Gajah Mada II (Tamat)

XI

CINCIN BERDARAH

Dia diantarkan beramai-ramai sampai ke batas wilayah dusun Mada. Setelah itu ia meneruskan perjalanannya seorang diri. Hari cerah datang menyongsong. Itulah tanda yang baik, kata hatinya. Dan ia berdendang sepanjang jalan menyanyikan syair-syair Prapanca dan Empu Sedah.

Tatkala menoleh, ia melihat seorang yang selalu mengikuti. Orang itu sebaya dengan umurnya. Tinggi semampai. Langkahnya gesit hati-hati. Pandangnya mendongak. Kadang melemparkan suatu kesan yang menimbulkan dugaan yang bukan-bukan. Maka mulailah dia menaruh perhatian. Agar tiada menimbulkan kesan lain ia tetap berdendang senang seakan-akan tidak memperhatikan segala.

Kecurigaannya kian menjadi-jadi, tatkala yang mengikutinya bertambah ampat orang lagi. Dan mereka terus mengawasinya sampai matahari bersinar terik. Untuk memperoleh keyakinan, ia berhenti di sebuah warung. Orang yang mengikutinya mula-mula mempercepat jalannya. Kemudian berunding sambil mencari keputusan tertentu. Ia memberi isyarat kepada teman-temannya tentang beradanya dalam warung itu. Lantas saja dia masuk dan duduk bertentangan. Tiba-tiba menegur:

Pastilah engkau capai bukan?‖

Gajah Mada heran bukan main. Hati-hati ia menyelidiki. Sikapnya diperbaiki. Menjawab hormat:

Bagaimana tuan tahu?‖

Senyum merendahkan dia menyahut:

Betapa tidak? Berjalan satu malam penuh, bukankah mengeluarkan tenaga juga? Lagi pula mendapat hadiah tak ternilai harganya.‖

Gajah Mada menaikkan alisnya. Heran ia menebak-nebak:

Sama sekali tidak. Semalam aku masih berada di rumah‖.

Orang itu menggempur meja. Membentak:

Maling takkan mengakui tuduhan sekali jadi.‖

Dan untuk ketiga kalinya Gajah Mada terheran- heran. Siapakah orang ini, pikirnya. Sesungguhnya orang itu bernama Andika, seorang pemuda sekira berumur 20 tahun. Ia adalah salah seorang perajurit pengawal Mahapatih Arya Tadah. Pada suatu hari ia diutus oleh puteri Mahapatih Arya Tadah Bernama Gusti Ayu Bebet ke Daha untuk mewakili. Ia seorang puteri cantik — bunga kerajaan Majapahit — yang hampir memasuki dara dewasa. Puteri Daha adik baginda Jajanegara menghadiahi sebentuk cincin. Suatu hal yang jarang terjadi. Ia dipanggil menghadap untuk dikenakan sendiri. Tetapi, karena perjalanan ke Daha sangatlah jauh dan berbahaya bagi seorang puteri, maka Andika dikirimkan ke Daha dengan tujuhbelas pengawal. Mereka adalah perajurit pilihan. Bersenjata lengkap. Memiliki tenaga dan keahlian bergumul perseorangan. Waktu mereka berangkat ke Daha, tiada aral melintang. Ia menghadap puteri Daha menyampaikan sembah bakti Gusti Ayu Bebet dengan seluruh keluarga. Ratu Daha mempercayakan cincin istana kerajaan Daha. Dibungkuslah cincin itu hati-hati dan disimpan dalam kotak perak. Seekor kuda disediakan untuk pengangkutan barang berharga itu. Tetapi hal itu, membuat para penyamun terbuka matanya. Mereka menghadang perjalanan-nya di dekat bukit kembar. Dan terjadilah suatu pertempuran sengit. Andika dikerubut oleh empat orang penyamun. Ia berjuang dengan gigihnya. Seorang demi seorang ditumbangkan. Tetapi rekan-rekannya tertewaskan pula. Tinggal empat orang, kini. Mereka bersepakat akan mati bersama dengan cincin kerajaan. Seorang penyamun bernama Wudeng menyerangnya dengan sisa anak buahnya. Mereka dikerumun dan dikerubut. Pabila mereka dapat didesak mundur, Wudeng berhasil merampas cincin puteri Daha. Ia kabur mendaki pegunungan. Andika meninggalkan pertempuran dan mengejar dengan seluruh bulu bulunya. Keempat kawannya mengikutinya dari belakang sambil melawan serangan bertubi-tubi dari kawanan penyamun. Mereka berhasil mengalahkannya, tetapi Wudeng lenyap dari pengamatannya. Hal itu membuat hati mereka resah bukan kepalang. Apakah jadinya, pabila pulang ke Majapahit dengan kisah demikian buruk? Maka mereka bersumpah tak mau pulang kembali ke Majapahit sebelum berhasil menjejak lawannya. Mereka berputar-putar hampir satu minggu lamanya. Akhirnya, mereka memperoleh jejak. Wudeng adalah seorang penyamun terkenal yang bersarang di hutan- hutan dan pedusunan dekat Kudadu. Diketahuinya pula, bahwa Wudeng mempunyai simpanan seorang gadis cantik anak penjual warung yang disinggahi Gajah Mada. Maka tatkala melihat Gajah Mada berjalan demikian girang dan berhenti di warung tersebut, cepat mereka mengepung. Andika masuk dan langsung menyerang dengan tuduhan- tuduhannya. Kemarahannya telah memuncak demikian rupa, sehingga ia menggedor meja. Kemudian meloncat menubruk Gajah Mada dengan kecepatan mengagumkan.

Untunglah Gajah Mada masih sanggup mengelakkan diri. Cekatan ia mengendap dan melompat ke luar pintu. Penjual warung menjerit kaget. Dan kaget pulalah penduduk desa. Mereka berserabutan mencongakkan diri dari pintu pagar. Berderet mereka melepaskan pandang ketakutan. Karena mereka dapat memastikan, bahwa pertumpahan darah akan terjadi.

Dalam pada itu, tatkala Gajah Mada melompat ke luar pintu, kawan-kawan Andika yang telah bersiaga menyerangnya berbareng. Mereka mempergunakan tinju dan tendangan cepat. Gajah Mada menggulingkan diri dan membiarkan dirinya bergulung-gulung di atas tanah. Cepat ia tegak berdiri di tengah jalan. Ingin ia hendak minta keterangan lebih lanjut lagi, tetapi mereka tidak memberi kesempatan.

Jangan biarkan lolos lagi! Gempur! Hidup atau mati!‖ teriak Andika gemuruh.

Oleh teriakan itu, mereka kembali menyerang bertubi-tubi. Gajah Mada undur sambil menangkis. Apabila sebuah tinju mengenai dagunya, sadarlah dia bahwa perlawanan dan pertahanan diri harus segera dilakukan. Cepat ia mempersiapkan diri. Seperti seekor singa ia menyelinap di antara silang kaki mereka dan membentangkan sikutnya ke punggung lawan, ia menerkam dan mengayunkan kaki. Lantas menggeser ke samping sambil mendaratkan tinjunya. Kesanggupannya yang mengagumkan itu, meragukan sikap lawannya. Mereka kena dibenturnya dan jatuh cekakaran di atas tanah. Belum lagi mereka sempat memperbaiki diri, kaki Gajah Mada telah menendangnya berulang kali. Demikian keras dan tepat mengenai sasarannya sehingga jatuh terbalik dan tak sadarkan diri. Kini tinggal Andika yang masih merajalela. Dengan kemarahan dahsyat ia mengancam dengan senjata kerajaan. Gajah Mada terkesiap. Sambil mengelak ia berseru:

Berhentilah dahulu, tuan. Barangkali tuan salah terka. Aku Gajah Mada. Anak Kepala Kampung desa Mada. Apa kesalahanku?‖

Jahanam! Aku takkan kena tipu-muslihatmu, keparat!,‖ sahut Andika dendam. Dan ia menyerangnya bertubi-tubi. Gajah Mada tak dapat mengelak lagi. Dengan berani ia membendung serangan itu dengan mengadu tenaganya. Andika terhujung undur. Dan sebelum tegak kembali, ia kena tampar lima kali berturut-turut. Kemudian tendangan kaki Gajah Mada menikam rusuknya. Dan ia jatuh meliuk ke tanah.

Nah dengarkan tuan!‖ kata Gajah Mada terengah-engah. Seupama aku seorang jahat, pastilah aku akan meminjam senjatamu dan menikam tuan sampai mati. Tapi aku tidak berbuat demikian.‖

Andika mengeluh panjang. Lantas mengerang kesakitan. Menggeliat ia mendongakkan kepala. Menyahut tersekat-sekat:

Bunuhlah aku keparat!‖

Gajah Mada berjongkok. Ia memeluk Andika dan dipapahnya ke tepi jalan. Dengan isyarat tangan, ia minta setempurung air. Panjual warung tergopoh- gopoh mencari tempurungnya. Apabila telah dipenuhi dengan air, ia menghampiri. Bertanya:

Hyang Pramesthi! Hyang Pramesthi! Mau tuan pengapakan dia?‖

Tegukkan air itu, barangkali dia akan

memperoleh tenaganya kembali!‖ sahut Gajah Mada.

Gugup penjual warung menegukkan air ke mulut Andika. Tetapi Andika menolak. Katanya kesakitan:

Bunuhlah aku! Kalau kau tak mau, kembalikan cincin itu!‖

Cincin?‖ Gajah Mada heran.

Jahanam! Ya cincin! Cincin Gusti Ayu Bebet. Sri Ratu Daha! Aku akan dihukum kisas, apabila aku menghadap tanpa cincin itu!‖

Gajah Mada segera memapahnya masuk ke dalam warung. Di atas bangku bambu ia ditelentangkan. Kemudian berkata sungguh-sungguh:

Dengan sebenar-benarnya tuan! Aku tak tahu menahu tentang cincin yang tuan sebutkan. Aku seorang desa. Berasal dari desa Mada. Tak percayakah tuan akan keteranganku ini?‖

Dalam pada itu, orang-orang kampung memberi pertolongan pula kepada keempat teman Andika. Tak lama kemudian, kepala kampung datang dengan para pangreh desa. Ia adalah seorang laki-laki berperawakan kukuh berpengaruh. Pandangnya tajam. Bekas kepala pasukan baginda Wijaya. Dahulu ia seorang perajurit galak. Setia terhadap rajanya. Tatkala terjepit di desa Kudadu, dialah yang menerobos rantai pengepungan dengan menyamar sebagai seorang tabib. Dan sesungguhnya ia mengenal macam obat-obatan khusus buat perkelahian. Maklumlah semenyak mudanya sumber penghidupannya berada di tengah medan laga. Setelah berusia lanjut, ia dipilih menjadi Kepala Kampung desanya. Dengan sekuat tenaga, ia bersama para pangreh praja mengamankan daerahnya dari para perusuh. Karena ia mengenal arti perang dan mengenal pula laku mempertahankan diri, maka semenjak dia memerintah wilayahnya tidak pernah terjadi suatu kerusuhan. Tiba-tiba pada siang hari itu, ia mendengar berita perkelahian di tengah desanya. Maka degan cekatan ia memanggil seluruh pangreh prajanya. Dengan bersenjata11 ia menyeberangi jalan. Dan langsung saja memasuki lapangan pergumulan. Tatala itu, Gajah Mada telah memapah Andika ke dalam warung. Segera ia menolong kawan-kawan Andika. Kemudian melintasi pintu warung. Orang-orang menyibakkan diri dan ia menegur:

Apa sebab kalian mengaduk-aduk permukaan air yang telah bening? Aku Kepala Kampung. Aku berhak mengurus dan mencampuri persoalanmu‖.

Gajah Mada cepat-cepat memberi keterangan sebab-musabab terjadinya perkelahian. Ia sama sekali menolak tuduhan Andika, bahwa ia telah berjalan satu malam penuh dengan membawa hadiah cincin.

Cincin?‖ potong Kepala Kampung.

Ya  —  cincin  katanya.  Cincin  apakah  itu,  hanya

setan yang tahu.‖ Gajah Mada mengesankan.

Kepala Kampung mengarah kepada Andika yang mencoba menegakkan badannya. Ia minta keterangan tentang cincin itu. Dan Andika berkata:

Cincin Gusti Ayu Bebet—puteri Mapatih Arya Tadah. Cincin itu berasal dari Seri Ratu Daha. Seminggu yang lalu kami bawa pulang ke Majapahit. Tetapi di tengah jalan, jahanam ini menghadang dengan teman-temannya. Dan terampaslah cincin itu. Segera kami cari jejaknya. Untunglah, pagi ini Hyang Pramesthi mempertemukan jejak itu. Dan kami kuntit dia dari belakang.‖

Cincin Gusti Ayu Bebet?‖ ulang Kepala Kampung.‖ Engkau salah seorang pengawal kediaman Mapatih Arya Tadah?‖

Andika mengangguk dan menceritakan asal mula terjadinya pengawalan cincin kerajaan Daha. Orang itu katanya. perawakannya tak ubah perawakan Gajah Mada. Hampir selama satu jam dia bergumul. Karena itu tiada ia berbimbang lagi, bahwa Gajah Mada adalah penyamun yang hendak ditangkapnya.

Bagaimana engkau yakin, bahwa dia itulah orangnya? Maksudku selain kesan perkelahian.‖ Potong Kepala Kampung.

Dia singgah ke warung ini. Menurut berita yang kami hisap, penyamun itu mempunyai simpanan gadis penjual warung.‖

Mendengar keterangan itu Kepala Kampung menaikkan alisnya. Parasnya berubah menjadi merah padam. Kehormatannya tertusuk. Berkata tinggi:

Siapa yang memberi keterangan begitu?‖

Tergagap-gagap Andika menjawab:

Kabar orang! Tutur kata penjual sayur-mayur

yang turun dari pegunungan!‖

Kepala Kampung menyiratkan pandang kepada orang-orang yang berkerumun. Menegor kepada gadis penjual warung:

Mirah! Benarkah keterangan itu?‖

Jang benar apanya?‖ Gadis itu menyahut dengan suara tinggi. Dengan dibantu oleh orang tuanya ia meneruskan: Barangkali Wudeng! Dahulu dia sering ke mari, waktu masih menjadi perajurit. Tetapi bahwasanya dia adalah ini gila!‖

Paras muka Mirah merah padam. Matanya tak sanggup menentang penglihatan Kepala Kampungnya. la melemparkan pandang kepada orang tuanya minta bantuan. Tiba-tiba terdengar Andika menungkas:

Wudeng? Siapakah dia?‖

Orang tua Mirah memberi keterangan:

Penduduk sekitar desa ini pasti mengerti

siapakah dia. Ah — bangsat itu! Perawakan tubuhnya

— haa — memang mirip dengan perawakan tubuh anak muda ini. Seorang jagoan semenjak dahulu.‖

Yang mana bernama Wudeng?‖ Kepala

Kampung bertanya.

Bapak belum lagi jadi Kepala Kampung,‖ sahut orang tua Mirah hormat. Dia anak Gumarang yang dahulu tinggal di sebelah rumah kita‖.

Ini memalukan!‖ teriak Kepala Kampung tinggi. Pandangnya menyala menuduh orang-orang yang mengerumuni. Dalam pada itu, perdamaian telah terjadi. Gajah Mada menolong Andika menegakkan tubuhnya. Meminta maaf berulang kali dan berkata mengesankan: Sekarang pastilah tuan dapat menerima keteranganku ini.‖

Andika tersenyum pahit. Matanya yang jernih memancarkan rasa persahabatan. Ia minta maaf pula. Sekarang ia berani mengerang. Memuji:

Sahabat, siapakah namamu tadi?‖

Gajah Mada.‖

Engkau cekatan, gesit dan tangguh. Siapakah gurumu?‖

Gajah Mada menundukkan pandang. Dan Kepala Kampung menyambung.

Empatpuluh    tahun,    aku    menjadi    perajurit. Semenjak almarhum raja Kertanegara hingga almarhum baginda Kertarajasa, dalam pertempuran, seringkali aku mengalami perkelahian perseorangan. Selama itu, kala aku menghadapi pasukan Jendral Che-Pi, alangkah repot. Mereka gesit-gesit tak ubah iblis. Geraknya cekatan. Berkelebat dalam tiap langkahnya. Pedang, golok dan penggadanya begitu cepat berputar seperti kitiran. Bercahaya dan bersinar bergulungan. Belum lagi aku membicarakan kemahirannya dalam senjata lontar. Senjata panah- nya. Langkah-langkah mempertahankan diri. Mempergunakan senjata alam. Dan anak muda ini, mengingatkan gerak-geriknya. Benarkah engkau mengenal silat atau apa yang dikatakan kun-thau? Haa — jangan berusaha engkau merahasiakan hal itu. Aku yang sudah banyak makan garam, pastilah takkan mudah engkau kelabui.‖

Gajah Mada melemparkan pandangnya diri jauh sana. Ia tidak bersedia menjawab. Berkata mengalihkan pembicaraan kepada Andika:

Lantas bagaimana sikap tuan perkara Wudeng? Bukankah kewajiban tuan untuk dapat merebut kembali cincin kerajaan Puteri Daha? Apakah jadinya, pabila tuan kembali ke ibukota tanpa cincin itu.‖

Seperti tersengat lebah, Andika menyahut gugup:

Ya — ya — ya. Aku mau mati untuk itu! Tetapi kawan, sukakah engkau membantu pengejaran ini?‖

Gajah Mada menimbang-nimbang. Berkata:

Sebenarnya aku harus cepat-cepat ke ibukota.‖

Apakah yang kau buru.‖

Aku seorang desa, tuan. Besar hasratku ingin

menjadi seorang bhayangkara kerajaan.‖

Inilah  jalan  sebagus-bagusnya!‖  teriak  Andika setelah diam sejurus. Meneruskan: Jika engkau dapat merebut kembali cincin puteri Daha. akulah yang akan membantu engkau agar dapat diterima menjadi seorang bhayangkara. Lagi pula, aku menyaksikan — melihat dan mengalami sendiri betapa engkau perkasa! Aku akan melaporkan keperkasaanmu itu kepada Mapatih Arya Tadah dan Gusti Ayu Bebet.‖

Itu pikiran bagus!‖ Kepala Kampung menguatkan. Akupun akan membantu kalian. Hatiku akan tergugat, apabila ada tuduhan bahwa dalam dusunku ada seorang biang keladi.‖

Jika tuan berpendapat demikian, akupun takkan berkeberatan. Akan tetapi menurut pendapat tuan, sanggupkan aku merebut cincin kerajaan itu?‖ kata Gajah Mada merendahkan diri.

Demi   Hyang   Pramesthi!   Jangan   ulangi   lagi sebutan tuan itu!‖ tungkas Andika. Panggillah aku Andika! Karena aku ingin bersahabat denganmu. Dengan tali persahabatan, rasanya tidaklah kaku.‖

Gajah Mada menyatakan terima kasih atas kesediaan Andika. Baginya, seorang pengawal kerajaan nampak begitu tinggi yang harus dihormati dengan setulus-tulus hati. Kemudian ia cepat-cepat memperkenalkan diri kepada sahabatnya yang lain. Keempat teman Andika, Sarkara, Wahan, Sawung dan Galih.

Tidak lama kemudian, mereka telah berada di serambi rumah Kepala Kampung. Kepala Kampung itu bernama Terunasakti. Segera mengumpulkan segenap pangreh desanya. Dengan cepat ia mengusut perkara Wudeng, Mirah dan orang tuanya adalah sumber pengusutan sebaik-baiknya. Maka setelah memperoleh kata sepakat mereka memutuskan hendak berangkat pada malam hari. Sarang Wudeng telah mereka ketahui. Berada di tengah belantara Wukir Bayi yang terletak di pinggang bukit Kembar.

Menurut kabar, ia berada di dalam goa. Sebelah timur bukit batu,‖ kata Mirah.

Bagus! Tapi apa sebab engkau mengkhianati kekasihmu?‖ tanya Kepala Kampung mencurigai. Untuk jawaban ini ada ceritanya. Begini:

Mirah adalah seorang gadis genit dalam desanya. Seringkali ia berangkat ke kota terdekat untuk mengambil dagangannya. Oleh pekerjaan itu. banyaklah ia mempunyai teman pergaulan. Akhirnya ia bertemu dengan seorang perajurit anak buah Nambi. Perajurit itu bernama Wudeng. Seorang laki- laki berperawakan kukuh. Pandangnya berani. Menurut penglihatan Mirah adalah seorang laki-laki sejati. Ia digodanya dan dia mau meladeni. Akhirnya timbullan suatu pergaulan akrab yang hanya dapat diketahui oleh kedua orang itu sendiri. Tiba-tiba perubahan terjadi. Wudeng diketahui anak seorang penduduk bernama Gumarang. Gumarang adalah tetangganya, yang dahulu terkenal sebagai seorang jagoan bayaran. Dalam sayembhara penangkapan dan pembersihan sisa-sisa pasukan Jendral Che-Pi, ia ikut serta. Dalam salah suatu pertempuran, ia mati tercacah. Peristiwa itu menurunkan martabat Wudeng. Dia disebut sebagai anak laki-laki seorang jago sembelihan. Untuk memulihkan nama martabat keluarganya, ia memasuki hutan belantara. Menjadi penyamun ganas yang mengganggu lalu lintas. Barangkali, ia mempunyai alasan lain pula. Seperti diketahui, ia adalah perajurit Mahapatih Nambi yang tewas oleh perajurit-perajurit kerajaan. Dalam pengalamannya, ia tumbuh menjadi seorang laki-laki yang terlalu masak. Seringkali ia menawan perempuan-perempuan dari kota. Belajar mendapat kenikmatan penuh kemenangan. Lantas mencoba gadis-gadis darah ningrat. Apabila telah berhasil, maka tentang Mirah tidak lagi terlintas dalam ingatannya. Hal ini menyakitkan hati gadis genit itu. Timbullah niatnya hendak membalas dendam. Ia bergaul lebih banyak dengan laki-laki. Dinyatakan terang-terangan kepada kekasihnya. Tapi Wudeng yang sudah menjadi lain daripada dahulu, bahkan menertawakan lebar-lebar. Alangkah sesak hatinya. Ingin ia mengubah diri menjadi seorang laki-laki mahaperwira. Dan dengan pedang di tangannya, ia inign menikam dadanya. Merobek-robeknya sampai ke bulu-bulunya.

Benarkah itu‖ Kepala Kampung masih bersangsi.

Engkau berani bersumpah?‖

Sumpah‖ jawabnya menyala. Andika menyambung : Rasanya aku tidak membutuhkan sumpah seorang perempuan. Kata orang, hati perempuan gampang berubah. Apa pikirmu, jika engkau kuajak serta menjejak buruanku?‖

Orangtua Mirah menyiratkan pandang gugup.

Tetapi Mirah menyahut cepat:

Itulah yang kuharapkan. Aku ingin melihat

bangkainya cekakaran di depan mataku.‖

Ini adalah suatu pernyataan perempuan yang mengerikan, pikir Gajah Mada. Tetapi ia berdiam diri.

Orangtua Mirah tidak menyetujui keputusan itu. Pertama-tama, mereka berdua menjamin kebenaran keterangan anaknya. Kedua: Mirah akan merupakan suatu penghambat belaka. Ketiga: mereka tidak rela melihat anaknya mempunyai kesan demikian mengerikan.

Kepala Kampung mempertimbangkan. Akhirnya ia menyetujui. Kemudian ia mempersiapkan diri. Menjelang malam, berangkat dia beserta enam orang pangreh desa. Andika dan keempat temannya mendahului perjalanan. Sedangkan Gajah Mada mengikutinya dari kejauhan.

Goa perusuh Wudeng berada di sebelah timur bukit batu kembar. Ia mempunyai empatpuluh anak buah. Diaturnya sebagai pasukan perajurit kerajaan menurut pengetahuan dan pengalamannya dahulu. Dia adalah seorang laki-laki berumur kurang 35 tahun. Cerdik, cerdas dan berani. Ketangkasan dan keberaniannya mangagumkan kawan dan lawannya. Dikabarkan pula bahwa dia seorang yang sakti. Pandai mengubah diri dan hilang dari penglihatan. Gurunnya bernama Kyai Gede Sura. Seorang pertapa dari Gunung Wilis yang terkenal oleh kekebalannya. Ia memiliki kesaktian-kesaktian tertentu yang dirahasiakan; suatu hal yang tak pernah diperhitungkan oleh Kepala Kampung, Andika dan kawan-kawannya.

Pada suatu hari, Wudeng mendengar kabar dari salah seorang mata-matanya yang berada di ibukota. Tujuhbelas pengawal istana Mahapatih Arya Tadah berangkat ke Daha untuk menjemput hadiah Ratu Daha berupa sebentuk cincin. Cincin itu milik kerajaan turun-temurun. Menurut kabar, harganya tak ternilai. Dahulu diperolehnya dari negeri Cina, kala perajurit raja Jajanegara menyeberang ke negeri itu.

Maka segera ia mengundang gurunya untuk meminta pertimbangan. Dan gurunya menasihati agar berhati-hati.

Pengawal-pengawal itu mudah kau tumbang- kan. Mereka tidak membahayakan, yang jauh lebih berbahaya adalah maksudmu hendak merampas cincin kerajaan itu. Kukhawatirkan, bahwa di kemudian hari timbul niatmu hendak menyerang istana. Dan hal itu berarti liang kuburmu‖. Ah kyai, aku tahu menempatkan diri,‖ potongnya cepat. Aku hanya ingin memiliki cincin itu demi harganya. Dengan begitu, aku akan bisa membeayai anak buahku. Mereka harus kuberi kesempatan untuk hidup senang, agar tetap setia kepadaku.‖

Syukurlah, manakala engkau dapat berpikir

demikian. Pintaku, janganlah aku kau bawa-bawa!‖

Tentu saja tidak! Tetapi kyai mau membantuku,

bukan?‖

Mengapa tidak? Engkau adalah muridku! Keburukanmu — keburukanku juga. Malapetakamu

— malapetaku juga.‖

Mendengar pernyataan gurunya, Wudeng berbesar hati. Dan ia mengerahkan duapuluh orang kawannya menghadang perjalanan Andika. Kaki bukit batu kembar dijaga rapat. Jalan besar dikosongkan. Dikesankan demikian rupa, sehingga nampak aman tenteram. Tetapi tatkala Andika memasuki jalan celah bukit, cepat ia menyergapnya. Dan ia berhasil melarikan cincin kerajaan. Ia lari berputar-putar untuk menyesatkan penglihatan lawan. Setelah berhasil mengecoh Andika, tangkas ia menyelinap ke dalam goanya. Dan lenyaplah jejaknya ditelan tirai malam dan rumput-rumput belantara.

Bangsat     itu     berjuang     dengan     semangat menyala-nyala‖, ia mengagumi Andika. Kuterjang dia dari samping. Ia meloncat undur. Aku terkam dan ia mengelak dengan cepat. Dengan mengendapkan diri, ia sanggup melepaskan tendangan. Hampir saja kena lambungku. Untunglah aku meloncat undur. Dan kubentur dia dengan batu‖.

Lantas?‖ kyai Gede Sura ingin tahu.

Kukerubut dia dengan Simpang, Kuru dan Pati. Dia melepaskan perhatiannya dari kotak peraknya. Cepat-cepat kurampas kotak itu dan kubawa lari. Kukira, inilah kotak tempat penyimpan cincin Ratu Daha. Ia begitu bernafsu memburu jejakku.‖

Ia membawa nyala api. Setelah memperoleh penerangan, ia membuka kotak perak itu dengan ujung pedangnya. Lapisan penutupnya rusak. Serentak ia membukanya dengan hentakan tenaga. Dan nampaklah sebentuk cincin kerajaan Daha yang bermata berkilauan. Ia bergemeteran menyaksikan hasil kerja kali ini. Hampir-hampir tak percaya, malah, bahwa ia sanggup bekerja demikian berhasil.

Tujuh  laksa,  pastilah  laku  dengan  gampang!‖

serunya.

Kyai Gede Sura memperhatikan kesan muka muridnya. Ia tidak begitu memperhatikan bentuk cincin kerajaan. Tetapi yang mengharukan hatinya ialah, bahwa muridnya nampak begitu tegar hati. Bagi seorang guru, itulah suatu karunia hati yang jarang terjadi. Engkau begitu terharu, Wudeng!‖ tegurnya lemah.

Betapa tidak? Lihat! Bukankah ini suatu permata semahal-mahalnya? Jelajahlah seluruh nusantara, pastilah tiada lagi sebentuk cincin begini macam!‖

Ia menandak-nandak. Matanya berkilat-kilat. Angannya terbang jauh di sana. Ke pelabuhan dekat Tuban atau Gersik. Ia akan menjualnya cepat-cepat. Pastilah ia akan dapat hidup untuk satu atau dua tahun lamanya bersama anak buahnya. Alangkah menggirangkan!

Keesokan harinya, ia berkemas-kemas hendak berangkat. Tetapi ia terpaksa mengurungkan niatnya karena mata-matanya memberi laporan kepadanya, bahwa Andika dan kawan-kawannya masih berputar- putar di sekitar wilayah kekuasaannya. Agaknya mereka hendak minta bantuan dari orang-orang kampung atau mengirimkan utusan ke ibukota agar memperoleh perhatian dari raja. Dengan demikian, pastilah ia sanggup menggulung Wudeng dan kawan-kawannya dalam waktu setengah hari.

Setelah menunggu seminggu lamanya, maksud- nya akan dilaksanakan. Pasukannya telah dipersiapkan. Mereka diperintahkan untuk mengenakan pakaian-pakaian dusun. Cara lakunya diperhatikan pula. Memikul sayur-sayur segar-bugar. seolah-olah mereka petani-petani dari sebuah bukit hendak menjual hasil ladangnya. Tatkala keputusan hendak berangkat akan diserukan, Simpang, Kuti dan Pati datang padanya dan berkata:

Perjalanan ini tidaklah mudah. Lebih baik kita

berangkat pada malam hari. Apa pikirmu?‖

Tidak!‖ ia menyahut cepat. Mengenakan pakaian petani adalah yang setepat-tepatnya. Aku akan menyimpang jalan bersamamu. Andaikata mereka ketangkap, kita berempat masih dapat meloloskan diri.‖

Jadi kau  perintahkan  berangkat  juga  pada  fajar

hari?‖ mereka menegas.

Menjelang fajar hari. itulah keputusanku!‖

Simpang, Kuti dan Pati mengundurkan diri. Mereka mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan perjalanan. Bekal makan, pakaian dan senjata. Setelah itu mereka berada di tengah alam menunggu datangnya fajar hari. Waktu itu malam hari berjalan dengan tenangnya. Kesannya aman tenteram. Sama sekali mereka tak menduga, bahwa Andika dengan kawan-kawannya mengintipnya hati- hati. Mereka telah datang menjelang tengah malam. Bersembunyi di balik batu-batu. Berselimutkan semak belukar dan merangkak-rangkak rendah.

Kuti!‖ seru  Simpang.  Pernahkah  engkau  mimpi diterkam seekor harimau?‖ Itu   alamat   baik.   Sebentar   lagi   engkau   akan disergap seorang janda!‖ sahut Kuti semberono. Yang lain tertawa berkakakan. Dan Simpang tertusuk perasaan-nya. Berkata tinggi:

Aku sungguh-sungguh! Harimau itu gede! Kata orang-orang tua, itu suatu tanda bahwa aku akan naik pangkat karena bertemu dengan orang gede. Tapi betapa mungkin? Aku tak berpangkat atau menjabat pekerjaan pemerintahan‖.

Nah, mimpimu telah kau jawab sendiri. Apa perlu aku menyumbangkan pertimbangan lagi?‖ tungkas Kuti. Barangkali engkau akan memperoleh suatu pahala besar. Siapa tahu‖, Kuti menyambung.

Benarkan itu? Bukankah itu suatu tanda, bahwa maut mengancammu?‖

Hih!   Janganlah   berkata   yang   bukan-bukan!‖ Simpang cemas.‖ Aku benci pada ramalan yang bukan-bukan!‖

Dalam pada itu Andika yang tidak sabaran, memisahkan diri dari rombongannya. Ia mendaki ketinggian. Menghampiri Kuti dan kawan-kawannya. Tatkala ia hendak menyergapnya. Gajah Mada menangkap lengannya.

Janganlah ceroboh! Agaknya Wudeng mempunyai jumlah pasukan yang lumayan banyaknya. Kita tunggu sampai fajar hari tiba. Pabila tiada perubahan yang terjadi, kita masuki goanya dan kita hancurkan!‖

Andika mengurungkan niatnya. Seperti seekor harimau ia mendekam. Pandangnya tak mau lepas dari Kuti dan kedua kawannya. Ia telah mereka-reka suatu penyergapan tertentu. Dahulu ia pernah mempunyai pengalaman demikian, tatkala menjadi perajurit Ra Kembar melakukan penjergapan terhadap orang-orang Buddha. Dan pengalamannya dahulu itu akan dilakukan terhadap Wudeng dan teman-temannya.

Tetapi Wudeng dan kawan-kawannya bukanlah sepasukan kaum Buddha dahulu yang berlawanan dengan kaum Syiwa. Mereka lebih tajam pendengarannya dan tajam pula penciumannya. Mereka cerdik dan licin. Dengan tak terduga-duga, tiba-tiba saja lima sosok bayangan telah berada di belakang Andika. Gajah Mada menggulingkan diri ke samping. Menyelinap ke belakang batu.

Bangsat! Kita diintip!‖ teriak salah seorang.

Andika meloncat gugup. Pada saat itu dua bayangan telah menyerangnya dengan dahsyat. Ia menangkis cepat dan pergumulan segera terjadi dengan sengitnya.

Simpang, Kuti dan Pati segera memanggili kawan-kawannya. Diperintahkan mereka bersiaga. Menanggalkan pakaian dan menjembunyikan senjatanya masing-masing sebaik-baiknya. Tetapi tatkala mereka lagi teggelam dalam kesibukan mempersiapkan diri, Andika dan kawan-kawannya menyergapnya serentak. Kepala Kampung menyerang kelompok kawanan. Andika, Sarkara, Wahan, Sawung dan Galih mengurung Simpang, Kuti dan Pati. Pergumulan seru terjadi dengan cepatnya. Karena kawan-kawan Wudeng tidak menduga akan adanya sergapan mendadak itu, maka mereka gampang ditumpas. yang masih ingin menyelamatkan diri cepat-cepat kabur. Melintasi mulut goa. Mendaki pegunungan dan menyembunyikan diri dalam selimut malam di tengah semak-belukar.

Kala itu Wudeng yang lagi menimang-nimang cincin Puteri Daha, kaget bukan kepalang apabila mendengar keributan penyerbu. Mulut goa tertutup rapat, sehingga tahulah dia bahwa maksud melarikan diri tidaklah mungkin. Maka ia meloncat ke dinding menyambar senjatanya dan mengamuk seru tak ubah banteng luka. Ia segera mendapat perlawanan seru pula. Perang tanding berkisar dari tempat ke tempat.

Bangsat! Tak kubiarkan engkau lolos lagi!‖ ancam   Andika.   Engkau   menyerahkan   cincin   itu kembali atau mampus kepojok!‖

Iblis! Setan!‖ maki Wudeng. Dan ia menyerang membabi-buta. Andika undur. Mencabut kerisnya dan dengan gesitnya mempertahankan diri. Dalam pada itu, Gajah Mada menghampiri kotak perak berisi cincin Puteri Daha yang ditinggalkan tak terjaga di atas batu. Gemetaran ia meraba tutupnya. Dibuka dan dijenguknya. Tatkala melihat cemerlang cincin kerajaan Daha, kagumlah hatinya. Tiba-tiba ia mendengar suara bersuling. Tangannya ditarik cepat. Ia melihat seorang tua berdiri tegak di depannya. Dengan suara tenang orang itu berkata:

Sama sekali aku tak mencampuri urusan ini. Tapi kalian menyerbu dan merusak kediamanku. Karena itu, wajib aku mempertahankan diri‖.

Siapa engkau?‖ tanya Gajah Mada menebak- nebak.

Kyai Gede Sura.‖ orang itu menjawab. Ia tertawa pelahan-lahan seolah-olah hendak mengesankan keperkasaannya. Meneruskan tegas: Guru muridku: Wudeng. Nah undurlah! Cincin itu, biarlah aku yang menyimpan.‖

Gajah Mada diam menimbang-nimbang. Tiba- tiba Kepala Kampung menyerbu di sampingnya, sambil berteriak tinggi:

Ha — ini Gede Sura! Musuh lama, bukan?‖

Kyai Gede Sura undur dengan sigapnya sambil menangkis serangan Kepala Kampung. Berteriak pula dengan suara parau:

Jahanam! Engkau itu Terunasakti?‖ Dan sebentar saja mereka telah bertempur dengan sengitnya. Mereka adalah sebaya. Dua musuh besar pada jaman mudanya. Terjadinya permusuhan itu lumrah. Perkara perebutan kekasih nun di sebuah desa dalam wilayah Kediri. Permusuhannya dilanjutkan sampai Terunasakti menjadi perajurit dan Gede Sura sebagai fihak yang diserang. Mereka bertempur dengan sungguh-sungguh. Kesempatan itu dipergunakan baik-baik oleh Gajah Mada. Dimasukkan kotak perak ke dalam lipatan kainnya. Dan ia menonton dua laki-laki tua yang saling berhantam.

Mereka mengeluarkan kesaktiannya masing- masing. Kekebalan kulitnya diperlihatkannya pula. Senjata-senjata tajam yang menusuk dirinya, tidak melukai. Mereka tetap segar bugar seolah-olah habis mandi di kali. Tiba-tiba Kyai Gede Sura melepaskan mantram tertentu. Kepala Kampung Terunasakti jatuh terkulai di atas tanah dengan mengerang.

Andika yang telah memenangkan perkalahiannya melawan Wudeng, menubruk dari samping. Juga serangan ini, dengan gampang dielakkan. Kemudian dengan mantramnya pula, Andika dilumpuhkan tak berkutik.

Melihat keperwiraan lawan, Gajah Mada menggeridik bulu kuduknya. Apakah yang akan dilakukan? Teringatlah dia akan senjata Bandar dan Galing yang bernama Kyai Sampani dan Barawa. Semenyak ia merampas kedua senjata itu, selalu saja dibawanya. Sekarang ia ingin mencoba kesaktiannya. Cepat ia melolos Kyai Sampani dan dilepaskan bersuling di udara. Kyai Gede Sura terkejut. Ia beragu untuk menangkisnya. Dan dalam saat itu. Gajah Mada membarengi dengan loncatatan gesit. Kyai Barawa telah dilolosnya. Tatkala Kyai Gede Sura kena bidik kyai Sampani, terhujunglah dia tujuh langkah. Gajah Mada menerkamnya dengan kyai Barawa. Dan orang tua itu, mati seketika itu juga seperti terkupas.

Rampung!‖ teriaknya. Ia memanggil segenap kawan-kawannya. Diperintahkan mengurung dan menolong Kepala Kampung dan Andika yang jatuh pingsan. Kemudian ia berbalik menghadapi kawanan penyamun lainnya. Tetapi mereka melarikan diri, apabila melihat pemimpinnya telah tewas. Dengan demikian selesailah sudah pertempuran itu. Pelahan- lahan ia berjalan mengarah kepada Andika dan Terunasakti yang mulai siuman.

Rampung! Cincin kerajaan telah berada dalam tanganku!‖ itulah suara Gajah Mada mula-mula. Pengaruhnya di luar dugaan. Serentak mereka berdiri tegak. Memandang keheran-heranan kepada Gajah Mada dan lawannya yang tewas terkulai di dekatnya.

Kau mengapakan dia?‖ mereka bertanya hampir berbareng. Bukankah wajar? Ditumpas atau aku ditumpasnya. Itulah suatu pergumulan yang terjadi di mana-mana.‖ Jawab Gajah Mada.

Mereka berdua saling melemparkan pandang tak mengerti. Hampir-hampir mereka tak percaya, bahwa guru Wudeng dapat dilumpuhkan dalam saat sependek itu.

*** XII

UJIAN TERAKHIR.

Peristiwa goa bukit batu kembar itu, menolong Gajah Mada meraba tangga cita-citanya. Sebentar saja, ia mulai dikenal oleh para pembesar. Tanca tabib istana ikut pula menyaksikan betapa besar kesanggupannya. Maka dengan mudah, ia dapat diterima sebagai calon bhayangkara. Menjadi seorang pesuruh dan penghubung dinas antara istana dan para pemimpin negara.

Dewasa itu, keadaan sesungguhnya menolong mereka yang berdarah bukan priyayi untuk dapat menjadi seorang bhayangkara. Hal itu disebabkan, karena keselamatan jiwa raja sering terancam oleh pemberontakan-pemberontakan yang terjadi oleh permainan politik Sang Mahapati. Syarat-syaratnya diperingan. Meskipun demikian, kecerdasan dan keperkasaan tubuh masih perlu diuji pula. Kadang mereka diadu dengan binatang galak di tengah lapang laga. Apabila berhasil memenangkan, pintu untuk menjadi seorang bhayangkara sekaligus terbuka. Sebaliknya apabila kalah dalam perkelahian itu, dirawatlah luka-lukanya sampai sembuh. Kemudian dikirimkan pulang ke kampung halaman. Syahdan: pada suatu hari para calon bhayangkara mendapat ujian sebagai berikut. Ada seorang brahmana lapor kepada raja, bahwa tiba-tiba ia memiliki isteri dua orang. Kedua orang perempuan itu, sama rupa dan sama solahbawa. Sama perangai dan masing-masing mengaku sebagai isteri Brahmana yang syah. Brahmana itu heran bukan main. Oleh penyelidikannya, tahulah dia bahwa salah seorang di antara mereka berdua ialah jin. Tetapi ia tak sanggup mencari penyelesaian. Maka dilaporkan hal itu kepada yang berwajib.

Raja dan segenap penasihatnya tiada dapat memperoleh keputusan. Akhirnya Sang Mahapati memberi saran, agar perkara itu diujikan kepada calon-calon bhayangkara untuk menguji kecerdasan dan kesetiaannya terhadap raja. Mereka adalah anak- anak muda yang masih segar bugar, katanya; barangkali memiliki cara berpikir dan ilham yang segar pula.

Raja menyetujui pendapat itu, meskipun para pemimpin negara menganggap persetujuan demikian suatu keajaiban. Tetapi mereka tak berani menyangkal, menyanggah atau menghalang-halangi kehendak raja. Karena raja telah menjatuhkan suatu keputusan. Maka peristiwa itu menggemparkan seluruh kerajaan.

Para calon bhayangkara dipanggil menghadap ke balai agung. Mereka diperintahkan duduk berjajar. Kemudian raja membentangkan persoalannya. Mendengar persoalan aneh itu, tiada seorang pun kuasa menjawab. Mereka saling menyiratkan pandang, minta bantuan dan pertimbangan masing- masing. Tiba-tiba Gajah Mada tampil ke depan. Berkata sambil bersembah:

Hamba bernama Gajah Mada. Atas izin baginda, dapatkah hamba menjawab teka-teki ini?‖

Itulah yang kami harapkan.‖ jawab Raja Jajanegara.

Apakah   hamba   diberi   hak   dan   kekuasaan

penuh?‖

Tentu. Kamu kami beri hak dan kekuasaan

penuh, untuk membuktikan dan menghukumnya.‖

Dengan menyesal hamba menolak hak menjatuhkan hukuman, karena kami tidak berwenang. Apabila baginda hanya memberi kekuasaan untuk membuktikan, hamba akan segera melakukan.‖

Segenap yang mendengar terheran-heran mendengar ucapannya yang berani dan tegas. Sang Mahapati menaikkan alisnya. Mahapatih Arya Tadah memperhatikan dengan penuh penyelidikan. Berkata Raja Jajanegara di tengah keheningan:

Lakukanlah! Kami menerima kehendakmu.‖ Gajah Mada majuu dan bertanya kepada raja:

Benarkah di antara mereka berdua ada yang

terjadi dari jin?‖

Demikianlah menurut keterangan brahmana.‖

Apakah Baginda yakin akan hal itu?‖

Raja Jajanegara berbimbang-bimbang. Dilemparkan pandangnya kepada para penasihat dan para penasihat menoleh kepada brahmana itu. Brahmana yang minta pengadilan mengangguk. Dan anggukan itu diteruskan kepada raja. Dan dengan suara yakin, Raja Jajanegara berkata:

Kami berkata, pabila brahmana berkata tidak benar, hukum mati akan kami jatuhkan. Berdasarkan ancaman hukum itu, kami yakin bahwa di antara kedua perempuan itu ada yang terjadi dari jin‖.

Gajah Mada tersenyum. Berkata: Jika demikian

halnya, adalah mudah jadinya.‖

Raja Jajanegara menaikkan alisnya. Ia merasa terhina. Setengah lantang ia memotong: Hendaklah kamu jangan bergampang‖. Siapa namamu?‖

Gajah Mada.‖

Apakah karena kakimu itulah yang membuat

engkau mempunyai nama demikian?‖ Nama itu hanyalah rekaan ayah sendiri. Ibu

hamba, memberi nama Tapak Mada kepada hamba‖.

Siapakah orang tuamu?‖

Kepala Kampung Mada. Sebuah kampung dekat

kali Berantas‖.

Raja Jajanegara memanggut-manggut. Tiba-tiba timbullah pikirannya hendak mengujinya lagi. Agar hal itu tiada semata-mata, maka dia berkata keras terhadap para bhayangkara:

Dengarlah! Kawanmu Gajah Mada ini berasal dari tepi kali Berantas. Pastilah dia pandai menangkap belut. Kami kira, kamupun pandai menangkap belut. Cobalah kami ingin mengetahui, siapakah di antara kamu yang dapat menangkap belut sepanjang lidi dengan cepat. yang tercepat, akan kami bebaskan dari wajib latih bhayangkara. Dan segera kami ambil jadi pengawal kami tingkat satu‖. 

Sepanjang lidi, sabda paduka?‖ Gaja Mada minta

keterangan.

Kamu berhadapan dengan seorang raja‖.

Ampun baginda, tetapi hamba berkata benar. Untuk membuktikan, hendaklah hamba diberi sebuah kendhi atau bujung.‖

Dari mulut ke mulut permintaannya dikabulkan. Setelah sebuah bujung ditaruh di hadapannya, Gajah Mada berdiri dan mengarah kepada brahmana! Berkata mengguruh.

Tuan brahmana! Tuan yakin bahwa salah seorang dari mereka adalah jin. Saja atas nama Raja memberi ketetapan sebagai berikut. Bawalah mereka maju. Suruhlah mereka memasuki bujung ini! Siapa yang pandai masuk ke dalamnya, itulah jin sebenarnya. Karena hanya jinlah yang kuasa masuk ke dalam mulut bujung, mulut kendhi, atau liang ular!‖

Perkataannya itu mengejutkan segenap yang hadir. Seperti mega hitam tertiup angin demikianlah keadaan benaknya. Dari mulut-mulut kecil, terdengar bisik tipis:

Nah! Aku tadi hendak berkata begitu.‖

Raja Jajanegara tersenyum mendengar bisik- demikian. Dan mulailah dia memperhatikan Gajah Mada. Diamat-amatinya pemuda itu dengan diam- diam. Kepalanya besar, mukanya buruk, kakinya rata. Jari-jarinya berlengketan seperti jari seekor Gajah benar. Tetapi matanya hidup, menyala, bersinar jernih dari titik kekelaman gundunya.

Ya. Sepanjang lidi. Dan berangkatlah hai kalian!‖

Mereka diantarkan beramai-ramai ke sungai Brantas yang melintasi kota. Para calon bhayangkari lantas berdiri berderet di tanggulnya. Raja Jajanegara duduk di atas bangku peranginan. Setelah aba-aba mulai diperintahkan, maka mereka menceburkan diri tanpa menanggalkan pakaiannya. Seperti rombongan itik dan belibis, mereka menjelajah dinding-dinding sungai dengan diiringi sorak-sorai tiada henti. Mereka tiada mempedulikan siapa teman siapa kawan. Seluruh perhatiannya adalah untuk keuntungan diri sendiri. Dalam pada itu, Gajah Mada tetap berdiri tegak di atas tanggul. Ia ikut menyumbang tepuk tangan dan sorak gembira, sehingga perbuatannya itu menimbulkan rasa heran yang melihatnya. Raja Jajanegara yang sengaja datang ke sungai untuk melihat pekerti Gajah Mada, keheran-heranan juga.

Hai! Mengapa engkau masih di situ?‖ tegornya.

Gajah Mada menoleh. Dengan sembah ia menjawab:

Hamba lagi mencari sebatang lidi‖.

Oleh jawabannya, raja memerintahkan salah seorang pengiringnya agar menolong mencarikan sebatang lidi untuknya. Apabila telah diperolehnya, ia tetap juga tiada bergerak dari tempatnya.

Hai! Mengapa tidak mulai?‖ tegor baginda lagi.

Apakah yang harus hamba mulai?‖

Bukankah kamu harus mencari belut sepanjang lidi?‖ Hanya itulah kewajiban hamba?‖

Bukankah kamu sudah mendengar perlombaan ini? Bersungguh-sungguhlah, agar kamu bebas dari wajib latih. Kamu segera akan kami lantik sebagai bhayanghari tingkat satu‖.

Gajah Mada berdatang sembah. Setelah minta doa-restu, segera ia turun ke sungai. Dengan tangkas ia menyusur tebing sungai, ke luar dari rumun teman- temannya. Ia menyendiri, seolah-olah hendak mengasingkan diri. Raja Jajanegara mengikutnya dengan pandang teka-teki.

Hendak ke mana dia?‖

Arya Tadah Mahapatih kerajaan. menjawab ringan:

Lakunya mudah dimengerti. Juga belut mempunyai naluri menghindari bahaya yang mengancam. Pastilah belut-belut itu melarikan diri kepada yang sepi.‖

Keterangan Arya Tadah itu terbukti kebenarannya. Tak lama kemudian, Gajah Mada telah menangkap seekor belut dan ditusukkan pada lidinya. Semacam sate seekor belut, ia membawa menghadap baginda. Dipersembahkan belut itu kepada rajanya, seraya menagih janji yang pernah didengarnya. Tapi apa yang kau lakukan itu?‖ teriak baginda.

Bukankah kami menjuruh kalian  berlomba untuk

menangkap belut sepajang lidi?‖

Gajah Mada bersembah. Menjawab : Bukankah

belut seekor ini, telah cukup memenuhi panjang lidi?‖

Oleh jawabannya, raja Jajanegara terheran-heran. Disiratkan pandangnya kepada sekalian yang hadir. Arya Tadah yang menerima pandang pertama, membenarkan ucapan Gajah Mada. Ia menerangkan, bahwa bagindalah yang khilaf akan bunyi perlombaannya. Bukankah baginda memerintahkan mereka agar mencari belut sepanjang lidi, katanya. Dan baginda keheran-heranan akan kecerdikan Gajah Mada. Segera ia memerintahkan, agar perlombaan itu dinyatakan selesai. Dan baginda mengumumkan, bahwa perlombaan dimenangkan oleh Gajah Mada. Seorang calon bhayangkara bernama Arya Damar minta keterangan apa sebab perlombaan dimenangkan oleh Gajah Mada. Setelah mendapat keterangan, ia berkata:

Adakah laku demikian yang benar? Perbuatan- nya tidak jujur!‖

Arya Tadah menjawab: Lakunya benar. Itulah karunia seseorang yang memperoleh anugerah kecerdasan. Tanpa banyak mengorbankan tenaga, ia telah dapat memperoleh apa yang dikehendaki.‖ Baginda menyetujui pendapat Arya Tadah, maka Arya Damar tak kuasa membantah lagi. Keputusan raja adalah seumpama sabda dewa. Sekali terjadi tiada lagi dapat diubah. Tetapi dalam perjalanan pulang, ia menantang Gajah Mada berkelahi.

Ini perbuatan gila!‖ maki Gajah Mada.

Nah, apakah yang akan kau lakukan?‖ sahut

Arya Damar.

Berbuat gila juga.‖ jawabnya.

Arya Damar tertawa berkakakan. Katanya:

Akhirnya   terbongkar   juga   dongeng   tentang

kecerdikan otakmu. Mana sekarang kewarasanmu?‖

Apakah aku harus melawan orang gila dengan kewarasan otak? Mana bisa orang gila bisa mengerti. Kegilaannya telah meriuhkan otaknya sendiri. Dan rambut sampai ubanan, sewaras-warasnya pertimbangan tiada kuasa memberi penerangan kepadanya.‖

Mereka berdua mendaki ke ketepian. Di atas tanggul mereka berkelahi. Arya Damar adalah seorang laki-laki yang cekatan. Dengan cepat, ia menghujani pukulan-pukulan dahsyat. Pukulan itu dibiarkan saja oleh Gajah Mada menimpa dirinya. Lakunya hanya mendesak musuh dengan pandang pasti dan dada tegak. Sikapnya itu membimbangkan lawannya. Pelahan-lahan tapi pasti ia terus mendesaknya. Arya Damar kehilangan ruang bergerak. Tungkaknya telah meraba tepi sungai. Ia hendak meloncat. Berbareng dengan gerakannya, tiba-tiba Gajah Mada menerjang dengan sengit. Arya Damar terkejut. Keseimbangannya hilang dari pengamatan. Dan ia tercebur dalam sungai.

Tapi aku tidak kalah!‖ serunya dipermukaan air.

Siapa yang bilang engkau kalah? Aku hanya bilang,   engkau   gila!‖   sahut   Gajah   Mada.   Nah teruskan! Naiklah! Aku hanya bersikap agar engkau tak kuasa menaiki tebing. Akan kulihat dan kujaga, sampai kegilaanmu merusak tenagamu sendiri.‖

Benar juga. Setiap kali Arya Damar merangkaki tebing, ia dilemparkan kembali ke permukaan air. Lambat-laun, habislah tenaganya. Di antara nafasnya, ia berkata menyerah:

Setan! Kau benar-benar secerdik iblis!‖

Gajah Mada tertawa bergelombang pendek.

Kau  bodoh!‖  serunya.  Mengapa  otakmu  kau biarkan tidur? Adakah benar tenaga semata-mata yang dapat diandalkan? Pakailah otakmu, kawan! Bukankah air yang membelenggumu dapat kau pergunakan sebagai senjata? Nah, siratkan air itu kepadaku! Dengan begitu, aku akan undur. Dan engkau memperoleh kesempatan buat melompat ke tepi!‖ Seperti hamba negeri menghafalkan peraturan pemerintah, Arya Damar segera melakukan saran lawannya. Disiratkan air sungai kepadanya kemudian ia bergerak mendapatkan tepi tebing. Tetapi ia terkejut, tatkala Gajah Mada berseru:

Kau hampir berhasil, kawan! Tapi biar cacingpun akan berusaha melawan apabila terserang. Engkau telah mempergunakan senjata, kini. Maka akupun harus bersenjata pula. Dengan begitu, kini yang berbicara adalah senjata. Karena itu, mana yang bersenjata kuat — itulah yang akan menang‖.

Kau mau apa?‖ sahut Arya Damar khawatir.

Aku mau menyenduk tanah dan menerkam

batu. Engkau akan kuhujani tanah dan batu.‖

Hai! Hai! Jangan! Iblis!‖ teriak Arya Damar cepat. Gajah Mada tertawa senang. Lantas berkata:

Bagaimana sekarang? Kalau perkelahian ini habis di

sini, lekaslah engkau naik. Berusahalah sendiri, karena engkau adalah laki-laki!‖

Dan Arya Damar dibiarkan merangkaki tebing. Bukan main sulitnya, karena tebing sungai demikian basah oleh pekertinya sendiri.

*** XIII

PERKUNJUNGAN GAJAH KE MADA.

Konon diceritakan — setelah Gajah Mada menjadi salah seorang bhayangkara, ia rajin membaca buku. Tulisan-tulisan pujangga Sedah dan Panuluh hampir-hampir terhafal olehnya. Dari kaum cerdik-pandai, ia mulai mengenal tata-negara; suatu hal yang sulit untuk diperoleh setiap orang. Ia mulai mengenal betapa susunan pemerintahan dan negara, yang terdiri dari Mahamenteri, Panca ring Wilwatikta Darmajaksa yang Dua, Upapatti, Dewaputera dan arti Persidangan agung seperti Sidang Saptaprabu. Selain itu, sebagai seorang bhayangkara, ia mengenal latihan perajurit. Tak bosan-bosan, ia belajar dan menekuni cara-cara berkelahi yang baik. Karena itu, tubuhnya tumbuh demikian kokoh perkasa. Pandangnya tajam, berani dan terlalu yakin akan segala yang hendak dilakukan.

Syahdan, pada suatu malam ia melintasi tanah lapang Bubat. Malam itu agak cerah oleh bulan gede. Sudah menjadi suatu kelaziman, bahwa pada malam- malam demikian banyaklah gadis-gadis berkekadar di luar rumah. Mereka menyanyi dan sekali-kali diselingi doa pendek dan panjang untuk memuji kemurahan Hyang Brahma atau Wisynu atau Syiwa yang menurut kepercayaan mereka telah menurunkan suatu kemurahan. Dan suatu rahasia kecil yang disimpannya baik-baik dalam perbendaharaan hati dan selalu dipintanya tiada lagi yang lain kecuali mengharap kejatuhan jodoh yang patut untuk dijunjungnya tinggi. Karena itu pula, para pemudanya memenuhi jalan-jalan pada malam-malam demikian. Mereka berpakaian baik-baik dan mengenakan tanda-tanda kebanggaannya. Biasanya apabila mereka mampu membayar, dipasanglah seorang atau dua untuk berada di dekat kerumunan gadis agar menegornya dengan tegoran teratur seperti begini:

Aduh tuan yang lewat, siapa konon seperti dewa

turun ke bumi?‖

Dan yang mengatur teguran dan yang membayar upah teguran demikian, segera menjawab angkuh mengarah dewa:

Hai bibi! Hamba bukan dewa Kamajaya!‖

Jika bukan dewa Kamajaya, gerangan dewa

Sukra atau dewa Asmara barangkali?‖

Ah bibi! Hamba hanyalah salah seorang hamba

kerajaan.‖

Dewa Pramesthi!‖ seru kagum terdengar dari

yang diupahnya. Cobalah terangkan, apakah pangkat tuan! Apakah jabatan tuan! Dan berapa

besar gajih tuan!‖

Pertanyaan itu segera memperoleh jawaban. Kerapkali jaring itu mengenai sasarannya. Sekalipun rumun gadis itu bersikap seakan-akan tiada mempedulikan, tetapi tanya-jawab itu menyelinap juga dalam telinganya. Dalam permainan demikian selembar selendang atau setangkai bunga menjadi peranan yang menentukan. Mereka yang memperoleh selendang yang sengaja ditinggalkan atau bunga yang dipersuntingkan lewat orang bayaran, hampir berhak mereka-reka bakal anak- anaknya di kemudian hari.

Demikianlah, tatkala Gajah Mada melintasi lapangan Bubat ia melihat seorang gadis berjalan cepat tak jauh daripadanya. Gadis itu mempunyai kesan ajaib yang mempesona hatinya. Demikian terpesona dia, sehingga ia berdiri tegak seperti tugu. Pandangnya tak beralih dari gaya jalan yang dilihatnya. Lemah-semampai, lembut tapi cekatan. Tiba-tiba ia melihat Andika berjalan mengikuti kira- kira sepuluh langkah jauhnya. Segera ia menghampiri.

Andika!‖ serunya.

Andika menoleh kepadanya. Berteriak ia menyambut gembira:

Gajah  Mada!  Engkaukah  itu!  Engkau  menjadi

seorang bhayangkara sekarang.‖  

Mereka berpeluk-pelukan. Kemudian Gajah Mada bertanya:

Siapakah puteri yang engkau kawal ini?‖

Bukankah aku pengawal kediaman Gusti Patih

Arya Tadah? Dialah itu Gusti Ayu Bebet.‖

Hyang Pramesthi! Gusti Ayu Bebet?‖

Cincin puteri Daha selalu dikenakan. Tak kau lihat tadi?‖ kata Andika. Engkaulah yang berjasa dalam hal ini. Di kemudian hari, engkau akan kuperkenalkan padanya. Tapi kawan, aku harus berjalan. Engkau mengerti, bukan? Nasib hamba puteri Ayu. Kalau ada celakanya jangan kau harap aku

dapat melihat dunia ini.‖

Andika meninggalkannya sendiri. Dan ia tertegun-tegun. Hatinya demikian tertambat. Ada niatnya hendak menguntitnya dari kejauhan. Tapi tatkala itu, rumun gadis yang berada di seberang- menyeberangnya melintang berdiri di depannya. Mereka membuat kalangan dan terdengar nyanyi salah seorang yang duduk bersimpuh di antara mereka, memuja bulan dan alam.

Gajah Mada hendak menghindari jauh-jauh. Ia tidak segirang dan sesegar pemuda-pemuda lainnya, karena ia merasa bertampang buruk. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar di kejauhan. Suara itu demikian mengejutkan, sehingga mereka yang berada di lapangan Bubat, bubar berderai dengan teriak ketakutan. Terkesiap Gajah Mada menyaksikan keadaan yang berubah dengan cepat. Lagi pula suara gelegar itu benar-benar mengejutkan.

Suara apa itu?‖ ia bertanya kepada salah seorang yang berada di dekatnya.

Menepilah! Konon kata orang, itulah suara cemeti sakti Sang Mahaputera Waruju Aditiawarman!‖

Siapakah dia?‖ Sang Dewaraja! Dialah sebenarnya, pengganti tahta kerajaan yang terdekat; apabila baginda Jajanegara tiada berputera.‖

Tak lama kemudian, terdengar derap kuda berguruh mendatangi. Mula-mula tiga penunggang kuda lewat dengan cepat. Dan hampir tak tertangkap oleh pengamatan, seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang ksatria lewat dengan cepatnya. Itulah Sang Dewaraja Aditiawarman!‖ seru orang di dekatnya.

Gajah Mada mencongakkan kepala. Tirai malam itu menyusahkan pengamatannya, sehingga ia tak dapat menangkap wajah satria itu.

Lagi pula, alangkah sebat lari kudanya. Beberapa pengawal yang mengikutinya dari belakang jauh ketinggalan. Karena itu, ia hanya memperoleh kesan. Ksatria itu mempunyai prabawa. Perawakan tubuhnya mengingatkannya kepada patung almarhum baginda Kertarajasa.

Tuan......! Berilah saya penerangan,‖ katanya meminta sungguh-sungguh pada temannya. Tuan dilahirkan di ibukota. Saya berasal dari desa! Semuanya masih asing bagiku‖.

Itulah kesalahan yang besar, dya!‖ Hidup dalam kota berarti perjuangan hidup dan mati. Dyan,

harus mulai berwaspada. Harus mengenal orang- orang yang mempunyai masa depan dan yang tidak. Dengan demikian, akan bisa menentukan siapakah yang patut menjadi kawan dan siapakah lawan berjuang. Sang Dewaraja Aditiawarman berasal dari tanah Minangkabau. Menurut kabar, dilahirkan di Siguntur dekat negeri Sijunjung. Beliau dididik di istana. Ayah-bundanya mempunyai perhubungan darah dengan permaisuri almarhum baginda Kertarajasa. Kalau tidak dari permaisuri Dara Jingga, pastilah dari Dara Petak. Baginda Jajanegara adalah pamannya. Beliau adalah seorang ksatria yang mendapat anugerah dewata suatu kesaktian. Cemetinya berbunyi laksana guruh apabila dilecutkan. Biasanya dilecutkan di medan perang. Tapi apa sebab malam ini? Apakah ada suatu kekacauan lagi?‖

Dengan penuh perhatian, Gajah Mada mengikuti keterangan itu. Malam itu, benar-benar berkesan dalam perbendaharaan hati. Gusti Ayu Bebet dan Sang Dewaraja Aditiawarman! Kedua-duanya bermain demikian sengit pada ruang jantungnya. Gusti Ayu Bebet membangunkan cinta birahinya. Tetapi alangkah mengerikan; karena dengan tiba-tiba ia merasa akan derajatnya. Apakah senjata yang sekira ampuh buat merebut hati puteri itu, pikirnya. Apabila ia hendak mengadu kecakapan jasmaniahnya, sama sekali tak dimiliki. Pangkat atau jabatan, barangkali? Itupun belum dimiliki juga. Kemudian pikirannya beralih kepada kesan kawibawaan satria Aditiawarman. Sudahkah dia sejajar dengan ksatria itu apabila dibandingkan? Belum! Bahkan tidak! Celakanya, ia dilahirkan dengan kemauan yang keras amat. Semenjak dahulu ia tak kuasa memadamkan. Dengan demikian, angan dan hatinya mulai menjadi permainan gejolaknya. Dimulai dengan malam itu. ia tak mau tidur atau makan. Ia berpuasa; karena menurut keyakinannya hanya dewatalah yang dapat menampung kekerasan angannya. Akan tetapi, karena hari-hari demikian berjalan dengan tak menentu batasnya, maka tiba-tiba ia teringat akan ayah dan ibu angkatnya. Bukankah mereka berdua merupakan tempat yang baik untuk menumpahkan perasaan hatinya? Siapa tahu, barangkali orang tua itu dapat memberi penerangan bagi hatinya oleh pengalaman umurnya. Maka pada suatu hari, kepada Sang Mapatih ia minta waktu beberapa hari lamanya untuk mengunjungi kampung halamannya. Tetapi kejadian yang tak diduganya menyedihkan hatinya. Kedua orang tuanya itu ternyata telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Jenasahnya belum disempurnakan oleh penduduk, karena sesungguhnya menunggu kedatangannya. Sudah lama penduduk berusaha menghubunginya, tetapi kabar berita tentang dirinya tak dapat diketahui. Maklumlah; beberapa orang desa yang datang dari tepi sungai Berantas betapa dapat memperoleh keterangan yang jelas tentang dirinya. Kecuali jaraknya begitu jauhnya, mereka tiada berani mendekati istana. Ia diantarkan beramai-ramai di pemakaman ayah-bundanya. Di sanalah teman-temannya yang lama bergotong-royong membuat sebuah pancaka. Setelah jenasah dibakar, segera akan dikirimkan ke laut seolah-olah menyerahkan kedua makhluk yang pernah hidup kepada yang punya. Tetapi tidaklah mudah ia melepaskan abu jenasah ayah-bundanya kepada laut jauh di sana. Baru setelah ia menundukkan rasa harunya, abu ayah-bundanya dibawa orang ke perahu. Dan dari pedanda ia mendengarkan keterangan tentang sebab-musabab kematian mereka. Selain mereka bersedih hati ditinggalnya pergi, sesungguhnya kampung Mada waktu itu diamuk penyakit menular. Angin yang mengembara dari ujung ke ujung menyebarkan nafas medan peperangan yang tiada kenal berhenti. Karena itu, berhentilah hai peperangan! — serunya pada ucapannya terakhir — karena sesungguhnya hidup manusia ini saling bersentuhan. Jika di sana ada kematian, di sinipun tersientuh juga; demikian pula sebaliknya.

Sekarang, rumah ayahbundanya yang mentereng itu nampak kosong menyayat. Pada malam-malam berikutnya, ia berada di dalamnya. Mula-mula dikawani; lambat-laun ia minta agar dibiarkan memanjakan gejolak perasaannya seorang diri.

Begitulah diceritakan, setelah ia dilamun oleh kenangan masa kanak-kanak yang mengharukan, pada suatu hari ia tertidur. Sekarang — entahlah ini mengimpi atau bukan — ia tak dapat menerangkan, tiba-tiba dia melihat sebuah cahaya sebesar nyala pelita muncul di dinding sebelah pojok. Cahaya itu mendatanginya dan lenyap tepat di bawah garis bandar rumah. Kemudian dua orang makhluk yang tiada begitu terang, muncul di depannya. Kedua makhluk itu tidak menoleh kepadanya, malahan seolah-olah tidak mempedulikan. yang satu nampaknya jauh lebih tua dari yang lain. Mereka bermain seolah pemain sandiwara di atas panggung yang terbatas. Terdengar yang kecil bertanya:

Kami ini bangsa apa?‖

Biar setan atau iblis atau jin, apakah guna dipersoalkan?‖

Aku berbicara perkara kemuliaan!‖

Ah, kemuliaan. Kepada siapa engkau memper- bandingkan? Kepada manusia? Manusiapun belum pasti semulia kita.‖ yang tua meyakinkan.

Tapi guru, salahkah aku mempersoalkan tentang kemuliaan?‖

Tak ada yang salah dalam hidup ini, karena semuanya berlaku dalam teka-teki. Tetapi barang siapa yang ingin kemuliaan, itulah bahagia sebenarnya. Karena dia mempunyai cita-cita.‖

Aku ingin mulia, guru. Dapatkah aku menerima petunjuk?‖

Kami bangsa iblis mempunyai pengertian sendiri tentang kemuliaan. Kami lebih suka ditakuti daripada dicintai. Dengarkan, ini ada beberapa nasihat. Jika engkau ingin berpengaruh, jangan banyak berbicara! Jika engkau ingin jadi pemimpin, usahakanlah agar paras wajahmu jangan berubah apabila hatimu tergerak. Jika engkau ingin berkuasa, jangan biarkan orang lain membicarakan tentang kekuranganmu. Seumpama sebuah pelita, padamkanlah sebelum menjadi besar! Jika engkau ingin melamar gadis, bohongilah dia sebe-sar-besarnya; karena gadis senang pada lamunan yang besar-besar. Jika engkau ingin hidup manja, pilihlah seorang janda yang punya harta dan bermuka buruk. Jika engkau punya kedudukan di pemerintahan, jangan biarkan lepas dari tanganmu, karena sesungguhnya pemerintah adalah suatu alat pemukul yang ampuh. Dan jika engkau ingin tetap berwaspada, anggaplah semuanya adalah musuhmu.‖

Mendengar petuah itu, yang kecil memanggut- manggut, yang tua memanggut-manggut pula. Gerak berulang itu makin lama makin cepat. Berputar-putar berbentuk lingkaran. Akhirnya kembali menjadi cahaya dan kembali ke pojok rumah dan hilang dengan bunyi tertawa berkikikan.

Gajah Mada tertegun-tegun merenungi penglihatannya. Belum lagi ia sempat menebak teka- teki itu, ia mendengar suara yang datang dari samping.

Anakku!‖

Cepat ia menembakkan pandangnya. Alangkah terkejutnya. Dilihatnya ayah dan ibunya datang.

Pak! Ibu!‖ serunya girang.

Ia lari mendapatkan dan hendak merangkulnya.

Tapi mereka undur sambil menyanggah:

Jangan ulangi seruanmu. anakku! Sesungguhnya kami bukan ayah-bundamu yang benar. Kami datang hanya untuk menjengukmu. Lama rasanya, menunggu kedatanganmu. Adakah engkau lihat tadi, dua makhluk yang bermain di depanmu. Mereka iblis, anakku! Seumpama guntur ia mampu mengasyikkan. Tapi adakah dipastikan hujan akan tiba?‖

Ayah! Ibu!‖ potong Gajah Mada. Mengapa ayah berkata yang bukan-bukan? Biar mereka setan, iblis atau dewa sekalipun, apa peduliku? Tiada yang lebih berharga bagiku, selain pertemuan ini. Tapi mengapa ayah undur. Mengapa ibu tak mau kujamah?‖ Ya,   anakku;   karena   seperti   yang   kukatakan, sesungguhnya kami bukanlah ayah-bundamu.‖

Lantas siapa lagi?‖

Mereka tiada menjawab. Dan Gajah Mada resah bukan kepalang.

Aku datang ke mari hendak mendapatkan ayah!‖ katanya. Hendak minta doa restu ibu. Mengapa semuanya berubah? Lantas kepada siapa lagi aku hendak berbicara. Dengarkan ayah, aku tidak bahagia di kota. Aku tak berarti. Tak berarti sama sekali! Betapa tidak?‖

Tetapi ia dilarang meneruskan berbicara. Ayahnya tiba-tiba mendongeng. Terlalu lemah bunyi suaranya, sehingga ia susah menangkapnya. Ia begitu sedih. Nafasnya jadi sesak. Tiba-tiba ia tersentak oleh suara garang:

Hai laki-laki macam apakah engkau ini? Hidupmu harus berguna! Engkau anak Dewa Brahma yang dilahirkan agar dapat berbuat kebajikan bagi negara dan bangsamu!‖

Ia melebarkan matanya. Dilihatnya api berputaran seperti gangsingan. Seorang yang mempunyai perbawa demikian besar, berdiri tegak di depannya.

Engkau siapa?‖ Akulah Dewa Brahma, yang melahirkan engkau lewat rahim Diatri Nari Ratih. Engkau dilahirkan untuk tak dapat dikalahkan oleh siapapun juga. Karena aku akan selalu berada di sampingmu dan akan mengabulkan dan mensyahkan setiap kehendakmu. Engkau kuhadiahi suatu kekuasaan yang tak tertumbangkan. Suatu gaya yang tak pernah salah. Suatu penglihatan yang luas. Engkau perkasa di setiap lapang pekerjaan. Kekuasaan di dunia, tak ubah pula kekuasaanku. Kuberi engkau ucapan selamat. Lihat ini! Sekeranjang palapa! Makanlah sepenuh tenagamu! Ingin aku melihat, berapa buah engkau akan memakannya.‖

Di depannya nampak setumpuk palapa. Lantas saja seperti kehilangan kemauannya sendiri, Gajah Mada memakannya dengan lahap. Lima belas sudah yang telah ditelannya. Tinggal empat lagi dan habislah sudah palapa yang disediakan. Tetapi ia kehilangan nafsu makannya. Seolah-olah perutnya tak kuasa lagi menampung. Maka ia memandang kepada Dewa Brahma dengan pandang menyerah. Dewa Brahma tersenyum padanya dan berkata:

Limabelas tabiat yang akan mengagungkan dirimu. Wijnya, mantriwira, wicaksaneng naya, matangwan, satya bhakty aprabhu, waqmi wak, sarjjawopasama, dhirotsaha, tan lalama, diwyacitta, i samastabhuwana, sih samatabhuwana, ginong pratidina, sumantri dan anayaken musuh. Tetapi empat yang tiada kau jamah. Karena itu engkau masih memiliki cacat juga. Empat perkara banyaknya.‖

Gajah Mada hendak menanyakan macam kesalahannya itu. Tetapi mulutnya seperti terkunci. Gagap ia mencoba berbicara. Tapi sampai Dewa Brahma hilang dari penglihatannya tiada sepatah katapun yang dapat terloncat dari mulutnya. Disiratkan pandangnya. Dilihatnya ayah-bundanya lagi yang bersenyum kepadanya.

Ayah! Ibu!‖ serunya.

Dalam jaman yang lemah dan kacau, muncullah engkau hai anakku. Dengan demikian engkau akan lekas kelihatan. Tapi kesetiaan, janganlah kau abaikan seperti yang seringkali kukatakan kepadamu. Biar raja berganti seribu kali sehari, itulah bukan soal. Karena raja sesungguhnya adalah lambang negara dan bangsa.‖ kata ayah angkatnya.

bijaksana hikmah, berani pembela negara dan tidak takut salah karena punya keyakinan suci Gajah Mada lari mendapatkan. Dengan sekuat tenaga ia menubruknya. Udara yang ditubruknya menyibak ke samping dan ia jatuh terkulai tak sadarkan diri.

Ayah-ibu!‖ serunya lagi.

Sebuah tangan meraba lengannya. Ia terbangun. Dilihatnya pedanda dan orang-orang kampung datang merumuni. Mereka berdiri dan ada pula yang duduk bersila dengan jarak tertentu.

Mengapa?‖ ia berkomat-kamit.

Dahimu menyorotkan cahaya,‖ bisik pedanda.

Sorot apakah itu? Hanya Dewa Wisynu—Dewa Narayana yang punya. ‖

Mendengar bisik pedanda ia bertambah kebingungan. Apakah arti ini semua? Dua iblis! Ayah- ibunya! Dewa Brahma! Dewa Wisynu disebut-sebut pula!

O pedanda!‖ katanya. Jangan berkata yang bukan-bukan! Aku bukan Dewa, bukan pula anak dewa.‖

Tapi dahimu bercahaya!‖

Ah, siapa yang bilang?‖

Seorang peronda menyaksikan cahaya itu. Lantas larilah dia memanggil segenap penduduk. Lantas aku dipanggilnya. Dan aku dan dia dan segenap penduduk Mada menyaksikan itu semua!‖

Mendengar keterangan itu, Gajah Mada tersenyum geli. Alangkah lucu!

*** XIV

PERKUNJUNGAN GAJAH KE MADA.

Demikianlah — ia kembali ke kota. Segera ia berdinas lagi. Waktu itu malam demikian gelap. Dari kepala bhayangkara ia mendapat perintah agar berhati-hati. Pesan itu diucapkan dengan sungguh- sungguh. Karena agak lama ia meninggalkan kota maka perkembangan keadaan negara belum diketahuinya dengan jelas.

Tuan Amancanegara!‖ katanya. Terangkan, apa

arti ini semua?‖

Sang Dewaraja Aditiawarman dikirimkan ke luar kota oleh nasihat Sang Mahapati. Kemudian pada hari kemarin, para darmaputera dikabarkan mogok. Mereka mengadakan pertemuan rahasia. Kabarnya akan menggulingkan tahta kerajaan‖.

Mengapa?‖ ia terkejut dan hatinya bergoncang dengan hebatnya.

Raja menaikkan pajak para bhiksu dan kepala agama Buddha lainnya. Ini semua Sang Mahapati yang menganjurkan. Tapi ah, apa perlu kita turut memikirkan. Ini perkara negara. Tugas kita hanya menjaga istana dan keselamatan raja‖.

Tapi keterangan itu bagi Gajah Mada menggoncang-kan hatinya benar. Dengan hati berdebar-debar ia hendak minta keterangan lebih lanjut. Sayang, Amancanegara tidak mengabulkan. Ia hanya berpesan, agar dia mengepalai limabelas teman-temannya, karena ia hendak pergi menghadap Mapatih Arya Tadah.

Demikianlah — baru saja dia hilang dari penglihatan, huru-hara terjadi dengan cepatnya. Di Timur ia melihat api berkobar-kobar. Dekat benar nyala api itu, seolah-olah dinding istana telah teraba. Gajah Mada menyerukan siaga. Kentung bahaya lantas terdengar sibuk menggelisahkan. Jerit dan tangis kanak-kanak mulai terdengar pula. Di jalanan, derap kuda dan gemerincing senjata berbenturan. Tidak lama kemudian, sepasukan perajurit mengepung istana. Seperti dinding berlapis mereka mendekati gerbang istana.

Tahan mereka!‖ seru Gajah Mada. Hanya setelah melampaui bangkaimu, mereka baru dapat memasuki halaman!‖

Para bhayangkara lari berserabutan. Gajah Mada meloncat masuk ke dalam puri. Dalam gelap, tiba- tiba ia melihat bayangan. Seolah-olah ayahnya yang datang. Tapi ayahnya bukanlah segarang demikian. Siapa?‖ gertak Gajah Mada. Ia siap untuk mati berbareng.

Bertindaklah dengan cepat, anakku! Inilah kesempatan yang baik untuk memperlihatkan kesetiaanmu terhadap negara dan bangsa!‖

Gajah Mada terpaku mendengar jawaban demikian. Kala matanya berkedip, bayangan lenyap dari penglihatan. Ia tak sempat lagi menebak-nebak tentang bayangan yang ajaib itu, karena tiba-tiba teman-temannya yang menjaga gerbang telah terlibat dalam suatu pertempuran seorang lawan seorang.

Dengan cepat, ia memasuki istana. Ia menghadap raja Jajanegara yang bersikap setenang air telaga. Alangkah agung dia, pikir Gajah Mada. Dengan penuh hormat dia datang bersembah:

Baginda! Istana rupanya sulit untuk

dipertahankan‖.

Sudah tiga hari kami ketahui hal itu. Kami siap

mati bersama dengan musnahnya istana‖.

Baginda belum boleh bersabda demikian.

Hamba bersedia mati bersama baginda.‖

Berapa bhayangkara yang berada dalam istana?‖

Yang     hamba     pimpin     lima     belas     orang banyaknya.‖ Raja Jajanegara tersenyum. Berkata: Bukankah

sia-sia belaka menghadapi ribuan perusuh?‖

Baginda.‖  sanggah  Gajah  Mada.  Di  luar  istana puluhan laksa perajurit yang siap berkorban untuk baginda, asalkan baginda memberi maklumat kepadanya‖.

Yakinkan engkau?‖

Hamba yakin.‖

Tapi Sang Jajanegara masih beragu juga. Gajah Mada jadi gelisah. Tahulah dia apa sebab raja bersikap bimbang terhadapnya. Maklumlah; dia hanya seorang bekel. Tetapi ia cukup sadar, bahwa ia harus bertindak cepat. Berpikirlah dia, bahwa dalam keadaan darurat bertindak adalah lebih tepat daripada suatu pertukaran pikir. Maka dengan bersama Jajanegara meninggalkan istana. Entah apa sembah berulang kali, ia memaksa agar bagindalah yang menyebabkan, Raja Jajanegara menaruh kepercayaan kepadanya. Ia dibawa oleh Gajah Mada dari pintu butulan. Dipanggilnya teman-temannya sebanyak limabelas orang. Mereka dimasukkan ke dalam bilik. Berkata mengguruh:

Dengar! Ini pekerjaan bahaya! Dan kalian harus dapat merahasiakan! Raja hendak kami bawa ke luar

istana. Barang siapa membocorkan rahasia ini, akan

kubunuh dengan tanganku sendiri.‖

Setelah berkata demikian, mereka dibawa ke luar bilik. Kemudian dengan bersiaga, mereka mengawal raja. Pekerjaan itu, tidaklah segampang dugaan orang. Istana benar-benar sudah terkurung rapat. Sorak gemuruh para pemberontak, memenuhi angkasa. Benturan senjata dan pertempuran perseorangan terjadi di mana-mana. Mereka seolah- olah bertindak sendiri-sendiri, tiada kesatuannya. Yang mempertahankan diri, kehilangan tujuan pertempuran. Karena itu, sebentar saja gerbang istana jebollah.

Gajah Mada menyelimuti raja dengan kain sandi. Baginda dirangkulnya dan dibawa lari menyusup pasukan-pasukan pemberontak. Kelima belas teman- nya lari membuntuti sambil bertempur.

Jangan terlalu lama melayani lawan!‖ perintah Gajah Mada. Coba bawa baginda dahulu! Aku tahan mereka‖.

Ke mana?‖

Ke Badander!‖  

Setiap orang mengerti letak Badander. Maka lima orang bhayangkara membawa baginda ke Badander, sedang Gajah Mada memimpin yang lain untuk bertempur mencari jalan atau mengusir penyerangnya. Sekarang orang baru melihat ketangkasan Gajah Mada. Seperti burung rajawali ia menyambar setiap lawan yang mendekati dengan pedang terhunus. Ia meloncat atau mengamuk seperti seekor Gajah untuk mempertahankan diri atau memusnahkan lawan. Segerombol penyerang yang mengepungnya dilawannya dengan berlari. Dengan demikian gerombolan yang mengejarnya tiada merupakan kesatuan lagi. Karena itu pula, dengan mudah ia menumbangkannya seorang demi seorang. Musuh yang penghabisan, ditangkapnya dan ditawannya. Ia membawanya ke tepi dan minta keterangan:

Bilang! Siapa yang memimpin pemberontakan ini?‖ Orang itu bergemetaran. Menjawab terpaksa:

Bagaimana  aku  tahu?  Ada  yang  bilang  Sang Darmaputera Kuti, Semi, Pangsya, Wedeng, Yuyu, Tanca, Banyak ya bagaimana aku tahu?‖

Bilang yang terang! Atau kubunuh sekarang juga!‖

Orang itu tiba-tiba tersenyum menghina.

Katanya:

Mana bisa kau berani begitu? Sang Mahapati

adalah pelindung kami. Semua orang tahu‖.

Mendengar ucapan itu, bukan main marah Gajah Mada. Sama sekali ia tak menduga bahwa nama Sang Mahapati dibawa-bawa serta. Apakah ia menyetujui dugaan Amancanegara atau tidak, tetapi oleh goncangan amarahnya, dibunuhlah orang itu sekali mati. Kemudian dengan cepat ia mengejar teman- temannya yang membawa raja Jayanegara.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Arya Damar. Nampaknya. malam itu tidak masuk dinas. Ia berlarian ke luar rumah, tatkala mendengar kesibukan kota. Dihunusnya pedang sambil mencari keterangan. Apabila mendengar tentang peristiwa pengepungan, ia mengamuk sejadi-jadinya.

Hai! Hendak ke mana?‖ tegor Gajah Mada.

Arya Damar terkejut bukan main. Dengan pandang tak percaya ia menyahut:

Kau masih hidup?‖

Seperti kau lihat.‖

Bagus! Apa kabar istana?‖

Jawablah dulu, hendak ke mana?‖

Ke istana!‖

Sia-sia kau ke sana. Istana terkepung rapat.‖

Bededah! Dan kau biarkan brandal-brandal itu

membakar istana?‖

Sabar tuan Arya Damar yang mulia. Aki tahu, kau berani. Tapi dengan cara demikian, kurang kena; karena sesungguhnya orang harus tahu menempatkan keberanian itu.‖

Lantas?‖

Hayo ikut! Kita atur nanti. Tapi awas! Jangan mencoba beralih tempat dengan tak sepengetahuan- ku. Akan kubunuh kau, dengan tanganku sendiri‖. Arya Damar tertegun-tegun. Gajah Mada tak sempat melayani lagi. Dengan cepat ia menuju ke Badander. Ia kenal akan tabiat dan perangai kawannya seorang itu. Pastilah dia akan segera menyusul. Dan benar juga; tak lama kemudian Arya Damar telah berada di belakangnya.

Ini mau ke mana?‖ teriaknya. Tutup mulutmu, setan!‖ bentak Gajah Mada.

Di Badander, semua pasukan Bhayangkari berhenti. Gajah Mada membuka selubung Seri Baginda. Dan barulah Arya Damar tahu lakunya. Pelahan-lahan penuh hikmat, ia bersujud. Kemudian berbisik kepadanya.

Otakmu masih bekerja juga dalam keadaan demikian. Kau iblis benar!‖

Gajah Mada tersenyum sambil menepuk pundaknya. Berkata:

Belum saatnya kita menilai pekerjaan. Mari bekerja secepat-cepatnya. Awasi sekalian bhayangkari dan kumpulkan! Karena hanya engkaulah yang sedikit kupercayai‖.

Sekalian bhayangkara dikumpulkan. Berkata Gajah Mada dengan garang:

Hai sekalian bhayangkara! Aku hanyalah seorang bekel. Tapi dalam hal ini, aku adalah pemimpinmu. Karena Sang Amancanegara memberi kepercayaan kepadaku dan kepada kamu sekalian. Dan atas nama negara, aku berkata kepadamu — tugas ini harus kita selesaikan dengan sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh. Aku berkata lagi kepada kalian, bahwa dalam hal ini dan sampai tugas ini selesai, tiada lagi aku dan engkau. yang ada ialah suatu kesatuan bhayangkara yang siap mati untuk tugas ini. Aku tanya kini, untuk apa kamu ke Bandander?‖

Para bhayangkara diam beragu. Arya Damar menjawab:

Untuk melindungi baginda.‖

Aku ingin mendengar suaramu!‖ Gajah Mada

marah. Jangan beroboh batang pisang!‖

Oleh bentaknya, mereka menjawab lagi

berbareng : Untuk melindungi baginda!‖

Untuk apa?‖

Untuk melindungi baginda.‖

Untuk apa?‖

Untuk melindungi baginda.‖

Gajah Mada   puas   sudah   akan   ulangan   itu.

Berkata menguji lagi: Beranikah engkau meninggalkan kepentingan diri sendiri?‖

Berani‖, mereka menjawab serentak.

Berani?‖

Berani!‖

Relakah kalian mati untuk tugas ini?‖

Rela!‖

Betul?‖

Betul!‖

Bersumpahlah!‖

Dan Arya Damar memimpin sumpah satya bhakti. Setelah itu, Gajah Mada mengesankan lagi, agar mereka tetap berada di tempatnya. Barangsiapa meninggalkan tugas itu, berarti suatu pengkhianatan. Dan demikianlah mereka berjaga sampai hampir pagi hari. Pasukan pemberontak nampaknya telah mencium hilangnya baginda Jajanegara dari istana. Mereka mengepung Badander dan di tempat-tempat lain. Tiap-tiap rumah dibakar. Penduduk yang dicurigai ditangkapnya dan digantung di atas badan. Belum lagi mati benar, ia dibakar hidup-hidup. Peristiwa demikian berjalan dengan terang di depan persembunyian para bhayangkara. Karena itu, alangkah menegangkan urat-syaraf. Seorang bhayangkara tiba-tiba menangis sedan. Berkata kepada Gajah Mada:

Dyan! yang disiksa itu adalah sanak keluargaku.

Pastilah perkara mengusut aku yang lagi berdinas.‖

Lantas apa kemauanmu?‖

Biarlah aku pulang mengurus anak-isteri. Aku berjanji, tidak akan membuka rahasia ini. Aku akan segera kembali ke mari, setelah keluargaku selamat dari bencana.‖

Bedebah!‖ maki Arya Damar. Bukankah engkau sudah bersumpah, bahwa engkau akan rela meninggalkan kepentingan diri sendiri?‖

O, tuan!‖ sahut orang itu. ‖Aku adalah kepala keluarga. Kepadaku mereka menggantungkan seluruh hidupnya. Percayalah tuan, aku takkan mengkhianati.‖

Mendengar jawaban itu, Gajah Mada tampil ke depan lagi. Berkata mengguruh:

Sadarlah! Keputusanmu itu membahayakan dirimu sendiri. Sabarlah sampai tugasmu selesai.‖

Orang itu tiba-tiba tersenyum menghina.

Katanya:

Engkau Gajah Mada! Engkau hanya seorang bekel. Baru saja mendapat kepercayaan begini, sudah mabuk mau mengancam orang. Kalau keluargaku

kelaparan, engkaulah yang bertanggung jawab?‖

Mata Gajah Mada menyala seperti api.

Tuan‖, katanya. Hendaklah kau hafal, pernyataanku tadi. Tiada lagi aku dan engkau. yang ada hanyalah kesatuan bhayangkara. Engkau laksana anggauta badan. Tiada seorangpun yang mau kehilangan salah satu anggauta badannya.‖

Orang itu berdiam tak membatah. Agaknya ia mulai sadar akan tugas yang dipikulnya. Tapi beberapa hari kemudian, dengan diam-diam ia meninggalkan tempatnya. Sekalian bhayangkara mengetahui akan hal itu, tetapi mereka tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Arya Damar bersikap ragu pula. Maka dia lari mendapatkan Gajah Mada yang berada di bilik baginda.

Gajah  Mada!‖  serunya.  Orang  itu  benar-benar gila! Ia meninggalkan tempatnya.‖

Seperti tersengat lebah, Gajah Mada meloncat dari duduknya. Dan ia mengejar orang itu dengan tak beragu. Di halaman depan, ditangkapnya dengan kukuh. Orang itu merenggutkan diri dengan sikap melawan. Dan dengan tak beragu, Gajah Mada menghunus kerisnya sambil berseru:

Atas nama raja, negara dan bangsa, aku bunuh engkau karena pelanggaran sumpahmu sendiri.‖ Dan orang itu ditikamnya mati seketika itu juga. Tindakannya yang tegas itu menggemparkan hati sekalian bhayangkara. Tahulah mereka kini, bahwa Gajah Mada bersungguh-sungguh. Raja Jajanegara yang menyaksikan pertengkaran itu kagum akan ketegasannya.

Sepuluh hari telah lewat dan tiada suatu perubahan yang menentukan. Sekalipun para bhayangkara tiada yang berani mengungkap perasaannya, tapi dalam hatinya masing-masing timbul suatu teka-teki yang tak terpecahkan. Pada suatu hari Arya Damar mendekati Gajah Mada dan bertanya hati-hati:

Lantas bagaimana ini, kawan?‖

Kita tetap berada di sini.‖ jawab Gajah Mada.

Sampai kapan?‖

Sampai keadaan menolong kita.‖

Dari manakah engkau menggantungkan harapan ini? Seluruh kota diam. Tiada perlawanan. Seolah-olah mereka beragu. Apakah nama raja memang sudah demikian buruk? Menaikkan pajak agama, menghukum para ksatria, terlalu banyak bersuka-ria...?‖ Jangan kau ulangi lagi hal itu. Ulasan demikian terlalu perseorangan. Karena sesungguhnya, keraguan ini terjadi oleh kejadian yang tak terduga. Kabar yang sampai pada tiap orang menerangkan, bahwa para darmaputera yang berontak. Tentara tidak berani bertindak.‖

Gajah Mada tidak meneruskan. Ia tegak berdiam diri. Kemudian mondar-mandir dari mulai bilik raja sampai ke pintu. Para bhayangkara yang berada di dalam ruang tengah dan depan, memusatkan perhatian kepadanya. Arya Damar tak berani mengganggu lagi kepadanya. Dengan tak setahunya sendiri ia merasa segan kepadanya. Tiba-tiba Gajah Mada menegakkan kepalanya. Berkata memutuskan:

Arya     Damar!     Kewajiban     melindungi     raja kuserahkan kepadamu. Aku hendak masuk kota. Barangkali ada berita yang menentukan!‖

Kau percaya kepadaku?‖ Arya Damar bergembira.

Tunggu! Aku hendak menghadap baginda.‖

Gajah Mada segera menyampaikan maksudnya kepada baginda. Setelah ia memperoleh kepercayaan, dengan cepat ia meninggalkan Badander.

Benar juga. Dalam kota terjadi suatu ketegangan luar biasa. Tentara dipusatkan pada suatu tempat di luar kota. Tapi pemimpin-pemimpin pulang pergi dari kota tak tentu tujuannya. Mereka berusaha saling berhubungan untuk menentukan langkahnya. Tapi pemberontakan para darmaputera itu, sungguh membingungkan mereka. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Semuanya takut salah.

Tiba-tiba Gajah Mada bertemu Amancanegara yang berjalan tergesa-gesa.

Ini  kacau!  Ini  kacau!‖  katanya.  Manakah  yang benar? Sang Mahapati mengumumkan, bahwa para darmaputera berontak. Tapi Mapatih Arya Tadah tidak yakin. Ada yang melaporkan, bahwa mereka hanya berkumpul untuk bersuka-ria. Tapi Dewa Agung! Bagaimana kabar Seri Baginda?‖

Gajah Mada menggelengkan kepala dengan sedih-nya. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata:

Tuan! Tuan adalah berpengaruh. Tuan pulalah pemimpin para bhayangkara. Perkataan tuan adalah tak ubah sabda baginda. Aku minta kepada tuan, hendaklah jawabanku ini nanti didengar oleh sekalian pembesar negeri. Kumpulkan mereka, tuan! Juga pada pemimpin balatentara!‖

Sang Amancanegara tidak segera mengindahkan ucapan Gajah Mada. Ia mendesak agar Gajah Mada menerangkan keadaan istana dan baginda. Tapi Gajah Mada tetap bersitegang. Hal itu membuat Amancanegara marah bukan main. Dengan menghunus keris dan mengancam:

Terangkan! Atau kubunuh engkau!‖

Tenang-tenang Gajah Mada menjawab:

Tuan bertindak benar tapi salah pula. Ketahuilah tuan, bahwa hanya aku seorang yang mengetahui. Barangkali aku seorang pula, yang dapat menentukan arah perjuangan ini. Bunuhlah aku! Dan tuan akan kehilangan segala pegangan dan pedoman‖.

Berbimbang Amancanegara mendengarkan setiap patah perkataan Gajah Mada. Kemudian ia menyarungkan kerisnya dan berlari memerintahkan pasukannya agar mengedarkan maklumat persidangan agung. Setelah itu, ia minta keterangan lagi kepada Gajah Mada apa yang hendak diperbuatnya.

Tuan tadi menerangkan tentang Sang Mahapati. Marilah kita selidiki sendiri, apakah benar laporan itu‖.

Makin lama makin teranglah keadaan negara, bagi Gajah Mada. Dari pembicaraan Amancanegara tahulah dia apa rencana Sang Mahapati. Dengan menaikkan pajak bagi kepala-kepala agama Buddha, penasihat raja itu hendak menempatkan akan golongan agama Syiwa kepada percaturan negara yang kokoh tiada lawan. Untuk menguatkan maksudnya, ia mempengaruhi para Darmaputera yang memangku cita-cita negara. Tidak segera para Darmaputera menyokong kehendaknya. Mereka harus bersepakat dahulu dan pada suatu malam mengadakan sidang. Hal itu dibuat alasan yang baik bagi Sang Mahapati. Ia hendak memaksa para Darmaputera kepojok pemilihan sikap yang menentukan. Dilaporkan kepada raja, bahwa para Darmaputera mengadakan sidang rahasia hendak menggulingkan tahta kerajaan, karena baginda menaikkan pajak agama Syiwa. Sebaliknya kepada para Darmaputera ia berkata, bahwa raja akan mengambil tindakan menghukum mereka, karena mereka menentang penaikan pajak itu. Keadaan diputarbalikkan sedemikian rupa sehingga tentara kerajaan bersikap diam. Dalam pada itu, ia memberi perintah golongan agama Syiwa agar mengadakan pemberontakan serentak. Di depan balai musyawarah raja ia berkata dengan berapi-api, bahwa itulah perbuatan para Darmaputera. Perbuatan mereka harus dihukum. Tapi siapakah yang wajib menghukum, sedangkan tentara bersikap diam. Ia tak membiarkan raja mengambil keputusan. Segera ia ke luar sidang seolah-olah jijik kepada perbuatan para Darmaputera. Dan malam itu, raja hendak menentukan sikap. Tapi malam itu juga, istana digerebeg, sehingga keadaan negara kacau-balau tanpa keputusan tertentu.

Demikianlah diceritakan — setelah hal itu diketahui benar oleh mereka berdua, maka Gajah Mada mengajak kembali untuk menghadiri permusyawarahan. Di dalam musyawarah itu, Gajah Mada bermaksud hendak menjebak Sang Mahapati dan hendak pula memancing suara kesetiaan hamba negara.

‖Tuan-tuan sekalian,‖ katanya bersedih hati. Ia berhenti tidak meneruskan seolah-olah menelan sesuatu dalam kerongkongannya. Tiba-tiba meledak dengan suara laksana cetusan api, ia mengisahkan riwayat pengawalan. Kemudian kembali lagi suaranya mengalun rendah penuh kesedihan tertahan. Katanya:

Dan Sang Abhatara Jajanegara tewas dibunuh oleh pemberontakan itu. Hidup Kuti! Hidup sang Darmaputera!‖

Mendengar keterangannya yang kadang meluap dan kadang bersedih—sekalian pendengar seperti terayun menurut kemauannya. Tapi tatkala mendengar kabar tentang tewasnya raja, mereka berduka-cita. Hanya Sang Mahapati yang nampak tenang. Dengan didahului oleh mantera-mentera agama, ia tampil ke depan dan mengajak pada hadirin mengikhlaskan meninggalnya raja.‖ Dewa telah menghendaki,‖ katanya. Karena itu, janganlah kita lalai terhadap keadaan yang kacau- balau ini. Negara tidak boleh kosong dari pemerintahan. Panggillah para Darmaputera! Suruhlah mereka mengatur keadaan negara. Inilah yang penting.

Apa katamu?‖ sahut Arya Tadah. Kuti bukan raja kita!‖

Ya! Kuti bukan tuan kita!‖ sahut hadirin.

Mereka kemudian terlibat dalam debat sengit antara golongan Sang Mahapati dan golongan Arya Tadah. Akhirnya setelah kecapaian, mereka minta pendapat Gajah Mada yang membawa berita penting itu. Gajah Mada bangun dari tempat duduknya. Sikapnya kini jadi menggarang. Katanya bergelora:

Tuan-tuan  semua  perempuan!  Mendengar  raja tewas, bingung seperti gangsingan! Bukankah kamu bilang, bahwa Kuti adalah pemimpin kita?‖

Lho! Siapa bilang begitu?‖ teriak Amancanegara.

Kau sinting!‖

Bukankah tuan-tuan sendiri?‖

Kapan?‖ sahut Amancanegara dengan menghunus keris. Dan pembesar-pembesar lain meniru perbuatannya. Jika tidak, mengapa tidak bertindak waktu raja

diancam bahaya?‖

Oleh sanggahan Gajah Mada, hadirin diam beragu. Sang Amancanegara menyahut:

Bukankah engkau yang kuperintahkan mengawal istana?‖

Itu suatu bukti, bahwa tuan takut mati. Juga

tuan-tuan sekalian yang hadir. Bukan begitu?‖

Hai bekel!‖ teriak panglima tentara kerajaan.

Engkau  tidak  berhak  menuduh  bahwa  kami  semua

ini perempuan.‖

Setidak-tidaknya, kami dengan limabelas orang pernah bersumpah rela mati berkorban bagi raja. Dan kelimabelas orang itupun gugur pula. Tapi tuan-tuan, di manakah lagi hikmah sumpah tuan.‖

Sumpah itu tetap masih berlaku!‖

Benar?‖

Benar! Demi Dewa Agung! Demi Dewa Brahma!

Demi Dewa Wisynu! Demi Dewa Syiwa!‖

Gajah Mada bergembira mendengar sumpah itu, yang diucapkan demikian lancar oleh para hadirin.

Bagus! Jika demikian lain halnya.‖ Kami atas nama mereka yang telah tewas menghargai dan menghormati tuan-tuan sekalian. Tapi mereka minta bukti tuan-tuan sekalian.‖

Apa yang harus mereka buktikan?‖ sahut Sang Mahapati. Bukankah raja telah tewas?‖

Sabar tuan,‖ tungkas Gajah Mada. Raja kita — Sang Abhatara masih selamat. Sang Abhatara masih sehat sejahtera.‖

Kemudian ia lari mendapatkan para menteri untuk minta perlindungan. Katanya:

Paduka yang Mulia, lindungilah hambamu yang hina ini. Sang Amancanegara telah memberi tugas pengawasan terhadap raja. Karena keadaan istana demikian berbahaya, maka raja hamba ungsikan. Sekarang, tuan-tuan berjanji hendak memadamkan pemberontak Kuti. Bertindaklah!‖

Perbuatanmu tidak salah. Tapi benarkah raja selamat?‖

Ya. Raja Jajanegara kini berada di Badander‖.

Mendengar keterangan yang meyakinkan itu, Sang Mahapati bergerak dari tempat duduknya. Mukanya pucat lesi. Segera ia bangun dari tempat duduknya dan hendak berjalan ke luar. Tapi Gajah Mada mengadangnya sambil berkata: Tuan-tuan sekalian. Saya mendengar—tuan tuan percaya kepada keterangan saya. Dan saja menghendaki pula, agar tuan percaya pula kepada keterangan saya yang terakhir ini. Inilah tuan, Sang Mahapati, biang keladi dari kekacauan ini. Selama dia masih hidup, negara tidak akan berjalan dengan tenteram. Karena itu demi kepentingan negara, tangkaplah dia. Dan hukumlah dia dengan setimpal!‖

Hadirin terdiam beragu. Kesempatan itu dipergunakan dengan sengitnya oleh Sang Mahapati. Katanya merendahkan:

Hai kau bekel pendusta. Hayo buktikan sekarang kepadaku, bahwa baginda masih hidup dengan sejahtera. Hayo buktikan! Sekarang terbukti, bahwa engkaulah yang mengacau. Engkaulah biang keladi sebenarnya dari peristiwa pemberontakan ini. Bahkan mungkin sekali tuan-tuan, dialah yang membunuh raja dengan tangannya sendiri. Bukankah suatu kesempatan yang baik, tatkala sang Amancanegara memberi kepercayaan kepadanya?‖

Lantas saja pengusutan terjadi. Segera diketahui, bahwa sebelum Gajah Mada masuk dinas kembali, ia hilang dari kota selama beberapa waktu.

Ke mana kau selama itu?‖ desak Sang Mahapati.

Hamba pulang ke kampung.‖ jawab Gajah Mada sulit. Tapi keterangannya yang lemah itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Sang Mahapati sehingga sekalian yang hadir jadi berbimbang. Tiba-tiba Mahapatih Arya Tadah tampil ke depan sambil berkata:

Gajah Mada! kau telah minta perlindungan pada kami para menteri. Dan permintaanmu telah kami terima tadi. Sekarang buktikanlah kebenaran laporanmu‖.

Hamba berkata benar, sang Mapatih. Baginda

sekarang berada di Badander.‖

Apakah kami dapat membuktikan?‖

Kirimlah suatu pasukan ke sana. Serukan nama hamba! Dan mereka akan memperlihatkan sang Abhatara. Tapi, hendaklah Sang Mahapati jangan dibiarkan lepas bebas.‖

Pasukan kerajaan yang dipimpin oleh panglima besarnya sendiri, dengan cepat berangkat ke Badander. Setelah ditemui raja, mereka kembali ke kota. Dengan berapi-api, panglima besar itu berkata meyakinkan:

Raja hidup. Menurut sabda baginda, hanya Gajah Mada yang dipercayai untuk bertindak mengatasi kekacauan ini. Kita semua harus mendengarkan kepadanya.‖

Ucapan itu seperti halilintar di siang hari. Baginda percaya kepada seorang bekel bhayangkara. Inilah aneh. Tapi dalam keadaan negara demikian kacau, hal itu bukanlah suatu kemustahilan; demikianlah Arya Tadah mempertahankan. Maka tindakan Gajah Mada mula-mula ialah, menangkap Sang Mahapati Kemudian ia mengepung para Darmaputera. Karena yakin bahwa tindakannya mendapat dukungan penuh dari para penguasa negara dan rakyat, maka dengan tangannya sendiri ia membunuh Kuti dan kawan- kawannya. Setelah itu, sekali lagi ia minta perlindungan para menteri. Kemudian meninggalkan kota dengan diam-diam. Dua bulan lamanya, ia hilang dari pergaulan, kembali ke kampung halaman menunggu perkembangan keadaan.

Dalam pada itu, Raja telah kembali ke tahta kerajaan. Sang Mahapati dihukum mati karena fitnahnya. Nama Gajah Mada menanjak seperti bintang kejora. Namanya selalu menjadi pembicaraan orang. Negara tak dapat melupakan jasa-jasanya. Ia dipanggil kembali dan dilantik menjadi patih Kahuripan, di daerah Kediri. Dua tahun lamanya, ia memangku jabatan itu. Tatkala patih Daha Arya Tilam meninggal dunia, ia dipindahkan ke Daha; daerah sekitar Malang untuk menggantikannya. Dan semenjak itu namanya menanjak demikian tinggi.

— {TamaT}