-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 49

 
Jilid 49

SAM-CIAT SIANSENG   BISA   MELANCARKAN   tiga   jurus

serangan dengan mempergunakan tiga jurus serangan dari tiga partai, hal ini membuat Pek In Hoei jadi terkesiap, ia tak mampu menebak asal usul dari jago lihay yang sedang dihadapinya ini.

"Tiga jurus sudah lewat dan asal usul boleh kau tebak sendiri," ujar Sam Ciat sianseng dengan dingin, "Pek In Hoei, maaf kalau aku tak punya kegembiraan untuk melayani dirimu lebih lanjut, tetapi kalau engkau ingin membongkar teka teki mengetahui asal-usulku, datanglah besok malam pada kentongan ke-tiga di kuil Toa-ong-bio, tetapi kau harus datang seorang diri..."

Ia tertawa dingin, tiba-tiba orang itu putar badan dan kabur turun dari atas puncak.

Ketika Gan In menyaksikan Pek In Hoei masih tetap berdiri menjublak di tempat semula, segera tegurnya :

"Pek-heng, kenapa kamu?"

"Ooooh...!" Pemuda itu berseru tertahan dan segera menengadah ke atas, tampaklah seorang gadis baju hijau sedang berdiri di hadapannya dengan muka jengah, ia semakin melongo dan tanpa terasa serunya :

"Nona It-boen..."

Mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau ketua dari Perkumpulan Bunga Merah bukan lain adalah It-boen Pit Giok, jantungnya berdebar amat keras dan kenangan lama pun terlintas kembali di dalam benaknya. "Eeei... jadi kalian sudah saling mengenal?" terdengar Gan In berseru heran.

It-boen Pit Giok tertawa sedih jawabnya :

"Kami sudah berkenalan lama. Pek In Hoei! Kau tentu tidak melupakan diriku bukan?"

"Tidak, aku tak akan melupakan dirimu!" jawab si anak muda itu dengan hati kecil.

Air muka It-boen Pit Giok berubah jadi merah jengah, di tengah kepedihan ia merasa agak lega... setelah memandang wajah Pek In Hoei beberapa saat lamanya ia menghela napas panjang.

"Aku dengar katanya Kong Yo Siok Peng telah meninggal..." "Sedikit pun tidak salah, dia mati di tangan ayah angkatnya.

Aaaai...! Seorang gadis yang baik hati harus mempunyai kisah hidup yang tragis dan menyedihkan, sungguh membuat orang sama sekali tidak mengiranya..."

"Apakah kau belum bisa melupakan dirinya?"

"Benar, selamanya aku tak akan melupakan dirinya, Nona It- boen! Ia masih hidup dalam hatiku bagaikan sekuntum bunga yang bersemi, bau harum yang ia tinggalkan selalu membekas dalam kenangan..."

Perlahan-lahan It-boen Pit Giok putar badan, air mata mengembang di atas kelopak matanya, dengan suara gemetar bisiknya

:

"Ooooh... dia sungguh berbahagia..."

Segulung hawa dingin berhembus lewat memadamkan api cinta yang membakar dalam hatinya... ia kecewa dan putus asa...

******

Malam telah menjelang tiba... tampaklah seorang pria dengan menunggang seekor kuda berjalan di tengah kegelapan yang mencekam seluruh jagad, memandang bintang yang bertaburan di angkasa ia menghela napas panjang, sambil menggeleng gumamnya seorang diri :

"Ketua dari Perkumpulan Bunga Merah ternyata bukan lain adalah nona It-boen... kejadian ini benar-benar sama sekali tak pernah kuduga. Aaaai! Di kolong langit memang seringkali terjadi hal yang berada di luar dugaan..."

Ketika teringat kembali akan rasa cinta It-boen Pit Giok terhadap dirinya, suatu perasaan sedih muncul dalam hatinya, ia tak ingin dirinya berada bersama seorang perempuan yang tidak disukainya, dengan sedih ia tinggalkan Perkumpulan Bunga Merah dan melakukan perjalanan seorang diri... mungkin hatinya selalu akan dirundung kesepian, sebab kecuali Kong Yo Siok Peng yang telah mati hanya Wie Chin Siang saja yang berkenan di hatinya...

Ia tertawa pedih dan bergumam kembali :

"Dapatkah kucintai It-boen Pit Giok?? Tidak... hal ini tak mungkin terjadi, ketika berjumpa di depan perkampungan Thay Bie San cung tempo hari, dia begitu sombong dan tinggi hati, ia pernah menghancurkan gengsiku, aku tak dapat hidup berdampingan dengan seorang perempuan yang begitu berambisi untuk menjadi seorang pemimpin, sebab aku bisa ditekan terus olehnya..."

Maka pemandangan di saat pertemuan dengan It-boen Pit Giok di depan perkampungan Thay Bie San cung pun terlintas kembali dalam benaknya, dua puluh empat orang gadis dengan barisan lenteranya serta pakaian merah yang menyolok mata itu selalu meninggalkan kesan yang mendalam dalam hatinya... ia teringat kembali sikap congkak perempuan itu ketika ia dikurung oleh barisan tentaranya, setelah ia perlihatkan kepandaian yang sejati gadis itu baru berhenti mentertawakan serta mencemooh dirinya...

Ingatan tersebut tiada hentinya berkecamuk dalam benak pemuda itu, ia mendongak memandang awan di angkasa lalu bergumam :

"Mengapa ia selalu nampak begitu sombong dan tinggi hati??" Ia tak habis mengerti apa sebabnya gadis itu selalu ingin dirinya lebih menonjol dari kaum pria... dia ingin dirinya selalu berada di atas yang lain, agar semua orang menyanjung dirinya... menghormati dirinya... sayang ia paling benci dengan perempuan semacam itu, tentu saja ia tak sudi mencintai perempuan seperti itu.

Angin malam yang dingin menampak mukanya dan menyadarkan pemuda itu dari lamunannya, memandang padi yang menguning di sawah ia tertawa geli sendiri, katanya :

"Buat apa kupikirkan dirinya lagi? Apakah dalam hatiku masih terkesan oleh dirinya? Aaaah, aku tak bakal mencintai perempuan semacam ini..."

Ketika ia sedang mentertawakan dirinya sendiri, mendadak pemuda itu merasa bahwa di belakang tubuhnya ada seseorang sedang menguntil dengan langkah yang hati-hati, dengan cepat ia berpaling dan hatinya tertegun.

Rupanya It-boen Pit Giok sedang menguntil terus di belakang tubuhnya dengan langkah yang lirih, sekali pun gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun namun dari balik biji matanya telah terkandung kesemuanya... termasuk pula rasa cintanya."

Pek In Hoei tertegun dan segera loncat turun dari atas kuda, serunya :

"Nona It-boen, kenapa engkau pun datang?"

"Mengapa engkau pergi tanpa pamit?" tanya It-boen Pit Giok pula dengan nada sedih.

Ketika Pek In Hoei meninggalkan Perkumpulan Bunga Merah tadi, hanya Gan In seorang tahu, karena dia tak ingin berjumpa lagi dengan It-boen Pit Giok maka secara diam-diam pemuda itu telah berlalu tanpa pamit.

Menanti It-boen Pit Giok tahu bahwa pemuda itu sudah berlalu maka seorang diri secara diam-diam ia menguntil datang, dia hanya berharap bahwa pihak lawan bisa merasakan pancaran cintanya... meskipun dia tahu apa sebabnya pemuda itu berlalu tanpa pamit, akan tetapi gadis itu merasa tak kuasa menahan diri untuk menguntil di belakangnya.

"Aku tak berani mengganggu nona..." kata Pek In Hoei sambil tertawa getir.

"In Hoei," ujar It-boen Pit Giok dengan sedih, "kenapa kau bersikap begitu terhadap diriku? Apakah raut wajahku kurang cantik dan menarik bagimu? Ataukah aku kurang lemah lembut? Beritahulah kepadaku bagian manakah dariku yang memuakkan engkau? Asal kau suka mengatakannya maka aku akan berusaha keras untuk merubahnya..."

Pek In Hoei gelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau terlalu cantik dan selama hidup baru pertama kali kutemui gadis secantik dirimu, tetapi aku... Aaaai! Nona It-boen, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan itu."

"Aku hendak berterus terang kepadamu bahwa aku sangat mencintai dirimu..." ujar It-boen Pit Giok dengan hati kecut, "aku tak jeri kalau engkau mengatakan aku terlalu bernyali atau aku terlalu genit, peduli apa pun pandanganmu terhadap diriku, aku hendak menyatakan rasa cintaku kepadamu secara terus terang. In Hoei! Tahukah engkau apa sebabnya aku begitu terpesona terhadap dirimu? Karena kesan yang kau berikan kepadaku terlalu dalam."

Bagaikan sedang mengigau dia melanjutkan :

"Masih ingatkah engkau, ketika untuk pertama kalinya kita berjumpa di depan perkampungan Thay Bie San cung? Sejak itulah aku tak dapat melupakan dirimu, waktu itu aku memang merasa agak benci terhadap dirimu, tetapi setelah lewat sekian lama aku baru merasakan bahwa sebenarnya aku sangat mencintai dirimu..."

"Engkau tidak seharusnya mencintai aku, aku tidak berharga untuk menerima cintamu itu!" seru Pek In Hoei sambil menggeleng.

Hatinya terasa ditusuk oleh dua bilah pedang yang tajam, membuat hatinya terasa amat sakit, pikirnya di dalam hati : "Mengapa kau ungkap kembali peristiwa di depan perkampungan Thay Bie San cung? Aku tidak sudi mendengarkan kejadian itu lagi, engkau harus tahu bahwa kejadian itu telah melukai hatiku..."

Air mata tampak mengembang di balik kelopak mata It-boen Pit Giok, ujarnya dengan nada gemetar :

"Aku tahu bahwa engkau tak suka kepadaku, aku hanya berharap agar aku bisa hidup bersama dirimu, aku hanya berharap agar engkau bisa memahami bahwa aku bukanlah seorang perempuan rendah yang tidak genah, sepanjang masa aku tak akan mencintai orang ke-dua, asal aku tahu bahwa aku sangat mencintai dirimu itu sudah lebih dari cukup, aku tidak berani mengharapkan yang lain lagi..."

"Mengapa engkau harus bersikap begitu?" seru Pek In Hoei sambil berdiri termangu-mangu.

"Mencintai orang atau dicintai orang sama-sama merupakan suatu kejadian, engkau akan mentertawakan kebodohanku, mungkin juga pikiranmu itu benar... kalau aku tidak kenal dengan dirimu, maka aku tak akan begitu kesemsem kepadamu..."

"Nona It-boen, harap engkau jangan berbuat begitu..."

"Kenapa engkau harus bersikap begitu kepadaku? Apakah kau tidak mengijinkan aku untuk ikut menikmati sisa kebahagiaan yang tercecer itu?? In Hoei, janganlah kau terlalu menampik rasa cinta seorang gadis terhadap dirimu, sebab tindakanmu itu akan membuat kau sengsara di sepanjang masa, aku tidak ingin mendengarkan sebutan nona It-boen lagi... aku minta engkau sebut aku sebagai Pi- giok..."

Pek In Hoei menghela napas panjang.

"Apa yang harus kukatakan untuk menjelaskan persoalan ini??" serunya kemudian.

Sambil tertawa getir It-boen Pit Giok menggeleng.

"Engkau sama sekali tak perlu memberi penjelasan, aku tahu apa yang hendak kau katakan... sedikit pun tidak salah watak kita berdua memang sama-sama angkuh dan tinggi hati... keangkuhan tersebut membuat jarak di antara kita berdua kian lama kian bertambah jauh..."

Ia tarik napas panjang-panjang, setelah berhenti sebentar sambungnya kembali :

"Beranikah engkau menyangkal bahwa engkau tidak cinta kepadaku? Pek In Hoei kita tak usah membelenggu diri karena soal gengsi atau martabat sehingga tidak berani saling bercinta, gengsi yang kosong dan martabat yang palsulah membuat kita jadi menderita dan sengsara... kekerasan hatiku selalu berharap agar engkau tunduk kepala kepadaku, sebaliknya kesombonganmu dan keangkuhanmu berharap agar aku mengejar dirimu, sekarang kita tidak butuh untuk tetap mempertahankan diri lagi, sebab kesemuanya itu menghancurkan kita sendiri..."

"Jalan pikiranmu itu memang bagus dan tepat sekali, sedikit pun tidak salah kesombonganmu serta pandanganmu yang sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap orang-orang lain sangat menyakitkan hatiku tetapi sekarang semuanya telah terlambat..."

"Sindiranmu serta ejekanmu apakah tidak menyakitkan pula hatiku? Ketika seorang gadis sedang mencapai masa mudanya untuk bercinta, ia mempunyai sebuah hati yang mulus dan halus... tetapi ketika berada di perkampungan Thay Bie San cung tempo hari, engkau telah mengoyak gengsi serta martabatku..."

"Oleh sebab itu engkau membenci aku...?" sambung Pek In Hoei sambil menghela napas.

It-boen Pit Giok menggeleng.

"Semua rasa benci telah berubah jadi cinta, Pek In Hoei, sekarang kita tak usah berpura-pura lagi... kita harus tunjukkan perasaan sendiri dengan raut muka yang asli..."

Sekilas kelembutan mulai terpancar keluar dari balik mata Pek In Hoei, dia menghembuskan napas panjang.

"Sedikit pun tidak salah, dahulu secara diam-diam aku pernah mencintai dirimu, tetapi setiap kali terbayang olehku akan kesombongan dan keangkuhanmu, maka aku pun mengambil keputusan untuk tidak mempedulikan dirimu lagi, menunggu sampai engkau mau mengaku salah di hadapanku..."

"Kau terlalu kejam..." bisik It-boen Pit Giok sambil tertawa sedih. Diam-diam Pek In Hoei menghela napas panjang, katanya lagi : "Sekarang semuanya telah berlalu, nona It-boen masa remajamu

masih panjang dan masa depanmu cemerlang... urusan muda mudi sudah tidak terlalu penting lagi bagi kita semua, sekarang aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan. Nah, selamat tinggal..."

"Kau hendak pergi ke mana?" tanya It-boen Pit Giok tertegun. "Sulit untuk dikatakan, dewasa ini aku tak mampu untuk

memberikan suatu jawaban yang meyakinkan!"

Semua anggota Perkumpulan Bunga Merah selalu menyambut kedatanganmu dengan hati gembira dan tangan terbuka, terutama sekali Gan In ia memandang dirimu bagaikan malaikat, Pek In Hoei! Asal engkau mau kembali maka aku serta seluruh anggota Perkumpulan Bunga Merah akan menyambut kedatanganmu dengan senang hati..."

"Aku bisa datang kembali untuk menengok dirimu!" kata Pek In Hoei sambil meloncat ke atas kudanya.

Derap kaki kuda yang berkumandang di tengah kesunyian bagaikan martil yang menggodam hati It-boen Pit Giok, membuat air matanya tak dapat dikendalikan lagi dan mengucur keluar dengan deras, memandang bayangan punggungnya yang menjauh dia merintih :

"Aku berharap engkau bisa datang kembali ke sisiku, peduli bagaimana pun sikapmu terhadap diriku, aku tetap berharap akan kembalinya engkau ke sisiku, In Hoei! Aku hendak mengikuti dirimu... secara diam-diam engkau akan kuikuti terus..."

Dalam pada itu Jago Pedang Berdarah Dingin dengan membawa hati yang kacau berlalu dari tempat itu, pelbagai ingatan memenuhi benaknya, ia merasa setiap patah kata dari It-boen Pit Giok terukir dalam hatinya, dengan sedih ia menghela napas dan berkata :

"Seorang gadis yang terlalu dimabukkan oleh cinta, aku terlalu bersalah kepadanya."

Memandang kegelapan serta kesunyian yang membentang di depan mata, dia menggeleng dan tarik napas panjang-panjang.

"Aaaah! Tak usah kupikirkan lagi persoalan itu, aku harus membongkar kedok dari Sam Ciat sianseng..."

Di tengah kegelapan kuil Toa-ong-bio bagaikan seorang kakek peyot yang terkapar di tanah sambil terengah-engah, cahaya lampu yang redup memancar keluar dari balik kuil....

Pek In Hoei loncat turun dari atas kuda, menaiki tangga dan masuk ke dalam kuil, setelah melewati ruang yang sempit sampailah di ruang yang besar yang penuh dengan sarang laba-laba, sebuah lentera terletak di meja sembahyang, bekas telapak kaki memenuhi ruangan itu, hal tersebut menunjukkan bahwa pernah ada orang yang berkunjung ke situ.

Suasana dalam kuil sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun, tinggal keseraman yang mencengkeram sekeliling tempat itu.

"Apakah Sam Ciat sianseng telah berkunjung kemari  " pikir Pek

In Hoei dengan wajah tertegun.

Dengan pandangan serius diperiksanya setiap sudut ruang kuil itu, tiba-tiba ia temukan beberapa sosok mayat pria baju hitam menggeletak di bawah meja sembahyang, tenggorokan orang-orang itu termakan sebuah tusukan dan sudah mati lama sekali, Jago Pedang Berdarah Dingin semakin tertegun pikirnya di dalam hati :

"Sebelum aku tiba di tempat ini, suatu pertarungan seru pasti telah berlangsung di tempat ini "

"Hmmm. " tiba-tiba dengusan dingin berkumandang dari tengah

ruang kuil itu.

Jago Pedang Berdarah Dingin terperanjat, tubuhnya mencelat ke angkasa dan silangkan telapaknya di depan dada, bentaknya: "Siapa di situ?"

Dari balik sudut tembok menggema keluar tertawa rendah, lalu seseorang menegur :

"Engkau adalah anggota Komplotan Tangan Hitam atau bukan?" Pek In Hoei alihkan sorot matanya ke sudut tembok, dari situ ia lihat seorang kakek tua yang kurus perlahan-lahan munculkan diri, sekujur tubuh kakek tua itu penuh luka dan pakaiannya sudah hancur 

terkoyak, dengan suara berat segera serunya : "Siapa engkau?"

"Hmmm! Kau telah merampas Pat-giok-ma mestika dari keluarga kami, membunuh pula tujuh orang muridku... Hmmm... kalian kawanan Komplotan Tangan Hitam yang tak punya liang-sim... malam ini aku Ngo-kong Beng sengaja menantikan kedatanganmu ke sini untuk menjagal kalian semua!" seru kakek itu dengan wajah sedih.

"Eeei... apa yang engkau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti," teriak Pek In Hoei sambil berdiri tertegun.

Ngo-kong Beng mendengus dingin, sambil cabut keluar pedangnya ia berteriak :

"Kembalikan nyawa muridku, keparat cilik! Kau anggap aku sudah mati bukan? Terus terang kukatakan kepadamu bukan saja aku Ngo Kong Beng belum mati bahkan akan kubasmi kalian sampah masyarakat dari permukaan bumi, sekarang putraku sudah pergi siapkan orang, sebentar akan kubasmi kalian manusia-manusia terkutuk. Keparat cilik! Nasib kurang mujur, ternyata berani masuk kemari seorang diri!"

Pedangnya berkelebat ke depan dan membacok tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin, ilmu pedang yang dimiliki kakek tua itu ternyata sempurna sekali, jurus serangan yang dilancarkan juga ganas serta telengas, memaksa Pek In Hoei mundur terus ke belakang.

"Eeeei... sianseng, engkau salah paham!" teriak Pek In Hoei sambil goyangkan tangannya berulang kali. "Aku salah paham? Apa yang kusalah paham?" kata Ngo Kong Beng sambil berdiri tertegun, "sebelum kalian angkat kaki tadi bukankah sudah mengatakan suruh aku menunggu? Kau anggap aku tak berani menunggu ? Kau anggap aku tak berani menunggu? Hmmm... keparat cilik, kuda Pat giok-ma milikku pun sudah lenyap, apa yang harus kutakuti lagi?"

"Aku bukan anggota Komplotan Tangan Hitam, sebelum ngaco belo lihat dulu dengan jelas siapa yang sedang kau hadapi!"

Ngo Kong Beng menggetarkan pedangnya lalu tertawa seram, teriaknya :

"Bukankah engkau she Pek?"

"Tidak salah," jawab Pek In Hoei, "apakah lo sianseng kenal dengan diriku..."

"Kalau memang begitu tak bakal salah lagi, sebelum para Komplotan Tangan Hitam tinggalkan tempat ini, mereka telah beritahu kepadaku bahwa ada seorang keparat cilik she Pek akan datang membereskan hutang tersebut, mereka bilang asal aku punya keberanian silahkan menunggu!"

Pek In Hoei sama sekali tidak menyangka kalau maksud Sam Ciat sianseng mengundang kedatangannya ke kuil Toa-ong-bio adalah untuk memancing dirinya masuk perangkap serta turun tangan melawan seorang kakek tua yang barang berharganya dirampok lebih dahulu.

Saking gusarnya ia tertawa dingin, serunya sambil tertawa tergelak :

"Haaaah... haaaah... haaaah... sungguh tak kusangka Sam Ciat sianseng adalah seorang manusia licik..."

"Kembalikan kuda Pat-giok-ma ku..." bentak Ngo Kong Beng sambil menerjang ke depan.

Pada saat ini kakek tua tersebut sudah mempunyai niat untuk mengadu jiwa, dia sama sekali tidak ambil peduli atas penjelasan yang diberikan Pek In Hoei, pedangnya berkelebat melancarkan tujuh tusukan maut, ke-tujuh buah serangan itu berkelebat begitu cepat hingga merobek ujung pakaian dari si anak muda.

"Kurang ajar, engkau benar-benar seorang tua bangka yang tolol..." bentak Pek In Hoei dengan gusarnya.

Hawa amarah telah berkobar dalam dadanya, membuat napsu membunuh pun seketika menyelimuti wajahnya, ia membentak keras, pedang mestika penghancur sang surya-nya dicabut keluar dan bergeletar di angkasa membentuk gerakan satu lingkaran busur, hawa pedang yang hijau meninggalkan udara yang dingin dan tajam, membuat Ngo Kong Beng berdiri menjublak.

Sebilah pedang mestika yang amat tajam," serunya dengan suara gemetar, "sungguh tak nyana di antara Komplotan Tangan Hitam terdapat seseorang yang memiliki senjata selihay itu..."

"Ayah!" tiba-tiba dari luar ruangan kuil berkumandang datang suara teriakan nyaring, "ananda telah berhasil mengundang datang Siok-tiong Siang-hiong!"

Tampak tiga orang pria kekar bagaikan sukma gentayangan meloncat masuk ke dalam ruangan, kemudian mereka sebarkan diri dan mengepung Pek In Hoei di tengah kalangan.

"Ayah!" terdengar pemuda berjubah abu-abu yang ada di sisi kiri itu berseru, "apakah dia adalah keparat cilik she-Pek dari Komplotan Tangan Hitam?"

Dia melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin, kemudian ujarnya dengan ketus :

"Sahabat, kami keluarga Ngo tidak pernah mengikat dendam permusuhan apa-apa dengan organisasi kalian, mengapa kau merampok barang mestika dari keluarga kami, kuda Pat giok-ma? Kemudian membinasakan pula tujuh orang suheng kami? Sahabat, aku Ngo Sian Cing ingin sekali minta petunjuk beberapa jurus darimu, aku ingin tahu sampai di mana sih kehebatan dari Komplotan Tangan Hitam sehingga berani tak pandang sebelah mata pun terhadap semua orang..." "Kalian semua telah salah paham, aku sama sekali bukan anggota dari Komplotan Tangan Hitam..."

"Hmmm!" Wan Toa Kun sang lo-toa dari Siok-tiong Siang-hiong tertawa dingin, "bukankah engkau she-Pek?"

"Tidak salah, aku memang she-Pek," jawab Pek In Hoei sambil mendengus dingin, "aku harap mulutmu bisa bicara lebih bersih lagi, barang siapa berani bicara tak karuan di hadapan aku Jago Pedang Berdarah Dingin, hati-hatilah... akan kuberi pelajaran yang setimpal kepada kalian."

"Jago Pedang Berdarah Dingin!"

Empat patah kata itu bagaikan lonceng yang bergema di tengah udara membuat air muka semua orang yang ada di ruangan itu berubah hebat, rasa kaget yang bukan kepalang terlintas dalam hati mereka.

"Bagus sekali!" seru Ngo Kong Beng sambil tertawa seram, "sungguh tak nyana Jago Pedang Berdarah Dingin yang namanya tersohor di seluruh jagad tidak lebih adalah anggota Komplotan Tangan Hitam. Heehheemm... heehhmmm... ini hari boleh dibilang aku orang she-Ngo sudah terbuka mataku..."

"Hmmm! Engkau si tua bangka tolol yang matanya buta, sebelum melihat jelas duduknya persoalan sudah mengaco belo tak karuan... kalau aku Pek In Hoei adalah engkau, hmmm! Sedari tadi aku sudah tumbukkan kepalaku ke atas dinding untuk bunuh diri," seru Pek In Hoei dengan nada sinis.

Wan Toa Peng Lo-ji dari Siok-tiong Siang-hiong tertawa seram. "Heemmm... kamu keparat cilik itu manusia macam apa? Berani benar berlagak di hadapan kami Siok-tiong Siang-hiong... Hmmm...

Lo toa, benarkah Ngo Sian Cing akan serahkan mestika Pat-giok-ma tersebut kepada kita?"

"Kalian tak usah kuatir," buru-buru Ngo Sian Cing berseru, "asal ke delapan ekor kuda mestika itu berhasil kita rampas kembali, aku pasti akan membagi empat untuk kalian, tapi syaratnya kalian harus membunuh bajingan she Pek ini lebih dahulu..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... empat ekor saja tidak cukup, kami minta enam ekor!"

Wan Toa Peng maupun Wan Toa Kun berbicara dengan logat propinsi Sucuan, hal ini membuktikan bahwa ke-dua orang itu adalah jago-jago luar daerah.

Sementara itu Ngo Sian Cing telah tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya tercengang.

"Kenapa begitu?"

Wan Toa Peng tertawa dingin.

"Jago Pedang Berdarah Dingin adalah seorang jago yang sangat lihay dalam permainan ilmu pedang, untuk memetik batok kepalanya bukanlah suatu perkara yang terlalu gampang, kalau engkau berani bayar enam ekor kuda pualam sebagai pembayaran dari batok kepalanya maka kami akan segera kerjakan, toh jumlah segitu tidak terhitung terlalu mahal..."

"Seekor kuda giok-ma sudah bernilai satu kota, sungguh tak kusangka kalau kamu berdua begitu kemaruk harta," seru Ngo Kong Beng dengan wajah berubah hebat. "Aaaai...! Kalau delapan ekor kuda Giok-ma itu tak bisa dicari kembali..."

"Hmmm! Mau atau tidak terserah padamu sendiri," dengus Wan Toa Kun dengan dingin, "kalau bukan kami yang turun tangan, aku percaya ke-delapan ekor kuda Giok-ma itu tak akan berhasil kalian rampas kembali dari tangan Komplotan Tangan Hitam, waktu itu kalian seekor pun tidak dapat, akan kulihat bagaimana keadaanmu..."

Saking gusarnya Ngo Kong Beng tertawa keras, serunya :

"Baik kukabulkan permintaan kalian, malam ini hitung saja aku orang she-Ngo yang sial..."

Sepasang jago dari wilayah Siok-tiong itu saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak, memisahkan diri dan melotot ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin dengan pandangan benci, sementara senyuman bangga tersungging di ujung bibirnya.

"huuuh...! Dengan andalkan kalian dua besi rongsokan juga ingin merebutkan kembali barang antik orang," jengek Pek In Hoei sinis, "sahabat, kalau tahu diri cepatlah enyah dari sini, di hadapan kami tak nanti kalian bisa berlagak..."

"Nenek anjingmu!" maki Wan Toa Peng, "aku tak percaya kalau kamu si Jago Pedang Berdarah Dingin adalah seorang berkepala tiga berlengan enam, malam ini aku harus bunuh kamu si bangsat sampai mati..."

Pek In Hoei tertawa sinis, sinar mata tajam berkilat dan bentaknya dengan gusar :

"Kau si makhluk yang berpikir tak berbulu, aku akan suruh kau bertekuk lutut dan minta ampun di hadapanku."

Cahaya pedang tiba-tiba memancar ke empat penjuru, pada saat yang bersamaan Siok-tiong Siang-hiong membentak keras, mereka putar senjata dan menerjang maju ke depan, sebagai jago pedang yang berpengalaman serangan tersebut benar-benar luar biasa sekali.

Dua rentetan cahaya pedang membentuk selapis kabut pedang yang tebal dan mengurung Jago Pedang Berdarah Dingin di tengah kepungan.

Pek In Hoei membentak keras, serunya :

"Tidak aneh kalau kalian begitu sombong dan takabur, rupanya kepandaian silat yang dimiliki hebat juga..."

Pedang mestika penghancur sang surya di tangannya bergeletar di udara membentuk sekilas bayangan pedang, sambil menekan lima cun di bawah tiba-tiba senjata tersebut melejit dan langsung menusuk ke arah tenggorokan Wan Toa Peng.

"Aaaaauuh...!" Siok-tiong Siang-hiong sama sekali tidak menduga kalau ilmu pedang yang dimiliki Jago Pedang Berdarah Dingin begitu dahsyatnya, di tengah getaran pergelangannya sang pedang telah menembusi kabut pedang yang diciptakan oleh mereka segera menusuk ke dalam.

Wan Toa Peng tak bisa meloloskan diri lagi dari serangan tersebut, ia menjerit lengking lalu mundur ke belakang dengan sempoyongan, darah segar memancar keluar dari tenggorokannya dan berteriak dengan penuh kengerian :

"Kau... kau... kauuuu..."

Tubuhnya gemetar keras lalu terkapar ke atas tanah, tanpa menjerit tanpa mendengus tahu-tahu sukmanya sudah melayang tinggalkan badan kasarnya.

Wan Toa Kun jadi gusar, sedih bercampur kalap menyaksikan adik kandungnya mati konyol di ujung pedang lawan, seperti orang gila ia membentak :

"Bangsat she Pek, aku bersumpah akan membunuh dirimu..." Dia putar pedangnya dan segera menerjang ke arah Jago Pedang

Berdarah Dingin, ujung pedang yang tajam memancarkan hawa dingin yang menggidikkan hati, ketika ujung pedang masih ada satu depa di depan tubuh musuhnya, tiba-tiba senjata itu menyeleweng ke samping.

Jago Pedang Berdarah Dingin memutar tubuhnya sambil membentak :

"Enyah dari sini kalau tidak engkau akan terkapar di atas tanah seperti adikmu..."

"Kentut busuk!" bentak Wan Toa Kun dengan gusar, "setelah membunuh orang apakah urusan disudahi sampai di situ saja? Aku tidak percaya dengan segala permainan setan!"

Secara beruntun dia lancarkan lima buah jurus serangan yang berbeda, di antaranya terdapat pula jurus-jurus mematikan yang amat ganas.

Pek In Hoei loncat ke tengah udara, pedangnya membabat ke bawah sambil teriaknya :

"Hmm! Kamu sudah bosan hidup." Di tengah dengungan kesakitan, dengan sempoyongan Wan Toa Kun mundur beberapa langkah ke belakang, darah segar mengucur keluar dari tubuhnya yang gempal, teriaknya dengan sedih :

"Pek In Hoei, suatu ketika aku bisa datang untuk menuntut balas." Dengan wajah sedih Wan Toa Kun kabur keluar dari ruang kuil, percikan darah segar menodai seluruh lantai, hal ini membuat Ngo Kong Beng dan putranya hanya bisa berdiri menjublak di tempatnya

tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dengan pandangan dingin Pek In Hoei melirik sekejap ke arah ke-dua orang itu lalu serunya :

"Apakah kalian berdua juga siap untuk bergerak?"

"Hmmm! Kau anggap setelah Siok-tiong Siang-hiong kalah maka urusan akan kusudahi sampai di sini saja?" teriak Ngo Kong Beng.

Pek In Hoei jadi semakin gusar, ujarnya :

"Rupanya sebelum melihat peti mati kalian tak akan mengucurkan air mata, kalau kau anggap urusan tak bisa disudahi dengan begitu saja, maka apa rencanamu selanjutnya? Ayoh katakan... Aku Pek In Hoei tak akan membuat kalian jadi kecewa!"

"Kuda pusaka Giok-ma barang pusaka dari keluarga kami," kata Ngo Sian Cing dengan marah, "aku harap engkau suka mengembalikannya kepada kami, aku tahu engkau Jago Pedang Berdarah Dingin bukan copet atau begal, tak mungkin liang-simnya jadi hilang lantaran ke-delapan ekor kuda Giok-ma tersebut..."

"Bagaimana sih kalian berdua ini?" bentak Pek In Hoei dengan gusar sekali, "aku sama sekali tidak membegal ke-delapan ekor kuda Giok-ma kalian, dari mana bisa kukembalikan kepada kamu berdua? Apakah kau masih belum bisa membedakan bahwa aku bukan anggota dari Komplotan Tangan Hitam..."

"Hmmm! Meskipun ke-delapan ekor kuda Giok-ma itu bukan dibegal olehmu sendiri, tetapi perbuatan ini pasti atas perintahmu, saudara... kalau berani berbuat tentu berani bertanggung jawab, janganlah setelah berhasil lantas cuci tangan seenaknya..." Saking mendongkolnya Pek In Hoei tertawa terbahak-bahak. "Kalian benar-benar manusia yang amat tolol..."

"Cuuuh...! Meskipun aku Ngo Sian Cing bukan tandinganmu, tetapi aku tak sudi melepaskan dirimu dengan begitu saja, suatu hari engkau akan mengetahui sampai di manakah kelihayan dari keluarga Ngo kami... " kepada Ngo Kong Beng tambahnya :

"Ayah, mari kita pulang dulu!"

Ngo Kong Beng melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, lalu tegurnya kembali dengan suara lantang "

"Benarkah engkau bukan anggota dari Komplotan Tangan Hitam?"

"Kalau aku adalah anggota dari Komplotan Tangan Hitam maka tidak nanti aku bersikap sungkan kepada dirimu berdua, bicara terus terang aku sendiri pun mempunyai persengketaan dengan pihak Komplotan Tangan Hitam, seandainya sudah merampas ke-delapan ekor kuda Giok-ma milik kalian, buat apa kami datang lagi ke sini..." Ngo Kong Beng berdua berdiri tertegun kemudian bersama-sama melirik sekejap ke arah  Jago Pedang Berdarah  Dingin, akhirnya dengan wajah ragu-ragu dan penuh tanda tanya mereka berjalan keluar ruangan itu, dalam sekejap mata bayangan mereka berdua telah

lenyap di balik kegelapan.

Ruang kuil yang penuh sarang laba-laba kini tinggal Jago Pedang Berdarah Dingin seorang yang masih berada di situ mendampingi mayat Wan Toa Peng yang terkapar di atas tanah, pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, rasa sedih dan sepi mencekam hatinya membuat dia tertawa sedih, satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir :

"Kurang ajar, ternyata Sam Ciat sianseng telah mempergunakan diriku, dia yang membajak ke-delapan ekor kuda Giok-ma milik Ngo Kong Beng, sebaliknya memberikan pertanggungan jawabnya ke atas pundakku. Aaaai...! Bajingan itu benar-benar pandai sekali menggunakan kesempatan..." Dengan gemas dia mendepakkan kakinya ke atas lantai, lalu berseru :

"Bajingan itu benar-benar seorang manusia yang licik, lain kali kalau aku sampai bertemu lagi dengan dirinya, pasti akan kubinasakan bangsat yang pandai memfitnah orang itu hingga lenyap dari permukaan bumi, kalau tidak entah permainan setan apa lagi yang bakal ditimpakan kepadaku..."

Tiba-tiba ia menengadah ke atas, tampak olehnya di balik meja sembahyang berkumandang suara dengusan napas, hal itu membuat hatinya tercengang, pikirnya :

"Apakah para jago dari Komplotan Tangan Hitam menyembunyikan diri di belakang meja sembahyang itu?"

Rasa curiga yang mencekam hatinya kian lama kian bertambah besar, dalam waktu singkat dia merasa bahwa di dalam ruang kuil yang sudah bobrok itu terdapat banyak hal yang mencurigakan serta aneh, setelah menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, tiba-tiba telapaknya disapu ke depan melancarkan sebuah pukulan ke arah patung arca di tengah kuil.

Blaaaam...! Baru saja telapak kanan Pek In Hoei didorong ke muka, tiba-tiba ia merasa ada segulung angin pukulan menerjang ke arahnya... dua gulung angin pukulan dengan cepat membentur jadi satu di tengah udara, diikuti bergeletarnya ledakan keras yang mengakibatkan beterbangannya debu dan pasir ke tengah udara.

Lampu lentera jadi bergoyang kencang membuat suasana jadi redup, di tengah kegelapan itulah suara tertawa dingin bergema memecahkan kesunyian disusul munculnya sesosok bayangan manusia langsung menerjang ke tengah ruangan.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." suara tertawa dingin dari Sam Ciat sianseng berkumandang datang, "Pek In Hoei, aku ucapkan banyak terima kasih lebih dahulu karena engkau telah menyingkirkan dua orang musuh tangguh dari Komplotan Tangan Hitam, meskipun Siok- tiong Siang-hiong bukan terhitung apa-apa dalam pandanganku, tetapi daripada akulah yang turun tangan sendiri maka jauh lebih baik kalau engkaulah yang turun tangan mewakili diriku..."

Pek In Hoei tertegun, dia tidak menyangka kalau dirinya bakal dijadikan alat pembunuh oleh Sam Ciat sianseng, rupanya secara licik sekali pihak lawan telah mempersiapkan suatu jebakan yang sangat lihay untuk memancing dirinya masuk perangkap, dengan meminjam kekuatannya untuk menyingkirkan Siok-tiong Siang-hiong yang sudah mereka ketahui pula akan kelihayannya, dari kejadian ini bisa ditarik kesimpulan bahwa kelicikan dari orang itu benar-benar luar biasa sekali.

Saking gemas dan mendongkolnya, Jago Pedang Berdarah Dingin berteriak sekeras-kerasnya :

"Kau licik dan banyak akal, aku tak dapat melepaskan dirimu dengan begitu saja..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... apa yang kau alami cuma sebagian dari pekerjaan kami," kata Sam Ciat sianseng sambil tertawa terbahak-bahak, kami pihak Komplotan Tangan Hitam yang paling diutamakan adalah hati yang hitam, kulit yang tebal, tangan yang telengas, kaki yang ganas serta mulut yang tajam, asal pekerjaan itu menguntungkan bagi pihak kami maka dengan segala cara apa pun akan kami lakukan untuk menyukseskan usaha tersebut.. sebelum berhasil kami tak akan berpeluk tangan..."

"Kau benar-benar tak tahu malu, kecuali engkau di kolong langit boleh dibilang tiada orang kedua yang selicik dan tak tahu malu seperti engkau... Sam Ciat sianseng, silahkan engkau lepaskan kain kerudung yang menutupi wajahmu itu, aku ingin lihat macam apakah raut wajah dari manusia yang berhati hitam seperti kamu itu..."

"Aku rasa lebih baik engkau tak usah menempuh bahaya ini," seru Sam Ciat sianseng dengan mata tajam, "barang siapa pernah melihat raut wajahku yang sebenarnya maka tak seorang pun yang bisa hidup di kolong langit. Ketika wajahku kuperlihatkan kepada orang, itu berarti umurnya sudah tidak berapa lama lagi." Perkataan dari jago lihay berkerudung hitam ini dingin sekali bagaikan hembusan angin dari kutub utara, membuat setiap orang yang mendengar menjadi bergidik dan menggetar keras.

Lain halnya dengan Jago Pedang Berdarah Dingin, dengan sorot mata berapi-api dia melotot ke arah musuhnya dengan penuh kebencian.

"Aku tidak percaya!" serunya sambil menggertak gigi. "Hmmm!" Sam Ciat sianseng mendengus dingin, "malam ini di

sini tiada orang lain, hal ini merupakan satu kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk berbicara sebaik-baiknya... engkau si Jago Pedang Berdarah Dingin bagaimana pun merupakan suatu kekuatan manunggal dalam dunia persilatan, selamanya tidak pernah berhubungan dengan partai mana pun, kenapa sekarang engkau berhubungan dengan Perkumpulan Bunga Merah, apakah kau sengaja hendak memusuhi diriku?"

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Para anggota yang tergabung dalam Perkumpulan Bunga Merah semuanya merupakan jago-jago lihay yang berdarah panas, mereka kaya akan rasa keadilan dan persahabatan, khusus berjuang demi menegakkan keadilan dan kebenaran di dalam dunia persilatan, sebaliknya kalian para jago dari Komplotan Tangan Hitam yang bisa dilakukan hanyalah menerbitkan ombak dan angin... membunuh orang membakar rumah penduduk, asal seseorang masih mempunyai rasa peri kemanusiaan maka dia pasti akan berhubungan dengan Perkumpulan Bunga Merah..."

"Hmmm!" dengusan dingin berkumandang keluar dari mulut Sam Ciat sianseng, dari balik biji matanya yang dingin terpancar keluar sorot mata yang ganas dan bengis, katanya :

"Engkau tak usah bicara dengan kata-kata yang begitu indah, siapa yang tidak tahu kalau antara engkau dengan It-boen Pit Giok, ketua dari Perkumpulan Bunga Merah, mempunyai hubungan yang sangat akrab? Kalau engkau bukan kesemsem oleh kecantikan wajahnya, dari mana kamu bersedia untuk jual nyawa baginya? Heeeeh... heeeeh... heeeeh... Pek In Hoei, buat apa engkau bicara yang indah-indah? Tak usah dikatakan pun dalam hati kami sudah mengetahui jelas..."

"Kau benar-benar sedang mengaco belo..." seru Pek In Hoei sambil gelengkan kepalanya, dengan gemas dia melanjutkan, "ke- delapan ekor kuda Giok-ma milik Ngo Kong Beng apakah engkau yang curi? Sekarang berada di mana?"

"Nih berada di sini," jawab Sam Ciat sianseng tenang, "coba lihatlah rupanya engkau pun tertarik oleh ke-delapan ekor kuda mestika itu, apakah kau juga menginginkannya? Jika suka maka aku bisa menghadiahkan sebagian kepadamu..."

"Aku harap engkau suka mengembalikannya kepada Ngo Kong Beng," kata Pek In Hoei sambil tertawa dingin, "demi ke-delapan ekor kuda Giok-ma itu, mereka mengira akulah yang melakukan pembegalan. Sam Ciat sianseng, perbuatanmu yang begitu rendah benar-benar telah menurunkan derajatmu, suatu ketika orang kangouw pasti akan mengetahui rahasia kebusukanmu itu..."

Sam Ciat sianseng sama sekali tidak gusar mendengar perkataan itu, katanya :

"Kejadian itu pun merupakan satu hasil kerjaku yang gemilang. Hehmm... heehmmm... kalau tidak kucuri ke-delapan ekor kuda Giok- ma dari keluarga Ngo, dari mana orang kangouw bisa tahu kalau engkau Pek In Hoei punya hubungan dengan Komplotan Tangan Hitam? Hanya dengan membegal ke-delapan ekor kuda itulah aku baru bisa memaksa engkau untuk terdesak da tak dapa tancapkan kakinya lagi di kolong langit... hanya berbuat begitulah terpaksa engkau harus bergabung dengan Komplotan Tangan Hitam... heehh... heeehh..."

Criiing...! Tiba-tiba terdengar suara gemerincingan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, sekilas cahaya pedang yang tajam memancar ke empat penjuru dan hawa pedang yang menggidikkan hati menyelimuti seluruh angkasa, sambil mencekal pedang telanjang Jago Pedang Berdarah Dingin berkata :

"Bagaimana pun juga aku bersumpah akan membinasakan dirimu, engkau telah menyumbat banyak jalanku, kalau aku tidak bunuh dirimu dari muka bumi maka dunia persilatan entah akan kau rubah jadi bagaimana keadaannya... mungkin, karena engkau seorang seluruh kolong langit jadi kacau balau tak karuan..."

"Jangan turun tangan lebih dahulu," cegah Sam Ciat sianseng sambil goyangkan tangannya berulang kali, "kalau ada urusan mari kita bicarakan secara baik-baik, engkau tak perlu terburu napsu, malam ini bukan saja aku akan membuat dirimu tunduk seratus persen bahkan dalam ilmu silat pun aku tak akan mengecewakan dirimu, aku percaya engkau akan merasa beruntung dapat berkenalan dengan diriku."

"Hmmm!" Pek In Hoei mendengus berat, "aku tak akan melepaskan dirimu."

"Haaaah... haaaah... haaaah... itu toh urusan di kemudian hari," kata Sam Ciat sianseng sambil tertawa bangga, "dewasa ini aku sangat membutuhkan bantuanmu... hehmmm...heehmmm asal engkau bersedia untuk bekerja sama dengan aku maka bukan saja patung kuda pualam yang ada delapan buah jumlahnya itu akan kuhadiahkan kepadamu di samping itu akan kuberikan pula seorang gadis yang cantik jelita untuk hiburanmu, aku tanggung kecantikan wajahnya tidak akan kalah dari It-boen Pit Giok si kuda liar tersebut."

"Omong kosongmu terlalu banyak," seru Pek In Hoei sambil menggetarkan pedangnya di tengah udara, "aku sudah bersiap-siap untuk minta petunjukmu..."

"Ooow...! Jadi kalau begitu engkau tidak bersedia untuk bekerja sama dengan aku?"

"Hmmm! Siapa yang sudi bekerja sam dengan dirimu? Sam Ciat sianseng aku lihat lebih baik engkau buang jauh-jauh ingatan seperti itu." "Heehmm...! Rupanya terpaksa aku harus musnah engkau dari muka bumi, ketahuilah bahwa semboyanku adalah berusaha mendapatkan bila masih bisa dipergunakan, musnahkan apabila tidak bisa didapatkan. Pek In Hoei, tidak akan menjadi masalah engkau menampik kerja sama dengan diriku..."

Sambil tertawa dingin ia cabut keluar pedang aneh yang memancarkan cahaya emas itu, setelah dikebaskan di tengah udara dengan sepasang mata yang tajam bagaikan pisau ia tatap wajah Pek In Hoei, lalu ujarnya dingin :

"Silahkan turun tangan Pek In Hoei, sudah tidak berapa lama lagi engkau dapat hidup di kolong langit..."

Jago Pedang Berdarah Dingin menggerakkan pergelangan tangannya, pedang mestika penghancur sang surya laksana cahaya tajam langsung membabat ke atas tubuh Sam Ciat sianseng, ketika senjata yang tajam itu berkelebat lewat tersiarlah warna perak yang menusuk pandangan.

Sam Ciat sianseng rendahkan tubuhnya ke bawah, dengan cepat pedang aneh di tangannya didorong keluar, cahaya emas segera menyebar ke empat penjuru. Harus diketahui ke-dua jago yang sedang bertempur ini sama-sama memiliki kepandaian yang tinggi dalam hal ilmu pedang, maka dalam pertarungan hanya jurus-jurus yang ampuh dan ganas saja yang dipergunakan, ke-dua belah pihak sama-sama tak berani bertindak gegabah.

Secara beruntun tujuh jurus serangan telah lewat, ke-dua orang itu mulai mempertahankan satu jarak yang tertentu, siapa pun tak berani maju ke muka dan siapa pun tidak berhasil merebut keuntungan dari bentrokan tersebut.

"Hmmm...! Keyakinanmu di dalam permainan pedang ternyata memang luar biasa sekali," ujar Sam Ciat sianseng dengan nada keras, "Pek In Hoei, hampir saja aku menilai dirimu terlalu rendah, sungguh tak nyana kalau engkau dapat mengimbangi permainan pedangku!" "Hmmm! Beberapa jurus seranganmu itu masih belum sampai kupikirkan di dalam hati, Sam Ciat sianseng, engkau harus berhati- hati sebab dalam jurus serangan berikutnya aku hendak mengancam sepasang kakimu, dan jurus itu ganas sekali..."

"Hmmm! Coba saja untuk dilontarkan..."

Sekilas cahaya tajam bagaikan sorotan surya memancar ke tengah udara, Jago Pedang Berdarah Dingin menekuk tubuhnya dan melancarkan serangan gencar ke arah Sam Ciat sianseng.

Menyaksikan betapa dahsyatnya ancaman yang menyerang tiba, Sam Ciat sianseng sangat terperanjat, teringat olehnya bahwa Jago Pedang Berdarah Dingin akan mengancam kakinya, maka dengan cepat hawa murninya disalurkan ke kaki untuk menghadapi segala kemungkinan.

Siapa tahu rupanya gerakan itu hanya merupakan siasat licik dari Pek In Hoei, setelah dilihatnya pihak lawan mempertahankan diri pada bagian kaki, tiba-tiba pedangnya berkelebat ke muka dan mencukil kain kerudung yang menutupi wajah Sam Ciat sianseng.

Sreeet...! Di tengah desingan angin tajam, ujung kerudung yang menutupi wajah Sam Ciat sianseng sudah tersambar hingga tersingkap, Jago Pedang Berdarah Dingin berseru lalu teriaknya :

"Ooooh...! Ternyata engkau... ternyata engkau..."

"Sudah kau lihat semua?" seru Sam Ciat sianseng sambil tertawa seram, dengan cekat dia lepaskan kain kerudung yang menutupi mukanya.

Walaupun di luaran ketua dari organisasi Komplotan Tangan Hitam ini masih bersikap tenang, tetapi hatinya merasa amat terperanjat, dia tak mengira kalau Pek In Hoei berhasil membongkar rahasianya, hawa napas memburu seketika memancar keluar dari balik matanya.

Pek In Hoei tarik napas panjang-panjang, kemudian ujarnya : "Sungguh tak kusangka pemilik Benteng Kiam-poo Cui Tek Li

adalah pemimpin dari Komplotan Tangan Hitam!" Setelah Sam Ciat sianseng melepaskan kain kerudung yang menutupi wajahnya maka muncullah raut wajah dari Cui Tek Li pemilik Benteng Kiam-poo, sambil tertawa seram terdengar ia berkata

:

"Pek In Hoei, setiap kali memandang di atas wajah ibumu aku tidak bersedia membunuh engkau, siapa tahu engkau selalu sama berusaha untuk memusuhi dan menghalang-halangi pekerjaanku, membunuh anggota Komplotan Tangan Hitam ku... Hmmm...Hmmm... malam ini kalau aku tidak cabut jiwa anjingmu ini maka persoalan tentang Komplotan Tangan Hitam pasti akan tersebar di seluruh kolong langit!"

"Tidak aneh kalau Benteng Kiam-poo tidak memperkenankan kawanan Bu-lim untuk mengunjunginya, ternyata di balik kesemuanya itu masih tersembunyi rahasia yang begitu banyak... Poocu, benarkah markas besar dari Komplotan Tangan Hitam adalah Benteng Kiam-poo?"

"Sedikit pun tidak salah!"

"Nama besar bentengmu itu sudah cukup tersohor di kolong langit, aku rasa kau tidak butuh untuk mendirikan satu kekuatan lagi dalam dunia persilatan, aku benar-benar tak habis mengerti dengan kedudukanmu sebagai seorang poocu, apa sebabnya mendirikan pula suatu organisasi yang bertujuan keji dan jahat seperti ini..."

Cui Tek Li mendengus dingin.

"Hmmm! Bukan saja aku hendak merajai seluruh kolong langit, aku pun hendak mengumpulkan barang-barang berharga yang ada di dalam jagad, delapan ekor kuda pualam merupakan salah satu di antara barang berharga yang kuincar..."

"Sekarang rahasiamu sudah terbongkar dan tak mungkin bisa mengelabui orang lain, akan kuberitahukan persoalan ini ke seluruh kolong langit, agar semua kekuatan yang ada di Bu-lim bersama-sama memerangi dirimu serta melenyapkan Benteng Kiam-poo dari muka bumi, waktu itu engkau pasti akan menyesal terhadap perbuatanmu pada hari ini..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... engkau tak akan menjumpai kesempatan seperti itu, sebab sebentar lagi kau bakal menemui ajalmu di tanganku..."

Tiba-tiba ia membentak keras, tubuhnya loncat ke udara dan pedang anehnya dilancarkan ke muka, dalam waktu singkat ia sudah mengirim tujuh delapan buah serangan yang maha dahsyat dan secara terpisah mengancam bagian tubuh Pek In Hoei yang berbeda.

Jago Pedang Berdarah Dingin merasakan hatinya tercekat, ia tak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki Cui Tek Li pemilik Benteng Kiam-poo ini begitu dahsyat dan sempurna, kesempurnaan dalam permainan jurus luar biasa sekali, dia gerakkan pedang mestika penghancur sang surya-nya dan secara beruntun lancarkan pula tiga serangan berantai, setelah bersusah payah akhirnya serangan yang aneh dan sakti itu berhasil juga dihindari.

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia berpikir

:

"Ketika bertempur waktu masih berada dalam Benteng Kiam-poo

tempo hari, tenaga dalam yang dimiliki Cui Tek Li hanya satu kali lipat lebih tinggi dari kepandaianku, apakah waktu itu dia memang sengaja menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya?Dan sekarang di kala aku tidak bersiap segera mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya untuk membinasakan diriku, seandainya demikian keadaannya maka kelicikan orang ini benar-benar tak boleh dipandang enteng..."

Dengan hati tercekat pedang mestika penghancur sang surya-nya membabat ke depan, di kala tubuhnya sedikit merandek itulah tiba- tiba pedangnya menerjang ke tubuh Cui Tek Li.

Jurus serangan ini sangat ganas dan telengas, sama sekali berada di luar dugaan Pemilik dari Benteng Kiam-poo itu.

Cui Tek Li tertegun, kemudian serunya : "Engkau benar-benar luar biasa sekali, ternyata masih mempunyai kemampuan untuk melancarkan serangannya seperti ini...!

Bagaikan hembusan angin puyuh tubuhnya menerobos keluar lewat kurungan bayangan pedang dari Pek In Hoei, menggunakan kesempatan itu pedang anehnya berputar dan membacok punggung si anak muda itu.

"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu..." bentak Pek In Hoei.

Sementara ia bersiap-siap untuk melancarkan tiga jurus pencabut nyawanya, tiba-tiba Cui Tek Li memperdengarkan teriakan yang sangat aneh diikuti tubuhnya mundur ke belakang, ujarnya :

"Pek In Hoei, menang kalah di antara kita berdua tak dapat ditetapkan dalam seratus jurus belaka, sekarang aku tak punya waktu untuk ribut-ribut denganmu lebih jauh, terpaksa akan kusuruh ke- empat orang kepercayaanku untuk melayani engkau...!"

"Hmmm! Kembali engkau akan gunakan cara yang paling rendah dan tak tahu malu dari Komplotan Tangan Hitam!" seru Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

"Terserah apa yang hendak kau katakan, aku sih tak akan ambil peduli dengan ucapan-ucapan itu, bagaimana pun juga pada malam ini engkau tak akan lolos dari cengkeramanku, sekali pun aku tak tahu malu juga tak ada yang tahu..."

Belum habis ia berkata, Mao Bong telah berteriak dari luar ruangan kuil itu:

"Hey orang she-Pek, kau tak pernah menyangka bukan akan menjumpai keadaan seperti hari ini?"

Mao Bong, Thian Goan serta Lan Eng perlahan-lahan munculkan diri dari balik pintu, mereka tertawa dan memandang ke arah si anak muda itu dengan pandangan menghina.

"Mao Bong!" seru Pek In Hoei sambil ayunkan pedang mestika penghancur sang surya-nya, "malam ini engkau pun ak akan lolos dari ujung pedang mestikaku..." "Kentut busuk!" teriak Mao Bong marah-marah, rambutnya berdiri semua bagaikan landak, "kalau aku orang she Mao tidak mampu untuk bereskan seorang bocah cilik macam dirimu, buat apa aku berkeliaran lagi dalam dunia persilatan untuk mencari makan? Heehmmm... heeeehhmm... Pek In Hoei, kemungkinan besar pada malam ini di kuil Toa-ong-bio bakal bertambah lagi dengan sesosok roh penasaran yang bergentayangan di sini..."

"Mao-heng," kata Thian Goan sambil putar pedangnya, "mari kita petik batok kepala keparat cilik ini untuk digunakan sebagai bola sepak... hanya berbuat demikianlah rasa dendam yang terpancar dalam tubuhku bisa dilenyapkan... bukankah begitu Mao heng?"

"Haaaah... haaaah... haaaah... sedikit pun tidak salah, sedikit pun tidak salah... aku memang bermaksud begitu!"

Dia berpaling dan memandang sekejap ke Cui Tek Li, kemudian tanya dengan cepat :

"Ketua, bila kita berhasil melenyapkan keparat cilik ini apakah ada ang-pao untuk kami bertiga?"

"Masih seperti sedia kala, siapa yang berhasil memetik batok kepala keparat cilik ini dialah yang akan mendapatkan barang yang diinginkannya, kalian bertiga boleh berusaha untuk memperebutkan hadiah pertama."

"Ketua!" seru Lan Eng tiba-tiba sambil tertawa keras, "aku harap di samping hadiah khusus engkau pun sudi kiranya untuk menambah dengan sebuah barang lain, pedang mestika penghancur sang surya yang dimiliki keparat ini bagus sekali, bagaimana kalau seandainya kita berhasil membinasakan dirinya maka bukan saja mendapat ang- pao, pedang itu pun boleh kita miliki..."

"Pedang itu tak boleh kalian miliki..." tampik Cui Tek Li sambil geleng kepala.

"Mengapa?" tanya Lan Eng tertegun.

"Akan kubawa pedang itu untuk diserahkan kepada ibunya, kemudian meletakkannya dalam peti selaksa mestika sebab pedang itu cocok sekali kalau disimpan jadi satu dengan ke-delapan patung kuda Giok-ma itu!"

"Haaaah... haaaah... haaaah... baiklah ketua, kalau memang engkau bermaksud begitu, tentu saja kami tak akan berkata apa-apa lagi."

Jago Pedang Berdarah Dingin yang dikepung oleh empat orang jago lihay dalam kalangan dan diolok-olok dengan nada mengejek serta tidak pandang sebelah mata pun terhadap dirinya, hawa amarah kontan berkobar dalam dadanya, hampir saja ia muntah darah saking jengkelnya... dengan menahan rasa benci tiba-tiba pemuda itu menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

Setelah berhenti tertawa, serunya dengan penuh kemarahan : "Ayoh main, siapa yang merasa punya kepandaian silahkan

merebut sendiri pedang ini dari tanganku."

"Hmmm! aku akan menjajal dirimu lebih dahulu..." dengus Thian Goan dengan gusar.

Orang ini benci sekali terhadap si anak muda ini karena sewaktu berada di bukit Siau-in-san dirinya telah dilukai, bersamaan dengan selesainya perkataan itu sang tubuh ikut menerjang ke muka, tangannya bergeletar dan pedang panjang memutar di udara kemudian menusuk ke tubuh si anak muda itu.

Melihat Thian Goan telah melancarkan serangan, Mao Bong ikut melancarkan pula serangan gencar, serunya kepada Lan Eng :

"Jangan biarkan keparat itu punya waktu luang untuk berganti napas, sekali bacok kita bereskan saja keparat ini..."

"Huuuh...! Andalkan jumlah banyak untuk merebut kemenangan, kalian bukan terhitung seorang enghiong..." ejek Pek In Hoei sinis.

Berada di bawah kepungan tiga orang jago lihay itu kendati ia sama sekali tidak merasa jeri, akan tetapi daya tekanan yang mendesak dirinya membuat pemuda itu sukar untuk bernapas, ia merasa andaikata pada malam ini seluruh tenaganya tidak dipergunakan maka untuk melarikan diri bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Apalagi ketika itu Cui Tek Li masih mengawasi jalannya pertarungan dari sudut ruangan, sepasang matanya dengan tajam mengawasi tubuh Pek In Hoei tanpa berkedip, seakan-akan ia hendak telan pemuda itu bulat-bulat.

Setelah meninjau sebentar keadaan situasi yang terbentang di depan matanya, dengan cepat dia mengambil satu keputusan di dalam hati, pikirnya :

"Aku harus menggunakan waktu yang paling cepat untuk melancarkan serangan berantai, salah satu di antara ke-tiga orang jago lihay tersebut harus kumusnahkan salah seorang lebih dahulu, dengan begitu posisi yang menguntungkan baru berada di pihakku..."

Berpikir sampai di sini ia segera membentak keras :

"Sahabat, malam ini aku hendak suruh kalian saksikan sesuatu yang luar biasa..."

Cahaya pedang berkilauan dan dari atas langit menerjang ke arah bawah.

Air muka Mao Bong berubah hebat, teriaknya :

"Dia mau adu jiwa... saudara-saudara, perketat serangan, peduli bagaimana pun juga kita tak boleh membiarkan keparat itu merebut posisi yang baik, kalau tidak...Hmmm... Hmmm... kita bakal terjungkal di tangannya..." DALAM PERMAINAN ILMU PEDANG rupanya ia memiliki keyakinan yang lumayan, maka sekali memandang ia sudah dapat menebak rencana serta tujuan dari Jago Pedang Berdarah Dingin, oleh sebab itulah buru-buru ia peringatkan Thian Goan serta Lan Eng untuk memperketat serangannya sehingga tidak memberi kesempatan bagi lawannya untuk melancarkan serangan balasan.

Lan Eng tertawa seram, ujarnya :

"Jangan kuatir, aku akan tetap menjaga di sudut sebelah sini!"

Permainan pedangnya tiba-tiba berubah, dia segera menyumbat sudut bagian tubuhnya, beberapa kali Jago Pedang Berdarah Dingin berusaha menembusi pertahanannya namun setiap kali usahanya itu selalu mengalami kegagalan, dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat yang dimiliki Lan Eng sebenarnya sama sekali tidak lemah.

Pek In Hoei terkesiap kembali pikirnya :

"Aku harus berusaha keras untuk melenyapkan lebih dahulu salah satu di antara mereka, di antara ke-tiga orang ini ilmu silat yang dimiliki Thian Goan paling lemah... Ehmm... ! Benar aku harus musnahkan dirinya lebih dahulu, dengan begitu sisanya baru bisa kuhadapi secara baik..."

Kembali dia lancarkan sebuah serangan gencar ke arah Lan Eng dengan ilmu pedang penghancur sang surya-nya, tiba-tiba di tengah jalan pedang itu menyeleweng dari arah yang sebenarnya dan menyongsong datangnya tubuh Thian Goan yang kebetulan sedang menerjang ke muka. Serangan itu cepat dan ganas sekali, sama sekali sulit untuk dihindari atau diegosi.

"Aaaah...!" di tengah udara berkumandang suara jeritan lengking yang menyayatkan hati, diikuti darah segar berhamburan ke atas tanah, membuat ruangan kuil yang sudah menyeramkan itu nampak lebih mengerikan lagi...

Batok kepala Thian Goan yang berlumuran darah menggelinding di atas lantai hingga beberapa tombak jauhnya dari tubuh kasarnya, raut wajah yang penuh berdarah itu nampak menyeringai seram, mendatangkan rasa muak bagi siapa pun yang melihat.

Ia dengan membawa rasa dendam dan benci yang belum sampai dilampiaskan keluar telah pulang ke alam baka dan melapor ke hadapan raja akhirat, ia tak dapat merasakan lagi kehangatan tubuh perempuan, tak dapat menyaksikan gemerlapnya intan permata... tak dapat menikmati arak dan sayur... sebentar lagi tubuhnya akan berubah jadi seperangkat tulang belulang tanpa kepala...

Perubahan ini terjadi terlalu cepat dan membuat semua orang sama sekali tak menyangka dan gelagapan, Mao Bong serta Lan Eng sama-sama berdiri menjublak, dalam keadaan begini mereka tak tahu apa yang mesti dilakukan oleh mereka...

Sedangkan Cui Tek Li merasakan hatinya amat sakit sebab kembali ia telah kehilangan seorang pembantu yang diandalkan, ia tak menyangka kalau Thian Goan bakal menemui ajalnya dengan begitu cepat.

Hawa napsu membunuh terlintas di atas wajahnya, dengan air muka berubah hebat bentaknya penuh kegusaran :

"Pek In Hoei, engkau sungguh kejam..."

Bagian 47

JAGO PEDANG BERDARAH DINGIN Pek In Hoei dengan pedang penghancur sang surya di tangan berdiri angker di tengah ruangan kuil, air mukanya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun, sambil memandang kepada Mao Bong serta Lan Eng ujarnya ketus :

"Siapakah di antara kalian yang akan maju lebih dahulu?" "Thian Goan berhasil kau bunuh mati, itu bukan berarti bahwa

kemenangan pasti berada di pihakmu," teriak Cui Tek Li dengan gusar, "Pek In Hoei, jika aku turun tangan sendiri maka pada malam ini engkau tak akan berhasil dapatkan keuntungan apa-apa..."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasakan jantungnya berdebar keras, ia telah mengetahui sampai di manakah kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Cui Tek Li, seandainya berduel satu lawan satu kendati dirinya tidak berhasil merebut kemenangan, sedikit banyak ia masih mampu untuk mempertahankan keseimbangan, tetapi sekarang, kecuali Cui Tek Li seorang masih ada Mao Bong serta Lan Eng dua orang jago lihay, dan ilmu silat yang dimiliki ke-dua orang itu pun luar biasa sekali, gabungan dari tiga orang jago pedang kenamaan bisa dibayangkan betapa luar biasanya keadaan itu... dan tak usah diragukan lagi, dia pasti akan mati konyol di tempat itu...

Berpikir akan untung ruginya,ia tarik napas panjang-panjang lalu berkata setelah tertawa dingin :

"Toa Poocu, malam ini aku telah bertekad tak akan tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, tetapi jika kalian hendak berusah untuk melenyapkan diriku maka pekerjaan tersebut bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang, paling sedikit di antara kalian bertiga ada dua orang di antaranya bakal mati konyol..."

"Hmmm!" Cui Tek Li mendengus dingin, "kau hendak beradu jiwa dengan kami??"

"Sedikit pun tidak salah, berada dalam keadaan seperti ini terpaksa aku harus beradu jiwa, aku percaya dengan kemampuan yang kumiliki paling sedikit dapat menarik dua kali modal yang harus kukeluarkan, Toa Poocu, bagaimana pendapatmu..." Mao Bong jadi teramat gusar sehingga sekujur badannya gemetar keras, ia getarkan pedang di tangannya dan maju dua langkah ke depan, sambil melotot ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin dengan sinar mata penuh kebencian, serunya :

"Kami tak akan melepaskan dirimu pergi dari sini dalam keadaan selamat, sekali pun kau bersiap sedia untuk beradu jiwa belum tentu apa yang kau kehendaki bisa terwujud, Pek In Hoei! Ketahuilah bahwa Komplotan Tangan Hitam bukanlah manusia-manusia yang gampang diganggu, kau telah menyalahi kami maka partai Thiam cong kemungkinan besar akan tersapu rata dengan tanah, itulah harga yang harus kamu bayar karena sifatmu yang sudah mencampuri urusan orang lain."

"Setelah lewat malam ini jika aku belum mati maka aku pasti akan berkunjung kembali ke Benteng Kiam-poo," seru Pek In Hoei nada menghina, "akan kubasmi kalian anggota dari Komplotan Tangan Hitam dan meratakan Benteng Kiam-poo dengan tanah, waktu itu kalian jangan salahkan kalau aku Jago Pedang Berdarah Dingin tak kenal budi..."

Setelah berhenti sebentar, ditatapnya wajah Cui Tek Li dengan pandangan geram, kemudian melanjutkan :

"Dan kau, aku tak akan mengingat semua hubungan kita untuk membinasakan dirimu, Cui Tek Li! Engkau adalah otak dari peristiwa pembunuhan terhadap ayahku, engkau adalah musuh besarku yang terutama, Hoa Pek Tuo... telah menceritakan semuanya kepadaku."

"Ooooh...! Engkau telah berjumpa dengan Hoa Pek Tuo..." seru Cui Tek Li dengan wajah tertegun.

"Ehmmmm...! Bukan saja kami telah berjumpa, tetapi kami telah bicarakan termasuk pula banyak rahasia yang menyelimuti hubungan pribadi kalian berdua, ia telah memberitahukan kesemuanya kepadaku. Pada mulanya aku masih tidak percaya tetapi malam ini setelah kusaksikan dengan mata kepala sendiri semua tingkah lakumu dan ternyata cocok dengan apa yang dia katakan, maka aku percaya bahwa ia sama sekali tidak membohongi aku!"

Ia menghembuskan napas panjang, dengan wajah dingin dan memancarkan rasa dendam lanjutnya :

"Dia pun telah memberitahukan pula kerja sama antara engkau dengan Hoa Pek Tuo..."

Pengalaman yang dimiliki Pek In Hoei pada saat ini boleh dibilang luas sekali, ia telah mengerti bagaimana caranya menggunakan kesempatan yang baik untuk memberikan suatu gertakan batin bagi musuhnya, asal hubungan antara Cui Tek Li dan Hoa Pek Tuo terjadi keretakan karena kesalah-pahaman sehingga tak dapat bersekongkol lagi, itu berarti suatu keuntungan yang amat besar artinya.

Oleh sebab itu dipergunakan suatu siasat yang licik untuk menciptakan rasa gusar, benci dan takut dalam hati Cui Tek Li, agar secara diam-diam dia memaki Hoa Pek Tuo sebagai manusia rendah yang tak tahu malu.

Sedikit pun tidak salah, setelah mendengar perkataan itu air muka Cui Tek Li berubah hebat, ia nampak amat gusar bercampur dendam, dengan sorot mata memancarkan hawa napsu membunuh ia tertawa seram.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kurang ajar, ia berani mengkhianati aku..." teriaknya, setelah memandang sekejap ke arah Mao Bong tegurnya kembali :

"Mao Bong, kapan kau telah berjumpa dengan Hoa Pek Tuo?" "Kemarin malam, Hoa Pek Tuo datang mencari aku dan minta

Poocu dalam keadaan bagaimana pun jangan lepaskan Pek In Hoei, ia bilang dirinya mau berangkat ke Benteng Kiam-poo untuk merundingkan sendiri suatu masalah besar dengan Poocu!"

"Kenapa ia datang tidak mencari aku?" seru Cui Tek Li tertegun. Mao Bong berpikir sebentar, lalu menjawab : "Ia tahu bahwa pada saat ini terjadi sengketa dari poocu dengan Perkumpulan Bunga Merah, dia tidak ingin munculkan diri pada saat ini sehingga mengganggu Poocu..."

Diliriknya sekejap wajah Jago Pedang Berdarah Dingin, kemudian melanjutkan lebih jauh :

"Lagi pula dia tidak ingin bertemu dengan Pek In Hoei dalam keadaan begini..."

"Hmmm! Kurang ajar, ia berani main setan di hadapanku," seru Cui Tek Li sambil mendengus dingin, "ia pasti takut berhadapan tiga orang dengan kami berdua sehingga rahasianya terbongkar, omongnya saja enak benar... bangsat... bangsat..."

"Poocu," seru Mao Bong sambil menggeleng, "tidak pantas kalau engkau bentrok muka dengan Hoa Pek Tuo dalam keadaan seperti ini!"

Cui Tek Li tertawa dingin.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku tahu bahwa antara kamu dengan dirinya mempunyai hubungan persahabatan yang erat, tetapi engkau harus memandang lebih jelas lagi, Hoa Pek Tuo berani meninggalkan kita tanpa memikirkan bagaimana akibatnya, hal ini pastilah dikarenakan hendak mengatur manusia-manusia racunnya yang berada di dalam perkampungan Thay Bie San cung untuk memusuhi kita dari Komplotan Tangan Hitam. Hmmm! Sedari dulu aku sudah tahu kalau orang itu tidak bisa dipercaya, sedikit pun tidak salah... ternyata secara diam-diam ia telah mengacau tindak tanduk Komplotan Tangan Hitam kita..."

"Poocu lebih baik pertimbangkanlah dahulu keputusanmu itu secara masak-masak..." ujar Lan Eng pula dengan alis berkerut, ia memandang sekejap ke arah Pek In Hoei kemudian menambahkan :

"Hati-hati... kalau musuh sedang menjalankan siasat mengadu domba... jangan sampai poocu termakan oleh siasatnya..."

"Tidak mungkin!" jawab Cui Tek Li sambil menggeleng, "seandainya Hoa Pek Tuo tidak memberitahukan segala sesuatunya kepada Pek In Hoei, dari mana ia bisa tahu akan kesemuanya itu. Lagi pula urusan itu hanya diketahui olehku dan Hoa Pek Tuo dua orang belaka."

Teringat akan kelicikan Hoa Pek Tuo di mana semua rahasia mereka telah dibeberkan kepada Jago Pedang Berdarah Dingin, hawa amarah yang sukar dikendalikan segera membakar hatinya, saking benci dan mendongkolnya hampir saja ia muntah darah.

Menggunakan kesempatan itulah Pek In Hoei berkata kembali : "Mengenai rencana besar Poocu untuk melenyapkan pelbagai

partai dari dunia persilatan serta merajai kolong langit, Hoa Pek Tuo telah mengutus orang pula untuk mengabarkan rahasia itu kepada pelbagai partai, saat ini semua aliran sedang mempersiapkan kekuatan intinya untuk bersedia melakukan pertarungan sengit melawan Poocu dan kemudian hari."

Dengan andalkan dugaan hatinya yang jitu ia memberikan kegugupan dan ketidak-senangan bagi Cui Tek Li, Poocu dari Benteng Kiam-poo ini, itulah suatu siasat yang paling jitu di dunia kangouw."

Selama hidupnya Cui Tek Li seringkali mengadu domba orang, mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau pada malam ini bakal jatuh kecundang di tangan Jago Pedang Berdarah Dingin, adu dombanya membuat hawa amarah yang berkobar dalam dadanya sukar dikendalikan lagi, rasa bencinya terhadap Hoa Pek Tuo pun semakin menjadi.

Dengan hati terkesiap Cui Tek Li segera berkata :

"Hoa Pek Tuo tidak akur dengan pelbagai partai dan aliran, mana ia berani mengadakan hubungan dengan pelbagai partai..."

"Poocu jangan lupa bahwa mata-mata dari perkampungan Thay Bie San cung tersebar di mana-mana," ujar Pek In Hoei dengan nada dingin, "asal Hoa Pek Tuo menggunakan sedikit akal, maka para jago lihay dari perkampungan Thay Bie San cung yang menyusup ke dalam tubuh pelbagai partai itu akan menyebarkan kabar berita itu kepada pelbagai aliran..."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." saking gusarnya Cui Tek Li dengan badan gemetar keras tertawa dingin tidak berhenti, "kurang ajar, ternyata Hoa Pek Tuo berani mengkhianati aku, aku telah dikhianati oleh Hoa Pek Tuo... bagus, bagus sekali.. Hoa Pek Tuo! Kalau engkau berani datang ke Benteng Kiam-poo maka akan kubunuh dan kucincang tubuhmu jadi berkeping-keping."

Ia depak-depakkan kakinya ke atas tanah dengan penuh kemarahan, lalu teriaknya kembali :

"Mao Bong, lepaskan merpati dan perintahkan semua saudara kita yang ada di Benteng Kiam-poo untuk menantikan kedatangan Hoa Pek Tuo, asal ia berani memasuki Benteng Kiam-poo maka tangkap dan jebloskan dia ke dalam penjara menunggu aku sudah pulang akan melakukan perhitungan dengan dirinya..."

"Poocu, aku harap engkau suka bertindak dengan hati-hati!" kata Mao Bong gelagapan.

Kontan Cui Tek Li melototkan matanya bulat-bulat.

"Aku saja sudah dikhianati olehnya, apa yang mesti kupikirkan lagi..." teriaknya.

Ia tatap wajah Mao Bong dengan penuh kemarahan, senyuman sinis tersungging di ujung bibirnya, lalu menambahkan :

"Apakah kau masih belum melupakan kebaikan yang pernah diberikan Hoa Pek Tuo kepadamu?

"Poocu, apa maksudmu mengatakan demikian?" seru Mao Bong dengan badan gemetar keras, "aku orang she Mao toh anak buahmu, mana aku berani membangkang dan melawan atasan sendiri? Hanya saja urusan ini luar biasa sekali, sekali salah bertindak maka akan mengakibatkan pertempuran sengit antara Benteng Kiam-poo dengan perkampungan Thay Bie San cung, pada waktu itu bukankah dunia persilatan..." "Hmmm! aku yakin pihak perkampungan Thay Bie San cung tidak memiliki kemampuan untuk berbuat begitu. Mao Bong! Kalau memang engkau tak sudi bentrok muka dengan Hoa Pek Tuo, aku tak akan memaksa dirimu, sekarang perintahkan semua saudara dari Komplotan Tangan Hitam untuk berkumpul di Benteng Kiam-poo, aku ada urusan yang hendak disampaikan kepada mereka..."

"Poocu," kata Lan Eng dengan wajah tertegun, "apakah Komplotan Tangan Hitam tidak jadi memburu Perkumpulan Bunga Merah dan membasminya dari muka bumi..."

Cui Tek Li menggeleng.

"Sekarang semua rahasia dari Komplotan Tangan Hitam telah disebar-luaskan oleh Hoa Pek Tuo dalam dunia persilatan, kita tak bisa tancapkan kaki lagi dalam dunia persilatan, dan semua rencana kita pun hancur berantakan sampai di sini saja. Aaaai... sungguh tak nyana Hoa Pek Tuo bisa bertindak begitu!"

"Poocu, apakah engkau akan tinggalkan usaha yang dibangun dan diperjuangkan dengan susah payah ini?" tanya Lan Eng kembali dengan wajah termangu-mangu.

"Aaaa....! Apa yang bisa kulakukan lagi? Apa dayaku kecuali berbuat demikian? Aku tak dapat membiarkan ke-dua orang anakku mengetahui akan rahasia ini, dan aku pun tak ingin nama besar dari Benteng Kiam-poo musnah karena peristiwa ini..."

Dia melirik sekejap ke arah Pek In Hoei dan menambahkan : "Untuk sementara waktu aku akan lepaskan dirimu, aku harus

pulang dulu membereskan sedikit persoalan, lain kali kalau engkau sampai terjatuh kembali ke tanganku, maka tiada kebahagiaan dan keuntungan seperti hari ini."

"Hmmm! Itu toh urusan di kemudian hari," seru Pek In Hoei sambil mendengus dingin, "jika engkau berani melakukan kejahatan lagi dengan Komplotan Tangan Hitam-mu, maka aku pun tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja..." "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kita lihat saja nanti," jengek Cui Tek Li sambil tertawa dingin.

"Poocu!" tiba-tiba Mao Bong berteriak sambil ayun pedangnya, "masa kematian dari Thian Goan kita biarkan dengan begitu saja? Andaikata kita tidak melenyapkan bajingan cilik ini pada malam ini, maka kesulitan yang akan kita temui di kemudian hari tentu akan lebih besar..."

"Benar Poocu, jangan lepaskan dia," seru Lan Eng pula dengan air muka serius, "aku hendak menagih nyawanya untuk membalas kematian dari Thian Goan, kalau tidak kami dari Komplotan Tangan Hitam merasa tak punya lagi muka untuk berjumpa dengan kawan- kawan Bu-lim di seluruh kolong langit..."

"Tentang soal ini..." seru Cui Tek Li dengan alis berkerut, dengan pandangan dingin ia melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin, kemudian melanjutkan :

"Baiklah, kalian berdua boleh segera turun tangan untuk melenyapkan dirinya dari muka bumi, jangan biarkan ia lolos dari sini..."

"Terima kasih Poocu," jawab Mao Bong sambil memberi hormat, "hamba pasti akan berusaha sekuat tenaga."

Sambil tertawa Cui Tek Li mengangguk, sesudah melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin perlahan-lahan ia berjalan keluar dari ruang tengah kuil itu.

Tindakan itu kontan membuat Lan Eng dan Mao Bong jadi geregetan, mereka tetapi menyangka kalau secara tiba-tiba Cui Tek Li bisa mengundurkan diri dari tempat itu.

Keadaan mereka pada saat ini bagaikan menunggang di atas punggung harimau, mau turun tak bisa mau tetap duduk pun sungkan, apalagi mereka tahu bahwa musuhnya adalah Jago Pedang Berdarah Dingin, seketika itu juga membuat ke-dua orang jago lihay dari kalangan hitam ini jadi serba salah, untuk beberapa saat lamanya mereka tak tahu apa yang mesti dilakukan. Baru saja bayangan punggung dari Cui Tek Li lenyap dari pandangan, terdengarlah suaranya berkumandang datang :

"Jika kalian berdua tidak berhasil memenggal batok kepala dari Pek In Hoei, sejak hari ini tak usah datang menjumpai diriku lagi..."

Ucapan ini tentu saja berada di luar dugaan ke-dua orang jago lihay itu sehingga mereka semakin tertegun.

Dengan hati tercekat Mao Bong berpikir dalam hatinya : "Tindakan dari Poocu ini bukankah berarti hendak

mengorbankan jiwa kami berdua? Terang-terangan ia tahu kalau dengan andalkan kekuatanku serta kekuatan Lan Eng tak mampu menandingi Pek In Hoei, tapi sengaja ia berbuat begitu..."

Ia melirik sekejap ke arah Lan Eng, kemudian katanya :

"Lan-heng, terpaksa kita harus mengeluarkan segenap tenaga untuk membereskan bajingan ini."

"Benar, kalau kita berdua tak mampu untuk menaklukkan keparat cilik ini, maka mulai hari ini kita pun tak usah bertemu dengan orang lagi..."

Ia tarik napas panjang-panjang lalu angkat pedang dengan penuh keseriusan, dalam waktu singkat ke-dua orang itu dari arah yang berlawanan telah menerjang ke arah Pek In Hoei.

"Hmmm...! Rupanya kalian berdua benar-benar sudah bosan hidup..." seru si anak muda itu sambil mengegos ke samping.

Ia menyadari bahwa ke-dua orang jago lihay itu bukan manusia sembarangan, untuk melenyapkan mereka berdua dalam waktu singkat jelas bukan suatu pekerjaan yang gampang, diam-diam hawa murninya disalurkan ke ujung pedang sehingga timbullah keluar dengungan nyaring yang memekakkan telinga.

Dalam waktu singkat ke-tiga orang itu sudah saling bergebrak sebanyak dua tiga puluh jurus banyaknya..."

Perlahan-lahan Cui Tek Li berjalan keluar dari kuil Toa-ong-bio meninggalkan ke-tiga orang jago yang sedang bertempur sengit, sekilas rasa bangga tersungging di ujung bibirnya... Belum habis ia melamun, tiba-tiba air mukanya berubah hebat... karena secara mendadak ia temukan seorang gadis berdiri di bawah sebuah pohon sambil memandang ke arahnya dengan pandangan penuh kegusaran.

Cui Tek Li tertegun, lalu katanya :

"It-boen lengcu, kenapa engkau pun datang kemari?" "Hmmm...! Aku sedang menyaksikan permainan setan apakah

yang sedang dilakukan oleh manusia yang paling licik di kolong langit pada malam ini..."

"Kau maksudkan diriku?"

It-boen Pit Giok mendengus dingin.

"Hmmm! Siapa yang licik dialah yang kumaksudkan, apakah toa poocu adalah seorang manusia licik?" katanya.

Cui Tek Li jadi naik pitam, dengan gusar serunya :

"Apa yang telah kau lihat? Berani benar mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh..."

It-boen Pit Giok tertawa dingin.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku saksikan kematian dari Thian Goan, menyaksikan pula Mao Bong sera Lan Eng akan mati. Toa Poocu! Bukankah beberapa orang itu adalah anak buahmu? Kenapa engkau tidak membantu orang sendiri malahan lari keluar seorang diri..."

"Hmmm! Itu urusan pribadiku..."

"Tentu saja urusan pribadi Komplotan Tangan Hitam kalian, dan dengan diriku sama sekali tak ada hubungannya," jengek gadis itu sinis, "cuma ditinjau dari urusan sekecil ini bisa terlihat betapa bahaya dan liciknya engkau jadi manusia, orang seperti engkau mana mampu untuk merajai kolong langit? Kau cuma pandai melampiaskan rasa dendam pribadi, kau tak pernah menilai sampai di manakah kesetiaan dari anak buahmu, asal seseorang berani membangkang perintahmu maka engkau segera berusaha keras untuk melenyapkan dirinya..."

"Apa maksudmu?" Cui Tek Li semakin gusar. "Hmmm! Gampang sekali, aku lihat engkau menginginkan Mao Bong serta Lan Eng sama-sama menemui ajalnya di tangan Jago Pedang Berdarah Dingin, perbuatanmu ini benar-benar mengagumkan sekali..."

"Setelah engkau tahu mau apa..." jengek Cui Tek Li sambil tertawa dingin.

Tiba-tiba It-boen Pit Giok menengadah dan tertawa terbahak- bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... tentu saja tak bisa apa-apa, Mao Bong serta Lan Eng suka mati dengan cara bagaimana mereka boleh mati dengan cara disukainya, apa sangkut pautnya dengan diriku? Cuma, caramu membunuh orang ini dengan cepatnya akan tersiar di kolong langit..."

"Tidak salah cara pembunuhanku ini akan segera tersiar di kolong langit," kata Cui Tek Li setelah berpikir sebentar, "It-boen lengcu, aku hendak membubarkan Komplotan Tangan Hitam, selamanya organisasi itu tak akan muncul kembali dalam dunia persilatan..."

"Bukankah hal itu dikarenakan putra dan putrimu..."

"Dari mana engkau bisa tahu akan rahasia ini?" teriak Cui Tek Li dengan hati terperanjat setelah mendengar perkataan itu.

Senyuman dingin tersungging di ujung bibir It-boen Pit Giok. "Jangan lupa bahwa anggota Perkumpulan Bunga Merah tersebar

di seluruh kolong langit, semua tindak tandukmu ada orang yang telah melaporkan kepadaku, aku pun tahu apa sebabnya engkau tak berani menjumpai orang dengan raut wajah aslimu, hal ini disebabkan karena engkau tak mau kalau sampai putrimu mengetahui bahwa mereka punya seorang bapak yang suka melakukan kejahatan..."

"Hmmm...! Tebakanmu cuma benar separuh..."

"Kalau begitu biarlah kutebak pula separuh bagian yang lain..." kata It-boen Pit Giok, setelah berpikir sebentar lanjutnya, "bukankah disebabkan karena binimu?"

Sekujur badan Cui Tek Li gemetar keras saking kagetnya. "Aaaah...! Semua rahasiaku telah engkau ketahui..." teriaknya. It-boen Pit Giok tertawa dingin.

"Meskipun engkau sangat mencintai binimu, tetapi ia selalu tidak puas dengan tingkah lakumu, karena ia telah dirampas dari tangan suaminya dan karena engkau pernah membinasakan suaminya, di hadapanmu ia memang menghormati dan menuruti dirimu tetapi di dalam hati ia sangat membenci dirimu, apalagi sekarang putranya yang berkelana dalam dunia persilatan telah mendatangkan ancaman besar bagimu..."

"Ehmmm... aku pun tahu bahwa dia tidak cinta kepadaku, dan tahu pula kalau ia sangat membenci diriku, peduli bagaimana pun pandangannya terhadap aku, selama hidup aku tak akan menyusahkan dirinya lagi, ketika berada di Benteng Kiam-poo ia mohon kepadaku agar jangan membunuh Pek In Hoei."

"dia tidak tahu kalau engkau mengorganisasikan Komplotan Tangan Hitam untuk menguasai kolong langit..?" sela It-boen Pit Giok.

Cui Tek Li menggeleng.

"Tidak tahu, aku tak ingin dia mengetahui akan persoalan ini, aku tak rela kehilangan segala-galanya dan tak rela melepaskan mereka... hal ini aku berani membuktikannya di hadapanmu..."

"Hmmm! Tapi Pek In Hoei sudahtahu kala engkau adalah musuh besar pembunuh ayahnya, meskipun engkau mencintai ibunya tetapi setiap saat engkau berusaha untuk mencelakai jiwa pemuda itu, aku tahu tujuanmu bukan lain adalah untuk mengangkangi ibunya, dan melenyapkan ancaman yang membahayakan keselamatanmu..."

"Hmmm!" Cui Tek Li mendengus berat, dengan wajah penuh napsu membunuh katanya :

"Aku tak akan jeri terhadap Pek In Hoei, asal dia punya kemampuan untuk mencari aku maka pasti aku akan membinasakan dirinya... Hmmm... bagaimanakah tindakanku? Aku rasa engkau pasti mengetahui lebih jelas..." Blaaaam !

Dari tengah ruang kuil yang sedang berlangsung pertarungan tiba-tiba berkumandang datang suara bentrokan keras, tanpa terasa It- boen Pit Giok serta Cui Tek Li berpaling ke arah pintu kuil.

Tampaklah Lan Eng dengan badan sempoyongan lari keluar dari kuil tersebut, tubuhnya basah kuyup bermandikan darah, rambutnya kusut dan kacau tak karuan, pedang dalam genggamannya tinggal separuh sementara matanya dengan penuh ketakutan melototo ke angkasa, suara btuk tiada hentinya berkumandang memecahkan kesunyian.

Setelah lari maju beberapa langkah lagi ke depan dengan sempoyongan, tiba-tiba ia terjungkal dari atas undak-undakan dan menggeletak tak berkutik lagi, rupanya jago lihay itu telah menemui ajalnya.

"Aaaah...! Lan Eng telah mati..." bisik Cui Tek Li dengan air muka berubah hebat.

"Kejadian ini bukankah berarti bahwa salah satu harapan hatimu telah terpenuhi " sambung It-boen Pit Giok dengan dingin.

Meskipun Cui Tek Li ada maksud membiarkan Lan Eng serta Mao Bong menemui ajalnya di tangan Jago Pedang Berdarah Dingin, tetapi bagaimana pun juga dia adalah anak buahnya yang telah banyak tahun mengikuti dirinya, karena itu menyaksikan kematian dari Lan Eng, timbullah rasa gusar yang tak tertahan dalam hati kecilnya.

"Siapa yang bilang " teriaknya.

"Hmmm! Mau apa kau bersikap begitu galak terhadap diriku?" kata It-boen Pit Giok dengan ketus, "Cui Tek Li ketahulah manusia yang paling licik di kolong langit adalah engkau, setiap orang yang tenaganya telah engkau pergunakan tentu kau usahakan pembunuhan terhadap dirinya dengan meminjam tangan orang lain, dan malam ini cara lama tersebut kau pergunakan lagi, apakah aku telah salah bicara. " "Engkau sama sekali tidak salah, yang salah adalah mengapa engkau bertemu dengan aku. Hmmm... hmmm... secara beruntun anak buahku telah beberapa orang menemui ajalnya, bagaimana pun jug aku harus carikan sedikit pokok untuk membeli peti mati bagi mereka. Heeeeh... heeeeh... heeeeh... It-boen Pit Giok malam ini adalah saatnya bagi kita untuk membereskan soal hutang piutang antara Komplotan Tangan Hitam dengan Perkumpulan Bunga Merah."

"Ooooh! Jadi engkau hendak menantang aku untuk berduel?" jengek It-boen Pit Giok sambil tertawa dingin.

Cui Tek Li segera ayukan tangannya ke depan, di atas telapak kanannya tiba-tiba memancar keluar selapis cahaya terang berwarna hitam, dengan wajah diliputi napsu membunuh ia melotot ke arah It- boen Pit Giok dengan penuh kegusaran, serunya :

"Kau anggap aku tak berani melayani dirimu? Heeeeh... heeeeh... heeeeh... It-boen Pit Giok, dahulu aku tak ingin bentrok muka dengan dirimu, hal tersebut dikarenakan di belakang tubuhmu masih ada tiga orang yang bertindak sebagai tulang punggungmu, dengan andalkan kekuatan dari Benteng Kiam-poo kami masih belum mampu untuk menghadapinya, akan tetapi sekarang... ketiga orang telur busuk tua di belakangmu itu sudah tak perlu ditakuti lagi, kenapa aku mesti jeri kepadamu?"

It-boen Pit Giok tertawa dingin.

"Kau anggap mereka benar-benar bersumpah tak akan munculkan diri lagi di dalam dunia persilatan?"

Perkumpulan Bunga Merah pimpinannya berani menentang Komplotan Tangan Hitam sebagian besar bukanlah dikarenakan jumlah anggota Perkumpulan Bunga Merah jauh lebih kuat dari orang-orang Komplotan Tangan Hitam, yang paling utama adalah takutnya Cui Tek Li terhadap orang dari luar lautan, oleh sebab itu Cui Tek Li selalu berusaha untuk menghindari gadis itu dan tak berani bentrok langsung dengan dirinya, ia takut karena kejadian itu maka akibatnya akan memancing kehadiran dari Hay gwa Sam-sian... Tetapi bulan berselang secara tiba-tiba Tiga Dewa dari Luar Lautan telah menyatakan bahwa selama hidup mereka akan mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi, bahkan segera pulang ke luar lautan dan bersumpah tak akan menginjakkan kakinya di daratan Tionggoan lagi, hal inilah yang membuat rasa takut Cui Tek Li seketika lenyap tak berbekas.

Setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya pemilik dari Benteng Kiam-poo ini segera menukas :

"Apakah perkataan mereka ibaratnya kentut busuk..."

"Hmmm! Suhu dan supekku bukan manusia semacam itu, meskipun mereka telah bersumpah tak akan menginjakkan kakinya di daratan Tionggoan lagi, tetapi mereka tidak mengatakan bahwa anak muridnya tak boleh munculkan diri dalam dunia persilatan. Selama aku It-boen Pit Giok masih berada di sini, aku sama saja masih mampu untuk menaklukkan dirimu..."

"Haaaah... haaaah... haaaah..." Cui Tek Li tertawa seram, "dengan andalkan kemampuan yang kumiliki, kenapa aku jeri terhadap budak ingusan macam engkau? Hehhmm... Heehhmmm... kau jangan terlalu pandang rendah diriku, dayang ingusan, perhitungan sie-poa mu kali ini keliru besar... di kolong langit langit kecuali tiga orang tua bangka yang tidak mati-mati dari luar lautan, tak ada orang yang kutakuti lagi..."

Telapak kanannya berputar di udara dan segera muncullah segulung angin pukulan yang santer dengan dahsyat angin serangan tadi menerjang ke tubuh gadis tersebut.

"Rasakanlah pukulan Tui-hiat-ciang ku..." teriaknya.

Meskipun angin pukulannya yang dipancarkan amat dahsyat, tetapi bila mengenai di tubuh orang sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit barang sedikit pun juga, akan tetapi hawa pukulan itu akan memaksa bergolaknya darah dalam tubuh manusia hingga menyebabkan pembekuan dan menggumpal jadi satu. Namun kelihayannya bukan terletak pada hal itu saja, aliran darah manusia dalam tubuhnya akan mengalir secara terbalik dan tidak sampai setengah jam kemudian dari tujuh lubang inderanya akan mengucur darah hingga akhirnya mati.

Kepandaian tersebut-lah merupakan ilmu telapak andalannya, cuma saja tak pernah dipergunakannya secara sembarangan kecuali telah bertemu dengan musuh tangguh.

Bagaikan selembar daun kering yang melayang di udara, dengan lincah It-boen Pit Giok melayang di udara lalu berkata sambil tertawa

:

"Ilmu telapak semacam ini belum tentu lihay dan luar biasa..."

Di luar saja gadis itu bicara enteng, padahal dalam kenyataan telapak lawan laksana sambaran kilat telah membabat keluar, tubuh Cui Tek Li bagaikan sesosok sukma gentayangan menyusul ke depan, dari telapak ia rubah jadi cengkeraman dan mencakar tubuh gadis itu.

Bagaikan seekor ular lincah It-boen Pit Giok berkelejit dan menghindar ke samping.

"Poocu...!"

Tiba-tiba dari balik ruang kuil berkumandang keluar jeritan keras yang mengandung rasa gelisah dan ngeri, Mao Bong dengan sepasang mata memancarkan sinar merah serta wajah memancarkan rasa ketakutan lari keluar dengan sempoyongan, darah segar mengucur keluar dari atas dadanya.

"Hey, jangan lari!" teriak Jago Pedang Berdarah Dingin sambil menyusul dari belakang.

"Mao Bong... Mao Bong..." teriak Cui Tek Li tertegun, dengan cepat ia melayang turun ke atas tanah.

Sekujur badan Mao Bong gemetar keras, teriaknya : "Poocu..."

Cepat Cui Tek Li maju menyongsong ke depan, tetapi baru saja tubuhnya bergerak tiba-tiba Jago Pedang Berdarah Dingin sambil ayun pedangnya telah menyerah ke arahnya, hal ini membuat jago lihay dari Benteng Kiam-poo mundur ke belakang dengan ketakutan.

"Apa maksudmu?" bentaknya dengan gusar.

Napsu membunuh terlintas di atas wajah Pek In Hoei, bentaknya

:

"Mao Bong, apa yang kau katakan tadi apakah sungguh-sungguh

terjadi..."

"Mao Bong apa yang telah kau katakan kepadanya?" tegur Cui Tek Li dengan wajah tertegun.

Dengan penuh penderitaan Mao Bong mengerang kesakitan, sekujur badannya gemetar keras... tiba-tiba ia menubruk ke depan sehingga pedang menembusi lambungnya hingga tembus ke belakang, jawabnya dengan suara terpatah-patah :

"Poocu, aku... aku dippaa... dipaksa untuk mengatakan bagaimana ayahnya mati..."

Weess...! Cui Tek Li ayun telapaknya menggaplok, Mao Bong jatuh terjengkang ke atas tanah, makinya :

"Kau bajingan telur busuk..."

Sekujur badan Mao Bong gemetar keras, serunya dengan sedih : "Poocu... poocu... kau..."

Belum habis dia berkata tiba-tiba jago lihay she-Mao itu muntah darah segar, setelah melotot sekejap ke arah Cui Tek Li dengan pandangan dendam, ia hembuskan napasnya yang terakhir dan menyelesaikan perjalanannya yang singkat di alam dunia.

"Cui Tek Li," bentak Pek In Hoei dengan gusar, "sebenarnya bagaimanakah ayahku bisa mati? Ayoh jawab..."

"Engkau toh sudah mengetahui kesemuanya, apa yang mesti ditanyakan lagi..." sahut Cui Tek Li dengan hati bergidik.

"Serahkan nyawamu...! Aku tidak akan melepaskan dirimu lagi..."

"Hmmm! Aku tidak percaya kalau engkau bisa membunuh aku..." Pada saat ini seluruh benak Jago Pedang Berdarah Dingin telah dibakar oleh hawa amarah yang sukar dikendalikan lagi, dengan penuh kemarahan ia berteriak keras :

"Kentut busuk, aku bersumpah akan membinasakan dirimu..."

Pedang mestika penghancur sang surya bergeletar di tengah udara menciptakan berkuntum-kuntum bunga pedang, lalu dibacoknya ke atas tubuh Cui Tek Li, saat ini rasa bencinya terhadap pemilik dari Benteng Kiam-poo ini sudah tidak terbendung lagi, serangannya sama sekali tak kenal belas kasihan, jurus-jurus serangan yang ampuh dan ganas dilancarkan berulang kali.

"Pek In Hoei, maaf, aku tak bisa menemani dirimu lagi..." seru Cui Tek Li tiba-tiba sambil berpaling.

Tangannya diayun ke belakang, dan... Blaaam! Kabut tebal yang menutupi seluruh jagad seketika menyelimuti sekeliling tempat itu membuat bayangan tubuh mereka bertiga tertutup rapat di balik kabut tersebut.

Suasana jadi gelap gulita dan apa pun tidak nampak termasuk pula bintang yang bertaburan di langit, di tengah tebalnya asap ketiga orang itu sama-sama menutup pernapasan dan sedikit suara pun tak berani dikeluarkan...

Jago Pedang Berdarah Dingin merasa di balik asap hitam itu tersiar bau harum yang sangat eneg, ketika dicium lebih keras kepalanya seketika terasa jadi pening, sepasang matanya kontan berubah jadi merah berapi, dengan penuh bernapsu ia mencari bayangan dari musuhnya di balik tebalnya asap...

Tiba-tiba dari samping kiri terdengar suara dengusan napas yang lirih. Pek In Hoei segera loncat ke depan sambil ayun pedangnya, ia membentak keras :

"Cui Tek Li, engkau hendak lari ke mana..." "Aaaaah! "

Dari balik asap yang tebal berkumandang jeritan kaget dari It- boen Pit Giok seolah-olah gadis itu telah berjumpa dengan setan, jeritan itu membuat Pek In Hoei tersentak kaget dan segera tarik kembali pedangnya.

"Nona It-boen, nona It-boen..." serunya.

"Oooh! Engkau telah mengejutkan diriku..." seru It-boen Pit Giok sambil tarik napas panjang.

Perlahan-lahan ia menggeserkan tubuhnya, Pek In Hoei yang berada di balik asap tebal secara lapat-lapat mulai bisa melihat jelas bayangan tubuhnya, ia segea loncat ke depan sambil bertanya :

"Ke mana larinya rase tua itu?"

It-boen Pit Giok tidak menjawab, tiba-tiba ia menjerit kaget sambil serunya :

"Aduh celaka, ia melepaskan kabut pemabok cinta..."

Dari balik kabut yang tebal terdengarlah Cui Tek Li tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya begitu dingin dan mengerikan bagaikan jeritan setan atau sukma gentayangan, ketika terdengar dalam pendengaran terasa nyeri dan mengakibatkan bulu kuduk pada bangun berdiri.

"Apakah yang engkau tertawakan?" teriak Pek In Hoei. "Hmmm! Selamanya engkau tak akan berhasil mengejar diriku,

Pek In Hoei... Kabut pemabok cinta yang kubuat sendiri ini tak ada yang bisa mempertahankan diri, baik-baiklah lewatkan malam yang indah ini di sini serta nikmatilah sorga dunia yang belum pernah kau cicipi..."

Perkataan itu makin lama semakin lirih dan akhirnya hilang dari pendengaran, beberapa kali Jago Pedang Berdarah Dingin akan melakukan pencarian atas tempat persembunyian dari Cui Tek Li, akan tetapi setiap kali pula dia temu kegagalan, namun pemuda itu tidak putus asa dicarinya sekeliling tempat itu dengan seksama."

"Aaaai..!" akhirnya terdengarlah It-boen Pit Giok menghela napas panjang, "engkau tak usah membuang pikiran dan tenaga dengan percuma, setelah kabut pemabok cinta dilepaskan maka gampang sekali membuat perasaan orang jadi keliru, ia bersembunyi di sebelah kiri maka engkau akan mengira di kanan, nasib kita berdua telah ditentukan pada malam ini!"

"Apa maksudmu!" tanya Pek In Hoei tertegun.

"Maukah engkau mengawini diriku sebagai istrimu?" tanya It- boen Pit Giok dengan suara sedih.

"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau katakan?" seru Pek In Hoei tertegun, "nona It-boen, mengapa secara tiba-tiba kau ajukan pertanyaan seaneh itu? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang hendak kau lakukan..."

"Aaaaaai...." kembali It-boen Pit Giok menghela napas sedih, "sekali pun engkau tak mau juga tak bisa, kesemuanya ini Cui Tek Li- lah yang memberikannya kepada kita, kau mau pun aku tak dapat menghindarkan diri lagi, sekali pun kita ada maksud untuk berbuat begitu..."

Dari kabut hitam yang menyelimuti tempat itu, secara lapat-lapat Jago Pedang Berdarah Dingin dapat menangkap rambut It-boen Pit Giok yang hitam mulus, pakaiannya yang berwarna hijau serta biji matanya yang bening serta memancarkan rasa cinta yang lembut itu. Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasakan jantungnya berdebar keras, ia merasa segumpal hawa panas yang aneh muncul

dari pusarnya dan merambat naik ke atas.

Gejala yang sangat aneh ini membuat hatinya terperanjat, buru- buru ia mundur dua langkah ke belakang, pandangannya jadi gelap akan tetapi raut wajah It-boen Pit Giok yang cantik tak dapat terhapus dari benaknya.

Ia tak habis mengerti apa sebabnya pada malam ini ada gejala aneh yang melekat di benaknya, ia merasa golakan hawa panas dalam tubuhnya berubah jadi suatu tenaga baru dan ia merasa dalam waktu singkat membutuhkan sekali sesuatu untuk melampiaskan tenaganya tadi.

Ia tertegun dan pikirnya di dalam hati : "Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa sadar keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya, penderitaan yang dialaminya pada saat ini sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan merupakan satu pengalaman aneh yang belum pernah dialami sebelumnya, ia merasa dalam hatinya timbul suatu kebutuhan... semacam gaya tarik menarik antara lawan jenis yang berbeda...

"Aaaai...! In Hoei kemarilah," It-boen Pit Giok berbisik sambil menghela napas sedih.

Pada saat ini benak Pek In Hoei kosong melompong, ia merasa sepatah kata yang diucapkan It-boen Pit Giok mendatangkan daya tarik yang amat besar sehingga membuat pemuda itu tanpa sadar maju ke depan.

Air muka It-boen Pit Giok berubah jadi bersemu merah, rasa cinta dan birahi terpancar keluar dari balik matanya... begitu cantik dan ayu mempesonakan hati membuat Pek In Hoei hampir saja tak mampu menguasai diri...

"In Hoei, cintakah engkau kepadaku?" bisik gadis itu dengan suara lembut.

"Aku..." Pek In Hoei termangu-mangu.

Pada saat ini benaknya sudah terpengaruh oleh kebutuhan aneh yang mengganggu jalan pikirannya, ia tak tahu apa yang mesti dijawab, ia memandang ke arah gadis itu dengan sinar mata penuh birahi, ia berharap bisa temukan perbedaan yang menyolok antara pria dan wanita... ia mengincar bagian terrahasia dari gadis itu.

Empat mata saling bertemu satu sama lainnya, ke-dua belah pihak sama-sama membungkam dalam seribu bahasa...

Tetapi dari balik sorot mata itulah mereka temukan saling pengertian, rasa cinta, saling membutuhkan serta birahi... ke-dua belah pihak mulai menggeserkan tubuhnya serta berusaha membongkar rahasia yang menyelimuti perasaan aneh dalam tubuh mereka.

Dalam waktu singkat suasana yang diliputi cinta dan birahi menyelimuti ke-dua orang muda mudi ini, mereka saling menyatakan kebutuhan lewat pancaran sinar mata yang aneh...

Perlahan-lahan It-boen Pit Giok meletakkan tangannya yang halus di atas bahu pemuda itu sambil menatap wajahnyaia berbisik :

"In Hoei... kekasihku..."

Bau harum yang semerbak berhembus lewat di atas wajah Pek In Hoei dan masuk lewat lubang hidungnya, ia tarik napas panjang- panjang... bau harum yang aneh dari dari gadis itu memberikan dorongan yang lebih kuat pada tenaga panas dalam tubuhnya, ia gelengkan kepala dan berseru :

"Ooooh! Harum sekali..."

Ketika rambut yang hitam menyampok wajahnya karena terbawa angin malam, Pek In Hoei merasakan jantungnya berdebar keras, ia jadi mabok oleh cinta dan tanpa sadar menggenggam tangan putih dan halus itu... kelembutan dan kehalusan tangan gadis itu hampir saja membuat Pek In Hoei jadi kalap dan memeluk tubuhnya erat-erat.

"Jangan berbicara," bisik It-boen Pit Giok dengan lirih, "marilah kita nikmati kehangatan yang sedang kita rasakan sekarang..."

"Engkau mabok..." ujar pemuda itu.

It-boen Pit Giok membuka matanya dan tertawa ringan. "Apakah engkau mendusin..." jawabnya.

Di tengah keheningan, ke-dua orang itu terbawa oleh arus cinta serta birahi yang kian lama kian menebal... dengan cepatnya mereka terseret ke alam yang lain, saat ini mereka saling membutuhkan, saling memadu cinta...

Perlahan-lahan Pek In Hoei memeluk pinggangnya, It-boen Pit Giok sambil memejamkan mata jatuhkan diri ke dalam pelukannya, sepasang bibir yang merah dan mungil perlahan-lahan diangkat ke atas menyongsong datangnya bibir dari pemuda itu... Bibir bertemu bibir... hati bertemu hati... sepasang muda mudi itu saling berpelukan dan saling berciuman melepaskan rasa cinta yang tengah bergelora dalam dada mereka...

Pek In Hoei mendekap tubuh gadis itu makin kencang, bisiknya : "Pit-Giok ku sayang.. aku butuh..."

"Kau butuh apa?"

"Aku butuh itu..." jawab Pek In Hoei tertegun.

"Itu... itu apa?" tanya It-boen Pit Giok sambil membuka matanya dan pipi bersemu merah karena jengah.

"Kau..."

Tiba-tiba It-boen Pit Giok teringat sesuatu, ia merasa birahi yang berkobar dalam dadanya tak dapat dikendalikanlagi, ia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Pek In Hoei serta ingin sekali cepat-cepat melebur jadi satu dengan pemuda itu.

Pada saat ini dara ayu tersebut telah lupa segala-galanya,lupa kalau dia adalah gadis... lupa kalau ia masih gadis perawan yang belum pernah dijamah orang... saat ini kesombongan dan keangkuhannya telah lenyap, pikirannya kosong melompong... yang ada hanya napsu birahi serta keinginannya untuk sesuatu...

Pakaian satu demi satu ditanggalkan mulai dari pakaian luar... gaun... penutup dada... celana dan akhirnya gadis itu berada dalam keadaan telanjang bulat...

Pek In Hoei yang di hari-hari biasa selalu berwajah dingin, sinis terhadap gadis, kini telah berubah sama sekali... bagaikan harimau kelaparan diterkamnya gadis itu... dijamahnya sekujur badan dara itu... mulai dari atas kepala... payudara, perut, lekukan antara paha daam...daam.

Tidak berselang berapa saat, mereka berdua telah berada dalam keadaan bugil... mereka saling tindih menindih... saling bergumul dan.. saling bergoyang pinggul...

Gerakan tubuh mereka mula-mula perlahan-lahan lalu bertambah kencang dan akhirnya memburu bagaikan larinya kuda... Asap hitam yang tebal menutupi seluruh jagad... tubuh mereka yang saling bergumul mulai lenyap ditelan kegelapan... yang terdengar tinggal dengusan napas yang memburu...

Keluhan kesakitan... percikan darah membasahi lantai... rintihan kenikmatan.. serta dengusan napas memburu bercampur aduk menjadi suatu rangkaian peristiwa yang menghangatkan badan...

Kesemuanya tak bisa dicegah lagi, semuanya telah berlangsung dengan cepat. Mabok... keletihan... kepuasan serta beberapa macam perasaan bercampur baur di atas wajah ke-dua orang muda mudi itu.

Rambut It-boen Pit Giok jadi kusut, pakaiannya sudah tercecer di atas tanah... ia tertidur dalam pelukan Pek In Hoei dengan penuh kenikmatan serta kepuasan...

Jago Pedang Berdarah Dingin yang angkuh dan tinggi hati tak dapat tertidur nyenyak... ia merasa seakan-akan baru saja mengalami satu impian buruk dan sekarang baru saja mendusin dari impian tersebut.

"Aku... mengapa aku begitu tolol? Mengapa kulakukan kesemuanya ini?"

Siapa yang salah? Pertanyaan ini sulit untuk dijawab baik oleh Pek In Hoei maupun gadis itu.

It-boen Pit Giok tersadar kembali dari tidurnya ketika mendengar jeritan yang amat keras itu, tatkala ia menyaksikan segala sesuatu yang terbentang di depan mata, sadarlah ia bahwa apa yang telah terjadi... ia tahu bahwa kemarin malam kesucian dan seluruh tubuhnya telah dipersembahkan untuk pemuda itu.

Dia... adalah kekasih yang dicintainya.

Gadis itu sama sekali tidak merasa menyesal, dia merasa bahwa seorang gadis bilamana dapat memberikan kesucian dan tubuhnya kepada orang yang dicintainya, hal ini merupakan sesuatu yang suci dan murni...

"Kenapa engkau?" bisiknya lirih. Pek In Hoei tak berani memandang ke arah gadis itu, sambil tundukkan kepala ia menghela napas panjang.

"Kita semua telah bersalah..." katanya.

Air mata mengembang dalam kelopak mata It-boen Pit Giok, katanya dengan sedih :

"Kejadian ini tak dapat salahkan dirimu, atau pun salahkan diriku. In Hoei...! Tahukah engkau apa yang telah dilakukan Cui Tek Li sebelum meninggalkan tempat ini? Kabut tebal yang menyelimuti tempat ini bukan lain adalah bubuk obat pemabok cinta yang mendatangkan birahi bagi siapa pun yang menciumnya, semua orang tak dapat menghindarkan diri dan siapa pun tak akan kuat mempertahankan diri. Ketika ketemu gejala tersebut, keadaan telah terlambat... In Hoei, bila engkau benci kepadaku, aku tak akan membuat dirimu malu jadi orang... aku bisa tinggalkan dirimu dan pergi seorang diri."

"Tidak!" seru Pek In Hoei sambil menggeleng, "aku sama sekali tidak membenci dirimu, aku sedang membenci pada diriku sendiri. Pit-Giok! Peristiwa ini telah terjadi, menyesal pun tak ada gunanya... aku adalah seorang yang berwatak terbuka, setelah berbuat salah harus dirubah, aku tetap akan bertanggung jawab atas perbuatan ini, aku tak akan membiarkan engkau malu hidup sebagai manusia."

"In Hoei!" karena terharunya It-boen Pit Giok melelehkan air mata, "engkau agung... dan maha besar... selama hidup aku akan selalu mencintai dirimu..."

"Criiing...!" tiba-tiba terdengar suara pekikan naga, diikuti cahaya pedang memancar keluar dari pergelangan tangan Pek In Hoei, dengan keren ia pegang pedang mestikanya dan memandang ke angkasa.

"In Hoei, kau..." teriak gadis itu dengan terkejut. Pek In Hoei menghela napas panjang.

"Aku hendak angkat sumpah di hadapan langit dan bumi, bila tidak kubunuh Cui Tek Li dengan tangan sendiri aku bersumpah tak akan berhenti berusaha. Pit-Giok, aku hendak menyusul ke Benteng Kiam-poo dan menarik keluar ekor dari si rase tua itu..."

"Pergi ke Benteng Kiam-poo? Kau hendak mencari kematian buat dirimu sendiri?" teriak It-boen Pit Giok dengan amat terkejut.

Pek In Hoei menggeleng.

"Tidak! Aku hendak mencabut nyawa rase tua itu, aku pergi ke Benteng Kiam-poo untuk membalas dendam, sudah terlalu banyak hutang Cui Tek Li terhadap keluarga Pek kami, ia telah membinasakan ayahku, memperkosa ibuku dan sekarang mencelakai pula dirimu."

Dengan sedih ia melanjutkan :

"Manusia semacam ini tak boleh dibiarkan tetap hidup di kolong langit, sebab kalau tidak entah berapa banyak orang yang bakal celaka di tangannya lagi?"

"Baiklah, mari kita berangkat bersama-sama..." ujar It-boen Pit Giok dengan wajah serius, "tetapi engkau harus mendengarkan perkataan, kalau tidak kita semua bakal jatuh kecundang di dalam Benteng Kiam-poo... In Hoei aku minta engkau suka mendengarkan perkataan, sekali ini saja..."

Sambil tertawa getir Pek In Hoei mengangguk.

"Engkau adalah istriku, tentu saja aku harus mendengarkan perkataanmu," katanya.

Fajar telah menyingsing, ke-dua orang muda mudi itu berjalan di jalanan yang sunyi... tinggalkan kabut yang tebal dan menuju ke Benteng Kiam-poo... bayangan tubuhnya kian mengecil hingga akhirnya lenyap di kejauhan...

******

Benteng Kiam-poo

Bangunan tersebut masih tetap berada di tempat semula, sungai pelindung benteng, loteng pengamat serta jembatan penyeberang masih tetap seperti sedia kala, sedikit pun tidak berubah. Dipandang dari luar, bangunan benteng itu memang seperti sedia kala dan sama sekali tak berubah, tetapi sejak Cui Tek Li kembali ke dalam benteng dalam kenyataan Benteng Kiam-poo telah mengalami perubahan yang amat besar, perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan dari seluruh anggota benteng tersebut.

Lima hari setelah Cui Tek Li kembali ke bentengnya, ia melakukan persiapan dengan seksama kemudian seorang diri berdiam dalam ruang tengah sambil berjalan mondar mandir seperti sedang memutuskan suatu masalah yang amat besar.

Lama sekali... tiba-tiba dari balik biji matanya yang sadis terlintas hawa napsu membunuh yang tebal, dia menengadah memandang bunga di atas pot lalu berpikir :

"Bila seseorang selalu ragu-ragu untuk bertindak atau tidak tega turun tangan secara kejam, maka sepanjang masa dia akan hidup dalam kebimbangan, untuk segala sesuatunya terpaksa aku tak boleh sangsi atau ragu-ragu lagi..."

"Pengawal..." akhirnya ia bertepuk tangan dan berteriak.

Kongsun Kie perlahan-lahan tampil ke depan, setelah memberi hormat tanyanya :

"Poocu, ada urusan apa?"

"Undang Hoa Pek Tuo datang menemui diriku..." "Baik!"

Tidak selang beberapa saat kemudian Kongsun Kie mengiringi Hoa Pek Tuo yang licik munculkan diri dalam ruangan itu, Cui Tek Li segera ulapkan tangannya mengundurkan Kongsun Kie.

Setelah dalam ruangan itu tinggal dua orang, Hoa Pek Tuo tertawa mengakak dan berkata :