Eng Djiauw Ong Jilid 01

 
Jilid 01

I

Pada permulaan pemerintahan Kaisar Tong Tie dari kerajaan Ceng, disebut kalau propinsi Siamsay sedang terancam oleh pemberontakan kaum Rambut Panjang yang majukan dua puluh laksa jiwa serdadunya di tiga jurusan. Tetapi Jenderal To Liong Oh telah hajar pemberontak di kota Keng Cie Kwan hingga kawanan itu jadi terpencar dan mengacau di sana-sini. 

Halaman 4 hilang

.......sejak lama terjatuh dalam tangan pemberontak, maka aneh, kenapa Yo Bun Hoan dianjurkan pergi mengungsi kesana. “Di sesuatu tempat pemberontak, kita ada punya mata2, sekarang Tiong Ong tetiron hendak rampas Kwan tiong, kenapa mata2 kita tak peroleh kabar suatu apa? Dan pengirim surat ini ada satu penduduk biasa, cara bagaimana ia bisa ketahui rahasia pemberontak? Pun, cara nya ia menyebut Tiong Ong ada cara menghormat, kenapa begitu? Terang Ong To Liong dan Yo Bun Hoan ini ada mencuri….”

Bu Siupie pandang Goan Siong. Ia lihat orang punya mata jelilatan, romannya seperti ketakutan. Ia tetap bersikap ramah tamah.

“Aku tidak sangka, sebagai rakyat jelata, kau perhatikan keselamatannya daerah kita” kata ia. “Asal ini bukannya fitnahan, kau bakal dapat presen besar. Dimana berdiamnya pembawa surat itu?”

“Dirumah penginapan Hok Seng, disebelah kiri, dekat Tong kwan thia,” sahut Goan Siong dengan cepat.

“Kau memberi laporan kesini, ditangsi tentara, kenapa kau tidak pergi pada kantor pamong praja setempat?” Kian Hun tanya pula.

“Itu disebabkan aku tahu Yo Jie looya ada hartawan disini dan dahulu ia pernah pangku pangkat,” terangkan Goan Siong. “Dengan pergi pada pamong praja, aku kuatir laporanku akan sia sia saja dan melulu membikin kawanan polisi bisa memencet hasil. Aku tidak bermusuhan dengan Yo Jie looya, tetapi kalau benar dia sekongkol dengan pemberontak, kuatir aku nanti turut dapat celaka. Aku tidak memikir uang presenan, aku tidak mau cari kesenangan dengan tukar itu dengan jiwa lain orang…”

“Baiklah,” kata kapten muda itu “Laporanmu mengenai keselamatannya puluhan ribu jiwa rakyat, aku tak berani ambil putusan sendiri, aku mesti laporkan terlebih jauh kepada Kun bun. Kau jangan pergi dahulu, kau tunggu, kau nanti bakal dapat upah besar.” Lantas ia perintah satu serdadunya “Pergi kau bawa dia, jangan diganggu.” Tapi, setelah orang itu dibawa pergi, ia pesan lain serdadunya “Jaga dia baik baik, jangan kasi dia minggat” Kemudian, seorang diri, dengan naik kuda, ia pergi kemarkas besar.

Pasukan perang besar dikota Tong kwan berada dibawah pimpinan Tee tok Gouw Tay Giap, sebawahan dari Kimcee Taysin Liong Oh Ciangkun, pada pegangannya termasuk juga kota Bu kwan, dan markas besarnya ditempatkan dikaki gunung Hoa San. Diatas gunung ada didirikan Liauw bong tay, ranggon untuk memandang ketempat jauh, serta Hong hwee tay, perapian pertandaan. Jenderal To sendiri berkedudukan dikota Tiang an. Gouw Teetok ada seorang militer yang berani dan pandai, dari itu, ia telah dapat kedudukannya yang sekarang, tetapi ia bertabeat keras dan kejam, tak gentar membunuh orang, malah sejak menjadi teetok, ia jadi rada gila paras ellok dan kemaruk uang, maka asal ada orang jahat, atau anggauta pemberontak terjatuh ditangannya, jangan harap orang itu bisa lolos lagi, hingga kemudian orang banyak berikan ia julukan Gouw Pok pie, siorang she Gouw tukang keset kulit alias pemeras.

Kapan Bu Siu pie sampai di markas besar, setelah kedatangannya dilaporkan, dia diijinkan menghadap. Dia masuk kedalam dengan diantar Tiong kun khoa, sekretarisnya teetok. Ia lihat markas terjaga kuat dan rapi tetapi semua serdadu sedikitpun tak perdengarkan suara berisik. Dari muka kemah, Gouw Teetok telah tertampak dalam pakaian preman, tetapi ia duduk dengan angkar, sebelah tangannya memegang hun cwee, dikiri kanannya ada sejumlah serdadu pengiring. Bu Siupie memberi hormat, lalu ia berdiri dipinggiran.

“Bu Lauwtee, ada apa?” tanya Gouw Teetok. dengan suara ramah tamah.

“Satu perkara penting, tay jin,” sahut kapten muda itu, yang terus tuturkan laporan rahasia dari Goan Siong, sedang surat yang kedapatan ia pun persembahkan.

Pengetahuan ilmu surat dari Gouw Teetok juga ada berbatas, melainkan separuh dari isi nya surat itu ia dapat baca, ia melihat sebentar, terus ia letaki surat itu diatas meja.

“Yo Bun Hoan ini hartawan, tetapi ia tidak budiman” kata ia kemudian seraya kerutkan alis. “Ketika untuk pertama kali aku turut To Ciangkun datang ke  mari, dia diminta menderma uang untuk angkatan perang, dia cuma menyokong seribu tail perak, tidak lebih, dia tidak pikir, umpama kata pemberontak berhasil merampas kota ini, sekalipun jiwanya, barangkali dia tak dapat tolong lagi. Surat ini tidak menjelaskan diapunya sepakterjang sebagai pemberontak tetapi dia toh sukar lolos dari sangkaan. Apa sipembawa surat sudah di tangkap?”

“Dia belum ditangkap, tapi dia telah diawasi,” sahut Bu Kian Hun. “Sekarang dia berada disebuah penginapan didekat Tong kwan thia”

“Baik! Dia tak boleh dibikin lolos,” kata teetok itu, yang terus kasi perintah bunyikan tambur untuk bermusyawarat.

Maka dilain saat Bu Siupie bersama lain2 perwira, sudah berkumpul didalam markas.

Gouw Teetok muncul setelah ia mengenakan seragamnya. Atas ia punya perintah, Hu ciang Ciu Tek Kong muncul didepannya, untuk terima tugas, yalan membawa seratus serdadu, untuk pergi melakukan penangkapan atas diri Yo Bun Hoan dan keluarga yang bertempat tinggal di jalan Liong tam kay di Hoa im, sedang Siupie Bu Kian Hun dapat tugas untuk tawan sipembawa surat dihotel Hok Seng didekat Tiong kwan thia.

Kedua opsir itu terima tugas kalau Hu ciang Ciu Tek Kong dengan seratus perajurit menuju ke Liong tam kay, adalah Siupie Bu Kian Hun segera pulang ke Tong kwan buat bawa dua puluh serdadu serta dua pacong atau sersan berikut Goan Siong sijuru warta untuk pergi ke Tong kwan thia. Belum sampai dihotel, dari jauh2 mereka sudah dipapaki satu serdadu dalam pakaian preman, yang ditugaskan sebagai pengawas, bahwa dari hotel Hok Seng tak pernah ada tetamu keluar, ada juga yang baharu datang. Bu Kian Hun terima laporan itu, setelah titahkan mata2nya itu undurkan diri, ia maju sambil perintah dua belas serdadunya serta satu sersan segera kurung hotel Hok Seng, ia sendiri bersama satu sersan dan delapan perwira, langsung masuk kedalam. Siong Goan tetap ikuti kapten muda ini.

Orang dihotel kaget dengan kunjungan yang tiba itu, antaranya ada yang segera melaporkan kepada pemiliknya dan tukang uang. Tetamu pun heran.

“Pemilik hotel jangan ibuk” Bu Siupie kata. “Kita ada terima laporan hal menyelundupnya mata,” pemberontak kemari, bahwa dia telah memasuki penginapanmu. Coba kau terangkan, hari ini kau ada punya berapa banyak tetamu?”

Pemilik hotel baru keluar mendengar perkataannya kapten itu. la bersenyum dan memberi hormat, lantas berdiri dipinggiran.

“Harap tayjin ketahui, penginapanku sudah berdiri dua puluh dua tahun selama itu aku dapat nama baik, nama nama tetamu ada daftarnya, dari itu, silahkan tayjin periksa daftar saja,” Kata ia. Dan ia terus serahkan buku hotelnya.

Bu Siupie periksa daftar itu dilembaran tertanggal hari itu, ia dapati dua nama, satu saudagar Ong Eng Tek dari Hoolom, satu pula Hoa In Hong, saudagar dari An hui.

“Penginapan ini apakah milik mu?” kemudian ia tanya tuan rumah. “Kau she dan nama apa?”

Pemilik itu sebutkan namanya, Tio Seng Hoa.

“Tio Seng Hoa, tentang nama baikmu, aku tak perduli, tapi aku datang atas titah Kun bun, untuk membikin pemeriksaan, asal kau bisa jaga hingga mata2 itu tidak lolos, aku nanti tolong kau, sebaliknya, apabila rahasia bocor dan dia kabur, asal kau temahai uang sogokan awas, jaga batok kepalamu! Kau dengar?”

Seng Hoa ketakutan, ia membungkuk memanggut . “Ya, ya,” ia menyahut ber ulang2.

Bu Siupie melirik kedalam, hingga ia tampak, para tetamu yang kuatir terbawa, diam2 pergi memasuki kamar mereka masing2.

“Seng Hoa, mana kamarnya kedua tetamu yang paling baharu?”

“Saudagar she Ong tinggal di kamar No. 3 Utara dan saudagar she Hoa dikamar No. 7 Selatan,” sahut pemilik hotel itu.

“Mari kita lihat!” kata kapten itu kepada orang2nya, ia sendiri pun terus bertindak kedalam.

Seng Hoa mengikuti.

“Kita periksa dahulu kamar utara,” Bu Kian Hun jelaskan. “Mulai kamar No.1!”

“Ada pemeriksaan!” Seng Hoa teriaki, untuk memberitahukan para tetamunya.

Dua serdadu, dengan golok terhunus, mulai periksa kekamar nomor satu. Sambil lihat daftar, Bu Siupie tanya penumpang hotel dan geledah juga barangnya. Disini ia tidak peroleh hasil, ia lantas periksa kamar nomor dua. Ia tidak langsung periksa kamar Selatan, untuk tidak membuat orang kaget. Dikamar nomor dua ini pun tidak ada hasilnya. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan, sampai dikamar nomor tujuh Selatan. Disini Goan Siong siang pernahkan diri dibelakangnya Bu Siupie.

Ketika tuan rumah tarik daun pintu kamar No. 7 itu, penumpangnya sudah berdiri dimuka pintu sekali. Bu Kian Hun dapati satu pemuda umur dua puluh lebih, mukanya putih, romannya cakap, pinggangnya ceking tetapi dadanya lebar, sikapnya gagah, bajunya thungsha sutera warna biru. Satu kuncir besar dan kendor meroyot turun dibelakangnya.

“Kau she apa, nama apa dan asal dari mana?” siupie itu menegur.

“Aku ada saudagar she Hoa nama In Hong asal An hui,” sahut tetamu hotel itu dengan hormat, jawabannya diberikan dengan cepat.

“Tayjin, jangan kasi dia lolos! Inilah dia orangnya!” tiba kata Goan Siong dari belakangnya kapten itu.

“Jangan banyak omong, aku tahu!” Bu Siupie membentak seraya ia menoleh kebelakang.

Kemudian ia lanjutkan menanya “Kau datang dari mana? Ada urusan apa kau datang ke kota Tong kwan ini? Bicara!”

“Aku datang dari Lim hoay, untuk tengok sahabat di Hoa im,” sahut In Hong.

“Sahabatmu itu rupanya orang she Yo.” kata Bu Siupie sambil tertawa dingin.

Hoa In Hong tercengang.

“Hoa In Hong, kau jadinya datang dari Lim hoay? Bagus.” Siupie itu kata secara mengejek. “Sudah sekian lama Lim hoay diduduki pemberontak Rambut Panjang! Kau datang dari sana, pasti kau tahu, kapan pemberontak akan datang merampas kota Tong kwan ini?”

Mukanya pemuda itu menjadi berubah, terang ia gusar. “Aku tidak mengerti, tayjin,” kata ia. “Aku ada satu saudagar yang taat kepada undang2 negara. Mana aku tahu pemberontak hendak rampas Tong kwan atau tidak?”

“Kau jangan nyangkal!” Bu Siupie kata. “Selagi memasuki kota Tong kwan kau kehilangan apa?”

“Oh, apa tayjin dapat bekuk seorang jahat?” In Hong baliki.

“Apa sangkutannya kau dengan sipenjahat?” Bu Siupie tegasi.

“Duduknya hal begini, tayjin. Ketika memasuki kota, serdadu penjaga telah periksa aku dan barang2ku. Orang ada banyak dan berdempetan, aku alpa, penjahat telah copet satu bungkusanku yang kecil, dalam mana ada beberapa tail uang perak. Hilang uang ada perkara kecil bagiku, tapi dalam bungkusan itu ada sepucuk surat yang dititipkan padaku. Lenyapnya surat itu akan bikin aku malu bertemu kepada penitipnya nanti. Jikalau tayjin berhasil mendapati surat itu, tolong tayjin kembalikan padaku, untuk tayjin punya kebaikan, aku bersukur sekali kepada kau.”

Bu Siupie tertawa dingin. “Dengan begini teranglah surat itu ada kepunyaan kau!” kata ia “Apa alamatnya surat itu?”

“Surat itu dialamatkan kepada Yo Bun Hoan di jalan Liong tam kay di Hoa im, Tong kwan.”

Mendengar jawaban itu, dengan sekonyong Bu Siupie berseru “Rantai ia!”

Dan belum habis ucapannya itu, sehelai rantai sudah menyamber kearah lehernya Hoa In Hong si tetamu hotel, orang yang lakukan itu adalah sisersan. In Hong kerutkan alis, akan tetapi tangannya menyamber, terus ia tarik rantai itu.

“Kenapa kau lancang menangkap orang?” ia tanya.

Karena tertarik secara tiba2, tubuhnya sersan itu sempoyongan, kepalanya mengenai pintu kamar, hingga ia menjerit “Aduh!” Tapi segera ia membentak “Binatang, kau berani melawan?”

Delapan serdadu pun segera hunus golok mereka dan maju, untuk mengurung.

“Pemberontak bernyali besar! Kau berani melawan?” demikian pun Bu Siupie membentak sambil tangannya menuding.

In Hong gusar.

“Aku ada rakyat baik apakah dosaku?” tanya ia. “Kenapa aku diperlakukan sebagai orang jahat?”

“Kau toh datang dari sarang pemberontak?” Bu Siupie baliki. “Bunyinya surat toh membuktikan kau menjunjung kepada Tiong Ong, itu raja muda tetiron. Pasti kau nyelun dup kemari, untuk mencari tahu rahasia, buat kau nanti jadi penyambut pemberontak dari sebelah dalam! Apakah kau ada satu rakyat baik2? Hm! Jangan kau menyangkal, kau boleh adu lidahmu nanti dimarkas besar! Aku lagi jalankan titahnya Kun bun untuk membekuk padamu! Jangan kau bikin perlawanan, cuma2 kau bakal cari celaka sendiri!”

Koa In Hong jadi sangat berduka.

“Ada permusuhan apa diantara kau dan aku?” tanya ia. “Kenapa kau tuduh aku sebagai pemberontak? Baik, mari kita menghadap Kun bun! Aku mau lihat, apa dia bisa bikin terhadap aku!” “Geledah ia!” merintah Bu Siupie sesudah orang menyerah.

Sang sersan periksa tubuhnya In Hong. tetapi tidak ada kedapatan lain bukti pelanggaran. Pemuda itu ada punya ikat pinggang kumala Kiu liong Giok bwee, satu serdadu ulur tangannya, akan ambil itu, tetapi In Hong egos tubuhnya.

“Kau mau apa, eh?” ia tegor. “Giok bwee ini berharga seperti sebuah kota! Apakah kau hilap ?”

Serdadu itu gusar, sebelah tangannya melayang kearah muka orang.

In Hong berkelit, dengan tangan kiri ia ganjel orang punya tangan kanan yang dipakai menyerang itu.

“Jangan lancang pukul orang!” ia kata.

Tapi siserdadu itu menjerit “aduh!” Dia pegangi lengannya sampai dia tak bisa buka mulut lebih jauh. Ketika ia menoleh pada Bu Siupie, pembesar itu justeru deliki padanya, hingga terpaksa ia tutup mulut lebih jauh.

Satu serdadu, yang menggeledah kamar, dapati satu bungkusan kecil dan panjang, ia serahkan itu pada sikapten, apabila bungkusan itu dibuka, isinya ada beberapa potong pakaian serta sepasang poan koan pit senjata yang mirip dengan pit, alat tulis.

Menampak orang punya senjata yang langka, Bu Siupie percaya orang she Hoa ini bukan orang sembarangan, karena itu, segera ia ubah sikapnya.

“Apakah kau masih punyakan lain barang?” ia tanya dengan sabar. “Cuma ini satu bungkusan,” sahut In Hong. “Pada pemilik hotel ada kelebihan uangku, aku tak inginkan lagi itu….”

“Uangmu tak akan kurang sedikit juga,” kata tuan rumah, yang sedari tadi berdiri bengong saja. Terus ia kata pada satu jongosnya “Pergi pada tukang uang, ambil uang titipannya Tuan Hong ini.”

Jongos itu menurut, ia undurkan diri.

Hu Siupie perintah sersannya juga menggeledah kamar terlebih jauh.

Tidak lama jongos tadi balik bersama uangnya In Hong, empat tail tiga chie.

“Tuan Hoa, inilah uangmu,” kata tuan rumah. “Tentang uang sewa kamar, tak usah kau bayar.”

In Hong diam saja.

Bu Siupie perintah serdadunya simpan uang itu dalam buntalan, kepada In Hong, ia kata “Apabila sebentar dimarkas besar dapat dibuktikan kau tidak bersalah, bisa jadi kau akan segera dimerdekakan, maka uang ini dan pakaianmu akan dikembalikan semua…”

Masih saja In Hong berdiam, ia tunduk sambil berpikir. Siupie itu terus perintah siapkan kereta.

“Tak usah tayjin cari kereta luaran, aku ada punya itu,”

kata pemilik hotel, yang hendak ambil hatinya ponggawa itu.

Bu Kian Hun manggut, tetapi dengan roman sungguh2, ia kata “Tuan, harap kau suka capekan diri sedikit, mari kita pergi bersama …” Tuan rumah kaget, hingga mukanya jadi pucat, tapi segera ia dekati kapten itu setindak, dengan air muka berseri, ia kata dengan roman sungguh ia berkata “Tapi aku ada punya rahasia, mari kita pergi kekantoranku, sebentar saja, pasti tempo tayjin tak akan sampai diabaikan.”

Wajahnya siupie itu tidak berubah akan tetapi kakinya bertindak mengikuti tuan rumah ke kantorannya dia ini, sekembalinya dari kantorannya hotel itu, tak lagi ia sebut2 akan ajak tuan rumah itu, malah, selagi kereta sudah siap, ia kata pada In Hong “Sahabat, silahkan naik kereta!”

Dengan tidak bilang suatu apa, In Hong naik kekereta, dua serdadu, dengan golok terhunus turut naik akan dampingi ia. Sesampainya diluar, kereta diiring oleh semua serdadu serta dua sersan nya dengan Bu Siupie duduk atas kudanya.

Selama itu, banyak penduduk yang berkumpul untuk menonton, hingga muka hotel menjadi ramai. Ketika kereta diputar ke arah timur, salah satu serdadu yang apit In Hong lihat diantara orang banyak ada satu orang yang mencurigai mereka. Orang itu berumur enam puluh lebih, tubuhnya kurus sekali, hingga tertampak saja sepasang matanya yang dalam, kumis jenggotnya sudah putih semua seperti perak, bajunya panjang dan gerombongan, terbuat dari sutera Su coan, kancingnya kuning dan besar, kaos kakinya putih, panjang sampai didengkul, kepalanya ditutup dengan kopiah rumput Ma lian po yang besar, tangan kirinya menenteng satu bungkusan warna kuning kecil.

Ia lihat orang tua itu angkat tangan kearah kereta, justru In Hong pun menoleh kearah dia itu. Serdadu itu terkejut, tempo ia awasi lebih jauh si orang tua, dia itu sudah bertindak kearah barat, maka terus ia kata pada si anak muda “Sahabat, orang tua itu rupanya ada tetanggamu! Jikalau kau kenal dia, akuilah! Walaupun kita pakai seragam, mustahil kita tak kenal persahabatan? Apabila kau perlu memberi kabar apa2 kepadanya, kita suka sekali tolongi padamu…”

In Hong angkat kepalanya, secara tawar ia awasi serdadu itu.

“Aku tak punya kenalan disini, terima kasih untuk kebaikan kau,” sahut ia.

“Hm!” si serdadu perdengarkan suara dihidung, seraya ia lirik orang tawanan itu.

Selagi kereta jalan terus, serdadu itu memandang kearah barat, tapi sekarang si orang tua sudah tidak ada bayang2annya jua. Karena tak ada terjadi suatu apa, ia pun tidak tanya In Hong lebih jauh.

Selama itu, Goan Siong si pembawa kabar mengeluh seorang diri. Ia tidak punya kuda, terpaksa ia mesti jalan mengikuti dibelakang kereta. Ia lesu sekali, ia sampai memikir buat nyeplos saja tetapi ia tak berani, ketika kemudian orang sampai dimarkas besar, ia letih bukan main.

In Hong dari atas keretanya segera lihat bagaimana markas terjaga kuat.

Bu Siupie maju dimuka, ia nyender kepada samping gunung, ga pintu markas, setelah itu, kereta dan rombongannya diperkenankan masuk.

Disebelah dalam, In Hong lihat penjagaan terlebih kuat. Ia pun saksikan tangsi, yang seperti menyender kepada samping gunung. Diwaktu jauh lohor, disitu tidak ada cahaya matahari, yang teraling oleh gunung yang tinggi.

Dimuka kemah sekali bersiap dua puluh serdadu panah dan dua puluh serdadu bersenjata golok, semua berusia diatas tiga puluh tahun, tubuhnya kekar, romannya gagah. Dua opsir berdiri dikiri kanan pintu kemah. Dari kemah pusat itu, dari selatan kentara, setiap lima tumbak, ada sebuah kemah kecil, dan setiap sepulun kemah kecil ada sebuah kemah besar, demikian seterusnya. Empat buah lentera angin dipancarkan di setiap kemah besar dan sepasang lentera putih disetiap kemah kecil.

Kapan kereta diberhentikan dimuka markas, disitu muncul satu tong leng atau komandan, dan Bu Siupie yang sudah turun dari kudanya, memberi hormat kepada komandan itu, seraya terus tuturkan hal ditangkapnya Hoa In Hong kemudian dia tanya “Dimana orang tangkapan itu mesti ditempatkan?”

“Bawa dia kedalam sini dan tunggu,” tong leng itu kasi perintah.

Bu Siupie turut titah, ia perintah In Hong diturunkan dari kereta, bersama Goan Siong, dia dibawa kedalam kemah. Maka itu, pemuda ini mirip dengan seekor kambing yang diantar kemulut harimau….

-0dw0-

II

Kemah ada lebar, selain pembaringan, kursi meja lengkap. Didekat pintupun ada sebuah bangku panjang. In Hong diperintah duduk dibangku itu. Goan Siong diantap saja, walaupun ia leluasa, ia pun likat sendirinya. Dua serdadu menjaga dipintu.

“Harap Lauwko tunggu disini, aku akan menghadap Kun bun, buat dengar titah lebih jauh,

“Silahkan,” jawab Bu Siupie, “Aku bikin tayjin berabe…” “Ah, tidak sama sekali,” bilang tong leng itu, yang terus bertindak ke dalam. Ia pergi tidak lama, lantas ia kembali, akan kata kepada Bu Siupie itu “Kun bun menitah Lauwko kembali ke Tong kwan, untuk terus bikin penjagaan dengan hati2. Katanya lauwko berjasa, kalau nanti perkara Yo Bun Hoan sudah jelas, lauwko akan dapat ganjaran. Pembawa berita ini boleh diajak pulang, Kun bun bilang, bila dia suka bekerja untuk negara, dia boleh dikasi suatu jabatan, kalau tidak, dia boleh dikasi presen saja.”

Bu Siupie manggut.

“Apakah Kun bun tidak segera melakukan pemeriksaan?” ia tanya.

“Sekarang tidak,” tong leng itu manggut. “Kun bun hendak tunggu kembalinya Ciu Hu ciang. untuk membikin pemeriksaan berbareng.”

Bu Siupie memberi hormat, ia pamitan dan pergi sambil ajak Goan Siong.

Kapan cuaca telah mulai gelap ketika itu sudah jam enam lewat, mendekati jam tujuh lentera2 diluar dan didalam sudah mulai dinyalakan. Satu serdadu bawakan In Hong tiga biji kuwe moa2.

“Inilah dari tong leng,” kata dia. “Kau lekas dahar, isi perut dulu paling benar.”

“Tolong bilang terima kasih pada tong leng,” In Hong bilang.

Pemuda ini hendak legakan hati, ia jumput kuwe itu dan dahar, tapi baru dua kali gigit, tiba2 ia merasa tak enak hati ia terus letaki sisa kuwe nya. Itu waktu, kupingnya pun dengar tindakan kaki kuda, yang lekas menjadi semakin nyata. Ia duduk menghadapi pintu, dari mana ia dapat melihat kearah luar. Tindakan kaki banyak kuda tercampur dengan suara roda2 kereta. Untuk bisa melihat lebih nyata, diam2 ia geser sedikit bangkunya. Ia mengawasi kejurusan utara.

Antara patok2 pertahanan kelihatan serombongan kuda putih, setiap empat atau lima ekor kuda, ada sebuah obor, hingga semua obor nampaknya seperti naga api saja. Setelah beberapa puluh kuda putih, ada empat buah kereta, disetiap kereta, di bagian depannya, bercokol dua serdadu, yang masing memegangi obor. Barisan itu langsung memasuki daerah markas, hanya sesampai didalam, barisan terpecah dua, untuk kasi empat buah kereta lewat. Barisan itu terdiri dari serdadu2 yang bersenjata tumbak panjang dan panah.

Dibelakang kereta, yang muatannya kelihatannya berat, ada rombongan orang tak berseragam, yang bulu kudanyapun campur baur, senjatanya ada golok dan thie cio. Dipaling belakang ada tiga penunggang kuda lain, yang ada pembesar sipil dari tingkat ketujuh. Adalah dibelakang mereka bertiga, satu ponggawa ada diiring empat perajurit. Dia ini adalah Hu ciang Ciu Tek Kong, siapa segera loncat turun dari kudanya, akan memasuki kemah sambil ber lari2, hingga sekejab saja, In Hong tak dapat lihat pula padanya. Tapi dia muncul pula dengan lekas, akan kasi perintah dengan pelahan pada satu orangnya, atas mana, semua serdadu seratus jiwa lebih pada loncat turun dari kudanya masing2, akan kurung empat buah kereta. Kuda mereka sudah lantas ada orang2 yang tuntun pergi.

Lekas juga, penumpang kereta mulai dikasi turun.

Dari kereta pertama kelihatan turun seorang umur lima puluh lebih, tubuhnya kurus, mukanya putih bersih, benar ia tidak memakai topi tapi nampaknya agung. Ia pakai baju panjang dari sutera, kaos kakinya putih. Leher dan kedua lengannya terbelenggu. Dari kereta ke dua muncul dua anak muda, seorang dari usia pertengahan, dan seorang tua umur kira tujuh puluh tahun. Orang tua ini dandan mirip bujang. Dari kedua pemuda, yang satu berumur dua puluh lebih, yang satu lagi baharu lima atau enam belas tahun. Yang usia pertengahan, mukanya pucat, tubuhnya gemetaran. Adalah si orang tua seperti bujang, yang sikapnya tenang, seperti tak terjadi urusan apa juga.

Dari kereta ke tiga dan keempat, turun sama sekali tujuh orang perempuan. Beda daripada semua orang lelaki, yang terantai, semua orang perempuan ada bebas. Mereka ini digiring kebelakang.

Diam2, In Hong mengelah napas. Ia tahu, itulah Yo Bun Hoan serta semua anggauta keluarganya yang telah ditawan. Ia insaf, kejadian itu ada gara2 nya. karena ia punya keteledoran. Itu ada akibat terhilangnya ia punya surat. Ia tidak sangka terjadi onar sangat hebat.

“Tapi tadi suhu berikan tanda kepadaku, rupanya dia kuatir aku gunai kekerasan pikir ia. “Suhu telah datang, aku percaya dia sanggup tolongi kita semua. Cuma, malu aku akan menemui suhu dan Yo Siok hu…”

Maka itu, pemuda ini kerutkan alisnya.

Justeru itu, tiba2 menderulah suara tambur yang nyaring dan berisik dimalam yang sunyi itu. Ditangsi ada banyak serdadu, tetapi mereka taati disiplin.

Setelah tiga lintasan suara tambur, In Hong lihat pergerakan tentara, yang terdiri dari kira2 tiga puluh serdadu. Kecuali suara sepatu mereka. Diantara mereka ada Liok Tong leng dengan pakaian seragamnya, Dia pesan akan barisannya menjaga dengan hati2 atau mereka harus tahu sendiri. Menyusul berlalunya tong leng itu lalu terdengar satu suara nyaring “Bawa menghadap si pembawa surat nama Hoa In Hong!”

Titah ini dapat sambutan dari serdadu yang bertugas menjagai In Hong.

Segera Hu ciang Ciu Tek Seng muncul lagi.

Kemudian si orang she Hu bersahut ia bilang. Ia nampaknya tidak sabaran.

“Baik, tayjin,” sahut satu serdadu, siapa lalu hampirkan In Hong dan berkata “Sahabat baik. Mari !” Terus ia tarik orang punya rantai.

Dalam keadaan seperti itu, In Hong menurut saja. Sekeluarnya dari kemah, In Hong dihadapkan Ciu Hu

Tek Kong merangkap menjadi tiong kun khoa, siapa ada bersama dua serdadu pengiring yang membawa tanglung.

“Kau yang bernama Hoa In Hong ?” tanya tiong kun khoa itu seraya angkat lenteranya.

“Ya,” In Hong jawab.

“Nah, bawa dia!” hu ciang perintah pada serdadunya. Nyata hu ciang ini ada bawa satu barisan kecil.

Dari tangannya Liok Tong leng orang sambuti rantainya In Hong, siapa ikut orang bawa ia kemarkas, yang diwaktu malam, terjaga semakin kuat. Tanglung dan obor pun banyak dipasang, hingga muka markas besar jadi terang sekali.

Markas ada punya ruangan yang besar, dimuka meja ada lapang yang lebar. Dibelakang meja ada pin hong atau sekosol. Dibelakang meja ada empat hu wie dengan kopiah berunce merah dan atasnya putih, dengan golok di masing pinggangnya. Didepan meja, berbaris dikiri dan kanan, berbagai perwira atau bentara. Diempat penjuru ada dipasang lentera yang kak teng dan dua buah lampu minyak.

Hoa In Hong diperintah berdiri disebelah kiri, disebelah kanan sudah berkumpul Yo Bun Hoan dan keluarganya.

Tidak lama, dari belakang pin hong muncul dua pengawal, satu diantaranya terus bersuara “kun bun datang!”

Semua orang segera berdiri tegak.

Gouw Teetok muncul dengar. sikapnya yang keren dan agung, begitu lekas ia duduk, semua ponggawa memberi hormat padanya, kemudian mereka kembali ketempat berdiri masing2.

Dimatanya In Hong, Gouw Teetok ada beroman bengis dan kejam, mukanyapun merah bagaikan kepiting, sepasang alisnya gomplok, sepasang matanya bersinar bagaikan mata harimau, dia duduk diam toh agaknya ia seperti sedang murka.

Setelah berduduk dan melihat kertas yang terbeber diatas meja, Teetok ini angkat pit merah dan mencoret beberapa kali, atas mana opsir yang berdiri dibelakangnya segera buka mulutnya “Hadapkan Yo Bun Hoan, Yo See Tiong, Yo See Hian, Yo An, Gan Bun Yan dan Hoa In Hong!”

Sambil menyahut satu serdadu lakukan titah itu.

Dua anak muda, seorang tua, seorang usia pertengahan, lantas berlutut didepan pembesar militer itu, melainkan Yo Bun Hoan yang menjura seraya perkenalkan diri sambil gunai sebutan “boan seng,” kemudian ia berdiri. Kedua matanya Gouw Teetok terbuka lebar, tangannya menggebrak meja, terus dipakai menuding.

“Yo Bun Hoan, kau besar kepala! Dengan derajat apa kau madap pun kunbun? Kenapa kau berani tidak menjalankan adat peradatan?” demikian ia menegor.

“Dihadapan kun bun, boan seng tidak berani tidak berlaku hormat,” sahut Yo Bun Hoan, sikapnya sabar sekali. “Boanseng berasal kie jin dan dalam ujian diistana, ada lulusan Sam goan, setelah itu beruntun boan seng menjadi ceng tong di Lam thian, Ouwlam, di Bu tyin, Kangsouw, dan Tan yang, kemudian lagi menjadi Souw siang too dan Yam un su di Liang Hoay…”

Gouw Teetok tertawa bergelak apabila ia sudah dengar keterangan itu, tapi segera juga ia perlihatkan tampang muram.

“Oh, kau jadinya ada Yo Kie jin!” kata ia secara mengejek. “jadi aku sudah berlaku kurang hormat! Tapi sekarang Yo Kie jin punyakan kedudukan apa dan apa pangkatmu yang mulia?”

“Boanseng telah letakkan, jabatan sejak beberapa tahun yang lalu,” sahut orang she Yo itu.

Jawaban ini disambut dengan gebrakan meja oleh Teetok itu.

“Ha! kau sekarang toh ada satu rakyat jelata!” kata dia. “Kenapa, menghadap pun kunbun kau berlaku begini kurang ajar? Inilah menyatakan ditempatmu ini entah bagaimana tak halal kau sudah bertindak! Sekarang aku hendak ajar adat terlebih dahulu pada kau, sesudah itu baharu aku akan periksa kau tentang sepak terjang pemberontakanmu! Hayo, gusur dia, berikan dia empat puluh toya!” Mukanya Yo Bun Hoan jadi merah padam, gusarnya bukan kepalang.

“Kunbun ada satu panglima perang, tugasmu adalah membela negara dan melindungi rakyat!” kata ia, “Boanseng ada satu bekas pembesar yang telah undurkan diri, yang menjadi rakyat yang damai, maka cara bagaimana kunbun boleh berlaku begini sewenang2? Sudah kami ditangkap tanpa beritahukan dosa kami, sekarang pun tanpa tanya penjelasan, boanseng hendak diperhina dengan hukuman rangket! Bagaimana itu bisa terjadi? Boanseng ingin tanya, boanseng sudah lakukan kedosaan apa? Boanseng ada bekas hamba negeri, boanseng tahu aturan, asal boanseng berdosa dan harus terima hukuman karenanya, boanseng nanti mati tanpa penasaran! Boanseng ingin kunbun beber boanseng punya kedosaan, untuk itu boanseng akan bersukur tak habisnya!”

“Yo Bun Hoan, jangan adu mulut!” Gouw Teetok membentak. “Aku hendak tanya kau, sekarang ini kota Lim hoay berada ditangan siapa?”

“Menurut kabar, kota Lim hoay telah berada ditangan kawanan pemberontak Rambut Panjang,” sahut Yo Bun Hoan selaga lugu nya.

Gouw Teetok gebrak meja.

“Tepat!” dia berseru. “Lim hoay telah diduduki berandal Rambut Panjang, penduduknya telah terbinasa dan kabur, siapa tak mampu lari dan tak bisa lolos, dia tentu menyerah dan menakluk kepada kawanan berandal itu! Tapi kau, kenapa kau justeru hendak pergi ke Lim hoay untuk tinggal disana? Apa maksudmu?”

Yo Bun Hoan melengak bahna herannya, ia mendelong awasi kepala perang itu. “Kunbun, apa artinya kata2 mu ini?” tanya ia kemudian. “Selama beberapa tahun ini, belum pernah boanseng meninggalkan distrik Hoa im, dari itu cara bagaimana boanseng dapat memikir untuk pergi ke Lim hoay?”

“Yo Bun Hoan, kau terlalu licin!” Gouw Teetok menjerit. “Kau sendiri insaf, jangan kau anggap pun kunbun sebagai seorang dungu, yang gampang untuk diakali! Kau menduga keliru bila kau berpikir demikian! Jikalau kau tidak ingin menderita, lekas kau omong dengan sebenarnya! Aku suka mengasihani kau, mengingat kau pernah pangku pangkat, kita mesti saling menolong, aku nanti berikan keringanan kepada kau, tapi apabila kau hendak bikin sulit padaku, aku terpaksa, jangan kau, mengingat kau pernah pangku. Yo Bun Hoan, sebenarnya kaupunya sahabat kekal siapa dikota Lim hoay? Apa pekerjaannya sahabat itu? Kau ada punya hubungan apa dengan Lie Siu Seng? Kawanan Rambut Panjang hendak memasuki propinsi Siamsay, dia siapkan berapa banyak tentaranya? Kau pasti ketahui semua itu, baik kau jelaskan padaku. Aku suka berbuat baik, aku nanti bukai jalanan hidup untukmu. Kau pun harus merasa kasihan terhadap beberapa laksa jiwa penduduk Kwan tiong, agar mereka bebas dari malapetaka peperangan. Baik kau jelaskan padaku, berapa kekuatannya Tiong ong Lie Siu Seng dan Thio Lok Heng dan kapan mereka akan menyerbu kemari? Jikalau kau kedudukan segala apa dengan jelas padaku, dimuka Ciang kun, aku nanti lindungi kau. Untuk itu, ada gampang sekali, cukup asal kau ngaku menyesal sudah berkongkol dengan kawanan berandal Rambut Panjang dan kau bersedia mengorbankan harta bandamu, untuk menyokong angkatan perang negara. Dengan itu, kau bisa tebus dosamu. Nah, Yo Bun Hoan, apa kau masih tidak mau lekas bicara?” Kata2nya Teetok itu membuat Yo Bun Hoan terbenam dalam kebingungan. Ia hanya insaf, ia sedang terfitnah, bahwa ancaman hukuman dari itu baginya ada hebat luar biasa, karena ia dituduh mempunyai sangkutan dengan kaum pemberontak.

“Kunbun, boanseng berterima kasih untuk kebaikanmu,” kata ia kemudian. “Akan tetapi dengan sebenarnya boanseng tidak jelas dengan duduknya perkara, dari itu, bagaimana boanseng bisa bikin pengakuan?”

Gouw Teetok mendelik pula.

“Yo Bun Hoan, kau terlalu bandel!” ia membentak. “Aku bermaksud baik terhadapmu, mengapa kau tidak hargai itu? Kau bilang tidak tahu apa2, tetapi lihat orang itu, kenal dia siapa?”

Teetok ini tunjuk In Hong.

Bun Hoan menoleh pada si anak muda, yang ia tidak kenal.

“Boanseng tidak punya perhubungan dengan dia, boanseng tidak kenal,” ia jawab.

Gouw Teetok ada begitu murka hingga ia samber bak hie dan pakai itu menimpuk mukanya Bun Hoan.

“Kau benar bandel !” iapun berseru.

Bun Hoan berkelit, bak hie itu lewat diatas kepalanya, terus mengenai dadanya satu serdadu algojo bermulut seperti cecongor bebek, hingga dia ini rubuh sambil menjerit dan terus bergulingan ditanah sambil ter aduh2…

Tiong kun khoa lihat itu, ia gapaikan empat serdadu, akan gotong keluar algojo itu.

Seluruh kemah jadi tegang karena mereka tahu, satu kali murka, Gouw Teetok jadi beringas dan gampang sekali dengan titahnya hukuman mati, hingga dia bisa jadi surup dengan julukannya, situkang keset kulit….

Yo Bun Hoan juga mendongkol karena satu teetok ada sedemikian kasar, main mendamprat orang, tapi disamping itu ia insaf, ia sedang hadapi ancaman bahaya maut….

“Biar kau ada sanak atau ipar raja, lebih dahulu aku mesti hajar kau, baharu kita bicara!” kata Gouw Teetok dengan suara keras, saking mendongkolnya. Dan ketika kiejin itu hendak buka mulutnya, ia mendahului “Mari orang! Rangket dia!”

Dua serdadu, galak bagaikan serigala, segera loncat pada Yo Bun Hoan, untuk cekal lengan nya dia ini.

“Jangan banyak mulut!” mereka membentak. “Mari!”

Bun Hoan segera digusur ke muka kemah, kakinya direngkas hingga rubuh tengkurap, tubuhnya segera ditindih, kedua tangannya sebatas pundak ditekan, rambutnya ditarik, hingga mukanya jadi terangkat. Satu serdadu lain sementara itu bukakan orang punya celana sebatas paha, hingga sukar kurban itu berontak2, apapula kedua paha itupun ditekan.

Satu algojo segera maju dengan toyanya ditangan. “Hajar!” Gouw Teetok berseru apabila ia lihat orang

sudah siap sedia. Serdadu itu hampirkan Yo Bun Hoan,

disamping kiri siapa tekuk kaki kanannya didepan dan kaki kiri deku dibelakang, begitu lakas ia ayun toyanya, cepatlah Yo Kiejin yang lemah dan usianya sudah lanjut, dengan tiga jurus, dagingnya terluka dan mengucurkan darah, kalau tadinya ia masih bisa menjerit, segera ia pingsan.

Algojo hentikan toyanya apabila ia lihat orang tak sedar akan dirinya, ia beritahukan itu kepada panglima perang itu. “Asapi dia, lalu hajar pula,” demikian titahnya Gouw Teetok.

Perintah ini diturut tanpa banyak omong, segumpal kertas dan rumput dinyalakan, dibawa kemukanya Yo Bun Hoan, untuk bikin asap masuk kedalam lobang hidung, karena itu, sebentar kemudian, kurban itu berbangkis, lalu tersedar akan dirinya.

Gouw Teetok tetap gusar ketika orang bawa Bun Hoan menghadap pula kepadanya.

“Kau terlalu lancang!” ia tegur dua serdadunya. Tapi ia terus tanya kurbannya itu “Yo Bun Hoan, kau mau mengaku atau tidak?”

“Boanseng tak tahu mesti ngaku bagaimana,” sahut Bun Hoan dengan lemah.

Teetok itu tertawa dingin.

“Pun kunbun telah hidup di medan perang sebelas tahun lamanya, karenanya, dapatlah aku punyakan pangkatku ini!” berkata, ia dengan sengit, “tetapi sekarang, aku tidak mau perdulikan pula pangkatku, aku mesti dapatkan kaupunya pengakuan! Hayo, hajar dia dengan seratus cambuk. Aku mau lihat, dia tahan uji atau tidak!”

Mendengar itu, dua anak muda yang berlutut disebelah belakang lantas merayap maju, dengan air mata ber linang2, mereka manggut2 kepada teetok itu, kemudian dengan sesenggukan mereka kata “Kami mohon Teetok punya belas kasihan, dosa yang ayah kami harus dapatkan, biarlah kami yang men anggungnya…”

Habis mengucap demikian, kembali mereka manggut ber ulang2.

“Apakah namamu berdua?” Gouw Teetok tanya. Dua anak muda itu sebutkan nama mereka yang dikiri, Yo See Tiong, dan yang dikanan, Yo See Hian.

“Kau berdua berniat mewakilkan ayahmu, nyatalah kau ada anak2 yang berbakti,” berkata Gouw Teetok. “Akan tetapi kau mesti ketahui, ayahmu ada punya perhubungan dengan kaum pemberontak Rambut Panjang. Ada siapa2 saja yang suka datang ini berketahuan ! Baiklah kau berikan keteranganmu.”

“Cuma sekali hakseng tidak berani dustakan Kunbun,” sahut See Tiong sambil ia manggut. “Hakseng berani pastikan ayah tidak kenal kaum pemberontak Rambut Panjang itu. Kecuali beberapa sasterawan, yang suka datang pasang omong dengan ayah, tidak ada orang lain lagi.”

“Tutup mulut!” Gouw Teetok membentak. “Kau orang, ayah dan anak2, tidak ada satu yang baik! Hayo, lebih dahulu berikan mereka masing seratus cambuk!”

Sebelum titah itu dijalankan, Hoa In Hong sudah majukan dirinya.

“Kun bun, sebenarnya apakah dosanya Yo Bun Hoan?” ia tanya, “Dan aku ditawan dan dibawa ketangsi ini sebagai seorang perantaian, apakah kesalahanku? Aku mohon Kunbun berikan penjelasan kepadaku, apabila benar aku bersalah, walaupun binasa, aku puas!”

Gouw Teetok lirik pemuda itu “Apakah kau yang bernama Hoa In Hong?” tanya dia, dengan dingin.

“Benar.” in Hong jawab.

“Dari Lim hoay kau datang ke Tong kwan untuk apa?” Teetok itu tanya.

“Atas titah guruku, aku harus sampaikan surat kepada Yo Bun Hoan.” “Apa she dan namanya gurumu itu? Dia kerja apa?” “Guruku adalah Ong To Liong, ia ada satu guru silat.” Tiba2, Teetok itu membentak.

“Kau datang dari sarang pemberontak, kau mesti adalah pemberontak juga! Kau, guru dan murid, ada pangku pangkat apa dibawah perintahnya Lie Siu Seng? Kapan Lie Siu Seng bakal majukan tentaranya ke Siamsay? Lekas kau kasi keterangan, apabila kau berani main gila, walaupun kau berurat tembaga dan bertulang besi, Pun kunbun nanti hajar kau hingga tulangmu patah dan uratmu putus!”

Sementara itu Yo Bun Hoan rebah dengan separuh pingsan dan separuh sedar, sukar untuk ia geraki tubuhnya, karena bergerak sedikit saja, ia merasakan sakit bukan kepalang, tetapi ia tahu apa yang terjadi, ia tahu kedua puteranya mintakan keam punan baginya, tapi kapan ia dengar perkataannya In Hong, tanpa merasa ia mengeluh “Ah, habislah jiwaku…”

-0dw0-

III

Bun Hoan segera ingat kejadian pada sepuluh tahun yang lalu, ketika dari Lam thian, Ouwlam, karena dinasnya sudah cukup, dia dipindahkan ke Bu cin di propinsi Kang sow. Dihari pertama dari berangkatnya, selagi ia singgah dalam sebuah hotel, ia bertetangga kamar sama satu tetamu yang sedang merintih2, hingga ia merasa kasihan dan ingin tahu apabila ia minta jongos cari keterangan, ia dapat tahu tetamu itu sedang sakit berat, sakitnya datang mendadak, sedang kemarin malamnya, dia itu masih segar bugar. Katanya tetamu itu datang sejak beberapa hari. Tetamu itu juga tidak undang thabib dan tidak beli obat, terutama karena uang bekalannya telah dicuri orang jahat. Mengetahui itu semua, ia sambangi tetamu itu. Tetamu itu berumur kurang lebih lima puluh tahun, meskipun ia sedang sakit, ia menunjuki roman bukan orang sembarangan, sebagaimana dandanannya pun bukan dandanan orang tak keruan macam. Maka itu, Bun Hoan lantas menghiburkan, ia rogo sakunya untuk berikan pertolongan. Atas orang punya kebaikan ini, tetamu itu perkenalkan dirinya. Ternyata dia adalah Eng jiauw ong Ong To Liong atau Ong si Kuku Garuda, jago yang kenamaan di Selatan dan Utara sungai Tiang Kang, sebab kepandaian silatnya yang liehay dan hatinya mulia, gemar tolong si miskin dan si lemah ambil berbareng satronkan si jahat, teristimewa ia benci kaum kang ouw yang busuk dan kejam, iapun dimusuhi hebat kaum kang ouw itu. Sebelum ia datang dihotelnya, oleh satu musuh, ia kena dibokong dengan senjata rahasia yang beracun. Baiknya karena tubuhnya kuat sehingga ia masih dapat mencari hotel. Sebenarnya ia bisa obati lukanya Itu, asal ia bisa beli obat seharga dua puluh tail perak, apa lacur, selagi ia terluka, penjahat sudah curi uangnya. Ia tahu tuan rumah ada seorang rendah martabatnya, ia tidak mau banyak omong, ia serahkan diri kepada nasib. Beruntung baginya disaat hebat itu, datang Yo Bun Hoan, siapa sudah tolongi ia, hingga selanjutnya mereka jadi bersahabat kekal. Sekarang, selang sepuluh tahun, Eng Jiauw Ong telah utus muridnya membawa surat kepada penolongnya itu. Adalah diluar dugaan surat itu sudah menjadi bibit malapetaka!

Selagi Yo Bun Hoan anggap dia tak bakal ketolongan, In Hong turuti darah mudanya, ia jadi sangat gusar karena kekasarannya Gouw Teetok, dengan nyaring ia kata “Kun bun, walaupun aku datang dari Lim hoay, tak seharusnya aku dipandang sebagai pemberontak! Guruku tinggal di Lek tiok tong di Ceng hong po, Hoay siang. Di Hoay siang ada sebelas desa, karena dibangunnya pasukan sukarela itu, pemberontak Rambut Panjang tidak berani ganggu kami. Kami penduduk Hoay siang ada punya rumah tangga, mana kami kesudian berhubungan dengan pemberontak? Tentang pemberontak niat terjang Kwan tiong, itu adalah kabarannya saja, tentang kebenarannya kami tidak berani pastikan.”

“Kau cuci diri bersih sekali!” Gouw Teetok kata dengan tak kurang nyaringnya.

“Tapi dalam suratmu itu raja tetiron dari kaum pemberontak kau sebut dengan sebutan Tiong Ong, itu menyatakan bahwa kau adalah orang sebawahannya! Apakah kau tetap menyangkal?”

“Itulah sebutan belaka,” In Hong jawab, “Guruku sudah tua, ia menyebut secara umum saja. Aku sendiri ada satu penduduk baik, yang tidak tahu banyak tentang sebutan. Maka itu, harap Kun bun maklum.”

Tetapi Gouw Teetok gebrak meja.

“Aku tanya kau dengan baik, kau tidak mau mengaku!” berseru ia. “Gusur empat orang ini keluar, hajar dahulu setiap orangnya dua ratus cambuk! Pun kun bun tidak hendak periksa lebih jauh pada kau, besok kau akan dibawa kepintu kota untuk kepala anjingmu semua dikutungkan, untuk membikin tenang hatinya penduduk kota ini!”

Perintahnya Teetok itu tidak ada yang berani bantah, maka itu, empat serdadu segera maju, untuk menggusur.

Hoa In Hong berbangkit.

“Kunbun! Kau seperti hendak paksa rakyat berontak!” ia berseru. Gouw Teetok mendongkol, tetapi ia tertawa dingin. “Kau berani berontak?” ia tegaskan.

Belum berhenti suaranya Teetok itu, atau diatas kemah,

pada tenda, terdengar suara “Bret!” yang nyaring dan panjang, segera muncul dari wuwungan kemah itu satu tubuh manusia dengan cepat sekali tubuh itu sudah tancap kaki dimejanya sipanglima perang. Sepintas lalu tubuh itu ada dari si orang tua dengan kepala ubanan. Dia turun dengan terbitkan samberan angin, sampai kedua lampu diatas meja menjadi padam.

Semua serdadu pengawal dan perwira menjadi terkejut, antaranya ada yang perdengarkan jeritan kaget.

Tapi tubuh itu sudah mencelat pula, naik keatas bagaikan burung terbang, sekejab saja, ia sudah lenyap, cuma apinya dari empat buah lentera yang kak teng memain ber goyang2

Ketika semua orang peperangan hunus golok mereka, sudah kasep, sudah terlambat.

Gouw Teetok terlihat duduk tercengang dikursinya, matanya mendelong, mulutnya terbuka, karena iapun kaget dan ternganga, sedang dikepalanya, kopiah kebesarannya yang tertabur batu permata, sudah lenyap, terbang tak bersayap, hingga sekarang ia bercokol dengan kepala gundul bagaikan patung saja!

“Kunbun!” memanggil Tiong kun khoa, sang sekretaris.

Beberapa perwirapun maju mendekati, hati mereka lega apabila mereka dapatkan sep itu tidak kurang suatu apa.

“Ah!” Gouw Pok pie si Tukang Keset Kulit perdengarkan suaranya, apabila ia dengar panggilan sekretarisnya. Baru sekarang ia sedar. Terus ia gebrak meja. Ia dongak akan lihat lelangit kemah, kemudian ia mengawasi semua orang disekitarnya. Sekarang sinar matanya bercahaya pula.

“Kau kaget, kun bun,” berkata Sam eng Tong leng Sek Kee Ciu. “Mana kopiah kunbun?”

Se konyong2, Gouw Teetok berbangkit.

“Penjahat yang bernyali besar!” ia berseru. “Dia berani rampas kopiahku ditempat terjaga begini kuat! Biarlah aku serahkan jiwaku kepadanya!” Dan ia berkerot gigi.

Kembali ia gebrak meja, seraya berseru “Kenapa kau semua masih berdiam saja dan tidak mau bekuk sipenjahat?”

Teguran ini membuat sedar kepada semua perwira atau bentara. Benar2 mereka lupa bertindak. Lantas saja mereka berpencaran.

Sek Tong leng tarik masuk satu barisan kecil untuk menjaga, dilain pihaik ia perintah Ciu Tek Kong bikin penggeledahan seluruh tangsi, buat cari sipenjahat. Maka sekejab saja seluruh markas jadi bergerak, barisan2 kecil berlarian kesegala penjuru.

Penjagaan kepada Yo Bun Hoan semuapun diperkeras, malah batang lehernya wan gwee ini ditandalkan golok. Sendirinya, Yo Bun Hoanpun kaget. Melainkan In Hong yang tenang, karena ia insaf sepak terjang gurunya, seorang tua ubanan itu, membemberi peringatan kepada Gouw Teetok. Jikalau ia mau, ia bisa berontak akan turut gurunya itu menyingkir, tetapi sang guru telah beri tanda untuk ia sabar, supaya ia tidak gunakan kekerasan. Maka itu, sebaliknya ia terus berlutut. Diam dalam hatinya ia tertawai isi tangsi itu, yang hatinya dibikin gentar hingga mereka lupa akan diri mereka! Cuma satu sersan, yang kelihatannya paling sedar, karena mendahului yang lain2, ia hunus goloknya dan peringatkan kawannya, akan jaga pemuda itu.

Sesudah itu barulah penjagaan ditambah, semua golok ditandalkan pada batang lehernya semua tawanan.

Gouw Teetok sudah lantas tukar kopiahnya, sekarang ia dapat kesempatan akan mengawasi lelangit kemahnya, yang bolong bekas digurat senjata tajam, hingga bagian bolongnya bisa muat tubuh manusia. Ia heran, dilowongan demikian orang bisa loncat turun dan naik, pergi datang dengan leluasa.

Kemudian Teetok ini hampiri In Hong, apabila ia tampak anak muda ini ada jinak bagaikan kambing gembel, sendirinya ia tertawa dingin.

“Hoa In Hong, angkat kepalamu!” menitah ia. Anak muda ini menurut, ia angkat kepalanya.

“In Hong, aku keliru telah mendengar laporan fitnahan, hingga aku telah ganggu kau dan gurumu, kejadian itu bikin aku menyesal sekali,” kata panglima ini. “Aku pun tidak tahu bahwa kau, guru dan murid, ada bangsa hiap kek. Dengan kejadian ini, aku bukan hanya berbuat keliru terhadap kau berdua, aku juga berbuat keliru terhadap diriku sendiri, hingga hampir2 aku celaka jikalau tidak gurumu berlaku baik sudah tidak ambil batok kepalaku. Aku bersyukur terhadap gurumu itu. Sekarang aku pikir untuk merdekakan kau semua, sebaliknya aku akan hukum sipelapor yang memfitnah. Dimana adanya gurumu itu? Aku ingin sekali bertemu kepadanya. Aku percaya, seorang gagah sebagai dia akan ber (tak terbaca)”

Gou Teetok anggap dia pandai bicara, tetapi In Hong menertawakan didalam hatinya. Karena ia tahu betul panglima ini tengah memancing hingga ia tak sudi kasi dirinya dilagui. Tetapi ia jawab dengan sabar.

“Terima kasih untuk kebaikan kunbun,” demikian katanya.

“Aku terfitnah, jikalau tayjin tolong aku, pertolongan itu tidak nanti aku lupai selama hidupku. Tentang guruku, aku bisa bilang, dia berada jauh di Hoay siang, mana dia bisa dengan mendadakan datang kemari? Jikalau suhu datang sendiri, apa perlunya dia utus aku dari tempat ribuan lie jauhnya? Maka itu, aku mohon tayjin menyelidikinya dengan jelas, jangan tayjin curiga tak keruan….”

Gouw Teetok gusar dengan mendadak kapan ia dengar jawaban berlaga pilon itu.

“Makluk tak tahu diri!” ia membentak, karena habis kesabarannya. “Kau harus ketahui siapa dirinya Gouw Tay Giap, yang mengetahui betul seluk beluknya kaum kangouw! Jikalau kau guru dan murid ada punya kepandaian, keluarkanlah itu semua! Jikalau aku sampai bikin lolos padamu, kecewa aku telah nyerbu antara rimba peluru dan hujan anak panah!”

Lantas ia menoleh pada satu serdadu disebelahnya. “Pergi panggil Kie yong eng To Tongtay Cio Leng Pek!”

ia menitah.

Serdadu itu pergi belum lama, lantas muncul tongtay yang dipanggil itu serta pasukan kecil nya.

Datangnya tongtay atau commandeur ini ada secara kebetulan. Sebenarnya dia telah minta cuti untuk sambangi sahabatnya di Hoa im, dia pulang malam2, justeru ia baru pulang, malam itu juga terjadilah onar itu, maka ia bisa segera mentaati panggilan. Memangnya ia berkewajiban melindungi keselamatannya Gouw Teetok. Ia sudah lantas dengar hal kekacauan dimarkas besar, tanpa perintah, ia siapkan barisannya akan cari si orang jahat, kebetulan sekali serdadunya teetok cari dan panggil dia.

Cio Tongtay menghadap Gouw Teetok untuk memberi hormat, terutama ia mohon maaf, kemudian ia tanyakan duduknya kejadian.

Gouw Teetok tidak tegor sebawahan ini, karena ia tahu, orang sedang dalam cuti.

“Kau tentu telah dengar kejadian disini, hampir saja pun kunbun terbinasa,” kata sep ini. “Urusan ini aku serahkan padamu terutama kau mesti jaga semua orang tawanan agar satu juga tidak ada yang lolos, atau kau tidak usah menemui aku pula!”

Setelah kata begitu, panglima ini terus undurkan diri.

Cio Tongtay menjura akan antar sep itu pergi, kemudian dengan roman keren ia awasi semua cian cong dan pa cong, letnan dan sersan, kemudian lagi ia dekati Yo Bun Hoan berenam, akan awasi dengan tajam pada mereka ini.

“Yang mana satu Hoa In Hong dan Hoay siang yang datang ke Tong kwan dengan bawa surat?” ia tanya, dengan suara keren.

“Itulah aku,” sahut In Hong ambil angkat kepalanya, tapi begitu lekas ia lihat tongtay, ia kaget tidak terkira, didalam hatinya ia kata “Apa bisa jadi dia telah ceburkan diri dalam tentara dan dapatkan hatinya Gouw Teetok? Inilah aneh….”

Dimatanya In Hong, Cio Leng Pek, pemimpin dari tangsi Kie yung eng, ada satu penjahat besar yang kenamaan dijalanan Kang lam too, yang kemudian menjadi bajak, tapi karena bermasalah terhadap pemimpinnya, ia kabur dan memasuki rombongan pemberontak Rambut Panjang, hingga dia dapat kepercayaan memimpin satu pasukan dengan kedudukan didaerah Souw siang. Disini dia tersohor kejahatannya, kecabulannya, dan bandel terhadap tentera negeri, dan malang melintang, hingga dia dapat julukan Toan Bie Tio Loo youw atau si Alis Buntung. Ong To liong tahu kejahatannya orang she Cio ini, dia hendak membasminya, tapi justeru itu Leng Pek telah ikut satu pemimpin lain pergi ke Hoolam, sejak mana, ia sembunyikan diri seperti hilang saja, hingga ada yang kata ia sudah binasa atau sudah menyerah kepada pemerintah Ceng, kini ternyata dia benar masuk dalam kalangan tentera Ceng dan jadi tangan kanannya Gouw Teetok. Ong To Liong sendiri, setelah batal mencari orang kang ouw ini, sudah pulang ke Lek tiok tong, Ceng hong po, Hoay siang, akan dirikan barisan tentera rakyat.

Selama bekerja dibawah Gouw Teetok, lambat laun Cio Leng Pek kumat tabiatnya, sering ia ganggu penduduk. Ia ada orang kepercayaannya satu teetok, iapun pandai ilmu entengkan tubuh, lari keras dan loncat tinggi, karenanya, ia jadi bisa bergerak dengan leluasa. Kalau malam ia suka jadi pencuri. Siapa berani tentang, ia tak kasi ampun lagi. Ia juga berani ganggu sesama orang berpangkat, hingga orang copot kopiahnya, atau sedikitnya surat2 pentingnya dimusnahkan. Pelahan2 ada orang2 yang ketahui sepak terjangnya tong tay ini, akan tetapi tak ada orang yang berani langgar padanya, hingga ia jadi kepala besar.

Hoa In Hong tidak akan dapat kenali Toan Bie Loo yauw jikalau ia tidak lihat orang punya alis buntung. Selagi ia merasa heran, tongtay itu awasi ia dengan tajam.

“Aha, sahabat, kau kiranya ada muridnya Hoay siang Tay hiap Eng Jiauw Ong!” kata Cio Tong tay kemudian. “Memang sudah sejak lama aku dengar nama kesohormu, guru dan murid. Sekarang kau telah datang kemari, katanya pun bersama2 gurumu yang terhormat, menyesal sekali aku tidak dapat menyambutnya sendiri. Gurumu ada sebagai naga sakti, dia datang dan pergi tak dapat di duga2, karena itu aku semakin hargai dia! Sahabat, karena kau sudi bertemu dengan aku, pasti sekali aku nanti layani kau secara sungguh2….”

Selagi mengucap demikian, kedua matanya bekas jago kang ouw ini bercahaya tajam, setelah itu ia berpaling pada orang disampingnya, orang kepercayaannya, kepada siapa ia berbisik, entah apa yang ia bilang, hanya orang itu segera ngeloyor keluar, tempo sebentar kemudian dia kembali, dia ada ajak empat serdadu lain yang membawa empat perangkat belengguan kaki dari besi. Ketika diletaki di tanah, pesawat belengguan itu perdengarkan suara berisik.

“Sahabat she Hoa!” Cio Tong tay kata dengan nyaring. “Kau sekarang sedang hadapi perkara, janganlah kau bikin suilit kepada sahabatmu! Sahabat, inilah ada aturannya pemerintah agung, harap kau mengerti, jangan kau sesalkan aku bahwa aku tidak pandang padamu!”

Setelah mengucap demikian, tongtay ini perintah serdadunya “Nah, kau boleh mulai bekerja!”

Hoa In Hong tidak jadi gentar melihat macamnya borgalan itu, ia percaya betul, itulah bukannya rintangan untuk ia dan gurunya. Maka itu ia angkat kepalanya, sambil tertawa dingin ia kata “Sahabat, kau boleh berbuat apa yang kau suka! Kita ada sesama orang kang ouw, tak usah kita banyak bicara, apa kau bikin, aku terima,” Dan ia lonjorkan kedua kakinya. “Mari! Gunailah borgolan lapisan, supaya hatimu tetap!”

Cio Tongtay manggut2, ia tertawa.

“Dasar muridnya satu guru yang pandai, kau tak bikin orang berabe!” kata ia. Selama itu, borgolan kaki telah dipasang. Malah Bun Hoan, Bun Yan dan Yo An tak terkecuali, kaki mereka dikalak juga. Cuma See Tiong dan See Hian, yang dapat keringanan. Setelah itu, mereka semua di bawa keluar.

Hoa In Hong lihat bagaimana penjagaan diperkeras, golok dan panah telah disiapkan, hingga ia merasakan bagaimana hebatnya suasana. Disana sini, rombongan serdadu masih terus melakukan penggeledahan.

Sebentar kemudian In Hong beramai sudah dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang kuat, yang berpagar balok. Disudut tembok ada lamping gunung. Disitu ada bertumpuk rumput kering. Didekat situ pun ada empat buah patok dengan rantai besi yang kasar. Melihat patok2 itu, In Hong kerutkan alis.

“Didalam tangsi tidak ada kamar tahanan, terpaksa kita gunakan tempat ini untuk kurung serdadu yang bandel,” kata Cio Tongtay yang menyatakan menyesalnya, setelah mana, ia beri tanda pada serdadunya.

Lantas In Hong berempat di cantel pada patok itu malah ujung rantai diseluk kepada rantai dileher. Karena ini, mereka cuma bisa duduk, sukar untuk rebahkan diri.

Diperlakukan secara demikian In Hong tertawa berkakakan.

“Cio Toa looya, terima kasih untuk perhatianmu ini! kata ia. “Kami guru dan murid, asal napas kita masih berjalan, pasti sekali akan balas budi kebaikan mu ini!”

In Hong bicara dengan sungguh2, suaranya keras. Cio Tongtay pun tertawa gelak.

“Itulah keberuntunganku seumur hidup apabila kau, guru dan murid, ingat budiku ini!” ia bilang. “Sahabat she Hoa, aku bilang terus terang, sejak gurumu pergi cari aku di Souw teng, aku si orang she Cio…” ia berhenti dengan tiba2, ia menoleh pada beberapa serdadunya, kemudian ia melanjutkan “sudah pikir untuk mengingat baik2. Pernah aku pikir buat kunjungi kau di Ceng hong po, sayang aku senantiasa terhalang oleh kopiahku ini” Ia tunjuk kopiahnya, yang berarti pangkat atau jabatannya. “Sampai sebegitu jauh aku tidak punyakan kesempatan, syukur sekarang kau telah datang kemari. Percaya, tak nanti aku bikin kau pulang dengan tangan kosong. Nah, sahabat she Hoa, kau sabar saja!”

Kemudian tong tay ini pandang dua puteranya Yo Bun Hoan. Mereka ini duduk merungkut di pojokan, tubuh mereka tak bergerak sedikit juga.

“Thio Kay Kah ?” tongtay itu memanggil seraya ia berpaling keluar,

“Ya!” sahut. satu suara, menyusul mana muncul satu pa cong muka hitam, yang terus berdiri tegak didepannya ponggawa itu, untuk tanya ada perintah apa.

“Kau mesti jaga mereka ini!” tongtay itu memberi perintah. “Jikalau mereka mencoba buron, kau boleh bunuh mereka!”

Setelah itu, Cio Tongtay undurkan dari. Diluar, empat serdadu diperintah menjaga pintu, dan yang lainnya semua disebar keempat penjuru untuk menjaga, mereka ini siap dengan panah, piauw dan peluru. Thio Kay Kah, yang ada Tauw su pa cong, dipesan lebih jauh, apabila perantaian mencoba minggat, atau kapan ada bantuan untuk mereka, dia mesti bertindak keras, tapi lebih dahulu berikan pertandaan panah bersuara.

“Kau jangan takut, aku yang bertanggung jawab!” tongtay itu pesan akirnya. Dari situ, Cio Tongtay pergi ketangsi belakang dimana ia di sambut oleh Jie su Pa cong Na Cin. Dia ini serta sejumlah serdadunya berkewajiban menjaga tahanan orang perempuan, yalah isteri dan anak menantunya Yo Bun Hoan.

-0dw0-

IV

Cio Tongtay masuk kedalam kamar, yang penerangannya remeng2. Disitu ia tidak dengar lain dari suara sesenggukan pe ahan. Tangisan itu datang dari satu nyonya usia pertengahan serta satu nyonya muda, yang dandan serba putih, yang duduk atas sebuah bangku. Mereka ini berhenti menangis begitu ketahui datang nya ponggawa itu. Mereka pun lantas seka air mata nya. Diatas bangku dikaki tembok sebelah timur ada tujuh atau delapan orang perempuan, tua dan muda, antaranya ada yang lagi tungkuli dua boca umur enam atau tujuh tahun. Mereka ini lantas pada tunduk.

Dari tembok, Cio Tongtay ambil sebuah lentera, untuk pakai menyuluhi orang perempuan itu. Paling dahulu ia dekati dua nyonya yang tadi menangis, yang ia suluhi mukanya. Si nyonya muda malu, ia pelengoskan muka kearah tembok. Si nyonya usia pertengahan diam saja “Diantara kau, yang mana ada isterinya Yo Bun Hoan?” tanya tongtay itu.

“Itulah aku, Ca sie,” sahut si nyonya usia pertengahan. “Ada apa, looya?”

Cio Tongtay awasi nyonya ini, yang ada punya tampang toapan, sebabat buat jadi nyonya besar. “Kau jadinya adalah nyonya rumah,” kata tongtay itu. “Semua mereka ini ada kau punya apa ?”

Nyonya Bun Hoan berikan keterangannya. Anggauta keluarganya, berikut anak ada sebelas. Si nyonya tua ada ia punya bibi, nyonya Yo Un sie, yang sudah berumur enam puluh lebih. Satu nyonya tua lain ada Ho Hujin, ia punya enso atau ipar. Satu nyonya muda, Lim sie, ada nyonya mantunya Ho Hujin, yalah si nyonya yang berkabung, yang ada satu janda, suaminya menutup mata belum lama. Satu nona ada Yo Hong Bwee, gadisnya Yo Bun Hoan, umur sembilan belas tahun, belum bertunangan. Nona ini ada muridnya Cu In Taysu dari kuil Pek Tiok Am. Nona cilik umur enam tahun ada Ceng Long, dan boca umur tujuh tahun adalah Liong Seng, keduanya keponakannya nyonya Yo. Yang lainnya ada babu susu, dua bujang perempuan, satu budak perempuan.

Cio Tongtay ketarik kapan Nyonya Yo tunjuk Hong Bwee, satu gadis yang langsing dan elok, sepasang alisnya lentik, kedua matanya bagus dan tajam, tapi nona ini tunduk saja. Ia dekati nona itu untuk diawasi.

“Eh, nona, kau ada siocia dari Yo Bun Hoan Yo Jie looya?” ia tegasi walaupun ia sudah tahu siapa nona itu. “Sayang, ayahmu sudah kurang ber hati2, hingga dia rembet2 kau, ibu dan anak, hingga kau mesti berada ditempat terbuka. Tapi kau jangan takut, didepan Kun bun, aku nanti tolong padamu, terutama untuk mengirim kau semua pulang kerumah dimana kau bisa tinggal dengan merdeka seperti biasa. Tentang perkara ayahmu, pe lahan2 saja aku nanti dayakan. Sekarang nona berumur berapa?”

Hong Bwee tidak perdulikan orang punya maksud baik, tubuhnya tidak bergeming, ia melainkan angkat kepalanya, mengawasi dengan tajam. “Kau baik sekali, looya, kami bersyukur,” kata ia. “Ayahku menghadapi bahaya, suit untuk ia tolong diri. Kami, orang2 perempuan, tidak pikirkan soal mati atau hidup, disaat rumah kami digeledah, kami sudah memikir untuk tidak mencari hidup lagi, tetapi apabila benar looya berkasihan kepada kami, yang terfitnah, baiklah tolongi dahulu ayah dan kedua kandaku, jikalau mereka dapat bebas, umpama kami tak dapat pulang dengan masih hidup, kami tetap akan junjung budimu!”

Hong Bwee bersikap tenang, pertanyaan orang tentang usia nya, ia tidak jawab.

Cio Tongtay tertawa haha hihi.

“Kebaktianmu, nona, membuat orang hormati kau,” ia bilang “Nanti aku sempurnakan kebaktianmu itu. Aku memang paling sukai nona toapan. Kau nampak nya berumur delapan atau sembilan belas tahun sebenarnya kau umur berapa?”

“Umurku telah dicatat disaat kami ditangkap,” sahut Hong Bwee, “baik looya periksa saja catatan itu! Buat apa looya tanya lagi?”

Thio Tongtay ketemu batunya, sekejap ia gusar, tapi segera ia tertawa pula.

“Nona, jangan salah mengerti” kata ia. “Aku tanya umurmu karena aku berkasihan terhadap kau yang berbakti, aku berniat tolong padamu. Syukur kau ketemu aku yang pemurah hati, apabila kau bersikap demikian terhadap kun bun, pasti kau segera rasai akibatnya yang pahit. Nona, kau ingin tolong ayah dan saudaramu, jangan kau berpandangan cupat. Mari, kau ikut aku kekemahku, nanti aku dayakan untuk tolong kau!” Hong Bwee bangun berdiri de ngan tiba2, tapi sebelum ia serapat buka mulut, Ca sie dului ia.

“Looya, kau berniat tolongi kami serumah tangga, kami sangat bersyukur,” kata nyonya ini. “Satu hal baik looya perhatikan. Kami ada dari keluarga terhormat, aturan rumah tangga kami ada keras, anak2 perempuan kami tak dapat langgar itu. Anakku ini ada gadis remaja, biar urusan kami ada hebat, tak dapat dia yang mengurusnya, apabila looya benar ingin tolong kami silahkan kau berurusan dengan aku saja. Anakku tak dapat ikut looya, harap looya memaafkannya.”

Cio Tongtay dengar orang punya ucapan yang beralasan, sedang sinona ada manis tetapi sikapnya dingin bagaikan es, ia mengerti bahwa ia tak dapat mendesak lebih jauh, ia tertawa dingin sambil berkata “Aku bermaksud baik, tetapi kau berpikir lain. Baiklah kau ketahui, apabila aku ada kandung maksud lain, setelah kau berada dalam genggamanku, tidak ada perlunya untuk aku berdamai terlebih jauh dengan kau. Baiklah, lihat saja, aku ada punya kepandaian akan bikin nona ini nanti datang padaku, itu waktu barulah kau ketahui kepandaianku!”

Kata2 ini ditutup dengan ter tawa ceriwis serta matanya ponggawa itu tetap incar mukanya Hong Bwee, hingga nona ini menjadi gusar.

“Cio Looya, jangan kau bujuk dan gertak aku!” ia kata dengan nyaring. “Kau harus ke tahui, tak dapat aku diperhina! Kami sudah masuk kedalam jaring, mati atau hidup, kami sudah tidak pikirkan pula! Jikalau kau ada punya kepandaian, kau gunailah itu, aku Yo Hong Bwee tidak nanti kerutkan alisku!”

Toan Bie Loo yauw awasi si nona, ia tertawa menyengir, lalu ia manggut2. “Nona Yo, jangan terlalu katak!” kata ia kemudian, dengan tertawa dingin. “Aku bermaksud baik, sayang aku tak dapat muka darimu, ibu dan anak. Aku harap kau jangan desak aku hingga aku terpaksa gunai caranya orang jahat, apabila sampai terjadi demikian, pasti sekali kau tak akan sanggup menerimanya!” Ia mendekati, ia ulur tangannya. “Kau dengar aku, nona, kau akan beruntung….”

Sementara itu, tangannya menuju orang punya pundak. “Jangan ceriwis!” membentak nona itu, tangan siapa,

dua duanya diangkat naik, tangan kiri dipakai menangkis, tangan kanan, dengan dua jari, menotok pundak dibagian yang kosong!

Toan Bie Loo yauw terperanjat, ia kenali pukulan itu, yang termasuk “Gie kut hun kin chiu” atau ilmu “memisah tulang dan memecah urat,” maka lekas2 ia egos tubuhnya kekanan sambil terus berloncat jauhnya setumbak lebih. Dengan begitu, ia jadi sampai dimulut pintu. Disini ia putar tubuh sambil perdengarkan tertawa iblis.

“Kiranya nona ada punya kepandaian yang liehay, maafkan aku!” kata ia. “Baik, Nona Yo, sampai kita bertemu pula!”

Segera tongtay itu ngeloyor pergi, tindakannya cepat sekali.

Nona Yo mengawasi orang pergi, kemudian ia menoleh pada ibunya, lantas ia tertawa secara dingin.

“Aku tidak sangka, ibu, selagi hadapi perkara sulit ini, kita pun ketemu orang busuk semacam dia ini! ia kata.

Nyonya Yo berduka melihat puterinya itu dihina orang “Anak yang baik, ingatlah kepada pesan gurumu,” ia bilang. “Kau disuruh berlaku tenang dan sabar, tidak boleh turuti suara hati. Kau ada punya kepandaian, buat apa kau jerihkan itu segala manusia anjing? Ayahmu ada satu penyinta negeri, ia sebenarnya niat bekerja lebih lama untuk pemerintah, tetapi ia lihat suasana dalam kalangan pangreh praja ada buruk, terpaksa ia undurkan diri. Ia kuatir nanti nampak celaka, ia ingin jadi rakyat jelata baik2, tidak disangka sekarang kita dapati perkara ini. Tapi aku percaya kebaikan kita, mustahil fitnah ini tak dapat dibikin terang. Akupun percaya gurumu nanti datang menolongi kita, dari itu, kau bersabarlah, agar kau tidak menambah sulit kedudukan ayahmu.”

Hong Bwee tidak setujui sikap ibunya itu, tetapi ia mengerti orang tua itu akan kesayangan atas dirinya.

“Ibu jangan kuatir, aku tidak nanti berlaku sembrono,” ia menghibur. “Suhu berada jauh ribuan lie, mana ia ketahui kecelakaan kita ini? Nasib kita sekarang melainkan terserah kepada Thian…”

Ibu dan anak itu bicara satu sama lain, tanpa mereka ketahui, tempat tahanan mereka itu sudah dikurung rapat oleh Cio Tongtay, siapa menduga si nona Yo ada tergolong kepada Hoay Yang Pay atau muridnya Eng Jiauw Ong. Ponggawa ini pesan jiesu pa cong jaga agar Yo Hong Bwee tidak lolos, dan barisan penjagapun dipecah dua, satu yang terang, satu pula yang disembunyikan.

Setelah mengatur, Cio Tong tay lantas pergi pada Gouw Teetok, akan menjeleki Eng Jiauw Ong dan murid2nya, dengan kata “Mereka adalah penjahat2 besar yang liehay, merekapun berkongkol dengan pemberontak Rambut panjang, dari itu, mereka ada satu bahaya besar untuk keselamatannya daerah Kang lam too. Ini Kawanan pemberontak bikin sibuk tentera dan pembesar negeri, sendirinya pembesar negeri tidak sempat perhatikan mereka, guru dan murid, hingga mereka jadi bebas dengan sepak terjangnya, sekarang mereka berani mengacau di Tongkwan ini. Aku percaya, kedatangannya kemari untuk menyambut pemberontak dari sebelah dalam, maka beruntung sekail sang murid terjatuh ditangan kita. Terang sudah bahwa kejahatan mereka sudah luber dan penduduk Hoa im tak seharusnya ketimpa malapetaka. Aku percaya, orang she Hoa itu sengaja kasi dirinya ditangkap, supaya ia bisa lihat keadaan dalam dari kita, supaya dia percaya, dia akan bisa buron dengan rusaki belengguan. Dia tentu tidak sangka disini aku bekerja dibawah Kun bun, maka jangan harap ia nanti dapat loloskan diri. Hanya karena muridnya tak bisa lolos, mungkin guru nya tidak puas dan akan datang pula membantu murid serta sahabat nya itu. Kunbun ketahui hal ikwal kaum kang ouw, mereka tidak berkelahi seperti tentera berperang, mereka ada punya cara sendiri. Kunbun ketahui tentang aku, dari itu bisalah aku terangkan, buat layani guru dan murid itu, tenagaku cukup, tetapi aku sangsi apabila sang guru datang dengan berkawan.

Sungguh sulit akan jaga orang2 tawanan sambil berbareng mengawasi musuh2 dari luar, sedang kawanan itu ada bangsa tidak takut kepada undang2 negara. Dan lebih penting pula adalah tindakan melindungi Kunbun sendiri. Maka bagaimana Kun bun pikir apabila aku minta bantuan beberapa jago dari Rimba Persilatan, sekalian buat gunai si murid sebagai umpan akan pancing ringkus guru itu serta konconya? Tindakan ini ada untuk melindungi rakyat negeri, apabila keselamatan mereka terjamin sudah pasti mereka akan bersyukur terhadap Kunbun. Bagaimana Kunbun pikir, aku menantikan putusan….”

“Dayamu ini baik” Gouw Teetok manggut. “Aku memang sedang memikirkannya, karena Yo Bun Hoan ada satu penduduk kenamaan dan sudah lama ia pangku pangkat, mungkin ada gerakan setempat akan tolong adanya. Dengan andalkan suratnya Ong To Liong saja, sulit untuk lawan orang banyak, dari itu kita membutuhkan bukti bahwa ia benar2 berkongkol dengan orang jahat. Baiklah, kau boleh cari orang2 kosen, aku sendiri hendak dapati pengakuannya Bun Hoan semua. Akupun mesti jaga agar Bun Hoan tidak mampu berhubungan dengan Ciangkun, supaya Ciangkun tidak mendahului ketahui perkaranya ini. Kau tahu sendiri, Lauw Kiang, itu binatang she Kiang si tua bangka, kepala pengurus rangsum, yang berada didamping nya Ciangkun, ada musuh besarku, apabila ia dengar hal ini, dia bisa ganggu aku. Syukur kita yang berkuasa atas balatentara disini, hingga ada rada sulit buat dia main gila terhadap aku. Buat cari pembantu, kau mesti bekerja secara rahasia, sebab tindakanmu itu ada memalukan aku apabila orang luar dapat ketahui. Mustahil satu panglima perang tidak mampu urus satu penduduk hartawan saja?”

Cio Tongcay manggut2, ia benarkan sep itu, sesudah berikan janjinya, ia undurkan diri, terus ia balik kekemahnya untuk menulis surat dengan cepat, kemudian ia bisiki dua pengiring kepercayaannya buat kasi tahu apa yang mereka ini mesti berbuat, kepada sesuatu dari mereka pun diserahkan sebatang “lok lim cian” atau “panah rimba persilatan.”

Tongtay ini hendak minta bantuan suheng dan supenya, ia unjuk bahwa ia sedang hadapi musuh2 berat, dari itu, untuk cegah keruntuhan nama baiknya kehormatan kaum nya ia minta suheng dan supe itu segera datang. Tanda panahnya pun ada suatu tanda rahasia dikalangan kang ouw, siapa terima itu, walaupun bukan sahabat, dia mesti datang membantu, kecuali bila kemudian ternyata, pihak lawan ada punya perkenalan dengannya dan ia boleh mundur teratur.

Sesudah kirim dua orangnya itu, dengan bawa pengiring, Cio Tongtay muncul pula diluar kemah, akan perhatikan seluruh tangsi yang keadaannya tenang, karena setelah pengeledahan tidak memberikan hasil, semua barisan kembali ke masing2 tendanya.

Sekian lama Cio Leng Pek berdiri di muka kemah, lalu ia manggut2 seorang diri, alisnya mengkerut. Pasukan itu ada cukup besar dan kuat untuk orang biasa saja, namun tidak demikian bagi orang kang ouw.

Ketika itu angin men desir2, rembulan mulai doyong ke barat, langit sebentar terang sebentar suram. Tempo Cio Tongtay memandang keatas ranggon alat pertandaan, tiauw tauw, mendadakan ia menjadi kaget, hingga ia keluarkan seruan kaget.

“Cui Tiang Kui, lihat!” ia serukan satu pengiringnya. “Lihat, cahaya apa itu yang berkilauan diatas tiauw tauw?”

Perajurit yang dipanggil itu segera melihat keatas, tapi ia tidak melihat nyata, ia maju beberapa tindak. Tiba2 iapun berseru “Itu toh kopiahnya Kunbun! Kenapa kopiah Kunbun ada diatas ranggon? Mana dia saudara yang menjaga Liauw hong tay?”

Cio Tongtay lantas saja bersenyum iblis.

“Kepandaian demikian macam dipertunjukkan didepan aku! Hm! Itulah permainan kampak didepan kawan sendiri!” kata ia dengan suara sangat memandang enteng.

“Coba cari tahu, siapa yang bertugas menjaga muka tangsi ini,” kemudian ia perintah Cui Tiang Kui. “Kau panggil dia, aku hendak tanya padanya.” Ciang Kui segera pergi cari Siauw khoa Bie Cin Lok, yalan komandan jaga malam itu, kapan perwira ini telah dihadapkan kepadanya, Cio Tongtay perlihatkan air muka muram.

“Oh, kiranya Bie Lauwhia yang giliran menjaga malam ini!” kata ia. “Lauwhia, sungguh kejadian tidak disangka! Kau, ada seorang ulung, cara bagaimana kau tidak mengetahui saudara kita yang menjaga tiauw tauw telah lenyap? Pastilah kau sedang repot dengan urusanmu perseorangan! Kau sedang jalankan tugas, dari itu sebentar kita menghadap Kunbun saja!”

Bie Cin Lok terperanjat, ia segera menoleh kearah tiauw tauw. Ketika itu cuaca makin terang. Diatas tiauw tauw kelihatan nyata tergantungnya sebuah kopiah kopiahnya jenderal mereka. Bukan main kagetnya komandan ini.

“Aku alpa, Tongtay, tolonglah aku,” ia segera memohon kepada sep itu. Ia kaget dan takut bukan kepalang.

Setelah bisa pengaruhi komandan ini, barulah wajahnya Cio Tongtay berubah menjadi tenang.

“Bie Lauwhia, aku harap kau mengerti,” kata ia dengan sabar. “Dalam hal ini, bukannya aku bersikap keras. Di hari2 biasa, peristiwa yang terjadi tidak terlalu berarti, akan tetapi malam ini keadaan ada lain sekali. Coba lauwhia pikir, jikalau Kunbun ketahui ini, apa ia bisa diam saja? Kita bekerja sama2, mustahil kita suka ganggu satu sama lain? Sekarang bagaimana lauwhia hendak bertindak? Hari sudah siang, umpama kata aku bisa lindungi kau, tetapi bagaimana dengan yang lain2?”

“Dalam hal ini aku mengandal kepada tayjin saja,” kata Cin Lok. “Aku nanti naik keranggon untuk ambil kopiah itu, umpama penjaganya masih ada, karena orang telah ringkus dia, aku nanti tolongi dan tanya keterangan nya. Jikalau dia tidak ada, tidak bisa lain, terpaksa hal ini harus dilaporkan, terserah kepada Kun bun, ia hendak, hukum bagaimana kepadaku…”

Mendengar itu, Cio Tongtay bersenyum.

“Lauwhia, kelihatannya kau masih tak jelas dengan duduknya hal,” kata ia. “Jikalau serdadu penjaga itu ada diatas ranggon, pasti ia sudah diringkus selama setengah malam. Cuma satu orang bisa naik turun diranggon tiauw tauw ini, cara bagaimana kau bisa kasi turun orang yang sudah tidak mampu bergerak? Siapa bisa sembarang naik keatas ranggon, akan gantung kopiah itu? Apakah kau tidak pikir ini?”

Cin Lok berdiam, nampaknya ia sangat masgul.

Melihat orang punya kesukaran itu, Cio Tongtay tertawa dengan pelahan.

“Lauwhia, kau lihat, aku nanti bantu kau!” kata ia. “Cukup asal kemudian kau mengerti aku!”

Sambil kata begitu, tongtay ini buka kopiahnya dan juga juba nya, seragam untuk naik kuda, kemudian setelah singsatkan pakaian terlebih jauh, ia dongak mengawasi ranggon ia mundur dua tindak, sesudah mana, mendadakan ia enjot tubuhnya. Dengan loncatan “Yan cu coan in” atau “Burung walet tembusi mega” ia sampaikan tempat tingginya dua tumbak setengah, lantas ia samber tangga. Dari sini ia naik terus, tanpa gunai anak tangga, hanya dengan manjat ditiang bagaikan kera saja gesitnya, dalam tempo sekejap ia sudah sampai diranggon tempat serdadu jaga dimana ia dapati serdadu itu teringkus di satu pojokan.

“Bie Lauwhia, penjaga itu, ada disini!” tongtay ini teriaki Bie Cin Lok sambil melongok kebawah. Tanpa tunggu jawaban lagi dari komandan jaga itu, yang hati nya jadi sedikit lega, ia loncat lebih jauh, keujung ranggon, yang mirip tiang bendera dimana kopiah teetok digantung. Dengan tangan kiri ia peluk tiang, dengan kedua kaki ia jepit tiang itu, dengan kedua tangan ia turunkan kopiah, kemudian ia putar tubuhnya turun, akan gapekan Bie Cin Lok seraya berseru “Bie Lauwhia, sambuti kopiah ini! Hati2, ini ada hadiahnya Pemerintah, jangan kau bikin terlepas dan jatuh!”

“Oh, Cio Tayjin, jangan !” Cin Lok berseru, tangannya di goyang2. Ia takut. “Aku tidak sanggup menyambutinya!”

Iapun terus mundur beberapa tindak.

Waktu itu cuaca sudah terang, perbuatannya Cio Tongtay terlihat dengan nyata, maka itu, ia datangkan kekaguman bagi siapa yang menyaksikan, sedang siapa yang bernyali kecil, dia lantas melengos, tidak berani mengawasi karena ngerinya. Semua orang pun berkuatir mendengar tongtay itu hendak lemparkan turun kopiah itu, yang ada batu permata nya yang indah dan mahal. Mereka tidak tahu, Cio Tongtay tiuma sengaja mengucap demikian untuk menggertak saja, supaya orang mencegah.

“Kalau begitu, apa boleh buat, aku mesti pakai saja!” kata ia kemudian. Dan benar2 kopiah itu ia taroh dikepalanya, terus ia ikat dengan keras. Untuk turun ke ranggon, ia lepas jepitan kaki nya, tubuhnya segera merosot. Disini ia bukakan ringkusannya serdadu penjaga, keluarkan sumbat pada mulutnya, hingga lantasi saja dia itu keluarkan napas kaget, terus napasnya lega, terutama akan dapati tubuhnya tidak terluka, melainkan ia masih susah geraki tubuh.

Dengan tidak banyak omong lagi, Cio Tongtay angkat tubuhnya serdadu itu untuk dikempit. Ia memandang kebawah, terus ia loncat turun, ia tidak gunai tangga seperti diwaktu naik. Ketika ia sampai ditanah, tanpa terguling jatuh, dengan hati2 ia letaki tubuhnya serdadu itu.

“Bagus!” demikian seruan pujian dari semua serdadu dan perwira sebawahan. Semua orang kagumi tongtay yang liehay itu, yang mukanya cuma merah sedikit.

Bie Cin Lok perintah beberapa serdadu tolongi lebih jauh serdadu penjaga itu, kepada Cio Tongtay sendiri ia menghaturkan terima kasih seraya puji sep ini.

Cio Tongtay lantas buka kopiahnya teetok, ia serahkan itu pada satu serdadunya.

Itu waktu penjaga tiauw tauw sudah bisa bicara, atas pertanyaan nya Cio Tongtay, ia tuturkan sebagai berikut. Ketika ia berjaga kira2 jam tiga, tiba2 ia lihat ada menyamber naik suatu bayangan bagaikan samberan garuda. Ia tidak melihat nyata, karena cuaca gelap. Sebelum tahu apa2, ia rasakan matanya gelap, kepala nya pusing, tubuhnya pun kaku, maka dengan tak berdaya, dengan gampang ia kena diringkus. Iapun tidak bisa buka mulut, karena mulutnya segera disumbat.

“Selanjutnya aku tetap tak dapat lihat dengan nyata,” kata serdadu itu seraya ia minta tongtay itu ampuni kepadanya.

Cio Tongtay diam saja, tapi la lihat serdadu yang berkumpul jadi semakin banyak, maka terus ia berkata pada Bie Cin Lok “Aku hendak menghadap Kunbun sekarang. Lain kali harap lauwhia berlaku lebih hati2, agar tak ada lain2 orang yang kerembet2”

Cin Lok manggut dan mengucap terima kasih. Cio Tongtay manggut pada semua perwira. “Marilah!” kemudian ia kata pada serdadunya, seraya ia terus bertindak kearah markas besar. Ia terus ketemui Gouw Teetok, setelah serahkan kopiah kebesar an itu, kemudian ia tuturkan dimana didapati kopiah itu.

Gouw Teetok puji sebawahan ini dan pesan ia untuk perkuat dan jaga hati2 keselamatannya markas.

Cio Tongtay girang dengan pujian itu, dengan gembira ia atur lebih jauh penjagaan.

Selanjutnya, sampai siang tidak ada terjadi apa2 lagi.

Benar seperti dugaan Gouw Teetok, siang itu ada datang permohonan dari penduduk kenamaan dari Hoa im, yang minta Yo Bun Hoan dimerdekakan, karena hartawan Yo ini ada penduduk baik2. Permintaan mana ia janjikan setelah pemeriksaan, apabila terbukti Yo Jie looya tidak bersalah, ia akan lekas merdekakan.

Setelah berlalunya utusan penduduk, Gouw Teetok perintah panggil Cio Tongtay menghadap.

“Penduduk telah majukan permohonannya agar Yo Kie Jien di merdekakan, bagamana sekarang?” Ia tanya “Kita sudah bertindak, tak dapat kita sembarangan bebaskan dia. Kita mesti jaga agar dia tidak berbalik menyusahkan kita.”

“Jangan kuatir,” sahut Cio Tong tay. “Orang orang undanganku akan datang paling lambat sebentar malam atau besok.” Ia melirik kekiri dan kanan, ia dapati cuma dua orangnya teetok, maka ia tambahkan “Mereka sudah masuk dalam jala, tidak nanti bisa lolos. Jaringpun sudah dipasang, untuk bekuk konco2nya.”

Gouw Teetok bisa legakan hati.

“Aku mengandal padamu,” kata ia. “Aku memang ingin tukar kopiahmu.” Cio Tongtay terima pesan itu, iapun menghaturkan terima kasih. Ia mengerti, janjian “tukar kopiah” dari sep itu berarti ia bakal dinaikkan pangkatnya. Dari markas ia langsung pulang kekemahnya. Ia beristirahat belum lama, satu serdadunya, Siauw khoa Bie Cin Lok, sang komandan jaga, datang melaporkan kedatangannya seorang she Liap dari bukit Hek Gu Nia di Lam kwan, siapa katanya ada suheng dari tongtay itu.

“Benar, dia adalah suhengku” kata ia. “Pergi kau undang ia masuk. Kau bilangi Bie Siauw khoa, orang itu datang dengan tidak ada sangkutannya dengan dia.”

Sambil kata begitu, tongtay inipun berbangkit untuk menyambut. Sang serdadu sendiri sudah bertindak pergi dengan cepat.

Ketika Cio Tongtay sampai di tangsi kedua, ia lihat serdadu ta di mendatangi bersama sang tetamu, yang ada iapunya suheng Liap Siauw Ciu, maka segera ia hampiri untuk kasi hormat padanya.

“Kau baik, suheng? Kau baik sekali, kau sudah datang dengan cepat!” kata ia.

“Terhadap saudara sendiri, jangan seejie,” sahut Liap Siauw Ciu, yang membalas hormat.

“Kaum kitapun ada hargai kehormatan, siap sedia untuk saling tolong, apapula kita yang terhitung saudara satu dengan lain.”

Toan Bie Loo yauw bersenyum, ia puas. Ia undang saudara itu masuk kedalam kemahnya dimana mereka berdua berduduk, akan ber cakap2. Ketika Siauw Ciu tanya tentang urusannya sutee itu, adik seperguruan ini karang cerita untuk bikin panas hatinya sang suheng.

-0dw0- V

“Seperti suheng ketahui, sepak terjangku dulu2 ada terlalu bebas, aku senantiasa umbar napsu hati, maka belakangan aku menyesal, aku lantas bekerja dibawah Gouw Teetok. Adalah putusanku, akan ubah kelakuan dan perbaiki diri. Akan tetapi Eng Jiauw Ong, ketua dari Hoay Yang Pang, kelihatannya tidak mau beri ketika kepadaku, tatkala ia dapat cari alamatku, ia sudah menyusul kemari untuk bikin tamat lelakon hidupku. Dia nyatakan, karena aku ada anggauta dari Hong Bwee Pang, tak seharusnya aku pangku pangkat. Dia tuduh aku main gila dengan pangkatku itu. Justeru aku sedang memikirkan daya untuk berjaga diri dari serangan musuh, kebetulan sekali aku telah dapati suratnya, yang jatuh ditengah jalan dan dapat diketemukan oleh Goan Siong, seorang dari golongan kita. Maka aku dengan Gouw Teetok sudah berhasil membekuk muridnya Eng Jiauw Ong serta saudara angkatnya serum ah tangga. Mereka ini sekarang ditahan didalam tangsi, untuk diperiksa. Teetok telah serahkan mereka padaku. Tugasku ini ada hebat, sebab Eng Jiauw Ong jadi lebih2 satronkan aku. Sudah tentu, karena tidak ada lain jalan, aku mesti bikin penjagaan keras, aku mesti lakukan perlawanan. Kedudukanku sulit, lantaran aku bersendirian saja. Dalam hal ini, tak dapat digunai jumlahnya tentera. Jikalau aku gagal, aku malu terhadap Teetok yang hargai sekali padaku. Lebih2 aku malu terhadap kaum kita, karena aku jadi turunkan derajat kita. Biar bagaimana, aku masih terhitung sebagai satu anggota. Sampai sekarang piauw pouku masih belum dihapus oleh partai kita. Maka aku jadi beranikan hati mohon akan bantuanmu. Aku tidak ignin angkat nama di Tong kwan ini, cukup asal aku bisa lindungi diri, supaya aku tidak sampai kena terusir.” Demikian Cio Leng Pek atur ceritanya. Lalu Siauw Ciu bersenyum.

“Jikalau sedari dahulu kau insaf begini, tidak nanti

Siauw Hio cu dari Gwa sam tong usir kau dari Kang lam,” nyatakan sang suheng. “Sebenarnya Siauw Hio cu niat pecat kau dengan ambil pulang tanda anggauta piauw pon, tetapi Hwee to cu Bin Tie Hun Loosu dari Gwa it tong sudah memberi pikiran, hingga kau lolos dari ancaman bahaya maut. Aku percaya, asal selanyutnya kau bawa diri benar2, di Kang lam masih ada tempat untuk kau taruh kaki.”

Baru mereka bicara dari situ, tiba satu serdadu melaporkan kedatangannya Louw Ngo ya dari Louw keepo, Lim tong, serta dua orang lain yang tidak datang bersama tetapi sampainya hampir berbareng yalah seorang she Tie dan seorang she Shong dari Gie bun kauw, Liong Bun San.

“Aku girang sekali atas kedatangan mereka!” kata Cio Tongtay. “Harap suheng tunggu, aku akan sambut mereka!”

Sutee ini segera berbangkit akan keluar dengan cepat, tak lama ia sudah kembali bersama tiga tetamunya. Liap Siauw Ciu tidak kenal dua orang yang jalan dimuka, ia hanya tahu mereka ada anggauta tertua dari kaumnya, dan yang ketiga adalah iapunya susiok, Thong tun wan lauw Goan Kay si Orang Hutan. Ia kasi hormat pada sipaman guru itu, lalu berkata pada Leng Pek “Sutee, tolong kau perkenalkan aku kepada kedua cianpwee loosu ini.”

“Lebih dahulu Cio Tongtay suruh keluar semua orangnya, lalu ia undang ketiga tetamunya duduk, kemudian baru ia jawab suhengnya, dengan bilang “Su heng, kedua loosu ini ada dari Lwee sam tong dari Pusat kita, semua ada disebawahan Sam tong Hiocu. Ini adalah To cu Tie Cin Hay dan ini To cu Shong Ceng. Nah kau mintalah berkahnya jiewie loosu!”

Liap Siauw Ciu menurut, ia maju untuk memberi hormat menuruti tata hormat kaum mereka, Hong Bwee Pang kawanan Ekor Burung Hong.

“Kita semua adalah tetamu2, tak usah pakai banyak adat per adaban” berkata Tie Cin Hay. “Kau mengerti aturan, Liap Luawtee, Couwsu ya pasti akan berkahi kau!”

Siauw Ciu mengasi hormat pula, baru ia berbangkit.

Cio Leng Pek juga lantas jalankan kehormatan turut cara partainya kepada dua to cu, “ketua pengemudi,” kemudian ia kata pada susioknya “Su siok, mari aku ajar kenal…..”

“Tidak usah, hiantit Leng Pek,” kata Louw Goan Khay sambil tertawa, “tidak usah kau perkenalkan lagi, kita sudah bertemu satu sama lain. Aku bukannya tergolong kaummu, tetapi kita ada sesama orang Rimba Persilatan, hubungan kita tidak terhitung jauh…”

“Itu benar,” kata To cu Tie Cin Kay dari Gie bun kauw. “Louw Loosu di Lim tong ada kenamaan, waktu dahulu kita terima tugas akan siarkan cita2 kita di Barat, paling dahulu kita telah kunjungi Louw Loosu di Louw kee po. Kita mengandal betul bantuan loosu.” 

Shong Ceng pun puji jago dari Louw kee po ini, hingga orang jadi girang.

Kemudian Louw Goan Khay minta keterangan halnya Cio Tongtay benterok dengan Hoay Tang Pang dan Leng Pek kembali ceritakan karangannya, hingga jago ini, yang terniata keras adatnya, jadi gusar dengan sekejab. “Eng Jiauw Ong cuma buka perguruan silat, dia ada pit hu yang hidup dari pertukaran kebisaannya dengan uang murid2 nya, cara bagaimana dia berani menjagoi di Kang lam?” kata dia dengan nyaring. “Kita dengan dia ada seperti air sumur tidak ganggu air kali, kita tidak ganggu periuk nasinya, kenapa dia sebaliknya satronkan kita? Memang sudah lama aku dengar tentang dia, sudah aku pikir untuk cari padanya, melulu disebabkan terlalu repot, maka aku belum dapat ketikanya, sekarang dia datang kemari, baik aku nanti uji dia! Leng Pek, justeru ada kedua cianpwee, mari kita beragam, walau Eng Jiauw Ong liehay, kita harus jaga agar kita tidak sampai dibikin jatuh merek!”

“Jangan kuatir, susiok,” Cio Tongtay menghibur. “Apabila aku sembrono, tidak nanti aku hidup sampai sekarang ini.”

“Ya, Louw Loosu, baik kau jangan ibuk,” berkata, Shong To cu. “ Kita berdua belum pernah ketemu tua bangka she Ong itu, akan tetapi dengan kaum kita, dia ada punya sangkutan. Pada sepuluh tahun yang lalu, dia pernah rasai tok yoh so, senjata rahasia beracun dari Pauw Hio cu dari Hok Siu Tong, sejak itu ia keram diri, rupanya ia mendendam sakit hati. Memang adalah selayaknya, siapa hutang, dia harus membayar, tetapi adalah selayaknya juga bila ia cari Pauw Hio cu sendiri, tetapi dia tidak berbuat demikian, ia satronkan siapa saja orang kita asal yang ia ketemukan, hingga sudah tujuh atau delapan orang kita yang rubuh ditangannya. Pauw Hio cu sudah undurkan diri kedalam Hok Siu Tong, Gedung Bahagia, tapi dia ada gantinya dan gantinya ini sudah niatakan, ia bersedia akan tanggung jawab segala apa mengenai Pauw Hio cu. Kitapun telah dapat, perkenan dari Cong to Hio cu, ketua Pusat, apabila kita berurusan dengan pihak Hoay Yang Pang, kita boleh bertindak sepantasnya, dan apabila dia tidak sanggup, kita boleh undang dia kegunung Gan Tong San di Ciat kang Selatan, dipusat kita Cap jie Lian hoan ouw di Hun sui kwan, untuk bikin hitungan yang memutuskan. Untuk ini, orang she Ong itu boleh dikasi tempo tiga tahun, atau kita akan basmi kaum Hoay Yang Pang. Kita memang niat cari dia, terniata dia berada disini, sungguh kebetulan.”

Diam2 Cio Tongtay menjadi girang. Inilah kebetulan. Ia jadi bisa dapat bantuannya ketua2 dari Hong Bwee Pang.

“Niatalah orang she Ong itu cari mampusnya sendiri,” kata Lauw Goan Khay sambil manggut.

“Tetapi, Leng Pek,” tanya Tie Cin Hay, “tangsi ini ada tempat terlarang, apa Kunbun ketahui tentang kedatangan kita?”

“Ya, Tie To cu,” sahut Cio Tongtay dengan cepat, “malah Kun bun bersyukur yang ia hendak dibantui.”

Puas Cin Hay dan Shong Ceng mendengar jawaban itu.

Selanjutnya mereka membicarakan lain2 hal, sampai datang nya sang malam diwaktu mana Cio Tongtay jamu sekalian tetamunya itu, api dikemah dipasang terang2.

Selagi orang berjamu, satu serdadu datang melaporkan tentang kedatangannya seorang she Hauw dari puncak Siauw In Hong dari gunung Hoa San sebelah Timur.

“Apakah dia bukannya Ya heng Cian lie Hauw Ban Hong?” tanya Shong Ceng.

Mukanya Cio Tongtay bersemu merah, tapi ia lekas menjawab.

“Benar, to cu. Dia adalah muridnya supeku dan jadi suhengku yang ke empat. Cara bagaimana to cu ketahui dia?” “Hauw Ban Hong kesohor di Barat diperbatasan Su coan dan Simsay,” jawab Gie bun To cu. “Bagaimana aku tidak mengetahuinya?”

“Hanya dia dari golongan lain,” Leng Pek terangkan. “Nanti aku ajak dia menemui to cu beramai.”

Lantas Cio Tongtay keluar untuk sambut sendiri tetamunya itu.

Ya heng Cian lie Hauw Ban Hong, si Tukang Jalan Malam Seribu Lie, ada satu huicat atau “bandit terbang” di Barat, kecuali dia pandai lari keras terutama dia pandai mencuri, maka dia peroleh gelarannya itu, karena dia ada dari golongan rendah, tidak heran pertanyaannya Tie Cin Hay membikin Leng Pek jengah sendirinya.

Hauw Ban Hong ikut masuk, ia segera lihat iapunya toa su heng Liap Siauw Ciu dan Su siok Louw Goan Khay, ia cepat memberi hormat kepada mereka, sesudah mana iapun kasi hormat pada kedua to cu dan diperkenalkan.

.........tak terbaca      , segera menjadi tidak senang, tetapi

Shong To cu yang bisa lihat gelagat, segera berkata pada kawannya “Su ko, sudah lama kita dengar nama besar dari suhu ini, sekarang kita bisa bertemu dengannya, sungguh beruntung!” Ia tertawa, terus ia tambahkan pada orang she Hauw itu “Hauw Suhu, ijinkan aku bicara secara jujur. Kau tak dapat disamai dengan suteemu, karena kau bukannya orang kaum kita, maka apabila kau anggap kita sebagai tertua, tak bisa kita berdiam di sini lebih lama pula…”

Suara itu mengandung sindiran. Akan tetapi dikeluarkannya secara merendah, dari itu, Ban Hong pun tertawa ketika ia menjawab “Tidak demikian, Shong Loosu. Ciong wie sedang berpesta, malah aku sudah ganggu kegembiraan pesta ini. Biar aku menyuguhkan ciongwie masing2 satu cawan, sebagai dendaan yang aku telah datang terlambat”

“Ah, ya,” kata Shong Ceng, “tungkul bicara saja, alm sampai lupa undang Hauw Suhu duduk. Nah, Leng Pek, tolong kau ambil lagi dua poci arak, aku ingin temani Hauw Suhu minum. Hauw Suhu, silahkan duduk!”

Louw Goan Khay tidak puas dengar orang bicara saja. “Shong To cu, aku ada orang kasar, kepalaku sakit

mendengari kau main saling merendah,” kata ia dengan sungguh2. “Silahkan duduk! Didepan paman gurunya, cara

bagaimana mereka berani berlaku kurang hormat?” Mukanya Hauw Ban Hong menjadi merah.

Leng Pek merasa kurang enak, ia kuatir bila orang omong lebih jauh, bentrokan mungkin terjadi. Kebetulan pelayan menambah arak, ia segera isikan satu cawan dan bawa itu kepada Ban Hong.

“Suheng, inilah tanda penyambutanku kepadamu,” kata ia. “Kau jangan bikin susiok ibuk, silahkan duduk.”

Iapun lantas persilahkan yang lain2 minum.

Liap Siauw Ciu pun turut bicara akan simpangkan pembicaraan.

Sambil bersantap dan minum, mereka lantas bicarakan urusan Eng Jiauw Ong.

Bicara belum lama, mendadak Hauw Ban Hong tahan cangkirnya yang ia sudah angkat, ia dongak dengan air muka berubah, setelah mana, dengan pelahan ia berkata “Para pundak rata, menyebut pendek, diatas lelangit mega, ada nempel cucunya anak penglari….”

Itu adalah kata2 rahasia kaum kang ouw, Sungai Telaga, bahwa diatas kemah ada musuh, dari itu, semua menjadi tercengang. Mereka tidak sangka bahwa baru kira2 jam dua sudah ada musuh berani meniatroni mereka.

Gie bun To cu Tie Cin Hay segera dongak dan membentak. “Kami sudah lama menantikan sahabat, silahkan turun, silahkan turun!”

Ucapan ini belum habis dikeluarkan atau Hauw Ban Hong, yang menekan ujung meja, sudah mencelat kepintu kemah, akan melihat kekiri dan kanan, ketika ia hendak loncat lebih jauh keluar, tiba2 ia tampak lompat turunnya satu bayangan ditempat tiga kaki dari pintu kemah, romannya sebagai satu pendeta, siapa sudah lantas membentak “Orang2 durhaka, yang tak menghormati undang2 negara kau orang sambuti jimatku!”

Tangannya bayangan itu diayun, lantas menyamber satu cahaya terang dan putih.

Hauw Ban Hong berkelit dengan cepat, karena mana, serangan itu mengenai cawan di atas meja pesta, hingga beberapa cawan pecah hancur, menerbitkan suara berisik.

Louw Goan Khay semua berkelit dan Tong tunwan lantas berseru “Siapkan senjata! Kejar, jangan kasi dia lolos”

Hauw Ban Hong hendak pertontonkan kepandaiannya, “Ciongwie, aku nanti kejar dia!”

“Jangan kesusu!” Liap Siauw Ciu mencegah. “Senjata rahasia itu kenapa seperti gulungan kertas? Mari kita lihat dulu!”

Cio Tongtay segera jumput senjata rahasia itu, yang benar ada segulung kertas, ketika dibuka, isinya ada sebutir bola gin cu sebesar buah lengkeng, pada itu ada satu lobang kecil. “Eh, apakah ini?” ia berseru bahna heran.

Hauw Ban Hong dan Shong Ceng kenali senjata rahasia itu, keduanya keluarkah seruan kaget.

“Niekouw tua itu satronkan kita, kita mesti lakukan pertempuran mati atau hidup…” kata Shong Ceng.

“Senjata rahasia apa itu, jie sutee?” tanya Tie Cin Kay, “apa ini bukan kepunyaannya si tua bangka Eng Jiauw Ong?”

“Inilah See bun Cit poo cu,” sahut Shong Ceng. “Selagi di gunai, senjata ini perdengarkan suara pelahan dan halus. Senjata ini cuma dipunyai oleh kaum pendeta. Bayangan tadi mestinya ada si pendeta perempuan tua Cu In dari Pek Tiok Am di bukit Chong Liong Nia digunung See Gak. Dia yang biasa disebut Cu In Am cu. Aku tidak sangka dia berkawan dengan Eng Jiauw Ong Leng Pek, apakah bunyinya surat itu?”

Cio Tongtay beber kertas bungkusan itu, yang memuat surat, begini bunyinya :

“Ketua dari See Gak Pay, yang memancarkan cahaya Sang Buddha, dengan ini peringatkan kau sekalian bangsa durhaka, yang berbuat se wenang2, seterimanya surat ini, lekas kan angkat kaki dari sini, jikalau kau membandel, itu artinya kau semua cari kemusnahan sendiri!”

Tie Cin Hay jadi sangat gusar.

“Bangsat kepala gundul itu sangat menghina!” ia berseru. “Cara bagaimana dia berani tidak lihat mata kepada kaum kang ouw? Aku Tie Cin Hay ingin sekali menemui ketua See Gak Pay itu akan lihat sampai dimana keliehayannya!”

Semua orang tidak puas, walaupun mereka insaf, ketua See Gak Pay itu ada liehay. Shong Ceng pun tidak senang dengan sikapnya Hauw Ban Hong, yang seperti hendak saingi pihaknya.

“Bagaimana liehaynya pendeta perempuan itu maka ia demikian jumawa?” kata ia. “Leng Pek, pergi kau lindungi Kun bun, kami hendak susul pendeta itu untuk adu kepandaian padanya!”

“Sudah cukup, mari kita mengejar!” berseru Hauw Ban Hong. yang mendahului lompat keluar dari kemah.

Shong Ceng dan Tie Cin Hay segera menyusul keluar, diikut oleh Liap Siauw Ciu dan Louw Goan Khay. Cio Tongtay turut Keluar juga.

Baru Shong Ceng dan Tie Cin Hay sampai dimuka kemah, mereka lantas dengar bunyi suitan ber ulang2, disusul ber lari2 datangnya satu perwira rendah, yang menyebut namanya Cio Tongtay. Segera semua orang lantas berhenti berlari dan Leng Pek sendiri maju memapaki.

“Ada apa?” ia tanya. “Dikemah Kun bun ada orang jahat!” perwira Itu menjawab.

Cio Tongtay kaget bukan main.

“Apa Kun bun terluka?” ia bertanya dengan roman muka berubah.

“Aku tidak lihat Kun bun, aku cuma jalankan titahnya Tiongkun hu Chang….”

Perwira ini belum sempat tutup mulutnya, dari tangsi belakang juga terdengar suitan ber ulang2.

“Celaka!” tongtay ini berseru.

“Suitan dari belakang itu ada dari orangaku! Jangan2 penjahat merampas orang tawanan! Loosu beramai baik lekas pergi kebelakang!” “Serahkan pada kami, jangan kuatir!” sahut Shong Ceng dan Tie Cin Hay bertiga dengan Louw Goan Khay.

“Liap Suheng, mari bantu aku kemarkas besar!” Cio Tongtay minta pada Siauw Ciu.

Sampai disitu, lima orang berpencar kekedua jurusan. Kapan Cio Tongtay dan su hengnya mendekati kemah

Gouw Teetok, ia lihat kemah itu telah dikurung tentera

yang telah siap sedia dengan panah dan golok terhunus, penjagaan ada rapat sekali. Sejumlah opsirpun siap diluar.

Tongtay ini minta suhengnya menunggu, ia hampiri sekalian opsir itu, untuk kasi hormat pada mereka seraya berkata “Ciongwie sangat cape. Apa Kunbun tak kurang suatu apa?”

“Kunbun melainkan kaget, ia tidak dapat luka apa2,” sahut satu siupie.

Hatinya tongtay ini lega, lantas saja ia bertindak kedalam. Ia nampak kemah ada terang sekali. Beberapa opsir melindungi Gouw Teetok, yang duduk diatas pembaringan, sebelah tangannya menyekal hun cwee yang sedang disedot hingga apinya perdengarkan suara. Satu serdadu kepercayaan memegangi api huncwee dari teetok itu.

Melihat sepnya tidak kurang suatu apa, dengan hati lega Cio Tongtay menghampiri untuk memberi hormat.

Kapan Gouw Teetok lihat Cio Tongtay, ia kasi lihat roman keren.

“Cio Looya, kau repot betul dengan tugasmu!” menyambut ia, “Aku serahkan keselamatanku kepadamu, namun kau sedikitpun tidak memperhatikannya. Sekarang kau baru datang, bisa bisa batok kepalanya Gouw Tay Giap bisa dibawa pergi orang jahat!”

Ditegor secara demikian, Leng Pek lantas mohon maaf. “Inilah salahku yang memandang terlalu enteng kepada

orang jahat,” ia akui. “Tadinya pie cit menduga, umpama

dia bernyali besar dan berani datang yuga, itu mesti terjadi sesudah jam tiga, tidak dinyana ini kali ia datang sebelum jam dua. Tolong Kunbun tuturkan bagaimana cara datangnya orang jahat itu, supaya pie cit bisa usut padanya.”

“Coba keluarkan itu barang permainan,” kata Gouw Teetok pnda satu orangnya. Ia bicara dengan pelahan, seperti ogah2an.

Serdadu itu lantas jumput dari atas meja kecil sebilah potongan pisau, panjangnya empat atau lima dim, yang dipakai menusuk selembar kertas.

Mukanya Cio Tongtay merah ketika ia sambuti pisau itu, ketika ia periksa halamannya, ia lihat satu huruf “Wan” atau “Penasaran” dengan disudut kiri sebelah bawah, ada lukisan satu kuku atau cengkeraman garuda.

“Kau lihat buntungan pisau itu,” kata Gouw Teetok, “itu bukan pisau kepunyaan penjahat hanya ujung potesan dari golok nya serdadu kita. Jam dua tepat tadi, dua pengirinku lihat satu bayangan lompat turun, melayang pesat seperti terbangnya burung, sampai tampangnya tak keburu dilihat, baru saja satu pengiringku cabut goloknya dan membentak, tanpa suara apa2 dia telah kena dihajar rubuh, pengiring yang kedua segera membacok. Penjahat itu tidak menangkis atau berkelit, dia hanya dengan tangan kosong rampas orang punya golok. Serdadu itu cuma rasai kebutan angin, lantas ia jadi lemas, suaranya nya rubuh disamping pintu kemah. Aku sedang periksa dari kemah. Aku sedang periksa daftar rangsum ketika nampak kejadian itu, selagi aku hendak teriaki orang, orang itu, seorang tua kurus, menjura padaku seraya mengucap “Siapa memfitnah orang baik2 sebagai orang jahat, dia terkutuk Thian dan Bumi.” Lantas tangannya melayang, satu benda putih menyamber kearahku. Aku berkelit. Kira nya benda itu adalah buntungan golok ini serta kertas yang tertusuknya, yang nancap diatas meja. Segera aku menjerit, berbareng dengan mana, orang tua itu sudah lenyap seketika. Sudah lebih dari sepuluh tahun aku alami peperangan, ber macam2 bahaya telah kutempuh, tapi kejadian seperti ini baru inilah pertama kali. Kapan aku bayangkan kejadian itu, aku jerih sendiri. Maka Leng Pek, kau pikirlah, umpama kau tidak sanggup bekuk penjahat itu, kau omong terus terang, aku tidak ingin jiwaku terbinasa di tangannya seorang tak ternama!”

Ucapan ini membuat muka dan kupingnya Cio Tongtay menjadi merah.

“Aku harap Kunbun jangan kuatir,” kata ia, “Harap Kunbun berikan ketika padaku, pasti aku nanti serahkan kepala penjahat itu kepada kunbun. Orang2 yang aku undang sudah tiba, mereka akan dipencar untuk cari penjahat itu. Sekarang aku hendak pergi kebelakang akan lihat orang2 tawanan, sebentar aku akan berikan laporan lengkap.”

Selagi Cio Leng Pek meng ucap demikian, Hu ciang Ciu Tek Kong bertindak masuk.

“Tolong Ciu Tayjin menjaga disini, aku hendak pergi, sebentar aku akan kembali,” kata Cio Tongtay pada panglima muda itu kepada siapa ia memberi hormat, kemudian, setelah letaki ujung pisau diatas meja, ia berlalu dengan cepat, bersama Liap Siauw Ciu ia menuju kebelakang. Mereka gunai ilmu lari cepat, yaitu “Keng sin Tee ciong sut.”

Tauwsu Pa cong Thio Kay Kah dan Jie su Pa cong Na Cin, ber sama2 barisannya telah kurung tempat tahanan dengan rapat sekali, kapan kedua pa cong lihat sepnya, mereka lantas menyambut. Atas pertanyaan, Na Cin berikan keterangan, walaupun pernjagaan ada kuat, penjahat bisa naik keatas kemah dan berhasil memasuki entah barang atau kabar apa kemudian penjahat itu lantas menghilang pula, cepat seperti datangnya.

“Tadi sahabat2 Tongtay telah datang kemari, mereka terus menyusul kebelakang tangsi kita ini,” pa cong itu tambahkan.

“Apakah kau dapat lihat macamnya penjahat itu?” “Rupanya mereka masing2 ada satu pendeta dan seorang

biasa”

“Suheng, tolong kau bantu jaga disini, aku hendak susul su siok beramai,” kata Leng Pek pada Siauw Ciu. “Pada jam lima, pasti aku akan kembali.”

Lantas tanpa tunggu jawaban, Cio Tongtay naik keatas penjara tahanan, untuk memeriksa, dari situ ia turun kesebelah belakang, buat susul susioknya semua.

Lekas sekali Leng Pek sampai dikaki gunung Hoa San. Cuaca remang , karena bintang sedikit dan rembulan sudah doyong ke Barat. Ada sulit untuk memandang ketempat jauh. Disitupun tidak ada jalanan, ada sebuah jalanan kecil tapi sudah tertutup pepohonan lebat. Dengan gunai ilmu larinya sambil entengkan tubuh tongtay itu sampai dikaki gunung sekali. Apa yang bisa terlihat tegas adalah Hong hwee tay dan Liauw hong tay, cuma ada satu barisan kecil ditempatkan didekatnya. Jalanan naik ada sukar akan tetapi tongtay ini tidak hiraukan itu, ia naik dengan cepat, melainkan napasnya memburu dan keringat nya mengucur.

Selagi mendekati ranggon, serdadu jaga menegor “Siapa?” Barisan jaga itu sudah lantas mengancam dengan panah mereka.

“Aku!” jawab Cio Tongtay yang perkenalkan diri.

Siauw khoa Khu Kim Pong lantas maju, akan unjuk hormat pada tongtay ini, ia terus undang masuk kedalam kemah, untuk disuguhi arak, akan tetapi Leng Pek mencegah. Ta cuma minum the untuk lenyapkan dahaga.

“Aku sedang dinas,” kata Cio Tongtay. “Apa disini ada terlihat orang lain?”

“Ya,” jawab Kim Pong. “Ada satu serdadu kami, yang tadi lihat orang asing, tetapi karena jaraknya jauh, ia tak dapat melihat niata, ketika ia menghampiri, orang itu sudah lenyap. Selama ini kami memang ada menjaga dengan hati2. Pada dua hari yang lalu, ditempat yang jarang dilalui, penjaga kami melihat seorang tua, yang kami duga ada seopang pelancongan saja. Baiklah sebentar pagi kita lakukan penggeledahan. Tongtay ada begini liehay, kalau penjahat berada diatas gunung, tidak nanti ia bisa lolos.”

Karena orang tidak tahu banyak, Cio Tongtay lantas tinggalkan Hong hwee tay, akan pergi ketempat dimana katanya tadi ada melihat orang asing. Disitu tidak banyak pohon kayu besar tapi lebat dengan rumput dan oyot rotan. Lewat dari situ baru terdapat banyak pepohonan. Ia sudah lalui enam atau tujuh lie, ia tak menemui Cin Hay atau Shong Ceng.

“Aku bisa kesasar,” pikir tongtay ini, yang takut nanti seantero malam berada digunung itu. Ia lalu perhatikan sekitar nya. Tempat itu dipanggil Loan sek po, keadaannya mirip dengan namanya, yang berarti tanjakan batu kusut. Dikanan ada lamping gunung yang mudun, dibawahnya mirip paso, dan dikiri ada aliran air.

Buat sesaat, Cio Tongtay sangsi untuk maju lebih jauh. tapi kapan ia ingat, lain orang begitu sungguh2 bantui ia, hati nya jadi mantap. Ia lihat ia sudah terpisah jauh sekali dari Hong hwee tay, ia anggap tidak ada halangannya untuk kasi lihat perbuatan kaum kang ouw. Maka itu terus ia masukkan jari tangannya kedalam mulut dan perdengarkan dua kali suara suitan. Ia percaya, kalau kawan nya berada didekatnya, ia akan dapat jawaban. Setelah mengulangi sampai tujuh kali, ia tidak dapat sambutan, ia tahu disitu tidak ada kawannya.

Untuk naik keatas, Cio Tongtay hunus goloknya, ia manjat disebelah kanan, ia babat rintangan pepohonan. Durinya pohon cemara ada mengganggu ia, ia baret pada mukanya dan ketusuk tangannya. Dengan susah payah sampailah di tengah2, ia menunda akan menghilangkan lelah tapi ia benci Eng Jiauw Ong, ia kutuk lawan itu. Sambil mengaso, ia bunyikan pula suara suitannya dua kali. Sekali ini ia dengar sambutan dari atas, dua kali saling susul, suaranya kecil, terdengarnya jauh sekali Dengan keinginan tahu, dimana ada nya kawan, ia bersuit pula, sambil berbareng pasang kuping. Justeru itu seekor macan tutul loncat lewat didepannya, hingga ia terkejut. Berbareng dengan itu, ia dengar sambutan pula, tapi karena gangguan sang harimau, ia tidak dapat perhatikan arahnya.

“Kemana perginya , susiok Louw Goan Khay dan Hauw Ban Hong?” ia pikir. “Mustahil mereka tak tahu, gunung See gak Hoa San ini ada lebar ratusan lie? Kalau mereka tidak dapat menyusul orang jahat, sudah saja, apa mungkin mereka menyusul terus kekuil PekTiok Am?” Tiba2 ada terdengar suaranya seekor srigala. Cio Tongtay kuatir binatang itu tubruk atau kena langgar padanya, ia lekas berkelit kekiri, tubuhnya ia putar, siap buat membacok. Benar sedang ia putar tubuh, sepotong tanah menyamber mukanya, hingga ia kaget, tanahnya hancur, matanya kelilipan. Iapun rasai mukanya sakit.

Dengan tangan kiri Cio Tong tay usap bersih mukanya, selagi begitu, kembali satu suara srigala, disusul sama samberan angin. Kembali ia kaget, ia paksa buka matanya, siap untuk berkelit, tetapi sebelum ia sempat geser tubuh atau loncat, tubuhnya seekor srigala sudah timpah ia mengenai pundaknya, hingga ia merasakan sakit dan badannya limbung, sampai ia mundur beberapa tindak.

Serigala itu sendiri jatuh terus, entah dari mana dia dapat luka, dia tidak bisa bangun untuk berlari, dia cuma bisa, gerak2i keempat kakinya me ngower2 tanah.

Segera Cio Tongtay dapati pundaknya terluka, sangat gusarnya ia hampiri serigala itu dan membacok dengan sengit, hingga tubuhnya binatang itu terkutung dua, bahkan gusarnya goloknya mengenai batu juga, sampai lelatu api muncrat kesekitarnya. Walaupun ia dapat sedikit kepuasan, ia masih belum tahu tanah itu datangnya dari mana, dan serigala itu asalnya terluka oleh siapa, tapi menurut dugaan, binatang itu seperti orang lemparkan kebawah….

Itu waktu ada terdengar dua kali suitan, mendengar mana Cio Tongtay jadi bergembira hingga melupai lukanya, iapun bersuit untuk menyambut. Sekarang ia dapat kepastian, disebelah atasan ia tentu ada kawannya, entah siapa. Lalu dengan lawan duri, ia manjat naik, mendaki bukit.

“Pundak rata diatas siapa?” ia tanya selagi ia hampir sampai diatas. “Disini Hauw Ban Hong! Apa Cio Sutee disitu?” jawab suara dari atas.

Bukan main girangnya tongtay itu, ia segera dongak. “Ya…”     ia     menyawab.     Ia     sebenarnya     hendak

menambahkan   “su   heng” akan   tetapi mulutnya rapat

dengan tiba2, karena entah dari mana datangnya, selagi mulutnya dibuka, tahu2 ada pasir yang menyamber masuk, hingga ia jadi kaget, ia gelagapan karena pasir masuk terus kekerongkongannya, malah ada sukar untuk muntahkan itu sesudah mencoba beberapa kali, baru ia bisa bicara pula. Terus ia kata “Suheng, entengi kakimu! Pasir gempur hingga aku kelilipan….”

Orang diatas rupanya tidak mendengar terang, dia hanya kata “Lekas naik, sutee, ada orang permainkan kita!”

Cio Tongtay segera naik, melapay antara cabang pohon cemara. Ketika ia sampai diatas, antara suramnya cahaya bintang dan rembulan, ia dapati saudara itupun berlepotan lumpur, dandanannya tak keruan.

“Bagaimana, suheng?” Cio Tongtay tanya. “Apa kau dapat candak penjahat itu? Kemana mereka itu yang bertiga?”

“Sudahlah, sutee!” sahut Ban Hong dengan kecele. “Aku mengejar dengan sungguh2, aku pun kenal baik tempat ini, selagi aku hampir menyandak, orang telah ganggu aku ber ulang2, aku meng halang2i, hingga aku pikir dengan bersendirian saja, sukar untuk lawan mereka, dari itu aku tukar siasat. Aku curigai bukannya orang luar…. Sutee telah datang, mari kau saksikan sendiri…”

Lan Hong segera putar tubuh nya dan bertindak kearah barat. “Tunggu, suheng!” memanggil Cio Tongtay, yang bersangsi. Lalu ia tambahkan “Orang sendiri tak nanti berhati serong… Baik kau tolong membalut lukaku.”

“Ah, kau terluka, sutee?” kata Ban Hong seraya ia balik tubuhnya. “Bagaimana caranya kau dapati luka itu?”

Cio Tongtay menghampiri sampai dekat, lalu sembari kasi dirinya ditolong, ia tuturkan pengalamannya. Kemudian ia tanya, bagaimana sangkaan sang suheng.

“Aku percaya situa bangka Eng Jiauw Ong ada punyakan tempat sembunyi disini,” Ya heng Cian lie Hauw Ban Hong jawab. “Selagi aku kejar situa bangka, ada orang halangi aku, hingga aku jadi bercape laga malam ini. Mari kita maju, tempat ada berbahaya, siapa bernyali kecil, tak nanti dia berani pergi kesana…”

Mendengar perkataan kawan itu, Cio Tongtay tidak mau menanya melit, ia hanya tanya, mereka hendak menuju kemana dan apa bahayanya.

“Tadi kau ambil jalan salah, sutee,” kata Ban Hong. “Itu ada jalanan mati, lembah seperti paso, disitu biasa pemburu jebak binatang liar. Kau lihatlah tanjakan tinggi itu, itu adalah Hok Say Kong. Lewat dari situ ada Ban siong peng yang tanahnya datar dan indah pemandangan alamnya. Disebelah Timur daya sana ada bukit Eng Ciu Nia, yang belakangnya berjurang dan cuma ada sebuah jembatan dari sebatang pohon. Kapan kita lewati jembatan itu, kita akan sampai di jurang Tek Seng Gay dilamping mana, menurut katanya penduduk, biasa muncul dewa atau orang sakti yang suka membuat obat atau bertapa. Tentu saja, itu ada obrolan belaka. Yang benar adalah orang tak berani datangi jurang itu dengan lampingnya. Disitu justeru biasa bersembunyi orang2 jahat pemburon. Seperti pada tiga tahun yang lalu, penjahat besar Coan thian Auw cu Phui Hui yang kesohor di Selatan dan Utara sungai Tiang Kang, sudah sembunyi disana dengan bawa semua harta bendanya. Buat tiga tahun dia sembunyikan diri, sampai penduduk katakan dia ada orang sakti, hingga ada yang datangi Eng Ciu Kia untuk memohon berkah selamat. Siapa seberangi Eng Ciu Kia, kalau dia tidak binasa digegaras binatang liar, dia tentu jatuh terpeleset dan babak belur, walaupun demikian, mereka tidak penasaran, mereka hanya katakan mereka tak berjodo bertemu dengan dewa, sebab dewa tak sudi menemui mereka. Tapi aku, satu kali aku telah dapat ketemukan Phui Hui disarangnya itu, hampir kami bentrok. Dia tidak percaya aku, dia kuatir aku curangi padanya, setelah berikan aku dua rupa barang berharga, dia berlalu dengan diam2 meninggalkan Tek Seng Gay. Katanya dia sekarang berdiam di Liauw tong”

Hauw Ban Hong belum tutup omongannya, tiba2 ia keserimpat hingga tubuhnya sempoyongan dan jatuh. Cio Congtay, dengan siapa ia jalan berendeng, turut terserimpat, sampai dia jatuh ngusruk, mulutnya mengenai tanah, syukur ia keburu menahan dengan kedua tangannya hingga tak terluka parah.

Ban Hong kaget, ia lompat bangun dengan segera. “Bagaimana, sutee?” tanya ia. “Apakah kau terluka? Ah,

inilah aneh!”

Ia segera rogo kantong kulitnya akan keluarkan bahan api untuk menyuluhi, hingga ia lihat melintangnya sebatang oyot rotan yang ketutupan rumput.

“Kalau sedang sial, ada2 saja.” kata Cio Tongtay seraya merayap bangun, alisnya dikerutkan. “Aku akan jatuh terbanting, apabila aku tidak cepat menjaga dengan tangan dan mukaku bakal habis terluka semua Ban Hong sementara itu telah jumput oyot rotan itu. “Lihat, sutee, rotan ini tumbuh dilobang batu,” kata ia seraya bersenyum ewah. “Niata rotan ini sengaja dipasang untuk bikin kita terserimpati” Dengan sengitnya ia lemparkan rotan itu. “Sutee telah mengarti sekarang! Mari kita jalan terus! Kau waspadalah, barangkali masih ada lain lelakon lagi!”

Ia padamkan api dan simpan itu dalam kantongnya, untuk jalan pula dengan Cio Tongtay bertindak disampingnya, mereka jalan berendeng, hingga ia bisa berbisik “Kuda depan titik, awas biji hijau gelap!”

Ini adalah kata2 rahasia untuk siapkan senjata rahasia. Cio Tongtay juga curiga orang sedang permainkan dia,

segera ia sudah lantas siapkan batu Hui hong sek, sedang

Hauw Ban Hong, selagi dia simpan bahan apinya, sudah barengi jumput keluar So cu Touw hong piauw, yang ia genggam ditangannya. Ia jalan seperti tidak terjadi suatu apa, ia sengaja ajak Cio Tongtay bicara, hanya diam2 ia pasang mata dan kuping.

-0dw0-

VI

Selagi mendaki tanjakan Hok Say Kong, Cio Tongtay yang telah jadi tidak sabaran, sudah tanya suhengnya “Suheng, tadi sewaktu aku ada dibawah, aku kasi tanda suitan dari sini ada suara jawaban, apakah itu jawabannya susiok dan kedua to cu?”

Akan tetapi suheng itu tertawa dingin.

“Louw Susiok?” jawab dia. “Aku percaya, setelah tak berhasil mencari, dia sudah pulang ketangsi. Dan kedua to cu, hm, kau jangan harap mereka! Oh, suteeku yang pintar“ Cio Tongtay berdiam. Ia duga suheng ini justeru curigai kedua to cu itu, Tie Cin Hay dan Shong Ceng. Ia lantas jalan terus.

Tidak lama, sampailah mereka di Ban siong peng. Benar selagi mereka jalan dijalanan batu antara pohon2 cemara, Hauw Ban Hong rasai samberan angin kearah batok kepalanya.

“Celaka!” ia berseru seraya ia mendek. Tidak urung sepotong batu mengenai juga sasarannya, melainkan dia ini tidak terluka hebat. Sebat seperti burung, ia lompat sambil memutar tubuh, hingga ia masih bisa lihat berkelebatnya satu bayangan tubuh ke sebelan Utara.

“Binatang ! Kemana kau hendak mabur?” ia berseru seraya tangannya diayun, hingga piauw nya dengan berkeredepan menyamber kearah bayangan itu. Berbareng dengan itu, iapun bertoncat maju.

Dengan menerbitkan suara piauw itu nancap dibatang pohon.

Cio Tongtaypun berlompat maju akan susul kawannya itu.

“Bagaimana, suheng?” tanya ia. Belum sempat ia tutup mulutnya diatasan kepalanya. diatas pohon, ada suara berkeresek, hingga ia terkejut. Segera ia angkat kepala akan melihat, tetapi justeru itu, secabang pohon jatuh menimpah kearahnya, walaupun ia bisa berkelit, mukanya kena baret juga.

“Ada orang diatas pohon!” ia berseru seraya tangannya diayun.

Serangan itu disambut oleh suara tertawa haha haha. Menyusul itu, Hauw Ban Hong pun menyerang dengan sebuah piauw.

Kedua senjata menerbitkan suaranya masing2 melanggar daun, tetapi dua2nya tidak jatuh.

Cio Leng Pek heran, namun ia merasa pasti, tidak nanti batunya tembusi lebatnya pohon. Selagi ia ternganga, Ya heng Cian Lie Hauw Ban Hong sudah menimpuk untuk kedua kalinya. Tapi juga kali ini senjatanya telah kena disambuti musuh gelap itu. Saking mendongkol, ia loncat akan cabut piauwnya yang pertama nancap dibatang pohon. Ia baru mencabut, segera ia mendengar seruan “Awas!” Dan belum sempat ia menoleh, ia sudah rasai samberan angin pada kupingnya, sukur ia keburu mendek. Piauw itu sebaliknya nancap dibatang pohon tadi disusul dengan yang kedua.

“Sutee, besarkan api, rangkap cabang, aku ada punya daya akan pergi suluhi sikunyuk ini!” kata Ban Hong kemudian. Dengan kata2 rahasia itu, ia suruh sutee nya awasi pohon, ia sendiri hendak bikin musuh gelap itu muncul. Setelah itu, ia cabut piauw yang nancap dipohon, piauw mana adalah piauwnya sendiri, hingga sendirinya diam2 ia merasa jerih juga terhadap musuh tak kelihatan itu. Tapi ia tak sudi unjuk nyali kecil, ia enjot tubuhnya, ia loncat kedepan seraya ia kata pula pada Cio Tongtay “Sutee, aku akan tunggu disini, pergi mutar kebelakang pohon, lalu dari depan dan belakang, kita gunai biji hijau kita. Aku hendak lihat, bagaimana sikunyuk nanti bisa loloskan dirinya!”

Cio Tongtay menyahuti “Ya,” lantas ia loncat kebelakang pepohonan. Baru ia sampai, segera terdengar seruan “Awas!” yang disusul dengan samberan angin dari senjata rahasia. Ia kaget tetapi cepat berkelit, maka itu serangan mana mengenai tanah, sedang satu bayangan lewat melesat. Dengan segera ia balas menyerang dengan batunya, yang sudah disediakan digenggaman nya. Akan tetapi sekejab saja bayangan itu sudah lenyap.

“Ada apa, sutee?” tanya Hauw Ban Hong, yang mendengar suara tadi, malah ia lompat untuk menghampiri, hingga ia lihat Cio Tongtay sedang membungkuk buat pungut senjata rahasia yang dipakai menyerang padanya. “Kau pungut apa?”

“Inilah batuku, yang orang pakai menimpuk kembali kepada ku,” sahut ponggawa itu. “Aku pikir tak usah kita mengejar lebih jauh, mari kita pulang ke tangsi, disana kita boleh berdamai pula.”

Tongtay ini tahu diri, akan tetapi Hauw Ban Hong tertawa dingin.

“Kau kenal perangiku, sutee,” kata ia. “Ada biasanya bagiku tidak akan loloskan sepatuku sebelum aku sampai ditepi kali. Aku justeru ingin ketahui sampai dimana kepandaiannya pit hu ini yang tak sudi tampakkan diri! Kearah mana dia pergi? Aku hendak susul padanya! Kalau sutee hendak pulang lebih dahulu, silahkan!”

“Aku tidak takut, aku hanya kuatir…”

Cio Tongtay belum bicara habis atau kata2nya itu terputus secara tiba2, karena tidak jauh dibelakangnya Hauw Ban Hong, ia dengar seruan “Pit hu!”

Ya heng Cian lie senantiasa siap sedia, dengan gesit ia loncat nyamping, jauhnya satu tumbak lebih, akan tetapi Cio Tongtay, yang tidak pernah menyangka, sudah lantas menjerit “Aduh!” Sebenarnya diapun berkelit tetapi batu mendahului menyamber mukanya, hingga ia merasakan sakit, mukanya terluka dibeberapa tempat dan terus bengkak! Hauw Ban Hong sudah putar tubuh dengan cepat, hingga ia masih bisa lihat berkelebatnya satu bayangan manusia, turun ke tanah dari sebuah pohon disebelah utara. Ia lantas lompat mengejar, sedang pada Cio Tongtay, ia berseru “Sutee, kejar dia!” Pada bayangan itu, ia serukan “Kunyuk, kau hendak lari kemana?”

Cuma bersangsi sebentar, Cio Tongtaypun lari akan susul su hengnya itu mengejar musuh. Ia sebenarnya sudah putus asa, ia jadi jerih, tetapi lukanya yang menimbulkan rasa sakit, membangkitkan hawa amarahnya. Kalau ia tidak menyusul, iapun kuatir suheng itu katakan dia pengecut.

Ban siong peng adalah sebuah rimba seluas dua lie, suara angin pun berisik, ini ada menyulitkan Tongtay itu, yang kalah gesit dari suhengnya, maka juga, belum lama ia sudah tak tampak lagi suhengnya itu.

Hauw Ban Hong melesat cepat luar biasa. Ilmu loncatnya dan entengi tubuh Keng sin Tee Hiang sut memang sudah sempurna, buat diselatan dan utara         

Kang dan dijalan Su dan Siamsay, ia sudah tiada

bandingannya, akan tetapi malam ini, ia tidak berhasil menyandak bayangan didepannya, yang tetap terpisah belasan tumbak jauhnya dari ia, sia2 saja pun ia sudah mengejar menempuh satu lie lebih. Ia sangat penasaran dan sengit apabila ia lihat bayangan itu mencelat masuk kedalam rimba sebelah Utara.

“Kunyuk, kau hendak lenyapkan diri dalam rimba?” ia berseru. “Hauw Thayya tidak akan gubris pantangan, aku akan kejar terus padamu andai kata kau terjun kedalam solokan jurang!”

Sambil mendamprat, Ya heng Cian lie perkeras larinya, tetapi ia sukar menyandak. Bayangan itu kemudian dari arah Utara menikung ke Selatan. Karena membiluknya bayangan itu, Ban Hong bisa menyusul lebih dekat. Iapun segera dengar orang perdengarkan suitan.

“Biar kau kumpul kawan, Hauw Thayya akan adu jiwa denganmu!” berseru ia. Tapi dalam hatinya, ia pikir “Mungkin dia bukannya musuh. Jikalau dia   ada simanusia yang aku sangka, aku hendak lihat dia ada punya muka atau tidak untuk menghadapi aku…”

Bayangan itu lari terus, dari Selatan ia menikung pula ke Utara. Beberapa kali ia lenyap, lalu tertampak pula. Ketika Kemudian orang menikung pula kearah Selatan, hingga keduanya jadi berada sedikit lebih dekat, tinggal enam atau tujuh tumbak lagi, sambil berseru Ban Hong empos semangatnya untuk loncat melesat dengan tipunya loncatan “Ceng teng sam ciauw sui” atau “Capung tiga kali samber air.” Dengan beberapa enjotan saja, ia telah sampai dipohon dimana bayangan tadi menikung. Justeru itu, bayangan itu muncul ditempat jauhnya kira2 satu tumbak. Girang berbareng penasaran, Ban Hong loncat melesat pula, kali ini sambil geraki goloknya, akan membacok bebokongnya orang itu. Ia loncat dengan tipunya “It hoo chiong thian” atau “Seekor burung hoo serbu langit.” Adalah ia punya keinginan, akan tabas kutung orang punya tubuh.

Bayangan itu sangat liehay, waktu serangan datang, dia berseru, “Bagus” berbareng mana, kaki kirinya dienjot, disusul sama gerakan tubuh “Koay bong hoan sin” atau “Ular naga jumpalitan,” sedang tangannya, yang menyekal golok Kim pwee Kim san too, dipakai membacok ujung golok lawan!

Sebat sekali, Hauw Ban Hong tarik pulang goloknya, buat diputar, dipakai membacok pula pundak kiri dari bayangan itu, tetapi lawan ini berkelit sambil menangkis, akan adu golok dengan golok tenaga lawan tenaga. Ban Hong bisa duga, disebelah berat goloknya lawan itu mesti bertenaga besar, dari itu, ia tidak suka benterok gegaman dengan gegaman. Ia tarik pulang pula goloknya, ia loncat kekanan, selagi kaki kanan nya injak tanah, kaki kirinya di angkat, dipakai menjejak orang punya lutut kiri. Gerakannya ada sangat cepat.

Lawan itu benar liehay, dengan gesit ia tarik pulang kaki kirinya kebelakang, goloknya dibarengi diayun, akan babat orang punya kaki yang dipakai menendang itu. Ia gunai tipu babatan “Bwee hoa lok tee” atau “Kembang bwee rontok.”

Ya heng Cian lie tidak kurang liehaynya. Sambil loncat kekanan, ia tarik pulang kakinya yang menjejak itu, kemudian ia putar tubuhnya dengan mendek, seraya goloknya dipakai membabat kebawah.

Atas serangan kepada kaki itu, lawan mana loncat berkali2 jauhnya enam atau tujuh kaki, akan tetapi Ya heng Cian lie tidak mau mengasi hati, ia teruskan loncat, akan menyusul dengan lain bacokan, ini kali mengarah bebokong.

Untuk kesekian kalinya, lawan itu egos tubuhnya.

Demikian mereka bertempur, sampai tujuh atau delapan gebrak, hingga Cio Loo yauw Cio Tongtay dapat menyusul mereka, hanya selagi mendekati, tongtay ini berseru “Suheng, tahan dia, jangan kasi dia lolos! Aku nanti bantu kau membekuk dia!”

Menyusul seruan itu, lawan itu mencelat keluar kalangan.

“Eh! Apakah Leng Pek disana?” dia menegor. Cio Tongtay terkejut. “Suheng!” berseru ia. “Suheng, kenapa kau bentrok dengan Tie Loo su?”

Belum sempat Ban Hong menyambut, atau dari antara pepohonan muncul seorang lain, yang terus tertawa berkakakan dan kemudian kata “Bukannya tempur musuh, tetapi hanya kawan sendiri, apakah itu perbuatannya satu sahabat kang ouw?”

Cio Tongtay segera kenali, orang ini adalah Shong To cu, dari itu ia insyaf, diantara mereka sudah terbit salah mengerti.

Hauw Ban Hong berhentikan penyerangannya, ia geser golok ketangan kiri, ia mundur dua tindak, tetapi ia tidak menghaturkan maaf atau likat, hanya dengan tawar ia kata pada To cu Tie Cin Hay “Kita telah kena dipermainkan musuh, kita telah dibikin jatuh merek! Aku mengejar dengan mati2an, siapa nyana Tie Loo su mendadakan muncul disini, kalau aku sampai terbinasa, aku akan jadi setan yang penasaran…!”

Tie Cin Hay gusar karena orang punya lagu suara mengejek, tetapi sebelum ia sempat buka mulut, Shong Ceng telah dahului berkata “Tie Suheng, kenapa kau bentrok dengan Hauw Suhu? Apakah kau memangnya ada kandung dendaman? … Dan kau, Hauw Suhu, tolong kau maafkan suhengku ini, yang tabeatnya keras. Aku harap kaupun sudi menerangkannya, kenapa terjadi bentrokan ini begitu ia tambahkan pada Ban Hong.

Ban Hong bungkam atas pertanyaan itu. Memang ia yang menyerang lebih dahulu. Tapi ia tidak mau mengaku salah.

“Dalam gelap gulita, ada sukar untuk mengenali orang,” kata ia. “Aku hanya tidak sangka kenapa hal ada demikian kebetulan!” Cio Tongtay lihat suasana buruk, ia segera datang sama tengah.

“Memang, dalam gelap gulita sulit untuk kenali orang.” kata ia “Ini ada kejadian salah mengerti, maka aku harap Tie To cu dan Shong To cu sudi memandang padaku, sukalah urusan ini dibikin habis sampai disini.” sambil mengucap demikian, iapun menjura pada kedua to cu itu, sedang pada Ban Hong, ia memberi hormat sambil tambahkan “Suheng, kejadian malam ini, biar apa sifatnya, semua itu tetap ada untuk siauwtee, dari itu, selagi kita ada diantara orang sendiri, aku harap kita tidak sampai nanti orang tertawakan!”

Hauw Ban Hong merasa pasti kedua to cu itu hendak uji dia, ia mendongkol, akan tetapi ia tak dapat umbar napsu amarahnya, dari itu, ia jawab suteenya dengan bilang “Sutee, kau keliru. Kita ada diantara orang sendiri, mana kita bisa terbitkan buah tertawaan lain orang? ”

Cio Tongtay manggut pada suhengnya, kemudian ia segera tanya kedua to cu itu, kemana perginya Louw Goan Khay.

Shong Ceng pandang Ban Hong, lalu sambil tertawa dingin ia jawab pertanyaan tongtay.

“Kami kejar penjahat selama setengah malaman, maksud kami adalah untuk lakukan pertempuran yang memutuskan dengan mereka itu, sayang sekali, diluar dugaan, Hauw Suhu telah halang2i kami hingga musuh bisa lolos! Sebenarnya kami keluar berbareng dengan Louw Loo su, di tanjakan Loan sek po kita berpisahan, Disitu kami melihat musuh yang berjumlah dua orang. Louw Loo su susul Cu In Am cu dari See Gak Hoa San, yang menyingkir ke Hok Say Kong, dan kami berdua saudara kejar Eng Jiauw Ong situa bangka. Selama itu tidak pernah kami berlalu dari Ban siong peng. Kau datang dari Hok Houw Kong, mustahil kau tidak ketemu Louw Loosu?”

“Itu berarti, seorang diri Louw Su siok memasuki daerah musuh ini,” kata Cio Tongtay dengan hati berkuatir. “Bisa jadi dia telah kena ditangan musuh!”

“Barangkali tidak,” kata Shong Ceng. “Mungkin dia sudah pulang ketangsi… Ah, kita semua kejar musuh, tangsi menjadi kosong, mungkin kita terjebak kedalam akal muslihat musuh, memancing harimau meninggalkan gunungnya! Leng Pek, baik kau segera kembali ketangsi!”

“Tee cu sudah titahkan Liap Suheng menjagai orang2 tawanan,” Cio Tongtay jawab. “Apa tidak baik jiewie to cu saja yang kembali untuk bantu Liap Suheng? Biar aku bersama Hauw Suheng mencari terus di Eng Ciu Nia ini, sekalian cari Louw Susiok. Umpama Louw Susiok sudah pulang, tolonglah minta satu serdadu Kie yong peng pergi kekaki bukit untuk melepaskan tiga batang panah nyaring, supaya kami bisa segera kembali. Apa jiewie akur?”

Ie bun To cu Shong Ceng setujui usul ini, kesatu karena ia tahu, musuh ada liehay, kedua ia insaf, Hauw Ban Hong ada licin sekali, hingga untuk mereka, pulang ketangsi ada paling selamat.

“Baiklah,” demikian ia jawab tongtay itu. “Umpama kau ketemu dengan Louw Loo su, kau pun mesti segera kembali.” Setelah itu, tanpa pesan apa juga pada Hauw Ban Hong, ia menoleh pada Tie Cin Hay seraya berkata “Marilah!”

Tie To cu menurut, ia lantas ikut kawannya itu.

Hauw Ban Hong tertawa dingin melihat keangkuhann Shong Ceng.

“Jangan bertingkah, lihat saja nanti!” kata ia. “Sabar, suheng,” Cio Le Pek kata pada saudaranya itu. “Dalam segala hal, kau pandanglah aku! Kita harus bersatu akan menghadapi musuh tangguh apabila kita bentrok lebih dahulu, itulah bertentangan dengan maksudku mengundang suheng…”

“Jangan kuatir, sutee,” Ba Hong bilang. “Untuk kau, biar poloku hancur luluh, aku tidak nanti mundur. Nah, mari kita pergi ke Eng Ciu Nia, mari kita periksa Tek Seng Gay!”

Cio Tongtay tahu suheng ini berpandangan cupat, kalau ia terus memberi nasihat, orang bisa ngambul, terpaksa ia mengikuti menuju ke Eng Ciu Nia. Mereka berlari sepanjang rimba dari Ban song peng. Selama itu hatinya Cio Tongtay terus goncang, ia kuatir musuh nanti membokong pula.

Mereka baru lari kira2 satu lie, tiba2 Hauw Ban Hong mendek sambil berseru “Awas, sutee!”

Cio Tongtay segera lihat menyambernya satu benda berkeredepan lewat diatasan kepalanya suheng itu, terus nancap dibatang pohon sebelah kiri mereka.

Ban Hong sendiri, setelah mendek, terus loncat kesebelan kanan.

Ketika Leng Pek cabut senjata rahasia itu, ia kenali itu ialah piauwnya Ban Hong. Ia terus nasukkan itu kedalam sakunya.

Ban Hong terus cari penyerang yang bokong ia, tetapi ia tak ketemui siapa juga.

Suheng itu masih hendak mencari tapi Cio Tongtay teriaki dia. “Suheng, musuh ada ditempat gelap, kita ditempat terang, inilah berbahaya! Mari lekas keluar dari Ban siong peng ini. Musuh tidak mau muncul, kita jangan layani padanya, bisa2 kita terjebak!...”

Baru Leng Pek tutup mulutnya atau dari sebelah kiri ia dengar “Awas!”

Kedua suheng dan sutee ini terkejut, belum sempat mereka berkelit, baru saja hendak berpaling, pundaknya masing2 sudah kena tertimpuk batu, benar mereka tidak terluka parah tetapi merasakan sakit sekali, hingga menjadi sangat gusar. Disaat mereka hendak loncat mengejar, kembali mendengar seruan “Awas!”

Sekali ini suara datang dari arah kiri. Keduanya segera berkelit dengan loncat kekiri dan kanan, dari mana, dua potong batu lantas menyerang tanah.

Dalam murka dan mendongkolnya Ban Hong segera mendamprat. tetapi serangan lalu datang ber tubi2, ketika ia mencaci terus, batupun me nyambar2 tak putus2nya, hingga Ya leng Cian lie menjadi repot, tidak perduli ia ada sangat gesit kekiri ia loncat, kekiri datang serangan, kekanan ia berkelit, kekanan batu menyamber.

Menampak demikian, Cio Thongtay dekati suheng itu, untuk bisiki buat mereka lekas2 angkat kaki dari Ban siong peng.

“Jangan kasi diri kita dipermainkan tida perlunya” demikian tongtay berkata.

Hauw Ban Hong juga mengerti bahwa musuh asyik permainkan dia, percuma ia melayani terus secara demikian, dari itu, ia turut pikirannya suteenya itu. Dengan loncatan pesat, bagaikan capung menyamber air, keduanya loncat mundur akan undurkan diri dari rimba itu. Ketika mereka sampai di mulut Timur, Ban Hong dapati suteenya ketinggalan, ia hentikan berlari untuk menantikan. Cio Leng Pek lihat tempat di sekitarnya masih tanah pegunungan, tetapi disini ia bisa keluarkan helaan napas lega.

“Suheng, apakah ini dia Eng Ciu Nia?” kemudian ia bertanya Ban Hong tertawa.

“Sutee, mari ikut aku!” kata ia, yang terus loncat akan mendaki bukit.

Sambil berloncatan, Cio Tongtay ikuti jejak suhengnya itu.

Tidak lama sesampainya diatas, jalanan mulai menurun, disini mereka jalan terus sampai mereka nanjak pula kesebuah bukit yang tinggi, yang keadaannya berbahaya.

“Hati2, sutee, jalanan disini buruk,” Ban Hong peringatkan Leng Pek.

Jalanan ada sangat sukar dan berbahaya, tidak perduli mereka pandai loncat pesat, dua saudara seperguruan ini toh mesti keluarkan banyak tenaga. Cio Tongtay menyesal ia sudah ikut mendaki gunung ini, tetapi ia tidak utarakan itu. Jalananpun licin, siapa terpeleset, dia bisa celaka.

“Masih berapa jauh lagi, su heng?” Cio Tongtay tanya. “Eng Ciu Nia ini benar2 berbahaya. Kalau disini ada musuh yang bokong kita, untuk berkelitpun sukar sekali. Lebih baik kita kembali…”

Ban Hong berhentikan tindakannya, ia menoleh.

“Kau pangku pangkat, sutee, kau terlalu biasa dengan penghidupan senang,” ia bilang. “Kau tak tahan letih, beda daripada kami, orang kang ouw yang biasa menghadapi ancaman bencana. Tempat ini masih tidak seberapa. Lihat disana, itulah Tek Seng Gay. Belum sampai disana, mana kita bisa kembali? Mari, jangan putus asa! Hati2 bila sebentar kita jalan mudun, dibawah sana ada guha yang kita hendak datangi.”

Cio Tongtay jadi masgul, dengan terpaksa ia ikuti suheng itu, ia diam saja.

Tidak lama mereka sampai di sebuah tanjakan, Menuruti pesan saudaranya, Cio Tongtay berlaku waspada. Iapun perhatikan tempat disekitarnya. Cahaya suram dari rembulan membuat mereka tak dapat melihat tegas. Puncaknya tinggi, penuh dengan pohon oyot. Jurang atau lembah, tidak tertampak berapa dalamnya, tetapi kearah situ mereka mesti jalan turun. Setelah berjalan belasan tumbak tatkala Ban Hong berkata “Sutee kau ambil jejakku, jangan ibuk Tongtay ini berhentikan tindakannya, ia mengawasi kedepan. Segera ia dapat anggapan, suhengnya ada terlalu sembrono. Bukankah tempat itu ada berbahaya sekali dan musuh mereka ada liehay?

Disebelah depan mereka adalah Tek Seng Gay, untuk menyeberang kesana, dijurang itu melintang sebuah pohon panjang nya enam atau tujuh kaki. Itu adalah jembatan satu2 nya. Tida terlihat niata, pohon itu tumb rebah sendirinya atau orang sengaja lintangi disitu. Dan tanpa Keng kang sut, tak nanti orang bisa jalan atas jembatai istimewa itu.

“Lihat, sutee, itulah Tek Seng Gay,” kata Hauw Ban Hong selagi adiknya seperguruan berdiri bingung. “Tanpa memasuki guha harimau, mana kita bisa dapat anak macan? Umpama nyalimu tak cukup besar, sutee, kau baik berdiam disini, membantu aku memasang mata saja. Aku sendiri dengan gampang akan seberangi jembatan ini!”

“Kau benar, suheng,” sahut Cio Tongtay. “Ini ada jalan satu2nya, jalanan ini perlu dijaga, Baiklah, aku menantikan disini” Ya heng Cian lie bersenyum.

“Baik, sutee,” sahut ia “Nah, kau lihat aku!”

Hauw Ban Hong segera pentang kedua tangannya, ia enjot tubuhnya, sekejab saja ia sudah, mencelat naik keatas batang pohon itu, baru ia jalan tiga atau empat tindak, tiba2 ada terdengar suara berkeresek diujung seberang.

“Awas, suheng!” berseru Cio Tongtay, yang dengar suara itu, seperti patahnya cabang2 pohon.

Baru kata2 ini dikeluarkan suara nyaring bagaikan guntur segera terdengar dari jatuhnya batu besar jembatan pohon itu. Dilain pihak, Ban Hong sudah loncat mun dur, kembali ketempat dari mana tadi ia berlompat, didekatnya Cio Leng Pek.

-0dw0-

VII

Toan Bie Loo yauw dan Ya heng Cian lie menjadi terkejut sekali, tidak perduli mereka ada penjahat2 besar yang nyalinya luhur. Mereka lihat jembatan itu rubuh, sebelahnya nungging kedalam jurang, hingga tidak ada lain jalan lagi akan seberangi Tek Seng Gay.

“Sungguh hebat, suheng,” kata Toan Bie Cio Loo yauw. “Kalau kau telah maju lagi satu tindak, barangkali kau sudah ter dalam jurang ini! Aku anggap paling baik kita pulang dahulu akan pikir lagi bagaimana baiknya…”

Houw Ban Hong tidak suka mengalah, walaupun ia tahu

yang  sudah tidak berdaya, tetapi sebelum ia sahuti

sutee itu, tiba2 ia dengar suara tertawa mengejek dari seberang, tertawa yang niata dalam malam yang sunyi senyap. Dilain pihak, ia tak takut musuh. Terpaksa, ia tidak tanggapi buka mulutnya untuk mencaci atau mengutuk.

Benar disaat suheng dan sutee ini hendak undurkan diri, mereka dengar suara rintihan atau keluhan, ditempat jauhnya empat atau lima tindak, ditepi jurang itu. Mau atau tidak, mereka menyangka kepada suaranya hantu, hingga mereka tak sudi untuk memperhatikan nya. Tapi, sedangnya mereka mau angkat kaki, kembali rintihan itu terdengar pula.

“Ah, sutee…” kata Ban Hong. “Kau dengar tidak? Pasti itu bukannya musuh … Mari kita lihat.”

Cio Tongtaypun curiga. Maka keduanya dengan hati2 bertindak, untuk cari suara itu, atau lebih benar, orang yang merintih. Mereka turun dengan hati2.

Kembali terdengar suara itu, sekarang rintihan ter aduh2 yang pelahan sekali, beberapa kali.

Turun sedikit lebih jauh, Cio Tongtay kena injak oyot rotan yang besar, kebetulan Ban Hong telah sulut sumbunya, api cian lie hwee, ia segera berkata “Mari suheng, coba suluhi, apa ini!”

Ban Hong menyuluhi dengan segera, dan segera juga ia melihat seorang sedang tergantung. Cio Leng Pek juga turut dapat melihat.

“Apakah Louw Susiok disana?” tanya Cio Tongtay, yang ada kaget dan giris.

Jawaban terdengar dari bawah, tetapi saking pelahan, tidak terdengar apa katanya.

Ban Hong serahkan apinya pada Cio Tongtay, ia mencoba menarik oyot rotan itu, ia dapat keniataan rotan itu kuat. “Kalau perlu, sutee, kau bantu aku,” kata ia kemudian. “Kita mesti angkat dengan pe lahan2, tidak boleh digentak.”

“Kalau begitu, lebih baik kita mengangkat berdua berbareng,” kata Cio Tongtay.

Ban Hong memang sangsi ia kuat angkat orang itu, ia tidak mau mengaku tak kuat, sekarang suteenya tawarkan bantuan, ia terima itu dengan girang.

“Baik, mari kita mengangkat bersama!” kata ia. “Hanya orang itu, entah Louw Susiok atau bukan…” Lalu ia melongok kebawah, akan menyerukan “Sahabat, kau berpegangan keras , kita hendak tolongi padamu!”

Setelah itu, berdua mereka pegang ujung oyot, lalu mereka menarik dengan hati2. Keduanya kuatir sekali oyot itu nanti terputus ditengah jalan. Mereka sendiri perlu tancap kaki dengan kuat. Dengan susah payah, akirnya mereka dapat angkat orang itu, mereka sendiri letih bukan main.

Cio Tongtay nyalakan pula apinya, akan suluhi orang itu.

“Ah suheng, benar2 Louw Susiok!” ia berseru. “Tentu ia terluka oleh musuh!...”

“Sabar, sutee,” Ban Hong kata. “Nampaknya dia tidak terluka hebat, kalau musuh serang dia, barangkali dia sudah terbinasa lebih dahulu…”

Ban Hong periksa orang punya tubuh, benar2 ia, tidak dapatkan luka parah kecuali baret2, sedang napasnya masih bekerja. Maka itu, ia terus loloskan rotan yang melibat pada tubuhnya sampai keleher. Louw Goan Khay rebah tidak berdaya, sampai orang telah uruti dadanya, kemudian ia perdengarkan satu suara, terus sadar akan dirinya. Leng Pek pun ber ulang2 memanggil paman gurunya itu.

“Aku percaya aku akan binasa, tidak dinyana kau berdua dapat menolongi aku,” kata ia kemudian dengan lemah, setelah ia keluarkan elahan napas lega. “Aku seperti orang yang menjelma untuk kedua kalinya…”

“Apa susiok tidak terluka?” tanya Ban Hong. “Kita perlu lekas berlalu dari sini.”

Dengan bantuannya keponakan murid ini, Goan Khay berduduk. Ia melihat kekiri dan kanan, lalu ia menghela napas pula.

“Aku tidak terluka parah, kalau kau bantui aku berbangkit, aku bisa geraki kaki tanganku,” kata ia.

Ban Hong manggut, ia terus menoleh pada kawannya. “Sutee, tempat ini terlalu sempit,” berkata ia. “Coba kau

kutungi oyot itu, kau naik keatas, aku nanti gendong susiok,

kau menarik dari atas untuk bantui aku mendaki.”

Hatinya Leng Pek lega melihat suheng itu tenang, ia menurut. Ia kutungi rotan dan naik keatas, sesampainya ditempat rata, ia cekal itu dengan keras.

Dibawah, Ban Hong gendong susioknya, atas satu tanda, ia melapay naik. Sebentar saja mereka sudah sampai diatas. Disini Louw Goan Khay geraki kaki dan tangannya akan bikin darahnya mengalir, dari itu, sebentar kemudian, ia sudah bisa bergerak dengan leluasa.

“Marilah!” mengajak Ban liong, yang terus cekal goloknya akan buka jalan.

Cio Tongtay mengikuti sambil pimpin paman gurunya. Mereka meninggalkan Eng Ciu Nia. Dengan lekas mereka sampai dijalanan gunung Ban long peng. Lagi setengah lie, mereka akan sampai di Ban long peng. Disini jalanan banyak lingkarannya, tetapi pohon sedikit, tak dapat orang sembunyi disitu. Disini mereka singgah dahulu.

“Sebenarnya, su siok, apa yang sudah terjadi pada dirimu?” kemudian tanya Cio Tongtay, juga Hauw Ban Hong, yang ingin ketahui pengalamannya su siok itu.

Tong tun wan mengelah untuk melegakan napasnya. “Aku telah habis….” kata ia “Seumurku belum pernah

aku rubuh sebagai ini…” Ia mengelah pula, lantas ia tuturkan apa yang terjadi atas dirinya.

Tong tun wan, si orang hutan, sulah ber hari2 sampai di Ban long peng, dimulut sebelah Timur. Ia asing dengan tanah pegunungan itu, ia toh coba lintasi rimba. Ia maju belum jauh, ia lalu dengar suara tertawa pelahan. Ia bukannya seorang sabar, tindakannya pun berat melulu karena sampokan angin, tindakannya itu tidak terdengar niata. Ia maju dengan ber indap2, sambil pasang kuping. Ia umpatkan diri antara pepohonan.

“Ong Suheng,” demikian ia dengar, “aku ada punya urusan dikuilku, aku hendak pulang, besok saja kita bertemu pula.”

“Silahkan pulang, am cu!” ia dengar satu suara lain, yang berat “Dua kunyuk itu mirip dengan hantu penasaran, apabila tidak diberikan hajaran, mereka tentu belum mau sudah! Aku hendak main2 dengan kedua kunyuk itu akan lewati malam yang senggang ini!”

Louw Goan Khay duga pasti, dua orang itu adalah Cu In Loo nie dan Eng Jiauw Ong. Ia mendongkol. Ia memikir untuk mendahului memberi hajaran. Maka ia segera maju sambil berlompat, hingga ia lihat dua bayangan melesat kekiri dan kanan, keluar rimba. Tak sabar lagi ia menyerang dengan dua batang panah tangannya kearah mereka masing2.

“Bagus!” demikian ia dengar. Dua bayangan itu lenyap, lenyap juga sepasang panahnya. Justeru ia sedangnya berdiri bingung, ia dengar seruan “Awas.” Ia segera berkelit, tapi tidak urung batu2 halus mengenai tubuhnya, dan walaupun batunya kecil, namun hebat mengenai badan. Batu itu seperti menembusi bajunya mengenai daging. Ia merasakan sakit dan panas dikulit dan daging. Saking mendongkol, ia mencaci. Tapi baru ia buka mulutnya, atau pasir menyamber masuk, hingga ia gelagapan. Dengan susah payah ia muntahkan itu.

“Suheng, binatang ini bermulut kotor, kau serahkan dia padaku!” ia dengar suaranya si nie kouw, pendeta perempuan, yang tua.

Dalam murkanya, Goan Khay lompat maju, ia menyerang dengan panah tangannya ber ulang2, lalu ia siap dengan goloknya.

Antara sinar remeng kelihaian satu kepala gundul, siapa berseru “Binatang, bukannya kau kabur pulang, kau cari jalan kematian! mari!”

Bukan kepalang mendongkol nya Tong tun wan, tetapi ia sudah obral habis panah tangan niat terpaksa ia lompat maju dengan bacokannya.

Pendeta itu loncat lari, sampai dimulut Timur dari rimba. Disini ia berhenti dan menggape.

“Kepala gundul, jangan bertingkah!” berseru Louw Goan Khay. “Louw Ngo thayya nanti adu jiwa denganmu!” Goan Khay mengejar terus. Pendeta itu lari, ia seperti sebentar lenyap dan sebentar timbul, karena ia berlari antara pepohonan. Ia mendaki Eng Ciu Nia, lawannya mengejar terus, saban2 sambil mendamprat. Ia tidak balas mencaci, sebaliknya, saban2 ia menimpuk dengan potongan tanah, hingga ia menambahkan kemendongkolan orang, matanya Goan Khay jadi merah menyala. Belum pernah orang she Louw ini dapat penghinaan secara demikian. Selama bercokol di Louw kee po, Tong kwan, dimana ia jadi tukang tadah dan tukang keram orang2 jahat, ia biasa menitah berbagai sebawahannya, belum pernah ia mendapat malu, maka sekarang, ia jadi seperti nekat, ia mengejar terus terus sampai di depan jurang yang menghadapi Tek Seng Gay.

Disitu, diantara jarak beberapa tumbak, tiba2 sipendeta perempuan berhenti berlari dan mutar tubuh, ia menuding sera membentak “Manusia terkutuk sampai ditempat kematian nya kau masih belum insaf! Apa kau benar2 mencari kematianmu?”

“ Ngo thayya tidak memikir hidup pula, dia mau adu jiwa dengan kau!” ada jawabann Louw Goan Khay selagi ia mendatangi, tanpa ia hentikan tindakannya, malah sebaliknya berlompat jauh dengan loncat “Beng houw cut tong” atau “ Harimau galak keluar dari guha,” goloknya diayun begitu lekas ia sudah sampai didepan sipendeta sekali.

Si niekouw tua berkelit ke samping akan elahkan bacokan berbareng dengan itu, tangan kanannya diangkat, tiga jarinya telunjuk, tengah dan manisnya dikerjakan, untuk menangkis, dan tangan kirinya menyusul, menyabet lengan kanan dari penyerangnya itu. Oleh karena gerakan berbareng, Goan Khay tidak keburu tarik pulang tangannya. lengannya itu kena di sabet, sampai ia merasakan begitu sakit, tanpa merasa goloknya terlepas dari cekalan, lengannya itu kesemutan dan sakit sekali. Tubuhnya juga sempoyongan, karena dorongan tangan kanan niekouw itu.

“Segala tembaga bobrok dan besi karatan dipakai membacok orang!” pendeta itu mengejek, ketika ia jemput golok musuh dan potes itu menjadi patah dua, kedua potongannya terus dilempar kesolokan!

Sebenarnya Cu In Am cu tidak berhenti sampai disitu, sedangkan lawannya tidak berdaya dan tercengang ia

          mencelat kedepan orang     tangannya diulur kedepan dan mulutnya perdengarkan seruan “Binatang, kau berhati luhur?”

            Goan Khay bertubuh    dan    , tetapi ditangannya si pendeta perempuan, ia mirip seperti seekor

anak , bajunya   kena dijambak  ia mampu

berdaya, terus di angkat untuk diayun. Katanya tiba2 “Jangan lepas tanganmu, suheng. Aku membutuhkan kunyuk itu!” demikian satu suara the  

Sebelum Goan Khay tahu apa2, benda menyamber mengarah lehernya dengan kedua lengannyapun terpelintir kebelakang, hingga ia jadi semakin tidak berdaya, ia melainkan membiarkan tubuhnya diangkat dan kupinnya dengar “Biarlah dia turun kebawah untuk mengicipi hawa sejuk!”

Dan benar2 ia terlempar kebawah, kemudian tegantung. Ia rasakan kedua matanya gelap, tetapi ia masih dengar perkataan “Orang she Louw, malam ini aku ampuni jiwa anjingmu, tetapi kau mesti menantikan disini, sampai ada kawanmu yang datang kemari! Apabila kau mencoba berontak, kau akan tercemplung kedalam solokan jurang, kau pasti mampus! Maka itu, kau hendak hidup atau binasa terserah kepada dirimu sendiri!”

Setelah itu, suasana jadi sangat sunyi.

Apa yang terjadi atas dirinya membuat Goan Khay pingsan, kemudian ia sedar, tetapi ia lelah bukan main. Ia terbelenggu dan tergantung pada oyot rotan, ia tidak berani berkutik, kuatir tubuhnya terlepas dari ikatan dan jatuh, dari itu, ia cuma bisa merintih dan mengeluh. Ia kaget atas suara nyaring bagaikan guntur, dari rubuhnya jembatan batang pohon. Setelah itu, ia tahu yang ia sudah ditolongi kawan. Keterangannya ini membikin dua2 keponakan murid itu menjadi kaget, Cio Tongtay sendiri sampai merasa jerih.

“Sudah, susiok, jangan kau pikirkan pula kejadian itu,” kemudian tongtay ini menghibur. “Buat satu budiman, membalas dendam dalam sepuluh tahun masih belum terlambat! Lihat saja kelak, siapa yang akan peroleh kemenangan terakir! Sekarang, mari kita pulang dahulu!”

Goan Khay tidak bilang suatu apa, ia jadi lemah tidak berdaya, ia antap Leng Pek terus pepayang ia, untuk pulang ketangsi. Ia insya bahwa musuhnya. ada sangat liehay.

Dengan sebenarnya, Eng Jiauw Ong Ong To Liong telah peroleh kemajuan, karena ia bertekad bulat untuk mencari balas terhadap musuhnya, yang bokong ia dengan senjata rahasia beracun. Sejak ditolongi Yo Bun Hoan, sambil turuti nasihatnya orang she Yo itu, ia seperti keram diri dikampung halamannya sendiri, dusun Lek tiok tong di Ceng hong po, Koay siang. Pernah ia keluar dari desanya, tetapi secara diam2, dan segala perbuatannya itu ia sangkal iapun lewati tempo senggangnya dengan terima murid, yang ia berikan pendidikan. Adalah setelah muncul pemberontakan kaum Rambut Panjang, ia tidak bisa sembunyikan diri lebih jauh.

Bertetangga dengan Ceng hong po, semuanya ada sebelas dusun. Daerah ini terancam bahaya sepak terjang kaum pemberontak. Untuk tolong mereka, Ong To Liong tidak bisa diam saja. Demikian ia kumpulkan murid2 Hoay Yang Pang, kaumnya sendiri, persatukan mereka, ia kumpulkan uang akan ongkosi pendiriannya satu pasukan sukarela. Ia berhasil dengan pendiriannya ini, ia atur pembelaan hingga sebelas desa menjadi terjaga kuat, sampai kawanan perusuh jerih sendiri nya, tidak berani datang mengganggu. Sebaliknya, secara diam2 Eng Jiauw Ong suka satroni markas pemberontak untuk cari rahasia. Paling akir ini, ia dapat tahu pemberontak niat serbu propinsi Siamsay. Ia ingat Yo Bun Hoan, penolongnya, yang tinggal di Hoa im, ia kuatir penolong itu jadi korban serbuan, karena ia tidak bisa bawa pasukannya untuk menolong, ia jadi kirim Hoa In Hong, murid kepalanya, untuk bawa surat guna ajak orang she Yo itu mengungsi ke Hoay siang. Baru muridnya berangkat, lalu pada malamnya ia dengar rahasia lain, yalah hal pemberontak sudah mulai bergerak, hingga ia jadi sangat berkuatir. Ia tahu, untuk bela diri sendiri, Hoa In Hong akan punya kesanggupan, tapi buat lindungi Yo Bun Hoan serumah tangga, itulah sulit, mak ia ambil putusan akan pergi sendiri. Ia datang secara kebetulan, karena In Hong mendapat susah, merembet pada Bun Hoa dan keluarga, yang jadi korban pembalasannya Goan Siong, sedang Gouw Teetok menggunai ketikanya akan lampiaskan dendamnya. Selagi ia cari hotel, lihat In Hong ditawan, dari itu ia beri tanda untuk muridnya bersabar. Ia sudah lantas ketahui duduknya kejadian, sebab alpanya simurid. Ia gantikan muridnya ambil kamar dikota Hok Seng, disini ia mencari keterangan terlebih jauh. Demikian malam itu, selama Yo Bun Hoan diperiksa denga bengis, Eng Jiauw Ong nyerbu masuk kedalam kemah, akan berikan ancaman pada teetok yang busuk hatinya itu, yang niat peras Bun Hoan. Apa yang jago Hoay siang ini belum tahu adalah ditangsinya teetok itu ada satu penjahat besar, yang berselimut pangkat tongtay yang satronkan ia.

Sehabis naik diranggon. dimama ia gantung kopiahnya Gouw Tee tok, Eng Jiauw Ong keluar dari daerah tangsi, selagi jalan, ia rasai samberan angin luar biasa apabila ia loncat menoleh, tampak berkelebatnya satu bayangan. Ia jadi heran, terutama untuk kegesitan bayangan itu selagi mereka terpisah hanya lima atau enam tumbak, segera ia mengejar akan menyusul. Ke annya, ia heran bukan main. Ia pandai Keng kang sut, tapi ia tak dapat candak bayangan yang lenyap dalam sekeyap, sia2 saja ia mencari nya. hal ini, kalau tadinya ia akan mondok dihotel Hok Seng, ia segera ubah itu. Ia memikir hendak pergi ke Hoa San, yang lebih dekat dengan tangsi tentara. Begitu ia putari tangsi, ia menuju ke Tek Seng Gay. Tempat asing itu dahulu ia pernah datangi satu kali. Baru saja ia sampai segera tampak mele       satu bayangan, cepat seperti sampai ia tak bisa bedakan bayangan itu ada manusia atau alas.

“     !” ia pikir. “Dengan kepandaianku sudah dua atau tiga puluh tahun aku malang melintang didunya kang ouw, tetapi semalam ini, dua kali aku menemui hal aneh! Apakah sekali ini aku mesti turun merek di Tong kwan ini

?”

Tanpa bersangsi, Eng Jiauw Ong loncat ke batang pohon melintang ditengah jurang, lalu ia berjalan dengan   ngi tubuh dengan ilmu “Hui Siauw Leng po Keng kang Keng ut.” Karena kedua tangan di gerak2i mirip dengan burung terbang. Dengan cepat ia telah sampai diseberang dimana terus saja ia mendaki tanjakan, hingga sampai di puncaknya Tek Seng Gay, yang luasnya cuma sebelas atau dua belas tumbak dimana ada tumbuh pohon dan rumput dan batu rata.

Dari sini Eng Jiauw Ong memandang ke Hong hwee tay dimana ada cahaya api kelak kelik, sedang diarah tangsi tentera, yang panjang, api nampaknya sebentar lenyap sebentar timbul. Markas besar tak kelihatan tegas. Kemudian ia bertindak akan cari tempat beristirahat. Ia ingat disitu ada dua guha yang masing2 ada cukup besar untuk pernahkan dirinya. Ia baru jalan dua tiga tumbak, lantas ia jadi heran dan curiga. Rumput dan pepohonan disitu seperti bekas ditebangi, hingga disitu tertampak jalanan batu yang bersih. Ia hentikan tindakannya, akan mengawasi jalanan itu dan kiri kanannya.

“Mesti ada orang berdiam, disini,” ia men duga2. Lalu ia bertindak maju sambil pasang mata dan kuping.

Lagi satu tumbak, ditengah jalan ada berdiri tanah munjul, jalanan jadi terbagi dua. Ia ambil jalanan sebelah kiri. Ia baru jalan dua tiga tindak, tiba ia dengar bentakan “Penyerang panglima perang, kau hendak sembunyikan diri disini? Hayolah kau berurusan dengan pengadilan!”

-0dw0-

VIII

Sebagai seorang yang berpengalaman dan nyalinya besar, Eng Jiauw Ong tidak takut, tetapi ia loncat kepinggir, akan melindung pada sebuah pohon besar, sambil berbuat begitu, ia memandang ketempat dari mana suara datang, akan terus menegur. “Siapa itu yang bicara besar? Apakah kau tidak kenal aku?”

Tapi teguran itu dapat jawaban yang berupa suara tertawa, dari satu orang bertubuh kurus dan kepala gundul, yang berjuba suci, tangannya menyekal kebutan, berdiri diatas tanah munjul itu. Orang itu segera berkata “Eng Jiauw Ong, kau masih berani banyak tingkah? Kau tidak tahu diri! Bukankah muridmu berada dalam tangan orang, sampaipun muridku si Hong Bwee turut kerembet karenanya? Aku justeru hendak cari kau buat bikin perhitungan!”

Eng Jiauw Ong telah lantas lihat niata orang itu, ia tertawa terbahak .

“Ah, Cu In Am cu, kau bikin aku kaget,” kata ia. “Silahkan turun. Aku tahu, kau memang ingin aku bayar kaul, supaya kau bisa bikin aku ngodol saku.”

Dan ia tertawa pula ketika ia maju menghamparkan. Orang beribadat itu memang ada Cu In Am cu dari Pek

Tiok Am dibukit Chong Long Nia Hoa San. Dialah yang terkenal sebagai Khong bun Lie hiap, atau pendeta perempuan yang kosen. Atas perkataannya Ong To Liong, terus ia loncat turun, akan hampiri tetamunya itu yang segera mengasi hormat padanya.

“Sejak perpisahan kita di Bu Tong San, tujuh tahun telah lewat,” berkata Eng Jiauw Ong. “Niata Am cu bisa bawa diri hingga peroleh kepandaian istimewa, hingga tadi dua kali aku tak kenali kau! Ada urusan apa Am cu datang kemari?”

Cu In tertawa, “Kau sudah ketahui, jangan kau ber pura2 saja2” kata ia “Bukankah tadi aku telah kasi tahu bahwa muridku telah teraniaya olehmu? Kau mesti kembalikan muridku secara baik, baru aku mau mengerti, jikalau tidak, tidak tunggu sampai Gouw Ko pie keset kulitmu, aku akan bikin si garuda tak mampu terbang pulang ke Hoay siang.”

“Ah, Am cu, jangan kau main2!” kata Eng Jiauw Ong pula sambil tertawa. “Siapa muridmu itu?”

“Aku tidak main2,” sahut Cu In dengan sungguh2. “Muridmu bikin hilang suratnya, ia rembet2 Yo Bun Hoan sekeluarga, diantara mereka ini, ada satu muridku, murid perempuan…”

Eng Jiauw Ong heran.

“Dengari sebenarnya, aku tidak tahu,” kata ia, yang pun ber sungguh2. “Apakah Am cu pun baru sampai malam ini dilembah ini? Ini ada tempat pesiarku cuma sudah enam atau tujuh tahun, tidak pernah aku datang kemari. Melihat tempat ini dirawat, apakah Am cu biasa pesiar kemari?”

Niekouw tua itu tertawa.

“Tadinya aku sangka kau ada tuan ke dua dari Tek Seng Gay, tapi melihat sikapmu, yang agak nya heran, aku lepaskan sangkaanku itu,” kata ia. “Nah mari kesini, supaya kau tidak kehujanan dan kedinginan!”

Cu In putar tubuhnya tanpa tunggu jawaban, dari itu, Eng Jiauw Ong terus ikuti dia, hingga dibelakang tanah munjul itu, ia lihat sebuah rumah batu, ada pintunya, ada jendelanya, kelihatannya terawat baik.

“Am cu, orang berilmu siapa tinggal disini?” tanya ia dengan heran. “Apa kita tidak berbuat lancang memasuki tempat ini?”

Kembali pendeta itu tertawa.

“Aku tidak nyana Eng Jiauw Ong yang biasa malang melintang didunya kang ouw kenal tata hormat sampai begini,” sahut ia. “Jangan kuatir, mari masuk. Jikalau tuan rumah takut menemui kau, pasti dia sudah kabur sedari siang.”

Cu In hampirkan pintu, untuk terus dibuka. Ruangan dalam sangat gelap, tapi begitu lekas pendeta ini masuk, cahaya api segera berkelebat. Maka itu, setelah ia bertindak masuk, Eng Jiauw Ong bisa lihat ruangan yang terawat baik, cuma mejanya dari batu begitupun dua buah kursinya. Bagian dalam ada teraling dengan selembar kere rumput.

Kapan kere itu disingkap, Eng Jiauw Ong lihat ruangan diterangi pelita. Pembaringan terbuat dari rotan. Didepan jendela ada meja kayu diatas mana pula sebuah tehkoan dan sebuah cangkir. Dekat tembok ada sebuah kwali tembaga.

“Lihat, Ong suheng, apa tempat ini bukan terlebih baik daripada udara terbuka?” kata Cu In sambil bersenyum, suaranya sekarang ada tenang sekali.

Ong To Liong puas dengan orang punya perubahan sikap.

“Memang, Am cu,” ia menjawab dengan cepat. “Tapi ini tempat siapakah?”

“Silahkan duduk dahulu, nanti aku kasi keterangan,” pendeta itu mengundang.

Eng Jiauw Ong menurut, ia berduduk.

“Sebenarnya ini ada tempat kediamannya supeku, ketua dari Hoa San Pay,” kata Cu In setelah ia duduk. “Disini supe yalankan semacam ilmu, lamanya seribu hari, baru sebulan berselang, ia berlalu dari sini, hingga sekarang suheng adalah yang dapati tempat istirahat yang indah ini…” Eng Jiauw Ong menjura pada pendeta itu.

“Oh, kiranya ini ada tempat kediamannya ketua dari Hoa San Pay?” kata ia. “Sayang aku tak dapat menemui Twie In Kiam kek, maka itu, kepada Am cu saja aku haturkan terima kasihku.”

“Tapi tak cukup dengan ucapan terima kasihmu saja,” Cu In bilang. “Setelah aku carikan kau tempat ini, kau mesti loloskan muridku dari bahaya! Bagaimana kau hendak berdaya? Muridku paling benci Gouw Ko pie, awas apabila ia sampai dapat celaka!”

“Sabar, Am cu. Aku masih belum tahu yang mana satu muridmu itu?”

“Nanti aku kasikan keteranganku. Sejak guruku serahkan Pek Tiok Am kepadaku, seharus nya aku sudah tutup pintu, tak boleh aku terima murid lagi. Thian Hui Cu, murid kepalaku, sudah buka rumah perguruan, tidak selayaknya aku ambil satu susiok untuk murid2nya itu. Tapi Yo Bun Hoan Yo Jie looya, ketika ia pangku jabatannya di Lan thian, Ouwlam, dia sudah lindungi nama baiknya kaum kita cabang Selatan, dia sudah tolongi lima murid cabang itu, maka juga Couwsu Tie Sian Taysu, yang sudah mangkat, sudah wajibkan kita membalas budi pada keluarga Yo itu, yang katanya selang lagi lima belas tahun, bakal nampak bahaya. Di antara keluarga Yo, cuma nona Hong Bwee yang punyakan tulang baik, dari itu, dialah yang aku ambil sebagai murid. Selama sepuluh tahun, ia telah bisa terima berbagai pelajaranku. Baru sebulan berselang, aku nasihatkan muridku akan ajak ayahnya pesiar. Yo Jie looya perlihatkan air muka berubah, itu ada alamat jelek, tetapi ia tidak sudi pesiar, sekalipun untuk seratus hari. Dasar takdir tak dapat dilawan, aku telah datang terlambat, sekarang keluarga Yo kerembet oleh kealpaan murid mu. Dengan kepandaiannya, Hong Bwee bisa loloskan diri dari tangannya Gouw Teetok, tetapi ia berbakti, ia mandah ditawan bersama, ia tidak mau lakukan tindakan diluar garis. Hatiku lega melihat kau datang menyusul, hanya dari sepak terjangmu terhadap Gouw Teetok, aku dapat keniataan kau belum tahu bahwa dibawahannya teetok itu ada satu penjahat besar yang liehay dan licin, malah dia ada orang nya Hong Bwee Pang. Aku sudah tengok muridku, aku telah berikan tiga butir obat untuk Yo Jie looya, setelah itu, aku ikuti kau datang kemari. Ong Suheng, sekarang aku ingin ketahui, bagaimana kau hendak bekerja.”

“Benar, Am cu, aku tidak ketahui Nona Hong Bwee adalah muridmu,” kata Ong To Lio “Akupun tidak sangka, muridku sudah berlaku alpa hingga terbit bencana ini. Bahwa aku telah ancam Gouw Teetok, disebabkan aku percaya, sedianya dia akan malui Yo Jie looya yang ada bekas pembesar kenamaan dan penduduk sini tentunya akan bantu padanya. Tapi Am cu bilang, Gouw Teetok punya sebawahan yang lieh inilah lain. Sebenamya, siapak penjahat itu?”

“Dahulu dia cukup terkenal Kanglam,” sahut Cu In. “ adalah orang Hong Bwee Pang dan dikenal sebagai Toan Cio Loo yauw, disini, dengan pangkat tongtay, ia jadi kaki tangannya Gouw Teetok, yang sangat percaya padanya.

Ong To Liong terkejut mendengar nama itu. “Oh, dianya?” kata ia.

“Apakah suheng kenal dia itu?” Cu In tanya.

Eng Jiauw Ong manggut “Aku tidak sangka sekarang dia pimpin pasukan perang! Bukan melainkan aku kenal dia malah dia ada bekas roh gentayangan dibawah tanganku. Dahulu ia telah lakukan kejahatan melewati batas, aku hendak singkam padanya, dia buron dari Kanglam,katanya ke Utara. Kabarnya dia bersumpah akan rubuhkan Hoay Yang Pay. Aku tidak sangka sekarang dia jadi tongtay dan jadi juga orang kepercayaannya Gouw Teetok. Kalau tiada keterangan Am cu ini, aku bisa gagal. Sekarang aku pikir akan kasi nasihat pada Gouw Teetok, apabila ia membandel, apa boleh buat, aku nanti ambil sikap keras. Tapi Am cu, kau tidak boleh yauhkan diri, kau harus bantu aku.”

“Dasar kau, guru dan murid, senang aku berdiam diri dikuilku, kau siram aku dengan air kotor. Aku penasaran!...”

Walaupun ia mengucap demikian, Cu In tertawa, “Dengan memandang muka Buddha yang mulia, Am cu

harus bantu aku,” To Long mendesak.

“Memang tak dapat aku nonton saja,” berkata pendeta itu kemudian, “tetapi bila ada terjadi sesuatu atas diri murid ku, aku cuma tahu kau seorang!”

“Jangan kuatir, Am cu. Bila aku gagal, aku juga malu bertemu dengan saudaraku, Yo Jie looya itu.”

“Baiklah, sampai besok malam.” kata pendeta itu. “Apabila kau haus, suheng, disamping ada tempat air dan per , hanya airnya mesti di ambil dari dalam jurang.”

Cu In lantas pamitan, untuk pulang ke Pek Tiok Am. Sejak itu, Ong To Liong tem an diri di Tek Seng

Gay. Demikian dimalam kedua, bersama Cu In Am cu, ia

pergi beri peringatan pada Gouw Tee tok. Ia pun pesan Yo Bun Hoan muridnya, untuk bersabar. Hong Bwee juga dapat nasihat dari gurunya untuk turut bersabar dan berlaku tenang kapan ia   Hoay siang Tayhiap tengah berdaya akan tolongi mereka. Disebelah itu, Eng Jiauw Ong dengar hal Cio Tongtay sedang minta bantuan, malah mereka tahu baik siapa adanya Shong Ceng, Tie Cin Hay dan Hauw Ban Hong, dari itu mereka bersepakat untuk berikan hajaran pada beberapa pembantu itu, hingga telah terjadi Louw Goan Khay kena di “gantung”

Seberlalunya Cio Tongtay bertiga, Eng Jiauw Ong dan Cu In Am cu berkumpul di Tek Seng Gay. Jago dari Hoay siang utarakan kepuasannya sudah permainkan Leng Pek dan kawan2 nya.

“Jangan terlalu bergirang, suheng,” kata si niekouw tua. “Tongtay she Cio kita tak usah kuatirkan, begitu juga Louw Goan Khay si sisa mampus, tidak demikian dengan Ie bun To cu Shong Ceng dan Hauw Ban Hong, kedua mereka ada licin dan cerdik sekali, mereka mirip dengan kala, mereka tidak boleh dipandang enteng.”

Niekouw ini berpemandangan jauh dan benar sekali apa yang ia kuatirkan, tetapi Eng Jiauw Ong tidak jerih.

“Buat bicara terus terang, ketika dulu aku dibokong si orang she Pauw, itulah terang karena kepandaianku yang tidak sempurna,” ia bilang, “akan tetapi, walaupun demikian aku tak gentar, justeru sekarang ada orang Hong Bwee Pang dalam urusan kita ini, aku semakin ingin tahu kesudahannya ”

“Benarlah apa yang orang kang ouw bilang bahwa kau si tua bangka ada bertabeat aneh!” kata Cu In. “Baru aku peringatkan kau untuk waspada, kau sudah naik darah. Aku tidak perduli kau gentar atau tidak terhadap Hong Bwee Pang, tetapi aku hendak tanya kau, sekarang kau hendak bertindak bagaimana? Kau harus lekas tolong! muridku lolos dari mulut harimau!”

“Jangan sangka aku turuti saja tabeatku, Am cu,” sahut Eng Jiauw Ong. “Dalam satu hal aku hendak mohon bantuanmu….” “Tetapi kau harus mengerti, sudah sejak lama aku utamakan agama, aku tidak hendak bentrok dengan siapa juga,” Cu In jelaskan. “Didepan sang Buddha aku telah sumpah akan pantang membunuh, dari itu jangan kau paksa aku…”

“Aku mengerti, Am cu, tetapi permintaanku adalah lain. Aku niat pergi ke Tiang an, disini aku mohon Am cu sudi lindungi Yo Bun Hoan untuk satu dua hari. Aku janji, dalam tempo tiga hari, aku nanti kembalikan muridmu dengan tak kurang suatu apa. Maukah Am cu bantu aku?”

“Aku memang tahu tak nanti kau beri ampun padaku!” pendeta itu tertawa. “Kau serahkan pikulan seribu kati kepada pundakku, kau sendiri kabur ke Tiang an! Sunglap apa kau hendak pertunjukkan disana? Jikalau aku gagal, kau bisa persalahkan aku! Tidak, kau pergilah minta bantuan lain orang.”

Eng Jiauw Ong berbangkit, ia menjurah.

“Biar bagaimana, aku minta Am cu bantu aku,” ia kata. “Aku ingin, selama dua malam Am cu goda mereka, nanti di hari ketiga, aku pulang, aku percaya, penasarannya saudara Yo akan dapat dilampiaskan.”

“Apakah dayamu itu? Kau perlu kasi keterangan padaku, supaya aku tambah pengetahuan.”

“ Untuk sementara jangan Am cu menanya. Sebenarnya, aku sendiri masih belum pasti. Baiklah Am cu terbenam dahulu selama dua hari.”

Cu Im Am cu tertawa, “Sudah, masa bodo kau!” kata ia akirnya. “Kau tentu berniat permainkan Thie Bian Ciangkun sijenderal muka besi. Mudah2an kau berhasil, supaya kita tak usah perdalam permusuhan kita dengan kawanan kurcaci itu.” “Am cu baru menerka separuh,” kata Eng Jiauw Ong yang juga tertawa. “Obat yang aku jual dalam cupu2ku ini, sebelum aku buka tutupnya, tak nanti Am cu ketahui!”

“Aku tunggui kau tiga hari,” Cu In memotong. “Apabila kau ayal2an dan disini terjadi perubahan, aku tidak tanggung jawab!”

“Tidak nanti aku bikin gagal, Am cu. Am cu sudah menyanggupi, aku tidak mau lambat2am malam ini juga aku hendak berangkat. Aku harap sebelum matahari muncul aku sudah sampai di Hoa im, agar sebentar malam aku bisa sampai di Tiang an.”

“Baik, Ong Suheng. Moga2 kau berhasil!”

Eng Jiauw Ong memberi hormat, lantas ia undurkan diri, akan meninggalkan Tek Seng Cay. Ia melalui perjalanan dengan cepat sekali Ia sudah sampai di Hoa im sebelum fajar. Ia jalan terus. Selagi matahari silam, ia sudah seberangi Lam sui. Sehabis bersantap dan menghilangkan letih, diwaktu magrib, ia lanjutkan perjalanannya. Begitu cuaca gelap, ia berlari dengan gunai Ya heng sut. Ia berhasil menyampaikan Tiang an malam itu. Dikota ini, segera ia satroni tangsi tentera. Ia memutari itu untuk bisa loncat naik keatas tembok kota, tempat mana di jaga rapi, serdadu ronda mundar mandir, kentongan atau gembrengnya berbunyi dengan beraturan. Didalam kota, jalan2 besarpun dirondai. Maka itu, untuk satroni Ciangkunhu, gedung atau markas yenderal, cabang atas dari Hoay siang ini mesti berlaku hati2 dan gesit. Walaupun pintu markas ditutup tapi penjagaan ada rapat sekali. Untuk keluar masuk, orang gunai kedua pintu samping yang kecil.

Untuk penerangan, kecuali lentera Khie su hong, ada di pancar juga lentera gantung. Naik diatas wuwungan rumah penduduk disebelah Timur, Eng Jiauw Ong awasi Ciang kun hu, kemudian ia memutar ke belakang dimana ada tembok tinggi tak satu tumbak. Dikaki tembok ini tidak ada serdadu jaga, ada juga serdadu2 ronda dari tangsi Seng siu eng. Menantikan sampai serdadu ronda lewat, ia loncat naik keatas tembok, dari situ memasuki pekarangan Ciangkun hu.

-0dw0-

IX

Didalam ruangan ada yang terang dan gelap, penjagaan kuat, akan tetapi dengan tidak menghiraukan itu dan dengan ber hati2 Eng Jiauw Ong masuk terus, menuju keruangan Barat daya. Dipojok sini, ia hampiri sebuah rumah kecil, dimana dua orang asyik bicara. Ia mendekam diatas genteng, untuk pasang mata sambil mendengarkan.

“Jangan padamkan api,” kata salah seorang. “Sebelum jam empat, Ciangkun tidak nanti masuk tidur. Ciangkun asyik bicara kepada Lauw Su ya, yang ia sayangi. Kiang Tayjin, tokpan bagian rangsum, juga bakal datang lagi.”

“Ah, kerjaan berat,” kata yang lain. “Sejak ikuti Ciang kun dari kota raja, sampai sekarang ini aku belum dapat hasil suatu apa….”

“Kau gila ingin dapat pangkat,” kata pula yang pertama. “Jangan putus asa, atau kau nanti jadi gila. Kabarnya kawanan Rambut Panjang niat serbu Siam say, kalau Ciang kun peroleh kemenangan, maksudmu mungkin akan tercapai. Aku nanti dayakan agar Lauw Suya sudi tolong padamu.” “Jangan goda aku, sahabat! Dikampung halamanku aku tak punya hongsui yang bagus, aku tak berani mengharap terlalu tinggi. Air sudah matang, nah, pergilah kau bawa!”

“Eh, siapa main2 denganmu? Benar2, aku nanti mintakan bantuannya Lauw Suya. Kau sendiri mesti baiki Lauw Suya, aku bisa bicara lebih leluasa. Sekarang sediakan tehku, sebentar aku datang pula.”

“Kalau kau benar suka tolong aku, aku tidak nanti lupai budimu,” kata kawan itu.

“Kau jangan kuatir,” kata si sahabat, yang sambil tertawa lantas berlalu.

Eng Jiauw Ong lihat orang ada bawa dua cawan, ia perhatikan tujuan orang itu, lantas ia coba mengikuti dari atas genteng. Ia sampai dipintu model bulan, ia lihat sebuah taman. Dengan selembar genteng, ia menimpuk kedalam taman itu. tapi ia tak lihat gerakan suatu apa. Itu berarti disitu tidak ada pengawal. Maka ia merayap ke payon untuk loncat turun kebawah. Sambil berindap2 ia menuju kepintu gedung.

Dari dalam ada cahaya api yang tidak begitu terang, api itu teraling pintu angin. Eng Jiauw Ong tarik daun pintu pelahan2, ia lekas2 nyelusup masuk. Disitu ada kain tirai pintu, tapi ia lekas cari tempat untuk sembunyikan diri. Ia kuatir nanti kepergok. Ia loncat naik keatas balok yang melintang diatas ruangan itu, hingga dari situ ia bisa mengawasi keruangan Timur.

Di dalam kamar ada meja pat sian to dengan kursi thay su ie, yang teralas tatakan bersulam, dan sebuah meja tulis lengkap dengan perabotannya. Pembaringan berada diarah Timur, disamping pembaringan itu ada satu meja kecil dengan pelbagai kitab serta sebuah ciaktay, tempat tancap lilin, yang apinya menyala. Penerangan lainnya adalah enam ciaktay dengan masing bercagak tiga, hingga lilinya jadi ada delapan belas batang, hingga ruangan jadi terang sekali.

Pada kedua ujung pembaringan ada berduduk masing2 satu orang yang satu berumur kira2 empat puluh tahun, mukanya putih, romannya cakap, yang lain, yang duduk dikanan, berusia lima puluh lebih, sepasang alisnya gomplok, kedua matanya dalam, hidungnya bangir, mulut nya lebar, kumisnya pendek. Ia ini nampaknya keren.

Ong To Liong menduga yang dikiri itu ada Lauw Su ya, dan yang dikanan Ciangkun To Liong Oh. Mengawasi jenderal itu ia percaya orang ada jujur dan gagah.

To Ciangkun sedang hisap cui hun.

“Yu Tong, kenapa It Ciauw masih belum datang?” demikian terdengar jenderal itu. “Banyak yang aku hendak katakan kepadanya. Kita ada sahabat2 kekal, kita boleh omong terus terang. Ada orang bilang, selamanya aku lindungi It Ciauw. Aku anggap itu ada kata2nya bangsa siauw jin, manusia rendah. It Ciauw bantu banyak padaku, sebaliknya aku merasa aku perlakukan dia tak selayaknya. Kau tahu sendiri, sejak keluar perang, kita lakoni perjalanan ribuan lie, tapi selama itu, It Ciauw atur pengangkutan rangsum dengan sempurna. Bukankah rangsum ada yiwa tentara? Coba lihat lain2 pasukan penindas perusuh, karena rangsumnya tidak terjaga baik, mereka kalut sendirinya. It Ciauw jalankan tugas dengan baik, sebaliknya aku belum tunjang ia secara melewati batas, kalau ia dengar orang punya jelasan itu, bisa jadi ia berkecil hati. Aku biasa bawa sikapku sendiri, nanti aku tunjang dia, aku tak perdulikan apa lain orang bilang!”

“Tong ong benar,” berkata Luiw Suya dengan cepat, “Kang Lian heng ingat budimu, pula ia hendak balas itu dengan setia. Memang omongan orang luar tidak usah dibuat perhatian.”

Baru saja Suya itu berhenti bicara, segera satu serdadu pengawal datang melaporkan kedatangan Kang Tayjin, Liang siang cie Toh pan, pengurus rangsum tentara.

“Undang dia masuk!” To ciangkun segera menitah.

Serdadu itu undurkan diri, dan sebentar kemudian datang bersama satu pembesar umur kurang lebih lima puluh tahun, mukanya kurus, romannya mirip dengan “kutu buku,” jubanya bersih sekali dan rapi. Didepan Ciang kun, dia sudah lantas memberi hormat.

Lauw Su ya berbangkit untuk memberi hormat setelah tokpan itu selesai menghormati To ciang kun. Ia memanggil “It Ciauw” dan tokpan itu membalas dengan “lian heng.”

Kemudian itu mengalah tempat duduk, ia sendiri

pindah kekursi meja teh depan jendela.

“It Ciauw, ber sama2 Yu Tong aku justeru harap2 kedatanganmu,” kata To Ciangkun, yang mulai bicara. “Selama beberapa hari ini, kau lebih repot pula. Bagaimana dengan tugasmu itu? Apa bantuan rangsum dari Su coan sudah tiba? Katanya pemberontak hendak, serbu Siamsay dengan dua puluh laksa serdadu, aku tak percaya jumlah itu, aku menduga cuma tujuh atau delapan laksa, namun mereka tak dapat dipandang enteng. Aku harap kau perlukan mengirim rangsum ke Kim siauw kwan, agar mereka tidak sampai keputusan bahan makanan. Hanya mengenai Gouw Tay Giap aku dengar ia ada sedikit jumawa dan penduduk Siamsay telah diperas hingga rakyat jadi gelisah dan penasaran. Apabila kabar itu benar adanya, aku mesti tegor padanya, jikalau aku tunggu sampai lain orang serang ia, sedikitnya aku bakal ke rembet2.

Kiang It Ciauw menjura. “Tentang tugasku, harap Keng lian Tayjin jangan buat kuatir,” kata ia. “Aku insaf kewajibanku, aku ingat budi kebaikan tayjin, tidak nanti aku men sia2kannya. Rangsum dari Su coan sudah tiba. Rangsum untuk Kim siauw kwan, buat Tee su tin dan Tee gouw tin, masing2 sudah diambil oleh Touwsu Tek Kek Touw dan Siupie Phang Po Kok. Mengenai Gouw Teetok, baik tayjin bersikap sabar karena sekarang ada disaat membutuhkan tenaga, sedang ia ada gagah. Pie cit sendiri tidak setujui dia tetapi pie cit tidak ingin tanam bibit permusuhan. Karena sepak terjangnya itu, nanti juga dia ketemu pakunya…..”

To Liong Oh manggut.

“Selama ini pandanganmu banyak bertambah, It Ciauw,” katanya.

“Itulah berkat pimpinan tay jin,” sahut sebawahan itu.

Baru berkata sampai disitu, Kiang It Ciauw tunda perkataannya lebih jauh, ia melengak, lalu ia menoleh, karena disitu ada datang satu opsir, sehabis memberi hormat pada Jenderal To, opsir itu segera berikan laporan nya “Dari kota raja ada datang utusan yang membawa surat penting dari Kun kee Taysin, ia diantar oleh Tintay Louw Tayjin dan Hu ciang Gok Tayjin.”

To Ciangkun pun melengak, Lhuw Yu Tong tidak terkecuali. Tapi jenderal ini lekas jadi tenang pula, sambil perintah pengawalnya untuk layani dia salin pakaian, ia perintah opsir itu minta Louw Tayjin temani utusan diruangan tamu. Setelah itu ia lalu undurkan diri. It Ciauw sudah menuju ruangan tamu, empat diri tetapi mereka dititah menanti saja, maka mereka mengantar hanya sampai diluar.

Dilain saat, To Ciangkun sudah menuju ruangan tamu, empat pengiringnya membawa penerangan tanglung. Menggunai saat kamar kosong. Eng Jiauw Ong turun dari tempat ia bersembunyi, untuk letaki sepotong surat diatas meja, yang ia tekan ujungnya dengan dua jari, lalu ia tindikan dengan tindian dari kuning kemudian ia pasang mata pula.

It Ciauw dan Yu Tong sudah lantas ada pengawal yang sedang minum teh. Tapi ketika mereka balik kedalam dan Yu Tong lihat surat dimeja, ia terperanjat.

“It ong, lihat, surat apakah ini?” ia berseru. It Ciauw pun terkejut.

“Eh, dari mana datangnya ini ?” kata ia, yang terus menghampiri hingga ia lihat alamatnya. YoCiangkun. “Betul heran! Kau jangan ganggu, kita tunggu sampai baliknya Ciangkun.”

“Heran,” nyatakan Yu Tong. “Meja ada begini keras, kenapa surat ini bisa ditekan hingga melesak? Kapan kejadiannya ? Kita toh tidak pernah berlalu jauh dari sini?”

Selagi dua orang ini ter heran2 To Ciangkun sudah kembali sehabis menemui tetamu, ia lantas disambut dan diundang duduk.

It Ciauw ingin ketahui dahulu kabar dari kota raja, dari

It ia   tidak lantas beritahukan tentang surat yang

datangnya aneh itu, ia hanya tanya, kabar apa yang utusan bawa. Ia pun tambahkan “Apakah Gouw Loo tiong tong memesan sesuatu untu Kengliak Tayjin bersiap?”

To Ciangkun manggut2. “Kau benar cerdik,” sahut ia, “Kau menduga benar sebagian nya. Ada satu menteri penasehat yang sudah adukan Teetok Gouw Tay Giap, yang dituduh sudah main gila dengan rangsum tentara dan memeras rakyat, disebelah keras sikapnya meminta tunjangan, dia pun gila paras cantik. Sama sekali ada belasan , hingga Sri Baginda menjadi gusar, hingga perintah mendadak dikeluarkan untuk segera periksa teetok itu, baiknya ada beberapa menteri lain yang memberi saran untuk berlaku sabar terutama mengingat teetok ada seorang peperangan yang gagah dan berjasa, sedang sekarang ada disaat peperangan, tenaga dan kepandaian sangat di butuhkan. Demikian akirnya, Lauw Loo tiongtong minta suka soal Gouw Teetok itu. Loo tiongtong pun tidak berani ambil tindakan tegas, umpama dengan kirim utusan langsung untuk membikin pemeriksaan, di      Gouw Teetok gusar dan melawan, dari itu diambil putusan untuk mewajibkan aku mem penyelidikan dengan teliti, apabila tuduhan terbukti benar,

          ditugaskan akan kurangi ke   nnya Gouw Teetok sedikit demi sedikit. Umpama Gouw Teetok benar bersalah, sedikitnya   ada turut menanggung ja    .aku dipesan untuk berilaku jujur dan adil. Lebih lanjut aku dipesan untuk perhatikan gerak geriknya lain2 pasukan pemberontak, untuk bisa menghadapi mereka. Lihat, It Ciauw, Tong, apakah ini bukannya sulit?”

Selagi mengucap demikian, Tong Oh memandang kelain , dari itu ia heran tempo mendapat lihat surat diujung  .

“   , kenapa surat itu tertu   ? Tentu ada pelayan yang main gila!” kata ia,

“Harap Keng liak tidak persalahkan pelayan,” berkata Kiang It Ciauw. “Coba Keng liak perhatikan dengan seksama dan periksa surat itu, nanti Keng liak dapat tahu, surat itu bukannya surat sembarangan.”

To Ciangkun berbangkit akan hampiri meja itu. Ia keluarkan seruan heran apabila ia sudah lihat dari dekat. Ia ulur tangannya akan cabut itu, tetapi surat tidak terangkat apabila ia mencabut untuk kedua kali nya, dengan gunakan tenaga, baru surat dapat diangkat Ia periksa alamatnya lalu ia buka sampulnya, ia baca bunyinya seperti berikut :

“Ciangkun yang mulia!

Ciangkun memimpin angkatan perang Kerajaan, untuk menindas pemberontak, guna menolong rakyat agar mereka hidup aman dan damai, untuk itu rakyat bersukur kepada Ciangkun. Akan tetapi tidak demikian dengan Teetok Gouw Tay Giap. Teetok ini tak hargai kecintaan Ciangkun terhadap rakyat, dia menyalani budi negara, selama memerintah di Tong kwan, dia berbuat sewenang dia peras rakyat, hingga rakyat jadi mengeluh dan penasaran. Tentang kejahatannya Teetok itu, rakyat semua mengetahuinya.

Paling belakang ini, Gouw Teetok sudah celakai Yo Bun Hoan. penduduk kenamaan dari Hoa im. Yo Bun Hoan itu ada penduduk baik, terpelajar dan hidup berbahagia, dan untuk belasan tahun ia pernah pangku pangkat dengan adil dan bijaksana, selama belakangan ini, ia hidup sebagai rakyat jelata yang damai. Tentang orang she Yo ini, Ciangkun pun tentu telah mendengarnya. Tetapi sekarang Gouw Teetok tak dapat peras dia, dia difitnah bersekongkol dengan pemberontak, dia telah ditawan, guna dapati pengakuannya dia dikompes, hingga tubuhnya terluka, keadaannya payah. Sebagai satu anak sekolahan, ia bertubuh lemah, mana ia sanggup lawan siksaan?

Aku ada seorang rakyat jelata, akupun penasaran atas kekejamannya Gouw Teetok itu, sedang dilain pihak, Bun Hoan adalah orang dari siapa aku ada berhutang budi. Aku tidak mau bertindak sembarangan, dari itu dengan jalan ini aku mohon keadilan Ciangkun. Tentang duduknya hal Ciangkun bisa tanya sembarang orang. Aku harap Ciangkun bertindak lekas, karena Gouw Teetok sudah bersiap sedia menggunai kekerasan, akan berangus mulut orang dengan jalan perampasan jiwa rakyat yang lemah.

Berbareng dengan ini, aku hendak beritahukan hal yang berikut :

Aku mengerti sedikit ilmu silat, aku biasa merantau, kebetulan saja aku dengar hal kaum pemberontak hendak serbu propinsi Siamsay. Kaum pemberontak jerih terhadap Ciangkun, sengaja mereka siarkan berita hendak meluruk ke Tongkwan, Bun kwan dan Keng cie kwan, tetapi sebenarnya, dengan maju secara diam2, dengan menyamar sebagai rakyat jelata, mereka menyeberang ke Han kok kwan dan Hong leng touw, akan bergabung diri dengan kawanan penjahat yang mengeram digunung Bu Tee San dan kawanan Hong Bwee Pang didaerah le bun. Mereka mengacau didalam, untuk memecah perhatian. Jikalau mereka sampai berhasil, celakalah rakyat negeri. Maka itu, dengan jalan ini, aku mohon perhatian yang sungguh2 dari Ciangkun.”

Surat itu dibubuhi tanda tangannya Ong Too Liong. Selagi To Ciangkun membaca, Kiang It Ciauw dan

Lauw Yu Tong berdiri diam saja, kemudian jenderal ini

menoleh pada kedua sebawahannya itu.

“Kau baca surat ini,” kata ia, “kemudian kita nanti berdamai.”

It Ciauw sambuti surat itu, selagi ia baca bersama Yu Tong, To Ciangkun pergi kekursinya akan duduk diam dengan alis dikerutkan. Berdua merekapun periksa surat dan sampulnya. Kemudian, Kiang Tayjin letaki surat didepannya jenderal itu. “Duduklah,” kata To Ciangkun seraya pandang dua orang itu. “Kita mesti berpikir, supaya kita tidak sampai digunai sebagai senjata oleh orang jahat.”

“Ciangkun benar,” dua sebawahan itu manggut.

“Kapan kau ketahui adanya surat ini?” To Ciangkun tanya.

“Jangan heran atas ketulusan ku. Kenapa tidak lantas kau beritahukan aku perihal adanya surat ini? Sedikitnya kita bisa susul pembawa surat…”

Kedua sebawahan itu berbangkit.

“Ada selayaknya saja Keng liak tegur kita,” kata It Ciauw, yang terus tuturkan bagaimana mereka dapati surat itu. “Karena datangnya surat secara luar biasa, kita percaya, pengirimnya musti ada orang luar biasa juga, jadi sia2 saja apabila kita susul padanya. Ketika Keng liak kembali, kita tidak ingin bikin kau kaget atau bingung, umpama Kang liak tidak lihat sendiri surat itu, kami toh akan beritahukan juga. Harap Keng liak maaf kan kami untuk sikap kami ini”

“Jangan kau salah anggapan, aku tidak curigai kau berdua,” kata sep itu. “Aku menanyakan karena aku kuatir ada pengawal kita yang main gila karena mereka kena dilagui orang luar.”

“Aku percaya semua orang kita ada setia,” Yu Tong bilang.

“Apa yang aneh,” It Ciauw bilang, “kita cuma berdiri sebentar didepan pintu sehabis antar Keng liak keluar, cepat luar biasa, orang telah masuk dan letaki suratnya itu.”

Jenderal itu manggut.

“Kau benar,” ia kata. “Bunyi surat itu sangat kebetulan. Memang sikapnya Gouw Tay Giap tidak memuaskan. Yo Bun Hoan ada bekas pembesar yang setia, jujur dan adil, iapun termasuk hartawan, pasti dia tidak akan lakukan perbuatan gelo seperti dituduhkan. Tapi bunyinya surat ada mengenai juga rahasia militer. Kelihatan sipengirim surat agaknya hendak unjuk kegagahannya dan kepandaiannya ketika ia sampaikan suratnya ini.”

“Pie cit anggap, bunyinya surat lebih baik dipercaya daripada tidak,” utarakan Kiang It Ciauw apabila ia lihat sep itu agak sangsi. “Umpama si pengirim surat memfitnah dan ia hendak gunai tangan kita untuk membinasakan musuhnya, kita juga masih bisa melakukan penyelidikan dengan waspada. Perihal keburukkannya Gouw Teetok, itu sudah terang, apabila Keng liak ayal bertindak, mungkin Keng liak akan kena te rembet2. Sungguh kecewa dan hebat apabila Yo Bun Hoan dan keluarganya yang jumlahnya beberapa puluh jiwa mesti terbinasa ditangan Gouw Tay Giap. Percuma saja andaikata kemudian perkara dapat dibikin terang tetapi mereka itu sudah berada didunya baka. Kenapa kita tidak mau menolong selagi sekarang masih ada ketikanya? Kita urus dahulu perkara Yo Bun Hoan ini, apabila duduknya benar seperti bunyinya surat ini, rahasia militer itu juga tentu benar adanya. Perihal si pengirim surat, pie cit anggap dia ada seorang gagah dan setia. Baik Keng liak kirim utusan yang pandai ke Tong kwan, akan minta Yo Bun Hoan semua, supaya perkaranya bisa diperiksa disini. Kita mesti jaga, umpama Gouw Teetok curiga, tidak sampai ia mendahului menjatuhkan hukuman mati pada Yo Bun Hoan. Untuk itu, lebih dahulu kita mesti lihat semua terdakwa, supaya Gouw Teetok tidak sempat berbuat apa2. Bagaimana pikiran Keng liak Tayjin akan indakan ini?”

Kata2nya Kiang It Ciauw ini membuat lenyap semua kesangsiannya To Ciangkun. “Baiklah, kita boleh bertindak menurut saranmu itu,” ia nyatakan. Kemudian ia menoleh pada Lauw Suya seraya terus berkata “Tolong kau bikin surat2 yang perlu, kau minta Hu ciang Tiat An Thay yang pergi ke Tong kwan bersama sejumlah barisannya. Bilang, bila ada satu jiwa saja dari keluarganya Yo Bun Hoan yang lolos, dia akan diperlakukan sebagai sudah makan sogokan! Dapatkah Tiat Hu ciang tunaikan tugasnya ini?”

“Keng liak Tayjin sudah pilih orang yang tepat.” berkata Kiang It Ciauw. “Tiat Hu ciang ada cerdik, dia tentu bisa layani Gouw Teetok, sedang pangkatnya, yang tidak lebih bawah seberapa, pasti akan bikin Gouw Teetok tidak berani main gila terhadapnya.”

To Ciangkun puas, ia tetapkan tindakannya itu. Kemudian, selagi ia salin pakaian, Lauw Yu Tong selesaikan surat2nya. Pada jam tiga lewat, Tiat Hu ciang telah datang menghadap untuk terima titah, ia dipesan bagaimana harus lindungi keluarga Yo, setelah mana, ia berangkat bersama satu barisan serdadu berkuda. Setelah itu, dua2 Kiang It Ciauw dan Lauw Yu Tong juga pamitan dari sep mereka akan kembali ke masing2 kamarnya, diruangan sebel Timur. Diluar markas, masi pengiringnya, dengan lentera tangan menyambut mereka, untuk iringi mereka pulang.

Satu pelayan sudah lantas antar To Ciangkun kekamar tidurnya, tapi sebelum ia kembali untuk rapikan kantoran, selagi kantoran sepi, Eng Jiauw Ong sudah loncat turun dari tempat ia bersembunyi, ia jemput pit atas meja, pit yang masih basah, untuk dibawa loncat naik keatas pin, segera disitu ia menulis enam belas huruf yang berarti “Kambing sudah lolos dari mulut harimau, sahabat baikku telah terbebas dari penasarannya, maka budi besar ini satu waktu akan dibalas.” Sebagai tanda tangan, ia menulis “Hoay siang, Eng Jiauw Ong”. Sehabis itu, ia loncat turun pula apabila ia sudah taruh pit ditempatnya, ia bertindak pergi. Justeru ia dengar tindakan kaki, mengilang dengan cepat.

Diatas genteng dari rumahnya salah satu penduduk, Eng Jiauw Ong beristirahat sebentar. Ia lihat terangnya rembulan, ia dengar suara kentongan. Itu waktu sudah jam empat lewat. Ia puas dengan tindakannya itu, ia percaya To Ciangkun bakal tolong Yo Bun Hoan. Mengenai Yo Bun Hoan sendiri, ia puas, sebab ia percaya, Cu In Am cu tentu bisa lindungi orang she Yo itu.

Ketika sudah terang tanah, Eng Jiauw Ong jalan keliling kota Tiang an, untuk perhatikan bekas kota raja yang tua ini. Ia tidak perlu salin pakaian lagi, karena untuk keluar malam, ia tetap pakai thungsha, pakaian yang panjang. Untuk setengah harian ia berdiam dikota itu, sesudah itu, ia menuju ke Tong kwan. Sama sekali ia tidak sangka, di Tong kwan sudah terjadi perobahan hebat, yang oleh Cu In Am cupun sampai tidak dinyana sama sekali….

-0dw0-

X

Eng Jiauw Ong sampai di Tong kwan pada jam tiga lewat, langsung ia menuju ke Tek Seng lay, untuk lihat Cu In Am cu, guna dengar hal keadaan. Ketika ia keluar dari Ban siong , tiba2 ada satu bayangan berkelebat dihadapannya. Segera ia lompat kesamping untuk luputkan diri, sambil ia menegur “Siapa?”

“Bagus permainanmu ya?” demikian suara jawaban, yang di susul oleh tertawa menghina.

“Dimana kau telah sembunyikan mereka berdua?” Jago Hoay siang itu terperanjat. Ia lantas kenali Cu In Am cu, tetapi ia heran atas pertanyaan itu.

“Terima kasih untuk bantuanmu Am cu,” kata ia, yang terus memberi hormat. “Tapi aku tidak mengerti pertanyaanmu ini. Apakah telah terjadi suatu peristiwa? Tolong am cu kasi keterangan padaku.”

Sekarang adalah si niekouw yang menjadi heran agak nya.

“Apakah ini berarti suheng baru saja kembali dari Tiang an ?” ia balik tanya, “Ah, aneh! Siapa yang sudah tolongi dua boca itu?”

Eng Jiauw Ong melengak.

“Dengan sebenarnya baru saja aku sampai!” kata ia. “Aku menuju langsung kemari untuk segera menemui am cu! Tak punya kesempatan aku tengok anak itu! Apa mungkin Hong Bwee dan In Hong sudah lolos dari tangsi tentera? Inilah aneh! Harap am cu kasi keterangan padaku.”

Cu In percaya Eng Jiauw Ong tidak main2, karena itu, ia jadi semakin heran.

“Kalau begitu, inilah hebat, suheng!” kata ia, “Setelah itu hari kita berpisahan, aku kembali ke Pek Tiok Am, akan didik murid2ku seperti biasa, setelah magerib baru aku pergi ketangsi. Aku memasuki tangsi dipermulaan jam dua. Begitu sampai, aku heran, karena penjagaan ada luar biasa keras, seperti orang siap sedia untuk menjaga serbuan besar. Aku menduga Toan Bie Cio Loo yauw ada undang orang pandai untuk bantu ia. Untukku penjagaan itu tidak berarti. Bergantian dengan ilmu Ceng teng Sam ciauw sui dan Yan cu Hui in ciong, aku menuju kekemah tahanan. Paling dahulu aku tengok keluarga Yo, disini tidak ada yang kurang kecuali muridku Hong Bwee. Aku masih belum curiga, aku terus pergi ketempat tahanan lelaki. Disini pun semua terdakwa ada, kecuali muridmu. Aku masih menduga dan percaya, Gouw Ko pie sedang memeriksa mereka berdua, dari itu aku pergi kemar kas, kekemahnya. Teetok itu sedang bersidang, didampingi oleh Toan Bie Cio Loo yauw. Rupa nya mereka dapat tahu pemberontak bakal datang menyerbu, dari itu, teetok ini sudah atur penjagaan terlebih jauh. Setelah memberikan titah nya, Gouw teetok kata pada tongtay itu “Bagaimana, apa kau sudah cari tahu dimana adanya dua boca tahanan itu. Jikalau aku bukannya percaya kau, niscaya aku sangka kaulah yang kasi lolos mereka. Kau jaga mereka kuat sekali, toh mereka lenyap. Inilah aku tidak mengerti. Jika begini adanya, jiwaku tentu tak dapat dilindungi lagi! Sekarang aku kasi tempo tiga hari untuk kau cari kedua terdakwa itu sambil berbareng tawan culiknya, apabila kau alpa, jangan sesalkan aku nanti!”

“Aku awasi sikapnya Toan Bie Loo yauw, ia kelihatan tetap keren, sedikitpun tak tertampak gusar. “Dalam hal ini, pie cit mohon kemurahan hati Kun bun,” ia jawab. “Selagi menghadapi musuh2 berbahaya, tidak nanti aku berlaku alpa. Kemarin malam pie cit susul penjahat bersama susiok dan suhengku sampai kira2 jam lima fajar baru kita kembali. Pie citpun dapat bantuannya dua tertua she Tie dan Shong. Malah ditengah jalan, pie cit juga bertemu dengan su couw, Thian kong chiu Bin Tie, serta dua murid nya, yang kebetulan lewat disini dan kedua tertua Tie dan Shong telah undang dia ketangsi Kie yong eng dimana kami duduk pasang omong. Bicara belum lama kepada su couw, aku pergi kebelakang akan periksa sekali terdakwa, tetapi entah kapan dua terdakwa satu lelaki dan satu perempuan telah lenyap sedang serdadu2 penjaga, tidak satu yang ketahui. Turut pemeriksaanku, mereka dibawa pergi dengan jalan dari atas. Aku telah periksa keras semua terdakwa, pengakuan mereka ada serupa, yalan sebelum fajar, tiba2 ada mengepul asap hijau. Ketika itu, yang masih belum tidur adalah budak Yo An, Hou In Hong dan Yo See Tiong, putera sulung dari Yo Bun Hoan Mereka ini dapat cium bau luar biasa, ketika mereka hendak buka mulut, lantas mereka tak sadar akan diri mereka. Yang lain2 yang sedang tidur, tentu saja tak tahu suatu apa. Adalah setelah terang tanah, tempo mereka semua tersedar, mereka lihat terhilangnya anak muda itu. Demikianpun kejadian dengan lenyapnya si nona.

Dibawah penjagaan keras, penjahat bisa tolongi sepasang anak muda itu, pie cit duga itu ada kerjaannya Eng Jiauw Ong yang suka malang melintang didunya kang ouw, serta niekouw bangsat yang tua dari See Gak. Maka itu, dengan lantas pie cit perintah selidiki Eng Jiauw Ong. Sekarang ini, orang2 itu masih belum kembali. Tentu saja pie cit tak dapat lolos dari tanggung jawab, dari itu pie cit mohon Kun bun beri tempo satu atau dua hari untuk pie cit cari orang2 jahat itu serta kedua anak muda itu. Kedua tertua Tie dan Shong datang untuk bantu pie cit, tapi mereka ada. punya urusan sangat penting, dengan mendadak mereka telah berangkat ke Kanglam. Mengenai kabaran bahwa pemberontak hendak nyerbu dari tiga jurusan, kedua tertua itu bilang, kabar itu benar adanya. Jumlah pemberontak ada belasan laksa jiwa. Tapi mereka tidak cuma akan maju dari tiga jurusan, lebih dahulu daripada itu, mereka sudah kirim beberapa ribu pelopor dengan menyamar untk melusup masuk kedalam daerah kita, guna menyambut dari dalam. Dari itu, harap Kun bun tidak sampai tersesat oleh kabar2 angin dan jangan pandang enteng tenaga pemberontak, ielah baik sebelum pemberontak turun tangan, Kun bun mendahului mengatur penjagaan yang kuat. Tie dan Shong Loo su tidak mau berikan keterangannya ini lebih siang, mereka kuatir nanti disangka mengharapkan pahala saja, dari itu, sesudah hendak berangkat, baru mereka minta pie cit yang menyampaikannya.”

“Mendengar keterangan itu, Couw Teetok girang bukan kepalang, nampaknya ia puas betul. Ia telah puji kedua orang she Tie dan Shong itu, sedang Cio Tongtay dipesan untuk jaga keras sekali semua orang tahanan. Aku bingung mendengar omongannya tongtay itu. Dari omongan mana, terang murid2 kita bukan lenyap terculik mereka, aku percaya adalah kau yang sudah tolongi mereka. Kembali aku lakukan penyelidikan. Aku lihat penjahat yang kita gantung dijurang, tetapi yang lain2nya tidak ada bersama dia. Lantas aku paksa pergi ketangsi belakang, ketempat tahanan, akan ketemui Nyonya Yo, keterangannya adalah sama dengan keterangannya Cio Tongtay tentang lenyapnya Hong Bwee. Selagi aku undurkan diri dari tempat tahanan, ada orang bokong aku dengan senjata rahasia. Aku tolong diri dengan sambut senjata rahasia itu, sebatang panah dengan bulu burung putih dan kepala ular2an. Kau tahu, suheng, di pihak Utara tidak ada orang yang gunai senjata semacam itu. Aku ingat melainkan Soat San Jie Siu yang dahulu menjagoi di Su coan Tengah yang mengerti semacam senjata. Mereka berdua sudah berusia tinggi, katanya mereka sudah undurkan diri dan cuci tangan, entah mereka masih hidup atau sudah meninggal dunya, tetapi aku percaya, penyerangku itu mesti ada murid dari salah satu dari mereka. Aku tidak mau bikin tercemar nama Hoay Yang Pang, diwaktu berlalu, aku betulkan genteng yang aku buka seperti sediakala. Adalah niatku, akan hadapi penyerang gelap itu, tetapi dia tidak mau muncul, cuma seratus lebih serdadu Kie yong peng dari Cio Tongtay yang hujani aku dengan anak panah. Aku tidak mau layani segala serdadu, sambil putar pedangku, Tin hay Hok pookiam, aku singkirkan diri. Karena kedua anak itu agaknya bukan musuh yang menculiknya, mereka tentu ditolong oleh kaum kita, dari itu terpaksa aku pulang dahulu ke Tek Seng Gay. Tapi sekarang ternyata, suheng tidak tolongi mereka, inilah aneh. Bagaimana aku tak jadi ibuk?”

Ong Too Liong kerutkan alis, agaknya ia masgul sekali. “Benar aneh!” niatakan ia. “Aku kuatirkan anak2 itu! Aku heran, kenapa am cu kena disesatkan. Coba pikir, mana ada kaum kita yang biasa gunai asap obat pules Bong han hio? Aku lebih percaya mereka berdua sudah terjatuh kedalam tangannya orang2 jahat!...”

Lantas Eng Jiauw Ong tuturkan bagaimana ia sudah datangi Ciangkun hu hingga kejadian Ciangkun To Liong Oh kirim Hu ciang Tiat An Thay pergi ketangsi Gouw Teetok untuk jemput Keluarga Yo, guna perkara itu diperiksa di Tiang an.

“Baru aku berhasil disana, tidak tersangka disini telah terjadi perubahan,” nyatakan Ong Too Liong kemudian. “Aku percaya Toan Bie Cio Loo yauw sudah dapati bantuan lain untuk tempur kita secara menggelap, maka, Am cu, haruslah kau bantu aku. Mari kita pergi pula ketangsi besar melakukan penyelidikan. Aku duga Tiat Hu ciangkun juga akan sudah sampai, disana kita nanti lihat, dia bisa atau tidak menjemput semua orang. Umpama keluarga Yo sudah lolos dari mulut harimau, kita toh harus lindungi ia disepanjang jalan. Aku kuatir musuh belum puas dan mereka nanti mencegatnya. Tidakkah Am cu pun memikir demikian? “

Cu In Am cu gusar ketika ia berkata “buat empat puluh tahun pin nie sudah malang melintang, dengan andalkan pedangku ini, pernah aku damaikan berbagai keruwetan, aku tidak nyana disini orang telah permainkan aku! Jikalau aku tidak kasi rasa pedang Tin hay Hok po kiam ini, orang tidak akan ketahui liehaynya si niekouw tua dari See Gak! Aku percaya, dalam keadaan seperti ini Pou sat pun tidak akan persalahkan yang aku langgar pantangan membunuh. Berangkat, suheng, aku ingin lihat tingkah lakunya kawanan manusia rendah itu!”

“Baik, am cu!” jawab Eng Jiauw Ong, yang lihat orang telah jadi gusar. Ia tidak banyak omong lagi, terus ia berjalan.

Dengan Ya heng sut, ilmu lari malam, mereka tinggalkan rimba Ban siong peng akan turun dari bukit, buat menuju ketangsi besar dari tentera negara. Tangsi itu terbenam dalam gelap gulita. Selagi mereka mendekati suatu ujung, Ser, ser,” empat atau lima batang panah menyamber kearah mereka, hingga mereka perlu lekas berkelit. Mereka mengerti, tangsi itu terjaga kuat. Tapi mereka tidak perdulikan itu, dengan, memutar sedikit, dengan ber hati2, mereka toh bisa sampaikan tempat tahanan. Dari arah depan, mereka lihat bagaimana kerasnya penjagaan.

Dengan gesit mereka pergi ke belakang tangsi, lalu dengan “Yan cu Hui in ciong” atau “Walet terbang kawan,” mereka bisa panjat wuwungan kemah markas. Eng Jiauw Ong hendak lantas gunai jari tangannya, yang kuatnya bagaikan kuku garuda, akan robek tenda, tetapi Cu In segera mencegah.

“Disini ada murid2nya Soat San Jie Siu, jangan sembrono,” menasihatkan pendeta perempuan ini. “Sekarang bukan ketikanya untuk layani mereka.”

Lalu, dengan pedangnya yang tajam, niekow ini tusuk tenda, untuk membuat dua lobang untuk mereka mengintai masing2. Mereka saling membelakangi, hingga berbareng mereka bisa pasang mata keempat penjuru, untuk berjaga.

Didalam kemah sedang dibikin pertemuan. Gouw Teetok tidak duduk atas kursi kebesarannya, hanya disitu ada ditambah dua buah kursi dengan mana Teetok itu sambut tetamunya sebagai tetamu yang dihormati. Tetamu itu adalah Hu ciang Tiat An Thay, siapa, dari kopiahnya, terniata ada calon Teetok, hingga dengan Gouw Teetok, tingkatnya tidak beda jauh. Terang To Ciangkun kirim utusannya ini, agar si utusan bisa bicara dengan leluasa dengan Gouw Ko pie si tukang peras, supaya situkang peras ini tidak berani memandang enteng, kecuali dia mau melawan tidak nanti Gouw Teetok berani tidak serahkan orang2 tawanan kepada utusan ini. Kelihatannya Tiat Hu ciang sudah sampai sekian lama dan orang2 tawanan sudah siap untuk diserahkan. Teetok itu menerangkan hal lenyapnya dua tahanan, yang ia katakan mesti diculik oleh semacam hui cat, bangsat terbang, yang liehay, yang tidak dapat dilawan oleh pasukan tentera, Teetok ini usulkan hu ciang itu pulang lebih dahulu, agar ia sendiri yang antar orang tahnnan itu, yang perlu perlindungan kuat.

“Harap Kun bun tidak salah mengerti,” kata Tiat Hu ciang, yang bisa bicara. “Penjahat memang liehay, didalam tangsi, dia berani rampas persakitan, tetapi walau demikian, karena mereka bukannya tahanan2 penting, tidak apa. Aku tidak berani bikin kau berabe, aku sanggup iringi mereka itu.”

Bicara sampai disitu, ada datang laporan bahwa semua tahanan sudah berada diluar, atas mana Gouw Teetok serukan “Bawa mereka masuk!” Maka diantara teguran nyaring dan berisiknya rantai borgolan kesitu digiring masuk sejumlah orang tahanan, lelaki dan perempuan, dengan roman mereka lesu dan berpakaian kucel.

Tiat Hu ciang ada seseorang peperangan ulung, yang hatinya keras, akan tetapi, memandang orang2 tawanan ini, ia merasa berkasihan. Lekas2 ia periksa daftar. Semua tahanan ada delapan belas jiwa, lenyap dua tinggal enam belas.

“Kun bun Tayjln,” kata Tiat Hu ciang kemudian, “dalam perkara ini ada juruwarta she Gouw apakah diapun telah dipanggil menghadap? Dia seorang yang berjasa, Keng liak tayjin berniat berikan pujian padanya?”

“Dia berada pada Hu       ” sahut Gouw Teetok “ sudah berangkat sekian lama, barangkali tidak lama lagi dan bakal sampai…..”

-oo0dw0oo-