Eng Djiauw Ong Jilid 09

 
Jilid 09

Dua orang itu mukanya kemerah merahan, tapi lekas juga mereka tertawa.

“Sahabat she Kang, jangan berkelakar!” Kata satu diantaranya. “Aku tahu kau siapa! Disana masih ada ibumu yang sudah tua, bagaimana kau berani menjadi satru kami? Semakin besar, kau jadi semakin bernyali besar juga! Jangan anggap kami telah terjatuh dalam tanganmu, selama kau belum keluar dari Hoen coei kwan, ada mudah sekali untuk memberi kau pembalasan! Sampai waktu itu, baharu kau akan percaya liehaynya Hong Bwee Pang!”

Kang Kiat masih hendak menggoda, tapi In Tong cegah

ia.

“Tak usah layani mereka adu mulut,” kata kawan itu.

“Lihat keletakan tempat yang asing bagi kita, jangan kasi diri kita terjebak.”

Kang Kiat lantas mengawasi kekiri dan kanan, ia lihat tepi sungai penuh dengan pohon gelagah, tikunganpun banyak, ia jadi curiga.

“Makhluk2 mau mampus, apa kau hendak bikin?” ia tegur dua musuh. “Apakah kau hendak main gila terhadap kami? Kemana kau hendak pancing kami? Hayo bilang!”

“Sahabat she Kang, jangan terlalu galak,” kata orang yang lebih tua. “Kau telah masuk kedalam perut Hong Bwee Pang, apa  kau sangka kau masih dapat lolos dari tangan kami? Jangan kau sibuk! Lambat laun kau bakal sampai ke Cap jie Lian hoan ouw! ”

In Tong curiga melihat orang demikian cerdik, tapi baru ia hendak beri perintah untuk berhenti, tahu2 musuh telah dului ia. Kedua perahu musuh itu dengan berbareng digayu keras, melesat ke kedua jurusan, hingga sekejab saja mereka telah lewati masing2 tiga perahu yang senantiasa memasang mata terhadap nya.

Gerakan musuh ini ada diluar dugaannya Soe Soei Hie kee, tentu saja ia jadi gusar. Maka itu, ia berseru “Kemana kau hendak kabur?” Lalu sambil menoleh pada Kang Kiat, ia serukan pula “Kejar mereka!”

Kang Kiat sendiri dengan tidak tunggu tanda dari kawannya itu telah mengejarnya.

“Kau turun, aku hendak kejar manusia rendah itu!” Kata ia pada anak buah dibelakang nya.

Anak buah itu tidak berani bantah, atas mana, Siauw Liong Ong mencelat kebelakang, untuk ambil tempatnya anak buah itu. In Tong lihat kawannya beraksi, iapun segera perintah orang2nya mengejar.

Kedua perahu Hong Bwee Pang telah lolos dan masuk kedalam gombolan gelagah, Kang Kiat susul mereka. Disebelah belakang, In Tong memburu bersama perahu2nya. Tapi In Tong memburu dengan ragu2, ia kuatir orang gunakan tipu untuk jebak mereka. Selama itu, ia mendengar cacian Kang Kiat, yang sedikitpun tak nampak takut.

“Kan Loosoe, kejar terus! Jangan kasi mereka lolos!” Demikian suara Kang Kiat, yang sering menoleh kebelakang. Akan tetapi segera ternyata, kedua perahu musuh telah lenyap.

“Apa? Mereka lolos juga?” tanya In Tong, yang dapat susul kawannya.

Kang Kiat melihat orang menanya ia tanpa menghentikan perahunya, segera lintangi perahunya sendiri, setelah mana, In Tong lekas2 perintah anak buahnya berhenti mengayuh. Dibelakang mereka menyusul delapan perahu lainnya. Mereka semua sudah keluar dari gelagah, “Disini cuma ada dua tikungan, gampang untuk diperiksa.” Kata Siauw Liong Ong. “tak boleh mereka dibiarkan lolos.”

In Tong sangsi. Diair bukan seperti didarat dimana orang dapat melihat bekas2 atau tapak. Diair hanya terlihat garis2 ombak bekas perahu baharu lewat, sedikit lama saja, air akan tenang seperti sediakala. Maka itu, sambil berpikir ia awasi boca itu.

Kang Kiat mencari kekiri, lalu ke kanan, kemudian ia memanggil In Tong, siapa sudah lantas dekati dia.

“Apakah kau dapat cari bekas bekasnya?” tanya Soe Soei Hie kee, nelayan dari Soe soei. Ia berani menanya demikian karena ia pandang Kang Kiat bukan orang lain lagi.

“Kan Loosoe, mereka tidak berpencar,” sahut Kang Kiat. “Tapi aku masih muda, pengalamanku kurang, umpama loosoe ingin kita berpencar, juga boleh, dengan begini salah satu dari kita tak akan kosong”

“Kang Kiat, kita ada diantara orang sendiri, kita tak boleh main sungkan2,” jawab Kan In Tong. “Coba kau katakan, mengapa kau anggap mereka tidak berpisahan?” “Kau enggan, Kan Loosoe, Tapi sekarang tak dapat kita ayal2an, agar musuh tak dapat lolos,” sahut si anak.muda.

In Tong manggut, ia mesti benarkan kawan ini.

Kang Kiat lalu mengayuh pula, akan membuat perahunya meluncur maju.

In Tong menyusul, sesudah ia kirim balik dua buah perahu, untuk memberi laporan pada ketua Hoay Yang Pay, sebab tetap ia kuatir musuh akan menggunai tipu2 untuk mencelakai mereka. Sembari maju iapun awasi ke dua tepi, ia saban2 ajak kawannya berbicara.

Kang Kiat gunakan ketika ini akan terangkan pada nelayan dari Soe soei itu tentang tanda tanda diair yang baharu saja dilewati perahu, bahwa untuk itu, yang dibutuhkan adalah pengalaman belaka. Tanda yang paling tegas adalah jurusan condongnya pohon2 gelagah, yang bekas diterjang.

XCV

Selagi mengejar terus, Kan In Tong lihat cuaca magrib telah menggantikan sang siang, hati nya mulai tak tenteram. Ia insyaf bahwa ia sedang dipancing masuk ke Cap jie Lian hoan ouw, bahwa orang sedang mengasih lihat pengaruhnya. Itupun adalah bukti dari kejamnya Thian lam It Souw Boe Wie Yang, yang rupanya telah bulat tekadnya akan memusnahkan Hoay Yang Pay dan See Gak Pay Kang Kiat juga mengetahui perubahan waktu itu, ia insaf ia berada didalam perut harimau, tetapi ia seperti satu kerbau nekat, dia tak takut sedikit juga. Ia meluncurkan perahunya tetap dengan cepat.

Disaat In Tong hendak menanya Apakah kawannya pernah datangi tempat itu ketika dia datang di waktu malam, Siauw Liong Ong telah dului ia dengan seruannya “Kan Loosoe, musuh ada didepan, tak jauh lagi! Mari kita kejar!” In Tong tidak menyahut, akan tetapi ia titahkan menyusul, maka setelah tiga kali menggayu, mereka berhasil menyusul Kang Kiat, hingga mereka jadi laju berendeng. Sekarang In Tong dapat melihat garis2 ombak, tandanya disitu baharu dilewati kendaraan air lainnya.

Kedua pihak seperti sedang berlomba, akan tetapi perahu dari Soe soei laju sekali, hingga sebentar kemudian mereka telah lihat dua perahu didepan, dua perahu musuh yang tadi lolos dari pengurungannya. Kedua perahu itu juga dikayuh pesat sekali.

Dibelakang perahunya Kang Kiat dan In Tong menyusul sisa perahunya yang lain2.

Kelihatannya sulit untuk dapat menyusul musuh, meskipun perahu2 Garuda sangat pesat. Dua perahu Hong Bwee Pang tak kalah pesat nya. Maka itu Kang Kiat percaya. Anak2 buah perahu musuh itu bukan anak2 buah biasa saja, mereka mestinya ahli sebagai dia sendiri. Dilain pihak, karena ia belum terlatih ilmu silat, sesudah mengejar sekian lama, ia toh mulai merasa lelah. Apa mau, justeru itu, dengan datangnya cuaca suram dari sang magrib, kedua perahu musuh itu lolos pula, mereka kembali lenyap dari pemandangan.

“Sudahlah, kita jangan mengejar terlebih jauh,” In Tong mencegah kawannya, yang sebenarnya masih penasaran, “Hari sudah mulai gelap, nanti kita terjebak oleh tipu mereka itu.”

Kang Kiat dapat dikasih mengerti, sebab iapun melihat suasana tak bagus.

Selagi cuaca makin suram, anginpun mulai meniup keras. “Tanpa merasa, kita sudah mengejar jauh sekali”, In Tong kata pada kawannya. “Selama pengejaran, disinipun tidak ada perahu penjahat lainnya. Aku kuatir musuh benar benar kandung maksud busuk. Mungkin musuh sengaja perlihatkan diri untuk memancing kita untuk menyesatkan. Kita jangan maju terus, mari kita kembali akan gabungkan diri dengan pasukan besar. Mungkin juga tak gampang untuk kita mundur. Kelihatannya, malam ini tak dapat kita sampaikan Cap jie Lian hoan ouw. Aku rasa, selagi tak dapat kita maju malam , untuk berjaga diripun mesti ada ancaman bahaya”

“Ya, perbuatan mereka bukan, perbuatan orang kang ouw sejati,” kata Kang Kiat sambil kerutkan dahi. “Biarlah ketua kita nanti berikan pengajaran kepada mereka, supaya mereka kenal baik Hoay Yang Pay dan See Gak Pay”.

Kang Kiat penasaran, tetapi ia menurut untuk balik. Hatinya menjadi lega ketika ia mulai lihat tikungan, yang ia kenali ada tikungan yang tadi, tapi selagi mendekati tikungan itu, tiba terdengar suitan dari dalam gombolan gelagah, disusul oleh seruan “Orang2 rendah, kau telah kena terpancing! Disini, diempat penjuru, sudah siap barisan panah! Hayo kau menyerah untuk diikat, untuk diserahkan kepada Liong Tauw Pangcoe, supaya Pangcoe sendiri yang memberi putusan! Jangan kau memikir untuk meloloskan diri! Siapa suruh kau memasuki tempat hujan panah dimana tak ada kuburan untuk mayatmu semua?

Terang sekali, suara itu datang dari arah kiri.

Segera In Tong dan Kang Kiat kasi mundur perahu2.

Mereka keduanya ada mendongkol sekali.

“Kawanan rase dan anjing, kau turunkan derajat Hong Bwee Pang!” Kang Kiat berseru. “Secara begini hina kau coba jebak Kang Siauw thaya, tapi kau nanti rasakan keliehayanku!” Kemudian ia kata pada In Tong “Kan Loosoe, apa kita mesti antap mereka menghina kita secara begini? Apa tak perlu kita segera layani mereka?

In Tong manggut. “Kau benar,” sahut ia.

Keduanya lantas gerakkan pengayuh mereka, untuk maju.

“Orang sudah bosen hidup!” Demikian ejekan disertai tertawa dingin dari dalam gembolan. “Panah mereka !”

Segera terdengar suitan, yang kisusul dengan menyamber nyambernya anak panah.

Kang Kiat dan Kan In Tong gunakan penggayu mereka untuk menangkis, hingga tidak ada panah yang mengenai mereka.

Yang menyulitkan waktu itu adalah cuaca telah mulai menjadi gelap.

Kang Kiat dan In Tong hendak gunakan ketika sedangnya orang siap pula dengan gandewanya, untuk mengelakkan diri dari tempat berbahaya itu, tapi justeru itu disebelah kiri, mereka lihat satu bayangan berkelebat sebagai terbang disusul dengan seruannya “Kawanan kunyuk, dengan perbuatan rendah ini, kau bikin Boe Wie Yang si tua bangka tidak punya muka!”

Ketika bayangan itu turun ke dalam gelagah, ditempat tukang panah, segera terdengar suara berisik, lalu kelihatan dua tubuh dilemparkan hingga tercebur ke muka air yang menjadi muncrat tinggi dengan suara cempelungan nyaring. Airpun muncrat membasahi mukanya In Tong dan Kang Kiat, sampai untuk sementara mereka mesti meram saja.

Terpaksa dua kawan ini undurkan perahu mereka. Justeru itu, bayangan tadi loncat kesebelah kanan, dimana menyusul suara berisik seperti dikiri tadi, dengan beruntun, tiga tubuh manusia terlempar tinggi, tercebur kedalam sungai, hingga kembali terdengar suara mencebur yang nyaring dan air muncrat tinggi.

Sampai disita, sisa kawanan Hong Bwee Pang itulari tunggang lang gang.

Kang Kiat dan. In Tong berdua heran. Mereka tidak tahu siapa adanya bayangan yang liehay itu, yang tolong mereka me mecahkan kepungan. Kang Kiat cuma dapat menduga mungkin bayangan itu adalah kakek gurunya.

Mereka tak usah bersangsi lama, sebab segera mereka dengar “Liong jie, disini adalah aku si tua bangka, jangan mundur!”

Kang Kiat kenali suara kakek gurunya, maka dengan sebat ia gayu perahunya kepinggir kanan, dari mana lantas melesat satu bayangan, yang turun keatas perahunya, turunnya enteng sekali.

Itulah ada Yan tiauw Siang Hiap yang ke dua, atau Ay Kim kong Na Hoo, potongan tubuh siapa mirip dengan potongan tubuhnya Twie in chioe Na Pek, sang kanda. Sang kanda cuma sedikit lebih tinggi dan kumis janggutnya bagaikan kambing gunung. Hanya diwaktu remeng2 seperti itu, ia tidak segera terlihat tegas.

“Soe couw 2” berseru Siauw Liong Ong dengan kegirangan.

Tapi soe couw itu tidak menyahuti, hanya dia kata pada In Tong “Kan Loosoe, mari serbu!”

Kang Kiat berdiam dengan kekaguman karena walaupun sang soecouw naik diperahunya, perahu itu tidak menjadi tambah berat, yang mana membuktikan sempurnanya ilmu enteng tubuh dari Ay Kim Kong. Ia lantas saja mengayuh untuk menerjang keluar.

In Tong juga sudah lantas kerjakan pengayuhnya.

Sebentar saja kedua kendararaan air sudah lewati tempat yang berbahaya itu. Masih ada orang jahat yang hendak mengejar, tetapi dengan gelapnya cuaca, mereka tidak sanggup melihat jauh, dengan begitu, mereka terpaksa mesti lepaskan pengharapannya untuk mengejar.

Setelah lolos dari kepungan, Kang Kiat pelahankan lajunya perahu.

“Bagaimana soecouw ketahui kami menghadapi bahaya!” Tanya boca ini kemudian. Ia ber syukur untuk pertolongan itu.

“Itulah karena aku telah peroleh pemberitahuan, anak”, sahut sang kakek guru. “Aku datang kemari sejak kemarin dulu. Inilah sebab aku ikuti seorang liehay luar biasa. Hingga berbareng pun aku jadi ketahui berbahayanya tempat disepanjang jalan ini. Aku telah diberitahukan bahwa pihak Hong Bwee Pang hendak mengganggu ketua kita selagi ketua kita itu masuk kemari untuk memenuhi undangan, karena itu aku lantas pasang mata. Tadi aku lihat kau dipancing, aku lantas menguntit. Kawanan ini memang mesti dikasi rasa. Ketua kita harus diberi tahu untuk berwaspada”.

Kemudian, barisan perahu bantuan telah sampai untuk menyambut. Semua perahu itu, setiap buahnya, ada dipimpin oleh satu boesoe, antaranya ada Sin koen Ke Siauw Coan. Dua saudara Boen dan Hoei too Louw Kian Tong. Pada mereka ini dituturkan tentang rintangan musuh, baiknya datang Na Jiehiap. Tapi juga mereka menuturkan bahwa merekapun mengalami rintangan. Sekarang baharu In Tong dan Kiang Kiat insaf bagaimana mereka kena dipancing. Ini ada satu pengalaman berharga bagi mereka. Mereka juga kagum, Ay Kim Kong yang demikian liehay masih menerima pemberitahuan dari seorang lain, itu menandakan, kepandaian tak ada habisnya.

Tentang rintangan yang dihadapi ketua mereka, atau pasukan besar, Sin koen Ke Siauw Coan menuturkan sebagai berikut

Pasukan besar jalan dengan tenang seperti biasa Eng Jiauw Ong sudah lantas dengar kabar hal majunya In Tong dan Kang Kiat Loo piauwsoe Hauw Tay mengusulkan supaya segera dikirim bantuan, untuk menjaga kalau2 ada bahaya mengancam barisan depan itu. Eng Jiauw Ong sebaliknya tidak kuatir, ia percaya betul In Tong dibantu Kang Kiat akan dapat mengatasi segala rintangan. Kemudian, sesudah mulai magrib masih belum terdengar apa2 dari pihak In Tong, baharu orang mulai kuatir. Akhirnya Na Pek usulkan akan menunda pasukan besar serta sekalian kirim perahu enteng untuk melihat kedepan, kepada In Tong dan Kang Kiat.

Ketika itu Eng Jiauw Ong ada dipintu perahu, ia periksa cuaca, iapun turut berpikir, maka itu, begitu mendengar perkataan sang soeheng, ia terus undang Coe In Am coe, untuk minta niekouw ini yang perintahkan perahu Garuda pergi menyusul kedepan, untuk melihat, menjemput atau membantu bila perlu.

Coe In Am coe datang dengan lantas. Iapun tahu. Tentang majunya In Tong, ia juga memang niat berdamai dengan Eng Jiauw Ong kebetulan ketua Hoay Yang Pay ini mengundang ia.

Eng Jiauw Ong utarakan apa yang ia pikir. “Aku akan segera keluarkan perintah,” kata Coe In. Tapi ee lagi ia hendak berikan perintah, disamping kiri ada beberapa anak buah bicara ber bisik2, kemudian dari belakang terdengar suara berisik, hingga ia jadi heran. Begitupun Eng Jiauw Ong.

“Coba lihat,” ketua Hoay Yang Pay titahkan Hee houw Eng, Kam Tiong dan Kam Hauw.

“Nanti aku lihat,” sahut Hee houw Eng.

Na Pek sendiri sudah pergi ke depan, katanya untuk periksa tikungan, maka ia tidak dengar suara berisik dibelakang itu.

Hee houw Eng naik sebuah perahu kecil, untuk pergi kebelakang.

Sungai disitu lebar, semua perahu terpisah setumbak lebih satu dengan lain. Semua tiga puluh enam perahu teratur merupakan “Siang liong ccet soei” atau “Sepasang naga keluar dari dalam air”. Tentu saja, untuk” jalan ditempat sempit, pengaturan ini mesti diubah pula. Karena ada angin, semua layar dipasang. Perahu2 yang didepan terpisah cukup jauh dengan yang dibelakang. Ketika Hee houw Eng hampir sampai dibelakang, ia dengar suara berisik ber tam bah2. Dari sebuah perahu, ada orang kata padanya , apa soehoe hendak pergi kebelakang? Sebenarnya tidak terjadi urusan besar, hanya satu orang tua sedang menggerecok. Dia kata dia ada nelayan tua dari luar Hoen coei kwan, dia kena di paksa masuk kedalam Hoen coei kwan, tetapi orang jahat anggap dia tua dan tidak punya guna, dia tidak hendak dipakai. Dia pun tidak dibunuh. Maka itu, dia jadi serba salah, katanya. Ia minta kita suka menolong padanya. Coba Hee houw Soehoe lihat pada nya” Mendengar keterangan itu, ha tinya Hee houw Eng jadi lega, tenis ia perintah satu orang akan mengabarkan pada Eng Jiauw Ong, ia sendiri pergi terus kebelakang.

Pada waktu itu, semua perahu telah dikendorkan lajunya.

Segera Hee houw Eng sampai dibelakang, ia melihat beberapa tauwbak mengawasi ketepi sebelah kiri dimana ber Iari lari seorang tua yang kepalanya ditutup dengan tudung rumput dan pakaiannya pendek semua, dia itu ber lari2 mengikuti rombongan perahu Garuda Terbang. Karena tepian itu bukan jalanan, si orang tua kadang2 mesti menerabas pepohonan gelagah dan rumput2 tebal. Karena tudungnya lebar, wajahnya tidak terlihat nyata. Dimata Hee houw teng, kecuali dandanannya itu, orang tua itu mirip dengan Yan tiauw Siang Hiap.

Dibelakang, Hee houw Eng disambut beberapa tauwbak dan anak buah, yang mengatakan tidak terjadi apa2 kecuali si orang tua rewel minta ditolong, katanya dia kelaparan sampai semua matanya “biru”.

“Dia terus ikuti kita sampai sudah kira2 satu lie,” demikian diterangkan lebih jauh. “Dia ngoce bahwa dia telah dikurung disini. Dia bilang, bila kita tidak menolonginya, dia tentu bakal mati. Coba pikir, apa ini tidak aneh?”

Hee houw Eng manggut2, tetapi matanya mengawasi ketepi. Hatinya ragu2. Iapun segera dapat dengar suaranya si orang tua itu “Benar2 kau inginkan jiwaku yang sudah tua! Mengapa hatimu mirip besi kerasnya? Mengapa kematian tak hendak di tolong di cegahnya? Tolong, tolong! Kalau tetap kau tidak mau perdulikan aku, habis sudah, aku nanti buang diriku kesungai!.” XCVI

Keraguannya Hee houw Eng jadi semakin besar. Ia seperti semakin kenal orang tua ini. Maka ia pikir, lebih baik ia segera memberi lapuran kepada ketuanya dan Na Toa hiap, mereka itu tentu akan segera dapatkan pemecahannya. Karena ini, ia kesikkan anak buahnya untuk awasi dan jaga orang tua ini agar dia tak lolos, ia sendiri segera kembali Ia memang naik atas sebuah perahu cepat. Ia baharu lewatkan lima buah perahu kapan ia dengar suara berisik disebelah belakang itu hingga ia jadi heran sekali, mau atau tidak, ia segera kembali untuk melihatnya. Ia dapatkan suara semakin berisik dan tiga empat buah perahu dipihaknya memburu kebelakang.

Segera ternyata si orang tua, yang aneh kelakuannya, sudah loncat naik kesebuah perahu cepat yang paling belakang, dan empat anak buah, dengan senjata terhunus, sedang kurung padanya. Mereka ini tidak lantas maju menyerang, karena mereka heran atas cara berlompatnya si orang tua, yang bersikap “Gerak gerik naga,” tubuhnya enteng, kakinya mantap.

Dari perahunya, Hee houw Eng naik keperahu besar, dari sini ia loncat keperahu kecil itu. Kedatangannya ini membikin girang anak buah perahu, segera mereka nyatakan herannya dan minta Tee lie touw pergi melaporkan pada ketua Hoay Yang Pay, supaya si ketua yang urus orang tua ini.

Hee houw Eng niat dekati orang tua itu, atau segera ia dengar oceannya orang tua itu “Aku si tua bangka sedang naas. Memang orang naas saja yang pengalamannya menyedihkan

Diluar Hoen coei kwan, dengan tangkap ikan, aku telah membuat banyak persahabatan, akan tetapi aku merasakan, sesuatu sahabat itu adalah satru, sebab diantara mereka tak ada satu juga yang berhati manusia Sekarang, sesudah mengalami perkara penasaran ini, baharu aku insyaf, kecewa aku bersahabat

Dahulu kami bergaul rapat, tetapi sekarang, selagi aku mati tidak hiduppun tidak, semua angkat kepala, tidak ada yang sudi kenal aku. Maka, kau orang2 kosen dari Soe soei, apa tidak mendongkol mendengar penasaranku ini? Usiaku sudah begini lanjut, sebenarnya tak usah aku pikirkan mati atau hidup, tetapi siapa tahu, makin tua aku makin sayangi jiwaku, aku ingin satu hari dengan satu hari lewat dengan aku masih hidup … Karena aku tak puas mesti mati, maka dengan mati2an aku naik keperahu ini, aku harap supaya kau tolong bawa aku pergi. Tak aku sangka, kembali orang tidak perdulikan aku! Apa ini tidak sangat menjemukan? Apa tidak pantas, karenanya, aku tidak memikir hidup pula?”

Orang tua ini ngoce sambil tundukkan kepala, kelakuannya mirip orang edan. Mau atau tidak, semua orang yang mengurung, tertawai padanya. Melihat caranya orang meloncat, yang sangat enteng, semua anak buah itu curiga, tetapi sekarang menampak laganya, mereka anggap orang tua ini seorang berotak miring.

Tetapi Hee houw Eng masih sangsi, ia ingin melihat tegas muka kakek itu. Namun keinginannya ini tidak terkabul, orang tua itu tetap tunduk, tudungnya menutupi wajahnya. Adalah setelah ia dengar kata2 yang paling belakang, ia insyaf benar2 hingga ia terperanjat. Segera ia mendekati seraya berkata “Oh, Na Loocianpwee! Harap kau tidak guyon lebih jauh. Ketua kami, Ong Loesoe, memang sedang harap2 loocianpwee, agar loocianpwee membantu untuk menghadapi kawanan bandit yang menjemukan ini. Loocianpwee, hayo kita pergi keperahu ketua!”

Baharu setelah dengar perkataannya Hee houw Eng ini. Si orang tua angkat kepalanya dan singkap juga tudungnya yang lebar, hingga lantas terlihat kedua matanya yang bersinar tajam, yang menyapu muka orang banyak. Dia memang Jie hiap Ay Kim Kong, yang mukanya perok.

Hee houw Eng lantas saja menjalankan kehormatan. Sudahlah, Tee lie touw, jangan main2 dengan aku!”

Men cegah si orang tua. “Mari lekas tukar perahu, untuk

pergi menemui ketua kita. Aku hendak tanya, selagi keadaan hebat, mengapa dia tidak tahu bahwa Kan Boesoe dan Siauw Liong Ong yang sudah memasuki tempat berbahaya? Jikalau mereka sampai terjatuh dalam tandan musuh, apa itu tidak celaka dan sangat memalukan kita? Bukankah itu berarti kita rubuh? Kau dengar terang atau tidak?” . Hee houw Eng menyahuti “Ya” ber ulang2, lantas ia minta sebuah Perahu dan ia temani jago tua ini pergi kemarkas.

Pada waktu itu Eng Jiauw Ong, yang telah terima kabar, sudah pergi keluar perahu, dia sedang berdamai dengan Coe In Am coe, untuk pergi menilik, tetapi belum tempat mereka ambil putusan, mereka sudah lihat sebuah perahu cepat mendatangi nya dan antara penumpangnya ada orang bertudung lebar, yang dandannya sebagai nelayan. Mereka segera kenali Na Hoo, mereka jadi girang bukan main.

Ay Kim Kong lihat orang memapak padanya, tidak tempo lagi ia enjot tubuhnya, akan tempat keperahu besar.

“Oh, Jie thayya” berseru Hee houw Eng, yang hampir tergelincir karena perahunya goyang keras akibat tempatnya si jago tua. “Pelahan toh sedikit, hampir kau bikin aku kecebur!” Dengan menahan diri, ia dapat bikin perahu tidak sampai karam. Maka dilain saat iapun dapat menyusul naik keperahu besar.

“Soeheng, dari mana kau datang? Menegur Eng Jiauw Ong, yang menyambut bersama Coe In Amcoe. “Kami memasuki Cap jie Lian hoan ouw dengan mengalami kesulitan, apabila tidak ada Toa hiap, barangkali sebelum memasuki Hoen coei kwan, kami sudah jatuh mereka”

Na Hoo manggut2, ia bersenyum.

“Kau benar, soetee,” kata jago tua yang ke dua ini. “Memang disini kita sedang memasuki tempat yang berbahaya.” Ia terus tuturkan hal Kan In Tong dan Siauw Liong Ong kena terpancing. Kemudian ia tambahkan “Baiknya saja kita sudah lekas2 bertemu.”

Kemudian jago tua ini bicara kepada Coe In Am coe.

Eng Jiauw Ong lantas mengundang masuk, dengan begitu. Na Hoo jadi bertemu dengan engkonya, Na Pek. Ia memberi hormat pada saudara tua itu, tetapi segera ia kata tanpa sungkan2 lagi “Toako, kau pegang pimpinan disini, kenapa kau antap penjahat malang melintang? Apa itu tidak memalukan Hoay Yang Pay? Bagaimana dengan kehormatannya Yan tiauw Siang Hiap?”

Na Pek lirik adik itu.

“Jangan kau omong besar di depanku”“jawabnya. “Sejak memasuki Hoen coei kwan, belum pernah pihak Hong Bwee Pang mendapat hati! Pun In Tong dan Kang Kiat tak usah kau buat kuatir! Aku hanya kuatirkan Toa Hek, si Hitam, yang aku titipkan pada si imam hidung kerbau!”Adapun mereka orang suci semua, aku kuatir hati mereka tak seanteronya welas asih menyayangi binatang Kalau mereka. Tidak rawat baik si Hitam, aku nanti pergi kesana untuk bikin perhitungan! Eh, jie tee, apakah kau sendiri pernah pergi pada mereka?”

“Jangan kuatir, toako,” sahut Na Hoo. “Walaupun si imam tua tidak akan pandang si Hitam sebagai tetamu agung, tidak nanti dia perlakukan jelek, aku hanya kuatirkan cucu murid nya, si kunyuk kecil. Jie Hek juga aku titipkan disana. Kunyuk kecil itu nakal, dia berani cengkolong uang titipan untuk belan ja si Toa Hek dan Jie Hek, dia pakai itu untuk beli makanan untuk perutnya sendiri, karena ini, aku telah hajar adat padanya, aku ikat dan gantung dia sampai tiga jam, sampai soe hengnya mintai ampun, baharu aku merdekakan padanya. Maka aku percaya, meskipun dia masih mendongkol, tidak nanti dia berani main gila pula. Aku juga telah ancam dia dengan hebat.”

Dua saudara itu bicara getol tentang keledai mereka, hal mana membikin Eng Jiauw Ong jadi pusing. Mereka toh sedang menghadapi Tetapi ketua ini tahu baik akan tabeat kedua kakak beradik itu. Ia tidak campur bicara.

“Toako,” kemudian kata Na Hoo pada kandanya, “sekarang mari kita bicarakan urusan didepan mata. Selagi memasuki Cap jie Lian hoan ouw, aku bertemu kepada Thie Tek Kay Hiap Wa Po Eng, si pengemis budiman si Suling Besi si Pembalasan Hidup hidup. Ia pun datang kesini untuk satrukan Thian lam It Souw Boe Wie Yang, Liong Tauw Pang coe dari Hong Bwee Pang. Ia malah datang kemari dengan mendahului kita, hingga ia telah berhasil melakukan penyelidikan. Aku lihat dia, aku menguntitnya, tetapi ia segera menemui aku, hingga kami jadi pasang omong. Katanya, mulanya, dia hendak saksikan saja pertandingan kita, sebagai penonton adu harimau, tetapi kemudian secara mendadak ia ubah pikiran. Inilah disebabkan ia telah saksikan bagaimana orang2 Hong Bwee Pang persulit kita disepanjang jalan, ia anggap itu ada perbuatan yang bertentangan dengan kehormatan kaum kang ouw, perbuatan itu ia sangat benci, jadi ia niat kasi hajaran pada kawanan tikus itu. Tetapi ia ragu2 akan perlihatkan diri didepan tikus2 itu. Adalah ia yang kasi kisikan kepadaku bahwa ada belasan orang Hong Bwee Pang hendak ganggu kita ditengah jalan ini, ia minta aku beritahukan kepada ketua kita. Supaya pihak kita waspada, agar kita tak pandang enteng mereka itu. Rombongan itu mempunyai kepandaian terbatas, tetapi mereka sangat cerdik dan licin. Mereka hendak cegah kita dapat memasuki Cap jie Lian hoan ouw dalam ini satu hari juga Aku telah tanya ia, berapa kekuatannya Boe Wie Yang dan bagaimana dengan tindakan kita ini, tetapi tanpa bilang apa ia tinggalkan aku pergi.”

Mendengar demikian, Toa Hiap tertawa dingin. “Kiranya pengemis bangkotan itu masih hidup!” Kata

dia. “Seumur hidupnya dia berkelana, dia membuat orang

kagumi diri nya, karena banyak perbuatan nya yang ynulia dan menggemparkan. “Dia sekarang memasuki Cap jie Lian hoan ouw, inilah aku tidak sangka. Tentu saja kita mesti cari ketika untuk menemui padanya. Tetapi sekarang mari kita lihat dulu Kan Boesoe dan Kang Kiat, biarpun mereka boleh diandalkan tetapi tempat ini sangat asing bagi mereka. Kita mesti cegah kawanan penjahat berhasil dengan maksudnya yang busuk”.

Coe In Am coe dan Eng Jiauw Ong pun sependapat bahwa In Tong dan Kang Kiat perlu dibantu, maka Eng Jiauw Ong lantas kirimtempat buah perahu yang masing2 dipimpin oleh Yan tiauw Siang Hiap, Ciong Lam Kiam kek Ciong Gam dan Sin koen Ke Siauw Coan, untuk menyusul. Kesudahannya adalah Na Hoo yang berhasil menemui In Tong dan Kang Kiat yang sedang terancam bahaya, hingga mereka lolos dari ancaman.

“Liong jie,” Na Hoo menasihatkan, “perbuatanmu Ini tidak memalukan soe couwmu dan tidak mengecewakan Hoay Yang Pay, tetapi selanjutnya kau mesti ingat, bahwa mengandalkan nyali besar saja tidak sempurna, disebelah itu kau mesti berlaku hati2, jangan sembrono! Kejadian hari ini ada satu contoh bagimu.”

Kang Kiat menghaturkan terima kasih untuk nasihat itu. In Tong juga mengucap terima kasih kepada jago tua itu.

Ia mengatakan, walaupun ia sudah masuk dalam dunia kang ouw, namun pengalamannya masih belum berarti.

“Kan Soehoe terlalu merendah kan diri”, kata Jie Hiap sambil tertawa. “Walaupun kita ada da ri kaum yang berlainan tetapi kita telah bersahabat untuk tiga turunan, dari itu, apa yang aku tahu, apabila, kau sudi mendengarnya, pasti aku suka memberikannya.” 

Mereka bicara dengan pengayuh tak dikasi berhenti, maka itu perahu mereka laju terus. Sang sore telah datang, cuaca mulai gelap, sebab mereka berada di tempat berbahaya, Ay Kim Kong senantiasa memasang mata. Hanya cahaya bintang2 dilangit sebagai penuntun jalanan satu2nya.

Siauw Liong Ong tidak banyak bicara, tetapi pengalamannya membuat ia benci sangat orang Hong Bwee Pang yang curang, maka diam2 ia berjanji kepada diri nya sendiri, apabila ada ketikanya, ia hendak berikan hajaran hebat kepada mereka, itu.

Segera juga mereka sampai diperapatan dimana air mengalir sangat deras, sedikit disebelah depan ada tempat dimana pertama kali mereka kejar perahu musuh. Tempat ini gelap sekali, berbahaya lewat disitu. Maka itu, Ay klm Kong kisikkan Kang Kiat “Begitu kita datang, begitu kita pulang. Kalau penja hat berani main gila pula, hajar adat padanya!” Kemudian senga ja ia berseru menantang musuh seraya ia menimpuk dua potong batu hoei hong sek.

Mengguna saat itu. Kang Kiat dan In Tong mengayuh dengan keras, hingga perahu mereka laju melesat akan lewati tempat berbahaya itu, tetapi justeru itu, dari gombolan gelagah disebelah kanan terdengar mengaungnya busui 2, suatu tanda disitu benar2 ada penjahat menyembunyikan diri.

Ketika rombongan perahu Ke Siauw Coan sedang lewat, diarah kanannya, didalam hutan gelagah, terdengar suara berisik, ada cahaya api berkelebat, disusul suara yang tajam “Kawanan kunyuk, kenapa ditempat gelap begini tanpa api? Kau sungguh pandai berhemat! Aku berhati murah, nah, sambutlah api ini!”

Lalu seikat obor rumput ke ring dilemparkan dari dalam gerombolan itu kegerombolan yang lain dimana tadi orang jahat menggunakan panah, kemudian menyusul beberapa obor yang lainnya.

Kawanan penjahat itu berada dibawah pimpinan Coei hio coe Tham Giok si Kala Air yang li cik dan kejam, ia dapat pesan dari Boe Wie Yang untuk menjaga diposnya itu untuk mencegah musuh keluar, ia sendiri memang niat membikin malu pada Hoay Yang Pay. Ia tidak sangka, selagi ia mulai turun tangan, ada orang yang mendahului padanya. Malah beberapa obor itu, yang jatuh didepan kawannya, sudah lantas membakar pohon2 gelagah hingga menyala, hingga disitu kelihatan cahaya sangat terang. Kalau tadinya mereka berada ditempat gelap, sekarang mereka jadi terlihat tegas. Selagi kawanan penjahat itu tengah sibuk, dari tempat dari mana obor menyamber terlihat satu orang tempat kearah mereka, kapan orang itu sudah datang dekat, nyata dia ada seorang tua kurus kering dan pada mukanya cuma ketinggalan kumis janggut bagaikan kumis janggut seekor kambing gunung.

Tham Giok, yang sedang mendongkol, menjadi sangat gusar kapan ia lihat orang tempat naik keperahunya. Ia malu karena orang dapat, mengganggunya sebagai kepala dari pos penjagaan yang dibebankan kepadanya. Maka itu, selagi ia telah siap dengan tiga batang paku rahasianya, shong boen teng, sambil , berseru, ia menyerang. Ditangan kanannya. Ia kepal dua ba tang, dan ditangan kiri sebatang. Ia menyerang dua jurusan. Kepala dan perut, dua batang paku nya menyamber sambil berkelebat bagaikan kilat.

Orang tua itu dengar seruan dan lihat penyerangan, ia tertawa mengejek, sambil berbuat demikian, seraya kibaskan tangan bajunya yang gerombongan, kakinya menjejak lantai perahu, hingga tubuhnya melesat pula, tempat tinggi, seperti memasuki awan yang gelap.

Bertambah tambah sengit Tham Giok” hingga ia kertek giginya. Paku ditangan kirinya masih belum digunai. Ia pakai ketika ini untuk menyerang pula, dengan hebat. Ia tahu benar keliehayan nya, ia percaya kali ini ia tidak akan gagal, maka itu, ia gusar berbareng girang.

Memang orang tua itu terancam bahaya hebat, akan tetapi dia adalah Twie in thyioe Na Pek, si Tangan Kilat, yang latihannya telah sampai dibatas kesempurnaan, tubuhnya enteng luar biasa, maka itu, ia masih punyakan kegesitan untuk luputkan diri dari senjata rahasia itu. Ia telah menduga, musuh bakal serang ia dengan susulan, selagi tempat, ia meneruskan, sambil jumpalitan dengan tipu “In Hong sam hian” atau “Naga udara perlihatkan diri tiga kali”.

Tham Giok saksikan serangan nya gagal, sekarang baharulah ia terperanjat. Ia insyaf bahwa ia bukanlah tandingan orang tua yang liehay itu, maka untuk tolong diri, ia mesti segera bertindak. Ia baharu hendak titahkan anak buahnya untuk mengayuh perahu akan menyingkir dari situ, atau tubuh Na Pek sudah melayang turun kelantai dibelakang. Maka dalam keadaan mogok seperti itu, ia hendak menyerang untuk membarengi selagi orang belum menancap kaki.

Si Kala Air ini gesit, akan tetapi orang tua didepannya lebih gesit pula. Belum ia gerakkan tangannya, atau tangan orang tua itu sudah menyamber ia dengan gerakannya “Hek houw sin yauw” atau “Harimau hitam lonjorkan pinggang”. Terpaksa dengan kedua tangannya, dengan tipu silat “Kim kauw cian” atau “Gunting emas”, menggunting lengan musuhnya.

Na Pek bersenyum menampak gerakan lawan itu, dalam hatinya ia kata “Apabila kau sanggup layani aku sampai tiga jurus, aku akan serahkan namanya Yan tiauw Siang Hiap kepada mu” Kemudian ia berseru

“Kau rebahlah!”

Dengan sangat gesit, secara se konyong2, orang tua ini tarik pulang tangannya yang hendak digunting itu, lalu dengan sama gesitnya ia balikkan tangannya akan dipakai menyamber iga.

Tham Giok terkejut, tak tempat ia menangkis, ia ingin terjun saja keair, akan tetapi niat itupun tak kesampaian seperti diinginkan, hanya ketika toh ia tercebur juga keair, itu adalah kesudahan tubuhnya kena terserang hingga tubuh itu terpelanting! XCVII

Semua anggauta penjahat menjadi kaget, karena pemimpinnya sudah rubuh, tidak ayal lagi mereka kabur tunggang lenggang.

Na Pek tertawa ter bahak2.

“Kawanan tikus!” Ia berseru. “Begini saja kepandaianmu!”

Ia terus perdengarkan suitan, atas mana dari suatu gombolan, terlihat muncul sebuah perahu, yalah perahunya sendiri. Ia tempat keperahunya itu, yang satu anak buahnya diperintah segera lepaskan pertandaan panah ber suara, untuk memberi kabar pada kawan mereka disebelah belakang. Kemudian lagi, ia maju terus kearah kiri, akan lewati hutan gelagah.

Na Hoo lm Kan In Tong kemudian menyusul. Mereka ini lantas juga bertemu kepada empat buah perahunya Lioe Hong Coen, Teng Kiam, Kim Hoo dan Chio In Po, yang muncul dari lain jurusan.

“Di dalam hutan gelagah sana masih ada orang kita yang pedang melayani musuh, maka kau tunggu disini, aku hendak pergi melihatnya,” kemudian Jie Hiap Na Hoo kata pada kawan nya. “Jikalau perlu, aku nanti berikan tanda.”

“Baiklah,” sahut Loopiauwsoe Chio In Po. “Kami datang atas titahnya ketua kita dan ketua See Gak Pay, untuk membantu nya. Siapa berada dalam hutan gelagah itu?”

“Entahlah,” sahut Na Hoo. “Sebentar kita akan ketahui.” Jago tua ini memberi tanda pada Kang Kiat dan Kan In Tong, atas mana, dua orang itu lalu menuju kedalam gelagah. Lioe Hong Coen berempat menantikan diluar.

Tidak lama, dari dalam hutan gelagah terlihat cahaya api, lalu padam, lalu menyala pula. Kemudian, terdengarlah suara panah nyaring.

“Mereka telah berhasil, hayo kita menyambut!” Berseru Thay kek Lioa Hong Coen.

“Mari!” Menyambut Teng Piauwsoe, yang perintah orang nya nyalakan obor.

Ketika itu sudah malam. Semua perahu lantas maju dengan segera, anak buahnya berseru.

Hutan gelagah itu lebat, tidak seberapa lebar, kelihatannya pohon gelagah seperti sengaja ditanam disitu, sebab selewatnya itu, orang berada diper mukaan sungai yang lebar. Didalam, Kang Kiat dan Kan Ir. Tong ber sama2 Na Hoo, sudah berkumpul dengan Na Pek. Mereka sambut bala bantuan itu. Ke Siauw Coan semua berlega hati melihat kawan mereka tak kurang suatu apa.

In Tong segera haturkan terima kasih karena ia teiah disambut. Ia akui kelancangannya mengejar musuh,” yang memancing mereka. Untuk ini. Ia .meminta maaf.

Waktu itu Kang Kiat tiba tempat keperahunya Xa Toa Hiap, gerakannya demikian rupa, membikin perahu goncang hingga Na Pek terkejut, tetapi dapat ia pertahankan diri.

“Setan, didepanku kau berani kurang ajar?” Toa Hiap menegur. “Oh, tidak, soe couw,” Kang Kiat memohon. “Aku hendak gantikan soecouw mengayuh        .... Tolong serahkan pengayuh itu padaku.”

Toa Hiap perdengarkan suara dihidung.

“Kau sambutilah!” Kata ia dengan tiba2, seraya lemparkan penggayunya.

Kang Kiat menyambutnya, tetapi dengan kaget dan sambil men ngis, karena kakek guru itu gunai tenaga, hingga cucu murid ini rasakan telapakan tangannya sakit. Syukur kakek guru itu tidak awasi ia, maka ia bisa terus mengayuh tanpa likat.

“Dia benar liehay,” pikir Kang Kiat selagi perahunya laju pesat.

Tidak ada orang perhatikan kakek guru dan cucu murid ini, kecuali Na Hoo, yang lantas awasi si anak muda dan bersenyum.

Kang Kiat tanpa rintangan lewati ruyuk gelagah itu, disebelah depan ia,tempat buah perahu, yang obornya menyala, kelihatan mendatangi.

Itulah empat perahunya In Tong yang datang memapak, dua diantaranya ditumpangi Louw Kian Tong dan Ciong Gam.

Dilain saat, semua perahu telah berkumpul menjadi satu. In Tong kerek naik dua buah lentera yang bertuliskan Hoay Yang Pay dan See Gak Pay selaku pertandaan. Perahu besar, markas, dikurung dengan perahu2 kecil.

Yan tiauw Siang Hiap berkumpul diperahuhya Eng Jiauw Ong, begitupun Coe In Am coe dan murid2nya.

In Tong diam2 perintah lekas siapkan barang hidangan, terutama air teh didahulukan. Tidak lama sehabisnya Yan tiauw Siang Hiap bersantap, In Tong dan Kang Kiat datang menanya, tindakan apa hendak diambil malam itu, guna menghadapi lawan.

Toa Hiap lalu berkata bahwa tak mungkin musuh nanti serang atau membokong mereka. Tetapi ia pesan, umpama benar ada serangan, serangan itu harus dilayani tanpa pandang2an lagi, karena mereka pun sudah memasuki daerah lawan.

Kemudian Na Pek tanya Coe In Am coe, bagaimana pendapat niekouw ini mengenai tempat yang dipilih untuk berlabuh itu.

“Tempat ini letaknya baik untuk lawan, tidak untuk kita, sahut Coe In. “Aku percaya Ong Soeheng dan Na Soeheng pun ketahui ini. Adakah sebabnya untuk itu?”

“Soe thay terlalu merebdahkan diri,” berkata Na Hoo. “Mustahil soe thay dapat kami pedayai?”

Coe In bersenyum.

“Bukankah soeheng sedang bersiasat?” tanyanya. “Rupanya soeheng memasang jaring sebelum kita memasuki Cap jie Lian hoan ouw, untuk dapatkan barang makanan untuk teman minum arak….”

Mendengar itu, Yan tiauw Siang Hiap dan Eng Jiauw Ong saling mengawasi dan tertawa.

“Soe thay berpemandangan luas, kami kagum,” nyatakan mereka.

“Aku bertindak demikian menuruti pesan Kay Hiap,” Eng Jiauw Ong tambahkan. “tempat ini terbuka, mudah musuh menyerbunya, tetapi aku telah atur penjagaan. Aku percaya anak2 dari Soe soei tidak akan gagal.”

“Sebaliknya aku kuatirkan itu,” In Tong merendah. “Kau merendah, Kan Loosoe,” kata Eng Jiauw Ong, yang terus pesan Soe Soei Hie kee dan Kang Kiat. Bagaimana harus ber jaga2.

In Tong dan Kang Kiat terima pesan itu, lantas mereka undurkan diri.

Sampai disitu, Coe In kembali keperahunya sendiri, dan Yan tiauw Siang Hiap bertiga dengan Ong Too Liong duduk bersamedhi dengan memejamkan mata.

Segera juga seluruh pihak Hoay Yang Pay Ini terbenam dalam kesunyian, hingga Yan tiauw Siang Hiap dapat memasang kuping dengan tenteram. Begitulah mereka dapat dengar ketika ada suara air, tanda dari adanya perahu yang lewat atau mendatangi. Na Pek segera mengintai dijendela.

Diluar, disekelilingnya mereka, suasana tenang. Malam itu bulan suram sinarnya dan bintang2 pun jarang. Itulah cuaca yang cocok untuk satu penyerangan mendadak.

Selang sedikit lama, untuk kedua kalinya, Toa Hiap mengintai pula. Kali ini. Kebetulan ia dengar pertandaan panah terbang yang bersuara nyaring, yang d yatuh keperahu bagian belakang. Disini antaranya ada empat buah perahu dimana. Berada Kang Kiat bersama Ke Siauw Coan, Siang too Kim Hoo, Lioe Hong Coen, dua saudara Soen dan Liong Jiang. Lentera disitu berhuruf merah tetapi waktu itu semua tak dinyalakan, anak buahnya siap dengan panah dan peluru.

Eng Jiauw Ong dan Na Hoo pun dengar suara pertandaan itu. Ketua Hoay Yang Pay jadi sengit, hingga ia nyatakan ingin tempur Boe Wie Yang yang dianggap keterlaluan, sebab mereka bukan disambut secara baik hanya saban2 diganggu di tengah jalan, toh mereka datang kesarang Hong Bwee Pang karena undangan atau tantangan.

“Po coe, kau ada ketua Hoay Yang Pay, kau harus sabar,” menghibur Na Hoo. “Selama orang belum mulai menyerang. Kita biarkan saja. Ber sama2 Coe Tn Am coe, kau harus utamakan pimpinan.”

Eng Jiauw Ong suka turut nasihat ini, ia sabarkan hati.

Yan tiauw Siang Hiap lantas pergi keluar, untuk melihat disekelilingnya, kemudian mereka naik kegubuk perahu, terus ke tihang layar. Na Hoo sendiri naik ditihang layar perahu ke dua, dengan begitu, mereka dapat memandang ketempat jauh, disepanjang tepi.

Pertandaan tidak terdengar pula, tidak ada gerakan apa pun.

Toa Hiap curiga, karena mana, ia mau duga musuh hendak gunakan siasat “bersuara di timur, menyerang dibarat,” rupanya musuh hendak menyerang bukan dari darat, hanya dari air.

Selagi Na Pek memasang mata terus seraya menduga2, tiba2 ia lihat tiga bayangan berlari2 mendatangi di tempat setengah panahan jauhnya dari rombongan perahu mereka, lantas ketiga bayangan itu lenyap didalam semak di tikungan sungai.

XCVII

“Ah kawanan tikus, kau benar2 hendak main gila didepanku!” Pikir jago tua ini sambil berse ryum tawar. “Hayo maju dekat!”

Selagi Toa Hiap berpikir demikian, dua buah perahu muncul dari tikungan, menuju lempang dan cepat kearah rombongannya, suara pengayuhnya pan tidak berisik. Sebentar saja kedua pera hu sudah mendatangi dua puluh tumbak jauhnya. Karena ini, Toa Hiap segera berikan tanda rahasia pada Jie Hiap.

Biasanya Yan tiuaw Siang Hiap tidak pernah minta bantuan siapa juga, malah mereka masing2 tidak senang apabila ada yang membantuinya, tetapi dalam keadaan seperti sekarang, Toa Hiap mengadakan kecualian. Kali ini mereka bekerja untuk Hoay Yang Pay, kaumnya sendiri.

Maka itu, Jie Hiap Na Hoo segera mengerti tanda dari kandanya itu. Iapun memang telah lihat juga datangnya kedua perahu tadi.

Selama itu, anak buah dari Soe Soei Hie kee masih belum ketahui datangnya kedua perahu itu, pertama suara pengayuh mereka tidak terdengar, kedua, sinar lentera dari pihaknya belum menyampaikan mereka itu. Mereka pun pandai sekali menyingkir dari arah sorotan api.

Begitu lekas telah datang dekat, dari perahu yang pertama tempat dua bayangan, naik kesebuah perahu Soe soei sebelah kiri, menyusul mana, dari perahu yang ke dua, loncat tiga bayangan lain, kesebuah perahu yang lain lagi. Setelah sembunyikan diri, berlima mereka menuju keperahu tengah. Hanya herannya, dua perahu mereka tidak lantas pergi, keduanya berlabuh, seperti menantikan.

Tidak antara lama, dari arah belakang, muncul lagi dua perahu lain, dari situ loncat naik tiga bayangan, beruntun kepada masing masing sebuah perahu Soe soei disebelah kiri. Mereka tidak bikin gerakan apa juga, tapipun pihak Soe soei Semua berdiam juga. Dari pihak Soe soei ini, cuma yang disebelah kiri sudah ketahui ada musuh menaiki perahu mereka. Twie in chioe Na Pek perhatikan empat perahu Hong Bwee Pang itu, diam2 ia jadi curiga. Ia tampak seperti ada barang apa2 didalam perahu2 itu, mungkin tumpukan kayu.

Tiga bayangan, yang naik terdahulu, kelihatan menuju keperahu besar dari See Gak Pay, dari gerakannya nyata mereka ketahui baik keadaannya perahu2 dari Soe soei. Mereka disusul dua kawannya. Lalu masing2 seorang sembunyi dijendela kiri dan kanan, dua naik keatas gubuk, satu pula mengintai dijendela perahu kiri. Tiga yang lain terus pergi kebelakang, agaknya mereka mencari sesuatu.

Semua gerakannya lima orang itu tak lolos dari pengawasannya Ay Kim Kong Na Hoo. Ia bukan nya berkuatir, ia justeru jadi gembira, ia harap2 dapat tandingan istimewa. Ia pun perhatikan tumpukan didalam perahu musuh itu, yang terus berlabuh ditempat gelap.

Dimata Na Pek, semua musuh itu seperti mengerti tugas masing2. Dilain pihak iapun puas, karena semua orang dipihaknya tetap tenang. Kemudian ia lihat adiknya memberi tanda dengan gerakan tangan.

Na Pek loncat turun dari tihang layar, untuk menguntit musuh.

Menampak gerakan kanda itu, Na Hoo pun loncat turun akan pergi keperahu ke tiga dibelakang perahu besar dimana ia naik pula ditihang layar, untuk terus memasang mata. Kemudian dengan gerakannya “Yan Coe Hoei in cong” atau “Burung walet terbang menembusi mega,” ia mencelat keperahunya Coe In Am coe, akan ambil tempat diatas tihang layar.

Jie Hiap segera mengutuk apabila ia sudah lihat nyata dua musuh. “Ah, kunyuk!” Demikian caciannya dalam hati. Sebab orang itu adalah pecundangnya yalah Twie hong Tiat cie tiauw Hauw Thian Hoei ketua dari Cin tiong Sam Niauw, serta Kwie eng coe Tong Siang Ceng.

Untuk bisa lihat tegas musuh yang bertugas memasang mata, Na Hoo keluarkan satu uang tangchie, ia sentilkan itu kemuka air, hingga dimuka air terbit suara2 atas mana orang Hong Bwee Pang itu menoleh.

“Aha, kau, jahanam!” Na Hoo mencaci didalam hatinya. “Kau berani bertingkah, betul tidak tahu malu!”

Jago tua ini kenali Shong boen sin Khoe Leng, salah satu dari See coan Siang Sat.

Ay Kim Kong insyaf musuh2 yang tanggu itu. Pantas mereka bernyali besar dan gerakannya sangat gesit dan enteng.

“Tidak sempurna untuk serang mereka dengan piauw, baik aku peringatkan saja,” pikir Na Hoo kemudian. Ia lantas siapkan pula uang tangchie, ia berniat “tegur” Hauw Thian Hoei, tetapi baharu ia hendak gerakkan tangannya, atau ia tampak satu bayangan melayang dari tihang layar diperahu sebelah depan, pindah ketihang layar perahu sebelah kiri, gerakkannya sangat pesat, bayangan mana terus merunjuk kearah dia. Ia heran tetapi ia menduga pada kawan sendiri, sedangnya ia mengawasi untuk mengenali, orang sekarang tempat ketihang nya sendiri, hingga segera juga ia kenali, orang itu adalah Siok beng Sin Ie Ban Lioe Tong, sang soetee dari Kwie In Po, Kian San.

Begitu lekas ia mencoba memasuki Hoen coei kwan dan dua kali menemui rintangan, sebagai seorang yang cerdik dan berpengalaman, Lioe Tong lantas ketahui pasti, rintangan musuh itu mesti ada setahunya Boe Wie Yang, kalau tidak, tidak nanti ada anggauta Hong Bwee Pang yang berani main gila secara demikian. Hong Bwee Pang toh mempunyai aturan keras dan kedatangan pihak Hoay Yang Pay adalah atas undangannya. Karena ini, ia tidak ikut rombongan ketuanya beramai, seorang diri ia ambil jalan dari belakang, dari darat, lalu ia maju disepanjang tepi, hingga dengan begitu ia dapatkan, juga disepanjang tepi itu ada sembunyi musuh Tetapi ia dapat lewati mereka tanpa sesuatu halangan. Ia terus ikuti rombongan perahu dari Soe soei, ketika ia tampak munculnya dua musuh disebuah tikungan. Ia kuntit dan dengar pembicaraan mereka.

Dua musuh itu adalah Ouw Can dari Cit Seng San dan Tocoe Tie Cin Hay dari Ie boen. Kemudian mereka ini berkumpul bersama tiga kawannya lagi yalah To coe Tong Siang Ceng dari Ie boen, Toan Bie Cio Lo Yauw dan Ya heng Cian lie Hauw Ban Hong, komplotan yang culik Hoa In Hong dan Yo Kong Bwee, hingga mereka menyebabkan bentrokan Hong Bwee Pang dengan Hoay Yang Pay dan See Gak Pay. Mereka berkomplot untuk bokong pasukan perahu dari Soe soei. Disitu mereka berkumpul untuk bermupakatan. Mereka terkejut ketika mereka dengar suara panah dari pihak Soe Soei Hie kee. Hampir itu waktu ada datang dua kawan mereka, ketika Tie Cin Hay dan Hauw Ban Hong hendak menanya, satu diantaranya mendahului, katanya “Pundak rata, pikir pendek, didalam buah, tak sedikit bijinya!”

Itulah kata rahasia bahwa didalam gombolan ada musuh bersembunyi, jangan mereka bicara. Mereka lalu bicara kasak kusuk. Nyata mereka hendak lakukan penyerangan diatas air.

“Apakah barangnya sudah siap?” Ouw Can tanya. “Sudah,” jawab satu suara. “Sekarang silahkan masing2

memecah diri untuk mulai turun tangan.” Menyusul itu, dua orang yang datang belakangan sudah lantas berlalu, kedengaran nyata suara nya membuka jalan antara pohon2 gelagah, lalu terdengar lebih jauh suara mencebur diair, lalu sunyi senyap.

Ban Lioe Tong tidak dapat lihat tegas mukanya dua orang itu, tetapi ia rasanya kenal mereka, yang satu ia duga mesti ada salah satu dari See coan Siang Sat. Ketahui musuh bukan bangsa lemah, ia berlaku hati2 ketika ia coba susul mereka itu.

Nyata penjahat ada punya perahu enteng untuk keperluan mereka dan didalam perahu itu mereka punya lentera penyorot Khong beng teng, untuk melihat kelilingan, apabila Lioe Tong tidak waspada dan gesit, pasti ia sudah dapat dipergoki. Lioe Tong saksikan orang naik perahu. Karena musuh sudah bersiap, ia lekas2 hampirkan perahu besar, sebagaimana ia telah ketemu dengan Jie Hiap dan tuturkan rencana musuh yang ia dengar.

“Apa soeheng ketahui mereka dari golongan mana?” kemudian ia tanya.

XCIX

Na Hoo utarakan dugaannya, atas mana, Lioe Tong beritahukan bahwa mereka itu kebanyakan ada pecundang dari Tong kwan. Karena ini Jie Hiap tahu, musuh yang terkuat adalah Kwie lian coe Lie Hian Tong si Muka Iblis dari See coan Siang Sat. Kwi eng coe Tong Siang Ceng si Bayangan Hantu penjahat besar dari perbatasan See coan. Dan Twie hong Tiat cie tiauw Hauw Thian Hoei, tetua dari Cin tiong (Siamsay). Dalam hal kegagahan, tiga penjahat itu tak usah dibuat jeri, tetapi dalam hal kelicikan, mereka tak dapat dipandang enteng. Maka itu, Ay Kim Kong anggap perlu ia beri kisikan pada Eng Jiauw Ong. Ia kuatirkan keselamatannya Ngo Cong Gie, Soe ma Sioe Ciang dan Ciok Liong Jiang, yang ada satru2nya Hauw Ban Hong.

Selagi dua saudara seperguruan itu bicara, kawanan penjahat pun bekerja, walaupun sedang bicara akan tetapi mereka tetap waspada dari itu mereka dapat lihat gerak gerik pihak musuh.

Dengan satu gerakan “It ho ciang Thian” atau “Burung hoo terjang langit,” kelihatan Kwie eng coe Tong Siang Ceng mencelat keperahu Soe soei ke tiga, tetapi disini ia disambut tiga potong Kim chie piauw, hingga ia mesti lompat kembali. Ia baharu mundur, atau dari kiri dan kanan, berbareng maju Kwie lian coe Lie Hian Tong dan Twie honi Tat cie tiauw Hauw Thian Hoei.

Menampak demikian. Ban Lioe Tong segera susul Hauw Thian Hoei, maka Na Hoo lalu hampiri Tong Siang Ceng. Toa Hiap Na Pek pun keluar dari tempatnya sembunyi, akan dekati Lie Hian Tong. Secara begini, tiga penjahat yang liehay itu jadi sudah seperti diikat….

Tong Siang Ceng hampiri perahunya Eng Jiang Ong, ia naik keatas gubuk perahu. Gerakan tubuhnya “Kim hong hie loei” atau “Tawon permainkan pusuh bunga” ada gesit sekali. Ia injak tihang lentera, lenteranya ia bikin padam dengan satu kebutan telapakan tangan. Setelah itu, ia mencelat kewuwungan gubuk perahu itu untuk terus mendekam, tubuhnya mengkerat bagaikan kucing saja. Untuk mengintai kedalam, tubuh itu merosot hingga kepalanya sampai di payon.

“Kunyuk, benar nyalimu besar!” Pikir Na Hoo, yang sengit. “Apakah kau tidak pernah pikir bahwa Hoay Yang Pay tak akan ijinkan kau main gila?” Lalu, dengan gerakan “Hoei t y oa tiok eng atau “Ular terbang mengejar bayangan” Ay Kim Kong bergerak kebela kangnya si Bayangan Hantu. Tidak biasanya untuk ia membokong musuh, dari itu, sambil gerakkan kaki Ykanannya, ia menegur “Eh, apa kau masih memikir untuk melarikan diri?”

Tetapi Jie Hiap belum tempat mengucap habis tegurannya itu ta tkala ia rasakaii samberan angin dibelakang nya, hingga ia tahu ada orang yang bokong ia, sedangkan Tong Siang Ceng sendiri sudah lantas tempat akan memutar tubuh dengan gerakan nya “Kim liong coan tah” atau “Naga emas tembusi menara,” gerakan mana ada sangat cepat. Untuk tolong diri, Jie Hiap berbali k dengan gerakannya “Giok bong hoan sin” atau “Naga ku mala jumpalitan,” tangan kiri nya dibuka keluar, tangan kanan nya menutup diri.

Penyerang gelap itu lihat orang telah berkelit, iapun batalkan penyerangannya, untuk diganti dengan lain pukulan, setelah menggeser kekiri, kedua tangannya di majukan dalam gerakan “Hek houw sin yauw” atau “Harimau hitam mengulet” Ia ada sangat gesit. Iapun bukan lain daripada Ya heng Cian lie Hauw Ban Hong, yang datang bersama2 Tong Siang Ceng dan Tie Cin Hay, ia memangnya ada paham sekali Keng kang soet, ilmu mengentengkan tubuh. Boegeenya tidak seberapa, ia hanya dimalui karena kegesitannya dan kekejamannya, maka dalam kalangan Rimba Hijau, ia ada sangat dihargai oleh orang2 sekaumnya.

Hauw Ban Hong lihat Jie Hiap arah Siang Ceng, ia belum kenal jago tua ini, ia melainkan duga orang ada liehay, dari itu ia anggap paling benar untuk turun tangan terlebih dahulu dan secara hebat. Demikian ia membokong. Kesudahannya ia mendapat bukti, bakal kurban itu bisa tolong diri dengan berkelit. Na Jie Hiap telah tempat melesat ketihang layar.

Ban Hong dan Siang Ceng segera saling memberi tanda.

Keduanya lompat keperahu disamping.

Hauw Thian Hoei lihat dua kawan itu sudah mulai turun tangan, ia juga turut muncul dengan tempat kekiri, tetapi segera ia disusul oleh Lioe Tong, yang sudah pasang mata terhadapnya.

Dikiri, diperahu ketempat, ada dua piauwsoe dari Kanglam yalah Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang. Mereka ini, menuruti pesan Eng Jiang Ong, bersiap sedia saja seperti yang lain2. Inilah sikap yang menyebabkan semua perahu dari Soe soei seperti diam saja. Soe ma Sioe Ciang mengintai keluar ketika ia dengar pertandaan panah bersuara tadi Ia tampak gelap petang disekitarnya, cuma samar ada gerakan digombolan.

“Rupanya orang mulai datang untuk serang kita, nanti aku lihat,” kata ia yang berniat pergi kekepala perahu.

Cong Gie terliti, ia niat mencegah, tetapi belum tempat ia buka mulutnya, kawannya itu sudah bertindak keluar, malah kawan ini segera dengar suara digombolan, atas mana segera ia kirim sepotong piauw.

“Siapa disana? Lihat piauw!” Ia serukan.

Menyusul menyambernya piauw keruyuk gelagah, satu orang loncat keluar.

“Loosoe siapa disana?” orang itu tanya. “Jangan terlalu lancang! Aku ada orang Soe soei yang sedang sembunyi disini!”

Soe ma Sioe Ciang percaya keterangan itu, ia menyesal yang ia berlaku sembrono. Iapun malu. “Aku Soe ma Sioe Ciang, yang bertugas disini”, ia lekas jawab.

“Hampir aku celakai orang sendiri. Maaf….”

Selagi mend yawab demikian. Sioe Ciang dengar suara lajunya perahu, lekas2 ia beri tanda kepada orang ditepi itu, untuk umpatkan diri.

Segera kelihatan dua buah perahu cepat mendatangi keperahu besar.

Soe ma Sioe Ciang anggap ia telah sembunyikan diri dengan cepat sekali, ia tidak tahu, suaranya itu telah orang dapat dengar, Hauw Thian Hoei dan Lie Hian Tong sudah lantas menghampiri ia, cepat luar biasa, hingga tahu2 ia telah diserang dengan ruyung Kim sie Siauw kauw pian. Ia terketiyut, ia loncat kekiri untuk berkelit. Ia tidak bisa berenang, ia mesti hati2 kalau terpeleset, tentu ia akan kecebur.

Sepasang ruyung lewat didepan hidungnya piauwsoe ini, sesudah mana, serangan dilanjutkan “Nyeburlah kau!” Hauw Thian Hoei berseru, ketika ia ulangi serangannya.

Inilah desakan yang sangat hebat untuk Soe ma Sioe Ciang, hingga sulit untuk ia menangkis, sedang kalau ia buang diri, ia mesti tercebur keair. Didekat ia tidak ada perahu kemana ia bisa berloncat.

Dalam saat hebat bagi Soe ma Sioe Ciang itu, tiba2 Hauw Thian Hoei dengar bentakan dari sampingnya “Kaupun nyebur!”

Kaget sekali si Garuda Sayap Besi ini, karena ia insaf ada orang bokong ia. Untuk tolong diri, terpaksa ia batalkan serangannya terhadap piauwsoe dari Kanglam itu, ia berkelit kesamping sambil berbareng memutar tubuh, kedua ruyungnya sekalian dipakai menangkis dan menyerang. Ia ada liehay, dalam ancaman bahaya itu ia bisa tolong diri sambil dilain pihak terus mengancam lawan tak dikenal itu.

“Bagus!” Terdengar suara si pembokong yang tertawa dingin, tangan siapa diulur, untuk samber ruyung yang dipakai menyerang ia. Ia berada didalam jarak untuk tak terserang tetapi bisa menjambret apabila ia ulur tangannya.

Hauw Thian Hoei mengarti senjatanya terancam akan terampas musuh, lekas2ia tekuk lengannya, untuk menarik pulang senjatanya itu, sedang kaki kirinya ia geser, dengan gerakan mana ia berbareng geser juga tubuhnya.

Penyerang tak dikenal itu adalah Ban Lioe Tong, yang turun tangan disaat si piauwsoe terancam bahaya, setelah ia gagal merampas ruyung musuh, iapun lantas hunus pedang mustikanya, Tee sat Cian liong kiam, maka itu, tatkala dupakannya Twie hong Tiat cie tauw sampai, ia dapat ketika untuk memapaki dengan satu sabetan. Jikalau tidak, ia bisa celaka karena dupakan yang liehay itu, yang datangnya luar biasa cepat.

Tetapi juga Hauw Thian Hoei tidak sudi kasi kakinya disabet buntung, ia menangkis dengan ruyungnya. Maka segeralah kedua senjata beradu satu sama lain, menerbitkan meletiknya lelatu api!

C

Lioe Tong terperanjat. Ini adalah untuk pertama kali ia gunai pedangnya itu sampai pedang itu adu kekuatan dengan senjata musuh, yang tadinya ia sangka ada senjata biasa saja. Ia tidak sangka yang Kim sie Siauw kauw pian pun ada ruyung tanggu.

Juga Hauw Thian Hoei ter. Peranjat seperti ketua dari Kwie In Po ini. Kalau Lioe Tong men celat mundur keatas gubuk perahu, dia tempat keperahu lainnya. Keduanya masing2 segera periksa senjata mereka, yang dikuatirkan rusak karena bentrokan keras itu. Adalah setelah memeriksa hati Lioe Tong menjadi lega, senjatanya tak kurang suatu apa, cuma ruyung terpapas pinggirannya. Maka tidak lagi niat tetua Cin tiong Sam Niauw untuk bertempur lebih lama.

Itu waktu, Samcay kiam Soe ma Sioe Ciang sudah lantas kenali, musuhnya adalah Twie hong Tiat cie tiauw si Garuda Sayap Besi, ia jadi gusar sekali, ia niat menyerang, tetapi terhalang oleh Ban Lioe Tong, terpaksa ia tunggu waktu saja, setelah tampak keduanya berpencar, ia tempat menyusul jago dari Siamsay itu untuk diserang. Ia berada disebelah belakang, ia tikam bebokongnya musuh Hauw Thiai. Hoei ketahui ada orang kejar ia, apabila ia kenali piauwsoe dari Kanglam itu, ia pun jadi sengit sekali, tetapi ia masih bisa kendalikan diri untuk bersabar, akan ber pura2 tak tahu ada musuh mengejar padanya, adalah ketika ujung pedang hampir sampai, dengan sekonyong2 ia putar tubuh kesamping, dari mana ia teruskan ayun ruyungnya menghajar batok kepalanya Soe ma Sioe Ciang.

Inilah serangan hebat, terutama karena lawan sedang menikam. Soe ma Sioe Ciang batalkan tikamannya, ia angkat pedangnya keatas untuk menangkis turunnya ruyung. itu ada gerakan “Ang in toh goat” atau “Mega merah menampa rembulan”.

Dalam murkanya, Thian Hoei ingin labrak piauwsoe ini, ia putar, ruyungnya dan atas turun ke bawah, akan diteruskan menyerang perut lawan. Gerakannya itu ada sebat sekali.

Selagi pedangnya dikasi naik, Soe ma Sioe Ciang tak dapat ketempatan pula akan tangkis serangan yang menjurus keperut nya ini, tidak ada jalan lain, sambil mencoba turunkan tangannya, ia berkelit kekiri dengan tubuh dimiringkan. Akan tetapi ruyung telah dului ia, walaupun tidak hebat, iapun kena po lagi ia rubuh kelantai perahu.

Hauw Thian Hoei tidak berhenti sampai disitu, ia umbar kesengitannya, sambil maju lebih jauh, ia kirim ruyung kematian untuk ke dua kalinya, Soe ma Sioe Ciang habis daya, ia meramkan mata untuk terima binasa.

Disaat kematiannya piauwsoe dari Kanglam ini, datanglah pertolongan dari Siok beng Sin Ie Ban Lioe Tong, yang telah tempat mencelat sambil berseru “Roh bergelandangan dibawah pedang, kau masih banyak tingkah? Sambutlah ini!” Dan orang sampai berbareng bersama pedangnya!

Hauw Thian Hoei terperanjat, terpaksa ia tarik pulang ruyungnya, batal menghajar Soe ma Sioe Ciang, ketika ia menoleh dengan cepat, ia tampak pedang menyamber kearah pundaknya yang kiri, segera ia luputkan diri dengan mendekkan diri.

Setelah gagalkan serangannya Twie hong Tiat cie tiauw, Ban Lioe Tong loncat terus kepada Soe ma Sioe Ciang. Tubuh siapa ia terus jambret, sedang Hauw Thian Hoei telah tempat sampai tiga tumbak terpisah dari Lioe Tong, kemudian dia berseru “Ban Lioe Tong, aku Hauw Thian Hoei pamitan untuk sementara dari kau! Dibelakang hari, nanti ada harinya yang kita akan bertemu pula! Maaf, aku tak dapat temani kau lebih lama!”

Ban Lioe Tong belum tahu piauwsoe dari Kanglam itu terluka bahagian apanya, ia dari itu tak pikir mengejar ketua dari Cin tiong Sam Niauw itu, tetapi terserang juga, hingga tak tempo ia balasi kata2 musuh yang besar itu. “Kunyuk. Jikalau kau ada punya kepandaian, kau keluarkan itu, aku Ban Lioe Tong tidak jeri kepadamu! Jikalau kau ada punya nyali, kau datanglah ke Kwie In Po di Kian San, aku bersedia menyambutnya, untuk bikin kau nanti buka matamu untuk memandang dunia!”

Hauw Thian Hoei tidak gubris tantangan itu, ia balik tubuhnya, untuk berlari diatas beberapa perahu, akan lenyapkan diri dari medan pertempuran itu. Maka itu, sekejab saja suasana menjadi tenang pula.

Lioe Tong bawa Soe ma Sioe Ciang kelain perahu dimana Ngo Cong Gie sambut mereka. Dia sambuti pedangnya Sioe Ciang, dia bantu pegangi tubuhnya kawan itu.

“Aku lihat kau, Ban Po coe, karena itu, aku terus berdiam menjaga perahu,” Cong Gie terangkan.

Soe ma Sioe Ciang lantas di rebahkan, ia buka matanya, ia lihat soehengnya dan ketua dari Kwie In Po berada dekat ia Lioe Tong segera periksa luka kawannya, yalah dipaha kanan, yang jadi matang biru panjang 6-7 dim dan lebar tiga dim.

“Lihat liehaynya ruyung penjahat itu,” berkata po coe dari Kwie Io Po. “Itulah ruyung Kim sie Siauw kauw pian yang. Membuat namanya terangkat tinggi, yang sama liehaynya dengan ruyung Siang tauw Gin sie Hong hong pang dari Ay Kim Kong Na Jie Hiap biasanya, siapa terkena ruyung itu, mesti patah tulang tulangnya dan putus urat2nya, syukur tadi serangan tidak hebat, jikalau tidak, pasti sekali pahanya Soe ma Piauwsoe ini tak akan dapat tertolong. Sekarang, Ngo Piauwtauw, tolong kau jaga diluar, aku hendak obati Soe ma Piauwtauw, supaya luka nya ini tidak sampai membahayakan padanya terlebih jauh.” “Berulang ulang kau telah bantu kami, Ban Po coe, terima kasih!” Mengucap Ngo Cong Gie. “Pasti kami akan ingat budi ini”.

“Kita ada sama sama orang kang ouw, jangan sungkan,” kata Lioe Tong.

Selagi Cong Gie bertindak keluar, tabib istimewa dari Kwie In Po ini keluarkan obat luka yang ia selalu sedia dibadannya, kemudian ia buka pakaiannya Soe ma Sioe Ciang. “Ban Loosoe,” kata Soe ma Sioe Ciang, “lukaku demikian ringan, kenapa sakitnya hebat sekali sehingga aku pingsan? Sebenarnya aku tak percaya yang aku tak sanggup lawan luka ini.”

“Lihat dulu rupanya lukamu ini, baharu kau akan insaf”, sahut Lioe Tong. “Cin tiong Sam Niauw tersohor dalam kalangan kang ouw terutama disebabkan kekejaman hatinya. Ruyung Kim sie Siauw kauw pian dari Hauw Thian Hoei ada punya dua batang kumis rahasia, yang dipakaikan per, mirip jarum yang tak tertampak jikalau tidak digeraki pernya, kegunaannya untuk menusuk jalan darah atau urat, ujung jarumnya. Dipakaikan racun. Karena ini, semua kaum kita benci padanya. Itulah sebab nya, lauwtee, walaupun lukamu nampaknya ringan, akibatnya ada hebat”

Soe ma Sioe Ciang perhatikan lukanya, yang benar kecil. Tetapi diantaranya ada sebuah. Lobang bekas tusukan jarum dari mana ada cair mengalir.

“Biasanya aku berlaku murah hati, maka aku heran kenapa ada orang kang ouw demikian kejam sebagai Hauw Thian Hoei,” Lioe Tong nyatakan. “Sayang Cin tiong Sam Niauw tersesat, sedang mereka berkepandaian tinggi. Aku percaya kelak mereka tak akan luput dari keadilan”. Soe ma Sioe Ciang kertek gigi, ia benci sangat kepada Hauw Thian Hoei.

Lioe Tong sudah lantas obati lukanya piauwsoe itu, terutama akan pencet keluar semua cair, akan kemudian tutup lobang luka dengan obat. Selama itu, Soe ma Sioe Ciang gigit gigi menahan sakit, sampai tubuhnya bermandikan keringat dingin.

“Soe ma Lauwtee, kau kuat sekali,” Lioe Tong memuji, “walaupun kau merasa sangat sakit, tak sekali juga kau buka suara”.

Soe ma Sioe Ciang diam atas pujian itu, ia hanya mengucap terima kasih, karena setelah cara pengobatan itu, rasa sakitnya mulai hilang, malah ia bisa bergerak pula seperti biasa.

Lioe Tong bebenah, ia teriaki Cong Gie akan pesan, Soe ma Sioe Ciang mesti dijaga,. Tidak perduli ada bencana apa, kalau orang tidak menyerbu kedalam perahu, jangan diperdulikan, sebab piauwsoe ini tak boleh keluarkan tenaga.

Cong Gie terima baik pesan itu. Kemudian, menunggu sampai Lioe Tong keluar, ia alingi api agar sinarnya tidak menyorot keluar. Lioe Tong terus menuju keperahu besar. Ia duga orang jahat satroni markas, tetapi sesampainya diperahu besar ia tampak suasana tenang saja, hingga ia jadi heran.

Apa mungkin dalam sekejab penjahat dapat disapu? Dengan hati2 Lioe Tong hampirkan markas, ia tampak

Piauwsoe Teng Kiam dan Siang too Kim Hoo sedang

berjaga jaga. Dengan bisik2 ia tanya apa sudah terjadi.

“Penjahat telah datang kemari tapi segera mundur pula sendirinya,” sahut Teng Kiam. “Mereka seperti dapat firasat kita sudah menantikan mereka. Jumlah mereka ada enam atau tujuh orang. Menuruti pesan ciang boen jin, kita awasi saja gerak gerik mereka. Nampaknya kawanan itu masih mundur maju”

Baharu Teng Kiam mengucap demikian atau satu bayangan berkelebat lewat, maka bertiga mereka lantas berdiam dan sem bunyikan diri. Teng Kiam dan Kim Hoo hunus senjatanya masing2, Lioe Tohg mengawasi, ia dapat kenali bahwa bayangan itu ternyata orang dari pihaknya.

Bayangan itu adalah Siauw hiap Ciok Liong Jiang.

Dengan satu tanda rahasia, dia datang menghampirkan.

“Liong jie, apa po coe ada menitah apa2?” Lioe” Tong menyambut.

“Oh, Ban Soe couw ada disini? Inilah terlebih baik,” kata anak muda itu.

Lioe Tong muncul diturut oleh Teng Kiam dan Kim Hoo.

Liong Jiang memberi hormat, lalu ia sampaikan berita, kata nya “Ban Soe couw, kawanan penjahat yang datang semua ada liehay, kelihatannya mereka semua dikenal. Sekarang kita sudah mengatur untuk kurung mereka. Po coe pesan untuk siap sedia tetapi jangan lancang, agar pertandaan panah nyaring digunai, kalau ada musuh kabur, dia mesti dirintangi. Soe couw ada disini, inilah kebetulan, baik soecouw bantu Teng Loosoe dan Kim Loosoe. Kawanan penjahat harus diberi hajaran. Untuk didalam air, tugas diserahkan kepada Kan Loo soe serta Kang Kiat”.

“Apakah po coe telah berhadapan kepada musuh?” Lioe Tong tanya.

“Baharu siap sedla saja,” ja wab Liong Jiang, yang terus memberi hormat pula untuk undurkan diri. Seberlalunya pemuda itu, Lioe Tong pesan Teng Kiam dan Kim Hoo, lantas ia pergi kearah markas. Ia baharu mendekati tujuh atau delapan tumbak, lantas ia tampak satu bayangan berkelebat mengenakan pakaian malam dan senjatanya sebatang golok, gerakannya sangat gesit, golok nya itu seperti menyamber dengan tiba.

Sambil berkelit dan tertawa dingin, Lioe Tong egos tubuhnya, setelah itu, ia hendak balas menyerang, akan tetapi mendahului ia, datanglah samberan angin yang dibarengi dengan bentakan “Tikus, kau berani bertingkah? Jangan lari!” Lalu seorang ulur tangannya dalam gerakan “Kim liong tam jiauw” atau “Naga emas ulur kuku,” akan jambak punggungnya penyerang tak dikenal itu. Melihat gerakan tangannya, Lioe Tong menduga orang itu mesti ada orang Hoay Yang Pay.

Pembokong dari Lioe Tong itu benar2 gesit, ia dapat luputkan diri dari d yambakan, kemudian dengan putar tubuh ia balas menyerang musuh dari bahagian bawah. Gerakannya itu adalah “Cioe hong sauw loh yap” atau “Angin musim rontok menyapu daun rontok”.

Segera juga Lioe Tong kenali, penyerangnya itu adalah Ban San coe Tan ciang Kay pay Thong In, sementara yang menyamber dia itu adalah Toa Hiap Twie in chioe Na Pek. Melihat penjahat itu, ia jadi mendongkol, sebab terang orang ada sangat bandel, siangnya sudah jadi pecundang, malamnya masih berani banyak laga. Seharusnya, sebagai orang kenamaan, dia itu tahu malu. Karena ini ia anggap, tak usah ia perdulikan lagi tata hormat kaum kang ouw. Lantas ia hunus pedangnya, sambil tempat maju ia mengancam kemuka penjahat itu seraya ia berseru “Orang she Thong, pit hoe tidak tahu malu! Kau sebenarnya ada sahabat macam apa? Sebelum dibikin jadi setan berkelana dibawah pedang, kau rupanya belum puas! Lihat pedang!” Meneruskan gerakannya, Lioe Tong gunakan tipu bacokan “Ciauw hoe boen louw” atau “Tukang kayu menanya jalan”, menabas pundak kanan musuh.

Thong In ada seorang liehay yang luas pengalamannya, begitu melihat berkelebatnya pedang, ia tahu itu adalah pedang mustika yang tak dapat ia layani, maka tak mau ia menangkis, ia hanya mencelat kekiri, untuk berkelit. Dengan demikian, iapun lolos dari ancamannya Twie in chioe.

“Kau hendak loloskan diri?” Na Pek membentak pula. “Percuma saja!”

Toa Hiap tempat mengejar. Juga Lioe Tong. Dengan pedangnya terhunus menyusul untuk menggencet. Dalam keadaan seperti itu, kedua jago dari Hoay Yang Pay ini tak ingat lagi bahwa mereka sedang mengerubuti.

“Kau berdua hendak kepung aku?” kata Thong In dengan tertawa dingin. “Mustahil aku si orang she Thong takut? Mari, mari! Mari kita main2 didarat!”

Dengan kata2nya ini. Ban san coe hendak kabur kedarat, Na Pek yang berada lebih dekat Thong In diserang dadanya.

“Kunyuk, kemana kau hendak lari?” membentak Na Pek, yang berkelit dengan geser tubuh ke kanan.

Serangan Thong In mengenai tempat kosong.

Dari samping, dengan “Hong hong tan thian cie” atau “Burung hong gerakkan sebelah sayap,” Na Pek samber tangan musuh yang dipakai menyerang ia itu.

Thong In memutar tangannya untuk berbalik menyerang pula, dengan “Giok lie touw so,” atau “Bidadari menenun.” Tetapi sekali ini ia berlompat akan serang Lioe Tong, yang sudah datang dekat kepadanya.

Lioe Tong hendak serang musuh, tetapi karena musuh mendahului, ia putar pedangnya, buat berbalik menyerang dari atas.

Jeri terhadap pedang mustika, Thong In batal menyerang terus, sebaliknya ia teruskan tempat jauhnya setumbak lebih, hingga ia berada disamping kiri dari sebuah perahu.

Melihat demikian, Na Pek serukan saudara seperguruannya “Soetee, kau tahan kunyuk ini, aku hendak bereskan biangnya”

Selagi soeheng itu ber kata2, Lioe Tong benar lihat satu bayangan melesat dari gubuk perahu disebelah depan dan sang soeheng sudah lantas kejar bayangan itu.

Thong In gunai ketika itu untuk menyingkir kedarat. “Tikus, kemana kau hendak pergi!” Lioe Tong

membentak seraya mengejar, ia terus menikam. Ia cegat jalannya musuh, ia mengancam kemuka, tetapi ujungnya pedang berlangsung keiga kanan, itulah serangan “Yap tee touw toh” atau “Diba wah daun mencuri buah toh”.

Dengan gerakan “Giok bong to hoan sin atau “Ular naga kumala jumpalitan”, Thong In berkelit kekanan, dari sini ia membabat dengan goloknya ke arah pundak kanan Lioe Tong yang tangannya sedang diulur itu. Ia berlaku tak kurang sebatnya.

Lioe Tong tarik pulang lengan nya, setelah mana, ia maju menyerang pula, malah kali ini ia mendesak serangan nya diulang dan diulangi lagi, saling susul.

Repot Thong In walapun ia gagah dan gesit, dengan paksakan diri, ia bikin perlawanan, tetapi setelah bertempur enam atau tujuh gebrak, ia mulai terkurung, hingga ia insyaf benar2 yang ia bukanlah tandingannya jago dari Kwie In Po itu. Ia pikir, karena ia tak bakal dapat bantuan, paling baik ia menyingkir mundur ke Hoen coei kwan.

Selama itu, mereka telah mendekati tepi, dengan mendadak Thong In mencoba balas menyerang. Tapi menggunai ketikanya yang baik, segera ia mencelat kedarat. Ia ingin loloskan diri didalam gombolan rumput yang lebat.

.

Lioe Tong tak dapat membiarkan orang lolos, ia menyusul dengan lompatannya “Pat pou kan siam” tempat tinggi dan jauh, dalam sesaat saja ia dapat lombai musuh, hingga ia jadi berada disebelah depan, lalu sambil memutar tubuh ia menikam dengan pedangnya, Tee sat Cian liong kiam.

Sementara itu, Toa Hiap Na Pek sudah kejar bayangan yang ia lihat tadi, yang ia sangka ada pemimpin dari rombongan penyerbu. Eayangan itu rupanya menyingkir dari belakang perahu. Segera ia kenali, dia itu adalah Kwie lian coe Lie Hian Tong dari See coan Siang Sat

“Kunyuk, kau hendak mabur kemana?” ia membentak. “Ini ada tempat akhirmu!”

Lie Hian Tong dengar suara itu, ia mengerti bahwa ia sedang hadapi musuh hebat, maka ia memikir untuk gunakan saat ini secara yang paling baik. Lantas ia lari terus.

“Kunyuk, kau masih memikir untuk lolos?” terdengar pula suaranya Toa Hiap. “Aku sangsi yang kau masih mampu loloskan diri!”

Dengan seruannya ini, Toa Hiap melesat begitu rupa hingga ia sudah lantas menyandak si Muka Iblis, lalu dengan tidak siaikan tempo lagi ia menyerang dengan satu tipu pukulan dari ilmu silat Pit cong koen dari Hoay Yang Pay. Kedua tangannya telah di pentang terbuka, dua nya menyamber dengan berbareng.

Terdesak secara demikian, mau atau tidak, Lie Hian Tong mesti melayani. Ia masih punyakan ilmu pukulan runtunan delapan jurus dari “Tong pek koen”, dengan ini ia mencoba membela diri. Dengan ilmu silat ini, ia jadi gesit luar biasa. Ia pentang kedua tangannya dengan gerakan “Pek wan hian ko,! Atau “Lutung putih persembahkan buah”, tetapi setelah itu, ia ubah menjadi “Loo wan coei kie” atau “Monyet tua jatuh dari cabang.” Dengan Tubuh miring nyamping, ia rabu kaki nya Na Pek dengan tendangan “Wan yo kiak” atau “Kaki burung wanyo”.

Toa Hiap tahu maksudnya musuh, ia antap kaki musuh hampir mengenai sasarannya. Tiba2 iapun menggeser kesamping, untuk siapkan tangannya dengan “Ya ma hoen ciong” atau “Kuda hutan membelah suri”. Kedua jari tangannya, jari manis dan tengah, dirangkapkan, lalu dipakai menyambuti dupakan, untuk me notok jalan darah Hoei yahg hiat dari musuh itu, yang mengulur kaki kanannya.

Lie Hian Tong tidak sangka lawannya ada demikian mantap hati, dalam keadaan sangat mengancam itu, ia batalkan dupakannya, dengan buang diri dengan gerakan “Kim lie coan po” atau “Tambra emas terjang gelombang”. Ia jumpalitan, ia bergulingan dua kali, akhirnya ia nyebur kesungai!

“Ah, kunyuk, kau bisa berbuat begini?” berseru Na Pek, yang kebogehan. Ia menyangka ia akan berhasil, siapa tahu musuh itu sangat licin dan pandai berenang, tidak perdulikan bentakan, dia selulup terus, untuk berenang didalam air. Sedangnya Twie in chioe mengawasi kemuka air, mendadakan ada air bergolak, muncrat naik, lalu tertampak pundak orang, yang mulanya kelihatan samar2 karena cuaca. Gelap, menyusul mana jago tua ini dengar “Soe ya, inilah bagian kami! Manusia ini tak punya guna didalam air, lekas juga dia perlihatkan tembaganya, maka biarlah dia merasakan sedapnya air!”

Segera kelihatan atu kepala orang muncul dimuka air, dari mulutnya keluar air, kapan mukanya telah terlihat nyata, Na Pek kenali orang itu adalah musuhnya yang tadi ceyburkan diri kedalam sungai yalah Kwie lian coe Lie Hian Tong.

Salah satu See coan Siang Sat ini hendak kabur dari air, apa lacur dia kebentrok dengan penjagaan didalam air dari pihak Hoay Yang Pay dan See Gak Pay!

Siauw Liong Ong Kang Kiat telah senantiasa ber jaga , maka kebetulan sekali, orang nyebur kedalam sungai justeru ditempat dimana ia tugaskan diri, ia munculkan diri didepannya musuh seraya kirim kepalannya yang keras kepada pundak musuh. Inilah Lie Hian Tong tidak pernah duga, ia merasakan sakit, hingga ia buka mulutnya, atas mana, tentu saja air lantas masuk kedalam mulutnya. Sama sekali ia tak lihat, siapa yang sudah cegat dan hajar padanya. Karena kemasukan air, ia jadi gelagapan, kepalanyapun pusing, tetapi ia masih ingat untuk melarikan diri, ia paksakan muncul dimuka air akan muntahkan air, untuk mengeluarkan napas. Ia ada lemah, tetapi ia mencobanya perkuat diri.

Kang Kiat permainkan musuh, melihat musuh hendak lari, ia merintangi. Dalam hal ini ia ada sangat merdeka, gerak2annya ada sangat gesit bagaikan ikan saja. Ia menghalangi kemana Kwie lian coe hendak nerobos. Kadang2 iapun turut muncul dimuka air, untuk mengejek hingga. Kwie lian coe merasa sangat tersinggung, terhina sekali, tetapi tanpa ia mampu lampiaskan itu. Inilah penghinaan yang belum pernah ia alami, hingga ia. Anggap segera terbinasa ditangan musuh ada terlebih baik!

Na Pek merasa puas melihat caranya Kang Kiat itu, ia percaya Lie Hian Tong tidak bakal lolos lagi, atau umpama si Muka Iblis toh bisa melarikan diri, ludaslah akan nama besarnya, karena dia telah dapat dipermainkan oleh satu boca yang belum dikenal.

“Siauw Liong, kau tahan kunyuk ini, jangan bikin dia lolos!” Kemudian Twie in chioe kata kepada cucu murid itu. “Aku hendak bereskan kawan2 kurcaci nya!”

Kata2nya jago tua ini justeru telah menjadi penolong bagi Lie Hian Tong. Disaat Kang Kiat sahuti kakek guru itu yang mana berarti ia lengah sedikit, dengan tiba2, dengan gesit sekali sebab dia telah kerahkan tenaganya Kwie lian coe melesat ke belakang sebuah perahu. Dia bukan menyingkir kedarat, hanya justeru keperahu, tatkala Siauw Liong Ong mengejarnya, dia sudah jambret badan perahu dan naik keatasnya, hingga, satu kali dia berada diatas perahu, dia dapat pulang kegesitannya. “Kang Kiat terperanjat, terutama karena menurut perjanjian dengan Kan In Tong, keduanya tak dapat meninggalkan tempat penjagaan mereka masing2 didalam air. Maka dengan terpaksa, boca, ini teriakkan Na Pek “Soe couw, si kunyuk hendak kabur dari atas perahu! Jangan kasi dia lolos! Kasilah dia sedikit pelajaran!”

Lie Hian Tong tidak perdulikan seruan itu, ia kabur terus.

CI Ketika itu Na Pek sudah pergi kedepan, seruannya Kang Kiat tidak terdengar olehnya, hanya lalu datang sambutan dari anak buah perahu, yang sudah lantas menyerang dengan anak panah kepada Lie Hian Tong.

Dalam ketakutan, Lie Hian Tong ibuk benar Dia dengar suara gendewa penyamber, lekas2 dia berkelit, akan tetapi tidak urung sebatang anak panah samber sedikit kupingnya, ia kaget, hingga ia keluarkan keringat dingin walaupun ia baharu habis nyebur diair bagaikan ayam kedinginan. Dengan paksakan diri ia tempat ketihang layar, untuk melapay naik. Dasar ia cerdik, ia masih ingat untuk merogo piauw dalam sakunya. Demikian ketika ia lihat anak panah yang ke dua menyamber ia, ia membarengi menyerang kearah dari mana panah datang. Hampir piauwnya itu meminta korban dirinya satu tauwbak yang memanah padanya, baiknya tauwbak itu masih keburu berkelit.

Mendapatkan ketika, dari ti hang layar Lie Hian Tong tempat kedarat. Ia bisa lakukan ini, karena terpisahnya perahu ketepi tidak seberapa jauh. Tetapi baharu saja ia injak daratan, atau ia dengar “Bangsat, kau hendak kabur kemana?” Lalu menyusul samberan angin.

Lie Hian Tong menjejakkan kedua kakinya untuk tempat melesat. Begitu lekas tubuhnya sudah terangkat, terpisah dari tanah, segera ia dengar serangan toya kepada rumput dan tanah dimana tadi ia menaruh kaki. Jadi serangan itu mengenai sasaran yang kosong.

Selagi Kwie lian coe terpisah enam tujuh kaki dari serangan kosong itu, didepan ia, ia tampak cahaya terang berkelebat, maka mengertilah ia bahwa juga di darat pihak lawan sudah mengatur orang2 tersembunyi, malah pihak lawan itu berani menggunai lentera penyorot Khong beng teng. Ia hendak lolos juga tetapi ia bingung kearah mana ia mesti angkat kaki …. Kembali sinar api menyoroti ia, lalu panah peluru menyamber.

Dalam kekuatiran, Kwie lian coe mendek. Rumput yang tinggi ada menolong padanya, karena selama ia mendek, ia lolos dari sorotan lentera, iapun lolos dari serangan. Akan tetapi tetap ia belum tahu, kemana ia mesti menyingkir. Ia tidak berani berdiam lama disitu, maka begitu lekas sorotan mencari ia kelain jurusan, ia tempat keluar dari tempatnya sembunyi. Apamau ia kena injak tempat yang lembek, ia tergelincir ketepi sungai di mana ada kedapatan pasir. Justeru itu, ia ingat suatu apa, ia sengaja antap tubuhnya merosot sampai dibatas air dimana terus ia duduk diatas pasir, sedikitpun ia tidak berkutik. Ketika ia dongak, ia lihat lewatnya cahaya sorotan, lalu gelap petang. Sorotan itu memain ber ulang2 di teglan itu.

“Bangsat itu gesit sekali,” begitu ia dengar suara orang. “Tetapi dia tentu belum berlalu dari sini, biar bagaimana, kita mesti dapat cari padanya!”

“Ngo Piauvvtauw, kenapa kau tak kena kemplang dia?” terdengar satu suara lain. “Aku percaya, jangankan kena terkemplang, kebentur sajapun dia pasti tak kuat pertahankan diri! Kenapa tidak ada gerakan2nya sedikit juga? Mungkin dia sudah lolos. Katanya dia ada orang kang ouw kenamaan, kenapa dia demikian tidak punya semangat? Kenapa dia kesudian mendekam didalam ruyuk, sama seperti kelakuannya seekor kelinci? Ngo Piauwtauw, mari kita kembali keperahu. Bagaimana dengan Soe rna Loosoe, apa lukanya sudah sembuh?”

Bukan main mendongkolnya Lie Kiang Tong akan dengar perkataan itu, karena kehormatannya telah tersinggung. Bukankah ia telah malang melintang dua puluh tahun lamanya? Tetapi sekarang ini orang telah ejek ia! Orang ditepi itu adalah Ngo Cong Gie, itu piauwsoe dari Kanglam. Dengan semangat laki2 ia campurkan diri dengan rombongan Hoay Yang Pay, tetapi setelah sampai disini, ia jadi malu sendirinya, ia menyesal sudah membantu Hoay Yang Pay. Nyata musuh ada terlalu tanggu dan kepandaiannya sendiri ada sangat berbatas, bukannya ia yang memberikan bantuan berharga, bahkan ia yang mesti orang bantui. Sam cay kiam Soe ma Sioe Ciang telah terluka, dia dapat ditolong oleh Siok beng Sin Ie Ban Lioe Tong. Ia insyaf benar liehaynya Cin tiong Sam Niauw, dan sekarang, ia mesti saksikan kelicinan See coan Siang Sat, yang tak kurang liehaynya. Ia malu yang ia telah kena dirubuhkan, karena, mana, ia turut membikin suram pamornya Hoay Yang Pay. Walaupun demikian, ia tak utarakan suatu apa pada Soe ma Sioe Ciang, karena saudara angkat ini, ada muda dan Eng Jiauw keras tabeatnya. Tadi, selagi Soe ma Sioe Ciang rebahkan diri, ia keluar akan melihat2. Kebetulan sekali ia saksikan seorang jahat sedang nyalakan api, agaknya dia itu hendak bakar perahu, kalau itu sampai terjadi celakalah pihaknya. Maka tidak ayal lagi, dengan batu hoei hong sek, ia menyerang seraya membentak. Biasanya ia membentak sesudah menyerang, tetapi sekarang ia dului bersuara. Maka itu, si orang jahat sudah lantas jadi kaget, dia berseru, lantas dia kabur kedarat.

Cong Gie menyusul, ketika ia dengar si penjahat berkata dengan pelahan “Saat ini Shiang Too coemu tak ada tempo untuk melayani kau, tetapi sebentar kau nanti lihat liehaynya Jie thayya beramai!” Lalu dengan satu lompatan terjun, orang itu nyebur keair, tetapi saking liehay, dia tidak membikin air rnuncrat keras.

Diam2 Ngo Cong Gie akui liehaynya musuh itu, yang gesit didarat, pun pandai main diair, tak mungkin ia dapat membekuknya. Maka itu, sambil otak bekerja, ia awasi rombongan perahunya Suasana malam itu ada sunyi, kecuali suara berdesirnya angin. Ia mengerti bagaimana beraninya Hoay Yang Pay, yang memasuki Hoen coei kwan dan Cap jie Lian hoan ouw.

Ditengah jalan saja, ancaman bahaya sudah hebat, entah bagaimana semasuknya mereka nanti kedalam Cap jie Lian hoan ouw. Ia men duga2, entah berapa banyak jumlahnya orang2 Hong Bwee Pang. Selama otaknya bekerja, tak niat dia kembali keperahunya, ia sebaliknya terus memasang mata.

“Ngo Piauwtauw disana?” tiba2 ia dengar pertanyaan dari belakangnya, selagi ia hendak bertindak kedepan.

“Siapa?” ia tanya seraya ia loloskan toya lemasnya, yang ia sudah libatkan pula dipinggang nya. Iapun putar tubuhnya.

“Aku, Gouw Liong, Ngo Piauwtauw,” sahut suara tadi. “Masihkah piauwtauw ingat kepadaku?”

Orang itu segera muncul mendekati.

Ngo Cong Gie segera mengenali bekas orang sebawahannya.

“Bagaimana kau bisa datang kemari?” Ia tanya. “Inilah aku tidak sangka. Sejak kau pulang berhubung dengan sakitnya ibumu kau tidak pernah muncul pula, hingga aku sering ingat kepadamu Kau sebenarnya turut Hoay Yang Pay atau Soe Soei Hie kee?”

“Piauwtauw, baik kau sembunyi dulu,” menyahut Gouw Liong.

“Disini mesti ada orang atau orang jahat yang mundar mandir….” Cong Gie menurut, Ia lantas cari gombolan dimana ia umpatkan diri bersama2 bekas orang sebawahannya itu.

“Piauwtauw, setelah itu hari aku ajak ibuku yang sakit pulang ke Soe soei, ia sembuh dengan lekas,” Gouw Liong lantas menutur, “akan tetapi setelah itu, ibu cegah aku kembali, aku diwajibkan urus saja beberapa bauw sawah untuk melewatkan hari. Tak betah aku berdiam di rumah, karena sudah biasa aku berkelana, tetapi tak dapat aku tentangi ibu, terpaksa aku menurut. Tidakkah usia ibupun sudah lanjut. Kebetulan Kan Boesoe dapat, titah dari ketua See Gak Pay untuk bangunkan sepasukan perahu nelayan, aku lantas gunai tempo senggangku akan turut dalam pasukan itu. Syukur Kan Boesoe hargai aku, aku diangkat jadi satu tauwbak kecil. Selang tiga tahun, ibu menutup mata, dari itu, aku tetap dapat ikuti rombongan perahu Garuda Terbang. Akupun sering ingat piauwtauw, sayang aku tak punya ketika untuk pergi mengunjunginya, maka adalah di luar harapanku yang kita bisa bertemu disini. Kecuali delapan buah perahu, yang ditinggal dipusat, semua empat puluh buah telah dibawa kemari, berikut juga dua puluh perahu kecil cepat dan enambelas perahu enteng. Kecuali titah ketua See Gak Pay, pun ada titah dari To Cie Taysoe untuk kami layani pihak Hong Bwee Pang. Pemimpinku telah mengatakan, apabila ada sebuah saja dari perahu2 yang gagal disini, tak ada muka untuk kami semua kembali ke Soe soei. Maka itu, bulatlah sudah tekad kami untuk berikan perlayanan kepada musuh!”

Ngo Cong Gie puas mendengar keterangannya Gouw Liong ini. Iapun girang mengetahui bekas orang sebawahan ini telah dapatkan penghargaannya Kan In Tong. Kemudian ia beri tahu kenapa ia berada dalam rombongan Hoay Yang Pay, untuk berikan setakar tenaganya. “Nyatalah, musuh yang menyerbu malam ini tanggu sekali,” ia tambahkan kemudian. “Aku lihat, apabila kita semua tidak bersungguh2, sulit untuk kita pertahankan nama besar dari kedua kaum.”

Ngo Cong Gie beritahukan juga hal terlukanya Soe ma Sioe Ciang.

Gouw Liong manggut2. “Untuk memperoleh hasil, baik piauwtauw terus sembunyi disini,” ia kasi pikiran. “tempat ini gelap, disini penjahat tentu mundar mandir, kalau ada yang lewat disini, kau boleh hajar padanya!”

Cong Gie terima baik pikiran itu, maka seberlalunya Gouw Liong, ia lantas menjaga ditempat gelap itu. Kebetulan sekali, Lie Hian Tong muncul didepan nya, maka ia lantas serang si Muka Iblis, siapa tapinya liehay dan bisa lolos, hingga sia2 saja ia menyusul dan mencari.

Sementara itu, Lie Hian Tong sudah menyingkir jauh. Dengan diam2 ia mencoba menghampirkan perahu2 dari Soe soei, kapan ia dapatkan penjagaan keras, ia undurkan diri. Beberapa kali ia muncul dimuka air, akan melihat kelilingnya. Kemudian ia cari perahunya sendiri didekat mana ia timbul.

“Siapa?” menegur anak buah, yang menjaga perahu.

Lie Hian Tong perkenalkan diri seraya terus hunjuk bahwa suasana ada sukar, maka ia larang orang nyalakan api.

“Oh, Lie Tocoe! Silahkan naik!” Demikian kata si anak buah.

Lie Hian Tong pergi kedepan untuk naik keatas perahu, maka ia lantas dapat lihat, disitu ada empat buah perahu dari pihaknya yang ditempatkan demikian rupa hingga tak tertampak oleh pihak Soe soei. “Apakah semua tocoe yang melakukan penyerangan telah undurkan diri?” kemudian Hian Tong tanyak anak buahnya. Di setiap perahu, didepan dan belakang, ada dua anak buahnya.

“Heran, tocoe,” sahut satu anak buah. “Semua yang didarat dan diair belum ada satu yang kembali Kenapa tocoe kembali seorang diri? Apakah tocoe hendak lakukan penyerangan dari darat?”

Mukanya Lie Hian Tong menjadi merah, syukur dalam gelap gulita orang tak lihat wajahnya. Ia cuma likat sendirinya.

“Musuh liehay sekali,” ia jawab. “Rencana kita terpegang rahasia toh masih bocor juga, musuh telah siap dengan penjagaannya. Tak ada muka untuk kita pulang ke Cap jie Lian hoan ouw apabila kita gagal. Sekarang siap sedialah kau sekalian, jangan kaget atau gentar! Selagi mendekati musuh jangan nyalakan api, atau kita bakal diserang terlebih dahulu. Umpama ada serangan panah api, lekas menyebur kesungai, tetapi jangan takut, karena kita datang untuk adu jiwa! Apabila kita gagal memusnahkan pihak Soe soei tak dapat kita lampiaskan kemendongkolan kita….”

Belum habis Hian Tong bicara atau dari tempat setumbak jauh. Nya, ia dengar tertawa dingin yang menyeramkan. Dalam gelap, orang tidak lihat orang, kecuali muka air. Suasana malam itu ada hebat, menggentarkan hati. Mata Hian Tong sendiri beda dari mata kebanyakan orang, namun ia pun tak lihat suatu apa hingga ia jadi heran, hingga ia utarakan herannya itu dengan satu suara tidak tegas. Ia percaya ia tidak mendengar keliru. Maka terus ia awasi muka air. “Jangan heran, tocoe, itu bukannya suara manusia,” kata satu anak buah perahu sambil tertawa tawar. “Itu tentu ada siluman buaya atau siluman air, tapi kalau dia berani datang dekat, aku nanti kasi presen suatu apa padanya!”

Hian Tong tetap sangsi, ia malah tambah curiga.

Tiba1 terdengar air menjubiar disebelah kiri perahu, airnya muncrat tinggi dan jauh, hingga Hian Tong semua terperanjat. Tetapi mereka terus memasang mata.

Menyusul muncratnya air, anak buah yang tadi buka suara besar telah menjerit “Aduh!” Lalu ia mundur dengan bekap mulutnya, ia jongkok, dari mulutnya itu keluar darah hidup.

“Kau mau mampus? Kenapa kau bersuara?” membentak Hian Tong. Tetapi ketika ia lihat darah dan orang menagis2, ia tercengang. Nyata orang telah copot dua buah giginya!

Anak buah itu jadi mendongkol, ia hendak mencaci, tapi sementara itu Lie Hian Tong sudah jemput sepotong batu, yang lumutan, jadi terang itu adalah batu dari dasar sungai. Itupun menyatakan ia sedang hadapi musuh liehay. Akan tetapi ia tidak boleh hunjuk hati gentar, iapun berada diantara anak buahnya.

Sebelum Kwie lian coe sempat berbuat apa2, tiba muncul satu kepala orang disamping perahunya, orang mana segera perdengarkan dampratan “Kawanan manusia rendah yang harus mampus! Kenapa kau hendak celakai orang2 gagah? Kau sambutilah!”

Kata2 itu disusul dengan gerakan tangan yang keluar dari dalam air, dua rupa barang lantas menyamber keatas perahu. Lie Hian Tong berkelit seraya tangannya terayun, akan menimpuk dengan piauw yang ia telah siapkan, menyusul itu, iapun terjun keair, untuk susul musuh yang tidak dikenal itu. Sama sekali ia tak bersangsi sedikit juga.

CII

Sia2 belaka Kwie lian coe kejar musuh, ia tak dapat menemukannya, walaupun ia berlaku cepat. Percuma saja ia mencari disekitar itu. Ketika ia timbul pula, ia dapati sungai ada tenang, malam yang sunyi. Sungai disekitarnya tidak perdengarkan suara apa2. Menduga bahwa ka wan kawannya tentu sudah me nuju kemarkas musuh, keperahu besar, iapun lantas berenang kearah itu. Ia baharu melalui beberapa tumbak tatkala dari sampingnya, ada orang muncul dengan tiba2, yang terus serang ia dengan sebuah golok, mengarah pundak kirinya. Gerakan musuh itu ada sangat gesit. Segera ia berkelit kekanan. Ia menduga pada Kan In Tong, dugaannya itu tidak meleset.

Soe soei Hie Kee sedang meronda tatkala ia ketemu Lie Hian Tong, yang ia terus ganggu, kemudian hatinya lega apabila ia dapat kenyataan. Ilmu berenang dan selulup musuhnya masih kalah daripadanya. Lie Hian Tong juga tidak mau melayani berkelahi, ia hanya hendak kisikkan kawan2nya untuk mundur teratur. Mulanya ia berhati lega mendapati musuh menghilang, maka itu, kaget ia akan lihat orang datang menyerang. Pula. Dan setelah serangannya yang pertama gagal. In Tong mengulangi untuk ke dua kalinya. Ia berkelit sambil selulup, terus melewati kolongnya sebuah perahu, ia muncul disebelah kanan perahu itu, setelah melihat kelilingan, ia hendak memberi tanda dengan suitan mulut, tetapi ia belum tempat perdengarkan suara tatkala “Kunyuk, lihat senjata!” Demikian satu teguran, yang disusuli dengan ayunan tangan.

Lie Hian Tong selulup untuk berkelit, tetapi pipi kirinya tak lolos, hingga ia merasakan sangat panas dan sakit, meski begitu, ia terus selulup kesebuah perahu besar dari musuh, akan jambret pinggirannya dan hendak naik keatasnya. Baharu saja ia berdiri atau satu bayangan tempat kedepannya hingga ia terkejut, disaat ia hendak minggir, bayangan itu tegur ia “Lie Tocoe?”

“Oh, Ouw Tocoe?” ia balik tanya, kagetnya lenyap. “Bagaimana?”

“Kita terpedaya, sulit untuk kita bekerja,” sahut Ouw Can.

“Aku pikir baik kita mundur….”

Ouw Can baharu mengucap demikian, atau dari belakangnya, ada orang membentak “Kawanan kunyuk, kau menggerecok! Kemana kau hendak lari?” Bentakan itu diiringi dengan samberan angin.

Dua2 Lie Hian Tong dan Ouw Can mendek diri, maka dua batang panah tangan lewat diatasan kepala mereka, terus jatuh keair.

“Angin keras!” Ouw Can serukan kawannya. Iapun sudah berhati tawar seperti kawannya ini. Maka juga, berdua berbareng mereka perdengarkan suitan mulut. Lie Hian Tong tempat kekiri, melihat mana, kawannya tempat kekanan.

Dua penyerang dengan panah tangan itu adalah Loo piauwsoe Hauw Tay dari Shoatang Selatan dan Piauwsoe Teng Kiam, mereka muncul untuk terus susul kedua musuh. Lie Hian Tong kembali perdengarkan suitannya tetapi ia tak dapat sambutan, dua kali ia mencoba, semuanya gagal, ia jadi heran sekali. Disebelah itu, iapun sibuk karena orang sudah desak ia.

Heng Tong Tocoe Ouw Can, yang telengas dan kejam, berkepandaian berimbang dengan Lie Hian Tong, ia sebal karena ia didesak, maka dalam mendongkol nya, ia bentak musuh, ia mengancam. Lalu dengan goloknya, Pie soei Thian kong too, ia balas merangsek. Dalam keadaan nekat begitu, ia jadi gagah luar biasa.

Teng Kiam ada satu boesoe yang terlatih baik. Ia dapat melayani lawan yang nekat itu.

Dilain pihak, Hauw Tay layani Lie Hian Tong, ia segera dapat kenyataan, musuh ada jauh terlebih gesit daripadanya, karena itu, ia mencoba menggunakan akal. Ia tempat keperahu disebelah kiri, begitu menaruh kaki dan memutar tubuh, ia ayun tangannya ber ulang2, dalam gerakan tipu “Shia goat ciauw sam seng” atau “Bulan sisir menyoroti tiga bintang”. Piauwnya menyamber beruntun runtun dan bukannya menyamber Lie Hian Tong seorang.

Piauw pertama benar menyerang dadanya Kwie lian coe, akan tetapi piauw yang kedua menuju kepada bebokongnya Ouw Can yang membelakangi ia, lalu piauw yang ke tiga menuju kepada Lie Hian Tong pula.

Dengan gesit Lie Hian Tong berkelit untuk piauw pertama, selama itu, ia tampak sebatang piauw lain menjurus kepada kawannya, selagi ia terperanjat, tiba2 datanglah piauw yang ketiga, dalam kagetnya ia egos tubuhnya, tetapi piauw ada terlalu cepat, kempolannya yang kiri kena terpapas, hingga darah lantas mengucur keluar, ia merasakan sakit juga. Ia berkaok tetapi segera ia kertek gigi. “Boca, aku rubuh ditanganmu! Nah, sampai lain kali kita bertemu pula!” Berseru ia, yang terus loncat keatas sebuah perahu kecil akan setelah melalui tiga buah perahu, ia lolos dari piauwsoe itu.

Ouw Can bisa kelit diri dari piauwnya Hauw Tay, akan tetapi selagi ia egos tubuh, ujung goloknya Teng Kiam memapas kepalanya, mengenai ikat kepalanya, rambutnya terbabat hingga hilanglah kuncirnya, karena ini ia terjun kedalam air, untuk menghilang.

Lie Hian Tong kabur terus dl antara perahu2 kecil, darahnya telah mengucur keluar, lukanya mendatangkan rasa sakit sekali, karena ini, ia tak berani terjun keair. Diakhirnya ia tempat naik keatas sebuah perahu cepat dengan apa ia singkirkan diri. Ia merasa lega karena tidak lihat ada orang kejar ia dan perahupun sepi dan gelap, seperti juga itu ada sebuah kendaraan kosong. Ia niat beristirahat disitu karena ia rasakan lukanya sangat sakit. Begitulah dari kantongnya ia keluarkan obat luka, untuk coba cegah rasa sakitnya. Ia dapatkan celananya telah bermandikan darah. Tanpa ayal ia buka sumbat fles obatnya untuk obati lukanya itu. Selagi begitu, mendadak ia lihat berkelebatnya satu bayangan dari gubuknya sebuah perahu tetangga, hingga ia kaget tak kepalang segera ia samber goloknya dengan tangan kiri, ia mundur sedikit, untuk bersiap.

Disaat bayangan itu mendekati padanya, Kwie lian coe dengar pertanyaan “Lie Tocoe?” Segera hatinya menjadi lega.

“Oh, Cio Tocoe?” ia tanya. Ia kenali baik suara kawannya.

Orang itu benarlah Toan bie Cio Loo Yauw, yalah tongtay Cio Leng Pek, yang dalam urusan penculikan Hoa In Hong dan Yo Hong Bwee ada memegang peranan penting, yang telah tinggalkan jabatannya untuk memasuki Cap jie Lian hoan ouw, akan tetapi ia tak dapat perhatian sebagaimana yang ia harap dari Pang coe Boe Wie Yang, tetapi berhubung dengan kedatangannya rombongan Eng Jiauw Ong, ia sudah bekerja bersama See coan Siang Sat untuk merintangi rombongan itu. Seperti Lie Hian Tong, iapun sudah tidak peroleh hasil, ia hanya tak sampai terluka seperti Kwie lian coe. Ia sedang masgul, ia tengah sembunyi diatas tihang layar tatkala ia lihat Lie Hian Tong pun umpatkan diri, lalu ia keluar untuk menghampirkan kawan itu. Tidak disengaja, ia bikin Kwie lian coe kaget.

“Ya, aku. Lie Tocoe,” ia jawab. “Apa tocoe gagal?” Si Muka Iblis anggukkan kepala.

“Aku rubuh,” dia jawab dengan pelahan. “Aku tidak sangka orang telah memasang jaring. Kau datang terlambat, Cio Tocoe, aku telah kena terbokong, terluka senjata gelap, sekarang aku sedang mengobatinya. Kau datang secara mendadak sampai aku terkejut, hingga aku kena bikin tumpah sisa obatku, yang memang tinggal sedikit. Biar nanti saja, sesudah kembali, aku obati pula….”

Suara yang belakangan ini tak sedap didengar Cio Loo Yauw, siapa sebaliknya, didalam hati, tertawa sendirinya melihat keadaan orang yang murat marit itu. Ia gagal tetapi tak bercelaka sebagai kawan ini, sedang See coan Siang Sat ada sangat kesohor.

“Jangan kuatir, Lie Tocoe,” ia kata kemudian, untuk menghibur. “Obatmu habis, tidak apa. Disini aku ada sedia. Mari aku obati dulu lukamu, asal gerak gerakanmu tak terhalang, kita bisa undurkan diri dari sini. Biar lain kali kita lampiaskan penasaran ini….”

Lie Hian Tong manggut. Cio Loo Yamv lantas keluarkan obatnya dan mengobati lukanya Kwie lian coe, maka selang tak lama, darah berhenti keluar dan rasa sakitnya agak kurangan.

“Cio Tocoe, keadaan kita sulit,” kemudian kata Lie Hian Tong. “Sekarang kita pergi lihat mereka atau mundur dulu, akan tunggali kembali nya. Mereka?”

“Sudah lama berada diluaran, aku jadi asing dengan keadaan disini,” sahut Cio Loo Yauw, yangpun merasa tidak puas. “Maka sekarang silahkan Lie Tocoe saja yang ambil putusan, asalkan tidak sampai menggagalkan semua…..”

Lie Hian Tong tertawa dingin, ia ada mendongkol, karena iapun ada sama tak puasnya.

“Jikalau kau bisa menolong, pergi kau sambut mereka, Cio Tocoe,” ia bilang. “Aku terluka, aku belum bisa berbuat apa2 dulu, buat aku, mundur dulu ada paling benar. ”

Habis mengucap demikian, tanpa tunggu jawaban lagi Kwie lian coe loncat keperahu sebelah, gerakannya tetap enteng seperti biasa.

Menampak demikian, Toan bie Cio Loo Yauw menjadi jengah.

“Jangan salah mengerti, Lie Tocoe!” Kata ia seraya tempat menyusul. “Orang menang karena andalkan jumlahnya yang banyak, tetapi kita belum runtuh semua, kita masih bisa berkumpul pula untuk melayani terlebih jauh. Dengan sebenarnya, aku bicara sebagai orang rombongan luar. Apakah kata2ku keliru?”

Lie Hian Tong sudah bersiap untuk terjun keair, ia menunda. “Aku berkuasa atas empat gudang garam didalam Hoen coei kwan, Cio Tocoe ada dari rombongan luar, kita memang tidak punya sangkutan satu dengan lain. Terserah kepada tocoe untuk maju atau mundur….”

Setelah mengucap demikian, Lie Hian Tong loncat keair, akan terus selulup.

Toan bie Cio Loo Yauw kebogehan, ia tidak sangka See coan Siang Sat beradat demikian keras. Karena ini, ia jadi tidak senang.

“Kau sangat tidak memandang mata padaku!” Kemudian kata ia dalam hatinya. “Baiklah, kita lihat saja nanti.”

Lalu ia ambil putusan, akan terjun menyusul, tetapi belum tempat ia loncat turun, atau mendadakan ia dengar suatu suara enteng diarah belakang nya. Ia terperanjat. Ia hendak menoleh. Akan tetapi segera ia dengar tertawa dingin disusul dengan cacian “Kunyuk, di Tong kwan dibawahan Gouw si Tukang Keset Kulit kau tak punya malu, sekarang kau berani datang kemari untuk terbitkan gelombang juga! Kunyuk, kau telah ketemu aku si tua bangka pengemis, hitung hitung saja kau sedang berbahagia!”

Cio Loo Yauw berpaling tanpa lihat siapa juga, selagi ia memandang dengan heran kesekelilingnya, tiba2 ia rasakan barang panas yang menerbitkan rasa sakit kepada kepalanya, lalu ia dengar pula suara “Paling dulu mari coba makan minyak!”

Ternyatalah orang telah timpuk ia dengan kwali terisi minyak dan sisa tulang2 ayam, hingga, berbareng dengan pecahnya kwali itu, jidatnyapun terluka. Dengan kelabakan ia sekai mukanya yang penuh minyak. Ia kaget dan gusar, hingga ia berseru “Orang kang ouw mesti berlaku terus terang, kenapa kau bokong Jie thayya? Kau adalah bangsa tikus dan anjing!”

Sebagai sambutan pada seruan itu, satu bayangan kelihatan tempat keluar dari belakang perahu, tangan orang itu pegang semprong dapur, sembari tempat dia perdengarkan suara nyaring “Boca, kau masih berani banyak tingkah! Dalam Hong Bwee Pang ada orang sebangsa kau. Iblis kelaparan bangsat busuk, sungguh memalukan. Boca, rasailah bagianmu!”

Nyatalah orang itu ada, satu koki, Kim A Sie namanya, sebagaimana ia memakai lapisan luar pada bajunya. Memang, didalam rombongan Soe soei Hie Kee ada empat koki yang berkewajiban mengurus makanan untuk semua orang, kerja bergilir siang dan malam, dan ia ini justeru bersiap untuk santapan malam. Tetapi waktu itu ia sedang gusar, Beban ia dapat kenyataan ia kehilangan kwalinya berikut godokan tulang2 ayamnya. Ia keluar untuk sebentar, ia balik dengan dapatkan kehilangan itu. Maka itu, ia jadi bingung dan gusar. Ia bekerja disitu bersama pembantu nya, seorang umur lima puluh lebih nama Lauw Tiong. Ketika ia hendak keluar, Lauw Tiong cegah ia dengan tanya ia hendak pergi kemana.

“Aku hendak cari Ouw Seng, tentu tak ada lain orang nakal daripada dia!” Ia kata. “Dia benci aku karena aku tidak berikan dia arak, rupanya dia bersakit hati. Sudah beberapa kali dia mencuri makanan disini!”

Lauw Tiong tertawai kawan itu, yang peranginya aseran.

“Sabar, sahabat,” ia membujuk. “Malam ini, aku rasa, itu bukanlah perbuatannya Ouw Seng. Kau harus ingat, sekarang kita berada ditempat apa? Bukankah kita berada dalam sarang Hong Bwee Pang? Tidakkah kita sudah memasuki mulut harimau, hingga setindak demi setindak, kita sedang menghadapi, ancaman bencana? Kita toh sedang bersiap sedia akan layani serbuan musuh. Kecuali yang bertugas, sekarang siapapun dilarang keluar setindakpun dari dalam perahu, siapa langgar perintah, dia bakal dihukum. Ketua kita pun telah bilang, kita sedang menghadapi musuh yang liehay, hingga tak dapat kita berlaku sembrono. Sietee, siapa hendak permainkan jiwanya? Syukur kedua perahu kita dekat satu dengan lain. Aku duga ini bukan per buatan orang kita, mestinya orang lain”

“Jikalau bukan orang dalam, apa mungkin musuh telah datang menyerbu?” tanya A Sie sambil ia melongok keluar. “Apa mungkin penjahat mencuri makanan?”

“Siapa tahu?” Utarakan Lauw Tiong, yang hentikan perkataannya dengan tiba2. “St!” Terus ia dekati pintu, akan pasang kuping.

Melihat demikian, A Sie dekati kawannya sambil cekal semprong besi, terus ia tolak pintu untuk melongok keluar, kebetulan sekali, ia justeru dapati Cio Loo Yauw yang sedang cari orang yang ganggu padanya, dia sedang sekai mukanya yang penuh minyak dan dikakinya menggeletak kwali. Menduga dia adalah si pencuri, tidak tempo lagi, ia berlompat keluar untuk menyerang sambil membentak “Bangsat, kau main gila terhadap si orang she Kim! Hayo pulangkan ayam ku!”

CIII

Cio Loo Yauw sedang mendongkol sekali, kupingnya tambah panas mendengar dampratan itu, ia gusar terhadap serangan yang sembrono, maka itu, tanpa tunggu turunnya senjata si penyerang, ia papaki lengan orang dengan satu tendangan dibetulan nadi, atas mana segera semprong nya A Sie terlempar jatuh dengan menerbitkan suara berisik, A Sie sendiri menjerit kesakitan. Tetapi koki inipun jadi gusar, maka kembali ia mendamprat seraya maju untuk merangsang.

Lauw Tiong kaget melihat perbuatannya kawan itu, ia lebih kaget pula akan tampak orang yang diserang A Sie itu seorang yang tidak dikenal, siapa ternyata liehay, sedang tangannya A Sie di tendang, A Sie pun dijambret dengan tangan kiri, untuk, dibetot, dilain pihak, tangan kanan orang itu yang menyekal golok, diangkat naik sambil mengancam “Kau berani damprat aku? Aku nanti ambil jiwamu!” Dalam kekuatirannya, Lauw Tiong sembat dua botol kecap, ia menimpuk dengan botol itu sambil berseru “Disini ada orang jahat!”

Serangan botol itu mengenai tepat goloknya Cio Loo Yauw, kedua botol lantas pecah. Kecap nya berhamburan, menimpah juga kepalanya orang she Cio itu walaupun dia ini coba berkelit. Meski begitu, ia masih tempat mendupak pula A Sie, hingga koki ini terlempar kedalam air, kemudian ia lompat pada Lauw Tiong.

Koki ini telah memutar tubuh, buat samber golok diatas talenan, tetapi ia masih dengar suara terceburnya A Sie, hingga ia duga kawannya dapat celaka, hingga ia jadi gusar, melupai bencana, ia hendak menuntut balas.

“Aku tidak niat bunuh kau! Apa kau masih tidak mau mabur?” Cio Loo Yauw membentak. Dimulut ia mengucap demikian, tetapi goloknya hendak dipakai menyerang!

Lauw Tiong turuti hawa amarahnya.

“Kau sambut ini!” Ia berseru seraya menimpuk dengan goloknya, yang besar dan berat. Karena jarak diantara mereka cuma beberapa kaki, goloknya koki itu menyamber kepipinya Cio Loo Yauw, walaupun dia ini terus berkelit namun masih terlambat, maka itu, pipinya luka dan mengeluarkan darah. Karena ini, tongtay itu jadi meluap amarahnya, sambil berseru, ia lompat kedalam perahu, untuk terjang Lauw Tiong.

Akan tetapi, mendadak dibelakangnya tongtay ini ada seruan “He, boca, apakah soep ayam masih, belum cukup dan kau masih hendak dahar soep ayam yang kecebur?”

Seruan ini disusul dengan tabokan pada batok kepala!

Mengikuti tubuhnya yang ngusruk, Cio Loo Yauw tempat jumpalitan, hingga ia berbalik diri, menyusul itu, goloknya di ayun, dipakai menyerang orang yang bokong padanya. Inilah satu gerakan yang hebat saking mendadaknya, dan biasanya, tidak pernah gagal. Akan tetapi Cio Loo Yauw cuma rasakan lewat nya samberan angin, penyerangnya itu tak nampak sekalipun bayangannya.

“Dia sangat gesit,” pikir orang Hong Bwee Pang ini, yang insyaf dirinya sedang menghadapi musuh liehay. Diam2 ia syapkan sebatang piauw, lalu ia berseru “Kau sembunyi diatas gubuk perahu? Cio Loo Yauw akan adu jiwa dengan kau!”

Ia sengaja berseru demikian lalu ia enjot tubuhnya, ia tempat keatas gubuk, hanya ketika kaki kirinya injak payon, ia jejak itu untuk melesat kekanan. Ini adalah satu tipu, untuk bisa menyerang dengan leluasa, dengan tubuh sendiri bebas dari sasaran lawan. Pun dengan demikian, ia gampang nyebur keair untuk singkirkan diri. Karena ia berniat angkat kaki. “Oh, kunyuk, kau bisa main2 cara begini?” tiba2 terdengar teguran dari sebelah atas. Suara nya menyeramkan.

Kaget sekali Cio Loo Yauw. Segera ia dongak, tetapi berbareng dengan itu ia dengar bentakan “Turunlah!” Lalu pinggangnya kena tertolak, hingga bagaikan rayangan putus tubuhnya melayang dan terpelanting setumbak lebih, terus kecebur kemuka air hingga air muncrat berhamburan. Jadi benar, dia telah jadi ayam kecebur!

Toan bie Cio Loo Yauw mengerti ilmu berenang, akan tetapi karena terceburnya demikian rupa, ia toh kena ceguk juga air secegukan.

Ketika itu Lauw Tiong terkejut, ia mau sangka dewalah yang tolong padanya, maka ia terus berlutut sambil manggut manggut, ia memuji dan meng ucap terima kasih. Tetapi belum habis ia memuji, ia dengar suara tertawa disampingnya dan pertanyaan “Eh, jieko, kau sedang bikin apa?” Ia heran, ia angkat kepalanya, kapan ia sudah melihat wajah orang, ia terkejiit pula, buru2 ia kata “Oh, kau, rohmu belum buyar! Jangan kasi si penjahat lolos, balaslah sakit hati terhadapnya”

Kim A Sie demikian bayangan yang muncul tertawa. “Jangan. Ngaco belo! Roh siapa yang belum buyar? ?

Katanya “Kalau aku mati, siapa akan bertugas disini? Tetapi, penjahat itu betul liehay! Mari kita bicara didalam….”

Lauw Tiong percaya kawan itu belum mati, ia lalu ber sama2 kawan itu masuk kedalam gubuk perahu, kemudian atas pertanyaannya, A Sie ceritakan bahwa syukur ia bisa berenang, ia tak usah tenggak air sungai, ia antap dirinya hanyut terbawa air, sampai ia merasakan rasa sakitnya kurangan, baharu ia berenang kembali. Ia sampai justeru musuh tercebur, ia menyingkir dari musuh itu, ia naik dari samping perahu secara diam2, sampai ia dapatkan kawannya sedang bersembahyang.

Kemudian mereka bicarakan urusan mereka sendiri.

“Sie tee, coba bilang, sebenar nya siapa yang curi ayam dan arak kita?” tanya Lauw Tiong. “Apa benar dia ada si penjahat? Aku sangsi”

“Ya, akupun sangsi,” sahut A Sie. “Disini tidak ada lain orang kecuali si penjahat, kalau bukan dia, habis siapa lagi?”

“Nyata kau belum tahu, Sie tee,” kata pula Lauw Tiong. “Di sebelah si penjahat ada orang tidak dikenal yang telah rubuhkan dia. Tanpa orang ini, kita pasti tak akan ketolongan”

Lauw Tiong jelaskan sebab dari kecurigaannya itu. “Kalau demikian, apa benar pencuri makanan itu ada

orang sendiri?” A Sie menegasi.

“Aku tak tahu, hanya aku tahu benar, dikalangan kang ouw memang ada orang? Yang tabeatnya luar biasa, yang jenaka. Yang gemar main2”

A Sie melengak.

Menurut katamu, mungkin benar ada orang pandai yang jenaka, yang berpihak pada kita,” kata ia akhirnya. “Penjahat itu main gila. Dia dapatkan bagiannya!”

Sampai disitu keduanya berjanji akan ingat budinya sipenolong tidak dikenal itu.

Selagi mereka saling bersyukur, tiba2 pintu perahu ada yang tolak dan seorang bertindak masuk sambil berkata “Bagus kau masih punya liangsim! Sekarang tak usah kau mengoceh pula menyebut2 si penjahat” A Sie dan Lauw Tiong terkejut sampai keduanya menjingkrak. Tetapi mereka masih ingat untuk menanya “Siapa kau?” Sekarang mereka sudah lihat tegas, orang tua itu, yang dandanannya sebagai pengemis, sebab bajunya pendek dan sudah rombeng, rambutnya panjang dan ubanan, kusut bagaikan rumput, digelung diatas kepalanya, ikat pinggangnya terbuat dari pilinan rumput, sepatunya juga sepatu rumput. Tetapi, disebelah roman tak keruan itu, dia punyakan sepasang mata ceglok tetapi bersinar tajam.

Dalam kagetnya, A Sie mau duga apa dia ini bukan si pencuri ayam….

Lauw Tiong mengawasi, dalam hatinya iapun bertanya, apa ini si pencuri ayam

Masih kedua sahabat itu tercengang ketika si orang tua tertawa dan kata pada mereka “Jangan curiga, aku datang untuk membalas budi. Aku telah dahar seekor ayammu dan sebotol arakmu, perlu aku balas itu dengan sedikit tenagaku, cuma memberikan orang makanan tak sampai kenyang, orang seperti dikubur hidup2, dari itu, baiklah kau melunasinya….”

Tak sangsi lagi kedua koki itu bahwa inilah si orang tua penolong mereka, dari itu lekasz mereka menghaturkan terima kasih, kemudian mereka minta tanya she dan namanya orang tua ini.

Pengemis tua itu tertawa.

“Kau tak dapat kenalkan aku, panggil saja aku si pengemis tua,” kata ia. “Disini aku tak punya ketempatan untuk ber cakap2 kecuali untuk makan nasi sebab didalam dunia ini, urusan bagaimana penting juga tak dapat dikerjakan dengan perut kosong! Maka bagiku adalah dahar paling utama, sesudah perut kenyang, baharu bekerja! Jikalau kau niat membalas budi, lekas sajikan aku barang makanan, setelah bersantap kenyang. Aku hendak bikin perhitungan kepada kawanan kunyuk itu! Kau sendiri, diam saja didalam perahu, nanti kau akan dapat tonton pertunjukan yang menarik hati!”

Walaupun orang omong tak keruan junterungan, Lauw Tiong toh suruh A Sie lekas sediakan barang makanan, tetapi A Sie bersangsi, sebab barang santapan masih mesti dimatangi, yang sudah sedia adalah untuk pihaknya.

“Sediakan saja, satu orang bisa dahar berapa banyak,” Lauw Tiong kata pelahan kepada kawan itu kesangsian siapa ia dapat duga. Iapun kuatir si pengemis nanti ketahui kesangsiannya kawan iri.

A Sie lantas siapkan dua rupa masakan dingin serta sebotol arak.

“Eh, eh, mau mampus, mau mampus!” Kata si pengemis seraya tuding koki itu. “Kau sembahyangi orang hidup atau orang mati? Celaka betul! Hayo, aku minta daging kerbau, kambing dan ikan empat piring, dan dua botol araknya! Tak biasa aku dahar sembarangan!”

Keduanya Lauw Tiong dan A Sie melengak, apapula kapan pengemis ini samber sepasang sumpit, akan dilemparkan kemeja dapur dimana sumpit itu nancap dalam mangkok nasi, sedang cawan arak dilemparkan kemeja itu tanpa pecah. Mereka insyaf liehaynya orang tua ini, segera mereka sajikan barang2 yang diminta.

“Silahkan dahar, loojinkee,” kata mereka. “Harap loojinkee tak berkecil hati terhadap kami orang bangsa kasar….”

“Kau main2, akupun ingin menyaksikannya!” Kata si orang tua sambil tertawa. Ia terus samber sebotol arak yang digelogokkan kedalam mulutnya, hingga sekejab saja separuhnya telah singgat, kemudian tanpa sumpit lagi ia rabu daging dan ikan. Ia bersantap dengan cepat sekali, cepat pula ia tenggak kering tiga botol arak. Selagi ia hendak minta tambahan, mendadak ia dengar suatu apa, tiba2 ia berbangkit sambil berseru “Eh!” Lalu ia seka mulut dengan bajunya, ia usap2 perutnya “Perutku tak rewel lagi dengan aku, kitapun tak hutang lagi satu dengan lain, urusan telah dibereskan secara adil!”

Atas itu, dari luar ada terdengar pertanyaan “Siapa itu didalam perahu? Kenapa kau bernyali besar, tanpa perkenan ciang boen jin, kau berani mengacau disini? Hayo keluar!”

Lauw Tiong hendak menyahuti tetapi si orang tua dului

ia

“Memang aku tak berniat berdiam lama disini, kenapa

aku tak mau keluar?” demikian penyahutannya.

Berbareng dengan kata2 “keluar” itu, daun pintu perahu ditarik dari luar dibarengi dengan teguran   , siapa?” Tetapi si orang tua menyambutinya “Awas!” Disusul melesatnya tubuhnya keluar perahu, cepat seperti kilat.

Maka dua orang diluar, Giok Koen dan Giok Kong, cuma rasakan samberan angin yang lewat diatasan kepala mereka. Mereka ada murid2 kesayangan dari Tio In Liong dari Lim shia tetapi mereka tercengang untuk kegesitan orang tak dikenal ini. Mereka sedang meronda ketika mereka lihat api terang2 diperahu dapur dan dengar suara orang bicara, maka mereka menghampirkannya. Giok Kong adalah yang menegur, hingga kesudahannya mereka heran atas kegesitan orang didalam itu, yang terus melesat keatas gubuk perahu, diantara sinar bulan sisir dan berkelak keliknya bintang2, kelihatan tubuhnya seorang tua dengan dandanan bagaikan pengemis. “Kau siapa, sahabat?” tanya dua saudara Soen itu, yang kagum sekali. “Kau bikin apa disini?”

Lauw Tiong dan Kim A Sie memburu keluar, akan kenali dua boesoe itu. “Jangan turun tangan, Soen Loosoe, orang sendiri!” Mereka lekas mencegah.

Si orang tua gerakkan sebelah tangannya. Ia kata “Sahabat, jangan galak! Baik kau lekas kembali keperahu markas, beri tahukan pemimpinmu bahwa musuh ada sangat licin, sedikit saja lengah, pasukan Soe Soei bisa celaka musnah semua! Aku si orang tua tak tempat melayani kau, sampai nanti kita ketemu pula!”

Dengan satu jumpalitan “Auw coe hoan sin,” orang tua ini singkirkan diri, kemudian dengan gerakan “pat pou kan siam”, ia berlompatan dengan pesat dan menghilang ditempat gelap.

Giok Koen dan Giok Kong heran sampai mereka melengak, kemudian baharu mereka tanya Lauw Tiong, siapa orang tua itu. Dan Lauw Tiong tuturkan apa yang ia alami.

“Mestinya dia Kay Hiap, si Pengemis Pendekar,” kemudian dua saudara ini menduga2. Karena menduga begini, mereka jadi gembira. Lalu, setelah pesan Lauw Tiong untuk berjaga. Mereka segera lari kemarkas. Mereka baharu lewati dua perahu besar, tiba2 ada orang muncul dengan melesat kehadapan mereka, jaraknya antara setumbak lebih.

“Apakah disitu Soen Loosoe?” demikian orang itu tanya.

Giok Koen segera kenali Sioe Seng, murid kedua dari See Gak Pay. Ia menjadi heran, sebab ia tahu benar, muridnya pendeta itu tak pernah pisahkan diri dari gurunya. “Eh, siaiaw soehoe hendak pergi kemana?” ia tanya.

“Soehoe perintah aku cari Khu Soeheng, ada urusan penting” sahut Sioe Seng. “Apa Soen Loosoe tahu dimana adanya Kan Soeheng?”

“Kan Soehoe dan Siauw Liong Ong Kang Kiat sedang meronda,” Giok Koen terangkan. “Tadi Kan Soehoe ada didepan dan Siauw Liong Ong dibelakang….”

“Aku sudah pergi kedepan, Kan Soeheng tidak ada disana.” Sioe Seng menerangkan. “Nanti aku lihat dibelakang….”

Hampir itu waktu, dari samping perahu sebelah kiri, dimuka air, muncul satu kepala orang.

“Apakah kau cari Kan Soehoe?” orang itu tanya. “Kan Soehoe sedang kejar dua penjahat yang lari kegili2. Kalau ada apa2, kasi tahu saja padaku, nanti aku yang sampaikan kepada Kan Soehoe.”

Sioe Seng dan dua saudara Soen heran, syukur mereka lantas dapat kenali orang dimuka air itu.

CIV

“Kang Kiat, mari naik,” kata Sioe Seng.

Orang itu benar Kang Kiat adanya, ia sudah lantas naik keperahu.

“Titahkan saja padaku, soe kouw,” katanya.

“Guruku bersama Ong. Loosoe dan lainnya sudah kurung musuh kata Sioe Seng. “tetapi terkabar ada lain rombongan musuh tang hendak musnahkan pasukan pasukan dari Soe Soei, barangkali dengan alat api, maka guruku minta Kan Soeheng lekas bersiap, musuh mesti dicegat agar tak dapat mendekati perahu perahu kita. Maka itu, tolong kau lekas kasi kisikan pada Kan Soeheng.”

“Aku mengarti, soekouw, silahkan kembali kata Kang Kiat. “Tolong sampaikan pada soehoe bahwa kami akan atur penjagaan keras.”

“Kamipun hendak balik kemarkas untuk urusan ini,” kata Giok Kong yang campur bicara. “Baharu saja kami bertemu Kay Hiap, yang kasi kisikan tentang niat musuh, supaya kami melaporkan kepada ketua. Maka sekarang, pergi kau lekas cari Kan Soehoe!” Ia tambahkan pada Kang Kiat.

“Aku mengerti sahut Kang Kiat, yang segera ayun tubuhnya. Untuk terjun keair dengan gerakan “Hay yan liang po,” atau “Burung walet laut mendampar gelombang.”

Sioe Seng bertiga kagum, menampak gerakan itu, memang tubuhnya Siauw Liong Ong ke cil dan gesit.

Setelah itu bersama2 dua saudara Soen, Sioe Seng hendak menuju kemarkas. Tiba2, dari dalam markas mereka dengar pertandaan, yang dapat sambutan dari tempat gelap.

“Lihat, Soen Loosoe, rupanya penjahat sudah mulai bergerak,” Sioe Seng bilang.

Giok Koen terkejut.

“Lihat ditengah sungai sana, siauw soehoe,” kata ia. “Apa itu bukannya penjahat hendak mulai dengan penyerangannya dengan api?”

Sioe Seng dan Giok Kong berpaling, hingga mereka lihat dua perahu kecil sedang mendatangi cepat sekali, anak buahnya tidak tertampak tetapi dikedua perahu itu ada cahaya api berpeletikan, asapnya mengepul. Rupanya itu ada perahu api yang hendak serbu perahu dari Soe Soei.

“Lihat, Soen Loosoe!” Kata Sioe Seng dengan tertawa dingin. “Terang kawanan penjahat hendak gunakan perahu apinya itu untuk terjang perahu2 Garuda kita! Ini rupanya ada daya busuk mereka yang terakhir! Oh, kawanan tikus!”

Giok Koen menggeleng kepala.

“Kay Hiap memberi kisikan secara sungguh2, maka mustahil penjahat gunakan hanya perahu kecil begini,” kata dia. “Mungkin masih ada lain macam permainan disini. Mari kita lihat bagaimana ciangboenjin akan bertindak”

Kedua perahu kecil itu mendatangi terus, kelihatan tujuannya menyamping.

Sioe Seng bertiga tak ayal lagi segera lari kearah markas. Pendeta muda ini sangat gesit, sebentar saja ia sudah lewati dua saudara Soen, tetapi kapan ia dapati orang ketinggalan, ia kendorkan kakinya untuk tak bikin malu dua saudara Soen itu. Justeru itu, didepannya, ia lihat dua bayangan berkelebat.

“Siapa?” ia menegor seraya ia rabah pedangnya.

Dua bayangan itu tidak menyahuti, hanya satu yang terdepan menimpuk dengan serupa barang berkeredepan.

“Bagus!” Berseru Sioe Seng, yang sambil berkelit kekiri, lalu menyampoknya. Maka dengan perdengarkan suara nyaring, sebatang kongpiauw jatuh kelantai perahu.

Menyusul itu, dari bayangan. Yang kedua, terdengar pertanyaan “Apakah disitu siauw soehoe dari See Gak Pay? Jangan kasi lolos pada kunyuk ini!”

Ketika itu, dua saudara Soen pun sudah sampai. Tetapi Sioe Seng ada mendongkol, ia tak jawab pertanyaan, hanya melesat kepada penyerangnya, ia membentak “Binatang, kau hendak menyingkir kemana?”

Lantas saja ia menyerang.

Penyerang itu rupanya tak mau melawan, ia putar tubuh untuk menyingkir. Tetapi dua saudara Soen keburu sampai, dia kena dicegat dan terkurung oleh Sioe Seng bertiga.

“Yang dibelakang sana loosoe siapa?” tanya Sioe Seng selagi ia layani musuh.

Sambil mendatangi, orang yang ditanya itu menjawabnya “Mustahil siauw soehoe tak kenali Na Loo jie?”

Sioe Seng, pun dua saudara Soen, terkejut.

“Kiranya Na Jie Hiap!” Kata Sioe Seng. “Manusia ini jahat sekali, tak nanti teecoe membiarkan dia lolos!”.

Benar Sioe Seng menyerang dengan hebat.

Na Jie Hiap pun kata kepada dua saudara Soen , “Bagus kau berdua datang! Kunyuk ini adalah Ie boen Tocoe Tie Cin Hay,. Tangannya kurang liehay, yang liehay adalah kakinya! Dia ada biang keladi dari peristiwa di Tong kwan, maka jangan kasi dia lolos, sedikitnya dia mesti diberi suatu tanda!”

Sementara itu Ie boen, tocoe Tie Cin Hay telah keluarkan antero kepandaiannya akan layani ketiga musuh, karena ia insyaf, kecuali mereka ini liehay, disitu pun ada menjaga Ay kim Kong yang kenamaan, yang tak dapat dipandang enteng.

Na Hoo mendongkol apabila ia saksikan tiga kawannya tidak dapat segera rubuhkan musuh. “Kunyuk muka tebal, apa masih kau tak hendak letaki senjatamu?” ia menegur. “Aku hendak lihat, napasmu masih berapa panjang lagi!”

Baharu Ay Kim Kong hendak bergerak, atau mendadak ada bayangan yang melesat kearah ia, ia terkejut, lekas2 ia melejit kekanan dimana terus ia bersiap sedia. Tetapi bayangan itu segera tertawa.

“Eh, Na Loo jie, ada urusan penting, kenapa kau buang tempomu disini?” kata bayangan itu.

Begitu mendengar suara itu, Na Hoo segera kenali Kay Hiap.

Tetapi, belum tempat ia menyahuti, si pengemis luar biasa sudah melanjutkan katanya “Na Loo jie, kau terlalu memandang enteng kepada kawanan bangsat disini. Ini adalah minatnya Kwie eng coe Tong Siang Ceng dan rencananya Ban san coe Thong In yang sangat licin! Mereka hendak menyerang dengan api, apabila maksud mereka tercapai, celakalah pasukan perahu dari Soe Soei!” Lantas ia menunjuk kesatu arah “Lihat, perahu api sudah mulai menyerang! Jikalau perahu itu bisa datang dekat, itu artinya celaka, ludeslah kehormatan kita Na Loo   jie, inilah lelakonnya api dan air dengan berbareng! Hayolah kita bermain api!”

Ay Kim Kong kerutkan dahi, ia berpaling kearah yang ditunjuk.

“Baiklah!” Jawab ia akhirnya. “Mari kita lihat siapa yang akan lebih berhasil!” Karena ini, ia kata kepada Sioe Seng bertiga “Aku serahkan kunyuk ini kepada kau bertiga!”

Ucapan ini disusul dengan gerakan tubuhnya, yang lenyap ditempat gelap.

Tubuhnya Kay Hiap turut lenyap juga. Dua2 mereka ini menuju ke markas.

Dalam Keng kang soet, ilmu enteng tubuh, Na Pek dan Na Hoo ada jago2 Hoay Yang Pay, yang untuk Selatan dan Utaranya sungai Besar, ada sangat dimalui. Sekarang Ay Kim Kong hunjuk kepandaiannya didepan Kay Hiap ia menghadapi satu tandingan yang berat sekali. Dalam sekejab saja mereka sudah lewati sepuluh perahu. Mereka lihat, perahu api sudah mulai mendekati markas. Menampak demikian, Na Hoo hendak tanya sahabatnya, tindakan apa mesti diambil. Tetapi justeru itu dari samping mereka tampak melesatnya dua bayangan.

“Apakah Na Jie Hiap disana?” tanya satu antara dua bayangan itu.

Ay Kim Kong segera kenali suaranya Tiong cioe Kiam kek Ciong Gam.

“Ciong Loosoe, benarlah aku!” Ia jawab. “Siapa itu kawanmu?”

“Ciong Loosoe justeru sedang ibuk kekurangan orang, kebetul an sekali Jie Hiap datang!” Kata orang yang kedua, sebelum Ciong Gam tempat menjawab.

Orang itu adalah Pak louw Piauwsoe chio in Po.

“Kau berdua hendak lakukan apa?” Jie Hiap tanya. “Keadaan sedang mengancam, kita mesti cegah datangnya perahu api itu! ”

Na Hoo belum tutup mulutnya ketika tiba2 ia dengar suara gembreng riuh di empat penjuru. Itulah tanda untuk perahu2 pencarkan diri. Dan semua anak buah perahu benar2 segera pada bergerak. Serentak semua perahu bergerak terpecah lima, perahu besar kelihatan mundur, yang lainnya mengapit dikiri kanan, jarak mereka kira2 lima tumbak. Dilain pihak, dua puluh perahu kecil sudah lantas muncul, setiap perahunya punyakan satu anak buah dibelakang dan satu anak buah didepan, yang didepan ini bersenjatakan sebatang galah panjang. Saban empat buah perahu merupakan satu barisan, terang mereka untuk melawan perahu api, untuk dibikin karam. Empat melawan satu!

Nyata didalam perahu api ada anak buahnya yang umpatkan diri, yang bergerak sebelum perahunya kena dibikin terbalik. Panah apinya sudah lantas menyamber! Maka sedetik saja empat buah perahu kecil dari Soe Soei telah kena terbakar. Inilah hebat, sebab perahu api itu jadi sukar dicegah.

Na Hoo tanya Ciong Gam, bagaimana caranya musuh telah dikurung, tetapi selagi ia bicara, Kay hiap kata padanya “Na Loo jie, sekarang bukan saatnya omong saja.! Jikalau api itu dapat membakar, perahu besar, sungguh celaka, kau yang mesti mengganti, aku tak campur tahu! Lihat dikiri sana, lima buah lagi sedang mendatangi, entah yang disebelah belakang, maka, mari kita bekerja! Lihat dua perahu yang diselatan itu, kasihlah itu kepadaku untuk aku yang bereskan, kau bertiga pergilah urus tiga yang lainnya itu!” 

Setelah mengucap demikian, Kay Hiap loncat kepada sebuah perahu kecil, sebentar saja ia sudah pisahkan diri belasan tumbak dan mendekati perahu api yang keempat.

Melihat gerakan itu, Na Koo bersama Ciong Gam dan Chio In Po tidak berayal lagi untuk turut bergerak. Mereka bisa bergerak dengan leluasa karena adanya perahu2 kecil, cuma Chio In Po yang sedikit ketinggalan oleh Ay Kim Kong dan Tiong cioe Kiamkek.

Na Hoo hampirkan perahu api yang ke tiga, justeru ia tampak Kay Hiap sampai diperahu yang ketempat dimana dengan mendadak pengemis ini disambut jepretan peluru beruntun, kalau dia kurang gesit, celakalah dia. Na Hoo terkejut melihat ancaman bahaya bagi kawan itu. Karena ini, iapun berhati2. Bersama Ciong Gam ia sampai diperahu yang ketiga. Segera ia lihat satu peti besar, peti mana kedapatan pula pada lain2 perahu penjahat. Karena curiga, ia perhatikan peti itu.

Dua penjahat berada diperahu ke tiga itu, yang satu, yang menyekal golok sedang niat ceburkan diri, yang satunya pula, yang memegang jepretan peluru, justeru hendak menyerang. Menampak demikian, dengan sehat Na Hoo tempat maju akan serang dua2 penjahat itu, hingga mereka rubuh keair.

Berbareng dengan itu, Kay Hiap dilain pihak sudah loncat keperahu yang kelima, tetapi ia disambut peluru hingga ia kembali keperahu keempat, yang anak huahnya sedang bersiap untuk bokong Na Jie Hiap.

Pengemis ini, yang lengkapnya dipanggil Wah Po Eng Tiat Tiok Kay Hiap, atau si Pengemis Pendekar gelar si Pembalasan Hidup si Suling Besi, menjadi gusar sekali.

“Kawanan kunyuk yang bernyali besar!” Ia berseru seraya lantas menyerang dua penjahat itu, hingga dua2nya terlempar kedalam sungai.

Dua anak buah dari perahu yang ke lima, yang melihat keadaan sulit, bagi pihaknya, mendahului menyebur kedalam air.

Ciong Gam dan Chio In Po sudah naiki perahu yang ke satu dan ke dua, yang kosong dari anak buahnya, walaupun demikian, kedua perahu itu masih saja laju, maka teranglah sudah, perahu itu dijalankan dengan anak2 buahnya mendorong dari dalam air. Tentu saja tindakan mereka ini ada lebih membahayakan. Dalam keadaan seperti itu, terdengarlah suara nyaring dari Kay Hiap, yang beber kelicinan musuh, yang semua memain didalam air, bahwa peti disetiap perahunya muat barang peledak, apabila peti itu sampai terbakar dan meledak, akan celakalah mereka. Maka ini, pengemis ini peringatkan Na Hoo untuk turun tangan tanpa berayal.

Teriakannya Kay Hiap diikuti oleh tindakannya yang cepat dia tempat kembali keperahu yang ke lima, akan samber peti yang besar, yang terikat dengan sumbu, setelah angkat itu dan putuskan sumbunya. Terus ia lemparkan ketengah sungai.

Na Hoo lihat perbuatannya kawan itu, ia insyaf itulah peti obat pasang yang hebat akibatnya apabila sampai dapat meledak, maka itu, ia mencelat keperahu yang ketiga, akan samber peti didalam perahu itu. Hebatnya adalah sumbu peti ini justeru mulai menyala, maka dengan cepat Na Hoo samber dan putuskan sumbunya, lalu dia angkat peti itu dilemparkan kemuka air!

Sementara itu Tiongcioe Kiam kek Ciong Gam, walaupun dengan susah payah, telah berhasil juga menyingkirkan peti obat pasang dari perahu musuh yang ke dua, tidak demikian dengan Chio In Po, yang kalah gesit. Kay Hiap masih mencoba akan singkirkan peti dari perahu ke satu, tetapi gagal, sumbu peti mendahului ia.

“Dar!” Demikian suara ledakan, yang hebat.

Semua orang tempat mundur, tetapi Soen Giok Kong berayal, bebokongnya kesamber api dan menyala, dalam kaget dan takut, ia loncat, apamau, matanya tak dapat melihat nyata, sasarannya salah, maka ia tercebur keair. Celakanya, ia tidak bisa berenang.

Kay Hiap lihat kawannya mendapat celaka, gesit luar biasa ia loncat menyamber, akari bawa kawan itu kesebuah perahu lain, disini api dibaju dipadamkan, tetapi Giok Kong telah pingsan, maka pengemis itu lekas2 keluarkan tiga butir obatnya, untuk dicekoki kedalam mulutnya orang she Soen itu. Lalu, dengan satu tepukan, Giok Kong pun dibikin sadar akan dirinya.

“Telan obatnya,” Kay Hiap membisikkan.

Giok Kong manggut, ia telan obat yang dibelesakkan kedalam mulutnya Sebuah perahu Soe Soei, yang berada dekat dengan perahu penjahat yang meledak, kena kesamber api, dua anak buahnya terluka, tetapi syukur mereka bisa berenang, mereka menyebur kesungai, sesudah mana, lain kawannya tolongi mereka.

Untuk sementara, asap masih mengepul, menambah kegelapan.

Giok Koen dan Sioe Seng berada disebuah perahu lain untuk menolongi dua anak buahnya, sesudah itu, Giok Koen datang keperahu saudaranya.

itu waktu, dari kejauhan ada terdengar tanda2 rahasia “Rupanya masih ada perahu penjahat disebelah

belakang,” kata Kay Hiap setelah ia memasang mata dan kuping. “Sekarang lekas mundur, lindungi orang yang luka, aku sendiri hendak cari musuh!”

Giok Koen menyahuti, maka pengemis itu segera berlalu, Ia pergi ketepi dimana segera ia bertemu Na Jie Hiap, yang kandung maksud serupa.

“Kebetulan, loocianpwee,” kata Na Hoo. “Perahu api dari penjahat masih belum musnah semua, mari kita gempur!”

“Mari!” Sahut Kay Hiap, yang ternyata ada sangat gusar. “Sudah sejak empat lima tahun aku si tua bangka undurkan diri, tak mau campur urusan kaum kang ouw lagi, tetapi kawanan Hong Bwee Pang ini ada sangat busuk, mereka mesti dikasi rasa! Jikalau aku tidak turun tangan, nanti orang kata aku si tua bangka satu pengecut Maka, Na Loo jie, lihatlah aku nanti bereskan mereka!”

“Kau benar, loocianpwee,” sahut Na Hoo, yang tidak mau banyak omong. Ia mengerti penyakit benci kejahatan dari si Pembalasan Hidup ini telah kumat hingga membangkitkan amarah nya.

Baharu mereka menikung satu kali, dimuka sungai kelihatan sebaris perahu, yang apinya mengeluarkan asap bergulung2, hingga tak kelihatan tegas. Kay Hiap berhenti berlari, ia mendekam, secara begini ia bisa melihat lebih tegas. Na Hoo turut teladan ini.

Semua perahu ada delapan, dua diantaranya maju paling depan.

Benar2 semua perahu ada memuat bahan peledak, setiap dua anak buahnya memegang galah kejenyang panjang. Satu anak buah dari perahu pertama, yang mengenakan pakaian mandi, kelihatan ada berikan pesan kepada perahu2 lainnya.

Kay Hiap tidak dapat dengar kata2 itu, tetapi ia tahu musuh rupanya sedang maju untuk penyerangan dengan api yang kedua kali, maka itu, lantas ia berbangkit untuk lari ketepi guna memapaki. Ia cabul sebatang pohon kayu, setelah perahu yang dimuka datang dekat, dengan tiba2 ia menyerang dengan lemparkan pohon itu!

Anak buah penjahat kaget, mereka menjerit, tetapi sementara itu, perahunya terbalik, karam!

CV Tanpa bersangsi, Kay Hiap mencabut pohon yang ke dua, untuk ke dua kalinya ia menyerang pula. Kali ini ia karamkan dua buah perahu. Walaupun demikian, dengan mereka berenang didalam air, anak2 buah penjahat itu mencoba majukan terus perahu mereka. Mereka pandai berenang dan selulup, mereka bisa maju bersama lima buah perahu sisanya. Cuma sekarang mereka tak maju pesat sebagai semula.

Selagi Kay Hiap hendak kembali beraksi, Na Hoo teriaki padanya “Loocianpwee, tinggalkan dua untuk aku, aku juga hendak perlihatkan mereka tenagaku si Na Loo jie!” Kemudian, dengan tidak tunggu jawaban, ia cabut sebuah pohon. Ketika ia mencabut, ia bikin gempur tanah disekitar pohon, melihat itu, ia insyaf bahwa ia kalah tenaga dengan Kay Hiap, hingga dia malu sendirinya, sedang dalam dunia kang ouw ia ada sangat terkenal. Tetapi ia tidak berlambat, segera ia menimpuk dengan pohon itu, ia gunakan tenaga yang besar sekali, sasarannya mengenai peti obat peledak, hingga peti itu lantas meledak, apinya muncrat keempat penjuru! Perahunyapun hancur dengan sekejab!

Empat perahu yang berdekatan kena terserang, tak ampun lagi peti2 obat pasangnyapun meledak beruntun menyusul suara letusan hebat, hingga muka sungai yang tadinya gelap petang menjadi terang benderang, jauhnya belasan tumbak.

Celaka adalah anak2 buah perahu2 yang menjadi kurban itu, merekapun turut ludas bersama bahan peledaknya itu.

“Na Loo jie, bagus!” Kay Hiap memuji kapan ia saksikan perbuatannya sahabat itu. “Sekarang selesailah urusan kita disini, mari kita lihat yang dikiri dan kanan! Mereka ini jadi hantu2 gelandangan didasar sungai, mereka bukan urusan kita, biar mereka cari pemimpin mereka sendiri !” Lalu Na Hoo bersama kawan itu balik kearah perahu2 Garuda. Mereka baharu maju setengah panahan jauhnya, lantas mereka lihat empat buah perahu kecil sedang mendatangi, dari kejauhan tak lantas bisa dikenali perahu2 itu ada dari pihak kawan atau lawan. Maka mereka lantas pasang mata.

Tiba2 dari sebuah perahu yang terdepan menyorotkan api lentera Khong beng teng, ditujukan kepada perahu yang dibelakang, lalu terdengar suara pertanyaan dan jawabannya. Kemudian sinar api menyamber ke darat. Karena ini Na Hoo segera kenali tanda dari perahu2 Garuda.

“Kelihatannya markas sudah menggeser ketengah sungai, apa kita mesti pergi kesana?” Na Hoo tanya kawannya.

Justeru itu, sinar api menyamber kearah mereka, hingga mereka, terutama Ay Kim Kong, segera dapat dikenali.

“Na Loosoe, mari naik keperahu!” Segera terdengar suaranya Ciong Gam. “Mari kita menemui ketua!”

Sebelum Na Hoo menjawab, Kay Hiap telah kata padanya “Na Loo jie, pergi kau naik ke perahumu, aku sendiri masih punyakan dua janji pertemuan kematian! Sebentar kita bertemu pula!”

Tanpa tunggu jawaban, tubuh, nya Kay Hiap sudah melesat seperti terbang, ia lenyap diantara pepohonan ditepi itu.

Bukan kepalang kagumnya Ay Kim Kong akan saksikan keentengan tubuh orang itu. Selagi ia hendak sahuti Ciong Gam, mendadak, ia batalkan niatannya itu. Sebab dengan tiba2, dari sampingnya, muncul sebuah perahu kecil dari atas perahu mana melesat dua orang yang naik kedarat, gerakannya cepat luar biasa.

Sementara itu, mendadak Kay Hiap muncul pula dari tempat gelap dimana tadi ia menghilang. Segera terdengar seruannya. “Bangkai hidup, kembali lah kau!”

Seman ini dibarengi dengan satu serangan terhadap orang yang melesat didepan, tubuh siapa segera tercebur kedalam sungai.

Orang yang ke dua terkejut, tetapi ia mencelat terus akan lewat diatasan kepala penyerang kawannya, Benar2 ia ada gesit luar biasa. Akan tetapi ia berhadapan dengan seorang yang lebih gesit bagaikan kilat. Kay Hiap Pendekar Pengemis ulur kedua tangannya sambil berseru “Turunlah kau!”

Kakinya orang itu kena kesamber, tubuhnya lantas tertarik.

“Kaupun kembali!” Kay Hiap lanjutkan seruannya, berbareng mana, kedua tangannya digerakkan, maka tak ampun lagi orang itu terlempar kesungai!

Baharu ia berbuat demikian atau Kay Hiap sudah ngoce sendirian “Dia mirip si perencana penyerangan dengan api, cara bagaimana aku si tua bangka dapat membiarkan dia lolos?” Segera setelah itu, ia lari disepanjang tepi, kearah sebaris pohon kayu kecil.”

Na Hoo saksikan itu semua, karena ia percaya Kay Hiap bisa bekerja sendiri, ia lalu memisah diri, ia lantas menuju kemarkas. Baharu saja ia menikung atau ia sudah, tampak pemandangan yang kusut.

Lima buah perahu musuh tenggelam, tiga buah perahu lainnya meledak dan karam, tetapi juga dua perahu Garuda telah “terluka.” Berkat  penjagaan yang kuat, aksi musuh telah dapat dipunahkan, begitu datang dekat, mereka kena dikurung dan diserang.

Ban san coe Thong In, Kwie eng coe Tong Siang Ceng dan Heng tong Tocoe Ouw Can, yang pimpin penyerangan, dapat meloloskan diri. Adalah orang2 mereka, yang rubuh sebagai kurban kurban.

Dalam waktu, kekalutan pertempuran, dua perahu api datang cepat laksana naga api. Eng jiauw Ong dan Coe In Am coe, yang pimpin perlawanan, lihat itu.

“Merekapun tak dapat dikasi lolos!” Kata Eng Jiauw Ong. Ia malu kalau sampai mereka tercegat ditengah jalan ini dan gagal, dengan begitu, tentu mereka tak ada muka akan menemui Thian lam It Souw Boe Wie Yang, ketua dari Hong Bwee Pang. Maka mereka lantas berikan titah, untuk turun tangan terlebih jauh.

Kebetulan sekali, waktu itu Ciong Gam dan Na Hoo telah sampai. Berbareng dengan mereka ini, Ban Lioe Tong pun sampai pula. Maka itu, Eng Jiauw Ong serukan akan jangan kasi musuh berketempatan datang dekat.

Dalam kekalutan selagi kabur, Ie boen Tocoe Shong Ceng kena dicegat dan ditawan Kan In Tong dan Kang Kiat. Toan bie Cio Loo Yauw, yang terkepung, kena tertangkap diatas perahu. Malah Hauw Thiah. Hoei dan Lie Hian Tong kena ditangkap juga. Disebelah pihak pemimpin2 itu, ada delapan anak buah yang tertangkap hidup.

Delapan buah perahu cepat, dengan dua puluh anak buahnya yang bersenjatakan panah peluru, sudah lantas bersiap akan sambut dua perahu api musuh itu. Na Hoo maju dimuka, ia kata “Aku hendak lihat kawanan tikus itu antarkan jiwa mereka! Aku hendak lihat, mereka semua ada punya berapa batok kepala!” Dua perahu musuh telah datang semakin dekat, disetiap perahu ada dua batang obornya, yalan api yang mendatangkan cahaya sangat terang. Dua batang obor itu ditancap dikiri dan kanan perahu, tak membutuhkan orang memeganginya. Di setiap perahu ada dua tukang penggayunya, masing2 didepan dan belakang, maka pantaslah semua perahu bisa laju dengan pesat. Semua anak buah itu mengenakan pakaian mandi yang ringkas, kepala mereka dibungkus dengan kain minyak.

Diperahu terdepan seorang berdiri dikepala perahu, tangannya menyekal sebatang bendera putih persegi tiga, berkibar2 diantara api, kelihatan sulamannya yang merupakan seekor burung ditengah mana ada satu huruf besar, yang sukar terbaca Dari kedua perahu itu terdengar suitan, beruntun sampai belasan kali.

Ban Lioe Tong dan Na Hoo tunggu hingga kedua perahu datang dekat lima atau enam tumbak, mereka lihat rupanya orang tidak bermaksud jahat, tetapi Siok beng Sin Ie perintah orang nya teriaki “Jikalau kau tidak segera terangkan maksud kedatanganmu, jangan persalahkan kami!”

Kelihatannya pihak kedua perahu itu sibuk, lalu terdengar suara mereka “Sahabat2 dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, jangan turun tangan! Hio coe kami dari Kim Tiauw Tong telah titahkan untuk hentikan pertempuran! Aturan kami ada sangat keras dan mesti dihormati, jikalau tidak, terpaksa kami mesti manda dibunuh pihakmu, tidak nanti kami melakukan perlawanan!”

Pihak Hoay Yang Pay dan See Gak Pay tak biasanya bersikap busuk, mereka mengerti artinya titah Hiocoe dari Kim Tiauw Tong Kong Bwee Pang, dari itu, walaupun masih belum dapat dipastikan musuh akan berlaku curang atau tidak, titah lantas dikeluarkan untuk jangan menyerang, mereka cuma dipesan untuk waspada.

Dipihak dua perahu Hong Bwee Pang, benderanya lalu dikibarkan, segera delapan anak buahnya lantas menunda penggayu mereka, dengan begitu, perahu merekapun tidak laju terlebih jauh. Dengan cepat datang menyusul yang enam lagi, yang laju belakangan, lalu sama2 berhenti.

Dari perahu Hong Bwee Pang yang kiri segera terdengar satu orang bicara. Ia kata

“Sahabat2 dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, harap jangan salah mengerti. Pangcoe kami ketahui kedatanganmu, karena kau memakai perahu sendiri, Pangcoe tak leluasa untuk menyambut dengan perahunya. Tetapi adalah aturan kami yang di Hoen coei kwan dilarang masuknya lain perahu daripada kepunyaan kami, kecuali dengan satu perkenan. Hal ini bisa membuat sahabat salah mengerti atau curigai kami berpemandangan cupat. Hal yang sebenarnya tidaklah demikian, kami melainkan mentaati aturan kami yang dimuliakan, yang kami tak berani langgar. Tetapi sahabat2 telah datang untuk memenuhi undangan, dengan terpaksa Pangcoe keluarkan perintah untuk menarik pulang semua penjagan. Diluar dugaannya Pangcoe, ada beberapa tocoe yang sudah berlaku hina, sudah mencegat dan mengganggu kepada sahabat2. Perbuatan mereka itu tidak saja membuat Pangcoe malu, bahkan menyalahi undang2 Hong Bwee Pang, Maka itu sekarang, kami diutus oleh Kim Tiauw Tong Hiocoe untuk menyambut sahabat2, untuk sekalian minta sahabat2 berlaku sabar. Kami berjanji bahwa undang2 kami tak akan diantap diperhina oleh orang2 sendiri. Sekarang silahkan sahabat2 masuk terus, selanjutnya tidak akan ada sebuah perahu juga dari sahabat2 yang bakal dapat gangguan lagi!” Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe dapat mempercayainya perkataan dari wakil Hong Bwee Pang itu. Mereka kagum untuk Hong Bwee Pang, sebab satu Hiocoe dari Kim Tiauw Tong saja sudah punyakan pengaruh demikian besar, bisa mencegah orang2nya yang main gila.

Eng Jiauw Ong berikan jawabannya bahwa ia suka tunda segala urusan lainnya, bahwa ia bersiap untuk memasuki Cap jie Loan hoan ouw. Wakil Hong Bwee Pang itu angkat benderanya, ia berseru “Semua saudara yang turut ambil bagian dalam penyerangan malam ini mesti tunggu titah dari Kim Tiauw Tong!” Setelah mana, ia goyang2 benderanya itu. Kemudian ia hadapi pihak tetamu, untuk berkata pula “Kami mesti menyampaikan tugas kepada Kim Tiauw Tong, maaf, kami tak dapat menemani lebih lama!”

Lantas ia memberi hormat, lalu ia ajak semua delapan perahunya berlalu.

Didalam sebuah perahu, Na Hoo lihat Kwie eng coe Tong Siang Ceng bersama Lie Hian Thong dari See coan Siang Sat, sembari tertawa dingin ia kata pada mereka itu “Tong Tocoe, Lie Tocoe, bukan biasanya kami dari Hoay Yang Pay akan menumpas orang, akan melempar batu kedalam sumur, maka itu, apa yang kau hendak tunggu lagi jikalau kau, tidak mau ikut berlalu?”

Itulah hinaan hebat untuk Tong Siang Ceng dan Lie Hian Tong, yang ada kenamaan, tetapi dalam keadaan seperti itu, apa mereka bisa bikin? Mereka tundukkan kepala bahkan malunya. Terpaksa, dengan ajak semua kawannya yang tertawan, mereka ngeloyor pergi.

Begitu lekas musuh berlalu, Kan In Tong dan Kang Kiat muncul dari dalam sungai. Mereka sudah lantas ketahui apa yang terjadi. Mereka lantas atur perahunya untuk bersiap2 maju.

Dengan tiga kali suara gembreng, semua perahu Garuda, yang terpencar, lantas berkumpul.

Ketika itu sudah jam lima lewat, tak lama lagi langit akan sudah terang tanah.

“Kita maju sekarang atau menunggu sampai sudah terang tanah?” Eng Jiauw Ong tanya Coe In Am coe.

“Baik kita berangkat sekarang,” sahut niekouw itu. “Tak perlu kita menantikan disini. Nyalakan saja api.”

Eng Jiauw Ong manggut. “Baiklah,” kata ia, yang terus nyatakan pada In Tong untuk periksa perahu mereka.

“Paling juga rusak beberapa perahu, tidak ada artinya,” sahut Kan In Tong. “Mari kita lihat.” Ia terus panggil sebuah perahu cepat.

Selagi Eng Jiauw Ong naik keperahu cepat itu, mendadak ia ingat suatu apa. Ia tanya Na Hoo, mana Kay Hiap yang telah membantu mereka, yang malah telah tolongi Giok Kong. “Bantuannya itu harus dihargai,” katanya.

“Dia ada seorang aneh, entah dia pergi kemana,” jawab Ay Kim Kong. “Tadi ia mengejar penjahat, ia lantas menghilang dari depanku.”

Eng Jiauw Ong tidak kata apa2 lagi, ia tempat naik keperahu cepat, akan ikut In Tong menilik perahu2, yang ternyata cuma rusak beberapa buah, perahu2 mana sudah lantas dimusnahkan, kemudian bersama Na Hoo ia pergi tengok Giok Kong, yang melainkan luka dikulit. Iapun tengok Sam cay kiam Soe ma Sioe Ciang, yang terluka pula, tetapi lukanya tidak berarti. Semuanya barisan perahu Garuda tak kurang suatu apa, semua sudah berlabuh dengan rapi.

Sekembali nya kemarkas, Eng Jiauw Ong minta In Tong titahkan untuk mulai berangkat, yang mana dilakukan oleh Soe Soei Hie kee begitu lekas dibunyikan gembreng tiga kali beruntun. Mereka baharu berlayar kira2 setengah jam, cahaya putih terang sudah mulai muncul diarah Timur. Sang angin telah membuat hawa menjadi terasa dingin, sedang tadinya, ketegangan membikin orang tak ingat perubahan hawa itu.

Seluruh sungai ada tenang, orang maju tanpa sesuatu rintangan.

Eng Jiauw Ong dan Na Hoo berdiri dikepala perahu, mereka memandang kedepan, melihat udara. Makin lama langit jadl makin terang, lalu tertampak cahaya merah dari Batara Surya. Sungai jadi indah permai karenanya, menarik hati untuk dipandang. Sementara itu, baharu waktu itu, Na Hoo ingat akan kanda nya, yang tak ketahuan sejak kapan sudah pisahkan diri dari mereka.

“Melainkan sekali aku lihat padanya, begitu lekas serangan datang,” Ban Lioe Tong kata. “Dia telah musnahkan dua perahu api, lantas dia tak kelihatan lagi.”

Eng Jiauw Ong awasi Ay Kim Kong, siapa nampak ter senyum2.

Tidak ada orang kuatiri Toa Hiap Na Pek karena orang tahu dia memang bertabeat aneh dan orang percaya betul kegagahan nya, diapun memang.suka bekerja berpencar dari saudaranya, yang sama anehnya seperti dia sendiri.

Coe In Am cioe sendiri ada sangat ketarik dengan kepermaian alam disepanjang pelayaran itu, ia berdiri diam, memandang jauh, jubanya memain tersampok sampok angin dengan menerbitkan suara halus.

Selama itu tak pernah mereka menemui sebuah perahu juga. Semua perahu melawan angin akan tetapi mengikuti aliran air, maka lajunya pesat juga.

Selagi menghadapi sebuah tikungan, yang bermuara,

.dari depan kelihatan mendatangi empat buah perahu cepat dengan memasang layar, yang laju mendampar ombak terbantu dengan angin.

“Rupanya itu ada pihak penyambut….” Kata Eng Jiauw Ong.

“Pasti itu ada utusan Cap jie Lian hoan ouw, tidak nanti mereka kandung, maksud jelek,” nyatakan Na Hoo.

Memang juga, pihak empat perahu itu tidak menunjukkan keangkaran. Dimuka perahu terdepan ada seorang dengan pakaian rapi, yang menyekal sebatang bendera sulam, seperti bendera dari Kim Tiauw Tong, Gedung Garuda Emas.

In Tong segera kasi titah akan perlambat lajunya barisan Garuda.

Kapan kedua belah pihak sudah mendekati satu dengan lain kira2 tiga tumbak, pihak Cap jie Lian hoan ouw kebutkan benderanya, lalu menyusul dua kali suara suitan, segera empat perahu berhenti laju. Sambil memberi hormat, pemegang bendera itu lantas berkata “Ciangboen jin dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, selamat datang! Kami datang menyambut atas namanya Hiocoe dari Ceng Loan Tong. Hiocoe kami menyesal sekail atas penyerangan ditengah jalan tadi. Pun Hiocoe menyesal tidak bisa segera menyambut sendiri karena tak dapat dia lancang meninggalkan Ceng Loan Tong”. Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe membalas hormat.

“Kami bersyukur atas penyambutan ini, tolong haturkan terima kasih kami,” kata ketua Hoay Yang Pay.

Wakil Ceng Loan Tong itu bersenyum. “Sekarang ijinkan kami jalan didepan,” kata ia.

“Persilahkan!” Eng Jiauw Ong bilang empat buah perahu itu diputar, untuk balik kembali .

Eng Jiauw Ong minta Kan In Tong maju lebih jauh untuk mengikuti. Ia pesan untuk tetap waspada.

Mereka melalui lagi dua tikungan, lalu mereka disambut oleh sebarisan perahu cepat dengan layar sepasang, semua perahu dicat kuning, warnanya mengkilap. Gubuk perahu, yang besar, indah buatannya, bagian depannya dialingi sero atau layar bambu kerap, dikedua pinggiran nya digantungkan sepasang lentera kembang. Disitupun ada dipasang sepasang lentera angin yang memakai huruf huruf merah seperti lenteranya pembesar negeri. Jendela dikedua tepi, diberi warna hitam mengkilap juga.

Juga anak buahnya empat orang setiap perahu, berpakaian rapi semua masih muda dan gagah. Baju dari celana mereka hijau, kopiahnya yang lebar memakai pita putih. Betisnya dibungkus hitam putih dengan ujung sepatu lancip, sepatunya berwarna hijau bergaris putih. Dibelakang setiap perahu cuma ada satu jurumudi. Semua anak buah perahu itu memegang penggayu.

Dimuka perahu berdiri seorang berusia kurang lebih empat puluh tahun, mukanya putih bersih, alisnya kecil, matanya bagus, hidungnya bangir. Ia pun pakai kopiah lebar, bajunya putih rembulan, angkinnya putih. Baju luar nya yalan thungsha biru. Sepatu nya hijau, kaos kakinya putih. Ia menyekal sebatang bendera sulam. Kalau dia bukannya disarang Hong Bwee Pang, orang sangsi dia ada anggauta penjahat, karena dia mirip dengan satu pembesar tentera.

Selagi mendekati tujuh tumbak, diperahu tuan rumah itu terdengar suitan beruntun, lantas layar2 dikasi turun. Semua penggayu dikasi turun kedalam air, untuk menghambat lajunya perahu, maka, sejarak tiga tumbak, semua perahu itu lantas berlabuh.

CVI

Segera juga orang dialas perahu Hong Bwee Pang itu kibarkan benderanya, ia memberi hormat seraya berkata “Ciang boenjin Ong Loosoe dari Lek Tiok Tong, Ceng hong po dan Coe In Taysoe dari Pek Tiok Am, See Gak, terimalah hormat kami yang rendah. Atas namanya Hiocoe, dari Thian Hong Tong, kami datang menyambut untuk memimpin jiewie memasuki Cap jie Lian hoan ouw. Menyesal sekali Pangcoe tak dapat menyambut sendiri disini, tetapi begitu lekas jiewie berdua sampai ditempat kami, pasti Pangcoe akan haturkan maafnya

Eng Jiauw Ong dan Coe In membalas hormat untuk bersikap menghormat itu.

“Dari tempat ribuan lie kami datang kemari, kami berterima kasih untuk kebaikannya Boe Pang coe,” mengucap Eng Jiauw Ong. “Kami mohon maaf untuk apa yang terjadi disepanjang jalan. Hoen coei kwan ada tempat terlarang tetapi kami sudah memasukinya secara lancang. Kami pun bersyukur yang Lwee Sam Tong telah menyambutnya secara manis budi. Maafkan kami yang tak memakai kehormatan seharusnya. Belum tahu tuan sendiri ada to coe yang mana?” Wakil Thian Hong Tong itu menyahuti dengan hormat “Aku yang rendah telah terima kemurahan hatinya Liong Tauw Pang coe, aku ditugaskan didalam Thian Hong Tong dari Lwee Sam Tong, untuk mengurus bahagian Bendera Merah, akupunya she yang hina adalah Tam dan namaku satu2nya adalah Gee”.

Mendengar jawaban itu, Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe menaruh hormat kepada Tam Gee, karena mereka tahu, didalam Hong Bwee Pang, Ang Kie Hiocoe dari Lwee Sam Tong, yalah dari Thian Hong Tong, Gedung Burung Hong, besar sekali kekuasaannya, berhak menghukum mati anggauta2 yang bersalah. Maka dengan kirim wakil hiocoe ini, dari bahagian Bendera Merah, Ang Kie, pihak tuan rumah telah memberi muka terang. Begitulah sambil memberi hormat, Eng Jiauw Ong berkata “Hiocoe, sudah lama kami telah mendengar namamu, yang mendengung laksana guntur, yang bercahaya bagaikan bulan nan permai, maka kami girang sekali sekarang bisa bertemu denganmu. Apakah Pangcoe telah mengijinkan kami memasuki Cap jie Lian hoan ouw bersama sama seluruh pasukan perahu?”

“Ong Po coe terlalu merendah,” menyahut Tam Gee. “Soe Soei Hie kee telah lama mendapat nama besar di Selatan dan Utara sungai Besar, maka diantara kaum kami ada siapakah yang tak ingin memandangnya pasukan perahu yang menjadi perintis dalam kalangan perahu kaum kang ouw itu? Pang coe dan semua bukan main girangnya dan bersedia untuk menyambutnya! Dari sini sudah tak jauh lagi akan sampai di Cap jie Lian hoan ouw. Oleh karena tugasku, menyesal aku tak dapat menemani lebih jauh, dari itu tolong ciangboenjin memaafkan aku.”

“Kami justeru berterima kasih kepadamu, hiocoe,” Coe In Am coe menjawab. “Nah persilahkanlah!” Ang Kie Tam Gee sudah lantas kibarkan benderanya, lalu terdengar suitan, segera delapan buah perahunya bergerak untuk memutar diri, untuk terus berlayar pergi, dengan laju sekali.

Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe mengawasi sampai pihak penyambut itu sudah pergi jauh. Mereka tahu, itulah pihak penyambut yang terakhir. Setelah itu, Eng Jiauw Ong berkata kepada Ay Kim Kong Na Hoo, yang tadi mengumpatkan diri didalam perahu “Kelihatannya sempurna jugalah penyambutannya Liong Tauw Pang coe dari Hong Bwee Pang terhadap kita, inilah menyatakan licinnya Thian lam It Souw Boe Wie Yang. Disepanjang jalan kita diganggu, dia tetap berpura pura tak tahu menahu, maka itu sekarang, selagi kita mendekati Cap jie Lian hoan ouw, mesti kita waspada. Tak mungkin disini tak ada penjagaan2 rahasia, sebab ini adalah daerah nya yang terpenting. Dimuka umum dia berlaku manis budi, siapa tahu dalam hati sanubari nya? Pendapatku haruslah kita tetap berjaga2.”

Na Hoo manggut, ia benarkan saudara seperguruan itu. “Aku sangsi yang Boe Wie Yang masih mengandung

maksud jelek terhadap kita,” Coe In Am coe pikir sebaliknya. “Dia benar licin, dia berpura2 tak tahu menahu atas perbuatan orang orangnya, tetapi disini, ditempat nya yang penting, aku percaya dia mesti lindungi nama baiknya. Kalau toh disini ada ancaman bencana, itu mungkin ada ancaman yang sewajarnya mengingat tempat memangnya berbahaya.”

Dua2 Eng Jiauw Ong dan Na Hoo membenarkan anggapannya pendeta dari See Gak ini.

Setelah itu, Eng Jiauw Ong minta Kan In Tong menitahkan untuk barisannya berangkat. Mereka telah melalui kira2 satu lie, lantas kelihatan sungai seperti berubah, yalah tikungan jadi bertambah dan cabang sungai kelihatan beberapa buah, karena ini, barisan maju dengan hati2 dengan tujuan langsung barat selatan. Kapan mereka telah lewati lima buah muara kecil, sampailah mereka dibahagian sungai yang mulutnya sempit penuh dengan rumpun hingga perahu tak bisa jalan berendeng dua, perahu2 Garuda mesti berbaris satu2.

Lagi satu lie kira2, tujuan menjurus kearah selatan, lalu menikung terus, hampir seper jalanan satu jam. Menampak itu, Eng Jiauw Ong sangat mendongkol. Ia insyaf inilah daerah alam yang berbahaya dari Cap jie Lian hoan ouw. Masuk disiang hari ada demikian sukar, maka entah bagaimana sukarnya diwaktu malam. Siapa tak akan kesasar disini dan menemui keruntuhannya?

Segera barisan Garuda Terbang menghadapi jalan cagak dua. Menampak itu, Eng Jiauw Ong mesti berpikir akan ambil tujuan.

“Jalan disini!” Kata ia, setelah ia memperhatikan kedua jalan cabang itu.

Semua perahu jalan “dengan melawan air deras, jalanan masih tetap sempit, kedua tepi berumput tebal. Layar2 pun sering membentur pepohonan, yang cabangnya seperti mengarungi sungai. Tetapi semua perahu maju terus, anak buah. Dari Garuda Terbang hunjukkan ketabahan dan keuletannya.

Untuk setengah jam anak Soe Soei merasai perahu jalan lambat dan meminta tenaga, mereka tak tahu apa sebabnya, mereka hanya menduga mesti ada sebabnya. Mereka maju terus, melewati dua muara, setelah itu, lagi setengah panahan jauhnya baharulah gelagah kurangan, permukaan air jadi terlebih lega. Tetapi sebagai gantinya, jauhnya dua panahan disebelah depan, mereka lihat sesuatu yang me n yangsikan, maka Kan In Tong segera diberitahukan, untuk pemimpin itu memeriksa sendiri.

Kan In Tong segera pergi keperahu paling depan, sementara itui ia telah titahkan pertahankan lajunya barisan. Rupanya disebelah depan ada sebuah pintu kota atau benteng air, sebuah pelabuhan yang merupakan pintu berkarang dikiri dan kanan. Karena ini, segera ia menyampaikan warta kepada Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe. Ia nyatakan ingin menyakslkan sendiri dahulu.

Kedua ketua Hoay Yang Pay dan See Gak Pay itu lantas keluar, untuk melihat sendiri.

Jarak mereka sekarang kira2 sepanahan lagi.

“Ya, itulah bukan air sewajar nya,” kata Eng Jiauw Ong. Ia mau percaya dimulut pelabuhan itu ada dipasang parit sembunyi.

Waktu itu Kang Kiat, yang berada dibelakang, telah datang menghampirkan. Ia heran perahu dijalankan pelahan. Ia justeru lihat In Tong dengan pakaian berenang sedang siap untuk terjun keair, untuk melakukan penyelidikan.

“Eh, Kan Soesiok, kau hendak bikin apa?”tanya boca ini.

“Lihat kota air itu jawab In Tong sambil menunjuk kedepan. “Air ada demikian deras, aku kuatir perahu kita sukar maju melewatinya. Aku ingin melihat dulu”

“Aku akan temani kau, soe siok,” kata Siauw Liong Ong, yang berdandan dengan segera. Sebenarnya ia selalu siap sedia dengan pakaian mandi, yang ia cuma lapis dengan pakaian luar. Dilain saat, keduanya telah terjun kedalam air, dengan gerakan “In lie hoan sin” atau “Jumpalitan didalam mega,” kepala dibawah, kaki diatas. Kalau In Tong ada dari buah pendidikan belasan tahun, Kang Kiat adalah kepandaian wajar, hingga gerakannya beda sedikit, akan tetapi tak kalah gesitnya. Keduanyapun tak menyebabkan air muncrat keras dan berisik. Sekejab saja mereka telah berenang selulup jauhnya lima enam tumbak, setelah mana mereka muncul sebentar untuk bernapas, lalu selulup pula.

In Tong dan Kang Kiat maju dengan cepat tetapi berhati2, dengan lekas mereka telah mendekati pelabuhan. Mereka merasakan tamparan air keras sekali. In Tong kasi tanda dengan tangan kepada kawannya, lalu keduanya timbulkan diri. Dimuka air tak ada seorang juga.

“Disini tidak ada perahu, tidak ada orang juga kata Kang Kiat. “Aku menduga tentu didalam air ini mesti ada perintang. Mari kita maju dari samping, dari tengah bisa berbahaya. Kalau musuh bisa mundar mandir disini, mustahil kita tidak.”

In Tong menyatakan akur. Lalu tanpa kata apa? Lagi, keduanya mencar kekiri dan kanan, untuk maju. Benar2 air sangat deras, dua tiga kali mereka terdampar mundur. Dengan berpegangan pada karang, mereka bisa kumpul tenaga. Damparan air disitu ada berisik sekali, mereka tak usah berkuatir suara berenang mereka akan terdengar orang.

Kemudian In Tong menunjuk kedalam air, lantas ia selulup. Kang Kiat pun berbuat demikian akan dekati kawan itu. Segera mereka dapat kenyataan, air paling cetek ada dua tumbak, lalu empat tumbak dan paling dalam belasan tumbak. Keduanya maju mendekati mulut pelabuhan. Matanya Kang Kiat lebih awas, segera ia tampak pintu air, yang dipasang di dasar sungai. Jadi inilah yang membuat air keras sekali mendamparnya. Air disebelah dalam tertahan, lalu keluarnya nerobos memaksa. Disebelah dalam mesti ada sumber air yang besar dan lebar, mungkin asalnya dari atas gunung atau air tumpah, yang turun menjadi satu dimulut pelabuhan ini.

In Tong mendekati pintu air, ia memeriksa sambil me raba2. itu adalah daun pintu terbuat dari besi, yang beratnya diatas seribu kati. Tak gampang akan singkirkan pintu air itu. Maka keduanya lantas timbulkan diri dimuka air.

“Kan Soesiok, aku tak percaya pintu air ini ditutup dan dibuka dengan andalkan tenaga manusia.” Kang Kiat nyatakan. “Mari kita cari pesawatnya”.

“Akupun menduga demikian,” sahut In Tong. “Tetapi apa tak bisa jadi, ada lain jalanan lagi?...”

“Marilah kita periksa dulu,” kata Kang Kiat.

Kembali mereka selulup, akan rabah pintu air, akan merayap maju. Mereka memisah diri kekiri dan kanan. Dengan lantas mereka kena pegang rantai besi yang kasar, yang berpokok kepada karang, maka itu mereka merayap lebih jauh mengikuti rantai itu, sampai mereka muncul dimuka air, ditepinya gunung. Disini, ujung rantai tertutup dengan pepohonan, hingga tak dapat terlihat dari pandangan mata. Memeriksa itu, In Tong dapati bahwa tempat itu ada buatan manusia. Dilain ujung, rantai menempel kepada roda, yang ada tihang palangannya. Sedikitnya empat lima orang baharu bisa putar roda itu.

In Tong panggil Kang Kiat, ia tanya kawan ini apa yang dapat dilihatnya. Siauw Liong Ong menyatakan dapatkan pesawat yang serupa. Keduanya tak mau mencoba coba memutar roda itu, maka atas usul In Tong, mereka hendak selulup pula buat pulang, akan kasi laporan pada ketua mereka, “Soesiok, aku berangkat duluan!” Kata Kang Kiat, yang segera mendahului terjun. Apamau tubuhnya membentur gelombang, tubuh itu terdampar, lalu selam kelam.

In Tong saksikan itu, ia terkejut.

“Kalau dia tenggelam terus didalam gelombang….” Pikir dia dengan ibuk. Karena ini, lekas2 ia terjun untuk menyusul. Ia mencari dengan hati kebat kebit. Ia telah maju lima enam tumbak tanpa. Hasil. Ketika ia sampai diperahunya yang terdepan, baharu hatinya lega, Disitu ia dapatkan Kang Kiat sedang bersihkan air dipakaiannya.

“Soesiok, lekas naik, soecouw semua sedang menantikan kau, untuk dengar keteranganmu”, kata Siauw Liong Ong, yang ternyata telah sampai terlebih dahulu dengan tak kurang suatu apa. Sebab ia terdampar air untuk terus selulup jauh…

In Tong menghela napas.

“Kang Lauwtee, kau bikin aku berkuatir,” kata ia. “Lain kali jangan kau main2 begini rupa, atau aku takut akan berjalan pula bersama sama kau…”

Tetapi si boca tertawa.

“Aku tidak tahu sebenarnya soesiok sangat pikirkan aku,” kata ia. “Baik, soesiok, lain kali aku akan bicara dahulu kepada soesiok apabila aku hendak lakukan sesuatu”

In Tong tertawa. Ia lantas naik.

“Kau telah ketemu ketuamu?” ia tanya. “Ya. Mereka sedang tunggui soesiok!” In Tong gebrikkan air ditubuh nya, lantas ia pergi keperahu besar. Kang Kiat ikut bersama. Disana Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe asyik menantikan.

“Banyak cape, Kan Soehoe!” Ketua Hoay Yang Pay menyambut. “Kang Kiat telah tuturkan, tanpa tenaga besar, pintu air itu sukar untuk dilayani. Soehoe telah berpengalaman, daya apa soehoe ada punya?”

“Aku cupat pikiran, aku tak punya daya,” sahut In Tong dengan cepat sambil merendah. “Baik kita coba dengan dua perahu cepat, delapan anak buah pilihan serta empat boesoe yang bertenaga enam sampai tujuh ratus kati, untuk angkat pintu air itu. Kalau kita tak berperahu besar, tak usah kita bertindak begini. Bagaimana pikiran loosoe pribadi?”

Sehabis mengucap demikian, In Tong, segera berpaling pada Coe In Am coe, dengan hormat ia kata “Soe thay, maafkan kelancanganku”

Eng Jiauw Ong manggut begitupun Coe In.

“Memang kita harus bertindak demikian,” ketua. Hoay Yang Pay berkata. “Silahkan soehoe pilih orangnya!”

In Tong terima tugas itu, ia lantas undurkan diri. Eng Jiauw Ong pun ajak Coe In masuk ke dalam perahu, untuk bicarakan meminta Ban Lioe Tong bersama2 Ciong Gam, Chio In Po dan Teng Kiam membantu In Tong. Latihannya Lweekang dari empat orang ini telah mencapai kesempurnaan. Soe touw Kiam diperintah undang empat orang itu kepada siapa, setelah mereka datang, dimajukan permintaan bantuan itu. Lebih dulu dari itu, Eng Jiauw Ong jelaskan rintangan pintu air itu.

“Buat angkat pintu air seribu kati, mungkin tak menjadi soal,” kata Lioe Tong. “Akan tetapi aku tak pandai berenang, ini bisa menggagalkan” Mendengar itu, Coe In Am coe tertawa.

“Siok beng Sin Ie yang tersohor dalam dunia kang ouw mengucap begini rupa, inilah aku belum pernah dengar!” Kata pendeta wanita ini. “Jangan kuatir. Ban Loosoe, anak2 dari Soe soei akan antar soe tee, mereka pasti tidak akan antar kau terus sampai diistana raja naga untuk menghadiri pesta didasar laut. Tentang keselamatan Ban Loosoe, aku si pendeta tua suka menanggungnya.”

Eng Jiauw Ong dan Na Hoo tertawa mendengar niekouw ini berlelucon, Lioe Tong pun bersenyum.

Segera setelah. itu, In Tong datang untuk memberitahukan ia sudah bersiap sedia.

Eng Jiauw Ong memberi hormat pada Chio In po dan Teng Kiam.

“Jiwie loo piauwsoe, banyak cape!” Kata ia.

“Ongloosoe terlalu sungkan!” Jawab dua piauwsoe itu. “Baiklah, sampai sebentar bertemu pula.”

Kedua piauwsoe ini bersenyum, suatu tanda ia tak bersangsi sedikit juga.

Lantas empat orang itu bertindak, akan mengikuti In Tong.

Eng Jiauw Ong bertiga Na Hoo dan Coe In Am coe mengantar sampai diluar.

Dua buah perahu cepat sudah siap, setiap perahunya ada empat anak buahnya, semua rata2 dari usia dua puluh lebih, kelihatan gagah dan gesit, mengenakan pakaian mandi, alatnya adalah penggayu.

Lioe Tong betempat memecah diri akan naik kekedua perahu, yalah Lioe Tong bersama Chio In Po, Ciong Gam bersama Teng Kiam. “Mari kita jalan didepan!” In Tong mengajak Kang Kiat. Kemudian ia pesan Eng Jiau w Ong. “Ong Loosoe, kami, harap jangan berayal lagi, begitu pintu air diangkat, segera nerobos masuk. Tolong jaga supaya musuh tak menggunai tipu daya lainnya!”

Eng Jiauw Ong manggut.

“Baiklah, aku akan bersiap. Rasa nya tak akan gagal!” Jawabnya.

In Tong beri tanda pada anak buah dari kedua perahu cepat, setelah itu berbareng bersama Kang Kiat, ia terjun keair untuk berenang selulup, akan membuka jalan untuk dua perahu cepat itu yang pun segera berangkat, delapan anak buahnya menggayu dengan rapi dan cepat, hingga seumpama terbang kedua perahu maju melawan air yang deras.

Bagaikan ikan2 besar, In Tong dan Kang Kiat maju terus, kedua perahu mengikuti mereka. Anak buah perahu mesti peras keringat selagi mendekati mulut pelabuhan dimana air deras luar biasa, tetapi mereka maju terus. Tatkala mereka sudah maju lagi dua tiga tumbak, mendadakan perahu mereka menjadi sangat enteng, arus deraspun reda dengan tiba2. Tentu saja mereka jadi heran tak kepalang.

Sementara itu, barisan perahu Garuda Terbang pun telah mengikuti mereka.

Ban Lioe Tong dan Ciong Gam, yang tak kurang herannya, mengawasi kemulut pelabuhan, lalu dengan tiba2 mereka perdengarkan seruan “Eh!”

“Lihat, Chio Soehoe!” Kata Siok beng Sin Ie kemudian. “Apa benar orang telah singkirkan pintu air, untuk mengasi kita lewat?” Chio In Po mengawasi kedepan, ia tampak seperti sebuah tembok hitam terangkat naik, makin tinggi dan makin tinggi. In Tong dan Kang Kiat pun lihat pintu air diangkat, tetapi sebelum dapat kepastian, mereka tidak mau mundur dulu untuk memberi kabar, sebaliknya mereka maju lebih jauh. Begitulah mereka saksikan pintu air telah terangkat habis.

Insyaf pada ancaman bencana, In Tong memikir buat mengajak Lioe Tong beramai menjaga dipusat pintu air, dengan begitu bisa dicegah apabila nanti pinta air diturunkan pula dengan sekonyong2 untuk mencelakai mereka yang sedang lewat. Karena ini, bersama Kang Kiat ia maju terus. Disaat ia ikuti rantai untuk naik lebih jauh, tiba2 ia dengar suara tertawa diatasan kepalanya.

“Kau datang kebelakanganl” demikian suara ejekan itu. “Lekas maju lewat disini secara merdeka! Buat apa main sembunyi sembunyi apa macam?”

“Siapa kau?”In Tong tanya. “Harap kau tidak main2!” “Eh, siapa main2 kepadamu?”ada jawaban dari atas.

“Benar2 tak tahu malu! Kau turunlah!”

Menyusul itu menyamber turun segabung rotan berduri, mengarah kepalanya Soe Soei Hie kee hingga terkejut, syukur ia keburu berkelit. Walaupun demikian, ia tidak berani lancang mendamprat, sebab teranglah, dari lagu suaranya, orang diatas itu bukan nya musuh. Setelah itu, kesunyian pun memerintah disitu.

Sampai sekian lama keadaan tetap sunyi, maka In Tong panggil Kang Kiat, untuk mengajak kawan ini naik terus, hingga kemudian mereka dapatkan, rantai benar telah berputar naik. Tak ketahuan siapa sudah mengangkat pintu air itu. CVII

“Heran,” pikir Kan In Tong, yang tidak berani berdiam lama disitu, lalu cepat cepat ia ajak Kang Kiat kembali untuk kasi laporan pada Ban Lioe Tong beramai, supaya pasukan perahu mereka menggunai ketika itu akan masuk kedalam pelabuhan.

Maka itu, begitu melewati pelabuhan, rombongan Soe Soei Hie kee segera dapat lihat ada sebuah bangunan mirip kota disebelah depan mereka.

Segera juga muncul dua belas perahu yang melakukan penyambutan, yang kemudian berbalik, untuk menjadi pengantar disebelah muka.

Sampai didepan sebuah bentengan, perahu yang didepan melepaskan dua panah nyaring, lalu dua buah .perahu kelihatan keluar untuk mementang pintu benteng, yang merupakan pagar2 bambu. Setelah ini, kedua perahu itu masuk pula kedalam.

Kini pasukan Garuda Terbang telah mulai memasuki Cap jie Lian hoan ouw. Semua orang berdiam didalam perahu, tetapi mereka memandang keluar, akan saksikan sepanjang jalan, sekitar mereka. Dikedua tepi berdiri tembok2 gunung dengan lobang2 guhanya, tetapi tak kelihatan ada penjaganya.

Maju lebih jauh dua panahan, didepan ada kedapatan dua puluh perahu besar dengan masing2 dua batang layarnya. Semua perahu ini beda dengan yang dua belas perahu pengantar, mereka ada mentereng sekali.

Didaratpun tertampak dua baris bangunan rumah kayu, yang sederhana pembuatannya. Didepan dan belakang dua baris bangunan itu ada ditanami bunga2 dan rumput, hingga nampaknya semua hijau terang.

Selewatnya dua baris bangunan itu, sungai terapit dengan pepohonan besar, yang merupakan semacam rimba terawat, hingga bagian tengahnya mirip seperti pintu. Dari dalam mana muncul dua puluh pemuda yang roman nya gesit, pakaiannya serupa dan rapi sekali. Itulah baju dan celana pendek, betis terbungkus, sepatu baru, ikat kepala hijau. Kecuali mereka menggendol panah jepretan dan kantong piauw, tangan kiri mereka masing2 pun menyekal sebatang golok Kwie tauw too. Mereka berdiri berbaris didepan rumah kayu itu. Setiap delapan pemuda itu ada satu yang pegang bendera sulam yang kecil, persegi tiga.

Disini, dua belas perahu pengiring lalu berbaris empat2, menjadikan tiga baris. Selagi barisan perahu lewat, tiga bendera di kibar2kan, dibalas oleh yang didarat, mereka ini berbuat demikian sambil menjura.

Semua perahu masih maju, hanya sekarang barisan pengiring mulai pelahankan jalannya. Barisan Garuda Terbang pun sudah turunkan layar. In Tong diam2 pesan orang2nya untuk melihat saja sambil tutup mulut, jangan perdulikan apa juga kecuali ada dari titahnya, Coe In Am coe telah perintah In Tong mengenakan thungsha baju panjang padanya diberikan karcis nama See Gak Pay.

Dipihak Hoay Yang Pay, Eng Jiauw Ong tugaskan Hoa In Hong sebagai wakilnya, untuk temani Soe Soei Hie kee.

Maka itu, setelah berdandan rapi, kedua utusan lantas pergi keperahu depan.

Dipihak tuan rumah, segeralah perahu2 mereka bergerak gerak akan mengatur diri dalam barisan yang rapi. Disebelah selatan ada dua puluh delapan buah menghadapi kearah timur utara, dan disebelah utara ada lima puluh enam buah, menghadap ke timur selatan. Ditengah tengah mereka ada perairan luasnya enam belas tumbak. Inilah untuk pasukan perahu tetamu menempatkan diri. Barisan pengantar maju sampai mendekati daratan. Perahu2 Garuda Terbang berlabuh ditempat jaraknya lima enam tumbak dari tepi. Adalah disini, seraya mengangkat naik karcis nama mereka, Kan In Tong minta disampaikan warta hal kedatangannya kepada Liong Tauw Pang coe dari Hong Bwee Pang.

Tidak ada jawaban dari pihak penyambut, hanya dari sebuah perahu penyambut yang terbelakang, seekor burung dara putih terbang keudara, dikakinya ada terikat sepotong kertas. Sebentar saja burung itu telah terbang masuk kedalam benteng tembok kota terbuat dari bambu yang tercat hijau mengkilap, jauhnya dari tepian ada kira2 sepanahan, pintu bentengnya lebar sekali, samar2 didalamnya tertampak banyak pepohonan. Tidak kelihatan ada penjaga di pintu benteng itu.

Begitu lekas burung dara itu masuk kedalam benteng, segeralah terdengar suitan, lalu dari dalam benteng muncul dua barisan chungteng mereka tidak berlari lari terus kearah sungai, hanya berdiri berbaris dalam dua baris ditempat tiga empat tumbak dari pintu benteng. Pakaian mereka ini seragam warna hijau, ikat betisnya hijau putih, sepatunyapun hijau bergaris putih, kepala mereka dibungkus dengan pelangi hijau. Didada mereka, yang ditinggal kosong dan putih, ada terlukis seekor burung, entah burung apa. Sesuatu dari mereka menyekal sebatang tumbak yang ujungnya tajam dan berkilauan.

Sehabis mereka ini, keluar pula empat pengiring, yang mengiringi satu orang tua berumur kira2 lima puluh tahun, yang kulit mukanya putih, kumisnya pendek, matanya bercahaya. Dia ini tidak memakai kopiah, bajunya panjang, kaos kakinya putih, sepa tunya tersulam huruf “Hok” “rejeki”. Dengan kipas ditangan, dia bertindak tenang sekali, sebagai juga satu sasterawan asal Kanglam atau seorang pertapaan. Ia menuju langsung ketepi sungai. Salah satu pengiringnya mendahului lari kepada rombongan penyambut disebelah depan, entah apa yang diucapkan, setelah itu, ia tidak kembali hanya berdiri menantikan.

Adalah setelah ini, Kan In Tong dan Kca In Hong dengar jawaban. Salah seorang Hong Bwee Pang segera menghadapi pihak tetamu dan berkata “Hiocoe dari Kim Tiauw Tong Hong Bwee Pang mengundang barisan perahu Hoay Yang Pay dan See Gak Pay untuk berlabuh dipinggiran”.

Kan In Tong berikan jawabannya, sesudah mana, ia beri titah akan barisannya mulai pinggirkan diri, untuk menepi dan berlabuh. Titah ini diturut dengan rapi.

Kedua perahu Garuda besar, yang menjadi markas dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, berlabuh tidak menempel kepada tepi, dari itu, untuk mendarat, In Tong siapkan dua perahu cepat. Telah ditetapkan kedua ketua akan mendarat ber sama2, karena Boe Wie Yang telah mengutus satu hiocoe yang berkedudukan tinggi. Te tapipun telah diatur untuk tidak semua orang turut bersama.

Demikian, disebelah Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe, akan turut Ban Lioe Tong, Na Hoo, Kan In Tong dan Hoa In Hong, demikian juga Soe touw Kiam, Ciok Bin Ciam dan Kee Pin selaku pengiring. Semua orang tak diijinkan membawa senjata, malah pedang Tee sat Cian liong kiam dari Siok beng Sin Ie pun dibungkus rapi, diserahkan kepada Ciok Bin Ciam. Coe In Am coe wajibkan muridnya yang ke lima, yalah Sioe Beng atau Yo Hong Bwee, untuk senantiasa mendampingi ia. Nona ini memakai juba suci, rambutnya dilepas teruai kebelakang, ditutup dengan kopiah hijau. Ini artinya dia adalah murid pendeta yang memelihara rambut. Memang, sejak lolos dari Hok Sioe Tong, Hong Bwee diwajibkan selamanya berdamping kepada gumnya itu, untuk gurunya bisa lindungi ia apabila ia terancam bahaya, kalau2 pihak Hong Bwee Pang tetap tak puas dan arahi padanya. Adalah Hong Bwee yang gendol pedang Tin hay Hok po kiam kepunyaan gurunya, pedang manapun dibungkus rapi. Disebelah Sioe Beng baharulah mengiring Sioe Seng, Sioe Sian, Sioe Lok dan Sioe Hoei, empat murid lainnya.

Begitulah, dari perahu besar orang naik kekedua perahu kecil, untuk mendarat.

Didarat, hiocoe wakilnya Boe Wie Yang, bersama empat pengiringnya, maju menyambut ditepi, salah satu pengiringnya serukan “Ouw Hiocoe kami dari Kim Tiauw Tong dengan hormat mengundang ciangboenjin dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay untuk mendarat guna membikin pertemuan!”

Sebentar saja kedua perahu cepat telah menempel kepada tepi, papan untuk mendarat segera dipasang, maka Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe lantas bertindak kedarat, diturut oleh Ban Lioe Tong semua.

“Hoay siang Tayhiap, sejak perpisahan kita apakah kau ada banyak baik?”demikian kata2 pihak hiocoe penyambut sambil tertawa gembira. “Aku si orang she Ouw sudah lama menantikan kau!”

Eng Jiauw Ong kenali hiocoe itu yalah si tukang tenung Ouw Poan Tian dari rumah makan Bong Kang Lauw lekas2 ia angkat kedua tangannya untuk membalas hormat. Apun bersenyum ketika ia menyahuti, “Ouw Hiocoe, sejak kau menghilang dari rumah makan, segera aku mengerti bahwa kau sedang bersandiwara, sampai kau meninggalkan suratmu, aku menyesal, karena lenyaplah ketika untuk bersahabat. Memang aku tahu hiocoe adalah tong tay kie hiap, orang gagah aneh dari jeman ini, maka setelah sekarang kau memperlihatkan dirimu, aku si orang she Ong merasa sangat berbahagia!”

Coe In Am coe pun memberi hormat seraya berkata “Aku si pendeta tua dari See Gak pun merasa berbahagia telah menerima undangan dari Liong Tauw Pang coe untuk melihat2 Cap jie Lian hoan ouw. Sekarang tolonglah Ouw Hiocoe perkenankan kami menemui dahulu kepada Liong Tauw Pang coe, hal itu akan membuat kami merasa beruntung sekali.”

“Oh ini jadinya ada Coe In Taysoe?” kata Ouw Giok Seng sambil bersenyum. “Dengan mengandal pada Tin hay Hok po kiam, Taysoe telah memimpin See Gak Pay, nama Taysoe telah menggetarkan Selatan dan Utara sungai Besar, hingga kaum Rimba Persilatan tak ada yang tak mengagumi nama besar Taysoe! Sekarang Taysoe telah sudi mengunjungi Cap jie Lian hoan ouw, sungguh ini adalah suatu kehormatan besar bagi Hong Bwee Pang! Kamipun bersyukur yang jiewie beramai, dengan melampaui perjalanan jauh ribuan lie, dengan tidak mengenal cape lelah, sudah melimpahkan kepercayaan.”

Eng Jiauw Ong minta hiocoe itu tidak merendahkan diri lebih jauh, sesudah mana, ia memperkenalkan Siok beng Sin Ie Ban Lie e Tong dan Ay Kim Kong Na Hoo.

Ouw Hiocoe merangkap kedua tangannya dengan terburu2.

“Oh, Na Jie hiap dari Yan tiauw Siang Hiap!” Berkata ia dengan hormatnya. “Nama jie wie dua saudara telah menggetarkan dunia kang ouw, sudah lama aku si orang she Ouw mendengarnya! Dan kau Ban Tay hiap dari Kian San Kwie in po, tidak saja ilmu silatmu ada termasyhur, juga kepandaianmu sebagai tabib ada berkenamaan. Menyesal, Ban Tay hiap, walaupun sudah lama aku ingin kun jungi kau, tak dapat aku wujudkan keinginanku itu, oleh karena tugasku didalam Lwee Sam Tong dari Cap jie Lian hoan ouw ini tak dapat aku tinggalkan. Tetapi sekarang Tay hiap telah berkunjung kemari, aku bersyukur sekali!”

Na Hoo dan Lioe Tong merendahkan diri.

“Ouw Hiocoe terlalu memuji, tak dapat kami menerimanya,” berkata Ay Kim Kong. “Tak lain tak bukan, kami cuma tumpangkan diri dalam dunia Rimba Persilatan, kami punyakan melainkan nama kosong belaka. Ouw Hiocoe adalah yang liehay ilmu silatnya, yang telah lama kami kagumi, maka sekarang kami menerima budi kebaikanmu ini, kami bersyukur sekali.”

Lalu Eng Jiauw Ong pun perkenalkan Kan In Tong, maka kedua pihakpun saling memuji dan merendah.

Kemudian Ouw Hiocoe itu berkata, “Tak bagus untuk kita beromong2 sambil berdiri saja, dari itu, silahkan masuk!” Lalu ia bertindak kesamping, untuk semua tetamunya berjalan melewati ia.

Ong Too Liong beramai, dengan berbaris rapi bertindak kedepan.

Jalanan ada bertaburkan pasir, lebarnya setumbak lebih, dikiri kanannya ada pelbagai tetumbuhan, maka keadaan disitu ada tenang dan menyenangkan.

Ouw Hiocoe serta empat pengiringnya memimpin sekalian tetamunya itu. Selama ditengah jalan, tidak ada apa juga yang tertampak mencurigakan pihak tetamu. Maka mereka semua berjalan tetap dengan tenang, sewajarnya saja.

Sesudah melalui jauhnya sepanahan, rombongan ini menghadapi tembok batu dimana ada sebuah pintu pekarangan yang besar, yang bertangga lima undak. Di kiri kanan, tembok itu panjangnya dua puluh tumbak lebih, disepanjangnya ada banyak pepohonan yang lebat. Dipintu tidak ada orang penjaganya.

Disini Ouw Hiocoe, dengan hormat mempersilahkan sekalian tetamunya masuk.

Sebagai kepala, Eng Jiauw Ong dan Coe In Taysoe bertindak masuk tanpa kesangsian sedikitpun juga.

Didepan mereka, mereka melihat sebuah kee san, gunung2an, yang tersusun atas batu2 besar, buatannya indah. Gunung2an itu duduknya di barat, menghadap ke timur. Di kedua tepinya, selatan dan utara, ada masing2 sebuah terowongan, untuk jalan masuk dan keluar.

Memasuki pintu guna utara itu, orang lihat sebuah pekarangan luas, dua puluh tumbak lebar, tiga puluh tumbak panjang, di selatan dan utaranya, berbaris bangunan rumah2 kayu yang terkurung tembok batu dan berpintu kayu. Setiap petak ada lima pintu, setiap baris terdiri dari dua puluh lima petak. Setiap petaknya ada punya satu pintu besar. Karena setiap pintu ada hurufnya, terang itu ada diambil dari kata2 “Thian kan”. Maka rumah itu, semuanya terdiri dari lima puluh petak dengan sepuluh pintu besar.

Dimuka sekali, dimana ada satu paseban tanpa wuwungan, yang menyambung kepada serambi depan, thia besar dengan sembilan ruangan dimana dimuka thia ada empat tihang lentera Khie soe hong teng serta delapan chungteng sebagai pengawal, yang seronya diangkat naik, Hiocoe Ouw Giok Seng sambil rangkap kedua tangannya undang semua tetamunya masuk kedalam ruangan tetamu.

Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe pun rangkap kedua tangan mereka masing2 untuk membalas hormat, buat sekalian menghaturkan terima kasih, setelah mana, mereka ikuti tuan rumah bertindak masuk.

Kamar tetamu ada luas sekali, pintu anginnya ada delapan, dimuka pintu tengah ada sebuah meja besar tanpa perabotan dan kursinya, hanya dikedua sampingnya ada meja lain, meja persegi tercat air emas dengan kursi thay soe ie yang sama warna catnya. Berbaris di selatan utara ada enam belas kursi.

Di utara tembok ada lagi sebuah meja besar, diatas itu tingginya satu kaki, ada para2 bendera dengan sepuluh bendera sulam persegi tiga, yang semua nya tersulam burungan garuda emas (kim tiauw). Didepan para2 bendera ini ada satu para2 kecil tempat sepuluh batang tek pay, pay dari bambu.

Disebelah Selatan ada sebuah meja tulis, yang atasnya penuh dengan perbagai kitab dan perabot tulis. Disini, diatas pintu angin, ada selembar pian kayu dengan tiga huruf biru yang berbunyi “Kim Tiauw Tong,” yang berarti “Gedung Garuda Emas”.

Didalam ruangan ini, Ouw Hiocoe undang semua tetamunya duduk seraya terus disuguhkan air teh.

Eng Jiauw Ong segera juga bicara “Aku Ong Too Liong datang ke Cap jie Lian hoan ouw ini adalah karena panggilan nya Liong Tauw Boe Pang coe. Aku telah datang memenuhi janji dengan melampaui banyak kesulitan. Kami orang2 kang ouw tak bicara dusta, maka dapat aku terangkan, perselisihan diantara Hoay Yang Pay dan Hong Bwee Pang sudah terjadi bukan cuma disebabkan urusan muridku yang bernama Hoa In Hong. Sebenarnya aku dengan Pauw Hiocoe dari Hong Bwee Pang ada punya janji sejak lima tahun yang lampau, mengenai mana ingin aku menyampaikannya kepada Boe Pang coe. Sekarang kami telah memasuki Kim Tiauw Tong, itu artinya, Ouw Hiocoe, kami telah terima kebaikanmu. Oleh karena kami menempuh jalan ribuan lie melulu untuk memenuhi undangan, sekarang aku mohon supaya Boe Pang coe suka lantas menemui kami. Untuk ini, aku Ong Too Liong akan sangat bersyukur.”

Tidak tunggu sampai Ouw Giok Seng memberikan jawabannya, Coe Tn Am coe mendahului berbangkit, akan turut bicara. “Sebenarnya peristiwa di Tong kwan, diantara Hong Bwee Pang dan Koay Yang Pay tidak mengenai pihakku, See Gak Pay, maka apa lacur, satu muridku telah kena kerembet2 bagaikan ikan kena terjaring. Segolongan tocoe dari Hong Bwee Pang sudah culik murid perempuanku itu. Sangat aku tak puas dengan perbuatannya segolongan tocoe itu. Didalam tangsi di Tong kwan, aku telah mencobanya menolong muridku, disana aku telah bentrok dengan beberapa tocoe itu, itu adalah kejadian sangat terpaksa, tak dapat aku meluputkan diri. Apamau, karenanya, ada tocoe yang telah membakar kuilku, Pek Tiok Am. Kejadian itu membuat aku sangat menyesal dan penasaran. Itulah sebabnya kenapa sekarang aku ikut Ong Soeheng datang ke Cap jie Lian hoan ouw ini. Sama sekali aku tidak berani datang untuk menegur, aku melainkan hendak mohon Boe Pang coe berikan keadilan kepadaku!”

Diwaktu mengucap demikian, wajahnya pendeta perempuan dari Pek Tiok Am ini menjadi sungguh2 sekali, menjadi keren nampaknya. Akan tetapi Ouw Giok Seng ada sangat tenang, ia bisa bersenyum seperti biasa.

“Ong Loosoe dan Coe In Tay soe, yang satu ada permusuhan baharu, yang lain persengketaan lama, semua itu adalah Pangcoe yang nanti bertanggung jawab,” katanya. “Aku Ouw Giok Seng melainkan menerima tugas untuk sambut dan layani tetamu, dari itu tak berani aku campur bicara walaupun sepatah kata. Cuma satu hal hampir aku lupa mohonkan keterangan dari jie wie. Berhubung dengan kunjungan jiewie ini, umpama ada lain tetua yang turut datang, tolonglah sekalian beritahukan hal itu kepadaku, supaya tak sampai aku si orang she Ouw berlaku tidak pantas….”

Inilah pertanyaan yang Eng Jiauw Ong harap2, maka itu segera ia keluarkan daftar nama2 rombongannya, yang ia serahkan kepada hiocoe itu dengan kedua tangannya.

“Jumlah kami semua kira2 ada tiga puluh orang,” kata ia sambil bersenyum. “Sudah sejak lama kami kagumi Cap jie Lian hoan ouw, Hong Bwee Pang punya tempat naga sembunyi dan harimau mendekam, kami semua ingin menyaksikan, untuk meluaskan pandangan mata, supaya kami tambah kenalan orang2 kang ouw luar biasa, maka itu, girang kami bisa mendapat ketika yang baik ini. Kamipun berbahagia yang atas kebaikannya Boe Pangcoe telah diijinkan pasukan Garuda Terbang turut memasuki Cap jie Lian hoan ouw ini. Kami….”

Ouw Giok Seng berbangkit dengan tergesa gesa.

“Oh, Ong Loosoe, kau terlalu merendah,” ia memotong. “Semua loosoe ini ada orang2 kang ouw kenamaan, yang tak sanggup kami mengundangnya, maka setelah sekarang mereka datang kemari, inilah satu kehormatan besar untuk kami. Kami justeru menyesal tak dapat terlebih siang daripada ini mengundang loosoe semua. Ouw Giok Seng telah berlaku kurang hormat, aku mohon maaf!”

Sehabis berkata begitu, Ouw Hiocoe serahkan daftar pada satu pengiringnya, untuk diserahkan lebih jauh kepada tocoe yang berkewajiban untuk mereka pergi menyambut semua orang pihak tetamu, supaya semua dapat berkumpul menjadi satu rombongan.

Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe haturkan terima kasih pada Ouw Giok Seng.

Hiocoe dari Kiam Tiauw Tong layani tetamunya dengan manis dan hormat, akan tetapi, kapan Eng Jiauw Ong atau Coe In Am coe minta lekas bertemu kepada Boe Wie Yang, saban2 ia kesampingkan itu. Eng Jiauw Ong tidak senang akan sikap ini, tetapi untuk sementara ia bersabar saja. Hanya, kalau mereka bicara tentang ilmu silat, nyata sekali akan pengetahuan yang luas dari hiocoe dari Gedung Garuda Emas itu, hingga ternyata, dia ada satu jago dari darat dan air. Pantaslah kalau dia disebut sebagai “kang ouw ie jin”, orang kang ouw yang luar biasa. Maka mau atau tidak di sebelahnya mengagumi, Eng Jiauw Cng pun diam2 perhatikan hiocoe yang liehay ini.

CVIII

Hiocoe Ouw Giok Seng bersama2 Liong Tauw Pang coe Thian lam It Souw Boe Wie Yang, adalah asal jago dari laut Thian lam Selatan, keduanya ada sahabat karib satu dengan lain. Diantara kawan2nya, Ouw Giok Seng dijuluki Pat pou Leng po Hay Siang Hoei hiap, yalah Jago Terbang Lautan, karena ilmunya enteng tubuh Keng kang Tee ciong soet sudah mencapai batas kesempurnaan, hingga dia paham “co siang hoei heng” (jalan seperti terbang diatas rumput) dan “tengpeng touw soei” (seberangi sungai dengan injak kapu2). Diapun mengerti ilmu surat seperti ia pandai ilmu silat. Maka, dalam hal membangunkan Hong Bwee Pang, Boe Wie Yang mengandal banyak te naganya saudara angkat ini. Karena ini juga dalam Hong Bwee Pang, Ouw Hiocoe ada berpengaruh sekali.

Dalam halnya persengketaan antara Hoay Yang Pay dan Hong Bwee Pang, terutama mengenai diculiknya murid Hoay Yang Pay, Ouw Giok Seng tidak puas, maka tempo ia dapat tahu, pun murid See Gak Pay diculik, ia lantas ketemui Boe Wie Yang untuk sampaikan protesnya. Dia tanya, apa perbuatan itu ada menuruti kehendaknya Pang coe itu sendiri atau bukan.

Boe Wie Yang sda seorang keras kepala, yang terlalu percaya kepada diri sendiri, dia tak sudi akui kekeliruannya. Mengenai diculiknya murid See Gak Pay ia akui, hanya ia tak sangka murid itu adalah murid perempuan. Ia bilang, ia cuma tahu See Gak Pay memang terima juga murid murid orang biasa.

“Tetapi dua2 Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, yang besar pengaruhnya, ada memandang tak mata kepada kita Hong Bwee Pang, dari itu sengaja aku culik murid mereka, untuk dijadikan umpan, agar ketua mereka memasuki Cap jie Lian hoan ouw, supaya disini kita bisa putuskan persengketaan kita,” demikian Boe Wie Yang. “Sekarang tidak ada jalan lain kecuali kita juga hunjuk pengaruh kita!”

Mendapat jawaban itu, Ouw Giok Seng hunjuk lebih jauh pada ketuanya

“Hong Bwee Pang berpengaruh, itu disebabkan semua orang menghargai Pang coe,” ia kata, “akan tetapi mengenai diculiknya murid2 Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, ada beberapa tocoe kita dibahagian Barat yang tak puas, mereka anggap tindakan itu tidak tepat, inilah harus Pang coe ketahui. Kita memang percaya, untuk menghadapi Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, tenaga kita cukup, tetapi disebelah itu, jangan kita sangkal bahwa pihak lawan adalah tanggu semua, maka itu, kita mesti berlaku hati2, supaya tak sampai kita mendapat malu. Aku sekarang mohon perkenan akan cari tahu halnya beberapa tocoe untuk ketahui sikap mereka, supaya kita bisa cegah usaha kita ini nanti gagal karenanya….”

Boe Wie Yang percaya Ouw Giok Seng telah dapatkan laporan dari orang kepercayaannya, maka itu, ia tidak mau mendesak, ia cuma berikan perkenannya untuk hiocoe itu melakukan penyelidikan terlebih jauh.

Ouw Giok Seng lantas berkelana dengan ajak empat pengiringnya. Ia telah menyamar, ia perintah sewa perahu nelayan untuk perjalanan penyelidikannya itu. Tak ada orang Hong Bwee Pang lainnya yang ketahui perjalanan rahasia dari hiocoe dari Kim Tiauw Tong ini, yang menyamar sebagai satu sasterawan yang sedang pesiar. Anak2 perahunya adalah empat pengiringnya itu. Diwaktu siang, ia cuma ajak dua pengiringnya, adalah diwaktu malam, ia ajak semua empat2 nya. Maka perahunya bisa laju sangat cepat, ia dapat pergi kemana ia suka dalam tempo yang pendek. Begitulah, dalam tempo dua hari, ia telah sampai di Sek coe kwan, kota perbatasan antara dua propinsi Ciatkang dan Anhoei.

Ouw Hiocoe ada pintar dan cerdik, bisa sekali ia umpatkan diri. Disepanjang jalan ke Sek coe kwan itu, ia telah berhasil mencari tahu sepak terjangnya sebelas tocoe cabang. Kemudian, ia kumpulkan mereka di Sek coe kwan dan berikan pelbagai titah rahasia kepada semua tocoe itu. Seban2 telah digunakan burung dara untuk menyampaikan segala berita dan titah. Dibahagian Barat, dimana ada dua belas tocoe, tocoe kepala adalah Twie hoen souw Hong Loen. Masuk dalam kekuasaannya Hong Loen ini ada Liok kee po, pusat rangsum di Barat itu. Disini Ouw Hiocoe selidiki tingkah lakunya Hong Loen serta Lie touw hoe Liok Cit Nio dari Liok kee po, juga tentang sampai dimana murid2 Hoay Yang Pay dan See Gak Pay telah diangkut pergi. Semua warta dikumpulkan di Sek coe kwan.

Ouw Hio coe ada bersikap adil dan keras, mengenai pihak yang bersalah, tak ragu lagi ia menjatuhkan hukuman, dari itu, semua sebawahannya taat kepada segala titahnya. Sebab ia dimalui dan dihormati dengan berbareng.

Demikian segala kejadian di Liang Seng San, perihal sepak terjangnya Hong Loen Hong Cit ya, si Orangtua Pengejar Roh, serta perbuatannya Liok Cit Nio dapat diketahui dengan jelas. Dan Ouw Hio coe ketahui juga tentang kedua pihak Hoay Yang Pay dan See Gak Pay telah berdaya untuk menyusul dan menolongi murid2nya ditengah jalan.

Semua perbuatan orang2 Hong Bwee Pang itu tidak menyenangi Ouw Hiocoe, maka dia telah catat segala hasil penyelidikannya dalam sebuah laporan. Dia telah pikir, kalau nanti persengketaan Hoay Yang Pay dan See Gak Pay sudah dapat diselesaikan, dia hendak hukum semua tocoe yang keliru sepak terjangnya itu.

Selama penyelidikannya ini, Ouw Hiocoe telah ketemu Eng Jiauw Ong ketika ketua Hoay Yang Pay itu dengan di Tong peng pa Ciatkang Selatan. Seperti kita ketahui, dengan menyamar senagai tukang tenung, Giok Seng telah ganggu Tee touw Hee houw Eng, hingga ia berhadapan sendiri dengan Eng Jiauw Ong, tetapi dengan tetap ia menyambut hingga, sebelum ia meninggalkan surat, Eng Jiauw Ong tak tahu siapa sebenarnya si tukang tenung tetiron itu. Seandainya tidak ada berbagai perbuatan curang dari pihak beberapa tocoe, mungkin Ouw Giok Seng bantu merintangi rombongan Eng Jiauw Ong dalam perjalanannya ini.

Pencegatannya Kwie eng coe Thong Siang Ceng dan See coean Siang sat terhadap barisan perahu Soe soei ada diluar dugaannya Ouw Hiocoe, setelah ia lihat cahaya api, baharu ia dapat tahu sesudah kasep, maka segera ia keluarkan perintahnya akan hentikan penyerangan gelap itu. Ouw Hiocoe gusar sekali karena penyerangan gelap ini. Dimatanya, itulah merendahkan derajat Hong Bwee Pang. Sedang maksudnya Boe Wie Yang adalah pertontonkan kedudukannya Hoen coei kwan dan Cap ji Lian hoan ouw kepada musuh supaya musuh kagum dan jeri. Karena ini, Ouw Hiocoe lantas menitah untuk singkirkan perbagai penghalang kecuali pintu air, hingga dengan gampang barisan Soe Soei Hie kee memasuki Cap jie Lian hoan ouw, sesudah mana, ia keluar menyambut sendiri kepada pihak tetamu musuh itu.

Demikian setelah titah undangan Ouw Hiocoe, yang serahkan daftar nama tetamu kepada sebawahan nya, kepada empat tocoe, tak lama kemudian datanglah rombongannya Lou lam Lopiauw soe Hauw Tay, Pak louw Piauwsoe Chio In Po, Kim too souw Khoe Beng, Piauwsoe Teng Kiam, Kanglam Piauwsoe Ngo Cong Gie, Sam cay kiam Soe ma Sioe Ciang, Hoei too Louw Kian Tong, Sin koen Ke Siauw Coan, Lioe Hong Coen, Kee Giok Tong, Soen Giok Koen, Soen Giok Kong, Wie Sioe Bin, Kim Jiang, Phang Yok Bocn, Phang Yok Sioe, Kang Kiat. Ciok Bin Ciam dan Hee houw Eng. Semua mereka ini sampai diserambi dimana Ouw Hiocoe sambut mereka dengan hormat. “Coewie loosoe, kunjungan kau sekalian ini kepada Cap jie Lian hoan ouw telah menambah muka terang bagi Hong Bwee Pang, melainkan sayang aku Ouw Giok Seng tak dapat menyambut dari jauh2, aku menyesal sekali”, demikian hiocoe yang ramah tamah itu. “Persilakan!”

Semua tetamu itu membalas hormat, antaranya ada yang kata, wakil tuan rumah itu terlalu sungkan.

Lantas semua orang duduk di dalam Kim Tiauw Tong, kecuali mereka yang termasuk sebawahan, yang pada mendampingi ketua mereka masing2.

Ban Lioe Tong segera perkenalkan Ouw Giok Seng kepada satu per satu rombongannya itu.

Tidak lama datang dua orang, yang berbisik pada Ouw Hiocoe, setelah mana, hiocoe ini undang sekalian tetamunya akan hadirkan satu perjamuan tak berarti yang ia adakan untuk kehormatannya pihak tetamu.

“Jangan berabekan diri, Hiocoe,” kata Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe. “Tolong kau mintakan supaya Boe Pang coe menemui kami, setelah urusan kami selesai, masih banyak hari untuk kami menggerecoki Hiocoe.”

Ouw Giok Seng bersenyum,

“Sekalian loosoehoe,” berkata ia, “dari tempat ribuan lie kau beramai telah kunjungi kami, walaupun kami ada orang2 kasar, tak dapat kami perlakukan tak selayaknya kepada tetamu2nya, dari itu aku mohon, janganlah sekalian loosoe sungkan2, marilah kita berjamu. Untuk pertemuan dengan Pang coe tak usah sekalian loosoehoe tergesa2, setelah perjamuan itu, aku masih hendak mohon pengajaran apa2 dari sekalian loosoehoe.”

Mendengar demikian, Ay Kim Kong Na Hoo segera berbangkit. Sejak memasuki Kim Tiauw Tong ia bungkam saja, tetapi sekarang, ia tak dapat berdiam lebih lama. Maka ia kata “Soe heng, Coe In Taysoe, Ouw Hiocoe begini memandang tinggi kepada kita, jangan sekali kita tampik kebaikannya, marilah kita terima jamuannya.”

Dengan sikapnya ini, Yan tiauw Siang Hiap tidak mau terlalu merendah kepada lawan. Bukankah Ouw Giok Seng bilang dia ingin “mohon pengajaran apa2”? Eng Jiauw Ong mengingat saja Boe Wie Yang, sehingga dia tak terlalu perhatikan kata2nya Ouw Hiocoe ini.

Pat pou Leng po Ouw Giok Seng pun bersenyum.

“Nah, Na Jie hiap baharulah orang kang ouw sejati,” katanya. “Aku Ouw Giok Seng kagum sekali terhadap orang yang polos!”

Mendengar itu semua, Eng Jiauw Ong pun bersenyum. “Baiklah, mari kita jangan berlaku sungkan2 lagi!” Kata ia. Giok Seng berbangkit, kedua tangannya dirangkap. “Loosoehoe semua baik sekali, marilah, silahkan ikut aku,” berkata ia. “Didalam nanti kita pasang omong pula.” Lalu ia bertindak untuk memimpin jalan.

Semua orang berbangkit, dikepalai oleh Eng Jiauw Ong dan Coe In Am coe mereka keluar dari Kim Tiauw Tong, sesampainya diserambi, mereka menuju ke utara, akan biluk ke sudut utara barat, terus memasuki sebuah pintu model bulan. Disini ada sebuah pekarangan yang lebar dimana, duduk dibarat, ada satu gedung dengan lima ruangan, yang ada pintu kecilnya disebelah selatan dan utara. Disini Ouw Giok Seng undang semua tetamunya masuk kesebuah gedung yang bersih dan lebar, yang terperabot sebagai ruang tetamu. Ditengah ruangan ada sebuah meja lain, meja pat sian toh tercat hitam.

“Aku tidak bisa berlaku sungkan, maka sekalian loosoehoe, ambillah tempat duduk sendiri2, sesukanya,” kata Ouw Giok Seng sambil memberi hormat. “Semua loosoehoe ada orang2 sendiri, kau pasti tidak akan saling mengalah. Coe In Taysoe adalah seorang pertapaan yang telah peroleh kesempurnaan, untuk Taysoe dan murid mu, aku telah sediakan satu meja terpisah. Cumalah karena kami berada ditempat terpencil, segala persediaan ada tidak sempurna, mengenai ini mohon Taysoe sudi memaafkannya.”

“Sebaliknya, Ouw Hiocoe, penyambutanmu ada sempurna sekali,” Coe In kata sambil membalas hormat. “Aku si pendeta tua memasuki pintu Buddha justeru karena aku menyesal atas segala perbuatanku sebab selama ini, kira2 dua puluh tahun lamanya, selama tempatkan diri didalam dunia kang ouw, banyak kedosaan pembunuhan aku telah lakukan. Aku sucikan diri, aku pantang makan barang berjiwa, untuk bertobat, untuk singkirkan perasaan temaha dan angkara murka. Kami bersyukur yang hio coe ada demikian perhatikan kami”

“Jangan sungkan, Taysoe, kita toh ada sama2 orang kang ouw,” Giok Seng berkata dengan cepat. “Silahkan Taysoe ambil tempat duduk.”

Lagi sekali Coe In memberi hormat, ia mengucap terima kasih, lalu bersama muridnya ia ambil tempat duduknya.

Ouw Hiocoe pun duduk, untuk menemani.

Segera juga dari luar, masuk delapan chungteng dengan seragam serupa, yalah thungsha biru, sepatu hijau enteng, kepala mereka tidak memakai kopiah, sebelah tangan mereka menyekal serpet putih, tangan yang lain menampan menampan terisi makanan sayuran, satu diantara mereka ini menghampirkan meja nya Coe In Am coe, untuk sajikan barang2 makanan.

Menyusul itu, ada datang lagi dua orang. Yang satu berusia kira2 lima puluh tahun, mukanya merah, alisnya gomplok, matanya besar, mulutnya gede, hidungnya bagaikan hidung singa, tubuhnya pun besar, dan yang satunya, berumur diatas lima puluh, roman nya agung. Mereka ini dekati Hio coe Ouw Giok Seng, mereka memberi hormat dengan lintangkan tangan didada dan menjura. Atas itu, Ouw Hiocoe membalas dengan sedikit gerakan tubuh. Setelah ini, dua orang itu menghaturkan selembar tek pay sambil ucapkan kata2 dengan pelahan sekali, kemudian mereka balik bertindak keluar pula.

“Eh, tunggu dulu!” Tiba2 Ouw Hiocoe kata. “Semua tetamu disini ada enghiong kesohor dari dunia kang ouw, apabila tidak sekarang kau temui mereka, sampai kapan kau hendak tunggu pula?”.

Segera Giok Seng berbangkit, untuk melanjukan kepada sekalian tetamunya. Ia kata

“Kedua tocoe ini adalah penilik didalam Kim Tiauw Tong ini, yalah Hwee hoei liong Biauw Cin dan ini adalah Coh siang hoei Ie Tiong. Dan ini Eng Jiauw Ong Ong Loosoe, ciang boenjin dari Hoay Yang Pay dari Lek tiok tong, Ceng hong po, dan ini Coe In Taysoe dari See Gak Pay. Yang lainnya adalah loosoehoe dari Hoay Yang Pay”.

Semua tetamu lantas berbangkit buat membalas hormat, karena kedua orang ini sudah lantas rangkap kedua tangannya seraya mereka berkata “Ciongwie loosoe adalah orang2 Rimba Persilatan yang kenamaan, yang telah lama kami pangeni, hanya sayang, karena kita terpisah ribuan lie, tak dapat terlebih siang kita saling mengenalnya. Sekarang ini ciongwie loosoe telah berkunjung kepada Ca jie Lian hoan ouw, sungguh kami merasa beruntung sekali. Ciongwie loosoe, kami mohon sukalah kami diberikan banyak pengajaran, untuk itu kami akan sangat bersyukur”.

Selagi dua orang itu hunjuk sikpnya yang menghormat, adalah Ay Kim Kong Na Hoo yang mengawasi mereka dengan senyuman dingin.

Hwee hoei liong Biauw Cin, si Naga Api Terbang, sudah lantas memutar tubuh, akan gapekan satu chungteng yang berdiri dimuka pintu. Chungteng itu segera menghampirkan.

“Lekas kau pergi kebelakang, ambil tiga cangkir emas!” Biauw Cin menitah.

Chungteng itu berlalu dengan cepat.

Biauw Cin menghadapi Eng Jiauw Ong semua. “Ciongwie loosoe, silahkan minum seenaknya, sebentar

ingin aku hunjuk hormatku,” kata ia, lalu ia bertindak kearah pintu.

Tidak lama chungteng yang tadi telah kembali, tangannya memegang satu nenampan kayu diatas mana ada terletak tiga buah cawan arak yang belang loreng, tingginya lima dim, romannya mirip gantang arak. Terang itulah ada barang kuno.

Biauw Cin jemput poci arak diatas meja kecil dekat pintu, ia tuang isinya kedalam tiga cangkir istimewa itu, kemudian ia membawa itu kedepan Ong Too Liong didepan meja siapa ia berdiri dan berkata kepada Eng Jiauw Ong.

“Ong Loosoe ada berboegee liehay, yang membuat orang kagum, sekarang loosoe telah berkunjung ke Cap jie Lian hoan ouw ini, aku Biauw Cin mohon loosoe suka berikan satu dua pengajaran kepadaku, supaya aku si orang muda peroleh pelajaran yang berharga. Ini ada suatu kehormatan bagiku, maka ingin aku menghaturkan arak kepada Ong Loosoe.”

Selagi mulutnya mengucap demikian, Biauw Cin telah menegakkan kedua kakinya dalam sikap “coe ngo chung” atau “pelatok tengah hari”, sedang tenaganya telah dipusatkan dikedua lengannya, kepada jari2 tangannya, yang dipakai memegang kakinya satu cawan emas, lalu terpisah diantara meja, ia angsurkan itu kepada Eng Jiauw Ong.

Ong Too Liong segera mengerti bahwa orang hendak uji Lwee. Kangnya (lay kang), karena ia ada ahli Eng jiauw lat, “tenaga kuku garuda”. Ia tidak jeri, tetapi ia mengerti tak dapat ia memandang enteng. Ia ada sangat kesohor, sekarang ada orang berani main2 terhadapnya, orang itu niscaya ada punya kepandaian luar biasa juga.

Sementara itu Na Hoo, yang tetap waspada, perdengarkan suara dihidung, matanya memandang Too Liong dengan tajam. Itulah ada sebagai tanda rahasia untuk saudara seperguruan ini berhati2.

Eng Jiauw Ong sudah lantas berbangkit, untuk dengan diam2 berdiri dengan sikapnya “pat jie chung” “pelatok huruf delapan”. Iapun kumpul tenaganya dilengan, terutama dikedua telapakan tangannya. Dilain pihak, ia bersenyum ber seri2. Ia ulur kedua tangannya akan sambuti cawan emas, tetapi diam2 ia sedikit menyampingkan tangannya itu, untuk tak langsung menghadapi cawan.

Secara demikian, dengan diam2 kedua orang itu adu tenaga dalam mereka. Eng Jiauw Ong ada seorang yang jujur, tak suka ia gampang2 membuat orang malu, maka itu, ia telah kerahkan tenaganya dengan pelahan2, tetapi baharu ia menggunai tujuh bagian, ia telah berhasil menggempur kuda2 coe ngo chung dari lawan nya, kedua kaki Hwee hoei liong Biauw Cin tergerak, hingga lantai yang terinjak menjadi pecah. Justeru menggunai saat yang baik itu, Eng Jiauw. Ong sambuti cawan arak, untuk segera minum kering isinya, kemudian dengan lekas ia kembalikan cawan itu, tanpa ia menggunai tenaga dalamnya pula.

Dengan merasa malu sendiri nya, Biauw Cin undurkan diri tanpa bilang suatu apa.

Diam2 air mukanya Ouw Hio cue berubah, tak sedap untuk dipandang. Syukur baginya, kejadian itu tidak secara terbuka. Tetapi ia mengerti, Ie Tiong penasaran. Coh siang hoei. Si Penerbang diatas Rumput, ingin mencobanya, untuk membalas bagi kawannya, maka lekas ia mencegah, dengan kata “Biauw Tocoe, Ie Tocoe, tetamu kita yang terhormat telah membalas kehormatan kita, maka silahkan kau kembali ketempatmu masing2, supaya semua tetamu kita dapat melanjutkan perjamuannya !”

Coh siang hoei tidak berani membantah, bersama Biauw Cin ia lantas undurkan diri.

Ouw Hiocoe angkat cawan nya, terus ia kata pada semua tetamunya “Saudara ku disini ada bangsa kasar, aku mohon di maafkan untuk segala gerak geriknya yang tak hormat, harap Ong Loosoe dan Coe In Taysoe tidak mentertawainya. Akupun harap sukalah Jie wie nanti memberi sesuatu pengajaran terhadap mereka”

“Hiocoe semua adalah orang2 yang manis budi, caranya hiocoe yang sesungkan Ini membuat kami malu,” kata Eng Jiauw Ong. Sementara itu Ay Kim Kong senantiasa keringi cawannya, wajahnya tersungging dengan senyuman dingin, beberapa kali ia melirik Ouw Giok Seng.

Ouw Hiocoe ada bermata awas, ia tahu sikapnya sesuatu tetamu tetapi ia ambil sikap tak memperdulikan, ia terus beraku ramah tamah. Kelihatannya itu ada pesta gembira dari orang2 gagah, tetapi sebenarnya, dibalik tirai, orang sedang adu asabat, berperang dingin, karena hati kecil mereka masing2 ada tegang.

Ketika perjamuan sampai di akhirnya, hari sudah berubah, maka juga beberapa chungteng datang untuk nyalakan api, hingga sekarang ruangan tetamu itu menjadi terang dengan cahaya lain. Semua orang berbangkit untuk cuci mulut dan muka, sisa barang santapan sudah lantas disingkirkan, maka waktu orang berduduk pula, sekarang mereka menghadapi air teh.

Segera juga Eng Jiauw Ong hendak timbulkan soal pertemuan dengan Thian lam It Souw Boe Wie Yang Liong Tauw Pang coe dari Hong Bwee Pang, akan tetapi sebelum ia tempat buka mulut, Hiocoe Ouw Giok Seng sudah dului ia.

“Kami didalam Cap jie Lian hoan ouw ada punya aturan sendiri,” demikian Hiocoe ini. Ia seperti telah menerka maksud hatinya ketua Hoay Yang Pay dan tetap hendak menyampingkan itu. “Tak membicarakan bagian luar, maka didalam Lwee Sam Tong sendiri, kami masing2 ada merdeka. Kecuali titah2 dari Pang coe, kami tidak campur atau bersangkut paut satu dengan lain. Inilah sebabnya kenapa malam ini aku Ouw Giok Seng, bisa berjamu dengan gembira dengan ciongwie loosoe, tanpa ada orang yang menggerecoki. Kim Tiauw Tong ada berbeda dari Ceng Loan Tong dan Thian Hong Tong. -oo0dw0oo-