Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 19

Jilid 19

-Kuperingatkan sekali lagi ,jangan sekali-kali menggunakan hawa beracun Ilmu Batu Panas terhadapku. Kalau aku sampai lupa diri, aku dapat membalas dengan semacam racun yang lebih ber- bahaya. Kau kenal racun Dipajaya? -

Sebenarnya Gemak Ideran hanya main untung-untungan dengan membawa-bawa nama Dipajaya. la percaya, sebagai sekabat Qng Cing Goling, pasti mengenal nama Dipajaya. Sebab menurut Rawayani, Ilmu Sakti Batu Panas justru berasal dari Dipajaya.

Ternyata dugaannya betul. Begitu mendengar nama Dipajaya disebut-sebut, wajah Sriwenda berubah hebat Terus saja ia berseru kepada Teguh dan Wulung yang masih terkapar :

- Petang ini aku tidak mempunyai semangat tempur. Aku akan mendahulukan berjalan. -

Setelah berkata demikian, benar-benar ia mengundurkan diri. Dengan sekali lompat ia sudah berada di atas kudanya lalu dikaburkan secepat-cepatnya. Menyaksikan peristiwa itu, Gemak Ideran tertawa. la merasa puas luar biasa, karena untuk yang pertama kali itu ia dapat membuat musuhnya kabur ketakutan.

Padahal Sriwenda bukan seorang pendekar murahan. Andaikata dirinya tidak memiliki sisa tenaga sakti istimewa pemberian Rawayani, mustahil ia bisa mengalahkannya.

Teguh dan Wulung terkejut menyaksikan paman-gurunya kabur menyelamatkan dirinya. Sebenarnya mau mereka segera melarikan diri. Tetapi pukulan Gemak Ideran tadi cukup berat bagi mereka berdua. Mereka merasa seolah-olah kehilangan hampir se-luruh tenaganya. Maka satu-satunya jalan kini adalah upaya untuk melindungi nyawanya. Dengan pikiran itu, mereka mengharapkan bantuan anak buahnya yang berjumlah lumayan.

- Serang! Masakan dia mempunyai sayap sampai bisa mengalahkan jumlah kita yang banyak? - seru mereka hampir berbareng.

Ke-enam anak-buahnya maju dengan ragu-ragu. Mau tak mau Gemak Ideran jadi mendongkol. Dengan menahan rasa dongkol- nya ia membentak:

-Bagus! Mulutmu tadi syukur tidak sekotor pamanmu.. . Sekiranya begitu aku tidak hanya ingin mematahkan kedua lengan dan kakimu saja, tetapi merobek mulutmu pula. - Teguh dan Wulung saling pandang dengan hati berdenyutan. Celaka, pikirnya. Pada saat itu, mereka merasa kehilangan tenaga untuk bisa berbuat banyak. Jika Gemak Ideran benar- benar melaksanakan ucapannya, mereka bakal pulang dengan merayap-rayap. Itulah sebabnya seperti saling berjanji mereka berteriak-teriak membakar semangat tempur anak-buahnya.

Betapapun juga, jumlah orang yang mengerubutnya mempengaruhi daya gerakan Gemak Ideran. lapun sudah merasa banyak kehilangan tenaga sakti tambahannya. Maka dengan mengerahkan seluruh kepandaianya, ia melawan terjangan mereka. Syukur mereka tadi sempat melihat ketangguhannya.

Meskipun menerjang dengan berbareng namun hati mereka diliputi suatu keragu-raguan dan rasa gentar. Karena itu, mereka cepat-cepat melompat mundur atau mengelak manakala golok Gemak Ideran nyaris menghampiri.

Tak terasa matahari sudah tenggelam. Suasana pegunungan cepat sekali menutup tirai malam. Kabut tebal mulai menyelimuti seluruh alam. Menggunakan kesempatan itu, Teguh dan Wulung menggeser mendekati kudanya masing-masing. Lalu kabur de- ngan membabi-buta. Anak-buahnya tidak usah menunggu perin- tah. Terus saja mereka lari terbirit-birit seperti anjing takut kena gebuk.

Terhadap mereka berenam, Gemak Ideran tidak mempunyai perhitungan atau geram. Sebaliknya ia sempat mendongkol terhadap Teguh dan Wulung yang berlagak seperti pendekar. Sekarang mereka lari mendahului anak-buahnya.'

- Hm ... demi kepentinganmu sendiri, kalian membiarkan orang lain bisa dibunuh orang. - Gemak Ideran mendongkol.

Terus saja ia mengejar sambil berseru :

- Hai! Kalian belum menjawab pertanyaanku! Hayo siapa yang bisa memberi keterangan di mana ayundaku Windu Rini berada -

Dan dengan sisa tenaganya yang nyaris terkuras, ia mencoba menyusul. Akan tetapi lambat-laun, tenaga sakti tambahan pem- berian Rawayani benar-benar habis. Tiba-tiba saja nafasnya memburu dan ia jatuh terjungkal di bawah rimbun pohon di antara semak belukar. Sekujur badannya terasa nyeri luar biasa.

Ototnya kejang, lalu dengan mendadak layu kehilangan tenaga hidup. Hai, kenapa jadi begini? Memang Rawayani pernah memperingatkan, manakala terlalu banyak menggunakan tenaga diluar ketentuan, justru akan menguras tenaga aselinya.

Sementara itu, Niken Anggana yang mengawaskan gerak-gerik Gemak Ideran kehilangan pegangan. Melihat Gemak Ideran menghilang di balik petak hutan yang berdiri bagaikan pagar alam di sekeliling rumah makan, ia jadi berteka-teki dengan dirinya

sen-din. Menyusul atau tidak? Menuruti kata hati, scgera ia ingin me-nyusul. Akan tetapi pada saat itu, teringatlah janji diri sendiri hendak kembali ke pertapaan Sondong Landeyan. Beberapa saat lamanya ia berdiri termangu-mangu. Kemudian perlahan-lahan kembali memasuki ruang rumah makan. Pemilik kedai heran. Dengan hormat ia bertanya :

- Apakah tuan muda tadi bukan teman berjalan nona? -

- Dia kakakku. - jawab Niken Anggana pendek.

-Oh. -pemilik kedai berbimbang-bimbang. - Apakah mendapat kesukaran? -

Niken Anggana tidak menyahut la hanya mengulum senyum. Dan melihat senyum Niken Anggana, pemilik kedai itu mendadak seperti mengadu :

- Memang jalan depan ini merupakan urat nadi perhubungan yang penting. Lalu lintas tidak pernah sepi. Yang melintasi berma- cam-macam. Ada yang jelek dan ada pula yang baik. Kami

sendiri sih ! hanya tukang kedai. Siapa saja yang singgah kemari

, wajib kami layani sebaik-baiknya. Tetapi tuan muda tadi, pandai berke-lahi. Kami semua melihat, betapa jempolan dia. Dikerubut sembilan orangpun masih mampu melawan. Malahan mereka pada kabur. Memang pantas mereka kena tangkap. Mudah- mudahan tuan muda tadi berhasil. Hanya saja... disini tidak ada polisi. Atau... eh, barangkali tuan muda tadi seorang anggauta keamanan Sunan ? -

Kembali lagi Niken Anggana tersenyum. Orang ini termasuk usilan, pikirnya. Mungkin karena belum pernah dibuat susah orang. Mudah-mudahan demikianlah untuk selanjutnya. Orang kecil harus diberi kesempatan untuk bisa hidup aman tentram. la sendiri sebenarnya seorang gadis yang polos. Namun merasa agak sedikit lebih berhati-hati bila dibandingkan dengan pemilik kedai.

Tatkala itu, pembantu-pembantu pemilik kedai sudah menyalakan pelita semenjak tadi. Ruang kedai mulai diterangi oleh bebe-rapa cahaya pelita. Walaupun berkesan suram, namun jauh lebih cerah dibandingkan dengan tirai pdH| di luar kedai yang jauh lebih gelap bila dibandingkan dengan suasana petang di bawah gunung.

- Kalau aku balik ke atas, aku akan menemukan kesukaran. Kecuali terlalu gelap, akupun belum mengenal medannya. Sebalik-nya aku harus menginap di mana? Yang paling tepat disini. Siapa tahu kakang Gemak Ideran balik kembali. - pikir Niken Anggana di dalam hati. la Kalau saja pengalaman bergadang di ruang rumah penginapan di Ngawi. Kalau saja pemilik kedai memperkenankan, iapun bersedia bergadang di dalam ruang kedai.

Tepat pada saat itu, pemilik kedai minta keterangan :

- Apakah nona hendak menunggu tuan muda tadi? -

- He-e. -jawab Niken Anggana.

- Oh, silahkan! -pemilik kedai menyambutramah. Lalu memerintahkan pembantunya untuk menyediakan minuman hangat .

Kedai itu tidak terlalu ramai, akan tetapi selalu saja ada pengun- jungnya. Mereka terdiri dan penduduk setempat hanya mengenai masalah hasil ladangnya. Sebaliknya yang datang dari luar daerah membicara kan suasana perang di Ibukota. Pembicaraan itu sangat menarik perhatian, karena merupakan berita yang jarang terjadi. Penduduk setempat segera menimbrung minta keterangan-keterangan yang jelas. Tentu saja yang memberi keterangan tidak boleh disebut benar. tidak hanya asal berbunyi saja, tapipun dibumbui dengan macam-macam pendapatnya sendiri. Walaupun demi-kian, kata-katanya sangat menarik bagi pendengaran penduduk setempat .

Pemilik kedai yang usilan tentu saja tidak mau hanya menjadi salah seorang pendengar yang baik.

Dengan penuh semangat ia ikut menimbrung atau mengomentari. Dan menyaksikan tingkah-nya, Niken Anggana tersenyum geli di dalam hatinya. Tidak lama kemudian, isterinya ikut hadir. Diapun mendengarkan semua pembicaraan dengan penuh perhatian.

Akan. tetapi tidak banyak komentar. Lebih sering ia mengerling kepada Niken Anggana. Akhirnya berkata minta keterangan kepada suaminya :

- Pak, nona ini seorang diri saja? - - Oh, tidak. - sahut suaminya cepat - Nona ini menunggu temannya berjalan yang sedang mengejar orang-orang yang mengerebutnya. Wah, hebat! Tuan muda itu pasti seorang pendekar. Di-kerubuti sembilan orang, masih saja menang. -

- Ah! Masakan ada orang sehebat itu? - wajah isteri pemilik kedai berubah. - Pastilah putera raja. Ya, pasti begitu! - Lalu berkata terburu-buru kepada Niken Anggana: - nDoro jeng! Apakah menunggu sampai tuan muda pulang? -

Niken Anggana mengangguk. Setelah menatap wajah isteri pe- milik kedai, hati-hati ia berkata :

- Apakah aku boleh bergadang di sini? -

- Boleh, boleh. Kenapa tidak? - isteri pemilik kedai menyahut Berkata kepada suaminya: - Pak, bukankah ndorojeng ini bisa menunggu di sebelah? -

- O ya.- pemilik kedai seperti diingatkan - Mari , sekiranya ber- kenan bisa mengasoh di ruang sebelah. -

Yang dimaksudkan ruang sebelah ialah sebuah rumah yang berada di halaman samping. Tiada kamar mandinya atau tempat untuk membuang hajat Akan tetapi terdapat sebuah parit alam melalui ruang. Airnya jernih luar biasa dan deras arusnya.

Niken Anggana diantarkan ke rumah itu setelah mengucapkan terima kasih. Sudah beberapa hari ia tidak tidur nyenyak. Karena itu, begitu melihat sebuah dipan yang bersih, lantas saja ia merasa mengantuk. Pembantu mmah tangga datang membawa pelita dan hidangan malam yang sebenarnya tidak penting bagi Niken Angga na. Akan tetapi ia membiarkan hidangan itu diletakkan di atas meja di dekat pelita. Setelah pembantu rumah tangga ke luar kamar, segera ia mengunci pintunya. Lalu merebahkan diri di atas dipan yang terbuat dari bambu. Sebentar saja, ia merasa sudah tidak dapat menahan kantuknya. Segera ia meniup nyala pelita dari kejauhan, lalu membiarkan kesadarannya direnggut rasa kantuk. Dan berbareng dengan padamnya nyala pelita, ia terlena dalam dunia impian.

Mimpi biasanya dibentuk oleh pengalaman yang mengesankan keadaan hati dan suasana lingkungan. Semenjak keluar dari pesanggrahan, Niken Anggana mempunyai pengalaman yang hebat la dibawa dan dilarikan Antawati. Lalu diambil oleh Sukesi dan Wigagu. Terpaksalah ia terkunmg di atas pertapaan Sondong Landeyan. Dan di pertapaan itu ia mendengar riwayat Ibu dan Bapak-nya. Walaupun memperoleh perlakuan baik, namun betapapun juga kesan itu merasuk sangat dalam di kalbunya.

Akan tetapi oleh rasa lelah luar yang luar biasa, semuanya itu terenggut ludas. Ia ti-dak bermimpi apapun dan tenggelam di bawah sadarnya. Andaika-ta kamar tempatnya menginap dibakar orang, pada saat itu ia harus dibangunkan orang lain sebelum memperoleh kesadarannya sen-diri.

Entah sudah berapa lama ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendengar suara ramai. Sebagai pendekar, begitu terbangun, segera ia meletik dari tempat tidurnya. Bergegas ia membersihkan badan nya dalam parit yang mengalir melintasi ruang rumah bagian dalam.

Sementara itu, kesibukan di luar makin terdengar menjadi-jadi. Tadinya ia mengira suara orang-orang lalu-lalang yang mengunjungi lepau. Namun tiba-tiba ia mendengar suara kaki- kaki kuda beralih tempat Berarti terdapat beberapa ekor kuda yang di tambatkan di halaman lepau. Pada saat itu pula terbangun-lah ingatannya kepada Gemak Ideran.

Terus saja ia mengenakan pakainnya. Setelah rambutnya disi- sirnya rapih, ia mengintai dari celah dinding kamamya yang ter- buat dari anyaman bambu. Beberapa orang yang mengenakan pa-kaian seragam baru saja beranjak dari tempat duduknya masing-masing dan kini sedang bergerak ke luar lepau. Di antara mereka terdapat dua orang Cina yang berpakaian seragam militer.

- Baik! Jadi kau minta dilanjutkan pembicaraan ini di luar ke-dai? Kemana? - ujar seorang yang berperawakan tinggi besar kepada seorang laki-laki yang mengenakan pakaian putih.

- Ya, di sini bukannya tempat yang tepaL - jawabnya.

- Tetapi sekali lagi harus kau ingat benar-benar. Kau adalah seo- rang murid pendekar besar Sondong Landeyan. Gurumu dising- kirkan dari istana. Dan kami datang untuk menaikan pamor guru- mu kembaii. Bukankah kedatangan kami bermaksud baik? - Mendengar serentetan pembicaraan itu, hati Niken Anggana tercekat Siapakah yang dikatakan murid Sondong Landeyan ? Tanpa berpikir panjang lagi, ia menyambar pedangnya dan membuka pintu kamar. Begitu melongok ke luar ambang pintu, segera ia mengenal siapakah pria yang mengenakan pakaian putih. Dialah Wigagu, suami Sukesi. Memang dia adalah salah seorang murid pendekar Sondong Landeyan.

- Hm, sebenarnya kalian ini utusan siapa? - Wigagu menggeren- deng sambil melangkahkan kakmya ke luar lepau. Dari kamar Ni- ken Ariggana, wajah Wigagu nampak berubah serarrL - Mari kita bicarakan di luar lepau. -

- Kau dengarlah dulu kata-kataku! - seru yang mengenakan pa- kaian perwira. - Pada jaman mudanya, raja yang sudah wafat itu mata keranjang. Gurumu pasti tahu, karena dialah pengawalnya. Nah, diantara gula-gulanya lahirlah raja yang sekarang bertahta. -

- Raja yang mana? - bentak Wigagu.

- Raja baru kita. Sunan Kuning, jelas? -

- Oh, kau maksudkan raja pemberontak? - ujar Wigagu sengit Dan mendengar. kata-kata Wigagu, dua orang Cina itu maju hendak menyambarnya. Akan tetapi perwira itu mencegah dengan buru-buru. Katanya:

- Tahan! - Wigagu mendengus dan mendahului berjalan. Tatkala melintasi halaman depan ruang kamar Niken Anggana, ia terhe-nyak sedetik dua detik. Pandang matanya melihat Niken Anggana berdiri tegak bagaikan patung di depan kamamya sambil memba- wa-bawa pedangnya. Mulumya bergerak hendak menyatakan se- suatu, namun batal sendiri.

Niken Aggana kenal siapa orang yang mengenakan pakaian perwira itu. Dia bawahan ayahnya. Namanya, Wirasantana. Da- lam kalangan istana, kepandaiannya hanya berada dibawah ayahnya. Termasuk seorang ahli pedang kenamaaiL Termasuk pula ja-jaran perwira tinggi yang setia kepada kerajaan dan Sri Baginda. Kenapa kini berada di tengah orang-orang yang kelihatannya justru memusu hi raja? Jangan-jangan dia sesungguhnya salah seorang bawahan Sunan Kuning yang sengaja ditanam kan dalam kalangan istana jauh-jauh sebelum peristiwa pemberonlftkan terjadi. Bila demikian, alangkah bakal hebat sepak-terjang Sunan Kuning yang bertindak di atas rencananya, dan didukung oleh kalangan istana pula.

- Wirasantana, sebenarnya apakah maksudmu kemari? - Wigagu mengalihkan perhatian.

- Sudah kujelaskan tadi, kami datang kemari demi menjunjung tinggi martabat almarhum gurumu. - sahut Wirasantana.

- Hm, Haria Giri berlagak menyamai Tuhan di atas burni. Apa dasarnya sampai dia membunuh sahabatnya sendiri. Apakah kau hanya pandai memeluk kaki belaka? Padahal engkau adalah salah seo-rang muridnya. -

Hebat dan tepat ucapan Wirasantana sampai Niken Anggana yang ikut mendengarkan teigetar dengan perasaan cemas.

Sebab ucapan Wirasantana benar-benar bisa membangunkan semangat balas dendam Wigagu. Wigagupun sukar untuk dapat mengelak. Dia bisa dituduh orang tidak berbakti kepada guru.

Diluar dugaan Wigagu menyahut:

- Guruku lebih mengutamakan kesejahtraan rakyat -

- Maksudmu? - Wirasantana menghentikan langkahnya sampai mereka semua jadi berdiri tegak di atas depan kedai pak Kliwon yang berada di tepi jalan.

- Kalau kami kalian ajak mengangkat senjata, bukankah akan mencelakakan rakyat jelata? - sahut Wigagu.

Mendengar kata-kata Wigagu yang berada diluar dugaan, Wira- santana tentu saja tidak puas. Tetapi murid-murid Sondong Lan- deyan besar pengaruhnya di wilayah lembah Gunung Lawu.

Padahal dia perlu memperoleh bantuan rakyat sekitar Gunung Lawu demi memperkuat dan memantapkan kedudukan raja baru. Maka perlulah ia bersabar hati. Terus saja dia tertawa terbahak- bahak.

Serunya: - Sondong Ladeyan memang seorang pendekar besar yang ber- hati mulia dan penuh cinta-kasih. Bahkan terhadap musuhnya- pun. Tak kusangka anak-muridnya demikian pula. Hanya saja, pa-da jaman perubahan ini, kuharap kalian bisa menyesuaikan diri. Mau tak mau, kita harus mengangkat senjata demi keadilan itu sendiri. Raja dulu hanya mengutamakan kesejahtraan hidupnya sendiri tanpa memperdulikan kemakmuran rakyat Di

mana-ma-na dia meninggalkan seorang anak yang dilahirkan dari berma-cam-macam ibu dari kalangan manapun Sekarang anak- anak itu sudah mengerti apa artinya kekuatan yang perlu kita lindungi. Bukankah begitu? -

- Bagus! - sambut Wigagu. - Kau berlagak melindungi kesejah- traan rakyat sampai perlu bantuan orang lain.

- Kau maksudkan dua tetamu kita ini? - Wirasantana menegas sambil menunjuk dua orang Cina yang berpakaian seragam militer pula. - Mereka justru termasuk keluarga raja. Merekalah kedua pa-man Sri Bagjnda. Dua orang yang berkepandaian tinggi Ahli da-lam hal menggunakan senjata maupun tangan kosong.

Kebal dari sekalian senjata dan sakti pula. Barangkali gempuran tangan ko-songnya bisa menggugurkan salah satu bukit di lereng gunung Lawu ini. -

- Kalau begitu, mereka mempunyai nama juga. - ejek Wigagu.

- Tentu saja. Mereka berperawakan hampir sama. Masing-ma- sing bernama Ching dan Chang. Saudara kembar yang terkenal sakti semenjak kau belum lahir. - ujar Wirasantana dengan suara ketus.

Wigagu tertawa. Berkata:

- Kau berbicara tentang guruku. Memang guruku bekas penga- wal Sri Baginda Amangkurat IV. Apakah sangkut-pautnya dengan raja sekarang? -

- Tentu saja ada. Raja sekarang adalah seorang putera almarhum Sri Baginda. Itulah sebabnya, aku wajib melanjutkan amanat almarhum Sri Baginda untuk melanggengkan dinastinya. -

- Lalu kau anggap apa Sri Baginda Paku Bhuwana II yang ter- paksa meninggalkan Ibu Kota? -

- Dia mengandalkan kekuatannya kepada Belanda. Nah, suruh- lah andalannya mencoba membantu merebut tahtanya kembali. - sahut Wirasantana dengan cepat dan tepat - Kalau mau dipikir da-lam-dalam, sebenarnya Sri Baginda sekarang yang lebih murni dan pantas menjadi junjungan kita daripada Sri Paku Bhuwana II Sri Baginda hanya dibantu sanak keluarga sendiri, Sebaliknya Sri Paku Bhuwana II bersandar pada kekuatan Kompeni Belanda. -

- O, jadi orang-orang Cina termasuk keluarga Sunan Kuning? - Wigagu menegas. - Ya. Memang begitulah sesungguhnya. - Wirasantana tidak ragu- ragu. Kemudian melanjutkan :

- Dari Jakarta mereka disiksa dan dianiaya Kompeni. Ribuan orang mati terbantai. Terpaksalah mereka mengungsi ke Jawa Tengah, Syukur di Jawa Tengah, pute-ra Sri Baginda Mangkurat IV berkenan mengulurkan tangaa Dan dengan semangat bahu- membahu, masyarakat kecil yang terpaksa melarikan din dipaksa pula untuk membangun permukiman baru. Bagus! Inilah sebabnya, maka kita terpaksa menggusur Sri Baginda Paku Bhuwana II turun dari tahta. Apakah sih keuntungannya mempertahankan seorang raja boneka Kompeni Belanda? -

(* Sunan Kuning dikabarkan salah seorang putera Mangkurat IV dari peteri Cina. Merupakan ulangan Sejarah Majapahit)

Mendengar kata-kata Wirasantana, mau tak mau Niken Angga-na tertarik pehatiannya. Pada tahun 1740 pecahlah perang Pacina di Betawi/Jakarta. Perkampungan Cina dibakar ludas. Pendudu- knya disiksa, ditawan dan dibantai. Yang selamat melarikan diri ke Jawa Tengah, mulai Cirebon sampai Lasem. Lalu memusatkan diri di Pekalongan dan mengangkatRaden Mas Gerundhi sebagai raja dengan gelar Sunan Kuning.

Tetapi Niken Anggana yang masih hijau tentu saja tidak mengerti latar belakang permasalahannya. la hanya tertarik pembicaraan Wirasantana sendiri sebagai salah seorang pengawal raja bawahan ayahnya dan mengenai kedudukan Sri Paku Bhuwana di mata orang-orang yang tidak senang pada tin-dak kebijaksanaannya. Teringatiah dia kepada keadaan ibunya. Ibunya sering duduk bermurung. Menyesali tingkah laku ayahnya dan kehidupan kalangan istana, dimana uang, kedudukan dan perempuan memegang peranan penting.

- Kabarnya ayah meninggalkan ibukota untuk mengawal Sri Baginda. - pikir Niken Anggana di dalam hati. - Bukankah suatu kesempatan baik bagi paman Wirasantana untuk menaikkan diri? Pasnlah dia diangkat raja baru sebagai pengganti kedudukan ayah.

Selagi berpikiran demikian, terdengar Wigagu berkata menegas :

- Jadi kalian datang mencari diriku agar membantu raja seka-rang untuk lebih memantapkan kedudukannya? -

- Tentunya berikut semua anggauta pendekar Sondong Lan- deyan. Bukankah engkau mempunyai beberapa paman-guru? -

- Jadi sekalian anggauta pertapaan kami? -

- Betul! - Wirasantana menyahut dengan semangat dan gembira.

- Termasuk Pitrang? -

- Pitrang, Pitrang... Pitrang? - Wirasantana mengerinyitkan dahinya. - Kau maksudkan Pitrang, putera kakang Sondong Lan- deyan? Tentu saja! Suruh bawa pedang Sanggabuwana pula! Bu- kankah pedang itu ada padanya? - - Hm. - Wigagu mendengus.

- Hm bagaimana? - Wirasantana tersinggung.

- Kau datang mencari diriku untuk urusan pedang itu, bukan? -

- Eh, nanti dulu! - Wirasantana gugup. - Dengarkan dulu! Hanya secara kebetulan aku bertemu denganmu di sini. Kudengar, engkau datang kemari untuk menemui Pitrang. Bukankah begitu?

- Wah, hebat benar pendengaran mata-matamu. -

- Dengarkan dulu! - Wirasantana khawatir salah ucap. - Dengan sebenarnya aku mengikuti dirimu semata-mata ingin bertemu de- ngan kemenakanmu itu. Pitrang putera seorang ahli pedang pada jamannya. Tentunya kini tumbuh pula menjadi seorang ahli pe- dang. Padajamanini, kukira hanya terdapat tiga orang ahli pedang. Haria Giri, Pitrang dan diriku. Dan tiap orang tahu, seorang ahli pedang memerlukan sebilah pedang yang sesuai.-

- Lalu kau ingin memiliki pedang Sanggabuwana itu? - Wigagu menimpali.

- Bukan begitu, bukan begitu! Aku hanya ingin menyatakan pendapatku sendiri. Siapa tahu, pedang mustika itu benar-benar akan dipersembahkan kepada orang yang tepat -

- Maksudmu untukmu? -

- Siapa lagi kalau bukan aku? - sahut Wirasantana tanpa meng- hiraukan sindiran Wigagu. Sebaliknya Wigagu mendongkol mendengar Jawaban Wira- santana. Orang ini tidak tahu malu, pikirnya. Tak terasa, Niken Anggana yang berdiri di ambang pintu kamamya, mengamat- amati wajah Wirasantana juga. Berbagai bayangan berkelebatan di de-pan matanya. Jelas sekali, orang itu besar angan- angannya. Atau mungkin lebih tepat dikatakan amat bernafsu dalam mengejar suatu kemuliaan yang didambakan. Biasanya orang semacam dia, ti-dak pedulian terhadap orang laia Kalau perlu dia mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri. Bukan mustahil pula, dia justru minta orang lain untuk berkorban baginya.

- Apakah bukan lebih tepat bila berada di tangan Haria Giri? - Wigagu hendak mejajagi hati Wirasantana sesungguhnya.

- Kenapa dia? - Wirasantana heran. - Bukankah bangsat itu justru musuh gurumu?

- Kau bilang apa? - Wigagu menegas.

- Dia bangsat! Mengapa? -

- Kau tadi berkata, Haria Giri seorang ahli pedang. - Wigagu me- ngingatkan.

- Bolehlah bolehlah dia seorang ahli pedang. Akan tetapi pada

saat ini dia minggat bersama majikannya. Bukankah seorang bangsat? -

- Kau sendiri bagaimana? - tiba-tiba terdengar suara orang menegor. Suara itu terdengar lembut Justru kelembutan itu sendiri yang menarik perhatian yang mendengar.

Seperti berjanji, mereka menoleh ke arah datangnya suara, temasuk Wigagu. Dan begitu meli-hat siapa yang berkata demikian, wajah Wigagu berubah. Sebab, dialah Niken Anggana yang tidak senang mendengar ayahnya di-katakan sebagai seorang bangsat Memang, setelah mendengar ayahnya sepak terjang ayahnya di jaman mudanya menurut tutur-kata Sukesi dan Wigagu, ia merasa kecewa. Namun betapapun juga, ayah tetap ayah.

Sukesi, Wigagu dan sekalian saudara sepergu-ruan Sondong Landeyan boleh mencela sepak-terjang ayahnya. Akan tetapi tidak berarti mengijinkan orang lain memaki ayahnya. Apalagi yang menyebut-nyebut ayahnya sebagai bangsat, malahan bawahan ayahnya sendiri.

Perwira Ching dan Chang yang nampak menjadi andalan Wira- santana, mengamati Niken Anggana. Menurut penglihatannya, pakaian yang dikenakan Anggana termasuk sederhana. Akan tetapi wajahnya cantik sekali dan peribadinya agung. Pandang mata-nya tajam, meskipun suaranya lembuL Tak usah dikatakan dia sedang marah Tetapi terhadap siapa? Dengan mata berkilat- kilat dia memandang semua orang yang berada di situ.

Sebaliknya, Wirasantana heran bercampur terperanjat Sebagai salah seorang bawahan Haria Giri, segera ia mengenal siapakah Niken Anggana. la sempat menyesali diri sendiri mengapa mulut- nya keceplosan menyebut ayahnya sebagai bangsat , Kenapa gadis itu berada di lembah Gunung Lawu? Jangan-jangan ayahnya berada di tempat itu pula. Bukankah Prabu Bhuwana II dilarikan ke Ja-waTimur melalui lembah Gunung Lawu? Hatinya jadi tidak keruwan-keruwan. Kaget, kecil hati dan merasa salah. Karena itu, tidak berani ia menanggapi ucapan Niken Anggana dengan sembarang-an. Justru demikian beberapa saat lamanya, suasana jadi sunyi.

- Kau siapa? - Wigagu berpura-pura menegur. Sebab di dalam hati, ia mencemaskan kehadirannya semenjak tadi.

- Ayahku tidak pernah salah kepadanya, apa sebab dia memaki ayahku sebagai bangsat? Ayahku meninggalkan Ibukota demi mengawal seorang raja yang diakui syah dan dijunjung tinggi oleh segenap rakyat yang dialamatkan kepada Wirasantana dan kawan-kawannya. - Justru kamu semua adalah sekumpulan orang rakus yang pantas disebut begitu. -

Yang mendengarkan ucapan Niken Anggana terperanjat sampai berjingkrak. Wigagu buru-buru berkata dengan berpura-pura lebih dungu:

- Sebentar, nona! Siapakah ayahmu? -

Diluar dugaan Niken Anggana menjawab dengan berani:

- Haria Giri itulah ayahku. - - Apa? - wajah Wigagu berubah. - Kau sendiri siapa? -

- Dengan sendirinya akulah putrinya. -

Wigagu jadi putus asa. Rasanya, tidak dapat lagi ia menutup- nutupi siapa sesungguhnya Niken Anggana. Gadis itu ternyata terlalu polos dan barangkali kurang dapat berpikir panjang oleh rasa ma-rah la jadi kebingungan sendiri. la kenal siapakah Wirasantana.

Wirasantana memang boleh disebut seorang ahli pedang yang tinggi kepandaiannya, Dalam keadaan terpaksa, rasanya masih da-pat ia menandingi. Akan tetapi pihak Wirasantana berjumlah ba-nyak. Diapun belum kenal kepandaian Ching dan Chang yang nampaknya disegani Wirasantana. Menimbang demikian, sekali lagi ia mencoba:

- Kau puteri Haria Giri? Kau memalsu diri sebagai puterinya. - Pasa saat itu, Wirasantana sudah dapat menguasai diri.

Seumpama Haria Giri memang berada tidak jauh dan tempatnya berada, dia masih mempunyai dua andalan nya. Itulah perwira Ching dan Qiang yang menjadi jago kepercayaan Sunan Kuning. Meskipun belum pernah ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ia masih membawa enam orang bawahan nya. Mustahil Haria Giri dapat mengalahkan pihaknya, walaupun seorang ahli pedang kenamaan. Maka dengan suara gegap gempita ia membentak : - Tangkap siluman ini! -

Niken Anggana tidak gentar. Memang selamanya ia tidak pernah gentar menghadapi segala macam marabahaya. Mungkin se-kali dia masih belum berpengalaman dan mengukur semua orang dengan bajunya sendiri. Maka dengan suaranya yang tetap lembut ia berkata :

- Paman Wirasantana! Tak pernah terlintas dalam benakku, bahwa paman sesungguhnya seekor ular berke pala dua.

Memang ayahku boleh salah. Yah, siapakah manusia di dunia ini yang tidak pernah salah? Akan tetapi satu hal, ayahku masih pantas dihargai. Dia tetap setia kepada Kerajaan dan Raja Sebaliknya, paman bagaimana?-

Ucapan Niken Anggana sebenarnya menggenggam dua maksud. Menyerang Wirasantana dan menyatakan sikapnya terhadap Wigagu. Sebagai seorang pendekar, Wigagu pasti dapat membedakan antara balas dendam dan budi kesetiaan.

Gurunya memang melepaskan jabatannya dengan alasan sendiri. Namun tidak pernah gurunya mengkhianati raja atau memusuhi. Malahan dalam hal-hal tertentu, gurunya bersedia membela pihak raja. Itulah tatkala bemaksud menjemput Ratu Sumarsa dan puteranya Pangeran Mangkunegara yang pulang dari Blitar.

Karena itu ia membungkam dan bersiaga membela Niken Anggana manakala Wirasantana dan kawan-kawannya hendak membuat susah. Apalagi terhadap peribadi gadis itu, ia berkesan baik. la sudah memutuskan tidak akan membawa-bawa gadis itu untuk mempertanggung-jawabkan kesalahan ayahnya terhadap gurunya.

Tidak demikianlah halnya Wirasantana. Ucapan Niken Anggana terlalu tajam dan sangat menusuk. Karena itu wajahnya jadi merah padam. Sekali lagi ia berteriak

- Tangkap! -

Salah seorang bawahannya dengan gesit melompa tmenerjang. Namun belum sempat tangannya menyentuh tubuh Niken Angga- na, tahu-tahu roboh menggabruk tanah. Wirasantana terperanjat Tak pernah terlintas dalam pikirannya, bahwa ilmu pedang Niken Anggana begitu cepat dan berbahaya.

Sebagai seorang ahli pedang, dapatlah ia menangkap gerakan tangan Niken Anggana yang dengan sekali tarik sudah dapat menghunus pedangnya berbareng menghantamkan hulunya ke betis penyerangnya. Dia hanya membuat penyerangnya roboh menggabruk tanah, akan tetapi jelas tidak bermaksud menghabisi jiwanya.

Menyaksikan gerakannya yang mantap, ia jadi curiga. Mustahil gadis itu berani melawan rombongannya, bila tidak ada sesuatu yang diandalkan. Terus saja ia membentak :

- Siapa yang berdiri di belakangmu? Apakah ayahmu? -Belum sempat Niken Anggana menjawab, seorang lagi melompat dengan penasaran. Niken Anggana sama sekali tidak takut, karena hatinya terbakar rasa marah. Pedangnya berkelebat dan tangan kirinya menghamburkan senjata bidiknya yang istimewa.

Serangan balik Niken Anggana itu, tentu saja mengejutkan yang menyerang. Dengan memekik terkejut, terpaksalah ia mengguling diri di atas tanah. Syukur, pada saat itu perwira Ching melesat maju dan menyapu semua senjata bidik Niken Anggana runtuh ke tanah. 

- Siluman! Kau terlalu kurangajar! - makinya.

Dan dengan tangan kosong, ia maju menyerang. Sekali lagi Ni- ken Anggana menggerakan pedangnya. Tahu-tahu kena terjepit dan ditarik ke bawah sehingga menancap di atas tanah. Dengan terkejut, buru-buru Niken Anggana menarik pedangnya dengan sekuat tenaga. Ternyata tenaga sakti perwira Ching sangat tinggi. Betapa ia mencoba menarik, pedangnya tetap tak bergeming.

- Siluman! Kau dengar tidak pertanyaan tuan ini? Hayo jawab, siapa andalanmu! - seru Ching dengan tertawa panjang.

Niken Anggana tidak menggubris ucapannya. Sekali lagi ia mengerahkan tenaganya. Namun benar-benar hebat jepitan tangan perwira Ching. la bahkan merasa ujung pedangnya menancap makin dalam .

- Kau menyerah atau tidak? Aku bisa membuatmu mati tidak,hiduppun tida ! - ancam perwira Ching. - Hayo bilang terus terang siapa yang menjadi andalanmu? Siapa yang menyuruhmu menyerang kami, ha? -

Niken Anggana tidak menjawab, karena ia merasa dipaksa. Biasanya seorang gadis yang pendiam dan halus budi-bahasa, tiba-tiba akan terbangun rasa harganya manakala merasa ditekan. Lantas saja dia bersikap engkuh. Dan selagi demikian, tiba-tiba terdengar seseorang menjawab dengan suara yang sangat berwibawa :

- Aku yang menyuruh! Kalian ingin tahu siapa andalan adikku? Inilah aku! -

- Kau siapa ? - bentak perwira Ching dan Chang hampir berbareng.

Seorang pemuda yang berpakaian rapih muncul dari seberang jalan Usianya kira-kira duapuluh tujuh tahun. Perawakannya ramping berisi. Wajahnya cerah tetapi tenang. Dengan langkah pasti, ia memasuki halaman kedai Pak Kliwon yang membuat selu-ruh pengunjung dan pemilik kedai dalam keadaan tegang mengi-kuti pembicaraan orang-orang berseragam laskar yang kelihatan hendak membuat susah pendekar Wigagu.

- Aku yang kau tanyakan. Akulah yang menyuruh adikku itu menyerang kamu sekalian. - jawab pemuda itu.

Tanpa merasa, jepitan tangan perwira Ching terhadap pedang Niken Anggana mengendor. Karena itu, Niken Anggana dapatme- narik pedangnya kembali dan segera disarungkannya. la terheran-heran mendengar ucapan pemuda itu. Dia mengaku

dirinya seba-gai adiknya. Sebenarnya siapa dia? Belum pernah ia melihat pemuda itu atau pernah mengenalnya. Selagi dalam keadaan demikian, terdengar Wigagu berseru:

- Pitrang! -

Memang pemuda itu adalah Pitrang putera pendekar Sondong Landeyan Kalau dia mengaku sebagai kakaknya Niken Anggana,tidak salah. Bukankah dia dilahirkan dari rakhim Sekar Mulatsih, ibu Niken Anggana juga? Hanya saja, kapan dia mengenal Niken Anggana? Apakah sesungguhnya diam-diam ia sudah melihat beradanya Niken Anggana di atas pondok ayahnya?

Begitu mendengar seruan Wigagu, wajah Wirasantana berubah. Lantas saja ia mengangkat tangannya memberi hormat Seru-nya menimbrung :

- Rekan Pitrang! Terimalah salam hormat kami. Angin apakah yang membawamu datang kemari? -

- Angin apa? - sahut Pitrang dengan suara tinggi. - Gunung Lawu adalah wilayahku. Hampir setiap hari aku berada di sekitar tempat ini. Itulah sebabnya, pamanku Wigagu berada pula di sini.

Mungkin sekali ia perlu bertemu denganku untuk mengabarkan sesuatu.- - Mengabarkan apa? - potong Wirasantana.

- Mengabarkan rombongan kecoak yang coba-coba menyebut dirinya sebagai kawanan pahlawan yang hendak mendirikan ke- kuasaan baru.-

Wajah Wirasantana berubah hebat Inilah suatu sindiran yang sangat tajam baginya. Teruskan saja membentak :

- Coba ulangi lagi!-

- Kawanan kecoak yang coba-coba menyebut dirinya sebagai kawanan pahlawan yang hendak mendirikan kekuasaan baru.- Kau bisa mendengar jelas atau tuli?- Sahut Pitrang dengan mengulum senyum.

Niken Anggana tercengang. Pikirnya, Pitrang terlalu berani dan pandai bergurau. Inilah untuk yang pertama kalinya ia mengenal dan melihat Pitrang, kakak seibu. Menilik sejarah hidupnya yang mengibakan hati, ia mengira Pitrang tentunya tumbuh menjadi seorang pemuda yang murung dan pendiam seperti ayahnya.

Ternyata tidak demikiaa Kesannya, ia bahkan pandai bergurau. Hanya saja, setiap patah katanya tajam dan mengenai sasaran yang di-kehendaki.

- Pitrang! Kau penghasut! Tahukah engkau apa hukumannya seorang penghasut? - bentak Wirasantana. - Penghasut? - Pitrang tercengang. - Aku berbicara perihal yang benar. Bukankah engkau bekas anggauta pengawal raja? Bahkan engkau termasuk salah seorang perwiranya. Kau diberi kedudukan dapat rejeki banyak. Kenapa kau melupakan budi rajamu?-

- Tentang itu... tentang itu... - Wirasantana menjawab sulit - Tentang itu adalah urusanku sendiri. Aku mempunyai alasanku sendiri.-

- Alasan ingin memperkaya diri sendiri sekaligus berangan-angan ingin menjadi patih, bukan?-

- Patih? Sama sekali tidak. Aku bekerja justru untuk menaikkan pamor ayahmu sendiri. - bantah Wirasantana. - Ayahmu seorang ahli pedang. Kepandaiannya berada di atas Haria Giri. Dengan licik, Haria Giri menggeser kedudukannya. Coba, seumpamaa yahmu tetap berada di istana, beliaulah yang menjadi komandanku. Aku tahu kecurangan itu, karena aku bawahan ayahmu sewaktu masih menjadi Bekel. (baca Kopral) -

- Jadi pengkhianatanmu ini kau maksudkan untuk menuntut kembali kehormatan ayahku?-

- Betul.-

- Bagus!- seru Pitrang dengan suara gembira. - Kau seorang pahlawan. Hanya saja pahlawan kesiangan. - - Kenapa begitu? - Wirasantana tak mengerti.

- Karena ayahku meletakan jabatannya atas kemauan sendiri. Dalam hal ini tiada yang memfitnahnya atau yang beranga-angan ingin menggantikan kedudukannya atau merebut jabatannya Sekiranya begitu, cegah dong semenjak dulu. - ujar Pitrang. Lalu menoleh kepada Wigagu. Katanya minta keterangan: - Paman!

Sebenarnya siapakah dia? -

*************

Wigagu yang semenjak tadi hanya bersikap mendengarkan, menyahut dengan nada setengah mengadu :

- Namanya Wirasantana. Aku sendiri baru pagi ini mengenal-nya. Menurut pengakuannya, dia dulu bawahan ayahmu. Sedang yang mendampingi itu mengaku bernama Ching dan Chang. Lain-nya belum sempat aku mengenal namanya.-

- Hm, bawahan ayah? -Pitrang mengulum senyum. Lalu ke-pada Wirasahtana : - Kalau begitu aku pantas memanggilmu paman.-

- Ya, ya, ya... tepat sekali! - Wirasantana terbahak-bahak dengan pandang mata berseri-seri.

- Belum pernah aku mengenalmu. Barangkali engkau begitu ju- ga. Akupun dilahirkan setelah ayahku meninggalkan kedudukan- nya. Maka sungguh mengherankan, engkau mengenal diriku.

Apakah bukan karena pedang Sanggabhuwana?- Tepat dan jitu sekali tebakan Pitrang. Memang, Pitrang dilahirkan di atas Gunung Lawu setelah Sondong Landeyan meletakkan jabatannya, Itu terjadi duapuluh tujuh tahun yang lalu. Bagaimana

\Virasantana mengingat-ingat nama Pitrang sebagai anak Sondong

Landeyan? Diapun mengaku berpangkat Kopral sewaktu Son- dong Landeyan masihmenjadi Komandan Pengawal Raja. Arti- nya, pada waktu itu setidak-tidaknya dia sudah berumur 17 tahun.

Menilik perawakan dan kesigapannya, umurnya kini belum mencapai empat puluh tahun. Benarkah dia dulu bawahan Sondong Landeyan? Jangan-jangan seorang perwira angkatan raja baru, be-gitulah pikir Pitrang. Terhadap Wigagu, dia bersikap sudah terlalu mengenal pula sebagai salah seorang murid Sondong Landeyan. Di dalam hati Pitrang, masih banyak yang perlu dipertanyakan.

Sebab Wigagu tadi menerangkan baru berkenalan pada pagi hari itu. Selain itu, hadirnya Ching dan Chang. Dua orang Cina itu lancar bahasanya Lidahnya sama sekali tidak cadel. Kedua orang ini belum jelas asal-usulnya, meskipun Wirasantana tadi sempat memberi keterangan kepada Wigagu siapa mereka berdua.

Memang, Pitrang sudah berada di sekitar tempat itu. Bahkan termasuk salah seorang pengunjung lepau Pak Kliwon sebelum Wigagu dan rombongan laskar Sunan Kuning datang. Begitu melihat pamannya Wigagu dikemmuni rombongan laskar Sunan Kuning dengan si-kap mengurung, segera ia menyembunyikan dir. Lalu muncul pada saat Niken Anggana hampir tidak berdaya menghadapi Ching. Dari serentetan pembicaraan antara Niken Anggana dan Wirasantana tahulah ia, bahwa Niken Anggana adalah adiknya lain ayah. Maka wajib ia melindunginya.

Sebaliknya Niken Anggana mengenal benar siapa Wirasantana. Orang itu benar-benar bawahan ayahnya. Kedudukannya sebagai salah seorang perwira kerajaan tidak diragukan lagi. Hanya saja, dia tidak bisa menjawab beradanya Wirasantana di atas dataran Gunung Lawu. Tadinya ia mengira sudah sering berhubungan,

ka-rena pembicaraan antara mereka berdua terdengar lancar. Tak ta-hunya, Wigagu mengaku kepada Pitrang baru saja berkenalan. Ha-tinya tercekat dan kepalanya penuh teka-teki. Niken Anggana masih hijau dalam pergaulan. Kehidupan antar pendekar baginya masih asing. Dalam hal ini perlu dijelaskan begini.

Wirasantana sebenarnya baru lima tahun menjadi abdi kerajaan. Dia seorang pendekar, murid Kyahi Wirabumi yang bermu-kim di Gunung Merapi. Pada jaman mudanya, dia benama Kama Dari gurunya ia mewarisi ilmu pedang Sada Lanang, suatu jenis ilmu pedang yang tiada keduanya pada jaman itu. Selama be-lasan tahun mengembara untuk menguji diri, belum pernah ia ter- kalahkan. Tetapi menurut tutur-kata gurunya, masih terdapat dua orang ahli pedang yang harus diperhitungkan. Itulah Sondong Landeyan dan Haria Gin. Gurunya belum pernah mengadu ke- pandaian melawan Haria Gin. Tetapi pernah bentrok dengan Son- dong Landeyan. la dikalahkan. Itulah sebabnya nama Sondong Landeyan terukir jelas dalam ingatannya.

- Sampai matipun aku akan penasavan terhadap Sondong Lan- deyan. - ujar Kyahi Wirabumi. - Padahal Ilmu Pedang Lanang da- tang dari negeri Arab. Pada jaman Jayariya, pahlawan Umarmaya pernah membuktikanketangguhannya, ribuanmusuh digugurkan dengan mudah. Tetapi di negeri ini, aku dikalahkan Sondong Lan- deyan. Mungkin akulah yang tidak becus. Maka kuharapkan engkau bisa mengangkat pamor leluhurmu. -

- Bagaimanakah kepandaian Sondong Landeyan bila diban- dingkan dengan Haria Gin? - Wirasantana alias Kanin minta kete- rangan.

- Kabarnya ilmu pedang Haria Giri setanding dengan Sondong Landeyan. Sayang belum pernah aku mengujinya. - ujar Kyahi Wirabumi dengan suara masghul. Lalu menerangkan dengan jelas siapakah Sondong Landeyan dan siapakah pula Haria Giri. Mereka berdua seumpama tangan kin dan kanannya Sri Baginda Amangkurat IV Pada hari tuanya mereka bentrok gara-gara paras cantik. Itulah Ibu Pitrang dan Niken Anggana.- Dengan begitu, kita tidak mempunyai kesempatan untuk menguji ilmu pedang Sada Lanang sekali lagi melawan ilmu pedang Sondong Landeyan. - Kyahi Wirabumi meneruskan.

- Akantetapi di jaman ini Haria Giri masih hidup. Kalau ada rejeki, kau bisa mencoba-coba menguji diri.- Dan dengan semangat itu, Kanin mulai memasuki Ibukota kerajaan. Kebetulan sekali, kerajaan sedang membutuhkan beberapa perwira pengawal yang dapat diandalkan, melalui suatu ujian berat Kanin segera mendaftarkan diri dengan angan-angan pada suatu saat akan dapat menguji ilmu pedang Haria Giri.

Karena berkepandaian tinggi ia lulus dan diterima menjadi salah seorang perwira yang dibutuhkan raja.

Diapun menerima anugerah nama dari raja. Itulah Wirasantana. Artinya seorang abdi berpangkat perwira atau bermakna seorang abdi yang gagah perkasa. Beberapa kali ia pernah melihat Haria Giri menggunakan pedangnya di hadapan perwira-perwira bawahannya. Biasanya diwaktu perwira sedang wajib berlatih.

Menyaksikan ilmu pedang Haria Giri, di dalam hati ia merasa tidak perlu kalah. Apalagi bila mempunyai sebatang pedang mustika yang tajam luar biasa. Andaikata ilmunya masih kalah juga karena kalah pengalaman, pedang mustika akan dapat me- nolong merebut kemenangan.

Hal ini terbukti selang tiga tahun kemudiaa Pada suatu kesempatan, raja ingin menyaksikan ilmu kepandaian para perwiranya. Seorang demi seorang dapat dirobohkan Haria Giri. Kemudian majulah ia dengan pedang pemberian gurunya. Empat puluh jurus lebih ia bertempur mengadu kepandaiannya.

Tatkala Haria Giri dipaksa untuk mengerahkan tenaga saktinya, pedangnya patah menjadi dua bagian. la dinyatakan kalah walaupun tidak kalah mutlak. Namun tak dapat ia berbuat banyak, karena Haria Giri adalah atasannya. Raja sendiri lebih mendengarkan kata-kata Haria Giri daripada bawahannya, terma- suk dirinya.

Maka semenjak itu dengan diam-diam ia berangan-angan memperoleh kesempatan untuk dapat meng gantikan kedudukan Haria Giri. Tetapi kesempatan itu tidak pernah ada. Maka perhatiannya kini beralih kepada upaya mencari sebilah pedang pusaka yang tajam luar biasa.

Manakala sudah mendapatkannya, ia akan menantang adu kepandaian lagi di hadapan raja. Dan sam-pailah di pendengarannya tentang kisah pedang pusaka Sangga-bhuwana.

Menurut kisah yang didengarnya, pedang Sanggabhu-wana mula-mula berada di tangan pendekar Sondong Landeyan. Lalu dibawa pergi oleh Sekar Mulatsih untuk dipersembahkan kepada Haria Giri. Tetapi tercuri oleh seorang pendekar setengah waras.

Menurut kabar, pedang Sanggabhuwana jatuh ke tangan putera Sondong Landeyao yang bernama Pitrang. Maka semenjak itu, nama Pitrang tak pernah terhapus dari ingatannya. (yang dimaksudkan seorang pendekar tidak waras: Ki Ageng Telaga Warih, paman guru Sondong Landeyan dan kemudian mengasuh Pitrang) Wirasantana agaknya sedang jaya-jayanya. Suatu peristiwayang tidak pernah terbayangkan, terjadi.

Kartasuradiserbu laskar Sunan Kuning. Raja Paku Buwana II dilarikan ke Jawa Timur. Pengawal peribadi yang memperoleh kepercayaan hanyalah Haria Giri. Sama sekali dirinya tidak disinggung-singgung, padahal ia merasa mampu mengimbangi kepandaian Haria Giri. Raja hanya mengharapkan dirinya dapat mempertahankan Ibukota. Hm, buatapa?-pikirnya. Dia sink, jelus dan dengki baik terhadap Haria Giri yang selalu bernasib baik maupun raja yang tidak memperhatikan angan-angannya. Terus saja ia menyambut kedatangan laskar Cina yang memasuki Kartasura dan memberi jalan dan petunjuk-petun-juk. Atas jasa-jasanya, ia diangkatmenjadi komandan Pengawal raja baru. Ha, inilahbaru seorang raja, pikirnya.

Seorang raja yang bisa membaca keadaan hatinya. Seorang raja yang bisa memberi ke-mungkinan-kemungkinan. Maka sebagai balas budi, ia ingin membuat jasa besar bagi rajanya yang baru. Dengan disertai perwira Ching dan Chang yang berkepandaian tinggi, ia memilih bebe-rapa perwira bawahan nya yang cukup dapat diandalkan untuk me-lacak Raja Paku Buwana II melintasi Gunung Lawu. Begitu tiba di atas dataran Gunung Lawu, teringatlah dia kepada rumah-pergu-ruan Sondong Landeyan yang menyimpan pedang pusaka Sangga-buwana.

Lantas saja dia membuat penyelidikan cermat Dua orang perwiranya yang dikirimkan untuk membuat penyelidikan, sempat menyaksikan pertempuran seru antara pihak perguruan Sondong Landeyan melawan anak-buah Cing Gng Goling. Dan mem- peroleh laporan itu, pengamatannya terhadap rumah perguruan Sondong Landeyan makin lengkap. Ternyata Sondong Landeyan mempunyai adik-perguruan berjumlah tujuh orang. Ha, kalau me- reka bisa ditarik ke pihaknya, bukankah akan bisa membuat hati raja senang? Demikianlah, ia menunggu pada saatnya yang tepat

Kebetulan sekali ia melihat Wigagu turun Gunung. Segera ia me- nguntitnya dengan rombongannya. Dan selanjutnya terjadilah pe- ristiwa itu.

Kembali kepada adegan sewaktu Wirasantana kena tegur Pi- trang perihal pedang Sanggabhuwana. Teguran itu tepat sekali. Te-tapi dengan tidak tahu malu, ia menjawab kedungu-dunguan. Ka-tanya:

- Ibarat seekor kuda balap, alangkah sayang bila hanya dikan- dangkan saja. Lagipula sudah menjadi keyakinan kita, bahwa pu- saka yang baik akan mencari majikan yang baik. Aku pernah me- ngadu kepandaian dengan Haria Giri lebih dari empatpuluh jurus. Meskipun Haria Giri Standing kepandaiannya dengan ayahmu, aku hanya kalah perkara pedang saja. Dia menggunakan pedang mustika, sedang pedangku hanya pantas sebagai penyembelih ker-bau.

"Coba aku bersenjata pedang Sanggabhuwana, dia bakal terjungkal habis sebelum dua puluh gebrakan selesai.-

-Bagus! Jadi engkau seorang ahli pedang? - ejek Pitrang. Merah padam wajah Wirasantana direndahkan demikian. Dengan suara setengah menggerung ia membentak : - Siapa yang tidak kenal Wirasantana? Selama hidupku belum pernah ilmu pedangku dikalahkan orang. -

Pitrang tertawa. Menyahut:

- Wirasantana! Jika engkau dapat mengalahkan aku dalam se- puluh gebrakan saja, aku akan mempersembahkan pedang Sanggabhuwana kepadamu.-

- Apa? - Wirasantana menegas seakan-akan tidak percaya kepa- da pendengarannya sendiri.

- Kalau aku tidak dapat merobohkan engkau dalam sepuluh ge- brakan, aku akan menyerahkan pedang Sanggabhuwana kepada-mu. Dengar? - Pitrang mengulangi tantangannya.

Semua orang yang mendengar ucapannya ternganga heran. Wi- gagu sendiri malahan terperanjat Apalagi Niken Angganayang su- dah mengenal ketangguhan Wirasantana. Kepandaian Wirasantana benar-benar hanya berada di bawah kepandaian ayahnya. Pitrang memang putera seorang pendekar besar. Tetapi benarkah ia akan dapat merobohkan Wirasantana hanya dalam sepuluh jurus saja?

- Bagus! - Wirasan'-uia menjawab cepat seolah-olah takut Pitrang akan merobah bunyi ucapannya. - Jadi hanya sepuluh gebrakan? Ucapanmu disaksikan oleh lebih dari sepuluh orang. Silah-kan kau hunus dulu pedangmu. Apakah engkau hendak menggu- nakan pedang pusaka Sanggabhuwana?- -Tak usahlah kau cemas tak keruan-keruan. - ujar Pitrang dengan suara tenang. - Aku tidak akan menggunakan pedang Sangga- bhuwana. Bahkan aku tidak mempunyai sebilah pedangpun.

Tunggulah barang sebentar. - Setelah berkata demikian ia meno- leh kepada Niken Anggana. Berkata dengan ramah: - Adik, boleh- kah aku meminjam pedangmu?-.

Teguran itu sangat menggembirakan hati Niken Anggana sam-pai dadanya terasa sesak. Akan tetapi ia ragu-ragu. Benarkah Pi- trang dapat merobohkan Wirasantana hanya dalam sepuluh jurus? Namun entah apa sebabnya, pandang mata Pitrang besar penga-ruhnya. Dengan berdiam diri ia maju mengangsurkan pedangnya. Dengan suara setengah berbisik ia berkata :

- Pedang ini tidak boleh disebut pedang pusaka. -

- Tak apalah. Pedang apapun juga akan dapat merobohkan ke- cuak itu dalam sepuluh gebrakan saja. Tolong, hitung jurusnya! - sahut Pitrang meyakinkan hati Niken Anggana sambil menerima angsuran pedang.

Bukan main merasa mendongkol Wirasantana. Selama hidup-nya baru kali itu ia dihina dan direndahkan orang. Keruan saja mu- kanya merah padam. Terus saja ia berkata mengangkat-angkat diri

- Kau bilang sepuluh gebrakan bisa merobohkan diriku, bukan? Bagus! Semua orang menjadi saksinya, engkau memilih cara mati-mu sendiri. Merekapun tadi sudah mendengar jelas, aku mempersilahkan dirimu menghunus pedangmu. Bahkan aku mengharapkan engkau menggunakan pedang Sangga bhuwana. Tetapi kau memilih pedang yang tidak bertuah. Aku sih lain. Lihat yang jelas ! Pedangku bernama Sada Lanang. Hmu pedangkupun bemama Sa-da Lanang pula. Karena pedangku pernah dipatahkan Haria Giri, aku memperoleh pedang pusaka ini langsung dari guruku. Dulu milik pendekar besar dan pahlawan besar negeri Arab. Umarmaya, namanya. Dengan Amir Hamzah, ia merobohkan semua ahli pedang seantero dunia. Dulu - 

- Sudahlah, jangan mengoceh seperti burung! - potong Pitrang. - Kau hunuslah pedangmu!-

Wirasantana geram di dalam hati. Namun sebagai seorang pen- dekar yang memang sudah berpengalaman, pandai ia menguasai diri. Dengan berlagak bersenyum ia menghunus pedangnya yang bernama Sada Lanang.

- Wirasantana, silahkan! - Pitrang melangkah ke tengah.

Sekalian hadirin menyibak membuat gelanggang adu kepandaian. Mereka berdiri di depan pengem pangan yang berada di se-berang-menyeberang jalan masuk halaman depan Kedai Pak Kli-woa Orang-orang yang berada dalam kedai Pak Kliwon berbutan berdiri di tengah pintu ikut menyaksikan apa yang bakal terjadi. Mereka tidak kenal siapakah Wirasantana dan Pitrang. Meskipun demikian hati mereka ikut tegang. Wigagu yang berpengalaman berdebar-debar hatinya tatkala mengamati wajah Wirasantana. Sebagai seorang pendekar yang berpengalaman tahulah ia, bahwa Wirasantana bermaksud mem- bunuh Pitrang. Ia percaya, Pitrang pasti dapat mengatasi, meski- pun kalau perlu melarikan diri. Akan tetapi bagaimana dengan rombongan Wirasantana? Apakah mereka akan membiarkan Pi- trang melarikan diri? Pastilah mereka akan berjaga-jaga sebelum- nya untuk menghadapi kemungkinan demikian.

- Kalau begitu, tak bisa aku tinggal diam. - pikir Wigagu.- Lalu bagaimana dengan Niken? Dia berada dipihakku atau mereka? -

Memang agak susah menebak keadaan hati Niken Anggana. Dengan rombongan Wirasantana, jelas sekali ia memusuhi. Seba-liknya terhadap warga padepokan Sondong Landeyan, Wigagu merasa belum jelas. Ayah Niken bermusuhan dengan gurunya. Akan tetapi Niken bersikap menurut terhadap dirinya dan Sukesi. Bahkan Niken Anggana merasa menjadi warganya. Mudah-mudahan begitulah sikap batinnya, Wigagu berdoa di dalam hati.Sebab sesungguhnya ia berkesan baik terhadap gadis

itu. Selain lemah-lembut mempunyai bakat terpendam. Bila dibina dengan baik, ia di kemudian had bisa menjadi seorang pendekar wanita berkepan-daian tinggi.

Tatkala itu Wirasantana dan Pitrang sudah berdiri berhadapan Pitrang membolang-balingkan pedang Niken Anggana seakan- akan sedang menimbang-nimbang berat dan ringannya. Lalu berkata kepada Niken Anggana : - Adik, kau tolong aku menghitung jumlah gebrakanku! -

Wirasantana mendongkol bukan main. Haria Giri sendiri tidakkan berani merendahkan demikian meskipun berada di depan raja.

Karena rasa kehormatannya benar-benar diludaskan, tidak lagi ia perlu bersikap berpura-pura manis. Pada detik itu pula timbul-lah tekatnya. Andaikata Pitrang menggunakan pedang Sanggabhu- wana, tiada alasan baginya untuk merasa takut Terus saja ia meng-gerakkan pedangnya dengan suatu serangan yang mematikaa He-battenaga saktinya. Terdengar suara mendengung bergetaran memekakkan telinga.

Baik Wigagu maupun Niken Anggana berdenyut hatinya. Wira- santana tidak hanya pandai mengoceh, akan tetapi ilmu pedangnya sesungguhnya tinggi pula. Pantas ia disebut-sebut wakil ayah, pikir Niken Anggana di dalam hati. Kiranya ilmu pedangnya boleh dian-dalkan. Diluar dugaan, pada saat itu ia mendengar suara Pitrang setengah menggurui setengah mentertawakan :

- Ah, kukira hebat! Ternyata hanya kulitnya saja, tetapi isinya kosong. -

Sama sekali Pitrang tidak menggerakan kedua kakinya untuk mengelak atau untuk membuat garis pertahanan. la hanya menggeserkan tubuhnya, sehingga tusukan pedang Wirasantana menembus udara kosong. Dan pada detik itu pula, tangannya diangkat dan menikam ke depan menyambar wajah Wirasantana yang mendekat Sedikit saja gerakan tangannya, namun membawa suara nyaring melengking.

Wirasantana terkejut bukan main. Serangan balasan ini sama sekali tidak diduganya. Buru-buru ia melompat mundur dan untuk pertama kali itu ia merasakan hebatnya ilmu pedang Pitrang.

Apakah ini ilmu pedang warisan ayahnya, ia berteka-teki. Pantas guru kalah mengadu kepandaian melawan Sondong Landeyan.

-Adik! Hitung saja, itulah gebrakanyang pertama ! - seru Pitrang dengan suara lembut

Mendengar suara Pitrang yang berkesan lembut terhadap Niken Anggana, hati Wigagu terhibur. la yakin antara kedua insan itu tidak tertanam rasa permusuhan apapun. Bahkan mereka berdua saling mendekat dan saling mengenal sikap batinnya masing- masing.

Sementara itu, Wirasantana yang terpaksa meloncat mundur sudah memperbaiki diri. Lalu menyerang lagi dengan gerakan pe- dang yang aneh dan berbahaya. Namun lagi-lagi ia terpaksa mundur. Belum sempat ia mengadakan serangan balasan, tibalah pedang Pitrang merecoki dirinya. Mau tak mau ia terpaksa mengelak untuk yang ketiga kalinya.

- Tiga! - seru Niken Anggana menghitung jumlah gebrakan.

Apapun kata orang, sesungguhnya Wirasantana murid seorang guru sakti pada jamannya. Tidak mudah seseorang merobohkan- nya. Pada gebrakan ketiga setelah memperbaiki diri ia mencoba mengadakan balasan. Kali Pitrang tidak berani mernandangnya ringan. Meskipun sama sekali ia tidak beralih tempat, namun wajahnya kelihatan jadi sungguh-sungguh. Tidak lagi membawa senyuman lebar.

Dengan sedikit mengerutkan keningnya, pedangnya di-angkat Kemudian dengan punggung pedang ia mengetok gagang pedang Wirasantana. Hebat tenaga saktinya. Tiba-tiba saja telapak tangan Wirasan tana tergetar dan pedangnya terpental. Syukur masih dapat ia menyambarnya kembali sehingga tidak perlu runtuh ke tanah. Walaupun demikian keringat dingin membasahi pung-gungnya.

- Kali ini boleh juga. - ujar Pitrang sambil tertawa. - Meskipun rapat, penjagaannya masih dapat lowongan. Bolehlah disebut jurus yang istimewa. Akan tetapi belum bisa diandalkan. Kau tidak percaya? Terimalah tiga jurusku! Kau bisa atau tidak mengelakkan serangan balasanku -

Waktu itu Niken Anggana sudah menghitung lima gebrakan. Sekarang Pitrang hendak melancarkan tiga jurus serangan balasan. Berarti sudah sampai pada hitungan ke delapan. Namun ternyata Pitrang tidak segera melancarkan serangan. Pemuda itu berkata menggurui lagi:

- Ayahku memang lucu. Ketiga jurus seranganku ini dinamakan Kucuak Banci. Lucu, bukan? Terdiri dari Jurus Memecahkan perhatian lawan. Lalu disambung dengan jurus Memukul Tambur Majapahit Gerakan pedangku akan mengarah pundak kiri dan kanan, lalu menembus tenggorokan. Dan yang ketiga dinamakan Jurus Bunga Rampai. Pedangku akan langsung menikam dadamu.-

Setelah berkata demikian, barulah Pitrang mulai menggerakan pedangnya. Sikapnya tak ubah seorang guru mengajari muridnya. Diperlakukan demikian, hati Wirasantana bertambah mendongkol. Untung, ia sudah mendengarkan keterangan Pitrang kemana arah bidikan lawannya. Terus saja ia mengarahkan seluruh tenaga saktinya untuk menghalau ketiga serangan Pitrang yang beruntun.

Pada jurus yang ketiga, Wirasantana bersedia mengadu jiwa. Ia menghantam pedangnya dengan niat bersama-sama rugi. Kali ini ia menggunakan Ilmu Guntur Sejuta, Itulah ilmu sakti pengerahan seluruh kebisaan kodrat manusia, yang sudah terkenal semenjak jaman pra Majapahit Ilmu saktinya demikian baru digunakan orang dalam keadaan terpojok. Tenaga saktinya akan bertambah dua kali lipat Tetapi akibatnya, ia bakal runyam. Sebab sekali gagal, ia tidak akan dapat berbuat apapun manakala lawan tiba- tiba menyerang balik.

Niken Anggana menghitung terus dengan suara setengah gemetaran:

- Enam, tujuh, delapan! Ah, sayang! Coba kakang Pitrang tidak menyebutkan gerakan pedangnya terlebih dahulu, pastilah Wira- santana sudah tertikam telak. Sekarang tinggal dua gebrakan lagi. Kalau Wirasantana nekat, kakang Pitrang mungkin tidak mungkin dapat merobohkannya dalam sepuluh gebrakan.-

Selagi Niken Anggana berkata demikian didalam hatinya, mendadak saja ia menyaksikan suatu peristi wa yang aneh. la terkejut karena tiba-tiba dirinya tergempur suatu tenaga yang luar biasa kuatnya. Pada detik berikutnya, ia melihat bayangan tubuh manusia terbang di atas kepalanya dan tercebur di dalam kola.

Byur! Permukaan air muncrat tinggi membasahi sebagian pakaiannya. Hai, apa yang sudah terjadi?

Wirasantana sudah mengerahkan seluruh himpunan tenaga saktinya dengan Ilmu Guntur Sejuta. la tidak ragu-ragu lagi untuk mengerahkan seluruh tenaga saktinya demi menolong kehormatannya. Lagipula Pitrang semenjak tadi tidak beralih dan tempat-nya. Berarti akan memudahkan menghantam sasaran.

Tetapi di-luar dugaan, tiba-tiba tubuh Pitrang tidak kelihatan. Celaka tiba-tiba Pitrang sudah berpindah tempat dengan suatu kecepatan yang sulit diceritakan. Pukulannya menghantam udara kosong. Tahu-tahu tubuhnya terangkat naik dan terlempar ke dalam kolam ikan:

Pitrang tertawa. Berkata kepada Niken Anggana :

- Jurus ke berapa tadi?- - Jurus ke sembilan. - sahut Niken Anggana sambil melepaskan nafas lega. Sungguh! Tidak menyangka Pitrang dapat merobohkan lawan hanya dalam sembilan gebrakan saja.

Sementara itu Pitrang menghampiri kolam sambil berkata :

- Wirasantana, dengarkanlah kata-kataku! Semenjak hari ini, kularang engkau berangan-angan akan memperoleh pedang Sanggabhuwana. Kaupun jangan sekali-kali berani merasa diri seorang ahli pedang. -

Perwira Ching (selanjutnya kita sebut Jenderal Ching) terkejut bukan main menyaksikan apa yang sudah terjadi sampai tubuhnya terasa dingin. Walaupun demikian ia masuk ke gelanggang sambil berseru :

- Mari! Ingin aku mengenal ilmu pedangmu! Apakah itu Ilmu Pedang Sondong Landeyan? -

- Kau siapa? - Pitrang menoleh. - Kau Cina dari mana? Lidahmu tidak cadel.-

- Tidak usah omong banyak. Awas! - potong Jenderal Ching.

- Kau ingin mencoba? Gunakan pedang pula!-

- Tak usah!-

Ching terlalu percaya kepada kekuatan diri sendiri. Ia tadi dapat menjepit pedang itu pula di tangan Niken Anggana dengan mudak Masakan kali ini gagal? Terus saja kedua tangannya menyambar dengan jurus yang sama, akan tetapi dengan disertai tenaga sakti sembilan bagian. Jenderal Ching kakak-adik Jenderal Chang yang berada di ge- langgang itu pula. Mereka berdua saudara kembar yang terkenal tangguh dan sakti. Itulan sebabnya mereka berdua menjadi kepercayaan raja sebagai Komandan pengawal peribadi.

Pangkatnya tinggi pula dan memiliki kekuasaan penuh untuk bertindak dalam segala bidang.

Dibandingkan dengan Wirasantana yang kini menjadi Komandan Pengawal Istana, kekuasaannya menang setingkat . Tidak mengherankan, ia bersikap tinggi hati, Namun kali ini ia ba-kal menumbuk batu. Dengan tertawa, Pitrang berkata :

- Bagus! Inilah narnanya yang tua membela yang muda. Sama- sama kecoak bau. -

Setelah berkata demikian, Pitrang membalikkan badanya dan maju memasuki gelanggang. Jenderal Ching mengira, Pitrang hendak menyingkirkan diri. Terus saja ia melompat menyambar pedang Pitrang. Diluar dugaan Pitrang bahkan membiarkan pedangnya kena jepit sambil berkata mengulang :

- Sudah kukatakan, gunakan pedang pula! -

Niken Anggana tidak mengerti apa maksud ucapan Pitrang.

Tahu-tahu Jenderal Ching terangkat tinggi dan terlempar tercebur di dalam kolam. Apakah tenaga sakti Pitrang jauh lebih tinggi daripada tenaga sakti Jenderal Ching? Sebenarnya tidak demikian. Jenderal Ching terlalu memandang ringan Pitrang. Itupun mengandung maksud. Ia belum pernah mengadu kepandaian dengan Wirasantana yang kini diangkat menjadi Komandan Pengawal Istana oleh rajanya. Bila dia kini dapat merobohkan Pitrang seperti yang dilakukan tadi terhadap Niken Anggana, Wirasantana tidak akan berani berlagak terhadap dirinya.

Dengan begitu, ia bermaksud mentaklukkan komandan baru itu secara tidak langsung. Justru demikian merupakan pantangan besar bagi seseorang yang sedahg menghadapi seorang pendekar berkepandaian tinggi. Sedikit saja terdapat suatu kelemahan, lawan akan dapat menggunakannya. la berani berlagak congkak. Justru demikian, ia menerima akibatnya.

Waktu itu, Wirasantana sudah merayap ke tebing empang. Pakaiannya basah kuyup. la berbalik menghampiri Jenderal Ching yang jadi atasannya sambil mengangsurkan pedangnya.

- Pakailah pedangku! - serunya.

Wirasantana masih menggenggam pedangnya erat-erat dalam tangannya. Itu suatu bukti, bahwa ilmunya tinggi. Seseorangyang kena dipentalkan lawan sampai tercebur di dalam kolam, akan terpental pula pedangnya dari genggamannya. Ternyata dia tidak demikian. Pedangnya masih tetap utuh dan sama sekali tidak terlepas dari genggaman tangannya.

Jenderal Ching merayap ke tepi kolam lalu melompat ke luar dengan menyeringai. la merasa benar-benar terjungkal habis- habisan. Tadinya ia menganggap derajatnya lebih tinggi daripada Pitrang.

Kecuali pangkatnya, usianya mungkin tidak terpaut jauh dengan ayah Pitrang. Ilmu kepandaiannyapun sudah mencapai puncaknya. Masakah bisa terjungkal hanya dalam satu gebrakan? Apapun alasannya, kenyataannya demikian. Maka mau tak mau terpaksa ia menerima angsuran pedang Wirasantana.

- Nah, apa kataku? Gunakan pedang! - ujar Pitrang,

Jenderal Ching memperbaiki bajunya yang basah kuyup. Hatinya mendongkol bukan main. Tatkala mengawaskan Pitrang, hatinya tercekat Sebab Pitrang justru mengembalikan pedang pinjamannya kepada Niken Anggana. Kemudian ia memotes dua batang dahan yang tumbuh di halaman depan kedai Pak Khwon.

- Hai, apa maksudmu? - ia membentak. Pitrang tertawa. Sahutnya:

- Menghadapi seorang Jenderal aku haruss bersikap lain. Tak pantas aku melawanmu hanya dengan menggunakan sebilah pe- dang. Karena di sini tiada yang membawa pedang lagi, maka aku menggunakan dua batang kayu ini seumpama dua pedang kembar. - dan setelah berkata demikian, ia maju memasuki gelanggang dan siap tempur.

- Hm ... - Jenderal Ching mendengus. - Kau atasan Wirasantana. Aku yakin, karena tentunya kau lebih dekat dengan rajamu daripada Wirasantana. Karena orang itu perwira pelarian. - ujar Pitrang dengan tertawa lebar. - Atau katakan yang lebih tegas. Dialah sisa-sisa laskar Kartaswu yang sedang mencari majikan baru. Agaknya perlu mencari muka dulu.

-

Wirasantana yang sudah berdiri di tepi kolam, menundukkan kepalanya. Tidak dapat lagi ia mengumbar suaranya, karena jelas sekali dirinya bukan lawan Pitrang.

Sebaliknya, Jenderal Ching bersikap membungkam. la sudah merasakan betapa hebat ilmu kepandaian Pitrang. Dengan sekali gempur, ia terlempar dalam kolam. Semua orang menyaksikan hal itu.

Sebaliknya tak dapat pula ia bersikap kalah. Maka dengan setengah menggerung ia melompat maju menikam pedangnya.

- Bocah tak tahu diri. Rasakan pedangku! - bentaknya.

- Bagus! - seru Pitrang dengan menyambut serangan Jenderal Ching.- Tikamanmu jauh lebih baik daripada Wirasantana. Paling tidak kepandaianmu setingkat lebih tinggi.-

Entah ucapannya memuji atau menyindir, hanya Pitrang yang tahu. Tetapi pada saat itu, kedua pedang nya mulai bergerak. Gerakan kedua tangannya berirama dan membawa kesiur angin. Menyaksikan gerakan kedua pedang kayu Pitrang, Jenderal Ching terperanjat Beberapa detik, ia merasa kehilangan akaL Tak tahu ia harus berbuat apa. Kalau membabat pedang kayu itu, iga sebelah kiri bisa tertusuk pedang kayu satunya. Sebaliknya bila melanjutkan tikamannya, ia bakal terancam pedang kayu sebelah kanan. Maka satu-satunya jalan hanya melompat mundur sambil membabatkan pedangnya.

Tentu saja dapat ia membela diri dengan baik daripada melanjutkan serangannya yang belum tentu berhasil.

- Jenderal Ching! - seru Pitrang dengan tertawa. - Dengan satu gebrakan saja, tahulah aku. Ilmu pedangmu benar-benar lebih tinggi satu tingkat daripada ilmu pedang Wirasantana.-

- Dan kau sendiri? - Jenderal Ching mendongkol. - Hm, tentunya tujuh tingkat lebih tinggi, bukan? -

- Pukulanmu lebih mantap. - sahut Pitrang tidak menghiraukan ejekan lawaa - Berarti engkau sudah mengetahui rahasianya ilmu pedang. Hanya saja, seumpama orang bertamu engkau baru sampai di pendapa. Belum masuk ke dalam ruangannya Apalagi bagian ruang dalam sampai ke ruang belakang nya. Walaupun begitu, dengan berbekal kepandaian begini tinggi, sebenarnya tidak perlu engkau berhamba kepada seorang majikan manapun juga. -

- Kau mau mengadu domba, ya? - potong Jenderal Ching dengan suara sengit Akan tetapi di dalam hatinya ia girang mendengar Pitrang memuji kepandaiannya. Memang bila dibandingkan dengan ilmu pedang Wirasantana, ia merasa emoh kalah. Ternyata ucapan Pitrang memenuhi harapannya. Tetapi tiba-tiba Pitrang berkata lagi:

- Dengan terus terang kukatakan, ilmu pedangmu kini baru setengah matang. Lebih baik kau mengundurkan diri dulu dari percaturan orang. Dalamilah ilmu pedangmu ini. Sungguh! Di kemudian hari lebih banyak gunanya daripada kau nekat -

Ucapan Pitrang kali ini hampir-hampir meledakkan dadanya. Sebisa-bisanya ia mengendalikan diri. Sebagai seorang jago, ia sadar benar apa akibatnya bila bertempur hanya menuruti perasaan nya yang mendongkol. Maka dengan waspada ia mengikuti gerakan kedua kayu lawan. Lalu mengadakan serangan balik sambil bertahan.

Sebentar saja tigapuluh gebrakan telah lewat Hal ini membuktikan, bahwa sebentar tadi ia berlaku semberono hingga bisa tercebur di dalam kolam dalam satu gebrakan saja.

Sebaliknya, gerakan kedua pedang kayu Pitrang makin lama makin lincah. Kemana arah serangannya sukar diduga. la seperti tengah bermain-main. Namun setiap gerakannya membawa angin kesiur. Jenderal Ching sadar akan akibatnya. Kalau sampai kena towel sedikit saja, dirinya akan lumpuh selama hidupnya.

Pedang Wirasantana yang berada di tangannya berukuran cu-kup panjang. Dengan menggunakan keuntungan itu, ia mengadakan perlawanan. Meskipun demikian, masih saja ia merasa kuwalahan. la hanya dapat menangkis atau menghalau. Untuk mengadakan serangan balik, jangan harap. Bahkan lingkaran gerakan pedangnya makin lama makin terdesak meringkas. Tidak lama kemudian malahan kehilangan daerah geraknya. Lambat tetapi pasti, ia merasa terpengaruh.

Menyaksikan kepandaian Pitrang, Niken Anggana seperti tersadar dari mimpinya. Sebagai puteri seorang ahli pedang, sebenar-nya sedikit banyak ia pernah memperoleh petunjuk- petunjuk dari ayahnya. Sekarang tahulah ia, apa makna keseimbangan pengerahan tenaga sakti. Biasanya dua bilah pedang dilakukan oleh dua orang. Tidak peduli sepasang pria dan wanita atau sepasang pria serumah-perguruan. Tetapi nyatanya Pitrang dapat memainkannya dengan mahir sekali. Apakah ilmu pedang Sondong Landeyan memang demikian? Tentu saja Niken Anggana tidak dapat menjawab dengan pasti.

Duapuluh gebrakan berlangsung dengan cepat Kali ini, Jenderal Ching benar-benar merasa mati kutu. Nafasnya memburu, sehingga terdengar jelas oleh seluruh hadirin, Sementara itu semenjak tadi, Wirasantana mengikuti pertempuran mereka berdua dengan seksama. Sebagai seorang ahli pedang pula, tahulah ia betapa Jenderal Ching mulai tidak dapat berkutik.

Kalau mau, Pitrang bisa merobohkan dalam dua gebrakan lagi. Memperoleh pikiran demikian, dengan cepat ia menyambar pedang salah seorang bawahannya. Lalu melompat memasuki gelanggang seraya berseru : - Tangkap! Apalagi yang kalian tunggu?-

Mendengar seruan Wirasantana, perwira Chang tersadar. Segera ia memberi aba-aba anak-buahnya untuk mengepung Pitrang.

Jenderal Ching sendiri segera mengambil kedudukan. Dengan begitu Pitrang kini dikepung Jenderal Ching, Chang dan Wirasantana beserta sekalian laskarnya yang terdiri kurang lebih duapuluh satu orang. Sebab dari seberang jalan tiba-tiba belasan laskar mun-ul dengan membawa senjatanya masing-masing.

Ternyata mereka disembunyikan di seberang jalan tatkala pemimpinnya sedang memasuki kedai Pak Kliwon.

Menyaksikan hal itu, Wigagu dan Niken Anggana merasa tidak puas. Segera mereka berdua meraba hulu pedangnya. Tekadnya sudah bulat Bila laskar itu berani maju memasuki gelanggang me- reka berdua akan mendahului menyerangv Akan tetapi Pitrang sendiri kelihatan tenang-tenang saja. Sama sekali ia tidak gugup atau merasa gentar. Sambil mengeperiki baju dan celananya de- ngan dua bilah pedang kayunya, ia berkata :

- Jenderal Ching, Chang dan Wirasantana! Sudah lama aku bertanya-tanya di dalam hati, apa sebab kalian bisa memasuki Ibukota Kartasura. Ternyata kini sudah kuperoleh jawabannya, Itulah berkat jasa cecurut Wirasantana. Rupanya kalianpun bisa merampok bersama-sama. Baiklah kalian boleh maju berbareng. Hanya saja kali ini terpaksa aku melakukan pembunuhan. - setelah berkata demikian ia berpaling kepada Wigagu Serunya: - Paman! Kau bawa adikku pergi meninggalkan tempat ini. Kurasa tidak ada gunanya menyaksikan pertempuran kotor ini. Hai adik, pergilah bersama paman. Tunggulah aku di padepokan. Aku perlu berbicara denganmu. Kalau masih ada waktu, engkau bisa memperdalam ilmu pedangmu. Paman Wigagu dan bibi Sukesi akan berkenan memberimu petunjuk-petunjuk. Akupun bisa ikut membantu.-

Baik Wigagu maupun Niken Anggana merasa serba salah. Sebenarnya mereka ingin ikut bertempur mengadu jiwa. Akan tetapi Pitrang, malahan menyuruh mereka cepat-cepat meninggalkan gelanggang pertempuran. Mereka yakin tentunya Pitrang mempunyai alasan Maka dengan terpaksa Wigagu menjawab :

- Kau jagalah dirimu! Aku akan membawa adikmu pergi.-

Pada kesempatan itu pula, Niken Anggana berkata dengan suaranya yang lembut:

- Kakang, aku akan menunggu di padepokan.-

Pitrang mengangguk dengan manis. Wigagu dan Niken Anggana kemudian menghunus pedangnya dan maju dengan menjaga diri. Pitrang tertawa. Serunya :

- Kalian saja senjatamu! Kedua pedang kalian akan mengganggu barisan pedangnya. - Pitrang percaya, Wigagu dan Niken Anggana tidak akan digang- gu laskar yang sedang mengepung dirinya sebelum diberi aba- aba pemimpinnya. Baik Wirasantana maupun Jenderal Ching dan Chang sedang memusatkan perhatiannya kepadanya. Mereka sudah menyaksikan kepandaiannya. Tentunya tidak berani sembro-no sedikitpun. Merekapun tidak mau terpecab perhatiannya Dan akan membiarkan Wigagu dan Niken Anggana pergi meninggalkan gelanggang.

Perhitungannya ternyata tepat Dengan aman Niken Anggana dan Wigagu ke luar halaman Pak Kliwon tanpa terganggu sedikitpun. Barangkali andaikata mereka berdua menggaplok sekalian laskar, tidakkan juga berani membalas. Mereka khawatir Pitrang akan turun tangan selagi mereka sibuk membalas gaplokan Wigagu dan Niken Anggana.

Pitrang sebenarnya tahu kekuatan lawan. Meskipun tidak takut, akan tetapi membutuhkan pemusatan pikiran. la tidak mau terpecah perhatiannya dengan kehadiran Niken Anggana dan Wigagu. Maka ia menyuruh pamannya dan Niken Anggana meninggalkan tempat. Wigagu yang berpengalaman rupanya dapat membaca maksud kemenakannya. Maka begitu ke luar halaman Pak Kli-won, terus saja membawa Niken Anggana mengarah ke padepokan secepat-cepatnya.

- Paman! Apakah kakang bisa mengatasi serbuan mereka? - Ni- ken Anggana minta keyakinan.

Wigagu tersenyum. Sahutnya : - Tak usah cemas! Kepandaian kakakmu cukup untuk memecahkan barisan mereka. Andaikata terdesakpun, kepandaiannya lebih dari cukup untuk dibuat menolong diri. -

Jawaban itu menenteramkan hati Niken Anggana. Tatkala ia menghilang di balik tikungan, mulailah terdengar suara hiruk pi- kuk dan bentakan-bentakan. Itulah suatu tanda, pertempuran mati hidup dimulai. Tidak lama kemudian disusul suara logam jatuh bergelontangan. Tentunya pedang lawan-lawan Pitrang. Sebab Pitrang sendiri hanya menggunakan dua bilah pedang kayu.

22. SERBUAN LASKAR MADURA

Entah sudah berapa lamanya Gemak Ideran kehilangan kesadarannya, hanya waktu itu sendiri yang tahu. Tatkala ia menyenak-kan mata, ia mendengar beberapa orang sedang bertengkar di se-berangnya. Itulah suatu lembah yang teraling pagar dinding gu-nung. Mungkin sekali diseberang dinding gunung, terdapat jalan lalu-lintas atau sebuah lapangan terbuka. Bukan mustahil pula se-buah perkampungan. Sebab suara orang yang berbicara terdengar banyak.

- Nona! Ini perbekalan untuk perang. Mengapa nona ingin merampasnya? - terdengar suara seorang laki-laki yang bernada kaku. Dengan sekali mendengar tahulah Gemak Ideran, yang berbicara berasal dari Madura.

Diam-diam ia heran, apa sebab orang itu berbicara perkara perang. Apakah dia salah seorang laskar dari Madura? Dan rasa herannya tersentak oleh rasa terkejut sewaktu mendengar suara seorang gadis yang sangat dikenalnya.

- Itu tergantung kemauanku. - sahut seorang gadis dengan suara ketus. - Kalau aku mau merampas barangmu, siapa yang berani menentangku? -

Hai, pikir Gemak Ideran di dalam hati. Itulah suara Sekar Ra- wayani. Mengapa dia berada pula di sini? Apakah selama in! dia menguntitnya dengan diam-diam? Terdorong oleh rasa ingin tahu, ia bermaksud berbangkit. Namun tenaga tiada lagi, sehingga ia ro-boh kembali.

- Ih, tenagaku! Celaka! Apakah aku bakal cacatuntuk selama-la- manya? - ia khawatir bukan kepalang. Tetapi dengan menguatkan hati, ia mencoba beringsut menghampiri tepi tebing.

Sementara itu, orang yang menegur Rawayani berkata lagi:

- Nona! Sungguh mati! Isi peti ini bukan harta dan bukan uang pula. Tetapi obat-obatan. Nona pasti tahu, gunanya untuk meno- long orang banyak. Andaikata nona rampas, tiada berguna banyak bagi nona. -

Rupanya Rawayani tidak menghiraukan kata-kata orang itu. Dengan ketus ia memberi perintah :

- Buka semua peti! Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri. - - Apakah perbuatan nona akan merusak semua obat-obatan? Menurut perintah obat-obatan ini jangan sampai kenaangin. Kare- na itu harus ditutup dengan rapat-

- Aku bilang, bukan semua peti! - terdengar suara Rawayani se- tengah mengancam.

Mendengar suara Rawayani, Jantung Gemak Ideran berdebar- debar. la mengenal watak dan perangai Rawayani. Apa yang dike-hendaki harus terlaksana. Benar saja, tidak lama kemudian terdengar suara pletuk-pletuk. Pastilah peti-peti itu dibukanya dengan paksa.

Sewaktu Gemak Ideran berhasil meneapai tebing, ia melongok ke bawah. Peti-peti obat-obatan sudah terbuka. Belasan orang Ma- dura yang berpakaian hitam lekam berdiri mematung. Pastilah

aki-bat perbuatan Rawayani. Dengan dibukanya peti-peti itu, isinya ja-di berhamburan. Rawayani rupanya tidak mempedulikan semua-nya itu. Dengan kedua tangannya ia mengaduk-aduk dan terlihat-lah lempengan emas membersitkan warnanya yang kuning.

- Hayo, mau berkata apa lagi? - Rawayani setengah tertawa.

-Bukankah ini termasuk harta benda? Mengapa kau bilang hanya obat-obatan? Sekarangjawablah yangjelas! Untuk apalempengan-lempengan emas ini? Kutaksir nilainya lebih daripada duaribu ringgit Untuk apa, i alau bukan untuk gajih laskar? Laskar yaiia mana? Hayo bilang > ing benar! Coba siapa namamu? -

- Aku? Aku...? - orang yang kena bentak menyahut dengan suara bergemetaran. -, Jui bernama Tohir. -

- Nah, jawablah pertanyaanku tadi! Kau disuruh siapa? -

- Dengan sesungguhnya nona, aku tidak tahu isinya. Aku hanya dipesan, bahwa isinya semua peti ini terdiri dari -bermacam-ma- cam obat-obatan. Sama sekali tidak kuketahui, bahwa di dasar peti ini ternyata berisikan lempengan-lempengan emas. Tetapi perkara ini adalah urusan orang-orang besar. Kami wajib mematuhi perin-tahnya. Sebab apa yang diterangkan kepadaku, bukan mustahil untuk menjaga segala kemungkinan. Yah, seperti apa yang terjadi hari ini. Perjalanan kami, nona hadang. - ujar Tohir.

- Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau disuruh siapa? -

- Kami orang-orang Madura. Tentu saja yang menyuruh kami adalah majikan kami. -

- Siapa? - bentak Rawayani.

- Kami sebutkan namanyapun, nona tidak akan mengenalnya. Pendek kata majikan kami orang Madura. Dan isi peti-peti ini dipe-runtukan bagi laskar Madura yang akan menolong laskar Kartasura. - - Bagaimana aku bisa percaya ujarmu? -

- Nona bisa mendengar sendiri logat bahasa kami. -

- Hm. - dengus Rawayani. -4Calau negara sedang kacau, siapa- pun bisa menjadi siluman. Menilik logat bahasamu memang engkau orang Madura. Tetapi siapa yang menyuruhmu, Itulah yang ingin kuketahui.-

Ucapan Rawayani yang tajam itu keterlaluan, pikir Gemak Ideran. Tetapi kalau dipikir masuk akal pula. Tak dikehendaki sendiri, iapun ingin mendengar bunyi jawaban Tohir yang nampak segan.

- Kau mau menerangkan atau tidak? - bentak Rawayani.

- Mau sih mau. Tetapi apa gunanya? - Tohir mencoba mem- bangkang.

- Baiklah, maka tinggalah semua peti-peti ini. -

- Tetapi kami ada yang menyuruh. - Tohir mempertahankan de- ngan suara meninggi.

- Nan, katakan dengan jelas siapa yang menyuruhmu! nada Ra- wayani terdengar mulai jengkel.

Tohir hendak membuka mulutnya, sewaktu terdengar suara seorang perempuan: - Aku tahu siapa yang menyuruhnya -

Rawayani memalingkan kepalanya ke arah datangnya suara. Gemak Ideran demikian juga. la kenal suara itu. Dan begitu meli- hat* siapa dia, hampir saja ia berteriak kegirangan. Sebab perem- puan itu adalah Diah Windu Rini.