Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 14

Jilid 14

Tetapi tiga hari kemudian ditemukan oleh penduduk dan sampai ke telinga Mahesa Bangah. Cing Cing Goling berpura-pura hendak menuntut balas. la mengajak Mahesa Bangah untuk menyelidiki mayatnya. Surajaya ikut pula. Di tengah jalan ia disuruh mendahului. Kini tinggal berdua saja dengan Mahesa Bangah. Cing Cing Goling kemudian berlagak mencurigai Surajaya. Apa alasanmu, tanya Mahesa Bangah. Itulah masalah perebutan, jawab Cing Cing Goling.

- Apa yang jadi perebutan ? - Mahesa Bangah mendesak. Cing Cing Goling berkeberatan untuk mengatakannya. Tetapi setelah didesak berulangkali ia berkata :

- Tak dapat kukatakan dengan mulut terbuka. -

- Kenapa ? Apakah takut didengar orang ? -

- Ya, karena masalah ini menyangkut diri kakang Mahesa. -ujar Cing Cing Goling.

- Menyangkut diriku ? - Mahesa Bangah tercengang.

- Biarlah kubisikan saja. -

Mahesa Bangah kena dilagui. Benar-benar ia memiringkan kepalanya memasang telinganya. Pada saat itu, tiba-tiba saja Cing Cing Goling menghantam kempungan Mahesa Bangah dengan Ilmu Sakti Batu Panas tingkat lima. Seketika itu juga gemetarlah seluruh tubuh Mahesa Bangah.

Barulah ia sadar terjebak tipu-muslihat Cing Cing Goling. Tetapi sudah kasep. Meskipun demikian, masih sanggup ia membalas dengan melontarkan pukulannya. Pada waktu itu Cing Cing Goling baru menguasai Ilmu Batu Panas tingkat lima. Andaikata pukulan itu terjadi pada saat ini, Mahesa Bangah tidak akan mempunyai kesempatan untuk membalas. Bahkan bernafas saja sudah tidak sempat.

Mahesa Bangah sebenarnya seorang pendekar yang licin dan ganas pula. Meskipun demikian masih dapat dikelabui Cing Cing Goling. Hal itu teijadi, karena sudah menganggap Cing Cing Goling sebagai adiknya sendiri. Sekarang ia tahu rasa sendiri.

Setelah melontarkan pukulannya, ia roboh terjungkal. Sekujur badannya serasa direbus di dalam wajan neraka. la mati meringkuk beberapa jam kemudian. Tetapi pukulannya yang dilontarkan kepada Cing Cing Goling masih juga kuasa melukai- nya. Dengan terpincang-pincang Cing Cing Goling melarikan diri dan menghilang dari percaturan masyarakat.

Surajaya yang kembali dari sungai dengan membawa mayat kemenakan muridnya terkejut bukan kepalang menyaksikan kematian. kakak seperguruannya. Tanpa berpikir panjang lagi, terus saja ia memeluknya. Masih sempat ia mendengar hembusan nafas penghabisan yang ke luar dari mulut kakaknya seperguruan. Sayang, nafas Mahesa Bangah yang ke luar dari mulutnya sudah mengan dung bisa.

Karena Mahesa Bangah sesungguhnya melatih ilmu sakti beracun. Hembusan nafasnya yang peng habisan itu mengenai sebelah mata Surajaya, sehingga untuk selanjutnya ia buta sebelah. Dengan demikian, secara tidak langsung Cing Cing Goling lah yang menjadi biang keladinya. Maka dengan membawa dendam kesumat ia mencari tempat persembunyiannya Cing Cing Goling. Dan baru pada hari itu, ia menemukan sarang musuh besarnya yang berada di balik sebuah bukit yang dilindungi medan terjal dan petak hutan raya.

- Surajaya ! - jawab Cing Cing Goling menghadapi tuduhan Surajaya. - Aku memang berdiam di sini dan selamanya tidak pernah melangkah ke luar perkampunganku. Bagaimana kau bisa mencari kediamanku ? - .

- Hm, itulah berkat Tuhan Yang Maha Kuasa. Meskipun bangsa iblis yang melindungi sangat hebat, masakan bisa luput dari mata Tuhan ? Secara kebetulan aku melihat dua orang mati meringkuk seperti udang di tepi sungai. Apa penyebabnya kalau bukan karena terpukul Ilmu Batu Panas. -

Di dalam hati Cing Cing Goling mengeluh. Itulah perbuatan anaknya. Namun ia tidak gentar menghadapi macam ancaman apapun. Dengan mendongakkan kepalanya ia tertawa terbahak- bahak Ucapnya :

- Ha ha ha ha tidak salah ! Memang itulah akibat pukulan ilmu

sakti kami. Kau lantas teringat kepada kakakmu seperguruan, bukan ? Hei bagaimana kabar kakak iparmu ? -

- Karena gara-garamu beliau bunuh diri. Untung, masih sempat ia melahirkan seorang putera sebelum tangan jahilmu membunuh suaminya. Sekarang anak itu sudah tumbuh menjadi seorang pemuda. Pada suatu kali dia akan datang kemari untuk mengambil jiwamu. - - Bagus, bagus ! Siapa dia ? -

- Ingat-ingatlah ! Dia bernama Singgela. -

Cing Cing Goling mengerinyitkan dahinya. Nama itu seperti pernah di dengarnya. Ah! Bukankah nama itu disebutkan anaknya di hadapannya semalam ? Kembali lagi ia tertawa terbahak- bahak. Serunya :

- Baiklah, apa yang kau tuduhkan aku tidak akan menyangkal lagi. Memang aku yang membunuh Mahesa Bangah. Sekarang kau mau apa ? -

Surajaya mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Berkata :

- Pilihlah ! Kau menghendaki urusan ini diselesaikan sekarang juga, apakah ikut aku pulang ke Banyumas ? Di depan para murid almarhum, kau nanti akan menunggu keputusannya. Syukur, bila kau diampuni -

Cing Cing Goling tercengang. Itulah penghinaan sebesar- besarnya bagi dirinya. Maka dengan wajah merah padam ia membentak :

- Benar-benar mulutmu amat besar! Kau anggap orang macam apa aku ini ? Aku Cing Cing goling, selamanya berada di atas kepala pemerintahan sendiri. Sekarang kau menghendaki menjadi kambing yang akan kau tuntun ke Banyumas sebagai pesakitan ? Hm, hm benar-benar besar mulutmu ! Hai dengar! Meskipun kau mencaci-maki dirimu, aku tetap membawa sikap menghor mat terhadapmu, Kau memasuki rumah orang tanpa mengucapkan salam. Meskipun demikian, aku tidak menegurmu. Sekarang kau berani berlagak hendak menghukum diriku ? Kau tahu apa sebab nya kakakmu seperguruan dulu mati di tanganku. Itulah akibat ulahnya sendiri yang besar mulut. Dia berlagak menjadi pendekar besar tanpa landing. Nyatanya dia mampus di tanganku. -

Tentu saja kata-kata Cing Cing Goling adalah pemutar balikan pcristiwa yang sesungguhnya.Akan tetapi karena Surajaya sendiri tidak tahu apa penyebab sesungguhnya tak dapat ia mengadakan reaksinya selain memaki kalang kabut.

- Bangsat tua! Apapun alasanmu engkau tetap berhutang jiwa. Maka pada hari ini aku akan memenggal kepalamu - bentak Surajaya dengan suara bergemuruh.

Dengan pandang mata berkilat-kilat, Cing Cing Goling menyapu keenam tetamunya. Sejenak kemudian ia kembali tertawa.

Katanya dengan nada dingin :

- Apakah kamu semua datang ke kediamanku untuk membantu Surajaya ? Berkatalah yang jelas dulu ! Kita cukup hanya main sentuh saja atau benar-benar hendak mengadu kepandaian ? Coba pertimbangkan dan pikir dulu masak-masak. -

Jelas sekali dia sombong sekali. Tanggul Tuban yang semenjak tadi berdiam diri maju selangkah seraya berkata : - Sudah lama aku mendengar kabar tentang ilmu saktimu. Kau masih ingat peristiwa Tuban, bukan ? Kau bergabung dengan Kompeni semata-mata karena ingin menggarong harta benda Kadipaten Tuban. Sekarang sudah jelas semuanya. Harta benda garonganmu itu kau buat mendirikan perkam pungan ini. Bagus sekali perbuatanmu Maka atas nama rakyat Tuban aku datang mencarimu untuk mencoba tulang-tulangku yang sudah keropos ini melawan ilmu saktimu yang bisa membakar orang menjadi udang kering. -

- Tahan ! - teriak Purusa.

Dan pemuda itu lantas saja melompat maju dengan menghunus pedangnya. Gerakannya diikuti temannya yang hampir sebaya. Dialah Sagopa.Melihat majunya dua orang pemuda yang usianya sebaya dengan anaknya, Cing Cing Goling terheran-heran.

Serunya :

- Hai, hai ! Sebenarnya kamu ini siapa ? -

- Aku Purusa. Dan adikku ini bernama Sagopa. - sahut Purusa dengan suara lantang. - Kami adalah putera Adipati Tuban yang datang kemari untuk menuntut balas. -

- Menuntut balas ? Perkara apa ? -

- Bukankah paman Tanggul Tuban sudah menjelaskan ? Kau merampok harta benda kami. Kembalikan atau pada hari ini engkau tidak akan dapat mcnghirup udara segar lagi. - Mendengar ucapan Purusa, Cing Cing Goling tercenung. Seorang bocah kemarin sore berani berkata begitu kepadanya ? Saking mendongkolnya ia tertawa terbahak-bahak sekian lamanya.

Kemudian menyahut:

- Baiklah, anggap saja aku salah dan kalian hendak menuntut balas dengan alasan kalian masing-masing. Tetapi untuk melayani kalian berdua.....hmmm hai Kadung ! Aku muak

mendengar ucapan bocah kemarin sore ini. Layani sebaik- baiknya agar mereka belajar membungkam. -

Yang dipanggil Kadung adalah si Kadung yang roboh tergempur pukulan Gemak Ideran satu gebrakan saja. Sekarang ia maju memasuki kalangan. Sebaliknya Purusa dan Sagopa belum berpengalaman. Baru untuk pertama kali itu ia berkelana. Karena itu, tidak dapat menangkap apa yang tersirat di balik kalimat- kalimat Cing Cing Goling. Lantas saja menyahut:

- Kami tidak bermaksud hendak minta makan atau minum disini. Kami datang justru hendak mengambil kembali hak kami. -teriak Purusa.

- Apakah kau bisa ? - tantang Kadung.

- Silahkan ! -Ternyata Kadung adalah murid kesayangan Cing Cing Goling.

la sudah mencapai tingkat dua. la maju dengan membawa senjata berbentuk payung. Melihat majunya Kadung, Gemak Ideran tertawa geli. Rawayani yang berada disampingnya heran. Minta keterangan :

- Kau kira Kadung tidak dapat melawan Purusa ? -

Gemak Ideran memperhatikan Purusa yang maju seorang diri. la sudah mulai menyerang. Gerakan pedangnya cepat dan indah. Sebaliknya Kadung hanya membela diri dengan senjata yang berbentuk payung. Kadang dibuka dan kadang pula ditutup.

Sesekali dibuatnya menusuk semacam tombak pendek. Gerakannya kaku menggelikan.

Karena itu, kembali lagi Gemak Ideran tertawa.

- Kau menertawakan siapa ? - Rawajani menegas.

- Orang tolol itu. Siapa lagi ? - sahut Gemak Ideran dengan masih mengulum senyum merendah kan. - Rupanya dia termasuk murid pilihan Cing Cing Goling. Kalau tidak, masakan diperintahkan untuk melawan Purusa seorang diri. Ah, kukira ilmu sakti Batu Panas begitu hebatsehingga perlu ditakuti, Kiranya gerakannya hanya begitu saja. -

- Apa ? - Rawayani tercengang. - Mungkin kau salah tafsir. Beranikah engkau bertaruh ? -

Gemak Ideran teringat apa yang dilakukan semalam terhadap Kadung. Dengan sekali sodok saja, Kadung roboh terjungkal. Karena itu dengan cepat ia menyahut: - Baik. Apa taruhannya ? -

- Dengarkan dulu ! Aku berani bertaruh, pemuda itu bakal terjungkal melawan Kadung. -

- Apa taruhannya ? -

- Jadi kau menjagoi Purusa ? -

- Ya. Apa taruhannya ? - untuk ketiga kalinya Gemak Ideran menantang bertaruh.

- Kalau Purusa kalah, kau harus berjanji patuh pada setiap perintahku untuk tiga kali saja. Bagaimana ? -

- Baik. Kuterima taruhanmu. Sebaliknya bagaimana ? -

- Akupun akan tunduk pada kehendakmu untuk tiga kali pula. - sahut Rawayani.

- Baik. -

Keduanya lantas bersalaman sebagai tanda jadi Pada saat itu Rawayani tertawa di telinga Gemak Ideran. Gemak Ideran heran apa maksud Rawayani. Dengan penasaran ia memperhatikan jalannya pertempuran. Purusa waktu itu terus menerus menyerang Kadung bagaikan hujan badai.

Menyaksikan ketangguhan ilmu pedangnya, diam-diam hati Gemak Ideran girang. Segera ia membalas tertawa di dekat telinga Rawayani yang meringkaskan lehernya karena merasa geli.

Akan tetapi lambat laun terjadi suatu perubahan yang membuat Gemak Ideran berkecil hati. Memang serangan Purusa cepat dan cukup hebat. Tetapi hanya pada permulaannya. Kadung kena didesak mundur berputaran. Selanjutnya kelihatan makin kendor. Mengapa ? Gemak Ideran mengeluh. Gerakan pedangnya mulai terpengaruh oleh gaya permainan lawannya.

Gemak Ideran heran bukan main. Sewaktu memperhatikan gerakan payung Kadung ternyata mempunyai jurus-jurus yang terarur rapih. Selain dapat dipergunakan sebagai perisai, sekali- sekali bisa dibuat menusuk dan membabat bagaikan pedang.

Meskipun demikian, andaikata Purusa masih saja dapat mempertahankan langgam gerakan pedangnya, pertempuran adu kepandaian itu bermlai seimbang.

Kira-kira setengah jam kemudian, permainan Purusa makin nampak kacau. Hati dan tangannya tidak dapat lagi seirama dan sejalan. Payung Kadung perlahan-lahan dapat mengurung Purusa dengan pasti. Akibatnya Purusa semakin tersita medan geraknya. Tidak dapat lagi pedangnya bergerak dengan leluasa.

- Jangan-jangan Kadung menerima ajaran Ilmu Batu Panas pula dari majikannya ..- kata Gemak Ideran berkomat-kamit .

- Tentu saja. Bukankah dia memanggil Cing Cing Goling sebagai guru pula ? - sahut Rawayani. - Kalau tidak, masakan aku berani bertaruh ? Hanya saja, dia baru sampai tingkat dua. Sangatlah jauh bedanya bila dibandingkan dengan gurunya. -

Gemak Ideran terguru. Sampai sebegitu jauh, belum dapat ia melihat keistimewaan pukulan-pukulan Ilmu Sakti Batu Panas. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Justru keistimewaannya, setiap pukulannya tidak memperlihatkan kehebatannya. Wajarsaja, akan tetapi tahu-tahu lawannya sudah terkurung rapat.

Untung, Kadung baru mencapai tingkat dua. Belum dapat pukulannya membunuh lawan. Meskipun demikian sudah sempat membuat Purusa menjadi bingung. Karena merasa sulit bergerak, tenaganya jadi berkurang dengan sendirinya. Tak dapat lagi ia menggerakkan kaki dan tangannya seperti kehendak hatinya.

Tanggul Tuban dan Urang Ayu heran juga menyaksikan betapa putera Adipati Tuban tidak dapat berkutik lagi. Padahal, meskipun masih dangkal, setidak-tidaknya ia pasti sudah mewarisi ilmu keluarganya yang termashur semenjak jaman Majapahit. Itulah ilmu sakti warisan Ranggalawe yang disegani lawan dan ditakuti kawan, Khawatir putera adipati itu akan mendapat malapetaka, tak dapat lagi ia menahan diri. Terus saja ia melompat masuk ke dalam gelanggang sambil mengibaskan pedang pusakanya.

Melihat masuknya Tanggul Tuban, Cing Cing Goling tertawa. Serunya :

- Apakah engkau hendak memberi pelajaran kepada murid-ku?-

- Aku justru ingin mencoba-coba tulang tuaku denganmu. Biarlah anak-anak beristirahat. Kita orang-orang tua yang mendapat giliran. - sahut Tanggul Tuban dengan gagah.

Cing Cing Goling mengurut-urut kumisnya yang sudah beruban. la tertawa lagi. Berkata merendahkan : - Sebenarnya akupun ingin melihat warisan ilmu sakti tuanku Ranggalawe yang pernah menggetarkan jagad. Sayang, kau menggaiiggunya. Memang cara bertempur mereka masih berbau anak kemarin. Meskipun begitu, enak juga untuk ditonton. Apakah engkau terganggu ? Baiklah diarur begini saja. Biarkan mereka berkelahi sepuas-puasnya. Kau sendiri yang mencari permusuhan biar dilayani adikku Tambal Pitu. Tambal Pitu, layani dia ! -

Ilmu kepandaian Tambal Pitu, sudah mencapai tingkat lima. Hanya saja jarang sekali ia ke luar perkampungan, sehingga namanya tidak dikenal orang. Padahal sewaktu Cing Cing Goling baru mencapai tingkat lima, sudah dapat membunuh Mahesa Bangah yang termashur, meskipun dengan caranya sendiri. Itulah sebabnya, Tanggul Tuban tidak berani meman dangnya enteng. Apalagi Cing Cing Goiing menyebutnya sebagai adik-seperguru- annya. Tentunya susah diukur betapa tinggi kepandaiannya.

Lantas saja ia mengibaskan pedangnya sebagai tanda bersiaga. Berkata:

- Ternyata Tambal Pitu seorang pendekar yang rendah hati.- Dengan sopan ia menjawab :

- Mohon maaf. Aku tidak dapat menggunakan senjata macam apapun. Aku seorang petani yang biasa mencangkul. Senjataku hanya kedua belah tanganku. -

Tanggul Tuban tercengang. Benarkah dia berani melawan dirinya hanya dengan tangan kosong ? Tetapi ia yakin, pasti ada alasannya. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia menggerakkan pedang- nya.

Memang ia seorang yang berpengalaman. Beberapa kali ia terlibat dalam suatu pertempuran besar maupun perorangan. Makin aneh musuhnya, makin ia berhati-hati. Benar saja. Tiba- tiba ia melihat gerakan tangan Tambal Pitu yang ajaib. Setiap kali tangannya bergerak, selalu membawa kesiur angiji berhawa panas tak ubah tumpukan bara yang menyala. Seketika itu juga ia membungkam mulutnya dan melindungi dadanya. Kemudian mulai menyerang dengan tikaman-tikaman cepat Pedang Tanggul Tuban termasuk pedang mustika.

Nampaknya lemas tak bertulang-tulang. Tetapi dengan mendadak dapat menjadi keras sehingga kalau perlu berani mengadu keras melawan keras. Setiap kali dikibaskan selalu membawa suara berdengung. Mau tak mau Tambal Pitu memuji di dalam hatinya.

- Pantaslah dia bernama Tanggul Tuban. Nyatanya, kepandaiannya boleh diandalkan semacam tanggul sungai Berantas. -

Segera ia membuka kesepuluh jarinya. Lalu dikibaskan seakan- akan seseorang sedang mengipas angin. Tanggul Tuban terperanjat Sebab dengan tiba-tiba pedangnya mendengung tanpa sebab yang jelas. Terasa pula, ia seperti terdorong sehingga pedangnya yang lemas meliuk akan menghantam dahinya. Buru-buru ia mengerahkan himpunan tenaga saktinya untuk menegak-kannya.

Tetapi dengan demikian, berarti ia kehilangan waktu sedetik dua detik. Bagi seorang yang berkepandaian tinggi, waktu memegang peranan yang amat penting. Karena itu ia jadi penasaran. Lantas saja ia berbalik menyerang. Setelah saling menggempur sepuluh kali berturut-turut, kedudukan mereka jadi berimbang. Tanggul Tuban tidak sudi membiarkan lawannya menyerang dirinya.

Sebaliknya Tambal Pitu berpendirian begitu juga. Sedikit demi sedikit ia mendesak dengan gerakan tangannya yang nampak berserabutan.

Tanggul Tuban heran bukan main. Dia bersenjata, sebaliknya lawannya bertangan kosong. Meskipun demikian, lambat-laun ia merasa kena dipengaruhi gerakan tangan lawannya. Padahal bukankah pedangnya dapat digunakan untuk menabas? Namun anehnya, kesempata itu tidak pernah diperolehnya. Dan pada suatu saat, ia mendengar Tambal Pitu tertawa riuh sambil berkata

:

- Tanggul Tuban, agaknya kau perlu beristirahat! -

Ucapannya itu dibarengi dengan tenaga Ilmu Sakti Batu Panas tingkat lima. Seketika itu juga, pedang Tanggul Tuban mendengung dan meliuk lemas. bukan kepalang terkejutnya Tanggul Tuban. Buru-buru ia mengerahkan tenaganya untuk mempertahankannya. Justru demikian, pedangnya makin tidak dapat dikuasainya. Batangnya yang lurus tergoyang-goyang bergetaran dan setiap kali meletik-letik hendak memukul balik. Menghadapi kenyataan itu, ia bertindak cepat. Buru-buru ia melompat mundur.

Surajaya dan Surengrana kaget tak kepalang. Tanpa berjanji, mereka berdua melompat memasuki gelanggang. Dan pada saat itu pula, Purusa sudah terdesak terus-menerus oleh Kadung.

Sagopa yang menyaksikan betapa kakaknya berada dalam kesulitan, langsung saja memasuki gelanggang pertempuran dengan mengibaskan pedangnya.

Menyaksikan peristiwa itu, Cing Cing Goling tertawa terbahak- bahak. Serunya nyaring :

- Kamu semua mengaku diri kaum lurus, kaum satria. Kenyataannya, kalian main keroyok seperti perampok-perampok murahan. -

- Hm. - Surajaya mendengus. - Menghadapi kepala Iblis, tidak dapat kami memegang aturan para satria. Kalau kau menghendaki tata-atur demikian, bayar dulu jiwa kakakku ! -

Surajaya sendiri sebenarnya termasuk golongan liar. Kakak- seperguruannya mendirikan semacam pemerintahan sendiri. Berada di sekitar Majenang. Tetapi mereka mengaku orang-orang Banyumas. Tata-atur pemerintahannya tidak beda dengan Cing Cing Goling. Bahkan Cing Cing Goling sebenarnya di ilhami dari cara hidup Mahesa Bangah Karena itu tidak tepat Surajaya mengaku dirinya seolah-olah golongan kaum lurus atau kaum ksatria.

Sebaliknya, Surengrana pernah menjadi Adipati Surabaya. Mendengar tegur sapa antara Cing Cing Goling dan Surajaya, ia merasa diri agak segan, Segera ia menengahi dengan ucapannya yang tenang :

- Adinda Urang Ayu, tolong perhatikan suamimu. Dengan begitu Surajaya bisa berhadap-hadapan sendiri melawan Cing Cing Goling, -

Cing Cing Goling tertawa terbahak-bahak. Lalu berkata lantang kepada Surajaya :

- Surajaya, seorang diri engkau bukan tandinganku. Karena engkau menuruti kebiasaanmu, suruhlah semuanya saja maju berbareng ! -

Tentu saja ucapan Cing Cing Goling membuat Surajaya marah. Setelah kakaknya meninggal ia ditunjuk sebagai pengganti-nya. Mula-mula ia menolak, karena merasa kepandaiannya jauh berada dibawah almarhum kakaknya seperguruan. Tetapi karena tiada lagi yang memiliki kepandaian mendekati Mahesa Bangah terpaksa ia menerima jabatan itu. Apa yang dilakukannya mula- mula ialah meningkatkan kepandaiannya.

Dan ia memperoleh waktu duapuluh tahun lamanya. Kecuali itu, ia mulai mempelajari ilmu racun. Seluruh anak-muridnya diperintahkan memelihara jenis ular dan tetabuan yang dilumuri racun ular itu. Selama itu ia tidaklupa untuk menuntutkan dendam kakaknya seperguruan. Sekarang musuh besarnya sudah berada di depan matanya. Jangan lagi dia minta ampun, sebaliknya malahan menghinanya. Keruan saja dadanya serasa hendak meledak saja. Lantas saja ia mengangkat tongkat raksasanya dan menyerang bagaikan angin puyuh.

Serangannya memang dahsyat dan cepat luar biasa. Gemak Ideran yang mengintip dan balik pintu sampai terkejut. Andaikata dirinya yang kena serang akan roboh dalam satu atau dua gebrakan saja. Akan tetapi Cing Cing Goling lebih cepat lagi.

Mendadak saja tubuhnya lenyap dari penglihatan.

Surajaya kaget bukan kepalang. Buru-buru ia menarik tongkatnya dan dibuatnya menutup diri. Pada saat itu ia merasakan kesiur angin berhawa panas luar biasa.

Sesungguhnya,itulah gerakan tubuh Cing Cing Goling yang melesat tinggi di udara dan melewati kepalanya. Sewaktu Surajaya berputar arah, Cing Cing Goling sudah berada pada jarak sepuluh meter di belakang punggungnya. la berdiri tepat di depan adik-seperguru-annya Tambal Pitu. Lalu dengan tertawa panjang ia berkata :

- Jika engkau main keroyok, aku mau melayani. Tetapi karena engkau hanya maju seorang diri, hem.....hern biarlah adikku

saja yang melayani dirimu. Aku kehilangan kegembiraanku. - Cing Cing Goling tidak hanya bermaksud merendahkan Surajaya saja, tetapi membawa sikap sombongnya. Tambal Pitu yang mengenal gaya kakak seperguruannya terus saja menyerang Surajaya. Sebentar tadi ia sudah bertempur melawan Tanggul Tuban. Meskipun demikian masih saja ia dalam keadaan segar bugar.

Karena diserang terpaksalah Surajaya melayani. Ia adalah adik kesayangan Mahesa Bangah. Di antara sekalian saudara-seper- guruannya, ilmu kepandaiannya paling tinggi. Apalagi dia memperoleh waktu latihan selama duapuluh tahun. Ilmu Tongkatnya amat hebat, hanya saja menghabiskan himpunan tenaga sakti.

Karena itu, jarang sekali ia menggunakannya. Gurunya dahulu menyebut ilmu tongkat itu dengan sebutan Ilmu Tongkat Kebo Lajer. Terdiri dari sepuluh pukulan. Setiap pukulan terdiri dari tujuh gerakan. Sekali dilancarkan harus tersambung terus- menerus sehingga digolongkan sebagai serangan berantai.

Tambal Pitu terperanjat melihat serangannya yang dahsyat luar biasa. la mencoba menembusnya, akan tetapi selalu terpental gagal. Diam-diam ia mengakui, bahwa musuhnya kali ini amat tangguh. Menghadapi musuh begini tidak berani ia main setengah-setengah. Terus saja ia mengerahkan segenap tenaganya untuk memperhebat daya serangannya.

Mula-mula ia menggunakan Ilmu Batu Panas tingkat tiga. Lalu tingkat empat dan akhirnya mening kat ke tingkat lima. Inilah puncak ilmu kepandaiannya yang dikuasainya. la terpaksa berbuat begitu, karena dengan menggunakan tingkat empat tetap gagal mem-pengaruhi lawan.

Sebaliknya, dalam hati Surajaya terkejut. Memang ia tidak dapat dirobohkan lawan. Akan tetapi daya serangan lawan makin terasa berat. Tubuhnyapun tiba-tiba saja mengucurkan keringat karena tersengat rasa panas luar biasa. Dengan penasaran ia mencoba merangsak. Namun Tambal Pitu lincah luar biasa. Lambat-laun hatinya goncang dan rasa tegang menjalari seluruh tubuhnya.

Oleh rasa tegang itu, Surajaya menyerang dengan gegap gempita. Kesiur angin bergulungan bagaikan badai menampar permukaan laut. Tambal Pitu melayani dengan tenaga lunak. Anehnya setiap serangan tongkat Surajaya yang menderu-deru dapat dihalau dengan mudah.

Gemak Ideran mengikuti perang tanding yang dahsyat itu. Itulah pertempuran maut yang benar-benar mengancam jiwa. Sekarang ia mengakui, ilmu Batu Panas benar-benar hebat. Inilah untuk yang pertama kalinya ia menyaksikan suatu pertempuran tingkat tinggi. Andaikata dirinya Tambal Pitu, tidak tahu caranya menghalau serangan tongkat Surajaya yang aneh dan dahsyat luar biasa.

Pikirnya, semalam Tambal Pitu mengaku baru mencapai tingkat lima. Meskipun demikian dapat melawan tongkat Surajaya dengan tepat dan lincah. - Hm Kukira di antara mereka, ilmu kepandaian Surajaya yang

tertinggi. Walaupun demikian, tidak mampu merobohkan Tambal Pitu. Bagaimana kalau Cing Cing Goling ikut maju ? Dia sudah mencapai tingkat tujuh. Pantaslah ia menantang mereka semua agar maju berbareng. -

Selagi sibuk berpikir demikian, tiba-tiba Rawayani membisiki:

- Sekarang saatnya engkau melarikan diri. -

- Lari ? - Gemak Ideran tercengang. - Katanya engkau akan menuntut balas terhadap Cing Cing Goling. -

- Benar. Tetapi waktunya belum tepat Aku akan menunggu saat mereka saling menggempur dan akhirnya saling melukai. Kukira sampai sorehari. Maka aku akan datang pada malam harinya.

Kau pergilah dulu ! Aku akan menemuimu. - sahut Rawayani dengan tenang.

- Apa ? Kau tahu di mana aku berada ? -

- Bukankah engkau menginap di Pesanggrahan ? -

- Ah ! Bagaimana engkau mengetahui ? - Gemak Ideran terperanjat

- Bahkan aku tahu lebih banyak lagi. Sebentar malam, engkau akan dimusuhi gerombolan orang bertopeng. - - Serombongan orang bertopeng ? Ah.....apakah.....- Gemak Ideran teraganga.

- Sudahlah jangan bertanya perkara tetek-bengek. - potong Rawayani. - Dengarkan baik-baik kata-kataku ini. Aku akan lari mendahuluimu untuk mengalihkan pembicaraan. Pada saat itu, lanlah engkau ke arah lain. -

Gemak Ideran masih ingin membuka mulutnya, tatkala gadis itu berkata lagi dengan suara agak sengit:

- Kau berjanji akan mendengar kata-kataku. Masih berlaku atau tidak ? -

Diingatkan tentang bunyi pertaruhan, Gemak Ideran tidak berani mengadakan reaksi. Tepat pada saat itu, Rawayani melesat ke luar pintu dan langsung menghampiri gelanggang. Munculnya gadis itu, mengejutkan anak murid Cing Cing Goling.

- Hoee kau ! - teriak Samiran.

Belum lagi ia sempat maju, jarum berbisa Rawayani meletik berhamburan dan merobohkan empat orang sekaligus. Keruan saja peristiwa itu mengejutkan pihak Cing Cing Goling. Iblis besar memutar tubuhnya dan membentak :

- Siapa kau ? - Rawayani tidak menjawab. Kembali lagi ia menaburkan jarum berbisanya. Tetapi tidak ditujukan kepada Cing Cing Goling, melainkan kepada Tambal Pitu yang sedang bertempur mati- matian melawan Surajaya. Sudah barang tentu Cing Cing Goling terperanjat.

Kalau sampai mengenai tubuh Tambal Pitu, adik seperguruannya itu akan mengalami malapetaka. Kecuali akan lumpuh terkena jarum berbisa, tongkat Surajaya akan meng-hancurkan dirinya.

Karena itu dengan mengerahkan tenaga sakti Ilmu Batu Panas tingkat tujuh, Cing Cing Goling melompat menyapunya dengan kibasan tangannya.

Pada detik itu, Gemak Ideran melompat ke luar pintu dan lari ke arah lain. Sebenarnya hatinya merasa tidak tega meninggalkan Rawayani. Gadis itu memang berkesan liar, namun ia mempunyai kesan sendiri yang sukar untuk diutarakan. Padahal atas kemauannya sendiri, ia akan memban tunya membalas dendam terhadap Cing Cing Goling.

Namun teringat akan teguran Rawayani, ia tidak berani menghentikan langkahnya. la percaya, Rawayani pasti bisa menolong dirinya. Karena itu, dengan menguatkan hatinya ia terus lari secepat-cepatnya.

Waktu itu, anak-murid Cing Cing Goling kena dibuat kacau oleh Rawayani. Gadis itu tidak hanya menaburkan jarum berbisa, tetapi juga meledakkan asap beracun pula. Maka gegerlah seluruh anak-murid Cing Cing Goling berikut majikannya. Sudah begitu, Surajaya dan kawan-kawannya seperti saling berjanji mengguna-kan kesempatan yang baik itu. Mereka menerjang berbareng dengan senjatanya masing-masing.

Gemak Ideran sendiri sudah melintasi pagar perkampungan Cing Cing Goling. la terus lari menda ki bukit Dan baru menghentikan langkahnya begitu tiba di atas bukit Terus saja ia menoleh dan melihat asap tebal mengepul di perkampungan itu. Terbakar musuh atau sengaja dibakar ?

- Meskipun Rawayani dapat mengacau, namun ilmu kepandaiannya tidak tinggi sehingga mustahil dapat membunuh Cing Cing Goling. - la yakin. - Paling-paling ia lari mundur sambil membakar rumah. Karena anak-murid Cing Cing Goling segan terhadap senjata beracunnya, dia dapat leluasa membakar rumah. Tentunya Cing Cing Goling terlibat suatu pertempuran mati-matian. Meskipun berkepandaian tinggi, susah untuk dapat merobohkan keenam lawannya. -

Tak terasa Gemak Ideran menyanak nafas panjang. Kesannya terhadap Rawayani benar-benar istimewa. Jahatkah dia ?

Ganaskah dia ? Sukar untuk menentukan dengan tepat. Sebab dibalik kekejaman dan keganasannya tersembunyi suatu misi yang tidak bisa terlalu disalahkan.

Dan andaikata dia tidak ikut-campur, keenam lawan yang memusuhi Cing Cing Goling tentu akan terguling roboh. Sebab kepandaian mereka masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Cing Cing Goling. Meskipun ia belum sempat menyaksikan kepandaian Surengrana, Urang Ayu dan Sagopa. Dengan begitu, berarti Rawayani bersedia mengorbankan kepentingannya sendiri demi menyela matkan mereka.

- Sebenarnya siapakah dia ? - Gemak Ideran berteka-teki dengan dirinya sendiri. - Benarkah dia puteri Dipajaya seperti yang dikabarkan Geringging ? -

Memikir demikian, tiba-tiba saja ia ingin bertemu kembali dengan Rawayani. Entah apa sebabnya, tetapi yang jelas dia ingin memperoleh kejelasan lebih banyak lagi tentang dirinya. Namun perasaan ngeri terdapat pula di dalam dirinya. Sebab tangan gadis itu terlalu gapah. Mudah sekali main racun dan membunuh orang.

17. ROMBONGAN BERTOPENG

TERINGAT AKAN janji Diah Windu Rini agar bertemu kembali di luar hutan. Tentunya petak hutan yang berada di seberang menyeberang sungai Berantas. Karena had sudah pagi, maka tak beram ia berkhayal lagi. Bukankah Rawayani akan menemui dirinya di pesanggrahan ? Maka tentang dirinya tidak perlu ia memikirkan berkepanjangan. Dia harus cepat-cepat bertemu dengan Diah Windu Rini dan melaporkan penglihatan-nya yang hebat dan menyeramkan. Lebih-lebih tentang kesannya terhadap Rawayani.

- Ayunda dan Niken tentunya sudah lama menunggu. -Pikiraya. Terbayanglah wajah Niken Anggana yang lembut dan cantik. Hatinya memang berada padanya. Diapun menaruh hormat padanya. Tingkah-lakunya tiada celanya. Budi-bahasanya memiliki pancaran pengaruh tersendiri.

Dan begitu terbayang wajah Niken Anggana, lenyaplah sebagian besar kesan peribadi Rawayani.

Kira-kira matahari sudah sepenggalah tingginya, sewaktu tiba-tiba terdengar suara tanda sandi Diah Windu Rini. Bergegas ia mengarah kepada bunyi mencicit di udara. Di atas sebuah batu yang terlindung semak belukar berdiri Diah Windu Rini dan Niken Anggana.

- Kemana saja engkau ? - Diah Windu Rini memberengut.

- Ayunda ! - seru Gemak Ideran menghampiri. - Dengarkan dulu. Aku tidak dapat segera ke luar dari perkampungan Cing Cing Goling. Begitu aku melintasi serambi belakang, tanganku kena disambar oleh seorang gadis bertopeng yang tadi malam muncul pula di pekarangan rumah Cing Cing Goling. -

- Gadis bertopeng ? - kedua alis Diah Windu Rini berdiri. Gemak Ideran kemudian menceritakan semua pengalaman dan penglihatannya. Diapun mengesankan bahwa gadis bertopeng itu bukan gadis yang muncul di rumah penginapan di Pasuruan.

- Lalu siapa ? -

- Menurut Cing Cing Goling, diperkirakan anak Dipajaya. - - Baiklah ! Hari sudah terlalu siang. Berbicaralah sambil berjalan.

- Diah Windu Rini memutuskan.

- Tetapi bagaimana dengan Niken ? -

- Bukankah engkau bisa minta keterangan dari mulutnya sendiri ?

- damprat Diah Windu Rini.

Memang karena takut kena salah, buru-buru ia menceritakan semua pengalaman dan penglihatan nya kepada Diah Windu Rini sehingga melupakan tegur sapanya kepada Niken Anggana yang justru menjadi penyebabnya. Tetapi Niken Anggana yang berperasaan halus berkata :

- Kau lanjutkan saja penuturanmu, kakang ! Aku tidak kurang suatu apa. Hanya sedikit lapar dan haus. -

Gemak Ideran menatap wajah Niken Anggana. Meskipun tidak kurang suatu apa, namun dia nam pak agak pucat dan kuyu.

Tiba-tiba ia merasa iba terhadap gadis muda belia yang masih hijau dalam hal pengalaman. Barangkali itulah pengalamannya yang paling pahit semenjak dirinya dilahirkan. Sedang begitu, terdengar Diah Windu Rini berkata :

- Kau tadi menyebut-nyebut tentang Ilmu Batu Panas. Kau maksudkan Ilmu sakti yang berhawa panas ? -

- Benar. - Diah Windu Rini mendongak ke udara. Matahari sudah tepat di tengah-tengah. Tak terasa cerita pengalaman Gemak Ideran sudah memakan waktu empat jam lamanya.

- Guru dahulu pernah bercerita tentang ilmu sakti yang berhawa panas. Muncul untuk yang pertama kali pada jaman Shri Maha Buddha memerintah pulau Jawa. Dan yang memiliki ilmu itu Empu Ramayadi Dialah pencipta senjata-senjata sakti yang kita sebut kini dengan nama pusaka. Seperti Kunta, Pasupati, Sarutama, Cakra, Nanggala, Trisula, Limpung, Keris, Tombak dan lain-lainnya. Caranya bukan seperti yang dilakukan empu-empu pada jaman ini. Sama sekali Empu Ramayadi tidak menggunakan alat apapun. Dia hanya menggunakan kedua tangannya untuk mencairkan logam-logam pilihan. Besi, baja atau batu meteor diluluhkan dengan kedua tangannya yang ampuh. Bisa dibayangkan betapa dahsyat hawa panas yang keluar dari pernafasannya. Sebab panasnya kedua tangannya adalah akibat dari Olah nafas. Setelah dia wafat, tiada penerusnya. Puteranya sendiri yang beraama Empu Sekadi hanya mewarisi tujuh atau delapan bagian. Selanjutnya kita mengenal nama orang-orang sakti seperti Brama kendhali, Jakapituruh, Tundhung Mungsuh, Kedher, Cakang, Janggita dan lain-lainnya. Sampai muncullah putera Empu Dewayasa yang beraama Ki Purbageni. Ki Purbageni menyebut ilmu sakti itu dengan nama Batu Panas.

Tetapi itu terjadi pada sekian abad yang lalu Mengapa tiba-tiba bisa muncul kembali pada jaman ini ? - - Menurut keterangan gadis bertopeng yang bernama Rawayani, ilmu sakti itu milik keluarganya. Kalau ia benar-benar puteri Ki Dipajaya, maka Ki Dipajaya yang memiliki ilmu sakti itu. Tetapi kitabnya kena dicuri oleh guru Cing Cing Goling. -

Sampai disini tiba-tiba mereka mendengar suara kentung bertalu. Gemak Ideran menghentikan tutur-katanya. Begitu juga Diah Windu Rini. Dengan suara sungguh-sungguh, Diah Windu Rini berkata :

- Gemak Ideran dan kau Niken,ambil kudamu secepatnya.Lalu segera pulang ke pesanggrahan ! -

Setelah berkata demikian, Diah Windu Rini lari ke arah barat. Gemak Ideran tahu, Diah Windu Rini tentunya mengambil kudanya pula yang disembunyikan ditempat tertentu sebelum menyusul dirinya memasuki perkampungan Cing Cing Goling.

Sebenarnya masih banyak yang ingin diceritakan Gemak Ideran kepadanya. Umpamanya perkara tutur-kata Tameng tentang mimpi Ratu Ayu Sumanarsa. Belum lagi minta keterangan bagaimana cara Diah Windu Rini tiba di perkampungan Cing Cing Goling dan cara membebaskan Niken Anggana. Tetapi bunyi kentung itu rupanya sangat menarik perhatian Diah Windu Rini, sehingga Gemak Ideran tidak berkesempatan lagi menyampaikan keinginannya.

- Bunyi kentung yang sambung-menyambut ini mengingatkan aku semasa kanak-kanak. Inilah kentung tanda bahaya. Mungkin sekali terjadi suatu pemberontakan. Paling tidak ada peristiwa perampokan besar-besaran. - ujar Gemak Ideran kepada Niken Anggana yang berjalan di samping nya. - Tetapi siapa yang berontak ? Siapa yang sedang melakukan perampokan ? Inilah masalah nya. Ah ya, Niken! Bagaimana engkau sampai bisa masuk ke perangkap Cing Cing Goling ? -

- Itulah kesalahanku sendiri. - jawab Niken Anggana agak malu. - Tak dinyana pemuda itu salah seorang anggauta rombongan bertopeng yang sedang dicari ayunda Windu Rini. Sama sekali tak kuduga, dia anak Cing Cing Goling. Tetapi aku diperlakukan baik sekali. Hanya saja karena aku tidak mau makan dan minum, aku dimasukkan ke dalam penjaranya. -

Sederhana saja keterangan Niken Anggana. Memang kata- katanya tidak pernah mengandung prasangka terhadap siapapun. la lebih banyak menyalahkan dirinya sendiri.

- Lalu bagaimana cara ayunda Diah Windu Rini membebaskanmu

? -

- Menurut ayunda hanya secara kebetulan saja. Dia dituntun seorang gadis berpakaian hitam yang bertopeng hitam pula. Gadis itu lari ke arah bukit buatan yang dibuat menawan diriku. Dia membuat gaduh sehingga salah seorang penjaganya menjenguk ke luar Sampai di luar goa, tiada sesuatu. Karena itu si penjaga balik masuk kembali setelah memutar batu pesawatnya. Rupanya semuanya itu dilihat dengan jelas oleh ayunda. Terus saja ia masuk ke dalam goa dan membebas kan aku setelah membunuh kedua penjaganya. Menurut ayunda, kedua penjaga itu harus dibunuh secepat-cepatnya. Percaya bahwa kakang berada di perkampungan itu pula, aku diperintahkan mendahului. Aku tidak tahu jalan. Kecuali malam sangat gelap, belum pernah aku mengambah wilayah Cing Cing Goling. Tiba-tiba kulihat sesosok bayangan berkerobong melintas di depan mataku. Segera aku mengejarnya. Pikirku, bukankah bayangan berkerobong itu yang sedang dicari ayunda ? Tetapi ia menghilang dengan tiba-tiba saja. Sebagai gantinya, di atas batu tergeletak pedangku yang dirampas anak murid Cing Cing Goling atas perintah majikannya. -

Mendengar tutur-kata Niken Anggana, Gemak Ideran terlongong- longong. Bayangan peribadi Rawayani kembali muncul di benaknya. Berbagai kesan berkelebatan di dalam dirinya.

Rawayani sama sekali tidak menyinggung-nyinggung tentang Diah Windu Rini. Padahal, menurut tutur-kata Niken Anggana, justru dialah yang menuntun Diah Windu Rini ke bukit buatan. Juga sama sekali tidak menyinggung tentang Niken Anggana, selain menegur dirinya seolah-olah mengejek.

Diapun berpura-pura kccewa begitu mendengar kabar bahwa Niken Anggana sudah ada yang membebaskan. Pada hal, semuanya itu dialah yang mengaturnya. Juga masih sempat menuntun Niken Anggana ke luar dan perkampungan dan mengembalikan pedangnya pula yang terampas Cing Cing Goling. Ah, ah ! Sebenarnya bagaimana dia ini, pikir Gemak Ideran bolak-balik. la jadi meremang sendiri. - Ih ! - ia berkata kepada dirinya sendiri di dalam hati. - Benar- benar aku mirip semacam boneka yang bisa dipermainkan sekehendaknya sendiri. Kalau dipikir, diriku bersama keenam orang pendekar itu dapat lolos dari cengkeraman Cing Cing Goling berkat jasanya pula. Sebenarnya dia ini lawan atau kawan

? -

Teringat akan janji Rawayani bahwa dia akan datang mencari-nya di pesanggrahan, jantungnya berdegup berdebaran. la merasa seperti akan berhadapan dengan malaikat atau siluman besar.

Dia' ibarat berada di tempat terang, sedang dirinya di dalam kegelapan. Kalau dipikir memang mengherankan bagaimana caranya dia mengetahui, bahwa dirinya menginap di pesanggrahan. Pada detik itu pula teringatlah dia akan peringatannya, bahwa rombongan orang bertopeng akan datang memusuhinya.

- Kakang! Apakah ada keteranganku yang kurang jelas ? - Suara Niken Anggana mematahkan pikirannya yang merumun benak- nya.

- Tidak, tidak. - sahut Gemak Ideran dengan gugup.

- Mengapa kakang diam saja ? -

- Aku aku heran akan tindakan ayunda Windu Rini yang begitu

cepat dan tepat. - ia berbohong.

Niken Anggana tertawa perlahan. Katanya :

- Memang ayunda Windu Rini amat hebat. - Gemak Ideran mengangguk dengan kepala kosong. Mengalihkan pembicaraan :

- Bukankah kita harus cepat kembali ke pesanggrahan ? - Niken Anggana berpikir sejenak. Menyahut :

- Saatnya memang kurang tepat. -

- Apanya yang kurang tepat ? - Gemak Ideran tercengang.

- Bukankah aku sudah terlanjur memanggil Ki Gunacarita ? Biarlah kubatalkan dulu agar dia tidak menunggu-nunggu beritaku. -

Gemak Ideran tertawa geli mendengar ucapan Niken Anggana. Gadis ini benar-benar masih polos. Lalu memutuskan:

- Baiklah kita atur begini saja. Pergilah kau ke rumah penginapan Aku akan menyelidiki makna talu kentung yang bersambung- sambung ini. -

Demikianlah mereka berdua kemudian berpisah di luar kota Ngawi. Niken Anggana menuju ke rumah penginapan sambil mengambil kudanya. la bertemu dengan Gunacarita dan kawan- kawan nya untuk membatalkan perjanjian. Kemudian balik kembali dan menerjang laskar yang membunuh pengurus Rumah Penginapan.

Gemak Ideran waktu itu berlawanan arah. Dari tutur-kata orang, ia mendengar tentang berita penyerbuan laskar Garundi ke Kartasura. Teringat akan Niken Anggana, buru-buru ia kembali masuk kota. Masih sempat ia melindungi Niken Anggana tatkala melawan laskar pemberontak. Lalu mendahului balik ke barat.

Di tengah jalan ia berpapasan dengan Jakun dan Endang Maliwis. Sengaja ia memancing mereka berdua memasuki wilayah pesanggrahan. Kedua-duanya akhirnya dapat dibuat lari terbirit-birit oleh Diah Windu Rini. Lalu mulailah mereka berdua membicarakan pemberontakan Laskar Garundi yang berhasil memasuki Ibu Negara.

DIAH WINDU RINI akan cepat terangsang perhatian-nya, apabila mendengar berita tentang urasan negara. Barangkali karena dia anak seorang Adipati yang terkenal ber-juang menantang fihak penguasa. Baik penguasa Kompeni Belanda maupun Kartasura. Mungkin sekali karena ia merasa ikut terlibat di dalamnya.

Sewaktu Tuban berontak, laskar Madura yang membereskan.

Demikian pula, tatkala terjadi pemberontakan Adipati Surabaya akibat gosokan Pa-tih Danureja. Ayahnya mengangkat senjata dan menumpas pemberontakan. Sebab betapapun juga, ayahnya adalah menantu Raja Amangkurat IV.

Kini ia mendengar kabar dari mulut Gemak Ideran, bahwa PB. II tergeser kedudukannya akibat serangan laskar Garundi Dan Sri Baginda dilarikan orang ke luar kota. la di-kawal Residen Surakarta Hogendorf, Sebagai salah seorang yang termasuk warga kalangan Istana, Diah Windu Rini merasa ikut bertanggung jawab. Itulah sebabnya dengan agak gopoh ia membawa Gemak Ideran duduk di ruang tengah, sedangkan Niken Anggana berada di sampingnya Terus saja ia menegas :

- Kau tadi berkata, Pangeran Mangkubumi merampas tombak Kyahi Pleret dan Raden Mas Said memperoleh tom-bak Baruklinting. Dari siapa engkau memperoleh kabar berita ini? -

Waktu Gemak Ideran hendak membuka mulutnya, dua orang pelayan datang membawakan makanan dan minuman. Mereka menunggu sampai dua pelayan itu mengundurkan diri kemudian mulailah Gemak Ideran menjawab pertanyaan Diah Windu Rini. Katanya :

- Malam itu, sewaktu aku berusaha mencari Niken, aku tersesat sampai ke tepi sungai Di sana aku berjumpa dengan seorang yang mengaku pedagang kehling Namanya Tameng dan ia dapat mengabarkan perkara mimpi Ratu Sumanarsa. -

- Mimpi apa? - Diah Windu Rini tertarik.

Gemak Ideran kemudian menceritakan pertemuannya dengan Tameng dan tutur-katanya perkara mimpi Ratu Sumanarsa.

Pedagang itu sudah dapat menebak dengan tepat, bahwa makna mimpi itu akan berpengaruh luas. Ternyata tebakannya tidak meleset jauh Pangeran Mangkubumi dengan berani merampas Tombak Kyahi Pleret pusaka leluhur Kartasura. Peristiwa itu tidak susah untuk ditebak. - Maksudmu dia berani memperlihatkan giginya? tungkas Diah Windu Rini.

- Benar. Bukan mustahil terjadi suatu kekalutan dalam Ibu Negara, sehingga masing-masing dapat bertindak sendiri sendiri.

- Gemak Ideran yakin.

- Sebentar ! Apakah Tameng menyaksikan sendiri ? -

- Bukan ! Bukan dia. - Gemak Ideran membetulkan. Berita ini kuperoleh dari Kepala Desa yang membunyikan kentung tanda bahaya. -

- Kapan?-

- Tadi siang sewaktu Niken Anggana mengambil kuda-nya di rumah penginapan dan aku mengarah ke barat. — Gemak Ideran memberi keterangan.

Memang, Gemak Ideran membiarkan Niken Anggana mengambil kudanya seorang diri. Diapun bergegas mengambil kudanya yang ditambatkan di tepi sungai tatkala mengejar Rawayani. Kasihan kuda itu. Hampir dua malam satu hari tidak terurus Untung kudanya termasuk kuda jempolan. Meskipun cukup lama tidak makan dan minum. masih saja tegar. Namun di tengah jalan ia membiarkan kudanya menggerumiti rerumputan. la sendiri lari ke atas bukit untuk memperoleh penglihatan yang lebih luas. Samar-samar ia melihat gerakan beberapa kawanan orang berkuda Sebagian mengenakan pakaian seragam hitam dan sebagian tidak. Pada suatu persimpangan jalan mereka berpisah. Dan sambil terus-menerus berteriak menyerukan tanda bahaya, mereka melanjutkan perjalanan.

Menyaksikan gerakan mereka rasa naluri Gemak Ideran terbangun Terus saja ia menghampiri kudanya. Sambil mehepuk nepuk leher kudanya ia melompat di atas pelananya. Berkata mem-bujuk :

— Rebooo tahan lapar dulu, ya ! Hayo bawalah aku ke

perkampungan depan itu ! -

Binatang itu seperti memahami makna bujukan majikan-nya. Dengan tegar ia menegakkan lehemya dan lari kencang mengarah ke barat. Tetapi nafasnya cepat sekali memburu. Gemak Ideran yang perasa segera melambatkan larinya. Ke- mudian memasuki perkampungan yang berkesan gelisah oleh suara kentung yang bertalu tiada hentinya.

- Tuan ! Mau ke mana? Jangan ke barat dulu ! Perampokan terjadi di mana-mana. - seru seorang penjaga kampung.

Gemak Ideran tertawa ramah Sahutnya :

- Kang ! Sebenarnya apa yang terjadi? - - Menurut pak Lurah, di Ibu negara terjadi pemberontakan Sri Baginda terpaksa dibawa koman dan Belanda ke luar kota. -

Gemak Ideran terkejut la menghentikan kudanya. Minta keterangan :

- Ini kampung apa? -

- Kedungtirta. -

- Apakah pak Lurah ada di rumah? -

- Silahkan ! Eh tuan sendiri dari mana? -

- Aku dari jauh. Dari Madura. Sebenarnya mau ke Kartasura - Gemak Ideran memberi keterangan.

Terhadap penduduk setempat tak pemah ia menaruh curiga - Biarlah aku menemui pak Lurah untuk minta keterangan yang jelas.-

- Silahkan ! Beliau ada di tempat. Itu rumahnya - orang itu berkata sambil menuding. Lalu berteriak kepada se orang anak berumur duablasan tahun. - Hei Paimin ! Antarkan tuan ini menghadap pak Lurah ! -

Anak itu yang bemama Paimin dengan bangga menganggukkan kepalanya. Gemak Ideran jadi teringat pada masa kanak- kanaknya. Diapun dulu merasa bangga, manakala di tunjuk untuk mengantarkan seorang tetamu. Paimin begitu juga. Terus saja ia lari mendahului. Sewaktu tiba di depan sebuah rumah besar berhalaman luas, ia berhenti dan menudingkan telunjuknya. - Itu rumah pak Lurah, tuan. - katanya.

Gemak Ideran turun dari kudanya sambil merogoh saku-nya. Dengan tertawa ramah ia mengangsurkan serenceng uang sambil berkata :

- Maukah engkau memberi kudaku minum dan men carikan rumput? Nih, terima ! Sisanya boleh kau ambil.-

Pada dewasa itu, harga rumput tiap tumpuknya satu sampai dua sen. Sedang uang yang diterimanya dari Gemak Ideran seharga duapuluh lima sen. Keruan saja wajah Paimin girang luar biasa. Terus saja ia menyambar kendali kuda dan menuntunnya ke seberang jalan. Hati-hati ia menambatkan nya pada sebatang pohon, lalu lari ke rumahnya mengambil sepikul air dan setumpuk rumput. Karena dia anak seorang petani, maka di rumahnya selalu terdapat timbunan rumput persediaan ternaknya.

Dalam pada itu, Gemak Ideran memasuki halaman rumah pak Lurah. Lima orang berdiri mendam pingi pak Lurah yang berkumis tebal. Dengan ramah pak Lurah mempersila-kannya naik ke tangga serambi depan. Menyapa :

- Raden*), apakah ada yang perlu kami bantu? - (*Ra-den = tuan. Selanjutnya akan disebut dengan tuan).

- Maaf pak Lurah. - sahut Gemak Ideran seraya mem bungkuk hormat. - Namaku Gemak Ideran. Aku datang dari Madura.

Tujuan perjalanan ke Kartasura. - - Kartasura? - lima orang yang mendampingjl pak Lurah mengulang ucapan Gemak Ideran hampir berbareng .

- Memangnya, kenapa? -

Kelima orang itu seperti merasa kelepasan omong. Dengan wajah berubah mereka melemparkan pandang kepada pak Lurah.

Gemak Ideran lantas saja tahu, betapa wibawa pak Lurah terhadap sekalian penduduknya. Kalau saja tidak memiliki kepandaian tinggi mustahil ia disegani Memang pada dewasa itu, tidak mudah menjadi Kepala Kampung. Dia harus sakti Paling tidak, kebal dari senjata tajam. Syukur bila dirangkapi dengan mantera-mantera ampuh. Bila tidak memiliki kepandaian demikian, tidak bakal seseorang dipilih rakyatnya menjadi Kepala Kampung yang biasa disebut dengan panggilan : pak Lurah.

- Tuan ! Kedatangan tuan memang tidak menguntung-kan pada saat ini. — kata pak Lurah. - Silahkan duduk. Ba-rangkali masih ada waktu untuk menerangkan terjadinya peristiwaitu. -

Gemak Ideran duduk di depan pak Lurah dan yang lain menempati tempatnya masing-masing. Seorang pelayan datang mengantarkan air hangat dan tiga piring makanan dusun. Setelah dipersilahkan untuk meneguk dan mencicipi hidangannya pak Lurah menarik nafas agak panjang.

Pandangnya keruh dan seperti kehilangan semangat. Lalu berkata : - Meskipun aku ini Kepala Kampung, tetapi demi Tu-han, aku tidak mengerti permainan orang-orang atasan. Ada yang mengabarkan, terjadinya peristiwa ini karena olah Patih Danurejo. Sekarang dilanjutkan oleh penggantinya. Tapi buat orang dusun, yang menarik adalah yang mudah-mudah saja. Salah seorang permaisuri Raja Amangkurat IV....atau... eh begini saja. Raja Amangkurat IV mempunyai kekasih puteri Cina. Dialah Ibunda Pangeran Garundi. Merasa diperlakukan tidak adil oleh ayahandanya dia berontak. Rupanya disokong oleh rakyat sekitar Pekalongan dan dibantu orang-orang Cina pelarian dari Betawi (baca : Jakarta). Sekarang Pangeran Garundi diangkat menjadi raja dengan gelar Sunan Garundi. Kami menyebutnya Sunan Kuning. Lalu menyerbu Kartasura. -

- Apakah bapak menyaksikan peristiwa itu? - Gemak Ideran memotong.

- Secara langsung, tidak. - jawab pak Lurah cepat. - Seperti bunyi kentung tanda bahaya ini. Sebenarnya sudali terjadi tiga hari yang lalu. Aku perlu yakin dulu. Maka kami berangkat bersama- sama mencari keterangan sampai memasuki wilayah Ibu Negara.

Setelah yakin, segera kami balik

pulang. Tetapi sungguh ! Aku jadi tidak tahu lagi, siapa

majikanku yang benar. -

- Maksudmu akan berbalik mengabdi kepada Sunan Kuning? -

- Oh bukan ! Sama sekali bukan ! - sahut pak Lurah dengan suara garang. - Tetapi sekarang timbul perpecahan yang membingungkan. Perpecahan antara Pangeran Mangkubumi, Patih Pringgalaya dan Sri Baginda yang membiarkan dirinya dibawa ke luar kota oleh Kompeni Belanda. Sementara itu, laskar Sunan Kuning sudah mulai merembes ke wilayah ini. Karena itu, lebih baik tuan balik kembali ke Madura. -

- Apakah mereka laskar yang terdiri dari orang-orang pelarian dari Jakarta? Maksudku yang merembes ke wilayah Madiun? -

- Tidak selamanya. Pemimpin-pemimpinnya mengena-kan topeng. Mereka yakin, Sri Baginda akan dibawa Kompeni Belanda ke Surabaya. -

Mendengar istilah orang-orang yang mengenakan topeng, beberapa bayangan berkelebat dalam benak Gemak Ideran. Apakah mereka yang muncul di Pandaan? Rawayanipun me- ngenakan topeng. Apakah dia salah seorang pengikut Sunan Garundi?

- Pak Lurah ! Apakah laskar kasunanan kini terpecah menjadi tiga bagian? Pengikut Pangeran Mangkubumi, Sri Baginda dan Garundi? -

- Itu yang pasti. Bukan mustahil muncul pula siluman-siluman yang lain. - ujar pak Lurah dengan suara mengutuk.

- Pak Lurah yakin? -

Menghadapi pertanyaan Gemak Ideran, pak Lurah ber-bimbang- bimbang Tiba-tiba seperti diingatkan : - Ah ya. Sebenarnya tuan siapa? -

Gemak Ideran berpikir beberapa detik. Lalu memutuskan :

- Aku putera Adipati Cakraningrat. -

- Ah ! - pak Lurah terkejut.

Terus saja ia berdiri tegak dan menyernbah. Wajahnya tiba0tiba nampak cerah. Sekarang ia memerintahkan sekalian anak- buahnya untuk bersikap lebih hormat kepada Gemak Ideran.

Bahkan lantas saja ia memerintahkan agar segera menyembelih seekor lembu muda dan beberapa ekor ayam. Pada jaman itu, setiap orang Kepala Kampung akan merasa seperti kejatuhan anugerah Tuhan manakala rumahnya dikunjungi anak keturunan orang ningrat. la merasa kewajiban untuk mempersembahkan apa saja demi membuat tetamunya senang.

Gemak Ideran jadi tak enak hati. Memang tidak terlalu salah, bila menyebut dirinya sebagai putera Adipati Cakraningrat. Sebab dirinya memang dianggap sebagai anak-angkat Adipati Cakraningrat. Diapun sesungguhnya putera seorang adipati pula. Tetapi kalau sampai membuat pak Lurah jadi sibuk, itulah yang tidak diharapkan.

- Pak Lurah, aku hanya singgah sebentar saja. Aku harus segera balik ke pesanggrahan. - katanya agak gopoh. - Apakah ayahanda tuanku berada di pesanggrahan? -

- Tidak. Kami bertiga. -

- Lalu eh maksudku, apakah tuan tidak bertemu atau melihat

gerakan orang orang yang mencurigakan? -

- Di seberang bukit, aku melihat dua regu berkuda yang saling berpisah. -

Mendengar keterangan Gemak Ideran, wajah pak Lurah berubah. la berbimbang-bimbang sejenak. Kemudian ber-kata seperti terpaksa :

- Sebenarnya aku sendiri tidak menyaksikan. Tetapi kekalutan yang terjadi di Ibu Negara tambah meyakinkan adanya berita itu. -

- Berita tentang apa? -

- Berita tentang hilangnya pusaka Tombak Kiyahi Pie-ret. Kabarnya......tetapi baru kabar Iho Pangeran Mangkubumi

yang merampas toinbak itu dari abdi Suranata. Mungkin sekali, karena Pangeran Mangkubumi melihat sesuatu yang tidak beres.

-

- Terhadap? -

- Abdi Suranata itu. Mungkin dia mau melarikan diri alias hendak melalaikan wajib Padahal abdi Suranata bertugas mengawal Sri Baginda. Sekarang, Sri Baginda dibawa lari Komendan Belanda Residen Hogendorf. Apakah peristiwa ini tidak aneh? Ah ! Kita bakal menerima akibatnya. - pak Lurah menghela nafas. - Tetapi menantu Pangeran Mangkubumi memperoleh Tombak Baruk linting. Ah, sungguh hebat ! Semua pusaka Istana berpindah tangan. -

- Maksudmu Raden Mas Said? -

Pak Lurah mengangguk. Lalu menghela nafas lagi. Wajahnya nampak kian gelisah. Setelah menelan ludah, ia ber-kata hati-hati kepada Gemak Ideran:

- Tuan ! Tuan datang dari jauh. Tetapi tuan termasuk keluarga Istana Kartasura, karena ayahanda tuan salah se orang menantu almarhum Raja Amangkurat IV. - ia ber-henti beberapa saat menimbang-nimbang. Meneruskan : -Sekiranya tuan diriku, apakah yang harus kulakukan pada saat ini? Sebab majikan yang menguasai negeri, lebih dari satu orang. -

Sebenarnya Gemak Ideran tidak mempunyai kepentingan terhadap masalah yang sedang dihadapi pak Lurah. la sendiri sudah merasa cukup. Karena itu ia segera berdiri sambil menjawab :

- Waktu pak Lurah dipilih rakyat, pemerintahan mana yang mengesyahkan? -

Gemak Ideran tidak menunggu jawaban pak Lurah. Segera ia mohon diri hendak mengambil kudanya. Akan tetapi pak Lurah tidak mengijinkan Dengan amat sangat ia memohon agar Gemak Ideran berkenan makan dan minum dulu sebagai adat kebiasaan yang berlaku di dusunnya.

Menimbang kudanya belum pula kenyang makan dan minum, Ge- mak Ideran mengurungkan niatnya.

Segera makanan dan minuman disediakan lebih lengkap lagi. Bahkan tidak lama kemudian keluar pula ayam goreng yang terpotong-potong rapih. Untuk melegakan hati tuan rumah Gemak Ideran segera memakannya pula. Dasar semenjak semalam perutnya belum sempat diisi. Maka ayam goreng itu, sungguh nikmat .

Kali ini pak Lurah tidak membicarakan urusan negara. Namun bunyi kentung tanda bahaya tidak berhenti. Bahkan makin lama makin terdengar seru. Beberapa orang lari pontang-panting dengan suara berisik. Pak Lurah menegakkan kepalanya.

Memberi perintah kepada salah seorang bawah-annya :

- Jagabaya ! Coba lihat apa yang terjadi! — Jagabaya buru-buru lari ke luar. Dengan gopoh ia minta keterangan kepada anggauta penduduknya yang sedang lari pulang ke rumahnya Dengan menudingkan jari telunjuknya ke arah barat, ia menjawab :

- Pedusunan di seberang dibakar orang ..-

- Siapa yang membakar? - Jagabaya itu terperanjat - Tidak tahu. Tetapi coba lihat sendiri ! - orang itu melanjutkan larinya tanpa permisi.

Benar saja. Rupanya berita itu tersebar luas di seluruh desa. Kesibukan lantas saja terjadi. Mulailah terdengar suara pekik ketakutan dan tangis anak-anak. Mendengar dan melihat kesibukan itu, hati Gemak Ideran tidak enak sendiri. Terus saja ia berdtri sambil berkata kepada pak Lurah :

- Paman, biar aku yang melihatnya. -

- Jangan tuan ! Duduk sajalah di sini Ini kuwajiban. - cegah pak Lurah. Kepada empat pembantunya yang lain ia berkata : - Hayo kita lihat apa yang terjadi! -

Setelah berkata demikian, pak Lurah benar-benar beranjak dari kursinya. Gemak Ideran balik menjadi orang yang ditinggalkan. Keruan saja, pemuda itu jadi tak enak hati. Pelahan-lahan ia berdiri pula dari kursinya dan mengikuti ke pergian pak Lurah dan pembantu-pembantunya dengan pandang matanya.

Tepat pada saat itu, si kecil Paimin berlari-lari memasuki halaman Rumah Kepala Kampung sambil ber-seru kepada Gemak Ideran :

- Tuan ! Itu kudanya. Aku harus pulang. Ada kebakaran .. -

Dengan tertawa Gemak Ideran menyambut Paimin. Pikirnya, anak ini mengerti tanggung-jawab. Lantas saja ia mengeluarkan serenceng uang dan diangsurkan kepada Paimin. - Terima kasih. Nih, bawalah ! Barangkali perlu untuk ayah dan ibumu. -

Bukan main cerah wajah Paimin. Dengan pandang tak percaya, ia menerima pemberian uang Gemak Ideran. Dengan berkali-kali membungkuk-bungkuk hormat ia menyatakan terima kasihnya.

Lalu bergegas lari mehntas menyeberang pagar tanaman.

Seperempat jam kemudian, Gemak Ideran sudali berada di luar desa. Di sebelah barat asap tebal membumbung tinggi di udara. Benar-benar dusun-dusun di seberang barat dibakar orang atau terbakar oleh suatu ketidak sengajaan.

Namun beberapa saat kemudian, muncullah enam atau tujuh penunggang kuda yang membedalkan kudanya dengan obor di tangannya masing-masing. Mereka berteriak teriak tidak je-las, karena jaraknya terlalu jauh.

Gemak Ideran menghentikan kudanya. Berkata kepada dirinya sendiri:

- Benar-benar terjadi kekalutan. Mengapa sampai merembes ke wilayah ini? -

Oleh piktran itu ia tidak melepaskan pengamatannya meski sedetikpun. Gerombolan yang membedalkan kudanya itu dipimpin oleh seorang laki-laki yang mengenakan topeng. Dia nampak gesit di antara enam orang pengikutnya. Kini mengarah ke dusun pak Lurah. Hati Gemak Ideran ter-cekat. Segera ia memutar kudanya hendak balik kembali Tidak lama kemudian ia mendengar suara gaduh. Sementara itu suara kentung makin menggencar.

Teriakan semacam aba-aba menggema dari lorong ke lorong. Semua laki-laki di-perintahkan keluar membawa senjata apa saja untuk melawan tujuh orang pendatang yang membawa obor di tangannya masing-masing.

Bergegas Gemak Ideran kembali memasuki dusun dengan maksud memberi bantuan. Tepat sewaktu dia hendak memasuki perbatasan kampung, ia melihat Paimin diseret Jagabaya dan Petengan (nama jabatan pembantu lurah). Dua orang tua dan seorang laki-laki yang sudah cukup dewasa ikut serta. Ketiga orang ini mencoba membujuk Jagabaya dan Petengan. Kata mereka bergantian :

- Kang Jagabaya dan kang Petengan ! Mau dibawa ke mana dia? Dia bukankah hanya melayani kuda tamu pak Lurah? -

- Biarlah dia menerangkan siapa orang itu ! - ben tak Jagabaya. - Li ha t la h, kampung kita akan dibakar orang-orang yang menunggang kuda Jangan-jangan dia justru pemimpin mereka. -

Sampai di sini Gemak Ideran tahu siapa yang dituduh Jagabaya dan Petengan. Terus saja ia melarikan kudanya dan memotong perjalanan mereka. Dengan suara teiap halus te-tapi angker ia berkata : - Lepaskan dia ! Mengapa tidak aku sendiri yang datang menghadap pak Lurah? Lepaskan ! -

Semenjak Jagabaya dan Petengan mendengar dan melihat Gemak Ideran memotong perjalanan, semangat mereka serasa kabur. Apalagi menyaksikan pula betepa angker dan berwibawa dia. Terus saja mereka menyahut dengan suara gap-gap :

— Bu.....bukan kami. Kami cuma melaksanakan perintah pak

Lurah. —

— Hm. — Gemak Ideran mendengus. Kemudian berkata ramah kepada Paimin : — Paimin, kau pulang. Nih, aku mempunyai satu rupiah lagi. Terimalah ! -

Gemak Ideran mengangsurkan uang satu rupiah kepada Paimin. Paimin berbimbang-bimbang. la membagi pandang kepada Jagabaya, Petengan dan keluarganya. Sahutnya dengan suara gemetaran :

— Tuan.......ini orang tuaku dan dia kakakku. —

Gemak Ideran mengangguk pendek dengan tersenyum.Berkata :

- Maaf, aku mengganggu anak bapak-ibu. Akulah tadi yang menyuruh dia merawat kudaku. Sekarang, rupanya kena tuduh. Biarlah Paimin menerima uangku Bawalah dia pulang. Aku sendiri nanti yang akan memberi keterangan kepada pak Lurah. — Orang tua dan kakak Paimin berturut turut membungkuk hormat seraya menghaturkan rasa terima kasihnya yang tak terhingga. Dengan mohon ijin Jagabaya dan Petengan, segera ia membawa Paimin pulang setelah anak itu menerima uang pemberian Gemak Ideran. Jagabaya dan Petengan sendiri, tidak berkutik.

- Paman ! Di mana pak Lurah kini berada? — Gemak Ideran mulai.

- Di sana. — mereka berebutan menuding ke barat.

- Kampung paman hendak dibakar orang, masakan ma-sih mempunyai waktu berkutat dengan seorang anak yang belum pandai beringus? Hayo ! -

Gemak Ideran mendahului mereka berdua. Sewaktu me-masuki belokan, ia melihat pak Lurah dan tiga pembantu-nya sedang bertempur melawan tujuh orang berkuda. Sebentar saja tiga orang pembantu pak Lurah terluka oleh sabetan parang. Tetapi pak Lurah sendiri masih segar-bugar, walaupun usianya sudah mendekati enampuluh tahun. Sama sekali dia tidak terluka oleh sabetan parang atau tusukan pedang.

- Ah ! Pak Lurah ternyata kebal dan senjata. — pikir Gemak Ideran. -- Tetapi betapa juga usianya tidak mendu-kung kemauannya. Dia bisa mati kehabisan nafas. -

Berpikir demikian segera ia melecut kudanya yang meloncat bagaikan terbang. Dengan golok di tangan, Gemak Ideran menerjang mereka bertujuh. Hanya satu kali gebrakan saja, mereka bertujuh sudah lari cerai-berai. Tatkala Gemak Ideran memutar arah pandang, ia melihat seorang ber-topeng duduk bercokol di atas kudanya. Orang bertopeng itu sebentar menatap padanya, lalu memberi isyarat tangan agar meninggalkan dusun.

- Tuan ! Tuan ! - pak Lurah menyambut dengan suara terengah- engah.- Mohon maaf. Kukira pendek kata mohon maaf. -

- Sudahlah ! Apakah pak Lurah masih sanggup menjaga dusun? - potong Gemak Ideran. la merasa tak sabaran lagi karena sesungguhnya ingin ia mengejar gerombolan itu.

Melihat sepak terjangnya, pasti bukan laskar Kerajaan. Apalagi kaki-tangan Kompeni Belanda. Caranya bekerja serampangan dan asal berani. Tetapi orang yang bertopeng itu nampak-nya berbahaya. Dia perlu diusut asal-usulnya.

— Tentu saja. — sahut pak Lurah cepat. Tiba-tiba wajah-nya berseri-seri. Berseru: -- Sekarang aku dapat menjawab pertanyaan tuan. Aku seorang Lurah yang dilantik pemerintahan Sri Baginda. Maka akulah abdinya yang wajib setia melaksanakan tugas. -

Gemak Ideran mengangguk membenarkan dibarengi senyuman lebar. Lalu menyahut :

- Kalau begitu, aku pergi dulu. Melihat tingkah-laku mereka, bukan mustahil mereka akan mencari balabantuan. Harap saja pak Lurah mempersenjatai penduduk agar dapat mengadakan perlawa nan. Maksudku bersenjata saja. Bila bersatu-padu, tidak mudah mereka akan bisa mengacau di sini. -

- Betul-betul. - suara pak Lurah masih terengah-engah. Lalu menoleh kepada Jagabaya dan Petengan :

- Carik, Dukuh dan Kebayan terluka. Tolong dulu ! Eh kau Petengan, bunyikan kentungan ! Panggil semua laki-laki ke luar rumah ! -

Gemak Ideran mengawaskan mereka sejenak, lalu me-mutar kudanya dan melarikannya ke arah perginya gerombolan tadi. Sayup-sayup ia mendengar suara pak Lurah me-manggil- manggil, namun ia tidak sempat untuk melayani. Orang yang mengenakan topeng tadi, pasti bukan orang sembarangan. Dia mengenakan topeng. Apakah bukan untuk menutupi siapa sesungguhnya dirinya? Kalau tidak termasuk hamba sahaya raja sendiri, tentunya anak-laskar yang menyeberang kepada Sunan Ganindi. Bukan mustahil pula, justru salah seorang pemimpin Laskar Ganindi sendiri.

Memperoleh pikiran itu, Gemak Ideran menggeridik bulu teng- kuknya. Kalau benar-benar laskar Garundi, alangkah cepat gerakannya. Mengapa merembes sampai memasuki wilayah Madiun? Jangan-jangan untuk mengejar Sri Baginda Paku Buwana yang kabarnya dilarikan Komandan Kompeni Belanda Kartasura mengarah ke Surabaya. - Apapun jadinya, aku harus dapat menangkap dia mati atau hidup. - ia memutuskan .

Segera ia melarikan kudanya secepat-cepatnya. Akan tetapi gerombolan itu sudah berhasil bergabung dengan gerombolan yang lainnya yang tadi sempat dilihatnya mengambil jalannya sendiri. Mereka bersama-sama memasuki kota Ngawi.