-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 36

 
Jilid 36

JAGO Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mendengus :

"Huuh...! Sekali pun alat jebakan atau ngo-heng suatu alat jebakan yang luar biasa dan memiliki perubahan yang amat banyak, namun tidak lebih kesemuanya itu adalah benda mati, benda semacam itu tak mungkin bisa menangkan perubahan akal manusia, lagi pula di tengah kesempurnaan pasti terdapat pula keteledoran, apakah kau berani jamin bahwa persiapanmu itu pasti tiada keteledoran???"

Pemilik Benteng Kiam-poo berdiri tertegun, ia tak menyangka kalau Jago Pedang Berdarah Dingin dengan usianya yang masih muda, ternyata memiliki pengetahuan yang sangat luas dan jauh melebihi pandangan orang lain, hatinya tercekat dan tanpa sadar muncullah suatu perasaan takut serta bergidik dalam hati kecilnya, ia merasa seolah-olah segala tindakan serta perbuatannya cukup untuk melenyapkan rencana yang telah disusun secara matang itu, maka dalam hati kecilnya segera timbul keragu-raguan, ia curiga dan merasa goyah pendiriannya... mungkinkah alat rahasia yang dimilikinya itu mampu untuk membelenggu musuh-musuhnya.

"Hey Orang muda!" ujar kemudian sambil tertawa seram, "perkataanmu memang tepat sekali, aku tidak membantah bahwa pendapat yang kau miliki jauh lebih hebat dan lebih sempurna daripada pendapat kebanyakan orang, tetapi sejak aku mendirikan benteng ini hingga sekarang belum pernah terjadi peristiwa semacam ini... aku berharap kau bisa menumbangkan sejarah baru, agar aku kehilangan kepercayaanku terhadap segala macam permainan ini hingga timbul ide lain untuk menyusun rencana baru... tetapi kau harus tahu anak muda, pekerjaan itu bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang, aku percaya kau masih belum memiliki kemampuan untuk berbuat demikian..."

"Lihat saja nanti bagaimana akhirnya," sahut Pek In Hoei dengan nada congkak, "siapa yang akhirnya berhasil menangkan pertarungan ini nanti toh akan ketahuan, waktu itu kau baru akan tahu bahwa jago lihay yang lebih lihay daripada dirimu masih banyak sekali dalam dunia persilatan..."

"Haaaah... haaaah... haaaah... sungguh menarik, sungguh menarik..." seru pemilik Benteng Kiam-poo sambil tertawa terbahak- bahak, "Aku akan menantikan dirimu semoga tindak tandukmu jauh lebih keras dan tajam daripada selembar mulutmu itu, jangan sampai apa yang kau ucapkan hanya kentut busuk yang berhembus lewat, cuma baunya saja yang menusuk hidung namun sama sekali tak ada wujudnya... bila sampai demikian keadaannya bukankah keadaan jadi mengenaskan sekali.

Pek In Hoei sama sekali tidak ambil peduli terhadap ucapan sang pemilik Benteng Kiam-poo yang sama sekali tidak pandang sebelah mata pun terhadap orang lain ini, ketika dilihatnya jago lihay yang liciknya melebihi rase tua ini menyindir dirinya terus menerus, wajahnya seketika berubah jadi dingin menyeramkan, sambil tertawa dingin serunya :

"Huuuuh...! Keadaaanmu itu persis bagaikan orang buta meraba tulang... dan rabaanmu tepat sekali. Toa poocu! Kecuali segala permainan tetek bengek yang sudah bau basi ini apakah kau masih mempunyai permainan lain yang jauh lebih segar??? Kalau ada tak ada halangannya bila kau perlihatkan semua sehingga kami dapat membuka sepasang mata kami yang buta..."

"Hmmm! Apa yang kau ributkan??? Sekarang kau sedang berada dalam perjalanan menuju ke alam baka, kau akan merasakan kesemuanya itu satu persatu... pokoknya kau tak usah kuatir, aku tak akan membiarkan dirimu melakukan perjalanan yang sia-sia... aku tak akan membiarkan kau merasa kecewa karena belum sempat menyaksikan raut wajah Benteng Kiam-poo yang serba rahasia dan penuh diliputi kemisteriusan ini..."

Pada saat itulah Lu Kiat maju satu langkah ke depan ujarnya : "Poocu, apakah tujuan dari kedatangan kami aku rasa kau pasti

sudah tahu, saudaraku dengan susah payah melakukan perjalanan sejauh beribu ribu li untuk datang kemari, maksud serta harapannya bukan lain adalah untuk berjumpa dengan ibunya, aku ras sebagai seorang putra sudah sewajarnya kalau ia menyayangi ibu kandungnya sendiri... aku rasa poocu pasti tak akan menyia-nyiakan perjalanannya yang jauh dan susah payah itu bukan?? Asal saudaraku ini dapat berjumpa muka dengan ibunya, maka kendati kau akan menyelesaikan pertikaian di antara kami dengan cara apa pun jua pasti akan kami iringi..."

"Hmm...! Sayang seribu kali sayang aku tidak mempunyai hati begitu welas asih seperti hati sang Budha!"

"Kenapa?" tanya Lu Kiat dengan hati mendongkol. "Bagaimana pun juga kau toh tidak sepantasnya kalau sama sekali tidak memberi muka kepada kami."

Hingga detik itu Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak berani banyak berkutik, bukan lain karena disebabkan ia belum sempat bertemu muka dengan ibunya ia tak ingin bentrok lebih dulu dengan orang-orang dari Benteng Kiam-poo karena ia memahami benar-benar situasi yang terbentang di hadapannya, asal ia tak sanggup mempertahankan diri maka sepanjang masa ia akan kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan ibunya, selama hidup dalam benaknya tak akan terlintas bayangan wajah dari ibunya lagi.

Setelah pemilik dari Benteng Kiam-poo mengusik serta menyindir dirinya terus menerus perasaan pemuda itu bagaikan kayu kering yang terjilat oleh kobaran api, ia tak sanggup menguasai napsu membunuh yang berkobar dalam dadanya, senyuman yang menggidikan hati mulai tersungging di ujung bibirnya.

"Kau hendak paksa aku untuk turun tangan?" bentaknya dengan penuh kegusaran.

Pemilik Benteng Kiam-poo agak tertegun, rupanya ia dibikin tercengang oleh sikap Pek In Hoei yang mengerikan itu, sejak ia jadi pemilik benteng seingatnya belum pernah ada orang yang berani menantangnya untuk berduel, tetapi sikap jumawa yang diperlihatkan lawannya membuat ia tak sanggup mempertahankan diri lagi.

********

Bagian 36

'HUUUH! Kau anggap dengan kedudukanmu itu sudah pantas untuk bertempur melawan diriku?" teriak pemilik Benteng Kiam-poo dengan penuh kegusaran, "Pek In Hoei pentang matamu lebar-lebar dan periksa dulu sekarang kau berada di mana? Pantaskah kau unjukkan sikap kejumawaanmu di tempat seperti ini? Hmm dengan kepandaian silat yang kau miliki itu, untuk menghadapi budak- budakku kelas tiga masih belum mampu, aku harap kau jangan memaksa diriku untuk membunuh kau terlebih dahulu."

Ia berhenti sebentar kemudian dengan suara dingin ujarnya kembali :

"Apakah kedudukan ibumu di dalam benteng ini pun belum sempat kau ketahui dengan jelas, kau sudah begitu berani bersikap kurang ajar dan tak tahu sopan kepada diriku, hal ini menunjukkan bahwa kau sebetulnya sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap ibumu."

"Kedudukan ibuku?" seru Pek In Hoei dengan wajah tertegun. "Ehmm...    selama    beberapa    tahun    terakhir    kau    dapat

mempertahankan hidup boleh dibilang kesemuanya itu adalah berkat jasa-jasa dari ibumu, andaikata kau tidak memandang di atas wajahnya, hmmm aku yakin sedari dulu kau sudah menggeletak mati jadi mayat."

Makin mendengar perkataan lawannya Pek In Hoei merasa semakin kebingungan, ia hampir saja tak mampu mengartikan kata- kata yang diucapkan oleh pemilik Benteng Kiam-poo ini, tetapi secara lapat-lapat ia berhasil memahami satu persoalan yakni pernah ada orang yang hendak membinasakan dirinya tetapi ibu kandungnya keburu mendapat kabar berita ini terlebih dulu sehingga ia mohon bantuan orang lain untuk mencegah pembunuhan itu tidak sampai terjadi.

"Aku... aku tidak memahami apa yang sedang kau maksudkan," serunya dengan suara gemetar.

"Hmmm! Tentu saja kau tak akan mengerti," sahut pemilik Benteng Kiam-poo dengan suara dingin, "dengarkan dulu perkataanku hingga selesai maka segera akan kau pahami maksud yang sebenarnya, Pek In Hoei! Kau cuma tahu bahwa kau ingin bertemu dengan ibumu, tahukah kau bahwa dia tidak menginginkan perjumpaan ini?"

"Pertemuan antara ibu dan anak sudah sewajarnya terjadi, aku percaya di kolong langit tak ada seorang ibu yang tak menyayangi putranya sendiri," bentak Pek In Hoei dengan suara keras, "tentu saja kecuali kalau dia bukan seorang perempuan dan ia ia sudah kehilangan cinta kasihnya sebagai seorang ibu."

"Ucapanmu tepat sekali, ibumu adalah termasuk perempuan semacam itu," kata pemilik Benteng Kiam-poo sambil tertawa seram. Tergetar keras hati Pek In Hoei setelah mendengar ucapan itu, suatu perasaan sakit hati dan siksaan batin yang amat sangat membuat pemuda itu hampir saja muntahkan darah segar, titik air mata mengembang di ujung kelopak matanya, ia menggeleng dan berseru : "Aku tidak percaya! Aku tak akan mempercayai perkataanmu itu,

kau tak usah ngaco belo." Sepasang matanya memancarkan cahaya berkilat, dengan suara keras bentaknya :

"Kau mengurung ibuku di mana?"

Sikap pemilik Benteng Kiam-poo aneh sekali, seakan-akan ia sudah tak kenal apa artinya peri kemanusiaan lagi, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei semakin tersiksa batinnya oleh ucapannya, ia merasa semakin bangga, senyuman yang menyeramkan dan memuakkan tersungging di bibirnya, ia mendongak dan tertawa seram.

"Kau anggap ibumu menderita siksaan batin yang hebat selama berada di dalam Benteng Kiam-poo? Terus terang kuberitahukan kepadamu, dugaanmu itu keliru besar, bukan saja ia tak kenal apa artinya kepedihan bahkan selama ini dia merasakan apa artinya kebahagiaan hidup sebagai seorang manusia di mana pun ia berada, kedatangannya selalu disambut dengan sikap hormat dan sopan, setiap orang menghormati dirinya sebagai nyonya besar."

"Pek In Hoei berusaha keras menenangkan hatinya yang bergolak keras, dengan suara gemetar ujarnya :

"Bila kau benar-benar melayani serta menghormati ibuku dengan cara yang baik, suatu saat aku orang she Pek pasti akan membalas budi kebaikanmu itu, tapi aku harap apa yang kau ucapkan merupakan suatu kenyataan, janganlah sengaja kau ucapkan untuk mencari muka di hadapanku, aku harap apa yang kau katakan bukanlah suatu kata- kata bohong yang sengaja kau ucapkan untuk membohongi aku."

"Kau anggap aku adalah seorang manusia macam apa?? Buat apa sih aku mesti membohongi anak kecil macam kau?? Tetapi ada satu hal kau mesti ingat, ibumu berbuat demikian kesemuanya adalah atas dasar kerelaan, aku sama sekali tiada maksud untuk memaksa dirinya berbuat demikian..."

"Sebenarnya kenapa dengan ibuku itu??" tanya Pek In Hoei dengan nada tercengang. "Ia sudah kawin lagi dengan diriku, dan sekarang jadi nyonya Benteng Kiam-poo!" jawab pemilik benteng itu dengan suara bangga. Bagikan disambar guntur di siang hari bolong, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa telinganya berdengung keras, sekujur tubuhnya gemetar keras dan ia mulai ragu-ragu benarkah

peristiwa itu merupakan suatu kenyataan??

Perasaan sakit hati membuat hawa darah yang bergolak dalam dadanya menyusup naik ke atas, tak ampun lagi ia muntah darah segar...

"Sungguhkah ucapanmu itu..." bisiknya dengan suara gemetar.

Sebelum mendapat berita mengenai ibunya ia pernah membayangkan ibunya itu sebagai seorang perempuan yang saleh dan amat mencintai dirinya, bayangannya ketika itu indah sekali... tetapi sekarang bayangan tersebut telah hancur berantakan, semua harapannya ikut musnah bersama dengan indahnya lamunan yang pernah terwujud dalam benaknya...

Mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau ibunya adalah seorang perempuan yang tak tahan diuji, perempuan berhati lemah yang ternyata sudah kawin lagi dengan orang lain... kalau kawin dengan orang lain mungkin keadaan masih agak mendingan, ternyata ia sudah kawin dengan musuh besar ayahnya... ia merasa gusar dan kecewa atas kenyataan tersebut... diam-diam ia merasa sedih bagi kematian ayahnya...

Lu Kiat sendiri diam-diam ikut merasa pedih hatinya setelah mendengar perkataan itu, ketika menyaksikan Jago Pedang Berdarah Dingin muntah darah segar serta wajahnya menunjukkan penderitaan yang luar biasa hatinya jadi terkesiap, segera tegurnya :

"Adikku, kenapa kau??"

"Aku sangat baik," jawab Pek In Hoei sambil tertawa sedih, "toako, kau tak usah bersedih hati karena aku..."

"Dalam menghadapi persoalan apa pun pandanganmu harus terbuka dan memandang ke arah depan yang luas, janganlah karena satu persoalan membuat badanmu hancur berantakan..." seru Lu Kiat memperingatkan dengan hati gelisah.

"Terima kasih atas nasehatmu itu, toako. Aku bisa merawat diriku baik-baik..." kata Pek In Hoei dengan suara penuh penderitaan.

Tetesan air mata mengembang pada kelopak matanya yang hitam dan jeli itu, kendati pun ia sudah berusaha keras untuk menahan air matanya sehingga tidak sampai menetes keluar, tetapi rasa sedih yang sukar dikendalikan itu membuat air matanya tanpa bisa dicegah lagi mengucur keluar dengan derasnya...

Menyaksikan pemuda lawannya tersiksa, pemilik Benteng Kiam- poo merasa semakin bangga, serunya :

"Hey orang muda, sekarang kau tentu sudah paham bukan??"

Sorot mata berapi-api yang amat mengerikan memancar keluar dari balik mata Pek In Hoei, dengan penuh kegusaran ia membentak keras :

"Enyah kau dari sini, hati-hatilah kamu... aku akan membunuh dirimu..."

"Perkataan semacam itu tidak pantas diucapkan olehmu, semestinya akulah yang berkata demikian kepadamu..." ejek pemilik Benteng Kiam-poo dengan suara yang dingin.

Pek In Hoei meraung semakin gusar.

"Kau adalah manusia yang paling kubenci selama hidupku, aku harap kau tahu diri dan segera enyah dari tempat ini, bilamana kita sampai bentrok muka maka sulit bagimu untuk lolos dari cengkeramanku..."

Pemilik Benteng Kiam-poo segera angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... apakah disebabkan karena ibumu kawin lagi dengan aku, maka kau hendak membinasakan diriku??"

"Sedikit pun tidak salah," jawab Pek In Hoei dengan suara ketus, "aku merasa sedih dan pedih karena dia telah memilih manusia macam kau sebagai suaminya dan aku pun merasa kecewa karena nasibnya yang begitu jelek, kau bukanlah seorang pria yang dapat bertanggung jawab... sahabat! Kau mengawini dirinya karena bukan muncul dari hati yang tulus bukan?? Kau kawini dirinya bukan dikarenakan rasa cinta bukan..."

"Kau cuma menebak benar separuhnya saja," kata pemilik Benteng Kiam-poo sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "Aku memang benar-benar mencintai ibumu, tetapi aku jauh lebih benci kepada ayahmu, hubungan yang demikian anehnya ini mungkin bisa kau pahami, disinilah dia letaknya alasan kenapa aku harus berbuat demikian..."

"Jadi kau berbuat demikian karena hendak membalas dendam terhadap ayahku...??" seru Pek In Hoei setengah menjerit.

"Boleh dibilang begitulah..."

Dengan penuh kemarahan Pek In Hoei menuding ke arah pemilik Benteng Kiam-poo, kemudian teriaknya setengah menjerit :

"Sekarang aku baru tahu bahwa kau adalah manusia yang paling jahat, manusia yang berhati binatang... aku benci kepadamu... aku dendam kepadamu dan ingin sekali membinasakan dirimu, karena kau adalah seorang manusia rendah yang tak tahu malu..."

Air muka pemilik Benteng Kiam-poo berubah hebat, napsu membunuh terlintas di atas wajahnya, dengan muka menyeringai mengerikan ia berseru dingin :

"Kenapa kau sampai sekarang kau belum juga turun tangan??"

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei perlahan-lahan menggerakkan tangan kanannya meraba gagang pedang penghancur sang surya yang tersoren pada pinggangnya tetapi ia tidak langsung meloloskan senjat tersebut melainkan melotot ke arah pemilik Benteng Kiam-poo dengan pandangan penuh kegusaran, pandangan itu penuh mengandung rasa permusuhan... sedikit pun tiada hawa persahabatan yang melintasi wajahnya... Tetapi lama sekali kedua belah pihak tetap saling berpandangan tanpa seorang pun yang mulai melancarkan serangan, perlahan-lahan Pek In Hoei turunkan kembali telapaknya dan menghela napas sedih... Menyaksikan tingkah laku pemuda itu, pemilik Benteng Kiam- 

poo jadi tertegun, segera tegurnya :

"Kenapa?? Kenapa kau tidak jadi turun tangan?? Apakah kau tidak berani??..."

"Kau jangan keliru melihat orang," jawab Pek In Hoei dengan rasa penuh kebencian, "sekarang aku belum ingin membinasakan dirimu, menanti saatnya telah tiba tanpa kau suruh, aku bisa turun tangan sendiri untuk membinasakan dirimu, untuk sementara waktu aku akan biarkan kau hidup beberapa hari lagi di kolong langit."

"Kenapa? Apakah kau anggap aku sedang membutuhkan belas kasihanmu?" teriak pemilik Benteng Kiam-poo dengan penuh kegusaran.

Dalam pada itu Pek In Hoei telah berusaha mengendalikan perasaan yang bergolak dalam dadanya, pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, ia tidak percaya bahwa apa yang terjadi merupakan kenyataan, dengan suara dingin ujarnya :

"Memandang di atas wajahnya, untuk sementara waktu kulepaskan dirimu."

"Siapa yang kau maksudkan dengan dia?" tanya pemilik Benteng Kiam-poo setelah tertegun sejenak.

"Nyonyamu tentu saja!" jawab Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

Ketika ia mengucapkan kata-kata tersebut, hatinya terasa sakit bagaikan ada dua bilah pedang tajam yang menusuk lubuk hatinya.

Lama sekali pemilik Benteng Kiam-poo berdiri tertegun, kemudian ujarnya :

"Kau maksudkan ibumu yang maha agung dan maha tercinta itu." "Perkataan itu boleh kau buang dari sebutan tersebut," tukas si

anak muda itu sambil menyeka darah yang menodai ujung bibirnya. "Masa kau sudah tak sudi mengenal ibumu lagi," bentak pemilik Benteng Kiam-poo dengan penuh kegusaran.

"Terhadap ibu semacam ini ada atau tidak bagiku sama saja," jawab Pek In Hoei dengan air mata bercucuran, "tanpa dirinya aku toh tetap tumbuh jadi dewasa, lagi pula aku bukan dilahirkan olehnya, dalam sebutan saja dia adalah ibuku, tetapi perasaan cinta kasih di antara kami sama sekali tidak ada, ia tak pernah merawat atau pun mendidik aku walau hanya satu hari pun."

Pek In Hoei menghela napas panjang, air mata jatuh berlinang semakin deras, kejadian ini memang menyedihkan sekali hatinya.

Ujarnya dengan suara yang memedihkan hati :

"Sebelum aku tiba di sini, dalam bayanganku terlintas ingatan bahwa ibuku tidak jauh berbeda dengan ibu orang lain, seorang perempuan agung yang dapat menjaga martabatnya sebagai seorang wanita, tetapi setelah aku berjumpa dengan dirimu, aku baru tahu bahwa kedatanganku ke tempat ini sebenarnya adalah keliru besar, aku tak menyangka kalau ia sudah jadi nyonya poocu, ia sudah melupakan diriku yang menjadi putranya, hal yang paling memedihkan hatiku adalah perbuatannya kawin denganmu, kawin dengan seorang..."

"Kenapa dengan diriku?" sela Poocu dari Benteng Kiam-poo itu sambil tertawa seram.

"Hatimu terlalu kejam dan perasaanmu paling sadis di kolong langit, kau tidak memiliki peri kemanusiaan dan kau tidak kenal budi sebagai seorang manusia terutama sekali rasa dendammu terhadap ayahku sudah demikian mendalam, bila ia tahu tata cara maka tidak semestinya kalau dia kawin dengan musuh besar suaminya sendiri, agar musuh besarnya dapat mengejek serta mempermalukan putranya, membuat aku sepanjang masa tak sanggup untuk angkat kepala kembali, paling sedikit di dalam hal ini, aku tak dapat mengampuni dirinya." "Heeeeh... heeeeh... heeeeh... sungguh tak kusangka kau masih mempunyai sedikit semangat jantan," ejek pemilik Benteng Kiam- poo sambil tertawa seram, "Pek Tiang Hong boleh merasa bangga karena dia mempunyai putra macam dirimu, tetapi sayang seribu kali sayang putranya itu terpaksa harus mengorbankan selembar jiwanya di dalam Benteng Kiam-poo karena berani menyalahi diriku."

Pek In Hoei merasa amat gusar, ia hendak mengumbar hawa amarahnya, tetapi Lu Kiat segera maju ke depan, serunya :

"Adik In Hoei tunggu sebentar!"

Kepada pemilik Benteng Kiam-poo serunya kemudian : "Poocu, bolehkah aku ajukan beberapa persoalan kepadamu?"

"Selama pertanyaanmu itu berada dalam lingkungan yang memungkinkan, aku dapat memberikan jawaban atas pertanyaanmu itu!"

"Baik..." seru Lu Kiat sambil tertawa dingin, "setelah kutinjau semua gerak gerik yang kau perlihatkan tadi, aku dapat menilai bahwa kau adalah seorang pria yang pandai sekali menggunakan otak serta kecerdikanmu, aku ingin tanya padamu, benarkah ibu dari adik In Hoei dengan sungguh hati dan kerelaan dirinya suka menikah dengan dirimu?"

"Kenapa? Apakah kau tidak percaya?" seru pemilik Benteng Kiam-poo dengan wajah berubah hebat.

"Paling sedikit aku punya kecurigaan yang mengarah pada suatu perkawinan yang dipaksakan, aku percaya seorang perempuan tak akan suka dengan seorang suami yang pandai mempergunakan akal licinnya untuk menipu serta menjebak orang, mendampingi harimau sama artinya dengan mendampingi suatu kematian, setiap saat kemungkinan besar dirinya bakal dipermainkan oleh suaminya, andaikata kau adalah seorang perempuan, bisakah kau mencintai seorang pria macam ini?"

"Cisss...! Sebenarnya apa maksudmu berkata demikian?" "Gampang sekali," jawab Lu Kiat sambil tertawa dingin, "bila ia benar-benar sampai menikah dengan dirimu, maka kau pasti telah menggunakan suatu permainan setan untuk memaksa atau menipu dirinya, aku orang she Lu yakin bahwa keinginannya itu pasti bukan muncul dari kerelaan hatinya."

"Hmmm!" pemilik Benteng Kiam-poo mendengus gusar, "bajingan cilik, sudah terlalu banyak yang kudengar, bila aku tidak memandang usiamu yang masih muda dan tak tahu urusan mungkin selembar jiwamu telah kucabut sejak semula, kini kalian berdua telah memasuki pintu neraka, tidak mungkin lagi kalian tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, sekarang aku tak mau ribut-ribut dahulu dengan kalian berdua, tiga hari kemudian aku baru akan membereskan kamu berdua."

Dengan bangga ia tertawa keras, lalu ujarnya lagi :

"Hilangkan ingatan untuk melarikan diri dari tempat ini, setiap saat pasti ada orang yang membuntuti gerak gerik kalian, dan aku harap di dalam waktu tiga hari ini kalian dapat mempergunakan baik- baik sisa hidupmu untuk bermain hingga puas di dalam benteng ini..." "Aku akan membinasakan dirimu tiga hari kemudian..." seru Pek

In Hoei dengan suara dingin.

"Mampukah kau berbuat demikian, lihat saja nanti apakah usiamu cukup panjang atau tidak..."

Dengan penuh rasa bangga ia tertawa terbahak-bahak lalu pula badan dan berlalu dari situ, di tengah udara hanya tertinggal suara gelak tertawanya yang nyaring...

Benteng Kiam-poo nampak begitu tenang dan hening... sedikit pun tidak dihiasi napsu membunuh atau pun bau anyir darah... ketika malam menjelang tiba, lampu lentera bergantungan di setiap sudut tempat membuat seluruh benteng jadi terang benderang bagaikan di siang hari belaka...

Meskipun Pek In Hoei serta Lu Kiat datang berkunjung ke benteng Kiam-poo dengan membawa rasa permusuhan, tetapi semua anggota benteng itu tidak seorang pun yang memandang istimewa terhadap mereka berdua, dua orang pemuda itu bebas bergerak kemana pun juga selama mereka tidak berusaha untuk berjalan menuju keluar benteng, kendati demikian setiap gerak-gerik mereka selalu dibayangi dan diawasi oleh seorang secara diam-diam...

Bintang bertaburan di angkasa, dengan perasaan kesal bercampur murung Jago Pedang Berdarah Dingin munculkan diri dari ruang tamu dan berjalan-jalan menuju ke tepi sebuah selokan tidak jauh letaknya dari benteng tersebut.....

"Aaai ia menghembuskan napas panjang, " kejadian ini benar-

benar berada di luar dugaan, sebenarnya aku hidup dalam kesederhanaan serta ketenangan... tetapi ketika aku berjuang demi masa depanku, ternyata dalam hal asal-usulku telah terjadi perubahan yang begitu besarnya "

Dengan sedih ia geleng kepala, gumamnya kembali :

"Aku ingin sekali melupakan semua persoalan ini, tetapi semakin aku berusaha untuk melupakannya, pikiran tersebut semakin menerobos masuk ke dalam ingatanku, seakan-akan ulat sutera yang yang tiada hentinya menyemburkan liurnya.

Dengan pandangan termangu-mangu ia menatap gelombang kecil yang muncul di atas permukaan air selokan pikiran melayang-

layang melamunkan nasibnya yang begitu jelek....

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang... Namun Jago Pedang Berdarah Dingin tetap tidak berpaling, sorot matanya yang dingin dan hambar mendongak ke angkasa memandang bintang yang bertaburan di udara...

Suara langkah manusia kian lama kian bertambah dekat dan akhirnya berhenti tepat di belakang tubuhnya, kemudian terdengarlah seseorang berseru dengan suara yang merdu :

",Oooh ! kiranya kau berada disini." Dari nada ucapan tersebut, Jago Pedang Berdarah Dingin segera mengenalinya sebagai suara dari Ciu Tiap Tiap, putri

kesayangan pemilik benteng Kiam-poo.

Pemuda itu tetap membungkam, ia tidak berpaling pun tidak menunjukkan reaksi apa pun kecuali mendengus dingin.

Tertegun hati Cui Tiap Tiap menyaksikan sikap lawannya yang dingin dan ketus itu, dengan suara tercengang ia berseru tertahan lalu ujarnya :

"Hey, kenapa sih sikapmu begitu tak bersahabat terhadap diriku "

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak sanggup mengendalikan perasaan hatinya lagi, tiba-tiba ia angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak, suaranya nyaring dan penuh mengandung sindiran, hal ini membuat Cui Tiap Tiap merasa malu dan terhina, sepasang matanya yang besar bulat hampir saja dibasahi oleh air mata yang jatuh bercucuran.

„Eeei....apa yang kau tertawakan ?" tegurnya dengan suara gemetar, "kau mentertawakan aku karena di tengah malam buta datang mencari dirimu ? "

Setelah tertawa nyaring Pek In Hoei merasakan dadanya jadi lapang dan jauh lebih segar, ia berhenti tertawa dan menjawab :

"Kalian orang-orang dari keluarga Cui memang terlalu gemar mencampuri urusan orang lain, sehingga orang yang sedang tertawa pun pinginnya diurusi... nona besar ! peraturan dari benteng kalian terlalu banyak "

"Kau tak usah menggunakan sikap semacam itu untuk menghadapi diriku," seru Cui Tiap Tiap dengan suara dingin, "Andaikata aku bukan sedang menjalankan perintah dari ibuku, tidak nanti aku sesinting itu untuk datang menemui dirimu di tengah malam buta."

"Siapakah ibumu? Ada urusan apa datang mencari aku?" seru Pek In Hoei dengan nada tertegun. "Siapakah ibuku aku rasa kau tentu lebih paham daripada diriku sendiri, hubungannya dengan diriku tidak jauh berbeda seperti kau dengan dirinya, sekali pun bukan dilahirkan olehnya tapi dalam sebutan tetap merupakan ibuku, Pek In Hoei ! Sekarang kau mengerti bukan ?"

Ia bereskan rambutnya yang terurai ke bawah itu, kemudian ujarnya kembali :

"Sekarang tugasku telah kulakukan dengan baik, mau pergi atau tidak terserah pada keputusanmu sendiri !"

"Ada urusan apa ia datang mencari diriku ?" tanya Pek In Hoei sambil tertawa dingin.

"Hmmm! Tentang persoalan ini semestinya akulah yang bertanya kepadamu, apa pula sebabnya kau datang ke benteng Kiam-poo untuk mencari dirinya?? Pek In Hoei! Aku rasa alasannya tentu saja dan sekarang aku ingin bertanya, sebetulnya kau ingin pergi atau tidak....

"Aku tidak ingin pergi!" jawab pemuda itu lirih.

Cui Tiap Tiap jadi tertegun, ia tak tahu apa sebabnya pemuda itu bersikeras untuk menampik pertemuannya dengan sang ibu, dengan perasaan tak mengerti ditatapnya wajah pemuda itu lalu bertanya :

"Kenapa? Kenapa kau tak mau berjumpa dengan ibumu?" "Ibuku adalah seorang perempuan yang suci, seorang wanita

yang lemah lembut, agung dan mengerti akan sifat kewanitaannya, tak mungkin ia kawin dengan seorang manusia takabur yang tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, aku tak sudi bertemu dengan seorang ibu macam begitu   aku tak sudi bertemu dengan seorang ibu

yang kawin lagi dengan lelaki takabur...

"Apa katamu?" bentak Cui Tiap Tiap penuh kegusaran, "kau mengatakan ayahku adalah seorang lelaki yang takabur?"

„Huuh! Rupanya perkataanku ini telah melukai hatimu? Kalau kau merasa gengsimu tersinggung oleh ucapanku ini, kau tak usah menegur atau menyalahkan diriku, pergilah temui ayahmu dan salahkan sendiri perbuatannya yang tak tahu diri itu. " Cui Tiap Tiap merasa sakit hati dan tak tahan menyaksikan orang lain memandang rendah serta memandang hina ayahnya yang dihormati, dalam pikirannya ia anggap sang ayah adalah seorang jago sakti yang luar biasa ampuhnya karena dengan kekuatan seorang diri dia mampu mendirikan suatu usaha yang besar, dapat mendirikan benteng Kiam poo yang angker dan disegani orang, karena itu ia tak memperkenankan orang lain menghina atau memperolok-olok ayahnya.

Mimpipun gadis itu tidak pernah menyangka kalau ayahnya telah mengorbankan berpuluh-puluh lembar jiwa untuk tancapkan kakinya dalam dunia persilatan, untuk berdiri dan muncul sebagai suatu benteng yang disegani setiap orang, ayahnya telah menggunakan cara-cara yang paling rendah dan paling keji untuk mewujudkan cita- citanya itu....banyak kejahatan telah dilakukan ayahnya dalam benteng Kiam-poo yang misterius dan mengerikan itu, hanya saja gadis itu sama sekali tidak mengetahuinya.

„Pek In Hoei, sebenarnya apa maksudmu ? Kenapa kau menuduh ayahku melakukan perbuatan yang tidak senonoh " tegur Cui Tiap

Tiap dengan nada gusar.

Pek In Hoei tarik napas panjang-panjang dan menjawab :

"Lebih baik tanyakan langsung persoalan ini kepada ayahmu sendiri, dia bakal memberi jawaban yang memuaskan bagimu, kau harus tahu di antara kebaikan kejahatan suatu ketika pasti akan tiba waktunya untuk di sebelah... karena perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukan oleh ayahmu itulah, dia harus menerima suatu akibat yang menyedihkan, suatu akhir yang mengerikan sekali "

Air muka Cui Tiap Tiap berubah hebat saking gusarnya, ia membentak nyaring :

"Kau tak usah mengajak aku untuk membicarakan persoalan yang sama sekali tak ada gunanya itu kepadaku, selama berada di hadapanku aku larang kau mencaci maki serta menghina ayahku, kalau kau bersikeras untuk mengatakannya juga, maka terpaksa aku akan beradu jiwa dahulu dengan dirimu..."

Dengan penuh kegusaran ia berkata kembali :

"Bagaimana? Kau jadi atau tidak? Ibumu masih menantikan kedatanganmu!"

Pek In Hoei menggeleng.

"Kau tak tahu betapa pedih dan menderitanya aku, aku benar- benar tidak ingin bertemu dengan dirinya... nona besar, terima kasih atas kesediaanmu datang mencari aku, tolong sampaikanlah kepadanya lain kali saja aku berkunjung kepadanya..."

Dengan sedih Ciu Tiap Tiap menghela napas panjang pula. "Meskipun dia adalah ibu tiriku, tetapi cinta kasihnya terhadap

aku melebihi kasih sayang seorang ibu kandung terhadap anaknya sendiri," ia berkata, "tahukah kau, setiap kali ia berbicara dengan aku sering kali ia sebut-sebut tentang dirimu... Pek In Hoei! Peduli tindakannya betul atau salah, kau harus pergi menjumpai dirinya atau paling sedikit kau harus menghilangkan kekosongan hidup yang telah menyelimuti masa tuanya, kau harus menghilangkan siksaan batin yang selama ini membuat ia menderita... seringkali aku menemukan ia sedang menangis terisak dan bibirnya menyebutkan namamu..."

Pek In Hoei merasakan sekujur tubuhnya gemetar keras, suatu perasaan aneh timbul dalam benaknya. seolah-olah ia saksikan di hadapannya muncul seorang perempuan tua yang kusut dan menyedihkan, panggilan yang mesra hampir mendekati jeritan itu membuat perasaan hatinya bertambah iba... tanpa sadar pemuda itu mengucurkan air matanya...

Dengan sedih ia menunduk ke bawah pikirnya :

"Benarkah ibu sangat mencintai diriku seperti apa yang dikatakan Cui Tiap Tiap?? Aku toh bukan anak kandungnya kenapa ia bersikap begitu sayang dan mesra terhadap diriku??" Pelbagai ingatan aneh berkecambuk dalam benaknya... membuat pemuda itu terpekur dengan wajah mendelong... perasaan hatinya yang bergolak perlahan-lahan jadi tenang kembali.

Ia tarik napas panjang-panjang, lalu bertanya : "Ibuku sekarang berada dimana?"

"Sudah tembuskah jalan pikiranmu?" jengek Cui Tiap Tiap sambil tertawa dingin, "Pek In Hoei! Sebelum kau berjumpa muka dengan ibumu, terlebih dahulu aku hendak memperingatkan dirimu, meskipun ibumu telah bertindak salah, kau sebagai puteranya harus bertindak sopan dan tunjukkan kebaktianmu... aku harap kau jangan bertindak gegabah tanpa berpikir panjang. "

"Cukup! Luka yang menggores dalam hatiku sudah cukup parah," tukas Pek In Hoei sambil geleng kepala, "aku dapat memahami maksud hatimu itu, terima kasih, aku dapat pergi menjumpai dia orang tua dengan sikap yang hormat "

Mendengar pemuda itu telah berjanji, perasaan hati Cui Tiap Tiap pun lambat laun berubah jadi lega, katanya :

"Karena kau bukan seorang perempuan maka kau tak akan memahami perasaan hati dari seorang wanita, aku harap kau bisa menyelami pula perasaan menderita pada tubuh orang lain, janganlah mengungkap-ungkap urusan yang sebenarnya sama sekali tak berguna "

Ia melirik sekejap ke samping kiri dan kanannya, lalu berseru : "Mari kita berangkat! Kali ini ibu akan bertemu dengan kau tanpa

sepengetahuan ayahku, ia tidak mengharapkan orang lain pun mengetahui akan persoalan ini, ia cuma berharap agar bisa bercakap- cakap dengan dirimu secara baik-baik, nanti sewaktu kita berangkat ke situ aku harap kau suka bertindak hati-hati "

"Ehmmm! Ibuku bersiap-siap hendak bertemu dengan diriku dimana ? "

"Tuh, di dalam ruangan sebelah depan sana," sahut Ciu Tiap Tiap sambil menuding ke arah depan, "ikutilah aku dengan hati-hati, aku kuatir ayahku mengetahui akan peristiwa ini maka dalam tindak tandukmu nanti bersikaplah waspada dan hati-hati."

Perlahan-lahan ia menggerakkan tubuhnya dan bergeser menuju kegelapan yang mencekam di seluruh jagad, Pek In Hoei mengikuti dari belakangnya, menyaksikan sikap sang gadis diam-diam ia tertawa dingin, senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya....

Ketika tiba di depan sebuah bangunan, tiba-tiba Ciu Tiap Tiap menghentikan gerakan tubuhnya, ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu lalu bisiknya kepada jago pedang berdarah dingin dengan suara lirih :

"Ibumu berada di dalam bangunan tersebut, sekeliling tempat ini penuh dengan penjagaan yang ketat, tunggulah sebentar disini! Akan kuusir dahulu para penjaga itu kemudian kau baru masuk ke dalam." Ia memerintahkan si anak muda itu untuk bersembunyi di belakang sebuah pohon besar, ia sendiri perlahan-lahan bergerak

menuju ke arah pintu depan.

Belum jauh ia berjalan, dari tempat kegelapan meloncat keluar dua orang pria baju hitam, sambil menghadang jalan pergi gadis itu tegurnya :

„Siapa ??"

Suasana yang gelap gulita membuat pihak lawan tak jelas menyaksikan lawan, begitu teguran itu diutarakan keluar, Cui Tiap Tiap segera mendengus dingin.

"Hmm! Loo Ma, masa aku pun tidak kau kenal?" tegurnya.

Kedua orang pria itu terkesiap, lalu bongkokkan badan memberi hormat. „Oooh kiranya nona!"

„Hmm ! Malam ini akulah yang akan menemani loo-hujin, kalian boleh pergi beristirahat, bila poocu telah kembali berilah kabar cepat- cepat kepadaku  "

"Baik!" sahut pria yang ada di sebelah kiri dengan sikap hormat, "pesan nona pasti akan hamba laksanakan sebaik-baiknya." Menanti Cui Tiap Tiap ulapkan tangannya, kedua orang pria itu dengan ketakutan segera mengundurkan diri dari sana.

Setelah bayangan punggung kedua lenyap dari pandangan, Cui Tiap Tiap baru menggape ke arah Pek In Hoei sambil ujarnya :

"Masuklah ke dalam, kedua orang manusia yang memuakkan itu sudah kuusir pergi!"

"Terima kasih atas bantuanmu," sahut Pek In Hoei sambil meloncat keluar dari tempat persembunyiannya, "bila kau tidak menunjukkan jalan bagiku, mungkin aku tak akan mendapatkan cara untuk tiba ditempat ini "

Mereka berdua segera melangkah masuk ke dalam pintu, tampak bau bunga harum semerbak tersiar di udara, di tengah kebun bunga yang luas muncullah sebuah bangunan rumah yang megah, cahaya lentera memancar keluar lewat celah-celah pintu dan jendela...

"Masuklah ke dalam!" bisik Cui Tiap Tiap dengan suara lirih, "ibumu mungkin sudah lama menantikan kedatanganmu, inilah detik detik bersejarah yang menandakan pertemuan antara ibu dan anak, aku tidak ingin menyaksikan adegan yang memilukan hati itu, maka maafkanlah aku bila aku tak akan menemani dirimu lebih jauh."

Dengan perasaan hati bergolak Pek In Hoei menghembuskan napas panjang, tiba-tiba ia merasa hatinya jadi tegang daripada sewaktu menghadapi suatu pertarungan....

Keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dia naik ke atas tangga batu dan mendorong pintu yang tertutup rapat.

Kraak... ! Tatkala pintu itu terbuka, dengan perasaan sangsi ia tarik kembali tangannya.

"Ibu. " bisiknya dengan suara lirih.

Orang yang berada di dalam ruangan rupanya tak bisa mengendalikan golakan batinnya, ia menjerit tertahan ketika pintu

terbuka, tampaklah seorang perempuan tua yang rambutnya telah beruban semua dengan air mata bercucuran berdiri di hadapannya...

biji matanya jeli tiada hentinya menatap wajah Pek In Hoei. "Hoei.... kau.... kau adalah Pek In Hoei.... putraku..." bisik perempuan tua itu dengan suara parau.

"Tidak salah!" jawab Pek In Hoei dengan air mata bercucuran, "seorang bocah yang belum pernah melihat raut wajah ibu sendiri..." Bagaikan terkena listrik tegangan tinggi, sekujur badan perempuan tua yang sedang berduka itu gemetar keras... ia ulurkan tangannya yang gemetar keras untuk membelai raut wajah si anak

muda itu.

"Kau... kau telah dewasa..." bisiknya lirih.

"Aku tak pernah mati kelaparan, tentu saja tubuhku bertambah dewasa..." tukas Pek In Hoei sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Jawaban tersebut sama sekali tidak bersikap persahabatan, dengan pandangan tercengang perempuan tua itu menatap sekejap wajah Pek In Hoei, air mukanya yang sudah pucat kini kian bertambah pucat hingga menyerupai mayat, dengan sedih ia menghela napas panjang.

"Aku tahu... kau tak akan memaafkan diriku... sebelum berjumpa dengan kau aku telah memikirkan persoalan ini, mama tak salahkan dirimu, mama hanya salahkan nasib mama yang jelek."

Dengan penuh kesedihan ia tutup wajah sendiri dengan tangannya lalu menangis, air mata jatuh bercucuran merembes dari celah-celah jarinya yang telah berkeriput...

Pek In Hoei merasa hatinya jadi kecut, dengan hati pedih ia menghela napas panjang, kepalanya terkulai dan ia ikut menangis.

Pemandangan yang terbentang ketika itu sangat mengenaskan sekali, meskipun ibu dan anak bisa berjumpa lagi namun perjumpaan itu tidak ditandai oleh kegembiraan atau kebahagiaan, melainkan hanya kepedihan serta kesedihan saja yang ada....

Lama sekali perempuan tua itu menangis kemudian sambil menahan isak tangisnya ia bertanya :

"Nak, benarkah kau amat benci terhadap diriku ??" Pek In Hoei menggeleng.

",Aku tak akan membenci dirimu, aku hanya membenci terhadap diriku sendiri..."

"Aaai..." aku tahu tindakanku ini keliru besar..." bisik perempuan tua itu lagi sambil menghela napas panjang.

"Hmm! Tidak sewajarnya kalau kau kawin lagi dengan musuh besar dart ayah..."

"Aaai...! Helaan napas berat kembali berkumandang memecahkan kesunyian, dengan wajah penuh kesedihan dan penyesalan perempuan tua yang patut dikasihani ini gelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau anggap mama adalah perempuan lonte yang tahu malu ?? Kau anggap mama rela merendahkan derajat untuk tunduk kepada Cui Tek Li?" serunya sambil menahan perih hatinya, "Nak... kau keliru... kau keliru besar... mama masih memiliki gengsi sebagai seorang perempuan, mama masih memiliki martabat hidup sebagai seorang istri yang setia... sekalipun selama hidup aku tak punya suami, aku lebih rela daripada mencintai keparat tua itu..."

"Jadi kalau begitu poocu dari benteng Kiam poo yang memaksa kau untuk berbuat demikian..." seru Pek In Hoei dengan suara gemetar.

Dengan penuh kesedihan perempuan tua itu menunduk. "Tindakan Cui Tek Li amat lihay dan luar biasa sekali, setelah ia

menculik aku datang kemari maka ia sengaja menggunakan keselamatanmu serta keselamatan ayahmu untuk menggertak diriku, membuat batinku tertekan dan setiap hari aku jadi kuatir untuk keselamatan suamiku serta anakku."

"Apa ? Ia berani menggunakan cara yang begitu rendah untuk menghadapi dirimu..." teriak Pek In Hoei dengan penuh kebencian, batinnya terpukul keras. Napsu membunuh yang amat tebal seketika melintas di atas raut wajah pemuda itu, wajahnya berubah jadi menyeringai dan tampak mengerikan sekali.

ketika perempuan tua itu melihat keadaan putranya, ia terkesiap, dengan rasa takut bercampur ngeri segera tegurnya :

"Nak, apa yang hendak kau lakukan?"

"Oooh...! Tidak... jangan... jangan kau lakukan perbuatan itu... jangan kau lakukan pembunuhan itu..." seru perempuan tua itu dengan suara gemetar.

Tertegun hati Pek In Hoei mendengar perkataan itu, hawa amarah sedang berkobar dalam rongga dadanya, ia tak mampu mengendalikan golakan dalam hatinya lagi, segera tegurnya :

"Kenapa? Apakah hal itu disebabkan Cui Tek Li adalah suamimu?"

Jelas pemuda ini sudah bikin salah paham oleh perkataan ibunya, ia sangat membenci pemilik benteng Kiam-poo yang telah menggunakan cara rendah untuk mengancam ibunya, maka dalam pembicaraan pun ia mulai pandang hina orang tua itu, teguran yang ditujukan kepada ibunya pun tanpa tedeng aling-aling....

"Tidak! Tidak nak, kau telah salah paham... kau telah salah mengartikan ucapanku itu!" seru perempuan tua itu dengan suara terkejut bercampur ketakutan.

"Hmmm ! Apanya yang salah paham?" ejek Pek In Hoei sambil tertawa dingin, "dendam permusuhan antara Cui Tek Li dengan ayah dalam bagaikan samudra, kedua belah pihak tak mungkin bisa hidup berdampingan di kolong langit, ia telah menghina ayah, maka sekalipun kubunuh perbuatanku ini tidaklah kelewat batas, apalagi dia sudah memaksa kawin dengan dirinya."

Ia berhenti sebentar, kemudian dengan suara gemetar sambungnya lagi :

"Mama, aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu!" "Apa yang hendak kau tanyakan?? Katakanlah!" seru perempuan tua itu sambil menangis tersedu-sedu.

"Bagaimana keadaan ayah waktu menemui ajalnya??"

Perempuan tua itu merasa hatinya sakit bagaikan diiris dengan pisau, penderitaan serta siksaan batin membuat sekujur badannya gemetar keras, air mata jatuh bercucuran dengan derasnya, bibirnya bergerak meluncurkan beberapa patah kata yang serak dan parau. 

"Apakah kau belum tahu. "

",Kali ini dengan menempuh dan mempertaruhkan jiwa ragaku aku menerjang masuk ke dalam benteng Kiam-poo, tujuannya bukan lain adalah ingin menyelidiki sebab-sebab kematian dari ayah, aku rasa ibu tentu mengetahui akan rahasia ini....aku hendak membunuh semua para bajingan-bajingan terkutuk itu untuk membalaskan dendam sakit hati dari ayah. "

„Hoa Pek Tuo !"

"Apa? Dia..." napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan penuh kebencian ia berteriak, "sejak dahulu aku telah menaruh curiga terhadap orang ini. hanya aku kekurangan bukti."

Perlahan-lahan ia cabut keluar pedang mestika penghancur sang surya, kemudian mengangkat ke tengah udara.... sambil menatap ujung pedang itu dengan sorot mata mengerikan, teriaknya kembali : "Aku hendak menggunakan pedang ini untuk mencuci bersih

seluruh dendam sakit hati ini."

Pedang berkelebat lewat, cahaya berkilauan menusuk pandangan mata, di antara menyambar bayangan senjata.... Krasak! Meja tebal yang berada di ruang tengah terbelah jadi dua bagian termakan oleh pecahan pedang itu.

"Nak. !" jerit perempuan itu dengan suara gemetar.

Sepasang mata Pek In Hoei berubah jadi merah berapi-api, sambil menatap wajah ibunya tajam-tajam ia menegur :

"Siapa lagi yang terlibat dalam rencana pembunuhan ini?" Ia berhenti sejenak, kemudian desaknya lagi lebih jauh : "Apakah Cui Tek Li adalah otak dari rencana pembunuhan ini..." Dengan ketakutan perempuan tua itu duduk menjublak, sekujur badannya gemetar keras dan hatinya sakit bagaikan diiris-iris dengan pisau, air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya yang telah penuh

berkeriput, ujarnya sambil menghela napas panjang :

"Aku mempertahankan hidupku hingga sekarang, tujuannya bukan lain adalah untuk menyelidiki siapakah pembunuh sebenarnya dari ayahmu, setelah kulakukan penyelidikan yang teliti dan seksama, dapat kuketahui Hoa Pek Tuo adalah pembunuh yang terutama, sedangkan Cui Tek Li benarkah merupakan otak dari rencana pembunuhan ini, sampai sekarang aku belum berani memastikannya tetapi aku tahu hubungannya dengan Hoa Pek Tuo pada akhir-akhir ini amat rapat dan akrab sekali, di kemudian hari aku pasti akan mencari kesempatan untuk menyelidiki persoalan ini."

"Ooouw ! Mungkin kau tak berani membuktikannya sebab kau

takut aku membinasakan dirinya, sehingga membuat kau kehilangan suamimu."

"Tutup mulutmu...." bentak perempuan tua itu dengan suara nyaring, air mukanya berubah jadi mengenaskan sekali tanyanya :

"Kau jangan mengira aku sedang memohonkan ampun bagi Cui Tek Li, terus terang kuberitahukan kepadamu selama hidup aku hanya tahu mencintai Pek Tiang Hong, dia adalah orang yang paling kucintai, akupun merasa mempunyai tugas serta kewajiban untuk menuntut balas bagi kematiannya. Asalkan Cui Tek Li terlibat dalam peristiwa berdarah ini, aku akan berusaha mencari akal untuk membinasakan dirinya. Nak, aku tak mau tahu bagaimanakah pandanganmu terhadap diriku, yang jelas apa yang barusan kukatakan adalah kata-kata yang muncul dari sanubariku, sedikit pun aku tiada maksud untuk membohongi dirimu."

"Ooo, aku tahu. aku sudah tahu !"