-->

Eng Djiauw Ong Jilid 10

 
Jilid 10

Demikianlah aku, aku gemar dengan tanaman bunga2, sedang mereka, tak pernah mereka meninggalkan kalangan persilatan, selamanya lengkap persiapan mereka. Ciongwie loosoe, kau telah datang kemari, berdiamlah dengan tenang disini. Aku rasa malam ini tak dapat Liong Tauw Pang coe menemui loosoe semua, walaupun demikian, aku Ouw Giok Seng berani memberi kepastian, sama sekali tidaklah Pang coe berniat memandang tak mata kepada loosoe semua. Dalam hal ini, sebenarnya ada lain sebab nya. Selagi sekarang kita ada mempunyai waktu, ciongwie loosoe, silahkan kau lihat2 gedungku ini, sekalian loosoe boleh memberi pengunjukan apabila ada kedapatan bagian2 yang kurang cocok, agar aku bisa mengadakan perubahan. Sudah lama aku pangeni Lek Tiok Tong dari Hoay siang dan Kwie In Po dari Kian San begitupun dusun Na Chung dari Yan tiauw Siang Hiap di Coe cioe, yang semua ada tempat2 yang indah, tapi yang pembuatannya berbeda satu dari lainnya. Sayang aku tak punya peruntungan mata yang bagus, tak ada ketikanya untuk aku melihat sendiri, itu cuma ada dalam kenang kenanganku saja. Karena itu, ciongwie loosoe, harap kau tidak ter tawai aku yang sekarang aku undang kau sekalian melihat lihat tempatku ini”.

Ouw Giok Seng bicara dengan manis budi, akan tetapi Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe, d yuga Na Hoo, segera merasa bercuriga. Tak dapat mereka menduga hatinya hiocoe itu, tetapi tentunya ada mengandung sesuatu.

CIX Diam2 Na Hoo melirik pada Eng Jiauw Ong, yang ia kedipi mata. Atas itu, Too Liong manggut dengan pelahan. Setelah ini, Ay Kim Kong lantas berkata: “Ouw Hiocoe, kau baik sekali. Terima kasih untuk pujianmu. Kami girang sekali, setelah memasuki Cap jie Lian hoan ouw kami pun dapat ketika untuk memandang Kim Tiauw Tong. Memang sudah sejak lama kami dengar perihal keindahannya Lwee Sam Tong dari Hong Bwee Pang. Sebenarnya hal ini minta pun kami tidak berani, maka kami sangat berterima kasih atas undanganmu ini. Ouw Hiocoe, silahkan kau pimpin kami!”

Sehabis berkata begitu, Na Hoo dekati Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe. Coe In juga curigai Ouw Giok Seng, tetapi ia ada ketua See Gak Pay, tak dapat ia bersangsi, maka itu, sengaja ia dekati hiocoe dari Gedung Garuda Emas itu.

Ouw Giok Seng pimpin sekalian tetamunya keluar dari ruangan menuju ke barat, untuk masuk dalam pintu model bulan di mana ada dua chungteng berdiri menjaga dan dua chungteng lain memegangi lentera.

“Silahkan masuk, ciongwie loosoe!” Giok Seng mengundang seraya ia menyamping mengasi jalan.

Coe In Am coe memberi hormat, tanpa bersangsi ia segera ber tindak masuk. Eng Jiauw Ong dan Na Hoo ikuti ketua See Gak Pay itu, kemudian menyusul lima muridnya Coe In dengan Hong Bwee membawa pedang gurunya. Lalu menyusul Siok beng Sin ie Ban Lioe Tong, Tiongcioe Kiam kek Ciong Gam dan Kim too souw Khoe Beng berikut Chio In Po dan yang lain2, serta murid mereka.

Setelah melewati pintu model bulan itu, tertampaklah satu pemandangan yang berbeda sekali, yg. mirip dengan satu taman, walaupun tak terlalu luas. Keseluruhannya, tempat ada sunyi dan tenang. Disitu ada gunung bikinan, ada pepohonan, ada jalanan menikung, ada kali kecil berikut jembatannya. Dimana mana ada digantungkan lentera lentera ci ta. sedang dilangit terbuka, bintang2 berkelak kelik. Kalau orang tak menyaksikan sendiri, tidak akan ada orang mau percaya, bahwa di sarang penjahat ada tempat orang pertapaan itu.

Ouw Hiocoe jalan di muka akan tunjukkan ini dan itu. Ia ada satu tuan rumah yang ramah tamah sekali.

Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe berikan pujiannya untuk taman yang indah itu.

Kemudian Kini Tiauw Tong Hiocoe, Pat pou Leng po Ouw Giok Seng, bertindak dijembatan Kioe Kiok Kiot yang berbiluk sembilan kali, sembari jalan ia katakan pihak tetamunya terlalu memuji2 tamannya itu.

“Aku menyesal jikalau ciong wie loosoe tak memberikan pengunjukan apa2” kata ia. Coe In semua bersenyum untuk antap merendah dari tuan rumah itu.

Melewati jembatan, menuyu ke selatan orangpun lewati sebuah para2 pohon bunga, yang seperti tergulungkan oyot rotan, hingga merupakan sebuah guha batu. Sehabis ini dibawah sinar nya bulan, mereka tampak sebuah empang teratai yang lebar, yang bunga bunganya sedang mekar, mengambang diair diantara daunnya yang hijau, yang sirnya bergemirlapan. Disepanjang Lepi empang ini, setiap jarak satu tumbak lebih, ada digantungkan sebuah lentera.

Eng Jiauw Ong percaya, air empang ini menembus keluar, nembus juga dengan air jembatan Kioe Kiok Kio tadi. Air empang berombak sedikit. Bunga teratai menyiarkan harumnya yang halus, yang membuat pikiran terbuka. Di tengah empang ada sebuah Pat kak teng, paseban persegi delapan, yang dalamnya tidak ada api penerangannya, karena diempat penjurunya telah dipasangkan obor yang besar, yang cahayanya masuk kedalam. Empat tihang kayu, yang besar, dipasang kedasar empang. Inilah tihang2 yang membikin empang itu berdiri kekar. Wuwungan terbuat dari rumput alang2 yang panjang dan lemas, hanya diwaktu malam seperti itu, tidak terlihat tedas. Payonnya dikasi turun ke bawah hingga tertiup2 angin perdengarkan suara halus. Apa yang luar biasa, berdiri sendirian ditengah empang paseban itu tidak mempunyai jalanan, atau sambungan kemana orang bisa pergi.

Ouw Giok Seng bertindak sampai ketepi empang sekali. “Ciongwie loosoe, bagaimana pendapat loosoe semua?”

tanya ia. “Ini ada tempat kami melenyapkan letih diwaktu

musim panas. Dipaseban Tie Sim Teng ini, diwaktu malam terang bulan, selagi bunga2 teratai mekar dan menyiarkan harumnya yang halus, biasa aku bersama beberapa saudara duduk ber omong2 sambil minum teh atau arak. Keindahannya Puteri Malam, harumnya bunga2, bisa melenyapkan pikiran yang pepat. Apakah ciongwie loosoe memikir untuk pergi ke paseban itu guna mencoba merasai kesenangannya berdiam di tengah empang?”

Ong Too Liong dan Coe In Am coe tidak jeri terhadap paseban itu, seumpama disitu ada rahasia apa2.

“Ouw Hiocoe, sungguh menarik paseban itu dibangun ditengah tengah empang,” berkata Eng Jiauw Ong. “Kami memang berniat pergi kesana jikalau Hiocoe memperkenankannya. Silahkan Hiocoe pimpin kami.”

Ouw Giok Seng tidak menjawab, ia hanya keluarkan suitan dari sakunya untuk terus ditiup beruntun tiga kali, menyusul mana dari ujung barat utara, dimana ada pohon2 bambu halus yang lebat, lantas muncul empat buah perahu kecil, sedang dari arah Timur, muncul empat buah yang lain.

Sebentar saja, delapan perahu itu sudah menempel kepada pinggiran empang, siap sedia untuk terima muatan.

“Untuk pergi kepaseban kita membutuhkan perahu,” berkata Ouw Hiocoe “Ciongwie loosoe, silahkan!” Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe tidak sungkan2 lagi, setelah mereka mempersilahkan Na Hoo, Ban Lioe Tong, Ciong Gam dan Khoe Beng untuk naik bersama, begitupun yang lain2, mereka lantas turun kedalam perahu. Tiga puluh lebih orang Hoay Yang Pay dan See Gak Pay itu sudah memenuhi delapan buah perahu, yang lalu digayu kearah paseban Tie Sim Teng itu.

Setiap perahu ada dua anak buahnya mereka menggayu menembus pohon2 teratai. Ditengah perjalanan, cahaya api ada suram, karena sinar lentera ditepi tak sampai kesitu, dan empat obor besar, apinya kebetulan tertiup aangin. Tetapi pemandangan itu justeru sangat menarik hati.

Paseban ada beromn kuno. k ecuali ruangan dalamnya, di sudut payon masih ada tempat luas setumbak lebih, untuk orang jalan2 atau berdiri diam untuk menikmati keindahan empang itu.

Begitu lekas perahunya hampir menempel kepada tepi, Pat pou Leng po Ouw Giok Seng mendahului lompat kepaseban, setelah mana, ia memutar tubuh untuk membeli hormat.

“Coe In Taysoe, Ong Loosoe, silahkan mendarat!” ia mengundang. “Terima kasih, hiocoe,” Coe In membalas hormat, akan tetapi berbareng dengan katanya itu. tubuhnya segera melesat. Ia telah gunai ilmunya enteng tubuh “Hoei niauw teng khong”, atau “Burung terbang keangkasa”. Sama sekali ia tidak perlihatkan persiapan suatu apa, tahu2 tubuhnya melayang cepat dan secara enteng sekali akan turun dipinggiran paseban, ketika kakinya turun menginjak lantai, sedikitpun tak terdengar suaranya.

Tanpa merasa, Ouw Giok Seng terpesona sendirinya. Ia sering saksikan banyak orang liehay, tetapi Coe In Am coe adalah lain daripada yang lain. Sejak tetamu2nya masuk ke Kim Tiauw Tong, ia memang tak berani berlaku sembarangan terhadap mereka ini, ia insyaf liehaynya orang2 Koay Yang Pay, terutama Ong Too Liong. Ia tahu, ketua Hoay Yang Pay ini pernah dirubuhkan Pauw Hiocoe dari Hok Sioe Tong, akan tetapi ia pun tahu kemenangan Pauw Hiocoe itu ada dengan cara curang, kemenangan yang ia tak kagumi bahkan ia tak puas. Sekarang ia saksikan liehaynya ketua See Gak Pay, ia jadi semakin ber hati2.

Ong Too Liong turuti Coe In berlompat dengan pesat dan tak menerbitkan suara apa2, setelah ia, yang lain2 mendarat saling susul, sampai perahupun pada nempel ditepian.

Paseban itu tak dapat menempatkan demikian banyak orang, maka itu, yang bisa masuk ke dalamnya cuma beberapa orang, yalan Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe bersama beberapa tetua, yang lainnya berkumpul di bawah atau diluar payon, akan pasang omong sambil memandang kesekitarnya.

Ouw Giok Seng undang teta munya duduk mengitari meja batu ditengah2 paseban. Di empang, menyusul delapan buah perahu tadi, ada datang sebuah perahu lain yang membawa sebuah perapian besar dan apinya sedang menyala marong, diatasnya ada satu tehko tembaga yang besar. Didalam perahu itu ada tiga orang yang masing2 urus tehko, tehkoan dan cawan nya, maka sebentar kemudian, semua tetamu sudah disuguhkan air teh. Cawan2 diletaki diatas loneng, diatas meja kecil atau dipegangi masing2.

Ouw Hiocoe dengan manis budi sudah lantas mengundang semua tetamu minum.

Kebetulan sekali, cahaya rembulan ada terang sekali dan permai, maka pemandangan diempang itu jadi sangat menarik hati. Orang semua seperti melupai bahwa mereka sebenarnya berada disarang musuh, ditempat yang berbahaya.

Na Hoo tidak turut masuk dan duduk didalam paseban, ia berada diluar ber sama2 Soe Soei Kie kee Kan In Tong, Thay kek Lioe Hong Coen dan Sin koen Ke Siauw Coan. Mereka ini berada disebelah Timur. Berkumpul dan mengitari mereka ada belasan orang, antaranya adalah Hoa In Hong, Ciok Liong Jiang, Soe touw Kiam, Kam Tiong, Kam Hauw, Soen Giok Koen dan Soen Giok Kong. Semua mereka ini pasang omong dengan asyik.

Dalam keadaan seperti itu, mendadak terdengar suara air nyaring ditepi empang, hingga orang jadi ketarik dan menoleh, akan tetapi mereka tak melihat suatu apa, airpun tenang.

“Soe ya, apa itu?” Liong Jiang tanya Ay Kim Kong.

Lantas saja ia bercuriga. “Ada permainan apa didalam empang ini? Kita mesti waspada untuk rnencegah kita nanti disamber buaya atau dicapit kepiting atau udang ….” Mendengar itu, In Tong tertawa geli. Na Hoo pun tertawa hihi hihi.

“Anak, penyakit curigamu menyerang terlalu pagi!” kata

jago tua ini sambil urut2 kumisnya yang pendek. “Empang ada begini lebar, mustahil disini tak ada ikannya yang besar? Kita lihat saja dimata, ingat dihati, kita toh seperti sedang memasuki ruang ujian, kita sedang tunggui kepala ujian nanti mulai dengan ujiannya! Kau tunggu saja, nanti juga ada mata pelajaran yang menarik hati yang diajukan kepada kita...”

Liong Jiang berdiam, ia tak berani kata apa apa lagi, tetapi bersama yang lain lain ia insaf kata katanya tetua itu ada mengandung dua maksud. Karena ini, mereka melanjutkan pasang omong dan tertawa, seperti tak ada terjadi suatu apa.

Na Hoo sendiri lalu bertindak ke arah paseban.

Eng Jiauw Ong semua sedang ber omong2 dengan gembira, nampaknya mereka bukan berada diantara musuh. Ketika Ouw Uok Seng lihat Ay Kim Kong bertindak masuk, ia lantas menyambut dan mengundang duduk.

“Kebetulan sekali, Na Loosoe”, berkata hiocoe ini. “Pertemuan kita dipaseban ini ada satu ketika yang sangat bagus, dari itu sungguh sayang apabila malam ini dikasi lewat begitu saja. Loosoe semua ada orang2 pandai dari Rimba Persilatan, pasti masing2 mempunyai suatu kepandaian istimewa, maka itu, kenapa kita tak hendak pikirkan sesuatu untuk dipertunjukkan disini, untuk tanda peringatan bagi ruang Kim Tiauw Tong? Tidakkah ini ada bagus sekali?” “Adalah biasanya, tetamu mengikuti tuan rumah,” sahut Na Hoo dengan cepat, “dari itu silahkan hiocoe sebutkan saja, kami pasti akan turut segala titahmu, kami suka menemani orang budiman...”

“Na Loosoe, kau sangat sungkan,” kata Giok Seng, yang alis nya bergerak naik. Ijinkanlah aku bicara. Pertemuan kita ini adalah sukar dicari keduanya, maka aku mohon semua loosoe pertunjukkan masing2 kepandaian hendaknya, agar aku dapat tambah pengetahuan. Tetapi, menurut kata2mu tadi, loosoe, aku jadinya telah berlaku tidak hormat”.

Mendengar pembicaraarmya dua orang itu, Coe In Am coe segera menyelak. Ia tahu tabeat koekoay dari Ay Kim Kong, sedang Ouw Giok Seng, yang pun kenamaan, tentu punyakan keagungan sendiri.

“Sudahlah, tak usah kita terlalu saling merendah,” demikian katanya sambil tertawa. “Na Jie hiap ada satu tetamu, ia asing dengan paseban ini, karena itu, baiklah hiocoe saja yang menyebutkan apa yang kau pikir, kami akan menurut saja. Hanya satu ha! harus diperhatikan, kita sedang bikin pertemuan secara persahabatan, tak dapat kita bersikap saling bermusuh!”

Setelah mengucap demikian, pendeta ini melirik Na Hoo, sedang Eng Jiauw Ong pun sudah lantas kedipkan mata kepada soe hengnya itu, maka itu, Na Hoo lantas diam.

“Benar seperti katamu, taysoe, kita sedang bikin pertemuan persahabatan,” berkata Ouw Hiocoe, “maka itu tak dapat kita bersikap saling bermusuhan, itu akan membuat tertawaan saja. Aku memikir untuk kita memperlihatkan kepandaian yang tak berarti, utk. bahan tertawaan saja. Cara ini tidak akan merugikan kedua pihak, pun tidak akan melenyapkan kegembiraannya pertemuan ini. Apakah taysoe akur dengan usulku ini ?”

“Akur, hiocoe,” Coe In manggut. “Nah, silahkan hiocoe menyebutkannya.”

Tanpa ayal lagi Giok Seng sebutkan usulnya, mendengar mana, Coe In semua menjadi heran dan kaget dalam hatinya.

Eng Jiauw Ong semua telah menduga, mesti ada sebabnya kenapa Ouw Giok Seng undang mereka kepaseban Tie Sini Teng ini, akan tetapi dua2 ia dan Coe In Am coe tidak jeri. Mereka berani datang, mereka mesti berani sambut segala apa, walaupun mereka tahu Boe Wie Yang ada sangat liehay, hanya mereka tak dapat duga, apa yang dipikir tuan rumah, sampai Giok Seng utarakan usulnya.

Hiocoe dari Kim Tiauw Tong itu, seraya rangkap kedua tangannya kepada ketua ketua dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, berkata : “Jiewie tak hendak memberi pengajaran terlebih dahulu, akupun tak berani terlalu sungkan. Bukankah coewie telah saksikan empang teratai ini? Sekarang tolonglah perhatikan sekalian pohon teratai itu serta sekalian bunga nya. Lihat bunga2 teratai yang merupakan bwee hoa ciam itu. yang ujungnya muncul dimuka air tiga dim tingginya. Bwee hoa ciam itu, yang terbuat dari bambu, adalah pelatok2 yang tertancap dalam dan kuat didasarnya empang, siapa mengerti ilmu enteng tubuh, pasti bisa injakkan kaki diatasnya. Memutari empang ini, sama sekali ada tiga puluh enam batang Bwee hoa ciam. Aku pikir untuk kita kasi pertunjukan diatas pelatok2 bunga teratai yang berlembar lima itu. Aku si orang she Ouw telah dengar lama perihal liehaynya ilmu enteng tubuh dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, lebih2 tentang Na Jie Hiap dua saudara, aku percaya, dalam hal ini tidaklah aku omong berlebih2an, maka itu justeru sekarang ada malaman terang bulan yang permai, tolong coe wie memberikan pengajaran kepadaku agar aku memperoleh tambahan pengetahuan dan pandangan. Bagaimana pikiran loosoehoe semua mengenai usulku ini?”

Eng Jiauw Ong dan Coe In terperanjat dalam hati, karena untuk pertama kali, mereka sudah kalah awas. Bukankah mereka tidak sangka sama sekali yang didalam empang itu ada dipasang pelatok rahasia? Bukankah tak ada satu diantara mereka yang lihat bunga teratai palsu itu? Hanya, selagi Ouw Giok Seng berkata2, diam2 mereka mengawasi keempang, untuk lihat semua pelatok Bwee hoa ciam itu yang merupakan setangkai bunga teratai dengan lima batang bambu muncul dimuka air disekitar nya, yang satunya muncul ditengah2 bunga teratainya sekali. Jaraknya lima batang pelatok itu ada setindak satu dari lain. Semua Bwee hoa ciam ada tiga puluh enam buah. tetapi diempang yang demikian lebar, semuanya tersebar luas, jaraknya ada enam atau tujuh kaki, malah ada yang setumbak lebih, jadi tidaklah gampang untuk berdiam dipermukaan empang dengan pakai semua pelatok itu sebagai injakan.

Ong Too Liong juga insaf, dari tiga puluh lebih orang dalam rombongannya itu, yang bisa bergerak dengan leluasa diatas pelatok2 itu cuma ada beberapa orang, sedang dilain pihak, julukan dari hiocoe itu sudah menyatakan liehaynya ilmu mengentengi tubuhnya. Tadinya ia sangka Ouw Giok Seng cuma pandai “Tengpeng touw soei,” akan tetapi ternyata dia pun pan dai ilmu Bwee hoa ciam ini …

Tetapi orang telah kemukakan usulnya, atau lebih benar tantangannya, tak dapat usul itu tidak dijawab, maka mendahului Ciangboenjin dan ketua dari See Gak Pay, Ay Kim Kong Na Hoo tertawa dingin dan kata: “Ouw Hiocoe, pandai sekali kau memikir usul! Cara ilmu enteng tubuh sebagai ini memang jarang tertampak didalam kalangan Sungai Telaga. Baiklah, biar kami bersiap mengorbankan jiwa untuk melayani satu budiman! Hanya aku harap kau suka jelaskan kepadaku, apa kita melainkan jalan2 saja diatas pelatok pelatok itu atau kita ber barengpun saling menggunai tangan kita?”

Kedua matanya Pat pou Leng po Ouw Giok Seng bergerak.

“Buat beradu tangan diatas pelatok, itu adalah cara sangat umum dan juga kurang pantas,” ia jawab. “Aku pikir baiklah selama berada diatas pelatok2 itu kita lepaskan senjata rahasia satu atau dua kali, dengan cara sembarangan saja, untuk jadi buah tertawaan kita beramai! Bukankah itu ada terlebih berarti? Entah bagaimana pikiran loosoe semua...”

Segera setelah mendengar itu, Na Hoo dan Eng Jiauw Ong semua tahu, walaupun bicaranya ramah tamah, namun hiocoe she Ouw itu ada berpikiran keras dan hatinya kejam, jadi dia mesti dilayani secara sungguh2, atau mereka semua bakal dapat malu dan rubuh.

Na Hoo hendak jawab hiocoe itu. akan tetapi ia telah didahului oleh Coe In.

“Ouw Hiocoe,” berkata pendeta wanita dari Pek Tiok Am itu, “buat main2 senjata rahasia diatas pelatok, turut anggapanku, adalah kurang tepat. Senjata rahasia adalah senjata tajam, itu tak dapat disamakan dengan kepalan atau tangan, umpama orang tak keburu berkelit, tidak perduli siapa yang terluka, itu akan menyebabkan rusaknya persahabatan kita kedua pihak. Menurut aku si pendeta tua, beradu tangan adalah terlebih sempurna”. “Nyatalah taysoe terlalu berkuatir,” kata Ouw Giok Seng, dengan wajah menyatakan kurang gembira. “Kita ada sahabat2 kaum kang ouw, aku kemukakan usulku inipun karena mengingat, sulit ketikanya untuk kita bisa bertemu dan berkumpul sebagai sekarang ini dan aku tak ingin siasiakan ketika sebaik ini. Apa pun tahu caranya kita main2, batasnya adalah asal kena tertowel. Bagaimana kita bisa turunkan tangan jahat, berlaku kejam, berbuat sebagai satu siauwjin, si hina dina? Tidakkah itu akan menyebabkan tertawanya kaum kang ouw dan jengekannya rekan2 kita? Tidakkah taysoe pun berpikir sebagai aku ini?”

Ouw Giok Seng bicara dengan sabar akan tetapi dengan itu terang ia telah mendesak. Maka itu, Eng Jiauw Ong segera dului Coen In untuk berikan jawabannya.

“Kau baik sekali, Ouw Hiocoe, kau adalah satu enghiong,” kata ia. “Baiklah, aku Ong Too Liong bersedia untuk lebih dahulu iringi kau main2 diatas Bwee hoa ciam itu.”

CX

Tetapi Ban Lioe Tong dului soe hengnya berbangkit. “Ouw Hiocoe, kata ia kepada Ouw Giok Seng seraya

hadapi tuan rumah itu, “aku si orang she Ban yang bodoh

juga ingin menerima pengajaran darimu!”

Tiongcioe Kiam kek Ciong Gam dan Kim too souw Khoe Beng pun pada berbangkit.

“Jikalau bukannya dalam Cap jie Lian hoan ouw, mana kita dapat ketika akan saksikan kepandaian yang istimewa itu,” kata mereka kepada ketuanya, “karena itu, kami bersedia mengiringi dibelakang ciangboenjin.” Eng Jiauw Ong m anggut. Ia merasa puas dengan sikapnya saudara2 ini. Memang, dalam kejadian seperti ini, orang mesti majukan diri dengan setahu atau perkenannya.

Sementara itu, Ouw Giok Seng sudah bertindak keluar dengan diikuti oleh Coe In Am coe, Ban Lioe Tong, Na Hoo, Ciong Gam, Khoe Beng dan Too Liong. Yang lain nya pada berdiri dipinggiran paseban, untuk menyaksikan.

“Apa yang kita bakal pertunjukkan ini tidaklah ada yang aneh dan luar biasa,” kata Giok Seng seraya ia rangkap kedua tangannya, “walaupun demikian, karena kita main dipermukaan empang, bahayanya bukan sama sekali tidak ada. Maka itu” siapa yang ingin turut ambil bagian, silahkan dandan dengan rapi.”

Eng Jiauw Ong manggut, lantas saja ia buka jubanya. Lioe Tong dan yang lain2 turut buka thungsha mereka untuk rapikan pakaian dalamnya. Melainkan Coe In Am coe yang tidak loloskan juba sucinya yang panjang dan gerombongan.

“Marilah aku membuka jalan,” berkata Ouw Giok Seng kemudian, menyusul mana, tubuhnya mendek sedikit, kedua kakinya dienjot, hingga dilain saat ia sudah melesat bagaikan anak panah, loncat keempang dimana ia taruh kaki disebatang Bwee hoa ciam jauhnya tiga tumbak lebih. Adalah ujung kakinya yang kanan, yang mengenai pelatok, kakinya yang kiri melainkan ditekuk, dengan cara demikian, ia perlihatkan sikap “Kim kee tok lip”, atau “Ayam emas berdiri dengan satu kaki.” Lalu, dengan tubuh tak bergeming, ia menghadapi Eng Jiauw Ong untuk memberi hormat. Inipun ada tandanya ia mempersilahkan pihak lawan.

Eng Jiauw Ong semua kagum untuk itu macam gerakan tubuh yang sangat enteng, yang menandakan satu kepandaian yang luar biasa, satu latihan yang sempurna, hingga karenanya, tak ada orang yang berani pandang enteng kepada lawan ini.

Lalu ketua Hoay Yang Pay hadapi Coe In Ayn coe dan Kim too souw Khoe Beng, sang soe heng. Ia memberi hormat.

“Jiewie, persilahkan!” ia bilang. Kemudian, iapun memberi hormat pada Na Hoo, Ban Lioe Tong dan Ciong Gam, seraya terus berkata: “Mari kitapun turut!”

Segera empat orang itu, dengan sikap geraknya masing2, pada berlompat kemuka empang, akan taruh kaki mereka di pelatok2 yang mereka cari sendiri2, tetapi dengan memencar diri. Karena diatas pelatok orang tak dapat berdiri dengan merdeka, lantas saja mereka semua bergerak gerak terus, lompat dari satu kelam pelatok, demikian seterusnya, tak henti2nya, hingga mereka mirip dengan burung2 yang berterbangan, menclok sana dan menclok sini.

Gerakan semacam inipun ada pentingnya bagi mereka, yang memang perlu mencobanya dahulu semua pelatok, supaya ketahui keletakannya dan kekuatannya.

Ouw Giok Seng pun tidak menjadi kecuali, ia turut berlompatan juga setelah dengan “Kim kee tok lip” dia memberi hormat dan undang sekalian lawannya. Mulai dari utara ia menuju ke timur utara, keujungnya jurus an ini. Coe In Am coe dan Kim too souw Khoe Beng sebaliknya ambil jurusan yang berlawanan, yalah dari ujung barat utara, mereka menuju kebarat selatan. Ban Lioe Tong berdua Ciong Gam pergi kearah barat sekali, sedang Eng Jiauw Ong dan Na Hoo, keujung timur.

Dari ujung timur utara, Ouw Giok Seng berputar disepanjang pinggiran, menuju kebarat utara. Waktu itu Coe In dan Khoe Beng berpisahan: Kim too souw Khoe Beng ketimur selatan, Coe In menjurus keutara sekali. Pendeta ini tetap tidak buka jubanya, hingga juba itu memain diantara sampokan angin. Tampak nyata kaos kakinya yang putih dan sepatunya.

Kapan Coe In Am coe sampai diujung barat utara, disitu ia tak dapati pelatok Bwee hoa ciam; dilain pihak, Ouw Giok Seng sedang memutar . balik, hingga mereka berdua berada dekat satu dengan lain, jaraknya. hanya beberapa kaki saja.

Segera pendeta dari Pek Tiok Am itu rangkap kedua lengannya. dalam sikap “Tong coe pay Koed,” atau “Kacung murid menyembah Buddha,” sambil menghadapi Ouw Hiocoe ia berkata: Bwee hoa ciam, ia sudah ambil putusan untuk adu kepandaian. Tidak demikian dengan Ong Too Liong yang berlaku sungkan. Karena ini, Na Hoo kendalikan diri untuk hormati sikapnya ketua itu. Tetapi ia tak merasa puas, apabila ia tidak keluarkan perasaannya itu, maka ia menantikan waktu.

Dalam keadaan seperti itu, ia saksikan Giok Seng berlaku kurang hormat dengan terlebih dahulu melayani Coe In Am coe, yang separuh dibokong, sedang niekouw itu, yang telah diserang duluan, sudah tidak melakukan pembalasan. Maka diam2 ia siapkan dua potong Boe hong Yan bwee piauw. Kembali ia lihat Coe In masih tidak mau membalas menyerang, niekouw itu melainkan hajar runtuh peluru lawan nya. Ia percaya pasti bahwa asal si niekouw mau, hiocoe itu pasti dapat bagiannya. Masih ia kendalikan diri.

Disebelah Yan tiauw Siang Hiap, Kim too souw Khoe Beng juga tak puas dengan tingkah lakunya hiocoe dari Kim Tiauw Tong itu, ia jadi ambil putusan untuk berikan pengajaran. Justeru itu, Na Hoo berseru: “Khoe Loo enghiong, inilah ketika baik yang sukar dicari, jikalau tidak sekarang juga kau mohon pengajaran dari Ouw Hiocoe, kau hendak tunggu kapan lagi?” Menyusul itu, kepada Ouw Giok Seng pun ia kata: “Ouw Hiocoe, aku si orang she Na mohon pengajaran darimu!”

Pemberian tahu itu belum habis diucapkan atau tangan kanannya sudah diayun, sebuah senjata rahasia mirip bintang perak menyamber kearah mukanya lawan!

“Bagus!” berseru Ouw Giok Seng seraya mengenjotkan kaki kanannya terlebih jauh kekanan guna singkirkan diri dari serangan. Kelihatannya ia hendak loncat lebih jauh kekiri, tetapi Na Jie hiap yang tubuhnya tidak bergeming, tangan kirinya sudah lantas menimpuk, hingga melesatlah piauwnya yang ke dua.

Berbareng dengan serangannya Ay Kim Kong, Khoe Beng yang telah dengar seruan, juga sudah lantas menyerang dengan tiga buah peluru besi thie tanwan yang saling susul, cepat sekali runtunannya.

Ouw Hiocoe terancam hebat sekali, karena serangan datang dari dua jurusan berbareng. Piauw dari Na Hoo adu sangat berbahasa, walaupun hanya sebuah, sedang peluru dari Kim too souw, ada tiga dan tak kurang berbahayanya. Kedua lawan itupun ada orang2 liehay.

Dalam keadaan seperti itu. Giok Seng punyakan melainkan satu jalan, yalah berkelit dengan apungkan diri ke tinggi, melesat dengan “It hoo ciong thian” atau “Burung hoo serbu langit.” Jikalau orang gunakan ilmu melesat tinggi ini didarat, tidak aneh, tetapi sekarang itu mesti dilakukan diatas pelatok Bwee hoa ciam, sulitnya bukan main. Gerakan ini memerlukan jejak an kaki yang keras kepada ta nah, sekarang itu dilakukan atas pelatok bambu. Tetapi hiocoe dari Kim Tiauw Tong, Gedung Garuda Emas, ada seorang liehay, ia lapat lakukan itu dengan baik, “Loo nie bersedia untuk terima senjata rahasia hiocoe!”

Berbareng dengan itu, Giok Seng pun hunjuk hormat kepada si pendeta. Ketika itu, ia sedang menginjak dengan kaki kiri, ia berada disebelah kanan si orang suci. Sambil menukar kaki, ia perlihatkan sikap “Kwa liouw teng san,” atau “Mendaki gunung dengan menunggang harimau,” ia menjawab: “Aku bersedia akan turut titah.”

Menyusul jawabannya itu, ia loncat lima atau enam kaki jauhnya. kembali ia menginjak dengan kaki kiri, tubuhnya dimiringkan, setelah mana, tangan kanannya berkelebat.

“Aku si orang she Ouw hendak pertontonkan kejelekannya!” ia kata.

Sekejab saja enam bua thie lian cie, biji teratai besi, dengan beruntun menyamber ke arah Coe In Am coe. Itu adalah serangan tidak tanggung2. Enam peluru saling susul dengan cahayanya berkilauan, tujuannya adalah atas, tengah dan bawah. Itupun ada senjata rahasia yang aneh.

Ketua dari See Gak Pay memutar diri kesamping kiri, maka semua serangan luput mengenai sasaran.

“Sungguh liehay!” ia memuji.

“Aku mengharap menerima ajaran terlebih jauh!”

Sambil berkata demikian tetapi nya niekouw ini loncat jauhnya satu tambak lebih, kelain pelatok.

Wajahnya Ouw Giok Seng berubah, ia jengah sendirinya, terus ia loncat kekiri melewati sebatang pelatok, begitu kaki kanannya injak Bwee hoa ciam, tangan kanannya diayun, hingga segeralah menyamber tiga batang thie lian cie, kembali ketiga jurusan : atas, tengah dan bawah. Thie lian cie yang pertama, menyambernya cepat luar biasa. Sementara itu, tangan kirinya pun turut berkelebat, hingga lagi tiga buah senjata rahasia menyusul tiga yang pertama, tujuannya tetap di tiga jurusan.

Coe In Am coe tahu bahwa orang akan lakukan serangan susulan, dari itu, disaat ia loncat kekiri, ia sudah siapkan senjata rahasianya, yalah See boen Cit po coe, sedangnya serangan datang, ia berseru: “Bagus!” Ia berseru seraya mengayun tangan kirinya yang ujung, bajunya gerombongan, atas mana, semua enam thie lian cie kena dipukul jatuh, jitu sekali, Cit poo coe mengenai enam senjata rahasia itu, hingga kedua rupa senjata pada jatuh kemuka air! Selagi beradu, ke enam pasang senjata telah perdengarkan suara nyaring.

“Sayang...” mengeluh Coe In.

Waktu itu, Ouw Giok Seng sudah lompat mundur, karena kesudahannya pertandingan itu menunjukkan ia ada dipihak yang kalah, karenanya, ia tak punya muka akan melanjutkan lagi. Tetapi apamau ketika itu, Na Hoo dan Khoe Beng datang bersama, yang satu dari arah Timur utara, yang lain dari Timur selatan.

Ay Kim Kong tidak puas terhadap hiocoe dari Kim Tiauw Tong itu, sejak mulai injak hingga kedua penyerangnya tak peroleh hasil.

Ay Kim Kong tidak puas dengan tidak berhasilnya dua potong Bee hong Tan bwee piauw. Untuk ia, senjata rahasianya itu sangat jarang dipakainya, sekali ini ia gagal, ia jadi tak mau mengerti. Karena mana, ia telah segera siap dengan piauwnya yang ketiga, ia berseru: “Aku hendak mempersembahkan lagi satu!”

Piauw ini menyamber justeru tubuhnya Ouw Giok Seng sedang turun, tak dapat hiocoe itu berkelit, ia cuma bisa egos lengan kirinya kearah mana senjata rahasia menuju, walaupun demikian, ia tak luput seanteronya. Piauw tidak mengenai lengan tetapi menembusi baju!

Bukan main mendongkolnya Hiocoe dari Kim Tiauw Tong, hingga tak dapat ia kendalikan diri, tidak tempo lagi ia keluarkan jarumnya Bwee hoa Toat beng ciam, yang sangat jarang ia menggunai, jarum yang sangat liehay.

Sebelum itu, Kimtco souw Khoe Beng telah maju mendekati Na Hoo, sedang Tiongcioe Kiam kek Ciong Gam tengah menikung, hingga tiga jago itu merupakan segi tiga. Diantara mereka ini, Khoe Beng tak sanggup terlalu lama berdiam diatas sebuah pelatok, ia kalah latihan dengan dua kawannya itu, karena itu, untuk menyerang ke dua kalinya. ia harus siap terlebih dahulu. Begitulah tubuhnya terus berge rakgerak.

Pada waktu itu — sehabis tangan bajunya ditoblosi Boe hong Yan bwee piauw, — Giok Seng sudah lantas siap sedia, terus saja ia kata pada Na Hoo: “Na Jie hiap, bagus piauwmu! Nah, cobailah ini satu lagi!”

Seruan ini disusul dengan gerakan tangan, dengan kutikan jari kepada pesawat dari bungbung jarum, hingga segeralah menerobos keluar lima batang jarum yang biasanya meminta jiwa .…. Hebatnya, jarum2 inipun berbareng melesat kelima jurusan.

Apamau, disaat Ouw Hiocoe lakukan penyerangannya itu, pelatok injakannya telah melesak mendam, dengan sendirinya tubuhnya pun turut turun sedikit, hingga karena demikian, incarannya pun jadi turut berubah, apapula, karena hendak mengimbangi tubuh, lengannya turut bergerak juga. Sebab ini, ia tak dapat menjuju lagi sasarannya seperti apa yang ia inginkan, hingga empat jarum luput. Akan tetapi satu jarum, yang dilepaskan paling belakang, menjurus tepat kepada Khoe Beng. Kim too souw terkejut, karena waktu itu, baharu saja ia menaruh kaki, hingga ia tak dapat ketika untuk mencelat pula, sedang buat berkelit diatas pelatok, itulah tak dapat dilakukan. Ia melainkan bisa kibaskan tangannya, untuk sampok jarum, tapi apa lacur, datangnya jarum mendahului kibasannya itu, tak tempo lagi pundak kirinya kena tertancap, hingga ia segera keluarkan jeritan tertahan, sebab rasa sakit terus langsung menyerang sampai kehulu hatinya. Karena luka ini, asal semangatnya gempur, mesti dia rubuh kecebur kedalam empang.

Na Hoo dan Ciong Gam dapat lihat saudara itu terkena senjata rahasia, mereka kaget sekali. Mereka berdua pun baharu saja luput dari jarum yang liehay, yang membuat mereka gentar dan kagum dengan berbareng. Tentu saja Kim too souw mesti ditolong. Maka tak memperdulikan lagi kalau2 Ouw Giok Seng me nyusuli serangannya pula, ke duanya loncat kearah Khoe Beng. Mereka sampai dengan berbareng; dengan begitu, dengan berbareng juga mereka bisa samber kiri dan kanannya Kim too souw, untuk terus dibawa berlompatan kearah paseban, mereka berhasil mencapai lankan sebelah barat.

Dipihak penyerang, Ouw Giok Seng juga terancam bahaya karena melesaknya pelatok Bwee hoa ciam. Memang pelatok itu tak timbul tinggi, karena melesak mendamnya, kaki kanan dari hiocoe itu, dasar sepatunya, lantas mengenai air. Ia terperanjat. Lekas lekas ia menukar kaki, lalu ia enjot kaki kirinya, hingga dengan begitu tubuhnya bisa melesat akan loncat kepaseban. Beruntung baginya, ketika itu ia pun berada dekat dengan paseban.

Menyusul kembalinya hiocoe dari Kim Tiauw Tong itu, Eng Jiauw Ong bersama Coe In Am coe dan Ban Lioe Tong pun dengan beruntun telah kembali kepaseban, pendeta wanita itu bersama ketua Hoay Yang Pay segera hadapi tuan rumah untuk memberi hormat.

“Hiocoe, terima kasih untuk kebaikanmu,” kata Eng Jiauw Ong. “Boegeemu liehay sekali, aku kagum”.

Ban Lioe Tong sudah lantas menghampirkan Kohe Beng, yang di pepayang Na Hoo dann Ciong Gam, dibawa ketengah paseban sekali. Dengan sebat ia cabut jarum Bwee hoa Toat beng ciam, setelah mana ia keluarkan obatnya, untuk dipakaikan ditempat yang terluka.

Kim too souw sendiri nampak nya sangat jengah, karena ia telah membuat malu kepada Hoay Yang Pay dan See Gak Pay.

“Loo enghiong, jangan buat pikiran,” Ay Kim Kong menghibur. “Jikalau tidak kebetulan kau sedang berlompat, tidak nanti kau kena terserang. Itulah kebetulan saja. Yang aneh adalah tidak semua kita kena terluka...”

Mendadak jago tua ini berhenti mengucapnya sebentar. “Ah...” ia menyambungkan, dengan pelahan sekali. “Ya,

ya, mestinya ada orang bantu kita secara diam2…

Seumurku, baharu kali ini aku terima bantuan orang. Sudahlah, loo enghiong jangan kau berduka. Si orang she Ouw sendiri, sebagai hiocoe, telah tidak dapat mewujudkan cita2nya, diapun turut rubuh...”

Setelah berkata demikian, Ay Kim Kong bertindak keluar paseban.

Justeru itu, Ouw Hiocoe bertindak masuk bersama2 Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe.

“Ouw Hiocoe, terima kasih untuk kebaikan hatimu,” kata Khoe Beng kepada tuan rumah. “Aku tidak punya kepandaian, aku telah perlihatkan kejelekan ku disini. Aku bersyukur, karena kebaikanmu, tidak sampai aku kurbankan tulang2ku yang tua didalam Cap jie Lian hoan ouw ini.”

Dengan air muka jengah, Ouw Giok Seng balas hormatnya tetamu itu.

“Jangan mengucap demikian, loo enghiong,” kata ia. “Justeru akulah yang harus merasa malu karena aku telah pertunjukkan kejelekanku dihadapan enghiong beramai. Malu aku jikalau loo enghiong terus merendahkan diri secara demikian.”

Eng Jiauw Ong lalu menyelak sama tengah.

“Ouw Hiocoe,” berkata ia, “diempang mi kami telah melihat puas, inilah karena kebaikanmu, kami berterima kasih. Sekarang sudah jauh malam, marilah kita kembali!”

“Baiklah,” sahut Ouw Giok Seng, yang tak banyak bicara, kemudian ia suruh orangnya siapkan perahu.

“Kau semua naik lebih dahulu,” Na Hoo titahkan rombongannya yang berada diluar paseban.

Kim too souw tak puas mendengar katanya Ay Kim Kong ini. Mereka kaum Hoay Yang Pay ada paling utamakan adat peradatan, rombongan diluar itu adalah golongan muda, kenapa mereka yang disuruh naik terlebih dahulu? Kalau lain orang yang berbuat demikian, Jie Hiap pasti tak akan mengerti. Tetapi, dasar orang bertabeat koekoay, sekarang orang tua ini sendiri yang berlaku aneh.

Yang lain2 pun heran atas sikapnya Ay Kim Kong.

Na Hoo awasi Khoe Beng, ia goyangkan kepala sebagai tanda supaya jago tua itu jangan omong.

Demikian orang mulai turun keperahu. Ketika Eng Jiauw Ong beramai keluar dari paseban, di bawah payon masih menantikan lima atau enam orang terlebih tua, yalan Boesoe Ke Siauw Coan, Louw Kian Tong dan lain; mereka iri sengaja menantikan ketua mereka.

Enam buah perahu sudah mulai digayu, maka rombongan yang belakangan ini lalu menaiki dua perahu yang terakhir, kedua rombongan terpisah kurang lebih dua tumbak.

Ay Kim Kong Na Hoo bersama ciangboenjin Eng Jiauw Ong, duduk diperahu yang kedelapan, yang digayu paling belakang. Sikapnya Na Hoo beda sekali. Ia perlihatkan wajah riang gembira, ia bicara sambil ber senyum berseri, ia tunjuk sana dan tunjuk sini, untuk puji empang itu. Iapun tak lupa puji Ouw Hiocoe sendiri.

Enam buah perahu didepan sudah lantas mendekati tepian itu waktu mendadakan anak buah dari perahu yang ketiga perdengarkan suara terkejut atau heran, karena perahunya seperti bentur serupa benda, rampai kendaraan itu miring ke kiri.

Penumpang2 perahu itu kebanyakan pada berdiri, karena itu, si jurumudi tak dapat melihat nyata kesebelah depan, ia cuma menyangka orang kebanyakan berdiri disebelah kiri, maka ia kata: “Looesoehoe beramai, harap tidak semuanya berdiri disebelah kiri” kendaraan air ini kecil...”

“Kau gayu saja. jangan kuatir,” kata beberapa penumpang.

Ouw Giok Seng dengar pembicaraan orang diperahu ketiga itu, tapi Ay Kim Kong sedang mengajak ia bicara — bicara banyak — perhatiannya tidak sampai tertarik. Lekas juga semua perahu menempel kepada tepi, semua orang lantas mendarat.

Jalan didepan, Ouw Giok Seng pimpin semua tetamu keluar dari taman bunga, tetapi ia tidak mengajak kembali ke Kim Tiauw Tong, hanya ia ambil sebuah pintu kecil hingga mereka sampai disebuah pekarangan dimana ada satu bangunan terbagi tiga, yang di Utara ada tiga buah kamarnya, yang di Timur dan Barat masing2 terdiri dari tiga buah juga. Semua kamar ada bersih dan tenteram, segala perabotan nya terawat baik.

Tuan rumah persilahkan semua tetamunya beristirahat didalam tiga tempat itu. Tetapi lebih dahulu dari itu, ia sudah undang Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe meniliki semua ruangan dengan sembilan kamarnya.

“Besok pagi pasti aku nanti undang coe wie menemui Pang coe,” kata Ouw Hiocoe paling akhir, setelah ia minta perkenan untuk undurkan diri.

Seundurnya tuan rumah itu. Ban Lioe Tong pecah rombongannya untuk mereka ambil kamar masing2. Ia pesan akan semua waspada, tak perduli Ouw Giok Seng bersikap manis. Ia hunjuk walaupun masih ada dua jam tempo untuk terang tanah, tempo itu toh ada cukup lama untuk dilewatkannya.

Semua orang perhatikan pesan itu, sesudah mana Lioe Tong masuk kekamarnya dimana Eng Jiauw Ong segera papaki ia.

“Apa mereka telah berada di tempatnya masing2, soetee

?” soeheng ini tanya.

“Ya,” Lioe Tong manggut. “Tempat ini disediakan untuk kita lengkap segalanya”. Memang juga kecuali kamar dengan perabotan lengkap, di situ pun ada disediakan empat pelayan untuk melayani para tamu.

Ketika empat pelayan itu bawakan teh, Ay Kim Kong kata pada mereka: “Kami hendak beristirahat, kau besok pagi saja datang lagi untuk layani kami.”

Empat pelayan itu menurut, mereka undurkan diri. “ Setelah itu, Lioe Tong segema periksa lagi lukanya Khoe

Beng untuk tukar dengan obat baru.

“Lihat, soeheng, keanehan dalam kalangan kang ouw,” kata Lioe Tong kemudian. “Jarum rahasia ini, yang sebenarnya disebut Bwee hoa Touw koet ciam, ada warisan satu2nya dari imam dari Hian Touw Koan. Turut apa yang aku tahu, jarum ini sudah lenyap dari kalangan kang ouw, pun tidak pernah diwariskan kepada murid bukannya imam, akan tetapi disini ada Ouw Giok Seng yang mempunyainya. dan pandai mcuggunainya juga. Tidakkah ini luar biasa?”

“Itu benar sukar dimengerti,” kata Eng Jiauw Ong.

“Aku lihat,” berkata Kim too souw, “selama kita kembali dari empang, begitupun mengenai kegagalannya Ouw Giok Seng, rupanya Na Jie Hiap ada lakukan sesuatu?”

Ditanya begitu, Na Hoo bersenyum,

“Kau terlalu bercuriga, Khoe Loo enghiong,” menyahut ia. “Tidak pernah aku pisahkan diri dari rombongan, aku “bukannya dewa, aku tidak punya juga ilmu memecah diri, apa yang aku bisa lakukan? Yang benar adalah di dalam gelap ada orang yang menggerecok dan mengenai itu loo enghiong agaknya tak memperhatikannya,” Setelah berkata begitu, Ay Kim Kong menoleh kejendela dan menggape terhadap Kang Kiat, yang sedang duduk didepan jendela itu.

“Boca, jangan kau terus berpura2 pilon saja!” kata ia. “Apakah kau tak mau angini pakaian mandimu?”

Siauw Liong Ong tertawa, dari kolong meja teh ia keluarkan segumpal pakaian, terus ia bawa itu kepintu untuk dibeber, digantung di gelang gelangan pintu.

“Mari.” Khoe Beng memanggil seraya menggape.

Kang Kiat menghampirkan, akan berdiri didepan tetua ini.

“Ouw Hiocoe yang menjagoi didalam Hong Bwee Pang malam ini telah rubuh ditanganmu.” kata jago tua itu. “Dari kapan kau turun keair? Kenapa tidak ada orang yang lihat perbuatanmu? Lagipun kenapa kau ketahui bakal diadakan pertandingan di empang hingga kau bisa sembunyi didalam air, hingga dengan secara diam kau bisa bantu ketuamu? Coba kau jelaskan!”

Kang Kiat berikan jawaban nya, keterangannya itu membuat semua orang heran dan kagum, semua merasa berbahagia yang Hoay Yang Pay punyakan murid berupa dirinya boca luar biasa ini.

CXI

“Sebenarnya hal ada kebetulan saja,” demikian Kang Kiat sambil tertawa. “Diluar dugaanku, aku dapat lihat pelatok Bwee hoa ciam itu, dengan lantas aku merasa curiga, aku sangka pada itu mesti ada terdapat persiapan apa2. Kebetulan Ouw Giok Seng timbulkan soal adu kepandaian diatas pelatok itu, aku lantas ambil putusan. Sengaja aku tidak omong suatu apa, karena aku kuatir nanti ada yang tegur padaku. Demikianlah sedangnya orang semua pasang omong, selagi anak2 buah perahu pun tak melihatnya,aku merosotkan diri turun kedalam empang. Nyata jitu dugaanku, Ouw Hiocoe hendak gunai pelatok itu untuk rubuhkan pihak kita. Didalam air, aku pasang mata dan menunggu ketika. Tetapi aku tidak mau bertindak keterlaluan, dari itu aku melainkan beleseki pelatok hingga imbangan tubuh dari Ouw Hiocoe mcnjadi terganggu. Aku merasa girang yang perbuatanku ini tak dapat diketahui oleh Ouw Hiocoe. Semua orang tak ketahui perbuatanku itu kecuali Na Soe couw. Karena aku bertindak diluar tahunya Ong Soe couw, apabila aku tidak ditanya, sudah tentu aku tidak berani berikan keteranganku ini.”

Khoe Beng bersenyum. “Kau benar cerdik, anak.” kata ia, “Kau baharu memasuki dunia kang ouw, pikiranmu telah setajam ini, itulah bagus. Tetapi, walaupun semua orang bersyukur kepadamu, aku sendiri tidak. Bukankah jarum yang mengenai tubuhku ini karena perhatianmu itu?”

Siauw Liong Ong pun bersenyum, tetapi lekas2 ia kata: “Aku menyesal, soecouw. Keadaan ada demikian mendesak, tak dapat aku berpikir lagi. Akan tetapi, apabila soecouw berada dalam bahaya besar, tidak nanti aku kasi ampun pada Ouw Giok Seng, tentu aku akan bikin dia masuk kedalam air! Harap soecouw maafkan padaku.”

Khoe Beng tertawa.

“Aku main2 saja, mustahil aku persalahkan kau!” ia tambahkan. Lalu ia berpaling pada Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe: “Hari kemudian dari boca ini tak berbatas, maka haruslah dia dididik baik2, supaya tidaklah disia2kan akan bakat nya yang sempurna itu!”

Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe angguk2kan kepala. “Mari.” Ong Too Liong panggil boca itu.

Dengan cara hormat, Kang Kiat menghamparkan. “Ada titah apa, soecouw?” tanya ia.

“Kejadian malam ini adalah jasa besarmu,” berkata ketua itu, dengan sungguh. “Adalah biasa, bagi kita, siapa berjasa dia dikasi hadiah, siapa bersalah dia dihukum. Mengenai kau, untuk selanjutnya aku larang kau berbuat pula seperti macam ini. Umpama aku tampak ancaman bahaya, aku melainkan ijinkan kau mengisikinya, aku larang kau ambil putusan dan bertindak sendiri. Kau ketahui sendiri, sekarang kita tengah berada digedung naga dan guna harimau, setindak demi setindak kita mesti ber hati2, apabila kita lalai dan alpa, bencana hebat akan mengancam kita. Maka kau ingatlah!”

“Baiklah, soecouw,” sahut Kang Kiat dengan pelahan seraya ia terus undurkan diri.

Eng Jiauw Ong lantas titahkan In Hong untuk pesan semua orang berlaku waspada.

Demikianlah semua orang beristirahat.

Eng Jiauw Ong, didalam kamarnya, ada bersama Coe In Am coe, Na Hoo, Ban Lioe Tong, Ciong Gam, Khoe Beng, dan Teng Kiam, berikut In Hong, Soe touw Kiam dan Kang Kiat.

Karena tibanya sang fajar tinggal kira2 dua jam lagi, Eng Jiauw Ong, Coe In Am coe dan sedereknya cukup dengan bersamedhi saja, mereka tidak membutuhkan pembaringan pula. Selaku ketua, Eng Jiauw Ong tidak lantas duduk diam, ia pergi keluar akan tengok semua rombongannya, ketika ia kembali, ia dapatkan ketua See Gak Pay sedang bersamedhi di sisi meja kecil dibawah jendela dan Ay Kim Kong sedang duduk menghadapi meja, tangannya memegang pit, entah apa yang ditulisnya.

Tepat dengan datangnya sang ciangboenjin, Na Hoo lipat kertasnya dan dimasukkan kedalam sakunya, ia letaki pitnya, lalu ia berbangkit akan jalan mundar mandir seperti juga ia tak berbuat suatu apa. Ia bikin rupa seperti juga ia tak lihat balik nya sang ketua.

Eng Jiauw Ong dapat maklumi adat koekoay dari Na Hoo itu, ia diam saja.

Ay Kim Kong masih saja mundar mandir, ketika dengan sekonyong2 ia dekati Eng Jiauw Ong dan berkata dengan pelahan sekali: “Ouw Giok Seng ada cerdik dan licin, kita mesti waspada, akupun telah kumat penyakitku suka bergerak tak suka berdiam, maka itu, aku hendak pergi keluar untuk jalan2 sebentar. Biarlah, untuk dua jam lamanya aku menjadi tukang ronda darurat!”

Eng Jiauw Ong manggut walaupun ia tahu orang tak omong dengan sebenarnya.

“Baiklah,” ia jawab saudara seperguruan itu. Na Hoo segera bertindak keluar.

Ong Too Liong tidak kuatirkan saudara ini, maka ia terus naik keatas pembaringan, untuk duduk diam sambil memejamkan mata. Tempatnya bersamedhi itu berhadapan dengan tempatnya Coe In Am coe, jaraknya kira empat tumbak. Kamar mereka memang ada luas sekali. 

Rasanya belum lama Eng Jiauw Ong pejamkan mata atau segera kupingnya dengar suara berkelisik pelahan sekali, sebagai gerakannya pakaian. Segera ia buka sedikit kedua mata nya akan memandang kearah pintu. Ia tidak lihat suatu apa, ia melirik kearah Coe In Am coe, ternyata ketua See Gak Pay sudah tidak ada ditempatnya. Diam2 ia terkejut, lantas ia berbangkit akan pergi keluar juga.

Pekarangan luar ada sunyi, Coe In Am coe tak tertampak disitu. Juga Ay Kim Kong tak kelihatan sekalipun bayangannya.

Too Liong terkejut dan heran juga, sebab ia tahu, bukan biasa nya Coe In Am coe bertindak secara sembrono. Kenapa pendeta itu keluar secara diam2? Maka ia jadi ingin mengetahui nya. Tidak ayal lagi ia pergi ke ruangan Timur barat, di Selatan situ ada sebuah kamar yang dipakai sendiri oleh lima muridnya ketua See Gak Pay itu. Kamar ini ada gelap dan sunyi. Dengan pelahan ia panggil Sioe Seng, akan tanya apa pedang gurunya masih ada.

“Baharu saja soehoe ambit dan bawa pergi,” Sioe Seng kasi keterangan.

Ketua Hoay Yang Pay jadi semakin heran.

“Kau beristirahatlah, jangan bikin banyak berisik,” ia pesan Sioe Seng. Lalu ia bertindak ke pekarangan dari mana terus ia lompat naik keatas genteng. Ia berdiri diam diatas wuwungan akan melihat kesekitarnya. Ia dapatkan, diempat penjuru semua ada sunyi senyap. Karena ini, ia menuju kearah Kim Tiauw Tong, Gedung Garuda Emas.

Seluruh gedung ada gelap petang dan sunyi. Akan tetapi diluar pintu model bulan, ada dua orang yang menjaga sambil jalan mundar mandir. Cuma dari dalam pintu ini ada molos keluar sinar api yang suram.

Eng Jiauw Ong sembunyikan diri jauhnya empat lima tumbak dari pintu model bulan itu, ia jemput sepotong batu kecil, ia menimpuk kepintu itu. Timpukan itu menerbitkan suara pe lahan akan tetapi sudah cukup untuk menyebabkan kedua pengawal menoleh dengan segera. Menggunai ketika baik itu, Too Liong mencelat keatas tembok tanpa dapat terlihat oleh kedua orang itu, dari atas tembok ia lompat turun kesebelah dalam di mana ia hampirkan sebuah ruangan Timur.

Diruang ini, kamar Selatan ada kamar utama, yang di Timur adalah kamar samping.

Eng Jiauw Ong hampirkan kamar Selatan itu. Ia lihat dua pengawal dibawah payon, mereka ini bersenjatakan golok kwie tauw too. Ia pergi lebih jauh kekamar Timur, disudut mana ia lompat turun, tetapi ayusteru uu Katu bayangan berkelebat ditem pat jauhnya setumbak lebih, demikian cepat sehingga ia tak dapat memperbedakan potongan orang. Karena ini, ia berlompat untuk menguntit.

Bayangan itu menuju ke Barat, sekejab kemudian dia sudah terpisah sepuluh tumbak lebih dan Ong Too Liong. Eng Jiauw Ong hanya menduga kepada Na Hoo atau Coe In Am coe. Karena ini, ia lantas lompat turun kebawah.

Kembali kekamar Barat, Eng Jiauw Ong menuju kebelakang. Disini ada dua buah jendela, di Timur dan Barat, dari keduanya ada molos sinar terang. Ia segera hampirkan jendela yang satunya, ia enjot tubuhnya untuk bisa berpegangan, kepada kayu jendela, untuk melihat kedalam. Diantara kain jendela ia tampak sebuah meja tulis dengan tiga batang lilin, yang menyala tinggal separuh. Perabot kamar itu lengkap dan terawat baik. Disudut Barat ada sebuah pembaringan kayu diatas mana ada rebah satu tubuh, dilihat dari dandanannya, mesti dia ada Ouw Giok Seng. Dia rebah menghadap kedalam. Tetapi waktu itu hiocoe itu justeru berbalik, tangannya digeser, tangan kirinya segera bentur suatu benda hingga ia terkejut sampai keluarkan seruan tertahan. Ia telah pegang sebuah piauw yang gagangnya tertancap sepotong kertas, maka itu, ia lantas beber kertas itu untuk diperiksa. Begitu ia sudah membaca, ia jadi gusar, ia lempar kertas itu kepinggir pembaringannya, ia ngoce seorang diri: “Jangan kau banyak tingkah! Ber ulang2 aku terhina, aku tak puas! Besok   dalam pertemuan di Thian Hong Tong, kita nanti lihat, sang manjangan binasa ditangan siapa?

Eng Jiauw Ong tahu pasti, hiocoe ini telah dipermainkan orang, dan si orang jail itu tentunya adalah bayangan tadi. Karena ini, ia tidak memikir untuk ganggu hiocoe itu. Malah segera ia undurkan diri. Sebab bayangan tadi menuju ke Barat, iapun ambil jurusan itu. Ia telah lewati dua tempat yang mirip tangsi, dikiri dan kanan terdapat lanyak kamar. Ia berada ditempat semacam gang yang panjang yang gelap seluruhnya. Kapan ia maju lebih jauh, ia tercegat sebuah tembok panjang, ditengah mana ada satu pintu besar. Semua tembok terbuat dari batu hijau.

Dikiri kanan pintu itu, yang tinggi dan besar, ada digantungkan lentera angin. Kedua pintu terpentang lebar, tidak ada yang jaga.

Tentu saja Eng Jiauw Ong curiga, sebab luar biasa, disarang Hong Bwee Pang bisa ada tempat tanpa penjagaan. Ia tidak berani masukdari pintu itu, ia hanya periksa kiri dan kanan nya, hingga ia lihat tembokan tinggi empat atau lima tumbak. Disitu ia lompat naik keatas tembok, akan awasi bagian dalamnya.

Bagian dalam itu, yang sunyi, ada lebar sekail. Disebelah kanan ada sebuah rumah dengan serambi depan yang besar. Didalam pekarangan ada banyak pohon besar dan tinggi. Jalanan keserambi ada terpasangkan batu, yang bergambarkan rupa2 bunga. Mengawasi jalanan semacam itu, Eng Jiauw Ong merasa aneh. Tetapi ia berada ditempat yang gampang terlihat orang, dari itu, ia bertindak kesudut Timur utara dimana, di Selatan dan Utara nya, ada banyak pepohonan. Ia Ingin dapat kepastian, ia keluarkan dua potong duit chee tong chie, dengan itu ia timpuk sepotong batu yang menonjol. Untuk keheranannya, duit itu melesak masuk.

“Jalanan itu tak dapat di injak,” Too Liong berpikir. Ia tidak mengerti apa perlunya rumah itu, apabila kesitu orang tak dapat bertindak masuk. Ada sulit akan memasuki serambi dengan satu lompatan jauh, untuk itu orang mesti liehay ilmu mengentengkan tubuhnya. Orang yang pandai ilmu seperti “Coh siang hoei” dan “Teng peng touw soei” tidak ada seberapa, tentu nya tidak semua orang Hong Bwee Pang bisa mundar mandir disini.

Setelah mengawasi lagi sekiar lama, Too Liong menduga pasti, bahwa jalanan masuk adalah disamping, kira lima tumbak disepanjang pepohonan dimana. dari Timur ke Barat, ada tihang lentera setiap lima tumbak, ting ginya tihangpun lima tumbak juga. Pun ada sulit untuk orang berlompatan diantara tihang2 lentera itu, karena jaraknya yang cukup jauh.

Selagi ketua Hoay Yang Pay pikir untuk gunai kepandaiannya enteng tubuh, akan berlompatan masuk kegedung itu, tiba2 ada dua bayangan berkelebat ditembok Utara, berdiri diatasnya, agaknya mereka memeriksa ke dalam, sesudah mana, keduanya berpencar, satu ke Selatan, satu nya pula ke Utara tembok itu.

Sambil mengumpatkan diri, Eng Jiauw Ong dapat kenali dua bayangan itu, yalah Na Hoo dan Coe In Am coe. Segera juga ia lihat mereka telah berlompatan ukan menggunai tihang2 lentera untuk menghampirkan gedung, gerakan mereka itu pesat bagaikan burung2 terbang, hingga di lain saat keduanya sudah sampai diserambi besar itu dimana mereka menghilang disamping serambi yang gelap.

Diam2 Eng Jiauw Ong berpikir: “Ketika Boe Wie Yang bangunkan gedung ini dengan jalanan batunya yang berahasia itu, tentunya ia hendak cegah sembarang orang memasuki Cap jie Lian lioan ouw, pasti dia hendak menguji kepandaiannya orang2 Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, sekarang Coe In Tay oe dan Jie Hiap sudah memasukinya, maka aku sebagal ketua tak boleh diam saja. Tetapi aku tidak hendak gunakan tihang? itu, aku harus malu pada diri sendiri. Disini tidak ada penjaga tentu Boe Wie Yang sangat andalkan jalanan batu ini, maka baiklah aku ambil jalan dari batu ini!”

Ong Too Liong tidak hendak bikin dirinya kecewa menjadi ketua Hoay Yang Pay, dari itu ia hendak gunakan jalan yang lain daripada yg. lain. Lalu ia patahkan dua cabang pohon yg. agak kasar, kemudian ia patah2kan itu terlebih jauh menjadi delapan potong, setiap potongnya panjang lima dim. Setelah mana, ia lalu balik keatas tembok, dari sini ia telitii tihang lentera sebelah utara, yang jauhnya kira2 lima tumbak. Segera setelah itu, ia menyambit dengan sebatang kayunya itu, kepada batu2 putih, yang sebenarnya adalah pasir putih. Ia menyambit diantara jangka lima tumbak. Hebatnya adalah ia bikin batang pohon itu nancap berdiri, dalamnya kira empat dim, hingga yang menonjol diluar hanya tinggal satu dim, Menyusul timpukan potongan kayu yang liehay itu, Eng Jiauw Ong pun melesat loncat kepelatok bikinannya itu, yang ia injak, kemudian ia menimpuk pula dengan sebatang lain kesebelan depan, ia bikin kayu itu berdiri seperti yang pertama, terus ia loncat kepelatok itu sebagai injakan kakinya, demikian seterusnya. Nyatalah ketua Hoay Yang Pay sedang gunai kepandaiannya enteng tubuh “Teng peng touw soei,” yalah “Seberangi sungai dengan injak kapu2.” Begitulah, dengan habisnya delapan potong kayu itu, iapun sudah sampai diserambi, di bagian luarnya. Begitu lekas ia longok bagian dalam dari serambi, lekas2 ia mengumpatkan diri. Pantas tadi Na Hoo dan Coe In Am coe segera menyingkir ke tempat gelap, kiranya didalam serambi itu ada penghuninya.

Serambi yang lebar itu, dibagian depannya ditutup dengan sero bambu yang rapat. Didalam serambi, ada orang bergerak2 diantara cahaya api, dari luar melainkan kelihatan bayangnnya.

Setelah memasang mata, Eng Jiauw Ong anggap ia bisa umpatkan diri diatas sero dibawah payon itu, maka dengan hati2 tetapi sebat ia meloncat kepayon, untuk menyamber palangan payon, untuk menggelendotkan diri. Secara begini, benar ia bisa sembunyi. Ia terus membuat satu lobang kecil untuk mengintai kedalam.

Serambi benar ada lebar, sebuah lampu lioe iie teng yang digantung, apinya menerangi seluruh ruangan. Ditengah ruangan ada satu meja sembah yang di atas mana, dibagian depan, ada lima buah perapian. Entah patung apa yang dipuja disitu, Eng Jiauw Ong tidak dapat melihat nyata, karena selembar ban tiang yang tertutup, ada mengalingi padanya. Dikedua samping ada masing2 sebatang ciaktay, tancapan lilin, yang lilinnya menyala. Kedua batang lilin ada sebesar lengan tangan.

Dikedua samping serambi masing masing ada satu stel kursi meja, taplaknya berwarna kuning, Dibagian selatan dan utara, perlengkapan mirip dengan perlengkapan di Kim Tiauw Tong, lengkap bendera leng kie dan tek pay. Dikirinya meja sebelah utara ada berduduk seorang umur kurang lebih enam puluh tahun, dikanannya berduduk orang usia kira empat puluh. Kedua mereka sedang bicara.

Orang yang tuaan, yang angkat sejilid buku, tanya: “Apa semua sudah teratur rapi? Lootauwcoe wajibkan kita agar pada jam lima, semua sudah sempurna.”

“Semua sudah diatur, kecuali digudang garam, perahu yang di perintah balik melaporkan diam tiga, sampai sekarang masih belum kembali? Mestinya tidak akan terjadi suatu apa, akan tetapi tanpa laporan, bagaimana kita bisa melaporkan terlebih jauh kepada ketua kita?” jawab orang yang mudaan. “Juga kedua tocoe dari gudang garam sudah bertindak lancang, mereka sudah langgar aturan kita. Kwie lian coe Lie Hian Tong dapat pesan dan tugas penting dari Pang coe, dengan berani dia cegat dan rintangi orang2 Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, yang datang memenuhi undangan, dia gagal, dia mendapat malu, tetapi dengan begitu iapun merusak nama baik kita. Sekarang, dengan titahnya Lwee Sam Tong, dia sudah ditarik ke Cong to, Pusat Umum, tetapi toh dia belum dihukum. Mengenai ini, lootauwcoe akan periksa sendiri atau itu ada haknya hiocoe?”

Ditanya begitu, orang tua itu berpikir..

“Tidak leluasa untuk aku cam pur urusan itu,” jawab ia kemudian. “Baiklah itu diserahkan kepada lootauwcoe untuk dia yang putuskan sendiri!”

Ketika itu muncul satu orang yang membawa tengloleng (tang lung), didepan meja ia memberi hormat kepada dua orang itu seraya berkata: “Pang coe undang Auwyang Hiocoe dan Bin Hiocoe untuk membicarakan sesuatu.”

Dua orang itu manggut, terus mereka berbangkit akan ikuti orang ini, mereka lenyap dipintu angin. Eng Jiauw Ong duga dua orang itu adalah hiocoe dari masing masing Thian Hong Tong dan Ceng Loan Tong.” Karena orang sudah pergi, iapun hendak turun dari tempat sembunyinya, belum ia lompat turun, atau mendadak dari atas pintu angin ada melesat turun satu bayangan hitam, gerakannya pesat bagaikan seekor kucing atau kera, kakinya menginjak lantai tanpa menerbitkan suara, ketika dia sampai dimeja, dia angkat kepalanya.

Melihat orang itu, didalam hatinya Eng Jiauw Ong kata: “Sungguh bernyali besar!”

CXII

Bayangan itu bukan lain daripada Ay Kim Kong Na Hoo. Dia lantas tarik selembar kertas dan jemput pit, setelah mempoles pit itu kedalam bak hie, ia segera menulis diatas kertas itu. Ia menulis dengan cepat sekali, setelah letaki pitnya, iapun menghilang dibelakang pintu angin. Terang ia hendak susul kedua hiocoe tadi.

Baharu saja Na Hoo pergi, atau dari belakang ban tiang muncul satu bayangan lain, gerakannya pun pesat dan enteng bagaikan angin, dia turun di dekat meja.

Mengenai orang itu, didalam hatinya, Too Liong kata: “Aku menyerah kalah ”

Orang yang ke dua ini adalah Coe In Am coe. Dia baca tulisannya Na Hoo, dia manggut2. Diapun segera menulis dengan cepat. Kemudian dia rogo saku nya. akan keluarkan serupa barang, yang Eng Jiauw Ong kenalkan adalah sebatang anak panah Coa tauw Boe ie cian. Suratnya itu ditusuk dengan panah itu, setelah mana, dia berlalu juga kebelakang pintu angin. Too Liong kagumi dua kawan yang nyalinya besar itu. Menampak perbuatan kedua kawan itu, ia anggap iapun tidak harus datang dengan begitu saja, maka ia terus loncat turun, ia singkap sero untuk masuk kedalam. Ia hampirkan meja, akan baca kedua potong surat.

Ay Kim Kong menulis dengan, ringkas: “Terimalah hormatnya Na Hoo, murid dari Hoay Yang Pay.”

Coe In Am coe menulis: “Hormat dari Coe In, murid See Gak Pay.” Hanya surat ini ditusuk dengan anak panah istimewa dari pendeta wanita itu, sebab itu adalah panah yang asalnya didapat dari orang Hong Bwee Pang di Lok hoen tee, yang Coe In simpan saja, baharu sekarang dikeluarkan, dipulangkan….

Diam2 Eng Jiauw Ong merasa puas. Iapun masih simpan panah semacam itu. Maka ia pikir, kenapa ia juga tak hendak meninggalkannya. Karena mana, ia jemput pit, ia lantas menulis: “Hormat dari Ong Too Liong, angkatan muda dari Rimba Persilatan.” Ia tinggalkan surat ini bersama dua surat kawannya. Kemudian iapun pergi kebelakang pintu angin, akan dapati sebuah pintu disitu. Ia tidak berani berlaku sembrono, dengan hati2 la dekati pintu yang ia tolak dengan pelahan, akan melongok kedalamnya.

Disitu tidak ada orang, keadaanpun sunyi sekali. Maka dengan pelahan ia bertindak memasuki pintu itu, hingga ia jadi berada disuatu tempat lain.

Kira2 lima enam tumbak jauhnya dari pintu ada sebuah gunungan, yang menghalang jalanan, tetapi, dikaki gunung palsu itu ada sebuah jalan lain, yang tikung menikung dan gelap, umpama ada penjahat sembunyi di situ, sukar untuk mengetahui nya. Karena Na Hoo dan Coe In Amcoe sudah masuk, ketua Hoay Yang Pay inipun tak mau mundur. Sambil memasang mata ia bertindak masuk dijalan gunung palsu itu. Ketika ia muncul dilain sebelah, ia dapati satu tempat terbuka, yang jalanannya lebar dan ada pepohonan dikedua sisinya. Akan tetapi diwaktu malam seperti itu, tak bisa orang melihat jauh kedepan, tak dapat diketahui berapa panjangnya jalan itu.

Eng Jiauw Ong maju terus. Dari kedua sisi jalan itu, antara pepohonan, kadang2 terlihat cahaya api tetapi tidak ada orang sama sekali. Adalah setelah jauhnya beberapa panahan, baharu kelihatan sebuah san chung atau kampung, yang terkurung oleh pohon coel, pek dan siong. Jalanan terbuat dari batu putih, diapit dengan pohon bambu halus dan bunga2.

Eng Jiauw Ong merasakan suasana tak menyenangkan, karena itu, ia tidak mau berlaku sembrono. Sekarang terlihat sisa bulan sisir dan bintang pagi yang jarang. Dengan jalan disitu, gampang ia dapat dipergoki umpama disitu ada orang jahat. Maka terpaksa ia ambil jalan antara pepohonan.

Satu kali, selagi ia taruh kakinya dengan pelahan2, Eng Jiauw Ong rasakan kena injak suatu barang lembek, lalu injakannya itu disusul oleh suara melesatnya suatu benda. Ia terperanjat. Segera ia loncat mundur dengan gerakan “Kim lie too coan po” atau “Tambra emas lompat berbalik.”

Benar disaat ia berlompat, ada anak panah yang menyamber dari samping, dari bawah keatas, apabila ketua Hoay Yang Pay ini tidak berlaku gesit, pasti ia jadi korbarnnya panah rahasia itu.

Tepat dugaannya Too Liong bahwa, disitu mesti ada pesawat rahasia. Namun tidak menjadikan ia jeri, ia maju terus. Bukankah Na Hoo dan Coe In sudah maju mendahului ia? Sekarang ia ambil jalanan batu putih itu, ia berlari dengan pesat Sekira sepanahan jauhnya. kembali Eng Jiauw Ong lihat sebuah rumah besar, yang potongannya beda daripada rumah yang kebanyakan, payonnya lebar, pintunya tiga, masing2 jendelanya pun berlainan rupanya. Dari dalam jendela terliliat cahaya terang. Pun disini tidak ada penjaganya.

Dengan hati2 Eng Jiauw Ong hampirkan rumah itu. Ia tidak dengar suara apa juga. Setelah melihat kesekitarnya, ia mendekati sebuah jendela model daun pisang. Ia pecahkan kertas jendela untuk mengintai kedalam. Ia tampak sebuah ruangan lebar. Belasan tumbak dari jendela, ada satu tempat pemujaan atau sembahyang, yang dikitari loneng dua kaki. Entah patung apa yang dipuja disitu tak dapat dilihat nya, karena tertutupkan kain kuning seanteronya. Diluar loneng ada tiga buah meja beserta taplaknya warna kuning juga. Diatas penglari ada digantungkan belasan pelita lioe lie teng. Didepan setiap meja ada sebuah kursi. Diempat penjuru ruangan pun ada meja2 serta kursi dengan taplak meja dan tutup kursi berwarna merah. Di kedua samping ketiga meja didepan tankan ada ditaruhkan satu Bok tay, atau pay kayu, besarnya lima kaki, tingginya tiga kaki, diletaki atas kaki kayu juga. Bokpay itu ada dituliskan huruf merah tetapi Eng Jiauw Ong tak dapat baca, karena terpisahnya cukup jauh,

Disetiap kursi dari ketiga meja itu ada duduk masing2 satu orang. Didepan mereka, berduduk dikiri kanan adalah kedua hiocoe tadi, ialah Auwyang Siang Gee dan Thian kong chioe Bin Tie si Tangan Malaikat.

Yang duduk ditengah ada seorang dengan umur kurang lebih enam puluh tahun, mukanya perok, kumis jenggotnya pecah tiga tetapi romannya keren. Dia mengenakan thungsha biru, tetapi tidak memakai kopiah. Rupanya dia adalah Thian lam It Souw Boe Wie Yang, Liong Tauw Pang coe atau ketua dari Hong Bwee Pang;

Melihat ruangan itu, Eng Jiauw Ong kagumi Boe Wie Yang sebagal orang kang ouw luar biasa, kepala dari serombongan kaum Sungai Telaga.

Rupanya mereka itu sedang berdamai, hanya entah urusan apa yang dibicarakan. karena suara mereka tidak terdengar nyata, apa yang dapat dilihat adalah gerak gerik mereka.

Didalam ruangan itu bukat berada cuma mereka berlima, tiga empat tumbak jauhnya dari tempat pemujaan, ada dua anak muda yang berdiri diam dengan kedua tangan diturunkan.

Kemudian, selang sedikit lama, Boe Wie Yang berbangkit akan menoleh kepada kedua anak muda itu, ia geraki tangannya, atas mana dua orang itu memberi hormat sambil menjura, lalu mereka undurkan diri kebelakang, keluar dari masing2 dua pintu kecil.

Eng Jiauw Ong lihat, sama sekali ada sembilan pintu kecil semacam itu, atau barangkali dua belas. Tidak semua pintu kelihatan tegas oleh ketua Hoay Yang Pay, karena itu teraling mejanya ketiga pemimpin itu.

Karena percaya, apabila ia berada disebelah belakang, la akan bisa dengar pembicaraan — mungkin yang mengenai pihaknya sendiri — Eng Jiauw Ong lalu pergi kesebelan belakang itu. Ia berlaku sebat tetapi waspada. Ia hanya pikirkan: ketika itu, untuk sampai pada saat terang tanah, sudah tidak banyak tempo lagi. Dengan berani ia hampirkan pintu belakang, pintu angin, setelah perhatikan sekitarnya, ia tolak sedikit daun pintu, untuk mengintai kedalam. Disini tidak ada yang jaga, diam2 ia menyeplos masuk. Lekas2 ia pergi kebelakang tempat perjamuan, sin tan. Segera ia cari tempat untuk umpatkan diri, ialah diatas penglari. Ia merasa heran mendapati penglari itu tidak ada debunya, ia curiga.

Sementara itu terlihat, sin tan, yang ditutup cita kuning, berada ditempat luasnya tujuh delapan tumbak. Api penerangannya cuma sebuah pelita Ban lian teng, yang apinya kecil dan suram. Sukar akan lihat nyata sin tan itu kecuali orang turun dan mendekati. Pun ada berbahaya untuk periksa sin tan, karena untuk kaum kang ouw, itu ada satu pantangan besar. Sebagai orang Hoay Yang Pay, Eng Jiauw Ong tidak berani berbuat demikian. Diatas meja kedapatan hio dan bunga, juga leng kie dan leng pay. Dikiri kanan sin tan itu juga ada beberapa macam perkakas hukuman.

Dari tempat sembunyinya ini, Eng Jiauw Ong bisa melihat dan juga mendengar suara orang. Mulanya ia dengar hal2 yang tidak ada hubungannya dengan ia, sampai terdengar Bin Tie bilang: “Kejadian kali ini ada diluar dugaan. Cap jie Lian hoan ouw kita pun tak pernah ada orang luar yang mendatangi! Maka nanti, apabila urusan sudah selesai perlu kita mengadakan perbaikan dan perubahan, untuk mencegah bencana dikemudian hari. Bagaimana pikiran Pangcoe?”

“Bin Hiantee benar,” Boe Wie Yang manggut. “Tetapi aku telah bersiap siang2. Aku undang hiantee berduapun untuk membicarakan hal ini. Aku tahu, persiapan kita didepan hanya bisa dipakai untuk menghalangi orang kang ouw biasa, tidak orang yang sekarang mengunjungi kita. Diantara mereka ini, ada yang liehay. Barisan Houw see tin kita, yang seperti permainan anak2, tidak bisa dipakai merintangi mereka itu. Sampai sekarang belum ada orang yang masuk kemari, mungkin dugaanku meleset.”

Tiba2 ketua ini berbangkit. “Ada serupa barang yang aku hendak perlihatkan kepadamu, jiewie hiantee,” ia menambahkan, lalu dengan sekonyong2 tubuhnya melesat kearah penglari.

Eng Jiauw Ong kaget, ia sangka orang telah ketahui ia bersembunyi disitu. Ia lantas bersiap untuk menghadapinya. Tetapi segera hatinya lega. Pang coe itu hanya capaikan penglari diatasan kepalanya, dari situ dia ambil satu bungbung bambu warna merah, lantas dia turun pula.

Diam2 Eng Jiauw Ong tertawai dirinya sendiri. Ia mirip dengan si penjahat yang hatinya kecil. Apabila ia lantas menyingkir, atau menghadapi ketua Hong Bwee Pang itu, tidakkah rahasianya ketahuan? Dengan tenang ia terus mengawasi pula.

Boe Wie Yang duduk pula di kursinya, kedua hiocoe yang di ajak bicara itu berbangkit akan dekati ia dimejanya. Ia lantas buka tutup bungbung, dari dalamnya ia keluarkan sebungkus sutera kuning, yang terus ia buka. Isinya bungkusan itu ada dua lembar kertas, ia lantas beber satu diantaranya.

“Lihat, hiantee,” ia kata “Ini yang ditandai merah ada tempat2 yang dilalui kedua rombongan Hoay Yang Pay dan See Gak Pay selama perjalanan mereka kemari. Pikirku, sehabis ini aku hendak tutup semua tempat itu buat diganti dengan yang nanti kita buka baru. Pada hari belakangan ini, akupun telah dapat tiga jalanan yang baru, buatan alam. Tadinya pernah aku memeriksa tiga tempat itu, tetapi aku tidak memperhatikannya. Setelah tenangkan diri beberapa hari, aku teringat kepada keterangannya seorang berilmu, yang baru ini aku ketemukan. Dia jugalah yang hunyukkan aku Cap jie Lian hoan ouw ini, yang mirip dengan Taman Bunga Toh. Katanya, asalnya Cap jie Lian hoan ouw adalah tempat pertapaannya seorang berilmu, setelah meninggalkan tempat ini, orang berilmu itu tutup perbagai jalanan penting. Aku diberitahukan bahwa tempat ini mencil tetapi penting untuk siapa hendak tancap kaki disini. Memang, siapa tidak kenal baik keadaan dibelakang gunung Gan Tong San, tidak nanti dia dapat cari tempat kita ini.”

Memang beruntung Boe Wie Yang, setelah pengunjukan orang berilmu yang dia sebutkan tadi, dia berhasil menemui Hoen coei kwan berikut Cap jie Lian hoan ouw dimana ia bangunkan pula Hong Bwee Pang bersama tiga gedung bahagian dalam — Lwee Sam Tong —, lalu lengan dibantu oleh Auwyang Siang Gee dari Thian Hong Tong, Gedung Burung Hong, Bin Tie dari Ceng Loan Tong, Gedung Burung Loan, dan Ouw Giok Seng dari Kim Tiauw Tong, Gedung Burung Garuda, yang semuanya liehay, ia bikin sarangnya ini jadi sarang yang sangat tersembunyi dan berbahaya, sedang ia sendiri, dengan kecerdikan dan kelicinannya, berhasil mengumpulkan orang2 kosen untuk jadi kaki tangannya. Ia tahu jelas segala apa yang kejadian selama kedua kaum Hoay Yang Pay dan See Gak Pay alami disepanjang jalan untuk memenuhi undangan nya, sesudah tetamu nya sampai di Cap diye Lian hoan ouw. baharu sekarang ia himpunkan semua hiocoe dari Lwee Sam Tong, Tiga Gedung Dalam.

Eng Jiauw Ong kagum akan kecerdikan dan keterlitiannya Boe Wie Yang, tetapi dengan inipun ia jadi ketahui, ketua Hong Bwee Pang itu telah ketahui segala perbuatan orang sebawahannya. Ia ingin melihat lebih nyata, walaupun ia tahu, gedung Thian Hong Tong ini ada berbahaya. Ia geser tubuhnya. Ia percaya betul, ia akan kealingan ban tiang kuning itu, hingga orang tak dapat lihat padanya. Begitulah ia pindah kesebelah kiri Tetapi, baharu saja ia sembunyi, ia rasakan seperti ada orang yang betot ujung bajunya. Ia menoleh dengan segera, ia lihat ujung ban tiang bergerak sedikit, seperti bekas ketiup angin. Ia diam saja, tetapi ia pasang mata, Boe Wie Yang didalam rapatnya masih saja berkata kata, sampai Auwyang Siang Gee keluarkan segulung kertas dari sakunya, yang ia buka depan ketuanya itu, atas mana, si ketus, manggut berulang2.

“Kelihatannya perlu kita periksa tiga tempat itu untuk ketahui pihak lawan dapat ketahui atau tidak,” berkata Auwyang Siang Gee. “Turut penyelidikanku yang saksama, tidak ada tanda suatu apa juga bahwa musuh pernah pakai itu, tetapi ada laporan bahwa musuh telah masuk dengan diam2 maka inilah luar biasa. Apa mungkin ada jalan rahasia lain?”

“Kalau hal benar terjadi, tak dapat kita persalahkan orang2 kita yang bertugas berjaga2,”

Bin Tie turut bicara. “Kita harus insaf, dipihak lawan, yang terdiri dari dua kaum, ada orang2 yang luar biasa liehay. Menurut laporan dari cabang hoen to ke 16 dibarat utara, pendeta wanita dari See Gak Pay yang paling liehay, yaitu To Cie Taysoe, telah ajak murid kesayangannya mendatangi Gan Tong San, hanya entah mereka sudah memasuki Cap jie Lian hoan ouw atau belum. Jikalau pendeta itu datang, ia tentu tidak bersendirian, berbagai to coe kita pasti tak akan sanggup rintangi pada nya.”

Boe Wie Yang bersenyum.

“Menurut laporan Ouw To coe, yang telah langgar aturan kita, juga Tiat So Too jin dari Hoay Yang Pay telah datang kemari, menerangkan ia. “Ia dan To Cie Taysoe adalah angkatan tua dari kedua kaumnya. Biarlah mereka datang, supaya aku bisa belajar kenal dengan keliehayan mereka. Tentu saja aku insaf, saat ini ada saat mati hidupnya Hong Bwee Pang kita, maka itu, tidak nanti aku rela mengantapkan pendirianku ini kena digempur musuh. Umpama, kita toh terdesak, aku percaya kita akan dapat mengundurkan diri dengan ambil jalan rahasia Ouw hie to. Tikungan Ikan Hitam, jalanan keluar yang paling terahasia itu. Satu kali Cap jie Lian hoan ouw termusnah, akupun akan bakar ludas Lek Tiok Tong dan Pek Tiok Am!”

Bercekat hatinya Eng Jiauw Ong akan dengar ucapan mengancam dari ketua Hong Bwee Pang itu. Orang jadinya ada kandung niat jahat sekali. Jadi tepat kepada pepatah : “Orang tak pikir ganggu harimau, harimau berniat celakai manusia.”

“Tidak siasia perjalananku ini, aku jadi kenal tabeat manusia,” pikir ketua Hoay Yang Pay ini. “Boe Wie Yang benar liehay, dia perkuat sarang, dia pun siapkan jalan molos.”

Diam2 Too Liong bergirang, karena ia ketahui rahasia musuh.

CXIII

Auwyang Siang Gee turut bicara, tetapi suaranya begitu pelahan hingga Eng Jiauw Ong tidak dapat dengar, tetapi terang dia omong tentang Ouw hie to, jalan rahasia itu.

Boe Wie Yang kerutkan dahinya.

“Jiewie hiantee, jangan katakan aku kouw ka tie, sebab aku tidak siang2 buka rahasia jalan itu kepadamu berdua,” kata dia. “Dalam hal ini, aku pikir, apabila sudah sampai saatnya, tidak nanti aku tinggalkan kau. Aku percaya betul ketangguan Cap jie Lian hoan ouw. Baik jiwie ketahui, dalam satu tahun, tempat itu aku tengok cuma satu dua kali. Untuk persiapan, aku sudah sediakan dua belas buah perahu kulit, yang aku bawa dari Hokkian. Semua perahu itu dapat memuat lima sampai enam puluh orang. Aku pegang rahasia sendiri, supaya tidak lebih banyak orang yang mengetahuinya. Tetapi sekarang ini, aku nanti ajak kau pergi lihat, supaya kau kenal jalanan itu, agar kitapun bisa periksa, apa jalan itu telah diketemukan musuh atau tidak. Aku juga ada punya satu peta lain, mari kita periksa dan akurkan, cocok atau tidak dengan kepunyaanmu, saudara Auw yang.”

Bie Wie Yang berbangkit, diturut oleh kedua hiocoe didepan nya. Ia geser kursinya, lalu ia mundur dua tindak kekanan, kepalanya terus mendongak akan melihat lelangit rumah.

Eng Jiauw Ong heran atas kelakuan Boe Wie Yang itu. Ia pun melihat kelelangit rumah, yang dibikin sedikit munjul.

“Apa mungkin orang bisa sembunyi dilelangit seperti ini?” Too Liong tanya dirinya.

Selagi ketua Hoay Yang Pay ini berpikir, Boe Wie Yang sudah bikin satu, gerakan tubuh, hingga sekejab saja tubuhnya sudah terenjot naik, mencelat kearah lelangit. Inilah ilmu enteng tubuh Keng kang Tee ciong soet yang seperti burung walet terbang diudara. Tidak sampai membentur lelangit, Boe Wie Yang samber balok palangan yang ia terus cekal, tubuhnya bergelayutan.

Menampak demikian, Eng Jiauw Ong kagum. Ia tahu betul, pada lima tahun yang baru lewat, ia pasti tidak sanggup berbuat demikian. Adalah karena tekad bulat untuk menuntut balas, selama tahun2 yang belakangan ini, ia sudah berlatih diri dengan sungguh2, hingga tangannya jadi kuat sekali. Ia percaya kepandaiannya sekarang akan berimbang dengan ketua Hong Bwee Pang itu, ada tak gampang untuk menangi Thiam lam It Souw. Aksinya Boe Wie Yang tidak berhenti sampai disitu. Dengan gunai tenaganya, ia angkat tubuhnya hingga jadi melintang, kedua kakinya menempel pada balok, hingga tubuhnya jadi tertolak kaki dan tangan, tubuhnya itu seperti nempel kepada lelangit, sesudah mana ia lepaskan cekalan tangan kanan, untuk pakai tangan ini membuka selembar papan lelangit itu. Setelah ini, ia pakai tangan kanannya untuk berpegangan, sebagai gantinya, tangan kirinya dipakai menolak papan yang kiri, hingga dilain saat lelangit itu terbuka sebagai lobang besar, yang memuat tubuh orang. Dan Boe Wie Yang, tanpa ayal lagi segera naik, akan masuk kedalam lobang itu. Nyatalah. lelangit itu ada lelangit dari loteng rahasia. Tidak akan ada orang yang sangka bahwa itu adalah loteng apabila orang tak lihat sendiri. Itu nampaknya sebagai loteng biasa, yang tertutup rapat rapat.

Lekas sekali, Boe Wie Yang sudah muncul pula, ia lompat turun dengan enteng sebagai kera gesitnya, tanpa menerbitkan suara, hingga siapa yang menyaksikannya pasti kagum.

Auwyang Siang Gee dan Bin Tie menghampirkan dengan sikapnya sangat menghormat.

Boe Pang coe bertindak ke kursinya, dibebokongnya ada tergondol satu bungkusan kuning, yang tali ikatannya di ikat didepan dadanya, setelah tali itu ia buka, ia loloskan bungkusan kuning itu.

Auwyang Siang Gee segera menyanggapi dan diletaki diatas meja, didepan Wie Yang sekali. Sikapnya yang menghormat menandakan bungkusan itu ada suatu barang sangat berharga.

Sesudah ia berduduk, baharu Boe Wie Yang mengulur kedua tangannya akan buka bungkusan kuning itu, dari dalam mana ia keluarkan satu bungbung serta empat jilid buku dengan kulit cita kuning. Ia balik2 lembarannya satu jilid, setelah mana, ia tunjuk satu halaman seraya berkata kepada hiocoe dari Thian Hong Tong: “Sejak Siang tauw niauw Kiang Kian Houw dihukum mati, piauw pounya telah diambil pulang tetapi cong hay teenya masih belum dihapus, maka hiantee, tolong kau coret namanya.”

Dengan “cong hay tee” atau “hay tee” dimaksudkan daftar anggauta serta anggaran rumah tangga dari Hong Bwee Pang.

Auwyang Siang Gee manggut, ia tarik buku itu, ia ambil pit merah, lalu ia menulis beberapa huruf sebagai tanda penghapusan nama Kian Kian Houw sebagai anggauta.

Setelah itu Boe Wie Yang jemput bungbung akan dibuka tutupnya, dari dalam mana ia kasi keluar selembar kertas lebar, yang nyata ada sebuah peta bumi yang garis perbatasannya ditandai merah dan biru.

“Inilah petaku, jiewie hiantee, peta jalan darat dan air dari Cap jie Lian hoan ouw kita,” ketua itu terangkan. “Semua jalan masuk dan keluar ada ditandai tegas sekali disini. Sekarang, Auwyang Hiantee, coba kau padu dengan keadaan sekarang, apakah ada yang tidak cocok.”

Seraya menyahuti “Baik” Auwyang Siang Gee lantas tunduk untuk periksa peta itu.

“Garis merah itu adalah jalanan rahasia tersebut,” Boe Wie Yang tunjukkan.

Bin Tie pun turut memeriksa, lalu keduanya menghela napas.

“Pang coe gagah, cerdik dan terliti, ada siapa tak akan kagumi dan tunduk padamu?” kata mereka. “Jiewie hiantee terlalu memuji.” ketua itu bilang. “Aku justeru berterima kasih terhadap semua saudara yang telah membantu aku, hingga aku bisa bangunkan pula Hong Bwee Pang berikut Lwee Sam Tong. Tentu saja aku mesti jaga agar tidak ada tindakanku yang keliru dan merugikan. Sekarang ini, keadaan ada lain dengan hari2 biasa, sekarang musuh besar kita sudah masuk kedalam perut kita, inilah saat mati dan hidup! Aku bersyukur yang jiewie bisa bersatu hati, dengan begitu bisalah kita ber sama2 melayani musuh.” 

“Itulah keharusan kita bersama,” kata Bin Tie, yang menambahkan: “Sekarang sudah jam lima, silahkan Pang coe beristirahat.”

Tiba2 Boe Wie Yang ingat suatu apa, maka ia berkata pula. Ia menunjuk pada namanya Lie touw hoe Liok Cit Nio, tocoe dari See louw Cap jie too di Liang Seng San, yang katanya cabul dan suka main gila, hingga mendatangkan kemurkaannya kedua pihak Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, yang sudah musnahkan Liok kee po, sampai karenanya, Hong Loen dan kawannya turut rubuh ditangan Hoay Yang Pay, hingga nama baik Kong Bwee Pang turut tercemar.

“Ingat kepada ayahnya di Hok Sioe Tong, yang telah berjasa, untuk tidak melukakan hatinya ayah itu, aku tidak mau bertindak terlalu keras padanya,” Pang coe itu tambahkan, “akan tetapi dia bandal dan tidak kenal batas, dia pandang tak mata aturan kita, dia seperti satu pemberontak saja. Yang paling hebat adalah dia sudah berani nyelusup masuk kedalam Hok Sioe Tong dimana hampir ia bikin celaka ayahnya sendiri, maka guna cegah dia rusaki nama baik Hong Bwee Pang, Auwyang Hiantee, kau sekalian saja coret namanya itu dari daftar anggauta. Besok, kalau dia datang, dia mesti ditahan. Dari dia, kita mesti ambil pulang piauw pouwnya. Sekarang ini, aturan perkumpulan mesti dijalankan supaya bisa dijadikan contoh untuk semua anggauta kita. Jikalau dia diantap saja, pasti tidak bisa lagi aku kendalikan perkumpulan ini!”

Selagi mengucap demikian, roman mukanya Boe Wie Yang menunjukkan kemurkaan.

“Itulah kebijaksanaan Pang coe,” berkata Thian kong chioe Bin Tie sambil berbangkit dengan sikap menghormat. “Tetapi, sebagai seorang perempuan, bisa dimengerti apabila satu waktu Cit Nio berbuat keliru. Lain daripada itu, sekarang ini semua2 keluar dari pihak mulut lawan2 nya, mungkin pada itu ada kedustaan. Maka aku pikir baiklah Pang coe tunggu sampai sudah ada satu pemeriksaan, baharu dia dihukum apabila terbukti terang kesalahannya. Dengan kebijaksanaan Pang coe, sekarang namanya itu jangan dicoret dulu.”

Diam2 Eng Jiauw Ong damprat Bin Tie, yang ia duga tentu nya ada mempunyai perhubungan dengan Liok Cit Nio, maka dia berani belai perempuan cabul itu.

Boe Wie Yang angkat kepala nya memandang hiocoe itu, dia bersenyum.

“Liok Cit Nio telah peroleh kemurahan hati Soe couw, dia telah diberi tugas memimpin Cap jie too sebelah Barat,” kata ketua ini, “akan tetapi dia telah tidak memikir untuk membalas budi, sebaliknya dia berani bertindak secara yang bukan2, dia tidak saja langgar aturan kita, diapun langgar pantangan kaum kang ouw, jikalau kita tidak hukum padanya, tidak saja kita antap aturan kita sendiri dirusak, kitapun malu terhadap sesama kaum kang ouw, apapula disaat ini, saat kita menghadapi Hoay Yang Pay dan See Gak Pay. Umpama pihak tetamu ketahui rahasianya Cit Nio, bagaimana aku ada punya muka akan ketemui mereka? Bin Hiantee, kau telah berpengalaman untuk banyak tahun, janganlah karena urusan perseorangan kau nanti tinggalkan penyesalan untuk dikemudian hari, haruslah kau berpemandangan jauh...”

Bin Tie kemalu2an, hingga mukanya menjadi merah. “Sebenarnya siauwtee cuma ingat kepada suaminya,

Liok Kie, yang telah berbuat banyak bagi perkumpulan kita,

yang telah mati berkurban,” kata hiocoe ini. “Pang coe, terima kasih untuk nasihatmu ini.”

Setelah mengucap demikian, Bin Tie mundur dua tindak, ia rangkap kedua tangannya, lalu ia menjura terhadap ketuanya. Itulah tanda menghaturkan maaf.

“Itulah bagus bahwa kau telah dapat mengerti aku, hiantee,” kata Boe Wie Yang, yang lihat orang insaf. “Sama sekali kau tidak bersalah.”

Eng Jiauw Ong kagum terhadap Wie Yang, terhadap Bin Tie juga. Boe Wie Yang untuk kebijaksanaannya itu, dan Bin Tie untuk kesadarannya. Pantas Wie Yang telah jadi ketua yang dimalui.

Bin Tie maju pula akan balik2 lembaran buku anggauta, ia coret namanya Liok Cit Nio, kemudian ia tunjukkan daftar itu kepada ketuanya, yang lihat itu sambil angguk2kan kepala.

Segera. Boe Wie Yang berbangkit.

“Bukankah jiewie hiantee telah lihat jalan rahasia kita ini?” kata ia kemudian kepada kedua hiocoe itu. “Aku harap jiewie ingat baik2, apabila datang saatnya yang penting, dari sana kita nanti ambil jalan.”

“Tapi aku harap tak usahlah sampai kita menggunai itu!” kata Auwyang Siang Gee sambil tertawa. “Tanpa menggunai itu berarti keberuntungannya perkumpulan kita!”

“Aku juga harap kita sanggup lindungi usaha kita ini,” berkata Boe Wie Yang. “Ini ada hasilnya cape lelahku selama belasan tahun, apabila ini mesti termusnah dalam satu hari, tentu sekali aku tidak puas!”

Tengah mengucap demikian, Thian lam It Souw masukkan peta kedalam bungbungnya dan bungkus itu bersama buku anggautanya semua, lalu ia gendol pula dibebokongnya. Lobang lauwteng masih terbuka, ia bertindak kearah itu, untuk loncat naik keatasnya. Ia menghilang sekian lama, lantas ia muncul pula dengan bergelantungan, dengan lempangkan tubuh ia hendak tutup rapat lobang rahasia lelangit rumah itu seperti asalnya tadi.

Justeru itu, diluar pintu ketiga, disebelah utara, terdengar suara orang, suaranya pelahan, hingga tidak terdengar apa katanya. Tetapi menyusul itu terdengarlah suara lain yang keras: “Mundur, tak usah kau perdulikan!” Segera terlihat satu bayangan berkelebat, berlompat untuk masuk kedalam ruangan.

Auwyang Siang Gee dan Bin Tie terkejut, tetapi yang pertama tanpa ayal lagi lompat kearah pintu itu sambil membentak “Siapa kau? Kenapa kau lancang masuk tanpa perkenan Pang coe? Lekas mundur!”

Selagi Auwang Hiocoe berlompat berbareng sama seruannya itu, ketua Hong Bwee Pang telah perlihatkan kesebatannya menutup lauwteng rahasia. Ia sebenarnya gusar mengetahui ada orang lancang masuk, tetapi itu tidak membikin ia gugup. Setelah itu, dengan gerakan “Kim lie to coan po,” atau “Ikan tambra mas menerjang gelombang,” ia loncat turun kesebelah utara, sambil berloncat kedua tangan nya dikibaskan kearah pelita lioe he teng hingga apinya padam dengan segera. Ia menginjak lantai hampir berendeng dengan Auwyang Siang Gee, dan hiocoe ini sudah siap akan serang bayangan itu.

Bin Tie juga sudah siap untuk sambut bayangan yang belum dikenal itu.

Dari luar segera terdengar suara jawaban: “Auwyang Loosoe, siauwtee datang secara kesusu, harap kau maafkan aku...”

Mendengar suara orang itu, yang rupanya ia kenalkan, Boe Pang coe perdengarkan suara di hidung. Tetapi Auw yang Siang Gee sendiri segera bertindak kesamping sambil ia menyahuti: “Ada Pang coe disini, silahkan hiantee lekas bicara sendiri!”

Orang yang muncul secara lancang itu adalah Ouw Giok Seng, yang baharu kembali dari Ceng Giap San chung, untuk mengatur penjagaan disana menuruti titah ketuanya, untuk ia bersiap2 nanti melayani orang2 Hoay Yang Pay dan See Gak Pay.

Boe Pang coe sendiri sudah lantas mundur.

“Giok Seng Hiantee, kenapa kau begini tergesa2?” ketua itu mendahului menanya. “Syukur aku belum keburu turun tangan, kalau tidak, walaupun senjata rahasia tidak sampai melukai kau, akan tetapi apabila ini terdengar orang luar, apakah tak akan menjadi buah tertawaan?”

Pat pou Leng po Ouw Giok Seng, hiocoe dari Kim Tiauw Tong, segera insaf akan kesemberonoannya apabila ia saksikan ketuanya sendiri sampai maju untuk turun tangan. Baharu sekarang ia ingat, sekalipun dua kacung pelayan kepercayaannya Pang coe itu sendiri, tidak berada disitu. Itulah tanda bahwa ketua itu sedang bikin rapat rahasia. Ia jadinya benar2 ada lancang sekali. Karena ini, ia segera memberi hormat sambil menjura dengan dalam, kemudian ia berikan lapurannya. Ia kata: “Sehabisnya mengatur di Ceng Giap San chung, dalam perjalanan kembali aku dapatkan tanda2 bahwa garis Houw see tin telah dilewati oleh orang yang mengerti ilmu enteng tubuh yang sempurna. Karena musuh telah masuk jauh kedalam daerah kita ini, aku kuatir musuh itu nanti menyelusup kemari untuk mengintai rahasia kita, dari itu aku telah datang dengan tergesa2 un tuk memberi laporan, supaya kita bisa bersiap sedia. Begitulah, aku jadi telah berbuat lancang seperti ini. Mengenai ini, aku mohon kemurahan hati Pang coe untuk memaafkan aku.”

“Kau berbuat tak sengaja, tak apa,” sahut Boe Wie Yang dengan tawar. “Biar musuh lewati Houw see tin dan menyelusup masuk kedalam Lwee Sam Tong ini, tidak usah kita kaget dan ibuk tidak keruan! Dengan melihat kepada keagungannya” aku anggap tidak selayaknya pihak Hoay Yang Pay dan See Gak Pay mengintai kita. Baiklah kita bersikap tenang2 saja, kita lihat bagaimana nanti jadinya.”

Mendengar demikian, Ouw Hiocoe cuma bisa mengatakan “Ya.”

“Jiewie hiantee,” Boe Pang coe kata pada Auwyang Siang Gee dan Bin Tie, “coba kau beritahukan Ouw Hiantee apa yang tadi kita omongkan.”

Meskipun ia mengucap demikian, Wie Yang toh lantas memanggil dua kacung pelayannya, yang segera muncul dengan masing2 membawa sebuah lentera, akan terus iringi ketua itu bertindak kebelakang meja pemujaan, akan memasuki sebuah pintu.

Auwyang Siang Gee tunggu sampai ketuanya sudah masuk keperdalaman, lalu ia ajak kedua rekannya hampirkan meja untuk berduduk, sesudah mana ia beri tahukan Ouw Giok Seng tentang pesannya pang coe mereka.

Mendengar keterangan itu, Giok Seng manggut2. Tetapi segera ia berkata “Aku anggap aku ada satu hiocoe dari Lwee Sam Tong, dartu walaupun per buatanku tadi ada tidak selayak nya, aku.percaya dapat aku di beri maaf. Memang Pang coe tidak tegur aku, tapi sikapnya ada demikian rupa, hingga aku merasa tak enak sendirinya. Ka rena ini, sampai saat ini hatiku belum tenang kembali ”

Auwyang Siang Gee dan Bin Tie lihat orang tidak puas, mereka lantas simpangkan pembicaraan dengan tanya tanda2 dari dilewatinya Houw see tin, itu jalan dengan pasir putih.

CXIV

Tak dapat kemendongkolannya Ouw Giok Seng dibikin lenyap dalam sekejab, maka itu, tiga hiocoe ini tidak berdiam lama di Thian Hong Tong, Gedung Burung Hong itu, mereka undurkan diri dari situ sesudah kasi perintah pada penjaga gedung itu untuk menyapu dan membikin bersih ruangan, supaya sudah siap sedia apabila besok pagi dilakukan pertemuan diantara tuan rumah dan kedua golongan tetamu2nya.

Seberlalunya Boe Wie Yang dan ketiga hiocoe itu, Eng Jiauw Ong dapati Thian HongTong jadi sunyi, disitu melainkan ada pelayan yang menantikan dan bekerja. Karena ini, tak dapat ia turun untuk mencoba memeriksa pelbagai pintu. Ia lihat, haripun akan segera menjadi terang, tak dapat ia berdiam lebih lama pula digedung itu. Maka sekarang ia memikir akan halau pelayan itu, untuk ia bisa singkirkan diri. Ia baharu memikir, atau ia dapati ban tiang di belakangnya bergerak. Ia segera mengawasi, tetapa tidak tampak suatu apa. Justeru itu ia rasakan berkesiurnya angin di atasan kepalanya, lalu satu bayangan melewati kearah pelita cioe lie teng yang besar, tidak terdengar suara gerakannya.

Karena heran dan berbareng ingin tahu. Eng Jiauw Ong menunda keberangkatannya.

Pelita itu, yang tergantung di langit loteng, ada kuat sekali karena bayangan tadi berdiam diatasannya bagaikan burung menclok. Kegesitannya bayangan ini mengagumkan ketua Hoay Yang Pay.

Didalam ruangan itu, kecuali dua pelita, yang tadi dipadamkan oleh Boe Wie Yang, masih ada empat pelita kecil lainnya, mendadak padamlah pelita sebelah Utara, lalu menyusul yang sebelah Selatan. Ketika itu tidak ada angin dan si bayangan juga tak terlihat aksinya.

Disitu ada empat penjaga, mereka heran hingga mereka perdengarkan seruan tertahan.

“Langit belum terang tanah, minyak sudah habis, inilah heran,” kata satu diantaranya.

“Kau ngaco!” menegur satu kavvannya. “Lagi dua jam minyak tak akan habis! ”

Tapi dia ini berhenti dengan tiba2. Sebab dengan tiba2 juga, pelita yang ditengah turut padam sendirinya. Dari heran, empat penjaga ini menjadi takut. Mereka lantas men duga2 pada iblis.

Tanpa berjanji, ke empatnya segera geraki kaki mereka menuju kepintu.

“Lekas cari api,” kata yang satu. “Kalau hiocoe ketahuni, inilah hebat ” Meskipun dia mengucap demikian, kakinya toh tidak berhenti bertindak keluar. Malah mereka berebutan.

“Aduh!” menjerit seorang di antara tiga, yang rubuh didekat pintu, karena mereka disentak kedua samping oleh kawannya yang bertenaga besar, siapa mendahului menerobos keluar.

Begitu lekas semuanya sudah keluar dari Thian Hong Tong, mereka tidak lari lebih jauh, satu yang usianya lebih tua ber kata “Saudara2, jangan kacau! Thian Hong Tong ini ada gedung paling penting, semua upacara dilakukan disini, sampai sebegitu jauh belum pernah terjadi suatu apa, maka sial adalah kita, justeru malam ini ada giliran kita menjaga, bisa terjadi api padam tak keruan! Inilah berbahaya, kalau Pang coe ketahui, kita bisa dihukum. Semua pelita disini termasuk tugas pengurusannya Cin Hio coe dari Liang hiang pou, bahagian rangsum, dia terkenal bengis, siapa langgar aturan, jangan harap bisa hidup lebih lama pula! Biasanya lioe lie teng ini, walaupun tidak dipakai, harus selamanya penuh terisi minyak, umpama ada sebuah pelita yang kurang minyak, orang masih di tuduh teledor, tetapi sekarang semua pelita itu padam. Apa mungkin disini ada orang main gila? Mari kita periksa, karena aku sangsi betul ”

Tiga kawan itu saling mengawasi, mereka pun heran. Kenapa semua pelita padam, walaupun dengan bergantian?

“Nanti aku cari api,” kata satu diantaranya seraya terus ia pergi kebelakang Thian Hong Tong, kedapur, sedang tiga kawannya terus saling men duga2. Sementara itu didalam Thian Hong Tong, yang menjadi gelap petang, Eng Jiauw Ong, setelah ia memasang mata terhadap si bayangan, yang telah padamkan semua pelita dengan pukulan angin secara menimpuk piauw, batalkan niatnya angkat kaki.

Bukankah ia telah saksikan orang punya rahasia? Maka itu dengan berana meloncat turun dari tempatnya sembunyi. Ia bertindak keluar, hingga ia saksikan perbuatannya empat penjaga itu. Ia menduga pasti orang akan segera kembali kedalam ruangan, dengan demikian temponya ada sangat singkat, tetapi ia tak jerih. Ia balik ketengah ruangan, setelah perhatikan lelangit loteng, ia enjot tubuhnya untuk loncat naik. Justeru itu, kembali ia rasakan sambaran angin, hingga ia batal loncat keatas, hanya ia bergerak kesamping, setelah mana, ia memutar tubuh untuk siap menghadapi musuh. Akan tetapi ia tidak lihat suatu apa, tidak sekalipun bayangan, melainkan ia dengar, diatasan kepalanya, suara yang dalam sekali “Sekarang belum saatnya untuk lihat rahasia Hong Bwee Pang! Andai kata musuh tahu ada orang telah melewati jalanan rahasianya dan telah memasuki daerah perdalamannya ini, lalu mereka memasang jebakan, ada sukar untuk kita keluar dari sini, sama sukarnya seperti manjat kelangit. Mengintai kesinipun bukannya suatu perbuatan terlalu laki2, maka marilah kita lekas mundur!”

Suara itu dekat sekali, tetapi ketika Eng Jiauw Ong hendak berikan jawabannya, ia tampak satu bayangan berkelebat pesat sekali. Ia tahu betul cuma Yan tiauw Siang Hiap yang ada punya kepandaian enteng tubuh demikian diehay, tetapi bayangan ina kenali bukan suaranya dua saudara itu. Selaga berpikir demikian, ia tampak sinar terang dimuka pintu, lalu muncul dua pelayan, akan tetapi mereka ini merandek dimuka pintu, mereka sangsi untuk bertindak masuk, lebih dahulu mereka ulur tangan mereka masing2 kedalam ruangan, untuk menyuluhi.

Ruangan ada gelap, kedua lentera memain apinya, dari itu sinarnya tidak menyorot jauh, tetapi keduanya memberanikan hati, akan bertindak masuk.

Eng Jiauw Ong tidak takut terhadap dua pengawal itu, tetapa sembunyi ketempat gelap, matanya mengawasi mereka.

Tiba2 pengawal yang dikiri batuk2, dengan tangan kirinya ia usap2 dadanya. Justeru itu, pengawal yang dikanan menjerit “Ayo!” lantas lentera datangan kanannya terlepas dan jatuh, apinya padam.

“Siauw Tan, lekas lari!” ia berseru. Ia putar tubuhnya, ia kabur keluar.

Diluar ada dua kawan mereka yang sedang melongok dimuka pintu, tidak ampun lagi mereka ini kena ditabrak kawan yang menjerit itu hingga jatuh terduduk dan yang menabrak turut rubuh juga, sampai mereka pingsan.

Tinggal pengawal yang satu, yang pun jadi ketakutan, ia putar tubuhnya untuk lari keluar, atau tiba2 kakinya terserimpat terus ia rubuh, tubuhnya menindihi kaki kawannya, hingga kawan itu sadar dengan kaget dan kesakitan disertai jeritan “Aduh!”

Didalam gelap, Thian Hong Tong pun terselubung asap dari kedua lentera, yang baharu padam itu.

Eng Jiauw Ong anggap ini ada saatnya yang paling baik, atau nanti rombongannya Auw yang Siang Gee keburu balik, benar ia tidak takut tetapa ingin tak sampai dipergoki. Demikian ia menjejakkan kedua kakinya akan enjot tubuh, buat loncat kepintu. Ketika ia hendak loncat buat kedua kalinya, satu bayangan berkelebat didepannya dan turun dimuka pintu sekali. Ia segera minggir, karena ia belum tahu bayangan itu kawan atau lawan.

Datangnya bayangan ini membuat kaget dua pengawal, yang hendak kasi bangun kawannya yang rubuh, hingga mereka ini perdengarkan seruan tertahan, lekas2 mereka mundur.

“Kawanan bantong!” terdengar bayangan itu menegur. “Kawanan tak punya guna, kau bikin malu saja pada Hong Bwee Pang! Kepalamu toh tidak diputas, buat apa kaget tidak keruan? Ada musuh didepanmu, kau menyangka iblis!.... Hayo minggir, Ouw Hiocoemu nanti yang bekuk si siluman!”

Eng Jiauw Ong disebelah dalam pintu terkejut. Bayangan itu jadinya ada Ouw Giok Seng, hio coe yang liehay dari Kim Tiauw Tong, Gedung Garuda Emas. Ia heran kenapa orang kembali sedang tadi dia itu telah undurkan diri. Apa bisa jadi dia telah ketahui ada orang memasuki Thian Hong Tong?

Selagi ketua Hoay Yang Pay menduga2, suaranya Ouw Giok Seng telah terdengar pula, malah dia bicara sambil tertawa dingin, katanya “Sahabat, kau telah datangi Hong Bwee Pang, itu tandanya kau menaruh hormat kepada kami, karena itu kenapa kau main sembunyi2? Aku Ouw Giok Seng ada paling hormati orang2 kang ouw sejati, maka juga seundurnya dari Thian Hong Tong ini, aku sudah pergi periksa Houw see tin dari mana aku dapat kenyataan, masih ada sahabat yang berdiam disini, yang masih belum ingin berlalu karena itu, aku segera datang kemari untuk lakukan keharusannya si tuan rumah! Sahabat, jikalau kau memandang mata kepadaku si orang she Ouw, silahkan kau keluar untuk bikin pertemuan!” Ong Too Liong ada ketua Hoay Yang Pay yang kenamaan, tentu sekali ia tidak sudi orang pandang rendah padanya, karena sudah pasti Ouw Giok Seng ketahui didalam ruangan itu ada orang, ia tidak ingin sembunyikan diri lebih lama. Pun, dengan keluar dari Thian Hong Tong, ia jadi bisa layani musuh dengan merdeka, sedang didalam ruangan itu, ia bisa dikurung. Begitulah ia mundur tiga tindak untuk berloncat keluar dengan ilmunya enteng tubuh Pat pou Kan sian. Dengan jalan itu, apabila ia berloncat, ia akan loncat diatasan kepala orang. Setelah mundur, ia mendek sedikit, kedua dengkulnya pun sedikit ditekuk, tetapi disaat ia hendak gunai tenaganya, dari sampingnya ia dengar suara pelahan “Ong Loo soe, jangan kesusu! Nanti aku layani dia itu supaya dia tahu rasa, setelah dia kena terpancing, baharulah loosoe keluar dari Houw see tin. Besok pagi saja kita nanti bikin pertemuan kepada pemimpinnya.”

Eng Jiauw Ong heran, karena dekat suaranya orang itu tetapi ia tak tampak orangnya. Itu adalah tanda bahwa orang itu ada punya kepandaian yang liehay sekali. Ia berniat menjawab, atau tiba2 ia dengar pula “Marilah kita keluar”! Lantas ia rasakan sampokan angin, seperti angin dari berterbang lewatnya seekor burung, nyeplos diantara pintu.

Ouw Giok Seng sebenarnya hanya mencoba2 mencari tahu didalam Thian Hong Tong ada musuh atau tidak, ia tidak tahu pasti musuh sudah masuk atau belum tetapi ia ada terlalu licin dan cerdik, maka itu, ia loncat mundur ketika tahu2 ada bayangan melesat keluar dengan gerakan “Hoei yan touw lim” atau “Burung walet terbang masuk kedalam rimba.” Ia tidak mencegah, ia ingin lolos dari serangan mendadak, karenanya ia mundur untuk siap. Bayangan itu loncat jauhnya kira tiga tumbak, baharu ia taruh kakinya atau tubuhnya sudah melesat pula, kali ini dia loncat kearah para2 pohon bunga, yang tihang2nya terbuat dari bambu yang tak tegak, tetapi diatas itu dia taruh kakinya sebelah dengan anteng, kemudian dengan sikap “Kim kee tok lip,” atau “Ayam emas berdiri dengan sebelah kaki” ia menggape kepada ketua dari Kim Tiauw Tong, yang ia tantang dengan kata “Ouw Hiocoe, kau ada ketua dari Lwee Sam Tong, kau tidak mampu lindungi orang2mu, kau nyata cuma bisa ngoce terhadap ruangan gelap petang! Sudah lama aku yang rendah dengar namamu yang besar, kali ini aku ingin belajar kenal dengan kepandaian enteng tubuhmu yang disebut Teng peng touw soei atau Coh siang hoei heng atau “Dengan injak kapu2 seberangi sungai, atau Diatas rumput terbang lewat!”

Setelah mengucap demikian, orang itu gerak2kan tubuhnya.

Ouw Giok Seng gusar.

“Manusia rendah, kau telah lancang memasuki tempat suci dari Hong Bwee Pang, kau pun berlaku kurang ajar!” berseru ia. “Kau datang memenuhi undangan, Pang coe sambut kau dengan hormat, tetapi kau pasti tidak ada termasuk dalam daftar tetamu, maka aku akan bekuk kau sebagai mata2! Jangan kau lari, Ouw Hiocoe nanti ajar adat kepada mu!”

Lantas Pat pou Leng pou Ouw Hiocoe loncat kearah para2, untuk mengejar, tetapi sementara itu, orang tidak dikenal itu sudah berlari kejurusan pepohonan lebat, menuju ketembok utara, tatkala ia sampai dikaki tembok, orang sudah jongkok diatas tembok itu, sikapnya anteng sekali. Sikap itu membuat ia mendongkol sekali. Justeru mereka sudah mulai datang dekat satu kepada lain, ia berlompat dengan tipu nya “Yan coe sam ciauw soei” atau “Burung walet tiga kali menyamber air.” Dengan tiga kali enjotan ia sudah sampai diatas tembok, terpisahnya dengan lawan tidak dikenal itu cuma tiga empat kaki.

“Orang rendah, sambutlah!” ia berseru ketika menjejak dengan kaki kirinya dengan kaki kanan nya diangkat, untuk berlompat maju. Serangan tangan kirinya menyamber pundak kanan dari lawan itu.

Orang itu geser tubuhnya berkelit dari serangan itu.

Ouw Giok Seng tidak mau dengan begitu saja, gagal serangannya yang pertama, ia segera susuli dengan tangannya yang kanan, sekali ini dua jari nya menuju kearah kedua mata. Inilah tipu colokan “Ouw liong tam jiauw” atau “Naga hitam ulur cengkeramannya.” Gerakannya pun gesit luar biasa.

Orang yang diserang itu berkelit dengan melenggakkan kepala seraya kedua kakinya diangkat mundur, ketika ia taruh kedua kakinya diatas tembok itu, nampaknya ia kekar sekali, tegap. Iapun tertawa gelak2. Kemudian ia lari pula kearah timur utara.

Ouw Giok Seng mendongkol bukan kepalang, dua kali ia kena dipermainkan, itu tandanya ia sudah “keteter”. Ia menyusul. Ia puas orang menyingkir kearah Ceng Giap San chung, disana tak nanti Boe Wie Yang pergoki mereka.

Berdua mereka main kejar2an, keduanya gesit bagaikan kucing.

Lawan itu jauhkan diri sampai enam atau tujuh tumbak, ia melesat kesamping, lalu dari atas tembok ia melesat kepintu merah.

“Orang rendah, kemana kau niat angkat kaki?” Giok Seng membentak. “Malam ini apabila kau tidak sudi omong secara baik , jangan kau memikir untuk bisa lolos!” Sambil bicara Ouw Hiocoe mengejar terus.

Begitu lekas sampai dimuka pintu, lawan itu putar tubuhnya seraya berkata “Ouw Hiocoe, tak usah kau antar aku jauh! Lain kali saja kita bertemu pula!”

Didalam hatinya, Ouw Giok Seng memikir. “Sekeluarnya dari pintu sini, itulah pusatnya Ceng Loan

Tong disana ada perintang pasir putih Houw see tin, biar

dia sangat liehay ilmunya enteng tubuh, tidak akan gampang2 dia lolos...”

Karena memikir begini, ia membentak pula “Orang rendah, jikalau kau ada punya kepandaian, apa kau suka main2 dengan aku diatas Houw see tin? Beranikah kau? Kau ngelindur apabila kau anggap dengan gampang saja kau dapat lewati Houw see tin! ”

Selagi ber kata2 begitu, Giok Seng terpisah tinggal kira2 dua tumbak dari pintu merah, terus saja ia loncat, tapi ketika ia taruh kakinya dimuka tangga batu, ia tak dapati lawamnya, yang lenyap entah kemana. Ia celingukan dengan merasa aneh. Maka akhirnya, ia hendak lewati pintu itu. Mendadak, dari atasan kepalanya ia dengar ejekan “Sahabat, jangan bertingkah! Ada apa anehnya jalanan rahasia Kouw see tin itu? Disana kami bisa mundar mandir dengan leluasa seperti dijalanan umum! Apakah kau hendak pertontonkan ilmu enteng tubuhmu? Kalau benar, mari, mari kita mencoba nya! Nanti aku bikin kau insaf bahwa dalam kalangan kang ouw ada banyak orang liehay, supaya kau, Ouw Hiocoe, dapat tambah pengalaman! ”

Giok Seng lihat satu bayangan mencelat keselatan dengan ikuti tembok. Ia gusar, ia membentak “Orang rendah, kau berani ngaco belo didepan Ouw Hiocoe, kau agaknya sudah bosen hidup!” Segera ia loncat mengejar. Ia baharu melalui enam atau tujuh tumbak jauhnya, atau ia tampak didepannya, munculnya dua bayangan, satu didepan, satu lagi di belakang, jaraknya berdua bayangan itu sekira satu tumbak, gerakan mereka pesat sekali. Ia insaf yang ia sedang menghadapi banyak musuh, yang semua mestinya liehay, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia tidak perlu berpikir2 pula, maka ia maju terus dengan terlebih cepat.

Mendadak bayangan yang dikejar itu berhenti berlari. Menampak demikian, karena kuatir orang menggunai akal, Giok Seng pun segera berhenti seraya ia terus memasang mata.

“Mengantar orang sampai seribu lie toh orang akan berpisahan juga!” berkata bayangan didepan itu. “Maka Ouw Hiocoe, walaupun kau tidak merasa puas, besok pagi saja kita nanti bertemu pula! Kita akan segera bertemu lagi, dari itu, maafkan aku, aku tak dapat temani kau lebih lama pula ”

Setelah mengucap demikian, orang itu mencelat turun keluar tembok.

Melihat jurusan dimana orang menyingkir itu, Giok Seng girang sekali. Diluar tembok itu tidak ada jalanan, disitu ada tanjakan dengan batu2 kalang kabutan.

“Orang rendah, kau ambil jalan matimu sendiri, kemana kau hendak lari?” demikian kata ia dalam hatinya. Lantas saja ia mengejar pula. Tetapi, begitu lekas ia sampai diluar, ia terc ngang, ia heran tak kepalang.

Jalanan memanjat yang sangat sukar tidak menjadi rintangan bagi bayangan itu, mirip dengan kera dia telah ber lari2 naik, larinya pesat luar biasa.

Hiocoe ini tidak berani mengejar terus. Sesampainya diatas, bayangan itu berhenti berlari dan memutar tubuh.

“Sahabat, kau telah mengantar aku jauh sekali, aku berterima kasih kepadamu,” katanya. “Cap jie Lian hoan ouw ada punya tempat yang luar biasa ini, sungguh menarik hati. Hiocoe, aku bersyukur kepadamu, karena kau sudah kasi kemerdekaan kepadaku, kau tidak merintanginya. Nah, ijinkanlah aku pergi!”

Lalu bayangan itu membalik badan pula akan melanjutkan ber lari2 naik, sampai ia lenyap dari pandangan mata.

Ouw Giok Seng balik kembali dengan lesu. Ia heran orang bisa ambil jalanan yang sukar itu, sedang orang Hong Bwee Pang sendiri tidak mampu berbuat demikian. Ketika ia sampai dipintu merah, ia meneliti sekitarnya. Itu ada daerah lingkungan Ceng Loan Tong, belakang ruangan ada sunyi senyap, dikiri kanannya ada orang2 yang menjaga sambil sembunyi tetapi mereka berdiam saja, seperti juga disitu tak pernah ada orang yang lewat. Hal ini membuat ia semakin kagumi bayangan tadi.

Dalam hatinya, Ouw Giok Seng pikir untuk tak bertahukan siapa juga tentang pengalamannya ini ia malu untuk tegurannya Boe Wie Yang karena ia lancang memasuki Thian Hong Tong. Tetapi untuk kepentingannya peta bumi nya dan anggaran dasar, ia anggap ketuanya perlu dikisikkan. Bukankah sudah terang ada orang yang telah memasuki Thian Hong Tong?

Kapan ia telah sampai di Houw see tin, yang ia perdatakan, ia terkejut. Kembali ada bekas lewatnya orang. Sebenarnya ada sulit untuk melihat bekas itu, walaupun diwaktu siang, tapi hiocoe ini ada seorang liehay. Dengan berpikir keras ia menuju ke Kim Tiauw Tong. Ia telah ambil putusan untuk tutup mulut.

Selagi jalan ditikungan utara dari Ceng Loan Tong, tiba2 Giok Seng lihat pula dua bayangan, yang dengan gesit melesat saling susul disebelah selatan, sebentar saja mereka itu sudah naik ke tembok ujung timur selatan. Memperhatikan gerakannya orang itu, mereka seperti sudah kenal baik cara untuk melewatkan Houw see tin. Inilah aneh.

Giok Seng hendak susul dua bayangan itu, tetapi belum ia sempat bergerak, lagi dua bayangan melesat disebelah utara, terpisahnya dara cuma satu tumbak lebih, sekejab saja dua bayangan itu sudah lewat jauh. Bahna kagum dan menyesal, ia jadi menghela napas. Ia yang telah jadi seorang kang ouw kenamaan, sekarang mesti saksikan orang2 liehay yang bisa bergerak dengan merdeka disekitarnya. Benar2 Hong Bwee Pang sedang hadapi orang pandai, hingga ia ragu ragu dalam pertemuan besok, entah manjangan akan terbinasa ditangan siapa….

Oleh karena ini, Ouw Hiocoe tidak gubris pula empat bayangan itu, ia lintasi Houw see tin, ia pulang langsung kegedungnya, terus ia masuk kedalam kamar tidurnya. Ia hendak butakan mata, tulikan kuping dan tutup mulut, meskipun ia tahu benar ada orang2 Hoay Yang Pay dan See Gak Pay yang sudah memasuki Lwee Sam Tong gedung dalam yang terpenting dari Hong Bwee Pang. Tetapi sikapnya ini ada benar, dengan demikian ia selamatkan muka terangnya. Kalau tidak, pasti sekali ia mesti berhadapan dengan Eng Jiauw Ong atau Coe In Am coe atau Na Hoo, atau dengan orang lain yang membantu ketiga orang ini melintasi Houw see tin yang liehay. CXV

Eng Jiauw Ong tidak bisa duga siapa orangnya yang kisiki ia selagi ia berada dalam Thian Hong Tong dengan Ouw Giok Seng berada di luar gedung itu. Ia hendak terka Na Hoo, yang gemar berguyon, tetapi lagu suaranya orang itu sangat berlainan. Pun ia tampak keentengan tubuh dari orang itu ada melebihi kepandaiannya Ay Kim Kong. Dalam kesangsian, ia gunai ketikanya selagi Giok Seng susul bayangan itu, ia keluar dari Thian Kong Tong. Kemudian ia tampak pula bayangan itu, yang ia terus ikuti. Untuk ketahui she dan namanya orang itu, ia menanyakan sampai beberapa kali, diakhirnya, sambil bersenyum, bayangan itu menjawab “Ong Loosoe, sekarang ini belum tiba saatnya untuk kita bikin pertemuan. Silahkan kau kembali kegedung tetamu, jangan ayal pula ”

Ketua Hoay Yang Pay tidak bisa berbuat suatu apa, terpaksa ia pergi pulang. Ia jengah sendirinya, karena terang ia telah kena dirubuhkan. Percuma saja pengalamannya empat puluh tahun dalam kalangan kang ouw, ia tidak kenal bayangan itu. Ia melainkan terhibur sedikit kapan ia ingat orang ada bermaksud baik terhadap pihaknya.

Ketika itu sudah terang tanah, Eng Jiauw Ong memasuki pekarangan dengan dapati seluruhnya ada sunyi, dari sesuatu kamarpun tidak terdengar apa2, selagi ia naik ditangga lorak, Ay Kim Kong Na Hoo muncul dipintu. Keduanya saling bersenyum.

“Banyak tiape, Ong Soeheng! kata saudara yang jenaka itu.

Eng Jiauw Ong manggut. Ia kata “Selagi aku umpatkan diri didalam Thian Hong Tong, dua kali aku rasakan samberan angin dibelakangku, bukankah itu soeheng sendiri bersama Coe In Taysoe?” Na Hoo tidak menjawab, hanya ia melihat keluar, ia kuatirkan pengawai dari Hong Bwee Pang, setelah itu, ia undurkan diri, masuk pula kedalam.

Didalam kamar, ada orang2 yang sedang bersamedhi, ada yang tidur nyenyak tetapi berbareng sama suaranya Na Jie Hiap mereka semua terbangun, sebab walaupun sedang tidur, sesuatu dari mereka selalu siap sedia. Diantara mereka cuma Na Hoo dan Ban Lioe Tong yang tenang saja. Beberapa orang, seperti Khoe Beng dan Ciong Gam, tahu ketua mereka keluar malam, maka itu, waktu kira2 jam empat masih belum kelihatan Eng Jiauw Ong kembali, mereka berkuatir baharu hati mereka lega kapan mereka tampak Na Hoo masuk bersama ketua itu. Semua berdiam, Khoe Beng lihat air muka suram dari sang ketua.

“Sebentar pelayan kita bakal datang, Too Liong Soetee, pergilah kau beristirahat,” Khoe Beng kata pada soeteenya itu. “Kita bakal hadapi kepala Hong Bwee Pang, entah bagaimana akan jadinya, mungkin kita mesti keluarkan antero kebisaan kita. Kau banyak cape, kau tidak tidur, kau pergilah mengaso sebentar”.

“Harap kau tidak kuatirkan aku, soeheng”, sahut Eng Jiauw Ong, yang tahu saudara itu sangat menyayanga. “Aku tahu tanggung jawabku, kita telah berada ditempat berbahaya, tidak nanti aku berani sembrono ”

“Selama tahun2 yang belakangan ini, ciang boen jin kita telah peroleh latihan samedhi yang sempurna,” kata Na Hoo, “karena ini, gangguan tidak tidur beberapa malam saja tidak berarti untuk kesehatannya, asal dia dapat mengaso sebentar, kesegarannya akan pulih seantero nya. Tentang empat pelayan kita, kita tak usah buat kuatir.” Benar baharu Eng Jiauw Ong duduk, empat pelayan mereka muncul akan melayani semua tetamu cuci muka dan sarapan pagi, perlayanannya sempurna sekali.

Tidak lama, Coe In Am coe muncul akan ketemui Eng Jiauw Ong beramai. Semua orang, terutama angkatan muda, memberi selamat pagi pada nie kouw ini.

Keduanya, Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe mengerti sendiri perbuatan mereka tadi malam, dari itu, mereka cuma saling bersenyum.

“Tadi malam, tanpa berdamai lagi, kita telah ambil jalan serupa,” kata Na Hoo begitu lekas semua pelayannya undurkan diri sesudah selesai dengan tugasnya. “Aku tahu maksudnya soeheng yalah untuk melihat lihat keadaan, karena ditempat berbahaya ini mesti kita sendiri yang menyelidikinya. Begitu juga maksudnya Tay soe. Adalah aku sendiri yang punyai maksud lain. Apa lacur, aku rubuh. Hong Bwee Pang ada punya orang2 liehay, aku masih tidak perdulikan, hanya setelah masuk ke Thian Hong Tong, aku ketemu seorang yang senantiasa dampingi aku tanpa aku berhasil mengetahui siapa adanya dia. Rupanya dia belum berusia lanjut, tubuhnya kurus dan kecil, tetapi gesitnya luar biasa, dia rintangi aku pergi ke Ceng Giap San chung, tempat kediamannya Boe Wie Yang. Ketika dia tinggalkan aku, aku kembali ke Thian Hong Tong, akan lihat soeheng sudah keluar atau belum, aku dapatkan justeru Taysoe sedang undurkan diri, juga orang yang membukai jalan itu. Dia bukan orang kaum kita tetapi dia tidak bermaksud jahat. Setelah aku keluar dari Thian Hong Tong, baharu kau menyusul, soeheng.”

Eng Jiauw Ong kerutkan dahi.

“Kalau begitu, dialah yang sembunyi dibelakangku dan dua kali kasi kisikan kepadaku,” kata ketua ini. “Aku tadinya menyangka kau. Aku mengepalai Lek Tiok Tong tetapi sekarang aku ketemui orang liehay itu, aku malu ”

“Jadinya menurut soeheng,” Ban Lioe Tong turut bicara “Orang itu mirip dengan naga melaikat yang tertampak kepalanya tidak ekornya. Teranglah, dimatanya tidak ada lagi orang Hong Bwee Pang! Dia belum berusia lanjut, tubuhnya kecil kurus, jangan2 dia ada Tok heng Hiap Tiat pit Phian Cuan Sioe si Pit Besi, sibegal tunggal. Ber sama2 Kay Hiap, si Pengemis Aneh, dialah yang dinamakan Kanglam Jie Koay, yang sangat ditakuti kaum Rimba Hijau. Sedang kelakuan mereka aneh, kegemarannya adalah berkelana. Nama mereka sama terkenalnya dengan Yan tiauw Siang Hiap. Mereka satrukan kaum Rimba Hijau, tetapi mereka sendiri menjadi begal. Soeheng, benar atau tidak dugaanku ini?”

Mendengar itu, Na Hoo tepuk tangan.

“Kau bukan saja si tabib pandai, yang bisa menghidupkan orang, kau juga pandai pecahkan kesulitan!” ia puji soetee itu. “Aku telah ingat2 semua orang kenamaan diselatan dan utara sungai Besar, toh aku lupai dia ini! Memang, melihat potongan tubuh dan usianya, jikalau bukannya dia, siapa lagi?”

“Akupun dengar di Kanglam ada orang aneh itu,” kata Eng Jiauw Ong, “tetapi dia seperti bisa menghilang, malah ada waktunya dia berdiam diri sebagai aku untuk beberapa tahun, maka itu, aku tidak dapat menerka padanya. Ini ada kejadian diluar sangkaan. Aku tidak kenal orang kenamaan itu tetapi sekarang, dia bersikap bersahabat kepadaku, inipun ada hal yang aneh ”

“Tetapi kita harus ingat bahwa orang2 sebangsa kita, yang sama tujuannya, harus saling bantu tanpa perkenalan dahulu,” nyatakan Na Hoo. “Terang sudah, Tiat Pit Phian Thian Sioe telah membantu kita, dari itu, jangan kita bersangsi pula akan terima bantuannya itu. Inipun ada bantuan yang sukar didapat walaupun kita mencarinya.”

Mereka bicara sampai disitu, lantas ada datang satu wakilnya Boe Wie Yang, yang kirim karcis namanya menghaturkan selamat pagi kepada rombongan Hoay Yang Pay dan See Gak Pay.

“Boe Pangcoe terlalu baik hati!” kata Coe In Am coe dengan bersenyum dingin. “Tolong kau sampaikan kepada Pangcoe dan ketiga hiocoe bahwa kami tak keburu menghaturkan karcis nama, maka dengan jalan ini saja kami menghaturkan terima kasih.”

Dengan begitu, utusan itu di suruh undurkan diri.

Kemudian muncul Soe Soei Hie kee Kan In Tong, ia membeli selamat pagi pada semua tetua, kemudian ia menyatakan kepada Coe In Am coe, baik mereka siap sedia untuk mundur, karena mereka berada ditempat berbahaya, benar Boe Wie Yang ada satu laki2 tetapi orang2nya tak dapat dijamin, sungguh berbahaya apabila ada diantaranya yang gunai lainnya akal busuk.

Mendengar usul itu, Coe In Am coe nampaknya menjadi gusar.

“Dengan kemurahannya Sang Buddha, aku telah dapat mengepalai Pek Tiok Am di Siang Thian Tee, See Gak,” berkata ia. “Dengan menuruti ajaran Sang Buddha, aku bawa diriku baik, maka aku tidak sangka, sekali ini aku telah kena terembet2. Kalau Hong Bwee Pang ganggu aku pribadi, masih tidak apa, apa celaka dia berani bakar kuilku. Benar Pek Tiok Am tidak sampai termusnah, karena Sang Budhha masih melindunginya akan tetapi kejadian itu membuat aku malu, sebab setelah beberapa puluh tahun sucikan diri aku tidak sanggup lindungi, tempat pemujaanku itu. Buat apakah aku cekal pedang Tin hay Mok po kiam didalam tanganku? In Tong Soetee, kau insaf keadaan berbahaya bagi kita, kau benar dengan memikir untuk lekas jauhkan diri dari sini, tetapi satu hal kau lupai, yalah apabila orang ketahui pikiranmu ini, bisa jadi orang menyangka kita takut terhadap Hong Bwee Pang. Soetee, baiklah kau ketahui, setelah sekarang aku datang kemari bersama2 Ong Soeheng, sebelum Boe Pang coe berikan kepuasan kepadaku, tak sudi aku pulang dahulu!”

Itulah teguran untuk Soe Soei Hie kee, Eng Jiauw Ong kuatir Kan In Tong mendapat malu, lekas2 ia campur bicara.

“Kan Soehoe pun ada anggauta kenamaan dari See Gak Pay, dia banyak pengalamannya, ada sewajarnya saja apabila ia ambil sikap berhati2,” kata ia. “Akan tetapi, Kan Soehoe, kau tidak usah berpikir terlalu banyak. Kita sudah sampai disini, disini kita tempatkan diri, cukup asalkan kita jangan alpa.”

Kata2 ini menolong banyak, karenanya, Kan In Tong tidak sampai mendapat malu. Dengan sebenarnya ia hendak berlaku hati2, sebab ia insyaf tugasnya yang berat, tanggung jawabnya yang besar.

Eng Jiauw Ong lantas titahkan In Hong undang berkumpul semua rombongan, maka selang tak lama, mereka sudah berkumpul dalam satu ruangan, kaum mudanya pada berdiri dipinggiran. Sebagai pemimpin, Eng Jiauw Ong lantas angkat bicara terutama terhadap pihak bukan Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, yang membantu dengan sukarela. Paling dulu ia haturkan terima kasihnya, kemudian ia hunjuk bahwa Hong Bwee Pang tentu akan keluarkan semua tenaga dan kebisaannya untuk melawan mereka, dari itu mereka semua akan menghadapi ancaman bahaya. Maka ia minta dengan sangat supaya semua tetamu itu jangan sembrono, jangan sembarang berebut maju. Mereka belum tahu jelas tentang lawan yang katanya punyakan banyak orang liehay.

“Jangan kuatir, Ong Loosoe.” kata Chio In Po, piauwsoe dari Utara. “Umpama ada bahaya, kami tak jerih. Kita kaum kang ouw memang biasa hidup di ujung golok. Dimana tentara tak boleh ada kepala perangnya, demikian juga kami, kami suka dengar segala titahmu. Bicara terus terang, mungkin kami tidak bisa berbuat banyak, tetapi, yang sudah pasti adalah bahwa mata kami akan terbuka, pengalaman kami akan bertambah.”

“Kau terlalu merendah, Chio Loo piauwtauw,” kata Too Liong. Lalu ia melanjutkan pada orang2 Hoay Yang Pay, yang usianya berimbang, kepada mereka iapun memberi hormat “Sekarang, saudara2, disaat pemutusan seperti ini, aku harap kita tidak sungkan2 lagi, aku dipandang sebagai pemimpin, tetapi aku ingin sekali sukalah kau beramai utarakan segala apa yang kau pikir.”

“Memang, soetee, kita tak dapat main sungkan pula,” berkata Kim too souw Khoe Beng. “Begitupun kau, sebagai pemimpin. Aku harap saja Boe Wie Yang berikan keadilan kepada kita, supaya ia jangan sampai kena dilagui oleh orang2 sebawahannya. Kami sudah berkeputusan tetap akan melihat, manjangan akan binasa ditangan siapa!”

“Soeheng benar!” Ciong Gam benarkan orang she Khoe itu. “Aku harap ciangboenjin kita jangan berlaku sungkan lagi!”

“Terima kasih.” kata Ong Too Liong.

Sampai disitu Eng Jiauw Ong jelaskan pada semua tetamunya, karena urusan hanya mengenai Hoay Yang Pay dan See Gak Pay kontra Hong Bwee Pang, ia minta sekalian tetamunya jangan sembarangan turun tangan. Ia harap biarlah dikasi ketika dahulu kepada orang2 Hoay Yang Pay dan See Gak Pay akan layani musuh.

“Hanya nanti apabila ternyata pihak kami keteter, baharu aku akan mohon bantuan coe wie,” ia kata akhirnya.

“Ong Loosoe benar,” berkata Coe In, yang turut bicara. “Keterangan loosoe ini ada penting. Akupun hendak minta coe wie bersabar, menantikan dahulu, apabila pihak kami sudah tidak berdaya, baharu kami akan minta bantuan coe wie. Untuk sementara, biarlah aku mencoba dulu dengan pedangku Tin hay Hok po Kiam!”

CXVI

Setelah itu, Eng Jiauw Ong pesan semua angkatan muda dari Hoay Yang Pay supaya mereka bertindak menurut perintah, jangan ada yang lancang. Mereka ada anak2 muda, yang kurang pengalaman, tetapi yang nyalinya besar, tabeatnya keras, tak tahu liehaynya orang2 kang ouw, sedang Cap jie Lian hoan ouw adalah seumpama tempat “sembunyinya naga dan mendekamnya harimau.” Jadi mereka mesti bisa kendalikan diri. Ia ancam dengan hukuman siapa yang berani bertindak sembrono.

“Kami akan dengar soehoe, tidak nanti kami membuat malu,” berkata Hoa In Hong, murid kepala, yang wakilkan semua saudaranya, diantara siapa ada yang masih belum lulus.

Eng Jiauw Ong manggut, tandanya ia puas.

Ketika itu diluar gedung ada terdengar suara tindakan ramai, dari seratus atau lebih orang, mulanya tindakan kaki yang rapi, lalu pelahan2 jadi kalut, akan kemudian terdengar suara suitan samar2 diempat penjuru. “Sekarang harus kita segera siap sedia,” berkata Coe In Am co, yang pandang semua orang. “Mereka rupanya sedang kumpulkan orang, mungkin mereka juga akan pertontonkan pengaruh mereka terhadap kita!”

Baharu saja pendeta wanita ini tutup mulutnya, atau Siauw Liong Ong Kang Kiat bertindak masuk bersama Siauw Hiap Ciok Liong Jiang. Entah kapan mereka ini keluar dengan diam2 dan sekarang baharu kembali.

Liong Jiang dekati Jie Hiap akan membisikkan bahwa orang2 Hong Bwee Pang mundar mandir cepat sekali, semua berpakaian ringkas, sesuatunya menyoren senjata tajam, lalu akhirnya mereka itu pada ambil tempat.

“Apakah soeya ingin tengok mereka?” tanya ia akhirnya.

“Kau ibuk tidak keruan!” kata Na Hoo dengan matanya dibuka lebar. “Kalau Ong Soecouwmu dengar kau, dia bisa katakan kau rewel! Kita sudah masuk kedalam perut Hong Bwee Pang, biar mereka atur gunung golok dan lautan pedang, semua itu tak ada dimata kita! Jikalau kita jerih bagaimana kita berani datang kemari?”

Liong Jiang lantas saja mengundurkan diri, ia diam saja. “Ada apa?” Eng Jiauw Ong tanya saudaranya itu. “Tidak apa2, cuma kawanan anjing dan rombongan rase

sedang hendak menggertak2,” Na Hoo sahutkan.

Segera setelah itu, muncul satu pelayan yang memberitahukan bahwa kedua pihak tetamunya diundang ke Thian Hong Tong.

Menyusul undangan ini, diluar terdengar ramai suara tindakan kaki. Itu rupanya ada pihak tuan rumah yang datang menyambut. “Marilah kita keluar,” Eng Jiauw Ong ajak Coe In Am yoe.

Coe In manggut, ia terus bertindak keluar.

Ketika itu, pihak penyambut sudah berada ditangga. Yang di muka ada tiga orang dengan tangannya masing2 menyekal sebatang bendera hijau segi tiga. Yang dua berusia kira2 tiga puluh masing2 dan yang satunya berumur diatas lima puluh tahun. Mereka bertiga dringi enam kacung usia rata2 lima belas dan berkonde dua, pakaiannya ringkas, sepatunya hijau dan kaos kakinya putih. Setiap utusan didampingi dua kacung kaciuig yang satu membawa karcis undangan.

Sambil memberi hormat dan keluarkan kata2 merendah, Eng Jiauw Ong sambut pihak pengundangnya itu, yalah cit tong loosoe, pengurus dari setiap Lwee Sam Tong. Ia pun menghaturkan terima kasih.

Coe In Am coe turut Eng Diyauw Ong memberi hormat, ia merendahkan diri dan mengucap terima kasih juga.

Cittong loosoe yang tua memberi hormat, lalu ia perkenalkan diri sebagai Pheng Sioe San, wakilnya Hiocoe Auwyang Siang Gee dari Thian Hong Tong, bahwa ia datang bersama kedua soe teenya, masing2 wakilnya hiocoe dari Ceng Loan Tong dan Kim Tiauw Tong, untuk mengundang semua tetamu berkumpul di Thian Hong Tong. Ia jelaskan dan mewakilkan memohon maaf yang hiocoenya sendiri tidak bisa datang menyambut, disebabkan kebetulan ketua mereka sedang kepalai upacara hari ulang berdiri nia Lwee” Sam Tong, hingga ke tiga hiocoe mesti h&dliri upaca ra itu, bahwa karenanya, ketua merekapun jadi tak bisa segera menemui sekalian tetamu. Untuk ini, ia sampaikan maaf nya ketua itu. Adalah agar tetamu tidak usah menantikan terlalu lama maka mereka diundang datang ke Thian Hong Tong.

“Ya, sesuatu kaum memang ada aturan2nya sendiri!” berkata Coe In Am coe sambil tertawa dingin. “Melainkan ada satu hal yang pin nie belum ketahui dan harap sam wie sudi menerangkannya.”

Pendeta ini lalu terangkan hal mereka dirintangi disepanjang jalan, terutama penyerangan hebat dengan api, tetapi setelah datang titah dari Lwee Sam Tong, gangguan lebih jauh tidak ada. Maka itu, ia heran kenapa mereka masih hendak disambut dan dipimpin oleh ketiga cittong loosoe ini.

“Apa mungkin masih ada orang2 yang tak puas?” ia tegaskan akhirnya.

“Harap Tay soe tidak terlalu bercuriga,” menyahut Pheng Sioe San dengan cepat. “Sebabnya penyambutan kami bertiga ini adalah karena sekarang sedang dibikin upacara, segala apa diatur secara resmi, baik aturan2 upacara maupun daya penjagaan ketertiban. Sekarang ini semua orang mesti ada ditempatnya masing2 tidak ada yang boleh lancang berkeliaran, terutama yang berbahaya adalah alat2 panah dan jepretan rahasia, dari itu untuk mencegah kecelakaan yang tidak dnginkan, hiocoe kirim kami bertiga untuk memimpin Tay soe beramai. Sekalipun kami sendiri, untuk bisa mundar mandir, ada membutuhkan bendera titah ini. Maka itu harap Taysoe tidak curiga dan tidak mengatakan bahwa kami hendak menghina Taysoe beramai. Untuk ini kami mohon dimaafkan saja.”

“Pinnie berpengalaman cupat, tidak tahu aturan2 disini, maka itu harap sam wie memaafkan,” berkata Coe In Am coe seraya ia memberi hormat. “Taysoe terlalu merendah,” kata Pheng Sioe San. “Jikalau Taysoe dan Ong Loosoe sudah tidak ada titah apa2 lagi, persilahkan kita berangkat sekarang!”

“Baiklah,” sahut Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe. Kemudian keduanya memberi tanda pada pihaknya, untuk berkumpul dengan rapi dalam dua rombongan.

Kim too souw Khoe Beng sebutkan sesuatu nama, untuk pisahkan juga pihak murid dan sekalian tetamu, sedang pihak See Gak pay terdiri dari rombongannya sendiri.

Rombongan tetamu ini tidak bekal sanjata, kecuali Ban Lioe Tong dan Coe In Am coe, karena mereka tak dapat berpisah dari pedangnya Tee sat Cian Iiong kiam dan Tin hay Hok po kiam. Kedua pedang itu dipegang masing2 oleh Soe touw Kiam dan Sioe Seng.

“Loosoe semua, ijinkan kami memimpin jalan,” kata Pheng Sioe San begitu lekas pihak tetamu sudah siap.

“Terima kasih, loosoe, silahkan!” Eng Jiauw Ong menjawab.

Tiga cittong loosoe itu dengan pengiringnya masing2 lantas mulai bertindak, dibelakang mereka mengikuti rombongan Hoay Yang Pay dan See Gak Pay. Semua orang jalan dengan rapi dan tenang, suasana pun sunyi kecuali suara burung2 diatas pepohonan.

Cuaca pagipun ada terang dan udara nyaman.

Keadaan semacam ini sukar disangka adalah tempat kediamannya kaum Hong Bwee Pang yang menjagoi dunia kang ouw.

Sejak dimuka gedung peng inapan, jalanan ada panjang, sampai diujung yang lain, Pheng Sioe San cepatkan langkahnya dua tindak, lalu ia goyang bendera ditangannya tiga kali. Kapan Eng Jiauw Ong dapat menyusul dan melirik, ditikungan ada sembunyi rombongan tukang panah dan jepretan. Goyangan bendera itu ada tanda untuk mereka itu jangan turun tangan.

Eng Jiauw Ong jalan terus dengan tenang, ia menoleh pada Coe In Am coe dan bersenyum. Pendeta itu pun bersenyum.

Orang jalan terus, sampai melewati jalanan ke Ceng Loan Tong. Mereka pun lihat Houw see tin, jalanan rahasia pasir putih yang liehay. Disini Coe In Am coe menghaturkan terima kasih, yang mereka diunjukkan bahagian dalam dari Cap jie Lian hoan ouw itu.

Segera juga terlihat Auwyang Siang Gee, yang memapak bersama2 Bin Tie dan Ouw Giok Seng. Hiocoe dari Thian Hong Tong lantas minta pertemuan dilakukan cara kang ouw, supaya mereka tidak likat2 lagi.

“Tentu saja kami bersedia akan turut perintah.” kata Eng Jiauw Ong kepada Coe In Amcoe, akan minta pendeta ini menurut saja. Kemudian ia tambahkan pada ketiga hiocoe itu “Kami harap kami nanti bisa lantas menemui Pang coe.

“Tentu, Ong Loosoe, jawab Auwyang Siang Gee. “Cuma sekarang Pang coe sedang pimpin upacara, dia tak bisa lantas keluar, untuk ini harap jiewie suka memaafkannya. Silahkan”

Auwyang Siang Gee bertiga memimpin bertindak diberanda, disini ketiganya lantas minggir kesamping kiri dari ruangan.

“Kesini, loosoehoe semua,” berkata Auwyang Siang Gee, seraya tangannya digerakkan untuk mengundang. “Pangcoe kami menantikan di Thian Hong Tong.” Hiocoe ini memimpin kearah barat utara, membelok dibelakang Ceng Loan Tong, jalan disebuah gang panjang dimana ada rumah rumah anggauta berbaris di kiri dan kanan, dari situ, sampailah mereka di Gedung Burung Hong, yang dilihat siang beda dengan keadaannya diwaktu malam. Sekarang tertampak tedas segala apa. Diantara kedua baris pohon cemara ada orang2 penjaga atau yang umpatkan diri.

Dikiri dan kanan pintu Thian Hong Tong ada menjaga dua baris chungteng dengan seragam hijau, kopiahnya hijau juga, senjatanya semua golok kwie tauw too yang tajam. Diempat pintu samping, setiap pintunya dikawal dua orang

.

Dimuka pintu merah ada pintu angin, yang mengalingi untuk orang melongok kehahagian dalam.

Semua barisan pengawal memberi hormat apabila rombongan tetamu sudah sampai didepan mereka, mereka menjura sambil golok diangkat sedikit.

Auwyang Siang Gee bertiga manggut, Eng Jiauw Ong semua balas hormat itu.

“Silahkan!” Auwyang Siang Gee undang semua tetamunya masuk.

Justeru itu, dari dalam Thian Hong Tong keluar satu orang dengan tindakan cepat, ia memberi hormat pada rombongan tetamu, lalu ia berdiri disamping seraya berkata “Semua hiocoe dari Hok Sioe Tong menyambut ciangboenjin dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay serta semua loosoe lainnya!”

Menyusul itu segera muncul serombongan orang tua, dengan usia semua diatas enam puluh tahun, ada yang berkumis jenggot dan rambut ubanan, ada yang baharu belang saja, tetapi semua bermata tajam, romannya sehat pakaian mereka tak tentu, ada yang baju panjang, ada yang juba imam.

Melihat mereka itu, Eng Jiauw Ong ingat saat ia himpunkan semua orang2 tua dari Lek Tiok Tong. Hanya disini, semua penghuni dari Hok Sioe Tong, Gedung Bahagia, adalah orang2 Hong Bwee Pang yang telah banyak jasanya untuk kaum mereka, karena mana, mereka diberi tempat digedung itu untuk hidup tenang, aman dan merdeka, sebab walaupun ada urusan bagaimana penting, jarang mereka diberikan tugas oleh Boe Wie Yang. Malah dalam beberapa tahun, hanya beberapa kali saja mereka diharuskan menghadap Liong Tauw Pang coe, ketua mereka. Dilain pihak tak ada anggauta lainnya dari Hong Bwee Pang yang boleh, ganggu ketenteraman Kok Sioe Tong. Maka adalah luar biasa, kali ini mereka itu telah turut melakukan penyambutan pada tetamu / musuh.

Karena ini, Eng Jiauw Ong anggap inilah benar2 ada saat mati hidupnya mereka semua dari kedua pihak.

Sedangnya ketua Hoay Yang Pay berpikir, dari antara rombongan Hok Sioe Tong itu maju kemuka seorang dengan rambut dan kumis jenggot putih semua, yang romannya tenang tetapi agung, atas mana, semua orang pihak Hong Bwee Pang lantas minggir, untuk memberi hormat. Ia awasi orang tua itu. segera ia ingat pada Siangciang Hoan thian Coei Hong, yang ia kenali ketika ia menyelusup masuk ke Hok Sioe Tong untuk tolongi In Hong dan Hong Bwee. Maka itu, ia ajaki Coe In Am coe maju untuk menyambut.

Juga Coe In Am coe kenali hiocoe itu, yang rupanya jadi tetua dalam Hok Sioe Tong. Ia terkejut berbareng mendongkol. Ia tidak sangka Hong Bwee Pang sudah segera kerahkan jago2 tuanya itu, yang rata2 semuanya liehay. Ia insyaf pihaknya benar sedang hadapi ancarnan bencana. Tapi, sebab memang ia belum pernah berhadapan dengan mereka itu, ia bawa sikap pura2 tak kenal, ia memberi hormat selayaknya saja.

Dengan rangkap kedua tangannya, Coei Hiocoe mendahului buka suara.

“Hoay Yang Tay hiap! See Gak Coe In Am coe!” berkata dengan hormat, suaranya tegas. “Selamat datang di Cap jie Lian hoan ouw! Ini adalah satu kehormatan besar untuk kami, begitupun untuk aku sendiri, Coei Hong yang tua. Dengan kemurahan hatinya Couw soe, kami diperkenankan berdiam didalam Hok Sioe Tong, maka itu, girang kami sekarang diberi ketika akan menemui Tay hiap dan Am coe semua! Inilah diluar sangkaanku. Sayang Pang coe sedang pimpin upacara, ingga ia tidak bisa segera menyambut sendiri. Karena ini, kami bertiga belas dititahkan menjumpakan Tayhiap beramai. Kami merasa sangat beruntung karena pertemuan ini! Sebentar, apabila upacara telah selesai, Pang coe pasti akan keluar untuk menemui Tayhiap semua.”

“Hiocoe terlalu merendah, terima kasih untuk kebaikanmu,” Eng Jiauw Ong membalas. “Liong Tauw Pang coe telah bangunkan Hong Bwee Pang, pihak, kang ouw tidak ada yang tidak mengaguminya. Demikianpun kami, kami telah mendapat kehormatan karena undangan ini, kami merasa berbahagia bisa bertemu kepada loocianpwee semua. Aku harap hiocoe nanti bisa berikan suatu pengajaran kepada kami.”

“Begitu juga pinnie, hiocoe,” Coe In turut bicara, dua tangannya dirangkap. “Pinnie telah menganut agama, tidak selayaknya pinnie campur urusan dunia, sampai sebegitu jauh pinnie utamakan kebathinan dan amal saja, tetapi apa mau pinnie tak dibebaskan dari keduniawian, tak dapat pinnie utamakan agama saja. Diluar keinginanku, kami telah kena terlibat, hingga pinnie terpaksa turut Ong Loosoe datang kemari, untuk memandang Cap jie Lian hoan ouw yang kesohor. Sekarang pinnie telah bisa saksikan sendiri kebesaran nya Hong Bwee Pang! Pinnie bersukur sekali bisa bertemu kepada hiocoe semua, adalah harapanku yang pinnie nanti diberikan pengajaran.”

“Taysoe pun terlalu merendahkan diri,” menjawab Coe Hong. “Mungkin sekarang Pang coe sudah selesai dengan upacaranya, maka silahkan tayhiap beramai masuk dan duduk ”

Baharu Siang ciang Hoan thian si Tangan Membalik Langit tutup mulutnya, atau dari rombongannya maju satu orang muka siapa ada kurus, perok dan kisutan, rambutnya ubanan, bajunya baju panjang biru, tangannya menyekal segabung ka lam hio.

“Hoay siang Tayhiap, Ceng Hong Po coe, banyak baik!” segera ia tegur Eng Jiauw Ong. “Sejak perpisahan kita di Siang Kang, beberapa tahun telah lewat, rasanya cepat sekali! Masihkah Tayhiap ingat sahabat lamamu ini?”

Eng Jiauw Ong segera kenali orang tua itu, yalah Pauw Kio coe yang dahulu di Siang Kang telah bokong ia dengan senjata rahasia, hingga ia hampir terbinasa karena lukanya. Lantas saja ia tertawa dingin.

CXVII

“Oh, Pauw Hiocoe! Sejak perpisahan di Siang Kang dimana kau telah hadiahkan aku sebatang senjata rahasiamu, sampai sekarang ini sekalipun waktu tidur dan mimpi, sukar aku lupakan itu, hingga habislah harapanku yang selama sisa hidupku, satu kali aku nanti dapat bertemu pula denganmu, untuk mohon pula pengajaranmu terlebih jauh, maka adalah diluar sangkaanku hari ini bisalah kesampaian pengharapanku itu! Pertemuan ini bisa membikin aku tak akan menyesal seumur hidupku. Aku girang sekali. Hiocoe berbahagia tinggal didalam Hok Sioe Tong, kau tetap sehat walafiat, tidak demikian aku si orang she Ong, yang masih saja hidup terumbang ambing, berkelana, aku malu sekali….”

Kemudian, sambil berpaling pada Coe In Am coe, Ong Too Liong menambahkan “Taysoe, inilah sahabatku yang telah sempurnakan aku, yang sering aku sebut2, yalah Pauw Hiocoe dari Hong Bwee Pang. Hiocoe ada punya boegee yang sempurna, ia punya sepasang siang sok membikin kaum Rimba Persilatan melirik sama kesohornya dengan Ban Soetee sebagai tabib. Belasan tahun telah berselang, sekarang dalam satu hari urusan aku berdua bakal dapat diselesaikan, itu pasti akan membuat aku nanti meninggalkan dunia dengan mata meram! Apakah Taysoe tidak ingin berkenalan dengan orang kang ouw yang kenamaan ini?”

Eng Jiauw Ong tak dapat kendalikan dirinya, hingga ia bicara separuh menyindir.

“Oh, kiranya ini ada Pauw Hio coe yang kenamaan?” berkata Coe In Am coe. “Memang, siang sok dari hiocoe telah membikin gempur nyalinya kaum kang ouw diselatan dan utara sungai Besar. Ingin pinnie berkenalan, sayang kita terpisah dilain bagian, jadi pinnie cuma bisa mempangeni saja. Pinnie merasa sangat berbahagia, karena telah mengikuti ketua dari Hoay Yang Pay, disini pinnie bisa bertemu dan berkenalan dengan orang2 gagah dari Hong Bwee Pang.” Pauw Hiocoe menoleh kepada pendeta dari Pek Tiok Am itu, ia bersenyum. tetapi wajah muka nya suram, karena ia insaf akan kata2nya pendeta itu.

Pauw Hiocoe ini adalah bernama Coe Wie dan gelarannya Yauw Beng Long tiong yang berarti Tabib Menghendaki Jiwa. Didalam Hong Bwee Pang, dia adalah anggauta tertua, karena lamanya dan usianya yang tua. Ia masuk jadi anggauta sejak tergabungnya Hong Bwee Pang dengan Auw Coei Pang di Hok kian, terus sampai di Ciatkang Selatan ini, Hong Bwee Pang dibangun pula. Didalam Hong Bwee Pang dia berpengaruh. Dia ada punya perangi kukuh, Suka sekali ia lindungi dan eloni orang sebawahannya, karenanya, ia sering bentrok sesama kaum Rimba Persilatan. Begitu bentrokannya dengan Eng Jiauw Ong, yang disebabkan sebawahannya kebentur orang Hoay Yang Pay, sebawahannya itu kalah, lantas mereka mengasut, tidak pikir lagi, Coe Wie belai sebawahannya itu. Dari gunung Eng Yoe San, pusat Hong Bwee Pang, Coe Wie pergi ke Lek Tiok Tong, Ceng hong po, mencari Eng Jiauw Ong, untuk satu pertempuran yang memutuskan. Ketika ia sampai di Hoay siang, kebetulan Eng Jiauw Ong sedang pergi ke Kanglam dan lain2 tertua Hoay Yang Pay pun tidak ada disana. Ia tidak ganggu murid2 Hoay Yang Pay, karena pernah ia lepas kata, ia tak mau layani orang2 sebawahan lawan. Maka itu, ia lantas berkelana, sebagaimana biasanya dulu ia mengembara, ialah dengan bebokong menggendol peti obat dan tangan menggoyang, tiat houw ciang, kecreknya. Dengan ini, ia hidup sebagai long tiong, tabib pengembaraan. Ia memang mengarti ilmu obat2an.

Kemudian Pauw Coe Wie dapat temui Eng Jiauw Ong di Siang kang. Ketika itu, ketua Hoay Yang Pay ini sedang majukan usaha kaumnya. Ia pernah dengar hal murid2nya bentrok dengan serombongan orang kang ouw, ia tak ketahui duduknya hal yang benar, ia belum menyelidiki nya. Karena ini ia kena dipancing oleh Pauw Coe Wie, yang ajak ia pergi ke sesuatu tegalan belukar dimana mereka berdua lantas bertempur.

Selama pertempuran itu, Eng Jiauw Ong cuma tahu she lawannya, ia tak tahu orang bernama apa, iapun tak sempat menanyanya. Melainkan kedua pihak berjanji, pertempuran akan dilakukan sampai salah satu pihak “kena tertowel”.

Eng Jiauw Ong gunai Kim na hoat akan layani musuh, ilmu pukulan itu ia memang sudah latih sempurna, yang terdiri dari tiga puluh enam jurus. Pauw Coe Wie keteter, ia terdesak. Asal mau Eng Jiauw Ong bisa rubuhkan lawannya, tetapa berhati mulia, ia tak sudi tanam bibit permusuhan. Disebelah kemurahan hatinya itu, lawan sebaliknya sangat licik.

Setelah insyaf ia bakal kalah, Pauw Coe Wie gunai tipu daya. Ia berpura pura kalah, ia lari, tetapi diam2 ia siapkan siang sok nya, sepasang senjata rahasia semacam alat tenun. Ini adalah senjata rahasia yang telah angkat namanya hingga ia jadi kesohor. Senjata itu dapat dilepas terus saling beruntun.

Eng Jiauw Ong yang jadi ketua Hoay Yang Pay ada seorang terhormat, ia tidak sangga lawan ada begitu hina dina, ia kena dicurangi. Ia terluka oleh sebatang senjata rahasia musuh, karena mana ia segera lari pulang kehotelnya. Dengan lekas ia jadi lelah dan payah karena lukanya, sebab senjata rahasia itu dipakaikan racun. Didalam saat yang berbahaya itu, justeru ia bertemu Yo Boen Hoan dari Hoa im, yang tolongi ia hingga sembuh. Sebab ini, ia jadi ingat budinya penolong itu, yang sebisanya ia hendak lindungi. Disebelah itu, ia bertekad untuk mencari balas. Maka ia terus pulang ke Lek Tiok Tong, ia sekap diri untuk melatih diri lebih jauh. Selama lima tahun ia berhasil latih matanya jadi sangat awas dan kupingnya bisa dengar anginnya sesuatu senjata rahasia, kedua tangannya jadi sangat kuat, tubuhnya jadi bertambah enteng dan pesat. Sebenarnya ia berniat cari Pauw Coe Wie, tetapi niat ini tertunda karena justeru telah terbit huru hara, hingga ia mesti berdiam didesa nya untuk lindungi keselamatan seluruh desa dan sekitarnya. Adalah untuk lindungi Yo Boen Hoan, dengan siapa ia telah angkat saudara, ia sudah kirim Hoa In Hong, muridnya pertama, pergi bawa surat pada Boen Hoan, tetapi apa celaka surat itu In Hong bikin jatuh, hingga akhirnya menerbitkan peristiwa permusuhan dengan Hong Bwee Pang jadi diperbesar. Hingga akhirnya rombongan Hoay Yang Pay bersama rombongan See Gak Pay, datangi Cap jie Lian hoan ouw.

Sementara itu, sejak lima tahun yang lampau, Pauw Coe Wie telah ditarik masuk kedalam Hok Sioe Tong, dan Boe Wie Yang tak ijinkan dia campur pula urusan Hong Bwee Pang, alasan nya adalah karena ia telah berusia lanjut dan berjasa, dia harus dijunjung oleh angkatan muda, tetapi hal yang benar Wie Yang hendak kekang dia disebabkan pertimbangannya yang berat sebelah dan hatinya kejam hingga dia banyak satrunya kaum Rimba Persilatan di selatan dan utara sungai Besar. Dengan dia dikasi beristirahat didalam Hok Sioe Tong, dia seperti disembunyikan dan dengan begitu, jalan penuntutan balas jadi tertutup.

Adalah kebetulan, pihak Hoay Yang Pay dan See Gak Pay telah diundang untuk memasuki sarang Hong Bwee Pang, maka berhubung dengan datangnya rombongan musuh, selagi Boe Pang coe belum sempat menemui para tetamunya, rombongan dari Kok Sioe Tong mendahului menyambut, malah Pauw Coe Wie sudah lantas ketemui musuh besarnya.

“Apakah Taysoe ada Coe In Am coe, ciangboenjin yang kenamaan dari See Gak Pay?” Yauw Beng Long tiong tegasi setelah ia pandang pendeta itu, ia bersenyum tetapi wajahnya keren. “Sudah lama aku si orang she Pauw telah dengar Taysoe empunya pedang Tin hay Hok po kiam serta dua belas biji mutiara See boen Cit poo coe, pelindung2 dari gunung See Gak, dengan mana entah berapa banyak sesama kaum kang ouw yang telah rubuh ditangan Taysoe, hingga karenanya, sejak sekian lama aku berkeinginan untuk membikin kunjungan, hanya sayang, lantaran sudah masuk dalam Hok Sioe Tong, aku jadi tidak punya ketika lagi. Sekarang inipun kebetulan sekali, Pang coe sedang pimpin upacara besar, dengan melanggar aturan, kami keluar untuk menyambut Taysoe beramai. Aku berbahagia bisa memandang wajah Taysoe beramai, ingin aku menerima pengajaran dari Taysoe, untuk menambah pengetahuan. Lebih2 aku girang karena pertemuan dengan Ong Loosoe dengan siapa sudah lama aku berpisah. Nah, silahkan masuk”.

Coei Hong berkuatir kapan ia saksikan sikapnya Pauw Coe Wie, jikalau ia tidak lantas campur bicara, kawan ini bisa bentrok kepada Ong Too Liong dan Coe In Am coe, terutama dengan Too Liong, karena mereka berdua adalah musuh2 besar.

“Memang ada satu hal yang menggirangkan bahwa Ong Loo soe telah bertemu dengan Pauw Hiocoe,” berkata ia. “Disini bukannya tempat bicara, mari kita masuk kedalam. Pauw Hiocoe, Pangcoe kita asyik menantikan didalam, mari kita menemuinya bersama. Dengan melihat kepada Pang coe, kita harus bikin tetamu kita masuk kedalam Cap jie Lian hoan ouw sebagai juga mereka sedang pulang, secara demikian baharulah kita ada sahabat2 sejati.”

Pauw Coe Wie mengerti maksud kawannya ini, dari itu, ia menoleh kepada Siang ciang Hoan thian sambil menyengir.

“Kedatangan para tetamu kita membuat bahagia bagi Hong Hwee Pang,” kata ia, “untuk melayani saja aku masih sangsikan kesempurnaannya, apapula untuk berlaku tidak hormat! Ciongwie loosoe, mari masuk!”

Bersama2 Coei Hong, demikian juga yang lain2, Pauw Coe Wie lantas memimpin masuk. Eng Jiauw Ong semua bertindak kedalam setelah ia menghaturkan terima kasih. Para tuan rumah kemudian mengiringi dari belakang.

Begitu masuk dalam Thian Hong Tong, Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe perhatikan seluruh ruangan secara diam, hingga mereka tampak perubahan perlengkapan daripada diwaktu malam tadi.

Empat kacung, dengan seragam hijau, menyambut dimuka tempat pemujaan. Ban tiang telah dipentang ditengah, lebarnya lima kaki. Dari hiolouw diatas meja ada mengepul asap dupa. Di tengah meja ada digantung sebuah Hoelieteng yang apinya tak terang sempurna. Dibelakang ban tiang, yang kuning warnanya, ada selembar ban tiang lain, hingga disitu tak terlihat suatu apa, kecuali dengan samar2, cahaya api yang dinamai sin teng, pelita suci, apinya berkelak kelik, asapnya pun bergulung.

Entah dewa atau malaikat apa yang dipuja disitu.

Didepan meja sembahyang ada sebuah kursi tercat air emas, yang ditataki lapisan sulam. Dikiri dan kanan ada para2 kayu, yang di perlengkapi dengan dua burung hong menghadapi matahari yang tertabur batu pualam dan mutiara dan dibelakangnya burung hong itu tergendol sebuah para2 kecil warna merah, yang disebelah kiri memuat dua belas batang tek hoe, yang disebelah kanan di tancapkan dua belas batang bendera sulam tiga persegi.

Kursi itu masih kosong.

Sedikit didepan itu ada dua baris tempat duduk lain, ditengahnya ada sebuah meja dengan kedua sampingnya disediakan masing2 sebuah kursi thay soe ie.

Thian Hong Tong berkedudukan di barat, tempat pemujaannya di barat utama. Disebelah utara, sambil berdiri, ada seorang dengan wajah terang, kumisnya pendek. Dia adalah Thian lam It Souw Boe Wie Yang, ketua dari Hong Bwee Pang. Dia berdiri didepan sebuah kursi. Lainnya kursi kosong semua. Berbagai tocoe berdiri sedikit dibelakang, disebelah selatan dan utara, jumlah dua puluh lebih, pakaian mereka rapi, romannya bersungguh2. Semuanya berdiam. Dibelakang mereka ada serombongan anggauta dengan usia dari dua puluh sampai tiga puluh tahun, seragam mereka ringkas, potongannya luar biasa, karena dari samping kiri dan kanan, terus kebelakang, mirip ekor burung walet, sesuatu nya menyoren golok.

Begitu lekas Coei Hong sampai bersama sekalian tetamunya, Boe Wie Yang bertindak maju untuk menyambut, untuk segera memberi hormat pada Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe, seraya ia mengucap “Hoay siang Tayhiap, See Gak Pay Ciangboen taysoe. Kunjungan ini adalah suatu kehormatan besar bagi kami. Inilah perjalanan ribuan lie, yang membuat cape dan lelah. Harap Tayhiap dan Taysoe maafkan aku, karena kemarin, tatkala jiewie baharu sampai, aku tak dapat ketika untuk menyambut sendiri.” “Tetapi, Pang coe, aku hanya ada seorang kasar dari dunia kang ouw,” Eng Jiauw Ong menjawab sambil membalas hormat. “Kami justeru berterima kasih terhadap Pangcoe, semua hiocoe dan tocoe, yang telah begitu baik hati sudah undang kami beramai. Kami telah memenuhi undangan, pertama untuk dapat melihat Cap jie Lian hoan ouw yang kesohor, ke dua untuk mohon dapat tambahan pengetahuan dari Pangcoe, yang boegeenya luar biasa. Ini adalah pangenanku sejak banyak tahun. Aku adalah seorang kasar yang tak tahu aturan2 kaum kang ouw, dari itu aku minta sukalah Pangcoe memberi maaf!”

Niekouw dari See Gak juga rangkap kedua tangannya didepan ketua Hong Bwee Pang itu seraya ia berkata “Sudah lama pinnie dengar nama besar dari Hong Bwee Pang yang telah Pangcoe dirikan hingga menggetarkan daerah sungai Besar Selatan dan Utara, hingga pinnie ingin melongok satu pemimpin demikian besar dan mentereng, maka sungguh kebetulan, pinnie telah dapat dua kali undangan anak panah Pek ie cian dari tocoe di Tong kwan, maka pinnie segera siap untuk memenuhi undangan itu. Sekarang, disini pinnie dapatkan penyambutan manis dan sempurna dari Pang coe, benar pinnie ada sangat bersyukur dan berterima kasih. Disebelah undangan itu, Pang coe datangnya pinnie juga ada untuk sekalian memohon maaf dari Pang coe serta berbareng buat minta pengunjukan dari tocoe bagian Barat, apa dosanya kaum See Gak Pay hingga kami tak dapat diberikan tempat. Pinnie menyiarkan agama menuruti ajaran guruku, pinnie telah berkelana, umpama kata pinnie ada lakukan sesuatu kesalahan, pasti itu bukannya dengan disengaja. sama sekali pinnie tidak niat mempersulit Hong Bwee Pang, akan tetapi kuilku, Pek Tiok Am telah dibakar, inilah membuat pinnie, sebagai ciang boen jin, tak dapat bertanggung jawab terhadap anggauta kaumku semuanya. Demikian, Pangcoe, dengan besarkan nyali, pinnie datang kemari secara lancang. Adalah maksudku supaya Pang coe serta sekalian tocoe suka berikan pengajaran kepadaku dengan depan berdepan…”

Boe Wie Yang tertawa gelak2.

“Jangan kesusu, Am coe!” berkata ia. “Dengan tak menghiraukan cape lelah, Am coe telah sudi datang berkunjung ketempatku ini, itu saja sudah menunjuk penghargaan besar terhadap aku, Boe Wie Yang, maka itu, kami pasti akan berikan kepuasan kepada Am coe. Sebenarnya hal ini tak dapat dibicarakan selesai dengan tempo satu hari saja, karena itu, silahkan duduk, mari kita bicara dengan saksama”. Ia lalu menoleh pada Eng Jiauw Ong, akan meneruskan “Ong Loosoe, semua tetamu, menurut daftar namanya ada orang2 kenamaan, karena itu, sebab aku belum kenal pribadi semua, tolong kau perkenalkan aku kepada mereka satu demi satu”.

Eng Jiauw Ong meluluskan akan memperkenalkan semua orang dari rombongannya kepada ketua Hong Bwee Pang.

Boe Wie Yang memberi pujian kepada semua tetamunya, sesudah mana, ia undang mereka duduk. Ia menyalakan tak ketahui jelas derajat mereka, maka ia minta supaya mereka duduk menurut runtunan sendiri. Khoe Beng ada terlebih tua daripada Eng Jiauw Ong tetapi Eng Jiauw Ong sebagai ciangboenjin, ketua, mesti duduk sebagai kepala, berimbang dengan Coe In Am coe, ketua See Gak Pay. Maka itu, orang lantas ambil tempat duduk menuruti derajat masing2. Murid2nya Coe In, tidak duduk, mereka berdiri mendampingi guru mereka, begitupun rombongan Hoa In Hong dan Soe touw Kiam.

Ketua Hong Bwee Pang tunggu sampai semua tetamunya sudah duduk rapi, lalu dengan menjura ia undang sekalian tetua dari Hok Sioe Tong untuk ambil tempat duduk mereka.

Siang ciang Hoan thian Coei Hong, hiocoe dari Hok Sioe Tong, ajak rombongannya duduk disebelah selatan, menyusul duduk Auwyang Siang Gee, Ouw Giok Seng dan Bin Tie. Mereka ini adalah hiocoe dari Lwee Sam Tong tetapi dalam hal runtunan, mereka ada dibawahan Hok Sioe Tong. Lalu belasan tocoe lainnya, yang tidak dapat kursi, pada berdiri dibelakang kursi.

Kemudian Thiam lam It Souw Boe Wie Yang memberi hormat pada Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe, untuk ia ambil tempat dudukuya sendiri.

Segera setelah itu, muncul empat pelayan dari pintu kiri dan kanan, mereka membawa air teh untuk disuguhkan kepada pihak tetamu dan tuan rumah. Mereka ada pelayan tetapi dimata akhli, terang mereka adalah orang2 yang mengarti baik ilmu silat kerena gerak2nya yang gesit.

Sementara itu, Ay Kim Kong Na Hoo melirik Eng Jiauw Ong, maksudnya menganjurkan ketua itu segera mulai tanya Boe Wie Yang tentang sebabnya pelbagai tocoe memusuhi mereka. Melihat tanda itu, Eng Jiauw Ong anggukkan kepala.

“Boe Pang coe,” berkata ketua Hoay Yang Pay kemudian, “aku Ong Too Liong ingin mohon sedikit keterangan, apakah Pang coe sudi memberikannya?”

“Oh, Ong Loosoe!” menyahut Boe Wie Yang dengan cepat, sikapnya ramah tamah. “Kita ada sahabat2 kang ouw, Loosoe semuapun telah perlukan datang dari tempat ribuan lie jauhnya, maka jikalau Loosoe sampaikan pertanyaan, pasti sekali aku suka berikan keterangan.” Eng Jiauw Ong tertawa dengan tawar, lalu ia berkata pula “Ilmu silatnya Ong Too Liong ada rendah, jikalau ia toh bisa berkelana, semua itu karena ia mengandalkan tunjangannya sesama kaum kang ouw belaka. Selama itu, umpama ia kena lakukan satu atau lebih kesalahan terhadap kaum sendiri itulah disebabkan terutama untuk pri kebenaran, bukan untuk hal2 yang tak keruan. Akupun insaf, ilmu silat Hoay Yang Pay ada rendah sekali, dari itu, selama memberi pelajaran pada murid2 di Lek Tiok Tong, aku perkeras aturan, teristimewa aku larang mereka tonjolkan kebisaan mereka. Semua murid lulusan, selama tiga tahun tak pernah lolos dari pengawasan perguruan. untuk menjaga agar mereka jangan terbitkan onar diluaran. Walaupun demikian, baru2 ini telah terjadi juga bentrokan di antara segolongan murid2ku dengan pihak Pang coe. Dalam hal itu, kedua pihak ada benarnya dan ada salahnya juga. Apabila urusan itu diurus oleh masing2 ketuanya, dapat dipastikan akan selesai maka adalah diluar dugaan, Pauw Hiocoe dari Hong Bwee Pang, tanpa penyelidikan lagi sudah percaya kepada kata2 pihak bawahannya, di Siang Kang, ia telah berlaku telengas terhadap aku si orang she Ong. Pada waktu itu aku sendiri masih belum ketahui ada orangku yang berbuat salah terhadap Hong Bwee Pang, aku menyangka saja pada soal kedengkian, sama sekali aku tidak bersiap siap, karenanya, hampir saja aku terbinasa korban senjata rahasia yang beracun dari Pauw Hiocoe. Adalah setelah itu, baharu aku ketahui duduknya hal. Maka segera aku pulang ke Lek Tiok Tong akan menyekap diri memikirkan kesalahanku, sambil aku tilik keras semua muridku, agar mereka tak lagi bentrok dengan Hong Bwee Pang, untuk lenyapkan permusuhan. Melainkan aku sendiri yang memikir untuk dibelakang hari mohon pengajaran dari Pauw Hiocoe untuk mohon pertimbangan sesama kaum kang ouw, pantas atau tidak, untuk urusan kecil orang berlaku telengas menggunakan senjata rahasia yang di pakaikan racun. Apakah itu pantas digunai oleh satu orang kenamaan? Inilah, Boe Pang coe, ada hal2 yang sekian lama aku ingin mohon keterangan dari mu”.

Selama berkata kata begitu, Eng Jiauw Ong tak menoleh ataupun melirik sedikitpun kepada Yauw Beng Long tiong Pauw Coe Wie si Tabib Menghendaki Jiwa, ia berhenti sebentar, lalu ia melanjutkan pula “Sejak Pang coe bangunkan pula Hong Bwee Pang serta perbaiki segala aturannya, nama Hong Bwee Pang dalam kalangan Sungai Telaga telah naik tinggi, sekali”, demikian ketua Hoay Yang Pay itu. “Begitulah pengaruh Hong Bwee lang telah meluas sampai di selatan dan utara sungai Besar sampai dipropinsi2 Soe coan dan Siamsay, jumlah anggautanya bertambah banyak, sedang aturan aturannya tetap keras. Didalam kaum kang ouw, siapa yang berani tak menghargai Hong Bwee Pang? Apa lacur, muridku yang bernama Hoa In Hong, yang sedang membawa surat, selagi ia lewat di Tong kwan, ia sudah mengalami kesulitan. Disana, Teetok houw Tay Giap, yang dijuluki louw Ko pie, si Tukang Keset Kulit, apamau dia sudah gunai pangkat dan kekuasaannya secara sewenang2, hingga saudara angkatku Yo Boen Hoan, turut mendapat susah, mesti mendekam didalam tangsi tentara. Disebelah itu ada lagi Toan bie Cio Loo Yauw, satu anggauta Hong Bwee Pang yang berulang2 langgar aturan perkumpulannya, yang gunai pangkatnya secara sesat, untuk kepentingan dirinya sendiri. Dia telah gunai beratus akal untuk merintangi aku menolongi muridku yang bercelaka itu. Adalah niatku akan bikin habis permusuhan, tetapi pelbagai tocoe dibahagian Barat, tidak hentinya mendesak aku, tidak sekali mereka sudi mengalah! Disebelah itu, ada lagi undangan Bin Hiocoe dengan panahnya Pek ie cian berkepala ular2an, undangan sampai tiga kali beruntun. Demikian, saking terdesak, aku Ong Too Liong telah mengajak rombonganku datang ke Cap Jie Lian hoan ouw ini, untuk mohon penghunjukan dari Boe Pang coe sendiri, untuk mohon pengajaran.”

CXVIII

Belum sempat Boe Wie Yang jawab tetamunya, Pauw Coe Wie sudah dului ia.

“Ong Loosoe.” berkata hiocoe dari Hok Sioe Tong ini, “kejadian di Siang Kang itu ada urusanku pribadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Liong Tauw Pang coe, maka jikalau kau berniat membikin perhitungan, ada orangnya yang akan bertanggung jawab, dalam hal ini Loosoe tak nanti dibikin kecewa! Pasti sekali tak akan sia2 perjalanan Loosoe kemari! Perhitungan apapun yang loosoe pikir, silakan utarakan itu, aku nanti sambut dengan senang hati. Hanya sekali lagi aku hendak menjelaskannya, mengenani Pangcoe tidak ada sangkut pautnya!”

Sehabis mengucap demikian Pauw Coe Wie tertawa tawar. Kelihatan nyata sikapnya yang memandang enteng dan licin.

Eng Jiauw Ong mendongkol karena sikap yang katak itu, tetapi disebelah iapun ada lain orang yang naik darahnya yalah Jie Hiap Na Hoo, tidak perduli dia sebenarnya ada seorang dengan banyak pengalaman.

Ay Kim Kong berbangkit, menghadapi Eng Jiauw Ong ia berkata “Ciangboenjin, maafkan kelancanganku, aku ingin ucapkan sepatah dua patah kata terhadap Pauw Hiocoe ini!” Terus ia berpaling pada Pauw Coe Wie, sembari memberi hormat ia berkata “Pauw Hiocoe, aku Na Hoo mohon pengunjukanmu. Bukankah kita kaum kang ouw ada menjunjung pri kebenaran dan berbuat selamanya terus terang? Tetapi ketika dahulu Hiocoe cari ciangboenjin kami, untuk menegur, tatkala kau berdua bertemu di Siang Kang, adakah Hiocoe tanya jelas ketua kami tentang duduknya bentrokan diantara murid2 Hoay Yang Pay dengan murid2 Hong Bwee Pang? Menurut keterangan, Hiocoe sudah tidak berbuat demikian, hanya secara menantang Hiocoe telah katakan, siapa berani menghina Hong Bwee Pang, dia tak akan dikasi menaruh kaki didalam dunia kang ouw! Itu waktu Hiocoe juga tidak berikan ketika untuk ciangboenjin kami bicara, hanya dengan tiba2 Hiocoe turun tangan! Apabila waktu itu orang bertempur secara laki2, dengan andalkan kepandaian sejati dan ciangboenjin kami kena dikalahkan dibawah tanganmu, dia cuma harus sesalkan bangpaknya ilmu silat kaum Hoay Yang Pay. Akan tetapi, Hiocoe nyata sudah tidak berbuat demikian, dengan senjata rahasia, kau telah melukai lawan. Sebenarnya, dengan gunai senjata rahasia saja, orang telah kehilangan derajat kehormatannya, tetapi diluar dugaan Hiocoe bahkan gunai senjata rahasia yang dipakaikan racun. Bukankah permusuhan kedua pihak tidak terlalu besar, yang mudah diakurkan? Bukankah segala asap pules, obat tidur, senjata rahasia beracun, ada pantangan kaum kita yang sejati? Melainkan orang rendah, hina dina, yang gunai semacam senjata rahasia! Dengan Pauw Hiocoe empunya nama besar, dengan sepasang senjata rahasiamu itu, dengan gampang kau mengangkat namamu akan menjagoi dikalangan kang ouw, maka itu, apakah pantas kau telah gunai senjata rahasia beracun terhadap ketua kami? Semua hadirin disini ada orang kenamaan, aku si orang she Na ada cupat pendengarannya, dari itu mohon aku diberikan pengajaran!”

Diwaktu ucapkan kata2nya yang terakhir ini, Na Hoo pandang Pauw Coe Wrie dengan tajam, kemudian sembari tertawa dingin, ia berduduk. Semua orang terkejut, sama sekali mereka tidak sangka Na Jie hiap berani bicara secara demikian terus terang.

Tak perduli dia sangat licin, mukanya Pauw Coe Wie toh menjadi merah padam, bahna malu dan gusar. Begitulah ia berbangkit seraya berlompat, dengan niatan memberikan jawaban. Tetapi, belum sempat dia buka mulutnya, Thian Iam It Souw Boe Wie Yang telah dului ia.

“Pauw Hiocoe, tunggu dulu!” kata ketua ini, tampang siapa ada keren, matanya memandang kawan itu. “Aku minta kau indahkan peraturan kita dan berdiam dahulu. Semua orang yang datang memenuhi undangan, tidak perduli bagaimana keras tegurannya, tetap ada tetamu2 kita yang terhormat. Kau harus ketahui, biar bagaimana, aku akan punyakan daya pemberesan.”

Pauw Coe Wie mundur, untuk duduk pula dikursinya.

Boe Wie Yang memandang kepada Na Hoo, ia memberi hormat.

“Na Jie Hiap, teguranmu kepada Pauw Hiocoe ada sempurna,” berkata ia, “akan tetapi aku Wie Yang ada mempunyai anngapan lain. Bukankah kita Kaum kang ouw ada dari pelbagai golongan? Bukankah ada banyak sekali jumlahnya senjata2 rahasia istimewa yang digunakan? Dilihat dari caranya Pauw Hiocoe gunai siangsoknya, dia memang kurang kebijaksanaan, tapi harus diingat, siapa gunai senjata rahasiai maksudnya tentu tak lain tak bukan, untuk membinasakan sang lawan. Senjata tajam pun adalah perkakas untuk membunuh orang. Bukan budi pelajaran silat ada untuk pembelaan diri? Melainkan haruslah dibicarakan dari lain jurusan tentang mereka yang yakin silat untuk sewenang wenang. Mengenai Pauw Hiocoe, itu memang sangat terkenal dengan senjata sepasang siang sok, yang semuanya terdiri dari enam buah, yang telah direndamkan racun. Dalam kalangan Rimba Persilatan, tidak ada yang tidak ketahui tentang senjata rahasianya ini. Sampai sebegitu jauh, belum pernah Pauw Hio coe gunai senjatanya itu untuk maksud jahat, umpama ia gunai itu terhadap angkatan muda, ia berlaku keterlaluan, tetapi ini kali, ia gunai itu terhadap Ong Loosoe, ciangboenjin dari Hoay Yang Pay yang kesohor ilmu kekuatannya Eng jiauw lat dan ilmu silat Kim na hoat. Siapa didunya kang ouw tidak kagumi Ong Loosoe? Maka itu, aku anggap tidaklah keterlaluan, jikalau Pauw Hiocoe minta pengajaran dari Ong Loosoe dengan dia gunai senjata rahasianya itu! Jikalau Pauw Hiocoe tidak minta pengajaran dari orang liehay habis dari siapa lagi? Maka setelah sekarang Ong Loosoe timbulkan, soal lama itu, inilah benar kebetulan seperti katanya Pauw Hio coe. Pauw Hiocoe ada seorang yang telah mengundurkan diri, lantaran kita sedang mengadakan upacara, dia jadi bisa bertemu dengan Ong Loosoe beramai inilah kebenaran sekali! Sebentar, tidak ada halangannya kalau ke dua pihak mengadakan pertemuan, akan bicara tangan dengan tangan, dengan begitu, urusan jadi akan dapat diselesaikan. Oleh karenanya, Na Jie Hiap, harap kau tidak menegur terlebih jauh, dan kau, Pauw Hiocoe, tak usah kau membantah pula. Aku harap kedua pihak tidak berlaku tergesa gesa....” Kemudian ia menoleh kepada Eng Jiauw Ong, untuk menambahkan, katanya “Kejadian di Tong kwan ada hal kebetulan saja, Cio Loo Yauw itu benar ada anggauta kami, tetapi sebab dia bekerja didalam tangsi tentera dan muridmu kena fitnah, jadi bukanlah dia sengaja hendak persulit Hoay Yang Pay. Seharusnya, sebagai ketua Hoay Yang Pay, Ong Loosoe panggil ia ke luar dari tangsi, akan gunai aturan kaum kang ouw kita, untuk tegur padanya, apabila dia berkepala batu, maka haruslah Ong Loosoe laporkan itu kepada kami didalam Cap jie Lian hoan ouw ini. Aturan kami ada keras, pasti dapat kami hukum padanya. Tetapi Ong Loosoe sudah tidak berbuat demikian, sebaliknya loosoe sudah kerahkan seantero tenaga untuk menghadapi padanya, maka itu, salah faham jadi melar semakin besar. Disebelah itu, akupun dengar warta yang tersiar bahwa Hoay Yang Pay bercita cita membasmi lain lain kaum, untuk gebah pelbagai kaum di selatan dan utara sungai Besar, supaya Hoay Yang Pay hidup sendiri, ini juga menyebabkan bimbangnya lain lain kaum. Karena adanya sebab sebab itu, Cio Loo Yauw telah mengundang pelbagai tocoe, untuk bikin perlawanan, guna bantu dia. Diakhirnya, dia tetap bukan tandingannya Hoay Yang Pay. Hong Bwee Pang adalah aku sendiri yang pimpin, dengan susah payah aku berhasil menyebar pengaruh sampai di Hoolam dan Siamsay, tetapi setelah Loosoe dan Am coe dari See Gak menindasnya, hampir tak dapat kami berdiri pula. Kamipun malu akan bangun pula dikedua propinsi itu. Sementara itu terlalu sering aku terima laporan tentang perselisihan ini, bahwa tanpa penyelesaian yang lekas, urusan bisa jadi hebat sekali, maka diakhirnya, aku telah kirim undanganku. Bin Hiocoe ada punya urusan di Hoolam Selatan, dia sengaja aku utus akan mengundang sekalian. Mengenai penculikan murid murid Loosoe. itulah sekali kali bukan maksudku, itulah sebab pekerjaan tidak sampurna dari orang orangku, tentang itu, aku sangat menyesal. Tetapi karena di sepanjang jalan orang telah merasai liehaynia Loosoe beramai, hingga mereka pun telah mendatangkan malu untuk Hong Bwee Pang, aku harap itu cukuplah akan melampiaskan kemendongkolan Loosoe semua. Bahwa aku mengundang Loosoe datang kemari, tidak lain maksudku adalah untuk mohon pengajaran dari Loosoe sendiri, untuk kita mengadakan perdamaian, supaya selanjutnya ada daerah pemisahan kita bekerja, agar kita tak lagi kita saling langgar. Asal Hoay Yang Pay tidak melewati perbatasan, di pihak Hong Bwee Pang, pasti aku bisa kendalikan orang orangku untuk mereka taati aturan. Bagaimana pikiran jiewie Loosoe mengenai pandanganku ini?”

Eng Jiauw Ong tertawa dingin, karena ia merasakan orang punya sikap yang keras, walaupun kata kata dikeluarkan dengan sabar. Sebenarnya ia hendak berikan jawabannya akan tetapi Coe In Am coe mendului ia.

“Soeheng, aku ingin bicara sedikit kepada Boe Pang coe”, demikian niekouw dari Pek Tiok Am itu. “Kalau soeheng hendak omong, harap tunggu sebentar”. Lantas ia hadapi tuan rumahnya. “Apa yang Pang coe sebutkan adalah jelas sekali”, kata ia. “Itu hari Ong Loosoe kena terluka senjata rahasianya Pauw Hiocoe, dalam hal itu, baiklah disesalkan saja kepandaian sendiri yang tidak sempurna. Tetapi, mengenai pinnie, halnya ada lain. Pinnie tenangkan diri di Pek Tiok Am, tidak ada sangkutanku dengan Hong Bwee Pang, melainkan puterinya Tiekoan Yo Boen Hoan dari Hoa im adalah muridku, dia ini turut tertawan oleh Gouw Ko pie ketika ayahnya ditangkap dan ditahan beserta seluruh anggauta keluarganya. Selama dalam tahanan itu, muridku itu telah dapat perlakuan tidak sopan dari Toan bie Cio Loo Yauw, satu anggauta Hong Bwee Pang, maka pinnie sebagai guru, mana bisa diam saja! Aku niat tolongi muridku itu, tetapi justeru karena itu, aku jadi bentrok dengan pihakmu. Pek Tiok Am ada satu tempat suci, selama aku tidak berada didalamnya, walaupun satu enghiong tidak berani datang memasuki nya, akan tetapi Cio Loo Yauw, dengan cara iblisnya, sudah datang dengan diam diam kesana dan melepasnya api membakar kuilku itu, apabila tiada pembelaan sempurna dari pinnie empunya soe moay, pasti sekali kuil yang telah berumur beberapa ratus tahun itu akan habis termusnah dalam sekejab. Ketika pinnie pulang kekuil, yang berada di puncak Chong Liong Gam, Cio Loo Yauw bersama beberapa tocoe dari Barat sudah bawa kabur muridku itu bersama murid dari Hoay Yang Pay. Itulah ada kejadian yang membikin lenyap penghargaan pinnie terhadap Hong Bwee Pang, sebab menurut aturan kaum kang ouw, itu adalah perbuatan yang tidak harus terjadi! Lebih lebih harus diingat, muridku ada satu murid perempuan, satu nona remaja! Pang coe biasa pandang diri sebagai satu orang kang ouw sejati, pasti sekali pang coe akan merasakan sebagaimana pinnie merasa. Tadi pang coe mengatakan, segala kejadian itu ada perbuatannya beberapa tocoe itu sendiri, itu tak keluar dari niat pang coe, mengenani, pinnie tak dapat ketahui. Tetapi satu hal sudah pasti, kejadian itu ada sangat memalukanku, hingga sukar pinnie dapatkan tempat untuk menaruh kaki. Maka itu, kedatanganku sekarang ini, ke satu untuk mendengar pang coe empunya pengajaran, ke dua untuk minta supaya to coe2 pembakar kuilku itu diminta keluar menemui pinnie, supaya kepadanya satu per satu pinnie bisa mohon pengajaran juga! Tidak perduli mereka ada orang2 yang pandai menggetarkan langit dan menggoncangkan bumi, pinnie mesti hendak minta pengajaran sendiri dari mereka! Tak kuatir pinnie nanti dipersalahkan pang coe tetapi ingin aku menjelaskannya, kedatangan pinnie kemari adalah sesudah pinnie angkat sumpah didepan Couwsoe kami! Sumpah pinnie itu adalah, apabila pinnie tidak sanggup bikin si pembakar perbaiki pula Pek Tiok Am serta membikin pengakuan bersalah di depan Couwsoe kamtu, tidak nanti pinnie mau sudah!”

“Harap sabar, Am coe,” menyahut Boe Wie Yang dengan tertawanya tawar. “Apa juga yang Am coe inginkan, aku Boe Wie Yang akan mencoba untuk memenuhinya hingga kau peroleh kepuasan. Tetapi ingin aku menjelaskan, sejak aku membangun di Ciatkang Selatan ini, belum pernah ada orang2ku yang mendurhaka yang mengalutkan undang2, dan diantara kaum kang ouw, juga tidak ada yang berani datang kedalam Cap jie Lian hoan ouw ini untuk menegur dan menghukum, sebab semua orangku, yang tersebar dimana2, apabila ada yang membuat pelanggaran, dia bakal dihukum oleh perkumpulan kami, lain orang tak dapat menghukumnya sendiri. Boe Wie Yang ada pemimpin satu2 nya, aku telah ditugaskan Couwsoe untuk memajukan kaum, maka itu, dengan seantero tenagaku, aku nanti lindungi anggauta2ku, aku tidak nanti antap mereka dihina oleh lain kaum, tetapi di sebelah itu, aku memegang aturan, tidak aku kasi mereka lakukan pelanggaran. Memang orang2 ku ada bangsa campuran, tetapi aku sanggup kendalikan mereka. Aku anggap, pemisahan daerah kita adalah daya yang baik untuk hindarkan bentrokan pula, dalam hal ini, aku harap jiewie suka meluluskannya. Sekarang satu hal lagi. Diluar dari kebiasaan, aku hendak periksa orangeku dimuka umum, dihadapan jiewie beramai”.

Mendengar demikian, dua2 Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe berbangkit dengan berbareng, keduanya memberi hormat, lalu yang pertama kata “Kami berbahagia sekali akan kebaikan pang coe ini yang sudah meng ijinkan kami menyaksikan upacara yang agung”.

“Pinnie pun merasa sangat beruntung,” Coe In turut berkata. Kemudian ia berikan pujih selamatnya.

Justeru kedua tetamunya berbangkit, Boe Wie Yang kasi titah untuk semua berbangkit, atas mana Auwyang Siang Gee dari Thian Hong Tong, Ouw Giok Seng dari Kim Tiauw Tong, dan Bin Tie dari Ceng Loan Tong, lantas saja bangun, akan minta semua orang dari pihaknya meninggalkan kursi mereka masing2, setelah semua orang mundur lima tumbak jauhnya, semua kursi lantas disingkirkan demikianpun semua meja, hingga disitu terbukalah satu ruangan luas.

Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe ditemani Auwyang Siang Gee, yang minta mereka mundur ke kiri dimana kursi mereka segera disiapkan, maka itu, mereka bisa lantas diundang berduduk pula.

Eng Jiauw Ong tampak rombongan tuan rumah, yang mundur ke selatan, diantaranya sekalian hiocoe dari Hok Sioe Tong, tidak ada yang berduduk, maka itu, terus ia kata pada hiocoe dari Thian Hong Tong. “Auwyang Hiocoe, tak usah kau sibuki kami. Kami justeru sangat berbahagia bisa menyaksikan upacara yang maha suci ini!”

“Loosoe baik sekali,” sahut Auwyang Siang Gee sambil menjura, maafkan aku, sebentar sehabisnya upacara aku nanti menemani pula ”

“Persilahkan, hiocoe,” Coe In pun bilang.

Dengan sikapnya yang hormat, Auwyang Siang Gee lantas undurkan diri.

Segera juga terdengar suara genta tiga kali, suaranya tedas dan panjang, disusul dengan munculnya enam belas kacung dengan seragam hijau, usia mereka yang paling tua tak lebih daripada lima atau enam belas tahun. Mereka berbaris dimuka tempat pemujaan, dua antara nya lantas menyingkap ban tiang hingga disitu kelihatanlah sebuah meja pemujaan Ngo Sie, mejanya besar dan tinggi dua batang lilinnya besar sekali, dan disebelah atasannya tergantung sebuah lentera Ban lian teng. Asap wangi mengepul2. Tiga rupa buah . Ldalah barang suguhan yang diatur didepan sin cie, yang teraling dengan kelambu kuning hingga tak dapat terlihat, orang macam apa adanya pujaan dari Hong Bwee Pang. Karena meja ada tinggi, untuk bisa mengulur tangan keatas meja, disamping meja ada dipasangkan tangga kayu, mirip dengan tangga lorak batu. Dekat sin cie, dikiri dan kanan, ada para2 tercat air emas, yang dikiri ditaruhkan satu bungkusan kuning, entah bungkusan apa, panjangnya tak lebih dua kaki, yang dikanan ada sepotong tongkat panjang empat kaki, warnanya merahtua, menandakan tuanya tongkat itu. Disitupun ada satu bungkusan kuning yang lain. Meja pemujaan itu bebas dari debu.

Dua barang lain yang berada di meja suci itu adalah sebatang lengkie, bendera tiga persegi warna kuning, dan sepotong tek kan, lembaran bambu tipis yang dipakai sebagai kertas, yang ada tulisannya. Kertas bambu ini yang warnanya merah tua juga, rupanya sama tuanya dengan bendera kuning itu.

Satu boca naik ditangga meja, untuk gunting puntung lilin. Satu boca lain menyediakan seikat hio wangi, yang panjangnya dua kaki lebih. Dua boca lain urus tambur dan genta.

Didalam ruangan Thian Hong Tong ini ada berkumpul lebih dari seratus orang akan tetapi semua bungkam, suasana ada sangat mempengaruhi hati orang. Tambur dan genta berbunyi terus, kalau genta dikiri berbunyi sembilan kali, tambur dikanan tiga kali, lalu kacung tadi menyalakan hio, terus ia haturkan kepada ketuanya.

Boe Wie Yang menyambuti, ia goyang itu beberapa kali hingga apinya marong, asapnya mengepul, satelah ia memasang hio, hio itu ia tancap didalam hiolouw. Iapun injak tangga. Kembali genta dan tambur berbunyi., Kembali kemuka meja, ketua Hong Bwee Pang mulai paykoei.

Setelah ketua ini, datang gilirannya ketiga hiocoe dari Thian Hong Tong, Ceng Loan Tong dan Kini Tiauw Tong, yaiah Auwyang Siang Gee, Bin Tie dan Ouw Giok Seng, buat pasang hio juga, akan jalankan upacara menghormat. Mereka lakukan itu dengan berbareng, Auwyang Siang Gee ditengah, Bin Tie dan Ouw Giok Seng dikiri dan kanan. Kembali tambur dan genta dibunyikan.

Lalu datang gilirannya Siang ciang Koan thian Coei Hong ajak rombongannya dari Hok Sioe Tong akan hunjuk hormat mereka.

Selagi orang jalankan upacara, Eng Jiauw Ong berbisik pada Coe In Am coe.

“Dalam kaum kang ouw, inilah upacara yang mereka paling hormati. Cara mereka ada berbeda jauh daripada kita. Ditempat semacam ini, apabila kita tidak berlaku hormat, gampang kita menyinggung mereka. Tidakkah demikian, Am coe?”

Coe In Am coe pun mengarti. “Benar”, ia menyahut seraya manggut.

Sebaliknya daripada ketuanya dan niekouw dari Pek Tiok Am itu, Yan tiauw Siang Hiap tidak puas terhadap caranya Boe Wie Yang ini. Ia menduga orang sengaja mengadakan upacara di hadapan mereka untuk beraksi saja. Caranya kedua pihak toh berlainan dan tidak bersangkutan satu dengan lain! Karena ini, ia bersenyum ewah.

Eng Jiauw Ong melirik saudara nya itu, ia kuatir saudara ini nanti tak dapat kendalikan diri, maka itu, sehabisnya penghormatan dari hiocoe2 dari Hok Sioe Tong, ia lantas ajak Coe In Am coe bertindak maju kearah meja suci.

Melihat orang mendatangi, Boe Wie Yang memapaki. “Ang Loosoe, Am coe, apakah ada pengajaran apa2

untuk kami?” tanya ia. “Kami ingin haturkan terima kasih yang Pang coe telah berikan kami ketika untuk saksikan upacara suci ini”, sahut Eng Jiauw Ong. “Cara2 kita ada berlainan tetapi sudah seharus nya saja kami pun hunjuk hormat kami”.

Mendengar demikian, Boe Wie Yang rangkap kedua tangannya.

“Jangan pakai adat peradatan, loosoe”, berkata ia. “Inilah aku tidak sanggup terima. Akupun sudah bersyukur dengan loosoe beramai empunya kunjungan ini”.

Coe In Am coe juga hendak hunjuk hormatnya tetapi tuan rumah mencegah. Maka diakhir nya kedua tetamu itu cuma manggut satu kali dari kejauhan.

Kemudian Coe In Am coe menyatakan, supaya upacara tidak terhambat karena hadirnya mereka, ia mohon undurkan diri dulu.

Boe Wie Yang mengucap terima kasih, ia persilahkan tetamu nya kembali kekursi mereka. Iapun mohon maaf yang ia belum dapat menemani tetamu2 ini.

Segera setelah kedua tetamu mundur, Thian lam It Souw berdiri didepan meja, sikapnya keren. Ia melirik kepada Lwee Sam Tong, lalu ia perdengarkan suaranya kepada Auwyang Siang Gee “Auwyang Hiocoe, silahkan gunai bendera untuk menghimpun Heng tong tocoe, Cittong tocoe dan Lee tong tocoe, supaya mereka sekalian bawa kitab undang2 mereka!”

Auwyang Siang Gee heran, sampai ia utarakan itu pada tampangnya walaupun demikian, ia tidak berayal akan ambil sebuah bendera tiga persegi dari para para sambil ia menggape pada satu pengawal dimuka pintu, siapa sudah lantas hampirkan ia. Ia mengucapkan beberapa kata2 dengan pelahan, ia serahkan bendera itu, lantas si pengawal berlalu bersama bendera itu.

Boe Wie Yang masih berdiri dimuka meja, tetapi sekarang ia bicara dengan hiocoe dari Lwee Sam Tong dan Hok Sioe Tong, katanya “Aku memimpin Hong Bwee Pang, aku kuatir, tenagaku dan kepandaianku tidak seimbang dengan tugasku yang berat, akan tetapi selama itu, aku mengandal kepada bantuannya saudara Auwyang, hingga selama beberapa tahun kita telah peroleh kemajuan, Hong Bwee Pang jadi makin makmur. Tentu saja, tak dapat aku lupai perlindungan dari Couwsoe dan bantuannya semua saudara. Tugasku jadi semakin berat karena selaku kepala, aku mesti bikin diriku sebagai contoh teladan untuk semua saudara, untuk kaum kang ouw seumumnya. Karena itu aku mesti bisa kendalikan diri, aku mesti mentaati undang2 kita, aku mesti awasi tindak tunduknya sesuatu orang. Umpama halnya Pauw Hiocoe dari Hok Sioe Tong, perbuatannya dulu dalam perselisihan dengan Hoay Yang Pay ada kurang tepat. Seharusnya Pauw Hiocoe tegur Hoay Yang Pay secara langsung, atau kita undang umum kaum kang ouw untuk mohon keadilan. Pauw Hiocoe telah tidak berbuat demikian, ia sudah lantas tempur ketua Hoay Yang Pay, ia malah menyerang dengan senjata rahasianya yang dipakaikan racun. Ini bukanlah perbuatannya satu pemimpin dari Hong Bwee Pang. Maka sekarang, dihadapan Couwsoe, sebagai ketua dari Hong Bwee Pang, ingin aku peroleh penjelasan. Aku harap Pauw Hiocoe beritahukan, ketika dahulu hiocoe bentrok dengan ketua Hoay Yang Pay, sama sekali hiocoe ada punya berapa batang senjata rahasia”.

Youw Beng Long tiong Pauw Coe Wie berdiri disampingnya Siang ciang Hoan thian Coei Hong, ia mendongkol mendengar kata2 ketua ini. Ia menganggap ia telah dibikin malu dimuka umum, apapula sekarang mereka berada didepan musuh. Ia pun mendongkol karena ditimbulkannya urusan lama itu. Disebelah itu, hati nyapun bercekat. Ia ingat, di waktu ia diminta beristirahat didalam Hok Sioe Tong, Gedung Bahagia, ada orang yang kasi kisikan bahwa itulah bukan maksud baik dan hormat yang sesungguhnya dari Boe Wie Yang untuk menghargai ia, hanya dengan ditempatkannya digedung itu, ia hendak diperiksa kemerdekaannya, supaya ia jatuh dibawah kekuasaannya ketua itu, agar ia tak campur lagi urusan Hong Bwee pang. Sekarang terbuktilah benarnya kisikan itu. Malah sekarang ia dengar kata2 tidak sedap didepan lawan, dimuka ramai. Ia jadi tak dapat menahan sabar lagi.

“Boe Pang coe,” berkata ia, “kau telah utarakan pikiranmu, itulah cukup. Mengenai urusanku dengan Hoay Yang Pay, sebab ketuanya tak dapat melupai itu, akupun tidak hendak tidak membayarnya. Bukankah membunuh orang harus mengganti jiwa, pinjam uang membayar uang? Dalam hal ini aku Pauw Coe Wie tidak hendak rembet2 lain orang, walaupun perbuatanku dulu itu, tidak seluruhnya untuk kepentinganku sendiri. Sekarang orang telah datang menagih, aku bersedia untuk melayaninya, aku percaya tidaklah sampai aku merugikan Hong Bwee Pang! Maka adalah ber lebih2an apabila kau ungkat2 urusan lama itu!”

Sikapnya Pauw Hiocoe ini membuat semua orang Hong Bwee Pang terkejut, semua mengawasi Hiocoe itu dan ketuanya silih ganti.

Boe Wie Yang tunggu sampai orang berhenti bicara, dengan air muka padam ia kata “Pauw Hiocoe, kau adalah cianpwee kami yang sudah undurkan diri kedalam Hok Sioe Tong, kau telah dihormati oleh dua tingkat angkatan muda kita, dari itu, dimuka Couwsoe, aku harap kau nanti menghormati undang2 kita! Dengan kemurahan hatinya Couw soe, aku telah ditugaskan mengepalai Hong Bwee Pang, dari itu, berhaklah aku akan jalankan segala aturan. Kenapa kau tidak jawab pertanyaanku? Apakah mungkin, kita yang adakan aturan, kita sendiri juga yang langgar dan merusakkannya?”

Pauw Coe Wie kertek gigi. Itulah teguran hebat baginya. Orang telah gunai pengaruhnya Couwsoe dan undang2 untuk tindih padanya. Ia tidak jerih, maka ia tertawa dingin.

“Aku tidak mengerti, Pangcoe!” kata ia, “kita berdua sudah bekerja sama2 untuk banyak tahun, dan aku Pauw Coe Wie, aku berkelana selama setengah umurku dengan mengandalkan siang sok dan kelenengan houw Chang kau tahu itu, kenapa sekarang kau sengaja menanyakannya?”

Thian lam It Souw Boe Wie Yang perdengarkan suara dihidung.

“Kau harus ingat, Pauw Hiocoe,” kata ia dengan tak kurang kerennya, “Hong Bwee Pang kita, sejak Couwsoe membangunkan nya, telah punyakan aturan yang keras dengan apa kita dilarang merampas atau merampok, kita dilarang menghina orang karena andalkan pengaruh kita, kita dilarang mengganggu yang lemah, pantang membunuh tanpa alasan! Kita menyiarkan cita2 kita, kita menerima banyak murid, untuk itu besar ongkosnya, walaupun demikian, untuk mengongkosinya, sumber penghasilan kita satu2nya adalah usaha pegaraman. Pekerjaan kita ini benar mengganggu hasilnya kas negara, akan tetapi kita tidak mempersukar rakyat jelata, ini adalah satu hal yang dapat kita buat bangga. Kita sebagai pemimpin harus berlaku jujur, untuk menjadi contoh bagi angkatan muda. Mengenai bentrokan dengan Hoay Yang Pay, sebenarnya itu ada urusan kecil sekali, sebab diantara kita tidak ada permusuhan besar, melainkan suatu penghinaan oleh pihak Hoay Yang Pay terhadap Hong Bwee Pang, urusan itu gampang didamaikan, tetapi hiocoe telah ambil tindakan. Bukankah hiocoe ada punya senjata rahasia yang tak ada racunnya? Disini tidak ada soal menang atau kalah, maka kenapa hiocoe berlaku demikian cupat? Bagaimana perbuatan itu dapat dibuat teladan? Itu bukanlah satu pelanggaran besar tetapi itu menandakan pikiran yang tidak benar! Hiocoe adalah orang yang telah undurkan diri kedalam Hok Sioe Tong, tidaklah ku’niat menjalankan aturan perkumpulan terhadap hiocoe, melainkan aku insaf, sebagai pemimpin haruslah kita perbataskan diri, mesti kita sayang diri, harus kita hargai undang2 kita, supaya semua anggauta lainnya turut menghargai juga. Maka itu, sudah selayaknya kalau hiocoe tegur diri sendiri, untuk akui kekeliruan supaya di kemudian hari tidaklah dibuat sebutan oleh kaum kita. Tidaklah Pauw Hiocoe bersepandapat sebagai aku ini?”

Bukan kepalang malunya Pauw Coe Wie karena ia ditegur dimuka umum, didepan kawan dan lawan, dihadapan Couwsoe juga karena itu ia menjadi gusar sekali.

“Boe Pangcoe!” kata ia dengan nyaring. “Sejak aku menghamba kepada Hong Bwee Pang, kepada siapa aku telah berikan tenagaku, hingga dari Couwsoe aku menerima budi kebaikan, belum pernah aku terima hukuman, maka tidaklah aku sangka sekarang, setelah aku memasuki Hok Sioe Tong, aku mesti terima penghinaan semacam ini, hingga aku dapat ditertawai khalayak ramai! Boe Pangcoe, lama sebelumnya aku masuk Hong Bwee Pang, jiwaku yang tidak berharga ini, yang mirip jiwa semut, sudah aku paserahkan kepada dunia kang ouw, kemudian setelah menjadi anggota Hong Bwee Pang, aku haturkan kepada Couwsoe, inilah kau tentu telah ketahui. Sekarang aku sudah berusia tujuh puluh lebih, sedang umur manusia tak nanti melebihi seratus tahun, atau umpama aku dapat mencapai batas itu, tak lebih tak kurang, tinggal lagi dua atau tiga puluh tahun. Lagipun ada berapa orangkah yang bisa mencapai umur seratus tahun? Dengan kemurahan nya Couwsoe, aku dimasukkan kedalam Hok Sioe Tong, ini membuat aku bersyukur sekali. Kedudukan ini adalah kedudukan yang aku tidak sangka2. Aku berada dalam tangan pangcoe, umpama pangcoe kehendaki jiwaku, itu bukanlah soal lagi, akan tetapi, mengingat jasaku yang tidak sedikit, mengingat aku telah memasuki Hok Sioe Tong, aku rasa tidaklah tepat jikalau pangcoe perlakukan aku sebagai anggota yang kebanyakan. Bukankah sejak lama aku tak campur tahu lagi urusan kita? Umpama pangcoe niat singkirkan aku, dapat pangcoe lakukan itu dengan gampang, tak usahlah pangcoe campur baurkan dengan lain urusan yang tidak ada sangkutannya, janganlah pangcoe ambil alasan sembatan! Sebagai Liong Tauw Pangcoe, wajib pangcoe junjung undang undang kita, terhadap kami anggota2 dari Hok Sioe Tong tidak dapat pangcoe bertindak sesukanya saja.”

CXIX

Berubah wajahnya Boe Wie Yang apabila ia dengar teguran itu.

“Pauw Hiocoe”, kata ia dengan nyaring, “kau ada termasuk pemimpin, kaupun pernah terima kemurahan hatinya Couwsoe, kau baru ketahui, undang2 negara tak kenai sanak kandang, undang2 untuk semua, sedang aku si orang she Boe, sejak aku pegang pimpinan, senantiasa aku berlaku adil, belum pernah aku membeda2kan. Pauw Hiocoe, kau keliru apabila kau anggap, setelah memasuki Hok Sioe Tong dimana kau peroleh kedudukanmu yang paling mulia, lantas terhadap tindak tandukmu, tak ada orang yang dapat meniliknya lagi! Sebaliknya kau harus insaf, siapa sudah masuk dalam Hok Sioe Tong, perbuatannya mesti agung mulia, kedudukannya sangat terhormat, karena dia telah berbuat banyak untuk kaum kita, dia pantas menerima penghargaan dari angkatan muda hingga diapun layak memberi anjuran pada angkatan muda itu. Jikalau tindakan kita tidak benar, cara bagaimana kita bisa bikin angkatan muda dapat menghormati kita? Jikalau Pauw Hiocoe berbuat keliru, bagaimana kau dapat takluki orang? Terhadap saudara2 dari Hok Sioe Tong. aku menghormati dan menyayanginya, sama sekali aku tak mempunyai dendaman, walaupun demikian, nama baik kita siapapun tak dapat merusakkannya! Sekarang Pauw Hiocoe memandang enteng kepadaku, tetapi apa kau juga berani tak memandang mata kepada undang2 Couwsoe? Pauw Hiocoe, apabila demikian sewenang adanya perbuatanmu, tak dapat tidak, aku mesti berlaku adil, aku mesti bicara terhadapmu dengan gunakan aturan kita. Pauw Hiocoe, kembali aku mengulangi permintaanku, kau mesti menyatakan tobat terhadap Couwsoe, kau mesti mengutarakan penyesalanmu. Pauw Hiocoe, bisakah kau memenuhi keinginanku ini?”

Pauw Coe Wie masih gusar, maka jawabannya tetap keras.

“Buat empat puluh tahun lebih aku berkelana dalam dunia kang ouw, sikapku adalah kepalaku boleh diputas kutung tetapi tubuhku tak dapat diperhina!” demikian katanya. “Maka itu, Boe Pangcoe, jikalau kau anggap tingkah lakuku tidak berharga untuk aku tinggal didalam Hok Sioe Tong, sekarang juga aku akan undurkan diri, dan apabila kau masih tetap tidak puas, aku akan lantas serahkan piauw pou namaku boleh dicoret dari daftar anggauta! Barangkali secara begini baharulah kau akan merasa puas!”

Kedua matanya Boe Wie Yang seperti terbalik waktu ia awasi hiocoe dari Hok Sioe Tong itu, lalu ia berseru “Aku minta Auwyang Hiocoe dari Thian Hong Tong bacakan sepuluh aturan dari undang2 kita dan enam pantangan!”

Ketiga hiocoe dari Lwee Sam Tong saling memandang, saking bingung. Mereka insyaf akan hebatnya urusan. Seandainya disitu tidak ada pihak tetamu, mereka tentu sudah maju siang2 untuk datang sama tengah. Sekarang mereka sangsi untuk campur bicara. Mereka kenal baik tabeat nya ketua itu, yang biasanya tidak kenal mundur. Bukanlah dia telah unjuk Pauw Hiocoe telah bersalah? Kalau Pauw Coe Wie suka mengakui kekeliruannya, urusan pasti akan jadi lain. Juga, yang hebat, ketua itupun tengah berada bersama2 pihak tetamu, hingga karenanya, ia mesti pegang derajat.

“Poen tong akan turut titah Pang coe,” akhirnya Auwyang Siang Gee kata sambil maju. Poen tong adalah sebutan untuk dirinya sebagai hiocoe dari Thian Hong Tong. Tetapi, walaupun ia mengucap demikian, ia tidak lantas bacakan bunyinya aturan Hong Bwee Pang. Sepuluh aturan itu, jangankan satu hiocoe atau satu anggauta lama, sekalipun satu anggauta baharu, ketahui dengan baik. Sebaliknya, ia dekati Pauw Coe Wie kepada siapa ia kata dengan pelahan sekali. “Pauw Hiocoe, kita yang telah menjadi hiocoe, yang telah terima kemurahan hatinya Couwsoe, yang telah dihormati oleh angkatan muda, apa bisa kita karena urusan kecil, mesti ditertawai orang? Boe Pang coe pegang semua kekuasaan, ia adalah Liong Tauw Pangcoe, maka biar bagaimana juga, aku minta sukalah kau mengalah sedikit. Setelah upacara ini, kami pasti ada punya daya upaya untuk membikin hiocoe peroleh kepuasan.” “Auwyang Hiocoe, kau baik sekali, walaupun sampai mati, tidak nanti aku lupakan budimu ini,” kata Pauw Coe Wie. “Aku harap kau tak usah perdulikan pula urusanku ini, aku telah insyaf sesempurna2nya. Rupanya tak dapat tidak, aku siorang she Pauw mesti rubuh ditangannya Boe Wie Yang! Akan tetapi aku ingin lihat, apa dia bisa bikin terhadap aku! Auwyang Hiocoe, silahkan kau jalankan tugasmu, kau bacakan undang2 Hong Bwee Pang, aku tidak jerih. Apa dia hendak perbuat atas diriku?”

Auwyang Siang Gee tidak lantas undurkan diri.

“Pauw Hiocoe,” kata ia pula, “kita ada punya perkenalan dari belasan tahun, walaupun kita tidak bergaul terlalu rapat, tetapi kita ada sesama kaum, maka itu aku minta sukalah hiocoe memandang mukaku, harap kau suka mengalah, supaya urusan ini dapat dikasi lewat. Langit ada terlebih panjang daripada daun, maka apa juga adanya urusan, itu dapat diselesaikan lain hari. Pauw Hiocoe, aku harap kau dengar aku ”

Pauw Coe Wie menggeleng kepala belum sampai ia buka mulutnya, atau Boe Wie Yang telah utarakan pula kemurkaannya.

“Aturan kita tak dapat dibuat permainan, maka itu Auwyang Hiocoe, aku minta kau hormati kedudukanmu!” berseru ketua itu.

Auwyang Siang Gee jadi bingung sekali, sebab ia mesti jalankan kewajibannya.

Yauw Beng Long tiong bersenyum tawar, ia kata pada Auw yang Siang Gee “Auwyang Hio coe, aku bersyukur tak habisnya untuk kebaikanmu, kau telah lakukan kewajibanmu selaku sahabat, aku insyaf itu. Auwyang Hiocoe, silahkan jalankan tugasmu, jangan kau cari susah sendiri karena urusanku ini, kau nanti bikin aku jadi tidak enak hati ”

Auwyang Siang Gee jadi putus asa, ia menghela napas. Lantas ia putar tubuhnya madap ke meja, untuk menjura, kemudian ia bertindak kemuka meja suci itu, didekat meja mana ia membalik tubuhnya pula. Kali ini lantas saja ia perdengarkan suara nya yang nyaring dan tegas, kata nya “Sejak Couwsoe kita membangun Hong Bwee Pang, oleh karena terlalu banyaknya anggauta, ia sudah adakan sepuluh macam aturan beserta enam pantangan, semua anggauta dimestikan tunduk kepada undang2 itu, diatas mulai dari Liong Tauw Pang coe sendiri, dibawah sampai anggauta baru, siapa lakukan pelanggaran, dia mesti dihukum tanpa ampun lagi. Undang kita berbeda daripada undang2nya lain kaum, sekarang poen tong dititahkan Pang coe membacakan sepuluh aturan dan enam pantangan itu, maksudnya tak lain ialah supaya semua saudara ingat dan menginsyafi undang2 itu, agar siapa merasa bersalah, dia segera insyaf dan mengubah sendiri sambil memohon belas kasihannya Couwsoe, supaya dengan kemurahan hatinya, Liong Tauw Pangcoe pun mengampuni atau meringankan hukumannya. Sebaliknya, siapa bersalah dan tidak insyaf dan menunggui sampai lain orang menegurnya, itulah berarti menyesal sesudah kasep ”

Sampai disitu, hiocoe ini lantas bacakan sepuluh aturan dan enam pantangan itu, antaranya larangan menghina Couwsoe dan berkhianat, tak boleh tak berbakti, pantang berlaku cabul dan main perempuan, tak boleh sembarang membunuh atau mengeruk uang secara tak halal atau main gila dengan piauw pou. Sehabis membaca, ia lalu menjura dan undurkan diri.

Setelah itu, Boe Pangcoe maju kedepan meja, akan bicara dengan nyaring. “Pauw Hiocoe ada jadi loosoe dari Hong Bwee Pang, dia telah langgar aturan kita, dia masih tidak menyesal, dia tidak memohon kemurahan hatinya Couwsoe, secara demikian, cara bagaimana dia bisa memberi teladan kepada angkatan muda kita? Pauw Hiocoe, kau masih tidak hendak akui kedosaanmu didepan Couwsoe, kau hendak tunggu apa lagi?” demikian ketua itu.

Wajahnya Pauw Coe Wie menjadi merah padam. “Umpama ada perbuatanku yang tidak dibenarkan kaum

kita, itu adalah kejadian2 sebelum aku memasuki Hok Sioe

Tong,” kata Pauw Coe Wie dengan tidak kurang kerasnya. “Boe Pang coe, jikalau begini sikapmu, aku kuatir tak dapat kau cari satu pun anggauta kita yang bertubuh putih bersih, sebab orang kita semua adalah orang2 kang ouw! Bagaimana apabila kau periksa urusan2 mereka dari beberapa puluh tahun yang lalu? Kau ada menjadi Pang coe namun putusanmu tidak adil, buat urusan pribadi kau bertamengkan urusan umum, secara tersembunyi kau hendak melampiaskan dendam, maka perbuatanmu semacam ini, aku Pauw Coe Wie tak dapat menerimanya!”

Itulah jawaban yang membuat keadaan sangat tegang, hingga Coei Hiocoe, tetua dari Hok Sioe Tong, jadi sangat berkuatir. Ia insyaf itulah berarti saling bunuh. Maka itu, ia lantas majukan diri.

“Liong Tauw Pang coe,” kata ia dengan sungguh2 dengan sikap memohon, “kau ada jadi ketua Hong Bwee Pang, kau dihormati semua orang, tetapi Pauw Hiocoe, yang hari ini telah tenggak banyak arak, telah keluarkan kata2 tidak selayaknya, atas namanya, untuk kepentingannya kaum kita, mohon kau ijinkan poen co bawa ia kembali ke Hok Sioe Tong, supaya poen co bisa berikan nasihat padanya, agar kemudian ia suka menghaturkan maaf didepan Couwsoe dan Pangcoe sendiri.”

Mendengar katanya ketua Hok Sioe Tong ini, Boe Wie Yang ketatkan dahi.

“Coei Hiocoe,” berkata ia “sejak aku Boe Wie Yang bangunkan pula Hong Bwee Pang dan mendirikan kembali Lwee Sam Tong dengan kemurahan hatinya Couwsoe, dengan dukungannya semua saudara, aku berhasil membikin kaum kita seperti adanya sekarang ini. Jikalau kita, yang menjadi pemimpin, tidak berikan teladan, cara bagaimana kita dapat membikin tunduk orang banyak? Jikalau titah tak dapat dijalankan, apa bila pengaruh telah tersapu bersih, bagaimana aku Boe Wie Yang masih ada muka untuk menjadi Liong Pauw Pangcoe? Coei Hiocoe, aku insyaf akan kebaikanmu ini, tetapi kejadian hari ini mesti dijalankan menurut undang2 kita! Urusan persahabatan pribadi itu baiklah dibicarakan nanti setelah selesainya upacara…. Harap Hiocoe maafkan aku tak dapat aku meluluskannya permintaanmu ini. Atas nama Liong Tauw Pangcoe, aku persilahkan Coei Hiocoe kembali ketempatmu, supaya kau jangan omong lebih banyak lagi!...”

Ketua ini lalu berpaling kepada Pauw Coe Wie, ia kata dengan keras, “Pauw Hiocoe, apakah kau berani tentangi titahnya Pangcoe?”

Tanpa bersangsi pula Pauw Coe Wie berikan penyahutannya yang ringkas “Aku tak puas jikalau orang membalas dendam dengan akal dan putusan tak adil!” demikian katanya.

Sepasang alisnya Boe Wie Yang bergerak naik, kedua biji matanya bersinar. “Pauw Coe Wie!” katanya, “aku niat lindungkan muka terangmu, maka aku titahkan kau menyalakan tobat dihadapan Couwsoe. Apabila kau lakukan ini, tidak melainkan membuat kehormatanmu tidak terganggu, kaupun akan dapat perindahan dari angkatan muda, tetapi sayang, kau sebaliknya anggap aku gunai urusan umum untuk menutupi maksud pribadiku, kau menyangka aku sengaja hendak menghina kepadamu, hingga dimuka Couwsoe kau berani membangkang titahnya Liong Tauw Pangcoe. Pauw Coe Wie, dengan sikapmu ini, kau cari malu sendiri! Mari, mulai dengan upacara!”

Lalu, menoleh kepada petugas2 yang urus hio, lilin, tambur dan genta ia berseru “Siaplah!”

Empat petugas itu berikan jawabannya “Ya”, sesudah mana, segera mereka mulai dengan kewajiban mereka untuk menyalakan lilin, pasang setabung hio, bunyikan tambur dan genta.

Boe Wie Yang maju sampai dimuka meja sekali, ia sambuti hio untuk segera angkat itu tinggi tinggi kehadapan meja suci, lalu ia perdengarkan kata2nya

“Teecoe Boe Wie Yang, sambil memasang hio memohon kemurahan hati dan perlindungan Couwsoe, walaupun otak polo teecoe pecah berhamburan, ingin teecoe melindungi Hong Bwee Pang, tetapi jikalau teecoe kandung pikiran yang tidak2, yang mementingkan diri sendiri, biarlah teecoe nanti terbinasa dengan tubuh ter potong2 ter bagi2!”

Setelah mengucapkan kata2 itu, Boe Wie Yang tancap hio, lalu ia undurkan diri sampai di tangga dimana ia paykoei, setelah mana, ia berbangkit dan berdiri pula, kali ini ia angkat kedua tangannya rata dengan pundaknya, menghadapi sincie dari Couwsoe ia berkata pula “Disini ada Pauw Coe Wie, anggauta turunan kedua dari Hong Bwee Pang kita, dia sudah lakukan pelanggaran undang2, dia masih tidak puas, diapun lakukan perbuatan menghina Couwsoe, maka itu teecoe mohon Couwsoe memberikan surat titahnya untuk teecoe bisa lindungi keangkaran kita!”

Dengan “surat titah” itu, Boe Wie Yang artikan “sin hoe” (tek hoe) atau surat ajimat.

Dari muka sincie, ketua ini pergi kesamping meja suci, setelah menjura, ia ulur sebelah tangannya untuk ambil sepotong tek hoe warna merah yang berada dipara2 diatas meja suctu, lantas ia kembali kedepan meja, sambil tetap berdiri ia angkat tinggi2 tek hoe itu.

Menampak demikian, semua anggauta Hong Bwee Pang yang berada dalam ruang Thian Hong Tong itu, dari Lwee Sam Tong sampai pada pelbagai pelayan, kaget bukan main. Tidak tempo lagi mereka rangkap kedua tangan mereka untuk diangkat ke batas dada mereka masing2, kepala mereka ditundukkan, tidak ada yang berani angkat muka untuk mengawasi.

Segera terdengar pula suaranya Thian lam It Souw Boe Wie Yang, Liong Tauw Pangcoe dari Hong Bwee Pang suara yang nyaring dan berpengaruh “Pauw Coe Wie, aku tahu undang2 kita saja tak cukup untuk membuat orang tunduk, maka sekarang aku mohon sinhoe dari Couwsoe. Maukah kau terima ini?”

Pauw Coe Wie sangat gusar, tetapi sekarang Boe Wie Yang gunai pengaruhnya Couwsoe, dengan terpaksa, sambil kertek gigi, ia bertindak kedepan meja suci.

“Boe Pangcoe,” kata ia “dengan sengaja kau hendak hukum aku, karena kekuasaan berada ditanganmu, kau pasti bisa perbuat sesukamu, maka jikalau aku tak bikin kau puas, aku kuatir kau tidak dapat jalan untuk undurkan diri secara baik. Sekarang, diatas dari embun2an, dibawah sampai ditelapakan kaki, aku menyerah untuk kau perbuat apa kau suka!”

Auwyang Siang Gee beramai tak berani angkat kepala tetapi, dengan diam2 mereka mencuri lihat, maka itu mereka dapat kenyataan, walaupun Pauw Coe Wie dekati Boe Wie Yang, dia tetap berdiri saja, dia tak sudi tekuk lutut. Hal ini membikin ia jadi bertambah kuatir, lebih2 kapan ia dengar perkataannya hiocoe she Pauw itu.

“Tak dapat kita tidak menolong, mari, lekas!” kata Auwyang Siang Gee kepada Bin Tie dan Ouw Giok Seng seraya ia mendahului bertindak, memburu kedepan.

Bin Tie dan Ouw Giok Seng turut perbuatannya ketua itu, merekapun maju, hingga dilain saat, bertiga hiocoe ini sudah berlutut di depannya Boe Pang coe.

Menampak demikian, Boe Wie yang lantas geser tubuh kesamping, tetapi tek hoe ditangannya tetap diangkat ketinggi.

“Pang coe,” berkata ketua dari Thian Hong Tong, “Pauw Hiocoe ada salah satu tertua kita yang dipandang agung tetapi kali ini, ia menghadap Couwsoe dengan ia tetap berdiri, inilah menyatakan bahwa ia telah minum arak hingga mabuk, maka itu, mengingat persaudaraan kita, untuk sementara ini aku harap Pang coe kasi maaf padanya, agar ia dapat ketika untuk menyesal dan perbaiki diri, kemudian, sesudah ia insyaf, ia nanti datang kepada Pang coe untuk mengaku salah, buat minta kemurahan hati Pang coe...”

Dengan “Hm, hm,” Boe Wie Yang perdengarkan tertawanya yang dingin. “Hiocoe semua,” berkata ia, “jikalau begini caranya kita permainkan undang2 kita, lebih baik kita bubarkan saja Hong Bwee Pang, akan bakar meja suci ini! Tidakkah secara demikian semua habis dan bersih? Dalam urusan hari ini aku Boe Wie Yang justeru ingin lihat, kehormatannya kaum kita masih dapat dilindungi atau tidak! Jikalau hiocoe beramai anggap aku Boe Wie Yang keterlaluan, buat aku masih ada jalan untuk pecat diri sendiri sebagai Liong Tauw Pang coe, supaya bisa di cegah yang Hong Bwee Pang ini termusnah ditanganku!” Lalu, tanpa menoleh lagi kepada ketiga hiocoe dari Thian Hong Tong itu, ia kata kepada Yauw Beng Long tiong Pauw Coe Wie “Pauw Coe Wie, kau ada jadi Hiocoe, kau telah langgar aturan, semestinya kau dihukum berat, tetapi mengingat jasamu terhadap kaum kita, sekarang aku suka berikan keentengan kepadamu, aku akan titahkan Heng tong hukum kau empat puluh rotan, untuk kehormatannya Hong Bwee Pang!”

Semua orang terkejut mendengar keputusan itu, tampang mereka menjadi pucat.

Auwyang Siang Gee ada cerdik dan berani, ia toh berputus asa menyaksikan kejadian didepannya itu. Akan tetapi untuk kebaikannya Hong Bwee Pang, ia lantas ambil putusan getas. Ia insyaf, Pauw Coe Wie telah masuk dalam Hok Sioe Tong, kawannya ada banyak, inilah berbahaya. Maka itu, ia hadapi Boe Wie Yang dan berkata “Boe Pangcoe, kita yang hidup bersama didalam Hong Bwee Pang, dan kerja sama2 untuk Couwsoe kita, untuk mana kita harus bersama juga menerima kehormatan dan kehinaan, sama2 berhasil atau gagal, tak dapat kami tidak memohon pula kepada Pang coe supaya Pauw Hiocoe ini, mengingat jasanya dulu2, dibebaskan juga dari hukuman rangket. Walaupun bagaimana kami mohon dengan sangat agar Pang coe mengingat persaudaraan kita, sebab jikalau karena kekhilafan suatu waktu, dibelakang hari timbul bencana yang tak ada batasnya, itu artinya bukannya menyintai dan melindungi Hong Bwee Pang. Pang coe ada pintar dan berpemandangan jauh, aku harap sudilah Pangcoe pikir pula dengan saksama. Kamipun telah memohon dengan lancang, kendati demikian, kami minta Pangcoe suka menerimanya.”

Thian lam It Souw Boe Wie Yang, si Orang tua dari Selatan, tertawa dingin.

“Dalam urusan ini,” katanya, “walaupun aku mesti mendapat nama jelek, kendati api akan membakar tubuhku, aku rela menerimanya! Aku telah dilimpahkan kemurahan hatinya Toyuwsoe aku telah diangkat menjadi Liong Tauw Pangcoe, tetapi tenagaku tak cukup untuk membikin orang percaya aku, undang2 kita tak cukup buat mengikat orang banyak, itu menyatakan bahwa Boe Wie Yang adalah tidak cakap, maka itu jikalau hiocoe beramai demikian menyinta kawan, hingga undang2 dan pantangan tak diperdulikan lagi, bagiku tak ada lain jalan dari pada mengalah terhadap lain orang yang bijaksana ”

Ketika itu dari Gwa Sam Tong, ketiga hiocoe nya yalah Sie Yong Pheng Sioe San dan Hay niauw Gouw Ceng, juga telah pada bertekuk lutut disebelah belakang ketiga hiocoe dari Lwee Sam Tong, mereka turut manggut2 seraya membantu memohonkan keampunan bagi Pauw Coe Wie.

Disebelahnya orang sedang lakukan kebaikan terhadap dirinya. yang tersangkut sendiri, yalah Pauw Coe Wie, sudah tidak bertindak dengan menuruti suasana. Mengaku salah langsung terhadap Boe Wie Yang, tak leluasa ia melakukannya, tetapi diwaktu demikian, ia bisa akui kesalahan nya didepannya enam hiocoe dari Lwee Sam Tong dan Gwa Sam Tong bahwa benar ia, karena kekeliruan disatu saat, sudah lakukan pelanggaran hingga kesudahannya sekarang ia membuat sulit kepada banyak hiocoe itu. Dengan cara ini, ia bisa ringankan dirinya. Tetapi ini ia telah tidak lakukan, makin lama ia jadi makin tak hargai lagi jiwa nya. Begitulah dengan kedua tangan dikebelakangkan, dengan muka tersungging senyuman tawar, dengan kedua matanya ia terus lirik Boe Wie Yang.

Rombongannya Eng Jiauw Ong sebagai tetamu, pun boleh turut memohonkan keampunan, akan tetapi ketika itu Thian lam It Souw sudah minta sin hoe dari Couwsoenya, mereka tidak berani bertindak lancang. Memang Hong Bwee Pang, sebagai mana kaum lainnya, ada punya aturan sendiri, yang berbeda dari pada lain golongan, maka mereka mesti jaga untuk tidak menyinggung aturan yang berbedaan itu. Maka itu, mereka diam saja.

Sementara itu, dari pihak Hong Bwee Pang, semakin banyak orang yang maju untuk mintakan keampunan bagi hiocoe dari Hok Sioe Tong itu, hingga akhirnya, dengan sangat sengit, Boe Wie Yang kata “Hiocoe2 semua, nyatalah kau tak menahui Boe Wie Yang! Tetapi tetap aku hendak titahankan undang2 Hong Bwee Pang, untuk melindungi kaum kita! Untuk itu, walaupun aku nanti rubuh hingga tulang2ku musnah tanpa rupa, aku rela menerimanya!”

Sehabis mengucap demikian, ketua ini putar tubuhnya dan lari kedepan meja, tangan kirinya, yang memegang sin hoe, diangkat tinggi, dimuka meja ia angkat kakinya keatas tangga.

Ketika itu hio wangi telah menyala baharu menghabisi beberapa dim, asapnya sedang bergulung2. Boe Wie Yang ulur tangan kanannya akan samber hio itu, hingga “bunga” hio rontok meluruk. Ia putar pula tubuhnya akan turun dari tangga. Berbareng dengan itu, air mukanya berubah menjadi putih pucat bagaikan kertas, sedang sepasang alisnya mengkerut rapat, hingga romannya jadi menyeramkan. Lantas ia angkat naik hio itu, agaknya ia hendak banting itu kelantai.

Diantara beberapa hiocoe itu, Hiocoe Sie Yong dari Gwa Sam Tong, yang bertugas mengurus bahagian upacara, cit ciang lee tong, sedang berlutut sebagai rekan rekannya, ia terkejut menampak aksinya ketua itu. Asalkan hio terbanting didepan meja suci, itu artinya tak ada daya pertolongan lagi. Itu artinya golok suci Sin too akan diminta mengutungi kepalanya Pauw Coe Wie, tidak ampun lagi! Inilah hukuman paling hebat dalam Hong Bwee Pang, tak ada orang yang dapat mencegahnya….

Karena ia adalah pejabat cit ciang lee tong itu, Sie Yong insyaf pada bencana itu, maka tak ayal lagi, sembari berlutut, ia menekan lantai, terus ia empos semangatnya, lantas ia berlompat dengan ilmu enteng tubuh bagaikan kodok mencelat, ia dekati Boe Wie Yang, dengan Bebat tangan kanannya menyamber lengan kanan dari ketuanya untuk ditekuk, sambil ia serukan “Pang coe, kemurahan hatimu yang terakhir!” Kemudian, dengan berani ia rampas setabung hio yang menyala itu dari tangannya ketua itu, hingga karenanya, tangannya, tangan baju dan bajunya jadi kena terbakar api hio itu.

Boe Wie Yang terperanjat. Ia tidak sangka ada orang yang berani cegah ia secara demikian. Tetapi, disaatnya ia sedar, Sian thian chioe Sie Yong, si Tangan Kilat, sudah dapat rampas setabung hio itu, dengan naik ditangga, hiocoe ini segera tancap pula hio itu kedalam hiolouw asalnya.

Semua orang dalam ruang Thian Hong Tong itu tinggi dan rendah kedudukannya, berubah air muka nya karena kagetnya, sebab mereka insyaf, hampir saja bencana besar tak dpat di cegah lagi. Maka sekarang, mereka semua menjura pada Boe Wie Yang, mereka berkata “Kami mohon Pang coe ingat sulitnya kita berdirikan Hong Bwee Pang, biarlah Pang coe berlaku lebih banyak murah hati. ...

Silahkan Pang coe kasi titah untuk jalankan hukuman.”

Setelah mana, mereka lalu berbangkit, untuk terus berkata kepada Heng tong Tocoe Hay niauw Gouw Ceng si Burung Laut “Gouw Hiocoe, apakah kau masih tidak hendak terima titah untuk jalankan tugasmu?”

Dengan tenang dan menghormat, Gouw Ceng menyahuti. “Ya.” Kemudian, tanpa bersangsi pula ia hadapi Yauw Beng Long tiong Pauw Coe Wie seraya berkata “Aku mohon Pauw Hiocoe pergi keruang Heng tong untuk terima hukuman.”

Ucapan ini disusul dengan bergeraknya beberapa algojo hingga Pauw Coe Wie lantas dapatkan ia sedang dikurung di empat penjuru. Hengtong soe sendiri, Hay niauw Gouw Ceng, dengan air muka sungguh2, sudah lantas menggape2 terhadap nya. Ia insyaf, apabila ia tetap membangkang, ia bakal terima, penghinaan2 terlebih jauh, dari itu, setelah menggedruk lantai dan mengawasi Boe Pang co dengan kebencian yang berlimpah2, ia lantas bertindak akan mengikuti Gouw Ceng memasuki pintu samping.

Pada saat itu, walaupun adanya seratus lebih orang dalam ruangan, seluruh Thian Hong Tong jadi sangat sunyi senyap, kecuali suara tertawa menghina pelahan dari Thian lam It Souw sendiri, yang mengawasi belakangnya Yauw Beng Long tiong. Kemudian ketua ini menoleh kepada Auwyang Siang Gee, hiocoe dari Thian Hong Tong “Auw yang Hiocoe, dimana adanya sekarang itu orang2 yang tanpa titah dari Congto dan pelbagai thoento sudah mencegat dan mengganggu tetamu2 kita yang terhormat, yang baharu hentikan aksinya setelah adanya perintah dari Lwee Sam Tong? Mereka itu ada sangat lancang, mereka sudah permainkan undang2 kita, mereka sangat menghina terhadap kedua Sam Tong Luar dan Dalam! Apabila tetap diantap terus orang main gila, cara bagai mana tata tertib dapat dipulihkan dibelakang hari?”

Auwyang Siang Gee menjura.

“Mereka telah dikumpulkan di muka pelabuhan untuk menantikan titah dari Pangcoe,” jawab ketua dari Thian Hong Tong.

-ooo0dw0ooo-