Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 16

Jilid 16

Dan begi-tu berada di depannya, ia turun ke tanah. Lalu menambat-kan kuda yang dituntunnya pada sebatang pohon. Setelah itu ia menoleh kepadanya dan bersenyum. Dan melihat senyum itu, tak terasa terloncatlah seruan Gemak Ideran :

"Rawayani?"

Gadis yang cantik sekali itu tersenyum lebar. Lalu me-nyahut: "Benar. Kau memanggilnya? Bukankah belum cukup satu bulan?"

Hilanglah kesangsian Gemak Ideran mendengar ucapan gadis itu. Benar-benar dialah Rawayani. Memang sampai pada hari itu, belum pernah ia melihat peribadi Rawayani dengan jelas.

Ternyata Rawayani seorang gadis yang pantas disebut sebagai bidadari yang tersesat di bumi. Ah ! Tidak pantas ia disebut sebagai siluman. Benar-benar tidak pantas.

Namun mengingat tingkah-lakunya ih ! Benarkah gadis

secantik itu, membunuh orang tak ubah membunuh sekawanan lalat belaka ?

Pertemuan yang mendadak itu benar-benar mengejutkan hati Gemak Ideran, sehingga pemuda itu menjadi terlongong-longong. Berbagai perasaan dan bayangan berseliweran di dalam dirinya. Tak tahu ia, harus berbuat bagaimana Selagi demikian, Rawayani berseru :

"Kau turunlah ! Bukankah engkau memanggilku? Mari kita berbicara. Tentunya engkau membutuh kan seekor kuda untuk mencari kedua temanmu, bukan?"

Oleh pertanyaan itu tersentaklah kesadaran Gemak Ideran. Terus saja ia melompat dari tempat duduknya dan menuruni ketinggian dengan setengah lari. Serunya seperti kanak-kanak mengharapkan memperoleh hadiah cokelat :

"Apakah mereka selamat?" "Memangnya kenapa?" kedua alis Rawayani berdiri.

Bukan main cantik wajahnya sampai Gemak Ideran hampir- hampir tertegun. Dengan nagas setengah memburu pemuda itu menyahut:

"Rawayani ! Bukankah apa yang terjadi dalam pesanggerahan adalah hasil kerjamu yang repih? Atau kau bermaksud ingkar?"

"Hei, hei! Kau berprasangka buruk terhadapku?"

"Bukan begitu !"-Gemak Ideran menghampiri. "Kau jelaskan padaku, apa yang sedang terjadi."

Rawayani tidak menjawab. Sebaliknya ia tersenyum menang. Katanya :

"Kau sendiri yang minta, bukan? Artinya kau sendiri yang melanggar."

"Melanggar apa?"

"Bukankah kau berjanji satu bulan lagi? Karena itu, sesungguhnya aku tidak berhak menemuimu."

"Tetapi.......tetapi " Gemak Ideran menungkas.

Pada detik itu berbagai perasaan bergumul hebat dalam dirinya. Terang sekali, gadis itu sengaja datang membawakan seekor kuda baginya. Sekarang menyatakan, dia tidak berhak menemui dirinya sebelum satu bulan. Artinya, kuda yang ditambatkan itu belum tentu diperuntukkan bagi nya. Tetapi bukankah sebentar tadi dia mengatakan dirinya memerlukan seekor kuda demi mencari Diah Windu Rini dan Niken Ang-gana? Dan tiba-tiba rasa takut yang pernah diperolehnya kembali menghantui dirinya.

"Tetapi apa?" Rawayani menegas.

"Tetapi " Gemak Ideran menelan ludah. "Kau sengaja

menyusul diriku, bukan?"

"Kalau tidak bagaimana, kalau ya bagaimana?"

Dibantah demikian, mau tak mau Gemak Ideran menggaru-garuk kepalanya. Benar-benar ia merasa berhadapan dengan seorang gadis secerdik dan selicin setan. Namun ia tidak sudi mengalah. Dengan suara setengah lantang ia menjawab :

"Kalau tidak, bagaimana mungkin engkau mengetahui diriku berada di lembah gunung?"

"Bukankah engkau sendiri yang berkata hendak ke-mari?"

"Baik." Gemak Ideran merasa terpojok. Memang ia pernah berkata hendak mengantarkan Niken Anggana menghadang ayahnya di Gunung Lawu. "Tetapi bagaimana engkau mengetahui aku kehilangan kudaku?"

"Bukankah kudamu mati?" "Betul. Tetapi bagaimana engkau mengetahui?"

"Karena aku berada di pesanggerahan dan kebetulan melihat kudamu dan kedua kuda temanmu yang mati tersungkur."

"Apakah bukan hasil kerjamu?"

Rawayani menggelengkan kepalanya. Sahutnya pendek . "Tidak."

"Tidak,"

"Tidak. Bukan aku yang melaukan." "Bukan engkau? Lalu siapa?"

Rawayani tertawa. Sahutnya :

"Kau sendiri yang minta, bukan?" "Minta apa?"

"Bukankah kau bermaksud minta keteranganku?"

Mau tak mau Gemak Ideran mengangguk dalam hati. Sewaktu hendak membuka mulutnya, Rawayani mendahului:

"Dengan begitu, sudah dua kali engkau melanggar kehendakmu sendiri."

"Eh, apakah pertanyaanku ini ada sangkut-pautnya dengan janjiku hendak mengikutimu satu bulan lagi?" "Tentu saja."

"Kalau begitu, apa perlu kau membantu diriku?"

"Maksudmu dalam hal aku membawakan kuda ini?" Rawayani menegas.

"Betul."

"Sebab tanpa berkuda, engkau akan melanggar janjimu. Dan aku tidak mau berteman dengan seorang satria yang akan ingkar janji."

"Kenapa?" Gemak Ideran tercengang.

"Waktumu akan terlalu sempit untuk mengetahui dimana kedua temanmu kini berada."

"Ah ! Masakan mereka tidak dapat kususul? Apa sebab?" Kembali lagi Rawayani tertawa. Sahutnya :

"Sudah tiga kali engkau minta jasaku, bukan?"

"Baiklah, baiklah." ujar Gemak Ideran. Hampir saja ia mengaku kalah. Tiba-tiba keangkuhannya bangkit pada detik itu pula.

Melanjutkan :

"Bawalah kudamu ! Aku akan melanjutkan perjalananku." "Bagaimana kalau sampai melebihi satu bulan?" "Bukankah engkau akan selalu mengetahui di mana beradaku? Nah, pada hari perjanjian itu engkau boleh datang padaku."

"Bagaimana kalau engkau belum bisa menemukan di mana mereka berdua berada?"

"Itu soalku. Eh, kenapa kau main bertanya terus-menerus?" Gemak Ideran mendongkol.

Rawayani memperdengarkan suara tertawanya. Pantulan suaranya terdengar jernih, merdu, sedap dan syahdu. Tetapi bulu tengkuk Gemak Ideran tiba-tiba meremang Entah apa sebabnya, ia seperti seseorang yang dipaksa minum racun.

"Baiklah, anggap saja aku yang melanggar perjanjian." di luar dugaan Rawayani sudi mengalah.

Namun judstru demikian, hati Gemak Ideran berkebat-kebit. Dengan memasang telinganya ia menunggu kata-kata lanjutannya. "Tetapi karena engkau sudah melanggar tiga kali, maka aku malahan mempunyai pihutang Anggap saja impas. Hai, mau ke mana?"

Gemak Ideran memang memutar tubuhnya dan hendak melangkah pergi. la tadi bersikap tidak mau kalah atau mengalah terhadap gad is itu. Tetapi setelah Rawayani mau mengalah, ia malahan merasa terhina. Dengan begitu, didalam hati sesungguhnya ia mengakui keunggulan lawannya. Maka satu-satunya jalan hanya menghukum diri dengan meninggalkan tempat, meskipun hatinya ingin benar mendengar warta Diah Windu Rini dan Niken Anggana.

"Hei !" seru Rawayani setengah membentak. "Apakah kau benar- benar tidak mau mendengar kabar apa yang sudah terjadi di pesanggerahan?"

Mau tak mau, Gemak Ideran menghentikan langkahnya Namun tak sudi ia membalikkan tubuhnya. Rupanya Rawayani dapat membaca keadaan hatinya. Dengan cepat ia menghampiri.

Katanya dengan suara sungguh-sungguh :

"Waktu aku tiba di pesanggerahan ketiga ekor kudamu sudah mati. Bukan main hebat pukulannva. Pasti membawa racun atau setidak-tidaknya hawa beracun yang mematikan."

"Hm." Gemak Ideran mendengus."Kau maksudkan orang lain yang membunuh kuda-kuda itu?"

"Tidak hanya tiga ekor kuda saja. Tetapi termasuk pelayan- pelayan pesanggerahan dan mereka yang sedang menyateroni kalian."

"Eh, kau maksudkan "

"Sst ! Mari kita kembali duduk di atas ketinggian itu. Meskipun di sini sunyi, siapa tahu ada orang yang mengintip. Rasanya kurang enak kita berbicara di tengah jalan." ujar Rawayani dengan suara agak lembut.

Gemak Ideran seperti kena tertarik besi berani. Tanpa membantah sepatah katapun ia patuh kepada ajakan Rawayani. Gadis itu ternyata sudah mendahului mendaki tanjakan di tepi jalan dan duduk di atas batu. Ia menunggu sampai Gemak Ideran duduk di dekatnya. Lalu melanjutkan :

"Kau tidak bertanya siapa yang membunuh mereka? Baiklah, biar aku saja yang mengatakan. Mereka terdiri dari tiga orang pemuda yang sebaya umurnya. Barangkali setahun atau dua tahun lebih tua daripadamu. Yang satu berpakaian seorang pengemis. Yang berperawakan tinggi besar mengenakan pakaian hijau. Dan yang ketiga seorang pemuda ngganteng dan mentereng. Gerakan mereka cepat luar biasa. Jelas sekali, ilmu kepandaian mereka sangat tinggi dan seimbang. Mereka datang dari arah-barat bagaikan terbang. Kecepatannya susah kulukiskan. Mereka datang dan pergi tak ubah iblis. Sambil tertawa riuh mereka seperti sedang ber-lomba membunuh rombongan bertopeng itu."

"Kalau begitu mereka sekawan juga?" Gemak Ideran memotong.

"Nah, inilah anehnya. Mereka justru sating berhantam. Si pengemis dikejar yang tinggi besar. Dan yang tinggi besar dikejar yang mentereng. Si pengemis memasuki pesanggerahan dan mengacau rencana rombongan bertopeng yang datang menyateroni pesanggerahan. Dia berputar-putar di an-tara mereka seperti sedang main petak. Kedua lawannya yang sedang mengejar rupanya penasaran.

Hampir berbareng mereka melontarkan pukulan dari jauh. Tetapi yang terhajar adalah rombongan bertopeng itu. Mereka tidak sempat ber-kutik sedikitpun dan roboh dengan mata terbelalak. Mungkin sekali mereka mati dalam keadaan terkejut, heran atau kesakitan. Si pengemis tidak mempedulikan Dia tertawa terbahak-bahak sambil memaki-maki "

"Hai kerbau bangkotan ! Namamu sih gagah."

"Kenapa tidak? Aku Singgela Apa celanya?" bentak pemuda yang berperawakan tinggi besar.

"Singgela kentut ! Kau kerbau beracun !" si pengemis menyahut dengan tetap mengumandangkan tertawanya. "Kau hanya pandai membunuh kawanan kentut."

"Hai Saring ! Yang memukul bukan aku saja. Tetapi jangkrik edan pula "

Rupanya yang dipanggil dengan sebutan jangkrik adalah pemuda mentereng yang berada di sampingnya. Pemuda itu tidak menyahut. Dia hanya mendengus. Lalu melompat menerjang si pengemis. Di luar dugaan Singgela menghalangi. Kedua tangannya direntangkan Brus ! 

Mereka berdua mengadu tenaga. Lalu bertempur dengan amat serunya. Pada saat itu muncullah beberapa pelayan Mungkin mereka terkejut mendengar suara gaduh. Tapi celakalah mereka. Tahu-tahu gumpalan angin yang deras luar biasa menghantam mereka. Itulah pukulan Singgela dan pemuda mentereng itu.

Menyaksikan peristiwa itu si pengemis memaki-maki.

"Kamu siluman-siluman jahat ! Apa salah mereka? Apa dosa mereka? Hayo rebutlah aku !"

Pengemis yang bernama Saring itu kemudian menerjang mereka berdua sambil mundur ke arah kudamu. Akibatnya ketiga ekor kuda yang tertambat menjadi sasaran pukulan dari jauh. Melihat hal itu, Saring merasa salah. Terus saja ia melesat mengundurkan diri. ...........

Semenjak Rawayani menyebut-nyebut tentang seorang pemuda pengemis, hati Gemak Ideran tercekat. Suatu bayangan berkelebat dalam benaknya. Dan tatkala Rawayani menirukan seruan Singgela yang memanggil pengemis itu dengan nama Saring, hilanglah keraguannya. Dialah Gagak Seta yang pernah mempermainkan Kalika, Lekong dan Seteluk. Sekarang tinggal menunggu kejelasan pemuda mentereng itu.

Tetapi Rawayani belum juga menyebut-nyebut nama pemuda ngganteng itu. Masih saja ia menceri takan sekitar pertempuran mereka yang seru. Agaknya dia amat kagum. Wajahnya berubah- rubah membawa rasa heran dan hormat. Katanya lagi :

"Pengemis itu nampaknya tolol, akan tetapi sesungguh-nya cerdik. la tahu cara melayani kedua lawannya. Dengan caranya sendiri, ia memancing mereka berdua dan memin-jam tangan mereka untuk membunuh rombongan bertopeng. Agaknya ia mempunyai kepentingan juga. Apakah benar begitu?"

Gemak Ideran tidak menjawab. la hanya mendengus. Gerak-gerik Gagak Seta memang sukar diraba. Kalau dipikir, pengemis itu pula yang menolong ia bertiga dari libatan Kalika, Lekong Seteluk. Apa dasarnya alasannyapun tidak jelas. Syukur, Rawayani tidak mendesaknya. Bahkan tiba-tiba mengalihkan pertanyaannya :

"Eh ya siapakah temanmu yang usianya setahun atau dua

tahun lebih daripadamu?"

"Kau maksudkan ayunda Diah Windu Rini?"

"Oh, jadi dia yang bernama Diah Windu Rini? Ah, nama bagus !" seru Rawayani dengan nada setengah mengejak.

Gemak Ideran yang menaruh hormat kepada Diah Windu Rini tersirap darahnya. Sewaktu ia hendak membalas mendamprat, ia tertarik kepada cerita kelanjutannya sehingga batal sendiri.

"Pada waktu itu, aku melihat Diah Windu Rini melesat ke luar jendela sambil berseru memanggil-manggil."

Rawayani melanjutkan tanpa mempedulikannya. "Surengpati ! Mengapa engkau keluyuran sampai kemari? Tetapi pemuda ngganteng yang dipanggil dengan nama Surengpati tidak sempat menanggapi. la sedang sibuk sendiri, karena Singgela tiba-tiba menyerangnya. Padahal Singgela tadi seringkali bergebrak melawan Saring. Rupanya temanmu yang cantik itu, cepat tersinggung. Terus saja ia mengejarnya. Sebentar saja tubuhnya lenyap dari penglihatan. Pesanggerahan jadi sunyi senyap. Aku menghampiri mereka yang terpukul roboh. Di antara mereka terdapat beberapa orang yang belum mati. Karena iba, aku membiarkan ularku memagut mereka."

"Apa?" Gemak Ideran tersentak kaget.

"Eh, apakah aku salah? gadis itu heran. Gemak Ideran hendak membuka mulutnya, tetapi bung-kam kembali. Mereka memang pantas terbunuh. Tetapi caranya Rawayani menceritakan meremangkan bulu kuduk-nya. Kata-katanya biasa saja. Dingin dan tanpa kesan apa-pun. Tak terasa ia mengamati wajahnya yang cantik sekali Benarkah kata-kata demikian terucapkan oleh seorang gadis yang begitu cantik jelita? la seolah-olah sedang bercerita tentang kucingnya yang mencakar orang lain. Karena tidak tahu harus menjawab bagaimana, Gemak Ideran tertawa pe-lahan melalui hidungnya.

"Apa yang kau tertawakan?" Rawayani tidak senang. "Aku ingin tertawa dan tertawalah aku. Masakan harus melapor dulu?" Gemak Ideran setengah uring-uringan. Tetapi kemudian ia berkata mengalihkan masalahnya. Katanya : "Mereka tentunya mati begitu kena dipagut ularmu."

"Tentu saja. Kenapa?" masih saja Rawayani mendesak. "Dan setelah hilang daya gunanya, kau bunuh di atas mejaku.

Mengapa?"

"Kau sendiri sudah tahu jawabannya. Mengapa masih bertanya?" Rawayani balik bertanya.

Diperlakukan demikian, Gemak Ideran merasa kuwalahan. Pikirnya, gadis ini tidak hanya ganas dan kejam tetapi bermulut tajam pula. Biarlah dia puas dulu, ia memutuskan. Lalu berkata setengah mengecam :

"Aku bertanya, karena keteranganmu masih belum jelas."

"Di bagian mana yang belum jelas? Tentunya perkara gadismu itu, bukan?"

Tersiraplah darah Gemak Ideran, begitu Rawayani menggunakan istilah gadismu terhadap Niken Anggana. Dan keadaan hatinya, rupanya dapat terbaca jelas oleh Rawayani karena kesan wajahnya berubah diluar kehendaknya sendiri. Kata gadis itu :

"Baiklah aku terlalu bercerita kepada diriku sendiri.Dan di

dunia ini sering terjadi kesalah-fahaman, karena bagi yang satu jelas sebaliknya tidak demikian bagi yang lain." ia berhenti sejenak untuk tertawa serintasan. Meneruskan . "Biarlah kuulangi lagi, agar hatimu puas. Bukankah begitu yang kau kehendaki?"

Gemak Ideran tidak menyahut. Hatinya mendongkol. Hebatnya untuk kesekian kalinya, Rawayani dapat memba-ca keadaan hatinya. Dengan masih mengulum senyum ia berkata :

"Sewaktu aku menghampiri pesanggerahan, aku masih sempat melihat gerakan orang memasuki halaman. Merekalah orang- orang yang mengenakan topeng. Tentang diri mereka, tidak perlu kuterangkan lagi, bukan? Kau pasti tahu, tujuan mereka hendak merampas pedang pusaka Sangga Buwana yang diduganya berada pada Diah Windu Rini atau gadismu eh Niken

Anggana." ia berhenti lagi dan menoleh dengan wajah memohon maaf atas kecerobohannya.

Tetapi Gemak Ideran tahu, Rawayani sengaja membuat lidah-nya keseleo. Menuruti kata hatinya, rasa mendongkolnya naik sampai ke leher. Diluar dugaan tersusul oleh rasa gemasnya. Akhirnya rasa gemasnya mengendapkan kemendongkolan hatinya. Tak dikehendaki sendiri ia menyenak nafas.

Sementara itu Rawayani melanjutkan :

"Selagi aku memperhatikan mereka dan mencari akal untuk membinasakan cecurut-cecurut itu, mendadak terde-ngar suara gaung tertawa panjang. Pada detik-detik berikut-nya, muncullah Saring yang saling berbaku hantam melawan Singgela dan Surengpati. Singgela memukul Saring. Saring menghantam Surengpati. Surengpati melapaskan tendangan kepada Singgela. Pada detik berikut nya, Saring menghantam Singgela. Dan Singgela memukul Surengpati. Sebaliknya Surengpati menerjang Saring. Pokoknya pertempuran yang ruwet dan awut-awutan.

Pukulan maupun ten dangan mereka bukan main dahsyatnya. Setiap gerakan kaki dan tangan mereka membawa gulu ngan angin yang menderu-deru. Meski-pun demikian, setiap kali mereka tertawa geli atau tertawa terbahak-bahak seperti anak- anak sedang bermain tepuk air di atas permukaan sungai. Melihat ke datangan mereka bertiga, rombongan orang-orang bertopeng itu buru-buru masuk ke dalam pintu penghubung. Tepat pada saat itu, Saring tertawa riuh. Lalu ikut-ikutan memasuki pintu penghu bung yang segera diuber Singgela dan Surengpati.

Rupanya kehebatan Saring dikenal oleh mereka berdua. Itulah sebabnya, mereka berdua perlu melepaskan beberapa pukulan berun-tun demi me lindungi diri. Tetapi yang jadi sasaran empuk adalah rombongan orang-orang bertopeng. Seperti segumpuk sampah, mereka terhentak roboh berserakan kena han-taman Singgela dan Surengpati. Menyaksikan peristiwa itu, Saring sama sekali tidak terperanjat. Maka tahulah aku, bahwa Saring sengaja memancing mereka demi meminjam tangan mereka berdua untuk membinasakan rom bongan orang-orang bertopeng. Setelah itu, Saring mundur ke se-rambi belakang sambil melepas kan pukulan balasan. Sudah barangtentu, buru-buru Singgela dan Surengpati melepaskan pukulan dari jauh untuk mempertahankan diri. Tepat pada saat itu muncullah para pelayan karena mende ngar suara gaduh. Mereka jadi korban yang kedua. Saring terkejut dan kali ini dia merasa salah. Hal itu dapat kuketahui dari suara makiannya yang mengandung rasa marah. Secepat kilat ia mele sat ke luar melintasi kandang kuda. Terdengar lagi suara bergedebukan. Itulah kuda-kudamu yang menjadi korban ketiga. Dan pada saat itu muncullah Diah Windu Rini dari kamarnya dan mengejar arah larinya Surengpati bertiga. Jelas? Aku sendiri menghampiri mereka yang terkena pukulan Singgela dan Surengpati. Beberapa orang di antaranya ada yang belum mati. Karena rasa iba, kubiarkan ularku memagut mereka. Apakah salah? Lalu aku menjenguk kamar-mu dan ular yang sudah kehabisan daya racunnya kubunuh di atas mejamu. Maksudku jelas, agar engkau tidak perlu ce-mas lagi manakala kau pulang ke pesanggerahan. Musuh-musuh yang mengancammu bertiga sudah mati. Nan, bagai-mana? Sudah jelas?"

Mau tak mau Gemak Ideran mengangguk mengiakan. Se- benarnya masih ingin ia minta keterangan tentang Niken Anggana. Tetapi mengingat sikap Rawayani begitu istimewa terhadap hubungannya dengan Niken Anggana, ia terpaksa menahan diri. Tiba-tiba Rawayani berkata lagi:

"Kau sudah jelas kini Hatimu tentunya sudah puas juga. Tetapi kau belum menjawab pertanyaanku."

"Yang mana?" Gemak Ideran menegakkan kepalanya.

"Aku membunuh musuh-musuhmu dengan ularku. Apakah salah?" Gemak Ideran tercengang. Itulah pertanyaan ulang yang tadi disingkirinya. Ah, pikirnya. Gadis ini tidak mau sudah sebelum pihutangnya dipenuhi Pokoknya dirinya wajib membayarnya lunas. Memperoleh pikiran demikian ia gelisah bukan main. Kalau begitu, mulai saat itu ia harus ber-sedia menjadi budaknya.

Bukankah ia berjanji hendak ikut menuntutkan balas dendamnya terhadap Cing Cing Goling. Selain itu, ia wajib memenuhi tiga perjanjian lagi, karena dulu kalah bertaruh.

"Hai ! Kenapa kau tidak menjawab? Apakah kau anggap perbuatanku kejam?" Rawayani menegas.

"Bukan begitu." sahut Gemak Ideran. "Bukan begitu bagaimana?"

"Mungkin sekali, karena selama hidupku belum pernah aku membunuh orang."

Mendengar ucapan Gemak Ideran, Rawayani terdiam. Lama sekali ia mengawaskan wajah Gemak Ideran. Menda-dak menyungging senyum. Katanya .

"Ya, kau mau mengatakan aku ini manusia kejam dan ganas, bukan? Kalau benar bagaimana, kalau tidak bagaimana?"

Dua kali Gemak Ideran mendengar kalimat pertanyaan demikian. Pandang malanya lantas ngen delong. Dengan kepala kosong ia melepaskan pandang matanya di jauh sana. Waktu itu matahari sudah condong ke bara. Hawa gunung mulai meresapi memasuki pori-pori. Sejuk segar menegarkan hati. Akan tetapi semuanya itu tidak terasa menyentuh kal-bu Gemak Ideran. Hati pemuda itu sedang pepat, karena tak tahu apa yang harus dikatakan. Tiba- tiba suatu pertimbang-an menusuk pikirannya. Katanya di dalam hati :

"Menghadapi setan, aku harus bisa menjadi setan. Menghadapi manusia siluman, mengapa aku tidak dapat menjadi siluman?"

Memperoleh pikiran demikian, Gemak Ideran menegak-kan kepalanya. Tiba-tiba tertawa panjang. Rawayani terheran-heran. Dengan penasaran ia minta keterangan :

"Kau mentertawakan apa? Apakah aku yang kau terta-wakan?"

"Aku ingin tertawa,maka tertawalah aku. Apakah harus lapor kepadamu?"

Rawayani mendongkol. Itulah jawaban dan gaya ulang Gemak Ideran untuk yang kedua kalinya. Sewaktu hendak mendampratnya, Gemak Ideran berkata :

"Sebenarnya aku lagi mentertawakan ketololanku sendiri. Orang- orang itu memang pantas dibunuh. Buktinya ketiga orang pendekar yang berkepandaian tinggi itu memandang perlu untuk membunuh mereka dengan sekali hantam. Maka tepatlah uluran tanganmu. Terdorong oleh rasa iba semata, engkau menolong penderitaan mereka. Sebab pukulan ketiga pendekar itu tentunya dahsyat luar biasa."

Rawayani tertawa geli. Sahutnya :

"Siapa bilang mereka bertiga ? Saring, sama sekali tidak melepaskan pukulan. Yang melepaskan pukulan maut adalah Singgela dan Surengpati."

"Ah ya. Apakah pukulan mereka berdua memang dahsyat?"

"Kau sendiri pernah merasakan hawa beracun pukulan llmu Batu Panas. Apakah enaknya mereka kesakitan sampai ajalnya tiba?"

"Apakah pukulan mereka mengandung hawa beracun pula?" Gemak Ideran terperanjat.

"Ya, itu pasti. Hanya saja susah kujelaskan siapa di antara mereka berdua yang memiliki pukulan beracun. Bukan mustahil pula pukulan mereka berdua."

Gemak Ideran membungkam. Teringatlah ia betapa marah Diah Windu Rini tatkala Saring alias Gagak Seta menyebut-nyebut nama Surengpati. Apakah adiknya seperguruan itu mewarisi ilmu beracun seperti yang dimiliki Cing Cing Goling?

"Memang ilmu Sakti Batu Panas, tiada keduanya di dunia ini." ujar Rawayani. "Tetapi hawa beracun yang membinasakan rombongan orang-orang bertopeng itu, tiada kurang-kurang bahayanya. Andaikata Cing Cing Goling sampai bertempur dengan tiga pemuda itu. hm dia akan kerepotan. Mungkin

pula kuwalahan "

Gemak Ideran teringat akan laporan Geringging kepada ayahnya. Geringging menyebut enam nama. Dan di antara enam nama itu, terdapat Gagak Seta, Surengpati dan Singgela. Tetapi Cing Cing Goling tidak menghiraukan nama orang-orang yang disebutkan Geringging, kecuali Raden Mas Said. Dia bahkan menantang ingin mengadu kepandaian melawan Raden Mas Said.

"Mereka bertiga akan dapat merepotkan Cing Cing Go-ling, katamu." ujar Gemak Ideran.

"Mengapa engkau tidak minta uluran tangannya agar membantumu menuntutkan dendam?"

"Aku ingin membunuh Cing Cing Goling dengan tangan-ku sendiri." sahut Rawayani dengan suara sederhana.

Gemak Ideran tertawa. Berkata :

"Kalau begitu, mengapa aku kau suruh membantumu?"

"Karena ilmu sakti itu terbagi dua bagian. Tak dapat aku menguasai dua-duanya. Karena itu, di kemudian hari kita harus saling percaya dan saling mengandal " Tergetar hati Gemak Ideran begitu mendengar istilah saling percaya dan saling mengandal.

Artinya, dirinya tidak akan terlepas daripadanya. Begitu pula Rawayani. Tak terasa ia mengamati wajah dan perawakan gadis itu. la sangat cantik. Secantik Niken Anggana. Tetapi tingkah- lakunya mengingatkan kepada Diah Windu Rini yang berwibawa. Pendek kata ia merasa takut dan segan padanya.

"Sesungguhnya ilmu sakti apa yang kau harapkan?" ia minta keterangan.

"Ilmu sakti yang dapat mengalahkan Cing Cing Goling."

"Hm, kalau begitu Ilmu Sakti Batu Panas juga." Gemak Ideran mendengus. "Cing Cing Goling ingin pula mendaki gunung ini. Kaupun begitu. Apakah engkau perlu alat tukar?"

"Maksudmu?"

"Cing Cing Goling perlu memperoleh pedang pusaka Sangga Buwana sebagai alat tukarnya."

"Dia boleh begitu, tetapi aku tidak usah." "Mengapa begitu?" "Pernah kukatakan padamu, kakekku Adipati Bandawasa. Menurut kabar, kakek dulu pernah menyimpan pedang Sangga Buwana. Nyatanya memang begitu. Aku dapat membuktikan."

"Maksudmu engkaulah kini yang menyimpan pedang Sangga Buwana?" Gemak Ideran tertarik.

"Tidak. Tetapi aku membawa daftar pemilik." Rawayani memberi keterangan. "Seperti kau ketahui, setiap pemilik atau katakan saja barangsiapa berhasil menyimpjln pedang pusaka Sangga Buwana lebih dari lima tahun, dia berhak mencantumkan namanya pada selembar kertas kulit yang tersimpan sebagai pembungkus hulu pedangnya. Dan kertas kulit itu berada padaku. Kertas kulit ini sama nilai-nya dengan orang yang memegang pedang itu sendiri."

"Lalu engkau akan memperoleh seluruh Ilmu Sakti Batu Panas. Bukankah begitu?"

"Ya."

"Bagus !" Gemak Ideran bergembira. "Kalau begitu, tidak perlu aku ikut-ikutan."

"Tidak."

"Tidak bagaimana?" "Ilmu Sakti Batu Panas terdiri dari empatbelas tingkat. Kakek sendiri berhenti pada tingkat ketujuh. Akupun mengharapkan sampai tingkat tujuh saja. Dan tujuh tingkat lain-nya adalah tugasmu. Dengan begitu, meskipun andaikata Cing Cing Goling berhasil mencapai tingkat sembilan seperti gurunya, dia akan mati di tangan kita berdua. Itulah sebab-nya, kita akan saling mempercayai dan saling mengandal." ujar Rawayani.

Sekarang barulah Gemak Ideran memahami makna terbagi menjadi dua bagian. Kiranya, masing-masing akan mempelajari tujuh tingkat. Pikirnya, bolak-balik aku toh tidak dapat terlepas daripadanya. Sekarang aku sudah berada di Gunung Lawu.

Tentunya dia tidak akan membiarkan diriku meninggalkan gunung ini. Satu-satunya jalan bila aku sempat bertemu dengan Niken Anggana dengan alasan hendak mengantarkannya sampai bertemu ayahnya .......

Beberapa saat lamanya ia mencari jalan untuk memancing Rawayani membicarakan Niken Anggana. Sebab semenjak tadi, gadis itu belum menyinggung-nyinggung soal Niken Anggana, padahal dia berada di samping Diah Windu Rini.

Tiba-tiba suatu ingatan membuatnya ia mengalihkan pembicaraan :

"Rawayani ! Kau tahu, puteri Cing Cing Goling yang mengatur penyerbuan orang-orang bertopeng ke pesanggerahan. Apakah dia berada di sana pula?" "Antawati, maksudmu?" "Ya."

"Dia bukan orang tolol. Dia tahu mengukur diri. Tentu-nya hanya cukup mengatur anak-buahnya. Dirinya sendiri tetap bebas untuk tujuan yang lain."

"Kau maksudkan untuk mencari pedang Sangga Buwa-na?" "Ya."

"Padahal dia mengira pedang pusaka itu berada di tangan Niken Anggana. Apakah dia akan mencelakakan Niken Anggana?"

Rawayani memiringkan kepalanya. Lalu menyahut : "Pada saat ini, belum. Dan kukira, tidak akan mampu." "Maksudmu?"

Rawayani tertawa serintasan. Berkata dengan menyungging senyum :

"Waktu aku memasuki kamarmu, dia berada di luar kamarnya. Tiba-tiba ia dibawa Antawati pergi entah ke mana."

"Antawati?" Gemak Ideran terkejut. "Karena itu, aku sengaja membunuh ularku di atas meja-mu. Maksudku hendak mengabarkan padamu adanya bahaya.

Bukankah baik maksudku?"

"Ah !" seru Gemak Ideran dengan suara tertahan. Kalau begitu, matinya ular di atas meja mempunyai tujuan ganda. Selain memberitahu bahwa Rawayani ikut serta dalam pembinasan orang-orang bertopeng, mengabarkan juga tanda bahaya.

Mengapa dia tidak mempunyai pikiran sejauh itu?

"Kau tahu sendiri, ularku sangat bahaya. Kalau sampai kubunuh di atas meja adalah perbuatan yang terlalu ceroboh. Sebab meja sering didekati orang. Masakan engkau tidak dapat berpikir sejauh itu? Paling tidak engkau harus ber-pikir, tentunya kulakukan karena terburu-buru."

Rawayani menegurnya. "Memang aku terburu-buru setelah melihat peristiwa itu. Segera aku menguntitnya."

"Lalu?"

"Sudah sampai sekian saja." jawab Rawayani acuh tak acuh. "Eh !" Gemak Ideran penasaran.

"Eh apa? Memang yang kuketahui hanya sampai sekian saja. Apakah akau harus mengarang?" sahut Rawayani cepat setengah mendamprat. "Kau penasaran?" "Rawayani, kau berdusta !" bentak Gemak Ideran. "Sedikit banyak aku mengenal perangaimu. Kau tidak akan su-dah, sebalum mengetahui semua perkara dengan jelas dulu."

"Betul, tetapi kalau itu menyangkut kepentinganku." tungkas Rawayani. "Coba katakan, dalam hal ini dimanakah letak kepentinganku? Tidak ada, bukan?"

Dibantah demikian, Gemak Ideran tergugu. Memang dalam hal ini, Rawayani sama sekali tiada kepentingannya. Kalau saja dia sampai berada di pesanggerahan, itulah demi dirinya. Paling tidak, bertindak demi mewakili dirinya yang terpaksa tidak dapat hadir di pesanggerahan. Maka untuk kesekian kalinya ia merasa kalah Namun ia tidak sudi dikalahkan. Serunya mencoba :

"Kau tadi berkata, pada saat ini Antawati belum mencelakakan Niken Anggana. Menurut perkiraanmu pula, tidak akan mampu. Apa maksudmu berkata begitu?"

Rawayani memiringkan kepalanya. Dia tertawa serintasan lagi. Berkata :

"Kalau begitu, aku harus membuktikan dulu benar tidaknya. Malam ini kau beristirahat dulu ! Dan kau perlu beristirahat karena semalaman penuh kau tidak sempat tidur. Sementara itu, aku akan menyelidiki. Begitu aku memperoleh kepastian, aku akan segera datang memberi kabar padamu."

"Kau tahu pasti di mana Niken Anggana kini berada?" 'Dikatakan jauh, sebenarnya dekat. Dikatakan dekat, nyatanya tidak dapat tertembus pandangan mata." Rawaya-ni menggoda. "Dia dibawa orang mendaki gunung ini."

"Siapa yang membawanya kemari?"

"Paling tidak akan kau ketahui sendiri esok pagi. Kau-pun akan mendapat penjelasan dari mulutnya sendiri."

"Maksudmu dari Niken Anggana sendiri?"

"Bukankah keterangannya akan lebih meyakinkan dirimu daripada bila orang lain yang mengabarkan? Nah, selamat beristirahat. Asal engkau tidak meninggalkan gunung ini, aku akan dapat mencarimu dengan cepat."

Gemak Ideran hendak membuka mulutnya, akan tetapi Rawayani sudah melompat turun dari ketinggian. Dengan cekatan pula ia naik ke atas pelana kudanya. Kemudian melarikan kudanya membeloki tikungan. Sebentar saja tubuh-nya lenyap dari penglihatan .

Gemak Ideran menghela nafas. Benar-benar hebat gadis itu. la merasa dirmya berada di bawah kekuasaannya. Kali-mat- kalimatnya terputus-putus tak ubah tali pengikat. Jika ingin memperoleh kejelasannya, kehadirannya sangat diper-lukan.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya siapakah yang meng-ikat dirinya? Niken Anggana atau Rawayani? Dengan pikiran yang sating mengendapkan, ia menghanv piri kuda pemberian Rawayani. Di atas kuda itu, ia berpikir sejenak. Tidak dapat tidak, ia memang harus menginap di lembah gunung Lawu. Kalau begitu, perlu mencari bahan makanan. Maka ia l>alik kembali ke perkampungan mencari bahan mentah dan dua ekor ayam.

Di waktu matahari sudah tcnggelam di barat, dengan menenteng dua ekor ayam, Gemak Ideran mulai mencari tempat yang tepat untuk menginap. Bahan mentah yang di-perolehnya hanya ketela dan jagung. Lumayan, nanti bisa dibakar. Akan tetapi waktu itu musim hujan. Sangatlah sukar mencari tempat terbuka, sehingga tidak mungkin mem-buat unggun api.

Syukur sebaliknya di lembah gunung yang terkenal angker itu, banyak terdapat goa-goa. Menurut ce-rita penduduk, lembah Gunung Lawu sering digunakan orang untuk tempat bertapa. Setiap pertapa membangun semacam pertapaan. Mungkin yang ditiru tokoh Arjuna yang dulu bertapa di atas Gunung Indrakila. Menurut kepercayaan orang, Indrakila terletak di salah satu bukit yang terdapat di lereng Gunung Lawu. Itulah sebabnya pula, dengan mudah Gemak Ideran memperoleh sebuah tempat penginapan yang nyaman. Letaknya tidak jauh dari jalan setapak, akan tetapi terlin dung oleh semak belukar dan petak pepohonan.

Segera ia menambatkan kudanya. Pelananya dilepas dan akan dipergunakan sebagai bantal. Bungkusan pakaian-nya sendiri, cukup sebagai alas tidur. Setelah itu ia menyalakan api. Dengan cekatan ia membakar ketela, jagung dan dua ekor ayamnya sekaligus. Sederhana saja caranya ia membakar dua ekor ayamnya. Tanpa dicabuti bulunya dulu, langsung saja ia main bakar. Lambat-laun bulu-bulunya ter-bakar habis, akan tetapi asapnya menguar sampai jauh Justru demikian membuat perutnya cepat keroncongan.

Sewaktu api mulai meraba kulitnya, segera ia membubuhi sedikit garam. Dan setengah jam kemudian, mulailah ia dapat menikmati berikut jagung dan ketelanya.

Sekarang mulailah ia memikirkan tiap patah kata Rawayani. Sungguh ! Gadis itu membuatnya susah berbareng menolongnya. la akan merasa bersyukur apabila dapat memutuskan langkahnya sendiri. Akan tetapi berbareng dengan rasa syukurnya, sesungguhnya ia mengharapkan kehadirannya pula. Itu disebabkan, karena diam-diam ia mengakui ke-cerdasan dan kecerdikannya.

"Dia selalu menghindarkan perhatianku terhadap Niken Anggana. Kenapa? Cemburu, barangkali? Ah, rasanya tidak berdasar." ia berpikir bolak-balik. Lalu ia membalikkan masalahnya agar memperoleh kesimpulan yang jernih. Bagaimana seumpama Rawayani lari daripadanya dan menemukan seorang pemuda yang lebih mendekati seleranya? Se-baliknya, bagaimana kalau Niken Anggana direbut seorang pemuda lain?

la berpikir sejenak dan berpikir sungguh-sungguh sampai ia berhenti mengunyah daging ayamnya. Lalu memutuskan: "Biarlah Rawayani diambil orang asalkan bukan Niken Anggana."

Mengapa begitu? Niken Anggana seorang gadis yang ber-hati lembut. Lemah budi bahasanya. Suci bersih dan cantik jelita. Diapun putera seorang ahli pedang yang berkedudukan tinggi dalam pemerintahan. Sebaliknya, asal-usul Rawayani belum jelas. Memang dia cantik jelita. Akan tetapi tangannya gapah. Dia bisa membunuh setiap waktu seperti memutar tangannya sendiri. Kesannya lebih menakutkan daripada menyayanginya.

Dan setelah memperoleh kesimpulan demikian, hati Gemak Ideran mulai tenteram. Justru mempe roleh ketenteraman itu, rasa kantuknya tiba. Segera ia mengatur tempat tidurnya lalu menidurkan diri di atas bungkusan pakaiannya. Kepalanya diletakkan di atas pelana kuda. Tentu saja tidaklah senyaman tidur di atas ranjang atau balai-balai. Akan tetapi jauh lebih lumayan daripada tidur di atas tanah pegunungan yang lembab.

la terbangun tatkala hawa gunung mulai meresap ke dalam kulit dagingnya. Api perdiangan sudah padam. Bergegas ia membuat api lagi. Tepat pada saat itu, ia mendengar suara adzan Subuh di bawah gunung. Meskipun negara dalam keadaan kacau-balau, rakyat yang beragama Islam ternyata tidak melupakan waktu sembahyang.

Setelah api mulai menyala, hawa gunung tidak terasa menyengat lagi. Gemak Ideran mencoba tidur lagi, akan tetapi suatu ingatan membuat dirinya terbangun benar-benar. Celaka, pikirnya. Kenapa aku membiarkan kudaku berga-dang di tengah alam terbuka?

Segera ia membawa kudanya ke dekat perapian agar kebagian rasa hangat. Kalau tidak., dia bisa masuk angin. Biasa nya perut yang diserang. Syukur, kuda pemberian Rawayani ternyata seekor kuda jempolan. Binatang itu masih muda dan tenaganya masih kuat-kuatnya. Meskipun demikian, Ge-mak Ideran merasa lalai. Apalagi semenjak kemarin petang belum kemasukan serbuk segenggampun. Dengan merasa salah ia menepuk-nepuk lehernya. Berkata berbisik :

"Sebentar lagi bila matahari sudah timbul, aku akan mencarikan serbuk dan rerumputan."

Karena fajarhari sudah tiba, Gemak Ideran mencari anak sungai. Ternyata Gunung Lawu kaya dengan anak sungai yang berair sangat jernih dan deras.

Setelah menanggalkan pakaiannya, ia mencoba merendamkan sebelah kakinya. Ih ! Bukan main dinginnya Tetapi dengan mengeraskan hati, ia mencebur. Lambat-laun, ia dapat melawan kesejukannya. Kini seluruh tubuhnya terasa menjadi segar nyaman.

la tidak segera kembali ke goanya. Setelah mengenakan pakaiannya, ia duduk terlentang di atas batu panjang menunggu matahari terbit. Begitu matahari mulai menyentuh dirinya, segera ia bangkit. Dusun-dusun yang berleret di bawahnya masih terlapisi kabut. Suara kokok ayam sekali-kali terdengar sambung-menyambung. Lambat tetapi pasti, penduduk mulai beralih dari tempatnya masing-masing. Kehidupan bangkit kembali. Meskipun disini tidak terdengar kentung bertalu, namun kesannya seolah-olah menyembunyikan sesuatu yang bakal terjadi.

Hm andaikata kedamaian meyelimuti seluruh kehidupan, dusun- dusun itu bakal bangun dengan kecerahannya. Biasanya di antara suara lenguh kerbau dan embik kambing terdengar suara kanak-kanak sedang tertawa ria atau menyanyi-nyanyi kecil.

Pelahan-lahan Gemak Ideran melangkahkan kakinya hendak kembali ke goanya. Goa tempat ia menginap berada di balik anak bukit terlindung pepohonan rindang. Begitu tiba di atas ketinggian, goa bekas pertapaan akan terlihat jelas. Suasananya sunyi senyap, tetapi tenang berwibawa. Pantaslah dipilih sebagai tempat permukiman seorang pertapa yang hendak memperoleh keseimbangan dan ketenangan hidup.

Sambil melangkahkan kakinya, pikiran Gemak Ideran mulai disibukkan kembali oleh masalah Niken Anggana dan Rawayani. Tetapi ia kini sudah memperoleh pegangan. Da-lam segala halnya, maka Niken Anggana menempati yang teratas. Pendek kata keselamatannya harus diutamakan. Terhadap Rawayani, iatidakboleh bersikapterlalu bersahabat. Meskipun gadis itu sudah menyatakan siapa dirinya, tetap saja asal-usulnya masih merupakan teka-teki baginya. - la terlalu cerdik, ganas dan berbahaya. - pikir berulang-kali di dalam hatinya. - Bagaimanapun juga, dia tidak akan melepaskan diriku. Sebenarnya apa maksudnya? Benarkah hanya demi memperoleh ilmu sakti yang dapat digunakan untuk membunuh Cing Cing Goling? Hari ini dia akan datang dengan membawa berita tentang Niken. Mudah-mudahan tidak kurang suatu apa.

Tiba-tiba hatinya tercekat. la berdoa untuk siapa? Untuk Niken Anggana atau Rawayani? Beberapa saat ia mempertimbangkannya. Akhirnya ia tertawa geli sendiri. Memang doanya berlaku untuk kedua-duanya. Kalau Rawayani dalam bahaya, dia tidak akan dapat membawa berita tentang Niken Anggana.

Sebaliknya seumpama Rawayani tidak kurang suatu apa namun Niken Anggana berada dalam kea-daan yang tidak diharapkannya, dunia akan jadi pepat baginya. Apa artinya kelangsungan hidupnya tanpa Niken Anggana? la merasa diri tak ubah sehelai daun kering tertiup angin kencang. Pendek kata hidupnya akan kesong tanpa makna.

Dengan pikiran itu ia menghampiri goanya. Mendadak saja ia tersentak kaget. Hai, di mana kudanya? Bergegas ia memasuki bekas pertapaan itu. Kudanya benar-benar tiada di tempatnya.

Sebagai gantinya ia melihat Rawayani sedang membakar sesuatu. Itulah sisa daging ayamnya yang dilumuri dengan minyak kelapa yang nampak jadi mengkilat. Rawayani sendiri mengenakan pakaian warna merah dengan kain leher dan lengan putih. la mengenakan sepatau laras tinggi seperti sepatu laras seorang perwira Kompeni Belanda. Wajahnya segar bugar dan menjelma menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa. Melihat kedatangan-nya, ia menyerukan salam tanpa beralih pandang pada daging ayam yang sedang dibakarnya.

- Hai ! Kau membuat aku repot saja. Mengapa kudamu kau biarkan bergadang di tengah alam terbuka tanpa kau beri makan dan minum?

Ditegur demikian, mau tak mau Gemak Ideran terpaksa tertawa merasa salah. Dengan mengen dalikan diri ia menghampiri. Minta keterangan :

- Lalu kau bawa ke mana? -

- Tentu saja harus diberi makan dan minum. - sahut gadis itu seraya menoleh. Wajahnya berubah dengan mendadak. - Hai ! Kau sekarang kelihatan seperti orang. -

- Seperti orang bagaimana? Apakah aku kemarin mirip siluman? -

Rawayani tertawa. Hebat bunyi suara tertawanya. Entah apa sebabnya, pagi ini terdengar merdu menggelitik hati. Pandang matanya berseri-seri sehingga membuat wajah-nya yang sudah caritik bertambah cantik. Katanya :

- Kau belum makan, bukan? Hari ini kau perlu makan se- kenyang-kenyangnya. - - Kenapa begitu? -

- Aku takut, kau tidak sempat makan lagi. -

- Mengapa? -

- Eh^ mengapa kau main bertanya melulu? - Gemak Ideran tertawa. Mengalihkan pembicaraan :

- Bagaimana kabarnya? -

- Tentang apa? -

- Kabar Niken Anggana. -

- Eh, kau bertanya lagi. - Rawayani menggerembengi. -Makanlah dulu. -

- Tidak. Aku harus menderigar kabarnya dulu. - Gemak Ideran bernafsu.

- Bagaimana mungkin aku bisa makan dan minum sebelum menderigar kabarnya. -

- Kau hanya menanyakan kabartentang dirinya. Mengapa tidak untukku? -

Gemak Ideran menyenak nafas. Mengalah :

- Baiklah ... ke mana saja engkau? -Rawayani tertawa geli. sahutnya : - Bertanya dan bertanya melulu. Kenapa begitL ? Menga-pa? Bagaimana kabarnya? Kau kemana saja? Baiklan kujawab dengan sepatah kata saja. Aku tidur. -

- Maksudku semalam engkau berada di mana? - Gemak Ideran menegas dengan tidak sabar lagi.

- Aku tidur. Jelas? -

Tak tahu lagi apa yang bergumul dalam diri Gemak Ideran. Rasa marah, rasa kecewa dan rasa penasaran bercam-pur aduk menjadi satu. Yang terasa, dadanya seolah-olah ingin meledak saja. Tetapi karena melihat Rawayani bersi-kap acuh tak acuh, ia mencoba menahan diri. Justru demi-kian, mukanya jadi merah padam. Rupanya Rawayani melihat perubahan wajahnya.

Langsung saja menegur :

- Hai, kenapa kau marah? Kau boleh tidur di sini. Masa-kan aku tidak boleh? -

- Tetapi bukankah engkau sudah berjanji? -

- Berjanji apa? -

- Bukankah kau berjanji hendak menyelidikinya dahulu?-

- Maksudmu menyelidiki keadaan Niken Anggana? -

- Benar. Begitu janjimu, bukan? - - Kalau aku sudah tahu keadaannya, untuk apa aku menyelidikiriya kembali? - Rawayani tertawa geli. - Baik, tarulah aku berjanji akan menyelidiki.Tetapi apakah aku berjanji hendak melapor padamu? Kapan? -

Didebat demikian Gemak Ideran terbungkam. Memang Rawayani tidak pernah berjanji demikian. Dia hanya mengabarkan bahwa Niken Anggana dibawa orang mendaki gunung Lawu pula. Cuma saja tidak menyebutkan siapa yang membawa Niken Anggana.

Nah, justru hal itu yang diharap-kan. Tegasnya tentang dia atau mereka yang membawa Niken Anggana ke atas gunung Lawu. la perlu keterangan. Tetapi kalau dipikir itulah alasannya sendiri yang diharapkan dari kesediaan Rawayani. Dalam hal irii, sama sekali ia tidak berhak untuk memaksanya memenuhi harapannya.

Memperoleh pertimbangan demikian, ia tidak berkata lagi.

- Hai ! Mengapa diam saja? -

Gemak Ideran tidak menyahut karena hatinya amat mendongkol. Dengan mengunci mulutnya, ia mulai mengemas-emasi bawaannya. Rawayani tertawa lagi. katanya menggelitik :

- Mau ke mana? -

- Itu urusanku sendiri. -

- Tidak bisa. Kau sudah berjanji hendak membantuku. -

- Bukankah masih satu bulan lagi? -

- Tetapi kalau hari ini engkau tidak cepat-cepat bertindak jangan harap dapat memenuhi janjimu.- - Memangnya kenapa? - Gemak Ideran tertarik.

- Sebab kau bakal tidak dapat bertemu lagi dengan Niken Anggana untuk selama-lamanya. -

Gemak Ideran merandek. Sebenarnya hatinya tergelitik. Tetapi teringat pengalamannya sebentar tadi, ia menahan diri. Pada detik ,tu ia sudah mengambil keputusan hendak mencari sendiri di mana Niken Anggana kini berada. Lagi-lagi Rawayani menegurnya :

- Makanlah barang sedikit ! Hawa di atas gunung kadangkala menyakiti orang yang berperut kosong. Apalagi hari ini ini engkau bakal menyaksikan sesuatu yang mene-gangkan hati. -

Gemak Ideran sudah menenteng golok dan bungkusan pakaiannya. Mendengar ucapan Rawayani dia menoleh. Pada saat itu Rawayani berkata lagi dengan mengulum senyum :

- Kau menghendaki aku minta maaf, bukan?Tetapi dalam hal ini aku tidak perlu minta maaf. Memang aku sedang bercanda. Kalau kau anggap salah, hitung-hitung kau membayar hutangmu satu kali. Tetapi belum induknya, Iho. Induknya masih utuh tiga. -

Sekian kali Gemak Ideran terpaksa menyenak nafass. Di dalam hati ia memang merasa kalah cerdik melawan gadis itu setengah siluman itu. Pelahan-lahan ia menghampiri dan duduk menghempaskan diri di atas sebuah batu. Pikirnya, kalau mau mendapat banyak ia harus berani bersabar hati. Dengan pikiran itu ia menerima angsuran paha ayam yang sudah terbakar licin. la mencoba mencicipi. Hai, bukan main sedapnya. Entah apa sebabnya, rasa laparnya lantas timbul begitu hebat.

- Kalau aku mati kena racunmu, kubur saja aku di sini. -ujarnya. Rawayani tertawa geli. Sahutnya :

- Nah, begitulah baru pantas disebut anak manis. -

- Eh, apakah aku harus memanggilmu dengan ibu atau bibi? -

- Itupun tidak perlu. - sahut Rawayani cepat. la sendiri duduk pula di atas batu yang berada di depan Gemak Ideran. Kemudiari sambit menggerumiti daging ayam, ia berkata. -

- Jangan kau kira sisa ayammu, Iho ! Ini kubawa sendiri dari sudah kulumuri racun. Dan kau bakal terikat lebih dalam. Sebab kau tidak akan sempat lari dari padaku. -

Gemak Ideran tahu, Rawayani sedang bergurau. Tetapi kenapa tiap patah katanya bisa menggelitik hatinya? la sendiri heran.

Benar-benar ia merasa diri tak ubahnya sebagai sebuah boneka yang bisa dipermainkannya. Namun pada saat itu pula, ia seperti merasa lebih mengenal perangainya.

Agaknya Rawayani tidak mau berbicara kalau tidak atas kemauannya sendiri. Apalagi bila dirinya merasa dipaksa atau disuruh dan diperintah. Karena itu, ia kini membawa sikap tak acuh. Dengan sikapnya itu, ia berharap Rawayani bercerita banyak atas kehendaknya sendiri. Ternyata ia benar. Tiba-tiba saja gadis itu berkata lancar:

- Gadis itu memang besar rejekinya. Jelas sekali dia disambar Antawati. Tetapi begitu di bawa lari serintasan datanglah dewa penolongnya. Seorang laki-laki dan seorang perempuan setengah umur. Kau tahu, siapa mereka? Merekalah Wigagu dan Sukesih, paman dan bibi Pitrang. Pitrang adalah anak pendekar Sondong Landeyan. Kau pernah mendengar namanya? -

Gemak Ideran menegakkan kepalanya, begitu Rawayani menyebut nama Wigagu, Sukesih, Pitrang dan Sondong Landeyan. Itulah empat tokoh utama dalam cerita Ki Gunacarita. Sebenarnya ia ingin menanggapi dengan bernafsu. Tetapi teririgat akan watak dan perangai Rawayani, ia me-nahan diri.

Justru bersikap demikian, diluar dugaan Rawayani menegur :

- Bagus, ya ! Kau anggap aku tiada beda dengan seorang dalang yang kau bayar untuk menjual cerita. Kau membungkam dengan harapan agar aku bercerita lebih banyak lagi, bukan? -

- O tidak, sama sekali tidak. - tak terasa Gemak Ideran menjawab dengan gugup. - Hm, siluman ini seperti bisa membaca hatiku. - ia mengutuk di dalam hatinya.

- Kalau tidak, mengapa membungkam? - - Karena ingin mendengarkan setiap patah katamu. Apakah salah? - GemaK Ideran tidak mau mengalah.

- Salahsih.. .tidak. Hanya saja setiap pertanyaan adilnya harus di jawab. mengapa engkau tidak menjawab pertanyaanku? - Rawayani menggerutu.

- Sebab aku harus tahu diri. -

- Tahu diri bagaimana? - Rawayani mendesak.

- Terus terang saja,aku pernah mendengar seorang dalang wayang Beber, menyebut nama-nama itu. -

- Apa katanya? -

- Dia hanya seorang dalang yang bisa memperkosa cerita macam apapun menurut pendapatnya. Pendek kata belum tentu benar.

Karena itu, aku harus tahu diri. -

- Coba ceritakan kembali ! Aku ingin mendengarkan. -

Dengan berat hati, Gemak Ideran memutuskan untuk mengiringkan kehendaknya. katanya kurang lancar:

- Yang bisa kuingat hanya sepotong-potong. Sondong Landeyan seorang pendekar besar. Pada suatu hari menolong seorang puteri cantik yang membawa-bawa sebilah pedang pusaka bernama Sangga Buwana. Puteri itu kemudian menjadi isterinya. Melahirkan seorang anak laki-laki bernama Pitrang. Kemudian puteri itu dilarikan sahabatnya. Sepasang muda-mudi yang bernama Wigagu dan Sukesi secara kebetulan mengetahui hal itu. Mereka mencoba menghalang-halangi. Tentu saja mereka kalah, karena yang melarikan puteri itu seorang ahli pedang.

Sudah ... hanya itu saja yang pernah kudengar. -

Rawayani mengamat-amati wajahnya seakan-akan sedang mencari sisa-sisa yang masih tertinggal di dalam tenggorokannya. Beberapa saat kemudiari berkata :

- Kalau begitu engkau pasti tahu siapa nama ahli pedang itu. -

- Tahu. Dia Haria Giri. -

- Ayah Niken Anggana, bukan? -

Gemak Ideran mengangguk dengan hati kebat-kebit. Syukur, Rawayani tidak menarik panjang: Gadis itu kembali menggerumiti daging ayamnya sambil berkata :

- Wigagu dan Sukesi selanjutnya menjadi murid pendekar Sondong Landeyan. Mereka berdualah yang kusebutkan tadi sebagai dewa penolong gadismu. Antawati boleh cerdik dan boleh licin selicin siluman, akan tetapi bertemu dengan mereka berdua, ia mengangkat tangannya. Dengan membungkuk hormat ia menyerahkan Niken Anggana. -

- Ah ! Apakah kepandaian mereka begitu tinggi sampai menakutkan Antawati? - potong Gemak Ideran setengah berseru dengan luapan rasa gembira. - Nanti dulu ! Jangan kau tergesa-gesa bekesimpulan bgitu. - sahut Rawayani cepat. - Semula aku berpendapat begitu juga seperti kataku tadi. Kemudian timbullah suatu perubahan yang membuat aku berpikir keras. Sebab tak lama kemudiari muncullah tiga orang. Yang dua mengenakan pakaian laskar kerajaan dan yang seorang berpakaian pendeta. Jelas sekali mereka bertiga pembantu-pembantu Antawati. Dengan munculnya tiga orang yang tentunya ber-kepandaian tinggi, benarkah Antawati menyerah dengan mudah ? Paling tidak, merpka berempat bisa mencoba-coba kepadaian Wigagu dan Sukesi. Oleh pikiran itu, aku menguntit mereka. Ah ternyata mereka lagi melakukan jual beli. -

- Jual beli bagaimana? - Gemak Ideran tak mengerti.

- Antawati menjual gadismu kepada Wigagu dan Sukesi. -

Gemak Ideran terlongong. Tetap saja ia tidak mengerti maksud Rawayani. Menegas :

- Apa maksudmu dengan istilah menjual? - Rawayani tertawa. Menjawab :

- Antawati memang benar-benar siluman cerdik. Ingat-ingatlah hal itu. Dia harus kau perhitungkan. Bukan mustahil dia justru lebih berbahaya dari pada ayahnya. Pantas dia dipercayai ayahnya. - ia berhenti mengesankan. Kemudiari melanjutkan dengan sungguh-sungguh.

- Memang dia bekerja untuk ayahnya. Tetapi caranya bekerja benar-benar rapih dari berhati-hati. Kau tahu apa tujuannya? Itulah masalah pedang Sangga Buwana. -

- Ah ! -

Gemak Ideran tercekat hatinya. Suatu bayangan melintas di dalam benaknya. Akan tetapi terlalu cepat, se-hirigga ia tidak berhasil menangkapnya dengan cepat.

- Mula-mula ia tentunya menyelidiki Niken Anggana, gadismu itu.

- Rawayani mulai lagi. - Setelah yakin tiada padanya, dengan cepat ia berputar haluan. Mulailah ia menyelidiki riwayat pedang itu. Berpalinglah ia kepada Sondong Landeyan dan Haria Giri, gara-gara ibu Niken Anggana. Pe-ristiwa ini akan dimanfaatkan dengan baik. Dalam hal ini, dia minta petunjuk ayahnya. Kau pernah mendengar seo-rang tokoh bernama Ki Agerig Telaga Warih? -

- Tidak. -

- Dialah paman guru pendekar Sondong Landayen. Dia seorang pendekar angin-anginan dari Kediri. Itulah sebab-nya aku mengenal namanya, karena aku puteri Kediri. Dia sakti dan ditakuti orang. Menurut kabar, dia pulalah yang merampas pedang Sangga Buwana dari tangan Haria Giri. Maka Antawati yakin, pedang Sangga Buwana berada di kediaman Sondong Landayen. Mau menyateroni terang-terangan, Cing Cing Goling rupanya tidak berani. Maka dicari-lah jalan memutar. Cing Cing Goling tahu, Sondong Landayen tewas di tangan Haria Giri.

Mengapa tidak dicarikan alat tukar yang seimbang? Kalau Niken Anggana dapat di-tangkapriya hidup-hidup dapat menjadi alat yang ampuh demi membalas dendam kepada Haria Giri. Dan ia berhasil menawan Niken Anggana. -

- Sebentar! - potong Gemak Ideran. - Waktu itu aku berada di atas genting. Sempat aku mendengar kata-kata Cing Cing Goling. Menilik ucapannya, dia masih yakin pedang Sangga Buwana berada di tangan Haria Giri. Maka Niken Anggana akan dibuat alat tukar untuk memperoleh pedang Sangga Buwana yang berada di tangan Haria Giri. -

Rawayani tertawa. Beberapa saat kemudiari berkata :

- Yang mendengarkan maksudnya itu lebih daripada seorang, bukan? -

- Benar. Tambal Pitu dan anak laki-lakiriya. -

- Hm, Cing Cing Goling tidak hanya cerdik tetapi berhati busuk. Jangan lagi terhadap adik-seperguruannya. Bahkan terhadap anaknya sendiri tidak percaya. Kecuali terhadap Antawati seorang. Dialah satu-satunya orang yang dipercayai. - - Oh, jadi maksudmu... pada saat itu dia sudah tahu pedang Sangga Buwana tidak berada di tangan Haria Giri? -

- Tentu saja. - sahut Rawayani pendek. - Niken Anggana terlepas dari kamar tahanannya. Tetapi ia tertangkap kembali berkat kecerdikan Antawati. Gadis itu tahu, anak murid Sondong Landeyan menyimpan dendam setinggi gunung terhadap Haria Giri. Dia yakiri, Niken Anggana yang berada di tangannya akan menarik hati Wigagu dan Sukesi. Tetapi diluar dugaanku pular anak-murid Sondong Landeyan ternyata berjumlah tujuh orang.

Mereka akan berkumpul di dekat Batu Karang di atas Gunung, tempat terjadinya malapetaka. -

- Maksudmu? -

- Menurut kabar, Sondong Landeyan terjerumus di dekat batu itu ke dalam jurangr Tetapi berita ini masih kusangsikan, mengingat jumlah muridnya melebihi dua orang. Padahal Sondong Landeyan semenjak mudanya hidup menyendiri. Bukan mustahil Sondong Landeyan masih hidup. -

Gemak Ideran memiringkan kepalanya. Beberapa waktu lamanya ia berdiam diri. Lalu berkata :

- Apakah tidak mungkiri, mereka adalah adik-seperguruan pendekar Sondong Landeyan? -

- Itu mungkin sekali. - Rawayani membenarkan. - Hanya saja kita harus berhati-hati dan berwaspada. - - Maksudmu apakah kita mau ke sana? -

- Hai ! Bukankah erigkau ingin membebaskan Niken Anggana?-

- Tentu, tentu ... - sahut Gemak Ideran gugup. Rawayani tersenyum. Berkata :

- Maka itu, makanlah yang kenyang. Kau bakal mengha-dapi suatu masalah yang menegangkan. Bukankah begitu kata-kataku sebentar tadi? -

Gemak Ideran mengangguk. Sekarang barulah ia me-tigerti makna ucapan Rawayani. Selagi hendak membuka mukjtnya, Rawayani berkata lagi :

- Kau harus memperhitungkan kehadiran tiga pembantu Rawayani pula. Seorang yang mengenakan jubah pendeta dan dua orang berpakaian laskar kerajaan. -

- Kau sendiri bagaimana? -

- Bukankah satu bulan lagi? - Rawayani? - Rwayani tersenyum. - Dalam hal "mi aku tidak boleh serakah. Aku harus tahu diri.

Sebab setelah satu bulan, engkau akan menyertaiku sampai Cing Cing Goling mati di tanganku. Bukankah begitu perjanjian kita? -

Diingatkan tentang janji itu, hati Gemak Ideran berdebar-debar. Namun ia membawa sikap yang tenang. Sahutnya :

- Legakan hatimu, aku akan bersamamu setelah satu bulan lagi. - - Terima kasih. Berangkatlah ke Wukir Bayi. Di sanalah dahulu pendekar Sondong Landeyan bermukim. Carilah batu karang yang mencongak di atas tebing jurang. - ujar Rawayani. la merogoh sesuatu dari dalam sakunya dan me-ngeluarkan tiga butir pel berwarna merah. - Telanlah satu ! -

- Untuk apa? -

- Pada saat ini, engkau bukan lawan mereka. Tetapi dengan menelan obat istimewa ini,tenagamu berlipat sepuluh kali lipat. -

- Untuk selamanya? -

- Cukup lima gebrakan saja. Karena itu simpanlah yang dua butir ini. Dalam keadaan yang memaksa, telanlah dua butir sekaligus. Engkau akan tahan berkelahi satu hari penuh. -

sahut Rawayani dengan surigguh-sungguh.

- Pel ini dapat pula menangkis hawa racun llmu Batu Panas. -

Dengan berdiam diri ia menerima tiga pel istimewa pemberian Rawayani. Untuk menyenangkan Rawayani, ia benar-benar menelan sebutir sambil berkata :

- Bukan mustahil, semenjak saat ini aku akan menjadi hambamu.

- - Hambaku? - wajah Rawayani berubah. - Sama sekali tidak. Pel ini tiada racunnya. Hanya saja setelah menggunakan tenaga, engkau harus beristirahat satu malam penuh. Kau tak percaya? Kalau ragu-ragu, buanglah ! -

- Rawayani, aku percaya padamu. Andaikata toh berisi racun sehingga aku terpaksa menjadi budakmupun, aku tidak menyesal. - ujar Gemak Ideran. Kali ini ia berbicara de-ngan setulus hati. la merasa berhutang budi beberapa kali terhadap gadis itu.

- Hanya saja mengapa aku harus menelan sebutir, padahal aku belum berkelahi? -

- Untuk berjaga-jaga terhadap serangan gelap. Sebab baik Antawati maupun Wigagu dan Sukesi, tidak senang diikuti orang. Bila tiba-tiba engkau diserang, dengan pertolongan pel istimewa itu engkau dapat bergerak lebih cepat atau mampu memukul balik. -

- Baiklah, hari sudah pagi. Perutku sudah kenyang pula. Apakah aku perlu berkuda? -

- Tak mungkiri engkau berkuda. Lebih baik engkau berja-lan kaki. Kudamu berada di kampung bawah itu. Mana bungkusan pakaianmu? Biarlah aku yang mengurus. -

Setelah berkata demikian, ia berdiri. Tanpa permisi lagi, ia menyambar bungkusan pakaian Gemak Ideran dan dibawanya pergi turun ke bawah. Cepat sekali gerakannya. Sebentar saja bayangannya sudah lenyap di baliktikungari jalan.

Gemak Ideran mengikuti kepergiannya dengan pandang matanya. la merasa seakan-akan berada dalam dunia impian. Dan bey.tu bayangan Rawayani hilang dari penga-matannya, ia merasa kehilangan.

la heran apa sebab demikian. Padahal ia tadi sudah memutuskan untuk bersikap acuh terhadapnya. Ternyata keputusannya dilanggarnya sendiri. la benar-benar merasa diri di bawah kekuasaannya. Tidak hanya satu atau dua kali ia merasa demikian. Bukan mustahil untuk selama-lamanya.