Harimau Kemala Putih Jilid 31

Jilid 31  

Sesungguhnya orang ini mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk membunuhnya, tapi kesempatan itu telah dilepaskan olehnya dengan begitu saja. Dari sini hampir dapat dipastikan kalau orang itu memang tidak bermaksud jahat terhadap dirinya.

Kemungkinan besar orang ini juga telah membantunya untuk menyingkirkan para penjaga disekitar hutan pada dua malam berselang.

Lantas, siapakah sebetulnya orang itu?

Mengapa dia harus melakukan perbuatan semacam ini?

Bu ki telah memeras keringat memikirkan persoalan ini bahkan kepalanya pun hampir pecah rasanya, namun setitik cahaya pun tidak berhasil ditemukan.

Terpaksa dia harus menyimpulkan lebih dahulu bahwa orang ini adalah sahabatnya.

Sebab rahasia yang diketahui orang ini benar-benar terlampau banyak, bila ia bukan sahabatnya, maka hal ini sungguh menakutkan sekali.

*****

Bulan empat tanggal dua puluh lima, udara cerah.

Aneka bunga didalam halaman sedang mekar dan menyiarkan bau harum semerbak, sinar matahari memancarkan sinarnya dengan amat terang. Sudah cukup lama Bu ki berdiri dibawah timpaan cahaya matahari.

Tempat ini adalah kebun belakang bangunan Sangkoan Jin, waktu itu Sangkoan Jin sedang berdiri dibalik rimbunnya pohon yang sangat lebat, hampir setiap pori-pori diatas wajahnya dapat terlihat dengan amat jelasnya.

Sebab sinar sang surya sedang menyinari wajahnya;

Cahaya matahari terasa amat menusuk mata. Sedemikian silaunya sehingga hampir semua panca indera dari Sangkoan Jin tak dapat terlihat jelas.

Tentu saja posisi semacam itu sengaja diatur oleh Sangkoan Jin, pada hakekatnya tiada pilihan lain buat Bu ki untuk menjatuhkan pilihannya.

Sekalipun dikebun belakang cuma ada mereka berdua, berada dalam keadaan seperti ini, diapun tak dapat turun tangan. Ia boleh dibilang tak dapat melihat jelas, setiap gerak geriknya justru tak sanggup meloloskan diri dari tatapan mata Sangkoan Jin.

Mau tak mau dia harus mengagumi akan kecermatan serta ketelitian dari Sangkoan Jin, Akhirnya Sangkoan Jin buka suara.

Tiba tiba dia berkata:

“Bagaimanapun sempurnanya suatu ilmu menyaru muka, setelah berada dibawah terik matahari, semuanya akan terlihat dengan jelas”

“Oya?”

“Memakai topeng kulit manusiapun sama saja. Kulit orang mati tentu saja jauh berbeda jika dibandingkan dengan kulit orang hidup”

“Oya?”

“Bila diatas wajahmu terdapat selembar kulit orang mati, sekarang kau sudah menjadi orang mati”

Tiba tiba Bu ki tertawa.

“Hal ini bukan sesuatu yang menggelikan!” tegur Sangkoan Jin.

“Tapi secara tiba-tiba aku teringat akan suatu kejadian yang menggelikan sekali” “Kejadian apakah itu?”

“Konon ada banyak topeng kulit manusia yang terbuat dari kulit pantat orang mati, sebab kulit pantat paling lunak dan halus”

Sambil tertawa terus, dia melanjutkan:

“Apakah kau mengira aku bakal menempelkan kulit pantat orang lain diatas wajahnya?”

“Kau bukannya pasti tak akan melakukan begitu” kata Sangkoan Jin dingin, “aku dapat melihat manusia macam apakah dirimu itu bila mana keadaan memaksa, perbuatan macam apapun dapat kau lakukan”

“Benarkah aku adalah manusia semacam begini?”

“Justru karena kau adalah manusia semacam itu, maka aku baru menyuruhmu datang kemari” “Kenapa?”

“Sebab manusia semacam itu, biasanya besar sekali kegunaannya” Bu ki tertawa lagi, katanya dengan cepat:

“Sayang sekali manusia macam inipun biasanya berpenyakit” “Penyakit apa?”

“Manusia macam ini biasanya seperti kau juga tidak terlalu senang dijemur dibawah teriknya matahari”

“Satu jam berselang matahari belum bersinar sampai disini” “Aku tahu”

“Kau seharusnya datang lebih awal”

“Sayang sekali satu jam berselang aku belum bangun” “Biasanya kau selalu tidur agak lambat?”

“Bila sedang ada perempuan tidurku akan semakin lambat lagi” “Semalam, apakah kau didampingi perempuan?”

“Yaa, hanya seorang”

“Kalau sudah tahu pagi ini harus datang menghadapku, mengapa masih mencari perempuan?” “Sebab aku senang!”

Sangkoan Jin tidak berbicara lagi.

Bu ki sangat berharap dapat menyaksikan mimik wajahnya, bila Bu ki benar-benar dapat melihatnya, dia pasti akan merasa sangat keheranan.

Sebab mimik wajahnya sekarang, entah siapapun yang melihatnya pasti akan merasa sangat keheranan.

Untung saja Bu ki tidak melihatnya, orang lain juga tidak melihatnya..... Lewat lama kemudian, Sangkoan Jin baru berkata dengan suara yang amat dingin: “Tempat ini adalah benteng keluarga Tong!”

“Aku tahu!”

“Bukan suatu pekerjaan yang mudah bila ingin mencari perempuan ditempat ini” “Aku tahu”

“Darimana kau bisa mendapatkannya”

“Aku sendiripun tak dapat memperolehnya. Untung saja aku mempunyai cara untuk membiarkan perempuan itu yang datang mencariku”

“Jadi perempuan itu yang datang sendiri mencarimu?” “Ehmmm!”

“Kenapa dia datang mencarimu?” “Karena dia senang!”

Sangkoan Jin tidak berbicara lagi.

Mimik wajahnya kali ini sudah pasti lebih menarik daripada tadi, cuma sayang Bu ki masih belum sempat melihatnya juga.

Kali ini tidak menunggu dia bersuara, Bu ki telah menimbrung lebih dahulu. “Aku harap kau dapat memahami akan hal ini”

“Katakanlah!”

“Setelah kau ketahui bahwa aku seseorang yang perbuatan macam apapun dapat dilakukan, tentunya kau juga harus tahu bukan saja aku kemaruk akan harta, lagipula suka main perempuan, bahkan kadangkala aku bisa minum arak sampai mabuk kepayang”

“Lanjutkan!”

“Cuma saja persoalan tersebut adalah urusan pribadiku, selamanya aku dapat membedakan antara tugas dan kepentingan pribadi”

“Bagus sekali” “Bila kau menyuruhku menetap disini, maka kau dapat menanyai urusan pribadiku kalau tidak lebih baik aku angkat kaki sekarang juga !”

Sangkoan Jin menatapnya lekat-lekat. Sampai lama kemudian ia masih juga mengawasinya tak berkedip, sepasang matanya yang tajam itu kelihatan seperti burung pemakan bangkai dibawah sinar matahari.

Sejenis elang raksasa yang gemar memakan bangkai busuk.

Dalam detik itulah, hampir saja Bu ki mengira Sangkoan Jin sudah bersiap-siap untuk turun tangan terhadap dirinya.

Tapi Sangkoan Jin hanya mengucapkan empat patah kata yang sederhana sekali kemudian tiba-tiba menyelinap masuk ke balik pepohonan yang rindang.

Ia berkata begini:

“Kau boleh tetap tinggal!”

*****

Gedung yang terdiri dari beberapa ruangan itu terletak ditengah halaman yang rindang dan terpencil.

Dalam halaman ditanam beberapa puluh batang pohon hay tong dan beberapa batang pohon Hu tong.

Disinilah Sangkoan Jin persiapkan kamar tidur buat Bu ki, seorang lelaki yang bernama “lo khong” yang mengajaknya kemari.

Lo khong tidaklah berasal dari marga Khong.

Lo khong juga tidak she Tong, konon dia masih termasuk paman Tong-nya Tong Koat dan Tong Au, cuma saja kecuali dia sendiri, siapapun tak pernah memperhatikan dengan serius hubungan persaudaraan diantara mereka itu.

Lo khong mempunyai selembar wajah yang merah, diatas wajahnya yang merah terdapat pula sebuah hidung berminyak yang berwarna merah juga.

Bu ki segera bertanya kepadanya:

“Sudah jelas kau she Tong, kenapa orang lain tidak menyebutmu sebagai Lo tong?” Jawaban dari Lo khong pun amat beralasan, dia bilang begini:

“Setiap orang disini berasal dari marga Tong, bila aku dipanggil Lo Tong, entah berapa banyak yang akan menyahut?”

“Lantas mengapa orang lain menyebutmu sebagai Lo khong?” kembali Bu ki bertanya. Jawaban dari Lo khong ternyata lebih mantap.

“Khong artinya adalah sebuah lubang. Aku ibaratnya sebuah lubang, arak macam apapun dan berapa banyakpun dapat masuk melewati lubang ini, itulah sebabnya aku dipanggil Lo khong!”

Tugas yang harus dilakukan Lo khong banyak sekali, selain menjadi pelayannya Bu ki, diapun merangkap juga sebagai koki pribadinya Bu ki.

Sehari tiga kali makan, setiap hidangan enam sayur ditambah satu kuah hampir semuanya dimasak oleh Lo khong. Kepandaiannya dalam masak memasak tidak dapat terhitung amat hebat, daging sapi yang dimasaknya pada hakekatnya menyerupai kulit kerbau saja.

Setiap hari setiap kali bersantap dia pasti akan memasak semacam kulit kerbau macam begini, secara beruntun Bu ki telah melalapnya sampai tujuh delapan kali.

Kecuali bersantap, satu satunya pekerjaan yang harus dilakukan Bu ki adalah memegang buku. Dia harus mendaftarkan semua nota yang tebal dan berat itu satu demi satu, selembar demi selembar, sejenis demi sejenis ke dalam buku besar.

Itulah pekerjaan yang diserahkan Sangkoan Jin kepadanya, pekerjaan semacam ini hakekatnya lebih tak sedap dirasakan daripada daging sapi bikinan Lo khong.

Kalau menuruti adat Bu ki, dia ingin sekali mencengkeram baju Sangkoan Jin dan menanyainya sampai jelas.

“Kau secara khusus mengundang aku datang kemari apakah bertujuan menyuruh aku melakukan pekerjaan semacam ini?”

Cuma sayang selamanya dua hari belakangan ini, jangankan bersua muka, melihat bayangan tubuh dari Sangkoan Jin pun tidak.

Gedung bangunan tersebut bukan saja lebih besar daripada apa yang terlihat dari depan, ternyata jauh lebih besar pula daripada apa yang dibayangkan Bu ki.

Akan tetapi lingkungan yang bisa dilewati Bu ki justru teramat kecil sekali. Entah dia berjalan kearah manapun setelah keluar dari pintu, tidak sampai seratus langkah secara tiba-tiba pasti akan muncul seseorang yang secara sopan memberi tahu kepadanya.

“Jalanan ini tak boleh dilewati” atau

“Didepan sana adalah daerah terlarang siapapun dilarang memasukinya!”

Tempat yang dijadikan daerah terlarang disini betul betul banyak sekali; selain kamar bacanya Sangkoan Jin, tempat tinggal toa siocia, bahkan gudangpun dijadikan daerah terlarang.

Disekitar daerah terlarang, paling tidak ada tujuh delapan orang yang melakukan penjagaan.

Untuk merobohkan orang orang semacam itu tentu saja tidak sukar, tapi Bu ki tak akan berbuat demikian.

Jika urusan sepele tak dapat menahan sabar, pasti runyam urusan besar......

Ucapan semacam ini, dulu dianggap sebagai kata kata yang terlampau kuno bagi Bu ki.

Tapi sekarang, Bu ki sudah dapat meresapi makna yang sesungguhnya dari perkataan tersebut. Sikap Sangkoan Jin terhadapnya bisa jadi hanya merupakan suatu pengetesan belaka.

Itulah sebabnya dia hanya menahan sabar.

Sebab itu pula setiap hari dia hanya mengendon dalam kamarnya, makan kulit kerbau, mencatat nota ke buku besar dan menikmati pohon hay tong serta wu thong.

Sudah tiga hari lamanya ia tinggal disini.

Ternyata Tong koat pun tak pernah menampakkan diri.

Tiba tiba Bu ki menemukan kalau dia rada rindu terhadap orang ini, dia seperti ingin sekali menemaninya bersantap, paling tidak jauh lebih enak daripada makan kulit kerbau.

Jalan raya yang ramai, toko toko yang menjual barang barang mewah serta orang orang yang berlalu lalang, terasa jauh lebih menarik daripada tempat ini.

Bu ki benar benar ingin keluar rumah dan berjalan jalan, tapi Lo khong selalu menghalangi kepergiannya.

“Kau tak boleh keluar rumah!” demikian ia berkata. “Kenapa?” seru Bu ki agak marah, “Aku toh bukan tawanan, tempat ini toh bukan rumah penjara, kenapa aku tak boleh keluar rumah?”

“Tapi lebih baik lagi jika kau jangan keluar rumah” Lo khong masih memperlihatkan sikap setianya yang tulus. Bahkan memberi penjelasan lebih jauh, “toa loya secara khusus mengundang kedatanganmu kemari, sudah pasti bukan pekerjaan macam begini yang harus kau lakukan, dia pasti sedang mencoba kesabaranmu”

Tentang soal ini, Bu ki sendiripun pernah memikirkannya. Maka Lo khong berkata lebih lanjut:

“Itulah sebabnya setiap saat kemungkinan besar dia akan menyerahkan tugas untuk kau laksanakan, bila kau tak ada disini, bukankah suatu kesempatan baik telah kau sia siakan?”

Bu ki merasa setuju sekali dengan pendapat ini.

Kesempatan baik memang tak boleh dilewatkan dengan begitu saja. Entah kesempatan tersebut adalah kesempatan seperti apapun, yang pasti tak boleh dilewatkan dengan begitu saja.

Sekarang ia telah berada ditepi kesuksesan, setiap saat kesempatan baik untuk membunuh Sangkoan Jin akan dijumpainya.

Oleh sebab itu dia hanya bisa mengendon dalam kamarnya setiap hari, makan kulit kerbau, mencatat nota ke buku besar serta melihat pohon hay tong dan Wu tong diluar jendela.

Saking mangkel dan masgulnya, hampir saja ia jatuh sakit......

Kehidupan Lo thong justru dapat dilewatkan dengan riang gembira.

Ia pergunakan waktu selama sepertanak nasi lamanya untuk mempersiapkan tiga kali hidangan makan, sebab setiap kali makan sayurnya tetap itu itu juga.

Dikala sarapan pagi, dia mulai minum sedikit arak. Waktu makan siang, arak yang diminum lebih banyak.

Setelah melewati tidur siang yang nyenyak, pengaruh arakpun sudah hilang, tentu saja diapun harus mulai minum lagi.

Setelah makan malam, diapun pergi dengan membawa enam bagian pengaruh alkohol, biasanya ia pulang bila sudah larut malam, biasanya dia sudah mabuk kepayang dibuatnya. Malam keempat, ketika ia bersiap siap akan keluar rumah, tak tahan lagi Bu ki lantas bertanya kepadanya:

“Kau hendak kemana?”

“Aaah. hanya ingin keluar untuk berjalan jalan saja.”

“Agaknya setiap malam kau pasti ada tempat yang bisa dikunjungi” keluh Bu ki sambil menghela napas. “Tidak seperti aku, tempat manapun tak boleh kukunjungi!”

“Sebab antara kau dan aku terdapat perbedaan.” “Apa bedanya?”

“Kau diundang secara khusus oleh toa toyu, lagipula teman Toa koan, berarti kau adalah orang golongan atas”

Golongan atas tentu saja harus berkunjung ketempat golongan atas, cuma sayang tempat golongan atas yang terdapat di sini hampir semuanya merupakan daerah terlarang.

Sambil memicingkan matanya dan tertawa, Lo khong berkata:

“Berbeda sekali dengan kami, banyak tempat yang dapat kami kunjungi, karena kami adalah orang golongan bawah ditempat seperti itu hanya orang orang dari golongan bawah saja yang dapat mendatanginya”

“Kenapa?”

“Sebab tempat itu memang tempat untuk orang orang golongan bawah. !”

“Biasanya apa saja yang kalian kerjakan ditempat itu?” tanya Bu ki lebih lanjut.

“Ditempat golongan rendah, tentu saja perbuatan perbuatan golongan rendah saja yang dilakukan”

“Pekerjaan macam apa saja yang dimaksudkan sebagai pekerjaan golongan rendah?”

“Padahal tidak terhitung hebat” kata Lo khong sambil tertawa, disanapun kami hanya minum arak, berjudi dan mencicipi tahunya nona nona cilik!”

“Aaaah. kalau hanya pekerjaan semacam itu mah orang orang dari golongan ataspun seringkali melakukannya juga” kata Bu ki sambil tertawa lebar.

Lo-khong menggeleng. “Sekalipun pekerjaan sama, bila orang orang golongan atas melakukannya ditempat golongan atas, maka perbuatan semacam itupun berubah menjadi perbuatan golongan atas, sebaliknya bila orang orang golongan bawah melakukannya ditempat golongan bawah maka perbuatan itu akan berubah menjadi perbuatan golongan rendah, orang orang golongan atas pasti akan berkerut kening dan mengatakan perbuatan semacam itu sebagai perbuatan maksiat!”

Bukan saja perkataan itu sangat masuk di akal lagipula masih mengandung falsafah hidup tingkat tinggi.

“Disitu terdapat manusia semacam apa saja?” tanya Bu ki kemudian.

“Sudah barang tentu orang orang dari golongan rendah seperti para centeng, para penjaga keamanan, koki, dayang dan lain lainnya”

Mencorong sinar terang dari balik mata Bu ki.

Andaikata ia dapat bergaul dengan orang orang dari golongan tersebut, maka gerak geriknya sudah pasti akan jauh lebih leluasa.

Tiba tiba ia bangkit berdiri, kemudian sambil menepuk bahu Lo khong katanya: “Mari kita berangkat!”

“Kau hendak pergi kemana?”

“Kemana kau akan pergi, disitu aku pergi”

“Kau adalah orang golongan atas, mana boleh mengunjungi tempat golongan bawah seperti itu?”

“Sekalipun dipagi hari aku adalah orang golongan atas, setelah malam aku akan berubah menjadi orang bawah”

Setelah tersenyum lanjutnya:

“Aku tahu, banyak sekali orang orang kalangan atas yang berbuat demikian seperti juga aku” Lo khong tertawa lebar.

Bagaimanapun juga dia harus mengakui bahwa apa yang diucapkan Bu ki memang masuk diakal.

“Tapi ada satu hal aku harus menerangkan lebih dahulu kepadamu” “Katakanlah”

“Setibanya disana, kaupun akan menjadi orang kalangan bawah. Minum arak, berjudi, berkelahi, semuanya tak menjadi soal. Bila ada kesempatan bahkan kau boleh mencari peluang untuk menangkap ikan di air keruh.  ”

“Menangkap ikan?” Bu ki tidak mengerti.

“Disana banyak terdapat dayang dayang cilik yang berwajah cakap dan lumayan”

Lo khong memicingkan matanya rapat rapat

“Merekapun bisa minum arak, bisa berjudi, asal sudah minum arak lantas mabuk, asal sudah berjudi, uang pasti ludas”

Bu ki segera memahami maksud hatinya itu, katanya kemudian,

“Asal mereka sudah mabuk atau sudah ludas, itulah kesempatan yang baik bagi kita untuk menangkap ikan?”

Lo khong segera tertawa.

“Rupanya kaupun seorang ahli?” serunya Bu ki turut tertawa.

“Semua persoalan yang menyangkut masalah itu, orang orang kalangan dari kalangan bawah. !”

“Hanya ada seekor ikan yang jangan sekali kali kau tangkap, bahkan menyentuhpun lebih baik jangan”

“Kenapa?”

“Sebab siapapun tak berani mengusiknya” “Siapakah orang ini?”

“Dia bernama Siang si!” “Siang si?”

“Dia adalah dayang dari toa siocia, Toa loya kita itu!” Setelah menghela napas dan tertawa getir, lanjutnya;

“Bila mengusik dia berarti mengusik toa siocia, barang siapa berani mengusik toa siocia kami, sama artinya telah memasukkan batok kepala sendiri ke dalam serangan lebah”

Cerita yang menyangkut soal toa siocia ini sudah bukan untuk pertama kalinya didengar Bu ki, sekarang walaupun dia belum sampai berjumpa dengan orangnya namun sudah cukup merasakan pengaruh serta kekuasaan dari toa siocia tersebut.

Padahal Bu ki bukannya belum pernah bersua muka dengannya, cuma peristiwa itu telah berlangsung pada belasan tahun berselang.

Waktu itu dia masih seorang bocah perempuan yang kurus lemah dan sangat penurut. Rambutnya selalu dikepang dua, bila melihat orang asing mukanya langsung menjadi merah.

Sekarang ia telah berubah menjadi manusia macam apa? Bagaimana tampangnya? kenapa orang lain demikian takut terhadapnya?

Mendadak Bu ki ingin sekali bertemu dengan toa siocia yang disegani dan di takuti semua orang ini. Dia ingin tahu sampai dimanakah kekuasaan serta pengaruhnya? sampai dimana pula menakutkannya.

Yang dijumpai lebih dulu adalah Siang si.

Gaya dari dayang ini sudah aduhai, betul betul membuat orang pusing tujuh keliling rasanya.

Asap hitam menyelimuti seluruh ruangan bahunya busuk sekali melebihi bahu sampah yang sedang diobrak abrik pengemis.

Tapi semua orang yang berada dalam ruangan itu, seakan akan sama sekali tidak merasakan hal ini.

Sebuah ruangan yang sebenarnya hanya memuat belasan orang ini dijejali oleh puluhan orang. Ada yang tua, ada yang muda, ada yang laki laki ada pula yang perempuan. Ada yang berdandan menyolek, ada yang bertelanjang punggung, ada yang berbau busuk, adapula yang berbau harum, tapi mimik wajah mereka semuanya hampir sama.

Setiap orang membelalakkan matanya lebar lebar sedang memandang Siang si, menunggu Siang si melemparkan dadu ditangannya itu ke atas meja.

Tangan Siang si mana putih, empuk, kecil, persis seperti sekuntum bunga putih kecil. Orangnya juga putih kecil, ramping, manis ditambah sepasang lesung pipi yang menghiasi wajahnya.

Dalam genggaman tangannya yang kecil tampak tiga biji dadu, kancing bagian kerah bajunya dibuka dua biji. Kaki yang sebelah dinaikkan ke bangku, sedang biji matanya yang jeli berkeliaran kesana kemari.

Orang yang turut didalam pertaruhan kali ini luar biasa banyaknya, jumlah taruhanpun banyak sekali, tapi yang paling banyak adalah Toa ma cu (Si bopeng).

Bu ki pernah bersua muka dengan orang ini, dia adalah seorang pengawal keamanan yang menjaga dekat kamar bacanya Sangkoan Jin, dua kali sudah Bu ki kena dihadang baik olehnya.

Kalau sedang berbicara dihari hari biasa, dia selalu menunjukkan sikap senyum tak senyum yang tak mampu berbuat demikian, bahkan tertawa pura purapun tidak, mukanya yang bulat itu tampak amat tegang, burik diatas mukanya telah basah kuyup oleh air keringat.

Kali ini dia mempertaruhkan tiga belas tahil perak, hampir segenap harta kekayaan yang dimilikinya.

Mendadak terdengar suara bentakan nyaring, lalu “Tring!” ketiga biji dadu itu sudah

dilempar kedalam mangkuk.

“Empat lima enam!” Siang si melompat sambil berteriak keras, “semuanya disikat!”

Tampang wajahnya sekarang sudah tidak mirip sekuntum bunga putih lagi, tapi lebih mirip dengan seekor serigala putih yang siap menerjang korbannya.

Mimpipun Bu ki tak pernah menyangka kalau seorang nona cilik semacam dia bisa berubah menjadi begitu rupa.

Paras muka si bopeng segera berubah hebat. Pelan pelan tangannya dijulurkan kemuka ingin menarik kembali uang taruhannya secara diam diam.

Sayang sekali gerakan tangannya kurang cepat. Mendadak Siang Si berpaling dan menatapnya lekat lekat. “Hey, mau apa kau? Ingin bermain curang?”

Tangan si bopeng yang telah mencengkeram sekeping uang sebesar sepuluh tahil perak itu segera ditarik kembali. Keadaannya ibarat menunggang diatas punggung harimau, mau turun tak bisa, tetap membungkam pun tak dapat. Akhirnya sambil keraskan kepala diapun berkata:

“Kali ini tidak masuk hitungan, kita harus mengulangnya sekali lagi !”

Siang si tertawa dingin, tiba tiba dia turun tangan dan menghadiahkan sebuah tempelengan keatas wajah si bopeng tersebut.

Serangan yang dia lancarkan itu sudah cukup cepat, tapi sebelum telapak tangannya sempat menggaplok wajah si bopeng, tahu tahu telah kena ditangkap oleh Bu ki.

Sesungguhnya Bu ki masih berdiri agak jauh dari tempat itu, tiba tiba saja ia telah berada dihadapannya.

Paras muka Siang si juga turut berubah.

Belum pernah dia menjumpai manusia semacam ini, juga belum pernah menyaksikan ada orang bisa bergerak sedemikian cepatnya.

Sambil berusaha menahan kobaran api amarah dalam dadanya, dia lantas menegur: “Hey, mau apa kau datang kemari?”

Bu ki segera tertawa.

“Aku juga tak ingin berbuat apa apa” sahutnya, “Aku hanya ingin mengucapkan sepatah dua patah kata yang adil”

“Pertaruhan yang barusan dilangsungkan memang tak dapat dihitung” “Kenapa?”

“Sebab ada dadu palsu, bila dadu digunakan maka yang keluar selalu angka empat lima enam”

Kontan berkobar hawa amarah didalam dada Siang si, sayang bagaimanapun ia berusaha untuk mengerahkan tenaganya, tak pernah perempuan itu berhasil melepaskan diri dari cengkeraman lawannya.

Seorang perempuan yang pintar tak akan menelan kerugian yang telah berada didepan mata.

Siang si juga anak yang pintar, maka setelah memutar biji matanya, tiba tiba dia berkata sambil tertawa: “Kau bilang dadu ini bila dilemparkan maka setiap kali akan keluar angka empat lima enam?” “Benar”

“Bagaimanapun dilemparkan maka angkanya pasti empat lima enam?” “Yaa, bagaimanapun dilemparkan maka angkanya pasti akan sama” “Kalau begitu coba kau lemparkan untuk kami lihat”

Bu ki segera tertawa, dengan mempergunakan tangannya yang lain dia mengambil dadu dadu yang berada dalam mangkuk itu.

Tiba tiba Siang si berkata lagi:

“Andaikata angka yang kau dapatkan nanti bukan empat lima enam, apa yang hendak kau lakukan lagi?”

“Akan kulempar sebanyak sepuluh kali, asal ada sekali yang angkanya bukan empat lima enam, aku bersedia membayar seratus tiga puluh tahil perak sebagai ganti ruginya”

Siang si segera tertawa setelah mendengar perkataan itu.

Sebetulnya perempuan ini memang suka tertawa, kecuali kalau sedang membayar pasangan yang tidak mengena, persoalan apapun ia murah dengan senyuman.

Sekarang dia lebih-lebih tak tahan untuk tertawa lagi.

Mana ada orang yang sanggup melemparkan dadu sebanyak sepuluh kali dengan angka selalu empat lima enam? belum pernah dia mendengar ada orang yang mampu berbuat demikian, jika ada yang bilang begitu, maka orang itu sudah pasti ada penyakitnya.

“Bagaimana andaikata kau yang kalah?” tiba tiba Bu ki bertanya kembali.

“Bila kau sanggup meraih angka empat lima enam sebanyak sepuluh kali, apapun yang kau suruh kulakukan, pasti akan kulakukan dengan cepat tanpa membantah”

“Baik!”

Secara beruntun dia melemparkan dadunya sebanyak sepuluh kali, ternyata angka yang diraih selalu adalah empat lima enam.

Sekarang, Siang si tak sanggup untuk tertawa lagi. Sambil tersenyum Bu ki lantas berkata:

“Sudah kau lihat dengan jelas belum?” Siang si segera mengangguk.

Kembali Bu ki berkata:

“Tadi bukankah kau telah berjanji, bila kau kalah, apa yang ingin kulakukan atas dirimu, kau bersedia untuk melakukannya?”

Siang si kembali manggut manggut, tiba tiba paras mukanya berubah menjadi merah jengah. Mendadak ia memahami kembali arti kata yang sesungguhnya dari ucapan tersebut.

Sesungguhnya ucapan semacam itu tidak seharusnya diutarakan seorang anak gadis secara

sembarangan.

Bu ki memandang sorot matanya dengan tajam, sesungguhnya sinar mata semacam itu boleh dibilang tidak aturan.

Tiba tiba Siang si berteriak keras keras:

“Tapi tidak boleh sekarang!”

“Tak boleh sekarang? Apa yang tak boleh sekarang?” Bu ki sengaja bertanya pura pura blo’on.

Paras muka Siang Si berubah semakin memerah seperti kepiting direbus. Katanya kemudian. “Terserah apapun yang ingin kau suruh kulakukan, pokoknya tak bisa sekarang”

“Sampai kapan baru bisa dilakukan?” Siang Si kembali memutar sepasang biji matanya, lalu berkata:

“Kau tinggal dimana? Sebentar, biar kau saja yang pergi mencarimu. !”

“Sungguhkah kau akan pergi mencariku nanti?” Bu ki kembali berusaha untuk menegaskan. Siang Si mengangguk,

“Jika nanti aku tidak datang mencarimu, maka aku adalah seekor anjing kecil” Akhirnya Bu ki melepaskan cekalan tangannya, kemudian katanya lagi, “Aku berdiam didalam halaman kecil keluar pintu belakang sana, sekarang juga aku akan pulang ke rumah untuk menantikan kedatanganmu”

Selama ini, Lo khong selalu bermuram durja sambil menghela napas panjang pendek seakan akan dia telah menyaksikan Bu ki memasukkan batok kepalanya kedalam sarang lebah dan ingin ditarik keluar namun tak berhasil menariknya kembali.

Begitu Siang Si angkat kaki meninggalkan tempat itu si bopeng segera datang menghampirinya dan menepuk sepasang bahu Bu ki keras keras sebagai pertanda bahwa ia telah bertekad untuk mengikat tali persahabatan dengan Bu ki.

Sebaliknya Lo khong mendepak kaki tiada hentinya sambil mengomel terus: “Aku tok sudah berkata, jangan usik dia, kenapa kau justru mengusiknya?

Sekarang, dia pasti sudah pulang ke rumah untuk mencari bala bantuan, bila nona datang mencarimu nanti, coba lihat bagaimana caramu untuk mengatasinya?”

Bu ki tersenyum, bahkan kelihatan gembira sekali.

Dengan terkejut Lo Khong menatap wajahnya, lalu berseru:

“Tampaknya kau sama sekali tidak takut terhadap toa siocia?”

“Aku justru takut bila ia tidak datang mencariku” sahut Bu ki sambil tertawa.

Bagaimanapun galak dan kerennya orang yang bernama toa siocia tersebut, sudah pasti umurnya tak akan lebih dari 18 /19 tahunan.

Selamanya, Bu ki mempunyai keyakinan penuh dalam menghadapi anak gadis.

Ia sengaja berbuat demikian, tujuannya memang agar Siang Si membawa nonanya pergi menjumpainya.

Dia tak ingin selama hidup makan kulit kerbau dalam rumah yang terpencil itu, dia harus mencari pasukan tersembunyi, setelah dihitung pulang pergi terasa olehnya bahwa tindakan ini tidak besar resikonya.

Sayang, kali ini dia sudah salah perhitungan.

*****

GAYA SEORANG NONA BESAR Lo khong sudah mulai minum arak lagi begitu sampai dirumah dia mulai minum hari ini dia pulang jauh lebih awal daripada diwaktu waktu sebelumnya.

Setelah terjadi peristiwa dengan Siang Si tadi, tampaknya kegembiraan semua orang untuk melanjutkan permainan jadi sudah hilang lenyap tak berbekas.

Satu satunya alat dulu yang tersedia disitu telah dibelah menjadi dua bagian, semua orang ingin tahu dulu itu telah diisi dengan air raksa atau air keras?

Ternyata didalam dadu ini tak ada apa apanya, sebetulnya dadu itu memang tidak palsu

“Semua orang ingin bertanya kepada Bu-ki kenapa sebanyak sepuluh kali melemparkan dadunya dia selalu dapat meraih angka empat lima enam”

Tapi Bu ki telah berlalu secara diam diam. Dia sendiripun terburu buru ingin pulang kerumah dan menantikan kedatangan dari Siang Si dan nona besarnya.

Dia percaya saat ini merekapun pasti terburu napsu ingin cepat cepat menemuinya.

Bu ki pun sedang minum arak duduk dihadapan lo khong, menemani orang itu minum. Secara tiba tiba saja, dia ingin minum arak sepuasnya pada hari ini.

Ia belum bisa dianggap sebagai setan arak, walaupun sejak berusia sepuluh tahun ia mulai minum arak, walaupun takaran minumnya bagus sekali, bila sedang beradu minum arak dengan orang lain ia jarang sekali kalah.

Tapi saat baginya untuk benar benar minum arak tidaklah terlampau banyak.

Secara tiba dia ingin minum arak pada hari ini bukan lantaran setelah minum arak maka nyalinya akan menjadi besar, ada banyak pekerjaan yang tak berani dilakukan dihari hari biasa, juga tak mampu dikerjakan, biasanya akan berhasil dilakukan sehabis minum arak.

Hari ini dan secara tiba tiba dia ingin minum arak, karena dia memang benar benar ingin minum.

Bila seorang yang tidak tergolong setan arak tiba tiba teringat untuk minum arak, biasanya hal ini disebabkan karena terlampau banyak urusan lain yang sedang dipikiran olehnya.

Ia terbayang kembali semua pengalamannya yang penuh penderitaan dan sengsara bencana, bahaya dan penghinaan.

Sekarang ia berhasil sampai dalam benteng keluarga Tong, telah masuk ke dalam “kebun bunga” dan berjumpa dengan Sangkoan Jin. Agaknya semua rencana yang disusunnya selama ini telah berjalan semua dengan lancar. Paling tidak, hingga detik ini semuanya berjalan seperti apa yang diharapkan.

Tapi hingga sekarang, dia masih belum berhasil untuk benar benar mendekati Sangkoan Jin.

Ia dapat melihat Sangkoan Jin, dapat berbincang bertatapan muka dengan Sangkoan Jin, tapi selalu gagal untuk mendekati orang itu.

Sangkoan Jin memang benar benar seorang manusia yang luar biasa sekali, bukan hanya kecerdasan otaknya yang luar biasa, akalnya juga panjang dan cara kerjanya pun sangat berhati hati, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk melakukan sergapan maut kepadanya.

Agar bisa mendekatinya, harus ada jembatan penghubungannya lebih duhulu, tak bisa disangka putrinya merupakan jembatan penghubung yang paling tepat dan baik.

Untuk dapat menguasahi suatu jembatan penghubung, maka pertama tama harus dipahami dulu segala sesuatunya yang berhubungan dengan jembatan penghubung itu.

Tapi, sampai seberapa jauhkah pengertian Bu ki terhadap si nona besar tersebut? “Nona besar ini bernama Lian lian, lengkapnya Sangkoan Lian lian.

Tahun ini, usianya paling banter baru dua puluh tahunan.

Dia adalah anak murid partai Hoa san, sudah banyak tahun berlatih pedang, tapi sedari kecil badannya sudah lemah dan banyak berpenyakitan, dengan kondisi badan serta kekuatan tubuhnya, tak mungkin ilmu silat yang dipelajarinya itu bisa mencapai ketingkatan yang terlampau tinggi.

Semenjak kecil dia amat cerdik, setelah menginjak kedewasaan sudah barang tentu tak akan menjadi bodoh.

Sewaktu masih kecil dulu, dia adalah seorang nona cilik yang amat menawan hati setelah dewasa tentu saja wajahnya tak akan berubah menjadi jelek atau tak sedap dipandang.

Tapi dia sudah pasti kesepian.

Sangkoan Jin selalu menjauhkan dirinya, apalagi setibanya dalam benteng keluarga Tong, ia lebih lebih tak punya teman. Justru karena dia kesepian, maka bahkan dayangnya “Siang Si” pun bisa jadi sahabat karibnya.

Bila ia dengar ada orang yang telah mempermainkan sahabatnya dia sudah pasti akan datang untuk membuat perhitungan dengan orang itu

Kalau Sangkoan-Jin sendiripun sudah tidak mengenali lagi diri Bu ki, sudah pasti dia semakin tak mungkin dapat mengenalinya, sudah belasan tahun lamanya mereka tak pernah bersua muka.

Untuk menghadapi enam gadis semacam ini, sesungguhnya tidak terlalu sukar sebab ia memiliki titik kelemahan yang besar sekali........

Dia kesepian.

Bagi seorang anak gadis berusia delapan sembilan belas tahunan yang mana cantik dan pintar, “kesepian” merupakan suatu kejadian yang menakutkan sekali.

Bu ki kembali meneguk araknya mendadak ia merasa cara berpikirnya itu hakekatnya merupakan sebuah tongkat yang bengis.

Lo khong sambil minum arak menghela napas panjang, setelah meneguk arak setegukan kembali menghela napas, ia minum arak tiada hentinya dan menghela napas tiada hentinya pula.

Tidak banyak orang yang sanggup minum arak sebanyak itu, orang yang gemar menghela napas pun lebih sedikit lagi.

Bu ki dapat menahan rasa gelinya lagi, dia segera menegur:

“Aku pernah berjumpa dengan seseorang yang minum arak lebih banyak daripada mu” “Oyaaa ”

“Tapi orang yang begitu suka menghela napas seperti kau, aku benar benar merasa beum pernah menjumpainya”

Sekali lagi Lo khong menghela napas panjang.

“Padahal aku bukan seorang yang berbakat untuk menghela napas terus menerus” katanya. “Kau bukan?”

“Aku sedang menguatirkan keselamatan jiwamu” “Tapi aku sendiri justru sama sekali tidak kawatir”.

“Hal ini disebabkan karena kau belum mengetahui sampai dimanakah kewibawaan dari nona besar”

“Masa kewibawaan serta tingkat lakunya jauh lebih besar daripada bapaknya?”

“Oooh... lebih besar banyak” seru khong, kembali dia meneguk arak dalam cawannya, “bila bapaknya sedang bepergian, paling banter cuma membawa tiga empat orang pengiring, tapi bila dia sedang bepergian, maka paling tidak ada tujuh delapan orang yang secara diam diam melindungi keselamatan jiwanya”

“Apakah orang orang itu diutus oleh bapaknya?” “Bukan”

“Kalau begitu, dia mencari sendiri?” “Juga tidak”

“Waah. kalau begitu, aku menjadi tidak habis mengerti”

“Apanya yang tidak kau pahami?”

“Dia tak lebih cuma seorang nona cilik belaka, kedudukannya juga tidak terlampau istimewa, posisinya tidak penting, masakah dari pihak benteng keluarga Tong secara khusus mengutus tujuh delapan orang untuk melindungi keselamatannya?”

“Walaupun kedudukannya tidak terlampau istimewa, tapi orangnya justru istimewa sekali” “Oyaa ?”

“Dalam pandanganmu meski dia tidak penting, namun dalam pandangan orang lain, dia justru penting sekali”

“Apa sih keistimewaan dari orang ini?”

“Paras mukanya terlalu cantik, hatinya terlalu baik, wataknya juga terlalu jelek” setelah menghela napas, lanjutnya, “bukan luar biasa jeleknya, bahkan boleh dibilang istimewa sekali!”

“Bagaimana jeleknya dan bagaimana pula anehnya?” “Bila dia sedang baik, maka baiknya setengah mati, entah siapapun itu orangnya sekalipun seorang tua bangka yang tak berguna seperti aku ini, asal kau membuka suara memohon sesuatu kepadanya. Barang apapun yang kau minta, dia pasti akan menghadiahkannya kepadamu, perbuatan apapun pasti akan dia lakukan untukmu”

Bu ki segera tertawa, katanya:

“Watak seorang nona besar memang dasarnya macam begitu”

“Akan tetapi jika dia lagi lewat atau kemasukan setan, perduli siapakah dirimu dan berada dimanapun kau, bila dia ingin menampar wajahmu tiga kali maka dia tak akan menampar dua kali!” setelah tertawa getir, terusnya lebih jauh, “sekalipun dia tahu kalau setelah habis memukul dia bakal sial, dia tetap akan menamparmu lebih dulu, urusan belakangan”

“Siapa saja yang pernah ditampar olehnya?”

“Siapa yang berani mengusik dia, orang itulah yang dia hajar, bahkan kalau sudah sewot, famili sendiri tak ambil perduli, diapun tak pernah berlaku sungkan sungkan”

“Tapi, aku lihat ditempat ini toh masih ada beberapa orang yang agaknya mustahil bisa dia hajar sekehendak hatinya sendiri?”

“Kau maksudkan siapa saja?” “Misalkan saja kedua orang nona?”

“Orang lain mungkin tak berani mengusik mereka, tapi nona besar kita ini tak pernah mengambil perduli”

Setelah menghela napas, kembali lanjutnya:

“Hari kedua setelah kedatangannya ke tempat ini, ia sudah mengerjai si nyonya muda tersebut”

“Waaaah. dia memang betul betul hebat sekali kalau begitu”

“Hari ketiga setelah kedatangannya ketempat ini, dia telah menyiram wajah Tong Toa koan dengan semangkuk kuah ayam yang masih panas sekali ”

“Apakah Tong Toa koan yang kau maksudkan itu adalah Tong Koat?” “Disini hanya ada seorang Tong Toa Koan, selain dia masih ada siapa lagi?” “Kalau mempunyai wajah sebesar wajahnya itu, sulit rasanya bila tak ingin terkena ditimpuk kuah semangkuk” kata Bu ki sambil tertawa.

Lo khong juga tak kuasa menahan rasa gelinya lagi dia turut tertawa tergelak. “Haaaahhhh......haaaaahhh.....haaahhhh. yaa, memang sulit rasanya”

“Tapi barang siapa berani membuat kesalahan terhadap kakak beradik dua orang itu maka tak akan sedikit kesulitan yang bakal berdatangan, bukan begitu?”

Itulah sebabnya Toa sauya baru merasa amat kuatir, ucap Lo khong dengan cepat. “Yang maksudkan sebagai tao sauya apakah Tong Au?”

“Ditempat inipun hanya ada seseorang Toa sauya, kecuali dia masih ada siapa lagi?” “Jadi ketujuh delapan orang yang melindungi keselamatan jiwanya itu adalah utusannya?” “Benar!”

Bu ki segera tertawa lebar.

“Tampaknya didepan toa sauya ini sudah pasti dia adalah seorang yang penting sekali artinya?”

“Yaa, memang penting sekali”

“Sayang sekali Tong Toa koan dan Koh Nay nay tersebut betul betul hendak mencari gara gara dengannya, terpaksa orang orang itu cuma bisa melihat saja”

“Kenapa”

“Orang orang yang diutus toa sauya untuk melindungi keselamatan jiwanya sudah tentu terdiri dari anak murid keluarga Tong, mana mungkin orang orang keluarga Tong tersebut bertindak semena mena terhadap Tong Toa koan serta Koh nay nay tersebut?”

“Kau keliru besar bila beranggapan demikian”

“Jadi orang orang itu bukan anggota keluarga Tong?” Bu-ki nampak agak tercengang “Yaa, semuanya bukan”

“Lantas siapa saja orang orang itu?” Kendatipun sepasang mata toa sauya ini selalu berada diatas kepala, namun menjadi orang amat sosial, bukan cuma sosial saja terhadap orang lain, lagi pula amat setia kawan”

“Watak seorang sauya memang selalu demikian; apa yang perlu diherankan..” Bu ki tertawa.

“Itulah sebabnya, selama melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, ia telah mempunyai banyak sahabat”

“Ooooh. !”

“Semua teman temannya itu rata rata memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, kelihatan saja mereka seperti rada sesat dan berasal dari golongan hitam, namun semua orang amat takluk dan tunduk kepadanya”

“Apa yagn ia suruh mereka lakukan, apakah akan dilakukan oleh mereka semua ?”

“Tentu saja, mereka tak akan membantah ataupun banyak mengucap sepatah katapun”

“Apakah orang orang yang mengawal keselamatan toa siocia sekarang, adalah sahabat sahabat dari toa sauya tersebut?”

“Orang orang yang selalu mendamping nona besar sekarang meski tiada tuju delapan orang, paling tidak juga terdapat lima enam orang, perduli kemanapun dia pergi, orang orang itu pasti akan berada tiga kaki disekeliling tubuhnya, asalkan ia memberi tanda, orang orang itu segera akan menampakan diri”

Sesudah menghela napas, lanjutnya:

“Itulah sebabnya, barang siapa berani menyalahi toa siocia ini, sudah pasti dia bakal sial” Ternyata Bu ki juga turut menghela napas.

“Sekarang kau baru tahu merasa kuatir!” tegur Lo khong sambil memandang wajahnya lekat lekat.

“Aaai Aku mah bukan menghela napas untuk diriku sendiri” sahut sang pemuda.

“Lantas mau menghela naps untuk siapa?” “Untuk toa siocia tersebut”

Setelah menghela napas panjang, kembali dia melanjutkan: “Bila seorang nona perawan yang berusia delapan sembilan belas tahunan, dari siang sampai malam selalu diawasi oleh sekian banyak lelaki dari golongan sesat, kehidupan semacam ini sudah pasti sangat tak sedap sekali ”

Lo khong miringkan kepalanya sambil berpikir pula, kemudian sahutnya: “Ehmmm Apa yang kau ucapkan memang bukan tanpa alasan sama sekali”

“Aku yakin, belakang itu dia takkan pergi mandi atau ganti pakaian” “Kenapa?”

“Sebab dia takut diintip!”

Baru saja kata “pengintip” keluar dari mulutnya, tiba tiba dari luar sana melayang sebuah benda yang segera menyumbat mulutnya.

*****

Bu ki segera tertawa lebar.

Mimpipun Lo khong tidak menyangka kalau dari luar sana akan muncul segumpal lumpur secara mendadak yang segera menyumbat mulutnya.

Akan tetapi, Bu ki telah menduganya semenjak permulaan tadi.

Ditengah halaman diluar jendela sana telah kedatangan tiga empat orang, walaupun langkah kaki mereka sangat ringan, namun jangan harap dapat mengelabuhi ketajaman pendengaran Bu ki.

Orang yang bertubuh paling ringan itu kini sudah berada diluar jendela, bahkan suara orang itu mengorek tanah lumpur dari atas tanahpun dapat didengar oleh Bu ki dengan amat jelas.

Namun orang pertama yang masuk kedalam paling duluan bukanlah orang tersebut.

Orang pertama yang masuk kedalam ruangan paling dulu adalah seorang perempuan yang tinggi, tinggi sekali, dia mengenakan sebuah pakaian yang berwarna merah menyala.

Sesungguhnya potongan badan Bu ki tidak terhitung pendek, namun tinggi badan perempuan ini seakan akan jauh lebih tinggi daripada ketinggian tubuhnya.

Perempuan yang begitu jangkung tersebut ternyata memiliki potongan badan yang sangat baik, tempat yang semestinya menonjol keluar tak akan kau jumpai berada dalam keadaan datar, tempat yang seharusnya mendatar juga tak akan kau jumpai dalam keadaan menonjol, seandainya tubuh perempuan ini sedikit diperkecil besarnya maka dia betul betul terhitung seorang perempuan yang mempunyai daya tarik yang amat besar.

Usia perempuan ini sudah tak bisa dianggap kecil lagi, sewaktu lagi tertawa, dibawah ujung matanya sudah kelihatan banyak kerutan kerutan tanda ketuaan.

Namun tertawanya masih memiliki daya pesona yang amat besar, terutama sepasang matanya yang bening dan jeli itu, sungguh membuat orang merasa hampir tak tahan.

Sambil tertawa genit dan menggoyangkan pinggulnya selangkah demi selangkah dia menghampiri Lo khong, setelah itu ujarnya

“Aku betul betul merasa amat kagum kepadamu, aku benar benar merasa amat kagum kepadamu!”

Seluruh mulut Lo khong penuh dengan lumpur, dia ingin memuntahkannya keluar namun tak dapat, dia sungguh tidak habis mengerti dalam hal apakah ia dapat dikagumi oleh orang lain.

Sambil tertawa perempuan itu berkata lagi

“Aku sungguh tak punya akal lain untuk tidak mengagumi dirimu darimana kau bisa tahu kalau Oh Ay cu (si cebol Oh) adalah seorang yang ahli dalam mengintip nona kami mandi? Apakah kau pandai melihat keadaan seperti halnya dengan Cukat liang?”

Belum habis dia berkata, dari luar jendela sana sudah kedengaran seseorang membentak keras:

“Kentut busuk makmu!”

Suara bentakan itu ibarat guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong membuat telinga orang terasa bergetar keras dan sakitnya bukan kepalang.

Menyusul kemudian. “Blaaam!” separuh bagian daun jendela ruangan itu sudah diterkam

orang sampai ambruk, lalu tampak sesosok tubuh manusia menubruk masuk keruangan dengan kecepatan bagaikan hembusan angin, begitu sampai dalam ruangan dia lantas melototi perempuan itu lekat lekat.

Dia harus menengah terlebih dahulu sebelum dapat mendelik ke arah perempuan tersebut.

Sebab bila dia berdiri disamping perempuan itu, maka tinggi badannya tak sampai separuh tubuhnya.

Siapapun tak akan menyangka kalau suara bentakan yang sedemikian keras dan nyaringnya itu ternyata berasal dari mulut seorang manusia cebol semacam itu. Sambil tertawa cekikikan perempuan itu berkata;

“Kau bilang siapa yang lagi berkentut. Kecuali kau, siapa pula yang akan berkentut lewat mulutnya!”

Suara tertawa masih seperti suara tertawa seorang nona cilik. lanjutnya lebih jauh: “Kentutmu itu selain busuknya luar biasa, nyaringnya juga luar biasa sekali!”

Si cebol Oh menjadi sedemikian mendongkolnya sehingga tengkuk yang kasarpun ikut gemetar, dengan wajah merah membara, sedikitlah tahu diri!”

Ternyata perempuan yang bertubuh tinggi sekali itu bernama It tiang hong Sitombak merah.

Bu ki mau tak mau harus mengakui bahwa nama tersebut memang cocok sekali dengan keadaannya, tapi belum pernah dia mendengar nama semacam itu disebut orang.

Andaikata ia seringkali melakukan perjalanan disekitar wilayah See lam, asal mendengar nama tersebut, hatinya pasti akan terperanjat sekali.

Terdengar si cebol Oh kembali berkata: “Orang lain mungkin akan merasa takut terhadap gembong iblis perempuan yang membunuh orang tak berkedip seperti kau, tapi aku Oh Toa teng tak akan jeri kepadamu”

“Aku memang paling takut kalau ada orang lelaki yang merasa jeri kepadaku, aku hanya berharap semua lelaki pada suka kepadaku”

Setelah melemparkan sebuah kerlingan genit kepada Si cebol Oh dia, berkata lebih jauh: “Perduli bagaimanapun juga, kau tak bisa tidak termasuk pula sebagai seorang lelaki” “Tadi, kau mengatakan siapa yang paling suka mengintip orang perempuan lagi mandi?” “Tentu saja mengatakan kau”

“Kapan kah aku pernah mengintip orang lain sedang mandi? Aku pernah mengintip siapa yang lagi mandi?”

“Kau seringkali mengintip, asal ada kesempatan kau lantas melakukan hal itu” Kemudian setelah tertawa cekikikan, lanjutnya: “Bukan saja kau suka mengintip orang lain, bahkan bila aku sedang mandipun kau sering mengintip pula”

“Kentut busuk makmu!” teriak si cebol Oh sambil mencak mencak karena kegusaran. Ternyata lompatannya jauh lebih tinggi daripada tinggi badan It tiang hong: “Sekarang kau berlutut sambil memohon kepadaku, tak akan kuintip dirimu itu”

“Sekalipun aku memperbolehkan kau melihatnya juga percuma saja” kata It tiang hong lagi sambil tertawa, seluruh tubuhnya bergetar keras ketika ia sedang tertawa, “sebab paling banter kau hanya bisa melihat pusarku belaka”

Kalau bisa Bu ki ingin sekali tertawa terpingkal karena gelinya lelaki perempuan yang jangkung dan pendek ini pada hakekatnya seperti musuh bebuyutan saja. Entah siapapun yang menyaksikan keadaan mereka, pasti tak tahan untuk tertawa.

Akan tetapi bila menyaksikan mimik wajah dari si Cebol Oh tersebut tak ada orang yang tertawa lagi.

Paras muka si cebol Oh telah berubah menjadi merah membara seperti kepiting rebus, rambutnya seakan akan sudah akan berdiri semua bagaikan landak perawakan tubuhnya, yang cuma tiga jengkal tersebut, sekarang seolah olah telah menjadi tinggi satu jengkal lagi.

Sekalipun orang ini tidak memiliki raut wajah yang mengejutkan, namun khikang yang dimilikinya sungguh mengejutkan hati. Sekarang dia telah menghimpun tenaganya bersiap siap untuk mengajak It thiang-hong beradu jiwa.

Bila serangan tersebut dilancarkan, sudah pasti serangan itu luar biasa hebatnya, bahkan Bu-ki sendiripun diam-diam menguatirkan keselamatan jiwa It-tiang-hong.

It-tiang-hong sendiri ternyata sama sekali acuh dan tak ambil perduli terhadap sikap lawannya itu.

Dia malahan masih berdiri santai dan tersenyum simpul, seakan-akan sikap si cebol itu sudah lumrah dan tiada sesuatu yang perlu diperhatikan atau ditakutkan.

Tiba-tiba si cebol Oh membentak keras, suaranya menggelegar bagaikan guntur yang membelah bumi disiang bolong, begitu kerasnya suara tersebut sungguh amat memekakkan telinga.

Menyusul bentakan yang keras tadi, sebuah pukulan yang amat keras dilontarkan kedepan. Sungguh hebat sekali pukulan yang dilepaskan itu, angin pukulan yang amat kencang segera menderu-deru dan meluncur kedepan dengan mengerikan hati.

Ternyata yang menjadi sasaran dari serangan itu bukan It-tiang-hong perempuan jangkung yang luar biasa itu.

Yang menjadi sasaran dari serangannya itu bukan lain adalah Lo-khong, si kakek tersebut. Bu-ki yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi tertegun dan berdiri melongo.

Sudah jelas It-tiang-hong yang menyebabkan kemarahan si cebol tersebut, kenapa yang dia serang justru bukan perempuan jangkung itu melainkan orang lain?

Apakah hal ini disebabkan karena dia tak sanggup menghadapi It-tian-hong, maka rasa mendongkolnya itu lantas dilampiaskan kepada orang lain?

Tapi bagaimanapun juga, tidak seharusnya Lo-khong menerima tonjokkan keras tersebut.

Sekalipun pukulannya itu tak sampai memukul mampus dirinya, paling tidak juga akan merenggut separuh dari nyawanya.

Dalam keadaan begini, tak mungkin lagi bagi Bu-ki untuk berpeluk tangan belaka.

Tapi, sebelum ia sempat turun tangan, tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seseorang telah menghadang dihadapan Lo-khong.

***** PENGAWAL PRIBADI DARI NONA BESAR

SI CEBOL Oh telah melancarkan pukulan dengan sepenuh tenaga, mustahil baginya untuk menariknya kembali …

“Bluuuk …!” dengan telak pukulan tersebut bersarang diatas perut orang itu, suaranya seperti membentur pada kulit kerbau yang amat keras.

Walaupun orang ini telah menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras, namun paras mukanya sama sekali tidak berubah, bahkan matapun tidak berkedip.

Tapi pada mimik wajah itu pada dasarnya memang menyeramkan sekali, seperti luntur hampir memutih, dibalik putih tampak warna biru, dibalik warna biru terdapat warna hijau.

Bahunya sangat lebar, lengannya amat panjang, tapi seluruh tubuhnya begitu kurus hingga ibaratnya kulit pembungkus tulang belaka. Jubah biru yang panjang dan besar itu berada diatas tubuhnya bagaikan berada diatas rak pakaian yang kosong belaka.

Manusia yang begitu kurus macam begitu, ternyata sanggup menerima sebuah pukulan dari si Cebol Oh, andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan mempercayainya.

Sesudah melepaskan tonjokan mautnya tadi, si Cebol Oh mundur tiga langkah kebelakang, kemudian baru menengadah dan memandang raut wajah orang itu.

Paras muka orang tersebut amat dingin, sama sekali tanpa emosi.

Sebaliknya paras muka si Cebol Oh kelihatan luar biasa sekali, dia seperti ingin tertawa terhadap lawannya itu, namun tak sanggup untuk tertawa, sudah terang tak mampu tertawa, namun dia djustru masih berusaha keras untuk memperlihatkan senyumannya.

Sementara itu, It-tiang-hong sudah tertawa terpingkal-pingkal sehingga terbungkuk-bungkuk.

Setiap orang dapat melihat bahwa tertawanya itu mendekati suatu tertawa ejekan, seakan-akan dia merasa gembira sekali menyaksikan ada orang tertimpa bencana.

Akhirnya si Cebol Oh berhasil juga tertawa, sambil tertawa kering, katanya: “Untung saja jotosanku itu bersarang diatas tubuhmu.”

“Apakah dikarenakan aku lebih gampang dipermainkan …?” ujar orang itu dingin.

Dengan cepat si Cebol Oh menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya agaknya ngotot: “Aku berani bersumpah, aku tidak mempunyai maksud demikian terhadap dirimu.”

“Lantas apa maksudmu yang sebenarnya?” Si Cebol segera tertawa paksa.

“Siapakah umat persilatan didunia ini yang tidak tahu kalau Kim lotoa adalah seorang Thi- kim-kong yang tak akan mati terpukul? Pukulan yang kulancarkan diatas tubuh Kim lotoa tadi, pada hakekatnya seoerti lagi memijit badan Kim lotoa.”

Walaupun tubuhnya jauh lebih cebol daripada siapapun, namun wataknya justru paling berangasan dan perangainya jauh lebih jelek daripada siapapun. Sungguh tak disangka, begitu bersua dengan orang ini, sikapnya kontan saja berubah seratus delapan puluh derajat, berubah menjadi sok menjilat pantat.

Kim lotoa masih menarik mukanya dan mendengus dingin. “Aku memahami maksud hatimu!” demikian katanya.

Si Cebol Oh segera menghembuskan napas lega.

“Asal Kim lotoa sudah mengerti, hal ini jauh lebih baik lagi!”