Gerbang Tengkorak Jilid 11

Jilid 11

Si pemuda berpakaian mantel berbulu dan juga Bie Liek, tehh menoleh. Tampak di hadapan mereka, di tepian lainnya, di bawah sebatang pohon yang tumbuh rindang di situ, berdiri tegak seorang gadis berusia di antara dua puluh tahun.

Wajah gadis ini cantik sekali, matanya jeli, dan juga raut mukanya yang disebut muka potongan tirus, matanya disebut mata bintang kejora, dan juga bibirnya yang merah merekah itu biasanya disebut sebagai bibir merah delima.

Tadinya si pemuda berpakaian mantel tebal tersebut telah mau memaki. Tetapi begitu melihat bahwa yang telah menggagalkan anak panahnya itu mengenai sasarannya adalah seorang gadis yang cantik begitu, si pemuda jadi menarik lagi dan menelan kembali kata-kata yang telah sampai di tenggorokannya.

Dia jadi batal memaki. Hanya berdiri kesima menatap ke arah gadis tersebut. Bie Liek juga tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Dia hanya menatap saja kepada gadis itu dengan heran, karena di puncak gunung sesepi dan sesunyi ini bisa terdapat seorang gadis yang cantik begitu. Dengan sendirinya hal tersebut jadi mengherankan hatinya. Sedangkan si sadis telah tertawa waktu melihat si pemuda dan Bie Liek seperti juga orang yang kesima menatap dirinya.

'“Kau adalah seorang anak pemuda yang kejam, yang telah dapat membunuh beberapa ekor burung gagak itu, namun kalian masih tidak puas dan masih mau membunuh beberapa ekor lagi burung gagak itu! Dimana perikemanusiaan kalian, heh?”

Ditegur begitu oleh si gadis, wajah si pemuda jadi berobah merah. Rupanya dia malu berbareng jengah oleh kata-kata si gadis. Pun, dia melirik kepada Bie Liek, dia melihat apakah Bie Liek sedang mengawasi dirinya juga.

Tetapi nyatanya Bie Liek sedang menatap si gadis, sehingga si pemuda yang mengenakan mantel tebal itu jadi lega hatinya, karena dia yakin Bie Liek tidak melihat perobahan wajahnya itu. Sedangkan si gadis itu yang mempunyai raut wajah sangat cantik, telah menoleh kepada Bie Liek.

“Dan engkau, mengapa kau menatapku begitu macam seperti mata maling saja?”

tegur si gadis dengan suara yang tetap melengking tinggi.

Disanggapi begitu macam, ditegur begitu rupa, Bie Liek jadi melengak. Si bocah tidak bisa lantas menyahuti, dia tergugu. Setelah terbawa tawar, si gadis tidak memperdulikan Bie Liek lagi.

Dia telah menoleh kepada si pemuda yang mengenakan mantel bulu itu lagi. “Dan

kau mengapa kau juga berdiri seperti patung begitu?” tegurnya lagi.

Rupanya si pemuda tadi telah dapat menguasai goncangan hatinya. Dia tersenyum waktu mendengar perkataan gadis itu. Cepat-cepat dia merangkapkan tangannya menjura kepada si gadis.

“Maaf nona kami mungkin terkejut disebabkan kedatangan nona yang begitu tiba-tiba, bolehkah aku mengetahui she nona yang harum dan nama nona yang besar?” kata si pemuda. “Aku sendiri she Lo dan bernama Sian Ping.”

Mendengar perkataan si anak muda yang mengaku bernama Lo Sian Ping, si gadis telah tertawa.

“Ciss! Siapa yang kesudian mendengar namamu?” katanya dengan suara yang nyaring. “Dan kau juga tidak perlu mengetahui nama nona besarmu ini!”

Wajah si anak muda Lo Sian Ping tidak berobah, dia tetap tersenyum.

“Baiklah kalau memang nona keberatan untuk memberitahukan namamu kepadaku! Tetapi setiap orang itu mempunyai nama dan panggilan, maka untuk seterusnya aku memanggil kau dengan sebutan ‘nona kecil’ saja. Bagaimana? Kau setuju, bukan?”

Mendengar perkataan anak muda itu, Lo Sian Ping, wajah si gadis jadi berobah. “Cisss, aku tidak mau kau memanggilku dengan sebutan yang tidak-tidak! Aku mempunyainya! Aku she ” Tetapi berkata sampai di situ, si gadis seperti tersadar hampir saja dia menuruti emosinya dan menyebutkan namanya sendiri, untung saja dengan cepat dia dapat menahan kata-katanya, sehingga tidak sampai dia keterlepasan menyebutkan namanya sendiri.

Si pemuda tersenyum melihat sikap si gadis.

“Hmmm nona kecil, kulihat kau agak gugup!” kata si pemuda Lo Sian Ping sambil tetap tersenyum, sengaja dia memanggil si gadis tetap dengan sebutan nona kecil untuk memanaskan hati si gadis.

Benar saja, gadis itu jadi mendongkol sekali.

“Siapa nona kecilmu! Kurang ajar! Men apa kau memanggil nonamu dengan sebutan nona kecil, nona kecil?”' bentak si gadis dengan mendongkol. “Aku Lie Siauw Hwa, kalau tidak bisa menempeleng mulutmu yang kurang ajar begitu, tentu aku tidak akan puas!”

Lo Sian Ping tertawa.

'“Baik! Baik nona Lie Siauw Hwa! Kau boleh menghajar mulutku ini sekehendak hatimu! Aku rela!” kata Lo Sian Ping tertawa.

Seketika itu juga wajah Lie Siauw Hwa jadi berubah, karena dia baru sadar, tanpa disengaja olehnya, dia telah menyebutkan namanya.

“Hu, lelaki ceriwis!” kata Lie Siauw Hwa gusar, dan ‘sreeett’ tahu-tahu dia telah mencabut pedangnya. “Akan kuberi pelajaran kepada kau lelaki kurang ajar!”

Melihat itu, Lo Sian Ping jadi mengulap-ulapkan tangannya.

“Sabar sabar jangan cepat marah, orang yang cepat marah akan cepat menjadi tua!” katanya sambil tetap tersenyum.

Si gadis, yang mengaku bernama Lie Siauw Hwa itu, jadi tambah mendongkol. Tahu-tahu dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat. Dan tangannya yang mencekal pedang juga telah bergerak dengan cepat sekali. Pedang itu meluncur menyambar Lo Sian Ping dengan mengandung tenaga serangan yang kuat sekali.

Lo Sian Ping juga tidak berani berdiam diri, karena pedang itu memang benar- benar telah menyambar ke arah dirinya dengan cepat dan kuat sekali. Kalau memang dirinya sampai terkena se-rahan si gadis, berarti dirinya akan bercelaka.

Maka dari itu, dengan cepat Lo Sian Ping telah menggeser kaki kirinya, kemudian dengan gerakan Lo han, ilmu silat dari pintu perguruan Siauw Lim Sie, dia telah mengelakkan tusukan si gadis dengan cepat.

Bie Liek melihat, biarpun kegesitan gadis itu dan si pemuda yang bernama Lo Sian Ping ini sangat cukup gesit, toh tetap saja kepandaian mereka itu hanyalah baru kembangannya belaka, belum sempurna sebagai seorang jago silat, hanyalah ilmu silat yang indah dipandang mata namun kosong saja isinya yang ada pada mereka.

Maka dari itu, tanpa disadarinya Bie Liek telah tersenyum. Dia jadi tertarik untuk menyaksikan terus pertempuran diantara kedua orang ini.

Sedangkan Lie Siauw Hwa ketika melihat serangannya ini kena dielakkan oleh Lo Sian Ping, dia jadi tambah mendongkol.

Dengan mengeluarkan seruan gusar, dia telah melancarkan tiga serangan lainnya.

Lo Sian Ping gesit. Setiap serangan si gadis selalu dapat dielakkannya.

Malah biarpun dia tidak membalas serangan si gadis, toh dia sudah bisa membuat gadis itu jadi kewalahan, karena selalu setiap kali dia telah mengelakkan serangan Lie Siauw Hwa, maka Sian Ping sering mengancam dengan tangannya pura-pura akan menyerang si gadis. Hal itulah yang membuat Siauw Hwa jadi gelagapan.

Sebetulnya kalau memang si gadis mau bersikap tenang, tentu dia dengan Lo Sian Ping berimbang. Kepandaian mereka tidak terpaut begitu jauh kalau dibandingkan.

Hanya sayangnya si gadis telah terlalu ditindih oleh hawa amarahnya yang membuat dia jadi tidak bisa menyerang dengan tenang.

Hal itu membuat dia benar-benar jadi gelagapan menghadapi si anak muda Lo Sian Ping.

Bie Liek mengawasi terus. Dia memperoleh kenyataan, biarpun Lo Sian Ping tampaknya sermg mengelakkan serangan si gadis sambil membarengi mengancam Siauw Hwa, toh tampak jelas sekali bahwa pemuda she Lo ini tidak mengandung maksud jelek.

Maka dari itu, Bie Liek jadi tidak usah bersiap-siap memberikan bantuan kepada Siauw Hwa. Dia hanya menyaksikan dari samping jalannya pertempuran itu.

Sedangkan si gadis Lie Siauw Siauw Hwa dan Lo Sian Ping masih saling serang. Hanya saja, hingga saat itu, Sian Ping masih tidak menggunakan senjatanya, sebatang golok yang masih tetap tergantung dipinggangnya.

Dia hanya kadang-kadang menggunakan busurnya untuk menyampok serangan pedang si gadis she Lie itu. Semakin lama Siauw Hwa jadi semakin kalap, dia melancarkan serangan dengan cara yang beruntun sekali, juga dia telah mengerahkan tenaga Lweekangnya yang disalurkan kepada pedangnya, yang berkelebat-kelebat dengan cepat sekali.

Setiap serangan yang dilancarkan oleh gadis she Lie ini, selalu saja dia mengincar tempat-tempat yang berbahaya di tubuh Sian Ping. Hal itupun disadari oleh Sian Ping, tetapi dia masih terus menghadapi Siauw Hwa dengan berguyon terus, mengeluarkan kata-kata untuk menggoda gadis ini. Akhirnya, saking kalapnya, akhirnya Siauw Hwa malah telah nekad benar-benar dia telah melancarkan serangan yang berbahaya sekali, dia telah menyerang si pemuda Sian Ping untuk mengadu jiwa, guna mati bersama-sama. Sian Ping juga terkejut waktu pedang gadis ini menyambar dengan cepat sekali. Dia telah menyampok dengan menggunakan busurnya, kemudian dia telah melompat ke belakang sambil berteriak :

“Tahan!” teriaknya dengan suara yang keras.

Tetapi si gadis tidak mau memperdulikannya, dia telah merangsek menyerang lagi, malah serangannya itu bertambah hebat!

o

o o

DENGAN cepat Sian Ping telah menyampok dengan busurnya lagi. Kemudian dia melompat ke belakang pula, dia menjejakkan kedua kakinya dengan cepat sekali, sehingga tubuhnya mencelat ke belakang dengan cepat.

Setelah dapat berdiri tetap lagi, Sian Ping berteriak :

“Tahan dulu nona Siauw Hwa!” teriaknya. “Aku mau bicara sebentar!”

“Hmmm, apa yang mau kau bicarakan?” bentak Siauw Hwa dengan penasaran. “Kalau aku belum dapat meninggalkan tanda mata di tubuhmu, nona besarmu ini tidak akan puas hatinya!”

Mendengar perkataan si gadis, Sian Ping berusaha untuk berkata lagi. Tetapi Siauw Hwa telah melompat merangsek lagi, sehingga terpaksa dia memberikan perlawanan lagi atas serangan si gadis.

Bie Liek juga terkejut waktu melihat Siauw Hwa begitu nekad. Dia tidak menduga bahwa si gadis bisa kalap begitu dan menyerang secara membabi buta demikian.

Maka diri itu, Bie Liek jadi mementang matanya lebar-lebar, dia juga telah mengawasi jalannya pertempuran untuk disetiap waktu akan memisahkan kedua orang yang sedang bertempur ini, kalau seumpamanya ada diantara mereka yang terancam bahaya.

Jalannya pertempuran antara Sian Ping dengan Siauw Hwa jadi semakin hebat. Dia malah telah melancarkan serangan-serangan yang hebat kepada Sian Ping, Siauw Hwa seperti juga telah tidak memperdulikan keselamatan dirinya lagi.

Akhirnya setelah menyerang terus menerus tarpa bisa merubuhkan Sian Ping, si gadis jadi semakin mendongkol, dia jadi gusar berbareng murka tanpa daya, tanpa bisa mengumbar kemurkaan hatinya itu terhadap diri si anak muda she Lo ini, yang mempunyai gerakan yang gesit sekali.

Malah akhirnya Siauw Hwa menyerang sambil memaki tak hentinya. Serangannya itu jadi semakin kalap. Akhirnya Bie Liek menganggap bahwa waktunya telah sampai. Dilihatnya kala itu pedang si gadis tengah menyambar akan menusuk tenggorokan Sian Ping, sedangkan busur di tangan Sian Ping telah menyambar ke arah tenggorokan Siauw Hwa, yang menyebabkan keadaan mereka jadi membahayakan jiwa mereka masing-masing.

Dengan cepat Bie Liek telah menjejakkan kakinya. Tubuhnya telah mencelat dengan cepat sekali, dan sambil mencelat begitu, kedua tangan Bie Liek telah bekerja cepat. Dan tahu-tahu kedua senjata Siauw Hwa dan Sian Ping, busur dan pedang itu, telah kena direbut oleh Bie Liek. Hal ini mengejutkan benar hati Sian Ping dan Siauw Hwa. Mereka masing-masing sampai mengeluarkan suara seruan tertahan, seruan kaget.

Bie Liek telah turun kembali di tempatnya semula, di tangannya telah menggenggam kedua senjata dari kedua orang yang tadi telah bertempur begitu hebat.

Sian Ping dan Siauw Hwa telah memandang ke arah Bie Liek. Mata mereka mendelik mengawasi Bie Liek.

“Kau kau?” kata Siauw Hwa dengan suara yang tersengat. Juga Sian Ping telah mengawasi Bie Liek dengan sorot mata yang tidak enak dilihat.

Bie Liek pada saat itu telah tersenyum memandang kepada kedua orang tersebut.

“Maaf maaf aku telah mengganggu kegembiraan hati kalian!” kata Bie Liek sambil tetap tersenyum. “Sebetulnya aku tidak ingin mencampuri persoalan kalian, namun kulihat semakin lama jadi semakin tidak benar, kalian telah menyerang dengan serangan-serangan yang bisa membahayakan jiwa kalian masing-masing, maka dari itu, aku telah turun tangan untuk memisahkan diri kalian dari libatan yang semakin tidak menggembirakan hati.” dan setelah itu, setelah berkata begitu Bie Liek telah mengangsurkan tangannya ke arah Siauw Hwa dan Sian Ping. “Terimalah kembali senjata kalian ini!”

Siauw Hwa memang sedang mendongkol, dan sekarang si bocah yang ada di hadapan dirinya ini telah berhasil merebut senjatanya dan juga senjata lawannya, hal ini benar-benar membuat hati Siauw Hwa jadi gusar benar.

Maka dari itu, dengan cepat dia merebut senjatanya, pedang yang ada di tangan Bie Liek, dan begitu dia menarik pedangnya, begitu dia telah berhasil mencekal pedangnya kembali, maka dia telah membarengi menyerang Bie Liek.

Begitu juga Sian Ping, begitu dia mengambil pulang busurnya, belum lagi dia menarik kembali tangannya itu, maka dia telah menyerang lagi. Bie Liek jadi diserang dari dua jurusan sekaligus.

Tetapi Bie Liek tidak menjadi gugup. Dia masih tersenyum.

“Hmm bagus! Kalian rupanya mau melihat sampai dimana kepandaian kalian, bukan?” kata Bie Liek sambil tertawa tenang. Begitu kedua senjata itu menyambar ke arah dirinya, dia telah menggerakkan kedua tangannya. Maka telah terjadi suatu hal yang luar biasa sekali.

Tahu-tahu kedua senjata Siauw Hwa dan Sian Ping telah pindah tangan, berada di tangan Bie Liek lagi! Rupanya senjata kedua orang itu telah berhasil direbut kembali oleh Bie Liek. Hal ini benar-benar membuat hati Siauw Hwa dan Sian Ping jadi terkejut sekali.

Namun disamping itu, pun mereka jadi penasaran sekali, sebab didalam pandangan mata mereka, Bie Liek hanyalah seorang bocah cilik belaka. Mustahil mereka bisa dipermainkan oleh bocah cilik seperti Bie Liek ini!

SETELAH berdiri melengak sesaat di tempat mereka, Sian Ping dan Siauw Hwa mau menerjang lagi merangsek Bie Liek. Tetapi belum lagi mereka bergerak, Bie Liek telah mengangsurkan tangannya lagi, mengangsurkan kedua senjata itu pula.

“Ambillah kembali senjata-senjata kalian ini!” kata Bie Liek dengan tenang.

Siauw Hwa sangat penasaran sekali. Dia merampas pedangnya, dan Bie Liek tidak menghalanginya. Begitu juga dengan Sian Ping. Begitu kedua orang ini memperoleh kembali senjata mereka masing-masing, keduanya telah melompat menerjang lagi ke arah Bie Liek.

Gerakan kedua orang itu, Siauw Hwa dan Sian Ping sangat cepat sekali, sehingga tampak tubuh mereka itu hanya berkelebat saja, dan tampak mereka telah merangsek Bie Liek.

Bie Liek sangat tenang sekali. Dia telah memperdengarkan suara tertawa dinginnya waktu dia melihat kedua orang tersebut menyerang dirinya kembali, dia juga telah menggerakkan tangannya, dengan apa dia telah merebut kembali kedua senjata kedua orang ini.

Sian Ping sangat penasaran, dikala busurnya itu kena dijepit oleh jari-jari tangan Bie Liek, maka dia telah melepaskan busurnya itu, dia telah membarengi dengan mencabut goloknya, dia menyerang Bie Liek lagi.

Pada saat itu Bie Liek telah dapat merebut pedang dan busur Sian Ping serta Siauw Hwa, kedua tangannya sedang memegang kedua senjata tersebut. Dengan sendirinya, dengan diserangnya lagi oleh Sian Ping, telah menggunakan goloknya itu, maka dengan cepat sekali Bie Liek berusaha mengelakkan diri.

Karena, dia sedang mencekal kedua senjata lawannya itu, disebabkan itulah dia tidak bisa menangkis serangan Sian Ping. Tetapi Sian Ping terlalu mendesak benar. Dia telah merangsek lagi. Bie Liek memperdengarkan dengusan tertawa dingin, malah dia juga telah berkata

:

“Bagus! Rupanya kau musti diberi pelajaran yang lumayan.” kata Bie Liek dingin.

Sambil berkata begitu, Bie Liek mengawasi golok Sian Ping yang tengah menyambar datang ke arahnya, dengan cepat sekali dia telah mengangkat kepalanya, dikala golok Sian Ping menyambar dekat dengan dirinya, hanya terpisah beberapa dim saja, maka dengan cepat sekali dia telah menggerakkan kepalanya sedikit, kemudian dia membuka mulutnya, tahu-tahu tubuh golok Sian Ping telah kena digigit oleh gigi Bie Liek!

Itulah suatu perbuatan yang terlalu berani dari Bie Liek. Sian Ping sendiri jadi terkejut, karena sedikitpun dia tidak menyangka bahwa Bie Liek bisa mengambil langkah begitu.

Dengan gusar Sian Ping menarik goloknya dari gigitan gigi Bie Liek. Tetapi Bie Liek menggigit golok itu bukan hanya sembarangan menggigit saja. Dia telah mengerahkan tenaga Lweekangnya pada gigi-giginya itu, sehingga biarpun Sian Ping telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik pulang goloknya itu. Tetapi dia tidak berhasil. Goloknya tetap tidak bisa ditariknya pula. Dia mendongkol berbareng gusar.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, dengan keras, Sian Ping telah menarik pulang goloknya, tetapi tetap saja tidak bisa ditariknya. Hal ini benar-benar membuat Sian Ping jadi penasaran.

Bie Liek menganggap bahwa dirinya telah cukup mempermainkan anak muda tersebut. Maka dari itu, dia telah menggerakkan kepalanya, dia menggentaknya. Dengan cepat, Sian Ping merasakan telapakan tangannya perih sekali, seperti terkeset.

Dan, tanpa bisa ditahan lagi, golok itu telah kena direbut terlepas dari cekalan Sian Ping oleh Bie Liek. Itulah suatu kejadian yang luar biasa sekali.

Maka, Sian Ping jadi berdiri mematung memandang ke arah Bie Liek seperti juga dia melihat setan. Siauw Hwa juga mengawasi Bie Liek dengan mata terpentang lebar. Akhirnya Bie Liek telah melemparkan golok yang tergigit di giginya. Dia juga telah mengangsurkan busur dan pedang yang ada dikedua tangannya.

“Ambillah senjata kalian ini!” kata Bie Liek sambil tersenyum.

Sian Ping dan Siauw Hwa bimbang. Namun akhirnya mereka mengambil juga senjata mereka itu dari tangan Bie Liek. Kali ini mereka tidak menyerang lagi, mereka hanya mengawasi saja ke arah Bie Liek.

“Pergilah kalau memang kalian mau berlalu!” kata Bie Liek sambil tetap tersenyum.

Kedua orang itu, Sian Ping dan Siauw Hwa berdiri ragu-ragu, mereka tidak lantas berlalu. Melihat itu, Bie Liek tertawa. “Atau memang kalian masih mau berdiam lebih lama ditempat ini? Baiklah, biarlah aku yang berlalu saja!” kata Bie Liek dengan suara sabar.

“Ehhh ini ” gugup sekali tampaknya Lo Sian Ping. “Bolehkah kami mengetahui namamu?”

Bie Liek tertawa lagi.

“Boleh! Boleh! Bukankah diantara kita memang tidak terdapat ganjalan hati apa- apa?” kata Bie Liek. “Aku biasa dipanggil Bie Liek, dan kalian juga boleh memanggilku dengan sebutan itu.

Sian Ping mengangguk, begitu juga Siauw Hwa.

“Kepandaianmu hebat sekali, aku kagum benar melihat di dalam usia semuda kau tetapi telah mempunyai kepandaian yang begitu tinggi!” kata Sian Ping.

“Ya akupun kagum!” kata Siauw Hwa pula.

Bie Liek tersenyum.

“Ah, kalian terlalu memuji diriku!” kata B e Liek. “Nah, aku akan pergi, kuharap kalian tidak saling bermusuhan dan saling tempur lagi!”

Dan setelah berkata begitu, dengan sekali menjejakkan kakinya, maka tubuh Bie Liek telah mencelat cepat sekali, tahu-tahu dia telah berlari dengan cepat, dan hanya didalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah menghilang dari pandangan mata Sian Ping serta Siauw Hwa.

Sian Ping dan Siauw Hwa jadi saling tatap, kemudian mereka tersenyum. Mereka jadi saling menceritakan asal usul mereka, dan mengikat tali persahabatan.

Setelah bercakap-cakap beberapa saat lamanya lagi, maka merekapun berpisahan.

o o o

TAMPAK Bie Liek telah berlalu dari tempat itu meninggalkan Sian Ping dan Siauw Hwa mengambil arah timur, dia bermaksud akan turun dari gunung ini untuk menuju ke kota Pian Tu-kwan.

Jalan kecil di gunung ini sangat sepi sekali, setelah berpisahan dengan Sian Ping dan Siauw Hwa, belum pernah Bie Liek bersamplokan dengan seseorang.

Dengan bernyanyi-nyanyi kecil, Bie Liek melakukan perjalanan dergen pikiran yang terbuka. Terkadang, Bie Liek sering tersenyum seorang diri, karena pada hari itu, dia tidak mau dipusingi oleh persoalan-persoalan yang banyak harus dihadapinya nanti. Bie Liek juga menyadarinya bahwa dia masih mempunyai banyak urusan dan persoalan yang harus diselesaikannya, namun karena pemandangan di sekitar gunung Lung-san ini sangat indah, maka dengan sendirinya Bie Liek tidak mau dipusingkan oleh persoalan- persoalan itu. Bie Liek mau menikmati keindahan yang ada dihadapan matanya ini sepuas hatinya.

Sedang Bie Liek berjalan perlahan-lahan dengan gembira begitu, tahu-tahu disaat dia sampai di sebuah tikungan di jalan gunung itu, dia melihat seorang berpakaian compang-camping tengah berjalan mendatangi ke arahnya, dari arah yang berlawanan dengannya, dengan tubuh yang terbungkuk-bungkuk dan jalan dengan langkah kaki yang perlahan sekali.

Di tangan orang asing itu mencekal sebatang tongkat, yang dipakai untuk membantu dia berjalan, dan juga orang itu mengenakan topi rumput yang lebar, sehingga wajahnya tidak bisa terlihat tegas.

Orang itu berjalan terus dengan langkah yang perlahan-lahan dan kepala tetap tertunduk. Bie Liek juga berjalan terus, dia memperhatikan orang ini. Dan, mereka saling lewat sisi menyisi. Harus diketahui, jalan gunung itu kecil dan sempit sekali, kiri kanan dari jalan kecil itu adalah jurang yang dalam dan tidak diketahui dasarnya.

Maka dari itu, kalau memang sampai salah seorang diantara mereka itu ada yang terjerumus ke dalam jurang itu, berarti mereka akan terjerumus dan terbanting ke dasar jurang, mereka akan menemui kebinasaan, sebab tubuh mereka akan terbanting hancur.

Dan sekarang mereka berjalan saling berlawanan arah, mereka melewati jalan kecil ini saling sisi menyisi, maka dari itu, disaat Bie Liek lewat didekat orang itu, Bie Liek kira orang tersebut tidak mengerti ilmu silat, yang menyebabkan dia bisa terjerumus. Bie Liek telah mengalah, dia telah melompat beberapa tombak tingginya. Maksud Bie Liek, dia mengambil jalan begitu untuk mengalah.

Namun tak tahunya di kala tubuh Bie Liek sedang melayang di tengah udara, orang yang mengenakan tudung rumput yang lebar itu telah menekuk kaki kirinya sedikit, sehingga tubuhnya agak doyong ke muka, kemudian tahu-tahu dia telah menggerakkan tongkatnya, menyabet ke arah punggung Bie Liek.

Hebat sabetan tongkat orang itu, sebab dia menyerang dengan menggunakan tenaga Lwee-kang. Hal itu dirasakan deh Bie Liek, dikala tongkatnya belum lagi mengenai tubuhnya, Bie Liek telah dapat merasakan sambaran angin serangan tersebut.

Bie Liek jadi terkejut sekali, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan. Karena sedikitpun Bie Liek tidak menduga bahwa orang yang tampaknya berjalan dengan lemah lesu itu bisa tahu menyerang dirinya.

Dengan sendirinya, hal itu disamping kaget, pun Bie Liek jadi mendongkol.

“Hmmm, rupanya kau mau main gila di hadapanku?” pikir Bie Liek mendongkol. Belum lagi tubuhnya itu meluncur turun maka disaat tubuhnya sedang melayang di udara, dia telah menggerakkan tangan kirinya. Dengan menggunakan jari tangannya dia telah menyentil tongkat orang.

“Takkkk!” terdengar tongkat itu kena disentil oleh Bie Liek.

Tongkat itu tersentak mental ke arah lain, sedangkan dengan meminjam sentilan itu, tubuh Bie Liek telah mencelat terus dengan cepat, dan jatuh di tanah dengan kedua kaki terlebih dahulu, dia jatuh berdiri dengan tubuh yang tegak.

Orang bertopi tudung rumput itu mengeluarkan seruan waktu tongkatnya kena disentil oleh Bie Liek. Rupanya dia terkejut juga orang bisa menyentil tongkatnya yang datang menyambar dengan kekuatan yang besar begitu.

Orang itu memutar tubuhnya, dia telah berdiri saling berhadapan dengan Be Liek. Tetapi orang itu tetap nenundukkan kepalanya, sehingga mukanya tidak bisa terlihat tertutup oleh tepian tudung rumput yang lebar.

“Hmmm, kau bocah cilik, ternyata kepandaianmu boleh juga!” kata orang bertopi tudung itu pula dengan suara yang menyiramkan sekali. “Tetapi kau jangan harap bisa terlolos dari kematian di tanganku!”

Bie Liek mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin. Mendongkol sekali bocah Bie Liek terhadap orang ini yang tahu-tahu telah menyerang dirinya dengan cara begitu macam.

“Hmmm, kau jangan bicara dengan seenak isi perutmu!” kata Bie Liek dengan suara yang tawar. “Tak hujan tak angin kau telah menyerang diriku! Apa kesalahanku terhadap dirimu! Bukankah kita saling tak mengenal, seperti juga air sumur dengan air kali yang tidak saling bercampur?”

Mendengar teguran Bie Liek, orang yang mengenakan topi tudung rumput itu telah tertawa dingin, menyeramkan suara tertawanya itu.

“Aku masih harus membunuh seratus delapan puluh tujuh bocah lainnya!” kata orang itu dengan suara yang menyeramkan. “Kau adalah korbanku yang kedelapan puluh satu!”

Mendengar perkataan orang tersebut, Bie Liek jadi terkejut sekali. Seketika itu juga, dia jadi menduga bahwa orang yang sedang dihadapinya ini adalah seorang gila. Bie Liek mengerutkan alisnya, dia mementang matanya lebar-lebar, seakan juga ingin menembus sampai dasar topi orang itu. Tetapi dia tidak bisa.

Orang itu tetap menundukkan kepalanya sehingga tudung rumputnya itu telah menutupi wajahnya, yang membuat dia jadi tidak bisa melihat wajah orang tersebut.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Bie Liek akhirnya dengan mengawasi orang tersebut dengan tatapan mata yang tajam sekali Orang itu telah tertawa gelak-gelak dengan suara yang menyeramkan sekali.

“Hmmm, apakah kau masih memerlukan untuk mendengar namaku?” tanya orang itu dengan suara yang dingin sekali, juga nada suaranya sangat menyeramkan sekali, mengandung hawa pembunuhan. “Bukanah sebentar lagi kau akan kukirim ke neraka, kukira tidak perlu kau mengetahui namaku! Kalau memang kuberitahukan, tentu kau akan melaporkan kepada Giam lo-ong bahwa yang telah membunuh dirimu adalah aku dan Giam Lo-ong tentunya akan murka kepadaku, sebab aku hanya memberikan padanya kerja-kerja lembur saja untuk memeriksa kau yang seharusnya belum dipanggil olehnya!!” dan setelah berkata begitu, orang ini telah tertawa lagi dengan suara yang mengerikan.

Sambil tertawa begitu, dia mengangkat kepalanya, dia tertawa sambil mendongak ke atas. Dengan diangkatnya kepala orang itu, maka Bie Liek bisa melihat wajah orang tersebut. Begitu bisa melihat bentuk wajah orang yang mengenakan tudung lebar tersebut, hampir saja Bie Liek menjerit saking kaget. Apa yang telah dilihatnya?

Ternyata muka orang itu rusak sekali, giginya seperti gigi-gigi tengkorak, dan juga mukanya itu lodoh kulitnya, seperti orang yang kesiram air panas. Menyeramkan benar muka orang itu. Bie Liek sendiri sampat menggidik ketika dapat melihat muka orang tersebut.

Sedangkan orang bermuka jelek yang mengenakan topi tudung rumput yang tepiannya sangat lebar itu, telah tertawa terus, akhirnya, waktu dia berhenti tertawa, dia menatap Bie Liek dengan sorot mata yang memancar bengis. Juga mulutnya yang rusak itu, yang sangat menyeramkan, dengan gigi-giginya yang tampak menonjol keluar, telah menyeringai dengan bengis dan mengerikan.

“Kau kaget, bukan?” tanyanya dengan suara mengejek. “Mukaku menyeramkan sekali menurut pandanganmu, bukan?”

Mendengar pernyataan orang itu, Bie Liek berusaha untuk tersenyum. Di dalam waktu yang sangat singkat sekali dia telah dapat menguasai goncangan hatinya.

“Hmm memang pertama-tama tadi aku kaget sedikit, tetapi tidak semua orang di dalam dunia ini mempunyai wajah yang cakap toh?” balik tanya Bie Liek dengan suara yang tenang.

Mendengar perkataan Bie Liek, orang bermuka jelek tersebut telah tertawa gelak- gelak dengan suara yang menyeramkan sekali. Suara tertawanya itu seperti juga suara rintih tangis dari seekor burung pemakan mayat, juga tubuhnya telah tergoncang keras disebabkan oleh suara tertawanya itu.

“Hmmm, kau coba-coba untuk menghibur diriku, bocah!” kata orang itu dengan suara yang tidak berobah, bengis sekali. “Tetapi jangan harap disebabkan pujianmu itu aku akan bisa memberikan pengampunan kepadamu!” Melihat sikap orang bermuka jelek yang ugal-ugalan ini, Bie Liek jadi sebal juga, dia mendelu sekali.

“Apakah kau kira aku jeri kepadamu sehingga aku harus memuji-muji dirimu?” tanya Bie Liek dengan suara yang dingin. “Aku tidak pernah merasa jeri kepada siapapun.”

Mendengar perkataan Bie Liek, orang tersebut seperti kaget, dia berhenti dari tertawanya dan melengak sesaat lamanya. Tetapi ketika dia tersadar kembali, dia tersadar untuk tertawa lagi dengan suara yang keras.

“Bagus! Bagus! Rupanya kau mau mengatakan bahwa kau adalah seorang bocah yang pemberani, bukan? Bagus! Aku mau lihat nanti apakah setelah kau menghadapi detik-detik kematianmu, kau masih akan mengatakan tidak takut menghadapi kematianmu itu?” katanya dengan suara yang keras sekali.

Bie Liek mendengus dengan suara tertawa tawarnya, sikap Bie Liek sangat tenang

sekali.

“Kukira aku tidak harus merasa takut, karena aku tidak mempunyai kesalahan

apapun!” kata Bie Liek dengan suara yang lantang. “Aku tak akan mundur kalau memang

berada dipihak benar!”

Mendengar perkataan Bie Liek, orang itu jadi melengak lagi. Tetapi dengan cepat dia telah dapat menguasai dirinya lagi.

“Hu! Baiklah! Rupanya kau belum kenal dengan aku si manusia tengkorak!” kata orang bermuka jelek itu. “Akulah Tohun-jin, yang ditakuti oleh orang-orang di dalam rimba persilatan!”

Bie Liek mengerutkan alisnya. Memang pantas orang ini mengakui dirinya sebagai manusia tengkorak, karena memang kenyataannya muka orang ini rusak dan hampir menyerupai tengkorak belaka.

Belum lagi Bie Liek berkata untuk mengejek, memanaskan hati To hun-jin, maka orang itu telah menggerakkan tongkatnya, kemudian dengan cepat sekali dia telah menjejakkan kakinya, dia telah melompat menerjang. Disaat dia menerjang, tongkatnya juga bergerak dengan cepat sekali. Tongkat itu berkesiuran, karena tenaga serangan dan To hun-jin begitu kuat, Lwee-kang yang dikerahkan ternyata kuat sekali.

Bie Liek yang melihat cara menyerang orang ini, telah memperdengarkan dengusannya. Dia menantikan tibanya serangan To hun-jin, dan disaat tongkat orang itu hampir mengenai pundaknya, dengan cepat sekali, Bie Liek menekuk kedua kakinya, tubuhnya doyong ke belakang dengan gerakan Tiat ko-pao, jembatan besi, tubuhnya itu telah terjengkang ke belakang, dan dengan sendirinya tongkat To hun-jin telah menyambar lewat. To-hun-jin waktu melihat serangannya gagal, dia telah bergerak cepat lagi, dia tidak menyerang hanya begitu, karena tahu-tahu tongkatnya itu telah bergerak lagi menghantam ke bawah, dia telah menggunakan gerakan yang tajam benar, bertenaga sekali pukulannya tersebut.

Hal ini mengejutkan Bie Liek. Tubuhnya sedang doyong ke belakang dalam gerakan Tiat-ko pan, tahu-tahu tongkat To hun-jin telah menghantam ke bawah, sehingga sulit baginya untuk mengelakkan serangan To hunjin.

TETAPI sebagai seorang jago yang mempunyai kepandaian tinggi serta kosen sekali, maka Bie Liek tidak menjadi gugup.

Dengan cepat sekali, dalam suatu gerakan yang sangat berani Bie Liek telah menggunakan kaki kirinya untuk menendang tongkat kayu To hun-jin, yang menyebabkan tongkat To hun-jin jadi tertendang melesat ke arah lain, sedangkan tubuh Bie Liek masih juga doyong ke belakang dalam posisi yang tidak berobah.

To hun-jin terkejut sekali waktu tongkatnya itu tertendang, dia merasakan telapakan tangannya itu nyeri. Saking kesakitan, To hun-jin sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Dan tubuh To hun-jin telah melompat ke arah lain, begitu dia dapat berdiri tetap, dia telah memandangi ke arah Bie Liek dengan tatapan mata yang bercahaya bengis sekali, rupanya dia penasaran, mendongkol dan murka benar.

Sedangkan Bie Liek telah dapat berdiri lagi dengan sikap yang tenang. Juga Bie Liek balas menatap To-hun-jin dengan sorot mata yang tenang,

“Kukira aku tidak pernah takut padamu, To-hun-jin!” kata Bie Liek sengaja untuk membangkitkan kegusaran si manusia tengkorak ini.

To-hun jin jadi tambah gusar. Dengan mengeluarkan suara jeritan yang keras, jeritan yang menyeramkan, dia telah melompat menerjang lagi kepada Bie Liek. Tongkatnya juga menyerang dengan hebat kepada Bie Liek.

Hal itu menyebabkan Bie Liek mau tak mau harus cepat-cepat mengelakkan serangan To hun-jin yang kali ini lagi dengan gesit, karena serangan To hun-jin mengandung tenaga dalam yang luar biasa kuatnya, juga serangannya itu berbahaya sekali, mengincar di bagian tubuh Bie Liek yang mematikan.

Begitu serangan To hun-jin bisa dielakkannya, maka Bie Liek telah berkata :

“Kau telah menyerang aku dua jurus, tinggal satu jurus lagi! Sebagai tingkatan yang lebih muda, aku telah mengalah tiga jurus kepadamu!” Dan belum lagi Bie Liek menyelesaikan perkataannya itu, maka tongkat To hu -jin telah menyerang Bie Liek. Serangan kali ini lebih hebat lagi, karena To hun-jin telah menyerang bagaikan kalap, dia penasaran benar, dan ingin merubuhkan Bie Liek dengan berbagai cara.

Tetapi Bie Liek kosen sekali. Biarpun orang menyerang dia dengan hebat sekali, toh tetap saja dia tidak jeri. Malah disaat tongkat To hun-jin menyambar untuk yang ketiga kalinya ini, Bie Liek telah mengambil keputusan untuk seterusnya dia akan balas menyerang.

Begitulah, setelah serangan To hun-jin gagal menemui sasarannya, Bie Liek sambil mengelakkan dengan memiringkan tubuhnya kekiri, tangan kanannya telah bergerak menerobos akan menotok jalan darah Kiu-tie-hiat di bagian dada dari To-hun-jin, si manusia tengkorak ini.

To-hun jin kaget bukan main, hatinya mencelos waktu tahu-tahu tangan Bie Liek sudah tak terpisah tak jauh dari dadanya. Dia sampai mengeluarkan seruan kaget dan sambil mengeluarkan seruan kaget begitu, dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat menjauhkan diri dari Bie Liek.

Dengan cara begitu, dia bisa terlolos dari totokan tangan Bie Liek. Coba kalau memang dia tidak bergerak cepat, tentu dia sudah akan tertotok oleh Bie Liek. Berarti dirinya akan tertotok kejang tidak dapat menggerakkan kaki tangannya.

Bie Liek telah memperdengarkan suara tertawanya waktu melihat To hun-jin agak gugup menghindarkan diri dari serangannya.

“Itu hanya baru serangan yang pertama!” kata Bie Liek sengaja mengejek begitu, “Nanti kalau memang aku sudah melancarkan serangan-serangan lainnya, kau baru bisa melihat, bahwa di dunia ini bukan To-hun-jin yang menguasai seorang diri!”

To-hun-jin tambah mendongkol dan murka, dia sampai berjingkrak dengan gusar.

“Kau jangan pentang mulutmu bicara takabur, bocah!” bentak To-hun-jin dengan murka. “Jagalah!”

Dan sambil membentak begitu, To hun-jin telah melompat menerjang lagi. Kali ini dia menyerang bukan hanya dengan menggunakan tongkatnya belaka, juga dia telah menggunakan tangannya yang kiri untuk menyerang lagi.

Diserang sekaligus dengan dua serangan yang berlawanan arah, apa lagi yang menyerangnya itu adalah seorang jago yang mempunyai kepandaian tinggi serta Lwee- kang yang sempurna, sebetulnya kalau Bie Liek tidak mempunyai kepandaian yang luar biasa, tentu akan terbinasa di tangan manusia tengkorak ini.

Tetapi sebagai seorang yang kosen, maka Bie Liek tidak menjadi gugup. Dia malah

telah memperdengarkan suara tertawa mengejeknya dan tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak, dia menantikan tibanya serangan. Disaat tongkat To-hun-jin hampir sampai mengenai badannya, maka Bie Liek telah mengerahkan tenaga murni, Lweekang, pada jari telunjuknya, dia telah menyentil tongkat itu, yang tersentil mental. Sedangkan serangan tangan kiri To-hun-jin telah ditangkis dengan menggunakan tangan kirinya juga, dia telah menangkis kekerasan dilawan dengan kekerasan. Dan membarengi dengan tangkisannya itu, maka Bie Liek telah membarengi dengan serangan tangannya yang lain untuk menotok kedua biji mata To hun-jin.

Hal ini benar-benar mengejutkan To hun-jin dia sampai melompat ke belakang untuk menghindarkan totokan jari tangan Bie Liek dengan hati yang mencelos.

Waktu dia telah dapat berdiri tetap lagi, keringat dingin telah mengucur di wajahnya. Dia jadi heran berbareng kaget karena bocah yang tadinya tidak dipandang sebelah mata, ternyata mempunyai kepandaian yang begitu hebat.

Maka dari itu, dengan sendirinya, seketika itu juga keberaniannya jadi berkurang, dan juga rasa takabur serta perasaan angkuhnya telah lenyap. Dengan mengerutkan kedua alisnya, dia telah menatap Bie Liek dengan bengis.

“Siapa gurumu?” bentaknya kemudian dengan suara yang tetap bengis. Bie Liek tertawa.

“Apakah aku perlu menyebutkan nama In-su, guru yang berbudi?” tanya Bie Liek dengan suara yang tawar. “Kukira, begitu kau mendengar nama guruku, kau akan lari sipat kuping tanpa menoleh ke kiri ke kanan lagi!”

Setelah berkata begitu, sengaja Bie Liek telah tertawa lagi. Betapa murka hati To hun-jin, selama hidupnya, belum pernah ada orang yang berani memperolok-olok dirinya begitu macam, maka dari itu, dengan mengeluarkan suara seruan murka, dia telah melompat dan sekaligus secara berangkai dia telah melancarkan serangan lagi empat jurus!

Bie Liek memang telah melihat, sampai dimana kepunsuan dari To hun-jin. Maka itu, ketika melihat dirinya diserang sekaligus empat jurus, dengan masih memperdengarkan suara tertawanya, Bie Liek telah berkelebat dengan cepat sekali seperti juga bayangan belaka. Bie Liek telah menghindarkan setiap serangan To hun-jin dengan gesit sekali, dan didalam waktu yang sangat singkat sekali, mereka telah bergebrak delapan puluh jurus lebih.

Semakin lama, disamping perasaan murka yang semakin meluap, pun To-hun jin jadi agak keder, karena dia melihat biarpun Bie Liek masih berusia muda sekali, yang masih bisa disebut sebagai seorang bocah, toh kepandaiannya sangat tinggi dan luar biasa sekali.

Pecahlah nyali dari To-hun jin, dia jadi agak keder juga. Dengan sendirinya, dia mulai memikirkan untuk mengambil jalan buron menyelamatkan. Kalau memang dia sampai rubuh di tangan bocah itu, hancurlah namanya yang telah dipupuk puluhan tahun itu. Maka dari itu, dia telah memperhebat serangan-serangannya untuk mendesak Bie Liek. Si bocah Bie Liek juga merasakan betapa serangan-serangan dari To hun-jin semakin kuat dan mendesak. Tetapi, dikala To-hun jin sedang melancarkan serangan tongkatnya itu ke arah kepala Bie Liek, maka kesempatan itu telah digunakan oleh Bie Liek sebaik-baiknya.

Waktu menyerang begitu, dikala To hun-jin menyerang dengan menggunakan jurus ‘Kiat kun-tung-sie’, maka penjagaan pada pundaknya itu lowong.

Dengan gesit Bie Liek telah bergerak ke samping, dan dikala tongkat lawannya tersebut lewat di sisi pundaknya, maka Bie Liek telah mengulurkan tangannya.

Dia menotok jalan darah ‘Sian-ma-hiat’nya To hun-jin. Telak sekali totokan Bie Liek kali ini mengenai sasarannya. Dan, tanpa bisa dipertahankan lagi, tahu-tahu To-hun- jin merasakan tangannya itu linu, jadi lemas tak bertenaga, tanpa keinginan dari hatinya, tongkatnya itu telah terlepas dan jatuh ke tanah.

To hun-jin terkejut sekali, dan belum lagi hilang rasa kagetnya itu, maka tangan Bie Liek telah bekerja dengan cepat lagi. Bie Liek telah menotok tiga jalan darah lainnya di tubuh To-hun-jin. Tak ampun lagi tubuh To hun-jin telah ambruk di tanah tanpa dapat mengeluarkan suara jeritan.

Bie Liek telah berdiri lagi di tempatnya, dia mengawasi manusia yang bermuka jelek yang mirip tengkorak dan mengakui bernama To hun-jin, si manusia tengkorak.

To hun-jin biarpun telah rubuh terguling di tanah dan tidak bisa bergerak lagi, namun dia telah penasaran dan murka benar. Maka dan itu, matanya tetap mendelik kepada Bie Liek, karena dia murka benar dapat dirubuhkan oleh seorang bocah seperti Bie Liek

Sedangkan Bie Liek telah berkata :

“Bagaimana To hun-jin, bukankah tadi telah kukatakan bahwa kau belum tentu dapat merubuhkan diriku?” tanya Bie Liek.

To hun-jin jadi tambah penasaran dan murka sekali kepada Bie Liek. Matanya masih tetap mendelik menatap kepada Bie Liek dengan sorot mata yang mendendam.

“Cepat kau bebaskan diriku!” bentak To hun-jin dengan suara yang bengis tetapi biarpun dia membentak begitu, toh tubuhnya tidak bisa digerakkan, dia tetap rebah di tempatnya tanpa daya sama sekali. “Kalau tidak, hmmm biarpun kau melarikan diri ke ujung dunia, selama aku masih bernapas, aku akan mengejarmu!!”

Bie Liek tertawa.

“Benarkah itu?” tanyanya mengejek. “Kukira pada saat ini kalau memang aku mau membunuhmu, sama mudahnya dengan aku membalikkan telapak tanganku sendiri!!” Mendengar perkataan Bie Liek, mata To-hun-jin jadi mencilak seperti juga mau berbalik, terlihat hanya putihnya saja. Tubuhnya juga mengigil menahan penasaran murkanya.

“Kalau memang kau mau bunuh, bunuhlah!! Aku tidak takut menghadapi

kematian!” bentak To hun-jin dengan suara yang parau saking murkanya.

“Ya, ya, memang gampang sekali untuk membunuh dirimu!!” kata Bie Liek. “Tetapi jangan buru-buru, aku tidak mau cepat-cepat untuk membunuh dirimu! Percayalah, aku akan memberikan kau rasa yang enak sekali, aku akan memotong kulit di tubuhmu perlahan-lahan, kemudian mencongkel kedua biji matamu, memotong lidahmu, membuntungi kedua kakimu kemudian menotok jalan darah Sie-tu-hiat dan Tay-yang Hiat, untuk melenyapkan ilmu silatmu! Untuk seterusnya, kau akan hidup selain menjadi si cacad, pun juga kau akan menjadi si orang lemah yang tidak mempunyai tenaga! Hmmm, aku mau lihat, setelah menjadi manusia macam begitu kau masih bia membawa lagakmu yang angkuh itu atau tidak?”

Dan setelah berkata begitu, Bie Liek telah tertawa lagi dengan suara yang keras. To hun-jin gusar benar, dia murka tetapi tanpa daya sama sekali. Matanya jadi mencilak, tampak hanya putihnya, karena biji matanya itu terbalik disebabkan To-hun-jin terlalu murka tanpa bisa disalurkan.

Setetah mengeluarkan perkataan : “Kau oh, kau benar-benar seorang bocah iblis!” matanya mencilak lagi, dan dia jadi jatuh pingsan!!

Melihat To-hun-jin telah jatuh pingsan, Bie Liek menghela napas. Dia mendekati orang yang mukanya telah rusak ini, dia bermaksud akan menotok bebas totokannya pada diri To-hun-jin, untuk membebaskan kemerdekaan orang ini lagi!

Bie Liek beranggapan bahwa guyonnya itu telah cukup untuk mempermainkan diri To-hun-jin.

o o o

BEGITU totokan pada jalan darahnya itu terbuka, maka To-hun-jin telah tersadar kembali.

Begitu dia membuka kedua kelopak matanya, maka To hun-jin telah mendelik kepada Bie Liek, rupanya dia masih dikuasai oleh hawa amarah yang meluap-luap.

“Ka kalau memang kau mau membunuh, bunuhlah! Janganlah kau menghina aku sampai begini macam!” kata To-hun-jin dengan suara yang bengis. Rupanya dia telah nekad benar disebabkan perasaan marah dan gusarnya itu.

Bie Liek tetap membawakan sikapnya yang tenang, dia telah tertawa tawar.

“Jadi kau benar-benar tidak jeri menghadapi kematian?” tanya Bie Liek dengan suara yang dingin. To Hun-jin mendengus

'“Bunuhlah kalau memang kau mau membunuhku!” bentak To hun-jin dengan suara yang bengis sekali.

Bie Liek menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan-lahan, sikapnya tenang sekali, diapun telah memperdengarkan suara tertawa tawarnya beberapa kali.

“Jangan kau kira enak untuk binasa begitu saja!” kuta Bie Liek dengan tawar. “Biarpun kau harus mati, toh tetap saja kau harus kuberi pelajaran, bahw di dunia ini bukan hanya kau saja yang mengerti Bu-gee, ilmu silat, sehingga kau tidak usah terlalu sombong dan takabur! Lihatlah! Di tanganku saja, di tangan seorang bocah menurut anggapanmu, kau telah dapat dirubuhkan dengan mudah sekali dan dengan cara yang memalukan. Nah coba kau pikir-pikir dulu, kau masih mau hidup atau memang kau mau merasakan bagaimana rasanya itu kalau sedang menghadapi kematian!! Kalau memang kau mengingini kematianmu itu, sangatlah mudah sekali kulakukan! Di dalam waktu yang sangat singkat sekali, kau akan kukirim ke neraka!”

Setelah berkata begitu, Bie Liek telah tertawa lagi dengan suara tertawa yang dingin sekali.

To hun-jin jadi tambah, mendongkol, karena belum pernah sejak puluhan tahun yang lalu sampai saat ini, dia dihina begitu macam. Dia menganggap bahwa Bie Liek sangat menghina sekali dirinya. Dia mengambil keputusan lebih baik mati dari pada harus menderita malu!

Maka dari itu, dia mendelikkan matanya lebar-lebar, serta membentak :

“Bunuhlah kalau memang kau mau membunuh!” bentaknya dengan suara yang bengis sekali. “Tetapi, sakit hatiku ini tentu pada suatu hari akan ada yang membalaskannya! Percayalah, aku akan menjadi setan penasaran yang akan mengejar- ngejar dirimu selama kau belum binasa!”

Mendengar perkataan To-hun jin, Bie Liek jadi tertawa.

“Lucu sekali! Lucu benar! Kau akan menjadi setan penasaran? Hmm! Aku malah mau melihat dan menemui setan penasaran itu! Baiklah, kalau memang kau mau mampus juga, maka aku akan menuruti keinginanmu itu agar kau merasakan bagaimana nantinya menjadi setan penasaran!!” dan setelah berkata begitu, Bie Liek mencabut pedangnya, digoyang-goyangkannya di depan To hun-jin.

''Apakah kau benar-benar tidak jeri menghadapi kematian?” tegur Bie Liek dengan suara yang tawar sambil menatap dengan mata yang dingin.

To hun jin jadi tambah gusar. Dia mendongkol bukan main. Tubuhnya sampai menggigil. Matanya mendelik lebar sekali. “Bunuhlah! Bunuhlah! jangan kau menghina diriku dengan keterlaluan!” bentak

To-hun-jin seperti juga kalap.

Mendengar perkataan To hun-jin dan melihat kekalapan dari si orang bermuka buruk ini, Bie Liek jadi tersenyum, dia telah memutar-mutar pedangnya lagi sesaat lamanya, kemudian dia menghela napas sambil memasukkan pedangnya ke dalam kerangkanya lagi. KemndiaD Bie Liek telah tertawa.

“Jangan cepat-cepat marah, tak baik kalau memang orang selalu membawa adat!” kata Bie Liek sambil tetap tersenyum. “Aku yakin, didunia ini tidak akan ada orang yang berani mati dan mau menghadap pada Giam-lo-ong!!”

Mendengar Bie Liek berkata begitu, To hun-jin jadi tambah gusar dan murka. Dia duga si anak muda Bie Liek ini sedang mengejek dan mempermainkan dirinya terus- menerus tidak hentinya dan benar-benar telah menggusarkan dirinya.

'“Kau terlalu cerewet, bocah setan!” ben-tak To-hun-jin dengan murka. “Bunuhlah kalau memang kau mau membunuhku!”

Tetapi Bie Liek sekarang tidak meladeni kemurkaan To-hun-jin. Dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan perlahan, sikapnya menjadi sabar, dan malah Bie Liek telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada To hun-jin.

“Maafkanlah aku!” kata Bie Liek. “Memang keterlaluan guyon yang telah kulakukan ini! Maafkan! janganlah disimpan didalam hati!” dan setelah berkata begitu, Bie Liek menjura kepada To-hun-jin.

To hun-jin terpaku sesaat, dia jadi heran melihat perobahan yang begitu cepat. Dia sampai mengawasi dengan mata mendelong. Untuk sesaat dia tidak bisa berkata apa-apa. Bie Liek telah menjura lagi dan berkata :

“Janganlah kau marah disebabkan guyonku!” kata Bie Liek. “Sadarlah dengan hati yang sabar, bahwa tadi aku hanya berguyon saja, aku tidak mempunyai maksud apa- apa, karena sebelumnya kau yang telah memulai persoalan!”

To hun-jin tetap hanya mengawasi Bie Liek. Bibiinya bergerak-gerak seperti juga dia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi batal. Rupanya dia tidak jadi berkata-kata.

Bie Liek melihat kelakuan orang. Dia jadi tertawa sendirinya dan berkata :

“Janganlah kau menyimpan soal ini dan menjadi dendam kepadaku, kau denganku tidak saling kenal sebelumnya, maka dari itu, aku juga mengira ada baiknya kalau kita berpisah dengan tidak mempunyai ganjalan apa-apa dihati kita masing-masing, bukankah begitu?” 

Dan setelah berkata begitu Bie Liek menoleh sekelilingnya. Katanya lagi dengan suara yang perlahan : “Kukira sudah cukup lama kita berkenalan!” kata Bia Liek. “Aku harus melakukan perjalanan lagi karena masih ada sesuatu yang harus kuurus!” dan setelah berkata begitu, Bie Liek membalikkan tubuhnya. “Selamat tinggal!”

To-hun-jin terpaku, dia tidak menyahuti, hanya mengawasi kepergian Bie Liek, dia mengawasi terus punggung Bie Liek sampai akhirnya lenyap dari pandangan matanya.

Setelah menghela napas, To hun-jin juga kemudian telah menekan topi rumputnya itu, dia telah menekan dalam-dalam, wajahnya jadi lenyap tertelan oleh tepian tudung rumputnya. Kemudian setelah menghela napas beberapa kali lagi, To hun-jin telah melargkah pergi meninggalkan tempat itu, langkah kakinya tetap perlahan, dengan tongkat di tangannya membantu dia melangkah, seperti seorang pengemis yang berjalan dengan perlahan-lahan.

o o o

BIE LIEK telah melakukan perjalanannya lagi. Dia girang sekali, karena suasana di sekelilingnya sangat indah. Kalau dia teringat kejadian tadi dengan To-hun-jin, maka Bie Liek suka tertawa seorang diri tanpa disadarinya, dia menganggap kejadian lucu sekali.

Dengan mulut bersiul panjang, Bie Liek terus juga melakukan perjalanan. Dan ketika sampai di kaki gunung, Bie Liek duduk mengaso di bawah sebatang pohon yang rindang.

Mata Bie Liek memandang lepas ke arah muka dimana pemandangan indah terbentang di hadapan matanya. Bie Liek sering menghela napas kalau teringat nasibnya yang sebatang kara.

Tetapi hal itu dengan cepat lenyap, karena hatinya terhibur melihat pemandangan yang indah di depannya itu, dan burung-burung yang beterbangan dengan indah di angkasa, terbang dengan bebasnya.

“Ya! Aku menyerupai burung-burung itu, yang akan terbang dengan bebas, menerjunkan diri ke dalam masyarakat! Keluargaku adalah kawan-kawan yang akan kujumpai didalam hari-hari mendatang!”

Dan setelah berpikir begitu, Bie Liek jadi tersenyum terharu. Dia mengenangkan kejadian-kejadian yang selama ini telah dialaminya. Dan Bie Liek telah mengambil keputusan, hidupnya untuk masa-masa yang mendatang, dia akan menggunakan kepandaian dan ilmu yang dimilikinya untuk berbuat amal, untuk melakukan perbaikan nasib si kecil dari tindasan si jahat.

Tanpa disadarinya, karena hembusan angin gunung yang sejuk, juga disebabkan rasa letihnya, maka Bie Liek jadi tertidur. Lama juga Bie Liek tertidur. Sampai akhirnya dia terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara jeritan seorang wanita! Suara jeritan itu melengking tinggi, dan suara jeritan wanita itulah yang telah membangunkan Bie Liek dari tidurnya.

Bie Liek memandang sekelilingnya, tidak tampak sesuatu. Cepat-cepat dia melompat berdiri. Dan suara jeritan wanita terdengar lagi malah seperti wanita itu sedang mengalami ancaman bahaya maut yang akan dapat merenggut nyawanya.

Suara jeritan itu melengking tinggi sekali. Tanpa pikir panjang lagi, Bie Liek telah menjejakkan kakinya. Dia telah melompat dengan gesit memburu ke arah datangnya suara jeritan itu. Dan cepat sekali tampak oleh Bie Liek seorang wanita berusia diantara tiga puluh tahun sedang berlari ketakutan, wajahnya pucat dan dia berlari sambil menangis.

Di tangannya mendekap seorang bayi! Di belakang wanita itu mengejar beberapa orang lelaki yang mempanyai wajah sangat menyeramkan sekali. Wajah mereka menunjukkan kebengisan hati mereka, dan juga nampaknya perempuan itu menjadi buruan mereka yang empuk sekali.

Bie Liek mendongkol sekali. Lebih-lebih dia melibat betapa wanita itu sedikit waktu lagi akan kecandak. Tanpa mengucapkan sesuatu, hanya mengeluarkan suara bentakan yang keras, Bie Liek telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat, dan mencelat dengan cepat sekali, dia telah memburu ke arah wanita itu.

Begitu sampai, tanpa mengucapkan sesuatu, tanpa menegur lagi, Bie Liek telah menggerakkan tangannya. Pengejar wanita itu, yang berjumlah lima orang jadi tunggang langgang.

Wanita ini cepat-cepat bersembunyi di belakang sebatang polaon dengan ketakutan.

“Jangan takut, aku akan membantu nyonya membasmi orang-orang jahat ini!” kata Bie Liek menghibur wanita itu.

Sedangkan kelima orang yang telah jatuh tunggang langgang itu telah merangkak bangun. Tampaknya mereka gusar sekali.

“Bocah! Kau cari mampus?” bentak salah seorang diantara mereka. Bie Liek tertawa mengejek.

“Kalian adalah lelaki pengecut, yang hanya berani mengunjuk gigi kepada wanita! Majulah! Perlihatkanlah sampai dimana kepunsuan kalian!” kata Bie Liek dengan suara yang dingin.

Wajah kelima orang itu jadi berobah, mereka telah mencabut senjata mereka masing-masing.

“Akan kami cincang tubuhmu!” bentak mereka hampir berbareng. Bie Liek melihat kelima orang ini buas-buas, tentu hatinya jahat sekali. Maka dari itu, Bie Liek telah mengambil suatu keputusan bahwa dia akan memberikan pelajaran yang cukup kepada kelima orang ini. Melihat kelima orang tersebut telah mencabut senjata mereka, Bie Liek tetap berdiri tenang di tempatnya.

Waktu kelima orang tersebut menyerang dirinya dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, maka Bie Liek telah memperdengarkan suara tertawa dinginnya.

Tahu-tahu di tangan Bie Liek telah terhunus pedangnya yang berkelebat dengan cepat. Terdengar suara jeritan saling susul. Beberapa sosok tubuh menggelepar di tanah! Tampak kelima orang tersebut telah buntung tangan kanan mereka masing-masing oleh sabetan pedang Bie Liek!!

Darah merah tampak mengucur dengan deras. Wajah kelima orang tersebut jadi pucat sekali. Butir-butir keringat yang besar-besar sekali telah mengucur dengan deras. Hal itu menandakan bahwa kelima orang tersebut sangat kesakitan sekali.

Bie Liek telah mengacungkan pedangnya sambil berkata :

“Hmm kalian adalah manusia-manusia jahat dan buas! Karena memang menurut secara hukum, kalian harus dilenyapkan dari permukaan bumi ini! Tetapi aku masih merasa kasihan, maka dari itu kalian menggelinding enyah dari hadapanku!!” dan setelah membentak begitu, Bie Liek mengacung-acungkan pedangnya!

Kelima orang tersebut merangkak bangun dengan tangannya yang lain memegangi tangannya yang telah buntung itu.

“Siapa siapa kau?” tanya salah seorang diantara mereka. “Sebutkanlah namamu, agar kami dapat membalas budi kebaikanmu ini!”

Bie Liek tertawa dingin.

“Kalian telah cukup baik hati menghadiahkan kepada pedangku ini kelima tangan kalian! Apakah perlu kepala kalian itu dihadiahkan pula kepada pedangku ini, heh?” kata Bie Liek dengan dingin.

Dan sambil berkata begitu, dia mengacung-acungkan pedangnya! Juga Bie Liek melangkah menghampiri selangkah demi selangkah kepada orang itu. Melihat ini kelima orang itu jadi ketakutan sekali. Mereka jeri dan juga nyali mereka memang telah pecah.

Maka dari itu, waktu melihat Bie Liek menghampiri ke arah mereka dengan langkah yang perlahan, setindak-setindak dengan pedang teracung. Mereka takut kalau-kalau mereka benar-benar dibunuh oleh Bie Liek. Maka dari itu, dengan menahan rasa sakit pada lengan mereka, tanpa menghiraukan sesuatu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka telah memutar tubuh mereka, telah berlari sipat kuping. Melihat kelakuan kelima orang itu, Bie Liek tersenyum. Dia telah memasukkan pedangnya ke dalam kerangkanya. Diawasinya kelima orang yang sedang berlari dengan terburu-buru seperti dikejar setan.

Tiba-tiba Bie Liek tersadar waktu tahu-tahu wanita yang tadi menjadi buruan kelima orang itu, yang menggendong seorang bayi telah berlutut di dekatnya.

“Terima kasih In-jin! Terima kasih!” mengucapkan wanita itu sambil mengucurkan

air mata. “Kalau tidak ada In-jin, tentu nasibku dengan puteraku ini akan celaka sekali!”

Bie Liek cepat menyuruh wanita itu bangun, dia mengelakkan pemberian hormat dari si wanita.

“Bangunlah nyonya! Bangunlah! Jangan begitu!” kata Bie Liek cepat “Kau tidak kenapa-kenapa, bukan?”

Wanita itu mendengar pertanyaan Bie Liek jadi menangis tambah sedih. Tububnya sampai menggigil. Bie Liek jadi kaget, dia membujuknya dengan kata-kata yang lembut.

“Coba nyonya ceritakan, apa yang telah menyebabkan kau berada disini dan dikejar-kejar kelima orang itu?” tanya Bie Liek waktu tangis si wanita mulai reda.

Wanita itu menghapus air matanya. Dia menghela napas, dan sambil menciumi anak bayi yang digendoagnya itu, dia menceritakan riwayatnya.

Ternyata wanita ini bernama Sim Tian Nio, dia hidup bersama suami dan anaknya

ini.

Dengan tidak terduga pada hari itu kampung mereka telah diserang perampok,

penyamun gunung. Semua lelaki dibunuh. Yang wanitanya telah ditangkap dan diperkosa.

Banyak anak-anak kecil yang tidak berdosa juga telah dibunuh oleh perampok yang kejam dan bengis itu.

Sim Tian Nio sempat melarikaa diri. Sampai akhirnya dia dikejar-kejar oleh kelima orang anak buah perampok-perampok itu dan bertemu dengan Bie Liek serta ditolong oleh Bie Liek.

Setelah menceritakan apa yang dialami oleh orang-orang di kampungnya, nyonya Sim itu telah menangis lagi dengan sedihnya.

“Suamiku telah dibunuh oleh mereka dengan kejam dan dibacok kepalanya sampai terbelah! Kejam sekali!” dan dia menangis lagi.

Tubuhnya menggigil. Bie Liek menghela napas.

“Perampok-perampok yang kejam!” menggumam ia dengan mendongkol. “Manusia-manusia semacam itulah yang harus dibasmi unuk membersihkan dunia dari kekotoran yang ada. Wanita itu juga masih menangis terus dengan sedihnya, sehingga menambah kemendongkolan dan kegusaran diri Bie Liek kepada perampok-perampok yang bengis itu. itu. Oia jadi mengambil keputusan bahwa dia harus membasmi perampok-perampok

“Setelah rumah dan suami nyonya tak ada sekarang nyonya bermaksud akan pergi kemana?” tanya Bie Liek setelah tangis wanita itu mereda lagi.

Wanita itu telah menghapus air matanya sebelum berkata. Kemudian sambil menciumi puteranya, dia mengucapkan kata-kata dengan tergetar : “Aku akan menuju ke rumah encie dari ayah anak kami ini dan mungkin aku akan menumpang dengan mereka!!”

Bie Liek mengangguk.

“Apakah nyonya mempunyai ongkos?” tanya Bie Liek lagi.

Perempuan itu tidak segera menyahuti, dia hanya berdiri bimbang. Akhirnya dia menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.

“Karena terlalu terburu-buru melarikan diri, maka aku lupa membawa uang!”

katanya kemudian dengan suara yang sedih.

Bie Liek telah merogoh sakunya.

“Aku mempunyai sedikit uang, pakailah oleh nyonya untuk diperjalanan.” kata Bie

Liek sambil menyerahkan beberapa tail perak kepada perempuan tersebut.

Nyonya itu sangat berterima kasih sekali. Dia mengucapkan rasa terima kasihnya berulang kali. Setelah itu mereka berpisah.

Bie Liek telah mengambil keputusan akan menyatroni sarang penjahat-penjahat yang telah merampok kampung nyonya itu. Dengan cepat Bie Liek telah mengambil arah ke arah dimana terjadinya perampokan besar-besaran.

KAMPUNG itu merupakan sebuah kampung yang cukup besar.

Tetapi ketika Bie Liek memasuki pintu kampung itu, maka dia melihat kesepian melanda kampung ini. Tidak tampak seorang manusiapun, kampung itu seperti juga sebuah kampung mati.

Bie Liek mengawasi sekitarnya. Dia hanya melihat dua ekor anjing yang sedang mengorek-ngorek sampah. Dan beberapa ekor ayam yang tengah berkeliaran. Selain itu tidak tampak sesuatu lainnya. Semuanya kosong dan tidak berpenghuni. Ketika Bie Liek maju lebih lanjut lagi, maka dia melihat dua mayat manusia yang menggeletak tak bernyawa. Kedua mayat itu terdiri dari seorang lelaki tua dan seorang bocah berusia diantara tiga belas tahun.

Tampaknya mereka terbinasa dengan bahu yang terbacok senjata tajam sampai sebatas dada. Itulah suatu kematian yang benar-benar mengenaskan dan juga menyedihkan sekali. Bie Liek menghela napas.

“Alangkah kejamnya perampok-perampok itu!!” menggumam Bie Liek dengan suara yang seram.

Dan dia maju lagi untuk memeriksa keadaan kampung itu, yang dikelilingnya. Kesepian yang ada di sekitar kampung itu. Tetap saja Bie Liek tidak menemui seorang manusiapun. Kesunyian telah mencekam kampung itu. Bie Liek berulang kali menghela napas.

Apa lagi kalau dia melihat ada rumah-rumah yang rusak dihancurkan para perampok itu. Betapa kejam dan bengis sekali perampok-perampok itu di dalam pandangan mata, Bie Liek, karena seisi kampung itu telah hancur porak poranda.

Ketika sampai dimuka sebuah rumah yang hancur rusak, maka Bie Liek berhenti melangkah. Dia berdiri sejanak di situ dengan wajah yang muram. Anak muda she Bie ini berdiri termangu di depan rumah yang telah hancur rusak itu.

Berulang kali Bie Liek menghela napas. Karena diantara reruntuhan puing-puing rumah yang hancur itu, tampak beberapa sosok mayat yang menggeletak tak berjiwa dan dalam keadaan yang mengerikan sekali.

Betapa kekejaman dan kehancuran yang telah ditimbulkan oleh perampok- perampok itu. Dengan caranya yang telah menghancurkan rumah-rumah penduduk di kampung itu, perampok-perampok itu telah memperlihatkan bahwa sifat mereka buas menyerupai binatang-binatang jalang yang tidak beradab.

Dengan sendirinya, pemandangan disekitar tempatnya berdiri itu, telah membuat Bie Liek jadi gusar dan murka bukan main. Dia bersumpah, biar bagaimana dia harus dapat mencari perampok itu untuk diberi ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah dilakukannya itu, menghancurkan kampung tersebut tanpa mengenal rasa kasihan.

Bie Liek menghela napas lagi, dia bermaksud akan berlalu dari tempatnya berdiri. Tetapi baru saja dia melangkah beberapa tindak, tiba-tiba dia mendengar suara rintihan yang perlahan sekali. Bie Liek merandek, dan dia menahan langkah kakinya. Suara rintihan itu adalah suara rintihan dan seseorang manusia yang menderita kesakitan yang sangat. Cepat sekali dia melompat ke arah datangnya suara rintihan itu.

Dan diantara tindihan kayu-kayu yang runtuh, runtuhan-runtuhan dari tiang-tiang rumah, tampak seorang kakek tengah berusaha dengan lemah untuk meloloskan diri dari gencetan reruntuhan tiang-tiang penglarian itu. Tetapi karena kakek itu berada dalam keadaan terluka parah, dengan sendirinya dia tidak berhasil untuk meloloskan diri dari gencetan tiang-tiang itu. Cepat-cepat Bie Liek melompat menghampirinya. Dia mengangkat balok-balok yang menindih kaki dan tubuh kakek itu.

Setelah tiang-tiang penglarian yang menindih tubuh kakek tersebut disingkirkan, maka Bie Liek telah menghampiri kakek ini. Dia berjongkok di sisi si kakek.

''Apa yang kau rasakan, Loopeh?” tanya Bie Liek dengan penuh kekuatiran. Dia memanggil si kakek dengan sebutan Loopeh, yang artinya paman.

Si kakek masih merintih dengan suara perlahan sekali, dia membuka kelopak matanya perlahan-lahan, cahaya matanya guram sekali.

“Air!! Air!!” katanya perlahan benar dengan bibir gemetar.

Cepat-cepat Bie Liek mencari air. Dengan menggunakan sebuah mangkok yang ditemuinya diantara reruntuhan itu, maka dia telah mengambil air putih. Diberikan kakek itu minum.

Setelah meminum air yang diberikan oleh Bie Liek, si kakek tampak agak segaran. Semangatnya juga jadi tambah sedikit. Hanya saja, dia masih merintih dengan suara yang gemetar.

'“Sakit hati kami harus harus dibalas!!” kata si kakek dengan  suara yang perlahan. “Kau kau harus melaporkan kepada alat negara  yang  membuat kerusuhan dan merampok kampung ini adalah perampok-perampok yang menjadi penghuni di gunung Lung-san yang tidak begitu jauh letaknya dari kampung ini kau kau harus  memberikan laporan kepada alat negara!!” dan

setelah berkata begitu, napas si kakek jadi memburu.

Bie Liek cepat-cepat menghiburnya. Si kakek tampak mau berkata-kata lagi, tetapi Bie Liek cepat-cepat mencegahnya.

“Jangan terlalu banyak bicara dulu, Loopeh, peliharalah tenaga dulu!” kata Bie

Liek.

Si kakek mengangguk perlahan, rupanya dia mau juga mendengar nasehat Bie

Liek. Kakek itu memejamkan matanya sesaat, kemudian dia menghela napas. Bie Liek masih berdiam di sisi si kakek, dia mengawasi saja. Perlahan-lahan tampak kakek itu telah membuka kelopak matanya lagi.

“Sakit hati dari puluhan penduduk kampung ini akan terbalas kalau memang kau melaporkan kepada alat negara dan kami akan merasa berterima kasih sekali kepadamu, akan binasa dengan kedua mata yang meram!” kata si kakek lagi dengan suara yang gemetar. Kemudian kepalanya tertunduk lemas, napasnya terhenti. Jiwa kakek ini telah melayang menghadap ke Giam lo-ong disebabkan luka-lukanya yang agak berat. Bie Liek menehela napas melihat si kakek telah berpulang. Berulang kali Bie Liek menghela napas, dia mengawasi mayat si kakek yang masih terpangku di tangannya.

“Kasihan nasib orang-orang kampung ini, yang telah binasa dengan cara kejam di tangan perampok-perampok itu.” kata Bie Liek dengan suara menggumam. “Biar bagaimana sakit hati ini harus dibalas untuk membuat mereka binasa dengan hati yang tidak penasaran atau juga tidak dengan kedua mata yang meram!!” dan setelah berkata begitu, perlahan-lahan, Bie Liek melepaskan pelukan pada mayat kakek itu.

Dia menyoja tiga kali memberi hormat penghabisan kepada kakek itu,

“'Tenanglah hatimu, Loopeh, sakit hati kalian ini akan kubalaskan!'“ kata Bie Liek. “Dan penjahat-penjahat yang telah mencelakakan kalian akan kuberi hajaran yang setimpal dengan apa yang telah dilakukan oleh mereka!!”

Bie Liek bangun perlahan-lahan. Sebelum berangkat dari tempat itu, dia mengawasi lagi kepada mayat si kakek. Kemudian sambil menghela napas, Bie Liek telah memutar tubuhnya. Perlahan sekali langkah kaki dari si anak muda she Bie tersebut.

Dia menyusuri kampung itu dengan di hati bergolak rasa dendam kepada para perampok yang telah mengacau kampung itu, dan juga Bie Liek memang mau membalaskan sakit hati dari orang-orang kampung yang telah terbunuh di tangan para perampok tersebut.

Bie Liek melihat masih banyak mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah, terbunuh oleh para perampok yang telah menyerbu kampung tersebut. Rasa mendongkol dan gusar di diri anak muda she Bie itu jadi semakin besar. Dia berjanji di dalam hatinya, biar bagaimana dia harus dapat membalaskan sakit hati dari orang-orang kampung itu.

Dendam membakar hati Bie Liek dengan golakan yang luar biasa sekali. Dia bermaksud akan mencari para perampok itu untuk melakukan pembalasan sakit hati orang-orang kampung yang telah terbunuh oleh perampok itu dan juga akan membasmi mereka demi kebenaran dan keadilan melenyapkan kerusuhan-kerusuhan yang akan ditimbulkan lagi nantinya oleh perampok-perampok tersebut.

Ketika sampai di muka kampung yang telah sunyi seperti juga kampung mati tidak berpenduduk dan berpenghuni, maka Bie Liek berhenti sebentar di bawah pohon yang tumbuh rindang sekali. Dia mengawasi sekali lagi ke arah kampung yang akan ditinggalkannya itu. Bie Liek menghela napas lagi.

“Betapa kejam dan bengis sekali perampok-perampok yang telah membuat huru hara dan membunuh penduduk kampung ini! Mereka menyerupai seperti binatang yang tidak mempunyai perikemanusiaan sedikitpun! Hmmm manusia-manusia semacam itulah yang harus dibasmi dari permukaan bumi!!” Dan setelah mengumam begitu, Bie Liek melanjutKan perjalanannya lagi. Tetapi, waktu si anak muda she Bie ini mulai melangkah menuju ke arah selatatan, maka tiba- sekait, tampak mencelat sesosok bayangan dengan kecepatan yang luar biasa sekali, gesit benar gerakannya.

“Berhenti!” terdengar bayangan tersebut membentak dengan suara yang nyaring.

Bie Liek heran berbareng kaget, karena bayangan itu telah menghandang jalannya. Bie Liek mementang matanya lebar-lebar, maka tampaklah olehnya, bahwa yang menghadang dirinya itu adalah seorang gadis berusia diantara dua puluh lima tahun.

Wajah gadis itu pucat sekali, tampik bibirnya gemetar, dan juga di tangan kanan gadis itu tampak mencekal sebatang pedang yang tajam sekali. Dengan tatapan mata yang bengis sekali, gadis itu telah memandang Bie Liek.

“Kau tentunya mata-mata dari perampok-perampok laknat itu!” bentak si gadis dengan suara yang bengis dan gemetar menahan gejolak hawa amarahnya. “Kau harus mampus di ujung pedangku, karena kalian adalah manusia-manusia binatang yang tidak boleh dibiarkan hidup terus di atas permukaan bumi ini!!”

Dan setelah berkata begitu, si gadis mengangkat pedangnya. Dia akan segera menyerang Bie Liek. Melihat hal itu, Bie Liek jadi heran dan tambah kaget,

“Tunggu dulu, nona!!” kata Bie Liek dengan cepat. “Aku denganmu tidak saling kenal mengenal satu dengan yang lainnya. Mengapa tahu-tahu nona memusuhi diriku dan menuduh aku adalah mata-mata perampok yang telah menyerang kampung ini?”

Si gadis menahan tangannya yang hampir saja berhasil menyerang Bie Liek. Dia menurunkan pedangnya lagi perlahan-lahan dan batal menyerang Bie Liek. Matanya dipentang lebar-lebar. Dia mengawasinya dengan sosot mata yang tajam sekali.

“Kau masih mau memungkiri bahwa dirimu adalah mata-mata yang dikirim oleh perampok-perampok laknat itu?” bentak si gadis lagi dengan suara tetap bengis, walaupun tidak sekeras dengan suaranya yang pertama.