Golok Naga Kembar Jilid 11 (Tamat)

Jilid 11 (Tamat)

PADA suatu hari, beberapa utusan dari cabang perkumpulan Ceng Bu Hwee di Kwi- tang telah tiba ke pusat perkumpulan di Shanghai. Maksud kedatangan mereka ialah agar dari pusat dapat dikirim ke selatan, seorang guru silat untuk memimpin kursus silat dalam gedung perkumpulan di sana.

Kesempatan yang baik ini telah dipergunakan oleh para pengurus Ceng Bu Hwee untuk mencegah sengketa selanjutnya antara Giok Hong dan Hian Pang, dengan mengutus Giok Hong mengepalai perguruan silat di gedung perkumpulan Ceng Bu Hwee di Kwi-tang dan Giok Hong menyatakan kesediaannya untuk memenuhi tugas itu.

Sebelum berangkat ke Kwi-tang, Giok Hong telah mengadakan perjamuan perpisahan dengan para sahabat dan murid-muridnya. Kemudian ia menghadiahkan badik beracun miliknya kepada murid kesayangannya, Lauw Toan In.

Dengan demikian, pada waktu berangkat ke selatan Giok Hong hanya membawa sebilah golok pusaka untuk melindungi dirinya, yakni golok Siang-liong-touw-cu-to atau Golok Naga Kembar yang terkenal itu.

Maka setelah berkemas-kemas dan memilih hari baik, Giok Hong segera berangkat ke Kwi-tang dengan disertai oleh puteranya Sun Bun Yong dan menantu perempuannya. Sedang isterinya sendiri pulang ke kampung halamannya untuk mengurus sawah-sawah mereka dan tidak pergi ke selatan.

Pada masa Sun Giok Hong memimpin pelajaran ilmu silat di gedung perkumpulan Ceng Bu Hwee di Kwi-tang, kala itu di kota Kong-ciu ada sebuah perkumpulan olahraga rakyat yang bernama Kok Bin Tee Yok Hwee yang dipimpin oleh Oey Siauw Hiap.

Oey Siauw Hiap ini ada seorang yang sangat gemar ilmu silat dan pernah belajar ilmu silat dari cabang perguruan silat Coa Lie Hut. Setelah ia tamat belajar, lalu mendirikan perkumpulan olahraga Kok Bin Tee Yok Hwee dengan meminjam tempat di kelenteng Tay-hut-sie, dimana para anggotanya khusus diberi pelajaran ilmu silat dari cabang perguruan silat Coa Lie Hut dan disamping itu mereka diajarkan pula pelbagai jenis olahraga yang lain untuk membuat tubuh menjadi kuat dan sehat.

Selain kaya raya dan gemar ilmu silat, Siauw Hiap juga terkenal sebagai seorang dermawan yang suka bergaul. Maka ia mempunyai hubungan luas dengan orang- orang yang paham ilmu silat. Meski kepandaian silatnya sudah cukup tinggi, Siauw Hiap selalu masih merasa kurang puas dan ingin mencari guru silat lain untuk diangkat menjadi gurunya. Selain mencari sahabat-sahabat baru, diapun mengharap akan memperoleh juga kemajuan dalam ilmu silat.

Waktu mendengar bahwa di jalan Thay-peng-lam-louw telah didirikan cabang perkumpulan Ceng Bu Hwee dengan Sun Giok Hong dari utara sebagai pemimpin perguruan silat tersebut, Oey Siauw Hiap jadi sangat gembira hatinya dan dengan perantaraan para sahabat dan handai taulannya ia meminta untuk diperkenalkan kepada Sun Giok Hong, yang sangat Siauw Hiap, tentu saja dengan harapan agar Sun Giok Hong sudi menerimanya sebagai murid Sebelum kenal secara pribadi dengan Giok Hong, Siauw Hiap telah lama mendengar nama si orang she Sun yang di tanah utara begitu disohorkan orang dengan nama julukan Ngo-seng-to-ong atau raja golok dari lima propinsi. Kabarnya Giok Hong memiliki sebilah golok pusaka yang bernama Golok Naga Kembar yang amat disegani oleh cabang-cabang atas dari kalangan Liok-lim di masa Giok Hong masih menjadi seorang pio-su.

Karena Siauw Hiap sendiri merupakan salah seorang kenamaan di kota Kong-ciu, maka tidak heran jika akhirnya dapat juga ia berkenalan dengan Sun Giok Hong yang telah menerimanya sebagai murid diluar tugasnya sebagai guru dari perkumpulan Ceng Bu Hwee.

Demikianlah perkenalan Giok Hong dengan Oey Siauw Hiap, yang kelak menjadi salah seorang murid Giok Hong yang tidak mengecewakan.

Meski dirinya sendiri telah menjadi guru, Giok Hong tidak pernah lupa untuk berlatih silat setiap hari dengan giatnya. Meski usianya telah mencapai 50 tahun, keadaan tubuh dan kesehatannya tidak berbeda dengan keadaan di waktu ia masih berusia tigapuluhan.

Disamping itu, iapun melatih anaknya Bun Yong dengan tidak kurang hebatnya.

Hingga tidak jarang Bun Yong mengeluh di dalam hati dan berpura-pura lelah dengan jalan membasahi dahinya dengan air, seakan-akan peluh telah mengucur karena saking dahsyatnya ia berlatih ilmu silat.

Setiap kali diadakan perlombaan olahraga di kota Kong-ciu, Bun Yong hampir selalu menjadi juara, terutama dalam hal memainkan pedang yang menjadi kegemarannya.

Giok Hong menurunkan semua kepandaiannya kepada puteranya itu, ilmu pukulan Eng-jiauw-kun, Thiat-see-ciang, ilmu pedang, ilmu golok, dan lainnya. Pendeknya tak ada sedikitpun pelajaranpun yang tidak ia turunkannya kepada puteranya itu.

Berkat kedatangan Sun Giok Hong ke selatan, maka di kemudian hari di Kwi-tang telah banyak orang yang juga mempelajari ilmu silat Eng-jiauw-kun. Nama-nama ahli ilmu silat golongan Eng-jiauw-kun yang boleh disebutkan antara lain, Ma Kiam Hong, Lim Siauw Lip, dan lain sebagainya. Bahkan dalam membantu memajukan perkumpulan olahraga Kok Bin Tee Yok Hwee yang dipimpin oleh Oey Siauw Hiap itu, jasa Giok Hong boleh dikatakan tidak kecil adanya.

Jenderal Tan Cee Tong yang pegang komando atas pasukan ke 8 di Kwi-tang, sangat gemar pula dengan ilmu silat dan setiap tahun kerap mengadakan pertandingan silat berhadiah dengan mengundang para ahli silat dari segala cabang perguruan silat. Diantaranya yang diundang adalah Sun Giok Hong, golongan Tong- long-pay, Lo Kong Giok, Tan Cu Ceng, silat Thay-kek golongan keluarga Yo yang bernama Tan Eng Kiat, ahli silat Thay-kek golongan keluarga Gouw Kong Gie, para ahli silat dari golongan Siauw-lim, Kouw Lu Ciang, Pouw Cin Siong, Yap Ie Teng, Sun Lok Tong, dan nama-nama terkenal lainnya. Tempat pie-bu yang dipilih adalah di taman umum Ceng Hui Park, sedang ketua pertandingan telah diangkat Lim In Kay, pembesar dari propinsi Kwi-tang.

Dalam pertandingan yang diadakan pada waktu itu, ahli silat Sun Po Kong telah mengalami kecelakaan terkena bacokkan pada lengannya, sehingga darah keluar dari luka itu tidak henti-hentinya. Segala daya upaya telah diambil untuk menghentikan mengucurnya darah itu, tapi ternyata sia-sia belaka. Syukur saja Sun Giok Hong yang mengetahui peristiwa ini telah keburu datang dan segera menggunakan mantra untuk menghentikan darah Sun Po Kong. Kalau tidak, niscaya jiwa Sun Po Kong akan tewas karena sudah mengeluarkan terlampau banyak darah.

Hal mana, sudah barang tentu sangat menakjubkan hati orang banyak. Lebih-lebih menurut pertimbangan Oey Siauw Hiap yang menjadi muridnya sendiri, hingga ia berharap di suatu waktu dapat menanyakan kepada gurunya bagaimana caranya luka yang mengeluarkan begitu banyak darah dapat segera dihentikan dengan mantra tanpa diobati.

Begitu pertandingan silat ditutup, Siauw Hiap telah mengundang Giok Hong makan minum di atas perahu. Ia mendapat kesempatan untuk bertanya kepada sang guru, bagaimana beliau telah dapat menghentikan pendarahan yang dialami oleh si ahli silat Sun Po Kong.

Giok Hong yang sudah minum banyak arak dan tampaknya agak mabuk, lalu tertawa dan berkata, "Soal ini adalah merupakan peristiwa lampau. Hingga kini telah 20 tahun lamanya sejak aku terakhir bekerja sebagai seorang pio-su dari Hin Liong Pio Kiok di kota Thian Cin. Semenjak pamanku meninggal dunia, pengurusan pio-kiok tersebut telah dipimpin olehku sendiri. Pada suatu hari aku telah menerima duapuluh kereta barang-barang seharga ratusan ribu tael emas yang dititipkan orang kepada kantor angkutan kami untuk dikirim ke propinsi Ouw-pak. Mengingat akan jumlah dan harga barang-barang yang sedemikian besarnya, aku pikir patut juga jika aku keluar sendiri mengantarkan barang-barang itu ke tempat yang dituju.

Begitulah, dari kota Thian-cin aku segera mengiringi keduapuluh kereta itu menuju ke propinsi Shoatang, keluar ke proponsi Kangsouw utara dan memasuki kota Lam- khia. Dari sana aku melanjutkan perjalanan ke Han-kouw dengan mengambil jalan air. Perjalanan dari Thian-cin sampai ke Lam-khia, boleh dikatakan aku sudah hapal betul, hingga dalam perjalanan itu aku tidak mengalami suatu rintanganpun dari pihak kawan-kawan kalangan Rimba Hijau. Dari Lam-khia aku mengambil jalan air dan setelah berlayar tiga atau empat hari lamanya menyusuri sepanjang sungai Tiang-kang, pada suatu hari tibalah rombongan kami di kota An-Keng, dari sana kemudian kami telah sampai di bawah sebuah gunung di waktu hari menjelang senja. Karena turun hujan lebat dan terbit angin ribut, maka terpaksa aku memerintahkan anak buahku untuk segera berlabuh di pantai timur.

Hujan dan angin baru mulai reda tatkala hari telah jauh malam lalu kami bersiap- siap melanjutkan perjalanan pada waktu hari menjelang pagi. Tiba-tiba di tepi sungai terdengar suara ribut-ribut, dibarengi dengan derap kaki kuda yang gegap gempita.

Mendengar suara-suara yang sudah biasa kudengar selama bertugas sebagai pio- su, aku segera mengetahui bahwa di arah tepi sungai ada kawanan perampok yang hendak mencegat rombonganku. Jumlah mereka pasti tidak kurang dari sepuluh orang lebih, hal mana telah kuperhatikan dari banyaknya suara kaki kuda yang terdengar disaat itu.

Lalu aku memerintahkan keempat orang pio-suku untuk melakukan penjagaan dengan cara berpencar. Dua orang diantara mereka Lauw Couw dan Lim Lu namanya, menjaga di arah kiri sedang dua orang lainnya, Lie Han dan Kwan Houw menjaga di arah kanan. Aku sendiri berdiri di tengah-tengah dengan Golok Naga Kembar yang sudah terhunus di tanganku.

Tidak begitu lama, betul saja ada duabelas orang perampok muncul dengan berkuda dan bersenjatakan tombak dan golok besar. Mereka semua bermuka bengis dan bertubuh tinggi besar. Tiba-tiba terdengar komando yang diserukan dengan suara nyaring, 'Serbu!'. Tanpa diperintah sampai dua kali, orang-orang itu segera turun dari kuda dan maju menerjang ke atas perahu kami dengan tidak banyak cakap lagi.

Kedatangan mereka telah kami sambut dengan tidak kurang hebatnya. Setiap pio- suku mendapat seorang lawan, tapi aku sendiri telah dikeroyok oleh delapan orang dari segala jurusan. Tombak dan golok musuh telah kubabat sehingga menjadi beberapa potong, tapi kesudahannya tak sanggup juga aku meladeni musuh-musuh yang berjumlah banyak dan berilmu kepandaian cukup tinggi itu, hingga terpaksa aku melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke dalam sungai. Dari tepi sungai aku mendarat dan masuk ke kota An-keng, dimana aku mendapat keterangan dari penduduk, bahwa kawanan perampok itu bukan lain daripada anak buah seorang cabang atas yang biasa merajalela di suatu tempat yang terpisah 50 lie jauhnya dari gunung Oey-san.

Kepala rampok itu bernama Oey Tay Tok, usianya baru 40 tahun, ia sangat mahir mempergunakan tombak Hong-eng-chio dan pedang. Oey Tay Tok ini merupakan raja tak bermahkota di perbatasan dua propinsi Ciat-kang dan An-hwie, tabiatnya sangat ganas dan dapat membunuh orang dengan mata tidak berkedip. Di kalangan Kang- ouw ia umum dikenal nama julukan si Racun Besar atau Tay Tok yang olehnya sengaja dicantumkan sebagai namanya sendiri. Ia mengacau di sepanjang sungai Tiang-kang dan pihak pemerintah disitu tak berdaya untuk menindasnya".

"Terhadap Oey Tay Tok yang demikian Iihay dan ganas itu" selak Oey Siauw Hiap, "selanjutnya Su-hu bertindak bagaimana?".

"Aku tak dapat berbuat lain daripada mempertaruhkan jiwa ragaku untuk mempertahankan nama baikku sebagai seorang pemimpin kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok yang pantang mundur terhadap segala rintangan" sahut Sun Giok Hong sambil meminum kering arak yang diisi berulang-ulang oleh sang murid. "Karena jika aku tak mampu mengambil pulang barang-barang angkutan yang dirampok oleh anak buah Oey Tay Tok itu, bagaimana aku ada muka bercokol di kota Thian-cin lagi, dimana telah sekian tahun lamanya aku dikenal orang sebagai Ngo-seng-to-ong?.

Keempat orang pio-suku telah menghilang entah kemana, hingga tidak jelas apakah mereka masih hidup atau telah mati. Syukur juga di dalam sakuku masih ada beberapa tael urang perak, maka aku dapat mendarat d.in masuk kt- d.il.im kota setelah membeli dua stel pakaian dan barang-barang keporlu.in yang lainnya, kemudian balik ke tepi sungai.

Tapi di situ tak kudapatkan perahu-perahu yang mengangkut barang-barang angkutanku, kecuali air sungai yang luas dan gunung biru yang tampak tidak berapa jauh dari tepi sungai Tiang-kang itu. Lalu aku coba mencari kemana jejak keempat orang pio-suku itu, tapi ternyata sia-sia saja.

Letaknya gunung Oey-san adalah di arah selatan sungai Tiang-kang. Ada kemungkinan mata-mata gerombolan Oey Tay Tok telah mendengar kabar bahwa kali ini kami tengah mengangkut barang-barang yang berharga ratusan ribu tael emas untuk dibawa lewat di situ, maka mereka segera lakukan serangan kilat sebelum aku keburu mengatur penjagaan. Setelah aku mendapat keterangan dimana letakny.i sarang perampok itu, segera aku menyewa sebuah perahu untuk melintasi sungai Tiang-kang sambil bertanya di sepanjang jalan kepada tukang-tukang perahu yang justru berpapasan di tengah sungai, kemana diangkutnya perahu-perahu yang memuat barang-barang berharga itu. Salah seorang tukang perahu telah menerangkan kepadaku, bahwa barang-barang itu didapatkan di tepi sungai bagian timur, tapi entah kemana selanjutnya diangkut oleh mereka.

Maka berdasarkan keterangan yang telah kuperoleh ini, lekas-lekas aku menyuruh tukang perahu membawa aku ke tepi sungai di timur itu, mendarat di luar kota Kie- bun, sebuah kota yang terletak tidak berapa jauh dari kaki gunung Oey-san di arah selatan. Di sini karena hari sudah malam, apa boleh buat aku mencari rumah penginapan untuk bermalam dan beristirahat.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi aku segera masuk ke sebuah dusun yang bernama Gie-liong-lie, dimana aku mendapat kebar ada sebuah rumah pelacur yang menjadi tempat istirahat dari si kepala perampok Oey Tay. Tapi untuk tidak mengusik-usik harimau tidur, aku terpaksa mesti mencari pondok dan melakukan penyelidikan ke rumah pelacuran itu pada malam harinya. Kira-kira pada kentongan kedua, aku tiba di muka rumah pelacuran itu, dimana aku melihat ada dua orang laki-laki tinggi besar berjalan keluar sambil membawa poci arak. Maka dengan tidak membuang-buang waktu pula, aku segera hampiri mereka dan segera mengenali, bahwa mereka ini adalah dua orang diantara para perampok yang telah merampok barang-barang angkutanku. Tanpa banyak bicara lagi aku segera pergunakan tinjuku menghantam orang yang berjalan duluan sehingga dengan menjerit kesakitan ia jatuh meloso di tanah. Yang seorang lagi menjotos ke arah mukaku, dengan sebat aku pergunakan jurus Eng-jiauw-kim-na-ciu atau tangkisan menurut ilmu cakar garuda dan membantingnya sehingga jatuh terguling menimpa kawannya. Kemudian dengan menyekal batang leher yang seorang dan menginjak dada orang yang lainnya yang terlentang di tanah, aku menanyakan di mana tempat- sembunyinya Oey Tay Tok.

Tatkala mereka menerangkan dengan separuh meratap agar diri mereka tidak dianiaya lagi, aku segera lepaskan mereka dan menuju ke desa Kiu-lie-kie (desa sembilan lie) yang ditunjuk oleh mereka sebagai sarang Oey Tay Tok. Di sana aku dicegat oleh empat orang laki-laki bertubuh tinggi besar yang menjaga di muka sebuah gedung besar, salah seorang diantaranya segera membentak dan minta supaya golokku diserahkan kepadanya.'

Tanpa banyak bicara lagi aku segera hantam orang itu sehingga terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh meloso di tanah.

'Engkau berani melawan?' kata tiga orang yang lain sambil menghunus golok, lalu mengepungku dari segala jurusan.

Amarahku jadi semakin meluap dan segera menempur mereka semua dengan cara yang tidak kepalang tanggung. Dua bilah golok mereka dengan sekejap saja telah kubuat putus. Salah seorang diantaranya yang telah kulukai, lekas-lekas lari masuk ke dalam gedung itu, rupanya hendak melaporkan tentang kedatanganku ke situ kepada induk semangnya. Perbuatan mana juga diturut oleh orang pertama yang telah kuberi hadiah bogem mentah.

Tapi kedua orang lawan yang masih mengepung diriku dari kiri kanan, ternyata ilmu kepandaiannya cukup tinggi dan hatinya gagah berani. Selain tidak meninggalkan aku mentah-mentah, merekapun lekas mempergunakan jwan-pian atau cambuk lemas sebagai ganti golok yang telah kubabat tadi.

Selagi pertempuran berlangsung, tiba-tiba dari dalam gedung itu muncul seorang laki-laki berjenggot, berusia kira-kira 40 tahun, romannya bengis, tubuhnya tinggi besar. Sambil menjinjing golok Toa-ma-to di tangannya, ia maju ke medan pertempuran dan menuding kepadaku sambil membentak, 'Hai, engkau ini kerbau hutan dari mana yang bernyali besar berani membikin rusuh di dalam daerah kekuasaanku?'. Sesudah itu ia menyerukan anak buahnya yang turut juga keluar mengiringinya sambil memerintahkan, 'Saudara-saudara, segeralah bekuk binatang liar ini!'.

Mendengar diriku dimaki 'kerbau hutan' dan 'binatang liar', sudah barang tentu aku menjadi sangat mendongkol hingga dengan sengit aku telah menerjangnya sambil balas memaki, 'Setan gunung, aku justeru sengaja datang kesini untuk menjajal sampai berapa tinggi ilmu kepandaianmu!'.

Setelah itu aku desak kedua orang lawanku yang masih menghadang di hadapanku sehingga kedua-duanya jatuh terpelanting, kemudian aku ladeni si kepala rampok yang baru datang itu. Ternyata tepat sekali dengan dugaan hatiku, yakni bahwa dia itu bukan lain daripada Oey Tay Tok adanya.

Kepala berandal itu membacok ke arah batok kepalaku dengan sekuat tenaganya. Syukur juga aku tidak menjadi gugup, hingga aku dapat mengelakkan bacakannya itu dengan siasat Tay-peng-ciong-thian atau burung garuda menoblosi langit, dengan mana aku mengegos sambil mencelat ke atas. Kemudian dari arah atas aku balas menyerang Oey Tay Tok dengan siasat Tiang-coa-cu-tong atau ular keluar dari lobang. Tatkala Oey Tay Tok melintangi goloknya untuk menahan golokku segera terdengar suara dua senjata yang beradu, dibarengi oleh meletiknya percikan- percikan api yang berhamburan kian kemari, hingga kepala berandal itu jadi terkejut dan lekas mundur untuk memeriksa mulut goloknya dan ternyata telah terkupas sebagian oleh golokku.

Oey Tay Tok tampak sangat terkejut, tapi ia maju menerjang lagi dengan cara yang lebih hati-hati. Setiap seranganku ia kelit atau hindarkan dengan jalan mengegos, tapi sama sekali tak mau lagi mengadu senjatanya dengan golok pusakaku.

Pada suatu waktu ketika ia menabas pinggangku dengan siasat Hie-ong-sat-bong atau tukang ikan menebarkan jalan, segera juga aku mundur sambil berjongkok.

Bersamaan dengan itu, aku sapukan kakiku dengan kecepatan yang tak terduga, hingga seketika itu juga ia jadi menjerit karena amat kagetnya dan sebelum ia keburu lompat, kakinya telah kena kusengkat hingga ia jatuh terguling di tanah. Kemudian aku lompat mengejar menginjak pinggangnya sambil menekankan golokku ke batang lehernya.

'Ayoh, jika engkau tak mau membayar pulang semua barang-barang angkutanku tanpa kurang sepotongpun' ancamku, 'golokku ini pasti akan bikin jiwamu melayang seketika ini juga!".

Karena masih sayang akan jiwanya, maka ia berjanji akan segera mengembalikan barang-barang angkutanku yang telah dirampok oleh anak buahnya.

Dengan menuruti segala petunjukku, barang-barang itu lalu dikumpulkan dan kuperiksa dengan teliti dan ternyata semua itu tiada sepotongpun yang hilang. Barulah aku menanyakan kepada kepala rampok itu di mana adanya keempat orang pio-suku. Tapi Tay Tok mengatakan bahwa dia tak tahu menahu ke mana perginya para pio-suku itu, yang diduganya telah kabur dikala aku sendiri terjun ke dalam sungai.

Aku terpaksa menyewa para kuli untuk mengangkut semua barang-barang itu ke atas perahu untuk kemudian menyewa kereta dan melangsungkan pengangkutan itu ke propinsi Ouw-pak.

Sekembalinya dari mengantarkan barang-barang itu ke propinsi Ouw-pak, aku telah kembali dicegat oleh Tay Tok dan anak buahnya yang telah menghujani anak panah ke arah perahu yang kutumpangi. Disaat itu pinggangku terkena anak panah dan mengucurkan darah tidak henti-hentinya, hingga aku jatuh di geladak perahu dalam keadaan tidak ingat orang. Syukur saja tukang perahu itu telah membacakan mantra penghenti darah, kalau tidak niscaya aku tidak tl.ip.it bercinta seperti sekarang ini.

Aku jadi sangat berterima kasih akan pcrtolong.in luk.ing perahu itu, hingga kemudian aku mengangkatnya sebagai guru dan mempelajari mantra penghenti darah yang telah kupergunakan atas diri Sun Po Kong yang terluka oleh golok lawannya itu.

Demikianlah riwayat kepandaian aneh yang telah kuperoleh dari guruku yang bernama Thio Pauw Peng".

Siauw Hiap jadi sangat tertarik dan minta juga Giok Hong mengajarinya ilmu tersebut. Giok Hong berjanji kelak akan mengajarinya meski ia sendiri tidak berani memastikan apakah Siauw Hiap akan berhasil menerima warisan ilmu yang agak aneh itu. Tapi, hingga Siauw Hiap menjadi salah seorang ahli Eng-jiauw kun yang tersohor, ternyata dia tak berhasil mempelajari mantra penghenti darah itu. Ilmu itu lenyap setelah kemudian Giok Hong menutup mata, bahkan anaknya sendiri Bun Yong pun tidak berhasil mempelajarinya.

Tatkala Giok Hong mencapai usia 60 tahun, ternyata tabiatnya yang keras dan pemarah tidak menjadi berkurang. Pada waktu itu di antara golongan persilatan di selatan hidup seorang ahli silat yang bernama Lim Yauw Kwie. Ia paham ilmu Liong- heng-kun atau ilmu silat naga di daerah Tong-kang, maka dia telah diberikan orang nama julukan Tong-kang-lo-houw atau harimau Tong-kang. Usianya baru 40 tahun, tapi tidak kurang dari seratus lebih ahli-ahli silat telah ia robohkan hingga selanjutnya tak pernah ada lagi orang yang berani datang "meminta pelajaran" kepadanya.

Lim Yauw Kwie meski sudah menjadi seorang ahli silat dari golongan selatan, tapi dalam hatinya masih selalu belum puas dan ingin mencari kepandaian yang lebih tinggi lagi.

Ilmu silat Liong-heng-kun yang dipelajari Lim Yauw Kwie itu, merupakan salah satu cabang dari lima pokok ilmu silat dari golongan perguruan silat kaum Siauw-lim.

Sedang cabang perguruan ilmu silat kaum Siauw-lim pun terbagi menjadi lima golongan, yaitu cabang Siauw-lim dari Go-bie-pay dipimpin oleh Pek Bie Too-jin di Su- coan, cabang Siauw-lim dari Siong-san-pay dipimpin oleh Tong Sian Siang-jin, cabang Siauw-lim dari Hok-kian dipimpin oleh Cie Sian Sian-su, cabang Siauw-lim dari Bu- tong-pay dipimpin oleh Pang Too Tek dan cabang Siauw-lim dari Kwi-tang dipimpin oleh Ang Hie Koan, Phui Sie Giok, Sam Tek Hwee-shio, Ouw Hui Kian, dan lainnya.

Cabang Siauw-lim dari Kwi-tang ini juga dinamakan cabang Siauw-lim golongan selatan. Dengan demikian, ilmu Liong-heng-kun yang dipelajari Lim Yauw Kwie dengan sendirinya tergolong pada ilmu silat Siauw-lim dari Kwi-tang. Sedang ilmu

Eng-jiauw-kun Sun Giok Hong tergolong pada ilmu pelajaran Siauw Lim cabang Siong- san. Sebab itu, Sun Giok Hong dan Lim Yauw Kwie boleh dikatakan sebagai saudara dari satu golongan perguruan silat juga, hanya yang seorang berasal dari utara, sedangkan yang lainnya berasal dari selatan.

Pada waktu Lim Yauw Kwie mendengar tentang kedatangan seorang ahli silat kenamaan dari utara ke selatan, di dalam hatinya segera timbul pikiran untuk datang ke tempat kediaman Sun Giok Hong untuk berkenalan dan berbarengan dengan itu ia juga ingin mencoba mengajukan permintaan untuk bertanding secara persahabatan.

Ketika mengingat bahwa cara ini dapat menyinggung perasaan orang dan ada kemungkinan menerbitkan juga salah paham dalam diri Sun Giok Hong. Terlebih dahulu ia minta perantaraan Oey Siauw Hiap yang menjadi murid kesayangan Giok Hong untuk menyampaikan maksudnya itu, sambil tidak lupa menambahkan bahwa maksud daripada pertandingan itu bukanlah semata-mata untuk mencari ketenaran saja.

Setelah Siauw Hiap menyampaikan pesan itu kepada gurunya, Sun Giok Hong lalu berkata, "Dia dan aku sama-sama keluar dari cabang perguruan ilmu silat Siauw-lim juga dan perbedaannya adalah dia keluar dari perguruan selatan, sedangkan aku sendiri keluar dari perguruan utara. Benar, dia dan aku tidak mengutamakan menang atau kalah dalam pertandingan itu, tapi jika khalayak ramai mengetahui ini, apakah nama baik masing-masing tidak menjadi terpengaruh oleh karenanya. Aku khawatir hal ini akan mengakibatkan sesuatu yang kurang baik bagi pihak yang kalah. Tapi jika Lim Su-hu tidak menaruh keberatan, aku mengusulkan supaya pertandingan itu dilakukan dengan pintu tertutup, hingga orang luar atau siapapun dilarang keras untuk menyaksikan pertandingan itu!. Maka kalau nanti sampai ada yang kalah, kedua pihak janganlah banyak mulut dan menyiarkan kabar tersebut di luaran. Maka kalau Lim Su-hu sudi menerima syaratku ini, aku pasti bersedia mengabulkan permintaannya".

Tatkala Oey Siauw Hiap menyampaikan pesan gurunya kepada Liu Yauw Kwie, ahli silat Liong-heng-kun itu jadi girang dan lalu berkata, "Syarat Sun Lo-su itu memang cocok sekali dengan pendapatku. Aku bukan berniat menjagoi, juga bukan bermaksud merobohkan nama baik Sun Lo-su. Jika sampai aku berniat mengadu juga kepandaian dengan beliau, adalah hanya sekadar untuk menambah pengetahuanku dalam ilmu silat. Harap Siauw Hiap Hian-tee sudi menyampaikan maksudku ini kepada Sun Lo- su".

Sementara Sun Giok Hong yang diberitahukan demikian oleh muridnya, merasa gembira dan menganggap bahwa Lim Yauw Kwie itu sesungguhnya seorang yang bersifat sportif. Kemudian kedua pihak saling berembuk, agar pertandingan itu dilaksanakan di gedung perkumpulan Kok Bin Tee Yok Hwee di kelenteng Tay-hut-sie pada tanggal 13 dalam bulan itu juga.

Ketika tiba waktu yang telah ditetapkan itu, Oey Siauw Hiap lalu mengadakan suatu perjamuan untuk memperkenalkan kedua ahli silat yang hendak bertanding itu, dengan mengundang juga Tan Cu Ceng, Lo Kong Giok, Kouw Lu Ciang, dan lainnya untuk turut hadir.

Lim Yauw Kwie datang ke perjamuan itu dengan mengenakan baju panjang dan sama sekali tidak mirip dengan orang yang hendak pergi pie-bu. Giok Hong tampak girang sekali dapat berkenalan dengan ahli silat Liong-heng-kun yang sopan santun lagi ramah tamah itu. Sesudah itu, iapun diperkenalkan juga kepada Tan Cu Ceng, Lo Kong Giok, Kouw Lu Ciang, dan lainnya.

Karena Lim Yauw Kwie dan mereka adalah orang-orang dari kaum Siauw-lim juga, maka dengan cepat mereka dapat bergaul dengan akrabnya dan tidak sungkan- sungkan lagi membicarakan ilmu kepandaian masing-masing secara terbuka.

Setelah itu Siauw Hiap mengusulkan, agar supaya pie-bu itu dilakukan sebelum perjamuan itu dibuka. Karena setelah orang minum banyak arak, dikhawatirkan pie- bu itu akan mengakibatkan peristiwa-peristiwa tidak baik.

Giok Hong dan Yauw Kwie menyatakan mupakat. Maka sesudah berada di ruangan belakang kelenteng Tay-hut-sie, kedua orang yang hendak pie-bu itu segera menutup pintu dari sebelah dalam. Siauw Hiap dan yang lain-lainnya hanya bisa pasang kuping mendengarkan jalannya pertempuran dari sebelah luar, tapi sama sekali tidak diijinkan untuk turut menyaksikan pertandingan itu.

Mula-mula kedua orang yang hendak pie-bu itu saling mengucapkan kata-kata yang merendah dan saling mengalah, kemudian terdengar suara orang saling serang menyerang, dimulai dari perlahan-lahan, tapi kian lama kian bertambah seru, sehingga jubin dan dinding tembok agak tergetar karena gerakan kaki tangan orang- orang yang sedang bertempur itu.

Hal mana, telah membuat hati Oey Siauw Hiap jadi berdebar-debar dan berniat untuk mengetok pintu dan menghentikan pie-bu itu. Setelah mengingat akan janji pada gurunya, bahwa tiada seorangpun yang boleh merintangi pie-bu itu jika belum sampai diakhirnya.

Apa boleh buat, Oey Siauw Hiap mencoba untuk berlaku sabar. Walaupun merasa tidak enak dan selalu berdoa di dalam hati, agar kedua belah pihak akan keluar dari ruangan tertutup itu dalam keadaan sehat walafiat tanpa ada seorangpun yang menderita luka-luka atau kurang suatu apapun juga!.

Begitulah Siauw Hiap dan para ahli silat Ceng Bu Hwee mendengarkan jalannya pertempuran itu dengan perasaan tegang. Akhirnya suara orang pukul memukul dan tendang menendang itu tiba-tiba terhenti, dibarengi oleh suara Sun Giok Hong yang tertawa mengakak dan memuji, "Sungguh tidak kecewa Lim Su-hu diberi orang nama julukan Harimau Tong-kang, ahli silat kenamaan dari golongan Siauw-lim selatan!".

Sementara Lim Yauw Kwie kedengaran balas memuji, "Sun Lo-su sendiri tak beda dengan seekor naga agung yang melintasi sungai, hingga selain mempunyai nama julukan Ngo-seng-to-ong, juga tidak salahnya jika engkau diberi nama julukan Kun- ong atau Raja Tinju dengan serentak!".

Sudah itu mereka berdua melangkah ke muka pintu dengan bergandengan tangan.

Siauw Hiap dan para rekan Sun Giok Hong yang menyaksikan demikian, semua jadi lega hatinya dan segera berlomba mengucapkan selamat kepada kedua orang yang baru saja menyelesaikan pie-bu itu, meski tidak mengetahui pihak mana yang kalah dan menang.

Tatkala mereka menanyakan bagaimana kesudahannya pertempuran itu, dengan tersenyum Giok Hong lalu menjawab, "Kita telah berjanji dari awal bahwa hasil pertempuran ini takkan diberitahukan kepada siapapun juga. Maka aku mohon dengan sangat supaya kalian sudi memaafkan sikapku yang merahasiakannya pada kalian semua".

Kemudian Siauw Hiap menyilahkan gurunya dan Yauw Kwie serta para rekan Sun Giok Hong untuk duduk makan minum dan ia sendiri menuangkan arak kepada semua orang dengan wajah sangat gembira.

Semenjak dilakukan pie-bu itu, Lim Yauw Kwie jadi bersahabat akrab sekali dengan Sun Giok Hong, walaupun orang terus bertanya-tanya di dalam hati, "Siapakah yang ilmu kepandaiannya lebih lihay dan unggul diantara mereka berdua?".

Tapi sifat manusia memang aneh dan terdiri dari pelbagai ragam dan corak. Ada yang sportif, ada juga yang curang dan licik. Ada yang berilmu kepandaian tinggi, tapi sikapnya selalu merendah dan sopan santun. Ada juga orang yang berilmu kepandaian masih sangat rendah, tapi kepingin dianggap orang sebagai cabang atas lalu berlaku sombong terhadap orang lain yang dianggapnya gentar kepada dirinya.

Diantara orang-orang tingkat rendah atau jago-jago kepalang tanggung serupa itu, terhitung juga seorang yang bernama Oey Som, yang tinggal di kota Kong-ciu.

Karena bentuk rubuhnya tinggi besar, maka para buaya darat telah memberikannya nama julukan Kho-tay Som atau si Som yang bertubuh tinggi besar. Usia si jangkung ini baru 36 tahun. Meski kepandaian silatnya belum seberapa tinggi, tapi tenaganya sesungguh amat kuat. Disamping tenaga tangan kanannya dapat mengangkat barang seberat 400 atau 500 kati, tangan kirinya pun mampu mengangkat barang yang beratnya mencapai tidak kurang dari 400 kati.

Di Tong-kwan, Kho-tay Som membuka rumah perguruan ilmu silat dan menerima murid-murid yang kebanyakan terdiri dari kaliber orang-orang serupa dirinya sendiri.

Setelah mendengar kabar tentang pie-bu yang dilakukan oleh Sun Giok Hong dan Lim Yauw Kwie dengan pintu tertutup, si guru silat she Oey itu telah tertawa mengakak dan berkata, "Hm, itu tandanya mereka hanya punya nama julukan kosong belaka, bukan sesungguhnya mempunyai kepandaian yang cukup untuk disegani orang. Jika nanti aku bisa bertemu dan bertanding dengan mereka, sudah pasti akan kuhantam mereka sehingga nyebur ke dasar danau Pek-go-tam!".

Tapi seorang muridnya yang bernama Seng Kun Peng lalu memotong bicaranya dengan suara separuh mengejek, "Guru mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai ilmu kepandaian yang cukup untuk disegani orang, tapi buktinya nama mereka dikenal oleh lapisan rakyat dan para ahli Rimba Persilatan di Utara dan Selatan, apakah itu tidak cukup untuk menjamin kelihayan mereka berdua?. Sedangkan nama guru hanya terbatas di daerah Tong-kwan ini saja, bukankah berarti guru hanya pandai mencela orang saja?".

Kho-tay Som jadi mendongkol sekali dengan omongan muridnya itu, tapi ia tak berani marah karena omongan itu memang cukup beralasan.

"Aku akan tantang mereka bertanding secara terbuka!" katanya uring-uringan tidak berketentuan kemana juntrungannya. "Cobalah engkau selidiki, kemana orang she Sun itu biasa berkunjung?".

Seng Kun Peng menyanggupi dan segera berlalu. Pada keesokan harinya ia datang melaporkan kepada Kho-tay Som, bahwa Sun Giok Hong kerap berkunjung dan minum arak dengan Oey Siauw Hiap di gedung perkumpulan Kok Ben Tee Yok Hwee di kelenteng Ty-hut-sie.

"Jika guru datang ke sana di waktu petang pada waktu kentongan pertama" kata si murid itu pula, "niscaya guru akan dapat bertemu dengan Sun Giok Hong yang membantu Oey Siauw Hiap mengajar ilmu silat. Berhubung di sana banyak berkumpul para murid yang belajar silat, maka ada baiknya juga jika suhu dapat merobohkan Sun Giok Hong dan Oey Siauw Hiap di hadapan para murid mereka. Belum tahu bagaimana pendapat guruku?".

Kho-tay Som menganggap usul itu memang baik juga, maka ia berjanji akan pergi menyatroni kedua orang ahli silat itu di gedung perkumpulan Kok Bin Tee Yok Hwee pada keesokan malamnya sesudah bersantap.

Selanjutnya untuk tambah memperkuat rombongannya, Kho-tay Som lalu mengajak Seng Kun Peng pergi ke Toa-see-thauw untuk mengundang seorang sahabat karibnya Ho Hok untuk sama-sama pergi ke gedung perkumpulan Kok Bin Tee Yok Hwee dan menyaksikan pertandingan itu.

Ho Hok ini adalah seorang laki-laki usia 37 tdahun yang bertubuh gemuk pendek, romannya tidak beda dengan boneka Touw Tee Kong atau malaikat tanah, hingga orang telah memberikan dia nama julukan Touw-tee Hok atau Hok si Malaikat Tanah. Sedari kecil Touw-tee Hok tidak menaruh banyak perhatian terhadap ilmu surat, tapi sangat gemar berkeliaran di luar sambil mempelajari ilmu silat pasaran dari kawan- kawannya yang lebih besar dan mengerti juga sedikit ilmu silat. Karena hatinya cukup mantap, maka di kemudian hari ia telah berani membuka Bu-koan dan menerima orang untuk menjadi muridnya, walaupun banyak antara murid-muridnya itu terdiri dari kaum buaya darat dan para pegawai kecil dan tukang angkut barang-barang di stasiun kereta api.

Dari Toa-see-thauw ini, orang bisa naik kereta untuk pergi ke Kowloon, maka jalan kereta api di stasiun itu dinamakan jalan kereta api Kwitang - Kowloon.

Para kuli di situ semula berguru pada seorang say-hu kun-thauw she Lie, tapi karena guru silat itu telah dirobohkan oleh Touw-tee Hok, maka selanjutnya telah pindah berguru dalam Bu-koan si orang Ho tersebut. Sedang guru silat she Lie itu akhirnya mati mereras karena kekalahannya itu dan dengan demikian Touw-tee Hok - telah dapat menerima 50 atau 60 murid dengan sekaligus!.

Dalam daerah Toa-see-thauw banyak terdapat rumah-rumah pelacuran yang dilindungi oleh para buaya darat yang menjadi murid-muridnya, tiada seorangpun yang bagaimana besar pengaruhnya sekalipun berani mencampuri segala urusan yang diperbuat oleh manusia-manusia jalang itu.

Kho-tay Som memang pernah berkenalan dengannya dan saling harga menghargai sebagai dua orang sahabat karib. Waktu mendapat kunjungan si jangkung, sudah barang tentu Touw-tee Hok segera keluar menyambut dan menanyakan maksud kedatangan tamunya itu. Tatkala Kho-tay Som memberitahukan bahwa dia akan menantang Sun Giok Hong di gedung perkumpulan Kok Bin Tee Yok Hwee, Touw-teee Hok lalu menyelak sambil bertanya, "Macam apakah orang she Sun itu yang mengakui dirinya sebagai Ngo-seng-to-ong dan datang mengendon di tanah kita?. Apakah barang kali dia hendak menjagoi di daerah sini dan berniat juga 'membalikkan bakul nasi' kita?. Orang macam ini memang tak boleh dibiarkan berkeliaran di negeri orang. Kita harus hajar sehingga dia kapokkan 'pulang kandang'!".

Kemudian ia mengundang Kho-tay Som dan muridnya minum arak sambil mengobrol dan membual untuk menghajar Sun Giok Hong sehingga terpelanting 30 kaki jauhnya.

Begitulah, setelah tiba saatnya yang ditunggu-tunggu, Kho-tay Som dengan diam- diam telah membawa Sam-ciat-pian atau cambuk berbuku tiga yang diselipkan di pinggangnya yang ditutupi dengan baju panjang yang dikenakannya. Sedang muridnya Seng Kun Peng, Touwtee Hok dan 5 atau 6 orang kawannya mengikuti di belakang untuk membantunya apabila dirasa perlu.

Sesampainya di gedung Kok Bin Tee Yok Hwee, Kho-tay Sam melihat lampu-lampu di dalam gedung perkumpulan itu dipasang dengan amat terangnya, sehingga setiap orang yang berlatih ilmu silat di situ dapat dikenali satu persatu. Tapi aneh. Giok Hong tidak tampak ada di situ. Si jangkung lalu menanyakan pada salah seorang yang sedang berlatih, "Apakah boleh aku bertemu dengan Sun Giok Hong?".

Ia mendapat keterangan bahwa Sun Giok Hong hanya mengajar silat di situ setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, sedang pada hari-hari Selasa, Kamis dan Sabtu ia mengajar di gedung Ceng Bu Hwee di jalan Thay-peng-lam-louw. Kho-tay Som segera mengubah haluannya dan menuju ke jalan Thay-peng-lam-louw dengan perasaan yang mendongkol.

Perkumpulan Ceng Bu Hwee dibuka di atas loteng gedung Ko-lam-tong. Waktu

Kho-tay naik ke atas, benar saja di sana ia telah bertemu dengan Sun Giok Hong yang sedang mengajar ilmu Eng-jiauw-kun. Sebelumnya, Kho-tay Som sama sekali tak pernah menyangka bahwa Sun Giok Hong itupun seorang yang bertubuh tinggi besar seperti juga dirinya sendiri. Dengan berpura-pura tidak tahu, ia menganggukkan kepalanya memberi hormat pada salah seorang pengurus di situ sambil bertanya, "Tuan, aku mohon tanya, apakah Sun Giok Hong Su-hu ada di rumah?".

"Sun Su-hu justeru sedang mengajar ilmu silat" sahut pengurus itu, "apakah maksud kedatangan saudara?".

"Maksud kedatanganku ini tak lain daripada hendak minta bertemu dengan beliau saja" jawab Kho-tay Som.

"Harap saudara sudi menunggu di kamar tamu, sampai nanti Sun Su-hu selesai mengajar" kata pengurus itu yang khawatir Sun Giok Hong akan merasa terganggu oleh kedatangan orang yang tidak dikenalnya itu.

Sun Giok Hong yang terlebih dahulu telah melihat kedatangan Kho-tay Som dan mendengar juga maksud kedatangannya, jadi merasa tidak enak membuat orang menunggu. Maka lekas-lekaslah ia maju menghampiri sambil bertanya, "Tuan ini dari mana?. Siapakah she dan nama tuan yang terhormat?".

"Apakah kamu ini yang bernama Sun Giok Hong?" Kho-tay Som balik bertanya sambil menatap wajah orang dengan sorot mata yang hampir tak berkesip. "Aku ini bukan lain daripada Kho-tay Som dari Tong-kwan-hwan. Aku mendengar cerita bahwa Lim Yauw Kwie telah pernah pie-bu denganmu dengan pintu tertutup serta tak mau disaksikan orang. Sekarang aku hendak menanyakan, ada hal apa sih yang tidak boleh disaksikan orang?". Giok Hong jadi terbengong sejenak mendengar pertanyaan orang yang tidak sopan itu.

"Itu urusanku sendiri" sahurnya kurang senang, "dan tiada sangkut pautnya dengan diri siapapun. Sekarang aku numpang bertanya kepada Lauw-hia, untuk maksud apakah engkau bertanya demikian?".

"Maksudku bukan lain daripada begitu" kata Kho-tay Som sambil menatap wajah Sun Giok Hong. "Lim Yauw Kwie bernama julukan Tong-kang-ko-houw (harimau Tong-kang). Aku sendiri dikenal orang dengan nama julukan Kwi-tang Thiat-kun-ong atau Raja Tinju dari Kwi-tang. Maka jelaslah sudah bahwa maksud kedatanganku ini adalah untuk sengaja membuat kau dapat merasakan tinjuku ini!", sambil mengacungkan tinjunya yang besar dan berbulu lebat.

Giok Hong jadi sengit, lalu iapun membentak, "Kho-tay Som, engkau sengaja datang ke sini untuk menantangku!".

"Ya, ya, memang demikian maksudku!" potong si jangkung sambil menyengir. "Kita akan bertanding di sini untuk mencoba sampai dimana kelihayan kita. Apakah engkau Ngo-seng-to-ong yang rendah ilmu silatnya atau aku Kwi-tang Thiat-kun-ong yang lebih tinggi kepandaiannya!".

Giok Hong gusar bukan kepalang mendengan omongan si jangkung yang menganggap dirinya "sepi" itu. Ia terpaksa menahan sabar tatkala mengingat akan tugasnya dan di mana ia sekarang berada.

"Tugasku di sini belum selesai" katanya, "maka akan kuladeni tantanganmu itu pada esok hari jam duabelas tengah hari di muka kuburan 72 pendekar di Oey-hoa- kong. Di sana akan kita tentukan siapa diantara kita berdua yang ilmu kepandaiannya lebih unggul!".

"Akur!" menyetujui Kho-tay Som. "Petang ini aku suka mengampuni jiwamu, tapi pada esok hari akan kucabut jiwamu tanpa ampun lagi!".

Setelah berada di luar gedung perkumpulan itu, Kho-tay Som memberitahukan kepada kawan-kawannya tentang pertemuannya tadi dengan Sun Giok Hong. Touw- tee Hok segera mengusulkan supaya petang itu juga mereka mencegat dan mengeroyok si orang she Sun diwaktu ia pulang ke rumahnya. Usul mana telah diterima baik oleh si jangkung.

Sesudah menunggu agak lama juga di tempat gelap, tiba-tiba mereka melihat Sun Giok Hong berjalan mendatangi sendirian, hingga Kho-tay Som jadi sangat girang dan berkata, "Dasar dia mesti mampus dalam tanganku petang ini juga!".

Sambil berkata demikian, si jangkung mencabut Sam-ciat-pian dari pinggangnya dan bersembunyi di belakang sebuah pohon besar di tepi jalan. Sedang Seng Kun Peng, Touw-tee Hok dan para muridnya bersiap-siap untuk menerjang dengan serentak begitu melihat si jangkung keteter melawan Sun Giok Hong.

Tapi lamunan itu ternyata terlampau muluk daripada kenyataan yang dialami oleh mereka sekalian. Begitu Sun Giok Hong berjalan melalui pohon di mana Kho-tay Som bersembunyi, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang agak mencurigakan di kiri kanan jalan itu, hingga ia merandek dan menghentikan langkahnya sejenak.

Sementara Kho-tay Som yang sudah tak sabar menantikan sehingga Giok Hong datang terlebih dekat, segera lompat keluar dari balik pohon sambil membentak, "Sun Giok Hong, kini telah tiba saat kematianmu!. Nih, kau coba rasakan cambukku!".

Tapi Giok Hong yang bermata jeli itu, segera mencelat mundur sambil tertawa menyindir, "Terlebih dahulu aku telah mengetahui bahwa engkau ini adalah kaum buaya darat yang tak dapat dipercaya mulutnya!. Mana lagi kambrat-kambratmu?. Ayoh, kalian maju serentak, agar aku dapat memberi pengajaran kepada kalian!".

Setelah itu, dengan gerak Kong-siu-jip-pek-jim atau dengan tangan kosong melawan musuh yang bersenjata, Giok Hong balas menyerang Kho-tay Som dengan siasat Tay-peng-pok-touw atau burung garuda menerjang kelinci. Tangan kirinya menangkis tangan si jangkung yang menyabetkan Sam-ciat-pian, sedang dengan telapak tangan kanannya memukul muka orang sambil membentak, "Tuh, kau rasakan telapak tanganku!".

PLOK!!!. "Aduh!". Begitu cepat dan dahsyat pukulan telapak tangan Sun Giok Hong itu, sehingga disaat itu juga Kho-tay Som jatuh meloso sambil menjerit kesakitan, Sam-ciat-piannya turut jatuh juga ke muka bumi. Tatkala Giok Hong hendak mengirim satu tendangan, tiba-tiba Touw-tee Hok dan kawan-kawannya telah melompat keluar dari tempat persembunyian mereka dan menghadang si orang she Sun dengan satu bentakan keras, "Jangan lukai saudaraku".

Karena mereka bersenjata thie-cio dan ruyung, maka Giok Hong lekas-lekas mengambil Sam-ciat-pian si jangkung yang menggeletak di tanah dan dengan cambuk itu ia meladeni semua musuh-musuhnya.

Pertempuran berlangsung dengan amat dahsyatnya, tapi sayang mereka semua bukanlah lawan Sun Giok Hong yang setimpal. Setelah pertempuran berlangsung beberapa belas jurus lamanya, Kho-tay Som telah kena ditendang dadanya sehingga muntah-muntah darah. Touw-tee Hok patah tangan kirinya karena terpukul oleh Sam- ciat-pian kawannya yang dipergunakan Giok Hong sebagai senjata. Hingga mereka semua terpaksa lari pontang-panting bagaikan daun-daun kering tertiup angin.

Kemudian Giok Hong yang selamat, lalu membawa Sam-ciat-pian Kho-tay Som, thie- cio dan ruyung komplotan buaya darat yang hendak membokongnya itu untuk diserahkan kepada Oey Siauw Hiap dan disimpan untuk sementara sebelum diambil pulang oleh para pemiliknya.

0oo0

P E N U T U P

Karena biang keladi para buaya darat klio uy Som dan kambrat-kambratnya telah "dihancurkan" dalam piMli'iiipni.tn yang berlangsung hanya beberapa belas jurus saja, maka para calung .il.r. d.iri kelompok lain yang berniat mengganggu dan menjatuhkan n.im.i Sun Giok Hong jadi jerih dan bungkam seribu bahasa untuk sesumbar seperti apa yang pernah dilakukan oleh Kho-tay Som dan kawan-kawannya itu.

Berselang beberapa minggu lamanya setelah kejadian di atas, ada pula seorang say-hu kun-thauw she Coa yang coba-coba mendesak minta bertanding dengan Giok Hong di atas panggung lui-tay. Untuk mempertahankan nama baiknya sebagai guru silat dari kedua perkumpulan Ceng Bu Hwee dan Kok Bin Tee Yok Hwee, terpaksalah

i.i turun tangan juga. Walaupun ia sendiri sudah bosan untuk meladeni tantangan orang-orang yang merasa iri hati dengan kedudukannya yang begitu baik dan disegani oleh sebagai besar ahli-ahli silat di daerah Tiongkok Selatan.

Seperti juga dalam pertempuran yang telah lampau, kali inipun Giok Hong telah berhasil mengirim pulang sayhu kun-thauw itu ke Ku koannya dalam keadaan pingsan dan menderita luka di dada karena tendangannya yang lihay yang ia pelajari dari It Kak Sian-su dari kelenteng Kee-beng-sie di kota Kim Leng.

Sejak waktu itu dan selanjutnya, Giok Hong dan puteranya Bun Yong mengajar ilmu silat di kota Kong-ciu dan mempunyai beberapa orang murid yang namanya terkenal, antara lain dapat disebut, Oey Siauw Hiap, Ma Kiam Hong, Lim Siauw Lip, dan lain-lainnya.

Golok Sun Giok Hong yang terkenal, yang bernama Siang-liong-touw-to atau Goiok "Naga Kembar, di kemudian hari telah dihadiahkan kepada murid kesayangannya Oey Siauw Hiap.

Pada masa pasukan Jepang menyerang ke selatan, Sun Bun Yong dan adiknya Bun Eng termasuk dalam sukarelawan yang dikirim untuk melawan musuh yang hendak menjajah Tiongkok. Tapi sungguh amat disayangkan bahwa Bun Eng telah gugur sebagai seorang prajurit bunga bangsa. Dan ketika kota Kong-ciu diduduki Jepang, Sun Giok Hong beserta segenap keluarganya telah mengungsi ke Kiok-kang, kota dimana kemudian Sun Giok Hong meninggal dalam usia 74 tahun.

Para murid Sun Giok Hong yang taat kepada pesannya, segera menyebarkan ilmu silat warisan cabang Siauw-lim. Oey Siauw Hiap sendiri menetap di kota Kong-ciu, Lim Siauw Lip di Tay-wan, sedang Ma Kiam Hong membuka sekolah olahraga di Kowloon dengan memakai merek Kiam Hong Kian Sin Hak Ie.

Dengan demikan, maka cerita inipun telah berakhir sampai disini.

TAMAT