Gento Guyon Eps 25 : Gelombang Naga

 
Eps 25 : Gelombang Naga


Cahaya bulan empat belas timbul tenggelam dalam bayangan mendung kelabu. Suara serangga malam sesekali terdengar diselingi suara lolong anj- ing di kejauhan. Angin berhembus perlahan, namun suasana di malam itu terasa panas menggelisahkan. Di langit cahaya bulan kembali tertutup mendung tebal. Sementara di satu tempat pemakaman ber- nama Liang Landak, satu sosok berpakaian serba hi- tam berambut kaku macam ijuk muncul di sana, berdiri tegak dengan tubuh terhuyung-huyung. Se- pasang matanya berusaha menembus dalam gelap. Secara samar dia melihat batu-batu nisan yang ber- sembulan di dalam tanah. Sosok itu gelengkan kepa- la. Agaknya kehadirannya di tempat itu adalah se- suatu yang tidak disengaja. Terbukti dia begitu ter- kejut.

"Bagaimana aku bisa sampai ke sini? Kalau tidak salah bukankah tempat ini yang dinamakan Liang Landak. Tempat pemakaman beberapa tokoh sesat beberapa abad yang silam? Gila... jika bukan karena Bayangan Maut tadi rasanya tidak mungkin aku sampai kesasar ke tempat ini. Hemm, nenek ke- parat itu kurasa bukan manusia. Tapi roh gentayan- gan berujud manusia dan serigala. Gila... aku men- guras hampir ilmu kesaktian yang kumiliki. Tapi dia tidak mati. Pukulan Delapan Tinju Mabuk, jurus Tu- juh Pedang Perisai Dewa, Pukulan Tanpa Ujud. Den- gan pukulan-pukulan itu aku telah mencoba meng- hancurkannya. Tapi aku tidak ubahnya seperti menghantam angin. Beruntung aku dapat melarikan diri, lebih untung lagi dia tak tahu aku pergi ke arah mana. Jika tidak bisa amblas nyawaku." Sambil ge- lengkan kepala sosok yang ternyata adalah kakek aneh bernama Tapa Gedek itu leletkan lidah.

"Jika nenek sakti itu tidak mempan pukulan sakti. Apa yang dia miliki hampir sama dengan An- gin Pesut alias Tujuh Rupa Delapan Bayangan. Men- gapa dia begitu marah ketika aku tidak mengambil tindakan apa-apa pada Angin Pesut. Walau dia tak mengatakan, aku yakin nenek itu menyimpan den- dam selangit pada kakek itu. Sayang aku tak tahu silang sengketa apa yang terjadi antara mereka. Huh... buat apa ku fikirkan segala urusan orang. Saat ini aku sudah tersesat jauh, aku harus kembali ke gunung Lawu?" fikir kakek itu.

Kakek yang memiliki kebiasaan menggeleng- kan kepala itu kemudian balikkan badan bermaksud tinggalkan tempat itu. Akan tetapi secara tak terdu- ga begitu dia memutar langkah, salah satu kakinya menginjak batu menonjol yang tersembul di permu- kaan tanah. Ketika batu yang terinjak tak sengaja itu amblas ke dalam tanah. Detik itu juga terdengar suara bergemuruh hebat. Tanah terkuak lebar se- luas tiga tombak. Tapa Gedek tersentak kaget, wa- jahnya mendadak pucat, namun dia cepat melesat ke udara, berjumpalitan beberapa kali agar dirinya tidak sampai ikut amblas ke dalam tanah. Kakek ini memang berhasil jejakkan kaki tak jauh dari mulut lubang. Tapi kemudian sesuatu yang tidak terduga terjadi atas dirinya. Dari bagian tanah yang amblas dan mengeluarkan suara gemuruh dahsyat. Tiba- tiba saja ada satu kekuatan namun tidak terlihat menarik dirinya ke bawah. "Hah..."

Dalam kejutnya Tapa Gedek berusaha me- nyelamatkan diri dengan menyambar sebatang anak pohon seukuran lengan orang dewasa. Tapi kekua- tan yang menariknya dari bagian dalam lubang itu ternyata lebih dahsyat. Semakin Tapa Gedek menco- ba bertahan, semakin bertambah hebat pula daya tarik di bawah sana.

Kraaak!

Pohon yang dijadikan tempat bertahan ber- derak patah. Tak ampun lagi tubuh Tapa Gedek ter- sedot ke bawah dan terus terseret masuk ke dalam lubang menganga.

Blung!

SI kakek jatuh ke dalam lubang menganga yang tak terukur dalamnya. Suasana di dalam lu- bang yang semula gelap gulita kini berubah terang- benderang begitu pinggul Tapa Gedek menghantam bagian dasar lubang menganga. Dengan terengah- engah dan wajah pucat diliputi ketegangan si kakek bangkit berdiri. Tapa Gedek menarik nafas. Dingin- nya udara di dalam lubang membuat sekujur tubuh Tapa Gedek menggigil. Gerahamnya bergemeletukan. Si kakek kerahkan tenaga dalam untuk mele- nyapkan rasa dingin yang menyerang dirinya. Hawa dingin itu secara perlahan berangsur lenyap.

Tapa Gedek kitarkan pandang menatap ke segenap penjuru. Ruangan di bagian dasar lubang menganga itu ternyata cukup luas. Bagian dinding- nya terdiri dari bebatuan indah dipahat sedemikian rupa oleh seorang juru ukir yang memiliki cita rasa seni tinggi. Tapa Gedek tertegun melihat semua ini. Ukir-ukiran yang terdapat di bagian dinding lubang indah menakjubkan dan sangat menarik perhatian- nya. Tapi kemudian perhatiannya lebih tertuju pada sebuah lorong panjang selebar dua tombak dengan bagian langit-langit setinggi satu setengah tombak. Dari lorong inilah cahaya menyilaukan ini berasal. Sambil memandang ke arah lorong menyilaukan ini Tapa Gedek bertambah heran. Dalam hati dia berka- ta. "Tempat aneh, aku tak pernah menyangka ada ruangan seperti ini di bawah kubur Liang Landak? Dan cahaya itu seakan ada kehidupan terpendam di bawah sini. Naluriku mengatakan ada bahaya besar yang bakal terjadi. Aku harus segera mencari sela- mat." kata si kakek. Kemudian orang tua itu don- gakkan kepalanya ke atas. Bagian permukaan lu- bang sama sekali tak terlihat disaput kegelapan. SI kakek tak dapat memperkirakan berapa dalam jarak antara dasar lubang dengan mulut lubang.

"Celaka! Aku tidak punya ilmu Cecak Me- rayap, tak mungkin aku bisa merayap sampai ke atas sana." kata si kakek. Kembali dia memandang ke arah lorong. Kini dia teringat ketika dia bertahan pada kayu dia mendengar suara gemuruh dahsyat, serta adanya satu kekuatan yang menarik tubuh- nya. Suara gemuruh lenyap dan kekuatan yang membetotnya juga Lenyap begitu dia terjatuh ke da- lam lubang.

"Untuk sementara aku harus melupakan ba- gaimana caranya agar aku dapat tinggalkan tempat ini. Sekarang aku harus mencari tahu kekuatan apa yang sanggup memaksaku hingga terjatuh di tempat Ini." berkata begitu Tapa Gedek akhirnya membu- latkan tekad memasuki lorong yang ditaburi cahaya putih menyilaukan yang berada di sebelah kirinya. Begitu si kakek menelusuri lorong berbentuk bundar tersebut, dia merasakan satu sengatan yang sangat luar biasa panasnya. Tapa Gedek menyerin- gai. Hawa panas membuat tubuhnya seolah mau meleleh. Hanya karena tekad serta rasa ingin tahu yang begitu kuat membuat Tapa Gedek tidak ber- geming. Malah dengan langkah lebar dia terus saja susuri lorong cahaya itu.

Tak berapa lama kemudian sampailah si ka- kek di ujung lorong yang sekaligus merupakan batas cahaya antara putih dan biru. Sampai di batas anta- ra dua cahaya putih dan biru si kakek hentikan langkahnya. Tertegun dalam keraguan Tapa Gedek pandangi ruangan luas berwarna biru itu. Sekali lagi Tapa Gedek jadi bicara sendiri. "Ruangan itu ter- bungkus kabut. Aku hampir tak dapat melihat ge- rangan apa yang terdapat dibalik kabut. Perasaanku jadi tidak enak. Seolah ada cahaya yang mengintai- ku disana. Mungkin aku harus mundur kembali ke tempat semula di mana aku terjatuh. Di tempat itu aku bisa menunggu hingga pagi tiba, fikir Tapa Ge- dek. Lalu cepat sekali dia memutar tubuh. Tapi si kakek tercekat begitu lorong di belakangnya menda- dak Lenyap, raib entah kemana.

"Tak mungkin! Bagaimana bisa terjadi hal yang seperti ini. Aku jelas melewati lorong itu. Men- gapa lorong yang kulewati tiba-tiba saja raib. Mung- kinkah perangkap, mungkin jebakan? Siapa yang te- lah menjebakku?" Selagi fikiran si kakek dipenuhi tanda tanya. Di saat hati orang tua itu diselimuti pe- rasaan gelisah, maka pada saat itu pula terdengar satu ngiangan di telinga kanannya.

"Tapa Gedek. Jangan kau sampai melewati batas cahaya putih itu. Jika kau sampai memasuki ruangan batas biru, maka sekujur tubuhmu akan meleleh bagaikan lilin. Ruangan biru sekilas me- mang terasa dingin, tapi apa yang kau rasakan itu adalah tipuan saja. Bukan keadaan yang sesung- guhnya." kata suara itu. Tapa Gedek tentu saja ter- sentak kaget.

Jelas suara ngiangan yang di dengarnya jelas bukan sesuatu yang asing bagi dirinya. Suara yang dia dengar adalah suara gurunya Manusia Selaksa Angin. Suara itu tentu saja sangat mengejutkan di- rinya, karena Tapa Gedek sama sekali tak menyang- ka sang guru mengetahui dirinya terjebak di Liang Landak. Walaupun begitu Tapa Gedek tak mau ter- tipu, apalagi mengingat saat ini kitab ilmu Gelom- bang Naga ada ditangannya. Lalu dengan melalui il- mu mengirimkan suara dia segera ajukan perta- nyaan. "Guru... benarkah kau guruku?" Sayup- sayup kembali terdengar suara ngiang jawaban.

"Samber geledek. Tentu saja aku gurumu." damprat suara itu ketus. Tapa Gedek sampai ber- jingkrak kaget. Namun dengan tenang dia kembali ajukan pertanyaan. "Jika engkau guruku, diantara kita sejak dulu punya perjanjian dan punya kata sandi. Sebutkan sandimu guru!"

"Kakek setan. Baiklah, kau dengar! Sandiku adalah Dewa tersenyum memandang bidadari. Bida- dari menangis menatap bulan. Bulan runtuh me- nimpa kepala dewa, lalu bidadarinya kawin dengan siapa?"

"Denganku saja." sahut Tapa Gedek melalui ilmu mengirimkan suara pula.

"Kepalamu pitak, Tapa Gedek. Sekarang kau sebutkan sandimu. Aku curiga jangan-jangan kau orang lain yang menyaru sebagai muridku!"

"Kau tak percaya. Baiklah, dengarkan sandi muridmu ini. Burung puyuh buah rambutan di balik bukit ada bebek. Tak usah kau suruh aku memberi sambutan. Karena muridmu ini juga sudah menjadi seorang kakek!"

"Manusia sial kurang ajar. Sekarang kau be- rada dalam ancaman bahaya besar. Kau akan ter- pendam di bawah kubur para manusia sesat bebe- rapa abad silam itu jika kau tak segera menutup lo- rong cahaya putih itu dengan kabut saktimu."

"Hah... memang apa yang harus aku laku- kan, guru. Beri aku petunjuk. Aku tak ingin mati atau celaka di tempat ini!" ujar Tapa Gedek melalui ilmu mengirimkan suara.

Belum lagi si kakek mendengar jawaban gu- runya, pada detik itu pula terdengar suara raungan dahsyat menggelegar. Ruangan biru bergetar hebat. Tapa Gedek jatuh terduduk. Dua matanya yang ter- pentang memandang lurus ke arah ruangan serba batu yang memancarkan cahaya biru dan disapu kabut tipis yang mengambang di permukaan lantai.

Belum lagi gema suara raungan Lenyap dari balik kabut muncul satu sosok berwajah angker mengerikan. Sosok ini tak dapat dikatakan sebagai manusia seutuhnya karena wajahnya berujud wajah kelelawar, bermulut runcing namun memiliki daun telinga lebar. Di bagian belakang kepala manusia se- tengah kelelawar ini menjulai rambutnya yang pan- jang dan putih. Dia nyaris tidak berpakaian. Da- danya ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat sedangkan dua tangannya memiliki sayap menyerupai jubah. Sepuluh jemari tangan berkuku panjang hitam men- cuat. Dari celah bibirnya juga mencuat dua pasang taring panjang.

2

Manusia setengah kelelawar itu, begitu mun- cul dari kepekatan kabut di dalam ruangan biru langsung menyerbu ke arah Tapa Gedek yang saat itu berada di batas antara cahaya putih dan biru. Kakek itu melompat mundur ke belakang sambil do- rongkan kedua tangannya ke arah ujung terowongan di mana manusia kelelawar itu bergerak cepat siap mencabik dirinya.

Buuum!

Satu ledakan berdentum mengguncang ruangan di bawah pemakaman. Manusia Kelelawar terpental ke belakang. Langit-langit ruangan biru runtuh. Manusia kelelawar mencoba bangkit. Tapi sebelum manusia aneh itu sempat melakukan se- rangan untuk yang kedua kalinya Tapa Gedek men- dengar suara bisikan gurunya.

"Pergunakan Perisai Gaib yang pernah aku ajarkan padamu?!" perintah Manusia Selaksa Angin. Si kakek tentu saja terkejut setengah mati menden- gar perintah itu. "Guru... jika ujung terowongan ku- tutup dengan perisai gaib, berarti aku tidak akan dapat keluar dari tempat ini?" ujar Tapa Gedek.

"Ha ha ha. Kau memang tak mungkin bisa keluar dari kehidupan bawah tanah itu, Tapa Gedek. Terkecuali kau berhasil mengamalkan ilmu Gelom- bang Naga yang terdapat dalam kitab yang kau ba- wa. Kau tak punya pilihan lain. Hidup matimu ter- gantung mau tidaknya kau mengamalkan ilmu itu. Cepat kau tutup ujung lorong dengan perisai gaib."

"Baiklah." sahut si kakek. Kemudian dua tangan cepat sekali disilangkan ke depan dada. Se- kujur tubuh Tapa Gedek bergetar juga basah ber- simbah keringat.

Wuuus!

Begitu dua tangan didorongkan ke depan maka menderulah hawa dingin laksana topan yang dengan cepat menutupi ujung terowongan bercahaya putih.

Begitu terowongan itu tertutup tabir gaib. Tapa Gedek masih sempat mendengar adanya suara benturan-benturan keras yang menghantam perisai gaib yang diciptakannya. Mungkin manusia kelela- war di luar sana berusaha menghancurkan perisai yang diciptakan oleh Tapa Gedek. Tapi nampaknya kakek itu tidak perduli. Dia sandarkan tubuhnya ke dinding batu sambil hembuskan nafasnya dalam- dalam.

"Sekarang apa lagi? Guru pernah mengata- kan kitab Gelombang Naga pada akhirnya baru bisa kupelajari jika aku benar-benar menghadapi urusan besar. Apakah engkau merasa sekarang saat yang kau janjikan itu telah tiba?" tanya si kakek.

"Kau bukan saja menghadapi urusan besar. Jiwamu saat ini berada dalam ancaman bahaya be- sar. Ketahuilah, jalan satu-satunya agar kau dapat keluar dari Liang Landak itu hanya melalui ruangan biru. Dari ruangan itu ada sebuah jalan menuju ke- luar. Jalan keluar yang kumaksud harus pula mela- lui kubur seorang dedengkot. Tapi untuk sampai ke sana tidaklah mudah. Setidaknya ada tiga petaka besar yang menghadangmu, salah satu petaka itu adalah Manusia Kelelawar seperti yang kamu lihat tadi. Ratusan tahun manusia setengah mahluk ja- hanam itu terpendam disini. Ilmu kesaktiannya tak seorang pun mampu menjajaki."

"Tapi aku memiliki ilmu yang tak dapat di- anggap remeh." sahut Tapa Gedek. Sayup-sayup terdengar suara tawa bergelak. Lalu suara ngiang tawa Lenyap, si kakek mendengar suara caci maki. "Tapa Gedek muridku yang tolol. Rupanya kau ma- sih belum mengerti, kau dengar... tiga manusia yang menginginkan nyawamu itu memiliki ilmu kepan- daian serta ujud hampir sama dengan Bayangan Maut. Jika menghadapi Bayangan Maut semua ilmu yang kau miliki hampir tidak berguna, apa mungkin kau sanggup menghadapi tiga mahluk penghuni Liang Landak ini dengan cara yang sama? Kau ha- rus dapat menguasai ilmu Gelombang Naga!"

"Tapi... bukankah kitab ini sebelumnya telah berada di tangan Angin Pesut. Aku yakin dia juga te- lah berhasil menguasai ilmu yang sama!" kata Tapa Gedek.

"Kau benar, Tapa Gedek, Angin Pesut me- mang telah mempelajari ilmu Gelombang Naga. Den- gan ilmu itu mungkin dia dapat menjawab tantan- gan lawan. Tapi Angin Pesut tidak mendapatkan inti ilmu Gelombang Naga yang sesungguhnya, karena inti ilmu itu tersembunyi di balik kulit kitab itu. Se- karang kau tak punya waktu. Keluarkan kitab dari balik punggungmu, kemudian robek kulitnya. Dan kau akan dapati selembar daun lontar berisi inti il- mu Gelombang Naga yang sejati!" perintah suara itu tegas.

Meskipun terkejut tak menyangka gurunya

yang berada di gunung Lawu bisa mengetahui dima- na kitab disimpannya. Tapi Tapa Gedek keluarkan juga kitab dari balik pinggangnya. Sesuai perintah Manusia Selaksa Angin kitab butut berwarna cokelat itu dibuka. Kemudian kulit pembungkus kitab diro- bek oleh si kakek. Begitu sampul kitab dirobek se- lembar daun lontar yang terselip di kulit kitab itu terlontar, melayang dan jatuh ke pangkuan si kakek.

Jatuhnya daun lontar di atas pangkuan orang tua ini membuat suasana panas di dalam ruangan sempit itu sontak menjadi dingin luar bi- asa. Dengan tangan gemetar dia mengambil daun lontar dipangkuannya. Di atas daun lontar itu ter- nyata tertera beberapa baris kalimat berupa mantra. Si kakek membaca dan menghapalnya beberapa kali.

"Gelombang Naga.. ilmu yang bersumber pada kekuatan air. Ilmu seribu kelembutan, seribu kedah- syatan. Bila Gelombang Naga bicara setan dan Iblis lari tunggang langgang. Bila gunung terkena pukulan ilmu ini, gunung runtuh. Gelombang Naga adalah ke- damaian, Gelombang Naga sebuah kedahsyatan, namun Gelombang Naga juga adalah satu kehancu- ran."

Selesai kakek itu membaca tulisan yang ter- tera diatas daun lontar itu. Tiba-tiba saja sekujur tubuh si kakek bergetar hebat. Getaran semakin la- ma semakin menggila. Lalu bersamaan dengan itu pula Tapa Gedek mendengar suara sayup-sayup be- rupa ngiangan di telinga kanannya. "Kau telah menghapal mantra-mantra di atas daun lontar itu. Sekarang tarik nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali. Jangan kau hembuskan nafasmu sebelum mendapat aba-aba dariku!"

Tapa Gedek yang sekujur tubuhnya telah bermandikan keringat kini mulai menarik nafas pan- jang sebanyak tiga kali. Begitu dia menarik nafas da- lam-dalam. Secara aneh dan mengejutkan daun lon- tar yang tergeletak di atas pangkuannya mendadak sontak ikut tersedot masuk ke dalam lubang hi- dungnya. Si kakek tentu saja jadi melengak kaget. Bagian tenggorokannya mengeluarkan suara seperti tercekik. Si kakek menggapaikan tangannya. Dia nampak kelabakan, tapi belum lagi sempat menarik daun lontar yang tersedot hidungnya, daun itu am- blas Lenyap di dalam rongga hidung. Tersedotnya daun lontar itu menimbulkan hawa panas sekaligus hawa dingin luar biasa. Si kakek menggerung, tu- buhnya terkapar, lalu berkelojotan sekaligus bergu- lingan di atas lantai yang membuat tubuhnya me- mancarkan cahaya berwarna merah kuning dan bi- ru. Cahaya itu membentuk bayangan sosok naga yang pada akhirnya menjadi surut, lalu Lenyap di bagian atas ubun-ubun dan berubah menjadi kepu- lan asap tipis warna warni.

"Kraaaagh...! Haarkh...!"

Tapa Gedek bangkit berdiri. Kini dia merasa- kan sekujur tubuhnya terasa enteng. Namun dia ju- ga masih merasakan adanya sesuatu yang bergejo- lak di bagian dalam hingga membuat Tapa Gedek jadi gelisah.

"Guru... guru. Apakah kau masih mendengar suaraku?" tanya si kakek.

"Mengapa harus teriak murid setan. Aku ti- dak ada di situ, tapi aku tetap mendengar mu. Kau simak baik-baik apa yang kukatakan ini. Sekarang kau telah menguasai ilmu Gelombang Naga yang se- sungguhnya. Karena ilmu telah kau kuasai. Kau punya satu tugas membantu salah seorang saha- batku...!"

"Siapa sahabatmu itu guru?"

"Sahabatku seorang manusia aneh bernama Gentong Ketawa. Kakek itu saat ini berada dalam ancaman bahaya besar." Tapa Gedek begitu men- dengar nama Gentong Ketawa disebut gurunya cepat memotong. "Kalau tak salah aku pernah mendengar kakek berbadan gendut luar biasa itu. Dia seorang tokoh aneh dari gunung Merbabu. Konon kudengar pemuda aneh yang memiliki Gelar Pendekar Sakti 71 Gento Guyon adalah muridnya. Apa perluku mem- bantu kakek sakti berkepandaian seperti dia?" ujar Tapa Gedek.

"Tapa Gedek, orang yang bernama Empu Ba- rada Sukma itu bukan manusia sembarangan. Ilmu yang dia miliki kini maju pesat. Kukira hanya ilmu Gelombang Naga yang dapat menghentikan niatnya menjatuhkan tangan keji pada Gentong Ketawa."

"Apakah aku boleh tahu silang sengketa apa yang terjadi diantara mereka hingga, Empu Barada Sukma menghendaki nyawa si gendut sinting itu?" tanya si kakek.

"Ha ha ha. Peristiwanya sudah berlangsung puluhan tahun silam. Aku tidak (ayak mengatakan- nya padamu. Jika kau bertemu dengan Gentong Ke- tawa tanyakan saja langsung kepadanya. Keluarlah kau dari lorong batas putih. Setelah itu masuki ruangan biru, dari ruangan itu jika kau sanggup bi- sa keluar dengan cara menjebol batu makam de- dengkot nomor satu golongan hitam. Kakek tua bangka muridku. Satu hal yang patut kau ingat, jangan sampai kau tertipu oleh penglihatanmu sen- diri. Nanti seandainya kau bertemu dengan Gentong Ketawa, sampaikan salamku padanya. Dan jangan lupa minta padanya untuk menyanyikan satu tem- bang Pelipur Lara yang dulu pernah kami nyanyikan bersama dalam suka dan duka!"

"Baik. Nanti akan kuminta dia menyanyikan sepuluh nyanyian tentang suka duka kehidupan ne- raka!' sahut Tapa Gedek.

"Ah, boleh. Boleh saja, sepuluh nyanyian Ne- raka memang sudah banyak dilupakan orang. Mu- ridku... sampai disini aku bicara. Lakukan tugasmu. Jangan sampai kau membuatku kecewa. Gentong Ketawa adalah sahabatku, jika dia sampai celaka di tangan Empu Barada Sukma. Maka umurmu tidak bakal lama!"

"Aku mengerti. Izinkan aku memikul tugas ini!" jawab Tapa Gedek.

Tak ada jawaban. Suasana di dalam lorong yang sempit itu sunyi mencekam. Tapa Gedek kitar- kan pandang, kemudian dia memperhatikan tabir gaib yang dibuatnya sendiri. "Aku harus singkirkan tabir itu. Begitu aku keluar paling tidak Manusia Ke- lelawar telah menungguku. Seandainya dia bisa ku- bereskan, konon menurut guru masih ada lagi dua bahaya yang mengincarku. Guru tak mengatakan apa bentuk bahaya yang menghadangku. Yang jelas aku harus berhati-hati." fikir Tapa Gedek.

"Biar kulenyapkan tabir pelindung ini dulu." berkata begitu si kakek yang mempunyai kebiasaan menggelengkan kepala ini segera menyilangkan ke- dua tangannya di depan dada. Begitu dua tangan saling bersilang, mulut si kakek pun nampak ber- kemak-kemik. Beberapa saat setelah itu dari ujung jari telunjuk si kakek terlihat dua larik sinar merah sepanas bara dan setajam mata pedang melesat menghantam tirai gaib yang terdapat di depannya.

Blep! Blep! Bleep!

Tiga kali letupan terjadi berturut-turut Kabut putih yang merupakan ujud nyata tirai gaib Lenyap. Begitu kabut Lenyap, dari ruangan serba biru ter- dengar suara deru aneh disertai menyambarnya ha- wa panas luar biasa. Bersamaan dengan itu pula terdengar suara seperti lolong manusia tapi mirip pula dengan suara cericit kelelawar. Tapa Gedek meskipun dirayapi ketegangan namun tak menghi- raukannya. Setindak demi setindak kakinya me- langkah memasuki ruangan luas bertabur cahaya biru.

3

Kita tinggalkan dulu Tapa Gedek yang terje- bak di dalam ruang kehidupan bawah tanah yang merupakan kubur para tokoh sesat beberapa abad silam. Sementara itu pada waktu yang hampir ber- samaan tiga bayangan berkelebat memasuki kawa- san dua bukit yang terdapat di daerah Imogiri. Tiga sosok bayangan itu terus melewati reruntuhan puing gedung, kemudian terus bergerak ke arah kawasan telaga, lalu memasuki celah dua bukit curam. Sam- pai di depan mulut sebuah gua sosok yang berada di bagian depan memperlambat larinya, sampai akhir- nya berhenti sama sekali.

Melihat orang di depannya hentikan larinya, dua sosok yang mengikuti di bagian belakang ikut pula hentikan Langkah. Sosok yang berhenti di de- pan mulut gua ternyata adalah seorang nenek je- rangkong, berpakaian biru lusuh rambut awut- awutan. Nenek ini bukan lain adalah Serimbi bekas istri Angin Pesut. Sedangkan dua orang yang mengi- kuti di belakangnya bukan lain Pendekar Sakti 71 Gento Guyon bersama seorang kakek berpakaian serba putih berambut dan berjanggut putih, berpipi tembem hidung pesek. Kakek ini di kenal dengan nama Sateaki, adik seperguruan Angin Pesut. Berdi- ri dalam keadaan berdampingan seperti itu si pemu- da berbisik pada kakek di sebelahnya. "Aki... kau yakin di dalam gua itu kubur saudaramu berada?!"

"Bocah edan. Aku tak pernah mengatakan kakangku Angin Pesut telah menemui ajal. Kau sen- diri yang bermulut lancang. Kau katakan pada be- kas kakak iparku telah mati. Padahal aku tahu ka- kang Angin Pesut dalam keadaan sehat tak keku- rangan sesuatu apa. Sial! Gara-gara mulutmu yang lancang nampaknya aku juga bakal mendapat su- sah!" gerutu si kakek. Gento tersenyum. Meskipun dia tahu bahaya serta kesulitan apa yang bakal me- reka hadapi begitu si nenek tahu Angin Pesut se- sungguhnya belum mati namun sang pendekar tetap berlaku tenang. Malah dia sempatnya bersiul-siul.

Suara siulan murid kakek gendut Gentong Ketawa mendadak Lenyap begitu melihat nenek angker berotak sinting di depan sana balikkan ba- dan dan menatap tajam ke arah si kakek dan Gento silih berganti.

"Ki, nampaknya dia curiga kita telah meni- punya. Sebaiknya kau cepat beri penjelasan pa- danya sebelum dia marah dan menghancurkan ba- tok kepalamu!" kata sang pendekar dengan suara perlahan sekali. Mendengar ucapan Gento tentu saja Sateaki jadi tercekat. Dengan muka pucat dan suara bergetar tak kalah lirihnya si kakek menyahuti.

"Aa..aku.. ? Mengapa harus aku? Kau sendiri sudah tahu, sejak kita berada di pulau apung dia sudah menunjukkan rasa ketidak senangannya. Le- bih baik kau saja yang bicara dengannya karena sampai sekarang dia tetap mengira kau adalah adik- nya!" pinta si kakek.

"Sejak tadi kudengar kalian saling berbisik. Apa yang kalian bicarakan?!" hardik si nenek sambil delikkan matanya dengan tatapan bengis.

Sateaki terkesiap tak tahu harus menjawab apa. Sebaliknya sang pendekar yang memiliki otak cerdik cepat melompat dekati si nenek, setelah dekat dia berbisik dekat telinga Serimbi. "Kakak... kau jangan mudah curiga. Aku hanya bertanya padanya dimana Angin Pesut dikuburkan. Lalu kakek jelek itu menjawab bekas suamimu itu dikuburkan di da- lam gua. Mayatnya tergeletak begitu saja di atas lan- tai!" kata pemuda itu. Si nenek terdiam. Hanya se- pasang matanya yang menjorok ke dalam rongga merayapi wajah sang pendekar membuat hati pemu- da itu dirayapi perasaan tidak enak lalu pura-pura alihkan perhatiannya ke mulut gua. Sementara itu Sateaki yang sempat melihat apa yang dilakukan Gento dalam hati membatin. "Nyawanya dan nyawa- ku sudah berada di ujung tanduk. Muslihat apa lagi yang dijalankannya untuk mengelabui bekas kakak ipar? Salah sedikit dia bicara, sebentar lagi nyawa pasti melayang. Sial betul. Mengapa urusan menda- dak jadi rumit begini? Kalau saja aku tahu urusan tak mungkin terselesaikan sebagaimana yang kuha- rapkan. Tidak nantinya aku mau pergi ke pulau ter- kutuk bersama pendekar edan itu?" kata Sateaki tak hentinya menyesali.

Pada kesempatan itu agaknya nenek Serimbi terpancing oleh ucapan Gento yang selama ini dia anggap sebagai adiknya yang pernah hilang. Terbuk- ti dia kemudian berkata. "Baik... adikku Belalang Kecil. Selamanya aku percaya padamu. Pertama kita akan lihat ke dalam. Jika benar Angin Pesut telah mati aku merasa senang. Berarti tugasku hanya tinggal mencari putriku tercinta. Tapi jika ternyata kau menipuku, dengan sangat terpaksa aku akan membunuhmu juga membunuh tua bangka itu!" dengus si nenek.

"Aduh, tamatlah kali ini riwayatku!" keluh sang pendekar.

Sateaki yang ikut mendengar ancaman si nenek tidak bicara apa-apa. Tapi biar bagaimanapun diam-diam si kakek merasa khawatir juga. Orang tua ini menyadari ilmu kesaktian yang dia miliki bila dibandingkan dengan ilmu sakti yang dimiliki bekas kakak iparnya itu jelas jauh diatasnya. Nenek Se- rimbi mempunyai ilmu beberapa tingkat di bawah Angin Pesut. Tapi nenek itu memiliki ilmu merin- gankan tubuh yang sudah sampai pada puncaknya. Selain itu dia juga mempunyai beberapa pukulan yang mengandung racun ganas. Apalagi jika dia sampai menggunakan pukulan Perubahan Bentuk. Mereka berdua bisa celaka seumur hidup.

"Hayo tunggu apa lagi...!" dengus si nenek.

Sang Pendekar memberi isyarat pada Sateaki agar orang tua itu mengikutinya. Beberapa saat ke- mudian beriringan ketiga orang ini masuk ke dalam gua. Suasana ruangan gua yang berwarna merah membuat si nenek dan Gento membutuhkan waktu beberapa saat lamanya untuk menyesuaikan diri dengan pemandangan di dalam. Sementara Sateaki sendiri diam-diam menjadi heran ketika mendapati ruangan gua itu dalam keadaan kosong. Dua sosok mayat membusuk yang berada di atas lantai gua masih tergeletak di tempatnya.

"Kemana perginya kakang Angin Pesut?" fikir si kakek. Tapa Gedek terdiam. Dia jadi ingat, ketika hendak memasuki mulut gua tadi si kakek sempat melihat suasana mulut gua dalam keadaan porak poranda, seakan di tempat itu telah terjadi suatu pertarungan hebat. Yang mengherankan dia tak me- lihat ada mayat tergeletak di situ. Kemana perginya Angin Pesut? Pertanyaan ini sempat mengusik benak si kakek. Lamunan Sateaki buyar seketika karena saat itu terdengar suara si nenek angker berpakaian lusuh memecah keheningan.

"Aku tidak melihat kubur di dalam ruangan ini. Itu artinya kalian telah menipuku mentah- mentah. Angin Pesut tidak mati, Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan masih bernafas hingga detik ini. Tidak ada jalan selamat bagi seorang penipu terke- cuali mati!" berkata begitu si nenek cepat balikkan badan lalu angkat tangan kanannya. Sekejap saja tangan si nenek angker telah berubah menghitam sampai ke bagian siku. Tangan yang menghitam itu mengepulkan asap tipis berbau tidak sedap. Melihat ini tercekatlah kakek Sateaki. Dengan wajah pucat tanpa sadar dia berseru. "Pukulan Racun Lanang Hi- tam? Pendekar Sakti 71?! Bagaimana kau masih da- pat bersikap setenang itu padahal bekas kakak ipar- ku siap membunuh kita?!" desis si kakek yang nam- pak begitu panik melihat nenek sakit ingatan itu siap manghajar mereka dengan salah satu pukulan mautnya.

"Pendekar Sakti 71. Jadi pemuda geblek ini kunyuk yang menyandang gelar Pendekar Sakti 71. Rupanya betul, kau bukan Belalang kecil. Kau bu- kan adikku yang tenggelam terseret arus air bah Bengawan Solo. Lalu siapa dirimu ini yang sebenar- nya monyet gondrong?'" tanya si nenek dengan sua- ra menggereng marah.

Gento mengusap habis wajahnya. Tak lama kemudian terdengar pula suara tawanya. "Kakak, aku adalah monyet gondrong sebagaimana yang kau katakan. Sekarang apakah kau hendak turun tan- gan keji pada adikmu sendiri setelah bertahun- tahun kita tidak bertemu? Jika kau tega lakukanlah, aku siap menerima kematian. Arwah ayah ibu kita pasti tidak bakal tenteram di alam sana jika sampai kau jatuhkan tangan jahat kepadaku!" habis berkata begitu sang pendekar pura-pura pejamkan matanya. Kakek Sateaki yang melihat kelakuan Gento merasa geram dibuatnya. Dalam hati dia memaki. "Pendekar sinting itu. Apa dia tidak tahu kakak Se- rimbi terganggu ingatannya, masih juga dia berlaku konyol. Benar-benar mencari mampus!" Sementara itu si nenek menjadi ragu begitu mendengar ucapan Gento. Perlahan tangannya diturunkan, namun se- pasang matanya masih memandang lurus ke arah Gento. "Mungkin ucapanmu suatu kedustaan besar. Kusesalkan aku terlanjur menyayangimu, tidak per- duli siapapun dirimu. Tapi satu hal kuminta darimu dan kau harus menjawabnya dengan jujur. Kau mau mengabulkan permintaan ini?" tanya si nenek. En- tah mengapa mendadak saja kedua matanya nam- pak berkaca-kaca.

"Kakak... seandainya aku mampu menja- wabnya. Aku tak ingin membuatmu kecewa!" ujar si pemuda. Si nenek anggukkan kepala. Setelah itu mulutnya membuka bertanya. "Katakan yang sebe- narnya Angin Pesut masih hidup atau sudah mati?"

"Kakak.. apakah kau masih mencintai gon- doruwo yang satu itu, atau kau ingin bertemu den- gannya?" goda sang pendekar, lalu kedipkan ma- tanya. Sepasang mata si nenek mendelik besar. Se- kali tangannya bergerak, maka leher sang pendekar- pun sudah kena dicekalnya. Gento keluarkan suara jeritan seperti dicekik. Lidah terjulur sedangkan ma- ta melotot.

"Sekali lagi kau bicara seenak perutmu ku- pecahkan kepalamu! Siapa bilang aku masih men- cintai si jahanam Angin Pesut. Siapa bilang aku in- gin bertemu! Manusia pembawa nestapa dan ke- sengsaraan itu layak mati di tanganku!" dengus si nenek sengit.

"Kakak, kalaupun kau marah, mohon di- maafkan. Tapi jangan kau cekik diriku seperti ini. Aku bisa mati lemas kakak!" sergah sang pendekar dengan nafas tersengal-sengal. Seakan tersadar si nenek lepaskan cekalannya disertai tawa mengikik.

"Katakan Belalang Kecil. Kau jangan coba mengalihkan pembicaraan!" Lagi-lagi perempuan sa- kit ingatan itu mendengus.

"Kalau kau ingin tahu, Angin Pesut masih hidup atau sudah mati. Sebaiknya kau tanyakan langsung pada adik seperguruannya. Dia ada dibe- lakangku.!", ujar Gento lalu menunjuk ke arah Sa- teaki.

Si kakek jadi tercengang. Tengkuknya terasa dingin begitu melihat nenek Serimbi memandangnya dengan mata mendelik.

"Sateaki. Sekarang kau kuminta bicara jujur. Katakan dimana Angin Pesut berada. Jangan berani berdusta jika tidak ingin celaka di tanganku!" ancam si nenek. Untuk beberapa saat lamanya Sateaki tak mampu bicara barang sepatah katapun. Dia melirik ke arah Gento seakan meminta pendapat. Tapi pe- muda yang diliriknya malah kedipkan mata.

"Katakan cepat! Aku tidak punya waktu ber- lama-lama disini!" bentak nenek tua itu sudah tidak sabar. Belum lagi Sateaki sempat menjawab perta- nyaan orang. Pada waktu yang hampir bersamaan pula mendadak sontak terdengar suara jeritan me- lengking yang disertai dengan berhembusnya angin dingin luar biasa. Suara lengking seperti jerit manu- sia semakin lama berubah seperti suara lolong seri- gala. Semua orang yang berada di dalam ruangan gua jadi tercekat. Walaupun begitu Gento masih sempat berucap. "Nampaknya kita kedatangan tamu agung, kakak. Katakan padaku, apakah aku yang datang menyambut tamu, atau kau sendiri yang hendak menemuinya?" Si nenek mendengus. Tanpa berkata apa-apa dia berkelebat ke mulut gua yang kemudian disusul oleh Gento dan Sateaki. 4

Berdiri tegak di depan mulut gua si nenek sama sekali tidak melihat apapun terkecuali hembu- san angin dingin yang menerbangkan bebatuan dan debu. Karena itu si kakek yang sudah berdiri tiga Langkah di belakang si nenek berucap kecewa. "Hanya angin." Baru saja suara si kakek Lenyap, pada saat itu pula terdengar suara tawa panjang yang meningkahi suara deru angin yang menyerang mereka.

"Hik hik hik. Ha ha ha! Kepada para setan yang berdiri di mulut gua. Aku datang ingin men- jemput nyawa busuk Angin Pesut. Jika kalian tahu dimana bersembunyinya jahanam itu cepat katakan padaku!" Mendengar ucapan orang yang belum terli- hat ujudnya, si nenek balas gelak tawa dengan tawa panjang menggidikkan. Sedangkan Sateaki memutar kepala, kitarkan pandang. Dia coba memastikan dari mana suara tawa berasal. Tapi Sateaki gagal menge- tahui dimana keberadaan orang. Sebaliknya Gento menyeringai. Tidak perduli rambut gondrongnya me- lambai-lambai dihantam angin kencang dia menyele- tuk. "Orang yang baru bicara. Engkau menyebut kami setan? Kau sendiri siapa! Engkau menyebut kami setan? Kau sendiri siapa? Mungkin kau bapak dan ibu setan? Barang kali kau malaikat maut? Ka- lau malaikat penjemput nyawa datangnya kok mem- beri tahu segala?! Kurasa kau malaikat maut kesa- sar. Rasanya perlu kukatakan padamu, kau datang pada waktu yang tidak tepat. Angin Pesut tidak ada disini! Pergilah ke neraka, kurasa Angin Pesut sudah berada disana, namun kau lupa. Ha ha ha!"

"Belalang kecil benar. Angin Pesut sudah di neraka. Kau yang membawanya bagaimana bisa lu- pa?" kata si nenek angker menimpali.

"Tiga manusia calon celaka. Tidak kutemu- kan orangnya di tempat ini pasti akan ada orang yang membunuhnya. Kalian bertiga punya hubun- gan apa dengan Angin Pesut?" tanya suara itu lagi.

"Walah, Aku dan kakakku ini tidak punya hubungan apa-apa. Tapi kalau kakek itu jelas ada. Dia saudara seperguruan Angin Pesut. Jika kau mau nyawanya, ambil saja. Aku dan kakakku tidak ambil perduli. Dia sudah tua, jika sekarang harus mati sudah pantas baginya. Ha ha ha!" kata sang pende- kar seenaknya sendiri.

"Pendekar Sakti 71 sialan. Harap jaga mu- lutmu. Umur boleh tua, tubuh boleh berubah jadi rongsokan. Masalah semangat aku tidak kalah den- gan yang muda!" dengus si kakek ketus. Murid ka- kek Gentong Ketawa itu tertawa mengekeh. Semen- tara itu hembusan angin makin menggila, membuat Serimbi, Sateaki dan Gento nyaris terpental. Nenek itu sambil tertawa cekikikan hentakkan dua kakinya berturut-turut pada tanah yang dipijaknya. Dua ka- ki amblas seperti menancap di dalam tanah. Perta- hanan yang dilakukannya membuat tubuh nenek Sakit ingatan itu meliuk-liuk bagai sebatang pohon cemara ditiup angin.

Sedangkan Sateaki terpaksa jatuhkan diri, hingga tubuhnya rebah menelungkup sama rata dengan lantai goa. Gento sendiri masih tegak berka- cak pinggang. Biar nampaknya dia berlaku tenang, sejak tadi sang pendekar kerahkan tenaga dalam ke bagian kaki, hingga dia dapat bertahan dan mem- buat tubuhnya tidak sampai tersapu mental. Malah kini seperti orang yang baru saja mendapatkan se- bongkah intan permata sambil mengumbar tawa sang pendekar berkata. "Lumayan. Sejak tadi aku sudah kepanasan. Kini ada orang gila dengan suka- rela mengipasi, membuat tubuh dan ketiakku yang kegerahan kini menjadi dingin! Hem... nyaman be- tul. Semakin lama semakin asyik! Ha ha ha!"

"Pemuda gondrong jahanam. Rupanya kau manusia sinting. Biar tambah asyik sekarang ku- tambah lagi!" teriak suara itu. Agaknya suara tanpa rupa bertambah jengkel. Terbukti hembusan angin yang sangat keras itu kini berubah menjadi panas. Tidak hanya sampai disitu saja. Batu-batu sebesar kepalan tangan yang tidak jelas dari mana datang- nya ikut pula menghantam Gento dan si nenek yang bertahan di sampingnya.

Mendapat serangan begitu rupa si nenek se- lamatkan diri dengan berlindung dibalik mulut gua. Sebaliknya Gento yang tidak bergerak dari tempat- nya jadi kalang kabut memukul balik batu-batu yang menghantam sekujur tubuhnya

"Walah sudah tidak asik lagi. Tiupan angin membuat tubuhku jadi gerah kepanasan. Yang ku- sayangkan ada pula yang usil melempariku dengan batu. Pantas kakakku tidak mau ikutan makan an- gin. Ha ha ha!" berkata begitu masih dengan terta- wa-tawa Pendekar Sakti 71 Gento Guyon gerakkan bahunya kanan kiri.

Wuus! Wuus!

Satu gelombang tenaga sakti yang tidak ter- lihat melesat dari kedua bahu sang pendekar, lalu membentuk satu perisai laksana tembok baja dan terus bergerak ke arah mana hembusan angin be- rasal. Dalam keadaan tegak berdiri otot-otot di seku- jur tubuh pemuda itu nampak menegang. Wajahnya nampak merah padam, namun mulut tetap me- nyunggingkan senyum.

Buuumm!

Beradunya dua tenaga sakti menimbulkan satu ledakan berdentum. Di depan sana terdengar pekikan kaget. Pendekar Sakti 71 sendiri terhuyung dua tindak ke belakang, wajah berubah pucat. Se- dangkan nafasnya sempat memburu.

Setelah mengatur jalan nafas, pemuda ini berpaling pada Serimbi. Sementara itu hembusan angin berhawa panas sama sekali Lenyap. Dengan tenang Gento berkata. "Kakak... adikmu Belalang Kecil masih kepanasan. Dan mengapa malah ber- sembunyi disitu?" Lalu si gondrong melirik ke arah Sateaki. melihat kakek itu masih rebah menelung- kup di lantai gua dia menyeletuk. "Oalah, tua bangka lumutan itu mengapa tidur disitu? Hey ban- gun, sekarang sudah siang. Tamu yang datang perlu kita beri sambutan."

Tersipu-sipu si kakek bangkit berdiri. Se- mentara itu si nenek sudah melompat dan kembali berdiri di tempatnya semula. "Belalang Kecil! Ilmu kesaktianmu tidak rendah. Tapi nampaknya kita bakal menghadapi satu persoalan besar," berkata si nenek dengan suara lirih. Gento hanya menyengir sedangkan tatap matanya memandang lurus ke de- pan.

"Malaikat jejadian, apakah kau masih berada disitu? Kami menunggumu, cepat kau tunjukkan di- ri!" teriak si pemuda.

"Ha ha ha hik hik hik. Gondrong jahanam aku masih berada di sini. Sepuluh tombak di de- panmu. Untuk menyelesaikan satu perkara aku memang harus menunjukkan diriku! Lihatlah baik- baik...!" kata suara yang belum jelas ujudnya laki- laki atau perempuan.

Tak lama kemudian sepuluh tombak di de- pan Gento mendadak sontak terdengar suara lolon- gan panjang. Suara lolong disertai dengan pusaran angin dingin yang menimbulkan satu lubang besar. Suara lolong dan raungan lenyap, hembusan angin mereda. Di atas lubang akibat pusaran angin mun- cul kabut tipis berwarna putih. Lalu di tengah kabut itu terlihat secara samar ujud sesuatu. Ujud yang- kemudian membentuk satu sosok seorang perem- puan tua renta berkulit hitam berwajah angker mengerikan.

Yang membuat semua orang jadi terkesima wajah nenek berpakaian hitam itu hampir setiap saat selalu berubah antara wajah serigala dan wajah manusia.

Baik Gento maupun nenek Serimbi sama se- kali tidak mengenali siapa perempuan yang hadir dalam kepulan kabut itu. Apalagi Gento. Rasanya seumur hidup baru kali ini dia melihat ada orang yang mukanya berubah-ubah seperti ini.

"Aki.... hantukah atau manusia sungguhan yang berada dihadapan kita itu?" tanya Gento den- gan suara perlahan sekali.

"Mungkin inilah yang dinamakan hantu seri- gala kesasar. Kita harus berhati-hati!" pesan si ka- kek. Sementara itu di depan sana sosok yang diseli- muti kepulan asap tipis begitu memperhatikan ne- nek Serimbi nampak sunggingkan seringai. "Perem- puan dengan tampang seperti dirimu, rasanya aku pernah mengenal. Bukankah engkau yang bernama Serimbi, Istri Angin Pesut? Hik hik hik. Mengapa keadaanmu jadi tidak karuan begini, perempuan malang?"

Serimbi tercekat. Wajahnya mendadak beru- bah dingin menyeramkan begitu sosok dalam rupa manusia dan serigala menyebut nama Angin Pesut. Dengan suara keras Serimbi ajukan pertanyaan.

"Tua bangka keparat tak karuan ujud, siapa dirimu ini? Sekali lagi kau menyebut nama Angin Pesut kupatahkan batang lehermu!"

"Hik hik hik. Aku Bayangan Maut. Kulihat sekarang kau telah kehilangan tali cinta kasih den- gan manusia jahanam itu. Bukan hanya itu saja. Kau telah kehilangan anakmu satu-satunya. Malang sungguh malang jika kebahagiaan harus ditukar dengan penderitaan berkepanjangan. Seorang ma- napun tidak akan sanggup kehilangan anaknya yang semata wayang." Kata demi kata yang diucapkan oleh Bayangan Maut membuat perempuan sakit in- gatan itu berubah menjadi beringas. Tidak ubahnya seperti orang yang baru terjaga dari tidur, si nenek gelengkan kepala. Dia mencoba mengingat siapa adanya nenek serigala ini. Namun semakin dipaksa otaknya untuk berfikir, jalan fikiran Serimbi malah menjadi kacau.

"Jahanam, jadi sakit kepalaku. Dajal serigala siapa kau? Engkaukah orangnya yang telah mencu- lik anakku?" hardik si nenek dengan tatapan liar se- perti orang kesetanan.

"Hik hik. hik. Aku senang kau akhirnya men- jadi gila sungguhan. Namun untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu itu sebaiknya kau pergi- lah ke akherat!" dengus Bayangan Maut.

"Nenek tengik sialan wajah serigala. Sebaik- nya kau mengakulah. Jika memang kau orangnya yang telah menculik puteri Angin Pesut, dimana anak itu sekarang?" Sepasang mata angker Bayan- gan Maut memandang tajam pada si kakek, tak la- ma kemudian dia pun sunggingkan seringai maut

"Bangsat Sateaki. Kau boleh tidak mengenal- ku. Karena segala silang sengketa dan dendam ke- sumat ini hanya aku dan Angin Pesut saja yang mengetahuinya. Begitu pun kau pasti akan menda- pat giliran. Hik hik hik." sahut Bayangan Maut ke- tus.

"Ha ha ha. Lagak bicaramu keren amat, ne- nek Muka setan. Tadi kau malah ada menyebut ak- herat segala. Rupanya kau ini orang yang ditu- gaskan di akherat. Jika betul, aku jadi ingin tahu bagaimana seluk beluk akherat yang sebenarnya!" Gento ikut menyela. 

Mendidihlah darah Bayangan Maut menden- gar ucapan Pendekar Sakti 71 Gento Guyon. Sambil kertakkan rahang dia mendamprat. "Setan Godrong. Kau yang paling cakap dibandingkan dua tua bang- ka itu. Kematianmu telah kuputuskan yang paling belakang!"

"Terima kasih. Ternyata kau baik sekali. Ku- harap kau juga sudi kiranya menyediakan diri untuk kujadikan tunggangan menuju akherat! Ha ha ha." usul si pemuda. "Belalang Kecil. Aku muak mendengar uca- pan tua bangka muka serigala itu. Ingin kulihat apakah mulut besarnya sesuai dengan kepandaian yang dia miliki!" dengus Serimbi. Belum lagi sempat sang pendekar memberi jawaban, nenek disamping- nya sudah berkelebat ke arah Bayangan Maut. Bu- kan main cepat gerakan perempuan tua itu. Tahu- tahu kini dia telah berada di atas sosok lawannya. Dengan kecepatan sulit diikuti kasat mata dua tan- gannya menyambar berturut-turut ke arah bahu dan batok kepala lawan yang setiap saat wajahnya berubah

Melihat serangan ganas dan berlangsung sangat cepat itu. Siapapun pasti menduga lawan tak bakal sanggup melepaskan diri dari serangan itu. Tapi apa yang terjadi kemudian membuat Gento dan Sateaki jadi tercekat sekaligus melengak kaget. Bayangan Maut meskipun sempat terkejut namun masih sanggup menghindar. Malah kini sambil me- lesat ke udara dia masih sempat lancarkan serangan balasan.

5

Dua tangan Bayangan Maut bergerak meng- hantam ke atas. Begitu nenek yang wajahnya selalu berubah-ubah itu hantamkan dua tangannya terjadi satu keanehan. Sepuluh kuku tangannya yang hi- tam secara aneh menjulur panjang dan mengepul- kan asap tipis berwarna hitam berbau busuk. Seba- gai orang yang sangat berpengalaman dalam hal ra- cun, tentu saja Serimbi sadar betul serangan kuku lawannya mengandung racun ganas. Sehingga meskipun sadar dirinya kebal terhadap serangan mengandung racun dia terpaksa lakukan gerakan berjumpalitan selamatkan kedua kakinya dari sam- baran sepuluh kuku lawannya.

Wuus!

Krak! Kraakk!

Sepuluh kuku menghunjam batu tebing bu- kit curam yang terdapat di seberang mulut gua. Asap tebal mengepul dari bagian batu tebing yang terkena cakaran si nenek. Baru saja Bayangan Maut mencabut jemari tangannya yang menancap pada batu, laksana kilat Serimbi berbalik lalu hantam dua pukulannya yang juga mengandung racun ke tubuh lawan.

Buuk! Buuk! Pyaar!

Hantaman itu dengan tepat mengenai bagian punggung Bayangan Maut. Tapi aneh kedua puku- lan Serimbi seakan amblas ke dalam tubuh lawan dan selanjutnya menghantam batu di depan Bayan- gan Maut. Menyadari lawan yang dipukulnya tidak ubah seperti bayang-bayang, si nenek cepat lesatkan tubuhnya menjauhi lawan. Ketika Bayangan Maut balikkan badan, dia pun mengumbar tawanya.

"Nenek gila yang malang. Rupanya kau lupa, aku adalah Bayangan Maut. Tubuhku hanya berupa bayangan yang tidak dapat disentuh walaupun kau mengerahkan seluruh pukulan beracun yang kau miliki! Hik hik hik!"

"Celaka! Kalau begitu akan sulitlah mengata- si nenek serigala ini!" batin Gento.

"Tak satupun dari kita yang bakal sanggup meloloskan diri dari maut. Bayangan Maut tubuh- nya sama sekali tidak dapat disentuh. Padahal tu- buhnya mengandung racun ganas...!" ujar kakek Sa- teaki pula.

Sementara itu Serimbi nampaknya memang tidak mempunyai pilihan lain. Di dalam hatinya hanya ada satu tekad. Dia harus menggempur lawan dengan kekuatan penuh. Tapi sebelum hal itu dila- kukannya dia berpaling pada Gento yang selama ini dia anggap sebagai adiknya. Kepada sang pendekar nenek sinting ini berteriak. "Belalang Kecil adikku. Aku tidak dapat menjajaki seberapa tinggi kesaktian yang dimiliki oleh tua bangka ini. Tapi sebelum se- gala sesuatu yang tidak diinginkan terjadi sebaiknya cepat tinggalkan tempat ini!"

Gento merasa terharu mendengar peringatan si nenek. Dia tidak menyangka nenek sakit ingatan itu ternyata sangat perduli pada keselamatannya. Tapi Gento kemudian menjawab. "Kakak... jika kau celaka, buat apa aku hidup? Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu!" Ucapan Gento membuat si nenek tergugah. Begitu terharunya dia hingga tanpa sadar membuatnya kucurkan air mata. "Hik hikk! Belalang Kecil. Siapapun dirimu

kau telah kuanggap sebagai adik sendiri. Jika kau tetap berada disini karena ingin membelaku. Aku- pun tidak takut lagi menghadapi nenek muka seriga- la itu!" tegas si nenek.

"Bagus! Sekalian saja maju biar aku tak usah banyak membuang waktu menyingkirkan dua manusia sedeng!" kata Bayangan Maut disertai se- ringai mengejek. Mendengar ucapan orang Gento ja- di tertawa. Sebaliknya nenek Serimbi keluarkan sua- ra menggerung. Berpijak di atas sebuah ranting ker- ing, Serimbi gerakkan kakinya ke atas hingga tu- buhnya melayang di udara. Begitu sampai pada ke- tinggian tertentu dia memutar kedua tangannya di udara. Seiring dengan berputarnya dua tangan si nenek, dari kedua tangannya menderu angin topan yang disertai melesatnya puluhan larik sinar merah dan biru. Kedua sinar itu bukan cuma menghantam Bayangan Maut, tapi juga menghantam lamping ba- tu! Hingga batu jatuh berguguran menimpa diri Bayangan Maut. Baik Gento maupun Sateaki tak dapat melihat apa yang terjadi karena pemandangan mereka terhalang kepulan debu tebal serta deru an- gin hebat yang keluar dari tangan Serimbi.

Bayangan Maut yang melihat serangan dah- syat ini tentu saja berusaha lindungi diri dengan melepaskan pukulan balasan. Puluhan batu sebesar kerbau memang dapat dihalaunya atau dipukul hancur. Tapi yang datang kemudian jumlahnya ber- lipat ganda. Manusia berkepandaian selangit sekali- pun bila mendapat serangan begitu rupa tentu jadi kewalahan. Begitu juga yang terjadi dengan Bayan- gan Maut. Sebelum seluruh batu yang berlesatan dari tebing bukit menguruk tubuhnya, Bayangan Maut coba selamatkan diri.

Akan tetapi lawan nampaknya memang tidak memberi kesempatan lagi. Nenek Serimbi menguras seluruh tenaga sakti yang dia miliki, hingga ratusan batu menghujani Bayangan Maut. Nenek berwajah serigala itu Lenyap dari pandangan mata akibat ter- timbun batu. Sateaki jadi terkesima begitu melihat tumpukan batu yang membukit. "Gento mungkin- kah nenek serigala itu mati?" tanyanya dengan ber- bisik.

"Aku tidak tahu, Ki. Coba nanti biar kau pe-

riksa." sahut sang pendekar. Tak lama kemudian Se- rimbi telah jejakkan kakinya diatas tanah. Nafasnya nampak memburu dan tersengal. Dia memandang pada bongkahan batu yang bertumpuk lalu berucap pada Gento.

"Belalang Kecil. Satu hal yang patut kau ke- tahui. Jika nenek itu dapat kutimbun dengan batu. Berarti yang datang ke depan kita bukan bayangan- nya. Dia datang bersama ujud kasarnya. Tapi agak- nya kau harus memikirkan dan mencari titik kele- mahan nenek itu agar kau tidak berhadapan dengan bayangan!"

"Apa maksudmu, kakak?"

"Belalang tolol. Bayangan Maut bukan hantu, bukan setan, bukan pula siluman. Dia mempunyai raga sebagaimana kita."

"Aku tahu sekarang. Tapi mungkinkah nenek jelek tadi masih hidup?" tanya Gento. Belum lagi pertanyaannya berjawab. Sateaki yang sejak tadi melihat ke arah tumpukan batu yang menimbun Bayangan Maut keluarkan seruan keras.

"Lihat. Batu bergerak-gerak. Dia masih hi- dup!" teriak si kakek.

"Apa kataku. Jahanam betul!" maki Serimbi. Nenek tua itu tanpa bicara lagi langsung melompat ke atas tumpukan batu. Sambil melompat dua tan- gan dihantamkan ke bawah.

Wuus! Wuut!

Sinar merah dan sinar biru pekat berhawa panas luar biasa dan mengandung racun ganas menghantam timbunan batu menimbulkan ledakan menggelegar membuat batu hancur berkeping- keping, berlesatan diudara dalam keadaan menyala dikobari api. Di seberang batu yang berkeping- keping si nenek jatuhkan diri dengan dua kaki terle- bih dulu menginjak tanah. Tiga pasang mata sama pusatkan perhatian ke arah bekas Ledakan. Bayan- gan Maut yang mereka perkirakan tewas terkena pukulan si nenek Lenyap tak terlihat. Sateaki mena- rik nafas lega. Namun perasaan lega itu hanya ber- langsung sesaat, karena beberapa saat kemudian mendadak sontak terdengar suara tawa mengekeh berbaur dengan suara lolongan panjang. Belum lagi Lenyap rasa kaget dihati sang pendekar seolah mun- cul dari dalam perut bumi sosok Bayangan Maut melesat keluar dari timbunan kepingan batu yang menyala. Begitu tubuhnya berada di udara dengan kecepatan laksana kilat dia menghantam ke tiga arah sekaligus.

Wuut! Wuut! Wuut!

Tiga gelombang angin menderu disertai suara bergemuruh dahsyat laksana air bah yang menjebol sebuah bendungan raksasa. Nenek Serimbi memekik kaget. Namun dia masih sempat melompat ke bela- kang selamatkan diri dari pukulan maut lawan. Se- cepat apapun gerakan menghindar yang dilakukan si nenek tak urung bahunya masih terkena samba- ran angin pukulan lawan. Pakaian berikut kulit di- balik pakaian di bagian bahu hangus mengepulkan asap.

Si nenek sambil memaki dan tubuh ter- huyung sibuk memadamkan api yang membakar tu- buhnya. Sedangkan Sateaki sendiri memang sempat melompat ke belakang sambil melepaskan pukulan saktinya untuk menangkis serangan Bayangan Maut. Tapi pukulan yang dilepaskannya amblas, Le- nyap begitu membentur serangan lawan. Kakek ini jatuh terpelanting dengan pakaian hangus di bagian depan.

Tak jauh di sebelahnya Gento yang sempat melihat lawan melepaskan pukulannya tadi dengan gerakan terhuyung seperti orang mabuk masih sem- pat melompat ke samping hingga pukulan yang di- lancarkan lawan hanya mengenai tempat kosong.

Begitu selamat sang Pendekar berseru. "Ka- kak... Sateaki... kalian tidak apa-apa bukan?" ta- nyanya pada si kakek dan Serimbi yang tengah si- buk memadamkan api.

"Celaka! Kobaran api yang membakar tubuh- ku mengandung racun?!" seru si nenek kaget.

"Akh... racun dengan cepat menjalar ke seku- jur tubuhku! Wuakh...akkh...!" jerit si kakek.

"Sateaki!" seru Pendekar Sakti 71 Gento Guyon kaget begitu melihat si kakek melejang-lejang sedangkan matanya mendelik. Sekujur tubuh Sa- teaki saat itu telah membiru pula.

Bayangan Maut tertawa panjang. Dia berdiri bertolak pinggang. Sementara Gento mencoba sela- matkan sahabatnya itu dengan menotok beberapa pembuluh darah yang menuju ke jantung. Setelah itu dari balik kantong hitam perbekalan obat Gento mengambil dua butir pil penawar racun, lalu mema- sukkannya ke dalam mulut si kakek. Karena si ka- kek tetap tidak bergerak meskipun obat penawar ra- cun telah dimasukkan ke mulutnya, maka Gento pun menepuk pipi kanan kiri kakek itu.

"Hik hik hik. Kau tak perlu cemas setan gon- drong! Dia hanya terkena pukulan seratus hari. Ti- dak lama lagi dia pasti sadar. Namun jika sampai seratus hari dimuka dia tak menemukan obat pena- war racun itu. Dapat kupastikan seluruh tubuhnya segera bertanggalan dan dia akan mati dalam kea- daan menggenaskan!" kata Bayangan Maut sinis.

"Bangsat jahanam! Dia tak punya salah dosa apa-apa. Tapi kau melukainya secara keji!" teriak Gento. Dengan tangan terkepal dan wajah berubah kelam membesi pemuda itu bangkit berdiri. Saat sang pendekar balikkan badannya, dia melihat Se- rimbi masih berdiri tegak sedangkan tangan kiri mendekap bahu kanannya.

"Kakak...kau tidak apa-apa bukan?" tanya Gento khawatir.

Si nenek umbar tawanya.

"Aku tidak kekurangan sesuatu apa. Cuma bajuku robek. Hingga bahuku yang mulus tersem- bul. Aku jadi malu. Hik hik hik. Belalang Kecil, ma- sih beruntung ditubuhku mengandung berbagi jenis racun. Jika orang biasa yang terkena pukulannya, aku tak bisa menjamin apakah dia mampu bertahan hidup. Hik hik hik!" Setelah mendengar ucapan Se- rimbi, Gento kini memandang tajam ke arah Bayan- gan Maut. Dalam hati dia berkata. Jelas nenek ini bukan manusia sembarangan. Dia tak mungkin da- pat kusingkirkan dengan pukulan sakti sekalipun. Agaknya aku perlu menggunakan ilmu Menitis Bayangan Raga untuk menghadapinya." batin si pe- muda.

"Setan gondrong, apakah kau telah siap mati bersama-sama dengan kakakmu itu?" kata si nenek muka serigala dingin. "Ha ha ha. Bayangan Maut, rupanya kau tu- kang meracun orang. Sedikit banyaknya aku ingin tahu sampai dimana kehebatan racunmu!" kata si pemuda disertai senyum mengejek. Sikap yang terkesan meremehkan yang ditunjukkan sang pen- dekar tentu saja membuat Bayangan Maut jadi gelap mata.

6

Padahal apa yang dilakukan Gento hanya suatu muslihat untuk memancing kemarahan la- wannya. Nampaknya Bayangan Maut luput mem- perhatikan semua itu. Dengan penuh kegeraman dia melangkah lebih ke depan sebanyak dua tindak. Sementara akibat gejolak kemarahan yang melanda jiwanya membuat wajah maupun tubuh Bayangan Maut cepat sekali berubah-ubah antara ujud manu- sia serigala dengan rupa seorang nenek angker ber- tubuh agak bungkuk.

"Bocah sial! Rupanya kau belum tahu siapa diriku. Kau tak bakal sempat menyaksikan keheba- tan ilmuku karena sekejap lagi nyawamu segera ku- kirim ke neraka!"

"Walah, kau memanggilku bocah sial? Sung- guh keterlaluan sekali. Tidak mengapa biar rupa ku tidak lebih buruk dimata setan akupun akan me- manggilmu nenek serigala sial. Ha ha ha!" kata si pemuda. Kemudian dia melanjutkan ucapannya "La- lu nenek serigala sial. Kapan kau akan mengirimku ke neraka? Dengan apa kau hendak membawaku kesana? Aku pasti tidak menolak. Yang terpenting walau rongsokan, rasanya lebih bagus jika aku naik ke punggungmu. Tapi aku perlu tanya kakakku itu." ujar Gento. Kemudian dia berpaling pada Serimbi. Pada nenek sakit ingatan Gento ajukan pertanyaan. "Kakak... bagaimana ini. Apakah kau mau ikutan ke neraka juga? Kalau kau ikut, aku jadi bingung kare- na yang kutahu kuda yang akan membawaku cuma satu. Kudanya perempuan, sudah tua bungkuk pu- la. Apakah kau mau berjalan kaki, yang akan me- makan waktu lama. Salah-salah kau malah kesasar ke surga. Ha ha ha!"

"Belalang Kecil. Biar lambat yang penting ki- ta satu tujuan. Aku yang sudah tua harus tahu diri. Biar aku membonceng di belakang punggungnya. Yang terpenting sebagai saudara kita tetap seiring sejalan! Hik hik hik!" sahut si nenek disertai tawa tergelak-gelak.

Merah padam wajah Bayangan Maut. Darah- nya Laksana mendidih, sedangkan bagian dada ne- nek itu seperti mau meledak terbakar amarah. Ke- marahan itu telah membuat sepuluh kuku jari tan- gan maupun jari kaki mencuat panjang dengan sen- dirinya. Kejab kemudian dengan kemarahan me- luap-luap Bayangan Maut berkelebat dengan kece- patan Laksana kilat ke arah sang pendekar. Sepuluh jemari tangan berkelebat menyambar leher dan wa- jah Gento, sedangkan kaki kanannya melesat meng- hantam bagian perut. Murid kakek Gendut Gentong Ketawa begitu melihat serangan ganas ini segera mempergunakan jurus Congcorang Mabuk. Salah satu jurus menghindar sekaligus jurus penyerangan, warisan gurunya Gentong Ketawa.

Dengan tubuh terhuyung dia hindari seran- gan lawan. Tiga serangan pertama yang dilancarkan Bayangan Maut dapat dia hindari. Tapi ketika si ne- nek setengah manusia setengah serigala ini balikkan badan dan menyerangnya kembali dengan gencar Gento nampak kerepotan sekali. Tak ingin tangan atau kaki lawan menyentuh tubuhnya, berturut- turut Gento hantamkan pukulan Iblis Ketawa Dewa Menangis dan pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis.

Wuut! Wuut!

Sinar merah dan sinar biru berturut-turut melesat ke arah lawannya. Hawa panas dan hawa dingin saling tindih menindih. Bayangan Maut ter- tawa tergelak-gelak. Dua tangan disilangkan ke de- pan dada. Sedangkan mulutnya berucap. "Hanya pukulan picisan seperti ini yang kau miliki? Kalau cuma seperti ini kepandaian yang kau miliki, kau tak bakal lolos dari kematian!" dengus Bayangan Maut. Berkata begitu dua tangan yang bersilangan di depan dada itu lalu didorongkannya ke depan.

Wuuues!

Satu kekuatan yang tak terlihat menderu laksana air bah. Lalu terjadi benturan. Benturan ke- ras menimbulkan suara letupan halus. Secara aneh dua pukulan sakti yang dilepaskan Gento tersedot amblas, kemudian menghantam dada Bayangan Maut. Nenek serigala itu tertawa panjang. Ternyata betapapun dahsyat pukulan yang dilepaskan Gento. Tapi pukulan itu seolah hanya menghantam bayan- gan saja. Malah Gento sendiri saat itu terpelanting belasan tombak ke belakang. Pemuda ini jatuh ter- jengkang begitu punggungnya menghantam lamping bukit. Pemuda ini menjerit kesakitan.

Dengan terhuyung-huyung dia bangkit, na- mun belum lagi sang pendekar sempat berdiri tegak sepenuhnya. Bayangan Maut telah melesat ke arah- nya siap menghunjamkan sepuluh kuku-kukunya yang hitam beracun. Melihat hal ini Serimbi tentu saja tidak tinggal diam. Sambil keluarkan seruan ke- ras nenek itu memotong gerakan Bayangan Maut dari arah samping. Nenek setengah manusia seten- gah serigala itu tersentak kaget begitu merasakan ada angin dingin menyambar tulang rusuknya. Dia cepat berpaling, lalu balikkan badan batalkan se- rangan ke arah Gento. Kini Bayangan Maut setelah melihat siapa yang menyerangnya langsung gerak- kan siku kirinya menangkis serangan lawan.

Plak! Plak! Dess! Dess!

Tangkisan yang dilakukannya membuat Bayangan Maut maupun Serimbi sama bergetar. Ta- pi dalam keadaan seperti itu masing-masing lawan masih sanggup menyarangkan pukulannya ke ba- gian dada dan perut. Akibatnya sungguh luar biasa sekali bagi Serimbi. Nenek sakit ingatan itu jatuh terpental.

Tubuhnya amblas ke dalam tanah. Sedang- kan Bayangan Maut juga mengalami hal yang sama. Tapi dia tidak cidera sedikitpun. Malah kini dia mengumbar tawa begitu melihat lawan yang terkena pukulan di bagian perutnya tak mampu bangkit lagi. "Hik hik hik. Nenek gila, kau telah terkena pukulan beracun Tujuh Hari. Dalam tujuh hari di- muka, ajal pasti datang menjemputmu. Kau akan mati secara menggenaskan seperti gelandangan di pasar!" Serimbi mengerang, dari mulutnya menyem- burkan darah kental kehitaman. Walaupun begitu dia masih sempat bicara ditujukan pada Gento. "Be- lalang Kecil. Lekas tinggalkan tempat ini. Dia memi- liki pukulan mengandung racun keji. Pergilah sela- matkan dirimu. Umurku tak bakal lama, sebelum aku mati satu pintaku kepadamu, adikku. Jika kau panjang umur, tolong kau cari putriku. Katakan....

katakan padanya bertahun-tahun aku mencarinya. Sampaikan pula salam rinduku pada putriku itu. Hugkh....!" Belum sempat si nenek lanjutkan uca- pannya dia sudah jatuh terkapar.

Bergetar hati sang pendekar mendengar uca- pan tulus Serimbi. Dengan mata berkaca-kaca me- nahan haru dalam hati dia berkata. "Nenek sakit in- gatan itu bukan sanak bukan saudara kandungku. Tapi kebaikannya sungguh luar biasa. Biarpun inga- tannya terganggu, tapi cara berfikir dan rasa keke- luargaan yang dia miliki masih lebih bagus dari ma- nusia yang mengaku memiliki kewarasan."

"Setan gila. Kau sudah dengar apa yang dika- takannya. Sekarang apakah kau sudah siap untuk menerima nasib yang sama?" hardik Bayangan Maut.

Pendekar Sakti 71 Gento Guyon sunggingkan seringai mengejek. Dia bangkit berdiri, memutar tu- buh menghadap langsung ke arah lawan. Dua tan- gan terkepal, pelipis bergerak-gerak. Setengah menggeram dia berkata. "Nenek siluman. Dua orang telah kau buat celaka. Jangan kira aku hanya bisa berpangku tangan membiarkan segala kekejianmu. Majulah, aku sudah siap menghadapimu!" dengus sang pendekar. Bayangan Maut dongakkan wajah- nya ke langit, lalu tertawa terkekeh-kekeh.

"Kau bakal mampus percuma di tanganku! Hik hik hik!" habis berkata sosok Bayangan Maut mendadak berkelebat. Sekejap saja tubuhnya telah Lenyap dari hadapan Gento. Di lain saat pemuda itu merasakan ada angin dingin menyambar bahu dan kepalanya. Gento segera memutar tubuh, lalu mi- ringkan tubuhnya. Setelah itu sosoknya melesat ke udara. Berjumpalitan di udara beberapa kali. Den- gan menggunakan daya apung serta ilmu meringan- kan tubuh yang dia miliki Gento melepaskan satu pukulan dahsyat ke bawah.

Sinar merah berkiblat disertai deru angin dingin luar biasa. Hawa dingin kemudian berubah menjadi panas membakar begitu pukulan hampir mencapai sasaran.

Buum!

Pukulan mengenai tempat kosong. Lawan yang diserang telah berkelebat Lenyap dan kini telah pula bergerak ke atas. Diantara kepulan debu akibat pukulan tadi Gento melihat lawan tahu-tahu telah berada di hadapannya. Sang Pendekar tidak mau mengambil resiko yang membuatnya mati keracu- nan. Sambil bergerak mundur dia hantamkan ka- kinya ke perut Bayangan Maut.

Dess!

Satu tendangan mendarat telak di perut si nenek. Tapi lawan malah tertawa mengekeh. Dia kemudian melepaskan pukulan jarak jauhnya ke arah Gento

Dua larik sinar hitam berkiblat, menebar bau busuk luar biasa disertai hawa dingin mematikan. Gento sadar pukulan yang dilancarkan lawan men- gandung racun mematikan. Untuk itu dia menge- rahkan tiga sumber inti tenaga dalam atau Inti Ca- kra yang berpusat di bagian punggung, pusar juga di bagian kening. Tiga pusat pembangkit tenaga dalam digerakkan, hawa panas menjalar ke sekujur tubuh- nya. Gento pun lalu silangkan kedua tangannya di depan dada. Dua tangan yang bersilangan lalu dido- rong.

Buuum!

Terjadi Ledakan keras berdentum ketika pu- kulan Bayangan Maut membentur tangan Gento. Sang pendekar jatuh terpelanting dan terhempas di lereng bukit. Nafasnya megap-megap, sekujur tu- buhnya laksana terbakar. Masih beruntung dia se- belumnya telah lindungi diri dengan pengerahan te- naga sakti yang bersumber pada tiga bagian tubuh- nya. Seandainya Gento hanya mengandalkan tenaga dalam yang bersumber pada pusarnya saja dapat dipastikan tubuhnya menjadi leleh akibat pukulan lawan yang mengandung racun mematikan itu.

Bayangan Maut sendiri nampak tercengang melihat si gondrong hanya terjatuh tak kekurangan sesuatu apa. Padahal dalam perhitungannya tadi pemuda itu pasti tak sanggup menyelamatkan diri karena dia melepaskan pukulan yang paling keji di- antara sekian banyak pukulan yang dia miliki.

Kini setelah dua kakinya menginjak tanah Bayangan Maut mendongak ke atas, memandang ke lereng bukit curam dimana lawan masih terbaring di tempatnya.

"Setan gondrong! Ternyata nyawamu alot ju- ga. Tapi jangan harap sekali ini kau sanggup melo- loskan diri dari tanganku!" teriak si nenek. Selesai berkata Bayangan Maut gosokkan tangannya satu sama lain. Setelah itu tangan yang mengepulkan asap tipis itu disapukan ke bagian wajah leher juga sekujur tubuhnya. Mendadak sontak dalam pan- dangan Gento sosok si nenek yang berada di bawah sana telah berubah ujud menjadi seekor serigala be- sar tanpa buntut

Melihat pemandangan seperti ini membuat sang pendekar sempat tercekat. Tapi dia dengan ce- pat bangkit berdiri. Dua tangan kemudian disilang- kan ke depan dada. Sedangkan mulutnya berkemak- kemik membaca mantra. Dari bagian ubun-ubun murid Gentong Ketawa ini secara perlahan namun pasti terlihat asap tipis berwarna putih mengepul ke udara.

Bersamaan dengan itu pula, Bayangan Maut keluarkan suara lolong panjang tidak ubahnya se- perti seekor serigala yang murka. Lalu sosok serigala ini tanpa terduga melesat ke udara, terus bergerak ke arah ketinggian lereng bukit tempat dimana la- wan berada. Dengan mulut terbuka lebar disertai taring-taringnya yang siap merobek, kaki depan se- rigala itu juga bergerak ke arah dada siap mencabik tubuh lawannya.

Tapi pada waktu itu Pendekar Sakti 71 Guyon yang telah mengeluarkan ilmu Bayangan Ra- ga, sosoknya telah mengembar menjadi lima orang. Dalam keadaan mengembar tak jelas mana yang asli dan yang mana cuma bayangan. Tentu saja lawan menjadi terkesima. Sama sekali Bayangan Maut tak menyangka lawan memiliki ilmu seaneh dan selang- ka itu.

Tapi dia tak mungkin mundur. Dia kemudian menyerang sosok Gento yang berada di sebelah kiri. Dua taringnya menghunjam, sepuluh kuku tangan- nya menyambar membeset dada.

Wuut! Wuus!

Bayangan Maut terkecoh. Yang diserangnya ternyata hanya kembaran Gento yang palsu. Lalu dia balikkan badan siap menyerang lagi. Pada waktu yang bersamaan Gento dan empat kembarannya sama melepaskan satu pukulan berbarengan. Aki- batnya tentu sangat luar biasa sekali. Lima besar bergabung menjadi satu, menghantam satu sasaran di lima bagian tubuh. Manusia dengan kesaktian sehebat apapun pasti tak sanggup menahannya.

Begitu pula yang terjadi dengan Bayangan Maut. Apalagi saat itu jarak antara dirinya dengan lawan begitu dekat. Sungguhpun dia sudah menco- ba menangkis kelima serangan maut lawannya. Te- tap saja tubuhnya tersapu mental. Lalu terpelanting sejarak dua puluh tombak, kemudian membentur tebing yang terdapat di seberang sana. Meliuk-liuk seperti layangan putus dan jatuh berdebum di kaki bukit

Bayangan Maut menjerit kesakitan. Sedang- kan di atas bukit, empat sosok kembaran Gento mendadak Lenyap dari pandangan mata. Pemuda ini sambil tertawa bergerak melesat ke arah Bayangan Maut. Begitu jejakkan kaki dia berdiri bertolak ping- gang. Nenek setengah manusia setengah serigala yang kini kembali dalam ujudnya yang asli dengan tertatih-tatih bangkit berdiri.

"Nenek serigala. Racunmu memang ganas, tapi ternyata tak sanggup melukai kembaranku. Se- karang aku tahu lima pukulan yang menghantam lima bagian tubuhmu telah membuat ujud kasarmu dapat kusentuh dapat pula kulukai. Kali ini aku in- gin mengadu jiwa denganmu!" kata Gento, sedang- kan tangan kanannya sengaja ditempelkan pada ma- ta kalung Batu Raja Langit siap diusap untuk me- nyerang nenek itu.

Bayangan Maut terbatuk-batuk. Dia tidak mungkin melanjutkan pertempuran mengingat uru- sannya belum beres. Semula dia menduga, dengan mudah dapat membunuh pemuda itu. Apalagi dua lainnya sudah dia lukai. Tapi diluar dugaan dia mendapat sandungan. Pemuda gondrong yang suka cengengesan itu ternyata memiliki ilmu kepandaian sulit dijajaki.

"Kalau kugempur dia, mungkin aku bisa me- nang. Tapi kurasa kalungnya itu bukan mata kalung sembarangan. Aku dapat merasakan satu kekuatan dahsyat terkandung dalam kalung itu. Lebih baik aku mengurut dada bersabar diri. Kelak jika uru- sanku dengan Angin Pesut dapat kubereskan baru aku membuat perhitungan dengan setan gondrong ini." berflkir begitu Bayangan Maut segera berkata. Namun dengan cepat tangannya menyelinap dibalik pakaiannya. "Setan gondrong, aku belum kalah. Nanti aku pasti membunuhmu!" Gento tertawa men- gekeh dengan mulut terpencong. Begitu tawanya Le- nyap, dia dibuat terperangah karena pada saat ber- samaan pula lawan telah membanting benda hitam bulat yang dia ambil dari balik bajunya.

Buum!

Satu letupan bergema disertai menebarnya asap tebal berwarna biru menutupi pemandangan mata, Gento melompat mundur sambil tutup jalan nafas khawatir benda yang dilemparkan Bayangan Maut mengandung racun ganas. Tapi dia juga sadar apa yang hendak dilakukan lawan sehingga sang pendekar pun berteriak. "Nenek serigala setan jan- gan lari!"

Percuma saja pemuda ini berteriak. Karena begitu asap biru Lenyap maka si nenek Lenyap pula dari pandangan mata. Seakan lupa pada nenek Se- rimbi dan Sateaki yang terkapar di tempatnya mas- ing-masing, Pendekar Sakti 71 Gento Guyon pun se- gera melakukan pengejaran.

"Bangsat serigala itu mencari Angin Pesut. Mungkin lebih baik jika aku mengikutinya" fikir Gento.

7

Gadis raksasa yang dikenal dengan nama Anggagini itu nampak terus mendaki ke arah pun- cak bukit dimana terdapat rumah besar luar biasa yang selama ini ditinggali oleh para kerabatnya. Di belakang mengikutinya seorang kakek berpakaian serba putih berjanggut putih menjulai ke dada. Ka- rena jangkauan kaki gadis setinggi pucuk pohon itu sangat lebar meskipun saat itu dia berjalan biasa, namun kakek berpakaian putih yang mengikuti di belakang terpaksa berlari kecil. Dalam hati si kakek yang bukan lain Tabib Setan adanya menggerutu. "Obat penawar racun pemberian nenek sinting itu sudah amblas ke dalam perutnya satu jam yang la- lu. Mengapa tubuhnya tidak menunjukkan pe- rubahan? Jangan-jangan bocah sial Gento Guyon dan nenek sakit ingatan itu telah menipu. Hem... kulihat obat pemusnah racun tadi bentuknya bulat hitam ada putihnya seperti tahi kambing. Mungkin obat itu memang bukan penawar racun, tapi tahi kambing sungguhan. Sialan... bagaimana jika gadis cantik itu tahu yang dimakannya bukan obat pena- war racun Perubah Bentuk? Bocah edan. Tega- teganya dia mengakali gadis secantik Anggagini?!"

Baru saja Tabib Setan berperasangka yang bukan-bukan, bersamaan dengan itu gadis raksasa Anggagini melangkah disertai keluhan panjang.

"Akh...perutku....tubuhku...!'' Anggagini mengerang. Dua tangan dipergunakan mendekap perutnya yang terasa panas terbakar. Tergopoh- gopoh Tabib Setan menghampiri. Dia berdiri di de- pannya.

"Apa...apa yang terjadi dengan dirimu?" tanya si kakek sambil dongakkan kepala meman- dang ke atas. Karena tinggi si kakek hanya sebatas lutut Anggagini. Maka tabib iseng ini dengan jelas dapat melihat paha putih mulus gadis raksasa ini. Tabib Setan menyeringai, lalu garuk-garuk kepa- lanya. Dalam hati dia berkata. "Luar biasa, yang mu- lus seperti ini baru sekarang aku melihatnya. Jika aku punya istri seperti dia, tidak akan kukubur se- belum benar-benar mati. Bocah edan itu?! Tolol se- kali dia. Mengapa memilih pergi dengan nenek gila. Perempuan seperti itu apanya yang diharap, cuma tinggal rongsokan dan alot pula."

"Kakek tabib, wualah perut dan sekujur tu- buhku mengapa menjadi panas begini. Walah tobat aku. Akh...!" Tak tahan menanggung penderitaan sakit yang luar biasa Anggagini pun menjerit setinggi langit. Suara jeritannya yang menggelegar bahkan sampai membuat Tabib Setan terkapar. Itu tentu sa- ja mengundang perhatian penghuni rumah raksasa yang berada di puncak bukit. Tak berselang lama kemudian terlihat tiga sosok tubuh dengan tinggi dan besar luar biasa berkelebat keluar dari bagian pintu depan. Lalu terdengar suara Langkah tergesa. Setiap langkah menimbulkan getaran hebat. Di lain saat tempat dimana Anggagini jatuh terduduk telah dikelilingi oleh tiga manusia raksasa yang bukan lain adalah kerabat gadis itu sendiri.

"Anggagini apa yang terjadi padamu?" satu suara bertanya. Tabib Setan yang telinganya sempat mengucurkan darah akibat jeritan Anggagini dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang kitarkan pandang coba mengenali. Ternyata yang baru saja bicara adalah Anggagana pemuda yang masih meru- pakan kakak kandung Anggagini.

Gadis raksasa itu mengerang, lalu terguling di atas tanah. Melihat ini perempuan cantik seten- gah baya yang bernama Senggini nampak panik dan menubruk putrinya yang cantik jelita.

"Apa yang terjadi dengan dirimu, nak?" tanya Senggini sambil menangis terisak-isak. Sebaliknya suaminya yang bernama Senggana masih dapat ber- laku tenang. Namun perhatiannya langsung tertuju pada Tabib Setan yang tengah berusaha berdiri te- gak. Sekali tangan Senggana yang besar itu berkele- bat menyambar. Di lain waktu leher Tabib Setan su- dah berada dalam cengkeramannya. Sang tabib me- rasakan dadanya jadi sesak seketika. Dia sulit ber- nafas, lidahnya terjulur matanya mendelik.

Dia hendak mengatakan sesuatu, sementara kaki meronta dan tangan menggapai. Tapi suaranya tak dapat keluar sama sekali akibat cekikan bapak raksasa.

"Apa yang telah kau lakukan pada putriku? Ramuan apa yang telah kau berikan padanya? Pa- tutnya aku mengucapkan terima kasih padamu. Ta- pi jika putriku celaka. Kaupun tak bakal hidup lebih lama!" geram Senggana sambil mempererat cekalan- nya hingga membuat sang tabib makin menderita saja. Anggagana yang mempunyai watak berangasan melompat ke samping ayahnya. Dia kemudian me- nyambar kaki sang tabib

"Ayah..serahkan tua bangka ini padaku. Biar kumakan dia mentah-mentah..!"

"Sial! Mengapa jadi sial begini. Kaki dan le- herku seperti mau tanggal ditarik dibetot oleh bapak dan anak." maki si kakek dalam hati. Dengan nafas megap-megap dia mencoba bicara. Tapi karena ceki- kan di lehernya semakin bertambah erat membuat suara si kakek hanya sampai di tenggorokannya sa- ja. Apalagi saat itu Anggagana berusaha merebut di- rinya dari tangan sang ayah. Akibatnya terjadilah ta- rik menarik. Tabib Setan merasa sekujur tubuhnya seperti bertanggalan tercerai berai. Tak tahan me- nanggung penderitaan yang begitu hebat, Tabib Se- tan melepaskan pukulannya ke arah Anggagana. Dari telapak tangannya yang dapat bergerak bebas melesat selarik sinar biru berhawa panas luar biasa. Tapi pukulan maut itu bagi raksasa Anggagana tidak memiliki arti sama sekali. Sekali dia mengibaskan tangannya, sinar biru yang dimata Anggagana cuma sebesar benang tersapu mental lalu Lenyap di udara. "Tabib cebol ini hendak melawan ayah. Biar kuhabisi sekalian!" teriak Anggagana kalap. Dan pemuda ini kembali menarik kedua kaki Tabib Se- tan.

Bret! Breet!

Terdengar suara robeknya kain. Ternyata akibat tarikan yang begitu keras membuat celana sang tabib terbelah dua. Dalam keadaan kesakitan Tabib Setan menjadi panik melihat auratnya ter- sembul keluar. Dia menjerit-jerit. Kalang kabut sang tabib coba tutupi auratnya. Dia memaki habis- habisan. Tapi mana mungkin bapak dan anak rak- sasa mendengar karena seperti tadi suara si kakek hanya sampai di tenggorokan saja.

"Sialan... aku berteriak juga percuma. Pa- dahal aku memaki dari kambing sampai ke anjing. Akh...bocah edan. Ternyata nasibmu selalu lebih baik dariku. Walaupun kau ikut dengan nenek gila itu kurasa lebih menyenangkan.!" keluh sang tabib. Akibat gerakan menyelamatkan diri yang sia-sia membuat tubuh Tabib Setan menjadi lemas sendiri.

Akhirnya tak banyak yang dapat dilakukan- nya terkecuali bersikap pasrah sambil berdoa dalam hati semoga jika dia mati dapat masuk surga.

Entah secara kebetulan atau memang doa Tabib Setan di kabulkan Tuhan. Di saat penderitaan si kakek sampai pada puncak ketabahannya. Pada detik itu pula Senggini tiba-tiba berteriak. "Kakang Senggana, lihat anak kita?!" seru perempuan terse- but. Bukan hanya Senggana, tapi anaknya Anggaga- na yang bengis juga ikut palingkan kepala meman- dang ke arah Anggagini. Mereka sama tercengang, mata terbelalak dan mulut ternganga. Saat itu me- reka melihat satu proses sedang terjadi. Tubuh Ang- gagini secara perlahan namun pasti mengalami pe- nyusutan. Baik mengenai tinggi maupun besar tu- buhnya terus mengerut dan semakin mengecil. Hingga pada akhirnya kembali ke ukuran manusia normal.

"Keajaiban yang kami tunggu akhirnya da- tang juga!" desis Senggana. Dia beringsut mendekati Anggagini. Demikian kaget dan gembiranya laki-laki tua ini melihat perubahan yang terjadi sampai ceka- lannya pada leher Tabib Setan terlepas. Pada waktu yang sama Anggagana yang juga terheran-heran me- lihat perubahan yang terjadi pada adiknya juga le- paskan cekalan pada kedua kaki sang tabib. Lalu bapak dan anak raksasa bersirebut mendekati Ang- gagini. Tak ayal lagi Tabib Setan begitu leher dan kaki dilepas orang jatuh terbanting.

Si kakek menggeliat sambil merintih kesaki- tan. Tapi tak ada yang menghiraukannya. Seluruh kerabat raksasa tenggelam dalam luapan kegembi- raan, hingga seolah dirinya dilupakan. Sambil men- gusap dan mengurut leher yang membiru akibat di- cekik Senggana, Tabib Setan mencoba duduk. Dia menyeringai. Sekujur tubuhnya terasa sakit luar bi- asa. Tapi walaupun dia dalam keadaan seperti itu sang tabib ikut memperhatikan perubahan yang ter- jadi pada diri Anggagini.

"Bapak raksasa tolol itu. Hampir mampus aku dibuatnya. Dia mengira apa yang terjadi pada anaknya merupakan suatu keajaiban. Padahal jika bukan atas pertolongan bocah edan sahabatku sam- pai perawan bulukan putrinya tetap menjadi raksa- sa."

Sementara itu Anggagini sudah rebah dalam pelukan ibunya. Dia nampak kaget melihat keadaan dirinya sendiri. Sedangkan matanya jelalatan men- cari kian kemari.

"lbu...aku, aku menjadi manusia normal. Obat penawar racun Perubah Bentuk pemberian pemuda itu sungguh hebat sekali. Akh...kemana dia?" tanya Anggagini yang kini tinggi tubuhnya hampir sama dengan Tabib Setan.

"Syukurlah anakku. Memang apa yang terja- di padamu telah ibu dambakan sejak dulu." ujar Senggini.

"Apa yang kau cari anakku?" tanya Senggana ketika melihat anaknya masih saja sibuk mencari- cari.

"Kakek tabib. Sahabat kakek tabib yang memberikan obat penawarnya padaku!" jelas sang dara yang makin bertambah jelita begitu tubuhnya menyusut kembali ke ukuran manusia normal.

"Sahabat Tabib Setan. Siapa dia?" tanya Senggini.

"Namanya Gento Guyon. Pendekar Sakti 71, serta nenek Serimbi dan kakek berjenggot kambing bernama Sateaki!" sahut Anggagini. Kemudian dia menceritakan pertemuannya dengan sang pendekar serta nenek yang telah memberikan obat penawar racun Perubah Bentuk. Untuk lebih Jelasnya silah- kan (baca Episode Perisai Maut).

Terkecuali Anggagana yang memang tidak tahu siapa adanya Serimbi dan Sateaki. Suami istri Senggana dan Senggini sama melengak kaget begitu anak gadisnya menyebut dua nama itu.

"Sateaki. Orang tua itu adalah adik Angin Pesut alias Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan. Se- dangkan Serimbi adalah nenek malang yang anak- nya diculik orang...!" ujar Senggana.

"Serimbi bekas istri Angin Pesut. Iblis itulah yang dulu pernah menciderai kami dengan pukulan Perubah Bentuk, hingga keadaan kami dan kalian jadi seperti ini. Anggagini... jadi kau telah menda- patkan obat penawar racun Perubah Bentuk?"

"Betul Ibu. Satu telah kumakan dan sisanya masih ada satu lagi!"

Senggini, Senggana dan Anggagana saling berpandangan. Lalu si pemuda raksasa berucap dengan wajah muram. "Berarti cuma satu diantara kita yang bakal mendapat kesembuhan."

"Kami sudah tua," berkata Senggana. "Kau masih muda. Obat itu bisa kau makan. Bukankah begitu istriku?" kata laki-laki tua itu sambil melirik istrinya. Sang istri terdiam. Dia jadi teringat pada Tabib Setan. Kakek yang membuatnya tergila-gila dan jatuh hati pada pandangan pertama. Pada diri sang tabib, dia menemukan jati diri seorang laki-laki sejati. Karena sadar dirinya tak mampu memberikan kebahagiaan pada sang istri. Sejak dulu Senggana memang memberikan kebebasan pada istrinya un- tuk mencari suami pengganti. Apalagi kini orang tua itu sadar selain tak mampu memberikan nafkah ba- tin dia juga sering sakit-sakitan. Senggini sadar se- bagai laki-laki suaminya sudah mencoba berjiwa be- sar dengan memberi kebebasan pada dirinya untuk menentukan pilihan hidup. Tapi sebagai wanita te- gakah dia meninggalkan suaminya?

"Tabib Setan. Jika aku dapatkan obat itu, mungkin aku dapat berubah seperti putriku. Tapi apakah kau mau menikahiku? Yang lebih penting lagi apakah kau mencintaiku, sebagaimana aku mencintaimu? Aku memang tak dapat melupakan- mu. Di depan suami dan anak-anakku, aku selalu berusaha menutupi perasaanku dengan mengacuh- kan dirimu. Padahal aku ingin sekali membenamkan diri dalam pelukanmu. Tapi aku juga tidak ingin mengorbankan kepentingan putraku Anggagana!" Seakan dapat membaca fikiran istrinya, Senggana lalu berkata. "Istriku kau tak usah ragu. Yang men- jadi janjiku tetap kupegang sampai mati!" Senggini tersentak sekaligus berucap.

"Tidak kakang. Lupakanlah semua itu, Ang- gagini, berikan obat penawar racun itu pada kakang mu. Dia harus menjadi seperti dirimu." tegas sang Ibu.

"Tapi Ibu...!" Anggagana mengajukan ke- beratannya. Tapi sang ibu gelengkan kepala sambil berucap.

"Kami sudah tua. Tak perlu dirisaukan" Anggagana tidak dapat lagi membantah. Ke-

tika Anggagini memberikan obat penawar racun Pe- rubah Bentuk itu kepadanya, si pemuda dengan be- rat hati terpaksa menelannya. Beberapa saat suami istri itu menunggu. Tapi tak terjadi perubahan pada diri Anggagana. Seolah mengerti Anggagini berkata.

"Membutuhkan waktu lama untuk mengem- balikan kakang Anggagana kembali seperti manusia normal. Tapi ibu tak usah takut. Aku akan meminta pada sahabat Tabib Setan agar mau memberikan obat penawar racun untuk ayah dan ibu." si gadis berjanji. Senggini geleng kepala. Sedangkan Sengga- na berpaling ke arah mana dia meninggalkan sang tabib tadi. Ternyata Tabib Setan masih berada di tempatnya, memandang ke arah Senggana dan Senggini penuh rasa takut. Kakek itu rupanya su- dah lupa akan keadaan dirinya sendiri. Senggana jadi tak dapat menahan tawa begitu melihat aurat tabib yang pernah menolong menyembuhkan penya- kitnya dan penyakit sang istri.

"Raksasa itu agaknya sudah gila. Sekarang dia tertawa-tawa sendiri!" batin si kakek, lalu diapun ikut pula tertawa.

"Tabib... kau mau ikut tertawa boleh saja. Tapi rapikan dulu auratmu. Barang jelek sebaiknya tak usah dipamerkan, karena aku juga punya yang lebih bagus. Ha ha ha!"

Pucatlah wajah tabib konyol itu. Mendadak tawanya Lenyap, wajahnya merah padam. Apalagi pada saat itu Anggagini dan Senggini memandang pula kepadanya. Tabib Setan dekap bagian bawah perutnya. Begitu didekap celananya malah melorot ke bawah. Kalang kabut si kakek rapikan celananya yang melorot sampai ke paha. Begitu celana dirapi- kan yang seharusnya terbungkus malah nongol lagi. Tabib Setan akhirnya jadi panik. Dia memutar tu- buh. Lalu sambil memegangi celana dengan tangan kanan dan dekap auratnya dengan tangan kiri sang tabib puntang panting menuruni lereng bukit.

"Kakek tabib. Tunggu... aku harus ikut den- ganmu. Aku ingin bertemu sekaligus mengucapkan terima kasih pada sahabatmu Gento dan nenek itu! Tabib, aku juga ingin minta obat penawar racun pa- da nenek Serimbi!" Anggagini bangkit berdiri dan siap mengejar si kakek yang telah Lenyap dari pan- dangan mata. Tapi ayahnya mencekal tangannya.

"Tidak usah di kejar, putriku. Kau tak perlu minta obat penawar racun itu pada Serimbi. Bukan dia yang bersalah. Yang patut menanggung dosa da- ri semua ini adalah Angin Pesut"

"Ayah...tapi. Tapi aku ingin bertemu dengan pemuda itu!" kata Anggagini terbata-bata. Sang ayah pandangi wajah anaknya sejenak. Dalam hati dia berkata. "Anak gadisku saat ini kiranya sedang kasmaran dengan seseorang. Mungkin pada pemuda yang disebutnya itu. Istriku juga mengalami hal yang sama. tapi aku tidak tahu dia jatuh cinta pada laki-laki mana?" keluh Senggana.

"Anggagini, Baiklah. Kau boleh menyusulnya. Tapi jika benar kau tertarik pada pemuda itu hen- daknya kau selidiki dulu siapa dia dan bagaimana wataknya!" ujar Senggana mengalah.

"Ah, terima kasih ayah. Ibu... izinkan aku menyusul kakek itu!" ujar Anggagini dengan pera- saan terharu. Sang ibu tersenyum kecut. Rasanya ingin sekali dia menitip salam untuk Tabib Setan. Tapi malu dan Anggagini kemudian berkelebat me- nuruni bukit. Sedangkan saat itu satu proses se- dang terjadi pada diri anak mereka Anggagana. Se- bagaimana yang terjadi pada Anggagini, tubuh Ang- gagana pun nampak mulai menyusut bergerak me- mendek sementara pemuda itu meraung-raung ke- panasan. Tubuhnya menggelepar, menggelinjang, bahkan meronta. Hingga pada akhirnya pemuda raksasa itu berubah ke dalam bentuk serta tinggi tubuh manusia pada umumnya. Suami istri raksasa itu tentu sangat bahagia sekali. Begitu juga halnya dengan sang anak.

"Ayah… Ibu…!" seru si pemuda "Anakku, syukurlah"

"Kami senang kau bisa menjadi manusia normal. Tapi sebelum aku menutup mata. Kalian harus ikut denganku" ujar Senggana.

"Pergi kemana suamiku?" tanya sang istri.

Senggana menjawab dingin. "Apakah tidak layak jika kita mencari Angin Pesut Setelah sekian tahun dia rampas kebahagiaan kita?"

"Tapi suamiku?"

"Tidak ada tapi-tapi ikuti aku!" perintah Senggana.

Meskipun merasa bingung melihat jalan fiki- ran suaminya yang berubah-ubah. Namun Senggini tidak berani membantah. Dia dan Anggana lalu bangkit berdiri. Kemudian mengikuti Senggana yang telah lebih dahulu berkelebat menuruni bukit

8

Hari merembang petang, suasana di sekitar lembah yang terletak di kawasan Bantul itu pun te- rasa sunyi mencekam. Di kejauhan sayup-sayup terdengar suara serangga yang menandakan seben- tar lagi suasana segera berganti dengan malam. Tak berselang lama suara bising serangga Lenyap, sua- sana di kawasan lembah hijau itu terasa semakin sunyi.

Di suatu tempat dikawasan lapangan kecil permukaan tanah tiba-tiba saja bergerak disertai ge- lombang hebat seperti air laut yang ditiup angin kencang. Lalu gerakan dipermukaan tanah menda- dak terhenti. Hanya sesaat saja karena dilain waktu terjadi satu gerakan hebat. Kemudian permukaan tanah berhamburan. Tanah pun tersibak, terbelah rengkah. Terlihat pula satu lubang menganga lebar. Dari dalam tanah muncul satu sosok yang belum je- las apa adanya.

Tapi tak lama kemudian, segala sesuatunya semakin bertambah jelas. Seiring dengan keluarnya sosok itu, tersembul satu kepala. Munculnya bagian kepala diikuti dengan bagian tubuh lainnya. Mulai dari tangan badan dan kaki. Sosok serba hitam itu kemudian muncul kepala yang lain yang disusul dengan bagian badan.

Ternyata mereka bukan hantu, atau dedemit yang baru saja keluar dari dalam perut bumi. Mere- ka adalah dua orang perempuan. Yang satunya be- rupa seorang nenek berpakaian serba hitam, wajah angker rusak mengerikan. Di kedua sudut bibir mencuat sepasang taring, Lidah terjulur panjang se- perti lidah anjing. Sedangkan hidungnya hanya be- rupa rongga besar, sumplung seperti bekas ditera- bas senjata. Selain itu di bagian dadanya yang ter- buka nampak berlubang besar, hangus menghitam seperti bekas terkena senjata tajam yang dibakar.

Keangkeran itu ditambah lagi dengan sepa- sang kakinya yang berbentuk kaki kuda, dengan ba- gian telapak kaki berbentuk runcing seperti mata tombak. Jauh berbeda dengan orang kedua. Sosok yang satunya lagi ternyata adalah seorang gadis can- tik, berpakaian putih berambut hitam panjang terge- rai. Perbedaan nenek dengan gadis itu memang ti- dak ubahnya seperti langit dan bumi. Yang satu berwajah angker seperti setan. Sedangkan satunya cantik seperti puteri raja.

Tapi nampaknya si nenek juga dalam kea- daan terluka. Terbukti wajah yang angker itu nam- pak pucat, nafas mendengus sedangkan lengan kiri terus didekapkan di bagian dada. Siapa adanya ga- dis dan nenek itu? Mereka bukan lain adalah nenek Palaslk dan Mutiara Pelangi atau yang lebih dikenal dengan julukan Puteri Kupu Kupu Putih.

Seperti telah diceritakan dalam Episode Peri- sai Maut, nenek berwajah rusak bertampang seram ini telah terlibat perkelahian dengan Angin Pesut, perempuan itu tidak dapat menerima kematian ka- kaknya Paladirja yang tewas dalam satu perkelahian beberapa waktu yang lalu dengan Angin Pesut.

Walaupun Angin Pesut sudah mengatakan penyesalannya bahkan memperjelas duduk persoa- lan yang sebenarnya. Namun nenek Palasik tidak mau mengerti dengan semua penjelasan itu. Malah dia kemudian menantang Angin Pesut Ketika bekas tokoh sesat itu menolak dan tidak melayani keingi- nan si nenek. Perempuan itu nekad menyerangnya. Akibat tak tahan menderita sakit yang hebat karena gempuran si nenek, akhirnya ilmu liar yang terdapat di dalam tubuh Angin Pesut dan dikenal dengan il- mu Ratap Langit secara tak terkendali menghantam diri perempuan itu, Mendapat serangan ilmu dah- syat dan belum ada duanya di rimba persilatan itu. Nenek Palasik yang memiliki ilmu Menyusup Bumi menderita, cidera berat.

Dalam keadaan terluka nenek Palasik ber- sama muridnya segera melarikan diri. Sedangkan Angin Pesut sendiri sengaja tak melakukan pengeja- ran. Kini setelah munculkan diri di lembah yang sunyi itu si nenek cepat mengambil kantong perbe- kalan obatnya. Sebagian obat yang berwarna kuning dan biru itu dikeluarkan, lalu menelannya sekaligus. Melihat cara gurunya menelan obat yang terkesan sembarangan membuat Mutiara Pelangi ja- di kaget.

"Guru... begitu banyak kau memakan obat apakah itu tidak membahayakan keselamatanmu?" tanya sang dara khawatir. Si nenek delikkan ma- tanya membuat nyali Pelangi jadi ciut, lalu cepat tundukkan wajahnya. Saking kesalnya, merasa tak suka ditegur, nenek Palasik membentak. "Kau gadis ingusan tahu apa. Luka dalamku begini hebat. An- gin kentut manusia setan. Aku tak sanggup menan- dinginya. Dan ini sesuatu yang sangat memalukan."

"Bukan Angin Kentut guru, tapi Angin Pe- sut...!" kata sang dara membetulkan ucapan gu- runya.

"Kampret. Mau Angin Pesut atau Angin Ken- tut bagiku sama saja. Hemm....agaknya aku harus belajar seratus tahun lagi agar aku dapat membina- sakan Angin Pesut." geram si nenek kepalkan tan- gannya

"Seratus tahun lagi kau pasti sudah jadi ta- nah dan Angin Pesut sudah pula menjadi angin be- naran!" sahut sang dara sambil berusaha menyem- bunyikan tawa

"Murid goblok. Pandai sekali engkau mem- bantah!" sekali lagi nenek Palasik mendamprat. Tapi kemudian dia jadi ingat sendiri. "Betul juga kata Pe- langi. Seratus tahun lagi aku pasti sudah menjadi tanah. Saat itu muridku sendiri mungkin sudah al- marhum." batin si nenek, lalu ia memaki ketololan- nya sendiri.

Si nenek terdiam, hawa panas akibat penga- ruh obat yang ditelannya terasa membakar rongga dada, semakin lama menjalar ke sekujur tubuhnya Si nenek keluarkan keringat dingin menahan penga- ruh hawa panas yang menyerang dirinya. Kemudian dia terbatuk beberapa kali. Batuk pertama dari mu- lut si nenek menyembur darah kental merah kehi- taman. Batuk yang kedua dari mulut, perempuan itu keluar benda putih sebesar telur burung puyuh. Si nenek cepat mengambil benda bulat tersebut, lalu buru-buru menelannya kembali. Apa yang dilakukan si nenek mengundang heran bagi Pelangi. Hingga di- apun bertanya.

"Guru, bagaimana mungkin dari mulutmu bisa keluar telur burung puyuh? Memang sejak ka- pan kau memakannya?" Lagi-lagi si nenek mendelik. "Telur burung puyuh jidadmu benjol. Yang kutelan tadi adalah jimat warisan guruku. Sudah, kau jangan banyak tanya. Aku ingin bersemedi un- tuk memulihkan tenaga dalam!" ujar perempuan tua itu. Tak berselang lama nenek Palasik telah men- gambil sikap bersila. Dua mata dipejamkan, sedang- kan dua tangan ditopangkan di atas lutut. Beberapa saat berlalu. Sekujur tubuh nenek angker itu berge- tar hebat. Pakaian dan tubuhnya basah bersimbah keringat. Sedangkan dari bagian ubun-ubun menge-

pulkan asap tipis berwarna kelabu.

Secara perlahan namun pasti wajah yang angker pucat itu nampak kemerah-merahan. Nafas nenek Palasik yang memburu, tersengal dan tidak teratur sekarang mulai berangsur normal kembali seperti sediakala. Beberapa saat berlalu perempuan tua itu masih juga tenggelam dalam semedinya. Sampai pada akhirnya dia membuka sepasang ma- tanya yang terpejam. Si nenek memandang ke depan, ternyata sang murid masih tetap duduk di tempatnya me- nunggu dengan sabar. "Pelangi...!" berkata perem- puan itu. Pelangi angkat wajahnya yang tertunduk, memandang pada gurunya namun tak sepatah ka- tapun keluar dari bibir mungil si gadis.

"Sekarang kita harus mencari Gento, pende- kar edan yang telah menghinamu itu?" ujar nenek Palasik melanjutkan ucapannya. Sang dara ber- jingkrak kaget mendengar ucapan sang guru yang tidak pernah diduganya itu. Dengan air muka beru- bah gadis itu, berucap.

"Guru, buat apa kita mencari dia? Lagipula aku tidak merasa dihina?!" Orang tua di depannya keluarkan suara mendengus.

"Bocah goblok! Pemuda itu kau bilang per- nah mengatakan suka padamu, kemudian dia ber- paling pada gadis lain dan tak menghiraukanmu la- gi. Apakah bukan menghina namanya? Itu adalah sebuah penghinaan yang tidak boleh didiamkan be- gitu saja. Pemuda itu harus diberi pelajaran biar ti- dak memandang rendah semua wanita?!" kata si ne- nek ketus.

"Guru, sebaiknya tak usah membesar- besarkan masalah. Aku yakin dia tidak bermaksud begitu kepadaku! Sudahlah, lupakan saja.!" Sepa- sang mata nenek Palasik mendelik besar. Dia mera- sa geram sekali mendengar ucapan muridnya.

"Kau ini adalah gadis tolol sedunia. Dia su- dah menyakitimu, mengapa kau bicara seperti membelanya? Bocah itu tak bisa dibiarkan. Aku akan menghajarnya, kalau perlu kuseret dia dihada- panmu!" Ucapan si nenek tentu saja membuat heran Pelangi.

"Guru apa maksudmu?"

"Hik hik hik. Apakah kau benar-benar men- cintainya?" tanya si nenek disertai tawa mengikik, sementara sepasang matanya menatap tajam gadis di depannya.

Mendapat pertanyaan seperti itu seketika wajah sang darah berubah merah jengah. Dia ter- diam sebentar, kemudian dengan tersipu-sipu dia menjawab. "Aku kurang tahu, yang jelas aku suka ingat padanya." ujar Pelangi polos. Si nenek belalak- kan matanya. "Hah...Jadi kau cuma ingat, bukan rindu?"

"Mungkin juga rindu?"

"Nah-nah...apakah kau juga sering terbayang wajahnya?" desak gurunya.

"Terbayang juga, kadang-kadang." menyahuti Pelangi sambil tundukkan wajahnya. Mendengar ja- waban muridnya nenek Palasik tertawa tergelak- gelak. Ketika tawanya lenyap dia cepat berucap. "Kau selalu mengingat, kau rindu, kau juga suka terbayang-bayang wajahnya. Tidak salah lagi itulah penyakit yang selalu menggerogoti hati manusia, te- rutama gadis atau pemuda seusiamu."

"Penyakit, aku terkena penyakit?!" desis Pe- langi bingung.

"Hik hik hik. Betul, kau terkena penyakit. Penyakit cinta namanya. Penyakit itu jika tidak dio- bati bisa melahirkan penderitaan. Jadi kau harus kuobati."

Semakin bertambah bingung saja gadis ini. Dengan polos dia bertanya. "Guru, apakah kau mempunyai obatnya?" Nenek Palasik gelengkan ke- pala.

"Obat yang kau butuhkan tak ada padaku.

Itu ada pada Gento. Jadi jalan satu-satunya harus kuseret kemari!" kata si nenek.

"Apa artinya dengan menyeret dia kemari?" "Perawan ingusan. Ternyata kau tak mengerti

juga apa maksudku. Jika kau sudah suka padanya, maka aku akan menjodohkan dia denganmu!"

Pucatlah wajah sang dara mendengar ucapan gurunya. Apa yang dikatakan si nenek sebagai sesu- atu yang sangat memalukan dan tak mungkin dila- kukan. Benar dia akui dirinya merasa suka dan se- nang pada Gento. Tapi dia tidak ingin segala sesua- tunya terjadi dengan cara dipaksakan. Sebagai wani- ta tentu dia sangat malu sekali.

"Guru... sebaiknya batalkan saja keinginan- mu itu. Kau tak perlu memaksa orang. Jika dia me- mang suka pada Nyi Sekar Langit, biarkan saja. Aku sudah merasa senang jika dia dapat hidup bahagia."

"Bahagia diatas penderitaan orang lain, begi- tu yang kau maksudkan? Tidak bisa. Jika kau men- derita dia pun harus menderita." kata si nenek tetap ngotot.

"Guru...aku...!"

"Jangan banyak bicara. Ikut denganku. Kita cari pemuda itu!" berkata begitu si nenek sambar tangan kirinya. Setelah itu tanpa berkata apa-apa lagi iapun berkelebat pergi bersama Pelangi.

9 Kita kembali pada Tapa Gedek yang baru sa- ja berhasil menguasai inti ilmu Gelombang Naga. Saat itu si kakek baru jejakkan kakinya di dalam ruangan serba biru yang terletak di bawah Liang Landak. Hawa panas luar biasa langsung menyen- gatnya begitu Tapa Gede menginjakkan kakinya di- lantai ruangan yang diwarnai kabut tersebut.

Beberapa saat Lamanya dengan sikap was- pada si kakek berdiri tegak ditempatnya. Sedangkan sepasang mata memandang liar ke setiap penjuru sudut. Anehnya Tapa Gedek tidak melihat Manusia Kelelawar yang menyerangnya tadi berada disitu.

"Mahluk terkutuk itu? Aku tak melihat tan- da-tanda kehadirannya disini. Tapi perasaanku mengatakan dia berada tidak jauh dari ruangan ber- cahaya biru ini. Ukh...tubuhku terasa panas seperti terbakar. Barangkali jika aku belum menguasai ilmu Gelombang Naga aku bisa hangus terpanggang di ruangan ini." batin Tapa Gedek.

Orang tua itu baru saja hendak melangkah lagi ketika secara tak terduga terjadi getaran hebat pada bagian dinding ruangan yang terdiri dari tanah dan batu. Si kakek sempat tercekat, nampak jelas wajahnya diliputi ketegangan. Rupanya dia khawatir jika sampai ruangan runtuh, maka dirinya pasti ter- kubur hidup-hidup di tempat itu. Ternyata getaran hanya berlangsung sesaat saja. Suasana jadi tenang kembali. Satu hal yang membuat orang tua ini men- jadi terheran-heran. Akibat getaran yang tidak begi- tu keras membuat kabut yang berada di dalam ruangan tersebut mendadak Lenyap entah kemana.

Kini Tapa Gedek dapat melihat segala sesua- tu yang berada di dalam ruangan itu secara lebih je- las. Sekali lagi Tapa Gedek kitarkan pandang. Si ka- kek kemudian jadi tertegun ketika dia melihat dua sosok berupa seorang kakek berambut putih dan gadis cantik berambut panjang duduk bersila di su- dut ruangan itu. Dua tangannya yang berkuku pan- jang diletakkan di atas pangkuan. Melihat pada dua sosok ini sekilas, keadaan maupun posisi mereka seperti patung hasil buatan tangan. Yang terasa aneh kedua patung gadis maupun patung dalam ru- pa seorang kakek itu jauh berbeda dengan berbagai jenis patung yang terdapat di dalam ruangan itu.

"Mungkinkah patung kakek dan gadis cantik itu hasil buatan manusia bermuka kelelawar yang kulihat tadi? Tapi...akh....!" Tapa Gedek keluarkan seruan tertahan begitu melihat mata patung si gadis serta merta berkedip.

"Tak dapat kupercaya. Gadis itu ternyata bu- kan patung. Dia manusia dan...!" Tapa Gedek tak dapat meneruskan ucapannya karena saat itu juga dia melihat patung dalam rupa seorang kakek juga kedap-kedipkan sepasang matanya. Sekarang sete- lah melihat dengan mata kepala sendiri. Tapa Gedek baru ingat akan sesuatu yang pernah diceritakan oleh gurunya. "Jadi...jadi mereka ini rupanya Manu- sia Patung?" desis si kakek. Ingat akan pesan gu- runya Manusia Selaksa Angin, merinding sekujur tubuh si kakek. Tengkuknya mendadak berubah dingin laksana es. Dia memandang ke arah dua ma- nusia patung itu. "Patung gadis itu seluruhnya ber- warna putih. Pakaiannya tipis membayangkan au- ratnya. Jadi gadis itu adalah Patung Putih. Dan pa- tung kakek disebelahnya seluruh badan berwarna hitam. Mungkin dialah Patung Hitam. Jika benar apa yang dikatakan oleh guru. Berarti patung- patung ini hidup atas kesaktian seseorang yang mempunyai kesanggupan menangkap roh gentayan- gan, lalu memasukkannya ke dalam diri patung yang dikehendaki!"

Si kakek terdiam. Fikirannya melayang jauh. Semua kata-kata sekaligus pesan yang disampaikan oleh gurunya sebelum dia ditugaskan mengambil kembali Kitab Gelombang Naga yang pernah dicuri oleh Angin Pesut kini terngiang kembali di telin- ganya.

Satu purnama yang lalu sebelum keberang- katan Tapa Gedek, dalam keheningan malam yang dingin. Guru si kakek yang selalu berlindung di ba- lik dinding pondok sempat berkata. "Tapa Gedek. Usiamu tidak muda lagi. Namun umurmu juga terus bertambah. Perjalanan hidup manusia, susah se- nang seiring dengan berlalunya sang waktu semakin mendekati ajal. Sejalan dengan bertambahnya umur, maka waktu kehidupan manusia itu semakin ber- tambah sempit. Amat merugilah dirimu jika kau ti- dak mau menggunakan kesempatan serta waktu yang ada padamu. Muridku, kehidupan manusia di dunia ini amat penuh dengan tantangan, cobaan, serta godaan. Selain itu, kelicikan, ketidak jujuran, fitnah keji serta keserakahan dan kemunafikan da- pat kau lihat terjadi dimana-mana. Terkadang tin- dak tanduk dan perbuatan manusia malah lebih keji dari binatang. Lebih dari itu muridku, satu hal yang harus kau ingat. Dunia ini memang indah, tapi keindahan yang bersifat memperdaya."

"Apakah ini ada hubungannya dengan diriku yang bujang lapuk dan kere guru?" tanya si kakek. Dari balik dinding pondok terdengar suara tawa pendek. "Aku tak pernah bicara tentang diri seseo- rang secara khusus. Mengenai rejeki, jodoh serta maut yang ada pada dirimu, itu sepenuhnya berada di tangan Gusti Allah. Manusia hanya sanggup be- rusaha. Tidak lebih dan itu. Dan sudah menjadi wa- tak tabiat manusia, tak pernah merasa cukup. Sam- pai datangnya ajal menjemput."

"Selain kitab Gelombang Naga itu, apa lagi yang harus kulakukan, guru?" tanya Tapa Gedek.

"Jika kitab Gelombang Naga telah kau da- patkan, maka kau harus sanggup menguasai il- munya. Ilmu Gelombang Naga adalah ilmu langka satu-satunya yang terdapat di delapan penjuru an- gin. Kelak kau akan bertemu dengan seorang pende- kar sakti. Tapi sebelum itu terjadi, kuharap kau berhati-hatilah bila bertemu dengan Manusia Pa- tung."

"Manusia Patung...siapakah dia?" tanya Tapa Gedek tak mengerti.

"Manusia Patung sebenarnya hanyalah se- buah patung. Tapi jika seseorang memasukkan roh penasaran kedalam diri patung itu, dia akan menja- di hidup dan dapat diperintah untuk melakukan ke- jahatan apa saja. Manusia Patung lebih ganas dari iblis sesat. Untuk menghancurkannya juga sulit. Terkecuali kau sanggup membunuh sumber yang menghidupkannya."

"Guru, siapa orang yang kaumaksudkan itu?

Dan dia tinggal dimana?"

"Manusia sakti yang sanggup memindahkan arwah gentayangan ke dalam patung memiliki julu- kan Bumelang nama yang sesungguhnya adalah Pati Raga. Manusia yang satu itu memiliki kesaktian yang sudah sampai pada puncaknya, sampai pada taraf mumpuni. Usianya sudah ratusan tahun. Sayang aku tak mengetahui secara pasti dia tinggal atau berada dimana!" ujar sang guru.

"Baiklah. Aku akan ingat semua pesanmu, guru. Sekarang murid mohon pamit, mohon diri." kata Tapa Gedek.

"Pergilah Tapa Gedek. Dari sini aku selalu berdoa untuk keselamatan. Kelak bila kitab dapat kau ambil kembali, dari tempat ini pula aku akan memberi petunjuk selanjutnya mengenai apa yang harus kau lakukan!" ujar si kakek dari balik dind- ing.

"Petunjuk selalu aku harapkan guru. Karena walaupun aku sudah tua, muridmu ini suka berlaku tolol disamping juga mudah lupa." selesai berkata Tapa Gedek menjura hormat, setelah itu dia bangkit berdiri, balikkan badan kemudian meninggalkan pondok.

* * *

Lamunan Tapa Gedek buyar seketika begitu keheningan di dalam ruangan serba biru serta merta dipecahkan oleh satu suara teriakan mengguntur menyakitkan telinga. Laksana kilat si kakek me- mandang ke arah dua Manusia Patung, Patung Hi- tam dan Patung Putih. Ternyata bukan patung itu yang berteriak. Dalam kaget Tapa Gedek alihkan perhatian ke arah terowongan yang dia perkirakan sebagai jalan satu-satunya keluar dari tempat itu. Selagi Tapa Gedek memandang ke arah itu. Dia me- lihat satu bayangan hitam berkelebat melewati tero- wongan. Dilain saat si kakek merasakan ada angin menyambar tubuhnya. Tapa Gedek melompat hinda- ri sambaran angin, lalu berdiri dua tindak di bela- kang. Sejurus Tapa Gedek memandang ke depan. Dan didepannya kini telah berdiri tegak satu sosok berwajah seperti kelelawar, bermulut hitam panjang runcing dengan sepasang taring panjang mencuat.

"Manusia kelelawar!" desis Tapa Gedek.

Sosok di depannya sunggingkan seringai buas. Sepasang matanya yang merah menyala me- natap tajam pada si kakek. Lalu terdengar suara erangan. "Hidup terpendam selama lima puluh ta- hun. Baru hari ini ada orang dari dunia bebas yang sampai ke tempat ini. Kakek tua siapakah dirimu ini? Katakanlah sebelum aku membunuhmu!" ben- tak Manusia Kelelawar sengit. Tapa Gedek golang ge- lengkan kepala. Dia tersenyum.

"Tidak ada angin tidak ada hujan. Tidak ada silang sengketa tidak ada persoalan, enak saja kau mau membunuhku?"

"Hidup di dalam perut bumi panasnya seperti di neraka. Sudah banyak orang yang terbunuh di dalam Liang Landak ini tanpa sebab silang sengketa. Di tempat ini sama seperti dengan di rimba Persila- tan. Siapa yang kuat dia yang menang. Kehadiran- mu disini telah mengurangi persediaan udara yang ada. Pertanyaanku hanya sekali, siapa dirimu?"

"Aku Tapa Gedek."

"Tapa Gedek. Satu nama yang pernah hadir dalam mimpiku. Hemm... ha ha ha. Agaknya kau manusia satu-satunya yang mampu menjebol penu- tup batu makam di ujung terowongan itu sebagai ja- lan satu-satunya menuju kebebasan! Kalau begitu kematianmu bisa ditunda. Sekarang kau ikuti aku!" kata Manusia Kelelawar.

Tanpa bicara lagi, sosok berkepala dalam ru- pa setengah manusia setengah kelelawar yang kedua tangannya ditumbuhi sayap kulit itu memutar tu- buh lalu berkelebat ke arah terowongan menuju liang kubur yang terletak di ujung terowongan.

"Manusia Kelelawar, siapa dia dan apa ren- cananya aku tidak tahu. Yang jelas aku harus ber- hati-hati." fikir Tapa Gedek. Tak lama kemudian ka- kek itu melangkah mengikuti manusia kelelawar. Sementara sepeninggalnya Tapa Gedek dan Manusia Kelelawar. Dua Manusia Patung yang duduk di su- dut ruangan biru nampak pula bergerak-gerak. Ke- dua mata terbuka lebar. Dua tangan yang berada di atas pangkuan bergerak-gerak. Selanjutnya mereka bangkit berdiri.

"Manusia Kelelawar telah menemukan orang untuk membuka jalan menuju kebebasan. Patung Putih, mari kita ikuti mereka!" kata patung berujud seorang kakek dengan suara parau, begitu jelas.

"Patung Hitam. Agaknya kita merasa perlu membantu Manusia Kelelawar untuk membereskan tamu tak diundang itu!' ujar si gadis.

"Buat apa. Manusia Kelelawar bukan maji- kan kita. Bukan pula orang yang telah menghi- dupkan kita. Pengabdian kita hanya pantas kita be- rikan pada Bumerang. Kalau perlu Manusia Kelela- war juga harus kita singkirkan. Orang itu terlalu berbahaya dan haus darah."

"Untung kita tidak mempunyai darah. Kita hidup tanpa darah, tak pernah makan tidak juga minum. Hik hik hik."

"Ya, kita juga tidak memiliki jantung. Tapi punya keinginan dan nafsu. Ha ha ha!" kata Patung Hitam. Dua manusia Patung sama berdiri, saling be- rangkulan sama berpelukan. Kemudian mereka mencium satu sama lain. Terdengar suara tawa mengikik. Setelah itu mereka melepaskan pelukan- nya masing-masing. Dua Manusia Patung memutar tubuhnya, lalu sama melangkah menelusuri tero- wongan. Setiap langkah mereka pasti disertai den- gan suara berdentum. Tanah di sekitarnya pun ber- getar seperti dilanda gempa.

Sementara itu Tapa Gedek telah sampai di ujung lorong. Bagian ujung lorong ternyata merupa- kan sebuah ><><>hal92><><> tak lebih dari seten- gah tembok sedangkan panjangnya hampir dua tombak. Di sudut kubur terdapat sebuah gelondon- gan kayu peti mati dalam keadaan tertutup rapat. Agaknya itulah peti mati tokoh sesat yang dikubur- kan di tempat itu beberapa abad silam.

Setelah memperhatikan bagian dalam liang kubur yang sempit itu Tapa Gedek berpaling pada Manusia Kelelawar. Sosok serba hitam bersayap ku- lit macam jubah menunjuk ke atas.

"Langit-langit batu penutup makam. Berta- hun-tahun aku berusaha menjebolnya tapi tak per- nah berhasil!" menerangkan sosok berwajah lancip.

"Kau mengira aku Sanggup menjebolnya?!" tanya si kakek disertai seringai sinis.

"Paling tidak begitulah yang kudapatkan da- lam mimpiku!" jawab Manusia Kelelawar acuh tak acuh. "Langit-langit penutup liang kubur ini ting- ginya hanya tiga jengkal diatas kepalaku. Aku bisa saja melepaskan salah satu pukulan sakti. Tapi jika gagal, kemudian pukulan itu berbalik. Aku bisa ce- laka!" Manusia Kelelawar tertawa panjang. Begitu suara tawanya Lenyap dia berkata, "Persetan dengan dirimu. Jika kau mampus terkena pukulanmu sen- diri, bagiku itu lebih baik.”

"Manusia tak karuan berujud, apa kau men- gira aku takut denganmu. Udara disini semakin ber- tambah panas. Kau menyingkirlah, akupun ingin bebas dari tempat celaka ini!" kata Tapa Gedek.

Manusia Kelelawar menyeringai. Dia melang- kah mundur, masuk kembali ke dalam mulut tero- wongan sejauh tiga tombak dari liang kubur. Begitu manusia setengah mahluk menjijikkan itu berlalu Tapa Gedek tekuk kaki kanannya hingga posisi orang tua ini setengah berjongkok. Dia dongakkan wajahnya, memandang ke langit-langit yang bukan lain adalah batu tebal penutup kubur. Dalam hati dia berkata. "Jika Manusia Kelelawar tak sanggup menjebol penutup makam ini. Berarti langit-langit batu itu bukan benda biasa. Manusia Kelelawar aku yakin memiliki kesaktian tinggi. Dia hidup ratusan tahun. Kesaktiannya sulit dijajagi. Aku tak mungkin menggunakan pukulan Delapan Tinju Mabuk, atau pukulan Tiga Topan Menggulung Bumi. Jika kugu- nakan pukulan Tanpa Ujud andai sampai gagal dan penutup liang kubur tak dapat kuhancurkan. Aku khawatir pukulan berbalik. Sekali aku terkena pu- kulan itu, tubuhku bisa hancur tanpa bentuk. Agaknya aku harus menggunakan ilmu pukulan Ge- lombang Naga. Mudah-mudahan bisa berhasil. Aku juga ingin tahu seberapa hebat kedahsyatan ilmu yang baru kukuasai itu!" fikir si kakek.

Orang tua ini menarik nafas, setelah menye- ka keringat yang membasahi wajahnya Tapa Gedek pun segera mengerahkan tenaga dalam yang dia mi- liki. Tenaga dalam itu kemudian disalurkannya ke bagian tangan. Mulut Tapa Gedek komat-kamit membaca lapal mantra pembangkit ilmu Gelombang Naga. Tak berselang lama sekujur tubuh si kakek bergetar hebat. Asap tebal mengepul menyelimuti di- rinya. Sosok Tapa Gedek seolah Lenyap, samar- samar Manusia Kelelawar melihat dari bagian ubun- ubun sosok si kakek yang bergetar muncul bayan- gan sosok kepala naga. Bayangan sosok dalam ujud ular naga itu terus meliuk-liuk. Mula-mula bagian kepala, kemudian badan yang akhirnya disusul den- gan bagian kaki. Ternyata bayangan naga berwarna putih itu tidak sendiri, karena kemudian dari bagian ubun-ubun si kakek muncul lagi satu kepala dalam rupa dan warna yang sama. Selanjutnya muncul lagi naga ke tiga dalam ukuran lebih besar terkesan le- bih buas dan beringas. Sosok Tapa Gedek lenyap. Yang terlihat di mata Manusia Kelelawar hanya be- rupa sosok ular naga berwarna putih besar, dengan bagian leher bercabang dan berkepala tiga.

Selanjutnya terdengar suara raungan dah- syat luar biasa disertai suara bergemuruh seperti suara gelombang air laut ditengah hujan badai. Lalu di tengah-tengah suara lengkingan dan gemuruh menggila terlihat ada tiga bola api melesat keluar da- ri mulut kepala naga putih yang terbuka menganga.

Tiga bola api menghantam langit-langit penu- tup kubur. Satu Ledakan keras menggelegar. Batu penutup makam yang kerasnya melebihi baja han- cur berkeping-keping. Serpihan batu penutup kubur berhamburan di udara. Manusia Kelelawar jatuh terpelanting terkena getaran Ledakan. Sejenak La- manya kubur yang telah terbuka menganga menjadi gelap tertutup debu. Sosok Naga Putih berkepala ca- bang tiga melesat keluar disertai suara raung dah- syat. Tak berselang lama suara raungan aneh 6ergemuruh seperti badai, lenyap. Debu-debu yang menutup pemandangan sirna. Tak jauh dari sisi ku- bur yang menganga berdiri tegak Tapak Gedek. So- sok naga putih berkepala tiga yang sudah menghan- curkan batu penutup kubur lenyap entah kemana.

Tapa Gedek dengan wajah kuyu menarik na- fas pendek. Dia palingkan kepala, memandang ke arah kubur yang menganga. Justeru pada saat itu satu bayangan hitam berkelebat keluar. Lalu jejak- kan kaki di depan Tapa Gedek

"Orang tua, kemana perginya naga putih berkepala tiga tadi?" tanya Manusia Kelelawar terhe- ran-heran. Sedangkan matanya memandang kesege- nap sudut penjuru tanah pemakaman. Yang ditanya nampak kebingungan.

"Naga putih berkepala tiga? Manusia Kelela- war aku sama sekali tidak tahu apa maksudmu? ' ujar Tapa Gedek kebingungan.

"Ha ha ha. Kau telah mengerahkan ilmu Ge- lombang Naga. Kemudian kulihat dirimu lenyap. Berganti dengan sosok naga putih besar berkepala tiga. Kau tak menyadari apa yang terjadi dengan di- rimu. Bagus. Kebetulan sekali. Kini aku telah bebas. Agar tidak menjadi penyakit di kemudian hari. Se- perti yang telah kukatakan aku harus membunuh- mu!" dengus Manusia Kelelawar. Bukannya terkejut. Tapa Gedek tetap unjukkan sikap tenang.

10

Beberapa saat kedua orang ini saling beradu pandang. Tapa Gedek kemudian sunggingkan seulas senyum. Dengan tenang dia berucap. "Manusia Kele- lawar. Ternyata di dalam jiwamu perilaku binatang lebih menonjol dari pada sikap serta watak yang se- harusnya dimiliki oleh manusia. Aku tidak ubahnya seperti menolong anjing yang terjepit. Begitu kau kubebaskan dari segala beban derita yang meng- himpitmu, kau malah hendak menggigitku. Tapi jangan kira aku takut padamu. Jika kau inginkan nyawaku ambillah sendiri. Ingat, waktuku sempit sekali. Aku harus membantu salah seorang sahabat guruku!" ujar si kakek.

"Membunuhmu bukan pekerjaan yang sulit. Aku tak perlu membutuhkan waktu yang lama!" Ba- ru saja Manusia Kelelawar selesai berucap, laksana kilat dia kibaskan kedua tangannya ke arah si ka- kek. Karena tangan itu ditumbuhi semacam sayap berupa kulit yang lebar seperti jubah. Maka begitu kedua tangan lawan dikibaskan menderulah segu- lung angin yang membuat si kakek jatuh terpelant- ing Laksana dihantam angin topan.

Sementara itu Manusia Kelelawar begitu ki- baskan tangannya yang bersayap berkelebat lenyap dari pandangan mata. Tapa Gedek begitu dapat bangkit berdiri jadi terkejut melihat lawan lenyap dari hadapannya. Ketika dia mendengar suara des- ing di udara, Tapa Gedek langsung dongakkan kepa- la memandang ke atas. Ternyata Manusia Kelelawar terbang di atasnya, kemudian menukik tajam, me- nyambar ke arah si kakek sambil hantamkan kedua tangan serta sayapnya.

Belum lagi tangan sayap itu menyentuh tu- buh si kakek, sambaran anginnya saja sudah mem- buat orang tua itu terjajar ke belakang. Tapa Gedek tentu tidak ingin dirinya menjadi sasaran serangan lawan. Sambil jatuhkan diri ke samping kakek itu hantamkan tangannya ke arah Manusia Kelelawar. Yang diarahnya adalah dada dan sayap lawan. Yang dilepaskannya adalah pukulan Delapan Tinju Ma- buk.

Manusia dengan berkepandaian tinggi seka- lipun paling tidak pasti menderita cidera berat bila terkena pukulan ini. Tapi Manusia Kelelawar hanya bergetar. Terdorong mundur sejauh dua tindak. Dengan posisi terbang rendah dia kembali menyerbu ke arah si kakek. Tapa Gedek gelengkan kepala. Ba- ru saja bangkit dia harus berjibaku selamatkan diri hindari tebasan sayap lawannya.

Serangan Manusia Kelelawar luput. Sayap- nya menghantam nisan dan pohon besar di belakang Tapa Gedek. Batu nisan hancur berkeping-keping. Pohon besar berderak roboh disertai suara mengge- muruh hebat. Bekas hantaman sayap tidak ubahnya seperti ditebas senjata tajam. Gagal membunuh la- wannya, Manusia Kelelawar melesat ke udara. Ter- bang membubung tinggi, berputar-putar untuk se- lanjutnya menukik ke bawah siap menghantam ke- pala Tapa Gedek. Kakek itu tidak tinggal diam.

Dia jejakkan kaki, hingga tubuhnya melesat ke udara. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh kini dia jejakkan kakinya di atas cabang po- hon. Lawan nampaknya tidak lagi memberi kesem- patan padanya. Laksana kilat Manusia Kelelawar meluncur ke arah pohon, lalu...

Cras! Cras! Craas! Braak!

Buum!

Satu kenyataan yang sulit dipercaya terjadi. Tapa Gedek bahkan sampai delikkan mata, mulut ternganga lebar seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Secara mengerikan cabang pohon besar yang jumlahnya mencapai puluhan terbabat putus, berjatuhan diatas tanah kubur seperti diterabas sen- jata. Kini posisi si kakek tak terlindung lagi. Pohon besar itu benar-benar menjadi gundul sampai ke pucuknya. Bertahan pada batang pohon, si kakek menyadari lawan tak mungkin dapat dihadapi den- gan pukulan saktinya. Merasa tidak punya pilihan lain, maka diapun segera merapal ilmu ajian Gelom- bang Naga.

Belum lagi selesai Tapa Gedek membaca mantra-mantranya. Manusia Kelelawar berkelebat lagi ke arah pohon yang gundul. Tiga gerakan dari pucuk pohon hingga ke bagian bawah batang dila- kukannya.

Crees! Crees! Cres! Buum!

Pohon besar yang telah menjadi gundul ter- babat putus di tiga bagian. Robohnya pohon tentu saja membuat Tapa Gedek ikut terbanting. Lebih ce- laka lagi pertengahan batang pohon menimpa tubuh si kakek. Mustahil Tapa Gedek dapat selamatkan di- ri dari himpitan batang pohon tersebut. Terkesan tak perduli, tanpa menghiraukan rasa sakit yang menderanya pula si kakek terus merapal mantra ajian Gelombang Naga.

Sementara itu dari atas sana lawan kembali menukik siap menghabisi Tapa Gedek. Satu tombak lagi sayap dan tangan lawan mencabik hancur tu- buh Tapa Gedek, tetapi tiba-tiba terdengar suara te- riakan dahsyat dari mulut si kakek. Dari sekujur tubuh orang tua itu muncul kabut tebal yang segera menyelimuti dirinya. Apa yang terjadi ketika si ka- kek berada di dalam lubang kubur terulang kembali. Dari ubun-ubun Tapa Gedek muncul satu kepala berwarna putih. Kepala seekor naga. Kemunculan kepala yang pertama disusul dengan munculnya ke- pala naga yang kedua dan ketiga. Mendadak angin bertiup kencang disertai suara bergemuruh menggi- dikkan. Sosok Tapa Gedek Lenyap. Suara raung, lo- long dan gemuruh laksana badai di laut makin menghebat. Sosok Tapa Gedek yang diselimuti kabut seketika lenyap. Kini di tempat itu muncul sosok na- ga putih dengan besar luar biasa berkepala tiga. Bi- natang itu mengamuk, bagian ekornya melibas apa saja yang terdapat disekitarnya. Tiga kepalanya mendongak ke atas, mulut yang bergigi runcing ter- buka. Tiba buah lidah yang bercabang terjulur me- nyambar ke arah sayap Manusia Kelelawar. Meski- pun sayap Manusia Kelelawar setajam mata pedang. Tapi lidah naga putih berkepala tiga ini jauh lebih tajam dari pedang. Ketika terjadi benturan antara dua sayap Manusia Kelelawar dengan tiga lidah naga terdengar seperti ada sesuatu yang robek.

Manusia Kelelawar terpental ke belakang dan dia menjerit begitu sayap kanannya robek besar mengucurkan darah terkena sambaran lidah naga tersebut. Tapi orang ini ternyata memiliki nyali luar biasa besar. Walaupun terluka dia kembali menye- rang badan sang naga putih. Yang diserang juga ti- dak bodoh. Tiga kepala dengan satu badan itu lang- sung meliuk bergerak merendah menyambut seran- gan lawan Manusia Kelelawar yang siap hunjamkan taring-taringnya yang mencuat panjang terpaksa ba- talkan serangan. Lalu memutar badan sambil ke- pakkan sayapnya. Tapi secara tak terduga, ekor na- ga putih terangkat ke atas lalu melibas tubuh la- wannya.

Braak! "Akkkh!"

Disertai jeritan keras, Manusia Kelelawar ja- tuh terpental. Tubuhnya bergulingan akibat demi- kian kerasnya hantaman ekor lawannya. Begitu ge- rakan tubuhnya terhenti, dari mulutnya menyem- burkan darah. Naga berkepala tiga itu tak memberi kesempatan. Dia balikkan badan dan segera mem- buru ke arah lawannya.

Merasa tak sanggup menghadapi lawannya. Manusia Kelelawar dalam keadaan cidera di bagian dalam, serta terluka pula di bagian sayapnya segera pula gerakkan kedua tangan.

Wuuut!

Mendadak tubuh kelelawar itu melambung tinggi ke udara. Kemudian berputar-putar sebanyak dua kali selanjutnya bergerak ke arah timur, lalu le- nyap dari pandangan mata. Baru saja Manusia Kelelawar menghilang da- ri pandangan mata dari dalam liang kubur yang ter- buka muncul seorang kakek berkulit hitam serta gadis berkulit putih berpakaian putih tipis tembus pandang. Kemunculan dua Manusia Patung itu ten- tu saja diluar dugaan Tapa Gedek yang kini telah kembali dengan ujud asli. Tapa Gedek gelengkan ke- pala dan palingkan wajahnya ke jurusan lain begitu melihat penampilan si gadis yang demikian menggo- da. Dalam hati dia berkata. "Dia pasti dua patung yang kulihat di sudut ruangan serba biru tadi. Wa- lau cuma patung, di dalamnya bersemayam roh ja- hat. Siapapun pasti tergoda melihat penampilannya itu. Aku sendiri tak mungkin menggunakan ilmu Ge- lombang Naga terus menerus."

"Kakek hebat. Tadi kami sempat mendengar suara gemuruh seperti gelombang besar di laut. Ka- mi juga mendengar suara teriakan aneh seperti sua- ra naga. Adakah dirimu seekor naga?" tanya kakek hitam.

"Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan, patung hidup." sahut Tapa Gedek ketus.

"Ah... rupanya kau mengetahui siapa kami adanya." Patung gadis berkulit putih ikut bicara. Disertai senyum genit dan basahi bibir dengan lidah gadis itu melanjutkan ucapannya. "Orang tua meskipun aku juga patung tapi aku mempunyai se- suatu yang sama seperti gadis pada umumnya. ka- lau kau mau tidur denganku, aku bersedia melaya- nimu sebagaimana layaknya suami istri. Hik hik hik." Tapa Gedek meludah. Mendengar ucapan gadis itu perutnya terasa mual dan ingin muntah. "Patung Putih... dan kau Patung Hitam. Tak usah kau meng- gunakan tipu daya untuk memuslihati diriku. Aku tahu sejarah keberadaan kalian. Sebelum aku beru- bah fikiran sebaiknya kalian pergilah yang jauh. Bu- kankah lebih baik kalian mencari Bumerang? Orang yang telah membuat kalian hidup seperti sekarang?" dengus si kakek.

Terkejutlah Patung Hitam dan Patung Putih mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Tapa Ge- dek. Kakek dan gadis itu saling melempar pandang. Mereka kemudian nampak bicara satu sama lain dengan bahasanya sendiri. Bahasa yang cuma beru- pa racun yang tidak dimengerti oleh Tapa Gedek. Tak lama setelah itu Patung Hitam berkata dituju- kan pada Tapa Gedek. "Orang tua, aku ingin menga- jukan satu pertanyaan. Kemanakah perginya Manu- sia Kelelawar?"

"Ha ha ha! Apakah bangsat bersayap itu sa- habat kalian?" tanya si kakek. Patung Putih dengan cepat menyahuti. "Kami bangsanya patung tidak mengenal kata sahabat. Kehidupan kami hanyalah untuk orang yang telah memasukkan arwah kami ke dalam patung ini."

"Patung cantik. Jika kalian ingin tahu. Ma- nusia Kelelawar membawa lukanya ke neraka. Apa- kah kalian sudah puas dengan jawabanku ini?"

"Ah, kau sanggup mengalahkan Manusia Ke- lelawar? Berarti kau adalah orang tua sakti yang perkasa." puji Patung Hitam. "Apakah kau masih ti- dak mau bersenang-senang dengan gadis ini? Dia adalah gadis menyenangkan yang sangat luar biasa sekali."

"Persetan dengan semua ucapanmu. Aku ti- dak punya waktu dan tidak akan pernah bermaksiat dengan perempuan manapun apalagi cuma manusia patung!" dengus Tapa Gedek. Kemudian tanpa bica- ra lagi si kakek balikkan badan dan segera pula ber- kelebat pergi. Dua manusia patung tidak mengejar. Mereka saling berpandangan. Si gadis berkata den- gan nada menyesal.

"Sayang sekali dia tak mau bersenang- senang denganku. Jika dia dapat kuperdaya, tentu seluruh ilmu sekaligus tenaga sakti yang dia miliki pasti berpindah ke tubuhku."

"Tak usah gusar. Kesempatan masih banyak. Untuk merampas kesaktian dari orang yang mau kau cumbui masih terbuka. Kelak jika seluruh orang-orang berkepandaian tinggi bertekuk lutut di bawah kakimu. Di saat itu baru terbuka jalan untuk menentukan Langkah selanjutnya. Sekarang kita harus pergi. Masih banyak calon korban, masih ba- nyak sasaran yang dapat kita raih!" ujar si kakek. Si gadis cantik anggukkan kepala. Kemudian melang- kah pergi meninggalkan Liang Landak.

11

Empat sosok tubuh tergeletak kaku dengan sekujur tubuh membiru keracunan. Dibalik pakaian dada yang terbuka terlihat satu luka menghitam be- kas sentuhan lima jari telapak tangan. Satu dari empat mayat laki-laki bersenjata pedang itu pa- kaiannya dalam keadaan terbuka seperti orang yang baru saja hendak buang hajat.

Keberadaan mayat di pinggir sungai itu tentu saja mengundang perhatian seorang kakek berpa- kaian hitam, berambut dan beralis merah yang ke- betulan melintas daerah itu. Si kakek yang adalah Angin Pesut alias Iblis Tujuh Rupa Bayangan adanya memperhatikan mayat itu sejenak, kemudian sambil berjongkok dia memeriksa keempat mayat itu satu demi satu.

Tak lama kemudian dia menarik nafas, lalu berdiri sambil gelengkan kepala berulang-ulang. "Mereka semua tewas akibat terkena racun. Tidak ada luka di bagian dalam terkecuali luka di dada. Melihat luka ini nampaknya hanya sekedar usapan saja. Tapi mengapa akibatnya begini fatal? Dan mayat yang satunya itu. Hem... agaknya dia hendak melakukan kekejian terhadap seseorang. Agaknya mereka menemui batu sandungan. Orang yang hen- dak dijadikan korban memiliki ilmu lebih tinggi. Me- reka terpedaya. Aku tidak mengenal siapa mereka. Namun melihat penampilan serta pakaian yang me- reka pakai, mungkin orang-orang ini hanya kawa- nan perampok yang konon kabarnya sering berkelia- ran di tempat ini!" batin si kakek dalam hati.

Dengan tatap mata tak bersemangat sekali lagi dia memperhatikan ke empat mayat yang berada di depannya. Setelah itu si kakek melangkahkan ka- kinya menyisir tepian sungai berbatu. Tapi baru be- berapa tindak dia mengayunkan Langkah, secara tak terduga satu benda bulat berwarna hitam me- layang ke arahnya. Jika si kakek tidak cepat meng- hindar sambil rundukkan kepala. Benda yang mele- sat ke arahnya itu dapat dipastikan menghantam wajahnya.

Praak!

Terdengar suara benda pecah menghantam batu di belakangnya. Si kakek cepat balikkan badan dan memeriksa benda bulat itu. Astaga! Angin Pesut tercekat sambil belalakkan mata. Benar dulu dia sering melakukan pembantaian, membunuh dengan sewenang-wenang. Tapi kejadian itu telah berlang- sung lama. Setelah dirinya bertobat dan tidak per- nah membunuh lagi. Melihat benda yang ternyata adalah penggalan kepala itu tanpa sadar membuat tengkuknya berubah menjadi dingin.

Si kakek cepat memandang ke arah mana potongan kepala tadi dilemparkan orang. Tapi dia ti- dak melihat apapun, karena kawasan di pinggir sungai itu ditumbuhi semak belukar lebat. Siapapun yang bersembunyi di situ tak mungkin dapat dilihat. Selagi si kakek termangu. Kesunyian di tepi sungai itu dipecahkan oleh terdengarnya suara tawa yang teramat dingin menyeramkan.

"Hik hik hik. Empat laki-laki tolol tewas ke- racunan. Yang menjadi pimpinannya telah kupeng- gal pula kepalanya. Kini datang orang yang selama ini kucari. Orang yang harus kubunuh dengan tan- ganku sendiri. Begitulah tugas yang harus kujalan- kan. Titah itu telah kusanggupi, kujunjung diatas kepalaku. Orang tua... melihat penampilanmu. Ku- rasa tidak salah jika aku menduga dirimu adalah Angin Pesut, manusia dengan gelar Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan!" kata satu suara sambil terus umbar tawanya.

Sebagai bekas tokoh sesat yang sudah ke- nyang malang melintang di rimba persilatan. Se- sungguhnya Angin Pesut tidak akan heran bila begi- tu banyak orang yang mengenal siapa dirinya. Yang membuatnya kaget, suara tawa yang didengarnya Jelas suara tawa perempuan muda. Mungkin usianya belum sampai dua puluh tahun. Dengan si- kap tenang Angin Pesut akhirnya menyahuti. "Kau tak salah menduga. Aku memang ingin Pesut. Aku tak perlu bertanya mengapa kelima laki-laki itu kau bunuh. Tapi jika kau memang punya keperluan denganku. Sebaiknya tunjukkan dirimu, datang ke- mari dan katakan apa kepentinganmu!" ujar si ka- kek.

Kembali terdengar suara tawa menggeledek. Semak belukar di seberang kanan sungai tersibak. Satu kepala tersembul, kemudian berkelebat ke arah Angin Pesut. Melihat gerakan orang, si kakek mak- lum gadis yang melesat ke arahnya itu pasti memili- ki ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sem- purna.

Tak lama kemudian di depan si kakek berdiri tegak seorang gadis berpakaian merah ketat. Gadis itu berwajah cantik, rambutnya panjang tergerai. Sedangkan dipinggangnya tergantung sebilah pe- dang. Yang menarik perhatian Angin Pesut. Bagian rangka pedang bukan terbuat dari kayu atau besi. Melainkan berasal dari sepotong lengan tangan en- tah milik siapa. Melihat pada potongan dan bentuk pedangnya, Angin Pesut dapat memastikan senjata yang tergantung di pinggang si gadis pasti bukan senjata sembarangan.

Yang aneh, si kakek dadanya berguncang ke- ras begitu memandang ke arah sang dara.

"Orang tua... aku datang untuk mencabut nyawamu" hardik si gadis dingin. Angin Pesut terse- nyum arif. Sama sekali dia tidak merasa tersing- gung. Malah dengan lembut dia berkata. "Gadis jelita siapa namamu? Agaknya kau memiliki suatu ganjalan besar terhadapku. Atau mungkin aku pernah berlaku salah pada orang tua- mu?"

"Aku tidak punya orang tua." jawab gadis itu polos. Kembali darah si kakek berdesir mendengar jawaban sang dara.

"Lalu dendam siapa yang hendak kau ba- laskan?"

"Dendam guruku!" dengus si gadis. Angin Pesut tersenyum tipis.

"Mengapa gurumu tidak datang langsung ke- padaku?" tanya si kakek.

"Untuk menghadapi manusia sepertimu. Gu- ruku tak perlu repot mengotori tangannya dengan darah busukmu!"

"Darahku memang busuk. Tapi terus terang kau tidak bakal sanggup membunuhku!" jawab si kakek.

"Kau manusia sombong. Terlalu memandang remeh orang lain. Aku tidak akan membiarkanmu hidup!" dengus si gadis.

"Baiklah. Jika kau tetap bersikeras dengan pendirianmu tidak mengapa. Tapi sebelum itu kata- kan siapa dirimu, siapa pula gurumu?!" ujar Angin Pesut.

"Tua bangka, kau dengar baik-baik. Namaku Indah Sari Purnama. Adapun nama guruku aku ti- dak akan mengatakannya padamu!" jawab si gadis. Angin Pesut terdiam. Dalam hati dia berkata. "Gadis ini mengapa jantungku berdebar-debar begitu aku melihatnya? Wajahnya sangat mirip sekali dengan Serimbi. Mungkinkah dia anakku? Sayang sekali ke- tika dia diculik orang aku belum sempat membe- rinya nama. Hanya ada satu jalan untuk mengenal- nya. Aku harus bisa melihat punggungnya. Di ba- gian punggung anakku dulu terdapat sebuah tahi la- lat. Tapi itu agaknya tidak mudah untuk kulaku- kan!" fikir si kakek.

"Angin Pesut bersiaplah untuk menghadap malaikat maut!" teriak Indah Sari. Berkata begitu tanpa memberi kesempatan lagi pada Angin Pesut sang dara berkelebat ke depan lancarkan satu se- rangan ganas yang langsung mengarah pada bagian mata si kakek.

Sadar gadis ini bukan lawan sembarangan, Angin Pesut tentu saja segera melompat hindari se- rangan sang dara. Wuuut! Serangan yang dilancar- kan lawan dapat dielakkannya. Namun begitu se- rangannya luput gadis ini langsung berbalik dan kini menyerang bagian tulang punggungnya. Si kakek terkesiap. Dia melesat ke depan. Dalam hati Angin Pesut menjadi sangat kaget karena tak pernah men- duga lawan menyerangnya di bagian yang memati- kan.

"Celaka! Nampaknya dia mengetahui kele- mahan ku? Dia menyerang bagian-bagian tubuhku yang paling mematikan!" desis kakek itu tercekat. Laksana kilat dia cepat balikkan badan. Tapi saat itu lawan telah berada dihadapannya dan tengah melancarkan serangan di bagian tulang rusuknya.

Karena serangan ini juga cukup berbahaya. Maka Angin Pesut pun terpaksa gerakkan tangannya melakukan tangkisan.

Raak!

Lengan si kakek dengan jemari tangan si ga- dis beradu keras di udara membuat Indah Sari ter- dorong mundur. Tapi lengan si kakek sempat ter- gores kuku lawannya yang mengandung racun ga- nas. Walaupun Angin Pesut kebal terhadap berbagai jenis racun. Tapi nampaknya racun di tubuh si gadis bukan racun sembarangan. Terbukti Angin Pesut yang dikenal memiliki kekebalan bahkan mempu- nyai ajian Panca Sona, suatu ilmu hebat yang apabi- la pemilik ilmu itu terpotong anggota tubuhnya, ma- ka potongan tubuh segera bertaut kembali, kini nampak terluka. Gadis itu tertawa mengekeh meli- hat lawan dapat dilukainya. "Angin Pesut. Kau boleh mempunyai ilmu Pancasona. Tubuhmu boleh kebal. Tapi guruku telah mempelajari kekurangan- kekurangan dari ilmu yang kau miliki. Kepadaku dia khusus mengajarkan beberapa bagian tubuhmu yang harus kuserang. Manusia sombong kau me- mang hebat, tapi sebagai manusia kau memiliki ba- nyak kelemahan. Sekarang kau lihatlah tanganmu. Konon kudengar bila dirimu terluka, maka luka itu segera bertaut kembali. Tapi kenyataannya. Hik hik hik. Luka itu tak akan pernah lenyap sebagaimana yang sering terjadi dengan dirimu Angin Pesut. Ka- rena kuku-kukuku mengandung racun. Bukan hanya bagian kuku. Malah sekujur tubuhku sangat beracun!" kata Indah Sari Purnama sinis.

Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan perhati- kan lengannya yang tergores kuku sang dara. Angin Pesut melengak kaget. Lengan itu memang terluka meneteskan darah. Tapi anehnya luka itu tak mau bertaut kembali sebagaimana yang biasanya sering terjadi.

"Hmm… Gadis ini sangat berbahaya. Aku ya- kin siapapun yang menjadi gurunya pasti telah memberi bekal berbagai kebolehan yang khusus un- tuk mengincar bagian-bagian tubuhku yang terle- mah. Aku tidak boleh berdiam diri berpangku tan- gan. Gadis ini harus kuringkus! Aku harus tahu sia- pa gurunya!" batin si kakek dalam hati.

"Angin Pesut! Sekarang bersiap-siaplah kau untuk menyambut seranganku yang kedua!" teriak sang dara. Selesai dia berkata tubuhnya berkelebat lenyap dari pandangan mata. Kemudian si kakek melihat ada bayangan merah menyambar ke bagian ulu hatinya. Yang diserang lawan ini juga bagian ti- tik kelemahannya. Sehingga secepat kilat si kakek jatuhkan diri menghindar dari jangkauan tangan la- wannya.

Wuus!

Serangan yang mengarah ke bagian ulu hati tidak mengenai sasaran, membuat sang dara jadi kalap dan kini gerakkan tangannya ke bawah men- garah ke bagian lutut Angin Pesut

12

Secepat apapun kakek ini menghindar. Tapi bagian lututnya tetap saja terkena sambaran kuku lawannya.

Breet!

Terdengar suara robeknya kulit di bagian lu- tut. Si kakek kembali terluka. Luka beracun yang meneteskan darah. Walaupun luka itu tidak mem- bahayakan jiwanya namun membuat si kakek men- jadi kerepotan. Apalagi nampaknya sang dara tidak lagi memberi kesempatan pada lawannya. Begitu melihat Angin Pesut bangkit berdiri dia kembali ber- gerak ke depan, lepaskan satu tendangan kilat ke bagian perut, sedangkan tangannya lakukan baba- tan ke bagian leher. Angin dingin menyambar ke ba- gian perut dan lehernya. Si kakek yang rupanya pe- nasaran untuk mengetahui siapa adanya gadis itu yang sebenarnya segera jejakkan kakinya.

Duuk! Duuuk!

Dua kali hentakan membuat tubuh si kakek melesat ke udara. Di udara dia lakukan gerakan se- demikian rupa, berjumpalitan menjauh lalu jejakkan kakinya di tebing kanan sungai. Indah Sari tidak membiarkannya begitu saja. Dia pun mengejar. Dengan gerakan ringan tubuhnya melenting ke atas, lalu meluruk deras ke arah kakek itu. Sejarak seten- gah tombak di depan kakek itu kakinya berkelebat menghantam kepala.

Wuut!

Lawan tiba-tiba lenyap. Tendangan hanya menghantam angin. Ketika Indah Sari dongakkan kepala ke atas. Ternyata lawan telah berdiri di pu- cuk pohon.

"Jahanam pengecut! Apakah bisamu cuma menghindar!" maki si gadis. Sambil berkelebat ke atas mengejar si kakek, Indah Sari hantamkan dua tangannya ke depan. Angin dingin laksana es diser- tai kepulan uap putih menderu ganas menghantam tubuh Angin Pesut. Sebelum pukulan lawan meng- hantam dirinya. Dia kembali berkelebat ke pohon yang berada di sebelahnya.

Buum!

Pucuk pohon rambas hangus terkena puku- lan gadis itu. Kepingan bertaburan di udara. Bagian bawah pohon kemudian nampak menghitam, daun- daunnya hangus berguguran.

Indah Sari merutuk habis-habisan. Gagal menghabisi lawannya kini dia bergerak ke pohon lainnya. Dimana lawan berdiri tegak disitu sambil memandangnya dengan tatapan penuh rasa tidak mengerti. Laksana burung walet Indah Sari melun- cur deras ke arah si kakek. Dua tangan yang berku- ku panjang dan setajam mata pedang menyambar wajah, tenggorokan serta dada Angin Pesut. Kakek itu menyambar cabang pohon di depannya. Dengan cabang pohon berdaun lebat dia menangkis seran- gan sang dara.

Bret! Breet! Breet! Tes! Tes!

Cabang yang dipergunakan untuk menang- kis, terbabat kuku lawan. Putus bertaburan ke uda- ra. Potongan reranting pohon kemudian secara aneh menghantam mata dan sekujur tubuh Angin Pesut. Si kakek keluarkan seruan kaget, namun cepat han- tamkan kedua tangannya ke depan.

Dari telapak tangan si kakek menderu hawa panas luar biasa disertai sambaran angin yang de- mikian keras. Potongan kayu yang seharusnya me- nancapi sekujur tubuh dan matanya berpentalan dan berbalik menghantam Indah Sari. Gadis itu menghindar ke samping, lalu meluncur turun, jejak- kan kaki di atas tanah dengan wajah pucat pasi.

Angin Pesut nampaknya tidak memberi hati. Apalagi saat itu dia melihat luka di bagian lengan dan lututnya tidak mau bertaut kembali dan me- nimbulkan rasa nyeri luar biasa. Sambil berteriak keras si kakek melesat ke bawah. Tubuhnya melun- cur sedemikian rupa. Sedangkan dua tangan me- nyambar ke arah perut si gadis demikian cepatnya. Dalam pandangan Indah Sari sepasang tangan si kakek kini berubah menjadi beberapa pasang siap untuk menjebol perut dan dada sang dara.

Dalam kagetnya Indah Sari segera gerakkan tangannya melakukan tangkisan. Tapi ternyata se- rangan si kakek hanya tipuan saja. Karena begitu lawan menyambuti serangannya dia lakukan gera- kan jungkir balik sedemikian rupa, kemudian men- gitari tubuh sang dara. Tepat posisinya berada di atas si gadis, tangan kirinya menyambar punggung Indah Sari.

Bretttt!

Terdengar suara robeknya pakaian. Indah Sari menjerit kaget. Sebaliknya Angin Pesut begitu kaget begitu melihat di bagian punggung sang dara yang putih mulus itu terdapat satu titik besar ber- warna hitam berupa tahi lalat.

"Di.. dia anakku...!" desis Angin Pesut den- gan tubuh tergetar menahan keharuan.

Sebaliknya Indah Sari menjerit sambil me- maki. Kalang kabut dia sibuk berusaha menutupi punggungnya yang terbuka lebar. Tapi mana mung- kin hal itu dapat dilakukannya. Karena tangannya sulit menjangkau bagian punggung. Gagal menutupi punggung sang dara berteriak keras. "Tua bangka mesum. Ajalmu sudah di ambang mata tapi kau ma- sih berani berlaku kurang ajar. Aku harus membu- nuhmu!" maki si gadis marah bukan main. Angin Pesut angkat salah satu tangannya. "Kau dengar. Aku hanya ingin melihat satu tanda di punggungmu. Satu tanda berupa tahi lalat. Ternyata di pung- gungmu memang ada tahi lalatnya. Aku sama sekali tidak bermaksud kurang ajar." kata si kakek dengan suara bergetar menahan rasa haru dan bahagia. Wa- laupun dalam keadaan marah bukan main. Men- dengar ucapan si kakek Indah Sari menjadi bingung. "Apa maksudmu orang tua?" hardiknya. Dengan ma- ta berkaca-kaca si kakek menjawab.

"Dulu aku punya anak perempuan. Di pung- gungnya ada tahi lalat. Aku belum sempat membe- rinya nama karena dia baru saja dilahirkan. Sayang sekali dia diculik oleh seseorang yang tidak kukenal. Jika dia masih hidup tentu sudah sebesar dirimu. Sudah lama aku mencarinya, tapi sampai sekarang aku belum menemukannya!"

"Huh, yang jelas aku bukan anakmu!" den- gus sang dara sinis.

"Mengingat tahi lalat di punggungmu, mung- kin saja kau anakku. Bisa jadi seseorang sengaja membesarkanmu, lalu mendidikmu. Untuk kepen- tingannya sendiri bisa jadi dia memperalatmu untuk membunuhku!" kata si kakek.

"Tua bangka keparat. Jangan coba-coba mempengaruhiku. Aku tidak mudah terkecoh. Atau mungkin kau kehilangan nyali untuk menghadapi aku?"

Si kakek tersenyum tipis. Dia menggigit bibir. Jiwanya terguncang, perasaannya begitu pedih. Dengan lirih dia menjawab. "Kuakui ilmu kepan- daianmu sangat tinggi. Tapi dengan kepandaianmu itu, jika aku bersungguh-sungguh dalam mengha- dapimu. Kau tak bakal sanggup mengalahkan aku. Malah jika tadi aku bermaksud keji padamu. Kurasa bukan pakaianmu saja yang dapat kubuat robek. Tapi kepalamu sendiri bukan dapat kupecahkan. In- dah Sari, kau pasti anakku. Wajahmu sangat mirip dengan bekas Istriku Serimbi yang bukan lain ada- lah ibumu sendiri!" kata si kakek sambil titikkan air mata.

Mendengar ucapan Angin Pesut, mendidihlah darah sang dara. Dengan mata mendelik penuh ke- bencian Indah Sari membentak. "Tua bangka. Kau bukan ayahku, perempuan yang kau katakan itu ju- ga bukan ibuku. Ayah Ibuku telah lama meninggal. Lagipula tak mungkin aku punya orang tua keji se- perti dirimu!" kata sang dara sengit.

"Kalau ayah ibumu sudah mati apakah kau pernah melihat kuburnya?" tanya si kakek lagi. In- dah Sari tentu menjadi bingung. Selama ini dia me- mang belum pernah melihat kubur kedua orang tu- anya. Gurunya bahkan tak pernah memberi tahu dimana kubur mereka. Tak mau dikecoh orang gadis ini berucap. "Angin Pesut, jika kau punya senjata cabutlah. Karena aku pasti membunuhmu!"

"Indah Sari percayalah, gurumu pasti selama ini telah menipu dirimu. Kemudian memperalat di- rimu untuk membunuh orang tua sendiri!" ujar si kakek dengan kesabaran luar biasa.

Sebagai jawaban sang dara langsung menca- but Pedang Tumbal Perawan dari rangkanya yang berasal dari lengan gadis yang dijadikan tumbal pe- dang itu. Melihat pedang yang menggeletar begitu tercabut dari rangkanya. Angin Pesut terkejut juga maklum pedang di tangan Indah Sari bukan senjata biasa. Melainkan senjata sakti mandra guna yang menyimpan kesaktian sekaligus memiliki pengaruh Iblis. Pedang itu pasti sangat mematikan. Fikir si kakek.

Si kakek tentu saja tak mau mati sebelum tahu secara pasti siapa gadis itu yang sebenarnya. Karena itu begitu melihat sinar pedang yang ber- warna hitam itu bergulung-gulung menerjang ke arah dirinya si kakek segera berkelit menghindar. Baru saja si kakek mengelak, kini pedang yang ber- gerak dengan kemauannya sendiri itu malah meng- hantam ke bagian lambungnya.

Kakek tua yang sudah kenyang malang me- lintang di rimba persilatan dan merupakan momok paling ditakuti belasan tahun yang lalu itu untuk pertama kalinya seumur hidup dibuat kaget. "Gila, pedang ini seolah memiliki nyawa. Punya otak, mata dan jalan fikiran sehingga dia dapat membaca gera- kan lawan!" fikir si kakek. Tak punya pilihan lain Angin Pesut akhirnya jatuhkan diri. Bergulingan menghindar, tapi lawan terus mengejar mengikuti gerakan pedang. Angin Pesut terpaksa dorongkan kedua tangan lepaskan pukulan yang diperkirakan tidak membahayakan keselamatan sang dara

Segulung angin dingin menghantam gadis itu, tapi Indah Sari telah memutar pedang menjadi- kan senjatanya sebagai perisai. Ketika pukulan si kakek membentur senjata lawan. Pukulan itupun amblas lenyap tidak meninggalkan bekas. Terkejut orang tua itu bukan kepalang. Sementara itu indah Sari telah berkelebat ke arahnya sambil babatkan pedang di tangan dua kali berturut-turut. Angin Pe- sut kembali berkelit. Tak urung rambutnya kena di- tebas putus senjata lawan. Tak punya pilihan lain si kakek terpaksa hantamkan kakinya ke tubuh lawan dalam upayanya menyelamatkan diri.

Dess!

Tendangan yang keras membuat Indah Sari terjajar ke belakang. Mempergunakan kesempatan ini Angin Pesut lesatkan tubuhnya ke udara. Sean- dainya dia ingin membunuh gadis itu atau bermak- sud mencelakainya. Hal ini sebenarnya dapat dila- kukan si kakek sejak tadi. Karena bagaimana pun si kakek masih unggul dalam hal ilmu, kecepatan serta pengalaman. Tapi entah mengapa walau orang in- ginkan jiwanya dia malah tak tega untuk jatuhkan tangan keji.

Sementara itu melihat lawan berkelebat ke udara dan membubung tinggi ke angkasa. Indah Sa- ri tidak membiarkannya begitu saja.

Cepat sekali dia mengejar. Lalu menyerang lawannya dengan kecepatan berlipat ganda.

Laksana setan, Angin Pesut terus menghin- dari serangan senjata yang datangnya laksana air bah itu. Demikian hebatnya pertarungan itu hingga baik yang menyerang maupun yang mendapat se- rangan ganas berkelebat seperti bayangan saja. An- gin Pesut yang sengaja tidak mau menyakiti Indah Sari akhirnya mulai terdesak. Beberapa jurus ke- mudian dia bahkan hampir kehilangan kepalanya akibat sambaran senjata lawan. Si kakek tidak mau mati sia-sia. Tangannya terjulur menghantam ping- gang sang dara. Tapi pada waktu yang sama ujung pedang lawan juga menyambar dadanya.

Buuk! Craas!

Dua Jeritan menggema di udara. Dua sosok tubuh meluncur ke bawah. Lalu.... Bluk! Bluk!

Keduanya jatuh terduduk. Saling berhadap- hadapan. Indah Sari merintih kesakitan. Sedangkan Angin Pesut sibuk menotok beberapa urat darah be- sar untuk mencegah agar racun tidak sampai men- jalar kemana-mana. Luka akibat goresan senjata la- wan nampak membiru kehitaman. Dan luka itu ti- dak pula mau bertaut lagi. Seolah si kakek kehilan- gan kekebalannya. Walaupun dia terluka tapi meli- hat gadis itu merintih si kakek jadi tidak tega malah menghawatirkan keselamatan gadis itu.

"Indah Sari kau...!" Angin Pesut tidak melan- jutkan ucapannya. Melainkan menghampiri si gadis siap memberikan pertolongan. Si gadis merasa inilah saatnya untuk menghabisi Angin Pesut. Pedang yang terjatuh disampingnya segera diambil. Tapi begitu dia siap menusukkan pedang Tumbal Perawan di dada si kakek. Pada saat yang bersamaan dia men- dengar suara ngiang ditelinganya.

"Jangan kau bunuh dia. Biar aku yang membunuhnya! Aku segera datang!" jelas orang yang baru bicara itu bukan lain adalah gurunya sendiri. Sehingga pedang dilepaskan. Tapi begitu si kakek te- lah berada dalam jangkauannya. Tangan kanannya langsung menyambar ke beberapa bagian tubuh An- gin Pesut. Sedikitnya tiga totokan hebat melanda diri si kakek. Membuat orang tua itu dalam keadaan ka- ku tertotok tak dapat bergerak-gerak lagi. Angin Pe- sut jadi tercekat. Lalu memandang gadis itu penuh rasa heran.

"Indah Sari, mengapa kau lakukan ini, anak- ku? Apakah kau tega membunuh ayahmu sendiri?" tanya si kakek bergetar. "Kau bukan ayahku. Kalau bukan atas perin- tah guru, aku pasti membunuhmu sekarang ini!" dengus sang dara.

"Aku rela mati ditanganmu asal kau mau mengakui aku ini adalah ayahmu!" rintih si kakek dengan berurai air mata. Si gadis sama sekali tidak bergeming, dia juga tidak menjawab. Malah kemu- dian dia keluarkan segulung tali dari balik saku ce- lananya. Dia hampiri kakek malang ini. Kemudian Indah Sari dengan cekatan mengikat kaki dan tan- gan Angin Pesut. Dalam keadaan semakin tidak ber- daya Angin Pesut diseretnya.

"Indah Sari... apa yang hendak kau laku- kan?" tanya si kakek. Dalam keadaan fikiran normal dan bukan gadis itu yang dihadapinya. Angin Pesut bisa saja membebaskan diri dari pengaruh totokan bahkan mampu pula melepas ikatan pada tangan dan kakinya. Tapi kini hal itu tidak dilakukannya. Dia tidak tega untuk mencelakai gadis yang dia ang- gap sebagai putrinya yang hilang itu.

"Aku akan menggantungmu, Angin Pesut. Kaki di atas dan kepala di bawah. Menunggu keda- tangan guruku yang akan membunuhmu. Selama itu aku bisa menyiksamu sampai puas. Hik hik hik!" kata Indah Sari beberapa saat kemudian. Angin Pe- sut pasrah dan tidak lagi menghiraukan keselama- tan dirinya sang dara digantung sang dara di satu pohon yang terdapat di pinggir sungai. Si gadis ke- mudian memukuli tubuh bekas tokoh sesat yang malang itu dengan rotan berduri hingga membuat sekujur tubuh si kakek dipenuhi bilur-bilur luka. Sekujur tubuh si kakek basah bersimbah darah. Namun anehnya walaupun menderita sakit yang luar biasa. Si kakek tidak mengeluh atau menjerit kesakitan. Dia terlalu larut, tenggelam dalam kese- dihan memikirkan nasib dirinya. Dia rindu pada anaknya. Terlalu amat rindu ingin bertemu. Hingga membuat Angin Pesut mati rasa, hilang kesadaran tentang apa yang terjadi pada dirinya. Keadaan orang tua ini memang menggenaskan. Tubuhnya babak belur penuh luka.

Tapi hatinya lebih terluka lagi begitu melihat kenyataan sang anak yang dia cari ternyata tidak mengakui dirinya sebagai seorang ayah. Angin Pesut dalam segala penderitaan dan beban batin yang te- ramat menekan jiwanya hanya dapat kucurkan air mata. Air mata sejuta duka yang tak mungkin dapat dilukiskan dengan kata-kata, bercampur dengan cu- curan darah yang mengalir dari setiap luka di tu- buhnya akibat cambukan rotan berduri. Indah Sari tertawa senang. Tawa yang mungkin di atas penderi- taan sekaligus kepedihan hati sang ayah.

TAMAT