Golok Naga Kembar Jilid 07

Jilid 07

BERSAMAAN dengan itu, Ciang-bun-jin atau ahli waris Bie Ciong Pay, Ho Goan Ka telah membuka rumah perguruan silat Ceng Bu Hwee di Shanghai. Ho Goan Ka yang pernah mendengar nama Sun Giok Hong dan mengagumi kepandaian ilmunya yang tinggi dan semangatnya yang patriotis. Maka pada suatu hari datanglah Ho Goan Ka untuk berkunjung ke tempat kediaman Sun Giok Hong serta mengundangnya untuk membantu mengajar silat di rumah perguruan silatnya. Disamping menjadi guru silat dari perkumpulan Ceng Bu Hwee, Sun Giok Hong pun menerima undangan Jenderal Phang Giok Siang untuk mengajar silat dalam angkatan perang yang dipimpin Jenderal itu. Nama Sun Giok Hong dengan cepat menjadi tersohor dalam kalangan persilatan di daerah barat laut Tiongkok.

Dalam buku ini, kami tidak menyangkut pautkan riwayat hidup Sun Giok Hong dengan masa peralihan antara pemerintah Boan-ciu dan Negara Republik Tiongkok, yang diproklamirkan oleh Dr. Sun Yat Sen dan kawan-kawan seperjuangannya.

Dapat dikatakan, setelah tiba pada Tahun Pertama dari Negara Republik Tiongkok, dimana rumah perguruan silat Ceng Bu Hwee sedang tenar namanya diantara rakyat negeri Tiongkok.

Guru-guru silat kenamaan dalam Ceng Bu Hwee di masa itu, selain Sun Giok Hong, juga terhitung ahli-ahli silat cabang Tong Long Pay atau ilmu silat cengcorang yang bernama Lo Kong Giok, Tan Cu Ceng, Kou Lu Ciang dan lain-lain.

Sun Giok Hong yang mempunyai nama julukan Ngo-seng-to-ong, dalam waktu singkat telah menjadi terkenal dan membuat tidak sedikit ahli-ahli silat yang lainnya merasa iri hati. Tidak jarang ada yang secara sengaja datang menjumpainya dengan maksud menjajal ilmu kepandaiannya. Tidaklah heran jika orang-orang yang menjadi guru silat kurang ilmu kepandaiannya, dalam waktu singkat akan terguling, nama baiknya akan hancur dan rumah perguruan silatnya pasti mengalami kebangkrutan.

Sedang orang-orang yang ilmu kepandaiannya sudah cukup serta mempunyai banyak kawan dalam Rimba Persilatan, barulah dapat mempertahankan diri dan hidup lebih terjamin daripada ahli-ahli silat yang hidup menyendiri. Tapi semua hal di atas itupun belum dapat memberi jaminan, dan hal itupun tidak luput dialami juga oleh Sun Giok Hong sendiri.

Pada suatu hari, setelah selesai mengajar ilmu silat dan tengah mengobrol dengan beberapa orang rekan-rekannya di ruangan tengah gedung Ceng Bu Hwee, tiba-tiba ada seorang pesuruh yang mengabarkan kepada Sun Giok Hong bahwa di luar ada seorang tamu she Lauw dari propinsi Ouw-lam yang ingin bertemu. Orang itu kini tengah menantikannya di luar, kata pesuruh tersebut.

Giok Hong menanyakan bagaimana wajah orang itu. Si pesuruh lalu menjawab, "Tamu itu berusia kira-kira 50 tahun. Ia mengenakan pakaian dari cita kasar dengan angkin yang dibuat daripada cita biru. Perawakan orang itu tegap, kekar dan kuat, romannya angker dan gerak-geriknya gesit, suatu tanda bahwa dia paham ilmu silat. Ia datang ke sini bersama seorang perempuan muda yang usianya diduga baru 20 tahun. Ia berpakaian sebagai seorang wanita desa, tapi parasnya masih dapat digolongkan pada perempuan cantik. Ia bertubuh sehat dan kuat, sedang gerak- geriknya menandakan bahwa diapun mahir ilmu silat".

"Mereka dengan aku tidak saling mengenal" kata Sun Giok Hong, "tapi tanpa sebab mereka telah datang ke sini untuk mencariku. Apakah barangkali mereka hendak menjajal ilmu kepandaian silatku?".

Salah seorang rekannya jadi tersenyum dan timbul pikiran untuk berkelakar. "Sun Chit-ya yang berusia masih muda dan sudah mempunyai nama yang begitu

tenar" katanya, "sudah tentu saja menarik perhatian banyak orang. Kali ini tidak mustahil ada orang yang datang hendak mengambil Chit-ya sebagai menantu. Siapa tahu nasib baik Chit-ya mulai terbuka pada hari ini?". Giok Hong jadi merah wajahnya karena jengah. Tidak urung ia segera keluar juga untuk menyambut kedua orang tamu laki-laki dan perempuan itu.

"Apakah Tiang-jin ini bukan Lauw Su-hu yang dikatakan oleh pesuruh kami itu?" kata si pemuda sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat. "Aku yang rendah bernama Sun Giok Hong. Belum tahu Tiang-jin ada keperluan apa datang mencariku?".

"Lo-hu she Lauw bernama Peng Kit" kata orang laki-laki setengah tua itu, "kami berasal dari kewedanaan Sin-ciu dalam propinsi Ouw-lam, murid Gan Eng Hok yang menciptakan ilmu silat karena melihat burung bangau putih bertempur dengan seekor ular, yang mana kemudian menyiarkan ilmu silat tersebut dengan nama Pay-kun atau ilmu silat yang berdasarkan dari delapan jurus. Lo-hu yang semenjak masih muda gemar ilmu silat, telah mempelajari ilmu silat tersebut sehingga beberapa tahun lamanya. Kami berdua ayah dan anak perempuan telah jalan merantau dari satu propinsi ke lain propinsi untuk mencari guru silat dan kawan seperjuangan untuk memperdalam ilmu silat kami. Setibanya kami berdua di kota Shanghai ini, kami mendengar orang bercerita bahwa Sun Chit-ya sangat mahir dalam ilmu Eng-jiauw- kun. Kami akan merasa girang sekali jika Sun Chit-ya sudi memberikan sedikit " pelajaran untuk membantu memperluas pengetahuan kami tentang ilmu kepandaianmu yang tinggi itu".

Sun Giok Hong mendengar pembicaraan orang tua itu dan langsung ia ketahui bahwa ia hendak dijajal ilmu kepandaiannya. Untuk tidak menunjukkan kelemahan dirinya sendiri, iapun menyatakan kesediaannya untuk meladeni "tantangan halus" orang she Lauw itu sambil menanyakan syarat-syarat apa saja yang diinginkannya.

"Ilmu Eng-jiauw-kun Sun Chit-ya sudah sangat terkenal disamping ilmu golokmu yang telah membuat engkau memperoleh nama julukan Ngo-seng-to-ong" kata Lauw Peng Kit sambil tertawa, "Lo-hu sendiri telah pernah juga memperoleh nama kecil karena kemahiranku dalam ilmu silat Ho-heng-kun atau ilmu silat bangau. Yang pertama-tama, ijinkanlah aku menjajal ilmu Eng-jiauw-kun itu".

Setelah berkata demikian, orang Ouw-lam itu berdiri tegak di ruangan tengah sambil menantikan jawaban si pemuda she Sun.

Giok Hong kemudian mengabulkan permintaan Lauw Peng Kit itu.

Sesudah kedua belah pihak bersiap-siap dan mengikat erat-erat angkin masing- masing, lalu Giok Hong menyoja sambil berkata, "Lauw Su-hu berkedudukan sebagai tamu sedangkan aku sebagai tuan rumah. Karena itu aku lebih suka mengalah apabila diserang olehmu sehingga tiga kali. Harap Lauw Su-hu boleh segera mulai".

Lauw Peng Kit mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Ia maju menerjang dengan jurus Tiang-kio-pauw-kun atau dari jembatan panjang meluncurkan pukulan, yang berasal dari ilmu silat Pat-kun (nama singkatan dari Ho-heng-kun), kemudian disusul dengan pukulan Tok-pek-hoa-san atau dengan sebelah tangan membelah gunung Hoa-san, yang dilakukannya dalam gerak yang luar biasa sekali cepatnya.

Giok Hong lekas menggerakkan tangan kanannya dan menangkis pukulan si orang she Lauw dengan mengubah gerak Eng-jiauw-kun menjadi Kim-na-ciu, ilmu silat kaum Siauw-lim untuk menangkis serta menyergap musuh. Dengan itu ia berniat menyekal pergelangan tangan Lauw Peng Kit, tapi si orang she Lauw yang ternyata dapat bergerak sangat gesit itu, segera putar haluan untuk melejit sambil mengirimkan satu tendangan kilat ke ulu hati Sun Giok Hong.

Ketika Giok Hong menabas kaki musuh dengan telapak tangan dalam gerak Thiat- see-ciang, lekas-lekas si orang she Lauw menarik kakinya sambil melompat mundur tiga tindak jauhnya. Ia bergerak sedemikian gesitnya dan tatkala mundur sejauh 8 atau 9 kaki, barulah ia mengulangi memasang kuda-kuda sambil tersenyum dan berkata, "Kelihayan Lo Sun sesungguhnya buka omong kosong belaka. Lo-hu sudah bertahun-tahun merantau di kalangan Kang-ouw dan bukan Lo-hu takabur, tapi belum pernah ada seorangpun yang sanggup bertempur denganku sampai tiga jurus. Kini Lo-hu baru menemui seorang lawan tangguh sepertimu, hingga Lo-hu jadi sangat gembira dan untuk itu Lo-hu mesti memuji setinggi-tingginya kepandaianmu itu!".

Bersamaan dengan itu, Lauw Peng Kit segera mencelat ke atas dan bagaikan orang terjun ke dalam sungai, mempergunakan kedua buah tinjunya untuk menghantam batok kepala si pemuda. Sun Giok Hong yang selalu berlaku waspada, lekas menangkis pukulan dan tendangan musuh dengan secara berimbang. Karena jika ia mampu menangkis serta mengelakkan segala serangan musuh, iapun harus selalu dapat membalasnya dengan secara tunai. Demikian juga dengan keadaan pihak lawannya.

Rekan-rekan dan para murid Geng Bu Hwee yang kebetulan berada di gedung perkumpulan, semua jadi sangat gembira dapat menyaksikan pertandingan silat yang begitu berharga untuk menambah pengetahuan masing-masing. Lebih-lebih karena kedua belah pihak sama-sama ahli dan dapat menguasai ilmu kepandaian masing- masing dengan sebaik-baiknya. Sudah barang tentu pie-bu atau pertandingan silat serupa ini jarang sekali dapat mereka saksikan hingga mereka jadi bersorak sorai dan menyambut dengan tepuk tangan riuh jika ada salah seorang yang maju mendesak dengan amat hebatnya. Apalagi jika pihak yang kurang disukai mereka kena terdesak sehingga tak dapat balas menyerang.

Begitulah sikap orang banyak terhadap pihak lawan dan kawan menurut anggapan masing-masing.

Dari gerak-gerik yang dapat disaksikan dengan jelas, Sun Giok Hong yang berusia masih muda mempunyai kekuatan tenaga yang lebih hebat daripada Lauw Peng Kit yang usianya sudah lanjut. Setelah pertempuran berlangsung 40 atau 50 jurus lamanya, napasnya jago tua itu tampak terengah-engah, tenaganya semakin berkurang, sedang gerakan-gerakannya menjadi semakin kendur dan terdesak.

Akhirnya, ia hanya dapat menjaga serangan-serangan Sun Giok Hong, tapi hampir tak dapat balas menyerang lawannya sama sekali.

Sun Giok Hong yang melihat ada kesempatan baik yang tak boleh dilewatkan dengan begitu saja, segera maju menerjang dengan dititikberatkan kepada serangan-serangan dengan tendangan dan sabetan kaki, yang pernah dipelajarinya dari It Kak Sian-su yang terkenal dengan nama julukan si Kaki Besi.

Lauw Peng Kit yang sudah merasa lelah menempur lawan yang lebih muda itu, sudah barang tentu menjadi amat sibuk untuk mengelakkan tendangan-tendangan kilat si pemuda she Sun yang datangnya sangat tiba-tiba itu. Biarpun ia beberapa kali berhasil menghindari serangan-serangan itu, akhirnya ia roboh juga disapu tendangan Sun Giok Hong yang bernama Soan-hong-tui atau tendangan angin puyuh.

Syukur juga Giok Hong tidak bermaksud untuk melukainya, berhubung orang tua itu tidak bersikap bermusuhan atau membual tentang kemampuannya sendiri.

Tendangannya itupun hanya dilakukan untuk sekedar merobohkan orang saja dan sama sekali tak sampai membuat orang menderita luka-luka parah.

Anak perempuan si kakek yang merasa kurang senang ayahnya dirobohkan orang, segera maju menerjang sambil membentak, "Bocah she Sun, tidak perlu engkau menunjukkan keangkeranmu terhadap seorang tua yang usianya telah lanjut!. Mari, engkau ladeni aku Lauw Cay In!".

Sudah barang tentu hal ini telah mengejutkan hati Sun Giok Hong yang hendak mengangkat bangun orang tua itu. Lekas-lekas ia lompat ke samping untuk mengelakkan tendangan si nona yang datang menyambar ke jurusannya bagaikan kilat cepatnya.

Nona Cay In yang juga mahir ilmu pukulan Pat-kun dan ilmu pedang, menjadi sangat penasaran setelah tendangannya dapat dielakkan. Segera ia menghunus pedang yang disoren di pinggangnya dan dengan senjata itu ia menusuk ulu hati Giok Hong dengan siasat Pek-coa-touw-sin atau ular putih menyemburkan bisa. Hal mana telah membuat Giok Hong yang tidak bersenjata lekas mengegos sambil melompat ke pinggir. Tatkala Lauw Cay In mengulangi serangannya, Giok Hong kembali mengegos sambil lompat mendekat ke arah rak senjata, dari mana ia menyamber sebilah golok Toa-ma-to. Ia menangkis tusukan pedang si nona yang menyamber dari arah punggungnya.

Sret !. Percikan api tampak berhamburan kian kemari dari kedua senjata yang

saling beradu itu.

Kedua lawan itu jadi terkejut bukan main dan segera berlompatan mundur untuk memeriksa mulut senjata masing-masing. Kemudian barulah mereka mulai saling menyerang lagi.

Kian lama pertempuran itu kian bertambah hebat, tapi sampai sebegitu jauh belum dapat diambil keputusan pihak mana yang lebih unggul dan pihak mana yang lebih lemah.

Begitulah pertempuran itu telah berlangsung sebanyak 50 jurus lebih lamanya dalam keadaan yang seimbang.

Selama pertempuran berlangsung, Cay In merasakan tenaga si pemuda bukan main kuatnya. Setiap kali ia menangkis bacokan golok sang lawan itu, telapak tangannya dirasakan linu dan gemetar, sehingga pedang yang digenggam di tangannya hampir saja terlepas karena tak kuat menahan desakan tenaga Giok Hong yang begitu hebat.

Sementara Sun Giok Hong yang telah memperhatikan dimana letak kelemahan nona itu, segera melakukan serangan-serangan gertakan untuk membuat kalut pikiran Cay In. Kedua kakinya telah dipergunakannya untuk menendang dan menyapu kaki orang dengan siasat-siasat yang sangat lihay.

Cay In terpaksa harus berlompatan ke kiri dan ke kanan dengan sibuk sekali, hingga dalam waktu sekejapan saja ia telah terdesak sampai di kaki tembok ruang tengah. Di situ, dalam keadaan yang sangat terdesak, ia berniat untuk mencelat ke atas dan melayang di sebelah atas kepala Sun Giok Hong untuk dapat melanjutkan perlawanan di tempat yang lebih leluasa.

Apa mau dikata, begitu ia mencelat dalam siasat Yan-cu-coan-liam atau burung walet menerobos tirai, ia hampir tidak dapat melihat bagaimana caranya Sun Giok Hong telah menyergap dan menyekal kedua ujung sepatunya. Cay In tak berdaya dan jatuh menggelantung dalam cekalan Giok Hong yang kuat bagaikan sepasang capit baja. Sedang pedang di tangannya, terlebih dahulu telah terlepas dan jatuh di atas jubin dengan mengeluarkan suara berkontrangan.

Dengan perlahan-lahan, si pemuda telah menurunkan nona Cay In ke atas jubin sambil lekas-lekas meminta maaf atas perbuatannya yang tidak sopan itu, sehingga wajah si nona jadi merah karena malu dan mendongkol.

Dilain pihak Lauw Peng Kit jadi ketawa mengakak dan menyoja sambil berkata, "Kelihayan Sun Chit-ya kini telah kusaksikan dengan mata kepala sendiri. Tidak salah jika orang memberikan engkau nama julukan Ngo-seng-to-ong. Kini aku, ayah dan anak merasa benar-benar takluk dengan kepandaianmu itu. Selamat tinggal dan semoga Sun Chit-ya memperoleh kesuksesan yang gemilang di masa depan!". Sesudah berkata demikian, Lauw Peng Kit lalu mengajak anak perempuannya meninggalkan gedung Ceng Bu Hwee, setelah memungut pedangnya yang terlempar di jubin itu.

Sun Giok Hong mengantarkan mereka ayah dan anak sampai di luar gedung perkumpulan dan berkata, "Harap Lauw Lo-cian-pwee dan puteri tidak jadi kecil hati atas perlakuanku yang kurang sopan!". Kemudian masuk kembali ke dalam dan disambut dengan tempik sorak riuh dari kawan sejabat dan murid-muridnya.

Esok harinya, setelah selesai mengajar silat di gedung perkumpulan Ceng Bu Hwee, tiba-tiba ada seorang pelayan yang melaporkan kepadanya bahwa diluar ada salah seorang pengurus Ceng Bu Hwee, Yo Cu Kong namanya, yang datang minta bertemu.

Yo Cu Kong ini selain menjadi pengurus, juga terhitung sebagai salah seorang muridnya juga. Giok Hong yang menerima laporan demikian, segera keluar sendiri dan mengundang Yo Cu Kong untuk masuk ke dalam. Dalam omong-omong yang singkat, Cu Kong telah menyatakan maksud kedatangannya, bahwa ia hendak menjamu guru silat itu makan minum di sebuah kedai arak yang terkenal di kota Shanghai itu.

"Ada apakah hingga engkau jadi repot mengadakan perjamuan segala?" kata si ahli silat she Sun sambil tertawa.

"Kemarin Lo-su telah berhasil mengalahkan jago silat Lauw Teng Kit dan puterinya dengan sekaligus" kata Cu Kong, "karena itu, dalam kalangan persilatan di sini orang menjadi gempar dan sangat memuji kepandaian Lo-su yang sangat tinggi dan lihay itu. Hari ini aku sengaja menjamu Lo-su sebagai pemberian selamat atas kemenangan Lo-su kemarin, bersamaan dengan itu ada suatu hal menyenangkan yang hendak kusampaikan kepada Lo-su".

Giok Hong menanyakan soal menyenangkan apa yang hendak disampaikan kepadanya. Cu Kong lalu berkata pula, "Pada hari kemarin Lo-su telah menempur jago silat dari Ouw-lam itu dengan separuh melepas budi. Lauw Lo-cian-pwee sendiri telah Lo-su kalahkan tanpa dia menderita luka-luka. Begitupun puterinya, Lauw Cay In, telah juga Lo-su kalahkan tanpa dia jatuh roboh di tanah. Mereka ayah dan anak sangat berterima kasih atas kebaikan hati Lo-su itu. Omong punya omong, ada sesuatu hal yang aku hendak tanyakan tentang pendapatmu".

"Pendapat?. Pendapat apa?" Giok Hong balik bertanya keheran-heranan.

"Begini" sahut Cu Kong. "Terus terang saja, aku hanya menjalankan perintah atas permintaan sahabat ayahku, yakni orang tua dan puterinya, yang kemarin Lo-su kalahkan itu. Karena ayah sering berjual beli barang-barang di propinsi Ouw-lam, maka ia telah berkenalan dengan salah seorang ahli silat, ialah Lauw Lo-cian-pwee yang dahulu pernah menjadi pio-su dari kantor angkutan Eng Hok Pio Kiok di Tiang- see dalam propinsi Ouw-lam. Kemarin, setelah bertempur dengan Lo-su di sini, Lauw Lo-cian-pwee dan puterinya telah datang berkunjung ke rumahku. Selagi mengobrol, ia singgung-singgung juga soal pie-bu dengan Lo-su di sini. Akupun lalu memberitahukan bahwa aku adalah pengurus perkumpulan Ceng Bu Hwee dan menjadi salah seorang murid Lo-su. Setelah mengetahui aku ada sangkut pautnya dengan Lo-su, Lauw Lo-cian-pwee dengan serta merta minta bantuanku untuk menanyakan pendapat Lo-su tentang puterinya itu".

"Ha, ha, ha" Giok Hong tertawa saking gelinya. "Hanya soal itu saja mengapa harus mengadakan jamuan makan dan minum!". Lalu ia melanjutkan katanya, "Jika harus menilai, harus aku akui bahwa puteri Lauw Lo-cian-pwee itu mahir sekali ilmu silatnya dan permainan pedangnya tidak dapat dikatakan jelek!".

"Dan bagaimana pendapatmu tentang .........eh.........eh nona Cay In sendiri!"

tanya Cu Kong dengan rasa takut-takut. "Nona Cay......" Giok Hong berhenti tiba-tiba setelah sadar bahwa yang sedang dimintai pendapatnya ialah nona itu sendiri, tapi ia melanjutkan juga bicara dengan berkata, "Dia memang seorang wanita yang cantik juga parasnya!".

Cu Kong jadi girang sekali mendengar pendapat gurunya itu, lalu ia berkata, "Lauw Lo-cian-pwee sangat puas sekali dengan caranya ia dikalahkan oleh Lo-su. Untuk membalas budi, ia telah minta perantaraanku untuk merangkap perjodohan puterinya itu dengan Lo-su. Kini mendengar pendapat Lo-su tentang nona Cay In, maka aku sendiripun lantas berpendapat bahwa Lo-su tentu takkan menampik untuk mengambil nona Cay In sebagai isteri!. Sebagai seorang perantara yang tentunya tidak ingin dicela atau kelak disesalkan oleh kedua pihak, maka hari ini aku sengaja melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan Lo-su. Hanya yang belum aku tahu adalah bagaimana pendapat Lo-su?. Apakah soal pernikahan ini dapat disetujui oleh pihakmu?".

Sun Giok Hong jadi berpikir keras, sehingga ia jadi termenung beberapa saat lamanya. Ia baru tersadar waktu muridnya berkata, "Lo-su, menurut pendapatku inilah sesungguhnya merupakan perjodohan yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa!".

Mula-mula Giok Hong merasa mupakat dengan omongan muridnya itu. Ia pikir, dengan mempunyai pembantu dalam yang boleh diandalkan, bukan saja segala urusan dapat diatur dengan dengan lancar, malahan beban di bahunya pun akan menjadi semakin ringan oleh karenanya.

Setelah mengingat bahwa Lauw Peng Kit dan puterinya kurang jelas riwayat hidupnya, sedang kedatangan mereka ke gedung Ceng Bu Hwee adalah bermaksud untuk "merobohkannya", dalam hatinya lalu timbul keraguan dan bertanya pada diri sendiri, "Apakah dengan jalan menikahkan anak perempuannya denganku, mereka bukannya bermaksud hendak membalas dendam kepadaku dengan secara diam- diam?".

"Setelah mereka ayah dan anak kukalahkan" kata Giok Hong, "sekarang dengan sekonyong-konyong Lauw Lo-cian-pwee mengusulkan engkau menjadi orang perantara untuk menjodohkan anak perempuannya kepadaku. Apakah maksud orang tua itu sebenarnya?".

"Nama Lo-su yang begitu termashur sebagai Kiok-cu dari kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok, siapakah yang tidak kenal?" kata Yo Cu Kong. "Oleh sebab itu, tidaklah heran jika banyak orang mengenalmu, tapi Lo-su sendiri tidak mengenal mereka.

Demikian juga halnya dengan Lauw Lo-cian-pwee ini, kepada ayahku ia pernah mengatakan bahwa dia yang sudah berusia 60 tahun dan hanya mempunyai seorang anak perempuan saja, yakni nona Cay In. Ia telah mengambil keputusan untuk tidak menikahkan anak perempuannya itu dengan orang sembarangan. Dengan persetujuan nona Cay In, calon-calon suami nona itu harus dapat memenuhi tiga syarat, yang antara lain diharuskan (l)mahir ilmu silat, punya nama baik dalam kalangan persilatan serta dapat mengalahkan mereka berdua ayah dan anak, (2)jujur dan punya pekerjaan yang dapat menjamin hidupnya, dan (3)cocok perangainya dengan si nona dan tidak bertabiat sombong serta punya tempat kediaman yang tetap. Banyak pemuda telah ditemui mereka dan dijajal; tapi selalu ada saja yang tidak memuaskan hati nona Cay In. Kali ini, dia benar-benar ketemu jodohnya dan meski dia tidak berkata-kata untuk menyatakan rahasia hatinya, gerak-geriknya sudah cukuplah untuk menjelaskah bahwa dia memang 'ada hati' kepada Lo-su.

Sayang sekali jika Lo-su menampik kebaikan Lauw Lo-cian-pwee dan puterinya itu".

Mendengar keterangan Yo Cu Kong itu, Sun Giok Hong jadi balik berpikir dan berkata pada dirinya sendiri, "Aku sekarang sudah berusia 30 tahun, sudah bolehlah aku berumah tangga". Akhirnya ia mengabulkan juga anjuran muridnya itu, tapi ia minta tempo tiga bulan untuk berkenalan dahulu dengan pihak calon mertua dan calon isterinya dari dekat sebelum melangsungkan upacara pernikahan mereka. Hal mana, Cu Kong pun menyatakan kesediaannya untuk menyampaikan kabar tersebut kepada pihak Lauw Peng Kit.

Maka sesudah puas makan minum, barulah Sun Giok Hong kembali ke gedung perkumpulan Cong Bu Hwee. Sedang Yo Cu Kong sendiri pulang ke rumahnya untuk menyampaikan permintaan gurunya kepada ahli silat she Lauw itu, yang sementara ini menumpang tinggal di rumah keluarga Yo.

Ayah Yo Cu Kong yang bernama Yo Hok Teng adalah seorang saudagar obat asing dan dalam negeri yang kaya raya di kota Shanghai, dimana ia membuka tiga buah toko obat besar.

Semenjak usianya masih muda, Yo Hok Teng kerap pergi sendiri berbelanja bahan- bahan obat ke propinsi-propinsi Hun-lam dan Kwie-ciu, dengan menyewa pio-su untuk melindunginya. Ia jadi bersahabat dengan Lauw Peng Kit, salah seorang pio-su yang kerap disewanya.

Persahabatan antara si saudagar obat dan pio-su itu sampai sedemikian akrabnya. Setiap waktu Lauw Peng Kit dan anak perempuannya merantau ke Shanghai, mereka pasti menumpang tinggal beberapa waktu lamanya di rumah keluarga Yo. Itulah sebabnya ketika kedua ayah dan anak perempuan itu berkunjung pula ke Shanghai, mereka telah mendengar tentang kegagahan Sun Giok Hong, yang di masa itu menjadi salah seorang guru silat dari gedung perkumpulan Ceng Bu Hwee.

Di waktu Yo Cu Kong yang diminta bantuannya sebagai ofang perantara telah kembali dan menyampaikan kabar gembira dari pihak Sun Giok Hong, sudah barang tentu Yo Hok Teng turut menyatakan gembira. Lebih-lebih karena hubungan Hok Teng dan jago silat tua itu sudah bagai saudara kandung saja eratnya, maka ia telah menyatakan suka menanggung semua biaya untuk melangsungkan perjodohan Cay In dengan Sun Giok Hong.

Tiga bulan kemudian, ketika upacara pernikahan kedua orang muda itu dilangsungkan, di muka gedung Ceng Bu Hwee telah didirikan sebuah mimbar untuk orang mengadakan pertunjukan tari-tarian dan nyanyian, yang kemudian diselingi dengan pertandingan silat berhadiah yang dilakukan oleh para murid dari gedung Ceng Bu Hwee sendiri.

Di waktu upacara pernikahan itu dibuka, tidaklah heran jika para pengurus, handai taulan dari Sun Giok Hong dan Lauw Peng Kit serta Yo Hok Teng yang bertindak sebagai penyelenggaranya. Tidak sedikit para tamu yang datang berduyun-duyun memberi selamat kepada kedua mempelai dan para walinya. Makanan dan minuman disuguhkan kepada para tamu -dengan tidak pernah ada putus-putusnya.

Ketika tetabuhan -dibunyikan dan nyanyian-nyanyian serta tari-tarian dipertunjukkan dengan silih berganti dengan mendapat sambutan tempik sorak yang riuh. Murid Ceng Bu Hwee telah diminta tampil ke muka untuk mengadakan pie-bu diantara rekan-rekan sendiri di atas mimbar.

Selagi baru saja para murid mempertunjukkan beberapa macam permainan golok, tombak serta pedang dan belum mendapat kesempatan untuk pie-bu, tiba-tiba dari bawah mimbar tampak melompat naik seorang laki-laki usia empatpuluhan yang bertubuh tegap dan bergerak dengan gesit. Begitu sampai di atas mimbar, segera berteriak dengan suara nyaring, "Tahan dulu semua permainan ini!" katanya.

Para murid Ceng Bu Hwee jadi terkejut lalu mereka berdiri di kiri kanan dengan mata hampir tidak berkedip. Orang itu berdiri menghadapi para tamu di bawah mimbar sambil berkata, "Lo-hu asal dari Thay-hong-san, she Lie bernama Lam Eng. Semenjak usiaku masih muda, aku sudah gemar ilmu silat dan belajar silat kepada seorang guru yang namanya tersohor dalam Rimba Persilatan. Kedatanganku pada kali ini tak lain dan tak bukan daripada ingin berkenalan dengan Sun Giok Hong. Dari tempat yang ribuan lie jauhnya, aku telah sengaja datang kemari untuk bantu 'meramaikan' pesta pernikahan si orang she Sun dengan jalan mengadakan pie-bu bagi siapa saja yang sudi naik ke atas mimbar untuk memberikan pelajaran kepadaku!".

Melihat tiada seorangpun yang suka meladeninya, ia jadi mendongkol dan sesumbar, "Mana dia si bocah she Sun?. Katakanlah bahwa aku tantang ia berkelahi di atas mimbar ini!".

Yo Cu Kong dan beberapa orang murid Sun Giok Hong yang berada di atas mimbar, segera menyabarkan orang itu sambil berkata "Lie Su-hu, guru kami ini tengah menjadi mempelai hingga tidak mendapat kesempatan untuk berjumpa denganmu.

Jika Lie Su-hu tidak berkeberatan, kami yang menjadi muridnya suka mewakilinya untuk bermain-main denganmu beberapa jurus lamanya".

Lie Lam Eng mendengar demikian menjadi tersenyum dingin dan berkata, "Hm, macam kau yang berwajah begitu pucat pasi dan bertubuh kurus kering berani menandingi aku?. Tengoklah tinjuku ini dan pertimbangkanlah olehmu masak-masak. Jika tinjuku ini menghantam tulang igamu, apakah sangkamu tulang-tulang igamu itu tak akan berantakan bagaikan gubuk reyot yang diterjang angin topan?. Paling betul segeralah engkau panggil saja gurumu Sun Giok Hong, agar engkau terbebas dari telapak tanganku ini.'".

Yo Cu Kong yang mendengar dirinya dianggap "sepi", karuan saja menjadi sangat gusar dan lalu balas mendamprat, "Engkau ini siluman dari mana yang mendadak datang dan mengacau pesta pernikahan orang di sini?. Ayoh, enyahlah engkau dari sini, kalau tidak engkau harus tanggung sendiri segala akibatnya nanti!".

Sambil mengakhiri dampratannya itu, Yo Cu Kong segera membarengi menjotos muka orang itu dengan siasat Pa-ong-keng-ciu atau raja Couw Pa Ong menyuguhkan arak. Gerakan itu amat cepat sehingga hampir tak dapat dilihat.

Lie Lam Eng yang ternyata bukan seorang yang pandai membual belaka dan tidak "berisi", karuan saja tidak terima dirinya diserang orang dengan seenaknya saja.

Begitu melihat tinju Yo Cu Kong melayang ke arah mukanya, dengan cepat ia miringkan sedikit kepalanya, tangan kirinya dipergunakan untuk menangkis, sedang telapak tangan kanannya segera disodorkan pada iga si orang she Yo dengan gerakan secepat kilat.

Syukur juga Yo Cu Kong bermata jeli dan dapat bergerak dengan sebat, kalau tidak niscaya tulang iganya bisa patah dihantam oleh telapak tangan besi Lie Lam Eng itu.

Babak pertama dari pertempuran itu, kedua pihak tampak sama gagah dan gesitnya. Dalam babak-babak selanjutnya, Yo Cu Kong tampak jelas telah kena terdesak, hingga dari tengah mimbar ia sekarang telah berada di suatu tempat yang hanya terpisah empat atau lima tindak lagi dari sisi mimbar.

Lie Lam Eng yang melihat kesempatan yang terbaik itu, sudah barang tentu segera maju mendesak dengan sekuat tenaganya. Tinjunya kemudian bekerja dengan cepat dan memukul dengan bertubi-tubi hingga Yo Cu Kong jadi amat sibuk menangkis dan mengelakkannya. Ketika si orang she Lie mendesak terus, Yo Cu Kong terpaksa mundur untuk menghindarkan pukulan-pukulan lawannya, hingga akhirnya ia berada di sisi mimbar dan akan jatuh terpelanting ke bawah jika ia mundur dua tindak lagi saja. Keadaan ini sudah barang tentu mencemaskan sekali hati keenam atau ketujuh orang murid Sun Giok Hong yang berada di atas panggung. Waktu mereka berniat akan membantu Su-heng mereka, tiba-tiba mereka teringat akan pesan guru mereka bahwa dalam pertempuran, orang tak boleh main curang dengan jalan mengeroyok. Mereka hanya bisa menonton dengan hati khawatir dan tak berani sembarangan maju membantu Yo Cu Kong tanpa perintah dari guru mereka.

Syukur juga selagi Yo Cu Kong sudah tak berdaya dan tinggal menantikan saatnya saja untuk dirobohkan dan jatuh ke bawah mimbar, tiba-tiba orang telah dikejutkan dengan berkelebatnya satu bayangan manusia yang melayang ke atas mimbar bagaikan seekor garuda yang turun dari angkasa. Bayangan itu berkelebat naik dengan dibarengi oleh satu bentakan yang nyaring, "Hai, sungguh tidak sopan engkau ini!".

Dalam saat itu juga Lie Lam Eng yang diterjang oleh orang yang baru datang itu jadi terdorong mundur sehingga beberapa tindak jauhnya.

Yo Cu Kong yang nyaris termakan terjangan Lie Lam Eng, lekas-lekas melompat keluar dari kalangan pertempuran dan berdiri disalah satu sudut mimbar bersama dengan saudara-saudara seperguruannya yang lain.

Orang itu bukan lain daripada Sun Giok Hong sendiri adanya.

Melihat Sun Giok Hong telah muncul di atas mimbar, Lie Lam Eng lalu bersenyum dingin dan berkata, "Lo Sun, betapa bahagianya engkau menjadi mempelai hari ini. Masih kenalkah engkau padaku?".

Giok Hong telah beberapa belas tahun lamanya berjalan malang melintang di kalangan Kang-ouw, pada waktu mana ia tak ingat lagi ada berapa banyak kawan dan lawan yang ia punyai di luaran. Ia jadi terbengong mendengar kata-kata Lam Eng dan tak dapat menjawab pertanyaan orang she Lie yang baru pernah dijumpainya itu.

"Tampaknya engkau sudah tak ingat lagi kepadaku" kata si orang she Lie pula, "tapi selama hidupku, tak pernah aku lupa sedetikpun kepadamu!. Pada 6 tahun yang lampau, ketika lewat di gunung Thay-heng-san, engkau telah membunuh adikku Lie Hui Eng dengan golok Siang-liong-touw-cu-to. Apakah kini engkau telah melupakannya?".

"Oh, jadi peristiwa ini telah terjadi pada 6 tahun yang lampau?. Mungkin juga" Giok Hong melanjutkan. "Persoalan-persoalan serupa itu memang kerap kualami, tapi aku tak ingat lagi. Aku lupa sudah berapa banyak para perampok-perampok pio yang telah kutumpas dengan tanganku sendiri. Tak pernah aku membunuh orang-orang baik, kecuali para perampok yang hendak menganggu atau merampok kereta-kereta pio yang aku lindungi. Bukankah adikmu itu seorang perampok?. Kalau benar demikian, ada kemungkinan dialah seorang dari seratus lebih perampok yang telah kubunuh selama beberapa belas tahun aku melindungi pio dalam daerah lima propinsi Tiongkok Utara".

Lie Lam Eng yang mendengar omongan Sun Giok Hong, tampak gusar bukan buatan. Dengan tidak banyak bicara, ia menjotos dada si orang she Sun dengan sekuat-kuat tenaganya.

Sun Giok Hong yang selalu berlaku waspada, dengan tenang telah menggerakkan telapak tangannya untuk menyampok tinju Lie lam Eng, sedang tangan yang lainnya ia mempergunakan siasat Eng-jiauw-kim-na-ciu untuk menyergap pergelangan tangan lawannya. Terpaksa Lam Eng tarik pulang tinjunya sambil lompat mundur.

Dengan demikian, Giok Hong pun segera mendesak maju sambil membarengi mempergunakan ilmu Eng-jiauw-kun untuk melancarkan serangan kilat dari tiga jurusan. Lie Lam Eng jadi amat sibuk dan tak ayal lagi ia berusaha untuk menyelamatkan diri dari serangan-serangan Giok Hong yang mematikan itu.

Dasar dia memang bukan lawan Giok Hong yang setimpal, meski telah mencoba sedapat mungkin untuk mempertahankan diri, tidak urung ia menjadi kelabakan di waktu pertempuran baru saja berlangsung 4 atau 5 jurus lamanya. Napasnya jadi terengah-engah dan matanya berkunang-kunang. Tatkala dia hampir tak berdaya dan putus asa untuk dapat melanjutkan pertempuran tersebut, lekas-lekas ia bersiul untuk memanggil kawan-kawannya yang bersembunyi di antara para tamu. Kemudian muncul dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar mencelat naik ke atas mimbar sambil berseru, "Kami datang!".

Kedua orang itu begitu sampai di atas mimbar, segera maju dengan serentak untuk mengeroyok Sun Giok Hong. Giok Hong yang semula tidak berniat melukai Lie Lam Eng jadi mendongkol dan segera menerjang ketiga lawannya itu dengan pukulan- pukulan maut yang dapat membuat si orang she Lie itu cacat seumur hidupnya, jika bukan sampai mati.

Pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang dilancarkan Giok Hong kali ini benar-benar telah membuat hati Lie Lam Eng berdebar-debar keras. Jika dirinya mendadak tumbuh sayap, ia pasti sudah terbang ke langit untuk menghindarkan diri dari tangan Elmaut itu.

Giok Hong yang sudah gusar bukan main, tampaknya kali ini tak mau mengampuni lawannya lagi. Melihat Lie Lam Eng bertempur sambil sekali-kali mundur, ia segera terjang dan hantam pinggang orang itu dengan sabetan Thiat-see-ciang dalam siasat Giok-tay-wie-yauw atau angkin kumala melibat pinggang. Begitu sabetan tersebut mengenai sasarannya, terdengar Lie Lam Eng menjerit keras dan lantas jatuh roboh dari atas mimbar ke muka bumi. Disamping mukanya matang biru lantaran jatuh mengusruk, tiga buah tulang iganya remuk kena terpukul oleh telapak tangan Sun Giok Hong yang mampu memukul batu hingga hancur.

Dua orang kawan Lie Lam Eng yang bernama Tan Piauw dan Phang Tek, yang juga "berusaha tanpa modal" di gunung Thay-heng-san bersama-sama Lie Lam Eng, segera maju menerjang dengan serentak dari sebelah kiri dan kanan.

Giok Hong meladeni mereka berdua dengan tidak segan-segan lagi. Tinjunya yang keras bagaikan godam baja dan tendangan kakinya yang dahsyat bagaikan sambaran tonggak besi telah dikasih bekerja untuk dapat secepatnya mengakhiri pertempuran yang tak bermanfaat itu.

Para tamu yang berada di bawah mimbar jadi menahan napas, ketika Giok Hong melancarkan satu tendangan kilat yang telah membuat Tan Piauw terlempar jauh dan jatuh terbanting di muka bumi dalam keadaan luka dan tidak ingat orang. Sedang Phang Tek yang jadi sangat ketakutan melihat perlawanan Giok Hong yang begitu ganas, buru-buru berlompat turun dari atas mimbar untuk melarikan diri.

Giok Hong dari atas mimbar itu menyerukannya sambil berkata, "Hai, kawan!.

Tidak perlu engkau kabur.'. Terhadap orang yang sudah insyaf akan kekalahannya, tak pernak aku mengejar atau membekuknya. Ini kedua orang kawanmu yang telah menderita luka-luka, engkau boleh bawa pulang dengan menggunakan tandu. Jika engkau tak mau membawa mereka pergi, akan kuserahkan kepada pihak yang berwajib. Dengan begitu, mereka dapat ditahan dan dituntut sebagai orang-orang yang sengaja menimbulkan kerusuhan di tempat orang yang sedang merayakan pesta pernikahan!".

Phang Tek terpaksa menebalkan kulit muka pergi memanggil dua buah tandu untuk mengangkut kedua orang kawannya yang telah menderita luka-luka parah dalam pertempuran tadi. Waktu Giok Hong kembali kepada para tamunya yang masih berkumpul dengan perasaan cemas, ia telah disambut dengan tempik sorai riuh, kemudian duduk melayani pula handai taulan dan para tamu dengan perasaan hati yang lega dan bangga akan kemenangan dalam pertempuran yang seyogyanya tak pernah disangka- sangkanya itu.

Semenjak hari itu dan selanjutnya, tidak pernah ada lagi ahli-ahli silat yang berasal dari tempat lain yang berani coba datang "menjajal" ilmu silat Sun Giok Hong yang tersohor dahsyat itu. Lebih-lebih dalam ilmu permainan goloknya dengan menggunakan Golok Naga Kembar, sehingga gelar Ngo-seng-to-tong diingat orang dari satu jaman kelain jaman, dengan memberi kesan-kesan yang sangat mendalam di kalangan persilatan di tiongkok dalam abad 20 ini.

0oo0

Setelah menikah, Giok Hong bermaksud melewati bulan madu di tempat kelahirannya, dengan maksud untuk dapat menjenguk para orang tua dan sanak saudara di sana sambil memperkenalkan isterinya kepada mereka.

Ketika itu, jalan kereta api Thian-cin - Pu-kouw dan Lam-khia -Shanghai telah dibuka, maka perjalanan kedua suami isteri itu dapat berlangsung dengan lancar dan lebih cepat daripada mempergunakan kereta-kereta kuda seperti halnya di masa- masa yang lampau.

Dalam perjalanan itu, ikut pula dua orang pelayan perempuan untuk melayani segala keperluan Cay In. Sedang ia sendiri, disamping membawa pakaian dan keperluan lain-lainya, tidak lupa membawa juga badik beracun dan golok Siang-liong- touw-cu-to kesayangannya.

Dari Shanghai, terlebih dulu ia mengajak isterinya menuju ke Lam-khia, dimana ia menginap semalam. Pada keesokan harinya setelah melintasi sungai Tiang-kang, maka tibalah mereka di Pu-kouw. Dengan naik kereta Thian-cin - Pu-kouw mereka menuju ke utara, kemudian tibalah ke tempat yang menjadi tujuan mereka, yakni Thian-cin.

Sudah kurang lebih dua tahun lamanya semenjak Sun Giok Hong membunuh jago Judo Yoshikawa dan kawan-kawannya serta kemudian menerima undangan Ho Goan Ka untuk mengajar silat dalam gedung Ceng Bu Hwee di Shanghai, hingga saat ia kembali ke desa kelahirannya dengan mengajak juga isterinya.

Peristiwa berdarah tadi telah dilupakan orang di konsesi Jepang di Thian-cin, tapi kebencian orang Tionghoa terhadap bangsa Jepang masih tetap tinggal dan tidak pernah menjadi kurang hebatnya. Lebih-lebih karena bangsa Jepang sendiri kerap mencari gara-gara dan menerbitkan kerusuhan-kerusuhan di daerah-daerah yang didiami oleh orang-orang Tionghoa.

Maka di waktu Sun Giok Hong kembali dengan sudah beristeri, tiada seorangpun yang usil mulut menyampaikan kabar itu kepada pihak pembesar Jepang yang berwenang di sana. Sehingga Giok Hong dan isterinya bisa tinggal di Thian-cin sampai dua hari lamanya tanpa ada seorangpun yang mencoba menganggu atau menerbitkan keonaran.

Kemudian pulanglah mereka ke desa kelahiran Giok Hong, dimana ia dan isteri disambut di sana oleh para orang tua dan sanak saudara serta handai taulan dengan perasaan gembira. Ketika diadakan perjamuan selamat datang oleh para keluarga dan kaum kerabat, tidak sedikit tamu yang telah datang memberi selamat. Antara lain ada seorang sahabat karib Sun Giok Hong yang bernama Louw Tek Keng yang jugadatang menjenguk, serta memberi selamat kepada mereka berdua suami isteri. Louw Tek Keng dan Sun Giok Hong memang telah bersahabat karib sedari masih anak-anak, hingga biarpun mereka saling terpencar di tempat jauh, tapi hubungan persahabatan mereka masih tetap erat dan tak menjadi berkurang karena saling berpisah jauh dan jarang bertemu muka.

Maksud kunjungan Giok Hong semula ke desa kelahirannya hanya terbatas antara satu atau dua bulan saja lamanya. Sungguh-tidak dinyanya bahwa suatu "peperangan" yang tidak resmi telah terjadi antara pihaknya dan rombongan penyamun dari Thay-heng-san. Mereka ternyata telah dikobar-kobarkan oleh para berandal yang pernah dilukainya, antara mana terhitung Lie Lam Eng, Tan Piauw, dan lainnya. Phang Tek sendiri telah bertindak sebagai pelopornya dan menghasut para berandal yang pernah bermusuhan dengan Sun Giok Hong untuk berserikat dan membalas dendam dengan serentak terhadap musuh besar yang sangat mereka benci itu.

Dengan menggunakan segala siasat busuk untuk memanaskan hati orang, Phang Tek telah berhasil mengumpulkan sebanyak 30 atau 40 orang penyamun di daerah pegunungan Thay-heng-san. Yang terlihay diantaranya boleh disebut nama Kwan Ban Lie dari kota pedusunan Oey-po-tien.

Kwan Ban Lie ini bukan lain daripada adik Kwan Ban Piu, penyamun tunggal yang telah menemui ajalnya dalam tangan Sun Giok Hong, hingga golok kesayangannya yang bernama Siang-liong-touw-cu-to atau Golok Naga Kembar telah terjatuh ke dalam tangan seorang she Sun itu.

Waktu kakaknya binasa dalam tangan Sun Giok Hong, ia masih berguru kepada Tiang Hong Too-jin di kelenteng Ceng-in-koan yang terletak di gunung Ngo-tay-san. Ketika mendengar kematian kakaknya, Ban Lie sudah hendak turun gunung untuk menuntut balas, tapi niatannya itu dilarang keras oleh si Too-jin yang menjadi gurunya. Ia terpaksa bersabar dan belajar dengan sangat giat sehingga beberapa tahun lagi lamanya.

Kwan Ban Lie mahir ilmu pedang dan juga mahir menyambit dengan golok.

Pedangnya yang besar dan panjangnya mencapai 4 ciok, beratnya tidak kurang dari 30 kati. Ia punya 6 bilah golok Liu-yap-to yang pada masing-masing gagangnya dihiaskan dengan tali sutera merah. Dengan golok-golok ini ia dapat menyambit orang dalam jarak 30 tindak dengan secara tepat sekali. Usia Ban Lie pada waktu itu baru 20 tahun.

Mendengar kabar bahwa Phang Tek mengumpulkan kawan-kawan yang pernah dipecundangi atau terluka dalam pertempuran dengan Sun Giok Hong untuk menuntut balas, Kwan Ban Lie segera berkunjung ke sarang Phang Tek di desa Phang-kee- chung yang terletak di puncak Pek-in-hong dalam pegunungan Thay-heng-san di perbatasan propinsi Ho-pak dan Shoasay.

Di hadapan kepala penyamun itu Kwan Ban Lie menyatakan pikirannya untuk menuntut balas kepada Sun Giok Hong, berhubung kakaknya Kwan Ban Piu telah dibinasakan oleh jago silat she Sun itu dimasa bertugas sebagai pelindung pio.

Mendengar begitu, Phang Tek sudah tentu saja jadi sangat girang dan menyatakan solider akan maksud si orang she Kwan yang "suci" itu.

Disamping Kwan Ban Lie, ada pula seorang perampok dari dusun Ciok-jin-kie dalam daerah pegunungan Thay-heng-san juga yang bernama Ciok Tiauw Beng. Usianya sudah 36 tahun dan mahir mempergunakan golok besar.

Phang Tek sebagai tuan rumah, lalu mengadakan perjamuan dan mengadakan perundingan dengan Kwan Ban Lie, Ciok Tiauw Beng dan 36 orang kepala penyamun yang kesemuanya mempunyai perasaan dendam dengan Sun Giok Hong, tentang cara bagaimana pembalasan itu harus dilaksanakan terhadap si orang she Sun itu. Banyak usul telah diajukan oleh beberapa orang diantara mereka, tapi ternyata belum ada suatu saranpun yang dianggap cukup sempurna dan selamat untuk dilaksanakan. Selanjutnya, semua orang jadi tinggal berdiam saja sambil berpikir keras di dalam otak masing-masing.

Begitulah setelah berdiam sesaat lamanya, salah seorang diantara mereka telah mengajukan suatu saran, agar mereka dengan beramai-ramai menyatroni rumah perkumpulan Ceng Bu Hwee di Shanghai. Pertimbangannya, Sun Giok Hong mudah dicari dan dikeroyok sehingga binasa, tanpa memikirkan bahwa di kota Shanghai tidak dapat dipersamakan dengan daerah-daerah pegunungan Thay-heng-san dimana mereka dapat bertindak dengan "hukum rimba".

"Kota Shanghai merupakan sebuah pelabuhan besar nomor satu di Timur Jauh" kata Phang Tek, "maka tata tertib di sana dikuasai oleh polisi militer yang tidak mungkin membiarkan kita serombongan orang-orang yang bersenjata bergerak dengan leluasa. Untuk dapat masuk ke sana dengan tidak khawatir dirintangi polisi, aku sudah pikirkan suatu siasat yang terbaik, yaitu kita sekalian harus berpencar menjadi beberapa rombongan dengan menyamar sebagai para penjual obat atau membuka pertunjukan silat keliling. Gedung perkumpulan Ceng Bu Hwee menjadi tempat sasaran kita untuk berkumpul dan beraksi menurut rencana yang akan kita atur selanjutnya. Lebih jauh, untuk menarik perhatian Sun Giok Hong, salah satu rombongan diantara kita boleh membuka pertunjukkan di muka gedung tersebut, dimana kita boleh menggunakan kata-kata yang menyinggung perasaan orang she Sun itu. Tujuannya untuk memaksa ia keluar dan kemudian kita keroyok -dirinya beramai-ramai. Dengan demikian, pasti dia takkan bisa lagi lolos dari tangan kita!".

"Bagus!. Bagus!" memuji mereka sekalian dengan suara yang hampir berbarengan. "Aku suka menyamar sebagai ahli silat yang berjalan keliling sambil berjualan obat-

obatan" kata Kwan Ban Lie.

"Usia Kwan Su-hu masih terlampau muda" kata Phang Tek. "Bagaimana jika tugas itu aku serahkan kepada Ciok Su-hu dengan engkau dan tiga orang yang lainnya ikut serta sebagai murid-muridnya?".

"Begitupun boleh juga" kata Kwan Ban Lie, "karena tujuanku hanya satu, yaitu untuk membalas sakit hati kakakku almarhum".

Ciok Tiauw Beng telah diberi tugas sebagai kepala rombongan dengan Kwan Ban Lie dan tiga orang penyamun yang lainnya ikut serta sebagai pembantu-pembantu.

Ketiga orang penyamun yang tesebut di atas adalah Ong Kui, Wan Gu dan Liok Houw adanya. Sangat disayangkan bahwa mereka bertiga yang masih muda dan bertenaga sangat kuat, sama sekali tidak mau mengakui bahwa ilmu kepandaian mereka masih sangat rendah dan belum cukup untuk menghadapi lawan dari tingkat pertengahan. Ayah dan kakak ketiga orang ini pernah dikalahkan oleh Sun Giok Hong, dikaia mereka keluar dari pegunungan Thay-heng-san untuk melakukan perampokan atas kereta-kereta pio yang dilindungi oleh pio-su she Sun itu.

Kemudian karena mendengar Phang Thek mengumpulkan lawan untuk membalas dendam kepada Sun Giok Hong, maka ketiga orang inipun lalu datang menggabungkan diri untuk ikut serta dalam aksi pembalasan itu.

Begitulah, setelah segala sesuatu selesai diatur, Ciok Tiauw Beng yang menyamar sebagai ahli silat yang berjalan keliling dengan diiringi oleh Kwan Ban Lie, Ong Kui, Wan Gu dan Liok Houw lalu berangkai duluan menuju kota Shanghai. Rombongan- rombongan yang lainnya mengikuti belakangan dengan berturut-turut.

Sungguh tidak dinyana, sesampainya di Shanghai mereka mendapat kabar bahwa Sun Giok Hong tengah mengajak isterinya berkunjung ke desa kelahirannya di Sun- kee-chung dalam kewedanaan Kho-yang di propinsi Ho-pak tengah, yang terpisah dari gunung Thay-heng-san kira-kira 200 lie lebih jauhnya. Merekapun buru-buru menuju ke sana dengan maksud membunuh Giok Hong di desa kelahirannya.

Desa Sun-kee-chung yang terletak di suatu tempat yang terpisah dari kota Kho- yang 30 lie jauhnya, ternyata bertetangga dengan desa-desa Louw-kee-chung, Han- kee-chung dan yang lain-lainnya pula.

Sesampainya di kota Kho-yang, Kwan Ban Lie lalu mengusulkan kepada Phang Tek untuk mengirim satu atau dua orang ke desa Sun-kee-chung untuk memancing Sun Giok Hong keluar dari tempat kediamannya. Sedang yang lainnya yang berjumlah tigapuluh orang lebih banyaknya itu, bersembunyi untuk kemudian keluar mengepung musuh besar mereka dengan serentak.

Usul Ciok Tiauw Beng adalah membakar dahulu desa Sun-kee-chung untuk mengacaukan keadaan, kemudian membunuh Sun Giok Hong selagi dia tak berjaga- jaga. Dengan begitu mereka dapat melakukan pembalasan dan perampokan dengan sekaligus. Semua orang mupakat dengan usul ini, maka Phang Tek yang bertindak sebagai pemimpin mereka lalu mengutus 6 orang untuk memasuki desa Sun-kee- chung dan melakukan pembakaran di enam tempat. Sementara tigapuluh orang lebih yang lainnya yang terbagi menjadi dua rombongan, begitu melihat api berkobar-kobar disana sini, harus segera menyerbu dari muka dan belakang desa yang menjadi sasaran mereka itu. Harapannya, Sun Giok Hong yang menganggap dirinya berkepandaian silat tinggi pasti akan keluar dan meladeni mereka bertempur, tanpa mengetahui bahwa dia akan dikeroyok oleh orang-orang yang menjadi musuh-musuh besarnya itu.

Demikianlah usulan Ciok Tiauw Beng, hingga semua orang memuji siasat si pemimpin yang dikatakan sama lihaynya dengan siasat Cu-kat Khong Beng di jaman Sam Kok. Sedang permintaan Ciok Tiauw Beng, Kwan Ban Lie, Ong Kui, Wan Gu dan Liok Houw untuk melakukan tugas perembesan dan pembakaran ke dalam desa Sun- kee-chung itu, bukan saja dikabulkan oleh Phang Tek, malah dia sendiripun ikut serta untuk melakukan pekerjaan tersebut.

"Jika nanti sudah tampak sinar api berkobar-kobar" Phang Tek memberi komando kepada kawan-kawannya, "kalian boleh segera menyerbu ke dalam desa dari dua jurusan. Setiap orang yang kalian temukan harus langsung dibunuh!. Lebih-lebih jika bertemu dengan bocah she Sun itu, cincang saja dirinya sehingga menjadi bakso!".

Begitulah, pada petang hari itu juga menjelang tengah malam, mereka dengan membawa senjata dan bahan-bahan yang mudah menyala segera berangkat dengan diam-diam ke desa Sun-kee-chung dimana Sun Giok Hong dan isteri justeru tidak bepergian ke tempat lain. Louw Tek Keng pun kebetulan ditahan oleh Giok Hong untuk menginap dan menemaninya di rumah.

Petang hari itu, Sun Giok Hong mengadakan sedikit perjamuan yang khusus untuk para keluarga dan Louw Tek Keng yang menjadi sahabat karibnya. Sambil duduk makan minum dan mengobrol dengan dilayani oleh sanak saudara Giok Hong yang bernama Sun Hong dan Sun Yauw, Giok Hong menuturkan riwayat orang gagah di jaman dahulu dan sekarang. Antara mana, riwayat Ho Goan Ka tidak ketinggalan untuk dibuat bahan mengobrol yang sangat menarik perhatian sanak saudara Giok Hong yang berkumpul disitu.

"Ho Su-ya Ho Goan Ka" kata Sun Giok Hong, "sangat ramah tamah dan senang bergaul dengan orang-orang yang mahir ilmu silat. Ia bertabiat dermawan dan ay-kok (cinta negeri) dan marah bukan main ketika bangsa Jepang menamakan orang Tionghoa 'Orang sakit dari Timur'. Ia mendirikan rumah perguruan untuk mempelajari ilmu silat atas biayanya sendiri. Demikianlah cerita tentang riwayat gedung perkumpulan Ceng Bu Hwee itu, yang kemudian telah dibuka dengan berturut-turut di kota-kota lain di negeri Tiongkok kita ini. Sedang Ho Su-ya sendiri yang wajahnya agak kekuning-kuningan bagaikan orang sakit, sangat mahir ilmu silat Bie-ciong-ge (ilmu silat membingungkan orang) yang menjadi ilmu silat keturunan Ho sendiri dan sangat dirahasiakan oleh kaum keluarga Ho yang lebih tua. Untungnya, Ho Su-ya mau mewariskan kepada siapa yang berbakat baik dengan memberantas larangan keras yang bersifat tradisionil diantara kalangan kaum keluarganya sendiri. Oleh rekan- rekannya dan jago-jago silat di Tiongkok Utara, ia diberi nama julukan Oey-bian-houw atau harimau muka kuning".

Sun Giok Hong baru saja hendak menuturkan riwayat Ho Su-ya diwaktu pertama mempelajari ilmu silat keturunanya, ketika dari kejauhan terdengar suara anjing- anjing menyalak dengan amat riuhnya. Dalam hati, ia mendapat firasat tidak enak dan lalu berkata, "Aneh benar caranya anjing-anjing itu menyalak. Rupanya di sana ada orang-orang asing atau kawanan penjahat yang memasuki desa kita ini dengan secara diam-diam".

Giok Hong sama sekali tidak menyangka, bahwa anjing-anjing itu telah menyalak karena melihat para penyamun dari Thay-heng-san memasuki desa kelahirannya untuk menuntut balas kepada dirinya sendiri.

Setelah mendengar anjing-anjing itu menyalak semakin ramai, Sun Giok Hong lalu minta semua orang supaya berhenti dahulu makan minum dan mengajak mereka pergi meronda mengelilingi desa. Louw Tek Keng dan sanak saudara Sun Giok Hong menyatakan ingin turut serta.

Mereka bersiap-siap membawa senjata, untuk mengiringi Giok Hong pergi meronda desa.

Dengan membawa Golok Naga Kembar, menyoren badik beracun dan kantong kulit yang berisikan Piauw, Giok Hong beramai-ramai menuju ke tempat dimana anjing- anjing itu terdengar menyalak tidak henti-hentinya.

Setelah dicari kian kemari, tidak tampak ada manusia yang berkeliaran di muka pagar tembok desa itu. "Rupanya mereka hendak masuk dari pagar tembok di belakang desa" kata Tek Keng.

Giok Hong membenarkan pendapat sahabat karibnya itu. Lalu mereka menuju ke belakang desa Sun-kee-chung.

Petang hari itu, justeru bulan sedang gelap hingga di langit hanya tampak sinar bintang-bintang saja yang berkedip-kedip.

Selagi mereka memeriksa keadaan di sekitar desa itu, tiba-tiba dari dalam sebuah rumah yang beratapkan alang-alang tampak sinar api berkobar-kobar. Giok Hong dan kawan-kawannya menjadi sangat terkejut dan mengejar ke sana -dengan diikuti oleh Louw Tek Keng, Sun Hong, Sun Yauw dan yang lainnya. Ketika mereka baru saja berlari-lari beberapa belas kaki jauhnya, tiba-tiba dari dalam rimba melompat keluar seorang yang berperawakan tegap sambil membentak, "Ciok Tiauw Beng telah tiba disini!".

Dengan golok di tangan ia menerjang Sun Giok Hong yang berjalan paling dahulu, hingga kedua orang itu jadi bertempur dengan tidak banyak bicara lagi. Sebelum pertempuran itu berlangsung dua jurus lamanya, golok Ciok Tiauw Beng telah dibabat oleh Golok Naga Kembar sehingga putus menjadi dua potong!. Ciok Tiauw Eng tidak sempat menyingkir, tendangan kilat Sun Giok Hong telah sampai hingga tulang kering Ciok Tiauw Beng jadi remuk dan jatuh terjungkal ke tanah.

Kwan Ban Lie yang melihat begitu, sudah tentu saja sangat terkejut. Lekas ia maju menerjang Sun Giok Hong dengan pedangnya yang besar dan berat itu, tapi senjata ini ternyata tak sanggup meladeni samberan golok Siang-liong-touw-cu-to. Hanya satu gebrakan saja, pedang Kwan Ban Lie telah putus dengan menerbitkan percikan api yang berhamburan kian kemari, hingga dengan hati terkesiap, ia melompat mundur sambil menjumput sebilah golok Liu-yap-to yang lalu dilontarkan ke arah ulu hati Sun Giok Hong.

Giok Hong yang bermata tajam dan terlebih dahulu telah berjaga-jaga, dengan sebat telah memukul jatuh golok itu dengan Golok Naga Kembar di tangannya. Golok kedua telah disambitkan oleh Kwan Ban Lie untuk mengarah tenggorokan Sun Giok Hong, tapi golok itupun telah berhasil juga disampok oleh Golok Naga Kembar sehingga terpentel entah kemana jatuhnya.

Kwan Ban Lie jadi jeri hatinya dan segera lompat mundur. Ketika Phang Tek, Wan Gu, Ong Kui dan Liok Houw berempat maju dari empat jurusan untuk mengepung si pemuda she Sun dengan serentak.

Giok Hong putar goloknya bagaikan baling-baling cepatnya, dengan mana ia meladeni keempat orang penyamun itu dengan semangat yang tak kunjung padam.

Selagi pertempuran dahsyat terjadi disana sini, tiba-tiba diluar desa tampak sinar api obor yang dipasang oleh ketigapuluh orang penyamun dari pegunungan Thay- heng-san itu. Malam yang gelap sekonyong-konyong menjadi terang benderang bagaikan di siang hari.

Dilain pihak, Sun Giok Tien yang ternyata turut juga pulang ke desa kelahirannya, karuan saja jadi sangat terkejut ketika melihat beberapa rumah terbakar dan kawanan berandal menyerbu ke dalam desa. Kontan Giok Tien mengajak 50 atau 60 orang keluarganya yang dipecah menjadi dua rombongan, yang sebagian telah diperintahkan untuk pergi memadamkan api, sedang yang sebagian lagi telah diajaknya untuk menangkis serangan kawanan berandal yang masuk menyerbu bagaikan air bah yang membobolkan tanggul.

Penggerebekan kawanan berandal itu tidak membuat keluarga Sun yang kebanyakan terdiri dari orang-orang yang paham ilmu silat menjadi gentar atau takut. Selain mereka telah bersedia untuk menangkis serangan musuh, merekapun selalu menitikberatkan penjagaan desa dengan bekerja sama dengan desa-desa tetangga sekitarnya. Mereka dapat saling membantu jika terjadi serangan dari luar serupa ini.

Phang Tek dan kawan-kawan menyaksikan penjagaan desa Sun-kee-chung sedemikian kuatnya, diam-diam jadi mengeluh dan menyesal telah mengambil tindakan yang begitu gegabah. Bagaikan orang-orang yang menunggang harimau, kini mereka hendak mundur atau majupun lelah menjadi sama sukarnya.

Louw Tek Keng merasa khawatir atas keselamatan diri Sun Giok 1 long yang sedang dikepung, segeralah ia datang membatu dengan jalan menceburkan diri di tengah kalangan pertempuran. Phang Tek yang sedang mencari jalan untuk keluar dari kalangan pertempuran, keruan saja jadi sangat terkejut dan lekas-lekas menangkis serangan Louw Tek Keng dengan golok di tangannya.

Bukan saja pengepungan Phang Tek dan kawan-kawan atas diri Giok Hong telah menjadi gagal, malah mereka sendiri sekarang telah dikepung musuh dari segala jurusan. Mau tak mau mereka harus bertempur dengan nekad untuk menyelamatkan diri masing-masing.

Begitu mendapat kesempatan untuk kabur, Phang Tek, Kwan Ban Lie dan yang lainnya segera mencelat ke atas pagar tembok dan melarikan diri ke dalam rimba bagaikan binatang-binatang buruan yang dapat meloloskan diri dari dalam pengepungan. Sayangnya, dua orang yang lari belakangan yaitu Wan Gu dan Liok Houw, yang seorang telah berhasil kabur dengan membawa piauw Giok Hong yang menancap di punggungnya. Sedangkan Liok Houw yang berlaku kurang sebat, belakang kepalanya telah dilanggar oleh piauw yang disambitkan oleh Sun Giok Hong, sehingga ia jatuh mengusruk dari atas pagar tembok dan dibekuk oleh sanak saudara Giok Hong. Mereka membelenggunya bersama-sama Ciok Tiauw Beng yang tulang keringnya remuk dan tak mampu kabur.

Selesai meringkus kedua orang penyamun itu, Giok Hong lalu memerintahkan beberapa orang sanak saudaranya untuk menahan mereka, sedang ia sendiri bersama Lauw Tek Keng segera menuju keluar desa untuk membantu para penduduk mengepung sisa kawanan penyamun yang hendak kabur itu.

Setibanya di sana, ia melihat diantara para pengepung itu, ada seorang perempuan muda yang bersenjatakan sepasang pedang. Para penyamun tampak segan melawannya dan mencoba kabur dengan segala macam cara yang mereka bisa tempuh.

Siapakah gerangan perempuan gagah itu?.

0oo0