-->

Golok Naga Kembar Jilid 02

Jilid 02

PADA suatu hari dikala senja, rombongan kereta-kereta pio itu telah tiba di pantai utara sungai Su-sui. Oleh karena keadaan di situ hanya tampak kesunyian dengan air sungai mengalir luas dihadapan mereka serta dikelilingii oleh hutan-hutan yang lebat, maka Ma Tiauw Hoan lalu berkata kepada Sun Giok Hiong demikian, "Sie-tit, kita sekarang harus melintasi sungai ini untuk menuju dan bermalam di kewedanaan Cu- yang. Letaknya hanya duapuluh lie lebih, penduduknya padat, karena kewedanaan itu merupakan salah satu kota besar yang terletak di propinsi Shoatang selatan. Jika kita dapat segera melintasi sungai ini, pada waktu kentongan pertama, kita sudah sampai ke dalam kota"

Sun Giok Hong menuruti omongan pio-su itu.

Dalam pada itu dari antara hutan welingi yang lebat, tiba-tiba muncul empat buah perahu yang dikayuh orang menuju ke pantai utara. Melihat perahu-perahu itu, Sun Giok Hong jadi girang, lalu melambai-lambaikan tangannya ke arah perahu-perahu tersebut, sambil menjanjikan sewaan berupa lima mata uang emas. Tapi karena perahu-perahu itu tak dapat mengangkut sepuluh kereta pio sekaligus, maka pengangkutan itu dilakukan dengan cara berangsur-angsur. Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu mengikuti tiga buah kereta pio yang diangkut terlebih dahulu, kemudian menyusul empat buah kereta pio lagi. Giok Hong mengikuti tiga buah kereta pio yang diangkut paling belakang. Sambil meletakkan tangan pada gagang goloknya, Giok Hong memandang kesana- sini menikmati pemandangan alam yang sangat indah dan terbentang luas di empat penjuru dunia. Dari kejauhan tampak gunung Tong-gak Thay-san yang puncaknya menjulang ke angkasa raya, asap tebal yang meliputinya dan hutan-hutan di tempat jauh yang sudah hampir kehitam-hitaman karena diselubungi oleh cuaca yang sudah mulai petang. Di atas perahu-perahu itu selain tukang-tukang perahu dan gembala keledai, tidak terdapat orang lain yang ikut serta di atasnya, maka perahu-perahu itu meluncur ke tengah sungai dalam kesunyian dan hanya suara pengayuh-pengayuh perahu itu saja yang terdengar berkecimpungan memecah arus yang mengalir di tengah sungai.

Selagi Giok Hong yang berdiri termenung sambil mengagumi keindahan alam, tiba- tiba salah seorang tukang perahu maju menghampirinya sembil tersenyum dan berkata, "Engkau yang berusia masih begitu muda, sudah berani melindungi kereta- kereta pio sehingga sepuluh buah banyaknya. Apakah engkau tak takut pada kawanan berandal yang mungkin saja mencegatmu di tengah jalan?".

Giok Hong meski berkepandaian tinggi, tapi sifat kekanak-kanakannya belum lagi lenyap, dengan tersenyum ia menjawab, "Aku pernah satu kali mengalami kejadian dimana kereta-kereta pioku dirampok orang di Thio-kee-chung yang terletak di bawah gunung Thay-san. Syukur juga aku cukup lihay, hingga mampu mengalahkan si perampok dan merampas pulang kereta-kereta pioku itu, para perampok itu pasti tak akan mengganggu kami lagi, demi melihat panji-panji kepala harimau dari kantor angkutan kami Hin Liong Pio Kiok".

"Siauw-ko yang masih begini muda, ternyata mempunyai kepandaian yang sangat menakjubkan" kata si tukang perahu itu sambil tersenyum, "aku belum lagi tahu nama tuan muda ini, agar supaya dapat kucatat nama besarmu di dalam kenanganku".

"Aku sungguh tak berani menerima penghormatan tuan yang sedemikian tinggi itu" kata Sun Giok Hong dengan laku merendah. "Aku yang rendah she Sun bernama Giok Hong, orang dari Tit-lee".

"Jika demikian halnya, Sun Giok San dari kantor pengangkutan Hin Liong Pio Kiok tentulah ada kakak kandungmu, bukankah begitu?".

Giok Hong menganggukkan kepalanya. "Benar" sahutnya, "dialah kakakku yang terbesar. Aku sendiri tergolong sebagai saudaranya yang ke tujuh".

Si tukang perahu menunjukkan wajah yang terkejut dan lalu berkata, "Aiiiii, ternyata engkau ini ada adik sahabat karibku!. Mengingat pertemuan yang sangat kebetulan ini, tidak ada salahnya jika kita peringati dengan mengadakan jamuan makan minum".

Oleh karena perahu belum sampai ke pantai, maka Giok Hong berpikir tidak ada salahnya mengabulkan maksud baik si tukang perahu itu, lebih-lebih karena mengingat bahwa dia itu adalah sahabat karib kakaknya sendiri.

Dalam perbincangannya itu, Giok Hong mengetahui bahwa si tukang perahu itu bernama Bu Kee Tee, orang dari Yang-kok yang juga terletak dalam propinsi Shoatang. Di Sungai Su-sui, ia menuntut penghidupan sebagai seorang "pengangkut barang", tapi bukan sesungguhnya hidup sebagai seorang tukang perahu. Pada hari kemarin berhubung ia kemalaman, maka ia telah bermalam di atas perahu dan baru pada petang hari itu ia mendapat kesempatan melintasi sungai dengan rombongan si pemuda she Sun.

Keterangannya irupun dipercaya oleh Sun Giok Hong, lebih-lebih Bu Kee Tee menyatakan kesediaannya untuk membantu segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pemuda itu. Maka dengan tidak curiga lagi ia telah menerima tawaran makan dan minum bersama sahabat barunya itu, yang segera menyilahkan ia minum arak. Tapi, apa mau dikata, ketika baru minum dua cawan, tiba-tiba Giok Hong merasakan kepalanya pusing dan matanya-pun berkunang-kunang, hingga si tukang perahu yang menyaksikan demikan jadi bertepuk tangan sambil tertawa-tawa dari berkata, "Roboh

.... Roboh" Giok Hong baru sadar dirinya telah tertipu, lalu dengan gusar ia hendak menghunus goloknya tapi apa mau dikata ia merasa hampir tak bertenaga lagi.

Jangankan menghunus golok, untuk melihat pun sukar, sehingga ia kemudian roboh di geladak perahu dalam keadaan pingsan.

Tatkala ia tersadar dari pingsannya. Giok Hong mendapatkan dirinya terbaring di atas timbunan rumput, darimana ia melihat sinar bintang-bintang berkilauan di langit yang gelap, sedang desiran angin malam yang dingin membuat otaknya lebih jernih dari pengaruh obat bius yang telah dicampur dalam arak tadi. Arus yang terdengar beriak-riak menandakan bahwa dia masih tetap berada di tepi sungai, ketika ia mengangkat kepalanya memandang ke sebelah depan, baru ia ketahui bahwa perahu- perahu yang ditumpanginya tadi telah lenyap entah kemana perginya.

Tidak begitu lama, sinar matahari pun tampak mulai menyinari muka bumi. Tapi seperti halnya perahu-perahu itu, Ma Tiauw Hoan, The Kee Hu dan kesepuluh kereta pio itupun lenyap tak berbekas. Diwaktu menoleh dan memperhatikan keadaan sekitarnya, ia melihat goloknya tergeletak di atas timbunan rumput, maka buru-buru diambilnya golok -itu dan lalu disoren di pinggangnya. Dan dalam penyelidikan selanjutnya. Giok Hong melihat bekas roda kereta dan bekas-bekas kaki kuda yang tampak serabutan di atas tanah becek. Maka dengan mengikuti bekas roda-roda kereta pio itu, Giok Hong melangkah ke barat dengan pikiran masgul.

Ketika berjalan kira-kira 5 atau 6 lie jauhnya, jalanan membelok ke arah kiri sisi pegunungan, dimana setelah ia berjalan 8 atau 9 lie pula jauhnya, tiba-tiba dari dalam hutan ia mendengar suara orang yang menebang pohon. Lekas-lekas ia menghampiri ke sana dan menjumpai seorang tukang potong kayu yang berusia kira- kira 30 tahun, perawakannya kekar dan kuat bagaikan orang-orang yang pernah belajar ilmu silat.

Ketika baru saja ia hendak menanyakan sesuatu kepadanya, si pemotong kayu yang terlebih dahulu telah dapat menduga maksud si pemuda, dengan menatap wajah Sun Giok Hong dengan rupa heran dan bertanya, "Usiamu masih begini muda, tapi toh engkau sudah berani sendirian datang ke sini dengan menyoren golok, apakah barangkali engkau sudah bosan hidup?. Aku nasihati supaya engkau lekas- lekas turun gunung dan jangan mencoba datang ke sini lagi, kalau tidak, engkau pasti akan mengalami lebih banyak celaka daripada selamat!".

"Sungguh aneh sekali!" kata si pemuda gagah itu. "Orang lain toh banyak yang menyoren golok, masakan hanya aku saja yang harus dibunuh karena berbuat demikian?. Sedari kapan di sini diadakan peraturan begitu?".

"Di dunia memang banyak sekali persoalan yang tidak layak" kata si pemotong kayu dengan suara perlahan, "jika semua orang mengerti aturan, dunia ini pasti aman. Di jaman ini semua orang justru tidak mengenal aturan, maka kalau boleh aku nasihatkan tinggalkanlah segera tempat ini!".

"Aku datang ke sini dengan maksud tertentu" sahut Giok Hong, "oleh karena itu, aku tak perduli hal apa yang akan terjadi atas diriku, tidak urung aku mesti melakukannya juga".

"Usiamu masih terlampau muda, hingga sayang sekali jika mesti mengorbankan diri dengan cara sia-sia" kata si pemotong kayu itu. "Paling benar lekas-lekaslah engkau berlalu dari sini!". "Aku tak punya muka untuk pulang ke rumahku" kata si pemuda, "maka lebih baik aku mati daripada harus hidup menanggung malu".

Selanjutnya untuk mendapat keterangan yang lebih jelas mengenai bahaya yang mengancam setiap orang di pegunungan itu, Giok Hong diberitahukan oleh si pemotong kayu itu sebagai berikut :

"Gunung ini bernama Beng-kui-san. Pada tahun yang lalu tidak sedikit para pendekar muda yang berjalan sendirian dalam daerah pegunungan ini telah tewas. Mereka itu telah menjadi korban dari keganasan seorang kepala rampok terkenal yang bernama Khong Giok Kong, yang telah bersarang di sini bersama 40 atau 50 orang kambrat-kambratnya serta menjagoi baik itu di darat maupun di perairan, sehingga para pembesar dan pihak yang berwajib merasa kewalahan untuk menumpasnya".

Setelah bercerita sampai disitu, si pemotong kayu menoleh ke dalam rimba dan tatkala melihat keadaan di sana tenang-tenang saja, barulah ia berani melanjutkan bicaranya lagi dengan separuh bisik-bisik. Katanya, "Ada suatu rahasia yang hendak kuberitahukan kepadamu. Pada kemarin malam orang bawahannya Khong Giok Kong yang bernama Bu Kee Tee telah berhasil melakukan perampokan besar, sehingga kini di atas gunung tengah diadakan perjamuan besar-besaran serta dilarang keras untuk orang sembarangan datang ke sana. Oleh karena menilik bahwa engkau hanya seorang diri saja, lagipula engkau terhitung seorang asing, maka paling betul engkau jangan pergi ke sana, tapi lekas-lekaslah engkau berlalu dari sini".

Setelah Giok Hong mendengar keterangan itu, ia bukan saja tidak ingin membatalkan niatnya, malah sebaliknya jadi semakin bernapsu untuk mengejar Bu Kee Tee, orang yang telah merampok kereta-kereta pionya secara keji. Dengan perampokan itu, seolah-olah Bu Kee Tee dengan sengaja ingin menjatuhkan nama baik keluarga Sun yang telah turun temurun terkenal sebagai keluarga orang-orang gagah dari jaman dulu hingga sekarang.

Maka untuk mempertahankan nama baik keluarganya itu, tak ada lain jalan bagi Giok Hong daripada menempur perampok she Bu itu. Kemudian tanpa menghiraukan pula nasihat baik si pemotong kayu itu, Giok Hong segera melanjutkan perjalanannya mendaki gunung dengan napsu amarah yang berkobar-kobar.

Hari telah menjelang senja, sedangkan matahari telah turun ke kaki langit barat.

Tapi tanpa memikirkan hal apa yang akan terjadi atas dirinya, ia lalui jalan-jalan gunung yang berkelok-kelok dan gelap dengan tekad bulat untuk mengambil pulang kereta-kereta pio yang dilindunginya, seperti apa yang pernah dilakukannya terhadap Han Siauw Houw di Han-kee-chung.

"Jika bukan dia, tentulah aku yang mesti memberi selamat tinggal kepada dunia ini!" Giok Hong berkata pada dirinya sendiri.

Diantara penerangan yang agak suram, Giok Hong melihat dari kejauhan ada beberapa rangho, rumah-rumah atap dan gubuk-gubuk yang didirikan di puncak gunung. Dan tatkala mendaki lereng gunung belum lagi tigapuluh tombak tingginya, tiba-tiba dari dalam rimba terdengar suara gembrengan yang dipalu dengan riuh sekali. Bersamaan dengan itu, 6 atau 7 orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar telah muncul dari kiri dankanan jalan dengan bersenjatakan golok, tombak dan pentungan, sedangkan orang yang menjadi pemimpinnya berperawakan kekar serta berkepala besar, di tangan kanannya mencekal sebatang toya besi, wajahnya bengis bagaikan hantu jahat yang baru turun dari neraka. Dengan mata mendelik dan suara nyaring ia membentak, "Hai, bocah yang masih menyusu, engkau dengan membawa golok datang ke sini, apakah engkau hendak minta pulang kereta-kereta piomu yang telah kami rampas pada hari kemarin?". Dengan membusungkan dada dan laku yang nekad, Giok Hong menjawab, "Memang benarlah apa katamu!. Engkau telah berlaku begitu berani mati merampas dengan cara keji kereta-kereta pio dari kantor angkutan kami Hin Liong Pio Kiok.

Maka untuk kali ini tuan kecilmu masih mau menasehatimu dengan baik-baik untuk segera

mengembalikan seluruhnya, kalau tidak , golokku ini pasti akan memenggal

batok kepalamu hingga bergelindingan jatuh turun gunung!".

Kepala penyamun itu jadi tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman si pemuda dan berkata, "Bocah ingusan, apakah engkau menganggap bahwa aku ini anak sebayamu, sehingga mudah digertak dan gemetar dengan kata-katamu yang agak keras?. Pendeknya, aku hendak memberitahukan kepadamu, jangankan kereta-kereta pio dari Hin Liong Pio Kiok, bahkan kereta-kereta pio Kaisar sekalipun, jika lewat di sini harus diserahkan kepada kami!. Tapi karena mengingat bahwa engkau ini hanya seorang bocah yang masih belum mengerti urusan, maka suka juga aku mengampuni jiwamu, asalkan engkau lekas-lekas berlalu dari sini. Kalau tidak, engkau harus menanggung sendiri segala akibatnya!".

Sun Giok Hong yang berdarah panas tidak membiarkan dirinya digertak orang dengan seenaknya saja, tapi segera balas membentak dengan suara tak kalah nyaring, katanya, "Tikus hutan!. Beranikah engkau bertempur denganku sampai 300 jurus?".

Mendengar tantangan itu, si kepala penyamun jadi tertawa mengakak. "Siapa bilang aku tidak berani!" katanya dengan suara menyindir. "Jangankan baru 300 jurus, biar 3000 jurus sekalipun aku bersedia meladenimu. Mari, mari!. Kita bertanding satu lawan satu. Jika aku berkelahi dengan secara keroyokan, janganlah kau anggap aku seorang Ho-han!".

Sesudah berkata demikian, si kepala penyamun segera menyerang si pemuda she Sun dengan toya besinya, Giok Hong dengan sebat lantas menangkis serangan itu dengan golok di tangannya. Demikianlah suatu pertempuran yang dahsyat tapi hanya memakan waktu pendek saja telah terjadi di lereng gunung yang telah agak gelap karena sudah diliputi petang hari.

Sun Giok Hong yang masih muda belia dan baru pernah keluar melindungi pio pertama kali itu, tak berbeda dengan anak sapi yang tak jerih menghadapi harimau, maka dengan ilmu golok turunan keluarga Sun yang telah sekian lamanya menjagoi di tanah utara, ia mendesak si kepala penyamun tanpa sungkan-sungkan lagi, hingga diwaktu pertempuran baru saja berlangsung beberapa jurus lamanya, sudah jelas bahwa ia lebih unggul daripada pihak lawan yang usianya lebih tua, meski dalam pengalaman ia masih kalah jauh.

Si kepala penyamun yang semula berada dipihak yang menyerang, lambat laun telah terdesak dan hanya dapat menjaga diri saja, tapi tak mampu menyerang balik lawan sebagaimana layaknya. Giok Hong yang telah melihat titik-titik kelemahan musuh, tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan yang baik itu dengan sia-sia, ia segera maju menerjang dengan lebih bersemangat. Setelah si penyamun melihat gelagat yang tidak baik itu, dengan menebalkan muka ia lantas menyerukan anak- anak buahnya untuk membantunya menyerang lawan sambil berkata, "Saudara- saudara, mari kita kepung bocah yang lak tahu diri ini!".

Giok Hong tidak gentar menghadapi lawan-lawan yang berjumlah belasan orang itu, sambil mencibirkan bibirnya lalu mengejek, "Cis!. Hanya sebegitu saja lagaknya Ho-han bangpak ini!". Kemudian setelah melakukan beberapa kali serangan gertakan, dengan kecepatan bagaikan kilat ia ayunkan goloknya ke arah kepala lawan, sedangkan kakinya menyapu kaki kepala penyamun itu bagaikan angin puyuh yang mengamuk. Maka dalam keadaan terdesak itu, tiba-tiba si kepala penyamun merasakan matanya berkunang-kunang dan akhirnya jatuh meloso di tanah sambil menjerit, "Matilah aku kali ini!". Ternyata bahu kanannya telah terbacok.

Syukur juga bahu yang terbacok itu tidak mengeluarkan darah setetespun, barulah kepala perampok itu sadar, bahwa Giok Hong hanya membacok dengan belakang goloknya saja. Kalau tidak, niscaya bahu itu akan terbelah, jika tak mau dikatakan terpapas kutung sama sekali.

Tapi sebagai seorang penjahat yang tak pernah kenal kapok, bukan saja dia tak berterima kasih atas kebaikan hati si pemuda, malah sebaliknya ia menjadi sangat gusar dan segera hendak melanjutkan pertempuran itu dengan mengerahkan seluruh tenaga orang-orang bawahannya. Ketika baru saja ia hendak melompat bangun, tiba- tiba ia merasakan punggungnya diinjak orang, dibarengi dengan satu bentakan bengis, "Jangan bergerak, jika engkau masih sayang pada nyawa anjingmu!". Karena, bertepatan dengan kata-kata itu, si penyamun merasakan ujung golok yang dingin telah menindih batang lehernya, sehingga ia jadi sangat gugup dan meratap, "Siauw- hiap, ampunilah jiwa hambamu!".

"Ya, ampunilah dia!" kata satu suara dari balik semak-semak yang lebat.

Segera Giok Hong menoleh ke arah datangnya suara itu, ternyata dari balik semak- semak itu telah muncul seorang pemuda tampan berusia duapuluhan, perawakannya kira-kira 5 kaki lebih tingginya, berwajah putih dan berhidung mancung, beralis tebal serta bermata jeli. Tingkah lakunya lemah lembut dan sama sekali tidak mirip dengan seorang yang pernah mengerti ilmu silat. Ia mengenakan celana dan baju yang dibuat dari sutera putih, sedangkan di pinggangnya ia mengenakan tali pinggang sutera hitam, dimana tergantung sebilah pedang yang bersarung indah serta diukir dan dicat dengan air emas.

Tatkala melihat Giok Hong menoleh ke arahnya, pemuda tampan itu lalu tersenyum dan memberi hormat sambil berkata, "Anak, sungguh tak kusangka bahwa engkau yang baru berusia belasan tahun sudah sanggup mengalahkan anak semangku yang sudah berusia dewasa. Harap saudara suka bersabar dan dengarkan dahulu sepatah dua patah kataku".

Sementara Sun Giok Hong yang melihat sikap pemuda tampan yang sopan santun itu, yang tampaknya tak mirip sama sekali dengan seorang perampok, sudah barang tentu ia mau juga mendengarkan permintaan orang itu. Maka sambil mengangkat tangan memberi hormat, ia berkata, "Mohon tanya she dan nama Lauw-hia yang terhormat, ada kata-kata apa yang hendak disampaikan kepadaku?".

"Siauw-seng bukan lain daripada Khong Giok Kong yang dikenal orang dengan nama julukan Giok-bian-long-kun" sahut si pemuda tampan itu, "sedangkan orang yang baru kau kalahkan itu, bukan lain daripada Thauw-bak kami yang bernama Kho Toa Hay. Aku sungguh mengagumi keberanian dan kepandaianmu yang demikian lihaynya itu. Siauw-seng suka merendah kepada orang-orang yang bersifat lemah lembut, tapi tak akan tunduk kepada orang yang keras kepala. Oleh karena itu, sudikah kiranya saudara mengabulkan undangan untuk menjadi tamuku dan berkunjung ke tempat kediamanku di atas gunung?".

Giok Hong yang semula agak terkesima menyaksikan sikap si pemuda tampan, tiba-tiba ia menjadi keterlepasan omong dan berkata, "Sungguh aneh sekali!".

Khong Giok Kong tertawa dan balas bertanya, "Aneh?. Hal apakah yang kau anggap aneh?".

"Dalam perjalanan menuju ke sini telah kubayangkan dalam pikiranku" kata Sun Giok Hong, "bahwa Khong Giok Kong yang terkenal sebagai seorang kepala berandal di atas gunung ini dan mempunyai liauw-lo beberapa ratus orang banyaknya serta pernah membunuh tidak sedikit orang gagah yang berani datang ke sini, tentunya ada seorang yang bertabiat ganas dan tak mengenal perikemanusiaan. Tapi setelah sekarang kita saling berhadapan, ternyata kelirulah dugaanku itu".

Khong Giok Kong kembali tertawa dan berkata, "Mulut anak-anak memang tak lain daripada mengucap sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan juga!. Apakah engkau menganggap bahwa seorang pemuda tampan tak dapat menjadi seorang kepala berandal?. Rupanya engkau telah lupa, bahwa engkau sendiri yang baru berusia belasan, kini telah berani berjalan malang melintang dikalangan Kang-ouw dengan jalan melindungi kereta-kereta pio. Oleh sebab itu, apakah yang dapat dikatakan aneh?. Aku merasa bersimpati kepadamu, berhubung melihat usiamu yang masih begitu muda. Maka kalau maksud kedatanganmu ini adalah untuk meminta pulang kereta-kereta piomu yang telah kurampas itu, aku persilahkan engkau mengikuti aku naik ke atas gunung".

Sun Giok Hong yang merasa dirinya dianggap 'sepi', sudah tentu saja jadi merasa kurang senang dan balas membentak, "Hm, apakah engkau menganggap aku minta dikasihani olehmu?. Betul usiaku masih muda, tapi aku tidak bersedia atau pantang dihina orang. Mari, mari. Kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih unggul atau lebih lemah ilmu kepandaiannya!".

Khong Giok Kong menyambut tantangan itu dengan satu senyuman. "Ai "

katanya, "aku harap Siauw-eng-hiong jangan menjadi gusar dahulu. Jika engkau menantangku, biarlah kita lakukan pertandingan itu di atas gunung saja. Tidak harus berlaku tergesa-gesa?. Bersamaan dengan itu, kitapun boleh sekalian membicarakan juga syarat-syaratnya. Jika engkau dapat mengalahkan aku, semua kereta-kereta piomu yang berjumlah sepuluh buah itu akan kukembalikan kepadamu dalam keadaan utuh. Jika engkau yang kalah, akan kuberikan engkau ongkos jalan sejumlah 10 tail perak. Dengan demikian, kesepuluh kereta piomu itu menjadi milikku yang sah".

"Apakah syarat-syaratmu ini dapat dipercaya?" balik bertanya Giok Hong dengan hati yang ragu.

"Seorang laki-laki sejati tak akan mengingkari janji yang telah diucapkannya" jawab si pemuda tampan.

"Kalau begitu, aku bersedia untuk menuruti kehendakmu itu" kata Giok Hong.

Kemudian Khong Giok Kong memerintahkan supaya Kho Toa Hay dan anak buahnya ikut naik ke atas gunung, sedang Sun Giok Hong mengikuti di belakang dengan tangan selalu diletakkan di atas gagang goloknya, siap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Tatkala berjalan 5 atau 6 lie jauhnya, Khong Giok Kong lalu menoleh kepada si pemuda she Sun sambil menunjuk ke sebuah perkampungan dan berkata, "Nun di sana adalah tempat kediaman kami".

Sebagai tuan rumah, si pemuda tampan lalu mempersilahkan Giok Hong masuk ke perkampungan itu. Mereka berjalan dengan perlahan-lahan dibawah sinar bulan purnama, menuju ke sebuah gedung yang besar dan tinggi, dengan disekitarnya dikelilingi oleh sebuah taman yang luas, dimana ditanami pohon-pohon bunga dan semak-semak yang rindang, hingga keadaannya tampak aman dan tenteram sekali.

Begitu melangkah masuk ke dalam gedung itu, Giok Hong segera menyaksikan sebuah ruangan untuk berlatih ilmu silat yang luas sekali. Disuatu sisi terdapat sebuah rak senjata yang menyimpan delapan belas macam senjata-senjata yang umum dipakai dalam dunia persilatan. Sedang Sian-jin-tham atau harter batu, gembok batu dan lainnya, diletakkan di atas jubin di dekat rak senjata tersebut. Ruangan untuk berlatih silat itu diterangi oleh lampu-lampu yang terang benderang, dimana tampak 8 atau 9 orang yang bertubuh besar dan kokoh berkumpul disitu, salah seorang diantaranya dikenali oleh Sun Giok Hong sebagai tukang perahu Bu Kee Tee yang pernah mengajak ia minum arak yang dengan diam-diam telah dimasukkan obat bius kedalamnya.

Maka Giok Hong yang melihat musuh besarnya berada di situ, tidak ayal lagi ia lantas maju menerjang dengan golok terhunus di tangannya. "Bocah she Bu", teriaknya, "dengan secara keji engkau telah memasukkan obat bius kedalam arakku, hingga dengan enak saja engkau dapat merampas kereta-kereta pioku tanpa mendapat perlawanan dariku. Kini aku berada di sini untuk mengambil jiwa anjingmu!".

Bu Kee Tee yang menyaksikan betapa dahsyatnya serangan si pemuda she Sun, lekas-lekas melompat mundur sambil menghunus sebilah golok Tay-to, dengan golok itu ia meladeni Giok Hong yang tampaknya seperti orang kalap. Karena ia berkepandaian sangat rendah dan bukan tandingan Giok Hong yang setimpal, maka ketika baru saja bertarung dua jurus lamanya, ia telah dirobohkan dan goloknya terpental jauh sekali ke bawah kaki tembok di sisi pintu ruangan tengah. Kemudian, bagaikan seekor harimau kelaparan, Giok Hong melompat mendekati sambil membentak, "Golokku kali ini akan mengirim jiwamu ke akhirat!".

Tapi cepat melebihi kilat, sebilah golok lain tiba-tiba berkelebat menahan golok Giok Hong, sambil disusul dengan satu seruan, "Siauw-eng-hiong, sabar dahulu!. Semua ini adalah tanggung jawabku, tapi bukan tanggung jawab Bu Kee Tee, yang hanya melakukan serta melaksanakan segala perintahku!".

"Kalau begitu, marilah kita segera bertanding untuk menentukan, siapa salah satu diantara kita berdua yang harus mengalah!" kata Giok Hong dengan suara nyaring.

"Sedari tadi telah kuperhatikan gerak kakimu yang sedemikian lincah dan sebarnya" kata Khong Giok Kong, "hingga seolah-olah terbayang di dalam pikiranku, betapa lincah dan tangkasnya jika engkau juga bertempur denganku dengan tangan kosong!".

Sun Giok Hong menerima baik tantangan itu lalu memasukkan goloknya ke dalam serangka. Maka sesudah kedua pihak menyingsingkan lengan baju dan melibatkan ujung baju masing-masing, kedua orang itu lalu maju ke tengah-tengah lapangan, dimana mereka lalu mulai saling serang tanpa banyak bicara pula.

Bu Kee Tee yang telah terhindar dari ujung golok Sun Giok Hong, berdiri menonton pertempuran itu di pinggir ruangan dengan sorot mata penuh kebencian, hingga jika seumpama ia mendadak berubah menjadi seekor harimau raksasa, niscaya ia sudah menerkam si pemuda she Sun dan menelannya bulat-bulat. Lain sekali dengan rekan- rekannya, yang tampaknya merasa sangat kagum melihat Giok Hong dapat meladeni induk semang mereka yang terkenal sangat lihay ilmu silatnya, hingga akhirnya tanpa dapat ditahan pula mereka jadi bersorak sorai, memuji-muji kepandaian si pemuda she Sun yang dikatakan mereka "kecil-kecil cabe rawit"!".

Tatkala pertempuran berlangsung beberapa jurus lamanya, tiba-tiba Khong Giok Kong mempergunakan telapak tangannya memukul kaki kiri Giok Hong yang ditendangkan kepadanya dengan siasat Cian-ju-ciang, dan diwaktu si pemuda she Sun menarik pulang tendangannya itu, Giok Kong segera membarengi menghajar batok kepalanya dengan siasat Thian-su-kay-in atau raja langit membubuhi stempel.

Tapi Sun Giok Hong yang bermata jeli, segera mempergunakan siasat Pa-ong-kie- teng (raja Couw Pa Ong mengangkat pedupaan) untuk menahan telapak tangan kanan lawannya yang memukul ubun-ubun, sedangkan tinjunya segera diluncurkan ke arah ulu hati Khong Giok Kong. Tapi Khong Giok Kong yang juga tidak kalah gesit, dengan sebat menyampok tinju lawannya, kemudian mempergunakan siasat Kui- seng-tek-tauw (bintang Kui menendang gantang) yaitu suatu tendangan geledek ke arah dada Sun Giok Hong. Si pemuda she Sun lekas menghindarkan tendangan tersebut dengan jalan membuang dirinya kebelakang. Khong Giok Kong maju mengejar sambil menghujani tinju ke arah diri pemuda lawannya.

Dalam keadaan setegang itu, Sun Giok Hong jadi sangat sibuk menghindarkan pukulan-pukulan tersebut, sedangkan ilmu silatnya turut jadi kalut oleh karenanya, hingga kalau diwaktu biasa ia selalu mengalami keunggulan, pada kali ini ia terdesak sehingga napasnya terengah-engah. Dan selagi Giok Hong kebingungan bukan main, tiba-tiba Khong Giok Kong mengirim satu tendangan kilat yang tak mungkin dapat dihindarkan lagi oleh pemuda she Sun itu, maka dengan satu teriakan nyaring ia jatuh terjungkal di atas jubin. Bu Kee Tee yang melihat ada kesempatan untuk turun tangan, segera mengajak kawan-kawannya maju dengan serentak untuk mencelakai si pemuda cilik.

Tapi Khong Giok Kong yang ternyata bukan seorang yang curang dan tak suka membiarkan anak buahnya mencelakai orang dengan seenaknya saja, segera menoleh ke arah mereka sambil membentak dengan suara bengis, "Kalian segera mundur dan jangan mencampuri urusanku ini!". Oleh karena itu, barulah Bu Kee Tee dan lawan-kawannya terpaksa mundur dengan perasaan kecewa, sedang Khong Giok Kong lalu tersenyum dan berkata pada Sun Giok Hong demikian, "Bocah kecil, apakah engkau sekarang suka menyerah kepadaku?".

Giok Hong tidak menyahut, tapi dari sorot matanya yang menyala-nyala dan seolah-olah hendak menelan bulat-bulat si pemuda tampan lawannya itu, menandakan bahwa dia belum mau menyerah mentah-mentah. Maka Giok Kong jadi tertawa dan berkata, "Aku tahu bahwa engkau belum mau menyerah kepadaku.

Engkau sendiri tak akan mampu mengalahkan aku dalam dua atau tiga tahun lagi. Oleh karena itu, aku persilahkan engkau mengundang kawanmu untuk bertanding denganku selama waktu sebulan ini, dengan kereta-kereta piomu dan kawan- kawanmu yang menjadi orang-orang tawananku tetapi aku jamin keselamatannya. Tapi jika orang-orang yang kau undang masih juga belum mampu mengalahkanku, maka kereta-kereta pio itu akan menjadi milikku yang sah".

Sesudah berkata demikian, Giok Kong lalu memberikan Giok Hong bekal untuk ongkos di jalan sejumlah 30 tail perak. Kemudian si pemuda she Sun pulang ke Thian- cin dengan berkuda, untuk melaporkan peristiwa perampasan kereta-kereta pio itu kepada pamannya.

Sun Sin Bu yang mendengar laporan tersebut, segera memerintahkan seorang pelindung pio kelas satu yang bernama Ciu Tiong Gak untuk mengikuti Giok Hong menuju ke sarang Khong Giok Kong.

Usia Ciu Tiong Gak sudah mencapai 50 tahun, ia terkenal mahir dalam ilmu pukulan Eng-jiauw-kun, Thian-see-ciang, dan lainnya, serta paham mempergunakan pelbagai macam senjata yang biasa digunakan dalam kalangan persilatan. Tiong Gak mempunyai pengalaman 20 tahun lamanya dalam kalangan po-pio (melindungi barang-barang angkutan), hingga Sun Sin Bu sangat menghormatinya dan mengundangnya untuk bekerja sebagai pio-su kelas satu dalam kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok yang dipimpinnya.

Tiong Gak mengajak serta dua orang pio-su lainnya, berasal dari Kwan-tong (daerah timur kota San-hay-kwan) dan masing-masing berusia tigapuluhan. Yang seorang Thio In Han, sedang yang lainnya bernama Kwan Chit Long. Mereka mahir menggunakan pelbagai macam senjata dan terkenal sebagai orang-orang yang bernyali besar dan Iihay ilmu silatnya. Mereka berempat menuju ke desa Thay-peng-u yang terletak 20 lie jauhnya dari tepi selatan sungai Su-sui dalam wilayah kewedanaan Lim-ie, di mana mereka bermalam untuk kemudian menuju ke sarang kepala berandal Khong Giok Kong keesokan harinya.

Setelah merapihkan barang-barang bawaan mereka di rumah penginapan, Ciu Tiong Gak berempat lalu pergi ke sebuah kedai arak untuk melepaskan rasa lapar dan dahaga. Mereka memilih tempat di atas loteng yang jendela-jendelanya berhadapan dengan jalan raya. Dari atas loteng itu sambil makan minum, Ciu Tiong Gak berempat melepaskan pandangan mereka ke arah pemandangan alam yang dapat dilihat dari kejauhan. Tapi selagi mereka asyik makan dan minum, tiba-tiba dari bawah tangga loteng terdengar tindakan-tindakan kaki yang riuh sekali, seolah-olah dari arah sana tengah datang sekelompok orang-orang yang menuju ke atas loteng. Sementara pelayan kedai yang mendengar suara tindakan kaki itu, dengan suara perlahan tapi tegas lalu berkata, "Tikus air datang!".

Kata-kata mana telah mengingatkan Sun Giok Hong pada Bu kee Tee, yang selalu mengadakan operasinya di daerah perairan dan melakukan perampokan dengan cara yang keji. Tapi ketika baru saja ia hendak menanyakan siapa adanya 'si tikus air' itu, dari bawah loteng lelah keburu muncul serombongan orang laki-laki yang rata-rata beioman kasar dan bengis, orang yang menjadi pemimpinnya berjalan di muka dengan sikap yang sombong sekali.

Sun Giok Hong segera mengenali bahwa orang itu bukan lain • l.mpada Bu Kee Tee adanya, dengan amarah yang berkobar-kobar ia lalu membentak, "Tikus air, sungguh kebetulan sekali engkau datang, luan mudamu telah lama menantikan dikau di sini!".

Bu Kee Tee yang mengandalkan banyaknya kawan, meski di dalam hati merasa jeri, tidak urung wajahnya berseri-seri dan berkata, Ai, bocah she Sun, tak kunyana bahwa kau yang masih begini muda, ternyala sudah bosan hidup di dalam dunia ini!. Kawan-kawanmu telah kuusir keluar perbatasan, punya kepandaian apakah engkau sehingga berani bermusuhan dengan bapakmu?".

Tapi sebelum Bu Kee Tee selesai berbicara, Sun Giok Hong telah maju menerjang dan menggunakan tinjunya memukul ulu hati musuh besarnya itu dengan siasat Hek- houw-kauw-sim atau harimau hitam mencuri hati. Oleh karena datangnya pukulan itu sedemikian hebatnya, maka Ku Kee Tee terpaksa melompat mundur hampir sepuluh kaki jauhnya untuk menghindari pukulan tersebut.

"Bocah she Sun!" teriaknya, "jika kita bertempur di sini, selain tempatnya sempit juga akan mengganggu orang yang sedang berusaha, maka kalau engkau sungguh seorang yang bernyali besar, marilah turun ke bawah loteng untuk bertempur sehingga 300 jurus lamanya!".

Sun Giok Hong menerima baik tantangan itu, lalu mengikuti Bu Kee Tee dan

kawan-kawannya turun dari atas loteng. Ciu Tiong Gak dan dua orang kawannya yang khawatir Sun Giok Hong akan dikeroyok musuh-musuhnya, segera mengikuti dari belakang sambil memberi isyarat untuk masing-masing berlaku waspada, jangan sampai nanti kena diperdayakan kawanan penyamun itu.

Tatkala hari telah menjelang senja, hingga disana sini orang telah mulai memasang lampu untuk menyambut kedatangan sang malam.

Bu Kee Tee dan kawan-kawannya menuju ke sebuah lapangan kosong dengan diikuti oleh Sun Giok Hong, yang sambil berjalan sambil menyingsingkan lengan baju dan ujung bajunya dilibatkan pada pinggangnya.

Kawan-kawan Bu Kee Tee yang berjumlah tigabelas orang itu, lalu mulai mengambil posisi untuk mengepung Sun Giok Hong dari empat penjuru, dengan Bu Kee Tee sendiri menghadapinya di tengah kalangan pertempuran. Giok Hong menghunus goloknya, dengan apa ia telah mendahului membuka serangan. "Lihat golokku!" bentaknya.

Bu Kee Tee yang tahu bahwa dia bukan tandingan Sun Giok Hong, bukan saja tidak berani sembarangan menyambut serangan itu, tapi sebaliknya lantas lompat mundur sambil memberi isyarat, agar seluruh anak buahnya segera mengepung si pemuda she Sun dengan sekaligus. Meski Giok Hong seorang diri saja, tidak urung ia meladeni musuh-musuhnya dengan gagah dan tidak mundur barang setapakpun. Dan setiap waktu sinar goloknya berkelebat, terdengarlah orang berteriak karena goloknya terpukul jatuh atau kena dilukai. Begitulah pertempuran telah berlangsung dengan amat dahsyatnya, walaupun Giok Hong terkepung rapat bagaikan talang air yang dilapis plat baja.

Selagi ia mengamuk dan menyerang setiap musuh yang berani dengan mendekatinya, tiba-tiba Ciu Tiong Gak mengajak Thio In Han dan Kwan Chit Long datang membantu, hingga semangat Sun Giok Liong jadi semakin meluap dan melawan musuh-musuhnya lebih hebat lagi daripada waktu pertempuran pertama itu terjadi.

Thio In Han yang bersenjatakan sepasang gaetan Houw-thauw-k.mw dan Kwan Chit Long yang bersenjatakan golok Chit-seng-po-to, maju dari kiri kanan untuk menggempur kepungan Bu Kee Tee dan kawan-kawan. Maka Sun Giok Hong yang melihat tenaga mereka bertiga sudah lebih dari cukup untuk meladeni ketigabelas orang kawanan penyamun itu, segera memberi isyarat agar Ciu Tiong Gak tak usah maju membantu mereka. Oleh karena itu, terpaksa Tiong Gak berdiri menonton di luar kalangan pertempuran, meski iapun diam-diam tetap siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pertempuran kali ini, tidak sedikit kawanan penyamun yang telah kabur dengan menderita luka-luka, badan babak belur atau matang biru karena terpukul atau tertendang. Sun Giok Hong yang Ingin membekuk Bu Kee Tee yang pernah menipunya dan memasukkan obat bius kedalam araknya, hatinya belum puas jika belum menghajar musuh besarnya itu sehingga setengah mati.

Maka dengan membiarkan Thio In Han dan Kwan Chit Long menawan musuh- musuh yang lainnya. Giok Hong telah menerjang Bu kee Tee yang terpaksa melawan mati-matian dengan sebilah golok Tanin lapi setelah pertempuran baru saja berlangsung beberapa belas jurus lamanya, goloknya telah dibikin terpental oleh Giok Hong, yang kemudian telah menendangnya sehingga dirinya mencelat beberapa belas kaki jauhnya.

Melihat musuh besarnya jatuh meloso. Giok Hong segera melompat maju dan menginjak punggung Bu Kee Tee yang sudah tak berdaya sambil membentak, "Engkau pernah menipu dan menaklukkan aku dengan obat bius, kini engkau telah kubekuk dan menjadi tawananku. Ada omongan apa lagi yang hendak kau ucapkan?".

Bu Kee Tee malu bukan buatan telah dipecundangi oleh seorang bocah yang baru berusia belasan tahun, tapi karena ia sekarang sudah tak berdaya lagi, maka terpaksa ia menebalkan kulit mukanya dan meratap, "Siauw-eng-hiong, mengenai peristiwa yang telah terjadi itu bukanlah menjadi tanggung jawabku, karena aku hanya menerima perintah Khong Giok Kong Toako, yang telah mengatur semua siasat perampokan tersebut. Oleh karena itu, sudilah kiranya Siauw-eng-hiong mengampuni dosaku itu?".

"Jika aku hendak membunuhmu" kata Giok Hong, "itu sama mudahnya dengan mengambil barang di dalam saku. Tapi karena mengingat akan kebaikan Khong Giok Kong yang tidak mencelakai diriku, akupun bersedia mengampunimu. Tapi setelah aku mengampunimu, hendaknya engkau segera kembalikan kesepuluh kereta-kereta pioku yang telah kau rampas itu. Bawa kembali kereta-kereta itu dalam keadaan masih utuh, kalau tidak, akan kuringkus kau dan kuserahkan kepada pembesar yang berwajib!".

"Kesepuluh kereta pio itu telah kuserahkan kepada Khong Toako" kata Bu Kee Tee, "hingga selanjutnya akupun tidak berhak lagi untuk meminta itu dari padanya. Oleh karena itu, Siauw-eng-hiong harus meminta sendiri dari Khong Toako, karena hanya dialah yang berhak mengembalikan atau mempertahankan ".

Giok Hong jadi sangat mendongkol, lalu mencaci maki si orang she Bu, "Jahanam!.

Engkau sendiri yang telah merampok kereta-kereta pioku dengan secara keji, tapi sekarang sebaliknya engkau menyatakan tidak berhak mengembalikan. Lebih baik aku bunuh saja engkau yang sudah menjadi'boneka si orang she Khong itu".

Sesudah berkata demikian, Sun Giok Hong yang memang berdarah panas, segera memukul muka Bu Kee Tee dengan tinjunya, sehingga hidung dan mulutnya keluar darah.

Syukur juga Ciu Tiong Gak telah keburu menahan tinju si pemuda yang hendak memukuli musuh besarnya itu, hingga Bu Kee Tee terbebas dari bahaya maut.

"Sun Hian-tit!" kata pio-su tua itu, "lebih baik kita tahan saja si orang she Bu ini.

Jika nanti Khong Giok Kong datang hendak menolongnya, barulah kita bertindak untuk menangkapnya sekalian".

Sun Giok Hong lalu membelenggu Bu Kee Tee dengan selembar tambang besar dan menahannya di dalam rumah penginapan tempat mereka menginap.

Pada esok harinya pagi-pagi sekali, benar saja para penjaga rumah penginapan itu telah masuk melaporkan kepada Ciu Tiong Gak dan kawan-kawannya, bahwa Khong Giok Kong telah datang menyatroni dengan mengajak tidak kurang daripada 20 atau 30 orang anak buahnya. Sementara Ciu Tiong Gak yang menerima laporan tersebut, segera mengajak Giok Hong, Thio In Han dan Kwan Chit Long untuk menyambut mereka.

Diantara para liauw-lo yang berkerumunan di muka rumah penginapan, tampak Khong Giok Kong yang berdiri paling depan dengan bersenjatakan sebatang tombak Hong-eng-chio di tangannya. Dan tatkala melihat Sun Giok Hong muncul bersama tiga orang kawan yang usianya jauh lebih tua daripada dirinya sendiri, lantas ia menuding dengan tombaknya sambil membentak, "Bocah she Sun!. Engkau begitu berani menangkap dan menahan anak semangku?. Hari ini aku datang untuk bertempur denganmu sehingga ada salah seorang yang binasa!".

Sehabis berkata begitu, Giok Kong segera maju menerjang Sun Giok Liong, tapi Thio In Han dari samping segera tampil ke muka sambil menangkis tombak itu dengan sepasang gaetan di tangannya. Giok Kong lekas-lekas menarik pulang ujung tombaknya yang hendak digaet lawan, untuk kemudian memutar senjatanya itu dan ditusukkan ke arah tenggorokan In Han dengan gerakan secepat kilat. Tapi In Han tidak kalah gesit, iapun lekas berkelit dan menyambar dengan kedua gaetannya untuk merobek lawan.

Khong Giok Kong segera menahan kedua senjata lawan itu sambil membentak, "Enyahlah engkau dari hadapanku!". Thio In Han tak terasa lagi jadi terdesak mundur sehingga hampir sepuluh kaki jauhnya. Kemudian ia balas menyerang Giok Kong dengan tidak kalah bebalnya dari desakan pemuda tampan itu. Orang-orang dari kedua pihak menonton dengan perasaan kagum akan kepandaian dan kegagahan kedua orang lawan yang sedang bertanding itu. Sementara orang-orang yang hilir mudik di jalan raya jadi berkerumun dan turut menonton pertempuran itu dari tepi jalan yang terdekat. Hingga pertempuran berlangsung tigapuluh jurus   lebih limanya, kedua lawan itu masih tetap sama unggul dan gagahnya. Jika yang seorang maju menerjang, yang lainnya sengaja mundur untuk kemudian balas menerjang dengan tak kalah serunya.

Tiba-tiba Thio In Han sengaja membiarkan dirinya didesak si pemuda, kesempatan yang baik itu tidak disia-siakan oleh Giok Kong, tombaknya menusuk kearah ulu hati Thio In Han dengan ganas sekali. Pio-su dari Hin Liong Pio Kiok itu segera memiringkan sedikit tubuhnya untuk menghindar tusukan tersebut, berbarengan dengan itu gaetan di tangan kirinya menangkis ujung jombak, sedangkan gaetan yang kanan menyamber ke batok kepala si kepala berandal.

Giok Kong yang tidak menyangka sama sekali bahwa pio-su itu dapat menyerang demikian cepat, malah sekaligus dengan kedua senjatanya, jadi terkesiap dan terpaksa lekas-lekas menarik pulang tombaknya. Gaetan kanan In Han yang datang tanpa permisi dulu itu, tak dapat dielakkan lagi dan TAK!.

Sambil berteriak keras karena kesakitan, ia jatuh meloso di tanah tanpa sadarkan diri. Ternyata ubun-ubunnya telah terpatuk gaetan In Han, walaupun tidak berdarah, tapi cukup keras untuk membuat Giok Kong pusing dan matanya berkunang-kunang.

Thio In Han yang dapat berpikir panjang dan tidak ingin membuat permusuhan jadi berlarut-larut, sengaja tidak memukul terlampau keras, sehingga kepala Giok Kong tidak sampai menderita luka-luka hebat, selain lecet-lecet sedikit dan benjol. Tapi ketigapuluh liauw-lo Khong Giok Kong yang tidak mengetahui kebaikan Thio In Han, serentak maju untuk mengepung pio-su yang telah merobohkan induk semang mereka. Sun Giok Hong dan Kwan Chit Long yang telah siap sedia untuk melawan musuh, segera lompat masuk ke dalam kalangan pertempuran untuk membantu.

Tapi pertempuran kali ini tidak memakan terlampau banyak waktu, karena meski jumlah kawanan perampok itu berlipat ganda, namun mereka semua bukanlah lawan- lawan yang setimpal bagi ketiga pelindung pio itu. Maka setelah seorang demi seorang kena dirobohkan, para liauw-lo itu lekas-lekas angkat kaki lari tunggang langgang bagaikan sekawanan lebah yang sarangnya terbakar, hingga dalam sekejap waktu saja, kalangan pertempuran hanya tertinggalan Khong Giok Kong seorang yang tergeletak di tanah dan belum sadarkan diri.

Melihat demikian, tanpa ragu Giok Hong lalu mendukung tubuh si berandal dan meletakkannya di atas ranjang, kemudian setelah mukanya dibasahkan dengan air dingin, barulah Giok Kong siuman.

Tatkala melihat Sun Giok Hong dan kawan-kawannya berdiri di muka ranjang, Giok Kong segera mengerti bahwa pihak si pemuda she Sun telah mengampuni jiwanya.

Maka dengan perasaan bersyukur, perlahan-lahan ia berbangkit dan berkata, "Siauw- eng-hiong, aku sungguh harus mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kebaikan hatimu. Meski kereta-kereta piomu telah kurampas, namun kau masih dapat berlaku baik padaku, tapi paras mukamu tidak menunjukkan kerelaan hati untuk menerima kekalahanmu yang lampau!".

Giok Hong mengakui kebenaran kata-kata si berandal she Khong, dengan agak mendongkol ia berkata, "Beberapa waktu yang lalu kau lelah berhasil mengalahkan aku, lalu membebaskanku tanpa mengganggu selembarpun rambutku. Budi itu telah terbalas sekarang, pada suatu waktu aku pun berharap dapat membalas kekalahanku!".

Si berandal she Khong jadi tersenyum dan memuji semangat besar yang dimiliki pemuda cilik itu. "Selanjutnya" ia menambahkan, "Aku turut berdoa untuk kemajuanmu dimasa depan. Maka sebagai rasa kagumku akan kekerasan dan keuletan hatimu itu, sejak hari ini dan selanjutnya biarlah kita menyudahi permusuhan kita dan mengubah itu menjadi persahabatan yang akrab. Seperti telah kujanjikan dahulu, kereta-kereta piomu akan kukembalikan dalam keadaan utuh dan tidak kurang suatu apapun. Hanya ada suatu hal yang kusesalkan, yaitu Bu Kee Tee tanpa minta persetujuanku dahulu, telah berlaku lancang mengusir kedua orang pio- sumu serta para pengendara kereta keluar perbatasan. Aku mohon maaf sebesar- besarnya darimu sekalian".

Mendengar pernyataan bersahabat itu yang diucapkan dengan wajah sungguh- sungguh, Sun Giok Hong serta kawannya sudah tentu

menyambut maksud baik itu dengan penuh rasa gembira. Selain itu, persahabatan dengan si berandal ini berarti satu keuntungan untuk kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok, karena akan terbebas dari gangguan perampok Beng-kui-san. Sedang Bu Kee Tee yang merasa bersalah telah mengusir Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu, segera mohon maaf atas kelancangannya itu.

Demikianlah permusuhan telah berubah menjadi persahabatan yang mengharukan.

Khong Giok Hong berjanji untuk mengubah cara merampoknya, yaitu hanya merampok harta benda pembesar-pembesar yang korup saja. Diterangkan juga olehnya, bahwa ia jadi kepala berandal karena merasa sangat penasaran melihat rakyat kecil dipermainkan dan diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh bangsa Boan-ciu yang menjajah Tiongkok serta para penghianat-pengkhianat bangsa Han yang menjadi kaki tangannya. Disamping itu iapun sangat membenci saudagar- saudagar yang bersifat serakah, yang kerap kali memonopoli barang-barang kebutuhan pokok untuk kemudian dipermainkan harganya.

Setelah mendengar keterangan itu, Ciu Tiong Gak dan kawan-kawannya jadi memuji, "Saudara Khong, waktu rombonganku menuju ke sini, telah kubayangkan dalam pikiranku, bahwa kepala berandal yang akan kuhadapi tentu seorang yang bengis dan selalu mementingkan diri sendiri, ternyata sekarang aku tengah menghadapi seorang patriot bangsa.'".

Segera juga si kepala berandal menjura sambil menekuk sebelah lututnya dan berkata, Ciu Lo-cian-pwee sangat memuji, aku yang rendah tak sanggup menerimanya.'". Lalu tanpa malu-malu Giok Kong menceritakan juga tentang hal ihwalnya, bahwa ia berasal dari Kiok-hu dalam propinsi Shoatang, keturunan terakhir dari Nabi Agung KHONG HU CU. Karena tak tahan melihat perlakuan-perlakuan bangsa Boan-ciu yang sewenang-wenang itu, ia telah melarikan diri dari sekolah untuk belajar ilmu silat. Setelah mahir lalu dikumpulkannya para liauw-lo dan membuat "sarang" di atas gunung Beng-kui-san, hingga ia dikalahkan Thio In Han.

Ciu Tiong Gak dan kawan-kawan mendengar penuturan Khong Giok Hong dengan perasaan kagum dan gembira. Setelah selesai menuturkan riwayat hidupnya. Giok Hong lalu mengundang keempat orang pio-su itu untuk berkunjung ke tempat kediamannya di atas gunung, yang mana telah diterima pula oleh keempat orang itu dengan senang hati dan tanpa merasa ragu-ragu lagi.

Begitulah sesudah mengobati luka-luka Khong Giok Hong dan Itu Kee Tee, maka Ciu Tiong Gak berempat lalu mengikut kedua orang itu naik ke gunung tempat kediaman si orang she Khong, dimana mereka dijamu bagaikan sahabat yang telah kenal lama. Mereka makan minum sambil bicara dengan gembira, hingga hari larut malam barulah perjamuan itu ditutup dan keempat orang pio-su itu dipersilahkan menginap dalam pesanggerahan di atas gunung Beng-kui-san.

Pada esok harinya sesudah sarapan dan masing-masing mengucap terima kasih dan selamat jalan, Khong Giok Hong lalu memerintahkan para liauw-lonya mengantarkan kesepuluh kereta Hin Liong Pio Kiok yang telah dirampoknya beberapa pekan yang lalu, keluar perbatasan Lim-ie, dimana Ma Tiauw Hoan dan kawan-kawan diusir oleh Bu Kee Tee. Dan tatkala Ma Tiauw Hoan, The Kee Hu dan para pengendara kereta pio dapat diketemukan dengan selamat, barulah kereta-kereta itu diserahkan sekalian, lalu mereka meminta diri dan kembali ke pesanggerahan mereka di atas gunung.

Setelah itu, maka Sun Giok Hong, Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu segera melanjutkan tugas mereka untuk mengantar kereta-kereta pio Hu ke kota Kim-leng, dengan Ciu Tiong Gak dan dua orang kawannya turut juga mengantarkan sampai ke tempat yang dituju.

Setelah kereta-kereta pio diterimakan kepada orang yang berkepentingan di kota Kim-leng, rombongan Ciu Tiong Gak beristirahat untuk beberapa hari lamanya.

Kesempatan yang baik ini digunakan untuk pesiar ke pegunungan Cie-kim-san, sungai Cin-hway-Ko telaga-telaga Mo-ciu-ouw dan Hian-bu-ouw, kelenteng Hu-cu-bio, dan lain lain tempat tamasya indah. Pada suatu hari, mereka pergi ke kelenteng Kee- beng-sie yang keadaannya begitu sunyi, sehingga tak terdengar suara lain kecuali kicauan burung-burung gereja yang hinggap di tepi atap atau di celah-celah mercu kelenteng itu.

Selagi Sun Giok Hong memperhatikan keadaan di sekitar halaman kelenteng itu, tiba-tiba ia mendengar suatu bok-hie yang dipalu dari sebelah dalam dengan gencar sekali sehingga ia tahu bahwa di dalamnya ada seorang hwee-shio yang sedang membaca mantera.

Dari situ Sun Giok Hong mengikuti rombongan Ciu Tiong Gak ke arah taman yang terletak di sebelah kiri, dari mana dengan sekonyong-konyong terdengar sebuah suara yang agak luar biasa, seolah-olah di sebelah dalam sana ada orang yang sedang menumbuk padi. Maka karena terdorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, diam-diam Giok Hong mengintip ke sebelah dalam dari celah-celah pintu samping kelenteng itu.

Si pemuda cilik sama sekali tak menyangka, bahwa di suatu halaman dalam kelenteng Kee-beng-sie itu nampak sebuah rak yang berisikan delapanbelas senjata- senjata yang biasa dipergunakan dalam kalangan persilatan. Di samping rak senjata itu, terletak harter batu, gembok batu dan alat senjata yang lainnya, suatu tanda bahwa halaman itu dipergunakan orang untuk berlatih ilmu silat.

Di suatu sudut dari ruangan itu, didirikan lima buah tonggak besi yang tampaknya sudah licin mengkilat karena sering diraba atau diinjak, yang susunannya mirip dengan sebuah bunga bwee. Tinggi tonggak-tonggak itu kira-kira tiga ciok, di atas tonggak-tonggak tersebut kelihatan seorang hwee-shio tua yang bertubuh kurus kering dan berkulit kehitam-hitaman bagaikan kerap terjemur, usianya kira-kira 60 tahun, tapi gerakannya masih amat gesit.

Di situ ia sedang berlatih menendang dan berlompatan ke kiri dan kanan bagaikan seekor kera lincahnya. Suara-suara aneh tadi bukan lain daripada suara kaki hwee- shio tua itu yang menginjak tonggak-tonggak tersebut, yang seolah-olah tergetar karena tak sanggup menahan khie-kang atau tenaga dalam yang telah dikeluarkannya.

Dengan memperhatikan sikap hwee-shio itu, Sun Giok Hong segera menarik kesimpulan, bahwa ia itu pasti bukan seorang hwee-shio sembarangan. Dari caranya memasang kuda-kuda dan menendang, sunggung mirip sekali dengan apa yang pernah diajarkan oleh pamannya kepadanya, tapi kuda-kuda si hwee-shio tua jauh lebih lincah dan kokoh, hingga tanpa terasa lagi ia jadi berseru, "Itulah sesungguhnya ilmu tendangan yang lihay sekali, sehingga Lo-hwee-shio boleh dipuji sebagai hwee- shio yang tak boleh dipandang ringan di atas gunung yang terkenal ini!".

Sementara hwee-shio tua itu yang telah mengetahui bahwa di sebelah ada seseorang yang mengintip dan mencuri lihat latihan menendang dan memasang kuda- kudanya di atas tonggak Bwee-hoa-thung itu, maka dengan tenang ia menjawab, "Jika engkau memang gemar ilmu silat, bolehlah engkau masuk ke sini. Mengapakah engkau mesti berlaku diam-diam dan mencuri lihat dari luar?".

Giok Hong segera mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci itu, kemudian menghampiri dan berlutut di hadapan hwee-shio tua itu sambil berkata, "Ilmu tendangan dan cara memasang kuda-kuda Tay su, sungguh mirip sekali dengan ilmu tendangan dan bee-sie yang dipelajari oleh keluarga kami. Bukankah Tay-su ini merupakan Cian-pwee (seorang golongan yang lebih tua) dari golongan kami?".

Hwee-shio tua itu lalu mengangkat bangun si bocah sambil dipandang sesaat lamanya. Kemudian ia tersenyum dan bertanya, "Engkau ini berasal dari mana?".

"Aku berasal dari desa Sun-kee-chung dalam propinsi Tit-lee" sahut Giok Hong, "namaku Sun Giok Hong. Pamanku Sun Sin Bu alias In Hu yang membuka sebuah kantor angkutan Hin Liong Pio Kiok di kota Thian-cin. Hari ini setelah mengantarkan barang-barang angkutan titipan orang lain ke kota Kim-leng, maka aku telah mengikuti kawan-kawanku yang lainnya untuk dating ke sini menikmati pemandangan alam di daerah Kang-lam yang tersohor diseluruh dunia. Tapi aku sama sekali tidak menyangka, bahwa aku bisa berjumpa dengan Tay-su di kelenteng Kee-beng-sie ini".

Hwee-shio tua itu jadi tertawa mengakak dan mengusap-usap kepala si pemuda cilik sambil berkata, "Ah, ternyata engkau ini adalah Tit-sun ku!. Pamanmu In Hu adalah Su-titku. Maka pertemuanku denganmu hari ini, tidak berbeda dengan waktu aku berjumpa dengan pamanmu. Pinceng sudah lama sekali tidak berjumpa dengan pamanmu itu sekarang marilah engkau mengikuti Pinceng masuk ke dalam kelenteng".

"Di luar masih ada lima orang kawan-kawanku yang turut juga pesiar ke sini" Giok Hong melaporkan.

"Mereka juga boleh engkau undang masuk" berkata hwee-shio tua itu.

Sun Giok Hong jadi girang lalu keluar dan mengundang Ciu Tiong Gak, Thio In Han, Kwan Chit Long, Ma Tiauw Hoan dan The Kee Hu untuk masuk ke dalam, dimana mereka sekalian diantar oleh hwee-shio tua itu melihat-lihat keindahan pemandangan di dalam kelenteng Kee-beng-sie.

Dari pembicaraan yang dilakukan oleh tuan rumah, barulah diketahui bahwa hwee- shio tua itu adalah salah seorang murid dari golongan Siauw-lim yang memakai nama It Kok Siansu. Ia mahir ilmu tendangan dan kuda-kudanya begitu kokoh, sehingga tiada seorangpun yang pernah merobohkannya. Keluarga Sun mendapat warisan ilmu tendangan dan bee-sie yang sama dari salah seorang tokoh golongan Siauw-lim juga, yakni It Beng Siansu yang menjadi su-heng atau kakak seperguruan dari It Kok Siansu.

Oleh karena itu, tidaklah heran jika ilmu tendangan dan bee-sie It Kak Siansu sama benar dengan apa yang Giok Hong pernah pelajari dari pamannya. Dikalangan Kang- ouw, It Kak hwee-shio dikenal orang sebagai Thiat-hwee-shio atau si Paderi Besi, berhubung kakinya sangat kuat dan tendangannya sangat disegani oleh para orang- orang gagah yang pernah mengenalnya dan mengetahui betapa lihaynya tendangan- tendangannya itu.

Sesampainya di ruangan tempat berlatih ilmu silat, It Kak Siansu telah minta Giok Hong untuk mempertunjukkan kepandaiannya dan untuk melihat sampai seberapa jauh ia mendapat kemajuan dalam ilmu tendangan dan bee-sie yang pernah dipelajari dari pamannya.

Sun Giok Hong menurut. Begitulah, setelah menyingsingkan lengan baju dan melibatkan ujung baju ke pingganggnya, si pemuda cilik segera mempertunjukkan ilmu tendangan dan bee-sienya, yang ternyata memang benar sama corak dan gerak- geriknya dengan apa yang telah dipertunjukkan si hwee-shio tua tadi.

It Kak Siansu memperhatikan secara teliti semua gerak-gerik Giok Hong sesaat lamanya. Tatkala Giok Hong selesai mempertunjukkan kepandaiannya, barulah hwee- shio tua itu membahasnya dengan mengatakan, "Tit-sun, dengan menilik gerak- gerikmu yang begitu kuat dan sungguh-sungguh, maka dapat diharapkan bahwa kelak engkau akan memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Tapi usiamu masih terlampau muda untuk mengikuti po-pio. Tendangan dan bee-siemu agak ketinggian, hingga dengan begitu engkau tak dapat menyesuaikan diri untuk dapat bergerak dengan lebih sebat dan tak terduga oleh pihak lawan. Oleh karena gerak tendanganmu itu kurang cepat, maka pihak lawan dapat dengan mudah mengelak, walaupun tendanganmu itu cukup lihay dan santer. Oleh karena itu, cobalah engkau berlatih dengan lebih rajin dan sungguh-sungguh".

Sun Giok Hong mendengar demikian, lekas-lekas berlutut dihadapan It Kak Siansu, mohon diterima sebagai murid. Sedangkan Ciu liong Gak dan kawan-kawan yang juga menaruh harapan besar atas diri Sun Giok Hong dikemudian hari, merekapun lalu turut membujuk agar hwee-shio tua itu sudi menerima si pemuda cilik sebagai muridnya.

"Pinceng bersedia mengabulkan permintaan kalian". Setelah itu ia menoleh dan mempersilahkan Giok Hong bangkit sambil melanjutkan bicaranya. "Sun Tit-sun" kata hwee-sio tua itu pula, "dengan memperhatikan pada sorot matamu yang agak beringas, maka dapatlah kuterka bahwa engkau ini adalah seorang yang mudah naik darah!, Pin Ceng sangat mengharap, jika nanti setelah engkau tamat belajar, janganlah selalu menurut hati yang panas dan menerbitkan keonaran. Pinceng, sebagai guru dan orang yang berkedudukan lebih tinggi dalam golongan kita, pasti akan dipersalahkan orang serta harus bertanggung jawah atas segala perbuatanmu itu. Oleh karenanya, Pinceng banyak harap supaya Tit-sun sudi memperhatikan hal ini sebaik-baiknya".

Sun Giok Hong jadi sangat girang, lalu menyatakan bersedia untuk mematuhi segala sesuatu yang dikatakan oleh hwee-shio tua itu. In Kak Siansu telah minta Giok Hong mengambil pakaiannya di rumah penginapan dan pindah berdiam di kelenteng Kee-beng-sie selama ia belajar ilmu silat dibawah pimpinannya. Sementara Ciu Tiong Gak dan kawan-kawan yang dipesan oleh hwee-shio tua itu untuk menyampaikan salam dan berita kepada Sun Sin Bu (paman Giok Hong) tentang Giok Hong yang akan tinggal di kelenteng Kee-beng-sie tempat kediamannya untuk memperdalam kepandaian silatnya. Setelah itu merekapun meminta diri kepada hwee-shio tua itu dan si pemuda cilik untuk kemudian berangkat pulang ke Thian-cin, dan menyampaikan pesan It Kak Siansu kepada induk semang mereka.

Begitulah Sun Giok Hong dengan tak disangka-sangka, sejak hari itu dan selanjutnya telah berguru kepada su-siok pamannya sendiri.

0oo0