Dara Pendekar Bijaksana Jilid 08

 
Jilid 08

Kita balik lagi kepada Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hong yang memimpin oran-orangnya menyerang Siang Ke Cun. Baru saja mereka tiba dimuka perkampungan Siang Ke Cun tiba-tiba dari tempat gelap lantas menyamber sinar putih menuju dada Oey Ceng Tan dengan kecepatan seperti kilat. Sebentar kemudian dimulut perkampungan tersebut, telah muncul dua orang berpakaian ringkas yang merintangi perjalanan mereka.

Oey Ceng Tan mengawasi seorang lelaki yang berdiri disebelah kanan, ternyata orang itu hanya dengan dua tangan kosong menjatuhkan Yan-san Ji-kui. Orang itu adalah Cin Tiong Liong, seorang lagi adalah seorang muds yang membawa sepasang senjata Poan-koan-pit dan sikapnya amat gagah.

Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hong perintahkan orang- orangnya melakukan serangan dengan kekerasan tapi Cin Tiong Liong sambil membentak hebat ia segera mencabut sepasang senjatanya yang berupa sepasang pit lalu bersama Ong Bun Ping melancarkan serangan hebat, untuk merintangi majunya kawanan penjahat itu.

Akan tetapi karena jumlah kawanan penjahat itu banyak maka meski pun Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping berdaya sekuat tenaga tapi tidak mampu membendung majunya orang-orang tersebut, hingga Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hong beserta beberapa orang lagi telah berhasil menerjang kekampung Siang Ke Cun.

Baru saja kawanan penjahat itu bisa mendekati keluarga Chie, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring, kemudian disusul dengan berkelebatnya bayangan putih. Muncullah dari tempat gelap Kang Sian Cian.

Nona itu dengan pedang lemasnya ditangan kirinya dan senjata duri ikan terbangnya ditangan kanannya, berdiri sambil menghadangkawanan penjahat iapun membentak:

“Siapa.diantara kalian yang berani maju lagi setindak kiranya jangan menyesal kilau aku terpaksa berbuat kejam. Aku akan suruh dia rasakan dulu betapa lihaynya senjata-senjata duri „ikan terbang‟ ini baru boleh maju."

Kata-kata Kang Sian Cian ini, ternyata besar sekali pengaruhnya, karena pada seketika itu juga beberapa puluh kawanan penjahat itu terus dibikin jinak atau tidak berani maju setindakpun.

Oleh karena kawanan penjahat tersebut sebagian besar sudah pernah melihat betapa gagahnya nona itu yaitu ketika bertempur de- ngan pemimpinnya. Oey Ceng Tan mengerti bahwa nona itu bukan tandingannyn, maka diam-diam perintahkan kawannya, supaya menerjang dari berbagai penyuru.

Ketika Kang Sian Cian menampak perbuatan penjahat itu maka karena gusamya ia pun menyerang dengan senjata rahasianya, sehingga sebentar saja terdengar disana-sini jeritan dan beberapa orang telah jatuh karena menjadi korban duri ikan terbangnya.

Kemudian ia menyusul dengan serangan pedangnya, beberapa penjahat coba-coba merintangi majunya si nona, tapi mereka tidak tahu bahwa pedang nona itu tajam luar biasa hingga setelah senjata mereka itu beradu, sebentar saja senjata mereka ter-papas kutung.

Setelah Kang Sian Cian berhasil memapas kutung senjata lawannya iapun meneruskan serangarmja hingga penjahat-penjahat yang hendak merintanginya itu lantas pada rubuh karena terbabat pinggangnya.

Baru saja Kang Sian Cian berhasil membinasakan lawannya tiba-tiba pecut Oey Ceng Tan sudah menuju kepalanya. Sambil re- bahkan diri untuk berkelit maka Langan kanan nona itu lantas bergerak untuk melakukan serangan pembalasan. Kini Oey Ceng Tan yang didesak sehingga mundur tujuh atau delapan kaki jauhnya. Tapi pada saat itu senjata kawanan penjahat telah meluncur menyerang kearah Kang Sian Cian.

Meski nona itu sudah dikurung, tapi ia tetap tenang hinga tidak kalut gerakannya. Setelah ia menyampok semua senjata yang menyerangnya maka ia kembali melakukan serangan dengan hebat. Kali ini para penjahat bertempur dengan hati-hati sekali, mereka berusaha agar senjata mereka tidak beradu dengan pedang si nona.

Kawanan penjahat itu tanpa menghiraukan tata-tertib dunia Kang ouw, mereka telah mengepung seorang gadis, maka meski kepandaian Sian Cian tinggi tapi oleh karena jumlah lawan banyak maka tidak mudah baginya untuk lolos dari kepungan tersebut.

Oey Ceng Tan dan lima kawanan penjahat telah mengurung rapat diri anak dara ini, empat penjahat lainnya lantas meloloskan diri dan menerjang masuk kerumahnya keluarga Chie.

Ketika mereka itu memasuki pekarangan rumah mereka menampak gedung tersebut gelap sekali hingga mereka tidak mengetahui tempat Chie Ciat-su. Maka mereka memilih jalan yang paling pendek yaitu mereka melakukan serangan dengan api.

Tempat yang pertama-tama dimakan api adalah kamar tidur Chie Kong-cu. Saat itu ia belum tidur hingga ketika ia melihat terbit kebakaran dikarnarnya maka ia segera melompat turun lalu keluar dari kamarnya.

Empat kawanan penjahat yang sedang berusaha hendak mendobrak pintu kamar ketika menampak Chie Sie Kist muncul segera bertanya:

“Kau pernah apa dengan keluarga Chie?"

Chie Sie Kiat sebetulnya sedang ketakutan, tapi setelah dibentak oleh kawanan penjahat lantas berbalik menjadi tenang kembali dan tatkala ia mengangkat kepala dan menampak api sedang berkobar hebat serta lapat-lapat terdengar suara beradunya senjata, ia lantas berpikir:

“Mungkin nona Sian kini sedang bertempur hebat hingga tidak ada kesempatan menolong diriku, dalam keada-an begini mungkin aku tidak terhindar dari kematian. Kalau benar aku toch mesti mati, biarlah aku mati secara laki-laki supaya dikemudian hari adik Sian tidak Pandang rendah diriku." Mengingat sampai disini maka nyali pemuda itu lantas menjadi besar, hingga seketika itu juaa ia menjawab sambil ter-tawa besar:

“Aku adalah Tuan muda dari keluarga Chie, kalian hendak herbuat apa atas diriku? Kalau kalian mau bunuh, bunuhlah dengan segera, meski aku tidak mengerti ilmu silat, tapi aku tidak takut mati."

Ketika ke empat penjahat itu mendengar ucapan Chie Kong-cu yang gagah itu, seorang diantara mereka yang berdiri di sebelah kanan lantas melornpat maju seraja menenteng goloknya. Ia mengangkat golok untuk memotong tapi baru saja hendak membacok, tiba-tiba ia mendengar orang berteriak “tahan".

Orang itu tarik lagi serangannya. Ketika ia melihat dibelakangnya seorang tua yang berusia lima puluh tahun lebih telah menghampirinya dengan tindakan perlahan sedang dibelakang orang tua itu berjalan seorang wanita cantik.

– ooOoo – Pada saat itu api sedang berkobar-kobar, kamar yang didiami oleh Chie Sie Kiat, sebagian benar sudah hangus. Orang tua itu mengawasi empat penjahat tersebut, kemudian melihat sikap Chie Sie Kiat, hatinya merasa pilu, ia lantas menghadapi empat penjahat, seraja menyoja lalu berkata:

“Aku adalah Chie Kong Hiap, dimasa yang lampau memang benar aku pernah berdosa terhadap beberapa kawan dari rimba hijau, cuma kala itu aku hanya menjalankan tugas, dengan tuan-tuan tidak ada mempunyai hubungan permusuhan secara pribadi. Kalau toch tuan-tuan mau menuntut balas, dengan membunuh aku Chie Kong Hiap seorang rasanya sudah cukup, aku mohon supaya tuan- tuan lepaskan jiwa anakku ini, karena pada masa itu ia cuma merupakan kanak-kanak yang belum mengerti apa-apa." Empat penjahat itu yang memang sedang mencari Chie Ciat-su ketika menampak bekas pejabat tinggi itu telah serahkan dirinya, maka setelah tertawa girang lantas berkata:

“Baik orang tuanya maupun anaknya semuanya harus dibunuh, seluruh rumah tangga ini akan dibasmi habis, tidak boleh ada satupun yang ketinggalan."

Sehabis berkata, empat penjahat itu turun tangan berbareng menerjang Chie Kong Hiap. Pada saat yang berbahaya itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring, diantara terangnya sinar api telah berkelehat beberapa sinar perak, hingga tiga diantara empat pen- jahat tersebut telah rubuh terkena serangan senjata rahasia. Yang seorang lagi tatkala mendengar suara jeritan ketiga kawannya lantas kesima, tapi sebelum ia sadar benar, badannya sudah dibikin kutung menjadi dua potong.

Koo Jie Lan dan Kang Sian Cian telah muncul dengan berbareng didepan mereka itu. Kang Sian Cian menampak sikap Chie Sie Kiat, hatinya merasa cemas, dengan tidak menghiraukan beradanya disitu Chie Ciat-su suami-isteri dan Koo Jie Lan, segera melompat maju kedepan Chie Sie Kiat lalu menarik tangannya pemuda itu, kemudian melompat kedepan suami-isteri Chie Ciat-su seraja berkata kepada Koo Jie Lan:

“Enci Koo harap lindungi mereka …..!” Belum habis ucapannya itu Oey Ceng Tan hersama kawan-kawannya telah datang memburu, hingga Kang Sian Cian tidak keburu mengucapkan kata-kata selanjutnya. Ia lantas melepaskan tangan Chie Kong-cu lalu buruburu menyambuti kedatangan musuh itu.

Koo Jie Lan dengan sepasang pedangnya, dipakai untuk menyampok senjata rahasia yang dilancarkan oleh kawanan penjahat, kemudian berkata dengan suara perlahan kepada tiga orang tersebut: “Sam-wie silahkan mundur dulu keruangan belakang, nanti Siauw-lie yang melindungi."

Chie Ciat-su juga tidak sungkan-sungkan lagi, bersama-sama anak isterinya lalu mundur keruangan belakang.

Pada saat itu pula para penjahat lainnya juga sudah datang memburu, Kong Sian Cian dalam murkanya, segera mengeluarkan ilmu serangan Boan-thian hoa-ie, hingga sebentar kemudian. dari berbagai penjuru telah beterbangan senjata rahasia duri ikan terbang. Ketika itu enam penjahat rubuh kena serangan jarum-jarum itu.

Oey Ceng Tan yang membawa sepuluh orang lebih, sebagian besar telah terluka atau binasa, sekarang hanya tinggal empat orang yang masih utuh.

Kang Sian Cian yang berhasil dengan serangannya lantas putar pedangnya untuk menyerang Oey Ceng Tan dan tiga kawannya meski tahu anak dara itu amat lihay tapi jika ia saat itu harus melarikan diri lalu bertemu dengan Tong Cin Wie juga tidak akan bisa tinggal hidup, dalam keadaan terpaksa ia cuma bisa melawan dengan sekuat tenaga.

Kang Sian Cian yang bertempur dengan empat kawanan penjahat dalam sekejap mata saja sudah berhisil membinasakan dua orang diantaranya, hingga sekarang tinggal Oey Ceng Tan dan seorang yang bersenjata dua gembolan. Mereka itu ternyata bukan tandingan Kong Sian Cian.

– ooOoo – Mari kita balik pula kepada Chie-bin-giam-lo yang sedang bertemptr hebat dengan Thay-si Sian-su, senjata mereka sama-sama merupakan senjata berat, kekuatan mereka juga berimbang, dilain pihak Tong Cin Wie yang melayani Koo Hong, juga merupakan tandingan yang berimbang, meskipun Tong Cin Wie melakukan serangan dengan segala kepandaiannya, tapi Koo Hong yang juga merupakan tandingannya yang berimbang dan merupakan seorang tinggi kepandaiannya dikalangan rimba persilatan tidak nanti dapat ditelan mentah-mentah oleh Toako dari rimba hijau daerah Utara itu.

Empat orang itu kembali bertempur sampai limapuluh jurus lebih tapi belum juga menampak siapa yang akan menang dan siapa yang kalah.

Cian-pi-sin-mo yang menonton dengan sikapnya yang dingin, telah mendapat kenyataan bahwa Sun Tay Beng semakin lama semakin gagah, tongkatnya yang berkepala naga, telah dimainkan makin lama makin gesit, dan Thay-si Sian-su perlahan-lahan cuma mampu membela diri saja tidak mampu balas menyerang.

Dipihak Tong Cin Wie meski tombaknya dimainkan bogus sekali, tapi golok Koo Hong masih tetap gesit, nampaknya sekalipun orang tua itu nanti bisa dikalahkan, tapi sedikitpun masih harus memakan tempo ratusan jurus lerbih.

Sebaliknya bagi Thay-si Sian-su dan Sun Tay Beng, oleh karena dua-dua sama-sama melawan dengan kekerasan, sama-sama menggunakan tenaga penuh, jika sama-sama diantaranya kehabisan tenaga sudah tentu lantas rubuh. Dalam keadaan demikian, sekarang si orang tua kukuay ini mau tidak mau barus turun tangan, tapi orang tua ini pandang diri sendiri terlalu tinggi hingga ia tidak mau turun tangan seecara tiba-tiba. Dengan tindakan perlahan ia menghampiri medan pertempuran, pertama-tama ia perdengarkan tertawa dingin kemudian berkata:

“Kalan semua berhenti!"

Meskipun suara itu tidak keras, tapi Thay-si Sian-su bisa mendengar dengan jelas, Tong Cin Wie juga lantas mengerti bahwa Cian-pi-sin-mo akan turun tangan sendiri, maka ia lantas melompat dari kalangan, dengan demikian pertempman itu lantas berhenti.

Si kakek aneh sambil mengawasi keatas lalu dengan perlahan menghampiri Sun Tay Beng, dengan suara dingin bertanya:

“Apakah kau ini Sun Tay Beng yang sudah terkenal didaerah Kang-lam?"

Pertanyaannya itu diucapkan dengan sikapnya yang jumawa dan dingin laksana es.

Sun Tay Beng yang beradat tinggi, sudah tentu merasa jemu dengan sikap orang tua itu, maka ia lamas menjawab dengan ter- tawa dingin pula:

“Mendengar perkataanmu ini, tentunya kau adalah itu orang yang bernama Thio Pak Tao dengan julukanmu Cian-pi-sin-mo, bukan? Memang benar aku adalah Sun Tay Beng dan kau ini mau apa dari aku?"

Thio Pak Tao tertawa bergelak-gelak, lalu menjawab: “Memang benar aku situa bangka adalah Cian-pi-sin-mo,

apakah kau Sun Tay Beng sudah yakin bgtsar bahwa kekuatanmu dapat menandingi Siauw-lim Ngo-lo dari bukit Siong-son?" Ia berhenti sejenak lalu teruskan lagi perkataannya: “Adalah soal yang telah terjadi pada beberapa puluh tahun berselang, aku juga merasa segan untuk menyebut-nyebutnya lagi, kabarnya kau ada bersahabat baik dengan Kang It Peng yang namanya terkenal sejak duapuluh tahun yang lalu didaerah Kang-lam dan Kang-pak, benarkah itu?"

Sun Tay Beng tadi dengar suara tertawanya saja, sudah tahu bahwa tenaga dalam orang tua itu sangat sempurna. la juga tahu bahwa orang tua itu bukan tandingannya tapi sebagai seorang kuat yang belum pernah menemui tandingan yang setimpal, tidak mau menyerah mentah-mentah, maka setelah mengertak gigi hatinya berpikir:

“Hari ini, aku Chio-bin-giam-lo kalau benar harus melakukan tugasku diakherat, walau bagaimana aku juga harus melayani Cian- pi-sin-mo."

Setelah mengambil keputusan hendak mengadu jiwa dengan lawannya, ia lantas menjawab dengan suara dingin:

“Tidak salah, Kang It Peng adalah sahabat karibku, kau menghendaki apa maka aku bersedia melayani."

Thin Pak Tao lantas membentak:

“Itu orang yang menggunakan serangan tangan berat ialah ilmu silat Siauw-thian-seng untuk melukai Teng Tay Kouw apakah dia itu bukan Kang It Peng?"

Sun Tay Beng lantas menjawab dengan suara bengis: “Jangankan aku tidak tahu, sekalipun aku tahu juga aku tidak

mau memberikan padamu, kau mau apa?"

Thio Pak Tao berkata dengan suara gusar:

“Dengan kepandaianmu cuma itu saja, berani sekali berlaku jumawa terhadapku?" Sehabis bertanya begitu sepasang matanya yang seperti tikus memandang Sun Tay Beng dengan tajam, kemudian ulur tangan kirinya menyambret diri Chio-bin-giam lo.

Gerakan itu nampaknya seenaknya saja, tapi sebetulnya sangat hebat. Sun Tay Beng merasakan benar betapa hebat kekuatan yang tergenggam dalam lima jari orang tua itu, maka ia tidak berani berlaku ayal, dengan senjata tongkatnya ia menyampok tangan Thio Pak Tao.

Thio Pak Tao tertawa dingin lalu tangan kirinya tiba-tiba memutar balik menjambret tongkat Sun Tay Beng. Gerakan itu dilakukan-nya dengan cepat sekali. Jangan kata Sun Tay Beng sedang Tong Cin Wie, Thay-si Sian-su dan Koo Hong yang menyaksikan juga tidak dapat rnengetahui cara bagaimana orang tua itu merebut sen-jata Sun Tay Beng.

Thio Pak Tao setela berhasil menjambret tongkat Sun Tay Beng maka sambil menekan ia bertanya pula:

“Lekas jawab yang melukai Teng Tay Kouw itu sebetulnya Kang It Peng atau bukan?"

Tapi Sun Tay. Beng tetap tidak menjawab, ia menggunakan kesempatan selagi Cian-pi-sin-mo lengah yaitu sedang berkata dengan-nya, untuk kerahkan seluruh kekuatan tenaganya. Dengan sekali gentakan ia telah melepaskan dini dari cekalan Thio Pak Tao.

Setelah Chio-bin-giam-lo membebaskan dirinya dari cekalan Thio Pak Tao kembali menyerang dengan hebat.

Karena menampak Sun Tay Beng tidak menjawab pertanyaan- nya tapi sebaliknya melakukan serangan kepadanya, bukan main gusamya Thio Pak Tao. Setelah ia egoskan serangan Sun Tay Beng lalu balas menyerang dengan sepasang tangannya, karena serangan yang hebat itu Sun Tay Beng terpaksa harus mundur sampai delapan kaki jauhnya.

Si kakek itu setelah melancarkan serangannya itu lalu berhenti lagi dan bertanya pula sambil tertawa:

“Sebelum Teng Tay Kouw meninggal dunia, aku sudah berjanji kepadanya untuk menuntut balas, kalau kau masih tidak mau berbicara terus terang kiranya jangan sesalkan kalau aku nanti akan membinasakan kau lebih dahulu."

Sun Tay Beng yang berulang-ulang kedesak dalam hati merasa mendongkol kali inilah yang pertama ia menemui lawan yang kuat sejak ia muncul didunia Kang-ouw. Karena gusamya ia ingin melakukan serangan nekat tapi selagi hendak menyerang, tiba-tiba ter-dengar suara orang berkata:

“Hei iblis tua si orang she Thio, kau jangan terlalu jumawa, kalau dibandingkan dengan Teng Tay Kouw toch tidak beda berapa banyak, bukankah kau tadi sudah keluarkan omongan besok hendak mencari aku untuk bertanding? Aku Kang It Peng mungkin karena ditakdirkan untuk memenuhi hasratmu hingga sekarang aku masih belum mati. Cara bagaimana Teng Tay Kouw dilukai memang aku pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi bukan aku yang melukai. Engkau hendak menuntut balas? Nah kini kami semua sudah kesini." 

Sehabis ucapannya itu ia lantas muncul. Dalam mendesirnya angin telah muncul dua orang tua didepan mata Thio Pak Tao. Orang yang berada didepan itu adalah seorang tua yang berjenggot putih dan berbadan tegap, pada wajahnya yang tirus terdapat beberapa garis kisut. Diwaktu malam yang sedingin itu ia hanya mengenakan baju panjang yang terbikin dari kain kasar, orang tua itu berdiri sambil bersenyum. Orang tua yang berdiri dibelakangnya lagi berdandan seperti seorang tosu, dibelakangnya ada menggemblok sebilah pedang mustika, mukanya lebar dan keren alisnya, hingga membuat orang yang memandang lantas timbal rasa hormatnya.

Cian-pi-sin-mo mengamat-amati kedua orang yang baru datang itu. lantas mengenali bahwa orang yang berada paling depan adalah orang yang pada duapuluh tahun berselang namanya pernah menggetarkan Kang-lam dan Kang-pak yang bernama Kang It Peng. Karena itu sambil tertawa dingin iapun berkata:

“Tuan ini tentunya ada Kang Lo Kiam-kek. Tapi siapa ito yang berdiri dibelakangmu? Maafkan aku Thio Pak Tao karena tidak mengenalinya!"

Orang tua yang berjenggot panjang itu lalu menyalmt seraja tertawa:

“Bukankah kau hendak menuntut bales untuk Tong Tay Kouw? Pinto adalah itu orang yang melukai Teng Tay Kouw, kalau kau mampu mengalahkan aku, dengan cara apa saja kau boleh perlakukan diriku, terserah kepadamu sendiri. Kita toch tidak ingin bersahabat, perlu apa harus meninggalkan nama untuk kau?!"

Dengan gusar Thio Pak Tao berkata:

“Kau mampu melukai Teng Tay Kouw sudah tentu bukan orang sembarangan. Dengan kata-katamu ini apakah kau anggap aku si orang she Thio tidak ada harganya untuk menanyakan namamu?"

Orang tua itu menjawab sambil tertawa:

“Thin Lo-eng-hiong pada tiga puluh tahun berselang pernah bikin ribut dikuil Siauw-lim-sie dibukit Siong-san, dengan seorang diri kau menempur Siauw-lim-sie Ngo-lo, hingga namamu tersiar dikolong langit, bagaimana tidak ada harga untuk menanyakan nama Pinto? Cuma saja Pin-to anggap kita turun tangan segebrakan saja sudah habis perlu apa harus menyebut-nyebut tentang nama."

Kang It Peng lantas menyelak: “Percuma kau Cian-pi-sin-mo yang sudah hidup sampai begini tua sekalipun kau belum pernah melihat Ci Yang To-tiang, apakah kau pun belom pernah mendengar namanya?"

Keterangan Kang It Peng ini menyebabkan semua orang yang berada disekitar itu telah pada terperanjat, karena nama Ci Yang Tojin ini sudah terkenal diseluruh jagat, ia sebagai Ciang bu-jin dari partai Bu-tong-pay, sebenarnya tidak gampang-gampang la me- ninggalkan bukitnya tapi entah bagaimana Kang It Peng sudah dapat mengundangnya.

Cian-pi-sin-mo mengawasi Ci Yang Totiang dengan tajam, kemudian berkata:

“Oh, kiranya Cian-bun-jin dari Bu-tong-pay kini nampakkan diri, aku Thin Pak Tao sungguh beruntung, sebelum aku meninggalkan dunia yang fana ini, telah mendapat kesempatan untuk bertemu dengan seorang yang berilmu tinggi dan terkenal diseluruh jagat."

Ci Yang Tojin berkata: “Teng Tay Kouw ada mempunyai hubungan dalam dengan partay kita, untuk mentaati Ciang-bun-jin kita yang terdahulu, Pinto tidak boleh tidak horus mencarinya, dalam hal ini sedikitpun tidak terselip permusuhan pribadi, Lo-eng- hiong telah sesumbar hendak menuntut balas untuknya, maka Pinto tidak boleh tidak terpaksa datang menemui Lo-eng-hiong."

Thio Pak Tao bertanya dengan suara keras: “Teng Tay Kouw dengan kalian Bu-tong-pay ada mempunyai hubungan apa? Coba kau terangkan. Aku Thio Pak Tao yang sudah hidup sampai begini tua belum pernah dengar soal ini. Kau Ci Yang Totiang adalah Ciang Bun Jin dari Bu-tong-pay, tidak boleh kau berkata sembarangan, apalagi menista orang."

Ci Yang Totiang berubah wajahnya, tetapi segera tampak tenang kembali, lain dengan senyum iapun menjawab:

“Sebenarnya hal ini mengenai urusan dalam partay kita Bu- tong-pay, tidak sebarusnya aku memberitahukan kepada orang lain, tapi sekarang kau bertanya dan terpaksa Pinto memberi penjelasan." Bicara sampai disitu, wajahnya tiba-tiba berubah keren, lalu berkata pula: “Kau tahu Teng Tay Kouw adalah murid murtad dari partay kita, kalau Pinto melukai Teng Tay Kouw, itu adalah karena mentaati pesan Ciang-bun-jin kita yang terdahulu, yang maksudnya untuk membersihkan partay kita. Pinto tidak tahu urusan ini ada hubungan apa dengan kau Thio Lo-eng-hiong, yang selalu sesumbar untuk menuntut balas untuknya?"

Cian-pi-sin-mo berkata: “Soal ini? Susah kukatakan, sebelum Teng Tay Kouw menarik napasnya yang penghabisan, aku sudah berjanji padanya untuk menuntut balas, tidak perduli dia adalah murid dari golongan mana, aku hanya tahu siapa yang membunuh mati Teng Tay Kouw, aku harus membunuh mati pembunuhnya."

Ci Yang Totiang kerutkan alisnya dan menjawab: “Kalau begitu apa kau sudah anggap pasti dapat menuntut balas?"

Cian-pi-sin-mo melancarkan serangannya keudara mengarah Ci Yang Totiang seraja berkata: “Kau coba saja! Aku mampu me- nuntut balas apa tidak?" Selagi Ci Yang Totiang hendak menangkis, tapi sudah didahului oeh Kang It Peng, sambil mengelakkan serangan Thio Pak Tao iapun berkata sambil tertawa:

“Perlu apa kau tergesa-gesa? Cepat atau lambat toch kita akan membikin perhitungan, anal kau mempunyai kepandaian, aku bersama Ci Yang Totiang bersedia menggantikan jiwa si orang she Teng itu. Seorang telah mendapat ganti dua jiwa, itu tidak terhitung rugi. Cuma saja malam ini cuaca ada buruk, lebih baik kita tetapkan suatu hari dan suatu tempat yang sunyi supaya kita bertanding secara tenang untuk mein bereskan segala dendam kesumat."

Thio Pak Tao delikan matanya lalu berkata “Itu yang paling baik! Kau sebutkan saja tempat dan harinya."

“Kira-kira sepuluh lie dari sini," jawab Kang It Peng, “Di situ ada terdapat sebuah tepi telaga yang sepi, yang dinamakan orang Ho-louw-wan, tiga hari kemudian kita nanti mengadakan pertandingan mati hidup ditempat itu, kau pikir bagaimana?" sahut Cian-pi-sin-mo.

“Baik,” sahut Cian-pi-sin-mo. “Demikian kita telah tetapkan." Kemudian ia menoleh dan berkata kepada Tong Cin Wie:

“Orang yang membunuh Suhumu sudah datang sendiri, tiga hari kemudian kalian boleh membuat perhitungan dengannya."

Tong Cin Wie menampak sikap Thio Pak Tao yang dengan lancang menerima janji, meskipun dalam hati merasa tidak senang tapi tidak berani utarakan, ia cuma meng-angguk-anggukkan kepala sebagai jawaban.

Kang It Peng menoleh lalu berkata kepada Sun Tay Beng dan Koo Hong: “Jie-wie sudah terlalu capai, mari kita pulang."

Thay-si Sian-su ketika menampak empat orang itu sudah berlalu maka ia berkata kepada Thio Pak Tao: “Thio Locian-pwee telah menerima baik janji mereka untuk mengadakan pertemuan di Ho-louw-wan, tapi orang-orangnya Tong-heng sudah pada masuk ke Siang Ke Cun ini bagaimana baiknya?"

Sebelum Cian-pi-sin-mo menjawab Tong Cin Wie sudah mendahului seraja tertawa getir : “Sudah cukup lama mereka pergi, kalau mereka berhasil dalam usahanya seharusnya sudah membereskan urusannya, kalau dirubuhkan oleh lawannya seharusnya sudah lari pulang."

Cian-pi-sin-mo ketika mendengar kata Tong Cin Wie yang seperti kurang puas atas penerimaan baik janji Kang It Peng untuk mengadakan pertempuran di Ho-lousy-wan, maka ia lantas tertawa dan kemudian berkata:

“Gin-si-siu Kang It Peng namanya sudah terkenal sejak dua- puluh tahun berselang sudah tentu dia itu bukan orang sambarangan, dan Ci Yang Tojin adalah seorang Ciang-bun-jin dari patray Bu-tong-pay, sudah pasti mempunyai kepandaian silat tinggi. Aku yakin dapat melayani satu diantara mereka berdua itu, tapi jika mereka berdua turun tangan berbareng, aku tidak sanggup melawan. Aku janjikan tiga hari kemudian untuk bertemu di Ho-louw-wan sebenarnya ada mengandung lain maksud, aku hendak menggunakan kesempatan selama tiga hari ini untuk mengupdang seseorang supaya memberikan bantuan. Aku dengan Suhumu tidak banyak mempunyai sahabat yang karib, orang yang aku akan undang itu bukan saja dikenal betul dengan aku, tapi juga kenal baik dengan Suhumu."

“Siapa orang itu?" tanya Tong Cin Wie. “Orang itu, empatpuluh tahun berselang," jawah Thio Pak Tao. “Sudah mengasingkan diri dipegunungan, selama beberapa puluh tahun ini belum pernah menunjukkan muka didunia Kang-ouw. hidupku aku cuma mengalasni kekalahan dua kali, yang pertama aku kalah ditangan It Kwan Sian-jin, Ciang-bun-jin dari kuil Siauw-lim-sie di Siong-san, kedua kalinya aku kalah ditangan orang itu. Meski Suhumu juga pernah bertanding dengan aku situ hari satu malam lamanya, tapi kalau pertandingan itu diteruskan ia pasti kalah. Orang yang aku maksudkan kepandaiannya lebih tinggi dari aku itu sudah tentu lebih kuat daripada Suhumu. Dula aku kira Suhumu mati ditangan Kang It Peng, tapi tidak nyana bahwa ia terluka ditangan Ci Yang Totiang. Cuma saja orang itu sifatnya ada lebih kukuay daripadaku sendiri, maka dapat atau tidaknya aku mengundang dia masih sukar diduga. Kalian sekarang boleh pulang dulu ke Ie Ciu Wan untuk menanti aku, aku hendak coba. berusaha mengundangnya."

Sehabis ia mengucapkhan kata-katanya itu tanpa menantikan jawaban Tong Cin Wie lagi iapun segera bertindak lalu lenyap dari pandangan.

Thio Pak Tao sejak menerima undangan Tong Cin Wie, jarang sekali ia membuka mulut, wajahnya yang demikian dingin, membuat orang yang melihat menimbulkan kesan yang tidak baik tapi malam ini ia telah berbicara banyak sekali, ini adalah suatu kenyataan bahwa Thio Pak Tao menganggap persoalan ini sangat gawat.

Tong Cin Wie dan Thay-si Sian-su saling berpandangan lalu dalam hati masing-masing timbal suatu perasaan yang aneh, mereka tidak nyana bahwa menuntut balas terhadap bekas pegawai negeri telah menimbulkan persengketaan yang berekor hebat, sekarang sudah keterlanjur, sudah tentu mereka tidak dapat mundur lagi.

– ooOoo –