Imam Tanpa Bayangan I Jilid 44

 
Jilid 44

"BAGAIMANA PUN juga aku tak bisa mandah menerima saja atas semua pemberianmu tanpa memberi sedikit balas jasa," sambung Hee Giong Lam lebih jauh, "engkau telah paksa diriku untuk menelan obat gila, maka sudah sewajarnya kalau kuhadiahkan pula bubuk beracun tak berwujud agar kau keracunan tanpa terasa, kalau kuperhitungkan maka keadaan kita adalah seimbang, sama-sama tidak beruntung dan sama-sama tidak merasa dirugikan."

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, kemudian tambahnya : "Dalam keadaan begini, aku jadi ingin sekali untuk bertukar

syarat dengan dirimu."

"Huuh...! Tauke gede, harga yang engkau ajukan terlalu tinggi, aku tak punya kegembiraan untuk melakukan penawaran," sela Hoa Pek Tuo dengan wajah sinis.

Hee Giong Lam jadi tertegun mendengar ucapan itu, serunya : "Apakah engkau sudah tak sayang lagi dengan selembar

jiwamu?"

"Aku sangat baik dan aku merasa dalam keadaan sehat wal'afiat, racun tak berwujudmu tak mampu melukai diriku, kenapa aku harus membicarakan pertukaran syarat dengan engkau? Lo Hee, aku lihat kau benar-benar sudah edan."

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " dari balik matanya yang licik dan menyeramkan terpancar keluar sorot mata yang menggidikkan hati, dengan nada ketus tambahnya : "Racun tak berwujudmu sekarang benar-benar sudah lenyap tak berwujud lagi, aku sama sekali tidak merasakan apa-apa saudara Hee! Aku rasa untuk kali ini daya kemampuan racun hebatmu itu sudah lenyap dan tak berguna lagi."

"Aaah...! Tidak mungkin, hal itu tidak mungkin bisa terjadi," sahut Hee Giong Lam sangat yakin, "ilmu racunku telah kudalami selama banyak tahun, tak mungkin daya kemampuannya bisa hilang, aku tak percaya kalau seranganku barusan telah menemui kegagalan total."

"Tapi kenyataan membuktikan begitu," tukas Hoa Pek Tuo sinis, "kali ini engkau benar-benar telah jatuh kecundang di tanganku."

Kenyataan yang terbentang di depan mata kali ini seketika membuat sang Rasul Racun jadi tertegun dan berdiri melongo, ia memperhatikan sekujur tubuh Hoa Pek Tuo dengan pandangan tajam, sedikit pun tidak salah ia benar-benar tidak menemukan ada tanda- tanda keracunan pada tubuh lawannya.

Sang hati terasa tercelos, hampir saja ia tak percaya kalau di kolong langit ternyata ada orang yang mampu memecahkan kehebatan racun tak berwujudnya, lama sekali ia berdiri menjublek tanpa sanggup berbuat sesuatu apa pun, keadaannya bagaikan bola yang kehabisan udara, semangatnya hilang sama sekali.

"Aku tidak percaya!" bisiknya dengan hati sangsi. Hoa Pek Tuo tertawa dingin.

"Haaaah... haaaah... haaaah... sekali pun kau tidak percaya kali ini harus mempercayainya juga sebab kenyataan memang demikian," katanya, "agar engkau merasa yakin dan percaya bahwa aku benar- benar tidak keracunan terpaksa aku harus carikan akal untuk menunjukkan suatu bukti yang menunjukkan bahwa aku benar tidak keracunan."

"Coba kau gigit sendiri jari tanganmu, maka keracunan atau tidak segera dapat kubuktikan," seru Hee Giong Lam dengan nada gemetar.

Hoa Pek Tuo tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... itu terlalu merepotkan, juga terlalu sadis, asal kuperlihatkan suatu benda kepadamu maka engkau akan segera mengetahui apa sebabnya aku tidak sampai keracunan."

Perlahan-lahan ia rentangkan tangan kirinya dan muncullah sebuah mutiara sebesar telur ayam dari balik tangannya.

"Aaaah...! Mutiara penolak racun," bisik Hee Giong Lam dengan nada gemetar.

Mutiara itu memancarkan sekilas cahaya yang bening dan bersih, di antara bersihnya kilatan cahaya tersebut nampaklah seberkas bayangan kabut yang amat tipis.

Hoa Pek Tuo segera masukkan kembali mutiara itu dalam genggaman tangannya, lalu sambil tertawa seram berkata :

"Haaaah... haaaah... haaaah... racun keji tak berwujudmu telah ketemu batunya."

Sekujur badan Hee Giong Lam gemetar keras, telinganya mendengung dan dadanya jadi sesak seakan-akan terhantam oleh martil yang amat berat, keringat dingin mengucur keluar membasahi sekujur badannya, dengan penuh penderitaan ia menjerit keras, rambutnya pada berdiri semua bagaikan landak, keadaannya hingga lebih menakutkan dari setan iblis, siapa pun tak ada yang tahu mengapa secara tiba-tiba ia jadi berubah begini rupa, berubah jadi begitu menyeramkan.

Buih mulai memancar keluar dari mulutnya, mendadak sambil menengadah ke udara teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak :

"Haaaah... haaaah... haaaah... Aku puas sekali."

Melihat keadaan lawannya, Hoa Pek Tuo mengerutkan alisnya, ia berbisik :

"Ooooh...! Kadar obat yang kuberikan telah mulai bekerja, Lo Hee jangan salahkan kalau aku bertindak kejam terhadap dirimu."

Ia tahu di bawah tekanan batin yang amat hebat, Hee Giong Lam tak mampu menguasai diri lagi sehingga kekuatan anti racun yang terdapat di dalam tubuhnya kehilangan kontrol, oleh sebab itulah obat gila yang ia berikan segera mulai bekerja dan menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.

Kesadaran Hee Giong Lam kian lama kian bertambah kalut dan kacau, hasrat yang besar untuk mempertahankan diri sudah tak mampu mengendalikan kesemuanya ini, ia mulai menarik dan mencabuti rambut sendiri, teriakan-teriakan aneh berkumandang memenuhi angkasa, bukan begitu saja Rasul Racun dari Perguruan Selaksa Racun ini mulai melompat dan mencak-mencak di atas tanah.

Melihat kejadian itu, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak bisa menahan diri lagi, matanya berubah jadi merah berapi, darah panas bergolak dalam dadanya, hampir saja ia berteriak keras.

"Ayoh kita turun tangan," bisiknya kemudian, "bajingan tua itu terlalu jahat, harus diberi pelajaran yang setimpal!"

Tapi Wie Chin Siang dengan cepat menggeleng.

"Kau tak boleh bersuara di tempat ini banyak sekali jalan rahasia, asal ia menemukan kehadiranmu di tempat ini maka bajingan tua itu akan melarikan diri dan engkau selamanya tak akan berhasil menemukan dirinya lagi."

"Apakah kita harus menyaksikan Hee Giong Lam dibikin gila olehnya tanpa berusaha untuk menolong," seru Pek In Hoei dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

Wie Chin Siang tertawa getir.

"Lalu apa yang bisa kau lakukan? Gilanya Hee Giong Lam lantaran ia telah menelan obat gila, siapa pun tak boleh menolong dirinya lagi, sekali pun sekarang kau lompat turun ke bawah juga tak ada yang bisa kau lakukan, malahan mungkin sekali Hoa Pek Tuo bakal kabur lebih dahulu dari tempat ini."

Pek In Hoei tertegun.

"Apakah di tempat ini tiada jalan terus lainnya?" ia bertanya. "Jalan tembus sih banyak sekali, hanya aku tak tahu jalan yang

mana yang bisa tembus sampai ke tempat ini," jawab Wie Chin Siang sembari menggeleng, "satu-satu-nya jalan yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah bersabar dan bersabar terus, bila kesempatan baik sudah tiba maka kita turun tangan bersama untuk menolong dirinya."

"Kesempatan... kesempatan kita harus menunggu sampai kapan kesempatan itu baru datang," seru si anak muda itu dengan gusar.

Tiba-tiba ia menemukan bahwa gua di atas tebing itu bisa dituruni, cuma karena jaraknya dengan dasar tanah terlalu dalam untuk beberapa saat lamanya ia tak berani menempuh bahaya tersebut, terpaksa pemuda itu harus putar otak mencari akal.

Hee Giong Lam sudah gila dan kesadarannya telah hilang sama sekali, ia berlarian dan melompat ke dalam gua sambil berteriak-teriak keras, keadaannya begitu mengenaskan membuat siapa pun yang menyaksikan keadaan tersebut jadi ikut bergidik hatinya.

Yang lebih mengerikan lagi adalah sambil berteriak ia menarik dan mencabut rambut sendiri, wajahnya dicakar dan dipukuli sendiri hingga penuh berdarah.

Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa Pek Tuo segera memerintahkan ke-empat orang pria anak buahnya untuk mengundurkan diri ke samping, ia tahu bahwa waktunya sudah cukup, sambil menotok jalan darah kesadaran Hee Giong Lam bentaknya dengan suara keras :

"Hey sahabat, tenangkan hatimu."

Daya kerja obat gila itu ternyata ada batas waktu yang tertentu, setelah kalap dan menggila beberapa waktu lamanya perlahan-lahan kesadaran Rasul Racun dari Perguruan Selaksa Racun itu pulih kembali seperti sedia kala, tetapi lewat beberapa waktu kemudian sakit gilanya akan kambuh kembali.

Begitulah, setelah jalan darah kesadarannya tertotok maka Hee Giong Lam pun sadar kembali dari gilanya, dengan suara gemetar ia segera berseru :

"Aku kenapa?"

"Kau sudah edan!" jawab Hoa Pek Tuo sinis. Di kala kesadarannya telah pulih kembali tadi rupanya Hee Giong Lam sudah melihat akan keadaan dirinya yang mengenaskan itu, hawa amarah kontan berkecamuk dalam benaknya, dengan suara keras teriaknya :

"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu?"

Kesempatan ini boleh dibilang merupakan suatu peluang yang sukar ditemukan, tiba-tiba ia putar badan dan menerjang ke arah Hoa Pek Tuo dengan suatu gerakan yang nekad.

Kakek berhati keji itu terkejut, ia tak menyangka musuh akan bertindak nekad seperti itu, karena ketakutan buru-buru ia meloncat mundur sejauh tujuh delapan langkah dari tempat semula.

"Apa yang hendak kau lakukan," bentaknya marah.

Tubrukan yang dilakukan dalam keadaan kalap dan mata gelap itu benar-benar luar biasa sekali, setelah meleset menubruk mangsanya ia lanjutkan terjangannya ke depan dan akhirnya menubruk di atas tiang batu yang berdiri di sana, sepasang tangannya mencengkeram tiang batu itu kencang-kencang sambil mencabutnya dari atas tanah ia berteriak :

"Hoa Pek Tuo... Hoa Pek Tuo..."

Sesudah pikirannya kalut kembali, benda apa pun sudah tak dikenal lagi olehnya, dalam waktu singkat tiang batu itu sudah tercabut lepas, setelah dibanting ke tanah Hee Giong Lam menubruk tiang batu itu lalu menghajarnya dengan penuh bernapsu.

Hoa Pek Tuo tertawa seram, dia tahu bahwa kesempatan baginya untuk menyiksa musuhnya sudah tidak banyak lagi, ia bertepuk tangan tiga kali.

Seorang pria kekar dengan wajah ketakutan segera maju ke depan, ujarnya :

"Majikan, kau ada urusan?"

"Gusur kemari budak ingusan itu!" bentak Hoa Pek Tuo dengan suara dingin.

"Baik!" Pria kekar itu buru-buru putar badan dan berlalu, tidak lama kemudian ia telah muncul kembali sambil membawa seorang gadis yang cantik jelita dengan sifat yang masih polos.

Begitu melihat munculnya gadis itu Jago Pedang Berdarah Dingin yang menyembunyikan diri di tempat itu jadi terperanjat, tubuhnya gemetar keras sekali.

"Siok Peng," bisiknya lirih, "ternyata dia pun masih berada di sini."

"Dia adalah kekasihmu yang pertama," kata Wie Chin Siang dengan hati yang pedih.

Jago Pedang Berdarah Dingin sama sekali tidak menggubris perkataan dari Wie Chin Siang itu, sorot matanya dengan tajam menatap ke bawah, sikap ini tentu saja menjengkelkan hati gadis itu sehingga tanpa terasa ia mendengus dingin dan tidak bicara lagi, air mata tampak mengembang dalam kelopak matanya.

Sementara itu dengan langkah yang gemetar Kong Yo Siok Peng telah berjalan masuk ke dalam gua yang lembab dan dingin itu, tiba- tiba ia melihat seorang manusia aneh dengan rambut yang terurai dan wajah penuh berdarah sedang berjingkrak-jingkrak di situ, hal ini membuat dia jadi ketakutan dan segera mundur beberapa langkah ke belakang.

"Siapakah dia?" serunya dengan suara gemetar.

"Masa engkau tak bisa mengenali siapakah orang itu?" dengus Hoa Pek Tuo dengan suara dingin, "Hmmm... hmmm... masa ayah angkatmu pun tidak kau kenali lagi?"

"Aaaah...!" Kong Yo Siok Peng menjerit keras, nadanya bagaikan tertusuk oleh dua bilah pedang yang tajam membuat dia gemetar keras, bagaikan kalap tubuhnya segera menerjang maju ke depan.

"Ayah... ayah... kenapa kau berubah jadi begini rupa..." teriaknya dengan suara gemetar.

"Jangan maju, kau tak boleh ke situ!" mendadak Hoa Pek Tuo menghadang di hadapannya. Kong Yo Siok Peng tertegun, wajahnya telah basah oleh air mata, saking gusarnya ia mengirim satu pukulan keras ke atas tubuh rase tua she Hoa itu, namun tubuhnya segera tergetar keras hingga mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.

"Apa dosa ayah angkatku? Ada permusuhan apa antara dia dengan engkau? Kenapa kau celakai dirinya sehingga menjadi begitu rupa?" bentaknya penuh kegusaran.

Sambil tertawa Hoa Pek Tuo menggeleng.

"Aku sama sekali tidak mencelakai dirinya, dia sendirilah yang menjadi gila. Siok Peng! Aku tahu bahwa engkau adalah seorang anak baik, juga seorang anak yang sangat berbakti, sekarang aku ingin bertanya kepadamu, kau berharap bisa menolong ayahmu atau tidak?"

Sikapnya pada saat itu berubah jadi lunak, halus dan hangat sekali, seakan-akan seorang kakek tua yang berbaik hati.

Kong Yo Siok Peng yang sedang kebingungan karena melihat ayah angkatnya berubah jadi gila, sama sekali tidak mempunyai pendirian, mendengar kakek she Hoa itu mempunyai cara untuk mengobati penyakit ayahnya, dia segera berhenti menangis dengan biji mata yang jeli dan bulat ditatapnya wajah Hoa Pek Tuo tanpa berkedip tapi dalam hati kecilnya masih tetap tidak percaya.

"Benarkah engkau mempunyai cara untuk menolong ayah angkatku?" ia bertanya.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... tentu saja, asal aku Hoa Pek Tuo sudah menyanggupi maka semua urusan akan menjadi beres dengan sendirinya, percayalah kepadaku, penyakit edan yang diderita ayah angkatmu itu pasti dapat kusembuhkan."

Kong Yo Siok Peng jadi teramat girang buru-buru serunya : "Kalau engkau mampu menyembuhkan sakitnya ayah angkatku,

tolonglah dia, tolong sembuhkan penyakitnya."

"Tentu saja akan kutolong, tapi sebelum kutolong dirinya maka ada beberapa pertanyaan ingin kuajukan lebih  dahulu kepadamu, persoalan ini menyangkut soal mati hidup dari ayah angkatmu, maka engkau harus beritahu kepadaku dengan sejujurnya."

Dengan cepat Kong Yo Siok Peng mengangguk.

"Asal engkau sanggup menyembuhkan sakit gila yang diderita ayah angkatku, maka persoalan apa pun akan kuberitahukan kepadamu, sekarang silahkan engkau ajukan pertanyaanmu itu, asal aku tahu tentu akan kuberitahukan kepadamu."

Hoa Pek Tuo termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya

:

"Bukankah sejak kecil kau dibesarkan oleh ayah angkatmu?

Banyak urusan yang diketahui ayah angkatmu tentu diketahui pula olehmu bukan? Nah! Semua pertanyaan yang hendak kutanyakan adalah dalam rangkaian persoalan yang menyangkut tentang ayah angkatmu."

"Cepat ajukan pertanyaanmu itu," seru Kong Yo Siok Peng sambil membelalakkan matanya bulat-bulat, "aku bisa berusaha keras untuk memberitahukan kepadamu."

"Bagus sekali!" seru Hoa Pek Tuo sambil mengangguk, "ayah angkatmu suka melatih pelbagai ilmu beracun dan suka pula melakukan percobaan terhadap makhluk-makhluk beracun, tahukah engkau tentang sejenis benda beracun yang disebut Jit-li-biau-hiang?" Sayang usia Kong Yo Siok Peng masih terlalu muda, ia belum tahu tentang kelicikan serta kepalsuan hati orang di dunia, mendengar Hoa Pek Tuo mengajukan pertanyaan tentang Jit-li-biau-hiang, ia menduga bahwa benda itu pastilah merupakan sejenis bunga atau

suatu macam barang pusaka, ia lantas termenung dan berpikir keras. "Nak ketahuilah bahwa Jit-li-biau-hiang merupakan benda yang

penting sekali dan menyangkut tentang keselamatan ayah angkatmu," ujar Hoa Pek Tuo lagi dengan suara serius, "sakit edannya itu baru bisa disembuhkan bila terdapat Jit-li-biau-hiang tersebut, coba pikirlah baik-baik, pernahkah ayah angkatmu membicarakan tentang hal tersebut dengan dirimu." Yang dipikirkan Kong Yo Siok Peng pada saat ini hanyalah bagaimana caranya menolong Hee Giong Lam dari sakit edannya, ia tidak menduga kalau Hoa Pek Tuo mempunyai tujuan lain, menyaksikan orang itu bicara dengan sungguh-sungguh, gadis itu segera merasa bahwa urusan serius sekali.

Setelah termenung sebentar ia lantas berkata : "Kalau begitu, biarlah aku pikir sebentar!"

Dia adalah seorang anak kecil yang masih polos dan kekanak- kanakannya belum hilang, apa yang dipikir segera dilakukan, sambil berdiri di tengah kalangan ia termenung dan berpikir keras, seluruh perhatiannya ditujukan pada kata Jit-li-biau-hiang tersebut. 

Melihat keseriusan dan kesungguhan gadis itu berpikir, Hoa Pek Tuo tidak berani mengganggu ketenangannya, ia tahu satu-satunya harapan baginya untuk mendapatkan Jit-li-biau-hiang hanya terletak di atas pundak gadis ini, sebagai seorang manusia licik yang pandai melihat gelagat, Hoa Pek Tuo sadar bahwa inilah satu-satunya kesempatan yang dia miliki, dengan pandangan tegang bercampur kuatir ditatapnya wajah Kong Yo Siok Peng tanpa berkedip.

"Aaaah... aaaah... aaaah..."

Suara dari teriakan aneh yang keras tajam dan mengerikan berkumandang keluar dari mulut Hee Giong Lam yang berada di belakang Hoa Pek Tuo, teriakan aneh tersebut menggusarkan hati kakek licik itu, dia takut teriakan-teriakan itu akan mengacaukan pikiran Kong Yo Siok Peng.

"Eeei... apa yang kau teriakkan?" bentaknya penuh kegusaran sambil berpaling.

Setelah mencak-mencak dan berteriak kalap tadi Hee Giong Lam sudah kehabisan tenaga dan letih sekali, tetapi setelah beristirahat sebentar sakit edannya kambuh kembali, sambil berteriak-teriak aneh ia rentangkan tangannya dan menerjang ke arah kakek licik itu.

"Pembunuhan... pembunuhan..." teriaknya keras-keras. Hoa Pek Tuo terperanjat melihat keadaan lawannya yang mengerikan bagaikan setan itu, buru-buru telapak tangannya diputar dan melancarkan satu pukulan ke depan.

"Orang edan," teriaknya dengan gusar, "masa terhadap putri sendiri pun tidak kenal."

"Blaaam... ! Segulungan tenaga pukulan yang maha dahsyat menghantam dada Hee Giong Lam membuat tubuhnya mundur ke belakang dengan sempoyongan dan punggungnya menumbuk di atas dinding, seluruh ruangan seketika bergetar keras, debu dan pasir berguguran ke atas tanah, dan membentuk selapis kabut tipis.

Setelah terjadi benturan yang amat keras itu, Hee Giong Lam terkapar di atas tanah sambil terengah-engah, seluruh otot hijaunya pada menonjol keluar, dengan sekuat tenaga ia berteriak aneh, tangannya mencakar di udara kosong dan tertawa terbahak-bahak.

"Jangan bergerak lagi," bentak Hoa Pek Tuo dengan suara dingin, "hati-hati aku bisa menghajar dirimu sampai mati!"

Ia memandang sekejap ke arah Kong Yo Siok Peng, lalu ujarnya

:

"Nak, pernahkah ayah angkatmu memberikan semacam barang

kepadamu, seperti kitab catatan ilmu pukulan atau ilmu pedang, atau juga kitab ilmu racun dari ciangbunjin Perguruan Selaksa Racun yang lampau..."

"Aaaah! Sekarang aku teringat sudah!" tiba-tiba Kong Yo Siok Peng berseru tertahan.

Air muka Hoa Pek Tuo berubah jadi amat tegang, tanya cepat- cepat:

"Kau sudah teringat benda macam apakah itu?"

"Ayah angkatku pernah beritahu kepadaku bahwa di dalam sebuah botol yang besar berisi catatan berbagai macam resep racun sakti yang selamanya dirahasiakan dan tidak diturunkan kepada siapa pun!" "Apakah di antaranya terdapat yang bernama Jit-li-biau-hiang," tanya Hoa Pek Tuo dengan wajah berseri-seri.

Kong Yo Siok Peng mengangguk.

"Ada. Di atas tiap resep tercatat nama dan tulisan, aku tidak mengerti tulisan apa saja yang terdapat di situ, tapi aku masih teringat sebagian di antaranya."

"Sekarang botol besar itu berada di mana?" tanya kakek licik berhati keji itu dengan cepat.

Kong Yo Siok Peng tertawa. "Botol itu berada di..."

Belum habis ia berkata tiba-tiba dari arah belakang muncul sebuah tangan besar yang mencengkeram bajunya kencang-kencang, cengkeraman yang dilakukan secara tiba-tiba itu membuat dara tersebut jadi amat terkejut dan segera menjerit lengking.

"Aaaah..."

Sementara itu Hee Giong Lam sudah angkat tubuh Kong Yo Siok Peng tinggi-tinggi, sepasang tangannya mencekik leher gadis itu keras-keras, dengan mata memancarkan sinar liar dan wajah mengerikan ia berteriak keras-keras :

"Kubunuh engkau! Kubunuh engkau!"

Hoa Pek Tuo tidak menyangka kalau Hee Giong Lam bakal melakukan tindakan seperti itu, hatinya tercekat. Ia takut Kong Yo Siok Peng benar-benar mati tercekik oleh jepitan tangan Hee Giong Lam yang sangat kuat itu, telapak kanannya segera diayun ke muka mengirim satu pukulan, bentaknya keras-keras:

"Orang edan, lepaskan dia!"

Serangan itu dengan telak bersarang di tubuh Hee Giong Lam membuat Rasul Racun itu terlempar ke belakang dan jatuh terjengkang di atas tanah, meskipun begitu sepasang tangannya masih mencekik leher Kong Yo Siok Peng kencang-kencang, teriaknya :

"Hoa Pek Tuo... Hoa Pek Tuo..." "Aaaauuuh..." pekikan panjang berkumandang keluar dari mulut Kong Yo Siok Peng yang kecil, setelah berkelejot sebentar tubuhnya tak berkutik lagi.

Hoa Pek Tuo tidak mengira kalau peristiwa yang kemudian terjadi sama sekali di luar dugaannya, sementara ia hendak melancarkan serangan lagi, tiba-tiba dari balik goa di atas dinding melayang turun sesosok bayangan manusia yang tinggi besar.

"Siapa kau?" bentak Hoa Pek Tuo dengan suara keras. "Hmmm...!" dengusan dingin bergema memecahkan kesunyian.

Setelah bayangan hitam itu melayang turun ke atas tanah, ia meluncur ke sisi tubuh Hee Giong Lam dan merampas Kong Yo Siok Peng dari dalam cekalannya.

Dengan air mata jatuh berlinang pemuda itu memandang wajah sang gadis yang mulai menguning dengan penuh kesedihan ia menggoncang-goncang tubuh dara itu, teriaknya dengan suara gemetar :

"Siok Peng! Siok Peng!"

Sungguh kasihan gadis yang begitu polos, begitu cantik dan begitu menawan hati harus menemui ajalnya di tangan ayah angkatnya sendiri, kejadian ini benar-benar di luar dugaan dan merupakan suatu peristiwa yang sadis sekali, tapi takdir telah menentukan demikian, siapa yang dapat merubah nasib manusia?"

Gadis yang begitu cantik, begitu polos untuk selamanya tak dapat buka suara lagi, ia tak akan mengerti akan penderitaan lagi, ia tak akan kenal kegembiraan dan kesedihan, tubuhnya bakal ditemani oleh tanah liat serta bunga yang harum.

Dengan penuh kesedihan Jago Pedang Berdarah Dingin berteriak keras, gadis itu adalah kekasihnya yang pertama, karena dia pemuda itu tidak segan untuk lompat turun dari tempat begitu tinggi dengan menempuh bahaya. Tapi terlambat, cuma terlambat satu langkah saja mengakibatkan binasanya seorang gadis, benarkah takdir menentukan begitu. Hanya dia seorang yang tahu.

Sementara itu Hee Giong Lam juga sedang berteriak, gelak tertawanya begitu tajam dan mengerikan sekali, di samping tertawa dia pun menangis, membuat siapa pun tak dapat membedakan, ia sedang tertawa atau menangis? Sungguh kasihan Rasul Racun yang maha hebat ini, karena kurang hati-hati merubah nasibnya jadi buruk, mungkin inilah hukum karma yang harus ia terima, bukan saja perbuatannya telah memusnahkan diri sendiri, dia pun telah membinasakan putri angkatnya yang cantik dan menarik.

Hoa Pek Tuo rase tua yang licik dan ganas bagaikan serigala itu akhirnya berhasil melihat jelas siapakah yang telah datang, hatinya tercekat dan saking takutnya air muka kakek itu berubah sangat hebat.

"Oooh... kau!" bisiknya.

Mendadak ia berpaling, Jago Pedang Berdarah Dingin dengan mata memancarkan cahaya yang menggidikkan hati dan penuh kemarahan sedang melotot ke arahnya.

Ketika empat mata bertemu jadi satu, terpancarlah napsu membunuh dan cahaya penuh dendam dari balik cahaya mata pemuda itu.

"Hmmm! Bagus sekali perbuatanmu itu," seru Pek In Hoei dengan suara ketus.

Hoa Pek Tuo tertawa getir.

"Akibat yang tragis ini bukanlah tanggung jawabku, kau tak bisa menyalahkan diriku, siapa yang menduga kalau Hee Giong Lam bakal melakukan tindakan brutal seperti itu, perbuatannya dilakukan terlalu cepat, begitu cepat sampai kesempatan bagiku untuk melakukan pertolongan pun tak ada."

"Hmmm!" dengusan dingin yang berat dan menyeramkan berkumandang keluar dari balik hidung Pek In Hoei yang mancung, sepasang matanya memandang wajah kakek licik itu dengan pandangan tajam bagaikan pisau, tegurnya dengan penuh dendam :

"Siapa yang telah membuat Hee Giong Lam jadi gila."

"Eeeei... eeei... dari mana aku bisa tahu," jawab Hoa Pek Tuo sambil putar biji matanya.

Rase tua ini benar-benar licik dan banyak akal, sewaktu biji matanya sedang berputar itulah satu siasat baru telah diperoleh, dari ucapannya barusan sudah bisa dinilai sampai di manakah rendahnya tabiat dan perangai orang ini.

"Hmmm...! Bukankah engkau yang bikin dia jadi gila?" teriak Pek In Hoei dengan suara menghina.

"Hei, apa maksudmu berkata begitu? Aku tidak mengerti!"

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tidak menyangka kalau rase tua yang hendak dibunuhnya itu begitu tak tahu malu, ternyata perbuatan yang berani dilakukan tak punya keberanian untuk mengakuinya, dengan gusar ia meludah ke tanah dan membentak keras : 

"Kau tak usah mengingkar kalau bukan engkau yang paksa dia untuk menelan obat gila itu, tidak mungkin Hee Giong Lam akan berubah jadi begini rupa, dan dia pun tak akan mencekik putri angkatnya sendiri sampai putus napas."

Setelah Jago Pedang Berdarah Dingin membongkar rahasia kelicikannya, Hoa Pek Tuo yang licik dan cerdik ini jadi terkesiap ketakutan setengah mati, ia tak menyangka kalau Pek In Hoei bukan saja berhasil menemukan tempat itu bahkan menyaksikan pula perbuatannya yang mencelakai jiwa Hee Giong Lam secara memalukan.

Dia tahu kalau kabar berita ini sampai tersiar di tempat luaran maka banyak jago di kolong langit pasti akan merasa tidak puas terhadap dirinya, bahkan pelbagai partai akan memandang hina terhadap dirinya, dalam keadaan begini bukan saja semua orang tak akan sudi bekerja sama dengan dirinya, bahkan kemungkinan besar dialah yang akan dikerubuti orang lain.

Jika sampai terjadi keadaan seperti itu berarti habislah sudah riwayatnya, ia tak akan bisa tancapkan kaki lagi di kolong langit.

Teringat akan kesemuanya itu Hoa Pek Tuo jadi ketakutan setengah mati sehingga keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya, dengan sinar mata buas ia tertawa seram.

"Jadi semua telah kau lihat?"

"Tidak salah, semua perbuatan yang kau lakukan hampir boleh dibilang bisa kuhafalkan di luar kepala, Hoa Pek Tuo! Kau sebagai seorang manusia yang tersohor di kolong langit ternyata mampu melakukan perbuatan semacam ini, apakah engkau tidak takut kehilangan pamormu sebagai seorang lelaki?"

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " Hoa Pek Tuo tertawa seram, "Pek In Hoei setiap kali bertemu dengan engkau aku selalu menghindar dan menjauhi dirimu, hal ini bukanlah disebabkan karena aku takut kepadamu sebaliknya aku tidak ingin ribut-ribut dengan kau sebagai angkatan yang lebih muda. Hmmm! Dan sekarang semua rahasiaku telah engkau ketahui, itu berarti nasib jelekmu telah tiba, aku tak dapat membiarkan engkau tetap hidup di kolong langit!"

"Ooooh... jadi kau hendak membunuh orang untuk melenyapkan bukti," jengek Jago Pedang Berdarah Dingin sini, "jadi kau ingin melenyapkan semua bukti tentang kejahatan yang telah kau lakukan? Sahabat, sayang sekali perhitunganmu itu sama sekali meleset, ini hari kau mungkin bisa menunjukkan kelihayanmu."

"Ooooh... sungguh tak kusangka ternyata kau bukan seorang manusia yang sederhana," gumam Hoa Pek Tuo sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "beberapa hari saja tidak bertemu ternyata sepasang bibirmu telah berubah jadi begitu lihai, ternyata berada di hadapan aku pun berani jual kecap omong yang tidak karuan. Hmm kau benar-benar tak tahu diri." Pek In Hoei melirik sekejap ke arah Hee Giong Lam yang pada waktu itu sedang berdiri dengan wajah menyeringai seram, lalu bentaknya :

"Ayoh, berikan obat penawar kepadanya." Hoa Pek Tuo mendengus dingin.

"Hmm! Kau berani memerintah diriku?"

"Bukankah engkau pun pernah gunakan kekerasan untuk memaksa Hee Giong Lam? Sekarang, terpaksa aku pun harus meminjam caramu yang begitu bagus itu untuk menghadapi dirimu, kalau kau tak mau serahkan obat penawar itu lagi..."

Ia tertawa dingin dan menghentikan perkataannya sampai separuh jalan.

"Tak ada gunanya engkau memaksa diriku, sakit gila yang diderita Hee Giong Lam sudah tak tertolong lagi, terus terang kuberitahukan kepadamu, sebetulnya aku pun hendak menolong dirinya, hanya tujuan kita berdua saja yang berbeda, kalau engkau bertujuan menolong jiwanya sedang aku hendak menggunakan tenaganya."

"Huuuh...! Sungguh tak nyana kau masih punya muka untuk berkata begitu," hardik Jago Pedang Berdarah Dingin sinis.

"Hmm! apa salahnya kuutarakan keluar, meskipun watakku tidak terlalu baik, tetapi setiap perbuatanku selalu terbuka dan jujur, setiap persoalan yang kupikirkan di dalam hati, pasti akan kuutarakan keluar tanpa ragu-ragu."

Bicara sampai di situ dia gelengkan kepalanya berulang kali. "Huuh! Bermuka tebal," maki Jago Pedang Berdarah Dingin

dengan suara menghina, "orang yang paling tak tahu malu di kolong langit mungkin adalah dirimu."

Hoa Pek Tuo menengadah dan tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus sekali, peduli apa pun

yang hendak kau katakan aku tetap setuju... coba lihatlah betapa besar jiwaku, bagaimana kalau dibandingkan dengan dirimu." Pada saat itu hawa amarah yang berkobar dalam benak Jago Pedang Berdarah Dingin sudah mencapai pada puncaknya, ia merasa gemas sekali sehingga ingin sekali membinasakan rase tua yang banyak akal dan berhati kejam itu seketika itu juga, tetapi dia pun menyadari sampai di manakah kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, untuk membunuh rase tua itu dalam beberapa gebrakan jelas bukan suatu perbuatan yang terlalu gampang.

Alisnya yang tebal berkerut, ujarnya :

"Hoa Pek Tuo, ini hari boleh dibilang engkau telah mencelakai dua lembar jiwa manusia, akhirnya yang tragis ini boleh dibilang merupakan hasil ciptaanmu, karena itu tanggung jawab pun terjatuh di atas pundakmu semua."

"Hmm... Hmmm... orang she Pek, lebih baik jangan membuang kentut busuk di tempat ini, kau tokh mengetahui bahwa Kong Yo Siok Peng mati di tangan orang she Hee tersebut, apa sangkut pautnya dengan diriku? Selama hidup Hee Giong Lam suka bermain racun, entah berapa banyak orang yang menemui ajal di tangannya, karena kejahatannya itulah Thian telah melimpahkan hukum karma kepada dia."

Pek In Hoei mendengus dingin.

"Hmm! Kau tak usah memfitnah orang seenaknya sendiri, aku tahu apa sebab kau bersikeras untuk munculkan diri, mengapa selalu memusuhi diriku, bukankah perbuatanmu itu kau lakukan karena memandang di atas wajah bocah perempuan itu? Siapa yang tidak tahu kalau kekasih pertama dari Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei adalah Kong Yo Siok Peng? Ketahuilah sahabat, seorang pria harus tahu diri dan bisa melihat gelagat, janganlah dikarenakan seorang perempuan..."

"Omong kosong!" bentak Jago Pedang Berdarah Dingin keras- keras, sepasang matanya berubah jadi merah dan seakan-akan hendak memancarkan cahaya berapi, apalagi setelah teringat betapa kejinya Hoa Pek Tuo di mana berulang kali dia akan dicelakai jiwanya, rasa benci dan mendendam yang luar biasa berkobar dalam dadanya, meskipun setiap saat ia berusaha untuk mengendalikan diri, tetapi ia tidak mampu menenangkan hatinya yang sudah terlanjur terbakar oleh rasa benci itu.

Dipandangnya sekejap wajah Kong Yo Siok Peng yang berada di pelukannya, sepasang mata gadis itu terbelalak lebar bagaikan dua biji gundu, bibirnya telah berubah jadi pucat kehijau-hijauan, dua buah cekikan yang berwarna biru tua membekas di atas lehernya. 

Kematian dara ayu itu benar-benar mengerikan sekali, begitu mengerikan sehingga jago pedang yang masih muda belia ini masih tidak tega untuk melihat lebih jauh.

Dengan air mata mengembang di kelopak matanya ia berseru keras-keras :

"Hoa Pek Tuo, coba lihatlah, dia adalah seorang gadis yang begitu halus, begitu baik hati, tetapi ia harus menemui ajalnya secara mengenaskan di tangan ayah angkatnya sendiri, bukankah peristiwa ini terlalu keji? Terlalu sadis dan tidak berperikemanusiaan? Engkau toh seorang manusia juga, kau taruh di manakah liang-sim mu itu?"

"Engkau tak usah menegur diriku, juga tak usah marah kepadaku, aku sendiri pun tak mengharapkan gadis itu menemui ajalnya dalam keadaan yang begitu mengerikan, peristiwa ini hanya bisa dikatakan sebagai suatu kecelakaan belaka, jika engkau ingin balaskan dendam bagi kematiannya, maka bunuh sajalah ayah angkatnya yang terkutuk itu, aku toh tak bisa menghidupkan dirinya kembali, bukankah begitu?"

"Hmm! Enak amat kau berbicara," seru Pek In Hoei dengan penuh kebencian, "kau anggap dengan mengucapkan beberapa patah kata itu maka urusan bisa diselesaikan dengan begitu saja, "Aku paling benci kepada seseorang yang tak berani mengakui kesalahannya sendiri. Hoa Pek Tuo! Kita tak usah membicarakan dahulu soal dendam kita di masa-masa yang lampau, kita bicarakan saja peristiwa yang terjadi pada saat ini, ketahuilah aku tak bisa mengampuni jiwamu."

Sementara itu Hoa Pek Tuo sedang putar sepasang biji matanya, sambil otaknya berputar mencari akal bagaimana caranya mencelakai jiwa si Jago Pedang Berdarah Dingin itu, ia tahu pemuda she Pek itu sudah mengetahui bahwa dia adalah pembunuh yang telah membinasakan ayahnya Pek Tiang Hong, karena itu muncullah satu ingatan dalam hatinya untuk cepat-cepat lenyapkan bibit penyakit ini dari muka bumi.

Dalam waktu singkat, satu ingatan telah berkelebat dalam benaknya, ia berpikir :

"Dalam keadaan seperti ini, pada malam ini aku tak boleh melepaskan barang seorang pun di antara mereka dalam keadaan hidup, kalau tidak pasti peristiwa ini akan tersiar luas dalam rimba persilatan, sekarang Hee Giong Lam sudah gila dan tidak usah aku turun tangan sendiri, yang tersisa cuma Jago Pedang Berdarah Dingin sendiri, tenaga dalam yang ia miliki saat ini sudah mendapat kemajuan yang amat pesat, belum tentu aku bisa menangkan dirinya, satu-satunya jalan yang bisa kutempuh sekarang adalah mengerahkan segenap kekuatan yang ada di sini, dengan kerubutan para jago lihay rasanya dia pasti dapat dirobohkan dan dicabut jiwanya."

Berpikir sampai ke situ sambil tertawa seram ujarnya :

"Pek In Hoei, kalau kau inginkan agar aku orang she Hoa yang bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa berdarah ini, aku akan memikul tanggung jawab tersebut, sekarang aku toh berada di sini kalau engkau punya rencana keluarkanlah semua saat ini juga, aku tidak nanti akan mengerutkan dahi barang sekejap pun!"

Setelah berhenti sebentar sambungnya kembali dengan suara dingin.

"Aku percaya di kolong langit masih belum ada manusia yang berani bertindak kasar terhadap diriku." Satu senyuman sinis tersungging di ujung bibir Jago Pedang Berdarah Dingin, senyuman itu merupakan suatu senyuman getir yang mengandung rasa gusar bercampur dendam, ia tarik napas panjang-panjang, seluruh perasaan kesal dan murung yang berkecamuk dalam dadanya dilontarkan keluar.

"Aku pun percaya bahwa di kolong langit belum ada seorang manusia pun yang berani bertindak kasar terhadap dirimu, tetapi sahabat lama, bukannya aku tak pandang sebelah mata terhadap dirimu, asal kuandalkan segumpal hawa murni di dalam dadaku, aku sudah mampu untuk membinasakan dirimu."

"Ciiis..." Hoa Pek Tuo meludah ke atas tanah, "kau sedang bermimpi di siang hari bolong, selama berkelana di dalam rimba persilatan kapankah aku Hoa Pek Tuo pernah menderita kekalahan di tangan orang? Bukannya aku sengaja bicara besar, dewasa ini engkau sudah tak punya kesempatan untuk tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup-hidup."

"Kau tak usah kuatir, sebelum aku berhasil membunuh dirimu, aku pun tak akan meninggalkan tempat ini barang sejengkal pun."

Tiba-tiba terdengar suara pekikan aneh berkumandang datang, Jago Pedang Berdarah Dingin serta Hoa Pek Tuo bersama-sama menoleh ke belakang, tampak Hee Giong Lam dengan wajah menyeringai seram selangkah demi selangkah sedang berjalan ke depan, tubuhnya gontai dan bergoyang tiada hentinya.

Sambil melotot ke arah Hoa Pek Tuo serunya sambil mengertak gigi :

"Sungguh keji engkau... engkau keji hatimu Hoa Pek Tuo... aku telah kau celakai sampai menjadi begini rupa."

Hoa Pek Tuo jadi amat terperanjat, dengan tubuh gemetar keras serunya dengan suara gemetar :

"Kau... kau..."

"Aku hendak menggigit tubuhmu, ingin kulihat sebenarnya kau adalah manusia atau binatang?" Hoa Pek Tuo semakin terperanjat, ia tidak menyangka kalau dalam keadaan begitu tiba-tiba kesadaran Hee Giong Lam pulih kembali seperti sedia kala, meskipun ia tidak jeri terhadap Rasul Racun dari Perguruan Selaksa Racun ini, tetapi ia merasa jantungnya berdebar juga kalau disuruh berkelahi dengan seorang manusia berwajah seram macam begitu, yang paling pokok adalah wajahnya yang menyeringai begitu menyeramkan, membuat bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri.

Kakek tua yang licik dan berhati binatang itu merasa tercengang bercampur keheranan, ia merasa heran apa sebabnya obat gila yang dibuat dengan resep khusus serta diolah dengan tangan sendiri itu secara tiba-tiba sudah kehilangan daya kemanjurannya, menurut peraturan sakit gilanya akan makin menghebat mengikuti berlalunya sang waktu.

Siapa tahu kenyataan membuktikan lain, bukan saja sakit edannya mendadak lenyap bahkan kesabarannya telah pulih kembali dan ia bisa mengenali dirinya kembali.

Suatu kejadian yang aneh dan mustahil, mungkinkah daya kerja obat itu telah kehilangan kemampuannya?

Ia tidak tahu bahwa Hee Giong Lam bisa dengan cepat tersadar kembali dari pengaruh obat edan itu berhubung pada dasarnya dalam tubuh Rasul Racun itu sudah memiliki daya tahan pelbagai serum racun yang banyak ragamnya, meskipun untuk sementara waktu ingatannya jadi kabur setelah obat itu masuk ke dalam perutnya, tetapi setelah waktu berlangsung agak lama dan dari tubuhnya terselip keluar serum anti racun yang kuat, mak daya kerja obat gila itu segera terdesak ke sudut badan.

Hanya saja, walaupun ia bisa sadar kembali, itu pun hanya berlangsung dalam waktu singkat, lama kelamaan ia akan terkendali kembali oleh daya kerja obat itu.

"Lo Hee, baik-baikkah engkau?" tegur Hoa Pek Tuo dengan suara gemetar. "Sungguh keji hatimu, kau telah mencelakai aku hingga menjadi begini rupa," seru Hee Giong Lam dengan suara menyeramkan, "Hoa Pek Tuo, hanya disebabkan rahasia resep Jit-li-biau-hiang kau telah tega membuat diriku jadi begini rupa aku akan beritahu kepada setiap jago Bu-lim yang kutemui, akan kuberitahukan kepada seluruh jagad bahwa engkau adalah manusia berhati binatang, agar semua orang di kolong langit tahu bahwa engkau telah mencelakai diriku dengan cara yang paling rendah, cara paling terkutuk."

Ia tertawa seram, lalu tambahnya lebih jauh :

"Di manakah putriku? Cepat lepaskan dia keluar, aku hendak beritahukan kepadanya bagaimana rendahnya engkau telah mencelakai diriku, ayo cepat lepaskan, kalau tidak kau akan kubunuh."

"Putrimu?" seru Hoa Pek Tuo tertegun.

"Kenapa dengan putriku?" jerit Hee Giong Lam dengan suara amat keras.

Pada saat ini Hoa Pek Tuo sendiri pun tak tahu apa sebabnya ia merasa begitu takut, ia merasa ketenangan yang dimilikinya di masa lampau sekarang sudah lenyap tak berbekas, saking takutnya tanpa terasa ia mundur beberapa langkah ke belakang, dengan pandangan tegang ditatapnya wajah Rasul Racun itu tanpa berkedip.

Lama... lama sekali ia baru bisa menjawab. "Dia telah mati!"

Sekujur badan Hee Giong Lam gemetar keras, ari mukanya berubah sangat hebat.

"Dia telah mati? Siapa yang telah mencelakai jiwanya, cepat jawab siapakah yang telah mencelakai jiwanya?"

Sungguh kasihan Rasul Racun ini, mimpi pun ia tak menyangka kalau putri angkat yang dicintainya telah mati justru di tangan ia sendiri, ketika itu dia merasa begitu sedih hati mengenang kematian putrinya hampir saja kesadarannya punah kembali. Dengan langkah lebar ia maju beberapa langkah ke depan, didekatinya Hoa Pek Tuo dengan wajah seram lalu bentaknya keras- keras:

"Ayoh cepat jawab... kenapa engkau tidak bicara?"

Hoa Pek Tuo tarik napas panjang-panjang dan mundur beberapa langkah lagi ke belakang.

"Lo Hee, janganlah bersikap begitu galak terhadap diriku, meskipun hubungan di antara kita pernah renggang karena pandangan yang berbeda akan tetapi di antara kita toh tak mempunyai ikatan dendam yang sangat dalam, putrimu begitu polos, lincah dan menyenangkan hati, aku mana tega untuk mencelakai jiwanya."

"Lalu kenapa dia bisa mati?" teriak Hee Giong Lam dengan penuh kegusaran.

"Setelah kau menjadi gila dan otakmu tidak waras, engkau telah mencekik putrimu hingga napasnya putus, orang yang membinasakan putrimu adalah engkau sendiri. Lo Hee, apakah kau tidak tahu terhadap perbuatan yang telah kau lakukan?"

"Apa?"

Jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang keluar dari mulut Hee Giong Lam, hampir saja ia tidak percaya dengan pendengaran sendiri bahkan menganggapnya berada dalam impian.

Ia tidak percaya kalau dirinya berhati begitu kejam sehingga putri kesayangannya bisa dibunuh mati olehnya sendiri, kerutan kencang muncul di balik wajahnya yang menyeringai seram, suara gemuruh yang keras terdengar dari balik tenggorokannya.

"Tak mungkin... tak mungkin membinasakan Siok Peng..." jeritnya keras-keras, "aku tak mungkin mencekik mati Siok Peng! Ooooh... putriku sayang, sungguh mengerikan kematianmu... oooh, ayah tidak membunuh dirimu."

Dengan penuh penderitaan ia menatap sepasang tangannya sendiri, karena benci hampir saja ia hendak menebas kutung ke-dua belah tangannya itu, sekilas warna merah terlintas di antara biji matanya, dengan suara keras ia berteriak :

"Aku harus mati... aku harus mati."

Jago Pedang Berdarah Dingin menghela napas panjang katanya : "Dalam peristiwa ini engkau tak bisa disalahkan, Hee Giong Lam! Di kala kesadaran seseorang hilang sama sekali maka perbuatan apa pun dapat dilakukan olehnya, bila engkau ingin menuntut balas maka kau harus berpikir kembali siapakah yang telah membuat

engkau berubah jadi gila seperti ini."

Bagian 42

MENDENGAR perkataan itu Hee Giong Lam segera berpaling, tiba- tiba ia melihat Kong Yo Siok Peng yang berada dalam pelukan Jago Pedang Berdarah Dingin, wajahnya menyeringai sambil memburu maju ke depan teriaknya :

"Siok Peng... Siok Peng!"

Buru-buru ia merebut kembali jenazah putri angkatnya yang telah tutup usia itu, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya dan menetes di atas wajah putrinya yang telah mendingin, perlahan-lahan ia mencium pipinya lalu berteriak dengan suara pilu : 

"Oooh... anakku... anakku... bangunlah... bukalah matamu... dan pandanglah ayahmu."

Tapi ia tahu teriakannya itu hanya sia-sia belaka, sebab putri kesayangannya itu sudah tak akan sadar kembali, dengan penuh penderitaan ia putar badan, hawa amarah yang tak terbendung membakar dadanya, wajahnya yang sudah jelek kelihatan bertambah seram.

"Hoa Pek Tuo," ia membentak keras-keras, "kesemuanya ini engkaulah yang berikan kepadaku... engkaulah yang mendatangkan bencana buat putriku." "Huuh...! Aneh sekali orang ini," seru Hoa Pek Tuo dingin, "toh engkau sendiri yang membunuh dirinya, kenapa kau malah salahkan diriku, apa kau tidak salah bertindak..."

"Kalau bukan gara-gara dirimu, tak mungkin bisa terjadi peristiwa semacam ini, kalau bukan engkau yang paksa aku untuk makan obat gila, aku tak akan jadi gila sampai putriku ini pun kucekik sampai mati... gara-gara perbuatanmu itulah aku menjadi seorang manusia yang paling jahat, paling hina di kolong langit... Oooh! Sungguh keji hatimu... Hoa Pek Tuo, suatu hari aku pasti akan membalas dendam berdarah yang sedalam lautan ini."

Hoa Pek Tuo mendengus dingin.

"Hmm! Kalau engkau punya kepandaian setiap saat aku akan melayani dirimu."

"Hoa Pek Tuo, kalau aku biarkan engkau berhasil kabur dari tempat ini maka selama hidup aku tak akan berkelana lagi dalam dunia persilatan, kalau kau kejam aku akan bertambah kejam, kalau ingin beradu kecerdikan maka Hee Giong Lam juga bukan seorang manusia yang tolol."

Dengan pandangan penuh kasih sayang ditatapnya wajah Kong Yo Siok Peng tajam-tajam, itulah pandangan terakhir yang berkesan dalam hatinya, dengan suara serak ia berkata :

"Nak, tunggulah aku, ayah segera akan menyusul dirimu serta menemani engkau sepanjang masa, anakku sayang, ayah akan memetikkan berbagai macam bunga. Ayah akan menaburi tubuhmu dengan bermacam-macam bunga indah, sampai peti mati pun akan kubuat dari bunga, kau tak usah bersedih hati, bukankah di sisimu masih ada ayah yang menemani engkau? Kau tak akan merasa kesepian."

Perlahan-lahan ia merapatkan sepasang mata putrinya yang melotot besar, kemudian mencium pipinya dengan penuh kasih sayang dan menepuk bahu Pek In Hoei dengan ringan, katanya dengan suara rendah : "aku tahu bahwa engkau cinta dirinya."

"Aku tidak mengingkari!" jawab Pek In Hoei dengan pandangan kosong.

"Haaaah... haaaah... haaaah... " tiba-tiba Hee Giong Lam tertawa keras, tertawa secara tak wajar, suaranya jauh lebih tak enak didengar daripada isak tangis yang paling memilukan hati, membuat seluruh ruang gua itu bergetar keras.

Setelah berhenti tertawa, Hee Giong Lam berkata lagi dengan suara gemetar :

"Orang muda, Siok Peng bisa dicintai oleh seorang pria macam dirimu, sekali pun mati ia akan mati dengan mata meram, sekarang aku akan menyerahkan tubuhnya kepadamu, agar putriku bisa menikmati rasa cinta yang dilimpahkan olehmu kepadanya sesaat sebelum ia dikubur ke dalam tanah dan sepanjang masa berada seorang diri."

Sambil geleng kepala ia tertawa getir, Pek In Hoei menghela napas panjang dan bergumam :

"Sekali pun bicara lebih banyak juga tak ada gunanya, selembar jiwanya tak mungkin bisa ditolong lagi."

Seakan-akan dadanya terhantam oleh martil yang amat berat, sekujur tubuh Hee Giong Lam gemetar keras, dengan penuh siksaan dia menengadah ke atas dan berseru lirih.

"Aku benci terhadap diriku sendiri."

Dengan amat berhati-hati dia serahkan jenazah Kong Yo Siok Peng ke tangan Jago Pedang Berdarah Dingin, setelah itu memandang lagi wajah putrinya untuk terakhir kalinya, kemudian dengan wajah gusar ia baru putar badan, ditatapnya wajah Hoa Pek Tuo dengan penuh kebencian.

"Kau telah mencelakai diriku sehingga aku sangat menderita..." teriaknya.

"Apa yang hendak kau lakukan?" seru Hoa Pek Tuo dengan sikap yang was-was. "Aku hendak membunuh dirimu... aku hendak membinasakan kau si iblis terkutuk yang lebih buas dari binatang ini..." bentak Hee Giong Lam dengan suaranya yang dingin bagaikan es.

Terhadap jago lihay yang sudah mendekati setengah sinting setengah sadar ini Hoa Pek Tuo tidak berani bertindak gegabah, meskipun ia sadar bahwa ilmu silat yang dimilikinya sangat tinggi, tetapi ia tak sudi beradu jiwa dengan seorang manusia yang sudah mendekati gila.

Perlahan-lahan telapak kanannya diangkat ke atas, cahaya tajam yang berkilauan memancar keluar dari balik telapaknya dan membentuk satu lingkaran busur di tengah udara.

"Kau tak akan mampu untuk melaksanakan kehendak hatimu itu," jengeknya sinis.

Hee Giong Lam mendengus ketus.

"Hmmm! Kalau engkau tidak percaya mari kita coba..."

Sementara itu kesadaran otaknya masih jernih dan ia tahu jelas sampai di manakah taraf tenaga dalam yang berhasil dimiliki olehnya, setelah melotot sekejap ke arah kakek licik she Hoa itu perlahan-lahan jubahnya mulai bergelembung besar dan kian lama mengembang kian besar, seakan-akan balon yang ditiup.

"Kau hendak beradu jiwa..." teriak Hoa Pek Tuo dengan suara gemetar.

"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak salah!" jawab Rasul Racun itu sambil tertawa seram.

Tiba-tiba tubuhnya mencelat ke tengah udara dan berputar satu lingkaran busur di sekeliling tempat itu, kemudian ke-empat anggota badannya direntangkan dan langsung menerjang ke atas tubuh Hoa Pek Tuo, gerakan yang aneh ini sangat mencengangkan hati lawannya, ia tak menduga kalau pihak lawan bakal menunjukkan gerak yang begitu aneh, setelah berseru tertahan kakek licik berhati keji itu buru-buru meloncat mundur ke belakang. "Modar kamu...!" jerit Hee Giong Lam yang sudah nekad dan siap mengadu jiwa itu.

Di kala lawan mengundurkan diri ke belakang, tiba-tiba telapak kanannya dari serangan jari berubah jadi satu cengkeraman maut, dari atas wajah Hoa Pek Tuo berhasil menyambar segumpal daging yang berlepotan darah.

Darah segar memancar keluar dari mulut luka di atas wajah Hoa Pek Tuo, saking sakitnya ia sampai menjerit keras dan mengeryitkan dahinya rapat-rapat, teriaknya penuh kebencian :

"Bangsat,rupanya engkau memang sudah bosan hidup!"

Karena keteledoran sendiri mengakibatkan wajahnya terluka parah, kejadian ini langsung membakar hatinya dan hawa amarah berkobar memenuhi seluruh benaknya. Kakek she Hoa itu berteriak keras... satu pukulan dahsyat dengan cepat dilancarkan ke depan.

"Mari kita beradu jiwa...!" jerit Hee Giong Lam setengah kalap, telapaknya segera disorongkan ke depan menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaaam...! Ketika sepasang telapak bertemu satu sama lainnya, terjadilah ledakan dahsyat yang menggeletar di udara, seluruh bumi bergoncang dan debu serta pasir beterbangan memenuhi angkasa. Hee Giong Lam merasakan tubuhnya bergetar keras, dengan kesakitan ia menjerit keras dan darah segar muncrat keluar dari mulutnya... ia mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Pukulan yang amat keras ini menggoncangkan seluruh tubuh Hee Giong Lam, membuat otaknya mengalami goncangan keras dan pikirannya menjadi kalut kembali, ia bergulingan di atas tanah lalu mulai menyanyi, tertawa dan menangis dengan suara yang keras...

Hoa Pek Tuo teramat gusar, ia siapkan diri untuk melancarkan tubrukan berikutnya, tetapi sebelum sang telapak siap dilancarkan ke muka, tiba-tiba Pek In Hoei telah berseru dengan nada yang dingin :

"Jika engkau berani mengganggu seujung jarinya lagi, aku segera akan membinasakan dirimu..." "Haaaah... haaaah... haaaah... " dengan badan penuh berlepotan darah Hee Giong Lam tertawa keras, sambil tertawa ia menjeritkan nama Siok Peng tiada hentinya, suara itu begitu tak sedap didengar membuat hati orang terasa bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.

"Siok peng... oooh! Siok Peng ku sayang... di mana engkau??...

Siok Peng ku sayang..."

Sambil menjerit-jerit ia mencak-mencak dan berlompatan dalam gua itu, akhirnya dengan kaki telanjang ia lari keluar dari gua itu.. dalam gua hanya terdengar suara pantulan dari jeritan-jeritan ngerinya...

Pantulan dari suara jeritan Hee Giong Lam lama sekali baru sirap dari udara, suasana di sekeliing tempat itu pulih kembali dalam kesunyian, di tengah kesunyian Jago Pedang Berdarah Dingin berdiri saling berhadapan muka dengan Hoa Pek Tuo, dari balik sorot mata ke-dua belah pihak sama-sama memancarkan rasa benci dan dendam yang amat sangat...

Suatu ketika Jago Pedang Berdarah Dingin berkata dengan suara dingin :

"Semua tragedi yang amat tragis ini adalah hasil perbuatan dari kau seorang.."

Hoa Pek Tuo tertawa dingin, dari balik sinar matanya yang penuh kebencian terpancar rasa bangga dan dendam yang membara, ia menjengek dan mencibirkan bibirnya.

"Tepat sekali pandanganmu itu..."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei menunduk dan memandang sekejap ke arah jenazah Kong Yo Siok Peng yang berada di dalam pelukannya, rasa sedih dan perih muncul dalam hatinya, ia mendendam terhadap dunia yang tak kenal kasihan itu, benci terhadap kebengisan Hoa Pek Tuo... ia merasa gadis yang baik hati seperti Kong Yo Siok Peng tidak seharusnya mati dalam usia yang muda... tidak seharusnya gadis sebaik itu mengalami kejadian yang begitu tragis... dengan sedih ia gelengkan kepalanya, air mata mengembang dalam kelopak matanya.

"Beristirahatlah dengan tenang!" dengan sedih pemuda itu menggerakkan bibirnya dan berbisik lirih, "Siok Peng, akulah yang akan menagihkan hutang berdarah atas kematianmu itu..."

Hawa napsu membunuh yang tebal dan mengerikan terpancar di atas wajahnya yang tampan, sorot mata yang tajam bagaikan pisau belati perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah Hoa Pek Tuo, ujarnya dengan suara dingin menyeramkan :

"Bangsat she Hoa! Tidak seharusnya engkau celakai dirinya secara begitu keji..."

Hoa Pek Tuo terkesiap, rasa takut dan ngeri berkecamuk dalam dadanya, dengan hati penuh ketegangan dan rasa was-was ia mundur setengah ke belakang lalu tertawa seram.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... enak benar kalau bicara, toh bukan aku yang membinasakan dirinya..."