-->

Eng Djiauw Ong Jilid 07

 
Jilid 07

Soe ma Sioe Ciang bingung karena serangan senjata rahasia yang berupa batu. Tadi ia ditolongi, sekarang ia sendiri yang diserang. Iapun tidak bisa bade, siapa si penolong. Tentu saja ia tidak dapat terka sepak terjangnya Na Hoo, yang pun bikin orang2 jahat turut ragu2.

“Untuk sementara biarlah kau hidup dengan jiwa anjingmu, thay yamu tak sempat melayani kau sekalian!” berseru Lioe Seng, yang turut saudara tuanya angkat kaki, sebab ia melihat toako itu sudah berhasil.

Sia2 saja semua piauwsoe mengejar, mereka tak dapat menyandak.

Pada waktu itu rombongan ke duapun telah berkumpul pula sesudah mereka tak berdaya cari “penjahat” yang melemparkan batu besar, justeru itu mereka dengar suara suitan disebelah depan, mereka menyangka pada orang jahat. “Mari kita menyusul,” Thay kek Lioe Hong Coen usulkan.

Sementara itu Ngo Cong Gie ada sangat mendongkol dan pepat pikiran, hingga ia hendak tabas batang leher sendiri. Ia merasa sangat malu. Pertama kali, masih ada Ay Kim Kong yang menolongi, piauw dapat dirampas pulang, tetapi sekarang piauw itu lenyap pula. Ia kata ia malu sekali terutama untuk taruh kaki dalam kalangan kang ouw.

Tetapi semua piauwsoe lainnya membujuki.

Kedua saudagar Kwietang ada sangat ketakutan, mereka tidak berani buka suara, napas mereka pun ditahan, adalah setelah dengar penjahat sudah pergi, baharu mereka berani buka mulut, lantas mereka panggil Ngo Cong Gie untuk minta pertanggungan.

“Tuan2 jangan ibuk!” Lioe Hong Coen kata kepada kedua saudagar itu. Ia mencegah mereka berbicara kepada Ngo Cong Gie. “Jangan kuatir, disini bukan tempat bicara, mari kita jalan terus. Sebentar didusun diluar gunung ini nanti kita bicara sambil mengaso.”

Dua saudagar itu berdiam. Maka orang pun lantas mulai berjalan.

Ngo Cong Gie tetap masih mendongkol dan masgul, ketika ia jalankan kudanya, Lioe Hong Coen dan Teng Kiam apit padanya.

“Sekarang ini, percuma saja kita sibuki diri,” Hong Coen membujuk. “Apa orang kasi, kita terima. Sebentar kita akan berdaya untuk dapatkan pulang barang kita ”

“Ya, sekarang tidak ada jalan lain,” jawab Cong Gie. “Aku nanti cari kawanan penjahat itu, saudara2 sendiri silahkan berangkat lebih dahulu. Aku” ber syukur atas kecintaan dan bantuan saudara semua.” Ketika itu Soe ma Sioe Ciang menghampirkan, Cong Gie kata padanya “Jie tee, tak dapat kita ayal2an lagi! Penjahat ada demikian ganas, mereka tidak bisa diantap saja, apabila mereka dapat lolos, malu aku akan hidup diantara kaum kita! Saudara, mari kita susul mereka!”

Sioe Ciang tidak menjawab tetapi dia loncat turun dari kudanya.

Melihat sikap saudara itu, Ngo Cong Gie juga lantas loncat turun.

Hampir berbareng dengan itu, dari samping, ditempat yang gelap, ada orang berkata2 “Kau pandang penjahat terlalu tinggi. Jangan pusingkan diri tak keruan. Lekas pergi ke Tok siong kwan, akan tunggui aku disana!”

“Siapa?” teriak Cong Gie seraya lompat maju.

Pertanyaan ini tidak dijawab, melainkan satu bayangan mencelat dan lari.

Menampak demikian, Cong Gie tidak mengejar. Ia segera ingat Jie hiap, yang tentu sedang layani Cin tiong Sam Niauw. Karena ini, hatinya jadi lega.

“Marilah!” kata ia, yang lantas ubah niatnya.

Semua piauwsoe mengerti, mereka menurut. Maka itu, perja lanan sudah lantas dilanjutkan.

Orang yang bicara tadi, yang merupakan bayangan, memang Jie hiap adanya. Sesudah kasi kisikan pada Ngo Cong Gie, untuk bikin lega hatinya piauwsoe ini, ia lantas susul Thian Hoei dan Lioe Seng, diarah Selatan barat. Ia lantas tampak bayangan mereka.

“Kawanan kunyuk, apakah kau anggap kemenangan terakhir ada padamu? Kalau itu benar terjadi, kecewa aku jadi Yan tiauw Siang Hiap!   ” kata ia dalam hatinya seraya

ia mengejar terus.

Setelah menyusul kira2 setengah lie, Na Hoo dapat dapat menyandak. Memang Thian Hoei kalah pesat, tambah pula ia mesti saban saban tunggui Lioe Seng sebab dia ini terluka kakinya. Kemudian, mereka berdua berhenti ditengah jalan. Jie Hiap sembunyikan diri di tempat lebih tinggi, hingga leluasalah ia untuk mengawasi dua penjahat itu.

Lioe Seng telah turunkan bungkusan kecil dari bebokongnya, rupanya mereka hendak buka bungkusan itu untuk diperiksa isinya.

“Kalau kejadian mereka buka itu, rusaklah tipu dayaku....” pikir Ay Kim Kong. Ia lantas berkeputusan untuk mencegah. Disitu tidak ada batu besar, terpaksa ia jemput dua potong yang kecil, dengan apa terus ia menimpuk kearah Thian Hoei berdua, lalu ia loncat kearah Timur, akan jalan mutar, pergi kelain tepi jalanan. Inilah daya untuk loloskan diri dari kejaran.

Thian Hoei dan Lioe Seng dengar suara melayangnya batu, mereka berkelit, mereka terhindar dari timpukan itu.

“Pegang ini!” Thian Hoei serukan kawannya, hatinya panas sekali. “Aku hendak lihat macam nya pit hoe yang memain dengan batu ini!” Setelah ia serahkan bungkusan ada Lioe Seng, ia lantas mencelat kesebelan Barat, akan manjat. Lekas sekali, ia akan mencapai puncak, tatkala dengan sekonyong ia dengar bentakan dari arah Timur “Nah, kau rasakan pula ini satu!” Segera ia menoleh, ia mengulur sebelah tangannya akan sanggapi satu serangan, yang ada sepotong batu belaka. Ia berniat kirim pulang batu itu tetapi ia tidak melihat bayangan penyerangnya.

Tatkala itu Lioe Seng, yang telah rapikan bungkusan tadi, sudah gendol pula itu dibebokongnya, ia turut manjat akan bantu toakonya mencari orang yang ganggu mereka. Mereka buang tempo dan tenaga dengan percuma, orang tidak dikenal itu ini entah sudah pergi kemana. Disekitarnya dengan diam2, Thian Hoei memberi tanda pada kawannya untuk meninggalkan lembah itu.

Na Hoo tinggalkan dua penjhat itu yang mencari ia ubek2an ia sudah lantas susul Liong Jiang akan tuturkan cucu murid itu bagaimana ia sudah permainkan Twie hong Tiat cie Houw Coan thian Auw coe, hingga mereka itu ambil jurusan balik kejalan dari mana mereka datang.

“Jikaliau demikian, soe couw, apa tidak baik kita susul rombongan Ngo Piauwsoe, untuk sekalian lindungi mereka, agar tidak sampai terbit lain gangguan ?” tannya sang cucu murid. I

“Jangan pandang mereka terlalu enteng, Liong jie,” kata jago tua itu sambil tertawa.

Houe Thian Hoei liehay begitu juga dua saudara angkatnya,      Beng dan Yap Thian Lay. Tadi satu waktu aku bisa perdayai mereka, tetapi segera mereka insaf dirinya diperdayai. Meskipun sebelum terang tanah tidak dapat mereka datang menyandak kita. Aku percaya sebelum mereka berhasil, tidak nanti mereka mau sudah. Buat kita yang penting adalah barang mesti segera sampai ditempat tujuan, maka aku nanti antar kau keluar dari Tok siong kwan, sehabis itu, aku akan layani terus pada mereka. Sebenarnya tak niat aku bermusuh dengan mereka tetapi untuk lindungi nama baik Hoay Yang Pay, apa boleh buat.”

Liong Jiang manggut. Kemudian ia ikuti kake guru ini akan lanjutkan perjalanan mereka. Ia nampak kesulitan, sebab kake guru itu lari keras, mulanya ia masih bisa mengikuti, lama2 ia kewalahan juga, apapula ketika ia hadapi satu puncak tinggi, ia sangsi. “Mari!” berseru Jie hiap apabila ia melihat cucu murid itu bingung.

Biar bagaimana, Liong Jiang mesti empos semangatnya, maka dengan tenaga penghabisan, ia paksa naik dengan berlompatan. Akhirnya, ia berhasil sampai di puncak tetapi dengan napas sengal sengal. Disebelah ia, sang kake guru tetap bersemangat seperti sediakala.

“Usia masih muda tetapi sudah tak punya guna,” kata sang soe couw. “Kau lihat puncak didepan itu, itulah puncak Hoei Louw Hong. Selewatnya disana, kau akan sampai ditanjakan Hong sie po, itu artinya kau sudah sampai di Barat utaranya Tok siong kwan. Jalanan disini ada sangat sukar, nanti aku bawa kau ”

Liong Jiang jengah sendiri nya.

“Sebenarnya juga teecoe tak punya guna,” ia mengakui. “So couw sudah berusia lanjut tetapi ilmu entengi tubuh soe couw ada sempurna sekali, sesungguhnya soe couw bisa bikin si muda mati sendiri karena malu ”

“Itulah sebabnya kenapa dibilang, untuk peroleh kepandaian luar biasa, orang mesti berlatih berat,” sang kake bilang. “Aku telah punyakan kepandaian karena dahulu, selagi belajar aku mesti berani cape dan ulet. Kepandaianmu sudah sempurna tetapi kau masih membutuhkan latihan, terutama hatimu mesti kosong bagaikan lembah, kau mesti berani memohon tambahan kepandaian dari orang2 yang terlebih pandai. Guru cuma mengajarkan, hasilnya ada pada dirimu sendiri, latihan tidak ada batasnya. Maka ingatlah, jangan kau kasi lewat kata2ku ini sebagai angin belaka!”

Sehabisnya mengucap demikian, tanpa tunggu jawaban, Na Hoo samber cucu murid itu untuk dikempit. “Marilah!” ia berseru. Dan kakinya segera bergerak, cepat sekali, berlari2 dijalanan gunung yang sukar dan berbahaya itu.

Liong Jiang heran bukan main. Tadinya ia masih hendak mencoba akan mengikuti, siapa tahu, kake ini benar2 buktikan perkataannya. Pun, baharu sekarang ia buktikan kekuatan dan liehaynya kake ini.

Tidak terlalu lama, Na Hoo telah sampai diatas sebuah puncak dimana ia berhenti berlari, kapan Liong Jiang dikasi turun, dia dapati dihadapannya ada lembah atau jurang yang dalam, sedang dibelakangnya, sinar matahari mulai berbayang samar. Ia merasakan sampokan angin dingin, walaupun waktu itu ada di musim panas.

“Dibawah sana, Liong jie, ada Hong sie po,” kata sang kake sambil menunjuk.

“Jadi ini ada puncak Hoei Louw Hong?” sang cucu menegasi.

“Benar, ini ada puncak Timur. Disebelah Utara sana, jangankan manusia, sekalipun kunyuk dan lutung sulit untuk mendaki nya. Lihat disana, penduduk gunung sudah mulai keluar rumah,” Na Hoo kata pula. “Mereka adalah penduduk sederhana dan bebas, maka aku memikir, bila nanti aku sudah undurkan diri, aku berniat hidup merdeka dan aman sebagai mereka itu.”

Didalam hatinya Liong Jiang bersenyum. Sampai kapan orang seperti soe couw ini bisa undurkan diri?

“Mari kita jalan terus,” kata Na Hoo kemudian, seraya ia mendahului berjalan turun.

Gunung ada sunyi tetapi pemandangan alamnya indah namun Liong Jiang tidak mempunyai kesempatan akan menikmati itu. “Kita menuju ke Barat sana,” kata Na Hoo ditengah jalan. “Penduduk bisa curigai kita. Benar kita boleh tak takut tetapi kita harus singkirkan kesulitan yang tak ada perlunya. Dimulut jalanan ke Tok siong kwan kita bisa singgah, disana ada banyak warung teh dan arak.”

Liong Jiang turuti kake ini, ia mengikuti terus.

Kira2 dua lie, mereka sampai dijalan kecil, yang membawa mereka kejalan besar. Dari situ mereka tampak tembok kota Tok siong kwan. Ditepi jalan, dimana ada banyak pohon bambu, lantas terlihat gubuk penjual teh dan arak. Disini kake dan yucu itu berhenti untuk menghilangkan dahaga, akan tangsel perut juga.

“Marilah!” Jie hiap mengajak, apabila ia melihat matahari sudah mulai naik. Ia bayar uang makan mereka.

Liong Jiang menurut, walapun lu masih ingin beristirahat.

Selagi mendekati tembok kota, sedangnya disamping mereka tidak ada kereta atau orang lain nya. Jie hiap kata dengan pelahan “Mari bungkusan itu. Aku sebal kepada pemeriksaan. Kau tunggui aku setelah kau lewati kota.”

Liong Jiang serahkan peti berharga itu, Na Hoo masuk kedadalam rimba, sesudah mana, Liong Jiong jalan terus. Ditempat penjagaan, ia diperiksa, ia lewat dengan gampang. Pemeriksaan diperkeras berhubung dengan huru hara kaum Rambut Panjang, tetapi siap tidak bawa buntalan, ia tidak digeledah.

Lewat tidak jauh dari pintu kota ujung lainnya, selagi mendekati satu tempat dimana ada dua gubuk penjual teh dan makanan ia berniat singgah untuk menantikan kakenya, Liong Jiong dibikin heran dengan mun culnya si kake dari antara beberapa kuli yang berkumpul diwarung. Ia tidak mengerti, bagaimana caranya kake itu lewati kota sedang waktu itu ada siang hari bolong!

Na Hoo gapekan cucu murid nya, Liong Jiang menghampirkan.

“Aku telah sewakan kau keledai,” kata Jie hiap. “Kau naik keledai, jangan lambat lambatan, kau ikuti jalan besar ini. Situkang keledai tidak ikuti kau. Nanti di Cie kee tong, dua puluh lie lebih dari sini, ada tukang sewakan keledai lain, kau boleh tukar keledai. Lagi satu perhentian, kau akan sampai didusun Soe gie tin. Disana kau tukar keledai lagi. Sesampainya di Poan liong oeh, kau menukar lagi satu kali. Dalam tempo satu hari, kau akan sampai di Pak kwan, kota Utara dari Ie hang. Disana kau singgah dihotel See Kee Tiam, kau tunggui Ngo Piauwsoe untuk serahkan barang ini kepadanya. Jangan berhenti ditengah jalan, kalau kau lapar, beli saja makanan, kau dahar itu sambil jalan. Jalanan ini ada lebih jauh dua puluh lie daripada jalanan kecil tetapi jangan kau ambil jalan yang dekat itu. Jikalau kau potong jalan, apabila kau nampak bahaya, tidak ada orang yang menolongnya. Jikalau kau tidak dengar pesanku ini dan urusan menjadi gagal, aku nanti usir kau dari kaum Hoay Yang Pay! Jangan kau nanti sesalkan aku keterlaluan!”

Hampir Liong Jiang leletkan lidah bahwa hebatnya pesan atau ancaman sang kake ini. Ia terima tugas itu tanpa banyak omong.

Ia sambuti bungkusan dan gendol itu dibebokongnya.

Satu tukang keledai pun lantas datang bersama keledainya.

“Anak, juallah tenagamu! Apabila kau berhasil, kau akan dikasi persen!” kata Na Hoo kemudian seraya ia tepuk2 pundak cucu muridnya itu. Liong Jiang bersenyum. Didepan tukang sewakan keledai, tak leluasa untuk ia berlutut.

“Terima kasih, soe couw!” kata ia. “Bukankah soe couw hendak wariskan aku Soe sat Hoen kin chioe?”

“Hm!” jawab sang kake guru.

Tapi ini adalah jawaban, maka itu, bukan main gembiranya Liong Jiang, Ia tertawa, lantas ia keprak keledainya untuk dikasi jalan.

Na Hoo mengawasi, lantas ia tinggal pergi si tukang sewakan keledai, ia ambil jalannya sendiri.

LXV

Rombongan piauwsoe telah lanjutkan perjalanannya mengiringi empat buah kereta dengan kedua saudagar Kwietang tetap duduk atas keretanya, tatkala hari mulai terang, mereka tiba dimulut jalanan Timur dari gunung, sampai dijalan umum. Jalanan ada belasan lie lagi untuk sampai di Tok siong kwan. Semua orang ada lelah dan berdahaga, mereka lantas berhenti untuk beristirahat.

Disini sambil mengaso, kedua saudagar menanya pelindungnya tentang kejadian tadi malam. Soe ma Sioe Ciang tahu tak dapat ia menjusta, maka ia berikan keterangannya, tetapi ia segera tambahkan dengan suara keren “Tapi tuan2 jangan kuatir! Bukankah turut perjanjian aku mesti mengantar sampai di Ie hang? Sesampainya disana, apabila ada sesuatu yang kurang, aku nanti ganti itu! Dalam hal ini ada menyangkut kehormatan dan kehidupan kami, inilah kau harus ketahui. Selama ini, kejadian apapun yang kami hadapi, tuan2 jangan campur tahu, sebagai orang2 dagang, tuan2 tak bisa mencampuri urusan kami kaum kang ouw!” Karena sikapnya keren, Soe ma Sioe Ciang bikin dua saudagar itu bungkam.

Tidak lama, mereka mulai berangkat pula. Di pintu kota Tok siong kwan mereka diperiksa keras tetapi surat2 mereka terang, karena ini, Liong Jiang lama telah dului mereka lewat.

Setengah lie lewat Tok siong kwan, jalanan terpecah dua dengan sebuah jalanan kecil. Untuk sampai ke Ie hang, jalanan kecil ini lebih dekat dua puluh lie. Tukang kereta, yang memberi keterangan, minta putusannya Ngo Cong Gie akan memotong jalan atau tetap lempang. Piauwsoe ini, setelah berdamai, ambil putusan memakai jalan kecil itu. Hanya setelah melalui dua puluh lie, kawanan piauwsoe itu sesali si tukang kereta tidak menjelaskan bahwa jalanan sunyi sekali, tidak ada yang berlalu lintas, rumah2 pendudukpun sangat jarang, semuanya pondok sementara. Rombongan jalan dengan pelahan, sampai tengah hari, semua kehausan.

Ngo Cong Gie jalan didepan, untuk sekalian periksa jalanan.

Kuda dan keledai, yang tak tahan haus, memaksa pergi minum tepi sawah, tinggal si pengiring semua, yang mesti tahan haus dan tahan panas juga, hingga muka dan kuping mereka bersemu merah. Cong Gie jadi sangat mendongkol.

Dengan paksakan diri, mereka jalan terus. Lioe Hong Coen pun bilang, biar bagaimana sukar mereka mesti melewati jalanan sunyi itu. Kalau disitu mereka ketemu musuh, sungguh hebat.

Jalan lebih jauh, Ngo Cong Gie dan Lioe Hong Coen mengiring. Soe ma Sioe Ciang jalan didepan. Jalan belum lama, didepan terdengar suara berisik, tadinya Cong Gie menyangka jelek, tapi segera datang Sioe Ciang yang sambil tertawa “Soeheng, kita beruntung juga. Didepan ada tukang arak dan makanan, mereka sudah disuruh berhenti. Bagaimana kalau kita singgah disini.”

Cong Gie dan Hong Coen setuju.

“Baik.” kata mereka, yang terus larikan kuda mereka akan pergi ke depan.

Hong Coen lihat Giok Koen dan Giok Kong sudah turun dari kudanya, semua kereta telah dipinggirkan, mereka itu sedang   dua tukang arak dan makanan, suara mereka berisik. Bersama2 Ngo Cong Gie ia mendekati terus mereka turun dari kuda mereka.

“Ada apa demikian berisik?” tanya Hong Coen. Semua orang mundur.

“Mereka ini menjemukan,” kata satu tukang kereta.

“Mereka jualan tetapi mereka takut jualkan kepada kita!”

Hong Coen awasi dua penjual arak dan makanan itu, akan lihat yang satu berumur empat puluh lebih, yang lain tiga puluh lebih, yang satunya membawa dua guci besar termuat dalam sebuah keranjang, yang satunya lagi memikul dua keranjang bambu. Mereka ini mengawasi sambil jongkok, mata mereka terbuka lebar.

“Kau jual apa?” tanya Hong Coen.

“Kami jual arak dan makanan,” sahut orang yang jual arak. “Kami mau pergi berjualan dipasar di Tiat Hoed Sie Timur, disana kami sudah punyakan langganan tetap. Barang ini yalan untuk langgananku itu, tak dapat kami menjualnya disini.” “Kau rada tolol,” kata Hong Coen sambil tertawa. “Jualan toh bisa dilakukan terhadap siapa juga? Kami sedang bikin perjalanan, kami haus sekali, maka kau juallah arakmu pada kami, nanti kami membayar lebih mahal. Kalau kau tetap tidak mau menjual, tidak apa, kami tidak akan berlaku keras, tetapi orang2ku ada bangsa kasar, apabila mereka memaksa, kami tak dapat mencegahnya.”

Dua pedagang itu mengawasi satu pada lain, akhirnya, yang satu kata pada Hong Coen “Baiklah, tuan. Disana dibawah pohon cemara yang rindang dan lebar tempatnya, mari kita pergi ke sana.”

Cong Gie lantas saja menyuruh semua orang pergi kebawah pohon, maka dilain saat, orang telah duduk mendeprok ditempat teduh.

“Seorang cuma boleh minum secawan arak,” Cong Gie kata pada semua tukang kereta. Semua tukang kereta itu menurut. Dengan dilayani kedua tukang jualan itu, orang lantas mulai minum dan dahar. “Sebenarnya aku tidak gemar arak semacam ini, tetapi sekarang apa boleh buat,” kata Cong Gie pada Hong Coen dan Teng Kiam, sehabisnya ia keringi cawannya. “Di hari2 biasa, orang mengantar pun arak semacam ini tidak nanti aku minum. Tapi kali ini hanya sebagai penahan dahaga saja ”

Sembari kata begitu, ia memandang kerombongan tukang kereta yang asyik dahar. Satu tukang kereta berbangkit, ia nyender dipohon, tetapi mendadak ia rubuh tanpa bergeming lagi.

Semua kawannya lantas tertawa, ada yang berkata dengan nyaring “Thio A Sie biasa sombongkan diri kuat minum, rejekinya besar, umurnya panjang, tetapi sekarang baharu tenggak satu cawan, dia rubuh! Hayo bangunkan dia, goyang2 supaya dia muntahkan apa yang dia gegaras! ”

Tukang kereta ini baharu mengucap demikian, atau ia lantas angkat kedua tangannya dipakai merabah kepalanya.

“Eh, eh, kenapa aku....” kata ia. Dan, belum ia dapat lanjut kan kata2nya. iapun terus rubuh terguling.

Semua tukang kereta lainnya jadi terperanjat, mereka pada berseru.

“Inilah heran,” kata Ngo Cong Gie pada Lioe Hong Coen. “Mesti ada sebabnya!”

Menyusul ucapannya piauwsoe ini, Soen Giok Koen, Siang too Kim Hoo dan Soe ma Sioe Ciang rubuh dengan bergantian, tak kuat mereka pertahankan diri lagi.

“Habis sudah!” berseru Ngo Cong Gie, yang lantas insaf. “Jahanam!”

Ia menoleh pada kedua pedagang, mereka itu tidak angkat kaki, hanya mereka kasak kusuk sambil mengawasi rombongan piauwsoe itu. Ia jadi sangat sengit hingga ia kertak gigi, tidak tempo lagi ia cekal keras senjatanya, untuk dipakai menyerang dengan sisa tenaganya yang masih ada. Tetapi, justeru karena kegusarannya, pengaruh obat tidur bekerja semakin cepat, belum sampai ia mampu angkat kaki, kepalanyapun pusing, lantas ia rubuh sendirinya.

Chio In Po dan Teng Kiam, kedua boesoe, mengerti bahaya karena liciknya dua pedagang itu, mereka juga ingin mencoba saat terakhirnya, mereka lantas bergerak, akan tetapi seperti Cong Gie merekapun rubuh dengan segera.

Sin koeh Ke Siauw Coan lantas merogo kedalam kantongnya, dia ada punya obat Hoay Yang Pay yang disimpan dalam sebuah botol kecil, ia keluarkan itu, ia lantas buka sumbatnya, terus mulut botol dibawa kemulutnya.

Ia mengerti yang ia tidak boleh terlambat. Akan tetapi sudah kasep, ia masih tak dapat susul bekerjanya obat tidur, belum empat obat masuk kedalam mulutnya, ia sudah rubuh juga!

Lantas menyusul rubuhnya Giok Kong dan yang lainnya, hingga   tinggal boesoe Kee Giok Tong. Dia ini tidak gemar arak, tetapi tadi karena terlalu haus ia minum juga, cuma ia tidak minum banyak, dari itu, ia tidak segera terpengaruh obat tidur.

“Oh, bangsat bernyali besar!” Ia berseru seraya hunus goloknya. “Begini berani kau pedayai kami! Lihat, aku nanti bereskan kau berdua!” Ucapan ini ditutup bersama satu loncatan kepada kedua pedagang itu.

Ke dua pedagang itu tertawa lebar.

“Sahabat, kau tinggal sendirian, apa kau bisa bikin?” kata mereka secara menantang.

Keduanya loncat kesamping waktu serangan datang, hingga mereka lolos dari bahaya.

Obat tidur itu betul liehay, karena Gi ok Tong gusar dan gunakan tenaganya, ia cuma bisa loncat menerjang satu kali saja. Setelah itu, tidak ampun lagi ia rasakan kepalanya pusing, hingga dalam hatinya ia menjerit, “Celaka …”

Selagi boesoe itu sempoyongan, dari samping ada muncul satu suara berseru “Pundak rata, nanti aku bereskan jahanam ini, dengan pesat sekali ia lari mendatangi.

Giok Tong baharu menoleh atau orang itu sudah datang dekat padanya, ia hendak lakukan perlawanan, ia angkat goloknya, tetapi ia rasakan senjatanya itu jadi sangat berat, baharu ia angkat sedikit, orang itu sudah dului serang ia dengan satu dupakan, sehingga tidak tempo lagi ia rubuh terguling. Pun karena pengaruh bekerjanya obat, guru silat ini tidak mampu bergerak pula.

Semua piauwsoe dan boesoe dan tukang keledai rebah tak berdaya, meskipun demikian, mereka semua sedar, pikiran mereka sehat seperti biasa. Ngo Cong Gie adalah yang paling menyesal dan mendongkol, karena ia tidak sangka mereka bisa terpedaya secara demikian oleh kawanan Cin tiong Sam Niauw demikian ketiga orang itu, sedang yang muncul belakangan adalah Hauw Thian Hoei sendiri, si Garuda Besi. Piauwsoe ini mengharap bisa samber goloknya untuk bunuh diri saja, sebab tak sanggup ia menderita malu karena rubuhnya ini secara sangat mengecewakan.

Setelah rubuhkan piauwsoe kepala itu, Hauw Thian Hoei periksa satu per satu korban2nya, paling akhir ia dekati Cong Gie untuk tertawa besar dan kemudian kata dengan ejekannya “Ngo Piauwtauw yang kesohor, jangan tidak tahu diri! Aku Hauw Thian Hoei telah datang, kenapa kau tidak perdulikan aku? Kau semua telah rubuh rebah, jangan kuatir, aku ada murah hati, walaupun jiwamu semua gampang diambil, sama gampangnya seperti membaliki telapakan tangan, tidak nanti aku lakukan itu. Biarlah selanjutnya kita menjadi sahabat kekal…. Sekarang kau beristirahat saja disini, hawapun nyaman dan suasana tenang tenteram, inilah kebahagiaan yang aku tak sanggup menerimanya ”

Semua orang tutup rapat mata mereka, mereka jemu melihat romannya Thian Hoei.

“Apakah Lioe Loo jie dan Yap Loo sam masih belum datang?” kemudian Thian Hoei tanya dua pedagang tetiron itu, yang sebenarnya ada orang2nya juga. Mereka sudah datang menyahut salah satu konco itu. “Tapi disini jalanan terpecah dua, mereka pergi kejalan yang satunya untuk menjaga disana, mereka kuatir rombongan ini ambil jalanan itu. Aku rasa sekarang mereka sudah menarik diri.”

Thian Hoei perdengarkan suitan dua kali. Tidak lama, datanglah jawaban dari kejauhan, kemudian, muncullah Lioe Seng dan Yap Thian Lay.

“Toako, jangan kita beraya, mari kita lantas bekerja!” kata mereka itu, “Umpama ada datang bala bantuan mereka, usaha kita ini akan jadi sia2 saja!”

Thian Hoei manggut.

“Barangnya tentu ada dalam pauwhok mereka, mari kita periksa dan cuci bersih!” ia men d yawab.

Lantas mereka itu bekerja. Thian Lay lantas hampirkan keretanya kedua saudagar untuk mencari dan menggeledah, tetapi sia2 saja, ia tidak dapatkan barang yang mereka maui hingga ia jadi sengit dan penasaran. ia geledah beberapa orang, hasil nya tetap sia2. Saking gusar, ia main dupak orang, sedang kuda dan keledai, ia hajar dengan belakang goloknya, hingga binatang itu menjadi kesakitan dan terbitkan suara berisik.

Hauw Thian Hoei gusar sekali apabila kemudian ia, mendapat kenyataan, barang yang mereka cari tidak kedapatan diantara piauwsoe itu, sambil tertawa dingin ia kata “Kau semua ada sangat licin, tetapi ini berarti kau mencari penyakit sendiri! Jikalau aku tidak kasi ajaran, mana kau ketahui liehaynya Cin tiong Sam Niauw? Yap Loo sam, hayo periksa si orang she Ngo seorang! Aku hendak lihat, sampai dimana kelicinannya!” Yap Thian Lay sedang murka, titahnya toako itu membuat ia puas, bersama Lioe Seng ia loncat kepada Cong Gie. Mereka hendak mulai dengan siksaan mereka untuk mengompes.

Berbareng dengan itu, dari tempat lebat disamping terdengar seruan nyaring dan panjang, lalu terdengar lebih jauh dampratan “Oh, kawanan kunyuk! Ber ulang2 kau bertiga rubuh di tanganku, masih kau tidak insaf! Belum pernah aku ketemu orang kang ouw bermuka tebal sebagai kau ini! Kawanan kunyuk, sekarang ada saatmu yang terakhir!”

Hauw Thian Hoei menoleh dengan segera kearah dari mana suara datang, maka ia lantas lihat, disebuah pohon besar, ada bercokol seorang tua yalah si orang tua kurus yang merintangi ia dengan membantui rombongan Cin Wie Piauw Kiok. Dengan murka ia lantas loncat untuk hampirkan perintang itu, cambuknya, Kim sie Siauw kauw pian, ia ayun.

“Tua bangka tak tahu mampus!” ia mendamprat. “Ber ulang2 kau satrukan aku Hauw Thian Hoei! Memang aku sedang tunggui kau, sekarang saatnya telah sampai! Mari, mari! Kita bertempur sampai ada keputusan siapa hidup siapa mampus! Sebelum itu, jangan kita berhenti! Didalam dunya mesti ada kau atau aku! Nah, kau sambutlah!”

Si orang tua, Ay Kim Kong Na Hoo, sudah lantas loncat turun, dia sampai dibawahi dengan kakinya tidak terbitkan suara apa juga. Justeru ia injak tanah, segera datang serangan cambuk. Ia lantas egos tubuh   kesamping kanan, ia tidak mundur malah ia majukan kakinya, dengan begitu, berbareng ia bisa balas menyerang dengan tangan kanannya. Ia gunai “Kim liong jiauw” atau “Naga emas mengulur kuku” dengan dua jariyna mencari sepasang mata si penyerang. Thian Hoei mundur kesamping. Dia berniat balas menyerang sambil membalik tubuh. Akan tetapi Na Hoo seperti sudah menduga maksud orang, ia mendahului loncat minggir kira2 dua tumbak, lalu sambil pasang kuda2 Teng jie hou dia mengawasi sambil tertawa kepada jago Siamsay itu. Ia tahu orang sedang mendongkol. Ia hendak permainkannya. Ia pun menggape.

“Eh, kunyuk tua!” kata ia. “Aku tahu kau menjagoi disetengah langit di Barat utara, Sebab Cin tiong Sam Niauw bukannya bangsa boe beng siauw coet! Dalam dunya kang ouw, kau ada ternama besar! Tetapi kau menjadi si ketua, kenapa kau berpikiran demikian cupat, tak bisa kau bersabar? Aku si tua bangka tahu kau nekat, sebelum adu jiwa, kau tak punya muka akan hidup dalam dunya ini, tetapi untuk mampus, itulah gampang sekali, cuma, buat mati kelambatan setengah jam saja, tidak apa! Kenapa kau tidak mau kasi ketika untuk aku si tua bangka bicara? Buat aku, segala apa akur saja! Sekarang ini, kau menang diatas angin, bukan melainkan lengkap bersama dua saudaramu, kau juga punyai dua konco lagi! Dan aku, aku bersendirian saja! Sekarang aku sudah bicara, sekarang baik kau sesalkan dirimu sendiri, tua bangka, jangan katakan aku tidak kenal persahabatan! Kau tidak puas? Hayo keluarkan kepandaianmu mainkan cambuk tukang menangis!”

Merah padam mukanya Thian Hoei karena kata2 yang hebat itu, karena ia sangat mendongkol.

“Pit hoe, jangan kau adu lidahmu yang tajam!” ia membentak. “Kau sudah tahu liehaynya Cin tiong Sam Niauw, dari itu percuma kau memikir buat bikin habis urusan ini! Tak perduli kau ngaco belo bagaimana pun, pasti aku hendak putuskan siapa jago siapa betina! Aku siap binasa di Ciatkang Selatan ini. aku tidak memikir pula untuk pulang hidup2 ke Siamsay! Tetapi kalau kau masih hendak bicara, hayolah, lekasan!”

LXVI

“Bagus, tak kecewa kau jadi orang Rimba Hijau!” berseru Ay Kim Kong. “Tapi kau jangan kesusu, aku akan kasi keterangan kepadamu. Aku telah bikin gagal usahamu, maka tak dapat aku bikin gagal juga saat kematianmu. Kunyuk tua, mari kita omong secara sungguh Tentang aku ada orang macam apa, kau tentunya sudah tahu. Mulanya aku tidak niat rintangi kau, aku insyaf bahwa persengketaan harus dihapus, urusan harus dikurangkan. Kau pasti ketahui, sejak memasuki dunya kang ouw, Yan tiauw Siang Hiap tidak pernah ubah she dan nama, kami paling berani bertanggung jawab. Dan aku, Na Hoo, belum pernah aku timpahkan bencana kepada lain orang. Didalam hal kita ini ada terkena juga kaum Hoay Yang Pay, maka itu, tak dapat aku tidak campur tangan. Daerah kerjamu ada wilayah Barat utara, sekarang kau bekerja di Kanglam ini, itu saja sudah satu pelanggaran olehmu. Ketika kau “bekerja” dihotel di Pek hok ek, apabila aku hendak bereskan orangku, itu akan terjadi dengan gampang sekali akan tetapi aku tidak berbuat demikian, karena aku ada seorang insaf dan mengerti, bahwa bukannya gampang Cin tiong Sam Niauw angkat namanya. Begitulah aku cuma memberi nasihat saja, maksudku agar kau insaf dan lantas pulang ke Siamsay. Tetapi kau tidak insaf, kau tidak pulang! Kecewa aku dengan sikapmu itu, sebab sudah terang kau rubuh, tetapi tetap kau tak mau mengerti. Seharusnya kau mesti pikir, bukannya gampang Cin Wie Piauw Kiok angkat namanya, dengan kau bikin rubuh namanya, apakah perusahaan mereka tidak bakal ambruk dan runtuh? Kau adalah seorang ulung, semestinyakau mengasi ketika, tapi kau tidak berbuat demikian, kau justeru ingin orang mampusi diri sendiri. Kaupun berbuat tidak pantas. Kenapa kau tidak mencari aku untuk bikin perhitungan? Kecewa kau menjadi cabang atas! Sebenarnya barang berharga sudah tidak ada disini, aku telah suruh cucu muridku dului bawa ke Ie hang! Rupanya kau tidak engah, diantara pelindung nya sudah kurang satu orang. Dari sini saja kau seharusnya sudah menyerah kalah! Disini kau gunakan akal hina dina untuk rubuhkan semua piauwsoe! Kalau kau tahu diri, mesti kau mundur, kalau tidak, aku bersedia akan layani padamu! Sebenarnya, Hauw Thian Hoei, aku malu untuk kau! Kaupun harus ketahui, selama memasuki dunya kang ouw, belum pernah Yan tiauw Siang Hiap membinasakan atau mencelakakan orang baik , maka itu, aku tidak niat akan ganggu padamu, walaupun kejahatanmu telah bertumpuk! Sekarang adalah lain. Aku telah berbuat, aku menanggung jawab, akupun bertanggung jawab untuk pihaknya Cin Wie Piauw Kiok!” Ia kasi dengar suara di hidung, terus ia tambahkan “Nah, kawanan kunyuk, kau berjumlah besar, aku si tua bangka sendirian saja, hayo kau maju semua, jikalau aku merat, kecewa Yan tiauw Siang Hiap! ”

Mukanya Thian Hoei kembali menjadi merah padam. Sebagai jago, mana dia sanggup terima hinaan demikian macam? Tetapi ia mencoba akan kendalikan diri.

“Kiranya kau ada Jie hiap dari Yan tiauw Siang hiap?” ia tegasi. “Pantaslah kau ada demikian liehay! Memang sudah lama aku dengar namamu yang besar, yang nyaring bagaikan guntur menulikan telinga. Pernah aku piker untuk bikin kunjungan pada mu, kebetulan sekali disini kita bisa bertemu muka. Jie hiap, ada harganya bagiku yang aku rubuh ditanganmu, tetapi karena kau ada satu pendekar, jangan kau tidak pakai aturan. Apa yang kau bilang tadi, ada cenglienya, tetapi kata2mu ada yang tak sedap untuk kupingku. Kamipun bermuka terang bahwa Yan tiauw Siang Hiap sampai sudi campur urusan kami ini. Sayang kema , kau sudah tidak berlaku muka terang, jika tidak demikian, pasti aku akan memandang kepadamu. Sejak mulanya, kau sudah tidak melihat mata kepada kami malah kau sengaja permalukan kami. Rupanya kau terlalu mengandalkan kepandaianmu, nama besarmu, kau berniat kasi rasa kepada kami semua! Jie hiap kau keterlaluan! Mana kami tunjukan muka akan hidup lebih lama dunya kang ouw? Jie Hiap walaupun aku ada pecundangmu, aku masih tak tahu malu, aku masih ingin peroleh pengajaran darimu, biar darahku muncrat disini, tidak dapat gampang2 aku mengantap kau pergi Jie hiap, apapun kau kata, aku tidak puas! Sekarang tak usah kita banyak omong, mari kita mulai! Tentu saja, sepasang kepalan tidak bisa layani empat tangan, maka itu aku bersiap akan layani kau satu sama satu! Jie hiap, dengan andaikan cambuk ku ini, aku akan belajar darimu, kau ada merdeka untuk turunkan tangan jahatmu, tetapi jikalau kau berpura2 berlaku murah, aku tak dapat terima! Bicara terus terang permusuhan kita tak dapat didamaikan lagi, silahkan kau mulai!”

Na Hoo insaf bahwa orang sudah nekat, maka ia mengerti ia harus waspada.

“Baiklah,” sahut ia sambil bersenyum. “Kau benar satu laki2, terpaksa aku mesti layani padamu, aku mesti terima baik kebaikanmu ini. Nah, silahkan maju!”

Jago tua ini lantas mundur, untuk memberi hormat secara kaum Hoay Yang Pay.

Hauw Thian Hoei ada sangat sengit, kalau bisa, ia ingin telan itu, ia lantas maju sambil berlompat, dengan cambuknya ia menyerang dari atas kebawah. “Kau sambutlah!” ia berseru. “Bagus!” jawab Na Hoo sambil berkelit, hingga cambuk turun ditempat kosong.

Thian Hoei penasaran, dengan gerakan “Hong hong tian cie,” atau “Burung hong pentang sayap,” ia lompat maju mengangsak, cambuknya pun lantas menyelang pula.

Untuk kedua kalinya Jie hiap berkelit seraya berlompat pula, sekali ini ia lompat jauhnya dua tumbak seraya ia terus serukan “Kunyuk, mari sini!” Menyusul itu, ia pun segera keluarkan ruyung lemasnya, Siang tauw Gin sie Hong liong pang.

Dalam panasnya hati, Hauw Thian Hoei lompat untuk mendesak pula. Sekarang ia tidak lagi menyerang dari atas, hanya bagaikan tumbak, ia menusuk dengan ujung cambuknya yang ia bikin lempang dan tegak.

Na Hoo geser kaki kekanan, dengan tangan kanan yang menyekal ruyung, ia kemplang cambuk lawan, tangannya yang kiri diletaki diatas ruyungnya itu. Karena sambutannya ada tepat sekali, cambuk kena dihajar hingga menerbitkan suara. Tetapi Thian Hoei pun gesit, ia keburu menarik sedikit, dengan demikian, cekalannya tidak sampai terlepas, melainkan ujung cambuknya sedikit terpental. Akan tetapi inipun sudah cukup membuat mukanya merah, ia malu dan mendongkol, hingga ia menjadi bertambah sengit, ia segera menyerang pula.

Sambil perdengarkan seruan panjang, Ay Kim Kong layani musuh yang nekat itu. Ia bisa berlaku tenang, hingga ia tidak terdesak walaupun serangan bertubi2. Dalam ketenangan, ia berlaku celih dan tangkas, ia gunai setiap ada saatnya untuk balas menyerang, hingga tak dapat lawannya mendapat angin.

Twie hong Tiat cie tiauw ibuk sendirinya apabila ia dapat kenyataan, sia2 saja ia rabu satru itu, yang tetap layani ia dengan tenang tenteram. ia insaf bahwa ia bakal celaka apabila ia tak ubah siasat. Maka ia lalu gunai Keng kang Tee ciong soet, yaitu ilmu entengi tubuh, supaya bisa bergerak dengan gesit kedelapan penjuru.

“Ilmu ruyungmu aku sudah tahu!” berkata ia selagi ia loncat keluar kalangan, hingga dalam dua kali loncatan, ia sudah sampai ditepi pohon, dimuka rimba. Terus ia meloncat keatas pohon untuk perlihatkan keentengan tubuhnya. Dari sini, dengan berdiri dengan “kim kee tok lip” atau “Ayam emas berdiri dengan sebelah kaki” ia menantang jago tua itu, katanya “Hawa ada panas mengkedus, diatas pohon ini ada nyaman!”

Mulanya Ay Kim Kong mengawasi saja lawan itu berlompat jauh. ia kuatir orang menggunai tipu dan akan serang ia dengan senjata rahasia, tetapi sekarang segera ia mengerti bahwa ia ditantang adu ilmu entengi tubuh, maka didalam hatinya ia kata “Kunyuk, kau hendak gunai kegesitanmu, kau bermata anjing buta! Kami Yan tiauw Siang Hiap kenamaan karena keahliannya dalam ilmu ini, jikalau aku tidak ajar adat padamu, kau pasti tidak kenal aku!”

Na Hoo pindahkan ruyungnya ketangan kiri, ia berseru “Kunyuk, kau hendak pertontonkan ketangkasan tubuhmu, baik, aku nanti lihat! Mari kita main2 diatas!”

Dengan satu gerakan cepat, jago tua ini hampirkan rimba, terus ia loncat naik kepohon di depannya ketua Cin tiong Sam Niauw. Ia injak satu dahan kecil, hingga dahan itu meroyot turun, tetapi dengan lekas tubuh nya membal naik pula mengikuti embalannya dahan itu, akan pindah kelain dahan.

Hauw Thian Hoei lihat gerakan pertama dari Na Hoo, ia insyaf liehaynya jago tua itu, maka tidak tunggu sampai orang berdiri tetap, ia lompat kedahan itu dibagian sebelah atas. Gerakannya ini adalah “Kim hong hie loei” atau “Tawon ceking permainkan pusuh”. Setelah itu, ia kumpulkan tenaga, akan beratkan tubuhnya agar dahan menjadi patah, supaya si jago tua turut rubuh karenanya. Dilain pihak, iapun menyerang dengan cambuknya. Adalah keinginannya akan dengan satu gerakan berbareng itu ia bisa bikin mampus lawan yang liehay ini.

Na Hoo bisa menerka niat orang. Ia mengerti, jangankan sampai dikemplang, jatuh saja dari pohon, ia bisa celaka. Tetapi ia tidak takut. Dengan melenggakkan tubuh, ia luputkan diri dari ujung cambuk. Berbareng dengan itu, iapun barengi turun mengikuti meroyotnya dahan, hanya kalau Thian Hoei menindih dengan beraturan, ia sendiri dengan tiba2, kakinya, yang dijepitkan kepada dahan, menarik dengan keras, hingga dahan itu   me turun dengan getas. Maka tidak ampun lagi si Garuda Besi, yang sedang gunai tenaganya, terpeleset sendirinya, tubuhnya jatuh dengan tak dapat ditahan lagi, malah iapun tidak sanggup menjambret kesana sini, ia jatuh terus ketanah, terbanting keras hingga pingsan! Masih untung baginya, selagi ia jatuh dengan kepala terlebih dulu, ia masih sempat berdaya menggeraki tubuhnya hingga ia jatuh terlentang ini sebabnya kenapa ia jadi terbanting hebat.

Lioe Seng berempat yang menyaksikan pertempuran itu, selagi kagum untuk keliehayannya kedua orang itu, mereka terperanjat melihat ketua mereka jatuh. Mereka tidak mampu menolongi. Setelah ketua itu jatuh baharu mereka berlompat maju akan berikan pertolongannya.

Tubuhnya Na Hoo melayang turun, ia berdiri didepan rimba. “Kunyuk tua, kau hendak celakai orang, kau celakai diri sendiri terlebih dulu!” ia kata sambil tertawa dingin. “Sekarang baharu kau insaf keliehayanku!”

Yap Thian Lay gusar sekali.

“Katetok she Na, jangan kau menghina!” ia berseru. “Ketua kami rubuh ditanganmu, ia harus sesalkan kepandaiannya seridiri yang belum sempurna, tetapi walaupun sekarang ia kalah, masih ada lain hari untuk membalas dendam! Katetok, jikalau kau masih ngoce saja, aku nanti terpaksa damprat kau!”

Ay Kim Kong tertawa gelak2.

“Sebenarnya aku sudah pikir untuk tinggalkan kau sekalian disini, tetapi karena kau mengancam untuk menuntut balas, sekarang aku ubah pikiranku,” kata ia. “Karena terbukti kau ada laki2 baik, aku hendak, bantu wujudkan cita2mu, aku ingin saksikan bagaimana nanti kau membalas sakit hati kepadaku!

Jago tua itu merogo kedalam sakunya akan tarik keluar satu botol kecil, dari dalam botol ini, ia tuang tiga butir obat pulung warna merah sebesar biji gouw tong.

“Sahabat baik,” kata ia pada Yap Thian Lay, “ini ada obat Kioe coan Hoa tok tan, obat manjur dari kaum Hoay Yang Pay, kau bangsa maling ada bercuriga, andai kata kau tidak takut aku meracuni, lekas kau kasi dia makan obat ini, supaya kau bisa lekas2 berlalu dari sini!”

Yap Thian Lay cerdik, ia tertawa dingin.

“Jiwa kami sekarang berada ditanganmu, orang kate!” kata ia. “Jangankan kau berikan obat, walau racunpun kami akan makan juga!” Dengan tak bersangsi lagi ia sambuti obat itu, yang lantas dimasukkan dengan paksa kedalam mulutnya Hauw Thian Hoei.

Dimana air minum tidak ada, sungguh sulit akan masukkan obat melewati tenggorokan, dari itu, air ilar saja yang diharapkan bantuannya, hingga lumernya dan turunnya obat menjadi lama.

Jie hiap tidak perdulikan musuhnya itu, ia hampirkan guci arak, yang ada dua rupa, bie cioe dan hong cioe, yang ia terus tuang menjadi satu, kemudian dengan itu ia kipratkan mukanya rombongan piauwsoe dan lainnya.

Arak yang dipakai sebagai gan inya, air itu sama manjurnya, tidak lama kemudian, orang mulai gerak geraki kaki tangan nya dan tubuhnya. Yang paling dulu sedar adalah Kim Hoo, Giok Koen, Giok Kong, Louw Kian Tong dan Lioe Hong Coen.

Berbareng, dengan itu, terdengar Hauw Thian Hoei berseru “Ayo!” Sebab pengaruhnya obat, ia sedar dengan cepat, lukanya didalam badanpun sudah lantas sembuh. Ia buka matanya, ia melihat dua saudarnya pegangi ia. Iapun melihat Jie hiap asyik tolongi kawannya. Mendadakan ia jadi sangat mendongkol, pepat pikirannya, hingga sambil kertek gigi ia berseru “Orang kate she Na, jikalau kau tidak bunuh Hauw Jie thayya, kau ada satu pit hoe!”

Na Hoo menoleh dengan ayal ayalan.

“Aku sedang tunggui kau, kunyuk,” sahut ia, “aku sedang tunggui pembalasanmu! Sekarang tak dapat aku memencet kau yang mirip seekor semut, aku si orang tua tidak sudi kemplang harimau yang sudah mati! Kau sekarang sedang terluka, apabila aku turun tangan pula atas dirimu, kaum kang ouw akan tertawai aku si tua bangka menghina satu boca cilik! Maka mulai hari ini, sampai seratus hari kemudian, aku si tua bangka nanti tunggui kau didusun Na chung diluar kota Coe cioe Selatan di Tay benghoe. Aku nantikan dengan segala kehormatan. Umpama kau tidak datang, akupun tidak akan kirim surat undangan kepadamu… Sebegini saja, persilahkan!”

Sambil tertawa dingin, Hauw Thian Hoei berbangkit, Yap Thian Lay masih pegangi ia.

“Kita nanti ketemu pula di kemudian hari, siang atau malam!” kata ia. Lalu, dengan di pepayang soeteenya, ia menuju kedalam rimba.

Lioe Seng dan dua konconya, dengan senjata ditangan, mengiringi toako atau ketua ini, sampai mereka lenyap dihutan yang lebat.

Louw Kian Tong dan dua saudara Soen, yang sedar sempurna paling dulu, telah sekai muka mereka yang basah dengan arak, mereka tahu bahwa Jie hiap lah yang menolongi mereka, tetapi kapan mereka melihat orang tua ini merdekakan Hauw Thian Hoei, mereka tidak bisa kendalikan diri.

“Mereka terlalu menghina, jangan dikasi mereka lolos!” mereka berteriak seraya semuanya hunus senjatanya masing2. Lantas mereka mengejar.

“Jangan ganggu padanya!” Na Hoo mencegah. “Aku telah berikan ajaran cukup pada mereka, biar mereka berlalu. Kitapun mesti mengaku telah rubuh, karena ditengah jalan umum ini kita telah kena dipermainkan Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang baharu tersedar ketika mereka dengar perkataan nya Jie hiap, mereka malu sendiri, bukan main jengahnya mereka.

Jie hiap sementara itu tolong sedarkan juga semua tukang kereta. Semua orang berdiam, sesuatu dari mereka beroman berduka.

“Jangan pikirkan tentang kegagalan ini,” kemudian Jie hiap hiburkan Ngo Cong Gie dan Lioe Hong Coen. “Cin tiong Sam Niauw ada sangat licin tetapi mereka toh tak lolos dari tanganku, benar kau kena dirubuhkan tetapi merekapun pergi dengan tangan kosong dan tubuh terluka, merek mereka jatuh. Kapan kelak kita sampai di Ie hang, piauw utuh, nama baik piauwkiok dapat dipulihkan begitu pun kehormatannya Hoay Yang Pay! Sekarang hayo kita lekas menuju ke Ie hang, Liong Jiang asyik menantikan disana. Jangan kuatirkan Cin tiong Sam Niauw, lain kali tidak nanti mereka berani datang pula ke Selatan ini. Aku sendiri masih punya urusan penting, aku mesti lekas pergi ke Ciatkang Selatan akan beramal berkumpul disana. Nah, kau sekalian pergilah!”

Jie hiap tutup kata2nya dengan diapun lari kedalam rimba, hingga sebentar kemudian, diapun hilang lenyap.

LXVII

Ngo Cong Gie semua mengawasi berlalunya Ay Kim Kong, lantas mereka rapikan pakaian mereka. Karena tahu, Liong Jiang pasti sudah menantikan dihotel See Kee Tiam di Ie hang, tidak ayal lagi merekapun lanjutkan perjalanan mereka. Hanya selama ini, walaupun mereka sudah lolos dari bahaya, mereka semua lesu. Mereka malu dan kecewa telah terjatuh kedalam akal muslihat nya Cin tiong Sam Niauw yang liehay. Sesampainya di Poan liong oeh, mereka singgah untuk beristirahat, setelah itu, mereka berangkat lebih jauh. Tepat pada jam tujuh malam mereka sampai di Ie hang dimana mereka pergi ke Pak kwan, kota Utara, akan cari hotel See Kee Tiam. Benar seperti katanya Jie hiap, Liong Jiang sudah menantikan, hingga pemuda ini bisa segera serahkan peti berharga kepada Ngo Cong Gie.

Piauwsoe itu puas, tetapi yang paling girang adalah kedua saudagar Kwie tang, karena harta mereka selamat, mereka sendiri tidak kurang suatu apa, maka sekarang kembali mereka berlaku hormat kepada semua piauwsoe dan boesoe, terus saja mereka memesan dua meja makanan untuk hormati piauwsoe dan boesoe itu.

Ngo Cong Gie semua merasa jemu, akan tetapi mereka terima kehormatan itu, yang mereka harus dapatkan.

Sehabisnya bersantap, orang berangkat kedalam kota, ketempatnya kedua saudagar, akan selesaikan tugas, bahwa piauw sudah diantar dengan selamat dan diterima dengan baik oleh kedua saudagar itu. Kedua saudagar masih bisa menimbang, kecuali bayar harga perlindungan yang betul, merekapun menambah dengan lima ratus tail. Tadinya Cong Gie menampik tetapi sesudah dipaksa, ia terima juga.

Sementara itu, perjalanannya Lioe Hong Coen dan kawan2 telah terlambat satu hari, karena ini, mereka lantas pamitan dari Cong Gie beramai, untuk segera lanjutkan perjalanan mereka.

Cong Gie dapat pikiran baharu setelah ia saksikan bagaimana kawanan boesoe itu membantu ia dengan sungguh2. Untuk membalas budi, ia nyatakan ia suka turut rombongan Hoay Yang Pay itu untuk mereka dapat membantu nya. Ia nyatakan, Soe ma Sioe Ciang ada bersatu hati dengan dia.

“Mari kita berangkat sama2!” Cong Gie tambahkan. “Penghidupan sebagai piauwsoe ada berbahaya sekali, untuk sementara, kami hendak menunda. Biarlah piauwkiok diurus terus oleh kawan yang lain2. Dengan turut ke Gan Tong San, kami bisa sekalian pesiar dan menemu orang2 pandai.”

Thay kek Lioe Hong Coen terima baik yang orang hendak ikut rombongannya, ia menghaturkan terima kasih.

Cong Gie berdua girang, maka lantas ia perintah rombongannya pulang, mereka berdua lantas ikut rombongan Hoay Yang Pay meninggalkan Ie hang menuju ke Ciatkang, sampai pada suatu hari tibalah mereka di Tong peng pa, Lok ceng, di Ciatkang Selatan, dimana ditembok depan dari hotel Eng Hoo, mereka tampak tanda rahasia dari pihak Hoay Yang Pay, maka Giok Kong, yeng melihat itu, usulkan rombnogannya ambil lain rumah penginapan, supaya mereka jangan berkumpul menjadi satu, agar tidak terlalu menyolok mata. Ia menyatakan, cukup satu dua orang saja yang pergi menemui rombongan pertama itu.

Lioe Hong Coen setuju, dari itu mereka lewati hotel Eng Hoo dan pergi kehotel Sam Gie ditepi sungai, kemudian Liong Jiang bersama Kim Hoo pergi kehotel Eng Hoo, hingga mereka menemui Ciok Bin Ciam, muridnya Ban Lioe Tong, siapa menjaga hotel seorang diri, yang lain2 sedang keluar mencari keterangan, Bin Ciam terangkan, baik rombongan yang kedua ini menuju langsung ke Gan Tong San karena dipercaya, sarang Hong Hwee Pang ada didaerah pegunungan itu disebelah kiri.

“Baiklah kalau begitu, rombongan kita jadi tak usah berkumpul lagi disini,” berkata Liong Jiang, yang terus ajak Kim Hoo kembali kehotel Sam Gie, akan sampaikan warta pada Lioe Hong Coen beramai.

Hong Coen mengadakan perembukan, nyata semua suka pergi lantas, melainkan diputuskan, sebuah kamar mereka akan sewa terus, untuk menitipkan barang2 mereka begitupun semua binatang tunggangan, sedang jongos diyanjikan upah kalau mereka rawat kuda dengan baik. Mereka berangkat ke Gan Tong San dengan menaik perahu, mereka mendarat dikaki gunung. Tukang perahu diminta menunggu, umpama sampai malam mereka tidak kembali, tentu mereka mondok diatas gunung, maka tukang perahu itu di ijinkan pulang saja. Kalau mereka tak berhasil mencari sahabat, yang hendak dikunjungi, katanya mereka hendak kembali dengan naik perahu itu juga. Atas ini, tukang perahu setuju.

Demikian, rombongan ini menuju ke Ngo liong peng. Tempat itu ada asing, haripun sudah sore, tetapi mereka sampai juga ditempat yang dituju. Disini, dua warung teh sudah mulai tutup. Beberapa orang, yang di tanyai keterangannya tentang Hoen coei kwan menyatakan tidak tahu dan tidak kenal tempat itu.

Lioe Hong Coen mengajak jalan terus, melewati Ngo liong peng.

“Kita perlu mencari pondokan,” nyatakan Ngo Cong Gie pada Chio In Po. “Lihat, cuaca menjadi semakin gelap.”

“Jumlah kita terlalu besar, sukar kita mencari pondokan,” jawab In Po. “Coba kita mencari kuil, yang besaran ”

Mereka berjalan terus sampai di jalanan yang terapit pohon2 siong, lewat dari situ, jalanan ada rata, tujuan mereka menghadapi sebuah gunung.

“Itu tentu kuil,” kata Soe ma Sioe Ciang sambil menunjuk ke Timur selatan.

Diatas gunung, antara sinar rembulan dan bintang, tertampak tembok merah.

Orang segera menuju kekuil itu. Hampir itu waktu dari kejauhan terdengar suara kelenengan bercampur tindakan kaki nyaring, lantas terlihat seekor keledai lari kabur, keledainya kecil, begitupun penunggangnya, tubuhnya kate dan kecil mirip satu boca.

Jalanan disitu ada sempit, tapi keledai lari terus walaupun dia sudah mendekati rombongan boesoe dan piauwsoe.

“Saudara2, awas, lekas minggir!” begitu terdengar suara si orang kate dan kecil. “Kalau kau kena langgar keledaiku sampai selembar bulunya copot, tak dapat kau jalan lebih jauh!”

Mendengar lagu suaranya orang itu, Lioe Hong Coen segera mendapat tahu, penunggang keledai itu bukannya satu boca hanya seorang yang lanjut usianya, karena itu, ia jadi tidak senang. Itu adalah suara dan perbuatan kasar.

Yang lainpun ada tidak puas Soe ma Sioe Ciang berjalan dipinggir, ia tak dapat kendalikan diri lagi, ia lompat ketengah jalan sambil berseru “Hari sudah gelap dan jalanan demikian sempit, kenapa kau larikan terus keledaimu? Hayo turun, sahabat baik! ”

Sengaja piauwsoe ini memasang diri, untuk lihat, orang berani terjang dia atau tidak. Akan tetapi keledai terus mendatangi sambil tetap berlari keras.

Sin koen Ke Siauw Coan bisa menduga masuksudnya Soe ma Sioe Ciang, ia berpengalaman, ia kuatir kawan itu menjadi korban, ia lantas berlompat, tangannya diulur untuk tarik kawan itu ke pinggir. Akan tetapi dia terlambat sedikit. Keledai sudah lantas sampai, karena binatang itu dilarikan terus, segera dia akan terjang piauwsoe itu.

“Bagus.” berseru Soe ma Sioe Ciang, sambil ia egos tubuhnya kekanan kaki, kirinya dibarengi diangkat, hingga ia jadi berdiri dengan sikap “Kim kee tok lip” atau “Ayam emas berdiri dengan sebelah kaki” Berbareng dengan itu, tangan kirinya menyamber tom keledai dan tangan kanan nya menjambak tubuh yang kecil dan kurus itu, dengan niat kasi turun si penunggang keledai yang dianggap tidak kenal aturan itu.

Itu adalah gekan sangat sebat, terutama dilakukannya dari dekat. Sulit untuk menyingkir dari serangan demikian macam. Akan tetapi, kesudahannya ada diluar dugaan.

Penunggang keledai itu telah perdengarkan suaranya “Eh, jangan main2 denganku!” Berbareng dengan itu, ia mendahului samber tom, yang ia terus angkat dan ditarik kekanan. Anehnya, kepala keledai itu, berikut separuh tubuhnya, telah terangkat naik hingga seperti binatang yang berjingkrak berdiri!Sesampainya dikanan, baharu keledai itu diturunkan pula. Pemandangan itu ada mengherankan dan lucu juga.

Soe ma Sioe Ciang kebogehan, karena samberannya mengenai tempat kosong, disebelah mendongkol, iapun hampir tertawa.

Ngo Cong Gie dan yang lain segera menyangka pada orang jahat.

“Maju!” ia berseru seraya hunus senjatanya, iapun maju terus. Perbuatan ini diturut oleh yang lain2.

Ciok Liong Jiang berjalan berendeng dengan piauwsoe Teng Kiam, keduanya sedang ber omong? dengan asyik, ia tidak tahu tentang kelakuannya si penunggang keledai, ia baharu angkat kepalanya kapan ia dengar suara berisik, paling belakang ia dengar suaranya si penunggang keledai, justeru waktu orang ini sedang berdiri bersama keledai nya. Ia melihat wajahnya penungang keledai itu, ia terperanjat. “Jangan bergerak! Orang sendiri!” ia berseru, menyusul mana, ia loncat kedepan.

Pada waktu itu, si penunggang keledai telah putar balik binatang tunggangannya sambil ia mengucap dengan tajam “Sungguh orang2 yang liehay! Rupanya karena melihat aku bersendirian, kau beramai hendak begal aku! Hayo maju, anak2, masih belum ketahuan siapa yang nanti bercelaka!”

Selagi pihak piauwsoe dan boesoe melengak karena seruannya Ciok Liong Jiang, pemuda ini sudah sampai didepannya si penunggang keledai, tidak perduli itu ada jalanan gunung, ia terus saja tekuk kedua lututnya, sembari manggut berulang2, ia mengucap “Soe ya, terimalah hormatnya cucu murid Ciok liong Jiang! Semua soepe dan soesiok ini belum kenal soe ya, maka terjadilah ini salah mengerti, harap soeya suka memaafkannya.”

Mendengar itu, semua orang menjadi terperanjat. Teranglah sudah, penunggang keledai itu ada toa ya, atau orang pertama, dari Yan tiauw Siang Hiap, ialah Twie in chioe Na Pek si Tangan Kilat. Diantara mereka, sebagian ada orang2 Hoay Yang Pay, tetapi merekapun belum pernah ketemu dengan orang tertua itu. Lantas saja semua letaki senjata, mereka maju untuk memberi hormat.

Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang menjadi jengah sendirinya.

“Sudahlah!” berkata si penunggang keledai, yang dengan satu gerakan, sudah lantas berloncat turun dari binatang tunggangannya itu.

Liong Jiang segera memperkenalkan kake guru itu kepada Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang.

Na Pek buat main kumisnya ketika ia pandang kedua piauwsoe itu. “Sudah lama aku dengar nama besar dari jiewie, yang berhasil mendapatkan kebahagiaan dan nama wangi,” kata ia. “Akupun kagum untuk kemuliaanmu berdua yang hendak membantu pihak Hoay Yang Pay ”

Semua orang heran Twie In Chioe mengucap demikian, sedang kedua piauwsoe itu, rasakan muka mereka masing2 menjadi panas bahna jengahnya.

Ngo Cong Gie ada sabar, ia diam saja, tidak demikian dengan Soe ma Sioe Ciang, yang darah nya panas, maka juga ia menyahuti katanya “Loo hiapkek keliru dengar! Kami justeru rubuh di Kanglam ini, hampir jiwa kamipun lenyap, maka syukur ada Jieya yang berulang2 menolong dan melindungi kami. Maka itu, kami ada tidak tahu diri sekarang berani hendak membantu kepada Hoay Yang Pay ”

Na Pek tertawa terbahak2.

“Soe ma Piauwtauw, jangan salah mengerti!” kata ia. “Aku maksudkan kau telah berhasil dengan iringkan piauw sekali ini. Adalah kebetulan kau bertemu dengan jie teeku, yang sedang ikuti satu sahabatnya. Aku sendiri datang dari arah Ciang hoa, sejak di Tong peng pa, aku telah melihat rombonganmu. Baik adalah kedatanganmu ini, sebab Cap jie Lian hoan ouw ada kuat dan membutuhkan banyak tenaga untuk menyerangnya. Aku justeru bersyukur, yang kau berdua niat membantui kami. Perangiku memang luar biasa tetapi jangan kau keliru mengerti.”

Liong Jiang tahu tabeatnya soeya ini, maka itu, ia mencegat.

“Soe ya, apakah soeya ada ketemu Ong Soepe?” tanya

ia. Soe ma Sioe Ciang hendak buka mulutnya, akan tetapi cegatannya Liong Jiang membikin ia urung bicara.

“Ciangboenjin telah pergi bersama2 Kam Tiong dan Kam Hauw,” sahut kake guru itu. “Mereka telah pergi ke kuil Tiat Hoed Sie di Hok Say Nia, Sampai sebegitu jauh, ia peroleh juga sedikit keterangan. Pihak Hong Bwee Pang telah mendapat tahu bahwa kita datang dengan tenaga penuh, merekapun asyik bersiap sedia akan melayani dengan sungguh2. Mereka juga ada mempunyai banyak orang2 liehay dari Rimba Hijau yang dapat dikumpulkan dari berbagai tempat, mereka di pencar keempat penjuru akan rintangi sesuatu rombongan kita yang menuju kesarang mereka. Baik berterang maupun bergelap, mereka gunai segala macam cara untuk ganggu kita, supaya kita gagal ditengah jalan. Dengan begitupun mereka hendak mengunjuk pengaruh mereka. Maka karena ini, tak boleh kita berlaku sembrono. Coe In Am coe bersama murid2 perempuannya telah dapat tahu dimana beradahya Hong Bwee, muridnya am coe yang terculik musuh. Untuk menolongi muridnya itu, am coe bersedia akan mengadu jiwa dengan Thian lam It Souw Boe Wie Yang, dan ia belum mau sudah sebelum Thian Hong Tong hancur lebur. Diam masih ada orang pandai lain membantu kita. Sebenaraya aku berniat basmi rombongan dari Tiat Hoed Sie, apamau, mendadak aku mesti hadapi satu urusan lain, dari itu, kebetulan sekali aku bertemu dengan kau sekalian. Maka sekarang, pergilah kau menuju ke Tiat Hoed Sie, disana ciangboenjin kekurangan tenaga. Kau mesti waspada untuk kelicikan musuh.”

Lioe Hong Coen terima baik pesan itu. “Kami akan segera menuju kesana,” jawab ia. Mereka lantas berpisahan. Demikian, tatkala rombongan ini sampai di Tiat Hoed Sie, bentrokan sudah terjadi dengan Soe coan Siang Sat, yalan Shong boen sin Khoe Leng dan Kwie lian coe Lie Hian Tong, yang sudah mengatur panggung patok Ceng tiok tibung untuk mencoba celakai Ong Too Liong, yang hendak dikurung didalam lembah. Merekapun telah bertempur dengan musuh, sampai akhirnya kedua pihak bekerja sama2 memukul mundur musuh mereka. Dan kesudahannya, mereka berkumpul sama2 didalam rumah batu dari pemburu she Hee yang bernama Hong Lim.

Melanjutkan pembicaraan mereka, Eng Jiauw Ong utarakan kekuatirannya untuk Hee houw Eng yang ditugaskan menguntit Lie touwhoe Liok Cit Nio, itu perempuan cabul yang licik. Iapun hunjuk, sejak berpisahan dengan Coe In Am coe, belum pernah ia ketemu pula niekouw dari See Gak Pay itu, ia percaya bahwa niekouw itupun ada menghadapi ancaman bencana.

“Maka itu, perlu, kita cari mereka untuk gabungkan diri,” menyatakan ketua Hoay Yang Pay akhirnya.

“Aku rasa tak perlu kau berkuatir, Ong Soetee,” berkata Kim too souw Khoe Beng, sang soeheng. “Coe In Am coe pasti telah wariskan ilmu silat golong nya, sedang pedangnya, Tin hay lok po kiam, dan dua belas butir mutiaranya, See boen Cit poo yoe ada dimalui kaum kang ouw. Aku percaya, walaupun orang2 Hong Bwee Pang liehay, tidak ada berapa orang yang sanggup tandingi padanya. Tetapi benar kita mesti lekas berangkat. Selekasnya kita sampai di Hoen toei kwan dan memasuki Cap jie Lian hoan ouw, urusan pasti akan segera ada kepastiannya.”

Sampai disitu, Ngo Cong Gu meminta diterangkan satu dan lain mengenai Hong Bwee Pang atau persengketaan antara kedua golongan itu. Eng Jiauw Ong berikan keterangannya, setelah itu ia menambahkan, untuk mencuci malu terutama guna tolong muridnya, ia hendak melakukan pertempuran yang memutuskan dengan Hong Bwee Pang. Ia tidak lupa menghaturkan terima kasih untuk bantuannya kawanan piauwsoe ini.

Menambahkan keterangan, Ngo Cong Gie mengatakan bahwa menurut satu sahabatnya, Boe Wie Yang, tidak hanya gagah dan pintar, diapun pandai menarik rasa suka lain orang terhadapnya, karena mana, dia jadi dapat tunjangan banyak penjahat pemburon yang liehay, maka tidak heran apabila Hong Bwee Pang menjadi berpengaruh besar. Umpama Lwee sam tong, yang telah dirampungkan sempurna setelah membutuhkan tempo dua tahun, cuma beberapa anggauta penting ketahui keletakannya. Untuk pergi kesana, bukan saja jalanan yang banyak tikungannya, pun ada gelap gulita, hingga orang jadi seperti nyasar untuk bedakan saja empat penjuru, ada sulit. Jalan masuk pun lain dari jalan keluar. Untuk masuk dan keluar, perlu tempo berjam jam. Maka itu, tak heran bila orang luar ada sangat gelap mengenai Cap jie Lian hoan ouw.

“Aku menganggap, sekalipun kita sudah ketahui keletakan Cap jie Lian hoan ouw, tidak boleh kita lancang memasukinya.” Con Gie. mengasi pikiran. “Sulit dan berbahaya umpama kita kena terjebak dan terkurung tanpa kita sanggup berdaya. Aku anggap baiklah kita berlaku sabar dan menyelidikinya dahulu dengan saksama, setelah ada kepastian, baharu kita turun tangan.”

“Terima kasih, Ngo Piauwtauw, benar apa yang kau katakan,” menyatakan Eng Jiauw Ong. “Keterangan yang aku peroleh cocoh dengan keteranganmu ini. Memang Boe Wie Yang liehay dan banyak kawannya yang sehidup semati. Sekarang ini kita mesti berkumpul dan bersatu, lain tidak!”

LXVIII

“Aku percaya letaknya Cap jie Lian hoan ouw tak terlalu jauh dari Hoen coei kwan,” Sin koen Ke Siauw Coan turut bicara. “Pasti Boe Wie Yang menggunai kelicinannya untuk permainkan kawan2nya, untuk mencapai pusatnya ia bikin perahu jalan ter putar2 hingga jadi memakan tempo lama, terutama itu dilakukan diwaktu malam, tidak heran kalau orang jadi seperti tersasar.”

“Kau benar soetee, aku menduga sama seperti kau,” Eng Jiauw Ong bilang. “Aku menganggap menyelidiki terlebih dahulu ada jalan terbaik.”

Lantas ada yang usulkan, akan bikin kunjungan secara berterang sambil membawa karcis nama yikalau sekarang kita berbuat demikian, aku kuatir orang makin mempersulit kita,” kata ketua dari Hoay Yang Pay. “Dimana sekarang anak panah telah disiapkan, segala apa terserah kepada pihak sana, kita tinggal menyambut saja.”

Sementara itu, cuaca telah mulai terang, tidak berayal lagi Eng Jiauw Ong titahkan Kam Tiong pergi papaki Hee houw Eng, yang ia kuatirkan sangat.

Kam Tiong segera menuju ke Ngo Hong peng, ia jalan belum jauh, lantas ia lihat Hee houw Eng sedang mendatangi, dengan demikian kedua pihak jadi bertemuan dan Hee houw Eng segera menemui po coe dari Ceng hong po akan tuturkan pengalamannya.

Eng Jiauw Ong puas orang telah bekerja sungguh2, ia memuji walaupun pemuda ini gagal menguntit Liok Cit Nio ia menghibur “Tidak apa Liok Cit Nio lolos, dia memang perlu dikasi hidup, agar dibelakang hari dia bisa dijadikan saksi dimuka ketua Hong Bwee Pang.”

Setelah itu, Hee houw Eng sampaikan pesan dari Yan tiauw Siang Hiap agar ketua ber hati2 menghadapi musuh, yang liehay dan banyak kaki tangannya.

Eng Jiauw Ong puas mengetahui Yan tiauw Siang Hiap dan lainnya hendak membantu padanya.

Satu malam mereka tidak tidur, mereka beristirahat sambil me lihat2 keadaan diluar rumah. Pemandangan alam disitu ada menarik hati dan menyegarkan.

Ber sama2 Teng Kiam, Chio In Po dan Ke Siauw Coan, Eng Jiauw Ong keluar dengan Hee Hong Lim mendampingi ia, pemburu ini tunijukkan keletakan tempat. Mereka pergi sampai dipuncak depan Hok Say Nia. Tiba2 dari arah Timur.selatan, dari balik puncak, kelihatan munculnya sepasang burung dara, yang terbang tinggi dan kemudian melayang terputar2 diatasan kepala rombongan ini, hingga mereka menjadi menaruh perhatian. Selang sedikit lama, kedua burung itu turun kebalik puncak.

“Hee Soehoe, apakah dibalik puncak itu ada penduduknya?” Siauw Coan tanya.

Eng Jiauw Ong sedang perhatikan burung, ia menoleh ketika dengar pertanyaannya Ke Siauw Coan, iapun memandang kepada Hee Hong Lim, siapa tidak lantas menjawab hanya unjuk roman terkejut dan ragu.

“Pasti disana tidak ada rumah orang,” kata ketua Hoay Yang Pay, yang mendahului pemburu itu. “Inilah aneh ”

“Tidak, tidak aneh!” Chio In Po menyusuli. “Burung dara itu sedang terbang kabur saja. Lihat disana, itu burung elang!” Eng Jiauw Ong semua lantas berpaling, kearah yang In Po tunjuk. Seekor burung elang besar sedang mendatangi, pantas burung dara itu ketakutan, elang itu melihat bakal mangsanya, dia terbang kebawah untuk menyamber, tetapi belum dia sempat terkam mangsanya, dia menjerit sendirinya, tubuhnya jumpalitan, sayapnya mengeluarkan asap. Dia masih berbunyi terus ketika tubuhnya jatuh melayang kebawah.

“Pasti ada orang dibalik punck itu,” kata Eng Jiauw Ong pada Ke Siauw Coan. “Dia yang lepaskan burung dara itu untuk ,memancing elang itu, yang di serang dengan semacam senja rahasia. Macam apakah senjata rahasia itu?”

Siauw Coan geleng kepala, begitupun yang lain2.

“Pasti disana ada orang yang umpatkan diri,” Ong Too Liong kata pula. “Mari kita tunggu, akan lihat apa akan terjadi terlebih jauh.”

“Yang aneh,” kata Hong Lini, “kenapa bulu elang itu terbakar ”

“Itulah senjata rahasia yang dinamakan Boe ie Boe seng Sin hwee ciam,” terangkan Eng Jiauw Ong. “Sudah lama senjata itu tidak pernah orang gunakan. Orang yang dapatkan senjata itu adalah Hwee Too jin Coei Keng Hie, imam kepala dari kelenteng Thong Leng Koan dari bukit Tok Hoe Kong di ilir sungai Kim Hee Kang. Imam itu, yang dikenal sebagai Thong Leng Koan coe, biasa ciptakan alat yang memakai api, umpama panah api, ia telah buat dalam beberapa macam. Dia ada seorang mulia, dia bikin pelbagai senjata rahasia itu untuk menindas pengaruhnya rombongan bajak di Kim Hee Kang udik. Kawanan bajak itu, yang liehay, ada sangat mengganggu lalu lintas sungai, dan pihak pembesar negeri tidak sanggup tumpas mereka, lantaran pesatnya perahu2 mereka. Tetapi Thong Leng Koan coe, dengan jarum Boe ie Boe seng Sin hwee ciani itu, bisa menyerang tanpa perahunya dapat menyandak, asalkan jarumnya mengenai sasarannya. perahu bajak tentu terbakar. Dalam satu kali lepas, tiga batang jarum menyerang dengan berbareng. Jarumnya pun bengkok, asalkan mengenai sasaran, sukar dicopotkan. Dengan jalan itu Thong Leng Koan coe bikin sungai Kim Hee Kang jadi aman. Setelah itu, ia sekap diri dalam kelentengnya. Maka aku tidak sangka, setelah berselang beberapa puluh tahun, disini muncul senjata rahasianya itu. Sekarang perlu kita mencari tahu, apa maksud permainannya akhli waris Thong Leng Koan coe itu.”

Siauw Coan semua kagum untuk pengetahuan luas dari ketua Hoay rang Pay ini.

Selagi mereka bicara lebih jauh, kembali muncul belasan burung dara dari balik puncak tadi, setelah berputuran, semua burung itu terpencar keempat penjuru.

“Sungguh liehay kawanan penjahat itu,” Eng Jiauw Ong memuji. “Kita sudah basmi pusat burungnya, sekarang mereka bersarang disini. Rupanya disini benar terdapat muridnya Coe Keng Hie itu.”

Liong Jiang puas dengan keterangan ketuanya itu tetapi ia tak puas dengan sepak terjangnya musuh.

“Kalau begitu, nyata sekali mereka menghina kita!” kata dia. “Jikalau kita antap saja, pasti mereka akan memandang kita terlebih rendah pula!”

“Aku bukannya keder terhadap mereka,” nyatakan Eng Jiauw Ong. “Seperti soeyamu, akupun hendak berlaku hati2. Pasti ada urusan penting maka diwaktu siang seperti ini, mereka lepas burung mereka. Kalau suka, kau boleh pergi menyelidikinya.” Liong Jiang memang ingin mencari tahu, bersama Ngo Cong Gie, Soe ma Sioe Ciang, Wie Sioe Bin dan Kim Jiang, berlima mereka lantas berangkat.

Sulit untuk pergi kebalik puncak, selain jalanan sukar, pun pepohonan tinggi2 sependirian orang, pepohonan itu ada rumput dan oyot2. Ketika akhirnya mereka sampai, disitu mereka tak melihat seorangpun juga. Terang sudah, orang jahat telah sembunyikan diri. Karena ini, Liong Jiang kagum akan luasnya pengetahuan soepenya.

Setelah mencari sekian lama dengan sia2, Liong Jiang mengajak rombongannya pulang, langsung kedepan Cio hoed tong, ia agak jengah menemui Eng Jiauw Ong.

“Jadinya penjahat ada punya jalanan rahasia disini?” tanya Khoe Beng.

“Memang,” sahut Eng Jiauw Ong. “Disini ada jalanan rahasia seperti yang didepan Tiat Hoed Sie. Sayang kita tak punyakan ketika akan mencari jalanan ini. Lagipun apabila kita mencari dengan sia2, penjahat bakal tertawakan kita,”

“Itulah benar. Kita memang perlu lekas pergi ke Hoen coei kwan,” Khoe Beng kata.

“Penjahat benar tak dapat dipandang enteng,” boesoe Wie Sioe Bin turut bicara.

“Penjahat licin, kita baik bersikap tak memperdulikannya,” mengutarakan Eng Jiauw Ong. “Karena penjahat tersebar luas, baik kita waspada saja, bicara pun mesti hati. Jangan kita pandang enteng pada musuh dan berlaku jumawa tak ada perlu nya.”

Eng Jiauw Ong melihat kesekitarnya, ia dapatkan orang mengerumuni padanya. “Silahkan kau jalan2, atau siapa lelah, dia boleh rebahkan diri,” ia kata. “Hee Soehoe pun boleh mengaso, diwaktu siang seperti ini tidak nanti terjadi apa juga. Sebentar malam baharu kita berdamai pula” Kemudian ia tambahkan pada Hee Hong Lim “Hee Soehoe, disini dimana tempat yang paling tinggi. Ingin aku memandang sekitar daerah pegunungan ini.”

“Disana, po coe,” sahut Hee Hong Lim sambil menunjuk ke belakang Hok Say Nia. “Itu Thian Coe Hong, puncak tertinggi disini”

“Baiklah,” kata Eng Jiauw Ong. “Silahkan Hee Soehoe beristirahat, bersama Khoe Soeheng aku berniat melongok ke sana. Aku rasa, kami perlu berdiam disini sedikitnya dua hari lagi”

Mendengar demikian, Hee Hong Lim lantas mengundurkan ini. sekalian siapkan barang hidang . untuk sekalian tetamunya bila sebentar mereka pulang.

Sesudah si pemburu pergi dan kawan2nya berpencar, Eng Jiauw Ong mengajak soehengnya menuju ke Thian Coe Hong. Khoe Beng bisa menduga maksudnya soetee ini, ia mengikuti sambil bicara secara sewajarnya saja Eng Jauw Ong tahu soe heng itu mengarti ia, iapun tidak pula memberi keterangan lagi.

Mereka sampai di Thian Coe! begitu lekas mereka telah lewati Hok Say Nia. Disini Eng Jiauw Ong lantas perhatikan keletakan puncak dan sekitar nya. “Tempat mereka berdiri cuma bisa muat empat atau lima orang.”

“Sayang, soeheng, disini tak dapat kita memandang ketempat jauhnya dua puluh lie,” kata Eng Jiauw Ong kemudian. Ia tidak puas. Ia melihat disana sini ada alingan puncak terlebih rendah, sampat pun sungai tak ter ampak dari situ. “Mari kita pulang ” Khoe Beng turut saudaranya ini.

Ketika mereka pulang, orang hampir kumpul semua. Mereka beristirahat sebentar, lantas tuan rumah undang mereka bersantap tengah hari.

Sehabisnya dahar, Eng Jiauw Ong menyatakan pada Khoe Beng, untuk peroleh keterangan, tidak ada jalan lain kecuali menawan satu musuh, untuk korek keterangan daripadanya. Sikap ini diambil saking terpaksa.

“Begitupun boleh, soetee,” Khoe Beng hunjuk setujunya. “Sebentar malam kita boleh memecah rombongan akan mencari musuh. Disini mereka atur penjagaan, mesti kita akan ketemui satu diantara mereka”

Eng Jiauw Ong segera mengambil ketetapan.

“Hanya Ban Soetee serta Ciong Soetee, kenapa sampai sekarang ini mereka masih belum juga sampai?” kata ia.

“Tentang mereka tak usah soetee buat pikiran,” Khoe Beng bilang. “Mereka berdua tak dapat disamai dengan yang lainnya, selain boegeenya sempurna, merekapun cerdik. Bisa jadi mere kapun dapatkan pengalaman apa2. Baik kita berkumpul saja nanti di Kioe Leng Kiong dari Hok Mo Toojin. Di Kioe Leng Kiong kita ada leluasa. Hok Mo Toojin ada satu orang luar biasa dalam kalangan Rimba Hijau, kita memang harus berkunjung kepada nya”

“Aku memang sudah pikir untuk pergi kesana,” Too Liong bilang, “hanya sebelum aku berhasil dengan penyelidikanku, aku malu menemui kaum Rimba Persilatan siapa juga.”

Demikian keputusan mereka. Orang kemudian pada beristirahat, tetapi Eng Jiauw Ong dan Khoe Beng bersamedhi. Sampai sore tidak ada terjadi suatu apa. Mereka bersantap siang2, lantas semua dandan. Mereka pergi dengan setiap dua orang satu rombongan. Eng Jiauw Ong yang atur mereka, Khoe Beng dan Teng Kiam diminta pergi kearah Ngo liong peng, untuk membantu yang lain. Ia sendiri berangkat bersama Thay kek Lioe Hong Coen dan Sin koen Ke Siauw Coan.

LXIX

Ketika orang mulai berangkat, waktu itu ada jam satu. Eng Jiauw Ong bertiga berangkat paling belakang. Tetapi merekapun tidak berkumpul terus, Eng Jiauw Ong mengusulkan memecah dua, supaya mereka tak berombongan dan jadi menyolok mata, yalan Hong Coen berdua Siauw Coan, ia bersendirian.

Hong Coen dan Siauw Coan menurut, malah merekapun mengambil jalanan yang Eng Jiauw Ong tunjukkan, hanya sekembalinya nanti, mereka mesti kumpul dulu ditempat dimana tadi mereka berpisahan. Eng Jiauw Ong ingin jalan sendiri, supaya ia bisa bekerja dengan merdeka.

Begitulah, setelah berada sendirian, Eng Jiauw Ong lantas maju. Ia tak jeri terhadap jalanan sukar atau lebat, ia maju dengan hati2, agar musuh tidak dapat pergoki padanya. Ia perhatikan tempat dimana tadi siang ia melihat burung elang dipanah dengan senjata rahasia. Langit gelap ada menambahkan kesukaran bagi penyelidikan ini. Malampun ada sunyi. Untuk memancing, Eng Jiauw Ong patahkan satu dahan besar, yang rubuh dengan menerbitkan suara keras dan berisik. Akan tetapi, setelah menantikan sekian lama, ia tidak dengar sambutan apa2. Ia heran. Disitu toh ada musuh!

Karena penasaran, Eng Jiauw Ong pergi kelain pohon, yang agak jauh juga dari pohon tadi, akan ulangi perbuatannya, malah ia lakukan itu terus sampai empat kali, hingga suara berisik bergemuruh saling susul, berkumandang dimalam yang sunyi dan gelap itu. Adalah sekarang, ia berhasil.

Dengan tiba2 satu bayangan muncul dari tempat lebat, tadi nya tidak terlihat tegas, kemudian ternyyata itu ada seekor, anjing pemburu yang besar, yang matanya bersinar mencorong. Eng Jiauw Ong kenali, itulah ada anjing asal Barat utara, yang ada lebih besar daripada yang kedapatan di Liok kee po.

Anjing itu loncat kearah tempat Ong Too Liong sembunyi, dia mencium cium, dia seperti dapat baui bau manusia.

Eng Jiauw Ong ketahui liehaynya binatang ini, ia bakal ketahuan asal binatang itu datang dekat padanya, dari itu, ia lantas bersiap, begitu lekas sang anjing mendatangi, ia sambut dengan satu kemplangan dahan pohon siong, hingga tanpa bersuara lagi anjing itu rubuh pingsan. Setelah itu, ia perdatakan tempat dari mana binatang itu muncul. Ia mundur, dengan jalan memutar. Ia hampirkan tempat itu. Itulah cara untuk menghindarkan diri dari incaran musuh.

Segera berkelebat tiga pasang cahaya kuning emas, melesatnya kearah dimana tadi Eng Jiauw Ong mengumpatkan diri. Menampak ita, jago Hoay Yang Pay ini menghela napas dan manggut2, saking kagumi liehaynya musuh, ia bersyukur yang ia telah menggeser diri dengan cepat.

Lantas Eng Jiauw Ong bergerak kearah dari mana sinar itu keluar. Ia tahu ia sudah terpisah empat lima lie  dari rumahnya Hee Hong Lim. Ia sampai disatu tempat yang menghadapi jurang atau lembah, yang dalam nya hanya dapat dilihat samar2, tapi ia tidak sudi mundur dengan begitu saja. Dengan bantuan cahaya si Puteri Malam, ia masih terus menyelidiki.

Dengan sangat lapat2, ditempat satu lie lebih, terlihat sesuatu yang ber gerak2, pemandangan itu menarik lebih keras hatinya Eng Jiauw Ong. Maka diakhirnya setelah rapikan pula pakaiannya, ia cari tempat untuk loncat turun. Disini ia gunakan ilmunya entengi tubuh, ia selalu samber oyot dan kakinya berulang menginjak batu dilamping pernah ia terpeleset, tetapi ia tidak tampak bahaya. Diakhirnya, ia sampai dibawah dengan tak kurang suatu apa.

Lembah itu ada penuh batu, disana sini ada air atau lumpur, dan pepohonan gelagah. Tanpa pakaian mandi sukar akan lewati air berlumpur itu.

Sesudah meneliti sekian lama, Eng Jiauw Ong heran. Disitu tidak ada jalanan keluar. Dari mana penjahat datang dan kemana mereka menyingkir? Apa mungkin orang gunai perahu kecil dan enteng atau berenang selulup?

Dengan sebatang dahan kering, Eng Jiauw Ong tusuk2 air, untuk cari tahu berapa dalamnya. Ia dapat kenyataan air tidak seberapa dalam, tapi didasarnya ada pasir dan lumpur. Antara nya, ada tanah yang muncul rata dengan air.

Akhirnya Eng Jiauw Ong percaya, dengan ilmu “Teng peng touw soei” atau “Menyeberang dengan injak kapu2,” ia akan bisa melintas dilembah berbahaya ini. Ia tidak membuang tempo akan mencobanya. Ketika pertama kali ia menginjak tanah rata dengan air itu, ia tidak melihat tapak kaki.

Tiba2 ia merandek. Ia dengar suara air, seperti air terdampar perahu yang laju terbawa angin. Inilah aneh untuk tempat sunyi itu. Ia merandek sebentar lalu maju pula, mata dan kupingnya dipasang terang2. Ia senantiasa waspada. Ia insaf berbahayanya tempat ini. Beruntung untuk ia, disitu ada tempat2 lebat dimana ia bisa sembunyikan diri.

Sampailah Eng Jiauw Ong di satu tempat yang menikung, ia baharu muncul atau disebelah kirinya ia dengar suara orang. Sedetik ia terperanjat, tetapi akhirnya, ia menghela napas.

“Benar2 Boe Wie Yang liehay,” pikir ia. “Tapi, aku siap sedia untuk melayani dia ”

Diam2 iapun girang karena disini ia ketemui orang. Ia percaya, tidak salah lagi, ini adalah suatu bahagian dari Cap jie Lian hoan ouw. Maka dengan berlaku hati2 ia bertindak, akan menghampirkan suara itu. Ia ber sembunyi begitu lekas ia sudah datang lebih dekat, hingga ia dengar tedas pembicaraannya orang.

Yang bicara adi dua orang, yang duduk atas sebuah perahu kecil. Kalau mereka tidak bicara, tidak nanti ketahuan adanya mereka disitu. Rupanya tikungan itu menyambung kepada sungai atau kali kecil, yang buntu didalam lembah itu.

Dengan menyingkap gelagah, Eng Jiauw Ong bisa mengintai dua orang itu.

“Kita sial, kita justeru ditugaskan disini!” demikian satu orang. “Apa yang mesti dijaga ditempat seperti ini? Rupanya kita harus tunggui hantu! ”

“Hm, tunggui hantu?” kata yang satunya, yang suaranya serak. “Jangan omong main2, sahabat! Ketika tadi aku buang air, aku dengar suara nyaring, hingga aku kaget dan lari kembali kesini! Tempat ini berbahaya, aku benar2 kuatirkan hantu beresi kita… Apakah kau pun tidak pikir demikian, loo Cee?”

“Ya, kita sial,” kata pula orang yang pertama. “Maka aku pikir, baik kita minum puas2an, lantas kita tidur, apa juga kita jangan perdulikan. Sebenarnya siapa yang usulkan untuk kita menjaga di sini? Aku ingin ketahui orang nya! Suatu hari aku akan pasangi dia hio untuk mohon couwsoeya lindungi dia agar dia selamat hingga kemudian dia bisa lakukan lebih banyak perbuatan yang merusak pri kebejikan!”

“Cukup, sahabatku!” kata si suara serak. “Kita toh bukannya dihukum seumur hidup? Sepuluh hari, sebentar saja bakal lewat! Sebaliknya jangan kita alpa, kalau ada terjadi apa2, sungguh berbahaya…. Apa kau tidak dengar, selama dua hari ini sudah terjadi suatu apa? Congto kita telah berulang2 menyiarkan titah untuk menghimpunkan sekalian hio coe dan mengeluarkan titah kepada semua to coe untuk berhati2 berjaga2, siapa yang bikin lolos satu saja musuh, dia mesti bertanggung jawab. Kita tak boleh pandang titah itu sebagai permainan, sedikit saja angin meniup atau api menyamber, terang sudah kita tak akan sanggup bertahannya ”

“Tak usah kau memesannya, aku sudah mengarti!” kata sang kawan. “Ditempat seperti ini, mana orang luar bisa masuk? Bukankah didepan Cio Hoed Tong pun kita telah pasang penjagaan?”

“Bukan demikian, sahabat, tetapi waspada ada terlebih baik. Ingatlah cerita Sam Kok ketika Teng Ngay lintasi Im peng. Bukankah katanya tempat itu tak dapat ditoblosi musuh?”

Mendengar sampai disitu Eng Jiauw Ong maju dengan hati2. Mereka cuma berdua, ia tidak kuatir. Setelah mendekati perahu, ia lompat kebelakangnya. Ia injak perahu tanpa perahu itu bergoncang, hingga dua anak buah perahu itu tidak mengetahuinya. Ia terus mengintai didaun perahu, ia lihat satu meja diatas mana ada botol arak serta dua cawannya serta juga beberapa rupa barang makanan. Dari dua orang itu, yang satu sedang rebah miring, yang lainnya, mukanya merah. Adalah yang rebah, yang suaranya tidak tedas.

Dengan hati2 Eng Jiauw Ong bertindak kedepan, ia loloskan rantai jangkar, bersama jangkarnya ia angkat, ia lompat ke darat, ketika ia memutar tubuh, jangkarnya itu yang beratnya enam atau tujuh puluh kati, ia lempar kemuka air, hingga jatuhnya menerbitkan suara keras, airpun muncrat tinggi dan jauh. Segera setelah itu, ia sembunyikan diri untuk memasang mata.

Kedua gentong arak didalam perahu jadi kaget, dengan gelagapan mereka samber goloknya masing2 dan lari keluar. Mereka seperti sadar dari sintingnya. Tentu saja mereka jadi bingung. Jangkar mereka lenyap, tetapi disitu tidak ada orang lain. Lantas saja mereka menyangka pada hantu malam.

“Suara tadi datang dari arah kiri, mari kita periksa,” kata yang suaranya dalam, “Lihat, air masih belum diam ”

Eng Jiauw Ong antap orang cari jangkar, ia percaya, umpama benda itu dapat dicari, tentu mereka mesti gunakan banyak tenaga dan tempo, maka itu, ia lantas maju lebih jauh. Ketika ia sampai ditempat buntu, nyatalah itu ada satu kali. Melihat keadaan, ia percaya kali Itu banyak tikungannya ketika ia bertindak, mengikuti tepi, nyata dugaannya benar. Beberapa kali ia kesasar kembali ketempat semula. “Benar2 jalanan rahasia,” pikir ia. “Untuk maju lebih jauh, baik aku tunggu perahu lewat”

Atau terpaksa aku mesti rampas perahu tadi ”

LXX

Dengan putusan itu, Eng Jiauw Ong lantas menanti. Biar bagaimana, ia ibuk sendirinya. Ia toh mesti meng harap2 tanpa kepastian, sang tempo berjalan terus. Tadinya ia sudah niat balik keperahu tadi, atau mendadak ia dengar suara air tergayu. Segera ia pasang mata pula.

Lekas sekali, dari tikungan kelihatan badannya sebuah perahu tanpa layar, yang panjangnya tak lebih dua tumbak, tetapi itu ada perahu untuk dilaut. Kelihatannya muatan perahu tidak berat. Dikepala perahu ada sisa belasan puntung hio yang masih menyala. Maka teranglah itu ada perahu nya rombongan Hong Bwee Pang. Perahu ini menuju keperahunya kedua gentong arak itu.

Dengan hati2, Eng Jiauw Ong menguntit.

Sebentar saja kedua perahu sudah datang dekat satu pada lain, lantas dari perahu yang baru datang itu terdengar gerutuan “Dasar makhluk rendah! Bisanya cuma menggerutu, percuma keluarkan tenaga untuk kaum kita, katanya mereka tidak diperhatikan, tetapi buktinya, mereka tidak jalankan tugas dengan benar! Lihat, kita datang, mereka diam saja! Mereka mesti di ajar adat ”

“Lihat, lihat, Kie To coe, mereka sedang cari apa?” terdengar suara lain, dari satu anak buah.

“Apa mereka sedang tangkap ikan? Kelihatannya mereka berkuat kuat ” Eng Jiauw Ong tahu, suara pertama itu ada dari tocoe she Kie.

Lantas saja Kie Tocoe itu meniup suitan, yang suaranya nyaring dan panjang. Itu ada suitan yang terbuat dari batang gelagah asal wilayah suku bangsa Biam, yang lain daripada gelagah di Tionggoan.

Suitan ini lantas dapat sambutan dua kali dari perahu kecil tadi, perahu mana lantas maju menghampirkan.

“Ah, Kie Tocoe datang!” berseru satu anak buahnya, yang terus saja tundukkan kepala, tangan kiri diturunkan, tangan kanan dilintangkan. Itulah tanda menghormat kaum Hong Bwee Pang. Kemudian, kawannya, yang Pegang kemudi, turut memberi hormat juga.

“Kau banyak kerja!” kata Kie Tocoe dengari tawar. “Kita tidak perdulikan yang lainnya kecuali rombongan kita, Soen kang Cap jie to, rombongan kedua belas. Kalau semua rombongan bekerja rajin seperti kau ini, bekerja sungguh untuk Pang coe, mustahil Hong Bwee Pang tidak maju untuk se lama2nya? Kau geser letaknya perahu, apakah ada hal yang mencurigai?”

Ditegur secara demikian, dua anak buah itu bungkam, tetapi mereka tidak berani diam lama2. Mereka pun tahu tak dapat mereka sembunyikan rahasia. Maka mereka lantas tuturkan kejadian yang mereka alami tadi, bahwa mereka berada diluar tempat sembunyi karena sedang mencoba mengangkat jangkar. Herannya, kata mereka, jangkar telah diangkat berikut rantainya, dan itu dilakukan diwaktu mereka tidak tidur tetapi mereka tidak tahu sampai mereka dengar suara menjubiarnya air.

“To coe, kami tidak percaya setan tetapi kejadian ini membuat kami sangsi, sebab tidak bisa jadi ada orang berani dan bisa masuk kemari,” kata mereka akhirnya. “Begitu?” Kie Tocoe itu perdengarkan pula suara dinginnya. “jangkar bisa terbang! Sungguh satu kejadian baru! Aku tadinya sangka kau minum arak kekurangan sayurnya hingga kau turun keair untuk mencari ikan. Kita adalah saudara2 satu pada lain, jangan kita saling menyusahkan! Kau tahu sendiri suasana selama ini ada genting, hingga semua hio coe dari Lwee Sam Tong dan Gwa Sam Tong turut ditarik. Ceritamu ini aku dapat percaya, tetap lain orang apakah bisa percaya juga? Apakah tidak benar kataku ini?”

“Oh, tocoe,” kata anak buah yang suaranya serak, “harap kau tidak membuat kami penasaran, apa yang kami tuturkan, semua memang benar2 terjadi!”

“Ini ada lelakon melihat setan, apa ini ada lelakon yang dapat dituturkan secara sembarangan oleh kita orang kang ouw?” kata to coe itu. “Baik kita jangan bicarakan hal setan ini! Aku hendak tanya, apa kau tidak tahu, bahwa sekarang kita sedang bentrok dengan Eng Jiauw Ong. Ketua dari Hoay Yang Pay? Dia itu sudah mengumpulkan kawan untuk lawan kita. Kita telah kirim orang liehay akan rintangi pihak lawan, katanya kita gagal, lawan sudah ada didepan mata. Malah kemarin, pusat kita disebelah Timurpun kena diubrak abrik, sehingga See coan Siang sat yang kenamaan turut rubuh juga. Maka pikirlah, apa tak bisa jadi ada musuh yang telah berhasil menyelusup masuk kesini? Dari itu, baiklah kau pikirkan tanggung jawabmu, yang pun ada tanggung jawabku juga. Maka itu selanjutnya, jangan kau mengingat saja arakmu!”

Ditegur demikian, baharu dua a nak buah itu insyaf. “Memang, tocoe, kejadian di mencurigakan,” kata

mereka “Baik tocoe jangan kuatir, selanjutnya kami akan waspada.” “Itulah harapanku,” kata Kie Tocoe. “Kalau kau bekerja benar, akulah yang akan menanggung jawab semua, akan tetapi bila ternyata kau alpa, rasakan saja sendiri, aku lepas tangan!”

Dua orang itu tidak dapat mengatakan apa2 lagi kecuali mereka berjanji akan jalankan tugas dengan baik.

Kie Tocoe lantas keluarkan sebuah bendera kecil serta beberapa pucuk surat berikut satu kantong kain yang besar, ia letaki itu diperahunya kedua gentong arak seraya berkata “ini ada dari Congto, untuk pusat digunung Timur. Bendera lima warna ini mesti disampaikan besok tengah hari pada pelbagai pusat darat di Tong peng pa, kalau di sana kedapatan orang Hoay Yang Pay. burung dara mesti dilepas untuk menyampaikan berita. Yang lainnya, kerjakan menurut surat2 ini. Sehabisnya jalankan tugas ini. pergi kau kejurang Hoei Pek Gay untuk melepaskan pertandaan, supaya ada orang gantikan tugasmu berdua.”

Eng Jiauw Ong dengar semua pembicaraan itu, diam2 ia jengah sendirinya. Ternyatalah jurang atau lembah itu benar ada punya satu jalanan rahasia lain.

Setelah itu, Kie Tocoe berlalu bersama perahunya.

Eng Jiauw Ong mengantap kedua anak buah tadi, ia susul perahunya tocoe itu. Perahu itu, yang tak dipasangkan layar, cepat lajunya telah melalui belasan tumbak. Menampak demikian, ia lantas saja meloncat naik keperahu itu, ia bergerak tanpa membikin perahu bergoncang hingga musuh tidak menyangka suatu apa. Iapun lantas umpatkan diri.

Beberapa tikungan telah dilewati. Segera layar dipasang, dan perahu mulai berjalan cepat, selang kira2 satu lie, sampailah di kaki bukit. Disini perahu ditujukan ke Selatan, jalannya di kendorkan. Dilain saat, kendaraan itu sudah memasuki satu pelabuhan yang airnya lebar dan deras mengalirnya. Maka, mendampar muka perahu, air berombak dan menerbitkan suara berisik. Pun disini, setiap ada tikungan, ada terdengar suitan dari tempat yang penuh dengan gelagah.

Eng Jiauw Ong insyaf, celakalah perahu luar bila memasuki tempat ini tanpa mengetahui tanda2 rahasia itu.

Sebentar kemudian, perahu sampai dimuka air yang luas, di Utara ada pepohonan lebat, di Selatan ada hutan bambu. Dari antara pohon bambu, samar2 kelihatan cahaya api, tetapi cahaya itu lenyap begitu lekas perahu perdengarkan suitan.

Dalam keadaan seperti itu, Eng Jiauw Ong telah bersiap sedia akan menempuh segala rupa yang akan terjadi.

Sampai disitu, layar diturunkan, perahu dimajukan pula sedikit, memasuki tempat sempit yang sukar muat dua perahu jalan berendeng.

Begitu lekas kendaraan air ini berhenti, dari dalam perahu keluar anak buahnya, yang terus berdiri berbaris dikiri dan kanan, dan satu anak buah lain muncul dengan seikat hio yang sudah disulut menyala, yang ditancap dikepala perahu setelah puntung hio disitu dicabut dan dilemparkan keair.

Eng Jiauw Ong percaya, dia tentu telah sampai disuatu tempat penting.

Kie Tocoe berdiri dikepala perahu, lalu diperdengarkan tiga kali suaru suitan, setelah mana, dia kata pada semua orang “Kau sekalian siap! Segera bakal ada pemeriksaan, kau tak dapat omong sembarangan!”

Semua anak buah itu berdiam, seperti menahan napas. Segera juga terdengar suara air digayu, lalu muncul satu sorotan terang.

“Inilah berbahaya,” pikir Eng Jiauw Ong. Ia bisa kepergok sorotan itu.

Sebelum jago Hoay Yang Pay ini sempat memikir lebih jauh, dari kedua tepi sudah lantas muncul masing2 dua buah perahu, yang masing2 pada kepala nya ada tertancap dua batang obor, hingga cahayanya semua nya delapan obor jadi terang sekali. Empat buah perahu itu lantas berbaris. Dari salah satu perahu segera terdengar tegoran “Perahu didepan, lekas perkenalkan diri!”

Kie Tocoe lantas perkenalkan diri, sebagai Soenkang tocoe ke tujuh, golongan Seng jit ma

“Baru saja keluar pengumuman dari Lwee Sam Tong,” kata perahu yang menegur itu, “setiap perahu yang pulang meronda mesti diperiksa dengar keras, maka itu, Kie Tocoe, aku mesti jalankan titah itu, kami hendak geledah perahumu, semui anak buah perahumu mesti berdiri diluar perahu!”

Menyusul kata2 itu, dua perahu bergerak, mendekati dari kiri dan kanan.

Inilah hebat bagi Eng Jiauw Ong, satu kali kedua perahu datang dekat, ia akan terlihat mereka. Tidak ada jalan lain, ia mesti menyingkir. Tapi disaat hendak menggeraki tubuhnya, Mendadak ia dengar suara, “jangan bergerak!” Kapan ia menoleh kearah dari mana suara datang, ia melihat lainnya hanya air berombak, sebagai gerakannya ikan timbul, menuju kesatu perahu sebelah utara.

“Ada orang jahat didalam air! Tocoe, cegat dia!” tiba2 satu anak buah perahu berseru. Dia rupanya telah lantas melihat aliran ombak itu. Perahu itu lantas diputar untuk mengejar, perbuatan mana diturut oleh perahu sebelah kanan obor2pun segera diangkat, untuk dipakai menyuluhi.

Makhluk didalam air itu, yang pihak Hong Bwee Pang kata musuh, bergerak dengan cepat.

“Terjun!” menitah pemimpin dari perahu pemeriksa. Cepat sekali, empat orang teryun keair, untuk mengejar.

Diperahunya Eng Jiauw Ong, anak buahnyapun keluar kekepala perahu, untuk bersiap sedia.

Dua perahu lantas diperintah ikuti empat pengejar itu, lalu semua orang pergi ke depan, Eng Jiauw Ong menarik napas lega.

“Terang orang telah tolong aku, berikan aku ketika untuk meloloskan diri,” jago Hoay Yang Pay ini pikir. Tetapi, ketika ia hendak muncul dibuntut perahu, tiba2 di situ ia melihat satu muka orang yang kepalanya tertutup tudung lebar, hingga ia terkejut. Tetapi menyusul itu, ia segera dengar suara pelahan sekali “Jikalau kau tidak segera mendarat, garuda tua, segera kau akan kena perangkap!”

“Siapa kau?” Eng Jiauw Ong menegur.

“Sebentar kau akan dapat tahu, sekarang lekaslah mendarat,” sahut orang itu, tetap dengan suara pelahan. Tetapi menyusul itu, dengan satu loncatan, ia sudah menyingkir ke pepohonan gelagah yang lebat.

Bukan main herannya Eng Jiauw Ong. Bagaimana orang itu bisa jalan diantara pohon gelagah, yang tumbuh didalam air dan lumpur?

LXXXI Akan tetapi ketua Hoay Yang Pay ini tidak dapat ketika akan berpikir lama2. Angkat kaki adalah tindakan paling penting bagi nya. Makasetelah naik keatas perahu, dengan satu enjotan tubuh, ia mencelat ketihang layar. Dari sini ia lihat, orang tadi telah lenyap dihutan gelagah.

Dimuka perahu, orang2 Hong Bwee Pang berisik men duga2, karena musuh yang dicari, tidak kecandak, tidak kelihatan.

Justru itu, dari empat pengejar, satu muncul dimuka air. “Tocoe, rupanya ini ada seekor ikan besar, coba siapkan

senjata rahasia!” ia mengahjurkan.

Mendengar itu, orang lantas siapkan piauw dan panah, mereka segera menyerang begitu lihat gerakan air berombak seperti tadi, akan tetapi serangan itu sia2 belaka, pihak terserang sudah lantas lenyap.

“Sial,” kata si empat pengejar, sesudah mereka kembali dan naik keperahu. “Sayang kita kena dipermainkan ikan…..”

Tocoe yang datang dengan tugas pemeriksaan manggut2. “Kita buang2 tempo saja,” ia bilang. Lalu ia lanjutkan pada Kie Tocoe “Kie Tocoe, nah, persilahkan!”

“Baiklah!” jawab tocoe she Kie itu, yang hatinya lega sebab ia tak jadi digeledah.

Sampai disitu, perahu2 berlalu, maka tempat itu jadi sunyi pula Eng Jiauw Ong tetap berdiam ditihang layar, perahunya itu diberi jalan tanpa tenaga layar, hanya digayuh oleh anak buahnya. Jalan yang diambil adalah kaki bukit. Diwaktu malam demikian, ditempat lebat, sulit untuk mengenali keletakan. Sekeluarnya dari tempat lebat dengan gelagah, perahu menuju ke Timur selatan, lalu dengan tiba2 menjurus lempang ke Selatan sekali, baharu sepanahan jauhnya kembali nikung ke Utara. Eng Jiauw Ong berlaku cerdik, ia tidak mengikuti tujuan peerahu, ia hanya tnengawasi langit dari itu, ia tidak kehilangan tujuan. Bintang2 adalah patokannya.

Lewat satu lie lebih, didepan ada rintangan sebuah bukit, hingga perahu berjalan pelahan. Setelah datang dekat, ditengah itu kelihatan satu jalanan, yang terang dan ada buatan manusia. Itu ada semacam pintu air yang menghadapi empat buah aliran.

Kie Tocoe berdiri dimuka perahu, tiga kali ia perdengarkan suitan, menyusul mana dari depan muncul sebuah perahu dengan sorotan apinya yang bersinar kuning, melihat mana, Bmg Jiauw Ong terkejut, lekas2 dia perengkatkan diri supaya tidak tertampak musuh. Syukur ia berlaku sebat, sorotan apa lentera Khong beng teng tidak sampai mengenai padanya, hingga ia lolos, tidak kepergok.

Setelah mana terdengar pula tiga kali suitan dari arah depan, disusul dengan munculnya masing2 dua buah perahu dari dua aliran air, dikepala setiap perahu ada berdiri seorang dengan pakaian mandi, yang tangannya sebelah memegang tempuling ngo bie cie dan bendera kecil.

“Lekas perkenalkan diri!” demikian teguran dari dua perahu itu.

Kie Tocoe segera memperkenalkan dirinya.

“Menurut titah dari hio coe di Hoen coei kwan, malam ini kami dimestikan periksa semua perahu yang datang kemari, setelah itu baharulah perahu boleh memasuki wiyayah Pusat,” kata satu suara.

“Baiklah!” Kie Tocoe menjawab dengan lantas.

Dua perahu segera merapat perahunya Kie Tocoe, dua orang loncat pindah untuk menggeledah. Sementara itu, dua perahu yang lain lakukan penjagaan keras. Pada setiap dua perahu ini ada empat anak buahnya, siap dengan pakaian mandi dan senjatanya masing2. Diatas setiap perahupun ada lagi masing2 dua anak buah yang turut mengawasi keperahunya Kie Tocoe.

Sebentar saja, dua tauwbak sudah selesai dengan pemeriksaannya, mereka kembali keperahu mereka sendiri, perahu mana pun lantas dimundurkan lima enam kaki jauhnya.

Empat buah perahu itu lantas kasi dengar suitan masing2, dari bukit segera mencorot dua sinar merah, bukan keperahunya Kie Tocoe hanya kepada empat buah perahu penilik itu. Adalah setelah ini, empat buah perahu itu diputar dan digayu balik, hingga disitu tinggal perahunya Kie Tocoe saja.

“Kenapa kau pada diam saja?” tocoe ini tegur anak buah nya yang masih pada melongo. “Apa yang hendak ditunggu lagi?”

Atas teguran itu, perahu dikasi jalan kesamping.

Eng Jiauw Ong heran atas itu cara pemeriksaan. Bukankah itu ada pintu dari Hoen coei kwan? Kenapa sekarang perahu jalan kesamping? Ia sebenarnya bisa berlalu dari situ, tetapi ia ingin ikuti terus Kie Tocoe ini, maka ia diam terus ditempat sembunyinya.

Muka air disini terapit lamping bukit, luasnya cuma setumbak lebih, tidak heran, sekitarnya ada suram, malah selang lagi dua tiga tumbak jauhnya, orang tak lihat suatu apa bahna gelap. Tapi suasana gelap gulita ini justeru cocok untuk Eng Jiauw Ong, yang pasti tak gampang orang pergoki padanya. Lagi pemanahan, perahu perdengarkan dua kali suara suitan yang panjang, kepala perahu di tujukan kearah Selatan, yang banyak tumbuh gelagah, setelah mana, terbukalah suatu jalanan bagaikan pintu, didalam mana, permukaan air luas beberapa puluh bahu, merupakan sebuah muara atau pelabuhan dimana ada berlabuh kira empat puluh buah perahu, diantaranya ada tujuh buah yang besar, yang bertihang layar tiga. Belasan adalah yang bertihang layar dua. Yang lainnya semua kecil seperti yang ditumpangi ketua Hoay Yang Pay sendiri. Enam buah adalah yang dinamakan perahu cepat. Disetiap perahu ada satu lentera dari kertas merah. Semua perahu teratur bergaris lima, ngo heng, dan yang besar2 ditengah. Disekitar muara ini adalah gelagah lebat. Yang aneh adalah disitu tidak ada jalanan air yang lebar, hingga tak segera dapat dingerti, untuk keluar atau masuk perahu besar itu mesti ambil jalan dari mana. Keanehan lain adalah air berombak atau bergerak2, entah apa yang menyebabkan itu, hingga bolehlah diduga, ada suatu arah dari mana mesti ada sampokan air yang keras.

“Inilah keanehannya Cap jie Lian hoan ouw.” pikir Eng Jiauw Ong.

Perahunya Kie Tocoe ini menghampirkan sebuah perahu besar, yang pakai lentera dengan huruf huruf “Hoen coei kwai Soen kang Coe to Ang,” yang mana berarti, perahu itu ada perahunya tocoe atau hio coe she Ang dari Hoen coei kwan. Kira2 setumbak hampir nempel kepada perahu besar itu, Kie Tocoe tahan perahunya, dari perahu besar ada dikasi turun sebuah perahu kecil, yang segera menghampiri perahunya Kie Tocoe. Dari perahu kecil itu ada satu anak muda, yang manggut pada Kie Tocoe sambil menanya “Banyak capai, Kie Tocoe! Apakah tocoe hendak memberi laporan pada Hio coe? Hio coe sedang periksa enam perahu sebelah atas, segera ia akan kembali, maka baik to coe beristirahat dahulu, kalau sebentar hiocoe kembali, aku nanti tolong kau melaporkan diri, apabila ada urusan, baharu aku akan panggil padamu. Jangan kuatir, aku tidak nanti membikin gagal”

Kie Tocoe itu memberi hormat.

“Terima kasih, Cioe Soeheng,” jawab ia. “Kau ada baik sekali, cara bagaimana aku bisa membalas budimu ini?”

“Ah, Kie Tocoe, jangan kau berhitungan,” kata si Cioe Soe heng itu. “Kita ada anggauta2 Hong Bwee Pang, sudah selayak nya kita saling membantu. Jangan seperti Hauw Tocoe dan Lo Hio coe, itulah merusak persaudaraan… Lo Hio coe ada terlalu besarkan diri, walaupun Hauw To coe gagal, tetapi sikap nya itu membikin Lo Hio coe kena batunya! Sebaliknya, kita mesti harga menghargai satu pada lain. Kau banyak capai, Kie Tocoe, silahkan kau beristirahat, besok kita nanti berbicara pula.”

Kie Tocoe itu mengucap terima kasih, ia kembali kedalam perahunya. Si Cioe Soeheng itu pun lantas balik keperahu besar.

Selama itu, suasana ada tenang dan sunyi.

Dalam kesunyian itu, Eng Jiauw Ong loncat turun dari tihang layar, tanpa menerbitkan suara ia pergi keperahu besar tadi. Dibuntut perahu, ia berdiri akan pasang mata dan kuping, kemudian ia loncat naik keatas gubuk perahu.

Itu waktu, dari belakang perahu, muncul satu orang dengan tangan menampa nenampan terisi beberapa rupa barang makanan serta satu poci arak. Eng Jiauw Ong tunggu sampai orang itu keluar lagi dari dalam, lantas ia mengintai. Ruangan dalam dari perahu itu ada luas, seluruh ruangan diterangi lilin merah. Di dekat pintu ada sebuah pembaringan kayu. Tiga batang lilin menyala diatas satu meja kecil, semua lilin tinggal separuh. Meja teh berada didekat jendela dengan dua bangkunya. Disitu ada duduk dua orang, yang asyik bercakap sambil dahar.

Orang yang satu, umurnya kira tiga puluh tahun, romannya gagah, matanya bercahaya. Yang satu lagi, usianya kurang lebih dua puluh tahun, mukanya putih dan bersih, pakaiannya sederhana seperti kawannya. Dari pembicaraan mereka ternyata mereka ada penulis pengurus daftar anggauta, dan pengiringnya Ang Hiocoe yang dipercaya.

Dari pembicaraan mereka, Eng Jiauw Ong mendapat tahu, bahwa muara itu adalah tempat berkumpul dua belas tocoe dari Hoen coei kwan, dan ke dua belas tocoe itu terpecah pula dalam dua rombongan dari enam tocoe, bahwa Ang Hio coe itu bernama Giok To, dan wakilnya, hoe hio coe, adalah Pek gan Hong liong Coei Gie si Naga Mata Biru. kedua orang inilah yang berkuasa atas dua belas tocoe. Mereka berdiam didalam Hoen coei wan, baharu selang dua hari mereka datang untuk melakukan penilikan atas penjagaan yang diperkeras didalam muara itu.

“Eh, Siauw Tan, jangan kau tidak kenal batas,” kata orang yang tuaan, “walaupun tidak ada uang tilik kita tetapi kita jangan temaha minum. Jangankan andalkan kata2nya Coei Hio coe. Tentang sep kita, mustahil ia tidak tahu peranginya? Aku percaya, dia tidak nanti lalai, pasti dia bakal datang pula. Kita sudah minum beberapa cawan, mari kita bebenah ”

Eng Jiauw Ong tidak mendengar apa2 yang penting. Justeru itu ia rasakan pundaknya yang kanan ada yang tepuk, lalu terdengar suara cabang kecil jatuh keperahu. Ia segera menoleh, hingga ia tampak berkelebatnya satu bayangan kate kecil. yang menghilang dibelakang perahu. Tidak ayal lagi ia loncat menyusul terus kedarat. Tadinya ia melihat bayangan itu seperti sedang tunggui padanya tetapi selagi ia mendekati, bayangan itu melesat kekiri.

“Tak nanti aku antap kau lolos,” kata ia dengan pelahan, tetapi bayangan itu seperti dengar suaranya, dia lantas tertawa pelahan, tubuhnya melesat, terus hilang ditempat gelap. Menyusul itu, disamping perahu besar dari dalam air, timbul satu tubuh orang, yang terus loncat naik keatas perahu. Tadinya ia sangka bayangan tadi, akan tetapi kemudian ternyata ada seorang lain.

Orang ini mengenakan pakaian mandi, dia sudah lompat naik keatas gubuk perahu, gerakannya gesit sekali. Dari situ, dia lari berlompatan dan masuk keperahu yang ke empat, dari dalam perahu itu lalu keluar empat orang, yang romannya lesu. Dibelakang mereka ini, ikut orang dari dalam air tadi.

“Tidak salah lagi, dia tentu Coei Gie,” pikir Eng Jiauw Ong yang lalu men duga2, empat orang itu entah dipergoki sedang berbuat apa.

Mereka itu naik ke atas sebuah perahu kecil, sedang Coei Gie, melompat kelain perahu sambil membuang beberapa potong barang kelantai perahu, yang mana ternyata adalah biji2 dadu, beberapa tiang tangchie dan perak hancur. Jadi teranglah sudah, mereka dipergoki sedang berjudi.

Empat orang jemputi biji2 itu.

Ketika kemudian mereka sampai diperahu besar, kesana Coei Gie sudah masuk lebih dahulu. Mereka pun lantas masuk. “Benar2 dia liehay,” pikir pula Eng Jiauw Ong, yang kagumi Pek gan Hong liong. Iapun menjadi semakin terklik akan melanjutkan penyelidikannya ini. Maka ia ambil putusan, akan bekerja sampai orang sudah pada tidur” Untuk angkat kaki, ia niat gunakan perahu kecil musuh, atau ia cari daratan untuk lolos keluar.

Selagi jago Hoay siang ini baharu saja mengambil putusannya, tiba2 ia dengar suara berkelisik di dampingnya, jauhnya lima kaki, yalah suara dari tangan yang dipakai menyingkap gelagah. Tak dapati ia bersembunyi pula, maka ia niat maju menyerang, tetapi baharu saja ia hendak meloncat, atau ia dengar orang berkata dengan pelahan sekali “Hoay siang Tay hiap, kau niat keluar dari sini? Mari ikuti aku dengan tindakan kaki yang tepat!”

Eng Jiauw Ong lihat satu bayangan kate dan kecil, suaranya pun tidak tedas. Itu bukan suaranya Yan tiauw Siang Hiap, bukan juga dari kawannya yang bertubuh kecil. Maka ia jadi heran. Tetapi ia meloncat maju.

“Sahabat,” ia menegur, “siapa kau? Kalau kau benar hendak membantu aku, mari perlihatkan diri!”

Orang itu menyingkap gelagah kekiri dan kanan, sembari ia menyahuti “Aku tidak bermaksud jahat, tentang aku sebentar kau akan ketahui. Sekarang mari ikut aku!” demikian katanya.

Eng Jiauw Ong melihat orang masih muda sekali, lagu suara nyapun lagu orang Ciat kang Selatan, walaupun ia bercuriga, namun ia tidak takut. Iapun segera ingat, ia sebenarnya berada ditempat berbahaya tak dapat ia berdiam disitu sampai fajar. Sekarang ada orang hendak ajak ia keluar, ia pikir baik ia gunai ketika ini. Dengan begitu, ia jadi ubah niatnya semula. Lantas ia mencelat kearah orang muda itu. Orang itu sebaliknya, sudah lantas loncat pergi. “Ikuti tindakanku,” demikian pesannya.

Eng Jiauw Ong melihat orang melompat tetapi tidak

terjeblos di air atau lumpur, ia heran, tetapi ia melompat juga, menaruh kaki dibekas injakan kaki orang. Nyata ia kena injak tempat yang keras, pantas orang itu tidak terbebes. Ia lantas insaf, inilah jalan rahasia. Maka lantas ia mengikuti terus tindakannya orang tidak dikenal itu. Ia berlalu sambil perdatakan sekitar nya. Iapun masih menduga2 siapa penunjuk jalan ini, yang ketahui rahasia dari Cap jie Lian hoan ouw, yang agaknya bisa mundar mandir disitu dengan merdeka.

Sebentar kemudian, Eng Jiauw Ong sudah berada di arah Timur selatan. Ia percaya bahwa ia sudah mendekati jalanan keluar, tempat dari mana ia masuk tadi. Disini si penunjuk jalan menuju lempang ke Selatan, akan akhirnya ia terjun keair.

Ketua Hoay Yang Pay tidak pandai berenang, dari itu apabila tidak terpaksa, ia tidak sudi turun keair. Ia melihat caranya orang terjun, yang tidak menerbitkan suara berisik, ia kagum. Penunjuk jalan itu pandai berenang dan selulup, gerakannyapun gesit sekali. Dengan sendirinya ia jadi merasa suka pada orang ini.

Nyata orang itu terjun keair untuk berenang sambil selulup, akan seret sebuah perahu kecil yang disembunyikan, didekat Eng Jiauw Ong ia naik kedarat hingga ketua Hoay Yang Pay ini bisa melihat wajahnya. sampai dia tercengang dan keluarkan seruan tertahan. Terus dia tanya “Anak mulia, kau ada muridnya siapa?”

LXXII Orang itu ada satu boca umur lima atau enam belas tahun, wajahnya nampaknya sepertri bersenyum saja, dan tubuhnya, ditutup pakaian mandi, polos saja, kecuali dibetisnya, yang kanan yang dilihat, ada diselipkan sebatang pisau belati. Ketika ditanya ia tertawa saja dengan tidak menjawabnya, hanya ia goyangkan tangan, tangannya itu terus dipakai menunjuk perahu kecil, adalah setelah itu. sambil mendekati, ia kata dengan pelahan “Tentang aku nanti saja kasi tahu, sekarang lekas kita berlalu, sebentar lagi akan ada perondaan, itulah berbahaya.”

Ia buka leher bajunya, ia keluarkan sebatang bendera kecil yang mana ia serahkan pada Eng Jiauw Ong sambil menam bahkan “Po coe, silahkan naik perahu, kita mesti lekas berlalu dari sini!”

Walaupun heran, Eng Jiauw Ong toh menurut. Ia meloncat ke dalam perahu, akan duduk. Ia dapat duga maksudnya bendera itu.

Boca itu segera putar kemudi, lantas ia menggayu. gerakannya cepat gayuannya tidak terbitkan suara perahupun berlayar seperti perahu kecil melesat. Tetapi ketika ia mendekati tikungan, ia mengoce sendirian, didalam kesunyian, suaranya cukup tegas. Ia kata “Sungguh sulit akan melayani Coei ya… Hio coe bakal lekas kembali, ia masih menyuruh ini dan itu, sampai tak ada tempo untuk beristirahat…. Beginilah orang yang bekerja dibawah perintah ”

Mendadakan berkelebat cahaya api kepada perahu kecil itu, warnanya kuning. Perahu lewat dengan cepat sekali. Eng Jiauw Ong kibarkan bendera kecil itu, yang ia bawa kemukanya, hingga sekalipun ia kena tersorot, tetapi mukanya tidak kelihatan nyata. “Syukur kita tidak diperiksa....” kata si anak muda, setelah lewat dari tempat penjagaan rahasia itu.

“Karena kaulah yang pandai,” kata Eng Jiauw Ong. “Kau telah membantu aku, kau kenal baik tempat ini, aku harap bantuanmu lebih jauh, untuk melihat Hoen coei kwan ”

Anak tanggung itu menggayu terus. “Sabar, pocoe,” berkata ia.

“Malam ini kita cuma bisa menonton dari luar. Pocoe tidak bekal senjata tajam yang bisa dipakai membabat kutung tembaga atau besi, tidak mudah untuk memasuki Cap jie Lian hoan ouw ”

“Baiklah. Melihat bagian luar nyapun boleh!” jawab Eng Jiauw Ong.

Selama itu, kendaraan laju terus dengan pesat, sampai di tikungan sebelah Selatan, baharu ketua Hoay Yang Pay hendak memberi tahu. jalanan terusan itu tak dapat dilalui, atau si anak muda sudah tujukan kepala perahunya kegombolan gelagah di kaki bukit, maju sampai beberapa tumbak, hingga dari luar tak nanti orang bisa melihat mereka.

Si anak muda tahan perahunya ditepi, dia meloncat kedarat.

Eng Jiauw Ong turun mendarat juga. Setelah si anak muda selesai tambat perahunya, ia kembalikan bendera kecil ditangannya.

“Simpan saja, pocoe,” kata si anak muda. “Bendera ini adalah leng kie dari Ang Giok To, hio coe dari pusat perondaan Hoen coei kwan, untuk memasuki Cap jie Lian hoan ouw, bendera ini ada besar faedahnya.” “Baiklah kau saja yang simpan,” Eng Jiauw Ong bilang sambil tertawa. “aku rasa untuk sementara ini aku tidak membutuhkannya.”

Anak muda itu sambuti bendera itu. Ia mengerti, ketua Hoay Yang Pay ini hendak pegang tinggi derajatnya.

“Sebenarnya kau murid siapa dan siapa titahkan kau ketemui aku disini?” Eng Jiauw Ong tanya. “Apakah she dan namamu? Cara bagaimana kau tahu aku si orang she Ong? Apabila kau hargai aku, tolong kau kasi keterangan yang jelas padaku.”

“Silahkan duduk disana, po coe,” kata si anak muda, yang menunjuk kesepotong batu dibelakang mereka. “Tentang diriku, panjang ceritanya. Disini ada sepi, kita boleh sekalian beristirahat.”

Eng Jiauw Ong manggut.

“Baiklah, mari kita omong2 dengan sabar,” kata ia.

Maka keduanya lantas menghampirkan batu akan berduduk, sesudah mana, anak muda itu perkenalkan diri, dia tuturkan tentang dirinya, hingga ketua Hoay Yang Pay jadi terharu dan kagum.

Dia adalah Kang Kiat. putera dari satu congpeng dibawahan congtok dari Liang Kang. Kang Congpeng gagah dan setia, ia berjasa, tetapi ia ada jujur, ia tidak pandai bermuka2, walaupun berjasa, ia tidak peroleh anugerah, malah sebaliknya ia terfitnah, hingga karena jengkel, belakangan ia jatuh sakit, ia menutup mata, sedang wakilnya main gila dengan rangsum tentera, hingga dialah yang mesti bertanggung jawab untuk menggantinya, harta bendanya disita. Syukur Nyonya Kang masih keburu singkirkan diri ke Ciatkang Selatan dimana ia tinggal dikaki bukit Gan Tong San bersama anaknya yang ketika itu baharu berusia empat tahun. Selama beberapa tahun habislah perbekalannya, maka selanjutnya ia mesti hidup dari kuli menjahit, guna pelihara anaknya yang satu2 nya.

Kang Kiat dengar kata dan rajin, dibawah pimpinan ibunya, yang mengerti surat, ia belajar membaca dan menulis, dengan usianya bertambah, iapun suka menangkap ikan. Ia pandai berenang dan selulup dengan belajar sendiri. Dikaki bukit Gan Tong San itu, penduduknya memang hidup sebagai nelayan. Dalam usia lima belas tahun. Kang Kiat telah jadi sangat pandai berenang dan gesit sekali, maka dengan hasil penangkapan ikan, ia bisa bantu cari uang untuk penghidupannya bersama ibunya. Karena pandainya ia berenang, sesama penduduk disitu panggil ia Siauw Liong Ong, si Raja Naga Kecil.

Thian lam It Souw Boe Wie yang mendengar hal anak luar biasa ini, ia ingin mendapatinya, tetapi Kang Kiat taat kepada pesan ibunya, buat dia ingat asal dirinya, agar dia jangan memasuki Hong Bwee Pang, dia menolak setiap ajakan, tidak perduli orang lagui dia tentang jempolnya Hong Bwee Pang itu. Pernah dia bersikap keras waktu seorang dari Hong Bwee Pang bujuki ia dengan sangat, kendati begitu, pihak itu tidak menjadi kurang senang. Malah Boe Wie Yang, saking suka boca itu, larang orang ganggu dia dan berikan dia kemerdekaan akan menangkap ikan didaerah Hong Bwee Pang yang telarang untuk umum, malah ia mengancam dengan hukuman kepada siapa yang berani mengganggu atau membikin susah.

Demikian Kang Kiat dapatkan kemerdekaannya itu, karena ia menjadi tetangganya Hong Bwee Pang, ia ketahui juga keletakannya Cap jie Lian hoan ouw atau Hoen coei kwan, malah karena pandainya ia selulup dan berenang, ia pernah memasuki daerah rahasia itu. Boe Wie Yang kuatir Kang Kiat nanti dipergunakan pihak pembesar negeri, selagi boca itu tidak mau masuk perkumpulannya, ia pun tidak hendak bikin orang bersakit hati, maka itu Ceng kang ong Ang Giok To, hiocoe atau kepala dari Soen kang Cap jie to, dipesan wanti akan jangan ganggu boca itu, malah dia harus ditunjang juga agar ibu dan anak itu tidak sampai menderita kesengsaraan. Giok To pun dipesan akan berdaya terus membujuki boca itu, hanya sampai sebegitu jauh ia tetap belum peroleh hasil.

Dasar Kang Kiat harus naik nama, apamau terjadilah persengketaan diantara Hong Bwee Pang dan Hoay Yang Pay, karena mana, tertundalah ikhtiar Hong Bwee Pang akan bujuki boca itu. Sementara itu, dengan tambahnya usianya, Kang Kiat pun insaf nasib buruk dari ayah nya almarhum. Tadinya ibunya tidak mau menceriterakan tentang ayahnya itu, adalah setelah sekarang ia menjadi besar, ibu itu mau juga memberikan keterangan nya. Ia menangis untuk nasib buruk dari ayahnya itu, tetapi berbareng ia berniat menuntut balas kepada musuh ayahnya, maka ia menanya, si apa si pembesar atasan, siapa wakil yang jahat dari ayahnya itu.

“Bukan aku takut mati, tetapi setelah menutur tentang ayahmu, aku melarang kau bertindak sembrono,” sang ibu melarang. “Dunya berputar, biarlah si orang jahat terima bagiannya sendiri yang setimpal apabila sudah sampai pada saatnya, tidak perduli saat itu cepat atau lambat. Karena hendak menuntut balas, apa kau tega tinggalkan ibumu yang sisa mati ini?”

Kang Kiat menangis.

“Tetapi, ibu, tanpa mencari balas, apa anakmu ada muka akan hidup dalam dunya ini?” sang anak menanya. “Tetapi aku memikir lain,” sang ibu berkeras. “Satu kali kau memaksa berlalu dari sini, kita ibu dan anak pasti akan berpisahan untuk se lama2nya! Siapa yang aku akan buat andalan?”

Kang Kiat tidak berani tentangi ibunya, maka diam2, ia bikin dua sin cie dari musuh2nya, setiap hari pagi dan sore ia berlutut akan ingatkan itu, karena ia tetap berniat mencari balas. Kedua sin cie itu ia taruh dipojokan yang gelap dan sunyi.

Mulanya Nyonya Kang tidak senang atas sikap puteranya itu, tetapi belakangan, ia suka mengalah, ia mengantapkannya. Sebab dalam memujih kepada kedua musuhnya, Kang Kiat pujihkan mereka panjang umur, agar nanti apabila ibunya sudah menutup mata ia masih keburu wujudkan pembalasannya. Ibu itu melainkan memberi tahu musuh mereka ada berpengaruh.

Pada suatu lohor selagi Kang Kiat berdiam dirumah sedang belajar menulis, ia dengar suara riuh dipesisir, ada banyak orang ber lari2, antaranya ada yang teriaki dia “Kang Kiat, ada rombongan ikan sedang lewat, apakah kau tidak mau menangkap nya? Hayo, mari lekas!”

“Pergilah kau lebih dulu!” Kang Kiat menyahuti, setelah mana, ia letaki pitnya. “Ibu, pergi atau jangan?” ia terus menanya ibunya.

Kalau ikan banyak, pergilah, asal kau jangan temaha dan lekas pulang,” sahut sang ibu.

Kang Kiat lantas salin pakaian mandinya, pakai juga kopiah untuk diair, lalu sambil tengteng umbingnya, ia bertindak dengan cepat ketepi sungai dimana, dari jauh2 sudah kelihatan banyak orang, ada yang sedang menjala, ada yang sedang menempuling, siapa yang mendapatkan ikan, dia berseru kegirangan, hingga suara mereka jadi ramai dan riuh sekali. Memangnya tepian itu ada sedikit jauh dari pelabuhan dan biasanya sepi.

“Hayo, Kang Kiat!” demikian ada yang berseru kapan mereka melihat boca ini.

Dengan cepat Kang Kiat bersiap, lantas ia terjun keair. Ia tidak memakai perahu seperti tukang jala lainnya. Ia terjun dengan kepala lebih dulu, lantas ia selam. Ketika sebentar kemudian ia timbul, ia sudah terpisah sepa mana ia menyebur, ia muncul dimana ia nyebur, ia muncul di dekat sebuah perahu, kepunyaan kepala nelayan yang bernama Cioe A Coen, keperahu siapa ia lantas melompat naik, umbingnya memuat lima ekor leehie yang besar .

“Kau datang, Kang Kiat, kau tentu akan peroleh hasil bagus!” kata A Coen sambil tertawa. Ia tidak gusar, malah senang ketempatan nelayan muda ini. “hayo tangkap lebihan, titipkan ikanmu disini, ikan hidup harga nya lebih baik!”

Kang Kiat bersenyum.

“Untuk Cioe ya, aku nanti tangkap dua ekor yang besar!” kata ia, yang segera selulup pula. Kali ini, ia menyebabkan air bergelombang, hingga ketika dua peahu nelayan lain sampai disitu, mereka heran.

“Siapkan tempuling!” mereka berseru, mengira itulah ikan besar yang terbitkan ombak.

“Hus, jangan! Itulah Kang Kiat,”kata si nelayan she Cioe.

Hampir berbareng dengan itu, air bergelombang disisi perahunya A Coen, lantas Kang Kiat tim bul dengan kedua tangan memegang masing2 seekor ikan leehie besar sekali, ekornya berontak rontak. A Koen lekas2 menyambuti dengan girangnya, ia pun membantu boca itu naik keperahu nya.

Semua nelayan yang melihat itu, bertepuk tangan saking kagum, semua memuji anak ini.

“Siauw Liong Ong benar liehay,” demikian pujian mereka.

“Semua empat puluh buah perahu disini kena kau kalahkan! Ini dua ekor baik dipakai untuk sembahyang malaikat!”

Selagi penangkap2 ikan itu kegirangan, ditepi terdengar nyaring suaranya sebuah kelenengan , sebab seekor keledai kecil sedang dikasi lari mendatangi, penunggangnya ada seorang tua dan kurus, yang setelah datang dekat, lantas tahan tunggangannya secara mendadakan, hingga keledai itu berhenti sambil angkat tinggi kedua kaki depannya. Si penunggang sendiri, begitu tubuh tak bergeming mengawasi kemuka air.

Kedua ekor ikan leehie itu berlompatan dilantai perahu, maka A Coen lekas menutup perahunya itu.

“Cioe ya, aku nanti tangkap dua ekor lagi!” berkata Kang Kiat. “Hari ini benar ikan banyak!”

Segera tanpa tunggu jawaban, ia terjun pula.

Waktu itu matahari lohor sudah mulai doyong, sinarnya sedang sangat panas, warnanya yang merah atau kekuning2an, berkilauan ber main2 dipermukaan air, mirip dengan bergerak2nya laksaan ular emas…

Kali ini Kang Kiat menyelam lama, atau a timbul untuk berenang sana dan sini, kemudian menyelam pula. Perhatian nelayan nelayan umumnya ditujukan kepadanya. Orang ingin melihat ia tangkap pula ikan bagaimana besar. Sekonyong2, antara air yang bergelombang, muncul satu benda hitam, satu makhluk yang bergerak, menyusul mana sekalian nelayan, yang dapat lihat itu, pada siapkan penggayu dan tempuling mereka seraya mereka berteriak2, “Babi sungai! Babi sungai!”

Sekejab saja orang menjadi gempar, apapula kapan raksasa sungai itu tabrak sebuah perahu kecil, hingga dua nelayanaya terdampar jatuh kesungai, kemudian binatang itu berbalik, angkat kepalanya, membuka mulutnya yang besar dan bergigi tajam! Rupa nya dia gusar karena berbentrok dengan perahu dan tumpahkan keamarahannya kepada kedua nelayan itu.

Diatas perahu masih ada dua nelayan lain, mereka kaget tetapi mereka segera bersiap dengan tempulingnya, dengan berbareng mereka menyerang. Tempuling yang satu lolos tetapi yang lainnya mengenai bebokongnya binatang itu, yang terus saja nyelosor kedepan tiga empat kaki jauhnya, untuk terus memutar diri.

Selagi begitu, Kang Kiat muncul dimuka air, dikedua tangannya ada dua ekor ikan leehie, dengan sendirinya, mereka jadi berhadapan binatang sungai dan manusia! Hal ini membikin kaget dan kuatir pada sekalian nelayan, terutama terpisahnya mereka itu tinggal satu tumbak lebih.

“Kang Kiat! Lekas kepinggir, kepinggir!” mereka ber teriak2, “Babi sungai! Babi sungai!”

Babi sungai itu timbul seraya pentang mulutnya, ia maju menghampirkan Kang Kiat, entah ia hendak menyerang boca tanggung itu atau kepada sang ikan nya.

Kang Kiat pun telah dapat melihat binatang itu, ia menjadi ibuk karena tangannya memeluki ikan. “Kang Kiat, lekas selulup!” kembali nelayan2 menyerukan. “Awas, binatang itu liehay, nanti dia gigit kau! Hayo selulup, lekas!”

Babi sungai itu sudah lantas datang lebih dekat. Dalam ibuk nya, Kang Kiat menimpuk dengan seekor ikan, yang tepat masuk kedalam mulut yang besar dari babi sungai itu, hingga dia jadi tertahan majunya dan mesti memakan dulu ikan itu.

Menggunakan ketika ini, Kang Kiat menyelam.

Babi itu berdiam sebentar, atau dia sudah lantas maju pula, mulutnya menyembur, mengeluarkan tulang2 nya ikan, dua potong tulang mengenai jidatnya boca ini, hingga ia merasakan sakit dan panas. Baharu sekarang ia insyaf lihaynya raksasa sungai itu. Tetapi ia tidak takut, bahkan sebaliknya ia menjadi gusar. Ia memang bernyali besar. Ia malepaskan ikan yang satunya pula, ia terus selulup, akan maju kepada binatang itu yang ia lewati, maka ketika ia timbul, ia berada dibelakangnya babi sungai itu. Tidak menunggu tempo lagi, ia segera ayun kepalannya menghajar bebokongnya babi itu. Tetapi ia terkejut bukan kepalang, ia rasakan kepalannya sakit, sebab bebokong itu ternyata sangat keras. Maka lekas2 ia mundur.

Babi sungai itu memutar diri, dengan gusar dia menerjang boca itu.

Masih Kang Kiat tidak takut, tetapi karena mengetahui binatang itu tanggu, ia lekas2 selam.

Biar bagaimana, Kang Kiat kalah awas daripada binatang itu, didalam air, ia tak dapat melihat jauh seperti binatang itu. Karena ini, perlu ia saban2 timbulkan diri. Dilain pihak, juga binatang itu ada sangat gesit, sulit akan layani kegesitannya itu. Karena mana, walaupun ia tidak takut, namun ia agak keteter. “Kang Kiat, naiklah kedarat!” akhirrnya A Coen serukan. Ketua nelayan ini berkuatir melihat boca itu terdesak, sedang babi sungai itu tahan dengan pukulan kepalan belaka.

Tetapi Kang Kiat tidak sempat menyingkirkan diri, ia melayani lerus.

Tiga nelayan, yang memegang tempuling, dan dua yang mengayu, telah menyerang berbareng selagi binatang itu terpisah dari Kang Kiat. Mereka harap, boca itu dapat tempo untuk menyingkir ketepi untuk mendarat. Akan tetapi semua serangan luput, sebab binatang itu sangat sebat. Kang Kiat tetap dihampiri, hingga ia nampaknya ada terancam bahaya.

Itu waktu, orang dan binatang mendekati pinggiran, maka itu, Kang Kiat menyingkir kedarat. Berbareng dengan itu. ia merasakan samberan angin kemukanya, disusul dengan suara menjebur keras dibelakangnya. Karena mu kanya masih bercucuran air, ia tidak melihat tegas bagaimana seorang tua kecil dan kurus dan kate, dengan kumis jenggotnya seperti jenggot kambing gunung, menghalang didepannya, maka untuk mencegah tabrakan, ia ulur kedua tangannya, untuk mendorong. Berbareng dengan itu, ia dengar suaranya si orang tua. “Ah, boca, kau benar liehay, babi sungai begini galak kau dapat hajar mampus! ”

Boca ini menjadi heran, hingga ia lantas berpaling kebelakangnya, karena mana, ia terus saja jadi tertegun. Sebab rebah di pinggiran adalah babi sungai itu, yang mengeluarkan darah dari tubuhnya, hingga air disitu jadi berwarna merah.

LXXIII “Heran betul, untuk menyingkir saja ada sangat sukar, bagaimana binatang ini binasa tiba2?” berpikir ia. Ia masih mengawasi bangkai binatang itu ketika Cioe A Coen datang bersama perahunya.

“Sungguh berbahaya, Kang Kiat!” berkata ketua ini. “Cara bagaimnaa kau binasakan raksasa sungai ini?”

“Aku tak tahu,” sahut si boca dengan ragu2. “Juga orang tua ini katakan akulah yang membinasakannya ”

Sembari berkata begitu, ia ber paling, ia niat tunjuk si orang tua, akan tetapi untuk kesekian kalinya, ia terheran2. Dimana ada orang lain disitu? Si orang tua dengan jenggot seperti jenggot kambing gunung entah telah menghilang kemana. Ia lantas memandang kesekelilingnya, yang cuacanya sudah remeng2, tetap ia tak melihat orang tua itu, yang terlihat adalah banyak nelayan lainnya, yang pada mendatangi, hingga kemudian ia kena dikerumuni.

“Sudah sore, Kang Kiat, lekas kau pulang!” kata A Coen kemudian. “Mungkin ibumu mengharap2 padamu. Babi sungai ini nanti aku yang urus, ini uang empat renceng untukmu sebagai hadiah!”

Ketua ini memang hargai boca ini dan tahu orang ada sangat disayang oleh ibunya.

Kang Kiat melengak. “Cioe ya,” kata ia kemudian, “aku minta sukalah hal ini kau rahasiakan terhadap ibuku, jikalau tidak, lain hari pasti ibu tak ijinkan aku keluar pula”

“Baik,” sahut A Coen, yang mengerti kesulitannya boca itu, malah ia terus pesan semua nelayan akan simpan rahasia.

Hatinya Kang Kiat lega, ia terima uang itu sambil mengucap terima kasih dan lantas ngeloyor pulang. Dari jauh2 ia sudah lihat ibunya sedang menunggui di muka pintu seraya matanya mengawasi kearah sungai.

“Kenapa ibu masih diluar saja?” anak ini menegur sambil tertawa. “Apa ibu menunggui aku karena hari sudah magrib? Hari ini ikan banyak benar, ini ada uang dari ketua Cioe A Coen.”

Lantas anak ini ajak ibunya masuk.

Nyonya Kang tidak bilang suatu apa, karena hatinya lega melihat puteranya pulang dengan tidak kurang suatu apa. Selagi ia memutar tubuh, untuk masuk bersama anaknya itu, kupingnya dengar suara kelenengan keledai, ketika ia menoleh, ia tampak satu penunggang keledai mendatangi ke arah mereka, lewat disamping rumahnya. Ia tidak menaruh perhatian, ia masuk terus bersama anaknya, akan lantas duduk dahar.

Kang Kiat dahar sambil bercerita bagaimana girangnya ia menangkap ikan, ibunya senang mendengarnya. Tetapi ia tutup rahasia hal pertempurannya dengan babi sungai itu.

Habis dahar tidak lama, nyonya Kang mengajak anaknya tidur. Ia sudah berusia lanjut, ia lantas tidur nyenyak. Tidak demikian dengan si boca, yang pikirarrnya bekerja, memikirkan pertempuran tadi disungai, terutama ia tidak mengerti hal kebinasaannya binatang galak itu.

Rumah gubuk dari Kang Kiat terdiri dari tiga buah kamar. Ibunya tidur dikamar Timur, ia sendiri dikamar Barat, sehabis menunggui ibunya tidur, baharu ia masuk kekamarnya. Disinilah ia berpikir keras, hingga ia tak dapat tidur. Iapun jadi melamun. Dalam umur enam belas tahun, kecuali berenang, ia tidak punya kepandaian lainnya. Bagaimana ia dapat menuntut balas untuk ayahnya? Diakhirnya, ia keluarkan dua buah sincie, yang biasa nya ia bungkus rapi, didepan itu, ia berlutut dan memujih “Thian, tolong lindungi umurnya dua orang ini, supaya setelah nanti ibu meninggal dunya, hambamu masih ada ketika untuk cari mereka.” Ia memujih tiga kali, sesudah mana, ia berlutut didepan meja atas mana ada sincie dari ayahnya almarhum “Ayah, lindungilah anakmu ini, berkahilah dia, supaya dia peroleh guru yang pandai, agar setelah dia punyakan kepandaian yang berarti, dia nanti bisa mencari musuh ayah untuk menuntut balas.”

Kali inipun ia memujih tiga kali, setelah mana ia berbangkit dan menyeka air matanya yang berlinang2, kemudian ia bungkus pula sincie dari kedua musuhnya untuk disimpan. Ketika ia membalik tubuh dari sudut kamar, dimana ia simpan sincie itu, ia terperanjat. Samar2, karena matanya masih basah, ia tampak satu orang didalam kamarnya itu. Ia lantas ingat pada orang jahat, yang tentu hendak merampas uangnya. Maka secara tiba2 ia lantas menyerang. Orang itu menangkis seraya cekal tangannya dan berkata dengan pelahan. “Jangan berisik, nanti ibumu bangun dari tidurnya. Duduklah!”

Kang Kiat seperti orang yang mengerti, ia jatuh duduk atas pembaringannya. Ia rasakan separuh dari tubuhnya kaku dengan mendadakan. Maka itu, ia melainkan bisa mengawasi tetamu tidak dikenal itu. Ia tidak berani berteriak meminta pertolongan, Ia kuatir ibunya kaget dan bangun, kemudian pun lantas kenali, itulah si orang tua yang tadi ia ketemukan ditepi sungai.

“Aku percaya dia tidak bermaksud jahat,” pikirnya akhir nya.

Orang kate kecil dan kurus itu berumur kira2 enam puluh tahun, mukanyapun perok, akan tetapi sepasang matanya tajam dan bersinar berpengaruh, kumis dan jenggotnya merupakan jenggotnya kambing gunung. Dia pakai baju biru, kalau dikata thungsha, baju panjang, itulah terlalu pendek. Betisnya tertutup kaos putih. Maka dandanannya itu, dandanan anak sekolah bukan, dandanan ahli silat pun bukan…

Kang Kiat terus mengawasi dengan diam saja, ia merasakan tangannya sakit sampai tak dapat diangkat, ia menahan saja. Cuma sepasang alisnya mengerut.

“Kau siapa?” akhirnya ia menanya, karena sekian lama keduanya bungkam.

“Aku Na Pek, yang orang julukkan Yan tiauw Siang Hiap,” orang tua itu menyahut dengan tenang.

“Siapa?” tiba2 terdengar pertanyaan. Itulah nyonya Kang, yang terbangun dengan tiba2, yang segera datang kekamar anaknya.

Na Pek perkenalkan dirinya, ia tuturkan maksud kedatangan nya Ong Too Liong, ketua dari Hoay Yang Pay, untuk satrukan Hong Bwee Pang. Sebab ada sulit memasuki Cap jie Lian hoan ouw, maka Hoay Yang Pay membutuhkan bantuannya ahli renang dan selulup, yang ketahui jelas keadaan sarang penjahat.

“Tadi aku melihat kepandaian berenang dari anakmu, nyonya, aku jadi ketarik,” Na Pek terangkan lebih jauh tentang pertempuran dengan babi sungai. “Aku tadinya menyangka puteramu ada orang Hong Bwee Pang, maka aku berniat cegah ia campurkan diri dengan mereka, dengan diam2 aku datang kemari untuk selidiki ia. Sekarang aku girang mengetahui ia bukannya konconya Boe Wie Yang. Apakah benar puteramu belum pernah belajar silat sama sekali?”

Jago tua ini tidak lupa kasi tahu bahwa ia lah yang presen kan dua batang yan bwee piauw kepada babi sungai itu hingga menyebabkan binasanya binatang air yang galak itu.

“Oh, kiranya loo hiapkek telah tolongi anakku,” kata nyonya Kang, yang bersyukur. Ia kaget tetapi segera dapat pulang ketabahan hatinya. “Kejadian itu aku tidak tahu. Terima kasih, loo hiapkek.”

Mukanya Kang Kiat ke merah2 an. Rahasianya terbuka, sedang ia tak ingin ibunya ketahui itu. Ia membohong pun karena terpaksa, untuk mencegah ibunya kaget dan berduka, agar ia tidak dilarang menangkap ikan pula.

Selagi nyonya itu diam, Na Pek tambahkan “Nyonya tidak usah kuatir, bahaya sudah lewat. Aku percaya anakmu tidak menuturkan hal itu kepadamu karena ia kuatir kau kaget dan berkuatir.”

Nyonya Kang silahkan tetamunya duduk, iapun ambil kursinya. Tidak kelihatan ia tidak senang.

“Anakku memang tidak tolol, cuma karena ia piatu dan kami melarat, tidak dapat aku didik dia sebagaimana mestinya,” kata nyonya itu kemudian. “Hal ini membuat aku malu dan menyesal, tetapi apa boleh buat. Sebenarnya sia2 aku hidup menyendiri, tidak bisa aku bikin anakku angkat nama, sebaliknya, selama ini aku hidup dengan mengandal kepada nya. Aku menyesal telah sia2kan anak ini ”

Nyonya itu nampaknya jadi sangat berduka. Orang tua itu kerutkan dahi, ia terharu.

“Nyonya, aku ingin bicara kepadamu, tetapi aku kuatir kau tidak suka menuturkannya,” kata ia. “Sebenarnya aku ingin ketahui, dimasa hidupnya suamimu kerja apa dan sudah berapa lama ia meninggal dunya,” Air matanya nyonya itu lantas turun bercucuran.

“Dasar aku yang lacur,” berkata ia, “dimasa hidupnya suamiku, jangankan berkuli menjahit, kerjaan didapurpun bukan pekerjaanku. Tetapi sekarang, apa aku mesti bilang? Na Tay hiap, harap kau tidak menanyakan tentang itu….”

Matanya Na Pek bercahaya sekelebatan, ia lirik Kang Kiat.

“Nyonya tidak mau mengasi keterangan, tidak apa,” ia bilang, “tetapi aku percaya, dahulu kau ada orang berpangkat, yang kemudian terancam malapetaka…”

Nyonya itu berdiam, air matanya masih mengucur. Kang Kiat pun menangis, ia hendak buka mulutnya, tetapi urung, karena ibunya menggoyangkan kepala kepadanya.

“Walaupun nyonya tidak sudi memberi keterangan, tetapi aku bisa menduganya,” Na Pek kata pula sambil menunjuk bungkusan sincie dari musuh. “Lihat itu sincie disana. Aku percaya, biar nya suami nyonya bukan satu raja muda, sedikitnya ia pernah mengepalai pasukan tentara.”

Nyonya Kang heran. Ia berpikir dengan cepat, lantas ia jawab “Baiklah, aku nanti kasi keterangan padamu. Memang suamiku seorang peperangan, hanya apa lacur ia menutup mata, kami jadi ter lunta2. Sincie itu ada dari dua orang, dari siapa suamiku pernah terima budi, budi siapa tak bisa dilupai, maka sekarang kami puja mereka, agar mereka berbahagia dan panjang umur, agar apabila anakku sudah besar dan beruntung, dia bisa balas budi mereka itu.”

Na Pek bersenyum tawar.

“Aku tidak menjadi kurang senang bahwa nyonya tak sudi omong terus terang kepadaku, aku hanya menyesal sudah lancang menanyakan hal ini,” berkata ia. “Tetapi baik nyonya ketahui, kami dari kaum Hoay Yang Pay, paling gemar menolong orang lemah dan teraniyaya. Dengan memuja kedua sincie itu, sebenarnya kau ibu dan anak terancam malapetaka. Biarlah aku omong terus terang. Dua orang itu, sekarang ini berkuasa besar atas balatentara. Sekarang ada jaman kalut, taruh kata mereka sendiri tidak bisa datang kemari, tetapi kaki tangannya banyak bila ada antaranya yang pergoki sincie ini, kaki tangan itu bisa terbitkan hal yang bukan2. Nyonya ingin melindungi puteramu, kenapa ancaman bahaya ini kau tidak melihat? Untuk menyingkirkan bahaya, baik kedua sincie itu segera dimusnahkan. Aku sudah bicara, nyonya, putusan terserah padamu. Sampai nanti kita bertemu pula!”

Jago tua ini berbangkit untuk berlalu.

Nyonya Kang termangu, air mata terus keluar. Kang Kiat lompat, akan menghalangi dipintu.

“Loosoehoe, jangan kau sesalkan kami yang tidak suka omong terus terang,” kata ia, suaranya sangat sedih. “Kami ada lemah, kami tidak punya uang, sebaliknya, musuh2 kami berpengaruh, dari itu perlu kami simpan rahasia. Kami tinggal disinipun sedang sembunyi. Harap loosoehoe maafkan kami ibu dan anak.”

Nyonya Kang jengah sendiri nya, tetapi iapun segera insyaf. Ia memberi hormat.

“Tayhiap, maafkan kami,” ia mohon. “Kami terancam bahaya, terpaksa kami umpatkan diri, sedang anakku ini adalah andalan semengga2nya. Sekarang aku percaya padamu, tayhiap. Aku mohon sukalah kau tolong anak ini ”

Nyonya itu lantas menangis pula.

Kang Kiat lantas bertekuk lutut didepan jago tua itu. “Jangan pakai adat peradatan, nyonya,” Na Pek merendahkan diri. “Aku tidak gusar, aku hanya menyesal pertemuan kita ada secara demikian mendesak. Karena kau percaya aku, silahkan duduk, mari kita omong dengan sabar.”

Kang Kiat percaya habis jago tua ini, ia lantas bakar musnah sincie dari kedua musuhnya, setelah itu, ia berdiri disisi ibunya.

“Jikalau suka, tayhiap, aku nanti tuturkan tentang suamiku,” kata Nyonya Kang.

“Tunggu, nyonya. Lebih baik aku tuturkan dahulu maksud kedatanganku ini. Tentang kaumku, tidak gampang kami terima murid, bukan seperti guru lain nya, yang terima sembarang orang asal yang membawakan uang. Kami hanya memilih yang dasarnya baik yang berbakat, uang tidak diutamakan, karena di Lek Tiok Tong kami ada punya cukup penghasilan untuk hidup kami. Umpama dua murid yang bernama Kam Tiong dan Kam Hauw, tidak saja mereka belajar cuma2, malah orang tua merekapun diajak tinggal sama2. Kami sekarang sedang berselisih dengan Hong Bwee Pang, sebab kaum itu ganggu kami.” Jago tua itu tuturkan hal diculiknya murid2 dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay. “Sudah begitu, kamipun ditantang, maka sekarang kami datang kemari untuk memenuhi tantangan itu. Tetapi Boe Wie Yang berlaku jail, ia sembunyi didalam sarangnya, maka itu, untuk memasuki Cap jie Lian hoan ouw, perlu kami mendapat bantuan orang2 yang kenal keadaan didalamnya, yang pandai berenang. Begitulah aku lihat putera nyonya pandai main diair. aku ingin dia membantu kami. Tentu sekali nyonya tidak   usah   kuatir,   karena   berbareng   kamipun   akan

melindungi putera nyonya ini, yang kami butuhkan   sebagai penunjuk jalan saja. Disamping itu, dengan tidak turut rombongan kami, ada harapan anak ini nanti terjatuh dalam tangan penjahat.”

LXXIV

Nyonya Kang mau percaya keterangan jago tua ini, ia nyatakan setuju dan mengucap terima kasih.

Na Pek pun jelaskan, dalam tempo lima tahun, ia percaya Kang Kiat akan peroleh cukup kepandaian.

Kang Kiat sendiri ada sangat girang, tidak tempo lagi ia berlutut didepan jago tua itu, untuk jalankan kehormatan.

Kemudian Nyonya Kang nyatakan, kecuali cuma bisa berenang, apa sang anak tidak melainkan membikin berabe saja.

“Aku harap tayhiap jangan terlalu andalkan dia,” kata si nyonya akhirnya.

“Tentang itu nyonya jangan buat kuatir,” Na Pek menghibur. “Akupun akan simpan rahasia, supaya Hong Bwee Pang tidak ketahui nyonya telah berpihak pada kami. Aku tegaskan, Kang Kiat akan diajak sebagai penunjuk jalan saja”

“Tetapi loosoehoe,” tanya Kang Kiat “Kenapa, tidak sekarang juga aku jalankan kehormatan sebagai murid kepada gurunya. Hal ini akan membikin hatiku lega ”

“Sabar, anak,” Na Pek kata sambil bersenyum, tangannya di goyang berulang2. “Aku telah terima kau, kau jangan kuatir. Aku telah punyakan satu murid, Lie Hee Leng namanya, diapun sudah punyakan satu murid nama Ciok Liong Jiang, siapa sekarang tengah ikuti ciang boen jin kami, maka itu, mengenai kau, aku nanti bicara dulu kepada ciangboenjin, akan tetapkan, kau akan diserahkan kepada siapa untuk didik padamu.”

“Tetapi, loosoehoe, biar bagaimana, biar aku jadi cucu murid, aku mohon sukalah loosoehoe sendiri yang pimpin aku,” Kang Kiat mendesak. “Loosoehoe suka tolong aku, aku harap aku tidak nanti berpisah pula denganmu. Loosoehoe boleh percaya, aku bisa belajar dengan sungguh2, tidak nanti aku sia2kan pengharapan loosoehoe.”

Sampai disitu, tanpa tunggu jawaban lagi, boca ini lantas berlutut pula, akan menjalankan penghormatan. Ia paykoei ber ulang2.

Bukan main tertarik hatinya jago tua ini, ia terharu, dengan terpaksa ia membalas separuh penghormatan, sesudah mana barulah Kang Kiat berbangkit.

Nyonya Kang puas melihat kesudahan itu, ia girang karena putranya kenal aturan. Iapun tuturkan terima kasih pada jago tua itu, kepada siapa ia serahkan puteranya itu.

Na Pek merendahkan diri, ia tegakan pula, ciang boenjin Hoay Yang Pay, yalah Eng Jiauw Ong Ong Too Liong yang nanti tetapkan, siapa bakal jadi gurunya Kang Kiat.

Mendengar ini, Kang Kiat ulangi keinginannya akan si jago tua yang nanti didik ia.

“Kau lihat saja nanti,” Na Pek kata sambil tertawa. “Umpama Eng Jiauw Ong, walaupun kau kehendaki, belum tentu dia sudi terima kau sebagai murid, untuk itu perlu dia lihat dulu padamu. Tetapi ini ada urusan nanti, sekarang kau jangan buat pikiran. Tentu saja aku tidak akan sia2kan padamu.” Setelah kata begitu, Na Pek minta nyonya rumah masuk tidur pula. Ia kasi tahu, ia hendak bicara pula sebentar dengan Kang Kiat, setelah itu baharulah ia hendak pergi.

Nyonya Kang menduga orang hendak bicarakan urusan silat yang ia tidak mengerti, maka ia lantas berbangkit, untuk undurkan diri, cuma lebih dulu ia undang Na Pek mondok saja dirumahnya seraya hunjuk, tak usah tetamu itu malu2.

Atas itu, Na Pek menghaturkan terima kasih.

Nyonya Kang lantas berlalu untuk masak air, guna sediakan teh.

Kang Kiat jelaskan pada si orang tua tentang fitnahan ter hadap ayahnya, hingga ia mengandung sakit hati hebat.

“Jikalau manusia2 jahat itu ketemu aku, aku nanti kasi dia rasa!” kata Twie In Chioe, yang pun gusar. “Sekarang kau tak usah ingatkan saja sakit hati itu, paling perlu kau belajar dengan rajin, sampai waktunya aku nanti bantu kau menuntut balas.”

Setelah itu, orang tua ini tanya apa yang Kang Kiat tahu tentang Hong Bwee Pang.

“Jikalau couw soeya ingin ketahui keadaan di Hoen coei kwan, lebih baik couw soeya ikut aku pergi menyelidiki sendiri,” Kang Kiat jawab. “Aku ada punya sebuah perahu enteng. Aku percaya tidak akan sampai kita kepergok.”

“Aku memang niat pergi menyelidiki,” kata jago tua itu, “tetapi tidak malam ini. Aku mesti pergi dahulu ke Gan Tong San akan melihat pengaturannya ciang boenjin. Besok malam kurang lebih jam tiga aku nanti datang pula, kau boleh tunggui aku.”

Kang Kiat girang, ia memberikan janjinya. Itu waktu Nyonya Kang datang dengan air teh, hingga Na Pek jadi berterima kasih.

“Silahkan nyonya beristirahat,” ia kata.

Setelah nyonya itu undurkan diri, Na Pek pesan wanti agar Kang Kiat jaga diri baik2, sebab Hong Bwee Pang ada liehay sekali, kalau dia kepergok, dia bisa dapat susah. Ia hunjuk juga bahwa ia sendiripun selalu bertindak hati2.

Sampai disitu baharulah Twie In Chioe berangkat ke Gan Tong San, akan tengok Ong Too Liong beramai. Ia terus sembunyikan diri. Dimalam kedua, iapun saksikan kaum Hoay Yang Pay memecah diri untuk melakukan penyelidikan, Eng Jiauw Ong sebaliknya berjalan seorang diri, hingga ia menjadi kagum , karena ia tahu, ketua Hoay Yang Pay itu tak sudi mengandalkan lain orang. Diam2 ia menguntit tanpa Eng Jiauw Ong menduga tetua itu bayangi padanya. Tindakan lebih jauh dari Na Pek adalah menemui Kang Kiat, yang ia ajak memasuki Hoen coei kwan dan anjurkan boca ini pergi hunjukkan jalan pada Eng Jiauw Ong, hingga terdapatlah ketika ciangboenjin Hoay Yang Pay bertemu dengan boca luar biasa itu. Semua tindakannya Kang Kiat ada menuruti ajarannya Twie In Chioe, dan hal ini, ia tuturkan pada Eng Jiauw Ong, hingga ketua ini ketahui yang ia senantiasa dibayangi Twie In Chioe.

Diakhir keterangannya, Kang Kiat anjurkan Eng Jiauw Ong memasuki Hoen coei kwan dalam jumlah besar dan teratur, terutama supaya Ban Lioe Tong dari Kwie In Po turut serta, karena Lioe Tong punyakan pedang mestika yang tajam luar biasa untuk dipakai membabat kutung segala rintangan.

Eng Jiauw Ong heran berbareng girang mendengar keterangannya boca ini. “Sungguh beruntung kau bisa menjadi muridnya tayhiap!” kata ia. “Kalau kau bisa belajar sungguh2, dikemudian hari kau bakal angkat derajatnya Hoay Yang Pay!”

“Po coe terlalu memuji,” kata Kang Kiat. “Buat aku, cukup asal aku peroleh pendidikan dari pocoe sendiri. Tetapi sekarang sudah jam empat kurang lebih, mari kita tengok Hoen coei kwan, untuk kita dapatkan tempo akan berlalu dari sini, kalau tidak, nanti keburu kesiangan.”

“Baik,” Eng Jiauw Ong manggut. “Dari mana kita bisa melihatnya? Mana jalanannya?”

“Kita coba saja,” Kang Kiat jawab. “Penjagaan ada sangat kuat, kita mesti ber hati2. Umpama kita kepergok dan suitan di Hoen coei kwan berbunyi, suitan itu akan disambut empat penjuru, perahu mereka segera berkumpul, setiap perahunya terdiri dari empat anak buah yang terlatih baik, yang disebut coei kwi, atau setan air. Kalau kita sampai kepergok, benar2 sulit untuk lolos keluar ”

“Kalau begitu, mari kita mencobanya, supaya aku bisa lantas mengatur daya untuk memasuki nya,” Eng Jiauw Ong bilang.

Walaupun ia memberi keterangan demikian, Kang Kiat tidak lantas bergerak, hingga Eng Jiauw Ong desak dia. “Marilah,” kata ketua ini.

“Sebenarnya, untuk pergi ke sana, ilmu entengi tubuh ada dibutuhkan,” kata boca itu kemudian ragu2 “Untuk aku, sampai terang tanahpun aku tak akan sanggup pergi mendaki kesana…”

Mendengar demikian, Eng Jiauw Ong mengerti. Ia lantas bersenyum. “Kau hunjukkan jalan padaku, nanti aku bawa kau.” kata ia.

Dengan jengah, Kang Kiat menunjuk kedepan.

“Lihat batu disana, pocoe,” kata ia. “Setelah lima enam tumbak lewati itu, disana ada sebuah bukit dari mana orang bisa melihat kesekitarnya. Tetapi penjagaan ada kuat sekali, belasan api lentera Khong beng teng bisa menyorot jauhnya dua puluh tumbak, hingga ada sukar buat luputkan diri dari sorotan itu. Itulah yang kita mesti jaga.”

Eng Jiauw Ong menganggukkan kepala. “Aku mengerti,” kata ia “Mari kita lihat.”

Menyusul ucapannya itu, ketua Hoay Yang Pay cekal bahu kanannya Kang Kiat untuk diangkat kakinya sendiri berbareng terangkat, untuk bertindak dengan cepat, sekali lompat ia sudah meleyit dua tumbak, setelah mana berlari2 nanjak, hingga ia hanya merasakan seperti dibawa terbang, hingga diwaktu itu, matanya jadi meram. Tapi sebentar saja, Eng Jiauw Ong sudah berhenti berlari, mereka segera berada diatas puncak, yalah tempat yang Kang Kiang sebutkan tadi. Dengan sendirinya boca ini jadi kagumi ketua Hoay Yang Pay itu.

“Inikah tempat yang kau maksudkan?” Eng Jiauw Ong tanya.

“Benar,” sahut anak itu. “Untuk mendaki lebih jauh, umpama po coe ingin leluasa, baik tinggalkan aku disini saja.”

LXXV

Eng Jiauw Ong mendongak dan melihat tempat masih ada belasan kaki tingginya. “Kau jangan kuatir, mari turut aku,” bilang ia.

Kembali ia cekal anak muda itu, untuk diajak lari naik.

Ia gunai ilmu kegesitan “Pat pou kan siam.”

Biar bagaimana, hatinya Kang Kiat kebat kebit. Tempat ada mudun naik dan sangat berbahaya, sekali terpeleset, tidak ampun lagi. Tetapi ia tak usah berkuatir lama, atau Eng Jiauw Ong sudah berhenti berlari2, tatkala ia buka lebar matanya ia telah sampai dipuncak. Dilain pihak, ia dapatkan ketua Hoay Yang Pay tidak cape atau lelah. Maka diam2 ia kagumi jago Hoay siang itu.

“Po coe, aku tidak harapkan pelajaran sampai tinggi, cukup asal bisa ilmu tubuh enteng sebagai ini,” kata ia. Lantas saja ia paykoei.

“Bangunlah!” berkata Ong Too Liong sambil tertawa. “Kepandaian semacam ini tak akan diperoleh dengan keinginan saja, tetapi dengan peryakinan sungguh baharulah kau akan punyakan menurut bakatmu. Kau nampak nya kagumi aku, tetapi soecouwmu Twie in chioe Na Pek dan Ay kim kong Na Hoo ada terlebih liehay lagi, belum pernah mereka menemui tandingan.”

Kang Kiat berbangkit dengan kekaguman, Eng Jiauw Ong lantas mengawasi kesekitarnya.

“Mengapa tak ada gerakan suatu apa di Hoen coei kwan?” ia tanya.

“Memang dari sini sukar untuk melihatnya,” sahut Kang Kiat.

“Tapi coba po coe lihat itu di Timur utara, itu yang ber gerak2 bagaikan bayangan adalah pihak perondanya, yang bekerja tak ketentuan jamnya, sembarang saat mereka bisa muncul. Dibawah sinipun ” Belum ucapan ini habis dikeluarkan, atau tujuh tumbak jauhnya dari mereka, terdengar suara kedabakan, yang disusul dengan munculnya seekor burung besar, yang terbang berputaran diatasan mereka.

“Po coe, lekas kita sembunyi,” kata Kang Kiat dengan hati berkuatir. “Segera bakal ada api menyorot kearah kita ”

Kang Kiat belum tutup mulut nya, atau sorotan sudah lantas tertampak. Maka segera ia mencari batu besar untuk menghalingi diri. Eng Jiauw Ong sendiri bergerak terlebih cepat daripada dia. Hampir mereka tersorot sinar kuning, yang menyorot kesegala penjuru.

“Apa kau tahu disana ada berapa banyak penjahatnya?” tanya Eng Jiauw Ong sesudah sorotan lenyap.

“Biasanya cuma dua penjaga tetapi sekarang telah ditambah menjadi belasan,” sahut Kang Kiat. “Perondaan diairpun diperkeras secara tiba2.”

“Tidak heran kalau mereka perkuat penjagaan.” Eng Jiauw Ong bilang. “Mereka tahu pihak ku bakal datang sembarang waktu ”

Tiba2 ada sorotan pula, berulang2.

“Kurang ajar!” menggerutu Kang Kiat. “Tahukah, Po coe, bahwa aku pernah mendekati Hoen coei kwan? Ketika itu rembulan sangat terang. Tiba2 aku disoroti api dan diserang dengan panah jepretan, syukur aku terluput. Sekarang ini, mereka belum dapat melihat kita.”

“Tapi benar, tak dapat kita berlaku sembrono,” Eng Jiauw Ong nyatakan. “Mari kita melihat lebih jauh.”

Kang Kiat hunjukkan tempat dari mana mereka bisa memandang Hoen coei kwan, pintu air atau mulut benteng Hong Bwee Pang. Mereka menuju ke Barat dan lewati dua puncak lagi Tetapi malam ada gelap, mereka cuma bisa melihat samar2. Selokan gunung yang besar, yang merupakan kali kecil, terapit lamping gunung, air itu ber liku2. Kelihatan nya seperti tidak ada penjagaan disitu.

Agaknya waktu itu sudah mendekati jam lima. “Sekarang mari kita pulang, untuk pikirkan rencana,”

kata Eng Jiauw Ong akhirnya. Untuk sementara ia anggap sudah cukup, sedang waktu itu pun sudah mulai fajar.

Kang Kiat menurut. Mereka turun, sampai diperahu mereka. Mereka monggayu sampai dijalanan perapatan, disini Kang Kiat tanya Eng Jiauw Ong hendak ambil jalan dari mulut Liong hauw chung atau dari kaki gunung Gan Tong San.

“Kita harus bisa sembunyikan ini diri Liong kauw coen saja,” jawab Eng Jiauw Ong.

“Baik,” Kang Kiat manggut. “Perahu kita jalannya laju, penjaga yang sembunyi barangan kali tidak bisa berbuat suatu apa terhadap kita.”

“Tetapi berlakulah hati2,” Eng Jiauw Ong pesan. “Untuk sementara ini tak perlu kita berbalapan secara berterang dengan musuh atau aku mesti segera bikin kunjungan resmi pada mereka. Tentang aturan kaum kang ouw ini, dibelakang hari kau akan mengerti.”

Kang Kiat manggut, lantas ia mulai menggayu. Sebentar saja, sudah mendekati Liong kauw chyung.

“selewatnya ini, po coe, kita akan sampai dipelabuhan,” kata boca itu dengan pelahan. Iapun serahkan pula bendera kecil kepada Eng Jiauw Ong. Kemudian sambil menggayu keras, ia ngoce sendirian “Peranginya Ang Hio coe ada keras, biar kita turuti saja, tidak perduli kita mesti jalan lebih jauh sedikit!”

        ocean itu, sorotan api mengenai mereka, tapi Eng Jiauw Ong kibar2kan terus bendera kecil, dan jalannya perahu tak jadi kurang lajunya.

Disitu ada empat buah perahu penjaga, anak buahnya sedang siap2 akan menukar giliran, karena waktu itu sudah jam lima, mereka heran lihat perahu kecil itu, cuma karena perahu datangnya dari dalam, mereka tidak curiga.

“Entah siapa yang begini tidak tahu aturan tata tertib,” kata satu diantara mereka. “Aku ingin ketahui, siapa dia, sayang sekarang sudah waktunya beristirahat ”

Sementara itu, perahu telah lewat sepanahan lebih.

Cuaca sudah mulai terang.

“Dimana Na Couwsoe janji akan ketemu pula dengan kau?” Eng Jiauw Ong tanya.

“Couwsoe tidak berjanji, ia hanya bilang, bila perlu apa2, dia bisa mencari aku,” sahut Kang Kiat. “Couwsoe cuma pesan untuk aku melayani po coe. Po coe sendiri berdiam di Gan Tong San sebelan mana? Sehabis ini, aku ingin pulang, akan tengok ibuku, supaya aku bisa singkirkan dia. Kebanyakan nelayan disini ada kaum nya orang jahat, terhadap mereka aku mesti waspada. Kalau ibu sudah berada ditempat selamat, aku tidak takuti apa juga.”

“Kalau begitu, kau ajaklah ibumu pergi kerumahnya pemburu Hee Hong Lim di Cio hoed tong,” Eng Jiauw Ong kasi tahu. “Kita semua berpusat disana.”

Kang Kiat mengangguk. Perahu mereka berlaju terus, sampai dimulut pelabuhan. Mereka telah keluar dari sarang Hong Bwee Pang dengan tak kurang suatu apa.

“Disana ada sebuah perahu, itu tentu kepunyaanmu!” kata Eng Jiauw Ong sambil menunjuk kedepan.

“Ya, benar!” kata Kang Kiat dengan girang. “Perahuku dipakai Na Soecouw, dia tentu sudah pulang. Inilah bagus, aku memangnya sangsi memakai terus perahu penjahat ini, aku kuatir ada nelayan yang mengenalinya. Sekarang mari kita tukar perahu.”

Kang Kiat menggayu mendekati perahunya, untuk Eng Jiauw Ong pindah, kemudian ia membawa perahu Hong Bwee Pang itu ketempat yang sunyi.

Dari situ, mereka menggayu terlebih jauh, sampai ditempat sepi dimana Eng Jiauw Ong mendarat, untuk pulang ke Gan Tong San, Kang Kiat sendiri gayu perahunya pulang, dengan cepat ia tambat perahunya itu.

“Eh, pagi2 kau sudah keluar, kau dari mana?” tanya Thio A Po, satu nelayan yang menjadi tetangga sebelah kiri. Dia baharu saja buka pintu.

“Aku tidak pergi ke mana, kebetulan saja aku bangun pagi2,” kata Kang Kiat. Memang pakaian selulupnya ia sudah salin dan sembunyikan dalam perahunya. “Aku lihat pagi ini ikan ada banyak…”

A Po tidak curiga apa2, ia ngeloyor pergi.

Kang Kiat pun lantas berjalan pulang, akan melihat ibunya tengah menantikan didepan pintu. Satu malaman sang ibu tidak tidur, karena memikirkan anaknya itu.

“Kau baharu pulang? Mana Na Couwsoe?” sang ibu menegur lebih dahulu. “Mari masuk, ibu!” kata sang anak dengan gembira. Ibu itu menurut, ia lantas masuk.

Sesampainya didalam,   Kang Kint tuturkan ibunya

perihal perjalanannya tadi malam.

“Aku girang kau dapat penuntun,” kata Nyonya Kang. “Hanya mereka sedang bentrok, kau masih hijau, kau jua

tidak mengei ti ilmu silat, kau mesti hati2. Aku senang kau masuk dalam rombongan orang gagah itu, tetapi kau mesti ingat, kau ada anak satu2nya, yang mesti mewariskan keluarga Kang. Kaupun harus ingat, bukan gampang aku telah pelihara kau, maka asal kau tak bikin aku bersusah hati, dengan itu saja sudah cukup kau menjalankan kebaktian ”

Kang Kiat terharu hingga air matanya mengucur turun. “Tentu aku akan ingat kau, ibu,” kata ia. “Justeru karena

ingin punyai kepandaian untuk nanti bisa rawat ibu, aku

suka ikuti Na Couwsoe. Untuk sementara biarlah kita tinggal ber sama2 di Ceng hong poo.”

Nyonya Kang manggut, ia seka air matanya.

“Kau mengerti aku, anak, syukurlah,” kata ia. “Kau ada puteranya satu congpeng, kau biasa diasuh bujang, akan tetapi sekarang kau mesti hidup sengsara, tidak berpakaian indah, tidak makan hidangan lezad. Aku telah berbuat segala apa untuk membuat kau tidak terlalu menderita. Apa yang aku buat menyesal, setelah sekarang kau menjadi besar, ialah aku tidak mampu didik kau terlebih jauh, kepandaian suratmupun tidak berarti, hingga aku tidak tahu, cara bagaimana dan sampai kapan kau bisa menuntut balas. Tapi sekarang keadaan ada lain, harapan telah muncul untukmu. Sebenarnya aku tak mufakat buat pindah ke Ceng hong po, tetapi apa boleh buat, Na Couwsoe begitu baik hati, jangan kita tolak kebaikan nya itu. Aku hanya harap kau nanti rajin belajar, agar kau tak siasiakan harapannya Na Couwsoe itu.”

“Tanpa ibu pesan akupun sudah tahu,” nyatakan Kang Kiat. “Ketika yang baik ini tidak nanti aku sia2kan.”

“Itulah harapanku, agar kau kemudian dapat menuntut balas.”

Ketika mengucap demikian, nyonya janda ini menangis pula, hingga anaknyapun berlinang air mata.

“Sudahlah, ibu, tidak nanti aku sia2kan harapanmu,” ia menghibur.

Sampai disitu, nyonya Kang lantas pergi kedapur untuk memasak nasi. Sehari itu, Kang Kiat beristirahat. Kapan sang sore sampai, ia sudah lantas dahar dan siap, pada jam satu, ia pamitan dari ibunya, akan berangkat dengan diam2. Ia memakai perahunya sendiri. Baharu kira2 satu lie terpisah dari mulut gunung sebelah Timur, ia kepinggirkan kendaraannya itu untuk disembunyikan, lantas ia mendarat akan ikuti sebuah jalan kecil. Ia kenal baik jalanan disini yang biasa dipakai orang2 yang mencari kayu bakar. Ini ada jalanan memotong, untuk lebih lekas sampai ke Cio hoed tong. Kalau ia mengambil jalan dari mulut gunung, untuk maju dari Ngo heng peng, pasti ia akan menampak kesukaran, sebab penjagaan baharu saja diperkeras karena kemarin malamnya rombongan dari Siok beng Sin Ie Ban Lioe Tong telah mengacau disana, hingga kawanan Hong Bwee Pang menjadi penasaran. Hanya di dekat2 Cio hoed tong, kawanan penjahat tidak berani sembarangan muncul. Sebaliknya, diempat penjuru daerahnya, Eng Jiauw Ong, pasang orang2nya. Begitulah selagi Kang Kiat bertindak maju, sekonyong2 ia dicegat seorang yang keluar dari tempat sembunyi sembari orang itu menegur “Siapa? Tahan!”

LXXVI

Kang Kiat tidak takut.

“Kau hendak membegal?” ia balik menegur. “Kau buta! Aku justeru tukang urus bangsat! Kau tahulah diri, lekas mundur!”

Pencegat jalan itu tertawa menghina.

“Kepandaian apa kau ada punya maka kau hendak berjumawa begini?” tanya dia. “Lekas kau kembali, atau kau nanti tahu rasa! Apabila kau ada sahabat kaum Hong Bwee Pang, aku bisa antar kau kepada po coe. Bicaralah terus terang!”

“Oh, kau ada dari Hoay Yang Pay?” tanya Kang Kiat, ia kaget. Ia lantas tanya she dan namanya orang itu.

“Jikalau kau ada orang sendiri, coba bilang, kau ada murid siapa, apa she dan namamu?” orang itu balik menanya. “Atau siapa yang suruh kau datang kemari?”

Samar2 Kang Kiat melihat orang ada sepantaran umur, dengan ia dan kulitnya rupanya putih bersih, diam2 ia girang, karena ia bakal dapat kawan.

“Soesiok, aku adalah orang baharu, namaku Kang Kiat,” ia perkenalkan diri. “Atas titah po coe dan Soe couw Na Jie hiap, aku datang untuk melayani soecouw. Maukah soesiok beritahukan she dan nama soesiok padaku?”

Orang itu tertawa karena ia dipanggil “soesiok” ber ulang2. “Soetee, jangan panggil soesiok padaku, panggil saja soe heng,” kata ia. “Aku Ciok Liong Jiang, cucu muridnya Na Soe couw. Ada yang lain2 yang usia nya jauh terlebih tinggi daripada kita.”

“Ah, kau terlalu,” pikir Kang Kiat. “Sedari tadi kau diam saja, apa kau hendak mempermainkan aku sebagai orang baru?”

Meskipun hati mengatakan demikian, ia toh memberi hormat.

“Mari, soetee,” kata Liong Jiang, “nanti keburu po coe pergi!”

Ia lantas samber tangannya Kang Kiat untuk dituntun, menuju kerumah batu.

“Tahan!” mendadakan dua orang berseru dan mencegat sambil menghunus senjata.

Kang Kiat melengak tetapi Liong Jiang tertawa. “Orang sendiri!” dia menjaab, sikapnya acuh tak acuh.

Sekarang Kang Kiat bisa melihat lebih nyata, dua orang itu berumur lima atau enam belas tahun, sepantaran mereka. Kedua orang itu pun tertawa, tetapi tertawa dingin, agaknya mereka tak puas dengan sikapnya orang she Ciok ini.

Dua pemuda itu adalah Phang Yok Boen dan Phang Yok Sioe, murid2 dari Lek Tiok Tong, kepandaian mereka belum rampung, tetapi Eng Jiauw Ong mengadayk mereka supaya mereka peroleh pengalaman dan kenal banyak orang gagah. Mereka terhitung paman dari Liong Jiang, tetapi Liong Jiang suka bergurau dengan mereka. Orang she Ciok ini lihat kedua paman guru itu kurang senang, lekas2 ia mendekati untuk menghaturkan maaf. “Sudalah,” kata Yok Sioe.

Liong Jiang perkenalkan Kang Kiat kepada kedua paman guru itu, dan Kang Kiat memberi hormat seraya perkenalkan diri.

“Oh, kau ada itu murid baru dari po coe, yang katanya pandai berenang,” kata dua saudara Phang itu. “Nah, pergi kau ikut Ciok Soehengmu ini masuk ke dalam, po coe memang sedang tunggui kau.”

Kang Kiat manggut, sedang Liong Jiang segera ajak ia kerumah batu, akan terus masuk kedalamnya dimana ada berduduk belasan orang, yang kebanyakan sudah lanjut usianya. Ia lantas hampirkan Eng Jiauw Ong untuk memberi hormat seraya meng hunjuk ia datang terlambat, hingga guru itu mesti tunggui ia.

“Kau datang dari Ngo liong peng, kau malah datang cepat,” kata Ong Too Liong.

“Aku bukan ambil jalan Ngo liong peng hanya jalan air,” Kang Kiat jawab seraya terus terangkan jalanan yang ia ambil. “Kalau tidak, sedikitnya jam tiga baharu aku bisa sampai disini.”

Eng Jiauw Ong manggut, lantas ia kata pada orang yang duduk disampingnya “Ban Soe, inilah cucu murid yang bahatu saja Na Toa hiap ambil. Dia berbakat baik, dia pandai berenang dan selulup, kepandaian mana ia peroleh tanpa guru, kalau aku tidak telah menyaksikan sendiri, akupun tak akan percaya akan kepandaiannya itu.” Kemudian ia perkenalkan Kang Kiat kepada soeteenya itu.

Lekas2 Kang Kiat berlutut untuk hunjuk hormatnya pada tabib gagah ini. Ban Lioe Tong mengasi bangun boca itu, yang ia puji seraya katakan, bila kelak dia rajin belajar, pengharapannya tidak nanti ter sia2.

Kemudian Eng Jiauw Ong kenalkan boca itu pada yang lain2 sesudah mana, ia kata pada Ban Lioe Tong “Soetee, mari kita berangkat. Sekarang sudah jam dua lewat, sesampainya di Hoen coei kwan tentu sudah jam tiga lewat.”

“Kalau begitu, silahkan Khoe soeheng menantikan disini,” Lioe Tong kata pada Khoe Beng. “To heng kau atur kalau ada lain2 saudara yang menyusul datang, terutama tolong kau waspada musuh tak dapat tilik kita disini.”

“Kau boleh pergi, soetee, jangan kuatirkan disini,” sahut Lioe Beng. “Sebenarnya aku ingin turut pergi ke Hoen coei hwan. Apakah kau akur Too heng Soetee?”

“Untuk sementara harap soeheng menanti disini saja,” jawab Eng Jiauw Ong. “Kalau nanti sudah ketahuan dimana letaknya Hoen coei kwan, aku hendak bikin kunjungan secara resmi, waktu itu, aku akan minta soeheng membantu padaku. Aku kira paling lambat besok kami akan sudah kembali. Atau kami akan bermalam disana. Apabila ini sampai terjadi, pasti kami akan pulang besok malam. Umpama kami tidak kembali lusa, mungkin kami terhalang atau kena terkurung, maka saat itu, tolong soeheng ajak Ciong Soeheng, Hauw Loo piauwsoe dan Chio Loo piauwsoe bikin kunjungan resmi ke Hoen coei kwan, untuk mencari tahu perihal kami.”

“Sudahlah, soetee, tak usah kau merendahkan diri,” berkata Khoe Beng. “Tidak perduli Hong Bwee Pang liehay sekali, aku tak percaya mereka dapat kendalikan kau berdua. Silahkan berangkat!”

Eng Jiauw Ong berbangkit begitupun Ban Lioe Tong. “Mari,” ia mengajak Kang Kiat.

“Soe couw hendak ambil jalan mana?” boca ini tanya. “Kita niat ambil jalan air, apa perahumu bisa muat tiga

orang?” Lioe Tong tanya.

“Apakah bertiga tak terlalu berat?” Eng Jiauw Ong pun tanya.

“Tidak, soecouw, cuma laju nya sedikit lambat,” jawab Kang Kiat. “Disana kita boleh pakai perahu penjahat. Umpama Na Soe couw tidak menggunainya. Atau aku nanti jalan diair saja.”

Eng Jiauw Ong manggut. “Baiklah,” kata ia. “Kita ambil jalan ke Coan Jie Hong, itu jalanan yang kau ambil.”

Lantas bertiga mereka berangkat, Kang Kiat jalan didepan, Eng Jiauw Ong paling belakang. Bulan sisir membantu juga menerangi jalanan yang sukar itu, Lioe Tong dan Too Liong pun melihat bagaimana gesitnya Kang Kiat.

“Anak ini benar bagus bakat nya,” Lioe Tong kata pada soe hengnya.

“Inipun membuktikan mata tajam dari Na Soeheng,” Eng Jiauw Ong bilang. “Aku percaya dibelakang hari, dia bakal menambah pamornya kaum kita.”

Eng Jiauw Ong girang. Nyata soetee inipun bermata tajam.

Sementara itu Eng Jiauw Ong memperhatikan jalanan yang mereka ambil, suatu jalanan yang ia sendiri pasti tidak sangka. Dengan lekas mereka telah memasuki jalanan rahasia yang Kang Kiat dapati, terus sampai ditempat perahu disembunyikan. Ketika mereka naik perahu, boca itu duduk ditengah, terus ia gunai sepasang penggayunya, akan bikin kendaraan air itu laju. Untuk kegirangannya, ketika mereka sampai ditempat dimana perahu si penjahat ditunda, disana perahu itu masih ada. Itulah tanda Na Pek tidak gunai kendaraan itu.

“Nyata malam ini Na Soecouw tidak gunai perahu, entah ia datang atau tidak,” kata boca ini. “Sekarang baik kita pakai dua2 perahu. Soe couw berdua tetap gunai perahu ini, aku pakai perahu sana untuk jalan didepan, guna melihat keadaan. Lebih baik kita luput ketemu perahu peronda.”

Eng Jiauw Ong dan Siok beng Sin Ie setuju, maka itu, sesudah mendekati perahu didepan, Kang Kiat serahkan kedua penggayu pada Ban Lioe Tong, ia sendiri terus pindah keperahu itu, setelah mana, ia lantas menggayu. Ia telah hunjuk kepandaian nya, hingga perahu laju pesat sekali.

Ban Lioe Tong coba mengikuti perahu didepan itu.

Sampai disuatu tikungan, atau perapatan Eng Jiauw Ong heran. Ia melihat, tempat yang dicapai ini bukannya yang kemarin. Ia segera tanya Kang Kiat, siapa pun telah kasi jalan pelahan perahunya.

“Jangan kuatir, soe couw,” sahut si anak muda. “Untuk menyingkir dari penjagaan pertama dari perondaan, aku memutari Liong kauw chung.”

Mereka maju lebih jauh, sampai dengan tiba2 Kang Kiat berhenti digerombolan gelagah yang lebat.

“Kenapa, Kang Kiat?” Eng Jiauw Ong tanya. “Apa ada halangan?”

“Tidak, soecouw. Dari sini kita sudah mulai memasuki jalan ke Hooen coei kwan, untuk melihat kedaaan, aku ingin maju lebih dahulu, sendirian saja. Kedua jago Hoay Yang Pay itu akur.

Kang Kiat segera merapikan pakaian mandinya, setelah minta Eng Jiauw Ong tolong pegangi ekor perahu, ia lalu terjun keair, gerakannya gesit, sekejab saja ia lenyap dari permukaan air jang menjadi berombak bergelombang. Setelah itu, Too Liong dan Lioe Tong sembunyikan diri bersama dua2 perahunya.

Belum lama, Kang Kiat sudah muncul pula, dia terus meloncat naik keperahunya.

“Ya, soecouw,” sahut cucu murid itu. “Aku melihat, malam ini tak bisa kita memasuki Hoen coei kwan. Penjagaan telah ditambah dan diperkeras, empat buah perahu tambahan meronda tak hentinya, rupanya seperti penjahat ketahui kita bakal datangi mereka. Maka untuk masuk dalam air jalannya yalah, dengan tabas putus rantai rintangan, untuk itu, kita membutuhkan golok yang tajam sekali. Atau satu jalan itu adalah memanjat dan melewati puncak yang sangat tinggi dimana ada rintangan pagar bamboo. Pendapatku cuma pedang Tee sat Cian liong kiam dari ban Soe couw yang boleh diandalkan.”

“Kalau demikian, tak halangannya untuk kita coba2,” nyatakan Eng Jiauw Ong.

“Baiklah, nanti aku buka jalan,” kata Kang Kiat, yang lantas lanjukan perahunya. Seringkali ia toblosi hutan gelagah.

“Awas, Kang Kiat,” Lioe Tong berdua memperingatkan. “Jangan karena pikirkan saja untuk menyingkir dari jagaan, kau nanti tersesat jalan.”

“Jangan kuatir, soecouw. Kita mesti berjalan lebih jauh berapa lie tetapi dengan demikian kita singkirkan kesulitan.” Eng Jiauw Ong puas mendengar keterangan itu, sedang Lioe Tong terus menggayu, untuk mengikuti boca itu.

Kang Kiat puas ketika ia menoleh dan melihat perahu soecouw nya tidak ketinggalan jauh, karena ini, ia kagumi Ban Lioe Tong.

Jalanan air ada sunyi, sering menikung, kekiri dan kanan, tetapi Kang Kiat maju dengan cepat, maka itu, kedua kake guru itu diam2 puji dia.

Selang setengah jam, Kang Kiat kendorkan lajunya perahunya. Didepan mereka ada gombolan gelagah yang tinggi, melihat keatas, ada puncak gunung.

“Soe couw, inilah daerah perdalaman Hoen coei kwan,” Kang Kiat berbisik setelah kedua soecouw itu datang mendekati ia. “Kalau kita bisa melewati puncak itu, kita sudah berada dipusat Hong Bwee Pang. Rupanya karena andalkan tingginya puncak dan rapatnya pagar bambu, dibawah sini penjahat tidak taruh penjagaan.”

Ban Lioe Tong mengawasi ke depan.

“Dengan begini, kita bisa sampaikan Hoen coei kwan tanpa menyeberang dengan diam2,” kata dia pada Eng Jiauw Ong. “Marilah kita mencoba disini.”

“Baiklah, mari kita coba berapa kuatnya bentengan bambu itu.” jawab Ong Too Liong.

“Baiklah Kang Kiat jangan ikut kita,” Lioe Tong bilang. “Lebih baik dia jagai saja perahu kita.”

“Ajaklah aku, soecouw,” Kang Kiat mohon, dengan dahului Eng Jiauw Ong. “Kecuali puncak ini, didarat mana saja, aku sanggup ikuti soecouw berdua. Aku ingin sekali melihat2 untuk tambah pandangan. Aku janji tidak akan persulit soecouw, atau aku akan sembunyi siang2.” Ban Lioe Tong pun segera merasa suka pada boca ini, yang bakatnya melebihi Thio Hie dan Ciok Bin Ciam, maka mendengar permintaan itu, ia lalu kata pada soehengnya “Soeheng, Kang Kiat cerdik, mari kita ajak padanya supaya dia peroleh pengalaman.”

“Baiklah,” Eng Jiauw Ong menyatakan akur. “Biar aku yang membawa dia.”

Ban Lioe Tong manggut.

“Lihat disana, soeheng, ada sinar api memain, biar aku maju dimuka,” berkata ia.

“Baik, aasl kau waspada,” sang soeheng pesan.

Ban Lioe Tong lantas merapikan pakaiannya, ia periksa pedangnya, kemudian ia mulan memanjat, ke arah dimana ada cahaya api, yalan disebelah kiri. Ia tidak kuatir kepada cahaya api itu. Ia bergerak dengan cepat sekali.

Kang Kiat temani Eng Jiauw Ong akan menantikan, ia pasang mata tetapi ia tidak melihat apa2, sampai selang sedikit lama, ia dengar siuran angin disamping nya dan segera dengar suara pelahan “Soeheng, aku toh tidak ayalan, bukan?” Ia terkejut, karena itulah Siok beng Sin Ie, yang kembali tanpa ketahuan. Maka diam2 ia kagum bukan kepalang. Inipun memperkuat minatnya untuk belajar silat dengan sungguh2.

“Bagaimana, soetee?” sementara itu Eng Jiauw Ong tanya.

LXXVII

“Benar seperti dugaan soeheng. Hong Bwee Pang ada punya orang2 liehay,” sahut Ban Lioe Tong. “Jalan masuk cuma dari bentengan pagar bambu itu. Kalau sebentar soeheng sudah menyaksikan sendiri, baharu soeheng mengetahui!”

“Kalau begitu, silahkan soetee berjalan didepan.” “Kasilah aku yang membawa Kang Kiat, aku sudah

kenalkan jalanan.”

Eng Jiauw Ong mengalah, ia serahkan anak muda itu.

Ban Lioe Tong lantas mengempit, ia kata “Kau jangan gunakan tenaga, jangan takut, tidak ada bahaya.”

Kang Kiat manggut sebaga tanda bahwa ia mengerti.

Ban Lioe Tong mengempit dengan tangan kiri, lantas ia lompat melesat, naik tingginya dua tumbak kurang lebih, atas mana, Eng Jiauw Ong susul dia. Ke duanya bergerak dengan gesit. Setelah mendekati benteng pagar bambu lagi tiga empat tumbak, Siok beng Sin Ie lantas berlaku waspada, ia umpatkan diri.

Eng Jiauw Ong turuti sikapnya soetee itu.

Ketiga Kang Kiat dikasi turun, ia rasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang2, setelah tetapkan semangat, baharu ia bisa melihat dengan nyata. Iapun melihat dua buah lentera Khong beng teng segera disorotkan kearah mereka tetapi mereka telah mendahului bersembunyi. Sorotan itu lenyap dalam sekejab.

“Sekarang soeheng telah melihat sendiri,” berbisik Lioe Tong.

“Aku anggap, paling leluasa bila kita turun tangan sedangnya hujan dan angin besar. Aku maksudkan selagi turun hujan dan angin yang nyaring berisik, leluasa untuk babat benteng pagar mereka, tak usah kita kuatirkan suara berisik. Soeheng ketahui sendiri suara bambu ada nyaring sekali, sekarang mari kita coba.” Siok Beng Sin Ie lantas dekati pagar, untuk mana ia telah berjalan, ketika ia hunus pedangnya, yang terus dibalingkan. Pedang itu perlihatkan sinar berkeredepan, hingga dua2 Eng Jiauw Ong dan Kang Kiat terkejut, karena mereka kuatir cahaya itu tertampak oleh musuh.

Loei Tong tidak pikirkan keterkejutannya soehengnya dan Kang Kiat itu, ia hanya mulai bekerja. Tee sat Cian liong kiam tajam luar biasa, pagar bambu sudah terpapas kutung dengan remuk, hingga lantas terbuka jalan untuk mereka masuk kedalam benteng, sesudah mana, Siok beng Sin Ie pasang pula beberapa batang bambu itu, hingga sukar lantas diketahui bahwa pagar disitu telah dirusak.

Kemudian Ban Lioe Tong menunjuk kedepan. Eng Jiauw mengerti, maka setelah suruh Kang Kiat ikuti soecouw she Ban itu, ia sendiri segera lompat kedepan itu. Dengan kempit Kang Kiat, Lioe Tong menyusul dengan segera.

“Soetee. kita mesti cari dahulu jalanan air disini,” kata Eng Jiauw Ong sesampainya mereka ditempat yang dihunjuk Lioe Tong.

“Aku kira dimana ada kali,” Lioe Tong menjawab seraya menunjuk kebawah.

Keduanya lantas berjalan turun. Kang Kiat mengikuti. Boca mi dipesan untuk waspada, supaya ia tidak sampai terpeleset dan jatuh. Tetapi boca ini benar luar biasa, ia sanggup ikuti kedua soecouw itu.

Segera mereka sampai disuatu terapat dimana Ban Lioe Tong lantas sembunyikan diri, diturut oleh Ong Too Liong, maka Kang Kiat pun turut teladan itu, menyusul mana, mereka dengar suara air digayu. Disebelah bawah mereka, belasan tumbak dalamnya ada sungai dimana sebaris dari empat buah perahu sedang berjalan dengan cepat, disetiap perahunya ada dua buah lentera yang apinya menyala. Kecuali suara air, tidak ada suara orang didalam semua kendaraan air itu.

Hampir tepat dibawahan Eng Jiauw Ong bertiga, ke empat buah perahu dikasi berhenti, lalu terdengar suara suitan, yang mengaung ditempat sunyi itu, setelah mana dari dua tikungan muncul dua buah perahu lain, yang setiap perahunya punyakan lentera penyorot Khong beng teng, hingga empat sinar bercahaya terang menyorot kepada empat perahu itu, dari kepala sampai ditengah dan buntut. Di kepala kedua perahu itu muncul masing2 satu orang.

“Apakah kau hendak keluar dari Hoen coei kwan?” demikian satu pertanyaan, dari perahu sebelah kiri.

“Ya,” demikian satu jawaban. “Kami ada perahu2nya Cong leng Siang Jie to Lo Sin, yang baharu menghadap Liong Tauw Pang coe. Saudara2, silahkan periksa.”

Mendengar itu, Eng Jiauw Ong bisiki Lioe Tong “Itulah Siang chioe Kim piauw Lo Sin. Menurut Hee houw Eng, dia telah bentrok dengan satu kawannya, rupanya dia telah peroleh kemenangan, sekarang dia keluar dengan merdeka.”

“Terang dia ada mamaknya Lie touwhoe Liok Cit Nio,” kata Lioe Tong. “Lihat, disana ada lagi sebuah perahu mendatangi.” Eng Jiauw Ong menoleh, ia tampak sebuah perahu.

Pemeriksaan kepada empat buah perahu telah dimulai, tetapi rupanya pihak pemeriksapun melihat perahu yang datang belakangan itu, karena segera mereka menyoroti. Dilain pihak, dari perahu pemeriksa ada dua anak buahnya, yang berpakaian mandi, nyebur keair, akan singkirkan rantai penghalang didalam sungai, dibantu oleh dua kawannya yang lain, sedang satu kawan lagi lompat kedarat, akan betot ujung rantai ditepi itu. Mereka semua bisa bekerja cepat dan rapi.

Dengan beruntun perahu2nya Lo Sin menggeleser keluar, melewati rantai perintang itu. Lo Sin sendiri duduk diperahu terbelakang, dibelakang perahu. Ia pun melihat perahu yang baharu datang itu. Seharusnya dia mendesak orangnya untuk lekas keluar, tetapi sebaliknya, dia mengantap orangnya ayal2an, dia sendiri segera hunjuk roman jumawa menghadapi perahu di belakangnya itu, ia kata “Orang she Hauw, hio coemu tak gubris urusan, tetapi baiklah kau ketahui, aku bukannya orang yang dapat diperhina secara sembarangan, umpama kau tidak puas, saban saat kau boleh mencari aku, aku bersedia untuk menyambut kau secara hormat! Hauw To cee, maaf, tak dapat aku tunggui kau!”

Perahu yang dibelakang itu adalah perahunya Soen kang Tee cit Tocoe Hauw Kie. Dia ini keluar dari pusat dengan hati mendongkol Dia kena didului Lo Sin, dia kalah perkara, sebab Lo Sin dapat perlindungannya ketua mereka. Ia memang masih mendongkol karena ia terluka piauw nya Lo Sin itu, ia memikir untuk mencari balas, jalannya belum ada. Sekarang diwaktu keluar, ia tidak sangka bisa bertemu Lo Sin, yang berjalan ayal2an, hingga ia kena dijengeki pula.

“Lo Hio coe, jangan terkebur!” kata ia dengan sengit. “Aku ada satu laki2, tak dapat orang perhina aku! Memang aku kalah pengaruh tetapi aku tetap tidak puas, nanti datang satu hari untuk pembalasan!”

“Ah kau masih berani main gila terhadap hio coemu?” kata Lo Sin sambil menuding. “Sebenarnya, karena masih memandang kawan, aku tidak celakai kau, siapa tahu, kau masih tak ingat budi, kau berlaku demikian kurang ajar! Sebenarnya kau ada punya berapa jiwa? Jikalau kau tidak tahu diri, jangan nanti kau sesalkan Lo Sin tak ingat persahabatan! ”

Belum Siang chioe Kim piauw tutup mulutnya atau mendadak ia menjerit “Aduh!” disusul sama jatuhnya suatu benda kemuka air dan tenggelam, atas dimana, dalam murka, dia perdengarkan seruannya “Bagus, orang she Hauw! Belum berlalu dari muka Pang coe, kau sudah berani melanggar pula aturan kita! Bagaimana kau berani bokong aku? Jangan kau lari, disini kita bikin perhitungan!”

Serunya Lo Sin ini disusuli serentetan suitan nyaring dibarengi suara air digayu, lantas muncul sebuah perahu kecil dengan dua buah lenteranya, ketika Eng Jiauw Ong menoleh, ia melihat perahu itu ada bersama lima belas perahu lainnya, setiap perahu mempunyai masing2 dua anak buah. Jadi benarlah keterangannya Kang Kiat bahwa penjagaan telah diperkeras dan ditambah. Tentang ini boca itu lantas utarakan pada ketua dari Kwie in po.

Ban Lioe Tong tidak sahuti boca itu, ia hanya bisiki Eng Jiauw Ong “Boca ini benar cerdik. Aku lihat, justeru mereka sedangnya bertengkar, mari kita menerobos masuk ”

“Marilah!” Eng Jiauw Ong manggut. “Asal kita waspada terhadap penjaga2 lainnya.”

Ban Lioe Tong tidak berkata apa2, ia lantas jalan mengikuti tepi, untuk maju dengan cepat dan pesat. Dibelakang ia, Eng Jiauw Ong dan Kang Kiat mengikuti dengan tidak kalah gesit nya.

Mereka dapat maju tanpa rintangan, setelah dua panahan jauhnya, mereka tercegat air, yang lebar dan ada pagar pelatok  pelatok  bambu, dibagian tengah ada jalan gili2 atau gang yang hanya memuat untuk seorang, hingga tak bisa orang jalan berhimpasan kecuali saling miringkan tubuh. Lioe Tong merandek, akan tunggui soehengnya, akan kemudian hunjukkan rintangan air itu.

“Lihat, soeheng, disana ada rimba bambu, disana ada sawah,” kata soetee ini seraya menunjuk kekiri dan kanan.

“Inilah bukti pandangan jauh dari Boe Wie Yang, yang ingin tancap kaki untuk selamanya disini,” kata Eng Jiauw Ong. “Dia usahakan sawah supaya dia bisa peroleh cukup rangsum, umpama tentera negeri kurung dia, dia tak usah kuatir akan kelaparan. Mari kita mengambil jalan air itu. Walaupun disini tak ada tempat bersembunyi, tetapi juga mungkin tak ada penjagaan.”

Ban Lioe Tong mupakat dengan pendapat saudaranya itu, ia lantas maju pula.

“Hati2,” Eng Jiauw Ong pesan Kang Kiat. “Aku kuatir dalam air inipun ada dipasang satu atau lebih jebakan”

Kang Kiat manggut untuk pesan itu.

Mereka maju, sampai mereka dapati jalanan yang lebar. Mereka lihat sebuah kali, yang men jurus ke semacam rawa tempat pegaraman, tetapi setelah mereka datang dekat, ternyata aliran buntu, dua rawa itu entah mendapat air dari mana. Aliran ini rupanya diperuntukkan angkut garam keluar dari Cap jie Lian hoan ouw.

“Mesti ada gudang garam di sini,” Eng Jiauw Ong menduga.

“Mungkin disana, soeheng” sahut Ban Lioe Tong yang menunjuk kesuatu tempat gelap “Mari kita melihat…” “Tetapi, soecouw,” Kang Kiat turut bicara, “mungkin itu ada sebuah kampung. Lihat, samar2 ada cahaya api. Pepohonan disana lebat sekali.”

Lioe Tong girang mengetahui matanya boca ini sangat awas.

“Mari kita maju. tetapi hati2,” ia berkata.

Mengikuti tepi empang garam itu, mereka dekati rimba, hingga mereka melihat kampung itu, malah mereka melihat dua buah lentera yang bergerak2 menuju kearah aliran sungai.

“Aku nanti masuk kedalam,” Lioe Tong bisiki soehengnya, setelah mana tubuhnya melesat, demikian sebat, hingga Kang Kiat kagum bukan main, sebab ia tampak soecouw itu bagaikan terbang diatas tanah, begitu kakinya menginjak tanah, lantas tubuhnya mencelat pula.

Kemudian, dengan hati2, Eng Jiauw Ong mengajak boca itu maju juga, ia selalu mencari tempat dimana mereka gampang umpatkan diri. Selagi mereka mendekati lebih jauh tiba2 ada satu tubuh melesat datang dibarengi dengan seruan pelahan “Jangan maju!”

Itulah Ban Lioe Tong, yang telah kembali dengan cepat, dan ia bawa kabar bahwa didepan mereka ada jebakan, yalah dari semua pohon kayu, lima atau enam puluh buah, setiap tiga pohon ada dua pohon mati, dan setiap dua tiga pohon, ada lobang jebakannya berikut gaetan dan tambang untuk menyampaikan tanda bahaya.

“Secara kebetulan saja aku ketahui itu, maka tambang yang menghubung kekelenengan aku telah bikin putus.” Ban Lioe Tong tambahkan. “Aku juga bikin putus tambang yang menyambung keranggon penjagaan. Penjagaan disini benar rapi dan kuat.” LXXVIII

Untuk membuktikan, kemudian Lioe Tong ajak soehengnya maju dengan hati2, hingga Eng Jiauw Ong dan Kang Kiat bisa menyaksikan kebenarannya itu.

Kang Kiat jemu sekali, hingga ia kata pada Eng Jiauw Ong “Soecouw. kawanan ini sangat jahat, merekapun pemberontak, apa tidak baik kita melepaskan api saja untuk membakar habis sarangnya ini? Mereka mesti dibikin tak bisa celakai orang lagi ”

“Hus, jangan ngoce.” Eng Jiauw Ong tegur boca itu. “Sekarang mari kita masuk.” Lioe Tong ajaki

soehengnya. “Kang Kiat, kau tunggu disini. sembunyikan diri, selambatnya jam empat lewat, kami akan sudah kembali.”

Sebenarnya Kang Kiat tidak setuju tapi ia tidak berani membantah, maka lantas ia cari tempat sembunyi.

Lioe Tong dan soehengnya segera maju, ia tetap jalan di depan. Lekas sekali mereka sudah lewati rimba dan sampai di tembok, disitu mereka lompat naik ketembok, dari situ terpisah setiap tumbak jauhnya kelihatan sekumpulan rumah gubuk. Luasnya tembok pekarangan ada beberapa puluh tumbak, terpisah setiap lima tumbak ada ranggon pengintai untuk melihat dari dalam pekarangan keluar. Ketika itu, mereka berada dibagian belakang.

Mendahului saudaranya, Lioe Tong lompat turun keatas sebuah rumah. Kemudian baharu Too Liong menyusul. Sulitnya bagi mereka yalah sekitar tempat ada gelap petang, hingga mereka perlu mengamat amati segala penjuru. “Tempat ini rupanya bukan tempat penting, mari kita pergi ke Utara sana,” Lioe Tong kemudian bisiki saudaranya.

“Mari,” Too Liong nyatakan akur “Tapi baik kita memencah diri.”

Lioe Tong setuju. “Biarlah aku pergi kearah Timur sana,” kata ia.

“Lebih baik soetee pergi kebelakang, aku dari Timur,” Eng Jiauw Ong usulkan. Lalu, tanpa tunggu jawaban, ia loncat keatas rumah yang kelima.

Lioe Tong lihat saudaranya ia lantas lompat ke Barat, kerumah yang kedua. Ketika ia laluii beberapa rumah, segera ia dapati sinar terang. Ia maju terus sampai kerumah yang ketujuh. Ia dapat kenyataan, pendirian rumah2 disini beda dari pada kebanyakan rumah penduduk, begitupun jaraknya. Terbagi dalam lima baris, sama sekali ada dua puluh lima rumah. Untuk menyampaikan bagian tengah, jalan pusat ada dari arah Timur. Dengan jalan dari atas genteng, agaknya tidak ada rintangan.

Untuk menyelidiki lebih jauh, Lioe Tong memasuki gang. Ia ingin ketahui apa perlunya rumah2 petak ini. Segera ia dapati merek putih dengan huruf “Goan” dan “Hong” tanda dari gudang. Setelah menampak banyak bungkusan terbuat dari tikar, ia mengerti inilah gudang garam.

Semua pintu gudang terkunci tidak ada penjaganya.

Lioe Tong maju kesebelah Utara, disini ti dak ada gudang hanya ia dapatkan tempat yang diatur mirip dengan Kwie in po, kampungnya sendiri, yalah cara Pat kwa. Ia insyaf bahwa benar2 Hong Bwee Pang tidak boleh dipandang ringan. Karena rumah terbuat dari atap, ia percaya disitu mesti ada daya penjagaan nya yang dirahasiakan.

Ia dapat kenyataan, tempat ini ada luas. Melihat kedudukannya, ia berada disebelah Selatan. Seharusnya jurusan Selatan ini ada “Lie kiong,” tetapi Hong Bwee Pang membalik Pat kwa, maka jadinya adalah “Kian kiong.” Demikian semua arah lainnya, hingga itu ada sangat membingungkan.

Memandang ke Selatan, Lioe Tong lihat dua lembar daun pintu yang terpentang, yang hitam gelap dan sunyi. Disebelah Barat sebaliknya ada lima pintu, yang tertutup rapat. Mendekati rumah itu, Lioe Tong lihat diatas payon ada jala atau jaring kawat. Ia maju dengan senantiasa perhatikan jurusan.

Herannya sampai sebegitu jauh belum ada terlihat satu juga orang Hong Bwee Pang.

Selagi diam sambil berpikir, tiba Lioe Tong dengar suara mengaungnya pelbagai anak panah disebelah Barat utara, tercampur suara kena terserangnya tembok. Ia heran. Segera ia lompat naik keatas rumah, akan memandang. Benar saja, diarah mana anak anak panah sedang saling menyamber, kemudian tertampak melesatnya satu bayangan. Itulah bayangan mirip dengan tubuhnya Eng Jiauw Ong.

“Kenapa soeheng keliru ambil jalan?” pikir ia. “Tak dapat aku maju dengan ambil jalan yang benar, tapi untuk babat jala ini, apa aku tidak akan terbitkan suara kelenengan2 pertandaan?”

Ia jadi sangsi tapi tak lama. Perlu ia bantu soehengnya. Maka ia hunus pedangnya, yang perlihatkan cahaya berkilauan, kemudian dengan tangan kiri ia rabah jala. Syukur ia tidak dapatkan kelenengan, maka ia segera menabas, hingga disitu terbukalah lowongan untuk ia lompat masuk. Tapi ia tidak mau sembrono, ia kuatir soehengnya salah mata.

“Soeheng!” ia memanggil. “Aku disini!” Panggilan itu tidak peroleh jawaban.

Kembali Lioe Tong memapas, untuk membuka lobang, setelah itu, ia lompat turun. Injakan kakinya ada sangat enteng, tetapi ia merasa bukannya injak tanah hanya suatu barang yang bisa bergerak, maka segera ia Insaf bahwa ia telah injak jebakan. Ia baharu memikir atau hujan anak panah telah menyerang dari dua jurusan, yang barat ke utara dan sebaliknya. Ia mencelat mundur sambil putar pedangnya, akan tangkis panah yang menjurus kepadanya.

Setelah mundur kegaris “Kian kiong,” Lioe Tong bebas dari serangan mendadakan itu, akan tetapi disini, dari tempat gelap, lompat keluar satu orang berbareng dengan serangannya yang menerbitkan suara angin. Lekas ia memutar tubuh, sambil mengegos ia berseru “Bagus!” Sebetah tangannyapun balas menyerang.

Penyerang itu loncat mundui sambil berseru. “Ah, soeheng!” kata soetee ini.

“Ya, soetee,” sahut Eng Jiauw Ong yang segera mendekati.

“Mari, soeheng,” Lioe Tong berbisik.

Saudara muda ini menuju kegaris “Sin kiong,” ia sembunyikan diri ditempat gelap.

“Kenapa soeheng lupa kepada garis2 Pat kwa yang dibalik ini?” ia tanya dengan pelahan. “Kita mesti waspada, orang Hong Bwee Pang pandai Pat kwa.” Eng Jiauw Ong jengah sendirinya, syukur ia cuma bersama soeteenya, orang sendiri, kalau orang lain, ia pasti dapat malu.

“Soeheng, mari kita ketengah,” Lioe Tong kemudian mengajak. “Kita mesti lihat, siapa orangnya yang pandai disini!”

Eng Jiauw Ong manggut.

“Mengenai Pat kwa, soetee, tak aku lawan kau,” ia akui. “Inilah   melulu   peryakinan,   soe   heng”   Lioe   Tong

merendah. “Coemaa secarik kertas penuh coretan asal

dapat dipahamkan, akan segera mengerti.”

Eng Jiauw Ong tahu soetee itu menghiburkan padanya, ia diam saja. Ia lantas ikuti sang Soetee. Dari Sin kiong, mereka ke Soan kiong. Itulah gang kecil kebarat selatan. Diujung gang ada Lie kiong, lalu Kim kiong. Sehabis ini ada satu gang panjang, belasan tumbak, dimana dikiri dan kanan ada rimba pohon bambu, yang diantara tiupan angin menerbitkan suara.

“Lihat, soeheng, hutan bambu ini tertanam dengan teratur, untuk bikin tersasar orang luar,” kata Lioe Tong pada soehengnya. “Inilah pasti pusat usaha penggaraman.”

Lioe Tong lantas hampirkan hutan bambu itu, hingga ia bisa lihat, hutan itu merupakan pagar atau kurungan dari sebidang pekarangan luas dengan bangunan rumahnya, apabila orang tidak memasuki rimba, pekarangan itu tidak akan tertampak dari luar.

“Soetee, Hong Bwee Pang ada punya orang2 liehay, inilah menggembirakan,” kata Too Liong, ia anggap tidak kecewa akan layani orang2 gagah. Lioe Tong manggut, lantas ia jalan terus dimuka, untuk memasuki “Seng moei,” pintu hidup.

Tembok pekarangan, yang tinggi dan kuat, dan dipasangkan pelatok besi yang tajam, tak dapat orang berjalan diatas itu.

Siapa tidak mengerti tentang patkwa, dia bukan saja tidak akan dapat masuk kedalam, diapun bakal kesasar dan akan menghadapi ancaman malapetaka.

Lioe Tong jalan terus sampai dijalan penghabisan, yang terpecah dua, ke baratlaut dan ke baratdaya. Melihat jalan pe cahan itu, Eng Jiauw Ong nyatakan ia tahu yalah yang di kanan ada garis Kian kiong dan garis kiri adalah Koen kiong. Kemudian ia ikuti soeteenya menuju ke Kian kiong, diluar mana, pekarangan ada lebar, ada banyak pohon bambun ya, dan ditengah jalananpun lebar setumbak lebih. Dilain ujung lantas terlihat sinar api.

“Soeheng, mungkin ini ada pusat pengurusan garam,” Lioe Tong nyatakan dugaannya.

“Mungkin sekali,” sahut Eng Jiauw Ong. “Mari kita lihat.”

Keduanya melihat kesekitarnya, lantas mereka berpencar kekiri dan kanan, untuk cari tempat mengintai sambil umpatkan diri. Rumah ada besar, pertengahan depannya lebar, pekarangan itu punyakan satu lapangan olah raga. Dikedua samping pertengahan ada obor yang nyala tinggal separuh. Karena adanya layar yang lebar, didalam pertengahan melebar, didalam pertengahan maka yang tampak bayangan orang saja.

LXXIX. Dengan berani Lioe Tong hampirkan sampingnya pertengahan besar, berbareng dengan itu ia lihat satu bayangan melesat disebelah barat rimba bambu. Ia tahu, itulah soehengnya. Maka setelah umpatkan diri, ia geraksi tangannya kepada soeheng itu, yang pun iihat padanya, maka saudara itu memberi balasan tanda. Setelah itu, keduanya menuju kebelakang, dimana mereka dapatkan tiga buah jendela yang tinggi, yang nampaknya kekar sekali. Dari jendela sebelah utara keluar sinar api warna kuning.

Rupanya, walaupun sudah tengah malam, orang2 Hong Bwee Pang masih bekerja.

Untuk memeriksa, Eng Jiauw Ong kasi tanda pada saudaranya, supaya saudara itu pasang mata, lantas ia hampirkan jendela yang ada apinya itu. Segera terdengar suara beberapa orang seperti berebut omong, maka ketua Hoay Yang Pay ini lekas bikin lobang kertas jendela dan mengintai kedalam.

Nyatalah kamar itu adalah kamar tidur, perabotnya hampir tidak ada, apinya adalah lampu diatas meja. Sama sekali ada dua belas orang, lima antaranya sedang berjudi sambil adu omong, suaranya berisik, hingga salah satu orang lainnya kata “Sudah begini waktu belum mau tidur, apakah kau hendak tunggu sampai ditegur? Nanti kita semua ke rembet2 ”

“Pergilah kau tidur senyenyak mayat !” kata satu anak muda, yang agaknya gembira. Aku telah tahu daripada kau! Diwaktu begini mana ada tempo untuk Phang Tocoe dan Hee Tocoe tilik kita? Tocoe yang berhak sebentar fajar sudah mesti pergi urus garam sedang yang lainnya pergi sambut pihak Hoay Yang Pay. Nah, tidurlah kau, Siauw Han, jangan mengusik kami !” Mengetahui orang tidak akan keluar, Eng Jiauw Ong undurkan diri, ketika ia menoleh pada Ban Lioe Tong, soetee itu berada dijendela yang kedua dan ia di beri tanda untuk lihat jendela yang ketiga, yang sebelah kanan. Ia menurut, ia lantas dekati jendela kanan itu, yang tidak memakai kertas lapisan, hingga lantas ia bisa mengintai kedalamnya.

Ruangan ini ada besar dan terperabot, apinya ada sebuah lilin besar. Tiga orang duduk dikanan, empat dikiri, maka mereka cuma kelihatan dari samping, kurang tegas. Didekat tembok kanan, dua orang asyik benahkan surat . Dimuka pintu ada menanti dua puluh orang lain. Beberapa pemimpin itu tengah berikan titah2nya.

Diam2 Eng Jiauw Ong perhatikan salah satu pemimpin, suara siapa ia seperti kenali tapi tak ingat betul. Dia ini kasi perintah untuk angkut semua garam digudang dalam tempo satu bulan, supaya penduduk Kangsouw dan Ciatkang pakai garam buatan mereka. Itulah, katanya ada kehendak Liong Tauw Pang coe, ketua mereka, yang mesti dipenuhi. Orang itu dipesan untuk waspada karena pembesar di Liang Hoay pastilah tidak akan diam saja. Tapi dia tambahkan, lawan yang berbahaya adalah Hoay Yang Pay, dari itu, dikuatirkan pihak lawan ini nanti merintanginya. Pemimpin ini sebut jumlahnya perahu pengangkut ialah dua puluh buah. Diakhirnya membujuk, pekerjaan kali ini ada mengenai kehormatan Hong Bwee Pang.

“Aku suka kepalai iring2an yang pertama!” kata satu orang. “Apabila gagal, aku suka tanggung segala akibatnya.”

Sekarang Eng Eng Jiauw Ong mengenali pemimpin yang menyampaikan titah itu adalah Shong Koan Sin Khoe Leng, salah satu Seecoan Siang Sat, maka siapa yang dikanannya tak salah lagi tentulah Kwie lian coe Lie Hoan Tong. Ia tidak mengarti, mengapa mereka ini ada dipusat umum sedang mereka menantang dia akan bertemu di Ceng Loan Tung Gedung Burung Loan. Dan orang yang sudi terima tugas itu berumur kira2 tiga puluh tahun.

“Jikalau Ciauw Tocoe suka bantu tugas, baiklah,” berkata Khoe Leng kemudian. “Tapi kau bersendirian saja. kau perlu pembantu. Siapa sudi membantu Ciauw Tocoe?”

“Khoe Hio coe, tee coe suka bantu Ciauw Tocoe,” menyatakan satu orang sambil berbangit berdiri.

Khoe Leng berpaling, hingga kelihatanlah parasnya yang pucat bagaikan lilin putih, ia bersenyum tetapi romannya bisa membuat orang bergidik, sedang sepasang matanya yang tajam dan bengis menyapu dua orang yang majukan diri itu. Siapa sebaliknya sudah lantas duduk.

“Bagus kau berdua sudi jalan bersama,” berkata Kwie lian coe Lie Hoan Tong si Muka Iblis. Aku percaya kau akan berhasil! Kalau nanti kau bertemu dengan orang2 dari Liang Hoay. ambillah sikap seperti biasa, sedang terhadap pihak Hoay Yang Pay. berlakulah hati2. Eng Jiauw Ong si tua bangka tak boleh dibuat permainan, umpama kau ketemu dia jangan coba cari malu sendiri, bilang saja untuk dia, kalau punyakan kepandaian, pergi saja memasuki Cap jie Lian hoan ouw, disana semua hio coe kita pasti akan layani dia dengan antero kepandaiannya, tapi apabila dia takut, minta dia jangan berdiam lama didaerah kita ini, supaya dia pulang saja ke Lek Tiok Tong di Ceng hong po, untuk bubarkan diri, cuci tangan, lantas angkat kaki dari Hoay siang. Jikalau, dia tidak sudi dengar nasihat, itu artinya dia cari penyakit sendiri!”

“Soetee, mari kita urus urusan kita saja,” Khoe Leng nasihat kan saudaranya. “Kita mesti jaga agar kita tak dikatai membicarakan orang dibelakangnya, nanti orang tertawai kita.”

Lie Hian Tong tertawa dingin.

“Kau terlalu hati2, soeheng!” kata dia. “Dengan si tua bangka itu, aku niat adu jiwa!”

“Soetee, urusan garam ini adalah usaha kita yang pertama,” Khoe Leng menyimpangkan pembicaraan. “Dimuka Pang coe, kita tak usah harapi jasa, cukup asal kita tidak peroleh rintangan, inilah untuk kehormatan kita.”

Selesai itu, Khoe Leng lantas atur rombongan yang kedua, ketiga dan keempat, begitupun untuk setiap rombongan empat buah perahu pelindung yang terdiri dari dua perahu layar, satu perahu tocoe dan sebuah perahu cepat, untuk menyampaikan warta.

Eng Jiauw Ong dan Ban Lioe Tong kagum juga atas cara mengaturnya orang itu. Tidak heran kalau pihak pembesar negeri tidak berdaya untuk menindasnya.

“Sekarang silahkan coe wie tocoe ambil surat2 yang perlu,” kata Khoe Leng kemudian kepada delapan tocoe.

Pengurus surat2 ada dikedua samping, mereka telah berikan surat2, pertandaan, sebungkus uang dan selembar bendera persegi tiga kepada delapan tocoe itu, yang sehabisnya itu, lantas pamitan dari Seecoan Siang Sat.

Setelah menyaksikan ini, kedua jago Hoay Yang Pay itu mengerti kenapa Hong Bwee Pang sanggup ongkosi rombongan yang besar dan berpengaruh, kiranya hasil usaha pegaramannya itu besar sekali.

Kemudian, Seecoan Siang Sat bicara kepada empat pelindung rombongan, yang dipujikan hasil tugasnya, sesudah mana, mereka inipun terima surat2 dan lantas undurkan diri.

“Soetee, diwaktu fajar aku mesti pergi ke Pusat Umum, mungkin diwaktu magrib aku baharu kembali,” kemudian Khoe Ceng kata pada Lie Hian Tong. “Aku mesti beri laporan pada Pang coe, tak perduli hal benar atau palsu, sebab kita mesti ber jaga2”

“Aku lihat urusan tak demikian penting,” kata Lie Hian Tong. “Umpama orang she Sin itu datang untuk bekerja didalam, tanpa mempunyai konco, ia tak akan dapat berbuat suatu apa. Pang coe ada cerdik, aku percaya padanya tak ada lowongan yang dapat dimasuki. Orang she Sin itu toh melainkan berdua bersama muridnya? Aku lihat, biar kita ada sahabat dan kawan, kita tetap ada lain dibanding Pang coe dengan orang she Sin itu, karena mereka ada soeheng dan soetee. Aku beranggapan lebih baik kita jangan tahu urusan itu, supaya kau tak jadi kecewa ”

“Tapi aku tidak akan berlaku bodoh,” Khoe Leng bilang. Terus ia kata pada penulisnya “Sebentar fajar, lepaskan burung dara pembawa berita, supaya semua dua belas Soen kang Cap jie to ijinkan lewat pada dua puluh buah perahu pengangkut garam, yang berbareng mereka mesti lindungi dengan sungguh2. Siong boen to juga diharuskan memberi kabar apabila semua angkutan sudah sampai disana. Kalau usaha ini gagal, semua mesti turut bertanggung jawab!”

“Sampai ditempat mana akhirnya pemberian tahu ini, hio coe? si penulis minta penegasan.

“Tujuan terakhir adalah Kim san kay,” Khoe Leng jelaskan. “Bila burung dara kita sampai di Siong Boen San, dari sana dikirim lebih jauh ke Kim Boen San, terus ke Hay Boen To, dari Hay Boen To ke Ciang San KongHo, dilangsungkan lagi ke Kim Tong San, Tin hay, akhirnya lalu dari Hangcioe wan disampaikan kepada Cap cit Siauwto. Andaikan ditengah. jalan ada rintangan, pihak pelindung pengiring yang berkewajiban untuk menyampaikan berita.”

Setelah dengar penjelasan itu, si penulis lantas bekerja.

Kemudian Kwie lian coe Lie Hoan Tong hadapi satu orang, ia kata “To Tocoe, tolong kau sampaikan berita pada Hay ma Siauw Lin, supaya dia kumpulkan saudara2 sebawahannya untuk dipilih, karena pengangkutan kita sekali ini tanggung jawab akan diperserahkan kepadanya.”

Orang itu terima perintah, dia lantas berlalu.

Khoe Leng memberi tanda pada sisa orang2nya, setelah mereka ini mundur, disitu tidak ada lain orang kecuali mereka berdua serta kedua penulis itu. Soeheng soetee itu berbangkit, untuk tengok kedua penulis itu.

Diluar, Eng Jiauw Ong dan Ban Lioe Tong saling memberi tanda, lalu keduanya lompat kedepan. Menyusul itu, mereka dengar bunyinya kentongan beruntun belasan kali.

“Itulah tentu Hay ma Siauw Lin sedang kumpulkan orangnya untuk dipilih,” Lioe Tong berkata pada soehengnya.

“Tentu,” sahut Eng Jiauw Ong “Nama Hay ma Siauw Lin rasanya aku pernah dengar, kalau tidak salah, dia ada suatu sahabat kang ouw ”

“Memang,” kata Lioe Tong. “Pada sepuluh tahun yang lalu, adalah yang kepalai dua atau tiga ratus bajak di Sam siang. Aku tidak nyana, sebagai bajak tersohor, sekarang ia jadi hamba orang, dan rupanya dengan kedudukan yang tak memuaskan. Tentang Seecoan Siang Sat ini, walau namanya kesohor, belum pernah aku bertemu dengan nya. Dari empat tocoe tadi, dua ada kenamaan yang satu adalah Hoei sengcoe Gouw Peng si Bintang Terbang dari lima propinsi di Utara, yang lainnya Sin touw Tian Hong si Malaikat Pencuri dari Kangsouw dan Ciatkang. Dikalangan Rimba Hijau, mereka kesohor, aku tidak nyana, merekapun masuk dalam Hong Bwee Pang”

Selagi mereka saling berbisik, mendadakan ada sinar terang didepan pertengahan, hingga mereka jadi kaget, keduanya lantas lompat untuk bersembunyi.

Orang telah nyalakan   delapan   batang obor, empat

.antarany a di tancap. Asap oborpun menggulung2 keatas.

Eng Jiauw Ong berdua menduga bakal ada orang datang, dugaan itu segera berbukti.

Dari jalanan yang berpohonkan bambu lebat terdengar tindakan kaki, lalu muncul seorang pemimpin Hong Bwee Pang yang pakaiannya ringkas dan tangannya menyekal selembar bendera persegi tiga, ia mengepalai lebih dari tiga puluh anggauta, yang semua juga dandanannya ringkas, tidak seragam, kecuali ikat kepalanya yang hijau dan bersenjatakan golok kwie tauw too. Mereka ini lantas berbaris disamping pertengahan, pemimpinnya pergi kedepan pertengahan itu akan balik tubuhnya, terus meniup suitan tiga kali, lalu benderanya pun digoyang, menyusul mana, dari dalam hutan bambu keluar lagi sebarisan anggauta, yang sama dandanannya, hanya senjatanya adalah tumbak cagak.

Kembali si pemimpin tiup suitannya, sekali ini, muncul dua barisan, yang satu diperlengkapi panah, yang lain bertangan kosong. Semua mereka masih berusia muda dan nampaknya telah terlatih baik. Sebentar saja lapangan itu telah ditempati seratus lebih orang tetapi mereka semua sunyi. Setelah itu, yang jadi kepala itu bertindak kepertengahan besar.

Dengan saling memberi tanda Eng Jiauw Ong dan Ban Lioe Tong hunjuk bahwa pemimpin itu mesti Hay ma Siauw Lin ada nya. Dia berumur lima puluh lebih, mukanya bersemu merah, ada kumis dan berewoknya, matanya tajam sedang tubuhnya kekar dan gerak geriknya gesit.

Lekas sekali Siauw Lin telah kembali dari dalam pertengahan, dibelakangnya ada mengikut Seecoan Siang Sat, dibelakang siapa mengikuti dua orang lain yalah kedua penulis.

Eng Jiauw Ong dan saudaranya pindah tempat sembunyi, untuk dapat melihat dan mendengar terlebih nyata.

Segera Siauw Lin nyatakan bahwa ia sudah siap untuk segala titah.

Khoe Leng ambil daftar nama dari satu penulis untuk diperiksa, kemudian ia beri tanda pada penulisnya, siapa segera maju sedikit, lalu berkata “Atas titah hio coe. sekarang akan dibikin pemilihan, siapa she dan namanya disebut, dia mesti berdiri misah, berkumpul disatu tempat, mesti taat kepada aturan, jangan berisik!”

Setiap kepala barisan menyahuti “Ya!”

Sampai disitu, penulis itu lantas bacakan nama anggauta serta barisannya, siapa yang namanya disebut, lantas mereka pisahkna diri tanpa dititah lagi, mereka ini berdiri berbaris dengan rapi. Demikian seterusnya, sampai pemilihan selesai. Nyata yang terpilih ada sepuluh anggauta bergolok, sepuluh anggauta berpanah, dan dua puluh yang bertangan kosong, semua baru berusia dua puluh lebih, tidak ada yang melewati tiga puluh.

Atas titah Siauw Lin, empat puluh anggauta itu berbaris rapi didepan Seecoan Siang Sat, hingga kedua hio coe ini hunjuk kepuasannya.

“Apakah kau tahu kenapa kau dipilih?” Kwie lian coe Lie Hian Tong tanya.

Semua anggauta itu berdiam.

“Kau dengar baik2,” kata si Muka Iblis. “Kau mesti antar dan lindungi pengangkutan garam, jikalau berhasil, kau sekalian bakal dapat hadiah. Ingat, sebagai anggauta Hong Bwee Pang, kau mesti setia dan berani berkorban, diri sendiri boleh terhina tapi tidak Hong Bwee Pang. Pun kali ini, hadiahnya ada istimewa. Kau mesti taat kepada pemimpinmu masing2, jangan lancang. Kaupun tentu mengerti, Siauw Tocoe?” Lie Hian Tong tambahkan pada tocoe she Siauw itu. “Dalam segala hal, diam2 akan ada orang yang nanti bantu kau. Kita ubah cara pengangkutan kali ini karena ini ada sangat penting, segala apa terserah padamu sekalian, maka janganlah sia siakan pengharapan Pang coe. Inilah sebabnya kenapa seluruh daya pengangkutan, Pang coe mestikan melatih sampai empat ratus anggauta kita.”

LXXX

“Aku harap kau semua telah mengerti,” Shong boen sin Khoe Leng turut bicara. Iapun meng kan. “Sebaliknya, siapa tidak terpilih, dia jangan kecele, sebab lain kali, tentu bakal terlatih yuga. Nah, Siauw To tolong titahkan mereka kembali kemarkas masing2 .” 

Siauw Lin baharu hendak memberi titah atau dari luar berlari2 datang dua anggauta menghadap padanya, untuk berbisik, sesudah mana dengan satu tanda dengan tangan dua orang itu berdiri disamping. Setelah itu, pemimpin ini hadapi kedua hiocoe.

“Harap hiocoe ketahui, digaris Pat kwa Bie hong lou telah di tangkap…” kata ia , yang kata2 nya tertahan, karena Lie Hian yang cegah ia dengan satu ulapan tangan.

Lantas si Muka Iblis panggil pembawa berita itu masuk kedalam pertengahan, tapi tidak lama mereka sudah keluar pula, oleh Siauw Lin mereka diperintah undurkan diri.

Lie Hian Tong segera berbisik dengan Khoe Leng, atas

mana      boen sin kata “Aku percaya dia tidak

bersendirian. Kalau sekarang sudah tak siang baik soetee tetap mengatur disini, aku hendak pergi pada Pang coe sekalian bawa berita itu. Aku tidak sangka dia bernyali demikian besar. Pasti ini ada soal mata2, jadi urusan mesti dihadapi secara sungguh2!”

Siauw Lin sendiri sudah kasi titah akan barisannya undurkan diri dari lapangan.

Selagi Khoe Leng masuk kepertengahan, Lie Hian Tong perintah dua anggauta membawa obor, untuk pimpin ia.

Sebentar saja tanah lapang itu jadi sunyi pula.

Ban Lioe Tong segera bisiki soehengnya “Rupanya ada orang kita yang tertawan,” demikian katanya. “Lie Hian Tong bilang hendak pergi ke Congto, dia tentu hendak lihat orang tawanannya itu.”

Eng Jiauw Ong sementara itu bercekat hati, karena tiba ia ingat Kang Kiat. Siapa tahu kalau si boca yang tertangkap musuh? Ketika ia utarakan dugaannya itu pada sang soetee, Lioe Tong turut berkuatir.

“Soeheng, mari kita lihat” Ia segera mengajak. Eng Jiauw Ong manggut, bersama soetee itu ia berlalu. Ketika mereka sampai digudang garam, beda dengan tadinya, cahaya api tertampak terang2, banyak orang yang mundar mandir, hingga dari atas genteng mengawasi kesungai, kelihatan perahu2 bagaikan barisan ular panjang. Nyata orang sedang angkuti garam, sebungkus dengan sebungkus, bererot ketepi sungai. Di pertengahan kelihatan Hay ma berikan titah titahnya.

Siauw Lin si Kuda Laut asyik

Justeru itu waktu Lie Hian Tong sampai dengan tiba2. Siauw Lin segera sambut pemimpin ini.

“Siauw Tocoe, kau banyak kerja,” berkata Kwie lian coe, si Muka Iblis. “Katanya orang yang tertawan itu ada Siauw liong ong Kang Kiat, itu boca nelayan. Sungguh dia mencari mampus ”

Eng Jiauw Ong dan Ban Lioe Tong dengar kata2 itu, mereka saling mengawasi. Jadi benarlah dugaan atau kekuatiran mereka. Tapi mereka segera dengar kata2 lebih jauh dari Lie Hian Tong “Memang Pang coe perhatikan betul boca itu, dikuatir dia menerbitkan gelombang. Melulu untuk jaga nama baik. Pang coe tidak ingin bikin celaka boca itu, diapun tidak dipaksa untuk memasuki kaum kita. Aku pun telah duga, sikap lemah dari Pang coe ini bisa membawa onar, sekarang dugaanku itu berbukti. Tadinya aku telah pikir, sebab kita tidak hendak celakai dia, baik dia dan ibunya disambut kedalam Cap jie Lian hoan ouw, untuk ditempatkan di Hok Sioe Tong, Gedung Bahagia, supaya mereka terjamin dan merekapun tidak bisa berhubungan kepada pihak luar. Tapi sudahlah. Siauw Tocoe, mana boca itu? Sekali ini dia tak dapat dibikin lolos lagi!” “Tak nanti dia dapat lolos,” Siauw Lin jawab. “Dia dijaga keras. Dia ada dikamar kosong sana.”

“Coba bawa dia kemari, aku hendak lihat padanya,” kata Lie Hian Tong sambil duduk. “Tolong siapkan sebuah perahu cepat, aku sekalian hendak menghadap pada Pang coe.”

Siauw Lin menyahuti “Ya” lantas ia kasi perintah bagaikan berbisik pada dua orang yang dampingi ia dikiri dan kanan, atas mana dua orang itu sambil membawa lentera pergi kekamar kosong yang disebutkan tadi, semasuknya mereka kedalam, lantas terdengar suara berisik, disusul dengan seman “Ah, boca yang liehay! Apa yang kau andalkan maka kau begini galak? Hajar padanya!”

“Jangan!” demikian satu suara lain.

Lantas kelihatan keluar pula dua anggauta tadi, disusul oleh empat orang dari barisan bergolok kwie tauw too, yang mengiringi ditengah2nya satu anak tanggung, yalah Kang Kiat si Raja Naga Cilik, kedua tangannya ditelikung, mukanya berlepotan debu, hingga muka itu jadi belang hitam dan putih Eng Jiauw Ong dan Siok beng Sin Ie bingung juga, karena mereka bersangsi untuk segera tolongi boca itu. Mereka insyaf, Lie Hian Tong tak dapat dipandang enteng, sedang mereka tak ingin bekerja secara sembrono.

Kemudian Lioe Tong bisiki soe hengnya “Soeheng, kita harus tolong dia secara diam2. Kita pun perlu lihat nyalinya ”

“Aku hanya kuatir dia terhina dan tersiksa   ” nyatakan

Ong Too Liong. “Tidak apa satu boca alami penderitaan,” Lioe Tong menghibur. “Mari kita lihat saja ”

-ooo0dw0ooo-