Golok Naga Kembar Jilid 04

Jilid 04

TAPI bagaikan asap yang sukar ditutupi, akhirnya ada juga orang yang mengetahui tentang Sun Giok San yang bertempur dengan Ong Kim Houw sehingga yang tersebut belakangan tewas jiwanya. Peristiwa tersebut dengan cepat tersiar luas dan mengakibatkan kegemparan di seluruh kota Thian-cin. Lebih-lebih ketika pada esok harinya kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok telah kedatangan seorang tua yang minta bicara dengan Sun Sin Bu. Setelah dipersilahkan masuk ke ruangan tengah orang tua itu mengadu kepada pemilik pio-kiok itu. "Lo-hu bernama Ong Hoa Liong. Ong Kim Houw dan Ong Kim Giok adalah kemenakan-kemenakanku. Mula-mula Kim Giok karena tidak disengaja telah menubruk anakmu Giok San di muka gedung kesenian Tay Sie Kay, mengakibatkan kemarahan anakmu yang lalu memukulnya sehingga muntah darah karena menderita luka dalam. Sesudah itu Kim Houw datang menegur anakmu, tapi Giok San telah menjadi gusar dan lalu memukulnya sehingga tewas. Kematian Kim Houw, sangat aku sesalkan, karena bukan saja ia tidak memecahkan persoalan yang rumit ini tapi sebaliknya ia telah menantang berkelahi anakmu itu. Jadi dalam hal ini, kesalahan anakmu mungkin juga tidak seberapa besar, dan kusesalkan sekali tindak tanduk Kim Houw yang terlampau semberono itu. Tapi bagaimana dengan kemenakanku Kim Giok?. Ia bukan seorang tukang berkelahi, bukan ahli silat, tapi hanya seorang pedagang biasa. Mengapa anakmu main pukul saja dengan membabi-buta, hingga mengakibatkan ia menderita luka-luka berat?".

Sin Bu jadi melongo dan bungkam sejenak bagaikan orang yang terkesima. Ia menatap wajah orang tua itu yang angker dan bersinar mata tajam dan meski tubuhnya tidak besar tapi tampak kekar dan gerakannya juga gesit. Dengan hanya memperhatikan sepintas lalu saja, Sin Bu segera tahu bahwa dia itu adalah seorang yang mahir ilmu silat

Sin Bu yang terlebih dahulu telah memperhatikan dengan seteliti-telitinya, lalu dengan wajah yang berseri-seri menanyakan dengan sikap yang ramah, katanya, "Ong Lo-su, anakku Giok San memang seorang yang mudah naik darah. Ia bertabiat sangat keras dan tak suka mengalah kepada orang lain. Maka setelah terjadi pemukulan atas kedua orang kemenakanmu itu, yang seorang menderita luka berat dan yang seorang lagi meninggal. Pertama-tama terimalah rasa turut berbelasungkawaku atas kematian saudara Kim Houw dan rasa sesalku yang sedalam-dalamnya atas terluka parahnya saudara Kim Giok. sesungguhnya kejadian ini terjadi diluar tahuku, maka aku mohon tanya kepsda Lo-su, cara bagaimana baiknya peristiwa ini harus kita elesaikan ?".

"Lo-hu juga pernah belajar ilmu silat" kata Ong Hoa Liong, kemudian berkeliaran di kalangan Kang-ouw sehingga berapa tahun lamanya. Bukan sekali-kali maksud Lo-hu untuk membereskan persoalan ini dengan kekerasan. Jika semenjak kini Kiok-cu tidak bertindak tegas terhadap anakmu itu, niscaya dikemudian hari ia akan mengulangi perbuatannya yang tidak baik itu. Oleh karenanya, aku mohon supaya Kiok-cu segera bertindak dengan secara bijaksana, tegas dan menghukum anakmu sebagaimana mestinya. Kalau tidak, tak laluilah aku apa yang kelak akan terjadi atas dirinya".

Sun Sin Bu yang bertabiat jujur dan biasa bertindak bijaksana tanpa memilih bulu, segera berjanji untuk menghukum anaknya itu menurut ketentuan-ketentuan yang merupakan undang-undang rumah tangga bagi semua keluarga Sun. Hoa Liong tampak merasa puas juga dan segera berjalan pulang dengan pikiran tenang dan tidak banyak bicara pula.

Seperginya orang tua itu, Sin Bu segera memanggil Giok San yang semula dikutuk keras perbuatannya yang tidak memandang perikemanusiaan dan main pukul orang saja tanpa menimbang-nimbang dahulu duduk persoalannya. Kemudian ia tahan Giok San dalam penjara rumah tangga yang terletak di belakang kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok.

Disitu Giok San ditahan tanpa dapat berbantahan, karenanya ia hanya berani marah di dalam hati tapi "kuncup" dilahir. Tinjunya dikepal kepalkan kemudian dipukulkan pada jubin di bawah kakinya yang segera hancur berhamburan bagaikan tanah kering yang dihantam godam yang besar dan berat.

Giok Hong yang merasa kasihan, telah coba memintakan ampun kepada pamannya agar Giok San bisa dibebaskan. Permintaan itu ternyata sia-sia belaka, paman Sun tak mau mengabulkan permintaannya. Giok San tetap ditahan di situ untuk kemudian baru dibebaskan jika tabiatnya yang aseran telah berubah menjadi baik dan sabar.

Demikianlah Giok Hong mendapat jawaban dari sang paman yang memegang sangat keras peraturan rumah tangganya.

Setengah tahun kemudian ketika Giok Hong sedang menemani pamannya pergi melindungi kereta-kereta pio kelain tempat, Giok San yang ditahan dalam penjara rumah tangga telah meninggal dunia karena kesal dan tak dapat melampiaskan nafsu amarahnya.

Kedudukannya dalam kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok telah digantikan oleh adiknya Giok Tien, yang kelak namanya terkenal sebagai seorang ahli silat yang gagah perkasa, budiman dan luas pergaulannya di kalangan Kang-ouw.

Kala itu Giok Hong telah berusia 26 tahun, tapi dalam usia yangi masih cukup muda itu, oleh pamannya ia telah diberi kekuasaan penuh untuk melindungi sendiri pio-pio dengan tak pernah mengalami kerugian atau kegagalan dalam tugasnya sebagai pio- su. Disamping ia disegani karena kelihayan ilmu golok dan ilmu tendangannya, iapun sangat ramah tamah. Tak heran, lambat laun hubungannya dengan orang-orang gagah dan ahli-ahli silat yang mencari nafkah di kalangan Kang-ouw bertambah rapat dan luas. Sedangkan para saudagar yang pernah menyewanya untuk melindungi barang-barang mereka dengan selamat ke tempat yang dituju, jadi semakin banyak dan selalu meminta dirinya untuk keluar melindungi sendiri pio-pio mereka itu.

Sebagai seorang muda yang masih gemar dengan pujian-pujian orang, Giok Hong tak pernah menampik semua itu walau tempat yang dituju jauh dan berbahaya. Rekan- rekannya pun kerap kali memperingati untuk ia menolak saja melindungi pio-pio yang kurang menguntungkan itu.

Pada suatu hari Sun Giok Hong telah menerima perintarj pamannya untuk melindungi pio yang mengangkut bahan obat-obatan seperti Lok-jiong, Jim-som, dan lain sebagainya. Dari kota Thian-cin ia menuju ke Thay-goan dalam propinsi Shoasay dengan melalui kota Poleng, mendaki daerah pegunungan Thay-heng-san dan memasuki wilayah propinsi Shoasay.

Selama Giok Hong bertugas sebagai pio-su, inilah untuk pertama kalinya ia melakukan perjalanan ke barat. Dengan mengiringi duabelas buah kereta-kereta pio, pada suatu hari ia tiba di sebuah kota kecil yang bernama Oey-po-tien dan terletak di bawah kaki gunung Thay-hong-san, yang termasuk dalam wilayah propinsi Shoasay.

Kota ini hanya terdiri dari seratus rumah lebih, keadaannya cukup ramai dan serba ada. Ada toko pakaian, kedai nasi dan minuman yang, seolah-olah dibuka untuk para pelancong yang berkunjung ke situ. Rombongan Sun Giok Hong memasuki kota Oey- po-tien diwaktu hari menjelang petang, oleh karena itu lekas-lekas ia mencari rumah penginapan dan kedai nasi untuk mereka makan dan beristirahat.

Tatkala anak buahnya telah makan dan masuk tidur, Giok Hong yang belum makan lalu keluar dari rumah penginapan dan menuju ke sebuah kedai minuman untuk mencari makan dan arak yang menjadi kegemarannya.

Begitulah, setelah memesan arak dan daging, si pemuda lalu duduk makan dan minum sambil menikmati pemandangan gunung Thay heng-san di waktu malam hari. Dia belum duduk terlampau lama disitu, ketika dari kejauhan sekonyong-konyong terdengar bunyi genta yang bergemerincing dengan dibarengi oleh suara kaki kuda yang berjalan menuju ke kedai arak itu. Tatkala Giok Hong coba menjenguk keluar jendela, dari arah jalan raya ia melihat seorang laki-laki setengah tua yang berjenggot pendek dan menunggang seekor kuda bulu gambir.

Usianya kira kira empatpuluhan, perawakan badannya tegap dan kekar, kepalanya besar dan matanya bundar, alisnya yang hitam dan tebal, seimbang dengan kumis dan jenggotnya yang pendek tapi lebat. Di pinggangnya ia menyoren golok yang serangkanya diukir dan nampaknya sudah tua sekali.

Giok Hong yang melihat kedatangan orang itu, di dalam hatinya jadi tercekat karena tiba-tiba ia teringat dengan istilah "Hiang-ma" atau penyamun tunggal, begal berkuda yang biasa berkeliaran dengan hanya seorang diri saja dan merampok tanpa bantuan konco-konconya yang lainnya. Para "Hiang-ma" serupa itu kerap berkeliaran di daerah propinsi Shoatang.

Sesampainya di muka kedai, orang laki-laki setengah tua itu lalu menambatkan kudanya di bawah sebuah pohon, kemudian dengan tindakan yang garang ia melangkah masuk ke dalam.

Setelah memilih tempat duduk yang justru tepat di seberang meja Giok Hong, ia lalu memanggil seorang pelayan dan minta disediakan arak dan daging.

Dari situ ia memandang kearah si pemuda she Sun sambil bersenyum simpul. Giok Hong tidak menegornya berhubung ia belum kenal siapa tamu yang baru datang itu.

Sambil makan dan minum, orang itu mencabut goloknya dan sambil meneliti golok itu sesaat lamanya, kemudian berkata seorang diri, "Petang hari ini akan terbit hujan ribut!".

Giok Hong tidak paham apa yang dimaksud orang itu, tapi ia tinggal membisu. "Dapatkah sebilah golok meramalkan keadaan hawa udara?" pikirnya heran. Diam- diam ia merasa sangat kagum juga melihat sinar golok itu yang berkilau-kilau karena sinar api yang terpantul di atasnya. "Inilah sesungguhnya sebilah golok mustika yang baik sekali!" pikir si pemuda di dalam hatinya.

Lekas ia bangkit dari tempat duduknya, membayar harga arak dan makanan yang dimakannya dan terus kembali ke rumah penginapan. Setelah memeriksa kereta- kereta pio dan anak buahnya, ia masuk ke kamarnya dengan hati lega.

Pada esok harinya pagi-pagi benar, setelah membayar uang makan dan sewa kamar, Giok Hong lalu memberangkatkan rombongannya seperti pada waktu mereka berangkat semula, yakni tenang dan tidak tergesa-gesa.

Waktu sedang melalui tempat-tempat di sepanjang pegunungan Thay-heng-san, kira-kira terpisah 10 lie dari kota Thay-goan, tiba-tiba Giok Hong telah dikejutkan oleh suara genta yang gemerincing dan dibarengi dengan suara kaki kuda yang mendatangi dari arah belakang rombongan kereta-kereta pionya. Giok Hong segera mengetahui, bahwa di sebelah belakangnya ada orang yang sedang membuntutinya. Tidak begitu lama terdengar suara sebatang hiang-cian atau panah bersuara melesat dilepaskan orang ke jurusannya. Lekas-lekas ia mendekam di atas punggung kuda untuk menghindari hiang-cian tersebut, yang ternyata benar menyamber dari belakang dan lewat di sebelah atas kepalanya.

Tatkala ia menoleh ke belakang, barulah ia ketahui bahwa orang yang melepaskan hiang-cian itu bukan lain daripada si jenggot yang lelah dijumpai di kedai arak kemarin petang. Giok Hong jadi mendongkol dan siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Orang itu, yang melihat Giok Hong dengan lincahnya telah dapat menghindarkan diri dari hiang-ciannya, tertawa mengakak lalu berkata, "Hai bocah, sungguh berani engkau melindungi kereta-kereta pio lewat disini!".

"Siapa kau, yang telah melepaskan hiang-cian secara pengecut sekali!" bentak Giok Hong sambil menahan tali kekang kudanya.

"Lo-hu diwaktu berjalan tak pernah mengganti nama, diwaktu dudukpun tak bersedia menukar she!" sahut si jenggot dengan sikap yang jumawa. "Aku Kwan Ban Piu dari Shoasay yang sudah tidak asing lagi bagi semua orang. Kali ini Lo-hu telah berturut-turut kalah berjudi hingga Lo-hu berhutang pada banyak orang dan belum mampu melunaskannya. Maka engkau harus bisa melihat gelagat dan lekas-lekas serahkan kereta-kereta piomu kepadaku. Kalau tidak, harus engkau ingat baik-baik bahwa golokku ini tidak bermata!".

Sesudah berkata begitu, Kwan Ban Piu segera menghunus goloknya untuk menggertak Sun Giok Hong, tapi Giok Hong bukanlah seorang pengecut. Mendengar ancaman itu, segera ia menghunus goloknya sambil berkata, "Hai, begal she Kwan!. Ternyata engkau keliru jika beranggapan bahwa dengan semudah itu engkau dapat menggertakku!. Tapi jika engkau dapat mengalahkanku dengan secara jujur, akan kuserahkan kereta-kereta pio ini padamu!".

Kwan Ban Piu tertawa terbahak-bahak. "Bagus!" sahutnya. "Seorang laki-laki sejati pasti takkan mengingkari kata-kata yang telah diucapkannya!. Sekarang mari aku uji kata-katamu!".

"Sambil berkata demikian, si jenggot segera menepuk pantat kudanya yang lalu melompat maju, sedang golok di tangannya dipakai membacok si pemuda dengan gerakan secepat kilat.

Giok Hong lekas menahan tali kekang kudanya, kemudian menyambut bacokan itu dengan goloknya sendiri.

Sret !. "Ah!" Giok Hong berseru kaget. Dengan mengeluarkan percikan api yang

berhamburan kian kemari, goloknya telah terpapas putus menjadi dua potong dan membuat si pemuda terkejut bukan kepalang. Dengan begitu ia ketahui bahwa golok Kwan Ban Piu itu sesungguhnya bukan golok sembarangan. Giok Hong yang tidak mau menunjukkan kelemahan dirinya segera balas menabas si orang she Kwan dengan goloknya sudah kutung itu.

Sret !. Buat kedua kalinya golok Giok Hong telah terpapas putus. Terpaksa ia

melemparkan goloknya yang sudah menjadi sangat pendek itu sambil menarik mundur kudanya dengan secara tiba-tiba.

Kwan Ban Piu tertawa mengakak. "Apakah engkau sekarang telah mengetahui sampai dimana kelihayanku?" tanyanya bangga.

"Engkau hanya mengandalkan pada golokmu yang baik itu" ejek Sun Giok Hong, "tapi ingat baik-baik bahwa bukan engkau saja yang sungguh-sungguh dapat dikatakan lihay".

Giok Hong merasa percuma saja untuk bertempur dengan lawannya itu karena golok mustika yang dimiliki Ban Piu itu betul-betul amat tajam dan tiada tandingnya. Untuk tidak merendahkan harga diri, diambilnya sebilah pedang, dengan apa ia maju pula menempur berandal dari Shoasay itu.

Seperti juga pertempuran dalam babak pertama, perkelahian dalam babak inipun berkesudahan sama. Pedang Giok Hong putus menjadi beberapa potong!.

"Ha, ha, ha!" tertawa si berandal she Kwan. "Apakah sekarang engkau suka menyerah kalah kepadaku?".

Giok Hong tidak menjawab tapi segera membalikkan kudanya untuk lari meninggalkan lawan itu.

Kwan Ban Piu membedal kudanya untuk menyusul sambil membentak, "Jangan lari!".

Diwaktu kejar-kejaran itu terjadi, Sun Giok Hong telah mendapat suatu pikiran yang bagus sekali untuk merobohkan Kwan Ban Piu, ialah dengan menggunakan senjata rahasia. Ketika Kwan Ban Piu berada pada jarak yang terpisah 20 tindak lagi jauhnya, tiba-tiba si pemuda menjumput sebuah hui-piauw dari dalam kantong kulit lalu disambitkan ke belakang untuk melukai si pengejar.

Kwan Ban Piu yang sedari tadi telah dapat menduga maksud sang lawan, begitu melihat piauw itu meluncur ke arahnya, dengan sebal ia menyampok dengan goloknya hingga piauw itu jatuh ke tanah.

Giok Hong jadi terkejut. Ia tak putus asa, malah ia sambitkan pula piauw yang kedua. Piauw inipun telah dapat dibacok jatuh oleh golok Kwan Ban Piu sehingga putus menjadi potongan-potongan besi

"Celaka!" pikir si pemuda. "Untuk dapat mengalahkan Kwan Ban Piu, aku harus mempunyai senjata yang cukup kebal!".

Kemudian dengan nekad ia putar kudanya 180 derajat sehingga ia tepat berhadap- hadapan dengan kuda si begal she Kwan yang sedang mendatangi itu.!.

"Sekarang sambutlah baik-baik jimatku ini!" bentaknya dengan suara penasaran dan mendongkol. Bersamaan dengan berakhirnya bentakan itu, meluncurlah tiga buah piauw berturut-turut ke jurusan Kwan Ban Piu, yang terpaksa harus putar goloknya demikian keras hingga bagaikan baling-baling saja cepatnya. Tiba-tiba Kwan Ban Piu King sedang sibuk sekali menghalau ketiga piauw itu jadi sangat terkejut karena kudanya telah meringkik keras sambil secara keras pula menggoncangkan tubuhnya yang besar itu. Ia tidak berdaya menahan tali kekang kudanya, dilain saat ia telah jatuh terjungkal dan roboh terjerumus ke dalam solokan!. ternyata Giok Hong telah berhasil menimpukkan piauwnya tepat kemata kuda Kwan Ban Piu, selagi dia sibuk menghalau piauw si pemuda. Karena kesakitan, kuda itu menjadi marah dan melemparkan juga beban yang duduk di punggungnya.

"Sialan kau!" si penyamun tunggal memaki Sun Giok Hong dengan hati sangat mendongkol. "Engkau berani mencurangi tuan besarmu?. Aku belum puas jika belum melintir batang lehermu sehingga kepala copot!".

"Engkau sendiri yang berlaku curang dan hanya pandai mengandalkan golokmu yang sangat tajam itu!" sahut Sun Giok Hong. "Jika engkau sesungguhnya seorang Ho-han, aku tantang kau untuk bertempur dengan bertangan kosong!".

Tapi Kwan Ban Piu tak mau meladeni, hanya bangkit dan kembali menaiki kudanya yang ternyata hanya dapat luka di mata saja, untuk kemudian dengan golok di tangan mengejar pula lawannya. Giok Hong yang merasa percuma jika harus menempur Ban Piu dengan senjata, pun ikut lari guna mengelak dari bacokan golok lawannya yang ganas itu.

"Aku bisa dikatakan pengecut kalau main kabur-kaburan «begini I rupa" pikir Giok Hong. Oleh sebab itu, ia segera tahan tali kekang kudanya dan menantikan datangnya si orang she Kwan sambil duduk tegak di atas pelana kudanya.

"Hai bocah, sungguh memalukan sekali perbuatanmu yang curang itu!" bentak Kwan Ban Piu yang terpaksa menahan juga tali kekang kudanya tatkala melihat Sun Giok Hong menghadapinya dengan sikap yang gagah berani.

"Curang?. Mengapa tidak engkau tanyakan begitu kepada! dirimu sendiri?: Si pemuda she Sun mengembalikan kata-kata si begal itu dengan cara spontan. "Engkau berkelahi dengan hanya mengandalkan pada golokmu yang tajam itu, tapi kau tak mau bertanding dengan tangan kosong. Apa salahnya jika aku pergunakan hui- piauw?. Sekarang apa maksudmu mengejar-ngejarku?".

"Jadi engkau belum mau menyerah kalah?".

"Aku toh belum kalah dalam perkelahian denganmu tadi, maka apa sebabnya aku mesti menyerah kalah?" si pemuda she Sun balik bertanya. Kwan Ban Piu tanpa menghiraukan kata-kata Sun Giok Hong lalu mengejarnya dengan golok siap sedia untuk membunuh pemuda itu. Terpaksa Giok Hong mempergunakan toyanya untuk melawan tapi pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama. Begitu toya itu terbacok kutung sehingga beberapa kali, lagi-lagi si pemuda mesti kabur karena takut terbacok oleh golok Kwan Ban Piu yang sangat tajam itu. Akhirnya kereta-kereta pionya dapat dirampas si begal dengan secara mudah.

"Engkau suka menyerah?" kata Kwan Ban piu sambil mengejar terus.

"Tidak!. Kecuali aku sesungguhnya kalah dalam perkelahian dengan tangan kosong atau dengan senjata yang sama baiknya seperti senjatamu itu!" sahut Sun Giok Hong dengan hati penasaran.

Kwan Ban Piu tahan tali kekang kudanya sambil tertawa terbahak-bahak. "Sementara engkau belum mau menyerah kalah" katanya pada akhir-akhirnya, "akan kutahan kereta-kereta piomu hingga sebulan lamanya tanpa diganggu. Tapi jika lewat sebulan engkau tidak datang mencariku, aku anggap engkau telah menyerah kalah dan kereta kereta piomu akan menjadi milikku yang sah!".

"Apakah kata-katamu itu dapat dipercaya?" kata Giok Hong dengan perasaan ragu bercampur dongkol.

"It gan kie chut, su ma lan rui (sepatah kata yang telah diucapkan oleh seorang laki-laki sejati, empat pasang kuda sukar mengejarnya)" kata Ban Piu dengan lancar.

"Jika engkau mengatakan demikian" kata Sun Giok Hong, "akupun berjanji akan mencarimu dalam waktu yang telah kau tetapkan itu. Jika aku tidak datang mencarimu,   bolehlah   engkau anggap aku   kalah   tapi jika   aku balik kembali ".

"Akan kita lanjutkan pertandingan itu" si begal she Kwan memotong pembicaraan orang sambil ketawa mengakak.

Demikianlah, dengan hati yang sangat penasaran Giok Hong terpaksa menyerahkan kereta-kereta pionya diangkut oleh si begal ke dalam sarangnya di atas gunung.

Pada petang hari itu si pemuda tidak kembali ke rumah penginapan di Oey-po-tien, tapi langsung menuju ke kota Po-teng untuk mencari senjata yang baik guna dipakai menandingi golok Kwan Ban Piu yang luar biasa tajamnya itu. Karena telah menyaksikan sendiri ketajaman golok tersebut, maka ia merasa pasti senjata itu akan mampu membacok putus segala macam barang logam dan batu bagaikan orang menabas tanah liat saja empuknya.

Setelah menginap semalaman, pada esok harinya ia mencari bengkel besi yang terkenal kerap membuat golok-golok dan alat-alat senjata di kota Po-teng. Ternyata tidak diperolehnya senjata yang sama tajamnya dengan golok si begal berkuda itu hingga Giok Hong menjadi pusing kepala dan tak tahu ke mana mesti membeli senjata yang dibutuhkannya itu.

Berlalunya sang hari yang dirasakan Giok Hong begitu cepat, tidak berbeda dengan melesatnya anak panah yang ditembakkan dari busurnya. Semenjak kereta-kereta pio Hin Liong Pio Kiok dikangkangi oleh Kwan Ban Piu, tiga minggu telah lewat tanpa terasa pula. Begitu cepatnya waktu, tapi si pemuda belum juga dapat mencari senjata yang tepat untuk dipakai menandingi golok Kwan Ban Piu.

Pada suatu hari ia telah datang ke sebuah bengkel yang membuat tombak, golok dan pelbagai macam senjata tajam. Tatkala ditanyakan oleh pemilik bengkel itu senjata macam apa yang dibutuhkannya, Giok Hong lalu mengarang suatu cerita khayalan sambil berkata bahwa dia sedang bertaruh dengan seorang sahabat untuk dapat mengalahkan goloknya yang sangat tajam dan dapat membacok barang logam dan batu gunung bagaikan tanah liat mudahnya.

Ia minta nasihat pemilik bengkel itu, dengan senjata apa dia dapat mengalahkan atau merampas golok mustika itu sehingga terlepas dari tangan pemiliknya. Si pemilik bengkel senjata yang hanya dapat membuat pelbagai macam senjata menurut pesanan orang, tidak mampu memberikan keterangan cara bagaimana untuk mengalahkan golok yang tajam selain mengalahkannya dengan golok yang lebih tajam dan keras.

Syukurlah salah seorang tukang dalam bengkel itu mengerti juga ilmu silat dan paham mempergunakan pelbagai macam senjata. hingga ia lantas memberikan toya Kong-sun-kun untuk Giok Hong agar dapat mengalahkan golok "kawannya" yang dikatakannya sangat tajam itu.

"Golok yang tajam harus dilawan dengan toya Kong-sun-kun yang terbagi menjadi dua bagian serta digabungkan dengan mempergunakan rantai besi di bagian tengahnya" menerangkan si tulang dari bengkel senjata tersebut. "Jika toya yang separuhnya terbacok putus, toya yang separuhnya lagi dapat dipergunakan untuk menghantam belakang golok itu sehingga dapat terpukul jatuh. Selain mudah dipergunakan, toya Kon-sun-kun biasa dibuat daripada bagian kayu yang liat dan tidak mudah patah dan membal bagaikan rotan.

Sebilah golok yang tajam mudah membacok putus barang yang keras, tetapi tak mudah memutuskan barang yang liat dan membal. Maka kalau tuan ingin mengalahkan golok kawanmu yang tajam itu, aku nasihati supaya tuan melawannya dengan mempergunakan toya Kong-Sam Kun".

Sun Giok Hong mendengar keterangan demikian, sudah barang tentu jadi sangat girang dan lalu membeli sepasang toya tersebut.

Sesudah itu ia kembali ke rumah penginapannya untuk bersiap-siap menyusul Kwan Ban Piu di sarangnya.

Keesokan harinya setelah ia selesai sarapan dan membayar sewa kamar. Sun Giok Hong segera membedal kudanya untuk kembali ke kaki gunung Ihay-heng-san dimana ia telah dicegat oleh Hiang-ma dari Shioasai pada tiga minggu yang lampau.

Selanjutnya untuk mempercepat pekerjaannya menyusul Kwan Ban Pu, ia kembali ke tempat penginapan yang dahulu di kota Oey-po-Ban. Ia menanyakan keterangan tentang di mana letaknya sarang si begal berkuda kepada seorang pelayan rumah penginapan yang ia kenal dengan nama Ah Lay.

"Hiang ma she Kwan ini memang sangat ganas" kata pelayan rumah penginapan itu. "Ia bersarang di puncak Hui-go-hong di pergunungna Thav heng-san. Ia berasal dari desa Kwan-kee-chung, waktu mudanya belajar ilmu silat kepada Cu In Too-jin di pegunungan Thing Pek san. Delapan tahun kemudian setelah tamat belajar silat, ia datang ke Thay-heng-san dan menjadi seorang Hiang-ma atau penyamun tunggal, begal berkuda yang biasa berjalan seorang diri saja. Dari sini hingga ke kota Thay- goan yang terletak 300 lie jauhnya, namanya cukup disegani orang serta dikenal bukan saja oleh orang-orang dewasa tapi juga oleh kaum wanita dan anak-anak. Ia merampok tanpa memilih bulu, barang-barang milik perorangan atau milik negara, semua 'dikerjakannya' tanpa segan-segan lagi. Banyak jiwa manusia telah melayang di dalam tangannya hingga karena itu orang telah memberikannya nama julukan Seng-giam-ong atau Elmaut Hidup. Karena ia kerap berkeliaran di sini, maka hampir semua orang mengetahui riwayat hidupnya yang 'hitam'. Para pemilik kantor angkutan yang lewat di sini dan tidak membayar 'pajak jalan' kepadanya, niscaya akan diganggu, barang-barangnya dirampok dan para pio-sunya dibunuh. Pada tiga minggu yang lampau tuan telah menginap di sini dengan membawa kereta-kereta pio, apakah barangkali barang-barangmu itu telah dirampok olehnya di tengah jalan?".

Sun Giok Hong mengangguk membenarkan. "Enam buah keretaku telah dirampasnya" sahut si pemuda, "sedangkan 12 orang pengendara kereta-kereta itupun telah turut lenyap juga berikut kereta-keretanya, hingga tidak diketahui apakah mereka sekarang masih hidup atau sudah mati ditangan begal jahanam itu!".

"Jika demikian halnya" kata Ah Lay, "ada kemungkinan mereka semua telah dibunuh oleh si Hiang-ma yang haus darah itu. Rupanya tuan baru pertama kali ini lewat sambil mengantar kereta-kereta pio di sini, bukan?".

"Benar" sahut Sun Giok Hong. "Inilah untuk pertama kalinya aku mengantar pio ke daerah ini. Maka kali ini aku mesti bertempur dengan si begal jahanam untuk mengambil pulang kereta-kereta pio yang dirampasnya serta membasminya untuk membebaskan rakyat yang selalu ketakutan dan menjadi korban-korban keganasannya!".

Tatkala itu Ah Lay yang melihat Sun Giok Hong membawa toya Kong-sun-kun lalu jadi tersenyum dan berkata, "Tuan, senjatamu ini bukanlah menjadi lawan golok Lo Kwan Si (si tua she Kwan) yang sangat tajam itu. Selain itu, iapun mempunyai kepandaian silat yang tinggi dan lihay sekali. Goloknya itu bernama Siang-liong-touw- cu-to atau apa yang biasa dikenal orang dengan nama sebutan "Golok Naga Kembar"'.

Mendengar si pelayan menyebut nama golok itu, Giok Hong jadi menduga bahwa Ah Lay pasti mengetahui juga tentang asal usul golok mustika itu dan bertanya, "Ah Lay, sudikah kiranya engkau memberitahukan kepadaku tentang asal usul golok itu?".

"Menurut cerita orang, golok Siang-liong-touw-cu-to itu asal mulanya dimiliki oleh seorang berandal terkenal yang bernama Thio Bun Siang di luar kota San-hay-kwan" menerangkan pelayan rumah penginapan itu.

"Di atas permukaan golok itu terdapat ukiran sepasang naga yang sedang memuntahkan mustika. Dengan mengandalkan golok ini, Thio Bun Siang telah menjagoi kalangan para perampok di luar Tembok besar. Menurut kabar yang pernah kudengar dari cerita orang lain, golok yang berlumuran dengan noda darah itu dapat meramalkan keadaan hawa udara!. Jika ia berkilau-kilauan sinarnya di bawah panas matahari, maka haripun akan cerah, jika noda-noda darah itu tampak memerah kehitam-hitaman, maka sudah barang tentu udara akan beruhan dan akan ada terbit angin ribut. Pada suatu hari Kwan Ban Piu lewat di Kim-ciu dan merasa sangat tertarik untuk dapat memiliki golok tersebut, tapi tak mungkin untuk memperoleh golok mustika itu dengan jalan kekerasan. Maka ia sengaja mengundang Thio Bun Siang makan minum dan melolohnya minum arak sehingga mabuk berat, lalu membunuhnya dan dirampas goloknya yang bernama Golok Naga Kembar itu kemudian Kwan Ban Piu menjagoi kalangan Kang-ouw hitam di daerah ini. Sekianlah apa yang telah kuketahui tentang asal-usul golok tersebut".

Oengan begitu, Sun Giok Hong baru mengetahui asal mula Kwan Han Piu memperoleh Golok Naga Kembar itu. Dengan bersenyum dingin ia berkata, "Membunuh orang yang sedang mabuk dan merampas miliknya, itu bukanlah perbuatan seorang Ho-han. Dia bukan seorang gagah yang sejati, tidak bedanya dengan seorang bajingan rendah yang berkulit muka sangat tebal. Jika aku tidak memusnahkannya, itu sama saja dengan mengumbar harimau haus darah diantara rakyat jelata yang lemah dan tidak berdosa!".

Maka pada keesokan harinya sesudah sarapan. Giok Hong dengan berbekal 20 buah hui-piauw dan sepasang toya Kong-sun-kun yang diselipkan di kiri kanan pelananya, berangkat menuju ke puncak Hui-go-hong. Sesampainya di tempat dahulu ia bertempur dengan Kwan Ban Piu, dia tak melihat bayangan kereta-kereta dan para kusirnya itu. Malah ia mengendus bau bangkai yang sangat memuakkan di antara semak-semak yang lebat di sisi jalan. Tatkala si pemuda coba menyingkap semak-semak tersebut, di sana ia melihat dua orang laki-laki yang berpakaian seragam kusir kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok telah menjadi mayat dan dikerumuni lalat-lalat hijau serta menebarkan bau yang amat tidak sedap.

Giok Hong yang menyaksikan kejadian tersebut, jadi sangat terharu dan bersumpah takkan mau selesai jika belum membunuh si begal she Kwan yang tidak mengenal perikemanusiaan itu.

Begitulah sesudah mengubur mayat kedua orang pengendara kereta pionya itu, Giok Hong lalu menaiki kudanya untuk melanjutkan pengejaran terhadap si Elmaut Hidup itu ke atas puncak Hui-go-hong.

Perjalanan menuju puncak Hui-go-hong selain berbelit-belit dan sukar sekali dilalui, keadaannya pun sangat berbahaya. Karena di samping jalanan-jalanan yang sempit dan buruk, di kiri kanan lereng gunung terdapat jurang-jurang yang amat dalam dan sukar didaki. Lebih-lebih karena jurang-jurang itu amat licin dan tidak ditumbuhi rumput-rumput selembarpun.

Beberapa banyak puncak-puncak berdiri berbaris dan tampak dari kejauhan bagaikan tonggak-tonggak batu yang runcing. Sukar bagi Giok Hong untuk mengetahui puncak yang mana bernama Hui-go-hong.

Hari telah menjelang senja, dari kejauhan dengan samar-samar terdengar suara genta diantara kesunyian itu. Setelah Giok Hong mendengar sesaat lamanya, barulah diketahuinya bahwa di lembah gunung yang sedang dilaluinya itu terdapat sebuah kelenteng kaum Buddha. Lekas-lekas ia menuju ke sana untuk menumpang menginap dan berlindung, baru esok harinya melanjutkan perjalanan ke puncak Hui-go-hong.

Tapi sebelum tiba di muka kelenteng, tiba-tiba ia mendengar suara genta gemerincing yang dibarengi dengan suara kaki kuda. Giok Hong segera mengenali suara genta itu serta mengetahui juga siapa adanya orang yang sedang mendatangi ke jurusannya itu.

"Itulah si bangsat she Kwan!" pikirnya gemas.

Sambil berpikir demikian, Giok Hong lalu mencabut toya Kong-sun-kun dari pelananya. Ia bersiap sedia untuk melakukan serangan terhadap musuhnya di mulut selat gunung yang semula hendak dilaluinya itu.

Tidak begitu lama, benar saja dari sebelah selat gunung datang seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan menunggang kuda bulu gambir yang gentanya berbunyi gemerincingan. Dengan hati berdebar-debar si pemuda she Sun menantikan dengan tidak sabaran.

Tapi ketika orang itu telah datang cukup dekat, barulah diketahui bahwa dia itu bukan Kwan Ban Piu. Wajah orang itu dan segala galanya memang hampir mirip dengan si begal she Kwan. Barusan karena Giok Hong tak dapat melihat cukup jelas, berhubung di tempat yang berjarak puluhan tombak jauhnya itu telah diliputi oleh kabut putih yang mulai turun sebagai pertanda daripada datangannya sang malam hari, maka Giok Hong sama sekali tak menyangka bakal ada orang kedua yang berkuda dengan memakai genta yang biasa dipakai oleh Kwan Ban Piu itu.

Sementara orang itu yang seolah-olah telah mengetahui bahwa ia hedak diserang, dengan mengeluarkan suara bentakan yang nyaring segera maju menerjang dengan golok terhunus di tangannya, "Engkau Ini bocah liar dari mana, hingga begitu berani mengusik harimau yang sedang tidur?". Tapi Giok Hong yang ketahui bahwa orang itu bukanlah Kwan Ban Piu yang menjadi musuh besarnya, lekas-lekas menarik tali kekang kudanya dan dan mundur ke sisi jalan sambil berseru, "Ho-han, sabar dulu!, Aku bukan mata-mata pemerintah yang sengaja datang ke sini untuk menyelidiki keadaan, tapi aku bukan lain daripada pio-su Hin Liong Pio Kiok di Thian-cin yang bernama Sun Giok Hong. Aku dan engkau tak pernah mengikat permusuhan apa-apa, maka apakah untungnya kita berkelahi?".

"Jika bukan hendak memata-matai kami di sini, apakah maksud kedatanganmu yang sebenar-benarnya?" orang itu balik bertanya sambil melintangkan goloknya di atas kuda.

Sun Giok Hong lalu menerangkan maksud kedatangannya ke situ, bahwa dia hendak menempur Kwan Ban Piu untuk mengambil pulang pionya di puncak Hui-go- hong, namun belum mengetahui di mana letaknya puncak tersebut.

Orang itu jadi tertawa mengakak dan berkata, "Sungguh gegabah sekali engkau ini, nak. Apakah kau sangka dengan toya Kong-sun-kun itu kau akan dapat mengalahkan golok Kwan Ban Piu yang begitu tajam?. Menurut pendapatku, paling betul engkau segera pulang saja untuk menyelamatkan dirimu. Hilang barang gampang dicari, tapi hilang jiwa darimana hendak kau cari penggantinya?".

Tapi dengan hati tak gentar Giok Hong menjawab, "Jika kereta-kereta pioku tak dapat kuambil pulang, maka namaku pasti akan hancur dan takkan dipercaya orang pula. Maka aku rela kehilangan nyawa daripada kehilangan barang-barang angkutan milik orang lain yang dipercayakan kepadaku itu!. Jadi dengan lain perkataan, dalam pertempuran kali ini aku hanya punya satu keputusan, dia atau aku yang harus musnah dari muka bumi ini!".

"Aiii, engkau ini sesungguhnya adalah seorang pemuda yangj keras hati dan patut dipuji keberanianmu itu" kata orang laki-laki itu sambil memasukkan goloknya ke dalam serangka. "Dengan secara terus terang aku hendak mengatakan kepadamu bahwa aku ini bukan lain daripada saudara sepupu Kwan Ban Piu yang bernama Kwan Liok Ciang, yang oleh orang-orang di kalangan Kang-ouw dikenal dengan nama poyokan Ko-lo Ciang. Aku dan Kwan Ban Piu memang beroperasi di daerah pegunungan Thay-heng-san ini sebagai penyamun-penyamun tunggal atau begal- begal yang berkuda dan masing-masing melakukan pekerjaan sendiri-sendiri"

Sun Giok Hong yang mendengar keterangan bahwa Kwan Liok Ciang inipun saudara sepupu Kwan Ban Piu, sudah barang tentu hatiya jadi terkejut. Kwan Liok Ciang yang seolah-olah dapat membaca pikiran orang, sambil tertawa lalu berkata, "Lo Sun, tak usah engkau khawatir apa-apa. Kwan Ban Piu dan aku meski punya hubungan saudara sepupu, tapi cara bekerja kita berdua tidak sama. Aku tidak setuju dengan cara kakak sepupuku yang selalu main bunuh saja biarpun orang-orang yang dirampok barang-barangnya itu tidak melakukan perlawanan, karena itu sudah jelas bukanlah perbuatan seorang gagah yang budiman dan aku jadi tak dapat hidup rukun dengannya. Perihal engkau hendak mencarinya untuk mengadu jiwa, akupun tak dapat melarangmu, hanya engkau harus berlaku hati-hati dan waspada. Disamping ia berkepandaian silat tinggi, iapun mempunyai golok mustika yang tentu telah kau ketahui betapa tajam dan berbahayanya. Amat aku sayangkan apabila jiwamu yang masih muda belia ini sampai tewas di dalam tangannya".

"Ho-han" kata Sun Giok Hong dengan hati mantap, "bukan sekali kali aku hendak membual. Jika aku berani keluar melindungi pio ke tempat yang jauh, niscaya tak jeri juga aku menghadapi musuh sebagai Kwan Ban Piu. Terima kasih untuk perhatianmu atas keselamatanku".

Kwan Liok Ciang jadi menghela napas dan berkata, "Apa mau dikata. Sekarang baiknya kita atur begini saja. Kau dan aku boleh bertempur sehingga beberapa jurus lamanya. Jika engkau dapat mengalahkanku, bolehlah engkau pergi mencari Kwan Ban Piu. Jika engkau yang kalah, segeralah engkau tinggalkan tanah pegunungan ini. bagaimanakah pendapatmu tentang saranku ini?".

"Usul yang baik sekali!" Giok Hong menyetujui, "harap Ho-han denga menjadi gusar dan sudi memaafkan aku sebesar-besarnya jika nanti sampai kejadian aku salah tangan".

"Akupun sudah terlebih dahulu berpikir sampai ke situ" kata Kwan Liok Ciang.

Begitulah kedua orang itu lalu turun dari kuda masing-masing dan segera bertempur dengan menggunakan senjata yang dimiliki.

Pertempuran berlangsung dengan sungguh-sungguh, keras lawan keras, tiada satupun yang ingin mengalah. Sinar golok Kwan Liok Ciang mengurung diri si pemuda dari segala jurusan, tapi berkelebatnya toya Kong-sun-kun dapat memecahkan serangan-serangan si orang she Kwan dengan tidak kalah gencar dan hebatnya.

Tatkala pertempuran sudah berlangsung beberapa belas jurus lamanya dalam keadaan seri, Kwan Liok Ciang segera dapat melihat tegas betapa dahsyatnya permainan toya Sun Giok Hong yang berusia masih muda itu. Dalam hatinya ia merasa sangat kagum dan lalu melompat keluar dari kalangan pertempuran sambil berseru, "Sun Hian-tit, tahan dulu!".

Giok Hong lekas menarik pulang toyanya dan berdiri tegak untuk mendengarkan pembicaraan si penyamun tunggal itu selanjutnya.

"Ilmu kepandaian Sun Hian-tit sesungguhnya tak dapalj dikatakan lemah" kata si orang she Kwan, "dengan begitu, besar kepercayaanku bahwa engkau tak mungkin terkalahkan oleh Kwan Ban Piu. Hanya ada satu hal yang perlu kuberitahukan kepadamu, ialah Kwan Ban Piu memiliki Golok Naga Kembar yang luar biasa tajamnya hingga engkau perlu berlaku sangat hati-hati diwaktu berhadapan dengannya nanti".

Giok Hong mengucapkan banyak terima kasih atas petunjuk si penyamun tunggal yang berharga dan baik hati itu. Tapi bersamaan dengan itu, ia menyatakan keheranannya mengapa si orang she Kwan membahasakan dirinya "Hian-tit" atau kemenakan yang mulia?.

Kwan Liok Ciang lalu menerangkan bahwa dahulu ia pernarj ditolong oleh Sun Sin Bu, paman Giok Hong, selagi ia terlunta-lunta di kota Thian-cin. Karena belum dapat membalas budi kebaikan orang tua itu, maka ia merasa tidak ada salahnya untuk membalas budi itu kepada Giok Hong, yakni dengan memberikan si pemuda petunjuk- petunjuk yang berharga untuk menghadapi Kwan Ban Piu dan mengakuinya sebagai kemenakan.

"Kini karena sang haripun sudah menjelang malam demikianlah Kwan Liok Ciang melanjutkan bicaranya, "maka aiU baiknya juga jika engkau menumpang menginap di kelenteng yang letaknya tidak berapa jauh itu, agar pada esok harinya engkau bisa berangkat ke puncak Hui-go-hong dalam keadaan segar dan gagah".

Sesudah berkata demikian, Kwan Liok Ciang segera naik ke atas kudanya, sambil mengucap selamat tinggal kepada Sun Giok Hong maka iapun terus turun gunung melalui jalan yang dilewati si pemuda tadi.

Sementara Giok Hong yang memang belum kenal jalanan di situ alau mengetahui puncak yang mana yang diberi nama puncak Hui-go-hong itu, terpaksa menuruti petunjuk Kwan Liok Ciang lalu segera menuju ke kelenteng yang ditunjuknya.

Ternyata kelenteng itu diketuai oleh seorang paderi Buddha yang bernama Hoat Beng Hwee-shio, orang satu satunya yang disegani oleh Kwan Ban Piu. Penyamun tunggal itu tak berani sembarangan "main kayu" terhadap sang paderi yang paham ilmu silat itu. Kedatangan si pemuda she Sun disambut dengan manis oleh Hoat Beng Hwee-shio, yang lalu menyuruh seorang muridnya untuk menuntun kuda tunggangan Giok Hong ke belakang kelenteng untuk diberi air minum dan rumput. Giok Hong sendiri lalu diundang masuh keruangan tengah, dimana ia disuguhkan teh wangi yang hangat dan sedikit buah-buahan kering. Dalam tanya jawab selanjutnya, Sun Giok Hong lelah menjelaskan kedatangannya ke situ adalah atas petunjuk Liok Ciang, tapi tak pernah ia nyatakan niatnya membunuh Ban Piu.

Hoat Beng menyatakan tidak berkeberatan untuk mengabulkan permintaan Giok Hong yang hendak menumpang nginap di situ. Si pemuda dipersilahkan makan dengan sayur mayur yang khusus dimasak bagi kaum paderi Buddha yang tidak makan barang berjiwa, kemudian Sun Giok Hong dipersilahkan masuk untuk beristirahat. Pada kira kira tengah malam, ia terbangun karena dikejutkan oleh suara genta yang berbunyi gemerincingan dan dibarengi dengan suara kaki sehingga si pemuda segera menyambar toya Kong-sun-kun dari sisi ranjang, kemudian berniat untuk membuka pintu dan melihat apakah itu suara genta yang digantungkan pada kuda Kwan Liok Ciang atau Kwan Ban Piu.

Jika dia itu adalah Kwan Liok Ciang, urusan dapat ia sudahi sampai disitu saja, tapi jika dia itu adalah Kwan Ban Piu yang sedang dicarinya, maka petang hari itu juga akan berarti malam penghabisan bagi ia atau Ban Piu. Semenjak ia bertekad menyatroni sarang penyamun tunggal si Elmaut Hidup itu, Giok Hong telah mengambil suatu keputusan tak mau hidup bersama-sama dengan penyamun tunggal yang menjadi musuh besarnya itu.

Tidak disangka, ketika baru saja ia berjalan sampai di ruangan sembahyang Tay- hiong-po-tian, disitu ia telah berpapasan dengan Hoat Beng Hwee-shio yang juga telah tersadar dari tidurnya dan keluar dengan membawa toya Siang-thauw-kun.

Paderi Buddha itu jadi amat terkejut melihat Giok Hong pun mendadak keluar dengan membawa toya Kong-sun-kun di tangannya.

"Hendak kemana Sun Sie-cu keluar dengan membawa senjata?" tanya Hoat Beng Hwee-shio. "Di luar ada penyamun tunggal yang datang menyatroni kelenteng kami. Apakah barangkali ia menaruh dendam kepadamu sehingga petang hari ini ia datang kemari untuk mencarimu?".

"Memang dia hendak mencariku" sahut Giok Hong. "Tadi aku tidak memberitahukan Tay-su bahwa aku ini adalah seorang pio-su dari kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok. Tiga minggu yang lalu, enam buah kereta pioku telah dirampok oleh bangsat she Kwan ini, sedang dua orang kusirku telah dibunuh dengan cara yang kejam dan mayat-mayatnya dilemparkan begitu saja ke dalam semak-semak.

Rupanya ia telah mengetahui bahwa aku menumpang menginap di sini, maka ia sengaja menyatroniku untuk mengadu jiwa".

Setelah berkata begitu, Giok Hong segera hendak keluar, yangi lantas dicegah oleh Hoat Beng Hwee-shio seraya berkata, "Malam ini Sun Sie-cu boleh tidur dengan tenang, dia pasti tak berani mendobrak pintu atau membikin ribut di sini. Pin-ceng tahu bahwa dia menyegani diriku dan para muridku yang berjumlah banyak. Besok pagi masih ada waktu untuk Sie-cu meladeninya bertempur".

Sun Giok Hong menganggap bahwa omongan si Hwee-shio it J memang ada benarnya juga. Sambil mengucap terima kasih atas nasihat Hoat Beng Hwee-shio, ia lalu masuk dan tidur lagi tanpa menukar pakaian.

Pada esok harinya, Giok Hong baru tersadar tatkala matahari telah naik tinggi.

Lekas-lekas ia pergi mandi dan berpakaian dengan seringkas-ringkasnya, kemudian bersiap sedia untuk keluar menempur Kwan Ban Piu. Di tengah ruangan Tay-hiong- po-tian ia bertemu dengan IHoat Beng Hwee-shio yang telah memberitahukan kepadanya, bahwa waktu ia membuka pintu pada pagi hari itu, di muka pintu kelenteng sudah tampak menunggu Kwan Ban Piu dengan menghunus Golok Naga Kembar di tangannya. "Rupanya ia telah menunggu di situ sedari tengah malam" si Hwee-shio menambahkan.

"Pada beberapa waktu yang lampau" kata Giok Hong, "aku pernah bertempur dengannya. Aku kewalahan karena dia mempunyai golok yang sangat tajam, tapi kali ini aku yakin sanggup menandingi goloknya yang sangat tajam itu".

Hoat Beng Hwee-shio masih agak ragu akan keterangan si pemuda, tapi ia merasa tidak enak untuk mencegah Giok Hong keluar melawan si penyamun tunggal yang telah merampok kereta-kereta pionya itu.

Begitulah, dengan langkah yang lebar Sun Giok Hong keluar dari dalam kelenteng dan langsung menghampiri Kwan Ban Piu yang sedang duduk menantikan di bawah sebuah pohon cemara yang hijau dan rindang, sambil meletakkan Golok Naga Kembar di atas lututnya, Segera Ban Piu melompat bangun begitu melihat si pemuda datang menghampiri dengan menjinjing toya Kong-sun-kun di tangannya.

"Ah-ha!" katanya sambil tertawa. "Engkau dengan cara diam-diam telah datang ke daerah operasiku ini, apakah sangkamu aku tidak mengetahui?. Nyatalah bahwa nyalimu besar sekali, hingga berani datang menyatroni sarangku. Sekarang marilah kita lanjutkan pertempuran yang sudah tertunda tiga minggu itu!".

Sun Giok Hong gusar bukan buatan, lalu menuding si penyamun tunggal sambil membentak, "Seng Giam Ong!. Hari ini ajalmu telah tiba. Lihat toyaku!".

Sambil berkata begitu, ia segera mengayunkan toya Kong-sun-kun sedemikian hebatnya sehingga angin yang keluar dari senjata itu menderu-deru menyamber ke arah Ban Piu.

"Bagus sekali!" seru Kwan Ban Piu yang juga segera menggerakkan Golok Naga Kembarnya untuk menabas toya si pemuda.

Suatu pertempuran yang hebat sekali telah terjadi di muka kelenteng dengan disaksikan oleh Hoat Beng Hwee-shio serta para muridnya.

Sun Giok Hong yang telah mengetahui betapa tajamnya golok si orang she Kwan, maka selalu berlaku hati-hati sekali untuk tidak membikin toyanya sampai beradu dengan golok itu. Ia kelihatan lebih banyak mengelak daripada maju menyerang, sedangkan Kwan Ban Piu sangat bernapsu untuk lekas dapat mengakhiri pertempuran tersebut. Walaupun sebagai seorang muda Giok Hong sudah punya banyak pengalaman dalam pertempuran dengan lawan-lawan yang tangguh, tapi ia selalu berlaku cerdik dan tak mau mengobral tenaganya secara sia-sia.

Pada suatu waktu, ketika Kwan Ban Piu mendesak sambil menghujani bacokan- bacokan yang tak mengenal kasihan, si pemuda she Sun segera berlompatan mundur untuk menghindarkan diri dari ancaman bahaya maut itu. Celakanya, Giok Hong berlaku terlampau tergesa-gesa sehingga kakinya membentur akar pohon cemara yang menonjol keluar dari dalam tanah dan dengan mengeluarkan suara jeritan ngeri, ia jatuh terguling.

Kwan Ban Piu yang melihat ada kesempatan terbaik untuk menamatkan jiwa lawannya, menjadi sangat girang. Dengan sorot mata beringas, ia lompat maju sambil mengayunkan goloknya ke arah batok kepala Giok Hong. Syukur juga pikiran Giok Hong tidak lekas menjadi gugup dan begitu melihat golok Ban Piu berkelebat ke arah kepalanya, lekas-lekas ia bergulingan di tanah beberapa belas kaki jauhnya.

Berbareng dengan itu, dahsyat sekali golok si orang she Kwan telah membacok putus akar pohon yang sebesar mangkok seperti juga ia membacok lilin empuknya. "Ah!" seru si penyamun tunggal dengan perasaan kecewa. Giok Hong telah berhasil bangun berdiri dan dengan cepat sekali ia hantamkan toyanya ke arah tangan kanan lawan yang menyekal golok mustika. Ban Piu ternyata dapat bergerak bukan main sehatnya, begitu melihat bayangan toya Kong-sun-kun menghantam ke jurusannya, lekas-lekas ia tarik pulang goloknya sambil berlompat mundur. Sembari memasang kuda-kuda separuh jongkok, ia sabetkan Golok Naga Kembar ke arah kaki si orang she Sun. Seketika itu Giok Hong yang telah mencoba menancing sang lawan dengan berlaku agak kendur dalam gerak-gerakannya dan tatkala melihat golok Kwan Ban Piu menyamber kakinya, lekas-lekas ia geser kakinya sambil menghantamkan toyanya ke bagian atas golok lawan dengan sekuat-kuatnya.

Tak........!!. "Ah !!" Ban Piu berseru keras karena kaget dan merasa

cekalannya tergetar oleh hantaman toya Giok Hong, tapi goloknya tetap tidak terlepas!.

"Sungguh kuat sekali tenaga bangsat ini!" Giok Hong diam-diam memuji sambil terus mengelak dari tusukan-tusukan ujung golok yang menerjang dadanya dengan cepat dan ganas.

Hoat Beng Hwee-shio dan para muridnya menonton dari samping dengan perasaan kagum akan kepandaian kedua orang itu. Lebih lebih terhadap Giok Hong yang masih muda, tapi toh dapat dengan baik sekali meladeni Ban Piu yang sudah banyak pengalaman di kalangan Kang-ouw.

Ban Piu bertubi-tubi melancarkan serangan-serangan yang mematikan. Giok Hong berlaku agak pasif dan membiarkan musuh besarnya mengobral serangan-serangan dengan bebas. Ia hanya mengegos, berkelit, menyampok belakang golok lawan atau mundur untuk mengelakkan bacokan-bacokan yang agak sukar atau tak mungkin dilawan dengan kecepatan. Baru pada waktu menyaksikan napas Ban Piu terengah- engah, ia mendesak, menyabet, menyodok atau menumbuk batok kepala lawan dengan toyanya. Sedang kakinyapun dengan gerakan bagaikan angin puyuh melibat pohon, sekali-kali disapukannya atau ditendangkan untuk membuat kalut pikiran lawannya. Sekujur badan kedua orang itu tampak basah mandi keringat dan belum tampak pihak mana yang lebih unggul ilmu kepandaiannya.

Demikianlah, ketika pertempuran menjelang pada jurus yang kelimapuluh. Giok Hong merasa bahwa dia takkan berhasil merobohkan lawan itu jika tidak mempergunakan kecerdikan. Ban Piu yang merasa bahwa dia mempunyai tenaga yang sangat kuat, selalu hendak menerjang si pemuda dengan ganas dan sepenuh- penuh tenaganya.

Si penyamun tunggal tampaknya sangat penasaran, dengan Golok Naga Kembar yang begitu diandalkan ia belum memperoleh mangsa atau membuat senjata Giok Hong putus sehingga terpotong-potong seperti halnya dalam pertempuran yang pertama kali dilakukannya dulu. 

"Jika engkau dapat mengalahkanku kali ini" ejek si pemuda, "barulah kau dapat miliki semua kereta pioku berikut para pengendaranya sekalian. Tapi kalau kau tidak mampu, lebih baik engkau potong saja kepalamu, agar jangan sampai mendengar dirimu diejek yang bukan-bukan oleh para jagoan di kalangan Kang-ouw. Ayoh, pertunjukkanlah kepandaian serta tenagamu yang disohorkan lihay dan kuat itu!".

Kata-kata yang telah diperhitungkan dengan cerdik ini, diucapkan Giok Hong sedemikian rupa, seakan-akan dia bicara dengan adiknya saja. Mendengar demikian, Kwan Ban Piu menjadi demikian murka bukan kepalang dan masih penasaran karena serangan-serangannya yang tak kunjung membawa hasil.

"Hai, orang she Sun, akan kuminum darahmu hingga tetes terakhir untuk menghilangkan rasa dendamku!" seru Kwan Ban Piu menggeledek sambil putar goloknya dan menerjang musuhnya dari empat penjuru dengan nekad. Sun Giok Hong menjadi sangat girang mengetahui musuh besarnya telah dapat ia pancing kemurkaannya, berlaku lebih hati-hati lagi menghadapi serangan-serangan si penyamun tunggal yang mematikan itu. Ia putar toyanya sedemikian cepat sehingga angin yang menderu-deru membuat Hoat Beng Hwee-shio dan para muridnya jadi bergidik saking tegangnya menyaksikan pertempuran hidup mati itu.

Dalam detik-detik yang gawat itu, Kwan Ban Piu telah berhasil juga menabas separuh dari toya Sun Giok Hong hingga dua kali. Yang pertama, sebagian dari toya itu telah putus dan ini sukar terjadi jika Ban Piu menggunakan golok biasa. Tapi tabasan yang kedua tidak berhasil memutuskan, hanya nancap di toya yang liat dan tidak mudah patah itu.

Giok Hong tidak menyia-nyiakan saat yang baik itu, segera ia tarik pulang toyanya dengan keras. Ban Piu yang tidak menyangka goloknya bisa nancap di toya, menjadi terhuyung-huyung dan meski cekalannya tergetar, ia berusaha sekuat mungkin mempertahankan genggamannya pada golok mustika itu.

Maka dengan mengambil kesempatan selagi Ban Piu terhuyung-huyung, Giok Hong segera menyerang dengan tendangan kilatnya, yang lak dapat dielakkan lagi oleh si penyamun. Ban Piu menjerit kesakitan dan mundur ke belakang beberapa tindak.

Sebelum Ban Piu dapat memperbaiki kuda-kudanya, tendangan kaki kiri Giok Hong telah menerjang tepat pada perutnya hingga dengan satu teriakan keras, tubuhnya mencelat dan jatuh terlentang ke suatu tempat yang terpisah beberapa belas kaki jauhnya. Tapi anehnya. Golok Naga Kembar tetap tak terlepas dari genggaman tangannya!.

"Lekas hantam terus!" Hoat Beng Hwee-shio menganjurkan si pemuda.

Giok Hong menjadi ragu-ragu mendengar anjuran itu karena dalam saat itu hati nuratinya seolah-olah berbisik, "Barang siapa membunuh lawan yang tak berdaya, dia bukanlah seorang laki-laki sejati!".

Giok Hong telah mengambil keputusan dengan cepat. Ia berdiri tegak di tengah kalangan sambil mengawasi si penyamun tunggal yang menggeletak disana tanpa diganggu.

"Sie-cu, engkau mau tunggu sampai kapan lagi untuk turun tangan?" Hoat Beng memperingatkan Sun Giok Hong dengan suara keras.

Tapi si pemuda she Sun lalu menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku bukan Tay-tiang-hu (laki-laki sejati), jika mencelakai musuh yang sudah tak berdaya!. Akan kutunggu sampai ia bangun berdiri dan melanjutkan pertempuran ini!".

Dengan langkah yang agak terhuyung, Kwan Ban Piu bangun berdiri dan menatap wajah Sun Giok Hong dengan sorot mata yang menyala-nyala.

"Apakah sekarang engkau suka menyerah kepadaku?" tanya si pemuda she Sun sambil tertawa mengejek.

Tapi Kwan Ban Piu tidak menjawab barang sepatah katapun, hanya bagaikan seekor harimau terluka, ia mengayunkan goloknya dan menerjang si pemuda dengan membabi buta karena gusarnya.

"Jika tidak aku, tentulah engkau!" teriaknya dengan tiba-tiba. Dengan diucapkannya kata-kata yang nekad dan berapi-api itu, ia melancarkan serangan- serangannya yang terakhir dengan tidak memperhitungkan pula akan segala akibat- akibatnya nanti.

Giok Hong maju dengan sikap yang lebih hati-hati dan cerdik. Untuk meladeni seorang musuh yang sudah benar-benar kalap, orang harus berlaku waspada dan jangan tergesa-gesa. Nasihat ini ia dapat dari kedua gurunya. It Kak Siansu dan Thio Ciam Kui, yang selalu diingatnya baik-baik di dalam hatinya.

Kwan Ban Piu yang baru pertama kali ini kena ditendang musuh sehingga mencium tanah, jadi marah bukan kepalang. Pada waktu-waktu yang lampau, dia belum pernah bertemu dengan lawan yang setimpal. Berbarengan dengan itu, iapun merasa sangat malu ditonton oleh Hoat Beng dan para muridnya, maka dengan tidak banyak pikir lagi ia telah mengobral tenaganya habis-habisan untuk dapat secepatnya merobohkan si pemuda gagah itu.

Perlawanan Giok Hong kali ini telah dipecah menjadi dua bagian, yakni yang pertama-tama ditujukan untuk menjatuhkan dahulu golok yang amat disegani itu, baru kemudian membunuh Kwan Ban Piu.

Selanjutnya, karena rasa sakit bekas tendangan Giok Hong di perutnya belum lenyap sama sekali, tidaklah heran jika gerakan Kwan Ban Piu tampak lebih kendur daripada biasanya. Walaupun sebagai harimau yang tidak bergigi, kukunya masih tetap ditakuti jika ia masih hidup. Demikianlah juga pandangan Sun Giok Hong terhadap si penyamun tunggal ini.

Maka dengan mencurahkan seluruh perhatiannya pada Golok Naga Kembar, Giok Hong terus memutar toyanya dengan amat gencar sekali. Sasarannya yang utama ialah tangan si penyamun yang memegang golok mustika itu. Sementara Kwan Ban Piu sendiri yang bukan seorang bodoh, telah mengetahui siasat lawannya, sedapat mungkin berusaha untuk menggagalkan serangan-serangan itu.

Apa mau dikata, bagian dalam perutnya telah terluka hingga semakin cepat ia bergerak, semakin sakit saja dirasakannya luka itu. Maka disuatu waktu ketika ia menabas dengan sekuat tenaganya, Giok Hong sengaja berpura-pura hendak menyodok dada si penyamun dengan ujung toyanya. Dan tatkala Ban Piu memutar haluan untuk menangkisnya, ujung lain dari toya Kong-sun-kun si pemuda telah menyamber pada lengannya dengan gerakan secepat kilat, hingga Ban Piu yang tak keburu menarik pulang lengan itu dengan menjerit keras sekali lengannya tampak terkulai. Golok Siang-liong-touw-cu-tonya terlempar sehingga beberapa belas kaki jauhnya dari kalangan pertempuran dan menancap sehingga beberapa dim dalamnya pada pangkal pohon cemara yang tumbuh di muka kelenteng itu.

Kwan Ban Piu dengan terhuyung memburu untuk mengambil pulang goloknya dengan wajah yang menunjukkan rasa was-was dan menahan sakit yang hebat. Tapi sebelum dia mencapai maksudnya, terdengar bentakan Giok Hong yang keras, "Inilah hadiahmu yang terakhir!", sambil menghantamkan toyanya kearah batok kepala musuh besarnya. Ban Piu yang berusaha untuk berkelit, tiba-tiba kepalanya jadi terkulai, tubuhnya mencelat ke muka dan akhirnya dengan jeritan yang menyayat hati, kepalanya menabrak pohon cemara tanpa dapat dicegah lagi. Disana ia roboh terlentang dan dengan perlahan-lahan dari mulut, hidung dan telinganya menetes keluar darah hidup!.

Pada saat-saat terakhir itu, Ban Piu masih berusaha untuk memperpanjang hidupnya dan dengan tenaganya yang penghabisan ia merayap-rayap dan mencakar- cakar tanah. Tuhan Yang Maha Esa telah menakdirkan dirinya akan binasa di dalam tangan Sun Giok Hong, karena kejahatannya yang telah melampaui balas dan akan semakin merusak jika dia dibiarkan hidup lebih lama lagi. Maka meski diluar keinginannya, Ban Piu akhirnya jatuh untuk tidak bangun lagi.

Hoat Beng dan para muridnya jadi sangat kagum melrhat kelihayan Sun Giok Hong dan memuji, "Lu Sun, ternyata engkau tidak percuma menjadi keturunan keluarga Sun yang ilmu silatnya begitu tersohor di tanah utara. Pin-ceng semula hanya mendengar dari cerita orang. Sebenarnya Pin-ceng masih belum mau percaya bahwa ilmu silat keluarga Sun sampai sebegitu lihaynya, tapi hari ini setelah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, ternyata kabar itu bukan isapan jempol belaka. Maka dengan ini Pin-ceng memberi selamat atas kemenanganmu ini!".

Sun Giok Hong lekas membungkukkan badannya membalas hormat sambil merendah atas pujian Hoat Beng yang muluk itu. "Semua ini hanya merupakan kejadian yang kebetulan saja" katanya, "atau Thian memang telah melindungiku dalam melaksanakan maksudku membasmi si penyamun ganas itu".

Setelah berkata demikian, si pemuda perlahan-lahan menghampiri Golok Naga Kembar yang nancap di pohon cemara, lalu dengan rasa hormat dan kagum dicabut dan diperiksanya dengan teliti sesaat lamanya. "Ini sesungguhnya sebilah golok mustika yang baik sekali dan tidak boleh disia-siakan" pikirnya. Kemudian ia membuka tali serangkan golok yang masih terlibat di pinggang Kwan Ban Piu, memasukkan golok itu dan menyoren di pinggangnya sendiri sebagai hadiah kemenangan dari pertandingan itu.

Dengan bantuan Hoat Beng dan para muridnya, Giok Hong telah mengubur mayat penyamun tunggal itu dan di muka kuburan ia telah menyampaikan hormatnya yang penghabisan sambil berkata, "Kawan, kini engkau telah meninggalkan dunia yang fana ini, dengan demikian habislah perhitungan-perhitungan kita dahulu. Semasa hidupmu, engkau telah melakukan banyak sekali pembunuhan terhadap orang-orang yang bukan tandinganmu, maka aku sangat mengharap engkau tidak jadi kecewa dan penasaran di alam baka, karena aku membunuhmu dengan maksud mengakhiri penderitaan rakyat yang pernah kau aniaya dan perlakukan sewenang-wenang. Aku juga mewakili Thio Bun Siong menuntut balas atas perbuatanmu yang keji terhadap berandal itu, yang kau rampas goloknya sewaktu dia mabok diloloh arak olehmu.

Disamping itu semua, akupun telah menunaikan tugasku sebagai seorang pio-su, maka ucapanku yang terakhir adalah selamat tinggal dan sekali lagi aku mengharap agar kau bersemayam dengan tenang di alam baka". Sambil menjura tiga kali, Giok Hong mengakhiri kata-katanya itu.

Sementara Hoat Beng Hwee-shio yang mendengar begitu dengan tersenyum lalu berkata, "Lo Sun, Kwan Ban Piu yang telah menemui ajalnya pasti takkan merasa kecewa di alam baka, berhubung dia telah dikalahkan dan terbunuh oleh seseorang yang justru mempunyai kepandaian tinggi dan tepat menjadi lawannya yang setimpal. Kini satu bahaya besar telah kau singkirkan dari muka bumi maka dengan ini ijinkanlah Pin-ceng menjamu dengan ala kadarnya atas kemenanganmu ini".

Demikianlah dengan menuntun kuda Kwan Ban Pui, Giok Hong mengikuti Hoat Beng dan para muridnya pulang ke dalam kelenteng dimana ia dijamu oleh paderi Buddha itu beserta sekalian keluarga kelenteng itu tua dan muda. Hingga larut malam, barulah perjamuan ditutup.

Pada kesokan harinya dengan menunggang kuda, menyoren golok Siang-liong- touw-cu-to dan membawa toya Kong-sun-kun, Giok Hong menuju ke puncak Hui-go- hong dengan diantar oleh dua orang murid Hoat Beng yang berlaku sebagai penunjuk jalan.

Begitulah, sesudah melalui jalanan-jalanan gunung yang berliku-liku dan licin di waktu turun hujan, akhirnya Giok Hong telah sampai di muka sebuah pintu gerbang yang agak tersembunyi oleh pohon-pohon yang rindang dan semak-semak lebat yang tumbuh di kiri kanannya.

"Inilah pintu masuk desa Kwan-kee-chung" salah seorang murid Hoat Beng itu memberitahukan kepada Sun Giok Hong.

Dan selagi ia hendak melanjutkan bicaranya, tiba-tiba terdengar suara gembreng yang dipalu dengan riuh. Bersamaan dengan itu, pintu gerbang tadi tampak terbuka dan berlompatan keluar dari dalamnya antara 30 atau 40 orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar, dengan masing-masing membawa golok, tombak atau pentungan. Salah seorang yang menjadi pemimpinnya segera tampil ke muka sambil membentak, "Jika engkau mengerti selatan, lekaslah turun dari kudamu dan menyerah untuk diringkus!".

Mendengar bentakan yang garang itu, kedua murid Hoat Beng menjadi ketakutan sehingga wajah mereka jadi pucat pasi dan lekas berlindung di belakang Sun Giok Hong sambil berkata, "Sie-cu, engkau harus berhati-hati dengan mereka ini!".

Tapi Giok Hong lekas menenangkan mereka sambil berkata, "Jangan khawatir, aku ada di sini untuk melindungimu". Setelah itu, ia menoleh pada kawanan berandal sambil menambahkan, "Apakah kalian ini anak buah Kwan Ban Piu?".

"Benar!" sahut mereka sekalian.

"Pada kalian perlu juga kiranya kuberitahukan" kata Sun Giok Hong, "beberapa waktu yang lalu Kwan Ban Piu telah merampas kereta-kereta pioku. Dia berjanji untuk mengembalikan itu semua jika aku dapat mengalahkan dia. Kemarin petang, dalam satu pertempuran yang jujur, aku telah berhasil membunuh pemimpinmu itu dan kini aku datang untuk mengambil pulang semua barang-barangku itu".

"Tidak perlu engkau banyak bacot!" seru pemimpin berandal itu. "Kini yang berkuasa disini adalah aku sendiri!. Maka kalau engkau dapat mengalahkan kami sekalian, barulah engkau boleh mengambil pulang kereta-kereta piomu itu. Kalau tidak, engkau boleh pergi tanpa banyak bicara pula!".

Sesudah berkata demikian, ia segera memberi isyarat kepada anak buahnya sambil memberi komando, "Serang!".

Dengan tidak banyak bicara pula, kawanan berandal itu segerai maju mengepung Sun Giok Hong dari segala jurusan. Si pemuda she Sun yang tidak berniat untuk melukai orang dengan secara membabi buta, lekas-lekas memutar toya Kong-sun-kun di tangannya sambil berteriak, "Aku dengan kalian tidak mempunyai permusuhan, sedang orang yang menjadi musuh besarku, yaitu Seng-giam-ong Kwan Ban Piu yang menjadi pemimpinmu, telah binasa di dalam tanganku. Jika engkau tak percaya, cobalah kenali ini golok siapa?".

Sambil berkata begitu, lalu ia menghunus Golok Naga Kembar yang lalu diacungkannya ke arah mereka sekali sambil berkata, "Lihatlah ini!".

Pemimpin berandal dan para anak buahnya jadi sangat terkejut ketika dapat mengenalinya, bahwa golok itu bukan lain daripada milik Kwan Ban Piu yang bernama Siang-liong-touw-cu-to atau Golok Naga Kembar. Si kepala berandal dan anak buahnya jadi terbengong memandang pada golok mustika itu dengan mata yang hampir tak berkesip.

"Aku hanya bermusuhan dengan Seng-giam-ong Kwan Ban Piu yang telah mengakui dirinya sebagai thian-hee-bu-tek (tiada tanding di kolong langit), tapi sekarang dia sudah tidak ada lagi di muka bumi ini. Mengingat aku tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, maka apakah perlunya kalian mencari masalah tanpa alasan?. Selanjutnya, jika kalian bisa melihat gelagat, segeralah hantarkan aku ke atas gunung untuk mengambil pulang kereta-kereta pioku dan membebaskan juga kusir-kusirnya. Kalau tidak, ingatlah baik-baik bahwa Golok Naga Kembar ini tidak bermata atau mengenal apa artinya kasihan!. Apa yang telah terjadi dengan pimpinanmu, kini akan terulang terhadapmu!".

Selanjutnya, kepala berandal itu beserta seluruh anak buahnya terpaksa menyerah lalu mengantarkan Sun Giok Hong dan kedua orang murid Hoat Beng Hwee-shio naik ke atas gunung untuk menolong kesepuluh kusir dan enam buah kereta pio yang dirampok oleh Seng-giam-ong Kwan Ban Piu itu, yang ternyata semuanya masih utuh dan tidak kurang suatu apapun.

Petang hari itu, si pemuda she Sun menumpang bermalam di kelenteng tempat kediaman Hoat Beng Hwee-shio. Beberapa hari kemudian, setelah merasa cukup beristirahat dan merawat kusir-kusir yang sakit. Giok Hong berjanji akan mampir ke situ sekembalinya dari mengantarkan pio ke Thay-goan. Setelah berpamitan maka Giok Hong kembali melanjutkan perjalanannya ke barat dan sampai dengan selamat ketempat yang dituju. Diwaktu ia kembali dari sana dan mampir ke kelenteng tempat kediaman Hoat Beng, tidak lupa ia membawa oleh-oleh berupa makanan dan uang untuk membantu ongkos perawatan serta pembetulan kelenteng yang sudah agak tua itu. Semenjak waktu itu dan selanjurnya, antara Giok Hong dan Hoat Beng Hwee-shio telah terikat persahabatan yang sangat akrab, yang baru berakhir setelah masing- masing pulang ke alam baka.

Sekarang kita lanjutkan perjalanan si pemuda she Sun yang kembali ke kota Thian- cin. Setibanya di sana, ia mendapatkan pamannya In Hu tengah dihinggapi penyakit berat dan telah beberapa waktu lamanya tidak masuk kantor atau keluar dari kamar tidurnya.

Tatkala Giok Hong datang menyambangi, orang tua itu lalu berkata, "Giok Hong Hian-tit, usiaku sekarang telah lanjut dan sering sakit-sakitan, aku mempunyai firasat bahwa aku takkan dapat hidup lebih lama lagi dalam dunia ini. Oleh sebab itu, baik- baiklah engkau mengurus pekerjaan dalam kantor angkutan kita, berhubung Giok Tien usianya masih terlampau muda dan masih sangat membutuhkan bimbingan dari orang-orang yang sudah berpengalaman sepertimu. Maka jika nanti aku menutup mata, engkau boleh pegang pimpinan sebagai kepala dari Hin Liong Pio Kiok, karena selain engkau sudah berpengalaman dan mempunyai banyak relasi, engkau juga mempunyai kepandaian yang cukup tinggi serta mempunyai nama yang baik di kalangan Kang-ouw. Aku sudah tidak khawatir lagi untuk menyerahkan seluruh pekerjaan Hin Liong Pio Kiok ke dalam tanganmu. Bersamaan dengan itu, rajin- rajinlah engkau bekerja agar nama baik Hin Liong Pio Kiok yang telah terkenal sedari lama, akan bertambah harum kemashurannya ke propinsi-propinsi lain yang terletak di Tiongkok Barat dan Utara".

Giok Hong mendengarkan omongan pamannya dengan airmata berlinang-linang. "Hian-tit tak usah bersedih hati" kata orang tua itu pula, "karena segala sesuatu

yang ada di dunia ini tiada suatupun yang dapat hidup kekal. Sudah selayaknya jika ada waktu kita berkumpul, ada waktu juga kita saling berpisah. Dunia ini bagi kita tak lebih dan tak kurang daripada panggung sandiwara belaka, dimana kita semua manusia menjadi pemain-pemainnya, sedangkan Thian Yang Maha Esa menjadi dalang agung bagi semua makhluk yang hidup di alam dunia ini. Oleh karena itu, sekali lagi aku nasihatkan kepadamu, agar engkau tak bersedih atas kepergianku ini ".

Giok Hong berjanji akan mentaati segala pesan pamannya dengan sebaik-baiknya, sambil tidak lupa menuturkan juga tentang pertempurannya dengan Seng-giam-ong Kwan Ban Piu sehingga ia memperoleh golok bersejarah yang bernama Siang-liong- touw-cu-to atau Golok Naga Kembar yang tersohor itu. Hal mana jelas sekali telah membuat orang tua itu jadi sangat gembira.

Demikianlah, pada suatu hari baik. Sun In Hu telah menutup mata untuk selama- lamanya. Maka Sun Giok Hong menggantikan kedudukannya sebagai Kiok-cu atau kepala dalam kantor angkutan itu, sedang Sun Giok Tien bertugas sebagai wakilnya.

0oo0