Golok Naga Kembar Jilid 03

Jilid 03

MAKA dengan beralihnya waktu dan bertukarnya musim, tanpa terasa lagi empat tahun telah berlalu dengan cepat sekali. Selama itu pula Sun Giok Hong telah dapat menguasai dengan baik ilmu tendangan, bersilat dengan tangan kosong maupun dengan menggunakan senjata, serta menguasai pula ilmu melempar piauw dengan mata yang tertutup. Pada suatu hari, It Kak Siansu memanggil muridnya itu sambil berkata, "Muridku, kini ilmu kepandaianmu telah mencapai tingkat yang lumayan, walau belum sampai ketingkat yang tertinggi. Cukuplah kiranya untuk bekal kau merantau dikalangan Kang-ouw sambil membantu usaha pamanmu, tapi ada sepatah dua patah kata yang kiranya perlu aku beritahukan kepadamu".

Giok Hong mengangguk-angguk sambil memasang telinga untuk mendengarkan. "Yang pertama-tama, engkau harus berlaku sabar dan jangan mudah naik darah"

kata hwee-shio tua itu pula. "Karena seorang yang selalu suka mengumbar amarahnya, bukanlah seorang gagah yang cerdik".

Giok Hong berjanji untuk mengubah kebiasaannya yang aseran dan tidak baik itu.

It Kan Siansu kelihatan girang sekali mendengar pernyataan muridnya itu. "Jika selanjutnya engkau berlaku tawakal dan memperhatikan segala ajaranku" hwee- shio tua itu melanjutkan, "Akupun akan merasa lega hati melepaskan engkau turun gunung dan kau boleh berangkat ke Thian-cin pada hari ini juga".

Demikianlah, dengan bercucuran air mata. Giok Hong lalu minta diri kepada gurunya yang telah menurunkan pelajaran silat dengan sungguh-sungguh sehingga empat tahun lamanya. It Kak Siansu menghibur dan membesarkan hati si pemuda dengan mengatakan bahwa waktu untuk mereka saling bertemu masih banyak. Giok Hong berjanji untuk menjumpai sang guru jika sewaktu-waktu ia diperintahkan oleh pamannya untuk po-pio (melindungi barang) ke daerah Kang-lam. Kemudian dengan hati sangat sedih ia meninggalkan kelenteng Kee-beng-sie yang indah itu dalam usianya yang waktu itu sudah menginjak enambelas tahun.

Setibanya di kota Cee-lam dalam perjalanan pulang ke kota Thian-cin, tiba-tiba teringatlah dalam hati si pemuda tentang pesan Thio Ciam Goan yang telah memberikan sepucuk surat perkenalan kepadanya untuk berguru kepada adik orang tua itu yang bernama Thio Ciam Kui yang membuka kantor pengangkutan Gie Cee Pio Kiok di kota yang tengah dilaluinya itu.

Maka dengan membawa surat itu yang telah disimpan baik-baik selama empat tahun, Sun Giok Hong segera menuju ke kantor angkutan Thio Ciam Kui dengan perasaan hati yang agak ragu. Tubuh si pemuda sekarang sudah tumbuh menjadi jauh lebih besar daripada empat tahun yang lalu, demikian juga pikirannya telah bertambah jauh lebih cerdik seiring dengan bertambahnya usia.

Pada empat tahun yang lampau ia menganggap Thio Ciam Kui sebagai salah seorang ahli golok terlihay di Tiongkok Utara. Tapi kini karena ia sendiripun telah paham ilmu golok berkat ajaran It Kak Siansu, tidaklah heran jika di dalam hatinya timbul rasa ragu mengenai kepandaian ilmu golok Thio Ciam Kui, meski orang tua she Thio itu tersohor serta disegani orang sebagai "Ngo-seng-to-ong" atau raja golok dari lima propinsi. Apakah dia sesungguhnya mempunyai kepandaian yang begitu tinggi?. Atau bukankah gelar itu hanya diberikan sebagai tanda hormat belaka?. Demikan Giok Hong menduga-duga.

Dalam pada itu, maka timbullah rasa curiga si pemuda yang dibarengi dengan munculnya pikiran untuk menjajal dahulu orang tua itu, sebelum ia menyerahkan surat perkenalan Thio Ciam Goan kepada oarang yang bersangkutan.

Ia pernah mendengar bahwa Thio Ciam Kui adalah murid kesayangan jago kawakan Ma Hiang, ahli golok yang sukar dicari tandingan dimasa itu. Tapi benarkah ilmu golok Ciam Kui pun dapat menyamai kepandaian ilmu golok It Kak Siansu, gurunya?.

Setelah menetapkan pikiran. Giok Hong lalu menuju ke kantor angkutan Gie Cee Pio Kiok untuk berkenalan dan menjajal sampai dimana kelihayan jago tua yang dikenal orang dengan gelar "Ngo-seng-Loong" itu. Kantor angkutan Gie Cee Pio Kiok ternyata adalah sebuah bangunan besar berloteng dan dikelilingi oleh pagar tembok dengan pintu gerbang yang mentereng. Sedangkan di kiri kanan papan merek Gie- Cee Pio Kiok yang dapat dilihat tegas dari jarak yang agak jauh, digantungkan dua buah papan merek lain yang dasarnya hitam dengan huruf-huruf yang dituliskan dengan air emas.

Sun Giok Hong yang sudah biasa dengan pekerjaan di kantor angkutan, langsung menuju ke meja tempat pembayaran dan bertanya kepada kasir yang sedang duduk di hadapan meja tersebut, "Apakah Thio Ciam Kui Lo-su ada di rumah?".

"Tuan ini orang dari mana?. She dan bernama siapa?" balik bertanya si kasir sambil memperhatikan si pemuda cilik dari kaki sampai kepala, kemudian dari kaki balik kembali pada wajah sang tamu yang, masih muda itu.

"Aku seorang dari utara" Giok Hong berdusta, "she Sun bernama In San. Aku mendengar kabar yang tersiar luas di luar, bahwa Thio lo-su di sini mempunyai gelar 'Ngo-seng-to-ong'. Oleh sebab itu, aku dari jauh telah sengaja datang kesini untuk minta berkenalan dengan beliau".

Si kasir mendengar omongan si pemuda dan mengerti apa yang dimaksud dengan kata-katanya itu, matanya menatap lebar-lebar lalu berkata, "Nak, usiamu baru saja mencapai belasan tahun, tapi toh engkau sudah mempunyai keberanian untuk menantang Thio Lo-su. Tahukah engkau, bahwa Thio Lo-su sudah berusia empatpuluh tahun lebih dan lebih daripada cukup untuk menjadi ayahmu?. Maka jika beliau bertanding denganmu dan memperoleh kemenangan, bukan saja dia tak akan menjadi lebih tersohor, malah sebaliknya akan dicaci maki oleh rekan rekannya dikalangan Kang-ouw, sebagai seorang tua yang ta tahu harga diri dan suka meladeni tantangan kanak-kanak yang belum mengerti urusan. Maksud Thio Lo-su membuka kantor angkutan ini adalah untuk bersahabat dengan orang-orang sedunia, tapi sama sekali bukan membuka gedung perguruan silat atau lui-tay dimana sembarang orang diperbolehkan naik ke atas panggung untuk mengadu ilmu silat. Maka jika kedatanganmu ini bermaksud untuk pi-bu atau mengadu ilmu silat, ternyata engkau telah datang ke tempat yang keliru. Aku harap supaya saudara tidak menjadi gusar atau berkecil hati jika aku minta saudara pergi saja kelain tempat".

"Akan tetapi" Giok Hong memaksa, "apakah Thio Lo-su ada di rumah?". "Thio Lo-su tengah melindungi pio dan tak ada di rumah" sahut si kasir.

"Lagipula engkau ini bukanlah tandingan Thio Lo-su. Taruh kata dia ada di rumah, diapun pasti tak akan suka meladeni tantanganmu itu. Oleh karenanya, sekali lagi aku nasihatkan supaya engkau segera berlalu saja ke lain tempat, agar tidak mengganggu usaha kami di sini".

Giok Hong yang mudah naik darah segera menjadi gusar. Semula ia hendak menghajar kasir itu, tapi mendadak pesan-pesan It Kak Siansu bagaikan kilat menyambar dalam pikirannya. Selain itu, pikirnya, maksud kedatangannya ke situ adalah untuk berguru, maka tidak jadi ia laksanakan tindakan yang semberono itu. Lagipula si kasir hanya seorang pegawai yang dibayar olah induk semangnya, hingga tidaklah benar jika ia ingin bertindak seenaknya saja hanya sekedar untuk melampiaskan napsu amarahnya.

Oleh sebab itu, ia hanya mengatakan, "Maafkanlah aku", kemudian segera berlalu sambil pikirannya bekerja keras, mencari cara bagaimana untuk dapat memancing Thio Ciam Kui hingga menjadi gusar dan suka meladeni tantangannya itu.

Pikir punya pikir, ia melihat di samping kantor angkutan Gie Cee Pio Kiok ada empat buah kereta pio yang rupanya hendak diberangkatkan pada hari itu juga. Maka diam-diam ia coba menanyakan pada salah seorang pengendara kereta itu, kemanakah gerangan kereta-kereta pio itu hendak diberangkatkan. Setelah mendapat keterangan ke mana dan arah mana yang hendak dituju oleh rombongan keempat kereta pio itu, lekas-lekas Giok 1 long mendahului menuju ke suatu tempat yang terpisah kira-kira lima atau enam lie di luar pintu kota selatan dari kota Cee-lam dimana ia menantikan sambil meletakkan pauw-hoknya di bawah sebuah pohon yang rindang.

Tidak lama kemudian, benar saja keempat kereta pio dari Gie Cee Pio Kiok tadi kelihatan mendatangi dengan diiringi oleh dua orang l>io-su yang berkuda. Maka Giok Hong yang sedari tadi telah mengatur siasat perampokan untuk memancing kegusaran Thio Ciam Kui, dengan pegcra melompat turun dan menghadang di tengah jalan sambil bertolak pinggang dan berdiri tegak.

Pio-su yang bertanggung jawab bernama Oey Cu Hui, salah seorang pio-su kenamaan dari Gie Cee Pio Kiok, usianya telah mencapai limapuluh dua tahun dan mahir mempergunakan pelbagai macam senjata, hingga ia mendapat kepercayaan Thio Ciam Kui untuk melindungi pio ke tempat jauh. Tatkala melihat kereta-kereta dicegat oleh seorang pemuda cilik, segera ia tampil ke muka dengan golok terhunus di tangannya.

"Bocah cilik" katanya, "apakah maksudmu mencegat kereta-kereta pioku ini?". "Apakah engkau bermaksud akan lewat di jalan ini?" Giok Hong balas bertanya.

"Ini jalan raya milik negara" sahut Oey Cu Hui, "apakah maksudmu bertanya demikian?. Kami memang biasa lewat di sini!".

"Jika demikan halnya" kata Giok Hong pula, "aku ada suatu syarat yang hendak diajukan kepadamu, yaitu barang siapa yang hendak lewat di sini, ia harus bertanding dahulu denganku. Jika ia menang, ia boleh jalan terus, tapi sebaliknya kalau kalah, ia harus pulang kembali dan aku melarang dia lewat di sini lagi!".

"Dasar anak goblok!" kata Oey Cu Hui sambil tertawa mengakak, "apakah engkau yang belum disapih berani melawan aku yang sudah bangkotan begini?. Ayoh, mari, akan kuajar adat kepadamu".

Tapi Giok Hong yang tidak bermaksud melukai Cu Hui untuk menghindari permusuhan menjadi berlarut-larut, terpaksa tidak mempergunakan ilmu tendangannya yang sangat dahsyat itu, yang pernah dilatih sekian tahun lamanya dibawah pimpinan It Kak Siansu di kelenteng Kee-beng-sie. Karena jika sampai kejadian ia salah kaki, pihak lawan bisa patah kakinya terkena tendangan itu. Giok Hong berusia lebih muda dan bertenaga lebih kuat, maka tidaklah heran jika napas Cu Hui jadi terengah-engah, ketika pertempuran baru berlangsung beberapa belas jurus saja.

Kemudian, karena merasa bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan si bocah she Sun, ia merasa lebih baik mendahului keluar dari kalangan pertempuran, sebelum ia kehilangan muka karena dirobohkan oleh lawannya yang masih sangat muda tapi lihay itu.

Giok Hong tertawa mengakak. Ia tidak mengejar Cu Hui, tapi langsung menudingkan telunjuknya ke arah kawan lawannya yang berdiri menonton pertempuran itu sambil menantang, "Mari, sekarang engkau yang menggantikan dia bertempur denganku!".

Pio-su kawan Oey Cu Hui ini bernama Lauw Kee Peng, seorang Shoalang yang mahir ilmu tendangan berantai Wan-yo-tui dan ilmu permainan toya Tam-kun-hoat. Selama pertempuran itu berlangsung, pio-su ini telah melihat dengan jelas bahwa pada akhirnya kawannya itu akan kena juga dirobohkan oleh Sun Giok Hong. Maka dalam hati ia merasa tidak enak, sedari tadi iapun telah siap sedia untuk membantu bilamana ia rasa perlu. Tidak tahunya, sebelum ia keluar membantu, C ;iok 1 long telah mendahului menantangnya bertempur, hingga dengan wajah yang menandakan kegusaran dan mata mendelik, ia membentak, "bocah cilik, tidak perlu engkau menjual lagak yang tengik begitu!".

Sambil berkata demikan, Lauw Kee Peng segera menyerang dada Giok Hong dengan menggunakan tinju kanannya, sehingga si pemuda she Sun terpaksa mengegos untuk menghindari pukulan tersebut, sedang tinjunya yang kanan telah dipergunakannya untuk menyabet tinju lawan.

Sret !!!. Pukulan Kee Peng luput, tapi bersamaan dengan itu kakinya telah

menyambar ke arah perut si pemuda cilik bagaikan kilat cepatnya. Giok Hong sekarang telah mempunyai ketangkasan dan kesebatan luar biasa berkat latihannya di Kee-beng-sie selama empat tahun. Dengan gerak yang hampir tak kelihatan. Giok Hong telah mengelakkan tendangan itu sambil balas menabas kaki itu dengan telapak tangannya.

Sret !!!. Sebelum tendangan Kee Peng yang pertama keburu dielakkan, tiba-

tiba kaki yang lain si pio-su telah menyambar pada si pemuda cilik yang telah dijadikan sasaran dari tendangan yang berantai itu.

Sret.......!!!. "Ah !" suara Kee Peng yang menandakan rasa terkejut tiba-tiba

terdengar di antara suasana yang gawat itu. Kemudian, karena kagetnya, entah dengan gerak apa Lauw Kee Peng merasakan dirinya melayang di udara dan jatuh terlempar ke suatu tempat yang terpisah kira-kira beberapa belas kaki jauhnya!.

Ternyata pada waktu pertama Kee Peng menggerakkan kakinya, Sun Giok Hong telah sadar pula betapa hebat tendangan lawannya itu. Inilah tendangan Wan-yo-tui yang pasti akan dilakukan lawan dengan berturut-turut. Dengan dugaan itu dalam hatinya, maka selain mengelakkan tendangan Kee Peng yang pertama, iapun berlaku waspada untuk menjaga tendangan lawan itu selanjutnya. Kee Peng sendiri sampai tidak merasa ketika kedua kakinya dicekal oleh Giok liong yang segera melemparkan dirinya kelain jurusan dengan meminjam tenaga yang dilancarkan oleh tendangannya yang kedua itu.

Setelah itu. Giok Hong mentertawainya sambil berkata, "Kawan, ternyata ilmu kepandaianmu masih belum cukup untuk bertanding denganku. Oleh sebab itu, apakah engkau sekarang telah merasa takluk dan suka menyerah kalah?".

Lauw Kee Peng bukan main gusarnya mendengar kata-kata itu, hingga dengan tidak banyak bicara lagi ia berlari-lari ke arah kereta pionya untuk mengambil toya Siang-thauw-kun. Dengan senjata itu ia hendak menempur kembali si bocah, Giok Hong segera menghunus goloknya begitu melihat lawannya balik kembali dengan bersenjatakan toya.

"Mari" Giok Hong balas menantang, "engkau boleh rasakan dahulu tinjuku ini sebelum engkau bicara takabur!".

Dengan perasaan yang tidak memandang sebelah mata kepada si pemuda cilik, Oey Cu Hui segera memasukkan goloknya ke dalam serangka, kemudia ia turun dari kudanya dan berkata, "Mari, mari, hendak kulihat sampai dimana ilmu kepandaianmu yang sangat kau andalkan itu!".

Sun Giok Hong tidak banyak bicara lagi. Begitu melihat Oey Cu Hui turun dari kudanya, lantas ia maju menyerang dengan gerakan secepat kilat. Tapi Oey Cu Hui yang juga bermata sangat jeli, segera berkelit sambil berseru dan balas menyerang si pemuda cilik dengan siasat Tok-pek-hoa-san atau dengan sebelah tangan membelah gunung Hoa-san. Giok Hong lekas mengelakkan pukulan tersebut dan bersilat dalam ilmu Eng-jiauw-kun atau ilmu pukulan cakar garuda, yang merupakan ilmu silat warisan dari keluarga Sun. Dengan mana ia mendesak dan hendak mencekal pergelangan tangan Oey Cu Hui, hkigga pio-su dari Gie Cee Pio Kiok itu jadi sangat terkejut dan lekas-lekas melompat mundur sambil berseru, "Tahan dulu!".

Si pemuda cilik lalu menarik pulang tinjunya sambil berkata, "Apakah itu tandanya bahwa engkau telah menyerah kalah?".

"Pertempuran ini baru saja berlangsung" kata Oey Cu Hui, "kedua belah pihak belum lagi menunjukkan kelihayannya masing-masing, maka bagaimana engkau sudah menganggap aku kalah?. Barusan dengan memperhatikan gerak-gerikmu dalam cara yang telah cukup kukenal, aku jadi teringat akan ilmu Eng-jiauw-kun dari keluarga Sun di Thian-cin. Apakah barangkali engkau ini adalah salah seorang anggota keluarga Sun itu?".

Sun Giok Hong tersenyum dan berkata, "Ya, memang benarlah apa katamu. Aku ini kemenakan pemilik kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok di kota Thian-cin yang bernama Sun Giok Hong. Oleh karena aku tergolong sebagai anak yang ke tujuh, maka orang biasa menyebutku Sun Lo-cit. Kakakku bukan lain daripada Thiat-kun Sun atau Sun si Tinju Besi.

Mendengar pengakuan si pemuda cilik, Oey Cu Hui jadi terkejut dan berkata, "Aiii, tidak tahunya engkau ini adalah Sun Sie-tit, pamanmu Sin Bu Su-hu adalah sahabat karibku. Hari ini jika tidak bertempur, benar-benar kita tak akan saling mengenal. Jadi dengan begitu sudah jelaslah bahwa kita semua adalah orang-orang sendiri, hingga patut sekali untuk kita saling maaf-memaafkan".

Tapi Sun Giok Hong yang melihat ia mendapat lebih banyak kesempatan untuk membuat pihak Thio Ciam Kui jadi semakin gusar, bukan saja tidak menghiraukan kata-kata Oey Cu Hui, malah sebaliknya setelah mengejek dengan mengatakan, "Tidak perlu engkau mengaku-aku kenal atau tidak kenal pada pamanku, tapi yang paling aku perlukan sekarang adalah berkelahi!. Jika engkau mampu mengalahkanku, bolehlah engkau lewat di sini, kalau tidak engkau boleh kembali ke kota Cee-lam untuk mengaku kepada induk semangmu. Katakanlah kepadanya, bahwa aku sedang menunggu kedatangannya di sini!".

Mendengar kata-kata yang menghina itu, lagi tidak mengenal budi kebaikan dan menganggap dirinya 'sepi' itu, sudah barang tentu Oey Cu Hui jadi merasa sangat tersinggung, lalu membentak, "Anak ingusan, sekarang hendak kujajal sampai dimana kelihayanmu yang sebenarnya!".

Sambil berkata demikian, pio-su dari Gie Cee Pio Kiok itu segera menerjang si pemuda she Sun dengan perasaan hati yang sangat mendongkol.

Giok Hong lekas berkelit ke arah kiri, kemudian dengan sebat ia mempergunakan ilmu Thiat-see-ciang atau telapak tangan pasir besi untuk membabat tangan si orang she Oey dengan telapak tangan kanannya Cu Hui yang berlaku kurang sebat untuk mengelakkan sabetan itu, merasakan telapak tangan Giok Hong yang menyerempet di sisi lengannya, membuat ia terkejut dan merasakan linu. Kemudian dengan kedua tinjunya ia menyerang dada si pemuda cilik dengan suatu gerakan yang dahsyat sekali. Demikianlah kedua orang itu telah bertempur dengan mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk mempertahankan keunggulan diri masing-masing.

Begitulah, dengan masing-masing memegang senjata, pertempuran itu berlangsung dengan tak kalah serunya daripada sebelumnya. Bahkan dalam keadaan bersenjata, Sun Giok Hong tampaknya lebih lincah dan tangkas dalam menandingi lawannya. Sedangkan Lauw Kee Peng yang memang seorang ahli dalam hal memainkan toya Siang-thauw-kun, mana mau mengalah mentah-mentah kepada seorang pemuda cilik yang dianggap masih hijau dan belum berpengalaman.

Sementara Giok Hong yang menyaksikan pihak lawan begitu bernapsu untuk mengalahkan dirinya, lalu mengubah siasat dari menyerang jadi menjaga, karena dengan siasat ini ia hendak menjajal sampai dimana keuletan dan kelihayan lawannya, disamping itu iapun tak usah mengeluarkan terlampau banyak tenaga.

Tapi Lauw Kee Peng yang keliru menyangka si pemuda cilik merasa jeri karena serangan-serangan Siang-thauw-kunnya yang begitu dahsyat, jadi semakin hebat melancarkan pukulan-pukulan hingga Giok Hong hanya kelihatan dapat menjaga diri saja tapi tak sanggup membalasnya.

Melihat demikan, Lauw Kee Peng segera memperhebat serangan-serangannya.

Siang-thauw-kun diputar sedemikian dahsyatnya hingga mengeluarkan suara menderu-deru, bagaikan baling-baling yang diterjang angin taufan. Ganas, dahsyat dan tak mengenal kasihan. Giok Hong terdesak, tapi anehnya dia sama sekali tidak mengeluh.

Ditangkisnya semua serangan Lauw Kee Peng dari segala jurusan dengan wajah berseri-seri.

"Dasar anak goblok!" kata pio-su dari Gie Cee Pio Kiok itu dalam hatinya. "Nyatalah bahwa engkau benar-benar tidak mengetahui akan datangnya bahaya yang begitu besar dan dapat membahayakan jiwamu!".

Akhirnya Kee Peng sendirilah yang tak sadar, bahwa dia kini tengah dipancing oleh Giok Hong untuk terus mengobral tenaganya. Dan tatkala beberapa kali ia menyerang dengan sia-sia dan merasakan tenaganya telah hilang sampai separuh, barulah ia menyadari segala akibat daripada kelalaiannya tadi. Dengan sebat, ia mengubah siasat penyerangannya, tapi Sun Giok Hong yang terlebih dahulu telah "mengunci" jalan mundur pihak lawan, telah membuat Lauw Kee Peng terpaksa mesti melawan dengan mati-matian untuk menyelamatkan mukanya sendiri. Karena jika sampai kejadian ia kena dirobohkan oleh si pemuda cilik yang gesit dan lihay itu, bukan saja ia akan mendapatkan malu dari induk semangnya tapi juga nama besarnya yang sudah sekian tahun terkenal di kalangan Kang-ouw akan hancur lebur saat itu juga.

Oleh sebab itu, mau tak mau ia harus mempertahankan diri sekuat mungkin untuk menghindari ejekan orang-orang yang akan menamakannya seorang "pecundang".

Demikianlah, bagaikan seekor kerbau yang mendadak kalap, kee Peng mengamuk dan "nge-phia" untuk merobohkan pemuda she Sun itu. Sun Giok Hong yang menyaksikan ilmu toya lawannya telah mulai kalut, telah siap sedia untuk melancarkan serangan-serangan kilat tanpa dia sendiri mengeluarkan terlampau banyak tenaga. Maka sambil bertempur. Giok Hong terus mentertawai lawannya sambil berkata, Kawan, lebih baik engkau menyerah kalah saja, agar supaya pertempuran ini dapat dihentikan tanpa engkau sendiri mesti hilang muka di hadapan orang banyak.'".

Mendengar ejekan itu, bukan alang kepalang gusarnya si orang She Louw, sehingga tanpa pikir panjang lagi ia hujani pukulan-pukulan yang maha dahsyat kepada diri si pemuda cilik itu. Tapi serangan-serangannya selalu saja jatuh di tempat yang kosong, berhubung Giok Hong senantiasa berlaku waspada dan berkelit dari segala pukulan yang dilakukan lawan dalam keadaan bagaikan orang yang sedang kerasukan setan.

Pada suatu ketika si pemuda cilik yang telah memperhatikan titik titik kelemahan lawannya, dengan secara cerdik telah sengaja berlaku agak kendur dan sedikit lalai. Lauw Kee Peng yang menduga si pemuda she Sun sudah kehabisan tenaga, tidak lama kemudian melancarkan pukulan mautnya yang bernama Lui-kong-tha-lam-san atau geledek memukul gunung Ciong-lam-san. Sifat dan gerak pukulan itu demikian hebat dan ganasnya, sehingga para anak buahnya yang menyaksikan Kee Peng melancarkan pukulan tersebut, hati mereka jadi jeri dan tanpa terasa mereka berteriak, "Celaka!". Karena jika pukulan itu betul-betul mengenai sasarannya, dengan batok kepala si pemuda cilik itu dijadikan sasaran, jangankan kena terpukul tepat hingga batok kepala itu hancur lebur, tapi meski kena terserempet sedikit saja sudah cukuplah untuk membuat jiwa Giok Hong melayang ke alam baka.

Syukur juga si pemuda bermata sangat jeli dan berotak cerdik. Walaupun dalam keadaan segawat itu, ia masih dapat memperhitungkan masak-masak tindakan apa yang akan diambil untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya maut itu. Maka begitu melihat toya Siang-thauw-kun Lauw Kee Peng berkelebat untuk merenggut jiwanya, dengan cermat sekali ia mengegos sambil memutar badan dalam siasat Soan-hong- sauw-tee atau angin puyuh menyapu bumi. Tatkala toya lawan meleset disamping badannya, dengan sebat ia ayun goloknya untuk menindih toya tersebut dengan siasat Sam-san-tien-hay atau tiga gunung menindih lautan.

Karena merasa pasti akan berhasil mengirim lawannya menghadap Giam-lo-ong atau Raja Akherat, Lauw Kee Peng telah mencurahkan seluruh tenaga pada ujung toyanya. Dengan gerak yang sedemikian cepat dan hampir tak dapat dilihat dengan mata kasar, Giok Hong telah menindih toya Siang-thauw-kun lawan itu dengan goloknya, kemudian dibarengi dengan tekanan golok dari atas. Maka Kee Peng jadi sempoyongan dan hampir jatuh mengusruk.

Tiba-tiba ia rasakan golok si pemuda menyambar batok kepalanya dan

.............Dak!!!. "Aduh!". Lauw Kee Peng jadi menjerit karena kesakitan, bersamaan dengan itu iapun jatuh tersungkur dengan kepala dirasakan bagaikan berputar dan mata berkunang-kunang. Kemudian terdengar suara tertawa Sun Giok Hong yang disusul dengan kata-kata, "Kawan, ternyata engkau belum mempunyai kepandaian yang cukup untuk melakukan tugas sebagai pelindung pio. Ilmu silatmu masih terlampau rendah, sedangkan gerak kaki dan tanganmu masih agak kacau dan lamban. Oleh sebab itu, paling benar engkau segera melaporkan kejadian ini kepada Thio Kiok-cu dan katakan pula kepadanya bahwa aku Sun Giok Hong menantikannya di sini!".

Ketika Kee Peng meraba batok kepalanya, ia mendapati Kenyataan bahwa batok kepalanya telah benjut tapi tidak berdarah. Dengan begitu ia segera mengetahui bahwa barusan Giok Hong bukan membacok, tapi hanya membabat dengan belakang goloknya saja. Kalau tidak, niscaya kepalanya bisa terbelah dua karena hebatnya bacokan itu. Maka dengan perasaan malu bercampur gusar, lekas-lekas ia menyerukan para tukang kereta untuk mengangkut balik semua kereta-kereta pio yang akan diantarnya itu. Kemudian bersama-sama Oey Cu Hui ia pergi melaporkan peristiwa yang dialami kepada Thio Ciam Kui yang menjadi induk semang mereka.

Sesudah Thio Ciam Kui mendengar laporan tersebut, meski di dalam hati merasa sangat mendongkol, tapi lahirnya ia tetap tenang. Sambil tersenyum, ia menghibur kedua orang pio-sunya itu dengan mengatakan bahwa dalam pertempuran orang tak dapat mengukur tua atau mudanya usia lawan. Lebih-lebih karena Sun Giok Hong adalah keturunan keluarga Sun yang tergolong sebagai keluarga yang sudah tersohor dalam Rimba Persilatan di Tiongkok Utara, maka tidak-heran jika kepandaiannya begitu lihay dan dapat mengalahkan mereka berdua sekaligus dalam tempo yang singkat.

"Aku dan keluarga Sun meski tidak bersahabat akrab" Ciam Kui melanjutkan, "tapi ia dan aku masih tergolong rekan-rekan yang bekerja dalam usaha sejenis dan sewaktu-waktu saling berjumpa juga selagi mengurus pekerjaan kami masing- masing. Tapi mengenai tindak tanduk sibocah she Sun ini, menurut pendapatku sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan perampokan atau berbuat yang tidak baik terhadap pihak kita. Karena disamping aku belum pernah bermusuhan dengan mereka, merekapun belum pernah berlaku tidak jujur atau merebut langganan langgananku". tapi apakah artinya si bocah she Sun mengatakan bahwa dia akan menantikan kau di luar kota?" kata Lauw Kee Peng. "Bukankah itu berarti bahwa dia sudah menghinamu yang berusia lebih tua?".

Thio Ciam Kui tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Bukan begitu" kata orang tua itu. "Dia bukan menghinaku, tapi tak dapat disangkal lagi bahwa dia telah menantangku. Oleh karena itu, akan kulihat bagaimana perkembangannya nanti".

Tapi di dalam hati ia menduga bahwa Sun Giok Hong pasti mempunyai maksud tertentu yang ia sendiri tak mau mengatakannya kepada lain orang, kecuali kepada dirinya sendiri.

Maka sesudah berpesan agar anak semang yang lainnya menunggu dahulu di dalam kantornya, Thio Ciam Kui lalu mengajak Lauw Kee Peng dan Oey Cu Hui pergi menjumpai si bocah she Sun di luar kota Cee-lam. Giok Hong yang berdiri menanti di bawah pohon segera menghadang di tengah jalan dan melihat Lauw dan Oey kedua orang pecundangnya telah balik kembali dengan mengajak seorang laki-laki setengah tua yang berbadan tegap dan menyoren sebilah golok di pinggangnya.

"Orang ini pasti Thio Ciam Kui adanya" pikir Sun Giok Hong, tapi ia tetap berdiri tegak dengan sikap yang sombong sekali.

Thio Ciam Kui yang dengan diam-diam telah memperhatikan perawakan dan sikap si pemuda cilik dari kejauhan, dengan wajah berseri-seri dan tidak memandang rendah lalu maju menghampiri sambil memberi hormat dan berkata, "Sun Sie-tit, sungguh tidak kunyana ilmu kepandaianmu begitu lihay sehingga engkau mampu mengalahkan kedua orang pio-suku".

Sun Giok Hong yang mendengar omongan itu, lalu menganggukkan kepalanya dan berkata, "Benar, tapi maksudku yang sebenarnya bukanlah mereka yang hendak kujajal, tapi Thio Kiok-cu yang hendak kuuji kelihayannya!".

"Aku bersedia, nak!" kata orang tua itu yang segera menghunus goloknya.

Kemudian tanpa banyak bicara lagi, cepat bagaikan kilat ia terjang si bocah she Sun, sehingga dengan hati terkesiaplah Giok Hong, sambil membuang diri ia juga menghunus goloknya sendiri. Dan diwaktu kedua golok itu saling beradu, percikan api segera tampak berhamburan meletik kian kemari. Sesudah itu Giok Hong balas menerjang Thio Ciam Kui dengan siasat Kun-tong-to sambil bergulingan di tanah menyabet kaki si jago tua dengan goloknya.

Thio Ciam Kui yang sudah kawakan dan dapat bergerak bagaikan seekor kera gesitnya, dengan mudah saja telah dapat mengelakkan bacokan Sun Giok Hong, yang kemudian mencelat ke atas dan mengubah permainan goloknya dengan siasat Pek- ho-liang-cie atau bangau putih membentangkan sayap.

Sun Giok Hong mendesak orang tua itu dengan tidak sungkan-sungkan lagi, tapi tiap serangannya telah dapat ditahan atau ditangkis oleh Thio Ciam Kui dengan tenangnya, bahkan nampaknya acuh tak acuh. Sebaliknya, setiap serangan balasan lawan telah cukup membuat Ciok Hong terkejut dan merasa kesombongannya tertindas bagaikan api ditimpa hujan.

Karena jika semula telah ditimbang-timbang didalam lamunannya cara bagaimana orang tua itu hendak dipermainkan dan dibuatnya kewalahan, ternyata sekarang ia sendiri yang jadi kelojotan bagaikan seekor cacing yang jatuh di abu panas!. Dalam keadaan sebagai seorang yang menunggang harimau, ia menjadi serba salah dan ragu, apakah pertempuran itu harus ditunda setengah jalan atau hingga ia kena dirobohkan oleh lawannya itu.

"Aiiii, celaka, celaka aku kali ini!!!" pikir si cilik. Setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa lihaynya ilmu golok Thio Ciam Kui yang dikenal orang dengan gelar "Ngo-seng-to-ong", sekarang ia baru mau mengakui secara lahir batin bahwa pujian para pendekar dikalangan Kang-ouw atas diri orang tua itu sesungguhnya bukanlah omong kosong belaka.

Maka selagi ia terkurung oleh sinar golok Thio Ciam Kui yang seolah olah jadi berjumlah berpuluh-puluh banyaknya dan menyilaukan mata, tiba tiba ia mendengar orang tua itu membentak dengan suara yang, angker, "Hai bocah she Sun, kini telah tiba saatnya untuk kau menerima sedikit ganjaran untuk kesombonganmu itu!".

Sun Giok Hong pernah membaca riwayat orang-orang gagah yang kerap memotong telinga atau hidung orang-orang sombong yang berani mempermainkan diri mereka!. Diam-diam hatinya menjadi jeri dan khawatir akan kehilangan daun telinga atau hidungnya yang akan membuat dirinya cacat seumur hidup, sehingga dengan menebalkan muka ia terpaksa meratap, "Lo-su, ampunilah aku!".

Thio Ciam Kui yang sesungguhnya tidak ingin melukai Giok Hong, tatkala mendengar ratap itu segera menarik pulang goloknya yang mengurung diri si pemuda cilik itu. Giok Hong lekas-lekas menjatuhkan diri berlutut dihadapan orang tua itu sambil berkata, "Lo-su, maafkanlah Tee-cu yang telah berani mempermainkanmu!".

Ciam Kui menekuk goloknya dibawah ketiak sambil membentak, "Apakah maksudnya engkau berbuat demikian?. Coba engkau lekas jelaskan padaku!".

"Tee-cu bukan sekali-kali hendak mempermainkan jiwa orang" sahut si bocah she Sun. "Tee-cu tidak bermaksud melukai orang. Jika Lo-su tak percaya, bolehlah Lo-su tanyakan kepada dua orang pio-sumu ini".

Oey Cu Hui dan Lauw Kee Peng yang menganggap bahwa Sun Giok Hong telah melepas budi kebaikan kepada mereka berdua, dengan suara yang hampir berbareng berkata, "Benar. Bocah ini memang tidak mempunyai maksud yang tidak baik. Dia tidak berdusta".

"Engkau ini adalah orangnya Hin Liong Pio Kiok yang kantornya berkedudukan jauh sekali di kota Thian-cin" kata Thio Ciam Kui, "tapi mengapa tanpa sebab musabab yang jelas engkau telah datang mempermainkan orang di sini?. Apakah engkau bermaksud hendak menjatuhkan namaku untuk dapat menjagoi kalangan perusahaan angkutan di sini?".

"Itu juga bukan maksudku" selak Sun Giok Hong, "harap Lo-su tidak menjadi salah paham".

"Kalau begitu, apa maksudmu menantangku?" tanya jago kawakan itu pula dengan heran.

Giok Hong yang sekarang tidak ragu lagi akan kepandaian silat Thio Ciam Kui, lalu menuturkan peristiwa perampokan terhadap kereta-kereta pionya di desa Han-kee- chung, sehingga kemudian ia berjumpa denga Thio Ciam Goan yang telah menganjurkannya untuk berguru pada Ciam Kui pada empat tahun yang lampau. Lalu surat perkenalan Ciam Goan segera dipersembahkannya kepada Ciam Kui sebagai bukti daripada ketulusan hatinya untuk berguru.

Ciam Kui menerima surat kakaknya yang ditulis pada empat tahun yang lampau itu. Dengan girang, ia segera menyobek sampul surat itu dan membaca isinya, yang antara lain tertulis sebagai berikut:

"Pembawa surat ini bukan lain daripada kemenakan saudara Sun Sin Bu alias In Hu yang ketujuh, yaitu Giok Hong Sie-tit. Dia yang berusia masih sangat muda, giat belajar dan berbakat sangat baik, sungguh sayang sekali jika tidak mendapat guru yang tepat dan pandai. Maka teringatlah aku dengan ilmu golokmu yang begitu lihay dan sangat terkenal di tanah utara, tapi sayang tidak mudah bagimu untuk mendapat orang yang tepat untuk menjadi ahli warismu.

Kini karena mengingat dan menganggap bahwa Sun Sie-tit ini adalah orang yang tepat sekali untuk mewariskan ilmu kepandaianmu itu, maka hari ini aku telah memberikan kepadanya sepucuk surat perkenalan untuk disampaikannya kepadamu.

Kita manusia takkan dapat hidup ratusan tahun, tapi ilmu kepandaian dapat diwariskan turun temurun sehingga berabad-abad lamanya. Oleh karena itu, aku harap supaya saudara sudi mengabulkan saranku dan tidak menolak hendaknya".

Dibawah surat itu dibubuhi tanda tangan Ciam Goan yang cukup dikenal oleh adiknya.

Ciam Kui merasa gembira sekali menerima saran tersebut karena dalam usia empatpuluh tahun dan tersohor sebagai "Ngo-seng-Huang" yang hingga sebegitu jauh belum terkalahkan orang, memang perlu sekali pada suatu waktu mempunyai seorang Ciang-bun-jin atau ahli waris dan pengganti kedudukannya sebagai Kiok-cu dan yang dapat diandalkan untuk mewarisi ilmu goloknya yang hendak dihidupkannya dari satu masa kelain masa.

Karena sebagai seorang yang baik hati dan tak mau membiarkan ilmu silat pusaka Tiongkok musnah di tengah jalan, maka hanya dengan cara waris mewarisi itulah gengsi ilmu persilatan di tanah tumpah darahnya dapat dipertahankan dan dipupuknya dengan sebaik-baiknya.

Maka dengan saran yang diperoleh dari kakaknya itu, terbukalah pikirannya yang telah sekian lama belum dapat dilaksanakan karena belum adanya orang yang tepat untuk mewarisi ilmu kepandaiannya itu. Ciam Kui sudah barang tentu lantas menerima baik saran yang menganjurkan ia untuk menerima Giok Hong sebagai murid. Lebih jauh dengan kesan-kesan yang telah diperolehnya dari pengalaman bertempur dengan si pemuda cilik tadi, pendapat Ciam Kui jadi semakin mantap, lagi pula ia sangat tertarik sekali akan kegesitan serta ilmu tendangan Giok Hong yang begitu mengagumkan hatinya.

Maka tanpa ragu-ragu iapun menyatakan tidak keberatan apabila Giok Hong hendak berguru kepadanya. Mendengar demikan, Giok Hong jadi girang bukan buatan dan segera menjatuhkan diri berlutut dihadapan Thio Ciam Kui sambil menyebut guru dan meminta maaf sebesar-besarnya atas segala kekurangajarannya yang telah ia buat tadi.

Tapi Ciam Kui lekas mengangkat bangun sambil tak lupa berpesan agar supaya kelak si pemuda itu tidak menyia-nyiakan pengharapannya untuk menurunkan pula ilmu kepandaian goloknya itu kepada generasi lain yang lebih muda. Giok Hong berjanji akan membantu melaksanakan cita-cita mulia gurunya itu.

Demikianlah semenjak hari itu dan selanjutnya, Sun Giok Hong telah mengangkat Thio Ciam Kui sebagai gurunya dan juga ikut membantu pekerjaan-pekerjaan di kantor angkutan Gie Cee Pio Kiok. Selama itu, ia telah mewariskan ilmu permainan golok Thio Ciam Kui yang dikemudian hari membuat namanya terkenal sebagai Raja Golok dari lima propinsi utara.

Tiga tahun telah berlalu dengan cepatnya. Dengan beralihnya sang musim, ilmu kepandaian silat Sun Giok Hong dibawah pimpinan Thio Ciam Kui pun telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Ilmu golok Pat-kwa-to, Kun-tong-to dan pelbagai macam rahasia permainan golok yang sangat tinggi dan dahsyat. Thio Ciam Kui dengan penuh kesungguhan telah menurunkan semua ilmu kepandaiannya kepada Sun Giok Hong, hingga akhirnya Ciam Kui sendiri mau tak mau harus mengaku kalah terhadap kepandaian murid kesayangannya itu. Pada suatu hari Thio Ciam Kui menganjurkan agar Sun Giok Hong pulang ke kota Thian-cin untuk membantu pamannya di sana mengelola kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok.

"Ilmu kepandaianmu sekarang sudah lebih dari cukup dan lebih tinggi daripada kepandaianku sendiri" kata jago kawakan itu, "aku anjurkan engkau pulang ke Thian- cin karena mengingat usia pamanmu yang sudah lanjut. Beliau takkan dapat melanjutkan usahanya tanpa ada seorang yang mempunyai kecakapan sepertimu untuk mewakili atau kelak menggantikan kedudukannya".

"Tapi aku masih mempunyai seorang kakak dan seorang adik laki-laki" Giok Hong memotong pembicaraan gurunya, "yang aku percaya akan dapat membantu usaha paman. Oleh karena itu, aku pikir hendak menetap di sini untuk merawat guru seumur hidup".

Ciam Kui tersenyum dan berkata, "Giok Hong Hian-touw, segala sesuatu di dunia ini tak dapat berlangsung dengan langgeng, tiada sesuatu yang kekal dan dapat berkumpul terus sepanjang masa. Mengenai saudara-sauradamu, akupun bukan tidak tahu. Kakakmu Thiat Kun Sun memang mempunyai ilmu kepandaian yang hebat juga, hanya amat disayangkan tabiatnya yang sangat ganas dan gemar berkelahi. Maka kalau menurut pendapatku, dia bukan seorang yang pandai bergaul, bahkan sebaliknya ia bisa menimbulkan bencana besar karena tabiatnya yang pemarah itu.

Kukira ada baiknya juga jika engkau selalu menasehatinya agar ia dapat berlaku lebih sabar dan mengalah dalam segala urusan remeh yang tidak berharga. Sedangkan adikmu Giok Tien masih terlampau muda untuk dapat membantu pamanmu.

Menurut penglihatanku, hanya engkau sajalah yang paling tepat untuk menjadi pembantu dalam kantor angkutan pamanmu itu. Maka aku anjurkan engkau supaya berangkat ke Thian-cin selekas mungkin".

Oleh karena menganggap kata-kata gurunya itu benar juga, maka Giok Hong terpaksa mengabulkannya. Ciam Kui selanjutnya berpesan kepadanya sebagai berikut, "Pesanku kepadamu adalah, yang pertama-tama supaya engkau juga dapat menghadapi segala persoalan dengan otak dingin, jangan sekali-kali engkau berlaku sembrono dan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu segala akibatnya dikemudian hari. Kita boleh berlaku berani, walaupun mesti pertaruhkan jiwa dan raga demi kehormatan negara dan diri, tapi kau jangan lupa ada batas-batasnya dimana kita mesti mengalah dan bertindak lunak dalam segala persoalan yang tengah kita hadapi".

Sun Giok Hong manggut-manggut sambil berkata, "Murid perhatikan dengan sepenuh hati pesan guru itu".

"Soal kedua" Thio Ciam Kui melanjutkan bicaranya, "aku wariskan ilmu golokku seluruhnya kepadamu dengan harapan agar engkau kelak dapat juga menurunkannya kepada generasi yang lebih muda. Bertepatan dengan kata kakakku Ciam Goan, usia kita memang bisa menjadi tua, tapi ilmu kepandaian akan hidup sepanjang masa. Aku tidak setuju dengan sistem perguruan ilmu silat yang sedikit kheng-pouw atau merahasiakan siasat-siasat silat yang dianggap lihay, untuk secara istimewa diturunkan kepada anak cucu atau murid-murid tertentu yang dianggap paling baik dan disayang.'. Maka dengan berdasarkan ilmu golokku yang telah kuwariskan kepadamu itu, semoga dunia silat akan terbuka matanya dan mengetahui bahwa sistem kheng-pouw tidak akan memperoleh kemajuan-kemajuan, bahkan sebaliknya pasti dikutuk habis-habis oleh generasi muda yang tentu menganggap kita selalu mementingkan sanak keluarga dan sekelompok manusia yang disayangi saja!. Dan sangat kuharapkan juga, generasi-generasi muda akan meneruskan cita-citaku ini.

Dengan demikian aku matipun puas, tetapi sebelum aku tinggalkan dunia yang fana ini, gelar 'Ngo-seng-to-ong' akan kuserahkan padamu untuk dijaga baik-baik dan selanjutnya diserahkan pula kepada seseorang yang kau kira tepat untuk menerimanya!".

Begitulah Thio Ciam Kui telah menutup kata-katanya dengan tertawa terbahak- bahak.

Hal manapun diturut oleh Sun Giok Hong, walaupun airmatanya mengucur karena terharu mendengar kata-kata gurunya itu.

"Sekarang engkau boleh berkemas-kemas" kata jago silat kawakan itu sambil menepuk-nepuk bahu muridnya.

"Segala pesan guru" kata Sun Giok Hong sambil menghapus airmata, "akan kusimpan di dalam hati untuk selama-lamanya. Dan selaras dengan itu, akupun berjanji untuk memuliakan nama guru dengan menurunkan ilmu golok kita kepada para pemuda dan pemudi yang, berbakat serta dapat diharapkan akan juga menurunkan ilmu golok guru kepada generasi yang lebih muda".

"Ha, ha, ha!. Nyata hanya engkaulah yang dapat menjajaki maksud hatiku" bersorak Thio Ciam Kui dengan hati sangat gembira, hingga Giok Hong jadi menangis tersedu-sedu karena rasa girang dan terharu yang bercampur aduk di dalam hatinya.

Sementara Thio Ciam Kui yang menyaksikan demikian, dengan tersenyum lalu berkata, "Hus!. Kenapa mesti membuang-buang airmata dengan percuma?. Seorang gagah tak pernah menangis begitu rupa, kau tahu itu?. Ha, ha, ha.'. Anak baik, mari engkau temani aku minum arak sebagai landa cintaku dan mendoakan engkau agar memperoleh sukses dalam penghidupanmu dimasa yang akan datang!. Mari, mari, tak usah engkau menampik. Anggaplah aku ini sebagai ayahmu sendiri!".

Sambil berkata demikian, Ciam Kui lalu menyekal tangan muridnya untuk kemudian diajaknya makan minum sebagai tanda selamat jalan.

Dan tatkala selesai berkemas-kemas, Giok Hong dengan rasa terharu mengucapkan selamat tinggal kepada gurunya dan seluruh keluarga serta rekan-rekannya di kantor Gie-cee Pio Kiok, maka segerlah ia berangkat.

Setibanya di kota Thian-cin, Giok Hong disambut dengan hangat oleh paman dan saudara-saudara sepupunya. Giok San dan Giok Tian yang segera menjamunya makan minum dengan gembira. Dan selama perjamuan itu berlangsung, Giok Hong telah menuturkan riwayat perantauannya, dari kereta-kereta pio yang tengah dilindunginya dirampok orang di Han-kee-chung sehingga kemudian ia berguru pada It Kak Siansu dan Thio Ciam Kui. Sin Bu sekeluarga menjadi kagum dan berterima kasih untuk kebaikan kedua jago-jago silat tersebut.

Sun Sin Bu alias In Hu yang sejak lama telah merasa usianya sudah agak lanjut dan kurang leluasa untuk keluar bepergian mengurus pekerjaan kantor angkutannya ke tempat-tempat jauh. Setelah menyaksikan sendiri kegagahan Giok Hong waktu berlatih berpasangan dengan Giok San, maka tanpa ragu-ragu ia telah minta Giok Hong untuk menjadi wakilnya untuk mengurus serta melindungi kereta-kereta pio di manapun diperlukan.

Untuk tidak menyinggung perasaan Giok San yang namanya sudah terkenal dengan nama julukan Thiat-kun Sun atau Sun si Tinju Besi, Giok Hong dengan rendah mengalah supaya tugas itu diserahkan saja kepada saudara sepupunya itu. Tapi Giok San lalu mendesak agar Giok Hong suka menerima tawaran ayahnya itu, hingga Giok Hong terpaksa menerima baik tawaran tersebut dengan mengucap banyak-banyak terima kasih atas kepercayaan sang paman itu.

Pada suatu hari Sun Giok Hong dan kakak sepupunya Sun Giok San pergi menonton di gedung kesenian Tay Sie Kay di dalam kota Thian-cin. Apa mau dikata, tatkala mereka sedang enak berjalan, tiba-tiba punggung Giok San ditabrak orang. Dia menjadi gusar dan mencaci maki, "Apakah matamu buta, hingga jalan yang ramai ini kau anggap sepi?. Nih.......Kau rasakan tinjuku!".

Sambil berkata begitu, Sun Giok San lalu menjotos dada orang itu sehingga jatuh terpelanting dan muntah-muntah darah. Kemudian ia tertawa tergelak-gelak dan berkata, "Kawan, itu tandanya bahwa aku Thiat-kun Sun masih suka mengampuni jiwamu. Kalau tidak, niscaya kau akan kujotos hingga tulang-tulangmu remuk dan jiwamu melayang seketika ini juga!".

Setelah itu ia mengajak Giok Hong berlalu meninggalkan orang laki-laki yang tergeletak di tanah itu.

Di tengah jalan Giok Hong berkata kepada kakak sepupunya, "Kakakku, ilmu kepandaianmu itu memang sangat lihay, tapi sayang tabiatmu terlampau keras dan berangasan hingga tabiat itu perlu sekali kau ubah, agar kelak tidak sampai mengakibatkan keonaran yang akan membahayakan bagi dirimu sendiri. Orang laki- laki yang telah kau pukul tadi, sebenarnya tidak seberapa besar kesalahannya tapi engkau telah main pukul orang tanpa-berpikir panjang lagi. Bukankah itu suatu perbuatan yang keterlaluan sekali!".

Sun Giok San lalu bersenyum dingin dan berkata, "Kita hidup di jaman sekarang, hendaknya dititikberatkan kepada keadaan yang memang sudah layak dan sesuai dengan cara penghidupan di jaman ini. karena umumnya orang lebih segan berhadapan dengan orang yang berintju keras daripada terhadap orang yang baik hati dan bertabiat lemah lembut. Kita tidak berbuat salah kepadanya, tapi dia sendirilah yang telah berlaku kurang hati-hati dan menabrakku. Maka jika aku telah memukulnya, itu hanya untuk membuat ia berpikir dan selanjutnya jangan sampai terjadi pula kesembronoan yang serupa, sama sekali bukan aku yang harus dipersalahkan!. Aku sangat heran, mengapa engkau memihak kepada orang itu?".

Sun Giok Hong merasa tidak baik untuk bertengkar dengan Sun Giok San yang keras kepala dan bertabiat berangasan itu. Maka dengan tidak berkata-kata, mereka segera menonton pertunjukan yang diadakan digedung kesenian Tay Sie Kay.

Pada keesokan harinya, kira-kira di waktu lohor, seorang laki-laki setengah tua telah datang ke kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok

untuk mencari Sun Giok San. Orang laki-laki ini bertubuh tegap dan kokoh, dadanya berbulu, gerak-geriknya gesit dan wajahnya diliputi dengan kegusaran. Biarpun ditilik dengan sepintas lalu saja, orang segera dapat mengetahui bahwa dia itu adalah seorang yang paham ilmu silat.

Kebetulan waktu itu Sun Sin Bu tidak ada di kantornya, sedangkan Giok San sendiri kebetulan juga sedang pergi keluar. Karenanya Giok Hong yang keluar menyambut, menanyakan she dan nama orang itu serta apa maksud kedatangannya ke kantor Hin Liong Pio Kiok. 

"Aku she Ong bernama Kim Houw" sahut orang laki-laki setengah tua itu, "dikalangan Kang-ouw orang mengenal aku dengan nama julukan Thiat-kun Ong atau Ong si Tinju besi. Aku dengar di sini ada juga orang yang mempunyai nama julukan yang sama, Thiat-kun Sun. Hari ini aku telah sengaja datang ke sini untuk menjajal sampai dimana kelihayan tinju besinya si orang she Sun itu!".

Sun Giok Hong mendengar keterangan demikian, lekas-lekas mengangkat kedua tangan memberi hormbat sambil berkata, "Oh, tidak tahunya tuan ini adalah Ong Suhu. Silahkan duduk, silahkan duduk. Kakakku yang disebut Thiat-kun Sun itu, kebetulan sedang pergi keluar hingga tidak dapat menyambut kedatangan Suhu".

Ong Kim Houw tampak agak kecewa lalu berkata, "Kalau begitu, bolehlah engkau sampaikan pesanku ini kepadanya. Orang yang dipukulnya sehingga hampir mati pada hari kemarin, bukan lain daripada saudara sepupuku, seorang yang tidak paham ilmu silat sama sekali dan pekerjaannya adalah berjual beli barang-barang keperluan sehari-hari. Kini aku hendak menuntut balas kepada Thiat-kun Sun untuk perbuatannya yang ganas itu. Beritahukanlah padanya bahwa aku menunggu kedatangannya esok hari di kelenteng Touw-tee-bio yang terletak 3 lie di luar kota.

Jika dia tak berani datang, akan kusiarkan tentang kepengecutannya itu kepada seluruh pendekar di kalangan Kang-ouw, agar semua orang dapat mengetahui bahwa Thiat-kun Sun hanya berani memukul orang yang lemah dan tak mengerti ilmu silat. Jika sesudah itu ia masih tak mau meladeni juga tantanganku, walau ke ujung langitpun akan kukejar dia, dan jangan harap ia akan dapat lolos dari cengkeraman Thiat-kun Ong!".

Setelah berkata demikian, ia segera membalikkan badannya dan meninggalkan kantor angkutan itu.

Sun Giok Hong jadi terbengong-bengong menyaksikan sikap orang itu yang begitu kasar dan tidak memiliki kesopanan sama sekali. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memberitahukan tentang sikap Ong Kin Houw itu kepada kakak sepupunya, selain menyampaikan tantangannya untuk bertempur di kelenteng Touw- tee-bio di luar kota Thian-cin.

Giok Hong mengetahui dengan baik bahwa pamannya Sin Bu adalah seorang tua yang jujur dan adil dalam menimbang-nimbang urusan. Pasti pamannya itu akan jadi gusar dan menghukum Giok San jika dia mengetahui bahwa hanya disebabkan tertubruk sedikit saja, anaknya itu telah memukul orang hingga hampir mati. Maka Giok Hong telah berlaku sangat hati-hati waktu menyampaikan berita tantangan kim Houw kepada Giok San, yang telah menerima tantangan tersebut dengan satu senyuman sinis.

Pada esok harinya, sesudah sarapan tengah hari, Giok San dengan diam-diam telah mengajak Giok Hong menuju ke kelenteng Touw-tee-bio. Benar saja, di dalam halaman kelenteng yang sudah tidak diurus itu telah menanti seorang laki-laki setengah tua, yang bukan lain daripada Thiat-kun Ong adanya.

"Apakah engkau ini bukan Thiat-kun Ong Kim Houw yang telah menantang aku kemarin?" Giok San menegur lebih dulu dengan suara keras.

"Benar" sahut laki-laki setengah tua itu sambil maju setindak dan membusungkan dadanya. "Apakah engkau ini bukan Thiat-kun Sun?".

Orang yang ditanya lalu membenarkan sambil berkata, "Telah kukelahui dengan jelas maksudmu dan untuk tidak membuang-buang waktu. jelaskanlah dengan cara apa engkau hendak berkelahi dengan aku"

"Kemarin dahulu saudara sepupuku telah kau pukul, hanya karena dia lelah menabrakmu dan kini jiwanya tengah terancam bahaya maut." kata Ong Kim Houw. "Engkau dan aku mempunyai nama julukan yang sama Thiat-kun atau si Tinju Besi, maka hari ini aku hendak mengetahui Thiat-kun Sun atau Thiat-kun Ong yang tinjunya lebih keras!".

Giok San yang menganggap dirinya sendiri Thian-hee-tee-it atau nomor wahid di kolong langit, sambil bersenyum dingin lalu menjawab, "Boleh..tentu boleh!.

Katakanlah cara bagaimana pertandingan itu hendak kau lakukan!".

"Begini" kata Ong Kim Houw tegas. "Engkau boleh mendahului memukulku tiga kali. Jika engkau mampu merobohkanku, akan kubuang nama julukanku Thian-kun Ong dan mengaku kalah. Tapi jika engkau yang kena kukalahkan, apakah engkau juga bersedia untuk membuang nama julukanmu dan menyerah kalah kepadaku?".

Sun Giok San gusar bukan main mendengar kata-kata orang she Ong itu. "Bagus!" katanya tanpa banyak pikir lagi. "Syaratmu itu kusetujui dan segeralah engkau bersiap-siap untuk menerima pukulan-pukulanku!".

Dengan bersandar pada dinding tembok kelenteng, Ong Kim Houw lalu memasang kuda-kuda dan berkata, "Thiat-kun Sun, engkau dapat segera mulai, aku telah siap!".

Giok San segera menyadari bahwa dia hendak diperdayai oleh lawannya itu. Maka setelah menyingsingkan lengan bajunya serta melibatkan ujung bajunya ke pinggangnya, Thiat-kun Sun lalu mengayun tinjunya untuk menghajar ulu hati orang sambil berseru,

"Sambut tinjuku ini!".

Ong Kim Houw pasang mata betul-betul. Begitu melihat tinju lawannya menyambar, lekas-lekas ia mengegos untuk menghindarkan pukulan itu. Dengan mengeluarkan suara "buk" yang keras sekali, tinju Giok San telah menghantam dinding tembok yang sudah tua itu sehingga gugur dan berlobang!. Debu dan hancuran batu-bata berhamburan kian kemari tertiup angin lalu.

Tapi dengan mengambil kesempatan selagi Giok San hendak menarik pulang tinjunya yang nyasar itu, Ong Kim Houw secara curang telah menyerang dengan siasat Hek-houw-tauw-sim atau harimau kumbang mencuri hati, balas menumbuk ulu hati Giok San dengan tinjunya yang besar dan kuat.

Syukur juga Giok San bermata jeli. Begitu melihat lawannya berlaku curang, dengan segera ia mengegos untuk megelak pukulan yang datang itu. Kemudian dengan sengit ia menyerang batok kepala Kim Houw dengan siasat Thay-san-ap-teng atau Gunung Thay-san menindih kepala. Dahsyat dan ganas gerakan tinju Giok San itu hingga untuk kedua kalinya Kim Houw lekas berkelit dan Duk!. Tinju Giok

San menghantam dinding tembok hingga membuat lobang yang lebih besar daripada pukulannya yang pertama.

Ong Kim Houw yang melihat muslihatnya untuk membokong Ciok San telah gagal, jadi sangat penasaran dan segera bersiap-siap untuk membarengi memukul agar ia dapat berkelit dari serangan lawan yang akan datang itu.

"Engkau telah berlaku curang!" bentak Sun Giok San. Ong Kim Houw hanya mengganda mesem saja tanpa perasaan jengah atas perbuatannya yang telah "phoa- tang" atau tertangkap basah itu.

Kali ini dia tak menunggu sampai tinju Giok San menyamber tempat kosong dan hendak langsung memotongnya di tengah jalan dengan siasat Hui-in-heng-kang atau awan melayang-layang di sungai. Begitu tinju Giok San meluncur, lekas-lekas ia mengangkat tinjunya sendiri dan terus dihantamkannya pada lengan Giok San sambil berseru, "Nah rasakanlah, ini bagianmu!".

Giok San yang tidak mudah dikelabui orang, dengan sebat manarik- pulang tinjunya, untuk kemudian berbalik dipukulkan kearah tinju lawannya.

Duk !. Suara beradunya kedua tinju itu telah membuat Sun Gio Hong yang

menonton di suatu pinggiran jadi terkejut bukan buatan. Karena begitu tinju kedua orang itu saling beradu, Sun Giok San tampak terdorong mundur dan hampir jatuh terlentang. Sedangkan Ong Kim Houw tak terasa lagi jadi menjerit dan terpental menabrak dinding tembok di belakangnya sehingga jatuh keluar tembok yang telah berlubang karena gugur dihantam dua kali oleh tinjunya Sun Giok.

Kemudian dengan perasaan yang masih ngilu pada tangannya yang bekas bertemu dengan tinju Ong Kim Houw tadi. Giok San mendekati dinding tembok yang berlobang itu dan berkata kepada Ong Kim Houw yang saja bangkit di sebelah luar, "Apakah sekarang engkau suka menyerah?". Ong Kim Houw yang mendengar demikian, lalu mencibirkan bibirnya sambil mengejek, "Menyerah?. Aku toh belum kalah, bagimana engkau dapat menyuruh aku menyerah?. Sekarang lebih baik kita bertempur dahulu untuk mengetahui siapa yang lebih unggul dalam pertempuran ini'".

"Mulailah" kata Sun Giok San dengan hati yang sangat mendongkol.

"Sambut seranganku ini!" seru Ong Kim Houw sambil maju menerjang dengan siasat Tay-peng-pok-niauw atau garuda menyambar burung. Dengan tinjunya yang melancarkan pukulan maut, Kim Houw berniat membunuh tawannya dengan sekali gebrak dan Giok Hong yang sedang menonton jadi terkesiap hatinya. Sambil membanting kaki ia berseru, "Celaka!".

Tapi Sun Giok San yang juga sudah berpengalaman dalam pertempuran dan sepasang tinju besinya telah sering membuat jiwa orang melayang dengan batok kepala remuk atau tulang-tulang lengan patah dan kaki cacat, tampaknya tidak menjadi kaget dengan serangan kilat lawannya itu.

Begitu Ong Kim Houw maju melancarkan serangan mautnya, dengan segera ia menangkis pukulan lawannya itu. Setelah itu dengan gesit sekali tangan kirinya menyerang kepala, sedangkan tangan kanannya menerjang tulang iga Kim Houw sambil membentak, "Terimalah hadiahku ini!".

Sungguh tidak dapat dimengerti oleh Kim Houw, bahwa bukan saja lawannya mampu menangkis serangannya, malah ia sekaligus dapat balik" menyerang dirinya!. Dalam keadaan bingung bercampur khawatir itu, Kim Houw tak lagi dapat mengelakkan kedua tinju besi Giok San yang tepat mendarat di sasarannya dengan mengeluarkan suara yang keras dan mengerikan sekali.

Duuuukkk !. "Aduh!!" dan muncratlah darah segar dari mulutnya bagaikan

air mancur!. Dilain saat tubuh Kim Houw telah terpental ke suatu tempat yang terpisah tidak kurang dari limabelas kaki jauhnya dan jatuh di tanah dengan tulang iga patah serta batok kepala remuk terpukul tinju besi Giok San. Ternyata ia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan tepat di muka meja sembahyang kelenteng Touw-tee-bio yang tidak terurus itu!.

Giok San yang khawatir apabila kematian Kim Houw diketahui I orang, mengajak Giok Hong untuk segera mengubur mayat itu. Dalam perjalanan pulang ke dalam kota, Giok San telah berpesan kepada Giok Hong dengan berkata, "Adikku, janganlah kau beritahukan peristiwa ini kepada ayahku. Jika sampai ia mengetahui hal ini

...................".

Dengan paras muka khawatir Giok San tidak berani lagi meneruskan kata-katanya.

Giok Hong berjanji akan menutup mulutnya rapat-rapat, meskipun di dalam hati ia merasa sangat menyesal menyaksikan Giok San yang begitu ganas telah mengirim jiwa lawannya tanpa memikirkan pula akibatnya nanti.

0oo0