Golok Naga Kembar Jilid 10

Jilid 10

SEWAKTU kejadian di atas terjadi, sebuah kapal besar tengah berlayar dengan megahnya dari Tokyo menuju ke daratan Tiongkok dengan membawa seorang penumpang berkebangsaan Jepang, itulah Yasan Shiecike!. Sementara Naka Haruo, Sano Rin, Noma Minoru, Yoshi Nakamura dan yang lain- lainnya lagi, tampak sibuk untuk menyelenggarakan sambutan yang sehangat- hangatnya dan kelihatan mereka mondar mandir di pelabuhan dengan rupa tidak sabaran menunggu kapal besar itu melemparkan sauhnya.

Tepat jam 5 sore baru kapal itu dapat menrunkan penumpang-penumpangnya ke darat dan tampak Yasan menuruni tangga kapal untuk kemudian dirangkul dan dielus- elus oleh kawan-kawannya itu. Mereka langsung menuju ke konsesi yang khusus disediakan untuk bangsa mereka, dimana Yasan tanpa istirahat lagi lalu mengajak kawan-kawannya berlatih Judo dan Karate, bersiap-siap menghadapi Giok Hong!.

Dilain pihak. Giok Hong yang khawatir dikeroyok oleh kawan-kawan Yasan, telah terlebih dahulu berpesan kepada para murid-muridnya, yakni Lauw Toan In, Lo Hok Yauw, dan lain-lain, untuk membekal tan-pian atau cambuk yang dapat dilibatkan di pinggang masing-masing. Kemudian mereka disuruh menyamar dan pura-pura sebagai orang luar yang sengaja datang ke luar kota Liong-hoa untuk turut menyaksikan pertandingan yang ia dan Yasan akan lakukan nanti. Hal mana telah diturut oleh Lauw Cay In, yang dengan diam-diam akan membaur di antara para penonton untuk melindungi diri suaminya pada tanggal 15 atau 2 hari yang akan datang.

Dan tanggal 15 yang dinanti-nantikan itupun akhirnya datang.

Pada hari itu, sesudah sarapan dan minum dua cawan arak, Sun Giok Hong lalu menukar pakaiannya dengan pakaian yang lebih ringkas. Disebelah luarnya ia mengenakan baju panjang, hingga romannya tidak mirip dengan seorang yang paham ilmu silat.

Dari tempat kediamannya ia berangkat keluar kota Liong-hoa dengan kereta api dan sampai di sana di antara orang-orang yang telah berkerumun di sebuah lapangan yang luas, mereka telah menyambut kedatangannya dengan bersorak sorai riuh sekali. Tapi Yasan dan kawan-kawannya belum tampak batang hidungnya.

Giok Hong berjalan di antara orang banyak sambil memperhatikan keadaan di sekitar lapangan itu, dimana ia melihat para murid dan isterinya sudah sampai pula di situ terlebih dahulu. Masing-masing telah mengambil posisi yang tepat sekali untuk menjaga dirinya dari musuh-musuh yang ingin berbuat curang dengan cara membokongnya.

Tatkala jam yang ditentukan telah tiba, sekonyong-konyong terdengar orang banyak yang berkata, "Kawan-kawan Jepang itu baru saja tiba!".

Dari dua buah mobil yang dilarikan dengan cepat dan berhenti di sisi lapangan itu, tampak turun Yasan diiringi oleh 6 atau 7 orang kawannya yang bertubuh kasar dan beroman bengis.

Sun Giok Hong dan para murid yang melihat seorang Jepang yang berperawakan tegap, berkumis dan berjenggot pendek tengah memasuki lapangan itu dengan langkah yang garang. Segera ia ketahui bahwa orang itu tentulah bukan lain daripada Yasan Shiecike yang menjadi penantangnya itu. Maka dengan kedipan mata ia telah memberi isyarat kepada isteri dan murid-muridnya yang sudah bercampur baur di antara para penonton itu agar mereka berlaku waspada dan selalu siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sementara Yasan yang melihat seorang tengah berdiri dengan tenang di tengah lapangan itu, segera dapat menduga bahwa orang itu tentu bukan lain daripada Sun Giok Hong adanya. Dengan suara bengis ia segera membentak, "Apakah engkau ini adalah Sun Giok Hong?". "Sungguh baik sekali daya indra matamu!" kata Giok Hong. "Aku inilah Sun Giok Hong yang telah menghajar banyak ahli-ahli silat Jepang, sehingga mereka terkuing- kuing!". Lalu sambil menudingkan jari telunjuk dan tengahnya, ia melanjutkan, "Engkau ini tentu orang yang telah memasang iklan di banyak suratkabar beberapa waktu yang lalu, yang bernama Yasan Shiecike, bukan?".

Yasan gusar sekali mendengar kata-kata yang menghina itu, sehingga kumis dan jenggotnya seolah-olah berdiri. Tidak urung ia berkata juga, "Aku Yasan Shiecike, murid kesayangan guru Judo terkenal Kawai Saburo, yang dijuluki orang Jago Judo dari Timur Jauh!. Aku dengar kabar bahwa engkau telah mengakui dirimu sendiri sebagai Ngo-seng-to-ong, seorang ahli silat yang sangat tinggi kepandaiannya".

Katanya lagi dengan suara geledek, "Tapi engkau lupa, bahwa ilmu silat Dai Nippon bukan saja takkan kalah dengan ilmu silat dari negeri manapun, malah kini tengah menjagoi di kolong langit. Aku sendiri memang gemar dengan ilmu silat, maka kini aku telah sengaja mengundangmu untuk sama-sama berlatih sambil saling menukar pendapat dalam kalangan persilatan. Keluarkanlah seluruh kemampuanmu untuk coba melawan ilmu Judo kami, agar supaya dapat dibandingkan mana yang lebih unggul antara ilmu silat Tiongkok dan ilmu silat Negeri Matahari Terbit!".

Sun Giok Hong selalu mengganda tertawa saja dan berkata, "Aku bersedia meluluskan segala kehendakmu dengan senang hati!".

"Apakah engkau mengetahui" membual Yasan, "bahwa Ho Goan Ka pernah dikalahkan oleh ilmu Judo kami?".

Bagaikan harimau yang dibangunkan dari tidurnya, tiba-tiba wajah Sun Giok Hong jadi berubah dan teringat akan kecurangan bangsa Jepang yang telah mengeroyok jago silat she Ho itu. Dengan perasaan amat gusar ia segera bertanya, "Apakah engkau inilah orangnya yang telah merobohkan Ho Goan Ka Lo-su?".

Yasan menengadah sambil mengeluarkan tawa yang sangat tidak enak bagi pendengaran kuping. Dengan roman sangat bangga ia menyahut, "Tidak salah!. Akulah Yasan Sheicike, yang telah menghajar orang she Ho itu sehingga ia jadi mampus!".

"Mengeroyok orang secara curang dan keji memang menjadi kemampuanmu yang terlihay!" bentak Giok Hong dengan wajah merah padam. "Justeru engkau inilah yang hendak kuhajar untuk membalas sakit hati Ho Lo-su!".

Dengan amarah yang berkobar-kobar, Giok Hong segera mendahului menerjang dengan gerakan secepat kilat, hingga Yasan yang juga selalu berlaku waspada lekas- lekas lompat mundur dengan secara gesit sekali.

Ahli Judo Jepang itu cukup cerdik untuk tidak menghambur-hamburkan tenaganya.

Ia yakin pertarungan ini akan memakan waktu yang cukup lama sebelum ia dapat merobohkan lawannya yang hebat ini.

Matanya yang sipit dan bersinar tajam ditatapkan ke wajah Giok Hong untuk memperhatikan serangan-serangan selanjutnya. Giok Hong sendiri yang pernah berkali-kali berkenalan dengan orang-orang yang mahir Judo, terlebih dahulu telah mengetahui bahwa sungguh berbahaya jika sampai lawannya itu dapat menyekal bajunya. Bukan saja Yasan mahir sekali ilmu Judonya, tapi iapun ternyata mahir ilmu Karate dan ilmu silat Tiongkok, yang dipelajarinya dari beberapa guru silat Tionghoa yang telah menjadi warganegara Jepang.

Giok Hong berlaku cerdik, ia sengaja berkelahi dalam jarak yang agak jauh. Pukulan-pukulan dengan telapak tangan atau tinju hanya dipergunakan sebagai susulan saja jika tendangan-tendangan telah diluncurkannya untuk mendesak Yasan, yang selalu dapat mengelakkannya dengan bagus sekali. Para penonton bersorak sorai karena asyiknya menonton pertempuran yang baru pernah mereka saksikan seumur hidup itu, yakni ahli silat Tionghoa melawan jago Judo Jepang.

Pada suatu ketika, setelah dapat mengelakkan tabasan-tabasan telapak tangan maut Yasan, Giok Hong telah melontarkan jotosan yang tidak kalah hebat dan dahsyatnya daripada tabasan-tabasan lawannya itu. Tapi dengan indahnya Yasan dapat menangkis serangan itu, malah dengan kecepatan yang hampir sukar dilihat orang, ia telah berhasil mencekal baju Giok Hong dan..........."Ciiaaaaaaattt...............

"Celaka!". Kata-kata itu tiba-tiba tercetus dari mulut setiap penonton, sedang Lauw Cay In dan para murid Giok Hong jadi mencelot hati mereka waktu menyaksikan peristiwa yang sangat mengejutkan itu. Berbarengan dengan kata "celaka" itu, tampak tubuh Giok Hong terlempar di udara bagaikan sebuah roket yang ditembakkan dari sebuah meriam. Bersamaan dengan itu, terdengar suara yang sangat riuh di sebelah sana, karena tubuh yang terlempar itu menuju langsung ke arah penonton di sebelah depan, yang jadi terkejut dan tak keburu menyingkirkan diri. Mereka terpaksa harus mengangkat tangan-tangan mereka untuk menyongsong tubuh yang dilemparkan oleh Yasan itu!.

Sesaat lamanya keadaan tempat pertarungan menjadi sunyi sekali, semua mata ditujukan ke arah penonton di seberang sana, untuk mengetahui perkembangannya lebih lanjut. Hanya sebentar saja kesunyian telah tersobek oleh sorak sorai penonton yang berteriak-teriak, "Belum kalah, belum kalah!. Masih ada pertandingan!. Sambil bersorak-sorai dan kelihatan Giok Hong berjalan keluar dari antara orang banyak itu, sambil tak henti-hentinya berkata, "Terima kasih, terima kasih!".

Dalam hal ini Yasan telah membuat kekeliruan besar. Bantingan yang telah ia lakukan itu, tidak seharusnya dilakukan dengan tergesa-gesa sehingga Giok Hong jadi terlempar ke antara penonton. Dengan demikian lawannya bukan saja jadi tidak terluka malah kesempatan yang terbaik telah terbuang begitu saja.

Lauw Cay In dan para murid Giok Hong menjadi lega sekali setelah mendapati kenyataan Giok Hong selamat dan tidak kurang suatu apapun. Tapi Naka Haruo dan kawan-kawannya yang menyaksikan Yasan gagal membanting mampus lawannya itu, hampir semua jadi membanting-banting kaki karena amat kecewa dan berseru, "Sungguh sayang sekali!. Sungguh amat sayang sekali!". Sedangkan Yasan sendiri jadi mengomel di dalam hatinya, "Benar-benar sialan monyet she Sun itu!!!!".

Ini bukan berarti bahwa dia telah putus asa untuk dapat merobohkan lawannya itu.

Jika maksudnya gagal untuk dapat menumpas si orang she Sun, maka pihak dialah yang akan mendapat malu dari banyak orang. Lebih-lebih karena dialah yang telah mulai menantang Sun Giok Hong dengan jalan memuat iklan di suratkabar di seluruh kota Shanghai 2 bulan yang lampau.

Mengingat ini semua, dalam pertempuran kali ini dia harus keluar sebagai pemenang, kalau tidak maka hancurlah namanya yang sedang tenar sebagai jago Judo Jepang satu-satunya dan terakhir yang dapat mempertahankan nama baik dunia Judo, semenjak Jepang memperoleh hak-hak istimewa dan konsesi di daratan Tiongkok!.

Sedang Giok Hong sendiri yang mengandung maksud untuk membalaskan sakit hati Ho Goan Ka yang pernah dibokong manusia-manusia keji itu, sudah barang tentu tak mau mengalah atau mundur setapakpun jika maksud hatinya belum tercapai.

Begitulah kedua pihak segera mulai berhadap-hadapan lagi dengan mata hampir tak berkesip saling menatap wajah masing-masing. Setelah berdiam sejenak, hati para penonton tak henti-hentinya berdebar-debar. Tiba-tiba tampak Yasan telah memasang kuda-kudanya, kedua tinjunya dikepal keras dan perlahan-lahan tangan kirinya diajukan ke depan, tangan kanannya diangkat keatasan kepalanya. Seluruh tubuhnya tergetar keras, itulah Karate atau ilmu pukulan tangan kosong yang dahsyat!.

"Ciaaaaaaaatttt !". SRET!. BET!. Yasan telah melontarkan dua serangan susul

menyusul, tinju kirinya menerjang dada dan tinju kanannya meyerangan pilingan Giok Hong dengan amat dahsyatnya.

Giok Hong lekas mengegos sambil bergerak dengan separuh membengkokkan sebelah lututnya, sedangkan dengan gerak menjatuhkan diri ia telah meyabetkan kakinya ke arah kaki musuh dalam siasat Chiu-hong-sauw-yap atau angin musim kemarau menyapu daun.

Cepat dan dahsyat samberannya kaki Giok Hong itu, tapi Yasan yang juga bermata sangat jeli, dengan sekali berlompat saja telah berhasil dapat menhindarkan diri daripada kaki pihak lawannya itu. Kemudian ia maju mendesak serta memukul dengan mempergunakan siasat cara Tiongkok yang hampir menyerupai pukulan Tok- pek-hoa-san atau dengan sebelah tangan membelah gunung Hoa-san, yaitu memukul batok kepala orang dengan mempergunakan telapak tangan kanannya.

Hampir saja kepala Giok Hong terpapas oleh serangan yang dilancarkan dengan sangat tiba-tiba itu, kalau saja ia tidak lekas-lekas mengelak dan mundur beberapa langkah. Setelah itu tinjunya menerjang bertubi-tubi ke arah dada Yasan, yang dengan tabah sekali telah menangkis sembari menyabetkan tangannya ke arah batang leher lawan.

Tatkala serangan Giok Hong yang kedua datang menyerang, Yasan telah pergunakan tangan kirinya untuk mengorek tangan lawannya sambil menyergap, sedang tangan kanannya sendiri meluncur ke arah dada. Lalu sambil lompat ke depan, ia tekuk kaki kanannya dan dalam keadaan berlutut satu kaki, ia bermaksud membanting dengan siasat Ukioshi atau melempar lawan melalui pundak.

Giok Hong yang telah kena tercekal lengan kanan dan baju di dadanya, dengan satu putaran tangan kanan ia telah berhasil menyergap tangan kiri Yasan, lalu tangan kirinya disodokkan ke lambung Yasan, yang seketika itu juga segera lompat mundur gesit sekali. 

Kemudian dengan kecepatan kilat telah menerjang pula dengan siasat Uchimata atau dengan kaki membanting lawan, kaki kanannya hendak menerobos ke tengah- tengah kedua kaki orang, tangan kirinya menyergap lengan baju, tangan kanannya tetap menerjang baju di dada, lalu sambil berputar badan dan mengangkat kaki kanannya, ia membuang lawan.

Tapi Giok Hong gesit sekali, dengan menggunakan siasat Cit-yan-hui-siang atau burung walet terbang melayang, tubuhnya mencelat di udara dengan kedua tinju menumbuk kepala Yasan, yang dengan cepat pula telah menekuk sebelah lututnya sembari menengadah dengan lirikan penuh kekaguman menyaksikan gerak lawannya yang demikian indah itu!.

Para penonton yang menyaksikan pertarungan hebat itu detik demi detik, jantung mereka jadi bertambah keras debarannya. Pertarungan ini memang satu pertarungan yang amat dahsyat, tapi sangat mengasyikkan untuk dapat disaksikan. Meski harus membeli karcis masukpun, niscaya mereka akan membayarnya!.

Di suatu pinggiran lapangan, kelihatan enam pasang mata yang bersinar tajam, senantiasa ditujukan ke suatu arah tertentu. Itulah sinar-sinar mata Lauw Cay In, Lauw Toan In dan Lo Hok Yauw, yang selalu bersiap sedia untuk membantu kalau- kalau kawanan Jepang itu berniat untuk mengeroyok. Pada suatu ketika, selagi Giok Hong melancarkan serangan ke arah lambung lawannya, kelihatan Yasan dengan lincah sekali telah melejit. Tatkala jotosan kanan Giok Hong menerjang, Yasan menangkis lalu cepat sekali tangan kiranya menyambar belakang baju, tangan kanannya ditekankan di perut lawannya. Dengan tiba-tiba dia memutar tubuhnya, dan.............."Ciiaaaatttttttt !!!.

Itulah salah satu siasat bantingan Judo yang lihay, yang disebut Urangge atau membanting lawan melalui kepala. Seketika itu juga tampak sesosok tubuh terlempar di udara, berputar dua kali, tapi akhirnya dengan satu gerak yang indah jatuh turun ke muka bumi dengan kedua kakinya mendarat terlebih dahulu. Itulah siasat Yen-lok- peng-sa atau burung belibis terbang turun.

"Bangsat !" Yasan memaki kalang kabut saking kecewanya. "Hai monyet!.

Ilmu siluman dari mana yang telah engkau pergunakan barusan!" katanya dengan gemas.

"Itulah ilmu sakti Orang Sakit dari Timur!" sahut Giok Hong mengejek.

Wajah Yasan yang memang sudah merah karena minum sake (arak Jepang) jadi tambah merah, karena saking gusarnya tampak dari kedua lobang hidungnya seolah mendesis keluar hawa gas!. Tiba-tiba ia mengirim jotosan kanan, siasat serangannya itu di kalangan Kang-ouw lazim disebut Thian-goa-lai-in atau awan menghembus dari balik angkasa.

Giok Hong telah siap, ia sambut tinju lawannya itu dengan satu dongkrakan ke atas dengan lengan kirinya. Tapi, lagi-lagi Yasan dengan amat gesitnya telah menyerang, kali ini dengan telapak tangannya. Giok Hong tidak mengegos, dengan cepat sekali kedua tangannya menjaga batok kepalanya, lalu tangan kirinya menangkis tabasan itu. Karena menyerang dengan amat hebatnya dan Giok Hong menangkis dengan sekuat tenaganya, maka tidaklah heran akibat daripada tabasan dan tangkisan itu telah menghembuskan angin santar.

Pertempuran makin lama makin hebat, Yasan telah menggunakan semua tenaga dan kepandaian untuk menjatuhkan lawannya selekas mungkin. Terlihat ia menyerang lawannya dengan kedua tinjunya bertubi-tubi dan tiap-tiap jotosan atau pukulan telapak tangannya, seolah-olah seperti martil besi saja hebatnya.

Giok Hong tampaknya hanya dapat menangkis atau berkelit, tapi sebenarnya ia sedang menggunakan siasat meletihkan lawan sambil menanti suatu kesempatan untuk mengirim pukulan mautnya atau lemparan Eng-jiauw-kim-na-ciu yang dahsyat itu.

Setelah pertempuran berjalan lebih kurang 40 jurus, Yasan Sheicike kelihatan mulai letih dan tanpa ragu Giok Hong telah sengaja berlaku kendur. Yasan dengan bernapsu sekali telah menyerang dengan kedua telapak tangannya, yang disodokkan dengan keras ke ulu hati Giok Hong.

Menghadapi serangan ini, Giok Hong tidak menjadi gugup, segera ia merangkap kedua telapak tangannya dalam siasat Tong-cu-pay-hud atau anak dewata menyembah Buddha. Begitu telapak tangan Yasan yang disodokkan hampir tiba pada sasarannya, sekonyong-konyong Giok Hong menjepit telapak tangan musuhnya sambil membentak, "Inilah jurus Orang Sakit dari Timur membuang kotoran kerbau!".

Bersamaan dengan itu, para penonton hanya melihat Yasan terlempar ke udara, tapi mata mereka tidak cukup gesit untuk menyaksikan cara Giok Hong melemparkan jago Judo itu.

Yasan melepaskan satu pekikan nyaring dan ia dapat dengan baik menguasai jatuhnya itu. Ia memang kerap dilempar atau dibanting di kala berlatih Judo dan kini meski bantingan Giok Hong agak berlainan tapi dengan satu gerak yang lincah sekali ia masih dapat menghindarkan diri dari bantingan itu.

Tiada seorangpun di antara para penonton yang berkumpul di situ bisa menduga bahwa pertempuran itu belum habis sampai disitu saja. Waktu Yasan melayang turun, tiba-tiba Giok Hong tampak turut melayang mengejarnya serta menyergap dengan siasat Tay-peng-pok-yang atau burung garuda menerkam kambing.

Tapi Yasan keburu turun dan waktu melihat Giok I long menerkam, dengan gesit ia lompat mundur untuk kemudian membarengi menyergap lawannya dan menyerang dengan siasat yang pernah dipergunakan oleh Kimura Shiro dahulu, yakni Tomoi-nage atau melempar lawan sambil menjatuhkan diri.

Giok Hong yang pernah merasai lemparan tersebut, kali ini tak mau dikelabui lagi.

Selagi kaki Yasan hendak menunjang ke perutnya, ia telah menangkis dengan satu korekan tangan kiri, lalu dengan cepat luar biasa tinju mautnya tangan kanannya telah menerjang ke arah dada lawannya dan........."Aaaaaaahhhhhhh !!!!!!".

Berbarengan dengan jeritan Yasan itu, terpecah kesunyian di sekitar lapangan dan suara yang menunjukkan rasa terkejut dari para penonton. Tampak tubuh Yasan terpental mundur, sambil batuk-batuk keras, mukanya pucat. Dilain saat tampak ia memuntahkan darah segar dari mulutnya dan akhirnya jatuh terlentang di muka bumi!.

Sementara Naka Harao dan kawan-kawannya yang melihat pemimpin mereka dirobohkan musuh, sudah barang tentu jadi sangat gusar bercampur penasaran. Pistol yang ia soren secara rahasia lalu dicabut dan langsung dibidikkan ke arah Giok Hong!.

Satu bayangan berkelebat menerjang tangan yang sedang membidik itu dan Naka Harao yang tak menduga bakal dapat rintangan jadi terpental. Dengan sekuat tenaganya, ia mempertahankan genggaman pada pistol itu dan sembari jatuh ia telah berhasil melepaskan satu tembakan yang tepat mengenai sasarannya sehingga bayangan yang tadi menerjangnya jatuh tersungkur seketika itu juga. Lekas-lekas ia bangkit dan segera membidik lagi untuk melaksanakan maksudnya yang keji itu. Tapi tiba-tiba ia melepaskan pistolnya, lalu roboh!.

Ternyata sebuah badik telah nancap di pundak kanannya. Itulah hasil sambitan badik Sun Giok Hong yang tatkala mendengar suara tembakan telah menoleh dan melihat Toan In roboh tersungkur. Ia jadi terkejut sekali, lalu tanpa banyak pikir lagi dicabutnya badik di pinggangnya dan segera menyerang si pemegang senjata api.

Sedangkan kawan-kawan Naka Harao yang terdiri dari 6 atau 7 orang, seorang demi seorang telah dipersen bogem mentah oleh Lauw Cay In dan Lo Hok Yauw.

Para penonton yang berhati kecil segera pada kabur pontang-panting, tapi penonton-penonton yang benci pada bangsa Jepang segera bantu mengeroyok sisa kambrat-kambratnya Yasan hingga tiada seorangpun diantara mereka yang bertubuh utuh.

Giok Hong tidak berniat membunuh orang untuk menerbitkan keonaran yang lebih besar, lekas-lekas ia cegah para penonton untuk mengeroyok lebih jauh. Kemudian mengangkut Yasan dan Harao yang terluka parah dan kambrat-kambratnya ke atas mobil-mobil mereka dan membawanya ke rumah sakit di konsesi Jepang untuk dirawat dan diobati sebagaimana mestinya.

Tatkala keadaan telah menjadi tenang kembali, Giok Hong segera memeriksa Lauw Toan In, si bayangan yang menerjang Harao waktu dia ingin menembak Giok Hong.

Ternyata Toan In tidak luka sedikitpun dan kalau sampai ia jatuh tersungkur waktu Harao melepaskan tembakan, itu disebabkan ia hendak mengelakkan peluru, tapi kakinya tersangkut batu saking tergesa-gesanya dan tersungkur. Giok Hong tertawa terbahak-bahak mendengar cerita muridnya itu. Demikianlah pertandingan antara Orang Sakit dari Timur melawan Anak Dewa

Matahari, dan yang disebut terdahulu telah menutup layar pertandingan dengan

kemenangan yang mutlak.

0oo0