata rahasia berbetuk naga kecil seperti apa yang ditemukan semula.

Beginilah secara beruntun ia sudah temukan sepuluh bataeg senjata rahasia berbentuk naga kecil sepanjang lorong gua itu sebelum akhirnya dia tiba disuatu tempat ysng diterangi oleh cahaya terang.

Dengan tercengeng sianak muda itu mendongak, tampaklah didalam sebuah ruang batu yang luas bertebaran intan permata dalam jumlah besar, beberapa butir mutiara besar memancarkan cahaya yang menerangi seluruh tempat.

"Tempat apakah Ini?" pemuda iiu kontan bergumam. "Sungguh royal pemilik gua ini, rupanya dia sudah boyong semua intan permata serta mutiara yang ada dikolong langit untuk menerangi tempat ini..."

Dengsn sinar mata tercengang ia awasi lagi sekeliling tempat itu kemudian ia berfikir :

"Tapi apa sebabnya ia tempelkan semua intan permata serta mutiara itu diatas dinding ruangan ini. sebaliknya mengguna kan cahaya emas senjata rahasia berbentuk naga kecil itu sebagai penunjuk jalan bagi orang yaog tersesat? Apakah dia ingin tinggalkan harta kekayaan ini bagi orang yang menemukannya?"

Serentetan pertanyaan yang mencurigakan berkelebat dalam benaknya, ia memandang sekitar sana hingga akhirnya sinar mata sianak muda itu berhenti diatas sebatang ma nau cerah yang ada disebelah kanan.

Seluruh dinding ruangan ditaburi giok wirna bijau, hanya Ma Nau itu saja yang berwarna merah, penonjolan secara menyolok ini segera mengingatkan Pek In Hoei akan satu persoalan. Ia maju menghampiri memandang dengan seksama dan segera ditemui bahwasanya Ma Nau tadi menonjol keluar tiga coeo dari dinding seakan sebuah anak kunci yang telah dimasukkan kedalam lubang kunci

Ia berpikir sejenak, kemudian menekan batu Ma Nau merah todi den didorongnya kedalam kuat-kuat.

Seketika itu juga terdengar bunyi tri. ,1 cuit yang nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, dinding berlapis batu giok hijau dibelakangnya tiba2 berputar kesamping dan tak dikuasai lagi badannya ikut tertarik masuk kedalam.

Baru ia silangkan tangannya didepan dada siap menghindarkan diri dari segala ancaman yang mungkin saja menimpa dirinya.

Tetapi.... tiada sesuatu apapun yarg terjadi, menanti ia berdiri tegak, tampaklah sebuah batu dinding warnaputih berdiri tegak dihadapnnya, diatas dinding batu tadi terukir beberapo buah huruf dalam ukuran besar.

Tulisan tadi kira2 berbunyi demikian:

Barang siapayang masuk kedalam gua harap segera berlutut.

"Berlutut??" berpiklr sianak muda itu, kenapa aku harus berlutut dihadapan dinding batu putih ini?"

Dengan sepasang mata berkerut ia berjalan kesisi dinding tadi dan masuk kedalam sebuah Ruang batu lain.

Ruang itu luasnya lumayan, dari belakang ruangan terdengar bunyi gemuruh air yang amat memekikkan telinga, hembusan angin dingin melanda datang tiada hentinya membawa hawa yang amat menusuk tulang Sebuah tiang salju yang amat besar dan teba! berdiri tegak didalam dinding batu yang cekung keatas, seketika itu juga sianak mula itu berdiri tertegun dengan mata melotot dan mulut melongo, hampir saja ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. 

Rupanya Pek Ia Hoei telah menjumpai sesuatu yang aneh didalam tiang salju yang amat besar tadi duduk bersila seorang hweesio berjubah warna merah darah, hweesio itu pejamkan maunya rapat rapat dan seoiah olah sedang bersemedi.

Lama sekali Pek In Hoei berdiri melongak disitu, ia tidak mengerti apa sebabnya hweesio itu bisa terbungkus didalam tiang salju sebesar daa setebal itu, lama sekali ia putar otak namun gagal juga mendapatkan jawaban.

Akhirnya la tinggalkan tempat itu dia mulai nenyapu sekeliling ruangan, kecuali tiang salju tadi dalam ruangan tadi terdapat sebuah meja yang terbuat dari batu, diatas batu terletak sebilah kapak besar warna hijau pekat, sejilid kitab, beberapa batang pit dan sebuah hioloo kaki tiga.

Perlahan lahan ia menghampiri meja batu itu. dimana pada permukaan meja yang dapat terukir pula beberapa kata kata yang berbunyi :

"Pincerg adalah Thian Liong Toa Lhama, Pelindung Hukum Kerajaan pada jaman ini yang berasal dari Tibet. Sudah lama pinceng kagumi kebudayaan bangsa Han, jauh ketika aku masih menjabat ketua kuil Thian Liong Sie telah mendapat perintah dari Buddha hidup untuk tinggalkan gurun mendatangi daratan Tionggoan, dimana aku telah berdiam dalam istana serta menjabat kedudukan pelindung Hukum yang dibelakang Kaisar kepadaku, meski begitu seringkali aku berkelana dalam dunia persilatan dengan menyaru

Pada suatu musim gugur sampailah pinceng diatas gunung Cing Shia, darimans sayup sayup berkumandang irama khiem yang merdu merayu, aku jadi tertarik dan segera naik keatas gunung, disana tanpa sengaja aku telah bertemu dengan Dewi Khirm bertangan sembilan Kim In Eng :

Membaca sampai disini Pek in Hoei berdiri tertegun, diam diam pikirnya dalam hati "Sungguh aneh sekali, sebelum aku tiba didalam gua dan berjumpa dongan hweesio ini, aku tehah bertemu lebih dahulu dengan dewi Khiem bertongan sembilan Kim cianpwse. Heei siapa sangka hweesio inipun telah bertemu pula dengan Kim cianpwee sebelum tiba disini.

Berpikir sampai disitu, iapun melanjutkan membaca tulisan tadi

"Sejak kecil aku telah cukur rambut jadi pendeta dikuil Thian Liong Sie, sepanjang hari berdoa dan berdoa terus, sama sekali tidak pernah terpengaruh oleh pikiran tentang gadis. Siapa tahu setelah berjumpa dengan Kim In Eng rasa cinta dalam dadaku bergelora sukar ditahan, selama tiga hari tiga malam aku telah duduk dipuncak gunuag Cing Shia sambil menikmati kecantikan wajahnya.

Irama Khiem telah buyar gadis cantik lenyap tak berbekas namun pinceng belum sadar kembali, kujelajahi seluruh gunung untuk menemukao kembali jejak gadis cantik itu, tapi sia sia belaka. Akhirnya dengan hati sedih aku turun gunung".

Membaca sampai disini Pek in Hoei temukan tulisan tadi makin lama makin kusut dan tidak karuan, maka dibacanya sepintas lalu. Dalam tulisan berikutnya hweesio itu menceritakan bagaimana setelah dia kembali ke ibukota. siang malam selalu memikirkan dan membayangkan Kim In Eng, setiap saat tak dapat melupakan bayangan tubuh serta irama Khiemnya yang merdu merayu hati terasa sedih dan tersiksa.

Maka pada suatu hari dia lari masuk ks dalam gudang harta den memboyong benda benda berharga itu kegunung Cing Shia dengan maksud mempersembahkan benda benda berharga itu kepada Dewi Khiem Bartangan sembilan Kim In Eng sambi! memohon kepadanya agar suka menemani dia berpesiar kemana mana.

Siapa tahu Kim In Eng telah melimpahkan rasa cinta dan sayngnya kepada lain orang, permintaan serta permohonannya iiu ditolak mentah mentah.

Karena ditolak Thian Liong Hweesio merasa gemas sedih dan perih bagaikan dipagut ular, dengan hati putus asa dan sedih ia membawa benda benda berharga itu turun gunung, dimana ia temukan gua tersebut dan mengurung diri disana sambil bertobat untuk menebus dosa. Tapi ia tak sanggup menahan birahi yang bergolak terus menerus, akhirnya ia tak kuat menahan diri dan mati"

"Napsu birahi sukar dilenyapkan dari dada, aku musnah karena cinta" Baca Pek ln Hoei berulang kali.

Dia angkat kepala memandang kearah hweesio dalam tiang solju tadi, tampaklah diatas dadanya secara lapat lapat terlihat cahaya bekas luka berwa na hitam pekat, ketika dipandang lebih seksama ia merasa luka itu memang sangat mirip dengan seekor ular.

Sekilas perasaan aneh berkelebat dalam otaknya, ia berpikir kembali: "Luka yang disebabkan oleh karena napsu birahi ternyata jauh lebih hebat daripada luka karena senjata, seorang padri macam diapun bisa mati karena tak kuasa menahan napsu birahi yang berkobar dalam dadanya, bukankah hal ini sama artinya menunjukkan bahwa setiap msnusia sukar untuk menahan diri dari pengaruh nafsu. Birahi. "

Kembali sinar matanya menyapu keatas meja, disana masih tertinggal dua baris tulisan kecil yang berbunyi demikian:

"Pincecg tinggalkan sebilah kapak sakti yang tajam dan terbuat dari baja berusia selaksa tahun serta sejilid kilab ilmu silat Sembilan Kapak Pembuka langit, sembilan belas perubahan dari ilmu sakti sembilan belas merubah naga langit bagi siapa saja yang masuk kedalam gua ini".

Dibawab kapak besar itu, tercatat pula beberapa huruf yang berbunyi begini :

"Tatkala elmaut hampir mencabut jiwaku, pinceng dengar dari dinding gua sebclah daiam barkumandang datang suara manusia. Barangsiapa yang beruntung masuk kedalam gua ini, harap suka meabelah dinding belakong gua ini dengan kapak, selidikilah asal mulanya suara nanusia itu

Menulis sampai disitu, rupanya ajal sudah tiba maka Thian Liong Toa Lhnma mengakhiri kelimat yasg belum selesai itu sampai ditengah jalan saja.

Pek In Hoei menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri memandang dinding batu dibelakang tiang salju dan berpikir :

"Entah sudah berapa puluh tahun hweesio isi mati disini, sekalipun dibelakang dinding batu benar2 terdapat ruang kini satelah lewat banyak tahun kendati ada oraog pernah masuk kedalam sana mereka tentu sudah keluar lagi.

Tapi ia berpikir kembali:

"Aku benar benar tidak percaya, masa sebilah kapak hitam yang jelek dan kecil ini mampu membelah dinding batu yarg tebal?"

Dengan perasaan ingin tahu ia ambil kapak sebesar tiga depa itu dan berjalan ke belakang liang salju.

Dinding beton dibelakaag liang salju itu berwarna hijau karena tumbihan lumut yang tebal dan subur, Pek In Hoei angkat kapaknya dan segera membabat keatas dinding batu itu.

"Bruuuuk........" sebuah batu cadas yang sangatbesar rontok kebawah setelah terima babatan itu, begitu lunak dan gampang seolah2 sedang membabat tahu.

Dengan perasaan kaget dan tercengang Pek in Hoei angkat kapaknya lagi dan meneruskan babotannya keatas dinding.

Dalam sekejap mata batu cadas berguguran diatas tanah, dimana saja kapak itu mampir batu segera rontok kebawsh, dalam sekejap mata munculah sabuah lubang yang amat besar diatas dinding tersebut.

Pek In Hoei segera melongok kedalam, ia temui bahwa dibalik dinding tadi munculah sebuah ruang batu yang penuh dengan tiang batu diatas tanah menggeletak pula beberapa sosok mayat.

Ia berseru tertahan, rasa ingin tahunya semakin bertombah delam hati, kapaknya segera bekerja cepat membabat dinding batu sebingga dalam waktu singkat ia dapat menerobos kedalam. Bau apek dan amis berhembua keluar menusuk hidung, disepanjang tiang batu dalom ruang itu menggeletak delapan sosok mayat. Dandanan mereka acak2on dan perawakan tubuh merekapun berbeda, namun ada satu yang sama yaitu wajab mereka menunjukkan penderitaan yang hebat serta diatas badannya tidak ditemui bekas luka.

Pek Ia Hoei berjalan masuk kedalam, ia jumpai diantara mayat itu ada yang berdandan hwesio, ada yang berdandan toosu dan ada pula yang berdandan sebagai manusia biasa, tetapi yang aneh temyata menunjukkan sikap yang aneh, badan mereka bangkok dan melengkung. Jelas sebelum ajal mereka tiba telah terjadi suatu pertarungan yang maha seru.

Menyaksikannya itu, pemuda she Pek ini menghela napas panjang.

"Aaaai mereka semua mati didalam suatu pertempuran yang amat sengit, justru karena hawa dingin yang membeku dalam ruang batu ini maka jenasah mereka tetap utuh dan tidak sampai membusuk. Tetapi-- apa sebabnya mereka saling bunuh membunuh? apa yang sedang mereka rebutkan?"

Tiba2 suatu ingatan berkelebat didalam benaknya. "Mungkinkah mereka adalah mayat dari kedelapan ketua

partai besar yang sudah lenyap puluhan tahun lamanya"

Sekujur badannya gemetar keras, ia segera minghitung jumlah mayat diatas tanah sedikitpun tidak salah semuanya berjumlah delapan orang.

Rasa tegang yang menyelimuti benaknya segera ditahan lagi, disebabkan karena ia akan segera mengetahui rahasia kematian dari kedelapan ketua partai besar yang lenyap dipuncak gunung Cing shia sejak puluhan tabun berselang, pemuda itu nengucurkan keringat dingin. Ia segera tundukkan kepalanya memeriksa mayat seorang hweeiio tua yang menggeletak paling dekat dengso dirinja, ia jumpai tangan kanan hwesio itu menuding kearah tiang batu den ia mati dalam keadaan kaku.

Mengikuti arah yang dituding jari lengan mayat hwesio tua tadi, ia temukan bebarapa huruf terukir diatas tiang, tulisan yang berbunyi:

"Ilmu jari Kim Kong Ci dari partai Siauw lim"

Dibswah tulisan itu terukirlah bagaimana cars melatih ilmu jari itu dan bagaimana cara bersemedi dan bagaimana cara mengerahkan tenaga. Pek In Hoei berseru tertahan, buru2 ia menengok keetas tiang batu lainnya, disana ia jumpai pada setiap tiang batu terukirlah ilmu sakti berbagai partai serta cara untuk melatihnya.

Ia menghembuskan napat panjang, pikirnya: "Ooouw........ Ilmu meringankan tubuh otau Ginkang

dari partai Kunlun, ilmu pukulan penakluk harimau dari

partai Gobi, ilmu pedang Siuw Cing Kiam hoat, ilmu pedang Lak-Koo Kiam Hoat dari Parti Hoasan. ilmu pedang penakluk iblis dari partai Khong tong, ilmu pedang Kan san Kiam host dari partai Tiang Poy, ilmu pedang Poo Hong Kiam Hoat dari portai Butong, ilmu pukulan Leng Bwee ciang dari partai Thian san. begilu banyak ilmu sakti yang terdapat di sini. kesemuanya ini sudah cukup untuk menciptakon diriku sebagai jago sakti . . . "

Ia tertegun kemudian berpikir kembali :

"Tapi. . . bukankah Supek couw sipedang sakti dari Tiam cong pun ikut serta dalam pertemuan besar ini? kenapa hanya dia ia orang yang tidak kelihatan?", Ia bangkit berdiri dan siap mencari jenasah dari Cia Ceng Gak, dan secara tiba tiba ia teringat kemhaii akan sumber cahaya yang menyoroti seluruh ruang batu itu.

Kembali ia berpikir :

"Kenapa aku tidak pernah berpikir darimana datangnya cahaya sehingga aku dapat membaca tulisan tulisan kecil di tiang batu itu ?"

Belum hilang pikiran itu, dia telah menemukan datangnya cahaya itu kiranya berasal dari balik beberapa buah tiang batu nun jauh disana, begitu tajam cahayanya sehingga seluruh ruangan jadi terang benderang,

Pek In Hoei maju menghampiri sumber cohaya tadi, ia lihat sebilah padang mustika yang panjang tertancap diatas tiang batu, pada gagang pedang tadi terdapatlah sebutir intan bewarna merah darah, cahaya terang tadi bukan lain adalah sinar yang tcrpancarkan dari batu intan tersebut:

Dengan mata yang silau oleh cahaya, ia maju lebih dekat lagi kemudian cabut pedang tersebut dari atas tiang.

Mendadak kakinya tersangkut sesuatu hingga hampir saja terjungkal keatas tanah, kiranya benda itu bukan lain adaiah sesosok mayat.

Orang itu berwajah persegi berwarna merah kehitam hitaman, janggotnya panjang dan bercabang tiga, tangan kanannya berada ditengab udara seolah olah sedang mendorong sesuatu sedang pada tangan kirinya mencekal sebuah sarung pedang berwarna merah yang memancarkan cahaya gemerlapan.

Kambali satu ingatan berkelebat dalam benaknya, buru buru dia angkat pedang mustika itu dan diporiksa dengan seksama diatas tanah pedang yang berwarna biru kehitam hitaman terukirlah beberapa patah kata. "Pedarg sakti Penghancur Sang Suryal",

"Apa pedang sakti penghancur sang surya?" Gumam Pek In Hoei dengan nada kurang percaya. "Kalau begitu... kalau begitu.... mayat yang menggeletak diatas tanah bukan lain adalah supek couwku sipe dang sakti dari Tiam-cong, Cia Csng Gak adanya?"

Dengan pandangan mcndelong diawasinya wajah supek- couwnya yang telah mati puluhan tahun berselang, bayangan Kim in eng yang merana karena ditinggal Cia Ceng gak berkelabat pula dalam benaknya

Begitulah, sejak hari itu Pek in Hoei lantas menetap didalam gua sambil mempelajari dan mendalami semua ilmu silat maha sakti yang ditinggalkan para ketua delapan partai besar itu.

Ia berlatih giat dan rajin, tiap malam dengan tak mengenal lelah dilatih dan diyakini terus ilmu silat tersebut, dalam hati ia hanya punya satu cita2 setelah menyelesaikan pelajarannya yaitu mambalas dendom bagi kematiao ayahnya serta menuntut balas bagi kemusnahan anak murid partai Tiam-cong

))oodwoo((