Harimau Kemala Putih Jilid 17

Jilid 17  

“Yaa, sudah pasti benar!”

“Konon dulunya tempat ini adalah tempat tinggal calon ensomu Wi Hong Nio?” “Akupun dengar orang berkata demikian!”

Lian It Lian segera tertawa dingin, serunya kembali: “Lagak nona Wi tersebut sudah pasti amat luar biasa”

Keadaan dalam ruang tamu itu jauh lebih luar biasa lagi. Asal benda tersebut merupakan benda yang seharusnya terdapat dalam ruangan tamu, maka akan mendapatkannya pula di sana, bahkan setiap benda sudah merupakan barang pilihan yang bermutu tinggi. Nilai dari setiap benda yang berada di situ kalau dibicarakan mungkin akan membuat terkejut hati orang.

Barang barang yang seharusnya tidak terdapat dalam ruang tamupun bisa kau jumpai pula di sini, barang barang antik yang berharga, luksan lukisan kenamaan... pokoknya nilai dari setiap benda yang berada di sini tiada mungkin bisa dilukiskan dengan kata kata.

Nona bercelana merah itu menghela napas panjang, katanya: “Seandainya semua barang yang berada di sini adalah pemberian dari sukoku, bisa diduga kalau sukoku pernah menjadi seorang milyuner...” “Sebaiknya jika semua barang barang yang berada di sini bukan pemberian dari sukomu, maka sukomu sudah pasti akan kegusaran setengah mati”

Padahal tempat yang sekarang telah berubah sama sekali bila dibandingkan dengan tempat disaat Hong nio masih tinggal di sana, bahkan perbedaannya boleh dibilang bagaikan langit dan bumi.

Semua barang yang berada di situ, jangkan pernah menyentuhnya, melihatpun Hong nio tak pernah.

Satu satunya tempat yang sama sekali tidak berubah adalah kamar tidur Hong nio, setiap benda yang berada di situ seakan akan tak pernah disentuh oleh siapapun.

Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Hong nio telah menjatuhkan sebatang tusuk konde di atas tanah, sampai sekarang tusuk konde tersebut masih berada di tempat semula.

Sebelum berangkat Hong nio sempat berbaring sebentar di atas pembaringannya, sampai sekarang bekas lekukan tubuhnya di atas pembaringan itu masih tertera jelas, bahkan rambutnya yang sempat rontok di atas bantalpun hingga kini masih berada di tempatnya semula.

“Apakah kau benar benar masih ingin mencicipi daging sapi masak kecap itu?” tanya Lian It lian tiba tiba.

Nona bercelana merah itu kembali menghela napas,

“Aaai,...! Tampaknya, walaupun sekarang aku tak inginpun terpaksa harus ikut mencicipinya juga”

“Kenapa?” “Berpalinglah sendiri!”

Lian It lian tak perlu berpaling lagi, sebab dari mimik wajahnya dia sudah tahu kalau bayangan setan tanpa muka serta bayangan setan berwajah ganda itu telah berada di belakang mereka. Tiba tiba ia berteriak: “Tio Bu Ki, harap hentikan dulu sumpitmu, tolong tinggalkan sedikit daging sapi itu untuk kucicipi!”

Kaisar Ji-Gi

Pada hakekatnya Bu ki tak punya adik seperguruan, selama ini tak habis mengerti siapa gerangan yang telah menyaru sebagai adik seperguruannya itu. Sekarang dia sudah tahu. Ketika Lian it lian dan si adik seperguruannya yang mengenakan celana merah muncul dari halaman, dia sudah tertawa, tertawanya sangat riang, seakan akan ia merasakan betapa gembira hatinya karena berhasil mendapatkan seorang sumoay semacam dia.

Mereka melayang keluar dari bawah pohon waru tepat di tepi daun jendela tersebut, Lian it lian berada di depan sedang si nona bercelana merah mengikuti dari belakang.

Belum lagi tubuh mereka berdua mencapai permukaan tanah, sudah ada segulung desingan angin kuat yang menyongsong kedatangan mereka.

Seseorang dengan menggunakan suaranya yang parau dan kering membentak nyaring: “Keluar...”

Kenyataannya mereka berdua sama sama tidak keluar.

Lian it lian segera berjumpalitan di tengah udara dan menempelkan sekujur tubuhnya di atas dinding bagaikan seekor cecak.

Sedangkan si nona bercelana merah itu tampaknya sudah terlempar keluar lewat daun jendela, tiba tiba ujung kakinya menggaet di atas ram jendela dan tubuhnya segera melayang kembali ke tempat semula.

Angin pakaian menderu deru, si manusia baju putih yang berdiri membelakangi jendela itu telah mengebaskan ujung bajunya yang lebar sehingga menerbitkan deruan angin yang memekikkan telinga.

Nona bercelana merah itu segera tertawa merdu katanya. “Sungguh suatu ilmu Khikang yang sangat lihay!” “Sayangnya ilmu khikang yang dilatihnya bukan ilmu khikang gede, melainkan cuma khikang kecilan saja.” Lian It-lian segera menambahkan dengan nada setengah mengejek. “Masa ilmu khikang-pun dibedakan antara yang gedean dan kecilan?” “Kalau ilmu khikang yang dilatihnya bukan ilmu khikang kecilan, mana mungkin sifatnya begitu jahat dan jiwanya begitu sempit, apa sih hebatnya menyediakan dua pasang sumpit yang lebih banyak dan mengundang dua orang lagi untuk bersantap bersama? Kalau dia bukan berjiwa sempit, kenapa pula kita musti diusir pergi dari sini?”

Nona bercelana merah itu tertawa, tapi menunggu orang itu sudah memalingkan kepalanya, mereka tak dapat tertawa lagi. Ternyata di atas wajah orang ini telah tumbuh sebuah daging tumor yang lebih besar dari kepalanya sendiri, saking besarnya daging yang tumbuh keluar sehingga hampir saja menutupi seluruh wajahnya. Setiap kali tubuhnya bergerak, daging itupun ikut bergerak-gerak, sepintas lalu bentuknya menyerupai sebuah gelembung udara yang sangat besar sekali. Berdiri semua seluruh bulu kuduk dari Lian It-lian saking ngeri dan seramnya. Sekalipun kau berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendesaknya, tak nanti dia berani bertarung melawan orang ini, apalagi jika kepalannya itu kebetulan menghantam di atas daging hidup tersebut, belum lagi musuhnya mengaduh, mungkin ia sudah jatuh semaput lebih duluan. “Bagaimanapun juga kau tak boleh berkelahi dengan kami, aku adalah sahabat karibnya tamu agung itu!” “Yaa, aku adalah sumoay-nya,” sambung nona bercelana merah itu, “kau lebih-lebih tak boleh mencari gara-gara denganku.” Bu-ki segera tersenyum, katanya: “Dua orang bocah cilik ini memang suka bergurau. Ting-sianseng, ampunilah mereka untuk kali ini!” Menggunakan sebuah matanya yang menongol keluar dari balik daging hidupnya, Ting-sianseng melotot sekejap ke arah mereka berdua, tiba-tiba ia berkata: “Silahkan duduk!”

MESKIPUN sudah duduk lama sekali, Lian It-lian merasakan jantungnya masih berdebar keras. Ia betul-betul tak berani untuk menengok daging hidup milik Ting-sianseng yang mengerikan itu, apa mau dikata justru hatinya tak tahan untuk diam-diam meliriknya kembali.

Daging hidup sebesar itu tergantung di atas wajah, kejadian semacam ini memang terhitung suatu peristiwa langka, suatu peristiwa yang jarang bisa dijumpai didunia ini. Tiba-tiba nona bercelana merah itu berkata: “Aku tahu dari perguruan Cing-shia-bun terdapat seorang bernama Ting-siangseng, ilmu Kun-goan-it-khi-kang yang diyakininya tiada tandingan didunia ini …”

“Akulah Ting Liu-cu (si daging hidup Ting),” tukas Ting-sianseng dengan suara dingin, “ilmu Kun-goan-it-khi-kang yang kumiliki tidak terlalu bagus, maka dari itu muncul sebuah daging hidup di atas wajahku ini … itulah gara-gara aku salah berlatih!”

Konon daging hidup itu muncul karena berlatih khikang yang disebut Kun-goan-it-khi-kang itu. Sebetulnya daging hidup itu pada mulanya cuma kecil sekali, tapi semakin tinggi dia melatih ilmu khikang-nya, semakin besar pula daging hidup itu tumbuh.

Sekarang, meskipun khikang yang dimiliki masih belum mencapai nomor satu di dunia ini, tapi daging hidup yang dimilikinya sudah pasti merupakan daging hidup terbesar yang pernah dijumpai di dunia ini.

Si daging hidup Ting kembali berkata: “Akupun bukan anak murid perguruan Cing-shia-pay, aku anak muridnya Ji-gi, dengan partai Cing-shia-pay sama sekali sudah tiada hubungannya lagi, walau cuma setitikpun!” “Ji-gi-kau? Kenapa aku belum pernah mendengar tentang nama perkumpulan ini?” seru nona bercelana merah itu. “Karena pengetahuanmu memang dasarnya amat cupat, maka dari itu tidak terlalu banyak masalah yang bisa kau pahami,” kata Bu-ki menimbrung dari samping.

Padahal pengetahuan nona bercelana merah itu tidak cupat, pengalamannya juga tidak sedikit, bahkan persoalan yang diketahui olehnya mungkin jauh lebih banyak dari siapapun juga.

Tapi, dikala sang suko memberi nasehat kepada sumoay-nya, sekalipun sumoay merasa tak puas, terpaksa dia harus mendengarkannya juga. Lian It-lian bukan sumoay-nya, maka dia masih juga tak tahan diri untuk bertanya kembali: “Siapa sih kaucu-nya?” “Dia bukan lain adalah Kaisar Ji-gi Tay-tee yang menguasai seantero jagat dan langit serta bumi!” Hampir tertegun Lian It-lian mendengar nama tersebut. “Apakah nama yang kau sebutkan barusan adalah nama dari kaucu kalian …?”

“Benar!”

Lian It-lian hampir saja tertawa tergelak mendengar nama tersebut. Walaupun nama itu kedengarannya keren dan berwibawa, sesungguhnya bernadakan lelucon yang hampir saja membuatnya tertawa terbahak-bahak.

Namun nada suara si daging hidup Ting amat serius, bahkan sikapnya menunjukkan rasa takut, ngeri dan hormatnya. Bisa membuat si daging hidup Ting, Poan-bin-lo-sat, Bian-jiu-jin- sut, sekalian gembong-gembong iblis menaruh rasa takut dan hormat kepadanya, bisa diketahui bahwa Ji-gi Tay-tee tersebut sudah pasti bukan seorang manusia yang menggelikan.

Untung saja Lian It-lian tak sampai tertawa tergelak oleh nama tersebut, dia hanya berbisik: “Panjang amat nama itu!”

“Aku pikir sudah pasti dia adalah seorang manusia yang sangat luar biasa!”

nona bercelana merah itu menambahkan. “Yaa, dia memang seorang manusia yang luar biasa,” si daging hidup Ting membenarkan. “Dapatkah aku berjumpa dengannya?”

“Dapat.”

Nona bercelana merah itu segera menghela napas panjang. “Aaaai! Aku cuma berharap dia tak akan membenci diriku dan mengusir aku pergi lagi dari sini.”

Poan-bin-lo-sat yang berkain cadar hitam dan selama ini tak pernah mengucapkan sepatah katapun itu, mendadak berkata: “Dia tak akan membencimu, dia pasti akan menyukai dirimu!”

“Sungguh?”

“Dia bilang kau amat mirip dengan seseorang, terutama sekali dikala sedang tidur wajahnya mirip sekali.”

Nona bercelana merah itu segera tertawa. “Dari mana dia bisa tahu tampang wajahku dikala aku sedang tidur?” tanyanya.

“Semalam, bukankah tanpa melepaskan pakaian kau telah naik ke atas pembaringan untuk tidur?” Nona bercelana merah itu manggut tanda membenarkan. “Semalam kau pasti merasa lelah sekali,” kembali Poan-bin-lo-sat berkata,

“tapi kaupun tak ingin tidur terlalu nyenyak, maka kau sengaja mencari kayu bakar sebagai pengganti bantal dan menggunakan poci air teh untuk mengganjal daun jendela serta bangku untuk menindih pintu kamarmu.”

“Darimana … darimana dia bisa tahu?” nada suara si nona bercelana merah itu mulai agak gemetar.

Poan-bin-lo-sat segera tertawa. “Darimana dia bisa tahu? Dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan kesemuanya itu, kenapa tidak tahu?” sahutnya.

Kali ini, si nona bercelana merah itu tak sanggup tertawa lagi. “Walaupun kalian tidak melihat dirinya, tapi dia sudah melihat kalian semenjak permulaan,” ujar Poan-bin-lo-sat lebih jauh.

“Apakah ia juga melihat aku?” tanya Lian It-lian sambil tertawa. “Bukankah semalam suntuk kemarin kau tak pernah tidur?” tanya Poan-bin-lo-sat.

Lian It-lian mengangguk tanda membenarkan. “Bukankah kau selalu menangis tersedu-sedu? Bahkan isak tangismu amat memedihkan hati?”

Mendengar perkataan tersebut, berdiri semua bulu kuduk di sekujur badan Lian It-lian. Kalau gerak-gerikmu ternyata bisa diketahui orang lain dengan begitu jelasnya, sedangkan kau sendiri sama sekali tidak berhasil menjumpai bayangan tubuhnya, maka kaupun pasti akan merasa ketakutan setengah mati.

Poan-bin-lo-sat berkata lebih jelas: “Diapun mendengar kalian berkata bahwa hari ini Tio Bu- ki kongcu pasti akan pulang, maka pagi ini dia telah mempersiapkan sebuah perjamuan untuk mengundang Tio-kongcu bersantap di sini.”

“Apakah tamu yang diundang sekarang telah datang semua?” tanya nona bercelana merah itu. “Mereka yang seharusnya datang telah datang, bahkan yang seharusnya tak datangpun telah berdatangan,” jawab Poan-bin-lo-sat sambil tertawa melengking.

“Lantas, dimanakah tuan rumahnya?”

“Kebetulan sekali tuan rumahnya sedang tidak berada di rumah.” “Mana mungkin tuan rumahnya tak ada di rumah?”

“Sebab secara kebetulan ada urusan lain dan dia harus pergi!” Nona bercelana merah itu kembali tertawa. “Aaaah … kenapa begitu kebetulan?” katanya, “dia toh sudah tahu dengan pasti bahwa hari ini ada tamu yang akan datang, mengapa secara begitu kebetulan dia telah pergi?”

“Karena ada seseorang yang secara kebetulan telah sampai di sekitar tempat ini, dan kebetulan juga dia hendak pergi berjumpa dengan orang tersebut.”

Sesudah menghela napas panjang, katanya kembali: “Di kolong langit memang seringkali terjadi peristiwa yang begini kebetulan, apa daya kita kalau sampai begini?”

“Yaa, apa daya? Aku sama sekali tak berdaya apa-apa.”

“Oleh karena itu, terpaksa kalian harus duduk menunggu di sini!”

Lian It-lian kembali tak tahan, katanya: “Sungguh tak nyana dikala Ji-gi Tay-tee hendak menjenguk seseorang, ternyata dia harus berangkat sendiri untuk pergi menjenguknya.”

“Ia tahu bahwa orang itu tak mungkin akan datang kemari, terpaksa dia harus berangkat untuk menjenguknya sendiri,” Poan-bin-lo-sat menerangkan.

“Kenapa orang itu tidak diundang saja untuk berkunjung kemari?” “Sebab orang itu sama sekali tak ingin berjumpa dengannya.”

“Kenapa ia tak mau menyuruh kalian saja yang membawa orang itu datang kemari?” “Sebab ia tahu bahwa kami pasti tak akan berhasil untuk mengundangnya datang kemari.” “Masa bahkan kalianpun tak sanggup mengundangnya?”

Poan-bin-lo-sat menghela napas panjang. “Aaaai …! Dari tujuh propinsi di selatan, enam propinsi di utara, mungkin hanya beberapa orang saja yang mampu mengundangnya datang

…”

“Oooh … rupanya dia mempunyai lagak yang luar biasa sekali,” seru Lian It-lian sambil menjulurkan lidahnya. “Yaa, lagak orang itu memang luar biasa sekali karena asal-usulnya juga luar biasa.”

“Rasanya dari tujuh propinsi di selatan dan enam propinsi di utara, mungkin tiada beberapa orang yang memiliki lagak sebesar dia.”

“Betul, perkataanmu memang tepat sekali.” “Lantas siapakah sebetulnya manusia yang berlagak luar biasa itu? Boleh aku tahu?” “Padahal orang itu sendiri sebetulnya tiada sesuatu yang luar biasa, diapun mempunyai sepasang mata, sebuah hidung, selembar mulut, cuma dibandingkan orang lain, ia berlatih ilmu pedangnya beberapa hari lebih awal saja.”

“Kalau kudengar dari pembicaraanmu itu, agaknya dia memiliki ilmu pedang yang sangat hebat?”

“Kalau dibicarakan secara paksa, yaa lumayan juga ilmu pedang yang dimilikinya itu.” “Apakah dia juga terhitung seorang jago pedang?”

Poan-bin-lo-sat segera tertawa. “Kalau dia masih belum pantas disebut sebagai seorang jago pedang, tentunya orang yang bisa dianggap sebagai seorang jago pedang akan sangat sedikit sekali,” katanya.

“Jago pedang macam apakah dia?” desak Lian It-lian.

“Dia adalah Siau-siang-kiam-khek!” “Siau-siang-kiam-khek dari bukit Heng-san?” “Benar!”

Lian It-lian tidak berbicara lagi. Ia benar-benar tak tahu apa yang mesti dikatakan lagi, jika seseorang harus menunggu lama sekali karena orang lain sedang berjumpa dengan Siau-siang- kiam-khek, maka bagaimanapun lamanya mereka harus menunggu juga tiada perkataan lagi yang bisa diucapkan.

NAMA dari Siau-siang-kiam-khek itu sendiri tidak terlalu istimewa. Agaknya dari setiap generasi yang muncul dalam dunia persilatan, selalu akan kedapatan seseorang yang menggunakan Siau-siang-kiam-khek sebagai gelarnya.

Hakekatnya nama tersebut adalah sebuah nama yang sangat biasa, umum dan sederhana. Tapi orang yang berhak mempergunakan Siau-siang-kiam-khek sebagai julukannya, sudah pasti bukan seorang manusia yang biasa dan sederhana. Siau-siang-kiam-khek yang muncul setiap generasi tentu memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi bahkan seringkali bergaya lembut, anggun, romantis, bahkan kadang kala sedikit mendekati agak angkuh, tinggi hati.

Karena memang mereka memiliki sesuatu yang pantas untuk disombongkan. Terutama Siau- siang-kiam-khek dari generasi kali ini, mana orangnya gagah dan tampan, pedangnya juga ibarat naga sakti yang bermain di angkasa, bukan saja merupakan jago lihay dari partai Heng- san, diapun terhitung laki2 tampan yang ternama dalam dunia persilatan.

Tiba-tiba nona bercelana merah itu menghela napas panjang, katanya: “Bahkan akupun sudah lama ingin sekali bertemu dengannya.” Mendadak dari luar jendela melayang masuk sesuatu benda, menyusul kemudian terdengar seseorang berseru: “Nah, bertemulah sendiri sekarang!”

“Bluuuk!” ketika semacam benda terjatuh di lantai, dapat diketahui bahwa benda itu adalah sebuah kantong yang terbuat dari kulit kerbau.

Si daging hidup Ting maupun Poan-bin-lo-sat segera mengundurkan diri ke samping, dengan sikap yang sangat menghormat. “Kaucu telah pulang!”

Meskipun tidak dapat bertemu Siau-siang-kiam-khek, bisa berjumpa dengan Ji-gi Tay-tee pun sama saja merupakan suatu kejadian yang cukup menggembirakan hati.

Setiap orang segera mementangkan matanya lebar-lebar untuk menantikan munculnya Kaisar Ji-gi Tay-tee tersebut.

Sesungguhnya manusia macam apakah Kaisar yang menamakan dirinya Tin-sam-sam-sia- ngo-gak, Sang-thian-ji-tee-kui-kiam-jiu, Ji-gi Tay-tee ini?

Tapi mereka hanya menyaksikan seorang bocah cilik yang agak kurus, berwajah pucat dan mengenakan jubah berwarna putih salju berjalan masuk kedalam ruangan, wajah bocah itu agak murung seperti lagi menderita sesuatu penyakit.

Tak tahan Lian It-lian segera bertanya: “Dimanakah kaucu kalian?”

Meskipun bocah itu masih kecil, tapi lagaknya ternyata luar biasa sekali, sambil bergendong tangan dia melangkah masuk kedalam ruang, terhadap teguran tadi jangankan memperdulikan, melirik sekejappun tidak.

Bu-ki telah melompat bangun dan memandang ke arahnya dengan penuh rasa terperanjat, serunya tersebut: “Haah, kau?”

“Yaa, aku!” jawab bocah itu.

Bu-ki segera menghela napas panjang. “Tentu saja kau, seharusnya aku bisa menduga sampai kesitu jauh sebelum ini!”

Lian It-lian kembali tak tahan untuk bertanya lagi: “Siapakah dia? Apakah dialah Kaisar Ji-gi Tay-tee yang menguasai tiga bukit, mengurusi lima samudra, langit, bumi, setanpun, murung menjumpainya?”

“Benar!”

Seorang bocah cilik yang berusia dua-tigabelas tahunan, ternyata mengangkat dirinya sebagai kaucu dari perkumpulan Ji-gi-kau dengan julukan Kaisar Ji-gi Tay-tee. Lian It-lian kaget, yaa tercengang yaa geli menghadapi kenyataan tersebut. Tapi ia tak sampai tertawa, karena kecuali dia seorang, siapapun tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ikut merasa geli dan ingin tertawa tergelak.

Si daging hidup Ting maupun Poan-bin-lo-sat berdiri dengan kepala tertunduk rendah-rendah, mendongakkan sedikit kepalanyapun tak berani, sedangkan mimik wajah Bu-ki pun tampak sangat serius dan keren. Karena dia tahu bocah cilik ini bukan saja sedikitpun tidak menggelikan, bahkan sungguh-sungguh rada menakutkan.

Poan-bin-lo-sat, si daging hidup Ting, semuanya terhitung manusia-manusia Ok-jin (orang jahat) yang termasyur dalam dunia persilatan, tapi mereka menunjukkan sikap begitu hormat, begitu takut, terhadap bocah cilik ini, sudah barang tentu kesemuanya itu bukan berarti tanpa sesuatu alasan yang kuat.

Bu-ki sangat memahami akan hal ini, diapun sangat memahami akan bocah itu. Hanya bocah semacam dia juga baru akan menggunakan nama semacam itu bagi dirinya, sebuah nama yang panjang, amat aneh dan amat luar biasa.

Padahal nama asli yang dimilikinya hanya terdiri dari sepatah kata saja, yakni Lui. Orang ini hakekatnya memang mirip guntur, siapapun tak sanggup menangkapnya, siapapun tak sanggup untuk mengendalikannya.

Kantong yang terbuat dari kulit kerbau itu masih tergeletak di atas lantai. Tiba-tiba Siau-lui bertanya kepada Lian It-lian: “Bukankah kau ingin sekali berjumpa dengan Siau-siang-kiam- khek?”

“Benar!” Lian It-lian mengangguk. “Sekarang kenapa kau tidak pergi menjenguknya?” “Dia berada dimana?” “Itu disini!”

Mengikuti arah yang ditunjuk, ternyata dia menuding ke arah kantong kulit kerbau tersebut. Hanya kantong kulit kerbau yang ada di situ, namun tak tampak bayangan tubuh dari Siau- siang-kiam-khek.

Mendadak Lian It-lian seperti teringat akan sesuatu peristiwa yang sangat menakutkan, ia segera menjerit tertahan dengan kagetnya: “Apakah Siau-siang-kiam-khek, dia … dia berada dalam kantong kulit itu?”

“Kenapa kau tidak membuka kantong tersebut dan memeriksa sendiri isinya?”

Lian It-lian telah menjulurkan tangannya, tapi dengan cepat ditariknya kembali. Ia tak berani melihat. Ia sudah tahu apa isi kantong kulit tersebut, sekujur badannya sudah mulai mendingin. “Bukankah kau mengira isi kantong tersebut adalah sebuah batok kepala manusia?” Siau-lui bertanya. “Masakah bukan …”

Tiba-tiba Siau-lui tertawa, tertawa terbahak-bahak. “Haaahhh … haaahhh … haaahhhh … tampaknya meskipun nyalimu tidak terlalu besar, penyakit curigamu tidak terlalu kecil!” “Sebenarnya apa sih isi dari kantong itu?”

Tiba-tiba Siau-lui berpaling dan bertanya kepada nona bercelana merah itu: “Ia tak berani melihatnya, beranikah kau?”

Nona bercelana merah itu tidak menjawab, tapi dia maju kedepan dan memungut kantong kulit tersebut dari atas tanah. Tangannya tampak agak menggigil keras, jelas hatinya juga diliputi oleh rasa takut dan ngeri. “Tampaknya, lebih baik kau jangan melihat saja!” kata Siau-lui kembali.

“Tidak, aku ingin melihat isinya!” jawab nona bercelana merah itu cepat. “Siapa tahu kalau isi kantong tersebut benar-benar adalah sebuah batok kepala, batok kepala dari Siau-siang-kiam- khek.”

“Aku tidak takut!”

Sekalipun dia mengatakan tidak takut, tapi tangannya menggigil semakin keras, setelah menarik beberapa kali, dia baru berhasil melepaskan ikatan tali yang mengikat mulut kantong tersebut.

Beberapa macam barang dengan cepat terjatuh keluar dari dalam kantong tersebut … separuh potong pedang yang kutung, beberapa stel pakaian dan sepasang telinga. Yaa itulah telinga manusia, telinga yang masih berlepotan darah kental.

AKHIRNYA Lian It-lian dapat juga menghela napas lega, untung saja isi kantong itu bukan batok kepala manusia. Sekalipun sepasang telinga yang berlepotan darah itu tampaknya juga menakutkan, paling tidak jauh lebih enak dipandang daripada sebuah batok kepala manusia yang berlepotan darah.

“Adakah sepasang telinga ini milik Siau-siang-kiam-khek?” nona bercelana merah itu bertanya. “Pakaian itupun miliknya,” Siau-lui segera menerangkan.

“Buat apa kau membawa pulang pakaiannya?” “Karena aku senang!”

“Apakah setiap tindakan yang kau senangi akan kau lakukan tanpa memandang resikonya?”

“Apakah kau tidak tahu yang diartikan sebagai Ji-gi?” Nona bercelana merah itu segera menghela napas panjang, diambilnya separuh potong pedang kutung itu dan bertanya lagi: “Apakah pedang inipun miliknya?” “Diatas gagang pedang itu tertera beberapa huruf, apa salahnya kalau kau membacanya agar semua orang ikut mendengarkan?”

Dengan suara lantang, nona bercelana merah itu segera membaca sebaris tulisan yang tertera diatas kutungan pedang itu: “Senjata mestika dari bukit Heng-san. Berpantang dalam membunuh. Pedang utuh manusia hidup. Pedang kutung manusia binasa.”

“Apakah kalian semua telah mendengarkannya dengan jelas?” Siau-lui bertanya. Yaa, setiap orang telah mendengar kata-kata tersebut dengan jelas dan terang. “Apakah kalian semua tidak mengendus bau busuk?” kata Siau-lui kembali.

Tidak tak ada yang mengendus bau busuk. “Aku kan sedang berbicara bukan lagi kentut, dari mana datangnya bau busuk?” nona bercelana merah itu segera berseru. “Kata-kata tersebut semuanya adalah kentut busuk, masakah kalian tidak mengendus bau busuk?” seru Siau-lui.

“Aku lihat kata-kata tersebut amat jelas dan sangat masuk akal, kenapa bisa berubah menjadi kentut busuk?” “Orang yang dibunuh olehnya, tak mungkin jauh lebih sedikit dari pada orang lain, ketika kukutungi pedangnya, kutelanjangi pakaiannya, dan kupotong sepasang telinganya, ia masih juga belum mau mampus …!”

Setelah tertawa dingin, lanjutnya: “Bukankah itu berarti kata-kata tersebut jauh lebih busuk dari pada kentut?”

Nona bercelana merah itu menghela napas panjang. “Yaa sekarang aku memang mulai mencium bau busuk itu, sudah pasti kata-katanya sebagai kentut busuk!” “Bukan cuma sebagai kentut saja, bahkan jauh lebih busuk dari pada kentut yang paling busukpun didunia ini, sayang dia sendiri tidak mengendusnya, maka dalam gusarku sepasang telinganya segera kukutungi dan pakaiannya kutelanjangi.”

Nona bercelana merah itu segera tertawa cekikikan suaranya merdu dan nyaring. “Aku pikir hidungnya mungkin berpenyakit, hanya hidung yang berpenyakit membuatnya tak bisa mengendus apa-apa, karena itu bau busuknya kentutpun tak sampai terendus olehnya, kalau aku menjadi kau, seharusnya bukan sepasang telinga yang tak bersalah itu yang dikutungi, lebih tepat kalau hidungnya yang tak berfungsi itu yang dipapas sampai kutung …”

“Kembali kau keliru besar,” kata Siau-lui. “Jika hidungnya itu sudah tidak berfungsi lagi apapula gunanya untuk dikutungi? Toh dikutungi atau tidak dikutungi juga sama saja, tak mungkin ia bisa mengendus bau busuknya kentut yang dia lepaskan. Lantas apa gunanya aku musti memapas kutung hidung yang tak berfungsi itu?”

Nona bercelana merah itu segera bertepuk tangan dan tertawa cekikikan. “Yaa, betul, betul sekali, memang perkataanmu masuk akal, teorimu memang tepat sekali.” “Tentu saja semua perkataanku masuk akal, tepat dan benar, karena setiap perkataan yang kuucapkan selalu mengandung kebenaran dan kenyataan yang tak dapat dibantahkan.”

Ia mendongakkan kepalanya, lalu dengan angkuh melanjutkan: “Sebab aku inilah Ji-gi Tay- tee yang tiada duanya di seantero jagad, akulah Kaisar agung yang menguasai bukit, mengurusi benua dan ditakuti oleh langit, bumi maupun setan!”

ANTARA SANG DEWI DAN IBLIS PERERMPUAN

AKHIRNYA Lian It-lian menjadi paham juga, kenapa si daging hidup Ting dan sekalian orang-orang yang berada disitu sedemikian takutnya menghadapi bocah cilik tersebut.

Dapat mengutungi pedang Siau-siang-kiam-khek, menelanjangi dirinya dan mengutungi sepasang telinganya, sudah merupakan suatu peristiwa yang cukup mengerikan. Tapi yang benar-benar paling mengerikan masih bukan terletak pada bagian tersebut.

Tiba-tiba Siau-lui bertanya kepadanya: “Apakah kau merasa takut kepadaku?”

Lian It-lian tidak menjawab, karena dia tak dapat menyangkal, namun diapun tak ingin mengakui.

“Mengapa kau takut kepadaku?” kembali Siau-lui bertanya. Lian It-lian masih belum juga menjawab, karena hakekatnya dia sendiripun tak tahu. Tiba-tiba ia merasa bahwa mungkin disinilah letaknya bagian yang paling menakutkan dirinya, meskipun orang lain takut kepadanya, namun tidak diketahui kenapa ia merasa begitu takut kepada dirinya.

Siau-lui telah bertanya pula kepada nona bercelana merah itu: “Bagaimana dengan kau? Apakah kau juga merasa takut kepadaku?”

“Tidak, aku tidak takut!” nona bercelana merah itu berseru. “Orang lain pada takut semua kepadaku, kenapa kau tidak takut kepadaku?”

“Karena aku sama sekali tak mengerti, kenapa mesti takut kepadamu?” jawab nona bercelana merah itu.

Siau-lui segera tertawa. Setengah harian kemudian, tiba-tiba ia bertanya kembali: “Maukah kau kawin denganku?”

“Baik!” jawab nona bercelana merah itu cepat. Ketika Siau-lui mengajukan pertanyaan itu secara tiba-tiba, semua orang sudah merasa terkejut. Ternyata nona bercelana merah itu memberi jawaban yang tak kalah cepatnya, hal mana semakin membuat orang tercengang dan merasa diluar dugaan. Bahkan Siau-lui sendiripun sedikit merasa diluar dugaan. “Kau betul-betul bersedia kawin denganku?” tegasnya.

“Tentu saja!”

Mendadak nona itu menghela napas, terusnya: “Sayang sekali, aku tahu bahwa kau bukan sungguh-sungguh menyukai diriku!”

“Lantas mengapa aku meminangmu untuk menjadi istriku?” “Karena aku amat mirip dengan seseorang yang lain, yang kau sukai secara tulus ikhlas adalah orang itu, maka seandainya aku benar-benar menikah denganmu, dikemudian hari kau pasti akan menyesal.”

“Kenapa?” “Sebab bagaimanapun juga aku bukanlah dia, dikemudian hari kau pasti akan menemukan bahwa banyak terdapat ketidak samaan antara aku dengan dirinya, saat itulah kau akan mulai menjesal, andaikata suatu ketika kau berhasil menjumpai dirinya lagi, kemungkinan besar kau akan menyepakku dari sisimu.”

Siau-lui berpikir sebentar, lalu jawabnya: “Agaknya apa yang kau katakan rada masuk akal juga.”

Nona bercelana merah itu segera tertawa manis. “Sekalipun aku bukan Kaisar Ji-gi Tay-tee, tapi apa yang kuucapkan sedikit banyak masih bisa diterima juga oleh akal sehat.”

“Oleh karena itu kau merasa lebih baik jangan kawin dengan diriku saja …?” kata Siau-lui.

“Bukannya aku tak ingin menikah denganmu, cuma lebih baik kalau kau jangan mengawini diriku karena aku tak ingin menyusahkan dirimu.”

Siau-lui berpikir sebentar, tiba-tiba ia berpaling ke arah Bu-ki sambil bertanya: “Coba lihatlah, dia mirip siapa?”

“Aku tak dapat melihatnya,” sahut Bu-ki.

“Seharusnya kau dapat melihatnya dia mirip Hong-nio, Wi Hong-nio mu itu!”

“Kau suka dengan Hong-nio?’ “Apakah kau masih tidak mengerti kenapa aku harus datang kemari? Kenapa harus tinggal di tempat ini?”

Tentu saja kesemuanya itu lantaran Hong-nio. Karena dulu Hong-nio berdiam di situ, setiap benda yang berada di tempat itu seakan-akan telah memantulkan bayangan indah dari Hong- nio.

Sekarang pada akhirnya Bu-ki mengerti juga. Dia hanya bisa tertawa getir. Wajah Siau-lui yang sebetulnya masih menampilkan wajah seorang kanak-kanak itu mendadak menampilkan kesedihan hati seorang dewasa, ujarnya dengan murung: “Sayang sekali sekarang dia sudah bukan milikmu, juga bukan milikku lagi.”

Tiba-tiba kesedihan dan kemurungan tersebut berubah menjadi kemarahan dan luapan rasa benci. “Karena orang mati hidup itu telah merampasnya dari tangan kita berdua …” ia menambahkan.

Orang yang dimaksudkan sebagai “orang mati hidup” itu sudah barang tentu adalah Tee-cong. Sekarang Bu-ki baru yakin, bahwa orang yang diajak Tee-cong menjenguknya tempo hari bukan lain adalah Hong-nio. Tak bia disangkal lagi, Bu-ki merasakan hatinya bagaikan ditusuk dengan pisau yang tajam, menusuk dalam ulu hatinya dan mendatangkan rasa sakit yang merasuk hingga ketulang sumsum.

Mungkin disebabkan rasa sedih yang terlalu mendalam, maka di atas wajahnya sedikitpun tidak menampilkan perubahan apa-apa.

Siau-lui melotot ke arahnya, tiba-tiba ia berteriak keras-keras: “Aku lihat kau sedikitpun tidak merasa sedih, kenapa? Kenapa kau tidak sedih?”

Bu-ki tidak menjawab. Sebaliknya nona bercelana merah itu telah menghela napas panjang, katanya: “Kalau kesedihan tersebut dapat dilihat dari wajahnya, mungkin kesedihan tersebut bukan suatu kesedihan yang benar-benar sedih.”

“Yaa masuk akal juga perkataanmu itu,” kata Siau-lui, “agaknya setiap perkataan yang kau ucapkan selalu masuk akal.”

Nona bercelana merah itu tersenyum manis, baru saja dia hendak mencari sumpit untuk mengambil daging sapi masak kecap, mendadak terdengar Siau-lui berteriak keras: “Haah, tidak mirip! Tidak mirip! Begitu kau tertawa, lantas saja tidak mirip, untung saja aku belum mengawinimu, kaupun belum jadi kawin dengan aku.”

Sementara itu dari kejauhan sana berkumandang suara kentongan. “Toong! Toong!” dua kali ketukan, berarti sudah kentongan kedua. Kalau dihitung-hitung, sekarang memang sudah saatnya mendekati kentongan kedua.

Saat kentongan kedua tiba, terdengar bunyi kentongan berkumandang semestinya hal itu merupakan suatu kejadian yang lumrah, umum dan tiada suatu yang aneh. Tapi paras muka Siau-lui telah berubah. “Sungguh tak kusangka si buta sialan itu dapat mencari aku disini!” gumamnya.

Hanya Tio Bu-ki seorang yang tahu, siapa gerangan si buta sialan yang dimaksudkan itu. Suara kentongan itu berasal dari tempat yang amat jauh, tapi kedengarannya seakan-akan si pemukul kentongan itu berada disisi telinga mereka. Kecuali Toh-mia-keng-hu (si kentongan perenggut nyawa) Liu Sam-keng, siapa lagi yang bisa memiliki tenaga dalam sesempurna ini? Kaisar Ji-gi Tay-tee yang tidak takut langit, tidak takut bumi ini meski tidak takut pula terhadap Liu Sam-keng, namun terhadap si orang mati hidup masih tersisa juga sedikit rasa takut.

Ditengah keheningan malam yang mencekam, terdengar bunyi tongkat yang mengetuk permukaan tanah bergerak dari tempat kejauhan menuju kemari, bahkan suaranya makin lama semakin nyaring.

Liu Sam-keng yang mengenakan celana hijau, membawa gembrengan kecil dan berjalan sambil mengetukkan tongkatnya ke tanah itu, akhirnya muncul dari balik kegelapan.

Siau-lui tidak berkutik, semua orang juga tak berkutik, Siau-lui membungkam, semua orang lebih-lebih terbungkam. Bu-ki dapat memahami maksud hati Siau-lui. Banyak orang persilatan pada tidak percaya kalau Toh-mia-keng-hu benar-benar buta, kadangkala ia dapat melihat jauh lebih tajam dan terang dari pada mereka yang tidak buta.

Namun Siau-lui tahu bahwa butanya mata orang itu bukan cuma pura-pura saja, tapi buta sungguhan. Perasaan dan ketajaman pendengaran seorang buta jauh lebih tajam dan lihay dari segala-galanya, asal semua orang tidak bersuara, maka diapun tak akan tahu kalau ada sekian banyak orang berkumpul di situ.

Dengan tenang dan membungkam semua orang menyaksikan ia berjalan masuk setelah mengitari halaman, wajahnya yang kuning pucat sama sekali tidak menampilkan emosi, seakan-akan ia sedang memasuki rumah kosong yang sama sekali tak berpenghuni.

Begitu banyak pasang mata dari orang-orang yang berada dalam ruangan itu sedang mengawasinya, namun ia sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa, tongkat bambu berwarna putihnya masih mengetuk tanah dan pelan-pelan ia berjalan kedepan meja.

Sesudah menarik napas panjang-panjang, gumamnya: “Sungguh tak kusangka di sinipun ada arak, ada sayur, kalau orang lain memang segan makan, biar akulah yang akan menikmatinya.

Sambil meraba-raba ia mencari sebuah bangku dan duduk, setelah menyandarkan tongkat bambunya di tepi meja, dia mencari sepasang sumpit, menyumpit sepotong daging sapi masak kecap dan dimasukkan kedalam mulutnya lalu dikunyah-kunyah. Kembali gumamnya: “Daging sapi ini sedap sekali rasanya, cuma sayang sudah dingin!”

Dia makan minum seorang diri, bergumam seorang diri, seakan-akan seorang penyanyi solo yang sedang beraksi di atas panggung, ia seperti juga tidak merasa bahwa setiap kali ia menyuap hidangan ke mulutnya, mata-mata yang melotot disekelilingnya sedang melotot besar ke wajahnya. Lian It lian yang menyaksikan kejadian itu, hampir saja mengucurkan air mata bercucuran. Kejadian semacam ini mungkin akan dianggap suatu lelucon, dimata orang lain, tapi dalam pandangannya, peristiwa itu justru merupakan suatu peristiwa yang paling menyedihkan di dunia ini.

Hampir saja dia tak tega memberitahukan kepada si buta yang patut dikasihani itu, bahwa dalam ruangan itu bukan hanya dia seorang diri.

Mendadak Lui Sam keng meletakkan sumpit ke atas meja, lalu menghela napas panjang. “Aaaai..! Sayang Siau lui tidak berada di sini. Hidangan Hwe po yau hoa dan daging sapi masak kecap kebetulan adalah hidangan kegemarannya, andaikata dia berada di sini aku pasti akan memberikan semuanya ini kepadanya”

Beberapa patah kata itu diucapkan seperti juga dengan kedua macam hidangan tersebut, walaupun biasa dan tiada sesuatu yang aneh, namun justru menampilkan suatu perasaan tertentu yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Hampir saja Lian it lian tak tahan mengendalikan diri. Hampir saja dia hendak memberitahukan kepadanya, bahwa Siau lui duduk di sampingnya, bahkan asal mengulurkan tangannya maka ia dapat meraba tubuhnya.

Siapa tahu ternyata Siau lui justru dibikin terharu oleh ucapannya itu, tiba-tiba ia berkata: “Kau tak usah memberikannya kepadaku, makanlah sendiri, aku tahu kaupun gemar sekali makan kedua sayur itu”

Paras muka Lui Sam keng yang kuning kepucatan itu segera memancarkan sinar tajam, serunya cepat, “Oooh,,,,! Kiranya kaupun berada di sini”

“Sejak tadi aku sudah berada di sini, sebenarnya aku tak ingin kau tahu akan kehadiranku di sini, tapi kau begitu baik kepadaku, bagaimana mungkin aku merasa tega untuk mengelabui dirimu?”

“Semenjak kau pergi meninggalkan kami, bukan saja setiap hari aku memikirkan dirimu, suhumu juga amat rindu kepadamu”

“Masakah dia juga memikirkan aku?”

“Meskipun di luar wajahnya sangat dingin dan kaku, tapi rasa rindunya kepadamu mungkin jauh lebih besar daripada rasa rinduku kepadamu…!”

Siau lui segera menghela napas panjang. “Sebenarnya aku masih mengira kalau dia ingin mempergunakan didirku saja untuk mengalahkan murid yang dididik oleh Ban Tang lo serta mengangkat nama baiknya” “Kau keliru besar” ucap Liu Sam keng, “asal kau bersedia pulang, ia sudah akan merasa gembira sekali!”

“Tapi aku masih tak ingin pulang!” “Kenapa?”

“Aku masih sorang kanak kanak, bagaimana pun juga aku tak bisa menirukan cara hidupnya yang tiap hari hanya berbaring dalam peti matinya saja, aku masih ingin bermain main di luaran, sebab pemandangan di luar jauh lebih menyenangkan daripada di situ”

“Tunggu saja sampai ilmu pedangmu telah selesai kau pelajari, saat itu kau pasti boleh bermain sepuas-puasnya”

“Apakah kau tak dapat tinggal di sini dan menemani aku untuk bermain main selama beberapa hari lagi? Setiap hari aku tentu akan suruh orang buatkan daging sapi masak kecap untukmu”

“baik, aku akan menemanimu!” Siau Lui sama sekali tidak menyangka kalau jawabannya diberikan secepat itu, saking gembiranya hampir saja dia melompat-lompat.

Liu Sam keng juga sangat gembira, katanya: “Kemarilah dahulu, biar kuraba dulu wajahmu, selama beberapa bulan ini kau bertambah gemu? Ataukah bertambah kurus?”

Siau lui segera maju menghampirinya, sambil tertawa ia menjawab: “Aku lebih gemuk dari dulu, aku telah berhasil mendapatkan seorang koki yang hebat!”

Dihadapan si buta, ia sudah bukan kaisar Ji-gi Tay tee yang luar biasa lagi. Bagaimanapun juga dia masih seorang kanak-kanak. Pancaran kasih sayang yang diperlihatkan kedua orang itu, hampir saja membuat air mata Lian It lian bercucuran saking terharunya. 

Ketika airmatanya sudah mulai meleleh keluar dari kelopak matanya, mendadak tangan Lui Sam Keng berputar cepat, lalu mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Siau Lui erat erat.

Lain It lian merasa ama terkejt, Siau lui lebih terkejt lagi, jeritnya tertahan: “Hey, mau apa kau?”

“Kau sudah bermain cukup lama ditempat luar” kata Liu Sam keng dengan dingin. “Lebih baik sekarang juga ikut aku pulang kerumah!”

“Jadi apa yang kau ucapkan tadi hanya untuk membohongiku?” “Sekalupun kau anggap sebagai bohong, itupun kulakukan demi kebaikanmu!”

“Kalau begitu, sejak semula kau sudah tahu kalau aku berada disini, maka sengaja kau mengucapkan kata kata tersebut agar terdengar olehku dan membuat hatiku terharu, setelah itu kau baru menangkapku untuk diajak pulang” seru Siau lui.

Liu Sam keng tak ingin menyangkal, pun tak perlu menyangkal, tiba tiba dia hanya berkata: “Tio Bu ki, kaupun lebih baik ikut aku pulang, Hong nio masih selalu menantikan kedatanganmu”

Sekali lagi Lian It lian merasa terkejut.

Ternyata si buta itu bukan saja tahu kalau Siau lui berada disitu, diapun tahu kalau Bu ki juga berada disana.

Sebetulnya dia adalah seorang manusia yang memiliki banyak tipu muslihat.

Tapi sekarang, secara tiba tiba ia menemukan bahwa semua tipu muslihatnya itu kalau dibandingkan dengan si buta tersebut hakekatnya seperti permainan dari seorang kanak kanak.

Bu ki masih dapat mengendalikan perasaannya, ia bertanya: “Kenapa akupun harus ikut kau pulang?”

“Karena ilmu pedangmu belum berhasil kau pelajari, kalau bergerak diluaran maka kau akan menderita kerugian”

“Jadi kalau begitu, kau suruh aku pulang kesitu hanya demi kebaikanku saja?” “Tentu!”

Sebetulnya Siau lui sudah ketakutan setengah mati, tiba tiba ia tertawa tergelak.

“Haahh…haahhh……haaahhhh…. sayang sekali, sekalipun dia ingin mengikuti kau pulang juga tak mungkin”

“Kenapa?” tanya Liu Sam keng. “Karena kalian berdua sudah tak mungkin bisa keluar lagi dari perkampungan Ho hong san ceng ini dalam keadaan hidup”

Setelah tertawa, ia melanjutkan, “Kematianmu mungkin jauh lebih cepat darinya, karena arak yang kau minum jauh lebih banyak daripada arak yang dia teguk”

“Apakah arak dalam poci itu sudah kau campuri dengan sesuatu?” tegurnya. “Kau tahu poci arak tersebut sudah tersedia di meja semenjak tadi, tentu saja tidak kau sangka kalau poci arak itu sudah kecampuri dengan sesuatu, apalagi aku memang menyiapkan arak itu bukan untuk kuminum sendiri, melainkan sengaja kupersiapkan untuk diberikan kepada Tio Bu-ki”

“Mengapa kau hendak mencelakainya” tanya Liu Sam keng.

“Bagaimanapun juga dia toh tetap suaminya Hongnio, jika aku atidak mencelakainya, lantas harus mencelakai siapa?”

Paras muka Liu Sam keng sudah rada berubah, dengan tangannya yang lain ia cengkeram poci arak tersebut kemudian diciumnya sebentar, setelah itu sambil tertawa dingin katanya: “Kalau dalam poci arak ini benar-benar terdapat racunnya, maka bukan saja sepasang mataku Liu Sam keng telah buta, hidungkupun pantas dipotong juga”

“Sudah puluhan tahun Toh mia keng hun malang melintang dalam dunia persilatan, untk membohongi dirimu tentu saja tidak terlalu gampang” kata Siau Lui.

Liu Sam keng segera tertawa dingin. “Yaaa, tentu saja tidak terlalu gampang!” sahutnya. “Persoalan yang kau ketahui tentu tidak sedikit bukan jumlahnya?” “Memang tidak terlampau sedikit!” “Kalau begitu kau tentu tahu bukan bahwa dalam dunia persilatan terdapat tujuh orang pendekar wanita yang disebut Jit Sian li (Tujuh dewi), mereka semua adalah perempuan-perempuan cantik yang ternama dalam dunia persilatan!”

Mendadak ia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain dan menyinggung tentang masalah lain yang sama sekali tiada sangkut pautnya dengan persoalan tersebut.

Walaupun orang lain merasa keheranan, tapi Liu Sam keng sama sekali tidak ambil peduli.

Jika kau telah mencengkeram urat nadi dari seseorang dan tahu dia sudah tiada harapan lagi untuk meloloskan diri dari cengkeramanmu, maka apapun yang dia katakan, tentu saja tak akan kau anggap peduli. “Aku bukan saja tahu tentang mereka, bahkan kenal pula dengan beberapa orang diantaranya”kata Liu Sam keng.

“Diantara ketujuh orang dewi itu, bukankah ada seorang diantaranya juga she Liu?” “Benar!”

“Kau juga kenal dengannya?”

Tiba-tiba Liu Sam keng menghela napas panjang: “Liok soat sian cu seperti juga namanya, dia adalah seorang perempuan yang lemah lembut, halus berbudi dan cantik jelita, perempuan semacam itu sudah tak banyak ditemui lagi pada saat ini” “Sekarang dimanakah orangnya?” tanya Siau lui.

“Walaupun sinar matahari senja amat indah, sayang sudah mendekati datangnya magrib!” “Apakah dia telah mati?”

Kembali Liu Sam keng menghela napas panjang, “Yaaa ia memang mati terlalu awal!” sahutnya.

“Sekarang walaupun kau tak dapat melihat wajahnya lagi, tentunya masih mengingat suaranya bukan?”

“Bukan hanya sehari dua hari kudengar suaranya, seperti juga wajahnya, suaranya merdu dan indah, siapapun yang pernah mendengar suaranya maka tak akan terlupakan lagi untuk selamanya”

Siau lui pun ikut menghela napas panjang. “Aaaii…!Sayang ia mati terlalu awal!” katanya “Yaaa,, memang sayang sekali!”

Mendadak Siau lui tertawa tergelak, kemudian serunya, “Liu Liok-soat, sesungguhnya kau sudah mati atau belum?”

“Belum!” jawab Poan-bin-lo-sat.

Ketika secara tiba-tiba ia bertanya kepada seseorang yang jelas diketahui telah mati dengan pertanyaan: “Sudah matikah kau?” semua orang sudah merasa terheran-heran. Sungguh tak disangka ternyata ada juga yang menjawab: “Belum!” dan orang itu ternyata bukan lain adalah Poan-bin-lo-sat (iblis perempuan berwajah separuh).

Kejadian ini segera mencengangkan semua orang, membuat wajah mereka termangu, mata terbelalak dan mulut melongo. Lebih tak disangka lagi ternyata paras muka Liu Sam-keng segera berubah hebat setelah mendengar suara jawaban itu.

Apakah Poan-bin-lo-sat yang bengis, kejam dan tak berperi kemanusiaan ini, bukan lain adalah Liok-soat siancu yang lemah-lembut dan berbaik budi itu?

Kembali Siau-lui bertanya: “Benarkah kau adalah Liok-soat siancu?” “Yaa, benar!” Poan-bin-lo-sat menegaskan.

“Kau belum mati?”

“Aku tahu setiap orang mengira aku telah mati, sayang aku masih hidup segar bugar!” Suara penuh dengan kepedihan dan kesedihan, seakan-akan ia betul-betul merasa sayang karena dirinya hingga kini masih hidup segar bugar.

“Sesungguhnya kau adalah seorang Dewi, mengapa saat ini bisa berubah menjadi iblis wanita?”

Lo-sat adalah sejenis Iblis perempuan yang bengis, jahat dan bertampang jelek. Poan-bin-lo- sat segera menjawab:

“Semenjak wajahku rusak ditangan orang, aku telah berubah menjadi Iblis perempuan yang berhati keji!”

Lian It-lian pernah menyaksikan wajahnya, raut wajah yang dimilikinya sekarang memang sudah tidak mirip dengan wajah seorang bidadari lagi.

“Wajahmu rusak ditangan siapa?” tanya Siau-lui kemudian. “Ditangan Kongsun Lan!”

“Siapakah Kongsun Lan itu?”

“Dia adalah putri tunggal dari Kongsun Kong-ceng, seorang tayhiap dari kota Yang-ciu!”

“Benarkah mereka adalah orang-orang dari keluarga persilatan Kongsun yang merupakan salah satu dari empat keluarga besar persilatan …?” Siau-lui bertanya lebih lanjut.

“Benar!”

“Kenapa Kongsun Lan merusak wajahmu yang cantik itu?” “Karena ia telah mencintai Lim Tiau-eng!”

“Siapa pula Lim Tiau-eng tersebut?”

“Dia tak lain adalah Siau-siang-kiam-khek Lim Tiau-eng yang perkataannya bagaikan kentut busuk itu?” Poan-bin-lo-sat menerangkan.

“Lantas apa pula hubunganmu dengannya?” “Dia adalah suamiku!”

“Secara bagaimana Kongsun Lan bisa berkenalan dengannya?” “Waktu itu ia seringkali bermain kerumah!”

“Jadi diantara kalian sebenarnya tiada ikatan dendam ataupun sakit hati?” “Sama sekali tak ada.”

“Lalu apa pula hubunganmu dengan Kongsun Lan?” “Dahulu dia adalah saudara angkatku!”

Suara jawabannya selalu dingin dan hambar, tapi ketika berbicara sampai kesitu, nadanya baru kedengaran agak berubah. Sayang wajahnya tertutup oleh selapis kain cadar hitam, bukan saja berwarna gelap, lagipula sangat tebal, sehingga sukar buat orang lain untuk mengetahui mimik wajahnya.

“Bagaimanakah hubunganmu dengan dirinya?” Siau-lui kembali bertanya dengan suara nyaring.

“Sebenarnya aku selalu menganggap dia sebagai adik kandungku sendiri, dalam menghadapi persoalan apapun aku selalu mengalah untuknya.”

“Tapi bagaimanapun juga kau tak dapat menyerahkan suamimu kepadanya …?”

“Yaa, sesungguhnya aku sama sekali tak tahu akan kejadian tersebut, pada hari Tiong-ciu suatu tahun, ia mengundang kami untuk merayakan hari tersebut bersama dirumahnya, akupun berkunjung kesana, waktu itu ia berusaha keras untuk meloloh aku dengan arak, dan akupun minum terus tanpa rasa curiga.”

Tiba-tiba suaranya menjadi parau, lewat lama sekali baru sambungnya lebih jauh: “Sungguh tak kusangka, ketika aku telah dibikin mabuk dan tak sadarkan diri, ia telah naik keatas pembaringan bersama suamiku!”

“Kalau toh waktu itu kau sudah mabuk, darimana bisa kau ketahui jika ia sudah tidur dengan suamimu?”

“Sebab nyali mereka berdua terlalu besar, didalam kamar sebelahnya mereka lakukan perbuatan itu dan lebih-lebih tak mereka sangka kalau aku telah sadar kembali ditengah malam buta.”

“Apakah kau telah mendengar suara mereka?”

“Tidak, tapi aku seperti sudah terpengaruh oleh ilmu sihir, tiba-tiba saja ingin memeriksa keadaan dalam kamar tersebut.” “Bila seorang wanita menjumpai peristiwa semacam ini, sedikit banyak sikapnya memang akan berubah menjadi agak aneh,” kata Siau-lui sambil manggut-manggut.

“Ketika kutangkap basah perbuatan mereka itu, hampir gila aku saking marahnya, Kongsun Lan segera melarikan diri terbirit-birit, sedang aku mengejarnya dari belakang, ketika itu aku benar-benar ingin menangkapnya dan mencekik lehernya sampai mati.”

“Kemudian?”

“Kemudian akupun berubah menjadi begini.” “Kenapa?”

“Sebab rumah itu rumahnya, ketika orang tuanya dan saudara-saudaranya melihat aku hendak membunuhnya, serentak mereka turun tangan untuk membekuk diriku, setelah itu aku dikurung dalam rumah pembakaran batu bata, maksudnya hendak membakarku hidup-hidup.”

“Apakah Lim Tiau-eng tidak munculkan diri untuk menolong jiwamu?”

Poan-bin-lo-sat menggelengkan kepalanya. “Waktu itu ia sudah melarikan diri, jangankan orangnya, bayangan tubuhnya saja tak nampak.” ***

Berbicara untuk seorang perempuan, peristiwa semacam ini memang merupakan sebuah tragedi yang memilukan hati, jalannya peristiwapun penuh dengan liku-likunya masalah, kalau dibicarakan sesungguhnya, hal ini memang sangat tragis dan memilukan hati. Tapi semua orang masih tidak habis mengerti, mengapa Siau-lui mengisahkan kejadian tragis yang menimpa diri Poan-bin-lo-sat tersebut kepada mereka semua.

Sebab peristiwa tersebut agaknya sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan masalah yang terjadi barusan, hanya saja kejadian itu telah merubah kesan mereka bahwa Siau-siang-kiam- khek memang pantas dihukum mati.

“Semenjak terjadinya peristiwa itu, semua orang persilatan lantas menjangka bahwa kau telah mati,” kata Siau-lui.

“Yaa, karena mereka tidak menyangka kalau aku ternyata masih hidup, bahkan keluarga persilatan Kongsun telah memberi muka kepadaku dengan menyelenggarakan suatu upacara penguburan yang sangat meriah.”

“Mengapa kau belum mati?”

“Itulah yang dinamakan kalau saat ajalku belum tiba, dan aku memang ditakdirkan untuk hidup lebih jauh. Mimpipun mereka tak menyangka kalau malam itu, secara kebetulan ada orang hendak mencuri batu bata mereka.” “Apakah pencuri-pencuri batu bata itu yang telah menyelamatkan jiwamu …?” tanya Siau-lui.

“Tapi bukan saja separuh wajahku sudah terbakar hancur, sekujur badankupun sudah terbakar sehingga tak keruan keadaannya.”

“Maka dari itu kau lebih suka dianggap orang lain telah mati, karena kau tak ingin orang lain mengetahui bahwa wajahmu telah berubah menjadi begini rupa?”

Poan-bin-lo-sat kembali mengangguk. “Bukan saja wajahku telah berubah, bahkan jalan pikiranku pun ikut berubah!” katanya.

“Oleh sebab itu setahun kemudian, secara tiba-tiba dalam dunia persilatan telah muncul seorang iblis perempuan yang bernama Poan-bin-lo-sat?”

“Ya, karena pada saat itu aku baru tahu jika ingin menjadi seorang manusia maka hatinya mesti kejam dan tak berperasaan, dengan demikian ia baru tak akan menderita kerugian.”

“Konon setelah kejadian itu, kau telah meringkus empat puluh lembar jiwa keluarga Kongsun Lan untuk disayat dulu separuh wajah mereka, kemudian baru mengirim orang-orang itu kesuatu tempat yang tak mungkin ditemukan orang untuk menantikan kematiannya?”

“Ketika disekap dalam ruangan pembakaran batu bata, aku telah merasakan bagaimana tersiksanya seorang yang sedang menantikan tibanya saat kematian, maka aku harus membuat mereka pun ikut merasakan keadaan tersebut, karena dari keluarganya tak terdapat seorangpun yang terhitung orang baik.”

“Kongsun Kong-ceng meski tidak gagah dan jujur, jelek-jelek diapun seorang jago didalam perguruan Pat-kwa-bun, ilmu silat yang dimiliki orang-orang sekeluarga mereka tak nanti lemah, dengan cara apa kau berhasil meringkus semua anggota keluarganya?”

Lian It-lian sudah pernah mendengar hal ini dari mulut nona bercelana merah, tapi dia masih keheranan juga, dengan kekuatan Poan-bin-lo-sat seorang, bagaimana caranya ia berhasil meringkus puluhan lembar jiwa anggota Kongsun secara dengan bersamaan waktunya mereka semua …?”

Terdengar Poan-bin-lo-sat berkata: “Dirumah mereka terdapat sebuah sumur yang khusus dipakai untuk minum orang sekeluarga, kebetulan sekali sumur yang berada dihalaman belakang dikenal oleh orang sekitar sana sebagai sumur air manis, air itu paling enak jika digunakan untuk membuat air teh.”

Ia tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya dan kemudian melanjutkan: “Mereka adalah keluarga persilatan yang ternama, sampai pelayannya semua orang gemar minum air teh.” “Maka kau mencampuri air sumur itu dengan obat?” sambung Siau-lui dengan cepat. “Yaa, cuma sekali-sekali!”

“Obat apakah itu?”

“Obat tersebut bernama Kun-cu-san!” “Obat macam apakah Kun-cu-san itu?”

“Semacam obat racun yang bisa membuat orang pingsan dan kehilangan tenaganya jika minum sedikit, dan merenggut nyawanya jika terlalu banyak …!”

“Mengapa obat beracun itu dinamakan Kun-cu-san?”

“Sebab obat itu seperti juga seseorang Kuncu lemah-lembut dan berhati mulia tapi setelah mencelakai orang, bahkan sang korbanpun tidak mengetahuinja.”

Siau-lui kontan saja tertawa terbahak-bahak. “Haahh … haahh … haahh … sebuah nama yang sangat baik, nama yang sangat tepat.”

Setelah tersenyum, ia menambahkan: “Tampaknya dikemudian hari kalian harus ingat untuk baik-baik menghadapi seorang Kuncu, sebab makin lemah-lembut orangnya makin berbahaya wataknya.”

Poan-bin-lo-sat pernah mengalami nasib yang buruk dan musibah yang tragis, tak bisa disalahkan jika ia amat membenci orang persilatan.