Harimau Kemala Putih Jilid 22

Jilid 22  

“BENDA itu sama sekali tak ada harganya, karena tak akan bisa kau dapatkan di manapun,” jawab Tong Giok. “Mengapa?”

“Sebab pasir Toan-hun-seh yang berada di dalamnya merupakan barang asli tanpa campuran, jarum-jarum di dalam kocek itupun semuanya barang asli.”

“Kalau begitu aku harus bersikap lebih berhati-hati, jangan sampai ditemukan orang lain,” ujar Kwik Ciok-ji sambil tertawa.

“Tak usah kuatir, aku tidak akan melakukan perbuatan tolol seperi itu …” ucap Tong Giok. Tiba-tiba ia menghela napas panjang, katanya lagi dengan sedih:

“Sekarang aku sudah mengaku kalah.” “Orang yang berani mengaku kalah barulah seorang yang benar-benar pintar.” “Pasir toan- hun-seh di dalam tusuk konde emas dan jarum-jarum beracun dalam kocek itu boleh kalian ambil semua.”

“Terima kasih!”

“Batok kepalaku juga setiap saat boleh kalian ambil!”

“Walaupun aku tak ingin batok kepalamu, tapi aku tahu masih ada orang yang membutuhkannya.”

“Bagaimana dengan kocek itu? Apakah juga ada orang yang menginginkannya?”

Kwik Ciok-ji memandang ke arah Ting Bau, Ting Bau memandang ke arah Bu-ki, dan akhirnya Bu-ki berkata:

“Apakah kau mengharapkan agar kami bersedia mengembalikan kocek tersebut kepadamu?” “Aku tidak berharap!” jawab Tong Giok.

Setelah itu pelan-pelan dia melanjutkan:

“Karena aku tahu kau pasti tak akan mengembalikannya kepadaku, kau pasti akan beranggapan bahwa aku sedang mempersiapkan permainan lagi untuk menghadapimu.”

Bu-ki sama sekali tidak menyangkal akan hal tersebut.

“Aku cuma berharap agar kalian dapat membantuku untuk memusnahkan kocek tersebut,” kata Tong Giok lagi.

Walaupun permintaannya itu sangat aneh, namun belum terhitung sesuatu permintaan yang kelewat batas.

“Aku cuma berharap sebelum kematianku tiba, dengan mata kepalaku sendiri aku dapat menyaksikan kalian memusnahkan kocek tersebut di hadapanku.”

“Mengapa?” “Sebab …”

Tiba-tiba paras mukanya berubah menjadi amat menyedihkan sekali, terusnya: “Sebab aku tak rela menyaksikan benda itu terjatuh ke tangan orang lain.” Walaupun ia tidak mengemukakan alasannya, tapi setiap orang dapat menduga bahwa kocek tersebut sudah pasti mempunyai suatu riwayat yang amat memedihkan hati, menyangkut seorang kekasih yang mungkin telah tiada lagi di dunia ini.

Bila seseorang sudah mendekati ajalnya, dia selalu akan berubah menjadi lebih pemurung dan berbicara soal kebaikan, rupanya Tong Giok juga manusia seperti ini.

Tampaknya perasaan Kwik Ciok Ji sudah mulai digetarkan oleh kata-katanya itu.

Walaupun tabiat Ting Bau sangat keras, hatinya tidaklah keras, bahkan Bu Ki sendiripun tidak menyangka kalau dibalik kesemuanya itu sebetulnya tersembunyi suatu siasat yang keji!

Siapapun tak akan menyangka kalau di balik putik bunga Botan di atas kocek tersebut masih ada rahasia lain.

Tak perduli menggunakan cara apapun kau hendak memusnahkan kocek tersebut, asalkan putik bunga Botan terbentur hancur, bukan saja orang itu akan hancur sama sekali, bahkan setiap orang yang berada satu kaki di sekeliling tempat itu juga akan tewas secara mengerikan.

Entah siapa itu orangnya yang akan turun tangan menghancurkan kocek tersebut. Orang yang lain pasti akan berdiri di sekitar tempat itu.

Tentu saja terkecuali Tong Giok sendiri.

Dia pasti sudah jauh-jauh menghindarkan diri. Sebab hanya dia yang mengetahui rahasia tersebut.

Mereka telah merencanakan selama banyak tahun, telah menghimpun kecerdasan dari banyak orang, mengorbankan banyak tenaga dan uang untuk menciptakan rahasia ini.

Rahasia tersebut mereka namakan sebagai...

San Hoa Thian Li, si gadis langit penyebar bunga.

Rencana pembuatan senjata rahasia ini bermula dari Tong Koat, kemudian setelah melewati persetujuan dari setiap manusia utama yang merupakan kekuatan keluarga Tong, baru kemudian diputuskan.

Langkah pertama dalam melaksanakan rencana ini adalah bersekongkol dengan pihak Pek Lek Tong, sebab mereka harus mendapatkan dulu rahasia resep pembuatan senjata api dari Pek Lek Tong. Persoalan ini kelihatannya gampang untuk dibicarakan, sesungguhnya sulit untuk dilaksanakan.

Kui Ceng Thian, Tongcu dari perkumpulan Pek Lek Tong bukanlah seorang manusia yang gampang dihadapi

Tiga tahun lamanya, bahkan seorang putri keluarga Tong yang tercantikpun harus dipersembahkan kepada Kui Ceng Thian sebagai hadiah, sebelum berhasil untuk menggetarkan hatinya.

Langkah kedua dalam melaksanakan rencana ini adalah mengkombinasikan senjata rahasia bahan peledak dari Pek Lek Tong dengan senjata rahasia beracun dari keluarga Tong untuk menciptakan sejenis senjata rahasia baru.

Senjata rahasia tersebut harus seperti senjata beracun Tok ci-li yang sanggup mencapai jarak yang amat jauh, tapi harus pula sebagai pasir beracun yang bisa menyebar ke suatu wilayah yang luas.

Tok ci-li dibuat dari tiga belas lembar daun, di atas setiap lembar daun tersebut semuanya mengandung racun yang keji, dan lagi sifat racun dari setiap daun tersebut tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya…

Seandainya mereka dapat memasukkan pula mesiu dari Pek Lek Tong ke dalam senjata rahasia tersebut, maka asal senjata rahasia itu dilepaskan, entah membentur benda apapun, akibatnya musiu itu akan meledak, ketiga belas daun itupun akan meluncur ke depan dan menyambar mangsanya secepat kilat.

Serangan semacam ini sungguh merupakan suatu serangan yang mengerikan, lagi pula orang tak akan menyangka sampai di situ.

Bila mereka benar-benar dapat menciptakan senjata rahasia sejenis ini, sudah dapat dipastikan keluarga Tong akan malang melintang di dalam dunia persilatan tanpa tandingan.

Ternyata mereka benar-benar berhasil membuatnya.

Maka senjata rahasia yang belum pernah ada dalam dunia ini mereka namakan … San hoa thian li, gadis langit penyebar bunga.

Di bawah sorot cahaya lampu, kedua kuntum bunga Botan itu bukan saja sangat indah, bahkan keindahannya sangat menyolok mata.

Kwik Ciok Ji menghela napas panjang, gumamnya: “Kedua kuntum bunga ini indah sekali sulamannya!”

“Yaa, memang sangat indah!” kata Ting Bau pula sambil menghela napas panjang.

“Walaupun aku tak tahu siapa yang menyulam bunga-bunga ini, tapi aku dapat membayangkannya.”

“Yaa, dia pasti seorang gadis yang romantis dan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan …”

Seorang gadis yang lemah-lembut, cantik jelita dan romantis, tanpa sepengetahuan orang lain diam-diam menyulam kocek tersebut di bawah sorot cahaya lampu untuk diberikan kepada kekasihnya.

Tapi tak beruntung ketika kocek itu selesai disulam ia telah berpulang ke alam baka, karena itu sampai matipun kekasihnya selalu membawa serta kocek tersebut, sampai matipun tak rela untuk diberikan kepada orang lain.

Kejadian semacam ini sungguh memedihkan hati, sungguh merupakan suatu kisah cinta yang menggetarkan sukma.

Bila seorang pemuda yang penuh dengan perasaan menyaksikan sebuah kocek semacam itu, dengan mudah ia akan menghubungkan kejadian tersebut dengan suatu kejadian yang lain.

Kwik Ciok-ji dan Ting Bau secara kebetulan adalah manusia semacam ini.

Mereka bukan saja mudah terpengaruh oleh kejadian semacam ini, lagipula mudah menciptakan suatu rangkaian cerita yang bersifat melankolis.

Apalagi sebuah kocek toh sama sekali tidak penting artinya, kenapa tidak dipenuhi saja keingingan orang?

“Bagaimana menurut pendapatmu?” tanya Kwik Ciok-ji kemudian. “Aku tak ada idee lain,” jawab Ting Bau.

Tak ada pendapat lain, biasanya berarti tidak keberatan.

“Kalau begitu tolonglah Tong kongcu untuk memusnahkan kocek tersebut …” pinta Kwik Ciok-ji.

“Mengapa harus aku.”

“Karena aku tak tega untuk melakukannya!” “Darimana kau bisa tahu kalau aku tega untuk melakukannya?” Mereka tidak bertanya kepada Bu-ki.

Antara mereka dengan Tong Giok sama sekali tiada ikatan dendam kesumat, mereka sama sekali tak tahu manusia macam apakah Tong Giok itu.

Bahkan mereka mulai beranggapan bahwa Bu-ki terlampau Bu ki (banyak curiga) sebab tampaknya Tong Giok benar-benar terlalu mengenaskan, pantas dikasihani.

Tiba-tiba Kwik Ciok-ji mendapat suatu idee bagus, segera usulnya: “Mengapa kita tidak mengembalikan saja kocek ini kepada Tong kongcu …?”

Bagaimanapun juga tugasnya telah selesai, terserah Tio Bu-ki hendak menghadapi Tong Giok dengan cara apapun, terserah Tong Giok hendak mengapakan kocek tersebut, hal mana sudah tiada sangkut-pautnya lagi dengan dia.

Ting Bau segera menyetujuinya:

“Suatu usul yang bagus!”

Memang itu merupakan suatu usul yang bagus.

Bila mereka tahu betapa bagusnya usul tersebut, tidak menunggu orang lain turun tangan, mungkin mereka telah menumbukkan kepalanya lebih dulu ke atas dinding.

*****

RUMAH KECIL

KWIK CIOK-JI telah menuang keluar seluruh isi kocek tersebut, karena ia sudah mengambil keputusan untuk mengembalikan kocek tersebut, kepada Tong Giok.

Dapatkah ia merubah keputusannya? Dapatkah Bu-ki menghalangi niatnya?

Jantung Tong Giok berdebar-debar dengan kerasnya.

Bukan cuma jantungnya yang berdebar-debar keras, bahkan ujung jarinya ikut menjadi dingin, bibirnya terasa mengering bahkan tenggorokanpun seolah-olah tersumbat. Ketika untuk pertama kalinya ia merasakan keadaaan seperti ini, kejadian tersebut sudah berlangsung banyak, banyak tahun berselang.

Ketika itu bulan empat, juga musim semi, saat tersebut dia masih seorang bocah tanggung berusia empat lima belas tahunan.

Udara pada waktu itu lebih panas daripada hari ini, tiba-tiba ia merasakan hatinya sangat gundah.

Waktu itu malam sudah semakin larut, dia ingin tidur namun mata serasa tak mau memejam, maka seorang diri dia pun ngeloyor keluar dari kamarnya dan bermain kesana kemari.

Akhirnya ketika tiba di kebun belakang enci misannya, tiba-tiba ia mendengar suara nyanyian berkumandang datang dari sana.

Nyanyian itu berasal dari dalam sebuah ruang kecil di dalam kamar tidur kakak misannya, selain suara nyanyian juga kedengaran suara air.

Suara air tersebut berasal dari seseorang yang sedang mandi. Dalam ruang kecil itu ada sinar lampu.

Bukan saja dari balik daun jendela ada cahaya lampu, dari celah pintupun juga ada.

Sebenarnya dia tak ingin menghampirinya, tapi hatinya waktu itu sedang gundah, semacam perasaan gundah yang tak pernah dirasakan sebelumnya, suatu perasaan gundah yang sangat aneh.

Maka diapun menghampirinya.

Di bawah pintu terdapat sebuah celah yang lebarnya hampir setengah inci, bila membaringkan tubuhnya ke tanah, ia pasti dapat melihat orang yang berada di dalam ruangan kecil itu.

Maka diapun membaringkan badannya ke atas lantai, menempelkan telinganya ke tanah dan matanya mengintip ke dalam melalui celah-celah tersebut.

Ia segera dapat melihat kakak misannya itu.

Waktu itu kakak misannya baru berusia enam belas tahun.

Pada saat itu, kakak misannya sedang mandi di dalam kamar kecil tersebut.

Seorang gadis yang berusia enam belas sudah terhitung cukup matang, ia sudah memiliki payudara yang kencang dengan sepasang paha yang putih dan halus … Inilah pertama kalinya ia menyaksikan tubuh telanjang seorang gadis yang baru dewasa, juga untuk pertama kalinya berbuat dosa.

Tapi debaran jantungnya ketika itu masih belum sekeras debaran jantungnya sekarang. Kwik Ciok-ji telah melemparkan kocek tersebut ke arahnya.

Sejak ia mendengar Tong Giok hendak memusnahkan kocek tersebut sampai ia melemparkan kocek itu ke depan, waktu yang dibutuhkan hanya beberapa menit.

Tapi bagi Tong Giok, waktu yang amat singkat itu justru dirasakan jauh lebih panjang daripada enam puluh tahun.

Sekarang kocek itu sudah dilemparkan ke arahnya, sulaman bunga Botan dari benang emas itu berkelip-kelip di tengah udara.

Dalam pandangan Tong Giok ketika itu tiada cahaya yang lebih indah di dunia ini dari pada kilatan cahaya tersebut.

Ia berusaha keras untuk mengendalikan diri, agar jangan tampak terlalu tergesa-gesa.

Menanti kocek itu sudah terjatuh ke tanah, pelan-pelan ia baru membungkukkan badannya untuk mengambil.

Yang dipungut sekarang bukan cuma sebuah kocek saja, tapi sepasang senjata rahasia, sepasang senjata rahasia yang akan memungut kembali jiwanya yang hampir melayang.

Bahkan bukan cuma selembar nyawanya saja, masih ada nyawa dari Tio Bu-ki, Huan Im-san, Ting Bau dan Kwik Ciok-ji.

Pada saat itulah ia telah berubah menjadi orang yang paling berkuasa di tempat itu, sebab nyawa dari beberapa orang ini sudah berada dalam cengkeramannya.

Detik itu dirasakan begitu cemerlang, begitu agung dan menggembirakan!

Tong Giok tak dapat mengendalikan rasa geli dan gembiranya lagi, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Dengan terkejut Kwik Ciok-ji memandang ke arahnya, kemudian menegur: “Apa yang sedang kau tertawakan?”

“Aku sedang mentertawakan kau!” sahut Tong Giok. Ia sudah memencet kedua batang senjata rahasia San-hoa-thian-li yang tiada tandingannya di kolong langit itu di dalam genggamannya.

Sambil tertawa tergelak, katanya lagi:

“Kau tak akan menyangka bahwa perbuatan yang barusan kau lakukan sesungguhnya adalah suatu perbuatan yang amat bodoh, bukan saja kau telah mencelakai jiwa Ting Bau dan Tio Bu-ki, juga mencelakai jiwamu sendiri!”

Kwik Ciok-ji masih memandang ke arahnya dengan terkejut, semua orang memandang ke arahnya dengan terkejut.

Bukan karena gelak tertawanya, bukan pula karena ucapannya, melainkan karena raut wajahnya.

Tiba-tiba raut wajahnya telah mengalami suatu perubahan yang aneh sekali.

Tak ada orang yang bisa menerangkan bagian manakah yang telah berubah, namun setiap orang dapat melihat perubahan tersebut.

Dalam waktu yang amat singkat, sinar matanya tiba-tiba berubah menjadi sayu dan buram, kelopak matanya ikut menyusut kecil.

Kemudian bibirnya, ekor matanya seakan-akan mengejang keras dan kaku, selapis hawa hitam kematian yang sangat aneh mendadak muncul dan menghias wajahnya.

Tapi ia sendiri seakan-akan tidak merasakannya, sedikitpun tidak merasakannya. Ia masih tertawa.

Tapi sorot matanya tiba-tiba menampilkan suatu perubahan yang amat aneh, seperti seorang yang merasa ngeri dan ketakutan, ia telah menyadari bahwa dirinya telah melakukan suatu kesalahan yang fatal.

Ia lupa kalau tangannya tidak mengenakan sarung tangan, diapun lupa kalau tangannya belum dilindungi oleh lapisan lilin yang melindungi kulit tangannya dari sengatan racun.

Ia terlampau gembira, dengan tangan telanjang meremas kedua biji senjata rahasianya, ia bertindak terlalu kuat sehingga ujung jarum yang tajam telah menusuk ujung jarinya itu.

Tidak terasa sakit, sama sekali tidak terasa apa-apa, bahkan perasaan kaku atau kesemutanpun tiada. Racun yang dipoleskan di ujung senjata rahasianya itu adalah sejenis racun terbaru yang berhasil mereka ciptakan, bahkan obat penawarnyapun belum sempat dibuat.

Pada hakekatnya senjata rahasia tersebut masih belum mencapai taraf yang memperbolehkan setiap orang untuk mempergunakannya.

Menanti ia merasakan seluruh kulit badan serta persendian tulang dalam sekujur tubuhnya mulai mengalami suatu perubahan yang aneh dan menakutkan, waktu sudah terlalu lambat!

Ia sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi, bahkan untuk tertawapun sudah tak dapat dikendalikan, malah ia sudah tak dapat mempergunakan tangannya lagi.

Dia ingin sekali melepaskan kedua batang senjata rahasia itu kedepan, akan tetapi tangannya sudah tak mau menuruti perintahnya lagi.

Dalam waktu yang amat singkat, racun tersebut telah merusak jaringan syaraf yang berada di dalam tubuhnya.

Menyaksikan seseorang yang menunjukkan wajah ketakutan dan ngeri tapi masih tertawa tergelak tiada hentinya, sesungguhnya kejadian semacam itu adalah suatu kejadian yang amat menakutkan.

“Sesungguhnya apa yang telah terjadi?” tanya Kwik Ciok-ji. “Racun!” jawab Bu-ki

“Darimana datangnya racun?”

Belum lagi Bu-ki sempat menjawab, tiba-tiba tangan Tong Giok mengejang keras lalu mengangkat ke udara, gerak-geriknya sangat aneh dan lamban, persis seperti gerakan tubuh boneka kayu.

Perintah yang dipancarkan dari otaknya tadi, baru sekarang sampai di tangannya. Sekarang dia baru melemparkan senjata rahasia tersebut ke depan.

Tapi sayang otot-otot di dalam tubuhnya serta persendian tulangnya sudah terlanjur kaku, syaraf yang mengatur ketepatan menimpukpun sudah sama sekali punah tak berbekas.

Kedua batang senjata rahasia itu meluncur ke depan dengan gerakan vertikal, seperti sejenis benda yang dilepaskan dari suatu alat berpegas tinggi, meski kekuatannya sangat besar namun arahnya sudah tak benar. Dengan kecepatan luar biasa, benda-benda itu meluncur ke sudut dinding yang terjauh dari kuil dewa harta itu dan menumbuk di atas dindingnya.

Setelah itu … “Blaam …!” terjadi ledakan keras.

Meski suaranya tidak sekeras ledakan bahan peledak yang lain, akan tetapi akibat yang dibuatnya benar-benar mengerikan sekali. Untung saja Bu-ki sekalian berdiri di tempat kejauhan dan lagi reaksi merekapun cukup cepat.

Untung saja mereka tak sampai terhajar oleh hancuran batu dan kayu yang bermuncratan keempat penjuru itu.

Walaupun peristiwa itu berlangsung dalam sedetik, tapi pengalaman tersebut tak pernah mereka lupakan untuk selamanya.

Sebab dalam detik itulah, mereka merasa diri mereka seakan-akan telah berpesiar sejenak ke tepi neraka.

Hancuran batu bata dan debu yang berterbangan di angkasa serta hancuran lempengan besi yang menyilaukan mata, saat ini sudah mulai reda kembali.

Tapi peluh dingin yang membasahi mereka belum mengering.

Tubuh mereka semua basah oleh keringat dingin, sebab mereka telah menyaksikan kedahsyatan senjata rahasia tersebut dengan mata kepala sendiri.

Lewat lama sekali, Kwik Ciok-ji baru dapat menghembuskan keluar semua kekesalan dan kemurungan yang mengganjal dalam dadanya selama ini.

“Sungguh berbahaya!” pekiknya.

Sekarang, sudah barang tentu dia sudah tahu kalau perbuatannya tadi adalah suatu perbuatan yang sangat tolol.

Ia memandang ke arah Bu-ki, lalu tertawa getir, katanya:

“Barusan, hampir saja aku telah mencelakai jiwamu!”

“Yaa, betul-betul selisih sedikit sekali!” Bu-ki mengangguk.

Kembali Kwik Ciok-ji menatapnya setengah harian lamanya, setelah itu dia berkata lagi:

“Barusan, kau nyaris mampus di tanganku, sekarang, kau hanya mengucapkan sepatah kata itu saja kepadaku?” “Apakah kau berharap aku bisa mendampratmu habis-habisan?” “Benar!”

“Akupun sangat ingin mendampratmu habis-habisan, karena kalau aku tidak mendampratmu kau malah akan menganggap aku sebagai orang yang terlalu licik, terlalu menggunakan akal dan tidak gampang bergaul dengan teman …”

“Siapa tahu aku memang benar-benar beranggapan demikian?” ternyata Kwik Ciok-ji mengakui juga.

Bu-ki segera menghela napas panjang.

“Sayang aku tak dapat mendampratmu!” katanya. “Kenapa?”

“Sebab aku masih belum kau celakai sampai mati.”

“Kalau aku benar-benar telah mencelakaimu sampai mati, mana mungkin kau bisa mendamprat diriku lagi?”

“Kalau aku benar-benar sudah mati, tentu saja aku tak mungkin bisa memaki dirimu lagi.” “Kalau memang begitu, mengapa kau tidak mencaci-maki diriku sekarang …?

Bu-ki kembali tertawa.

“Aku toh belum sampai mati karena perbuatanmu, mengapa aku harus mencaci-makimu,” jawabnya.

Kwik Ciok-ji menjadi tertegun, tertegun hampir setengah harian lamanya, mau tak mau dia harus mengakui juga atas kebenaran dari perkataan itu.

“Ternyata ucapanmu sedikit agak masuk akal juga,” katanya:

“Memang sangat masuk akal!”

Setelah tertawa terbahak-bahak, terusnya:

“Sekalipun kau menganggap teoriku ini macam kentut anjing yang busuk, aku rasa kau juga tak akan sanggup untuk berbantahan dengan diriku …” “Kenapa?”

“Karena perkataanku itu sangat masuk akal.” Kwik Ciok-ji ikut tertawa.

“Sekarang aku dapat memahami suatu hal!” serunya. “Memahami apa?”

“Jangan sekali-kali membicarakan soal cengli denganmu, lebih baik berkelahi dengan kau daripada mengajakmu membicarakan soal cengli.”

Setelah tertawa tergelak, terusnya:

“Karena siapapun tak akan mampu untuk menangkan dirimu.”

Tadi, sebenarnya dia merasa amat menyesal dan penuh permohonan maaf tapi sekarang pikirannya benar-benar sudah terbuka.

Sekarang, hati kecilnya seratus persen telah mengakui bahwa apa yang dikatakan Bu-ki memang sangat beralasan.

Ucapan yang bisa membuat terbuka dan leganya perasaan orang, sekalipun tak masuk akal juga menjadi masuk akal.

Tong Giok belum mati.

Ternyata ia belum roboh ke tanah, masih seperti sedia kala berdiri tak berkutik di sana.

Tapi wajahnya sudah sama sekali kaku, kelopak matanya yang menyusut kencang tadi sekarang sudah membuyar, sepasang mata yang sebetulnya tajam dan jeli, sekarang telah berubah menjadi buram dan tak bercahaya, bahkan biji matanyapun tak dapat bergerak lagi sehingga sekilas pandangan mirip sekali dengan seekor ikan mati.

Ting Bau menghampirinya, menggerak-gerakkan tangan di depan matanya, tapi sepasang matanya itu masih melotot kedepan dengan kaku dan tanpa berkedip, maka Ting Bau mengeluarkan ujung jarinya dan pelan-pelan mendorong tubuhnya, kali ini ia roboh terkapar ketanah.

Tapi ia belum mati.

Dia masih bernapas, jantungnya masih berdetak, nadinya masih berdenyut … Setiap orang tentunya dapat melihat dihati kecilnya dia pasti lebih suka mati dari pada tersiksa selama hidup.

Sebab keadaan semacam ini sesungguhnya jauh lebih tersiksa daripada mati, dia merasa jauh lebih enak mati daripada berada dalam keadaan begini.

Tapi sayang, dia justru tak bisa mati.

Benarkah dibalik alam semesta yang luas ini terdapat suatu kekuatan yang adil tapi tak berperasaan yang mengendalikan seluruh kejadian di dunia ini? Benarkah Thian sedang mengutuknya dan melimpahkan hukuman kepadanya?

Rupanya dalam hati kecil Ting Bau telah muncul suatu perasaan ngeri dan takut yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia bertanya:

“Mengapa dia belum mati?”

“Sebab dia adalah Tong Giok!” tiba-tiba Huan Im-san menjawab.

*****

TAHUN ini Huan Im-san berusia lima puluh enam tahun, hampir separuh dari masa hidupnya dia habiskan untuk bergumul dalam dunia persilatan, manusia semacam ini entah dia itu bajik atau jahat, baik atau buruk, paling tidak dia masih memiliki suatu kebaikan. Manusia semacam ini tentu tahu keadaan, tentu tahu diri.

Oleh karena itu dia sangat memahami kedudukan serta posisinya pada waktu itu, dia selalu berdiri di samping dengan mulut membungkam, sepatah katapun tidak bersuara.

Tapi dia masih ingin hidup terus, hidup lebih baik dan hidup lebih nyaman, kalau muncul suatu kesempatan di hadapannya, dia tak akan menyia-nyiakannya dengan begitu saja.

“Karena dia adalah Tong Giok, maka dia belum mati?” kata Ting Bau keheranan. “Benar!” Huan Im-san manggut-manggut.

“Apakah karena Thian sengaja hendak menggunakan cara ini untuk menghukum manusia seperti itu?”

“Bukan!”

“Lantas karena apa?” “Karena dia adalah anggota keluarga Tong, yang terkenapun racun dari keluarga Tong, maka dalam tubuhnya terdapat semacam serum yang memiliki kekuatan untuk menghadapi sifat racun tersebut.”

“Memiliki daya tahan terhadap racun itu?”

“Yaa, bila setiap hari kau minum endrin dan kadarnya setiap hari kau tambah, maka lama- kelamaan kau tak akan mampus bila suatu ketika ada orang hendak meracunimu dengan endrin, karena tubuhmu sudah memiliki daya tahan terhadap daya kerja racun tersebut.” 

“Kalau memang Tong Giok sudah memiliki daya tahan terhadap racun yang dipoleskan di ujung senjata rahasia tersebut, mengapa ia dapat berubah seperti ini?”

“Obat racun yang dipakai keluarga Tong untuk memolesi senjata rahasianya adalah suatu rahasia besar, belum pernah ada orang di dalam dunia persilatan yang mengetahui rahasia mereka.”

“Termasuk juga dirimu?”

“Tidak, aku mengetahui hal ini dengan pasti, bila obat racun yang dipoleskan pada ujung senjata rahasia itu adalah sejenis resep baru, sekalipun Tong Giok sudah memiliki daya tahan terhadap racun-racun yang lain, belum tentu daya tahannya itu bermanfaat untuk dipakai dalam menghadapi racun baru.” Setelah berpikir sebentar kembali dia melanjutkan:

“Apa lagi campuran bahan racun yang mereka gunakan bukan saja sangat rahasia lagipula amat hebat, ada sementara racun yang saling berlawanan, ada pula sementara racun yang dikombinasikan bisa berubah menjadi sejenis racun yang hebatnya bukan kepalang, racun semacam itu meski tak sampai merenggut jiwanya, tapi dapat menghancurkan seluruh jaringan syaraf dan perasaan yang berada di dalam tubuhnya, bahkan bisa membuat segenap otot, segenap nadi dan persendian tulangnya menjadi kaku dan hilang rasa.”

“Oleh karena itu dia baru berubah menjadi seorang manusia yang setengah hidup setengah mati?” tanya Ting Bau.

“Yaa, oleh karena sebagian besar indera dan anggota badannya sudah hilang rasa dan terputus dari kendali syaraf di dalam otaknya maka badannya sama dengan sesosok mayat, hanya denyutan jantungnya yang masih bisa berdetak.”

Ting Bau menatapnya tajam-tajam kemudian katanya:

“Tidak kusangka kalau kau memiliki pengetahuan yang demikian luas terhadap obat beracun, apakah kau juga pernah membuat racun?” “Aku belum pernah membuat racun, tapi membuat racun atau membuat obat kuat teorinya adalah sama saja.”

Setelah menghela napas panjang, kembali katanya:

“Bagi seseorang yang membuat obat kuat, asal dia teledor sedikit saja maka akibatnya juga bisa berubah seperti begini ini.”

“Bukankah hal ini sama halnya dengan bermain api?”

“Orang yang bermain api tak akan menjumpai bahaya sebesar ini,” jawab Huan Im-san sambil tertawa getir.

“Kalau sudah tahu begitu mengapa kau masih melatihnya terus?”

Huan Im-san termenung, lewat lama sekali dia baru menjawab dengan wajah sedih: “Sebab aku telah terlanjur melatihnya!”

Yaa, karena ibaratnya menunggang di punggung harimau, mau turun takut, tidak turunpun susah, benar-benar serba salah jadinya.

Dalam dunia ini masih terdapat kejadian lain yang serupa dengan kejadian seperti itu, asal kau sudah memulainya maka selama hidup jangan harap bisa dihentikan lagi.

*****

BILA kau menghadapi seorang manusia yang setengah hidup setengah mati, entah dia itu sahabatmu ataukah seorang musuh bebuyutanmu, yang jelas kejadian ini merupakan suatu persoalan.

“Orang ini seperti sudah mati, seperti juga belum mati, aku benar-benar tak tahu bagaimana harus berbuat!” Ting Bau mengeluh dengan nada mendatar.

“Aku tahu!” tiba-tiba Bu-ki menjawab. “Apa yang hendak kau lakukan?” “Aku hendak mengantarnya pulang!” “Pulang? Pulang kemana?”

“Dia adalah anggota keluarga Tong, sudah barang tentu aku harus mengantarnya pulang ke keluarga Tong.” Ting Bau tertegun.

Telinganya maupun matanya masih cukup awas dan jeli, tapi sekarang hampir saja ia tak percaya dengan telinganya sendiri, ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

“Apa kau bilang?” tak tahan tanyanya lagi.

Sepatah demi sepatah kata Bu-ki mengulangi kembali jawabannya. “Aku bilang, aku hendak mengantarnya pulang ke keluarga Tong.” “Kau hendak mengantar sendiri sampai ke benteng keluarga Tong?” “Benar!”

Minyak dalam lentera telah mengering, sinar rembulan yang redup kembali memancar kedalam ruangan, kuil dewa harta yang kuno dan bobrok itu seakan-akan tampak lebih cantik.

Mereka belum pergi meninggalkan tempat itu. Entah siapa yang mengusulkan:

“Kenapa kita tidak duduk-duduk saja di sini? Bercakap-cakap sambil minum sedikit arak?”

Maka Huan Im san segera berebut untuk pergi menyediakan arak. Seorang kakek berusia lima puluh enam tahun ternyata berebut untuk pergi menyediakan arak bagi tiga orang pemuda ingusan, kalau dulu mungkin dia akan merasa bahwa kejadian ini terlalu brutal, ia pasti tak akan tahan.

Tapi sekarang keadaannya berbeda.

Ia percaya Bu Ki dan Ting Bau pasti tak akan mengingkari janji, juga tak akan menyinggung kembali kejadian lampau, membuat perhitungan dengannya atau merenggut selembar jiwanya, tapi hal tersebut bukan berarti mereka sudah sama sekali memaafkan kekhilapannya.

Ditinjau dari nada pembicaraan mereka, ia masih dapat menangkap perasaan pandang hina mereka terhadap dirinya. Tapi sekarang ia sudah tak sanggup untuk mempersoalkan hal itu lagi.

Sekarang ia cuma berharap, mereka memperbolehkannya pulang ke desa, di sana siapa pun tak akan tahu kalau ia pernah menjadi pengkhianat, orang-orang desa masih akan seperti dulu menghormatinya dan menganggapnya sebagai teman. Sekarang dia baru tahu, seseorang tidak seharusnya melakukan suatu perbuatan yang mengkhianati teman sendiri, kalau tidak maka diri sendiri pun mungkin tak akan memandang sebelah mata terhadap dirinya sendiri.

Ia sudah mulai menyesal.

Tong Giok sudah digotong ke atas meja altar dalam kuil dewa harta yang bobrok itu, bahkan Bu-ki telah merobek selembar kain tirai dalam kuil tersebut guna menyelimuti tubuhnya.

Entah dari mana datangnya beberapa buah bantal duduk, ternyata Kwik Ciok ji berhasil mendapatkannya dan sedang duduk bersila di situ sambil memandang Bu-ki.

Tiba-tiba ia bertanya.

“Tahukah kau, belakangan ini aku sering kali mendengar orang lain membicarakan tentang dirimu?”

“Sungguh tak kusangka, ternyata aku pun telah menjadi seorang yang ternama,” sahut Bu-ki sambil tertawa.

Bila seseorang sudah mulai ternama, sering kali dia sendiri malah tidak mengetahuinya, seperti pula di kala namanya sudah mulai runtuh dan mengalami kehancuran, dia sendiri juga tidak akan mengetahuinya.

“Ada orang menuduhmu sebagai seorang lelaki hidung belang, karena pada hari pernikahanmu kau masih pergi bermain lonte,” kembali Kwik Ciok-ji berkata.

Bu-k segera tertawa, dia tidak mengakui akan kebenarannya, pun tidak bermaksud untuk menyangkal.

“Ada orang menuduhmu sebagai seorang penjudi, selama masih berada dalam masa berkabung kau telah pergi ke rumah perjudian untuk bermain gundu. ”

Kembali Bu-ki cuma tertawa.

“Ada orang menuduh kau bukan saja tak berperasaan dan tak setia kawan, bahkan sangat egois, terlalu mementingkan diri sendiri bahkan terhadap anak kandung sendiri serta istri pun tidak menaruh perhatian, bahkan ada orang yang berani bertaruh, katanya sekali pun kau menyaksikan mereka berdua tewas di hadapanmu pun, kau tidak akan mengucurkan air mata.”

Bu-ki masih belum bermaksud untuk menyangkal.

“Oleh karena itu semua orang beranggapan bahwa kau adalah seorang manusia yang amat berbahaya, sebab kau dingin, kaku dan tidak berperasaan, terlalu pandai menguasai diri dan pintar mengatur siasat licin, bahkan manusia semacam Ciu Jit sauya yang tersohor sebagai seorang rase tua pun pernah jatuh pecundang di tanganmu.”

Setelah berpikir sebentar, kembali dia berkata:

“Tapi semua orang juga mengakui akan suatu kebaikan yang terdapat pada dirimu, kau sangat memegang janji, tak pernah berhutang kepada orang lain, pada saat perkawinanmu dulu, kau malah mengundang datang semua pemilik hutang untuk membereskan semua perhitungan baru maupun lama yang telah dibuat selama itu.”

Bu-ki segera tersenyum, sahutnya:

“Mungkin hal itu dikarenakan aku telah menduga bahwa mereka pasti tak akan mendesakku terlalu terburu-buru dalam hari semacam itu, karena mereka semua bukan termasuk manusia- manusia bengis yang berhati busuk.”

“Maksudmu, hal tersebut cuma menandakan kalau kau pandai sekali memanfaatkan kesempatan dan pandai mempergunakan titik kelemahan orang, maka sengaja kau memilih hari itu untuk mengundang mereka membuat perhitungan?”

“Ya, walaupun perbuatanku ini sedikit agak menyerempet bahaya, tapi paling tidak jauh lebih baik daripada harus menunggu kedatangan mereka dengan hati yang kebat-kebit tidak karuan.”

“Entah bagaimana pun juga, sikapmu terhadap Ting Bau terhitung cukup baik, orang lain tidak memandang sebelah mata terhadap mereka, semua orang menganggapnya sebagai seorang anak jadah yang tidak berbakti, seorang pengkhianat perguruan, tapi kau telah menganggapnya sebagai seorang sahabat.”

“Mungkin aku bersikap demikian karena aku ingin menggunakan dirinya untuk menyelesaikan persoalan yang sedang kuhadapi, oleh karena itu terpaksa aku harus mempercayainya, terpaksa harus mencarinya untuk minta bantuan, sehingga Tong Giok dan Huan Im san baru terperangkap oleh siasat yang kuatur.”

Setelah tertawa, kembali dia berkata:

“Apalagi aku sudah tahu sedari dulu bahwa dia bukan seorang anak jadah, juga bukan seorang pengkhianat perguruan, dari sekian banyak kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan tentang dirinya, semuanya itu sebetulnya masih ada rahasia lain.”

Tentu saja Kwik Ciok-ji juga mengetahui tentang persoalan ini: Ting Bau meninggalkan rumahnya lantaran dia menemukan penyelewengan yang dilakukan ibu tirinya. Ia telah membunuh kekasih ibu tirinya, memaksa ibu tirinya mengangkat sumpah untuk selamanya tidak melakukan perbuatan terkutuk lagi, tapi untuk menghindari rasa sedih ayahnya yang sudah tua, ia telah merahasiakan kejadian tersebut.

Atas peristiwa itu, ayahnya malah mengira dia berani berbuat kurang ajar dan kurang sopan terhadap ibu tirinya.

Maka terpaksa dia harus angkat kaki dari rumah.

Ia mengkhianati perguruan, karena ada orang mencemooh Kim ki tojin, ia tak tahan maka ditantangnya orang itu untuk berduel mewakili gurunya, tapi dalam pertempuran tersebut sebuah lengannya terpenggal sampai kutung, maka gurunya mengusir dia dari partai Bu-tong, karena ia sudah menjadi cacad dan tidak pantas untuk melatih ilmu pedang aliran Bu-tong-pay lagi.

“Siapapun juga yang mengalami peristiwa semacam ini, tabiatnya pasti akan berubah menjadi begitu,” kata Bu-ki, “tapi justru manusia semacam ini, bila orang lain memberi sedikit kebaikan saja kepadanya, bahkan ia rela untuk memenggal batok kepala sendiri dan dipersembahkan kepada orang lain.”

“Apakah lantaran siasat ini, maka kau baru berbuat baik kepadanya?” kembali Kwik Ciok-ji bertanya.

“Paling tidak itulah salah satu siasatnya.”

“Kalau didengar dari perkataanmu itu, agaknya bahkan kau sendiripun menganggap dirimu bukan orang baik?”

“Aku memang bukan orang baik-baik!”

Kwik Ciok-ji menatapnya lekat-lekat, mendadak ia menghela napas panjang, gumamnya: “Sayang … sayang …!”

“Apanya yang sayang?”

“Sayang terlampau sedikit orang jahat macam kau ada di dunia ini.”

Ting Bau yang selama ini membungkam segera tertawa, timbrungnya dengan lantang.

“Walaupun Ciok-ji binal lagi latah, paling tidak ia masih memiliki suatu kebaikan, yakni baik atau buruknya seseorang ia masih dapat membedakan secara jelas.” “Ciok-ji ini malah masih bisa membedakan mana yang teman sejati mana yang bukan,” sambung Kwik Ciok-ji cepat-cepat.

Bu-ki menatap kedua orang itu lekat-lekat, kemudian berkata:

“Kamu berdua betul-betul menganggap aku sebagai seorang sahabat sejati?”

“Jika kau bukan seorang sahabat kami, apa gunanya kuajak kau membicarakan soal tetek- bengek macam begitu?” jawab Kwik Ciok-ji.

Bu-ki menghela napas panjang.

“Sungguh tidak kusangka kalau di dunia ini masih terdapat seorang tolol semacam kau, ternyata bersedia mengikat tali persahabatan dengan seorang macam aku ini.”

“Paling tidak orang tolol itu masih lebih mendingan daripada seorang sinting” “Siapa yang sinting?”

“Kau?”

Bu ki segera tertawa tergelak,

“Sebenarnya aku mengira diriku ini tak lebih hanya seorang lelaki hidung bangor, seorang setan judi, tak kusangka ternyata aku juga seorang sinting”

“Kini, sekalipun Sangkoan Jin telah menjadi menantunya keluarga Tong, sedang tiba dimasa masa yang paling gembira baginya, tapi di hati kecilnya pasti masih terdapat persoalan yang tidak menggembirakan hatinya”

“Mengapa?”

“Karena kau belum mati!”

Bila membabat rumput tidak seakar-akarnya, angin musim semi berhembus lewat rumput itu akan tumbuh kembali.

Mereka tidak sekalian membinasakan Bu ki, Sangkaon Jin pasti akan merasa amat menyesal.

“Bila orang orang keluarga Tong tahu atas semua perbuatan yang telah kau lakukan, merekapun pasti amat berharap dapat memenggal batok kepalamu, agar ayah ibu, paman, kakak dan adik Tong Giok ikut menyaksikan tampangmu itu”

Setelah menghela napas terusnya: “Sekarang kau malah hendak mengantar Tong Giok pulang, agaknya kau kuatir kalau mereka tak berhasil menemukan dirimu, jika kau bukan seorang sinting, mengapa kau lakukan perbuatan semacam ini?”

Walaupun Bu ki masih tertawa, namun tertawanya tampak amat lirih, pedih dan mengenaskan.

Hanya seorang manusia yang banyak menyimpan rahasia hati namun tak dapat mengutarakannya keluar baru akan memperlihatkan senyuman semacam ini.

Lama sekali dia tertawa, sampai mukanya terasa linu semua lantaran kebanyakan tertawa.

Tiba-tiba ia tidak tertawa lagi, karena ia telah bertekad untuk menganggap kedua orang ini sebagai sahabatnya.

Walaupun terdapat banyak persoalan yang tak dapat diutarakan kepada orang lain, tapi tak usah dirahasiakan lagi di hadapan seorang sahabat karibnya.

Maka diapun berkata.

“Aku bukan seorang anak yang berbakti. Setelah mendiang ayahku tertimpa musibah, aku tidak bunuh diri di hadapannya, juga tidak mendirikan gubuk di sisi kuburan ayahku untuk menemaninya berkabung, tak pernah melelehkan air mata dan ingus, akupun tak pernah menangis sampai melelehkan darah atau meraung-raung untuk kesana kemari memohon bantuan orang guna membalaskan dendam bagi kematiannya”

Ia memang seperti seorang anak yang tidak berbakti, seakan-akan sudah lupa dengan dendam sakit hatinya.

Tapi dia menganggap menjadi seorang anak yang berbakti bukan dilakukan untuk diperlihatkan kepada orang lain.

Kembali katanya:

“Persoalan ini adalah persoalan pribadiku sendiri, aku tidak ingin merepotkan siapa saja, juga tak ingin membawa Tay hong Tong menuju ke suatu bentrokan secara langsung dengan keluarga Tong lantaran peristiwa ini, karena bila kejadian tersebut sampai berlangsung, tentu banyak darah yang akan mengalir. Siapa membunuh orang dia harus mati, Sangkoan Jin harus menerima hukumannya itu secara pribadi. Itulah sebabnya walaupun karena alasan apapun, aku tak akan melepaskannya begitu saja”

“Maka kau bertekad hendak berangkat ke sana dan mencarinya sendiri...?” tanya Kwik Ciok- Ji. “Kalau memang tiada kekuatan lain yang bisa mencegah dan menghalanginya, terpaksa aku harus turun tangan sendiri”

Kemudian ia melanjutkan:

“Tapi organisasi keluarga Tong terlalu ketat dan rapat, lingkungan kekuasaannya juga terlalu luas. Di dalam benteng keluarga Tong sendiripun terdapat beberapa ratus rumah penduduk, sekalipun aku berhasil menyusupnya ke dalam, belum berarti bisa menemukan langsung diri Sangkoan Jin”

“Konon, benteng keluarga Tong juga diatur seperti benteng kota terlarang, luar dalam semuanya terbagi dalam tiga bagian,pada lapisan yang paling dalam itulah merupakan tempat tinggal dari semua anggota keturunan langsung dari keluarga Tong beserta tokoh-tokoh paling pentingnya ” tutur Kwik Ciok Ji.

“Akupun dengar orang berkata, katanya semua rahasia besar dan keputusan penting dari keluarga Tong seluruhnya diputuskan di situ” Ting-bau menambahkan, “mereka sendiri menyebutkan wilayah tersebut sebagai “kebun”, padahal letaknya jauh lebih berbahaya dari pada sarang naga gua harimau. ”

“Sekalipun anak murid perguruan mereka sendiri, bila tidak mendapat perintah dari atasannya, siapapun dilarang untuk memasuki wilayah terlarang itu”

“Sekarang Sangkoan Jin telah menjadi Koa loya dari keluarga Tong, lagi pula sudah turut serta dalam perundingan-perundingan rahasia mereka, demi keselamatan jiwanya mereka pasti telah mengatur tempat tinggalnya di dalam kebun tersebut”

“Jadi sekalipun kau berhasil menyusup ke dalam benteng keluarga Tong, belum berarti bisa masuk sampai wilayah paling dalam, kecuali ”

“Kecualai aku bisa menemukan seseorang yang bisa mengajakku masuk ke dalam, bukan demikian?” sambung Bu ki.

“Tapi siapakah yang akan membawamu masuk?” seru Kwik Ciok ji.

“Tentu saja harus mencari seorang keturunan langsung dari keluarga Tong. !”

“Mana mungkin ada keturunan langsung keluarga Tong yang bersedia mengajakmu masuk ke dalam? Kecuali diapun turut sinting!”

“Sekalipun sinting juga tak mungkin akan mengajakmu masuk ke dalam ” sambung Ting

Bau. “Tapi bagaimana kalau orang itu sudah mampus?” tiba-tiba Bu ki menyela.

Perkataannya ini kedengarannya rada brutal, untung saja Ting Bau serta Kwik Ciok Ji adalah manusia-manusia yang cerdas.

Sebenarnya mereka sendiripun agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, tapi dengan cepat kedua orang itu dapat memahami arti kata dari Bu ki.

“Tong Giok adalah keturunan langsung dari keluarga Tong” demikian Bu ki menerangkan, “bila kuantar mayatnya pulang ke rumahnya, orang - orang keluarga Tong pasti akan mengundangku masuk ke dalam kebun belakang untuk ditanyai sebab sebab kematiannya, siapa yang membunuhnya, dan mengapa aku mengirim pulang mayatnya?”

Setelah tertawa dia melanjutkan:

“Tentu saja orang yang akan mememeriksa diriku itu adalah manusia manusia penting yang mengatur kehidupan keluarga Tong dewasa ini, maka pertanyaan semacam ini tak nanti akan mereka lepaskan dengan begini saja”

“Lantas apa hubunganmu dengannya?” tanya Kwik Ciok Ji. “Tentu saja aku adalah sahabat karibnya!”

Setelah tersenyum, dia melanjutkan:

“Sepanjang jalan, pasti banyak orang yang menyaksikan aku berada bersamanya, sore tadi aku malah bersantap dan minum arak bersamanya. Siapapun juga yang berteman dengan kami pasti akan menganggap kami sebagai sahabat karib. Andaikata pihak keluarga Tong mengutus orang untuk melakukan penyelidikan, maka pasti akan terdapat banyak orang yang menjadi saksi”

“Oooh..., rupanya semua itu sudah berada dalam rencanamu, sampai -sampai bersantap dan minum arakpun berada dalam perhitungan”

“Sekarang, walaupun kita telah berhasil menemukan semua orang orang keluarga Tong yang menyusup kemari, tapi untuk sementara waktu kita tak akan turun tangan untuk menghadapi mereka sebab. ”

“Sebab kau membutuhkan mereka untuk dijadikan saksi bagimu, membuktikan bahwa kau adalah sahabatnya keluarga Tong” sambung Kwik Ciok ji cepat.

“Ya, oleh karena mereka semua tidak kenal dengan diriku, tentu saja tak akan mereka ketahui kalau aku ini adalah Tio Bu ki” Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan keterangannya:

“Dalam setahun belakangan ini, wajahku telah banyak mengalami perubahan, kalau namakupun kuganti, lalu sedikit berdandan agak aneh, tanggung sekalipun dulu ada orang pernah berjumpa denganku, mereka tak akan mengenali diriku lagi”

Kwik Ciok ji termenung sejenak, lalu manggut-manggut.

“Kedengarannya rencanamu itu memang bagus dan sempurna, agaknya kau telah melupakan sesuatu hal”

“Coba kau katakan!”

“Sampai detik ini Tong Giok kan belum mampus!” “Belum mampus justru lebih baik lagi!” “Mengapa?”

“Sebab dalam keadaan begini, orang-orang dari keluarga Tong tentu akan semakin percaya kepadaku, mereka lebih tak akan menaruh curiga kalau aku adalah Tio Bu-ki”

Setelah tersenyum terusnya,: “Sebab kalau aku adalah Tio Bu-ki, mengapa kuantar dia pulang ke benteng keluarga Tong dalam keadaan hidup?”

“Masuk akal juga perkataanmu itu!”

“Inilah yang dinamakan orang sebagai ‘Sesuatu yang telah mati tahu-tahu bangkit kembali’, walaupun dengan jelas diketahui bahwa tindakan semacam ini tak masuk akal, tapi aku justru dapat melakukannya, itulah disebabkan karena aku ingin orang lain sama sekali tidak menduganya…..”

Kwik Ciok-ji menghela napas panjang, bisiknya kemudian: “Aaaai,,,..! Sekarang agaknya bahkan akupun merasa rada kagum kepadamu…..”

Bu-ki segera tertawa lebar, “Jangankan kau, malah aku sendiripun kadang kala merasa kagum terhadap diriku sendiri”

“Oleh sebab itu, asal kau telah berangkat ke benteng keluarga Tong bersama Tong Giok, aku akan menangis tersedu-sedu selama tiga hari lamanya”

“Mengapa harus menangis?” “Dengan pasti kau tahu kalau kepergianmu ini cuma mengantar kematian belaka, tapi aku justru tak bisa menghalanginya, mengapa aku tak boleh menangis?”

“Bukankah tadipun kau menganggap rencanaku ini sangat bagus? Mengapa sekarang mengatakan pula kalau kepergianku ini cuma pergi mengantar kematian?”

“Sebab Tong Giok belum mampus, walaupun ia sudah tak mampu berbicara lagi sekarang, juga tak bisa berkutik, tapi akhirnya penyakit yang dideritanya itu toh akan disembuhkan juga”

“Yaa betul!” Ting Bau menambahkan, “Racun yang bersarang dalam tubuhnya adalah racun dari keluarga Tong sendiri, sudah barang tentu pihak keluarga Tong memiliki obat penawar untuk menolongnya”

“Tentang masalah ini, aku bukannya tak pernah memikirkan” “Lantas mengapa kau masih melanjutkan rencana itu?”

“Sebab kemungkinan untuk apa yang kalian katakan terlalu kecil, ia sudah keracunan hebat, sekalipun ada pil dewa juga belum tentu bisa menyembuhkan penyakitnya itu, sekalipun dibilang akhirnya penyakit itu bisa disembuhkan, paling tidak juga harus memakan waktu yang cukup lama, waktu itu kemungkinan besar aku telah berhasil membinasakan Sangkoan jin…..”

“Kau hanya bisa mengatakan ‘kemungkinan besar’ kau berhasil membunuh Sangkoan Jin?” “Yaa betul!”

“Apakah Tong Giok juga ‘kemungkinan besar’ bisa disembuhkan dengan cepat?” “Mungkin saja!”

“Asal dia bisa membuka suara dan mengucapkan sepatah kata saja, bukankah kematianmu sudah pasti akan tiba?”

Buki segera tertawa lebar, katanya: “Siapa yang mengatakan kalau pekerjaan ini bukan suatu pekerjaan yang menyerempet bahaya? Sekalipun kau sedang makan telur ayam juga ‘ada kemungkinan’ untuk mati, apalagi dalam menghadapi manusia semacam Sangkoan Jin?”

Kwik Cik-ji segera tertawa getir. “Tampaknya semua perkataan yang kau ucapkan selalu masuk akal!” serunya.

“Itulah sebabnya lebih baik kau berkelahi denganku, dari pada mengajakku untu membicarakan soal cengli” Setelah tersenyum, kembali katanya: “Tentu saja kau tidak akan berkelahi denganku, karena kita toh bersahabat”

“Kalau memang kita bersahabat, pantaskah kalau kamipun menemanimu untuk pergi menyerempet bahaya?”

Tiba-tiba Bu-ki menarik wajahnya lalu berseru, “Kalau begitu, kalian bukan sahabat- sahabatku!”

Ia dingin, ia ketus dan tidak berperasaan, bahkan terhadap Cian –cian dan Hong-nio pun begitu tak berperasaan, hal ini tak lain karena dia tak ingin menyusahkan pula orang lain.

Tiba-tiba Kwik Ciok-ji mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…haaahhh…haaaahhh…. padahal sekalipun kau memohon kepadaku untuk menemanimu, belum tentu aku bersedia. Aku masih ingin hidup secara baik-baik, mengapa harus menemanimu untuk pergi mengantar kematian?”

“Padahal akupun belum tentu pergi untuk mengantar kematianku”

“Sekalipun kau sanggup membinasakan Sangkoan Jin dan membalaskan sakit hati ayahmu, apakah kau anggap masih bisa lolos dari benteng keluarga Tong dalam keadaan selamat?”

“Mungkin saja aku mempunyai akal!”

“Satu satunya cara yang bisa kau lakukan hanya memasukkan dirimu ke dalam sebutir telur, lalu memasukkan telur itu ke dalam perut ayam serta membiarkan ayam tersebut membawamu keluar dari sana”

Ia tertawa tergelak tiada hentinya seakan-akan menjumpai suatu kejadian yang lucu sekali, tertawa terus sampai orang mengira dia hampir mati tersumbat baru menghentikannya.

Kemudian setelah mendelik ke arah Bu-ki, tiba-tiba serunya dengan suara keras: “Sejak kini, kita sudah bukan sahabat lagi!”

“Kenapa?”

“Mengapa aku harus bersahabat dengan seseorang yang sudah hampir mampus? Kenapa aku harus bersahabat dengan seorang sinting yang sudah mendekati liang kuburnya?”

Kembali ia tertawa terbahak-bahak, tertawa sambil melompat bangun lalu tanpa berpaling lagi beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Ternyata Bu-ki sama sekali tidak berniat untuk menghalanginya. Ting Bau menghela napas panjang, katanya pula sambil tertawa getir. “Ia menuduh orang lain sinting, padahal dia sendiri baru sinting, seorang sinting yang seratus persen tidak waras otaknya”

Bu-ki masih saja tersenyum, katanya pula: “Untung saja di sini masih ada seseorang yang belum sinting dan tak mungkin secara tiba-tiba akan menjadi sinting”

“Siapa?” “Tong Giok?”

SARANG HARIMAU

Bulan empat tanggal sembilan belas, hujan. Tiada akhir jaman untuk penyair.Menunggang keledai saat hujan rintik menuju Kiam bun.

Sekalipun Bu-ki bukan seorang penyair, juga tak memiliki kesantaian seperti Liok Siau Hong yang suka membuat syair, tapi diapun di bawah hujan rintik, sambil membawa payung kertas dan menunggang keledai memasuki Kiam-bun di wilayah Szechwan.

Kiam-bun-kwan merupakan suatu tempat yang paling curam dan berbahaya, puncak bukit yang tajam dan lurus serasa menjulang ke angkasa. Barisan bukit yang berdiri mengelilingi tempat itu sungguh membuat orang merasa bergidik untuk melaluinya.

Keluar dari Kiam bun kwan, pohon cemara tumbuh sepanjang jalan yang berpuluh puluh li jauhnya itu.

Seorang kuli panggul peti mati lantas memberi tahu kepadanya: “Tempat inilah yang dinamakan Thio-hui pak, suatu barisan pohon cemara yang ditanam sendiri oleh Thio sam-ya di jaman Sam kok dulu…”

Orang Szechwan paling menghormati Cu-kat-Bu-ho atau yang lazim lebih dikenal sebagai Khong Beng. sejak meninggalnya Cu-kat-Bu-ho tersebut, setiap orang Szechwan selalu mengenakan ikat kepala putih sebagai tanda berkabung, hingga kini kebiasaan tersebut tak pernah berubah.

Oleh karena semua orang menghormati Cu-kat Khong Beng, otomaatis Thio Hui juga turut dihormati orang.

Tapi mengapa Bu-ki bisa membawa sebuah peti mati datang ke situ…? Peti mati yang baru tersebut dari kayu jati berkwalitas paling bagus, secara khusus Bu-ki mengundang empat orang kuli yang terbaik untuk menggotongnya dengan imbalan tinggi. Sebab di dalam peti mati itu berbaringlah sahabatnya yang paling baik….. sahabatnya ini pasti tak akan menjadi sinting. Dalam peti mati itu bukan saja aman dan nyaman, lagipula tak bakal kehujanan, bila ada urusan ingin dipikirkan secara tenang orang lainpun tak akan mengganggunya.

Kalau boleh, Bu ki sendiripun ingin sekali berbaring di dalam peti mati.

Walaupun dia tidak seperti Sugong Siau hong, tidak takut memikul petinja, tidak takut kehujanan. Tapi dia mempunyai banyak persoalan yang membutuhkan tempat sepi untuk dipikirkan.

Setibanya di Benteng keluarga Tong, cerita macam apakah yang harus dikarang olehnya?

Cerita tersebut selain harus bisa menarik perhatian orang-orang keluarga Tong, juga mesti membuat mereka mempercayainya seratus persen.

Sudah jelas pekerjaan semacam itu bukan suatu perbuatan yang gampang, yang bisa dipikirkan oleh setiap orang ....

Masih ada pula Harimau kemala putih tersebut. Harimau kemala putih yang dititipkan kepadanya oleh Sugong Siau hong dan berpesan agar diserahkan sendiri ke pada Sangkoan Jin tersebut.

Mengapa Sugong Siau hong memandang begitu penting atas sebuah patung Harimau kemala putih?

Sugong Siau hong bukan seorang manusia yang tak tahu membedakan mana yang penting mana yang tidak, tak mungkin dia akan melakukan suatu perbuatan yang mengherankan.

Sesungguhnya rahasia apakah yang terkandung dibalik Harimau kemala putih tersebut?

Hujan gerimis dan angin kencang berhembus lewat menerpa di atas wajahnya, tanpa terasa Kiam bun kwan sudah jauh tertinggal di belakang sana.

Tiba-tiba Bu ki teringat dengan dua bait syair yang cukup memilukan hati: “Setelah keluar dari Giok bun kwan. Air mata bercucuran tak pernah mengering”

Sekalipun tempat ini bukan Giok bun kwan, tempat ini adalah Kian bun kwan, tapi setelah keluar dari tempat tersebut, untuk kembali dalam keadaan hidup rasanya lebih sulit daripada naik kelangit.

Tiba-tiba Bu ki teringat kembali dengan Cian cian. Ia tak berani memikirkan Hong nio, dia benar-benar tidak berani untuk memikirkannya.

“Rindu” saja sudah merupakan suatu siksaan yang merasuk tulang, apalagi “Tak berani merinduinya” entah bagaimana tersiksanya keadaan tersebut ?

Cinta seringkali memang mendatangkan kesedihan dan kesengsaraan.

Kalau kau sudah tak dapat bercinta, juga tak berani bercinta, sekalipun rasa cinta tersebut merasuk sampai ke tulang, kau juga hanya dapat memendam perasaan tersebut di dalam hati, agar cinta tersebut membusuk di dalam hati dan mati di dalam hati.

Lalu bagaimana pula perasaannya waktu itu?

Tiba-tiba Bu ki membuang payung kertasnya, membiarkan air hujan yang dingin membasahi sekujur badannya.

Angin dan hujan tak berperasaan tapi ada berapa orangkah yang benar-bbenar merasakan ketidak berperasaan tersebut?

Tiba-tiba ia teringat untuk minum arak.

Arak itu sejenis arak yang keras, mana keras pedas lagi.

Minum arak sambil makan cabe, makan sebiji cabe minum seteguk arak, itu baru sedap rasanya.

Cabe itu berwarna merah mengkilap, butiran keringat yang membasahi jidatnya juga merah bercahaya.

Untuk dipandang, Bu ki memang merasa amat sedap, tapi setelah ia sendiri merasakannya, baru diketahui bahwa cara makan seperti ini tidaklah sesedap apa yang dibayangkan semula.

Ia sudah kepedasan sehingga seluruh rambutnya seakan-akan telah “berdiri” semua. Di wilayah tersebut, hampir setiap orang minum arak dengan cara semacam itu.

Kecuali cabe merah, agaknya di wilayah tersebut seakan-akan tidak terdapat barang lain yang bisa dipakai sebagai teman minum arak.

Oleh karena itu, meski ia sudah kepedasan sehingga hampir saja rambutnya menembusi kopiah terpaksa ia musti menguatkan kepalanya untuk bertahan lebih jauh.

Dia tidak ingin memberi kesan kepada orang lain sebagai seorang manusia yang “tak becus”. ***** PERJALANAN menuju ke Szechwan susah diliputi.

Hampir seluruh wilayah Szechwan terdapat tanah perbukitan yang tinggi dan curam, tempat dimana Bu ki berhenti sambil minum arak juga berupa suatu tanah perbukitan, sebuah barak yang dibangun dengan bambu sebesar lengan serta kain tenda berwarna putih.

Empat penjuru sekeliling tempat itu merupakan rumput nan hijau, ketika angin sejuk berhembus lewat, segera mendatangkan suasana yang amat nyaman.

Dalam suasana musim panas seperti ini orang yang melakukan perjalanan gampang menjadi lelah. Bisa mencari tempat semacam ini untuk beristirahat, memang merupakan suatu hal yang lumayan.

Sekarang, walaupun udara tidak terhitung panas, tapi sebagian besar orang yang lewat disitu mesti akan berhenti sejenak untuk minum secawan dua cawan arak cabe sebelum melanjutkan kembali perjalanannya.

Perjalanan terlalu bahaya, kalau terlalu curam dan susah dilewati, siapa yang tak ingin beristirahat sambil bersantai santai bila ada kesempatan untuk itu?

Kehidupan manusia ibaratnya melakukan suatu perjalanan yang jauh.

Dalam perjalanan hidup manusia yang penuh dengan kesulitan dan rintangan, ada berapa orangkah yang bisa menemukan tempat beristirahat sebagus ini?

Kadangkala sekalipun kau berhasil menemukannya, belum tentu dapat beristirahat dengan santai, sebab di belakangmu telah siap sebuah cambuk yang akan mengejarmu untuk bergerak lebih maju.

Kehidupan itu sendiri sesungguhnya adalah sebuah cambuk, tanggung jawab terhadap keluarga, tugas kehidupan, kejayaan pekerjaan, sandang pangan anak istri, simpanan untuk masa depan... semuanya bagaikan sebuah cambuk yang mengejar dirimu dari belakang.

Dapatkah kau beristirahat barang sejenak saja dari kejaran kejaran tersebut?

Bu ki menghabiskan arak pedas dalam mangkuknya dalam sekali tegukan, baru saja akan memesan semangkuk lagi, tiba tiba ia menyaksikan ada sebuah “usungan mendaki ke atas bukit”

Yang dimaksudkan usungan bukanlah tandu. Usungan adalah semacam alat tansport di wilayah Szechwan yang terhitung amat istimewa bentuknya, usungan itu terdiri dari dua batang bambu besar yang di atasnya terdapat sebuah bangku yang terbuat dari bambu.

Manusianya duduk di atas bangku tersebut. Entah berapapun berat badan orang itu, betapa sulitnya perjalanan yang harus ditempuh, si pemikul usungan tersebut pasti sanggup untuk menggotongmu ke atas.

Karena orang orang yang melakukan pekerjaan semacam ini, bukan saja harus memiliki suatu kepandaian yang istimewa, lagipula mereka semua adalah orang orang yang sangat berpengalaman.

Semenjak dahulu kala, Bu ki sudah pernah mendengar kisah kisah tentang usungan tersebut tapi ia tak pernah mau mempercayainya.