-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 11

Jilid 11

- Ada empat hal yang membuatku dapat melihat siapa mereka. Sungguh, aku belum mengenal siapa mereka. Tetapi sewaktu melihat lagak-nya Srenggana memakan daging harimau, aku sudah dapat menebak delapan bagian. Ingat-ingatlah cara mereka menempati kursinya seakan-akan mengepung Kyahi Dengkul dan Nyai Rumpung ..-

- Ayunda ! - Niken Anggana memotong. - Apakah Srenggana tidak makan daging harimau ? -

- Apakah engkau dapat membuktikan dia memakan daging harimau ? - Diah Windu Rini balik bertanya.

- Ya benar, - pikir Niken Anggana.

Untuk membuktikan Srenggana makan daging harimau memang susah. Sebaliknya kalau yang dimakannya bukan daging harimau, bagaimana cara membuktikannya ?

- Apakah daging kambing ? - akhirnya Niken Anggana minta pembenaran.

- Nah, adik ! Lain kali engkau harus lebih banyak mengenal harimau, kuda, sapi, kambing dan babi tentunya berbeda,

Kau amat-amati seratnya atau serabutnya ! Masing-masing memiliki ciri yang khas. Serat atau serabut daging kuda lebih kasar bila dibanding dengan daging lembu. Pernahkah engkau mengamat-amati macam serabutnya ? kalau belum faham, suatu kali engkau akan makan daging babi yang dikatakan daging lembu ..-

- Ah ya ! - pikiran Niken Anggana seperti terbuka. - Mengapa aku tidak mempunyai pikiran begitu ? -

- Itulah karena hatimu terlalu mulia, adikku. - ujar Diah Windu Rini. - Kerapkali seseorang diperbodoh karena kemuliaan hati- nya. -

Niken Anggana meruntuhkan pandangnya. Terasa di dalam hati, ia masih perlu banyak belajar. Selagi demikian Diah Windu Rini melanjutkan ulasannya:

- Begitu aku melihat daging yang dimakannya, segera aku memperoleh firasat buruk. Apalagi setelah metihat kedudukan mereka yang berlagak hendak mengepung Kyahi Dengkul dan Nyai Rumpung. Yang ketiga, nama mereka yang tidak selaras dengan keperibadiannya. Dengkul, Rumpung ah, aku berani

bertaruh bahwa mereka semua mengenakan nama samaran yang berhubungan dengan tugasnya. Sreng gana artinya anjing serigala. Maka ia menyesuaikan diri dengan berlagak makan daging harimau. Tetapi sesungguhnya, dia ditugaskan untuk menyergap lawan. Guntur tentunya tugasnya untuk

menggertak lawan selain mempunyai tenaga kuat Sedang nama Dengkul dan Rumpung, sudah jelas. Dengkul adalah nama anggauta kaki sebagai penghubung. Rumpung berhubungan dengan hidung. Dialah pengamat atau penyelidik. Karena itu berlagak sebagai pendamai. Tetapi sebenarnya ingin mengorek keterangan lebih dalam lag! ..-

Mendengar ulasan Diah Windu Rini, tak terasa Gemak Ideran dan Niken Anggana memanggut membe narkan. Sementara itu Diah Windu Rini meneruskan :

- Yang keempat cara mereka berbicara. Mereka berlagak tidak saling mengenal. Tetapi bila kalian agak cermat sedikit saja, segera akan melihat bahwa pembicaraan mereka saling menimpali. Dan yang ke lima, perginya pemilik rumah makan dan para tamu lainnya. Kaburnya para tamu bisa dimengerti. Tetapi perginya pemilik rumah makan membuktikan bahwa dia setidak- tidaknya sudah mengenal siapa mereka.

Sekiranyadiapuntermasuk anggauta komplotan, peranan yang dilakukan masih kasar. -

Diam-diam Gemak Ideran kagum kepada kecermatan pengamatan Diah Windu Rini. Andaikata dia memperoleh peng- lihatan demikian, akan mengambil kesimpulan tiada beda dengan Diah Windu Rini. Terasa dalam dirinya, bahwa berbekal kepan- daian tempur saja belum cukup. la masih perlu meninggalkan kewaspadaan'dan berhati-hati.

- Meskipun aku sudah memperoleh kesimpulan demikian, tetapi belum kuketahui dengan jelas siapakah pemimpin mereka. -Diah Windu Rini m^njutkan. - Maka kualihkan perhatian mereka kepada secarik kertas yang menyebut-nyebut pedang Sangga buwana. Kemudian aku memerintahkan kalian meninggalkan tempat Di sanalah topeng mereka terbuka. Tetapi di balik belakang punggung mereka. Siapa dia, inilah soalnya. -

- Ayunda belum bisa menebak ? - Gemak Ideran menegas.

- He-e. - Diah Windu Rini mengangguk.

- Hai! Kalau begitu kita bakal bertemu dan berhadap-hadapan dengan masalah yang pelik dan rumit - seru Gemak Ideran.

- Benar! Karena itu, mulai sekarang kita harus berhati-hati dan berwaspada. -

- Pedang Sangga Buwana.....- Niken Anggana seperti menggerutu. - Sebenarnya apa sih keistimewaannya sampai mereka ikut-ikutan untuk merebutnya. -

- Mengapa mereka ikut-ikutan untuk merebutnya masih perlu diselidiki. Tetapi apa keistimewaan pedang Sangga Buwana sehingga menjadi pusat perhatian orang-orang pandai ..... hm .....

panjang ceritanya. - ujar Diah Windu Rini.

- Yang penting sekarang, tidur dulu! Tentang riwayatpedtng itu akan kuceritakan perlahan-lahan. -

Untuk yang pertama kali itu, Niken Anggana berkelana seorang diri tanpa pengawalan. Dahulu, tatkala diberangkatkan ke Madura, ayahnya menyertakan laskar Kasunanan dan Kepatihan. la berada dalam kereta berkuda yang tertutup rapat, sehingga perasaannya aman. Tak mengherankan sering ia tertidur lelap. Dibandingkan dengan perjalanan sekarang, alangkah jauh berbeda.

Karena kini sudah dewasa, ia harus berangkat mening-galkan Madura tanpa pengawalan laskar. Berkuda seorang diri, hanya dengan dikawal dua orang saja. Begitu tiba di Pasuruan, ia mengalami hal-hal yang aneh. Kemudian terlibat suatu perkelahi- an yang tak keruan juntrungnya. Sekarang harus beristirahat di tengah hutan di atas rerumputan demi melepaskan lelah.

Hawanya memang segar sejuk menyenangkan, akan tetapi prarasanya mengabarkan adanya ancaman bahaya. Hanya saja siapa yang akan mendatangkan bahaya, ia kurang jelas.

Dengan pikiran itu, tak terasa ia tertidur pulas. Memang semenjak semalam, ia tidak sempat memejamkan mata sedetik-pun. Dan pagi tadi baru saja ia terlepas dari saat-saat yang menegangkan. Tak mengheran kan, ia mudah tertidur lelap. Entah sudah berapa lama ia tertidur lelap, tiba-tiba ia mendengar suara gaduh. Suara beradunya pedang dan senjata logam lainnya.

Gugup ia menegakkan badannya dan melihat Gemak Ideran rebah terkulai di atas rerumputan. Dan disana Diah Windu rini sedang bertempur menghadapi tiga orang musuh yang terdiri dari seorang nenek-nenek dan dua orang laki-laki. Siapa mereka dan kapan datangnya ? Ah, menapa ia sama sekali tidak mendengar kedatangan mereka ? Melihat Gemak Ideran roboh di atas rerumputan, ia heran bukan kepalang, Gemak Ideran bukan seorang pemuda lemah.

Apakah dia diserang selagi tertidur lelap ? Memperoleh dugaan demikian, gugup ia menghampiri dan mencoba membangunkan- nya.

- Kakang ! - ia menegakkan badannya.

- Niken! - bisik pemuda itu dengan suara parau, - Kau mengerti Ilmu pamudaran ? -

- Sedikit -

Kau pukullah diriku di bagian betis dan bawah tengkukku. Aku akan mengerahkan tenagaku untuk membantumu. -

Ilmu Pamudaran termasuk ilmu sakti untuk membebaskan orang dari pembelengguan ilmu sakti tertentu. Begitu tangan Niken Anggana rnenyentuh titik penyaluran, seketika itu juga mantra Pamudaran segera bekerja. Gemak Ideran dapatbergerak kembali, tneskipun sendi-sendi tulangnya belum pulih seperti sediakala.

- Kau awasi tiga orang itu yang mengkerubut ayunda Diah Windu rini. Engkau jangan bergerak dulu. Tunggu sampai aku pulih kembali. - ujar Gemak Ideran seraya menegakkan badannya.

- Memangnya kenapa ? - Niken Anggana minta keterangan. - Mereka bertiga bukan sembarangan. -

- Apakah kakang kenal mereka ? -

- Belum. - jawab Gemak Ideran. - Aku terbangun tatkala mendengar suara bersuing di udara. Begitu menyenakkan mata, aku melihat berkelebatnya sesuatu mengarah padamu. Buru-buru aku menangkis nya. Ternyata sebilah pedang disambitkan kepadamu. Untuk pedang bersarung sehingga tidak melukai diriku. Lihat, apakah bukan pedangmu ? -

Niken memalingkan mukanya dan melihat sebilah pedang bersarung tak jauh dari padanya. Begitu melihat, segera ia mengenalnya sebagai pedangnya sendiri.

- Hai! - Niken Anggana heran. - Kalau begitu, merekalah yang mencuri pedangku ! Apa sebab dikembali kan padaku ? -

- Sabar dulu! Lebih baik kau dengarkan dulu keteranganku! - potong Gemak Ideran. - Mendengar suara pedangmu jatuh di atas rerumputan, ayunda segera meletik bangun dan mengejarnya. Tepat pada saat itu, seseorang memukul diriku dengan disertai mantra panyirepan. Kau tahu mantra panyirepan

? -

- Bukankah untuk menidurkan orang ? -

- Benar. Tetapi mantra panyirepan ada beberapa tingkat kurasa ini yang dinamakan orang mantra Bega nanda. Sebab begitu aku terkena mantranya, seketika itu lesulah seluruh sendi tenagaku. Yang kuheran kan, mantra panyirepan macam apapun hanya berlaku diwaktu malamhari. Mantra itu akan tawar bila kena terik matahari. Tetapi kenyataannya, masih saja aku terkena. Mungkin, kita berada di tengah hutan sehingga sinar matahari tertahan oleh rimbun mahkota daun-daun. Sekiranya tidak demikian, tentunya orang yang menggunakan mantra itu seorang ahli tapa. Ternyata mereka bertiga tergolong pertapa-pertapa yang biasanya bermukim di atas gunung. Lihatlah yang jelas ! Yang perempuan itu mengaku bernama: KALIKA seorang pertapa dari Gunang Lasung yang berada di pulau Bali. Kemudian LEKONG dan SETELUK yang bermukim di Gunung Rinjani dari pulau Lombok. Sungguh mengheran kan, mengapa orang seberang cenunukan sampai masuk ke pulau Jawa. Lebih mengherankan adalah orang yang berperanan di belakang mereka. Sebab mustahil sekali mereka datang kemari atas prakarsanya sendiri. Pasti ada yang memerintahnya. -

- Apa alasan kakang ? -

- Mereka datang dengan membawa pedangmu. Bukankah sejalan dengan orang-orang yang mengincar pedang Sangga Buwana ? Karena engkau adalah puteri Haria Gin, mereka atau dia yang mencuri pedangmu mengira bahwa engkau membawa-bawa pedang Sangga Buwana. - - Ah, ya. - Niken Anggana tersadar. - Lagi-lagi masalah pedang Sangga Buwana' Begitu hebat daya tank pedang leluhurku itu bagi mereka sampai......sampai ..-

Kata-kata Niken Anggana terputus oleh bunyi suara nyaring. Itulah suara bentrok pedang Diah Windu Rini dengan tongkat baja Kalika. Diah Windu Rini sangat cerdik. Begitu habis mengadu tenaga, sebat luar biasa ia menggerakkan pedangnya melingkar seperti lingkaran ular hendak meremuk mangsanya. Sambil memutar ia maju dua langkah. Tiba-tiba ujung pedangnya menyontek. Tak ampun lagi ikat pinggang jubah Kalika terputus. Tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja. Masih saja pedangnya bergerak menampar golok Seteluk ke samping.

Lekong yang berada di luar gelanggang belum mengetahui, bahwa baik Kalika maupun Seteluk sudah dilukai Diah Windu Rini. la hanya heran dan rnendongkol mengapa rekannya belum dapat merobohkan seorang gadis yang belum pandai beringus. Terus saja ia ikut menerjang. Tetapi tahu-tahu, tangannya terasa nyeri. Cepat-cepat ia memeriksa. Ternyata sudah berlumuran darah. Hai, kenapa ? la tidak mengetahui, bahwa Diah Windu Rini masih mempunyai senjata andalan. Itulah senjata bidik atau penggendam yang dapat melukai lawan dari jarak jauh. Dalam penasarannya dan terbakar oleh rasa marah, Lekong menjerit :

- Gadis siluman ! Kau menggunakan senjata apa ? Hari ini, terpaksa aku mengadu jiwa. Kau atau aku yang mampus disini. - Setelah menjerit demikian, ia melompat menerjang sambil menahan rasa sakit. Senjta yang digunakan adalah semacam pancing yang diputar kencang di udara sebelum merabu lawan. Tali pengikatnya terbuat dari baja lentur yang dapat memanjang dan mengerut pendek. Tajamnya luar biasa ibarat dapat merajang daging. Tetapi sebelum senjatanya' mengenai sasaran tiba-tiba terdengar seseorang tertawa geli dari balik pepohonan.

- Hai siluman tua ! Mengapa kalian ikut cenunukan di sini ? Dengan berbekal ilmu kepandaian demikian, kalian bisa berbuat apa ? Sebenarnya kau harus berterima kasih kepadanya. Sebab kalau dia bermaksud mengambil jiwamu, saat ini engkau sudah kehiiangan sebelah tanganmu. Lalu tinggal memotong sebelah tanganmu lagi. Bukankah kau bakal mati kehabisan darah ? -

Gemak Ideran segera berdiri sambil melemparkan pandangnya ke arah datangnya suara itu. Begitu mengenal siapa yang berkata itu, berserulah ia setengah tak percaya :

- Hai dia ! -

- Siapa ? - Niken Anggima menegas. Diapun ikut berdiri setelah memungut pedangnya yarig tergeletak di atas rerumputan.

- Pemuda lusuh di depan rumah makan. - bisik Gemak Ideran.

Niken Anggana tercengang. Pemuda lusuh di depan rumah makan ? Lalu menegas : - Apakah pemuda lusuh yang kau pertanyakan kepada ayunda Windu Rini ? -

- Benar. Itulah dia ! - jawab Gemak Ideran dengan suara mengandung kegembiraan. - Aku sudah menduga, dia pasti mempunyai sangkut-paut dengan kepentingan gerombolan yang sedang bermain sandiwara di rumah makan. Diapun menghilang berbareng dengan keberangkatan kita meninggalkan rumah makan. Mustahil hanya secara kebetulan. Nyatanya, kini dia muncul kembali. Man kita dekati! -

Selagi ia melangkahkan kakinya, terdengar suara bersuing di atas kepalanya. Sebilah pisau terbang menetak dahan pohon. Tak!

Dan dahan itu terpotong tak ubah leher terpangkas pedang tajam. Syukur Niken Anggana sempat menariknya kembali dan dibawanya mundur berlindung.

- Kakang, sabarlah dulu ! - ujar Niken Anggana dengan setengah tertawa. - Tunggulah sampai orang-orang itu tidak berkutik lagi. -

Gemak Ideran terdiam, Tetapi hatinya mendongkol. Mengingat diapun kurang jelas siapa pemuda lusuh itu, ia terpaksa menahan diri. Sementara itu terdengar pemuda lusuh itu berseru:

- Sudah lama aku mengintipmu. Ternyata kalian hanya pandai menyerang orang selagi tertidur lelap. Apakah perbuatan kalian termasuk perbuatan orang-orang gagah ? -

Kalika, Lekong dan Seteluk tergugu mendengar kata-kata pemuda itu. Jadi mereka sudah kena intip semenjak tadi ? Diam- diam hatinya tercekat, karena kehadiran pemuda itu berada di luar pengamatan.

Biasanya, telinganya yang terlatih semenjak puluhan tahun yang lalu dapat menangkap bunyi nafas seseorang pada jarak duapuluh langkah. Mengapa kali ini hilang dayanya ? Tentunya pemuda itu bukan tokoh sembarangan. Dan memperoleh pikiran demikian, segera mereka bersiaga menghadapi segala kemung- kinan.

Tetapi pemuda itu hanya duduk berjagang di atas sebuah batu. Sama sekali ia tak bergerak dari tempatnya. Hanya mulutnya saja yang berkomat-kamit seperti lagi menggerumiti penganan.

Setelah menelannya habis tiba-tiba ia berseru lagi :

- Hai Kalika, kau satu-satunya wanita di antara mereka berdua. Apakah engkau gundiknya ? -

Lekong dan Seteluk marah bukan main. Dengan berbareng mereka meloncat menghampiri. Pemuda itu meloncat pula dari tempat duduknya seraya berkata :

- Hai ! Apakah kalian ingin mencoba-coba keampuhan senjataku

? Lihat, hanya sebatang tongkat penggebuk anjing. -

Setelah berkaia demikian, dengan gesit ia menyerang. Nampaknya ringan saja, tetapi tiba-tiba mengarah sasaran yang mematikan. Keruan saja Lekong dan Seteluk terkejut bukan kepalang. Buru-buru mereka membela diri. Akan tetapi serangan pemuda itu, mendadak saja berubah menjadi suatu rangkaian serangan yang cepat luar biasa. Sebentar saja ia dapat mendesak mereka berdua hampir-hampir menca pai tebing jurang. Dan sadar akan bahanya mengancam jiwanya, dengan berjumpalitan Lekong dan Seteluk terbang ke udara melewati kepala pemuda lusuh itu. Begitu tiba di atas tanah, Lekong membentak :

- Sebenarnya siapa engkau ? -

- Aku ? - pemuda itu tertawa riang. - Aku seorang pengembara. Apakah kalian perlu mengenal namaku ? -

- Betul! - Kalika berteriak. - Kau sudah mengenal kami bertiga. Tentunya engkau tidak takut memper kenalkan namamu agar dapat kami kenang selama hidup. -

- Waddooo.....sampai perlu kau kenang ? Hihi. sebenarnya apa

sih aku ini sampai perlu menerima suatu kehormatan besar ? Aku hanya seorang pengemis. Lihat! Akupun tidak cakap. Kulit tangan dan wajahku berbentong-bentong putih. Suaraku buruk seperti bunyi suara gagak. Karena itu tidak berani aku mempunyai nama.

-

- Betul-betul kau tidak mempunyai nama ? - ejek Kalika.

- Tidak. Apa sih hebatnya suatu nama. Yang penting, bukankah yang menyematkan nama itu ? - - Hm, hm.....- Dengus Lekong. Kemudian berkata kepada Kalika :

- Bagaimana kalau kita namakan si gagak putih ? Bukankah dia sendiri yang berkata suaranya jelek seperti bunyi burung gagak ?

-

- Yang putih kau angkat dari mana ? - Kalika menegas seraya memiring-miringkan kepalanya.

- Kulit tangan dan mukanya berbecak-becak putih, kan ? -Seteluk yang semenjak tadi rnenutup mulutnya menyambung:

- Gunakan bahasa kita. -

- Maksudmu ? - Lekong menegas.

- Jangan putih, tetapi seta. Dengan begitu kita sebut dia Gagak seta. -

- Waddoooo bagus, bagus ! - pemuda itu berseru girang.

Lantas saja dia menandak-nandak seperti anak gendeng. - Bagus

! Hari ini aku mempunyai nama yang tepat. Ya, sebutlah aku Gagak Seta!-

Ketiga orang itu sebenarnya bermaksud menghina pemuda lusuh itu. Tak tahunya pemuda lusuh itu malahan menandak-nandak kegirangan. Keruan saja mereka mendongkol bukan kepalang sampai wajahnya merah padam.

- Bangsat! Kau ini manusia atau siluman ? - bentak Lekong.

- Aku ? Kau sebut manusia, boleh. Kau sebut siluman, aku tidak melarang. Pendek kata, hari ini aku mempunyai nama yang tepat sekali. Gagak Seta! Gagak Seta dari lembah Gunung Lawu.

Kalian bertiga menyebut-nyebut nama gunung Rinjani dan gunung Lasung. Bagus ! Jadi kita berempat sama-sama dari gunung. -

Kalika, Lekong dan Seteluk kelak muncul kembali di "MENCARI BENDE MATARAM" dengan nama Jahnawi, Mohe dan Kalika yang meninggal di hari tua diganti oleh Jinawi. Mereka bertiga menamakan diri sebagai Utusan Suci. Tugasnya mengumpulkan benda-benda sakti peninggalan para nenek-moyang yang dianggapnya diwariskan kepada golongan mereka.

- Tidak bisa ! - bentak Seteluk. - Meskipun kita sama-sama orang gunung, tetapi gunungmu tidak sama dengan gunung kami.

Gunung kami suci murni. Gunung Lasung berada di tengah pulau Bali dan Gunung Rinjani berada di Lombok. Sebaliknya, gunungmu berada di atas tanah yang kotor. Tanah yang memiliki aneka ragam agama dan kepercayaan. -

- Apakah bukan karena mulutmu yang kotor ? - ejek Gagak Seta. - Mulutku yang kotor ? - Seteluk tercengang. la tidak mengerti maksud Gagak Seta.

- Betul! - sahut Gagak Seta. - Bukankah engkau kencing saben hari dan berak saben hari pula ? -

- Semua orang begitu. Lalu apa hubungannya ? -

- Jelas, dong Kencingmu dan kotoranmu dihisap bumi Dan

bumi merebuki tanaman yang engkau makan. Bukankah mulutmu jadi kotor ? -

Seteluk tergugu. Kalau dipikir, memang begitulah halnya. Namun ia tidak sudi mengalah. Lantas saja ia mengutuk :

- Bangsat! Tetapi di sana tiada aneka agama dan kepercayaan. -

- Siapa bilang! - bontah Gagak Seta. - Meskipun belum pernah aku menginjak tanahmu, tetapi pulau Bali dan pulau Lombok adalah tanah subur bagi aneka agama dan kepercayaan. Karena apa ? Penduduknya percaya dan yakin adanya Sang Maha Kuasa. Sayangnya cuma kalian bertiga yang sesat. -

- Sesat ? - Seteluk berteriak kalap. - Kenapa sesat ? Kami justru dari Utusan Suci. -

- Nah tuuu.....apa itu Utusan Suci ? Utusan Suci kentutmu ! - maki Gagak Seta. (*selanjutrya baca Mencari Bende Mataram jilid 1 dan 2) Sampai disini Seteluk tidak dapat menahan rasa gusarnya. Sebilah goloknya ditariknya terpentang dan tiba-tiba menjadi dua bilah golok kembar yang berkilat-kilat oleh cahaya sinar matahari menjdang senjahari. Dan dengan senjata dua bilah golok kembar itu, ia melompat menerjang.

Tetapi Gagak Seta tidak takut Dengan senjata tongkatnya yang berwarna kehijau-hijauan ia menyongsong serangan Seteluk dengan gerakan yang sebat luar biasa. Sekarang ia malahan berbalik menyerang untuk mengimbangi sabetan golok yang datang beruntun.

Dalam beberapa waktu saja, mereka bertempur dengan sengit dan seru. Gagak Seta mendesaknya dan nampak Seteluk mundur setapak demi setapak. Wajahnya nampak kebingungan. Jelas sekali ia kerepotan.

Segera terdengar suara bentrokan nyaring. Seteluk melesat mundur kira-kira lima langkah. Gagak Seta tertawa terbahak- bahak dan berseru dengan gagahnya :

- Eh, ilmumu lumayan juga. Mari kita uji sekali lagi ! -

Bentrokan sebentar tadi memperlihatkan kehebatan Setrluk. Meskipun tangannya melekah dan mcngalirkan darah, Gagak Seta terhuyung juga. Tetapi Gagak Seta tidak inau s'idah. Sebat luar biasa ia mendesak. Luar biasa gerakan tongkatnya. Namun masih bisa Seteluk mengelak sehingga mau tek mau Gagak Seta merasa kagum.. Hal itu bukan berarti Gagak Seta mati kutu. Pada detik iti pula, ia mulai menyerang dengan gerakan-gerakan tongkataya yang aneh luar biasa.

Menyaksikan kepandaian Gagak Seta berada di atas Seteluk Kalika dan Lekong maju serentak dan menyerang dengan berbareng. Kalika dengan tongkat bajanya dan Lekong Dengan senjat. pancingnya yang ampuh. Tanpa pikir mereka berdua bermaksud membantu rekannya. Tadipun sewaktu melawan Diah Windu Rini, mereka main keroyok pula.

Senjata pancing Lekong terlebih riuhi meniangkau sasaran-nya. Melihat berkelebatnya senior pancing itu, Gagak Seta menjerit :

- Aduh, celakaaaa ! -

Berbareng dengan jeritannya, ia roboh jumpalitan. Sebaliknya Lekong dan Kalika heran bukan main menyaksikan cara Gagak Seta berkelahi. Selagi mereka tertegun, tiba-tiba ujung tongkat Gagak Seta menghantam betis. Tuk ' Kalika masih sempat melompat, tetapi betis Lekong kena pukulan telak .

Seketika itu juga, Lekong jatuh terguling. Senjata pancingnya yang panjang tidak berkutik lagi.

Kalika mendongkol bukan main. la merasa kena ditipu dan diingusi bocah edan itu. Siapapun tidak menduga, bahwa Gagak Seta yang roboh jumpalitan masih sempat mengadakan serangan balik. Karena itu, dengan mengerahkan seluruh tenaganya ia menggempur. Tetapi bukan Gagak Seta ^^ -$-..« pukulannya.

Sebaliknya rekannya sendiri si Lekong yang baru berusaha merangkak bangun. Tak ampun lagi Lekong benar-benar roboh dan jatuh terkapar di atas tanah.

Gagak Seta tertawa terbahak-bahak. Tanpa menghiraukan keadaan Lekong, ia melompat menyerang Kalika yang galak. Serunya pula:

- Nyonya tua! Jangan takut, aku tidak akan memukul teman-mu yang nyaris sekarat Satria dari Gunung Lawu tahu benar apa makna seorang satria. Bukan seperti karnu yang main keroyok... -

Tajam ucapan Gagak Seta meskipun disertai dengan tertawa gelak. Waktu itu, Kalika sedang menarik tongkat bajanya setelah menggebuk Lekong. Begitu melihat sambaran tongkat Gagak Seta yang istimewa, buru-buru ia menangkis. Tekatnya hendak mengadu jiwa. Sebab belum pernah selama hidupnya ia menerima hinaan begitu hebat.

Gagak Seta memang berkepandaian tinggi. ia tidak hanya melayani Kalika saja, tetapi masih memperhitungkan Setelukyang bersenjata golok kembar. Itulah sebabnya, tak sudi ia mengadu tenaga dengan Kalika yang tengah kalap. Di tengah jalan, ujung tongkatnya berbelok mengarah kepada Seteluk. Dengan demikian, Gagak Seta dapat melawan dua lawan tangguh hanya dalarn satu gebrakan saja.

Diah Windu Rini yang semenjak tadi merasa diwakili Gagak Seta, berdiri tegak di tempatnya. Diam-diam ia kagum menyaksikan ilmu kepandaian Gagak Seta. la tadi hanya seimbang di-kerubut tiga orang. Tetapi Gagak Seta dapat merobohkan lawan-nya dalam beberapa gebrakan saja.

- Benarlah kata guru. Di balik gunung masih terdapat gunung yang lebih tinggi. - pikir Diah Windu Rini di dalam hati. - Aneh cara bertempurnya. Orangnya angot-angotan. Sesungguhnya dia murid siapa ? Kepandaian gurunya pasti sudah mencapai tingkat sempurna. -

Dalam pada itu, Seteluk terkejut setengah mati sewaktu tongkat Gagak Seta tiba-tiba menghampirinya. Karena tidak sempat lagi untuk menggunakan kedua goloknya, ia membuang diri dan membiarkan senjatanya terlepas dari genggamannya. Kemudian dengan berjumpalitan ia balik menyerang. Caranya lebih aneh lagi. Tiba-tiba ia menungging. Lalu menggulungkan diri bagaikan bola menggelinding. Kedua tangan dan kakinya bekerja. Gagak Seta tercengang. Setelah menyapu tongkat Kalika ke samping, ia menghantamkan tongkatnya. Seteluk mundur bergulungan.

Tangannya menyambar goloknya dan membabatkan.

Inilah serangan balik lagi yang sama sekali tak terduga. Terpaksalah Gagak Seta mengadu kekuatan. la membenturkan tongkatnya sehingga menerbitkan suara nyaring. Tepat pada saat itu, tongkat baja Kalika menyambar dan hampir-hampir saja menabas leher Gagak Seta.

- Hai nenek keriputan! - bentak Gagak Seta. - Kau kejam benar. Rupanya tongkatmu bisa kau gunakan sebagai golok pula.

Bagus!- Gagak Seta memutar tubuhnya menghadapi Kalika. Mungkin sekali Kalika akan melanjutkan dengan serangan susulan. Justru pada saat itu, Seteluk melompat menghantam punggungnya.

Diah Windu Rini belum kenal siapa Gagak Seta. Tetapi ia percaya, pemuda itu bermaksud baik kepadanya. Melihat bahaya yang mengancam, segera ia melompat menabaskan pedangnya. Oleh gerakan pedangnya, Seteluk tidak berani melanjutkan bokongannya, mengingat ilmu pedang Diah Windu Rini tidak usah kalah bila dibandingkan dengan ilmu tongkat Gagak Seta.

Justru demikian, Gagak Seta sekonyong-konyong melesa ke luar gelanggang. Lalu tertawa terbahak-bahak sambil berseru :

- Bagus ilmu pedangmu ! Lanjutkan ! -

Diah Windu Rini tercengang. Pada detik itu pula tahulah ia, Gagak Seta berpura-pura tidak mengetahui ancaman Seteluk. Tanpa pertolongannya, sesungguhnya Gagak Seta dapat menge- lakkan diri. Bahkan bukan mustahil bisa membalas menyerang dengan caranya yang aneh. Selagi berpikir demikian, Gagak Seta sudah melesat maju lagi. Kali ini ia terbang berjumpalitan di tengah udara dan mendarat di depan Kalika. Katanya dengan tertawa lebar :

- Nenek ! Kau ini memang perlu dihajar. -

Kalika sudah berpengalaman. la tahu, lawannya bermulut jahil. Maka tanpa menggubris bunyi ucapannya, ia mendahului menyerang. Ternyata benar dugaan Gagak Seta. Senjatanya yang berbentuk tongkat itu, sesungguhnya merupakan sarung sebilah pedang yang tajam luar biasa. Dengan suatu gerakan tangan, pedang itu terloncat dari dalam tongkatnya dan disambar dengan tangan kanannya. Sedang tongkat baja yang tadi berada di tangan kanan beralih ke kiri. Dengan demikian, ia kini bersenjata se-batang tongkat dan sebilah pedang.

Gagak Seta tercengang. Namun ia tak sudi kalah gertak. Diapun mengalihkan tongkatnya ke tangan kirinya. Kemudian entah bagaimana caranya, tahu-tahu tangannya sudah dapat mengusap wajah Kalika sambil berkata mengejek :

- Nah, betul bukan ? Mukamu jelek dan sudah keriputan. Orang setua engkau ini pantos menjadi pendeta di atas gunung yang sunyi sepi. Mengapa keluyuran sampai di sini ? Hm, Utusan Suci kentut! -

Wajah Kalika merah padam. Dadanya serasa hendak meledak saja. Hatinya panas bukan main. la melompat pula ke depan sambil menggerakkan pedang dan tongkatnya. Sebat dan cepat gerakannya ibarat setetes curahan hujan tidakkan dapat menembus lingkarannya. Gagak Seta ternyato melayani. la melesat mundur sambil tertawa haha hihi.

Gemak Ideran dan Niken Anggana kagum bukan main. Tak dikehendaki sendiri mereka tertawa geli. Memang mulut Gagak Seta terlalu jahil. Akan tetapi mengesankan watak satria. Tak terasa pula, Gemak Ideran berseru nyaring : - Kakang Gagak Seta ! Gerakan kaki dan tanganmu benar-benar aneh. Coba ulangi lagi agar aku dapat mengamati lebih jelas lagi ..-

Gagak Seta tertawa terbahak-bahak. Sahutnya :

- Saudara ! Orang sekarang mengatakan dengan istilah jurus. Dan jurusku ini memang aneh. Hanya. saja hanya berlaku untuk satu kali saja. Kalau diulangi bakal gagal. Salahmu sendiri mengapa tidak kau perhatikan sungguh-sungguh. -

- Bukan begitu. - tungkas Gemak Ideran. - Akulah yang tolol. Otakku bebal. Mataku lamur. -

- O begitu ? Kalau begitu sama dengan diriku. -Sebenarnya gerakan Gagak Seta sebentar tadi tidak terlalu istimewa. Hanya saja sama sekali tak terduga, sehingga Kalika yang berpengalaman kena diingusi begitu mudah. Tetapi setelah merasakan getahnya, orang tua itu kini meningkatkan kewaspada-annya.

Sebaliknya, perhatian Niken Anggana tidak seperti Gemak Ideran. Karena dia seorang gadis yang perasa serta halus budi- pekertinya, ia merasa jemu terhadap ketiga orang itu. Segera berkata kepada Gemak Ideran :

- Kakang, mintalah padanya agar menggebah mereka secepat- cepatnya ! Aku sudah jemu. - Niken Anggana berbicara dengan suara perlahan seperti biasa- nya. Akan tetapi bagi pendengaran Gagak Seta sudah cukup jelas. Tiba-tiba saja ia menyahut:

- Benar ! Akupun sudah jemu. Baiklah, demi untukmu aku akan menggebah mereka. Tetapi ibarat orang mengantarkan tetamu sampai ke luar batas wilayah, terus terang saja aku minta bantuan. Hayolah bantu aku ! Seorang diri aku tidak sanggup menggebahnya pergi. -

Sebenarnya kata-katanya terakhir dialamatkan kepada Diah Windu Rini. la tahu, Diah Windu Rini berkepandaian tinggi. Sayang dia hanya jadi penonton saja. Mungkin mendongkol, karena ia tadi berpura-pura tidak tahu sewaktu akan dibokong Seteluk. Kalau tidal, begitu, tentunya ingin melihat sampai dimana kepandaiannya melawan tiga orang musuhnya dengan seorang diri.

Niken Anggana yang berhati polos tidak mengerti jalan pikiran Gagak Seta. la berseru kepada Diah Windu Rini:

- Ayunda, jelas sekali aku tidak dapat membantu dia. Kukira, ayunda yang tepat Dia membantu ayunda. Sekarang ayunda harus membantunya. Dengan begitu, ayunda tidak usah berhutang budi kepadanya. -

Mendengar kata-kata Niken Anggana, Diah Windu Rini ter-enyum lebar. Lalu tertawa geli. Justru pada saat itu, Seteluk melompat menyerang Gagak Seta. la merasa yakin, serangannya kali ini tentu berhasil. Sebab perhatian Gagak Seta terbagi-bagi. Tctapi Gagak Seta benar-benar tangguh dan berkepandaian tinggi. Diserang dengan tiba-tiba, sama sekali ia tidak gugup. Tongkatnya dihalangkan melintang dan membentur golok kembar Seteluk yang membabat dengan derasnya. Suatu benturan tak terelakkan lagi. Tepat pada detik itu Gagak Seta melesat menghampiri Diah Windu Rini sambil berkata berbisik :

- Nona, kali ini bagianmu. Bertempurlah dengan sungguh- sungguh ! Jiwa taruhannya. -

Diah Windu Rini adalah seorang gadis yang angkuh, tinggi hati mudah tersinggung dan tegas dalam setiap tindakannya. Kata- kata Gagak Seta yang diucapkan dengan berbisik, menyinggung kehormatannya Apalagi kesannya seperti seorang kakak menasehati adiknya yang belum pandai beringus. Tak menghe rankan hatinya mendungkol sampai wajahnya bersemu merah. Pikirnya di dalam hati:

- Anak edan ini apa sih maunya ? Dia sendiri yang tidak beisungguL sungguh. Masakan aku yang dituduh ? -

Sebenarnia ia segera meninggalkan gelanggang. Tetapi karena tertarik oleh kepandaian Gagak Seta, ia menahan diri. Pada saat itu Gagak Seta mengambil kedudukan demikian rupa seakan- akan merintangi dirinya manakala ia bermaksud ke luar gelanggang. la menjadi gemas. Justru demikian, tiba-tiba ia melihat sesuatu. Dengan tak setahunya sendiri, sekarang ia ber- hadap-hadapan dengan Kalika dan Seteluk. Kedua orang yang penasaran itu berkelahi dengan sungguh- sungguh. Sebenarnya mereka ingin melam piaskan rasa penasarannya kepada Gagak Seta. Tetapi Gagak Seta sengaja memojokkannya agar dirinya yang menghalau mereka.

Terpaksalah ia menahan mereka dan berkelahi dengan sungguh- sungguh pula. Gagak Seta membantu Diah Windu Rini dari samping. Tetapi ia tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh, melainkan sengaja memancing Kalika dan Seteluk agar merabu Diah Windu Rini. Setelah Diah Windu Rini terlibat dalam suatu pertempuran seru, tiba-tiba ia melompat ke luar gelanggang dan berdiri sebagai penonton, Mulailah ia memperhatikan ilmu pedang Diah Windu Rini yang hebat.

Pedangnya berkelebatan bagaikan ular me-lingkar-lingkar. Pikirnya, hebat ilmu pedang gadis ini. Tetapi kalau dikerubut dua orang yang menamakan diri Utusan Suci, belum tentu dia menang. Memikir demikian, kembali lagi ia memasuki gelanggang. Terus saja ia menerjang.

- Nona, biarlah kuhajarnya dari samping ! - serunya ber-semangat

.

Tetapi mulut dan perbuatannya jauh berlainan. Tiba-tiba saja dengan tongkatnya yang istimewa ia terbang tinggi di udara dan menghantam Seteluk dari atas. Keruan saja, Seteluk sama sekali tidak mengira akan diserang dari udara la mengira Gagak Seta akan menyerang dari samping benar-benar. Karena itu ia bersiaga menghadapi kemungkinan demikian. Tak tahunya si mulut jahil melompat dan menyambar bagai kan elang. Buru-buru ia menggeserkan kakinya dan mengangkat golok kembarnya untuk melindungi kepalanya.

Trang! Suatu ada tenaga tidak terelakkan lagi. la merasakan nyeri sampai menusuk jantungnya. Dan sebelah tangannya tak dapat digerakkan lagi.

Gagak Seta tertawa terbahak-bahak. Begitu mendarat di atas rerumputan, ia memutar tubuhnya dan meludahi muka Kalika yang jadi kelabakan. Justru pada saat itu, Gagak Seta maju menerjang. Dengan ujung tongkatnya ia menyerang bertubi-tubi. Kali ini bukan mengarah kepala atau bagian badannya. Tetapi betis nenek itu yang diarahnya.

Kalika tahu, ilmu kepandaian Gagak Seta tinggi dan aneh. Orangnya ugal-ugalan pula. Tetapi sama sekali tidak diduganya, bahwa dia akan menyerang betisnya. Tahu-tahu : Duk ! la memekik oleh rasa sakit dan terkejut. Tubuhnya terbanting dan menggelinding bagaikan dahan pohon digelindingkan menuruni tanah rendah. Begitu meletik bangun ia tidak mampu berdiri tegak. Tubuhnya sempoyongan dan pandang matanya berkunang-kunang. Heran ia, apa sebab sodokan tongkat Gagak Seta mempunyai kekuatan hebat .

Dan lagi ia tercenung-cenung, penglihatannya yang agak kabur masih sempat menangkap bayangan Seteluk yang melarikan diri tak ubah seekor anjing takut kena gebuk. Tangannya berlumuran darah. Mungkin sekali ia tidak bakal dapat berkelahi lagi. Seumpama bisa pulih, harus berlatih lagi terus-menerus selama sepuluh tahunan.

Kalika tercengang. la mengenal siapakah Seteluk. Selain berilmu kepandaian tinggi, hatinya congkak. Selamanya belum pernah ia dikalahkan orang. Apalagi sampai lari terbirit-birit demikian.

Menyaksikan kepergiannya, Kalika mendongkol. Hatinya penasaran, tetapi ia insyaf apa akibatnya bila hanya menuruti perasaannya saja.

Selain Gagak Seta, masih berdiri seorang lawan yang sama tangguhnya. Dialah Diah Windu Rini yang memiliki ilmu pedang bagus luar biasa. Maka dengan memaksakan diri, ia kabur pula mengikuti Seteluk dengan terpincang-pincang. Sama sekali ia tidak menghiraukan Lekong yang masih duduk me-numprah di atas tanah.

Gagak Seta membiarkan Kalika kabur. Perlahan-lahan ia menghampiri Lekong. Berkata dengan tertawa nyaring :

- Hai ! Sebenarnya kau berasal dari mana ? -

- Kalau kau mau membunuhku, bunuhlah! Apa perlu engkau menanyakan asal-usulku ? - bentak Lekong dengan mata merah.

- Bagus ! Kau seorang laki-laki tulen juga. - ujar Gagak Seta. - Tetapi menilik logat bahasamu, agaknya kau bukan satu asal dengan nenek keriput tadi. - - Kalau benar bagaimana ? -

- Kalau benar, kau akan kusembelih. Kau kira aku takut memotong lehermu ? - bentak Gagak Seta. - Dan mayatmu akan kubiarkan menjadi makanan binatang buas. -

Lekong tercengang. Dahinya berkeringaL Lalu menjawab :

- Baiklah, kau boleh memotong leherku. Tapi tolong kirim-kan mayatku ke Bali. -

Gagak Seta tertawa terbahak-bahak. Dengan sekilas pandang ia mengamati kesan wajah Lekong. Orang Bali itu benar-benar berbicara dengan hatinya. Dan semenjak masih berada dalam rumah perguruan, ia menghormati seseorang yang berjiwa ksatria. Mata dengan suara lantang ia berkata :

- Lekong! Engkau seorang satria. Dan terhadap seorang satria, aku bersedia menjadi kawanmu. Lagi pula tulang-tulangmu bagus. Beberapa tahun lagi, engkau pasti bangkit kembali. -

- Hm. - Lekong mendengus. - Tetapi engkau bakal menyesal bila tidak segera membunuhku. -

- Memangnya, kenapa ? -

- Sebab pada suatu kali aku datang kembali mencari dirimu. Pada waktu itu aku akan mengadu jiwa denganmu. - ( BACA : MENCARI BENDE MATARAM JILIDI DAN II) Gagak Seta tertawa lebar. Tiba-tiba membentak :

- Lekaslah enyah dari sini, senyampang belum berubah ke- putusanku. -

Mendengar bentakan Gagak Seta, wajah Lekong berubah. la tahu, orang angin-anginan itu bisa saja berubah pikirannya. Maka dengan memaksa diri ia bangun tertatih-tatih. Lalu ngeloyor dengan sempoyongan. Sebentar saja tubuhnya sudah menghilang di balik rimbun petak hutan.

Gemak Ideran kagum bukan main menyaksikan sikap Gagak Seta. Pemuda itu angin-anginan, namun berjiwa seorang satria sejati. la tidak hanya mengampuni jiwa lawannya, akan tetapi sama sekali tidak menanyakan apa alasan mereka mengkerubut Diah Windu Rini. Artinya ia menghormati alasan orang lain.

- Saudara! - lantas saja Gemak Ideran berseru. - Bolehkah aku berkenalan denganrnu ? -

- Soal perkenalan sih soal gampang. Kau berdiri saja di tempatmu. Aku belum puas berkelahi. - sahut Gagak Seta diluar dugaan.

Apa yang dimaksudkan belum puas berkelahi ? Berkelahi dengan siapa lagi ? la mengembarakan pandang matanya menyelidiki sela-sela pohon, barangkali ada musuh yang sedang ber- sembunyi. Ternyata tiada. Lalu siapa yang dimaksudkan. Selagi sibuk menduga-duga, terdengar Gagak Seta berkata kepada Diah Windu Rini : - Nona, kau sudah mengenal namaku. Bolehkah aku mengenal namamu pula ? -

Diah Windu Rini tersenyum, namun pedangnya masih ber-siaga bertempur. la curiga terhadap watak Gagak Seta yang aneh dan angin-anginan. Siapa tahu, tiba-tiba dia menyerang dengan mendadak. Maka jawabnya dengan suara tenang :

- Gagak Seta ! Sebenarnya namamu kurang tepat. -

- Mengapa ? - Gagak Seta tertarik.

- Kata-kata gagak mengingatkan orang kepada seekor burung yang buruk. Suaranya parau dan senang memakan bangkai. -

Gagak Seta tertawa terbahak-bahak. Sahutnya :

- Aku tidak sependapat -

- Alasanrnu ? -

- Memang betul, gagak seekor burung yang buruk rupa dan suaranya. Tetapi dia lebih jujur daripada burung bangau.

Nampaknya cantik menggiurkan penglihatan. Tetapi ia membunuh sesama hidup menjadi mangsanya. Lainlah halnya dengan burung gagak. Merasa dirinya buruk rupa dan suaranya, ia tahu diri. Yang dimakan hanyalah bangkai. Selamanya belum pernah membunuh. - Diah Windu Rini tertawa. Gemak Ideran dan Niken Anggana tercengang. Untuk yang pertama kali itu, mereka mendengar suara tertawa Diah Windu Rini yang membersit dan hatinya yang tulus.

- Eh, tak kukira engkau pandai berfalsafah. - ujar Diah Windu Rini dengan pandang mata berseri-seri.

- Sekarang tentunya engkau mulau tertarik kepada lambang putih atau seta. Jadi engkau hendak mengesankan orang, bahwa dirimu ibarat seekor gagak yang berhati bersih. Apakah begitu ? -

Gagak Seta tertawa. Sahutnya :

- Habis, namaku yang aseli terdengar menyeramkan. -

- Siapa ? -

- Namaku ! Entah siapa yang memilih nama itu untukku. -

- Bagaimana bunyinya ? -

- Saring. Nah, bukankah jelek ? -

- Hai belum tentu. Saring artinya menyaring. Kau diharapkan oleh sang pemberi namamu agar pandai menyaring yang buruk dan yang baik. - kata Diah Windu Rini bersungguh-sungguh.

Gagak Seta memanggut. Mendadak saja ia melompat dan menyerang. Keruan saja Diah Windu Rini kaget bukan kepalang, walaupun ia sudah berjaga-jaga akan menghadapi kemungkinan begitu. Justru demikian, dapatlah ia mengelakkan serangan mendadak itu. Dengan menjejakkan kakinya, ia melompat enteng sekali. Begitu mendarat di atas tanah segera ia minta keterangan apa sebab Gagak Seta menyerang nya tanpa alasan. Namun belum sempat ia membuka mulutnya, Gagak Seta sudah menyerangnya kembali bertubi-tubi.

Menyaksikan hal itu, Gemak Ideran terlongong-longong. Tak terasa ia berkata kepada dirinya sendiri :

- Apakah dia sakit gila ? Jangan-jangan ..-

Waktu itu, Diah Windu Rini terbang lagi tinggi di udara dengan menekukkan kedua kakinya. Dengan begitu, dapatlah ia melewati kepala Gagak Seta. Justru demikian, tongkat Gagak Seta menusuk perutnya. Meskipun serangan itu amat cepat dan tepat, namun masih bisa Diah Windu Rini membebaskan diri sambil mem-babatkan pedangnya ke samping. Suatu bentrokan nyaring tidak dapat dihindarkan lagi. Trang ! Dan bentrokan itu memercikkan letikan api.

- Hai! Apakah artinya ini ? - tegur Diah Windu Rini dengan gesit.

Dengan manis sekali ia mendarat dua langkah di samping Gagak Seta. Tetapi Gagak Seta tidak menggubris tegoran Diah Windu Rini. la penasaran, karena serangannya gagal. Maka kembali ia menyerang dengan gerakan yang aneh. Ujung tongkat-nya mengarah ke barat, mendadak saja berbalik menikam ke timur.

Gemak Ideran dan Niken Anggana terperanjat Inilah serangan yang benar-benar aneh. Andaikata mereka yang diserang dengan tipu-muslihat demikian, ia membutuhkan beberapa waktu lamanya untuk memecah kan. Dalam suatu pertempuran, betapa mungkin mereka memperoleh kesempatan demikian. Maka dengan menahan nafas mereka mengawaskan Diah Windu Rini bagaimana cara melawannya.

Dalam keadaan terjepit, terpaksalah Diah Windu Rini bertempur dengan sungguh-sungguh. Dengan suatu kecepatan yang susah dilukiskan, pedangnya meliuk pula dan membuat suatu getaran untuk menyapu semua tipu muslihat yang mungkin sekali membawa perkembangan. 

Berkali-kali ia lerpaksa berkelit seraya memperhatikan gerakan tongkat Pikirnya, benar-benar Gagak Seta berkelahi dengar sungguh-sungguh. Ini namanya bukan. bergurau lagi. Sekali salah bertahan atau salah balik menyerang, akibatnya tak dapat dibayangkan. Tak dapat lagi ia memecahkan perhatian untuk meraba-raba maksud lawannya.

Sebentar saja mereka sudah bertempur dengan serunya. Sementara itu matahari mulai melampaui senjahari. Dalam hutan, cahayanya sudah tidak dapat rnenembus mahkota dedaunan.

Gemak Ideran dan Niken Anggana mengawaskan pertempuran itu dengan mata tak berkedip. Kedua-duanya sama tangguhnya. Tiada yang kalah atau menang. Sekonyong-konyong Gagak Seta menyerang bagaikan hujan puyuh. Tongkatnya berkelebatan dari empat penjuru. Diah Windu Rini tidak sempat lagi membuat suatu jarak. Dengan mengerahkan tenaga saktinya ia menempelkan ujung pedangnya kepada tongkat Gagak Seta yang istimewa. Kemana gerakan tongkat Gagak Seta, ia mengikuti terus-menerus, meskipun diputar bagaikan kitiran. Sewaktu disontekkan ke atas, tubuh Diah Windu Rini melejit ke udara seperti terangkat Pada saat itu, tubuhnya melesat berjumpalitan dan mendarat sepuluh langkah di depan Gagak Seta.

Gagak Seta tertawa terbahak-bahak sampai tubuhnya bergoncang-goncang. la menganggap peristiwa tadi sebagai suatu hal yang lucu. Lalu berseru dengan suara kagum :

- Ah ! Benar-benar nona anak murid Nyi Ratu Bulungan ! -

Mendengar kata-kata Gagak Seta, bukan main lega hatinya Gemak Ideran. Tahulah dia, bahwa Gagak Seta sebenarnya baru menguji kepandaian Diah Windu Rini. Niken Anggana tidak senang menyaksikan tindak kekerasan, lebih-lebih lagi. Segera ia hendak menghampiri Diah Windu Rini. Tiba-tiba ia mendengar Gagak Seta melanjutkan kata-katanya :

- Apakah hanya engkau seorang yang mewarisi kepandaian almarhumah Nyi Ratu Bulungan ? -

- Benar. - jawab Diah Windu Rini singkat.

Gagak Seta menatap wajah Diah Windu Rini. Kali ini hilanglah kesan wajahnya yang angin-anginan. Dengan pandang ber- ungguh-sungguh ia berdiri tegak bagaikan patung, lalu membungkuk hormat seraya menjatuhkan diri. Itulah pemberian hormat yang istimewa.

Pemberian hormat yang hanya dipersembahkan kepada seseorang yang sangat dihormati.

Diah Windu Rini terperanjat Cepat-cepat ia menghindar karena tidak berani menerima sembah demikian tinggi. Sewaktu hendak menegornya, Gagak Seta berkata menjelaskan :

- Aku bukan memberi hormat ini kepadamu. Tetapi kupersembahkan kepada gurumu. Tolong, janganlah menghindar

! Jangan pula membalas hormatku. Kalau tidak kau kabulkan, aku merasa tidak berharga lagi bertemu denganmu. -

Setelah berkata demikian, tiba-tiba ia menangis menggerung- gerung. Tangisnya bukan berpura-pura, tetapi benar-benar membersit dari hatinya yang tulus ikhlas. Kesannya sangat sedih dan mengharukan.

Diah Windu Rini biasanya bersikap angkuh dan congkak. Biasa pula ia menerima hormat orang. Akan tetapi kali ini, dia nampak bingung. Dengan suara tergagap-gagap ia berkata :

- Kiranya engkau kenal dengan almarhumah guruku ? -

- Beliau dimakamkan di mana ? - sahut Gagak Seta seraya menghapus air matanya. - Di atas gunung Semeru. -

- Di atas gunung Semeru ? - Gagak Seta mengulang seperti seorang murid sedang menghafalkan pelajaran sejarah di depan kelas. - Ah, kalau begitu, aku harus mendaki gunung itu sampai eh, di mana letak makam beliau ? -

Diah Windu Rini menundukkan kepalanya seraya menyarung-kan pedangnya. la percaya, kali ini Gagak Seta tidak bermain-main lagi. Lalu berkata dengan suara sendu :

- Pada bukit ke empat -

Perlahan-lahan Gagak Seta berdiri. Lalu menggapaikan tangannya kepada Gemak Ideran dan Niken Anggana yang segera menghampiri. Katanya kepada mereka berdua :

- Saudara, siapakah nama kalian ? -

- Gemak Ideran. Dan ini adikku Niken Anggana. - sahut Gemak Ideran.

- Kalian pasti heran apa sebab aku menghormati almarhumah Nyi Ratu Bulungan. Aku berasal dari atas Gunung Lawu. Guruku bernama Ki Ageng Rangsang. Kadang-kadang disebut pula dengan nama Ki Cede Rangsang. Dengan gurunya, guruku bersahabat erat Kabarnya pada jaman mudanya saling memperhatikan dan menghormati. Aku sendiri masih sempat bertatap muka dengan beliau. Waktu itu aku hampir sesat menekuni Ilmu Penggebuk Anjing. -

- Apa itu Ilmu Penggebuk Anjing ? - Niken Anggana minta keterangan.

- Inilah ilmu tongkatku warisan perguruan kami. -

- Apakah ilmu sesat, sampai engkau tersesat ? -Gagak Seta tertawa lebar. Sahutnya :

- Guruku tidak sempat memberi penjelasan, sehingga aku harus mempelajari sendiri. Padahal otakku bebal, Syukur Nyi Ratu Bulungan berkenan membimbingku. Sekali dua kali aku pernah berlatih dengan beliau. Ilmu pedang beliau persis seperti yang diperagakan Diah Windu Rini. -

Selagi Niken Anggana hendak meminta penjelasan lagi, Diah Windu Rini berkata menegas :

- Kau kenal namaku ? -

- Tentu saja. Sebab gurumu sering menyebut-nyebut namamu. -

- Oh. - Diah Windu Rini mau mengerti. Menegas lagi : -Kenapa guruku sampai berkenan membimbingmu ? Aku tahu watak dan sifat guruku. Beliau tidak mudah runtuh hati oleh pertimbangan lahiriah. - - Panjang ceritanya. - sahut Gagak Seta. la bermenung-menung beberapa saat lamanya. Kemudian melanjutkan kata-katanya :

-Guruku tiba-tiba terpaksa meninggalkan rumah perguruan. Itulah gara-gara salah seorang muridnya yang kemudian diambil sebagai anak-angkat. Saraswati, namanya. Karena tingkahnya, keenam saudara-seperguruanku mati teracun. -

- Apa ? - Diah Windu Rini terperanjat seperti disambargeledek.

- Syukur masih sempat aku menyimpan kitab-kitab saktinya. -ujar Gagak Seta dengan wajah murung. - Itulah Ilmu Penggebuk Anjing dan Ilmu pukulan Kumayan Jati. Di samping itu masih terdapat pula ilmu sakti Ratna Dumilah dan Iain-lain. Aku yang masih belum pandai beringus, tentu saja tidak dapat menyelami ilmu warisan itu. Untung almarhumah Nyi Ratu Bulungan ber- kenan membimbingku. Agar memperoleh bimbingan yang tepat, aku memperagakan ketiga ilmu sakti itu di atas Gunung Semeru.Ah tak kukira, bahwa gunung itu sesungguhnya adalah pilihan gurumu pada akhir hayatnya. -

- Lalu ? -

- Setelah aku memperagakan ketiga ilmu sakti itu, gurumu berkata bahwa di kemudian hari aku bakal menjagoi semua pendekar di seluruh jagad ini. Suatu kali aku pernah terluka dan dengan telaten gurumu mengobati. Sekarang ah, bagaimana

aku harus membalas budinya. - (ILMU SAKTI GAGAK SETA KELAK DIWARISKAN KEPADA SANGAJI DAN TITISARL BACA BENDE MATARAM) .

Sampai disini Gagak Seta terdiam. Diah Windu Rini tiba-tiba menjadi perasa. Kalau dipikir, diapun belum sempat membalas budi gurunya. Selagi tercenung-cenung demikian, Gagak Seta melanjutkan ucapannya :

- Waktu aku melihat gerakan pedangmu, terus saja aku curiga.-

- Mengapa ? - Diah Windu Rini tertarik.

- Hm, kau berkata gurumu hanya mewariskan ilmu pedangnya kepadamu seorang. Tetapi bagaimana dengan Surengpati ? -

Begitu Gagak Seta menyebutkan nama Surengpati, tiba-tiba Diah Windu Rini menghunus pedangnya dan terus menyerang. Gagak Seta rupanya sudah menduga. Dengan mudah ia menangkis dan mengelak. Sekali menjejakkan kakinya, dia melesat menjauhi dan kabur. Di balik belukar ia berseru :

- Katakan pada Surengpati, adik-seperguruanmu ! Meskipun dia sudah mewarisi Witaradya, tetapi jangan buru-buru menyebut dirinya, pendekar jempolan. Disini masih ada Gagak Seta. Kalau dia berlagak demikian, akulah orang pertama yang menghalang- halangi. - -

Setelah berseru demikian, Gagak Seta.menghilang di balik rimbun hutan. Diah Windu Rini menghela nafas. la seperti menyesali dirinya apa sebab bertindak keburu nafsu. Dengan perginya Gagak Seta, ia jadi belum mengetahui siapa orang yang berada di belakang Kalika, Lekong dan Seteluk. Memang adik- seperguruannya itu sangat dirahasiakan gurunya.

Sekarang terbongkar dengan mudahnya oleh si pemuda lusuh tadi. Sebenar-nya kalau Diah Windu Rini mau berpikir agak panjang lagi, tentunya mengetahui siapa gerangan yang memberitahu Gagak Seta. Siapa lagi kalau bukan gurunya sendiri. Bila tidak, pasti perbuatan Surengpati sendiri. Sebab adik- seperguruannya itu besar kepala dan mau menang sendiri.

Mungkin sekali, dia pernah mengadu kekuatan dengan Gagak Seta.

Tetapi Diah Windu Rini seorang gadis yang berhati angkuh dan congkak pula. Tak mau ia memperlihat kan rasa sesalnya kepada Gemak Ideran maupun Niken Anggana. Setelah ber-menung- menung beberapa saat lamanya, ia memutar badannya sambil menyanmgkan pedangnya. Berkata memerintah kepada Gemak Ideran dan Niken Anggana :

- Mari kita melanjutkan perjalanan. -

Sebenarnya Gemak Ideran dan Niken Anggana ingin memperoleh penjelasan apa sebab ia menyerang Gagak Seta dengan mendadak. Kalau dipikir perbuatannya samalah halnya dengan yang dilakukan Gagak Seta sebentar tadi. Tetapi mengingat watak dan sifat Diah Windu Rini, tak berani mereka membuka mulut-nya. Dengan berdiam diri mereka menghampiri kudanya masing-masing, lalu berangkat mengikuti Diah Windu rini yang mendahului beberapa puluh langkah di depannya.

14. PERTEMPURAN MAUT - I

MEREKA BERTIGA mencoba mengejar waktu. Matahari sudah hampir bersembunyi di balik gunung. Sebentar lagi, malam hari tiba. Mereka memutuskan untuk menginap di tepi hutan di atas suatu ketinggian. Oleh pengalaman senjahari tadi, mereka kini tidur bergantian.

Tetapi malam itu ternyata aman sentausa tiada sesuatu yang mengganggu. Dengan demikian mereka menyambut munculnya matahari dengan perasaan segar bugar.

Kebetulan sekali tidak jauh dari hutan itu, terdapat sungai yang berair bersih jernih. Arusnya menumbuk-numbuk batu yang mencongakkan diri dari permukaan air: Suaranya bergemerisik nada yang riang bebas merdeka, Diah Windu Rini dan Niken Anggana mandi bersama, sedang Gemak Ideran berjaga-jaga di ambang tebing sungai.

Kesempatan itu, dipergunakan Gemak Ideran untuk duduk berenung-renung di atas batu yang mencongakkan diri di tebing sungai. Sambil merenungi pula pemandangan alam, pikirannya menjangkau beberapa masalah yang belum terjawab. Yang pertama soal pedang Niken Anggana yang dikembalikan oleh Kalika, Lekong dan Seteluk. Siapakah mereka dan atas suruhan siapa ? Kedua, munculnya Gagak Seta dan yang terakhir nama Surengpati yang dibawa-bawa sebagai adik-seperguruan Diah Windu Rini yang dirahasiakan. Mengapa dan kenapa ?

Selagi demikian, ia mendengar suara Diah Windu Rini berkata kepada Niken Anggana di bawah tebing :

- Niken, kau tahu sendiri. Pedangmu dikembalikan. Tentunya mengira, pedangmu pedang pusaka Sangga Buwana.

Sebenarnya, apakah ayahmu benar-benar memiliki pedang yang diincar orang di seluruh dunia ini ? -

- Maksudmu pedang Sangga Buwana ? -

- Tentu saja. Apakah ada pedang pusaka lainnya yang melebihi pedang Sangga Buwana. -

Niken Anggana tidak segera menjawab. Agaknya ia sedang mengingat-ingat Lalu berkata seperti kepada dirinya sendiri :

- Sebenarnya, aku sendiri belum pernah melihat Hanya sesekali aku pernah mendengar kabar, bahwa pedang itu sebenar-nya berasal dari ibu. Hanya dari mana ibu memperolehnya, aku tidak tahu. -

Diah Windu Rini tidak mendesak. Selang beberapa saat lamanya, ia terdengar berkata lagi : - Sebenarnya menarik sekali riwayat pedang itu. Ayahku mengabarkari, bahwa pedang itu berasal dari Kamboja entah dari negeri Thai. Yang jelas dihadiahkan kepada seorang puteri Sriwijaya. Siapa namanya, aku tidak jelas. - (selanjutnya baca : "JALAN SIMPANG DI ATAS BUKIT')

- Lalu bagaimana bisa sampai di tanah Jawa ? -

- Mungkin sekali dibawa seorang pendekar jempolan dari Tarumanegara. Pendekar itu disebut dengan nama Mojang. Apakah namanya benar demikian, akupun tidak tahu. Yang jelas, pedang itu berpindah dari tangan ke tangan. Barangsiapa yang memiliki menjadi seorang ahli pedang kenamaan yang tak ter- kalahkan. -

- Ah, kalau begitu mereka mengincar pedang Sangga Buwana untuk menjadi seorang pendekar jempolan. - seru Niken Anggana.

- Mungkin sekali. Tetapi aku mempunyai pendapat lain. -Niken Anggana rupanya tidak berani mendesak. Gemak Ideran yang berada di atas tebing menajamkan pendengarannya. Lama sekali ia tidak mendengar sesuatu. Sebenarnya ingin ia menjenguk dari atas, akan tetapi rasa susilanya tidak mengijinkan ia berbuat demikian. Maka terpaksalah ia menya barkan diri, moga-moga Diah Windu Rini berkenan menerangkan alasannya. Alhamdulilah

! Setelah menunggu sekian lamanya, terdengar Diah Windu Rini berkata lagi : - Memang aku percaya, pedang itu menyimpan suatu rahasia besar. Setidak-tidaknya rahasia Ilmu Pedang yang sangat tinggi. Kecuali itu menyimpan rahasia cara menjatuhkan suatu kekuasaan. -

- Hai ! Bagaimana ayunda mempunyai pendapat begitu ? -Niken Anggana berseru terperanjat.

- Lihat saja riwayat pedang itu yang selalu berpindah tangan. Mula-mula berada di tangan pendekar Mojang. Musuh negara Tarumanegara dapat dihancurkan. Lalu berpindah tangan ke Sriwijaya lagi. Dan pemerintahan Mataram di bawah kebijaksanaan Raja Darmawangsa runtuh oleh serbuan raja Wora-Wari. Pedang itu sempat dibawa lari ke Jawa Timur.

Berdirilah kerajaan Empu Sendok. Mulai lagi terjadi perebutan. Yang memiliki pedang akhirnya menang perang. Itulah Raja Airlangga. Pedang Sangga Buwana berpindah ke tangan Ken Arok. Berdirilah ia sebagai raja yang dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Pcdang Sangga Buwana kemudian berada di tangan Raden Wijaya. Tentara Cina dapat diundurkan. Ini berkat uluran tangan kakek-moyangku Wirareja. Jadi pedang Sangga Buwana sempat singgah di Madura untuk yang pertama kali. Lalu berpindah tangan ke Demak. Dan runtuhlah Kerajaan Majapahit. Pindah lagi ke Jawa Barat. Dari sana kembali ke Jawa Tengah karena dibawa Untung Surapati. Lalu dikuasai kakekku Trunajaya. Runtuhlah kerajaan Mataram. Kakek melarikan diri ke Ngantang Jawa Timur hingga wafatnya. Pedang Sangga Buwana yang sempat berada ditangan kakekku untuk yang kedua kalinya musnah. Dan sekarang orang mencoba merebutnya kembali dari tanganmu. Mereka mengira, pedang Sangga Buwana berada di tangan ayahmu. Nyatanya tidak. -

- Kalau begitu yang mencuri pedangku kemarin malam tentunya pemimpin orang-orang di rumah makan. - potong Niken Anggana.

- Tidak. -

- Tidak ? -

- Tidak. - jawab Diah Windu Rini menekankan ucapannya yang pertama. - Barangkali yang mencuri pedangmu hanya ingin menguasai ilmu kepandaian yang tinggi. Tetapi rombongan ini mempunyai tujuan lebih jauh. Mereka berangan-angan ingin mendirikan suatu kekuasaan baru. -

Gemak Ideran tercekat hatinya, mendengar keterangan Diah Windu Rini. la kcnal Diah Windu Rini seorang gadis yang cerdik luar biasa. Selain itu, seringkali ia dibawa berbicara mengenai urusan negara oleh ayahnya. Maka pendapatnya tentu mempunyai alasan yang masuk akal.

- Tetapi mengapa ayunda berani menyebut-nyebut tentang pedang pusaka itu kepada mereka ? - Niken Anggana minta keterangan.

- Bukankah leluhurku pernah memiliki pedang pusaka itu ? Apa salahnya bila mereka berhubungan denganku. - jawab Diah WinduRini dengan suara ketus. Gemak Ideran tertawa sendiri di dalam dadanya. Teringatlah dia, leluhur Diah Windu Rini terkenal semenjak jaman Majapahit.

Pada abad ke tigabelas, hiduplah seorang panembahan di pulau Madura yang bermukim di Balinge. Panembahan Balinge mempunyai dua orang anak laki-laki yang gemar bertapa. Yang tua bernama Adi Podai, adiknya disebut orang Pangeran Adi Rasa. Adi Podai bertapa di atas Gunung Geger. Seoang Pangeran Adi Rasa di atas Ujeng Alang-alang. Kedua tempat itu berada di wilayah Bangkalan. Pada masa bersamaan bertapa seorang puteri yang cantik jelita di atas Gunung Payudan. Jarak antara Gunung Payudan dan Gunung Geger kurang lebih 150 kilometer. Puteri itu berkulit kuning langsat, sehingga disebut orang Puteri Koneng (Kuning). Sebenarnya namanya : Zaini.

Puteri Pangeran Secodiningrat, cucu Pangeran Beragung.

Suatu keanehan terjadi. Meskipun antara Pangeran Adi Podai dan puteri Koneng tidak pernah berkenalan, namun mereka berdua dapat bertemu dalam persemadian. Kedua-duanya meraga-sukma (suksmanya meninggalkan raganya) dan bertemu di atas udara. Mula-mula mereka terkejut. Pangeran Adi Podai mengira Puteri Koneng seorang bidadari.

Sebaliknya Puteri Koneng mengira Pangeran Adi Podai seorang dewa. Pertemuan yang pertama kalinya ditanggapi dengan rasa heran. Kemudian diulangi untuk yang kedua kalinya. Lalu untuk yang ketiga kalinya. Akhirnya sering mojok di udara. Tak usah dijelaskan lagi, mereka saling jatuh cinta dan bersenggama dengan cipta. Dan pada suatu saat Puteri Koneng mengandung dan melahirkan seorang putera yang diberi nama Jakatole .

Hubungan cinta-kasih di udara dilanjutkan lagi dan puteri Koneng melahirkan puteranya yang kedua, bernama Jakawedi.

Karena puteri Koneng tetap bertapa di atas gunung, Jakatole diambil anak-angkat oleh Empu Kelleng. yang bertempat tinggal di Sumenep. Sedang Jakawedi diambil anak-angkat Kyahi Pademawu di Pamekasan. Setelah dewasa Jakawedi menyeberang ke tanah Gresik (sebelah barat kota Surabaya) dan diangkat menjadi raja oleh penduduk.

Adi Podai, ayah Jakatole dan Jakawedi, mengabdi ke Majapahit. Dia ditugaskan membuat gapura istana. Jakatole yang ingin bertemu dengan ayahnya menyusul ke Majapahit. Tentu saja pertemuan itu sangat mengharukan. Berkatalah sang ayah kepada Jakatole:

- Kau lebih perasa daripadaku. Kau berusaha mencari dan bertemu dengan ayahmu. Sebaliknya, belum pernah aku bertemu dengan ibumu. Baiklah, karena kau sudah berada di Majapahit, lanjutkan tugas pekerjaan ayah. Aku akan mencari ibumu yang bertapa di atas Gunung Payudan. Kau tak usah berkecil hati. Aku mempunyai dua macam pusaka. Sekumtum bunga dan sebatang tongkat. Bila gapura retak, makanlah bunga ini. Dan tongkat ini akan menolong kesukaranmu. - Dan Adi Podai benar-benar meninggalkan Majapahit unutk kembali ke Madura. Jakatole kemudian melanjutkan pekerjaan ayahnya yang belum selesai. Pada suatu hari, dinding gapura retak. Jakatole tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, karena tiada bahan penambalnya. Teringatlah dia akan pesan ayahnya. Untung-untungan ia memakan kuntum bunga. Tiba-tiba keluarlah suatu cairan yang lengket dari pusarnya. Dan dengan air ajaib itu, ia menambal gapura Majapahit yang tetap berdiri tegak sentausa sampai ratusan tahun kemudian.

Banyak jasanya Jakatole terhadap Majapahit. la sangat sakti dan sukar ditandingi siapapun. Oleh rasa terima kasih Raja menganugerahi seorang puteri cantik bernama Dewi Ratnadi Sayang, puteri itu tunanetra. Harapan raja, dengan kesaktiannya Jakatole pasti dapat menyembuhkannya.

Jakatole menerima anugerah itu dengan hati ikhlas. Sesungguhnya ia tidak dapat menyembuh kannya. Meskipun demikian, ia sangat mencintai isterinya, Takut diejek orang dan diancam murka raja, ia mohon diri hendak pulang ke Madura dengan membawa isterinya.

Tiba di tanah Madura, tiba-tiba Dewi Ratnadi merasa sangat haus, padahal tanah Madura terkenal keringnya. Karena bingung, Jakatole menancapkan tongkatnya di atas tanah. Suatu keajaiban terjadi. Tiba-tiba menyemburlah air dari dalam bumi dan memerciki kedua mata Dewi Ratnadi. Seketika itu juga, Dewi Ratnadi dapat melihat dunia beserta isi-nya, karena tunanetranya hilang.

Tempat tongkat ditancapkan itu dinamakan Socah sebagai tugu peringatan. Socah artinya mata. Sampai sekarang sumber air Socah itu, masih ada. Jakatole tidak kembali lagi ke Majapahit.

Dengan Dewi Ratnadi, ia dikaruniahi putera dan puteri yang menurunkan para adipati Madura dan pendekar-pendekar sakti. Dan Diah Windu Rini termasuk salah seorang keturunan Jakatole dan Dewi Ratnadi. Dengan sendirinya anak keturunan puteri Koneng dan Pangeran Adi Podai.

- Akupun termasuk salah seorang anak-keturunan Pangeran Adi Rasa yang menjadi raja di Gresik. - pikir Gemak Ideran di dalam hatinya. Dan selagi berpikir demikian, Diah Windu Rini dan Niken Anggana sudah berada di atas tebing. Mereka mengenakan pakaian bersih dan mentereng.

Kecantikan mereka makin bertambah-tambah. Dan tak setahunya sendiri, Gemak Ideran sangat menaruh perhatian kepada Niken Anggana. Apakah ini yang dinamakan cinta pertama atau luapan birahi ?

- Gemak Ideran ! Pastilah engkau sudah mendengar semua kata- kataku. - ujar Diah Windu Rini, tak perlu Gemak Ideran berdusta, Sebab kecuali pendengarannya tajam oleh kesaktiannya, jatak antara atas tebing dan tempat dia mandi termasuk terlalu dekat. Karena itu ia mengangguk. - Lalu bagaimana menurut pendapatmu ? - Diah Windu Rini menegas.

- Ayunda menyebut-nyebut tentang kemungkinan mereka berangan-angan mendirikan suatu kekuasaan. Siapakah mereka

?-

- Justru hal itu yang belum kuketahui. Tetapi gerombolan yang mengacau di rumah makan apakah tidak kau perhatikan ? -

- Apakah maksud ayunda, karena ada di antara mereka terdapat beberapa orang Cina ? - Gemak Ideran minta pembenaran.

- Benar. - Diah Windu Rini kelihatan perihatin. - Menilik riwayat pedang itu pasti ada sangkut-pautnya dengan urusan negara, aku yakin yang mengincar pedang pusaka Sangga Buwana pasti mempunyai perhatian terhadap urusan kekuasaan. Itulah sebabnya sengaja mereka kupancing agar berkumpul di pesanggrahan. Bila mereka benar-benar datang, pastilah kegiatan mereka tidak jauh dari kerajaan Kartasura. -

Ini adalah pernyataan Diah Windu Rini di luar dugaan, meskipun tadi ia tahu Diah Windu Rini mempunyai alasan yang kuat. la sendiri putera Adipati Sawunggaling yang berontak melawan Kompeni Belanda dan boneka-boneka pihak penguasa Kartasura. Darah pemberontak mengalir dalam tubuhnya. Karena itu cepat sekali hatinya tergetar manakala mendengar berita peristiwa tentang urusan negara. - Baiklah. - akhirnya ia berkata sambil berdiri tegak. - Tinggal satu pertanyaan yang mengharap ayunda terangkan. -

- Katakan ! -

- Sebenarnya siapakah yang bernama Surengpati, sehingga ayunda merasa perlu merahasiakannya ? Bila perlu demikian, akupun tidak akan membiarkan siapapun untuk membicarakan- nya. -

Diah Windu Rini menghentikan langkahnya. Dengan tajam ia menatap wajah Gemak Ideran. Beberapa saat lamanya, ia menimbang-nimbang. Lalu menyenak nafas perlahan. Berkata :

- Surengpati adalah adik-seperguruanku. la seorang yang mau menang sendiri. Congkak, besar kepala, tetapi tulang-tulangnya bagus. Guru mengharapkan dia merajai seluruh ilmu kepandaian di bumi ini demi mengharumkan nama perguruan dan guru sendiri. Pada saat ini, dia baru mewarisi seperempat bagian kepandaian guru. Karena persiapan untuk mencapai tataran masih jauh dan harus ditilik dengan keras, maka namanya wajib kita rahasiakan. Dengan begitu, masa pelajarannya tidakkan terganggu oleh siapapun. Siapa tahu..... siapa mengira Gagak

Seta rupanya sudah mencium angan-angan guru. -

- Hai, bukankah guru ayunda sudah meninggal ? - potong Gemak Ideran heran. - Betul. - sahut Diah Windu Rini cepat. - Tetapi sebelum wafat, beliau sudah sempat mewariskan kunci-kunci sakti Ilmu Witaradya kepadanya. Sekarang, dia tinggal memperdalam dan mencari pengalaman. -

Gemak Ideran termenung-menung beberapa saat lamanya. Minta keterangan :

- Ayunda sendiri seorang puteri yang berkepandaian tinggi. Bagaimana kalau dibandingkan dengan dia ? -

- Aku ? Kepandaianku ini belum sepersepuluhnya kepandaian guru. - sahut Diah Windu Rini dengan mala berkilat-kilat. - Sudahlah, mari kita berangkat ! Sekali lagi kukatakan, jangan biarkan siapapun menyebul-nyebut nama adik-scpcrguruanku itu

!-

Tak berani lagi Gemak Ideran mcmbuka mulutnya. Sebenarnya, ingin ia mendapal keterangan apa maksudnya dengan kala-kata harus ditilik dengan keras. Tcntunya ada yang meniliknya, karena gurunya sudah wafat. Siapakah dia ? Tetapi rasa ingin tahunya itu ia telan dalam-dalam, karena takut kena damprat gadis galak itu.

Sementara itu, matahari sudah sepenggalah tingginya. Seluruh persada bumi nampak jelas dan semarak. Di uliik timur, samar- samar muncul awan hitam yang bergerak perlahan-lahan. Bukan mustahil sebentar atau lama hujan akan turun. Diah Windu Rini tidak menghiraukan semuanya itu. Pandang matanya menjangkau jauh. Mungkin sekali di sianghari, ia tiba di Wengker (Madiun).

Selanjutnya akan dapat mencapai sebelah barat kota Ngawi menjelang petanghari.

Tiba di sebuah dusun, ia membawa Gemak Ideran dan Niken Anggana bersantap pagi. Sampai saat itu, tiada terjadi sesuatu yang menarik perhatian. Namun sebagai seorang yang berilmu kepan-daian tinggi, prasaanya mengabarkan dirinya bahwa ada yang sedang mengintip gerak-geriknya.

Karena itu, ia senantiasa bersikap waspada dan membungkam mulut.

Selagi hendak berangkat, seorang kanak-kanak kira-kira ber- umur lima tahun datang menghampiri. Anak itu memandang dirinya lama-lama. Kemudian berkata :

- Kasih dulu uang ! Aku ada surat. -

- Surat ? Surat siapa ? - Niken Anggana menanggapi.

- Surat untuk dia ! Bukan untukmu. - sahutnya.

Niken Anggana tertawa manis. Ia mau mengerti. Lalu menoleh kepada Diah Windu Rini yang masih membawa sikap-nya yang angkuh dan berwaspada. Karena itu, ia berkata lagi kepada si anak : - Siapa yang menitipkan surat kepadamu ? -

- Kasih dulu uang ! -

Niken Anggana tertawa lebar. Segera ia mengangsurkan segenggam uang. Dan melihat jumlah uang yang terlalu banyak, anak itu berkata dengan pandang mata berseri-seri :

- Kalau begitu betul. -

- Betul bagaimana ? -

- Yang titip surat ini bilang, aku pasti dapat uang banyaaaaak sekali. Sebab orangnya baik. -

Niken Anggana tersenyum. Minta keterangan :

- Siapa yang menitipkan surat ini kepadamu ? -.

- Seorang puteri yang cantik sekali. Sudah, ya.....-ujar anak itu.

Dan tanpa menunggu perkenankan Niken Anggana, lantas saja ia melarikan diri.

Surat itu diletakkan saja di atas meja. Sebenarnya Niken Anggana ingin membukanya. Akan tetapi Diah Windu Rini nampak acuh tak acuh. Kesan wajahnya mewakili keadaan hatinya yang tidak senang. Dengan mata suram, ia merenungi surat yang terlipat rapih. Lalu berkata kepada Gemak Ideran : - Coba baca, apa katanya ! -

Diah Windu Rini maupun Gemak Ideran tidak takut ke-mungkinan surat itu dilumuri racun. Sekiranya demikian, anak yang membawa surat itu pasti sudah mati sebelum sampai di tempatnya. Tetapi selagi Gemak Ideran hendak menggapai surat itu, tiba-tiba terdengar suara sibuk di luar rumah makan. Pemilik rumah makan (sebenarnya lebih tepat bila disebut kedai) menghambur ke luar bersama dua orang lagi. Terdengar mereka ber-teriak-teriak cemas :

- Hai ! Kenapa dia mati ? Baru saja dia masuk ke dalam menyerahkan surat. -

Mendengar seruan mereka, Gemak Ideran dan Niken Anggana terkejut setengah mati. Terus saja mereka melesat keluar.

Dengan penuh tanda tanya mereka menghampiri anak tadi yang tergeletak di tengah jalan. Tatkala Niken Anggana hendak meraba tubuh anak itu, Gemak Ideran menariknya dan dibawa mundur. Terdengar suara Diah Windu Rini yang sudah berdiri di belakangnya :

- Berangkat! -

Dengan langkah cepat Diah Windu Rini menghampiri kuda-nya yang segera diikuti Gemak Ideran dan Niken Anggana. Kepada pemilik kedai, Diah Windu Rini berkata pendek :

- Di atas meja ada uang setengah rupiah. Cukup, bukan ? - - Oh, cukup.....cukup malahan kelebihan. -

Diah Windu Rini tidak menanggapi. la memutar kudanya dan mendahului melarikannya cepat. Gemak Ideran dan Niken Anggana buru-buru menyusulnya. Sebentar lagi mereka sudah ke luar dari dusun itu.

- Ayunda ! Bagaimana dengan surat itu ? - seru Gemak Ideran.

- Sudah kubakar. - jawab Diah Windu Rini pendek.

- Isinya ? -

- Aku akan berjalan terus dengan Niken. Kau kejarlah dia ! Ambil jalan simpang. -

- Siapa ? -.