Eng Djiauw Ong Jilid 05

 
Jilid 05

Tukang perahu didepanpun kaget.

“Hei, awas !” ia teriakkan tiga perahu yang sedang mendatang itu. “Tak dapat aku tahan perahuku ini! Eh, eh, kenapa kau tak mampu pegang kemudi?”

Sia sia tukang perahu ini ber kaok2, tiga perahu didepan laju terus, mendekati.

Mau atau tidak, tukang perahu ini coba menggayuh kekanan, tapi apa mau, perahu didepan pun bergerak kekiri untuk menghadapi terus. Jadi teranglah, tiga perahu itu hendak menabrak perahu nelayan ini.

“Celaka tuan, mereka hendak tubruk kita!” tukang perahu itu mengeluh pada Eng Jiauw Ong. “Kita bakal ditubruk dan dicegat, kita tidak bisa meluputkan diri… Perahu kita kecil, kita bakal hancur ”

Bahna ketakutan, pucatlah muka nya kedua tukang perahu itu.

Tapi Hoay siang Tay Hiap tertawa ter gelak2. “Teranglah sudah kau kurang pengalaman!” kata ia pada

kedua tukang perahu itu. “Siapa ditakdirkan mati dikali, dia mesti kelelap! Nasib ada ditangan Thian, buat apa kau

bingung? Kalau benar mereka niat hancurkan perahu kita, belum tentu niat mereka tercapai!”

Tukang perahu itu berdiam, tapi mereka sudah pikir, kalau tubrukan terjadi, mereka akan tolong diri sendiri saja. Eng Jiauw Ong maju kedepan sekali, akan melihat letaknya ketiga perahu itu.

“Siapa diantara kau yang bawa senjata rahasia?” ia tanya Kam Tiong dan Kam Kauw yang mengapit ia.

“Kami sedia sam leng piaw dan panah tangan,” sahut Kam Tiong.

“Mari kasi piauw berikut kantongnya padaku,” Eng Jiaw Ong minta.

Kam Tiong berikan piauwnya, itu kepada ketuanya, yang lantas digantung dipinggangnya sebelah kiri.

“Tukang perahu, tetap tenang! Jangan takut,” kemudian Eng Jiauw Ong menghiburkan anak buahnya “Ada aku disini, aku tanggung keselamatanmu berdua !”

Kedua tukang perahu berdiam, mereka tidak mengarti dan bingung. Tapi mereka lantas turunkan layar, Eng Jiauw Ong mengawasi kedepan, kepada ketiga perahu yang tetap mendatangi dengan cepat. Lalu dengan tiba2 ia ber lompat kedepan. dalam gerakan “Ceng teng sam ciauw soei” atau “Capung menyamber air” dan lompatan “Yan coe hoei in ciong” atau “Burung walet terbang keawan.” Dapat dikatakan sekejab saja ia sudah loncat naik keperahu yang dikanan di mana ia mencelat ketihang layar, yang ia cekal dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya membetot putus tambang layar, hingga dengan jatuhnya layar itu, lajunya perahu itupun jadi terhalang.

Beberapa anak buah perahu itu jadi kaget, hingga mereka berteriak.

Eng Jiauw Ong masih tetap berdiam diatas tihang layar itu, untuk melihat kedua perahu lain dan perahunya sendiri. Ia dapat kenyataan, karena berisiknya anak2 perahhu itu, disitu tidak ada yang jadi pemimpin. Ia lantas mengawasi perahu satunya yang menyusul itu. Lalu ia menyerang dengan sebatang piauw.

Jitu serangan itu, tambang layar kena telak dan putus dengan segera, maka layarnyapun jatuh hingga perahu itu jadi terhalang lajunya.

Segera Eng Jiauw Ong kasi dengar suara nyaring kepada perahunya “Lepas jangkar!”

Kam Tiong bertiga dengar seruan itu, Hee houw Eng lantas dului tukang perahu akan menjemput jangkar, untuk dilempar kemuka air, hingga dengan begitu, juga perahu ini lajunya jadi pelahan2.

Hee houw Eng dan kawan2nya bingung bukan main, baharu sekarang mereka saksikan kepandaian yang luar biasa dari ketua Ceng hong po.

Pihak sana sekarang tinggal perahu yang ketiga, yang ditengah yang tadi laju belakangan, perahu itu dapat susul dua kawannya yang terhalang, dengan begitu, dia jadi datang dekat. Juateru itu, turun dari tihang layar Eng Jiauw Ong gunai kepandaiannya entengi tubuh akan loncat keperahu ketiga ini, untuk loncat naik dikepalanya perahu.

Menyusul menaiknya ketua Hoay Pang Pay keatas perahu ketiga itu, dari dalam perahu loncat keluar satu orang, tetapi dia bukannya menghampirkan musuh, dia hanya terus terjun keair.

Dalam sekelebatan, Eng Jiauw Ong masih bisa lihat rupa orang, ia seperti ingat pernah lihat orang itu, hanya ia lupa entah dimana. Iapun tidak sempat bepikir. Dari dalam perahu, kembali keluar dua orang, yang satu berusia lebih kurang tiga puluh tahun, yang lain kira2 dua puluh tahun. Pakaian mereka ini ringkas dan tangan mereka bersenjata, “Orang tua, kau ada sahabat dari mana?” demikian yang satu menegur. “Kenapa kau bikin jatuh layar kami? Apakah kau ada orang baharu, yang ingin berusaha didaerah ini?”

Eng Jiauw Ong tertawa dingin.

“Sahabat, jangan kau bersandiwara terhadap Ong Too Liong!” sahut ia dengan keren. “Apa yang kau kerjakan, itulah yang aku perbuat juga. Kalau benar sahabat kaum kang ouw, walaupun sampai diujung langit, dia harus perlihatkan mukanya. Kau harus ketahui, aku sedang memenuhi undangan Hong Bwee Pang, maka kenapa aku dirintangi ditengah jalan? Ini adalah perbuatan tidak manis! Aku ingin sekali ketahui namamu, to coe?”

Orang yang usia pertengahan menjawab “Masing2 orang toh urus jalannya sendiri! Diwaktu malam mengendarai perahu, orang harus andalkan kepandaiannya sendiri. Perahu masih belum bertabrakan, kau sudah hunjukkan kepandaianmu, kau menghina kami orang2 dagang yang jujur! Sahabat, kau tidak hendak undurkan diri, kau hendak tunggu apa? ”

Orang ini belum tutup mulut nya atau si anak muda dului ia berlompat maju sambi berseru “Turunlah kau!” Dan tangannya sampai, menyusul tubuhnya. Dia telah menyerang dengan kedua tangan, dengan tipu pukulan “Hek houw sin yam!” atau “Harimau hitam mengulet” 

Gesit dan hebat adalah serangan itu .

“Bagus!” berseru Eng Jiauw Ong, yang tertawa menghina. Ia tidak berkelit, hanya ia tunggu sampai kedua tangan hampir mengenai tubuhnya, ia segera geraki kedua tangannya dalam gerakan “To hoan kim kauw cian” atau “Membaliki gunting emas.” Dengan tangannya itu ia tekan kedua tangan musuh, lalu dengan dua jari telunjuk dan tengah ia barengi mencari jalan darah sam lie hiat. Ia berhasil, karena si anak muda tidak keburu tolong diri, maka tidak tempo lagi pemuda itu berdiri diam dengan kedua tangannya dikasi turun.

“Oh, kau berani lukai orang?” membentak orang yang satunya, yang lantas lompat kesamping sambil menerjang.

Melihat ia diserang, Eng Jiauw Ong bikin dua gerakan dengan berbareng, dengan tangan kanan ia tolak rubuh tubuhnya si anak muda, dengan tangan kiri ia menangkis, ujung jarinya dipakai mencari jalan darah leng tay hiat dari musuh.

Penyerang itu mengerti ancaman bahaya hebat, lekas ia tarik pulang tangannya sambil tubuhnya pun ditarik pulang, lalu dengan satu kali jumpalitan, ia nyebur keair. Ini ada jalan satu2nya untuk luputkan diri dari bahaya. Ia selulup sebentar, lantas ia timbul dimuka air sambil menantang. “Sahabat, jikalau kau ada punya kepandaian, mari main2 diair dengan to coemu! Marilah turun untuk beradem!”

“Baik kau rasai ini dahulu!” ada jawabannya Eng Jiauw Ong seraya tangannya diayun.

Orang Hong Bwee Pang itu selam, untuk tidak muncul pula.

Eng Jiauw Ong tidak mau berdiam lama diperahu musuh, ia angkat tubuh si anak muda, yang ia kempit, sesudah mana, ia lantas loncat keperahunya sendiri, yang sudah datang dekat kepada nya.

Kedua perahu penjahat sudah lantas kembali, yang satu terhanyut sendirinya, karena tidak ada yang kemudikan, yang dua, digayu cepat, rupanya untuk pulang.

“Lekas angkat jangkar, pasang layar! Kita mesti lanjutkan perjaianan kita!” begitu ada titahnya Eng Jiauw Ong sesampainya ia diperahunya sendiri. Kedua tukang perahu, yang kagum untuk keliehayannya Eng Jiauw Ong jadi tunduk benar, tanpa banyak omong mereka kerek layar untuk berangkat pula.

Kam Tiong dan Kam Hauw telah sambuti orang tawanan mereka, untuk dibelenggu.

“Bagaimana sekarang?” kemudian mereka tanya. “Letaki dia dikepala perahu,” menitah Eng Jiauw Ong.

“Didalam Hong Bwee Pang, dia tentu tidak punya arti.

Sebentar di waktu kita berlabuh, dia boleh dipakai sembahyangi Hay Liong Ong!”

Anak muda itu, yang sadar gusar sekali karena dia dianggap orang tak berarti.

“Pit hoe picak!” ia berseru.”Kau anggap aku Heng kang Hong Coei Loen orang macam apa? Yang harus disesalkan adalah to coemu ini sudah memandang terlalu enteng hingga dalam segebrak saja dia kena dirubuhkan! Sekarang terserah padamu, aku hendak dibinasakan atau bagaimana!”

Eng Jiauw Ong puas mengetahui orang ini ada satu pemimpin sedang tadinya ia sangka dia anggauta biasa saja. Iapun dapat harapan.

“Oh sahabat, kiranya kau ada satu to coe!” kata ia. “Sekarang baiklah kau insaf, mati atau hidupmu ada bergantung pada kawan2mu sendiri! Syukur jikalau mereka tidak ganggu pula kami apabila sebaliknya, terpaksa kami akan bunuh kau!”

Eng Jiauw Ong perintah dua saudara Kam menjagai, terutama untuk jaga orang she Coei ini yang punyakan gelaran “Naga Melintangi Sungai” ( Heng liong), nanti terjun keair. Selama itu, perahu mereka laju dengan pesat. Sekali ini, mereka tak dapat halangan suatu apa dan merekapun tidak ketemukan lain2 kendaraan air lagi. Tiga perahu dibelakang telah ketinggalan jauh, nampaknya sebuah titik hitam saja.

Disebelah depan ada sebuah selat yang dikiri kanannya lebat dengan pohon gelaga. Menampak tempat demikian, Eng Jiauw Ong pesan tiga kawannya untuk waspada.

Tidak antara lama, dari depan kelihatan dua buah perahu, yang layarnya tidak dipasang. Kelihatan masing2 perahu mempunyai enam anak buah, yang terbagi dikiri dan kanan dengan masing2 penggayunya. Kedua perahu itu laju pesat, jalannya berendeng. Inilah hebat untuk perahunya Eng Jiauw Ong. Ditempat demikian sempit, sulit untuk tiga buah perahu lewat berbareng, tidak ada tempat untuk yang satu mengalah dan minggir.

Selagi kedua pihak mendatangi semakin dekat satu kepada lain, sedangnya kedua anak perahunya Eng Jiauw Ong pikir kearah mana mereka harus mengalah, tiba2 dari darat terdengar suitan dua kali beruntun.

“Turunkan jangkar!” Eng Jiauw Ong perintahkan dengan mendadak, karena mana, perahunya pun jadi berhenti dengan tiba2.

Segera dari tepian sebelah Timur, diantara gombolan gelaga, muncul dua orang dengan pakaian malam, dengan berlompat mereka ini naik keperahu didepan, kemudian yang berdiri disebelah kiri, perdengarkan suara nya “Kau jangan pikir untuk maju lebih jauh! Disini kami bikin perhitungan!”

Menyusul itu, terdengar suara mencebur be runtun2, seperti dua tiga orang terjun keair. “Sahabat, apa maksudmu dengan mencegat kami?” Eng Jiauw Ong menegur. “Sahabat, disini aku si orang she Ong, berilah pengajaran kepadaku!”

“Sahabat, kau terlalu jumawa!” kata pula orang yang didepan.

“Kau telah andalkan kepandaian mu, kau telah rusaki perahu dan tawan juga orangku! Sekarang merdekakanlah orang itu, lantas kau akan hidup untuk beberapa waktu lagi, jikalau tidak, jangan menyesal!”

“Aku Ong Too Liong datang untuk menemui orang2 gagah yang ada mukanya, maka kenapa kau, bangsa boe beng siauw coet, berani banyak laga? Cuma2 kau sebaliknya cari celaka sendiri!”

Baharu Eng Jiauw Ong tutup mulutnya, lalu terdengar suara air dikiri dan kanan perahunya, dimana timbul masing satu orang tangan siapa lantas pegangi pinggiran perahu, keduanya segera menantang. “Tua bangka, jangan bertingkah! Jikalau kau benar punyakan kepandaian, mari turun akan main dengan kami! Disini adem!”

“Nyatalah benar dugaanku,” pikir Ong Too Liong, yang lantas membentak “Kawanan tikus, karena pandai berenang, kau berani menghina aku si orang tua! Hayo, jikalau kau tidak mundur, jangan katakan aku tidak pakai aturan!”

Selagi ketuanya bicara, Kam Tiong dan Kam Hauw berseru seraya masing2 menyerang dengan piauw dan panah tangan mereka, atas mana, kedua orang didalam air itu selam dengan cepat, kemudian mereka timbul pula, ditempat enam kaki jauh nya.

“Oh, boca, kau gunai senjata rahasia!” mereka itu menegor. “Jikalau kami tidak berdaya akan bikin kau tenggak sedikit air, kecewa kami telah tancap kaki dikalangan kang ouw!”

“Keluarkanlah kepandaianrnu jikalau kau mampu!” Eng Jiauw Ong sambut tantangan itu. Ia membungkuk akan angkat tubuh orang tawanannya, kemudian ia kata pula pada dua orang itu “Kawanan tikus, aku sudah ketahui akal busukmu sekalian! Bukankah kau hendak rusaki dan terbaliki perahuku? Asal kau berani rabah perahuku, lebih dahulu aku nanti bikin habis jiwanya Coei To coemu ini! Aku nanti tukar jiwanya dengan perahuku, jangan katakan aku kejam!”

Ancaman ini mempan, dua orang itu nampaknya bersangsi.

Juga dua orang, yang berada diatas perahu, sudah lantas berdamai satu dengan lain. Mereka dapat kecocokan akan kurbankan Coei Loen. Heng kang liong dianggap ada anggauta baru, sebenarnya dia belum berhak untuk menjadi to coe, tetapi karena ada andalan didalam Pusat Umum, Congto, ia diangkat jadi soen kang to coe bahagian Barat. Memang biasanya dia kepala besar, hingga dia tak disukai oleh sesama kawannya. Kedua orang diperahu itu hendak gunai ketika ini akan lampiaskan dendaman mereka. Mereka sudah lantas amibil putusan, setelah mana, yanyi satu lantas serukan “Para pundak rata, turun tangan! Coei To coe ada enghiong kita, untuk dia kematian tak ada harganya! Kita terbaliki perahu mereka itu, urusan dibelakang!” Kemudian ia tambahkan pada lain kawannya. “Siapa bisa berenang, semua mesti menyebur kesungai !”

Atas ini, lima orang lantas loncat keair saling susul, hingga air sungai muncrat dan perdengarkan suara nyaring dan berisik. “Lekas bantui tukang perahu pinggirkan perahu kita!” Eng Jiauw Ong titahkan Kam Tiong dan Kam Hauw. Ia lihat musuh sudah jadi nekat. Iapun beritahukan tukang perahu untuk jangan berkuatir, dia akan ganti harga perahu kalau sampai perahu itu karam dan hancur.

“Celaka, mereka sudah bor perahu,” mendadak tukang perahu menjerit.

Eng Jiauw Ong sebaliknya malah tertawa besar. “Kawanan kurcaci ini sangat menghina aku!” ia berseru.

Terus ia angkat tinggi tubuhnya Coei Loen pada siapa ia

kata “Sahabat aku Ong Too Liong tidak mau bunuh kau, tetapi kawan2mu itu tidak perdulikan kau mati atau hidup, maka aku tidak bisa berbuat lain, tak dapat aku kasi kau lolos lagi ”

Adalah niatnya Eng Jiauw Ong akan banting musuh itu di muka perahu, tetapi selagi ia hendak ayun tangannya, dari hilir muncul sebuah perahu yang lajunya cepat bagaikan ikan berenang, setelah datang dekat, dari perahu ada seruan “Orang Hoay Yang Pay tahan! Mari kita bicara

!”

Suara itu disusul dengan loncatnya satu orang dari perahu     itu, pindah keperahu yang      ke atas gubuk, sambil dia terus berkata dengan nyaring,

“Atas titahnya Pang coe, Soen kang to coe bahagian Barat diharuskan membiarkan Ceng hong po Po coe, ketua dari Hoay Yang Pay, datang untuk memenuhi undangan! Semua pusat bay hok dilarang mencegat dan mengganggu, siapa melanggar perintah dia akan dihukum!” 

Dua orang diatas perahu lantas menjura pada orang yang baharu datang ini, sikapnya sangat menghormat. Eng Jiauw Ong yang dapat dengar itu, ia batal membanting Coei Loen, tubuh siapa ia turunkan pula.

Semua anggota Hong Bwee Pang, yang berada diair, sudah lantas dikasi tanda dengan suitan, untuk menghentikan aksi mereka, sedang kedua anak buahnya Eng Jiauw Ong lantas cepat menambal perahunya.

Eng Jiauw Ong dengan sikap yang keren, mengawasi ke arah musuh.

Orang yang baharu datang itu loncat turun dari gubuk perahu ia hadapi ketua Ceng hong pay seraya rangkap kedua tangan memberi hormat, terus berkata “Hoaysiang Ceng hong Po coe, aku yang rendah Giok Lan Sian Wan Tam Eng Sioe. Atas titahnya Pang coe aku datang menyambut. Silahkan Po Coe lekas berkunjung kepusat kami, disana Pang coe kami sudah lama menantikan! Disini ada sehelai karcis nama, silahkan Po coe tengok!”

Selagi mengucap demikian , Tam Eng Sioe si Monyet Muka Kumala, mundur setindak, lalu ia enjot tubuhnya akan loncat mencelat kekepala perahunya ketua dari Hoay Yang Pay.

Eng Jiauw Ong tidak undurkan diri, ia malah bersikap hendak menyambuti karcis nama itu, sebelah tangan diangsurkan ke depan, sebelah tangan lagi dipakai melindungi diri.

“Inilah karcis namanya Pang coe, harap po coe terima!” kata orang she Tam itu, begitu lekas kakinya menginjak perahu nelayan dan tangannya sebelah lantas diulur kedepan. “Dipihak kami, Pang coe dan semua orang sebawahannya telah siap sedia untuk menyambut Po coe. Apakah Ong Tayhiap bersedia akan merdekakan orangku yang tertawan itu. Mengenai ini, terserah pada tayhiap, kami tidak akan minta secara paksa. Karena kami mesti segera pulang untuk memberi laporan, tolong tayhiap lekas membalas kabar.”

Eng Jiauw Ong sambuti karcis nama itu, ia tidak membaca teliti, lantas ia berikan jawabannya “Aku si orang she Ong tidak biasanya bertindak bengis, adalah karena sangat terdesak dan terpaksa, aku telah ambil tindakanku ini. Kau kenal aturan kang ouw, sahabat, maka itu cara bagaimana akupun bisa tak menggunai aturan? Silahkan kau bawa pulang saudara ini! Mengenai halku, yang mesti bertentangan dengan Hong Bwee Pang, tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, silahkan kau tanya saudara ini, nanti kau ketahui sendiri.”

Eng Jiauw Ong tutup kata2 nya dengan ia sendiri meloloskan belengguannya Coei Loen, siapa sudah lantas geraki kaki tangan nya, untuk kasi darahnya jalan setelah itu, ia pandang ketua Ceng hong po.

“Tak akan aku lupa kejadian kita malam ini,” ia kata. “Sekarang ada titahnya Pang coe, maka untuk sementara kita menunda dahulu. Nah, sampai bertemu pula!”

Lalu, dengan putar tubuhnya ia meloncat keperahu kawannya.

Tam Eng Sioe memberi hormat pula pada Eng Jiauw Ong seraya kata “Cap jie Lian hoan ouw menantikan Po coe dengan segala kehormatan, maka sekarang ijinkan aku undurkan diri!”

Dengan loncatan “Koay bong hoan sin,” Giok bin Sin Wan pun loncat keperahunya sendiri. Selagi berloncat, ia geraki kedua tangannya dengan bergantian.

Melihat aksinya orang itu, Eng Jiauw Ong tahu Tam Eng Sioe gunai gerakan “Liong heng coan chioe ciang” atau “Seling tangan  berupa naga.” Itu adalah salah  satu gerakan liehay dari ilmu silat “Pat kwa Yoe sin ciang.” Karena ini ia jadi dapat tahu, orang she Tam ini ada liehay. Cuma ia agak asing dengan orang kang ouw ini, yang ia tidak tahu ada dari golongan mana.

Diperahu kawannya sendiri, orang itu diperlakukan dengan hormat sekali, rupanya mereka itu ada mengatakan suatu apa, karena terdengar suaranya yang nyaring “Sudah, jangan banyak omong! Lekas kembali ke masing2 tempatmu!” Setelah itu, Eng Sioe loncat keperahunya sendiri, yang segera digayu pergi dengan cepat sekali, perbuatan mana lantas dituruti oleh kedua perahu perintang itu.

Maka diakhirnya, sungai itu menjadi sunyi pula.

XLII

Kedua tukang perahu menjadi sangat lega hatinya. “Tuan, terima kasih,” kata mereka. “Jikalau rejeki kita

tidak besar, tentu kita celaka. Apa disebelah depan masih

ada ancaman bencana lainnya?”

“Kau jangan kuatir,” Eng Jiauw Ong jawab. “Didepan sudah tidak ada bahaya lagi. Aku tidak nanti sia2kan kagetmu ini, malah aku akan perlipat harga sewa perahumu ini, akupun akan memberi presen, aku akan kasi penggantian untuk bocornya perahumu. Cukup bukan?”

“Terima kasih, tuan,” kata kedua tukang perahu, yang bersyukur sekali.

Lantas Eng Jiauw Ong masuk kedalam perahu, diikuti oleh ke tiga anak muda. Hee houw Eng sudah lantas menyalakan api, hing ketua Ceng hong po bisa lantas lihat karcis nama musuh, yang berbunyi “Hormatnya Boe Wie Yang.” Ia masukkan itu ke dalam sakunya.

“Tuan, apa tuan bermusuh dengan kawanan tadi atau kebetulan tuan ketahui mereka ada orang2 jahat?” tanya tukang perahu. Mereka gelap dalam hal ini.

“Inilah hal yang sudah lewat, tidak usah kau tanyakan,” sahut Eng Jiauw Ong. “Lagipun urusan ini tidak ada faedah nya bagimu. Sekarang lekas gayu perahumu menuju Gan Tong San!”

Kedua tukang perahu itu lantas keluar.

Kam Tiong bertiga lantas tanya ketua itu, bagaimana mereka harus bersikap bila nanti mereka sudah memasuki sarang musuh.

“Kau harus bersabar dan waspada, turut saja aku,” Too Liong bilang.

Tukang perahu telah masak air untuk seduh teh, meminum mana, Eng Jiauw Ong berempat jadi merasa segar sekali.

Sebentar kemudian, ketua ini pergi kemuka perahu, akan memandang keseputarnya. Ia dapat kenyataan, sang fajar telah mendatangi. Tanpa merasa, mereka telah melewatkan sang malam dengan melek mata ditengah sungai sambil hadapi ancaman bahaya elmaut….

Kira2 satu lie jauhnya mereka berlayar, matahari sudah mulai muncul, memperlihatkan sinar nya yang indah. Disini ada sejumlah nelayan yang sedang bekerja. Ditepian Timur terlihat sawah ladang dan pohon murbei. Dikedua tepi saban2 kelihatan rumah gubuk penduduk.

“Tuan, itulah Gan Tong San Utara!” kata tukang perahu, yang menunjuk kedepan. Eng Jiauw Ong berempat memandang kearah gunung yang ditunjuk itu.

“Tinggal belasan lie akan sampai disana, bukankah?” Hoay siang Tay Hiap tanya.

“Masih kira2 tiga puluh lie, tuan! Inilah yang dibilang, kuda mampus kalau kita berjalan dengan melihat gunung saja.”

Eng Jiauw Ong tidak menanya lebih jauh, perahu pun berjalan terus. Kira2 jam Sin sie, jam tujuh atau delapan pagi, sampailah mereka di sebuah pelabuhan dibagian Timur dari Gan Tong San. Ramai disini dengan banyak perahu, besar dan kecil, perahu saudagar dan nelayan. Didaratpun banyak orang serta suaranya yang berisik.

Eng Jiauw Ong mengajak tiga kawannya mendarat, ia bayar uang sewa perahu diberikuti presenan dan penggantian bocor, hingga kedua nelayan itu jadi sangat berterima kasih. Benar2 tak sia2 kekagetan dan ketakutan mereka, akhimya mereka kegirangan….

“Inilah pasti bukannya Hoen coei kwan.” pikir Eng Jiauw Ong yang berjalan dijalan yang ramai, akan melihat keadaan dan suasana. Dari banyaknya toko, ia percaya tempat ini ada subur sekali.

“Mari kita dahar dahulu, sebentar baharu kita cari keterangan,” kata Eng Jiauw Ong kemudian.

Kam Tiong bertiga setuju, mereka manggut.

Disebelah Barat ada sebuah restoran dengan merek Bong Kang Lauw, artinya Loteng Memandang Sungai, kesitu mereka masuk, mereka naik keatas loteng, yang jendelanya benar2 menghadapi sungai, memberi pemandangan yang merawankan hati. Itu waktu, karena masih pagi, tetamu belum banyak. Sembari menyambut, jongos tanya tetamunya inginkan teh atau arak.

“Teh dan barang santapan juga, kami hendak dahar disini,” sahut Eng Jiauw Ong. “Lebih dahulu bawakan kami air teh.”

Jongos itu segera melayani.

Dekat jendela sudah ada dua tetamu lain asyik minum arak.

Eng Jiauw Ong pesan satu poci arak keluaran setempat yang kesohor, ia ingin, dengan tenggak air kata2, ia bisa lupai pengalamannya satu malam tadi.

Didepan sang ketua, Kam Tiong bertiga tidak berani turut minum. Tee lie touw doyan sekali arak, ia ngiler, maka dengan satu alasan, ia turun dari loteng, ia panggil satu jongos kesamping.

“Tolong ambilkan aku dua poci, mulutku kering sekali,” kata ia. “Jaga supaya tuan tua di atas tidak dapat tahu. Dia adalah guruku, dia larang aku minum arak ”

“Ah, jangan main2, tuan!” kata sang jongos sambil tertawa. “Arak kami berbau keras, tuan tua toh bakal tahu juga. Kalau sebentar kau ketahuan, jangan salahkan aku sekongkol!”

“Cukup!” Hee houw Eng memotong. “Jangan takut, paling juga aku ditegur. Sekarang ambillah arak!”

Jongos itu tertawa melihat akan ketagihannya orang. “Baiklah,” sahut ia, yang terus ambilkan dua poci.

Seorang diri Hee houw Eng duduk dibawah loteng menenggak susu macan. Satu poci habis dengan cepat, walaupun tidak ada  teman sayurnya, ia minum dengan napsu. Ketika ia telah habiskan poci yang ke dua, ia minta pula dua poci lagi.

“Hati2, tuan,” si jongos peringatkan. “Arak kami ada arak simpanan lama, sekarang kau tidak merasakan suatu apa, sebentar kau akan sinting. Awas, nanti kau ditegur gurumu!”

Untuk sesaat, Hee houw Eng lupai ketuanya, ia mendesak meminta pula, hingga bahna kewalahan, jongos itu mengambilkan satu poci. Tetapi pun poci ini kering dengan sekali cegluk, sesudah mana, pemuda ini naik pula keatas loteng.

Eng Jiauw Ong lihat Tee lie houw seperti habis minum arak, memang tidak melarang, ia cuma mencegah karena ia tahu, arak bisa bikin gagal urusan dan anak2 muda harus bisa perbiasakan diri. Tetapi disitu ada dua saudara Kam, ia kuatir mereka ini mengiri, maka terus ia kata “Aku tahu kau gemar akan arak, sekali ini aku mengecualikan, tetapi lain kali, jangan kau minun diam2!”

Mukanya Hee houw Eng merah, malu sendirinya. Ia diam saja lantas tuangkan arak gurunya, buat ia sendiri ia isi satu cawan, yang ia terus minum.

Itu waktu ditangga loteng terdengar tindakan, lantas muncul satu tetamu yang diiring jongos siapa berkata2 pada tetamunya “Eh, sinshe, kenapa kau naik juga keloteng? Bukankah mayikanku melarang kau selagi disini ada tetamu, supaya kau tidak mengganggu?”

Tetapi orang itu naik terus.

Eng Jiauw Ong lihat tetamu ini ada satu tukang tenung, cuma sikapnya tidak seperti siang mia sinshe yang kebanyakan. Orang itu berumur kurang lebih lima puluh tahun, bajunya panjang. Sepasang matanya tajam sekali. Dikain mereknya ada bertuliskan “Pandai meramalkan dan tepat!” Dibawah itu ada tambahan lagi “Aku telah wariskan kepandaian orang sakti, tepat aku melihati peruntungan orang atau nasib, yang sudah atau yang bakal datang. Aku juga pandai mengobati pelbagai macam penyakit.” Ditangannya, diapun menyekal dua potong papan kan poan.

Eng Jiauw Ong mengetahui, di Kanglam memang ada banyak tukang tenung semacam dia ini. Kelihatan sinshe ini tak puas dengan sikapnya jongos, sambil berdiri dan muka muram, ia kata “Apakah kau bukannya berusaha? Jangan kau mata duitan! Kenapa kau bukannya layani aku? Apa Bong Kang Lauw ada membeda2kan dan tidak jual barang makanan kepada orang sebangsaku?”

“Jangan gusar, sinshe, karena kau bawa2 merekmu, aku jadi menduga kau sedang berusaha,” sahut si jongos. “Sekarang silahkan duduk. Sinshe mau minum teh atau arak?”

Tukang tenung merangkap tabib itu duduk dimeja dekat jendela, mereknya disenderkan dijendela. Ketika ia pesan arak dan makanan, ia bawa sikap bukannya sabagai seorang miskin.

Ketarik perhatiannya Eng Jiauw Ong melihat orang punya sikap dan mata yang tajam itu, ia merasa pasti orang ada berkepandaian tinggi, bahwa orang berpelabi saja menjadi tukang tenung.

Tiba2 tukang tenun itu tepuk meja, hingga cangkir pada berlompatan.

Hee houw Eng sedang angkat cawarmya ketika ia terkejut mendengar tepukan pada meja itu. Itu waktu pengaruh arak sudah mulai bekerja. Araknya lantas saja ngeplok, menyiram tangan bajunya. Pasti sekali ia jadi gusar.

“Eh, orang edan atau orang mau mampus?” ia berseru. “Apa kau bikin? Hayo minum arakmu!” Eng Jiauw Ong

segera menegur.

Kee houw Eng takut, ia berdiam.

Jongos sementara itu datang menghampirkan si tukang tenung.

“Kau minum terlalu banyak, sinshe,” kata ia, karena arak pun tumpah. “Kau mabok ”

“Apa? Mabok?” membentak sinshe itu, matanya melotot. “Arak toh masuk kedalam perut orang, bukan keperut anjing? Aku tidak tahu apa itu mabok!”

“Apa kalau bukannya mabok?” kata jongos itu seraya sekal meja.

Orang tua itu menghela napas.

“Tidak apa, aku melainkan sesali segala boca, yang ada matanya tetapi tidak ada bijinya. Dia lihat aku si orang tua tetapi dia tidak memperdulikannya, dia tidak mau menegur aku, hingga aku jadi mendongkol ”

“Ah, sinshe, siapakah sudah ganggu kau? Harap sinshe tidak terbitkan onar… Kami ada orang yang berusaha, kami tidak berani bikin tetamu gusar….”

“Tidak apa2, aku tengah memikiri urusanku yang ruwet, aku sampai lupa segala apa,” kata si tukang tenung, yang bicaranya putar balik. “Dengan kau toh tak ada sangkutannya, bukan? Kau jangan takuti lain2 tetamu. Aku sedang pikiri dua anak muda dari pihakku, dia baharu belajar sedikit, lantas dia bertingka, dia bikin rusak namaku. Aku sekarang hendak tunjuki mereka supaya jangan tersesat, tetapi mereka itu -anak2 itu- tidak mau mengarti! Mereka sengaja hendak bentur tembok! Mereka tidak mau terima ajaranku! Apa dengan begitu mereka tidak bikin aku mendeluh?”

Jongos itu menganggap orang ada sangat lucu.

“Tak perlu kau mendeluh, sinshe,” kata ia. “Itu cuma urusanmu sendiri. Tapi umpama kata kau bikin rusak meja kami, apa kau tidak nanti bakal mengganti?”

“Apa, mengganti?” tukang tenung itu membentak, matanya melotot. “Apakah kau hendak usil aku?”

Dalam murkanya itu, tukang tenung ini menyamber cawan arak dan seblok mukanya si jongos, hingga dia ini menjerit “Aduh!” dan mundur dua tindak, tangannya repot dipakai mengusap mukanya. Ia gelagapan. Tentu saja ia jadi gusar.

“Ha, kau berani serang orang, sinshe?” ia berseru. Si tukang tenung tetap tertawa.

“Manusia tak berbudi!” ia kata. “Aku baik hati tawarkan kau minum arak, kenapa kau menyerit? Eh, apakah bukan dimukamu tambah daging?”

Dengan sebenarnya, mukanya yongos menjadi bengap, tidak heran kalau ia merasakan sakit. Ia tentu tidak

tahu bahwa ia telah diserang dengan satu macam pukulan

       khie kang.

Eng Jiauw Ong tidak tahan sabar melihat perbuatannya si tukang tenung itu. sedari tadi ia memang sudah mendeluh tetapi ia kendalikan diri. Lantas saja ia menegor.

“Sahabat, kau keterlaluan! Kenapa kau layani segala jongos dengan kepandaianmu ini? Kau benar2 kurang kesabaran!” Kemudian ia lanjutkan pada si jongos “He, jongos, kau tidak tahu diri! Kenapa kau layani sin she ini? Aku kuatir kau nanti mati dengan tak ada tempat untuk kubur mayatmu! Hayolah kau mundur!”

Sin she itu tertawa tawar.

“Tuan, apa kau bilang?” ia tegaskan. “Aku tidak mengerti kata2mu! Dia ini bangsa rendah, dia cuma tahu duit, sekarang ada ketikanya yang baik untuk aku hajar adat kepadanya, supaya dia tidak pandang orang secara ! Tuan, kau memandang terlalu tinggi kepadaku, cuma dengan kepandaianku yang tidak berarti ini aku merantau keempat penjuru lautan, dimana saja aku anggap sebagai rumahku, kebetulan aku ada punya kepandaian yang berarti, tidak nanti aku kesudian hidup sebagai sekarang ini!”

Eng Jiauw Ong sementara itu sudah hadapi jongos. “Sudah, sudah!” kata ia. “Pergi kau tambahkan arakku

satu poci lagi!”

Melihat orang mencegah ia, jongos itu berlalu seraya usap pula mukanya. Ia ada sangat mendongkol.

“Lauw hia, kau she apa dan apa nama besarmu?” kemudian Eng Jiauw Ong tanya si tukang tenung. “Aku lihat lauwhia tidak melainkan mengerti ilmu meramalkan tetapi juga pandai ilmu silat yang melebihi lain orang. Lauwhia, aku yang rendah suka sekali menerima pengajaran dari kau ”

Sinshe itu cepat2 goyangi tangan, ia tertawa.

“Kau memain saja, tuan.” kata dia. “Dengan kepandaian ku ini yang tidak berarti, aku jalan merantau untuk lewatkan sisa2 hidupku.   Mana aku mengerti ilmu silat? Apa yang aku bisa cuma dua tiga jurus, yang aku pakai untuk mengajar menipu murid2. Tentang namaku yang hina, tak berharga untuk disebut itu. Aku she Ouw, dikalangan kang ouw orang panggil aku Ouw Poan Tian si Setengah Edan hingga karenanya aku sampai lupakan namaku!”

Selama itu, Hee houw Eng sedang kendalikan diri. Ia jemu akan lihat tingkah polanya orang itu, ia gusar karena tadi ia kena kecipratan arak, melulu lantaran ada ketua Hoay Yang Pay, ia menahan sabar. Tetapi apabila ia dengar orang mengatakan lupa akan namanya, hawa amarah nya meluap. Ia anggap orang hinakan Eng Jiauw Ong. Siapa manusia yang sampai lupa nama sendiri?

“Aku lihat kau ber pura2 saja!” akhirnya ia campur mulut. “Kau sengaja menganggap sepi pada kami! Belum pernah aku ketemu orang kang ouw semacam kau! Sekarang baharu kau lupai namamu, apabila nanti kau lupai juga shemu, apa tidak celaka? Seorang tanpa she, apa dia bisa hidup! Sahabat, kau sebenarnya ngaco belo saja! Aku berkasihan kepadamu, aku nasihatkan lain kali jangan kau ngaco saja, hingga kau bikin orang pentang bacot mempertontonkan giginya yang besar! Benar apa tidak apa yang aku katakan, sahabat baik?”

Ucapannya anak muda ini ada serupa makian, akan tetapi Ouw Poan Tian tidak jadi gusar karena itu, dia cuma tertawa dingin.

“Kau mencaci aku, sahabat, kau menghina orang!” kata ia. “Jikalau aku layani kau, kecewa aku menjadi orang kang ouw. Kau galak sekali, terang kau andalkan boegeemu, tetapi baiklah kau ketahui, aku Ouw Poan Tian tidak takut sedikitpun terhadap mu! Kecewa aku apabila aku kasi diriku kena digertak! Selama merantau diseluruh negeri, bukan sedikit aku telah menemui orang2 gagah kaum Rimba Persilatan, bangsat terbang, kepala rampok, hartawan jahat dan cabang atas, ular berbisa, harimau buas, segala siluman dan hantu, tanpa kepandaian untuk menghadapi mereka, maka sekarang ini, jangan kata tubuhku tulang2 dan batok kepalaku juga pastilah sudah hancur luluh!” “Kau sendiri, sahabat, ada sebaliknya. Kau tertakdir banyak menderita, sekarang kau sedang menghadapi ancaman malapetaka hebat, walaupun jiwamu tidak bakal lenyap, kau toh bakal setengah mati dan setengah hidup, maka kenapa kau berani demikian galak terhadap aku Ouw Poan Tian? Sebenarnya aku boleh tutup mulut, membungkam, tetapi sengaja aku hidup merantau dengan kepandaianku meramalkan ini, dari itu tak dapat aku, tahu tetapi tidak bicara, dan sekali bicara, aku mesti bicara dengan jelas! Aku tak mau telad segala manusia biasa yang cupat pandangannya, yang karena kegusaran tidak berarti lalu melupai pri kemanusiaan… Tapi, kau percaya aku atau tidak, terserah!”

“Kau jangan bujuki aku!” Hee houw Eng membentak. “Aku memangnya tidak percaya segala ocean! Aku mengarti semua segala akalmu. Tentang peruntungan, itu sudah tertakdir, tak dapat orang bikin dirinya sengsara atau hartawan seperti yang dia inginkan!”

“Ah, sahabat, jangan kau menyindir aku!” Ouw Poan Tian kata. “Aku tidak sangkal aku ada orang kang ouw, akan tetap aku lain dari pada yang lain, aku bukan tukang cari duit dan nama belaka! Aku, semakin orang tak percaya aku, semakin aku ingin bikin dia percaya! Aku bukannya menipu, aku bukan orang jahat, dengan baik aku hendak kasi nasihat padamu, kenapa kau keluarkan kata2 kasar? Kau jadinya memandang satu ksatria dengan hatinya si orang rendah, kau keterlaluan ”

Selagi dua orang itu adu mulut, Eng Jiauw Ong mengantap saja ia cuma pesan secara diam2 pada dua saudara Kam untuk mereka ini tutup mulut, buat waspada saja, untuk jangan turun tangan umpama mereka toh berkelahi. Ia sudah lihat, tukang tenung itu bukan orang biasa saja. Ia cuma siap apabila Hee houw Eng dapat celaka.

Ouw Poan Tian hirup araknya, ia berlaku tenang. “Sahabat, aku tidak percaya kau tidak insaf,” kata ia

pula, kemudian. “Bukankah semut juga sayang nyawanya?

Apapula manusia! Nanti barulah kau tahu, sesudah kau berada dijalan buntu…. Untuk kau ada tinggal dua jalan. Dikiri lebih dekat enam atau tujuh puluh lie, tetapi disana ada mendekam banyak ular berbisa dan binatang , siapa jalan disitu, dalam sepuluh, sembilan tentu bakal dibikin celaka binatang2 liar Itu! Kekanan lebih jauh enam atau tujuh puluh lie, tetapi jalan disana rata dan aman, maka sahabat, kau pilih yang mana? Umpama kau anggap dirimu seperuntungan celaka, ambillah jalanan yang banyak binatang nya itu, supaya kau kasi dirimu diyadikan umpan makanannya! Aku percaya, sesudah sampai waktunya, baharu kau tak dapat bicara!”

Hee houw Eng jadi sangat gusar.

“Aku lihat kau benar2 edan !” ia berseru. “Jikalau benar ada bermaksud baik, maka kau bicara! Tetapi kita mesti janji dahulu, aku nanti hajar kau apabila kau cuma ngaco belo! Menurut aku, lebih baik kau jangan cari penyakit…”

“Ah, kau aneh!” Ouw Poan Tian kata sambil tertawa. “Tukang tenung mau tolong orang tetapi mau dihajar! Inilah pengalamanku yang pertama pula. Kau harus singkirkan kebiasaan kau mesti belajar manis kata supaya kau luput dari malapetaka. Aku lihat wajahmu sangat suram, itulah alamat jelek, umpama gunung meletus kau akan terus hidup menderita kau akan terus menghadapi ancaman elmaut. Tetapi asal kau berlaku baik kau bakal selamat. Aku telah bicara sahabat, sekarang terserah padamu !”

“Menurut kau, aku bakal berumur pendek !” kata Hee houw Eng.

“Itulah aku tak pastikan sahabat! Aku lihat kau masih ada harapan tertolong ancaman ada banyak, maka itu, haruslah kau jangan temaha…. Aku sudah bicara segala apa tinggal dibelakang hari …”

Hee houw Eng bengong. Ia benar sudah sinting, tapi ia masih ingat memang sampai sebegitu jauh ia hidup dalam perantauan. Ia menderita sejak umur tujuh atau delapan belas tahun. Jadi kata2nya si tukang tenung ada juga….

Itu waktu sin she itu sedang kekumur, ia cuci mukanya. Jongos mengawasi saja dari kejauhan. Jongos ini, lebih dahulu dari itu, sudah panggil dua kawannya untuk siap sedia.

Begitu lekas orang telah selesai, jongos itu menghampirkan, untuk minta pembayaran. Sama sekali si tukang tenung minum arak buat dua renceng uang.

“Kau catat saja itu atas namaku!” tiba2 jawab si sinshe, dengan enak saja.

Jongos itu melengak, kemudian ia tertawa.

“Apa? Catat saja? Ah, sinshe, kau main2!” kata ia “Lihat, sinshe, sekarang sudah siang, segera bakal datang banyak tetamu, aku tidak sempat layani kau seorang. Tolong kau bayar, sinshe!”

Sinshe itu buka matanya lebar lebar.

“Benar jongos dari Bong Kang Lauw beda dari jongos lainnya!” kata ia. “Aku bicara benar2, kenapa kau katakan aku main? Jikalau tempomu mahal, kenapa sekarang kau menjublek saja?”

Habis berkata begitu, ia ulur tangannya, akan ambil mereknya.

“Sinshe,” kata si jongos sambil mencegah, “kau benar2 permainkan aku! Kita tidak kenal satu sama lain, bagaimana kau datang2 hendak meninggalkan bon saja? Habis minum, tidak mau membayar, apakah artinya itu? Kalau semua tetamu sebagai kau, pasti majikan kami tidak sanggup pelihara anak bininya! Tolong bayar, sinshe! Untuk menganglap, Itulah jangan pikir. Kami disini berusaha dengan memakai modal. Catat saja nama mu memang gampang, tetap nanti kemana aku mesti cari kau?”

“Itulah gampang, sahabat!” jawab tukang tenung Itu. “Kenapa kau seperti tidak pentang matamu? Aku Ouw Poan Tian memang tukang merantau, walaupun demikian, dipelabuhan Bong kang ini, aku akan singgah sedikitnya beberapa bulan. Mustahil karena uang tidak seberapa, aku hendak sia2kan tempa ramai ini? Kalau kau kuatir aku kabur, baiklah, aku tinggal saja sekalian disini, kau tolong urus juga barang makananku, aku jadi tidak berabe lagi!”

Jongos itu mendelu. Terang sekali, orang hendak gegares tanpa bayar. Ia lantas kedipi dua kawannya.

“Sinshe, kau seperti tak punya muka!” kata ia, sambil maju mendekati. “Sinshe, keluarkanlah uangmu!”

Jongos itu tak dapat kendalikan diri lagi, tahu2 sebelah tanganya melayang kemuka orang.

“Benar2 tak tahu malu!” Ia tambahkan.

Atas serangan itu, si tukang tenung egos kepalanya, hingga si jongos serang tempat kosong. Tetapi yang bikin si jongos terkejut adalah, sinshe itu lantas lenyap dari hadapannya, hanya tahu2 bebokongnya ada yang tolak, hingga tubuhnya lantas ngusruk kemeja didepannya.

Melihat demikian, dua jongos yang lain lantas lompat maju, akan serang tukang tenung yang dianggap tukang anglap itu.

Disitu ada beberapa tetamu lain, mereka berbangkit, rupanya untuk memisahkan.

“Tuan2 jangan campur,” berkata Ouw Poan Tian, yang sikap nya tenang saja. “Siapa pisahkan jongos2 ini, dia mau cari perkara!”

Tiga jongos sementara itu sudah menyerang, kepalan mereka melayang saling ganti, akan tetapi tidak ada satu yang bisa menyerang jitu. Tubuhnya si tukang tenung ber gerak2 sebat sekali, menyingkir dari sesuatu serangan. Ruangan itu memang ada cukup lebar dua tumbak persegi. Karena itu, sering mereka saling tabrak sendiri, hingga si sinshe tertawai mereka.

Eng Jiauw Ong duduk menonton sambil bersenyum.

Tapi Hee houw Eng tak dapat menahan sabar.

“Kau terlalu!” dia berseru. “Sudah menganglap, kaupun permainkan orang!”

Anak muda ini loncat kesampingnya Ouw Poan Tian, tidak tempo lagi ia menyerang. Ia tidak pernah mau pikirkan, tukang tenung itu orang macam apa.

XLIII

Hee houw Eng tinggal di Lek Tiok Tong, Ceng hong po, akan tetapi dia bukannya murid Hoay Yang Pay. Semua orang yang tinggal di Ceng hong po mengerti silat, demikianpun Hee houw Eng, selanjutnya dia dipimpin oleh Cie Too Hoo, hingga kepandaiannya jadi lumayan, hanya berhadapan kepada si tukang tenung, ia kalah jauh. Dalam gusarnya ia serang lawan itu dengan ilmu pukulan “Hek houw touw Sim” atau “Harimau hitam mencuri jantung”.

“Ha, iblis pemabokan. Kau berani turun tangan?" Kata si tukang tenung sambil tertawa tawar. Ia berkelit lantas kepalannya penyerang itu lewat tubuhnya kedepan, saking sengitnya serangan                   , tubuhnya si tukang tenung ini melesat kebelakangnya si penyerang.

Berbareng dengan serangannya Hee houw Eng, dua jongos pun menerjang dan , karena Ouw Poan Tian berkelit, mereka ini juga serang tempat kosong, karena tubuh mereka maju, sendirinya mereka bertiga jadi saling tabrak. Lebih celaka, sambil berkelit Poan Tian sekalian tarik tubuhnya jongos itu.

Kedua jongos mendengus kesakitan, tak tahan mereka membentur tubuhnya Hee houw eng. Selagi mereka rubuh ditanah, si tukang tenung tertawa berkakakanseraya tepuk tangan dengan nyaring.

Kam Tiong dan Kam Houw jadi sangat gusar, tak dapat mereka tahan sabar lagi. Tapi juga Eng Jiauw Ong telah merasa cukup          mendahului berkata. dua saudara Kam ia “Sahabat, jangan          bertingkah !” kata ia.   “         aku si orang she Ong pengajaranmu !”

Dengan kedua tangan   kan meja, tubuhnya ketua Hoay yang Pay mencelat dari tempat duduknya kedalam kalangan.

“Aha! Si anak dihajar, si orang tua tak puas, dia keluar!” berseru Ouw Poan Tian, yang pun segera mencelat, tetapi bukannya maju akan sambut ketua dari ceng hong po, dia hanya menuju kemulut loteng.

“Kemana kau hendak pergi?” Eng Jiauw Ong membentak, seraya kembali mencelat akan menyusul, gerakannya seumpama menyambernya sang naga.

Ouw Poan Tian sampai dimulut loteng untuk tidak loncat turun ketangga, dari situ ia mencelat kejendela, dengan gerakan “Auw coe coan thian” atau “Burung elang serbu langit,” ketika lawannyapun kejar padanya, dengan berani ia loncat keluar jendela, dengan ceploskan tubuh dilobang jendela itu!

Kam Tiong dan Kam Hauw hendak mengejar, tapi “Jangan!” serukan ketua mereka. “Kita bukannya hamba negeri, tak dapat kita berbuat sesukanya!”

Dua saudara itu dengar kata, mereka tidak jadi bergerak. Merekapun lantas insaf, si tukang tenung, sebagai orang jahat boleh berlari2an dengan merdeka tetapi mereka, tidak.

Ketiga jongos tapinya penasaran sekali, sudah mereka di anglap, merekapun dibikin sakit tubuhnya, maka itu, mereka lantas saja ber teriak2 “Kejar! kejar padanya!”

“Sudah, jangan berisik,” kata Eng Jiauw Ong sambil tertawa pada mereka itu. “Anggap saja kau bertiga sedang apes! Mana kau bisa uber dia itu, satu penjahat besar, yang larinya sangat keras? Lekas bebenah! Jangan kuatir, aku yang nanti ganti kerugianmu, supaya kau tidak usah sampai dicomeli majikanmu.”

Ketiga jongos itu berdiam, hati mereka lega. Memang, mana mereka bisa kejar si tukang tenung, yang pandai loncati jendela. Lantas mereka bekerja. Selagi mereka bebenah, ditangga loteng terdengar tindakan kaki ramai, kemudian kelihatan dua jongos lain. . “Sudah, tidak apa2!” kata mereka itu. “Pergi kau layani tetamu seperti biasa!”

Setelah berkata begitu, kedua nya lantas turun pula.

Tiga jongos itu berdiam, tetapi tempo mereka lihat mereknya si tukang tenung, yang disenderkan dijendela, hati mereka panas. Satu diantaranya samber merek itu, untuk dirobek.

“Jangan,” Eng Jiauw mencegah. “Jangan rusakkan nama majikanmu karena kesembronoanmu…”

“Tetapi, tuan....” kata jongos itu. “Lain orang boleh anglap makanan dan menghina kami, sebaliknya kenapa kami tak boleh rusaki melainkan merek nya. Tuan terlalu takut ”

“Aku bukannya takut, jikalau aku takut, tidak nanti tadi aku layani padanya,” Eng Jiauw Ong jawab. “Kau mesti ingat, ditempat umum seperti ini, pantangan nya banyak. Kesini biasa datang pelbagai macam orang apapun orang2 kaum kang ouw, seperti si tukang tenung tadi. Jikalau mereka, atau dia ini, sakit hati apa kau bisa bikin? Biar dia beraksi, kita jangan layani padanya. Kita mesti jaga agar jangan dia sampai bisa ganggu kita.”

Ketiga jongos itu dapat dikasi mengarti.

“Terima kasih, tuan,” kata mereka. “Karena gangguan ini, tuan belum dahar benar, maka nanti kami tambahkan barang santapan yang baru ”

“Tidak, tidak usah,” Eng Jiauw Ong melarang. “Kami hendak lanjutkan perjalanan, baik aku perhitungkan saja berapa aku mesti membayar.”

Baharu satu jongos hendak lihat perhitungan, atau satu jongos lain ber lari2 naik ditangga, begitu lekas sampai diatas, segera ia kata dengan nyaring “Benar2 aneh! Inilah lelucon yang aku belum pernah alami! Eh, Tan Jie, dasar kita yang lamur….” Rupanya tukang tenung itu ada kenal baik tuan tetamu kita dan dia asyik berguyon! Jangan kau jangan terima pembayaran lagi dari tuan ini, semua2 sudah dibayar oleh sinshe tadi !”

Jongos itu melengak, tidak terkecuali Eng Jiauw Ong, Kam Houw dan Hee houw Eng, hingga mereka semua awasi jongos yang baharu naik itu.

“Jangan Berisik, mari!” Eng Jiauw Ong lantas memanggil. Ia tak kasi dirinya dipengaruhi oleh kejadian aneh itu. “Coba kau terangkan duduknya hal. Siapa yang bilang aku knal baik sin she itu ?”

“Ah tuan, kau jail sekali!” sahut si jongos itu. “Sin she itu pintar sekali bersandiwara! Kau telah bertengkar, kau telah bertempur akan akhirnya sinshe itu bayar semua2! Adalah kami yang lacur kena kau permainkan! Kau berpura2 berkelahi tetapi yang celaka adalah aku. Coba tuan lihat mukaku ini!”

Dan ia unjukkan mukanya yang lecet.

“Sudah, kau jangan omong saja!” Eng Jiauw Ong memotong. “Tentang dia sahabatku atau bukan, nanti saja kita bicarakan pula. Sekarang kasi tahu aku, sinshe itu sudah pergi atau belum? Bagaimana dia membayarnya?”

Jongos itu lihat orang seperti gusar, dia tidak berani membanyol pula.

“Dia sudah pergi, tuan,” sahut ia dengan cepat. “Tadi baharu saja aku turun lantas majikan panggil aku untuk ditanya kejadian diatas loteng. Aku terangkan segala apa dengan jelas. Majikan bilang syukur kalau tidak ada kerusaan hebat. Dia bilang, si sinshe sudah pergi setelah bayar semua, sedang kelebihannya serenceng dari lima ratus chie, dia presenkan kepada kami bertiga. Majikan kata, sinshe itu menerangkan bahwa tuan, Ong Loosoe, sedang sinting, karena mana loncat turun dari jendela. Syukur dia tidak jatuh mampus, ia tidak berani naik lagi keloteng, ia hendak berangkat lebih dahulu. Tapi ia meninggalkan sepotong surat untuk Ong loosoe. Ia pesan, biarlah mereknya dititipkan dahulu disini, lain hari ia nanti datang pula untuk mengambil nya.”

Sembari mengucap demikian, jongos itu angsurkan surat yang ia maksudkan.

Eng Jiauw Ong menyambuti seraya segera lihat alamatnya “Kepada Loosoe Ong Too Liong yang terhormat.” Ia lantas sobek sampulnya, akan tarik keluar sepotong kertas, hingga ia lantas dapat baca bunyinya “Hormat nya Hio coe Ouw Giok Seng dari Lwee Sam Tong dari Cap jie Lian hoan ouw.” Ia sebenarnya heran tetapi surat itu ia lantas kasi masuk kedalam sakunya, sambil bersenyum ia kata pada jongos itu “Benar2 aku tidak ingat pada kawan sendiri! Dia memang gemar sekali bersenda gurau! Aku ketahui sinshe itu pada belasan tahun yang lampau, ketika bertemu dirumahnya satu sahabat, melainkan itu waktu kami tidak berbicara satu dengan lain. Sekarang aku bertemu dia disini, dia sengaja main2. Aku menyesal, karenanya kami jadi bikin pusing pada kau sekalian ”

Setelah berkata begitu, ia keluarkan uang dua tail dari sakunya, ia sodorkan itu pada si jongos seraya tambahkan “Ini dua tail untuk kau pergi minum arak!”

Jongos itu dan kawannya jadi girang sekali, hingga mereka anggap, bolehlah mereka diganggu, penggantian itu lebih daripada memuaskan mereka. “Tuan, kau baik sekali!” Kata dia. “Sudah si sinshe keluarkan uang, kaupun rogo sakumu pula. Terima kasih, tuan, terima kasih banyak2!”

“Jangan bilang terima kasih, tidak apa,” kata Ong Too Liong. “Tolong serahkan mereknya si sinshe kepadaku, aku hendak bawa itu untuk dikembalikan padanya.”

Jongos itu tidak keberatan akan serahkan merek itu walaupun si sinshe sendiri menitipkannya.

Eng Jiauw Ong loloskan merek itu dari galah kecilnya, ia lipat, ia masukkan kedalam saku.

Ketika itu sudah tengah hari, tetamu lainnya mulai datang saling susul, ia lantas ajak tiga kawannya meninggalkan Bong Kang Lauw, akan jalan disepanjang jalan besar, terus sampai disatu tempat yang sepi. Disini dua saudara Kam dan Hee houw Eng tak dapat bersabar lagi. Sedari tadi mereka memang ingin sekali ketahui, siapa si sinshe khoamhia dan apa yang dia itu tulis dalam surat nya. Lantas mereka tanya ketua nya, sinshe itu sebenarnya siapa.

“Hal adalah diluar sangkaan kita,” jawab Eng Jiauw Ong. “Ouw Poan Thian itu adalah Hio coe Ouw Giok Seng dari Lwee Sam Tong dari Cap jie Lian hoan ouw dari Hong Bwee Pang. Dibawahnya Liong Tauw Pang coe, dia adalah salah satu dari tiga pemimpin yang paling berkuasa dalam rombongan mereka itu. Lwee Sam Tong dari Hong Bwee Pang itu adalah Thian Hong Tong, Ceng Loan Tong dan Kim Tiauw Tong. Mereka adalah orang2 pilihan dari seluruh to coe, yang terpilih oleh Boe Wie Yang sendiri, dari itu bisa dimengerti jikalau Ouw Tio coe semua ada punya kepandaian silat yang istimewa, yang melebihi kebanyakan orang lain. Ouw Hio coei sampai muncul sendiri, ini menyatakan yang Boe Wie Yang kerahkan seantero tenaganya untuk menghadapi kita. Kita sekarang harus waspada, sama sekali tak dapat kita memandang enteng kepada mereka itu.”

Kam Tiong bertiga tercengang. Tidak heran kalau Ouw Poan Thian demikian liehay, kiranya itu ada salah satu hio coe, pemimpin besar dari Cong to, Pusat Umum, dari Hong Bwee Pang.

Eng Jiauw Ong melihat Hee houw Eng sudah terlepas dari pengaruh susu macan, lantas sembari jalan, ia kasi nasihat pada pemuda itu agar lain kali kendalikan diri, jangan ia sembrono dan lancang minum arak, karena arak bisa merugikan diri sendiri dan terutama menggagalkan urusan besar.

Pemuda itu insaf kesalahannya, memohon maaf, ia mengucap terima kasih buat nasihat itu.

Selama itu mereka sudah jalan sampai diluar dusun dari pelabuhan Bong kang. Diluar sangkaan mereka, mereka dapati tempat ada permai, sawah2 ke hijau2an dan dikejauhan, puncak nya gunung Gan Tong San seperti saling susun. Sungainya mengalir laksana seekor naga perak, yang airnya mengalir juga kearah sawah2. Disekitar gunung, yang seperti terkurung sungai, kelihatan kain2 layar, suatu tanda dari ramainya perhubungan dimuka air.

Eng Jiauw Ong menghampirkan satu tukang air teh, yang bergu  jalanan. kecil   ditepi   jalan,   untuk   menanyakan Tukang air teh itu mengawasi dahulu, baharu ia menyahut “Jikalau tuan hendak pesiar di Gan Tong San, baiklah dari sini menyewa kereta ke Ngo liong peng, disana pemandangan adalah paling indah. Tuan bisa juga sewa perahu akan tetapi perahu mesti mutar keujung Pak Nia, bukit sebelah Utara. Tak menarik berpesiar dengan sia2kan waktu….”

Eng Jiauw Ong tidak perhatikan jawaban itu, ia sudah berjalan terus ketika mendadak ia memutar tubuh dan tanya pula “Apakah kau tahu dimana letaknya Hoen coei kwan?”

Orang itu melengak.

“Oh, Hoen coei kwan?” kata ia, suaranya tak tedas. “Aku tak ingat jelas, boleh jadi didekat gunung sana. Baik kau tanya saja tukang kereta ….”

Eng Jiauw Ong bisa menduga orang itu bukannya tak tahu hanya takut, dari itu, ia berjalan terus. Ia jalan sampai ia melihat serombongan belasan tukang sewa keledai. Yang aneh adalah belasan keledai mereka itu semua hitam warna bulunya, hitam semua. Tukang2 sewakan keledai itu berumur antara dua puluh lebih sampai empat puluh lebih, mereka tengah bersenda gurau dengan asyiknya.

“Sudah, jangan memain saja ada tetamu!” kata satu orang apabila dia lihat Eng Jiauw Ong berempat.

“Tuan hendak pesiar ke Gan Tong San?” menegur satu tukang keledai. “Silahkan naik keledai! Sewanya murah jalannya cepat keledainya pun pandai pula jalan ditempat bagaimana berbahayapun, tak usah tuan turun dan berjalan kaki. Dilain terapat tak dapat tuan sewa keledai seperti disini. Keledai kami semua tahu jalanan, malah bisa juga jalan diatas jembatan sebatang, dengan kedua matanya ditutup dia bisa jalan terus!”

“Dia tidak boleh dilayani,” pikir Eng Jiauw Ong, yang melihat orang pandai bicara, dan bicara nya pun melebihi batas agaknya.

“Keledaimu demikian liehay, sungguh langka!” kata Hee houw Eng. “Menurut katamu, walau keledaimu tak dapat dikatakan keledai sakti, sedikitnya dia ada keledai nabi! Coba kau persembahkan keledaimu kepada Sri Baginda Raja, pasti kau akan pangku pangkat!”

Kam Tiong dan Kam Houw tertawa. Si tukang keledaipun turut tertawa.

“Kau bisa sekali menyindir, tuan!” kata dia. “Jikalau aku sanggup menjadi pembesar negeri, tak nanti aku hidup begini menderita…. Apakah tuan2 hendak pesiar ke Gan Tong San?”

Eng Jiauw Ong awasi Hee houw Eng, ia kata “Tak biasanya aku tunggang keledai. Jikalau diadu, keledai pun tak dapat lari sekuat manusia ”

“Katanya keledai mereka cerdik,” Hee houw Eng kata. “Jangan kuatir, kepandaian lain aku tak punya, tetapi mengendalikan keledai binal, aku sanggup!”

Lantas ia tanya harga sewanya kepada tukang keledai. Kam Tiong dan Kam Houw akur, ditempat demikian,

mereka senang menunggang keledai. Merekapun tidak tahu

berapa jauh jalan yang akan dilampaui. Mereka lantas mendekati tukang keledai itu.

“Kami nanti pilihkan keledai nya,” kata si tukang sewakan keledai.

“Bukankah kau bekerja sama2?” Hee houw Eng tanya. “Benar. Keledai kami yang mana pun, ada sama saja.”

Hee houw Eng pilih seekor untuk Eng Jiauw Ong, tetapi diam2 ia kata pada dua saudara Kam “Kau pilih sendiri masing2, aku tak campur tahu, kau mesti terima untung kepada pilihan sendiri.” Dalam hatinya, dua saudara Kam berkata “Masa bodoh!

Toh bukan kau yang pilih!” Dan mereka lalu memilihnya.

Hee houw Eng telah pilih seekor keledai yang nampaknya gagah sekali.

“Jangan pilih ini, tuan, aku tak tanggung,” kata si tukang keledai. “Keledai ini sangat keras larinya, jangan kau gunai cambuk terhadapnya, kalau kau mencambuknya, dia bakal kabur, tak dapat kau tahan dia, atau kau bakal kena dibikin diyatuh…Dia baharu akan berhenti kabur sesudah dia sampai ditempat tujuannya. Baik tuan pilih yang lain ”

“Aku tidak takut,” kata Hee houw Eng dengan jumawa. “Kau juga jangan takut, tidak nanti kami bawa kabur keledaimu ini. Kami nanti tunggui kau di Ngo liong peng.”

“Tuan2 hendak pergi ke Ngo Hong peng, itulah bagus.” kata tukang keledai itu. “Tempat hentian kami memang di sana. Belasan keledai kami ini, walau dikemplang sampai matipun tidak akan pergi sendiri kelain tempat. Disana tuan lakukan pembayaran pada kawan kami, jangan kuatir tuan nanti dimintakan lebih. Kami ada punya aturan sendiri.”

“Kalau aku membayar kurang, apakah kawanmu disana ketahui? Apa keledaimu bisa bawa kabar? Apa kawanmu disana mengerti bahasanya keledai?” tanya Hee houw Eng.

“Ah, tuan, kau memaki kami! Sekejab saja kami semua jadi binatang! ”

“Bukannya begitu, tetapi aku heran karena dengar omonganmu…”

“Omong saja tak ada bukti nya, nanti sesampainya disana, tuan akan ketahui sendiri,” terangkan si tukang keledai. “Um uua kami minta lebih, ataupun luiiang, tuan boleh ambil keledai .ini inil” “Jikalau benar katamu, aku akan bayar dua lipat!” Hee houw Eng bilang.

“Cukup, tuan!” kata tukang sewakan keledai itu.

Eng Jiauw Ong, yang sudah mulai bertindak, mendengar pembicaraan mereka.

“Kau kena terpedaya!” kata Ia pada Hee houw Eng.

Hee houw Eng berdiam, ia merasa aneh. Ia naik atas bebokong keledai pilihannya.

“Apa Hoen coei kwan terletak liat Ngo liong peng?” tanya ia dengan acuh tak acuh. “Pernah aku pergi kesana dengan ambil jalan air, tetapi sekarang aku tak ingat lagi ”

Tukang menyewakan keledai itu tercengang.

“Hoen coei kwan?” dia ulang. “Oh, jauh sekali! Untuk pergi kesana, tak dapat dengan jalan darat, mesti dengan naik perahu… Aku belum pernah pergi kesana ”

Dia menoleh kepada kawan2nya dia buat main bibirnya. Hee houw Eng jalan terus akan susul tiga kawannya.

Semua leher keledai disini digantungi kelenengan, sembari berjalan alat itu perdengarkan suaranya tak hentinya. Semua mereka bisa jalan cepat, malah nampaknya kenal benar jalanan. Tak ada satu tukang keledai itu yang mengikuti mereka.

Eng Jiauw Ong berempat tidak mengenal jalanan, mereka antap keledai jalan sendiri. Untuk mereka, gunung Gan Tong San ada jadi pedoman.

Setelah lewat sedikit jauh Eng Jiauw Ong kata pada Hee houw Eng “Kau sudah biasa merantau, kenapa kau tak tahu akalnya si tukang sewaan keledai?”

Mukanya tee lie houw menjadi merah. “Benar2 tee Tcoe tak tahu Po coe,” ia menyahut.

“Tentang jumlah uang sewaan itu, mereka bikin tanda ditali les atau lainnya yang kita sukar cari, atau kalau toh kita bisa dapatkan, kita tak dapat terka artinya," terangkan ketua itu. "Di Utara atau di Selatan demikian memang kebiasaan kaum mereka.”

“Terima kasih, po coe,” kata Hee houw Eng. “Bagaimana sekarang tentang Hoen coei kwan? Kita tanya2 orang tetapi semua menjawab tak tahu atau orang agaknya tak sudi memberi keterangan. Tee coe percaya, rupa nya pengaruh Hong Bwee Pang disini ada sangat besar ”

“Untuk dapat mengetahui dimana letaknya Hoen coei kwan, kita harus berdaya sendiri. Aku percaya Hoen coei kwan ada sarangnya Cap jie Lian hoan ouw. Kelihatannya, makin banyak kita tanya orang, makin banyak orang curiga.”

Mereka berjalan terus, antaranya dijalanan yang buruk, dan beberapa kali mereka menyeberangi jembatan sebatang, atau jembatan kecil, benar saja keledai bisa lewat dengan tak kurang suatu apa.

“Nyata tukang sewakan keledai itu bukan omong besar belaka,” kata Kam Tiong pada Hee houw Eng.

Setelah jalan lima atau enam lie, rombongan ini menghadapi sebuah kampung yang dikurung sebuah kali, diluar dusun ada terdapat banyak pohon murbei dan jie. Tiga orang kelihatan bercokol sedang berangin dibawah sebuah pohon.

Hee houw Eng lintasi jembatan dikali itu, tetapi ia tidak memasuki dusun hanya berjalan ditepinya. Kebanyakan dialah yang jalan dimuka, karena keledainya ada yang tergesit. Ia sangat sengit terhadap keledai itu, yang ada kalanya, disabat tak mau lari, diantap dia kabur.

“Aku nanti hajar kau, baharu kau ngerti!” kata Hee houw Eng pada keledainya, yang kembali mau ngadat, maka sembari lewat, ia samber patah secabang yanglioe untuk dijadikan cambuk.

Keledai itu benar bandal, dia loncat dan lari, tanpa dapat ditahan.

“Benar2 kurang ajar binatang ini!” berseru Hee houw Eng. Dan ia menyambuk.

Keledai itu loncat berdiri, kedua kakinya diangkat naik, karena kesakitan dicambuk dua kali. Dia lari berputaran, berulang2 dia perdengarkan suara keras. Hee houw Eng cekal keras lesnya, ia menghajar pula. Keledai itu kemudian lari kearah Timur. Justeru itu ia dengar tindakan kaki binatang dan kelenengan, waktu ia menoleh, dari mulut dusun kelihatan lari keluar seekor keledai belang hitam putih, pakaiannya reboh, dan penunggangnya ada satu nyonya umur kira2 tiga puluh tahun, romannya cantik, kepalanya di bungkus saputangan yang ujungnya ditekuk lepit merupakan kupu2, bagian belakangnya diantap terlepas panjang, pakaiannya ada baju dan celans sutera biru. Dibebokongnya ada tergendol satu bungkusan, yang terang mesti senjata adanya. Dengan tangan kiri ia menyekal les, dengan tangan kanan ia ayun cambuknya.

Dimatanya Hee houw Eng, nyonya muda itu ada satu bunga berjiwa atau tukang main dangau. Menyolok adalah pakaiannya yang menyalahi iklim.

Selagi mereka berdekatan satu dengan lain, nyonya itu lirik Tee lie touw, si Peta Bumi, matanya bersinar galak. Hee houw Eng niat menahan keledainya, tetapi apamau nyonya itu telah dului melewati padanya, hingga sekarang ia mesti menyual. Nyonya itu berpaling dan meliuk padanya, kemudian dia larikan keledainya kejalan kecil di desa bagian Timur. Ia kagum melihat pesatnya larinya keledai itu dan nyonya itu agaknya pandai sekali menunggang keledai itu. Tempo ia mencambuk keledai nya yang ia belum kenal adat itu lantas keledainya berlompat, sampai hampir saja Tee lie touw    dibikin terlempar. Ia gusar akan dapatkan keledai itu berloncatan dua tiga kali, lantas ia menyabet tiga kali, atas mana, binatang, itu tidak lagi berloncatan hanya dia kabur, ke tempat dimana ada pepohonan, Hee houw Eng mendongkol berbareng ibuk. Jikalau ia dibenturkan pada pohon, celakalah ia. Maka untuk tolong diri, sengaja tarik sebelah les, hingga satu kali, si keledai sendiri yang terjang pohon,hingga binatang itu berhenti berlari.

Justeru itu Eng Jiauw Ong dan dua saudara Kam dapat mengetahui. Dua saudara Kam tertawa melihat apa yang dialami oleh temannya itu.

“Apa aku kata!” kata Eng Jiauw Ong “Aku hendak jawab kau pandai sewa keledai. Aku takutkan kau nanti dibikin celaka binatang ini. Kalau binatang ini terluka, yang punya tentu minta semua ganti kerugian! Sudah, kau turun, mari kita jalan kaki saja!”

Hee houw Eng telah mandi keringat.

“Po coe, binatang ini sedang ngadat,” kata ia. “Dia mesti di ajar adat, supaya dia menjadi jinak.”

Eng Jiauw Ong pun melihat, binatang itu beroman binal. “Nah, kau hati2lah, kami bertiga jalan lebih dahulu,”

kata ia kemudian. Hee houw Eng ditinggalkan untuk dia layani keledai yang ngadat itu. Tapi Eng Jiauw Ong bertiga jalan pelahan2. Hee houw Eng lihat keledainya telah mandi keringat dan mulutnya berbusa. Itulah tanda binatang itupun telah lelah ini ada baik nya, sebab selanjutnya, keledai itu tidak terlalu binal lagi.

Hee houw Eng melihat kejalan kecil, ia awasi juga Eng Jiauw Ong bertiga, setelah mana, ia larikan keledainya kejalan kecil, untuk susul si nyonya muda. Dengan cepat ia dapat lihat nyonya itu. Tetapi keledainya, beberapa kali masih tabrak tubruk pohon.

Tidak lama keduanya sudah jalan dekat satu dengan lain. Si nyonya muda saban2 menoleh dan mainkan matanya yang tajam pada pemuda dibelakangnya ini, hingga Hee houw Eng percaya betul, ia sedang berhadapan dengan seorang perempuan nakal.

“Dia bukan orang baik2, tidak ada halangannya untuk aku main dengan dia,” pikir Tee lie touw. Tapi selagi ia memikir, tiba2 keledainya berlompat, maka tidak tempo lagi ia rubuh. Tetapi ia ada sangat gesit, lekas juga ia lompat pula loncat naik kebebokongnya keledai itu.

“Bagus!” tertawa si nyonya muda.

Mendongkol Hee houw Eng, mendongkol kepada keledainya, kepada si nyonya muda juga, tetapi ia tak sempat berpikir lama, ia lantas coba susul nyonya itu, yang keledainya sudah lari meninggalkan dia. Dalam sengitnya. dia kata “Aku mau lihat, kau hendak lari kemana!”

Sementara itu Eng Jiauw Ong dan dua saudara Kam terlihat disebelah kiri, ditepi empang, mereka menjalankan keledainya pelahan2, rupanya mereka sedang menunggui. Adalah selagi si nyonya muda menuju ketepi empang, mendadak Eng Jiauw Ong memasuki rimba dimana ada sebuah jalan kecil.

“Heran,” pikir Hee houw Eng “Apa po coe salah ambil jalan? Mustahil ”

XLIV

Selagi Tee lie touw pikir untuk susul ketua itu, ia lihat dua saudara Kam dengan banyak susah memaksa keledai mereka ikuti ketua itu. Iapun lantas lihat si nyonya muda sampai dijalanan mulut rimba itu, dan jalan terus lempang saja.

Dengan berpikir keras Hee houw Eng berjalan terus. Ia pikir akan tanya keterangannya ketua itu. Justeru ia sampai dimulut jalanan kecil, Kam Tiong muncul didepannya seraya mendahului berkata “St! jangan bicara keras! Po coe suruh kau kuntit perempuan itu, jangan bikin dia lolos. Dia adalah Lie touw hoe Liok Cit Nio, yang lolos dari Liok kee po. Dia tak kenal kau, baik kau dayakan supaya dari mulutnya, kau ketahui letaknya Cap jie Lian hoan ouw. Hati2 agar dia tidak curigai kau.”

Hee houw Eng heran, ia menoleh pada si nyonya, yang baharu saja membiluk.

“Kalau begitu, tak tahu aku kemana aku bakal sampai,” kata ia pada Kam Tiong.

“Kami akan singgah di Ngo liong peng, maka kau, berhasil atau tidak, perlu kau kirim kabar kepada kami disana,” Kam Tiong bilang.

“Baiklah! Kasi tahu po coe, aku tak akan bikin dia lolos,” Lantas Tee lie touw melarikan keledainya akan susul si nyonya, sedang Kam Tiong pun terus susul ketua dan saudaranya.

Sesampainya Hee houw Eng di tikungan tadi, dari situ ia dapat lihat si nyonya muda didepan kembali kasi keledainya berjalan pelahan2.

“Nyata mataku tak salah lihat, kiranya dia si perempuan cabul....” kata pemuda ini dalam hatinya. “Sekarang aku boleh tak usah ragu2 lagi ”

Ia lantas menyusul, hingga sebentar kemudian keduanya sudah datang dekat pula satu dengan lain. Tetapi nyonya itu tidak pernah melirik lagi, malah sambil mengawasi kelain arah, terdengar oceannya sendiri “Ah, binatang, kenapa kau tidak mau dengar kata? Jangan binal, atau aku nanti keset kulitmu! Hati2, jangan bikin nyonyamu gusar! Kau nanti merasakan jikalau aku sudah masukkan kau kedalam kwali air panas!”

Mendengar demikian, Hee houw Eng tepuk leher keledainya dan berkata dengan nyaring “Binatang, oh makluk rendah! Jikalau kau main gila pula, aku nanti kasi rasa padamu! Lihat saja, apabila aku senang, aku akan bikin kau senang, kalau tidak, tak nanti kau dapat rumput! Aku nanti cangcang padamu, hingga sekalipun rumput hutan, kau tak akan dapat makan!”

Habis mengucap demikian, ia tertawa dingin.

Nyonya itu menoleh, matanya terbuka lebar, lalu ia berjalan terus. Baharu lima enam tindak, ia tahan keledainya, mulutnya mengucap “Ah, ikat pinggangnya kendor ” Dan ia loncat turun.

Kerena orang berhenti, keledainya Hee houw Eng datang mendekati dengan lekas, justeru kepala keledainya mendekati ekornya keledai si nyonya, sekonyong2 nyonya itu loncat naik ke atas keledainya sambil berseru. “Jalan!” cambuknya pun diayun, untuk dibunyikan. Karena ini, sebab mereka terpisah dekat satu dengan lain, belakang kupingnya Tee lie touw kena kecambuk hingga balan.

“Manusia buta!” berseru Hee houw Eng dengan gusar. Nyonya itu kabur dengan keledai nya, tak sekali juga ia berpaling.

“Kurang ajar!” Hee houw Eng berseru pula, sekali ini ia lantas mengejar.

Maka keduanya menjadi seperti balap.

Gan Tong San nampaknya jadi semakin dekat, tinggal sepuluh lie.

Selagi Hee houw Eng hampir menyandak, Cit Nio kelakuan keledainya lebih keras hingga kembali mereka terpsah cukup jauh. Selagi begitu, Hee houw Eng pun terperanjat. Ia melihat jalanan yang diambil bukannya menuju ke Ngo lion pang. Ia bingung. Kalau ia mengeyar lebih jauh, bagaimana nanti ia bisa menyampaikan kabar ke ketua nya? Iapun dipesan jangan mengasih lolos si nyonya itu ….

Tujuannya si nyonya muda ada arah Barat-Utara, menghampiri sungai yang menu ke Barat yang makin jauh jadi makin lebar, kendaraan air Nampak makin banyak. Disebelah depan ada lagi jalan persimpangan, satu ke Timur-Utara, rupanya untuk ke Ngo liong peng, dan yang satunya ke Barat-Utara, entah kemana jalan air ke Barat. Itu terang ada untuk Pak Nia, bukit Utara dari Gan Tong San. Dijalan Barat-Utara menuju ke sebuah dusun besar.

Ada lagi yang bikin Hee houw Eng bingung. Sampai disitu, keledai nya tidak mau berjalan lebih jauh. Keledai itu tetap berdiam walaupun dia dicambuk, dia tadi nya mau bertindak kearah Ngo liong peng. Jadi benar katanya si tukang sewakan keledai, binatang nya itu pintar, tahu jalanan. Dahinya Hee houw Eng bermandikan keringat. Selagi bingung ia melihat Cit Nio sudah sampai dimukka dusun. Karena ia percaya nyonya itu hendak singgah, ia dapat harapan, ia menjadi girang. Lantas ia berloncat turun dari keledainya, akan tuntun binatang itu. Ia terus awasi si nyonya muda dari keledainya, ia tuntun binatang itu.

Liok Cit Nio kelihatan turun. Lantas ia loncat turun dari keledai kesebuah warung arak. Dari warung itu muncul satu boca umur kira2 lima belas tahun, yang kuncirnya ngacir, dia menyambuti keledainya si nyonya, atas mana nyonya itu bertindak kesebuah rumah makan diluar dusun, ditepi sungai.

“Satu tempat bagus untuk musim panas,” pikir Hee houw Eng.

Ruangan rumah makan ada luas, dari situ orang bisa memandang kesungai dimana tertampak pelbagai perahu, juga parahu2 kecil, mundar mandir. Merek rumah makan itu “Geng Coen,” artinya, menyambut musim semi.

Hee houw Eng segera mengambil keputusan. Ia masuk ketempat lebat, lalu ia menyalakan api cian Lie hwee, untuk membakar cabang itu, hingga dilain saat ia dapat dua batang potlot. Ia keluarkan selembar kertas dari sakunya, ia bentangkan itu dan menulis, untuk Eng Jiauw Ong, untuk kasih keterangan hal ia sedang menguntit terus si nyonya muda. Setelah lepit rapih surat Itu, ia selipkan digelang. Kemudian ia rapihkan les. Akhirnya, dengan satu tepukan keras pada bebokong keledainya, ia kaburkan binatang itu kearah Ngo liong peng. Setelah itu, dengan tindakan tenang, ia menuju kedusun. Ia lihat keledainya si nyonya masih diangon diluar dusun itu. “Aku numpang tanya, tempat ini apa namanya?” ia tanya si boca, sesudah ia datang dekat. Ia tampak orang agaknya cerdik. “Berapa jauh dari sini ke Ngo liong peng, Gan Tong San? Apa disini ada pondokan?”

“Tempat ini dipanggil Hong hong toen,” boca itu menjawab apabila ia sudah awasi orang yang tanya ia. “Untuk pergi ke Ngo liong peng ada jauh, jalannya mutar. Jalanan ini untuk ke Pak Nia, jauhnya tinggal enam lie lagi, apabila kita ikuti kali, kalau lempang, cuma empat lie lebih.”

Hee houw Eng usap2 keledai orang.

“Keledai ini bagus,” kata ia, “pantasnya dia bisa lari cepat, satu hari sampai dua atau tiga ratus lie ”

“Aku tak tahu, keledai ini bukan kepunyaanku,” kata anak itu. “Jikalau tuan hendak cari pondokan, mari aku yang antar, aku tanggung kau tidak kena dipermainkan, tidak akan diketok.”

“Sekarang aku tidak niat singgah, aku hendak cari orang di Gan Tong San, baliknya nanti baharu aku ingin mampir,” jawab nya Hee houw Eng. “Eh, saudara kecil, apa kau tahu jalanan terdekat untuk Hoen coei kwan?”

“Oh, tuan tak niat singgah?” boca itu menegasi, agaknya ia tercengang. “Tuan mau cari orang di Hoen coei kwan?”

Hee houw Eng girang mengetahui orang ketahui Hoen coei kwan.

“Benar,” ia memastikan. “Dimana letaknya Hoen coei kwan?”

“Aku tidak tahu,” jawab boca itu.

Jawaban itu menerbitkan si anak muda heran berbareng kecele, ia jadi mendongkol. “Kau aneh!” kata ia. “Kau sebut Hoen coei kwan, akhirnya kau bilang tidak tahu ”

“Aku cuma dengar saja, aku belum pernah pergi kesana,” menerangkan boca itu. “Harap tuan tak kecil hati, tuan tanya saja lain orang ”

“Jangan gusar saudara, aku sebenarnya sedang sibuk cari orang,” Hee houw Eng putar lagu. “Rupanya Hoen coei kwan ada suatu tempat kecil dan letaknya barangkali didalam gunung…. Keledai ini siapa punya?”

“Satu nyonya, tuan. Di Hong hong toen ini, aku biasa jagai binatang tunggangan dan kereta atau angkuti barang tetamu, siapa senang hati, dia persen aku beberapa boen, atau kalau orang tak punya uang rece, aku pun senang tak peroleh presenan. Karena ini, disini tidak ada yang tidak kenal Ho Siauw pian si kuncir Kecil. Belum pernah aku bikin salah atau bikin hilang barang orang. Nyonya yang punya keledai ini ada didalam rumah makan Geng Coen disana, aku kurap dia sebentar akan upahi aku satu renceng ”

“Aku tidak sangka, kau begini kecil tapi kau cerdik sekali,” kata Hee houw Eng. “Aku telah ganggu tempomu, nah ambil ini dua ratus chie, aku persen padamu”

Boca itu jadi sangat girang, sebab cuma dengan diajak bicara, ia dapat persen. Ia bersenyum berseri2, ia sambuti uang persenan itu, ber ulang2 ia haturkan terima kasih.

“Tuan, silahkan mampir di warung arak sana,” kata ia. “Warung itu kepunyaan paman ku. Sambil beristirahat disaini, aku nanti haturkan kau dua cawan arak.”

Selagi orang ngoce seraya simpan uangnya, diam2 Hee houw Eng keluarkan pisaunya, akan iris ikat pinggang keledai itu, supaya jalan belum ada satu lie, ikat pinggang itu akan putus sendirinya. Ia memang berdiri disamping keledai, iapun bekerja sangat cepat, tanpa terlihat oleh si boca.

“Kau baik sekali, saudara kecil. Aku memang niat minum teh. Kau tak usah perdulikan aku, pergi tunggui keledai itu yang harganya mahal, nanti kau dapat upah gede ”

Ia bertindak kemulut dusun, disana ada tiga buah warung arak bergubuk, ia hampirkan satu yang sebelah Timur, yang ada alingannya merupakan selembar kain tebal. Duduk disitu, ia bisa mengawasi kearah Liok Cit Nio tanpa orang bisa lihat padanya.

Warung itu jual teh dan arak, mejanya bersih. Tempat duduk adalah beberapa buah bangku. Diatas meja ada belasan poci dan tehkoan.

Ia minta teh. Kebetulan disitu tidak ada tetamu lainnya, ia ajak tukang warung itu bicara. Kemudian ia tanya apa ada jalanan untuk memasuki gunung Gan Tong San.

Tukang Warung itu cuma menerangkan jalanan ke Ngo liong peng, Timur dan Utara, mengenai jalanan sebelah Barat ia bungkam, ia simpangkan itu kepada lain hal.

“Bukankah puncak Barat paling indah?” Hee houw Eng ber pura2.

“Katanya sinar fajar dan layung disana paling permai, pemandangan pepohonannya pun menarik hati. Sayang aku tak dapat lekas2 sampai disana. Sahabatku bilang, Gan Tong San pun berbahaya tapi disebelah Barat, semua jalanannya rata begitupun jalan tanjakannya. Kau ada penduduk sini, tuan, kau tentu ketahui baik keadaan ditempatmu ini. Dapatkat kau menunjukkan jalan sebelah Barat itu kepadaku?” “Ah, tuan, kau dipermainkan sahabatmu!” kata si tukang warung sambil tepuk2 tangan dan tertawa dengan tiba2. “Jangan kau dengarkan sahabatmu itu! Gan Tong San memang besar dan kesohor, pemandangan alamnya permai, hasil buminya subur, tapi mengenai puncak Barat, kau disesatkan. Keadaan disana justeru paling berbahaya! Kaki Barat dari Gan Tong San terkurung sungai beberapa lie lebarnya, jangankan jalan darat, walaupun menggunai perahu, tak nanti orang bisa manjat disana. Disini semua orang tahu berbahayanya puncak Barat, tak ada orang yang berani mendekati nya ”

Kebetulan waktu itu, didepan gubuk melewat seorang berbaju dan bercelana pendek, bersepatu rumput tanpa kaos kaki, umurnya pertengahan. Melihat orang itu, si tukang warung lantas bungkam. Dan ketika orang mampir, ia lantas menyuguhkan secawan arak.

Hee houw Eng percaya, tukang warung ini ketahui lebih banyak tentang Hoen coei kwan. Iapun menduga, letaknya tempat Itu mesti disebelah Barat. Lantas ia tanya pula “Bukankah letaknya Hoen coei kwan ada disebelah Barat?”

“Ah, tuan, percuma kau menanyakan, tak nanti kau sampai kesana kendatipun kau berangkat dari pagi2! Kenapa cari susah sendiri? ”

Orang itu menyahut dengan ogah2an, air mukanyapun lantas berubah likat.

“Tentu ada hubungannya dengan orang ini,” Hee houw Eng menduga, terhadap orang yang baharu datang itu. Diam ia menyesal. Ia bergelar Tee lie touw, si Peta Bumi, tapi pengetahuan nya tentang ilmu bumi, rendah sekali. Kebetulan, selagi ia berpikir, ia lihat Lie touwhoe keluar dan menggapekan Ho Siauw pian, dan boca itu lantas menghampirkan seraya menuntun keledainya si nyonya. Iapun lihat boca itu dikasih uang persenan. Sebelumnya menunggangi keledainya, si nyonya celingukan seperti mencari sesuatu. Kemudian dia menuju ke Hong hong toen.

“Cuma dua lie kau bisa jalan, selanjutnya kau tak nanti lolos dari tanganku,” pikir Hee houw Eng. “Kecewa aku apabila tak sanggup menguntit kau ”

Lantas ia berbangkit, akan membayar uang teh. Untuk melenyapkan kecurigaan tukang warung itu dan tetamunya, ia jalan pelahan, setelah berada jauh, baharu ia bertindak cepat akan menyusul. Ia dapatkan Hong hon toen ramai, tapi ia tak perhatikan itu.

Ia lewati sebuah hotel, dihotel yang kedua, satu jongos papaki ia akan minta ia singgah, katanya, untuk pesiar kegunung, waktu itu sudah terlambat, digunung tak ada tempat penginapan. Pun katanya, jalanan kegunung masih lima atau enam puluh lie.

Waktu itu Hee houw Eng masih belum melihat Liok Cit Nio, ia ibuk juga. Tapi ia lantas dapat akal.

“Aku memang niat bermalam disini,” katanya. “Aku tidak bersendirian, aku ada punya satu kawan perempuan. Apa kau dapat lihat satu nyonya dengan keledai nya belang? Tadi dia mendahului aku, bisa jadi dia sudah ambil lain hotel ”

“Ya, barusan ada nyonya dengan keledai seperti yang tuan sebutkan, baharu saja dia lewat disini,” sahut jongos itu. “Dia tentu belum lewat jauh ”

“Ya, tentu dia!” Hee houw Eng benarkan. “Kami akan singgah di Hong hong toen ini buat tengok sahabat, lalu kami akan pesiar dua hari di Gan Tong San. Baiklah, aku hendak susul dia, nanti pulangnya kami singgah disini.” Lantas ia bertindak tanpa menunggu jawaban si jongos, ia jalan seperti lari, untuk menyusul Liok Cit Nio. Tidak lama ia telah keluar dari Hong hong toen, ia dapati tanah tegalan yang sepi. Ia lihat gundukan kampung, yang saling terpencil, setiap kampung cuma terdiri dari belasan rumah. Kemudian jauh2 ia lihat si nyonya muda sedang berdiri mengawasi perut keledainya, rupanya ikat pinggangnya binatang itu telah putus. Karena ini, untuk mendekati, ia jalan di balik2 pepohonan, agar ia tak terlihat nyonya itu. 

Rupanya Liok Cit Nio mendongkol sekali, kemudian kelihatan ia jalan sambil menuntun keledainya.

Kira2 seperjalanan dua lie, sang sore mendatangi. Orang2 tani tertampak berjalan pulang ke masing2 rumahnya.

Cit Nio   jalan   terus,   melewati   beberapa   kampung.

Rupanya ia kenal baik tempat itu.

“Aku akan ikuti kau kemana juga kau pergi,” pikir Hee houw Eng, yang menguntit terus. Ia hanya heran, sekarang ia tak lihat puncaknya Gan Tong San. Tapi segera ia merasa, tentunya sudah berada dekat gunung itu, yang teraling dengan pepohonan.

Sekarang jalanan ada buruk. Lagi dua kampung dilewati, lantas Hee houw Eng merasa ia seperti memasuki sebuah kwali. Ia tahu itu adalah suatu lembah. Disitu ada beberapa solokan, malang melintang, beserta jembatannya masing2. Diwaktu magrib, ia tak dapat melihat terlalu jauh. Ia bersangsi tetapi ia maju terus, akan menguntit si nyonya. Ia pun men duga2 mungkin itu ada Cap jie Lian hoan ouw.

Lie touwhoe gampang terlihat, karena bersama ia, ia terus tuntun keledainya. Didepan ada sebuah kali, di pinggirannya setiap setumbak lebih, ada tercangcang sebuah perahu kecil, dan digili2, saban2 ada gubuk dimana kedapatan jaring, jala dan alat penangkap ikan lainnya. Air mengalir ke Barat utara. Semuanya gubuk berjumlah tiga puluh lebih. Selewatnya itu baharulah, jarang2, ada rumah2 gubuk, dan disetiap samping rumah ada empang yang airnya didapat dari kali.

Hee houw Eng menguntit terus sampai tiba2 ia lihat sebuah rumah besar, ya sebuah gedung, yang bertembok kate, yang seperti dikurung pepohonan. Gedung itu madap ke Timur, dibelakangnya berdekatan dengan kali, dimana ada berlabuh dua buah perahu. Didepan ada lima buah pohon hoay yang besar.

Liok Cit Nio berdiri didepan gedung, ia melihat kesekitarnya, lantas ia ketok pintu, yang terbuka dengan cepat, dari dalam muncul seorang lelaki yang sudah tak terlihat nyata romannya. Dia ini menyambuti keledai untuk dituntun masuk. Cit Nio turut masuk juga.

XLV

Hee houw Eng melihat kelilingan, lantas ia maju lebih jauh mendekati gedung itu. Ia perhatikan gedung dan sekitar nya. Disitu tidak ada orang lain, ia bisa memperhatikan dengan leluasa. Ia jalan kekiri dan kanan, samar2 ia mendengar suara orang memanggil. Kemudian ia hampirkan sebuah pohon yang rindang, untuk duduk bercokol menghadapi pintu depan, supaya ia bisa melihat kalau ada orang keluar masuk. Sambil berduduk, ia beristirahat, tetapi otaknya tetap bekerja, menduga2 gedung itu gedung siapa, kenapa dibangunnya mencil sendirian ditempat sunyi itu. Hartawan siapa sudi tinggal disitu? Kenapa Cit Nio bisa masuk dengan gampang? Kalau itu bukan suatu sarang Hong Bwee Pang, itu mesti ada gedung orang2 jahat.

Kira2 jam dua, diwaktu mana pikirannya pun sudah tetap, Hee houw Eng bangkit berdiri untuk rapikan pakaiannya, dibikin singset, dengan golok menggemblok dibebokong ia hampirkan gedung. Karena keadaan tetap sunyi, ia terus loncat naik keatas tembok. Disini ia pasang kuping dan mata, ia tampak banyak pohon cemara. Ia dapatkan rentetan rumah kate, rupanya jelek. Untuk loncat turun kedalam, lebih dahulu ia menimpuk ketanah, setelah tidak mendengar gerakan apa juga, baharu ia loncat turun.

Disebelah Timur, dimana ada pintu, ada suara orang. Kesana pemuda ini menuju. Jalanan disitu merupakan gang, panjangnya enam tujuh tumbak. Dikiri kanan pintu besar ada dua kamar samping. Dijendela sebelah utara ada cahaya api, kesitu Hee houw Eng menuju, dimuka jendela sekali, ia pasang kuping. Kebetulan kertas jendela bolong di tiga empat tempat, ia mengintai kedalam.

Tiga orang lelaki berada didalam kamar itu. Yang dua berumur kira2 empat puluh tahun, yang satu masih muda, dua pu luh tahun lebih. Satu yang tua sedang mendongkol, ia obral kemendongkolannya itu kepada si anak muda, yang dipanggil Siauw Han, Han si Kecil, yang ia nasihatkan untuk bersabar dan jangan lancang bicara, sebab, katanya, sulit untuk orang hidup dikalangan kang ouw, sedang ia, ia sudah kenyang makan garam.

“Umpama katamu tadi berhubung dengan datangnya Lie tauwhoe Liok Cit Nio dari cabang Barat di Liang Seng San,” dia tambahkan. “Coba ada kawannya yang dengar, kau bisa terancam bahaya kematian. Kegenitan dan kecabulannya Liok it Nio sudah kesohor sekali, mustahil tak ada hio coe kita yang mengetahuinya, akan tetapi tetap malang melintang, itu terbukti dia mempunyai tulang punggung yang kuat. Kau lihat juga Siang tauw niauw Kiang Hio coe, bagaimana dia gagah, berapa tahun ia telah mengabdi, tetapi dia terbinasa hukum picis! Belum pernah ada lain orang yang terbinasa lebih mengenaskan daripadanya. Inipun mengunjukkan bagaimana, dalam satu hal, aturan perkumpulan telah dijalankan. Kau mengarti sekarang?”

Nampaknya si anak muda itu sangat ketarik.

“Kim Loosoe, kata katamu ini sangat berfaedah untuk aku yang masih hijau,” berkata ia. “Tetapi aku masih muda, adatku keras, apa saja yang rasanya menyolok mata, tak bisa aku diamkan. Lihat saja perkaranya Ciangto Loosoe Tio Goan Kwie dari barisan Kah soet twie dari Cap it to dan Soenkang twie dari Hoen coei kwan, karena mabuk arak, dia hajar Hek Biejin si bungaraya. Itu ada perkara sangat kecil, tetapi ketika urusan sampai di Congto, tak ampun lagi ia dihukum rangket empat puluh rotan, sampai kulit dagingnya pecah dan ber darah2. Karena hukuman itu, Tio To coe dapat sakit, hampir ia tewas karenanya, ini yang dinamai pelanggaran main perempuan. Maka aneh, Lie touwhoe justeru ada merdeka untuk ber genit2an dan bercabulan! Adakah ini adil? Apakah perbuatannya itu tidak memalukan? Bagaimana bila ada musuh yang jail, yang tegur itu kepada Pang coe?”

Mendengar perkataan anak muda ini, yang masih panas hatinya, orang yang ketiga, yang duduk disebelah kanan, menggoyangi tangannya.

“Sudah,” katanya, “sejak saat ini, siapa saja diantara kita, jangan timbulkan pula urusan Liok Cit Nio ini. Kita mesti jaga kupingnya orang2 yang jail. Baiklah kita urus diri masing22 supaya kita tidak lakukan pelanggaran tanpa kita ingin….” Ia lantas tekuk tiga jari telunjuknya, jempol dan tengah, untuk dijadikan huruf “tujuh” (cit), lalu ia tambahkan “Dia ada cabul dan kejam, siapa bentur dia, jiwanya bisa celaka, maka justeru dia tak akan berdiam lama disini, tak perlu kita gubris padanya ”

Berbareng dengan ucapnya itu, pintu Selatan terpentang, hingga sinar api mensorot keluar, disusul berkelebatnya satu bayangan. Saking kesusu, Hee houw Eng mendekam ditanah. Ia tak dapat lagi ketika untuk menyingkir dari bawah jendela. Ia keluar keringat dingin setelah orang itu lewat tanpa mempergoki ia. Setelah ini, ia sangat menyesal yang ia tak punya kepandaian mengentengi tubuh, untuk loncat melesat dengan pesat. Walaupun begitu sesudah orang itu lewat, ia berdiri pula, akan kembali pasang mata dan kuping.

Ia lihat, orang yang baharu masuk itu, berumur kurang lebih tiga puluh tahun, matanya besar, alisnya gomplok, suaranya keras. Dia berkata “Menurut warta dari Hio coe, besok lewat tengah hari akan datang Cee To coe dari pusat di Sam siang, untuk menghadap Pang coe, dari itu, kau nyambut, tak boleh kau bikin gagal.”

Tiga orang didalam itu bangun berdiri, tangannya masing2 diturunkan, tandanya mereka terima tugas dengan cara hormat.

Melihat demikian, Hee houw Eng tidak berani berdiam lebih lama pula dibawah jendela itu, ia lekas2 menyingkir untuk mencegah dirinya kepergok. Ia lompat kepintu Utara, ia tolak itu dengan pelahan, lantas ia ceploskan diri masuk kedalamnya. Ia baharu masuk, atau si orang umur tiga puluh tahun ini sudah keluar pula, maka ia merasa hatinya lega bukan main. Ia sekarang bisa meneliti ruangan dalam dimana ia berada, yalah sebuah ruangan, atau pekarangan dalam, dimana ia dapati dua belas kamar, antara mana, separuhnya ada cahaya apinya yang menembusi jendela. Ia dapat kenyatan bagaimana bedanya gedung ini dengan kebanyakan gedung di Utara.

Dengan hati2 ia hampirkan sebuah jendela, yang ada apinya. Ia mendengar suara orang, ia coba bikin sebuah lobang kecil didaun jendela, untuk mengintai kedalam, sebuah kamar yang besar.

Didalam, selain dua baris, ada lagi dua orang lain. Seorang tua umur lima puluh lebih sedang berduduk, yang satunya lagi berdiri didepannya, antara sebua meja. Dia ini nampaknya gagah matanya tajam. Dia merangkapkan kedua tangannya kearah orang tua itu, ia mengucap sepatah dua kata, atas mana, si orang tua mendelikkan matanya, tangannya menggebrak meja, romannya jadi bengis sekali.

“Hauw Kie, manakah liangsim mu?” demikian dia membentak.

“Kau jadi to coe, bukannya kau bersetia, kau justeru telan uang perkumpulan! Memang aku tahu kau bukannya satu sahabat, melulu sebab sama2 bernaung dibawah bendera Hong Bwee Pang, aku tidak pikir untuk membeber keburukanmu ini! Karena inilah kau anggap aku sebagai Hio coe yang dapat dipermainkan. Berulang ulang kau melakukan korupsi, maka sekarang, kau keluarkanlah itu, supaya urusan jadi beres, supaya aku bisa tutup kebusukanmu! ”

Karena suaranya keras, Hee houw Eng mendengar nyata.

“Nyata mereka sedang bentrok,” pikir ia. “Biar bentrokan jadi hebat, mungkin aku dapat kesempatan turun tangan ”

Orang yang dipanggil Hauw Kie itu tertawa dingin. “Lo Hio coe, sebagai atasan jangan kau tindih sebawahan jangan kau cemarkan aku!” Begitu dia berkata. “Aku hidup dalam dunya kang ouw bukan baru setengah atau satu tahun, pernah aku lihat uang banyak, nah sekali aku kemaruk karena nya. Aku ada lebih berharga dari uang delapan belas ribu tail! Lo Hio coe, kau pandang aku terlalu rendah!”

Lo Hio coe itu menggebrak pula meja, matanya mendelik, menandakan ia sangat gusar.

“Hauw Kie, kau ada jadi boen kang to coe dari Hoen coei kwan, kau mesti taat kepada aturan kita!” ia membentak. “Jikalau kau keluarkan mulut kotor seperti perempuan dusun, awas, kau nanti rasai tangannya aku si orang she Lo. Kau aku darimu laki2, tapi tak bisa kau sangkal ketekoranmu. Kau bawa enam ribu tujuh ratus tail, terdiri dari seratus tiga puluh enam goan po, tapi sekarang bukan nya kau telah telan dua ratus lima puluh delapan tail! Apakah ini namanya satu laki2? Kau suka mengabdi untuk banyak tahun, jumlahnya uang ada kecil, boleh kau tak usah ditarik panjang, hanya aku kuatir, apabila aku diam saja, nanti lain orang lain telad perbuatanmu ini, apabila itu sampai terjadi, celakalah aku si orang she Lo yang jiwanya sudah tua. Tapi aku masih hendak berbuat baik kepadamu. Sekarang kau tutup ketekoranmu semua, lantas aku tutup mulut, aku percaya lain orang tidak nanti berbuat usilan. Aku janji tidak akann timbulkan pula urusan ini. Umpama kau berlaku licin, Hauw Kie, awas, terpaksa aku jalankan aturan!”

Dari suaranya, Lo Hio coe ini seperti menyayangi Hauw Kie, akan tetapi ia bicara dimuka orang banyak, ia seperti bongkar kejelekan orang, hingga orang bisa dapat anggapan buruk terhadap dirinya. Dari itu, Hauw Kie jadi gusar. “Lo Hio coe, kau simpanlah kebaikan hatimu!” kata ia seraya perdengarkan suara dihidung. “Aku Hauw Kie bukan boca umur tiga tahun yang tak mengerti tipu muslihatmu ini, membunuh orang tanpa mengucurkan darah. Aku masuk dalam kalangan kang ouw sejak umur tujuh belas, aku ada satu laki2 apa yang aku kerjakan, apa yang aku katakan, aku berani pikul tanggang jawabnya. Sedikitnya aku sudah punyakan pengalaman belasan tahun, hingga aku sudah mengerti segala apa. Aku tahu kau memang sangat benci aku, kau tak berdaya untuk melampiaskan itu, sekarang kau mencoba memfitnah aku, supaya kau bisa cabut paku dimatamu! Tentu saja kau keliru. Kecewa kau menjadi satu Hio coe, satu sahabat kau pandang sebagai satru. Aku telah dengar apa yang umum katakan, aku sampaikan itu kepadamu. Keponakanmu, Lie touw hoe Liok Cit Nio, namanya berbau busuk sekali, maka kau sebagai paman mesti lekas kendalikan padanya, supaya dia tidak jadi semakin binal, sebab bila dia diantapkan saja, perbuatannya bisa merusak nama baiknya Hong. Bwee Pang kita. Jikalau itu sampai terjadi, Hio coe, bisakah kau mengangkat kepalanmu? Aku tidak sangka, maksud baikku kau anggap sebagai hinaan terhadapmu, kau gunai itu untuk membalas dendam. Apa yang akan terjadi malam ini, siang2 aku telah duga, tetapi jikalau kau hendak celakai aku si orang she Hauw, aku tak puas, tak nanti aku mau menyerah! Kau tuduh aku menggelapkan uang perkumpulan, aku tak senang! Nah, sudah, tak perlu kita banyak omong lagi, nanti saja di Pusat Umum kita bikin perhitungan!”

Lo Hio coe itu gusar hingga ia berteriak.

“Ha, kau pandang aku tak berkuasa? Kau berani sangkal kecuranganmu? Semua uang aku telah timbang, kau menyangkal! Kau benar terlalu berani! Jikalau aku tidak kasi rasa padamu, percuma perkumpulan ada peraturannya! Hayo, lekas atur meja sembahyang!”

Hio coe ini hendak berbangkit ketika orang2 dikiri kanan, semua to coe, mintakan keampunan bagi Hauw Kie, siapa sebaliknya tak takut, malah dengan nyaring dia berkata “Kau jadi Hio coe, kau tidak adil! Melulu karena membelai sanak, kau tak hargai lain orang. Aku mendapat belas kasihannya Liong Tauw Pang coe, maka orang sebagai kau, tak sudi aku layani lebih lama! Kau tuduh aku korupsi uang perkumpulan, baik, di Pusat Umum nanti kita bereskan itu! Nah, aku pergi!”

Lantas Hauw Kie putar tubuhnya, untuk berlalu dari ruangan itu.

Lo Hio coe gusar hingga ia berbangkit seraya dengan kedua tangannya menolak meja hingga meja itu jadi terbalik, perabot tulisnya dan lain2 pada jatuh berarakan.

“Tangkap padanya!” dia berteriak, dengan titahnya. “Siapa kasih dia lolos, aku anggap dia sekongkol!”

Dipintu ada empat penjaga, mereka lantas menghalau.

Tetapi mereka sangsi untuk turun tangan.

“Kau berani langgar perintah?” Lo Hio coe tegur mereka itu. “Tangkap padanya!”

Hauw Kie tertawa dingin.

“Kau jangan jadi rase yang menggertak bagaikan harimau!” kata ia. “Aku telah saksikan gunung golok dan rimba pedang, tak nanti aku si orang she Hauw angkat kaki! Jikalau aku mau pergi, tidak nanti kau mampu mencegah. Kau ada jadi Hio coe, kau pegang kekuasaan, akan tetapi aku ada punya dosa besar bagaimana maka kau berani hendak lancang mengatur meja sembahyang untuk memeriksa aku? Tapi hayolah, kau hendak bunuh aku atau tidak, terserah, jikalau aku kerutkan saja dahiku, kau boleh anggap aku rubuh ditanganmu!”

Dan ia segera kebelakangkan kedua tangannya.

Empat pengawal itu lantas maju akan telikung to coe she Hauw ini, sedang meja lantas ada lain orang yang angkat bangun, akan diatur pula dengan rapih. Semua to coe lainnya pada saling mengawasi.

Lo Hio coe duduk pula untuk segera menuding. “Sekarang aku si orang she Louw hajar lebih dahulu

pada mu!” kata ia, “Baharu nanti aku kirim kau ke Pusat

Umum! Disana kalau kau ada punya kepandaian, kau boleh pertunjukkan itu !” Ia bersenyum ewa, lalu ia tambahkan “Rangket!”

Menampak orang ada demikian gusar, beberapa chungteng itu tidak berani tidak menurut perintah, mereka lantas hampirkan to coe itu.

Hauw Kie sudah mengambil keputusan, karena ia tahu benar, permusuhannya dengan hio coe she Lo itu telah jadi hebat sekali. Ia sengaja menyerahkan diri, untuk melihat orang berani bertindak bagaimana terhadap dirinya. Iapun mau percaya, lain2 rekan nya nanti datang sama tengah, mengingat persahabatan mereka tadinya. Tapi orang ternyata tak dapat meredakan hawa amarahnya Hiocoe itu, maka itu, tentu saja ia tidak sudi kasih dirinya dihajar. Waktu itupun Lo Hiocoe masih belum mengatur hio to, meja sembahyang, hingga apabila ia bikin perlawanan, ia tidak akan dituduh melawan perkumpulan. Pasti sekali, iapun malu jikalau terjadi sampai ia kena dirangket. Maka itu, sebelum orang hajar dia, dia berseru “Orang she Lo, kau tidak adil! dengan alasan umum palsu, kau hendak puaskan dirimu pribadi! Tidak, Hauw Jie ya tak sudi layani kau lebih lama!” Menyusul seruan itu, Hauw Kie geraki kedua tangannya, hingga tambang belengguan putus semuanya, lalu dengan satu enjotan tubuh ia loncat kearah pintu.

“Kau berani kabur?” membentak Lo Hio coe, yang pun berbangkit seraya tekan tangan kanannya pada meja, hingga tubuhnya turut mencelat melewati meja itu, untuk mengejar.

Dengan satu loncatan lagi, Hauw Kie sudah sampai diluar, disamping. Ketika ia sampai disitu Lo Hio coe sampai didepan pintu. Untuk ketiga kalinya ia enjot pula tubuhnya, untuk mencelat naik keatas genteng. Di saat kakinya akan menginjak payon, hio coe itu membentak pula “Kemana kau hendak lari?” Seraya tangan kanannya diayun, suatu barang berkeredepan melesat menyamber!

Hauw Kie ada gagah, gerakan nya gesit, kupingnya dengar samberan angin dari senjata gelap, tetapi apa mau ketika itu ia sedang berlompat, kakinya belum lagi mengenai sasarannya, walaupun ia berniat berkelit, ia tidak sanggup lakukan itu. Maka piauw lantas mengenai kaki kanannya, berbareng merasa sakit dan kaget, tubuhnya rubuh.

Lo Hio coe, yang ada Siang chioe Kim piauw Lo Sin, tersohor sekali kepandaiannya menggunai piauw dengan dua2 tangan nya, tidak heran kalau to coe itu tak bisa meluputkan diri. Tapi Hauw Kie benar gagah, walau pun ia sudah jatuh, ia bisa lantas loncat bangun pula, ia mundur tiga tindak, ia niat loncat lagi, hanya sayang, tenaga kaki nya habis, hingga tidak tempo lagi ia rubuh pula.

“Ringkus dia!” demikian titahnya Lo Sin. Maka sekali lagi, to coe ini kena dibelenggu. XXVI

Darah keluar dari tempat yang terluka, mukanya Hauw Kie pucat, karena ia merasa sangat sakit berbareng gusar, saking menahan hawa amarah, ia tutup mulut. Ia dibawa kedepan meja, disini orang terus rangket ia empat puluh rotan hingga kempolannya terluka dan darahnya mengalir keluar. Ia tetap bungkam, ia tidak mengeluh sakit, ia tak sudi minta ampun.

Beberapa to coe lainnya maju akan mintakan ampun, sesudah itu, baharu tertampak Lo Hio coe jadi lebih sabar. Tapi ia beri titahnya lebih jauh, dengan bentakannya “Bawa dia mundur! Dia mesti dibawa ke Cong to, supaya Liong Tauw Pang coe nanti memberkian keputusannya!”

Hee houw Eng telah umpatkan diri ketika orang saling kejar, kemudian ia mengintai pula. Ia telah menyaksikan segala apa. Selagi Hauw Kie digiring keluar, iapun bersembunyi pula sambil terus mengintai, hingga ia tahu to coe itu dibawa kemana. Begitulah, waktu si pengiring balik untuk melaporkan tugasnya, ia cepat pergi ketempat tahanan, sebuah kamar dibagian Utara. Sekitar itu gelap, tetapi didalam kamar ada apinya yang sinarnya suram. Ia hampirkan jendela, kebetulan sekali daun jendela tidak dikunci. Didalam tidak ada suara lain kecuali suara helaan napas. Kapan ia sudah pecahkan kertas jendela, ia dapati Hauw Kie seorang diri diatas pembaringan, dengan tertelikung, begitupun kedua kakinya. Penerangan adalah pelita minyak. Orang tawanan itu gelisah, beberapa kali ia bulak balikkan tubuhnya.

“Rupanya orang anggap tempat ini ada sarangnya sendiri dan aman, maka juga disini tidak ada penjagaan, jendela dan pintu pun tidak dikunci,” pikir Hee houw Eng. Ia girang, karena ia ada merdeka. Yang bikin ia magsul adalah kepandaiannya sendiri masih sangat rendah, hingga ia sangsi buat menolong to coe ini. Tapi ia niat berikan bantuannya. Dari itu ia lantas mencari jalan dahulu, untuk keluar. Kebetulan ada tiga orang yang membawa lentera, ia bisa melihat penerangan disekitamya. Ia terus mengumpat. Ia melihat dua orang datang dari lain jurusan, berlima mereka berkumpul jadi satu.

“Coei To coe, kejadian malam ini hebat sekali,” demikian seorang antara yang berdua, berbicara kepada satu dari yang bertiga, suaranya sangat pelahan. “Aku lihat, urusan tak akan habis sampai disini. Hauw Lauw sio telah bersikap terlalu keras, hingga ia dapat malu. Nyata sekali, biang penyakit adalah itu perempuan ”

“Ah, kau banyak omong,” kata satu kawan yang lainnya. “Kalau omonganmu ini dapat didengar dia itu, meski ia tidak bisa ganggu kau, toh ganjalan akan timbul. Baiklah kita lihat saja harimau berkelahi, tapi jangan kita banyak omong ”

“Ah, saudara Lauw, hatimu kecil!” kata orang yang pertama itu. “Dia telah membelai keponakan perempuannya yang manis itu! Dia tak pandang lagi pada Liong Tauw Pang coe, inilah terlalu. Kalau ia muin gila terhadap aku, tidak nanti aku berlaku tolol seperti Hauw Lauw sie! Dia mesti dirubahkan didepan Pang coe…”

Sampai disitu, mereka itu keluar dari pintu belakang.

Hee houw Eng menduga orang tentu pergi keperahu.

Kemudian muncul dua chungteng, yang membawa lentera.

“Baiknya tugas kita habis sampai disini,” kata satu diantaranya. Mereka ini tutup pintu, lantas mereka menuju kedepan. Menduga bahwa pasti tidak akan ada orang keluar masuk lagi, Hee houw Eng keluar dari tempatnya sembunyi. Ia hendak kembali kekamar tahanan, tapi ia sengaja melewat disebuah kamar dari mana tertampak sinar api. Ia hampirkan jendela untuk mengintai kedalamnya, tapi belum lagi ia pecahkan kertas jendela, kupingnya sudah mendengar suara orang.

“Anak, lain kali kau mesti perbataskan diri,” demikian suara itu. “Benar didalam ada tunjangan ayah angkatmu dan di luar, pamanmu, tetapi kau mesti tahu diri. Lihat tadi bagaimana pamanmu sudah perhinakan Hauw Kie. Hauw Kie ada satu laki2, mana dia mau diam saja orang perhinakan padanya? Aku percaya, satu waktu dia akan membalas dendam. Pamanmu pun berhati keras, ia biasa terlalu menuruti suara hatinya. Aku kuatir, nanti kaulah yang akan ketimpa mara bahaya. Jangan kau sangka tidak akan ada orang yang merah matanya. Aku bermaksud baik, inilah kau mesti mengerti. Sekarang baharu satu dua orang musuhi kau, bagaimana bila jumlah itu sudah bertambah? Jikalau kau tetap bandal, lain kali jangan kau sesalkan pe hoe dan pe bomu ”

Mendengar demikian, Hee houw Eng segera mengintai. Maka dalam kamar itu ia lantas melihat Liok Cit Nio bersama satu nyonya umur kira2 enam puluh, siapa rupanya ada isterinya Lo Sin, atau pe bo, bibinya si nyonya cabul ini.

Atas nasihat itu, dari tunduk, Cit Nio angkat kepalanya, mukanya merah.

“Pe bo, kau dengar ini semua dari siapa?” tanya ia, dengan suara yang menyatakan tidak senang. “Aku telah tersesat, biarlah, tapi permulanya adalah salahnya pe hoe sendiri. Sekarang aku jadi begini, biar tetap aku jadi janda. Pe hoe sayang aku, sebenarnya dia bikin aku celaka. Kalau pe bo kuatir terembet2 biar aku pergi… Cuma satu malam ini aku menumpang, besok pagi aku akan angkat kaki!”

“Ah anak, kau terlalu keras hati,” kata si nyonya tua, yang agaknya terkejut. “Baharu aku bicara sedikit, kau sudah gusar. Kau tahu, aku adalah bersatu darah daging dengan kau. Berapa besar maluku akan mendengar orang diluaran berbicara jelek mengenai dirimu… Tapi kau sudah besar, baik selanjutnya aku tidak akan bicarakan lagi tentang kelakuanmu….”

Hee houw Eng mendengar sampai disitu, lantas Ia menyingkir. Ia percaya, malam itu Liok Cit No tidak akan angkat kaki. Ia terus pergi kekamarnya Hauw Kie. Ia mengintai dijendela, ia dapati orang tawanan itu separuh rebah, tubuhnya nempel pada tembok. Disitu tidak ada lain orang, keadaanpun sunyi. Setelah melihat tempat kemana ia bisa menyingkir, umpama orang pergoki ia, Hee houw Eng hampirkan pintu, yang ia terus tolak, tubuhnya nyelusup masuk.

Hauw Kie sedang meram melek, ia terperanjat melihat ada orang masuk, tapi Hee houw Eng segera goyangi tangan seraya terus berkata dengan pelahan “St, jangan bicara! Aku datang untuk menolong kau. Jangan kau curiga.”

Hauw Kie mengawasi, ia tetap bercuriga.

“Tolong kau perkenalkan diri dahulu,” ia meminta. “Maafkan aku, sahabat,” jawab Hee houw Eng. “Aku

kebetulan lewat disini, aku anggap Lo Hio coe itu keterlaluan, selagi Liok Cit Nio ada perempuan busuk, dan sebaliknya kau ada laki2 sejati, dari itu aku ingin menolong kau. Sayang apabila kau terjatuh dalam tangan mereka. Aku dengar, Liong Tauw Pang coemu ada jujur, cuma dengan dapat lolos ke Cap jie lian hoan ouw, kau akan dapat pertolongan. Apa kau ingin meloloskan diri? Aku bisa bantu kau. Umpama kau tak sudi terima bantuan orang asing, terserah padamu ”

“Kau baik sekali, sahabat,” kata Hauw Kie sambil mengawasi dengar tajam. “Tak bisa aku sia2kan kebaikanmu. Tapi kau harus insaf, tempat ini tempat apa. Aku tak ingin kau hadapi bencana karena aku. Biar bagaimana, si orang she Lo tak nanti lancang membinasakan aku. Lagipun peraturan perkumpulanku ada bengis sekali, aku sangsi untuk berontak terhadapnya. Sahabat, terima kasih, biarkan saja Siang chioe Kim piauw Lo Sin nanti ketemu bagiannya sendiri!”

Hee houw Eng tambah kagum mendengar perkataannya orang itu. Benar Hauw Kie ini satu laki2. Ia lantas melongok keluar, kemudian ia menghampirkan sampai dekat sekali.

“Aku lihat, walaupun kau ada orang Rimba Persilatan, namun ada harganya untuk kau dijadikan sahabat,” kata ia. “Baiklah aku perkenalkan diriku. Aku adalah Hee houw Eng dari Hoay Yang Pay, aku sedang ikuti ketuaku untuk memenuhi undangan Hong Bwee Pang untuk datang di Cap jie Lian hoan ouw. Di Liok kee po digunung Liang Seng San, aku telah ketahui sifatnya Liok Cit Nio, maka kami hendak singkirkan perempuan busuk itu. Aku pergoki dia disini, aku kuntit padanya, aku tidak sangka dia adalah keponakannya Lo Hio coe. Lebih kebetulan pula, akupun ketemu kau, yang sedang satrukan perempuan busuk itu. Aku hanya tidak mengerti Lo Sin. Dia ada gagah, dia ada orang kang ouw ulung, diapun ada hio coe dari Hong Bwee Pang, kenapa dia membelai keponakannya itu sampai untuk itu ia rela memfitnah dan mencelakai kau? Kau gagah sahabat, aku ingin bantukan. Kau ada orang Hong Bwee Pang, aku dari Hoay Yang Pay, walaupun demikian, tidak ada halangannya untuk aku bantu kau, agar kita jadi sahabat. Perkumpulan toh tidak melarang kita bersahabat, bukan?”

Hee houw Eng awasi orang tawanan itu, untuk menunggu jawaban.

Soen kang To coe Hauw Kie awasi orang asing ini.

“Kau baik sekali, sahabat, Hauw Kie tak bisa tak hargai itu,” ia bilang. “Baiklah, aku akan terima bantuanmu. Asal aku bisa keluar dari gedung ini, aku aku akan tak lagi berada dalam pengaruhnya Lo Sin. Budimu ini tidak nanti aku bisa lupakan.

Hee houw Eng girang, lantas ia bukakan belengguan. Hauw Kie geraki kedua tangannya, lantas ia berbangkit,

akan tetapi ketika ia mau me ia tak kuat mengangkat kaki kanannya. Itulah kaki yang terluka kena piauw.

Hee houw Eng juga melihat darah dikaki celana kanan. Ia ingat pada obat lukanya, yang ia bekal, lantas ia keluarkan itu.

“Coba pakai obat ini, sahabat,” kata ia. “Obat ini tidak manjur tetapi asal lukamu tidak terkena angin, bahaya sudah tidak ada lagi.”

Houw Kie terharu. Ia percaya melihat romannya, Hee houw Eng bukan orang kang ouw ternama, hatinya ada mulia sekali.

Dari sinipun ia bisa lihat, rombongan Hoay Yang Pay terdiri dari orang macam apa. Musuh sampai mau tolong ia, itulah luar biasa.

“Aku percaya obatmu akan menolong aku, lauw hia,” kata ia. “Tolong kau lekasan obati aku, aku kuatir nanti keburu ada orang datang kemari.” Hee houw Eng pun mengerti, maka ia lantas bekerja. Ia keluarkan obatnya, ia robek celana orang dibagian yang luka, setelah sekai darahnya, ia lantas mengobati. Itulah satu luka yang berat. Habis itu, ia bungkus luka itu.

“Sekarang mari kita pergi!” kata ia akhirnya. Hauw Kie mengawasi, agaknya ia sangsi.

“Jangan kecil hati, lauwhia, tapi aku ingin omong terus terang,” ia kata. “Aku bukannya hendak pandang tak mata padamu, kau bisa masuk kemari, kau pasti bisa keluar, tetapi tidak demikian dengan aku, yang sebelah kakiku seperti mati, hingga tak dapat aku menggunai ilmuku mengentengi tubuh. Pintu belakang dikunci, itu tidak menjadi soal. Dibelakang sana, selain perahuku, ada perahu lainnya. Maka itu, perlu kita panjat tembok. Gagal jikalau kita sampai kepergok atau sebelum kita pergi cukup jauh, musuh bisa mendului kita. Apakah lauwhia ada bawa tambang hoei jiauw, untuk kita menggaet tembok?”

Mukanya Hee houw Eng menjadi merah dengan tiba2, sekarang ia insaf sukarnya orang bekerja apabila kepandaian tak cukup. Ia jengah sendirinya.

“Aku ada punya tambang hoei jiauw, saudara,” ia jawab dengan pelahan. “Kepandaianku memang sangat berbatas, kita mesti pakai tambang. Baiklah, mari kita coba. Jangan lauwhia kuatir aku nanti bekerja setengah jalan.”

“Bagus, asal ada tambang hoei jiauw, kita akan bisa keluar,” Hauw Kie bilang. Ia terus padamkan api pelita.

Hee houw Eng ulur tangannya, untuk menuntun.

“Tak usah, aku masih bisa berjalan,” kata to coe Hong Bwee Pang itu. “Jangan sungkan, lauwhia. Kau terluka, jangan paksakan diri.”

Hauw Kie ulur tangan kanan nya, akan menekan pundak kiri Hee houw Eng, dengan begitu ia ikut pemuda itu bertindak keluar dari kamar tahanan itu. Hee houw Eng insaf keadaan luka orang, karena Hauw Kie tekan ia keras sekali, sampai ia tak leluasa dengan tindakannya.

Hee houw Eng niat mengambil jalan yang ia sudah periksa, tapi Hauw Kie tarik ia, ajak ia pergi ke Barat, kebelakang, didekat pintu, disana ada sebuah jalanan kecil.

“Awas ronda,” Hauw Kie peringatkan dikuping orang. Hee houw Eng berlaku waspada. Ia jalan dengan hati. “Disini saja kita mencoba,” Hauw Kie berbisik pula,

sesudah mereka sampai   ditembok   buntu,   yang tidak seberapa tinggi.

Hee houw Eng lihat tembok itu, ia maju dengan cepat tiga tindak, ia enjot tubuhnya akan loncat naik. Ia tidak bisa loncat tinggi, tapi tangannya dapat jambret tembok, hingga tubuh nya membentur dengan keras. Walaupun begitu, ia bisa terus merayap naik.

“Kau sembrono,” pikir Hauw Kie, yang kaget, kuatir ada orang ronda mendengar suara berisik itu. Tapi ia puji keberanyan kawan yang baharu ini.

Dengan berduduk diatas tembok, Hee houw Eng melepas turun tambang bandringan.

Hauw Kie menghampirkan, akan memegang keras tambang itu. Ia malu sendirinya, karena sekarang terpaksa ia mesti menggunai tambang untuk panjat tembok tinggi sebegitu. Ia mencoba akan menarik2. “Jikalau kau sangsi, aku nanti bantu,” kata Hee houw Eng, yang keliru menyangka.

“Tak usah, pegang saja biar keras, aku masih kuat,” Hauw Kie bilang.

Mulai dengan tangan kiri, to coe ini menarik tambang, sedangkan tangan kanannya ia terus menyekal tambang. Benar2 sulit untuk ia menggunai kaki kanan kepada tembok, tetapi ia paksa terus.

Baharu tiga kali enjot, belum ia sampai keatas tembok, atau Hauw Kie segera mendengar suara kentongan, empat kali, menyusul mana, disebelah Timur berkelebat cahaya api. Ia kaget sekali, begitupun kawannya.

Mereka ini tidak menyangka peronda muncul demikian lekasnya.

Segera Hauw Kie menggunai antero tenaganya untuk merayap naik, hingga ia lantas berada di atas tembok. Ia sudah pikir akan mendekam, supaya peronda tak melihat ia, atau kalau ia kepergok, ia hendak berlaku nekat menyerang peronda itu. Tapi, selagi jalan mendekati, tiba2 peronda menjerit, tubuhnya lantas terguling. Entah kenapa dia keserimpat.

“Eh, kenapa, tak keruan2 kau yatuh?” menegor kawannya, yang lantas membungkuk akan mengangkat bangun kawan itu.

“Betul sial!” kata si peronda yang jatuh itu. “Setahu kenapa aku merasa kakiku ada yang sengkilit dan tubuhku ada yang joroki, hingga aku jatuh sendiri… Ada setan barangkali…”

“Barangkali benar,” kawannya bilang. “Aku pun rasakan kulit kepalaku panas…. Mari lekas!” Melihat orang hendak kembali, hatinya Hee houw Eng jadi sangat lega. Akan tetapi peronda yang pertama mendadakan berkata pula “Tidak, kita tak dapat kembali! Kita mesti menjalankan tugas, atau kita nanti mendapat susah. Lihat, Hio coe sedang gusar, kita tidak boleh menerbitkan kegusarannya….”

Sang kawan kena terpengaruh kata2 itu. Maka lantas saja mereka membunyikan pula kentongan mereka, empat kali.

Menampak demikian, Hee houw Eng hunus goloknya, siap sedia akan menyerang kedua peronda itu, apabila ia sampai kepergok. Ia pasang mata tajam terhadap mereka itu.

Dua peronda itu bertindak menuju ke Barat.

Baharu orang jalan beberapa tindak, atau dengan se konyong2 Hee houw Eng tampak satu bayangan berkelebat dibelakangnya peronda yang kedua, yang jalan belakangan, atas mana peronda itu rubuh tengkurap, sedang bayangan itu melesat terus keatas tembok. Bayangan itu ada kecil dan kate, gerakan nya sangat gesit. Kelihatannya bayangan itu hendak rintangi tukang ronda maju kedepan.

Tukang ronda yang rubuh itu menjadi kaget, tidak terkecuali kawannya, yang kena ia tubruk, hingga dia turut jatuh juga. Nyata mereka ada bandel, walaupun demikian, tanpa kata apa, mereka masih jalan terus. Rupanya mereka jeri betul pada Lo Sin hingga mereka tak berani abaikan tugas.

Tiba2 terdengar satu suara keras dari sebuah batu besar, yang terjatuh disebelah belakangnya kedua tukang ronda. Mereka ini terkejut, lantas mereka berpaling. Terang mereka curiga, mereka lantas jalan balik. Tiba2 ronda yang jalan duluan rubuh sendirinya, ia jatuh tengkurap, hingga ia kena tubruk batu, atas mana, dia menjerit “Aduh!” kemudian ia tambahkan “Inilah hebat! Kalau kena ketimpa batu ini, orang bisa menghadap Raja Akherat….”

Kawannya turut kaget dan heran juga.

“Mari!” kata ronda yang jatuh itu yang lantas berjalan dengan cepat, sekarang ia menuju ke Timur, kawannya ikuti ia.

Selama itu, Hee houw Eng lihat pula berkelebatnya bayangan tadi bayangan yang kecil dan kate. Maka ia lantas duga, nyata sekali orang sedang bantu ia, dengan merintangi kedua peronda itu. Ia heran, sebab ia tak kenal bayangan itu. Tetapi ia insaf ancaman bahaya, maka tanpa pikir panjang lagi ia bantu Hauw Kie akn merosot turun keluar pekarangan, kemudian ia menyusul.

Dua orang ini melihat kedepan. Malam ada gelap. Beberapa chungteng didepan tidak lihat mereka. Kemudian Hauw Kie menunjuk kearah Barat selatan begitu lekas penolongnya sudah simpan tambangnya. Hee houw Eng memandang kearah yang di tunjuk, ialah tempat lebat dengan pepohonan.

Hauw Kie bertindak dengan susah ketempat pepohonan itu. Disitu ia berdiam sebentar, napasnya memburu, ia lelah agaknya.

“Kita masih belum selamat disini,” kata ia pada Hee houw Eng. “Asal Lo Sin ketahui buronku, kita tak bisa terlolos dari tangannya. Syukur kita tidak meninggalkan bekas apa2. Kau sudi bantu aku, lauwhia, aku berterima kasih kepadamu. Tetapi kita cuma ada empat buah tangan, keadaan masih sulit bagi kita. Untuk lolos dari bahaya mari kau turut aku. Percayakah kau kepadaku?” Hee houw Eng memang sedang bikin penyelidikan, cara bagaimana bisa ia tak taruh kepercayaan? Maka ia lantas menjawab “Lauwhia, maskipun aku ada seorang tak berarti dari Hoay Yang Pay, aku toh taat pada kaumku itu, maka itu tak bisa aku berhenti setengah jalan dalam usahaku menolong kau ini. Kau percaya aku, aku percaya padamu.”

Hauw Kie manggut2.

“Bagus!” kata ia. “Kita akan menuju ke Timur selatan, disana ada satu kampung bernama Siang kauw chee, dimuaranya itu ada perahu dengan apa kita bisa menyingkir lebih jauh. Andaikata disitu tidak ada, kita akan menuju ke Timur, akan jalan mengidar, nanti kita sampai di Ceng liong kio. Disana pasti ada perahu. Sesampainya disana, umpama kita dapat dikejar, kita bisa bikin perlawanan dimuka air.”

Men duga2 arah, Hee houw Eng percaya dia bakal pergikan suatu tempat yang pisahkan ia makin jauh dengan Cap jie Lian hoan ouw, juga dengan Ngo liong peng, karena itu, ia agak bersangsi.

“Apakah lauwhia ada punya jalan lain?” tanya Hauw Kie, yang melihat orang ragu2.

Hee houw Eng tahu, to coe ini ada sangat cerdik, dari itu, ia mesti jaga agar orang tak merasa dipengaruhi ia, apabila orang ini curigai ia, urusan bisa gagal. Karena ini, ia segera ambil ketetapan.

“Aku girang asal kau dipapak kawanmu, lauwhia,” ia lekas kata. “Nah, mari kita berangkat ke Siang kauw chee.”

Hauw Kie tidak menyahuti, tetapi ia jalan, maka Hee houw Eng lantas mengikuti. Tee liet ouw sudah mengambil keputusan, sama sekali ia tak pikirkan bahaya lagi, ia percaya benar to coe Hong Bwee Pang ini.

XLVII

Malam ada sunyi, cuma suara angin yang dapat terdengar. Sembari jalan sering2 Hee houw Eng berdua menoleh kebelakang. Mereka tidak melihat ada orang yang mengejar mereka, hatinya lega juga. Disitu pun mereka tidak dapati kampung. Kalau ada gubuk, mereka sengaja jauhkan diri mereka. Adalah disitu, Hee houw Eng berani mulai bicara, akan tanya sahabat itu perihal Hiong Bwee Pang.

Hauw Kie ada cerdik sekali, ia suka bicara, tetapi yang mengenai Hong Bwee Pang ia kesampingkan, karena ini, sendirinya Hee houw Eng menjadi tidak puas. Ia sudah berlaku terus terang tetapi sahabat ini masih simpan rahasia. Lantaran ini, ia tidak menanyakan lebih jauh.

Hauw Kie kosen, dengan didapatnya obat dari penolongnya, ia tidak merasakan terlalu sakit lagi, tetapi ia mesti berjalan cepat dan jauh, ia sudah lantas mandi keringat, maka selang tidak lama, dia membutuhkan bantuan       nya tuan penolongnya itu, yang mesti pegangi ia. Secara susah demikian, mereka akhirnya sampai juga di Siang kauw chee. Disitu ada sungai, tetapi perahu tak ada sebuah juga.

“Ah.” mengeluh Hauw Kie, yang lantas duduk untuk beristirahat. Ia memandang langit, ia percaya, itu waktu sudah hampir jam lima.

Hee houw Eng mulai berduka pula, ia kuatir musuh nanti menyusul dan dapat  menyandak mereka. Kalau itu sampai terjadi, sia2lah pertolongannya. Tetapi ia menghibur kawan itu.

“Jangan ibuk, sahabat,” ia bilang. “Kita benar jalan pelahan, umpama kata orang kejar kita, tentulah kita sudah kecandak. Disini tidak ada orangmu, mari kita pergi Ke Ceng liong kio. Justeru hari belum terang, kita masih ada punya tempo.”

Hauw Kie memanggut, ia terus berbangkit. Sedikitnya ia sudah menghilangkan lelah. Apa mau, justeru ia beristirahat, tenaga nya jadi berkurang, maka untuk berjalan ia paksa, kuatkan hati dan tenaga. Yang hebat, jalanan disitu pun bertambah sukar.

Hee houw Eng mesti bermandi keringat, akan bantu sahabat ini. Mereka mesti melalui tiga lie tetapi rasanya seperti melintasi lima enam lie saja. Syukur mereka lantas melihat sebuah jembatan panjang yang melintang atas satu sungai yang lebarnya belasan tumbak. Sebenarnya itu ada muara, karena sungainya melintang lagi sedikit jauh.

Itulah jembatan Ceng liong kio.

Hee houw Eng terus pegangi Hauw Kie untuk menyeberangi jembatan itu. Tanpa jembatan, mereka mesti jalan mutar lagi tiga lie, karena muara ada panjang. Mereka berjalan disepanjang gili2, sesudah jauhnya sepanahan, baharu mereka melihat sebuah perahu sedang berlabuh di tepian. Dikepala perahu sebelah kiri ada menyala sebuah tengloleng merah. Tidak kelihatan orang diperahu itu.

Dari sakunya Hauw Kie jemput keluar serupa barang, segera terdengar satu suara nyaring, menyusul mana, dari dalam kendaraan air itu muncul dua orang.

“Saudara siapa disana?” salah satunya tanya. “Kembali kepusat?” “Yang urus bendera bintang matahari kuda!” sahut Hauw Kie. “Datang untuk periksa perahu dan air!”

Dua orang itu perdengarkan suara mereka, lantas yang satu melongok kedalam perahu.

“Nyalakan api! Sambut to coe!” ia kata.

Segera muncul empat orang lain, dua antaranya memegang lentera, lantas mereka ini mendarat akan dengan cara hormat menyambut to coe she Hauw itu. Mereka heran mendapati to coe itu berada bersama seorang asing dan mukanya si to coe pucat pias. Tetapi mereka tidak berani menanya apa2.

Sebentar kemudian, Hauw Kie sudah duduk atas pembaringan dalam perahu itu, yang Hee houw Eng melihat ada bersih dan terawat rapi. Ia duduk didepan to coe itu.

Lalu anak buah2 perahu itu datang kedepan Hauw Kie untuk memberi hormat, tetapi dia ini ulapkan tangannya seraya segera tanya “Mana Thio Kim Siang?”

“Dia sedang kuntit sebuah perahu cepat, yang tadi kira2 jam tiga lewat disini, rupanya itu ada perahu cucu kuku garuda....” sahut salah satu orang. Dengan ‘yucu kuku garuda’ diartikan kaki tangan hamba negeri.

Hauw Kie tidak menanya lebih jauh tetapi ia kata “Aku mesti pulang ke Cong to untuk satu urusan penting, lekas angkat jangkar, jangan ayal!”

Orang2 itu bersangsi, karena pemimpin perahu mereka belum balik.

Hauw Kie lihat kesangsian itu, ia kerutkan dahi, lalu ia kata “Apakah kau tidak mampu mengemudikan sendiri? Apakah aku mesti menantikan?” Mendengar begitu, anak2 perahu itu lantas bekerja, mengangkat jangkar.

Hauw Kie ada sangat letih, tetapi ia paksa kuatkan hati.

Iapun telah disuguhkan air teh.

“Lauwhia, aku sangat berterima kasih padamu,” kemudian to coe ini kata pada penolongnya, “Tidak saja kau sudah tolong loloskan aku tetapi kaupun pepayang aku sampai disini. Kau telah terjang ancaman bahaya dan pun bercape lelah. Tidak berani aku janji akan balas budimu, tetapi untuk antap kau pergi seorang diri, aku merasa malu, maka itu aku ingin undang kau datang kepusatku, buat berdiam disana sedikitnya beberapa hari. Satu hal aku mohon, yaitu jangan kau sebut2 tentang Hoay Yang Pay, atau aku nanti terpaksa jadi tak berbudi, nanti aku balas kebaikan dengan kejahatan. Lagi pula perjalanan ini masih belum ada kepastiannya. Mungkin Lo Sin belum puas hingga aku membutuhkan bantuanmu lebih jauh untuk kita sama2 melakukan perlawanan. Maka dalam segala hal, harap lauwhia suka maklum kepadaku.”

“Jangan kau menyebut demikian, saudara,” Hee houw Eng jawab dengan cepat. “Walaupun kita ada dari lain golongan, akan tetapi begitu melihat kau, aku ketarik padamu, karena kau ada satu laki2, malah aku girang yang kau sudi bersahabat dengan aku, seorang yang tidak berarti. Aku suka sekali membantu kau, saudara, tentang itu kau jangan buat pikiran. Disebelah itu, aku ingin sekali tengok pusat saudara. Mengenai ini, aku tidak berani memajukan permohonan kepadamu, aku kuatir kau nanti bercuriga, aku tak ingin dikatakan hendak memaksanya. Sekarang saudara ajak aku, aku gembira sekali, aku beruntung bisa melihat pusatmu yang kesohor. Apa benar2 kau niat ajak aku kesana?”

Hauw Kie bersenyum. “Sebenarnya,” kata ia “jangan kata orang luar, sekalipun orang dalam, siapa tanpa tugas, dia tidak diperbolehkan melangkah masuk satu tindakpun juga, tetapi kau ada lain. Kalau nanti kita sudah sampai dipusat, harap lauwhia jangan sembarang keluar dari perahu, nanti orang pergoki kau, karena kau cuma bisa masuk sampai dimulut Cap jie Lian hoan ouw, lebih dalam lagi, tidak. Setelah aku menghadap pada Pang coe dan selesai bereskan urusanku dengan Lo Sin, aku segera keluar pula untuk ajak kau berlalu. Aku minta lauwhia berlaku hati2, sebab bila kau kepergok, bukan melainkan kau, juga aku sendiri bisa turut celaka!”

“Terima kasih, saudara,” kata Hee houw Eng dengan cepat. Ia ada sangat girang tetapi ia tidak utarakan itu pada tampang mukanya. “Kau baik sekali. Aku nanti ingat baik2 pesanmu ini, aku tak akan bikin gagal. Kau terluka dan habis jalan jauh, sekarang silahkan kau beristirahat.”

“Aku masih cukup kuat,” Hauw Kie sahuti penolongnya itu. Kemudian ia melongok keluar kendaraan air, yang ketika itu sudah digayu dengan cepat. Ia berbangkit, dengan pelahan2 ia pergi keluar.

Hee houw Eng merasakan perahu miring kekanan, kemudian ia dengar suara orang bicara dengan pelahan2, separuh berbisik. Ia kenali seperti suaranya Hauw Kie tetapi ia tidak dengar tegas, iapun tidak memperdulikannya.

Tak lama, soenkang to coe itu sudah kembali. Oleh karena ingin melihat ke luar, Hee houw Eng berbangkit, akan tetapi, baharu ia bertindak, sambil bersenyum Hauw Kie kata padanya “Jangan keluar, saudara. Angin dan ombak besar, cuaca pun gelap sekali, tak ada apa2 yang bisa dilihat. Silahkan duduk. Aku telah pesan arak untuk kau minum satu dua cawan.” “Jangan bikin berabe, saudara,” kata Hee houw Eng, yang batal pergi keluar, “tak usah kau perhatikan aku. Kau terluka dan lelah, perlu kau mengaso.”

Hauw Kie benar pesan makanan, terdiri dari empat rupa sayur yang sudah dingin. Ia undang habat itu dahar dan minum. Ia sendiri dahar sedikit, ia tidak minum, karena ia sedang terluka.

Hee houw Eng tidak menampik, tapi ia merendahkan diri. Ia baharu keringkan dua cawan ketika ia rasakan perahu bergerak sedikit, ia tidak memperhatikan. Tidak demikian dengan Hauw Kie, yang sedang nyender, lantas saja dia geraki tubuhnya untuk melongok keluar dari pintu.

Didepan, dua orang asyik menggayu, dibelakang, pengemudi taat dengan kewajibannya, mereka tetap mengawasi kedepan, nampaknya tak ada kejadian apa juga. Tetapi Hauw Kie bercuriga, ia keluar untuk memeriksa lebih jauh, cuma ia tidak hunjuk sikap tegang. Tidak lama ia kembali kedalam. Kali ini, baharu ia berduduk, atau diluar segera terdengar jeritan “Tolong! ” Suara ada tajam

dan cuma satu kali.

Hee houw Eng menyangka pada pembajakan, tidak demikian dengan Hauw Kie, yang kenal baik daerah itu, maka tanpa perdulikan luka dikakinya, ia loncat kepintu perahu seraya berseru “Ada apa? Siapa yang menjerit minta tolong?”

“Ada orang kecemplung!” ada jawaban satu anak buah.

Justeru itu, satu tubuh orang kelihatan muncul dimuka air.

“Tolong....” terdengar suara nya orang itu, suara yang tertahan, lantas tubuhnya terdampar air hingga mendekati perahu. Tukang2 perahu sudah angkati penggayu mereka untuk menolongnya, atau mereka tiba2 bersangsi.

“Lauwhia, tolongi dia!” berkata Hee houw Eng, yang turut keluar dan lihat tubuh orang ampukan diatas air.

“Tolongi dia,” Hauw Kie mengasi perintah. Tetapi, didalam hatinya, ia heran. Dari mana datangnya orang kecemplung disungai ditempat demikian sunyi dan diwaktu malam?

Seperti orang yang memangnya mau mendapat pertolongan, tubuh orang itu menempel kepinggiran perahu tidak lagi terdampar arus, maka itu, setelah tubuhnya itu digaet dengan galah, dengan gampang ia dapat diangkat ke atas perahu. Ia nampaknya pingsan.

Diantara cahaya api, kelihatan orang itu berumur lima puluh lebih, orang lelaki dengan tubuh kurus kecil dan kate, kumisnya sedikit.

“Dia belum tenggak banyak air,” kata satu anak buah, yang rabah perutnya orang itu. “Jantungnyapun masih memukul.”

Lantas tukang perahu itu berikan pertolongan, hingga sebentar saja orang tua itu muntahkan air seperti disemprot, sampai air mengenai Hauw Kie, yang kebetulan menghadapi dia. Sebenarnya to coe ini berkelit, tidak urung ia kena juga.

“Sial....” kata ia, yang terus sekai mukanya. Ia tidak gusar.

Sehabis muntahkan air, orang tua itu menjerit “Aduh!” lantas ia sadar.

Perahu berhenti karena mesti tolongi orang tua ini, layar telah dikasi turun. Hee houw Eng girang melihat orang tua itu ketolongan. Ia lihat pakaian orang basah kuyup, ia lantas berkata pada tukang perahu “Siapa diantaramu yang ada punya pakaian lebih, tolong kasi dia pinjam, supaya dia bisa salin.”

Satu tukang perahu lantas saja ambil seperangkat pakaian.

“Eh, bagaimana, apa kau rasai baikan?” ia menanya empe itu.

Orang tua itu duduk, ia membuka kedua matanya, dengan kesap kesip ia mengawasi tukang perahu itu, lalu Hee houw Eng dan Hauw Kie yang semuapun mengawasi ia.

“Tidak apa2, syukur!” kata ia kemudian. “Sekarang, dua kali aku jadi manusia. Kau semua ada tuan penolongku, terima kasih, terima kasih.”

Ia hendak berbangkit, buat memberi hormat, atau mendadak kembali ia muntah2.

“Sudah, jangan bilang terima kasih,” kata Hauw Kie. “Lekas kau salin pakaian, mari masuk kedalam. Kami tak punya tempo, tetapi kami hendak tanya kau sedikit….”

“Looya, kau mulia sekali,” kata si orang tua. “Biar, aku salin baju saja….”

Sembari kata begitu, ia pentang kedua tangannya. Tiba2, dengan menerbitkan suara, dari kedua tangan bajunya terjatuh dua ekor ikan lee hie yang masih hidup, yang panjangnya delapan atau sembilan dim, jatuh kelantai perahu, dua ekor ikan itu masih ber goyang2 kepala dan ekornya tetapi tidak berloncatan.

Semua orang heran, tidak terkecuali si empe sendiri. “Oh, syukur, syukur!....” Ia berseru. “Baiknya cuma ini dua ekor ikan lee hie, bukannya ikan hitam, kalau tidak, mana tubuhku yang kurus cukup untuk di jadikan umpannya?... Ikan ini boleh juga dijadikan teman arak ”

Ia terus buka bajunya, untuk ditukar dengan yang kering.

Hauw Kie selama itu mengawasi orang tua ini, yang mencurigakan ia, akan tetapi ia tidak dapatkan kelakuan lainnya lagi yang luar biasa, gerak geriknya pun mirip dengan orang tolol. Meski begitu, ia mengundang orang masuk kedalam, ia urungkan niatnya akan daratkan dia seraya berikan sedikit uang untuk belanja. Ia masih ingin menyelldiki lebih jauh. Untuk ini ia juga sengaja membawa tingka agung2an.

Orang tua ini benar2 bertubuh kecil kurus dan kate, kepalanya hampir gundul, tinggal kuncirnya yang kecil, sepasang matanya kecil, seperti mata yang mau tidur, kumisnyapun jarang. Hanya kulitnya tidak keriput, dan sinar matanya, satu kali terbentrok kepada sinar matanya Hauw Kie, membuat to coe itu heran. Sinar matanya empe ini ada tajam sekali. Tetapi, begitu bentrok sinar mata, si empe lekas melengos.

“Sahabat tua, kau rupanya mengarti silat,” Hauw Kie kata. “Maafkan aku, jikalau aku salah lihat, tolong kau beritahukan namumu, kalau suka.”

Agaknya orang tua itu tidak mengarti, ia awasi orang yang tanya ia, tetapi, walaupun ia bersangsi, ia toh menyahuti juga “Tuan penolongku, matamu benar tajam,” kata ia. “Aku bernama Kho Hoo. Kalau aku tidak mengarti sedikit ilmu silat, pastilah jiwaku sudah habis. Aku tinggal di Tong peng pa, Lok ceng, dimasa muda aku kerja sebagai nelayan, maka aku bisa berenang, karena usiaku lanjut, tenagaku berkurang, sekarang aku hentikan kerjaan itu. Anak cucuku telah bisa piara aku. Kemarin dahulu aku tengok keponakanku di Kouw leng ek, pulangnya, di Utara Teng kee chung, satu penjahat begal aku, dia malah rampas juga pakaianku. Aku telah men jerit2, aku harap penduduk kampung keluar akan tolongi aku, tetapi penjahat itu dului mendupak aku sampai aku rubuh tanpa aku sanggup lawan padanya. Dia benci aku, karena aku ber teriak2, dia mau binasakan aku, tapi karena dia lihat aku sudah tua, dia suruh aku mampus dengan cara tanam kembang teratai ialah setelah diikatkan batu, aku dilempar ke sungai, supaya aku mati kelelap. Dia rupanya tidak menyangka aku bisa berenang. Sayang air deras, aku keburu lelah, setelah bisa loloskan diri dari ikatan, aku timbul dimuka air dan berteriak minta tolong. Benar2, aku masih ingin hidup lebih lama. Celaka nya, tenagaku keburu habis, aku pun kena tenggak air. Maka syukur aku mendapat pertolongan. Aku sekarang merasa, sungguh tak enak akan mati…. Apa tuan punya air teh, tolong bagi aku, untuk aku hangati perut ”

Selagi Hauw Kie bengong mengawasi, orang tua ini bersenyum.

“Benar dia seorang dusun yang tolol,” pikir Hauw Kie, yang terus kata “Kau ada penduduk Tong peng pa, kau baik mendarat disini saja, apabila kau ikut aku, kau akan terpisah makin jauh dengan rumahmu.”

“Nah, ini uang untuk belanja, loope,” kata Hee houw Eng, yang berikan satu tail.

“Lain kali hati2lah,” Hauw Ki menasihatkan. Kemudian si empe disuguhkan secangkir teh panas.

“Sekarang antar dia mendarat,” kemudian Hauw Kie kata pula, setelah si empe minum. “Tuan, tolong aku,” kata si empe. “Malam begini gelap, aku takut akan mendarat. Aku masih sangat letih. Baik kau ajak aku, sampai dimana saja. Lagi pun aku takut jalan bersendirian. Biar aku jalan lebih jauh sedikit, asal selamat ”

“Kasihan dia,” kata Hee houw Eng, sebelum Hauw Kie menyahuti, “baik kasi dia beristirahat dahulu.”

Hauw Kie setuju, maka ia suruh orangnya, yang bernama Ah Kim, ajak si empe kebelakang.

Layar sudah lantas dipasang pula, maka perahu lantas maju lebih jauh. Kira2 jam lima mereka sampai di Liong kauw ciang, yalah pusatnya Hauw Kie. Disini biasa berlabuh enam atau tujuh buah perahu berikut satu untuk si ketua sendiri. Tetapi sekarang, sebuah perahupun tidak ada.

Melihat demikian, hatinya Hauw Kie bercekat. Ia menduga, Lo Sin tentu sudah dului ia. Ia kuatir, tak dapat ia maju lebih jauh. Maka ia lantas berdamai kepada Louw Tiong, juru mudinya, yang terus ia pesan, kecuali ada titah dari Lwee Sam Tong atau Gwa Sam Tong, perahunya mesti maju terus, akan hindarkan sesuatu rintangan.

Hee houw Eng melihat tampang muka dan sikap orang berubah tetapi ia tidak menanyakan suatu apa, malah dengan sikap tak tahu menahu ia melongok keluar perahu, hingga ia tampak, tempat ada berbahaya, disitu air terpecah tiga, alirannya deras sekali. Yang ke Timur adalah yang menjurus kelaut, dan yang ke Barat, lebar muka airnya. Adalah yang ke Barat Utara, yang nampaknya paling berbahaya, dikedua tepinya ada tebing karang.

“Lauwhia, mari masuk, duduk,” Hauw Kie mengundang penolongnya. “Disini, jangan kata diwaktu fajar seperti ini, diwaktu siangpun tak ada pemandangannya yang indah.” Hee houw Eng menurut, ia masuk kedalam. Ia lihat wajahnya to coe ini tetap tegang, berkuatir atau tak tenteram.

Perahu laju terus, sampai tiba2 terdengar tiga kali suaranya panah nyaring.

Hauw Kie dengar suara itu dengan kaget, lantas saja ia lari keluar.

Hee houw Eng berlaku tenang, tetapi ia kemudian ia bertindak berindap2 kemulut pintu akan melongok keluar. Ia dapati Hauw Kie berdiri tegak didepan perahu.

Disitu ada banyak rombongan perahu jalan agak pelahan sebagai gantinya empat anak buah mulai gunai penggayu.

Tidak lama, dari rombongan di tepian muncul dua perahu yang terus menghalau di tengah.

Menyusul dua perahu itu, segera muncul perahu yang lain, yang besar, anak buahnya delapan orang, pakaian mereka ringkas dan nama pemakainya Di atas perahu itu ada tergantung sebuah lentera merah. Dari perahu besar itu lantas datang teguran untuk perahunya Hauw Kie, yang ditanya kenapa maju terus tanpa perkenalkan diri.

Hauw Kie segera menjawab, katanya “ Inilah       to coe ke tujuh penting untuk Pusat Umum, maka itu harap dikasi lewat.”

“Apa Hauw To coe disana ?” Ada jawaban yang berupa pertanyaan. “Bagus!             terima untuk sambut To coe buat menghadap di Pusat Umum. Silahkan To coe pindah perahu.”

Hauw Kie jadi tidak senang dia jawab “Aku ada bekas dari Soenkang Too coe sebelum aku dipecat, aku berhak untuk menghadap sendiri di Pusat Umum. Harap saudara jangan memaksakan, agar kerukunan kita tidak samppai terganggu.”

Orang diperahu besar itu bersenyum dingin.

“Hauw Tocoe, kita ada saudara satu dengan lain, tak selayak nya kita membikin saling susah,” kata ia, “tetapi kau harus mengerti urusanmu sendiri, kau sekarang telah kena orang dului, dari itu, harus kau turut aturan. Biar didepan Pang coe saja nanti kau bicara. Sekarang, silahkan kau pindah perahu.”

Hauw Kie tertawa dingin.

“Memang aku telah menduga si tua bangka Lo Sin mesti sudah dului aku!” kata ia. “Tetapi pun mengenai aku, ada sebabnya kenapa aku ingin masuk bersama perahuku sendiri. Mustahil sekali aku jeri terhadap Lo Sin? Baik kau ketahui, diperahuku ini ada dua ‘anak kosong’ yang satu ada pelabuhan kosong, dia boleh dibawa naik keatas penglari, biar dia ambil jalannya sendiri, tetapi yang satunya pula, dia ada sahabat yang bersamaan jalan dengan kita, yang ingin cari tahu dasar kita, dari itu dia harus diundang untuk masuk bersama….”

Hee houw Eng dengar itu, yang tercampur kata rahasia, bukan kepalang mendongkolnya, maka sambil balik, untuk jemput goloknya, akan ditancap dibebokongnya, didalam hatinya, ia kata “Orang she Hauw, kau sungguh pantas untuk dijadikan sahabat! Aku telah tolongi kau dari mulut harimau, siapa tahu, dengan cara begini kau hendak balas budiku itu kau hendak pancing aku masuk kedalam Cap jie Lian hoan ouw! Tak nanti kau dapat pedayai aku, kecewa apabila aku sampai kena dicurangi olehmu ”

Itu waktu, perahu besar didepan sedang mendatangi. Hauw kie telah putar tubuh nya, segera ia lihat Hee houw Eng berdiri tegak dimuka pintu perahu, diam2 ia menduga orang tentu telah ‘sadar’, maka sambil bersenyum ia kata “Tak mau aku berdusta, maka sahabat, silahkan kau turut aku pindah perahu aku telah ketahui maksud kedatanganmu kemari! Mari berdiam denganku, barang dua hari kau boleh percaya, tidak nanti kebaikanmu aku balas dengan kejahatan, sahabat, asal selembar saja rambutmu terganggu aku nanti ganti itu dengan belah pahaku. aku melainkan minta kau sudi menahan sabar nanti pada waktunya, aku aka antar kau pulang. Umpama sekarang mengantar kau pulang, umpama sekarang kau tak turut aku, kau dalam hal itu jangan kau nanti sesalkan aku aku berbuat karena saking terpaksa, bukannya karena aku tak ingat persahabatan.”

Hee houw Eng mundur setengah tindak, ia tertawa dingin.

“Hauw tocoe, kau sungguh suatu sahabat baik!” kata ia, “kau telah pedayai aku sampai didepan pintu rumahmu, kau gunai pengaruh jumlah yang banyak untuk tahan aku. Sungguh bagus sekali perbuatanmu! tapi aku agak tak tahu diri, maka tak dapat jikalau kau ingin suruh aku ikuti kau secara baik2! Kau sedikitnya mesti memperlihatkan roman padaku.”

Mukanya Hauw Kie jadi memerah. Ia jengah. “Lauwhia, sikapmu   ini mempersulit   aku,” kata ia.

“Aturan kaum Hong Bwee Pang ada sangat keras, hingga

tak dapat aku berkuasa lagi atas diriku. Aku minta kau menanti buat satu atau dua hari. Percayalah, apabila aku main gila terhadapmu, aku bukan lagi satu sahabat kang ouw.”

Sembari kata begitu, tocoe ini bertinndak mendekati. Hee houw Eng insaf, asal ia turun tangan, ia mesti rubuh, akan tetapi sebagai anggauta dari Lek Tiok Tong, ia mau lindungi kehormatannya. tak mau ia menurunkan derajat Hoay Yang Pay. Ia hendak hunjuk kesetiaannya. Maka itu, ia telah lantas ambil putusan.

Ketika itu, kedua kepala perahu sudah nempel satu dengan lain, dari perahu besar itu telah lompat dua orang, satu berumur kurang lebih empat puluh tahun, yang satu pula dua puluh lebih, keduanya gesit gerakannya. Yang tuaan itu, yang berpakaian serba biru, bertangan kosong. Sedang yang mudaan menyekal sebatang kwie tauw too kalau yang tua tenang sikapnya, yang muda garang sekali, sebab segera dia menantang “Sahabat baik, mari keluar! Mustahil kau hendak tunggu sampai kau mesti berangkut pindah perahu?”

Hee houw Eng loncat keluar.

“Sahabat, jangan jumawa!” ia membentak. “Aku ada disini, to h nanti aku buron, maka tak usah kau bertingkah! Sahabat baik, kau sambutlah!”

XLVIII

Anak muda yang baharu datang itu jadi gusar.

“Boe beng siauw coet, di.slnt kau tidak boleh banyak laga!” dia kata dengan nyaring. Dia katakan orang boe beng siauw coet-satu manusia rendah. “Kau jangan banyak omong, mari pindah perahu! Jikalau kau tidak mau pandang2, kami pun tak akan memperdulikannya lagi.”

Hee houw Eng benar2 berani, ia tertawa gelak2. “Gelombang   dahsyat   dari   sungai   Besar sering   aku

saksikan” kata ia dengan  nyaring, “maka itu  jikalau kau hendak tahan aku, kau mesti sedikitnya kasi lihat suatu apa kepadaku!”

Anak muda itu lantas loncat pula, goloknya dari tangan kiri digeser kekangan kanan, dengan tangan mana ia lantas membacok.

“Lihat golok!” ia serukan, selagi senjatanya itu menyamber kearah pundak kiri.

Tidak tunggu sampainya serangan musuh, Hee houw Eng siapkan goloknya, tubuhnya ia geser sedikit kekanan. Akan tetapi si penyerang melainkan menggertak. Dia tarik golok nya sambil dia maju kekanan, adalah dari situ, sambil miring dia menyerang seraya teriak “Rebahlah kau!” Ia menendang!

Kepandaiannya Hee houw Eng, lumayan tapi gerakan nya ada cukup gesit, maka itu ia melejit kesamping musuh, lalu sambil mendek, dengan tangan kiri ia menyamber kaki musuh itu dengan gerakannya “Soen chioe loan yu.” atau “Ulur tangan untuk menuntun kambing.”

Si penyerang kaget, ia berontak akan tarik pulang kakinya itu, justeru itu sambil menjoroki, Hee houw Eng barengi melepaskan cekalannya, maka tak tempo lagi, anak muda itu rubuh terbanting, karena goloknya jatuh lebih dahulu, ia kena tindih golok itu dengan tangan kanan nya, goloknya terlepas, lengannya terluka. Karena itu, cocok dengan seruannya, dialah yang rebah!

Habis robohkan musuh, Hee houw Eng memutar tubuh, siap untuk layani musuh yang tuaan. Berbareng dengan itu, ia merasa samberan angin disebelah belakangnya, tidak tempo lagi ia loncat seraya memutar diri, goloknya pun dipakai menyabat. Akan tetapi, selagi ia berputar, ia rasakan lengan kanannya kena orang cekal, dengan keras, seperti ia terjepit besi, menyusul mana, jalan darahnya “sam lie hiat” kena ditotok, ia merasakan sakit, hingga goloknya terlepas tanpa merasa. Sudah begitu, sebelah kakinyapun kena disapu, tidak tempo lagi iapun rubuh terbanting. Ketika ia berbalik, ia dapati orang yang tuaan itu, sambil pegang golok mengawasi ia sembari tertawa haha hihi. Ia jadi malu berbareng mendongkol, ia geraki tubuhnya buat berduduk.

“Sekarang kau boleh bikin apa kau suka, aku menyerah kalah.” kata ia, yang geraki kedua tangannya kebelakang.

Musuh itu belum kata apa atau kawannya, yang muda, yang tadi rubuh, sudah lantas lompat menghampirkan, akan belenggu kedua. tangannya Hee houw Eng, sikapnya menyatakan ia sangat mendongkol dan penasaran, kelakuannya sangat bengis.

Selama itu Hauw Kie berdiri diam dipinggiran, ia tak mengucap apa2, tetapi melihat Hee houw Eng diperlakukan kasar, ia kata pada si anak muda “In Tocoe, dia ada satu sahabat sejati, tolong perlakukan sedikit sabar padanya ”

Akan tetapi, to coe itu justeru mengikat makin keras, ia tak gubris permintaan kawannya itu, dan selagi Hee houw Eng manda saja, dengan hatinya sangat mendongkol, giginya dikertek, dia menjawab “Hauw Tocoe, tak dapat aku penuhi permintaanmu! Kalau dia tidak bikin perlawanan, pasti dia dapat dimaafkan. Jikalau to coe ingin berbuat baik, silahkan bicara didalam ”

Atas jawaban itu, Hauw Kie berdiam.

Setelah selesai membelenggu, si anak muda menjemput goloknya.

“Bukankah masih ada satu biji kosong?” dia tanya Hauw Kie “Dia pun perlu diperiksa.” Walaupun dia berkata demikian, anak muda ini tak nantikan jawaban, terus saja dia bertindak kedalam perahu.

Semua anak buahnya Hauw Kie berdiri diam dengan tangan mereka dikasi turun.

Anak muda itu sampai dibelakang, dimana ia tak dapati orang, segera terdengar suaranya yang keras, yang menyatakan kemendongkolannya “Hauw Tocoe! kau bilang dibelakang masih ada satu orang lagi, mana dia? Jangan kau main sulap!”

Hauw Kie heran, hatinya bercekat.

“Bukankah aku perintah kau tempatkan si orang tua she Kho dibelakang perahu sini?” ia tanya orang2nya. “Kenapa kau tidak mau lekas keluarkan dia untuk diserahkan pada In Tocoe?”

“Tadi dia masih ada dibelakang, dia minta arak, sekarang dia lenyap entah kemana,” menyahut beberapa anak buah itu.

Hauw Kie kaget sekali, segera lu bertindak kebelakang. Benar2 ia tak dapati si orang tua. Maka ia jadi sangat gusar.

“Kemana dia pergi?” dia tanya orang2nya.

“Barusan dia masih ada disini, sekarang entah dia pergi kemana  ” demikian ada jawabannya anak buah itu.

“Hauw Tocoe, permainanmu ini tidak bagus!” kata si anak muda pada Hauw Kie, suaranya dingin “Kau ada soenkang tocoe, kalau kami tidak punya perintah, kau tentunya angkut mereka ini kedalam Pusat kita! Baik ingat, tocoe, kita sama2 cuma punyakan sebuah kepala! Sekarang kita tak usah banyak omong lagi, mari kita bicara didalam!”

“In Tocoe, aku tidak mengerti omonganmu,” kata Hauw Kie, yang tetap mendongkol dan hatinya bimbang. “Apa mungkin kau anggap aku sebagai pengkhianat? Kita bukannya musuh, jangan kau semprot aku dengan darah kotor!”

“Sudah, jangan kau berdua adu mulut disini!” kata orang yang tuaan tadi. “Kita bicara didalam saja!”

Dia ini telah menyusul kebelakang.

Mendengar demikian, dua orang itu berdiam, kemudian keduanya pergi kedepan.

“Hauw Tocoe, kata2mu tak cocok dengan wujudnya,” kemudian kata si orang usia pertengahan itu. “Tapi biarlah hal ini kau jelaskan didepan Pang coe nanti. Sekarang kita tak boleh sia2 tempo, mari kita pulang!”

Hauw Kie berdiam. Benar2 ia tak bisa bela dirinya. Terpaksa ia paserah berada dibawah pengaruhnya dua orang itu. Dengan tidak mengucap sepatah kata jua, ia mendahului loncat ke perahu kawan itu.

Orang usia pertengahan itu turut meloncat, akan mengikuti soenkang tocoe ini.

Si anak muda, yalah yang dipanggil In Tocoe, mau ikut pindah perahu sambil ia sendiri bawa Hee houw Eng, lengan siapa ia cekal, mulutnya mengucap secara jumawa “Sahabat baik, mari kita buka sedikit mata kita!” Baharu saja ia angkat kakinya, atau .. “Anak kunyuk, tahan! Kau niat membajak sambil celakai orang? Lepas tanganmu!”

Suara itu datangnya dari atas perahu, maka si anak muda segera angkat kepalanya, dongak.

Berbareng dengan itu, satu bayangan orang loncat turun dari tihang layar perahunya Hauw Kie, tubuhnya sampai dilantai perahu secara enteng sekali. Anak muda itu tercengang, sebelum ia tahu apa2, orang sudah sampai didepannya, lantas tahu2 pundaknya kena dirabah, atas mana, dia merasai sakit pada lengannya, lengannya itu menjadi kaku, hingga tanpa kehendaknya, Hee houw Eng terlepas dari cekalannya. Tetapi ia melihat nyata, bayangan itu ada seorang kurus dan kecil. Ia sebenarnya berniat berteriak, akan tetapi orang telah dului ia, yang tubuhnya dicekal sambil si bayangan serukan “Kunyuk mulut manis hati pahit, kau sambutlah!”

Tidak tempo lagi, tubuhnya In Tocoe ini diangkat, dilempar keperahunya sendiri! Dan dengan menerbitkan suara berisik, tubuh itu jatuh terbanting keras!

Hauw Kie tercengang untuk mendapat tahu bayangan itu adalah si orang tua she Kho, yang tadi kelelap dan ia tolongi. Ia tidak sangka orang ada demikian gesit dan kuat. Iapun segera menduga orang tua itu mesti ada hubungannya dengan Hee houw Eng. Maka ia pikir, apabila ia tidak turun tangan, sukar ia nanti lolos dari prasangkaan jelek. Iapun tak usah kuatir lagi, karena In Tocoe sudah berada diperahunya. Begitulah ia lontat kearah si empe sambil berseru “Orang tua kate, jangan bertingkah! Jangan kau lari!”

Lompatannya adalah lompatan naga, ia sudah sampai disamping nya si orang tua kate.

Si orang tua sementara itu sudah loloskan belengguannya Hee houw Eng, ketika orang loncat padanya, ia seperti tak ambil mumet, dengan begitu, leluasalah bagi Hauw Kie akan kirim serangannya “Kim pa louw jiauw” atau “Macan tutul emas perlihatkan kukunya.” Adalah setelah kepalan samber kepalanya, baharu si orang tua berkelit, sebelah tangannya diangkat naik menyambuti kepalan musuh, sedang tangan kanannya bergerak kearah dada. Hauw Kie terkejut tempo tangannya kena dibentur, karena ia merasai tenaga yang besar, dan walaupun ia tarik dadanya, ia toh kena juga terserang, hingga ia sempoyongan dua tindak, hampir ia tak dapat tancap kaki untuk pertahankan tubuhnya. Ia heran, karena ia tahu akan kepandaiannya yang tidak rendah.

Orang usia pertengahan pun kaget, tetapi ia segera tolongi In Tocoe. Ia pun percaya, Hauw Kie tentu sanggup layani musuh tua dan kate kurus itu. Nyata ia menduga keliru, baharu satu gebrak, soenkang tocoe itu sudah kena dikalahkan. Ia jadi gusar, segera ia menegur “Sahabat, kau liehay, kau tentunya bukan satu boe beng siauw coet. Sahabat, aku Tang Goat Po ingin terima pelajaran dari kau!”

Orang tua itu tertawa haha hihi, lalu dengan suara dingin ia kata “Sahabat baik, jangan kau perkenalkan nama dan gelaranmu! Buat apa tutup pintu, angkat diri jadi kaisar, buat dengan jumlah yang banyak menangi yang sedikit? Sungguh, kau bikin tercemar nama besar dari Hong Bwee Pang! Sahabat, Jie thayyamu tidak sempat layani kau bicara, apabila benar kau tidak puas, nanti kita bikin perhitungan!” sehabis mengucap demikian, seraya bentur lengannya Hee houw Eng, orang tua itu meloncat keperahu perahu cepat sebelah kanan, di mana cuma ada dua anak buahnya. Mereka ini kaget, jikalau mereka tak pandai imbangi tubuh, pastilah perahu mereka karam. Mereka jadi gusar, lantas yang satunya angkat penggayu dengan apa ia kemplang si orang tua.

“Ha, ada majikannya, ada budaknya!” berseru si orang tua, yang melihat serangan gelap itu, lalu ia sambuti penggayu itu akan dibentak kesamping, hingga tubuh si penyerang kena terbetot, nampai anak buah itu terangkat naik dan tercebur keair.

Tukang perahu yang satunya yang pegang kemudi, jadi kaget, tidak tempo lagi dia loncat naik keperahu besar, tapi dia meloncat dengan menjejak keras, maksudnya supaya perahu cepat itu terbalik dan karam sendirinya. Akan tetapi si orang tua sudah siap sedia, begitu perahu dijejak, dia pasang kuda2nya untuk menahan, dengan begitu, perahu itu tak dapat terbalik. Tangannyapun samber pinggiran perahu besar, hingga ia bisa gunakan tenaganya lebih besar lagi.

Hee houw Eng bersangsi, hingga ia diam saja mengawasi si orang tua.

“He, kau tunggui apa?” si orang tua menetrur, sambil tertawa haha hihi. “Orang tak lagi sediakan nasi. Mari kita pergi!”

Baharu sekarang si anak muda insaf, lantas ia meloncat keperahu cepat itu, akan segera mengambil tempat duduk seperti si orang tua, maka sekejab kemudian keduanya sudah mulai gayu perahu cepat itu akan tinggalkan musuh mereka. Sembari pergi, si orang tua kata “Sahabat baik sekalian, sampai ketemu pula nanti! Jangan rintangi aku, atau jangan kau sesali aku si orang tua tak tahu adat!”

Baharu beberapa gayuan, perahu cepat itu sudah pisahkan diri dua tumbak lebih dari perahu besar itu.

Orang Hong Bwee Pang yang usia pertengahan itu jadi sangat mendongkol karena ia telah diperhina dan ditinggal secara demikian.

“Tikus, kau keterlaluan!” Ia berseru. “Kemana kau hendak kabur.” Suara ini disusul dengan terayunnya sebelah tangannya, lalu berkeredepan serupa benda, menyamber kearah perahu cepat itu.

“Bagus.” berseru si orang tua, yang angkat penggayunya.

Segera terdengar satu suara membeletok, disusul suara jatuhnya suatu benda kecil kemuka air. Itulah sebatang piauw!

Tapi Tang Goat Po tidak menyerang melainkan satu kali, lantas menyusul piauwnya yang ke dua dan ke tiga. Dia adalah Hio coe dari Soenkang Congco dari Hoen coei kwan, dia pandai menggunai piauw dengan kedua tangannya, kepandaian siapa ada berimbang dengan kepandaiannya Lo Sin. Tetapi, walaupun ia liehay, juga dua piauw yang belakangan ini kena disampok jatuh oleh si orang kate kecil dan kurus itu.

“Sudah habis?” berseru si orang kate dengan suara hinaan nya. “Begini saja kepandaian mu? Aku sudah kasi nasihat padamu, kau tidak memperdulikan nya, sekarang kau lihat bukti nya ”

Sembari mengucap demikian, empe itu terus gayu perahunya.

Kauw Kie ada mendongkol, karena mereka telah kena dipermainkan, diam2 ia telah siapkan sepasang panah tangan, justeru orang menghina pula, ia menyerang sambil ia serukan “Manusia rendah, lihat panah!”

Dengan menerbitkan suara angin, kedua batang panah tangan itu melesat kearah si orang tua.

“Bagus!” berseru orang tua itu, yang egos kepalanya dan angkat tangannya, akan sambuti kedua batang panah, sesudah mana, ia berseru pula “Aku kembalikan barangmu! Sambutlah!” Tangannya segera terayun, suatu cahaya putih melesat.

Hauw Kie malu bukan main. Dengan kena disambutinya panah tangahnya, benar2 mereka sudah kena dirubuhkan. Ia dengar seruannya si empe, ia kira ia akan balik diserang dengan panah tangannya sendiri, ia siap untuk menyambutinya. Akan tetapi di luar sangkaannya, yang menyamber adalah suatu barang putih, entah senjata rahasia macam apa, melesatnya sangat cepat, walaupun ia sudah bersiap, tidak urung ia berlambat berkelit, pundak kanannya menjadi sasaran, ia lantas merasakan sangat sakit dan panas. Syukur ia tidak sampai rubuh, hanya senjata rahasia itu yang jatuh keperahu. Ketika ia jemput itu, ternyata itu ada sepotong uang perak. Maka sekarang ia mengerti, kenapa ei empe sebut barangnya dikembalikan. Itu adalah uang yang ia tadi berikan kepada si empe itu. Ia mendongkol, tetapi ia tahu pihaknya tak akan dapat menangi musuh itu terpaksa ia berdiam, karena Hio coe Tang Goat Po sekalipun sudah tak beraksi lebih jauh.

Begitulah, ketika perahu cepat itu sudah pisahkan diri jauhnya dua atau tiga puluh tumbak. Tang Goat Po pun ajak Hauw Kie kembali, buat pulang ke Cap jie Lian hoan ouw.

Hee houw Eng didalam perahu cepat ada bingung sekali. Pertama tama ia heran kepada si orang tua, yang ternyata sangat liehay, sudah begitu, diapun sangat pandai berenang dan selulup dan menggayu perahu. Ia tidak mengerti, selagi ia tidak mengenalnya, kenapa si orang tua menolongi ia secara mati2an. Ia berdiam saja, ia sangsi, ia tidak berani untuk minta keterangan.

Perahu digayu terus sampai jauhnya tiga lie, selama mana, sang pagi telah datang, tatkala si empe sudah awasi tepian, lantas dia kata pada kawannya “Kawan sesama kampung, disini saja kita singgah!”

“Baik, loocianpwee, terserah,” sahut Hee houw Eng, yang hatinya lega. karena orang mendahului membuka suara. Iapun melihat darat, yang berupa tanah pesawahan, dimana ada beberapa jalan kecil.

Si empe telah tahan perahunya dipinggiran, Hee houw Eng terus meloncat kedarat dimana ia berdiri diam untuk menantikan. Empe itu lemparkan penggayu kedalam perahu, lantas ia loncat kedarat.

“Terima kasih, loocianpwee,” kata Hee houw Eng seraya memberi hormat. “Aku tidak tahu diri, aku berani lancang memasuki daerah musuh, baiknya loocianpwee datang menolong aku. Budi yang sangat besar ini aku tak berani janjikan untuk membalas nya, tetapi meskipun demikian, aku meminta dengan sangat supaya loocianpwee perkenalkan diri, untuk aku ingat dalam hati sanubariku.”

“Sahabat baik, kau mesti ketahui tabeatku,” jawab si empe sambil bersenyum. “Ada biasa bagiku akan melakukan apa yang aku suka, hingga tak usah tunggu orang memintanya. Sebaliknya apabila aku tak setuju, walaupun raja yang minta, tidak nanti aku perdulikan! Aku sudah tolong kau sebab pihak sana tadi sudah berlaku bertentangan dengan cara kaum kang ouw! Kunyuk tadi ada terlalu licin hingga tak sudi aku melihatnya, hingga aku terpaksa berikan hajaran kepadanya, supaya dia insaf, agar dibelakang hari berkuranglah orang2 semacam dia! Kau sendiri, sahabat, kau memang tidak tahu diri, pantas kau merasakan pahit getir, tetapi aku tolongi kau agar pemimpinmu tak dapat malu, maka lain kali hati2lah kau, supaya kau jadi satu anak muda yang berarti. Tentang she dan namaku kau tak usah tanya, nanti saja kau tanyakan pemimpinmu, dia akan mengasi tahu. Tapi kita berdua benar ada berjodo, karena kebetulan sekali kita bisa bertemu. Kata2ku ini adalah kehormatan untuk pertemuan kita yang pertama kali ini, selanjut nya, semua2 terserah kepadaku, kepada kemauanku … Sekarang bilang, kau hendak pergi ke Tong peng pa atau terus ke Gan Tong San?”

Bingung Hee houw Eng akan dengar kata2 tak keruan juntrungannya itu, kalau ia tak telah ditolong, barangkali ia tak sudi melayaninya, atau ia menyangka ia sedang berhadapan dengan orang yang otaknya miring. Ia benar2 tidak tahu orang tua ini siapa adanya, sebab turut laga lugunya, dia mirip orang tertua atau tetua dari pihak sendiri. Karena keterangannya si tua itu, ia pun tidak berani menanyakan terlebih jauh. Maka diakhirnya, ia cuma bisa manggut manggut dan menyahuti “ya, ya,” saja. Ketika ditanya dia mau pergi ke Tong peng pa atau ke Gan Tong San, ia insaf, orang tua itu benar2 ketahui hal dirinya dengan baik sekali. Maka ia jawab “Teecoe empunya po coe sudah menantikan di Ngo liong peng di Gan Tong San sejak tadi malam, dari itu perlu teecoe lekas menyusul ke Ngo liong peng. Disini teecoe tak kenal jalanan, teecoe mohon loocianpwee sudi mengunjukkannya.”

Orang tua cebol itu mengawasi, ia manggut.

“Kau adalah Tee lie touw, si Peta Bumi, tetapi nyata peta bumimu belum lengkap dibuatnya!” kata ia. “Lihat jalanan kecil disana, ambillah itu, yang menuju ke Ngo liong peng. Jalanan disana rata, tidak ada rintangan nya, pergi lekas!”

Hee houw Eng mengucap terima kasih, ia memberi hormat pula.

Selagi begitu, si orang tua mendengarkan suitan mulutnya, suara mana disambut dengan bergerak nya semak didekat mereka, lalu terdengar tindakannya kaki binatang yang keluar dari semak itu, yalah seekor keledai hitam mulus kecuali jidatnya dimana ada pitak putih. Binatang itu, yang kelihatannya gesit sekali, menghampiri si orang tua, didepan siapa ia berdiri diam.

Orang tua itu usap kepalanya keledai itu.

“Jie Hek coe, setengah malaman aku suruh kau menantikan,” kata ia, “maka sekarang mari kita pergi!”

Seperti yang mengerti perkataan orang, keledai itu geraki kepalanya, kemudian dengan kepalanya ia gosok tubuhnya si orang tua. Ketika si orang tua menepuk kempolannya, segera ia angkat kepalanya, lantas ia berlompat kedepan, berlari, sampai sedikit jauh.

“Nah, sahabat baik, sampai kita bertemu pula!” kata orang tua itu pada Hee houw Eng, sesudah mana dengan enjotan tubuh “Pat po kan siam”-“Menguber tonggeret,” ia berlompat kedepan, cuma dua tiga kali, ia sudah lantas duduk bercokol diatas punggung keledainya, yang ia dapat susul dalam sekejab, untuk antap binatangnya itu kabur terus.

Hee houw Eng celangap menampak pemandangan itu, ia kagum bukan main, buat si empe sendiri, untuk keledainya juga yang begitu jinak dan mengerti maksud orang. Di Lek Tiok Tong ia telah saksikan orang2 gagah dari Hoay Yang Pay, tetapi yang liehay sebagai empe ini, baharu kali ini ia saksikan. Tetapi iapun tak berani diam lama2 ditempat sunyi itu, ia lantas buka tindakan lebar, untuk menuju ke Ngo liong peng.

Kira2 tengah hari, Tee lie touw sampai dikaki gunung Gan Tong San, ia mampir ditepi jalan di mana ada beberapa penjual makanan dan air teh, sembari tangsel perut, ia tanya jalanan, hingga ia ketahui, lagi dua lie ia akan sampai di Ngo liong peng. Habis dahar, ia lanjutkan perjalanan. Jalanan benar bagus, hingga tukang sewakan kereta bisa berlari2. Ketika akhirnya ia sampai ditempat tujuan, ia dapati sebuah tempat berkumpul tukang sewakan keledai. Ia tak tahu Eng Jiauw Ong ada dimana, ia masgul juga, ia jalan terus. Ia jalan mutar, sampai dibukit Hok Say Nia, yang lebat dengan pepohonan, disitu ia dapati sebuah tembok merah, maka kekuil itu ia menuju.

Kebetulan ditepi jalan, pa da sebuah pohon besar, ada goresan golok, melihat itu, Hee houw Eng girang. Itu ada tanda rahasia dari ketuanya. Ia jadi dapat harapan, maka ia maju lebih jauh. Baharu belasan tindak, ia dapati serupa tanda yang menunjukkan arah, yalah kejurusan kuil, maka lekas2 ia menuju kerumah suci itu.

Kuil ada terdiri dari empat atau lima undakan ruangan, pekarangannya pun lebar, mereknya adalah Kioe Leng Kiong, sebuah kelenteng imam atau toosoe. Dilihat anteronya, kuil berkedudukan dimukanya bukit.

Tanpa sangsi lagi Hee houw Eng bertindak masuk. Pintu kuil terpentang lebar.

XLIX

Baharu Tee lie touw memasuki pintu kelenteng, ia sudah lantas disambut oleh satu imam umur diatas enam puluh tahun.

“Apakah sie coe she Hee houw?” tanya si imam sambil memberi hormat.

Ditegur secara demikian, Hee houw Eng tercengang. Akan tetapi segera ia menduga, tentu Eng Jiauw Ong yang pesan imam itu. Maka ia lantas manggut membenarkan. “Apakah ketuaku ada disini?” ia balik tanya. “Silahkan antar aku, perlu aku segera menemui ketuaku itu.”

“Eh, sie coe, kau bicara dari ketua apa?” tanya si imam, yang agaknya heran. “Didalam kelenteng Kioe Leng Koan kami ini cuma ada imam kepala tetapi tidak ada ketua. Barangkali sie coe keliru, maka mari kau menemui koan coe, kepadanya kau boleh minta keterangan,”

“Koan coe” adalah kepala kelenteng, atau imam kepala.

Kembali Hee houw Eng bengong. Kalau Eng Jiauw Ong tidak ada disitu, dari mana si imam tua ini ketahui namanya? Tiba2 ia tersedar, ia diadi kaget. Bagaimana ia boleh lancang sedang tempat ini tentu termasuk dalam pengaruh Hong Bwee Pang? Maka ia lantas bertindak tanpa banyak omong lagi, ia masuk kedalam dengan si imam yang antar sampai diruangan ke dua, yang sunyi, tapi bersuasana harum, karena tetanaman bunga2.

Disitu ada tan pong, ruang pembikinan obat. Dibawah payon ada satu boca tanggung umur enam atau tujuh belas tahun, serta satu boca lain umur tiga belas tahun, yang romannya manis, kuncirnya sepasang, dia ini sedang mengipasi hang louw diatas mana ada dimasak air, yang airnya sedang bergolak golak, kemudian dia seduh teh, yang segera ia bawa masuk kedalam kamar tan pong itu.

“Kau tunggu disini,” kata si imam tua yang mengantar itu, ia bicara pelahan sekali. “Aku akan wartakan kedatanganmu kepada koancoe.”

Hee houw Eng manggut, ia berdiri diam. Lek Tiok Tong agung, tetapi Kioe Leng Kiong ini lebih agung pula, demikian apa yang ia tampak.

Tak lama si imam tua, yang telah masuk kedalam tan pong, muncul dipintu, untuk menggapekan, maka itu, anak muda ini lantas bertindak kedalam ruang itu. Ternyata itu ada satu ruangan besar, dengan lima buah kamar, tiga di Barat, dua di Timur. Segala perabotan disitu ada sederhana tetapi bersih, teratur dan terawat baik.

Si imam tua memasuki kamar yang tengah dari tiga kamar Barat, ia singkap moeilie, ia undang tetamunya masuk dengan sikap nya selalu hormat, gerak geriknya halus.

Hee houw Eng masuk kedalam kamar yang bersih itu dimana, atas sebuah pembaringan ada berduduk satu imam tua yang rambutnya sudah diseling uban, gelungnya ditancapkan tusuk konde dari tulang, sepasang alisnya panjang hampir menutupi kedua matanya, kumis dan jenggotnya pun panjang menyampaikan dada. Dia pakai juba hijau dan angkin melibat pinggangnya. Imam ini dikawani satu orang tua umur kurang lebih enam puluh tahun, mukanya kurus, tubuhnya kate dan kecil, jenggot nya seperti jenggot kambing gunung, bajunya biru, romannya mirip dengan satu petani.

Begitu lekas Hee houw Eng bertindak masuk, si imam tua memandang ia, lantas ia terkejut, karena ia dapati orang punya cahaya mata yang tajam, hingga tak berani ia mengawasi, lekas ia tunduk. Begitu datang dekat pembaringan, ia memberi hormat seraya perkenalkan namanya.

Sengaja Hee houw Eng hunjuk kehormatan besar, ia percaya, si imam nanti cegah ia. Diluar dugaannya, imam itu tidak berbangkit, dia cuma manggut sedikit, seraya kata “Tak sanggup aku menerimanya, jalankan saja kehormatan biasa.”

“Ha, dia besar kepala,” pikir pemuda ini, yang terpaksa terus jalankan kehormatan besar. Setelah itu, si imam tua yang mengantar tadi berkata “Hee houw Sie coe, inilah koan coe kami, Hok Mo Too jin.” Kemudian ia tambahkan “Eh, kenapa kau tidak kenal tuan tua ini?” Ia menunjuk pada petani tua itu.

Ditegur secara demikian, Hee houw Eng bercekat, ia segera pandang orang tua kate itu, hingga sekarang ia dapat melihat dengan tegas.

“Heran,” pikir ia, “kenapa dia ini beroman mirip dengan si orang tua yang tolongi aku? Dia cuma ada sedikit lebih tinggi, mukanya lebih perok, dan ada tambahan kumis jenggotnya ini ”

Selagi ia berpikir dalam keheranan, si imam yang duduk diatas pembaringan, yalah Hok Mo Too jin, tertawa geli seraya terus berkata “Kau adalah seperti si air banjir yang mendampar kuil nya si raja naga! Kau tak mengenali satu dengan lain!”

Sebelum Hee houw Eng sadar dari herannya, si orang tua mirip petani itupun sudah tertawa bergelak2 seraya terus berkata “Bukankah kau Hee houw Eng? Kau ada orang sebawahan Hoay Yang Pay, yang bisa lindungi nama kaum, benar2 Too Liong Soeheng pandai mengenal orang! Kau pasti tidak kenal aku! Aku datang pada empat lima tahun yang lampau ke Lek Tiok Tong, selagi kau diperintah membawa surat ke Hongyang kwan, hingga kau tak dapat menemui aku. Kau tahu, siapa itu orang tua yang tadi malam tolongi kau di Hoen coei kwan?”

Mendengar perkataannya orang itu, bukan kepalang tercengang nya Hee houw Eng.

“Tolol aku!” kata ia dalam hatinya. “Benar aku belum pernah lihat tetapi aku sudah pernah dengar! Yan tiauw Siang Hiap toh dua2nya kate kurus, dan dua2nya, bila sedang merantau, masing masing menunggang seekor Keledai, hingga mereka sangat menarik perhatian orang? Bukankah mereka ada Twie in chioe Na Pek si Pengejar Mega dan Ay Kim kong Na Hoo si Kimkong Kate?   Dan dia ini, mesti ada salah satu diantaranya….”

Karena ini, dengan tersipu2 ia jatuhkan diri didepannya si kate itu untuk beri hormatnya, seraya ia terus berkata “Na Loocianpwee, maafkan teecoe. Memang kemarin ini teecoe telah terjatuh kedalam tangan musuh, syukur ada loocianpwee yang menolonginya hingga tak sampai aku membikin jatuh namanya Hoay Yang Pay. Hanya sampai sekarang teecoe masih tidak ketahui, kemarin ini apakah ada Toa hiap atau Jie hiap ”

“Hee houw Eng, kau benar2 tolol!” berkata si imam diatas pembaringan. “Asal kau perhatikan mereka berdua si kate satu per satu, segera kau akan mendapat kepastian. Tadi malam, orang itu bukankah ada terlebih kate lagi? Nah, apakah dia bukannya Ay Kim kong Na Hoo?” Hee houw Eng manggut. “Dalam hal itu teecoe tidak berani berlaku lancang,” ia menerangkan. “Tapi teecoe merasa sangat bersyukur, hari ini kembali teecoe bertemu Toa hiap!”

“Sudah, kita ada diantara orang sendiri, jangan kau main merendahkan diri!” cegat Na Pek sambil bersenyum. “Kami berdua sudah kuntit kau sekian lama, dari itu aku telah ketahui semua kejadian, hingga tak perlu kau menuturnya lagi. Jietee ku memang paling sukai orang yang bertulang sebagai kau, maka itu ia telah belai kau dengan sungguh2, tak jeri ia bersatru keras dengan pihak Hong Bwee Pang. Sekarang aku panggil kau masuk kemari sebab aku hendak titahkan kau segera pergi menyampaikan kabar kepada ciangboenjinmu. Diantara mereka, sudah ada rombongan2 yang telah memasuki daerah gunung timur. Kami baharu sampai tadi malam, belum sempat kami bertemu dengan ketuamu, karena kami masih punyakan lain urusan, sengaja kami sembunyikan diri, belum waktunya untuk kita berkumpul bersama. Tapi kau dan pocoe mu serta yang lain2nya boleh berkumpul menjadi satu. Harus kau ketahui, tak gampang untuk memasuki Cap jie Lian hoan ouw. Turut apa yang aku dengar, dari depan Hoen coei kwan sampai ke Lwee Sam Tong, jarak nya ada dua puluh lie, sedang Thian Hong Tong dibangun di bagian yang paling berbahaya ke adaannya. Disana, jalan darat dan air, dua2nya ada terjaga kuat sekali, berkumpul banyak orang pandai, dari itu perlu kita ketahui dahulu keadaan dalam mereka sebelum kita lancang masuk, supaya kita tidak sampai menyebabkan keruntuhannya Hoay Yang Pay. Kitapun telah dapat pemberian ingat dari Tiat So Toojin untuk waspada, pemberian ingat mana perlu disampaikan kepada ciangboenjin. Tiat So Toojin juga pesan, apabila ada hal sangat sulit, ciangboenjin mesti minta bantuannya koancoe ini. Maka bila kau bertemu dengan pocoemu, sebutlah nama tootiang ini dikelenteng Kioe Leng Kiong dibukit Hok Say Nia ini, pasti dia lantas dapat mengetahui. Tempat ini tak nanti penjahat berani datangi, maka disinilah pusat kita. Aku percaya tadi malam po coe sudah ambil kedudukan didekat kuil Tiat Hoed Sie di Tang san, gunung Timur itu, atau dirumahnya pemburu didekat guha Cio hoed tong. Disepanjang jalan kau mesti perhatikan tanda2 rahasia dari po coe, tidak nanti kau ke sasar. Akupun tidak akan berdiam lama disini, maka pergilah kau lekas2!”

“Boe liang hoed!” memujih Hok Mo Toojin. “Na Sie coe, kau yang bentrok dengan Hong Bwee Pang tetapi kau seperti hendak celakai pinceng! Aku Hok Mo Toojin, aku anggap aku sanggup takluki segala jejadian, siapa tau sekarang kau justeru undang segala hantu hidup datang kemari, oh, aku benar  benar tak punya kepandaian lagi untuk bikin perlawanan. Dasar naas bagiku, sekarang aku mesti antap kau mendatangkan segala kekacauan! ”

Hee houw Eng tidak berani campur mulut, dia hanya lantas kasi hormat pula pada imam tuan rumah itu, kemudian setelah pamitan dari Twie in chioe Na Pek, lantas ia undurkan diri, si imam tua yang kembali antar ia keluar. Ia segera berangkat menuruti pengunjukannya jago tua itu. Benar saja tidak lama, ia sudah lantas dapati tanda2 rahasia dari Eng Jiauw Ong, hingga ia bisa jalan terus dengan ikuti tanda2 itu, yang senantiasa terdapat dibatang2 pohon. Satu kali, baharu saja ia belok disuatu tikungan, ia lihat didepan ia ada mendatangi satu orang siapa ia segera kenali Kam Tiong adanya.

“Kam Soeheng!” ia mendahului memanggil, “kenapa kau sendirian saja? Mana pocoe?”

“Bagus kau telah sampai!” sahut Kam Tiong selagi ia datang menghampirkan. “Pocoe kuatir kan kau, dia suruh aku papak padamu. Keledai dan suratmu pocoe telah terima, tadinya kau hendak disusul, apa mau ada urusan lain hingga kami tak dapat memecah diri. Kami percaya kau tak nanti terjatuh kedalam tangan musuh, karena kami tahu kau cerdik sekali, kau lebih berpengalaman daripada kami berdua. Kami pun percaya, umpama kata kau terjatuh ke dalam tangan musuh, tidak nanti musuh ganggu padamu. Benar seperti dugaan po coe, kau sampai dengan tak kurang suatu apa. Saudara Hee houw, bagaimana dengan Liok Cit Nio?”

“Dimana berdiamnya po coe sekarang?” tanya Hee houw Eng, yang tidak sempat jawab pertanyaan kawan itu. “Aku perlu segera menemui, ada urusan penting.” “Sabar, bisa kau segera menemuinya,” sahut Kam Tiong. “Didepan sana, di Cio hoed tong, ada rumah pemburu, dirumah itu kami ambil tempat.”

“Nah, mari kita pergi kesana,” kata Hee houw Eng.

Kam Tiong menurut, ia putar tubuh, untuk jalan didepan.

Hee houw Eng mengikuti, seraya tuturkan pengalamannya.

Kam Tiong kagum, ia memuji, tetapi dilain pihak ia jengah sendirinya, karena ia pasti tidak sanggup pertahankan diri terhadap pengalaman sebagai itu.

“Nah, itu disana, diguha batu, adalah rumah si pemburu,” kata ia, selagi ia mendatangi tempat mondok rombongannya.

Hee houw Eng awasi tempat yang ditunjuk, suatu tempat yang bagus tetapi berbahaya, disebelah atasnya ada sebuah rumah suci atau kuil malaikat bumi.

“Disana ada kuil, kenapa pocoe tidak bertempat disana?” ia tanya.

“Kau sebut2 kuil itu?” kata Kam Tiong. “Karena kuil itulah hampir kami celaka, baiknya po coe ada sangat liehay! Ingat kejadian itu, aku bergidik ”

Hee houw Eng heran, ia awasi kawan itu.

“Sudah terjadi apakah?” ia tanya. “Apakah po coe kena di jebak?”

“Aku nanti kasi keterangan,” sahut Kam Tiong, yang terus saja berikan penuturannya, sebagai berikut.

Setelah berpisah dari Hee houw Eng, yang ditugaskan menguntit Lie touwhoe Liok Cit Nio, Eng Jiauw Ong jalan terus bersama dua saudara Kam, dia sampai di Ngo liong peng dengan tidak kurang suatu apa. Sampai disitu tiga keledai mereka tidak mau jalan lebih jauh, ketiganya berhenti ditempat berkumpulnya tukang2 sewakan keledai dimana ada terdapat beberapa keledai lainnya. Beberapa tukang sewakan keledai itupun segera menghampirkan, untuk lantas piara tiga keledai ini, sesudah mana, mereka minta uang sewanya. Eng Jiauw Ong hendak lantas membayar menurut jumlah sewaannya, tetapi Kam Tiong mau mencoba, dia sengaja berikan cuma satu renceng.

“Tuan, jumlah ini tidak cocok,” kata si tukang sewakan keledai seraya awasi anak muda itu. “Bukankah perjanjian ada empat ratus chie untuk seekor nya ditambah uang presenan nya?”

Kam Tiong pandang Kam Hauw, keduanya lantas tertawa.

“Kau benar liehay,” kata Kam Tiong kemudian. “Hanya mengenai jumlah keledaimu, kau keliru. Kami ada berempat dan satu lagi kawan kita ketinggalan dibelakang.”

Lantas Kam Tiong bayar jumlah sewaannya semua.

Tukang keledai itu terima uang sambil mengucap terima kasih berulang2.

Kemudian Kam Hauw ajaki gurunya singgah, untuk dahar sesuatu sambil tunggui Hee houw Eng. Ia dan saudaranya sudah dahaga sekali. Disitu memang ada tukang nasi, teh dan lainnya.

Eng Jiauw Ong setuju, ia ajak mereka hampirkan sebuah warung teh yang nampaknya bersih, yang jual juga makanan lainnya. Mereka belum habis minum satu cawan teh, tiba2 mereka lihat mendatanginya satu orang umur diatas limapuluh tahun, bajunya biru tapi sudah kotor, umurnya baju itu tentu diatas dua puluh tahun, bajunya itu panjangnya sampai dilutut, sedang sepatunya, sebelah sepatu kain biasa, sebelah lagi, tersulam, keduanya sudah tua dan pecah. Dipunggungnya ada satu bungkusan, yang diikat melibat dadanya. Rambutnya dikepang, digelung, mukanya kisut dan kuning, seperti orang berpenyakitan. Tetapi sinar matanya tajam sekali. Ringkasnya, romannya atau dandanannya orang itu aneh sekali. Dikatakan pengemis, dia nampaknya tidak terlalu melarat. Dikatakan sasterawan yang sedang merantau, dia tak mirip2nya. Jikalau ketemu anak2, pasti dia, akan ditertawai, saking lucu dandanannya itu.

Selagi lewat didepan warung teh. orang ini awasi Eng Jiauw Ong serta dua muridnya, tindakan kakinya diberhentikan. Kalau ia mengawasi selewatan saja, tidak aneh tapi sekarang ia mengawasi terus.

Eng Jiauw Ong lihat kelakuannya orang itu, ia bawa sikap tak perdulian, tetapi Kam Tiong dan Kam Hauw, yang masih muda dan darahnya panas, tak senang melihat sikapnya orang itu.

“He, kau sudah mengawasi setengah harian, apa kau masih tak dapat kenali kami?” Kam Hauw menegur. “Awas, nanti biji matamu lompat, itulah celaka!”

Ditegur secara demikian, orang itu perdengarkan suara “Hm!” dan bibirnya bergerak seperti tertawa bukannya tertawa, kemudian ia kata “Dasar boca cilik, penglihatannya sedikit, perasaan anehnya banyak. Orang ada punya dua biji mata, jikalau mata itu tidak dipakai melihat lain orang, apakah mesti dipakai melihat saitan? Kenapa kau begini menghina orang?”

Kam Hauw anggap orang berotak miring, ia berbangkit, dengan niatan mengusir, akan tetapi Eng Jiauw Ong tarik ia hingga ia berduduk pula, sembari berbuat begitu, guru ini kata pada si orang aneh “Sahabat, jangan kau ingat dirimu saja, lain orangpun ada dari satu golongan. Didalam dunya kang ouw, orang ambil jalannya masing2, dari itu, sahabat, persilahkan ambil jalanmu sendiri ”

Dengan kedua matanya yang bersinar, orang aneh itu awasi Eng Jiauw Ong.

“Bagus, lauwhia, kau ada punya mata yang liehay sekali!” kata ia dengan dingin. “Kau harus dihormati. Tapi, walaupun matamu liehay, mungkin kau melihat keliru. Jikalau aku ada punya mata liehay, tidak nanti aku tabrak tubruk tak keruan junterungannya, sebagai menabrak keledai kena tabrak rombongannya! Sebenarnya aku mesti menuju ke Ciatkang Utara, sebaliknya aku pergi ke Ciatkang Selatan, hingga disini aku tak punya sanak atau kadang2 bersiksa oleh kelaparan dan kedinginan, sampai sekarang aku tak punya uang satu boenpun. Sahabat baik, sudikah kau menolong aku?”

Eng Jiauw Ong tidak gusar terhadap orang itu, yang laga dan kata2nya tak keruan.

“Urusan kecil,” sahut ia sambil manggut. “Jadinya, sahabat, kau ingin aku membantu sedikit kepadamu?” Sembari berkata begitu, ia rogo sakunya akan ke uarkan sepotong perak berat kira dua tail, yang mana ia buat main diantara dua jarinya jempol dan telunjuk, lalu sembari angsurkan itu kepada si orang aneh, ia tambahkan “Nah, ini sedikit uang aku haturkan kepadamu, sahabat!”

Orang itu ulur sebelah tangannya untuk menyambuti. “Bagaimana aku sanggup terima kebaikanmu ini !” kata

ia. Eng Jiauw Ong telah gunai tenaganya, yang dikumpul kepada dua jari tangannya itu, jempol diatas, telunjuk dibawah, sedang si orang aneh, jempolnya madap kekiri, telunjuknya kekanan, dengan cara ini ia sambuti sepotong perak itu sambil ia kata “Aku terima separuhnya ”

Kedua orang itu telah gunakan tenaga tanpa kelihatan, agaknya mereka menyodori dan menyambuti dengan biasa saja, siapa tahu, potongan perak itu telah terputus menjadi dua, dua2nya sudah gepeng bagaikan kuwe phia. Baharu setelah itu, lain orang dapat melihatnya, hingga mereka jadi terkejut dan tercengang.

“Apa shemu yang mulia, sahabat?” tanya Eng Jiauw Ong sambil tertawa. “Sudikah kau memberitahukannya kepadaku?”

Orang itu sedang mau simpan uangnya ketika ia dengar pertanyaan itu, lantas ia tertawa tawar.

“Percuma kau hidup dalam dunya kang ouw!” kata dia. “Seharusnya, siapa melepas budi, dia tidak harapkan pembalasan. Kau baharu tolong aku dengan uang sebegini, lantas kau hendak cari tahu tentang diriku. Sudah, aku tidak mau terima kebaikanmu, biarlah didepan nanti kita bertemu pula!”

Lantas ia putar tubuhnya dan pergi. Eng Jiauw Ong lantas tertawa gelak2.

“Sahabat, terlalu cupat pandanganmu!” kata ia. “Rupanya uang itu terlalu sedikit hingga tak cukup untuk membuat kau perkenalkan dirimu! Baiklah, di sini masih ada sepotong lagi, kau terimalah!”

Selama itu, Kam Tiong dan Kam Hauw mengawasi saja dengan perasaan tegang. Mereka sudah lantas insaf sikapnya guru mereka, yang sedari bermula mereka awasi senantiasa. Terpotongnya dua perak itu menandakan kedua pihak sedang adu kepandaian. Mereka penasaran melihat si orang aneh hendak angkat kaki. Benar selagi mereka hendak minta guru itu mengejar, atau mereka lihat tindakan terlebih jauh dari sang guru. Dengan ucapannya itu, Eng Jiauw Ong telah membarengi membikin melesat potongan perak itu.

Orang aneh itu egos tubuhnya, nampaknya ia terkejut, tetapi walaupun demikian, ia ulur tangannya akan sambuti serangan hebat itu, setelah mana, ia menjura, katanya “Dasar orang pandai, benar luar biasa! Aku si orang perantauan bersedia untuk menerima pengajaran didepan nanti, maka di Cio hoed tong kita nanti bertemu pula!”

Lalu orang itu putar tubuhnya, akan bertindak dengan cepat kearah gunung.

Dua saudara Kam tercengang dengan kesudahannya pertandingan istimewa itu.

“Soehoe, orang itu orang macam apa?” Kam Tiong tanya gurunya, yang sudah lantas ambil pula tempat duduknya.

“Jikalau dia ada orang Hong Bwee Pang, dia ada satu musuh berat,” sahut Eng Jiauw Ong sambil kerutkan dahi.

“Bagaimana bisa diketahui dia liehay, soehoe?” tanya Kam Hauw, yang tidak mengerti. “turut penglihatanku, dia cuma banyak berlatih. Mustahil dia sanggup tandingi Eng jiauw lat dari soehoe?”

Guru itu melirik kekiri dan kanan, ia dapati lain2nya tetamu sudah pada berlalu, rupanya mereka kewatir akan terbit onar, disitu tinggal si tukang warung, yang nampaknya ada menaruh perhatian besar. “Jangan bicara sembarangan!” kata guru ini, suaranya membentak tapi pelahan. “Lihat saja tapak kakinya, kita sudah lantas ketahui kepandaiannya Kam Tiong dan saudaranya segera mengawasi ketempat dimana orang aneh tadi berdiri, disitu mereka lihat tapak kaki yang dalam, maka itu sekarang mereka dapatkan buktinya liehaynya si orang aneh itu, yang tubuhnya enteng bagaikan bulu burung, berat seperti bukit. Maka mereka lantas tutup mulut.

“Mari kita berangkat,” kata Eng Jiauw Ong kemudian. “Buat apa kita menunggu lama lama disini.”

Kam Tiong lantas berbangkit, untuk bayar uang air teh dan makanan, ketika dia putar tubuhnya, hingga ia membaliki belakang pada Kam Hauw, adik ini berseru “Koko, kenapa kuncir mu buntung?”

Engko itu kaget, ia lantas merabah dengan tangannya. hingga ia dapat kenyataan kuncirnya putus sebatas sambungan benang. Ia bengong, ia kaget dan gusar dengan bebareng.

“Hm!” Eng Jiauw Ong perdengarkan suara, tandanya iapun gusar sekali. “Makhluk tak berguna, buat apa dilihat lagi? Pit hoe, kau menjemuhkan, jikalau kau tidak puas, kau boleh berhadapan dengan aku! Kenapa pakai laga tengik begini? Apakah kau kira aku si orang she Ong boleh diperhina?”

Lantas ia kasi tanda pada dua muridnya.

Dua saudara Kam tahu guru itu gusar, mereka lantas bertindak dengan tidak bilang apa2 lagi. Itu waktu sudah sore, sudah waktunya orang, terutama orang2 pelancongan, yang sedang pesiar, berangkat pulang, maka ditempat perhentian, ada banyak orang berkumpul, bicara hal harga sewaan keledai. “Sam wie, mari, kemari!” tiba2 satu tukang sewakan keledai teriaki Eng Jiauw Ong bertiga.

Eng Jiauw Ong menoleh, ia lihat orang itu berada bersama seekor keledai, yang napasnya sengal sengal, dikurung oleh dua tiga orang lainnya. Kam Tiong pun beritahukan gurunya hal orang itu memanggil.

“Ada apa?” tanya Eng Jiauw Ong, yang menghampirkan dengan tindakan pelahan.

Nampaknya tukang sewakan keledai itu mendongkol, tapi karena ia berhadapan kepada penyewa keledai yang tangannya terbuka, ia paksa bersenyum.

“Lihat keledai ini tuan,” kata ia “Inilah keledai yang disewa kawanmu, yang katanya ketinggalan dibelakang. Orang itu tidak datang, melainkan keledainya ini sendirian saja, dengan mulutnya terluka, tanduknya pun luka. Entah kemana perginya kawan tuan itu. Binatang ini baiknya bisa pulang sendiri, jikalau tidak, dia bisa lenyap….”

“Tunggu sebentar,” kata Eng Jiauw Ong, sambil melambaikan tangan. “Aku percaya kau bilang keledai ini kepunyaanmu, tapi cara bagaimana kau tahu dia adalah yang disewa kawanku? Binatang ini tidak bisa bicara, apa tak bisa jadi, penunggang nya ada lain orang?”

“Maaf, tuan, tapi kami ada punya tanda rahasia,” tukang keledai itu jawab.

Eng Jiauw Ong berdiam, ia berkuatir untuk Hee houw Eng, karena ini, ia awasi keledai itu, sampai ia dapat lihat sepotong kertas terjepit digelangan, lantas ia ambil itu, terus ia buka dan baca, lalu ia masukkan kedalam sakunya.

“Kau bayar dia satu tail,” dia suruh Kam Tiong. Kepada si tukang keledai, dia teruskan kata “Aku mengerti sekarang. Luka nya keledai ini tidak berarti, mengaso satu dua hari, dia akan sembuh. Kau terima itu satu tail, selaku pengganti kerugian.”

Melihat demikian, tukang keledai itu girang sekali, ia mengucap terima kasih berulang.

Eng Jiauw Ong pun segera ajak dua muridnya berlalu. Waktu itu jalanan sudah mulai sepi.

“Hee houw Eng kirim surat dengan perantaraan keledai tadi,” kata guru ini ditengah jalan. “Dia sedang kuntit Liok Cit Nio, maka mari kita tunggui ia disebelah depan. Sayang pit hoe tadi keburu pergi, maka mari kita susul padanya!”

Kam Tiong dan Kauw Hauw menurut. Mereka dapat kenyataan, guru mereka itu masih saja gusar. Lalu dengan cepat mereka ikuti guru itu, yang jalan mendaki bukit, yang jalanannya rata. Sebenarnya mereka berdua ragu2 menampak hari sudah mulai gelap sesudah mereka bertiga melalui tiga empat lie. Puncak gunung sudah terbenam kabut. Tetapi guru mereka, maju terus.

Segera juga mereka lihat satu tukang kayu, dengan pikulan nya dipundak sedang bertindak turun, kayunya berat tetapi tindakannya tetap.

Selagi orang mendekati, Eng Jiauw Ong memapaki, sambil memberi hormat ia tanya, masih berapa jauh lagi akan sampai di Cio hoed tong, tempat yang disebut guha Buddha Batu.

“Tinggal lagi tujuh atau delapan lie, tuan,” sahut tukang kayu itu, yang lalu bersangsi, “Tetapi diwaktu hari sudah gelap begini, sulit untuk pergi kesana, suatu tempat yang sunyi. Jalanan sebenarnya cuma lima lie, jalan mutarlah yang membuat jauh lebih dua lie. Disana ada persimpangan jalan, ambil yang Timur, lalu ikuti bukit, setelah tiga empat lie, perhatikan pecahan jalanan, lebih jauh ikuti sungai, kearah Timur utara, itulah jalanan ke Cio hoed tong. Apabila tuan ambil jalanan Timur selatan, tuan akan keliru, itu ada jalan kekelenteng Kioe Leng Kiong itu ada jalanan mati. Harap tuan jangan katakan aku banyak omong, umpama tuan tak dapati pondokan, sekali jangan singgah dikuil Tiat Hoed Sie. Kalau bukannya aku, lain orang tak nanti berani menerangkan begini kepada tuan tuan.”

Tukang kayu itu celingnkan, ia seperti kuatir orang dengar perkataannya itu.

“Terima kasih untuk kebaikanmu,” mengucap Eng Jiauw Ong. “Tiat Hoed Sie ada tempat suci, mustahil disana orang lakukan apa2 yang terlarang?”

“Begini aku bilang, begini kau dengar, tuan,” sahut tukang kayu itu, dengan pelahan. “Kita tidak bermusuhan, bukan? Maka tak dapat aku tunjukkan kau jalanan yang tidak aman. Tiat Hoed Sie itu bukannya suatu tempat bagus, jangan pergi ke sana ada terlebih baik…. Sudah sore, tuan, aku perlu lekas2 pulang!”

Lantas tukang kayu ini bertindak pergi, dengan cepat.

L

Eng Jiauw Ong awasi orang pergi, hatinya berpikir. Ia mengerti, ada artinya dalam kata2 nya si tukang kayu ini. Kemudian dengan turuti pengunjukannya tukang kayu itu, ia ajak murid muridnya berangkat, melanjutkan perjalanan mereka, Jalanan sukar dan berbahaya tetapi itu tak jadi halangan bagi guru dan murid2 ini. Ketika mereka akhirnya hadapi sebuah kali panjang, mereka panjat tempat tinggi untuk dapat memandang luas dan jauh. Merekapun hendak tunggui munculnya sang bulan, untuk lihat jalanan. Disitu tidak ada rumah orang, tidak ada cahaya api. Mereka mesti tunggu sampai jam sembilan, baharu bulan menyinarkan cahayanya yang remeng. Adalah setelah ini, dua saudara Kam repot juga mengikuti guru mereka, disebabkan kesulitan jalanan, hingga mereka mandi keringat. Sang guru sendiri sebenarnya tidak jalan terlalu cepat, beberapa kali ia berhenti untuk menantikan.

Setelah lagi setengah jam, selagi mereka duga mereka sudah tak terpisah jauh lagi dari Cio hoed tong, Eng Jiauw Ong dapati beberapa rumah mencil disana sini, semua terbuat dari batu. Karena ini, mereka selalu lindungkan diri, agar tak ada orang yang lihat mereka.

“Disana tentulah Tiat Hoed Sie,” kata Eng Jiauw Ong kemudian sambil tangannya menunjuk kedepan dimana ada cahaya api. “Orang janjikan kita akan bertemu disana, kita belum tahu dia siapa, kita mesti waspada, agar kita tak sampai kena dijebak. Ingat, tanpa kata kataku, jangan kau melan iyangi, ikuti saja gerak gerikku. Syukur bila dia ada orang baik, tapi kita mesti berjaga2 untuk menghadapi sesuatu.”

Kam Tiong dan saudaranya janji akan perhatikan pesan itu, tetapi mereka anggap guru itu pandang musuh berlehih2an.

Sesudah menunjuk, Eng Jiauw Ong ajak dua muridnya rnenghampirkan sekelompok rumah, yang ia percaya ada rumah pemburu binatang liar. ia mendahului loncat naik ketembok, dua muridnya ia perintah menjaga dikiri dan kanan rumah itu, yang terdiri dari tiga ruangan. Disebelah Utara dan Selatan, samar2 kelihatan kandang kuda dan binatang lainnya.

Tanpa menerbitkan suara seperti diwaktu naik, Eng Jiauw Ong loncat turun kedalam pekarangan. Dari jendela Selatan molos sedikit sinar api, disebelah Utara kamar ada gelap tapi dari situ terdengar suara menggeros. Dari tempat yang ada api ia dengar suara orang bicara dengan pelahan, maka dengan hati2 ia maju rnenghampirkan, terus ia bikin lobang dikertas jendela untuk mengintai kedalam, hingga ia dapati sebuah kamar pemburu yang sederhana sekali.

Dipembaringan, tiga orang asyik tidur mengorok. Di Utara jendela, dua orang duduk bercokol sambil hadapi makanan dan arak, ke dua2nya berumur antara empat puluh tahun, yang kiri bermuka merah, alisnya gomplok, matanya besar, kumis jenggotnya dicukur kelimis, pakaiannya ringkas dan pendek, dia masih suka angkat cawan arak nya, dan yang didepannya bermuka putih kuning, alisnya tajam, matanya bersinar, romannya gagah dan rupanya kuat juga minumnya, dia layani undangan kawannya itu. Si muka merah agaknya sudah mulai sinting.

“Lauw Han, kenapa kau ber sangsi2?” kata si muka merah, ketika ia bicara. “Biar bagaimana, mereka mesti disingkirkan. Benar mereka belum turunkan tangan jahat terhadap kita akan tetapi kita toh sudah diusir….”

Si orang she Han itu menghela napas.

“Lauw Kho, kau terlalu turuti hati,” kata dia, pada sahabatnya itu si orang she Kho. “Mereka itu tak dapat disamakan dengan orang2 biasa, mereka berboegee liehay. Kalau sekarang mereka belum turun tangan, itulah disebabkan mereka masih jaga kehormatannya, agar mereka tidak dicela orang. Menurut aku, tidak ada lain jalan untuk kita daripada angkat kaki dari sini. Permintaan mereka, untuk besok, adalah hebat sekali. Sepuluh lembar kulit macan tutul dan sepuluh ekor kucing hutan, itu ada jumlah tak sedikit. Jikalau kira tidak mampu serahkan itu besok, sudah pasti kita bakal di caci maki habis2an ” “Ah, Lauw Han, kenapa kau demikian berkuatir?” kata si Kho. “Kita toh belum habis daya! Berterang kita tidak sanggup melawan, masih ada jalan gelap! Apakah kita tidak mampu bakar ludes pada mereka? Sehabis itu, masih ada tempo untuk kita angkat kaki. Mereka telah menguasai daerah Cio hoed tong ini, sampai selama dua hari ini orang2 pelancongan tidak berani pergi kelembah Cian pou gay di gunung sebelah Timur. Benar2 aku heran. apakah maksud mereka? Apakah didaerah Timur itu ada sumber harta, yang mereka hendak kangkangi sendiri? Disana justeru terdapat paling banyak binatang liar ”

“Ah, Lauw Kho, sudahlah!” kata si Han itu. “Sekali ini, kita sudah rubuh. Mereka ada orang2 aneh. Yang satu bukan orang biasa, tetapi sebagai imam, pun tidak bersujud, katanya ia tidak pernah bicara, walapun ia sendiri yang terima barang. Menurut Ouw Soetee dan Cioe Jietee, tak pernah ia bicara, belum pernah ia bersenyum. Jikalau orang ketemui ia diwaktu malam, orang bisa mati kaget karena menyangka ia ada bangkai hidup. Cuma pada empat atau lima hari yang lalu, ketika ada datang satu pembesar serta pengiring2 nya, ia tidak cegah pembesar ini pesiar sampai dikuil Tiat Hoed Sie, ia melainkan minta derma. Katanya, tempo si pembesar majukan pelbagai pertanyaan, orang imam bukannya imam itu sanggup menjawab dengan benar dan lancar, ia paham tentang ilmu silat dan ilmu surat, hingga si pembesar menderma seribu tail. Dari sini jadi diketahui ia tidak gagu. Karena ini, aku anggap tak perlu kita layani mereka. Menurut aku, lebih baik kita berempuk untuk pindah saja ke Thian Tay San.”

Mendengar itu, Eng Jiauw Ong percaya, orang aneh yang ia ketemukan mesti bertempat di Tiat Hoed Sie, bahwa dia benar benar liehay. Ia mau duga, dia itu ada orang Hong Bwee Pang. Supaya tidak ganggu pemburu itu, Eng Jiauw Eng keluar dari rumah itu akan ajak dua muridnya pergi kesebelan Timur, ketanjakan. Ia larang dua muridnya banyak omong. Karena ia berlari lari dengan cepat, kedua muridnya mesti turut teladannya itu.

Selagi mendekati sebuah rumah, sedangnya biluk diujung tembok, mendadak Kam Tiong terserimpat, hampir dia rubuh, sukur dia keburu tahan kakinya, tatkala dia menoleh kebelakang, Kam Hauw pun sempoyongan, baiknya dia cepat menyamber dan mencekalnya. Keduanya heran, hingga mereka perdengarkan suara tertahan, tetapi disitu mereka tidak lihat orang lain.

“Ada apa?” tanya Eng Jiauw Ong, yang dengar suara mereka.

Belum lagi dua saudara Kam menyahuti, atau dari sebuah pohon dua tumbak jauhnya dari mereka, ada terdengar suara tertawa tertahan, tak sedap masuknya ketelinga.

Tidak buang tempo lagi Eng Jiauw Ong melesat kearah pohon itu.

Justeru itu terdengar satu suara berkeresek diatas pohon, di susul rontokn ya banyak daun dan cabang kecil, kemudian tertampak satu bayangan mencelat turun beberapa tumbak jauhnya.

Karena suara dan rontoknya dedaunan itu, Eng Jiauw Ong loncat berkelit, maka itu, ia lantas kehilangan bayangan itu, karena mana, ia serukan “Kemana kau hendak pergi? Aku hendak lihat rupa tampangmu!” Lantas ia loncat, untuk mengejar. Hanya, untuk keheranannya, bayangan itu tetap lenyap. “Mustahil ilmu entengi tubuhnya dapat menangkan kaum Hoay Yang Pay?” Eng Jiauw Ong tanya dirinya sendiri. Ia ingat pada liehaynya Yan tiauw Siang Hiap. Tempo ia menoleh, ia lihat dua saudara Kam ketinggalan jauh. Tapi ia tidak sempat perhatikan kedua murid itu, ia maju terus sampai ditanjakan, yang tinggi dan lebat dengan pepohonan.

Dengan bantuannya sang bulan, Tiat Hoed Sie kelihatan nyata disebelah depan. Karena ini, Eng Jiauw Ong lari lebih pelahan, untuk kasi ketika dua saudara Kam dapat susul ia. Ia menduga duga, apa si orang aneh berada didalam kuil, dan apa barusan dialah yang godai dua saudara Kam.

Segera dua saudara Kam dapat candak gurunya, siapa kembali pesan mereka akan berhati hati. Guru ini tambahkan “Aku hendak menyelidiki kedalam, kau ikuti saja aku. Pasang mata dan dengar segala pengunjukanku.”

Kam Tiong berdua menyanggupi.

Itulah jam dua lewat ketika Eng Jiauw Eng sampai ditanjakan, yang sunyi sekali. Cuma sang angin, yang meniup niup pepohonan dengan menerbitkan suara. Tanah disitu ada datar, banyak pohonnya, siong dan pek yang sudah tua. Kuil bercokol dimuka, nampaknya agung tetapi sudah tua. Sesudah datang dekat kepintu depan, baharu Eng Jiauw Ong dapat melihat lebih nyata. Daun pintu tertutup. Didepan pintu ada dua puluh buah pohon liong jiauw hoay.

Eng Jiauw Ong heran mendapati kesunyiannya kuil itu, sampai dipepohonan didepan pintu, tidak ada burung burung yang bermalam. Biasanya burung ada paling getap dan mendusi dengan kaget apabila ada orang datang dekat padanya. “Bisa jadi dia benar ada orang biasa saja….” pikir Eng Jiauw Ong, yang terus naik ketembok pintu, akan melihat kesekitarnya. Kuil itu gelap pekarangan dan dalamnya. Karena ini ia larang dua muridnya, yang susul ia, lancang turut masuk. Sendirian saja ia loncat kegenteng rumah sebelah Timur, akan sampaikan pendopo. Disini ruangan ada gelap.

Lantas Eng Jiauw Ong maju lebih jauh, keundakan kedua. Baharu disini, ia tampak cahaya api, disebelah belakang. Nyata, pendopo aseli adalah dibagian belakang dari ruang kedua ini. Pendopo nampaknya agung, depannya panjang dan lebar lima tumbak masing masing tangga injakannya tujuh tingkat. Pintu pendopo ada dua belas, empat yang ditengah, dibuka. Empat pintu dikiri dan kanan, kertasnya sudah pada pecah. Kertasnya berbagai jendelapun sudah pada robek, hingga kertas pecah itu bersuara karena sampokan angin. Pendopo ada dalam dan lebar, tidak ada lilin lampu disitu, kecuali satu lentera beling yang tergantung ditengah tengah. Maka ruangan yang besar nampaknya jadi seram.

Patung Buddha, yang terbuat dari besi, ada menghadapi lentera itu. Tingginya patung ada setumbak lebih, muka dan tubuhnya hitam, duduknya numprah dengan kedua tangan terangkap. Lian tay, tempat duduknya, ada batu yang berukiran, lebar besarnya tujuh atau delapan kaki. Dari jauh Eng Jiauw Ong tidak bisa lantas kenali, Buddha apa yang dipuja itu. Meja sembahyang pun ada lebar dan besar.

Dengan hati2 Eng Jiauw Ong menghampirkan terras, ia melirik kekiri dan kanan, dimana tidak ada orang, lalu ia memandang kedalam dan bertindak maju, masuk kependopo. Sekarang baharu ia lihat tegas, dipendopo sebelah Timur, dekat tembok, ada terletak dua peti mati, yang satu putih dan baharu, yang lainnya hitam gelap. Justeru itu ada angin menyambar, menerbitkan suara dipelbagai kertas pintu dan jendela, sampai api lentera ber kelak kelik, hampir padam, keadaan bukan main seramnya.

Eng Jiauw Ong ada satu jago, ia berpengalaman, ia tak percaya setan dan jejadian, tapi toh ia merandek, hingga ia merasa, apa mungkin ia jadi bernyali kecil. Begitulah, ia maju pula, ia dekati patung, yang kelihatannya agung. Benar sedang ia mengawasi, ia dengar suara pada peti mati disebelah Timur itu. Ia terkejut, ia menoleh. Tapi ia tidak lihat suatu apa, suarapun berhenti. Ia berpikir keras. Ia tidak jeri terhadap peti mati itu, ia hanya curigai kuil ini.

“Kemana perginya orang yang menantang aku?” ia tanya dirinya sendiri. Orang itu tidak muncul. sedang menurut dua pemburu Han dan Kho, kuil ini ditempati oleh orang kosen, orang kang ouw yang kejam. Maka ia heran kuli ada seperti kuil mati …..

“Apa mungkin mereka semua telah undurkan diri?” jago Hoay siang ini menduga duga pula. “Apakah mereka menggunai akal untuk bikin aku pusing?”

Eng Jiauw Ong penasaran, lalu ia meneliti lentera yang tergantung itu, yang apinya seperti mau padam tetapi minyaknya masih banyak, seperti yang baharu ditambahkan. Ia memeriksa ke tembok Timur dan Barat, terutama akan cari tahu, disitu ada jalanan kedalam tanah atau tidak.

Dua peti mati itu terletak di tempatnya, ditepi tembok Timur. Di Utara ada sebuah meja, atas mana ada ciaktay dan hiolow, juga dua lembar papan, seperti sincie, maka itu, Eng Jiauw Eng mendekati akan periksa sincie itu. Ia lihat huruf hurufnya sincie samar samar, dari itu ia lalu angkat untuk dilihat dari dekat, diantara cahaya api. Itulah bukan sincie, walaupun dua dua ada huruf hurufnya, yang satu berbunyi “Oh, kau sudah datang?” dan yang satunya “Silahkan jip bok!” Atau artinya silahkan tuan masuk dalam peti mati!

Mau atau tidak jago Hoay siang ini terperanjat. Itu adalah ejekan untuk ia. Ia bertambah berhati hati. Ia lanjutkan penyelidikannya sampai disebelah belakang, kemudian baharu ia keluar pula. Ia tadinya mau keluar terus dari pendopo itu, baharu ia jalan dua tindak, atau sekonyong konyong ia dengar suara menjeblak dahsyat, hingga ia putar tubuhnya dengan segera.

Suara itu datangnya dari kedua peti mati, yang dua dua tutupnya bergerak, tadi rupanya terangkat naik dan dilepaskan dengan mendadakan, hingga menerbitkan suara berisik, tapi sekarang terangkat pula, samar2 tertampak dua buah tangan sedang mengangkat.

Air mukanya Eng Jiauw Ong berubah, ia tidak takut, tetapi ia terkejut, ia heran sekali. Kalau bukannya ia, pasti orang sudah mencelat keluar tunggang langgang. Ia sebaliknya, sudah lantas mengawasi, sambil siap sedia.

Dengan pelahan masing2 kedua tangan itu mengangkat tutup peti mati, hingga sebentar kemudian terlihat nyata masing2 ‘mayatnya’. Itu ada pemandangan yang menakutkan. Eng Jiauw Ong cuma terkesiap, lantas ia memasang mata lebih jauh, hingga kemudian, keheranannya lenyap anteronya.

Pada sebuah peti mati, sang ‘mayat’ adalah si orang aneh tadi siang pakaiannya, roman nya, tetap tidak berubah. Pada peti mati yang lain, ‘mayatnya’ ada seorang umur kurang lebih tiga puluh tahun, pakaiannyapun bukan pakaian biasa, mukanya penuh debu. LI

“Hei, kau siluman apa, hantu apa? Aku tidak takut! Aku hendak lihat kau ada orang2 liehay bagaimana!” ketua Hoay Yang Pay lantas membentak, ia insaf, apabila mereka itu benar2 bangkai hidup, mereka ada bertenaga sangat besar, dari itu, ia mesti waspada.

Atas bentakan ini, ‘bangkai hidup’ dari peti mati yang putih lantas tertawa dingin.

“Ong Too Liong, kau masih tak mau masuk kedalam peti ini?” dia menegur.

Eng Jiauw Ong heran, sedang tadinya ia tampak orang berdiri tegak menadah tutup peti mati. Ia jadi semakin mendongkol.

“Hantu tak tahu mampus, mustahil aku tak dapat singkirkan kau?” ia membentak seraya geraki tubuhnya, dengan nyatan loncat maju menerjang.

“Sambuti ini!” demikian ada teriakannya si hantu sebelum jago Hoay siang keburu berlompat, berbareng dengan mana tutup peti yang besar dan berat itu segera melayang kearah jago Hoay siang itu.

Maka siapa ketimpah itu, mesti dia ringsak dan binasa!

Eng Jiauw Ong tak terkesiap karenanya. Ia bergerak kekiri, hingga ia terluput dari serangan hebat itu. Tapi iapun tidak berdiam saja. Dari samping ia segera ulur tangannya yang kanan, akan sanggapi tutup peti itu dengan kaki kanan bergerak kebelakang, dengan dibantu tangan kiri, ia lempar balik tutup peti itu sambil berseru “Pergilah masuk!”

Beratnya tutup peti itu ada lebih daripada seratus kati, tapi diantara dua orang itu nampaknya jadi enteng sekali. Begitulah, dilemparkan oleh Eng Jiauw Ong, benda ini melayang dengan cepat, balik ketempatnya.

Disaat tutup peti ini hampir sampai kepetinya, mendadak si bangkai hidup lompat keluar dari dalam peti, loncat kesamping, kemudian ketika tutup peti sambil terbitkan suara nyaring dan berisik menungkrap keatas peti, dengan tiba2 juga si bangkai hidup lompat lagi, mencelat keatas tutup peti dimana ia berdiri tegak!

Segera setelah itu, Eng Jiauw Ong insaf bahwa ia tengah orang permainkan.

Bangkai hidup dari peti mati hitam rupanya hendak beraksi sebagai kawannya, tetapi apabila ia lihat kawannya gagal, ia lantas loncat keluar sambil antap peti mati tertutup sendirinya, sesudah mana, ia melejit kedepannya jago Hoay siang itu, selagi berloncat, dari mulutnya terdengar suitan yang tajam. Ia tidak mengucap apa2, tahu2 ia pentang kedua lengannya, tangannya menuju kedada. Ia agaknya hendak menerkam, tetapi sebenarnya ia bergerak dengan ilmu pukulan “Hek houw sin yauw” atau “Harimau hitam lempangkan pinggang.”

“Sungguh liehay!” kata Eng Jiauw Ong dalam hatinya, yang lihat gerakan lawan itu. “Adalah aneh yang bangkai hidup mengerti ilmu silat! Aku hendak lihat, kepandaian apa dua makhluk ini ada punya!”

Lantas ia egos tubuhnya, hingga serangannya si bangkai hidup mengenai tempat kosong. Baharu ia memikir hendak balas menyerang, atau suara angin sudah terdengar disebelah belakangnya, tapi ia tidak berkelit, sebaliknya, seraya putar tubuh ia mendahului menyerang kebelakang. Gerakannya adalah “Giok bong hoan sin,” atau “Ular naga kumala memutar badan,” dan  serangannya adalah  “Kim tiauw hian jiauw” atau “Garuda emas perlihatkan cengkeraman.”

Suara angin dibelakang itu benar ada serangan si bangkai hidup, yang menyangka gerakannya sangat gesit dan musuh pasti tidak keburu bersiap sedia, tapi ia tidak duga, jago Hoay siang itu sebetulnya ada terlebih gesit daripadanya, ia terkejut, terpaksa ia ubah maksudnya, sambil berkelit kekiri, dalam gerakan “Tay peng tian cie” atau “Garuda pentang sayap,” tangan kanannya menyamber iga kiri lawan. Ia tak mau didului tanpa balas menyerang.

Melihat serangannya tidak memberi hasil dan ia lagi2 diserang, Eng Jiauw Ong tidak manda saja, ia malah segera membalas lagi. Dengan tangan kanan ia coba totok nadi lawan itu, dilain pihak, dengan dua jari tangan kiri, ia cari jalan darah “hong boen hiat” dari pundak kanan lawan, untuk bikin terlepas pundak lawan itu.

Bangkai hidup itu mencelat kekiri, menuruti ilmu berkelit “Oey liong coan sin” atau “Naga kuning memutar tubuh.” Dengan begitu, ia lolos dari ancaman bahaya. Dia benar2 liehay. Sebab menyusul itu, sebelah kakinya kaki kiri terangkat, dipakai menyapu kaki musuhnya.

Eng Jiauw Ong enjot tubuh untuk berloncat, setelah mana, iapun balas menyerang pula dengan pukulan beruntun “Lian hoan cin pou ciang”

Bangkai hidup itu tidak terancam bahaya hebat walaupun ia sudah menyapu tempat kosong dan tangan lawan segera mengarah dia, dengan cepat ia bisa berkelit pula.

Eng Jiauw Ong merasa benar benar liehaynya musuh ini, karena mana ia jadi semakin berhati2 berjaga diri. Apapula setelah enam atau tujuh jurus, ia dapat kenyataan bangkai hidup yang mudaan lenyap entah kemana, hingga ia menyangka orang hendak gunai tipu daya terhadap nya. Diam2 ia pusatkan perhatiannya kepada ini satu musuh yang tanggu, ia lantas gunai ilmu silatnya “Sha cap lak Kim na Tiam hiat chioe,” yang ia pernah yakinkan di Lek Tiok Tong seraya menutup diri sekian lama. Tiga puluh enam pukulan itu semua ada totokan2 kepada jalan darah, untuk membikin kesemutan, pingsan dan pukulan dari kematian. Bagi orang biasa, jangankan sampai kena ditotok, terkena samberan anginnya saja sudah berbahaya.

Tapi musuh yang dikatakan ‘bangkai hidup’ ini benar2 liehay, ia bikin perlawanan dengan Boe Tong Pay punya “Tiang koen Sip toan kim” dengan leluasa ia hindarkan sesuatu ancaman, nampaknya ia telah dapat wariskan sempurna ilmu pukulan Boe Tong Pay itu. Siapa kepandaiannya lemah, menghadapi “Tiang koen Sip toan kim” beberapa gebrak saja pasti akan sudah rubuh.

Maka itu, keduanya jadi seimbang sekali.

Pertempuran berlanjut terus sampai lewat dari dua puluh jurus, sesudah ini baharulah terlihat perubahan.

Bangkai hidup itu tahu diri, ia telah merasakan bagaimana ia telah dibikin tak merdeka lagi, karena bagaimanapun ia mencobanya, teranglah ia bukan tandingannya ketua dari Hoay Yang Pay itu. Tapi ia tak bisa segera dirubuhkan, ia berkelahi terus dengan hati2.

Segera datang serangan “Kim ciam touw sian” atau “Jarum emas tembusi benang,” dengan itu sepasang jarinya Eng Jiauw Ong menuju kejalan darah “hoa kay hiat.” Untuk selamatkan diri, si bangkai hidup gunai ilmu silat “heng kee Tiat boen so,” atau “Melintangkan palangan pintu besi,” setelah buka tangan kanan lawan itu, dia loncat ke arah pintu pendopo, kemudian sambil menoleh, ia kata “Po coe dari Ceng hong po, ciang boen jin dari Hoay Yang Pay, aku telah menginsafi akan kepandaianmu! Maka kami akan menantikan kau di Ceng Loan Tong, Cap jie Lian hoan ouw!”

Ia menjura, lantas ia putar tubuh sambil berlompat.

Eng Jiauw Ong tidak mau ijinkan orang berlalu dengan begitu saja.

“Sahabat!” ia serukan, “jikalau kau ada orang Hong Bwee Pang, kau mesti omong terus terang! Aku ingin ketahui namamu!”

Sembari mengucap demikian, iapun berloncat menyusul, akan tetapi waktu ia sampai dimulut pintu, si ‘bangkai hidup’, yang bisa bicara itu, sudah lenyap dari pandangan matanya.

Karena dua dua ‘bangkai hidup’ itu sudah menghilang, Eng Jiauw Ong pergi cari Kam Tiong dan Kam Hauw, akan tetapi dua muridnya ini tidak kedapatan, entah kemana perginya mereka. Guru ini jadi bercekat, ia kuatir kedua murid itu nampak celaka. Maka segera setelah melihat kelilingan, ia mencelat keatas genteng, akan dari tempat yang tinggi itu memandang keempat penjuru.

Di Timur, di Barat, di Selatan, semua ada gelap petang, melainkan diarah Utara, jauhnya empat atau lima tumbak, tiba tiba tertampak berkelebatnya dua bayangan hitam, yang muncul dari tembok belakang Tiat Hoed Sie.

Diempat penjuru semua sunyi.

Karena ia sedang ibuki dua saudara Kam, Eng Jiauw Ong segera berloncat loncat akan susul dua bayangan itu. Ia lihat pendopo belakang, yang ada punya pekarangan luas, tapi ia tak perdulikan itu, ia menuju terus kebelakang. Ketika ia sudah loncat ketembok, ia dapatkan bahagian belakang ada daerah pegunungan, disitu tidak kelihatan suatu apa walaupun rembulan remeng remeng. Kedua bayangan masih berlari lari sangat cepat, mereka rupanya kenal baik keadaan disitu. Eng Jiauw Ong penasaran, ia mengejar terus sampai kira2 dua lie, hingga ia berada disuatu jalanan kecil yang terapit kedua tebing, yang kadang2 terhalangkan pepohonan oyot. Sekali, ia merandek, atau mendadak kedua bayangan lompat menikung.

“Kau hendak pancing aku?” ia berteriak dengan gusar. “Aku si orang she Ong ingin tengok akal muslihatmu! Walaupun kau pasang thian lo tee bong, aku tak nanti sembarangan mau sudah saja!”

“Thian loo tee bong” = “jaring langit, jala bumi.”

Dengan berani ketua Hoay Yang Pay mengejar terus. Ia berlaku hati2, ia sangka lawan mengatur barisan, sembunyi atau memasang jebakan, akan tetapi, sesudah lewati jalanan kecil itu, nyata dugaannya keliru. Jalanan yang nampaknya berbahaya itu dapat dilewati tanpa kurang suatu apa.

“Apakah maksud mereka?” Eng Jiauw Ong men duga2. Ia benar2 heran. “Kemana mereka hendak pancing aku? Biar, aku susul terus ”

Dan ia ber lari2 sampai dimulut lain dari jalanan itu, sampai mendadakan ia dapati suatu tempat terbuka, yalah sebuah lembah luasnya beberapa bauw. Ia berdiri dimuka jurang, yang buntu. Di bawah, antara pepohonan ada segundukan rumah, dari mana, dari sebuah jendela rupanya, ada molos sinar terang. Selagi ia mengawasi, ia lihat dua bayangan orang ber lari2 kearah rumah itu.

“Biar mereka atur ranjau, aku tak takut,” pikir Eng Jiauw Ong. Dengan berani ia loncat turun, sesampainya dibawah, ia berlari2 lebih jauh. Ia baharu merandek ketika ia sampai disebuah pekarangan dimana ia tampak beberapa puluh pelatok bambu pendek, tertancap teratur didalam pekarangan itu, yang luasnya lima tumbak lebih. Tingginya pelatok ada dua kaki lebih dan terpisahnya satu dari lain dua kaki setengah.

Eng Jiauw Ong lantas mengerti bahwa pelatok itu adalah sebangsa panggung ranjau Bwee hoa ciang dari Siauw Lim Pay, untuk orang berlatih ilmu entengi tubuh atau adu kepandaian dalam ilmu itu, hanya di kalangan Hoay Yang Pay, namanya panggung pelatok itu adalah “Tiok too hoan ciang” atau “Golok bambu penggantinya telapak tangan.”

“Terang orang hendak jebak aku diatas panggung pelatok ini,”

Eng Jiauw Ong berpikir. “Bertempur disini, orang mesti terbinasa atau sedikitnya terluka. Dalam hal ini dipihakku ada pantangan keras ”

Sambil ingat musuh liehay, Eng Jiauw Ong lantas maju lebih jauh, akan dekati panggung loeitay pakai pelatok itu, yang sesuatu ujungnya tidak meruncing tajam. Ia baharu datang dekat, atau dua bayangan sudah lantas muncul dari samping rumah, mereka jalan rnenghampirkan seraya memutari pelatok2 itu. Masih cukup jauh dari ketua Hoay Yang Pay, keduanya merandek.

Eng Jiauw Ong mengawasi dengan tajam. Orang yang dikiri adalah si ‘bangkai hidup’ orang aneh, dan yang dikanannya seorang dengan dandanan sebagai orang dusun. Dia ini berkuncir kecil, kuncirnya digelung dan ditusuk, mirip dengan kondenya satu imam. Dia pakai baju dan celana biru, kaos kaki dan sepatunya putih semua, mukanya lebih aneh dari kawannya disebelah kiri, yalah bermuka kurus kisut, kulitnya pucat pias bagaikan muka mayat, dua pasang alisnya meroyot turun, hidungnya pesek, bibirnya tipis, kumisnya tidak ada, ada juga masing2 selembar rambut panjang dan ubanan dikedua belah pipinya dekat kuping. Maka itu, dengan berdiri berendeng, dua orang aneh itu mirip dengan mayat2 yang baharu muncul dari liang kubur.

0oooodwoooo0