Imam Tanpa Bayangan II Jilid 04

Jilid 04

SADAR bahwa Ouw-yang Gong adalah seorang manusia yang paling aneh dikolcng langit, serangan lancarkan dalam keadaan gusar tentu luar biasa hebatnya.

Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya tanpa berpikir panjang lagi ia sambar tubuh Pek In Hoei dan bagaikan sebuah tameng lempar tubuh sianak muda itu untuk menghalangi terjangan Ouw-yang Gong lebih jauh.

Cucu kunyuk! begitu kejam hatimu manusia semacam kau tak boleh dibiarkan hidup lebih lama !"

Sambil membentak orang tua she Ouw yang ini menerjang kemuka semakin cepat. Song Ci Hauw terdesak mundur kebelakang, setelah melemparkan tubuh Pek In Hoei tadi, sepasang telapaknya berputar kemuka, segenggam jarum lembut berwarna biru segera disambit kedepan sedang badannya loncat mundur lagi sejauh beberapa tombak.

Ouw-yang Gong menjerit lengking, lima jari tangan kirinya dipeotang lebar-lebar, setelah merandek kebawah ia mumbul keatas, mengikuti gerakan tersebut tangannya yang lain menyambar tubuh Pek In Hoei.

Pada detik yang bersamaan pula serangan senjata rahasia telah tiba dihadapan mukanya

la bersuit panjang, sepasang kakinya menjejak tanah keras-keras lalu mencelat lama depa ketengah udara, badannya miring kesamping meloloskan diri dari ancaman Senjata rahasia kemudian berkelebat mengejar kearah Song Ci Piauw.

Tongcu Kadal Biru terdesak terus kebelakang, begitu kakinya menginjak tanah dengan cepat tangannya merogoh kedalam saku dan ambil keluar sebatang seruling kecil berwarna perak, benda itu segera ditiupnya keras-keras.

Serentetan suara lengkingan yang tinggi dan tajam berkumandang diangkasa, anak murid perguruan Seratus Racun yang bersembunyi dibalik semak belukar segera pada munculkan diri.

Ouw-yang Gong membentak keras, jenggotnya berkibar kencang bagaikan terembus angin puyuh, huncweenya diputar dengan gerakan menjungkir balikkan jagad ia hajar lengan kanan Song Ci Piauw.

Tongcu kadal biru yang sedang meniup seruling peraknya sama sekali tidak mengira kalau serangan huncwee dari Ouw-yang Gong bisa datang dengan begitu cepatnya, tergopoh-gopoh ia miring kesamping meloloskan diri dari ancaman.

Hmmm! kau ingin lari kemana!" jengek Ouw-yang Gong. Huncweenya ditekan kebawah, dari dasar ia tusuk keatas dau dengan telak menghantam persendian lengan kiri Song Ci Piauw.

Aduuuuh .... Tongcu Kadal Biru menjerit ngeri, darah segar muncrat keempat penjuru, seketika itu juga lengan kirinya batas siku patah jadi dua bagian. Setelah berhasil membereskan musuhnya, Ouw-yang Gong baru dapat menyaksikan bahwasanya diatas jidat Pek ln Hoei terdapat seekor kadal besar yang sedang menghisap darah, hatinya terperanjat, buru-buru jari tangannya disentil kemuka.

Sreeeeet......... ! Segulung desiran angin tajam segera menyambar kemuka menghanpiri kadal tersebut hingga mencelat beberapa .ombak jauhnya.

Meski binatang terkutuk itu berhasil dihajar mati, namun diatas jidat Pek In Hoei tepatnya diatas alis si ana k muda itu terti.nggal sebuah bekas darah yang segar dan amat nyata.

Di bawah serotan sinar sang surya, bekas darah itu kelihatan begitu nyata aneh dan bersinar tajam, membuat wajahnya yang ganteng berubah jadi mengerikan.

Ouw-yang Gong tertegun, lama sekali dia berdiri termangu-mangu . . . mendadak sinar matanya terbentur dengan seekor laba-laba hitam yang masib menggigit leher sianak muda itu.

Ia menjerit keras, telapaknya menyambar kemuka mencengkeram laba-laba tersebut kemudian digenggamnya kencang-kencang sehingga dalam sekejap mata binatang berbisa itu hancur lebur. Setelah menyaksikan pelbagai peristiwa kejam yang diperlihatkan orang-orang perguruan seratus Racun, Ouw- yang Gong. sedang marah semakin naik pitam, napsu membunuh mulai menyelimuti seluruh wajahnya.

„Keturunan kunyuk yang harus dibunuh

Dan betul-betul berhati kejam dan tidak punya perikemanusiaan" Teriaknya dengan bengis. „Kalian toh sudah tahu kalau bocan ini sama sekali tidak mengerti ilmu silat, kenapa kamu semua menyiksa dirinya dengan perbuatan begitu keji? Hmmm! ini hari kalau aku tidak ledakkan sarang burung kalian ini hingga rata dengau tanah tidak akan kutinggalkan tempat ini!"

Sambil mencaci maki dengan kata-kata ang kotor, laksana kilat tangannya bekerja keras menotok jalan darah penting ditubuh Pek In Hoei kemudian membarigkannya diatas tanah!

Cahaya bengis dan buas yang mengerikan memancar keluar dari balik sepasang matanya yang sipit, wajah yang dasarnya sudah merah kini berubah makin gelap sehingga mengerikan sekali.

la tarik napas panjang panjang, dari dalam sakunya ambil keluar sebuah kotak sempit lagi panjang, lalu sambil memandang anak murid pergurun seratus racun yang menyerbu datang sambil berteriak-teriak, serunya gemas :

„Mulai hari ini, aku siorang tua akan membuka lagi pantangan membunuhku

Semenjak lengannya dipatahkas oleh ketukan huncwee Ouw-yang Gong, Tongcu Kadal Biru tidak berani mendekati manusia aneh itu lagi, ia segera menjatuhkan diri berguling diatas tanah dan ngeloyor pergi kebawah bukit, dia takut kaiau-kalau musuh nya melancarkan serangan lagi dan mencabut jiwanya.

Dalam pada itu Ouw-yang Gong telah tertawa terbahak- bahak dengan seramnya, ia selipkan huncwee gedenya kesisi pinggang lalu membuka ketak kayu ilu dan ambil keluar biji kelereng sebesar buah kelengkeng yang berwarna hitam pekat.

„Selama tujuh belas tahun aku selalu simpan peluru Pek Lek Cu secara baik2 ! aku rasa kini sudah saatnya bagiku untuk menggunakan benda tersebut Gumamnya sambil mengawasi anak murid perguruan Seratus racun yang makin mendekat.

Bersamaan dengan suatu bentakan keras, tangannya diayun kemuka .... biji kelereng berwarna hitam pekai itupun laksana kilat meluncur tiga tombak kemuka.

Blmuuummm......... ! suara ledakan dahsyat menggema di seluruh angkasa, bumi bergoncang pasir dan batu beterbangan keudara, hampir separuh bukit itu rontok dan hancur, hancuran bangkai manusia, cipratan darah segar bertebaran dimana-mana membuat suasana berubah jadi ngeri dan menyeramkan.

Ditengah jeritan jeritan ngeri yang menyayatkan hati, anak murid perguruan Seratus Racun yang beruntung tidak mati sama-sama berteriak ketakutan dan melarikan diri terbirit-birit.

Ouw-yang Gong tertawa seram, tangan kanannya kembali ambil keluar sebiji peluru Pek Lek Cu

Matanya berubah jadi merah darah, wajahnya hitam menyeramkan, sambil bersuit nyaring ia loncat lima tombak keangkasa dan melesat kedepan, rupanya simanusia aneh ini siap2 melemparkan pelurunya kembali uniuk meledakkan bangunan-bangunan rumah dibawah bukit.

Sekonyong-konyong.... sesosok bayangan manusia berwarna kuning emas berkelebat lewat, disusul teriakan keras berkumandang diangkasa :

„Ouw-yang Thayhiap, harap kau jangan turun tangan keji1" „Haaaaahh . . . haaaaaah... haa ... sekarang kalian baru suruh aku jangaa turun tangan keji1" Jerit Ouw-yang Gong sambi! loncat turun keatas tanah. Kalian cucu monyet keturunan kunvuk jika tidak dikasi sedikit kelihaian, teatu kiranya aku siorang tua bisa dihina dan permainkan seenaknya!" "Ouw-yaug Thayhiap!" pinta Tongcu kelabang Emas Ku Hong dengan wajah ngeri „Harap kau jangan turun tangan keji terhadap kami . "

„Kentut busuk makmu ! Kalian toh tega Turun tangan keji terhadap seorang bocah yang lemah tak bertenaga serta tidak mengerti akan ilmu silat, kenapa aku siorang tua harus berlaku sungkan-sungkan terhadap kalian?"

Begitu terbentur dengan sepasang mata lawon yang bengis, buas dan penuh diliputi napsu membunuh, sekujur badan Ku Hong gemetar keras. Ia meraung dahsyat badannya laksana harimau teriuka menubruk kedepan dengan maksud merampas peluru Pit Leng cu yang ada ditangan Ouw-yang Gong.

Melihat datangnya tubrukan, Ouw-yang Gong genjotkan badanrnya melengos kesamping, diikuti kakinya melancarkan satu tendangan kilat menghantam jalan darahi Hiat Cong ditubuh musuh.

Gerakan badan Ku Hong merancu tangan kanannya dengan gerakan yang tidak berubah meneruskan sambarannya ketangan Ouw-yang Gong, sementara telapak kirinya menghantam berubah jadi babatan menghajar kaki lawan yang mengancam dirinya.

Merasakan adanya babatan lawan Ouw-yang Gong putar badannya cepat2 diikut tangan kanannya meraup dengan gerakan setengah busur kemudian menghantam tekuk dan kaki kiri Ku Hong. „Enyah dari sini teriaknya.

Bruuuk . . . . .! sepasang kaki Ku Hong jadi lemas dan tidak ampun lagi ia jatuh berlutut keatas tanah, menggunakan kesemutan itu Ouw-yang Gong menambahi lagi dengan sebuah sapuan kilat, badan orang she Ku yang sudah terjatuh, kena ditendang lagi dengan dahsyatnya membuat ia menjerit kemudian terbanting ketanah dan tidak bangun lagi.

O uw-yang Gong ayun tangannya, peluru Pek Lek cong kembali hendak dilempari, kedepan.

Tiba tiba Thian Go suatu jeritan laitang menggema datang.

Seluruh tubuh Ouw-yang Gong bergetar keras, dengan cepat sinar matanya dialih kearah berasalnya suara tadi.

Tampak seorang nyonya setengah bs dengan memakai jubah abu abu dan membawa tasbeh perlahan-lahan munculkan diri dari balik bukit, meskipun. rambutnya telah beruban dan wajahnya penuh keriput namun kecantikan wajahnya dikala masih muda masih jelas membekas.

Siauw Hong" gumam Ouw-yang Gong dengan bibir gemetar.

Perlahan-lahan nyonya setengah baya itu berjalan mendekat, tatkala menyaksikan hancuran mayat serta noda darah yang meyelimuti permukaan bumi, ia segera berang tangannya berseru : „Omitohud ! siancay... siancay...!"'. „Siauw Hong, kau... kau.,

Nyonya setengah baya itu mendongak, dipandangnya wajah Ouw yang Gong tajam tajam lalu menghela napas panjang.

Thian Go, mengapa sifotmu berubah di berangasan dan kejam?" tegurnya.

Siauw Hong, benarkah kau?"

matanya terbelalak lebar-lebar. , Kau belum mati? kau . . kau masih hidup dan..... dan sudah cukur rambut jadi nikouw?

Nyonya setengah baya itu tertawa getir Aku memang belum mati, tapi . . . hati sudah lama mati . . . Kurang-ajar, cucu monyet manusia kunyuk kalau begitu dia sudah membohongi aku, dia bilang kau sudah mati! dia... dia... mengapa dia biarkan kau cukur rambut jadi nikouw? kenapa... kenapa Siok Peng pun berkata bahwa kau sudah mati?".

„Aaaaaaaai... peristiwa masa silam telat berlalu bagaikan asap dilangit, apa gunanya kita ungkap kembali? Thian Go kau sudah tua, tapi watakmu yang berangasan dan suka marah masih tetap saja seperti sedia kala, bahkan makianmu yang kotorpun tidak berubah juga.

Kena ditegur Ouw yang Gong tertawa jengah.

Bukit dan sungai bisa dirubah, tabiat ma nusia mana bisa diganti? selama hidup beginilah keadaanku, tapi kau . . kau

„Aku sudah cukur rambut   jadi nikouw persoalan keduniawian telah lama tak kupikirkan lagi didalam bati.

Ouw yang Gong tertawa pahit. Siauw Hong! tahukah kau mengapa waktu itu aku mengganti namaku jadi Gong? hlal ini tidak lain karena aku sudah ogah mememikirkan berbagai urusan lain, semua kejadian kurasakan hampa dan kosong semua

sinar matanya berkilat" dan lebih lebih aku tidak mengira kalau perempuan tercantik dari Tionggoan, Kwee Siauw Hong

Siauw Hong sudah mati" tukas nyonya itu dengan cepat "Gelarku sekarang adalah Ko In, harap kau sebut aku dengan gelar ini aja".

Ia tarik napas panjang, setelah merandek sejenak tambahnya :

Dengan membawa peluruh Pek Lek-cu dari Dewa Peluru Hong Loei kau telah menciptakan pembunuhan yang sadis dan kejam, apakah Giong Lam dia "

Hmmm ! sejak aku mendapatkan tiga butir peluru Pek Lek-cu dan Hong Loei pada tiga puluh tahun berselang, belum pernah sekalipun kugunakan benda tersebut, tapi sekarang akan kugunakan peluru sakti ini untuk meledakkan seluruh lembah seratus racun hingga rata dengan tanah, aku hendak membalas dendam bagi sakit hatiku, Siauw Hong! harap kau jangau nasehati diriku lagi!".

Ia berhenti sejenak, kemudian pentang mulutnya lagi dan mulai memaki :

Bukan saja semua cucu buyut kunyuk kunyuk itu yang kubunuh sampai ludus, terutama sekali Giong Lam bangsat tua, bajingan tengik dan anak haram itu akan kuremas badannya hingga gepeng bagaikan perkedel

Sepasang alis Ko In Nikouw kontan berkc rut kencang. „Baiklah, kita jangan bicarakan soal Giong Lam. Aku mau tanya kepadamu dendam permusuhan apakah yaug telah terikat antara kau dengan anggota anggota perguruan seratus racun? apa sebabnya kau hendak mem basmi mereka semua ?".

,Coba kau pikir, toh mereka sudah tahu kalau bocah itu tidak mengerti akan ilmu silat" Teriak Ouw yang Gong sambil menuding Pek In Hoei yang menggeletak diatas tanah„Tapi apa yang mereka lakukan? mereka siksa bocah itu, aniaya bacah itu dengan kejam. apakah perbuatanmu semacam ini tidak patut dibasmi? apakah manusia keji seperti itu tak boleh dibunuh?

„Aaaaaaaai! dari dulu aku sudah tahu, jika angkat nama dengan andalkan makhluk ?makhluk beracun, tentu tidak akan terhindar banyak korban berjatuhan ditangannya, maka diri itu sering aku perintahkan Siok Peng untuk pergi mencari bahan obat obatan dan membuat pilpenawar racun sebanyakbanyaknya .

Dari dalam saku nikouw itu ambil keluar sebuah botol porselen kemudian lambat2 maju kedepaa terusnya

„Thian Go, maukah kau memandang diatas perhubungan kita pada masa silam untuk simpan kembali peluru Pek Lek-cu itu dan berlalu dari selat Seratus Racun?".

Ouw yang Gong mengerutkan sepasang alis nya dalam benaknya terbayang kembali kenangan kenangan pada masa yang silam, lama sekali ia termenung kemudian sambil menghela napas kakek aneh ini mengangguk.

„Aaaaaaaai baiklah! Memandang diatas wajibmu, kau kuampuni jiwa cucu buyut kunyuk ini". Omitohod siancay... siancay! Dimana bisa mengampuni jiwa manusia, ampunilah sebanyak banyaknya mari, akupun akan coba menyembuhkan luka yang diderita bocah itu !'.

Perlahan-lahan Ko In Nikouw berjalan men dekati Pek ln Hoei lalu berjongkok dan ambil keluar sebutir pil Leng Botan dari da lam saku.

Tapi sebelum ia sempat masukkan pil tadi kedalam mulut sianak muda itu, mendadak sinar mukanya berubah hebat, dengan cepat dia bangun berdiri.

Apa yang sudah terjadi?" tanya Ouw yang Gong dengan nada terperanjat.

Apakah orang itu adalah muridmu?". Ouw yang Gong menggeleng.

Bukan ! apakah itu keracunan hebat dan tidak terlolong lagikah jiwanya ?

Aaaaaaai... mimpipun aku tak peroh menyangka kalau di kolong langit bisa terdapat seorang mauusia yang begini aneh gumam Ko In Nikouw sambil menghela napas panjang, ia melirik sekejap kearah Ouw yang Gong dan tambahnya. Dipandang dari garis wajahnya. orang ini mempunyai napsu membunuh yang sangat tebal namun banyak pula terlihat garis garis budiman, sepintas lalu kelihatannya dia punya kecerdasan yang luar biasa tapi tampak juga sangat bodoh sungguh aneh

„Soal itukah yang mengejutkan hatimu?

„Coba kau lihat bekas merah yang terlihat diatas alisnya, sungguh menakutkan sekali sambung Ko ln Nikouw lagi." Dengan adanya bekas merah diatas jidatnya itu, membuat napsu membunuhnya bertambah tebal, kecerdasan otaknya yang .luar biasa akan melebihi semua orang pun tertera semakin nyata, dikemndian hari dia pasti akan jadi seoraog gembong iblis yang paling kejam, membunuh orang paling banyak dan menjadi penerbit keonaran didalam dunia persilatan"

„Bekas merah itu bukan bskas alami yang dibawa sejak dia lahir, barusan jidatnya digigit oleh seekor kadal beracun, hisapan binatang terkutuk itulah yang meninggalkan bekas tersebut, apa yang kau kageti dan takuti? apalagi kejadian- kejadian yang akan datang, darimana kau bisa tahu ?"

Sekali lagi Ko In Nikouw memperhatikan wajah Pek In Hoei tajam-tajam, namun dengan cepat ia geleng kepala kembali.

„Omintohud! aku tidak dapat meoyaksikan dunia persilatan dilanda lagi oleh bencana hebat tanpa bisa mencegah, aku tidak ingin banyak manusia menemui ajalnya diujung golok dan melihat darah manusia berceceran diatas permukaan tanah.

„Tadi maksudmu kau tidak sudi menyelamatkan jiwanya?"

Dengan wajah serius ko In Nikouw mengangguk ia masukkan kembali kotak porselennya kedalam saku kemudian angkat kepala dan memandang angkasa yang penuh berawan.

Siauw Hong, jadi kau benar-benar tidak sudi menolong jiwanya dan kau ingin menyaksikan dia mati konyo! " teriak Ouw-yang Gong dengan nada tertegun.

Ko In Nikouw tidak ambil perduli omongan orang, ia lepaskan tasbehnya dari atas leher dan mulai membaca doa.

Melihat perkataannya tidak digubris, Ouw yang Gong mendongak dan tertawa seram. „Aku tertalu dipengaruhi oleh kejadian masa silam, sedang kau kesemsem oieh kejadian yang akan datang, rupanya kita berdua memang tidak bisa bekerja sama!"

Ia merandek sejenak, lalu teriaknya: „Bagus, kau tidak sudi menolong jiwanya akupun akan mulai turun tangan lagi untuk meledakkan lembah kunyuk ini hingga rata dengan bumi"

„Kau boleh meratakan lembah ini dengan tanah, tapi pertama-tama bunuhlah aku terlebih dulu"

„Siauw Hong, tindakanmu ini bukankah berarti ada maksud memusuhi diriku?" maki Ouw-yang Gong penuh kegusaran setelah ia dibikin melengak oleh jawaban lawan.

„Thian Go kalau kau hendak bertindak melawan perintah Thian, aku akan berusaha menghalangi2mu terus .

„Haaah .... haaaaah .... haaaah . . . berbuat melawan perintah Thian? justru aku hendak berbuat kejam, bertindak kejam bertindak jahat, kau mau apa?

Wajahnya berubah jadi serius. "Memandang diatas wajahmu, untuk kali ini aku bisa memberi jalan bidup buat mereka, tapi ingat lima tahun kemudian aku pasti akan kembali lagi kesini untuk menuntut balas bagi sakit hati ini, waktu itu aku akan bssmi semua orang yang ada disini, meledakkan seluruh bukit hingga rata dengan tanah"

„Omintohtid"

Dengan gemas dan dongkol Ouw-yang Gong yang mulai lenyap dibalik bukit, Ko In Nikouw angkat kepalanya perlahan-lahan dan menghela napas panjang.

Aaaaaai............ rupanya dunia persilatan tidak akan aman lagi, lebih baik aku kembali dulu kedalam kuil" Dia putar badan dan berlalu dari situ dengan langkah lambat cahaya sang sarya menyoroti tubuhnya meninggalkan bayangan yang suram.....

Angin berhembus lewat....... bau amis darah tersebar kemana mana membuat suasana jadi seram dan meugerikan.

Senja telah menjelang tiba, cahaya matahari yang lemah mulai redup dan bergeser kebalik gunung, bunyi cengkerik bargema disegala penjuru menambah kejemuan di suasana yang tidak sedap itu....

Bangsat cengkerik cengkerik itu betul-betul terkutuk, bunyinya sudah tidak enak, gerak terus tiada hentinya....

Hmmmm1   kalau   kegusaran   aku   sioraug   tua   sudah

memuncak, akan kubakar seluruh bukit ini hingga jadi abu

Ouw-yang Gong sambil berdiri disebuab lekukan !embah mencaci maki kalang kabut dengan gusarnya, begitu mendongkol hati siorang tua itu akhirnya semua kemangkelan dihatinya disalurkan keluar dengan menghantam sebuah batu cadas disisinya.

Dibelakang batu cadas tadi terbentang sebuah selokan kecil dengan air gunung yang jernih gan segar, bunyi aliran air yang tiada hentinya menambah kejemuan hati siorang tua itu.

Sekujur badan Pek In Hoei telah dibenam kau kedalam air, kini hanya tinggal wajahnya yang pucat pias dengan bekas merah darah diatas jidatnya saja yang tertinggal diluar, hawa hitam mulai menyelimuti wajahnya..........

„Aaaaii . . . kalau aku sendiri yang terluka, aku bisa menggunakan racun lain memunahkan racun yang mengeram dalam tubuhku." Gumam Ouw-yang Gong sambil menghisap huncweenya dalam dalam lalu menyemburkan segumpal asap tebal „Tapi bocah ini... dia sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, obatpun tak ada disekkar sini, bagaimana aku bisa punahkan racun yang mengeram dalam badannya?"

Dengan alis berkerut tangan kirinya garuk garuk kepala yang tidak gatal, lama sekal ia gigit bibir dau akhirnya berseru

„Baiklah, satu-satunya jalan yang bisa kutempuh pada saat ini adalah mengerahkan tenaga murni untuk menotok keseratus delapan buah jalan darahnya dan coba paksa racun itu mengalir keluar. Seandainya dia punya nasib yang mujur mungkin saja Jien dan tok dua urat pentingin bisa sekalian kutembusi, sebaliknya kalau dia nasib jelek....

yaaah sudahlah, paling-paling jiwanya tidak tertolong!"

Ia hembuskan asap huncwee-nya keras-keras, kemudian putar badan tarik napas dalam-dalam dan mulai duduk bersila.

Badan Pek In Hoei yang masih terbenam didskm air selokan diseretnya keatas darat tangannya bekerja cepat melepaskan baju tameng mustika yang masih dikenakan pemuda itu, hawa murnipun dipersiapkan guna mengusir racun dari tubuh sianak muda tadi Belum sempat ia turun tangan, tiba-tiba

„Disirii Disini " terdengar merdu lagi nyaring berkumandang datang dari arah depan.

Mendengar suara itu Ouw-yang Gong segera mendongak, tampaklah diatas sebuah tonjolan balu cadas pada tebing seberang berdiri seekor burung beo berwarna putih dengan paruhnya berwarna merah darah waktu itu burung tadi meoggerakan sayap tiada hentinya sehingga menggerakan genta kecil yang tergantung diatas leher burung itu. Ia be seru tertahan laksana kilat tangannya berkelebat menyambar, burung beo tadi segera berseru lagi :

„Nona tolong aku? nona, tolong aku     "

„Burung cilik cerdik betul kau ! puji Ouw-yang Gong sambil tertawa.

Dalam pada itu burung beo tadi tiada hentinya menggerakkan sepasang sayap sehingga genta kecil itu berbunyi terus dengan nyaring

„Nona, tolong aku nona tolong aku."

„Heeeh . heeeeh aku kan tidak melukai dirimu, buat apa kau panggil nonamu untuk datang menolong"

Hei sihuncwee gede jangan lukai Pek Leng kesayanganku!" mendadak terdengar teguran nyaring berkumandang dari belakang.

Begitu mendengar teguran tersebut Ouw yang Gong segera mengerti siapakah yang telah datang, dengan cepat ia berpaling.

Heei setan cilik yang pintar, darimana kau bisa datang kesini?"

,,Heeei huncwee gede, jangan kau lukai Pek Leng kesayanganku !" kembali gadis .u berseru.

Ouw-yang Gong tidak membangkang lagi ia lepaskan burung beo tadi yang mana segera terbang keudara dan hinggap dibahu Hee Siok Peng.

„Setan cilik yang pintar, sejak kapan kau pelihara burung beo itu ? Kenapa aku tak pernah menjumpai burung beo itu?" Selamanya Pek Leng ada didaiam kuil suhuku" jawab Hee Siok Peng sambil membelai burung beo tadi dengan penuh kasih sayang. Kalau tidak ada urusan penting dia jarang diajak keluar. Ooh yaah! Suhu perintahkan aku datang kemari untuk menyerahkan lima butir pil Leng Wu- tan kepadamu". „Suhumu adalah Ko In nikouw" Hee Siok Peng mengangguk biji matanya berputar, tiba tiba ia jumpai Pek In Hoei menggeletak diatas tanah, air mukanya kontan berubah hebat

„In Hoei....... Pek Ia Hoei " teriaknya sambil memburu dalang lebih dekat.

Tatkala menjumpai air muka Pek In Hoei pucat pias bagaikan mayat, hatinya semakin terkesiap buru buru teriaknya: „Huncwee gede, kenapa dia?" „Dia dicelakai oleh beberapa tongcu perguruan Seiatus Racun sehingga keracunan hebat" jawab Ouw-yang Gong,

„Justru karena itulah suhumu perintahkan kau datang menghantar pil Leng-wu tan untuk menyelamatkan jiwanya."

Buru buru Hee Siok Pcug berjongkok ia menjejalkan pil Leng wu-tan tadi kedalam bibir Pek In Hoei, kemudian dengan -pasang tangannya ia ambil air selokan untuk diminumkan kepada sianak muda itu. Setelah menelan pil tadi, dengan penuh kasih sayang kembali ia belai rambutnya dan menggosok bekas merah diatas jidat In Hoei, tetapi sekalipun digosok ber ang kali, bekas itu tetap tertampak jdas.

Sekarang kau boleh pulang dan lapor kejadian ini kepada suhumu .... ujar Ouw yang Gong dengan serius sambil melepaskan serangan untuk menepuk bebas jalan darah Pek In Hoei yang tertotok. „Katakan padanya bahwa aku mengerti apa yang ia harapkan, sejak hari ini aku pasti akan menjagaa diri Pek In Hoei baik baik dan tidak membiarkan dia melakukan perbuatan yang keliwat batas

Ia merandek sejenak lalu tambahnya: "Lima tabun kemudian dia pasti kcmbali lagi kelembah Pek-tok-kok. . ."

Dengan hati sedih Hee Siok Peng tundukkan kepala rendah rendah.

„Benarkah kau hendak suruh dia datang kemari untuk menuntut balas? Tali permusuhan apakah yang terikat antara dia dengan a yahku?"

,,Aku sendiripun tidak kenal asal usulnya tapi kau tak usah kuatir, sebelum dia mendatangi lembah seratus racun, aku pasti akan suruh dia pergi menemui gurumu terlebih dahulu

Dengan pandangan termangu mangu Hee Siok Peng memperhatikan wajah Pek In Hoei, lama sekali ia baru menghela napas panjang.

„Pertama kali aku tolong jiwanya, fajar baru ssja menyingsing dan sinar matahari baru saja memancarkan cahaya keemas emasannya, waktu itu rambutnya kusut dan badannya penuh dengan lumpur dan dia keracunan hebat. Sekarang senja baru menjelang tiba, keadaannyapun tiada berbeda, bajunya basah kuyup daa badannya keracunan pula. Aaaai" perlahan lahan ia berjalan kemuka, terusnya.

„Benarkah antara dia dengan perguruan Seratus Racun terikat dendam sakit hati sedalam lautan? Benarkah ah dia adalah anak murid Tiam-cong-pay?

Dengan pandangan sayu dan pikiran bimbang Ouw-yang Gong memandang wajah Siok Peng tajam tajam, diapun sedang memikirkan banyak persoaian, peristiwa yang elah dialaminya pada masa silam .... Dalam benaknya terbayang kembali senyuman kegembiraannya dikala masih muda kekesalan hati yang sedih dikala dewasa dan kehampaan dikala tua, diam diam ia mengbela napas panjang, pikirnya:

..Gadis cilik ini mirip sekali dengan Siauw Hong dikala masih muda, kelembutan hatinya, kecantikan keramahan seita perhatiannya terhadap orang lain tak satupun yang berbeda tapi semua orang yang dicintainya ternyata punya dendam sakit hati dengan keluarganya .... aaaai sungguh jelek nasib mereka ...

Dalam pada itu terdengar Hee Siok Peng sedang bergumam seorang diri:

„kenapa antara dia dengan aku terkait dendam permusuhan? Kenapa begitu? Kenapa?"

Pek Leng siburung beo ygog bertengger diatas bahu majikannya segera ikut menirukan pula kata-kata itu :

„Kenapa    antara    dia    dengan    aku    terikat    dendam

permusuhan? kenapa begitu? kenapa?. "

Ouw-yang Gong mendongak dan menjawab :

Dalam kehidupan setiap manusia didalam jagad, ada dendam tentu ada cinta, dendam pada suatu saat bisa lenyap, namun cinta tak akan bisa bersemi lagi. Dendam bisa lenyap, cinta sukar bersemi lagi" bisik Hee Siok Peng dengan wajah tertegun.

Mendadak sinar matanya berkilat, dengan perasaan terima kasih ia pandang wajah Ouw-yang Gong, namun sejenak kemudian butiran air mata sudah mengucur keluar membasahi wajahnya.

„Aku tidak tnfau apa yang harus kuperbuat ? bisiknya lirih. „Kalau kau tidah coba berbuat sesuatu, darimana bisa tahu bisa diperbuat atau tidak?"

Hee Siok Peng mengerdipkan matanya, titik air mata meaetes keluar dari balik alis matanya yang tebal.

Tatkala suasana diliputi kesedihan itulah mendadak Pek In Hoei merintih dan membalikkan badannya.

Cepat-cepat Hee Siok Peng membesut airmata yang membasahi pipinya dengan ujung baju.

Dipandangnya wajah Pek In Hoei dengan penuh rasa cinta, lalu bisiknya sedia:

Sebelum dia sadar kembali, lebih baik aku pulang dulu untuk melaporkan kejadian ini kepada suhu!"

Dimanakah suhumu tinggal? dalam kuil apa ?". Kuil Ko In io disebelah barat selat!" Sekali lagi ia pandang wajah Pek In Hoei dengan sinar mata yang lembut dan penuh rasa cinta, kemudian putar badan, menghela napas panjang dan berjalan pergi

Memandang bayangan punggungnya yang langsing dan menawan hati itu, Ouw-yang Gong ikut menghela napas sedih.

Perlahan-lahan Hee Siok Peng menjulurkan jari tangannya yang runcing dan halus lalu membelai bulu burung beonya yaug berwarna putih, bisiknya lembut :

,,Pek Leng, hari sudah malam, mari kita pulang!"

„Hari sudah malam, nona mari kita pulang!" sahut burung beo putih itu seraya mengebaskan sayapnya.

Bunyi keliningan kian lama kian menjauh bayangan tubuh Hee Siok Peng yang tinggi semampai itupun lenyap dibalik tebing yang terbentang jauh disana. „Aaaaaai..... !" Ouw-yang Gong menghela napas panjang. ..Seorang gadis yang lincah dan polos, satu kali terjerumus dalam lembah percintaan sikap maupun gerak geriknya telah berubah jadi begitu murung, kesa! dan sayu

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya: „Dia telah dewasa... dia memang telah dewasa."

Suasana jadi sunyi.... sepi... tak kedengaran sedikit suara pun kecuali tetesan air gunung yang mengalir didalam selokan

Angin gunung berhembus sepoi tiba-tiba Pek In Hoei merintih diikuti ia pentang mulutnya lebar-lebar dan muntahkan cairan kuning kehitam-hitaman yang bau dan amis.

Seketika itu juga keadaan disekeliling tempat itu berubah jadi memuakkan, bau amis yang menusuk hidung berhembus lewat tidak hentinya membuat orang jadi ikut mual.

Ouw yang Gong tersadar kembali dari lamunannya, ia berseru tertahan kemudian mendorong tubuh Pek In Hoei masuk kedalam selokan Sesudah direndam beberapa saat badan sianak muda itu baru diseret kembali keatas daratan.

„Aku   tidak   mau   mati....   aku   tidak   mau   mati.   "

Terdengar Pek In Hoei menjerit-jerit sambil meronta kesana kemari.

„Hey bocah cilik! kau belum mati, coba bukalah sepasang matamn dao perhatikanlah keadaan disekelilingmu!"

Dengan perasaan kaget dan tercengang- Pek In Hoei mementangkan sepasang matanya lebar-lebar

„Kau belum mati ?" tegurnya bimbang. Bocah keparat, bau betul kentut yang kau lepaskan" maki Ouw-yang Gong gusar „Ayoh cepat bangun, coba kau teliti apakah aku sikambing tua sudah modar atau belum? kurang ajar! rupanya kau harap kao aku cepat-cepat mati konyol?"

Kena ditegur Pek In Hoei melengak, akhirnv» ia tertawa geli dan merangkak bangun.

„Cianpwee, kau yang telah menolong jiwaku?"

„Bocah edan, sudahlah, jangan terus-terusan mengucapkan kata-kata yang tak berguna.

Kau sudah lepaskan aku dari kurungan, masa aku tega menyaksikau kau mati konyol tanpa menolong?"

Ia merandek sejecak, kemudian tambahnya :

„Ooouw yaah, aku mau beritahu sesuatu kepadamu, mulai sekarang kau tidak boleh sebut aku dengan panggilan cianpwee... cianpwee segala, lain kali kau harus panggil aku si huncwee gede atau sisetan asep tua mengerti?"

Pek In Hoei membesut air yang membasahi wajahnya lalu tertawa getir.

„Cianpweekah yang membenamkan badan ku kedalam air selokan? coba kau lihat bajuku sekarang basah kuyup dan aku tidak punya pakaian lain apa yang harus kuperbuat?"

„Eeeeei.... bukankah aku suruh kau jangan banyak omong yang fak berguna siapa suruh kau sengaja ngoceh terus?" Bentak Ouw-yang Gong dengan sepasang mata melotot besar. „Bocah keparat ! seandainya aku tidak membenamkan badanmu kedalam air, darimana kau bisa mendusin dari pingsan?

Ia tabok paha sendiri, sambil bangkit berair? terusnya . „Aku siorang tua sudah mulai merasa lapar, biasanya pada waktu sekarang putra bisa cucu racun itu sudah menghantarkan nasi dan sayur buatku. Aaaaai ... kini setelah bebas, waaah malah tambah susah, perut keroncongan tak ada yang memberi makan, agaknya aku harus melanjutkan perjalanan sambil menahan perut yang kosong"

Mengungkap soal makan, Pek In Hoei seketika itu juga merasakan perutnya ikut jadi lapar, segera tanyanya :

„Cian... eeeeei... si ular asep tua, masih jauhkah jarak dqri sini sampai kekota yang terdekat? perut cayhepun terasa agak lapar

„Tempat ini masih terletak diatas gunung, paling sedikit kita harus berlarian selama satu jam untuk mendapatkan makanan untuk menangsal perut. Tapi... bocah cilik! jangan keburu kita bicarakan soal makanan, kau harus jawab beberapa buah pertanyaanku lebih dahulu ".

Seraya menatap sianak muda itu tajam2 tegurnya :

„Apakah kau adalah anak murid partai Tiam-cong?".

Cayhe belum pernah belajar ilmu silat, tapi ayahku memang anak murid dari partai TIam-cong ...

Teringat akan kemusnahan partai Tiam-cong ditelan lautan api yang berkobar dengan dahsyatnya, dengan sedih ia berbisik :

Tapi sayang......... sejak kini partai Tiam-cong sudah tak dapat menancapkan kakinya lagi didalam dunia persilatan"

„Bocah cilik apakah kau ingin belajar ilmu silat dan aku siorang tua lalu beruaha menuntut balas bagi kemusnahan partai Tiam cong?"

Dengan cepat Pek In Hoei menggeleng. Aku ingin belajar ilmu silat darimu, aku hendak menemukan ayahku terlebih dahulu

Hmrnai l Saking kekinya Ouw yang Gong mendengus berat „Banyak orang ingin

belajar silat dengan diriku, tapi kutolak semua permohonan mereka, sedang kau sekarang mendapat tawaran dariku bahkan telah mengalami bencana besar yang berubah penghidupanmu, sebaliknya kau tolak tawaranku untuk belajar silat. Hmmm... Hmmm... rupanya gelar si manusia aneh dari daratan Tionggoan yang kumiliki terpaksa harus dihadiahkan kepadamu"

Maksud cayhe bukan begitu, aku ingin menemukan ayahku lebih dahulu kemudian minta diajari ilmu pedang Tiam-cong Kiam Hoat

Dengan nada kukuh dan gagah tambah nya :

Aku bersumpah hendak membalas dendam sakit hati segenap anggota partai Tiam-cong dengan ilmu pedang Tiam-cong Kiam Hoat

Punya semangat" puji Ouw yang Gong sambil acungkan jempolnya, tapi dengan alis berkerut segera terusnya. "Tapi dengan adanya kejadian itu bukankah kesanggupanku untuk mengabulkan tiga buah keinginanmu tak bisa dijadikan kenyataan untuk selama nya? tidak... tidak bisa! kau harus belajar ilmu silat dariku.

Ia harus ulapkan tangannya mencegah Pek In Hoei berbicara, lalu terusnya :

„Bocah cilik! sekalipun kau belajar ilmu silat dengan aku siasep tua, namun kau tak usah panggil aku dengan sebutan suhu. sebab aku mengajari ilmu silat kepadamu hanyalah untuk menenteramkan hatiku belaka, kalau kau tidak menyanggupi penawaranku ini mungkin untuk makanan aku merasa tidak enak

„Uler asep tua kau tak usah berbuat begitu! bagaimanapun juga aku tidak nanti di belajar ilmu silatmu Tetapi kau boleh nenghantar aku pergi kepuncak gunung Cing sia, anggap saja inilah permintaanku yang pertama".

Mendengar perkataan itu Ouw yang Gong di sangat mendongkol, dia mencak mencak dan berteriak keras :

Baik! malam ini juga akan kuhantar kau kepuncak gunung Cing Shia, akupun tak mau tahu apa sebabnya kau hendak ke. begitu cukup bukan?"

Aku

Tak usah banyak bicara lagi" tukas Ouw yang Gong goyang tangannya. "Cepat kenakan baju tameng mustika itu didalam jubahmu kita segera lanjutkan perjalanan".

Tanpa banyak bicara lagi ia lantas berjalan I keluar dari balik tebing curam.

Pek ln Hoei tak berani banyak bicara, ia kenakan baju tameng mustika tadi dan ikut menyusul dibelekang siorang tua itu.

Sang surya telah lenyap dibalik gunung, kegelapan malam mulai mencekam seluruh jagad bintang bintang bertaburan diangkasa memancarkan cahayanya yang redup.

Ditengah kegelapan malam, Ouw yang Gong tarik tangan sianak muda itu loncat turun ke bawah gunung dan dalam sekejap mata telah lenyap dibalik hutan yang lebat

Sehari lewat dengan cepatnya, kini senja menjelang kembali, sinar mata hari yang sudah condong kebarat memancarkan sisa cahayanya menerangi gunung Cing-shia yang sunyi. (Oo-dwkz-oO)

3

„OOOOOO senja yang sangat Indah puji Pek In Hoei sambil menghela napas panjang

Ouw yang Gong menggeleng.

"Orang bilang gunung Go-bie adalah puncak vang Iembut, sedang gunung Cing Shia adalah puncak yang indah, ucapan ini sedikitpun tidak salah setelah penuhi semua permintaanmu, seorang diri akan kujelajahi seluruh tempat yang indah dikolong langit, aku tak sudi mencampuri persoalan dunia persilatan lag !".

„Aaaaaasaai kau bisa   melepaskan   diri   dari keramaian dunia kangouw, tapi sebaliknya aku, sejak kini aku sudah terjerumus ke kancah dunia persilatan, sejak kini aku ikut terombang ambing diantara perbuatan bunuh membunuh yang memuakkan

Ouw yang Gong melirik sekejap kearah Pek Ia Hoei, tampaklah dari sinar mata si anak muda itu memancar keluar cahaya tajam yang menggidikan bati setiap orang, begitu keren dan berwibawa cahaya matanya sehingga ia jadi tertegun dan berdiri melongo.

Suatu ingatan berkelebat daiam benaknya ia teringat kembali akan ucapan yang pernah diutarakan Ko In Nikouw, tanpa sadar ia perhatikan bekas merah darah diatas jidat Pek In Hoei tajam-tajam.

Mendadak matanya terasa jadi kabur, ia merasa seolah olah bekas merah darah yang ada dijidat pemuda itu kian lama berkembang kian meluas, segera gumamnya: „Aaaaaah......... tidak salah dalam dunia persilatan bakal dilanda kembali oleh badai pembunuhan yang luar biasa, banjir darah akan mengenangi seluruh jagat dan mayat bergelimpangan dimana mana

Dengan perlahan Pek In Hoei melirik sekejap kearah orang tua itu, menyaksikan cahaya matanya diliputi rasa ngeri dan ketakutan, dengan perasaan tercengang segera tegurnya:

„Kenapa kau ?"

„Aaah, tidak mengapa !" buru buru Ouw yang Gong menenteramkan hatinya, ia alihkan sinar mata yang sayu keatas puncak nun jauh disana, sambungnya:

„Ayoh cepat naik keatas gunung, hari sudah mulai gelap Sambil mengempit tubuh Pek In Hoei ia lari menaiki

undak undakan batu dan berkelebat menuju keatas puncak.

Baru beberapa puluh tombak mereka berjalan tiba tiba sinar mata kedua orang itu terbentur dengan noda darah yang berceceran diatas undak undakan batu, bau amis darah tercium amat menusuk hidung, tanpa sadar Ouw- yang Gong berseru tertahan:

"Aaaaaah ! Mungkin disini ada orang" Beberapa sosok mayat tampak bergelimpangan dipinggir jalan, sepintas pandang terlihatlah bahwa mayat mayat itu roboh karena bacokan pedang yang tajam, bahkan letak luka dari mayat mayat itupun tak ada bedanya, yaitu bagian dada terbacok dalam dalam sehingga menembusi tulang iga

Alisnya langsung berkerut serunya: "Suatu ilmu pedang yang sangat lihai, pembunuhan yang rapi dan sempurna, hanya seorang jago pedang kelas utama saja yang sanggup mencabut jiwa seseorang dalam sekali bacokan" Mungkinkah orang orang itu mati ditangan ayahku" suatu ingatan berkelebat dalam benak Pek In Hoei, segera serunya:

"Aku ingat segenap serangan yang menggunakan jurus sang surya kehilangan cahayanya letak lukanya pasti ada diatas dada!"

"Oooow! Kalau begitu ayahmu pasti sudah diserang orang banyak, ayoh lekas berangkat, kita segera naik keatas gunung!"

Laksana kilat ia loncat naik keatas, tampak pada undak undakan batu sebelah atas menggeletak mayat yang jauh lebih banyak sekilas pandang semua mayat itu menggeletak mati karena iganya tertusuk, jelas semua itu hasil perbuatan satu orang. Dalam hati dia lantas berpikir:

"Sejak kapan partai Tiam-cong muncul seorang jago pedang yang begini Ubinnya bukan saja cara menyerangnya sangat istimewa bahkan lihaynya luar biasa, tapi apa sebabnya dia dikerubuti oleh orang yang begitu banyak musuh? Mungkin orang itu ada sangkut pautnya dengan si Pedang sakti dari Tiam-cong yang lenyap pada beberapa puluh tahun berselang"

la teringat kembali kepada si pedang sakti dari Tiam- cong yang berangkat ke gunung Cing-shia pada beberapa tahun berselang untuk menghadiri suatu penemuan besar ciangbunjien delapan partai besar, akhirnya mereka semua lenyap tak berbekas.

Selama puluhan tahun peristiwa ini telah menjadi suatu peristiwa Bulim yang tiada akhirnya, anak murid partai partai besar yang kehilangan ketuanya sama sama mengutus orang untuk menemukan jejak ketua mereka, namun hasil mereka tetap nihil. Akhirnya setelah lewat empat puluh tahun lamanya, karena latar belakang peristiwa ini tak berhasil juga diungkap maka orangpun mulai melupakannya.

Dalam pada itu meski dalam hati Ouw yang Gong coba menghubung hubungkan peristiwa yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri saat itu dengan kejadian puluhan tahun berselang, namun gerakan tubuhnya sama sekali tidak berhenti, malahan ia semakin mempercepat gerakannya menuju keatas puncak. Rupanya dia ada maksud membuktikan jalan pikirannya dia ingin menyaksikan sandiri sampai dimanakah rahasia yang menyelimuti ilmu pedang penghancur sang surya dari partai Tiam-cong.

Sebaliknya Pek In Hoei sendiri jauh lsbih gelisah hatinya setelah tercium bau amis darah yang menusuk hidung serta mayat mayat orang Bu-lim yang bergelimpang an distsi jalan, ia ingin cepat cepat tiba di atas puncak untuk melihat nasib ayahnya.

Sepanjang perjalanan tumpukan mayat yang bergelimpangan disisi jalan makin lama semakin banyak, potongan baju yang dikenakan mayat2 itu pun makin campur aduk, bahkan diantara mereka terdapat pula kaum hweeshio serta toosu.

Darah manusia berceceran dimana mana diatas undakan batu diatas rumput dibawab lembah maupun d atas teoing

... . merah nya darah membuat rumput yang hijau beruban

warna suasana amat mengerikan sekali.

Kian keatas mayat yang mereka jumpai makin banyak, dengan sinar mata Ouw-yang Gong yang tajam. Ia dapat saksikan bahwa sebab kenapa orang orang ini tidak terbatas pada bagian dada saja, banyak di antaranya terluka pada bagian lain, lagipula kacau dan tidak menentu. Jelas orang yang menggunakan pedang itu sudah terluka parah sehingga seranganya makin ngawur.

Diam diam makinya didalam hati:

"Nenek maknya.. keturunan monyet semua! Masa tiga puluh orang banyaknya mengerubuti satu orang, bahkan menyediakan pula jebakan jebakan yang begitu banyak. Hmmm ! Rupanya bajingan bajingan itu berasal dari berbagai partai besar atau mungkin peristiwa besar yaivg pernah terjadi puluhan tahun berselang telah terulang kembali

Ia mengempas tenaga lalu loncai naik keatas dahan pohon, meminjam daya pental ranting tadi badannya melesat enam tombak kemuka.

Batu cadas dilaluinya dengan cepat, angin gunung berhembus kencang, dalam sekejap mata Ouw yang Gong sudah melewati sebuah tanah rerumputan yang luasnya tiga tombak dan berdiri diatas sebuah batu adas, dari situ ia dapat menangkap suara beradunya senjata tajam . . .

(Oo-dwkz-oO)