Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 23

Jilid 23

Sampai di sini Ken Rudati merasa seperti mengerti. Akan tetapi Gujali kembali lagi berkata nyerocos :

- Dan mereka semua itu adalah adik-adik seperguruanku. Itulah sebabnya mereka mengenal siapa dirimu. Surengrana bahkan berlagak mengaku tahu sejarah hidupmu. Untuk itu semua, maafkan paman-pamanmu. Mereka mengemban tugas atas kehendakku. Inipun kulakukan demi hari depanmu. Sekarang tidak perlu lagi, engkau hidup sebagai seorang pemain gendang pencak. Ayahmu sudah menyediakan bekal hidupmu. Bekal hidupmu sebagai seorang pendekar. Aku yakin, dalam jagat raya ini jarang yang bisa menandingi kepandaianmu. Percayalah ! -

- Apakah bekal hidupku itu dari hadiah .. - - Tidak, tidak, tidak! Sama sekali tidak. - Gujali menimpali pertanyaan Ken Rudati. - Ini semua harta benda guru-gurumu yang kini hidup sebagai pertapa dan aku diwajibkan untuk menjaganya sampai bertemu dengan pewaris pedang Sanggabuana yang tepat. Itulah dirimu. Nah, terimalah ! Tetapi kau dengarkan dulu kata-kataku ini. - Gujali menekankan ucapannya yang terakhir.

- Kau lahir dalam jaman yang tidak menguntungkan.Negeri dalam keadaan kacau-balau terus-menerus. Mula-mula tahta kerajaan roboh oleh serbuan Adipati Trunajaya dari Madura. Lalu Amangkurat Amral naik tahta. Lalu datanglah Untung Surapati yang kini berada di Jawa Timur. Dia Adipati Wiranegara yang memerintah wilayah Pasuruan dan sekitarnya. Setelah Amangkurat Amral wafat, naiklah raja yang kurang waras.Dialah yang kita sebut dengan nama Amangkurat Mas. Meskipun kurang waras, betapa juga dia adalah raja yang syah. Maka jagalah mulutmu. Tetapi akibat dari tindakan raja yang kurang waras, terjadilah debat dan fitnah di antara para Pangeran. Mereka terpecah menjadi tiga bagian. Yang sebagian tetap setia kepada raja. Yang kedua menentang raja dengan diam diam. Dan yang ketiga bersikap menunggu. Sekarang apa yang akan kau lakukan? Hidup ini anakku, memaksa kita untuk memilih.

Memihak atau tidak memihak raja, arti-nya sudah memilih. Bahkan tidak ikut-ikutanpun sudah berarti memilih. Karena itu, anakku, kau harus menjadi seorang pendekar yang bijaksana. - Baru sampai di situ sekalian saudara-seperguruan Gujali berseru hampir berbareng :

- Hai ! Jangan nerocos terus-terusan. Masakan kita tidak diperkenalkan? Jelek-jelek kita kan punya nama ? -

Gujali berlagak terkejut. Kemudian tertawa panjang. Setelah itu memperkenalkan sekalian adik - seperguruannya seorang demi seorang. Dimulai dari Surengrana, Koripan, Emprit, Suragimin, Wed Aji, Panuluh dan Banyak Seta. Ternyata orang yang berkepala gede justni bernama Emprit. Padahal emprit ialah burung pipit.

- Prit, bagaimana sekarang? Kau puas atau belum? — tegur Gujali.

- Perkara apa ? -

- Kau mempunyai seorang kemcnakan begini hebat. Apakah tidak ikut bangga ? -

- Justru ini, kakang Gujali harus membawa kami semua minum arak sepuas-puasnya. -

Dan usul Emprit didukung oleh sekalian saudara- seperguruannya. Rupanya pergaulan mereka antar sesama- perguruan bebas dan terbuka. Mereka saling hormat dan tiada yang bersikap mengangkat kepala terlalu tinggi. Gujali lantas saja tertawa terbahak-bahak. Menyahut : - Perkara itu mudah diatur. Mari kita rayakan pertemuan kita ini! Coba, kalau saja kita tidak mempu nyai seorang kemenakan, belum tentu kita bisa bertemu dua-puluh tahun lagi. -

Gujali lalu mendahului memutar badannya menuju rumah sewaannya. Ketujuh saudara-seperguruannya kini tidak hanya bersikap ramah terhadap Ken Rudati, tetapi sayang pula. Dengan berbareng mereka mengerumuni dan sebaliknya Ken Rudati menyapa mereka sebagai paman gurunya. Surengrana, Koripan, Suragimin, Wesi Aji, Panuluh, Banyak Seta dan Emprit tertawa puas. Sebaliknya hati Ken Rudati mendadak saja menjadi terharu.

Ken Rudati hidup seorang diri semenjak berumur 12 tahun. Dengan cepat ia merasakan suatu kehanga tan itu. Tidak dikehendaki sendiri, kelopak matanya basah. Barangkali pada saat itu, teringatlah dia kepada kedua orang tuanya yang tidak keruan rimbanya. Memang, apakah kedua orang tua Ken Rudati pada saat itu masih hidup atau sudah mati, hanya Ken Rudati seorang yang tahu. Sayang, ia tidak pernah membuka mulut tentang siapa orang tuanya kepada siapapun, sehingga sejarah tidak dapat mencatat dirinya sebagai puteri siapa.

Anehnya, semenjak pendeta Tundung Kasihan, Dwijasangka, Margadadi sampai kepada Gujali dan ketujuh saudara-seperguru- annya, tiada mcnanyakan siapakah scbenarnya Ken Rudati.

Mereka bersikap merasa tidak aneh, bila Ken Rudati tiba-tiba berada di antaranya sebagai kemenakan-muridnya. Demikianlah, mereka mengadakan pesta kccil-kecilan di pondok Gujali. Mereka minum arak dengan gembira. Tetapi selagi demikian, tahu-tahu pondok Gujali sudah terkepung laskar negeri.

Sebab pertempuran mereka tadi sempat menarik pcrhatian orang-orang kampung yang segera lapor kepada hamba negeri. Sekarang datanglah sepuluh orang laskar Amangkurat Mas yang dipimpin manggala (baca: perwira) Sudira.

Sebenarnya, kalau mau, sepuluh laskar itu bukan berarti banyak bagi Gujali dan tujuh saudara-seperguruannya. Apalagi bila ditambah dengan Ken Rudati sudah berjumlah sembilan orang. Dengan sekali menggerakkan senjatanya masing-massing, sepuluh laskar itu akan tertumpas dalam satu gebrakan saja.

Akan tetapi Gujali tidak menghendaki begitu. la tidak mau berurusan dengan laskar negeri. Karena hal itu akan ber-akibat panjang.

- Apa yang harus kita lakukan ? - Emprit minta ketegasan Gujali dengan setengah berbisik.

- Biarlah kita menaati kehendak mereka. - sahut Gujali. - Kita katakan saja, kita lagi berlatih untuk memahirkan satu pertunjukan. Kenyataannya, bukankah kalian sedang melatih anak kita ? -

Alasan Gujali memantapkan hati mereka. Karena Rudati ikut serta dengan menutup mulut. Di dalam hati ingin ia mengetahui apa yang akan diperbuat laskar Kerajaan itu. Tetapi sebenamya Gujali dan sekalian paman gurunya berpikir begitu juga. Mereka semua merasa tidak berbuat salah. Alasan sedang berlatih sangat masuk akal,mengingat Gujali dikenal umum sebagai tukang gendang pencak yang mengadakan pertunjukan keliling hampir setiap hari ke seluruh wilayah Ibukota Kerajaan. Jadi, semuanya akan beres . 

Gujali dan tujuh saudara-seperguruannya terkenal berkepandaian tinggi semenjak jaman mudanya.

Mereka bersatu-padu dan gemar menolong orang. Karena itu, mereka dihormati orang. Belum pernah sesekali juga berurusan dengan pihak penguasa. Bahkan berkat pengalaman-nya, pihak penguasa sering minta uluran tangannya. Akan tetapi kali ini, mereka salah duga. Memang, pihak penguasa tidak menyusahkan mereka berdelapan. Sebaliknya arah pertanyaannya berkisar masalah Ken Rudati.

- Begini.- ujar Ranumanggala komandan laskar keamanan kota. -

- Membawa-bawa seorang gadis dan dipertontonkan di hadapan orang banyak bisa mengganggu ketertiban umum. Karena itu, masalah Rudati harus kami ajukan kepada atasan. -

Gujali terheran-heran mendengar alasan Ranumanggala. Katanya menegas :

- Sudah lima tahun Rudati ikut kami. Selama itu, tidak pernah kami menemukan peristiwa yang tidak kami harapkan. Masakan mengganggu ketertiban umum? Sebenarnya apa maksud tuan ? - Ranumanggala perlu mengesankan kewibawaannya. Dengan angkar ia menjawab :

- Inilah pertanyaan paling bodoh yang pernah ku-dengar. Kau mengerti apa arti umum ? -

- Bukankah masyarakat ? -

- Bagus ! , Ternyata engkau mengerti akan makna umum. Sekarang jawab, masarakat milik siapa ? Bukankah milik raja ? Nah, apakah beradanya Rudati sudah kau laporkan kepada raja? Kalau belum, apa namanya kalau bukan mengganggu ketertiban umum ? -

Gujali tersenyum pahit. Dalam hati ia mendongkol bukan main. Seketika itu juga, tahulah ia kemana arah ucapan perwira Ranumanggala. Kalau Rudati sampai kena dilihat raja yang terkenal doyan perempuan, sudah dapat ditebak sembilan bagian akibatnya. Tetapi berhadapan dengan penguasa ia harus pandai membawa diri. Maka segera ia membungkuk untuk menyembunyikan perubahan wajah nya. Sahutnya dengan nada mengalah :

- Ah ya, tuan benar. -

Dan mendengar pembenaran Gujali, Ranumanggala tertawa terbahak-bahak. Hatinya puas luar biasa. Di dalam benaknya sudah terpeta hadiah apa yang bakal diterima-nya setelah ia mempersembahkan Rudati yang cantik jelita kepada rajanya Maka dengan suara bergembira dan setengah berterima-kasih ia berkata kepada Gujali:

- Bagus, bagus! Maka pergilah kalian ke luar kota sebelum matahari terbit. -

- Terima kasih,tuan. Tetapi mohon berilah kami kesempatan untuk berpamitan dengan anak-asuh kami. -

Ranumanggala mempertimbangkan permohonan Gujali dengan mengurut-urut dagunya. Akhirnya ia mengangguk nengijinkan Dan kesempatan itu dipergunaka Gujali mengisiki Ken Rudati, sementara ketujuh saudara-seperguruannya berpamit dengan suara nyaring dengan maksud menutupi pendenga ran Ranumanggala dan sekalian bintara yang hadir dalam markas itu.

- Anakku jangan takut! Aku akan balik kembali sebelum matahari terbit. Sementara itu jagalah dirimu ! Kalau perlu gunakan pedang pusakamu. Sekalian pamanmu akan mengatur kepergianmu. - bisik Gujali.

Dengan berbareng Gujali bertujuh ke luar dari Markas.. Begitu tiba di luar segera mereka berunding. Sebenarnya kalau hanya membawa lari Ken Rudati dari Markas Laskar Kerajaan, bukan merupakan suatu masalah yang sulit. Akan tetapi Gujali mempunyai pandangan yang jauh. la tahu, sudah lama para Nayaka dan Pembesar-pembesar Negeri menaruh dendam terhadap rajanya. Hanya saja mereka segan untuk menyalakan api pemberontakan. Maka sebagai pelampiasan, mereka bersikap bermusuhan dengan kaki-tangan raja. Karena itu, Gujali bermaksud mengadu kepada Pangeran Purbaya. la yakin, Pangeran Purbaya masih mempunyai pengaruh besar terhadap laskar Kerajaan. Dan kalau Pangeran Purbaya sampai bertindak keras, kedudukan raja terancam.

Sebab dia bakal dibantu para pangeran dan nayaka. Di antaranya Pangeran Puger yang selama ini bersikap tidak terang-terangan. Dan manakala para pangeran sampai menyalakan api pertempuran, rakyat akan berada di pihak mereka. Sebab sudah cukup lama, tindak bijaksana Amangkurat Mas dianggap merugikan rakyat. Apalagi mengenai pajak dan kelakuan raja yang doyan main pe-rempuan.

Ketenteraman dan kesejahteraan keluarga terancam langsung. Seringkali terdengar suatu peristiwa Raja tiba-tiba mengambil isteri siapapun yang dikehendaki. Sudah barang tentu peristiwa demikian cepat menjalar ke seluruh negeri bagaikan adang alang- alang tersulut api. Dan biasanya berita yang ditebar kan dari mulut ke mulut, makin lama makin diperbesar dan dipergawat.

Bisa dimengerti, betapa penduduk yang berkeluarga hidup dalam keresahan dan kebencian.

Pangeran Purbaya benar-benar terkejut mendengar peristiwa penahanan Ken Rudati tanpa alasan yang jelas. Terus saja ia memerintahkan perwira istana memeriksa peristiwa yang dilaporkan itu ke Markas Laskar Kerajaan. Ternyata Ken Rudati sudah dibawa menghadap Pangeran Hangabehi yang berpihak pada raja.

- Kalau begitu, harus aku sendiri yang datang. - Pangeran Purbaya memutuskan.

Gujali dan ketujuh saudara-seperguruannya ikut serta mengiringkan Pangeran Purbaya mengunjungi istana Pangeran Hangabehi. Sepanjang jalan, Gujali dan sekalian saudara- seperguruannya sudah memutuskan hendak merebut Ken Rudati dengan kekerasan.

Tetapi di luar dugaan Ken Rudati ternyata kerasan berada di istana Pangeran Hangabehi. la ditemani oleh putera Pangeran Hangabehi yang bernama R.M. Kartanadi. Mereka berdua nampak akrab dan berbicara dengan semangat meskipun sudah melalui larut malam.

- Eh, sebenarnya apa yang sudah terjadi ? - bisik Emrpit setengah menggerutu.

Gujali tidak segera menjawab. la mengamat-amati mereka berdua, sementara Pangeran Purbaya dipersilahkan oleh putera- putera Pangeran Hangabehi yang menyambut kedatangannya dengan hormat sekali Memang dalam hal tingkatan, kedudukan Pangeran Purbaya jauh berada di atasnya. Bahkan Pangeran Hangabehi menyebut paman terhadap Pangeran Purbaya. Sebab makna Purbaya itu sendiri berarti putera raja terdahulu. yang tertua. Pangeran Purbayapun memegang pucuk pimpinan Laskar Kerajaan.

R.M. Kartanadi-pun segera berdiri dari tempat duduk-nya ikut menyambut kedatangan Pangeran Purbaya. la seorang pemuda berusia kira-kira duapuluh empat tahun. Wajahnya cakap dan perawakan tubuhnya tegap sehingga memiliki peribadi yang mengesankan. Melihat R.M. Kartanadi, entah apa sebabnya, Gujali menaruh simpati.

- Apakah dia termasuk salah seorang putera Pangeran Hangabehi ? - ia berteka-teki di dalam hati.

Teka-teki itu cepat sekali memperoleh jawabannya karena dengan tiba-tiba Pangeran Purbaya menegur pemuda itu.

- Kartanadi, di mana ayahmu? Aku ingin berbicara dengan ayahmu. -

Dengan takzim, R.M. Kartanadi bersembah. Lalu menjawab :

- Biarlah kujemputnya. -

- Kakang, apakah kau tidak mendengar pertanyaanku? — Emprit menegas kepada Gujali. — Anak-angkatmu tidak beranjak dari tempatnya meskipun melihat kedatangan kita. Bagaimana pendapat kakang ? -

Gujali tersenyum lebar. Menjawab dengan berbisik : - Aku sendiri baru bisa menjawab sebagian -

- Sebagian bagaimana ? - Emprit terkejut. Pendekar yang berwatak berangasan itu tidak mengira akan memper-oleh bunyi jawaban demikian.

- Mari kita duduk di teritisan pendapa. - ajak Gujali. Mereka berdelapan kemudian duduk di teritisan pendapa.

Meskipun di kediaman Pangeran Hangabehi terdapat belasan

punggawa, namun mereka tidak begitu memper-hatikan Gujali berdelapan. Mungkin sekali mereka berdelapan dikiranya rombongan abdi-dalem (baca: hamba) yang mengiringkan majikannya. Pakaian yang dikenakanpun adalah pakaian biasa. Artinya bukan pakaian seragam atau pakaian yang dikenakan seorang punggawa Kerajaan. Karena itu, mereka bisa berkumpul dan berbicara dengan bebas.

- Apakah kalian bisa menebak apa sebab Pangeran Purbaya berkenan datang sendiri, semata-mata hanya untuk mengurus Rudati ? -

- Ah, ya. - mereka seperti diingatkan. Dan diam-diam timbul rasa herannya. - Ya, kenapa ? -

Gujali tersenyum lebar penuh kemenangan. Sahutnya :

- Akupun baru sadar. Kalau begitu, Pangeran Purbaya sudah menaruh perhatian terhadap Rudati semenjak lama. - - Dalam hal apa ? -

- Nah, hal ini masih gelap. Tetapi bukan mustahil karena orang- orangnya tentunya pernah menyaksikan ke-pandaian Rudati memainkan pedang. Bila dugaanku ini benar, berarti Pangeran Purbaya sedang mengumpulkan orang-orang pandai untuk menyusun kekuatan perlawanan terhadap raja. -

Emprit, Surengrana dan saudara-saudara seperguruannya yang lain memanggut-manggut. Agaknya mereka bertujuh sudah semenjak lama takluk pada pendapat Gujali. Beberapa waktu lamanya mereka berdiam diri dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba Banyak Seta nyeletuk :

- Kalau begitu, Pangeran Hangabehi mempunyai maksud yang sama pula. -

- Belum tentu. - jawab Gujali dengan suara tegas meskipun diucapkan dengan setengah berbisik.

- Pangeran Hangabehi adalah kaki-tangan raja. Aku khawatir, Rudati justru akan dijadikan semacam upeti. Tetapi melihat keakraban salah seorang putera Pangeran Hangabehi kepada Rudati, mudah-mudahan semuanya akan jadi berubah. -

- Berubah bagaimana ? -

- Ini hanya doaku. Mudah-mudahan Raden Mas Karta-nadi jatuh hati terhadap Rudati. Kalau benar, eh maksud-ku . kalau doaku terkabul, tentunya pemuda itu tidak bakal mempersembahkan Rudati kepada raja. Artinya, Rudati akan aman dan bukan mustahil bisa hidup sebagai keluarga istana .. -

- Ah belum tentu !- bantah Emprit.

- Belum tentu bagaimana ? - Gujali membalas bertanya.

- Kalau raja pada suatu kali melihat kehadirannya, Rudati bisa dibawa orang ke istana. Menurut kabar, raja gemar merampas isteri orang. -

Gujali menatap wajah Emprit dengan prihatin. Sesaat kemudian ia menghela nafas. Lalu menyahut seperti orang berputus asa :

- Kalau sampai terjadi begitu, pada waktu itu sudah bukan urusan kita lagi. Kewajiban kita hanyalah mewariskan satu jurus sakti kepadanya. Dan hal itu sudah kita lakukan. Bumi dan langit saksinya. -

Mereka rncngangguk membenarkan. Memang tugas mereka sudah selesai. Malahan semenjak mereka mengadakan pesta kecil-kecilan itu sudah berarti sebagai upacara perpisahan. Hanya saja, karena Ken Rudati diperkirakan akan terancam bahaya, mereka merasa masih wajib meng-ulurkan tangan.

- Mudah-mudahan anak kita bernasib baik. - ujar Suragimin. - Dalam hal ilmu kepandaian, kurasa anak kita Rudati susah memperoleh tandingnya. Akan tetapi dalam hal mengenal manusia, dia harus belajar lebih jauh. Dia perlu mendapat pengalaman sendiri. -

- Betul. - sahut Emprit. Meskipun berangasan, ternyata dia berperasaan halus. Dia baru berkenalan dan bertatap muka beberapa jam yang lalu. Namun entah apa sebabnya, ia sangat sayang padanya. Tetapi tatkala hendak mengeluarkan isi hatinya, terdengar suara Pangeran Purbaya yang merasa tidak puas terhadap Pangeran Hangabehi.

Tentu saja Pangeran Hangabehi tidak mau mengalah, Diapun mempunyai alasannya sendiri. Dengan demikian mereka berbicara amat seru. Namun betapapun juga, tingkatan Pangeran Purbaya berada di atas Pangeran Hangabehi. Dialah yang memegang pucuk pimpinan tentara Kerajaan. Maka atas perintahnya, Ken Rudati kini berada dalam perlindungannya.

Raden Mas Kartanadi kemudian menghampiri Ken Rudati dan berkata dengan manisnya :

- Rudati, jangan gelisah. Aku akan selalu datang mengunjungimu.

-

Ken Rudati tidak menjawab. Dia hanya mengangguk. Namun wajahnya nampak berseri serintasan. Dan kesan wajah itu tidak luput dari pengamatan Gujali dan sekalian saudaranya. Mereka berdelapan nampak lega. Sebab apa yang diharapkan Gujali bertambah kuat. Ken Rudati tidak hanya akan bersedia menerima cintanya Raden Mas Kartanadi saja, tetapi berada dalam perlindungan Pangeran Purbaya pula. Keamanannya lebih terjamin.

Memang pertemuan antara Ken Rudati dan Raden Mas Kartanadi makin erat setelah bergaul selama dua bulan. Pangeran Purbaya membiarkan mereka berdua bergaul dengan bebas. Sebagai seorang Panglima ia berharap mengetahui kedudukan Pangeran Hangabehi lebih jelas melalui mulut Raden Mas Kartanadi. Sebab akhir-akhir ini, ia banyak menerima laporan. Begini bunyinya :

Amangkurat Mas makin menjadi-jadi tingkah-lakunya. Kabarnya, ia berani menggoda isteri pamannya sendiri, Pangeran Puger.

Bisa dimengerti bahwa Pangeran Puger merasa terhina dan berniat mening galkan Ibukota. Kabar demikian akan menggoncangkan hati seluruh penduduk Ibukota. Mereka semua menyaksikan betapa gagah dan perkasa Pangeran Puger.

Dengan bersenjata sebatang tombak Kyahi Pleret, Pangeran Puger membunuh Kapten Tack. Dia pulalah yang melindungi Untung Surapati ke luar Ibukota sampai tiba dengan aman di Pesuruan. Sekarang Pangeran yang gagah perkasa itu hendak meninggalkan Ibukota. Apa yang bakal terjadi ?

Memang pada saat itu, rakyat tidak menaruh kepercayaan lagi terhadap Amangkurat Mas. Mereka tinggal menunggu aba-aba untuk bergerak menggulingkan Amangkurat Mas dari tahtanya. Tadinya rakyat menunggu aba-aba Pangeran Puger. Ternyata Pangeran Puger malahan ingin meninggalkan Ibukota tanpa pesan apapun. Kalau hal itu sampai terjadi, rakyat yang sudah bersiaga hendak be-rontak kehilangan arah dan pimpinan. Maka diam-diam ada yang memutuskan hendak ikut meninggalkan Ibukota, mengiringkan Pangeran Puger yang dicintainya.

Tentu saja fihak Amangkurat Mas tidak tinggal diam saja. Merasa tahtanya terancam, ia harus bertindak cepat. Maka ia memanggil Pangeran Hangabehi menghadap dan diperintahkan untuk mencari bukti-bukti persekongkolan jahat yang memusuhi dirinya.

Menurut laporan, Pangeran Puger dan Pangeran Purbaya sudah membuat ikrar hendak bekerjasama menggulingkan kedudukan raja. Ikrar itu ditanda-tangani beberapa pangeran yang menduduki jabatan penting. Tetapi karena kekurangan bukti, raja tidak dapat bertindak. Tindakan tanpa bukti, malahan bisa mempercepat jatuhnya dari tahta kerajaan.

- Nah, carilah bukti itu ! Temukan secarik kertas ikrar yang mereka tanda tangani. Aku ingin tahu, siapa mereka ! - perintahnya kepada Pangeran Hangabehi .

Dengan menggunakan seluruh kemampuan kekuasaan dan mengobral uang, Pangeran Hangabehi mulai menga-dakan penyelidikan. Akhirnya diperoleh keterangan bahwa surat ikrar itu disimpan di dalam sebuah peti. Dan peti itu disembunyikan di sebuah bangunan tinggi yang berada di tengah Markas Besar Laskar Kerajaan. Selain di jaga dan ditilik oleh laskar-laskar kepercayaan Pangeran Purbaya, Gujali dan delapan saudara- seperguruannya diminta pula jasa-jasanya. Ken Rudati sendiri tidak mengerti urusan negeri. Yang diketahuinya hanyalah pesan Gujali. Hati-hati, jangan sampai terlihat raja ! Apabila sampai dibawa orang ke istana! Dan pesan itu selalu diingatnya Karena itu ia bersikap waspada terhadap Raden Mas Kartanadi.

Akan tetapi Raden Mas Kartanadi bersikap sangat baik terhadapnya. Pemuda itu sama sekali tidak pernah membicarakan perkara negeri. Apa yang dipercakapkan hanyalah mengenai ilmu kepandaian.

Terutama tentang ihnu pedang. Itulah sebabnya pula, lamba laun Ken Rudati tidak perlu bersikap terlalu waspada terhadap pemuda Kartanadi. Malahan ia merasa gembira manakala pemuda itu datang mengunjungi. Sebaliknya tiba-tiba ia menjadi resah apabila pemuda Kartanadi agak lambat datang.

Raden Mas Kartanadi sendiri pandai membawa diri. Selain membicarakan perkara ilmu pedang, diapun selalu mengajak Ken Rudati berlatih. Sudah barang tentu hal itu menambah kegairahan hati Ken Rudati. la merasa mempunyai teman dalam dunianya yang sudah dikenalnya semenjak kanak-kanak.

Dengan bersemangat ia selalu melayani kehendak Raden Mas Kartanadi. Gujali dan sekalian saudara-seperguruannya yang ikut mengabdi kepada Pangeran Purbaya, tentu saja menerima kehadiran Raden Mas Kartanadi. Semenjak semula, mereka berharap mudah-mudahan pemuda itu mempersunting anak asuhannya. Karena itu, merekapun kadangkala ikut menemani dan melayani Raden Mas Kartanadi berlatih ilmu pedang.

Ilmu pedang Raden Mas Kartanadi mempunyai gayanya sediri. Dia dapat mengimbangi kepandaian Gujali dan sekalian adik- seperguruannya, Juga seimbang melawan gerakan pedang Ken Rudati yang memiliki jurus aneka-warna. Akan tetapi karena masing-masing tahu membatasi diri, tiada seorangpun yang bersikap mengotot. Cukup asal sama kuat saja. Berarti tiada yang kalah dan menang.

Empat bulan kemudian hubungan antara Ken Rudati dan Raden Mas Kartanadi sudah semakin akrab.

Meskipun tidak pernah terucapkan tetapi siapapun dapat membaca keadaan hati mereka berdua masing-masing melalui pandang mata, senyum simpul dan sikap pergaulannya.

Menyaksikan hal itu, diam-diam Gujali bersaudara bersyukur dalam hati.

Kalau Raden Mas Kartanadi benar-benar berkenan mempersunting Ken Rudati, anak yatim-piatu itu bakal berbahagia hidupnya. Hanya saja, mereka belum tahu pasti sikap ayah Raden Mas Kartanadi yang memihak kepada raja dan dengan sendirinya bukan termasuk golongan Pangeran Puger dan Pangeran Purbaya yang bersakit hati terhadap Amangkurat Mas. Memang cara berpikir orang orang besar tidak mudah terbaca. Kerapkali tindak kebijaksanaannya tidak dimengerti orang.

Selama itu, Pangeran Hangabehi tidak pernah menyinggung- nyinggung lagi masalah Rudati. Juga mustahil bila dia tidak tahu hubungan antara salah seorang puteranya dengan gadis yang tidak jelas siapakah orang tuanya. Pada waktu itu, pergaulan macam demikian diang-gap tabu. Bahkan seorang ningrat dilarang bergaul dengan orang bukan kalangannya. Kecuali kalau hanya bermaksud dijadikan penghibur atau palara-lara alias gundik.

Akan tetapi sikap pergaulan Raden Mas Kartanadi terhadap Ken Rudati sama sekali tidak berkesan demikian. Dia bersikap hormat, bahkan sangat sayang. Barangkali bisa mengingatkan orang kepada cerita roman Raden Panji Inukertapati dengan Dewi Anggraini puteri Madura pada jaman Janggala.

Mereka berdua saling mencintai sampai dibawa ke liang kubur. Demikian pulalah harapan Gujali dan sekalian saudara- seperguruannya terhadap nasib Ken Rudati. Dan niscaya hal itu tidak akan luput dari pengamatan Pangeran Hangabehi alias ayahanda Raden Mas Kartanadi. Tetapi mengapa dia bersikap diam ?

Pangeran Hangabehi tentu saja mengetahui hubungan antara Kartanadi dan Rudati. Tetapi sengaja ia menutup mata serta menulikan telinga. la mempunyai cara berpikir sendiri. Apalagi sehubungan dengan tugas raja. la tahu apa yang harus dilakukan. Maka pada suatu hari ia memanggil Raden Mas Kartanadi menghadap. Dia minta keterangan hubungan dengan Ken Rudati yang disaksikan pula oleh sekalian saudaranya.

Hebat keadaan hati Raden Mas Kartanadi. Jantungnya memukul nyaris menggoncangkan seluruh tubuhnya. Rasa terkejut dan takutnya melebihi kanak-kanak mendengar suara seribu guntur yang meledak dengan berbareng. Akan tetapi pada detik berikutnya ia memperoleh pengharapan. Sebab wajah ayahnya tidak seram menakutkan. Sebaliknya berkesan cerah dan manis Karena itu, tidak perlu ia menyembunyikan perasaannya terhadap Ken Rudati.

Sungguh aneh! Sama sekali Pangeran Hangabehi tidak mengusut siapakah orang tua Ken Rudati. Ia malahan tertawa terbahak-bahak yang diikuti oleh sekalian putera-puteranya.

Kemudian setelah mengucapkan restu bahagia, ia menyetujui dan berkenan mengambil Ken Rudati sebagai anak-menantunya Tentu saja sekalian putera-puteranya menyambut keputusan ayahandanya itu dengan menya-lami Raden Mas Kartanadi dengan hangat.

Upacara peminangan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Pangeran Hangabehi datang berkunjung menghadap Pangeran Purbaya Sebaliknya di dalam hati Pangeran Purbaya terheran- heran. Rasa cunganya timbul Akan tetapi ia tidak menemukan dalih yang tepat untuk menolak pinangan itu. Meskipun antara dirmya dan Pangeran Hangabehi tidak sejalan darma baktinya akan tetapi ini masalah perkawinan dua insan yang saling mencintai. Lagipula diapun tidak berhak memutuskan untuk menolak. Karena Ken Rudati bukan anaknya sendiri atau termasuk salah seorang keluarganya.

Maka dia minta pendapat Gujali dan sekalian saudara- seperguruannya. Karena sudah semenjak lama Gujali berdelapan mengharapkan peristiwa demikian, maka mereka dengan serentak menyerujui.

Dengan persetujuan itu, Ken Rudati kemudian akan dipindahkan ke istana Pangeran Hangabehi.

Alasannya untuk lebih memudahkan upacara-upacara perkawinan yang akan datang. Dalam hal inipun Pangeran Purbaya tidak dapat mempertahankan Ken Rudati agar tetap berada di istananya sebelum perkawinan terjadi. Ken Rudati bukan termasuk keluarganya. Sebaliknya Gujali bersaudara yang lebih dekat hubungannya dengan Ken Rudati sudah menyetujui kepindahan itu.

Menurut hemat mereka, bukankah kepindahan itu merupakan suatu kehormatan sendiri? Hanya saja mereka memohon agar Ken Rudati ditempatkan di sebuah rumah yang menyendiri.

Artinya Raden Mas Kartanadi belum berhak menganggap Ken Rudati sudah menjadi isterinya . - O, tentu saja! - sahut Pangeran Hangabehi dengan tertawa terbahak-bahak. - Dia calon menantuku. Maka untuk dirinya sudah kusediakan sebuah rumah yang cukup bagus. Katakan sebuah istana, meskipun kecil. Dan rumah itu berada di dalam halaman istanaku. Dikelilingi pagar tinggi pula. Dengan begitu, tidak sembarang orang dapat menghampiri, termasuk anakku sendiri. -

Gujali berdelapan puas mendengar jawaban Pangeran Hangabehi. Sementara itu Pangeran Purbaya hanya dapat menyaksikan- semacam serah-terima itu dengan menghela nafas. Terhadap Ken Rudati memang ia mempunyai rencananya sendiri. Apalagi dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa tinggi kepandaian gadis itu.

Dalam hal ini, kebijaksanaannya tiada yang akan bisa menggagalkan. Tetapi dalam masalah perkawi nan, tak dapat ia berbicara banyak. Sama sekali tak terpikirkan bahwa hal itu bisa mengikat Ken Rudati lebih kuat ke pihaknya. la mengaku kalah satu langkah dibandingkan dengan kecerdikan Pangeran Hangabehi.

- Mengapa aku tidak bisa berpikir begitu ? - ia menyesali diri sendiri. -

- Bukankah aku bisa mengorbankan salah seorang kerabatku demi mengikat gadis itu ke pi-hakku ? - Sekarang sudah terlambat. Seumpama akan mengikat Ken Rudati dengan cara demikian Pangeran Hangabehi sudah mendahului. Dan Gujali berdelapan yang berhak disebut sebagai keluarga Ken Rudati yang terdekat, telah menyetujui. Kalaupun main paksa, bisa berakibat panjang. Bukan. mustahil permusuhan itu akan menjadi terang-terangan. Pangeran Hangabehi yang dekat dengan raja, bisa saja mencari dalih-dalih untuk merebut kemenangan dan mencelakakan dirinya sebelum bisa berbuat sesuatu. Paling tidak Pangeran Hangabehi akan melaporkan beradanya Ken Rudati di istananya.

Dan Raja yang doyan perempuan itu pasti akan campur-tangan. Siapakah yang bisa menghalangi kehendaknya? Lebih celaka lagi, Gujali berdelapan tentu nya akan berbalik memusuhinya, apabila sampai terjadi penstiwa demikian. Dan akhirnya mereka berpihak kepada raja dan akan melaporkan peti rahasia yang disimpannya di atap gedung Markasnya. Maka satu-sarunya kebijaksanaan yang masih dapat diharapkan, ia harus memberi keper-cayaan lebih besar lagi kepada mereka berdelapan.

Ken Rudati sendiri dijemput utusan Pangeran Hangabehi pada keesokan harinya. Setelah bermohon diri kepada Pangeran Purbaya ia berangkat ke kediamannya yang baru dengan diiringkan beramai-ramai oleh Gujali berdelapan. Ternyata rumah dijanjikan Pangeran Hangabehi terlalu mewah bagi ukuran Gujali berdelapan. Benar-benar sebuah istana molek dan berkesan agung. Tentu saja hal itu menggirangkan dan membesarkan hati mereka, termasuk Ken Rudati sendiri. Tetapi setelah Gujali berdelapan meninggal kan tempat, Ken Rudati merasa kesepian. Karena di kediamannya yang baru itu, dia tidak kenal siapapun kecuali Raden Mas Kartanadi dan Pangeran Hangabehi.

- Jangan kau berkecil hati, Rudati. - bujuk Kartanadi. - Sebelum petanghari tiba, sekalian saudaraku akan datang berkenalan. Dan di sinipun banyak sahabat-sahabat ayah yang berkepandaian tinggi yang kelak akan menemanimu berlatih pedang -

Memang benar, menjelang petanghari sekalian saudara- saudaranya Raden Mas Kartanadi datang berkunjung padanya. Meskipun demikian, ia merasa tidak puas. Mereka semua bersikap tawar padanya. Yang lebih mengherankan lagi, Pangeran Hangabehi yang bersikap hangat, tidak datang berkunjung atau memanggilnya menghadap. Masih mau ia menghibur diri, barangkali karena kesibukannya. Bukan mustahil pula pada keesokan harinya. Akan tetapi sampai dua hari mendatang, Pangeran Hangabehi tidak datang berkunjung atau memanggilnya menghadap. Dengan demikian, ia belum memperoleh kesempatan untuk mengenal bakal mertua perempuan alias ibunda Raden Mas Kartanadi.

Pada hari ketiga, Ken Rudati berjalan-jalan seorang diri ke luar dinding kediamannya. Tibalah ia di sebuah taman yang indah. Dan di tepi taman itu berdiri sebuah gedung yang indah dan megah Selagi ia mengagumi aneka bunga yang tumbuh di taman itu, muncullah seorang gadis cantik dari dalam gedung itu. Gadis itu didampingi seorang dayang. Terdengar gadis itu berkata sengit kepada dayangnya :

- Apa budak itu yang ramai dibicarakan ? -

- Ya, tuanku puteri. - sahut si dayang menyembah.

- Huh. -

Ken Rudati tercengang mendengar ucapan gadis itu dan melihat pula sikapnya yang sengit. Siapa dia ? Betum sempat ia memperoleh kejelasan, gadis beserta dayangnya sudah menghilang di balik pintu.

Maka dengan hati masgul ia kembali ke kediamannya. Tetapi oleh keadaan hatinya yang tidak puas, ia salah jalan. Tibalah dia di tepi empang yang berair jernih. Empang itu sesungguhnya sebuah telaga buatan yang berpagar tetanaman rapat mirip belukar yang terpelihara rapih. Tiba-tiba ia melihat berkelebatnya dua orang yang mengenakan pakaian pendeta.

- Hai ! - ia berpikir di dalam hati. - Pakaian yang dikenakan seperti para pendeta yang bermukim di Gunung Merbabu. Mengapa mereka berada di sini ? -

Selagi hendak menegornya, salah seorang sudah mendaului. Katanya : - Bukankah engkau Rudati si kecil dulu ? -

- Siapakah paman ? - Ken Rudati makin heran. Pendeta itu tertawa lebar. Menyahut:

- Belum genap sepuluh tahun, engkau sudah melupakan diriku. Kami berdua adalah pendeta-pendeta yang pernah kau lihat di Gunung Merbabu. -

- Ah ! - seru Ken Rudati dengan girang. - Dahulu semua paman- paman bersikap diam dan tak acuh. Demi Tuhan, aku belum sempat mengenal nama paman berdua.-

- Tak apa. - pendeta itu memaklumi. — Sebut saja diriku Megatruh dan dia Saragupita. -

Ken Rudati bergembira bertemu dengan mereka berdua. Selain mengingatkan dirinya pada masa kanak-kanak dulu, juga menjadi obat hati yang sedang resah. Dengan pandang mata berseri-seri ia menatap wajah Megatruh dan Saragupita.

Megatruh sendiri bersikap terbuka. Alangkah jauh ber-lainan dibandingkan semasa masih hidup dalam goa pertapaan. Dulu tentunya dia sangat alim dan terturup. Sekarang dia dapat berbuat sebebas-bebasnya, tanpa ikatan dan pembelengguan. Dengan tertawa lebar ia menghampiri Ken Rudati seraya berkata

: - Rudati ! Semasa kau tiba di goa kami, kami berdua sudah menjalankan masa pertapaan selama sepuluh tahun lebih. Tetapi kau lebih beruntung daripada kami berdua. Dalam waktu singkat engkau bisa memperoleh sebuah pedang pusaka Sanggabuana dari pendeta Tundung Ka-sihan. Sedangkan kami berdua hm... jangan lagi memegang, melihat pun belum. -

Rudati tercengang mendengar ucapan Megatruh. Kenapa masalah bertapa dihubung-hubungkan dengan soal pedang pusaka? Apakah mereka berdua bertapa justru ingin memperoleh pedang itu? Tenngatlah dia kepada pesan pendeta suci Tundung Kasihan. la harus pandai-pandai menyembunyi kan pedang Sanggabuana yang menjadi incaran setiap orang pandai. Selama ini, diapun menjaga kerahasiaannya, kecuali terhadap gurunya Gujali yang merangkap menjadi orang tua angkatnya. Selagi ia sedang menggerayangi ke-jelasannya, Saragupita yang belum sempat bersuara, berkata :

- Anakku Rudati, coba aku ingin melihat pedang Sanggabuana yang selalu kau sisipkan di balik bajumu -

Dan begitu terhunus, pedang Sanggabuana memperlihatkan kehebatan-nya. Tidak hanya bercahaya cemerlang saja, tapipun membersitkan hawa dingin yang nyaman sekali.

- Alhamduhllah . - seru Saragupita dengan rasa syukur.

- Puaslah sudah Kini, matipun aku rela. - Megatruh bersikap irihati terhadap rejeki Saragupita Seren tak ia berseru :

- Rudati, kau jangan pilih kasih ! Mengapa engkau tidak mengijinkan aku merasa puas pula ? -

- Bukankah pamanpun dapat ikut melihat ? - ujar Ken Rudati tidak mengerti.

- Ijinkan aku memegangnya - serunya.

Ken Rudati mengangsurkan pedang Sanggabuana. Dengan gembira dan bergemetaran, Megatruh menerimanya. Setelah ditimang-timang ia menoleh kepada Saragupita seraya berkata :

- Pantas pedang ini mempunyai sejarah yang luar biasa. Pedang ini pantas diperebutkan orang dari jaman ke jaman. Karena itu pemiliknya harus pandai-pandai menjaganya.-

Setelah berkata demikian ia kembali menatap wajah Ken Rudati dan minta agar sarungnya diserah kannya pula. Berkata sambil menyarungkan pedang Sanggabuana dengan hati-hati:

- Engkau harus berhati-hati setiap kali menyarungkan-nya, Rudati. Sebab sarungnya terbuat pula dari bahan yang jarang terdapat di dunia. Kalau sampai membuat cacat, pedang Sanggabuana akan turun pamornya. Kau mengerti ?- Ken Rudati mengangguk. Tetapi aneh ! Pedang dan sarungnya tidak dikembalikan lagi kepadanya. Sebaliknya lantas saja disisipkan di pinggangnya.

- Hai, apa artinya ini ? - ia berteriak minta penjelasan. Megatruh tidak menjawab. Dia hanya rnengulum senyum, lalu melompat mundur. Keruan saja, hati Ken Rudati tergetar oleh rasa kejut. Secara wajar ia ikut melompat maju sambil menyambar pedangnya. Akan tetapi pada saat itu, mendadak saja Saragupita menghalangkan dirinya. Sudah begitu, diapun memukulkan tangannya.

Tak usah dijelaskan lagi, bahwa mereka berdua merupakan komplotan hendak merampas pedang Sanggabuana. Keruan saja, Ken Rudati marah bukan kepalang. Sambil menangkis, masih dapat ia melanjutkan lompatannya. Memang ia memiliki kegesitan yang jarang dimiliki orang pandai. Tahu-tahu, ia sudah menghadang di depan Megatruh yang sedang melarikan pedangnya.

Megatruh terkejut. Sama sekali tak diduganya, bahwa Ken Rudati memiliki anugerah kegesitan begitu hebat. Tetapi dia seorang yang berpengalaman. Meskipun terkejut, namun ia tahu apa yang harus dilakukan. Terus saja ia menggempurkan tangannya dengan maksud mengadu himpunan tenaga sakti. Pelahan namun pasti, ia mendorong dan menggiring Ken Rudati agar tercebur dalam telaga buatan. Tentu saja, Ken Rudati tidak sudi kena diguing demikian. Akan tetapi dalam hal berkelahi dengan tangan kosong, ia belum berpengalaman. Harus diakuinya pula, ia tidak memiliki sejuruspun ilmu berkelahi dengan tangan kosong. Maka mau tak mau ia kena dipaksa mundur menghampiri telaga buatan. Syukur, di tepi telaga itu terdapat sebatang pohon hias.

Gesit luar biasa ia meloncat dan meng-gantungkan sebelah kakinya pada batangnya. Kedua tangannya dibuatnya memukul balik seraya menghadang arah larinya Megatruh.

Megatruh terpaksa mundur. Tetapi Saragupita segera membantu. Dengan demikian Ken Rudati dikerubut dua orang yang menyerang dan bertahan secara bergantian. Dan diperlakukan dengan cara demikian, tidak dapat lagi Ken Rudati mengadakan p rlaw nan hanya dengan ber-gantungan di atas dahan. Terpaksa dia mendarat. Hanya saja, kembali lagi ia menemui kesulitan karena tidak pandai berkelahi dengan tangan kosong. Satu- satunya upaya untuk dapat merebut pedangnya kembali, hanya mengadu kegesitannya. Namun cara demikian, sebenarnya kurang tepat.

Hal itu disadarinya. Sebab lambat atau cepat, dia bakal kehabisan tenaga.

- Tetapi dengan cara apa lagi ? - ia berkelahi sambil berpikir keras.

Selagi merasa kerepotan, mendadak terdengar seseorang berteriak nyaring : - Hai! Semua berhenti! -

Megatruh dan Saragupita melompat mundur dan berdiri tegak bagaikan patung. Ken Rudatipun menghentikan langkah kakinya. Dan muncullah Pangeran Hangabehi dengan tertawa panjang.

Sungguh mengherankan! tiba-tiba saja Megatruh dan Saragupita memutar tubuhnya dan menyembah Pangeran Hangabehi seraya menghaturkan pedang rampasannya. Dan sambil menerima angsuran pedang Sanggabuana, Pangeran Hangabehi berkata kepada Ken Rudati :

- Rudati, maafkan mereka ! Mereka hanya bermaksud menguji kepandaianmu. Nih, terimalah pedangmu kembali! -

Ken Rudati bergembira bukan main dan bersyukur tidak terhingga. Setengah bergemetaran ia menerima pedangnya kembali. Pada saat itu, ia merasa seperti memperoleh hadiah yang tidak ternilai lagi harganya. Bahkan ia merasa pula berhutang budi terhadap Pangeran Hangabehi yang ternyata berbudi luhur.

- Menurut suatu keterangan, engkau termasuk anak-angkatnya. Bukankah begitu? - Pangeran Hangabehi berkata lagi. - Mari kuperkenalkan yang lainnya. Paman-pamanmu banyak berada di sini. Mereka ingin melihat apakah engkau sudah benar-benar dapat menguasai ilmu kepandaiannya masing-masing yang diwariskan kepadamu.- Mendengar keterangan Pangeran Hangabehi, rasa marah Ken Rudati terhadap Megatruh dan Saragu pita surut dengan sendirinya.

Apalagi sikap Megatruh dan Saragupita balik menjadi seramah seorang ayah. Mereka berdua mengulurkan tangannya dan membimbing Ken Rudati memasuki sebuah gapura penyekat. Di balik gapura itu, terhampar sebuah taman yang jauh lebih indah bila dibandingkan dengan taman yang berada di samping kediamannya. Dan di tengah taman itu nampak empatbelas orang berpakaian pendeta duduk di atas kursinya masing-masing. Di antara mereka terdapat pendeta Dwijasangka dan Margadadi.

Mereka berdua itulah yang mengajarkan enam jurus sakti. Dari pendeta Dwijasangka empat jurus dan dari Margadadi dua jurus.

Begitu melihat hadirnya dua pendeta itu,sirnalah rasa curiga Ken Rudati. Setengah berlari-larian ia menghampiri dan membungkuk hormat. Sambut pendeta Dwijasangka :

- Ah, engkau sudah dewasa, anakku! Kami semua datang kemari hanya karena ingin melihat apakah jurus saktimu sudah lengkap.

-

Ken Rudati hendak membuka mulutnya, tatkala pendeta Margadadi mendahului:

- Kau sekarang mengerti makna satu jurus sakti itu, bukan? Tanpa pedang, kau akan dapat dibuat repot lawan-mu. Maka pedang ini merupakan satu jurus sakti yang menentukan. — Ken Rudati membungkuk hormat lagi. Menyahut :

- Benar.. jurus-jurus sakti warisan paman berdua tidak dapat berbuat banyak bila dilakukan dengan tangan kosong.

- Tentu saja. - ujar Margadadi. — Karena jurus-jurus sakti yang kau pelajari itu adalah jurus gerakan pedang. -

Setelah itu masing-masing menanyakan tentang jurus-jurus ilmu kepandaian yang diwariskan kepada nya. Ken Rudati benar- benar jadi repot. Apalagi mereka tidak hanya cukup bertanya, melainkan setengah menguji pula. Tetapi karena Ken Rudati benar-benar berlatih di bawah pengawasan Gujali, maka semua pertanyaan mereka dapat di jawabnya dengan cepat dan tepat. Dan mereka semua dengan serentak menyatakan Ken Rudati telah lulus.

Sekarang Ken Rudati mempunyai kesempatan untuk membagi pandang. Ternyata Pangeran Hangabehi tidak ke-lihatan hadir. Dia tahu diri dan mengundurkan diri dengan iam-diam. Sikap demikian benar-benar pantas mendapat pujian. Alangkah mulia hati dia, pikir Ken Rudati di dalam hati. Di luar kehendaknya, ia merasa berbahagia karena akan mempunyai seorang mertua semulia itu.

Pada sore harinya, sekalian pendeta itu kembali ke pertapaannya. Ken Rudati kembali pula ke kediamannya. Dari tutur-tutur kata seorang dayang yang menyediakan makan dan minumnya, ia mendapat kabar bahwa Pangeran Hangabehi mengantarkan pula para pendeta itu sampai di batas kota.

Maka kesannya terhadap bakal mertuanya itu, naik lagi. Hanya saja, kemana perginya Raden Mas Kartanadi calon suaminya? Apakah dia dilarang menemui dirinya sebelum perkawinan resmi

? Tidak pandai ia memperoleh jawabannya. Maka satu-satunya jalan yang pantas dilakukan, hanyalah menunggu sampai saat bahagia itu tiba.

Di luar dugaan Pangeran Hangabehi berkenan datang di kediamannya dengan seorang diri. la menyapa sebagai seorang calon mertua. Ken Rudati segera menyediakan hidangan yang sebentar tadi diantar kan beberapa dayang sewaktu Pangeran Hangabehi mengiringkan para pendeta sampai di batas kota.

Pangeran Hangabehi memanggut-manggut puas.

Lalu menanyakan pengalamannya bertemu dengan para pendeta. Ken Rudati menjawab secukupnya saja dan menyatakan bahwa mereka semua adalah bekas-bekas gurunya.

- Ya, aku tahu. Itulah sebabnya mereka kuundang da-tang ke mari agar hatimu puas. - ujar Pangeran Hangabehi. - Apakah pedang pusakamu sudah kau simpan baik-baik?-

Diingatkan tentang pedang pusaka itu, Ken Rudati menjadi perasa. la merasa berhutang budi. Seumpama Pangeran Hangabehi tidak segera campur tangan, setidak-tidaknya ia memerlukan waktu lama untuk memperOleh-nya kembali. Tiba-tiba Pangeran Hangabehi membisikkan sesuatu. Mendengar bisikan itu, Ken Rudati terperanjat. Menegas:

- Apakah pada malam ini ? —

- Ya. Peti itu disimpan di atas atap gedung markas. Kurasa, hanya engkau seorang yang dapat mengambilnya. Setelah itu, kita rundingkan hari perkawinanmu. —

Ken Rudati berbimbang-bimbang sejenak. Entah apa sebabnya, ia merasa tidak enak hati. Akan tetapi karena merasa berhutang budi lagipula yang menghendaki hal itu adalah bakal mertuanya, maka ia mengangguk la tidak merasa perlu untuk minta keterangan tentang isi peti itu. Tentunya sangat pen ting bagi Pangeran Hangabehi.

Pada malam hari itu yang bertugas menjaga peti berisi-kan surat ikrar adalah Gujali bersaudara.

Pangeran Purbaya memang memutuskan akan memberi kepercayaan penuh kepada mereka demi menarik mereka ke pihaknya. Dan hal itu dilaksanakan begitu Ken Rudati kena dibawa Pangeran Hangabehi ke istananya. Kepada komandan Markas Laskar Kerajaan, Pangeran Purbaya memerintahkan agar membantu sepenuhnya Gujali bersaudara dalam waktu-waktu sedang melaksanakan tugas. Karena itu,. Gujali bersaudara bisa keluar masuk Markas Besar dengan bebas dan dalam waktu apapun. Merekapun mendapat jatah jauh lebih cukup dibandingkan dengan jatah laskar. Masing-masing memperoleh sebuah kamar sendiri yang berada di dekat tempat mereka bertugas.

Seperti bunyi laporan yang disampaikan kepada Pangeran Hangabehi, peti rahasia itu disembunyikan di atas atap sebuah gedung yang berada di dalam halaman Markas Besar. Gedung itu sebenarnya sebuah gudang tempat menyimpan senjata.

Letaknya di belakang halaman Markas. Berpagar dinding tinggi dan selalu berada dalam pengawasan seluruh laskar.

Biasanya scmua pintu dan jendela-jendelanya tertutup rapat. Akan tetapi semenjak tiga rnalam yang lalu, jendela-jendelanya dibiarkan terbuka. Itu terjadi atas usul Gujali berdelapan.

Maksudnya agar jangan menarik perhatian orang. Lagipula bukankah seluruh halaman Markas Besar sudah dijaga oleh perajurit yang tidak terhitung jumlahnya? Yang perlu diawasi justru para anggauta laskar.

Siapa tahu di antara niereka ada yang kena suap sehingga bersedia menjadi petunjuk penyuapnya untuk dapat mencuri peti rahasia yang disembunyikan di atas atap. Dengan pertimbangan itu, maka para laskarpun tidak diperkenan-kan menghampiri gudang senjata itu, kecuali membawa surat perintah komandan.

Gujali pada malamhari itu berada di dalam kamamya ditemani Suragimin. Emprit, Surengrana, Koripan, Wesi Aji, Panuluh dan Banyak Seta sibuk bermain kartu. Waktu itu sudah jauh malam. Mestinya Gujali dan Suragimin akan menggantikan dinas jaga Emprit dan Surengrana. Tetapi melihat mereka berdua sedang tertidur nyenyak, Emprit dan Surengrana tidak berani mengganggu.

Gujali sedang mimpi indah. la melihat Raden Mas Kartanadi dan Ken Rudati sedang duduk di atas pelamin. Pa-ngeran Hangabehi menyambut kedatangan Pangeran Pur-baya dengan hangat.

Kedua pangeran itu lalu berbincang-bincang mengenai sesuatu yang menggelikan hati. Kedua-duanya tertawa terbahak-bahak. Tetapi aneh! Tiba-tiba kedua pangeran itu dengan diam-diam menghunus senja-tanya.

Gujali memperhatikan gerakan tangan mereka. Selagi demikian, tiba-tiba ia mendengar suara pelahan yang membangunkan kesadarannya. Sebagai seorang pendekar ber-kepandaian tinggi, pendengarannya sangat tajam. Dengan sebat ia mengenakan bajunya. Lalu dengan mengindap-indap ia ke luar pintunya.

Ternyata saudara-saudaranya yang lain tidak berada di tempatnya.

Ke mana ?

Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat. Jelas sekali, sosok bayangan itu baru saja turun dari atap. Tidak ayal lagi, ia melompat sambil menyambar. Heran ! Bayangan itu ternyata gesit luar biasa. la mencelat mundur dan lang-sung meloncat tinggi hinggap di atas dinding.

- Maling ! - Gujali berseru.

Pada saat itu, Emprit dan kawan-kawannya muncul dari arah belakang dan samping gudang senjata. Sedang Suragimin sudah menghadang larinya bayangan itu.

- Kakang Gujali ! Kami akan mengejar yang lain ! - teriak Emprit dengan suara penasaran.

Pada detik itu juga, Gujali tersadar. Yang memasuki halaman terlarang mungkin lebih daripada seorang. Maka dengan Suragimin, segera ia mengadakan pengejaran. Tetapi bayangan itu gesit luar biasa. la melompat memasuki jendela gudang senjata. Selagi Gujali dan Suragimin me-nyusul, bayangan itu melompat ke luar jendela lainnya.

- Kejar ! - seru Gujali kepada Suragimin, Emprit dan teman- temannya ternyata kena disesatkan tiga sosok bayangan yang memancingnya meninggalkan tempat penjagaan.

Dengan rasa penasaran mereka melompat dinding pagar. Dan pada saat itu, Gujali dan Suragimin tiba dengan membawa senjata andalannya masing-masing. - Eh maling ini ingin menguji kecepatan langkah kita. Hayo Jangan kehilangan waktu. -ujar Gujali.

Mereka berdelapan segera membagi diri. Tiga bayangan yang tadi memancing Emprit dan teman-temannya meninggalkan tempat, sudah menghilang di sudut jalan. Jejaknya tidak terlihat lagi. Sedang Gujali dan Suragimin masih berkutat mengejar sesosok bayangan yang dilihatnya. Biasanya mereka berdua dapat menyusul pelari tercepat pada jam an itu. Namun kali ini mereka merasa gagal. Bayangan itu luar biasa cepat larinya. la tidak mau mendarat di atas tanah. Tetapi berlari-larian di atas wungwu ngan atap rumah.

Dengan demikian, Gujali dan Suragimin tidak dapat memperoleh kesempatan untuk tancap gas. Seben tar - sebentar mereka mendongakkan kepalanya dan menghadang ke sana ke mari yang diperkirakan akan dilintasi bayangan itu. Ternyata bayangan itu tiba-tiba lenyap.

- Hm. - Gujali mengeluh.

la dan Suragimin berada di atas jalan dekat dengan istana Pangeran Hangabehi. Tak dapat lagi mereka berdua memasuki istana Pangeran Hangabehi dengan semau-mau-nya. Terpaksa mereka hanya lari berputar-puter menge-lilingi pagar dinding.

Akhirnya kembali ke Markas Besar dengan hati mendongkol. Tidak lama kemudian sekalian saudaranya tiba berturut-turut. Dan begitu sekalian saudara-seperguruannya sudah berkumpul lengkap, Gujali berkata mengajak : - Mari kita periksa ! -

Teringat betapa bayangan tadi baru saja melompat turun dari atap, hati Gujali berdebar-debar. Ia teringat kepada peti penyimpan surat ikrar bersama yang menentang kekua-saan raja. Kalau sampai tercuri, berarti canang tanda bahaya ! Raja akan mempunyai alasan untuk bertindak. Sedang para pengeran yang menentangnya belum siap untuk mengadakan perlawanan.

Apa yang dicemaskan Gujali ternyata benar. Peti penyimpanan surat rahasia hilang. Siapa lagi yang mengambil kalau bukan bayangan tadi. Hanya saja, Gujali dan sekalian saudaranya tidak dapat memastikan bayangan yang manakah yang mencuri peti itu. Tetapi siapapun di antara tiga sosok bayangan tadi yang mengambil, tidak Banyak artinya. Peti rahasia itu tercuri.

Gujali benar-benar bingung. Tak tahu ia apa yang harus dilakukan. Apakah segera melaporkan peristiwa itu kepada Pangeran Purbaya? Beberapa di antara saudara - seperguruannya mengusulkan demikian.

- Tidak bisa .... eh jangan ! - Gujali mencegah.

- Pangeran Purbaya sudah menaruhkan seluruh kepercayaannya kepada kita berdelapan sampai komandan markas besar mendengar saran-saran kita. Lebih baik kita selidiki masalah ini dengan diam-diam - Biasanya apa yang dikatakan Gujali disetujui sekalian adik- seperguruannya tanpa minta kejelasan Akan tetapi kali ini, tidak. Mereka nampak berbimbang-bimbang. Akhirnya Surengrana memberanikan diri. Katanya :

- Kakang, kurasa lebih baik kita kabarkan peristiwa ini kepada Yang Mulia Pangeran Purbaya. Sebab ini me-nyangkut keselamatan orang banyak.-

- Eh, apakah kau sudah memastikan pencurinya suruhan raja ?

— Gujali menegas.

- Setidak-tidaknya orang yang berpihak kepada raja.- Gujali menundukkan kepalanya.

Ternyata ia pandai mempertimbangkan saran saudara- seperguruannya. Selagi hendak membuka mulutnya, Ernprit ikut berbicara. Katanya :

- Memang tidak bisa kita laporkan hal ini dengan terang-terangan, Bagaimana kalau meninggalkan sepucuk surat saja ? Kita masih mempunyai waktu untuk meninggalkan surat itu kepada penjaga istana. Sementara itu, kita masih mempunyai waktu pula untuk melacak maling-maling itu. -

- Kau berbicara kita masih mempunyai waktu dan kita masih mempunyai waktu. Maksudmu bagaimana ? - - Yang kumaksudkan salah seorang mengantarkan surat, lainnya melacak pencuri-pencuri.Bukankah kita masih mempunyai waktu

? Siapa tahu, pencuri itu berhasil kita tangkap sebelum matahari terbit. -

- Nah, begitu jadi jelas. - Gujali menggerembengi. Tetapi ia menyetujui saran Surangrana dan usul Emprit.

Segera Gujali menulis surat laporan kepada Pangeran Purbaya. Kemudian Suragimin bertugas mengantarkan surat ke istana Pangeran Purbaya. la sendiri bersama saudara-saudara seperguruannya yang lain kembali melacak jejak pencuri sampai di seberang istana Pangeran Hangabehi.

Perasaannya seperti memberi kisikan padanya, bahwa Pangeran Hangabehi pasti memegang peranan penting. Hanya saja alasannya terlalu sederhana. Menurut jalan pikirannya, karena Pangeran Hangabehi putera raja yang tertua. Pangeran Purbaya sendiri tidak begitu jelas memberi keterangan tentang peti yang tercuri itu. la bersama tujuh saudaranya ditugaskan menjaga peti itu agar tidak tercuri.

Sebab peti itu berisikan surat bukti yang menyangkut keselamatan jiwa orang banyak. Keselamatan jiwa orang-orang yang tidak senang terhadap raja yang lalim. Tetapi apa isi dan bunyi surat itu sendiri, tidak per-nah dijelaskan oleh Pangeran Purbaya. Memang tepat prarasa Gujali dan sekalian saudara- seperguruannya. Pangeran Hangabehi tidak hanya memegang peranan penting saja, tetapi justru dialah otak terjadi-nya pencurian itu. Jauh-jauh hari dia sudah mengumpulkan laporan- laporan. Juga tentang diri Ken Rudati. la tahu, Ken Rudati berkepan daian tinggi. Dia bisa meloncat tinggi dan bergerak dengan gesit. Hanya dia seorang yang mampu

melompat ke atas gudang senjata yang cukup tinggi itu. Maka dipersiapkan pula, agar Ken Rudati memperoleh kesempatan untuk mencapai atap dengan memerintahkan tiga orang pandai untuk memancing penjagaan.

Kebetulan sekali masuklah belasan pendeta ke Ibukota Mataram. Dengan hormat ia menyongsong sendiri kedatangan para pendeta itu yang dikabarkan sedang mencari Ken Rudati.

Mereka dipersilahkan ke istananya dan disambut layak rombongan seorang raja besar. Dan mulailah ia mengolah ragakan para pendeta untuk mempengaruhi jalan pikiran Ken Rudati. la berhasil sewaktu menyerahkan pedang pusaka Sanggabuana kembali ke tangan Ken Rudati. la berhasil menanamkan rasa percaya lebih dalam lagi,karena mengijinkan Ken Rudati bertemu dengan berbicara dengan para pendeta.

Sementara Ken Rudati disibukkan oleh masalahnya sendiri, diam- diam ia mulai menyusun rencananya yang harus dilaksanakan sebentar. Maka begitu para pendeta berangkat meninggalkan Ibukota, segera ia mengutarakan perintahnya kepada Ken Rudati agar mengambil peti yang tersimpan di atas atap.

Tentu saja masalah perkawinan itu menjadi landasan pertama untuk memancing selera Ken Rudati.

Kepada Ken Rudati dijelaskan di mana letak peti itu disimpan berdasarkan laporan-laporan yang masuk. Maka dengan mudah Ken Rudati dapat mengambil peti itu, karena dibantu tiga orang untuk memancing penjaga-penjaga gudang senjata yang kebetulan djjaga saudara-saudara seperguruan Gujali.

Demikianlah setelah berhasil, Ken Rudati segera menyerahkan peti kepada Pangeran Hangabehi. Pangeran Hangabehi memeriksa dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya tegang sampai berkeringat. Ke-mudian menghela nafas oleh rasa puas. Setelah itu berkata dengan wajah menah kepada Ken Rudati:

- Sekarang berangkatlah engkau menyusul suamimu. kecuali untuk menghindarkan kecurigaan orang, hari per-kawinanmu sudah dekat. Perlu engkau berunding dengan bakal suamimu -

Tentu saja Ken Rudati girang bukan kepalang. Terus saja ia berkemas-kemas. Menjelang fajarhari, ia diiringkan oleh beberapa orang terpilili melalui pintu rahasia. Mula-mula ia berjalan kaki sampai di batas kota. Lalu melanjut-kan perjalanan dengan naik kereta berkuda.

Perjalanan itu mengarah ke timur. Tatkala fajarhari tiba, dengan diam-diam Gunung Lawu mulai menampakkan diri bagaikan raksasa timbul dari dasar bumi. Dan melihat gunung itu, hati Ken Rudati terharu. Teringatlah ia masa delapan tahun yang lalu sewaktu ia berlari-larian seorang diri mendaki Gunung Merbabu. Kemudian ia bertempat tinggal di atas gunung itu selama dua tahun. la jadi merasa akrab dengan hawa pegunungan yang meresap merasuki tulang sumsum Itulah sebabnya begitu pernafasannya mereguk hawa Gunung Lawu, pikirannya melayang ke masa lampau. Entah apa sebabnya ia jadi merasa rindu. Rindu terhadap penghidupan di atas dataran tinggi.

Menjelang sianghari kereta berkuda memasuki sebuah halaman luas yang teratur rapih. Di atas halaman luas itu berdiri sebuah gedung indah. Pikir Ken Rudati, pantaslah Kartanadi betah meninggalkan dirinya sekian hari lamanya.

Dirinyapun akan betah pula berdiam di 1cmbah Gunung Lawu yang indah molek. Mudah-mudahan sehabis perka-winan suaminya berkenan bertempat tinggal di lembah gunung.

Tetapi begitu turun dari kereta, hatinya memukul. Sebab ia melihat seorang gadis yang pernah dilihatnya di kebun istana Pangeran Hangabehi. Dialah gadis yang bersikap sengit kepadanya. Gadis itu memanggil budak pula kepadanya. Pada detik itu pula, ia dihinggapi prarasa yang tidak enak. Tak terasa ia meraba hulu pedangnya erat-erat.

- Oh kau ! - tegur gadis itu yang berusia kira-kira dua tahun lebih tua daripadanya. - Mengapa kau kemari ? - Ditegur demikian, Ken Rudati berpaling kepada para pengiringnya. Bukankah mereka yang membawa kereta- berkudanya memasuki halaman gadis itu ? Heran ! Benar-benar mengherankan ! Semua pengiring kereta mengulum senyum kepadanya. Senyum mencemooh dirinya. Hai kenapa ?

Ken Rudati boleh berkepandaian tinggi. Namun ia belum berpengalaman dalam hal membaca makna pergaulan. Apalagi mengenal watak dan perangai manusia. Maka be-berapa detik lamanya ia termangu-mangu. Lalu mencoba :

- Sebenarnya siapa engkau ? -

- Engkau ? Engkau ? Kau berani mengengkau diriku ? - bentak gadis itu dengan sengit. - Akulah isteri Raden Mas Kartanadi. Kau tak percaya ? Coba mintalah keterangan kepada mereka semua !

-

Betapapun juga Ken Rudati bukan manusia dungu. Seketika itu juga, terbangunlah kesadarannya la merasa seperti lagi dipermainkan orang. Hanya siapa dia, kurang jelas. Dengan mata berapi-api kembali lagi ia menoleh kepada para pengiring.

Membentak :

- Sebenarnya apa yang terjadi ? -

Orang-orang itu sama sekali tidak menjawab. Mereka tersenyum lagi seperti sudah saling berjanji. Keruan saja, : tidak dapat lagi Ken Rudati menguasai diri. la merasa ter-perosok dalam suatu perangkap tertentu yang diatur orang yang berhati jahat. Tetapi siapakah yang jahat kepadanya? Pangeran Hangabehi ? Ah, selama itu dia bersikap ramah dan baik kepadanya. Raden Mas Kartanadi? Dia seorang satria tulen. la tidak mau percaya, bahwa pemuda itu mempermainkan dirinya. Buktinya, ayahnya datang melamar dirinya secara resmi. Lalu siapa? Siapa gadis itu yang mengaku sebagai isteri kekasihnya? Mengapa para pengiring tiba-tiba bersikap mentertawakan dirinya? Kalau mereka bersekongkol, mengapa Pangeran Hangabehi yang mengatur kepergiannya ini ?

Ken Rudati jadi bingung sendiri. Kepalanya pusing. Telinganya pengang. Wajahnya merah padam dan pucat lesi saling mengendapkan. Entah apa yang dilakukan, ia tidak ingat lagi. la baru sadar kembali karena kedua pi-pinya terasa tersengat rasa panas. Begitu menyenakkan mata, ingatannya bekerja normal.

- Hai, mengapa aku tergeletak di sini ? -- bertanya kepada dirinya sendiri.

Segera ia meletik bangun. Kereta berkuda masih lengkap. Hanya saja beralih tempat. Para pengiring yang tadi mengulum senyum mengejek dirinya, mati berserakan mengucurkan darah.

Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Tiba-tiba kedua matanya bergerak secara naluriah. la me-meriksa pedangnya. Pedang itu berlimbah darah. Kalau begitu, justru dialah yang membunuh semua pengiring karena kalap. - Tetapi mengapa aku sampai tergeletak pula di atas tanah? - pikirnya bolak-balik.

Untuk Ken Rudati, pengalaman itu terlalu memukul jantung hatinya. Tidak dikehendaki sendiri, tak dapat ia mengendalikan dirinya. la jadi kalap. Ingatannya setengah sadar dan tidak. Sifat naluriahnya mendorongnya untuk mengambil tindakan terhadap yang mempermainkan dirinya.

Pada detik itu pula, pedang nya berkelebat. la mem-babat semua pengiring di luar kesadarannya. Tentu saja hal itu sudah diperhitungkan semua pengiring. Ken Rudati pasti menghunus pedangnya. Akan tetpi satu hal berada di luar perhitungan mereka. Itulah gerakan tangan Ken Ru-dai yang cepat luar biasa dan ketajaman pedang pusaka Sanggabuana yang sesungguhnya dapat menabas besi dan

baja tak ubah merajang sayuran.

Apalagi manusia yang terdiri dari darah dan daging. Maka dengan satu kali ge-brakan, semua pengiring mati tertabas pedangnya.

Akan tetapi gerakannya itu sempat mengejutkan kuda penarik kereta. itulah sebabnya kereta berkuda itu beralih tempat. Ken Rudati sudah sadar sepenuhnya kini. Namun sisa rasa penasarannya belum sirna dari lubuk hatinya.

Entah apa sebabnya, ia kini jadi beringas. Mungkin sekali terpe- ngaruh oleh rasa merasa bersalah atau dendam. Inilah untuk yang pertama kalinya ia membunuh orang. Dan pern-bunuhan itu terjadi karena hatinya terpukul hebat. Bisa dimengerti, ia kini dendam terhadap yang membuat hatinya tersengat rasa penasaran yang hebat. Dialah orang yang mengaku isteri Kartanadi. Dan teringat gadis atau perempuan itu, terbakarlah hatinya. Terus saja ia melompat memasuki serambi gedung Akan tetapi suasananya sunyi lengang. Meskipun demikian ia tidak sudi menyerah. Mu-lailah ia memeriksa seluruh ruang dalam. Sewaktu memasuki kamar tengah, dilihatnya tempat tidur yang habis ditiduri seseorang. Hatinya tercekat.

- Siapa yang tidur di sini ? -

Selagi ia hendak memeriksa lebih teliti lagi telinganya yang tajam mendengar langkah di halaman belakang Se-cepat kilat ia memutar tubuhnya dan melesat memburu. Begitu tiba di serambi belakang ia melihat seorang dusun sedang hendak memasuki batas bangunan. Orang itu menghentikan langkahnya begitu melihat dirinya. Lalu ter-senyum seraya membungkukkan badannya; Menyapa :

- Tentunya nona termasuk keluarga Raden Mas Kartanadi. Eh, kemana saja mereka pergi ? Begini lengang. -

Dengan membungkam mulutnya, Ken Rudati menga-waskan orang itu dengan pandang mata berkilat-kilat. Menyahut:

- Kau siapa ? -

- Aku tukang kebunnya, nona. Tukang kebun yang menjaga pesanggerahan ini manakala sedang sepi.- Ken Rudati mengamat-amati orang yang mengaku tukang kebun. Kali ini ia ingin bertindak lebih saksama lagi. Kesan sikap orang itu, memang seperti orang dusun. Dia kelihatan tolol dan dungu. Maka ia mau percaya keterang-annya.

— Apakah kangmas Kartanadi semalam menginap di sini ? — ia mencoba.

- Ini pesanggerahannya. Bila tiba di sini, tentu saja menginap di sini. Apakah behau sudah pergi ? - orang itu tercengang sambil mendekat.

- Coba berilah keterangan yang jelas, ke mana dia pergi. - hardik Ken Rudati.

- Kamarin masih kulihat beliau berada di sini. Kalau hari ini tiada lagi berarti beliau sudah melanjutkan per-jalanannya ke Jawa Timur.

- Ke Jawa Timur ? - Ken Rudati menegas.

- Ya, ke Jawa Timur. Kalau nona termasuk keluar-ganya, tentunya tahu ke mana beliau pergi. Bukankah beliau diutus ayahandanya untuk menyampaikan surat kepada Adipati Wiranegara di Pesuruan ? Nona tentunya tahu, Kompeni Belanda memusuhi Sri Baginda Raja. Maka Sri Baginda Raja perlu mempunyai kawan seperjuangan yang sudi bahu-membahu melawan Kompeni Belanda. - Mendengar keterangan orang itu, Ken Rudati tidak menyia- nyiakan waktu lagi. Terus saja ia memutar badan-nya dan melesat ke luar gedung. Dia mau bertindak saksama, tetapi nyatanya dia kurang saksa ma. Kenapa ia tergesa-gesa meninggalkan orang itu yang belum selesai memberikan keterangan ? Mestinya dia bisa minta keterangan kepadanya tentang gadis yang mengaku diri sebagai isteri Raden Mas Kartanadi..

Lalu kapan Raden Mas Kartanadi menginap di pesanggerahan. Apa sebab Raden Mas Kartanadi membiarkan dirinya meninggalkan kewajiban, padahal gedung pesanggerahan justru sedang ramai ?

Dan masih banyak terdapat kelemahan-kelemahan keterangan orang yang mengaku juru kebun itu. Di sini ternyata Ken Rudati masih termakan gejolak hati dan perasaannya yang sedang kacau-balau.

Ken Rudati memang masih seorang gadis yang suci bersih. Seorang gadis yang sama sekali belum mengenal warna hidup sesungguhnya. Hatinya terpukul hebat dan mengejutkan seluruh perasaannya.

Pertimbangan akalnya bubar pasar. Tujuannya hanya satu. la ingin bertatap-muka dengan Raden Mas Kartanadi untuk memperoleh keterangan yang sebenarnya. Tetapi sebenarnya ia masih menyembunyi kan rasa takutnya. Jangan-jangan perempuan itu benar-benar isteri Raden Mas Kartanadi. Kalau benar demikian apa sebab dirinya dilamar? Dan berbagai perasaan itu bergumul hebat dalam dirinya. la mera sa dipermainkan,merasa direndahkan, merasa diperalat, merasa........dan merasa Pendek kata ia harus membuat

perhitungan.

Dan bisa dibayangkan sebelumnya. Dia bakal kalap. Mungkin akan mengajak dunia runtuh berbareng.

Perjalanan melintasi wilayah Jawa Timur, tidaklah semudah dewasa ini. Hutan rimba, semak-belukar dan ladang ilalang menghadang setiap tempat. Perumahan penduduk jarang pula. Tetapi kedai dan lepau akan bisa diperoleh orang di sepanjang jalan besar. Dengan demikian, Ken Rudati tidak memperoleh kesukaran dalam hal makan-minumnya. la hanya dihambat oleh tempat-tempat untuk menginap.

Pada hari yang kesepuluh ia bertemu dengan seorang menyandang pendeta. Pendeta itu diiringkan oleh seorang anak laki-Iaki kira-kira berumur sepuluh tahun. Terhadap pendeta, Ken Rudati menaruh kepercayaan. Hal itu di-sebabkan oleh latar belakang sejarah hidupnya. Pikir Ken Rudati : Mengapa aku tidak minta petunjuk-petunjuk dan nasehat-nasehatnya ?

Oleh pikiran itu ia menghampiri dan memanggil si anak. Tanyanya minta keterangan :

- Adi,, kau siapa ? -

- Aku Laweyan. - - Dan pendeta itu, apakah orang tuamu ? -

Anak yang mengaku bernama Laweyan itu berwajah dungu. Akan tetapi ternyata dia cerdik dan pandai men-jawab pertanyaan.

Sahutnya :

- Orang tuaku ? Beliau bukan orang ruaku. Akan tetapi guruku. -

- Beliau siapa ? -

- Waris Watu. Bermukim di atas pertapaan Cakra Srengenge di puncak Gunung Lawu. Apakah ayunda ingin berbicara dengan beliau? Tunggu sebentar.-

Laweyan ternyata pandai menebak hati orang. la -menghampiri pendeta Waris Watu dan membisikkan sesuatu. Pendeta Waris Watu bersenyum, lalu datang menghampiri Ken Rudati. Ujar pendeta Waris Watu :

-Nona mempunyai kesukaran apa ? -

Ken Rudati kemudian menceritakan masalahnya. Dan pendeta Waris Watu mendengarkan tiap patah katanya dengan sabar. Setelah itu berkata :

- Anakku, baru kali ini aku turun gunung. Itupun untuk keperluan Iain. Sekarang aku mendengar dengan telingaku sendiri, bahwa masalah kehidupan akan tetap begitu sepanjang jaman. Kau harus pandai menguasai diri anakku. -

- Paman, berbicaralah yang jelas.Aku tak mengerti makna kata katamu . -Ken Rudati memohon. - Kau sampai di wilayah ini karena mendengar petun-juk orang yang mengaku menjadi tukang kebun, bukan ? -

- Benar Apakah dia bukan tukang kebun ? - Ken Rudati terkejut.

- Seorang kebun masakan mengerti masalah Kompeni Belanda dan Adipati Wiranegara ? Seumpama pemuda Kartanadi benar- benar diutus ayahandanya untuk menghadap Adipati Wiranegara mengenai suatu persekutuan, dia pasti akan bersikap membungkam terhadap siapapun. Sebab itu urusan rahasia negeri. Perjalanannya akan dirahasiakan pula, seumpama setanpun jangan sampai tahu. Sekarang tukang kebun mengaku mengetahui perjalanan rahasia pemuda Kertanadi. Benarkah itu ?

- ujar pendeta Waris Watu dengan mengulum senyum.