Harimau Kemala Putih Jilid 32

Jilid 32  

“Bukankah kau maksudkan asal aku yang terkena pukulanmu itu, maku aku tak akan membalas?”

Seketika itu juga si Cebol Oh menggelengkan kepalanya berulang kali.

“oooh, bukan, bukan, aku tidak bermaksud demikian, aku sama sekali tidak bermaksud demikian”

Tiba-tiba It tiang-hong menimbrung sambil tertawa cekikikan:

“haaahhh... haaahhh... haaahhh... maksudnya, Kim lotoa telah berhasil memiliki tubuh Kim kong yang tak akan rusak atau terluka bila kena dipukul, sekalipun terkena sebuah pukulan juga tak akan ambil perduli, apalagi ribut-ribut dengannya.”

Kembali si Cebol Oh menghembuskan napas lega, cepat-cepat sambungnya kembali: “Betul-betul, aahh! Tak kusangka kalau hari ini kau telah berkata benar”

Kim lotoa segera tertawa dingin tiada hentinya

“Heehhh.. heeehhh... heeehhhh.. sekarang, tentunya kau sudah mengerti bukan sebetulnya dia masih tetap membantu dirimu”

mendadak dari luar sana berkumandang suara orang berbatuk-batuk, lalu kedengaran seseorang berkata sesudah menghela nafas panjang:

“Malam sudah semakin larut, embun telah makin menebal, angin malampun berhembus begini kencang, sudah kalian ketahui kalau aku tak mampu menahan diri, kenapa masih bercekcok melulu di dalam sana? apakah kalian senang menyaksikan aku sakit parah dan sakit sampai mampus?”

Suara orang itu amat tajam dan lembut, baru berbicara dua patah kata sudah batuk-batuk hebat, seakan akan napasnya hampir saja tak sanggup disambung lagi, sudah jelas dia adalah seoarnag yang sedang menderita sakit, bahkan penyakit yang dideritanya tidak terhitung enteng.

Akan tetapi begitu mendengar ucapan tersebut, bahkan sikap Kim lotoa pun turut berubah, berubah menjadi lebih halus dan sopan.

“RUangan ini masih terhitung sangat hangat, silahkan kau cepat cepat masuk ke dalam” “Seorang putri anggun tak akan duduk di lantai, seorang kuncu tak akan berdiri dibawah dinding yang hampir roboh, bagi seorang kuncu seperti aku ini, aku paling enggan memasuki tempat yang sedang bercekcok apalagi sedang berkelahi” kata orang diluar itu lagi.

Buru buru si Cebol Oh berseru:

“Cekcok kami telah dilangsungkan sampai selesai”

“apakah masih ada orang lain yang bersiap siap untuk cekcok atau berkelahi lagi?” “Sudah tidak ada”

Akhirnya orang yang berpenyakitan itu menghela napas panjang, kemudian selangkah demi selangkah berjalan masuk ke dalam ruangan.

Sekarang sudah akhir bulan empat, udarapun sudah mulai menjadi hangat, akan tetapi dia masih mengenakan sebuah jubah kulit yang tebal sekali, wajahnya masih kedinginan hebat sampai berubah menjadi hijau membesi dan terbatuk-batuk tiada hentinya, sambil batuk, ingusnya meleleh keluar terus tiada habisnya.

Padahal usianya masih belum terlalu besar, tapi penyakit yang dideritanya sudah begitu parah sehingga nyawanya seakan setiap saat bisa melayang meninggalkan raganya. Sepintas lalu orang ini kelihatan sudah lama sekali menderita penyakit parah, sepertinya asal ada orang menyodoknya dengan seujung jari tangan, tubuhnya segera akan roboh terjengkang. Akan tetapi sikap orang lain terhadap dirinya justru sangat menghormat sekali.

Kim lotoa segera mengambilkan sebuah bangku dan mempersilahkannya untuk duduk, menanti napasnya yang tersengkal sengkal telah mereda kembali, sambil tertawa paksa dia baru bertanya:

“Sekarang, apakah kau sudah merasa agak baikan?”

“Untung saja saya masih hidup, untung saja tak sampai mati mendongkol oleh tingkah laku kalian” jawab orang berpenyakitan tersebut dengan wajah kaku.

“Sekarang, apakah kau sudah dapat melakukan pemeriksaan, apakah tempat seperti ini pantas didatangi oleh toasiocia kita?” kata Kim lotoa kemudian.

Orang berpenyakitan itu menghela napas panjang, dari balik ujung baju kulit rasenya dia mengeluarkan jari tangannya yang kurus, kemudian sambil menuding ke arah Bu ki tanyanya: “Siapakah orang ini?”

“Dia adalah orang yang hendak dicari toasiocia” jawab It-tiang-hong cepat:

Orang berpenyakitan itu memperhatikan Bu ki dari atas sampai ke bawah, mendadak ia berseru:

“Cob kau kemari!”

Bu ki tanpa ragu ragu segera melangkah maju ke depan. Tiba-tiba dia merasa orang ini sangat menarik hati.

Kembali orang yang berpenyakitan itu mengawasinya lama sekali dari atas sampai ke bawah, mendadak ia mengucapkan sepatah kata yang luar biasa sekali.

Ternyata dia memerintahkan kepada Bu ki: “Julurkan lidahmu dan perlihatkan kepadaku!” *****

Semenjak masih kecil dulu Bu ki bukan termasuk seseorang yang tak sedap di lihat, maka sering kali ada orang suka memperhatikannya.

Tapi, selama ini belum pernah ada orang yang menyaksikan lidahnya, lidahnya juga belum pernah diperlihatkan kepada orang lain.

DIa tak ingin mencari kesulitan buat diri sendiri, tapi diapun tak ingin dijadikan bahan gurauan oleh orang lain.

Maka dari itu, dia sama sekali tidak menjulurkan lidahnya. It tiang hong kembali tertawa cekikikan, katanya:

“Tentunya kau tak pernah akan menyangka bukan kalau ada orang hendak melihat lidahmu?” Bu ki mengakui akan kebenaran dari ucapan tersebut.

“Ketika pertama kalinya dia menyuruh aku menjulurkan lidah dan memperlihatkan kepada dirinya, aku sendiripun merasa keheranan” kata It tiang hong lebih lanjut.

“Oyaaa...”

“Seringkali ada orang yang menyuruh aku untuk memperlihatkan kepada mereka bagian bagian tubuhku, ada yang ingin melihat wajahku, ada orang yang ingin melihat pahaku, bahkan ada juga yang memohon kepadaku agar mereka diperkenankan melihat pantatku” Mau tak mau Bu ki harus mengakui, bahwa bagian bagian yang disebutkan olehnya itu memang merupakan bagian bagian yang paling menarik dari seorang perempuan.

Samil tertawa It tiang hong berkata lebih jauh:

“Waktu itu aku sendiripun persis seperti kau, aku benar-benar tidak habis mengerti apa sebabnya dia ingin melihat lidahku”

“Skearang apakah kau sudah mengerti?”

“Waktu itu aku tidak mengerti karena aku masih belum tahu siapakah dia, tapi sekarang. ”

Ia tertawa genit, kemudian melanjutkan: “Sekarang, bagian tubuh manapun dia ingin lihat dariku, pasti akan kuperlihatkan semua kepadanya”

Bu ki lagi lagi memperhatikan sikap si Cebol Oh yang sedang mendelik besar di sebelah sana, tak tahan ia tertawa geli.

“Siapakah dia?” tanyanya kemudian.

“Dia tak lain adalah salah seorang dari empat tabib sakti yang ada di dunia saat ini, Ni pou sat (dewa lumpur) Pia Tay hu

Bu ki segera tertawa lebar setelah mendengar perkataan itu.

Ia benar benar tidak menyangka kalau orang yang berpenyakitan ini ternyata adalah seorang tabib sakti yang termashur namanya di seluruh kolong langit.

Ia merasa Ni pousat memang merupakan julukan yang paling tepat untuk manusia seperti dia itu.

Sambil tertawa It ciang hong berkata lagi:

“Dewa lumpur menyeberangi sungai, walaupun tubuh sendiri sukar diselamatkan, namun penyakit apapun juga yang diderita orang lain, hanya dalam sekilat pandangan saja ia dapat melihatnya”

“Dihari hari biasa, sekalipun ada orang yang berlutut sambil memohon kepadanya, belum tentu ia mau memperhatikannya” sambung Kim lotoa dengan suara dingin.

“Tapi hari ini, toasiocia telah bersikeras hendak datang ke tempat ini” lanjut It ciang hong. “Oleh karena toasiocia adalah seorang yang terhormat, maka dia tak boleh menderita sedikit penyakitpun” Kim lotoa menambahkan.

“Maka dari itu kami harus datang untuk melakukan pemeriksaan lebih dahulu apakah ditempat ini terdapat orang yang berbahaya, apakah ada orang yang sedang menderita penyakit” “Sebab bila disini ada orang yang sedang sakit, maka besar kemungkinannya toasiocia akan ketularan”

Bu ki segera menghela nafas panjang, katanya sambil tertawa getir: “Tampaknya besar juga lagak dari toasiocia ini”

Pia Tay hu turut menghela napas juga.

“Aaai andaikata lagaknya tidak besar, manusia seperti aku ini mana sudi bekerja baginya?”

“yaaa, memang masuk diakal!”

“Tapi sekarang, kau sudah tak perlu untuk menjulurkan lidah dan memperlihatkan kepadaku lagi”

“Kenapa?”

“Sebab aku telah menemukan sumber penyakit yang sedang kau derita itu. ”

“Aku mengidap sakit?”

“Malah tak enteng penyakit yang kau derita itu” “Penyakit apa?”

“Penyakit hati”

Bu ki segera tertawa, walaupun diatas wajahnya dia tertawa, namun diam diam hatinya merasa amat terperanjat.

Hatinya memang benar benar benar berpenyakit, malah tidak enteng sakitnya itu, namun orang lain belum pernah dapat melihatnya.

kembali Pia Tayhu berkata:

“Diatas wajahmu sudah menunjukkan tanda sakit, jelas hatimu berkobar seperti bara api, semangatmu juga menyala nyala, hal ini dikarenakan dalam hatimu terdapat suatu persoalan yang tak dapat diselesaikan, tapi kau selalu berusaha untuk mengendalikannya, maka dari itu orang lain belum pernah melihatnya” Ni pousat yang sukar untuk menyembuhkan diri sendiri ini betul betul memiliki kepandaian simpanan, bahkan Bu ki sendiripun mau tak mau harus mengaguminya.

“Untung saja penyakit semacam ini biasanya tak akan menular kepada orang lain” Mendadak Lo khong bangkit berdiri, kemudian serunya:

“Bagaimana dengan aku? kenapa kau tidak memeriksa bagiku? apakah aku mengidap suatu penyakit?”

“Penyakitmu tak perlu kuperiksa lagi, aku sudah mengetahui dengan sejelas jelasnya” “Oooo ya...?”

“Biasanya bagi seorang setan arak hanya terdapat dua penyakit yang diidapnya” “Dua macam yang mana?”

“Penyakit miskin dan penyakit malas” Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan:

“Walaupun dua macam penyakit tersebut tak bisa diobati, untung saja tak akan menurun pula kepada orang lain”

“Kalau memang begitu, sekarang apakah toasiocia sudah boleh datang kemari?” tanya Lo khong.

“sekarang masih belum bisa” “Kenapa?”

“Sebab aku masih berada di sini” Kembali dia menghela napas, terusnya:

“Sekujur tubuhku penuh dengan penyakit, setiap macam penyakitku ini bisa jadi akan menular kepada orang lain”

Lo khong juga ikut menghela napas pelan katanya pula:

“Kalau toh penyakit orang lain bisa kau sembuhkan, kenapa kau tidak berusaha untuk mengobati penyakitmu sendiri?” “Penyakitku ini tak bisa disembuhkan” “kenapa?

“Sebab bila penyakitku ini disembuhkan, maka aku bakal mampus” Ucapan macam apakah itu?

Lo Khong tidak mengerti, Bu ki juga tidak mengerti, namun tak tahan ia bertanya juga: “Kenapa?”

Pia Tayhu tidak menjawab pertanyaan tersebut, sebaliknya malah balik bertanya: “Barusan, apakah kau merasa agak kurang leluasa menyaksikan diriku?” Ternyata Bu ki tidak mencoba menyangkal.

“Tapi, bagaimanapun rasa bencimu kepadaku, kau tak boleh bersikap kurang sopan kepadaku” kata Pia Tayhu lagi.

Setelah berhenti sebentar dia menjelaskan lebih jauh.

“Sebab seluruh tubuhku penuh dengan penyakit, siapapun dapat merobohkan aku dengan sodokan jari tanganya saja, namun bila kau menghajar diriku, bukan saja hal tersebut tidak mentereng, bahkan justru menyebabkan suatu perubahan yang memalukan.

Bu ki mengakui juga akan hal ini.

Pia Tayhu segera berkata lebih lanjut:

“Tapi, andaikata penyakitku ini berhasil kusembuhkan, maka orang lain tak akan sesungkan sekarang lagi, dulu aku terlalu banyak menyalahi orang lain, mereka pasti akan berdatangan untuk membuat gara gara denganku, bayangkan, apa aku bisa tahan?”

Sambil menggelengkan kepalanya dia menghela napas panjang, pelan-pelan ia berjalan meninggalkan tempat itu.

“Itulah sebabnya penyakit yang kuderita sekarang tak boleh sekali kali disembuhkan.

Secara tiba tiba Bu ki merasakan bahwa Ni pousat yang seluruh badannya penuh berpenyakit ini sesungguhnya adalah seorang yang amat menarik. Orang orang yang berada disitu sekarang tampaknya bukan orang orang jahat, tampaknya mereka menarik semuanya.

Yang paling menarik sudah barang tentu Toasiocianya itu.

“Sekarang, apakah dia sudah boleh datang kemari?” kembali Bu ki bertanya. “Sekarang masih belum bisa” tukas Kim lotoa

“Kenapa?”

“Sebab aku masih harus membuat kau memahami akan suatu hal” “Soal apa?”

“Tahukah kau, siapakah diriku ini?”

“AKu cuma tahu kau she Kim, agaknya banyak orang menyebutmu sebagai Kim lotoa” “Coba kau perhatikan wajahku”

Bu ki memperhatikan setengah harian lamanya, namun dia tidak berhasil menemukan sesuatu keanehan yang pantas untuk diperhatikan atas raut wajahnya itu.

“Coba kau perhatikan, apakah raut wajahku ini agak sedikit berbeda dengan wajah orang lain?” ucap Kim lotoa

Dalam hal ini mau tak mau Bu ki harus mengakui juga, raut wajahnya memang kelihatan aneh sekali.

Paras mukanya kelihatan seperti berwarna biru, bagaikan selembar kain biru yang sudah memutih karena lentur kena dicuci.

“Padahal wajahku ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wajah wajah orang lain” Kim lotoa menerangkan.

“Sekarang mengapa bisa berubah menjadi begini rupa?” Bu ki bertanya. “AKu telah dihajar orang sehingga mukaku berubah menjadi begini rupa ”

“Kau seringkali dihajar orang?” “Selama sepuluh tahun belakangan ini, hampir setiap satu dua bulan sekali aku pasti kena dihajar orang satu dua kali”

“Bila orang lain sedang menghajarmu, apakah kau tak pernah menghindarkan diri?” “Tidak pernah”

“Bila orang lain menghajarmu, kenapa kau tidak berusaha untuk menghindarkan diri?” “Karena aku tak ingin menghindar”

“Apakah kau rela dirimu dihajar?”

Kim lotoa segera tertawa dingin tiada hentinya.

“Heeeh.. heeeh.. heeeh.. sesungguhnya aku memang rela dihajar, kalau tidak, siapakah yang sanggup menghajar diriku?”

Orang lain hendak menghajarnya, ternyata dia malah mandah dirinya digebug, bahkan berkelitpun tidak.

Lantas apakah alasannya sehingga dia sampai begitu?

Bu ki lagi lagi dibuat tidak habis mengerti, sehingga tak tahan dia lantas bertanya. “Kenapa?”

Kim lotoa tidak menjawab, sebaliknya malah balik bertanya pula:

“Tahukah kau siapa saja yang telah turun tangan menghajar diriku?” “Tidak”

“Kalau begitu akan kuperlihatkan kepadamu”

Pakaian yang dikenakan adalah sebuah jubah berwarna biru yang telah dicuci sampai agak memutih, persis seperti warna paras mukanya.

Tiba tiba dia melepaskan jubah panjang berwarna biru yang dikenakannya itu.

Potongan badan orang ini sebenarnya amat tak sedap dilihat, setelah melepaskan pakaian yang dikenakannya itu, dia kelihatan semakin tak sedap dipandang lagi. Sepasang bahunya kelewat lebar, ragangan tulangnya amat besar, setelah pakaiannya dilepas maka yang tersisa hanyalah kulit pembungkus tulang belaka.

Tapi Bu ki mau tak mau harus mengakui diatas kulit pembungkus tulang tersebut memang terdapat banyak sekali bagian bagian yang menarik untuk diperhatikan.

Sekujur badannya dari atas sampai ke bawah, depan belakang, kiri maupun kanan semuanya penuh dengan luka luka yang mengerikan.

Itulah pelbagai macam mulut luka yang beraneka ragam, ada luka bacokan golok, luka pedang, luka tombah, luka pukulan, luka pukulan telapak tangan, luka luar, luka dalam, bengkak menghijau, darah menggumpal, luka senjata rahasia....

Asal kau bisa membayangkan mulut luka bekas terkena serangan apapun, dengan cepat akan kau jumpai semuanya diatas tubuh yang amat kurus tersebut.

Yang lebih aneh lagi, disisi setiap mulut luka tersebut terdapat sebaris tulisan yang kecil sekali.

Untung saja ketajaman mata Bu ki memang selalu amat bagus, setiap huruf yang tertera disitu dapat ia baca dengan amat jelasnya.

Disamping sebuah bekas pukulan telapak tangan yang berwarna merah tua, tertera beberapa huruf kecil yang berbunyi:

“Tahun Ka-sin, bulan tiga tanggal tiga belas, Ciu THian-in”

Tahun ini adalah tahun Ih su, itu berarti bekas telapak tangan tersebut telah dibuat cukup lama, namun gumpalan darah mati didalamnya masih belum hilang.

Sambil menunjuk ke atas telapak tangan itu, Kim lotoa bertanya kepada Bu ki: “Kau tahu ilmu pukulan apakah ini?”

“Itulah pukulan Cu see ciang”

“Kau juga tahu siapakah orang yang bernama Ciu Thian in tersebut?” “Yaa, aku tahu” Bu ki mengangguk, " selain It-ciang-boan-thian (telapak sakti pembalik langit) Ciu Thian in, agaknya didunia ini tiada orang kedua yang mampu melatih Cu-see- ciang sebagus ini”

Kim lotoa segera tertawa dingin.

“Heeeh.. heeh.. hee.. mungkin hal ini disebabkan karena belakangan semakin sedikit orang yang melatih ilmu pukulan Cu-see-ciang”

Bu ki mengakui akan kebenaran dari ucapan tersebut.

Untuk melatih ilmu pukulan semacam itu memang amat susah dan menderita sekali, padahal kehebatannya bila dipergunakan tidaklah terlalu besar.

Para angkata muda dalam dunia persilatan talah menganggap kepandaian tersebut sebagai jenis “kepandaian bodoh”. itulah sebabnya belakangan ini makin lama semakin sedikit orang yang melatihnya.

Sebab walaupun ilmu pukulan semacam ini bisa mematikan seseorang bila sampai terkena pukulan, namun siapapun tak akan berdiri mematung belaka seperti sebatang kayu.

Siapapun sudah pasti tak akan berdiam diri belaka membiarkan lawannya menghimpun tenaga dan melancarkan serangannya.

Hanya Kim lotoa seorang yang tampaknya terkecuali dari kebiasaan tersebut.

“Orang yang bisa menerima pukulan tersebut tanpa mengakibatkan kematiannya, aku rasa didunia ini sudah tidak ada berapa orang lagi” kata Bu ki kemudian.

“Setelah menyambut sebuah pukulannya, akupun harus berbaring selama setengah bulan lamanya diatas ranjang.”

“SUdah jelas kalau ilmu pukulan yang digunakan adalah ilmu Cu-see-ciang, apakah kau tidak berusaha berkelit atau mengegos ke samping...?”

“tidak” “Kenapa?” “Sebab walaupun aku termakan oleh sebuah pukulannya, akan tetapi diapun termakan juga oleh sebuah pukulanku”

Kemudian dia menjelaskan lebih jauh:

“Ilmu silat yang dimiliki oleh Ciu Thian in tidak lemah, seandainya aku harus bertarung dengan mengandalkan perubahan jurus serangan, maka palig tidak aku baru dapat menentukan menang kalah setelah bertarung sekitar tiga sampai lima ratus jurus” “Mungkin dalam tiga sampai lima ratus juruspun belum tentu menang kalah bisa diketahui” ucap Bu ki.

“Yaa, padahal aku mana ada waktu luang sebanyak itu untuk berkelahi dengannya?” “Maka kau lebih suka menerima sebuah pukulannya dan membalas sebuah pukulan pula untuk menentukan menang kalah?”

“Setelah menerima serangannya itu, meski akupun merasa amat sengsara dan amat tak sedap, namun akibat dari pukulan yang kulepaskan ke tubuhnya itu, dia harus berbaring selama setengah tahu lamanya diatas pembaringannya”

Setelah berhenti sejenak, dengan suara hambar dia melanjutkan:

“Sejak saat itu, berada dimana saja dan kapan saja, asal ia bertemu denganku, maka dia pasti akan bersikap amat hormat dan sungkan sekali ”

It-tiang-hong segera tertawa, katanya:

“Aku telah berkata toh, walaupun kepandaian Kim lotoa dalam melancarkan pukulan belum terhitung amat tinggi, namun kemampuannya menerima serangan dari orang lain boleh dibilang tiada tandingannya didunia ini, pada hakekatnya boleh dibilang nomor satu diseluruh dunia”

“Jika ingin belajar memukul orang, paling dulu harus belajar menerima pukulan, cuma sayang bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk melatih kepandaian semacam itu!” Kata Bu ki. “Oleh sebab itu, di tahun tahun belakangan ini, tidak banyak orang yang belajar kepandaian semacam ini di dunia persilatan dewasa ini”

Tentu saja kepandaian semacam itupun termasuk dalam golongan kepandaian bodoh, malah besar kemungkinan merupakan semacam kepandaian yang paling bodoh didunia saat ini.

Namun siapa saja tak akan mengatakan kalau kepandaian semacam itu sama sekali tak berguna.

Kim lotoa telah berkata lebih jauh.

“Thiat sah ciang, Cu see cian, Kim si ciang, kay pi jiu, Lwee keh siau thian seng dan aneka macam pukulan lainnya sudah pernah kurasakan semua, tapi penderitaan yang harus dialami pihak lawan tak akan lebih kecil daripada penderitaan yang kuterima.”

“Aku rasa beberapa tahun belakangan ini pasti makin sedikit orang yang berani beradu kepandaian lagi denganmu” ucap Bu ki sambil tertawa lebar.

“Yaa, memang tidak banyak jumlahnya” IT-ciang-hong tertawa pula seraya berkata:

“Siapa saja yang berani bertarung melawanya, paling banter hasil yang diperoleh adalah sama sama menderita luka, siapa yang kesudian bertarung dengan cara semacam itu?”

Tapi Bu ki segera menggelengkan kepalanya berulang kali, tiba tiba dia berkata: “Aku jadi teringat seseorang”

“Siapa?”

“Pada dua puluh tahun berselang, dari luar perbatasan telah muncul seorang Tay lek kim kong siu, konon ilmu Cap sat tay poo dan Tang cu kong yang dimilikinya telah mendapat puncak kesempurnaan sehingga bacokan golok tusukan pedang sama sekali tidak mempan baginya.” “Kau juga mengetahui tentang orang ini?”

“Aku pernah mendengar orang melukiskan tentang dirinya itu” “Apa yang dikatakan orang lain?”

“Orang bilang tampangnya persis seperti para kimkong (malaikat raksasa) yang ada didalam kuil”

“Oleh sebab itu kau sama sekali tidak menyangka kalau Tay lek kimkong siu tersebut sesungguhnya adalah Kim lotoa?”

Sesudah tetawa cekikikan dia melanjutkan:

“Sebenarnya akupun tidak menyangka, selama sepuluh tahun belakangan ini, paling tidak berat badannya sudah menyusut hampir seratus duaratus kati lebih”

“Aku telah memperhitungkan dengan seksama,” kata Bu ki kemudian, luka dalam ditambah luka luar yang dideritanya sudah mencapai lima puluh kali, setiap kali luka yang dideritanya pasti tidak enteng”

Setelah menghela napas panjang dan tertawa getir, dia melanjutkan:

“Aiii.. andaikan manusia macam aku yang terkena pukulan, cukup hanya sekali saja, mungkin pada saat ini aku telah menjadi orang mati, masa tak mungkin bisa menjadi kurus?”

“Tapi selama sepuluh tahun ini, belum pernah ada orang yang meraih keuntungan pula dariku” ucap Kim lotoa.

Tiba tiba dia ikut menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh: “Hanya orang yang terkecuali”

“Siapa?”

Kim lota menuding ke arah sebuah bekas bacokan pedang yang tertera di atas dadanya, kemudian berseru:

“Coba kau lihat!”

Bekas bacokan itu terletak persis ditepi ulu hatinya, selisih dengna nadi besarnya cuma demikian kecilnya sehingga tak sampai satu inci. Disamping bekas pedang inipun tertera

sebaris tulisan yang amat kecil, tulisan itu berbunyi:

“Tagun Ih wi, bulan sepuluh tanggal tiga, Tong Au!”

“Kau tahu siapakah orang ini?” tanya Kim lotoa kemudian. “Yaa, aku tahu”

“Tentunya kau juga pernah mendengar bukan, bahwa ilmu pedang yang dimilikinya luar biasa sekali?”

Bu ki harus mengakui akan kebenaran dari ucapan itu.

“Tapi sampai dimanakah lihayna ilmu pedang yang dia miliki, kau masih tetap tak akan mengiranya” ucap Kim lotoa lebih lanjut.

Tiba tiba It ciang hong turut menghela napas panjang. katanya:

“Sebelum seseorang menyaksikan kejadian tersebut dengan mata kepala sendiri, hal ini memang sulit rasanya diduga!”

Kawanan jago pedang kenamaan dari jaman ini, tak sedikit yang pernah kujumpai” kata Kim lotoa lebih jauh, “jago jago dari partai Hay lam, dari Thian cong, dari Kun lun, dari Khong tong, dari Pa sa, dari Bu tong, pokoknya semua jago dari berbagai aliran partai pedang, telah kucoba satu persatu.”

“APakah ilmu pedang mereka tak mampu menandingi TOng au?” tanya Bu ki Kim lotoa segera tertawa dingin.

“Heeh... heeh.. heeeh, jika ilmu mereka dibandingkan dengan ilmu pedang Tong toakongcu, maka keadaanya bagaikan kunang kunan dibawah sinar bulan purnama, seperti lilin dibawah teriknya matahari”

Sambil menuding bekas pedang yang berada diatas ulu hatinya itu, ia berkata lebih jauh: “Sewaktu ia melepaskan tusukan ini, hakekanya aku belum sempat melakukan persiapan untuk melancarkan serangan balasan, sebenarnya tusukan ini dapat merenggur selembar jiwaku, sekalipun aku mati diujung pedangnya juga tak mampu berkata apa-apa lagi” “Akupun tahu kalau tusukan pedangnya tak pernah berperasaan, tak pernah kenal ampun, kali ini apa sebabnya dia melepaskan dirimu?”

“Sebab tidak berperasaanya hanya ditujukan kepada orang orang yang tidak berperasaan pula” “Kim lotoa adalah seorang yang bermuka dingin berhati hangat. Selama melancarkan serangan terhadap orang lain, belum pernah dia berniat untuk mencelakai nyawa orang” sambung It ciang hong.

“Tapi, demi Tong toakongcu, setiap saat aku bersedia melanggar kebiasaanku itu” ujar Kim lolos cepat cepat.

Ditatapnya Bu ki dengan pandangan dingin, kemudian dia melanjutkan: “Sekarang, apakah kau telah memahami maksud hatiku sebenarnya..?”

It ciang hong yang berada disampingnya menjelaskan cepat cepat:

“Maksudnya adalah jika kau tak ingin bentrok dengannya, paling baik kau bersikap sedikit lebih sungkan terhadap toasiocia, jangan sekali-kali kau tunjukkan sikap kasar atau kurang ajar kepadanya”

Bu ki segera tertawa.

“COba kau lihat, apakah aku mirip seseorang yang kasar atau bersifat kurang ajar?” “Yaa, kau memang tidak mirip” jawab It ciang hong sambil tersenyum.

Suara tertawanya tampak genit sekali, lanjutnya:

“Walaupun diluaran kau tampak selalu dingin dan kaku, sesungguhnya kaupun seorang yang berhati hangat dan halus lembut, aku percaya pasti ada banyak perempuan yang menyukaimu” “kau melihatnya?” Kembali It ciang hong tertawa genit.

“Tentu saja aku dapat melihatnya” dia menyahut, “aku toh buka seorang nona cilik yang belum pernah berjumpa dengan orang lelaki”

Bu ki tidak menjawab lagi.

Dia sedang memperhatikan wajah si Cebol Oh, melihat dia melotot besar sambil mengepal sepasang tinjunya kencang kencang, seakang akan ia telah bersiap sedia untuk mengayunkan sepasang tinjunya itu keatas perutnya.........

Dia bukan Kim lotoa, juga belum pernah melatih ilmu sebangsa Kim ciong cau, atau Thi pu san atau Cap sah tay po.

Dia tak ingin merasakan tonjokan tinju orang, juga tak akan tahan menerimanya.

Agaknya kali ini Kim lotoa juga tak

akan berebut untuk berdiri dihadapanya, tak akan membantu untuk menerima tonjokan tersebut.

Untung pada saat itulah dari luar ruangan sudah kedengaran ada orang lagi berseru: “TOasiocia datang!”

*****

Bu ki selalu berharap kedatangannya, selalu berharap bisa bersua dengannya, dia ingin tahu si nona kecil yang pada belasan tahun berselang kurus kering, berwajah pucat dan amat lemah tersebut, kini telah berubah menjadi manusia semacam apa.

Tapi dia percaya, wajahnya tentu cantik jelita sehingga sampai Tong toa kongcu yang begitu angkuh pun kena terpikat olehnya.

Seorang perempuan cantik yang sebenarnya memang merupakan perempuan yang diidamkan setiap lelaki, diinginkan setiap pria, entah pria macam apapun, semuanya tidak terkecuali.

Sekarang toasiocia tersebut telah datang. AKhirnya sekarang Bu ki dapat berjumpa dengan nona tersebut.

Tapi kini Bu ki justru berharap sepanjang hidup tak pernah bertemu lagi dengannya.

DIa lebih suka menebang tiga ratus kati kayu bakar, memikul enam ratus pikul air, bahkan bersedia menemani seekor babi betina yang sepuluh kali lebih gemuk daripada TOng Koat, bertiduran diatas pecomberan daripada berjumpa dengannya.

Andaikata ada orang dapat membuatnya jangan sampai berjumpa lagi dengan toasiocia ini, entah pekerjaan apapun yang harus dia lakukan, dia tetap akan bersedia untuk melakukannya. Tpai, dia tidak gila, juga tidak berpenyakit, kenapa ia bersikap demikian?

*****

SI NONA YANG MINTA AMPUN

Dalam ruangan itu terendus bau harum yang amat tipis seakan akan bau bunga teratai, tapi jauh lebih harum dan segar dari pada bunga teratai.

Begitu toasiocia munculkan diri, seluruh ruangan terendus bau harum semerbak itu. Otangnya jauh lebih manis dan cantik daripada sekuntum bunga teratai yang sedang segar. Didalam pemandangan beberapa orang itu, dia bukan cuma seorang toasiocia, pada hakekatnya dia adalah seorang tuan putri.

Walaupun setiap orang menyukainya, namun belum pernah ada orang berani mengusik atau menggoda dirinya.

Dia sendiri juga mengetahui akan hal itu.

Dia muda, cantik, anggun, kehidupan ibarat bunga yang sedang mekar dengan indahnya. Entah berapa banyak gadis berusia sebaya dengannya yang diam diam sedang iri padanya, mengaggumi dirinya.

Dia seharusnya merasa gembira dan bahagia terhadap kesemuanya.

Tapi, siapapun tak tahu karena apa, selama beberapa hari ini, dia selalu bermuram durja, seolah olah merasakan suatu kemurungan, kesedihan yang tebal. Hanya dia seorang yang tahu, dia murung karena dalam hatinya terdapat suatu masalah, suatu kesulitan yang tak dapat dipecahkan.

Dalam hatinya masih tertera bayangan tubuh seseorang, seseorang yang tak pernah dapat dia lupakan.

Tapi orang itu justru mempunyai selisih jarak yang begitu jauh dengannya, diantara mereka berdua seakan akan dipisahkan oleh beribu ribu buah bukit tinggi, beribu ribu buah sungai yang lebar.

Kini malam sudah semakin larut, seorang nona besar seperti dia seharusnya sudah pergi tidur. Tapi dia justru tak dapat tertidur.

Dia terlampau kesepian, dia selalu berharap bisa mendapat pekerjaan untuk dilakukan.

Sejak tiba ditempat ini, selain Siang Si seorang, hampir boleh dibilang tak seorang temanpun yang dia miliki, tak seorang sahabatpun yang bisa diajak mengobrol.

Belum pernah dia menganggap SIang SI sebagai dayangnya. Siang Si adalah sahabatnya.

Sebagai sahabatnya, dia tak ingin melihat dia dipermainkan orang, dianiaya orang. Maka dia telah datang kemari.

Siang Si dengan tangan sebelah menarik ujung bajunya, dengan tangan yang lain menuding ke arah Bu ki.

“Itu dia orangnya!”

Setiap orang ditempat itu tahu dengan pasti bahwa SIang Si adalah orang yang paling disayang dan paling dekat dengan toasiocia, tapi kenyataanya toh masih ada juga orang yang berani menganiaya dirinya.

“Aku tahu mengapa dia menyuruh aku datang kemari, dia ingin menyuruh aku menemaninya... menemaninya...” Walau kata kata selanjutnya tak sanggup dilanjutkan oleh Siang Si, namun setiap orang tentu akan mengerti.

Bahwa toasiocia sendiripun mengerti.

Oleh karena itu, sebelum kedatanganya kesana, ia telah mempersiapkan setumpuk nasehat yang siap siap dilontarkan kepada orang itu.

Namun, menanti dia bertemu dengan orang itu, seoalah olah menjadi tertegun dibuatnya. Bu ki juga tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Sebab mimpipun ida tak menyangka kalau toasiocia tersebut tak lain adalah Lian lian yang setiap saat datang mencari gara gara kepadanya, setiap saat setiap tempat tiba tiba jatuh tak sadarkan diri.

Ternyata Lian It lian adalah Siangkoan Lian lian. Ternyata Lian It lian adalah putrinya Siangkoan Jin.

Walaupun dia tahu bahwa orang yang dihadapannya sekarang tak lain adalah Tio Bu ki yang selalu berusaha untuk membunuh ayahnya.

SUdah lama dia mengetahui akan hal ini, itulah sebabnya dia baru menyusul ke perkampungan Hoo hongsan ceng.

Malam itu Tong giok telah melepaskannya karena ia sudah tahu kalau dia adalah putrinya Siangkoan Jin.

Oleh karena itu, dia baru menyuruh orang untuk mengirimnya kembali ke benteng keluarga Tong pada malam itu juga.

Tentu semua persoalan itu dapat dipahami pula oleh Bu ki sekarang.

Hingga detik ini pemuda tersebut belum melarikan diri karena dia tahu sekalipun dapat lolos dari rumah ini, belum tentu dapat meloloskan diri dari benteng keluarga TOng.

Diapun tahu asala gadis itu mengucapkan sepatah kata saja sekarang, dia dapat mati dalam benteng keluarga Tong tak bisa disangkal lagi, pasti akan mati secara mengenaskan. *****

Lian lian tidak mengucapkan apa apa walau sepatah katapun jua... Tentu saja Bu ki juga tak dapat berkata apa apa pula.

Selama ini, Lian lian melotot terus ke arahnya dengan sepasang matanya yang besar dan indah, sepasang matanya seakan akan jauh lebih besar lagi daripada dahulu.

Apakah hal ini disebabkan karena dia bertambah kurus?

Kenapa dia menjadi kurus? lantaran persoalan apakah dia menjadi makin kurus? Bu ki masih saja memperhatikan wajahnya.

DIa tak bisa tidak haru memperhatikannya, dia ingin melihat dari balik sorot matanya yang jeli itu untuk menentukan cara apa yang hendak ia lakukan terhadap dirinya.

Tapi ia tak berhasil melihat apa apa.

Ungkapan perasaan yang terpancar keluar dari balik matanya itu terlampau rumit, bukan cuma Bu ki saja yang tak dapat melihatnya, bahkan dia sendiripun tidak memahami.

Siang Si juga tak berkata apa apa lagi.

Dia adalah seorang anak gadis yang pintar. tahun ini umurnya telah mencapai delapan belas tahun, dia sudah memahami banyak urusan...

Ia telah menyaksikan bahwa hubungan antara toasiocia dengan lelaki itu tampaknya sedikit agak kurang beres.

Sebenarnya dalam bagian manakah terletak ketidakberesanya itu?

DIa sendiripun tak mampu untuk memutuskan keluar Sekalipun dia tahu juga tak berani

mengutarakannya keluar.

Oleh sebab itu terpaksa dia harus menutup mulutnya rapat rapat.

Setiap orang menutup mulutnya rapa rapat, tiada seorang telur busuk yang bodohpun didalam ruangan itu. Entah berapa lama sudah lewat tiba tiba toasiocia membalikkan badan dan pelan pelan berjalan keluar.

Mengapa pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun?

Ketika Bu ki sedang keheranan, ketika setiap orang sedang merasa keheranan, mendadak ia mengucapkan sepatah kata.

TIba dipintu depan, tiba tiba dia membalikkan badannya menatap wajah Bu ki, lalu mengucapkan dua patah kata.

Dia bilang:

“Ikutilah aku!”

Dia minta kepada Bu ki untuk mengikutinya kemana? pergi berbuat apa...?? Bu ki tidak bertanya, juga tak dapat bertanya.

Sekalipun dia tahu dengan pasti bahwa dia hendak membawanya naik ketiang penggantungan atau turun ke kuali minyak mendidih, diah hanya bisa mengikutinya saja.

Sekarang dia sudah tidak memiliki pilihan lain.

*****

Suasana di dalam kebun bungan amat gelap gulita dan lagi amat tenang.

\Lian lian berjalan didepan, berjalan dengan lambat, lambat sekali, seakan akan didalam hatinya terdapat suatu masalah pelik yang tak dapat dia selesaikan.

Selama ini ia tidak berpaling, walaupun hanya sekejapun.

Bu ki berjalan juga amat lambat, mengikuti dibelakangnya dalam suatu jarang yang tertentu. Bayangan punggungnya kelihatan ramping dan lembut, seakan akan sekali saja dia mendorong tubuhnya, gadis itu segera akan roboh ketanah, roboh untuk selamanya, dan disitupun tak akan ada orang yang dapat membongkar rahasia lagi.

Beberapa kali dia sudah tak tahan untuk turun tangan. Tapi dia harus berusaha keras untuk mengendalikan diri, sebab dia tak boleh turun tangan secara gegabah.

Dibalik kegelapan mungkin saja dimana mana ada penjagaan yang ketat, Kim lotoa dan It ciang hong sekalian pasti turut mengawasi pula gerak geriknya dari balik kegelapan.

Kepandaian si Cebol Oh yang hebat serta tenaga pukulannya yang dahsyat, sudah merupakan kepandaian yang tidak gampang dihadapi.

Tak bisa disangkal lagi It ciang hong merupakan seorang musuh yang amat menakutkan, cukup diperhatikan dari matanya yang lembut tapi lincah tangan serta kakiknya yang ramping tapi berotot dapat diketahu kalau gerakan tubuhnya pasti gesit dan lincah.

Biasanya serangan yang dilancarkan kaum perempuan jauh lebih kecji dan buas daripada seorang lelaki, sebab bila mereka ingin bercokol terus dalam dunia persilatan maka paling tidak mereka harus lebih tangguh daripada kaum pria, lagipula harus memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa lihaynya.

Pia Tayhu, silelaki yang berpenyakitan itu musti seluruh tubuhnya penuh dengna penyakit, namun sinar matanya tajam bagaikan sembilu, dapat diduga kalau tenaga dalam yang dimilikinya pasti amat sempurna.

Tentu saja Kim lotoa lebih lebih menakutkan lagi.

Dia mempunyai pengalaman yang matang, pernah menghadapi beratus ratus kali pertempuran besar maupun kecil entah berapa banyak jago persilatan yang pernah dijumpainya jangan berbicara soal yang lain, cukup berbicara dari pengalamanya yang matang dalam menghadapi beratus ratus kali pertarungan sengit dan berkali kali menantang maut, rasanya sulit bagi orang lain untuk menandinginya.

Untuk menghadapi keempat orang ini saja sudah tidak mudah, apalagi selain mereka terdapat entah berapa banyak jago lihay yang lebih menakutkan lagi mengikuti disekelilingnya dan melindungi keselamatan perempuan itu secara diam diam. Andaikata gadis itu sampai mati ditangan Bu ki, apakah Bu kin sendiri dapat hidup lebih lama?

Dengan posisi dan keadaan seperti ini, ia mana berani turun tangan secara gegabah? Tapi, sekalipun dia tidak turun tangan, berapa lama pula ia masih bisa hidup?

Tak tahan Bu ki mulai bertanya kepada diri sendiri.

Seandainya aku menjadi dia, dengan jelas dan pasti aku tahu kalau dia datang untuk membunuh ayahku, aku dapat membawanya pergi kemana?

Bagaimanakah jawabnya? setiap orang pasti dapat menduga dan memikirkannya sendiri, sebab sekarang dia sendiripun tidak mempunyai pilihan lain.

Dia hanya bisa membawanya menuju kematian.

walaupun dia tahu, bila dirinya mengikuti gadis itu maju lebih kedepan, berarti jaraknya dengan kematian akan bertambah dekat, namun ia justru tak dapat berhenti lagi.

Tiba tiba lian lian berhenti didepan pintu berbentuk rembulan yang kecil dibalik pintu terdapat sebuah halaman yang bersih dan tenang.

Akhirnya dia berpaling juga.

Tapi dia sama sekali tidak memandang sekejap matapun ke arah Bu ki, hanya ujarnya pelan ke arah kegelapan dibadanya sana:

“Orang ini adalah seorang sobat lama yang pernah kukenal dulu, aku ingin berbincang bincang dengannya ditempat ini dengan tenang tanpa gangguan, perduli siapapun yang berani mengganggu ketenangan kami, aku pasti akan merasa amat tak senang”.

Jika Toasiocianya ini tak senang hati, siapapun tak akan menerjang masuk ke dalam untuk mengganggu ketenangan mereka.

Tapi apa sebabnya dia hendak berbincang dibawah tatapan empat mata dengan Bu ki? Sebenarnya dia mempunyai persoalan apa yang hendak dibicarakan dengan dirinya? Ia telah bersiap siap menggunakan cara apa untuk menghadapinya? Andai kata seseorang telah melangkah ke sebuah jalan buntu, maka peduli orang lain hendak mempergunakan cara apa untuk menghadapinya, al itu sama sekali tak ada bedanya.

*****

Ditengah halaman terdapat sebuah kolam teratai kecil

Walaupun bunga teratainya belum mekar, namun angin yang berhembus lewat membawa bau harum yang semerbak.

Angin berhembus masuk lewat luar jendela, api di ujung lilin bergoyang goyang tiada hentinya.

Daun jendela dalam keadaan terbuka lebar.

Dibawah jendela terdapat sebuah kursi yang indah dan enak diduduki, agaknya dia sering duduk dikursi itu sambil memandang teratai diluar jendela dengan termangu.

Sekarang, dia tidak duduk diatas kursi tersebut, malah sebaliknya mempersilakan Bu ki: “Silakan duduk!”

Bu ki duduk.

Setelah berada disini, berdiri juga boleh, duduk juga boleh, kedua duanya tiada perbedaan apapun.

Diseberang sana masih terdapat daun jendela, Lian lian berdiri dibawah jendela dengan punggung menghadap kearahnya, lewat lama kemudian ia baru menghela napas panjang. “Bulan empat sudah lewat, bunga teratai kembali akan mekar ”

Bu ki tidak buka suara, juga tak mampu buka suara, dia hanya menanti...

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Lian lian berpaling dan menatap wajahnya dengan sorot mata yang sangat aneh, tiba tiba ia berkata:

“Aku tahu siapakah kau!”

Bu ki menghela napas panjang. “Aku tahu kau juga tahu!” ucapnya. “Akupun tahu karena apa kau datang kemari” “Kau memang seharusnya tahu”

Ia tidak menyangkal lagi, juga tak bisa menyangkal lebih jauh. “AKu memang datang untuk membunuh Sangkoan Jin”

“Aku pikir sekarang tentunya kau juga sudah tahu bukan, orang yang hendak kau bunuh adalah ayahku”

“Akupun tahu, didunia ini tak akan ada orang yang membiarkan orang lain datang untuk membunuh ayah sendiri”

“Yaa, memang tak mungkin ada”

“Sekarang, kau bermaksud hendak menghadapi diriku dengan cara apa...?” Lian lian termenung, tiba tiab diapun menghela napas panjang.

“AIii.. aku sendiripun tak tahu”sahutnya. “Mengapa kau tidak tahu?”

“Sebab perbuatanmu ini bukan suatu perbuatan salah” “Oya?”

“Bila aku adalah kau, ada orang telah membunuh ayahku, akupun pasti akan berusaha kerasa untuk membunuhnya”

“CUma sayang aku bukan kau”

“Bila orang yang hendak kau bunuh adalah orang lain, aku pasti akan berusaha sepenuh tenaga untuk membantu usahamu itu!”

“Sayang orang yang hendak kubunuh adalah ayahmu” Dengan hambar dia melanjutkan:

“Oleh sebab itu, entah dengan cara apa kau hendak menghadapi diriku, aku tak akan membencimu, sebab bila aku adalah kau, akupun sama saja akan berbuat demikian” Kembali Lian lian termenung sampai lama sekali, kemudian pelan pelan dia baru berkata: “Justru karena aku adalah putrinya, maka aku selalu tidak percaya kalau dia benar benar telah membinasakan ayahmu”

“Oooo..”

“Selama ini dia selalu jujur, selalu berpandangan lurus dan bijaksana, walaupun ada kalanya dingin dan kaku tanpa perasaan, namun dia itu berpandangan lurus,

Aku benar-benar tidak percaya kalau dia dapat melakukan perbuatan seperti ini” “Oooh …”

“Itulah sebabnya aku harus berkunjung sendiri ke perkumpulan Ho Hong San Ceng dan melihat sendiri keadaan di sana, apakah di balik kesemuanya itu masih terdapat rahasia lain.” “Sekarang, kau telah berkunjung ke sana bukan?”

“Yaa!” sahut Lian Lian dengan sedih, bahkan secara diam-diam aku telah berkunjung ke kamar baca ayahmu, berdiri di termpat ayahmu terbunuh …”

Sepasang matanya memancarkan pernderitaan dan kepedihan:

“Waktu itu malam sudah larut, empat penjuru hening tiada manusia, persis seperti saat ini keadaannya, aku berdiri di sana seorang diri, bertanya kepada diriku sendiri, andaikata pada suatu hari kau datang membunuh ayahku untuk membalas dendam, apa yang harus kulakukan?’

Persoalan ini memang suatu masalah pelik yang tak terpecahkan.

Setiap kali teringat akan persoalan ini, sekalipun sedang berada dalam impian, tiba-tiba dia akan terbangun dan melelehkan keringat dingin …

Sebab dia tahu, kesalahan terletak di tangan ayahnya.

“Aku selau memberitahukan kepada diriku sendiri” kata Lian Lian, “Dia tidak dapat melakukan kesalahan, dia berbuat demikian pasti mempunyai alasan tertentu, sayang, aku sendiripun tak dapat mempercayai perkataan tersebut.” Setelah tertawa, dia melanjutkan:

“Kau dapat membohongi setiap orang, tapi jangan harap dapat menipu dirimu sendiri.” Senyumannya sudah dipenuhi oleh penderitaan:

”Oleh sebab itu, aku selalu berusaha untuk menemani kau pada waktu itu, aku berharap menemani kau pada waktu itu, aku berharap dapat memusnahkan rasa dendam dan bencimu kepada ayahku, asal kau dapat memaafkan dia, apapun yang kau hendak kau suruh kulakukan, aku tetap bersedia untuk melakukannya …”

Dengan memandang dingin, Bu Ki memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba dalam hatinya pun merasakan suatu kepedihan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Dia tak bisa tidak harus mengakui bahwa gadis itu sesungguhnya adalah seorang gadis yang berhati mulia, seorang gadis yang pantas dikasihani.

Sebab dia bersedia untuk mengorbankan diri.

“Sayang, dendam kesumat semacam ini selamanya tak akan dapat dihilangkan dengan begitu saja.

Terpaksa dia harus mengeraskan hati dan berkata dengan dingin:

“Andaikata pada waktu itu aku sudah tahu kalau kau adalah putrinya Sang Koan Jin, aku past akan membinasakan dirimu!”

“Seandainya kau membunuhku pada waktu itu, bukan saja aku tak akan mengalahkan dirimu, mungkin malahan berterima kasih kepadamu!” jawab Lian Lian sedih.

“Kenapa?”

Lian Lian menghela napas sedih.

“Sebab secara tiba-tiba aku merasa, lebih baik aku cepat-cepat mati saja!” Setelah berhenti sejenak, dengan sedih dia melanjutkan:

“Bila aku sudah mati, tak mungkin akan kualami penderitaan dan kemurungan seperti sekarang ini” “Sekarang, kau masih belum seharusnya merasa kesal atau murung, toh persoalan ini tidak sulit untuk diselesaikan!”

“O ya?”

“Sekarang, seandainya aku masih dapat membunuhmu, aku pasti akan membunuh dirimu” Lian Lian segera mengangguk.

“Aku percaya!” sahutnya.

“Selama berada di kebun bunga tadi, paling tidak aku sudah tiga kali ingin membunuhmu.” “Mengapa kau tidak turun tangan?”

“Sebab walaupun aku bisa membunuhmu. Belum tentu aku dapat meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup.”

Lian Lian mengakui akan hal ini. Kembali Bu Ki berkata:

“Sekalipun aku hendak membunuhmu, sesungguhnya kejadian ini merupakan suatu kejadian yang adil.”

“Paling tidak kau toh bisa mengajakku untuk mati bersama.” Bu Ki segera tertawa:

“Antara aku dengan kau tiada dendam atau sakit hati apa apa, dendam kesumat generasi yang lalu sama sekali tak ada hunungannya dengan generasi sekarang, mengapa aku menyuruhmu untuk menemani aku mati?”

Senyumannya tampak begitu tenang dan lembut.

“Kedatanganku kemari memang membawa tekad untuk mati bila gagal sekarang aku terlah berusaha dengan sekuat tenaga. Walaupun tidak berhasil aku juga aku juga mati tanpa menyesal.”

Lian Lian memperhatikannya, lewat lama lama kemudian, dia baru bertanya: “Ucapanmu itu kau utarakan dengan hati jujur” “Betul!”

Kembali Lian Lian menghela napas panjang.

“Aaaai … bila seseorang dapat mati tanpa menyesal, bisa mati dengan hati yang bersih, apa salahnya untuk mati?”

Tiba-tiba Bu Ki tertawa tergelak.

“Haaahhh … haaahhh … haaahhh … Tidak kusangka kalau kau dapat memahami maksud hatiku?”

Kembali Lian-lian menghela napas panjang.

“Aaai … seringkali aku mendengar orang berkata, hidup seribu tahun akhirnya juga mati, maka aku selalu beranggapan, kematian merupakan suatu perbuatan yang amat sukar sekali.” “Yaaa, memang bukan suatu pekerjaan yang terlampau gampang … “ Bu Ki manggut- manggut.

“Tapi sekarang aku sudah mengerti, ada kalanya hidup justru jauh lebih sulit daripada mati, betul tidak?” Gadis itu menatap lawannya dengan sorot mata yang jeli.

Bu Ki manggut-manggut. Tak tahan diapun menghela napas panjang, katanya pelan: “Yaa, ucapannmu itu memang tepat sekali. Ada kalanya memang demikian keadaannya.” “Oleh sebab andaikata seseorang ingin benar-benar mati, lebih baik biarkan saja mati.” “Betul!”

Di atas dinding ruangan tergantung sebilah pedang, sebilah pedang panjang tiga depa tujuh inci dengan sarung pedang berwarna hitam pekat.

Lian lian mengambil pedang itu dan ...

“Criing!” meloloskannya dari sarung, mata pedang dingin bagaikan salju.

Tiba-tiba ia serahkan pedang itu kepada Bu Ki, lalu dengan sikap yang dingin dan tenang tiba-tiba ia berkata:

“Bunuhlah!” *****

TIADA PILIHAN LAIN

Pedang itu sebilah pedang yang asli, sebilah pedang sungguhan.

Di kala tanganmu menggenggam di atas gagang pedang yang dingin, kaku dan keras itu, akan kau rasakan bahwa pedang, tiada perasaan lain di dunia ini yang dapat lebih nyata dan tegas daripada perasaan tersebut.

Bu Ki adalah seorang yang belajar pedang.

Sekarang di tangannya telah menggenggam pedang tersebut, tapi kali ini dia tidak memiliki perasaan yang nyata dan tegas semacam itu.

Hampir saja dia tak dapat percaya kalau kejadian ini merupakan suatu kejadian yang nyata. Lian-lian mengawasinya lekat-lekat. Kemudian sepatah demi sepatah pelan-pelan dia berkata: “Aku bersungguh hati, aku bersungguh hati hendak menyuruhmu membunuh diriku.” “Kenapa?” tak tahan BuKi bertanya.

“Sebab ayahku telah membunuh ayahmu, aku tak dapat membiarkan aku mencelakai dirinya.” Kemudian dia menambahkan,

“Ayahku telah melakukan kesalahan, aku tak dapat membuat salah lagi ...” Bu Ki masih belum juga dapat memahami.

“Tapi, bila aku tidak mati, kaupun tak bisa terhindar pasti akan mati di tanganku, sebab aku tahu tak akan membiarkan kau pergi memcelakai ayahku…”

Bu Ki tertawa getir.

“Bagaimana seandainya kau yang mati? Apakah dapat menyelesaikan persoalan ini?” “Setelah aku mati, kau dan ayahku dapat hidup terus.”

“kenapa?” kembali Bu Ki bertanya.

“Sebab setelah aku mati, tak akan ada barang lain lagi yang dapat menyingkap rahasiamu lagi.” Kemudian ia melanjutkan:

“Kim lotoa sekalian pasti akan menyangka kalau kau akan membunuhku, maka habis membunuhku kau harus cepat cepat pergi meninggalkan tempat ini, mereka pasti tak akan menghalangi kepergianmu, saat itu rahasiamu masih belum terbongkar, maka tidak sulit bagimu untuk pergi meninggalkan benteng keluarga Tong!”

Bu Ki mengakui bahwa ucapannya benar.

Bila sekarang juga dia angkat kaki, memang masih tersedia kesempatan baginya untuk melarikan diri.

Kembali Lian Lian berkata:

“Tapi, setelah kau pergi membunuhku maka kau harus segera pergi dari sini, semenit pun tak dapat tinggal di sini lebih lama lagi, oleh sebab itu kau pasti tak akan berkesempatan lagi pergi untuk pergi mencari ayahku.”

Setelah tertawa lebar, dia melanjutkan:

“Apalagi setelah kau membinasakan diriku, sedikit banyak perasaanmu akan menjadi sedih dan menyesal, siapa tahu kalau dendam kesumat kita dua keluarga akan Makin bertambah tawar dengan terjadinya peristiwa ini. Tentu saja akupun akan mati dengan hati yang bersih. Oleh sebab itu setelah kupikirkan kembali pulang pergi aku rasa cara inilah merupakan cara yang terbaik untuk menyelesaikan persoalan ini.”

Sebenarnya persoalan ini memang merupakan suatu persoalan yang sulit untuk diselesaikan, hanya dengan kematian saja masalah tersebut baru dapat diselesaikan.

Andaikata Bu Ki mati, persoalan inipun sama saja dapat terselesaikan. Tapi mengapa dia tidak membiarkan Bu Ki mati?

Ia lebih suka mengorbankan diri daripada mencelakai jiwa Bu Ki, apa sebabnya begitu? Sekalipun Bu Ki adalah seorang manusia bodoh yang tak bisa ditolong lagi paling tidak dia juga bisa memahami perasaan tersebut. Sekalipun Bu Ki seorang manusia berhati baja yang dingin dan kaku tanpa perasaan. Perasaannya terhadap persoalan inipun seharusnya amat berterima kasih.

Cuma sayang, sekarang ia sudah tidak berhak untuk menerima rasa haru orang lain. Sama sekali tidak berhak untuk menerima perasaan kasih sayang orang lain.

Sebab dirinya sekarang sudah tidak terhitung milik dirinya sendiri.

Semenjak ayahnya mati secara menggenaskan, dia telah menjual dirinya kepada iblis yang buas yang bernama “Dendam Kesumat”.

Iblis buas itu sudah banyak tahun malang melintang dalam kehidupan manusia, entah sudah betapa banyak orang yang dirasuki oleh iblis tersebut.

*****

Di luar jendela ada angin.

Cahaya lentera yang bergoyang menyinari wajah Lian Lian yang pucat, dia bukan gadis lincah yang dulu lagi.

Tiba-tiba Bu Ki berkata,

“Kau adalah seorang telur busuk yang bodoh!”

Ia tidak membiarkan wajahnya menunjukkan perasaan apapun.

“Hanya orang bodoh yang bisa menemukan cara amat bodoh seperti ...!” Lian Lian sendiripun harus mengakui akan perkataan tersebut.

Cara ini memang suatu cara yang bodoh tapi inilah satu-satunya cara yang dapat ia temukan. “Semua orang bodoh pantas untuk mati, aku memang seharusnya membinasakan dirimu.” “Lantas mengapa kau masih belum juga turun tangan?”

Pedang untuk membunuh telah berada di tangannya, orang yang harus dibunuh juga telah berada di depan matanya.

Mengapa Bu Ki belum juga turun tangan? Hanya ada sebuah alasan yang dapat menjelaskan kesemuanya itu, tapi alasan itu, tak ingin dia akui, juga tak ingin dia utarakan keluar.

Sebab ada orang yang mewakili untuk mengucapkanya keluar. Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan suara dingin:

“Dia masih belum juga turun tangan, karna dia sendiripun seorang bodoh …!” Ternyata orang itu adalah Sangkoan Jin.

Sewaktu Bu Ki berpaling ke belakang, Sangkoan Jin telah berada di depan mata.

***** Paras muka Bu Ki sama sekali tidak berubah.

Paras muka Sangkoan Jin juga sama-sama tidak berubah.

Walaupun mereka adalah musuh besar yang saling bermusuhan, namun paling tidak mereka mempunyai satu persamaan …

Musuh besar yang dibenci sampai merasuk ke tulang telah berada di depan mata. Pertemuan ini sudah buka pertuan mereka yang pertama kali lagi, tak dapat disangkal pertemuan ini adalah pertemuan mereka yang terakhir kalinya.

Bu Ki tahu, inilah kesempatan yang terakhir baginya.

Ternyata Thian masih bermurah hati kepadanya, sebuah kesempatan yang terakhir kembali dia dapatkan, kali ini dia harus manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

Dia tak boleh merasa sangsi lagi, tak boleh melepaskan kesempatan yang terakhir kali ini demi siapapun dan persoalan apapun

Kasihan, iba, berbaik hati … semua perasaan yang maha agung itu dibuangnya jauh-jauh Demi berhasilnya pembalasan dendam tersebut, terpaksa dia harus melakukan perbuatan apapun juga.

Cahaya pedang berkelebatan lewat, tahu-tahu ujung pedangnya telah berada di atas tenggorokan Lian Lian. Sangkoan Jin Hanya memandangnya dengan dingin, berkedippun tidak.