Harimau Kemala Putih Jilid 24

Jilid 24  

“Penyakit yang diderita ibuku amat parah, persoalam semacam ini tak bisa kubicarakan lagi dengannya, aku tak ingin dia orang tua merasa risau dan cemas”. “Hek popo telah jatuh sakit? Mengapa kau tidak tinggal di sampingnya dan merawat penyakitnya itu?”.

“Penyakit ibuku baru kambuh semakin parah setelah lewat hari ulang tahun dari tuan penolong kami itu, hari ini secara kebetulan kami telah bertemu dengan seorang nona yang baik hati, ia bersikeras hendak menahan ibuku untuk tinggal selama beberapa hari di sana agar ia bisa merawatnya sebab...”

“Sebab apa?”. “Sebab suaminya dengan kami, ibu dan anak pernah sedikit mempunyai sedikit persoalan”.

Jantung Bu ki berdebar-debar, ia berdebar dengan keras.

Sekarang, tentu saja ia juga telah menduga si nona yang baik hati itu, tapi toh tak tahan lagi dia bertanya pula.

“Siapa nona itu?”. “Dia she Wi!”.

“Ia telah membawa Hek popo pergi kemana?”

“Ketempat tinggal seorang jagoan Bu lim yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, bukan saja orang itu memiliki kepandaian ilmu pedang tiada taranya di kolong langit, lag pula pandai pertabiban, karena itu akupun merasa amat berlega hati”.

Bu ki tidak berkata apa-apa lagi, diapun tak dapat mengucapkan apa-apa lagi.

Penderitaannya, kesedihannya, dan rasa rindunya tak mungkin bisa diutarakan di hadapan siapa saja.

Bahkan untuk dipikirkan saja ia tak berani.

Masih ada banyak pekerjaan yang harus dia lakukan, dia harus keraskan hati kerinduan merupakan titik kelemahan bagi manusia.

Entah bagaimanapun juga, toh akhirnya ia berhasil mendapatkan kabar tentang Wi Hong nio, bagaimanapun juga dia dapat tahu bahwa dia sehat wal afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Menanti ia mendongakkan kepalanya lagi baru diketahui Hek thi han sudah berjalan keluar dari barak dan sedang menuruni bukit tersebut.

Dengan cepat dia berseru. “Eeh. tunggu sebentar!.

Hek thi han tertawa paksa, sahutnya:

“Aku mempercayai dirimu, aku percaya dalam peti mati itu pasti tak terdapat apa-apa yang berharga”.

“Aku sama sekali tidak kenal dengan Lui bersaudara, aku mencarter mereka dengan lima rence perak sehari untuk menggotongkan peti mati itu bagiku”.

“Aku percaya!”.

“Seorang kuli pikul yang dicarter orang untuk menggotong peti mati dengan upah lima rence perak sehari, mungkinkah rela beradu jiwa bagi seseorang?”.

“Tidak mungkin, kecuali ”

“Kecuali dia juga tahu kalau dalam peti mati itu masih ada rahasia yang lain”, sambung Bu ki. Mencorong sinar tajam dari balik mata Hek thi han setelah mendengar perkataan itu.

Kembali Bu ki berkata,

“Meskipun aku tidak menyembunyikan “bingkisan merah” ke dalam peti mati ini, akan tetapi mereka ”.

“Mereka memikulkan peti matimu itu, mungkin saja hanya ingin mempergunakan peti mati itu untuk melindungi penyaruan mereka dan menyelundupkan bingkisan merah itu sampai di wilayah Szuchuan. ”, seru Hek thi han cepat.

Bila ingin membawa “bingkisan merah” orang memang sering kali mengirimkannya secara “gelap” terutama sekali bila “bingkisan merah” itu tidak jelas asal-usulnya.

Cara orang persilatan mengirim barang “gelap” memang seringkali beraneka ragam, menggunakan orang mati dan peti mati sebagai pelindung bagi penyaruan mereka memang bukan baru pertama kali terjadi.

Kata Bu ki kemudian.

“Akupun tahu bahwa saat ini kau tak akan tertarik lagi terhadap bingkisan merah itu, tapi kalau toh kau telah melakukan pekerjaan ini, paling tidak kau harus menyelidiki persoalan ini sampai menjadi lebih jelas lebih dahulu, anggap saja sebagai suatu pertanggung jawabmu terhadap saudara-saudaramu itu”. Tak usah dia melanjutkan kata-kata tersebut, dengan langkah lebar Hek thi han telah berjalan balik.

Jantung mulai berdebar-debar, makin berdebar semakin cepat.

Sembilan orang dengan sembilan lembar nyawa tak lebih mereka korbankan demi sebuah peti mati. Sesungguhnya rahasia apakah yang tersimpan di balik peti mati itu?’

Peti mati yang terbuat dari kayu jati berkwalitas tinggi, indah dan amat berat.

Hek thi han telah menancapkan busur emasnya di atas tanah, kemudian membuka penutup peti mati itu dengan tangannya.

Dalam detik yang teramat singkat itu, secara tiba-tiba ia teringat akan banyak urusan, teringat banyak persoalan lama yang sebenarnya sudah lama ia lupakan.

Dia sendiri tidak tak tahu apa sebabnya dalam keadaan seperti ini secara tiba-tiba ia teringat akan berbagai persoalan itu.

Walaupun penutup peti mati itu sangat berat, tapi dengan tenaga dalam yang dimiliki Hek thi han, tentu saja secara mudah ia berhasil mengangkatnya tinggi-tinggi.

Bu ki telah berjalan keluar dari balik barak bambu itu. Sebenarnya dia mengira kedatangan Hek thi han sekalipun kemungkinan besar disebabkan oleh Tong Giok, mereka tahu orang yang berada dalam peti mati adalah Tong Giok, tahu kalau Tong Giok belum mati dan mereka ingin merenggut nyawa Tong Giok.

Tidak bisa dikatakan lucu bila ia berpendapat demikian, sebab memang tidak sedikit orang yang ingin merenggut nyawa manusia yang bernama Tong Giok itu.

Tapi sekarang dia sudah tahu bahwa jalan pemikirannya itu salah besar....

Lantas, selain Tong Giok, sesungguhnya dalam peti mati itu masih terdapat barang apalagi?

Benarkah dalam peti mati itu, sungguh-sungguh terdapat sejumlah intan permata yang tak ternilai harganya?.

Dia sendiripun ingin sekali mengetahui jawabannya.

Karena peti mati itu, sudah banyak orang mengorbankan diri, pengorbanan yang harus dibayar sudah terlalu besar. Dia sangat berharap Hek thi han bisa mendapatkan sedikit hasil yang bisa mengungkapkan keadaan tersebut.

“Sekarang, walaupun dia masih belum dapat melihat dengan jelas apa isi dalam peti mati itu, akan tetapi dia dapat membaca semuanya dari perubahan mimik wajah yang diperlihatkan oleh Hek thi han pada saat itu”.

Secara tiba-tiba saja, di atas paras muka Hek thi han telah memperlihatkan suatu perubahan mimik wajah yang tak bisa dilukiskan oleh siapapun juga.

Mimik wajah itu bukan cuma rasa kaget, tercengang, takut dan ngeri saja, malahan terdapat pula suatu luapan emosi, gejolak perasaan dan nafsu serakah.

Apabila barang yang dia saksikan cuma intan permata atau emas perak yang tak ternilai jumlahnya, tentu saja akan terjadi luapan emoasi, perasaannya bergejolak dan memperlihatkan nafsu serakah yang pasti dimiliki oleh setiap manusia.

Akan tetapi, jika dilihat itu hanya intan permata atau benda mustika lainnya yang amat berharga, mustahil wajahnya akan menampilkan perasaan takut dan ngeri.

Sebaliknya bila benda yang dilihat itu adalah suatu benda yang menakutkan atau menyeramkan hati siapapun yang melihatnya, maka jelas tak mungkin dia akan memperlihatkan mimik wajah orang yang lagi serakah atau bernafsu untuk mendapatkannya.

Lantas, apa yang sesungguhnya telah dia saksikan?

Apa yang sebenarnya terdapat di dalam peti mati yang telah menjadi incaran banyak orang itu?.

Sebenarnya Bu ki ingin bertanya kepadanya, dia ingin bertanya apa gerangan yang telah disaksikannya dalam peti mati tersebut.

“Blaaammm !”

Belum habis ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, mendadak penutup peti mati yang telah dibukanya itu tertutup kembali keras-keras, menutup kembali seperti secara tiba-tiba dihentakkan oleh orang keras-keras.

Sekujur badannya seolah-olah pada detik tersebut menjadi kaku membeku dan tak bisa bergerak lagi.

Menyusul kemudian dari atas tenggorokannya pelan-pelan menetes keluar setitik butiran darah yang dalam waktu singkat telah menjadi beku kembali. Dengan suatu kecepatan yang luar biasa Bu ki menubruk kedepan lalu teriaknya keras-keras, “Apa yang telah terjadi?”.

Napas Hek thi han telah terhenti, sepasang matanya yang semula bersinar tajam, kini telah berubah menjadi pucat keabu-abuan.

Dengan mengucapkan segenap sisa tenaga yang dimilikinya, dia hanya sempat mengucapkan dua patah kata:

“Tong Koat ”

Setelah mengucapkan kedua patah kata itu butiran darah yang membeku di atas tenggorokannya tiba-tiba merekah, darah segar menyembur keluar dengan derasnya, badannya menyusut mundur ke belakang dan titik-titik darah menodai seluruh wajahnya.

MANUSIA DALAM PETI

TONG KOAT, jelas kata-kata itu merupakan nama orang.

Bu ki seperti pernah mendengar nama ini, orang tersebut tak bisa disangkal lagi adalah anak keturunan dari keluarga Tong.

Sedetik menjelang saat kematiannya mengapa Hek thi han masih berusaha keras untuk menyebutkan nama orang itu?

Apakah dia ingin memberitahukan kepada Bu ki bahwa perangkap ini disiapkan oleh Tong Koat?

Mengapa Tong Koat menginginkan mereka dan Lui bersaudara mati bersama-sama?

Bukankah Pek lek tong telah bersekutu dengan keluarga Tong? Mengapa Tong Koat hendak membinasakan Lui bersaudara?

Setelah membuka penutup peti mati tadi, sebenarnya apa yang telah dilihat Hek thi han? Mengapa secara tiba-tiba tewas secara mengenaskan?.

Persoalan-persoalan itu tidak dimengerti oleh Bu ki.

Pada hakekatnya berpikirpun tak pernah ia pikirkan sebab dia telah menemukan suatu peristiwa yang jauh lebih menakutkan lagi....

Ia telah menemukan sebatang jarum. Sebatang jarum perak sepanjang delapan hun,mengikuti semburan darah yang memancar keluar dari tenggorokan Hek thi han dan menyemprot keluar. Tak bisa disangkal lagi, Hek thi han telah tewas di ujung jarum perak tersebut, sebatang jarum yang delapan hun panjangnya ternyata berubah menjadi sebatang senjata rahasia perenggut nyawa.

Senjata rahasia itu ternyata dipancarkan dari dalam peti. Padahal dalam peti mati itu cuma Tong Giok seorang.

Seorang yang badannya sudah kaku dan mati rasa, mana mungkin bisa melepaskan senjata rahasia?

Ataukah racun yang menyerang tubuhnya telah punah? Atau mungkin dia sudah mendapatkan kembali kekuatan hidup?

Bagi Bu ki, sepatah kata dari mulutnya berarti suatu senjata yang mematikan?

Asal ia masih dapat mengucapkan sepatah kata, berarti seluruh rencana Bu ki akan mengalami kegagalan total.

Peluh dingin telah membasahi telapak tangan Bu ki.

Bagaimanapun juga, ia tak dapat membiarkan Tong Giok tetap hidup, dia tak dapat membiarkan Tong Giok mempunyai kesempatan lagi untuk buka mulut dan berbicara.

Dia harus melenyapkan orang ini dari muka bumi, entah dalam peti mati itu ada rahasia apapun, dia sudah tak ingin mengetahuinya lagi. Tiba-tiba ia teringat dengan Pek lek tan, peluru geledek dari kelompok Pek lek tong.

Senjata mematikan dari Pek lek tong sudah menggetarkan seluruh kolong langit, asal ia mendapatkan satu atau dua butir Pek lek tan saja, peti mati itu sudah dapat dipunahkan olehnya dan orang di dalam peti mati itu berikut rahasianya juga akan turut musnah tanpa bekas.

Lui bersaudara adalah empat Toa kim kong dari Pek lek tong, tentu saja dalam saku mereka terdapat senjata rahasia tunggal itu.

Tetapi dari atas rambut mereka yang awut awutan sampai bawah kakinya sudah digeledah, tapi tak sebuah tempatpun yang bisa digunakan untuk menyimpan senjata rahasia tersebut.

Tiba-tiba Bu ki teringat kembali dengan kue keras yang berada di tangan mereka itu.

Mereka selalu menggenggam separuh potong kue keras tersebut di tangannya, apakah karena dibalik kueh keras itu tersimpan senjata rahasia mereka? Bu ki bertekad untuk mencarinya sampai ketemu.

Reaksinya selalu cukup cepat, dalam waktu singkat ia telah memikirkan kembali seluruh situasi dan keadaan yang sedang dihadapinya.

Tapi sungguh tak disangka pada saat itulah mendadak terdengar seseorang berkata dari peti mati itu.

Terdengar orang itu menghela napas panjang lalu berkata:

“Apakah kau ingin mempergunakan bahan peledak dari Pek lek tong untuk meledakkan peti mati ini? Kita tiada dendam tiada sakit hati? Kenapa kau musti mencelakai diriku?”

Suara itu lemah lembut dan amat merdu penuh dengan daya tarik seorang perempuan, kedengarannya sama sekali tidak mirip dengan suara Tong Giok.

Tapi ada sementara orang dapat mempergunakan tenaga dalamnya untuk mengendalikan tenggorokannya sehingga mengeluarkan suara yang orang lain jangan harap bisa mengenalnya.

Siapa tahu Tong Giok dapat melakukannya seperti itu?’ Dengan nada menyelidik Bu ki lantas bertanya, “Benarkah kita tiada dendam, tiada sakit hati?’.

“Kau belum pernah berjumpa denganku, akupun tidak kenal denganmu dari mana pula datangnya dendam atau sakit hati?’ jawab orang dalam peti mati itu.

“Sungguh?”.

“Asal kau membuka peti mati itu dan melihatnya sendiri, dengan cepat akan kau ketahui aku sedang berbohong atau tidak”

Tentu saja Bu ki tak akan melakukan perbuatan semacam itu.

Apa yang telah menimpa diri Hek thi han sudah merupakan suatu pelajaran yang sangat baik baginya.

Orang di dalam peti mati itu kembali berkata,

“Sesungguhnya akupun ingin sekali melihat kau, aku pikir kau pastilah seorang pemuda yang masih muda mana tampan lagi”. “Aku telah berdiri di sini asal kau keluar maka kau dapat melihat wajahku”. “Mengapa kau tidak membuka peti mati ini untuk melihat diriku?’.

“Dan kau sendiri mengapa tidak keluar dari peti mati itu?”. Orang di dalam peti mati itu segera tertawa.

“Tak kusangka dengan usiamu yang masih begitu muda cara kerjamu ternyata sangat berhati- hati”.

“Kalau kudengar dari suaramu”, balas Bu ki.

“Usiamu juga tak akan terlalu tua lagipula pasti merupakan seorang gadis yang amat cantik jelita”

Orang di dalam peti mati itu segera tertawa.

“Oooh, rupanya kau juga pandai berbicara, aku pikir pasti akan ada banyak gadis yang menyukaimu”.

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, terusnya.

“Sayang sekali aku sudah terlampau tua, aku sudah seorang nenek-nenek, aku sudah pantas untuk memelihara seorang putra sebesar kau”.

Tubuhnya masih berada di dalam peti mati, hal mana berarti sudah merupakan suatu keberuntungan daripada Bu ki.

“Darimana kau bisa tahu kalau usiaku masih muda?’, Bu ki lantas bertanya setelah termenung sebentar,

“Kau adalah sahabatnya Tong Giok, tentu saja usianya tak akan selisih banyak dengan dirinya!”.

“Darimana kau bisa tahu Tong Giok itu masih muda? Apakah kau pernah bersua dengannya?”.

“Sekarang ia berbaring di sisiku, kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya?’.

Peti mati yang berkwalitet baik memang selalu lebih lebar dan besar, dengan ruang selebar itu, memang bukan suatu masalah untuk memuat dua orang sekaligus. “Darimana aku bisa tahu kalau Tong Giok benar benar masih berada di dalam peti mati itu?” kembali Bu ki bertanya.

“Oooh, jadi kau tidak percaya?”

Tiba tiba sebuah jari tangan menongol keluar lewat lubang hawa di bawah peti mati itu, serunya,

“Coba kau lihat, bukankah jari tangan ini adalah jari tangannya ?”

Benar, jari tangan itu memang jari tangan Tong Giok. Mandadak Bu ki tertawa, serunya,

“Oooh rupanya kau adalah Tong Giok, rupanya kau. ”

belum habis dia berkata, dari lubang hawa yang lain telah menongol kembali sebuah jari tangan.

Jari tangan itu halus lembut dan ramping, di atas kukunya malah memakai cat warna yang amat indah. Jelas tangan itu bukan tangan Tong Giok.

Ini membuktikan, di dalam peti mati itu benar benar terdapat dua orang manusia.

Selain Tong Giok, siapakah orang yang satunya ini? Kenapa dia menyembunyikan diri di dalam peti mati?

Diam diam Bu ki menyelinap ke ujung lain dari peti mati itu, kemudian tangannya mencengkeram penutup peti mati itu serta menyingkapnya keras keras.

Begitu penutup peti mati itu terbuka, akhirnya ia menjumpai juga orang itu.

Sekarang dia baru mengerti, apa sebabnya Hek thi han menunjukkan mimik wajah yang aneh setelah melihat isi peti mati tadi.

Orang yang berbaring di sisi Tong Giok itu, ternyata bukan lain adalah seorang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan yang hampir berada dalam keadaan telanjang.

Cian cian adalah seorang gadis cantik. Hong nio adalah seorang gadis cantik. Hiang hiang juga seorang gadis yang cantik.

Bu ki bukan seorang laki laki yang belum pernah bergaul dengan perempuan cantik, tapi setelah ia jumpai perempuan ini tiba tiba saja dalam hatinya muncul suatu pergolakan emosi, suatu rangsangan napsu yang aneh sekali. Perempuan ini bukan saja amat cantik,pada hakekatnya sedemikian cantiknya sehingga dapat membuat lelaki di dunia ini rela berbuat dosa baginya.

Kecantikannya boleh dibilang jauh lebih manis dari Cian cian, jauh lebih matang dari Hong nio dan lebih anggun daripada Hiang hiang....

Pinggangnya begitu ramping, sepasang pahanya begitu indah, payudaranya begitu montok dan padat berisi.

Kulit badannya putih mulus bagaikan susu, seakan-akan gading yang berharga, seperti juga manisnya susu sapi yang lembut dan halus.

Rambutnya hitam dan berkilat. sepasang matanya berwarna hijau dan berkilauan memancarkan sinar jeli dan bening.

Pakaian yang dikenakan tidak lebih banyak daripada pakaian yang dikenakan seorang kanak kanak, tubuhnya yang indah dan ramping tapi penuh padat berisi itu hampir terpampang semua dengan jelasnya.

Ia sedang memperhatikan Bu-ki, lalu sambil tersenyum katanya,

“Aku bukan sengaja hendak merangsang napsu birahimu, cuma saja lantaran udara di dalam sini terlalu panas, mana sumpek, sesak lagi udaranya, ditambah lagi sedari kecil aku takut panas maka sudah mulai dari kecil dulu aku tidak begitu suka mengenakan pakaian yang terlampau banyak”

Bu ki menghela napas panjang, lalu tertawa getir, katanya,

“Untung saja Tong Giok tak dapat melihat kalau disisinya terdapat seorang perempuan macam kau sedang berbaring di sana?

Perempuan itu segera tertawa, “Sekalipun ia dapat melihat juga sama saja.” “Sama saja ?”

“Yah. Asal aku merasa kepanasan, maka pakaianku tetap akan kutanggalkan semua. Aku tak ambil peduli apa yang bakal dipikirkan orang lain, aku sama sekali tak acuh terhadap pendapat orang”

Senyumannya begitu menawan dan mempesonakan hati, katanya lebih lanjut:

“Aku hidup demi diriku sendiri, mengapa aku harus menyiksa diriku hanya demi kepentingan orang lain?” Bu ki tak sanggup menjawab, diapun tak mampu untuk membantah perkataannya itu.

Sambil menepuk nepuk pipi Tong Giok perempuan itu berkata lagi. “Untung saja sahabatmu ini seorang yang suka akan kebersihan, selain itu tampangnya juga cukup ganteng”

Ia memperhatikan sekejap seluruh badan Bu ki dari atas sampai kebawah kemudian sambil tertawa katanya lagi,

“Seandainya orang yang berbaring disisiku adalah kau, hal itu jauh lebih baik lagi meskipun wajahmu tidak setampan wajahnya tapi kau jauh lebih berjiwa seorang lelaki daripada dirinya.”

Setelah berhenti sejenak, terusnya. “Lelaki yang tampan belum tentu disukai perempuan, lelaki macam kau baru menarik hatiku”

Dia sengaja menghela napas panjang kemudian terusnya, “Sayangnya aku sudah menjadi seorang nenek keriputan aku sudah pantas untuk mempunyai seorang putra sebesar kau.”

Bu ki hanya bisa mendengarkan pembicaraannya ia hakekatnya tak sanggup untuk turut menimbrung.

Perempuan semacam dia memang tidak banyak jumlahnya. bila kau bisa bertemu seorang saja, maka kaupun tak akan sanggup untuk mengucapkan apa apa.

Tapi ia justru masih bertanya kepada Bu ki: “Eeeh, mengapa kau tidak berbicara?”

“Semua perkataan sudah kau borong seorang diri, mana aku masih kebagian kata kata lagi?” Perempuan itu kembali menghela napas panjang. “Aaai ! Sekarang aku baru tahu, kau

benar benar seorang lelaki yang pintar” “Mengapa?”

“Sebab hanya lelaki yang pintar baru mengerti untuk banyak melihat dengan mata, sedikit berbicara dengan mulut”

Bu ki sendiri mau tak mau harus mengakui juga, sepasang matanya memang tak bisa dikatakan terlalu jujur.

Tapi air mukanya sama sekali tidak memerah, diapun tidak nampak jengah atau tersipu sipu, malahan katanya sambil tertawa. “Thian memberi sepasang mata dan sebuah mulut kepada kita, hal ini menunjukkan bahwa manusia hanya disuruh banyak melihat sedikit berbicara ”

Perempuan itu kembali tersenyum. “Aku berjanji pasti akan seringkali mengucapkan kata- kata kepada orang lain di kemudian hari.”

“Tapi Thian pun tidak terlalu adil!” kata Bu-ki lebih jauh. “Apanya yang tidak adil?”

“Bila Thian itu adil, kenapa kau diberi sepasang mata semacam itu?”

Ditatapnya biji mata yang berwarna biru muda itu lekat-lekat, kemudian terusnya: “Ketika Thian menciptakan sepasang matamu itu, bahan yang digunakan adalah intan permata dan zamrud, tapi ketika menciptakan mata orang lain, yang digunakan cuma tanah liat.” 

Senyuman perempuan itu semakin memikat hati, serunya: “Walaupun ucapanmu itu sangat bagus, tapi sayang keliru besar  !”

“Bagaimana kelirunya?”

“Sepasang mataku ini bukan pemberian dari Thian, tapi ayahku yang memberinya padaku.” “Oya?”

“Ayahku adalah seorang Oh-cia!” “Oh-cia?”

“Oh-cia artinya adalah seorang pedagang yang datang dari negeri Persia ”

Semenjak jaman dinasti Han tong, pedagang Persia memang seringkali mengadakan perdagangan di negeri Tionggoan.

Walaupun saudagar-saudagar yang datang dari Persia rata-rata menjadi kaya-raya dan jutawan, tapi kedudukannya dalam masyarakat sangat rendah.

‘Oh-cia’ bukanlah sesuatu sebutan yang mendapat penghormatan atau sanjungan dari orang lain.

Kembali perempuan itu berkata: “Walaupun ayahku kaya-raya dan punya uang banyak, tapi ia tak pernah mendapat istri, sebab gadis-gadis dari keluarga baik enggan menikah dengan seorang saudagar Persia, maka terpaksa dia harus mengawini perempuan macam ibuku itu.”

Setelah berhenti sejenak, dengan suara hambar dia melanjutkan: “Ibuku adalah seorang lonte, konon dulunya dia malah seorang lonte kenamaan dari kota Yang-ciu.”

“Lonte” tentu saja sebutan yang lebih tak enak didengar lagi, akan tetapi ia sama sekali tidak merasakan rendah diri sewaktu mengucapkannya keluar, bahkan dia beranggapan bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang memalukan.

Dia malahan masih bisa tertawa dengan riang gembira, lanjutnya: “Oleh sebab itu, ketika aku masih kecil dulu, orang lain seringkali menyebut aku sebagai si anak jadah!”

“Tentunya kau marah sekali, bukan?” tanya Bu-ki.

“Mengapa aku harus marah? Aku adalah aku, terserah orang lain mau menyebut apa saja kepadaku, bagiku sebutan tidak menjadi persoalan, manusia macam apakah aku ini meski diganti namanya juga tetap manusia semacam itu, toh tak mungkin karenanya mengalami perubahan, bukan?”

Setelah tersenyum, kembali dia berkata: “Seandainya kau benar-benar seorang anak jadah misalnya, sekalipun orang lain menyebutmu nenek-moyangnya, kau toh masih tetap seorang anak jadah, bukan begitu?”

Bu-ki turut tertawa. Bukan saja ia tidak memandang rendah dirinya karena persoalan itu, malahan sebaliknya timbul suatu kesan yang baik sekali terhadap dirinya.

Sebenarnya dia masih beranggapan bahwa pakaian yang dikenakannya terlalu sedikit, sehingga mirip sekali dengan seorang perempuan yang tidak genah.

Tapi sekarang dia beranggapan lain, dia merasa sekalipun ia tidak berpakaian pun juga tak menjadi soal, dia tetap bisa menghormatinya, ia pun tetap akan menyukainya.

Perempuan itu kembali tertawa, katanya lebih jauh: “Akan tetapi namaku yang sebenarnya justru amat sedap didengar.”

Dia menyebutkan namanya sendiri. “Aku bernama Mi Ci, Mi berarti manis seperti madu, Ci berarti perempuan penghibur, jadi namaku Mi Ci berarti perempuan penghibur yang manis seperti madu.”

Mi Ci. Nama tersebut memang sebuah nama yang menarik, indah dan manis, semanis orangnya. Berada di hadapan seorang gadis yang begitu menarik, begitu terbuka, hampir saja Bu-ki terpaksa menyebut nama sendiri.

Untung saja sebelum ia terlanjur berbicara Mi Ci telah berkata lebih dulu. “Aku juga tahu akan namamu, kau bernama Li Giok Tong”

Tong Giok juga pernah menggunakan nama palsu itu, mungkin nama itu hanya disebutkan sekenanya saja.

Bu ki merasa nama itu sangat enak didengar, lagipula agak keren, maka dikala pemilik toko penjual peti mati bertanya kepadanya.

“Kek koan, siapa namamu?”

Tanpa ia sadari dia telah menyebutkan nama tersebut. Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Mi Ci sudah mengetahui hal ini, manakah waktu itu ia mulai memperhatikan dirinya?

“Sudah semenjak lama sekali kami menaruh perhatian kepadamu” kata Mi Ci menerangkan. “Kalian?” ulang Bu ki.

“Kami artinya aku dan Lui bersaudara, masih ada lagi seorang lo sianseng. ”

Yang dimaksudkan sebagai lo sianseng tersebut sudah barang tentu adalah si kakek yang berilmu sangat lihay itu.

“Seandainya kukatakan namanya, kau pasti akan merasa terperanjat sekali, maka lebih baik tidak kukatakan saja siapa nama orang itu” kata Mi Ci.

Bu ki juga tidak bertanya apa apa. Kembali Mi Ci melanjutkan. “Dia adalah sobat lama ayahku, semenjak kecil dulu ia sudah melindungi keselamatan jiwaku. Ketika ayahku telah meninggal dunia, pada hakekatnya dia telah menganggap aku sebagai putrinya sendiri.”

Setelah menghela napas panjang, terusnya: “Aku benar-benar tidak habis mengerti, apa sebabnya secara tiba-tiba ia pergi meninggalkan aku”

Bu ki juga tidak habis mengerti, cuma saja ia merasakan ketika kakek itu pergi meninggalkan tempat itu, tampaknya ia sudah menderita luka yang cukup parah.

Sambil tertawa Mi Ci berkata lagi. “Kami semua memperhatikan dirimu bukan disebabkan kau memiliki wajah yang cukup menawan hati”

“Apa yang menjadi tujuan kalian?” tanya Bu ki. “Tujuan kami yang sesungguhnya adalah Tong Giok” “Tong Giok?”

“Ketika kami menemukan bahwa si nona bercelana merah yang sering kau bawa-bawa itu adalah Tong Giok, kamu sudah mulai memperhatikan gerak gerikmu”

“Kau kenal dengan dia?”

“Justru karena kami kenal dia, ia juga kenal dengan kami, maka sekalipun sudah memperlihatkan diri sendiri dulu, namun kau sama sekali tak pernah melihat bayangan tubuh kami semua”

“Kenapa?”

“Sebab, kami tak bisa memperlihatkan diri sehingga diketahui olehnya...” “Mengapa begitu?” kembali Bu Ki bertanya.

“Sebab dia sangat ingin merenggut nyawa kami, kamipun ingin sekali merenggut nyawanya”

“Lui bersaudara adalah orang orang Pek Lek Tong, kini Pek Lek Tong telah bersekutu dengan Tong Giok”

“Tapi kami toh tidak bersekutu dengan Tong Giok” sambung Mi Cin dingin.

Kalau didengar dari ucapannya itu seolah-olah di dalam tubuh Pek Lek Tong sendiri telah terjadi perpecahan, lagipula perpecahan itu tampaknya disebabkan karena persekutuan dengan pihak keluarga Tong.

Bagi Bu ki, sudah barang tentu kejadian itu merupakan suatu berita baik, bisa terjadi perpecahan di tubuh organisasi lawannya, hal ini berarti suatu keuntungan baginya.

Sekalipun dia tidak bertanya lebih jauh, tapi dia menemukan bahwa di balik kejadian ini sudah pasti terdapat banyak sekali rahasia besar yang tak akan diketahui orang luar.

“Sejak melihat kemunculan tong Giok tempo hari kami sudah berniat untuk membunuhnya” kata Mi Ci menerangkan.

“Mengapa kalian tak pernah turun tangan?” “Karena kau!”

“Aku?” “Lo siangseng itu selalu beranggapan bahwa kau adalah lawan yang sangat menakutkan, dia bilang bukan saja ilmu silat yang kau miliki sangat tinggi, lagi pula cerdik, pandai menahan diri dan tenang”

Setelah tertawa riang, lanjutnya: “Belum pernah kudengar dia memuji-muji orang lain seperti apa yang pernah dia katakan tentang dirimu”

Bu ki tertawa. “Tampaknya ketajaman mata lo siangseng ini sangat mengagumkan sekali!”

Walaupun ia sedang tertawa namun tertawa tersebut tidak terlampau riang atau gembira, sebab dia tidak berharap orang lain memandang terlalu serius terhadap dirinya.

Semakin rendah orang lain menilai dirinya semakin tak perlu dia berjaga-jaga. Dengan begitu, dia baru akan mendapat kesempatan yang baik untuk turun tangan.

Seorang yang betul-betul amat cerdik, tak akan memandang rendah terhadap musuhnya, dia akan berharap musuh memandang rendah terhadap kemampuannya.

Musuh yang sudah menilai rendah terhadap dirinya, sudah pasti akan mempunyai suatu kesalahan yang fatal dan akan mematikan.

Seseorang, apabila ia dapat membuat musuh dirinya mempunyai dugaan yang salah terhadap dirinya, itu berarti separuh dari usahanya telah berhasil.

Inilah nasehat-nasehat yang pernah dipelajari Bu ki dari Sugong Siau Hong, tak akan ia lupakan nasehat tersebut untuk selamanya.

“Sungguh tak disangka belum lagi kami turun tangan, Tong Giok telah berubah menjadi seorang cacat” kata Mi Ci.

“Aku sendiripun tidak menyangka!”

“Lebih tak kusangka lagi ternyata kau cukup bersetia kawan, ternyata kau hendak menghantarnya pulang ke benteng keluarga Tong”

Sesudah tersenyum dia melanjutkan, “Yang lebih kebetulan lagi, ternyata kau hendak menghantarnya pulang dengan menggunakan peti mati, melihat kau membeli peti mati dan mencari tukang pikul, kami segera tahu bahwa kesempatan baik untuk kami telah tiba”

“Kesempatan baik apa?”

“Kami ingin juga berkunjung ke benteng keluarga Tong, tapi tak ingin sampai diketahui orang lain, kamipun tak dapat membiarkan orang lain mengetahuinya” “Maka kau lantas teringat untuk menyuruh Lui bersaudara menjadi tukang pikul serta membawa kau dan Tong Giok kembali ke benteng keluarga Tong?”

Mi Ci segera tertawa. “Bersembunyi di dalam peti mati meski rada panas sedikit, tapi aman sekali, jarang sekali ada orang yang bakal membuka peti mati untuk melihat isinya”

“Oleh karena itu Lui bersaudara hanya berharap aku jangan turun tangan, tapi tidak berniat untuk membunuhku menghilangkan saksi?” kata Bu ki.

“Ya, sebab mereka masih berharap agar kau bisa menghantar peti mati itu sampai di tempat tujuan”

“Kalian sendiri mengapa tak dapat pergi ke benteng keluarga Tong?” “Agaknya mereka tidak terlampau senang menyambut kedatanganku di situ” “Kenapa?”

Mi Ci segera tertawa manis. “Sebab perempuan-perempuan keluarga Tong kuatir kalau kedatanganku di sana bakal menggaet suami-suami mereka”

*****

Tentu saja jawaban tersebut bukan suatu jawaban yang jujur, jawaban yang sesungguhnya pasti tak bisa diutarakan dengan begitu saja, sebab masalahnya menyangkut suatu keadaaan yang amat besar, dan lagi bagaimanapun juta “Li Giok Tong” kan sahabatnya Tong Giok.

“Seandainya aku adalah orang lain, aku masih bisa menyusup ke dalam benteng keluarga Tong dengan jalan menyaru” kata Mi Ci, “cuma sayangnya, Thian justru terlalu sayang kepadaku, ia telah menghadiahkan sepasang mata yang begini indah seperti apa yang kumiliki sekarang”

Sesudah menghela napas panjang, terusnya. “Kecuali kalau kukorek keluar sepasang mataku ini, kalau tidak, kendatipun aku menyaru sebagai apa saja, orang lain toh tetap mengenali diriku dalam sekilas pandangan saja”

Akhirnya sekarang Bu ki baru tahu, apa sebabnya dia harus menyembunyikan diri di dalam peti mati.

“Sesungguhnya cara ini merupakan suatu cara yang jitu dan bagus, tak disangka ternyata cara inipun diketahui Tong Koat!”

“Manusia macam apakah Tong Koat itu?” “Orang ini jarang sekali berkelana di dalam dunia persilatan, bukan saja jarang ada orang yang pernah bertemu dengannya, bahkan orang yang pernah mendengar namanyapun tidak banyak, tapi orang itu justru lebih lihay daripada apa yang pernah dibayangkan orang selama ini”

“Bagaimana kalau dibandingkan dengan Tong Giok?”

“Kalau Tong Giok dibandingkan dengannya maka pada hakekatnya dia seperti seorang anak kecil saja”

“Aku hanya tahu di antara anak keturunan keluarga Tong yang paling hebat dan menonjol adalah seseorang yang bernama Tong Ou!”

“Tong Ou memang orang yang berilmu paling lihay di antara saudara-saudaranya, namun nama besarnya juga paling tersohor di dunia ini, tapi Tong Koat benar-benar lebih menakutkan daripada Tong Ou”

Setelah menghela napas panjang,terusnya “Aku lebih suka berkelahi dengan Tong Ou daripada harus berbicara dengan Tong Koat.”

Bu ki tertawa. “Kalau didengar dari pembicaraanmu itu, bukankah orang itu lebih mirip seorang siluman daripada manusia?”

“Bila kau telah berjumpa dengan orang itu, maka akan kau ketahui apakah dia memang siluman atau bukan”

“Aku lebih senang kalau tak sampai bertemu dengannya”

“Sayang sekali cepat atau lambat pasti akan bertemu juga dengan dirinya” “Kenapa?”

“Sebab dia dan Tong Giok adalah saudara yang paling akrab, setelah ia tahu aku berada di dalam peti mati sekarang, tentu saja diapun tahu kalau di sini masih ada seorang manusia lain seperti kau”

Sesudah tertawa hambar, terusnya: “Sekarang, walaupun kau belum sampai bertemu dengannya, siapa tahu kalau dia sudah melihat dirimu?”

“Jadi kau beranggapan bahwa kedatangan Hek Thi Han sekalian, sesungguhnya adalah bertujuan untuk menghadapi dirimu?”

“Sudah pasti begitu!” Mengapa dia sendiri tak pernah menampakkan diri? Karena ia tidak turun tangan sendiri untuk menghadapi dirimu?”

Sekali lagi Mi Ci tertawa manis. “Sebab dia tahu, asal telah berjumpa denganku, maka dia bakal mati karena bakal terpikat oleh diriku”

Tentu saja, jawaban itupun bukan suatu jawaban yang jujur.

Tampaknya antara dia dengan keluarga Tong seakan-akan terdapat suatu hubungan yang luar biasa sekali.

Mi Ci telah berkata lagi: “Ia juga tahu kalau adiknya belum mati dan sekarang lagi berbaring di sisiku, terhadap lelaki semacam Tong Giok akupun tidak mempunyai minat yang terlalu besar, bila sampai marah, bisa jadi aku mencekiknya hidup-hidup sampai dia mati”

Perkataan itupun sengaja ia ucapkan ke Bu ki, karena Bu ki, adalah sahabatnya Tong Giok.

Sekarang, Bu ki memang tidak berharap Tong Giok sampai mati tercekik, padahal melihat gelagat Mi Ci sekarang tampaknya setiap waktu setiap saat ia dapat mencekik Tong Giok sampai mati.

Terpaksa dengan nada menyelidik, dia bertanya: “Kelihatannya kau sudah tak dapat menggunakan cara ini untuk menyelundup masuk ke dalam benteng keluarga Tong”

“Kelihatannya memang begitu. ” sahut Mi Ci sambil menghela napas panjang.

“Lantas apa rencanamu selanjutnya?”

Mi Ci tidak menjawab, tiba-tiba tanyanya: “Pernahkah kau mendengar suatu perkataan yang mengatakan tentang Indah dilihat tapi tak enak dimakan?”

Bu-ki memang pernah mendengan perkataan itu.

Mi Ci berkata lebih lanjut: “Ada sementara barang yang tampaknya meski indah dan menarik, sesungguhnya tak enak bila dimakan”

Bu ki juga mengerti akan arti dari perkataan itu, tapi tidak habis mengerti apa sebanya secara tiba-tiba dia mengucapkan perkataan itu.

“Ada sementara orangpun demikian keadaannya” kata Mi Ci, “walaupun wajahnya kelihatan cantik, sesungguhnya tidak enak bila dimakan” Sesudah berhenti sebentar dan tertawa dia melanjutkan: “Aku adalah manusia semacam ini, indah dilihat tak enak dimakan”

Seandainya Bu ki masih kanak-kanak, dia tentu akan merasa keheranan mana mungkin manusia bisa dimakan?

Untung saja Bu ki telah dewasa, tentu saja ia mengerti apa yang diartikan dengan istilah dimakan itu.

Tapi iapun tidak habis mengerti, kenapa gadis cantik jelita yang bertubuh montok serta padat berisi ini bisa tak enak dimakan.

“Karena sedari bagian pinggang ke bawah aku sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi, kedua kakiku sama sekali tak bertenaga lagi, bahkan digerakkan sedikitpun tak bisa”

Sesudah tertawa cekikikan, dia melanjutkan: “Seandainya kau adalah suamiku, kau pasti akan mati karena gemas, mati karena tak tahan”

Ternyata perempuan cantik itu adalah seorang cacat.

Gadis yang masih begitu muda dan begitu cantik ternyata lumpuh separuh badannya, sungguh kejadian ini merupakan kejadian yang tragis sekali.

Seandainya orang lain yang berada dalam keadaan seperti itu, entah betapa sedih dan menderita orang itu.

Tapi ia sama sekali tidak merasa sedih atau menderita, kejadian yang begitu tragis hanya dianggapnya sebagai suatu gurauan belaka.

Sebab, dia memang enggan menerima belas kasihan serta perasaan simpatik dari orang lain.

Ia tahu lelaki paling tidak tahan terhadap perempuan yang sepanjang hari selalu berkeluh kesah dan setiap saat bisa mengucurkan air matanya karena sedih.

Bu ki tidak berkata apa-apa, sedang di hati kecilnya sedang berpikir: “Seandainya aku adalah dia, apa pula yang harus kulakukan?”

Dia tak tahu apa jawabannya.

Seorang gadis lumpuh berbaring di dalam sebuah peti mati, sementara rekan-rekannya meski berada di luar peti mati, namun mereka semua sudah mati....

Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Mi Ci memandang kearahnya, lalu berkata, “Aku tahu, tadi kau pasti menganggap pula diriku sebagai seorang gadis yang berhati kejam, karena aku sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Hek Thi Han, begitu turun tangan aku lantas membinasakan dirinya ”

Tadi Bu ki memang berpendapat demikian. “Sekarang” lanjut Mi Ci, “kau tentunya tak akan berpendapat demikian bukan? Karena bila kau menjadi aku kaupun pasti akan berbuat demikian pula”

Bu ki mengakui. Entah siapapun orangnya, bila berada di dalam keadaan seperti ini dia pasti akan turun tangan lebih keji, sebab kalau ia tidak membunuh orang maka oranglah yang akan membunuh dirinya.

Perebutan antara mati dan hidup, sesungguhnya memang merupakan kejadian yang keji.

Demi melanjutkan hidupnya di dunia ini, banyak sekali orang berhati mulia yang dipaksa untuk melakukan sesuatu perbuatan yang tak mungkin akan dilakukannya di waktu-waktu biasa.

“Oleh karena itu, seandainya aku menggunakan sahabatmu ini untuk menggertak dirimu, tentunya kau juga tak akan menyalahkan diriku bukan?” kata Mi Ci.

“Dengan cara apa kau hendak mengancam diriku?”

“Tong Giok belum mati, kau tentunya tidak menginginkan kematiannya bukan?” “Tapi setiap saat kau dapat merenggut nyawanya!”

“Oleh sebab itu kalau seandainya aku minta kepadamu agar akupun dibawa serta, apakah permintaanku ini bisa dianggap kelewat batas?”

“Tidak, tak bisa dikatakan kelewat batas”

Mi Ci segera tersenyum. “Aku memang tahu kalau kau adalah seorang yang berhati baik” katanya lembut.

“Tapi aku tak tahu harus mengantar dirimu sampai di mana?” Sekali lagi Mi Ci tersenyum.

“Paling tidak, kau harusnya menghantar aku dulu ke suatu tempat yang tak ada orang matinya dan tak ada bau amis darah, agar aku bisa menghembuskan napas lega dan makan makanan yang lezat serta banyak gizinya ” “Kemudian?”

Mi Ci menghela napas panjang, terusnya,

“Kemudian, kejadian apa yang bakal terjadi, siapakah yang bisa mengetahuinya?”

Sudah barang tentu mustahil bagi Bu ki untuk menggotong sendiri peti mati itu turun ke bawah bukit, untung saja ia melihat tandu yang dipakai si kongcu gemuk tadi masih berada di luar barak bambu.

Para penandu adalah orang-orang miskin. Usungan yang terbuat dari dua batang bambu itu merupakan satu-satunya alat pencari makan yang mereka miliki, itulah mangkok nasi mereka.

Entah siapapun di dunia ini sudah barang tentu mereka tak akan meninggalkan alat pencari sesuap nasi mereka dengan begitu saja.

Bu ki percaya mereka pasti belum pergi terlalu jauh.

Orang yang bisa menggotong kongcu gemuk itu, tentu saja kuat pula untuk menggotong sebuah peti mati.

“Seandainya kau ingin mencari orang yang menggotong peti mati ini, silahkan saja pergi mencari dengan berlega hati” kata Mi Ci.

“Tapi kau. ”

“Sekalipun kakiku tak bisa bergerak, aku toh masih mempunyai sepasang tangan”

Dengan mempergunakan sepasang tangannya yang lembut tak bertulang itu dia membelai pipi Tong Giok dengan halus, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.

“Aku pasti akan merawat dirinya secara baik-baik, sebab kini ia sudah menjadi mangkok nasiku, tanpa dia, aku tak akan bisa hidup lebih lanjut”

Tukang tandi itu dicarter oleh si kongcu gemuk, maka bila kau ingin mempergunakan tenaganya, lebih baik mencari dia lebih dulu untuk diajak berunding.

Untung saja tampaknya dia bukan seseorang yang sukar diajak berbicara, lagipula sekarang sekalipun belum sampai kabur karena ketakutan ia pasti sudah menyembunyikan diri jauh dari situ, sambil gemetar sambil menyeka keringat dingin yang bercucuran.

Bu ki sungguh tak pernah menyangka kalau dia masih mempunyai selera yang besar untuk mengisi perutnya, ternyata ia sedang bersembunyi di dalam dapur sambil makan bakpao. Bukan bakpao yang kecil-kecil juga bukan sebiji bakpao besar tapi tujuh delapan biji bakpao yang sangat besar.

Di dalam setiap bakpao itu terselip sepotong daging babi yang sangat besar, setiap kali dia menggigiti, minyak babi segera meleleh keluar dari ujung bibirnya.

Menggunakan sepasang tangannya yang putih, halus dan terawat sangat baik itu dia memegang sebiji bakpao lalu dengan mimik wajah yang patut dikasihani dia sedang memperhatikan sepotong daging di tengah bakpao tersebut kemudian menggigitnya besar- besar.

Ketika minyak babi yang gemuk itu meleleh keluar dari ujung bibirnya, ia segera menghela napas dengan penuh perasaan puas.

Dalam detik tersebut, ia merasa seakan-akan semua kemurungan dan ketidakberuntungan yang ada di dunia ini sudah lenyap tak berbekas. Semua rasa takut dan kaget yang dialaminya tadi juga tersapu bersih dari dalam benaknya.

Napsu makan Bu ki selamanya baik, tapi ketika melihat orang yang tidak bernapsu makan itu sedang melahap makanannya ia masih tetap merasa kagum sekali.

Setelah menyikat habis sebiji bakpao, si kongcu gemuk itu baru melihat akan kehadirannya, dengan cepat dia berseru:

“Bakpao ini lumayan rasanya, kau harus makan juga sebiji!”

Walaupun di mulut dia berkata demikian, mimik wajahnya menunjukkan sikap seakan-akan kuatir kalau ada orang yang datang merebut bakpaonya itu.

Dengan wajah penuh pengharapan, dia menatap wajah Bu ki, tentu saja pengharapan yang berbeda dengan kebanyakan orang, sebab dia cuma berharap agar Bu ki cepat cepat menampik maksud baiknya itu.

Tentu saja Bu ki tak akan membuat ia kecewa, sambil tersenyum ia menggeleng sahutnya:

“Aku pun mengetahui kalau bakpao itu rasanya sedap, sayang aku benar benar merasa tak ada napsu untuk memakannya”

Si kongcu gemuk itu menghembuskan napas lega. sikapnya terhadap Bu ki pun berubah menjadi lebih bersahabat.

Maka dia mengambil sebiji bakpao lagi, kemudian digigit dengan lembut. setelah itu ujarnya: “Padahal napsu makanku belakangan ini kurang baik, tapi Siao-po memaksa juga kepadaku untuk makan sedikit”

Yang dimaksudkan Siau-po berada pula disisinya. “Yaa, kau memang seharusnya memaksakan diri untuk makan sedikit.” kata Bu ki, “Sebab manusia seperti kau, memang tidak seharusnya terlampau kurus”

Kesan si kongcu gemuk terhadap orang itu jauh lebih baik lagi, mendadak sambil merendahkan suaranya dia berbisik: “Mari kuberitahukan satu rahasia kepada mu!”

“Rahasia apa?”

“Tauke rumah makan ini masih memelihara tujuh delapan belas ekor ayam gemuk, masih cukup buat kita makan barang dua tiga hari”

“Apakah kau telah bersiap siap untuk menyikat ayam-ayamnya itu sampai ludas?” “Tentu saja harus dimakan sampai ludas!”

“Kenapa?”

Si kongcu gemuk itu segera memperhatikan dirinya, seakan akan sedang memperhatikan seorang tolol saja.

“aku benar-benar tidak habis mengerti, kenapa kita harus makan ayam yang berada disin sampai habis?” ucap Bu ki.

Si kongcu gemuk segera menghela napas panjang.

“Aaaaii apakah kau juga tak dapat melihat, orang orang yang barusan kita jumpai tadi kalau

bukan pembegal tentu pencoleng?” “Yaaa, aku memang dapat melihat”

“Setelah dijalanan sini muncul pembegal dan perampok, masakah kita dapat melanjutkan perjalanan lagi?”

“Jadi kau berniat untuk tetap tinggal disini?”

“Bila ada pengawal barang yang lewati tempat ini, aku akan turut mereka pergi meninggalkan tempat ini”

“Betul, kalau bisa berhati-hati memang lebih baik kalau bertindak lebih berhati-hati sedikit” Tiba-tiba si kongcu gemuk itu merendahkan kembali suaranya, bisiknya lirih: “Akan kuberitahukan lagi suatu rahasia besar kepadamu!”

“Rahasia apa?”

“Aku tahu Tio toa piautau bakal pulang paling tidak dalam dua tiga hari mendatang. ia tentu akan lewat tempat ini”

“Aku benar-benar tidak kenal!”

Untuk kesekian kalinya si kongcu gemuk itu menghela napas panjang. “Aaaiii... Tio toa piautau adalah Tio Kong, dia adalah seorang manusia yang berilmu sangat hebat”

“Ooooh... sekarang aku sudah tahu!”

Setelah berpikir sebentar tiba-tiba ia bertanya lagi: “Dalam sehari, kau butuh berapa ekor ayam untuk sarapan?”

“Belakangan ini napsu makanku kurang baik, sekali makan dua ekor ayam sudah lebih dari cukup bagiku.”

“Sekali makan dua ekor ayam, dalam sehari makan tiga kali, itu berarti sehari kau butuh enam ekor ayam”

“Kalau sedang sarapan aku makan sedikit sekali, sehari dengan lima ekor ayampun sudah lebih dari cukup”

“Tidak banyak, tidak banyak!” kata Bu ki.

“Yaa, sesungguhnya memang tidak terlalu banyak” “Kalau aku makan ayam pun tidak terlalu banyak”

Kongcu gemuk itu tampak seperti terkejut, segera serunya: “Kau juga makan ayam?” “Kalau tidak ada ayam, makan itikpun bolehnjuga!”

“Disini tidak ada itik!”

“Makan dagingpun masih bisa digunakan untuk mengganjal perut” “Tapi dagingnya sudah kumakan semua sampai habis”

“Kala habis toh masih bisa beli lagi” “Sayang nyali tauke rumah makan ini lebih kecil daripada nyaliku, ia sudah kabur sedari tadi dan tidak kelihatan batang hidungnya lagi, mana berani is pergi ke kota untuk membeli daging?”

“Yaa kalau memang begitu terpaksa akupun akan turut makan ayam saja.” “Kau bersikeras makan ayam?”

“Yaa, kala itik tidak ada, daging juga tak ada, kalau tidak makan ayam bagaiman mungkin aku bisa hidup lebih lanjut?”

Dengan kening berkerut karena murung, si kongcu gemuk itu segera menghela napas panjang. “Yaa, ucapanmu itu memang benar!”

“Tapi untunglah napsu makanku belakangan ini juga tidak terlalu baik, tidak terlalu banyak yang kumakan setiap harinya”

Dengan penuh pengharapan kongcu gemuk itu memandang kearahnya, lalu bertanya: “Dalam satu hari berapa ekor ayam yang kau butuhkan?”

“Hampir sama dengan yang kau butuhkan.”

“Hampir sama dengan yang kubutuhkan? Jadi sehari kau membutuhkan lima ekor ayam” “Pagi haripun aku butuh dua ekor!”

Kongcu gemuk itu menjandi terperanjat sehingga tertegun dibuatnya, serunya kemudian.

“Jadi kalau begitu, belasan ayam yang ada sekarang kan bakal habis pada esok hari? Jika Tio toa piautau belum datang juga, lantas bagaiman baiknya?”

“Cuma ada satu cara”

“Apa cara itu? cepat katakan!” “Kuberikan semua ayam itu untukmu!” “Dan kau sendiri?”

“Setelah semua ayam itu kuberikan kepadamu, tentu saja aku harus segera angkat kaki dari sini” “Kapan baru akan pergi?” “Sekarang juga!”

“Tapi diluar sana......

“Kau bersedia membeberkan semua rahasia itu kepadaku, ini menandakan kau telah menganggap aku sebagai teman, demi teman, apalah artinya untuk sedikit menyerempet bahaya?”

Kongcu gemuk itu memandang kearahnya, ia seperti merasa terharu sekali sehingga kalau bisa dia ingin segera menjatuhkan diri berlutut diatas tanah.

“Apalagi, kalau to kau telah menganggapku sebagai teman, aku tak boleh menyusahkan dirimu” kata buki lagi.

Mendadak ia menghela napas panjang, lalu menambahkan:

“Cuma saja ada satu hal yang telah menyulitkan diriku” “Persoalan apakah itu?” si kongcu gemuk segera bertanya. “Aku membawa sebuah peti mati”

“Aku tahu”

“Tukang pikul peti mati itu sudah tak ada lagi, bagaimanapun juga toh tidak mungkin bagiku untuk menggotong peti mati sendirian?”

Mendengar perkataan itu, si kongcu gemuk segera tertawa. “persoalan ini mah sama sekali bukan suatu kesulitan!” “Sungguh?”

“Si tukang usungan yang kubawa masih berada disini, mereka dapat menggotong usungan, berarti bisa pula menggotong peti mati”

“Kau bersedia membiarkan mereka pergi bersamaku?” “Bukankah kita adalah teman?”

“Benar!” Maka kedua orang itu segera tertawa riang sekali.

Kata Bu ki kemudia sambil tertawa: “Sungguh tak kusangka aku bisa bertemu dengan orang yang begitu baik seperti kau, sunggu tak kusangka aku mempunya nasib yang begini mujur ”

Dia benar-benar tidak menyangka. Yaa, ia benar-benar tak pernah menduga!

***** Bulan empat tanggal sembilan belas, malam.

Tempat itu adalah rumah penginapan Kit Siong. Rumah penginapan Kit-siong merupakan sebuah rumah penginapan yang paling besar di kota itu, ji ciangkwe yang bertanggung jawab dalam menerima tamu bernama Siong ko.

Siong ko adalah seorang yang cukup berpengalaman, bahkan pandai pula berbicara dengan dialek orang berpangkat, akan tetapi ia toh kelihatan terperanjat juga setelah mendengar perkataan dari Bu ki itu.

Sudah hampir dua-tiga puluh tahun lamanya dia melakukan pekerjaan ini, sejak menjadi seorang pelayan kecil yang bertugas malam, kini ia sudah menjadi Ji ciangkwe yang bertugas menyambut tamu.

Tapi belum pernah menjumpai tamu seperti Bu ki.

Kata Buki: “Aku menginginkan dua buah kamar, harus kamar yang paling baik, jendela harus besar dan peredaran udara harus baik”

Siong ko mengira kamar yang satunya hendak diberikan untuk tukang pikul itu maka katanya cepat:

“Biasanya mereka tidur didalam halaman sana!” “Aku mengerti!”

“Dan kau tetap menginginkan dua buah kamar?” “Yaa, dua buah kamar yang paling besar!”

“Apakah masih ada tamu lain yang akan datang kemari?” “Tidak ada!” “Lantas buat apa kamar yang satunya lagi?” “Kamar itu untuk peti mati tersebut!”

Inilah alasan yang menyebabkan Siong ko merasa amat terperanjat. “Peti mati juga akan dimasukan ke dalam kamar?” serunya.

Jawaban dari Bu ki ternyata kedengarannya seperti sangat beralasan sekali.

Dia bilang begin: “Yang berada didalam peti mati itu adalah sahabatku, aku tak pernah menyia-nyiakan teman, entah dia masih hidup atau sudah mati, bagiku adalah tetap sama”

“Kongcu ini benar benar amat setia kawan!”

Siapakah sebenarnya perempuan yang bernama Mi Ci ini? Apa hubungannya dengan keluarga Tong?

Mengapa dia hendak pergi ke benteng keluarga Tong? Kenapa pula pihak keluarga Tong hendak membunuhnya?

Dari pembicaraannya itu, ada berapa patah kata yang sesungguhnya? Berapa patah kata pula yang bohong?

Ketika sedang mencuci muka, Bu ki memikirkan persoalan ini, ketika minum teh dia pun berpikir demikian.

Sesungguhnya dia memang memikirkan persoalan ini terus menerus.

Seandainya kau bilang apa yang dia pikirkan bukanlah persoalan persoalan itu, melainkan Mi Ci sendiri, kaupun tidak keliru.

Kalau bertemu dengan seorang perempuan seperti Mi Ci sendiri, kau pun akan tak tahan untuk setiap waktu setiap saat memikirkan dirinya.

Ada sementara orang yang sedari dilahirkan seakan-akan memiliki daya tarik tersendiri, entah siapapun yang bertemu dengannya, pasti akan terpikat olehnya.

Tak bisa disangkal lagi Mi Ci adalah perempuan semacam ini.

Kalau bisa Bu ki ingin segera menjumpai dirinya lagi, tapi bagaimanapun juga ia tak bisa membuka peti mati dihadapan orang banyak, lalu berbincang-bincang dengan orang yang berbaring didalam peti mati itu. Dia menyuruh siongko menghantar hidangan makan malamnya kedalam kamar. Sayur dan nasi sudah dihantar masuk sedari tadi, akan tetapi menyentuh pun tidak.

Ia merasa seandainya dirinya makan minum disini sementara Mi Ci berbaring didalam oeti mati sambil menahan lapar, sesungguhnya kejadian ini merupakan suatu hal yang tidak tahu aturan.

Selain itu diapun merasa tak tega untuk makan sendiri. Sayang tak dapat dibuka peti mati itu dihadapan umum dan menyuruh orang yang berada dalam peti mati itu untuk makan nasi.

Ia tidak takut Tong Koat bakal kesitu, sekarang Tong Giok belum mati. Tong Koat tak akan berani untuk sembarangan bergerak.

Dia cuma kuatir kalau Mi Ci sampai kesepian. Padahal mereka tidak saling mengenal, mengapa secara tiba-tiba ia bisa menaruh perhatian khusus terhadap perempuan itu?

Mungkinkah hal ini disebabkan dia sendiripun merasa terlalu kesepian?

Mungkin mereka sudah terbiasa dengan kesepian, tapi bila dua orang yang sedang kesepian tiba-tiba saling bertemu, ibaratnya dua buah bintang yang saling bertumbukan di angkasa raya, sedikit banyak

pasti akan timbul cahaya tajam dan kilapan bunga api. Sekalipun kilatan bunga api itu akan lenyap dalam sekejap mata. Tapi sinar itu telah menyinari orang lain juga menyinari diri sendiri.

Apa akibatnya dikemudian hari?

Kejadian dimasa kemudian, siapa pula yang bisa mengetahuinya?

*****

Kini suasana didalam rumah penginapan telah menjadi sepi dan hening. Biasanya orang yang sedang melakukan perjalanan akan tertidur lebih awal.

Peti mati tersebut berada dikamar sebelah. Bu ki mendorong pintu masuk ke dalam lalu memasang lampu, cahaya lentera menyinari peti mati yang hitam pekat itu dan menyinari pula seprei yang berwarna putih diatas pembaringan.

Tiba tiba ia merasa jantungnya berdebar keras. Orang yang berada didalam peti mati itu apakah tahu kalau dia sudah datang? ia berjalan mendekatinya dan mengetuk penutup pintu. Ia berharap Mi Ci dapat mencari satu stel pakaian dan menutupi badannya lebih dahulu.

“Tok, tok, tok. !” Dia pun membalas ketokan dengan dua ketokan dari dalam peti mati, ini menandakan kalau ia sudah tahu akan kedatangannya. Maka diapun segera membuka penutup peti mati itu.

Tapi dengan cepat jantungnya seolah-olah berhenti.

Didalam peti mati itu ternyata bukan lain adalah si kongcu gemuk yang sehari paling tidak membutuhkan lima ekor ayam untuk mengisi perutnya itu.

Dia sedang makan ayam, tulang-tulang sisa yang terbuang berserakan di sekeliling tubuhnya.

Waktu itu ditangannya masih memegang sebuah paha ayam, sambil memandang kearah BU ki sambil tertawa bodoh, katanya: “Sekarang aku baru tahu, rupanya berbaring didalam peti mati jauh lebih nyaman dari pada duduk diatas tandu atau didalam kereta. Bu ki ikut tertawa.

seandainya peristiwa ini terjadi pada setahun berselang, dia pasti akan merasa amat terperanjat, bahkan mungkin saja akan melompat saking kagetnya.

Tapi sekarang, dia cuma tertawa belaka.