-->

Imam Tanpa Bayangan I Jilid 35

 
Jilid 35

SIAPA tahu pemuda itu tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, ternyata ia menantang kembali untuk berduel.

Jago Pedang Berdarah Dingin bukanlah manusia suka diganggu, napsu membunuh seketika menyelimuti wajahnya, dengan suara ketus serunya :

"Cui Sau poocu, ada pepatah kata aku ingin beritahukan kepadamu lebih dahulu kata-kata itu yakni : tidak naik ke atas puncak gunung, orang tak akan tahu tingginya gunung, tak masuk ke dalam samudra tak akan tahu dalamnya lautan. Hingga detik ini mungkin kau masih belum berjumpa dengan jago silat yang betul-betul lihay, suatu hari kau akan merasakan bagaimana rasanya seorang yang menderita kekalahan, waktu itu kau baru akan merasa betapa luasnya pelajaran ilmu pedang yang terdapat di kolong langit."

"Aku tak sudi mendengarkan nasehatmu itu," tukas Cui Kiam Beng sambil putar pedangnya.

"Adikku, kau tak boleh berbuat demikian!" bentak Cui Tiap Tiap dengan wajah berubah hebat.

"Cici kenapa kau begitu tak tahu diri," seru Cui Kiam Beng sambil memberi hormat kepada kakaknya, "berhadapan muka dengan seorang jago pedang macam dia, hal ini merupakan satu kesempatan yang terbaik bagiku untuk menjajal ilmu silat keluarga kita, aku percaya di kolong langit tiada ilmu pedang lain yang mampu mengalahkan ilmu pedang keluarga kita." "Perkataan dari Pek sauhiap sedikit pun tidak salah," bentak Cui Tiap Tiap dengan gusar, "di luar gunung masih ada gunung, di luar manusia cerdik masih ada manusia cerdik, sekali pun keluarga kita mendapat julukan sebagai keluarga nomor wahid di kolong langit, kita pun tak berani mengunggulkan ilmu silatnya sebagai nomor satu di seluruh dunia, karena banyak sekali terdapat jago-jago pedang pandai yang lebih suka mengasingkan diri daripada ikut memperebutkan nama kedudukan."

"Aku tak mau mendengarkan perkataanmu yang menggelikan telinga itu," seru Cui Kiam Beng sambil tertawa dingin, "mencapai kedudukan yang tertinggi merupakan cita-cita dari setiap jago yang belajar ilmu pedang, cici kau tak usah mencampuri urusanku lagi..." 

Pedang pendeknya digetarkan keras-keras dan serunya kembali : "Manusia she Pek! Mari kita tetapkan menang kalah kita di ujung

senjata!"

Pada saat itu hawa murninya yang sudah banyak hilang akibat pertarungan sengit yang barusan berlangsung telah pulih kembali seperti sediakala, ia menghembuskan napas panjang-panjang lalu berteriak keras, pedang pendek dalam genggamannya bergerak membentuk satu gerakan busur yang berwarna kehijau-hijauan, setelah berhenti sejenak di tengah udara laksana kilat segera menyusup ke depan.

"Hmmm!" Pek In Hoei mendengus dingin tubuhnya loncat maju ke depan meloloskan diri dari serangan tersebut, pedangnya digetarkan keras dan segera membabat masuk ke dalam lewat sisi kiri musuhnya.

Cui Kiam Beng putar pedangnya sambil maju ke depan, tiba-tiba langkahnya memanjang satu kali lipat dari keadaan biasa.

Traaang... sepasang pedang segera saling bentur satu sama lain, menyebabkan percikan bunga api berhamburan ke seluruh udara, suara pekikan nyaring menggeletar di udara dan lama sekali baru membuyar kembali. Rambut di atas kepala Cui Kiam Beng berguguran ke atas lantai, rambut yang kusut menutupi hampir seluruh wajahnya, dengan sorot mata berapi-api ia putar pedang pendeknya, dengan buas dan bengis ditatapnya wajah lawan dengan pandangan tajam, seakan-akan ia sedang menunggu suatu kesempatan baik untuk melancarkan serangan mautnya.

Pek In Hoei dengan hambar angkat kepala memandang ujung pedang di angkasa, terhadap sikap menyeringai Cui Kiam Beng yang menyeramkan itu ia tidak memandang atau pun menggubris, sikapnya tetap tenang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apa pun jua, hanya saat ini wajahnya lebih keren dan sama sekali tidak dihiasi senyuman. "Hmmm..." suara tertawa seram meledak dari balik bibir Cui Kiam Beng, pedang pendeknya dengan membentuk sekilas cahaya keperak-perakan berkelebat menembusi angkasa dan meluncur ke

atas batok kepala Jago Pedang Berdarah Dingin.

Pek In Hoei mendengus dingin, ia geser tubuhnya ke samping, pedangnya dengan membentuk segumpal bayangan tajam yang amat menyilaukan mata meluncur keluar...

Dua gulung cahaya putih segera saling bertemu satu sama lainnya di tengah udara... Tiiing! Dentingan nyaring bergema di udara kemudian semuanya pulih kembali dalam kesunyian, begitu hening seolah-olah dunia telah kiamat...

"Aaah...!" Cui Kiam Beng memandang kutungan pedang pendek kesayangannya dengan pandangan kosong, kemudian ia menjerit sekeras-kerasnya, bagaikan kalap ia meraung gusar :

"Aku hendak membunuh dirimu... aku hendak membinasakan dirimu..."

Sambil mencekal kutungan pedang pendeknya Cui Kiam Beng menuding Jago Pedang Berdarah Dingin, teriaknya dengan suara keras :

"Dia telah merusak pedang mestikaku... ia telah mengutungkan pedang mestika kesayanganku... cici! Peristiwa ini merupakan suatu penghinaan bagi keluarga Cui kita, pedang itu adalah hadiah dari ayah ketika aku berulang tahun delapan belas tahun..."

Dengan perasaan sakit hati karena pedangnya rusak, ia berseru kembali dengan suara gemetar :

"Cici, kau harus balaskan dendam bagiku... rampaskan pedang mestika penghancur sang surya itu untukku..."

"Adikku, ilmu silatmu tak dapat menangkan orang, hawa murnimu tidak sesempurna tenaga dalam yang dimiliki Pek sauhiap maka pedangmu kutung dan rusak," ujar Cui Tiap Tiap sambil menggelengkan kepalanya. "Untung ayah kita memiliki pelbagai macam pedang mestika yang tak ternilai harganya, biarlah ayah menghadiahkan lagi sebilah pedang yang lain untukmu..."

"Omong kosong!" bentak Cui Kiam Beng setengah menjerit, "pedang adalah rohku, senjata adalah mata dari seorang jago pedang, bila pedang itu lenyap berarti aku kehilangan jiwaku, aku tak akan kuat menahan pukulan batin yang demikian beratnya ini..."

"Aaai..." suara helaan napas panjang berkumandang dari balik pintu benteng, seorang kakek tua berjenggot hitam dengan pandangan dingin menatap sekejap wajah Pek In Hoei, kemudian sambil berpaling ke arah Cui Kiam Beng ujarnya :

"Kiam Beng, apa yang diucapkan cicimu sedikit pun tidak salah, ilmu silatmu masih terlalu cetek, seandainya kau tidak lalai berlatih ilmu silatmu dengan tekun dan rajin tidak mungkin kau akan mengalami akhir seperti yang kau alami pada saat ini."

"Paman Sam siok!" seru Cui Kiam Beng dengan suara sedih. Sementara Lu Kiat yang menyaksikan kemunculan orang itu,

hatinya segera terkesiap, ia tidak menyangka jago kalangan hekto yang pernah tersohor namanya pada dua puluh berselang, Kongsun Kie dapat dijumpainya di tempat itu, pelbagai ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya namun untuk sesaat ia tak tahu apa yang mesti dilakukan. Kongsun Kie sudah banyak tahun lenyap dari dunia persilatan, sebagian besar jago Bu-lim mengira ia sudah mati, sungguh tak nyana jago kosen itu ternyata bersembunyi di dalam Benteng Kiam-poo.

Dengan suara lantang Lu Kiat segera menyapa :

"Hmm... hmm... tak nyana Benteng Kiam-poo kami telah kedatangan dua orang sahabat karib yang begini kosen, kunjungan ini sungguh merupakan suatu kehormatan bagi kami..." kata Kongsun Kie dengan suara dingin, ia segera membentak keras :

"Terima tamu!"

Bersamaan dengan meledaknya suara bentakan dari Kongsun Kie, dari balik pintu benteng yang mengerikan itu dengan cepat bermunculan sebaris pria berbaju hitam, pria itu membawa tambur dan alat tetabuhan lainnya yang beraneka ragam, sambil munculkan diri, alat-alat bunyian itu dipukul bertalu-talu hingga suasana seketika berubah jadi gaduh dan ramai sekali...

Pek In Hoei serta Lu Kiat yang menjumpai kejadian ini jadi melengak, mereka tak tahu dengan permainan setan apakah pihak benteng Kiam poo menyambut kedatangan tamu terhormatnya.

Lu Kiat segera berbisik kepada Cui Tiap Tiap yang berada di sisinya :

"Apa yang sedang mereka lakukan?"

Rupanya Cui Tiap Tiap sangat takut ucapannya itu sampai didengar orang lain, setelah melirik sekejap ke arah Cui Kiam Beng serta Kongsun Kie, dengan suara lirih ia menjawab :

"Benteng Kiam-poo kami paling menghormati jiwa ksatria para jago yang berani menyerbu ke dalam benteng, berhubung setiap orang yang berani masuk ke dalam benteng berarti kematian bagi dirinya, maka terhadap keberanian setiap orang yang berani datang kemari baik itu jago dari kalangan hek-to maupun Pek-to sudah sepantasnya kalau disambut dengan segala macam alat tetabuhan, di samping sebagai tanda hormat di samping itu dengan bunyi-bunyian tersebut mereka memberi kabar pula kepada ayahku yang berarti ada orang datang, mereka peringatkan setiap pos penjagaan untuk siap-siap menghadang kedatangan musuh tangguh, serta tidak memperkenankan melepaskan orang itu keluar dari benteng dalam keadaan hidup..."

"Hmm... sungguh besar amat lagak benteng kalian..." seru Lu Kiat sambil tertawa hambar.

Dalam pada itu seorang pria kekar berbaju merah dengan mencekal golok terhunus telah maju ke depan, sesudah memberi hormat kepada Kongsun Kie ujarnya :

"Kongsun sianseng, terhadap mereka berdua apa yang kita pergunakan???"

"Permadani merah..." jawab Kongsun Kie tanpa berpikir lagi.

Cui Tiap Tiap yang mendengar ucapan itu sikapnya segera nampak aneh sekali, bisiknya dengan suara lirih :

"Rupanya pengurus benteng kami memandang serius atas kehadiran kalian berdua, ternyata ia sudah perintahkan untuk menggunakan permadani merah yang jarang sekali dipergunakan itu untuk menyambut kedatangan kalian, dari permadani yang digelar di atas tanah kita bisa menilai tingkatan ilmu yang dimiliki sang tetamu, di samping itu memberi peringatan pula kepada seluruh anggota benteng bahwa orang yang datang memiliki ilmu silat amat lihay, permadani merah berarti suatu tingkatan yang paling tinggi, mereka diperingatkan untuk menghadapi secara hati-hati!"

Sementara itu dengan cepatnya ke-empat orang pria tadi sudah mengatur permadani merah di atas pintu masuk benteng.

Kongsun Kie segera mempersilahkan ke-dua orang tamunya untuk masuk ke dalam benteng, katanya :

"Silahkan kalian berdua masuk ke dalam benteng kami, semua anggota Benteng Kiam-poo dengan senang hati menyambut kedatangan kalian berdua."

"Peraturan dari benteng kalian terlalu banyak, aku tidak berani untuk mohon banyak petunjuk," sreu Lu Kiat dingin. Kongsun Kie mendengus dingin, ia berjalan lebih dahulu menuju ke dalam benteng sedang Pek In Hoei serta Lu Kiat menyusul dari belakang, sementara Cui Kiam Beng serta Cui Tiap Tiap mengiringi dari samping kiri dan kanan, berjalan di atas hiasan permadani merah menuju ke arah sebuah bangunan besar.

Dalam benteng terdapat sebuah tanah lapang yang luas sekali, sekeliling tanah lapang itu berdiri berpuluh-puluh buah bangunan rumah, beberapa orang itu dengan mulut membungkam maju terus ke depan dan naik ke atas undakan batu.

Traaang...! Tiba-tiba dari balik ruangan besar itu berkumandang datang suara benturan besi yang amt berat, Kongsun Kie segera menghentikan langkah kakinya dan angkat kepala.

Seorang nenek tua berwajah merah dengan rambut telah beruban semua tahu-tahu sudah merintangi jalan masuk mereka dengan toya besi yang amat besar menyilang di tengah jalan.

Melihat perbuatan orang, Kongsun Kie nampak agak tertegun, dengan cepat ia menegur :

"Soat Hoa Nio Nio, apa yang hendak kau lakukan?"

"Dan kau sendiri mau apa?" Soat Hoa Nio Nio balik bertanya dengan suara dingin.

Rupanya Kongsun Kie sangat kenal dengan tabiat aneh nenek tua tersebut, sambil tertawa terpaksa jawabnya :

"Aku mendapat tugas untuk menyambut kedatangan dua orang sahabat yang hendak masuk ke dalam benteng."

Soat Hoa Nio Nio mendengus dingin :

"Hmm! Aku ingin sekali menyaksikan manusia macam apakah yang begitu berani tak pandang sebelah mata terhadap siau poocu kita, apakah dia tidak tahu kalau siau poocu adalah putra angkat dari aku si nenek tua."

Kiranya Cui Kiam Beng adalah putra angkat Soat Hoa Nio Nio, juga merupakan muridnya. Ketika terjadi bentrokan kekerasan antara Cui Kiam Beng dengan Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sewaktu ada di luar benteng tadi, segera ada orang lari melaporkan kejadian ini kepada sang nenek tua yang amat membelai putra angkatnya ini.

Ketika mendengar putra angkatnya menderita kekalahan total, nenek tua ini jadi naik pitam, ia segera minta persetujuan dari sang poocu untuk memberi pelajaran lebih dahulu kepada Pek In Hoei sebelum berjumpa dengan dirinya.

Sementara itu Cui Kiam Beng telah memburu maju ke depan sambil berseru keras :

"Ibu angkat!"

"Kiam Beng, beritahu ibu angkatmu, anak jadah mana yang telah menganiaya dirimu!" seru Soat Hoa Nio Nio dengan suara dingin dan ketus.

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sama sekali tidak menyangka nenek tua berwajah dingin dan berbicara ketus itu punya mulut usil yang kotor, tanpa ikatan dendam atau pun permusuhan begitu buka mulut dirinya lantas dimaki sebagai anak jadah.

Sambil tertawa dingin tubuhnya segera melangkah maju ke depan, makinya dengan suara sinis :

"Huuh! Kau ini manusia macam apa? Berani benar memaki orang dengan kata yang tidak senonoh!"

Soat Hoa Nio Nio berpaling dan melirik sekejap ke arah si anak muda itu, kemudian kepada Cui Kiam Beng tanyanya :

"Kiam Beng, apakah anak jadah ini yang menganiaya dirimu?" "Sedikit pun tidak salah, dia adalah Jago Pedang Berdarah Dingin

Pek In Hoei!"

"Jago Pedang Berdarah Dingin?" Soat Hoa Nio Nio tertawa mengejek dengan suara yang amat sinis, "Huuuh! Jago Pedang Berdarah Dingin itu manusia macam apa? aku si nenek tua sudah hidup berpuluh-puluh tahun lamanya di kolong langit, belum pernah ada orang yang berani berlagak congkak semacam anak jadah ini." "Oooh... Jadi kau ingin lihat? Mungkin aku tak akan membuat kau jadi kecewa..." seru Pek In Hoei dengan gusarnya.

Dengan penuh kemarahan Soat Hoa Nio Nio mengetukkan toya besinya keras-keras ke atas lantai, serunya :

"Cuuuh! Bajingan cilik kau betul-betul seorang manusia yang tak tahu adat."

Kongsun Kie yang selama ini berada di sisinya tidak tahu kalau nenek tua yang tak kenal aturan ini sudah minta ijin lebih dahulu dari poocu mereka, menyaksikan tingkah polahnya kian lama kian bertambah kasar dan tidak memakai aturan, hatinya jadi sangat gelisah, buru-buru serunya :

"Nio-nio! Harap kau mengundurkan diri dari sini, setelah bertemu dengan poocu nanti, belum terlambat bukan bila kau hendak bikin perhitungan dengan Jago Pedang Berdarah Dingin."

"Tidak bisa jadi," tukas Soat Hoa Nio Nio sambil mendengus dingin, "urusan pribadi dari aku si nenek tua lebih baik kau tak usah ikut campuri."

Air muka Kongsun Kie berubah hebat. "Kau..." serunya.

"Kenapa? Kalau tidak terima laporkan saja peristiwa ini kepada poocu!" teriak Soat Hoa Nio Nio sambil melototkan sepasang matanya bulat-bulat.

Setelah nenek tua ini mengumbar napsu amarahnya, kepada siapa pun ia tidak memberi muka. Kendati kedudukan Kongsun Kie dalam Benteng Kiam-poo tidak rendah namun ia pun tak mampu mengusik kebiasaan dari nenek tua ini.

Terpaksa sambil tertawa getir ia gelengkan kepalanya berulang kali dan mengundurkan diri dari tempat itu.

Soat Hoa Nio Nio tertawa seram, serunya kemudian :

"Kiam Beng! Beri hadiah dua gablokan keras untuk bajingan cilik

itu." Cui Kiam Beng tertegun, ia tidak menyangka kalau ibu angkatnya bakal mengusulkan ide tersebut kepadanya, tetapi pemuda itu mengerti akan kekuatan diri sendiri, ia sadar bahwa kepandaian silat yang dimiliki masih terpaut jauh kalau dibandingkan dengan lawannya, jangan dibilang suruh ia menampar wajah lawannya, sekali pun suruh menyerang secara jitu pun belum tentu ia mampu.

Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, ia lantas berseru :

"Ibu angkat!"

"Kenapa?? Aku toh berada di sini? Apa yang mesti kau takuti lagi?" bentak Soat Hoa Nio Nio sambil melototkan matanya bulat- bulat, "Kalau bajingan cilik itu berani turun tangan membalas, maka aku si nenek tua segera akan menghancur-lumatkan tubuhnya jadi bola daging... Hmm! Bila aku tak mampu kasih pelajaran yang setimpal kepadanya, aku bukanlah Soat Hoa Nio Nio..."

Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang disindir dan diejek terus menerus oleh lawannya, lama kelamaan tak kuat menahan diri lagi. Meskipun ia tidak ingin turun tangan di dalam keadaan seperti ini tetapi keadaan memaksa dirinya tak dapat berpeluk tangan belaka.

Sambil bergerak maju beberapa langkah ke depan, serunya dengan suara penuh kemarahan :

"Nenek sialan, sebetulnya apa yang kau kehendaki?"

Selama hidup Soat Hoa Nio Nio paling benci kalau ada orang memaki dirinya sebagai seorang nenek sialan, mendengar Pek In Hoei memaki dirinya dengan kata-kata yang tak tahu sopan, ia jadi naik pitam, sekujur badannya gemetar keras karena menahan rasa gusar yang meluap-luap.

Sambil memutar toya besinya ke tengah udara ia berteriak keras

:

"Bajingan cilik, siapa yang kau sebut sebagai nenek sialan??" "Siapa lagi kalau bukan kau! Di sini tak ada nenek lain kecuali kau seorang nenek sialan!" sahut Pek In Hoei ketus, "nenek bangkotan yang sudah hampir masuk ke liang kubur bukan saja kau sudah tua bangkotan, lagi pula jelek dan keriputan, di kolong langit belum pernah kujumpai seorang nenek jelek yang tua lagi sialan semacam dirimu ini..."

Weesss...! Di tengah udara segera berkelebat lewat segumpal bayangan toya disertai desiran angin tajam, bayangan itu langsung menumbuk ke arah tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin dengan hebatnya.

Dalam keadaan gusar yang tak tertahankan, Soat Hoa Nio Nio tanpa mengucapkan sepatah kata pun segera ayunkan toyanya mengemplang tubuh lawan, dia ingin dalam sejurus saja berhasil memukul mati Pek In Hoei yang dibencinya itu.

"Hmmm!" Pek In Hoei mendengus dingin, "nenek tua sialan yang hampir masuk liang kubur, akan kusuruh kau rasakan kelihayan dari aku Jago Pedang Berdarah Dingin..."

Ia benci kepada Soat Hoa Nio Nio karena sikapnya yang congkak serta tidak pakai aturan itu, karenanya dalam melancarkan serangan ia tidak ragu-ragu dan sama sekali tak kenal ampun, sambil loncat maju ke depan pedang mestika penghancur sang surya dicabut keluar, setelah menghindar diri dari ancaman lawan ia balas menyerang dari samping sebelah kiri.

Rupanya Soat Hoa Nio Nio tidak menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki lawannya begitu tinggi dan sempurna, sebelum jurus serangannya dilancarkan tahu-tahu bayangan tubuh lawan sudah lenyap tak berbekas. Menanti ia merasakan datangnya ancaman pedang dari lawannya, tahu-tahu bayangan pedang yang amat menyilaukan mata telah mengurung di sekeliling tubuhnya.

"Aaaah...! Ilmu simpanan dari partai Thiam cong... ilmu pedang penghancur sang surya...!" Dengan perasaan tercekat dan bergidik nenek tua itu berseru tertahan, lalu mundur beberapa langkah ke belakang, tanyanya kembali :

"Apakah kau anak murid partai Thiam cong??"

"Sedikit pun tidak salah, aku memang anak murid partai Thiam cong..."

Air muka Soat Hoa Nio Nio berubah jadi hijau membesi, serunya kembali dengan suara lantang :

"Siapa yang wariskan ilmu pedang tersebut kepadamu??" "Pertanyaan yang kau ajukan terlalu banyak! Aku merasa tidak

punya keharusan menjawab pertanyaanmu itu!"

Sepasang mata Soat Hoa Nio Nio melotot besar, sorot mata tajam memancarkan cahaya yang menggidikkan hati dengan suara keras ia berteriak :

"Apakah Cia Ceng Gak yang wariskan ilmu pedang tersebut kepadamu???"

"Boleh dibilang begitu," kata Pek In Hoei, sambil ayunkan pedang mestinya, "sucouku adalah seorang jago pedang yang tiada taranya di kolong langit, sedang aku hanya berhasil mempelajari sepersatu atau seperdua kepandaiannya belaka, kalau kau tahu bahwa dirimu bukan tandinganku lebih baik mulai sekarang juga bergelinding pergi dari sini, mengingat usiamu yang telah lanjut dan sebentar lagi bakal masuk liang kubur, mungkin aku bisa mengampuni selembar jiwa tuamu itu..."

"Omong kosong!" bentak Soat Hoa Nio Nio dengan penuh kegusaran, "setan cilik, usiamu belum gede tapi kau berani benar tidak pandang sebelah mata pun terhadap umat Bu lim yang ada di kolong langit, selama hidup belum pernah aku si nenek tua menjumpai manusia yang jumawa dan takabur macam dirimu itu. Mari...! mari...! mari... ini hari aku ingin lihat seberapa banyak kepandaian yang berhasil ditinggalkan Cia Ceng Gak di kolong langit, sehingga anak murid partai Thiam cong-nya begitu sombong dan tak tahu diri..." Sambil memutar toya besinya di tengah udara, ia membentak lagi dengan sura berat :

"Hati-hatilah kau si bangsat cilik, kemplangan toya yang kulancarkan ini kemungkinan besar akan mencabut selembar jiwa anjingmu..."

Weeeesss...! Diiringi desiran angin tajam toya baja yang amat berat di tangan Soat Hoa Nio Nio itu laksana seekor ular yang lincah menggeletar ke udara dan langsung diayun ke atas tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei.

Dengan sikap yang tenang pemuda she Pek itu tetap berdiri kaku di tempat semula, perlahan-lahan pedang mestika penghancur sang surya-nya diulurkan ke depan, lalu disilangkan di depan dada, tubuh bagian atasnya agak membongkok ke muka sementara pedangnya membabat lurus ke depan, bentaknya keras-keras :

"Kau benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri..."

Berhubung Soat Hoa Nio Nio selalu mendesak lawannya untuk turun tangan, lama kelamaan napsu membunuh dalam hati Pek In Hoei berkobar juga, serangan yang dilancarkan walaupun kelihatan sederhana dan biasa sekali namun di balik kesederhanaannya itu terkandunglah perubahan yang luar biasa, di tengah keringanan terdapat kemukjizatan...

Soat Hoa Nio Nio adalah seorang jago kawakan yang mengerti akan kelihayan dari gerakan pedang yang dilancarkan lawannya, ia segera menyadari bahwa jago muda dari partai Thiam cong ini benar- benar memiliki ilmu silat yang dapat diandalkan keampuhannya.

Sebagai seorang jago yang ahli pla di dla kepandaian silat, begitu menyaksikan keadaan tidak menguntungkan, ia segera tarik kembali serangannya sambil loncat mundur ke belakang, toyanya diputar dan menyodok ke depan dengan suatu gerakan yang manis langsung menyodok jalan darah Mie-bun-hiat di tubuh lawan.

Tiba-tiba Pek In Hoei membentak keras : "Enyah kau si nenek sialan..." Menggunakan kesempatan sangat baik yang cuma terdapat dalam beberapa detik saja itu, tubuhnya loncat maju ke depan menggunakan peluang tatkala pihak lawan menyodokkan toya besinya ke atas jalan darah Mie-bun-hiat sendiri, tubuhnya menerjang maju ke depan sedang pedangnya laksana kilat membabat ke arah bawah.

"Aduuh...!" tampak bayangan pedang berkilauan memenuhi seluruh udara, tiba-tiba Soat Hoa Nio Nio berseru tertahan dan loncat mundur ke belakang, toya baja dalam genggamannya terpapas kutung jadi dua bagian dan rontok ke atas tanah.

"Aaah... jurus Kiam Kie-koan jit hawa pedang menyelimuti sang surya!" serunya dengan suara gemetar.

"Tidak salah, dan kau berhasil loloskan diri dari ancaman bahaya maut ini, berarti pula bahwa kau bukanlah seorang manusia yang sederhana..." ujar Pek In Hoei dengan suara dingin.

Air muka Soat Hoa Nio Nio berubah jadi pucat pias bagikan mayat, dengan wajah menunjukkan rasa terkejut bercampur ketakutan ia berdiri menjublek di tempat semula, lama sekali ia tak mengucapkan sepatah kata pun juga kecuali memandang wajah Pek In Hoei tanpa berkedip.

"Ibu angkat!" jerit Cui Kiam Beng tiba-tiba sambil maju beberapa langkah ke depan, suaranya kedengaran gemetar keras, "rambutmu..." Beberapa untai rambut yang putih beruban melayang jatuh dari atas batok kepala Soat Hoa Nio Nio, dengan penuh ketakutan ia berteriak keras, tangannya segera meraba ke atas batok kepal sendiri, ia merasa kepalanya gundul dan licin seakan-akan sudah tak ada rambutnya lagi, rasa kejut dan ngeri yang bukan alang kepalang ini kontan membuat air muka nenek tua itu berubah hebat, ia sambar beberapa untai rambutnya yang rontok itu dan mendongak tertawa

keras dengan wajah menyeringai seram teriaknya :

"Pek In Hoei, suatu saat aku si nenek tua pasti akan membinasakan dirimu!" Rasa gusar dan mendongkol yang berkecamuk dalam dadanya saat ini benar-benar sukar dilukiskan dengan kata-kata, dengan pandangan penuh kebencian ia melotot sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei, kemudian ia putar badan dan lari menuju keluar...

Menunggu bayangan punggung dari nenek tua itu sudah lenyap dari pandangan Kongsun Kie baru tarik napas panjang-panjang ujarnya :

"Pek sauhiap, silahkan masuk! Poocu kami pasti akan memberi keterangan mengenai peristiwa yang tidak menyenangkan hati itu..." "Oooh... kejadian itu sih belum merupakan hal yang tidak menyenangkan, mari kita masuk ke dalam!" sahut Pek In Hoei

hambar.

Setelah menembusi serambi yang amat panjang, sampailah mereka di dalam sebuah ruangan yang sangat besar, tetapi ruangan itu kosong melompong tak nampak sesosok bayangan manusia pun, Kongsun Kie segera menepuk tangannya satu kali sambil berseru :

"Hidangkan air teh..."

Dua orang bocah lelaki baju hijau yang berusia antara dua tiga belas tahunan munculkan diri sambil membawa nampan berisi cawan air teh, setelah meletakkan cawan itu di hadapan masing-masing orang mereka segera mengundurkan diri kembali dari ruangan itu.

Perlahan-lahan Lu Kiat menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, ia lihat ruangan tadi diatur sangat rajin dan rapi sekali, kecuali satu stel meja kursi terbuat dari kayu merah pada dinding sekeliling tempat itu penuh bergantungan lukisan-lukisan serta coretan syair orang kenamaan, alisnya segera berkerut serunya :

"Kenapa poocu kalian belum nampak juga munculkan diri..." Kongsun Kie segera tertawa paksa, sahutnya :

"Poocu kami sejenak lagi pasti akan munculkan diri, harap kalian suka menanti sejenak lagi..." Dalam pada Cui Tiap Tiap dengan sorot mata penuh perhatian dan rasa kuatir melirik sekejap ke arah Lu Kiat, lalu berpesan :

"Lu heng, harap kau jangan bertengkar dengan ayahku, di adalah seorang yang baik hati..."

"Aku mengerti akan kesulitan hatimu," sahut Lu Kiat sambil geleng kepalanya, "tetapi keadaan ini terpaksa harus dilakukan..."

Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba dari luar pintu berkumandang datang suara teguran berat :

"Poocu tiba..."

Seorang kakek tua berwajah bentuk kuda dengan alis yang panjang, mata yang jeli serta jenggot hitam terurai sepanjang dada perlahan-lahan munculkan diri dari balik pintu.

Kongsun Kie buru-buru bangkit berdiri dan menyongsong kedatangan majikannya.

"Poocu!" ia berseru, "Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat sudah menanti agak lama..."

"Hmm aku sudah tahu," sahut pemilik benteng Kiam poo sambil mengangguk, "Kiam Beng! Tiap Tiap! Kalian boleh segera undurkan diri dari sini."

"Ayah! Ananda tak mau keluar dari sini," teriak Cui Kiam Beng dengan hati gelisah, "aku ingin lihat dengan cara bagaimana ayah hendak menjatuhkan hukuman terhadap manusia jumawa ini. Ayah! Ananda ingin menyaksikan sendiri kematian menjemput kehidupannya, aku hendak membacok sendiri bajingan itu dengan golok!"

"Omong kosong!" bentak pemilik Benteng Kiam-poo dengan sura keras, "tahukah tempat ini adalah tempat apa? Siapa suruh kau usil mulut dan banyak bicara??"

Walaupun Cui Kiam Beng serta Cui Tiap Tiap tidak ingin tinggalkan tempat itu dalam keadaan demikian tetapi sorot mata ayahnya yang mengandung hawa kegusaran serta sikapnya yang dingin kaku bagaikan es memaksa mereka berdua terpaksa harus tinggalkan tempat itu.

Demikianlah, dengan mulut membungkam terpaksa kakak beradik itu mengundurkan diri dari ruangan.

Sepeninggalnya ke-dua orang muda mudi itu, pemilik Benteng Kiam-poo alihkan sorot matanya melirik sekejap ke arah Pek In Hoei serta Lu Kiat, lalu berkata :

"Ada urusan apa kalian berdua datang berkunjung ke Benteng Kiam-poo kami ini..."

"Sudah lama aku dengar tentang kemisteriusan Benteng Kiam- poo di kolong langit, di samping itu kami pun dengar ilmu pedang dari Benteng Kiam-poo merupakan nomor satu di kolong langit, karena itu ketika secara kebetulan kami lewati daerah sekitar sini, sekalian kami berdua datang berkunjung kemari, sahut Lu Kiat dengan suara dingin.

"Hmmm...! Aku rasa persoalannya tidak akan segampang serta sesederhana ini!"

"Apa maksudmu mengucapkan kata-kata tersebut?? seru Lu Kiat dengan gelisah.

Dengan pandangan dingin pemilik Benteng Kiam-poo melirik sekejap ke arah Pek In Hoei lalu menjawab :

"Menurut hasil penyelidikan dari Benteng Kiam-poo kami, dapat diketahui bahwa Jago Pedang Berdarah Dingin Pek sau-hiap adalah putra tunggal Pek Tiang Hong dari partai Thiam cong, kedatangannya ke dalam Benteng Kiam-poo kali ini adalah... hmmm... hmmmm..." 

Pek In Hoei tertawa dingin.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... apakah kalian takut ada orang sengaja datang kemari untuk menghancurkan Benteng Kiam-poo ini?? ejeknya.

Pemilik Benteng Kiam-poo mendengus dingin.

"Hmmm! Buat benteng kami gampang untuk dikunjungi sukar untuk dilalui, bila kalian tidak ingin keluar dari benteng ini lagi maka tidak seorang manusia pun yang akan menghalangi gerak gerik kalian berdua, tetapi seandainya ingin keluar dari benteng ini secara diam- diam, maka... itu seperti mencari kematian buat diri sendiri..."

"Hmmm! Dengan andalkan kekuatan apa benteng kalian ajukan peraturan semacam itu?" jengek Pek In Hoei dengan pandangan menghina.

Pemilik Benteng Kiam-poo pun tak mau mengalah, dia berseru pula :

"Kenapa kau berkunjung ke Benteng Kiam-poo?? Bukankah ingin mencari ibumu?? Hmm... hmmm... Pek In Hoei! Asal usulmu sudah berhasil kuketahui dengan amat jelas, selama berada di dalam Benteng Kiam-poo, kau Jago Pedang Berdarah Dingin tak akan mampu menunjukkan keganasanmu lagi..."

Terkesiap hati Pek In Hoei mendengar ucapan itu, tanpa sadar ia berseru lantang :

"Apakah ibuku benar berada di dalam Benteng Kiam-poo??" Pemilik Benteng Kiam-poo mendengus dingin.

"Hmmm! Dia bukan ibu kandungmu!" serunya.

Baik Pek In Hoei mau pun Lu Kiat sama-sama tercengang setelah mendengar perkataan itu, mereka tidak menyangka kalau pemilik Benteng Kiam-poo adalah seorang manusia yang lihay, sehingga rahasia asal usul diri Pek In Hoei pun berhasil diselidiki hingga begitu jelas.

Jago Pedang Berdarah Dingin merasa hatinya amat sakit seperti diiris-iris dengan pisau belati, bentaknya dengan suara gemetar :

"Siapa yang bilang begitu?? Kau jangan ngaco belo tak karuan...hati-hati dengan mulut usilmu itu!"

Pemilik Benteng Kiam-poo tertawa dingin.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... mungkin hati kecilmu memahami akan persoalan itu dan aku rasa pun-poocu tiada maksud untuk membohongi dirimu atau mungkin kau merasa heran dan tidak habis mengerti, kenapa aku bisa mengetahui persoalan ini sedemikian jelasnya..."

Ia berhenti sebentar, kemudian sambil tertawa seram lanjutnya : "Ibumu telah menceritakan seluruh kejadian yang sebenarnya

kepadaku..."

"Apa??" jerit Pek In Hoei semakin gelisah, "ibuku telah memberitahukan rahasia ini kepadamu..."

Dengan hati bingung bercampur gelisah serunya kembali : "Sekarang ibuku berada di mana?? Harap ia suka munculkan diri

untuk bertemu dengan diriku..."

"Huuuuh...! Kau anggap persoalan ini bisa kupenuhi dengan begitu gampang...??" ejek pemilik Benteng Kiam-poo sambil tertawa dingin, "Pek In Hoei, janganlah kau anggap persoalan ini bisa diselesaikan dengan begitu mudah dan sederhananya. Hmmm... hmmm..."

Ia tertawa seram berulang kali, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan pandangan seram ditatapnya sekejap wajah Jago Pedang Berdarah Dingin.

Senyuman yang amat sinis tersungging di ujung bibirnya, sorot mata yang tajam bagaikan pisau serta perubahan wajah yang sinis menyeramkan mendatangkan pandangan yang jelek terhadap dirinya, membuat siapa pun yang bertemu dengan dirinya segera mempunyai perasaan bahwa pemilik Benteng Kiam-poo bukanlah manusia baik- baik...

Dengan pandangan penuh kegusaran Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei meloto ke arah kakek tua itu, ia berharap agar pemilik dari Benteng Kiam-poo ini suka menyebutkan tempat tinggal dari ibunya, tetapi kemudian ia merasa kecewa dan sedih, sebab sikap pemilik Benteng Kiam-poo yang dingin menunjukkan bahwa ia telah menampik permintaannya, untuk sesaat jago muda yang tersohor namanya di kolong langit ini merasa tak tahu apa yang mesti dilakukan... "Poocu!" ujarnya kemudian dengan sorot mata berkilat, "Mengapa kau tidak memperkenankan aku untuk berjumpa dengan ibuku..."

Pemilik Benteng Kiam-poo mengerutkan dahinya, dalam hati ia merasa pedih tetapi perasaan tersebut tak mau diutarakan keluar, cuma sambil tertawa paksa katanya dengan suara dingin :

"Kau tak dapat berjumpa dengan dirinya, inilah perintahku! Tetapi aku dapat memberitahukan kepadamu bahwa sekarang ia berada dalam keadaan baik-baik, bila kau berjumpa dengan dirinya maka perbuatanmu itu hanya akan mengganggu ketenteraman hatinya belaka, dan mungkin kau akan menghancurkan hidupnya atau bahkan menghancurkan dirimu sendiri..."

"Bukankah kau takut aku mencari dirimu untuk membalas dendam??" ejek Jago Pedang Berdarah Dingin sambil tertawa sinis.

Raut wajah pemilik Benteng Kiam-poo bergetar keras menahan rasa siksaan batin yang amt hebat, keteguhan hati serta sikapjumawa yang diperlihatkan pemuda itu membuat dia merasa sukar untuk mempertahankan diri, terutama sekali desakan Pek In Hoei yang kian lama kian menggencet posisinya ini membuat dia merasa hampir saja tak dapat bernapas membuat napsu membunuhnya timbul kembali... karena itu air mukanya perlahan-lahan berubah... berubah jadi amat mengerikan.

Ia angkat kepala dan tertawa seram, serunya :

"Selama aku masih berada di dalam Benteng Kiam-poo apa yang perlu kutakuti? Kau anggap aku takut menghadapi dirimu yang datang untuk menuntut balas? Heeeeh... heeeeh... heeeeh... Pek In Hoei, mungkin kau belum pernah menyaksikan kekuatan dari Benteng Kiam-poo kami maka kau tak tahu sampai di manakah kelihayan dari benteng kami, kalau tidak tak nanti kau akan mengucapkan kata-kata yang bernada kekanak-kanakan serta menggelikan hati itu..."

"Hmm! Poocu, apakah kau sedang memuji-muji kekuatanmu sendiri?..." ejek Lu Kiat sambil mendengus. Pemilik Benteng Kiam-poo angkat kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... memuji kekuatan sendiri sih tidak perlu, sejak pertama kali aku berkelana dalam dunia persilatan hingga detik ini belum pernah kusanjung atau puji kekuatanku sendiri, sebab semakin besar kupuji kekuatan sendiri berarti kemungkinanku untuk menderita kekalahan semakin besar. Hey orang muda! Bila kau ingin membuktikan bahwa apa yang kuucapkan tidak bohong, maka silahkan lihat sendiri kekuatan dari benteng kami... mungkin setelah membuktikannya sendiri maka kau akan menilai lain kekuatan yang sesungguhnya dari benteng kami ini..."

Ia tepuk tangannya keras-keras, lalu berkata kembali :

"Cukup berbicara tentang bangunan loteng ini pun sudah merupakan tempat yang paling berbahaya di kolong langit, asal aku bertepuk tangan maka anak muridku yang berada di tempat luaran akan menggerakkan alat rahasia yang ada di sini dan seketika akan mengurung orang yang ada di dalam ruangan ini hingga mati semua." Baru saja kata-katanya selesai diucapkan, mendadak dari dinding empat penjuru berkumandang suara getaran mesin yang amat nyaring disusul suara gemuruh yang memekakkan telinga, empat dinding di sekeliling tempat itu secara tiba-tiba lenyap dari pandangan disusul dari dinding tebal yang kemudian munculkan diri dengan cepat bermunculan pisau-pisau belati yang sangat tajam, pisau itu bukan saja tajam luar biasa bahkan memancarkan cahaya yang menggidikan

hati.

Yang lebih aneh lagi, ketika dinding-dinding raksasa di sekeliling ruangan itu bergerak maju ke depan, ternyata tak nampak sedikit ruang kosong pun yang tersisa, semua orang yang berada dalam ruangan itu tergencet sama sekali di tengah ruangan.

Lu Kiat yang menyaksikan kejadian itu jadi bergidik hatinya, ia segera berseru : "Poocu benar-benar merupakan seorang jago sakti yang tiada tandingannya di kolong langit, tak kusangka kau mampu mendirikan alat jebakan yang begini lihaynya di tempat ini, cukup meninjau dari ruang berpisau ini kami yakin bahwa dengan kekuatan yang kami miliki masih belum mampu untuk mengatasinya..."

Poocu dari Benteng Kiam-poo segera angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... dinding raksasa berpisau tajam ini merupakan salah satu bangunan luar biasa hasil karya dari seorang tokoh sakti yang sekarang bermukim dalam benteng kami, orang ini pandai sekali di dalam hal ilmu bangunan serta ilmu jebakan, sebagian besar alat jebakan yang terdapat di dalam benteng ini kebanyakan adalah hasil karyanya."

Diam-diam Lu Kiat merasa terperanjat, pelbagai ingatan berkelebat di dalam benaknya, ia ada maksud menyelidiki sampai di manakah kekuatan yang sebetulnya dari Benteng Kiam-poo, maka sambil sengaja tertawa katanya :

"Hmm... memang suatu hasil karya yang sangat lihay... Poocu! Dalam ruang tamu pun kau pasangi alat rahasia yang demikian lihaynya, aku rasa tentu ada suatu nama tertentu yang kau berikan untuk ruangan ini bukan..."

Poocu dari Benteng Kiam-poo tertawa seram.

"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... tentu saja ada namanya, pada saat hari peresmian tempat ini aku telah menyaksikan kelihayan serta kesempurnaan dari ruangan ini, maka segera kusebut tempat ini sebagai 'Sip-bin May Hu' atau jebakan di sepuluh penjuru..."

"Bagus... suatu sebutan yang tepat sekali," puji Lu Kiat sambil bertepuk tangan, "ruang raksasa ini setelah diperlengkapi oleh dinding baja berpisau tajam memang merupakan suatu tempat yang kokoh sekali, siapa pun sulit untuk lolos dari tempat ini... ehm suatu tempat yang bagus dengan sebutan yang tepat pula..." Air muka poocu dari Benteng Kiam-poo ini berubah jadi dingin menyeramkan, dengan suara seram terusnya :

"Kelihayan dari ruangan ini tidak terletak pada bagian itu saja, pada saat ke-empat buah dinding tersebut merapat satu sama lainnya, asal alat rahasia digerakkan maka ke-empat buah dinding ini akan saling bertumbuk satu sama lainnya, karena itu bukan saja orang yang terkurung dalam ruangan ini tak mungkin berhasil untuk meloloskan diri bahkan mereka pun kemungkinan besar akan mati secara mengerikan dengan tubuh ditembusi berpuluh-puluh bilah pisau tajam..."

Baik Lu Kiat mau pun Pek In Hoei sama-sama terkejut dibuatnya setelah mendengar perkataan itu, jantung mereka berdebar keras dan perasaan hatinya tercekat, ketika sorot mata mereka dialihkan ke sekeliling tempat itu maka tampaklah dinding berpisau itu masih bergerak maju dengan lambatnya membuat ruangan di tengah kalangan kian lama kian bertambah sempit, untung poocu dari Benteng Kiam-poo hadir pula di tempat itu sehingga pada waktu itu mereka tak usah kuatir jiwanya terancam.

Pek In Hoei mencibirkan bibirnya dan berkata :

"Dengan susah payah poocu menyediakan alat jebakan selihay ini, apakah tujuanmu adalah khusus hendak digunakan untuk menghadapi kami berdua..."

"Hmm! Itu sih tidak," sahut poocu dari Benteng Kiam-poo sambil mendengus dingin, "orang yang sebenarnya kuincar adalah ayahmu, sayang seribu kali sayang ia tak berani datang menjumpai diriku di tempat ini, membuat alat jebakan yang kurencanakan serta kubangun selama banyak tahun ini sama sekali tak ada kesempatan untuk dipergunakan..."

Ucapan yang diutarakan dengan nada sedih dan seolah-olah ia sedang menyesali kegagalan dari rencananya itu lain artinya dalam pendengaran Jago Pedang Berdarah Dingin, dadanya bagai terhantam oleh sebuah martil yang amat berat, ia berseru tertahan dan berdiri termangu-mangu untuk beberapa saat lamanya.

"Hmm...! Jadi kau hendak menggunakan alat rahasia ini untuk menghadapi ayahku," serunya sambil mendengus gusar.

"Ada apa?" ejek Kiam-poo poocu sambil tertawa dingin, "Apakah kau tidak tahu bahwa antara aku dengan ayahmu telah terikat dengan sakit hati sedalam lautan."

Ketika menyaksikan dinding berpisau tajam itu bergerak maju ke depan, baru ia kirim dua pukulan yang berbeda ke arah samping kiri dan kanan, pukulan itu menggunakan peraturan yang tertentu serta enteng berat yang berbeda satu sama lainnya.

Blaaam...! Alat rahasia itu segera berhenti bekerja, dan empat dinding berpisau itu segera mundur kembali ke arah sudut ruangan, keadaan ruangan tengah itu pulih kembali seperti sedia kala dan lukisan-lukisan orang kenamaan pun bermunculan kembali dalam pandangan.

Pek In Hoei tertawa dingin, ujarnya :

"Ayahku toh sudah mati. Bagi orang yang telah meninggal maka berarti semua persoalan telah selesai baik itu dendam atau pun permusuhan seharusnya sudah dapat dianggap selesai sampai di sini saja, kenapa kau masih begitu mendendam dan benci kepadanya? Sebenarnya karena apa kau bersikap begitu?"

Poocu dari Benteng Kiam-poo tertawa seram, napsu membunuh yang sangat mengerikan terlintas di atas wajah yang licik, dengan termangu-mangu ia menatap wajah Jago Pedang Berdarah Dingin beberapa saat lamanya, kemudian berkata :

"Urusan tak akan kuselesaikan dengan begitu gampang, waktu itu ia telah mencelakai aku sehingga hampir saja aku tak mempunyai keberanian untuk melanjutkan hidupku di kolong langit, penderitaan serta siksaan batin yang kualami pada waktu itu tak akan bisa ditahan oleh setiap insan manusia di kolong langit... oleh sebab itu sekali pun dia sudah mati tetapi rasa benciku terhadap dirinya masih belum lenyap, selama aku masih hidup di kolong langit, setiap hari aku akan menyumpahi dirinya, agar sukmanya yang sudah gentayangan itu selamanya tak akan mendapat ketenangan."

"Hey, rupanya kau sudah edan?" bentak Pek In Hoei dengan air muka berubah hebat.

"Aku sama sekali tidak edan! jawab poocu dari Benteng Kiam- poo dengan suara dingin, "Pek In Hoei, tahukah kau betapa jahat dan kejinya bapakmu itu? Karena perbuatannya hampir saja hidupku hancur berantakan tak karuan, karena dia maka aku telah..."

"Tutup mulut!" bentak Pek In Hoei dengan suara nyaring, "Aku tidak memperkenankan kau mengolok-olok ayahku."

"Kau anggap ayahmu jantan? Ayahmu seorang yang luar biasa? Huuh... tak usahlah mengharapkan yang muluk-muluk," seru poocu dari Benteng Kiam-poo dengan suara sinis, "Pek Tiang Hong adalah seorang lelaki mandul... bahkan mungkin dia menderita sakit impoten... manusia impoten mana bisa mengadakan senggama? Dan mana dia mampu untuk melahirkan dirimu?"

Pek In Hoei merasa hatinya sangat perih, rasa sedih yang sukar dilukiskan dengan kata-kata muncul dalam benaknya, sorot mata yang tajam bagaikan kilat memancarkan napsu membunuh yang amat tebal, dengan nada berat tapi penuh bertenaga ia berkata :

"Sekali pun aku bukan dilahirkan karena bibitnya, sekali pun dia bukan ayah kandungku, tetapi ia telah merawat serta mendidik diriku hingga dewasa, bagaimana pun juga ia tetap merupakan ayahku, kalau kau berani pandang hina pula diriku... Poocu, aku harap bicaralah yang agak hati-hati, jangan sampai ada telapak melayang di atas pipi." "Hmm... terhadap kalian ayah dan anak aku tiada perkataan menarik lain yang bisa diutarakan, selama hidupnya Pek Tiang Hong sudah terlalu banyak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diriku, aku bersikap demikian terhadap dirinya boleh dibilang

merupakan suatu sikap yang bijaksana." "Hmmm... " Pek In Hoei mendengus dingin, "untuk sementara waktu lebih baik kita jangan membicarakan dulu persoalan mengenai dendam atau budi antara ayahku dengan dirimu, aku ingin bertanya... kau sebagai seorang pemimpin suatu benteng yang terhormat kenapa menculik ibuku dan kemudian mengurungnya di tempat ini?"

Sepasang mata dari pemilik Benteng Kiam-poo berubah jadi merah darah, napsu membunuh dan ras benci bercampur aduk jadi satu, dengan penuh kebencian ia bertepuk tangan satu kali, lalu serunya dengan suara menyeramkan :

"Pek Tiang Hong terlalu keji, ia sudah mencelakai hidupku dengan cara yang paling mengerikan agar pembalasan dendam yang kulancarkan bisa mengenai jitu dalam lubuk hatinya, terpaksa aku harus menculik lebih dahulu istrinya kemudian menunggu ia datang untuk masuk perangkap, sayang umurnya terlalu pendek dan nasibnya terlalu jelek, sebelum ia sempat kemari jiwanya sudah keburu melayang lebih dahulu."

"Kau anggap dengan kedudukanmu sebagai seorang pemilik benteng maka kau pasti mampu membinasakan ayahku?"

"Hmmm! Itulah satu-satunya persoalan yang kuyakini dengan sepenuh hati, bukankah barusan kau telah menyaksikan sendiri semua peralatan gy kuatur dalam benteng ini? Cukup dengan alat jebakan 'Sip-bin-may-hu' ini aku rasa Pek Tiang Hong sudah kehabisan akal untuk menghadapinya."