-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 13

Jilid 13

Berhasillah ia lolos dari libatan Tabah dan Tabun.Kini, ia menghadapi medan berat. Karena sudah biasa hidup di tengah alam terbuka, medan demikian tidak memundurkannya. Dengan telaten dan sabar ia terus menuju ke arah Barat Laut. Karena medannya masih asing, la terpaksa menghentikan pencariannya sevvaktu matahari mulai merekah di ufuk timur.

Beberapa waklu lamanya ia ubek-ubekan mencari kedai. Setelah rnengisi perut dan membeli perbekalan sederhana, ia melanjutkan perjalanannya lagi. Agar tidak menarik perhatian orang, tak berani ia berlari-larian. Sewaktu melintasi hutan raya, ia beristirahat melepaskan lelah. Ia terbangun dikala matahari sudah mendekati petanghari.

Takut kehilangan pengamatan, ia mendaki sebuah bukit. Dan dari atas bukit ia menebarkan penglihatan. Samar-samar ia melihal suatu perkampungan yang lain daripada lainnya. Pastilah itu perkampungan Cing Cing Goling. Maka diputuskan untuk memasuki perkampungan itu sebentar malam.

KebetuJan sekali, hari itu tiada hujan. Dengan begitu, dapatlah ia kembali beristirahat. Setelah menghabiskan perbekalannya, ia duduk bersemadi menghimpun tenaganya. Empatjam kemudian, ia merasa segar bugar. Dan mulailah ia bersiap-siap untuk mengadakan penyelidikan. Seperti kemarin, malam itu tiada bulan. Cepat sekali hari menjadi gelap pekat. Segera ia berlari-larian menghampiri perkampungan itu. Ternyata berada di suatu lembah yang subur. Jumlah perumahan tidak lebih daripada duapuluh buah. Tentunya penghuninya adalah kerabat, sanak-keluarga dan anak-buah Cing Cing Goling.

Rumah Cing Cing Goling sendiri berbentuk jauh lebih mentereng dibandingkan dengan lainnya. Halamannya luas. Akan tetapi bentuk rumahnya aneh. Pendapanya dua, berada di depan dan di belakang. Gedung bagian tengah terlalu pendek teraling sebuah dinding batu yang tinggi.

Memperoleh penglihatan demikian, Gemak Ideran dengan cepat dapat menebak waktu dan perangai pemiliknya. Pastilah aneh juga tiada beda dengan bentuk rumahnya. Sebab dinding tinggi itu sebagai penyekat. Belum tentu merupakan gedung uUima.

Bukan mustahil sebuah paringgitan (baca : tempat menyimpan barang atau benda yang dihormati). Karena itu, Gernak Ideran tidak mau terkecoh. la melompat tinggi dan hinggap pada sebatang pohon tinggi. Dari ketinggian itu dapatlah ia memperoleh penglihatan lebih luas.

Kesan rumah angker ilu tenang luar biasa. Sejenak Gemak Ideran mengamat-amati. Timbul suatu kesangsian di dalam hatinya. Melabrak dengan terang-terangan atau dengan sembunyi-sembunyi ? Tengah menimbang-nimbang demikian, ia mendengar suara berisik dari gerombolan pepohonan yang tumbuh di samping rumah. Baru saja ia menoleh, terdengar suara bentakan :

- Hai babi ! Kau mau lari ke mana ? Awas, ada siluman perempuan main acak-acakan di sini. -

Suara bentakan itu disusul dengan suara siulan panjang tiga kali. Di atas rumah samping nampak tiga bayangan muncul dari tiga penjuru. Dengan sebat, Gemak Ideran melompat lebih tinggi lagi dan bersembunyi di balik rimbun mahkota daun:.

la tahu, bukan dirinya yang sedang dicari. Tetapi seorang perempuan. Siapa ? Jangan-jangan Niken, pikirnya dengan hati berdebar-debar. Tepat pada saat itu, ia melihat munculnya sesosok bayangan melintasi halarnan. Bayangan berperawakan ramping. Tentunya seorang perempuan yang sedang berusaha melarikan diri. Dalam malam gelap pekal, kesan perawakan tubuhnya mirip Niken Anggana. Percmpuan itu menyahul dengan suara nyaring:

- Hai bangsat ! Lihat! -

Mendengar bunyi suaranya, Gemak Ideran berlega hati. Jelas bukan suara Niken Anggana yang lembut. Sehaliknya suara gadis beitopeng yang sedang dicarinya. Mengapa dia berada di sini dan sedang diuher-uber ? Kalau begitu, jelaslah dia bukan anggauta keluarga Cing Cing Goling. Dan dengan cekatan gadis bertopeng ilu melabrak ketiga pengejarnya dengan sebilah pedang meng- kilap. Ketiga pengejarnya menghentikan langkahnya, bahkan terpaksa rnundur beberapa langkah. Gemak Ideran terns mcngawasi gadis itu. Masih saja dia bertopeng dengan kerudung hitam. Pikirnya di dalam hati :

- Kepandaiarfnya tidak berada di bawah Niken. Ah, benar-benar suatu penglihatan yang aneh malam ini ! Apakah gadis ini yang muncul di Pasuruan dan sedang dicari ayunda Diah Windu Rini ? Kalau benar, ah terlalu hebat. Dimana-mana aku melihat orang- orang mengenakan topeng. Apakah dia termasuk salah seorang anggauta persekutuan Kyahi Dengkul dan Nyai Rumpung ? -

Pertempuran mereka, makin lama makin seru. Gadis itu gagah berani. Akan tetapi ketiga lawannya berkepandaian tinggi pula. Masing-masing sudah melepaskan duapuluh kali gempuran.

Masih saja mereka seimbang. Namun lambat-laun, gadis bertopeng itu nampak gelisah. Tiba-tiba saja ia menyerang bagaikan taufan.

Ketiga lawannya bersenjata cempuling, ruyung dan golok besar. Karena itu, tidak berani gadis itu mengadu tenaga keras melawan keras. Sebaliknya tatkala gadis itu menyerang bagaikan taufan melanda bumi, merekapun tidak berani menangkis atau membalas menyerang. Sikap mereka hanya membela diri.

Agaknya mereka ingin menangkap gadis bertopeng itu hidup- hidup. Mereka mengurung rapat tak ubah balok besi, sehingga gadis bertopeng itu tidak dapat merangsak lagi atau mencoba meloloskan diri. - Apakah kau kira perkampungan Cing Cing Goling dapat kau jelajahi dengan seenakmu sendiri ? -

bentak laki-laki yang bersenjata cempuling. Lalu berkata lagi dengan tertawa melalui hidungnya :

- Jangan bermimpi engkau dapat meloloskan diri. Paling baik, menyerahlah ! Kami akan memba wamu menghadap kepada tuanku Cing Cing Goling. Mungkin sekali engkau diampuni. Tetapi bukan mustahil pula akan dihukum mati. Jika kau melawan terus, sebelum larut malam jiwamu akan melayang dengan sia-sia.

Bukankah sayang ? -

Gadis bertopeng itu mcmbungkam mulut. Tetapi serangan-nya makin hebat dan ganas. Dan menyaksikan cara berkelahi gadis bertopeng itu, berpikirlah Gemak Ideran di dalam hati:

- Dari ini jelas bukan kerabat atau sanak keluarga Cing Cing Goling. Diajustru sedang memusuhi. Untuk apa ? Dan siapa yang menyuruh ? Ah, aku pun tidak boleh membiarkan dia mati terbunuh. bila saja aku dapat menolongnya, tentu akan kuperoleh banyak keterangan dari mulutnya. Hm, mudah-mudahan dia tidak terburu nafsu. Jika gerakan pedangnya tetap lancar, lambat-laun dia pasti dapat mengungguli ketiga lawannya. Hanya saja, kalau mereka sampai memanggil teman-temannya, nah ini baru susah ..-

Gemak Ideran gelisah. Sebaliknya gadis bertopeng itu lebih-lebih gelisah. Ingin ia menyelesaikan pertempuran itu secepat- cepatnya. Maka ia menyerang lebih dahsyat lagi sehingga tidak memikir kan pertahanan diri. Benar saja. Kelemahan ini dapat terlihat oleh orang yang bersenjata ruyung. la menunggu saatnya yang tepat. Lalu membalas menyerang dari samping.

Gadis bertopeng itu terperanjat sampai memekik perlahan. Cepal ia menggeserkan kakinya. Tak urung bajunya masih saja kena tersontek. Diluar dugaan, justru peristiwa itulah yang dikehendaki. Tepat pada saat bajunya tersontek, ia melompat menikam. Dan pundak orang yang bersenjata ruyung itu tertikam ujung pedangnya.

Orang itu mengerang kesakitan berbareng kaget. Namun ia tidak lari atau mundur. Sebaliknya ia berteriak-teriak minta bantuan.

Jelas sekali, dia masih termasuk golongan kerucuk yang tidak tahu malu. Memang, sesungguhnya mereka bertiga adalah anak- murid Cing Cing Goling yang termuda.

Kepandaiannya tidak begitu tinggi, sehingga kedudukan mereka tak ubah semacam perajurit kelas tiga. Karena itu, mereka lidak malu main keroyok terhadap seorang gadis.

Ternyata setelah berkutat sekian lamanya, mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Bahkan kini yang seorang sudah terluka.

Karena itu, perlu mereka memanggil teman-temannya. Tetapi aneh ! Orang yang berteriak-teriak itu hanya mampu membuka mulutnya satu kali saja. Setelah itu bungkam seperti terkunci. Tenggorokannya sakit luar biasa. Kedua temannya heran. Kenapa begitu ? Sebenarnya adalah hasil perbuatan Gemak Ideran yang melepaskan senjata jarum pendek. Memang dalam hal ini, Gemak Ideran merasa ikut berkepen tingan. Kalau gadis itu sampai kena keroyok beramai- ramai, akibatnya akan runyam.

Kecuali mengancam jiwanya, ia sendiri tidak dapat memanfaatkannya. Gadis bertopeng itu sendiri ternyata sangat cerdik. Pada detik itu pula ia mengulangi tikamannya, sehingga orang itu roboh terkapar di atas tanah. Sejenak kemudian, jiwanya melayang.

- Nona ! Biarlah aku yang menghabisi mereka berdua ! - seru Gemak Ideran sambil melompat turun ke tanah.

Begitu tiba di atas tanah, segera ia menyerang mereka berdua dengan jarumnya pula. Tetapi ia hanya menggertak, sesungguh- nya tiada niat membunuhnya. Karena itu, kedua jarumnya hanya menancap pada pergelangan tangan mereka masing-masing.

Sebaliknya gadis bertopeng itu tidak tahu diri. Melihat kedua lawannya tidak dapat lagi menggerak kan tangannya, ia melompat maju menghujamkan pedangnya. Cap, cap ! Dan kedua orang itu mati terjengkang dengan sekejap mata saja.

Gemak Ideran terkejut bukan main. Sama sekalitak diduga-nya, bahwa gadis itu amat ganas. Sewaktu hendak menegurnya, gadis bertopeng itu mendahului : - Apa ? Kejam, ya ? Apa alasanmu hendak memohonkan ampun baginya ? -

Sikapnya bengis seolah-olah dialah yang membereskan mereka berdua. Padahal mereka berdua mudah dibereskan, karena kedua tangannya tak dapat digerakkan lagi akibat jarum Gemak Ideran.

- Nona. - kata Gemak Ideran dengan tertawa melalui dadanya. - Mengapa aku memohonkan ampun baginya ? Kau kenal aku ? Akulah Gemak Ideran ..-

Mcndengar Gemak Ideran menyebutkan namanya, gadis bertopeng itu terkejut. Tiba-tiba saja, belum sempat Gemak Ideran menyelesaikan ucapannya, ia mengayunkan tangannya. Terdengar suatu ledakan lembut dan sualu gumpalan kabut hitam meluruk bagaikan hujan. Gemak Ideran tergeta rhatinya.

Seketika itu juga ia menduga terserang senjata beracun. Sambil menaham nafas, ia mundur jumpalitan. Sewaktu kabut itu buyar terhisap udara, gadis bertopeng sudah menghilang. Tahulah ia, gadis itu menggunakan kesempatan meloloskan diri sewaktu dirinya terselubung kabut beracun.

- Ih ! - Gemak Ideran bergeridik. - Kalau begitu, dialah yang muncul di Pasuruan. Dia pulalah yang disebut ayunda Windu Rini musuh yang licin dan ganas. Rupanya dia ahli menggunakan racun. Aku harus berhati-hati bila berhadapan dengan dia. - Tetapi makin dipikirkan tingkah-laku gadis itu, ia makin heran. Banyak teka-teki yang masih berselubung rapat. Dia datang memusuhi Cing Cing Goling seorang diri, padahal ilmu kepandaiannya tidak tinggi. Siapakah yang menyuruhnya dan apakah dasar alasannya memusuhi Cing Cing Goling ? Apa sebab diapun mengincar pedang Sangga Buwana ? Kalau saja ia berhasil menangkapnya, semuanya akan menjadi jelas. Sekarang dia lenyap lagi bagaikan siluman.

Apa yang harus dilakukannya ? Satu-satunya jalan, ia harus berani memasuki rumah Cing Cing Goling. Kalau gadis itu berani menanggung akibatnya, mengapa dirinya tidak ?

Memperoleh pikiran demikian, segera ia balik bersembunyi di atas pohon. la memutuskan untuk menunggu sampai lewat tengah malam. la berharap Cing Cing Goling sudah tertidur lelap. Itulah saatnya yang paling tepatuntuk berlawan-lawanan dengan Cing Cing Goling. Dan bila berhasil menangkapnya, semuanya akan menjadi jelas. Baik mengenai gadis bertopeng itu maupun mengenai diri Niken Anggana.

Menunggu mcmpunyai masalahnya sendiri. Selain kedinginan oleh hawa pegunungan, ratusan ckor nyamuk menyengati tubuhnya scenaknya sendiri. Paclahal dia tidak boleh membunuhnya dengan tepukan langan, karena takut akan menarik perhatian orang di tengah malam yang sunyi senyap.

Sedang demikian, terdengar langkah serombongan orang yang mengenakan pakaian luar semacam mantel. Sebenarnya sarung berkerobong yang terlilit di atas sebelah pundaknya masing- masing sebagai pakaian seragam mereka. Melihat munculnya rombongan itu, Gemak Ideran berpikir:

- Celaka ! Kalau begitu semua penghuni perkampungan ini terbangun dari tidurnya. Mereka pasti sedang mengatur penjagaan yang ketat. Ah, aku harus melalui jalan diluar pengetahuan mereka. Tetapi ke mana ? -

Dengan huti-hati ia turun ke tanah. Pandang mata dan ketajaman telinganya dipusatkan benar-benar. Lalau dengan gesit ia menyelusup di antaragerombol bunga dan tetanaman. Ternyata halaman gedung Cing Cing Goling sangat luas.

Apa yang dikiranya tadi tempat kediaman Cing Cing Goling ternyata hanya semacam gedung penghias. Pantas sunyi senyap dan terlalu hening. Gedung itu berdiri di atas sebuah ketinggian. Ia harus menuruni suatu bentuk tanah semacam bukit kecil.

Sampai di sini ia berhenti memasang telinga dan penglihatan. Benar-benar ia tidak berani bertindak gegabah dan semberono. Ia percaya penghuninya berkepandaian tinggi.

Sekonyong-konyong sampailah ia di sebuah pagar tanaman yang panjang dun tinggi. la menjenguk kan kepalanya. Di balik pagar tanaman itu ternyata sebuah pekarangan luas lagi yang berisikan aneka warna bunga. Eh, pikirnya. Cing Cing Goling pandai mengatur taman. Apakah terdapat beberapa ahli pertamanan ?

Selagi ia terlongong keheranan, nampaklah dua orang berseragam sarung kerobong sedang beronda. Dengan berjingkit-jingkit ia mendekati mereka. Terdengar mereka sedang berbicara :

- Lewat Isak tadi kabarnya rumah kita kemasukan penyelundup. Penyelundupnya seorang perempuan pula. Mengherankan, bukan ? Belasan tahun aku mengabdi di sini. Belum pernah terjadi peristiwa semacam itu. Bagaimana menurut pendapatmu ?

- Tadi kita dengar tanda bahaya. Rombongan kakang Samiran sudah datang menyelidiki. Kabarnya ketiga kakak-seperguruan kita bukan lawan perempuan itu. - sahut orang kedua.

- Mati ? - Kawannya menegas.

- Sst! Lebih baik kita berpura-pura tidak mendengar. Di antara kita berdua tidak ada masalah. Tetapi kalau peristiwa ini sampai bocor keluar, bisa-bisa guru kita menghendaki jiwamu juga.....-

Orang pertama yang kena tegur, meringkaskan badannya. Agaknya ancaman itu bukan obrolan kosong. Namun masih saja ia berbicara. Minta keterangan dengan berbisik :

- Kalau begitu, berkatalah dengan berbisik. Siapakah sih dia ?- Mereka berdua kemudian berhenti di bawah pohon dan berbicara dengan berbisik-bisik. Gemak Ideran tidak dapat menangkap apa yang dibisikkan meskipun sudah memasang kuping. Tetapi mereka berdua nampak ketakutan dan berahasia. Melihat kesan sikapnya, Gemak Ideran berkata di dalam hati : - Kelihatannya Cing Cing Goling berwibawa benar terhadap sekalian anak-muridnya. -

Selagi berpikir demikian, ia mendengar orang pertama menegas dengan suara agak jelas :

- Jadi selain dia ada perempuan lagi ? -

- Seorang gadis. - temannya membetulkan. - Dia sangat cantik. Halus gerak-geriknya. la masuk kemari karena kena dipelet majikan muda kita. -

- Maksudmu tuanku Geringging ? -

- Siapa lagi kalau bukan dia. Dasar orangnya cakap dan berkepandaian tinggi. Siapapun akan tertambat hatinya. -

- Tetapi kenapa ditawan ? -

- Sst! Perlahan sedikit! -

Hati Gemak Ideran tercekat. Suatu bayangan berkelebat di dalam benaknya. Pikirnya :

- Celaka, jangan-jangan Niken, Dia seorang gadis yang cantik dan lembut hati. Tetapi masakan sampai kena pelet seorang pemuda yang belum dikenalnya ? Ah, mestinya bukan dia. Gadis bertopeng tadi tentunya datang kemari dengan maksud hendak menolongnya. Padahal Niken tidak mempunyai sanak keluarga. Ah, pasti bukan Niken ! Tetapi sanak keluarga gadis bertopeng tadi. Sekiranya bukan demikian, mustahil gadis bertopeng tadi berani mempertaruhkan jiwanya. -

Karena ingin memperoleh keterangan lebih banyak lagi, ia merogoh batang jarumnya. Dan dengan menggunakan warisan kepandaian gurunya ia menyentilnya dan tepat mengenai sasaran. Dua orang penjaga itu roboh tanpa bersuara. Gemak Ideran tidak berniat untuk membunuhnya atau mencelakakannya. Setelah ke luar dari persembunyiannya, ia menghampiri mereka. Dengan suara ditekan-tekan, ia mengancam :

- Jangan bergerak dan jangan berteriak. Sekali berteriak urat- uratmu akan terputus. -

Kedua orang itu tahu, bahwa dirinya kena ilmu sakti. Sebagai anak-murid Cing Cing Goling mereka mengerti dan menyadari apa makna jarum rahasia yang menancap ditubuhnya, Ancaman Gemak Ideran bukan bualan kosong belaka. Maka dengan suara gagap mereka menyahut:

- Kau kau siapa ? -

- Aku bukan pencuri. Bukan pula termasuk orang yang senang menggeryangi rumah orang. Aku putera Sawungggaling ingin mencari dimana gurumu berada. - ujar Gemak Ideran.

Mereka berdua terkejut mendengar Gemak Ideran menyebut nama Sawunggaling. Semua orang pada dewasa itu kenal benar siapakah Sawunggaling. Dialah Adipati Surabaya yang namanya pernah menggetarkan kawasan Nusantara, karena berani berlawan-lawanan dengan Kompeni Belanda dan fihak Kartasura Seperti biasanya kisah perjuangannya lantas dibumbui beraneka warna. Yang bersimpati kepadanya, memuji keberaniannya dan kesaktiannya.

Yang benci padanya, mengabarkan betapa kejam dia. Kabarnya, keganasan dan kekejamannya melebihi binatang buas. Kedua orang itu rupanya lebih terpengaruh oleh berita kekejaman dan keganasannya. Itulah sebabnya mereka makin meringkas.

- Jadi kau..... kau tapi aku tidak pernah menyalahi. -

Gemak Ideran tertawa perlahan. Sahutnya dengan masih menggunakan nada mengancam :

- Memang kalian tidak bersalah. Tetapi aku perlu keterangan kalian. Jawablah pertanyaanku. Kalau tidak benar, kalian akan mati tersiksa. Kau tahu sendiri, jarumku selalu mengandung racun jahat, -

Diancam demikian, mereka berdua menggigil ketakutan. Padahal Gemak Ideran hanya main gertak. Jarum rahasianya sebenarnya sama sekali tidak beracun.

- Coba ceritakan, siapa gadis yang kena tawan majikanmu ! -la meneruskan main gertak. - Sungguh......kami tidah tahu.....- mereka menjawab dengan suara susah payah.

- Dia gadis berasal dari Kartasura atau bukan ? -

- Sungguh kami tidak tahu. -

- Hm, kalian main tidak tahu saja. - Gemak Ideran mendongkol. - Baik, aku bertanya satu kali lagi Kalau jawabanmu main tidak tahu, selamat tinggal. Kalian akan mati tersiksa sebelum fajar tiba. Coba ceritakan bentuk wajah, perawakan dan umurnya ! - Orang pertama segera menjawab :

- Sungguh aku tidak tahu. -

Gemak Ideran kehilangan kesabarannya. Tangannya diayun dan hendak digempurkan di atas kepalanya. Tiba-tiba orang kedua berkata :

- Tunggu ! Dia memang tidak tahu. Aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu. Aku hanya mendengar dari Samiran, kakak seperguruanku. Usia gadis itu kurang lebih sembilan belas tahun. Masih muda belia. Masih hijau dalam hal pengalaman. Hatinya lembut. - Kata-katanya masih berbau kekanak-kanakan. Maaf, hanya itu yang kuketahui. -

Gemak Ideran tertegun. Siapa lagi kalau bukan Niken, pikirnya. Lalu menegas : - Bagaimana terjadinya sampai dia tertawan ? -

- Dia datang kemari atas kemauannya sendiri. Mungkin sekali bermaksud memusuhi majikan kami Geringging. Tetapi betapa mungkin dia berlawan-lawanan dengan majikan kami. Dengan mudah majikan kami menangkapnya, lalu dibawa menghadap guru. Atas perintah guru, dia terpaksa ditawan. -

- Di mana dia di tawan ? -

- Inipun tidak kuketahui. Guru melarang membicarakan. Barangkali hanya beberapa orang yang tahu, tetapi mereka semua diancam hukuman mati. -

Gemak Ideran mau menerima keterangan orang itu. Minta keterangan lagi:

- Baiklah, di mana gurumu berada ? -

- Di dalam taman di belakang gedung ini. Guru tinggal di sebuah kamar batu. Letaknya di samping tiga batang pohon mangga. -

- Baik. - Gemak Ideran mengangguk. - Kau sendiri bernama siapa

? -

Itulah pertanyaan yang sama sekali tak terduga. Wajah orang itu berubah hebat. Tetapi karena takut kena pandang Gemak Ideran yang berwibawa dengan susah payah ia mengaku : - Aku.....aku sih hanya orang murahan Namaku Indung.-

- Terima kasih. - sahut Gemak Ideran agak ramah. - Sekarang aku akan meminjam sarung kerobongmu. Boleh, bukan ? -

Gemak Ideran tidak menunggu jawabannya. Dengan cekatan ia menanggalkan pakaian seragam Indung. Lalu berkata :

- Nah kalian rebah saja di sini. Ingat, jangan bergerak dan jangan berteriak sampai aku menolong mu. Kalau tidak, jiwa kalian akan melayang. -

Setelah mengenakan pakaian seragam luar, Gemak Ideran meninggalkan mereka memasuki pekarangan yang memiliki gedung mentereng. Dengan sepintas lalu saja tahulah Gemak Ideran, bahwa Cing Cing Goling pasti orang kota.

Setidak-tidaknya mengenal tata-atur rumah pemerintahan. Sebab biasanya, rumah orang-orang dusun hanya terbuat dari dinding bambu atau kayu. Tetapi dinding gedung Cing Cing Goling terbuat dari batu pilihan. Lantainya marmer mengkilat. Atapnya genting tebal dan benwarna abu-abu. Tiang agungnya batang kayu jati tua. Seorang bupatipun belum tentu bisa mempunyai kediaman seindah rumah Cing Cing Goling.

Gedung itu memiliki beberapa rumah penjagaan. Penjaga- penjaga hilir mudik teratur rapih. Karena mengenakan pakaian seragam sarung kerobong Gemak Ideran dapat melalui penjagaan dengan aman. Bila mempunyai kesempatan ia meloncati beberapa dinding penyekat dengan lincah, ringan bagaikan burung melayang. Sewaktu berada di atas genting, Gemak Ideran berkata di dalam hati :

- Ah, aku seperti cerita Hanuman mencari kamar tahanan Dewi Shinta di negeri Alengka. Di mana dia ditawan ? -

Setelah berpikir demikian, ia melompat turun ke tanah. Sekonyong-konyong ia mendengar suara angin berkesiur di belakang punggungnya. Tentunya seorang pandai yang memergoki.

- Hai Indung ! - tegur orang itu. - Sekarang belum giliranmu jaga di sini. Mengapa kau cenunukan sampai kemari ? Apakah terjadi sesuatu ? -

Sambil memutar tubuhnya, Gemak Ideran menjawab pertanyuan orang itu dengan suara tidak jclas. Tetapi pada detik itu pula, tangannya bekerja. Orang ilu tahu-tahu terhantam roboh tak berkutik. Memang siapapun bisa mengalami naas demikian, meskipun andaikata dia berkepan daian tinggi. Sebab selain tidak berjaga-jaga, serangan Gemak Ideran dilakukan dengan tiba-tiba. Gemak Ideran tertawa. Berkata kepada orang itu :

- Jangan takut. Aku anak Sawunggaling. Aku tidak bermaksud membunuhmu. Menjelang pagihari kau akan dapat bangkit kembali seperti sediakala. Percayalah ! - Orang itu sebenarnya kepala regu penjagaan. Kepandaiannya sudah boleh diandalkan. Akan tetapi ia roboh hanya dalam satu gebrakan saja. Itulah terjadi, karena serangan Gemak Ideran yang dikiranya Indung datang dengan mendadak sehingga tidak sempat berjaga-jaga diri. Karena itu mendongkol dan penasaran. Tetapi ia pandai menghadapi kenyataan. Merasa diri tidak dapat berkutik bahkan sama sekali tidak pandai berbicara lagi, ia hanya bersikap mendengarkan.

Gemak Ideran sendiri tidak menghiraukan lagi. Mengingat waktu makin mendesak ia harus menemukan tempat Niken Anggana ditawan. Segera ia menyeret orang itu dan disembunyikan di belakang sebuah bukit buatan. Setelah itu ia mengambil keputusan:

- Kalau perlu aku harus membuat perhitungan kepada Cing Cing Goling. Akan kubakar habis gedung ini. -

Teringat akan kata-kata Indung, ia mengarah kepada sebuah rumah batu yang berada di pekarangan belakang. Tatkala dihampiri, di luar rumah itu terdapat tiga batang pohon mangga. la girang. Tidak ragu lagi, inilah rumah kediaman Cing Cing goling. Diluar dugaan terlalu sederhana bila dibandingkan dengan gedung tadi.

Tepat pada saat itu ia mendengar suara orang sedang berbicara. Karena terhalang dinding batu, kata-katanya tidak terdengar jelas. Maka satu-satunya jalan ia harus memanjat pohon itu dan mengintip dari balik atap. Tetapi perbuatan itu sangat berbahaya. Cing Cing Goling bukan orang sembarangan.

Kepandaiannya pasti sangat tinggi dan berada jauh di atasnya. Sedikit saja mendengar suara geseran kaki, pasti akan mem- bangunkan rasa curiganya. Menimbang demikian, Gemak Ideran kemudian meloncat ke atas batang pohon yang paling jauh. Lalu beringsut sedikit demi sedikit. Begitu tiba di atas genting ia berhenti dan tidak berani main untung-untungan.

Sambil menahan nafas ia bertiarap dan harus berusaha mendengarkan pembicaraan mereka dari situ. Untung, di depan hidungnya terdapat sebuah genting yang agak tersingkap.

Barangkali tidak melebihi tusuk satai, namun cukup baginya untuk dapat mengintip siapa yang berbicara di bawahnya.

Jauh di seberang sana terdapat tiga orang yang sedang berbicara. Dua orang tua dan seorang pemuda. Gemak Ideran segera dapat menduga, bahwa orang tua yang duduk di atas kursi pastilah Cing Cing Goling. Perawakan tubuhnya tinggi besar sedikit bongkok. Yang pemuda, mungkin sekali yang disebut Geringging alias anak Cing Cing Goling. Sedang orang tua yang duduk di samping Cing Cing Goling masih merupakan teka-teki baginya.

Pembicaraan mereka bertiga dilakukan dengan suara perlahan. Akan tetapi pendengaran Gemak Ideran yang tajam, masih saja dapat menangkap pembicaraan mereka dengan jelas. Itulah berkat ia memiliki ilmu Semara Bumi, scmacam ilmu sakti yang dapat mendengar suara apa saja yang berada di atas bumi. - Gadis yang lancang masuk kemari mungkin sekali anaknya Dipayuda. - ujar Cing Cing Goling setengah menggerutu.

- Kau maksudkan ki Dipayuda pembantu utama Pangeran Mangkubumi ? - orang tua yang duduk di sebelahnya menegas.

-Tentu saja dia.-

- Apakah anaknya benar-benar ?

- Maksudmu ? -

- Kabarnya Ki Dipayuda mempunyai anak-angkat asal Jakarta. Namanya Tan Jin Siang. Meskipun masih muda, anak cina itu berkepandaian tinggi. -

- Hm. - Cing Cing Goling mendengus. Lalu mengalihkan pembicaraan. Berkata kepada Geringging : - Apakah dia benar- benar puteri Haria Giri ? -

- Bukankah dia sudah mengaku siapa dirinya kepada ayah ? - sahut Geringging.

- Aku ingin mendengar dan mulutmu ! - Cing Cing Goling setengah membentak.

- Ya, kukira begitu. - jawab Geringging setengah ketakutan. -Aku percaya. Sebab jauh sebelumnya sudah kuselidiki siapa dia.- - Bagus ! Kerjamu tidak sia-sia. Kau bisa memeletnya sampai datang kemari. Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Apakah dia membawa-bawa pedang Sangga Buwana ? -

Hati Gemak Ideran terkesiap mendengar ucapan Cing Cing Goling. Dia menyebut-nyebut nama pedang pusaka itu. Apakah orang-orang bertopeng dulu termasuk anak buahnya ? Selagi berpikir demikian Geringging berkata lagi.

- Tidak. Sebaliknya aku bertemu dengan lima orang pemuda yang memiliki kepandaian di atas kepandaianku. -

- Siapa ? - sang ayah terkejut.

- Raden Mas Said, putera Pangeran Mangkunegara yang terbuang di Sri Langka. Gagak Seta, Surengpati, Lukman, Singgela dan Kesambi. -

- Kau bilang lima. Mengapa kau menyebut nama enam orang ? -

- Sebab yang seorang ini, tidak perlu kita pertentangkan atau kita ingat-ingat. -

- Siapa ? -

- Raden Mas Said, -jawab Geringging dengan cepat. - Sebab ilmu sakti yang diperolehnya bukan melalui jalan wajar. -

- Maksudmu ? - kedua alis Cing Cing Goling berdiri tegak, - Menurut kabar diperolehnya dari Sunan Lawu. Beliau dianugerahi tiga pusaka sakti. Satu, kcris Kanjeng Kyahi Carubuk. Dua, sebuah bendera panji-panji dan yang ketiga, sebuah genderang. Bila bendera itu dikibarkan dan genderang dipukul, dirinya akan lenyap dalam pengamatan orang. Bahkan pasukan- nya pula. -

Gemak Ideran ikut berdebar-debar hatinya mendengar tutur-kata Geringging. Pikirnya, Cing Cing Goling ketemu batunya. Tetapi diluar dugaan Cing Cing Goling justru tertawa terbahak-bahak.

Katanya setengah berseru :

- Kau boleh kalah melawan kelima orang itu. Tetapi jangan ayahmu. Ayahmu justru hanya pantas bertanding, mengadu kesaktian melawan Said. -

Mendengar kata-kata Cing Cing Goling, orang tua yang duduk di sampingnya terkejut sampai berdiri dari kursinya. Ujarnya :

- Kakang ! Apakah kata-katamu bukan.....-

- Bukan ! - potong Cing Cing Goling dengan sengit. - Kau tahu ilmu apa vvarisan dari guru kita ? -

- Ilmu sakti Batu Panas. -

- Bagus! Menurut keterangan guru sampai berapa tingkatan jumlah tataran ilmu sakli Batu Panas ? - - Empat belas. Tetapi guru sendiri baru mencapai sembilan. -

- Kau tahu apa sebabnya ? -

- Tidak. -

Cing Cing Goling terlawa melaiui hidungnya. Lalu berkata :

- Kau sendiri sudah mencapai tataran keberapa ? -

- Lima. -

- Bagus ! Dengan ilmu Batu Panas tingkat lima engkau sudah dapat mcngalahkun lima orang yang disebutkan kemenakanmu itu. Mereka akan terpaksa mengakui keunggulan pendekar Tambal Pitu. Itulah dirimu. -

Orang tua itu yang sebenarnya bernama Tambal Pitu adalah adik-seperguruan Cing Cing Goling. Mendengar keterangan kakaknya seperguruan, wajahnya berseri-seri :

- Kakang sendiri sudah mencapai tataran keberapa ? -

- Tujuh. -

- Tujuh ? - Tambal Pitu berseru kagum. - Selamat! Selamat! Sebentar lagi kakang akan dapat mencapai tataran sembilan seperti almarhum guru. Bila tercapai..... hm di dunia ini,

siapakah yang akan dapat menandingi kesaktian kakang. - Tetapi Cing Cing Goling malahan menghela nafas panjang. Wajahnya nampak keruh. Dan melihat wajahnya, Tambal Pitu merasa salah. Buru-buru minta keterangan :

- Kakang ! Apakah aku salah ucap ?--

- Oh, tidak. - Cing Cing Goling menggelengkan kepalanya. la menyenak nafas lagi. Meneruskan : - Apakah kau kira mudah untuk mencapai tataran kesembilan ? -

- Tentu saja tidak. - sahut Tambal Pitu dengan cepat. - Lihatlah, umurku sudah melebihi setengah abad. Meskipun begitu, aku baru mencapai tataran kelima. Memang otakku bebal. Rejekiku terlalu kecil. -

Cing Cing Goling tidak segera menjawab. Dengan isyarat mata ia menyuruh Tambal Pitu duduk kembali di aras kursinya. Kemudian berkata mengalihkan pembicaraan :

- Kau mengerti apa sebab aku menawan gadis itu ? -

- Ah, memang masalah inilah yang akan kupertanyakan. -

- Mengapa ? -

- Aku mendengar kabar, bahwa dia puteri ahli pedang Haria Giri. -

- Betul. Memang dia puteri Haria Giri. - - Kalau begitu, mengapa kakang menawannya ? Bukankah kita akan menanamkan bibit permu suhan dengan Haria Giri ? Haria Giri tidak hanya berkepandaian tinggi saja, tetapi kedudukannya amat tinggi pula. Dia berkuasa memerintahkan seluruh laskar kerajaan dan kepatihan untuk berge rak kemana saja yang dikehendakinya. Bukankah berbahaya selagi kita belum sempurna melatih ilmu sakti warisan guru ? -

Cing Cing Goling mendeham. Menyahut:

- Ada alasanku. Itulah pedang pusaka Sangga Buwana. -

- Tetapi dia tidak membawa pedang itu. -

- Justru itulah aku menawannya. -

Tambal Pitu menggaruk-garuk kepalanya. Berkata :

- Kakang, otakku memang tumpul. Coba terangkan ! -

- Kau tahu rahasia pedang Sangga Buwana ? -

- Karena tajamnya, barangkali ? -

- Itu hanya soal lahiriahnya. Memang pedang itu tajam luar biasa. Tetapi betapapun tajam sebilah pedang akan kalah dengan senapan Kompeni. -

- Lalu ? - Tambal Pitu bernafsu.

- Karena nah inilah rahasianya. - Cing Cing Goling mengulum

senyum. - Barangsiapa memiliki pedang pusaka itu dapat ditukar dengan ilmu sakti Sunan Lawu. - - Maksud kakang ? -

- Seumpama aku memperoleh pedang itu, akan segera kubawa mendaki Gunung Lawu. Dan di atas Gunung Lawu itulah, cita- citaku akan tcrcapai. -

- Ah ! Bukankah Sunan Lawu sudah wafat sekian ratus tahun yang lalu ? -

Cing Cing Goling membiarkan adiknya seperguruan ter-longong- longong. Lalu berkata :

- Apakah kau anggap aku linglung ? -

- Bukan, bukan ! Bukan begitu maksudku. Tetapi.....-

- Dengarkan ! - potong Cing Cing Goling. - Semua orang tahu. Yang kita sebut dengan nama Sunan Lawu sesungguhnya adalah putera-mahkota Raja Majapahit. Di atas puncak Gunung Lawu beliau disemayamkan. Oleh siapa ? Tentunya ada yang menyemayamkan, bukan ? -

- Ya, ya, ya. - sahut Tambal Pitu mengangguk-angguk seperti burung kakak tua.

- Itulah muridnya. -

- Siapa ? - - Soal itu , nanti saja kukatakan. Sekarang dengarkan maksudku.

- Cing Cing Goling mengalihkan pembicaraannya lagi. Gemak Ideran yang berada di atas atap jadi ikut kecewa. Sementara itu Cing Cing Goling meneruskan :

- aku dan engkau bersama-sama mencrima warisan ilmu sakti Batu Panas. Aku lebih mujur daripadamu. Aku bisa mencapai sampai tingkat tujuh. Akan tetapi disini aku mulai memperoleh kesukaran. Ibaratnya, aku merasa seperti dihadang tembok tinggi. Kalau kupaksa, aku akan tersesat. Akibatnya kau tahu sendiri. Aku akan jadi lumpuh dan semua ilmu saktiku akan musnah. Karena itu aku perlu mendapat bimbingan. Aku tidak menghendaki pusaka, senjata atau jimat-jimat keramat Bagiku, cukuplah sudah bila aku bisa menguasai Ilmu Batu Panas sesempurna-sempurnanya. Itulah sampai tingkat empatbelas. Dan satu-satunya orang yang dapat menolong diriku di seluruh dunia ini, hanya seorang. Dialah anak murid Sunan Lawu. Tetapi syaratnya, aku harus mempersembah-kan pedang Sangga Buwana kepadanya, -

Tak terasa Tambal Pitu menghela nafas. Mencoba menegas :

- Apakah gadis itu benar-benar tidak membawa pedang Sangga Buwana ? -

- Bagaimana menurut pendapatmu ? -

- Memang dia tidak membawanya. Tetapi ayahnya ? - - Bagus ! Kau pandai berfikir. Pedang Sangga Buwana itu berada di tangan ayahnya, bukan ? -

- Ya. - Tambal Pitu tidak ragu-ragu.

- Sekarang bagaimana caranya kita memperolehnya ? - Cing Cing Goling tersenyum.

Tambal Pitu mengerinyitkan dahinya. Tiba-tiba Geririgging yang semenjak tadi berdiam diri menimbrung :

- Bagaimana kalau gadis itu kita tukarkan dengan pedang Sangga Buwana ? -

Mendengar ucapan Geringging, ayahnya tertawa terbahak-bahak sambil berseru gembira :

- Bagus ! Bagus! Itulah cara yang tepat. Hanya sayang, gadis itu bandel. Dia tidak mau makan dan minum. Biarlah aku ingin

tahu sampai kapan dia bisa bertahan diri. -

- Yang penting jangan sampai dia mati, bukan ? - Tambal Pitu menegas.

- Betul ! Juga tidak boleh sampai sakit. -

- Kalau begitu, tidak mudah. -

- Apanya yang tidak mudah ? - Tambal Pitu menyenak nafas. Menyahut:

- Ada pepatah, anak harimau tetap harimau. Dia putera seorang pendekar besar. Barangkali dia rela mati kelaparan daripada tunduk pada kehendak kita. -

- Oh begitu ? - Cing Cing Goling menegakkan kepalanya. -Kalau begitu terpaksa dengan jalan lain ? -

- Jalan paksa, maksud kakang ? -

- Benar. Dan aku harus minta jasa kemenakanmu Geringging. Sebab ada pepatah pula yang berbunyi, menangkap harimau mudah tetapi tidak mudah untuk dilepaskan. Sebab bahayanya diluar perhitungan kita. Maka itulah cara yang baik. -

- Cara bagaimana ? -

- Kalau tetap tidak mau makan dan minum, Geringging akan kusuruh menelanjangi dan memper kosanya. Dia pasli takut dan akan takluk. - kata Cing Cing Goling.

Mendengar ucapan Cing Cing Goling, Gemak Ideran kaget

seperti orang disambar geledek. la percaya, ucapan Cing Cing Goling bukan gertakan kosong belaka. Dia bisa membuktikan. Keruan saja darahnya bergolak hebat. Pada saat itu ia mendengar suara Tambal Pitu yang agak menenteramkan hatinya : - Kakang harus tetap berhati-hati ! Bukan mustahil dia akan tetap membandel. -

- Maksudmu akan bunuh diri ? Tentunya harus kita jaga dulu.-

- Bukan itu.....tapi bagaimana kalau dia tetap

membandel,meskipun sudah ..-

- Mudah saja. Biarlah dia menjadi anak menantuku. Masakan Haria Giri tidak mau menerima diriku menjadi besannya. Pada hari-hari selanjutnya bukankah Geringging mempunyai kesempatan untuk mencuri pedang pusaka itu ? Taruhkata tidak semudah itu, nah kita tunggu sampai dia melahirkan anaknya.

Pada saat itu dia pasti akan takluk. Sebab anaknya bakal kusandera. Kalau perlu kupotong-potong di depan matanya. -

Bukan main hebat ancaman Cing Cing Goling. Tambal Pitu dan Geringging sampai meremang sekujur badannya. Apalagi Gemak Ideran yang sebenarnya menaruh hati kepada Niken Anggana.

- Geringging ! Panggil Kepala Penjaga ! Suruhlah mengantar-kan makan minum ke kamar tahanan ! -

Geringging mengiakan dan meninggalkan ruang itu untuk memanggil Kepala Penjaga. Tak lama kemudian masuklah Kepala Penjaga yang datang menghadap dengan wajah pias.

Cing Cing Goling mengangsurkan cambuk baja kepadanya. Berkata memerintah : - Kau beri dia makan dan minum ! -

Sambil menerima cambuk Cing Cing Goling, wajah Kepala Penjaga itu berubah-ubah. Dengan suara tcrbata-bata ia menanggapi :

- Akan hamba laksanakan. Maksud tuanku tentunya dia, bukan ?

-

- Betul ! Masakah kerbau ? - bentak Cing Cing Goling.

- Ya, ya, ya apakah maksud tuanku makan-minum yang tuanku

sediakan sendiri ? -

- Tentu saja.Masakan makan minummu ? Sudah kau terima, bukan ?-

Kepala Penjaga itu makin bingung. la menelan ludah beberapa kali. Menegas :

- Tuanku, hamba ini benar-benar goblok seperti kerbau.-Hamba tidak mengerti maksud tuanku. -

Cing Cing Goling menatap wajah Kepala Penjaga dengan pandang mata berkilat-kilat. Kesannya tak ubah binatang buas hendak menyergap mangsanya.

- Babi ! Kau sekarang menerima apa dariku ? - - Eh ya babi menerima cambuk tuanku. - sahut Kepala

Penjaga dengan suara gemetaran.

- Nah, bukankah itu makan minumnya ? Rangket dia duapuluh kali kalau dia tetap membandel. Aku ingin tahu, apakah dia masih bisa tahan menerima sabetan cambuk mustikaku. -

Kepala Penjaga itu buru-buru mengundurkan diri. Begitu menghilang di balik pintu keluar, Cing Cing Goling menggerutu:

- Geringging ! Budakmu itu goblok. Mengapa kau angkat jadi kepala penjaga ? -

- Dia cukup setia, ayah. -

- Tetapi dia tidak dapat menangkap kata-kataku. Itu berbahaya. Setelah melakukan tugasku, potong kepalanya ! -

- Ya, ayah. -

Gemak Ideran kaget untuk beberapa kali. Selama hidupnya baru kali ini ia mengenal manusia semacam Cing Cing Goling.

Benar-benar seperti penjelmaan Rahwana dalam cerita Ramayana. Di antara kekagetannya terdapat rasa gusarnya, rasa marahnya berbareng girang pula. la kaget dan marah mendengar ucapan Cing Cing Goling yang ganas. Sebaliknya girang dan bersyukur karena memperoleh harapan. Segera ia turun hati-hati ke samping dengan berambatan pada batang pohon. Lalu mengikuti kepala penjaga yang membawa Cambuk Mustika Cing Cing Goling.

Kepala Penjaga itu sebenarnya bernama: Tali Wangsui Tetapi karena sukar diucapkan, teman-temannya memanggilnya dengan nama Tampar (sama dengan tali). Dan seperti keterangan Geringging, ia seorang abdi yang setia dan berbakti.

Seperti kali ini, ia hendak melaksanakan perintah majikannya dengan sungguh-sungguh. Hanya saja ia tidak tahu, bahwa dirinya sudah diponis majikannya akan dipotong kepalanya setelah menunaikan tugas.

Dengan langkah gagah, Tampar melintasi pekarangan. Ternyata ia menuju ke bukit buatan. Setelah berbatuk-batuk dua kali, ia memanggil dengan suara nyaring :

- Kentir ! Suling ! -

Itulah nama dua penjaga yang sedang dinas jaga di bukit buatan. Tetapi mereka berdua tidak menjawab. Tampar mengulangi sampai dua tiga kali. Tetap saja sepi tiada jawaban.

Tampar jadi tercengang dan timbullah rasa curiganya. Segera tangannya memegang sebuah batu dan diputarnya. Mungkin sekali, itulah batu rahasia sebagai alat membuka pintu bukit buatan yang tertutup. - Kiranya mereka mengurung Niken di dalam bukit buatan ini. - pikir Gemak Ideran yang menguntit Tampar dari belakang. -Kalau saja tidak secara kebetulan aku mendengar kata-kata Cing Cing Goling lalu menguntit orang ini, ubek-ubekan sampai satu bulanpun tidak akan dapat kutemukan. -

Tepat pada saat pintu goa dalam bukit buatan itu terbuka oleh putaran sebuah batu yang di putar Tampar tadi, terdengar bunyi kentong bertalu. Lalu disusul dengan teriakan nyaring :

- Guruuuuu........ guruuuuu awas ada maling. Anak

Sawunggaling mengacau di siniiii ..-

Itulah suara teriakan orang yang tadi kena digempur satu gebrakan oleh Gemak Ideran. Sebenarnya ia bernama Kadung. Diapun berkedudukan sebagai kepala jaga tidak beda seperti Tampar.

Gemak Ideran tidak tahu, bahwa kepala jaga-kepala jaga sebenarnya memiliki kepandaian yang tinggi. Kalau dia tadi roboh dalam satu gebrakan, lantaran tidak berjaga-jaga. Waktu diseret Gemak Ideran ke belakang bukit buatan, sengaja ia berpura-pura tidak berdaya.

Tetapi kemudian dengan diam-diam ia menghimpun tenaga saktinya. Itulah sebabnya dia dapat bergerak seperti sediakala lebih awal dari perhitungan Gemak-Ideran. Terus saja lari masuk ke dalam hendak lapor kepada Cing Cing Goling dengan berteriak-teriak kalap. Gemak Ideran sadar akan bahaya. Sebat luar biasa ia mencegat Tampar sebelum sempat memasuki goa yang sudah terbuka pintunya.

Dengan ilmu pukulan Ki Hajar Karangpandan ia dapat merobohkan Tampar satu kali gebrakan saja dan merampas cambuk mustika Cing Cing Goling. Lalu Tampar didupaknya menghantam dinding sehingga terjengkang pingsan.

Baru saja Gemak Ideran membereskan Tampar, terdengar suara berisik. Itulah suara langkah dan suara penjaga-penjaga.

Sebenarnya perbuatan Indung dan temannya, Mereka berdua diketemukan penjaga-penjaga Iain yang sedang melakukan perondaan. Segera mereka ditolong dan mengabarkan tentang masuknya anak Sawunggaling.

Namun mereka tidak mengira, bahwa Gemak Ideran berada di bukit buatan tempat Niken Anggana dipenjarakan Kecuali memang tidak tahu, pikir mereka pasti sedang melakukan pengacauan di kediaman gurunya. Itulah sebabnya mereka semua mengarah ke gedung batu tempat Cing Cing Goling berada.

- Yang paling penting harus membebaskan Niken dulu. - pikir Gemak Ideran cepat.

Menduga bahwa di balik pintu goa pasti terdapat beberapa penjaga yang akan menyerang nya, ia memutar cambuk rampasan untuk melindungi diri. Tetapi ternyata di balik ambang pintu tiada terdapat seorangpun. la maju dua langkah dan melihat dua orang tergeletak di atas tanah seperti mayat Tentunya merekalah yang tadi dipanggil-panggil dengan nama Kentir dan Suling. Hati-hati ia memeriksanya. Ternyata benar-benar mereka tidak bernafas lagi.

- Hai! - Gemak Ideran terkejut. - Siapa yang membunuhnya ?-

Tidak dapat diragukan lagi. Pasti sudah ada seseorang yang mendahuluinya. Cepat ia berdiri tegak dan menajamkan penglihatannya. la seperti melihat sesososk bayangan yang sangat dikenalnya. la heran berbareng girang. Selagi hendak membuka mulutnya, bayangan itu mendahuluinya :

- Aku tahu, kau pasti datang. -

Hampir berbareng dengan ucapannya, Gemak Ideran merasa tangannya tersambar dan tahu-tahu sudah tercengkeram.

Memang di dalam goa itu gelap pekat. Namun bahwasanya dirinya dapat tercengkeram dalam satu gebrakan saja, membuat hatinya terkejut .

- Bukankah ayunda ..-

- Ya. - potong yang menyambarnya. Sesungguhnya dialah Diah Windu Rini. - Hari sudah mendekati pagihari. Cepat ke luar dari perkampungan ini ! -

- Apakah ayunda yang membunuh mereka ? - - Benar. Ingat-ingatlah, dalam keadaan begini ini engkau harus bertindak cepat ! Sebab engkau menghadapi hanya dua pilihan. Dibunuh atau membunuh. Lihatlah, aku jauh mendahului dirimu padahal aku hanya menyusulmu setelah melihat tanda sandi. Itu suatu bukti, tindakanmu amat lambat -

- Ya, ya. - Gemak Ideran mengangguk dengan hati bersedia mengalah. - Tetapi bagaimana dengan Niken ? -

- Dia sudah kubebaskan. Sekarang mari kita berpisah secepat mungkin sebelum mereka tiba. Cing Cing Goling bukan manusia sembarangan. Kita berjumpa di luar hutan. Menyusur sungai sampai bertemu. Kau mengerti ? -

- Mengerti. -

Memang pada saat itu, hari sudah mendekati terang tanah. Lewat beberapa saat lagi, fajarhari akan tiba. Artinya, semua yang gelap akan menjadi terang. Diah Windu Rini bergerak sangat sebat la mendahului Gemak Ideran ke luar goa.

Sebentar saja bayangannya telah lenyap dari penglihatan. Gemak Ideran tidak mau ketinggalan pula. Segera ia keluar goa. Akan tetapi Cing Cing Goling sudah ke luar dari kediamannya. la diikuti oleh Geringging, Tambal Pitu dan empatbelas muridnya.

Celakanya dari segenap penjuru muncul pula para penjaga malam dengan pakaian seragamnya. Gemak Ideran merasa tidak mempunyai pilihan lain kecuali harus bersembunyi pada suatu tempat yang aman. Maka ia memilih gedung berdinding tinggi yang mempunyai dua serambi. Cepat luar biasa ia mengarah ke sana. Selagi memasuki serambi belakang, untuk kedua kalinya tangannya kena tersambar bayangan seseorang yang terus menyeretnya masuk ke dalam ruang tertutup.

- Siapa ? - ia menghardik.

- Aku tahu, kau bakal tidak mempunyai kesempatan lolos dari rumah kediaman Cing Cing Goling. - jawab bayangan.

Ternyata itulah suara seorang gadis yang terdengar merdu.

Dengan menyalakan matanya, Gemak Ideran mencoba menembus tirai kegelapan. la berbimbang-bimbang. Menilik perawakan tubuhnya, seperti gadis bertopeng atau yang mengena-kan kerudung warna hitam. Pakaian yang dikenakan sama pula.

- Hm, jadi kau ! - Gemak Ideran menggerutu.

- Benar. Memang aku. Jangan coba mendekati aku ! Sedikit bergerak aku akan melepaskan bandringanku. Tanganmu akan hancur dan seumur hidupmu bakal cacad. - ujar gadis itu dengan suara dingin luar biasa.

Seumurnya, baru kali ini Gemak Ideran kena dibokong musuh, selain Diah Windu rini sebentar tadi. la mendongkol bukan kepalang Sebelum sempat ia melampiaskan rasa mendongkolnya, gadis berkerudung yang kini sudah melepaskan topeng, mendahului berkata :

- Bukankah engkau datang dengan tujuan hendak menolong membebaskan gadis yang cantik puteri Haria Giri ? -

Gemak Ideran tidak melayani. Diam-diam ia mengerahkan tenaga saktinya. Lalu berkata dengan tertawa :

- Kepandaianmu masih jauh berada di bawahku. Engkau mau main gila denganku ? - dan setelah berkata demikian, tangan yang kena tercengkeram benar-benar terlepas dari cengkeraman gadis itu.

Gadis itu terperanjat, akan tetapi sudah kasep. Diam-diam ia mengakui kehebatan Gemak Ideran. Tetapi hanya sejenak. Setelah itu ia tertawa merdu sekali. Sahutnya :

- Kepandaianku memang masih rendah. Akan tetapi ke- pandaianmu juga belum mahir. Tahukah engkau, bahwa dirimu sudah terkena suatu racun namun kau tidak merasa ? -

Hati Gemak Ideran tercekat Teringatlah dia betapa gadis itu semalam menyerangnya dengan senjata berkabut. Pada detik itu pula, tangannya terasa agak gatal. Tatkala ia mencoba mengerah-kan tenaga, rasa nyeri luar biasa menyerang lengannya. Kembali ia terkejut Gadis itu benar-benar tidak berdusta. Pastilah senjata bendringannya tadi membawa racun dan sedikit melukainya tatkala kena cengkeram. Hm, bukan main rasa penasaran Gemak Ideran serasa hatinya hendak meledak. Namun ia berusaha menahan diri. Sahutnya dengan suara datar:

- Sebelum mati aku akan membunuhmu dengan cara yang sama pula. Kau percaya atau tidak ? -

Ucapannya disusul dengan suatu gerakan kilat Tahu-tahu dia sudah berada di depan hidung si gadis itu dan berhasil meringkus kedua tangannya. Dengan wajah merah padam ia menatap wajah gadis itu yang nampak samar-samar.

Gadis itu ternyata insan istimewa. Sebenarnya kalau dia tadi mau mengelak, pasti dapat Andaikata mau melawan, setidak-tidaknya masih dapat bertahan beberapa gebrakan. Sebaliknya dia membiar kan kedua tangannya kena ringkus. Sama sekali ia tidak mengerahkan tenaga perlawanan. Wajahnyapun tidak berubah.

Bahkan mulutnya menyungging senyum.

- Kau hendak membunuh diriku ? - ia bertanya. - Aku percaya engkau memang mempunyai kepandaian untuk membunuhku. Hanya saja mengapa kita berdua harus mengalami malapetaka begitu ? Bukankah kedatanganmu kemari hendak menolong membebaskan puteri Haria Giri ? Jawablah ! Kau belum menjawab pertanyaanku. -

- Benar. Tetapi sekarang, tidak. - Jawab Gemak Ideran. Itulah jawaban diluar dugaan Dengan perasaan heran terloncatlah kata- kata gadis itu : - Lo ! Apa maksudmu ? -

- Karena dia sudah ada yang membebaskan. - jawab Gemak Ideran pendek. Hatinya masih mendongkol terhadap gadis itu.

Akan tetapi karena ia berbicara dekat sekali, bau harum dara itu beberapa kali terhirup pernafasan nya. Dan tiba-tiba berkuranglah rasa marahnya. Bahkan sejenak kemudian ia merasa tak enak hati karena jawabannya agaknya mengecewakan hati gadis itu.

Gadis itu memang kecewa mendengar jawaban Gemak Ideran. la menundukkan kepalanya sejenak. Tetapi pada detik berikutnya mulutnya menyungging senyum lagi. Katanya seperti kepada dirinya sendiri :

- Tak apalah, tetapi aku telah berhasil memancingmu datang kemari. Sebenarnya aku bermaksud hendak mengajakmu bekerja sama. Tetapi engkau terlalu baik hati. Beberapa kali engkau mengam puni orang-orang yang sebenarnya dapat membunuhmu mati. Aku tahu pula, engkau telah men dengarkan pembicaraan Cing Cing Goling. Baiklah, apakah engkau bersedia bekerja sama dengan ku untuk membunuh Cing Cing Goling. Dia manusia berbahaya. -

Gemak Ideran tertawa. Sahutnya :

- Sama sekali aku tidak ingin bekerja sama denganmu, meskipun andaikata aku ingin membunuh Cing Cing Goling. - - Ah ! Masakan engkau benar-benar menolak permintaanku ? Apakah engkau tidak mengharapkan obat pemunah racun yang sudah merayap dalam dirimu ? -

Hati Gemak Ideran tercekat. Diam-diam ia mencoba mengerahkan tenaga saktinya untuk mengusir racunnya. Ternyata rasa sakit yang luar biasa menyengat seluruh tubuhnya.

- Kalau kau menolak, kita akan mati bersama. - gadis itu meneruskan ucapannya. - yang senang Cing Cing Goling. Rupanya besar juga rejeki Cing Cing Goling. Jadi engkau benar- benar menolak ? -

- Seumur hidupku belum pernah aku dipaksa orang. Aku anak Sawunggaling. Belasan tahun aku dikejar-kejar Kompeni Belanda dan musuh-musuh ayahku. Masakan aku menyerah kalah hanya oleh gertakanmu ? Memang kau telah berhasil membokong diriku. Tetapi itu bukan alasan untukku harus patuh kepada kehendakmu. Tak kuduga, hatimu buruk. -

- Hai, tak pantas kau berkala begitu kepadaku. - tegur gadis itu dengan suara lembut. - Hm tahulah aku. Kau berputar-putar

karena takut menghadapi Ilmu sakti Batu Panas, bukan ? - Gemak Ideran tertawa. Sahutnya :

- Kau bermaksud meinbakar hatiku, kan ? Jangan harap ! - - Kalau begitu kau benar-benar hendak membunuhku ? Apakah masih sanggup ? -

- Mengapa tidak ? Dengan sisa himpunan tenaga saktiku, masih dapat aku bertahan salu atau dua jam. - sahut Gemak Ideran dengan suara gemas. - Tetapi rupanya engkau bernafsu benar hendak membunuh Cing Cing Goling. Baiklah, kuberi waktu engkau untuk membunuhnya. Andaikata gagal sehingga engkau dibunuhnya, jangan khawatir ! Aku akan bertempur dan membunuhnya. Tetapi bila kau berhasil membunuhnya, aku akan memburiuhmu. Nah, bukankah adil ? -

Gadis itu tercengang. la tidak percaya bahwa Gemak Ideran yang berkesan lembut bisa berkata seliar itu. Apakah karena terpengaruh oleh racunnya ? Memang tidak biasanya Gemak Ideran dapat berbicara seaneh itu. Rupanya hatinya tegang semenjak memasuki perkampungan Cing Cing Goling sehingga membuat sepak-terjangnya jadi beringas. Demikian pula kata- katanya. Bukan mustahil pula, karena terdorong oleh rasa mendongkolnya terhadap gadis itu.

Karena masing-masing berdiam diri, suasana dalam kamar itu sunyi mencekam. Lalu saling memandang. Agaknya, karena masing-masing merasa berlaku aneh, tiba-tiba mereka tertawa berbareng dengan perlahan-lahan. Justru demikian, suara tertawanya terdengar oleh penjaga-penjaga yang sedang mencari mereka ubek-ubekan . - Samiran! Indung! Aku mendengar suara orang! Mana guru ? - teriak seseorang.

- Jangan takut! Guru bersama kita. - sahut orang dari kejauhan. Dialah Kadung yang berhasil membawa Cing Cing Galing ke luar dari kediamannya. Pada saat itu terdengar pula tindakan kaki dan suara menggeledek di tengah suasana yang berisik :

- Hai anak Dipayuda! Anak Sawunggaling! Keluarlah! Kalian keturunan orang jempolan. Mengapa bersembunyi seperti tikus takut kena tangkap ? -

Itulah suara Cing Cing Goling yang berkesan gegap gempita. Gemak Ideran tidak melayani. la memutuskan membiarkan dirinya direndahkan atau dihina sekalipun, karena teringat akan pesan Diah Windu Rini agar secepat-cepatnya ke luar dari lembah Cing Cing Goling. Sebaliknya, gadis yang berada di depannya nampak resah. Lalu berkata :

- Baiklah. Karena tidak bersedia bekerjasama denganku, aku akan membunuh Cing Cing Goling seorang diri. Mengapa engkau masih saja menggenggam tanganku ? -

Diingatkan begitu, Gemak Ideran makin jadi tak enak hati. Karena takut dibokong gadis itu, setelah berhasil meringkus kedua tangannya, ia tidak berani melepaskannya. Sekarang ia kena tegur. Cepat-cepat ia melepaskannya. Sebenarnya ini termasuk perbuatan bodoh juga. Bukankah ia sedang berhadapan dengan seorang gadis yang cerdik, licin dan ganas ? Dengan tetap menggenggam kedua tangannya, dapatlah ia menuntut balas pada sembarang waktu. Tetapi setelah masing- masing berbicara berkepanjangan, tiba-tiba saja Gemak Ideran mempunyai kesan lain terhadap gadis itu.

Pada detik itu rasanya ia rela apabila gadis itu tiba-tiba menyerangnya kembali. Tetapi ternyata tidak demikian. Diluar dugaan gadis itu berkata :

- Aku berjanji tidak akan minta bantuanmu. Inilah obat pemunahnya. Terimalah ! Kau boleh beristirahat di sini. Sebentar lagi aku akan bertempur melawan Cing Cing Goling. Aku berjanji sebelum mati, aku akan membunuh Cing Cing Goling dengan caraku sendiri. Dan pada saat itu, engkau akan sempat meloloskan diri. -

Setelah berkata demikian, gadis itu mengangsurkan dua butir obat pemunah dengan tersenyum. Waktu itu fajarhari sudah tiba. Suasana dalam kamar kebagian sinarnya, sehingga wajah gadis itu kelihatan agak jelas. Ternyata ia seorang gadis yang cantik sekali. Gemak Ideran hanya melihat sesaat saja. Setelah menerima obat pemunah, dengan tidak ragu-ragu segera ditelannya. Terasa segumpal hawa merayap masuk ke dalam perutnya. Tidak lama kemudian, lenyaplah semua rasa nyerinya.

- Syukur, kau tidak mengira obat yang mengandung racun. -kata gadis itu dengan tertawa geli. Gemak Ideran tidak menyahut. Tetapi tatkala melihat gadis itu hendak melompat keluar pintu, ia mencegahnya. Entah apa sebabnya dia berbual begitu. Katanya :

- Jangan ! Ilmu Batu Panasnya sangat berbahaya. -

- Eh, sebenarnya apa kehendakmu ? - gadis itu heran.

- Jangan tergesa-gesa ! Dengan seorang diri engkau tidak akan dapat merobohkan Cing Cing Goling. -

- Kau takut ilmu saktinya ? Aku tidak. Sebab Ilmu Sakti Batu Panas adalah hasil curian. Dia mencuri ilmu sakti kakekku. -

- Apakah kakekmu masih hidup ? Kudengar, guru Cing Cing Goling sudah menguasai tataran kesembilan. -

- Memang dialah yang mencuri. Sekarang diwariskan kepada Cing Cing Goling. Bukankah dia harus bertanggung jawab ? Dan aku mengerti caranya mengalahkannya. -

- Tidak. - Gemak Ideran menggelengkan kepalanya. la tetap tidak percaya mengingat kepandaian gadis itu masih rendah.

-Lebih baik kita tunggu saja sampai malamhari tiba. Pada saat itu, kita bisa mulai bekerja dengan mengandal akalmu. Kalau ada orang yang berani mencoba-coba masuk kemari, mari kita bunuh. Kukira ini lebih aman daripada engkau main untung-untungan. - - Eh ! - seru gadis itu terheran-heran. - Kalau begitu, artinya engkau mau membantu diriku. Mengapa ? -

- Jauh berbeda. Tadi, kau memaksa diriku. Sekarang, aku mau sendiri. Sebenarnya apa sih permusuhanmu dengan Cing Cing Goling ? - Gemak Ideran menegas.

- Sebenarnya, Guru Cing Cing Goling adalah pelayan kakekku. Karena berbakat, kakek mengajarkan Ilmu Sakti Batu Panas.

Tetapi hanya sampai tingkat tiga saja, karena melihat guru Cing Cing Goling terlalu bersemangat -

- Kenapa ? Apakah karena kakekmu terlalu pelit ? - potong Gemak Ideran.

- Bukan begitu. Tetapi khawatir kalau dia tersesat -jawab gadis itu. - tidak tahunya, dia malahan mencuri kitab ilmu sakti itu dan menghilang belasan tahun lamanya. Tiba-tiba pada suatu hari dia muncul kembali di depan kakek. Seperti dugaanmu, dia menuduh kakek terlalu pelit. Waktu itu guru Cing Cing Goling sudah mencapai tingkat sembilan. Jelas, bahwa dia sesat. Terbukti tingkah-lakunya aneh dan boleh dikatakan hampir tidak mengenal kakek. Dan dengan kejam, kakek dibunuhnya. -

Kata-kata gadis itu diucapkan dengan susunan kalimat yang sederhana. Akan tetapi bagi pendengaran Gemak Ideran sangat mengejutkan dan terlalu ngeri. Ujarnya setengah berseru : - Ah, masak sampai begitu ? Bukankah ilmu sakti kakekmu tentunya jauh lebih tinggi daripadanya ? -

- Tldak. Sebab menurut ayah, kakek hanya berhenti sampai tingkat tujuh saja. Menurut ayah, kakek takut tersesat meskipun Ilmu Sakti Batu Panas sebenarnya berjumlah sampai empatbelas tingkat Hal itu terbukti dan dibuktikan oleh sepak-terjang guru Cing Cing Goling. Menurut ayah, guru Cing Cing Goling berbudi halus semasa masih menjadi abdi kakek. Tetapi begitu tersesat, sedikit-sedikit ia main bunuh. Pendek kata, dia tidak dapat menguasai diri. Itulah sebabnya selain kedatanganku bertujuan hendak menuntut dendam keluarga sekalian merampas kembali kitab kakek, juga demi menyelamatkan orang lain. -

Gemak Ideran memanggut-manggut. Sekarang ia berkesan lain lerhadap gadis itu. Tiba-tiba suatu ingalan menusuk benaknya. Berkata :

- Kau kenal namaku. Dari siapa ? -Gadis itu tertawa merdu. Sahutnya :

- Tentunya berkat penyelidikanku sendiri. Sebab selamanya aku tidak pernah percaya tutur-kata orang. -

Wajah Gemak Ideran lerasa panas. Berkata lagi setengah memaksa diri :

- Kau kenal namaku, tetapi ..- Gadis itu memotong dengan tertawanya lagi yang berbunyi merdu. Tungkasnya :

- Panggil saja aku Rawayani. -

Sebenarnya gadis itu yang suda menyebutkan namanya masih ingin berbicara iagi, mendadak terpotong oleh suara gemuruh Cing Cing Goling :

- Anak Dipayana dan kau anak Sawunggaling ! Kalian mau keluar atau tidak ? Kuhitung sampai hitungan tujuh. Kalau tetap membandel, gedung ini akan kubakar habis. Ingin kutahu bagaimana rupanya kalian menjadi bandeng asap .. -

Tetapi baik Gemak Ideran maupun Rawayani sama sekali tidak menghiraukan. Bahkan Gemak Ideran masih sempat minta keterangan. Katanya :

- Satu hal ingin kudengar keteranganmu. Apakah kau ber-sedia ?

-

- Bersedia apa ? -

- Menjawab dengan sejujurnya. -

- Tetapi kasep sedikit saja, kita bakal mati terpanggang sebelum sempat menuntut dendam. - Rawayani tertawa. - Apakah benar- benar bersedia mati bersama diriku ? - - Asal saja kau bersedia menjawab pertanyaanku. - sahut Gemak Ideran dengan tersenyum. Dan melihat senyum Gemak Ideran, Rawayani tercengang. Inilah untuk yang pertama kalinya, pemuda itu tersenyum kepadanya.

- Baik, asal aku tahu saja. -

- Apakah engkau pernah berada di Pasuruan ? -

- Pasuruan ? Buat apa ? -

- Terima kasih. Mari kita. pusatkan perhatian kita kepada ancaman Cing Cing Goling. Kita tetap mendekam di sini atau menerobos ke luar ? -

Selagi Rawayani hendak menyahut, sekonyong-konyong terdengar suara siulan tajam melengking menembus lembah perkampungan. Siulan itu datang dari empat penjuru. Dan mendengar siulan itu, Gemak Ideran tercengang. Inilah siulan ilmu sakti menembus awan. Apakah ada pendatang-pendatang baru yang memasuki perkampungan Cing Cing Goling ? Bisiknya kepada Rawayani :

- Mengapa dalam waktu satu malam saja, perkampungan Cing Cing Goling dimusuhi. pula oleh orang-orang berkepandaian tinggi ? -

Rawayani tahu pula, bahwa yang bersiul panjang bukan manusia sembarangan. Tetapi belum sempat menjawab, lagi-lagi terdengar suara berisiknya murid-murid Cing Cing Goling yang datang berlarian. - Anak Sawunggaling datang! Anak Sawunggaling datang ! -

Gemak Ideran tertawa geli di dalam hati. Namun sejenak kemudian, baik suara siulan maupun sura berisiknya anak-murid Cing Cing Goling sirep. Gemak Ideran mengintip dari celah pintu.

Rawayani tidak mau ketinggalan pula. Dengan demikian, mereka berdua saling berdempetan. Masing-masing sempat mencium bau keringatnya.

Mereka mclihat datangnya enam orang yang muncul dengan tiba- tiba saja bagaikan siluman. Merekalah Surajaya, Surengrana, Tanggul Tuban dan isterinya yang disebut orang Urang Ayu dan dua pemuda bernama PUrusa dan Sagopa. Orang yang menarik pehatian Gemak Ideran adalah Surajaya, karena matanya hanya sebuah. Tetapi diantara keenam pendatang itu, rupanya Cing Cing Goling hanya menaruh hormat kepada Surengrana dan Tanggul Tuban suami isteri. Sambil mengangkat kedua tangannya ia memberi hormat kepada mereka bertiga. Lalu berkata :

- Kiranya tuanku Surengrana, Tanggul Tuban dan nyonya Urang Ayu. Selamat datang ! -

Gemak Ideran tercekat hatinya. Nama Surengrana itu seperti pernah didengarnya. Apakah dia bukan bupati Surabaya yang melarikan diri ke pihak V.O.C ? Karena dia melarikan diri, maka ayahnyalah yang harus meneruskan perjuangannya. Ayahnya waktu berkedudukan sebagai patih bersama Wira Saraya. Ayahnya kemudian diangkat bupati oleh penduduk setempat, sedang Wira Saraya tetap mendampinginya sampai kedua-duanya gugur di medan laga.

Kini dengan mendadak Surengrana yang melarikan diri muncul di perkampungan Cing Cing Goling. Sikapnya jelas memusuhi tuan rumah. Mengapa ?

Surajaya yang bermata sebelah, agaknya merasa tersinggung. Dia bersenjata sebatang tongkat baja berukuran panjang.

Tongkatnya dihentakkan di atas tanah sambil membentak :

- Cing Cing Goling ! Karena benar-benar aku hanya bermata satu, kau memandang diriku dengan sebelah mata juga. -

-Ah, - Cing Cing Goling heran. - Maafkan, mataku makin lama makin lamur. Siapakah tuan ? -

-Aku Surajaya adik-seperguruan Mahesa Bangah. (ayah kebo Bangah salah seorang tokoh sakti di Bende Mataram) Mataku hilang sebelah. Bukankah atas perbuatanmu ? -

- Orang yang mati ditanganku tidak terhitung jumlahnya. Apalagi yang terluka oleh kesalahan tanganku. Kau menyebut-nyebut nama Mahesa Bangah. Mahesa Bangah yang mana ? -Cing Cing Goling tertawa lebar. Wajah Surajaya merah padam menahan rasa marah.Membentak lagi :

- Mahesa Bangah dari bumi Banyumas. Bukankah engkau yang membunuh kakakku seperguruan dengan caramu yang licik ? -

- Oh, kiranya orang termashur itu ? - Cing Cing Goling berpura- pura heran. - Sebentar biar kuingat-ingatnya dulu apakah aku yang membunuh kakakmu itu ..-

- Biadab ! - Maki Surajaya. - Pada jaman ini siape lagi yang memiliki Ilmu Batu Panas kecuali engkau ? Apakah kau hendak menyangkal ? -

Sebenarnya peristiwa itu terjadi duapuluh tahun yang lalu. Cing Cing Goling berasal dari wilayah Serayu pula. Dengan Mahesa Bangah seringkali ia merundingkan soal ilmu-ilmu sakti yang terdapat di bumi Nusantara. Isteri Mahesa Bangah terkenal cantik pada jamannya.

Diam-diam Cing Cing Goling menaruh hati padanya. Pada suatu malam ia nekat menghampiri kamarnya. Tetapi ketahuan salah seorang murid Mahesa Bangah. Murid itu tentu saja bukan tandingnya. Dengan sekali pukul, dia mati meringkuk seperti udang kering. Takut ketahuan Mahesa Bangah, murid yang naas itu dibuang ke sungai Serayu.