Harimau Kemala Putih Jilid 21

Jilid 21  

“Sekarang kau tampak seperti sebuah sasaran pembidik hidup, andai kata di sini benar-benar ada jago dari keluarga Tong, sekalipun seorang bocah yang berusia tiga tahun juga sanggup untuk menghajar tubuhmu sehingga muncul tujuh delapan buah lubang di atas badan”.

Setelah menghela napas panjang, kembali terusnya:

“Sayang sekali di dalam sakuku sama sekali tidak menggembol senjata rahasia, karena aku sesungguhnya bukan orang dari keluarga Tong.”

Paras muka Ting Bau berubah hebat, seakan-akan seekor domba yang mendadak mengetahui bila dirinya telah terjatuh ke mulut macan, bukan saja kaget dan gugup, dia pun menunjukkan wajah ketakutan.

Dia ingin meloloskan pedangnya. Baru saja jari-jari tangan itu meraba di atas gagang pedang, telapak tangan baja dari Bu-ki telah memenggal di atas nadi besar pada tengkuk sebelah kirinya, cara yang dia gunakan sama cepatnya dan sama tepatnya seperti apa yang telah dilakukan Ting Bau terhadap Huan Im-san tadi.

Satu-satunya yang berbeda adalah Bu-ki mempunyai dua tangan, di tangan yang lain membawa sebuah pisau, sebilah pisau belati yang terhunus.

Mata pisau yang tiga inci enam hun panjangnya itu telah menembusi pinggang Ting Bau.

*****

MULUT HARIMAU

GAGANG pisau masih menempel pada pinggang Ting Bao, tempat itu persis merupakan suatu tempat yang mematikan, mata pisau sama sekali terbenam di dalam perutnya.

Tong Giok mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah Tio Bu-ki dengan terkejut, dia sama sekali tidak menyangka kalau cara kerja Tio Bu-ki ternyata begitu keji dan kejam.

Sepintas lalu ia sama sekali tidak mirip dengan seseorang yang berhati sekejam itu.

Bacokan telapak tangan di belakang tengkuk sebelah kirinya sudah cukup mematikan, kenapa ia masih menambah dengan tusukan belati lagi?

Tiba-tiba Tio Bu-ki berkata:

“Sebenarnya aku tak ingin membinasakan dia.” Jelas ia telah dapat membaca suara hati Tong Giok, maka lanjutnya lebih jauh: “Aku juga tahu seharusnya membiarkan dia tetap hidup.”

“Lantas kenapa kau telah membunuhnya?” tanya Tong Giok dengan wajah keheranan. “Karena orang ini terlalu berbahaya!”

Dalam hal ini Tong Giok pun merasa setuju dengan pandangannya. “Untuk menghadapi manusia semacam ini jangan sekali-kali beri kesempatan baginya untuk melancarkan serangan balasan,” Bu-ki kembali menerangkan.

“Karena dia sendiripun tak akan memberi peluang bagimu untuk melancarkan serangan balasan,” Tong Giok menambahkan.

“Yaa, andaikata dia mempunyai dua buah tangan, diapun pasti akan memberi sebuah tusukan belati lagi keperut Huan Im-san!”

Untung saja Ting Bau hanya mempunyai sebuah tangan.

Dada Huan Im-san tampaknya masih bergerak naik turun, agaknya dia masih bernapas, tapi tidak diketahui apakah jantungnya masih berdetak atau tidak?

Bu-ki membungkukkan badannya sambil mengangkat tubuh orang itu, menempelkan telinganya pada dada orang, dia berharap bisa mendengar debaran jantungnya.

Tong Giok sedang mengawasi pula diri Bu-ki.

Sekarang Bu-ki berdiri membelakanginya, jaraknya dari tempat ia berdiri hanya tiga depa saja.

Dalam keadaan begini Bu-ki sudah menjadi sebuah sasaran pembidik yang paling baik, jangankan dia seorang ahli, sekalipun bocah yang berumur tiga tahun juga bisa menimpuk sasaran itu dengan telak.

Tangan Tong Giok sudah mulai merogoh ke dalam sakunya.

Sekarang ia sedang berdandan sebagai seorang pria, tentu saja ia tak dapat mengenakan tusuk konde emas itu di atas sanggulnya.

Maka tusuk konde emas itu disisipkan ke dalam ujung bajunya.

Ketika tangannya menyusup ke balik pakaian, dia bersiap-siap untuk mematahkan tusuk konde emas itu, asal ujung jarinya menekan dengan keras, dari ujung tusuk konde emas itu akan meleleh keluar selapis minyak lilin yang segera akan melindungi telapak tangannya, kemudian diapun dapat mematahkan tusuk konde itu menjadi dua bagian.

Dengan cepat tangannya akan dipenuhi dengan segenggam pasir beracun, itulah pasir beracun Ngo-tok-toan-hun-see (pasir lima racun pemutus nyawa) yang paling tenar dari keluarga Tong.

Bila pasir beracun itu ia sebarkan kemuka, sekalipun menyebarkan dengan mata terpejam, tak bisa diragukan lagi Bu-ki pasti akan mati konyol di tangannya.

Untung saja pasir beracun itu tidak jadi disebarkan keluar, sebab dia masih belum melupakan si Dewa harta.

Dalam hatinya sekarang, domba yang paling besar dan paling diharapkan saat ini sudah bukan To Bu-ki lagi, melainkan si Dewa harta.

Hanya Tio Bu-ki yang dapat menuntun domba tersebut menuju ke mulut macannya. Sebelum si Dewa harta munculkan diri, dia mana boleh dibikin mampus duluan?

Tangan Tong Giok pelan-pelan dikeluarkan lagi dari balik pakaiannya, bagaimanapun juga si Dewa harta segera akan tiba, bagaimanapun Tio Bu-ki sudah terjatuh dalam cengkeramannya.

Ia sama sekali tidak gelisah atau terburu napsu, dia hanya merasakan semacam rangsangan, semacam dorongan napsu yang aneh sekali, seakan-akan seorang janda yang mengharapkan pelukan hangat dan tindihan mesra dari seorang lelaki.

Ternyata jantung Huan Im-san masih berdetak, sebenarnya masih lambat dan lemah debarannya, tapi lambat laun telah pulih kembali seperti sedia kala.

Bahkan dia sudah bisa bangkit berdiri. Menyaksikan keadaan Ting Bau yang mengenaskan, dia masih memperlihatkan rasa sedih dan pedihnya yang tebal, katanya dengan lirih: “Sebenarnya dia adalah seorang yang pintar, sayang dia terlalu pintar, coba kalau dia bodoh sedikit saja, mungkin nasibnya tak akan menjadi begini rupa.”

Ucapan tersebut masih bisa diterima dengan otak, tapi Bu-ki enggan membicarakan persoalan semacam itu dengannya.

“Dia adalah seorang penghianat!” kata Bu-ki.

“Aku tahu!” pelan-pelan Huan Im-san mengangguk.

“Dia ingin membunuh, kalau dia masih hidup maka kau pasti akan dibunuhnya sampai mati!” “Aku tahu!”

“Tapi sekarang dia sudah mati.”

“Bagaimanapun juga dia toh sudah mati sekalipun semasa masih hidupnya sudah banyak melakukan kesalahan, segala sesuatunya sekarang boleh dihapus dan menjadi impas, aku pasti akan mengurusi layonnya dengan sebaik-baiknya.”

Bu-ki tersenyum, sambil menepuk-nepuk bahunya dia berkata: “Masih ingatkah kau kalau malam nanti masih ada sebuah pertemuan lagi …”

“Aku tak akan melupakannya.”

“Dan masih ingat siapa yang berjanji dengan kita untuk bertemu?” “Yaa masih ingat, dia adalah Dewa harta.”

“Gerak-geriknya tak pernah diketahui orang, diapun paling benci kalau jejaknya diketahui terlalu banyak orang, kali ini besar kemungkinan diapun akan datang sendirian.”

“Aku mengerti!’

“Oleh karena itu, terhadap keselamatan jiwanya kita harus bertanggung-jawab serta menjaminnya.”

“Aku pasrti akan berusaha keras untuk menggerakkan semua saudara-saudara dari perguruan kita untuk melindungi keselamatan jiwanya, akan tetapi …”

“Tapi kau masih belum tahu dimanakah kita berjanji akan berjumpa malam nanti, bukan begitu?”

“Benar!”

“Padahal, kau seharusnya dapat memikirkan sendiri tempatnya.”

Setelah tertawa, dia menambahkan: “Biasanya Dewa harta hanya bisa dijumpai di mana?”

Huan-Im-san segera mengerti, jawabnya: “Yaa, Dewa harta bisa dijumpai dalam kuil Dewa harta!”

Tong Giok sedang mengawasi terus diri Bu-ki. Ia menemukan, selama pembicaraan Bu-ki dengan Huan Im-san, dalam setiap patah katanya selalu membawa nada memerintah, sebaliknya Huan Im-san menerimanya sebagai suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ada sementara orang yang seakan-akan semenjak dilahirkan sudah berbakat menjadi pemimpin, Tio Bu-ki agaknya adalah manusia dari jenis seperti ini.

Untung saja ia sudah hampir mati, bahkan pasti akan mati. Dikala Tong Giok memandang ke arahnya, ia seakan-akan sudah memandang dirinya sebagai sesosok mayat. “Hayo berangkat!” kedengaran Bu-ki mengajak, “sekarang juga kita berangkat ke kuil Dewa harta.”

“Kita?”

Tong Giok berusaha keras untuk mengendalikan perasaan gembira yang meluap dalam hatinya:

“Aku juga boleh ikut?’

Bu-ki segera tersenyum. “Apakah kau tak ingin pergi menjumpai si Dewa harta?” balik tanyanya.

Tong Giok ikut tertawa. “Adakah orang yang tak ingin bertemu dengan Dewa harta?” “Tidak ada!”

Gelak tertawa Tong Giok semakin gembira, terusnya: “Aku berani menjamin tak seorangpun yang tak mau, bukan saja dulu tak ada, dikemudian haripun tak ada.”

Setiap orang ingin bertemu dengan Dewa harta, oleh karena itu di setiap tempat tentu ada sebuah kuil Dewa harta.

Konon semua harta kekayaan yang berada di langit maupun di bumi, dikuasai oleh Dewa harta, barang siapa bisa bertemu dengan Dewa harta ini, maka mereka pasti akan menjadi kaya-raya.

Yang aneh, Dewa harta itu sendiri justru seakan-akan seorang dewa yang amat miskin, bahkan tampaknya jauh lebih miskin daripada Khong Lo-hucu yang sepanjang tahun lari kesana kemari, dan hampir sesuap nasipun sukar dicari itu.

Kuil Khong bio selalu mentereng dan merupakan kuil yang besar, megah dan keren.

Sebaliknya kuil Dewa harta justru merupakan sebuah kuil yang miskin, mana miskin, bobrok, kecil lagi. Hal mana benar-benar merupakan suatu sindiran, suatu sindiran yang baik sekali. Karena kejadian itu paling tidak bisa membuat orang memahami akan sesuatu … walaupun harta kekayaan itu menarik, tapi bukan merupakan suatu hal yang pantas dihormati.

Kuil Dewa harta yang ada ditempat inipun tak jauh berbeda daripada tempat-tempat yang lain, kuilnya mana miskin, bobrok, sempit lagi. Si Dewa harta yang menunggang macan hitam seperti pantat kuali itu duduk di tengah altar dengan cat yang sudah mulai rontok malah bajunya banyak yang sudah robek dan lepas.

“Ada suatu persoalan aku selalu merasa tak paham,” kata Tong Giok setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, “kenapa Dewa harta selalu kelihatan begitu miskin dan sengsara?”

Pertanyaan tersebut diutarakan hanya sekenanya hati, dia sama sekali tidak berharap bisa peroleh jawaban.

Bu-ki segera tertawa, sahutnya: “Kalau kau telah bertemu dengan orang yang benar-benar berduit, kau akan memahami teori tersebut.”

“Kenapa?”

“Sebab walaupun orang-orang itu mempunyai uang yang tak terhitung jumlahnya, namun ia sendiri memandang uang bagaikan nyawa sendiri, biar pakaiannya penuh tambalan dan dekil, biar makannya cuma nasi kerak dan sayur asin, tapi dalam sakunya penuh berisikan kunci- kunci besar untuk membuka gudang uangnya.”

“Kenapa di sakunya penuh dengan anak kunci?”

“Karena mereka kuatir orang lain meminjam atau meminta kekayaannya, malah kadang kala beras, minyak, garam dan kayupun dikunci dalam almari, malah ada juga di antara mereka yang baju dalamnya sudah baupun masih dikenakan terus.”

“Kenapa?” kembali Tong Giok bertanya dengan perasaan ingin tahu. Bu-ki segera tersenyum.

“Sebab pakaian sering dicuci, maka pakaian itu akan cepat menjadi robek!”

Tong Giok ikut tertawa. “Apakah Dewa harta juga seperti mereka itu, memandang setahil perak lebih berat dari papan kayu pintu?”

“Kalau bukan orang memandang harta melebihi nyawa sendiri, bagaimana mungkin ia bisa disebut sebagai Dewa harta?” Sekarang waktu sudah mendekati senja. Barusan mereka menyelesaikan suatu santapan yang sangat enak dan lezat, di bawah sinar matahari senja di musim semi yang hangat, pelan-pelan mereka berjalan kesitu. Perasaan mereka semua amat riang dan gembira.

“Kalau aku adalah Dewa harta, aku tak akan membuang beberapa tahil perak untuk bersantap satu kali,” ujar Bu-ki.

“Karena Dewa harta tak akan menghambur-hamburkan uang dengan begitu saja,” sambung Tong Giok sambil tertwa.

“Yaa, bagaimanapun juga memang tak mungkin.”

Tong Giok segera menghela napas panjang. “Aaaai …! Untung saja kita semua bukan Dewa harta.”

“Tapi dalam waktu singkat kau akan bertemu dengan seorang Dewa harta, seorang Dewa harta hidup.”

“Hari ini, dia pasti akan datang kemari?” tanya Tong Giok. “Yaa pasti!”

Sesungguhnya Tong Giok ingin sekali memberi tahu kepada Tio Bu-ki bahwa dewa-dewa hartanya itu adalah dewa penyakit pembawa mautmu, asal dia sudah datang maka nyawamu akan melayang.

Dia benar-benar ingin melihat bagamanakah mimik wajah Tio Bu-ki pada waktu itu.

Huan Im-san telah datang. Paras mukanya tidak terhitung begitu baik, pukulan Ting Bau di atas tengkuknya sampai sekarang masih mendatangkan perasaan yang kurang nyaman, tapi hal mana untung saja tidak mempengaruhi gerak-geriknya untuk melaksanakan pekerjaan lain.

“Aku telah mengumpulkan semua jago lihay dari saudara-saudara perkumpulan kita di tempat ini, sekarang ini setiap jalan yang menuju kemari telah dijaga oleh orang kita.”

Bu-ki segera menunjukkan perasaan puas atas pekerjaan yang telah dilaksanakan dengan baik itu. Tong Giok lebih merasa puas lagi.

Orang-orang yang diundang datang Hua Im-san, sudah barang tentu adalah orang-orang mereka sendiri, di antaranya terdapat beberapa orang jago yang tangguh. Sekarang Tio Bu-ki sudah berada di dalam kepungannya, ia tak usah menunggu kesempatan lagi, cukup mengandalkan kekuatannya dan kekuatan Huan Im-san, mereka sudah lebih dari cukup untuk merenggut nyawanya.

Apalagi dalam sakunya masih terdapat sebuah kocek … kuntum bunga Botan di atas kocek, terutama sari bunganya.

Setiap kali teringat akan kekuatan dari senjata rahasianya itu, dia pasti menunjukkan perasaaan senang dan gembira seperti seorang anak kecil, bahkan hampir saja tak tahan untuk memasukkan tangannya ke dalam saku dan meraba kocek itu.

Tapi dia harus bersabar, dia harus pandai menahan diri. Kedengaran Bu-ki kembali bertanya: “Apakah saudara-saudara kita yang berjaga di sekitar tempat ini sudah tahu siapa yang sedang kita nantikan kedatangannya?”

“Aku hanya memberi tahu kepada mereka kecuali seseorang yang memakai mantel hitam sambil membawa tentengan berwarna merah, siapapun dilarang melewati tempat ini, siapa yang membangkang dibunuh tanpa ampun.”

Kemudian dia memberikan jaminannya lagi. “Kecuali dia seorang, jangan kuatir ada manusia kedua yang dapat menyusup ke tempat ini.”

Jaminan tersebut bukan hanya tertuju untuk Bu-ki saja, diapun memberikan jaminannya untuk Tong Giok.

Kalau memang tak seorang manusiapun yang bisa menyusup ke tempat itu, berarti tak bakal ada manusia lain yang bisa datang ke situ untuk menolong jiwa Tio Bu-ki.

Sekarang ia sudah terpojok dan berada seorang diri. Diam-diam Tong Giok menghela napas di hati, rencana ini benar-benar berjalan sempurna dan sesuai dengan kehendak hatinya, bahkan dia sendiripun merasa puas sekali.

Lambat-laun cuaca makin gelap, baru saja Huan Im-san memasang lampu lentera, dari luar kuil telah berkumandang suara lirih seakan-akan bunyi tonggeret yang mendesis.

“Dewa harta telah datang!”

Dewa harta ini kelihatan tidak miskin pun tidak pelit. Ia memiliki perawakan badan yang tinggi besar, berambut putih, bermuka merah bercahaya dan tampak gagah perkasa sekali, pakaian yang dikenakan juga perlente dan necis, itulah seorang Dewa harta yang bisa menarik kepercayaan siapapun yang melihatnya.

Kalau kau punya uang, kau pasti akan percaya untuk menyimpan uangmu dalam rumah uangnya. Tapi, waktu Bu-ki memperkenalkannya dengan Huan Im-san serta Tong Giok, paras mukanya segera menunjukkan sesuatu perubahan yang kurang sedap dipandang.

“Mereka semua adalah sahabat-sahabat karibku!” Bu-ki coba menerangkan.

Sambil menarik muka, ujar si Dewa harta itu dingin: “Bukankah aku telah berpesan, kecuali kau aku tak ingin bertemu dengan siapapun?”

“Benar!”

“Mereka ini manusia atau bukan? Kalau mereka adalah manusia, silahkan mereka pergi dari sini.”

Bu-ki menjadi tertegun, dia tidak menyangka kalau si Dewa harta ini sama sekali tidak memberi muka kepadanya, untung saja Huan Im-san dan Tong Giok adalah orang yang tahu diri, mereka sudah mengucapkan kata-kata “Sampai jumpa”.

Bu-ki merasa amat menyesal dan rikuh, dia ingin sekali mengucapkan beberapa patah kata yang bisa membuat mereka agak enak perasaannya…

Sebelum kata-kata tersebut diucapkan, Tong Giok telah menghampirinya sambil menggenggam tangannya erat-erat, ujarnya sambil tersenyum: “Kau tak usah berkata apa-apa lagi, karena kita adalah sahabat karib …!”

Dia memang betul-betul seorang sahabat karib. Ia mencengkeram tangan Bu-ki erat sekali. Agaknya Bu-ki juga merasakan gelagat yang kurang baik, baru saja dia hendak melepaskan diri dari cekalannya, ada sebuah tangan yang lain telah menghantam di atas nadi besar yang berada di belakang tengkuk sebelah kirinya.

Tentu saja bacokan itu dilakukan oleh tangan Huan Im-san. Ketika tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah, dia menyaksikan si Dewa harta sedang membentak gusar sambil melakukan terjangan ke tubuh Tong Giok.

Tapi ia tahu perbuatan itu sama sekali tak ada gunanya. Dewa harta bukan tandingan Tong Giok, hanya satu jurus serangan dari Tong Giok pun tak sanggup dihadapinya.

Ketika Bu-ki membuka kembali matanya, benar juga si Dewa harta telah diikat orang dengan tali.

Tentu saja dia juga diikat dengan tali, bahkan jalan darahnya telah ditotok pula … sewaktu Tong Giok lepas tangan untuk menghadapi si Dewa harta tadi. Huan Im-san telah turun menotok jalan darahnya. Melihat sepasang matanya telah terpentang lebar, si Dewa harta segera tertawa dingin tiada hentinya. “Heeehh … heeehh … heeehh … kedua orang sahabat karibmu itu benar-benar seorang sahabat yang sangat baik,” ejeknya.

Bu-ki menghela napas panjang. “Aaaai …! Sekalipun demikian, jadi kaupun tidak perlu untuk mempersilahkan mereka keluar!”

“Kenapa?’

“Karena mereka sama sekali bukan manusia!”

Tong Giok tertawa, tertawa terbahak-bahak. Gelak tertawanya benar-benar amat gembira, katanya: “Aku adalah seorang manusia, sayang selama hidup kau tak akan menyangka siapakah aku ini.”

“Oya?”

Sambil menunjuk kehidung sendiri, Tong Giok berkata lebih jauh: “Aku adalah Tong Giok, akulah Tong Giok yang kau benci dan ingin kau cekik hidup-hidup sampai mati itu.”

Bu-ki tidak berkata apa-apa lagi. Setelah berada dalam keadaan begini, apalagi yang masih bisa dia katakan?

Sekarang, Tong Giok dapat menyaksikan perubahan mimik wajahnya, tapi sedikit perubahan emosipun tak ada. Setelah berada dalam keadaan demikian, dia masih mempunyai perubahan apa lagi?

“Sesungguhnya aku tidak harus membinasakan dirimu, sebab aku juga tahu orang hidup pasti jauh lebih berguna daripada orang mati.”

“Sekarang, mengapa kau telah berubah pikiran?”

“Karena ada seseorang yang memberitahu kepadaku, bahwa kau harus dibunuh mati.” “Siapa yang memberitahukan kepadamu?”

“Kau sendiri!”

Gelak tertawa Tong Giok amat riang, terusnya: “Kau sendiri yang mengajarkan kepadaku, bila sedang menghadapi seseorang yang sangat berbahaya, kau tak boleh memberi kesempatan kepadanya untuk melancarkan serangan balasan, kebetulan sekali kau adalah seorang manusia yang berbahaya sekali, dan kebetulan lagi aku adalah seorang yang amat penurut.” “Mengapa kau masih belum turun tangan?”

“Karena aku tak ingin kau mati sebagai setan yang bodoh, bagaimanapun kita kan teman.” Setelah tikus itu tertangkap olehnya, kenapa dia harus sekaligus menelannya ke dalam perut?

Kucing menangkap tikus belum tentu untuk mengisi perutnya yang lapar, kadang kala hal mana dilakukan hanya sebagai suatu hiburan, suatu permainan belaka.

Sekarang ia sedang menikmati permainan tersebut. “Sebenarnya masih ada kemungkinan orang lain akan kemari untuk menolongmu, sayang justru kau sendiri telah berpesan berulang kali, kecuali si Dewa harta, siapapun dilarang kemari!”

“Ia bukan berpesan kepadaku tapi memerintah diriku, sekalipun bapakku sendiri yang datang juga tak boleh dibiarkan masuk kemari,” kata Huan Im-san pula.

Sengaja dia menghela napas panjang kembali, katanya: “Kebetulan sekali akupun seseorang yang sangat penurut!’

Tong Giok ikut menghela napas panjang. “Aaaaai …! Tay-hong-tong bisa mempunyai seorang anggota semacam kau, sesungguhnya hal ini merupakan kemujuran mereka.”

Ditatapnya Bu-ki sekejap, lalu katanya kembali: “Namun bagaimanapun juga kau toh bersikap sangat baik kepadaku selama ini, urusan penguburanmu pasti akan kusuruh Huan Im-san laksanakan dengan sebaik-baiknya, nah, sebelum mati apa yang ingin kau lakukan? Asal katakan kepadaku, siapa tahu aku bisa mengabulkannya.”

Bu-ki termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia berkata: “Aku hanya ingin mengajukan sebuah pertanyaan saja.”

“Pertanyaan apa?”

“Benarkah Sangkoan Jin berada dalam benteng keluarga Tong?” tanya Bu-ki pelan-pelan. “Benar!”

Tanpa dipikir dan dipertimbangkan lebih jauh dia telah menjawab, sebab keadaan Bu-ki sekarang tak jauh berbeda dengan sesosok mayat.

Berada di hadapan seseorang yang sudah hampir mati, ia beranggapan bahwa persoalan apapun rasanya tak perlu dirahasiakan lagi. Terdengar Tong Giok berkata kembali:

“Sangkoan Jin bukan saja berada dalam keluarga Tong, bahkan dalam waktu singkat dia akan menjadi anggota keluarga Tong kami.” “Kenapa?”

“Karena dengan cepat dia akan masuk kedalam anggota keluarga keluarga Tong kami, dia akan menjadi menantunya keluarga Tong.”

“Mengapa kalian hendak menariknya menjadi menantu?”

“Dia adalah seorang manusia yang sangat berguna, hanya dia baru bisa membantu kami untuk membawa jalan.”

“Membawa jalan?”

“Tempat ini adalah kekuasaan Tay-hong-tong, jika kami sampai di tempat ini, perlukah mencari seorang pembawa jalan?”

“Yaa, perlu!”

“Dapatkah kau mencari seorang pembawa jalan yang jauh lebih baik dan jauh lebih bisa diandalkan dari pada Sangkoan Jin?”

“Tidak bisa!”

Sekarang peristiwa itu agaknya sudah hampir mendekati akhir, Dewa harta sudah masuk ke dalam kuil, sang dombapun sudah berada dalam mulut sang harimau.

Anehnya ternyata Bu-ki masih dapat tertawa tergelak. Gelak tertawanya itu tidak mirip suatu gelak tertawa karena ada seekor domba telah masuk ke dalam mulut harimau.

Tertawanya itu pada hakekatnya mirip sekali dengan senyuman seekor harimau. Gelak tertawa itu pada hakekatnya membuat orang tak habis mengerti, sebenarnya siapa yang telah berada di mulut harimau?

*****

SERANGAN TERAKHIR

TONG GIOK sedang tertawa. Ternyata Bu-ki juga sedang tertawa. Suara tertawa Tong Giok sangat gembira, karena hatinya memang benar-benar sedang gembira.

Tapi gelak tertawa Bu-ki pun seperti sedang gembira, mungkinkah hatinya juga sedang gembira? Tong Giok segera berhenti tertawa. Tiba-tiba tanyanya kepada Huan Im-san: “Dapatkah kau menyaksikan, apa yang sedang dilakukan oleh Tio-kongcu ini?”

“Dia agaknya sedang tertawa.”

“Dalam keadaan seperti sekarang ini, kenapa dia masih sanggup untuk tertawa?” “Entahlah, aku sendiripun tak tahu.”

Tong Giok menghela napas panjang, kembali ujarnya: “Selama ini aku selalu menganggap diriku seorang yang cerdik, orang lain juga menganggap diriku amat cerdik, tapi aku sendiripun tidak habis mengerti kenapa dia masih sanggup untuk tertawa dalam keadaan seperti ini?”

“Sebenarnya aku sendiripun tak ingin tertawa,” Bu-ki menerangkan, “tapi aku benar-benar merasa tak tahan untuk tertawa juga.”

“Persoalan apakah yang membuat kau merasa begitu kegelian?” “Oooh … banyak, banyak sekali!”

“Dapatkah kau menyebut satu atau dua di antaranya kepadaku?” “Dapat!”

“Katakanlah, akan kudengarkan!”

“Aku merasa geli belum tentu kaupun ikut merasa geli!” “Itu tidak menjadi soal.”

“Kau masih ingin untuk mendengarkan?” “Ehmm!”

“Kalau aku mengatakan ada seseorang yang terang-terangan sudah kena ditotok jalan darahnya, bahkan masih diikat pula dengan tali, tapi setiap saat dapat bangkit berdiri kembali, kau merasa kejadian ini sangat menggelikan atau tidak?”

“Haaahhh … haaahhh … haaahhh …”

“Kalau aku mengatakan ada seorang yang jelas sudah mati terbunuh, tapi setiap saat bisa berjalan masuk dari tempat luar, apakah kaupun merasa kegelian?” “Haaahhh … haaahhh … haaahhh …” kembali Tong Giok tertawa terbahak-bahak.

Walaupun ia masih tertawa terbahak-bahak, namun senyumnya yang lembut dan menawan hati tadi sudah lenyap tak berbekas.

“Aku masih ingat dengan sepatah katamu,” ujar Bu-ki lagi, “katanya ada sementara persoalan walaupun tidak lucu kalau diceritakan, tapi setelah kau saksikan dengan mata kepala sendiri, maka kau akan tertawa sampai pecah kulit perutmu.”

Tentu saja Tong Giok masih teringat dengan gurauan tersebut.

Kembali Bu-ki berkata: “Ada sementara persoalan justru merupakan kebalikannya, walaupun kedengarannya menggelikan, tapi menunggu kau telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, maka kau tak dapat tertawa lagi.”

Tiba-tiba ia bangkit berdiri.

Bukankah dengan amat jelas diketahui bahwa jalan darahnya telah tertotok? Malah badannya sudah dibelenggu dengan tali, kenapa ia bisa berdiri tegak dengan leluasa?

Dengan mata kepala sendiri Tong Giok menyaksikan ia bangun berdiri. Sekarang Tong Giok tak dapat tertawa lagi.

Kemudian iapun menyaksikan seseorang yang sudah jelas mati terbunuh sekarang lagi berjalan masuk ke dalam ruangan.

Ia menyaksikan Ting Bau sedang menghampirinya.

Ternyata orang yang berjalan masuk kedalam ruangan adalah Ting Bau, sungguh kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan.

Gagang pisau belati itu masih menempel di atas pinggangnya, gumpalan darah di bawah gagang pisau dan pakaian masih jelas dan nyata seperti tadi.

Namun ia masih hidup dalam keadaan segar dan bugar, bahkan sedang melangkah masuk dengan langkah tegap.

“Kau belum mampus?” Bu-ki segera menegurnya.

“Menurut penglihatanmu, aku ini mirip seorang yang sudah mampus atau tidak?” Ting Bau bertanya.

Dia memang tidak mirip! Air mukanya merah bercahaya, bukan saja tampaknya riang gembira, diapun sehat wal’afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun.

“Jadi tusukan belatiku tadi tak sampai merenggut selembar jiwamu?” tanya Bu-ki. “Tusukan tersebut memang tak akan mampu untuk membunuh orang.”

Tiba-tiba ia mencabut keluar pisau belati yang masih menempel di atas pinggangnya itu, mata pisau segera melejit keluar, tapi ketika ia menekan kembali dengan jari tangannya, mata pisau itu segera menyusup kembali.

“Ooooh …! Rupanya pisau itu cuma pisau mainan yang biasa dipakai untuk membohongi bocah cilik,” Bu-ki segera berpekik.

“Tapi permainan semacam ini bukan saja tak akan bisa membohongi anak kecil, seorang yang dungu sekalipun juga tak nanti bisa tertipu.” “Lantas permainan semacam ini hanya bisa membohongi manusia-manusia semacam apa saja?”

“Hanya bisa membohongi orang pintar, ada kalanya makin pintar seseorang justru bisa semakin mudah tertipu.”

Bu-ki kembali tersenyum.

“Oooh …! Jadi seorang pintarpun kadang kala bisa kena tertipu juga?”

“Kalau hendak menipu manusia semacam ini, gunakan permainan yang paling bodoh, ada kalanya permainan yang makin bodoh malah justru mendatangkan hasil yang semakin baik.”

Padahal kalau dibicarakan sesungguhnya, permainan semacam ini bukan suatu permainan yang bodoh.

Itulah suatu yang membutuhkan perencanaan yang matang, rumit, teliti dan gesit.

Sekalipun Tong Giok adalah seorang manusia yang cerdik sekali, diapun membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum dapat memahami rahasia dibalik kesemuanya itu.

Tapi hebatnya ternyata ia masih dapat mempertahankan ketenangan serta kemantapan hatinya.

Hal ini bukan dikarenakan dia memang memiliki suatu kemampuan untuk bersabar dan menahan diri, yang lebih penting lagi dia masih memiliki suatu jurus pembunuh yang belum sempat digunakan.

Ia masih menaruh kepercayaan yang penuh atas kemampuan serta kehebatan dari dua biji senjata rahasia yang berada di dalam koceknya. Ia percaya walau berada dalam keadaan apapun bila senjata rahasia tersebut digunakan maka situasinya akan segera berubah seratus delapan puluh derajat, dari pihak yang kalah dia akan menjadi pihak yang menang, sebab manusia macam apapun jika sampai berjumpa dengan senjata rahasia macam itu, badannya pasti akan hancur berantakan menjadi berkeping-keping dan mati tiada tempat kubur.

Ia benar-benar mempunyai keyakinan atas kemampuannya itu.

Siapapun bila berada dalam keadaan seperti ini mereka pasti akan menunjukkan reaksi … gugup, kaget, marah, takut, sinis, ribut, mohon belas kasihan atau tertawa rikuh.

Tapi reaksi semacam itu sama sekali tak berlaku baginya.

Justru karena ia tidak memiliki reaksi, maka selamanya orang lain tak akan bisa menebak apa yang sedang dipikirkan dalam hatinya, apa yang hendak dilakukan selanjutnya?

Ia benar-benar merupakan seorang musuh yang menakutkan, tapi Bu-ki telah bertekad untuk menghancurkannya.

Bu-ki menatap lekat-lekat, kemudian sambil tersenyum katanya:

“Mungkin kau telah menduga, di dalam permainan kita ini hanya ada satu hal yang paling penting.”

“Coba katakan, akan kudengarkan baik-baik,” jawab Tong Giok masih juga tertawa. “Padahal, sudah sedari dulu aku tahu kalau kau adalah Tong Giok!”

“Oya?”

“Ketika kau merobohkan si pincang Oh, aku sudah mulai curiga, cuma pada waktu itu aku masih belum merasa yakin atas kebenaran dari dugaanku itu.”

“Ilmu silat Oh Po-cu tidak terhitung lemah, tapi sekali turun tangan kau berhasil merobohkannya, ini disebabkan karena dia kenali kau sebagai Tong Giok, tapi mimpipun ia tak mengira kalau Tong Giok pun bisa menghianatinya.”

“Kau menghianati Oh Po-cu dan membawa pergi bocah itu, karena kau menginginkan agar aku percaya bahwa kau bukan orang keluarga Tong.”

“Kau ingin bersahabat denganku, lantaran kau hendak mencari kesempatan untuk membunuhku.” “Kau mengatakan kedatanganmu ke perkampungan Ho-hong-san-ceng untuk menghindari pengejaran musuh, padahal yang benar alasan tersebut cuma kau pakai guna menutupi tujuanmu yang sebenarnya.”

“Rencana ini sesungguhnya sangat indah dan jitu, sayang dibalik kesemuanya itu masih ada sebuah titik kelemahan yang amat besar,” demikian Bu-ki berkata.

“Oya?” Tong Giok cuma mendesis.

“Kau dapat berpikir untuk membawa pergi bocah cilik itu, sesungguhnya tindakan ini merupakan suatu tindakan yang amat tepat, menghindarkan diri dari pengejaran musuh juga terhitung sebuah alasan yang sangat baik, cuma sayang kau lupa bahwa siapa yang berbohong, kebohongannya itu pasti akan terbongkar akhirnya.”

Setelah menghela napas, dia melanjutkan:

“Bila seorang ingin melakukan suatu pekerjaan, tidak seharusnya kalau berbohong dalam beberapa masalah kecil, padahal kau tidak perlu untuk membawa pergi bocah itu aku toh tetap akan bersahabat denganmu, kau datang mencari aku juga tak usah harus beralasan sedang menghindari pengejaran musuh, sayang kau justru berlagak sok pintar, tapi jadi malah kebalikannya.”

Tong Giok termenung, lewat lama sekali ia baru menghela napas panjang pula. “Aaaai …! Benar, bila seseorang ingin melakukan pekerjaan besar, dia memang tidak

seharusnya berbohong di dalam hal-hal yang sepele, ucapan tersebut pasti akan kuingat

terus.”

Tiba-tiba ia baru menyadari bahwa ia memang sudah terlalu memandang rendah kemampuan Tio Bu-ki.

Pada waktu itu dia selalu beranggapan bahwa persoalan semacam itu bukan saja tidak penting, lagipula sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan Tio Bu-ki.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau persoalan-persoalan sepele pun Tio Bu-ki telah melakukan penyelidikan yang seksama.

Tempat itu masih merupakan wilayah kekuasaan Tay-hong-tong, manusia macam apapun terdapat dalam perkumpulan itu, sudah barang tentu tidak sulit untuk melakukan penyelidikan terhadap persoalan-persoalan semacam itu.

“Bila kau ingin tahu apakah seseorang sedang membohongi dirimu atau tidak, maka kau harus mulai dengan penyelidikanmu itu dari soal-soal sepele yang sama sekali tak ada sangkut- pautnya dengan masalah tersebut, dengan begitu kau baru akan berhasil untuk mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya,” kata Bu-ki lagi.

Sebab pada bagian-bagian persoalan yang penting dan gawat, orang lain pasti telah merencanakannya secara cermat dan sungguh-sungguh setelah merasa yakin bahwa kau tak akan berhasil mendapatkan keterangan apa-apa, ia baru akan mulai dengan operasinya.

Setitik api dari bintang dapat mengkibatkan kebakaran hebat di padang rumput, sering kali karena suatu kebocoran yang kecil pada sebuah bendungan yang beratus-ratus kilo meter panjangnya pun bisa mengakibatkan bobolnya bendungan itu.

Bagaimanapun kecilnya suatu keteledoran, semuanya mungkin bisa mengakibatkan terjadinya suatu kesalahan yang fatal.

“Setelah kubongkar semua kebohonganmu itu, sebenarnya masih belum berani memastikan bahwa kaulah Tong Giok,” ujar Bu-ki lagi, “sayang sekali …”

Sayang sekali Tong Giok telah menyamar sebagai seorang gadis, bahkan penyamarannya itu jauh lebih mirip seorang gadis dari pada gadis yang sesungguhnya.

Hanya orang yang pernah melatih ilmu dingin “Im-cin” baru bisa menyaru macam begitu, sebab ciri-ciri dari lelakinya lambat-laun akan lenyap tak berbekas.

Tidak tahan Tong Giok kembali bertanya:

“Darimana kau bisa tahu kalau kepandaian yang kulatih adalah ilmu dingin Im-cin.” “Karena kau pernah menggunakan tenaga Im-cin untuk membunuh Kiau In …” Kemudian dengan hambar dia melanjutkan:

“Jika begitu banyak titik kelemahan berhasil kutemukan, tapi belum juga kuketahui kalau kau adalah Tong Giok, bukankah aku betul-betul manusia yang sungguh-sungguh …?”

Kuil Dewa harta yang bobrok mana gelap, lembab, apek lagi baunya, bahkan menyiarkan pula suatu bau busuk yang bisa membuat perut orang menjadi mual.

Tapi siapapun di antara kelima orang itu tak seorangpun yang memperhatikan hal tersebut. Tong Giok kelihatan jauh lebih tenang dan kalem, lagi-lagi dia bertanya:

“Kalau memang kau sudah tahu kalau aku adalah Tong Giok, mengapa tidak turun tangan lebih dulu untuk menaklukkan aku atau mencari suatu kesempatan guna membinasakan diriku lebih dahulu?” “Sebab kau masih berguna.”

“Kau hendak memanfaatkan diriku untuk menyelidiki siapakah penghianat di tempat ini?”

“Akupun hendak memanfaatkan dirimu untuk menemukan seluruh orang-orang keluarga Tong yang telah menyusup kemari.”

Sekarang ia telah memanfaatkan kehadiran Tong Giok untuk menemukan si anjing cilik alias Siau-kau-cu, si gemuk Ong, si penjual jeruk dan pelayan dari warung teh Bu-gi-cun.

Dari mulut orang-orang ini, dia masih dapat menemukan orang-orang lain yang lebih banyak jumlahnya.

“Sudah sedari dulu kami telah mencurigai Huan Im-san, tapi kami belum berani memastikannya,” kata Bu-ki lagi.

Itulah sebabnya dia bersekongkol dengan Ting Bau untuk mengatur perangkap tersebut.

“Penghianat yang sesungguhnya justru malah tak ingin membunuhmu untuk melenyapkan saksi hidup, karena hanya penghianat yang sebenarnya baru tahu akan kedudukanmu yang sebenarnya serta rahasia penyamaranmu …” tutur Bu-ki.

Diapun telah memperhitungkan secara tepat, bahwa mereka pasti akan menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk membunuh rekan lainnya yang bukan penghianat, dengan begitu semua dosa dan kesalahan tersebut baru bisa dilimpahkan ke atas tubuhnya, agar penghianat yang sebenarnya bisa hidup dengan bebas tanpa harus merasa kuatir lagi.

Oleh sebab itu, diapun mengatur “kematian” dari Ting Bau, bahkan harus membuat Tong Giok percaya kalau Ting Bau benar-benar sudah mampus.

“Itulah sebabnya kecuali sebuah pukulan keras di belakang tengkuk kirinya, secara sengaja kutambah dengan sebuah tusukan belati lagi di atas pinggangnya,” Bu-ki melanjutkan.

“Padahal, seandainya kau mau memperhatikan dengan seksama, tidak sulit untuk menjumpai titik-titik kelemahan dibalik semua persiapanku itu …”

“Maka pada waktu itu kau cepat-cepat menyeret aku pergi,” tanya Tong Giok.

“Yaa, benar! Aku juga tahu kalau kau pasti punya minat yang besar terhadap si ‘dewa’ tersebut, kau pasti mengikuti aku pergi dari situ …”

Ia menyerahkan Ting Bao kepada Huan Im-san karena dia tahu Ting Bao pasti sanggup untuk membekuk Huan Im-san. “Aku masih menyerahkan sebuah pekerjaan lagi kepada Ting Bau untuk dilaksanakan, pekerjaan inipun merupakan kunci yang paling penting untuk suksesnya operasi ini.”

“Pekerjaan apakah itu?”

“Seorang yang terang-terangan diketahui telah tertotok jalan darahnya, bahkan dibelenggu tubuhnya dengan tali, mengapa secara tiba-tiba bisa bangkit berdiri sendiri?”

“Yaa, karena ikatan tali tersebut tidak terlalu kencang, sedang jalan darah yang ditotokpun bukan benar-benar ditotokkan pada sasaran yang sesungguhnya.”

“Lantas siapa yang mengikat aku dengan tali?” tanya Bu-ki. “Huan Im-san!”

“Siapa yang menotok jalan darahku?” “Juga Huan Im-san!”

“Mengapa ia tidak mengikat aku kencang-kencang? Kenapa ia tidak benar-benar menotok jalan darahku?”

Sebab Huan Im-san sendiripun masih belum ingin mampus,

Dia masih harus belajar ilmu pertapaan, masih harus bikin obat, masih berharap bisa awet muda, masih ingin ingin melanjutkan kehidupannya yang senang sambil menikmati “kehangatan permainan sorgawi”.

“Padahal seharusnya kau juga bisa menduga sampai kesitu jauh sebelumnya kalau dia bisa menghianati Tay-hong-tong, mengapa tidak dapat menghianati pula dirimu?”

Lalu kepada Ting Bau tanyanya:

“Dengan cara apakah kau menggerakkan hatinya?” Ting Bau tertawa, sahutnya:

“Aku cuma bertanya kepadanya, masih inginkah dia melanjutkan latihannya belajar ilmu pertapaan? Atau dia sudah ingin mampus saja?”

“Kalau begitu kau hanya menyediakan dua jalan saja baginya?” Ting Bau manggut-manggut. “Yaa, benar! Dia memang hanya ada dua pilihan saja.”

“Aku pikir dia pasti mempertimbangkannya lama sekali sebelum memutuskan pilihannya, benar bukan?”

Ting Bau segera tertawa lebar.

“Sama sekali keliru besar!” serunya, “belum lagi perkataanku selesai diucapkan, ia telah mengambil keputusan.”

Jalan manakah yang telah dipilih Huan Im-san? Sekalipun orang yang paling bodoh juga bisa menebaknya.

“Ketika kulihat Huan Im-san berjalan mendatang, aku sudah tahu pilihan manakah yang telah diambil,” kata Bu-ki.

Sebab dia masih hidup, masih bisa melanjutkan latihan pertapaan dan menikmati kehangatan sorgawi.

“Oleh karena itu, akupun sengaja membiarkan kau menarik tanganku, sebab aku harus membiarkan dia yang menotok jalan darahku.”

Pada waktu itu si Dewa harta telah menerjang ke arah Tong Giok dengan gerakan yang garang melebihi harimau lapar yang sedang menerkam mangsanya, dalam keadaan begitu, Tong Giok harus melepaskan cekalannya pada diri Bu-ki untuk menghadapi si Dewa harta.

Sebab waktu itu cuma Huan Im-san yang “kebetulan masih luang” hanya dia yang sempat untuk melancarkan totokannya pada tubuh Bu-ki.

Rencana ini sesungguhnya merupakan suatu susunan rencana yang matang dan jitu.

Tampaknya terhadap setiap adegan, setiap bagian yang bakal terjadi dalam rangkaian peristiwa tersebut, mereka telah memperhtungkan secara tepat dan matang.

Agaknya mereka sudah menduga, apa yang bakal terjadi di dalam setiap adegan tersebut dan dimanakah posisinya waktu itu.

Terbukti semua hal bisa dilakukan secara lancar dan sempurna, sama sekali tidak nampak kaku atau terpaksa.

“Setelah Huan Im-san pun menjadi orang dari pihakku, sudah barang tentu semua orang yang diatur di sekeliling tempat ini adalah orang-orangku juga, jangan harap orang lain bisa menembusi penjagaan di sini dan datang kemari untuk menolong dirimu.” Kalau tiada orang lain yang bisa memasuki wilayah sekitar sana lagi, dus berarti tak mungkin ada orang yang bisa datang kesana untuk menyelamatkan Tong Giok.

Sekarang Tong Giok baru sadar bahwa dialah yang sesungguhnya berada seorang diri. Bu-ki tersenyum kembali, ujarnya:

“Semua rencana bisa berjalan dengan begitu lancar, sehingga aku sendiripun merasa puas sekali. Nah, apa yang hendak kau katakan lagi sekarang …”

Tong Giok tak bisa berkata apa-apa lagi.

Untung saja dia masih memiliki alat pembunuh yang terakhir!

***** GADIS LANGIT PENYEBAR BUNGA

Keluarga Tong dari wilayah Siok-tiong merajai dunia persilatan karena senjata rahasia beracunnya yang tiada tandingan.

Setiap anggota keluarga Tong yang berkelana dalam dunia persilatan selalu menggembol senjata-senjata rahasia beracun mereka yang telah menggemparkan seluruh kolong langit itu.

Setiap anggota keluarga Tong sebagian besar adalah jago-jago lihay penyimpan senjata rahasia.

Boan-thian-hoa-yu (hujan bunga memenuhi angkasa) merupakan suatu kepandaian melepaskan senjata rahasia yang sudah lama punah dari peredaran dunia persilatan!

Tong Giok seratus persen adalah tokoh sakti yang berilmu tinggi dari keluarga Tong.

Kesemuanya itu adalah suatu kenyataan, setiap orang persilatan mengetahui akan hal ini, sudah barang tentu Bu-ki mengetahuinya.

Oleh karena itu dia seharusnya dapat menduga bahwa Tong Giok pasti memiliki senjata pembunuh terakhir yang ampuh dan mematikan. Tapi dia seakan-akan tidak ambil perduli terhadap persoalan itu, dia seolah-olah acuh.

Dia semestinya memperhatikan sepasang tangan Tong Giok.

Sebab setiap saat kemungkinan besar tangannya itu akan melepaskan senjata rahasia yang bakal merenggut nyawanya. Akan tetapi ia justru sedang memperhatikan si Dewa harta itu. Tiba-tiba ia bertanya:

“Benarkah kau adalah si Dewa harta?”

“Aku bukan Dewa harta!” ternyata si Dewa harta itu menyangkal. “Lantas siapakah kau?”

“Aku adalah seorang pencuri!”

Mencuri bukan suatu perbuatan yang terpuji, mengapa si Dewa harta ini mengakui sebagai seorang pencuri?

“Biasanya pencuri tak akan mengakui dirinya sebagai seorang pencuri …” kata Bu-ki. “Tapi bagaimanapun juga, aku harus mengakuinya.”

“Mengapa?”

“Sebab aku yang seorang pencuri ini jauh berbeda dengan pencuri-pencuri yang lain.” “Apa bedanya?”

“Bukan sembarangan barang yang kucuri dan jauh berbeda dengan orang lain, hanya mencuri barang-barang yang orang lain tak ingin mencurinya, tak berani mencurinya dan tak mampu untuk mencurinya.”

Tiba-tiba ia balik bertanya kepada Bu-ki:

“Mungkinkah pencuri-pencuri lain pergi ke rumahmu hanya untuk mencuri tikus dalam ruangan tidurmu?”

“Tidak mungkin!”

“Tapi aku pernah mencurinya.” Kemudian ia bertanya lagi kepada Bu-ki:

“Beranikah pencuri-pencuri lain pergi mencuri seorang harimau yang dipelihara dalam kebun bunga orang?” “Tidak berani!”

“Tapi aku berani untuk mencurinya.” Kembali dia bertanya kepada Bu-ki:

“Mungkinkah pencuri lain dapat mencuri kain pembalut kaki milik Huang-ho nio-nio (Sri Ratu) dalam istana kaisar?”

Bu-ki menggelengkan kepalanya.

“Tapi aku berhasil mencurinya!” kata pencuri itu.

“Rupanya kau bukan saja seorang pencuri bahkan seorang pencuri ulung …!” “Yaa, memang itulah aku!”

“Tapi, agaknya barang-barang seperti itu sama sekali tak ada harganya kalau dijual?” “Yaa, karena pada dasarnya aku cuma mencuri barang-barang yang tak ada nilainya itu.” “Kenapa?”

“Sebab kesemuanya itu adalah atas permintaan orang lain, ada orang yang mengundangku untuk mencuri benda-benda tersebut.”

“Aaah …! Masa ada orang yang khusus mengundangmu untuk mencuri barang …?”

“Bukan cuma mengundangku saja, lagipula mereka harus membayar lima puluh laksa tahil sebagai imbalannya.”

“Lima puluh laksa tahil apa?”

“Tentu saja lima puluh laksa tahil perak, harus bayar dulu lagi!” “Mengapa harus bayar dulu?”

“Karena nama baikku boleh sebagai jaminan kepercayaan, asal uang sudah kuterima entah barang apapun yang diminta orang lain untuk kucuri, kujamin pasti berhasil kudapatkan secara sempurna.”

“Aku masih ingat, dahulu agaknya juga terdapat seseorang macam dirimu itu.” “Siapa?” “Sugong Ti-seng!”

Mendengar nama itu, pencuri tersebut segera tertawa. “Kau juga tahu dengan orang ini?” tanya Bu-ki.

“Aku bukan cuma tahu saja, bahkan kenal dengannya.”

Ia tertawa lebar sampai mulutpun tak bisa dirapatkan kembali, tambahnya: “Kebetulan sekali aku justru adalah muridnya.”

*****

Setiap generasi dunia ini pasti bermunculan manusia berbakat, demikian juga dengan dunia persilatan, hampir setiap generasi pasti bermunculan pendekar-pendekar kenamaan yang menjagoi dunia persilatan.

Seperti misalnya:

Seebun Cui-soat.

Seorang jago pedang yang tiada keduanya dikolong langit, ilmu pedangnya tiada tandingan diseluruh dunia, ia angkuh, tinggi hati dan gemar mengenakan baju berwarna putih seperti salju.

Yap Hu-shia.

Thian-gwa-hui-sian (dewa terbang dari luar langit) … Pek Im Siancu, menantang Seebun Cui- soat untuk berduel di puncak Ci-ceng-nia, belum lagi bertarung namanya sudah menggegerkan dunia.

Lo si hwesio, si paderi jujur.

Hwesio ini tak pernah berbohong, hanya makan bakpao dingin, mengenakan baju yang compang-camping.

Hoa Boan-lo. Walaupun sepasang matanya buta, hatinya lebih bersih dari bulan yang sedang purnama.

Bok tojin. Ilmu bermain caturnya nomor wahid, ilmu pedangnya nomor tiga, mana latah sok suci, lagi dia adalah seorang jagoan tersohor dari partai Bu-tong.

Sekalipun mereka semua adalah pendekar-pendekar kenamaan dari generasi yang lalu, tapi nama pendekar mereka selalu dikenal orang dan turun-temurun sampai sekarang.

Kecuali mereka, tentu saja masih ada Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong yang beralis mata empat, si pendekar empat alis! Liok Siau-hong yang kekayaannya melebihi suatu negeri.

Satu-satunya orang dalam dunia persilatan yang sanggup menjepit pedang Yap Hu-shia dalam jurus Thian-gwa-hui-sian (dewa terbang dari luar langit) dengan kedua jari tangannya, hanya Liok Siau-hong.

Satu-satunya sahabat karib dari Sebun Cui-soat juga hanya Liok Siau-hong. Orang yang paling dikagumi Bok tojin juga Liok Siau-hong.

Orang yang paling dihormati Hoa Boan-lo adalah Liok Siau-hong.

Lo si hwesio segera sipat kuping dan angkat kaki begitu bertemu dengan Liok Siau-hong.

Tapi bila Liok Siau-hong berjumpa dengan Sugong Ti-seng, kepalanya lantas pusing tujuh keliling.

Nama yang diberikan Liok Siau-hong kepada Sugong Ti-seng adalah … Raja diraja dari segala raja pencuri, pencuri yang tiada tandingannya di seluruh kolong langit.

Sugong Ti-seng mencuri segala apapun, dan mampu mencuri segala macam bendapun.

Sugong Ti-seng mempunyai perawakan yang tinggi besar, berdada lebar dan berperut buncit, tapi justru memiliki serangkaian ilmu lincah yang tiada tandingannya di dunia ini.

Liok Siau-hong pernah beradu salto dengannya, siapa yang kalah siapa yang harus mencari cacing.

Tapi akhirnya orang yang mencari cacing adalah Liok Siau-hong, bahkan mencari selama sepuluh hari sepuluh malam, membuat sekujur badannya penuh dengan lumpur.

Sekarang, pencuri ini mengakui dirinya sebagai murid Sugong Ti-seng, bisa dibayangkan berapa lihay orang itu. “Oooh … salut! Salut …!” puji Bu-ki dengan cepat.

“Tak usah sungkan-sungkan, tak usah sungkan-sungkan!” pencuri itu menjawab. “Siapa nama margamu?”

“Aku she Kwik!” “Dan namamu?” “Ciok-ji!”

“Kalau begitu kau adalah Kwik Ciok-ji, Raja diraja dari segala raja pencuri yang tiada tandingannya di seluruh kolong langit untuk generasi ini?”

“Betul sekali!” “Salut! Salut!”

“Tak usah sungkan-sungkan, tak usah sungkan-sungkan!” “Ada urusan apakah kau datang kemari?”

“Sebetulnya juga tak ada urusan lain yang penting artinya, aku cuma ingin mencuri sesuatu benda.”

“Kali ini apakah kaupun diundang orang lain untuk datang mencuri?” “Yaa, tapi kali ini aku tidak pungut ongkos alias gratis!”

“Peraturan tak bisa dilanggar mengapa kali ini kau justru gratis!”

“Karena Sugong Siau-hong dari Tay-hong-tong kalian secara kebetulan adalah adik tong dari guruku, sedang Ting Bau yang berdiri di sampingmu sekarang, kebetulan juga adalah sahabatku!”

“Oooh, jadi Ting Bau yang mengundang kedatanganmu?” Kwik Ciok-ji menghela napas panjang.

“Aaaai …! Sebenarnya diapun tak akan bisa menemukan aku, tapi belakangan ini nasibku kurang mujur dan terus-terusan lagi apes, kebetulan semalam aku sedang minum arak di sarang anjingnya.” “Kau diundang kemari untuk mencuri apa?” tanya Bu-ki.

“Yang dicuri hanya barang-barang tetek-bengek yang sesungguhnya tak ada harganya sama sekali.”

“Dan kau telah berhasil mendapatkannya?” Kwik Ciok-ji seperti agak marah, serunya:

“Mana mungkin ada barang di dunia ini yang tak mampu dicuri oleh Kwik Ciok-ji?” “Kalau kau memang benar-benar berhasil mendapatkannya, mana barangnya …” “Itu dia, di sini!”

Tangan itu sebenarnya kosong melompong, tapi ketika dijulurkan ke depan sekarang tahu- tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan dua macam benda.

Sebatang tusuk konde dan sebuah kocek bersulamkan bunga teratai.

Kocek itu terbuat dari kain halus, di atasnya terdapat sulaman dua kuntum bunga dari benang emas, di permukaan depan sekuntum dan dibaliknya sekuntum lagi.

Akhirnya Tong Giok berhasil dipukul roboh meskipun badannya belum roboh ke tanah, tapi kepercayaannya pada diri sendiri serta keyakinannya pada kemampuan sendiri sama sekali sudah hancur total.

Kehancuran yang berasal dari dalam tubuh ini jauh lebih menakutkan daripada kehancuran yang dialami di luar badan.

Bu-ki mulai tertawa lebar.

Ia selalu sedang memperhatikan reaksi wajah Tong Giok setelah menyaksikan kedua macam benda tersebut, sekarang walau siapapun juga dapat melihat bahwa orang ini betul-betul sudah rontok dan hancur total. Yang masih tersisa tak lebih hanya sebuah wajah kasar yang kosong melompong …

“Apakah cuma dua macam benda ini saja? Tiada yang lain?” Bu-ki bertanya.

“Sebenarnya akupun mengira masih ada yang lain, sungguh tak disangka dalam saku Tong kongcu ini ternyata hanya terdapat dua macam mestika, ternyata tusuk konde emas ini kosong bagian tengahnya.” Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan: “Aaai … jika seorang pencuri bertemu dengan emas yang kosong bagian tengahnya, itu menandakan kalau dia lagi apes!”

“Darimana kau bisa tahu kalau tusuk konde emas ini kosong bagian dalamnya?” “Begitu berada di tangan, aku lantas tahu karena bobotnya sama sekali tidak benar!” Mencorong sinar tajam dari balik mata Bu-ki, katanya sambil tersenyum:

“Walaupun tusuk konde kosong bagian tengahnya, tapi aku berani jamin kalau isi tusuk konde itu jauh lebih berharga daripada emasnya.”

Kembali dia menambahkan:

“Konon pasir pemutus nyawa Toan-hun-seh dari keluarga Tong juga dapat dibeli!”

“Akupun pernah mendengar orang berkata demikian, asal kau menemukan sasaran yang benar dan lagi mengajukan harga yang pantas sudah pasti ada orang yang akan menjualnya kepadamu.”

“Begitupun masih belum bisa jalan,” sela Ting Bau tiba-tiba. “Lantas harus bagaimana lagi?”

“Mereka masih akan menyelidiki dulu nenek moyangmu tiga generasi yang lalu secara teliti dan seksama, kemudian baru akan menjualnya kepadamu.”

“Berapa harganya?”

“Konon lima ratus tahil uang emas murni untuk satu tahil pasir toan-hun-seh.” “Berapa untuk jarum beracunnya?” tanya Bu-ki pula.

“Mungkin juga mencapai beberapa ratus tahil untuk setiap batangnya.”

Tiba-tiba Bu-ki mengeluarkan sebuah bungkusan kertas dari sakunya, ketika bungkusan itu dibuka maka tampaklah isinya adalah separuh batang jarum jahit yang sudah putus.

Sambil tersenyum dia lantas berkata:

“Bila lima ratus tahil emas murni untuk setiap batangnya, separuh batang jarum ini paling tidak juga semestinya laku tiga ratus tahil …”

Ting Bau tertawa lebar, serunya: “Meskipun hanya tiga ratus tahil emas, itu sudah cukup buat kita untuk menjadi orang kaya baru!” “Darimana kau dapatkan jarum itu?” tanya Kwik Ciok-ji.

“Dari atas pelana kudaku!”

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

“Aku tidak habis mengerti kenapa di tengah malam buta Tong kongcu menuju ke istal kuda, maka diam-diam akupun mengikuti dari belakang, dia hanya masuk sebentar lalu memutar satu lingkaran dan keluar lagi, sebaliknya aku membutuhkan waktu hampir satu jam lamanya.”

Justru karena terlalu lama ia berada dalam istal kuda, maka dia tak tahu kalau Lian It-lian telah datang.

Sekarang, kelihatannya masalah itupun cuma suatu kejadian yang sepele, hakekatnya sama sekali tidak penting atau serius.

Tapi sering kali sesuatu urusan yang sepele, akhirnya justru merupakan suatu kepuasan yang akan merubah nasib seseorang.

*****

SATU tahil pasir toan-hun-seh, lima ratus tahil emas murni, oh! Suatu harga yang mahal sekali,” kata Kwik Ciok-ji.

Tiba-tiba Tong Giok tertawa dingin, katanya:

“Kalau harga cuma sekian, ada berapa banyakpun akan kubeli semua …”

“Masa dengan harga setinggi itupun masih belum bisa didapatkan?” tanya Kwik Ciok-ji. “Masih selisih jauh sekali!”

“Lantas seharusnya berapa harganya?”

“Seribu tahil emas untuk seperseratus tahilpun masih bukan barang asli …!” “Padahal, harga sekianpun masih belum terhitung terlampau tinggi!” kata Bu-ki.

“Yaa, dengan satu che pasir pemutus nyawa, siapa tahu masih bisa merenggut beberapa lembar nyawa.” “Kalau cara penggunaannya benar, paling tidak juga dapat merenggut tiga lembar nyawa,” Tong Giok menerangkan.

“Lagipula bila kau telah membunuh orang dengan pasir pemutus nyawa dari keluarga Tong, orang pasti akan membuat perhitungan tersebut dengan pihak keluarga Tong, itu berarti asal kau bersedia mengeluarkan uang sebesar seribu tahil emas, setelah membunuhpun tak perlu kuatir dengan ekornya,” Bu-ki menambahkan.

Setelah tertawa, dia melanjutkan: “Bila kau dapat memahami teori tersebut maka kau akan merasa bahwa harga tersebut sesungguhnya tidak terlalu mahal.”

Akhirnya Ting Bau mengakui juga.

“Yaa, agaknya harga tersebut memang tak bisa dihitung terlalu mahal!” sahutnya.

Sebenarnya benda tersebut memang merupakan salah satu sumber kekayaan dari keluarga Tong, untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari suatu keluarga yang demikian besarnya bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Menciptakan senjata-senjata rahasia semacam inipun merupakan suatu pekerjaan besar yang amat boros.

Kwik Ciok-ji lantas berkata:

“Kalau begitu, tusuk konde ini bukankah bisa laku beberapa ribu tahil emas murni?”