Golok Naga Kembar Jilid 09

Jilid 09

KETIKA hendak melangkahkan kakinya keluar kedai itu, Sun Giok Hong telah melihat sikap Noma Minoru yang seolah-olah hendak mencari gara-gara dengan dirinya. Maka biarpun tampaknya ia berjalan dengan tenang-tenang saja, sebenarnya ia telah berlaku waspada sekali.

Denyutan jantung Noma Minoru jadi memukul keras sekali waktu Giok Hong lewat tepat di belakangnya. Dengan cepat ia memutar tubuhnya untuk mengikuti, tatkala si orang she Sun itu telah terpisah beberapa puluh tindak jauhnya.

Giok Hong sengaja berjalan lebih cepat, untuk menuju ke suatu tempat yang agak luas karena ia merasa tidak bijaksana untuk menghadapi musuh-musuhnya di tempat yang sempit.

Noma Minoru yang keliru menyangka bahwa musuhnya itu berlaku lengah, maka secepat kilat ia menyerang dengan Shime-wasa, atau ilmu cekikan Judo yang tediri dari tujuh jurus. Yang hendak digunakannya ialah jurus ke empat yang bernama Ushiro-jime atau mencekik dengan lengan. Tangannya diulurkan melalui kepala Giok Hong, untuk kemudian menyeret lawannya itu ke bawah sambil kemudian merangkul dan menekankan lengannya pada tenggorokan lawannya itu.

Giok Hong yang mengetahui musuhnya sedang menguntit di belakangnya, senantiasa bersiap sedia. Waktu melihat tangan Noma Minoru berkelebat di atas kepalanya, ia segera menjambret tangan itu dengan tangan kirinya sembari membungkukkan tubuhnya sedikit, bersamaan dengan itu sikutnya menyerang ke belakang dan ............

"Aaaaaa.......V'. Noma Minoru terdengari menjerit ngeri, tampak tubuhnya terdorong ke belakang sambil memegang dadanya dan batuk-batuk. Kemudian ia menjadi kaget sekali waktu meludah, karena yang ia keluarkan bukan air liur melainkan darah!.

Minoru memaki Giok Hong dengan menggunakan bahasanya sendiri, tapi yang dimaki sambil tersenyum-senyum lari menuju ke suatu tempat. Melihat demikian, Minoru segera mengejar dan menyerang lagi dengan satu tebasan tangan ke arah batang leher lawannya. Giok Hong kagum sekali dengan gerakkan lawan itu yang demikian gesit, karena dalam beberapa detik saja lawannya itu telah dapat menyusulnya dan menyerangnya pula. Dengan terpaksa Giok Hong segera membalikkan badannya dan melancarkan serangan dengan siasat Peng-hong-tiang-ho atau membekukan arus sungai yang deras, siasat ini dilancarkan dengan tenaga dalam yang amat hebat. Bukan saja dapat menahan tabasan, bahkan berhasil menghajar tulang pundak Minoru hingga seketika itu juga terdengar jeritan kesakitan, sedang tangannya tampak terkulai karena tulang pundaknya itu telah patah!. Tapi sebagai seorang yang mempunyai ambisi yang besar, dengan wajah yang menunjukkan rasa sakit yang hebat, ia segera mencabut pisau dengan tangan kirinya, yang kemudian dengan sebat ditusukkan ke arah perut Giok Hong.

Tusukkan itu dilakukan Minoru dari arah bawah ke atas, maka Giok Hong terpaksa mundur setindak untuk membiarkan tangan si ahli Judo meluncur ke atas. Kemudian ia segera mempergunakan jurus Kim-na-ciu dari ilmu Eng-jiauw-kun untuk menyergap pergelangan tangan lawannya sambil berseru dengan suara nyaring, "Pergi!". Berbarengan dengan bentakan itu, tampaklah tubuh Noma Minoru terlempar ke udara lalu jatuh menukik ke tengah jalan raya sehingga mengakibatkan hidungnya berdarah-darah, bahkan beberapa giginya pun telah rontok.

Meski Minoru kerap dibanting atau dilemparkan ke udara oleh kawannya waktu berlatih Judo, tapi kali ini tak dapat menguasai lagi jatuhnya itu, karena tulang pundaknya dirasakan sakit sekali. Waktu dilemparkan, Minoru dapat dikatakan sudah berada dalam keadaan setengah pingsan.

Melihat kejadian itu, Sano Rin dan Yoshi Nakamura yang berada sedikit jauh dari kalangan pertempuran itu, segera maju dengan serentak dari kiri dan kanan untuk menyerang serta mengepung si orang she Sun itu.

Ternyata Sano Rin mahir ilmu Karate, maka dengan satu pekikan yang menakutkan ia telah menyerang kepala Giok Hong dengan telapak tangannya. Kalau saja telapak tangan itu mengenai sasarannya, niscaya batok kepala Giok Hong akan remuk karena telapak tangan itu telah terlatih dan dapat meremukkan dua batu-bata yang tersusun sekaligus!.

Giok Hong lekas-lekas miringkan sedikit kepalanya untuk mengelakkan pukulan itu, tapi Sano Rin tidak demikian mudah menyudahi serangan-serangannya. Segera ia tarik pulang -tangannya, untuk langsung disodokkan ke arah mata Giok Hong yang segera lompat dengan siasat Yan-cu-coan-liam atau burung walet menerobos tirai, tubuhnya mencelat melalui kepala Sano Rin. Baru saja kaki si pemuda menyentuh tanah, terdengar satu pekikan panjang dan tampak di udara satu bayangan menerjang Giok Hong dengan sikap yang garang sekali. Ternyata Yoshi Nakamura telah melancarkan satu tendangan terbang, kedua tangannya diangkat untuk melindungi dada, kedua kakinya ditekuk sedikit, yang kanan lebih ke dalam, siap untuk ditendangkan. Tapi, dengan satu enjotan tubuh yang bertenaga, Giok Hong telah mundur beberapa langkah.

Sano Rin segera memberi isyarat kepada Yoshi Nakamura agar jangan menyerang tapi membantunya apabila dirasakan perlu. Dia sendiri maju ke dalam kalangan pertempuran dengan sikap yang dapat dikatakan hampir sama dengan salah satu jurus silat, yakni jurus Kim-kee-tok-lip atau ayam jago berdiri satu kaki. Bedanya Sano Rin tidak berdiri dengan satu kaki tapi mempergunakan kedua kakinya, yang kiri lebih ke depan dari yang kanan. Ia tidak bertindak waktu maju, hanya menggeser kedua telapak kakinya, dengan jalan diputar-putar ke kanan dan ke kiri. Seluruh tubuhnya tampak bergetar, karena bersamaan dengan itu ia sebenarnya sedang menyalurkan tenaga dalamnya ke tangan dan kakinya.

Giok Hong terperanjat juga melihat sikap Sano Rin ini, karena ia belum pernah bertemu dengan orang yang mahir ilmu Karate. Sebelum ia dapat menduga- duga...............

"Ciaaaaaaaaaaaattttt..........!!" Sano Rin telah melancarkan serangan yang dahsyat sekali, tinju dan tumitnya menerjang ulu hatinya dengan berbarengan.

Giok Hong tidak jadi gugup, dengan sebat ia mengegos dan menangkis dengan siasat Siang-liong-cui-hai atau sepasang naga keluar dari lautan, kedua lengannya dengan keras menghalau tinju dan kaki Sano Rin, sehingga kuda-kudanya tergoncang. Hampir-hampir Sano Rin yang menyerang dengan nekad sekali jatuh tersungkur terkena tangkisan itu.

Serangan-serangan Sano Rin yang demikian ganas dan mematikan itu telah membuat Giok Hong jadi gusar bukan main. Maka setelah Sano Rin memperbaiki kuda-kudanya, ia segera menyerang dengan siasat Cit-yan-hui-siang atau burung walet terbang melayang, sambil lompat di udara dengan kedua tinju menumbuk kepala si ahli Karate. Untuk menghindari tumbukan ini, Sano Rin lekas-lekas lompat mundur dan setelah itu terjadilah pertarungan yang amat seru dan menarik sekali untuk ditonton.

Pada suatu ketika, Rino San telah menyerang dengan siasat Tai-oto-shi atau membanting dengan tangan. Tangan kanannya menyambar ke leher baju Giok Hong, sedang tangan kiri ke lengan dan memalangkan kaki kanannya di sisi kaki kanan lawannya, untuk kemudian sambil memutar tubuh dan menghentakkan tubuh lawannya itu.

Baru saja leher bajunya kena dipegang, Giok Hong telah bergerak dengan siasat Chut-liu-hui-hong atau daun pohon liu terhembus angin, tangan kanannya setelah menangkis lalu menangkap dan memijak pergelangan tangan Sano Rin. Lalu sambil memutar tangan lawannya yang sedang menahan sakit karena dipijak itu, kakinya menyapu betis lawan. Maka tumbanglah tubuh yang katai dan tegap itu menghantam bumi!.

Nakamura yang maju menerjang dari arah kanan, hampir saja kena disergap oleh si orang she Sun itu, kalau saja ia tidak membatalkan maksudnya untuk menyerang dan lekas melompat mundur ke dalam rombongan orang banyak yang sedang menonton pertarungan itu. Perbuatan Nakamura juga diikuti oleh Ho Lo Ke yang pandai melihat gelagat.

Tatkala polisi dari Konsesi Internasional datang campur tangan, Nakamura yang khawatir kehilangan muka setelah dihajar oleh seorang Tionghoa yang umumnya mereka anggap sebagai Orang Sakit dari Timur, dengan cengar cengir lalu menerangkan di hadapan polisi bahwa semua itu hanya merupakan suatu insiden kecil yang tidak perlu diperpanjang lagi persoalannya. Maka, para polisi pun segera meninggalkan mereka dengan tidak banyak bicara pula.

Sementara Sun Giok Hong yang seolah-olah telah diberi kesempatan untuk menyingkir oleh rekan-rekan Oey Hay Cee, segera mengikuti orang banyak keluar dari Konsesi Internasional untuk pulang ke tempat kediamannya yang terletak dalam batas kekuasaan pemerintah Tiongkok.

Maka Yoshi Nakamura dengan bantuan Ho Lo Ke segera memanggil tandu untuk mengangkut Noma Minoru dan Sano Rin yang luka-luka pulang ke konsesi Jepang.

Sesampainya di kantor dinas istimewa di dalam konsesi Jepang, Yasan jadi terkejut sekali melihat para anak buahnya telah jadi babak belur, lebih-lebih ketika melihat napas Noma Minoru yang sudah senin kamis. Dengan amat gusar, ia menanyakan kepada Yoshi Nakamura yang beruntung tidak terluka, bagaimana Noma Minoru dan Sano Rin dapat dilukai begitu hebat oleh si bocah she Sun itu.

Setelah mendapat keterangan yang jelas, Yasan jadi sangat penasaran dan tidak mengerti, mengapa ketiga adik seperguruannya itu begitu tidak berguna dan tak mampu mengalahkan satu Sun Giok Hong, meski mereka itu telah berlatih Judo, Jiu Jit-su dan Karate sehingga bertahun-tahun lamanya.

Sano Rin dan Yoshi Nakamura yang didamprat Yasan, tinggal membisu dan menundukkan kepala bagaikan ayam-ayam sabungan yang patah lehernya.

Setelah itu Noma Minoru yang masih pingsan itu diangkut ke dalam untuk kemudian diobati dan dirawat luka-lukanya, barulah pada keesokan harinya ia tersadar dari pingsannya.

Karena ilmu kepandaian Minoru lebih tinggi daripada kawan-kawan yang lainnya, maka begitu ia tersadar dari pingsannya. Yasan yang belum puas dengan keterangan Nakamura, segera minta keterangan lagi daripadanya, bagaimana cara mereka bertiga telah dapat dikalahkan oleh musuhnya itu dengan cara yang begitu mudahnya.

"Menurut pendapatku" kata Noma Minoru sambil merintih, "ilmu silat bocah she Sun ini ada beberapa bagian yang menyerupai ilmu Judo Dai Nippon kita, hanya gerakannya begitu cepat sehingga aku hampir tak dapat melihat dengan gerakan bagaimana ia dapat menyergap serta membanting diriku. Selain itu, cekalannya pun sangat kuat dan lihay, sehingga tenagaku seolah-olah lenyap dan tak berdaya begitu pergelangan tanganku kena dicekal olehnya. Aku tidak menyerah kalah mentah- mentah begitu saja kepadanya, tapi jika kecepatan kita masih kalah, rasanya sangat sukar untuk kita dapat mengalahkannya!".

"Ngaco!" Yasan membentak dengan gusar.

"Ini menandakan bahwa engkau bukan ahli Judo Dai Nippon yang harus dihormati orang, tapi hanya jago makan yang tak punya guna sama sekali!" kata jago Judo yang gemuk katai itu. "Bukannya engkau menjunjung tinggi ilmu Judo sendiri, tapi sebaliknya memuji-muji ilmu bela diri bangsa lain. Apakah engkau sebagai putera Dai Nippon mau terima saja dihinakan dan dicaci maki orang?. Hm, semakin aku pikirkan persoalan ini, semakin mendidih saja darah yang mengalir di tubuhku ini!".

Noma Minoru tinggal membisu saja karena ia memang sangat takut pada suhengnya yang sudah sangat terkenal sekali dikalangannya sebagai seorang yang galak dan pemarah.

"Dasar ilmu Judo, Karate atau Jiu Jit-su kita" kata Yasan pula, "adalah siasat-siasat yang cerdik dan memang memerlukan kecepatan atau kegesitan yang luar biasa.

Ketiga ilmu-ilmu kita ini telah memenuhi semua siasat-siasat untuk menandingi ilmu silat apapun!. Maka aku tak percaya bahwa ilmu silat Tiongkok dapat bergerak jauh lebih cepat lagi daripada ilmu silat Dai "Nippon kita. Kecuali setan atau malaikat, tak pernah ada manusia lain yang dapat bergerak melebihi gerakan Judo cepatnya di kolong langit ini!. Apakah engkau belum ketahui hal ini?".

Noma Minoru dengan mendongkol sekali tetap tinggal membisu, kemudian ia coba memejamkan matanya sejenak karena pundaknya dirasakan amat sakit.

Yasan jadi semakin marah dan membentak, "Ah!. Nyatanya engkau hanya tidur saja dan tidak mau mendengarkan bicaraku!".

"Aku -tidak tidur!. Aku tidak tidur!" kata Minoru dengan memaksakan dirinya untuk berbicara. "Aku tetap memasang kuping mendengar segala nasihat-nasihatmu!".

"Sungguh kalian sekalian telah melenyapkan segala pengharapan dan rasa banggaku!" kata Yasan pula sambil menghela napas. Kemudian ia berkata pada dirinya sendiri, "Jika aku tidak turun tangan sendiri, niscaya orang-orang Tionghoa itu akan mengejek dan mentertawai karena ternyata kami belum sanggup mengalahkan ilmu silat mereka. Orang-orang asing lain yang sampai sebegitu jauh masih menghormati dan mengindahkan kami para putera Dai Nippon, ada mungkin pada suatu ketika merekapun akan turut juga mencemoohkan kami. Dengan demikan, runtuhlah pengaruh bangsa Jepang di Timur Jauh dan negeri-negeri yang berkedudukan di arah Barat!. Disamping itu semua, nama harum bangsa Jepang yang terkenal sebagai negeri leluhur ahli-ahli Judo, Karate dan Jiu Jit-su akan hancur lebur oleh perbuatan bocah she Sun ini!. Hmm!".

Sambil menghela napas dan mengertak gigi, Yasan berpikir sejenak sambil mengerutkan dahinya.

Tidak lama kemudian, ia memanggil secara tiba-tiba, "Ho Lo Ke!. Ho Lo Ke, dimana kamu!".

Begundal Tionghoa itu jadi terkejut, lalu dengan gugup menjawab, "Saya, tuan besar!"

"Muatlah iklanku di pelbagai suratkabar yang terbit di kota Shanghai ini" kata jago Judo yang bertubuh gemuk katai itu, "tidak perduli berapa harga iklan itu. Semua akan kubayar secara tunai!. Lekas lakukan perintahku ini sekarang juga!". "Tapi tuan besar" kata Ho Lo Ke dengan suara merendah, "bagaimana bunyi iklan yang hendak dimuat itu?. Dan dalam suratkabar mana iklan itu hendak tuanku siarkan?".

Yasan baru ingat bahwa dia telah berbuat suatu kekhilafan. Karena belum lagi menyediakan teks-teks iklan yang hendak dimuat, ia telah berlaku terburu napsu memerintahkan begundal Tionghoanya untuk menyiarkan iklannya itu. Tawanya terasa terkurung di dalam perutnya yang gendut itu dan telah siap akan meledak keluar, tapi ia memaksakan dirinya untuk tetap memasang wajah yang bengis untuk membuat dirinya lebih berwibawa dalam pandangan para begundalnya itu dan kawan- kawannya. Namun dia tak mau mengakui kekhilafannya itu dan berkata, "Iklanku itu boleh saja engkau muat di seluruh suratkabar yang berbahasa Tionghoa, Jepang, Inggris atau yang lain-lainnya pula".

Kemudian ia memerintahkan salah seorang jurutulisnya untuk menuliskan bunyi iklan itu dan Yasan membubuhi tandatangannya di bawah iklan tersebut menurut she dan namanya yang lengkap, yaitu Yasan Sheicike. Setelah selesai ditulis, lalu tak lupa ditelitinya pula isi naskah iklan tersebut, ketika Naka Harao yang duduk di sampingnya menyelak dengan mengatakan, "Hong Kouw Park itu terletak dalam konsesi Jepang. Apakah ada kemungkinan Sun Giok Hong berani datang ke sana?".

Yasan berdiam sejenak. Sesudah memutar otak sebentar, barulah ia berkata, "Mula-mula aku memang berniat untuk menantang si orang she Sun di Konsesi Internasional atau di konsesi Perancis. Karena khawatir melanggar undang-undang di sana, maka terpaksa aku membatalkan maksudku untuk mempergunakan wilayah negeri lain itu. Tapi jika aku bertempur dengan Sun Giok Hong dalam daerah kekuasaan pemerintah Tiongkok, niscaya kita bisa dikeroyok oleh orang-orang Tionghoa di sana, hingga menang atau kalah kita tetap saja akan mengalami akibat yang tidak baik. Engkau pikir bagaimana baiknya?".

"Untuk membunuh si bocah she Sun, kenapa harus kita bersusah payah sampai begitu?" kata Naka Harao pula. "Apakah siasat serbuan kilat yang telah kita pergunakan terhadap Ho Goan Ka masih kurang efektif untuk diulangi terhadap diri monyet she Sun ini?. Kita serang saja dirinya dengan serentak, yah syukur-syukur kalau kita dapat membunuhnya sekalian, agar kelak dikemudian hari dapat membuat kapok para jago-jago silat Tionghoa yang lain untuk berhadapan dengan kita sebagai jago-jago Dai Nippon!".

Tapi Yasan tidak mupakat dengan usul rekannya itu. "Aku yakin" katanya, "bahwa aku akan dapat mengalahkan jago silat Tionghoa itu!. Aku hendak menaklukkan si orang she Sun secara laki-laki dan bertarung dengannya dengan disaksikan oleh orang banyak, hingga kelihayan ilmu Judo kita dapat dikagumi semua orang, bahkan oleh orang di seluruh dunia!".

"Jika demikan halnya" kata Ho Lo Ke, "dimanakah kiranya kita harus mengubah tempat pertemuan itu?". Lagi-lagi Yasan berpikir sebentar kemudian ia gerakkan telunjuknya sambil berkata, "Nama Hong Kouw Park yang sudah dituliskan tadi, bolehlah engkau ubah menjadi suatu tempat atau lapangan yang terletak di luar kota Liong-hoa!"

Tapi tiba-tiba wajah Naka Harao berubah karena mengingat pada beberapa waktu yang-lalu Yasan pernah mengatakan bahwa dia ingin pulang ke Tokyo untuk menjenguk keluarga gurunya yang baru saja meninggal dunia. Maka lekas-lekaslah Naka Harao bertanya, "Saudara Yasan, apakah engkau tidak jadi pulang ke Tokyo untuk menjenguk keluarga gurumu yang baru meninggal itu?".

Yasan jadi merandek mendengar pertanyaan itu. Memang tidaklah mungkin untuk pergi dan pulang ke tanah airnya dalam waktu hanya beberapa hari saja. Yasan adalah seorang yang tidak suka menerima kesalahannya sendiri, maka setelah berpikir sejenak, ia lalu berkata, "Ah, itu soal mudah!" katanya sombong, "ubah saja naskah yang terakhir jadi tanggal 15, 2 bulan yang akan datang, tepat jam 12 tengah hari".

Pada keesokan harinya ketika iklan itu dimuat dalam pelbagai harian yang berbahasa Tionghoa, Inggris, Jepang, dan lainnya dan dibaca oleh khalayak ramai dari segala lapisan. Iklan tersebut antara lain berbunyi sebagai berikut:

"Nama Sun Giok Hong telah lama terkenal dalam Rimba Persilatan di Tiongkok sebagai seorang tokoh yang jarang dapat lawan yang setimpal dalam kalangan persilatan di negerinya. Hal itu, cukup diketahui oleh orang banyak di dalam dan di luar daerah Tiongkok. Aku sebagai salah seorang putera Dai Nippon yang sangat gemar pada ilmu silat di negeri sendiri dan di Tiongkok, tidak jarang meminta pelajaran dari para ahli untuk saling berkenalan atau bertukar pendapat.

Aku Yasan Sheicike secara pribadi sangat mengagumi Sun Giok Hong, maka dengan jalan memasang iklan ini aku telah menyampaikan undangan untuk saling bertemu di luar kota Liong-hoa pada tanggal 15, 2 bulan yang akan datang jam 12 tepat".

Sudah barang tentu masyarakat jadi sangat tertarik sekali dan dalam sekejap saja telah menjadi buah bibir di kedai-kedai kopi dan di mana-mana, bahwa 2 bulan yang akan datang mereka akan menyaksikan pertandingan yang pasti menarik hati sekali. Meskipun dalam iklan itu Yasan tidak menyebutkan bahwa dalam pertemuannya nanti dengan Sun Giok Hong itu akan dilanjutkan dalam suatu pertempuran atau hanya sekedar berbincang-bincang biasa saja. Tapi masyarakat sudah terlanjur menganggap kata-kata orang Jepang itu sebagai suatu tantangan terbuka dari pihak jago Judo Jepang.

Sementara Giok Hong yang melihat siasatnya telah berhasil membuat pihak lawannya memilih tempat untuk bertempur di tempat yang agak jauh dari daerah konsesi Jepang. Diam-diam Giok Hong jadi merasa girang sekali akan reaksi pihak Jepang itu, walaupun dia sendiri masih tetap curiga kalau-kalau ia nanti akan dikeroyok oleh kawan-kawan dari si jago Judo itu.

Sambil menanti kedatangan Yasan Sheicike dari Tokyo, marilah kita tengok Ho Goan Ka yang menderita luka-luka berat akibat pengeroyokan murid-murid Kawai Saburo.

Luka-luka Ho Goan Ka meski telah diobati dengan cara pengobatan Timur maupun Barat, tapi penyakitnya kian hari kian bertambah buruk saja, hingga akhirnya luka- luka bekas pengeroyokan bajingan-bajingan Jepang itu telah membawanya ke liang kubur juga. Hal mana, bukan saja telah membuat sanak saudara dan para handai taulannya dari kalangan persilatan turut berkabung, tapi juga telah membuat Sun Giok Hong menjadi sangat gusar. Saking tidak kuatnya menahan amarahnya yang bergolak-golak, ia jadi menangis tersedu-sedu sambil berjanji untuk menuntut balas.

Sedari meninggalnya Ho Goan Ka, maka para Kauw-thauw atau guru silat di gedung Ceng Bu Hwee di Shanghai, selain Sun Giok Hong sendiri, boleh disebutkan juga nama-nama Tan Cu Ceng, Lo Kong Giok, Sun Lok Tong, Lie Hway Teng, Tio Lian Ho, Pouw Cin Siong dan lainnya, yang semua tergolong sebagai ahli-ahli silat kelas satu.

Sun Giok Hong yang telah belasan tahun lamanya menjadi guru silat di gedung Ceng Bu Hwee, bukan saja kenal baik dengan mereka semua, tapi juga karena kepandaian silat dan pengetahuan ilmu suratnya cukup dalam. Tidak heran jika ia dihormati oleh rekan-rekannya sekalian, yang telah menganggap dirinya sebagai ketua diantara mereka, walaupun Giok Hong sendiri tidak menjadi bangga atau besar kepala karena penghormatan yang dirasanya begitu dibesar-besarkan itu.

Pada suatu ketika, perkumpulan Ceng Bu Hwee telah kedatangan seorang guru yang silat baru asal dari propinsi Ouw-lam, she Co bernama Hian Pang, seorang ahli silat dari cabang Bu-tong-pay. Karena ilmu silatnya yang lihay, maka pengurus dari Ceng Bu Hwee telah mengundangnya untuk membantu mengajar dalam gedung perkumpulan tersebut.

Usia Co Hian Pang baru mencapai 32 tahun, berbadan tegap dan gerak geriknya gesit sekali. Tapi sayang, ia berperangai sangat buruk karena suka memandang rendah ahli-ahli silat lainnya. Dengan demikian mudah timbullah dalam pikirannya bahwa dialah yang berkepandaian paling tinggi dan ahli-ahli lainnya tidak mampu atau belum cukup baik untuk disamakan kedudukannya dengan diriny.i sendiri. Maka timbullah rasa iri dalam hatinya atas penghormatan yang telah diberikan orang-orang kepada Giok Hong.

Dari perasaan iri, ia jadi penasaran dan mempunyai maksud yang tidak baik. Maka biarpun ia dan Giok Hong bekerja di suatu perkumpulan yang sama, tapi lambat-laun mereka jadi saling berselisih, sehingga di waktu saling bertemu muka, mereka tidak lagi saling hormat menghormati satu sama lain.

Pada suatu hari, Giok Hong yang memperoleh murid-murid baru, lalu mulai memberikan pelajaran ilmu Eng-jiauw-kun tingkat pertama. Ia menjelaskan jurus- jurus yang harus mereka lakukan itu dengan secara teliti dan sabar. Ia sendiri memberi contoh dalam tiap-tiap gerakan yang perlu diperhatikan.

Sementara dilain pihak, Co Hian Pang yang justru telah terlebih dahulu menyelesaikan tugas mengajar para muridnya, lalu duduk-duduk di bawah mimbar sambil menonton Giok Hong yang sedang mengajar murid-muridnya dari kejauhan.

Justru di bawah mimbar itupun masih berkumpul beberapa orang guru silat Ceng Bu Hwee rekan-rekan Giok Hong yang duduk mengobrol sambil turut menonton.

Co Hian Pang yang umumnya memandang rendah kepada Sun Giok Hong, di dalam hatinya pun menganggap remeh ilmu Eng-jiauw-kun yang diajarkan Giok Hong kepada para muridnya itu. Selama ia turut menonton di situ, tidak henti-hentinya ia mentertawai Giok Hong dengan cara yang begitu menghina sehingga menerbitkan rasa tidak enak bagi guru-guru lain yang berada di situ. Giok Hong sendiri merasa tersinggung dan merasa telah dihinakan oleh rekan barunya yang usianya lebih muda itu.

Maka kumatlah sifat-sifat pemarah Giok Hong yang lama, yang meski sudah diperingati supaya berlaku sabar dan tak mudah naik darah oleh para gurunya, urung dia tidak dapat lagi menahan kegusarannya itu. Karena kesabaran pastilah ada batasnya, semutpun menggigit tatkala terinjak, hingga sambil mendekati sisi mimbar ia menuding rekannya yang sombong itu sambil berseru, "Hai, Lauw Co, apakah engkau sudah tidak mengenal aturan lagi?. Tampaknya engkau terlampau menganggap rendah kepada diriku!. Kita sama-sama bekerja di sini sebagai guru silat, tapi bagaimana caranya engkau yang berkedudukan sebagai salah seorang guru di sini, masih juga berani menunjukkan sikap yang begitu tidak sopan di hadapan para murid-murid sekalian?".

Co Hian Pang yang sombong tentu saja tidak bersedia menunjukkan kelemahan dirinya sendiri, bukan saja ia tak mau terima teguran itu, malah sebaliknya segera bangkit dari kursinya sambil balas mendamprat, "Sun Giok Hong, engkau juga sebenarnya bukan seorang goblok!. Jika ilmu silatmu baik dan sesungguhnya lihay, masakah ada orang yang akan mencela dan mentertawai dirimu?. Cobalah berpikir sedikit, jika ilmu silat yang seburuk ini diturunkan kepada para murid yang belum mengerti apa-apa, bukankah kelak akan membuat kapiran serta sesalan mereka kepada dirimu sendiri?. Suatu peribahasa pernah mengatakan 'Keledai yang takut cambuk takkan dapat berlari cepat'. Jika dia takut dikritik, bagaimana caranya dia bisa memperoleh kemajuan?".

Bagaikan api disirami minyak, amarah Giok Hong jadi semakin berkobar mendengar sindiran kasar yang dilancarkan si orang she Co itu. Dengan suara keras, ia membentak, "Bocah she Co!. Alangkah baiknya jika engkau "dapat segera naik ke mari, untuk membuktikan bahwa Eng-jiauw-kun mampu merobek bacotmu yang besar itu!".

Co Hian Pang gusar bukan kepalang mendengar dirinya ditantang, seketika itu juga ia merasa sudah dihinakan oleh kata-kata Giok Hong itu. Dengan satu enjotan, tubuhnya telah mencelat ke atas mimbar dengan sikap yang garang sekali, sambil berkata, "Memang sudah sejak lama aku berniat mencoba ilmu Eng-jiauw-kun yang jelek itu!".

Maka tanpa banyak bicara pula Hian Pang telah maju menerjang Giok Hong dengan ganas sekali, Giok Hong-pun segera meladeninya dengan mempergunakan jurus Eng- jiauw-kun yang oleh pihak lawannya selama ini dianggap buruk itu.

Begitulah kedua orang itu telah terlibat pertempur dengan posisi yang sama lihay dan dahsyatnya, kedua-duanya tak mau mundur sebelum ada salah seorang dari mereka yang roboh dalam keadaan mati atau menderita luka parah.

Syukur juga sebelum ada salah seorangpun dari mereka berdua yang celaka, para rekan guru Ceng Bu Hwee segera melaporkan peristiwa tersebut kepada para pengurus gedung perkumpulan itu, yang segera datang ke situ untuk memisahkan kedua orang guru silat yang sedang berkelahi itu. Maka terhindarlah sebuah kejadian yang lebih mengerikan terjadi.

"Memandang muka para pengurus perkumpulan kita ini" kata Sun Giok Hong, "maka mau juga aku mengampuni jiwamu. Kalau tidak, entahlah apa yang akan terjadi pada dirimu selanjutnya".

"Hm, pandai sekali engkau memutar lidah!" Co Hian Pang mengeluarkan suara dengusan dari lobang hidungnya. "Apakah sangkamu aku takut?. Jangakan di waktu siang hari, tapi di waktu malam hari sekalipun, jika perlu engkau boleh bangunkan aku untuk bertempur di mana saja kau kehendaki!".

Giok Hong jadi sengit lalu berniat kembali menghajar si orang she Co seketika itu juga. Para pengurus segera membujuk dan mengajaknya pergi ke sebuah ciu-lauw atau kedai minuman untuk menanyakan bagaimana duduk persoalan sebenarnya sehingga Giok Hong jadi berkelahi dengan guru silat she Co yang baru diundang oleh para pengurus Ceng Bu Hwee itu.

Giok Hong lalu menuturkan di hadapan mereka, bagaimana caranya ia telah dihina oleh Co Hian Pang di hadapan para anggota-anggota baru yang sekaligus menjadi muridnya juga. Ia merasa sangat dihina dan selanjutnya dengan terpaksa menantang berkelahi untuk menentukan siapa diantara mereka berdua yang lebih lihay ilmu silatnya.

"Karena untuk berurusan dengan orang serupa bocah she Co itu" Sun Giok Hong melanjutkan, "hanya ada suatu jalan saja yang harus ditempuh, yakni dengan kepalan!".

"Sun Lo-su" kata para pengurus itu, "kami harap supaya sudilah kiranya Lo-su menimbang-nimbang dengan seadil-adilnya, untuk memaafkan Lauw Co sekali ini. Karena disamping memandang bahwa kita sebagai sesama kaum dan rekan dari suatu gedung perkumpulan yang sama, Lo-su pun harus jangan lupa memikirkan juga nama baik perkumpulan Ceng Bu Hwee kita ini, yang tentunya nanti akan bisa memberi kesan yang tidak baik bagi pandangan orang di luar jika permusuhan Lo-su dan Lauw Co sampai berlarut-larut tanpa para pengurusnya bertindak sebagaimana layaknya untuk memperbaiki hubungan Lo-su dengan Lauw Co yang telah retak itu. Atas kebijaksanaan Lo-su ini yang telah sudi menjelaskannya, bukan saja kami sangat berterima kasih dan mengerti duduk persoalannya, tapi kami juga jadi mempunyai bahan yang cukup jelas untuk minta Lauw Co meminta maaf kepadamu dalam suatu perjamuan yang akan kami adakan nanti".

Barulah amarah Giok Hong mulai sedikit mereda dan berjanji bahwa diapun bersedia untuk menyudahi perselisihan itu serta memaafkan Co Hian Pang kalau saja guru silat dari Ouw-lam itu suka mengakui kesalahannya serta berjanji juga bahwa selanjutnya takkan terjadi lagi peristiwa serupa ini.

Sayangnya, ketika jamuan sebagai tanda perdamaian kedua belah pihak diadakan di sebuah rumah makan internasional kelas satu di kota Shanghai oleh para pengurus Ceng Bu Hwee, ternyata Co Hian Pang tidak muncul. Perjamuan itu terpaksa dilangsungkan dengan tidak dihadiri oleh pihak orang yang harusnya meminta maaf kepada Sun Giok Hong. Para pengurus telah mengajukan alasan kepada Sun Giok Hong bahwa ada kemungkinan Co Hian Pang merasa malu atas perbuatannya yang tidak baik itu, sehingga dia tidak berani datang untuk menjumpai Giok Hong dan para pengurus yang mengundangnya untuk maksud tersebut.

Sungguh diluar dugaan orang, bahwa seteleh berselang tiga hari semenjak diadakannya jamuan perdamaian itu, tiba-tiba Giok Hong menerima sepucuk surat dari Co Hian Pang, yang bunyinya antara lain sebagai berikut:

"Sun Giok Hong, pada beberapa hari yang lampau, karena memandang muka para pengurus, maka aku mengampuni jiwamu untuk beberapa waktu lamanya!. Tapi siapa kira engkau telah menjadi semakin besar kepala dengan mengajukan permintaan supaya aku meminta maaf kepadamu. Sudah jelaslah bahwa engkau tak dapat melihat gelagat atau menimbang tentang kemampuanmu sendiri yang masih begitu terbatas!.

Maka kalau engkau sesungguhnya berhati mantap dan menginginkan juga aku meminta maaf kepadamu, kini aku membuka suatu kesempatan untuk kita bertanding satu lawan satu di bawah gunung Houw-kiu-san dalam kabupaten Souw-ciu, pada tiga hari setelah engkau menerima surat ini. Aku tunggu kedatanganmu di sana pada waktu tengah hari.

Jika engkau tak berani datang, itulah tandanya bahwa engkau takut, hingga selain engkau harus meminta maaf kepadaku, engkaupun harus mengumumkan kepada orang banyak bahwa ilmu kepandaianmu masih kalah jauh denganku, seorang ahli silat dari cabang Bu-tong-pay.

Sekianlah apa yang hendak kukatakan kepadamu. Tertunda, CO HIAN PANG

Tidak usah dikatakan lagi betapa gusarnya Sun Giok Hong setelah selesai membaca bunyi surat tantangan tersebut. Tanpa terasa lagi ia telah menumbukkan tinjunya ke atas meja sambil berseru, "Kurang aja sekali si orang she Co itu!. Apakah dia menyangka aku gentar dengan semua gertakannya ini?. Hm!".

Mula-mula ia berniat mengadukan persoalan ini kepada para pengurus perkumpulan Ceng Bu Hwee. Tapi setelah berpikir sejenak dan menganggap bahwa dengan berbuat demikian ia bisa dituduh berlaku pengecut oleh pihak lawannya, maka ia sengaja mendiamkan saja surat itu tanpa diserahkannya kepada para pengurus. Diam-diam ia memberitahukan ini kepada isterinya dan dua orang murid kesayangannya Lauw Toan In dan Lo Hok Yauw, untuk membantu melindungi dirinya dengan secara sembunyi-sembunyi karena Co Hian Pang yang sifatnya licik tidak mungkin berani menghadapinya dengan hanya seorang diri saja.

Begitulah, dengan menumpang kereta api Nanking-Shanghai, mereka telah berangkat ke Souw-ciu dan menumpang tinggal dalam kelenteng Han-san-ie di luar kota tersebut, setelah terlebih dahulu Giok Hong menderma sejumlah 50 dollar untuk dana pembangunan kelenteng di situ.

Kelenteng ini terletak di tepi sungai di luar kota Souw-ciu yang berpemandangan alam sangat indah, dimana perahu-perahu setiap saat tampak hilir mudik mengangkut para pelancong yang sedang pesiar dan menikmati keindahan kota

Souw-ciu dan daerah sekitarnya. Ciok Hong teringat akan sebuah sajak karya Thio Kie dari jaman dinasti Tong yang berjudul "Pesiar di sungai di malam hari", yang sangat ia gemari.

Pada petang hari itu setelah habis makan dan minum, ia mengajak isteri beserta para muridnya untuk menikmati keindahan-keindahan alam di tepi sungai seperti apa yang pernah dilukiskan dalam sajak Thio Kie itu. Ternyata ia menjadi kecewa, berhubung di sana hanya tampak kegelapan, tak tampak perahu-perahu yang hilir mudik atau suara nyanyian dari orang-orang yang sedang pesiar dengan berperahu di waktu malam hari. Karenanya, Giok Hong segera mengajak Cay In dan dua orang muridnya kembali ke kelenteng Han-san-sie dengan perasaan menyesal.

Pada keesokan harinya, sesudah menyelesaikan sarapannya, mereka berempat lalu menyewa perahu menuju ke gunung Houw-kiu-san. Dari kejauhan telah tampak lima orang laki-laki yang telah sampai ke sana terlebih dahulu dan kini tengah berdiri menantikan Sun Giok Hong dan kawan-kawan di bawah sebuah pagoda yang menjulang tinggi ke angkasa raya. Salah seorang diantara kelima orang itu, ternyata bukan lain daripada Co Hian Pang adanya.

Begitu melihat kedatangan Sun Giok Hong dan kawan-kawannya, orang she Co itu segera menuding sambil membentak, "Bocah she Sun, tempo hari jika aku tidak memandang muka para pengurus, niscaya engkau sudah kuhantam sampai mampus saat itu juga. Hari ini engkau telah menerima baik tantanganku, itulah sesungguhnya suatu perbuatan yang terlampau gegabah dan tidak mengimbangi kemampuan dirimu sendiri.'. Akan kulihat bagaimana caranya engkau akan menghadapiku.

Tanpa menantikan dahulu jawaban orang, Co Hian Pang sudah lantas maju menerjang, untuk menghantamkan pukulannya sebelum Sun Giok Hong bersiap sedia.

Giok Hong yang terlebih dahulu telah berjaga-jaga, dengan sebat telah memiringkan tubuhnya untuk mengelakkan pukulan tersebut, kemudian dengan jurus Eng-jiauw-kun ia hendak menyekal pergelangan tangan si orang she Co. Ketika melihat gelagat tidak baik, Co Hian Pang lekas-lekas lompat mundur untuk menghindarkan dirinya dari cekalan itu. Dengan berdasarkan penglihatannya selagi Giok Hong mengajar para muridnya, kini ia baru mengetahui bahwa apa yang disaksikannya waktu itu hanyalah bagian-bagian yang terlampau rendah dari ilmu Eng-jiauw-kun tersebut, sedangkan "isinya" yang ia saksikan sekarang ternyata jauh lebih hebat dan lihay daripada apa yang semula dipikirkannya. Maka diapun dengan diam-diam tak berani lagi memandang rendah Giok Hong yang semula sangat dihinakannya itu.

Maka pada waktu Giok Hong balas menyerang, iapun segera mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mempertahankan dirinya agar jangan sampai kena dikalahkan oleh musuhnya itu.

Demikianlah pertempuran itu telah berlangsung dengan amat hebatnya hingga 30 atau 40 jurus dalam keadaan seri. Orang-orang dari kedua pihak menyaksikan dari pinggiran dengan perasaan hati yang berdebar-debar. Orang-orang Co Hian Pang yang diperintah untuk segera mengeroyok jika ternyata Sun Giok Hong lebih unggul dalam pertempuran itu, kini terpaksa berlaku pasif dan tinggal menonton guru mereka yang sedang bertempur itu dengan perasaan khawatir. Karena

Sun Giok Hong ternyata tidak datang ke Houw-kiu-san hanya seorang diri saja, maka jika mereka maju mengeroyok lawan guru mereka itu, apakah orang-orang Sun Giok Hong akan tinggal diam saja?.

Gunung Houw-kiu-san yang menjadi salah suatu daerah pariwisata yang terkenal dalam kota Souw-ciu, banyak sekali dikunjungi oleh para pelancong yang datang dari pelbagai propinsi di daerah Tiongkok. Tidaklah heran jika para pelancong jadi berkerumun menonton kedua orang yang sedang pie-bu itu, yang semula hanya ditonton oleh beberapa orang saja. Begitu orang banyak mengetahui tentang adanya pertandingan yang ramai sekali di daerah itu, dengan segera jumlah penonton menjadi berlipat ganda, kemudian semakin bertambah sehingga berjumlah beberapa ratus orang banyaknya. Dalam waktu sekejapan saja, di bawah gunung itu telah menjadi ramai oleh para penonton yang sengaja datang ke situ untuk menyaksikan orang pie-bu.

Semakin banyak orang-orang yang datang menonton, semakin khwatir pula hati Co Hian Pang. Ia semula tidak pernah menyangka bahwa di situ akan datang begitu banyak orang hingga kalau nanti ia kalah dalam pertempuran itu, berita tentang kekalahannya pasti akan segera tersiar kemana-mana.

Untuk mencegah kejadian tidak enak ini, ia perlu mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaga sekuat-kuatnya agar dapat segera merobohkan Sun Giok Hong pada saat itu juga. Kalau tidak, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia sendirilah yang pasti akan merasa lebih kecewa.

Sementara Giok Hong yang sedari tadi memperhatikan perlawanan si orang she Co, begitu mengetahui dimana letak kelemahan musuhnya itu, segera maju mendesak dengan cepat dan dahsyat, sedangkan tendangan-tendangannya yang lihay segera dilancarkannya dengan bertubi-tubi.

Hal ini telah memaksa Co Hian Pang mundur dan mempergunakan kedua tangannya untuk menyampok atau membabat kaki Sun Giok Hong, namun dia tak berdaya mengubah terjangan terjangan lawannya menjadi lebih lunak. Tatkala diapun mencoba melancarkan tendangan Houw-hwee-kiak yang terkenal lihay dan sukar dijaga musuh, tiba-tiba Giok Hong berkelit dan dengan gerak yang hampir tidak kelihatan ia telah menggerakkan tangan kirinya mempergunakan jurus Eng-jiauw- kim-na-ciu sambil membentak, "Hai orang she Co!. Inilah apa yang dinamakan ilmu Eng-jiauw-kun!". Tanpa disadari oleh orang yang bersangkutan, tahu-tahu Co Hian Peng telah terlempar sehingga duapuluh kaki jauhnya dan jatuh meloso di bawah sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi jalan.

Syukur juga si orang she Co jatuh di atas rumput. Kalau tidak, niscaya tulang punggungnya akan patah terbentur batang pohon.

Para murid Co Hian Pang yang menyaksikan guru mereka telah dipecundangi orang segera mencabut thie-cio untuk melindungi Co Hian Pang yang sudah roboh di tanah, khawatir nanti dibinasakan oleh Sun Giok Hong.

Giok Hong yang tidak bermaksud untuk mencelakai lawannya, dengan segera ia berseru dengan suara keras, "Tidak usah kalian khawatir aku si orang she Sun tidak akan sembarangan mencelakai orang!. Co Hian Pang bukanlah musuh besarku hingga kita harus bertempur sampai ada yang mati!. Aku hanya mengajar adat sombong guru kalian itu, yang telah menghinakan orang sehingga melampaui batas!". Setelah itu ia menoleh kepada si orang she Co sambil berkata, "Co Hian Pang, apakah engkau sekarang sudah puas?".

Hian Pang jadi merah mukanya karena jengah.

"Kini aku harus akui" katanya, "bahwa ilmu kepandaianmu lebih unggul daripadaku.

Selamat tinggal, sampai kita jumpa pula nanti!".

Setelah berkata demikian, dengan menahan rasa sakit ia segera bangkit dan lekas- lekas berlalu dari situ dengan diiringi oleh kelima orang muridnya.

Para pelancong yang justeru berkunjung ke gunung Houw-kiu-san hanya mengetahui bahwa di situ telah terjadi pie-bu yang ramai sekali antara kedua jago silat itu, tapi tidak tahu menahu siapa dan dari mana asal usul mereka berdua.

Sun Giok Hong dan isteri serta dua orang muridnya, baru pulang ke Shanghai setelah terlebih dahulu pesiar dua hari lamanya di kota Souw-ciu. Karena dia tak pernah membicarakan tentang pertempurannya dengan orang she Co dari Ouw-lam itu, maka tidak heran jika tiada seorang pun yang mengetahui peristiwa yang terjadi di bawah kaki gunung Houw-kiu-san pada beberapa hari yang lampau.

Sementara Co Hian Pang bersama para muridnya, setelah berdiam beberapa hari lamanya di dalam sebuah rumah penginapan di Souw-ciu sambil mengobati luka- lukanya yang telah dideritanya dari pertempuran dengan Sun Giok Hong itu, hatinya menjadi jengkel bukan kepalang lalu timbul pikiran untuk menuntut balas.

Ia pikir, syukur juga dirinya tidak dikenali oleh para pelancong yang justru datang ke situ dan menyaksikan pertempurannya dengan si orang she Sun. Kalau tidak, niscaya kekalahannya itu akan segera tersiar ke mana-mana, sehingga membuat guram nama baiknya yang sudah sekian lama dikenal oleh para penduduk di tanah kelahirannya sebagai salah seorang tokoh dari cabang Bu-tong-pay.

Maka untuk menutup rasa malu terhadap para muridnya, Hian Pang segera mengatakan bahwa tingkat kepandaiannya dengan Sun Giok Hong sebenarnya sama, tapi karena dia agak terburu napsu dan terlampau memandang ringan kepada lawan itu, maka kesudahannya dia telah menderita kekalahan. Dengan kata lain, dia seolah- olah hendak mengatakan bahwa dia belum tentu kalah jika pertempuran itu sampai diulang kembali. Sedang di dalam hatinya ia bersumpah jika Sun Giok Hong belum ia binasakan, belumlah puas perasaan hatinya.

Setelah berpikir demikian, ia segera memerintahkan seorang muridnya menumpang kereta api Nanking-Shanghai untuk mengundang kedua orang Su-teenya Yo Ah Po dan Tio Kee Cun di Nanking, yang tatkala itu membuka Bu-koan atau rumah perguruan silat di muka kelenteng Hu-cu-bio di sana.

Empat hari kemudian, kedua orang Su-tee itu telah datang ke rumah penginapan Co Hian Pang dengan diantar oleh muridnya yang telah diperintahkan untuk mengundang mereka itu.

Yo Ah Po dan Tio Kee Cun kedua-duanya baru berusia kurang lebih 30 tahun, tubuhnya tinggi besar dan tenaganya pun sangat kuat. Yo Ah Po biasa menggunakan sebilah pedang Liong-coan-kiam, sedang Tio Kee Cun mahir menggunakan Ngo-ciat- kong-pian atau cambuk baja yang berbuku lima.

Kepada kedua orang Su-teenya ini Co Hian Pang telah menuturkan cara bagaimana ia telah bertempur dengan Sun Giok Hong, yang dikatakannya "terlampau menghina" terhadap ilmu silat mereka dan cabang Bu-tong-pay. Ia telah sengaja mengundang kedua orang itu untuk sama-sama menumpas si orang she Sun yang sombong itu, agar kewibawaan partai Bu-tong jangan sampai dicemoohkan orang lain lagi di luaran. Ketika kedua orang itu mendengar hasutan si orang she Co, dengan segera mereka jadi gusar dan berkata dengan suara yang hampir berbareng, "Perlu apakah kita mesti berkelahi dengan cara keroyokan, sedangkan lawan kita hanya seorang she Sun saja?. Pendeknya kami tidak mupakat dengan siasat Su-heng dalam menghadapi musuh itu. Meski akhirnya kita memperoleh kemenangan juga, itupun tak dapat dibilang sebagai perbuatan orang-orang gagah. Malah kita akan dicela serta disindir sebagai orang-orang pengecut oleh para rekan kita dalam Dunia Persilatan!".

Tapi Co Hian Pang menggelengkan kepalanya dan berkata, "Jie-wie Su-tee, jangan menganggap 'sepi' si orang she Sun itu. Aku ada suatu siasat untuk kamu berdua agar dapat mengalahkan Sun Giok Hong tanpa harus dicap sebagai kawanan pengecut oleh rekan-rekan kita dalam Dunia Persilatan".

Yo Ah Po dan Tio Kee Cun lalu hendak coba memotong pembicaraan Su-hengnya, ketika si orang she Co mendahului berkata, "Engkau berdua dengarkan dahulu siasat yang hendak kuajukan ini, yakni harus mencari gara-gara diwaktu berpapasan dengan Sun Giok Hong. Setelah kalian berhasil membuatnya menderita luka-luka, kalian harus segera kabur. Dengan demikian, khalayak ramaipun pasti takkan menyangka, bahwa semua ini adalah suatu siasat yang memang telah diatur. Lagipula, orang tak kenal she dan namamu berdua, hingga orang takkan menduga sama sekali bahwa penyerangan gelap atas diri Sun Giok Hong mempunyai hubungan yang erat dengan persoalanku pribadi!".

Mendengar demikian, terpaksa Yo Ah Po dan Tio Kee Cun menyanggupi juga, hingga Co Hian Pang jadi sangat girang lalu mengatar siasat untuk selanjutnya kedua Su-tee i-tu laksanakan.

Sekarang kita menilik kepada Sun Giok Hong. Sekembalinya dari gunung Houw-kiu- san ke Shanghai, ia telah meiakukan pula tugasnya sebagai guru silat dari Ceng Bu Hwee, tapi tak pernah menyebut-nyebut perihal pertempurannya dengan Co Hian Pang di luar kota Souw-ciu. Tiada seorang rekan-rekannya yang mengetahui tentang peristiwa perkelahiannya dengan guru silat dari Ouw-lam itu.

Setiap hari setelah selesai mengajar silat, Giok Hong kerap mengajak muridnya Lauw Toan in pergi makan minum di kedai minuman Pak Lay Sun di Ka-pak. Pada suatu hari menjelang senja ketika Giok Hong dan muridnya keluar dari gedung perkumpulan Ceng Bu Hwee untuk pergi ke Ka-pak, tanpa sadar bahwa dua bayangan tengah menguntitnya dari kejauhan.

Sesampainya di muka kedai minuman Pak Lay Sun, lalu lintas justru macet. Selagi Giok Hong hendak mampir ke kedai minuman tersebut, tiba-tiba ia telah diterkam oleh seorang laki-laki tinggi besar yang beroman bengis dan berusia kira-kira 30 tahun. Syukur juga Giok Hong bermata jeli dan segera melompat mundur sehingga dua tindak jauhnya, dengan mana ia telah berhasil dapat mengelakkan bertubrukan dengan orang itu. Seorang laki-laki yang lainnya segera menyerang dari arah belakang dengan menggunakan sebatang Ngo-ciat-kong-pian, hingga Giok Hong terpaksa membuang diri untuk dapat menghindarkan serangan gelap itu.

Ketika baru saja ia terhindar daripada bahaya itu, tiba-tiba orang yang pertama hendak menerkamnya telah menjotos lagi dengan hebatnya. Giok Hong lekas berkelit sambil menyambar untuk menyekal pergelangan tangan musuh itu. Dengan cepat orang itu juga melihat gelagat, kalau tidak niscaya tulang pergelangan tangannya akan dicengkeram oleh salah satu jurus Eng-jiauw-kim-na-ciu Sun Giok Hong.

Sementara Giok Hong yang sama sekali tidak membawa senjata, justeru itu melihat seorang yang berjualan buah Lay berjalan lewat di tepi jalan raya. Dengan tidak membuang waktu lagi, ia segera hentikan pedagang buah itu, yang pikulannya lalu diambilnya dan dipergunakannya sebagai gegaman untuk melawan kedua orang laki-laki yang telah menyerangnya secara tiba-tiba itu.

Mereka ini bukan lain daripada kedua orang Su-tee Co Hian Pang yang bernama Yo Ah Po dan Tio Kee Cun adanya. Mereka sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pembokongan mereka itu akan mendapat sambutan yang sedemikian hangat dan hebatnya dari pihak si orang she Sun.

Maka Yo Ah Po yang bersenjatakan sepasang thie-cio sebagai pengganti pedangnya yang berbentuk panjang dan mudah menarik perhatian orang, segera menyerang.

Kedua thie-cionya berbareng menerjang, yang kiri menusuk tenggorokan, sedang yang kanan disabetkan ke arah tulang rusuk.

Dengan gerakan yang dahsyat sekali Giok Hong telah menyapu dan sekaligus menabas pinggang Ah Po dengan pikulannya, sehingga Ah Po lekas-lekas lompat mundur ke belakang. Giok Hong hendak mengejar, tapi ia batalkan maksudnya tatkala Kee Cun menyerangnya dari sebelah kanan.

Tio Kee Cun yang bersenjata sebatang Ngo-ciat-kong-pian, berniat membetot pikulan yang dipakai sebagai senjata oleh Giok Hong. Cambuk bajanya berhasil melibat pikulan, tapi sebelum ia keburu membetot, ujung pikulan itu telah lebih dahulu menerjang dadanya!. Kee Cun terkejut sekali, lekas-lekas ia lepaskan cambuk bajanya sambil lompat. Tak urung pundaknya kena juga tersodok sedikit, maka jatuhlah ia terpelanting ke tanah. Ia segera bangkit lagi, lalu lari menghampiri seorang pedagang sayuran untuk ia rampas pikulannya.

Sedang Lauw Toan In yang tidak mau membiarkan orang mengepung gurunya dengan seenaknya saja, begitu melihat ada kesempatan iapun segera turut merampas pikulan seorang pedagang yang lainnya. Dengan pikulan itu ia telah melakukan serangan kilat kepada Tio Kee Cun, yang sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan menjadi tandingan murid lawannya yang telah menghalangi pikulannya yang dihantamkan ke arah batok kepala Giok Hong dengan sekuat-kuat tenaganya.

Seketika itu juga terdengar suara beradunya dua pikulan yang telah membuat orang- orang yang hilir mudik di jalan jadi berteriak, "Aduh!". Kemudian mereka cepat berlarian menyingkir untuk menghindarkan salah paham kedua pihak yang sedang bertempur.

Tenaga Tio Kee Cun dan Lauw Toan In ternyata sama kuat dan dahsyatnya karena begitu pikulan yang mereka pergunakan saling beradu, segera terdengar suara "DAK!" yang keras sekali. Bersamaan dengan itu, kedua pikulan yang saling beradu itu telah patah menjadi empat potong!. Kedua orang itu yang tak mau saling mengalah mentah-mentah, bukan saja tidak mau mundur malah sebaliknya lantas mempergunakan pikulan yang patah itu untuk memukul musuh sebagai ganti senjatanya.

Tanpa banyak bicara pula, kedua orang itu segera saling serang menyerang dengan ditonton oleh orang banyak yang berjalan hilir mudik di kedua tepi jalan Ka-pak yang ramai itu.

Dengan demikian, pertempuran telah terpecah menjadi dua rombongan, yakni Sun Giok Hong lawan Yo Ah Po dan Lauw Toan In lawan Tio Kee Cun. Semakin hebat pertempuran-pertempuran itu berlangsung, semakin banyak pula orang-orang di jalan raya yang berkerumun menonton keramaian tersebut.

Menggunakan pikulan sebagai senjatanya, Giok Hong telah melabrak Yo Ah Po sehingga sibuk bukan main untuk melindungi diri dengan thie-cio yang dipergunakannya sebagai senjata itu. Selanjutnya, ia hanya mampu menjaga diri daripada serangan-serangan Sun Giok Hong, tapi sama sekali tak mampu balas menyerang musuh kakak sepergurannya itu. Sementara Lauw Toan In yang masih muda dan bertenaga sangat kuat, telah melancarkan serangan-serangannya dengan tidak kepalang tanggung. Tio Kee Cun agak terkejut juga melihat kegagahan dan keberanian pihak lawannya yang meski usianya masih muda belia tapi ternyata tak boleh dipandang ringan atau dipersamakan dengan pemuda-pemuda lain.

Karena terjadinya pertempuran itu dan banyak orang yang sedang hilir mudik di jalan raya jadi berkerumun di sana untuk menonton dua rombongan orang-orang yang sedang berkelahi itu. Tidaklah heran jika lalu lintas di jalan raya menjadi macet, hingga menarik perhatian pihak kepolisian yang segera mengirim serombongan polisi untuk menangkap orang-orang yang sedang membikin kerusuhan itu guna menjaga keamanan dan ketentraman di dalam kota.

Dalam keadaan begitu, Yo Ah Po dan Tio Kee Cun menjadi sangat bingung dan sesaat lamanya tidak mengetahui dengan jalan bagaimana mereka harus meloloskan diri. Jika mereka kabur dengan tergesa-gesa, pihak musuh-musuh mereka akan menjadi lebih leluasa untuk melukai mereka berdua, jika tidak lekas-lekas kabur, niscaya mereka akan ditangkap oleh polisi.

Sebagai orang-orang yang telah memulai mencari gara-gara dan membawa thie-cio dan cambuk baja untuk mencelakai orang, maka sudah barang tentu jelas sekali kesalahan mereka, bahwa perbuatan mereka itu telah direncanakan terlebih dahulu.

Untuk ini, mereka tentu sangat sukar untuk mungkir dalam segala alasan. Oleh sebab itu, apa akal mereka sekarang untuk dapat menyelamatkan diri dengan berbarengan meloloskan diri dari tangan undang-undang negeri?.

"Celaka!", berbareng dengan suara teriakan tanpa terasa yang keluar dari mulut Yo Ah Po dan Tio Kee Cun. Di sebelah sana rombongan polisi telah melepaskan tembakan dua kali untuk memberi peringatan supaya kedua belah pihak menghentikan pertempuran itu dengan segara.

Begitu pertempuran berhenti, polisi segera menggiring Sun Giok Hong, Lauw Toan In, Yo Ah Po dan Tio Kee Cun berempat ke kantor polisi untuk ditanyakan siapa yang semula telah membuat kerusuhan dan sebab musabab daripada kerusuhan tersebut.

Sun Giok Hong sebagai orang yang pertama-tama hendak diserang dengan cara dibokong, lalu menuturkan segala kejadian yang telah ia alami tadi, dengan menerangkan bahwa dia tak kenal atau mengetahui apa sebab musabab orang itu mencari gara-gara terhadap dirinya. Tapi sebagai seorang yang diserang dengan cara tiba-tiba, sudah barang tentu dia berhak untuk melindungi dirinya dengan segala cara. Lebih-lebih ia menerangkan bahwa dia tak membawa senjata apapun di waktu penyerangan gelap itu terjadi.

Sebagai pencuri yang tidak mengakui bahwa dia mencuri, Yo Ah Po telah coba membersihkan dirinya di hadapan polisi dengan mengatakan bahwa dia telah dihinakan oleh Sun Giok Hong, sehingga dia naik darah dan terjadi perkelahian tersebut sama sekali bukan sengaja merencanakan pembokongan itu dari awal.

Kesaksian dari para pedagang yang telah dirampas pikulan mereka oleh orang- orang yang berkelahi itu telah menjelaskan, bahwa semua itu telah terjadi karena perbuatan sengaja dari Yo Ah Po, yang telah sengaja mengatur siasat dengan kawannya yang bersenjatakan cambuk baja itu untuk mencelakai diri Sun Giok Hong.

Berdasarkan kesaksian para pedagang itu, Sun Giok Hong dan Lauw Toan In telah dibebaskan dari tuntutan. Yo Ah Po dan Tio Kee Cun telah disita senjata-senjatanya yang berupa thie-cio dan cambuk baja sebagai bukti-bukti kejahatan mereka dan mereka ditahan, kemudian dijatuhi hukuman sebulan penjara dan diwajibkan membayar semua ongkos perkara. Bersamaan dengan itu, merekapun harus berterima kasih kepada pihak kepolisian yang telah keburu datang menangkap mereka. Jika penggerebekan itu tidak dilakukan cukup cepat, niscaya mereka sudah menderita luka-luka karena dihajar oleh Sun Giok Hong dan muridnya. Sebagai ganti dari bencana besar itu, mereka hanya dijatuhi hukuman kurungan yang begitu murah dan selamat, yakni hukuman kurungan untuk sebulan saja lamanya.

Hingga Giok Hong kembali ke gedung perkumpulan Ceng Bu Hwee, dia masih tak menyangka bahwa penyerangan gelap itu mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan sengketa yang telah terjadi atas dirinya dan Co Hian Pang beberapa waktu yang lalu.

Setelah membayangkan sejenak dalam pikirannya, cara-cara kedua orang musuh gelap itu telah menyerangnya, sedikit banyak ia segera mengetahui bahwa jurus- jurus mereka itu banyak benar kesamaannya dengan jurus-jurus yang pernah diperhatikannya dari pelbagai gerak gerik serta serangan-serangan yang dilakukan terhadap dirinya oleh Co Hian Pang. Maka timbullah rasa curiga di dalam hatinya, bahwa setelah Co Hian Pang dikalahkannya di bawah kaki gunung Houw-kiu-san di luar kota Souw-ciu, ia telah menghasut saudara-saudara seperguruannya untuk melakukan pembokongan kilat atas dirinya dengan mempergunakan pelbagai muslihat buruk yang dapat dilakukannya selagi ia sendiri berlaku lengah. Ia merasa sangat mendongkol dan berjanji pada diri sendiri, di suatu waktu akan menegur perbuatan si orang she Co dan lalu mengganyangnya jika dirasakan perlu.

Co Hian Pang yang juga menyadari akan aksi pihak Sun Giok Hong selanjutnya, diam-diam menjauhkan diri untuk jangan sampai berpapasan atau bertemu muka dengan pihak lawannya. Sun Giok Hong sendiri merasa tidak enak untuk sengaja mencari gara-gara dan membereskan segala "perhitungannya" ini.

"Aku sepertinya perlu bicara dengan si bocah she Co itu empat mata" kata Giok Hong pada dirinya sendiri.

Sun Giok Hong dan Co Hian Pang, tetap tinggal dan menjabat tugas sebagai guru- guru silat dari Ceng Bu Hwee. Kedua pihakpun tidak pernah membicarakan persoalan pie-bu di gunung Houw-kiu-san kepada para rekan mereka.

Pada beberapa saat kemudian setelah selesai mengajar silat, tiba-tiba Sun Giok Hong telah berpapasan dengan Co Hian Pang yang hendak membeli arak di kedai minuman. Para pengurus dan rekan mereka di Ceng Bu Hwee justru telah pergi keluar untuk berjalan-jalan, hingga kesempatan yang sebaik itu tidak mau lagi dilewatkan oleh si orang she Sun yang lalu maju menghampiri Co Hian Pang sambil berkata, "Lauw Co, sungguh tidak kunyana bahwa engkau bisa bertindak dengan cara yang begitu licik dan rendah!".

Co Hian Pang yang menganggap bahwa Sun Giok Hong tidak mengenal Yo Ah Po dan Tio Kee Cun yang telah mengeroyoknya sebagai kedua Su-teenya, dengan lantas ia berpura-pura menjawab,

"Dari mana datangnya engkau menuduh aku berlaku licik dan rendah terhadap dirimu?".

Giok Hong lalu mengeluarkan suara dengusan dari lobang hidungnya sambil berkata, "Hm!. Engkau telah mengatur siasat pembokongan selagi aku berlaku lengah dengan meminjam tangan kedua orang Su-teemu Yo Ah Po dan Tio Kee Cun!. Apakah cara ku bukan suatu perbuatan yang licik dan rendah?".

Co Hian Pang yang kini sudah tak bisa mungkir lagi atas perbuatannya yang tidak baik itu, tiba-tiba timbul pikiran untuk membunuh Giok Hong dengan tinju mautnya. Tanpa banyak bicara pula, segera ia membentak sambil memukul muka Giok Hong dengan siasat Siang-hong-koan-jie atau dua hembusan angin mendampar kuping, tinjunya yang besar dan keras menyerang belakang kuping Giok Hong.

Giok Hong yang terlebih dahulu telah membayangkan dalam otaknya, sikap apa yang akan dilakukan oleh pihak lawan itu, dengan sebat ia telah miringkan kepalanya sehingga tinju Co Hian Pang menyamber tempat kosong dengan mengeluarkan suara angin yang tajam dan pasti akan membuat berdiri bulu roma orang yang mendengarnya.

Begitulah pertempuran yang dahsyat itu tak dapat dicegah lagi, berhubung di situ tak ada orang ketiga yang turut menyaksikan atau datang memisahkan kedua guru silat yang bermusuhan itu.

Co Hian Pang yang berasal dari cabang Bu-tong, sudah tentu telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mempertahankan nama baik perguruan silat partainya. Sedangkan Sun Giok Hong yang sangat mahir dalam ilmu Eng-jiauw-kun, ingin juga membela nama baik peguruan Siauw-lim yang menjadi anutannya. Karena kedua belah pihak sama-sama lihay dan uletnya, maka pertempuran itu belum dapat segera ditetapkan pihak mana yang unggul sebelum berlangsung sehingga beberapa puluh jurus lamanya.

Serangan-serangan atau kelitan-kelitan kedua belah pihak menakjubkan sekali, egosan dan tangkisan yang diteruskan dengan sodokan-sodokan maut yang dilakukan Hian Pang adalah jurus-jurus terhebat yang jarang dimiliki oleh sembarang orang.

Kalau Giok Hong dapat melayaninya, itu disebabkan ia sendiri memiliki ilmu silat yang tinggi disamping pengalaman bertempurnya yang banyak.

Selagi pertempuran berlangsung terus, Giok Hong yang nampaknya terdesak, mendadak membalas menyerang tiga kali dengan cara saling menyusul. Karena ini, dadanya menjadi terbuka dengan sendirinya. Hian Pang melihat tempat lowong itu, iapun berkata dalam hatinya, "Sungguh lucu engkau yang dinamakan ahli golok lima propinsi, tidak mengerti bahaya. Di hadapan musuh, kau membuka dirimu secara begini, itu tandanya kau mencari mampus sendiri!". Segera tangannya bergerak, tangan kirinya menahan tangan Giok Hong, sedang tangan kanannya membabat lengan lawannya.

Kelihatan lengan Giok Hong itu bakal terhajar hingga patah, sedang dadanya pun seperti terjambret tangan kiri lawannya, yang sudah bergerak lebih jauh menyusul tangan kanannya itu.

Tapi, tiba-tiba terdengar jeritan Hian Pang dan tampak ia menarik pulang kedua tangannya, tubuhnya mundur tiga tindak. Setiap langkahnnya menjadi berat, dan ia mundur sambil berusaha mempertahankan dirinya agar tidak roboh!.

Apakah yang sebenarnya telah terjadi?.

Giok Hong tidak ingin pertempurannya itu diketahui orang banyak, karena ia merasa malu kepada pengurus perkumpulan Ceng Bu Hwee yang pernah mendamaikan urusan perkelahiannya dengan Hian Pang dahulu. Ia ingin lekas-lekas menyelesaikan pertempuran kali ini selekas mungkin, tapi ternyata Hian Pang dapat bertahan sampai sekian lamanya. Ia melihat kesulitan untuk bertempur tanpa tipu daya, maka sesudah melayani sekian lama ia lantas menggunakan akal. Dengan sengaja ia membuat tempat yang lowong pada dirinya sendiri, sambil memasang umpan ia mengumpulkan tenaganya di dada untuk melindungi diri dan senantiasa berlaku waspada untuk melindungi juga bagian-bagian tubuh lain yang lemah. Tepat dugaannya, tangan kiri Hian Pang menyambar ke tempat yang berbahaya di dada, tapi segera Hian Pang menjadi kaget dengan sendirinya. Dada itu telah melejit, bukan dia yang dapat menjambak justeru jari-jari tangannya telah terpelintir, telapak tangannya dirasakan sakit hingga tubuhnya terhuyung. Ia menyambar tangan Giok Hong untuk mempertahankan diri tapi Giok Hong meronta melepaskan tangannya itu, sedang tangan kirinya dipakai untuk menyambar ke tenggorokan lawan, jari-jari tangannya mengancam ke bagian leher yang berbahaya!.

Hian Pang kaget bukan main melihat ancaman itu, sebab ia telah mengenal dengan baik hebatnya Eng-jiauw-kim-na-ciu dari lawannya itu, dengan terpaksa ia menarik pulang kedua tangannya untuk mengundurkan diri. Karena ia kesusul, ia bertindak cepat tetapi berat dan wajahnya merah karena jengah. Setelah dapat memperbaiki posisinya, ia telah menyerang lagi dengan siasat Pai-san-in-ciang atau dengan kedua tinju mendorong lautan, kedua tinjunya berbarengan menerjang dada musuh dengan amat ganasnya.

Melihat serangan yang demikian mematikan, Giok Hong segera menangkis dengan siasat Hun-ceng-tan atau membuyarkan abu menjernihkan suasana. Tapi sebelum menangkis, ia terlebih dahulu menggeser kedua kaki karena tak berani memandang ringan tenaga lawannya itu, lalu dengan cepat tangannya menyapu bersih kedua tinju maut itu dan segera membarengi dengan serangan Tui-ciong-bong-goat atau menolak jendela untuk menjenguk rembulan, untuk menjegal Hian Pang.

Sungguh gesit sekali Hian Pang ini, sembari menangkis iapun telah membarengi dengan satu serangan yang bernama Hoay-sim-tui, satu ilmu tendangan Bu-tong-pay yang terdahsyat, yang tidak sembarangan diturunkan kepada murid kecuali yang betul-betul telah mahir ilmu silatnya. Sifat tendangan ini sangatlah kejam dan mematikan, jika tidak mau dikatakan keji!. Dan jika sampai Hian Pang mempergunakannya juga tendangan maut ini, karena ia sendiri sudah merasa sangat terdesak dan kewalahan menghadapi Giok Hong.

Saking terkejutnya menyaksikan serangan itu, Giok Hong dengan satu gerak reflek telah mencelat dengan siasat Koay-bong-hoan-sin atau ular naga siluman jumpalitan, ia lompat berputar sedemikian rupa, hingga dapat ia menghindari tendangan itu dengan manisnya.

Selagi masih di udara, ia telah melepaskan satu tumbukan ke kepala Hian Pang, yang walaupun terkesiap telah menendang angin, tapi masih dapat melepaskan satu terjangan tinju ke atas dan.............

"Buk!!!". Satu suara yang keras terdengar karena beradunya dua tinju raksasa itu dan tampak Hian Pang seolah-olah terbenam ke dalam tanah, sedangkan Giok Hong mental ke atas!.

Hian Pang sesungguhnya telah berlaku terlampau nekad, tidaklah seharusnya serangan Giok Hong itu ia balas dengan kekerasan pula, karena ia sendiri yang akan menderita kerugian besar!. Sedangkan Giok Hong, meski merasa sakit juga pada tinju dan sambungan tulang pundaknya, ia dapat turun dari udara tanpa kesukaran. Tidak demikian halnya dengan Hian Pang, yang jadi terjongkok untuk sekian lamanya karena merasakan matanya kabur dan pinggangnya sakit sekali!.

Baru saja Hian Pang dapat berdiri, ia telah dikejutkan oleh satu bentakan bengis, "Orang she Co!. Jagalah baik-baik jurusku ini!". Tampak Giok Hong telah menyerang dengan siasat Houw-yauw-kiu-san atau harimau melompati sembilan gunung.

Hian Pang meski kaget sekali, ia berusaha mengelakkan serangan ini dengan siasat Tui-po-lian-hoan atau mundur berantai, tubuhnya mencelat di udara sambil menangkis. Karena pinggangnya masih dirasakan sakit, tidak heran siasatnya itu tak dapat ia laksanakan dengan sempurna. Maka Giok Hong berhasil menyergapnya, lalu dengan siasat Kim-lie-hoan-sin atau ikan mas membalikkan diri, membanting tubuh Hian Pang sekuat tenaganya. Tak terasa lagi Hian

Pang menjerit, "Celaka !" dan bersamaan dengan terdengarnya suara jeritan

itu, tampak tubuh Hian Pang terapung lalu jatuh terguling di suatu tempat yang terpisah kurang lebih lima belas kaki jauhnya dengan tulang kaki patah dan merintih- rintih kesakitan.

Tapi amarah Giok Hong telah meluap-luap, segera ia lompat mengejar dan hendak melancarkan tendangan mautnya agar lawannya itu mati seketika itu juga.

Syukur ketika baru saja Giok Hong mengayunkan kaki kanannya, tiba-tiba ada orang yang menarik lengannya ke belakang sambil berseru, "Giok Hong Heng, sabar dulu!".

Oleh karena hentakan yang sekonyong-konyong itu, tendangan Giok Hong jadi ngawur dan tidak mengenai sasarannya. Giok Hong jengkel bukan buatan dan lantas hendak membentak, tapi ia segera mengenali siapa adanya orang-orang itu. Maka terpaksa ia menahan amarahnya dan bertanya, "Kenapa saudara-saudara merintangi perbuatanku?".

Orang-orang itu ternyata bukan lain daripada rekan-rekannya sendiri yakni Lo Kong Giok dan Tan Cu Ceng.

"Giok Hong Heng" kata Lo Kong Giok pula, "duduk persoalanmu dengan Co Hian Pang telah kami ketahui dengan jelas. Kini dia telah kau robohkan, ini kiranya sudah cukup untuk menentukan siapa yang lebih unggul kepandaiannya".

"Jika setelah ia roboh engkau menendangnya pula, niscaya Lauw Co akan tewas jiwanya dan urusan pasti akan jadi semakin sulit. Demi kebaikan nama perkumpulan kita, sudilah kiranya saudara memaafkannya serta menyudahi permusuhan ini sampai disini saja. Janganlah saudara lupakan, bahwa Lauw Co telah diundang oleh para pengurus Ceng Bu Hwe untuk membantu mengajar ilmu silat di dalam gedung perkumpulan kita ini. Untuk menjaga muka para pengurus tersebut, kami sangat harap supaya saudara sudi juga mengampuni kesalahan-kesalahan Lauw Co yang telah lampau itu".

Sementara Giok Hong yang mendengar permintaan rekan-rekannya itu dan mengingat bahwa urusan jiwa tidak dapat dibuat permainan, diapun akan berurusan juga dengan polisi jika sampai kejadian Co Hian Pang tewas di dalam tangannya.

Maka apa boleh buat ia mau juga untuk menyudahi semua perselisihan itu.

Selanjutnya, untuk membujuk serta meredakan hati Giok Hong yang masih panas, Lo Kong Giok dan Tan Cu Ceng segera mengajak Giok Hong ke sebuah kedai minuman untuk makan minum. Mereka mengundang juga para pengurus perkumpulan Ceng Bu Hwee untuk diberitahukan tentang duduk perselisihan yang sebenarnya antara Giok Hong dan Co Hian Pang tersebut dan agar Hian Pang segera diberi tegoran keras atas segala perbuatannya yang tidak baik itu.

Setelah itu, barulah Giok Hong merasa lega di dalam hati dan suka menyudahi perselisihan itu serta memaafkan Hian Pang atas kesombongannya itu. Tapi Hian Pang yang diundang untuk datang juga ke perjamuan perdamaian itu, ternyata tidak kelihatan batang hidungnya dan ada kemungkinan ia malu atau penasaran sekali atas kekalahannya itu. Tetapi hal ini sama sekali tidak mengurangi kegembiraan orang banyak yang berkumpul dalam perjamuan itu.

0oo0