-->

Eng Djiauw Ong Jilid 12

 
Jilid 12

“Loosoehoe, tidak berani aku akan tidak dengar ajaranmu ini,” katanya. “Akupun tak hendak bantah lagi kata2 Ong Loosoe, biarlah pri kebenaran diserahkan pada hati masing2, nanti pun ada pertimbangan khalayak ramai. Tapi aku hendak jelaskan, dengan undang kedua ciangboenjin datang ke Cap jie Lian hoan ouw ini, Boe Wie Yang tidak kandung maksud akan menyapu habis. Aku insyaf rendahnya kebisaanku, yang tak dapat dibandingkan dengan kebanyakan tetua Rimba Persilatan, walaupun demikian, ingin aku belajar kenal dengan Sha caplak lou Kim na hoat dan Eng jiauw lat dari Ong Loosoe yang tidak sembarang diwariskan serta dengan pedang Tin hay Hok po kiam dan mutiara See boen Cit poo coe kepunyaan Am coe. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak kandung sikap bermusuh, bukan aku hendak berlalu tidak hormat. Pasti aku tidak ingin umum cela2 aku. Ong Loosoe, Am coe, tak bisa aku luluskan permintaanmu, marilah kita terima usulnya Poei Loosoe, untuk adu kepandaian secara persahabatan. Sekarang terserah kepada loosoe beramai!”

Ong Too Liong mendeluh bukan main karena kelicikannya orang ini.

“Boe Pang coe,” katanya, “seperti Ong Too Liong sudah tegaskan, pertemuan di Ceng Giap San chung ini adalah pertemuan yang terakhir, maka tak usah kita ngobrol saja, bicara secara kosong! Boe Pangcoe, jikalau tetap kau tidak hendak berikan jawaban yang memuaskan, terpaksa kami hendak pamitan darimu, kami hendak segera undurkan diri dari Cap jie Lian hoan ouw!”

Melihat demikian, Kim kong cie Coe Hoei Siansoe, si pendeta Siauw Lim Sie, turut bicara “Boe Pangcoe,” katanya, “aku lihat pertemuan persilatan persahabatan adalah hal yang lumrah. Sekarang kebetulan ada berkumpul pelbagai orang luar biasa, pertemuan semacam ini jarang terjadi, jikalau kau kasi lewat ketika sebaik ini, apakah itu bukannya ketololan? Boe Pangcoe, kenapa kau berlaku kukuh? Pin ceng justeru hendak minta sekalian rekan yang berkepandaian tinggtu untuk uji apa yang pinceng pelajarkan. Pertemuan kali ini di Ceng Giap Sanchung bakal jadi tambahan buah kata indah dalam kalangan Rimba Persilatan di selatan dan utara Sungai Besar.”

Mendengar demikian, Boe Wie Yang menjawab dengan segera.

“Apabila loosiansoe ada punya kegembiraan sebagai ini, baiklah, Boe Wie Yang tidak akan berkukuh lagi,” kata ia. “Aku melainkan kuatir nanti ada orang sangka, dengan mengandalkan Cap jie Lian hoan ouw, aku jadi berlaku kurang ajar. Baiklah, kita jangan kesusu, mari minum dulu, akupun hendak memberi selamat dengan satu cawan. Aku harap sebentar, diwaktu turun tangan, supaya semua loosoehoe ingat persahabatan kaum kang ouw, supaya dibataskan dengan saling towel saja, supaya persahabatan bisa dipertahankan. Inilah pengharapanku, yang akan membikin aku merasa bersyukur”.

Karena suasana telah jadi sedemikian rupa, hilanglah kegembiraan kedua pihak akan minum terus. Tanpa tanda lagi, masing2 lalu berbangkit dari kursi mereka. Malah Eng Jiauw Ong turut berbangkit sambil membungkam, karena ia sebal untuk sikapnya Boe Wie Yang yang ia anggap rendah.

“Tunggu sebentar!” tiba2 Na Pek berseru. “Ada satu hal yang membuat aku kurang aman, untuk mana aku mohon penjelasan pangcoe. Sebenarnya, segala urusan mesti dibicarakan oleh ketua kami, tetapi Na Loo Toa ada punya semacam penyakit, ialah penyakit kuatir akan hati manusia, yang tertiraikan kulit perut, nanti berpikir tiga atau dua. Kita akan bikin pertempuran persahabatan, kita omong manis, tapi entah bagaimana kesudahannya. Aku ingin kita, kalah mengaku kalah, yang menang boleh menjagoi! Jangan pangcoe berlaku sungkan2, mari kita bikin perjanjian yang tegas. Umpama Hong Bwee Pang tak sanggup menangkan kami, aku minta kau segera bubarkan Cap ji Lian hoan ouw ini, supaya kau mundur dari Ciatkang, di selatan dan utara Sungai Besar. Hong Bwee Pang tak boleh dirikan pusat lagi. Umpama pihak kami tak bisa peroleh kemenangan, kami tidak menyesal, tidak saja kami tak akan datang ke selatan dan utara Sungai Besar, juga kami akan bubarkan Lek Tiok Tong, kami semua akan pergi umpatkan diri. Perihal Hoay Yang Pay dibangun pula atau tidak, itu ada urusan dikemudian hari. Tidakkah perjanjian ini adil?”

Boe Wie Yang berdiam karena kata2 setajam itu. “Karena Na Toa Hiap sangat mendesak, apabila Boe Wie Yang tidak mengiringinya, pasti orang akan katakan aku sangat cupat pikiran, maka baiklah, beginilah perjanjian kita!” kata ia akhirnya, dengan gusar.

“Kapan satu laki2 keluarkan perkataannya, perkataan itu tak terkejar empat ekor kuda”, kata pula Na Pek. “Kita sudah bicara tegas, maka siapapun tak boleh menyesal!”

Boe Wie Yang masih saja gusar.

“Na Toa Hiap”, katanya, “Boe Wie Yang pimpin seratus lebih pusat, belum pernah ada orang hinakan aku, apa mungkin Toa Hiap anggap aku tukang putar balik perkataan?”

Melihat saudaranya terlalu mendesak, Ong Too Liong menyelak.

“Boe Pangcoe, karena kita ada sama2 orang kang ouw, tidak usah kita bicara banyak2. Nah, begini saja perjanjian kita!”

Lantas ia putar tubuh, akan kasi hormat pada Siangkoan In Tong, Ciong Gam dan lain2 rombongan sahabatnya, ia kata “Ciong wie loosoe, harap tidak sungkan lagi, sudah sampai waktunya akan menemui pelbagai orang pandai dari Rimba Persilatan. Mari kita i kedepan!” Lalu ia tambahkan pada Coe In Am coe “Amcoe, marilah!”

Semua orang lantas bertinduk keluar dari Ceng giap tong, malah Siangkoan In Tong bertindak tanpa perdulikan lagi pada Boe Wie Yang, ia bawa terus hoencweenya.

“Maafkan kami, kamipun tak sungkan2 lagi”, kata Boe Wie Yang beramai sambil mereka memberi hormat. Justeru itu Auwyang Siang Gee datang dengan cepat, melapurkan bahwa Cio Leng Pek, setelah dia diserahkan pada Heng tong, sudah dibawa kepelabuhan.

“Baik”, kata ketua itu, yang lalu meneruskan “Aku sudah persilahkan semua tetamu pergi kedepan untuk mereka berikan pengajaran kepada kita”.

Auwyang Siang Gee manggut, lantas ia ambil tempatnya, untuk memberi hormat pada pihak tetamu.

Pihak Hong Bwee Pang berlaku hormat, rombongan mereka berdiri dengan beraturan, mulai dari Liong Tauw Pangcoe dan hiocoe2 dari Lwee Sam Tong, lalu hiocoe2 dari Hok Sioe Tong, lalu semua tocoe, sekalian loosoe dari cit tong, heng tong dan lee tong. Adalah leetong soe yang lantas atur tempat duduk kedua pihak, yang terpecah di selatan dan utara. Cit tong soe lantas menyuguhkan teh, semua orangnya berpakaian seragam, usia mereka baharu dua puluh kurang lebih. Nanampan semua diberi warna air emas, setiap nenampan muat empat cangkir porselen. Mereka keluarnya dari belakang para bunga selatan dan utara, semua tindakannya gesit. Sehabis menyuguhkan teh, mereka undurkan diri pula.

Suasana ada sunyi tapi tegang, semua orang berdiam kecuali Siangkoan In Tong, yang repot sendiri dengan hoencweenya, untuk isikan itu, untuk nyalakan api, untuk menyulutnya. Iapun berpaling kepada semua anak muda, yang berdiri dibelakang semua tetua, akan akhirnya ia gapekan Siauw Liong Ong Kang Kiat, yang berdiri dibelakang sekali.

“Mari!” katanya “Kau masih boca, jangan belajar malas! Hayo kau tekes batu apiku!” Dan ia sodorkan tekesannya setelah boca itu datang dekat. Kang Kiat tidak kenal orang ini tapi melihat Eng Jiauw Ong soecouwnya memperlakukan nya dengan hormat, dia bisa duga orang ini tentu tak kalah liehay nya daripada Yan tiauw Siang Hiap. Ia menghampirkan dengan lantas, dengan air muka terang, ia kata “Jikalau soecouw tidak panggil aku, aku tidak berani datang mendekati, aku kuatir soecouw sebal terhadapku.”

Sembari berkata begitu, ia nyalakan api, ia sulut hoencwee.

Siangkoan In Tong segera menyedot dua kali, lalu ia kepulkan asapnya yang tebal, matanya melirik si boca. Ia rupanya lihat, kedua pihak ketua sedang bicara, ia tidak berani omong keras2. Ia kata dengan pelahan sekali pada boca itu “Kau adalah Siauw liong ong, satu naga cilik, diatas pasir pesisir kau tidak punya guna! Kenapa kau tidak pelajari kepandaian? Disini ada tempat kita perlihatkan diri, siapa ada punya kepandaian tetapi dia tidak hunjukkan itu, sungguh penasaran! Kenapa gurumu tidak pikirkan kepentinganmu? Kenapa kau, setelah diterima jadi murid, tidak segera diajarkan kepandaian? Kenapa dia suruh kau ikut2an kemari? Tidakkah guru sebagai dia, diangkat jadi guru atau tidak, akan sama saja? Benar tidak kataku, boca cilik?”

Sehabis mengucap demikian, tanpa tunggu jawaban, Wah Po Eng menoleh kebelakang kepada murid yang lain, hingga ia tampak si tolol Coh Heng, muridnya Ban Lioe Tong. “Si tolol itu siapa?” ia tanya.

“Oh, dia,” jawab Kang Kiat dengan pelahan sekali. Terus ia tunjuk Ban Lioe Tong. “Dia adalah Coh Heng, muridnya Ban Soe couw ”

Siangkoan In Tong segera melirik Siok beng Sin Ie, ia bersenyum. “Aku dengar dia adalah murid pandai dari Kwie In Po, dia mengartimu kedot Tiat pou san, benar tidak?” ia tanya pula Kang Kiat.

“Teecoe seorang murid paling baharu tak tahu jelas tentang sesama murid seperguruan,” sahut Kang Kiat. “Mengenai saudara Coh Heng itu, dia katanya ada satu anak sebatang kara, Ban Soecouw rawat dia semenjak kecil, dia sangat disayang, tidak pernah dia dikasi keluar dari Kwie In Po ”

Baharu Siauw Liong Ong berkata sampai disitu, Siangkoan In Tong telah menoleh pada Boe Wie Yang, lantas ia goyangkan kepala akan melarang si boca bicara terus, kemudian ia sedot pula hoencweenya.

Kang Kiat berdiam. Coh Heng berdiri berendeng dengan Kee Pin, ia ketarik melihat Siauw Liong Ong bicara dengan Siangkoan In Tong, ia awasi orang yang asing baginya. Siangkoan In Tong tidak perhatikan si tolol itu, dia lebih repot dengan hoencweenya, yang ia pegangi dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya merabah cangkir teh, yang berada diatas meja kecil, hanya kemudian, cangkir dan hoencwee, dipertukarkan tangan. Kalau lain orang habis minum, cangkirnya dipulangkan ketempat asalnya, ditutup pula dengan tutupannya, dia hanya letaki tutup cangkir di pinggiran. Dengan air teh yang panas itu ia basahkan tenggorokannya.

Seharusnya, pembicaraan akan dilakukan diantara kedua ketua, hal ini tertunda karena dua kali, Boe Wie Yang terima lapuran mendadak, yang datang adalah kedua to coe, urusan agaknya sangat penting.

Selagi tuan rumah repot, Siang koan In Tong repot dengan air tehnya, beberapa kali ia minta tambah. Dipihak pelayan, yang jadi kepala adalah masing2 tiga cit tong soe, tiga heng tongsoe dan tiga leetong soe, maka perlayanan terjaga baik.

Kang Kiat terus berdiri dibelakang orang asing ini, yang ia panggil couwsoe juga, hingga ia lihat tegas tingkah lakunya, bagaimana dia irup teh panas, bagaimana dia ngoce sendiri, “Panas, panas!” Tapi mulut cangkir ditutupi telapakan tangannya sendiri. Pun ia tampak bagaimana tiga jarinya couwsoe ini, tiga jari dengan kuku paling panjang, dimasukkan kedalam cangkir, direndam dalam teh panas. Sebab tangan bajunya gerombongan, lain orang tidak lihat itu. Karena pengetahuan ilmu silatnya belum ada, Kang Kiat tak tahu apa maksudnya couwsoe ini dengan rendam kukunya itu.

Satu kali Siangkoan In Tong angkat tangannya, ia sentilkan satu jarinya, hingga air yang nempel dijari atau kuku itu, terlempar. Kang Kiat berdiri terlalu dekat, ia terkena cipratan air itu, ia kaget sekali, sebab ia merasakan mukanya sangat sakit. Di lain pihak, Coh Heng pun kaget, karena pipinya sakit seperti diserang peluru, hampir ia menjerit.

In Tong lihat si tolol berpaling kearah ia, ia manggut dengan pelahan. Itu adalah panggilan. Lantas Coh Heng menghampirkan dengan tindakan pelahan, sembari jalan ia usap2 pipinya, yang basah sedikit. Begitu sampai dibelakang In Tong, ia hendak tanya Kang Kiat ada urusan apa, tapi In Tong dengan muka keren goyang2 tangannya, atas mana jago cilik ini minggir sedikit.

Sekarang, secara kebetulan, Kang Kiat lihat tangan yang diangkat dari cangkir itu, ia menjadi heran. Ia tak lihat sepuluh kuku panjang dikedua tangan couwsoe baru ini, sebagai ganti nya, ditiga jari dari kedua tangan, masing2 ada sarung kulit. Dalam herannya, ia mulai mengarti permainan celup tangan dari si couwsoe aneh itu.

Coh Heng berdiri dibelakang orang baru ini, ia tidak berani buka suara, dan ia diam saja waktu Ban Lioe Tong, gurunya, menoleh kepadanya. Itu waktu, Siangkoan In Tong telah bicara kepadanya, dia melengak, tapi kemudian dia manggut2. Kemudian, diluar perhatiannya Lioe Tong, dia kembali ketempatnya.

“Ada apa Siangkoan Loosoe panggil kau?” tanya kawannya.

Coh Heng tidak jadi tolol terusan, ia menjawab “Siangkoan Loosoe mewakilkan ketua kita memberikan titah2, dia suruh kita diam, sebentar kita akan lihat sendiri. Dia larang aku uwarkan titahnya itu.”

Kee Pin segera menoleh, ia tidak perhatikan akan katanya kawan ini.

Ketika itu sudah lewat tengah hari, tanpa bersangsi pula Eng Jiauw Ong bicara kepada Boe Wie Yang. Ia kata “Boe Pangcoe, sekarang ini kita jangan berlaku sungkan pula. Silahkan kau minta siapa saja untuk maju, nanti aku minta salah satu sahabatku untuk terima pengajaran daripadanya.”

Boe Wie Yang hendak jawab tetamunya itu. ketika Siangkoan In Tong, yang telah ketruki hoencwee pada kaki sepatunya, mendahului berkata “Ong Loosoe, menurut aku, siapa saja, asal yang punyai kepandaian, boleh lantas maju, tak usah lagi kita pakai aturan si tua atau si muda. Bukankah kita sedang bikin pertemuan persilatan dan bukannya menjual silat? Cuma, kalau yang maju ada yang ilmunya tinggi, siasialah majunya si anak muda, sebab dia tentu tak berani buat main kampak didepan akhli! Paling benar suruhlah si muda yang maju paling dulu, sehabis itu baharu disambung oleh mereka yang sudah kenamaan. Apakah Boe Pangcoe setuju dengan usulku ini?”

Boe Wie Yang sebal terhadap tetamu baharu ini, ia anggap orang ini sebagai pengacau. Umum toh tahu, hanya namanya saja pertemuan itu ada pertemuan persilatan persahabatan, akan tetapi sebenarnya, ini adalah pertemuan mati atau hidup. Eng Jiauw Ong pun malu hati akan cegah orang bicara, karena ia tahu dia ini datang untuk bantu pihaknya. Karena ini, terpaksa ketua Hong Bwee Pang menyahuti.

“Siangkoan Loosoe, Boe Wie Yang setujui usulmu ini”, kata ia. “Cuma satu hal harus diketahui, yalah bedanya diantara Hong Bwee Pang dan Hoay Yang Pay. Kami adalah menyiarkan pelajaran, bukannya mengajarkan murid, sedang sebagai Liong Tauw Pangcoe aku tak sempat menerima murid lebih jauh maka diantara kami, tidak ada banyak anak murid, ada juga beberapa pemuda tukang urus hio dan pedupaan, hingga pasti mereka tidak berani main gila dihadapan murid2 liehay dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay. Apabila pihakmu majukan murid2, terpaksa kami disini akan majukan beberapa tocoe untuk menemani!”

Siangkoan In Tong manggut.

“Jangan merendah, Boe Pangcoe. Kita sedang berlatih, jangan kita perdulikan soal umur!” ia kata.

“Jikalau demikian, silahkan soehoe yang mana saja maju,” kata Boe Wie Yang. Ia meminta, sebenarnya ia menantang.

Siangkoan In Tong lantas menoleh kepada kedua ketua, ia berkata “Aku lihat, cyiangboendin, baiklah diberi titah untuk orang maju dulu. Ditempat sebagai ini, siapa telah belajar silat, dia mesti pertunjukkan itu. Kalau tidak disini, hendak dimana lagi?” Eng Jiauw Ong bersenyum terhadap sahabat baru ini, dalam hatinya ia kata “Benar2 kau bersenda gurau denganku! Kau telah mengucapkannya, apabila aku tidak turuti usulmu, pasti kau kehilangan muka Tapi mungkin

kau tidak ingat, dalam Hong Bwee Pang ada banyak orang2 liehay, kalau kita majukan anak muda dan permulaan saja pihak kita kena dirubuhkan, bagaimana? Apa itu tidak akan mendatangkan malu?” Karena ini, ia menoleh kepada Coe In Am coe, akan tanya “Am coe, apa muridmu bisa maju disembarang waktu?”

Niekouw itu menjawab “Harap Ong Soeheng tidak terlalu merendahkan diri. Pinnie cuma punya beberapa murid tolol, mana pinnie berani melancangi soeheng? Baik murid soeheng saja yang dimajukan terlebih dahulu!”

Eng Jiauw Ong menoleh kepada rombongan muridnya, segera ia lihat Hoa In Hong dan Soe touw Kiam, yang pertama muridnya, yang kedua murid Ban Lioe Tong. Setelah itu, ia berpaling pula kepada niekouw dari See Gak.

“Baiklah, aku tidak seejie lagi,” katanya. Lalu ia awasi kedua murid itu, akan kemudian berkata “Kamu datang untuk menonton pelbagai cianpwee dari Rimba Persilatan, akan saksikan orang2 pandai dari dunia kang ouw, sebenarnya tidak ada tempat untuk kami pertunjukkan kejelekan disini, tetapi karena adanya kecintaan dari Siangkoan Loosoe dan disetujui juga oleh Boe Pangcoe, tiada halangannya untuk kamu terima pengajaran atau pengunjukan dari sebawahannya Boe Pangcoe.”

Hoa In Hong dan Soe touw Kiam mengarti maksud guru itu, yang menganjurkan salah satu dari mereka untuk maju lebih dulu, tapi ketika Soe touw Kiam memandang gurunya, guru itu sedang mengawasi kelataran adu silat. Ia insyaf kerasnya aturan gurunya, ia tidak berani lancang, karena itu, ia beri tanda akan sang soeheng saja majukan diri.

Biasa Hoa In Hong sabar dan suka mengalah, tapi kali ini ia gembira akan maju dimuka. Ini disebabkan, sejak diculik ia ada sangat mendongkol dan penasaran. Orang telah ringkus ia tanpa pertempuran lagi, maka sekarang ada ketikanya untuk ia perlihatkan kepandaiannya, agar pihak Hong Bwee Pang tidak pandang enteng kepadanya. Begitulah ia manggut kepada gurunya. Tapi baharu ia hendak buka mulut, mendadak ia dengar tindakan kaki yang berat, apabila ia menoleh, ia lihat Coh Heng mendahulua maju, terus dia ini kata kepada ketuanya “Soepe, ijinkanlah teecoe maju paling dulu, apabila aku tidak berhasil, baharu tukar lain orang!”

Melihat si tolol ini, Eng Jiauw Ong terperanjat berbareng mendongkol.

“Celaka!” kata ia dalam hatinya.

Lain orang Hoay Yang Pay pun terkejut, apapula mereka yang tidak tahu baik tentang si tolol ini. Bukankah itu ada tempat mati atau hidup? Kenapa untuk pertama kali ada majukan diri orang seperti dia ini? Maka orang anggap, Ban Lioe Tong tentu akan tegur muridnya.

Coh Heng sementara itu sudah kasi hormat pada sang soepe, lalu ia kata pada gurunya “Soehoe, aku hendak maju untuk layani mereka, apabila aku kalah, baharu soehoe yang gantikan aku ”

“Jangan banyak omong!” sahut Lioe Tong dengan air muka keren. “Kau ada punya nyali untuk maju, buat apa kau tanya aku? Kau boleh maju! Tapi ingat, aku cuma ijinkan kau bertempur dengan tangan kosong, tidak dengan alat senjata! Kau mengarti tidak?” Setelah mengucap demikian, Siok beng Sin Ie melirik kepada Siangkoan In Tong, siapa sebaliknya dengan air muka ber seri2 tengah mengawasi lapangan untuk pieboe itu.

Melihat sang soetee tidak cegah muridnya, Eng Jiauw Ong segera ingat, walaupun Coh Heng tak cerdas otaknya, mungkin dia ini ada punya pukulan istimewa, maka ia kata kepada keponakan murid itu. “Coh Heng, kau hendak maju untuk terima pengajaran dari loosoehoe dari Hong Bwee Pang, baik, kau boleh maju! Adalah harapanku yang kau tidak akan bikin malu pada gurumu.”

Coh Heng tidak pandai bicara, maka itu, begitu dapat ijin, ia lantas putar tubuh untuk hampirkan lapangan, yang tanahnya rata terampar pasir halus. Ia tidak tahu mesti ambil tempat dimana, maka setelah berjalan belasan tindak, ia berhenti akan balik badan menghadap keluar, terus saja, ia siap dengan sikap nya. Akhirnya, ia mengawasi ke arah rombongan tuan rumah.

Turut pantas, sesudah siap, Coh Heng mesti buka mulut menantang lawan, tetapi dia bungkam, maka pihak Hong Bwee Pang ada antaranya yang tertawa diam2, semua mengawasi saja. Melihat demikian, si tolol Ini jadi tidak sabaran.

“Eh, apa antara kamu tidak ada yang mau layani aku main2? Aku Coh Heng! Hayo, jangan buang2 tempo!”

Mendengar itu, pihak Hong Bwee Pang riuh tertawa.

Dipihak tuan rumah, Boe Wie Yang juga tidak pernah perhatikan murid2 pihak lawan, adalah setelah tampak munculnya Coh Heng, ia terkejut. Bukankah aneh Hoay Yang Pay, yang demikian kesohor, mesti majukan boca tolol? Maka ia awasi si tolol ini, hingga ia tampak nyata sorot mata si tolol ini. Anak muda ini pasti telah berlatih baik. Karena ini, melihat pihaknya tertawa, ia kerutkan dahi, lalu dengan mata bengis, menandakan mendongkol nya, ia awasi mereka Itu. Kemudian ia berkata “Coh Soeheng dari Hoay Yang Pay telah begitu baik hati memajukan dirinya. Coh Soeheng ini ada murid terpandai dari Ban Loosoe dari Kian San, dia terhitung ada dari tingkatan ketiga dalam runtunan Hoay Yang Pay, karena itu tak dapat sembarang tocoe majukan diri untuk melayani padanya. Dari pihak luar, soenkang tocoe yang mana saja boleh maju siapa mau?”

Dengan katanya ini, Boe Wie Yang kisiki semua tocoe supaya jangan ada tocoe bagian dalam yang maju, dia kuatir, apabila pihaknya dapat kemenangan, pihaknya nanti dikatai menghina yang muda. Sebaliknya, kalau pihaknya kalah, malunya bukan main.

Dipihak Hong Bwee Pang ada Tocoe Kim Yong, yang asalnya dari puncak Lok Gan Hong dari Gan Tong San, baharu saja kemarin dia ditarik kedalam. Dia adalah muridnya Tiat auw coe Thio Hong si Elang Besi dari Ouwlam. Guru itu ada salah satu orang Rimba Hijau yang liehay dipropinsi Ouwlam. Kim Yong sangat jumawa, pernah dua kali dia jatuh merek, hingga dia diusir gurunya, karena mana, dia lari kepada Hong Bwee Pang. Juga disini, antara kawannya dia suka agulkan diri. Ia girang ketika ia ditarik kedalam. Memang ia niat pertunjukkan kepandaiannya didepan Liong Tauw Pang coe, maka sekarang tibalah ketika yang di nanti2 itu. Tak ayal laga maju kepada ketuanya, untuk minta perkenan melayani lawan.

“Kau hendak layani Coh Soeheng, baiklah,” kata Boe Wie Yang. “Jangan kau pandang ringan kepada Coh Soeheng ini, dia ada murid terpandai dari Ban Loosoe dari Kian San, dia mestinya liehay. Kau harus ingat, karena ini ada pertandingan persahabatan, batasnya ada saling towel saja, jangan sampai kau melukainya. Nah, kau boleh maju!”

Kim Yong manggut, ia putar tubuh akan kasi hormat kepada pihak Hoay Yang Pay, kemudian ia bertindak kelapangan pieboe. Ia belum berumur tiga puluh tahun, romannya gagah. Setelah buka baju luarnya, ia segera siap. Dalam hatinya ia tertawa melihat roman tolol dari sang lawan, yang berdiri terpisah setumbak lebih dari padanya.

Coh Heng sudah tidak sabaran, ia mendahului buka suara! “Hayo, kita berdua main2! Ketahui olehmu, tangan dan kakiku tidak tetap, umpama kau kebentur, jangan salahkan aku tidak kenal persahabatan!”

“Jangan sungkan, Coh Soeheng”, sahut Kim Yong. “Kau ada murid kesayangan Loosoehoe Ban Lioe Tong dari Kian San, yang namanya menggetarkan dunia kang ouw, mustahil kaki tanganmu tak tetap? Adalah aku Kim Yong, yang cuma mengarti sedikit ilmu silat kampungan, aku justeru hendak mohon pengajaran darimu. Benar seperti katamu, aku pun minta dimaafkan apabila aku kesalahan tangan atau kaki ”

Coh Heng tertawa geli.

“Aku tak bisa bicara, ketuamu telah suruh kau maju, nah, mari maju!” berkata ia. “Ta pi ingat, karena kereta bobrok tak boleh menghalangi jalanan bagus, apabila sebentar dagingmu bonyok dan tulangmu remuk, kau mesti ditukar dengan lain orang! Benar tidak, kawan Kim?”

Kim Yong jadi tidak senang.

“Coh Soeheng, disini dimuka banyak loosoehoe kenamaan, bukan tempat berguyon!” ia menegur. “Kalau kau ada punya kepandaian, kau segeralah keluarkan!” Masih murid dari Kwie In Po tertawa.

“Hayo, kau majulah!” ia terima undangan, tapi ia tidak pasang kuda2, ia berdiri dengan kedua tangan dikasi turun.

Melihat orang tidak bersiap menurut caranya orang hendak adu silat, Kim Yong pikir, “Baik aku hajar binatang ini, supaya dia tak menjemuhkan terlebih jauh.....” Terus ia memberi hormat dan kata pada lawan itu “Coh Soeheng, mulailah!”

“Ah, kawan Kim, apakah kau tidak mau maju?” tanya si tolol. Nyata dia bisa berlaku tenang.

Kim Yong kalah sabar, memangnya ia tidak pandang mata kepada si tolol itu. Ia juga tidak tahu bahwa lawan itu sebenarnya bersiap dengan “Sian thian Thay kek touw,” yang memperlihatkan sikap wajar. Sembari berseru “Baiklah!” ia lompat maju, gerakannya sangat gesit, dua jari tangannya yang kanan segera menuju kemuka lawan.

Masih saja Coh Heng bersikap tenang, cuma dengan egos kepala sedikit, ia sudah terluput dari tusukan kepada matanya.

Melihat demikian, Kim Yong cepat tarik pulang tangan kanannya itu, untuk berbareng menyerang dengan tangan kiri, mengarah kepala si tolol itu.

Coh Heng angkat kedua tangannya akan buka serangan itu dari mulutnya ia keluarkan seruan “Ini belum masuk hitungan!”

Ditangkis secara demikian, hingga empat tangan bentrok, Kim Yong rasakan kedua tangannya sakit, diam2 ia merasa ia bisa rubuh ditangan si tolol ini. Tapi Coh Heng, setelah tangkisannya itu, yang bikin orang berjengit, lantas menggeser tubuh kekiri, ia tidak meneruskan menyerang.

Melihat gerakan lawan itu, hatinya Kim Yong jadi besar pula. Apabila tadi ia terus diserbu, tidak ampun lagi ia pasti rubuh. Ia lantas menggeser ke kanan dua tindak, atas mana, lawan itu maju.

“Boca ini liehay juga, tak boleh aku kasi diriku dijebak,” pikir Kim Yong. Ia tunggu sampai orang datang dekat, tiba2 ia menyerang keiga kiri.

“Kawan Kim, kau sebat sekali!” berseru orang yang diserang, yang mengelakkan diri kekanan hingga serangan mengenai sasaran lowong.

Tapi Kim Yong tidak berhenti, ia teruskan memutar diri, hingga ia jadi berada dibelakang lawan itu, sambil menyerang dengan kedua tangan, dalam hatinya ia berkata “Sekarang kau hendak lari kemana?”

Benar2 Coh Heng jadi sasaran serangan itu, bebokongnya perdengarkan suara berkedebuk keras.

Tetapi celaka adalah Kim Yong yang menyerang itu, sebab kedua kepalannya seperti menumbuk batu, ia meringis, karena kedua tangannya itu patah sendirinya!

Coh Heng pun tidak berdiam setelah ia dapat hajaran, ia balik tubuh dengan cepat, kedua tangannya mengibas dan mendorong dengan keras, dari mulutnya terdengar usiran “Pergi kau!”

Tocoe dari Lok Gan Hong itu sedang kesakitan, tak sempat dia mundur, tubuhnya kena tertolak keras, sampai ia terpelanting beberapa tindak dan rubuh terbanting demikian keras hingga pingsan, mukanya pucat bagaikan kertas. Pihak Hong Bwee Pang terkejut, apapula mereka yang sedari tadi memandang enteng kepada Coh Heng, sedang hengtong soe yang siap sedia bersama beberapa orangnya, lantas maju dengan gotongan, untuk tolong tocoe yang bercelaka Itu.

“Gouw Loosoe, tunggu dulu!” tiba2 terdengar cegahan. “Kim Tocoe patah kedua tangannya, apabila dia terus diangkat dan tangannya itu tergerak, sukar akan disambungnya pula!”

Orang yang bersuara ini, satu cittong soe, lantas lari menghampirkan.

Itu waktu, dari belakangnya Boe Wie Yang, juga keluar satu anak muda.

“Hengtong Gouw Loosoe”, berkata pemuda ini, “dengan titah nya Liong Tauw Pangcoe, terimalah ini tiga butir obat Pat tin Ciat koet tan. Kau obati Kim Tocoe setelah dia dibawa ke ruangan Hengtong, itu mesti terjadi dalam satu jam, kemudian kasi dia mengaso sepuluh hari, akan akhirnya kirim dia kembali ke Lok Gan Hong”.

Sesudah serahkan obatnya, pemuda itu mundur pula. Kim Yong lantas ditolong dan diangkat naik kegotongan.

Ia sedar dari pingsannya, ia menjerit bahna sakitnya kedua tangannya yang patah itu, lalu ia pingsan pula. Maka lekas

orang angkut ia pergi.

Sementara itu Coh Heng masih berdiri diam ditengah lapangan. Dia ingat baik kisikannya Siangkoan In Tong, ia mesti rubuhkan lawan dari satu sampai tiga atau lima orang. Iapun berlega hati kapan ia lihat ketua dan gurunya tidak tegur ia sebab ia lukai musuh, sedang sekalian soehengnya mengawasa sambil bersenyum. “Hayo, siapa lagi yang berani dan hendak maju main2 dengan aku!” ia menantang, hatinya jadi tambah besar. “Yang majukan diri mesti orang yang kuat tubuhnya! Hayo maju, jangan sampai didului lain orang!”

Selagi si tolol ini bicara, satu orang hampirkan Boe Wie Yang untuk minta perkenan, setelah mana dia bertindak kelapangan. Di para2 senjata dia sampirkan baju luarnya, sebagal gantinya ia samber selembar saputangan hijau, untuk dipakai membungkus rambutnya. Gesit geraknya ketika dia hampirkan pihak lawannya.

“Coh Soehoe,” kata ia sambil memberi hormat, “aku Hauw Giok, Soenkang tocoe kesembilan dari Hoen coei kwan. Tadi Kim Tocoe tak seharusnya melayani Coh Soehoe, yaug bertubuh dengan ilmu kedot Heng lian Kang hoe, hingga kedua tangannya patah. Syukur soehoe murah hati, tidak sampai dia hilang jiwanya. Sekarang aku ingin main denganmu, aku harap kaupun nanti berlaku murah hati terhadapku.”

“Aku harap kau tidak bicara banyak2, aku tidak mengarti,” katanya dengan ringkas. “Baik kau mulai menyerang saja!”

“Ah, Coh Soehoe, jangan kau ber pura2 terhadapku!” kata Hauw Giok. “Aku tahu, ketika kau geraki tanganmu, kau telah pikir itu. Mari kita cari keputusan, siapa kalah, siapa menang! Tapi aku hendak jelaskan, jikalau kau tidak mulai, aku tidak mau serang padamu. Kim Tocoe kena terpedaya, aku tidak, mau!”

Kedua matanya Coh Heng terputar, ia tertawa karena geli hatinya.

“Kau terlalu curiga, kawan!” kata ia. “Kau” lihat aku gunaimu apa? Aku percaya, seumur hidupmu kau tidak akan mengarti! Aku pakai apa yang guruku ajari! Buat aku turun tangan lebih dahulu, itulah gampang, kau toh yang minta! Sebenarnya tak banyak pelajaranku, tapi biarlah, sekarang kau sambut aku!”

Coh Heng tidak boleh dianggap tolol sungguhan, karena berbareng dengan kata2nya itu, kedua tangannya melayang, menyusul gerakan tubuhnya yang maju. Ia bikin gerakan “Hek houw sin yauw,” atau “Harimau kumbang mengulet,” serangannya menuju dada, majunya pun gesit bagaikan kunyuk tubruk tikus.

“Bagus!” berseru Hauw Giok seraya ia kesampingkan tubuhnya, dari mana, dengan tubuh sedikit miring, ia melayangkan kaki kanannya untuk balas menyerang. Memang sengaja ia minta sang lawan menyerang dulu, supaya ia bisa lihat gerakan orang. Ia hendak mencari balas bagi Kim Yong, tak mau ia kalau ia kena dirubuhkan lebih dahulu.

Beda daripada lain2 murid Hoay Yang Pay, gerakannya Coh Heng tidak lantas memperlihatkan gerak gerik ilmu silat kaum nya itu, karena ketololannya. Ban Lioe Tong berikan dia pelajaran lain, yang sudah dipikir, untuk dicocokkan dengan sifat luar biasa dari murid ini. Itu adalah ilmu silat “Sian thian Pat sie,” gerakan sewajarnya, yang diajarkan cuma kepadanya sendiri. Lioe Tong berikan pelajaran nya itu sesudah ia peroleh pengunjukan dari Hoei Sian Siansoe, itu pendeta dari Siauw Lim Sie di Pouw thian, siapa tidak bisa bawa muridnya ini berhubung dia, dari jabatannya sebagai Kam ih di Pouw thian, sudah dipindahkan untuk mengurus Lo Han Tong. Menurut Hoei Sian Siansoe, Coh Heng tidak cerdas, tapi dia tidak bakal alami bahaya maut, meskipun demikian, Lioe Tong tidak ijinkan muridnya melintas keluar dari Kwie In Po. Coh Heng tahu diri, maka ditempat pertempuran penting sebagai ini, ia jaga diri baik2. Coh Heng tahu bahagian tubuhnya yang lemah, maka itu, melihat gerakannya Hauw Giok, ia mengarti liciknya lawan ini. Segera ia elakkan tubuh kekiri, sambil berkelit tangan kanannya bergerak menyamber kearah kaki yang menendang padanya.

Hauw Giok insyaf musuh liehay, ia menendang dengan perdata, maka waktu ia dibalas diserang, cepat ia tarik pulang kakinya, terus ia lompat menyingkir.

Gusar Coh Heng menampak kelicikan lawan ini. “Sahabat baik, jangan kau pikir untuk kabur!” berseru ia

sambil loncat menyusul, tangannya menyerang dengan “Hek houw toh sim,” atau “Macan kumbang mengorek hati.” Ia arah bebokongnya lawan, karena lawan itu sedang balik tubuh.

Kakinya Hauw Giok sudah injak tanah ketika ia ketahui musuh susul padanya, dengan sebat ia pindahkan kaki kanannya ke kanan, hingga begitu lekas ia putar tubuh, ia jadi berada disebelah kanan lawan. Tidak membuang tempo lagi, dari sini ia kirim tonjokan ke pilingan lawan itu.

Coh Heng telah menyerang tempat kosong, tidak heran kalau ia gampang diserang, sedang tangan kanannyapuhn tak keburu akan dipakai menangkis. Ia kembali gusar akan ketahui, lagi2 bagian tubuhnya yang berbahaya yang dijadikan sasaran.

“Binatang!” ia berseru sambil ia mendekam, untuk kelit serangan. Begitu bebas, ia bangkit pula seraya membalik tubuh akan hadapi lawan itu, terus ia tabas tangan kanan musuh, yang tadi dipakai menonjok padanya.

Hauw Giok tahu lawan liehay, tapa tidak sangka orang ada sangat gesit. Tidakkah orang beroman tolol? Lekas2 ia tarik pulang tangannya itu, tidak urung ia masih agak terlambat, tangannya kena juga tersempar, hingga tubuhnya turut seloyongan tiga empat tindak. Yang hebat adalah rasa sakit pada tangannya yang tersempar itu, sakit seperti dibacok.

Pihak Hoay Yang Pay berlega hati melihat si tolol lolos dari bahaya dan berbalik dapat menghajar lawan, semua jadi girang. Eng Jiauw Ong sendiri tidak menduga bahwa keponakan murid ini ada demikian liehay, karena mana, ia kagumi Ban Lioe Tong yang pandai mengajar murid.

Sementara itu Hauw Giok jadi gusar dan penasaran, setelah perbaiki diri, ia maju akan menyerang pula. Sekali ini ia gunai, ilmunya enteng tubuh, akan berloncatan kesegala penjuru, di sekitar lawan. Ini ada keistimewaannya ia untuk bikin lawan lelah, pusing dan mata kabur. Dipihak lain saban ada ketikanya, ia mencuri menyerang.

Coh Heng segera insaf liehay nya satu musuh ini, ia melayani dengan tenang, malah setiap penyerangan yang tidak membahayakan, ia antap saja, ia justeru membarengi maju untuk sama2 merabuh. Ia tetap bersilat menurut “Sian thian Pat sie”.

“Sian thian” berarti “sewajarnya” dan “Pat sie” adalah “delapan gerakan”, yaitu gerakan kucing berloncat, anjing berkelit, kelinci bergelindingan, garuda terbang jumpalitan, bajing loncat, dada tersedot, “Auw coe hoan sin” ( Burung elang membalik tubuh ) dan “Kim tiauw hian jiauw” (Garuda emas keluarkan kuku). Maka itu, semua gerakan menyerang dan membela diri, ada secara wajar saja.

Demikian dengan ilmu silatnya ini, Coh Heng layani kegesitan musuh. Selang tujuh jurus, ia balas menyerang dengan tipu “Kie eng pok touw”, atau “Garuda lapar terkam kelinci”. Hauw Giok lihat serangan yang berbahaya itu, ia tolong diri dengan lompat tinggi, untuk melewati kepala lawan, karena kegesitannya itu, segera ia berada dibelakang lawannya, tidak ayal lagi, ia serang batok kepala lawan.

Coh Heng terperanjat, ia coba berbalik akan balas menyerang, apamau, tangan musuh sudah mengenai sasarannya, mengenai kepalanya walaupun ia mencoba menghindarkannya, tapi di lain pihak, kepalannya mampir di iga musuh tanpa musuh bisa berkelit lagi.

Dimana kedua serangan datangnya hampir bareng, tubuhnya Hauw Giok terplanting beberapa tindak, terus rubuh, dan Coh Heng, yang kepalanya pusing, mundur tiga tindak, lantas ia rubah terduduk ditanah, kepalanya mengeluarkan keringat, hatinya dirasakan panas. Ia terpukul hebat walaupun jatuhnya pukulan enteng, karena ia keburu kelit sedikit. Tapi didepan ia, Hauw Giok rubuh dengan mulutnya menyemburkan darah hidup!

Dikedua pihak, orang kaget, dari rombongan Hong Bwee Pang ada satu orang lompat maju sambil berseru “Orang she Coh, kau kejam! Bagaimana kau lukai dua tocoe kami! Aku ingin belajar kenal dengan ilmu silatmu dari Hoay Yang Pay yang bisa melukai orang secara berat!”

Orang ini adalah Ang Giok To yang menjadi Soenkang Cong tocoe, yaitu ketua dari pusat pelbagai tocoe. Ia gusar sebab Hauw Giok itu adalah anak pungutnya yang tersayang. Saking kaget dan gusar, ia maju tanpa perkenan dari ketuanya lagi. Tentu saja ia berlaku keliru, sebab ia ada seorang kang ouw kawakan.

Coh Heng masih numprah saja, kepalanya dirasakan tetap pusing, meski begitu, kupingmya tetap sehat, ia dengar bentakan itu, maka ia kuatkan hati untuk buka kedua matanya, yang meram saja sedari tadi. Ia ingat, ia boleh terbinasa tapi tidak terhina, maka itu, ia hendak sambut tantangan itu. Apa celaka, kendatipun hatinya tetap besar, ia tidak bisa lantas berbangkit. Kepalanya tetap berat dan pusing, dan tenaga kakinya seperti hilang. Maka tidak ada lain jalan, ia mesti berikan penyahutan dulu kepada lawan itu.

Dalam keadaan berbahaya dari si tolol ini, satu orang lompat melesat kepadanya. Itu ada gerakan “Yan coe Hoen ciong”, atau “Burung walet menyamber diudara.” Sebentar saja, orang ini sudah sampai didepannya, untuk membentak “Dogol, jangan bicara!”

Segera Coh Heng kenali suara gurunya, ia batal buka mulutnya. Gurunya itupun sudah lantas tekan kedua pundaknya.

“Duduk! Apakah kau tak sayangi jiwamu?” demikian sang guru membentak pula.

Dalam keadaan pusing itu, hatinya Coh Heng toh terang, ia diam saja ditekan pundaknya dan duduk terus.

Ban Lioe Tong segera periksa batok kepala muridnya, lekas2 ia keluarkan tiga butir obat.

“Jangan bicara! Lekas telan!” menitah guru ini, yang je jalkan mulut muridnya dengan obat itu, setelah mana, ia uruti kedua nadi muridnya.

Dari pihak Hong Bwee Pang, dua cittongsoe maju bersama dua buah gotongan, untuk tolong orang yang luka. Satu antaranya hampirkan Ban lioe Tong dan Coh Heng.

“Pang coe menitahkan bawa orang yang luka, yang masuk kewajiban kami untuk mengobatinya,” kata satu cittong soe kepada Siok beng Sin Ie. Cittongsoe yang satunya bicara kepada Ang Giok To, katanya “Pangcoe bilang, kedua pihak terluka dalam pertempuran adalah hal umum, tapi Ang Tocoe meninggalkan tempat duduk tanpa perkenan, tocoe maju kemari menantang Hoay Yang Pay, itu ada perbuatan tidak hormat dan melanggar aturan! Lekas mundur!”

Ketika itu Ban Lioe Tong telah berlega hati, sebab ia dapat kenyataan, Coh Heng sudah ketolongan, maka ia berpaling kearah Soe touw Kiam beramai, untuk gapekan mereka. In pun manggut kepada cit tong soe tadi dan berkata “Terima kasih untuk kebaikan Pangcoe. Muridku ini tidak kurang suatu apa. Lukanya Hauw Tocoe ada lebih berat, jangan kasi dia bergerak, jiwanya bisa terancam. Aku mengarti sedikit ilmu ketabiban, aku suka berikan bantuanku. Tolong loo soehoe suruh orang ambil semangkok air.” Kemudian, ia menoleh pada Ang Giok To, yang sedang memutar tubuh untuk kembali ketempat duduknya, rupanya dia sangat mendongkol, maka sambil tertawa dingin, Lioe Tong kata “Ang Tocoe, silahkan balik ke tempatmu, urusan mereka berdua ini, sebentar akulah si orang she Ban yang akan tanggung jawab nya!”

Sehabis mengucap demikian, Lioe Tong tidak perdulikan lagi congtocoe itu, ia terus berkata pada Soe touw Kiam beramai, yang sudah hampirkan padanya “Bawa Coh Heng kepaseban, suruh dia duduk beristirahat, setengah jam pun sudah cukup, tapi larang dia bergerak!”

Soe touw Kiam menyahuti, bersama saudara2nya ia pepayang si tolol.

Setelah itu, Ban Lioe Tong lari kepada Hauw Giok, muka siapa pucat, napasnya empas empis, keadaannya sangat berbahaya, semua kawannya berdiri dengan alis mengkerut, lenyap harapan mereka. Orang yang diperintah ambil air panaspun telah lekas kembali. Siok beng Sin Ie segera periksa nadi orang, lalu ia buka baju nya Hauw Giok akan lihat luka diiganya, ia kerutkan alis apabila ia dapati, tulang iganya pemuda itu telah patah. Dari sakunya ia keluarkan obat bubuk.

Mulutnya Hauw Giok rapat, giginya terkancing, disitu tidak ada alat ketabiban, terpaksa Lioe Tong gunai kedua tangannya akan buka mulutnya orang itu, sesudah mana dengan sebat ia tuang obat kedalam mulut, disusul dengan cegukan air, supanya obat kena ditelan. Mulut itupun dirapatkan dengan cepat.

Itu waktu ada datang Heng tong Loosoe Gouw Ceng, yang tadi habis urus Cio Loo Yauw. Dia tahu ada dua orang luka, dia datang bersama dua tabib, tapi kapan ia lihat tocoe pihaknya diobati Lioe Tong, ia jadi tidak senang, terus saja ia kata pada Lioe Tong “Hauw Tocoe terluka disebabkan ilmu silatnya tidak terlatih sempurna dan dia tidak tahu diri, dia cari penyakit sendiri. Seharusnya dia dirawat oleh kami, tapi sekarang kami telah bikin berabe pada Ban Loosoe. Baiklah dia diserahkan kepada kami, untuk kami yang obati sendiri!”

Lioe Tong tidak gusar, sebaliknya, ia bersenyum. “Gouw Loosoe, harap kau tidak anggap aku si orang she

Ban suka campur banyak urusan,” menerangkan ia. “Aku

hanya utamakan jiwa manusia. Pada saat ini, dimataku tidak ada lawan atau kawan. Hauw Tocoe terluka parah, kalau kita lambat sedikit dan dia muntah untuk kedua kalinya, walaupun ada obat sangat mustajab, dia tidak akan tertolong lagi. Sekarang aku telah berikan pertolongan pertama. Sebentar apabila dia sudah dibawa pergi, taruhlah dia ditempat yang tenteram, lantas kasi dia obat penyambung tulang, tulang tulangnya pun diurut, disambung pula seperti sediakala, nanti setelah empat puluh sembilan hari, dia akan sembuh seperti biasa. Aku bodoh, aku cuma mengarti sedikit ilmu obat2an, menyesal di depan Gouw Loosoe aku seperti bertingkah didepan akhli

Aku berbuat begini cuma disebabkan aku ingat persahabatan kaum kang ouw, bahwa belajar silat bukannya gampang, kasihan apabila Hauw Tocoe sampai tak ketolongan. Begitulah aku berlaku lancang, aku harap Gouw Loosoe suka maklum.”

Gouw Ceng tidak tahu Hauw Giok terluka parah, ia menyangka lukanya enteng, ia tidak senang musuh yang mesti mengobati, tapi sekarang ia dapat kenyataan, rekan itu tinggal mati atau hidup, sedang suaranya Ban Lioe Tong pun manis2 tajam, dengan sendirinya muka dan kupingnya menjadi merah.

Ban Lioe Tong tidak tunggu sampai orang bicara, selagi orang jengah, ia tambahkan “Gouw Loosoe, aku melainkan hendak menolong jiwa, kau percaya syukur, tidak percaya pun tak apa, tapi sekarang aku minta kau lekas2 bawa Hauw Tocoe!”

Setelah mengucap demikian, tanpa tunggu orang mulai bekerja, Lioe Tong membungkuk, akan ulur kedua tangannya kepada Hauw Giok, tangan kanan menampa batang leher, tangan kiri menampa kedua kaki, lalu dengan hati2 ia angkat tubuh orang yang terluka itu, kemudian setelah suruh orang siapkan gotongan, ia letaki musuh ini diatas gotongan itu. Secara demikian, kecuali ujung kakinya, tubuhnya Hauw Giok tidak tergerak sama sekali.

Menampak demikian, Hay niauw Gouw Ceng si Burung Laut malu berbareng kagum..

Lioe Tong merogo kedalam sakunya, akan keluarkan obat pulung penyambung tulang, sembari serahkan itu kepada Gouw Ceng, ia kata “Gouw Loosoe, harap kau rawat Hauw Tocoe seperti pengunjukanku tadi, dengan demikian baharu jiwanya akan ketolongan.”

Setelah itu, ketua dari Kwie In Po segera bertindak kerombongannya.

Auwyang Siang Gee, dengan titah ketuanya, sambut Siok beng Sin Ie, untuk diantar kekursinya, sedang Boe Wie Yang pun berbangkit, sembari memberi hormat dia kata “Ban Loosoe, kau demikian mulia, aku si orang she Boe menghaturkan terima kasih tak habisnya kepadamu. Akupun sangat kagum untuk ilmu ketabibanmu yang luhur. Kau banyak cape, Ban Loosoe!”

Ban Lioe Tong tidak segera duduk dikursinya, ia hanya memutar tubuh, akan hadapi ketua Hong Bwee Pang itu.

“Harap Pangcoe tidak terlalu memuji padaku,” ia merendahkan diri. “Pengetahuanku tentang ilmu ketabiban ada cetek sekali. Malah, adalah kemurahan hati dari Pangcoe semua yang sudah tidak cela kelancanganku mewakilkan pihakmu mengobati Hauw Tocoe, bahwa aku telah tidak dikatakan suka campur banyak urusan. Tak sanggup aku terima ucapan terima kasih dari Pangcoe. Pangcoe, tadi ada datang satu loosoe yang hendak pieboe dengan muridku yang sedang terluka, maafkan mataku yang lamur, aku tidak tahu disini dia menjabat apa, apa she dan namanya, maka tolong Pangcoe ajar aku kenal kepadanya, aku hendak omong sepatah dua patah terhadapnya.”

Auwyang Siang Gee mengerti, tetamu dari Kian San ini tentu tidak sudi kasi lewat begitu saja kepada Ceng kang ong Ang Giok To untuk sikapnya yang garang itu, dan karena ia tahu tetamu ini bukannya orang bangsa sembarangan, tanpa tunggu perkenan lagi dari ketuanya, ia mewakilkan menjawab. “Ban Loosoe,” berkata la, “barusan orang yang langgar aturan pertempuran persahabatan ini ada Soenkang Congtocoe Ang Giok To dan Tocoe Hauw Giok yang terluka itu adalah anak angkatnya. Dia lihat anaknya terluka parah, dia tentu kuatirkan jiwanya anak itu, karena adanya kecintaan diantara ayah dan anak, kejadianlah perbuatannya yang sembrono itu. Mengenani, aku harap Ban Loosoe suka memaafkarmya.”

“Auwyang Hiocoe, aku harap kau tidak mengucap demikian,” kata Lioe Tong dengan cepat. “Mana berani aku menegur loosoe dari Hong Bwee Pang? Adalah sikapku barusan, yang tidak memakai adat sopan, karena mana ingin aku memberi sedikit penjelasan kepada Ang Tocoe. Aku harap hiocoe tidak berkuatir suatu apa.”

Selagi mengucap demikian, Siok beng Sin Ie telah lantas lihat, Ang Giok To duduk dikursi yang kesebelas, maka ia hadapi dia itu seraya ia rangkap kedua tangannya.

“Ang Tocoe, Ban Lioe Tong hendak bicara sedikit kepadamu, aku minta sukalah kau maafkan kelancanganku.”

Ketika itu, Ang Giok To sedang mendongkol, karena kelancangannya itu, Boe Wie Yang telah tegur padanya, dan hatinyapun sedang tegang sekali, sebab ia kuatirkan keselamatan anak pungutnya siapa, ia tidak segera tengok karena dia dikekang oleh tata tertib didalam pertempuran itu. Maka ketika mendengar perkataannya Ban Lioe Tong, ia mengawasi dengan roman gusar kepada tetamunya itu. Ia jawab “Ban Loosoe, kau hendak bicara apa? Silahkan bicara, Ang Giok To bersedia akan mendengarnya.”

“Ang Loosoe,” berkata Ban Lioe Tong dengan tenang, “kita semua pernah yakinkan ilmu silat, maka sudah seharusnya kita  insyaf, walaupun ilmu silat bisa  dipakai membela diri tetapi berbareng juga bisa jadi alat pembunuh sesama manusia. Tegasnya, satu kali tangan digeraki, tidak bisa diharap keselamatannya kedua pihak. Kami telah diundang ke Cap jie Lian hoan ouw ini, kami memenuhinya, dan dengan terpaksa kami pun menerima baik permintaan untuk kedua pihak mengadakan pieboe persahabatan. Semua hadirin disini adalah tetua dari kalangan kang ouw dan Rimba Persilatan, semua mengerti dan bisa melihat nyata gerakan kaki tangan dari mereka yang sedang bertempur, dari itu, bisalah mereka dijadikan saksi. Bukankah mereka telah lihat tegas ketika muridku layani Kim Tocoe dan Hauw Tocoe? Bukankah mereka mengarti apabila ada pihak yang beringatan jahat! Kami dari pihak Hoay Yang Pay sangat melarang keras murid2nya lancang melukai orang. Benar muridku mengarti Tiat pou san, tetapi dia tidak kandung maksud jahat, tidak demikian dengan Kim Tocoe, begitu bergebrak, dia arah bagian anggota yang berbahaya hingga tak dapat muridku tidak lakukan penyerangan pembalasan. Ketika Hauw Tocoe turun tangan, dia sudah mengarti yang muridku kedot, justeru itu, ia sengaja cari bagian2 lemah dari muridku itu. Bukankah mereka berdua, tidak bermusuhan atau saling dendam? Kenapa Hauw Tocoe berlaku kejam, dia menyerang selalu tempat yang berbahaya? Muridku telah terpukul parah, karena mana, baharulah dia membalas, dengan sisa tenaganya dia lukai kepada Hauw Tocoe. Dengan kepandaian Ang Tocoe yang liehay, tentunya Tocoe bukan tidak lihat kejadian yang sebenarnya. Apabila Hauw Tocoe berhasil dengan pukulan nya itu, bukan saja akan ludas cape lelahku belasan tahun, juga jiwa muridku itu sekarang pasti sudah habis juga! Mereka berdua sedang bertempur, keadaan mereka bisa dimengerti. Tocoe ada dibawahan Boe Pangcoe, kaupun memimpin dua belas tocoe, tapi kau hendak adu jiwa dengan muridku yang sedang terluka, aku anggap perbuatan itu tidak selayaknya. Ang Tocoe, aku telah bicara, apabila kau masih tidak puas, sebagai gurunya Coh Heng, aku suka wakilkan muridku itu menerima teguran! Apakah Tocoe hendak memberi pengajaran kepadaku?”

Mukanya Giok To menjadi merah. Ia kalah alasan, ia tidak bisa membantah. Tapi ia menjawab “Ban Loosoe telah ketahui kekeliruanku, tidak dapat aku menyangkalnya. Umpama Ban Loosoe sudi memberi pengajaran kepadaku, aku bersedia untuk menerimanya.”

Tocoe ini keras kepala, sehabis berkata, ia hendak mohon perkenan kepada ketuanya, tapi belum sempat ia buka mulut, salah satu tetamu, yaitu Hek sat chioe Poei Ciong, telah mendahului berbangkit.

“Dalam kata2nya Ban Loosoe juga ada bagian yang tidak tepat” berkata Poei Ciong. “Kita sudah tahu, ilmu silatpun ada sebagai alat pembunuh, bahwa bergeraknya tangan tidak dapat dibataskan, dari itu dalam per tempuran, orang mesti mengandal pada latihannya sendiri. Aku lihat, caranya Hauw Tocoe melukai muridmu ada hal yang kebetulan saja, maka adalah keterlaluan apabila dikatakan itu disebabkan niatan jahat! Jikalau demikian anggapan Ban Loosoe, sulit untuk lain2 orang adu kepandaian terlebih jauh. Ban Loosoe, aku si orang she Poei sudah lama dengar namamu yang besar, Shacap lou Kim na hoat membuat namamu kesohor berendeng sama nama ketuamu, maka kebetulan ada ini hari yang baik, suka sekali aku menerima pengajaran darimu.”

Belum sempat Ban Lioe Tong berikan jawabannya, atau suara tertawa nyaring dari Siangkoan In Tong sudah mendengung di seluruh lapangan. “Ban Loosoe, muridmu yang timbulkan onar, maka kau sambutlah tantangan ini!” kata ia juga. “Muridmu punya ilmu tubuh kedot, dilain pihak Poei Loosoe ada punya Hek sat chioe, Tangan Kematian, yang keistimewaannya untuk memusnahkan ilmu kedot Cap sha Thaypo Heng lian hoat, dibagian tangan yang lemah. Ini toh bukannya urusan lain orang? Murid terbitkan onar, seharusnya siguru yang tanggung jawab. Andaikan kau terluka pada tanganmu, kau ada punya obat manjur untuk mengobatinya sendiri, jadi tak usah lah kami semua ibuki padamu!”

Terang maksudnya Siangkoan In Tong, dengan kata2nya ina kasi peringatan pada Ban Lioe Tong untuk orang punya tangan yang liehay, dan dilain pihak, buat bikin keduanya tak bisa banyak omong lagi. Poei Ciong mengerti itu, maka ia mendelik terhadap si jail itu. Dan Lioe Tong dengan gembira lantas berikan jawabannya.

“Ban Lioe Tong datang kemari untuk belajar kenal dengan orang2 kenamaan. Maka marilah kita pergi kelapangan untuk disana tangan kita yang pasang omong. Ban Lioe Tong juga ingin belajar kenal dengan loo soe empunya tenaga tangan.”

“Baik, Ban Loosoe,” sahut Poei Ciong, yang segera berbangkit akan terus kasi hormat pada Boe Wie Yang.

“Boe Pangcoe, Poei Ciong yang bodoh ingin terima pengajaran dari Ban Loosoe, apakah pangcoe suka ijinkan aku mempertunjukkan keburukanku didalam lapangan ini?” begitu ia kata kepada tuan rumah.

Boe Wie Yang berbangkit untuk membalas hormat. “Poei Loosoe sudi kasi pertunjukan, ini adalah hal yang

sukar didapat,” kata ia. “Aku harap Poei Loosoe dan Ban

Loosoe juga nanti suka perlihatkan masing2 kepandaiannya yang liehay. untuk Boe Wie Yang luaskan pandangan matanya. Poei Loosoe, silahkan!”

Ban Lioe Tong juga kasi hormat kepada ketuanya, ia kata “Soeheng, siauwtee hendak turun kelapangan untuk main2 beberapa jurus dengan akhli silat kesohor, tapi kepandaianku rendah sekali, mungkin aku menyebabkan kaum kita mendapat malu, umpama berakhir demikian, tolong kau suka gantikan aku.”

Eng Jiauw Ong tertawa.

“Ban Soetee, kau terlalu see jie!” katanya. “Sikap kita adalah pertandingan persahabatan, dari itu, batasnya adalah saling towel saja!”

Ban Lioe Tong manggut, lantas ia kasi hormat pula pada Siangkoan In Tong.

“Maafkan aku,” kata ia. Sedang terhadap Poei Ciong, ia bilang “Poei Loosoe, silahkan!”

Keduanya lantas saja bertindak kelapangan.

Perhatian semua orang lantas saja tertarik kepada kedua orang ini.

Ban Lioe Tong percepat jalannya dua tindak, untuk ambil tempat disebelah bawah, membelakangi arah selatan, karena mana, Poei Ciong jadi mengalah, ia ambil tempat dijurusan lainnya.

“Ban Loosoe terlalu seejie,” kata dia. “Nah, silahkan loosoe mulai!”

“Aku turut perintah, Poei Loosoe. Silahkan!”

Lantas Ban Lioe Tong rangkap dua tangannya untuk memberi hormat menurut aturan kaum nya, lalu kedua tangan itu dikasi turun, kedua kakinya digeraki, hingga ia jadi bersikap “poet teng poet pat,” tidak lempang, tidak nyamping, kaki kirinya didepan, kaki kanannya dibelakang, tangan kirinya didada, tangan kanan ditaruh dibetulan pusar, dengan perut disedot, dadanya jadi melembung dan maju, kelihatannya ia tenang, tapi kuda2 nya kokoh.

Poei Ciong dilain pihak telah perlihatkan sikap Pek kwa ciang, setelah maju sedikit, ia mengucap “Ban Loosoe. maafkan aku yang hendak berlaku kurang ajar!” Lantas kaki kirinya di majukan, kaki kanannya ditan cap dibelakang, sesudah mana, kaki kanannya ganti dimajukan dengan satu lompatan, akan ikuti tangannya yang kanan, yang dua jarinya, jari tengah dan telun juk, dipakai menotok muka lawan dengan tipunya “Sian jin cie louw,” atau, “Dewa menunjukkan jalan.”

Ban Lioe Tong berlaku tenang sekali. Serangan ada demikian membahayakan, namun ia tidak geser kedua kakinya. Ia cuma egos sedikit pundak kirinya, tangan kirinya dikasi naik sekalian, dua jarinya, telunjuk dan tengah, mengarah nadinya si penyerang.

Nyata serangannya Poei Ciong ada serangan benar2 dan gertakan dengan berbareng. Karena nadinya terancam, dengan lekas ia batalkan serangannya dengan tarik pulang tangan kanannya itu. Dilain pihak, sambil geser kaki kanan, dengan tubuh sedikit mendek, ia menyerang hebat dengan tangan kirinya, kebawahan perut. Ini adalah serangan “Yap tee chong hoa,” atau “Dibawah daun menyembunyikan bunga.” Serangan ini perdengarkan sam beran angin.

Ketua Kwie In Po tahu orang punya tangan liehay, ia tidak mau berbentrokan tangan. Ia berkelit dengan sebet kekiri akan luputkan serangan dibawah itu, tapi lagi2 ia totok nadinya lawan. Sekali ini ia gunakan tangan kanan. Iapun berlaku sangat gesit. Poei Ciong lihat serangannya kosong, dilain pihak, tangan musuh menyamber tangannya, lekas ia putar balik tangan kirinya itu untuk diteruskan menotok lengan lawan. Selagi tangan kirinya balas menyerang, tangan kanannya keluar untuk menyamber iga, dengan “Ouw liong coet tong,” atau “Naga hitam keluar dari gowa.”

Ban Lioe Tong telah siap dengan kumpulkan tenaga Sip toan kim, ia ingin mencoba kekuatan tangan jago Ouwlam itu. Ia tarik pulang sebelah tangannya akan lolos dari serangan, berbareng ia tangkis serangan kepada iganya. Ia berani bentur tangan lawan, sebab serangannya lawan itu bukannya totokan. Selagi menangkis, ia gunai tujuh bagian dari tenaganya.

Tanpa dapat dicegah, kedua tangan bentrok satu, dengan lain, sebagai kesudahan. Ban Lioe Tong mundur enam tujuh kaki dan Poei Ciong mental beberapa tindak. Dengan ini keduanya insyaf akan kekuatannya masing2.

Keduanya maju pula, akan rapatkan diri untuk layani tangan yang liehay dari sang lawan, Ban Lioe Tong mainkan tipu totokan tiam hiat hoat. Ia mengenakan baju panjang tetapa bisa bergerak dengan leluasa. Ia tidak meninggalkan Sip toan kim, ia tetap berlaku tenang.

Poei Ciong telah latih tangan Hek sat thyioe untuk dua puluh tahun lebih, siapa kena terserang olehnya, walaupun kulit dan dagingnya tidak terluka, jiwanya bisa melayang dalam sedetik. karena ia sangat utamakan kekuatan tangan saja, tetapa abaikan ilmu silat seumumnya. Dan Lioe Tong, jago Kwie In Po pada umumnya tenang sekali, ia bisa kendalikan diri. Maka sambil melayani dengan kegesitan, diam2 ia perdatakan sifat lawan, hingga ia ketahui tenaga tangan dari lawan telah dipusatkan sepenuhnya. Ia mesti jaga diri supaya tidak kena terserang. Sementara itu, tak tegah ia akan bikin celaka lawan ini, ia ingat akan cape lelahnya orang untuk berlatih dan mengangkat nama. Pun sebelum itu, diantara mereka tidak ada dendaman atau permusuhan Pertandingan berlanjut sampai dengan “Siang twie chioe,” Tolakan sepasang tangan Poei Ciong menyerang tete kiri atas sang lawan dibagian jalan darah “eng chong hiat” dan tete kanan bawah bagian “yoe boen hiat.” Iapun gunai antero kekuatannya, karena ia bernapsu benar akan rubuhkan musuh ini.

Dengan segera Ban Lioe Tong merasakan desakan jago Ouwlam ini, lekas2 ia rapatkan kedua tangannya, kaki kirinya diangkat, hingga ia berdiri dengan sikap “Kim kee tok lip” atau “Ayam emas berdiri dengan satu kaki” dan “Tong coe pay Hoed”“ atau “Kacung suci memuja Sang Buddha.” Sama sekala tidak menangkis, ia tidak buka kedua tangan lawan, hanya sambil kasi turun kedua tangannya, sambil mendek miring ia lompat lebih jauh kebelakang musuh Ia telah bergerak dengan sangat cepat. Dari belakang ia menyerang bebokong dibagian jalan darah “leng tay hiat.” Tapi ini bukanya serangan, ia hanya menekan saja, satu kali, sesudah mana ia melejit mundur sambil berseru “Poei Loosoe, Ban Lioe Tong menyerah kalah!”

Poei Ciong terperanjat. Ia cuma merasa seperti dirabah bebokongnya tapi segera ia merasakan panas sampai diuluh hati nya, hanya sekejab saja rasa panas itu lenyap dan ia jadi seperti biasa pula. Ia insyaf bahwa ia telah kalah, tapi ia ada seorang kenamaan, ia bertabeat keras, bukannya ia insyaf dan mundur, justeru ia jadi sangat gusar. Ia malu untuk mundur, ia tak punya muka untuk taruh kaki pula di Ouwlam. Tidak memikir panjang pula ia putar tubuh akan hadapi Lioe Tong, yang terpisah setumbak lebih dari ia, sambil memberi. hormat ia kata “Benar2 Ban Loosoe liehay sekali, dalam bertangan kosong aku menyerah kalah. Tapi aku telah lama dengan liehaynya ilmu silat pedang Ban Loosoe, justeru ada ini hari yang baik, ingin aku menerima pengajaran beberapa jurus. Sudikah loosoe memberi pengajaran kepadaku? “

Ditantang secara demikian, Ban Lioe Tong jadi sangat tidak senang, maka dalam hatinya Ia berkata “Kau yang cari malu sendiri, tak dapat tidak, Ban Lioe Tong tak bisa berlaku murah hati lagi ” Maka ia tertawa dingin.

“Poei Loosoe, mengapa kau masih ingin mengadu senjata?” tanyanya. “Bukankah boegeemu telah ternyata liehaynya dan Ban Lioe Tong sudah mengaku kalah? Aku anggap pertandingan lainnya sudah tak perlu lagi ”

Mukanya Poei Ciong merah.

“Ban Loosoe,” kata ia dengan mendongkol, “pertandingan kita barusan telah disaksikan banyak akhli, mereka semua telah melihat tegas, adalah Poei Ciong yang kalah, maka kenapa loosoe masih menyindir aku, hingga aku jadi sangat malu? Loosoe, sebelum kita adu senjata, tidak puas hatiku. Baik aku terangkan, tak bisa aku pakai gegaman halus, senjataku adalah tay kan coe, yang baharu aku yakinkan beberapa tahun, yang masih belum sempurna. Umpama Ban Loosoe anggap senjataku itu tidak berharga, apa boleh buat, aku tidak dapat memaksanya.”

Ban Lioe Tong terkejut dalam hatinya mendengar lawan bersenjatakan tay kan coe, atau “galah besar.” Tay kan coe adalah senjata semacam toya panjang, yang menjadi leluhurnya pelbagai gegaman, sedang ia bersenjatakan pedang yang jauh lebih kecil dan pendek. Dipandang seumumnya, ia sudah kalah pengaruh. Pula ada pribahasa “lebih panjang satu dim, lebih kuat lebih pendek satu dim, lebih celaka.” Maka itu, terang maksud licik dari lawan ini. Sedang juga, siapa gunai tay kan coe, mestinya dia telah melatih diri dengan baik. Jarang orang gunai toya itu, yang berat dan sukar untuk dibawa. Namun ia tidak keder, bahkan ia bersenyum.

“Poei Loosoe hendak beri ajaran tay kan coe kepadaku, Ban Lioe Tong tidak dapat tampik kebaikan hatimu itu,” ia jawab. “Mestinya loosoe telah yakinkan tay kan coe dengan sempurna, maka kebetulan, Lioe Tong ingin minta kau mengajarkan nya!”

Setelah ini, ketua Kwie In Po menggape kepada Kee Pin, muridnya yang pegang pedangnya Tee sat Cian liong kiam.

Kee, Pin sudah lantas menghampirkan gurunya.

Poei Ciong pun suruh satu pengawal, katanya “Tolong kau ambilkan tay kan coe paling besar dipara2, aku hendak pinjam pakai.”

Pengawal itu ambil senjata yang diminta, yang dicat merah tapi catnya sangat mengkilap, suatu tanda gegaman itu sering sekali digunai, mestinnya didalam Hong Bwee Pang ada orang yang meyakininya.

Poei Ciong lantas sambuti toya itu.

Lioe Tong tidak lantas sambuti pedangnya, ia antap Kee Pin berdiri menantikan.

Melihat orang menantikan, Poei Ciong tidak sungkan2 lagi.

“Ban Loosoe, silahkan hunus pedangmu!” ia mempersilahkan. Iapun terus mundur lima tindak untuk beraksi dengan gegaman nya itu, yang ia. cekal dengan tangan kanan, tangan kirinya ditaruh disebelah atas. Ujung toya ditundukkan ditanah.

“Ban Loosoe, poei Ciong sudah sedia untuk terima pengajaran,” kata ia dengan tantangannya. CXXV

Melihat gerakkan lawan Lioe Tong percaya peryakinkannya Poei Ciong ada sempurna, akan tetapa tidak terlalu perhatikan Itu, adalah setelah tantangan itu, ia gapekan muridnya untuk datang dekat sekali padanya.

Kee Pin dekati gurunya, ia geser pundak kanannya dimana ada tergendol pedang.

Lioe Tong cekal gagang pedang, ia pegang sarungnya, lantas ia mencabut, hingga terdengar suara nyereset sebagai “naga berbunyi,” sinarnyapun berkelebat bagaikan kilat.

Begitu pedang telah dicabut, Kee Pin lekas2 undurkan diri.

Lioe Tong pindahkan pedangnya ketangannya yang kiri, setelah memutar tubuh, ia pancang Poei Ciong dan memberi hormat.

“Poei Loosoe, harap kau tidak ber sungguh2 dengan tay kan coemu,” kata ia. “Aku kuatir Ban Lioe Tong tidak sanggup layani kau, aku minta sukalah kau berlaku murah hati.”

Poei Ciong sendiri kaget apabila ia lihat pedang itu, muka dan kupingnya jadi merah sendirinya.

“Dasar aku mesti rubuh....” pikirnya. “Tak pernah aku dengar Ban Lioe Tong punyakan senjata mustika.”

Si Tangan Hitam bukannya akhli tapi dengan dengar suara pedang saja dan melihat sinar nya, ia sudah bisa menduga Ban Lioe Tong punyakan pedang mustika, jadi toyanya sudah sedari siang2 terancam bahaya. Karena ini, ia jadi melupakan malu, dengan tertawa dingin ia berkata “Ban Loosoe, ijinkan aku bicara. Sebenarnya tidak aku sangka loosoe punyakan senjata macam ini, yang tak gampang terlihat dalam dunia kang ouw, maka toyaku pasti akan jadi korbannya pedangmu itu. Tay kin coe ini ada kepunyaan lain orang, apabila aku pakai dan jadi rusak karenanya, tak dapat aku bertanggung jawab. Kebetulan toyaku hampir sama dengan toyanya Boe Pangcoe ini, tolong kau berikan ketika padaku buat aku memberi tahu dulu pada Pangcoe.”

Dan ia lantas sampaikan pesan untuk Boe Wie Yang. “Jangan terlalu ibuk, Poei Loosoe,” kata Ban Lioe Tong

sambil tertawa. “Ban Lioe Tong tidak lupa akan kehormatan kaum kang ouw, hingga dia andalkan saja senjatanya untuk rebut kemenangan. Mata loosoe liehay sekali. Memang benar senjataku ini adalah senjata mustika. Meski demikian, loosoe boleh legakan hati. Adalah janjiku sendiri, kecuali terhadap manusia yang diasingkan Thian dan manusia, tidak nanti aku rebut kemenangan dengan senjataku ini. Harap loosoe tidak kuatir terlebih jauh.”

“Jikalau begitu, baiklah,” kata Poei Ciong. “Ban Loosoe, silahkan mulai!”

Setelah mengucap demikian, Poei Ciong geraki kaki dan tangannya, ia berlompat, ia berputar, toyanya turut bergerak juga, maka itu bisa dilihat, dia benar terlatih baik, tenaganya mesti ada tenaga dari lima ratus kati.

Ban Lioe Tong juga turut geraki pedangnya, kekiri dan kanan dan mutar, ia berdiri dengan sebelah kaki, pedangnya terus dice kal dengan tangan kiri, kemudian baharu ia geser ketangan kanannya untuk dipakai seperti melilit tubuh, melindungi kepala, hingga sinar pedang berkeredepan. Iapun tetap mengenakan thungshanya baju panjang. “Poei Loosoe silahkan mulai.” akhirnya ia mengundang, ia sendirinya perlihatkan sikap “kwa houw teng san” atau “Naik gunung sambil menunggang harimau.”

Kedua pihak bergerak berputaran dengan Poei Ciong sebagai pengejarnya. Dia belum menyerang, akan tetapi toyanya di geraki hingga perdengarkan suara angin. Adalah setelah sampai saatnya, jago Ouwlam ini memutar tubuh untuk mencegat jalan, untuk segera kirim toyorannya pertama kearah dada. Itu adalah gerakan “Ouw liong coet tong,” atau “Naga hitam keluar dari gowa”.

Siok beng Sin Ie tidak membarengi membabat toya lawan, hanya dengan egos tubuh, tangan kirinya menyampok ujung toya, setelah mana, ia mendesak maju mengikuti sepanjang toya istimewa itu. Ia bergerak dalam “Giok lie touw so,” atau “Bidadari menenun”.

Rangsekan semacam ini ada hal yang dibuat pantangan bagi pemegang tay kan coe, maka itu Poei Ciong, sambil menarik pulang toyanya, ia menjejak dengan kaki kanan untuk lompat mundur, sesudah mana, sambil putar tubuh ia menusuk kearah perut. Ini adalah ulangan Berangan yang berbahaya, sebab di, waktu begitu, lawan sedangnya maju.

Rangsekannya Lioe Tong gagal, ia geser kaki kirinya untuk berkelit, dengan kaki kanan masih terangkat, iapun tangkis serangan itu. Ini adalah gerakan “Pek hoo liang cie” atau “Burung hoo putih buka sayap”.

Ketua dari Kwie In Po menetapi janjinya, ia tidak mau gunai tajamnya pedang akan tabas atau papas tay kan coe, ia hanya main berkelit, menangkis atau menyampok. Iapun belum pernah balas menyerang, baharu mencoba mengancam saja.

Dengan gesit sekali, setelah tangkisannya itu, Siok beng Sin Ie berlompat kesampingnya lawan, dengan cara demikian ia coba pernahkan diri disamping lawan, adalah dari sina menusuk lengan lawannya dalam gerakan “Hay yan liang po” atau “Walet laut samber gelombang.”

Poei Ciong sedang miring, maka untuk luputkan diri, ia teruskan mendek sedikit, dengan kedua kaki memasang kuda2 ia segera tarik senjatanya, buat lagi2 dipakai menyerang satu penyerangan membalas kepada iga musuh yang kiri.

Lioe Tong telah tusuk sasaran kosong, berbareng dengan itu, ia terancam bahaya, tidak ayal laga menjejak dengan kaki kiri, ia lompat kekanan, jauhnya satu tumbak lebih.

Poei Ciong benar2 liehay, iapun tidak mau sungkan2 lagi, sambi angkat tubuhnya, ia loncat menyusul, senjatanya dari atas dikasi turun kebawah, untuk satu kemplangan kematian! Ia telah menyusul selagi orang lompat dan belum sempat menaruh kaki.

Lioe Tong dapat merasakan pengejaran lawan yang ia telah duga, maka didalam hatinya ia kata “Bagus! Apakah kau sangka senjataku benar2 tidak berani bentur senjatamu?”

Jago Kwie In Po ini keburu taruh kakinya, akan tetapi segera ia mesti geser itu terlebih jauh akan kelit diri dari kemplangan hebat itu, kemudian dengan balik tubuh, selagi tay kan coe serang tempat kosong, ia balas menyerang dengan satu sabetan “Kie hwee siauw thian” atau “Angkat obor untuk bakar langit.” Pedangnya dari bawah membabat keatas!

Kedua gerakan ada berbareng, Lioe Tong ada terlebih sebat, maka sekali ini Poei Ciong tidak keburu kelit, tanpa ampun lagi senjatanya kena ditabas hingga kutung. Ujung toya itu, yang jadi nungging, nancap ditanah sehingga pasir muncrat!

Walaupun Lioe Tong menabas, bentrokan kedua senjata masih cukup keras, maka itu, telapakan tangannya Poei Ciong kesemutan. Syukur dia bertenaga besar, toyanya masih tidak terlepas dan terpental.

Dalam keadaan sebagai beburonan mogok karena terdesak dan gusar, Poei Ciong maju pula akan menyerang berulang , menuruti hatinya yang panas. Sekali ini ia keluarkan seantero kepandaiannya, ia kerahkan semua tenaganya. Maka bergeraknya tay kan coe jadi dahsyat luar biasa.

Lioe Tong heran melihat sikap lawannya itu. Seharusnya Poei Ciong mengaku kalah. Disebelah mendelu untuk kebandelan orang, ia masih sayangi kepada kepandaiannya musuh itu, yang teryakin sempurna. Tapi diakhirnya ia memikir untuk mengajar adat juga, supaya orang kenali baik2 Shacaplak chioe Thian kong kiam. Maka iapun bergerak dengan cepat, untuk melayani.

Semua hadirin menonton dengan perhatian penuh, mereka saksikan kegesitan dua jago itu, yang satu pedangnya berkelebatan, yang lain toyanya berputaran.

Lioe Tong melayani sampai enam tujuh jurus ketika akhirnya ia anggap, percuma ia sia2kan tempo, sedang satu pertempuran lama akan merugikan nama baik Hoay Yang Pay. Ia beranggapan tak usah ia sayangi lagi manusia bandel itu.

Di pihak lain, Poei Ciong pun merasa, tak dapat tidak ia mesti kalah, karena sia2 saja desakan nya itu, maka iapun berpikiran akan gunai pukulannya yang terakhir. Karena ini, mendadakan ia loncat mundur, setelah mana, sesudah renggang, ia maju pula dengan serangannya “Kim kee loan tiam tauw”, atau “ayam emas goyang2 kepala”. Ujung toyanya yang buntung menyamber kemuka lawan.

Lioe Tong segera berkelit kekiri, dalam gerakan “Twie chong bong goat”, atau “Menolak jendela memandang bulan”, dengan begitu, ia selamatkan diri dari ancaman bahaya.

Tapi juga Poei Ciong cuma menggertak, selagi lawannya berkelit, ia tarik pulang tay kan coe untuk dipakai memmpa pundak lawannya itu pundak kanan. Ia gunai serangan beruntun yang dinamai “Lie miauw sam pok cie” atau “Kucing tubruk tikus tiga kali”. Permla ia serang pundak kanan, apabila lawan berkelit, ia serang lagi pundak kiri, lalu setelah lawannya berkelit pula, ia menghajar ketengah.

Dengan tipu berkelit “To cay lioe,” atau “Pohon lioe rubuh”, Ban Lioe Tong egos pundak kanannya itu, setelah mana, kapan toya menyamber pundak kirinya pula, ia berkelit pula dengan “Oey liong to hoan sin”, atau “Naga kuning jumpalitan”. Ia lompat kekiri. Karena ini, segeralah datang menyusul serangan yang ke tiga kali, selaga berlompat itu.

Serangan yang ke tiga dari Poei Ciong ada dengan “Ouw liong coan tah”, atau “Naga hitam masuk dalam menara”.

Serangan datang ketika Lioe Tong sedang berlompat, inilah berbahaya, maka semua orang Hong Bwee Pang percaya, jago Kwie In Po itu mesti jadi kurbannya tay kan coe.

Akan tetapi Siok beng Sin Ie telah punyakan latihan diri lebih dari empat puluh tahun, dalam keadaan seperti itu, hatinya tak gentar sedikitpun. Disaat ujung toya hampir mengenai dadanya, ia gunai pedangnya untuk menekan dengan pinjam tenaga toya itu, tubuhnya menggeser dari bahaya, terus tubuh itu mengapung melesat kedepan lawannya. Inilah gerakan “Hay yan liang po”. Dan begitu berada didepan lawan, ujung pedangnya nempel kelengan kanan lawan itu. Terus saja ia kata “Poei Loosoe, Ouw liong coan tah liehay sekali!”

Baharu sekarang Poei Ciong putus asa. Ia insyaf benar, apabila ia bikin perlawanan lebih jauh, celakalah lengan kanannya itu. Maka dengan turunkan lengan kanannya ia segera lepaskan cekalannya, hingga toyanya terjatuh ketanah sambil perdengarkan suara, kemudian ia mundur satu tindak, wajahnya bermuram durja.

“Ban Loosoe, Poei Ciong menyerah terhadapmu, biarlah lain kali kita bertemu pula didalam dunia kang ouw”, berkata ia sambil rangkap kedua tangannya, kemudian sambil memberi hormat kearah hadirin ia tambahkan “Boe Pangcoe, ciongwie loosoe, Poei Ciong tidak cukup latihan nya dan kena dirubuhkan, aku malu akan berdiam lebih lama didepan loosoehoe semua, maka maafkan, aku, sampai disini aku pamitan!”

Tanpa tunggu jawaban lagi dari Boe Wie Yang, jago Ouwlam ini putar tubuhnya untuk ngeloyor pergi dengan cepat dari Ceng Giap San chung.

Melihat akan sikap orang itu, Boe Wie Yang kata pada Auwyang Siang Gee “Menang atau kalah bertanding ada hal umum, sayang Poei Loosoe tidak punyakan kesabaran, dia terlalu turuti hati panasnya. Dia mau keluar, mana dia bisa lewatkan Cap jie Lian hoan ouw? Maka pergilah hian tee, kau antar padanya!”

Auwyang Siang Gee terima perintah, ia lantas minta sebatang tekpay dari satu cit tongsoe, dengan bawa itu ia lari keluar akan susul Poei Ciong.

Ban Lioe Tong antap orang berlalu dengan mendongkol, dalam hatinya, ia malah anggap itu lucu. Sebenarnya ia hendak balik kekursinya, ketika ia tampak Ceng kang ong Ang Giok To lompat berbangkit menghampirkan Boe Wie Yang kepada siapa dia menjura seraya berkata “Teecoe ingin minta pengajaran dari Ban Loosoe”.

Boe Wie Yang manggut. “Kau mesti hati2, jangan sekali kau memandang enteng kepada lawan,” ketua ini memesan.

“Baik, pangcoe,” kata Giok To, yang segera berbalik, akan hampirkan Lioe Tong sambil mendahului berseru “Ban Loosoe, jangan kembali dulu, Ang Giok To ingin belajar kenal dengan pedangmu!”

Melihat laganya tocoe she Ang itu, Lioe Tong batal undurkan diri, didalam hatinya ia kata “Aku memang masih ingat kau, pit hoe tak kenal aturan!” Sebenarnya ia hendak jawab penantang itu, atau satu orang segera kaoki ia “Ban Po coe, pergi kau beristirahat, nanti aku yang menemui Ang Tocoe ini!”

Itulah Chio In Po, piauwsoe dari Utara, yang segera menghampirkan.

Ban Lioe Tong tidak puas piauwsoe ini hendak gantikan ia, akan tetapi orang hendak bantu pihaknya, tak dapat ia menolaknya, maka sembari memberi hormat ia berkata “Chio Loosoe hendak men coba2, baiklah. Silahkan!” Kemudian ia tambahkan pada Ang Giok To “Ang Tocoe, disini ada Chio Loopiauwsoe yang hendak menemani kau, maka sebentar saja Ban Lioe Tong mohon pengajaran darimu.”

Lalu, tanpa tunggu jawaban, Siok beng Sin Ie kembali kekursinya.

Soe touw Kiam segera mendekati gurunya untuk sambuti pedangnya, guna dimasukkan kedalam serangkanya yang dipegangi Kee Pin. Ang Giok To tidak puas sekali yang Chio Piauwsoe malang di tengah, hingga Ban Lioe Tong undurkan diri, tapi dengan terpaksa, dengan hilang kegembiraannya, ia kata pada piauwsoe itu “Ang Giok To hendak terima pengajaran ilmu pedang dari Ban Po coe, loosoe telah gantikan dia, kau bikin aku hilang harapan! Loosoe ini she dan nama apa? Dengan cara bagaimana loosoe hendak berikan pengajaran kepadaku? Ingin sekali aku dengar keterangan loosoe !”

Chio In Po tertawa kepada tocoe ini.

“Aku yang rendah masuk dalam kalangan piauwkiok melainkan sebagai satu kacung, aku berkelana mencari nasi dilima propinsi Utara,” ia jawab. “Aku she Chio dan namaku In Po. Aku harap Tocoe jangan hilang pengharapan. Tentang ilmu pedang dari Ban Po coe, bila itu tidak liehay, tidak nanti Hek sat chioe yang kenamaan di Kanglam rubuh nama baiknya didalam Cap jie Lian hoan ouw ini. Aku percaya, kau nanti pun dapat bertemu dengan Ban Po coe. Aku ada mengerti sedikit ilmu silat golok, untuk itu aku mohon pengajar an terlebih jauh dari tocoe. Sudikah tocoe mengajarnya?” Chio In Po mengucap tanpa sungkan2, ia bersikap sengaja demikian karena ia mendongkol yang tocoe itu agaknya pandang enteng padanya.

“Chio piauwsoe hendak ajarkan aku ilmu golok, aku suka sekali menerimanya”, Giok To menjawab. “Apakah piauwsoe sedia golokmu?”

“Ya,” sahut piauwsoe ini, yang terus gapekan Kam Tiong, yang tolongi ia bawa goloknya.

Kam Tiong segera hampirkan piauwsoe itu.

Ang Giok To kaget juga apabila ia telah lihat goloknya piauwsoe itu, ialah sebuah golok besar dan berat, kedua mukanya mengkilap, belakangnya tebal empat hoen, ada delapan gelangsannya, yang berbunyi kalau golok itu tergerak sedikit saja.

Kam Tiong lantas undurkan diri sesudah serahkan senjata itu.

“Ang Tocoe, silahkan kau siapkan senjatamu!” kata Chio In Po.

Tocoe itu bertindak ke para2 dimana ia ambil sepasang poan koan pit, senjata yang mirip dengan alat tulis, melihat mana, Chio Piauwsoe pun terkejut dalam hatinya. Ia insyaf, benar2 orang2 dalam Cap jie Lian hoan ouw tak dapat dipandang enteng.

“Dia tentu pandai menotok jalan darah, aku mesti waspada,” ia berpikir.

Giok To hampirkan Chio Piauwsoe untuk berdiri didepan nya, dengan pegang poan koan pit ditangan kiri, lalu ia mundur tiga tindak, untuk memberi hormat.

“Chio Piauwtauw, silahkan!” ia mengundang. “Silahkan, tocoe!” In Po jawab seraya iapun lantas siap,

ialah goloknya dari tangan kiri dipindah ketangan kanan, tangan kirinya diletakkan dibelakang goloknya itu, terus ia bertindak kekiri.

Giok To, yang bagi senjatanya antara dua tangan, turut berputar juga.

“Chio Piauwsoe, sambutlah!” tocoe itu berseru, setelah mereka jalan beberapa putaran, kemudian ia berhenti dengan tiba2 seraya terus menyerang. Ia lompat maju tanpa tindakannya terbitkan suara.

Chio In Po angkat goloknya untuk menangkis, selagi digeraki, golok itu berbunyi. Tangkisannya itu dinamai “Heng ke kim liang,” atau “Penglari emas dipasang melintang.”

Giok To menyerang dengan kedua senjatanya, yang ia tidak hendak kasi beradu, maka ketika ia ditangkis, ia lekas menarik pulang senjatanya untuk diteruskan kekedua tete lawan. Kalau tadi ia menyerang dari atas ke bawah, sekarang ia menotok.

Chio Piauwsoe berkelit kekanan, kaki kirinya diangkat, hingga ia jadi bersikap “Kim kee tok lip,” atau “Ayam emas berdiri dengan sebelah kaki,” sembari angkat kaki, ia bacok sepasang poan koan pit itu.

Ang Tocoe sebat, ia segera tarik kembali senjatanya. Juga Chio In Po berlaku gesit, setelah gagal membacok,

ia turunkan kaki kirinya untuk dimajukan, untuk ia susuli

bacokannya pula, kepada musuh itu.

Untuk tolong diri, Giok To berkelit sambil loncat. Tapi setelah ini, ia balas menyerang, ia mendesak.

Piauwsoe itu keluarkan kepandaiannya untuk melayaninya. Tidak percuma ia menjagoi dilima propinsi Utara, ilmu goloknya benar liehay. Tapi Ang Giok To pun bukannya orang sembarangan dari Hong Bwee Pang, julukannya toh Ceng kang ong, “Raja dari Ceng kang.”

Begitulah mereka bertempur seru sampai belasan jurus, tanpa ada keputusannya.

Chio In Po cari ketika, dengan tiba2 ia menikam kearah perut.

Ang Giok To berkelit kekanan, poan koan pit kiri dipakai menindih golok, poan koan pit kanan menotok kedada. Ini adalah gerakan berbareng yang berbahaya. Chio Piauwsoe lekas2 putar goloknya untuk halaui poan koan pit kiri dan berbareng juga menangkis poan koan pit kanan.

Serangannya Giok To ada berbahaya, tetapi itu ada gertakan belaka, begitu lekas tangan kanannya hendak ditangkis, tangan itu ditarik pulang, dilain pihak tangan kirinya yang tadi disampok lawan, kembali maju menyerang, disusuli pula oleh tangan kanan poan koan pit kiri menyerang perut, poan koan pit kanan menyerang alis. Memang, siapa bersenjatakan sepasang, dia bisa bergerak dengan lebih leluasa.

Chio Piauwsoe insyaf bahwa ia telah lalai bikin lowong pada anggauta tubuhnya, dengan kesusu ia angkat kaki kirinya dan menjejak dengan kaki kanan, untuk berkelit kekiri. Secara demikian, tujuan serangan lawan menjadi kacau, tapi karena serangan diteruskan, walaupun yang diatas lolos, yang dibawah telah mengenai selangkangannya, halmana membikin ia sempoyongan, hingga ia mesti menunjang diri dengan ujung goloknya. Dari lukanyapun darah telah mengucur keluar.

Dengan rangkap kedua tangan, tetapi pun dengan roman sangat bangga, Ang Giok To segera berkata “Ang Giok To tidak keburu tarik pulang senjatanya, aku telah kena melukai Chio Loopiauw soe, aku jadi merasa tak enak hati! ”

Dari pihak Hoay Yang Pay sementara itu telah memburu keluar dua orang, ialah piauwsoe Hauw Tay dari Shoatang Selatan dan Hoa In Hong, untuk pepayang Chio In. Po.

“Bagaimana, soetee, apa kau masih bisa jalan?” Hauw Tay berbisik.

“Tidak apa2,” jawab saudara itu, selagi In Hong sambuti goloknya tanpa perdulikan darah nya mengucur, ia bertindak dengan gagah kedalam rombongannya tanpa dipegangi lagi.

Ban Lioe Tong lantas obati lukanya kawan itu.

Ketika itu, Ang Giok To sudah majukan tantangannya, yang segera ada yang jawab “Ang Tocoe, poan koan pitmu benar2 liehay, aku yang rendah mohon pengajaran!”

Segera Giok To kenali orang yang menyambut ia adalah Ngo Cong Gie, piauwsoe dari Kanglam, orangnya belum berusia lanjut, pun belum lama jadi piauwsoe, tapi dia jujur dan pandai bergaul hingga dia disukai kaum kang ouw.

“Ngo Piauwtauw hendak berikan pengajaran padaku, aku merasa sangat bersyukur,” kata tocoe ini. “Tapi didalam pertempuran, gerak2an tangan sukar dikendalikan, maka agar tidak merusak persahabatan kaum kang ouw, lebih baik piauwtauw jangan turun tangan. Bukankah baik untuk kita pertahankan persahabatan kita?”

Ngo Cong Gie bersenyum. “Tetapi, Ang Tocoe, pertemuan disini adalah pertemuan persahabatan, siapapun boleh turut ambil bagian, bukan?” tanya ia. “Bukankah ada umum siapa terluka dalam suatu pertempuran? Aku telah maju kemari, tidak enak untuk aku mundur pula, kecuali jikalau tocoe anggap kepandaianku masih belum ada harga, tak dapat aku memaksa ”

Dijawab demikian, Giok To jadi mendongkol, didalam hatinya ia damprat piauwsoe yang tidak tahu diri ini.

“Kalau begitu, silahkan, piauwsoe!” kata ia, dengan roman tak puas.

“Baiklah!” jawab piauwsoe dari Kanglam itu, yang segera keluarkan toya lemasnya, yang ia lilit dipinggangnya. Tanpa sungkan lagi Ang Giok To sudah lantas mulai dengan penyerangannya, dua2 poankoanpit ia majukan kemuka lawan.

Ngo Cong Gie lantas menyampok, tapi begitu lekas juga, kedua poankoanpit menyamber pula kekupingnya kanan dan kiri, maka ia mendek sedikit sambil mundur, berbareng mana, gegamannya dipakai menyapu kedua kaki lawan, dengan gerakannya “Ouw liong kian bwee”, atau “Naga hitam menggulung ekor”. Serangan ini dilakukan dengan tangan kanan menyekal gagang toya lemas itu.

Ang Giok To apungkan tubuhnya untuk menyingkir dari sapuan itu, tapi justeru itu dari kiri kekanan, toya menyapu pula, syukur ia gesit, kakinya keburu injak tanah, dari itu, ia bisa berloncat pula dengan “Oey liong hoan sin”, atau “Naga kuning jumpalitan”. Ia lompat mundur.

Ngo Cong Gie bertindak luar biasa cepat, lagi toyanya menyamber, dari atas kebawah, ke arah pundak.

Giok To baharu saja taruh kakinya ketika serangan datang, dengan sebat ia geser kaki kiri seraya tubuh dimiringkan, tapi sekarang ia sempat gunai sepasang poankoanpit untuk menangkis poankoanpit. kiri menahan ujung toya, poankoanpit kanan mengganjel bagian tengah. Maka kapan kedua senjata beradu, Cong Gie ketahui tenaga besar dari lawan itu. Iapun kaget karena telapakan tangannya kesemutan dan panas!

Sejak itu, piauwsoe dari Kanglam ini keluarkan antero kepandaiannya, akan tetapi biar bagaimanapun ia cuma berimbang menghadapi tocoe dari Hong Bwee Pang itu.

Selagi pertempuran berjalan, dua gotongan telah dikasi keluar untuk memuat Coh Heng dan Chio In Po, mereka ini, dengan diiring oleh Kam Tiong dan Kam Hauw serta Phang Yok Boen dan Phang Yok Sioe, digotong keluar Ceng Giap Sam chung.

Tindakan Hoay Yang Pay ini diambil menuruti usul Coe In Am coe, yang anggap pihaknya yang terluka baik dikasi beristirahat didalam perahu Garuda. Pun tindakan ini bisa mencegah berabe andai kata pertandingan persahabatan itu berubah sifat, orang yang luka jadi sudah ada ditempat yang selamat. Eng Jiauw Ong setujui usul ini, ia sudah lantas bicara kepada Boe Wie Yang, untuk majukan sarannya, dan ketua Hong Bwee Pang ini menerima dengan baik, malah dia segera perintah siapkan dua gotongan.

Kam Tiong berempat tidak setuju mereka diberikan tugas mengantar itu, tapi mereka tidak berani membantah, cuma mereka minta izin untuk boleh kembali, tapi atas ini, Coe In Am coe menyabarkan mereka dengan bilang, mereka pun bakal saksikan “keramaian” lain, sedang dimedan pertempuran ini, mereka tentu tak dapat berbuat apa2 menghadapi musuh2 tanggu.

“Maka pergilah, jangan kau gerecoki kami!”

Kam Tiong dan adiknya tidak puas, didalam hatinya mereka katakan niekouw itu sebagai “niekouw bangkotan”, tapi karena guru mereka hormati si niekouw, mereka tutup mulut, tetapi untuk mempuaskan diri disepanjang jalan mereka gerutui Coh Heng, yang dikatakan tidak punya guna, sampai dapat luka, sehingga dia bikin mereka tidak bisa saksikan keramaian

Coe In Am coe telah duga boca2 itu akan penasaran terhadapnya, maka kepada Eng Jiauw Ong ia nyatakan, mereka tentu akan mengadu kepada ketuanya. Ia kata, mereka tentu tidak menginsafi bencana yang sedang mengancam mereka. “Walau demikian, tidak nanti mereka berani kurang ajar terhadap am coe”, Too Liong bilang.

“Biarlah mereka caci pinnie, pinnie toh bermaksud baik!” kata niekouw ini sambil tertawa.

Niekouw ini pikirkan bahaya yang mengancam, untuk sesaat itu ia tidak perhatikan dua orang yang sedang bertempur, tapi Eng Jiauw Ong terkejut, karena ia segera dapat kenyataan, Ngo Cong Gie cuma bisa bela diri saja, Giok To sebaliknya mendesak hebat. Baharu kemudian, niekouw itu lihat jalannya pertempuran.

“Ong Soeheng, Ngo Piauwtauw bukan tandingan lawan, dia bakal kalah”, kata pendeta ini.

Na Hoo pun telah berbangkit dan berkata dengan pelahan pada ketuanya “Ngo Cong Gie bakal terbinasa dibawah sepasang poankoanpit. Ada permusuhan apa diantara mereka maka kunyuk itu hendak turunkan tangan jahat? Tak dapat aku antap kunyuk itu main gila!”

Eng Jiauw Ong pun lihat semangatnya Ang Giok To, ia percaya tocoe itu hendak mencari balas untuk anak pungutnya.

Justeru itu terdengarlah seruannya Ang Giok To “Awas!” lalu sepasang poankoanpit menyamber dari atas kebawah, dengan tipu pukulan “Tay San ap teng”, atau “Gunung Tay San menindih batok kepala”.

Ngo Cong Gie sedang repot, ia tidak bisa gunai otaknya yang sedar, ia angkat toyanya untuk menangkis dengan tipu “Heng kee kim liang”, atau “Penglari emas dipasang melintang”. Tapi Giok To gunai akal, selaga ditangkis, ia ubah caranya menyerang, sekarang ia bergerak saling susul dengan tipu2 “Coe liang hoan coe” “Menarik penglari untuk tukar tihang” dan “Siang liong tam coe” atau “Sepasang naga mencari mutiara”. Setelah tarik pulang sepasang poankoanpit, ia majukan pula senjatanya itu dengan sebat untuk menyolok kedua mata lawan.

Berbahaya adalah Ngo Cong Gie, umpama ia dapat loloskan sepasang matanya, sedikitnya mukanya yang bakal gantikan kena tertusuk.

Dalam keadaan mengancam itu, Na Hoo tidak dapat tahan sabar lagi, ia tekan meja kecil didepannya, untuk lompat melesat ketengah lapangan sambil berseru kepada Boe Wie Yang “Boe Pangcoe, maafkan Na Loo Jie!” Ia sampai dengan cepat, dengan kakinya ia lempar kedua poankoanpit, sesudah mana, ia turun berdiri diantara kedua orang yang bertempur itu.

Ngo Cong Gie menduga pasti bahwa ia akan celaka, ia tidak sangka Na Jie Hiap datang menolong, ia bersyukur bukan main. Di Pek hok ek pun jago ini pernah tolongi padanya, pasta ingat akan budi itu. Ketika itu mukanya sangat pucat sekali.

Selagi orang berdiam, Na Hoo kata “Ngo Piauwtauw, cukup sampai disini, silahkan kau mundur”.

Piauwsoe ini tidak bisa bilang suatu apa kepada penolongnya, tapi pada Ang Giok To, yang kejam, dengan roman gusar ia berkata “Ang Tocoe, sampai nanti kita bertemu pula”. Terus ia lilit toyanya dan balik kedalam rombongannya.

Ang Giok To tidak sahuti piauwsoe itu, ia hanya tertawa dingin terhadap Na Jie Hiap. Ia kenali Yan tiauw Siang Hiap, iapun saksikan ilmu enteng tubuh yang luar biasa dari Na Hoo, ia terpengaruh karenanya, tetapi sebab orang telah rintanga selagi ia tinggal bikin habis lawan nya, ia jadi mendongkol. Ia kata “Na Jie Hiap, dalam suatu pertandingan, orang memang bisa belai kawan, tapi bagaimana dengan caramu ini? Bagaimana dengan pihak kami yang kalah tadi? Umpama kau melihat mata padaku dan hendak memberikan pengajaran, silahkan kau keluarkan senjatamu yang kesohor Siangtauw Gin sie Hong liong pang, supaya aku dapat tambah pengetahuan didepannya seorang kenamaan!”

“Kau ingin kita bertempur dengan gunai senjata?” Na Hoo tanya sambil tertawa dngin juga. “Ang Tocoe, tak usah kau terlalu merendahkan diri. Lagi pun tidak pernah aku andalkan senjataku itu, malah senjataku itu justeru paling bisa menerbitkan onar terhadapku, karena setiap aku gunai itu, aku jadi menambah musuh, menambah dendaman. Bukannya aku jumawa, tapi aku anggap lebih baik aku gunai tangan kosong untuk layani sepasang poankoanpitmu, dengan demikian aku juga jadi tidak usah lakukan kejahatan, tak usah sampai Boe Pangcoe mengatakan aku keterlaluan. Ang Tocoe, bukankah cara ini ada pantas?”

Giok To jadi sangat gusar.

“Na Jie Hiap, kau sangat menghina, berapa besarkah kepandaianmu?” ia berseru. “Kau hendak gunai tangan kosong saja, aku kuatir kau tidak bisa berbuat apa2 terhadap senjataku! Kau yang menghendaktu sendiri, baiklah, aku bersedia mengring, supaya sekalian aku bisa belajar! Nah, kau sambutlah!”

Bulat tekadnya tocoe ini akan adu kepandaian dengan salah satu Yan tiauw Siang Hiap segera ia totok dada lawannya.

“Bagus!”, berseru Jie Hiap, berbareng dengan mana, tubuhnya berkelit kesamping, akan tahu2 ia sudah berada dikanan musuh, dan sambil serukan “Awas!” ia serang pundak lawan yang kanan dengan tangan kanannya. Giok To geser kaki kiri kekiri, pundak kanannya dikebawahkan, pundak kiri dikasi naik, tapi sambil berkelit demikian, poankoan pitnya tidak dikasi tinggal diam, dengan senjatanya itu ia hajar lengan kanan lawannya.

“Tidak apa!” berseru Na Hoo sambil ia loncat mundur. Giok To melejit untuk menyusul, kembali ia menyerang.

Ay Kim Kong berkelit dan berkelit pula kapan ia diserang terus2an, ia terus perlihatkan keentengan tubuhnya menuruti jurus2 Cap jie lou chioe dari Shacaplak lou Kim na hoat. Dengan cara ini ia layani pelbagai serangan sepasang poankoanpit.

Ang Giok To liehay, dan pula gesit, tapi meladeni Ay Kim Kong ia repot juga, maka lama2 ia jadi lelah sendirinya. Memang ia baharu saja layani Chio In Po dan Ngo Cong Gie. Disebelah itu, hatinya panas dan bertambah panas karena Na Hoo selalu mengejek kepadanya, paling belakang, Jie Hiap kata “Ah, aku hampir tak dapat pertahankan diri, orang she Ang … Bukankah kita tidak bermusuhan, tidak saling dendam? Aku toh tidak lemparkan anakmu kedalam sumur? Kenapa kau berlaku mati2 an terhadapku? Sahabat baik, aku si orang she Na, aku melihat baik, menerima baik ,aku   tahu   kesukaran, aku bisa mundur sendiri…. Sahabat baik, aku lihat, baiklah kita sudah saja sampai disini!”

Giok To jadi semakin mendongkol, hingga ia berteriak. “Na Hoo, jangan ngoce saja! Sampai mati baharu kita

berhenti!”

Teriakan itu disambut Na Hoo dengan tenang, dengan jawabannya “Baiklah!”

Segera juga sepasang poankoanpit dari Giok To sudah menusuk. Ay Kim Kong berkelit kekiri, sambil berkelit, tangan kanannya diayun untuk serang senjata lawan itu. Ia mengenai sasarannya dengan jitu, sebab tocoe she Ang itu tak keburu menarik pulang senjatanya. Atas benturan itu, Giok To rasakan telapakan tangannya kesemutan dan gemetaran bahna sakitnya hingga tak sanggup laga cekal terus senjatanya itu, yang terlepas dari tangannya.

Baharu sekarang Ang Tocoe insyaf, maka dengan menahan sakit tangannya itu, ia mendek sedikit untuk berlompat, guna menyingkir jauh dari hadapan lawan yang liehay itu.

“Aha, sahabat baik, kau hendak pergi?” Na Hoo menegur sambil tubuhnya maju dan tangan kirinya diulur, gerakannya cepat sekali. Sasaran adalah pinggang bahagian belakang dari sang lawan.

Tubuhnya Giok To besar dan berat, akan tetapi ketika ia jadi sasaran tepat dari tangan kiri Yan tiauw Siang Hiap yang muda, tidak tempo lagi bagaikan tubuhnya satu bayi, ia ngusruk kedepan jauhnya satu tumbak lebih, rubuh terbanting keras ketanah.

Beberapa orang Hong Bwee Pang segera maju untuk angkat tocoenya itu, untuk segera digotong ketempat Heng tong untuk lantas diobati.

“Kenapa kamu tidak lekas angkat senjatanya Ang Tocoe ini?” Na Hoo kata dengan suara mengejek.

Giok To dengar itu, ia diam saja. Salah satu orangnya segera jemput sepasang poankoanpit itu.

Selagi Giok To dibawa pergi dari pihak tuan rumah lompat datang satu orang, gerakan siapa enteng dan gesit.

Ay Kim Kong segera kenali Coh siang hoei Ie Tiong si Terbang Atas Rumput, orang kesayangannya Pat pou Leng po Ouw Giok Seng dari Ceng Loan Tong, maka dalam hatinya ia kata “Kau pernah rasai pengaruh dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, sekarang kau hendak main2 kepada Na Loo Jie, kepandaian liehay bagaimana kau ada punya? Baiklah, aku ingin lihat padamu!”

Ie Tiong sudah lantas sampai didepan tetamunya, ia perlihatkan roman gusar.

“No Loosoe”, berkata ia dengan tegurannya, “kau seorang kang ouw ternama, kenapa kau tak dapat mengasihani orang? Kau telah pukul jatuh senjatanya Ang Tocoe, kenapa kau masih serang juga orangnya? Dan setelah orang kalah dan terluka, selaga undurkan diri, kenapa kau pun ejek padanya? Na Loosoe, kau keterlaluan! Apakah begini kelakuannya seorang kang ouw yang berkelana?”

Na Hoo tertawa geli.

“Ie Tocoe, adalah beralasan yang kau telah tegur padaku”“ kata ia dengan air muka berseri2. “Akan tetapi teguran itu tak dapat membikin aku puas. Aku si Loo Jie memberi obat dengan imbangi keadaan penyakitnya, memberi apa2 dengan melihat orangnya. Si orang she Ang sendiri telah dapat kenyataan, tinggi dan rendahnya kepandaian sudah terpeta, kenapa dia masih turunkan tangan jahat melukai lawannya? Maka jikalau sekarang aku kasi rasa padanya, itulah tidak bisa dianggap keterlaluan. Ie Tocoe, baiklah kita kurangkan omongan kita, kita jual apa yang kita teriaki! Kau telah turun kemari, kepandaian istimewa apa kau ada punya untuk dipakai berkenalan denganku? Baik kau jangan ngobrol saja, kau lihat disana, masih banyak lain2 orang kenamaan yang juga hendak turun ditanah lapang ini, dari itu janganlah segala kereta bejat membuat jalanan macet! Ie Tocoe, dengan cara bagaimana kau ingin beri pengajaran kepadaku?” “Na Loosoe, benar atau salah, umum yang akan beri putusannya yang adi!”, kata Ie Tiong yang habis sabarnya. “Karena sekarang tak leluasa untuk kita omong banyak, baik, bagaimana loosoe anggap jikalau kita berdua main2 dengan ilmu enteng tubuh dan senjata rahasia?”

“Bagus”, jawab Ay Kim Kong dengan gembira. “Ini menyatakan pandangan luas. dari Ie Tocoe, yang berbareng dapat ketika untuk pertunjukkan kepandaian yang mahir! Tocoe, bagaimana caranya pertandingan hendak diatur?”

Ie Tiong segera buka thungshanya, baju panjang, hingga kelihatanlah tubuhnya yang tertutup pakaian singsat dan di pinggang kirinya ada sebuah kantong kulit dalam mana ada tersimpan dua belas batang panah tangan.

“Dia pasti liehay dengan panahnya ini,” pikir Na Hoo apabila ia telah lihat senjatanya orang itu. Tapi ia anggap, kecewa jikalau ia mesti tukar tiat tan, peluru besinya dengan panah itu.

Ie Tiong cabut sebatang panah tangannya, lalu ia kata “Na Loosoe, aku yang rendah akan gunai panah yang enteng ini, nanti diatas para2 bunga dibarat itu, aku hendak tukar itu dengan loosoe empunya beberapa biji peluru besi. Aku harap loosoe nanti ajarkan aku bagaimana caranya menggunai peluru besi itu...”

Melihat orang pertontonkan panahnya, Na Hoo segera mengarti akan kejumawaannya orang. Iapun bermata tajam, maka ia bisa lantas lihat, panah tangan itu ada punya timbangan lebih berat daripada yang umum, hingga bisa dimengerti panah tangan itu bisa melesat terlebih jauh pula. Karena beratnya anak panah itu, dengan sendirinya bisa diduga, cara menimpuknyapun mesti berbeda.

“Bagus, Ie Tocoe!” kata Ay Kim Kong sambil tertawa. “Senjata rahasia ini. bukanlah senjata sembarangan. Baiklah, aku nanti pergi ke para2 bunga untuk menemani kau, akan tetapi untuk gunai peluruku, aku tidak sanggup, maka aku pikir untuk men coba2 saja menyambuti panahmu itu, buat lihat, aku sanggup atau tidak…. Aku malah kuatir, apa aku tidak akan jatuh terpeleset dari atas para2 itu?.... Syukur disini aku berhadapan dengan orang yang pandai, jadi umpama aku gagal, aku tidak kuatir, aku tidak bakal dapat malu. Ie Tocoe silahkan!”

“Baiklah, Na Loosoe!” Ie Tiong perdengarkan suaranya. “Silahkan!”

Sehabis berkata, Ie Tiong bertindak ke paras bagian utara, dengan satu kali enjot tubuhnya, ia sudah berada diatas itu.

Para2 itu ada dua belas tumbak panjang dan dua tumbak lebih lebar, para2nya sendiri tanggu, tetapi diatasnya teralaskan dahan dan daun oyot melulu, terutama pohon rotan.

Diatas para2 Ie Tiong berdiri dengan sikapnya “Kim kee tok lip” “Ayam emas berdiri sebelah kaki” sambil mengawasi, aksi apa yang akan dipertunjukkan lawan. Akan tetapi baharu ia memutar tubuh, segera ia rasakan sampokan angin, satu bayangan berkelebat, tahu2 Na Hoo sudah berada diatas para2 itu, di tengah para2, hingga ia jadi kaget. Ia segera insyaf apa yang dibilang, “Orang kuat ada yang terlebih kuat, dibelakang orang pandai ada yang terlebih pandai.” Karena ini, harapannya adalah pada anak panahnya itu. Maka lantas ia menuju kearah timur, untuk bersiap.

Na Hoo perhatikan gerak gerik lawan, ia waspada.

“Ie Tocoe, kau benar pandai berpikir,” kata ia. “Memang, hawa disini nyaman sekali. Sungguh berharga bagiku menemani kau, tak perduli aku bakal antarkan jiwa atau sedikitnya terpeleset jatuh hingga setengah mati…. Ie Tocoe, kaupun baik perhatikan, para2 ini banyak lobangnya, oyot rotan bisa diinjak terjeblos, dedaunan telah alingi semua palangan para2!

Selagi mulutnya ngoce, jago inipun mulai geraki tubuhnya untuk mengimbangi lawan, ia mengikuti memutar ketimur. Secara begitu, dengan diam2 mereka mulai adu ilmu enteng tubuh.

Dari timur, Ie Tiong loncat kesudut timur utara, dipihak lain, lawannya loncat kesudut timur selatan, jarak diantara mereka ada tiga tumbak.

Ie Tiong bisa menimpuk jauhnya lima tumbak, sekarang mereka berhadapan baharu tiga tumbak, ia percaya bahwa ia tidak akan gagal. Seharusnya ia mutar kekiri akan menuju kebarat, tapi sengaja ia perlambat tindakannya. Ia telah bersiap sedia.

Na Hoo pun bersiap, tapa tidak gubris, orang ambil sikap bagaimana, ia cuma awasi kedua pundak lawan. Sesuatu gerakan tangan akan terlihat tegas dari bergeraknya pundak. Iapun ayal2an begitu lekas ia tampak lawan perkurang kegesitan nya.

“Sambut panah!” tiba2 Ie Tiong berseru. Ia perdengarkan suara karena ia tidak mau nodakan nama, sebagai orang kenamaan. Sembari berseru, ia tekuk kaki kirinya dan tubuhnya turut cenderung sedikit dan miring. Inilah sikap “Tie goe bong goat” atau “Badak memandang bulan”. Berbareng tangan kanannyapun bergerak, jempol dan telunjuk nya bekerja, atas mana, tiga batang panahnya melesat menyamber saling susul kearah lawan, ditiga jurusan atas, tengah dan bawah. Walaupun saling susul, ketiga panah sampai seperti berbareng karena cepatnya. “Bagus!” berseru Na Hoo, yang segera berkelit kekanan. Dengan dua jari telunjuk dan tengah, ia samber panah yang diatas, dengan dupakan kaki, ia bikin terpental panah yang menyerang perut, sedang panah yang menyerang kaki, ia kasi lewat dengan begitu saja.

Ie Tiong benar2 liehay, baharu ia lepaskan tiga panahnya yang pertama, sambil lompat memutar tubuh dengan gerakan “Koay bong hoan sin,” atau “Ular naga siluman jumpalitan,” ia kirim tiga batang panah lainnya. Sekali ini, satu panah menyamber kemuka, satu keperut, dan yang ketiga kesamping kiri, rupanya untuk membarengi kalau2 musuh berkelit kekiri. Tadi toh Na Hoo meng egos kekanan. Lagipula Jie Hiap sedang berdiri dibagian timur, belakangnya kosong, hingga kebelakang ia tidak bisa lompat menyingkir begitupun tidak bisa kekanan, pojokan terakhir.

Dalam saat yang berbahaya itu, mendadak Ay Kim Kong perdengarkan seruan panjang, yang membarengi mencelatnya naik tubuhnya, tinggi sampai dua tumbak. Ia bergerak dengan memakai tenaga besar, hingga para tergetar seluruhnya. Karena ia gunai tipu “It hoo ciong thian” atau “Burung hoo serbu langit,” ketika tubuhnya turun, kepalanya di bawah, kakinya diatas. Pun tubuhnya itu melesat kearah lawan.

Dalam sepuluh, Ie Tiong menduga, sembilan ia tak akan gagal, maka itu ia terperanjat ketika ia lihat Yan tiauw Siang Hiap mendadak melesat kejurusannya dengan sikap menyerang. Untuk tolong diri, ia tidak sempat menyerang lebih jauh, dengan tergesa2 ia lompat kesebelah barat, jauhnya setumbak lebih. Ketika kakinya menjejak para2, ia gunai tenaga, para2 itu sampai tergetar. Dan ketika ia injak para2 di barat itu, iapun terkejut, karena sebelah kaki nya injak tempat kosong, maka syukur baginya kakinya yang lain mengenai injakan. Ketika ia menoleh pada lawan, dia itu sudah kembali ketempatnya disudut timur selatan.

Setelah tadi ia berlompat ke arah lawan, begitu lekas ia taruh kakinya, Na Jie Hiap bikin gerakan susulan “Hay yan liang po” atau “Walet laut samber gelombang”. Dengan itu, ia memutar tubuh, sesudah mana, ia lompat pula dengan “In lie hoan,” atau “Balik tubuh didalam awan,” akan kembali ketempat asalnya. Itu adalah gerak gerakan tubuh saling susul yang mengagumkan orang banyak.

“Ie Tocoe, dikantongmu masih ada separuh anak panahmu!” berkata Ay Kim Kong begitu lekas ia sudah bersiap pula. Ia bicara sambil tertawa haha hihi. “Baik kau gunai semua itu, atau kalau tidak, aku hendak gantikan kau turun tangan!”

Itulah permintaan, atau tantangan, karena berbareng dengan habisnya ucapannya itu, Na Hoo bergerak untuk menghampirkan lawan.

Sejak tadi Ie Tiong sudah waspada, karena ia insyaf benar akan liehaynya lawan ini. Ia juga sudah pikir, kalau ia menyerang pula, mesti ia berhasil. Maka ia tak boleh cerobo. Karena ingin berhati2, iapun ambil putusan tidak mau terpisah terlalu dekat dengan lawannya. Begitulah, ia lantas bergerak kekiri, atau dari utara ia loncat keselatan. Ia sudah ambil putusan akan berlaku kejam, agar ia tidak dapat malu!

Na Hoo lihat orang menyingkir kekiri, ia duga musuh akan serang pula padanya, dugaannya ini segera berbukti, karena ia segera dengar seruan “Na Jie Hiap, sambut panahku!”

Ie Tiong menyerang dengan dua batang panah, kekiri dan kanan, sesudah mana, ia lepaskan yang ketiga kejurusan kepala. Tapi itu belum semua, karena menyusul lebih jauh, ia lepaskan pula tiga yang lain, hingga ia gunai semua sisa enam anak panah nya!

Sulit untuk Na Hoo kelit diri, karena kekiri dan kanan tak dapat ia buang dirinya. Iapun tak bisa loncat tinggi seperti tadi, sebab sekarang, diatas sudah ada panah susulan.

“Sungguh liehay!” berseru Ay Kim Kong, tubuh siapa mendadak terjengkang rubuh celentang antara lantai para2, yang merupakan daun pepohonan oyot yang berdasarkan cabang2 oyot.

Dalam pikirannya Ie Tiong, walaupun anak panahnya tidak mengenai sasaran, asalkan lawan itu rubuh terbanting dilantai. Itu artinya musuh kalah. Maka ia perlihatkan air muka terang waktu ia nampak tubuh lawan terjengkang.

Na Hoo juga tahu, apabila tubuhnya mengenai lantai, itu artinya ia kalah. Maka itu untuk cegah itu, hampir berbareng dengan melenggaknya tubuhnya, kedua kakinya mendahului dipecah kekiri dan kanan untuk dipakai memasang kuda2, setelah mana, menyusullah gerakan tubuhnya celentang. Ini adalah gerakannya menuruti tipu “Loo wan coei kie” atau “Kera tua jatuh ke pohon.” Ia celentang dengan kaki tertekuk sebatas lutut, dengan kekuatan dikedua lututnya itu, tubuhnya tidak sampai mengenai lantai para2 itu. Itulah gerakan istimewa yang meminta latihan dua puluh tahun.

Setelah semua enam batang panah lewat, seperti berlompat, Yan tiauw Siang Hiap yang muda ini geraki tubuhnya untuk bangun berdiri. Selagi berbuat demikian itu tangan kirinya telah samber sebatang panah yang lewat diatasan tubuhnya.

Ie Tiong ada seorang dengan pengalaman luas, ia insyaf bahwa ia bukannya tandingannya jago dari Na chung itu, bahwa apabila ia berkepala batu, ia bisa meruntuhkan namanya sendiri, maka itu, selagi orang berdiri, la mendahului berkata “Na Jie Hiap, kepandaianmu benar tinggi. Ie Tiong menyerah kepadamu!”

Ucapan ini disusul dengan loncatan tubuhnya kearah barat.

Tapi selagi orang berlompat, Na Hoo berseru “Aku kembalikan barangmu! Lihat panah di pundakmu yang kiri!”

Mendengar seruan itu, Ie Tiong ingat bahwa tadi sebatang panahnya telah disambuti Na Hoo, maka segera ia tahan tubuhnya, akan batal menyingkir kebarat, ia putar balik pula tubuhnya, hingga ia tampak lawannya tengah mengayun tangannya yang kanan. Tapa tidak dengar melesatnya anak.panah. Ia jadi heran. Sekonyong Na Hoo tertawa. “Jangan tertawai aku!” kata ia. “Memang latihanku tak sempurna! Sekarang lihat panah dipundak kiri!” Dan tangan kanannya diayun pula.

Ie Tiong kuatir ia dipermainkan pula, ia tidak segera kelit, ia pasang mata. Sekalni tampak lawan itu benar2 serang Ia, malah benar pundak kirinya yang diarah, lekas2 ia egos tubuhnya. Justeru ia egos tubuh, ia dengar seruan pula dari Na Hoo “Eh, masih ada!” Dan seruan ini dibarengi dengan terayunnya tangan kiri, dari mana melesat lagi sebatang anak panah. Itupun ada serangan yang sama liehaynya dengan kepandaiannya sendiri anak panah melesat sangat pesat. Ia niat berkelit, ketikanya sudah tidak ada ia niat mundur, seperti perbuatan Na Hoo tadi, kepandaiannya tak cukup. Terpaksa ia buang juga tubuhnya kebelakang, supaya bisa jumpalitan turun. Dengan cara demikian, anak panah lewat didekat pundaknya. Sebenarnya Coh siang hoei niat cantel kedua kakinya di para2, agar ia tidak jatuh terus ketanah, karena ini, ia tak lagi bisa gunai ilmunya enteng tubuh. Apa mau, kedua kakinya memakai tenaga terlalu besar, satu cabang yang dicantel putus secara mendadakan, karena mana, tubuhnya terus jatuh ketanah, jatuh tengkurap, maka untuk tolong diri, ia gunai dua tangannya untuk menahannya. Ia terbanting keras, telapakan kedua tangan itu terluka. Masih untung, muka dan dadanya tidak sampai mengenai tanah. Setelah itu, Ia segera berbangkit. Tapi Na Hoo sudah berdiri didepannya, hanya ketika ia bicara, lawan ini tidak menyindir atau mengejek pula seperti tadi.

“Ie Tocoe,” kata Yan tiauw Siang Hiap yang muda, secara sungguh2, “walaupun kita tak kalah dan tak menang, aku toh kagumi kepandaianmu. Silahkan tocoe beristirahat!”

Dengan jengah Ie Tiong jawab “Kepandaian Yan tiauw Siang Hiap yang liehay terbukti bukan namanya saja, aku menyerah! Nah, sampai ketemu pula!”

Lalu ia balik kedalam rombongannya, sambil tunduk terus.

Na Hoo benar sayangi ilmu kepandaiannya orang, maka juga ia tidak, hendak mengejek terlebih jauh. Tapi sekarang la telah majukan diri, terpaksi la berpaling kearah rombongan Hong Bwee Pang untuk menantang.

Tantangan itu disambut oleh Siang ciang Hoan in Coei Hong, ketua hiocoe dari Hok Sioe Tong dengan air muka gembira ia menghampirkan jago Hoay Yang Pay itu sambil memberi hormat, katanya “Na Jie Hiap, kau kenamaan, itulah tepat! Ilmu enteng tubuhmu sempurna sekali, tetapi barusan ketika melayani Ie Tocoe, kau tentunya belum perlihatkan semua, dari itu kami dari Hok Sioe Tong, ingin sekali bisa menyaksikannya terlebih jauh. Kami telah diberi ketika oleh Pang coe menghadiri pertemuan ini, jumlah kami benar cuma delapan tapi jikalau semua dari kami mohon pengajaran darimu, pasti temponya tidak ada dan alasannya pun kurang tepat, maka itu aku telah pikirkan suatu jalan, yang berbareng bisa dipakai menguji kami. Di hari2 nganggur dari kami, untuk gerak badan, kami suka melatih diri. Latihan itu, apabila Jie Hiap mengetahuinya, tentu Jie Hiap akan mentertawainya. Namanya itu adalah “Kim coan hoan ciang, Kiauw kwie Pat kwa chung.” Latihan ini ada bahagiannya yang tidak adil…. Diwaktu berlatih, penjaga pelatok boleh berdelapan, boleh berempat, maka penyerangnyapun boleh berdua atau sendirian. Jikalau si penyerang bisa pukul pecah penjagaan, dia terhitung menang. Diapun menang andaikata dia bisa paksa penjaganya loncat turun kebawah pelatok. Si penyerang kalah umpamanya batu yang diinjaknya menjadi miring atau rubuh. Maka juga, latihan inipun ada bahayanya. Dari itu, untuk main2 secara demikian, umpama ada pihak yang tak setuju, dia tak akan dipaksa. Jikalau Jie Hiap ada punya kepandaian lainnya, tak halangan nya untuk kau sebutkan itu.”

Mendengar disebutnya “alat” latihan macam itu Kim coan hoan ciang, Kiauw kwie Pat kwa chung, yang berarti pelatok pad kwa batu Na Hoo insyaf, sejak berkelana, inilah tandingannya yang tertangguh. Ia telah ditantang, tak dapat ia sebut lainnya, karena tantanganpun dimulai olehnya sendiri. Maka ia lalu memjawabnya . “Sejak aku belajar silat, aku paling jemuh terhadap alat2 latihan yang memakai perbatasan, tetapi aku berbareng paling gemar akan ilmu silatnya lain2 kaum, aku sangat suka belajar kenal dengan kepandaian terahasia dari lain kaum itu. Maka itu biarlah Na Loo Jie besarkan nyalinya untuk terima pengajaranmu. Tapi, untuk minta aku berdua saudara maju dengan berbareng, itulah tak nanti aku lakukan, karena kami biasa bekerja masing2, tidak pernah kami saling berunding! Jangan kuatirkan kami, Coei Hiocoe, sekarang silahkan mulai!”

“Kau suka memberi pengajaran, Na Loo Jie, itu artinya kau memandang mukaku,” berkata Coei Hong dengan gembira. “Karena Na Toa Hiap tidak ingin turun tangan bersama, baiklah, aku juga akan melakukan pembelaan bersama tiga saudaraku.”

Lantas hiocoe ini menggape kepada satu pengawal yang berdiri dekat para bunga, setelah pengawal itu datang menghampirkan, ia ucapkan beberapa kata, atas mana, pengawal itu undurkan diri, akan titahkan empat pegawai mengatur batu hijau yang ditumpuk disudut Utara.

Selagi pegawai2 mengatur pelatok Kim coan Pat kwa chung itu, Coei Hong telah panggil tiga hiocoe lainnya dari Hok Sioe Tong, untuk ajak mereka belajar kenal kepada Na Hoo. Jie Hiap tidak kenal mereka ini tetapi ia sudah dengar nama mereka itu, ialah Bian chioe Khioe Boen Pa si Tangan Lemas, Soe sie chiang Cioe Peng si Tangan Empat dan Pat kwa too Khoe Liong Siang si Golok Patkwa, semuanya jago2 Rimba Hijau yang kenamaan di Selatan dan Utara Sungai Besar. Ia insyaf, ia bakal hadapi lawan tangguh, ia mungkin rubuh didalam Cap jie Lian hoan ouw, sebab hiocoe itu, kecuali sudah kesohor masing2, pun selama hidup menganggur didalam Hok Sioe Tong Gedung Bahagia mereka pasti telah yakin lebih jauh kepandaiannya. Akan tetapi ia sangat bergembira, karena dengan pengalamannya selama empat puluh tahun berkelana, sekarang ia bakal coba melayani orang kenamaan itu.

CXXVI Rombongan pegawai Hong Bwee Pang telah atur selesai dengan cepat pelatok2 untuk menguji ilmu silat itu. Sederhana sekali nampaknya pelatok itu, namun itulah ada satu diantara tiga belas macam latihan silat yang istimewa bahagian ilmu enteng tubuh. Semuanya ada enam puluh empat potong batu, masing diletaki secara begitu saja diatas tanah pasir halus itu, diatur nya menurut delapan persegi Pat kwa, setiap jaraknya ada satu tindak.

“Na Jie Hiap, mari kita naik untuk mencoba dulu,” mengundang Coei Hong setelah ia dilaporkan selesai dipasangnya pelatok itu. “Kita jangan pakai aturan lagi, kita boleh buka baju panjang agar kita bisa bergerak dengan merdeka.”

Empat hiocoe itu ada memakai baju panjang warna abu2, baju dalamnyapun warnanya serupa juga.

Juga Ay Kim Kong Na Hoo ada memakai baju panjang, warnanya biru, malah panjang nya melewati lutut. Ini adalah kebiasaannya, potongan bajunya pun potongan orang desa. Tidak pernah ia loloskan baju panjang ini walaupun ia sedang bekerja. Tapi kali ini, orang tua ini ubah kebiasaannya begitu lekas ia dengar suaranya Coei Hong.

“Dapat kita lakukan itu!” kata ia sambil tertawa menjawab Coei Hiocoe. “Memang hari ini hawa udara panas luar biasa, sampai sukar untuk dilawan!”

Berlima orang itu sudah lantas buka baju mereka, satu pengawal datang menyambuti baju mereka itu, tapi Na Hoo sambil serahkan bajunya, awasi pengawal itu, akan kemudian kata padanya “Jaga baik2 bajuku ini, ya! Umpama baju ini hilang, walaupun tuanmu ganti dengan yang baru, aku tidak mau mengerti! Kau tahu kefaedahan nya baju ini? Dimusim dingin dia dapat memberikan hawa hangat, dimusim panas dia dapat memberikan hawa adem! Sekarang kau boleh nonton dengan asyik, jangan kau ganggu aku, ya? Kau mengerti tidak?”

Sekalipun ia mengucap demikian, Na Hoo bukan seperti sedang bicara kepada pengawal itu, matanya mengawasi ke para2 bunga, karena diwaktu ia keluarkan kata yang terakhir, pada para2 itu terdengar satu suara samberan.

Coei Hong pun dengar suara itu, ia heran, hingga ia menyangka diantara para2 bunga itu ada orang sembunyi, iapun menoleh kearah para2, sedang pengawal bengong mengawasi Yan tiauw Siang Hiap, yang ia mau duga ada orang setengah otak….

“Sudah, pergilah, jangan kau berlagak tolol!” Mendadak Ay Kim Kong tegur pengawal itu, yang heran akan tingkah lakunya orang tua kate ini. Kemudian, memandang Coei Hong ia kata “Eh, Coei Hiocoe, lihat di Barat utara sana, mega gelap sekali, kita baik jangan main ayal2an, nanti sang hujan ganggu pertunjukan kita, hingga kita akan jadi hilang kegembiraan karenanya!”

Memang benar katanya si Kim kong Kate ini. Dari antara awan gelap dijurusan Barat utara itu lantas kedengaran suara gemuruh dari sang guruh.

Coei Hong seperti sadar, ia manggut.

“Benar, hujan bakal turun!” katanya. “Na Jie Hiap, mari kita mulai! Silahkan kau naik terlebih dahulu!”

Sementara itu Na Hoo sedang awasi sekalian hiocoe itu, yang dandanannya serupa, seperti seragam saja, kaos kakinya warna putih, tinggi sampai didengkul. Semua mereka itu nampak nya bersemangat. Ia sendiri memakai baju biru singsatkan cingnya dari tembaga, dia mirip sangat dengan satu petani. “Na Loo Jie hendak perlihatkan kejelekannya!” kata ia sambil bersenyum sesudah cukup ia awasi bakal lawannya semua. Ia lantas rangkap kedua tangannya. Mendadak ujung kakinya menjejak tanah, hingga tubuhnya mencelat keatas sebuah pelatok batu, kaki kirinya tiba nempel saja, tangan kanannya dikasi naik keatas, tangan kirinya diturunkan kebawah. Itulah sikap “Tay peng tian cie” atau “Garuda pentang sayap”.

Coei Hong berempat memberi tanda satu pada lain, lantas mereka lompat naik keatas masing sebuah pelatok, jarak jauh dekatnya tidak ketentuan tetapi Na Hoo lihat mereka ambil garis patkwa, ialah Cioe Peng di Lie kiong timur, Khoe Liong Siang di Kam koen barat, Coei Hong di Kian kiong selatan, dan Khioe Boen Pa di Koen kiong utara. Segera terlihat tegas entengnya tubuh mereka dan tegaknya kaki mereka diletaki. Kemudian mereka mengawasi pihak lawan untuk memberi hormat seraya berkata “Na Jie Hiap, silahkan mulai, kami bersaudara ingin sekali menerima pengajaranmu!”

Ucapan ini diakhiri dengan gerakan mereka jalan kekanan, mutar, menginjak setiap batu, saban habis dnjak, batu2 itu tidak bergerak sedikit juga, tubuh mereka nampaknya tetap betul.

Na Hoo segera ikuti gerakan empat lawan itu, tubuhnya pun tegak seperti mereka, kedua tangannya bergerak gerak didepan dadanya.

Selagi orang jalan memutar, dikedua pihak yang menyaksikan itu sangat menaruh perhatian. Pihak Hoay Yang Pay sendiri heran melihat Ay Kim Kong sudi meloloskan baju panjang. Memang belum pernah terdengar Yan tiauw Siang Hiap bertempur tanpa baju panjangnya itu. Diam Na Hoo telah ambil putusan, “tangkap ular adalah dengan bekuk kepalanya,” maka itu ia hendak arah Coei Hong, siapa waktu itu justeru dari kiri sedang balik kekanan, dari Kian kiong dia ambil Kam kiong bekas Khoe Liong Siang. Dengan mendadak ia lompat melewati empat pelatok mendekati Coei Hong, ia menyerang dengan tipu pukulannya “In liong tam jiauw”, atau “Naga mengulur kuku”. Iapun serukan, “Coei Hiocoe, sambutlah!”

Coei Hong elak tubuhnya, sembari loloskan diri, ia ulur tangan kanannya, untuk papaki nadi lawan dengan dua jari tangannya.

Na Hoo lekas tarik pulang tangan kanannya yang dipakai menyerang itu, dilain pihak tangan kirinya menyusul keluar, akan sogok iga lawan dengan pukulan “Tan twie ciang”, atau “Tangan sebelah”.

Siang ciang Hoan in ada jago . dengan banyak pengalaman, iapun ada hiocoe dari Hok Sioe Tong, ia lantas rasakan samberan angin dari kepalan, cepat sekali ia geser tubuhnya setindak kekanan, setelah berada disamping, mendadak ia maju balas menyerang dengan kedua tangannya berbareng.

Ay Kim Kong merasakan samberannya angin, maka ia insyaf, Coei Hong ini benar liehay. Ia tidak sudi papaki serangan itu, ia lompat kekiri, sampai empat batu, ketika kaki kirinya injak batu dari Lie kiong, ia justeru disambut oleh Soe sie ciang Cioe Peng.

“Na Jie Hiap, sambutlah!” kata si Tangan Empat ini. Ia menyerang dengan “Hek houw sin yauw” atau “Macan hitam mengulet”, kedua tangannya menyamber dada “Bagus!” menyambut Na Hoo seraya ia geraki kedua tangannya dengan gerakan “Tong coe pay Hoed”, atau “Murid memuja sang Buddha”. Ia pecahkan serangan lawan, setelah mana, kedua tangannya diputar kebawah untuk dipakai menekan, akan balas menyerang pula

Cioe Peng hendak ubah gerakannya, tetapi Na Hoo dulua. Sembari tarik pulang tangan kirinya, Ay Kim Kong menyerang dengan tangan kanan, dengan “Kim pa ciang”, atau “Tangan harimau tutul emas”.

Karena kalah sebat, Cioe Peng jadi terancam bahaya, tapi belum sampai ia menjadi sasaran, ada angin menyamber bebokong Na Hoo sambil berseru mengancam “Sambutlah!”

Terpaksa Ay Kim Kong batalkan serangannya itu, untuk ia berkelit menolong diri dari bokongan. Ia geser kaki kiri kekiri, ia putar tubuh dengan “Giok bong hoan .sin” atau “Ular naga kumala balik tubuh”. Ia lihat, penyerangnya itu adalah Coei Hong, ia jadi mendongkol sekali, hingga ia niat menegurnya.

Ketika itu, awan mendung yang tebal telah menawungi Ceng Giap San chung, suara guruh memberisik tak hentinya. Beberapa ekor burung dara pun kelihatan terbang bergantian menuju kebelakang Ceng Giap San chung.

Coei Hong membokong untuk tolongi Cioe Peng, ia sengaja perdengarkan suaranya walaupun demikian, Cioe Peng dengan sendirinya telah mesti sempoyongan mundur tiga tindak, baharu dia dapat pertahankan diri. Sementara itu, si penolong dengan samar2 dengar bentakan “Kau curang, pit hoe tua, tunggu kau!”

Coei Hong heran. Suara itu seperti suara orang bicara seorang diri, juga seperti ancaman terhadap dianya. Pun suara datangnya dekat sekali, tetapi karena gemuruhnya suara guruh, ia tak bisa dengar tegas, hingga ia tak dapat pastikan, sebenarnya suara itu datang dari arah mana. Na Hoo juga dengar suara itu, hingga ia terkejut sendirinya. Beda daripada Coei Hong, ia ketahui dimana orang sembunyi, maka itu, segera ia berseru “Kau campur urusan nganggur saja! Sambutlah!” Ia memandang Coei Hong yang ia segera serang, kata itupun ditujukan kepada lawan ini, tetapi itu pelabi belaka, sebenarnya ia peringatkan suara yang tidak ketahuan orangnya itu.

Coei Hong sedang perdatakan suara yang membuat ia curiga itu, ketika ia diserang pada pundaknya. Ia lantas berkelit dengan apungkan diri. Ia me nyingkir dari batu ke tiga dari Jwee kwa. Justeru itu, sebelum ia tancap tetap kakinya, ada senjata rahasia yang menyamber belakang kepalanya, maka lekas ia mendek, hingga serangan luput, senjata rahasia itu nancap di celah2 batu.

Segera dapat dikenali, itu adalah serupa senjata rahasia aneh, karena itu ada sepotong kecil oyot rotan, tapi anehnya, ujung nya melesak masuk kedalam tanah sampai satu dim lebih!

Sambil miringkan tubuh, menghadapi kearah para bunga, Coei Kong lantas berkata “Sahabat, jikalau kau ingin memberi pengajaran, silahkan kau keluar! Perbuatanmu terhadap Coei Hong ada tidak tepat!”

Tidak perduli tantangan ada nyaring dari para2 bunga tidak ada terdengar suara atau, gerakan apa juga, melainkan suara angin yang berkesiur lewat, menerbitkan suara diatas para2 itu.

Na Hoo sendiri tidak perdulikan Siang ciang Hoan in, ia lompat akan taruh kaki dibatu ketiga Kam kiong, untuk menerjang Pat kwa too Khoe Liong Siang, siapa justeru tengah menantikan, maka melihat orang datang, Khoe Liong Siang kata “Na Jie Hiap, aku memang ingin terima pengajaran darimu!” Dan ia maju untuk mendahului menyerang, dengan tipu nya “Yoe liong tam jiauw”, “Naga memain mengulur cengkeraman.”

Na Hoo kagum akan rasai samberannya angin selagi serangan belum sampai, dari sina kagumi hiocoe2 dari Hok Sioe Tong, yang benar2 semua berkepandaian luar biasa. Ia berkelit kekanan, akan injak batu ke tujuh Koen kiong, tetapi dengan tangan kiri, ia totok nadinya hiocoe she Khoe itu, sedang tangan kanannya menyusul menyerang alis lawan.

Pat kwa too Khoe Liong Siang ada akhli Pat kwa ciang, tiga tahun ia telah tempatkan diri didalam Hok Sioe Tong, selama itu tak pernah ia abaikan ilmu silat nya, dari itu ia tetap liehay. Ia tarik pulang tangannya akan luputkan totokan, berbareng ia berkelit dengan putar tubuh, hingga alisnya pun bebas. Tapi ia putar diri demikian rupa, hingga dari kanan lawan, sekarang ia berada dibelakangnya lawan itu, lalu dengan gesit ia majukan kedua tangannya, akan gempur pinggang belakang sebelah kanan dari lawan itu. Itulah serangan “Say coe yauw tauw”-“Singa goyang kepala”.

Ay Kim Kong berkelit kekiri, kakinya menginjak batu ke lima Koen kiong, begitu lekas membalik tubuh, ia balas menyerang pundaknya Khoe Liong Siang.

Dengan “Beng houw hok chung”, atau “Harimau galak mendekam”, hiocoe she Khoe itu bebaskan diri dari serangan, tapa tidak hanya berkelit, segera ia balas menyerang pula, kali ini dengan “Thie goe keng tee”, atau “Kerbau besi meluku tanah”. Ia menyapu kaki lawan.

Na Hoo insaf bahaianya serangan ini, ia segera apungkan diri untuk berlompat. Sebenarnya ia kena didesak, sedang diatas pelatok tak dapat ia bergerak leluasa sebagai ditanah datar. Begitulah ia menuju kepelatok ke empat Koen kiong, yang termasuk bilangan utara dari Bian chioe Khioe Boen Pa, siapa justeru berada dipelatok ketiga, maka tidak ampun laga disambut Khioe Hiocoe dengan “Kim kauw cian” atau “Guntingan ular naga emas.” Dilain pihak, Khoe Liong Siang pun menyusul, terus dia menyerang dengan “Sin liong tauw kah” atau “Naga sakti angkat kepala.” Hingga selain digunting Boen Pa, iapun digencet Boen Pa dan Liong Siang berdua.

Selagi bahaya mengancam, Na Hoo lihat jalan bebas adalah arah ujung timur utara tapi sambil menyingkir, ia mesti hindarkan guntingannya Boen Pa, sedang tangan kanan lawan ini mencari jalan darah “Kiok tie hiat.” Berbareng dengan itu sampai juga serangannya Khoe Hiocoe, maka ia jadi sangat terancam.

Semua perhatian penonton di tujukan saja pada pertempuran, hingga seperti tidak kelihatan, dari rombongan Hoay Yang Pay muncul satu orang ketika Na Hoo sedang angkat kakinya, dia ini telah berseru “Tahan! Loo Jie, kembali!” Segera tubuhnya melesat naik ke Pat kwa chung, dibelakangnya Khoe Liong Siang. Serangannya Liong Siang telah gagal karena kelitannya Ay Kim Kong, tetapa masih hendak susuli dengan serangan lainnya, untuk bikin lawan rubuh, supaya lawan ini rubuh dengan sedikit terluka, maka itu ia heran akan dengar seruan disusul munculnya seorang lain. Urung menyerang terlebih jauh, ia berkelit kekiri untuk putar tubuh, akan bela diri. Segera ia lihat, orang yang datang itu adalah Na Pek. Ia heran untuk kedatangan yang tiba2 itu.

Na Hoo pun segera kenali suara saudaranya, karena ia tahu tabeatnya saudara ini, ia batal berlompat, terus, dengan cepat ia tahan tubuhnya, terus ia bersiap untuk serangan lawan. Iapun hendak lihat sikapnya saudara itu. Karena ini, pertempuran berhenti dengan se konyong2. Coei Hong dan Cioe Peng segera menghampirkan, juga dua hiocoe lainnya.

Na Pek tidak sambuti empat hiocoe itu, ia hanya pandang adiknya dan kata sambil tertawa dingin “Loo Jie, kita dua saudara telah berkelana setengahnya umur kita, meskipun kita tidak punyakan ilmu kepandaian yang mengagumkan, toh dimana kita sampai, kita senantiasa bertemu dengan jago kenamaan, hingga umpama kata kita, rubuh, kita rubuh secara berharga. Sungai besar, gelombang dahsyat, semua pernah kita lakoni, maka itu, buat tergelincir didalam got, tidakkah itu akan membikin kita mati malu? Segala bangsa tikus mencuri dan anjing mencolong, kita berdua sebenarnya tak dapat hadapi sebagai lawan! Setiap hari kita memburu belibis, tapi kita kasi mata kita dipatok belibis, apa itu bukannya terlalu lucu? Loo Jie, kau telah dipermainkan sebagai boca tolol, kau masih tidak merasainya, inilah pembalasannya sebab kau terlalu biasa gunai ketangkasan setanmu!”

Ay Kim Kong heran.

“Mataku toh tidak lamur, siapa permainkan aku?” pikir

ia.

Disebelah itu, Coei Hong gusar atas katanya Toa Hiap,

ia merasa seperti dicaci.

“Na Toa Hiap, aku minta kau suka bicara jangan tak dipikir lagi”, kata ia. “Bukankah telah dijanjikan bahwa pertandingan diatas pelatok batu ini karena atas setujunya Jie Hiap sendiri? Ada siapa yang permainkan padanya disini? Umpama kau anggap cara ini tidak adil, pihakmu boleh usulkan cara apa saja, Coei Hong tentu bersedia untuk melayaninya. Na Loosoe, ejekanmu ini sulit untuk aku menerimanya. Umpama Loosoe juga hendak turut ambil bagian maka sekalian saudaraku pasti suka menemaninya ”

Ucapan itu baharu habis dikeluarkan atau dari rombongan Hong Bwee Pang muncul empat hiocoe lainnya.

“Cara pertandingan ini adalah urusan keci!”, sahut Na Pek sambil bersenyum. “Bukankah orang juga tidak dipaksa untuk manjat pelatok ini? Bukankah cuma orang yang menghendaki yang kena makan pancing? Aku melainkan hendak mohon keteranganmu, Coei Hiocoe. Kita adakan pertandingan persahabat an, kita mengandal pada kepandaian masing2 untuk menerima malu atau Kehormatan. Tapi dengan cara licik orang berlaku curang, siapa punya usul itu? Adalah dalam hal ini yang aku hendak minta penjelasan!”

“Apa artinya katamu ini, Na Loosoe?” tanya Coei Hong dengan heran. “Benar aku tidak mengarti! Coba loosoe jelaskan!”

Belum sempat Na Pek menjawab, atau empat hiocoe yang baru sudah sampai didepannya dan mereka ini lantas kata “Na Toa Hiap hendak turut hunjuk kepandaian, mengapa kau diam saja? Umpama Toa Hiap ada punyakan kegembiraan, bagaimana andaikata kami menemaninya?”

Na Pek lantas awasi empat hiocoe itu.

Memang sejak siang2, Twie in chioe Na Pek telah perdatai sesuatu orang Hong Bwee Pang, dan ketika pihak lawan mengatur Pat kwa chung batu, ia awasi orang bekerja mengatur batu2 pelatok itu. Mereka itu bekerja sangat cepat, hingga siapa tidak memperhatikannya, niscaya tak dapat lihat cara kerjanya mereka. Tadinya Na Pek pun tidak insyaf kecuali sampai pertandingan telah dimulai, ia lihat gerak geriknya empat hiocoe, tidak ada yang berdiam tetap, semuanya bergerak memutar. Di akhirnya, dengan mendongkol Toa Hiap kata pada ketuanya “Soeheng, kau lihat, kawanan penjahat itu tidak berlaku jujur, mereka main gila dengan pelatok batunya itu! Lo Jie tidak insyaf, maka itu perlu aku ajar adat kepada mereka!”

Coe In Am coe terperanjat mendengar Yan tiauw Siang Hiap tua bicara. Ia memang awasi Toa Hiap, ingin cegah dia turun tangan, maka hatinya lega sampai sebegitu jauh orang duduk diam saja. Ia berkuatir guna jago ini, air muka siapa ada suram, suatu alamat malapetaka. Maka kaget sekali ia akan dengar suara orang. Tidak tunggu sampai Eng Jiauw Ong menyahuti, ia dului ketua Hoay Yang Pay itu “Jangan Kuatir, Na Sie coe!” katanya. “Walaupun mereka main gila, Jie Hiap tidak nanti kasi dirinya dipermainkan. Bukankah Jie Hiap pun telah jelaskan, dia selalu bertindak sendiri, tidak pernah dia munculkan diri bersama2 kandanya kalau dia sedang bekerja? Jikalau Toa Hiap maju, kau akan membuat hilang mukanya Jie Hiap. Disebelah itu, telah ada orang yang bantu kita secara diam2, orang itu tadi telah gunai panah batang pohon akan beri peringatan kepada keempat hio coe itu. Aku percaya tidak ada bahaya untuk Jie Hiap, maka itu baik Toa Hiap jangan maju. Mari kita lihat saja keadaan terlebih jauh”.

Memang Toa Hiap ingin lihat dahulu suasana, apamau Tiong cioe Kiam kek Ciong Gam, yang duduk selang dua kursi dari mereka, telah kata pada Coe In Am coe “Baik am coe jangan cegah Na Toa Hiap, karena kawanan ini sangat menjemuhkan, jikalau pelatok mereka ini tak dapat digempur, bagi nama kita itu ada suatu kerugian. Dengan majunya Toa Hiap, selain akan bisa pecahkan rahasia lawan, dia pun bakal tolongi Jie Hiap”.

Toa Hiap lirik Ciong Giam, ia tertawa tawar. “Ini baharulah suaranya satu sahabat sejati!” kata ia. “Melainkan aku juga belum merasa pasti. Umpama aku gagal, Ciong Loosoe tentu sudi gantikan aku!”

“Tentu saja!” jawab Ciong Gam juga dengan tawar.

Eng Jiauw Ong tidak puas. Ia tahu Ciong Gam masih tidak puas atas kejadian tadi malam dan sekarang dia itu gunai akal licin akan mengobor Toa Hiap.

“Kau merendahkan derajat mu”, pikir ketua ini, yang sendirinya tidak bisa cegah saudara nya, maka ia cuma pesan “Harap soeheng tidak sembrono”.

Na Pek tidak jawab saudara itu. Sejak berbangkit, ia perlihatkan wajah ber seri2. Ia hanya kata pada dirinya sendiri “Pelatok2 terdiri dari batu, inilah menarik hati, baik aku perdatakan, akan pelajarinya....” Kemudian ia bertindak mendekati Pat kwa chung sembari ia kata pada Boe Wie Yang “Pelatok ini adalah semacam ilmu kepandaian yang jarang terdapat, maka aku tak sebagai Na Loo Jie, aku tidak berani menaikinya. Mataku sudah tidak berguna lagi, aku mesti datang dekat sekali untuk memperhatikannya ”

Lantas ia berdiri dipinggiran para2.

Sementara itu Coe In Am coe bersiap sendiri dengan diam2. Ia menghela napas apabila ia dapat kenyataan, Na Toa Hiap telah kena dibakar Ciong Giam.

Na Pek berdiri memperhatikan semua pelatok, sampai ia tampak saudaranya keteter, maka lantas ia lompat maju untuk bicara, sampai majunya empat hiocoe lainnya yang menantang kepada nya. Setelah awasi empat hiocoe itu, dengan tawar ia berkata “Maafkan aku, tidak lebih dahulu aku ingin belajar kenal dengan hiocoe beramai. Aku telah naik kemari, tak gampang2 untuk aku turun kembali, pasti aku akan belajar kenal dengan kepandaian hiocoe semua. Kebetulan soe wie hiocoe datang, aku ingin tanya, bagaimana halnya dengan ini?  ”

Sehabis berkata demikian, Na Pek tendang dua potong batu dalam garis “Soen kiong,” hingga batu itu rubuh.

Empat hiocoe itu kaget.

“Ha, siapa bernyali besar berani main gila secara ini? Ini bukannya menipu orang tetapi menipu diri sendiri, meruntuhkan nama Hong Bwee Pang! Perbuatan ini mesti diselidiki!”

Hiocoe yang berkata2 itu adalah Tiat cie Kim wan Wie Thian Yoe si Pil Emas Berjari Besi, yang liehay jari2 tangannya (tiat cie), terutama empat jari kanan, siapa kena tergurat, walaupun kulit dagingnya tidak terluka, urat dan tulang2nya bisa putus, sedang belasan pelurunya pil emas, (kim wan), yang terbuat dari tembaga, jitu ditimpukkannya. Diantara rekannya ia ada sangat dimalui sebab walaupun usianya lanjut, namun ia masih galak. Sebenarnya tak puas ia masuk dalam Hok Sioe Tong tapi Boe Wie Yang minta itu, karena ini, ia jadi sekalian bisa melatih diri untuk berlaku tenang, sebab ia pun ada punya banyak musuh. Karena ini, selama hidup nganggur dan berbahagia, ia dapat kesempatan akan latih terus ilmu kepandaiannya. Seharusnya ia diangkat jadi ketua Hok Sioe Tong tapa biasa bersikap keras, maka diakhirnya ia diangkat jadi kam tong hiocoe saja. Ia diundang keluar dari Hok Sioe Tong karena Boe Wie Yang lihat gejala jelek dalam kalangannya, gejala yang dimulai pemberontakannya Pauw Coe Wie.

Pelatok Kim coan Hoan ciang Kiauw kwie Pat kwa chung itu adalah ciptaan Hok Sioe Tong sendiri, memang sekalipun Yan tiauw Siang Hiap tidak nanti gampang2 mendapat angin diatas pelatok2 itu, siapa tahu sekarang ada orang main gila, kedua pelatok itu diletaki ditempat tanah kosong, hingga siapa kena injak itu, mesti dia terjeblos dan jatuh bersama rubuhnya pelatok. Sudah tentu perbuatan “curang” itu mesti ada kerjaan orang Hong Bwee Pang sendiri.

Wie Thian Yoe ada sangat gusar, dengan bengis ia awasi ketua Hiocoe Coei Hong.

“Coei Hiocoe,” katanya dengan bengis, “kejadian serupa ini telah ambil tempat dibawah mata kita, melihat ini, orang kang ouw tentulah akan anggap Hong Bwee Pang tak dapat di percaya lagi!”

Coei Hong tidak jawab rekannya itu, ia hanya menoleh kepada dua rekan lainnya, Pat kwa to Khoe Liong Siang dan Bian chioe Khioe Boen Pa, ia kata “Dalam hal ini kami tak dapat membantah pula ”

Dalam keadaan tegang seperti itu, Cit tong Pheng Sioe San datang sambil berlari2 bersama dua anggauta Heng tong, segera setelah sampai, ia kata kepada Hiocoe Coei Hong “Coei Hiocoe, kejadian ini telah dapat diketahui Pang coe. Liong Tauw Pangcoe telah jadi gusar sekali, tapi Liong Tauw Pangcoe tidak percaya ini ada perbuatan Hok Sioe Tong, karena pasti para hiocoe tidak bakal rusaki nama baiknya sendiri, maka itu dengan titah Pang coe, semua pekerja sudah diserahkan kepada Heng tong untuk diperiksa. Kepada Yan tiauw Siang Hiap, Liong Tauw Pangcoe mohon maaf. Pangcoe menyatakan, apabila Siang Hiap tidak niat lanjutkan pertandingan diatas pelatok2 ini, Pangcoe silahkan Siang Hiap kembali kedalam rombongannya, untuk beristirahat dahulu”.

Tanpa tunggu jawaban dari Coei Hong lagi, bersama dua orangnya, Pheng Sioe San segera undurkan diri sambil giring empat pegawai pekerja tadi. Sampai disitu, ketegangan telah dapat diredakan.

Tiat cie Kim wan Wie Thian Yoe tetap tidak puas, ia perdengarkan suara dihidungnya, “Hm! hm!” Cuma karena ingat nama baik dari Hong Bwee Pang, ia tidak bertindak terlebih jauh. Tapi dibelakang ia ada satu hio coe lain, yang perlihatkan tingkah luar biasa. Dia ini tunduk. Dia bertubuh tinggi dan besar, mukanya berewokan. Seperti yang lain2, dia tidak dapat perhatian dari Toa Hiap, yang sedang mendongkol. Dengan tiba2 hiocoe itu berkata dengan suaranya yang dingin “Si tua bangka pandai benar menghabiskan urusan! Dengan begini, enaklah Boe Wie Yang sendiri! Kau lindungi padanya, aku kuatir lain orang tidak akan pandang mata padamu!...”

Ay Kim Kong memang curigai hiocoe ini, mendengar perkataan orang itu, ia angkat kepalanya untuk mengawasi, hingga sekarang ia bisa melihat tegas berewok yang kusut dan seperti tak pernah dicukur, kedua mata yang dalam sekali tapi sinar matanya tajam, kedua pipinya menonjol hingga mirip dengan daging lebih, yang dikiri ada kutilnya sebesar kacang kedele. Ia terkejut apabila ia sudah melihat nyata. Ia ingat, itulah orang yang kandanya pernah omongkan kepadanya. Maka ia lantas tegur kandanya itu. “Toako, apakah dia bukannya sahabat kekalmu yang dahulu kau kenal di Hoo kan?”

Kedua matanya Na Pek justeru bentrok dengan matanya hiocoe berewokan itu, mendadakan ia tertawa besar.

“Aku Na Loo Toa ada sangat beruntung!” kata ia. “Aku tidak sangka, bahwa sahabatku dari belasan tahun dari Hoo kan pun berada disini! Ah, Yauw beng Kim Cit Loo, kau benar2 hendak meminta jiwa! Kau telah melihat sahabatmu yang dibuat impian, yang dibuat pikiran saja, kenapa kau menegur pun tidak sudi? Kau benar2 meminta jiwa!” Dengan “meminta jiwa” diartikan “Yauw beng”, atau “maui jiwa”.

Na Pek mengucap demikian, ia benar tertawa, tetapi wajah nya sungguh tak sedap untuk dipandang, sepasang alisnya mengkerut naik, kulit mukanya berkerut2. Wajah itu jadi sangat bengis.

“Loo Jie, matamu benar awas!” kata ia kemudian, sebelum hiocoe itu sahuti ia. “Sahabat ini benar ada sahabat baik yang dahulu aku ketemui di Hoo kan, yang dunia kang ouw kenal sebagai Pat pou Kan siam Kim Loo Sioe, sedang orang sesama kampungnya di Ouwlam biasa panggil ia Yauw beng Kim Cit Loo. Seperti pernah aku bilang kepadamu, sejak aku masuk dalam kalangan kang ouw, tidak pernah aku tunduk kepada siapa juga, melainkan Pat pou Kan siam Loo Sioe ini barulah ada tandinganku yang setimpal. Loo Jie, hari ini adalah hari yang paling menggembirakan aku!”

Kembali jago dari Na chung ini tertawa gelak2.

Na Hoo sendiri diam insyaf, harni sebenarnya ada hari dari “mati atau hidupnya” kandanya itu

Pat pou Kan siam Kim Loo Sioe, yang matanya berkilauan saking tajamnya, setelah lirik Toa Hiap, lantas tertawa haha hihi.

“Eh, Na Loo Toa, kenapa, kau masih belum mati?” tanya ia. “Aku sendiri sudah lemparkan semua urusan dunia kang ouw keluar alam semesta! Inipun sebab nya kenapa aku Kim Loo Sioe masuk kedalam Hok Sioe Tong! Sebab aku telah lakukan terlalu banyak kedosaan, dengan cara ini aku niat bebaskan diriku, siapa tahu, manusia benar tidak berkuasa, apamau hari ini kita berdua bertemu disini! Inilah takdir! Mari kita bereskan perhitungan kita yang lama, supaya dilain jaman tidak ada antaranya yang masih berhutang! Aku Yauw beng Kim Cit Loo tidak kehendaki jiwa lain orang, tapi lain orang mungkin menghendaki jiwaku! Na Loo Toa, apa kita bikin perhitungan berdua saja, atau harus semuanya turut? Terserah kepadamu untuk memilih nya!”

Na Pek tertawa dingin.

“Kami datang untuk menyaksikan kepandaian pihak Hok Sioe Tong, karena itu, urusan pribadi kita baik kita tunda dulu disamping!” kata ia. “Kim Cit Loo, mari kita main2 diatas pelatok! Kita ada sahabat2 kekal, kita main2 satu dua jurus, tak usah kita omong saja! Silahkan!”

Lantas kanda ini beri tanda untuk adiknya mundur, maka itu, Na Hoo lantas undurkan diri.

Dipihak lain, dua batu tadi telah dipasang pula dengan rapi.

Coei Hong merasa puas melihat diantara Kim Cit Loo dan Na Pek seperti ada permusuhan, mereka itu jadinya boleh bertempur sampai mati atau hidup

“Na Toa Hiap,” berkata ia kepada pihak lawan itu, “karena kau ingin memberikan pengajaran diatas pelatok ini, baiklah, aku ajar kau kenal dengan tiga hiocoe lainnya!”

Ia lantas perkenalkan Wie Thian Yoe serta dua hiocoe lagi yalah Siang Kang Hie In Tee Hin Pang si Nelayan dari Siang Kang, dan Cit seng kiam Cian Tiauw, si Pedang Tujuh Bintang.

Na Pek tahu semua hiocoe dari Hok Sioe Tong adalah orang2 liehay, ia tidak berlaku sembarangan dengan mereka itu, ia melayani bicara sebagaimana harus nya.

Kemudian Wie Thian Yoe berkata pada Kim Cit Loo “Kita baik jangan sungkan2 lagi, sekarang mari kita mulai naik keatas pelatok. Baik kita turuti caranya Coei Hiocoe saja. Tadi mereka ambil garis Kian, Koen, Kam dan Lie, kita ambil Kin, Cin, Soen dan Twee”.

Setelah itu, empat hiocoe itu lantas masing2 lompat naik keatas pelatok.

Yan tiauw Siang Hiap adalah dua saudara yang tabeatnya berlainan, sejak meninggalkan Lek Tiok Tong di Ceng Hong Po, Hoay siang, mereka pulang ke kampung mereka, Na chung, di Coe cioe. Mereka tidak betah berdiam dirumah, lantas mereka pergi mengembara. Mereka belajar silat disatu tempat, mereka pun bersaudara kandung, tapi tak dapat mereka berkelana sama2. Mereka berpisahan, masing2 bekerja sendiri2, tidak pernah mereka saling berdamai, akan tetapi disaat2 ada urusan penting, salah satu datang sendiri tanpa diundang, untuk saling bantu, sebab diantara mereka tidak ada ganjalan. Mereka saling mengarti tabeat masing.

Pernah satu kali dengan tunggang keledainya yang kecil, Na Pek sampai di Hoo kan. Ia berniat tinggal dua hari untuk sekalian kunjungi satu sahabatnya yang tinggal didesa. Ia sewa kamar dihotel Sam Goan didalam kota Timur, hotel yang kenamaan sejak seratus tahun lebih dan kaum pelancongan paling sukai.

Berbareng satu hari dengan Na Pek, kehotel itupun datang serombongan kereta piauw dari Ban Seng Piauw Kiok. Ia kenal ketua dari piauwkiok itu yalah Siauw Beng Ciang Kim tong Coei Pheng orang asal Chong chioe, yang baharu berumur empat puluh lebih dan ada muridnya Seng soe ciang See Coan Gie si Tangan Mati Hidup dari Kauw pak. Piauwsoe ini punya sepasang senjata boneka Hong siang tong kesohor dilima propinsi utara, tapa berhasil dengan Ban Seng Piauw Kiok bukan disebabkan melulu kegagahannya dan pengaruh nama gurunya, hanya ia dibantu sifatnya sendiri, yaitu ia suka bergaul dan ramah tamah. Kantor besarnya adanya di See hoo yan di Pakkhia, Titlee, cabang2nya terpencar di Kauwpak, Shoatang, Shoasay, Hoolam dan Siamsay. Iapun sering terima kunjungan pelbagai sahabatnya, hingga boleh dibilang, cawan araknya tidak pernah kosong. Na Pek kenal piauwsoe ini dengan perantaraan Paklouw Piauwsoe Chio In Po. Sebenarnya maksud nya adalah untuk belajar kenal saja, bukan untuk ikat persahabatan kekal, siapa tahu, di Hookan itu, ia bertemu dengan rombongan Ban Seng Piauw kiok. Ia belum tahu Coei Pheng sendiri atau sebawahannya yang pimpin rombongan itu tapa sudah ambil putusan tidak hendak menemui si piauwsoe.

Na Pek tinggal diruang timur, rombongan piauwsoe itu diruang utara, disebelah belakang, waktu kawanan piauwsoe lewati kamar nya, ia mengintai dari celah2 pintu. Ia lihat kereta terdiri dari sepuluh kereta keledai, saban kereta muat empat buah peti. Itulah peti2 yang terisikan semuanya uang perak empat laksa tail. Pengiringnya ada delapan pegawai dengan dua piauwsoe serta satu pembantu. Coei Pheng sendiri tidak turut.

Ketika cuaca sudah mulai gelap, Na Pek pergi kedepan, untuk lihat keledainya, yang ia kuatir jongos kurang perhatikan. Istal memang berada disebelah depan. Disitu dikumpul semua binatang kepunyaan tetamu, kuda dan keledai tak kurang dari dua puluh ekor. Keledainya Na Pek ditempatkan terpisah sendirian tengah dikasi makan. Kembali dari istal, ia lihat dua orang dari luar hotel bertindak masuk. Usianya masing kira2 dua puluh lebih. Satu jongos iringi mereka, dan jongos itu sembari jalan kata “Tuan2, mustahil kami tolak kedatangannya malaikat uang? Kami justeru girang tuan2 sudi datang kehotel kami ini, itu tanda nya tuan2 perhatikan kami. Mustahil kalau ada kamar kami tidak kasikan pada jiewie? Dengan sebenarn ya semua kamar sudah habis, baharu saja datang rombongan Ban Seng Piauw Kiok, yang ambil semua kamar diruang Utara. Percaya, tuan2, tidaklah ada dihati kami niat bikin susah kamu berdua ”

Kedua pemuda itu jalan terus. “Aku tidak percaya hotel begini besar, dua kamar kosong saja tidak ada!” kata satu diantaranya. Terang mereka tak percaya jongos itu dan hendak memeriksa sendiri.

Na Pek segera ketahui, mereka itu ada orang kang ouw, malah lagu suaranya lagu Utara ada bikinan belaka, sebab tidak lenyap lagu suara Selatan dari mereka yang asli.

Dua orang itu tidak periksa lain bagian hanya dari Timur mereka menuju kesudut Timur utara untuk lewati pintu kecil, hingga jongos kuatir rombongan piauwsoe akan gusar.

“Tuan2, mustahil aku mendusta?” kata ia dengan roman memohon. “Bendera piauwkiok juga dipancar dimuka pintu, tentu tuan2 dapat melihatnya!”

Selagi si jongos bicara, dua anak muda sudah sampai dipintu dimana mereka melongok kelain bagian, lalu satu diantaranya kata “Hm! Baharu rombongan piauwsoe! Apa artinya? Walaupun utusan raja, aku hendak belajar kenal dengannya! Kau jangan ngoce saja!”

Jongos itu diam, hatinya lega melihat orang memutar tubuh. Ia duga mereka ini bukan orang baik2, ia harap2 mereka pergi dengan lekas. Tapi, sembari lewat, ia tunjukkan kamar2 “Tuan, lihat, semua itu sudah penuh!”

Mendadakan salah satu pemuda itu ayun tangannya, begitu cepat, sampai si jongos tidak dapat melihat, sedang kawannya membarengi berkata “Terpaksa kita mesti cari lain hotel....” Kemudian ia tambahkan pada kawan nya “Saudara, barang sampai di ujung jalan baharu mati, baharu sekarang kau puas! Berulang2 kau bikin aku berabe! Mustahil, semasuknya dikota Hookan, dia masih tak dapat dicari? Nah, mari lekas, kalau kita ayal2an, Cit Loo akan tegur kita!”

Keduanya lalu pergi tanpa mempersulit lagi si jongos.

Na Pek lihat gerak gerik kedua pemuda itu, ia sudah lantas menduga pada orang jahat, dugaan nya jadi lebih pasti menampak aksinya pemuda yang satu. Pemuda itu ayun tangannya yang menggenggam satu senjata rahasia.

“Jadi kamu sedang incar piauw? Didaerah Titlee kamu berani arah barang yang dilindungi Ban Seng Piauw Kiok? Ah, aku benar2 ingin lihat, siapa kamu yang bernyali demikian besar! ”

Na Pek bicara didalam hatinya. Kapan ia telah saksikan tidak ada gerakan suatu apa dipihak rombongan piauwkiok, ia berkata pula dalam hatinya “Segala kantong nasi! Bagaimana Coei Pheng bisa bertetap hati dan mengirimkan segala sampah ini?”

Karena ini diam2, tanpa ada yang lihat, Na Pek loncat naik keatas genteng untuk pergi ke depan, akan intai dua anak muda tadi. Ia turun dimuka hotel, hingga ia tampak orang menuju keluar kota Timur. Kemudian dengan diam2 ia balik kedalam. Masih ia jalan diatas genteng. Ia lihat kamarnya telah ada apinya, yang dipasang jongos. Ia pergi ketempat rombongan piauwsoe dimana, setiap kamar sudah ada api penerangannya. Disebuah kamar, tiga atau empat pegawai sedang adu mulut. “Memang ada yang ketok jendela ” kata yang satu.

“Kau ngaco! Kita toh ada didalam kamar sedang cuci muka dan salin pakaian? Siapa berani main gila? Siapa berani ganggu kita? Ouw Cie tee, kau bicara diwaktu apa? Jangan kau bikin orang tertawai kita ”

Selagi ramai suara mereka, seorang muncul dipintu. Na Pek masih ingat, dia itu ada Sin chio chioe Bok Boen Gie, yang dalam kalangannya terkenal buat ilmu silatnya dengan tombak panjang. Rupanya piauwsoe ini yang dipercayai Coei Peng akan antar piauw berharga itu, ialah hartanya satu saudagar di Pak khia untuk dikirim ke Shoasay.

Sebenarnya, turut perjanjian, Coei Peng sendiri yang mesti lindungi piauw itu, apamau mendadak ada urusan lain, terpaksa ia minta bantuannya orang she Bok ini yang dibantu oleh piauwsoe Lie Kay Tay dan pembantunya, Ie Jie Leng. Mereka bawa delapan pegawai. Coei Peng janji, tidak sampai lewat batas Titlee dia bakal menyusul, karena ia tahu di Shoasay suka muncul orang baru.

“Jangan kamu bikin berisik!” demikian Bok Boen Gie tegur orang2nya itu. Ia ada satu piauwsoe berpengalaman dan bisa bekerja.

Mereka itu diam, maka piauwsoe ini berlalu pula.

Disitu tidak ada orang, Na Pek turun dari genteng Untuk cari senjata rahasia yang dilepaskan si orang muda tadi. Ia segera dapati sebatang panah tangan yang nancap disatu lemari, menusuk selembar kertas. Kalau tada tidak lihat orang ayun tangan, ia juga tentu tidak perhatikan surat ini. Ia pergi ketempat kemana ada menyorot sinar terang, ia buka surat itu dan baca bunyinya, yang ringkas saja, ialah tantangan untuk ketua dari Ban Seng Piauw Kiok, buat bertanding di Koh lioe toen. Penantangnya adalah Kim Loo Sioe, yang perkenalkan diri sebagai “orang Rimba Hijau tak berarti dari Ouwpak”.

Melihat nama itu, Na Pek terkejut. Ia segara teringat pada Kim Cit Loo, jago Rimba Hijau kenamaan di Ouwpak, yang kesohor gagah tapipun tabeatnya aneh. Sebab sungguhpun sendirinya dia ada jago Rimba Hijau, diapun jadi musuh kaumnya juga. Dia biasa ajar adat orang Rimba Hijau yang bertindak tidak sepantasnya, yang berbuat kejahatan besar, dalam hal mana dia berlaku bengis. Dia bisa bunuh orang atau juga bikin orang bercatat seumur hidup! Maka itu kaum Rimba Hijau di Kanglam takut kepadanya seperti orang takuti ular berbisa. Hingga ada perselisihan, ialah sumpah untuk yang ber salah “keselatan pergi pada Kim Cit Loo, ke utara kepada Yan tiauw Siang Hiap”. Bedanya adalah Yan tiauw Siang Hiap tidak sekejam sebagai Kim Cit Loo.

“Tentu diantara mereka ada dendaman”, pikir ia. “Baiknya Coei Pheng tidak turut serta, kalau tidak, Ban Seng Piauw Kiok tentulah mesti rubuh…. Sekarang aku ada disini, apa aku mesti diam saja tidak membantui pihak Coei? Tapi Kim Cit Loo tidak gampang untuk dilayani ”

Na Pek cuma dengar orang mengatakan bahwa Kim Cit Loo gagah, akan tetapi sampai dimana kegagahannya itu, ia belum tahu. Ia juga tidak tahu dimana letaknya Koh lioe toen. Ia anggap baik besok saja ia cari keterangan. Iapun telah pikir akan kasi kisikan supaya rombongan piauwsoe tidak alpa.

Begitu ia menuju keruang tempat piauwsoe, ia menimpuk dengan panah kepada jendela tengah, hingga terdengar satu suara, yang dapat didengar oleh orang2 didalam kamar, hingga mereka itu heran dan bercuriga.

“Siapa?” menegur Ie Jie Leng setelah ia lompat keluar kamarnya.

Na Pek menyingkir sebelum orang keluar, ia langsung pulang kekamarnya, yang ia buka pintunya dengan pelahan2, sesudah berada dalam kamarnya, berulang2 ia teriaki jongos.

Pegawai hotel muncul dengan lantas, tapa merasa heran, karena ketika tadi ia tengok tetamunya, tetamu itu tidak ada di kamar, dan sampai ia tutup pintu hotel, si tetamu belum juga kembali, hingga ia percaya orang pergi pesiar.

“Eh, tuan pergi kemana?” ia tanya. “Kenapa aku tidak lihat pulangnya tuan?”

“Itulah sebab kau kurang perhatian,” Na Pek jawab. “Ketika tadi aku kembali, aku lihat kau sedang berdiri dikantor pengurus. Aku pergi untuk periksa keledaiku.”

“Jangan kuatirkan keledaimu itu, tuan,” kata si jongos. “Kami akan merawatnya dengan baik.”

“Kau tidak tahu adatnya keledai itu,” Na Pek terangkan. “Setelah kenyang makan dia mesti diuruti perutnya, kalau tidak, malamnya dia pasti ribut karena kelaparan, lalu esoknya akan habis tenaganya ”

Jongos ini tahu orang bersenda gurau, selaga hendak menyahutinya, ia dengar suara orang memanggil kepadanya, lantas ia berlalu sambil kata dengan ter tawa “Tuan gemar main2! Tak pernah aku dengar keledai ribut kelaparan! Kalau ada perlu sesuatu, panggillah aku ”

Selagi orang bertindak keluar, Twie in chioe berkata “Keledai sudah dipelihara kenyang, tapi aku sendiri belum dikasi makan! Apa biasanya, boca, kau dahar sampai kenyang, lain orang kau tidak perdulikan?”

Jongos itu tercengang, ia hentikan tindakannya.

“Tidak, tuan, aku tidak lupakan kau,” ia menerangkan. “Tadi tuan tidak ada didalam kamar, tak bisa aku sediakan barang makananmu. Sekarang harap tuan tunggu sebentar, aku akan segera siapkan.”

Ia lari kerombongan piauwsoe, disini ia melengak melihat orang berkumpul diluar kamar, ada dua orang pegangi lentera sedang melakukan pemeriksaan kesekitar ruangan.

“Ada apa memanggil aku, tuan2?” ia tanya “Mari masuk!” kata Piauwsoe Lie Kay Tay, yang muncul dimuka pintu, tangannya menggape.

Jongos itu masuk kedalam dimana ia tampak Ie Jie Leng dan piauwsoe satunya. Lie Kay Tay tutup pintu, setelah mana, ia tanya “Apa tadi ada orang mencari tahu tentang kami? Di ruang depan, ada berapa tetamu asal Selatan? Mereka ambil kamar2 nomor berapa?”

Ditanya begitu, jongos ini heran.

“Tinggal dihotel kami, jangan kuatir, tuan2,” jawab ia. “Meski hotel kami kecil tapi aturan di jaga keras, setelah tengah malam, kami tutup pintu, orang yang keluar masuk diawasi. Diruang depan ada empat puluh lebih tetamu, tetapi tidak ada diantaranya yang asal Selatan. Tuan2 ada lihat apa?”

“Jangan curiga, sahabat, kami cuma menanyakan saja,” Boen Gie bilang. “Umpama ada orang Selatan, tolong beritahukan kami. Kami ada perjanjian kepadanya. Sekarang kau boleh pergi.”

Jongos itu undurkan diri tanpa kata suatu apa, tapa percaya, pertanyaannya piauwsoe itu mesti ada sebabnya. Ia terus pergi kedapur untuk siapkan barang makanan untuk tetamunya yang berusia lanjut itu.

Sekeluarnya si jongos, Boen Gie kata pada Kay Tay Lie Soehoe, lain kali baik jangan tanya apa2 kepada jongos, dia tak tahu suatu apa. Lihat surat itu dengan nama Kim Loo Sioe, kacung Rimba Hijau dari Ouwpak. Tak pernah aku dengar nama itu. Terang dia punyakan dendaman dengan pemimpin kita.

Coei Piauwtauw belum pernah pergi ke Ouwpak, cara bagaimana dia bisa bentrok dengan orang she Kim itu? Kenapa, justeru Coei Piauwsoe tidak ada, dia datang mencari? Aku lihat inilah berbahaya ”

“Tapi kita mesti terima apa yang ada,” sahut Lie Kay Tay. “Didalam lima propinsi Utara ini kita ada punya nama, pelbagai gunung suka pandang kita, orang she Kim ini mestinya ada satu tukang berkelana. Apa benar dia tak tahu aturan dan hendak cegat kita? Apa mungkin jago disini yaitu Thie lok hoe Cin Ngo mau antap dia main gila?”

Sin chio chioe Bok Boen Gie geleng kepala.

“Lie Soehoe, tak dapat aku memandangnya sebagai kau,” kata ia “Kita belum kenal orang ini. Dia lantas sebut namanya, inilah luar biasa. Seorang tak berkepandaian tidak nanti berani berbuat seperti dia. Perbuatannya ini cocok dengan pembilangan, ‘Yang datang’ maksudnya tak baik yang bermaksud baik, tak akan datang. Sekarang bagaimana kita harus bersikap? Tunggu piauwcoe atau jangan? Ban Seng Piauw Kiok ada kenamaan, sungguh celaka kalau nama itu runtuh ditangan kita! Bagaimana kita dapat menemui piauw coe? Tapi umpama kita singgah disini, menunggui sampainya piauwcoe, bagi kita sungguh jelek nampaknya sungguh kecewa!.... Maka, Lie Soehoe, menurut aku, baik kita adu jiwa, berhasil atau gagal, terserah kepada takdir. Dimana letaknya Koh lioe toen itu? Aku tidak ingat ”

“Pernah dua kali aku liwat di sini tapi nama Koh lioe toen aku belum pernah dengar,” kata Ie Jie Leng. “Mungkin itu ada satu tempat kecil. Menurut aku, baik kita jalan terus, umpama benar ada yang cegat kita, biar kita adu jiwa! Memang orang Rimba Hijau sebangsa dia ada sangat menjemuhkan ”

CXXII

“Saudara Ie, aku setujui pandanganmu,” kata Lie Kay Tay. “Ban Seng Piauw Kiok kesohor, tapi dia ini mestinya liehay maka dia berani menantang. Apa artinya satu piauwsoe? Bukankah kita mirip tentera dipelihara seribu hari, dipakainya cuma seharian saja? Coei Piauwcoe percayai kita, tentu kita mesti lindungi kepercayaan itu, walaupun dengan pengorbanan jiwa! Orang telah janjikan kita di Koh lioe toen, mari kita ketemui mereka disana! Selanjutnya baiklah diwaktu malam kita semua waspada, pagi2 berangkat, siang2 singgah, isupaya semua dapat cukup beristirahat.”

“Baiklah,” jawab Ie Jie Leng. “Kecewa kalau kita kena digertak selembar kertas, sia2 nama Ban Seng Piauw Kiok ter cemar! Mari kita lihat!”

Ie Jie Leng lantas keluar, untuk pesan akan semua kawannya mengasokan diri, sedang yang menjaga malam harus bergantian.

Na Pek balik kekamarnya. Ia tahu orang hendak bela diri, ia pikir untuk bantu dimana bisa.

Keesokannya pagi2 sehabis ber santap, rombongan piauwsoe berangkat. Na Pek lantas pesan jongos akan rawat Keledainya baik2, sebab katanya ia urung berangkat hari itu.

“Jikalau kau kurangi rumputnya keledaiku, awas, aku nanti bikin perhitungan denganmu!” ia ancam jongos. “Jangan kuatir, tuan,” sahut si jongos sambil tertawa. Ia tidak mendongkol karena teguran itu. “Aku bukannya manusia kalau aku cengkolong makanan keledai yang seperti gagu ”

Na Pek tertawa. “Kau benar pandai bicara!” ia puji. “Sekarang aku tanya, dari sini ke Barat, apa benar ada satu tempat dinamakan Koh lioe toen?”

Jongos itu menggeleng kepala.

“Beberapa puluh lie disekitar sini tidak ada tempat dengan nama itu,” jawab ia. “Entah di tempat yang lebih jauh ”

Mendengar jawaban ini, Na Pek duga, tempat kediamannya Kim Loo Sioe itu tentunya ada satu tempat kecil dan sepi sekali. Ia lanas suruh jongos kunci kamarnya, ia keluar dari hotel akan menuju kepintu kota Barat, mengikuti jalan besar, hingga ia bisa dengar suaranya Ie Jie Leng yang nyaring. Ia jalan terus, ia mengikuti dari kejauhan.

Ketika itu ada dipermulaan musim rontok, panen belum dimulai, maka itu sawah2 penuh pohon padi. Disitu ada banyak sawah, ada banyak kampung juga. Dijalan besar, kereta kuda lewat tak putusnya. Selewatnya tengah hari baharulah jalanan besar mulai sepi, kampung2 semuanya kecil dan jarang letaknya.

Jalanan yang diambil rombongan piauwsoe itu, dari Hoo kan terus ke Siok leng Barat selatan, ada jalanan dengan tempat yang kecil. Ie Jie Leng dan kedua piauwsoe menunggang kuda, tidak demikian dengan delapan pegawai, mereka ini lelah dan kepanasan, leher mereka dirasakan kering. “Ie Soehoe, sekarang sudah lewat tengah hari, kalau kau tidak cari tempat singgah, kami tak tahan,” kata beberapa pegawai itu.

“Sabar, saudara2,” Jie Leng jawab. “Lagi satu lie mungkin kita akan sampai di Cioe kee cip, kita beristirahat disana saja”.

Tengan terpaksa orang jalan terus, sampai kemudian di kejauhan, kelihatan sebuah kampung yang ramai, rupanya kebetulan hari pasar, tapi ketika mereka akhirnya sampai dimuka kampung, hari sudah siang, pasar sudah sepi, tinggal mereka yang sedang bebenah habis jualan.

Itu ada satu kampung kecil, disitu tidak ada hotel, ada juga sebuah pondokan untuk pedagang2, sedang rumah makan adalah dua buah warung nasi, barang makanannyapun semua makanan kampungan. Saking terpaksa, Ie Jie Leng mampir disitu untuk bersantap sambil beristirahat. Ia pikir untuk jalan lebih jauh, guna cari hotel.

Karena dapat tetamu banyak, tukang warung nasi jadi repot akan tambah meja dan bangku, akan minta bantuan pelayan juga. Mejapun diatur diluar pintu. Berbareng orangpun repot layani kuda dan keledai, yang berisik dengan suara berbengernya.

Selagi orang bersantap, dari arah barat terdengar derapnya kaki kuda mendatangi, lalu tertampak munculnya dua penunggang kuda. Mereka ini mengawasi sebentar kepada rombongan piauwsoe, lantas mereka menuju terus kesudut timur dari kampung.

“Tidak salah lagi, mereka Itu ada dari pihak tak benar,” kata Ie Jie Leng sesudah ia awasi dua penunggang kuda itu. Kedua piauwsoe tapinya tidak perdulikan dua orang itu, mereka lebih pikirkan nama tempat Koh lioe toen, sia2 mereka cari keterangan, hingga mereka jadi masgul.

“Bok Soehoe, lihat!” mendadak terdengar suaranya Ie Jie Leng. “Dua penunggang kuda itu kembali lagi! Terang, mereka bukannya orang2 baik!”

Bok Boen Gie pun segera dengar derapnya kuda lari, maka ia beri tanda pada Ie Jie Leng, ia hampirkan jendela, akan duduk sambil alingi tubuh, akan melihat keluar.

Dua penunggang kuda itu kaburkan kudanya walaupun jalanan ada sempit, selagi lewat didepan warung nasi, satu antaranya serukan kawannya yang berada dasebelah belakang “Eh, sahabat baik, ingatlah, kita dan dia telah bikin pertemuan mati, sebelum bertemu, tak dapat kita berpisah! Mari kita tunggu dia di sebelah depan!”

Tanpa tunggu jawaban, penunggang kuda ini larikan terus kudanya.

Wajahnya Bok Boen Gie menjadi suram, dia lompat bangun.

“Kenapa, Bok Soehoe?” tanya Lie Kay Tay dengan heran.

“Kawanan tikus Itu sangat menghina!” jawab Boen Gie. “Mereka berani menantang kita! Biar mereka atur barisan gunung golok dan rimba pedang, aku tidak takut, aku nanti terjang mereka! Apa kepandaian mereka maka mereka demikian kurang ajar?”

Setelah mengucap demikian, Boen Gie menitahkan siap untuk berangkat.

Ie Jie Leng keluar akan sampaikan titah kepada semua pegawai dan tukang kereta. Boen Gie pergi pada pelayan warung, akan bayar uang makan, sekalian ia tanya kalau2 pelayan ini tahu dimana letaknya Koh lioe toen.

Mulanya pelayan warung itu geleng kepala, tapi segera ia kata “Oh, ya, aku ingat! Memang ada itu tempat, desa bukannya desa, disana tak ada jalanannya yang besar! Tempat itu letaknya tiga lie disebelah barat sini, dari sana jalan lagi kearah barat utara kira2 setengah lie. Penduduknya ada belasan keluarga petani yang menyewa sawah2nya keluarga Kat dari Kat kee chung. Siapa bukan penduduk sini, dia tak akan kenal kampung itu. Ada apa tuan menanyakannya?”

“Disana ada tinggal satu kawan sekerjaku.” sahut Boen Gie dengan sembarangan. “Dia bilang, asal aku dapat cari Koh lioe toen, aku bisa cari padanya.

Pelayan itu heran. “Apa sahabat tuan itu tinggal ditempat lebih kecil pula dari Koh lioe toen?” kata ia. “Kecuali Touw kok soe, disana tidak ada desa lainnya lagi ”

“Tidak apa, kau tidak usah pusingi....” kata Boen Gie sambil bersenyum, kemudian ia pergi lihat, rombongannya sudah siap atau belum.

“Mari kita berangkat,” Ie Jie Leng mengajak.

“Mari,” jawab Boen Gie. “Kau sudah biasa, tak usah aku pesan lagi. Kelihatannya orang tunggui kita ditempat lagi tiga lie. Umpama ada terjadi sesuatu, kamu semua jaga piauw saja seperti biasanya, segala apa Lie Soehoe dan aku yang nanti layani”.

“Jangan kuatir, Bok Soehoe,” jawab Ie Jie Leng. “Aku nanti lakukan tugasku. Umpama orang berani ganggu piauw, aku nanti berkurban untuk Ban Seng Piauw Kiok!” Boen Gie manggut, ia beri tanda dengan tangan.

Jie Leng mundur, akan cabut bendera piauw dipintu, untuk dipancar dikereta. Rombongan piauw segera mulai berangkat, meninggalkan Cioe kee cip.

Semua pegawai dan kuli tidak tenteram hatinya. Mereka merasa, disebelah depan akan terjadi sesuatu. Karena ini, mereka tidak lagi pasang omong dengan asyik dan gembira seperti biasanya hingga suasana jadi sunyi. Sering2 mereka melirik keempat penjuru.

Ie Jie Leng lihat suasana tak menggembirakan itu, ia tidak sabaran, maka diakhirnya ia kata “Saudara2, kita sedang antar piauw, kita bukannya menuju kelapangan hukuman mati, buat apa jadi lesu? Kita kenal kewajiban kita maka jangan kita bikin malu kaum kang ouw! Kita mesti jual kebisaan kita! Mari, bangunkan semangat! Atau baik kamu tukar kerjaan atau pulang akan empo anak!”

Kata2nya Jie Leng berpengaruh juga, orang2 lantas suka bicara dan tertawa. Maka itu selagi berjalan, mereka terbitkan suatu cukup berisik.

Demikian mereka lanjutkan perjalanan.

Ie Jie Leng berada sebelah belakangnya kedua piauwsoe untuk mengiringi. Mereka menunggang kuda, dari itu mereka punyakan keleluasaan untuk memandang kesegala penjuru.

Mereka jalan dijalanan yang datar tetapi dikiri dan kanan ada ladang dengan pohon2nya yang tinggi dan lebat, jalannya lebar setumbak lebih. Tidak tertampak rumah2 dikedua sisi jalan, kecuali gubuk2 petani.

Cuma satu kali, dari tikungan, mereka lihat satu penunggang keledai, yang keledainya kecil, nerobos kearah barat selatan, lantas lenyap diantara pohon2 sebelum si penunggangnya tertampak tegas.

Boen Gie merasa bahwa ia sudah melalui kira2 tiga lie, kejadian apa juga tidak ambil tempat, karena mana, ia mulai sangsikan keterangannya si pelayan warung nasi. Ia memandang ke arah barat selatan, katanya di arah situ adalah dusun Koh lioe toen, akan tetapa tak lihat satu kampung juga.

Tiba2 dari sebelah kanan ada muncul satu orang dengan baju biru yang panjang dan gerombongan tetapi tangan baju nya pendek, dia bertindak cepat sekali menyeberangi jalan, akan kemudian lenyap disebelah kiri jalan itu. Ia jadi curiga.

“Mereka nampaknya aneh....” pikir ia, yang ingat kepada orang yang menunggang keledai tadi. Maka ia terus pesan Ie Jie Leng untuk waspada.

Mereka melampaui pula setengah lie, mereka dapati jalanan ada lebih lebar, akan tetapi sekarang, segera mereka dengar suara suitan yang tidak begitu nyata.

“Mungkin inilah dianya!” kata Boen Gie kepada Kay Tay. Terus ia memasang mata kesekitarnya. Apa yang tertampak adalah tanah luas belasan lie, tanpa rumah, melainkan semak2 tinggi dan tebal dan pepohonan lainnya yang jarang.

Segera juga disebelah utara, antara ladang kaoliang terdengar suara melesatnya dua batang panah nyaring, menyusul mana, dari dalam ladang muncul enam atau tujuh orang tua dan muda dan pakaiannya berlainan satu dari lain. Dari kejauhan, masih saja terdengar suara suitan tadi. Kemudian diarah selatan, antara ladang kaoliang, muncul seorang tua dengan romannya tidak keruan, yang tak sedap di pandangnya. Sebab kedua matanya celong sekali, jidatnya jantuk, dijidat kiri ada tai lalat hitam dan besar. Bajunya panjang dengan bahan kain “minyak”. Kepalanya boleh dibilang lenang, sebab tinggal sedikit rambut yang dikuncirkan jadi kuncir kecil sekali, warnanya sudah abu2. Sepatunya yang kuning pun sudah butut sekali, sebagaimana kaos kakinya, yang putih, sudah berubah warna. Kalau yang berombongan pada menyekal senjata, dia ini bertangan kosong. Dia lantas berdiri ditengah jalan, semua kawannya berkumpul dibelakangnya.

Segera satu anak muda, yang bersenjatakan sepasang Ban jie toat, bertindak maju, untuk perdengarkan suaranya yang nyaring. “Eh, sahabat baik, jangan maju lebih jauh! Suruhlah piauwcoemu, Kim tong Coei Pheng untuk bicara!”

Ie Jie Leng segera kenali kawanan bandit dari Cioe kee cip, maka itu lantas ia titahkan orang2nya menunda kereta2nya buat dikumpulkan menjadi satu, ia sendiri lalu siapkan golok di tangannya.

Bok Boen Gie maju beberapa tindak, lantas ia loncat turun dari kudanya. Lie Kay Tay turut teladannya kawan ini.

“Jaga piauw”, Boen Gie bisiki kawan itu, setelah mana, ia maju lagi dua tindak akan beri hormat pada pihak pencegat. Ia pakai aturan kangouw ialah tangan kanannya diangkat, tangan kirinya diletaki diatasnya.

“Maaf, saudara”, kata ia sambil bersenyum. “Maaf, karena mataku lamur akupun tak ketahui dimana saudara mendirikan pusat, hingga tak dapat aku pergi membikin kunjungan. Aku minta sukalah saudara menyebutkan namamu”.

Si orang tua belum sempat menjawab, atau si anak muda dului padanya.

“Kim Cit Loo hendak menemui hanya Kim tong Coei Pheng, piauwcoe dari Ban Seng Piauw Kiok!” jawabnya dengan ketus. “Kau siapa maka kau berani majukan dirimu?”

“Sahabat, jangan kau terlalu menghina”, sahut Boen Gie. “Jikalau si orang she Coei ada disini, tak usah sampai ditanyakan, dia tentu akan majukan dirinya. Aku adalah piauwsoe Bok Boen Gie. Karena ketua kami tidak turut bersama, segala apa boleh dibicarakan denganku!”

Si orang tua mainkan kedua matanya hingga mencilak, ia pandang piauwsoe itu, setelah mana baharulah ia bicara.

“Sahabat, kau jadinya hendak berurusan dengan Kim Loo Sioe?” menegasi ia. Ia kasi dengar suara dihidung. Lalu ia tambahkan dengan dingin “Untuk keselamatanmu, sahabat, lebih baik jangan kau campur air keruh ini! Lagipun kau pasti tak dapat berurusan denganku! Jauh2 aku datang ke Hoo kan ini, maka sebelum aku menemui Kim tong Coei Pheng, tak puaslah hatiku. Aku tidak bermusuhan denganmu, akupun tidak ingin ganggu pada mu, maka asal kau serahkan piauw ini kepadaku, kau tak usah kuatirkan suatu apa. Aku sendiri akan tetap berdiam di Koh lioe toen, akan nantikan si orang she Coetu. Kami ada punya perhi tungan, perhitungan itu harus di bikin beres! Sahabat, jikalau kau tidak dengar kata2nya Kini Loo Sioe, aku harap kau jangan sesalkan aku nanti! ”

Bok Boen Gie tertawa dingin. “Sahabat, begini rupa kau me mandang aku, sungguh kau ada satu sahabat sejati!” kata ia. “Sungguh ada hal diluar dugaan bahwa secara begini gampang saja kau berniat menyuruh kami pergi meninggalkan piauw ini! Melainkan, sahabat, kau telah lupai tugas kami! Aku telah di percayai piauw ini, tak dapat aku meninggalkannya secara kehendakmu itu! Kau ada punya perhitungan dengan si orang she Coei, aku percaya dia tidak nanti abaikan itu. Kau tunggu saja, dalam tempo tiga hari, dia bakal datang ke Koh lioe toen ini! Jikalau kau paksa minta piauw ini diserahkan kepadamu, sungguh tak dapat aku memenuhinya. Aku si orang she Bok tidak punyakan kepandaian apa2, aku melainkan telah serahkan darahku yang panas kepada Ban Seng Piauw Kiok. Maka sahabat, terserahlah kepadamu!”

Orang tua itu tertawa gelak2.

“Baiklah jikalau kau hendak lihat suatu apa dari aku!” kata ia. “Untuk di Kanglam, sebenarnya belum pernah ada orang yang berani tawar menawar dengan Kim Cit Loo!” Ia menoleh ke samping, untuk berikan titahnya “Rampas!”

Anak muda dengan sepasang ban jie toat ditangan, tanpa kata apa2, loncat menerjang Bok Boen Gie, sedang satu pemuda lain yang berdiri disampingnya. segera keluarkan tumbak rantai lian coe chio dengan apa ia ter jang Lie Kay Tay. Dua pemuda lainnya, yang bergegaman masing2 poan koan pit dan semacam tombak cit seng ciang, menyerbu ke arah kereta piauw, gerakan mereka gesit sekali.

Melihat orang telah mulai turun tangan, Bok Boen Gie loncat mundur kesamping kudanya, untuk samber tombaknya, setelah itu, ia siap untuk sambut serangan.

Pemuda dengan ban jie toat itu adalah To Eng Hoo, murid ke lima dari Kim Loo Sioe, sedang pemuda yang satunya adalah saudara seperguruannya yang ke empat, Cie Tiong namanya. Eng Hoo pun gesit sekali.

Dalam tempo sedetik saja, Boen Gie sudah layani Eng Hoo, malah ia lantas menyerang dengan sengit, karena ia insyaf, itulah saatnya untuk hidup atau runtuh. Untuk di Utara ia ada cukup terkenal. Tapi disini, cuma ia sendiri yang gagah, rekannya Lie Kay Tay, masih terlalu lemah. Bertempur baharu beberapa jurus, piauwsoe she Lie ini telah terluka lengan kirinya oleh Cie Tiong.

Dirombongan kereta piauw, Ie Jie Leng sambut penyerang yang pertama ialah Tan Kie Hong, murid ke dua dari Kim Cit Loo, malah selagi Kie Hong serukan ia supaya letaki senjatanya, goloknya Jie Leng sudah menyamber, Kie Hong berkelit, sambil luputkan diri, tangan kanannya menyamber lengannya Ie Jie Leng.

Tak dapat pembantu piauwsoe itu elakkan lengannya itu, begitu ia kena diketok, goloknya terlepas dari cekalan dan jatuh, menyusul mana sebelah kakinya Tan Kie Kong terangkat, untuk dupak ia. Akan tetapi Kie Hong didului oleh soeteenya ke enam, Kiang Thian Yoe, yang cit seng ciamnya menikam kempolan kanannya Jie Leng, hingga dia ini menjerit kesakitan, tubuhnya rubuh, lukanya mengeluarkan darah.

Segera setelah itu, rombongan pegawai piauwkiok kena dihajar kawanan begal itu, tiga atau empat orang rubuh, yang lainnya lantas angkat kaki. Mereka tidak punya guna. mereka bukan tandingan kawanan bandit itu.

“Hayo, siapa sayang jiwanya, lekas turut kami!” demikian te goran atau ancaman kepada tukang2 kereta yang pada berjong kok ditepi jalan.

Sudah umumnya tukang2 kereta tunduk kepada aturan kaum kangouw, mereka tidak campur urusan perlindungan, mereka biasa turut titah saja, tak terkecuali titahnya penyamun. Begitulah mereka turut titahnya Kie Hong, mereka bawa kereta2 itu kejalanan kecil.

Bok Boen Gie kertek gigi apabila ia saksikan piauw kena dirampas, dengan sengit ia serang To Eng Hoo, maka satu kali, sedangnya lawan terdesak mundur, ia lanjutkan serangannya kebawah, dengan tipu tusukan “Thie goe keng tee” atau “Kerbau besi meluku”.

Eng Hoo kaget, ia loncat berkelit atas mana piauwsoe itu kembali desak padanya, ujung tombaknya menusuk kearah batok kepala, dengan tipu tusukan “Thay Kong tiauw hie”, atau “Kiang Thay Kong pancing ikan”.

Serangan ini ada sangat berbahaya untuk begal itu, tetapi di saat ujung tombak hampir mengenai sasarannya, tiba2 Boen Gie rasakan lengan kanannya sakit dan terus kaku, tombaknya tak dapat diteruskan menikam, malah senjata itu hampir terlepas dari cekalan. Segera ia menoleh, hingga ia tampak Kim Cie Loo dengan tampang ber seri2 kata padanya “Sahabat baik, cukup sampai disini!”

“Habis sudah, si orang she Bok rubuh ditanganmu!” berseru piauwsoe itu dengan keluhannya, lalu dengan tiba2, dengan tangan kirinya, ia tikam dadanya sendiri. Ia putus asa karena ia hadapi satu akhli menotok jalan darah.

“Bagus.” berseru Kim Cit Loo seraya dua jarinya menotok lengan orang, atas mana Boen Gie rasakan lengannya itu kesemutan, lalu tombaknya terlepas dan jatuh ketanah.

“Sahabat, kau berpikiran pendek!” begal itu menegur pula, tapi sambil bersenyum. “Baik kau insyaf kebiasaan didalam kalangan kita kaum kang ouw! Aku Kim Cit Loo, aku tidak punya dendaman kepadamu, maka tidak nanti aku ijinkan kau berbuat nekat didepanku! Yang benar adalah, dengan si orang she Coei aku ada punya perhitungan. Sebenarnya aku niat bawa piauw ini berikut orangnya, tapi kau ada satu laki2, kau ada satu sahabat baik, aku ambil putusan lain. Adalah rencanaku akan menemui si orang she Coei ditempat ini, tapi ia telah tidak muncul, maka aku beri ia tempo tiga hari, apabila dalam tempo itu ia tidak juga datang, semua piauw ini aku hendak angkut ke Ouwpak! Maka sahabat, tolong kau kasi kabar pada orang she Coetu, kami tunggui dia di Koh lioe toen ini!”

Sehabisnya berkata, Kim Cit Loo putar tubuhnya, mulutnya kasi dengar suitan dua kali, suaranya nyaring sekali, kemudian tubuhnya berloncat, maka sebentar kemudian ia lenyap diantara pepohonan kaoliang. Semua kawannyapun telah lantas menghilang.

Bok Boen Gie berdiri bengong dengan dadanya dirasakan sangat panas, ia mengawasi kearah kemana orang bawa pergi empat belas buah kereta piauwnya.

Lie Kay Tay dan Ie Jie Leng telah terluka, sedari tadi mereka diam saja sambil meramkan mata, jikalau tidak, pasti musuh bakal rampas jiwa mereka, tapi sekarang, setelah kesunyian memerintah disitu, keduanya buka mata mereka. Kay Tay lihat sikapnya Boen Gie, maka itu, lekas2 ia tegur piauwsoe yang jadi wakil pemimpinnya itu “Bok Soehoe, buat apa diam saja?” demikian katanya. “Kita sekarang harus bertindak, jangan kita ibuk tidak keruan. Mari kita berdamai. Mari kita lihat lukanya Ie Jie Leng, agaknya dia terluka parah”.

“Habis....” mengeluh pula Bok Boen Gie, seperti orang, yang baharu sedar. “Aku tidak sangka disini aku mesti rubuh... Mana aku ada punya muka untuk bertemu dengan piauwcoe? Lie Soehoe, aku tidak mau pulang kepiauw kiok, tolong kau saja yang beri laporan. Tolong sampaikan pesanku, sebelum piauw dapat dirampas pulang, tak sudi aku pulang untuk temui Coei piauwcoe!”

“Bok Soehoe, kau keliru!” tiba2 Ie Jie Leng turut bicara. Ia geraki tubuhnya untuk merayap bangun, tampangnya meringis. “Sebenarnya kita telah lakukan kewajiban kita, maka tak usah kita merasa malu menemui Coei Piauwcoe. Penjahatpun omong jelas, mereka cuma satrukan piauwcoe sendiri. Aku lihat, mereka ada liehay sekali, dari itu tidak ada lain jalan daripada kita segera pulang untuk menyampaikan kabar, supaya piauwcoe bisa lekas2 berdaya untuk dapatkan pulang piauw. Kalau piauw itu tidak dapat dirampas kembali, habislah pamornya Ban Seng Piauw Kiok! Apa kiranya Coei Piauwsoe masih bisa hidup lebih lama pula? Maka itu percuma kita jual jiwa kita disini, mari kita pulang”.

Ketika itu semua pegawai, yang tidak terluka, yang tadi terpukul mundur, telah kembali, sebab mereka tak dapat lari jauh, orang jahat melarangnya. Tiga yang lain adalah yang terluka, yang tidak dapat angkat kaki. Mereka semua, dengan roman ketakutan datang berkumpul.

Selagi Boen Gie berpikir, Kay Tay ambil obat luka akan obati Jie Leng dan tiga pegawai, juga ia sendiri. Kemudian ia kata kepada kawannya “Bok Soehoe, mari kita tunggui Coei Piauwcoe. Bukankah dia bilang, sebelum keluar dari Titlee, dia bakal dapat susul kita? Aku duga, sebentar malam atau selambatnya besok, dia akan sudah datang. Baik kita mondok di Cioe kee cip, karena malam ini pasti kita tak akan sampai dikota Hookan. Cioe kee cip ada satu dusun kecil tapi tempat itu dekat dengan tempat kejadian”.

Boen Gie membenarkan. Memang percuma umpama mereka berlaku nekat.

“Baiklah,” nyatakan ia akhirnya. Semua lantas siap, yang luka menunggang kuda, yang tak terluka berjalan kaki, seekor kuda dipakai untuk bawa pauwhok dan senjata mereka, yang keadaannya nampak korat karit ….

Sejak perampasan, sampai sekian lama, tidak pernah tertampak lain orang berlalu lintas disitu, adalah setelah melalui setengah lie, baharu mereka berhimpasan dengan empat atau lima orang pelancongan dan dua buah kereta besar.

“Numpang tanya, apa didepan boleh lewat?” demikian satu orang pelancongan tanya rombongan piauwsoe yang runtuh ini.

“Kenapa tidak? Siapa pun boleh lalui jalan besar ini!” jawab satu pegawai dengan sikapnya yang lesu.

Diam2 Boen Gie kagumi Kim Cit Loo, siapa, untuk pekerjaannya membegal itu, sudah “cegat” orang dikedua jalan, supaya mereka tunda perjalanan mereka ….

Boen Gie lakukan perjaianan pelahan sekali, sampai mendekati magrib baharulah mereka tiba di Cioe kee cip dimana mereka terpaksa ambil sebuah hotel kecil. Ia segera minta air panas untuk cuci dan obati lukanya semua korban. Kemudian baharu mereka bersantap.

“Tak dapat kita berdiam lama disini”, kemudian Boen Gie kata pada Kay Tay. “Tempat ini bukan jalanan penting, aku kuatir Coei Piauwsoe lewati kita ”

“Akupun tidak niat singgah lama disini,” sahut Kay Tay.

“Kita menginap satu malam saja, besok pagi kita berangkat ke Hookan. Aku percaya, sampai besok Coei Piauwtauw masih belum lewati kita ” Boen Gie menggeleng kepala. “Aku kuatir kita gagal,” nyatakan ia. “Bagaimana bila selagi kita singgah disini, dia justeru lewat? Maka pikirku baik sekarang aku susul dia di Hookan, sedang dua orang kita kirim ke Pakkhia untuk dapat kepastian Coei Piauwtauw sudah berangkat atau belum. Ya, saudara Lie, aku akan berangkat sekarang juga!”

“Tapi, Bok Soehoe,” kata pula Kay Tay. “Kapan sebentar kau sampai di Hookan, tentu sudah jauh malam dan pintu kota telah dikunci. Bagaimana kau bisa memasuki kota?”

“Itulah gampang, sebab kecuali di Pakkhia, dimanapun kita bisa minta bantuannya penjaga kota!” Boen Gie berikan kepastian.

Diakhirnya, Lie Kay Tay nyatakan setuju.

Boen Gie lantas panggil dua pegawai yang cerdik, untuk titahkan mereka segera siap berangkat kekota raja. Pada mereka dibekali uang secukupnya. Setelah mereka itu berangkat, Boen Gie pun meninggalkan Cioe kee cip.

Lie Kay Tay dan Ie Jie Leng terpaksa sabarkan diri untuk menantikan, mereka sedang terluka, pikiran mereka kusut, malam ini sukar mereka dapat tidur. Mendekati fajar, baharu mereka bisa tidur, tapi segera mereka terbangun sebab lihat cahaya terang dijendela, dan diluar lalu terdengar suara berisik.

Kay Tay yang sedar lebih dahulu, lalu ia kasi bangun pada Jie Leng. Mereka percaya, hotel ada kedatangan tetamu2 baru. Tengah mereka menduga2, tiba ada gedoran pada pintu dibarengi suara “Thio Yong, buka pintu!”

Thio Yong adalah namanya salah satu pegawai piauwkiok. “Itu toh suaranya Bok Soehoe?” kata Kay Tay dengan heran. “Kenapa dia balik demikian lekas?”

Lupa bahwa ia sedang luka, Kay Tay lompat turun akan buka pintu.

Ie Jie Leng pun turut lompat, tapi segera ia menjerit kesakitan, mukanya meringis. Ia lupa kepada lukanya! Dengan paksakan diri jalan setindak demi setindak, ia bertindak terus keluar.

Semua pegawai sedang tidur, jeritannya Jie Leng bikin mereka tersedar dengan terperanjat.

“Belum terang tanah, ada apa ha?” tanya satu pegawai. “Jangan banyak omong, lekas buka pintu!” Jie Leng

menegor.

Semua orang lantas berbangkit dan menuju keluar.

Sebentar kemudian, kapan pintu telah dibuka, kelihatan dua orang dengan tangannya masing2 menuntun seekor kuda, Boen Gie didepan, yang dibelakang adalah seorang yang seperti piauwsoe ini, pakaiannya pun penuh debu. Dia ini adalah si piauwsoe she Coei.

“Piauwtauw, akhirnya kau datang!” berseru Jie Leng, bahna girangnya. “Kami mengharap2 kau hingga mata kami merah!...”

Coei Pheng terharu melihat keadaannya Ie Jie Leng itu. “Saudara Ie, kau menderita,” katanya. “Bagaimana

dengan lukamu?”

Sementara itu, semua pegawai datang menyambut pemimpin ini. Boen Gie ajak orang masuk kedalam, tapa perintah satu orang urus kuda mereka, untuk bawa masuk juga buntelan mereka.

Kay Tay sambut pemimpinnya itu, segera ia nyatakan menyesalnya.

“Tidak apa,” Coe Pheng menghibur, tangannya di goyang2. “Kau telah berkorban, bukan main bersyukurnya aku. Mari kita bicara sambil duduk!”

Boen Gie dan pemimpinnya gebriki dulu pakaian merelui, baharu mereka masuk kedalam. Kay Tay perintah lantas sediakan air untuk cuci muka dan air teh juga.

Ketika itu, sudah mulai terang tanah.

Setelah jongos undurkan diri, Kay Tay tanya Boen Gie bagaimana dia bisa lantas ketemu pemimpin mereka.

Boen Gie belum menyahuti atau Coei Pheng dului ia. “Aku    datang    karena    kisikannya    satu    sahabat,”

menerangkan Coei Piauwtauw. “Kemarin magrib aku sampai di Hookan. Malamnya, baharu saja aku habis makan, diam2 ada orang masukkan sepotong surat kedalam kamarku, bunyinya mengatakan piauw ada yang rampas di Koh lioe toen dan aku dianjurkan segera datang ke Cioe kee cip untuk membuktikan sendiri. Surat itupun sebut nama begalnya ialah Yauw beng Kim Cit Loo dari Ouwpak, tapi pengirim surat itu tidak menampakkan diri. Segera aku tanya pemilik hotel di mana letaknya Koh lioe toen dan Cioe kee cip. Dia tahu Cioe kee cip tapi tidak Koh lioe toen. Karena ini, aku berangkat dengan segera. Kebetulan sekali, ditengah jalan aku berhimpasan dengan Bok Soehoe. Orang she Kim itu hendak bikin runtuh Ban Seng Piauw Kiok, tak dapat tidak aku mesti adu jiwa kepadanya. Seperti aku sudah terangkan pada Bok Soehoe, sebenarnya aku tidak kenal orang she Kim itu, malah namanyapun belum pernah aku dengar, dari itu tak aku mengarti, ada ganjelan apa di antara dia dengan aku maka dia telah ganggu aku. Tapi sekarang, aku ingat suatu hal ”

Coei Pheng lantas tuturkan, dahulu tiga tahun yang lalu pernah ia antar piauw ke Kay hong, Hoolam, disana ia ditantang oleh Giok bin houw Poei Yauw Him, satu pemuda belum berumur duapuluh. Pemuda ini katakan ia bertingkah ketika ia lewat di Poei kee po, piauwnya hendak ditahan. Diapun tidak sudi perkenalkan nama gurunya. Berdua mereka jadi bertempur.

Pemuda itu bersenjatakan cambuk Cit ciat pian, dia ada liehay, tapi akhirnya dia kena dikalahkan. Diwaktu mau angkat kaki, dia sesumbar menyuruh Coei Piauwtauw menunggu, dia hendak undang Yauw beng Kim Cit Loo si Pengarah Jiwa. Selagi mendongkol, Coei Pheng terima tantangan itu.

Nyata Poei Yauw Him itu ada murid kepala dari Yauw beng Kim Cit Loo, atau Pat pou Kan siam Kim Loo Sioe, satu jago Rimba Hijau di Ouwpak Tengah. Dia ada sangat disayang gurunya. Asalnya Poei Yauw Him ada anak dari satu keluarga baik2 tapa beradat berandalan, ia gemar berkelana, hingga ia berguru pada Kim Loo Sioe lamanya tujuh tahun. Selama berguru, ia suka berbuat baik, namanya terkenal, tapi begitu lekas tidak berada didamping gurunya, adat berandalannya kambuh pula. Itu hari ia pulang ke kampungnya untuk tengok orang tuanya. Kim Loo Sioe pesan untuk muridnya ini ber hati2, jangan terbitkan gara2 tak keruan, sebab dalam dunia kang ouw ada banyak orang liehay. Diwilayah Ouwpak, orang masih pandang sang guru, tapi dilain propinsi tidak. Yauw Him tidak dengar nasihat itu, ia tidak senang rombongan piauw lewat di kampungnya tanpa lebih dahulu kunjungi padanya, ia lalu mencegatnya. Diluar dugaannya ia kena dirubuhkan, maka karena malunya ia lalu kabur ke Ouwpak akan mengobor gurunya siapa telah menjadi gusar karenanya. Tapi Kim Cit Loo pandai kendalikan hati, ia tidak kasi kentara apa2, hanya diam2 ia kirim mata2 ke Titlee untuk cari tahu tentang Coei Pheng dan tempat2 kemana piauwsoe ini biasa antar piauw. Ia telah bersabar sampai tiga tahun, lantas itu hari dengan ajak rombongannya ia ambil tempat di Koh lioe toen dimana ia rampas piauwnya Coei Pheng.

“Kita tidak ketahui hal ikhwal lawan, inilah hebat”, nyatakan Boen Gie begitupun Kay Tay.

“Tapi aku tidak perduli dia berkepala tiga dan bertangan enam, aku mesti ketemui padanya”, kata Coei Pheng dengan sengit. Ia malu dan gusar, karena kehormatannya telah disinggung, merek piauwkioknya dibikin rubuh.

“Walau demikian, piauwtauw, baiklah kau cari satu atau dua kawan”, usulkan Kay Tay. “Aku dan saudara Bok telah dikalahkan dan terluka, tak dapat kami bantu pula padamu. Bukankah sepasang kepalan tak dapat layani empat tangan? Dalam hal ini sebaiknya kita ber hati2”

Coei Pheng menggeleng kepala. Ketika ia hendak jawab kawan itu, satu jongos muncul seraya terus angsurkan sepotong kertas, yang dialamatkan untuknya.

“Siapa yang mengirimnya?” tanya Coei Pheng dengan heran, tangannya menyambuti surat itu, untuk terus dibaca

.

“Aku girang atas kedatanganmu, Coei Piauwtauw. Malam ini jam sembilan atau sepuluh, aku nantikan kau di Koh lioe toen. Kalau tempo nya lewat, aku akan pulang, sampatu waktu, jangan sesalkan aku. Hormatnya Kim Loo Sioe”.

“Mana dianya si pembawa surat?” kemudian tanya

piauwsoe ini, yang jadi sangat gusar.

“Dia sudah pergi,” jawab sang jongos. “Dia ada satu anak muda, dia menuntun binatang tunggangan, katanya dia tidak memerlukan jawaban”.

“Baiklah”, kata Coei Piauwsoe dengan menahan sabar. “Sebenarnya aku niat suguhkan teh kepadanya, tapi dia sudah pergi, biarlah! Terima kasih”.

Jongos itu manggut, ia undurkan diri.

“Kim Loo Sioe terlalu desak aku”, kata Coei Pheng kemudian kepada dua kawannya. “Baharu aku sampai disini atau dia telah kirim suratnya untuk tantang aku, maka tak dapat tidak aku mesti ketemui padanya! Mana ada ketika lagi untuk cari kawan? Dia tentu tak beri kesempatan! Aku pun telah ambil putusan, tidak perduli bagaimana kesudah annya, kelak aku tidak akan usahakan terlebih jauh Ban Seng Piauw Kiok, aku hendak tukar cara hidupku. Lie Soehoe, apa masih dapat kau minum dua cangkir? Mari kita minum bersama2. Dan kau, Bok Soehoe, apa kau ada punya kegembiraan untuk bersantap?”

“Aku bersedia, piauwtauw!” jawab Lie Kay Tay. “Aku juga,” sahut Boen Gie.

Ie Jie Leng tinggal rebah, ia ingin dapat tidur, tapi Coei Pheng kata padanya “Ie Soehoe akupun ingin minum bersama denganmu!”

“Terima kasih, piauwtauw,” sahut Jie Leng. “Karena lukaku, tak dapat aku minum arak. Tak usah kau ajak aku, aku hendak tidur.” Coei Pheng bersenyum.

“Aku percaya lukamu tidak berbahaya,” kata ia. Tapi ia tambahkan kepada Kay Tay “Apa ia telah diobati? Lukanya toh tidak hebat? ”

“Dia sudah diobati. Lukanya tidak besar tetapi dalam juga,” sahut kawan itu.

“Ie Soehoe, mari bangun!” kata Coei Pheng. “Aku ada punya obat yang manjur. Mari bersantap bersama, selagi kau pakai obat, aku percaya, walaupun tak segera sembuh, tetapi sakitnya akan hilang sekejab.”

Ie Jie Leng merayap bangun untuk menghampirkan. “Terima kasih, piauwtauw,” kata ia. “Aku percaya akan

kemanjurannya obatmu.”

Coei Pheng keluarkan obatnya dan serahkan itu sambil ajarkan aturan pakainya.

Dengan susah payah, Jie Leng pergi kelain kamar, untuk meng obati lukanya. Selaga bertindak, Coei Pheng mengawasi dari belakangnya dan berkata sambil menghela napas “Orang bilang dia tolol tapi aku justeru suka dia karena jujurnya ”

Sebentar kemudian hidangan sudah disediakan, maka pemimpin dari Ban Seng Piauw Kiok undang kawan2nya duduk bersantap, tapi Jie Leng tidak hadir, sebab sehabis pakai obat, dia terus rebahkan diri dan tidur.

Siauw Beng Ciang Kim tong Coei Pheng bisa dahar dengan bernafsu, seperti juga ia bukan sedang hadapi kesulitan besar, ia malah bisa bicarakan lain2 hal. Boen Gie tidak heran, karena ia tahu sifatnya pemimpin ini. Sehabis dahar, dengan agak sinting Coei Pheng pergi rebahkan diri. Karena waktu itu sudah tengah hari, ia mendusi diwaktu magrib. Ia terus dandan dan suruh orangnya siapkan kudanya. Adalah sekarang, sambil minum teh, pemimpin ini duduk diam saja.

Karena orang diam sekian lama, Boen Gie lalu tanya apakah pemimpin itu hendak lantas pergi ke Koh lioe toen.

“Kalau tidak sekarang apa aku mesti tunggu dia datang kemari?” jawab pemimpin ini.

“Bila demikian, aku suka ikut,” Boen Gie menyatakan. “Tidak perduli aku pernah dirubuhkan, masih ingin aku ketemui pula tua bangka itu!”

“Aku juga ingin turut,” nyatakan Kay Tay. “Lukaku tidak berarti. Mari kita pergi bersama!”

Coei Pheng menghela napas.

“Saudara berdua ada baik sekali”, kata ia dengan bersukur. “Jangan saudara turut aku, hanya aku minta tolong saudara bersiap membereskan hal2 kelak dikemudian hari. Aku akan pergi tanpa kembali kecuali aku berhasil ambil pulang piauw kita. Jikalau aku gagal, tolong ganti kerugian piauw ini yang berjumlah empat puluh ribu tail. Uang dikas ada kira2 tiga puluh ribu tail, sekurangnya boleh ditutup dari penjualan sebagian sawah kebunku di Chongcioe. Dengan sisa milikku, aku percaya isteriku akan dapat hidup bersama sanakku lelaki yang baharu berumur delapan tahun. Tolong anjurkan anak itu rajin belajar surat, jangan ia utamakan ilmu silat. Aku menyesal tapi biarlah piauwkiok ditutup. Umpama sampai besok aku tidak kembali, tolong kau pergi ke Koh lioe toen akan sambut aku, dalam buntalanku ada uang dua ratus tail, jumlah itu cukup untuk urus aku. Pikiranku sedang kusut, aku tidak mau tulis surat kerumah, segala apa tolong saudara berdua saja yang urus menurut pesanku ini.” Lie Kay Tay menangis saking terharunya, tapi kapan ia tampak Coei Pheng mengeluarkan air mata, ia segera simpangkan mukanya kelain jurusan. Boen Gie sendiri jalan mundar mandir saja.

“Jangan saudara2 bersusah hati,” kata Coei Pheng kemudian. “Inilah tanggung jawab kita yang usahakan piauwkiok. Bok Soehoe, tolong panggil Ie Jie Leng, aku hendak pesan padanya.”

Boen Gie pergi kepintu akan panggil Jie Leng, tapa sudah menteriakinya beberapa kali, si sembrono tidak muncul, tidak ada jawabannya juga. Kemudian muncul satu pegawai yang beritahukan bahwa Jie Leng telah pergi keluar.

“Apa?” tanya Boen Gie dengan heran “Kapan dia perginya?”

“Belum lama,” jawab pegawai itu. “Dia bangun dengan gembira, katanya obat piauwtauw mustajab sekali, la pergi dengan menunggang kuda, pelananya dilapis selimut ”

Boen Gie kerutkan dahi.

“Apa dia bawa senjatanya?” Coei Pheng tanya. Pegawai itu melengak.

“Dia tidak bawa senjata, dia cuma selipkan pisau belati di kaos kakinya  ” sahut ia kemudian.

Coei Pheng anggukkan kepala.

“Kau boleh mundur, tapi ingat, segala apa kau mesti dengar Bok Soehoe,” ia kata. Semundurnya pegawai itu, ia tambahkan pada Boen Gie dan Kay Tay “Aku mesti susul Jie Leng, supaya ia jangan hilang jiwa secara kecewa ditangan musuh!” “Piauwtauw duga dia pergi kepada musuh?” Boen Gie tanya.

“Aku percaya dia tidak pergi kelain tempat. Dia jujur dan setia, dia bernyali besar. Rupanya dia menduga pasti dia tak akan diajak, dari itu dengan diam2 dia pergi sendiri.”

“Kalau begitu, piauwtauw, harus aku turut kau,” kata Boen Gie. “Sudah seharusnya kita tanggung jawab bersama. Jie Leng ada satu pegawai, dia demikian setia, maka kecewa kalau aku diam saja. Tapi kau ada punya pesan terakhir, inilah sulit. Maka baik diatur begitu saja Piauwtauw boleh pergi sendiri, syukur apabila kau berhasil, jikalau tidak, aku nanti kumpulkan semua piauwsoe dari semua cabang kita untuk berdaya, sedang gurumu, See Loocianpwee, aku nanti kabarkan supaya dia mendapat tahu! Sekarang sudah tak siang lagi, silahkan kau berangkat!”

Kay Tay pun setujui pikirannya Boen Gie ini. Coei Pheng berbangkit, untuk memberi hormat.

“Baiklah, jiewie,” kata ia. “Tak nanti aku lupai kebaikanmu ini! Sampai kita bertemu pula!”

Pemimpin ini lantas bertindak keluar dimana kudanya sudah siap, setelah samber tali les dari tangan pegawainya, ia loncat naik atas kudanya itu, yang terus dikasi lari berputaran didepan pondok.

“Aku tak memesan lagi! Sampai ketemu pula!” kata ia, dan sekali ini ia larikan kudanya tanpa menoleh pula, untuk tinggalkan Cioe kee cip, menuju ke arah barat.

Boen Gie dan Kay Tay mengawasi dengan bengong, air mata mereka berlinang, sesudah pemimpin itu lenyap dari pandangan mata, baharu dengan lesu mereka kembali kedalam.

CXXVIII

Coei Pheng larikan kudanya dengan terpaksa, dengan hati berat. Ia sudah tidak punyakan harapan akan dapat kembali. Ia tidak punyakan kegembiraan akan pandang keindahan alam disekitar nya. Selama itu, cuaca sudah gelap, maka ia berhati2 dari bokongan musuh. Ia seperti merasakan dikiri dan kanannya ada musuh intai ia. Ia larikan kudanya terus sampai kemudian ia dengar bentakan “Berhenti! Atau nanti kami panah padamu!”

Piauwsoe ini tahan kudanya, ia tertawa besar.

“Jangan main gertak, sahabat!” jawabnya. “Jalan ini adalah jalan umum, hak apa kau ada punya untuk larang aku? Apa yang sebenarnya kau kehendaki! Sesama golongan, jangan kau bersikap demikian!”

“Kau perkenalkan diri dulu!” ada suara dari dalam ladang kaoliang. “Jikalau kau ada satu boe beng siauw coet, kembalilah ke jalanmu tadi semula! Tak perlu kami bicara denganmu!”

“Jangan berjumawa, sahabat2!” kata Coei Pheng dengan berani. “Aku tidak takut, jikalau aku takut, tak nanti aku datang kemari! Jikalau sikapmu demikian kurang ajar, aku mau sangka kau bukan orangnya Kim Cit Loo, nanti aku si orang she Coei juga akan bersikap keras!”

“Oh!” demikian suara dari dalam ladang. “Kau jadinya ada Coei Piauwtauw dari Ban Seng Piauw Kiok? Sudah lama kami menantikan!” Suara ini disusul loncat keluarnya dua bayangan, yang segera berdiri ditepi jalan “Maaf, Coei Piauwtauw,” kata satu diantaranya. “Tolong kau kasi tahu kau datang bersendirian atau dengan berkawan?”

“Aku si orang she Coei sendirian!” jawab Coei Pheng. “Buat apa ajak lain orang? Satu laki2 mesti berani tanggung jawab sendiri! Bukankah demikian, sahabat?”

Orang itu tertawa menghina.

“Kau tak bersendirian, Coei Piauwtauw! Barisan depanmu sudah sampai terlebih dahulu! Tabeat ketuaku aneh, aku tak ijinkan kawanmu itu datang kemari, maka aku suruh dia menantikan disana dimulut jalan cagak saja!”

Hatinya Coei Pheng gentar.

“Tapi benar aku sendirian saja,” ia kata. “Apa betul ada lain orang yang datang kemari diluar tahuku?”

“Dia ada si orang she Ie!” Coei Pheng tertawa gelak2.

“Ya, benar, dia adalah orangku!” ia jelaskan. “Tapi dia ada salah satu pegawaiku, dia tak punya guna, dia hanya bernyali besar dan tak takut mati! Dia hormati keharusan kaum kang ouw walaupun aku telah larang padanya datang kemari, namun dia datang juga. Sahabat, aku girang untuk dia! Mari kita lihat padanya!”

“Mari turut aku!” kata satu diantara kedua orang itu.

Menampak orang jalan kaki, Coei Pheng loncat turun dari kudanya, yang ia terus tuntun. Mereka jalan setengah panahan, lalu seorang yang jalan didepan bunyikan suitan. Dari cabang jalanan, seorang lompat keluar, tangannya menyekal golok.

“Kie Hong disana?” bertanya orang itu. “Ya,” sahut orang yang ditegor. “Kami ada bersama Coei Piauwtauw.”

“Sahabat, jangan bertingkah!” demikian satu suara, dari mulut tikungan.

“Jangan banyak bacot!” membentak orang yang bersenjatakan golok itu.

Coei Pheng segera kenali suaranya Jie Leng.

“Sahabat,” ia bilang. “Urusan ada urusan kita, disini tidak ada orang luar! Dia itu ada pegawaiku, kasilah dia keluar, aku hendak bicara kepadanya”.

Orang itu kasak kusuk dengan dua kawannya.

“Coei Piauwtauw, mari ikut kami,” katanya kemudian.

Dengan berani Coei Pheng tuntun kudanya pergi kejalan cagak yang kecil sekali, yang cuma muat satu orang.

Dari ladang gandum, seorang muncul dengan tuntun kuda.

“Piauwcoe datang?” kata dia “Aku tunggui kau disini.” “Jie Leng, kau bikin apa disini?” sang pemimpin tanya.

“Bagaimana dengan lukamu?”

“Aku sudah tak merasa sakit lagi, piauwcoe!” jawab si sembrono. “Obatmu benar sangat mujarab! Aku datang kemari atas sukaku sendiri, jangan piauwcoe pikirkan aku!”

“Baiklah,” sahut pemimpin itu. “Selanjutnya aku larang kau banyak omong, kau jangan campur tahu urusanku! Nah, kau pegangi kudaku!”

Jie Leng menghampirkan untuk sambuti les kuda. Ia masih hendak bicara tapi sang pemimpin cekal keras lengannya seraya kata dengan pelahan “Mari senjatamu! Kau ada punya berapa batok kepala?” Jie Leng tahu tabeat pemimpin itu, lantas ia serahkan pisau belatinya.

Coei Pheng pun segera kata dengan nyaring “Jie Leng, jaga kudaku, jangan kasi dia ganggu kaoliang! Berbarengan dengan itu, ia lempar belati itu kedalam ladang.

“Eh, piauwcoe, apa artinya ini?” Jie Leng tanya. “Aku bekal itu untuk aku sendiri ”

“Dengar aku!” Coei Pheng jawab. “Kalau aku dapat ambil pulang piauw, kau turut aku pulang bersama. Ingat, jangan kau campur lainnya urusan!”

Jie Leng hendak jawab pemimpinnya itu ketika ia batal karena dengar suara suitan nyaring sampai dua kali, atas mana Coei Pheng kata padanya “Pikir pendek!” Inilah kata2 rahasia untuk “jangan bicara.” Kemudian ia maju dua tindak.

Dari suatu jurusan lantas ke lihatan sinarnya dua lentera kuning, yang mencorot kesana kemari, lalu terdengar pertanyaan “Ada berapa orang?” Yang mana dijawab. “Cuma Coei Piauwtauw sendiri bersama satu pegawainya.”

“Tidak cocok, aku lihat rupanya tiga ”

“Tidak, cuma berdua. Tidak ada lain orang yang bisa langgar batas penjagaan.”

Pembawa dua lentera itu segera datang dekat, mereka adalah dua pemuda.

“Apa To Soetee yang telah memberi laporan?” tanya salah satu diantaranya.

“Bukan, To Soetee sedang menjaga, tanpa titah ketua, tidak nanti dia berani tinggalkan tugasnya.”

“Inilah aneh! Terang tadi ada orang melintas dijalan cagak. Kenapa dia bukannya To Soetee?” Selagi dua orang ini bertentangan, terdengarlah satu suara suitan lain, atas mana penjahat yang pimpin Coei Pheng kata “Sudah, jangan omong saja, mari kita antar Coei Piauwtauw! Umpama benar mereka terdiri dari beberapa orang, kita takut apa?”

Lantas ia ajak Coei Piauwsoe jalan lekasan.

Coei Pheng mengikuti, ia tidak gubris walaupun ia menduga ten tunya penjahat berjumlah besar. Ia jalan terus, sampaa dipapaki lentera lain, lalu terlihat satu orang yang segera menegor “Coei Piauwtauw, apa kau sendirian saja? Siapa itu dibelakangmu?”

“Aku datang sendirian,” sahut Coei Pheng. “Dia ini ada pegawaiku untuk jagai kudaku. Mana dia Kim Loosoe? Kenapa dia tidak lantas keluar? Aku ingin segera menemui padanya!”

“Mari turut aku!”

Orang itu lantas putar tubuhnya dan bertindak, dkuti kawan nya. Coei Pheng pun mengikuti mereka.

Didepan mereka ada sebuah tegalan, dalam gelap nampaknya disana ada suatu kampung kecil. Dari situ kadang2 terlihat cahaya api, yang mencorot keempat penjuru. Walaupun api memain secara demikian, suasana tetap sunyi, tidak terdengar suara anjing.

Coei Pheng menduga kepada sarang penyamun. Ia dibawa ke ujung barat selatan dimana, setelah menikung, ia tampak pohon2 yang tak lebat. Diatas dua buah pohon ada digantungkan masing2 satu lentera, yang lilin nya hampir padam tertiup angin.

Mereka jalan terus pelahan2. Dibelakang pohon ini ada sebuah kuil kecil, dimuka pintu tergantung sebuah lentera. Dua orang, yang menyekal senjata, berdiri dimuka pintu.

“Tunggu disini, jangan maju lagi!” kata si pengantar.

Coei Pheng hentikan tindakannya, dan dua pemuda itu bertindak masuk.

Kuil itu sudah tua, dari dalam dimana ada cahaya api yang suram, terlihat orang mundar mandir bagaikan bayangan.

Coei Pheng tidak usah menantikan lama karena segera juga keluar dua orang yang membawa lentera, yang terus berdiri dikiri dan kanan, sesudah mana, lalu terdengar suara tegas yang berlidah campuran Selatan dan Utara, katanya , “sekali ini aku si tua bangka tidak lakukan perjalanan cuma2, sebab aku berhasil dapat menemui satu enghiong dari Utara, yang juga bakal berikan ketika akan aku saksikan permainan silat Hong cie tong!”

Suara itu tidak sedap bagi kuping, menyusul itu, tertampak juga roman tak menyenangi dari orang yang mengucapkannya, seorang tua kurus kering, kedua pipinya nonjol, sepasang matanya celong sekali, tetapi kedua biji matanya bersinar tajam, bi sa membuat jerih siapa yang melihatnya. Diapun pakai baju dan celana pendek, kedua kakinya dilapis dengan kaos kaki dan sepatu putih. Kedua tangan bajunya lebar dan gerombongan. Dia bertindak turun, akan berhenti diundakan tangga dimuka pintu.

Coei Pheng dapat duga siapa orang itu, ia maju dua tindak untuk memberi hormat.

“Bukankah aku berhadapan kepada loocianpwee Kim Cit Loo dari Ouwpak?” kata ia dengan pertanyaannya. “Aku Coei Pheng. Dengan turuti keharusan kaum kang ouw, aku hatur maaf kepadamu. Loocianpwee, sudikah kau memberi muka terang kepadaku dengan mengembalikan piauw ku?”

Kim Cit Loo pandang piauwsoe itu, lantas ia bersenyum tawar.

“Ban Seng Piauwcoe, kau terlalu merendah!” berkata ia. “Baik kau mengerti aku Kim Loo Sioe, aku tahan piauwmu untuk undang kau datang kemari, supaya kita dapat bertemu. Piauwmu masih utuh tidak terganggu, aku titipkan itu didalam kuil ini. Aku bukannya itu manusia rendah hina yang kemaruk harta, aku hanya ingin bicara lain. Baiklah aku menjelaskannya. Muridku yang tidak punya guna, Poei Yauw Him, sudah rubuh ditanganmu, untuk itu dia mesti sesalkan diri yang tidak rabah tulang iga sendiri, maka dia dapatkan bagiannya! Terhadap murid itu, tidak saja aku tidak hendak membelainya, malah menuruti aturan perguruan kami, aku hendak beri hukuman padanya Tidak demikian dengan bunyinya kata2mu, piauwcoe. Bukankah kita ada punya wilayah masing2? Daerahku adalah propinsi Kangsee, karenanya, di selatan dan utara Sungai Besar, di Shoatang dan Shoamay tidak ada jalanku, tetapi kau telah mengatakan lain. Aku masih sangsikan murid itu karang cerita aku telah desak padanya, hingga dihadapan Couwsoe, dia berani berikan sumpahnya. Maka itu, ingin aku terima pengajaran darimu, piauwcoe. Di Selatan ini, belum pernah ada orang yang berani menghina aku kecuali kau. Aku tahu, piauwcoe punya senjata hong cie tong yang istimewa, meski demikian, ingin aku mencobanya. Mari, piauwcoe, kita berdua mencari keputusan! Umpama dengan senjatamu itu kau sanggup kalahkan sepasang lenganku yang berdaging tak bersenjata, sejak kini aku nanti cuci tangan, aku akan undurkan diri. Tapi andai kata kau gagal, kau harus terima syaratku. Tetap aku tidak ingin kang kangi piauwmu, tetapi untuk dapatkan itu, kau mesti ambil sendiri, di Utara, untuk itu kau boleh undang siapa saja yang kenamaan, untuk bantu padamu. Nah, piauwcoe, silahkan kau keluarkan senjatamu, mari kita mencoba2!”

Hampir Coei Pheng tak tahan sabar karena desakan itu. “Kim Loocianpwee, tunggu sebentar,” kata ia dengan

paksakan diri. “Harap kau dengar dahulu aku, habis itu terserah kepadamu. Bicara tentang ilmu silat, aku ada dari angkatan muda. Cuma dengan andali ujung senjataku aku cari sesuap nasi dalam kalangan piauwkiok. Aku rasa aku tahu benar cara pergaulan, aku ketahui aturan kaum kang ouw, maka tak pernah aku berbuat kesalahan Ketika dulu aku pergi ke Hoolam dan lewat di Yang boe, dimana tadinya pun aku pernah lewat, aku tidak tahu yang berdiam disana adalah murid loocianpwee. Adalah biasanya kami, kemana kami pergi, senantiasa kami dengar2 keadaan mengenai muridmu, itu ada satu kecuali. Telah lama ia keluar dari kampungnya, itu waktu mendadak ia pulang ke Poei kee toen dimana ia justeru hendak angkat nama. Sebenarnya untuk bertindak demikian, dari siang ia mesti menyiarkannya. Dia sudah tidak melakukannya. Aku hanya tahui ia sudah dicegat. Sampai waktu itu masih aku tidak berlaku sembrono, aku masih tanya dia tentang gurunya, tetapi dia tidak mau memberitahukannya, sebaliknya dia menghina aku, dia ejek guruku, maka akhirnya terpaksa aku turun tangan. Sekalipun dalam pertempuran, dialah yang desak aku, hingga aku mesti layani padanya. Seandainya aku yang kalah, pasti piauwku ditahan. Setelah kalah, dia malu berdiam lebih lama dikampungnya, dia pergi dengan sesumbar agar aku tunggu saja, katanya sebelum berhitungan, dia tak puas, karena mana akupun bilang padanya, orang semacam dia yang tidak kenal aturan kang ouw, tentu tidak punyakan lain kawan kecuali sebangsanya sendiri. Adalah seperginya dia, baharu aku menyesal sudah terlepas kata. Benar2 aku tidak sangka dia adalah murid loocianpwee. Sejak keluar dari perguruan, tidak pernah aku andalkan kepandaianku, aku hanya gemar bergaul, hingga kawan2 juluki aku sebagai Beng Ciang Koen yang dermawan dan ramah tamah. Tidak pernah aku berani berbuat salah, sebab aku tahu itu adalah jalan untuk celakai diri. Sekarang, diluar kehendakku, aku telah berbuat keliru terhadap pihak loocianpwee. Loocianpwee, mengingat sukarnya aku angkat nama, tolong kau kembalikan kereta2 piauwku. Terhadap lain orang, tak nanti aku bersikap seperti ini! Maka sekarang, terserah kepadamu ”

Jago tua itu belum sempat buka mulut, atau seorang muda disampingnya dului ia.

“Soehoe, jangan percaya keterangannya!” kata pemuda ini. “Dia pandai bicara untuk melagui soehoe!”

“Jangan banyak omong!” jago tua itu membentak. Lalu ia teruskan pada Siauw Beng Ciang “Coei Piauwtauw, baik kita ke sampingkan urusan lama, kita omongkan saja kejadian sekarang. Aku telah tahan piauwmu, cara bagaimana dapat dengan gampang saja aku kembalikan kepadamu? Biar bagaimana, kau mesti hunjukkan kepandaianrnu, kau mesti gunai senjatamu hong cie tong untuk aku tonton! Tentang piauwmu, kau jangan kuatir, semua itu berada didalam kuil, kuda dan keledaimu berada didepan kampung sana, dan semua tukang kereta, makannya kenyang, tidurnya nyenyak. Maka, untuk kau bisa berangkat dengan piauwmu, mari kita mulai! Paling jemu aku untuk omong banyak tak henti2nya, bisa aku tidak akan temani kau, nanti di Ouwpak saja kita bertemu pula!” Coei Pheng kertek gigi. Ia insyaf bahwa urusan tak dapat didamaikan pula.

“Kim Cit Loo, kenapa kau desak aku sampai begini?” tanya ia. “Memang aku telah berkeputusan akan tidak kembali dengan masih bernyawa, karena kau paksa aku mesti perlihatkan kejelekanku, baiklah, aku terpaksa menurut kehendakmu, terpaksa aku mesti melayani kau!”

Lantas piauwsoe ini memutar tubuh, akan kata pada pegawai nya “Mari ambilkan senjataku!”

Jie Leng sedang mendongkol, sejak tadi ia tak sabaran mendengar kata pemimpinnya yang begitu merendah terhadap Kim Loo Sioe, kalau pisau belatinya tidak dibuang oleh Coei Pheng, tentu ia sudah serbu begal itu. Maka segera ia cabut senjata pemimpinnya itu, yang digantung dipelana. Ia berlaku sembrono, ujung senjata nyangkut dan mengenai perut kuda, hingga binatang itu kaget dan kesakitan, dia berbenger sambil berontak. Beruntung Jie Leng kuat memegang lesnya, kalau tidak kuda itu tentulah kabur. Karena ini, Coei Pheng sendiri yang ambil senjatanya itu.

Pemimpin dari Ban Seng Piauw Kiok tidak hendak bilang suatu apa lagi, tapi belum ia sempat turun tangan, dari ujung kampung terdengar suara berisik, suara sentak sorong, hingga ia heran.

“Ada apa?” tanya Kim Cit Loo sambil menoleh.

Dilain pihak, satu pemuda sudah lari kearah tempat berisik itu, dari mana, dari atas sebuah rumah, sebaliknya ada menyorot lentera khongbengteng, disusui suara memerintah yang keras “Berhenti! Maju lagi berarti kau cari mati! Awas panah!” Ancaman itu telah lantas di buktikan. Sebatang panah melesat menyamber seorang yang sedang mendatangi, yang pakaiannya butut, menyusul mana orang itu menjerit “Aduh!”

Coei Pheng menyangka orangnya kena dipanah, tapi segera ia tampak tubuh orang itu berputar, ter huyung2 kebelakang. Orang itu menyekal sebatang ruyung hitam panjang sekaki kira2, sembari terhuyung2 terdengar suaranya lebih jauh “Eh, eh, kenapa tempat ini begini berbahaya? Aku ada seorang cacat yang kekurangan biji mata, aku jalan di sini bagaikan roh penasaran yang gentayangan, kenapa disini tidak ada jalanan untuk aku? Cambuk kudakupun telah terlempar kedalam solokan, inilah hebat untuk aku si buta! Kenapa orang panah aku? Oh, buntulah jalan hidupku ”

Selagi orang itu ngoce, penyerangnya, yang membawa lentera sudah dekati padanya.

“Tutup mulutmu!” dia menemui dengan bengis. “Jangan berlagak gila disini, kau tentu bukan manusia baik2! Kau bikin apa di sini? Lekas omong yang benar! Apa kau hendak tunggu aku turun tangan?”

Si buta itu angkat kedua tangannya.

“Looya semua tentu ada pembesar2 negeri,” berkata ia sambil memberi hormat. “Aku seorang buta tak bisa menjadi penyamun, tapi benar aku sering ketemu orang jahat. Akupun sengsara, tak bisa aku nginap di hotel besar atau kecil, aku mondok sembarangan saja. Aku hendak pergi ke Hookan untuk mencari hidup disana, aku kesa sar, sudah selang dua hari aku masih disini2 juga. Looya semua, kasihani aku, kasilah aku lewat. Lagipun, mendengar suaramu, kita ada asal satu kampung ”

Orang ini bicara dengan lidah Selatan. Kim Cit Loo mesti hadapi Coei Pheng, yang sudah siap sedia, tapi mendengar kata2 orang itu dan laga2nya, ia jadi mengawasi dengan penuh perhatian.

“Pergi tengok!” kemudian ia kata pada satu orangnya. “Kalau dia ada cucunya si kuku garuda, bereskan saja, tapi kalau benar dia ada orang baik2, biarkan dia lewat!”

Dengan “cucunya si kuku garuda” diartikan polisi atau hamba negara.

Orang yang diperintah itu sudah lantas pergi lari.

Dipihak sana, orangnya Kim Cit Loo masih bersikap galak.

“Siapa orang sesama kampungmu?” dia membentak. “Kau datang dari mana?”

“Aku datang dari Ouwlam. Apa kita bukan asal sesama kampung?”

“Aku dari Ouwpak, aku tak punya orang sesama kampung sebagai kau, setan!” menghina orang muda itu, sambil berludah.

“Ah, jangan kau perdulikan Ouwlam atau Ouwpak, toh semua ada ouwnya !” kata pula si buta. “Ouw ialah telaga, kang, sungai, karena kang ouw adalah Sungai Telaga, kita toh ada sesama juga. Maka itu, looya beramai, biarkanlah aku lewat, aku dapat ambil jalan mana saja, asal jalanan hidup untuk aku si buta ”

“Jangan ngaco!” membentak pula si anak muda. “Kau hendak cari penyakit? Kenapa kau bisa datang kemari? Kami telah menjaga diempat penjuru! Kau bisa masuk, tapi jangan kau pikir untuk bisa pergi dari sini!”

Anak muda ini samber pundaknya si buta, untuk ditarik dengan keras. “Kau mesti diringkus!” berseru pemuda itu.

Bagaikan rumput, tubuhnya si buta terpelanting dan rubuh, ia menjerit teraduh aduh, tetapi berbareng dengan itu, si anak mudapun bercelaka, karena ujung ruyungnya si buta yang sebenarnya ada sebatang suling, telah mengenai tulang iganya, hingga dia merasakan sangat sakit, tapi sebab dia tahan itu, dia keluarkan jeritan tertahan, kepalanya segera banjir keringat.

“Aduh, aduh!” si orang buta masih men jerit2, tubuhnya bergulingan, biji matanya mencilak putihnya. “Tolong, tolong, kau hendak rampas jiwaku ya? Tak dapat kau perhina aku! Aku masih punyakan guru! Hayo pukul, pukul aku hingga mampus, nanti ada guruku yang menuntut balas!”

-ooo0dw0ooo-